Feedback

Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

Informasi dokumen
FORMASI IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI TESIS OLEH PRINSI RIGITTA 097009009/LNG SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Tesis ini berjudul “Formasi Ideologi dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari”; tesis ini memfokuskan analisis terhadap representasi realitas sosial yang tergambar dalam sebuah karya sastra. Tujuan disusunnya tesis ini adalah untuk melengkapi persyaratan pemerolehan gelar Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik: Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Dengan diselesaikannya tesis ini, peneliti berharap dapat memberikan suatu kontribusi ilmu pengetahuan yang berharga dan bermanfaat, terutama dalam ranah ilmu kesusastraan. Hasil penelitian diharapkan dapat mengilhami pemahaman terhadap karya sastra terutama Cultural Studies, yakni sebagai cerminan isu-isu sosial yang meliputi ideologi, politik dan kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat; sehingga pada akhirnya dapat memposisikan karya sastra sebagai sarana luapan ekspresi yang bersifat mendidik sekaligus mengintrospeksi dan memotivasi pembacanya. Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini belum dapat dikatakan sempurna, dan juga belum sepenuhnya mampu menjawab keinginan pembaca; melainkan merupakan sebuah langkah awal untuk menumbuhkan minat pengkajian dan pendalaman ilmu kesusasteraan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik konstruktif ataupun ilham lainnya dari pembaca demi penyempurnaan pembahasan di lain waktu. Medan, September 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur dan sembah sujud penulis haturkan kepada Allah S.W.T. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak lupa dikumandangkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Perlu diketahui bahwa selama penulisan tesis ini, penulis memperoleh bantuan dan motivasi dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin sekali menyampaikan sebentuk ucapan terima kasih setulus hati. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing I. Selama masa bimbingan, beliau selalu memberikan motivasi, arahan, kritik, saran, serta kesediaan waktu ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, sehingga dirasakan sangat bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini. Penulis memperoleh banyak pelajaran berharga dari beliau, antara lain kedisiplinan, ketekunan, dan kemandirian. Beliau juga dengan tulus meminjamkan beberapa referensi kepada penulis untuk mendukung penyelesaian tesis ini. Terima kasih dan rasa sayang saya kepada Ibu Dr. Asmyta Surbakti, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing II. Beliau adalah sosok pembimbing sekaligus Ibu bagi penulis, beliau selalu menyediakan waktunya ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat untuk mendidik penulis dengan ilmu pengetahuan, referensi, dan filosofi kehidupan yang sangat relevantif. Beliau senantiasa memberikan wejanganwejangan berharga kepada penulis, dan juga memotivasi penulis dengan nilai kesabaran, etika, moral, dan konsistensi. Sungguh suatu hal yang tidak pernah disangka penulis sebelumnya, bisa mendapat kesempatan menjadi mahasiswa bimbingannya. Selanjutnya penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral, material, spiritual, maupun ilham selama penyelesaian tesis ini, terutama kepada: Universitas Sumatera Utara 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc., (CTM), Sp.A(K). selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Ibu Dr. Nurlela, M.Hum. selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan segala kemudahan dalam penyelenggaraan kegiatan akademik. 4. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. dan Ibu Dr. Rosmawaty, M.Pd. selaku penguji, yang telah banyak memberikan koreksi bermanfaat. 5. Semua Dosen Program Studi Magister Linguistik dan Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan USU. 6. Kepada seluruh Staf Administrasi Program Studi Magister Linguistik Sekolah Pascasarjana USU. 7. Kepada kedua orangtua saya. Ayahanda tercinta Ir. Syahril Dulman dan Ibunda (Almh.) Hj. Trisnawati yang telah membuai, membesarkan, mendidik, dan membina etika, moral, mental dan spiritual saya sebagai bekal menghadapi kehidupan yang didasari oleh tanggung jawab dan reputasi baik. Kepada Ibunda Nilawaty, yang turut mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya. 8. Kepada Kakak-kakak tercinta, Ulfa Nadra, S.E, M.Si. dan Sucahyanto, S.T., M.M., Iqbal Reza, S.T. dan Vivi Ekayanti, S.T., Novel Faisal dan Yunita, Farid Aulia, S.Sos., M.Si. dan Rahima Purba, S.E., M.Si., Dwi Bagus Gunawan, S.T. dan Maslinda, S.S., yang selalu menstimulasi, membantu, menguatkan, menghibur, dan mencerahkan saya selama proses penyelesaian tesis ini. 9. Kepada keponakan-keponakan tercinta, R. Alfito Satria Kamil, Rr. Jasmine Tresna Sukmahani, Shiellsy Revioza Daulay, Fanny Nabila Putri Daulay, M.Wira Daulay, Thariq Daulay, Arrafa Istiqlal Jauhari Daulay, Nabila, Zahra, dan Camila. Generasi-generasi platinum ini telah menginspirasi saya untuk segera merampungkan tesis ini. Universitas Sumatera Utara 10. Sahabat-sahabat saya di AWK angkatan 2009/2010, Kak Ayu, Kak Elva, Kak Isma, Kak Henni, Kak Erni, Yelly, Bang Riko, Anggi Daulay, dan Cito. Juga rekan-rekan mahasiswa/i Magister Linguistik angkatan 2009/2010. Momenmomen manis kebersamaan kita selamanya akan menjadi pengerat tali silaturahmi kita. 11. Kepada tokoh-tokoh yang mengilhami penulis: Okky Madasari, Tenggina Rahmad Siswadi, Antonio Gramsci, Louis Althusser, John Storey, dan Stuart Hall. Medan, September 2011 Penulis, Prinsi Rigitta, S.S. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING PANITIA PENGUJI PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR. UCAPAN TERIMA KASIH . DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL . DAFTAR BAGAN. DAFTAR LAMPIRAN . ABSTRAK . ABSTRACT . i ii v viii ix x xi xii BAB I PENDAHULUAN . 1.1 Latar Belakang . 1.2 Batasan Masalah. 1.3 Rumusan Masalah . 1.4 Tujuan Penelitian . 1.5 Manfaat Penelitian . 1.5.1 Manfaat Teoritis . 1.5.2 Manfaat Praktis . 1 1 8 9 9 10 10 11 Universitas Sumatera Utara BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP . 2.1 Kajian Pustaka. 2.2 Landasan Teoretis . 2.2.1 Cultural Studies. 2.2.2 Teori Hegemoni . 2.3 Konsep. 2.3.1 Formasi. 2.3.2 Ideologi . 2.3.3 Politik . 2.3.4 Kekuasaan . 2.3.5 Postrukturalisme. 2.3.6 Representasi . 12 12 15 16 18 21 21 22 24 25 25 26 BAB III METODE PENELITIAN . 3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data . 3.2 Teknik Analisis Data. 3.3 Data dan Sumber Data . 3.3.1 Sumber Data Primer. 3.3.2 Sumber Data Sekunder. 3.4 Model Penelitian . 28 28 30 32 32 33 33 BAB IV FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK. 4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik . 4.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik . 4.2.1 Tokoh-tokoh Publik dalam Novel Entrok . 4.2.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Para Tokoh . 36 36 56 56 57 Universitas Sumatera Utara 4.3 Kelompok Ideologi . 59 BAB V POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK . 5.1 Ideologi dalam Novel Entrok . 5.2 Politik dan Kekuasaan. 66 66 68 BAB VI PENGARUH POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI PARA TOKOH DALAM NOVEL ENTROK . 75 6.1 . Kekuas aan Pemerintah Orde Baru . 75 6.2 . Kekuas aan Kaum Militer . 78 6.3 . Kekuas aan Partai Politik . 85 6.4 . Doktrin asi Ideologi . 89 BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. 92 7.1 . Simpula n. 92 7.2 . Saran . 93 DAFTAR PUSTAKA . 95 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 4.1 Kelompok Ideologi Para Tokoh dalam Novel Entrok . 64 Tabel 4.2 Negosiasi Ideologi . 65 Universitas Sumatera Utara DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 1. Strategi Analisis Data Deskriptif-Kualitatif . 31 Bagan 2. Sifat-sifat Formasi . 58 Bagan 3. Penguasaan Legislatif Melalui Sentralisasi Kekuasaan Pada Presiden Masa Orde Baru . 88 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Foto dan Biografi Okky Madasari . Lampiran 2. Sinopsis Novel Entrok Karya Okky Madasari . Lampiran 3. Kulit Sampul Novel Entrok Karya Okky Madasari . Lampiran 4. Kulit Sampul Buku-Buku Acuan. 98 99 106 107 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif. Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra. Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh-tokoh dan tokohtokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik. Kata-kata kunci : Ideologi, cultural studies, konsensus, aparatus, represif, otoriterisme, militeristik. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method. The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work. The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning. Keywords : Ideology, cultural studies, consensus, apparatus, repressive, otoriterism, militaristic. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif. Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra. Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh-tokoh dan tokohtokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik. Kata-kata kunci : Ideologi, cultural studies, konsensus, aparatus, represif, otoriterisme, militeristik. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies Sehingga masyarakat takut dan tunduk dengan tentara. Diskriminasi yang dilakukan oleh kelas sosial tinggi sangat kasar dan berani. Mereka menjalankan Lima bentuk diskriminasi yang dijabarkan oleh Newman. Mereka menghalalkan segala cara agar tujuan yang diinginkan tercapai. Seperti kutipan paragraf berikut. Hingga hampir semua anak kelas 1 telah menjadi kambing-kambing dungu seperti Aku. Tak ada yang bisa melawan, tak ada yang berani melaporkan. Beberapa kali ada guru yang melihat penganiyayaan. Tapi tak ada yang mengambil tindakan. Tak ada yang kena hukum (PJ, 2013: 35). Mereka (guru) seolah bungkam dan tidak ingin tahu dengan keributan yang berdampak pada kekerasan. Kekerasan bukan hal yang lumrah. Kekerasan dalam paragraf tersebut merupakan diskriminasi yang dilakukan oleh senior terhadap junior. Penyebab para guru bungkam karena mereka takut dengan orang tua siswa yang memiliki kekuasaan. Ketakutan itu berupa ancaman atau pemecatan. Para guru tidak ingin kehilangan pekerjaan dengan bersikap tegas. 23 Bersikap tegas dan melawan ketidakadilan harus siap dengan segala dampak yang terjadi. Seperti tindakan yang dilakukan Ayah Sasana untuk menuntut keadilan. Tetapi, Ayah Sasana tidak dapat berbuat apa-apa pada saat ancaman itu datang. Perhatikan paragraf berikut: “Mereka mengancam ke kantor Ayah.” kata Ayah sambil terisak. Ayah kemudian berdiri mendekatiku. Ia memelukku lalu berkata, “Maafkan Ayah ya, Sasana. ayah tidak mampu membelamu.” (PJ, 2013: 43) Mengancam merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Jika ancaman tersebut tidak diindahkan, mungkin saja mereka akan melakuakn tindakan yang lebih keji. Misalnya: merugikan, menyulitkan, menyusahkan, mencelakai, bahkan menghilangkan nyawa individu. Namun, berdasarkan paragraf tersebut, ancaman itu diindahkan dan menjadi penyesalan korban. Korban mengalah demi kebaikannya dan keluarganya. “Tapi mereka dikeluarkan dari sekolah, kan? Tanya ibu tiba-tiba. Sepertinya ia masih menyimpan harapan untuk membuat kami tak terlalu larut dalam kekecewaan. Ayah berbalik menghadap ibu. Dia diam sebentar lalu menggeleng. “ yayasan tak berani. Mereka minta Sasana yang dipindahkan. Demi kebaikan bersama.” (PJ, 2013: 44). Pihak yayasan memberi kesempatan kepada Sasana agar Sasana tidak bersekolah di yayasan tersebut. Seharusnya pihak yang mendiskriminasi yang menerima perlakuan tersebut sebagai hukuman agar jerah. Sayangnya, keadilan yang diharapkan tidak sesuai. Kelompok masyarakat dengan setatus tinggi memiliki kekuasaan untuk mengatur. Dengan sarana dan prasarana yang mendukung, mereka dapat menekan pihak yayasan dengan ancaman tidak akan memberi bantuan kepada yayasan tersebut, atau ancaman lainnya yang dapat merusak reputasi yayasan. Pihak yayasan takut dengan ancaman tersebut, 24 sehingga Sasana harus menerima perlakuan tidak adil karena status sosial yang dimiliki orang tua Sasana lebih rendah dari yayasan. Status sosial sangat penting demi kelangsungan hidup dalam masyarakat. Status sosial yang tinggi memeiliki nilai lebih daripada mereka yang memiliki status sosial rendah. Masyarakat dengan status rendah harus siapa dengan perlakuan sewenag-wenang atau diskriminasi dari masyarakat setatus sosial tinggi. Seperti yang terlihat dalam paragraf berikut: Si komandan mendekatiku, lalu menarik kepalaku agar mendongak kepadanya“Jadi kamu itu bencong yang coba-coba melawan negara?” tanyanya Aku diam. Lagi pula apa yang harus aku katakan “Jawab” teriaknya. Aku mengeleng, “tidak, Pak,” jawabku. “dasar bencong! Tidak bisa ngomong yang benar. Memangnya harus dibikin agar mulutnya itu ngomong apa adanya.” Katanya. Si Komandan itu membuka celananya. Aku langsung punya bayangan apa yang hendak ia lakukan. Tidak. tidak. tidak (PJ, 2013: 98). Kini dia menarik tubuhku, lalu dengan kasar menarik celana dalamku sampai putus dan lepas begitu saja. Ia dorong tubuhku menghadap ke dinding. Lalu. aaaaargh! Sakit, sakit. Sakit di hati. Sakit di tubuh. Mereka melakukannya bergiliran. Aku benar-benar sudah merasa bukan manusia lagi (PJ, 2013:99-100). Kelompok yang seharusnya memberi rasa nyaman dan rasa melindungi hilang dengan sepengal paragraf tersebut. Imajinasi tersebut buyar bahwa fakta sesungguhnya mereka berprilaku seperti binatang. Dalam paragraf tersebut, polisi melakukan penyelidikan terhadap terdakwa. Tidak heran jika penyelidikan tidak berbau kekerasan. Kekerasan bertujuan menakutnakuti tersangka agar tersangka mengakui perbuatannya. Saat introgasi berjalan, terdakwa diperlakukan tidak manusiawi. Tersangka mengalami pelecehan seksual karena setatus tersangka sebagai waria. Waria merupakan status sosial yang rendah dibandingkan status 25 sosial tentara. Tidak semua waria berprilaku buruk, tetapi dalam pandangan masyarakat, waria memiliki nilai negatif. Selain jabatan status sosial yang rendah, waria sering sekalididiskriminasi karena penampilan dan setatus gender yang tidak jelas yang berakibat penghindaran, penghinaan, bahkan pelecehan atau penganiayaan. Seperti yang tergambar dalam paragraf berikut: Aku belum selesai menyanyikan satu lagu saat salah seorang lelaki itu meremas tonjolan dadaku. Ia melakaukannya sambil tertawa. Temantemannya yang melihat pun ikut terbahak. Bau minuman keras menyengat ketika laki-laki itu mendekat. Mereka semua sedang mabuk. Remasan yang begitu cepat. Meninggalkan perasan ganjil, antara rasa kehilangan dan rasa di permalukan (PJ, 2013: 61). Meski para waria dinilai berbeda, tetapi pada dasarnya mereka sama seperti kita, memiliki hati dan perasaan bahkan hati mereka lebih lembut dan sensitif. Ketika mendapat perlakuan seperti itu, hati kecilnya sakit dan menangis. Masyarakat memandang waria sangat rendah dan berprilaku buruk. Pada kenyataanya tidak semua waria berprilaku buruk. Seperti yang tergambar dalam paragraf berikut: “Udani ae, ben kapok. Lanangan kok dadi wedok! Kini mereka bergerak menarik semua pakaianku. Aku melawan dan merontah. Aku tidak mau ditelanjangi. Aku tidak mau dipermalukan seperti ini. Tapi mereka tak perduli. Kini sekelilingku penuh dengan orang-orang berjubah putih itu. Mereka semua tertawa menyaksikan aku ditelanjangi teman-temanya. Seluruh bajuku diambil. Hanya celana dalam yang masih melekat di tubuhku. Aku menagis meraung-raung. Menagisi rasa terhina dan kekalahanku. Aku merasa sakit, jauh lebih sakit jika aku dihajar habis-habisan (PJ, 2013: 292). 4.2.2 Jenis Kelamin Konsep seks dan jenis kelamin biasanya mengacu apada perbedaan biologis antara tubuh laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, pembahasan 26 mengacu pada perbedaan biologis yang umum dijumpai antara kaum laki-laki dan kaum perempuan, seperti perbedaan pada bentuk, tinggi serta berat badan, pada struktur organ reproduksi dan fungsinya, pada suara dan sebagianya. Contohnya hanya perempuanlah yang dapat melahirkan (Sunarto, 2000:110). Tindakan diskriminasi sering dialami kaum wanita. Diskriminasi yang dialami wanita lebih menjurus pada pelecehan dan pemerkosaan. Selain itu tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan hamil kerap dirasakan oleh wanita. Seharusnya perusahaan memberi cuti hamil dan cuti melahirkan. Bakhan biaya persalinan ditanggung oleh perusahaan. Banyak para buruh tidak paham mengenai hak-hak mereka sebagai buruh. Sehingga, pihak perusahaan dengan muda menjalankana aturan yang menguntungkan perusahaan semata. Seperti misalnya para buruh di Batam hasil survei tahun 1996 dan 1997 oleh Ari Sunarijati (dalam Ihromi, 2000: 335) Mereka ternyata tidak tahu mengenai hakhak mereka, seperti cuti haid, cuti tahunana, tunjangan hari raya (THR) setiap tahun. Disediakan kantin tempat makan siang. Juga disediakan poliklinik, dengan jumlah dan jenis obat-obatan yang terbatas. Selanjutnya dalam survei tersebut banyak buruh tidak paham tentang organisasi yang dapat membantu mengubah nasib mereka. Seperti Organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Organisasi ini banyak menampung keluhan dan membela hak-hak para buruh. Diskriminasi wanita mengacu pada pasal 1 konvensi wanita yaitu: “setiap pembedaan pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapus pengakuan pemikiran atau menghapus pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak 27 asasi manusia dan kebebsan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apapun lainnya oleh kaum wanita, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara pria dan wanita”. Perhatikan paragraf berikut: Seminggu sebelum hilang, Marsini ikut minta naik upah, begitu cerita yang didapat Cak Man dari teman-teman Marsini. Lima orang, termaksud Marsini, menghadap mandor agar menyampikan permintaan itu keatasan. Karena tak digubris mereka nekat menghadap bagian personalia. Lima orang ini berani melakukan hal itu, karena kenaikan upah yang mereka minta hanya mengikuti peraturan baru pemerintahan yang sah. Pertemuan dengan kepala personalia tetap tak merasakan perasaan yang terbeban dalam jiwanya ia juga merasakan kesusahan itu. Ia langsung menghiburnya. Ia membujuk suaminya dengan secara lemah lembut. Asma juga menghibur suaminya dengan cumbu dan cidan. Hal tersebut ia lakukan hal itu berlandaskan kesenangan hidup istri adalah kesenangan hidup suaminya. 13 Telangkai Bahasa dan Sastra, Tahun Ke-9, No 1, Januari 2015 Ada kutipan dalam novel yang menyatakan bahwa hubungan antara suami istri berjalan dengan harmonis mereka saling menghormati tidak ada terlihat gejala opresi dan dominasi dari seorang suami kepada istrinya, kutipan di bawah ini menunjukkan hubungan yang baik antara suami istri. Seorang istri dapat bertanya kepada suami tentang masalah dalam rumah tangga. “Adinda khawatir kalau ketenangan dan ketentraman kanda itu akan berombak ” ujar Asma dengan bersahaja (MJRD: 15). Dari kutipan di bawah ini dapat dilihat bahwa Manusia hanya bisa merencanakan agar rumah tangga bisa kekal sampai akhir hidup. Rumah tangga Asma dan Nurdin tidak berjalan sebagai mana mereka harapkan. Takdir menyatakan lain. Pada usia lima bulan anak mereka Nurdin bercerai dengan istri dan anaknya. Peristiwa itu sangat menyedihkan hati manusia. Sebelumnya mereka berharap kehidupan rumah tangga mereka akan menjadi indah dan ramai dengan lahirnya anak tetapi semuanya berubah menjadi kenistaan. Roda kehidupan ini diatur oleh yang Maha Kuasa. Tetapi, tangan takdir tidak membiarkan roda harapan mereka berputar ke arah yang mereka ingini. Lima bulan sudah menjelma putera mereka kembali ke alam wujud, untuk memecah kesepian gedung mereka, terjadilah peristiwa di atas, peristiwa yang mengharukan hati kemanusiaan; yaitu Nurdin bercerai dengan istri dan puteranya. Memang stir auto kehidupan manusia bukan mereka sendiri yang memegangnya, hanya dikendalikan oleh tangan gaib yang maha kuasa. Kalau manusia yang menentukan tujuan bahtera hayatnya, tentu bukan begini bentuk „alam, bukan begini roman maya. Kita akan mendapati dunia yang penuh dengan ketentraman dan kedamaian, yang bersepuh dengan emas kegirangan dan kegembiraan (MJRD: 12). Dari kutipan di bawah ini dapat dilihat sebagian anggota masyarakat yang melihat sendiri dengan pandangan matanya ke rumah tangga Asma dan Nurdin mereka tidak heran rumah tangga Asma dan Nurdin Akan hancur. Hal itu disebabkan telah ada tandatanda kehancuran yang sangat kuat. Tanda-tanda kehancuran bisa menghancurkan rumah tangga mereka yang kokoh itu. Masyarakat dalam novel ini tidak mudah mempercayai segala sesuatu tanpa melihat fakta. Masyarakat hidup dengan hubungan harmonis antara sesama. Segala sesuatu yang terjadi pada anggota masyarakatnya di tanggapi dengan positif. Masyarakat tidak membesar-besarkan masalah. Mereka melihat permasalahan dengan jeli. Tetapi orang yang dapat melihat dari dekat, yang sampai pandang matanya ke likuliku gedung mereka, tentu tidak akan terperanjat melihat istana itu dirobohkan badai. Karena pada masa yang akhir-akhir ini, di sekeliling gedung itu telah terbayang tanda-tanda akan bertiup angin taufan yang maha dahsyat, yang sanggup menghancurkan gunung yang maha perkasa (MJRD: 12). 3. Citra Perempuan dalam Masyarakat Pengarang dalam mengekspresikan maksud dan tujuan juga memakai bahasa simbol, dalam hal ini ia memakai kata gedung, berhuni, sebagai ganti kata diri dan tubuh tokoh utama Asma. Sedangkan berhuni merujuk kepada seseorang yang dapat mengisi hati dan jiwa Asma. Diketok pintunya menunjukkan bahwa ada orang yang berusaha mendekati Asma, sedangkan bersunyi diri maksudnya adalah keinginan untuk 14 Khadijah, dkk menyendiri, ia setia menunggu suaminya kembali. Menurut Harun (2009: 156) dalam pandangan orang Aceh setia diartikan sebagai ketetapan atau keteguhan hati seseorang manusia untuk mencintai sesuatu secara tulus yang menembus batas ruang dan waktu. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. “Sudah berkali-kali gedung yang tiada berhuni itu di lamar orang, di ketok pintunya, namun Asma masih tetap bersunyi diri. Ia tak hendak mengizinkan orang menaikinya. Buat dia, Nurdin hanya seorang atas dunia ini. Kalau Nurdin telah pergi, anaknya lah yang menjadi gantinya (MJRD: 16). Dalam hal ini terlihatlah bahwa Asma berpendirian teguh, belum ada seorang pun yang dapat menjadikan posisi suaminya di dalam hatinya, ia hanya ingin di temani oleh seorang anaknya saja. Jika kita hubungkan dengan ideologi feminisme perempuan memang menuntut kebebasan untuk menentukan arah hidupnya. Banyak perempuan yang ingin hidup mandiri secara ekonomi dan sosial. Perempuan hidup tidak bergantung pada siapa pun dan tidak dikuasai oleh siapa pun bahkan oleh keluarga sendiri. Perempuan berhak untuk memilih cara hidup yang dapat membahagiakan dirinya.hal ini sesuai juga dengan ajaran Islam yang melarang untuk memaksa perempuan untuk memilih jodoh. Hal ini sesuai dengan pendapat Athibi (1998: 181) seorang ayah wajib meminta pendapat anak perempuannya mengenai pernikahannya. 4. Hubungan dengan Lingkungan Peristiwa yang menimpa rumah tangga Asma dengan segera tersiar di sekeliling kampungnya; bahwa peristiwa itu disambut orang dengan tanda tanya dan penuh keheranan. Seorang pun tiada menyangka, bahwa gedung yang kokoh dan tentram selama ini akan hancur lebur dengan tiba-tiba. Penduduk Seulimeum, bahkan segala penghuni dusun-dusun yang terletak di kaki gunung Selawah Jantan hampir-hampir tidak percaya akan peristiwa ini. Karena selama ini mereka tahu, bahwa Nurdin dan Asma adalah sejodoh manusia yang menjadi contoh teladan tentang ketertiban dan kedamaian pergaulannya. Dunia memang aneh dan ajaib! (MJRD: 12). Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa Asma dan keluarganya berhubungan erat dengan masyarakat sekeliling hingga perubahan yang terjadi dalam keluarganya dapat diketahui oleh tetangganya. Hal ini menunjukkan masyarakat lingkungannya masih peduli dengan masalah yang menimpa keluarga Asma. Hal tersebut berbeda dengan kehidupan individual yang terdapat di kota besar. Masyarakat lagi peduli dengan keadaan tetangganya. Mereka hanya sibuk mengurusi keluarganya masing-masing dan tumbuh menjadi individu-individu egois dan selvis. Dalam novel ini digambarkan masyarakat Aceh yang masih peduli dengan sesama bukan berarti negatif untuk mengurusi urusan orang lain. Di dalam agama Islam ditekankan bahwa tetangga itu adalah 40 rumah dengan rumah sendiri. Jangan sampai ada tetangga yang menderita kelaparan dan tidak diperdulikan oleh lingkungan. Menurut teori sosiologi sastra novel mencerminkan cara hidup masyarakat di mana novel itu diciptakan. Endraswara (2011: 77) mengemukakan kehidupan sosial akan menjadi picu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang suksesatau berhasil yaitu yang mampu merefleksikan zamanya Realitas sosial yang diungkapkan dalam novel tidak jauh gambarannya dengan kehidupan nyata sehari-hari dalam hal ini kehidupan masyarakat Aceh. Pengarang berusaha mengungkapkan kebiasaan dan pola hidup suatu masyarakat yang digambarkan dalam novelnya. Gambaran masyarakat yang diungkapkan dapat 15 Telangkai Bahasa dan Sastra, Tahun Ke-9, No 1, Januari 2015 bersesuaian dengan ide dan maksud pengarang tetapi ada juga sikap masyarakat yang menyimpang tidak sesuai dengan pemikiran pengarang. Hal tersebut disebabkan oleh pengarang menekankan ide untuk mengubah sikap dan pola pikir masyarakat yang digambarkannya. Hal ini berhubungan dengan fungsi sosial suatu karya sastra yaitu menanamkan ide-ide dan pemikiran baru yang sesuai dengan tujuan pengarang. SIMPULAN Kajian feminisme terhadap citra perempuan yang ada dalam novel A. Hasjmy diungkapkan bahwa tokoh utama Asma tidak berdaya menghadapi sikap kedua orang tuanya. Tokoh utama perempuan telah berusaha untuk membujuk dan merayu dengan segala cintanya kepada suaminya agar suami tidak mempedulikan segala sikap kedua orang tuanya. Namun hal tersebut tidak berhasil. Suami tetap pergi meninggalkannya begitu saja. Kajian feminisme terhadap citra perempuan menunjukkan bahwa budaya patriarki telah memberi dampak negatif terhadap perempuan. Karena itu perempuan menjadi menderita. DAFTAR PUSTAKA Athibi, Ukasyah. (1998). Wanita Mengapa Merosot Akhlaknya. Jakarta: Gema Insani Press. Elizabeth, Tom Burns (Ed). (1973). Sociology of Literature and Drama. Middlesex: Penguin books. Endraswara, Suardi. (2011). Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Faruk. (2009). Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Groden, Michael dan Martin Kreiswirth (ed). (1997). Feminist Theory and Criticism. London: The Johns Hopkins University Press. Harun, Mohd. (2009). Memahami Orang Aceh. Bandung: Citapustaka Media Perintis. Maleong. J. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:. Remeja Rosdakarya. Sapari, Gunoto. (1985). Sastra Universal juga Kontekstual. Dalam Heriyanto, Ariel. Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: Rajawali. Teeuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. 16
Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

Gratis