Feedback

Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula

Informasi dokumen
PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM PERBANYAKAN SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA INTAN UTAMI 071202024 PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM PERBANYAKAN SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA SKRIPSI Oleh : INTAN UTAMI 071202024 PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM PERBANYAKAN SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA SKRIPSI Oleh : INTAN UTAMI 071202024 / BUDIDAYA HUTAN Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian Nama Mahasiswa NIM Program Studi : Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula : Intan Utami : 071202024 : Budidaya Hutan Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing Dr. Deni Elfiati, S.P, M.P Ketua Dr. Delvian, S.P, M.P Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph. D NIP. 197104162001122001 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK INTAN UTAMI. Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula, dibimbingoleh DENI ELFIATI dan DELVIAN. Fungi MikorizaArbuskulamerupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. FMA dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan karbohidrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun upaya untuk memproduksi inokulan FMA dalam skala besar masih sulit karena penggunaannya dalam jumlah relative besar dan membutuhkan waktu untuk berproduksi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organic dan metode kultur terhadap produksi spora FMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Juli 2011 di LaboratoriumBiologi Tanah Hutan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial yaitu asam humik (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameter yang diamati adalah kepadatan spora FMA, persentase kolonisasi FMA, tipe spora FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan spora FMA dan persentasi kolonisasi FMA berpengaruh tidak nyata terhadap pemberian senyawa humik (HUMEGATM). Hasil pengamatan kolonisasi akar hanya ditemukan hifa pada akar yang terinfeksi, sedangkan vesikula dan arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar. Berdasarkan hasil trapping diperoleh 13 jenis spora yang berasal dari satu genus yaitu Glomus sp. Kata Kunci :Senyawa Humik, Fungi Mikoriza Arbuskula, Kultur Trapping Universitas Sumatera Utara ABSTRACT INTAN UTAMI. The use of humic compounds in the multiplication of Mychorrhiza Vesicular Arbuskula spores, supervised by DENI ELFIATI and DELVIAN. Mychorhiza Vesycular Arbuskulaare fungi that symbiotic with the roots of its host plant. FMA can provide a variety of nutrients, particularly phosphor and carbohydrates to improve growth and crop production. But attempts to produce largescale inoculum MVA is still difficult because of its use in relatively large quantities and require time to produce. Therefore the study was conducted to determine the use of humic compounds and methods of culturing of MVA spore production. Methods used in this study were trapping cultur. The research was performed in March until July 2011 at agrobiology laboratory and green house, College of Agriculture University of North Sumatera using completely randomized design non factorial Humic(0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameters analyzed were MVA spore density, percentage of MVA colonization, MVA spore type. Results showedthat the density of MVAspores and the percentage of MVA colonization did not affect real impact on the provision humic compounds. Observations of root colonization hypha is found only in infected roots, but vesicles and arbuskula were not found in root samples. Based on trapping results obtained 13 kinds of spores originating from a singlegenus of glomus sp. Keyword : Humic Compounds, Mychorrhiza Vesycular Arbuskula, Trapping Cultur. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan proposal hasil penelitian ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari usulan penelitian ini adalah “Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula”. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak pada dosen pembimbing penelitian yaitu Dr. Deni Elfiati, S.P, M.P selaku ketua dan Dr. Delvian, S.P, M.P selaku anggota. Serta kepada kedua orangtua dan teman-teman yang telah mendukung dan membantu saya. Penulis menyadari bahwa proposal hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun teknik penulisan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi penyempurnaan hasil penelitian ini. Akhirnya penulis berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi para mahasiswa kehutanan. Medan, Agustus 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . DAFTAR ISI . DAFTAR TABEL . DAFTAR GAMBAR . DAFTAR LAMPIRAN . PENDAHULUAN . Latar Belakang . Tujuan . Hipotesis . Manfaat . TINJAUAN PUSTAKA . Organ-organ FMA. Spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) . Faktor Pembentuk Spora FMA . Asam Humik . Pengaruh Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Spora . BAHAN DAN METODE . Waktu dan Tempat . Bahan dan Alat . Metode Penelitian . Pelaksanaan Penelitian . Persiapan Media Tumbuh dan Tanaman Inang . Ekstraksi dan Identifikasi Spora Fungi Mikoriza Arbuskula . Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel. Pembuatan Kultur . Variabel yang Diamati . HASIL DAN PEMBAHASAN Kepadatan Spora Tanah Sampel . Kepadatan Spora Hasil Trapping . Persentase Kolonisasi Akar . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . Saran. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN i ii iii iv v 1 1 4 4 4 5 6 7 7 9 10 11 11 11 11 12 12 13 14 15 16 17 18 23 26 26 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No Hlm 1. Kondisi tanah di bawah tegakan sengon (Paraserianthes falcataria) . 18 2. Kepadatan spora hasil trapping . 18 3 Jenis spora hasil trapping . 20 4. Persentase kolonisasi akar . 23 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No Hlm 1. Akar yang memiliki hifa dan yang tidak terinfeksi . 25 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No Hlm 1. Kegiatan penelitian . 2. Hasil analisis sidik ragam kepadatan spora FMA hasil trapping . 3. Hasil analisis sidik ragam kolonisasi akar . 29 30 31 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK INTAN UTAMI. Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula, dibimbingoleh DENI ELFIATI dan DELVIAN. Fungi MikorizaArbuskulamerupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. FMA dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan karbohidrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun upaya untuk memproduksi inokulan FMA dalam skala besar masih sulit karena penggunaannya dalam jumlah relative besar dan membutuhkan waktu untuk berproduksi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organic dan metode kultur terhadap produksi spora FMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Juli 2011 di LaboratoriumBiologi Tanah Hutan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial yaitu asam humik (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameter yang diamati adalah kepadatan spora FMA, persentase kolonisasi FMA, tipe spora FMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan spora FMA dan persentasi kolonisasi FMA berpengaruh tidak nyata terhadap pemberian senyawa humik (HUMEGATM). Hasil pengamatan kolonisasi akar hanya ditemukan hifa pada akar yang terinfeksi, sedangkan vesikula dan arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar. Berdasarkan hasil trapping diperoleh 13 jenis spora yang berasal dari satu genus yaitu Glomus sp. Kata Kunci :Senyawa Humik, Fungi Mikoriza Arbuskula, Kultur Trapping Universitas Sumatera Utara ABSTRACT INTAN UTAMI. The use of humic compounds in the multiplication of Mychorrhiza Vesicular Arbuskula spores, supervised by DENI ELFIATI and DELVIAN. Mychorhiza Vesycular Arbuskulaare fungi that symbiotic with the roots of its host plant. FMA can provide a variety of nutrients, particularly phosphor and carbohydrates to improve growth and crop production. But attempts to produce largescale inoculum MVA is still difficult because of its use in relatively large quantities and require time to produce. Therefore the study was conducted to determine the use of humic compounds and methods of culturing of MVA spore production. Methods used in this study were trapping cultur. The research was performed in March until July 2011 at agrobiology laboratory and green house, College of Agriculture University of North Sumatera using completely randomized design non factorial Humic(0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameters analyzed were MVA spore density, percentage of MVA colonization, MVA spore type. Results showedthat the density of MVAspores and the percentage of MVA colonization did not affect real impact on the provision humic compounds. Observations of root colonization hypha is found only in infected roots, but vesicles and arbuskula were not found in root samples. Based on trapping results obtained 13 kinds of spores originating from a singlegenus of glomus sp. Keyword : Humic Compounds, Mychorrhiza Vesycular Arbuskula, Trapping Cultur. Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Mikoriza merupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. Fungi yang dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan menyediakan karbohidrat untuk pertumbuhan dari jamur. Mikoriza bersifat non-pathogenic, dapat hidup pada berbagai tempat dan bersimbiosis dengan berbagai jenis tanaman (Barber, 1984). Mikoriza tersebar hampir di seluruh permukaan bumi dan dapat berasosiasi dengan sebagian besar tumbuhan. Menurut Smith dan Read (1997) 83% dikotiledon, 79% monokotiledon dan semua Gymnospermeae yang pernah dipelajari adalah bermikoriza. Tanaman yang tidak bermikoriza biasanya terdapat pada daerah dengan tanah yang sangat kering atau salin atau tergenang, mengalami gangguan yang sangat berat seperti aktivitas penambangan, atau dimana kandungan hara tanah sangat tinggi atau sangat rendah (Brundrett, 1991). Mikoriza dapat ditemukan berbagai jenis tanaman yang biasanya di akar angiosperms dan gymnosperms. Mikoriza yang bersimbiosis memberikan dampak positif terhadap inangnya, seperti pengambilan posfor dan membantu pertumbuhan inangnya. Selama terjadinya interaksi, fungi berkecambah dan berkembangbiak membentuk miselium yang menyebar di akar tanaman (Selvaraj dan Padmanabhan, 2006). Mikoriza dapat dikelompokkan dalam dua tipe, yaitu (1) ektomikoriza merupakan cendawan yang terjadi di luar sel inangnya,dan (2) endomikoriza merupakan cendawan yang seluruhnya terjadi di dalam sel inangnya. Ada juga Universitas Sumatera Utara yang bertipe perantara, tetapi hanya sedikit yang dapat bersimbiosis dengan tipe ini dan pengetahuan tentang biologinya sangat sedikit (Landecker, 1982). Pada ektomikoriza, jamur seluruhnya menyelubungi masing-masing cabang akar dalam selubung atau mantel akar. Hifa-hifa itu hanya menembus antarsel korteks akar. Sedangkan endomikoriza, jamurnya tidak membentuk suatu selubung luar tetapi hidup di dalam sel-sel akar (intraselular) dan membentuk hubungan langsung antar sel-sel akar dan tanah sekitarnya. Karakteristik biologis yang utama dari FMA adalah obligat bitrophik. Artinya setiap tahap siklus hidupnya memerlukan asosiasi dengan tanaman hidup. Seperti halnya sebagian besar filamentous jamur lainnya, propagasi FMA dapat terjadi salah satunya oleh diferensiasi spora dan diferensiasi perkecambahan oleh budding interkalar atau apikal pada hifa (Rao, 1994). Identifiksi Spesies FMA berdasarkan karakter spora, arsitektur dari dinding spora, dan morfologi hifa. Fungi Mikoriza arbuskula (FMA) membetuk struktur karakteristik khusus yang disebut arbuskel dan vesikel. Arbuskul membantu dalam mentransfer nutrient (terutama fosfat) dari tanah ke sistem perakaran. FMA merupakan simbion obligat dan tidak pernah dipisahkan dalam kultur murni dan hanya dapat dipertahankan pada tanaman sedang tumbuh yang diinokulasi dengan spora dari salah satu spesies dan potongan-potongan akar beserta tanahnya untuk tujuan penelitian (Rao, 1994). Penelitian mengenai mikoriza telah mulai banyak dilakukan, bahkan usaha untuk memproduksinya telah mulai banyak dirintis. Hal ini disebabkan oleh peranannya yang cukup membantu dalam meningkatkan kualitas tanaman. Seperti yang disampaikan oleh Yusnaini (1998), bahwa FMA dapat membantu Universitas Sumatera Utara meningkatkan produksi kedelai pada tanah ultisol di Lampung. Bahkan pada penelitian lebih lanjut dilaporkan bahwa penggunaan FMA ini dapat meningkatkan produksi jagung yang mengalami kekeringan sesaat pada fase vegetatif dan generatif. Menurut Setiadi (2003) dalam Dewi (2007), menyebutkan bahwa mikoriza juga sangat berperan dalam meningkatkan toleransi tanaman terhadap kondisi lahan kritis, yang berupa kekeringan dan banyak terdapatnya logam-logam berat. Mencermati kondisi demikian maka dapat disepakati jika terdapat komentar mengenai potensi mikoriza yang cukup menjanjikan dalam bidang agribisnis. Namun demikian masih terdapat beberapa kendala yang perlu dihadapi dalam upaya pemanfaatan mikoriza ini, diantaranya seperti yang disampaikan oleh Simanungkalit (2003) dalam Dewi (2007), bahwa upaya untuk memproduksi inokulan mikoriza dalam skala besar masih sulit. Penggunaan mikoriza ini masih mendapatkan kesulitan karena penggunaannya yang dalam jumlah relatif besar dan lamanya waktu untuk memproduksinya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organik dan metoda kultur yang digunakan akan berpengaruh terhadap produksi spora yang diperoleh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). INVAM (2010) kultur traping adalah teknik menghasilkan koloni spora fungi yang sehat untuk identifikasi dan sebagai inokulum kultur tunggal. Spora yang dikumpulkan langsung dari tanah memiliki banyak masalah, seperti mikoriza yang terlihat baik tetapi sebenarnya tidak karena telah mati bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, hanya terdapat koloni fungi arbuskular dengan aktifitasdan biomassa yang cukup untuk melakukan sporulasi. Universitas Sumatera Utara Tujuan Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh senyawa asam humik terhadap produksi spora FMA. Hipotesis Pemberian asam humik mampu meningkatkan produksi spora FMA. Manfaat Hasil penelitian beguna sebagai bahan informasi untuk mengetahui cara memperbanyak spora FMA dan pembelajaran mikoriza bagi yang membutuhkan. Universitas Sumatera Utara TINJAUAN PUSTAKA Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman (Brundrett, 1991). inang dapat merangsang perkecambahan spora FMA. Eksudat yang dapat merangsang perkecambahan spora FMA tersebut kemudian dikenal dengan faktor M. Pemberian benomyl konsentrasi relatif tinggi (1-2,12µm/ml) menghambat perkecambahan spora FMA, dikarenakan pemberian fungisida konsentrasi tinggi tersebut meurunkan laju pindahnya air dari larutan fungisida ke larutan sel spora FMA secara osmosis. Pemberian benomyl konsentrasi relatif sangat tinggi (1021,25µm/ml) bahkan dapat menyetop pindahnya air ke larutan sel spora FMA. Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni 2009 sampai Agustus 2009 bertempat di Laboratorium Bioteknologi Hutan Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah spora FMA (Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata), fungisida dengan bahan aktif asam fosfit dan metalaksil, bahan sterilisasi (chlorox), pasir sungai, kertas saring, kertas HVS, aquades, glukosa. Alat yang digunakan adalah saringan bertingkat, cawan petri, rak kultur, mikroskop dissecting, otoklaf, sentrifuse, pinset spora, pipet mikro. 3.3 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 faktor yang diuji yaitu: 1. Perbedaan bahan aktif dan konsentrasi fungisida (F): Tanpa penggunaan fungisida (0,0000%) sebagai kontrol (F0) Penggunaan fungisida bahan aktif asam fosfit 0,0400% (F1) Penggunaan fungisida bahan aktif asam fosfit 0,1200% (F2) Penggunaan fungisida bahan aktif asam fosfit 0,2000% (F3) Penggunaan fungisida bahan aktif metalaksil 0,0525% (F4) Penggunaan fungisida bahan aktif metalaksil 0,0875% (F5) Penggunaan fungisida bahan aktif metalaksil 0,1225% (F6) Universitas Sumatera Utara 2. Perbedaan spesies spora FMA (M): Gigaspora margarita (M1) Acaulospora tuberculata (M2) Kombinasi perlakuan: F0M1: Tanpa penggunaan fungisida (0,0000%) terhadap Gigaspora margarita F1M1: Bahan aktif asam fosfit 0,0400% terhadap Gigaspora margarita F2M1: Bahan aktif asam fosfit 0,1200% terhadap Gigaspora margarita F3M1: Bahan aktif asam fosfit 0,2000% terhadap Gigaspora margarita F4M1: Bahan aktif metalaksil 0,0525% terhadap Gigaspora margarita F5M1: Bahan aktif metalaksil 0,0875% terhadap Gigaspora margarita F6M1: Bahan aktif metalaksil 0,1225% terhadap Gigaspora margarita F0M2: Tanpa penggunaan fungisida (0,0000%) terhadap Acaulospora tuberculata F1M2: Bahan aktif asam fosfit 0,0400% terhadap Acaulospora tuberculata F2M2: Bahan aktif asam fosfit 0,1200% terhadap Acaulospora tuberculata F3M2: Bahan aktif asam fosfit 0,2000% terhadap Acaulospora tuberculata F4M2: Bahan aktif metalaksil 0,0525% terhadap Acaulospora tuberculata F5M2 : Bahan aktif metalaksil 0,0875% terhadap Acaulospora tuberculata F6M2: Bahan aktif metalaksil 0,1225% terhadap Acaulospora tuberculata Masing-masing perlakuan dibuat sebanyak tiga ulangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis varian untuk mengetahui pengaruh perlakuan dan dilanjutkan dengan uji DMRT untuk mengetahui perbedaan pengaruh perlakuan. Universitas Sumatera Utara 3.4 Pelaksanaan Penelitian 1. Sterilisasi alat dan bahan Cawan petri, gelas ukur, tabung reaksi, erlenmeyer, pinset spora, pipet mikro, kertas saring, pasir sungai, dicuci bersih, dibungkus kertas HVS, dimasukkan ke dalam otoklaf pada suhu 1210C tekanan 1 atm selama 60 menit. 2. Isolasi spora Teknik mengisolasi spora FMA menggunakan teknik tuang saring dan dilanjutkan dengan teknik sentrifugasi. Prosedur kerja teknik tuang saring yang digunakan berdasarkan Pacioni (1992), pertama adalah mencampurkan mikofer sampel sebanyak 50 g dengan 200-300 ml air dan diaduk. Selanjutnya disaring dalam satu set saringan bertingkat ukuran 710 µm, 425 µm dan 45 µm secara berurutan dari atas ke bawah. Dari saringan bagian atas disemprot dengan air kran untuk memudahkan bahan saringan lolos. Kemudian saringan paling atas dilepas dan saringan ke dua kembali disemprot dengan air kran. Setelah saringan kedua dilepas sejumlah mikofer sisa yang tertinggal pada saringan terbawah dipindahkan ke dalam tabung sentrifuse untuk dilanjutkan dengan teknik sentrifugasi. Prosedur kerja teknik sentrifugasi yang digunakan berdasarkan Brundrett dkk. (1996), pertama adalah hasil saringan dalam tabung sentrifuse ditambahkan dengan glukosa 60% yang diletakkan pada bagian bawah dengan menggunakan pipet. Tabung sentrifuse ditutup rapat dan disentrifuse dengan kecepatan 2500 rpm selama 3 menit. Selanjutnya larutan supernatan yang mengandung spora dituang ke dalam saringan 45 µm, dicuci dengan air mengalir (air kran) untuk menghilangkan glukosa. Selanjutnya spora-spora tersebut dituangkan ke dalam cawan petri dan siap untuk masuk tahap sterilisasi. Universitas Sumatera Utara 3. Sterilisasi spora Spora yang diperoleh dari kegiatan isolasi spora dimasukkan ke dalam tabung, kemudian dimasukkan bahan sterilan (chlorox 5%) dan disentrifugasi dengan 2500 rpm selama 2 menit. Setelah disentrifugasi sterilan yang terdapat di dalam tabung disedot dengan pipet sampai habis dan kemudian dimasukkan larutan pembilas (aquades) ke dalam tabung tersebut dan kemudian tabung dikocok/digoyang dengan tangan dan setelah itu larutan pembilas disedot. Kegiatan membilas spora dilakukan sebanyak 3 kali. Spora-spora yang telah disterilisasi diletakkan di cawan petri (wadah sementara) dan kemudian diletakkan ke dalam cawan petri perlakuan dan untuk seterusnya dilakukan pembuatan kultur. 4. Pembuatan kultur Untuk pengamatan variabel persentase perkecambahan, hari mulai berkecambah dan laju perkecambahan dibuat kultur FMA tanpa tanaman inang. Mula-mula cawan petri diberi label F0M1, F1M1, F2M1, F3M1, F4M1, F5M1, F6M1, F0M2, F1M2, F2M2, F3M2, F4M2, F5M2, F6M2 dengan ulangan sebanyak 3 kali. Berikutnya cawan petri diberi pasir sungai masing-masing seberat 20 g, diratakan, diberi alas kertas saring, diletakkan masing-masing 5 spora Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata sesuai label. Setelah itu cawan petri diberi perlakuan konsentrasi fungisida bahan aktif asam fosfit dan metalaksil dimana pemberian langsung mengenai spora dengan cara diteteskan sedikit demi sedikit sampai alas kertas saring lembab/basah. Terakhir ditutup dengan bidang atas cawan petri. Universitas Sumatera Utara 5. Pemeliharaan Seluruh cawan petri yang telah berisi FMA tanpa tanaman inang yang telah diberi perlakuan dimasukkan ke dalam rak kultur selama 42 hari pada suhu kamar, tanpa cahaya/ruang gelap. 3.5 Variabel yang Diamati Tiga variabel yang diamati yaitu persentase perkecambahan, hari mulai berkecambah dan laju perkecambahan. Pengamatan dilaksanakan setiap hari dimulai hari ke-1 sampai dengan hari ke-42. 1. Hari mulai berkecambah Dilakukan pengamatan hari mulai berkecambah menggunakan mikroskop dissecting. Spora berkecambah ditandai dengan adanya hifa. Kemudian dihitung rata-rata hari mulai berkecambah dari setiap cawan petri dengan rumus sebagai berikut : X= X1 + X2 + X3 + . + Xn n Dimana: X : Rata-rata hari mulai berkecambah spora dalam 1 cawan petri X1: Hari mulai berkecambah data 1 X2: Hari mulai berkecambah data 2 X3: Hari mulai berkecambah data 3 Xn: Hari mulai berkecambah data n n: Banyaknya data Universitas Sumatera Utara 2. Persentase perkecambahan Menghitung persentase perkecambahan spora fungi mikoriza arbuskula dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Jumlah spora yang berkecambah Persentase perkecambahan = x 100% Jumlah spora yang dikecambahkan 3. Laju perkecambahan (Kartasapoetra, 2003) Laju perkecambahan dihitung dengan menggunakan rumus berikut : C.G = (100) (A1 + A2 + . + An) A1T1 + A2T2 + . + AnTn Dimana : A : Jumlah benih yang berkecambah pada hari tertentu. T : Waktu yang bersesuaian dengan A. n : Jumlah hari pada penilaian/perhitungan akhir. CG: Koefisiensi perkecambahan. 4. Uji kolonisasi FMA pada akar tanaman inang Untuk membandingkan bagaimana pengaruh konsentrasi fungisida bahan aktif asamfosfit dan metalaksil terhadap FMA yang ada tanaman inangnya menjadi penting dalam penelitian ini. Variabel yang diamati adalah persentase kolonisasi FMA pada akar tanaman inang (Zea mays L). Mula-mula pot plastik diberi label perlakuan F0M1, F1M1, F2M1, F3M1, F4M1, F5M1, F6M1, F0M2, F1M2, F2M2, F3M2, F4M2, F5M2, F6M2 dengan ulangan sebanyak 3 kali. Setiap pot plastik diisi sebanyak ±500 gram pasir sungai yang terlebih dahulu pasirnya dicuci bersih dan dijemur di panas matahari. Kemudian diberi 5 spora FMA (Gigaspora margarita atau Acaulospora Universitas Sumatera Utara tuberculata) dan benih tanaman inang (Zea mays L). Setiap pot plastik yang telah berisi FMA dan tanaman inang (Zea mays L) disirami dengan air secukupnya hingga tercapai keadaan kapasitas lapang, interval penyiraman 1 kali dalam 1 hari, diberi larutan pupuk hyponex merah konsentrasi 1 gram/2 liter air, interval penyiraman 1 kali dalam 3 hari dan diberi konsentrasi larutan fungisida asam fosfit dan metalaksil sesuai perlakuan, interval penyiraman 1 Tanaman yang tumbuh dengan baik akan memacu terjadinya simbiosis mutualistik bagi perkembangan tanaman dan FMA. Gambar 6. Contoh akar yang terinfeksi FMA Meningkatnya kolonisasi FMA adalah karena meningkatnya proses fotosintesis yang menyebabkan meningkatnya konsentrasi karbohidrat dalam akar dan meningkatnya senyawa-senyawa eksudat akar, Delvian (2003). Sejalan dengan kondisi rumah kasa yang memiliki intensistas cahaya yang sangat tinggi, yang mana penelitian ini dilakukan di rumah kasa. Ini menjadi salah satu alasan diperoleh tingkat persentasi kolonisasi akar semai Suren yang cukup tinggi. Pada Gambar 5, menunjukkan bahwa kombinasi M2H0 memiliki persentasi serapan hara tertinggi dan persentasi terendah pada tanaman M0H0 (kontrol). Hal ini disebabkan pemberian FMA dan asam humik mampu meningkatkan kemampuan tanaman dalam penyerapan hara, dimana diduga Universitas Sumatera Utara bahwa FMA dapat mengurangi jarak hara ke tanaman, sehingga akar dapat mencapai hara dan memanfaatkannya untuk optimalisasi pertumbuhan tanaman, selain itu FMA mampu meningkatkan rata-rata penyerapan hara dan konsentrasi hara pada permukaan akar dan dapat merubah sifat-sifat hara secara kimia sehingga memudahkan penyerapan hara kedalam akar tanaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Rao (1994), bahwa pemberian FMA memiliki keuntungan bagi tanaman terutama dalam kemampuan penyerapan hara P (fosfor) dimana P merupakan salah satu unsur hara makro penting dalam pertumbuhan tanaman. Peningkatan serapan P oleh tanaman yang diberi FMA juga akan diikuti peningkatan serapan hara-hara lain. Beberapa unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan tanaman yang ikut meningkat di antaranya N dan K. FMA dapat meningkatkan serapan P karena dapat memfiksasi N dan K sehingga dapat meningkatkan fotosintesis. Meningkatnya fotosintesis akan meningkatkan fotosintat dari daun ke akar. Smith dan Read (1997) menyatakan bahwa peningkatan serapan hara P dapat meningkatkan serapan hara-hara lain. Peningkatan serapan hara oleh tanaman berhubungan dengan perubahan permeabilitas membran sel akar tanaman Chen dan Schntizer (1978) dalam Delvian (2003) menyatakan bahwa senyawa humik dapat meningkatkan permebilitas membran sel, yang pada akhirnya dapat meningkatkan penyerapan hara. Bentuk hubungan antara senyawa humik dengan permeabilitas membran sel ini belum jelas, Chen dan schntizer (1978) dalam Delvian 2003) menduga hal ini berkaitan dengan aktivitas permukaan senyawa humik yang dihasilkan dari adanya tapak yang hidrofilik dan hidrofobik. Dengan demikian senyawa humik Universitas Sumatera Utara dapat berinteraksi dengan struktur fosfolipit dari membran sel dan berperan sebagai pembawa unsur hara bagi tanaman. Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil pengamatan dan dan analisis sidik ragam, aplikasi FMA dan asam humik berpengaruh terhadap pertumbuhan Suren (Toona sureni merr) pada media tumbuh tanah bekas tambang emas, dimana M2H1 (dosis 10 g FMA dan 2.5 % asam humik) merupakan kombinasi perlakuan yang paling efektif meningkatkan pertumbuhan Suren. Saran 1. Untuk efektifitas dan efisiensi penggunaan FMA dan asam humik pada lahan bekas tambang, penelitian selanjutnya dapat menggunakan kombinasi perlakuan M2H1 (dosis 10 g FMA dan 2.5 % asam humik). 2. Diperlukan penelitian lanjutan dengan pemberian FMA dan asam humik pada lahan bekas tambang langsung di lapangan. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Allen, M.F & Allen, E.B. 1992. Development of mycorrhizal patches in a succesional arid ecosistem. PP 164-170. In: read, D.J., lewis, D.L., Fitter, A.H., and alexander, I.J.(eds). Mycorrhizas in Ecosistem. CAB International. Wallingford, UK. Ange. R. M. 2001. Water Relations, Drought and Vesicular-Arbuscular My Corrhizal Symbiosis. Atmosuseno, S. 1994. Budidaya, Kegunaan, dan Prospek Sengon. Penebar Swadaya. Jakarta ______2009. Budidaya Tanaman Suren. Balai penelitian dan pengembangan kehutanan.Yogyakarta. Delvian. 2004. Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula Dalam Reklamasi Lahan Kritis Pasca Tambang. Repository USU. Medan. Delvian. 2003. Keanekaragaman dan potensi pemanfaatan cendawan mikoriza arbuskula ( CMA) di Hutan Pantai. Disertasi. Program pasca sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ernawati. R. 2008. Studi sifat-sifat Kimia Tanah Timbunan Bekas Penambangan Batubara. Jurnal Teknologi. UPN. Yogyakarta. Faridah, V. 2006. Pengaruh Fungi Mikoriza Arbuskula dalam mengatasi cekaman Salinitas Terhadap Pertumbuhan cemara laut.Skripsi Fakultas Pertanian. USU. Medan. Lubis, A. U. 1992. Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia. Pematang Siantar, Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Munawar, A. 2005. Status Kesuburan Tanah Bekas Tambang Batu Bara pada Pertanaman Sengon dan Turi Berumur 2 Tahun. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Bengkulu Olsson, P. A., R. Francis, D.J. Read & B. Soderstrom . 1999. Growth of arbuscular mycorrhizal mycelium in calcareous dune sand and its interaction with other soil microorganisms as estimated by measurement of specific fatty acids. In The External Mycorrhizal Mycelium. Growth and Interactions with Saprophytic Microorganisms. Department of Ecology Microbial Ecology. Lund Univ. Sweden. Disertation. Pattimahu. D. V.2004. Restorasi Lahan Kritis Pasca Tambang Secara Kaidah Ekologi. Pascasarjana IPB. Bogor. Universitas Sumatera Utara Rao, N. S. S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Saadah, S. 2006. Efektivitas FungiMikoriza Arbuskula Pada Berbagai Selang Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Sengon. Skripsi Fakultas Pertanian. USU. Medan. Salisbury,F.D dan C.W.Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Diterjemahkan oleh D.R Lukman. Penerbit ITB Bandung. Setiadi, Y. 1996. Penerapan Teknik Silvikultur Pada Lahan Pasca Tambang. Bahan Kursus Inhouse Training PT. Inco. Setiadi, Y. 1999. Status penelitian pemanfaatan Fungi mikoriza arbuskula untuk rehabilitasi lahan terdegradasi. Prosiding Seminar Mikoriza I. Setiadi, dkk (editor). Kerjasama Asosiasi Mikoriza Indonesia, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam, British Council. Bogor. 15-16 Nopember 1999. Setiadi, Y. 1993. Mychorhizae for reforestation. Paper presented on biodiversity biotechnology inovation symposium. British Council, Jakarta 3 may, 1993. Simamora, N. DJ. 2007. Pemanfaatan Fungi mikoriza Arbuskula dan Pupuk P untuk Meningkatkan Pertumbuhan Semai Sengon. Skripsi Fakultas Pertanian. USU. Medan. Smith, S. E. dan Read, D. J. . 1997. Mycorrhizal Symbiosis. London. Academic Press. Sofyan, A. dan Islam, S. 2006. Ekspose Hasil Penelitian. Konservasi dan Sumberdaya Hutan. Padang. Tan, K. H. 1993. Principles of Soil Chemistry. Marcel Dekker Inc. New York and Basel. Widiastuti, H., T. W. Darmono & D. H. Goenadi . 1998. Respons bibit kelapa sawit terhadap inokulasi beberapa FungiAM pada beberapa tingkat pemupukan. Menara Perkebunan. Windyaningrum, R. 2008. Pengaruh Pemberian Mikoriza (FMA), Asam Humik serta Mikroorganisme Tanah Potensial Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Setaria splendida stapf. Pada latosol dan Tailing tambang emas. Skripsi Fakultas Peternakan. IPB. Bogor. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Analisis sidik ragam Serapan P Tanaman Sumber db Keragaman Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Perlakuan 6 0.02 0.00 Galat 48 0.00 0.00 Total 60 2.05 F Hit F tabel 19.70 2.30 Lampiran 2. Hasil analisis sidik ragam Persentasi infeksi akar Sumber Keragaman Perlakuan db 6 Jumlah Kuadrat 889.92 Kuadrat Tengah 148.32 Galat Total 48 60 3034.54 119141.38 63.22 F Hit 2.35 F tabel 2.30 Lampiran 3. Hasil analisis sidik ragam Pertambahan Diameter Tanaman Sumber Keragaman db Jumlah Kuadrat Kuadrat Tengah Perlakuan 6 0.00 0.00 Galat Total 48 60 0.01 0.33 0.00 F Hit 3.03 F tabel 2.30 Lampiran 4. Hasil analisis sidik ragam Pertambahan Tinggi Tanaman Sumber Keragaman Perlakuan db 6 Jumlah Kuadrat 39.13 Kuadrat Tengah 6.52 Galat Total 48 60 120.48 2286.31 2.51 F Hit 2.60 F tabel 2.30 Universitas Sumatera Utara Lampiran 5. Hasil analisis sidik ragam Pertumbuhan BKT Sumber Keragaman Interaksi db 6 Jumlah Kuadrat 1.56 Kuadrat Tengah 0.26 Galat Total 48 60 2.87 57.82 0.06 0.32 F Hit F tabel 4.35 2.30 Lampiran 6. Gambar kegiatan Penambangan Gambar 1. Kondisi lahan bekas tambang Lampiran 7. Gambar pengambilan sample dan penanaman Gambar 1. Pengambilan Tanah Universitas Sumatera Utara Gambar 2. Kegiatan penaman Gambar 3. Kegiatan penaman Lampiran 8. Tanaman antar kombinasi perlakuan Gambar 1. Perlakuan asam humik Gambar 3. M2 dengan H0,H1 dan H2 Gambar 2. M1 dengan H0, H1 dan H2. Gambar 4. M3 dengan H0, H1 dan H2. Gambar 5. M0,M1.M2,M3 dengan H0 Gambar 6. M0,M1,M2,M3 dengan H1 Universitas Sumatera Utara Gambar 7. M0,M1,M2,M3 dengan H2 Lampiran 8. Kegiatan Pemanenan Gambar Pemanenan Tanaman Lampiran 9. Gambar Infeksi akar Gambar 1. Akar yang tidak terinfeksi Gambar 2. Akar yang terinfeksi Universitas Sumatera Utara
Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula Penggunaan Senyawa Humik Dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

Fungi Mikoriza Arbuskula

Fungi Mikoriza Arbuskula Fma Mikoriza Arbuskula Penggunaan Internet Dalam Pencarian Berita

Mikoriza Vesikular Arbuskula

Mikoriza Vesikula Arbuskula

Fungi Mikoriza Arbuskular Asam Humik

Senyawa Alkaloida

Spora Jamur

Endophytic Fungi

Cendawan Mikoriza

Fungi Endemik
Upload teratas

Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula

Gratis