Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Hama Sitophilus zeamais Motsch. (Coleoptera; Curculionidae) Pada Benih Jagung (Zea mays)

 6  51  76  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
UJI EFEKTIFITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera; Curculionidae) PADA BENIH JAGUNG (Zea mays L.) SKRIPSI Oleh : FADILLAH SUBHAN 070302049 HPT DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI EFEKTIFITAS BEBERAPA INSEKTISIDA NABATI TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera; Curculionidae) PADA BENIH JAGUNG (Zea mays L.) SKRIPSI Oleh : FADILLAH SUBHAN 070302049 HPT Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing (Ir.Yuswani Pangestiningsih, MS) Ketua Pembimbing (Ir. Fatimah Zahara) Anggota Pembimbing DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Fadillah Subhan, "Test Effectiveness of Some Insecticides Against Plant Pests Sitophilus zeamais Motsch Mortality. (Coleoptera: Curculionidae) In the Seed of Corn (Zea mays). "It was under supervised by Yuswani Pangestiningsih and Fatimah Zahara. S. zeamais is a pest of corn in storage that causes substantial yield losses, one of which effective control is the use of botanical insecticides. Testing the effectiveness of some botanical insecticides on mortality of S. zeamais on maize seed plant pests carried in the laboratory of Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan. Research using non-factorial complete randomized design with 10 treatments namely control, seed powder distance, soursop seed powder and Morinda citrifolia seed powder with a dose of 5 grams, 10 grams, 15 grams per 400 grams of corn seed with three replications. The results showed that the addition of each dose of pollen grains increased mortality of adult S. zeamais, reducing the number of new adult emerges, reducing the weight losses of maize grain in storage, and no correlation between seed powder is applied with seed germination. The highest mortality percentage in F3 treatment (seed powder distance (15gr/400gr corn) equal to 98.33% and. While the highest seed germination percentage of the treatment F7 (Morinda citrifolia seed powder 5gr/400 g corn) equal to 99.33%. Key words : S. zeamais, Insecticides Against Plant, Zea mays L. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Fadillah Subhan, ”Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Hama Sitophilus zeamais Motsch. (Coleoptera; Curculionidae) Pada Benih Jagung (Zea mays)”. Dibimbing oleh Yuswani Pangestiningsih dan Fatimah Zahara. S. zeamais merupakan hama pada jagung dalam penyimpanan yang menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar, salah satu pengendalian yang efektif adalah penggunaan insektisida nabati. Pengujian efektifitas beberapa insektisida nabati terhadap mortalitas S. zeamais pada benih jagung dilaksanakan di laboratorium hama tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial dengan 10 perlakuan yaitu Kontrol, Serbuk biji jarak, serbuk biji sirsak dan serbuk biji mengkudu dengan dosis 5 gr, 10 gr, 15 gr per 400 gr benih jagung dengan tiga ulangan, Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan dosis dari masingmasing serbuk biji meningkatkan mortalitas imago S. zeamais, menurunkan jumlah imago baru yang muncul, mengurangi susut bobot biji jagung dalam penyimpanan, dan tidak berpengaruhnya serbuk biji yang diaplikasi dengan daya kecambah benih. Persentase mortalitas tertinggi yaitu pada perlakuan F3 (Serbuk biji Jarak ( 15gr/400gr jagung) sebesar 98.33 % dan. Sedangkan persentase daya kecambah benih tertinggi yaitu pada perlakuan F7 (serbuk biji mengkudu 5gr/400 gr jagung) sebesar 99.33%. Kata kunci: S. zeamais, Insektisida nabati, Zea mays L. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Fadillah Subhan lahir pada tanggal 03 juni 1989 di Medan, sebagai anak ke empat dari lima bersaudara, puteri dari Ayahanda M. Djoni dan Ibunda Eko Susilawati. Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis yaitu : - Tahun 2001 lulus dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 060863 Medan. - Tahun 2004 lulus dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 11 Medan. - Tahun 2007 lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Medan. - Tahun 2007 lulus dan diterima di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SPMB. Pengalaman Kegiatan Akademis 1. Tahun 2007 - 2011 menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman (IMAPTAN). 2. Tahun 2009 – 2011 menjadi asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman USU. 3. Tahun 2011 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Juni sampai Juli di PT. Sumatera Utara Kebun Tanjung Kasau Batubara. 4. Tahun 2010 - 2011 melaksanakan penelitian skripsi di Laboratorium Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaika skripsi ini. Adapun judul skripsi ini adalah “Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Sitophilus zeamais Motsch (Coleoptera; Curculionidae) Pada Benih Jagung (Zea mays L.)” yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing Ir. Yuswani Pangestiningsih, MS selaku ketua dan Ir. Fatimah Zahara, selaku anggota yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini Terima kasih yang tidak terhingga penulis ucapkan kepada kedua Orang Tua dan keluarga.. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan, Maret 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT ........................................................................................ i ABSTRAK ........................................................................................... ii RIWAYAT HIDUP ............................................................................. iii KATA PENGANTAR ......................................................................... iv DAFTAR ISI ....................................................................................... v DAFTAR GAMBAR ........................................................................... vii DAFTAR TABEL ............................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ ix PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................. Tujuan Penelitian ......................................................................... Hipotesis Penelitian ...................................................................... Kegunaan Penelitian ..................................................................... 1 3 3 4 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Sitophilus zeamais Motsch. ..................................... Kerusakan Yang Disebabkan Sitophilus zeamais Motsch. ............. Insektisida Nabati ......................................................................... Tanaman Jarak (Jatropa curcas) ................................................... Tanaman Sirsak (Annona mucirata L.) ......................................... Tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L.) .................................. 5 8 9 10 11 12 BAHAN DAN METODA Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... Bahan dan Alat ............................................................................. Metodologi Penelitian .................................................................. Pelaksanaan Penelitian Penyediaan Tempat Serangga Uji ................................................. Penyediaan Serangga Uji ............................................ Penyediaan Ekstrak Serbuk Biji ................................................... Aplikasi Serbuk Biji ................................................................... Pengujian Daya Kecambah Benih Sebelum dan Sesudah Aplikasi . Peubah Amatan Persentase Mortalitas Imago .......................................................... Persentase Populasi Imago Baru yang Muncul.............................. 14 14 14 15 16 16 16 16 17 18 Universitas Sumatera Utara Pengamatan Susut Bobot Biji ........................................................ Persentase Daya kecambah Benih Sebelum dan Setelah Aplikasi .. 18 18 HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Mortalitas (%) Imago S. zeamais .................................. Populasi Imago S. zeamais Baru yang Muncul (ekor) .................... Susut Bobot biji jagung ................................................................. Persentase Daya Kecambah BenihJagung ...................................... 19 21 24 26 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ................................................................................... Saran ............................................................................................ 29 30 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No Judul Halaman 1. Siklus hidup S. zeamais Motsch................................................... 5 1. Telur S. zeamais Motsch.............................................................. 6 2. Larva S. zeamais Motsch ............................................................. 6 3. Pupa S. zeamais Motsch .............................................................. 7 4. Imago S. zeamais Motsch ........................................................... 8 5. Gejala Serangan S. zeamais Motsch............................................. 9 6. Rumus Bangun Alkaloid ............................................................ 10 7. Biji Jarak .................................................................................... 11 8. Biji Sirsak ................................................................................. 12 9. Rumus Bangun Annonain .......................................................... 12 10. Biji Mengkudu .......................................................................... 13 11. Rumus Bangun Saponin ............................................................ 13 12. Histogram pengaruh aplikasi serbuk biji Jarak, Sirsak dan Mengkudu terhadap mortalitas (%) imago S. zeamais pengamatan I-VII........................................................................................... 21 Histogram pertambahan populasi imago S. zeamais baru yang muncul pada setiap perlakuan ..................................................... 24 Histogram persentase susut bobot biji jagung terhadap aplikasi serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu. ...................................... 25 Histogram persentase daya kecambah benih jagung pada setiap Perlakuan ................................................................................... 28 13. 14. 15. Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No Judul Halaman 1. Rataan pengaruh aplikasi serbuk biji Jarak, Sirsak dan Mengkudu terhadap mortalitas (%) S. zeamais setiap perlakuan pada pengamatan 3-24 hsa........................................................................ 19 Rataan populasi imago S. zeamais baru yang muncul (Ekor/400gr jagung) .......................................................................................... 22 Rataan pengaruh serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu terhadap susut bobot (%) benih jagung ........................................................ 24 Rataan daya kecambah benih jagung (%) pada pengamatan 5 - 10 hst........................................................................................... 26 2. 3. 4. Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No Judul 1. Bagan Penelitian.............................................................................. 34 2. Deskripsi Jagung Varieras Bisma .................................................... 36 3. Serbuk Biji yang digunakan sebagai insektisida nabati .................... 37 4. Imago S. Zeamias yang Mati ........................................................... 37 5. Foto Penelitian ................................................................................ 38 6. Foto Kecambah Benih Jagung Sebelum Aplikasi Insektisida Nabati ............................................................................................ 39 Foto Kecambah Benih Jagung Setelah Aplikasi Insektisida Nabati ............................................................................................ 39 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 3 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 40 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 6 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 41 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 9 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 43 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 12 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 45 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 15 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 47 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 18 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ................................................................................. 49 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 21 Hari Setelah Aplikasi (hsa)................................................................................. 51 Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 24 Hari Setelah Aplikasi (hsa)................................................................................. 53 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Halaman Universitas Sumatera Utara 16. 17. 18. 19. Persentase populasi Imago baru yang muncul pada pengamatan 30 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ....................................................... 55 Data Pengaruh Dosis Serbuk Biji Terhadap Susut Bobot Biji Jagung 30 Hari Setelah Aplikasi (hsa) ........................................................ 57 Data Pengaruh Dosis Serbuk biji Terhadap Daya Kecambah Benih Jagung 5 Hari Setelah Tanam (hst) ................................................. 59 Data Pengaruh Dosis Serbuk biji Terhadap Daya Kecambah Benih Jagung 10 Hari Setelah Tanam (hst) ............................................... 61 Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Fadillah Subhan, "Test Effectiveness of Some Insecticides Against Plant Pests Sitophilus zeamais Motsch Mortality. (Coleoptera: Curculionidae) In the Seed of Corn (Zea mays). "It was under supervised by Yuswani Pangestiningsih and Fatimah Zahara. S. zeamais is a pest of corn in storage that causes substantial yield losses, one of which effective control is the use of botanical insecticides. Testing the effectiveness of some botanical insecticides on mortality of S. zeamais on maize seed plant pests carried in the laboratory of Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan. Research using non-factorial complete randomized design with 10 treatments namely control, seed powder distance, soursop seed powder and Morinda citrifolia seed powder with a dose of 5 grams, 10 grams, 15 grams per 400 grams of corn seed with three replications. The results showed that the addition of each dose of pollen grains increased mortality of adult S. zeamais, reducing the number of new adult emerges, reducing the weight losses of maize grain in storage, and no correlation between seed powder is applied with seed germination. The highest mortality percentage in F3 treatment (seed powder distance (15gr/400gr corn) equal to 98.33% and. While the highest seed germination percentage of the treatment F7 (Morinda citrifolia seed powder 5gr/400 g corn) equal to 99.33%. Key words : S. zeamais, Insecticides Against Plant, Zea mays L. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Fadillah Subhan, ”Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Mortalitas Hama Sitophilus zeamais Motsch. (Coleoptera; Curculionidae) Pada Benih Jagung (Zea mays)”. Dibimbing oleh Yuswani Pangestiningsih dan Fatimah Zahara. S. zeamais merupakan hama pada jagung dalam penyimpanan yang menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar, salah satu pengendalian yang efektif adalah penggunaan insektisida nabati. Pengujian efektifitas beberapa insektisida nabati terhadap mortalitas S. zeamais pada benih jagung dilaksanakan di laboratorium hama tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap non faktorial dengan 10 perlakuan yaitu Kontrol, Serbuk biji jarak, serbuk biji sirsak dan serbuk biji mengkudu dengan dosis 5 gr, 10 gr, 15 gr per 400 gr benih jagung dengan tiga ulangan, Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan dosis dari masingmasing serbuk biji meningkatkan mortalitas imago S. zeamais, menurunkan jumlah imago baru yang muncul, mengurangi susut bobot biji jagung dalam penyimpanan, dan tidak berpengaruhnya serbuk biji yang diaplikasi dengan daya kecambah benih. Persentase mortalitas tertinggi yaitu pada perlakuan F3 (Serbuk biji Jarak ( 15gr/400gr jagung) sebesar 98.33 % dan. Sedangkan persentase daya kecambah benih tertinggi yaitu pada perlakuan F7 (serbuk biji mengkudu 5gr/400 gr jagung) sebesar 99.33%. Kata kunci: S. zeamais, Insektisida nabati, Zea mays L. Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu komoditi tanaman pangan yang mempunyai peran penting dalam pembangunan sektor pertanian adalah jagung. Hampir seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Batang dan daun tanaman yang masih muda dapat digunakan untuk pakan ternak, yang tua (setelah dipanen) dapat digunakan untuk pupuk hijau atau kompos. Kegunaan lain dari jagung adalah sebagai bahan baku farmasi, dextrin, perekat, tekstil, minyak goreng, dan etanol. Permintaan jagung meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan industri (Purwanto, 2008). Produksi jagung nasional tahun 2008 mengalami kenaikan lebih dari 22% dibanding tahun sebelumnya sehingga mencapai 16,3 juta ton. Meskipun mengalami kenaikan namun Indonesia masih mengimpor jagung sebesar 170 ribu ton. Hal ini disebabkan belum terpenuhinya permintaan jagung di dalam negeri. Banyak hal yang menjadi faktornya, diantaranya adalah rendahnya kualitas dan kuantitas produksi jagung (Dinas Pertanian, 2008). Salah satu faktor rendahnya kualitas dan kuantitas produksi jagung adalah penanganan pasca panen pada benih jagung. Penanganan pasca panen yang kurang baik akan mengakibatkan terjadinya kehilangan dan kerusakan hasil sehingga dapat mengurangi jumlah dan mutu benih jagung. Besarnya kehilangan dan kerusakan jagung setelah pemanenan mencapai 8,60 – 20,20 % termasuk yang terjadi selama penyimpanan yang disebabkan oleh serangan serangga, jamur dan tikus (Lando et al, 2001). Universitas Sumatera Utara Kehilangan hasil yang cukup besar tersebut terutama disebabkan oleh serangan kumbang bubuk (Sitophilus zeamais Motsch) yang bersifat polifag. Kartasapoetra (1991) mengemukakan bahwa benih jagung dalam simpanan di daerah Uganda selama 4 minggu telah mengalami pengurangan berat sekitar 20%. Populasinya demikian hebat karena dalam setiap kuintal benih jagung simpanan, terdapat sekitar 32.000 ekor hama. Pakan (1997) menyatakan bahwa serangan Sitophilus zeamais dapat menyebabkan susut bobot 12,65 – 21,54 % setelah disimpan sekitar 4 bulan ditingkat petani di Amarasi Kabupaten Kupang dengan rata – rata populasi imago Sitophilus zeamais adalah 250 ekor/Kg. Melihat besarnya kehilangan hasil yang ditimbulkan mengisyaratkan perlunya perbaikan teknik penyimpanan sehingga dapat menekan kehilangan hasil jagung ditingkat petani. Aspek perbaikan teknik penyimpanan tersebut diharapkan dapat terjangkau oleh petani. Teknik penyimpanan yang dimaksud ialah teknik pengendalian. Selama ini pengendalian yang dilakukan adalah dengan menggunakan pestisida sintesis. Penggunaan pestisida dalam pertanian telah menunjukkan kemampuan dalam menanggulangi merosotnya hasil akibat serangan hama. Hal ini karena pestisida dapat menekan hama dalam waktu singkat, relatif mudah di aplikasikan dan sudah diformulasikan dalam bentuk yang sudah siap digunakan (Oka, 1995). Akan tetapi penggunaan pestisida yang kurang tepat dapat menimbulkan resistensi hama, resurgensi hama, pencemaran lingkungan dan berdampak pada kesehatan (Untung, 1993). Risiko kesehatan yang dapat timbul berupa keracunan akut dan keracunan kronik dalam jangka waktu yang panjang. Keracunan akut terjadi karena kecerobohan dan tidak mempertahankan aspek keamanan Universitas Sumatera Utara penggunaan bahan berbahaya. Keracunan kronik akibat terpapar pestisida dapat dalam bentuk kerusakan hormone endokrin, system syaraf, dan system pernapasan (Untung, 2006). Untuk menekan pengeluaran petani serta mengurangi dampak yang merugikan di lingkungan, maka pengaplikasian insektisida botanis merupakan salah satu cara yang efektif. Terdapat beberapa tumbuhan lokal yang diperkirakan dapat dipergunakan sebagai bahan nabati yang diharapkan dapat membantu petani dalam penghematan biaya produksi. Jarak pagar (Jatropa curcas), sirsak (Annona muricata L.), dan nimba (Azadirachta indica L) merupakan sebagian kecil dari tanaman yang berpotensi menjadi insektisida nabati. Berdasarkan hal di atas penulis tertarik untuk meneliti beberapa insektisida nabati untuk mengendalikan hama S. zeamais pada benih jagung. Tujuan Penelitian Penelitian insektisida ini nabati bertujuan terhadap untuk mortalitas menguji efektifitas Sitophilus zeamais beberapa Motsch (Coleoptera; Curculionidae) pada benih Jagung (Zea mays L.). Hipotesis Penelitian 1. Pengaruh penggunaan insektisida nabati serbuk biji jarak dengan dosis 15 g lebih efektif mengendalikan hama Sitophilus zeamais Motsch. daripada serbuk biji jarak dengan dosis 5 g dan 10 g, dan insektisida nabati serbuk biji sirsak dan mengkudu dengan dosis 5 g, 10 g, 15 g pada benih jagung. Universitas Sumatera Utara 2. Adanya penurunan daya kecambah benih jagung setelah pengaplikasian insektisida nabati Kegunaan Penelitian 1. Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. 2. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan. Universitas Sumatera Utara TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama Menurut Subramanyam dan Hagstrum (1996), Hama kumbang bubuk (Sitophilus zeamais Motsch) dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Kelas : Insekta Ordo : Coleoptera Famili : Curculionidae Genus : Sitophilus Spesies : Sitophilus zeamais Motsch. Siklus hidup sekitar 28 - 90 hari pada suhu 15 - 35ºC, atau pada kondisi optimum suhu 27ºC, RH 70%, dan kadar air biji 14%, dan kelembaban relatif 70% (Subramanyam dan Hagstrum, 1996). Gambar 1 : Siklus Hidup Sitophilus zeamais Sumber : http://www.padil.gov.au Universitas Sumatera Utara Telur Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji. Imago dapat memproduksi telur sekitar 300 - 400 butir. Stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25°C. Larva kemudian menggerek biji dan hidup di dalam biji. Lama periode telur kurang lebih 20 hari pada suhu 25°C dengan kelembaban nisbi 70% (Subramanyam dan Hagstrum, 1996). Gambar 2 : Telur Sitophilus zeamais Sumber : http://www.padil.gov.au Larva Larva hidup di dalam liang gerek dengan memakan isi biji. Liang gerek ini semakin lama akan semakin besar sesuai dengan perkembangan ukuran larvanya. Larva Sitophilus zeamais Motsch terdiri dari empat instar. Larva berwarna putih gemuk dan tidak berkaki. Kadang larvanya berkembang dalam satu butir jagung. Stadia larva 3 - 4 minggu (Subramanyam dan Hagstrum, 1996). Gambar 3 : Larva Sitophilus zeamais Sumber : http://www.padil.gov.au Universitas Sumatera Utara Pupa Pupa terbentuk di dalam biji dengan cara membentuk ruang pupa dengan mengekskresikan cairan pada dinding liang gerek, Stadium pupa berkisar antara 5 - 8 hari (Subramanyam and Hagstrum 1996). Gambar 4 : Pupa Sitophilus zeamais Sumber : http://www.padil.gov.au Imago Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar dengan mulut melalui perikarp. Siklus hidupnya berkisar antara 30 - 45 hari pada kondisi suhu optimum 29oC, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila kadar air bahan pada saat disimpan di atas 15%. Pada populasi yang tinggi, kumbang bubuk cenderung berpencar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu 3 - 5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari tanpa makan (Kalshoven 1981). Serangga dewasa berwarna coklat terang sampai coklat gelap dengan empat bercak kuning yang relatif besar pada elytranya. Panjang tubuh antara 2 - 5 mm, tergantung kondisi makanannya. Kepala berbentuk moncong dengan antena gada bersiku. Pada elytra terdapat alur-alur memanjang (Subramanyam dan Hagstrum, 1996). Universitas Sumatera Utara Gambar 5 : Imago Sitophilus zeamais Sumber : http://www.padil.gov.au Kerusakan Yang Disebabkan Sitophilus zeamais Motsch. Serangga ini membuat kerusakan dimulai sejak stadium larva sampai imago dengan memakan isi biji bahan pangan. Butir-butir jagung akan berlubang dan butiran tersebut cepat pecah dan hancur seperti tepung. Setelah melubangi biji jagung, masing-masing lubang diletakkan satu telur (Kartasapoetra, 1991). Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan Maize weevil atau kumbang bubuk, dan merupakan serangga yang bersifat polifag. Selain menyerang jagung S. zeamais juga menyerang beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu mente. Namun S. zeamais lebih dominan terdapat pada jagung dan beras. Pakan (1997) menyatakan bahwa serangan Sitophilus zeamais Motsch dapat menyebabkan susut bobot 12,65 – 21,54 %. S. zeamais merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih di pertanaman. Universitas Sumatera Utara Gejala Serangan Gambar 6 : Gejala serangan Sitophilus zeamais Sumber : Foto Langsung Insektisida Nabati Insektisida nabati berasal dari bahan alami tumbuhan. Memiliki sifat spesifik sehingga aman bagi musuh alami hama. Residunya pun mudah terurai hingga aman bagi lingkungan. Bahan bakunya dapat diperoleh dengan mudah dan murah. Beberapa jenis tanaman terutama dari keluarga Annonace dan Meliaceae seperti Mimba (Azadirachta indica L.), Bengkuang (Pachyrrhyzuserosus L.), Sirsak (Annona mucirata L.), Srikaya (Annonasquamosa L.), Mindi (Melia azedarach), telah diteliti keefektifannya dalam mengendalikan berbagai jenis hama (Dinas Pertanian Tanaman Hias, 2009). Insektisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Insektisida nabati dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul) (Dinas Pertanian Dan Kehutanan, 2007). Bagian dari tumbuhan yang digunakan misalnya daun, biji, buah, akar dan lainnya. Bahan-bahan tersebut diolah menjadi berbagai macam bentuk Universitas Sumatera Utara antara lain cairan berupa ekstrak dan minyak, serta bentuk padat berupa serbuk (Samsudin, 2008). Jarak (Jatropa curcas) Tanaman ini hampir tidak diserang hama karena sebagian besar bagian tubuhnya beracun. Kandungan kimia dari tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut : triakontranol, alvamirin, kaem pasterol, beta sitosterol, 7-keto-beta sitosterol, stigmasterol, stigma-5-en-3-beta-7-alfadiol, viteksin, isoviteksin dan asam sianida (HCN). Daun dan batangnya mengandung saponin, flafonoida, tannin dan senyawa polyfenol, sedangkan bijinya mengandung berbagai senyawa alkaloida, saponin dan jenis protein beracun yang disebut kursin (Sinaga, 2006). Gambar 7 : Rumus bangun alkaloid Sumber : http://www. medicafarma.blogspot.com Penelitian yang berkaitan dengan penggunaan biji buah jarak (Jatropa curcas) sebagai insektisida nabati telah diteliti sebelumnya oleh Balai Benih Induk (BBI) Palawija Tarus. Dari hasil penelitian didapatkan nilai mortalitas dari kumbang bubuk melebihi 50 % yaitu pada dosis 5 gr bahan nabati mortalitasnya mencapai 73 %, pada dosis 10 gr bahan nabati mortalitasnya mencapai 83%, dan pada dosis 15 gr bahan nabati mortalitasnya mencapai hampir 100 % yaitu 93 %, sedangkan pada kontrol tidak ada hama Sitophilus zeamais Universitas Sumatera Utara yang mati, ini disebabkan karena pada kontrol tidak ada perlakuan bahan nabati Jatropa curcas. Gambar 8 : Biji buah jarak (Jatropa curcas) Sumber : Foto Langsung Sirsak (Annona muricata) Tanaman Annona muricata (sirsak) mengandung zat toksik bagi serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan aktif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan serangga, pengurangan produksi telur dan sebagai repellen (penolak) (Gruber dan Karganilla, 1989). Buah yang mentah, biji, daun dan akar sirsak mengandung 42% - 45% lemak. Anonian dan resin dapat bekerja sebagai racun perut dan racun kontak serangga. Ekstrak daun sirsak dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama belalang dan hama lainnya. Selain itu daun dan bijinya dapat berperan sebagai penolak serangga (repellent) dan penghambat makan (antifeedant) bagi serangga (kardinan, 2001). Universitas Sumatera Utara Gambar 9 : Biji buah sirsak (Annona muricata ) Sumber : Foto Langsung Bagian tanaman yang digunakan adalah daun dan biji yang mengandung senyawa kimia Annonain yang bersifat racun kontak dan racun perut. Daun dan biji bermanfaat sebagai insektisida, repellent (penolak), antifeedant dan tidak dapat menghasilkan telur (Ovipositant) (Kardinan, 2001). Gambar 10. Rumus Bangun Annonain Sumber: http://commons.wikipedia.org/wiki/file:annonin.png&usg. Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Biji buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) diketahui mengandung senyawa - senyawa alkaloid, saponin, tanin dan glikosida jantung. Ekstrak biji mengkudu dapat menghambat serangga Sitophilus zeamais. Daya hambatnya berupa ovipositant (urung bertelur), menurunkan nafsu makan (antifeedant), dan Universitas Sumatera Utara juga bisa menghambat pertumbuhan bakteri B. stearothermophilus (http://www.sinartani.com/info/redaksi.htm, 2010). Gambar 11 : Biji buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Sumber : Foto Langsung Biji mengkudu dapat di ekstrak dengan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji mengkudu yang mengandung bahan aktif saponin dan tritepenoid menghambat pertumbuhan larva Cricula trifenestrata menjadi pupa sebesar 60%, serta dapat membunuh sebesar 60% populasi serangga Sitophylus sp dan merupakan racun perut terhadap serangga (Kardinan, 2004). Gambar 12 : Rumus bangun saponin Sumber : http://www .ccrcfarmasiugm.wordpress.com Universitas Sumatera Utara BAHAN DAN METODA 1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2010 – Januari 2011. 2. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan adalah tanah, benih jagung, biji jarak, biji sirsak, biji mengkudu, air, dan hama gudang kumbang jagung (Sitophilus zeamais Motsch). Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah stoples, kain kasa, ayakan, karet gelang, blender, timbangan digital, kotak tray, dan handsprayer. 3. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 10 perlakuan yaitu : F0 = Kontrol (tanpa insektisida nabati) F1 = Serbuk biji jarak 5 gr/400 gr biji jagung F2 = Serbuk biji jarak 10 gr/400 gr biji jagung F3 = Serbuk biji jarak 15 gr/400 gr biji jagung F4 = Serbuk biji sirsak 5 gr/400 gr biji jagung F5 = Serbuk biji sirsak 10 gr/400 gr biji jagung Universitas Sumatera Utara F6 = Serbuk biji sirsak 15 gr/400 gr biji jagung F7 = Serbuk biji mengkudu 5 gr/400 gr biji jagung F8 = Serbuk biji mengkudu 10 gr/400 gr biji jagung F9 = Serbuk biji mengkudu 15 gr/400 gr biji jagung Masing - masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam berdasarkan model linier sebagai berikut : Yij = µ +αi +βj +τij Keterangan : Yij : Respon / nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j µ : αi : Nilai pengamatan pengaruh perlakuan ke – i βj : Nilai pengamatan pengaruh kelompok ke – j τij : Efek error karena pengaruh perlakuan pada taraf ke–i dan pada ulangan Nilai tengah umum ke–j. (Bangun, 1994). Apabila hasil sidik ragam menunjukkan hasil berbeda nyata dan sangat nyata, maka dilanjutkan analisis lanjutan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan dengan araf 5%. 4. Pelaksanaan Penelitian 4. 1. Penyediaan Tempat Serangga Uji Untuk tempat S. zeamais yang akan diaplikasikan adalah berupa stoples dengan ukuran tinggi 13 cm dengan diameter 14 cm. Tutup stoples dengan kain kasa dan diikat dengan karet gelang. Stoples yang diperlukan dalam percobaan ini Universitas Sumatera Utara adalah sebanyak 30 buah dan kain kasa yang diperlukan dalam percobaan ini adalah sebanyak 30 buah. 4. 2. Penyediaan Serangga Uji Biji jagung diambil di pasar dan diletakkan pada media stoples dan ditutup dengan kain kasa. Kumbang direaring terlebih dahulu untuk menghomogenkan umur imago yang akan diaplikasikan. Kumbang yang dimasukkan sebanyak 20 ekor pada setiap stoples.. 4. 3. Penyediaan Serbuk Biji Biji jarak, biji sirsak dan biji mengkudu yang digunakan adalah biji yang telah tua dengan ciri-ciri kulit buah berwarna hitam pekat. Kulit biji dibuang kemudian dijemur 3 hari untuk mengurangi kadar air biji. Biji diblender hingga menjadi serbuk kemudian diayak lalu ditimbang sebanyak 5 gr, 10 gr, 15 gr, masing-masing dicampurkan ke biji jagung di dalam stoples. 4. 4. Aplikasi Serbuk Biji Benih jagung dimasukkan ke dalam stoples sebanyak 400 gr, kemudian dicampur dengan serbuk biji jarak, sirsak, dan mengkudu. Kemudian dimasukkan imago S. zeamais sebanyak 10 pasangan imago dari hasil rearing yang umurnya telah homogen. Stoples ditutup dengan kain kasa kemudian diikat dengan karet gelang. 4.5. Pengujian Daya Kecambah Benih Sebelum dan Sesudah Aplikasi - Persiapan Media Tanam Sediakan tanah yang telah dibersihkan sebagai media tanam kemudian di jemur dibawah terik matahari untuk menonaktifkan/mematikan patogen atau hama lain yang terdapat pada tanah. Universitas Sumatera Utara - Penanaman benih pada media tanah sebelum aplikasi Sediakan baki plastik (bak persemaian) sebagai media tumbuh dari benih kemudian masukkan tanah yang telah dijemur sebanyak ¾ dari baki, lembabkan tanah dengan memberikan sedikit air, kemudian tanam benih yang belum diberi perlakuan pada media dengan jarak yang sama sebanyak 100 benih jagung. - Penanaman benih pada media tanah setelah aplikasi Sediakan baki plastik (bak persemaian) sebagai media tumbuh dari benih kemudian masukkan tanah yang telah dijemur sebanyak ¾ dari baki, lembabkan tanah dengan memberikan sedikit air, kemudian tanam benih yang telah diaplikasi menurut perlakuannya masing-masing pada media tanam, adapun benih yang ditanam sebanyak 100 benih dari masing-masing kombinasi perlakuan (30 kombinasi perlakuan). 5. Peubah Amatan 1. Persentase Mortalitas Imago Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah imago S. zeamais dengan menghitung imago yang mati. Pengamatan dilakukan sebanyak 8 kali pengamatan dengan interval 3 hari sekali. Persentase mortalitas imago dihitung dengan menggunakan rumus : P= a x 100 % a+b Keterangan : P = Persentase kematian imago a = Jumlah imago yang mati b = Jumlah imago yang hidup (Sastrosupadi, 2000). Universitas Sumatera Utara 2. Populasi Imago baru yang muncul Perhitungan jumlah populasi imago baru yang muncul dilakukan 1 bulan atau 30 hari setelah aplikasi, dihitung dari imago pertama keluar sampai dari imago terakhir. 3. Pengamatan Susut Bobot Biji Susut bobot bahan dihitung pada akhir penelitian. Besarnya kerusakan yang ditimbulkan oleh imago diperoleh dengan cara menghitung susut bobot bahan dengan rumus : Susut bobot bahan = a−b x 100 % a Keterangan : a = berat awal b = berat akhir (Sastrosupadi, 2000). 4. Persentase Daya Kecambah Benih Sebelum dan Sesudah Aplikasi Pengujian Daya kecambah benih dilakukan di awal penelitian (sebelum pengaplikasian insektisida nabati) dan di akhir penelitian (setelah pengaplikasian insektisida nabati). Pengamatan dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval 5 hari sekali. Tingkat persentase perkecambahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Persentase Daya Kecambah = Keterangan a x 100 % b : a = Jumlah benih yang berkecambah b = Jumlah benih yang dikecambahkan (Kartasoeptra, 2003). Universitas Sumatera Utara HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Persentase Mortalitas (%) Imago S. zeamais Data pengamatan mortalitas dan analisis sidik ragam dapat dilihat pada Tbel 1. Dari hasil analisa sidik ragam dapat dilihat bahwa perlakuan aplikasi ketiga serbuk biji pada pengamatan I-VIII memberi pengaruh nyata terhadap mortalitas imago S. zeamais (Lampiran 8-15). Tabel 1. Rataan pengaruh serbuk biji Jarak, Sirsak, dan mengkudu terhadap mortalitas (%) S. zeamais setiap perlakuan pada pengamatan 3 – 24 hsa Perlakua n % Mortalitas S. zeamais 3 – 24 hari setelah aplikasi (hsa) F0 F1 3hsa 0.00 0.00 F2 F3 F4 0.00 0.00 0.00 F5 F6 F7 F8 F9 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6hsa 0.00d 11.67c 20.00 b 26.67a 8.33c 15.00 b 23.33a 0.00d 1.67d 5.00c 9hsa 0.00f 26.67c 12hsa 0.00f 36.67b 15hsa 0.00f 46.67c 18hsa 0.00f 61.67b 21hsa 0.00f 68.33c 24hsa 0.00g 83.33c 31.67b 38.33a 23.33c 43.33a 46.67a 33.33c 51.67b 58.33a 45.00c 65.00b 71.67a 55.00c 76.67b 86.67a 65.00c 88.33b 98.33a 76.67d 30.00b 36.67a 3.33e 6.67e 16.67d 40.00b 45.00a 11.67e 16.67e 26.67d 46.33b 56.67a 21.67e 28.33d 33.33d 63.33b 68.33a 33.33e 41.67d 45.00d 75.00b 83.33a 45.00e 54.67d 56.67d 86.67b 91.67b 56.67f 61.67e 66.67e Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5 %. Tabel 1 menunjukkan bahwa pada pengamatan 24 hsa perlakuan F0 (kontrol) berbeda sangat nyata dengan perlakuan lainnya, yaitu 0% (tidak ada imago S. zeamais yang mati). Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan dengan serbuk biji jarak lebih efektif dibandingkan dengan sirsak dan mengkudu, dimana pada perlakuan F3 (Jarak 15gr/400gr jagung) mortalitas imago tertinggi bila dibandingkan dengan Universitas Sumatera Utara perlakuan lain yaitu mencapai 98.33 %. Ini dikarenakan kandungan senyawa metabolit sekunder dalam biji Jatropa curcas L. Senyawa-senyawa ini mempunyai daya insektisidal yang tinggi yang dapat menyebabkan kematian serangga uji (Sitophilus zeamais). Sesuai dengan pernyataan Lajis dan Jaafar (1998) yang menyatakan bahwa biji jarak mengandung senyawa alkaloid dan senyawa protein beracun yang disebut kursin yang bersifat insektisidal. Didukung oleh Hambali et al. (2006) menyatakan bahwa daging biji jarak selain mengandung minyak juga mengandung senyawa- senyawa kimia seperti alkaloida, saponin, dan sejenis protein beracun yang disebut kursin. Senyawa beracun ini yang diduga dapat membunuh serangga uji. Pada perlakuan beberapa dosis serbuk biji jarak yang dicobakan ternyata perlakuan F3 (serbuk biji jarak) dengan dosis 15 gram/400 gram jagung merupakan mortalitas tertinggi Sitophilus zeamais. serta berbeda nyata dengan dosis yang lainnya dan kontrol. Ini menunjukkan adanya perbedaan efek insektisidal dalam biji jarak yang disebabkan karena perbedaan dosis senyawa metabolit sekunder dalam serbuk. Dosis senyawa dalam serbuk dipengaruhi oleh akumulasi senyawa-senyawa dalam biji jarak. Perlakuan dengan serbuk biji mengkudu kurang efektif dibandingkan perlakuan lainnya, disebabkan karena bahan aktif alkaloid pada mengkudu bersifat racun perut pada imago, sehingga mekanisme kerjanya lambat mematikan serangga bila dibandingkan dengan jarak dan sirsak. Sesuai dengan pernyataan Rukmana dan Yuniarsih (2003) yang menyatakan mengkudu berfungsi sebagai insektisida nabati yang tidak membunuh hama secara cepat tetapi berpengaruh Universitas Sumatera Utara terhadap berupa ovipositant (urung bertelur) dan menurunkan nafsu makan. Juga bisa menghambat pertumbuhan bakteri B. stearothermophilus. Kematian imago yang disebabkan aplikasi dari serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu dikarenakan bahan aktif dari masing-masing insektisida nabati yang sifatnya racun sehingga mematikan hama, dan aroma yang dikeluarkan insektisida yang tidak disuka oleh hama. secara visual gejala dapat terlihat yaitu hama tidak bergerak, mengalami kelumpuhan, tidak mau makan, tubuhnya menjadi berwarna coklat gelap, dan akhirnya mati. Beda rataan mortalitas imago S. zeamais pada aplikasi serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu pada pengamatan 3 – 24 hsa dapat dilihat pada Gambar 12. % mortalitas S . z eamais 120.00 F0 100.00 F1 F2 80.00 F3 60.00 F4 40.00 F5 F6 20.00 F7 0.00 F8 3hs a 6hs a 9hs a 12hs a 15hs a 18hs a 21hs a 24hs a F9 Waktu P engamatan Gambar 12. Histogram pengaruh aplikasi serbuk biji Jarak, Sirsak dan Mengkudu terhadap mortalitas (%) imago S. zeamais pengamatan 3 – 24 hsa. Ket : F0 : Kontrol, F1 : Jarak 5gr, F2 : Jarak 10gr, F3 : Jarak 15gr, F4 : Sirsak 5 gr, F5 : Sirsak 10 gr, F6 : Sirsak 15 gr, F7 : Mengkudu 5 gr, F8 : Mengkudu 10 gr, F9 : Mengkudu 15 gr. Universitas Sumatera Utara 2. Populasi Imago S. zeamais Baru yang Muncul (ekor). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaplikasi ketiga serbuk biji yaitu jarak, sirsak dan mengkudu memberi pengaruh nyata terhadap pertambahan populasi imago S. zeamais baru yang muncul (Lampiran 16). Tabel 2. Rataan populasi imago S. zeamais baru yang muncul (ekor/400gr jagung) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Rataan 30.67a 5.33c 3.33c 0.67d 5.67b 4.67c 1.67d 8.33b 7.67b 6.33b Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5 %. Dari tabel 2 menunjukkan bahwa rata – rata populasi tertinggi imago S. zeamais baru yang muncul dihasilkan pada perlakuan kontrol yaitu 30.67 ekor/400gr jagung, sangat berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. Ini disebabkan karena pada perlakuan kontrol tidak ada hama yang mati sehingga imago S. zeamais dapat bereproduksi dengan baik dan dapat menghasilkan keturunan yang baru (imago baru). Lingkungan yang sesuai akan membantu perkembangan populasi imago berkembang dengan baik. Sesuai dengan pernyataan Fava dan Springhetti (1991), yang menyatakan reproduksi S. zeamais sangat cepat pada lingkungan yang sesuai, imago S. zeamais dapat produksi telur sebanyak 300 – 400 butir telur dalam sekali reproduksi. Dari tabel 2 dihasilkan bahwa populasi terendah imago baru yang muncul pada perlakuan F3 (serbuk jarak 15gr./400gr jagung) yaitu 0.67 ekor/400gr Universitas Sumatera Utara jagung, ini dikarenakan bertambahnya kematian kumbang betina pada perlakuan tersebut sehingga jumlah telur yang diletakkan (penetasan telur) juga berkurang. Dan juga dikarenakan bahan aktif dari setiap insektisida nabati yang mempengaruhi produksi terlur. Racun yang terdapat pada insektisida nabati menyebabkan sistem reproduksi imago terganggu sehinggga imago tidak dapat menghasilkan telur. Sesuai dengan pernyataan Hambali et. al (2006) yang menyatakan bahwa selain menyebabkan kematian pada serangga, sebagai repellent (penolak), masuknya senyawa kursin yang terdapat pada biji jarak juga bersifat toksik yang menyebabkan kegagalan bertelur pada serangga. Tabel 2 menunjukkan bahwa hasil analisis antara dosis tiap – tiap insektisida nabati berpengaruh terhadap pertambahan populasi imago baru yang muncul. Semakin besar dosis serbuk jarak, sirsak dan mengkudu maka semakin sedikit pertambahan populasi imago yang muncul pada setiap perlakuan. Pengaplikasi produksi ketiga telur serbuk dari S. insektisida zeamais. nabati Sesuai berpengaruh dengan terhadap literatur http://www.sinartani.com/info/redaksi.htm. (2010) yang menyatakan bahwa daya hambat biji mengkudu berupa ovipositant (urung bertelur) dan menurunkan nafsu makan serangga. Gruber dan karganilla (1989) menyatakan bahwa serbuk biji sirsak dapat menyebabkan pertumbuhan serangga terhambat, mengurangi produksi telur dan sebagai repellent (penolak ). Pertambahan populasi imago S. zeamais baru yang muncul setelah pengaplikasian serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu dapat dilihat pada Gambar 13. Universitas Sumatera Utara Rataan Populasi S. zeamais (Ekor) 35 30 25 20 Rataan 15 10 5 0 F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Perlakuan Gambar 13. Histogram pertambahan populasi imago S. zeamais baru yang muncul pada setiap perlakuan. Ket : F0 : Kontrol, F1 : Jarak 5gr, F2 : Jarak 10gr, F3 : Jarak 15gr, F4 : Sirsak 5 gr, F5 : Sirsak 10 gr, F6 : Sirsak 15 gr, F7 : Mengkudu 5 gr, F8 : Mengkudu 10 gr, F9 : Mengkudu 15 gr. 3. Susut Bobot Biji Jagung Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaplikasi ketiga serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu memberi pengaruh nyata terhadap susut bobot biji jagung (Lampiran 17). Tabel 3. Rataan pengaruh serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu terhadap susut bobot biji jagung Perlakuan % Susut Bobot Jagung F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 3.28a 1.73d 1.34e 0.65g 2.17c 1.70d 0.95f 2.72b 2.69b 2.37c Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5 %. Universitas Sumatera Utara Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil pengamatan persentase susut bobot jagung tertinggi terdapat pada perlakuan F0 (Kontrol) sebesar 3, 28 %. Sedangkan yang terendah pada perlakuan F3 (Jarak 15 gr/ 400gr Jagung) sebesar 0, 65 %. Dari tabel 3 menunjukkan rataan persentase penyusutan bobot biji jagung pada perlakuan kontrol lebih besar dibandingkan pada perlakuan serbuk insektisida nabati lainya. Dikarenakan pada kontrol populasi imago lebih banyak sehingga menyebabkan kerusakan lebih besar. Sesuai dengan literatur Pabbage et al (1998) yang menyatakan besarnya kerusakan dan susut bobot biji jagung dalam simpanan tergantung dari tinggi rendahnya kepadatan populasi serangga yang ada. Populasi yang semakin tinggi menyebabkan kerusakan dan penyusutan bobot biji jagung semakin meningkat. Persentase susut bobot biji jagung pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 14. Rataan % Susut Bobot Jagung 3.5 3 2.5 2 Rataan 1.5 1 0.5 0 F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Perlakuan Gambar 14. Histogram persentase susut bobot biji jagung terhadap aplikasi serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu Ket : F0 : Kontrol, F1 : Jarak 5gr, F2 : Jarak 10gr, F3 : Jarak 15gr, F4 : Sirsak 5 gr, F5 : Sirsak 10 gr, F6 : Sirsak 15 gr, F7 : Mengkudu 5 gr, F8 : Mengkudu 10 gr, F9 : Mengkudu 15 gr. Universitas Sumatera Utara 4. Persentase Daya Kecambah Benih Jagung Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengaplikasi serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu pada pengamatan I – II tidak berpengaruh nyata terhadap persentase daya kecambah benih jagung (Lampiran 18 - 19). Untuk melihat rataan daya kecambah benih jagung (%) dapat dilihat Tabel 4. Tabel 4. Rataan daya kecambah benih jagung (%) pada pengamatan 5 - 10 hst. Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 % Perkecambahan Benih jagung 5 - 10 hari setelah tanam (hst) 5hst 10hst 97.00a 98.67a 96.00b 97.33b 95.33b 97.00b 95.67b 97.33b 96.00b 97.67b 96.00b 97.00b 95.33b 97.00b 97.33a 99.33a 96.33a 98.33a 96.00b 98.00b Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan taraf 5 %. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan persentase kecambah benih jagung sebelum pengaplikasian insektisida nabati sebesar 100 %. Hal ini tidak berbeda nyata dengan persentase rata – rata kecambah setelah pengaplikasian yaitu > 97 %. Sehingga insektisida nabati tidak mempengaruhi terhadap daya kecambah benih jagung. Tabel 4. menunjukkan bahwa persentase rata – rata daya kecambah benih jagung sebesar > 97 %. Merupakan daya kecambah yang optimal karena standart umum perkecambahn benih jagung minimal adalah 80 %. Sesuai dengan pernyataan Baco et al (2000) yang menyatakan bahwa kualitas fisiologi, yaitu kualitas benih ditentukan oleh daya berkecambah/daya tumbuh dan ketahanan Universitas Sumatera Utara simpan benih, daya tumbuh minimum 80%, mutu fisiologis benih sehingga memiliki daya tumbuh yang tinggi, lebih vigor, dan tahan terhadap organisme pengganggu tanaman. Dari hasil pengamatan secara visual pada biji jagung, tidak terdapat kerusakan pada benih. Perbedaan persentase kecambah benih dipengaruhi oleh faktor lingkungan (air, temperatur, cahaya, oksigen), faktor dari benih itu sendiri yaitu tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi. Faktor-faktor tersebut berbeda-beda setiap benih. Salah satunya adalah perbedaan banyaknya air yang diberikan pada saat pemeliharaan benih. Makin banyak air yang diberikan pada benih makin tinggi persentase perkecambahannya. Sesuai dengan pernyatan Sutopo (2002) yang menyatakan pada proses perkecambahan ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor dalam dan faktor luar. Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia. Suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, penyerapan air oleh benih yang terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 – 60 % (67 – 150 % atas dasar berat kering). Persentase persentase daya kecambah benih jagung pada setiap perlakuan dapat dilihat pada Gambar 15. Universitas Sumatera Utara % Daya Kecambah Benih Jagung 100.00 99.00 98.00 Waktu Pengamatan 5hst 97.00 Waktu Pengamatan 10hst 96.00 95.00 94.00 93.00 F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Perlakuan Gambar 15. Histogram persentase daya kecambah benih jagung pada setiap perlakuan. Ket : F0 : Kontrol, F1 : Jarak 5gr, F2 : Jarak 10gr, F3 : Jarak 15gr, F4 : Sirsak 5 gr, F5 : Sirsak 10 gr, F6 : Sirsak 15 gr, F7 : Mengkudu 5 gr, F8 : Mengkudu 10 gr, F9 : Mengkudu 15 gr. Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Mortalitas imago S. zeamais tertinggi pada perlakuan F3 (serbuk jarak 15 gr) sebesar 98.33 %, F6 (serbuk sirsak 15 gr) sebesar 91.67 %, F2 (serbuk jarak 10 gr) sebesar 88.33 %, F5 (serbuk sirsak 10 gr) sebesar 86.67 %, F1 (serbuk jarak 5 gr) sebesar 83.33 %, F4 (serbuk sirsak 5 gr) sebesar 76.67 %, F9 (serbuk mengkudu 15 gr) sebesar 66.67 %, F8 (serbuk mengkudu 10 gr) sebesar 61.67 % dan terendah F7 (serbuk mengkudu 5 gr) sebesar 56.67 %. 2. Penambahan dosis dari masing-masing serbuk biji meningkatkan mortalitas imago S. Zeamais. 3. Penggunaan serbuk insektisida nabati menurunkan jumlah imago baru yang muncul pada perlakuan F3 (serbuk jarak 15 gr) rataannya sebesar 0.67 ekor, F6 (serbuk sirsak 15 gr) sebesar 1.67 ekor, F2 (serbuk jarak 10 gr) sebesar 3.33 ekor, F5 (serbuk sirsak 10 gr) sebesar 4.67 ekor, F1 (serbuk jarak 5 gr) sebesar 5.33 ekor, F4 (serbuk sirsak 5 gr) sebesar 5.67 ekor, F9 (serbuk mengkudu 15 gr) sebesar 6.33 ekor, F8 (serbuk mengkudu 10 gr) sebesar 7.67 ekor, F7 (serbuk mengkudu 5 gr) sebesar 8.33 ekor dan tertinggi perlakuan kontrol sebesar 30.67 ekor. 4. Pengaplikasian insektisida nabati mengurangi susut bobot biji jagung dalam penyimpanan sebesar 0.65 % pada perlakuan F3 (serbuk jarak 15 gr), F6 (serbuk sirsak 15 gr) sebesar 0.95 %, F2 (serbuk jarak 10 gr) sebesar 1.34 %, F5 (serbuk sirsak 10 gr) sebesar 1.7 %, F1 (serbuk jarak 5 gr) sebesar 1.73 %, F4 (serbuk sirsak 5 gr) sebesar 2.17 %, F9 (serbuk mengkudu 15 gr) sebesar Universitas Sumatera Utara 2.37 %, F8 (serbuk mengkudu 10 gr) sebesar 2.69 %, F7(serbuk mengkudu 5 gr) sebesar 2.72 % dan tertinggi sebesar 3.28 % pada perlakuan kontrol. 5. Serbuk biji jarak, sirsak dan mengkudu yang diaplikasi tidak berpengaruh terhadap daya kecambah benih jagung. Persentase kecambah tertinggi pada perlakuan F7 sebesar 99.33%. Saran Perlu diadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui efektifitas insektisida nabati terhadap mortalitas Sitophilus zeamais dengan beberapa kali pengaplikasian. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Life cycle of S. zeamais. Diakses dari http://www.padil.gov.au. (20 Juni 2010). Anonim. 2010. Rumus bangun bahan aktif Alkaloida. Diakses dari http://www. medicafarma.blogspot.com. (13 Agustus 2010). Anonim. 2010. Rumus bangun bahan aktif Annonain. Diakses dari http://www. commons.wikipedia.org/wiki/file:annonin.png&usg. (13 Agustus 2010). Anonim. 2010. Rumus bangun bahan aktif Saponin. Diakses dari http://www .ccrcfarmasiugm.wordpress.com (13 Agustus 2010). Baco, D., M. Yasin, J. Tandiabang, S. Saenong, dan T. Lando. 2000. Penanggulangan kerusakan biji jagung oleh hama Sitophilus zeamais selama penyimpanan. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 19 (1):1-5. Bangun, M.K. 1994. Perancangan Percobaan Untuk Pertanian. Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Dinas Pertanian Dan Kehutanan, 2007. Pestisida Nabati. Diakses dari http://www.jakarta.go.id/distan/BERITA/pestisida%20nabati.html. Dinas Pertanian. 2008. Swasembada Jagung. www.poultryindonesia.com (3 Juli 2010). Diakses dari http:// Dinas Pertanian Tanaman Hias, 2009. Insektisida Botani Ramah Lingkungan. Diakses dari http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi.pdf. Fava, A dan Springhetti, A. 1991. Distribusi Telur Sitophilus sp. (Coleoptera; Cuirculionidae) pada Bahan Tanaman. Jurnal Terapan, Entomologi. 406 – 411. Gruber, L.C. dan George S. Karganilla, 1989. Neem Production and use. Philippine-German Biological Plant Protection Project Bureau of Plant Industry Department of Agriculture 692 San Andress Street Malate. Philippiness Hambali, E. dkk,. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodisel. Penebar Swadaya. Jakarta Kalshoven, L, G, E. 1981. The Pest of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru. Van Hoeve. Jakarta. Universitas Sumatera Utara Kartasapoetra, A.G., 1991. Hama Hasil Tanaman dalam Gudang. Rineka Cipta, Jakarta. Kardinan, A., 2001. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasinya. Penebar Swadaya, Jakarta. Kardinan, A., 2004. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasinya. Penebar Swadaya, Jakarta. Lajis, Razak Hj dan Adenan Jaafar. 1998. Jarak Pagar: Siri Tumbuhan Beracun. http://www.prn2.usm.my/mainsite/bulletin/1998/penawa22.html. Lando. I. M, Ramlah, Margaretha dan Djafar. 2001. Penyimpanan Jagung Skala Kecil untuk Tingkat Petani. Jurnal Litbang Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Jagung dan Serealia lain. Sulawesi Selatan. Oka. I. N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Pabbage, M. S., Masmawati dan S. Mas’ud. 1998. Kumbang Bubuk Sitophilus sp. (Coleoptera; Curculionidae) dan Strategi Pengendaliannya. J. Penelitian dan Informasi Pertanian.8(2):91-99. Pakan, S. 1997. Hama Pascapanen Jagung di Kabupaten Kupang. Buletin Leguminosae Vol 4. Fakultas Pertanian. Universitas Nusa Cendana. Kupang. Purwanto, S. 2008. Perkembangan Produksi dan Kebijakan dalam Peningkatan Produksi Jagung. Direktorat Budi Daya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Rukmana, R dan Y. Yuniarsih, 2003. Mimba, Tanaman Penghasil Pestisida Alami. Kanisius, Yogyakarta. Samsudin, H., 2008. Pengendalian Hama Dengan Insektisida Botani. Diakses dari :http://petaniwahid.blogspot.com/2008/08/pengendalian-hama-denganinsektisida.html. (1 Februari 2010). Sastrasupadi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Edisirevisi. Kanisius, Yogyakarta. Hlm 37-38. Sinaga. E. 2006. Jatropa curcas L. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tumbuhan UNHAS. Jakarta. Diakses dari http://iptek.apjii.or.id/artikel/ttg tanaman obat/jarak pagar. (20 juni 2010). Subramanyam, B and Hagstrum, D.W. 1996. Integrated Management of Insects in Stored Products. Marcel Dekker, Inc. New York. Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW. Universitas Sumatera Utara Thahir, P. Sudaryono, Soemardi, dan Soehardi. 1998. Teknologi pascapanen jagung dalam Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Bogor. Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi Tumbuhan. UGM Press, Yogyakarta. Hlm 240-243. Untung. K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Untung. K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (Edisi revisi). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 : BAGAN PENELITIAN U1 U2 U3 F6 F3 F5 F3 F7 F1 F8 F0 F8 F4 F5 F0 F1 F9 F4 F7 F2 F6 F0 F4 F2 F9 F1 F7 F5 F0 F3 F2 F6 F9 Keterangan : F0 = Kontrol (tanpa insektisida nabati) F1 = Serbuk biji jarak 5 gr/400 gr biji jagung F2 = Serbuk biji jarak 10 gr/400 gr biji jagung F3 = Serbuk biji jarak 15 gr/400 gr biji jagung F4 = Serbuk biji sirsak 5 gr/400gr biji jagung Universitas Sumatera Utara F5 = Serbuk biji sirsak 10 gr/400 gr biji jagung F6 = Serbuk biji sirsak 15 gr/400 gr biji jagung F7 = Serbuk biji mengkudu 5 gr/ 400 gr biji jagung F8 = Serbuk biji mengkudu 10 gr/400 gr biji jagung F9 = Serbuk biji mengkudu 15 gr/400 gr biji jagung Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 : Deskripsi Jagung Varietas Bisma Nama Varietas Kategori SK Tahun Tetua : : : : : Rataan Hasil Potensi Hasil Pemulia Golongan Umur Panen Batang Daun Tongkol Biji Warna daun Warna biji Warna janggel Kelobot Baris biji Kedudukan tongkol Perakaran Kerebahan Jumlah baris / tongkol Bobot 1000 butir Ketahanan terhadap penyakit Keterangan : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Bisma Varietas unggul nasional (released variety) 585/Kpts/TP.240/9/1995 tanggal 4 September 1995 1995 Persilangan Pool-4 dengan bahan introduksi disertai seleksi massa selama 5 generasi 7,0 - 7,5 ton/ha pipilan kering kl.5,7 ton/ha pipilan kering Subandi, Rudy Setyono, A. Sudjana, Hadiatmi Bersari bebas 50% keluar rambut kl. 60 hari kl. 96 hari Tegap, tinggi medium (kl. 190 cm) Panjang dan lebar Besar dan silindris Setengah mutiara (semi flint) Hijau tua Kuning Kebanyakan putih (kl. 98%) Menutup tongkol dengan cukup baik (kl. 95%) Lurus dan rapat Kurang lebih di tengah-tengah batang Baik Tahan rebah 12 - 18 baris : 307 gram : Tahan terhadap karat dan bercak daun : Baik untuk dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. (untuk dataran tinggi belum diadakan percobaan) Universitas Sumatera Utara Lampiran 3. Serbuk Biji yang digunakan sebagai insektisida nabati Serbuk Biji Sirsak Serbuk Biji Mengkudu Serbuk Biji Jarak Lampiran 4. Imago S. Zeamias yang Mati Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Foto Penelitian Universitas Sumatera Utara Lampiran 6. Foto Kecambah Benih Jagung Sebelum Aplikasi Insektisida Nabati Lampiran 7. Foto Kecambah Benih Jagung Setelah Aplikasi Insektisida Nabati Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 3 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Ulangan II 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 III 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Total Rataan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 6 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 15.00 20.00 25.00 10.00 15.00 25.00 0.00 0.00 5.00 115.00 11.50 Ulangan II 0.00 10.00 20.00 30.00 5.00 15.00 20.00 0.00 0.00 0.00 100.00 10.00 III 0.00 10.00 20.00 25.00 10.00 15.00 25.00 0.00 5.00 10.00 120.00 12.00 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II F0 6.76 6.76 F1 22.79 18.43 F2 26.57 26.57 F3 30.00 33.21 F4 18.43 12.92 F5 22.79 22.79 F6 30.00 26.57 F7 6.76 6.76 F8 6.76 6.76 F9 12.92 6.76 Total 183.77 167.52 Rataan 18.38 16.75 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db JK Perlakuan 9 2266.48 Error 20 141.16 Total 29 2407.64 FK = 9806.40 KK = 0.20 % Keterangan : tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata KT 251.83 7.06 III 6.76 18.43 26.57 30.00 18.43 22.79 30.00 6.76 12.92 18.43 191.10 19.11 F.Hit 35.68 Total Rataan 0.00 35.00 60.00 80.00 25.00 45.00 70.00 0.00 5.00 15.00 335.00 0.00 11.67 20.00 26.67 8.33 15.00 23.33 0.00 1.67 5.00 11.17 Total Rataan 20.28 59.66 79.70 93.21 49.79 68.36 86.57 20.28 26.44 38.12 542.39 6.76 19.89 26.57 31.07 16.60 22.79 28.86 6.76 8.81 12.71 18.08 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan 1.53 -4.5 2 2.95 4.52 F0 F7 0.00 -3.1 3 3.1 4.75 F8 0.12 4 3.18 4.88 F9 3.35 5 3.25 4.98 F4 6.61 6 3.3 5.06 F1 9.88 7 3.34 5.12 F5 14.85 8 3.36 5.15 F2 18.15 9 3.38 5.18 F6 21.45 10 3.4 5.22 F3 1.67 5.00 8.33 11.67 15.00 20.00 23.33 26.67 a b c d Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 9 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 25.00 30.00 40.00 20.00 30.00 35.00 0.00 5.00 15.00 200.00 20.00 Ulangan II 0.00 30.00 35.00 40.00 30.00 30.00 40.00 5.00 5.00 15.00 230.00 23.00 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II F0 6.76 6.76 F1 30.00 33.21 F2 33.21 36.27 F3 39.23 39.23 F4 26.57 33.21 F5 33.21 33.21 F6 36.27 39.23 F7 6.76 12.92 F8 12.92 12.92 F9 22.79 22.79 Total 247.72 269.76 Rataan 24.77 26.98 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db JK Perlakuan 9 3477.47 Error 20 109.34 Total 29 3586.81 FK = 20159.68 KK = 0.11 % Keterangan : ** = Sangat Nyata * = Nyata tn = Tidak Nyata III 0.00 25.00 30.00 35.00 20.00 30.00 35.00 5.00 10.00 20.00 210.00 21.00 III 6.76 30.00 33.21 36.27 26.57 33.21 36.27 12.92 18.43 26.57 260.21 26.02 KT 386.39 5.47 Total Rataan 0.00 80.00 95.00 115.00 70.00 90.00 110.00 10.00 20.00 50.00 640.00 0.00 26.67 31.67 38.33 23.33 30.00 36.67 3.33 6.67 16.67 21.33 Total Rataan 20.28 93.21 102.69 114.73 86.34 99.63 111.77 32.60 44.28 72.14 777.68 77.77 6.76 31.07 34.23 38.24 28.78 33.21 37.26 10.87 14.76 24.05 F.Hit 70.68 25.92 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.35 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -4.0 2 2.95 3.98 F0 0.00 -0.9 3 3.1 4.18 F7 3.33 2.38 4 3.18 4.29 F8 6.67 12.28 5 3.25 4.39 F9 16.67 18.88 6 3.3 4.45 F4 23.33 22.16 7 3.34 4.51 F1 26.67 25.46 8 3.36 4.54 F5 30.00 27.11 9 3.38 4.56 F2 31.67 32.08 10 3.4 4.59 F6 36.67 33.70 11 3.43 4.63 F3 38.33 a b c •d e •f Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 12 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 35.00 40.00 45.00 35.00 40.00 40.00 10.00 15.00 30.00 290.00 29.00 Ulangan II 0.00 45.00 45.00 50.00 35.00 40.00 50.00 10.00 10.00 25.00 310.00 31.00 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II 6.76 6.76 F0 36.27 42.13 F1 39.23 42.13 F2 42.13 45.00 F3 36.27 36.27 F4 39.23 39.23 F5 39.23 45.00 F6 18.43 18.43 F7 22.79 18.43 F8 33.21 30.00 F9 Total 313.56 323.39 Rataan 31.36 32.34 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman Perlakuan Error Total FK = 30626.90 KK = 0.13 Keterangan : ** = * = tn = db 9 20 29 III 0.00 30.00 45.00 45.00 30.00 40.00 45.00 15.00 25.00 25.00 300.00 30.00 III 6.76 33.21 42.13 42.13 33.21 39.23 42.13 22.79 30.00 30.00 321.59 32.16 JK 3756.47 162.80 3919.27 Total Rataan 0.00 110.00 130.00 140.00 100.00 120.00 135.00 35.00 50.00 80.00 900.00 0.00 36.67 43.33 46.67 33.33 40.00 45.00 11.67 16.67 26.67 30.00 Total Rataan 20.28 111.61 123.49 129.26 105.75 117.69 126.36 59.66 71.22 93.21 958.54 95.85 6.76 37.20 41.16 43.09 35.25 39.23 42.12 19.89 23.74 31.07 KT 417.39 8.14 F.Hit 51.28 31.95 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 % Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.65 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -4.9 2 2.95 4.86 F0 0.00 6.6 11.43 3 4 3.1 3.18 5.11 5.24 F7 F8 11.67 16.67 21.32 5 3.25 5.35 F9 26.67 27.89 6 3.3 5.44 F4 33.33 31.17 7 3.34 5.50 F1 36.67 34.47 8 3.36 5.53 F5 40.00 37.76 9 3.38 5.57 F2 43.33 39.40 10 3.4 5.60 F6 45.00 41.02 11 3.43 5.65 F3 46.67 a b •c •d e •f Universitas Sumatera Utara Lampiran 12. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 15 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 45.00 50.00 60.00 50.00 50.00 55.00 20.00 25.00 35.00 390.00 39.00 Ulangan II 0.00 55.00 55.00 60.00 45.00 50.00 60.00 25.00 25.00 30.00 405.00 40.50 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II 6.76 6.76 F0 42.13 47.87 F1 45.00 47.87 F2 50.77 50.77 F3 45.00 42.13 F4 45.00 45.00 F5 47.87 50.77 F6 26.57 30.00 F7 30.00 30.00 F8 36.27 33.21 F9 Total 375.36 384.38 Rataan 37.54 38.44 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman Perlakuan Error Total FK = 42333.30 KK = 0.08 Keterangan : ** = * = tn = db 9 20 29 JK 4565.10 117.80 4682.91 III 0.00 40.00 50.00 55.00 40.00 45.00 55.00 20.00 35.00 35.00 375.00 37.50 III 6.76 39.23 45.00 47.87 39.23 42.13 47.87 26.57 36.27 36.27 367.20 36.72 KT 507.23 5.89 Total Rataan 0.00 140.00 155.00 175.00 135.00 145.00 170.00 65.00 85.00 100.00 1170.00 0.00 46.67 51.67 58.33 45.00 48.33 56.67 21.67 28.33 33.33 39.00 Total Rataan 20.28 129.23 137.87 149.41 126.36 132.13 146.51 83.13 96.27 105.75 1126.94 112.69 6.76 43.08 45.96 49.80 42.12 44.04 48.84 27.71 32.09 35.25 F.Hit 86.12 ** 37.56 F. 05 2.39 F. 01 3.46 % Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.40 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -4.1 2 2.95 4.13 F0 0.00 17.3 23.87 3 4 3.1 3.18 4.34 4.46 F7 F8 21.67 28.33 28.78 5 3.25 4.55 F9 33.33 40.38 6 3.3 4.62 F4 45.00 41.99 7 3.34 4.68 F1 46.67 43.62 8 3.36 4.71 F5 48.33 46.93 9 3.38 4.74 F2 51.67 51.91 53.52 10 11 3.4 3.43 4.76 4.81 F6 F3 56.67 58.33 a b c d •e •f Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 18 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 60.00 70.00 75.00 60.00 65.00 70.00 35.00 40.00 45.00 520.00 52.00 Ulangan II 0.00 65.00 65.00 70.00 50.00 65.00 70.00 30.00 40.00 45.00 500.00 50.00 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II 6.76 6.76 F0 50.77 53.73 F1 56.79 53.73 F2 60.00 56.79 F3 50.77 45.00 F4 53.73 53.73 F5 56.79 56.79 F6 36.27 33.21 F7 39.23 39.23 F8 42.13 42.13 F9 Total 453.24 441.10 Rataan 45.32 44.11 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 59169.17 KK = 0.04 % Keterangan : ** = * = tn = JK 6171.40 71.41 6242.81 III 0.00 60.00 60.00 70.00 55.00 60.00 65.00 35.00 45.00 45.00 495.00 49.50 III 6.76 50.77 50.77 56.79 47.87 50.77 53.73 36.27 42.13 42.13 437.98 43.80 KT 685.71 3.57 Total Rataan 0.00 185.00 195.00 215.00 165.00 190.00 205.00 100.00 125.00 135.00 1515.00 0.00 61.67 65.00 71.67 55.00 63.33 68.33 33.33 41.67 45.00 50.50 Total Rataan 20.28 155.27 161.29 173.58 143.64 158.23 167.31 105.75 120.59 126.39 1332.32 133.23 F.Hit 192.05 6.76 51.76 53.76 57.86 47.88 52.74 55.77 35.25 40.20 42.13 44.41 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.09 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -3.2 2 2.95 3.22 F0 0.00 29.9 38.20 3 4 3.1 3.18 3.38 3.47 F7 F8 33.33 41.67 41.45 5 3.25 3.55 F9 45.00 51.40 6 3.3 3.60 F4 55.00 58.03 7 3.34 3.64 F1 61.67 59.66 8 3.36 3.67 F5 63.33 61.31 9 3.38 3.69 F2 65.00 64.62 10 3.4 3.71 F6 68.33 67.93 11 3.43 3.74 F3 71.67 a b •c d •e •f Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 21 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan I F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan 0.00 65.00 80.00 85.00 70.00 75.00 80.00 40.00 54.00 50.00 599.00 59.90 Ulangan II 0.00 75.00 75.00 90.00 60.00 75.00 85.00 45.00 50.00 60.00 615.00 61.50 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II 6.76 6.76 F0 53.73 60.00 F1 63.43 60.00 F2 67.21 71.57 F3 56.79 50.77 F4 60.00 60.00 F5 63.43 67.21 F6 39.23 42.13 F7 47.29 45.00 F8 45.00 50.77 F9 Total 502.89 514.21 Rataan 50.29 51.42 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 78262.18 KK = 0.06 % Keterangan : ** = * = tn = JK 8405.97 130.04 8536.01 III 0.00 65.00 75.00 85.00 65.00 75.00 85.00 50.00 60.00 60.00 620.00 62.00 III 6.76 53.73 60.00 67.21 53.73 60.00 67.21 45.00 50.77 50.77 515.18 51.52 KT 934.00 6.50 Total Rataan 0.00 205.00 230.00 260.00 195.00 225.00 250.00 135.00 164.00 170.00 1834.00 0.00 68.33 76.67 86.67 65.00 75.00 83.33 45.00 54.67 56.67 61.13 Total Rataan 20.28 167.46 183.43 205.99 161.29 180.00 197.86 126.36 143.06 146.54 1532.27 153.23 F.Hit 143.64 6.76 55.82 61.14 68.66 53.76 60.00 65.95 42.12 47.69 48.85 51.08 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.47 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -4.3 2 2.95 4.34 F0 0.00 40.4 49.99 3 4 3.1 3.18 4.56 4.68 F7 F8 45.00 54.67 51.89 5 3.25 4.78 F9 56.67 60.14 6 3.3 4.86 F4 65.00 63.41 7 3.34 4.92 F1 68.33 70.05 8 3.36 4.95 F5 75.00 71.69 9 3.38 4.98 F2 76.67 78.32 10 3.4 5.01 F6 83.33 81.62 11 3.43 5.05 F3 86.67 a b c d •e •f Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Persentase Mortalitas S. zeamais pada Pengamatan 24 Hari Setelah Aplikasi (hsa) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 0.00 80.00 90.00 95.00 75.00 85.00 90.00 55.00 55.00 65.00 690.00 69.00 Ulangan II 0.00 85.00 85.00 100.00 75.00 85.00 90.00 55.00 65.00 65.00 705.00 70.50 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II 6.76 6.76 F0 63.43 67.21 F1 71.57 67.21 F2 77.08 90.00 F3 60.00 60.00 F4 67.21 67.21 F5 71.57 71.57 F6 47.87 47.87 F7 47.87 53.73 F8 53.73 53.73 F9 Total 567.09 585.29 Rataan 56.71 58.53 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 103403.84 KK = 0.09 % Keterangan : ** = * = tn = JK 12274.78 208.94 12483.72 III 0.00 85.00 90.00 100.00 80.00 90.00 95.00 60.00 65.00 70.00 735.00 73.50 III 6.76 67.21 71.57 90.00 63.43 71.57 77.08 50.77 53.73 56.79 608.90 60.89 KT 1363.86 10.45 Total Rataan 0.00 250.00 265.00 295.00 230.00 260.00 275.00 170.00 185.00 200.00 2130.00 0.00 83.33 88.33 98.33 76.67 86.67 91.67 56.67 61.67 66.67 71.00 Total Rataan 20.28 197.86 210.34 257.08 183.43 205.99 220.21 146.51 155.33 164.25 1761.28 176.13 F.Hit 130.55 6.76 65.95 70.11 85.69 61.14 68.66 73.40 48.84 51.78 54.75 58.71 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= 1.87 P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan -5.5 2 2.95 5.50 F0 0.00 50.9 55.74 3 4 3.1 3.18 5.78 5.93 F7 F8 56.67 61.67 60.61 5 3.25 6.06 F9 66.67 70.51 6 3.3 6.16 F4 76.67 77.10 7 3.34 6.23 F1 83.33 80.40 8 3.36 6.27 F5 86.67 82.02 9 3.38 6.31 F2 88.33 85.33 10 3.4 6.34 F6 91.67 91.93 11 3.43 6.40 F3 98.33 •a b •c •d e •f •g Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Persentase populasi Imago baru yang muncul pada pengamatan 30 hari setelah aplikasi (hsa) Ulangan II 28.00 4.00 3.00 2.00 5.00 4.00 0.00 8.00 7.00 5.00 66.00 6.60 III 34.00 7.00 3.00 0.00 5.00 5.00 3.00 9.00 9.00 8.00 83.00 8.30 Transformasi data Arc Sin √X Ulangan Perlakuan I II F0 33.21 31.95 F1 12.92 11.54 F2 11.54 9.97 F3 6.76 8.13 F4 15.34 12.92 F5 12.92 11.54 F6 8.13 6.76 F7 16.43 16.43 F8 15.34 15.34 F9 14.18 12.92 Total 146.77 137.50 Rataan 14.68 13.75 III 35.67 15.34 9.97 6.76 12.92 12.92 9.97 17.46 17.46 16.43 154.91 15.49 Perlakuan I 30.00 5.00 4.00 0.00 7.00 5.00 2.00 8.00 7.00 6.00 74.00 7.40 F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 6429.24 KK = 0.06 % Keterangan : ** = * = tn = JK 1459.43 37.85 1497.28 KT 162.16 1.89 Total Rataan 92.00 16.00 10.00 2.00 17.00 14.00 5.00 25.00 23.00 19.00 223.00 30.67 5.33 3.33 0.67 5.67 4.67 1.67 8.33 7.67 6.33 7.43 Total Rataan 100.83 39.80 31.49 21.65 41.18 37.38 24.86 50.32 48.14 43.53 439.18 33.61 13.27 10.50 7.22 13.73 12.46 8.29 16.77 16.05 14.51 14.64 F.Hit 85.68 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan 0.79 -1.7 2 2.95 2.34 F3 0.67 -0.8 3 3.1 2.46 F6 1.67 0.80 4 3.18 2.53 F2 3.33 2.09 5 3.25 2.58 F5 4.67 2.71 6 3.3 2.62 F1 5.33 3.02 7 3.34 2.65 F4 5.67 3.66 8 3.36 2.67 F9 6.33 4.99 9 3.38 2.68 F8 7.67 5.63 10 3.4 2.70 F7 8.33 27.95 11 3.43 2.72 F0 30.67 •a b c d Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Data Pengaruh Dosis Serbuk Biji Terhadap Susut Bobot Biji Jagung 30 Hari Setelah Aplikasi (hsa). Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 3.35 1.88 1.50 0.55 2.07 1.60 0.93 2.73 2.70 2.30 19.61 1.96 Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 115.29 KK = 0.06 % Keterangan : ** = * = tn = Ulangan II 3.20 1.60 1.13 0.85 2.18 1.72 1.08 2.80 2.63 2.45 19.64 1.96 JK 18.92 0.28 19.19 III 3.30 1.72 1.40 0.54 2.25 1.78 0.85 2.63 2.73 2.36 19.56 1.96 KT 2.10 0.01 F.Hit 151.06 Total 9.85 5.20 4.03 1.94 6.50 5.10 2.86 8.16 8.06 7.11 58.81 Rataan 3.28 1.73 1.34 0.65 2.17 1.70 0.95 2.72 2.69 2.37 1.96 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan 0.07 2 2.95 0.20 F3 0.65 0.74 1.12 3 4 3.1 3.18 0.21 0.22 F6 F2 0.95 1.34 1.48 5 3.25 0.22 F5 1.70 1.51 6 3.3 0.22 F1 1.73 1.94 7 3.34 0.23 F4 2.17 2.14 8 3.36 0.23 F9 2.37 2.46 9 3.38 0.23 F8 2.69 2.49 10 3.4 0.23 F7 2.72 3.05 11 3.43 0.23 F0 3.28 •a b c d •e •f •g Universitas Sumatera Utara Lampiran 18. Data Pengaruh Dosis Serbuk biji Terhadap Daya Kecambah Benih Jagung 5 Hari Setelah Tanam (hst) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 97.00 96.00 95.00 95.00 96.00 96.00 95.00 97.00 96.00 96.00 959.00 95.90 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 276864.13 KK = 0.01 % Keterangan : ** = * = tn = Ulangan II 97.00 95.00 95.00 95.00 97.00 96.00 97.00 97.00 96.00 96.00 961.00 96.10 JK 13.20 6.67 19.87 III 97.00 96.00 96.00 95.00 95.00 96.00 96.00 98.00 97.00 96.00 962.00 96.20 KT 1.47 0.33 Total Rataan 291.00 287.00 286.00 285.00 288.00 288.00 288.00 292.00 289.00 288.00 2882.00 97.00 95.67 95.33 95.00 96.00 96.00 96.00 97.33 96.33 96.00 96.07 F.Hit 4.40 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan 0.39 94.2 2 2.95 1.16 F6 F2 94.4 3 3.1 1.22 F3 95.33 95.67 94.75 4 3.18 1.25 F1 F4 F5 F9 96.00 95.05 5 3.25 1.28 F8 95.70 6 3.3 1.30 F0 96.01 7 3.34 1.32 F7 96.33 97.00 97.33 a b Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. Data Pengaruh Dosis Serbuk biji Terhadap Daya Kecambah Benih Jagung 10 Hari Setelah Tanam (hst) Perlakuan F0 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 Total Rataan I 99.00 97.00 97.00 97.00 98.00 97.00 96.00 100.00 98.00 98.00 977.00 97.70 Daftar Sidik Ragam Sumber Keragaman db Perlakuan 9 Error 20 Total 29 FK = 286749.63 KK = 0.00 % Keterangan : ** = * = tn = Ulangan II 98.00 97.00 97.00 98.00 98.00 97.00 97.00 99.00 98.00 98.00 977.00 97.70 JK 17.37 6.00 23.37 III 99.00 98.00 97.00 97.00 97.00 97.00 98.00 99.00 99.00 98.00 979.00 97.90 KT 1.93 0.30 Total Rataan 296.00 292.00 291.00 292.00 293.00 291.00 291.00 298.00 295.00 294.00 2933.00 98.67 97.33 97.00 97.33 97.67 97.00 97.00 99.33 98.33 98.00 97.77 F.Hit 6.43 ** F. 05 2.39 F. 01 3.46 Sangat Nyata Nyata Tidak Nyata Universitas Sumatera Utara Uji Jarak Duncan Sy= P SSR 0.05 LSR 0.05 Perlakuan Rataan 0.32 96.1 2 2.95 0.93 F3 F2 97.00 96.3 3 3.1 0.98 F1 F6 97.33 96.66 4 3.18 1.01 F5 97.67 96.97 5 3.25 1.03 F4 F9 98.00 97.29 6 3.3 1.04 F8 97.61 7 3.34 1.06 F0 98.27 8 3.36 1.06 F7 98.33 98.67 99.33 a b Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati..

Gratis

Feedback