Feedback

Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara.

Informasi dokumen
GERAKAN SOSIAL KAUM TANI (Studi Kasus Pengorganisasian Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Sosial Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Disusun Oleh: DIKA YUDHISTIRA RIZQY 070902052 DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 1    Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Pertama sekali penulis ingin mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas limpahan taufiq dan ‘inayah Nya, karena skripsi yang telah lama penulis harapkan kehadirannya ini dapat diselesaikan. Walaupun penulis menyadari bahwa masih banyak kecatatan dan kekurangan terlebih lagi untuk dikonsumsi oleh orang-orang yang rindu akan sebuah gerakan sosial. Sholawat dan Salam penulis sampaikan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil memerankan fungsi kehambaan dan kekhalifahannya secara sempurna di alam ini. Sejatinya Nabi Muhammad SAW harus dijadikan uswat hasanah bagi manusia. Sehingga regenerasi manusia yang ada dapat mentransformasikan ajaran dan sikap seorang Nabi akhir zaman tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan orientasi awalnya adalah guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Strata satu (S-1) pada Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Bahan yang diambil berasal dari studi kepustakaan dan studi lapangan yang penulis lakukan. Kehadiran penelitian ini bermaksud untuk mengangkat tema “Gerakan Sosial” yang dijadikan alat untuk melihat organisasi masyarakat Tani sebagai sebuah gerakan sosial. Penelitian ini memfokuskan pada perjuangan SPI (Serikat Petani Indonesia). Adapun judul skripsi ini adalah “Gerakan Sosial Kaum Tani (Studi kasus pengorganisasian tani di DPW SPI Sumut)”. Jujur diakui, skripsi ini banyak sekali kekurangannya, jika pembaca sekalian merasa memilikinya, berikanlah saran dan kritikan yang konstruktif agar skripsi ini lebih baik lagi. Namun apapun bentuknya, hanya inilah yang dapat penulis berikan untuk penambahan amunisi keilmuan bagi kita semua. Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang bersinggungan langsung dan pernah bersentuhan pemikiran dengan penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. karena sedikit banyaknya pengerjaan skripsi ini adalah kristalisasi dari diskusi-diskusi serta pemikiran-pemikiran 1    Universitas Sumatera Utara penulis selama menjalani tugas dan tanggungjawab sebagai seorang mahasiswa. Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada : 1. Bapak Prof. Badaruddin Rangkuti, selaku dekan FISIP USU. 2. Bapak/ibu Pembantu Dekan FISIP USU, Pak Zakaria Taher (PD 1), Ibu Rosmiani (PD 2) dan Pak Edward (PD 3). 3. Ibu Hairani Siregar S.sos, MSP selaku Ketua departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial. 4. Bapak Agus suriadi S.sos, M.si selaku Dosen pembimbing yang selalu memberikan arahan, masukan dan pemikiran-pemikiran untuk pemantapan skripsi ini. Thank’s a lot sir. 5. Terimakasih juga saya ucapkan kepada staff pengajar dan staff kepegawaian di kampus FISIP USU. Yang telah memberi banyak kesempatan untuk saya menimba ilmu dan meminta pertolonganpertolongan sehingga menghantarkan saya pada akhir masa studi ini. 6. Thank’s to my parent, buat orangtuaku H.Tumino dan Hj. Yuslinar Siregar. Terimakasih semua yang telah diberikan selama ini serta harus sabar menunggu sampai gelar S.sos itu didapatkan. 7. Buat dua my little sister ku, Tya Maghfirah R dan Nazwa Annisa R, melihat kalian berdua membuat Mas lebih termotivasi untuk menyelesaikan studi ini. Don’t stop to study n fly away into your dreams. 8. Sepupu-sepupu awak merangkap teman se-rumah awak di kota Medan. Doi, Didit n Pupa. akhirnya satu persatu dari kita beranjak dewasa, dan ini saat awak untuk menyusul apa yang udah kalian lakukan. Buat yang lain, Bou-Bou dan Tulang ku dikampung semua, sepupu q Nita,Rika,Ery,Pu2t, denny, ovi dll, terimakasih atas perhatian dan kehangatan yang udah kita buat, semoga bisa jadi hal positif untuk keluarga kita kedepan. 1    Universitas Sumatera Utara 9. Miftah “Lady Rose” Khairuza, Thank’s udh bisa beradaptasi dengan Mas yaa. Serta support dan “bimbingan-bimbingan khusus nya” selama ini. dengan itu semua lah proses-proses yang ada ini bisa menjadi lebih indah. 10. Kawan-kawan Mokondo dan Mokondowati Kesos, Amir (Jgn asik mw pulkam aja bawaan geng, selesaikan dulu itu), Rholand (duluan aku yaa ketua), Acong (siapa lagi korban yg kau tipuin cinaa.he), Ridho (Kapan serius nya do. Fokus dulu), Ferdy (apalagi yg dtggu cuy, sembari2 selesai nya itu), Ojan (jgn byk “haaa?!” nya, responsive dikit), Baim (marcepatcepat pulak selesai lae ya). Boy (apa yg bs kami bantu?!), Endika (Si perfectsionis man) Rizal Bolang, Billy, Sunario, Ody, Asep, Manuk, Timo, Petrus dll (Mantap laah utk kalian semua GBU). Aing, Wirda, Malida, Vi2n, Titik, Ayu dll (kalo udah sama kalian, kek sama bou2 ku, bising, he.). 11. Kawan-kawan seperjuangan Batu Kristal, sungguh banyak yang kita hadapi dan nikmati selama masa-masa asik itu. Terima kasih banyak telah menjadi kawan berjuang. Sebagai kesimpulan akhir semoga kita bisa mengerti dan merasakan apa yg disebut dgn konsolidasi, friends. 12. Keluarga Besar HMI Komisariat FISIP USU. Tidak cukup kata terimakasih yang dihantarkan kepada kakanda dan adinda semua yang ada disana. Pastinya, setiap jejak rekam proses yang dilewati disana menjadi amunisi yang berguna untuk struggle kedepannya. Semoga Allah SWT memberi yang terbaik untuk kita semua dan rumah ini. YAKUSA!! 13. Kepengurusan PEMA FISIP USU Periode 2010-2011. Siapapun itu, yang telah bersentuhan pemikiran dengan saya. Terimakasih banyak. 14. Kepengurusan IMIKS FISIP USU Periode 2009-2010. Terus bergerak kawan untuk sesuatu yang lebih baik lagi untuk kita semua, kalau ada yang salah dengan kerendahan diri saya meminta maaf. 15. Keluarga besar DPW SPI Sumatera Utara. Bang Henry, Bang Wagimin, Bang Edy, Bang Dhani, Bang Syahmana, Bang Tumpak, Bang Chandra, 1    Universitas Sumatera Utara Bang foo, Bang Dika, Kak Andre, Kak dewi, Kak Ri2 dll serta keluarga besar SINTESA bang Pian, Ca’ kardi, Kak Lisda, Kak Novi dll serta juga seluruh petani anggota DPW SPI Sumut yang tidak bisa disebut satu persatu. Terimakasih atas kesempatan belajar yang diberikan disana sehingga saya mengerti apa artinya perjuangan itu. 16. Semua pihak yang pernah bersentuhan pemikiran dengan penulis. Sedikit banyaknya skripsi ini adalah kristalisasi pemikiran yang selama ini ada. Terimakasih semuanya. Akhirul kallam, setiap fase yang terlewati merupakan pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi kedepan, skripsi ini pun tidak ada apa-apanya tanpa dilanjutkan dengan hal-hal kongkrit untuk sebuah kebenaran. Oleh karena itu, ucapan terimakasih mesti penulis ucapkan kepada semua support, bantuan dan motivasi dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengan penulis. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan khusus bagi pergerakan petani di SPI sebagai amunisi keilmuan. Suarakan terus kebenaran dan keadilan itu, karena kita selalu di janjikan kedamaian tanpa keadilan yang nyata. Medan, 21 September 2011 Dika Yudhistira Rizqy 1    Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL ABSTRAK Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. (Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 105 Halaman, 2 tabel, 3 bagan, lampiran, serta 15 kepustakaan dan 15 sumber lain yang berasal dari internet, karya ilmiah, dan lembaran Negara.) Salah satu sektor publik yang paling di dominasi oleh masyarakat Indonesia adalah pertanian. Adapun masalah yang mengakar di sektor pertanian adalah ketimpangan terhadap pola penguasaan lahan/tanah dalam struktur sosial. Konflik yang ada pun tidak terlepas dari pandangan ekonomi nasional yang mengacu kepada hasil konstruksi kekuatan capital global. Akibatnya tanah menjadi komoditas dan memunculkan pasar tanah, sehingga investor lebih tertarik menanamkan modalnya dalam bentuk tanah karena akan sangat menguntungkan. Oleh karena itu, petani juga tidak berhenti pada satu titik saja, petani akan mengalami dinamika kehidupan. Mereka senantiasa terkait dengan perubahan sosial, dimana salah satu caranya adalah melakukan gerakan petani. Masalah yang ingin diangkat adalah “Bagaimana pola pengorganisasian tani dan implementasi perjuangan yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pengorganisasian dan implementasi perjuangan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Sumatera Utara serta di areal yang secara struktur menjadi tanggungjawabnya dengan jumlah informan sebanyak 12 orang. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan observasi ke lapangan. Data yang didapat kemudian dinarasikan secara kualitatif dengan melakukan proses triangulasi. Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan telah dianalisis dapat disimpulkan bahwa pola pengorganisasian dan perjuangan yang dilakukan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara adalah gerakan yang organik. Artinya gerakan yang dibangun atas kesadaran kolektif untuk berjuang. Perjuangan organisasi yang ditimbulkan dipandang untuk membangkitkan semangat juang petani atas kondisi yang dihadapi dengan cara memberi suatu proses kaderisasi (pendidikan dan konsolidasi) bagi petani. Kata Kunci : Kaum Tani, Pengorganisasian, Gerakan Sosial. 1    Universitas Sumatera Utara UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE ABSTRACT Social movement peasant in sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera. (This thesis is composed of 6 chapters, 105 pages, 2 tables, 3 charts, appendix and 15 literature and other sources from the internet, scientific labour, journalist and sheet of state) One of the public sector dominate by the people of Indonesia is a farming. The main problem in farming sector is the injustice rule to own land model in social structure. The conflict come out because of national economic persfective related to the result of the power capital global construction. The feed back is going to the land and become comuditty and create the land market. So the investor are more interested to put their investment in land sector. Because it is big profit for them. Inspite of the peasant don’t stop in one line. They always move to the dynamica of life. They always be related to social change. Where there one way is doing to peasant movement. The that is going to be picked up problem. “Here is about the model in organizing peasant and implementation struggle that be created by sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera”. This research has aim for knowing “how is the model in organizing peasant and implementation struggle by sub organizing of Indonesian peasant of North Sumatera”. This method research use explorative method research in qualitative approach. The research was made in sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera and also in area that the structurebecome their responsibility with size of informant about 12 man. Method in collecting data by interview guide and observation of the field. The data that was got by researcher is being narrated by qualitative method with the triangulasi process. Based on the data that has been analayzed the researcher take conclusion that organizing model and struggle that was made in sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera is organic movement. The point is movement that built based on conclusion collective. Organization struggle that was created to built spirit peasant based on condition that they face by giving training (education and consolidate) for peasant. Keyword : peasant, organizing, social movement. 1    Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Kata pengantar . i Abstraksi . v Daftar isi . vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah . 1 1.2 Perumusan Masalah . 15 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 16 1.3.1 Tujuan Penelitian . 16 1.3.2 Manfaat Penelitian . 16 Sistematika Penulisan . 17 1.4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 Gerakan Sosial . 19 2.1.1 Pengertian Gerakan Sosial. 19 2.1.2 Pendekatan Melalui Teori Marxist . 23 2.1.3 Pendekatan Interaksionisme Simbolik. 27 Kesejahteraan Sosial . 28 2.2.1 Pengembangan Masyarakat dalam Ilmu kesejahteraan sosial. 32 2.3 Kerangka Pemikiran . 32 2.4 Defenisi Konsep . 35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian . 36 3.2 Lokasi Penelitian . 37 1    Universitas Sumatera Utara 3.3 Unit Analisis dan Informan. 37 3.3.1 Unit Analisis . 37 3.3.2 Informan . 38 3.4 Teknik Pengumpulan Data . 39 3.5 Teknik Analisa Data . 40 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Organisasi . 42 4.2 Tujuan Organisasi . 45 4.3 Program Organisasi . 47 4.4 Platform Organisasi . 49 4.5 Struktur Organisasi . 51 4.6 Jumlah Satuan Organisasi . 63 4.7 Keanggotaan Organisasi . 70 4.7.1 Syarat Keanggotaan . 70 4.7.2 Jenis dan Jenjang Keanggotaan . 71 BAB V ANALISA DATA 5.1 Semangat Lahirnya Gerakan Serikat Petani Indonesia . 5.2 73 Pendidikan Kader dan Konsolidasi Dalam Organisasi . 80 5.2.1 Pendidikan Kader . 80 5.2.2 Konsolidasi . 84 5.3 Perjuangan Pembaharuan Agraria dan Pedesaan . 86 5.4 Gerakan Pertanian . 91 5.4.1 Pertanian Berkelanjutan Berbasis 1    Universitas Sumatera Utara 5.5 Keluarga Petani . 91 5.4.2 Kedaulatan Pangan . 93 5.4.3 Hak Asasi Petani . 95 5.4.4 Perlawanan Terhadap Neoliberalisme . 97 Pembentukan Perjuangan Organisasi . 98 5.5.1 Penyadaran Kelas Petani . 98 5.5.2 Tekanan Politik . 100 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan . 103 6.2 Saran . 104 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1    Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL ABSTRAK Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. (Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 105 Halaman, 2 tabel, 3 bagan, lampiran, serta 15 kepustakaan dan 15 sumber lain yang berasal dari internet, karya ilmiah, dan lembaran Negara.) Salah satu sektor publik yang paling di dominasi oleh masyarakat Indonesia adalah pertanian. Adapun masalah yang mengakar di sektor pertanian adalah ketimpangan terhadap pola penguasaan lahan/tanah dalam struktur sosial. Konflik yang ada pun tidak terlepas dari pandangan ekonomi nasional yang mengacu kepada hasil konstruksi kekuatan capital global. Akibatnya tanah menjadi komoditas dan memunculkan pasar tanah, sehingga investor lebih tertarik menanamkan modalnya dalam bentuk tanah karena akan sangat menguntungkan. Oleh karena itu, petani juga tidak berhenti pada satu titik saja, petani akan mengalami dinamika kehidupan. Mereka senantiasa terkait dengan perubahan sosial, dimana salah satu caranya adalah melakukan gerakan petani. Masalah yang ingin diangkat adalah “Bagaimana pola pengorganisasian tani dan implementasi perjuangan yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola pengorganisasian dan implementasi perjuangan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat ditahun-tahun berikutnya secara nasional. Universitas Sumatera Utara Tabel 2.1. Partai Politik dan Organisasi-Organisasi Petani dan Buruh di bawahnya 24 Organisasi Petani PETANI (Persatuan Tani Nasional Indonesia) PETANU (Persatuan Tani Nahdhatul Ulama) STII (Sarekat Tani Islam Indonesi) BTI (Barisan Tani Indonesia) RTI (Rukun Tani Indonesia) GTI Gerakan Tani Indonesia) BPRPI (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia) Partai Politik PNI (Partai Nasional Indonesia) NU (Nahdhatul Ulama) Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) PKI (Partai Komunis Indonesia) PSI (Partai Sosialis Indonesia) PRN (Partai Rakyat Nasional) Organisasi-organisasi petani yang muncul sangat berbeda satu sama lain, terutama menyangkut aktifitas dan sikap militansi organisasi. Pada tahun 1950-an organisasi petani yang paling agresif di Sumatera Utara adalah BTI dan RTI. Sikap agresif dalam setiap organisasi petani berbeda-beda tergantung dari kepemimpinan dalam organisasinya. Militansi organisasi petani di Sumatera Utara pada waktu itu berhasil mempengaruhi jalannya dinamika politik di Sumatera Utara melalui aksi-aksi sabotase, pemogokan, politik non-koperasi, pelanggaran peraturan secara hukum sehingga mekanisme pelaksanaan hukum pada waktu itu sama sekali terhenti 25 . Bahkan organisasi-organisasi yang militan seperti BTI yang memiliki klaim sebagai organisasi petani dengan basis massa terbesar, mampu mendorong aksi-aksi pendudukan lahan yang merepotkan pemerintah dan pengusaha 24 Ibid. Pelzer, Karl J. Halaman 83. 25 Ibid. Pelzer, Karl J. Halaman 84. Universitas Sumatera Utara perkebunan di Sumatera Utara. BTI dikenal sebagai organisasi petani yang sangat radikal dibawah asuhan Partai Komunis Indonesia. Dengan basis massa yang besar dan kuat, BTI mampu memberikan kemenangan pada PKI dalam Pemilu 195526. Kemenangan tersebut memperlebar jalan BTI dan PKI untuk mengesahkan UU Pokok Agraria yang menjadi tameng perjuangan dan perlindungan hak-hak kaum tani. Kebesaran organisasi petani seperti BTI ini nyaris tidak ditemukan kembali setelah penghancuran PKI seiring lahirnya Orde Baru. Pembangunan sektor pertanian dilakukan melalui program-program kapitalistik. Pada sektor tanaman pangan, negara memperkenalkan dan memaksakan konsep revolusi hijau terhadap petani. Pilihan revolusi hijau oleh Negara merupakan cermin dari kebijakan yang berorientasi pada peningkatan produksi bukan keadilan dan keuntungan bagi petani. Dengan revolusi hijau, negara memperoleh keuntungan berlipat ganda yaitu keuntungan ekonomis, keuntungan politis, dan ideologis. Keuntungan ekonomis ini dapat dilihat dari keuntungan negara yang diperoleh dari biaya pajak dan nonpajak yang disetor oleh pengusaha swasta maupun BUMN sebagai hasil penjualan produk-produk sarana peningkatan produksi (pupuk, bibit, herbisida, pestisida, mesin-mesin pertanian, dll.). Peningkatan produksi ini juga ditujukan agar sektor pertanian dapat mensubsidi 26 Pada maret 1945 BTI mengklaim jumlah massanya sebesar 800 ribu orang, dan berkembang pesat menjadi 8,5 juta orang ditahun 1965. Bahkan di tahun 1965 cabang-cabang BTI dapat ditemukan praktis diseluruh kabupaten di Indonesia dan di lebih daripada 80 persen kecamatan yang ada di Indonesia. Universitas Sumatera Utara sektor industri (baik industri disektor pertanian/agribisnis maupun industri nonpertanian) yang sedang dikembangkan27. Keuntungan politik bagi Orde Baru adalah terjaminnya stabilitas politik melalui pengendalian harga dan pemenuhan stock bagi pemenuhan kebutuhan subsistensi dari rakyat (terutama rakyat miskin). Sedangkan keuntungan ideologis: negara memperoleh legitimasi sebagai negara yang memperhatikan kebutuhan rakyat banyak dalam hal kemampuan memenuhi stock pangan dalam negeri. Sophistifikasi program kapitalis ini juga dilakukan di sektor Kehutanan dan Perkebunan. Di sektor perkebunan bentuk mutakhirnya adalah PIR/contract farming. Untuk mem-back up berhasilnya program kapitalisasi pertanian di berbagai sektor ini dijalankan pula sistem politik otoritarian yang semakin canggih (repressi fisik dan ideologis). Untuk meredam kekuatan politik petani dan di pedesaan pada umunya, pemerintahan Suharto mengeluarkan kebijakan politik Floating Mass (Massa Mengambang) tahun 1971 menjelang Pemilu. Kebijakan ini ditujukan untuk memotong hubungan antara massa pedesaan/petani dengan partai-partai politik. Partai Politik tidak boleh lagi mempunyai cabang-cabang di daerah kecamatan ke bawah. Pada tahun 1973 pemerintah memfusikan partai politik yang banyak jumlahnya itu menjadi tiga wadah: Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Kedua partai politik ini (PPP dan PDI) tidak boleh memiliki organisasi massa berdasarkan sektor (buruh dan petani misalnya). Tetapi Golkar menempatkan HKTI sebagai 27 Produktivitas ini dipilih dalam rangka stabilitas/ keamanan investasi dari Orde Baru. Produktivitas dipacu agar sektor pertanian dapat mensubsidi sektor industri. Universitas Sumatera Utara underbouw-nya. Sementara HKTI dinyatakan sebagai satu-satunya organisasi petani yang resmi sebagai organisasi petani. HKTI kemudian menjadi organisasi yang dipergunakan sebagai wadah mengkontrol petani sekaligus sebagai representasi penyaluran aspirasi politik dari petani. Jalur kekuatan organisasi produksi petani juga dikooptasi oleh pemerintah. KUD untuk pelembagaan kepentingan permodalan dan penyaluran saprodi bagi petani (KUD ini sendiripun harus bersaing secara tidak sehat dengan berbagai macam koperasi dan Yayasan yang didirikan oleh militer). Sedangkan berbagai kelompok tani (KTNA, Kelompok Tani binaan Departemen Pertanian, P3A di kawasan irigasi, Kelompencapir untuk penyaluran pesan-pesan pembangunan) diperlakukan sebagai mesin produksi dan eksperimen teknologi Revolusi Hijau. Universitas Sumatera Utara Tabel 2.2 Karakteristik Organisasi Petani yang lahir dimasa Orde Baru 28 Organisasi Petani Nonpemerintah Organisasi Petani yang didirikan dan dipersiapkan sejak awal sebagai ORMAS petani. Selain berusaha menjawab kebutuhan praktis juga untuk berusaha memenuhi kepentingan strategis (politik) petani. Misalnya SPJB, SPSU, PITL, HPMJT, dll. Tidak mempunyai afiliasi politik terhadap partai politik manapun. Biasanya mempunyai kolektivitas yang kental tetapi mempunyai apresiasi/respek yang tinggi terhadap masyarakat adat. Organisasi-organisasi Petani yang lahir dari masalah nonpertanahan, khususnya ekonomi dan budidaya/teknik pertanian. Berbentuk KSM, Usaha Bersama, Simpan Pinjam, dll. Biasanya lahir hasil pendampingan LSM yang berorientasi pada aktivitas Community Development. Organisasi Masyarakat Adat yang telah “dimodernisir”. Beberapa diantaranya adalah BPRPI dan Yayasan-Yayasan yang didirikan oleh Masyarakat Adat. Kebanyakan organisasi masyarakat adat ini tidak mempunyai kolektivitas kesadaran kelas yang kental, tetapi lebih pada keasadarn teritorial dan kekerabatan. Organisasi-organisasi Aksi yang lahir dari hasil advokasi pertanahan. Biasanya bersifat Ad Hoc. Sangat banyak terbentuk, namun sangat longga r & mudah bubar. Pembentukan organisasi aksi ini tidak diiringi proses pengorganisasian dan kaderisasi yang baik. Organisasi-organisasi di pedesaan yang mempunyai akar tradisi. Biasanya berhubungan erat dengan kegiatan budi-daya pertanian/produksi. Misalnya Adat Bondang di Silau Lama, Asahan, Marsiadapari di Tapanuli Utara & Tapanuli Selatan, dll. Berdirinya serikat tani yang menjadi underbouw dari Parpol, namun belum mempunyai anggota yang banyak (STN – PRD). 28 Makalah M. Haris Putra dalam PEMBARUAN AGRARIA; Jalan Rakyat Indonesia Menuju Masyarakat Adil, Makmur dan Merdeka. Medan: FSPI, 1999. Halaman 63. Universitas Sumatera Utara Direkrutnya kalangan petani dalam struktur organisasi aktivis kelas menengah. Organisasi seperti ini dapat dikategorikan sebagai organisasi “campuran”. Biasanya keterlibatan petani di tubuh LSM lebih sebagai upaya kalangan LSM untuk ber-“demokrasi” 2.3. Sejarah Perkembangan SPI Fase gerakan rakyat yag acap diterjemahkan oleh Organisasai Non- pemerintah/ Ornop maupun Ormas tampaknya tidak luput dari diskursus pemikiran, baik menyangkut konsep, metode maupun alat yang digunakan. Sementara di tingkat praksis, stagnasi dan kejenuhan bagi terwujudnya sebuah idealisasi tentang proses perubahan, pun tak kunjung menampilkan bentuk yang konkrit. Kesenjangan antara idealisasi tentang sebuah perjuangan dengan kenyataan yang ditemui di lapangan ternyata semakin menganga lebar. Perdebatanpun acap muncul di tataran praktis dan teoritis. Implikasi semua ini akhirnya menggiring arah dan konsep gerakan rakyat ke dalam satu keadaan yang goyah, baik secara metodologis maupun idiologis. Suasana yang demikian ini akhirnya juga menjadikan para aktivis dan organisasi gerakan rakyat mencoba melihat perspektif lain yang lebih realistis untuk diaktualisasikan. Penetapan pilihan-pilihan inilah yang akhirnya melahirkan berbagai organisasi dan perkumpulan juga karena peserta diharapkan mendengarkan dengan saksama pidatopidato dari mimbar.  Mobilisasi Aksi Menuntut, jika kegiatan penyadaran telah berhasil membangkitkan kesadaran maka langkah selanjutnya adalah mengadakan aksi kepada pihak yang paling bertanggung jawab. 2) Perluasan Struktur/Cabang. Pembangunan struktur/cabang adalah penting. Struktur/cabang sebaiknya diikuti dengan pengadaan sekretariat sebagai sumber informasi, sumber konsolidasi dan sumber koordinasi. Guna memudahkan konsoilidasi dan koordinasi, sebuah sekretariat didirikan oleh 15 – 30 orang yang tinggal berdekatan. Universitas Sumatera Utara 3) Pembangunan Persatuan-Persatuan (front-front) Demokratik Dalam membangun dan memperluas persatuan, tema demokrasi baik dalam bidang ekonomi, politik, hukum, sosial, militer, dan lain sebagainya, merupakan landasan ikrar-kesetiaan untuk menuntaskan persoalan-persoalan mendesak rakyat. Untuk menjaga arah politik front persatuan diperlukan prinsip-prinsip pokok yang dijadikan pedoman dalam penggalangan dan perjuangan front persatuan. Prinsip-prinsip itu menjadi rambu-rambu sekaligus petunjuk operasional pekerjaan front persatuan. Prinsip-prinsip tersebut adalah :  Bersatu dalam program dan aksi; Persatuan di dalam front haruslah merupakan persatuan yang didasari oleh program dan kepentingan bersama, dan bukan karena dominasi suatu kelas atas kelas yang lain, atau dominasi suatu golongan atas golongan yang lain, mungkin dari dominasi sektor atas sektor yang lain. Bersatu dalam program inilah yang akan menuntun pada keselarasan dalam langkah dan praktik perjuangan. Tentu saja, persatuan yang didasarkan adanya program bersama adalah persatuan dalam kualitas tertinggi. Harus ada proses yang mendahului. Proses ini sangat lazim berjalan mulai dari pertemuan-pertemuan yang didasarkan pada adanya irisan kepentingan atau program dalam aksi-aksi yang bersifat momentum yang berkembang menuju adanya suatu kesepakatan untuk menciptakan momentum-momentum persatuan dalam perjuangan, dan bermuara pada adanya program bersama. Pertemuan-pertemuan itu dilakukan di masingmasing jenjang atau tingkatan dalam suatu organisasi, mulai dari jenjang yang paling bawah sampai jenjang yang tertinggi. Jenjang-jenjang inilah yang akan Universitas Sumatera Utara memberikan fondasi yang kokoh bagi front. Kita menghendaki adanya front luas yang besar dan berisi. Wujud kongkrit dari persatuan ini adalah adanya suatu kerjasama yang terstruktur. Namun bukan berarti kerjasama yang dibangun melulu harus distrukturkan. Hal pokok dalam kerjasama yang terstruktur adalah adanya program bersama yang mengikat kesatuan dalam aksi.  Kerjasama yang saling menguntungkan; Untuk kepentingan persatuan dalam perjuangan yang panjang, setiap elemen yang bekerjasama dalam front harus saling mendukung persatuan, saling memberi keuntungan, saling menghormati perbedaan, tidak melakukan konspirasi dengan sebagian atau suatu klik di dalam tubuh organisasi yang diajak berkawan dalam front, dan saling mengingatkan diri untuk tidak tergelincir pada tindakantindakan sepihak yang merugikan kepentingan persatuan.  Kemandirian dalam inisiatif dan politik; Dengan prinsip persatuan adalah relatif dan perjuangan adalah mutlak maka untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan dasarnya kelas-kelas yang bersekutu dalam front diperbolehkan untuk mengambil tindakan-tindakan khusus. Sedapat mungkin tindakan-tindakan tersebut tidak sampai merugikan kepentingan kerjasama dan persatuan, melainkan sebagai upaya untuk membangun keseimbangan agar tetap terjalin kerjasama yang saling menguntungkan.  Bergantung pada kekuatan sendiri. Prinsip bergantung pada kekuatan sendiri dilandasi oleh kenyataan bahwa kelas-kelas, golongan, dan sektor-sektor yang bekerjasama dalam konteks front persatuan berada pada situasi ketertindasan. Oleh karenanya, menjadi mutlak bagi Universitas Sumatera Utara kelas-kelas yang bekerjasama dalam front untuk memikirkan secara serius usahausaha yang memperkuat barisan kelasnya sendiri. Kerjasama antar elemen untuk mendapatkan bantuan dari sekutu guna memperkuat masing-masing organisasi diperbolehkan dalam batasan-batasan yang tidak sampai merusak kemandirian organisasi yang mendapatkan bantuan. Sekali lagi, kerjasama dalam front harus saling menguntungkan, tidak merugikan salah satu, atau menjadi salah satu elemen dalam front sebagai faktor yang mendominasi kehidupan politik front. Dengan demikian program perjuangan kaum tani haruslah dirumuskan dan diarahkan demi penghancuran imperialisme-neoliberalisme, sisa-sisa feodalisme dan militerisme. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA A.E. Priyono, Stanley Adi Prasetyo, Olle Torquist, Gerakan Demokrasi di Indonessia Pasca-Soeharto, Jakarta: DEMOS, 2003. Aliansi Masyarakat Adat Nasional, Masyarakat Adat sebagai Basis Politik Gerakan Sosial, Boladangko: Makalah Seminar, 2007. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Serikat Tani Nasional (AD/ARTSTN), Tanah, Modal, Teknologi yang Modern, Murah, Massal untuk Pertanian Kolektif di Bawah Dewan Rakyat/Tani, Yogyakarta, 2 April 2006. Antonio Gramscy: Negara dan Hegemoni, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2003 Dr. Mustain, Petani Vs Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara, Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2007. Drs.Ridwan, M.B.A, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Peneliti dan Peneliti Pemula, Bandung: Alfabeta, 2006. Endang Suhendar dan Yohana Budi Winarni, Petani dan Konflik Agraria, Bandung: Yayasan AKATIGA, 1998. George Junus Aditjondro, Ketika Petani Angkat Bicara, Dengan Suara Dan Massa: Belajar dari Sejarah Gerakan Petani di Indonesia dan Amerika Selatan, Palu: Yayasan Tanah Merdeka, 2006. Gunawan Wiradi, Masalah Pembaharuan Agraria (Dampak Land Reform Terhadap Perekonomian Negara), Bogor, Makalah Pada Peringatan “Satu Abad Bung karno”, 2001. Hadari Nawawi, Metodologi Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1987. Happy Kurniawan, Neoliberalisme: Penyempurnaan Liberalisasi Agraria dan Kematian Sektor Pertanian, artikel, Jakarta: Desember 2000. James C. Scott, Perlawanan Kaum Tani, Jakarta: Diterjemahkan oleh Yayasan Obor Indonesia, 1993. James Petras, Strategi-strategi Perjuangan: Sentralisasi Gerakan Tani di Amerika Latin, Bacaan Organizer Serikat Tani Nasional, 2005. Jeffry Paige, Revolusi Agraria: Gerakan Sosial dan Pertanian Ekspor di Negaranegara Dunia Ketiga, Pasuruan: Pedati, 2004, hal. 75. Universitas Sumatera Utara John Markoff, Gelombang Demokrasi Dunia: Gerakan Sosial dan Perubahan Politik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia, 1990. Konsorsium Pembaharuan Agraria, Reforma Agraria Prasyarat Utama Bagi Reitalisasi Pertanian dan Pedesaan, Bandung: September 2005. Kontras, Kronologis Permasalahan di Desa Pematang Lalang-Pecut Sei Tuan Kab. Deli Serdang-SUMUT. ______, Kronologis Bentrokkan yang Terjadi di Desa Pematang Lalang Percut Sei Tuan, 17 Juni 2005. Laporan Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional, 12 November 2007. Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES, 1987. Muhammad Haris Putra, Posisi dan Peran Organisasi Petani sebagai “Gerakan Sosial” (Social Movement) melawan Neoliberalisme, Suara USU, Agustus 2006. Noer Fauzi, Isu-isu Utama Pembaruan Agraria Dewasa ini Menuju Membesarnya Peran Masyarakat Sipil. Makalah dalan Seminar Nasional Agraria , 21 September 1998 di Bandar Lampung. ________, Memahami Gerakan-Gerakan Rakyat Dunia Ketiga, Sleman: Yogayakarta, 2005. Onghokham Institute, Property Rights Di Indonesia Dalam Tinjauan Sejarah, Medan: Makalah Pada Simposium Agraria Nasional I, 2006. O. Setiawan Djuaharie, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi, Bandung: Yrama Widya, 2001. Serikat Tani Nasional, Babon Tani, Materi Pendidikan Dasar Kaum Tani. _________________, Kondisi Pertanian dan Perjuangan Kaum Tani di Tengah Serangan Imperialisme, Materi Situasi Nasional, Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional (KPP-STN) _________________, Kronologis Permasalahan di Desa Pematang Lalang – Percut Sei Tuan, Kab. Deli Serdang, Laporan Kerja Organiser. Universitas Sumatera Utara _______________, Pidato Menyambut Hari Tani Nasional 2006. Bogor: Komite Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional, 2006, hal. 1. _______________, Strategi dan Taktik Perjuangan Tani: Memperkuat Persatuan dan Melipatgandakan Kekuatan, Materi Pendidikan STN. _______________, Sejarah Gerakan Tani, Materi Pendidikan STN. _______________, Tonggak Perjalanan Sejarah Penguasaan Tanah dan Pertanian di Nusantara, Materi Pendidikan STN. Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000. Tempo Interaktif, Anugrah Tambak Berganti Bisnis, Minggu, 18 Desember 2005. Sumber Website: http://www.google tenure.org. http://www.okezone.com. http://rumahkiri.net. http://groups.yahoo.com http://www.ksei.co.id. http://www.suarakarya-online.com. http://www.prp-indonesia.org Universitas Sumatera Utara
Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. Definisi Konsep TINJAUAN PUSTAKA Gerakan Pertanian ANALISA DATA Jenis Penelitian Lokasi penelitian Jumlah satuan organisasi DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Keanggotaan Organisasi DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Kerangka pemikiran TINJAUAN PUSTAKA Latar belakang masalah PENDAHULUAN Pembentukan Perjuangan Organisasi ANALISA DATA Pendekatan interaksionisme simbolik Pendekatan struktural fungsionalisme Pendekatan melalui teori Marxist Pendidikan kader dan konsolidasi dalam organisasi Pengertian gerakan Gerakan sosial Perjuangan pembaharuan agraria dan pembangunan pedesaan Perumusan masalah Tujuan dan manfaat penelitian Sistematika Penulisan Platform Organisasi Struktur Organisasi Program Organisasi DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Sejarah Organisasi DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Semangat lahirnya Gerakan Serikat Petani Indonesia Tujuan Organisasi DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Unit analisis dan Informan Teknik pengumpulan data
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara.

Gratis