Feedback

Strategi Industri Kecil Mengembangkan Usaha Di Era Perdagangan Bebas (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara).

Informasi dokumen
STRATEGI INDUSTRI KECIL MENGEMBANGKAN USAHA DI ERA PERDAGANGAN BEBAS (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara) SKRIPSI OLEH : Rizki Verina Simorangkir 060901066 DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Daftar Isi KATA PENGANTAR ABSTRAK . DAFTAR ISI . DAFTAR TABEL i iii iv vi Bab I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar belakang masalah . . . 1 1.2 Perumusan masalah . 9 1.3 Tujuan penelitian . 9 1.4 Manfaat penelitian . 9 1.5 Defenisi konsep . . 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA . 12 2.1 Keberadaan industri kecil . 13 2.2 Industri Kecil di Era Perdagangan Bebas . 15 2.3 Dampak Perdagangan Bebas Industri Kecil . . 19 2.4 Jaringan Sosial 19 BAB III METODE PENELITIAN 23 3.1 Jenis Penelitian . 23 3.2 Lokasi Penelitian . 24 3.4 Unit Analisa dan Informan 24 3.4 Teknik Pengumpulan Data . . 25 3.5 Interpretasi Data 26 3.6 Jadwal Kegiatan 28 3.7 Keterbatasan Penelitian 29 BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA . 30 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 30 4.1.1 Sejarah Kelurahan Menteng . 30 4.1.2 Letak dan Keadaan Wilayah . 30 4.1.3 Luas Wilayah 31 4.1.4 Jumlah penduduk . 31 4.1.5 Sarana Pendidikan 36 4.2 Profil informan 37 4.4 Temuan Data . 44 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 71 5.1 Kesimpulan . 71 5.2 Saran . 72 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perdagangan bebas adalah hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Persaingan yang cukup ketat di pasar kerja menyebabkan angkatan kerja semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini menjadi sangat penting untuk di pertimbangkan menyikapi perdagangan bebas yang akan terjadi. Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan, ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras pencari kerja. Usaha untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondunsif menjadi tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan produktivitas Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi industri besar, sedang, kecil, dan juga industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi industri kecil sepatu dalam mengembangkan usahanya di era perdagangan bebas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dimana informasi dikumpulkan melalui wawancara dan observasi pasif yang meliputi pengrajin sepatu dan pembeli di kawasan pusat industri kecil (PIK) serta jaringan sosial di lingkungan PIK. Wawancara dilakukan dengan beberapa informan yang di pandang memiliki pengalaman dan dapat memberikan penjelasan tentang kegiatan industri kecil sepatu di kawasan ini, dan survey dilakukan ketika mereka sedang melakukan proses produksi. Data hasi penelitian di olah dan dideskripsikan sesuai dengan konteksnya secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini membahas tentang persaingan, kurangnya modal, aspek sumber daya manusia, manajemen, strategi yang digunakan untuk usaha produksi kecil sepatu, pemanfaatan jaringan sosial dalam pengembangan usaha dan pengaruh masuknya sepatu dari luar (impor). Persaingan sering kali muncul diantara para pengrajin sepatu di PIK Menteng pada saat mencari dan membeli bahan baku. Kelangkaan bahan baku menjadi alasan yang mendasar terjadinya persaingan, kondisi seperti ini mengakibatkan masing-masing pengrajin khawatir akan tidak tersedianya bahan baku bagi proses produksi mereka. Persaingan juga terdapat dalam hal desain produk dan lokasi penjualan sepatu. naiknya harga bahan baku, kesulitan mendapatkan bahan baku yang berkualitas karena terkendala dana maka sering kali tidak bisa untuk memenuhi permintaan dan akhirnya banyak pengrajin tersebut yang tidak mampu bertahan dan mengalami kebangkrutan. Selain persaingan, hambatan yang dialami pengrajin yaitu kesulitan memperoleh modal usaha. Para pengrajin juga mempertimbangkan aspek sumber daya manusia dan memberlakukan adanya manajemen usaha untuk mempertahankna eksistensi usaha mereka. Strategi produksi yang digunakan para pengrajin lebih difokuskan pada ketersediaan modal. Setiap pengrajin membentuk jaringan luas sebagai strategi pemasaran mereka, dimana mereka menjalin hubungan baik dengan pedagang. Selain itu untuk memasarkan produknya setiap pengrajin sepatu memliki agen tetap atau langganan, hal tersebut Universitas Sumatera Utara dilakukan agar produk mereka tetap terjual. Hubungan antar pengrajin sepatu di kawasan PIK Menteng berjalan dengan baik sehingga terbentuk lingkungan industri dengan persaingan yang sehat. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Perdagangan bebas adalah hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Persaingan yang cukup ketat di pasar kerja menyebabkan angkatan kerja semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini menjadi sangat penting untuk di pertimbangkan menyikapi perdagangan bebas yang akan terjadi. Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan, ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras pencari kerja. Usaha untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondunsif menjadi tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan produktivitas Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi industri besar, sedang, kecil, dan juga industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi industri kecil sepatu dalam mengembangkan usahanya di era perdagangan bebas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dimana informasi dikumpulkan melalui wawancara dan observasi pasif yang meliputi pengrajin sepatu dan pembeli di kawasan pusat industri kecil (PIK) serta jaringan sosial di lingkungan PIK. Wawancara dilakukan dengan beberapa informan yang di pandang memiliki pengalaman dan dapat memberikan penjelasan tentang kegiatan industri kecil sepatu di kawasan ini, dan survey dilakukan ketika mereka sedang melakukan proses produksi. Data hasi penelitian di olah dan dideskripsikan sesuai dengan konteksnya secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini membahas tentang persaingan, kurangnya modal, aspek sumber daya manusia, manajemen, strategi yang digunakan untuk usaha produksi kecil sepatu, pemanfaatan jaringan sosial dalam pengembangan usaha dan pengaruh masuknya sepatu dari luar (impor). Persaingan sering kali muncul diantara para pengrajin sepatu di PIK Menteng pada saat mencari dan membeli bahan baku. Kelangkaan bahan baku menjadi alasan yang mendasar terjadinya persaingan, kondisi seperti ini mengakibatkan masing-masing pengrajin khawatir akan tidak tersedianya bahan baku bagi proses produksi mereka. Persaingan juga terdapat dalam hal desain produk dan lokasi penjualan sepatu. naiknya harga bahan baku, kesulitan mendapatkan bahan baku yang berkualitas karena terkendala dana maka sering kali tidak bisa untuk memenuhi permintaan dan akhirnya banyak pengrajin tersebut yang tidak mampu bertahan dan mengalami kebangkrutan. Selain persaingan, hambatan yang dialami pengrajin yaitu kesulitan memperoleh modal usaha. Para pengrajin juga mempertimbangkan aspek sumber daya manusia dan memberlakukan adanya manajemen usaha untuk mempertahankna eksistensi usaha mereka. Strategi produksi yang digunakan para pengrajin lebih difokuskan pada ketersediaan modal. Setiap pengrajin membentuk jaringan luas sebagai strategi pemasaran mereka, dimana mereka menjalin hubungan baik dengan pedagang. Selain itu untuk memasarkan produknya setiap pengrajin sepatu memliki agen tetap atau langganan, hal tersebut Universitas Sumatera Utara dilakukan agar produk mereka tetap terjual. Hubungan antar pengrajin sepatu di kawasan PIK Menteng berjalan dengan baik sehingga terbentuk lingkungan industri dengan persaingan yang sehat. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Globalisasi perdagangan bebas adalah satu kata yang mungkin paling banyak dibicarakan orang selama akhir tahun ini,dengan pemahaman makna yang beragam namun apa yang dipahami dengan istilah globalisasi akhirnya membawa kesadaran manusia, bahwa globalisasi itu ditandai dengan lajunya teknologi komunikasi dan informasi. Dalam perdagangan bebas ini terdapat persaingan yang tinggi,akan mengalami perubahan-perunahan cepat. Perdagangan bebas dapat dimaknai sebagai proses integrasi dunia disertai dengan ekspansi pasar (barang dan uang) yang di dalamnya mengandung banyak implikasi bagi kehidupan manusia. Bagi negara maju karena ketersediaan dukungan berbagi keunggulan, barangkali hipotesis itu dapat menjadi kenyataan. Bagi kebanyakan negara berkembang dengan berbagai macam kondisi keterbelakangan merasa khawatir bahwa integrasi dunia hanya akan menguntungkan pemilik modal (negaranegara maju) dan akan menimbulkan malapetaka bagi negara-negara berkembang. Laju pertumbuhan pembangunan pada sektor modern yang berlangsung dengan sangat cepat ternyata tidak dapat menyelesaikan masalah perolehan kesempatan kerja bagi masyarakat. Dengan adanya sentralisasi kegiatan ekonomi yang berpusat di perkotaan dan di sektor industri, maka kesempatan tenaga kerja mengalami pergeseran dengan sendirinya, bergerak meninggalkan sektor pertanian Universitas Sumatera Utara dan memasuki kegiatan ekonomi yang baru yaitu sektor industri di perkotaan yang lebih menjanjikan. Kegagalan tenaga kerja untuk memasuki pasar kerja formal pada umumnya disebabkan oleh berbagai hal, seperti rendahnya tingkat kreatifitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, jenis keahlian dan ketrampilan yang mereka miliki tidak sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja. Persaingan yang cukup ketat di pasar kerja menyebabkan angkatan kerja semakin sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Usaha untuk menciptakan lingkungan usaha yang kondunsif menjadi tantangan dalam pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan produktivitas Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi industri besar, sedang, kecil, dan juga industri rumah tangga. Industri kecil menjadi salah satu alternatif yang dianggap mampu mengurangi tingginya jumlah pengangguran, karena sektor formal yang menuntut ketrampilan, ternyata juga memberikan tempat yang kecil jika dibandingkan dengan arus deras pencari kerja. Indusrti kecil terdiri dari unit usaha berskala kecil yang memproduksi dan mendistribusikan barang, dengan tujuan menciptakan kesempatan kerja bagi dirinya masing-masing yang dibatasi oleh faktor modal dan ketrampilan. Industri kecil ini akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup pelaku usahanya. Untuk melakukan kegiatan usaha pada industri kecil tidak dibutuhkan persyaratan yang ketat, seperti keahlian yang khusus, tingkat pendidikan, sejumlah modal tertentu, serta berbagai prosedur lainnya. Pada dasarnya jika mereka memiliki Universitas Sumatera Utara kemauan, sedikit pengetahuan dan ketrampilan praktis, serta peralatan yang sederhana dan keuletan dalam berusaha, maka setiap orang dapat melakukan usaha pada bidang ini. Keberadaan industri kecil pada saat ini, telah menjadi harapan baru bagi sebagian besar masyarakat yang tumbuh bersamaan dengan kegagalan yang terjadi pada sektor pertanian di pedesaan dan juga akibat dari tidak adanya situasi simbolis mutualis antara desa dan kota, antara perubahan yang terjadi di perkotaan dengan kesempatan kerja yang tersedia. Stabilitas industri kecil (Usaha Kecil dan Mikro), secara tidak langsung akan memperkuat perekonomian Indonesia yang sedang mengalami krisis moneter sekitar pertengahan tahun 1997. Perkembangan usaha kecil dan menengah merupakan faktor penting bagi pembangunan pertumbuhan ekonomi di kota Medan. Karakteristik dan kinerja industri kecil sangat efesien, produktif, dan memiliki responsibilitas yang tinggi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam sektor swasta dan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berorientasi ekspor. Keberadaan unit usaha kecil yang cukup banyak dan hampir disemua sektor ekonomi serta besarnya kontribusi dalam penciptaan kesempatan kerja, membuat eksistensi usaha industri kecil di kota Medan. Sebagaimana diketahui, kota Medan sebagai ibu kota provinsi Sumatera Utara sekaligus sebagai pusat perdagangan mengalami perkembangan yang pesat baik di sektor perdagangan maupun di sektor industri dan jasa termasuk pengembangan sub sektor industri dan kerajinan. Di samping itu,keberadaan industri kecil yang merupakan salah satu subsektor dari sektor industri, tidak dapat disangkal kalau Universitas Sumatera Utara sektor industri telah memberikan kontribusi yang begitu besar bagi perekonomian di kota Medan. Hal ini ditunjukan dengan sumbangan sektor industri terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kota Medan atas dasar harga berlaku mencapai 16,92% tahun 2004, 16,58% tahun 2005, 16,30% tahun 2006, 16,28% tahun 2007, 15,98% tahun 2008. (BPS,2008) Tabel 1.1 Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Kecil Tahun Jumlah Industri Kecil (Unit) Tenaga Kerja (Orang) 2004 5.309 9.429 2005 5.290 9.135 2006 5.275 8.728 2007 5.270 8.174 2008 5.102 7.919 Sumber : Deperindag Kota Medan, 2008 Berdasarkan tabel 1.1 di atas, selama kurun waktu 2004 – 2008, industri kecil di Kota Medan mengalami penurunan sebesar 207 unit selama kurun waktu lima tahun dengan laju penurunan rata – rata pertahunnya sebesar 0,28 %. Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang terserap pada industri kecil di Kota Medan selama periose 2004 – 2008 juga mengalami penurunan dari 9.429 pada tahun 2004 menjadi 7.919 orang dari tahun 2008. dengan demikian, selama tahun 2004 – 2008, perkembangan industri kecil di Kota Medan mengalami penurunan rata – rata 337 orang pertahun. Selama kurun waktu lima tahun (2004 - 2008) perkembangan industri sepatu di Kota Medan juga memperlihatkan perkembangan yang relatif kecil. Begitu juga Universitas Sumatera Utara kemampuan industri kecil sepatu ini dalam menyerap tenaga kerja di Kota Medan juga menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Hal ini terlihat dari tabel berikut : Tabel 1.2 Perkembangan Industri Kecil Sepatu di Kota Medan Tahun Jumlah Industri Kecil Sepatu Jumlah Tenaga Kerja (Unit) (Orang) 2004 414 705 2005 419 737 2006 421 747 2007 422 752 2008 426 769 Sumber : Disperindag Kota Medan 2008 Tabel 1.2. menunjukkan laju pertumbuhan industri kecil sepatu hanya 0,99 % per tahun dalam kurun waktu 2004-2008. Demikian juga dalam kemampuan industri kecil sepatu yang menyerap tenaga kerja pada kurun waktu 5 tahun hanya mampu tumbuh sebesar 0,21 %. Perkembangan yang kurang menggembirakan tersebut tentu tidak lepas dari kualitas sumber daya manusia yang tersedia. Pratiwi (2006), menyimpulkan bahwa ketidaktersediaan tenaga kerja terampil pada industri kecil sepatu di Kota Medan menjadi penghambat dalam peningkatan hasil produksi. Beberapa tahun terakhir ini pemerintah memang mulai memperhatikan sektor industri kecil sebagai salah satu sektor yang dianggap cukup mampu untuk bertahan menghadapi kondisi krisis ekonomi yang dihadapi Negara Indonesia. Industri kecil dapat dikatakan memiliki peranan dalam perluasan kesempatan kerja didaerah Universitas Sumatera Utara pedesaan dalam masalah kemiskinan, sehingga sector ini merupakan salah satu sector perekonomian rakyat yang dianggap mampu mengurangi pengangguran, mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, serta berperan dalam proses industrialisasi. Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keberadaan industri kecil maka pemerintah membuat kebijakan–kebijakan yang diharapkan akan dapat mempertahankan keberadaan industri kecil tersebut. Salah satu industri kecil yang berada di Sumatera Utara pemerintah membuat kebijakan dalam pengembangan industri dengan berbagai strategi. Salah satu kebijakannya adalah membangun lokasi khusus untuk industri kecil menengah (UKM) yang di beri nama Pusat Industri Kecil (PIK) yang terletak di Kecamatan Medan Denai. Lokasi PIK ini beradan di tempat yang terpisah dengan masyarakat kelurahan Medan Tenggara lainnya, karena PIK tersebut berada di dalam suatu lingkungan yang memang di khususkan bagi para pengusaha industri kecil. Kecamatan Medan Denai ini merupakan salah satu kawasan dengan berbagai aktivitas usaha kecil di kota Medan yang memiliki beragam bidang kerajinan seperti sepatu,konveksi,tas. Jumlah pengrajin sepatu pada enam kelurahan yang ada di kecamatan Medan Denai terdiri dari 245 pengrajin, sedangkan pengrajin sepatu yang ada di kelurahan Medan Tenggara (Menteng) berjumlah 140 pengrajin. Untuk tetap bertahan dalam usahanya mereka membutuhkan campur tangan baik dari pemerintah, swasta maupun LSM / LPSM yang bertujuan untuk menambah nilai tambah (Value added) seperti penyuluhan, bantuan modal, bantuan teknis, manajemen dan sebagainya. Universitas Sumatera Utara Untuk menghadapi persaingan pengrajin sepatu harus beradaptasi dengan kondisi dan keadaan yang terjadi). Dengan adanya berbagai masalah yang kedua perjanjian itu selama pengajuan tersebut dilakukan dalam kurun waktu yang telah ditentukan berdasarkan Paris Convention tersebut. Permohonan dengan menggunakan hak prioritas harus diajukan dalam waktu paling lama enam bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan pertama kali diterima Negara lain yang merupakan anggota. Permohonan dengan hak prioritas sebagaimana dimaksudkan wajib dilengkapi dengan dokumen prioritas yang disahkan oleh kantor yang menyelenggarakan pendaftaran desain industri disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia dalam waktu paling lama 3 bulan terhitung 111 Namun demikian pelaksanaan hak tersebut dikecualikan terhadap pemakaian desain industri untuk kepentingan penelitian dan pendidikan sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pemegang hak desain industri. OK Saidin, Op.Cit,. hal. 473. pdfMachine A pdf writer that produces quality PDF files with ease! Produce quality PDF files in seconds and preserve the integrity of your original documents. Compatible across Universitas Sumatera Utara nearly all Windows platforms, simply open the document you want to convert, click “print”, select the “Broadgun pdfMachine printer” and that’s it! Get yours now! setelah berakhirnya jangka waktu pengajuan permohonan dengan hak prioritas. Apabila syarat sebagaimana dimaksud di atas tidak terpenuhi, pemohonan tersebut dianggap diajukan tanpa mengunakan hak prioritas.112 6. Pengalihan Hak Desain Industri Sejalan dengan asas-asas hukum benda, maka sebagai hak kebendaan, hak desain industri dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundangundangan. Pengalihan hak desain industri tersebut harus disertai dengan dokumen tentang pengalihan hak dan wajib dicatat dalam daftar umum desain industri pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan membayar biaya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Pengalihan hak desain industri yang tidak dicatatkan dalam daftar umum desain industri tidak berakibat hukum pada pihak ketiga. Pengalihan hak desain industri tersebut akan diumumkan dalam berita resmi desain industri. Pengalihan hak desain industri tidak menghilangkan atau meniadakan hak pendesain untuk tetap dicantumkan nama dan identitasnya, baik dalam sertifikat desain industri, serta resmi desain industri, maupun dalam daftar umum desain industri.113 7. Lisensi Pemegang hak desain industri berhak memberikan lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian lisensi dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu untuk 112 113 OK Saidin, Op.Cit, hal. 475. Ibid. pdfMachine A pdf writer that produces quality PDF files with ease! Produce quality PDF files in seconds and preserve the integrity of your original documents. Compatible across Universitas Sumatera Utara nearly all Windows platforms, simply open the document you want to convert, click “print”, select the “Broadgun pdfMachine printer” and that’s it! Get yours now! melaksanakan hak desain industri dan untuk melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengespor dan atau mengedarkan barang yang di dalamnya terdapat seluruh atau sebagian desain yang telah diberi hak desain industri, kecuali diperjanjikan lain. Perjanjian lisensi wajib dicatatkan dalam daftar umum desain industri pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan dikenai biaya sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Perjanjian lisensi ini kemudian diumumkan dalam berita resmi desain industri. Perjanjian lisensi yang tidak berlaku terhadap pihak ketiga. Pada dasarnya bentuk dan isi perjanjian lisensi ditentukan sendiri oleh para pihak berdasarkan kesepakatan bersama, namun tidak boleh memuat ketentuan yang melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku seperti ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan bagi perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.114 8. Keberatan Sejak tanggal dimulainya pengumuman permohonan suatu desain industri, setiap pihak dapat mengajukan keberatan yang bersifat substansif kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual dengan membayar biaya sebesar Rp. 150.000,untuk setiap pengajuan keberatan bagi setiap permohonan yang diajukan keberatanya. Pengajuan keberatan tersebut harus sudah diterima Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual paling lam tiga bulan terhitung sejak tanggal dimulainya pengumuman. Pemohon dapat menyampaikan sanggahan atas keberatan yang diajukan ke Direktorat 114 Ibid. hal. 42. pdfMachine A pdf writer that produces quality PDF files with ease! Produce quality PDF files in seconds and preserve the integrity of your original documents. Compatible across Universitas Sumatera Utara nearly all Windows platforms, simply open the document you want to convert, click “print”, select the “Broadgun pdfMachine printer” and that’s it! Get yours now! Jenderal Hak Kekayaan Intelektual paling lama tiga bulan terhitung sejak tanggal pengiriman pemberitahuan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Kemudian Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual melakukan pemeriksaan substansif dan berkewajiban menyetujui atau menolak keberatan tersebut dalam waktu enam bulan sejak berakhirnya jangka waktu pengumuman permohonan desain industri yang diajukan keberatannya. Apabila permohonan yang diajukan keberatannya ditolak berdasarkan Pasal 2 dan Pasal 4 pemohon dapat mengajukan secara tertulis keberatan beserta alasannya kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Dalam hal Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual berpendapat bahwa permohonan tidak sesuai dengan Pasal 4 pemohon dapat mengajukan gugatan terhadap putusan penolakan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual ke pengadilan niaga dengan tata cara sebagaimana diatur dalam Pasal 3942 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.115 9. Pembatalan Pendaftaran Desain industri yang telah terdaftar dapat dibatalkan dengan dua cara, yaitu: a. Berdasarkan permintaan pemegang hak Pembatalan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual atas permintaan tertulis yang diajukan oleh pemegang hak. Apabila desain industri tersebut telah dilisensasikan, maka harus ada persetujuan tertulis dari penerima lisensi yang tercatat dalam daftar umum desain industri, yang dilampirkan pada 115 Ibid. pdfMachine A pdf writer that produces quality PDF files with ease! Produce quality PDF files in seconds and preserve the integrity of your original documents. Compatible across Universitas Sumatera Utara nearly all Windows platforms, simply open the document you want to convert, click “print”, select the “Broadgun pdfMachine printer” and that’s it! Get yours now! pemintaan pembatalan pendaftaran tersebut. Jika tidak ada persetujuan, maka pembatalan tidak dilakukan. b. Berdasarkan gugatan (putusan pengadilan) Gugatan pembatalan pendaftaran desain industri dapat diajukan oleh pihak yang berkepentingan dengan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri kepada pengadilan niaga. Putusan pengadilan tersebut disampaikan kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual paling lama 14 hari setelah tanggal putusan. Pembatalan pendaftaran desain industri menghapuskan segala akibat hukum yang berkaitan desain industri dan hak-hak lain yang berasal dari desain industri tersebut.116 116 Ibid. pdfMachine A pdf writer that produces quality PDF files with ease! Produce quality PDF files in seconds and preserve the integrity of your original documents. Compatible across Universitas Sumatera Utara nearly all Windows platforms, simply open the document you want to convert, click “print”, select the “Broadgun pdfMachine printer” and that’s it! Get yours now! BAB III FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENGUSAHA TIDAK MENDAFTARKAN HAK DESAIN INDUSTRINYA A. Perkembangan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia merupakan sumber penting kesempatan kerja dan motor penggerak utama pembangunan ekonomi di daerah pedesaan, di luar sektor pertanian. Saat ini penekanan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mengalami perubahan. Dahulu peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebagai usaha memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan sumber pendapatan khususnya kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Namun saat ini Usaha Kecil dan Menengah (UKM) diharapkan dapat berperan sebagai salah satu sumber penting peningkatan ekspor non migas di negara-negara maju (Eropa, Amerika Serikat, Jepang). Dalam sektor industri manufaktur, pengalaman di negara-negara maju tersebut menunjukkan bahwa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sangat penting sebagai industri-industri pendukung yang membuat dan memasok komponenkomponen, spare part, dan input-input lainnya untuk keperluan proses produksi di industri skala besar. Peranan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), khususnya pemasaran, terbentur pada sempitnya wilayah pemasaran hasil produksi. Apabila jumlah produk ditingkatkan, para pelaku UKM kebingungan mencari lokasi pembuangannya sehingga sama saja tidak akan menghasilkan peningkatan throughput. 8. Indikator throughput yang ketiga, yaitu kebijakan harga, hanya sedikit mengalami kendala, yaitu ketika harga bahan baku mengalami kenaikan mendadak, sehingga keseluruhan kebijakan harga produk jadi akan mengalami kenaikan juga. Kenaikan ini berimplikasi pada kemungkinan Universitas Sumatera Utara penurunan jumlah produk dan mempengaruhi besarnya throuhput yang dihasilkan. 9. Dari keseluruhan indikator tersebut, dapat disimpulkan bahwa persediaan dan biaya operasional, dan thoughput sangat berhubungan dalam mengidentifikasi kendala pengembangan UKM. Inti dari keseluruhan pengembangan itu adalah menghasilkan UKM yang memiliki ketahanan usaha yang tinggi, dan perolehan peningkatan thorughput yang konsisten. VI.2 Saran Saran yang dapat diberikan penulis diarahkan kepada pemerintah dan pelaku UKM. VI.2.1 Pemerintah 1. Peran serta dan kepedulian pemerintah merupakan solusi yang dapat memberikan efek yang paling besar bagi perkembangan UKM. Sehingga diharapkan pemerintah dapat membantu para pelaku UKM, bukan hanya dalam bentuk modal, pelatihan-pelatihan, maupun pendidikan bagi para pengrajin namun juga pemantauan atau perhatian yang intens sehingga pemerintah peka terhadap perkembangan UKM. 2. Pemerintah juga perlu menciptakan iklim usaha yang kondusif dan membantu memperluas wilayah pemasaran hasil produk UKM. 3. Membentuk lembaga khusus, yang khusus bertanggung jawab dalam mengoordinasikan semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya Universitas Sumatera Utara penumbuhkembangan industri kecil dan juga berfungsi sebagai pencari solusi dalam rangka mengatasi permasalahan baik internal maupun eksternal yang dihadapi oleh UKM. VI.2.2 Pelaku UKM di PIK Medan Tenggara 1. Meningkatkan kualitas produk, dengan harga jual yang terjangkau bagi para konsumen. 2. Aktif berkoordinasi dengan pemerintah, pelanggan/konsumen, maupun sesama pelaku UKM untuk mempromosikan produk hasil produksi agar semakin dekat dengan masyarakat. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2007, Medan Dalam Angka 2007, Medan. Dipta, I. Wayan. 2004. Membangun Jaringan Usaha Bagi Usaha Kecil dan Menengah. Jakarta. Glueck, W.F. & Jauch, L.R. 1989. Manajemen Strategis Dan Kebijakan Perusahaan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Nawawi, Hadari. 1990. Metode Penelitian Sosial. Yogyakrata: Gajah Mada Press. Nawawi, Hadari. 1997. Pengantar Metodologi Riset. Bandung : Penerbit Remadja Rosda Karya. Singarimbun, Masri. 1995. Metode Penelitian Survay. Jakarta : LP3ES. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Suyanto, Bagong. 2005. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia. Tambunan, DR. Tulus T.H. 2002. Usaha Kecil dan Menengah : Beberapa Isu Penting. Jakarta: Salemba Empat. Taufiq, Muhammad. 2004. Strategi Pengembangan UKM Pada Era Otonomi Daerah dan Perdagangan Bebas. Jakarta. Purba, Abdillah Harja. 2010. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Industri Kecil di Kota Medan. Sekolah Pasca Sarjana USU Medan. Universitas Sumatera Utara Peraturan Perundang-undangan Instruksi Presiden No.10 tahun 1998 Tentang Pemberdayaan Usaha Menengah. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 Bidang/Jenis Usaha Yang Terbuka Untuk Usaha Menengah Atau Usaha Besar Dengan Syarat Kemitraan. Sumber Internet http://bps.go.id/ http://www.depkop.go.id/ http://www.medanbisnisdaily.com/ http://www.pemkomedan.go.id/ http://www.waspada.co.id Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 1 Panduan Wawancara Dengan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Medan Nama : Pendidikan terakhir : Usia : (tahun) Lama menjabat : 1. Bagaimana menurut bapak kondisi UKM di Kota Medan saat ini? 2. Sejalan dengan visi Dinas KUMKM Kota Medan, yaitu menjadikan KUMKM sebagai tulang punggung perekonomian Kota Medan, apakah UKM di Kota Medan selalu mendapat dukungan dari pihak pemerintah untuk terus mengembangkan usahanya? 3. Apa saja menurut bapak yang tetap menjadi permasalahan atau kendala UKM untuk berkembang? 4. Bagaimana menurut bapak dengan adanya PIK di Medan Tenggara sebagai sebuah pusat industri kecil, apakah peranannya dalam kaitan dengan UKM? 5. Bagaimana kondisi PIK Medan Tenggara saat ini jika dibandingkan dengan pada saat baru didirikan? 6. Kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh pihak Dinas KUMKM untuk mendukung pengembangan usaha di PIK Medan Tenggara? 7. Bagaimana tanggapan para pelaku usaha disana terhadap program tersebut? 8. Apakah tanggapan Dinas KUMKM terhadap penurunan kondisi ekonomi di PIK? 9. Apa rencana program yang masih akan dilakukan oleh Dinas KUMKM di PIK? 10. Apakah tantangan terberat dalam mengembalikan komplek PIK menjadi sentra UKM di Kota Medan? Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 Panduan Wawancara Dengan Pelaku UKM PIK Medan Tenggara Nama : Pendidikan terakhir : Usia : (tahun) Tanggungan keluarga : 1. Sudah berapa lama Bapak/Ibu membuka usaha di komplek PIK ini? 2. Apa yang bapak/ibu ketahui tentang komplek PIK ini? 3. Darimana bapak/ibu sebelumnya mendapatkan informasi tentang adanya PIK? 4. Sebelum pindah ke PIK, apa usaha yang bapak/ibu kerjakan? Dan dimana lokasinya? 5. Jika digabungkan, sudah berapa lama bapak/ibu menjalankan usaha ini? Apakah ada jenis usaha lain juga? 6. Apa hal yang menjanjikan dari PIK ini sehingga bapak/ibu memutuskan untuk datang ke tempat ini? 7. Apakah hal tersebut berhasil bapak/ibu dapatkan? 8. Bagaimana usaha bapak/ibu setelah pindah ke komplek ini? Apakah semakin berkembang? 9. Bapak/ibu sudah mengetahui bahwa PIK ini adalah program dari Pemko Medan, pernahkah pihak Pemko berkunjung dan melakukan sesuatu terhadap para pelaku-pelaku usaha yang ada di PIK ini? Apa saja hal-hal yang dilakukan? 10. Rutinkah hal tersebut dilakukan? Apakah semua pelaku UKM di PIK ini hadir? 11. Bagaimana menurut bapak/ibu tentang kunjungan dan kegiatan-kegiatan tersebut? 12. Bagaimana menurut bapak/ibu kondisi ekonomi di PIK saat ini? 13. Menurut cerita, katanya PIK ini pernah berjaya dan cukup maju usahausahanya, bisakah bapak/ibu menggambarkan bagaimana kondisi pada saat itu? Universitas Sumatera Utara 14. Mulai kapankah tepatnya kondisi usaha di PIK ini mulai menurun? 15. Kira-kira apa penyebab penurunan tersebut? 16. Bagaimana pola kerja bapak/ibu mengerjakan usaha di PIK ini? Apakah diproduksi setelah ada pesanan, atau produksi tetap setiap hari? 17. Siapa saja yang biasanya menjadi konsumen bapak/ibu? 18. Kemana saja biasanya bapak/ibu memasarkan produk untuk dijual? 19. Dari pihak Pemko Medan sendiri, khususnya Dinas KUMKM, apakah mereka menampung produk-produk dari PIK ini untuk dipasarkan di suatu tempat? 20. Berapakah penjualan rata-rata bapak/ibu dalam 1 bulan? 21. Bagaimana kehidupan bapak/ibu dengan jumlah penjualan tersebut? Apakah memenuhi kebutuhan keluarga? 22. Dan berapa biaya produksi rata-rata bapak/ibu dengan penjualan sedemikian? 23. Apakah bapak/ibu mempekerjakan orang lain juga di usaha ini (memiliki tenaga kerja di luar keluarga)? *jika ya : Berapa upah yang bapak/ibu berikan pada mereka setiap bulannya? 24. Darimana bapak/ibu mendapatkan bahan baku untuk diproduksi? 25. Berapa banyak produk yang biasanya bapak/ibu hasilkan dalam 1 hari? 26. Adakah bapak/ibu membuat stok barang jadi atau bahan baku di lokasi usaha bapak? 27. Berapa lama biasanya stok yang bapak/ibu simpan akan berganti (dalam arti habis terjual? 28. Apakah persediaan bahan baku produk bapak/ibu selalu tersedia dengan lancar? 29. Pernahkah masalah persediaan bahan baku ataupun produk jadi menjadi suatu kendala bagi bapak/ibu? Misalnya, bapak/ibu membuat persediaan bahan baku atau barang jadi yang terlalu banyak atau terlalu sedikit? 30. Apakah persediaan bapak/ibu mempengaruhi jumlah permintaan dari konsumen? Universitas Sumatera Utara 31. Apakah bapak/ibu selalu siap sedia apabila muncul permintaan terhadap produk model baru yang sedang tren di pasaran? Bagaimana cara bapak/ibu menghadapinya? 32. Menurut pengalaman bapak/ibu, apakah harga-harga produk yang bapak/ibu tawarkan kepada konsumen Anda tergolong mahal, standar, atau cukup murah? 33. Pernahkah pemerintah memberikan bantuan untuk pengembangan UKM disini? 34. Apa hal yang di lingkungan PIK ini yang cukup mengganggu perkembangan usaha bapak/ibu? 35. Apakah bapak/ibu aktif melakukan promosi atau pengiklanan tentang usaha bapak/ibu? Pernah mempromosikan melalui media massa? 36. Pernahkan pemerintah secara langsung ikut mempromosikan usaha yang ada disini? 37. Apa hal yang menurut bapak/ibu perlu dilakukan pihak Pemko dan Dinas KUMKM di PIK agar usaha-usaha yang ada disini menjadi lebih berkembang? Universitas Sumatera Utara
Strategi Industri Kecil Mengembangkan Usaha Di Era Perdagangan Bebas (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara). Hambatan Dalam Pengembangan Usaha dan Strategi Mengatasinya Interpretasi Data Jadwal Kegiatan No Kegiatan Keterbatasan Penelitian Jenis Penelitian Informan Biasa Teknik Pengumpulan Data KAJIAN PUSTAKA Strategi Industri Kecil Mengembangkan Usaha Di Era Perdagangan Bebas (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara). Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan Latar Belakang Masalah PENDAHULUAN Letak dan Keadaan Wilayah Luas Wilayah Sarana Pendidikan Pemanfaatan Jaringan Sosial Dalam Pengembangan Usaha Pengaruh Masuknya Sepatu Dari Luar Atau Impor Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Defenisi konsep Strategi Yang Digunakan Untuk Mengembangkan Usahanya Tujuan Pendirian Pusat Industri Kecil PIK
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Strategi Industri Kecil Mengembangkan Usaha Di Era Perdagangan Bebas (Studi Deskriptif Strategi Pengrajin Sepatu di Kawasan PIK, Jl.Menteng VII Kel. Medan Tenggara).

Gratis