Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

 7  88  123  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Tesis ini berjudul “Formasi Ideologi dalam Novel Entrok Karya OkkyMadasari”; tesis ini memfokuskan analisis terhadap representasi realitas sosial yang tergambar dalam sebuah karya sastra. Hasil penelitian diharapkan dapat mengilhami pemahaman terhadap karya sastra terutama Cultural Studies, yakni sebagai cerminan isu-isu sosialyang meliputi ideologi, politik dan kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat; sehingga pada akhirnya dapat memposisikan karya sastra sebagai saranaluapan ekspresi yang bersifat mendidik sekaligus mengintrospeksi dan memotivasi pembacanya.

UCAPAN TERIMA KASIH

  107 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan denganideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan denganideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang

  Oleh karena adanya pengalaman hidup yang dialami pengarang atau hal-hal hidup yang menarikyang pernah dijumpai pengarang dalam bersosialisasi dengan individu lainnya, maka karya sastra menjadi satu kesatuan yang utuh jika dipasangkan dengan masyarakatserta kebudayaan yang terlahir di dalamnya. Kedua, peranmiliter yang semakin meningkat, padahal tidak pernah terjadi sebelumnya dalam politik dan administrasi negara, dan seusai pembubaran parlemen untuk pertamakalinya militer duduk dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung sebanyak 35 orang dalam parlemen yang anggotanya 283 orang, jadi 12% untuk pertama kalinyasejak proklamasi kemerdekaan di dalam bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan militer.

1.2 Batasan Masalah Karya sastra mengandung berbagai persoalan hidup dan kehidupan manusia

  Berdasarkan judul penelitian ini, masalah dibatasi dengan hanya memformasikan (membuat suatu susunan dengan hubungan yang bersifatbertentangan, korelatif, dan subordinatif) ideologi-ideologi yang lahir dari para tokoh dan institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang terdapat dalamnovel, dan mengkaji pengaruh ideologi, politik, dan kekuasaan terhadap para tokoh. Menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi terhadap para tokoh dalam novel Entrok.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoretis

  Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai salah satu rujukan penelitian mengenai Kesusastraan Indonesia, dan selanjutnya dapat membantupenelitian-penelitian yang berhubungan dengan pembahasan tentang Cultural Studies, Budaya Populer, dan novel-novel karya Okky Madasari. Penelitian ini diharapkan mampu mengilhami sastrawan dan pengarangIndonesia untuk mengangkat tema-tema yang menceritakan tentang realitas sosial masyarakat sebagai media perlawanan.

1.5.2 Manfaat Praktis

  Memberikan edukasi publik untuk memahami bagaimana isu-isu sosial, ideologi, politik, dan kekuasaan yang digambarkan dalam sebuah novel dapatbertujuan emansipatoris demi meningkatkan mutu kehidupan manusia. Memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan pemerintah mengenai sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP Dalam melakukan penelitian yang bersifat ilmiah, tentunya tidak terlepas dari

peran kajian pustaka, kerangka teoretik, dan konsep yang dijadikan pegangan atau pedoman dalam memecahkan permasalahan yang diangkat.

2.1 Kajian Pustaka

  Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas formasi ideologi,mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi, serta mengkaji pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologidalam novel Entrok. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas pertentangan antara ideologiyang lahir dari masyarakat Jawa abangan di Magetan dan ideologi yang muncul dari hegemoni kaum militer pada masa Orde Baru di Indonesia,keduanya terdapat dalam novel Entrok.

2.2 Landasan Teoretis

  Adanya peran konsep menjadikan peneliti lebih memahami serta melakukanpembatasan dalam rangka menjawab setiap permasalahan yang timbul. Sebelum Sesuai dengan format penelitian yang dibuat dalam desain deskriptif- kualitatif, maka digunakan beberapa teori yang dimaksudkan sebagai pijakan.

2.2.1 Cultural Studies

  Cultural studies merupakan wacana yang membentang, yang merespons kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhunganestetis (seni tinggi); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual,spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.

2.2.2 Teori Hegemoni

  Di mata Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidakhanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi Selanjutnya pandangan Gramsci (Sugiono, 2006: 34-35) menjelaskan bahwa mengenai pentingnya kepemimpinan kultural ini membuatnya mempertimbangkankembali konsep “suprastruktur” Marxian. Kedua, konflik tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat global untuk mendapatkan kontrol ideologi dan politik terhadap masyarakat.

2.3 Konsep

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan konsep yang digunakan dalam penelitian, antara lain: (1) Formasi, (2) Ideologi, (3) Politik, (4) Kekuasaan, (5) Postrukturalisme, dan (6) Representasi.

2.3.1 Formasi

2.3.2 Ideologi

  Terjadinyatransposisi imajiner atas kondisi-kondisi eksistensi nyata disebabkan oleh eksistensi dari sejumlah kecil manusia sinis yang mengandalkan representasi dunia yangdipalsukan yang diimajinalisasikannya demi dominasi dan eksploitasi terhadap rakyat, sehingga sanggup memperbudak kecerdasannya dengan mendominasiimajinasi. Selanjutnya Althusser (2010: 51) juga menjelaskan bahwa ideologi bertindak atau berfungsi dengan suatu cara yang merekrut subjek-subjek di antara individu-individu (ideologi merekrut mereka semua), atau mengubah individu-individu menjadi subjek-subjek (ideologi mengubah mereka semua) melalui operasi yangsangat presisi, yang dinamakan interpelasi.

2.3.3 Politik

  Oleh karenanya, segala sesuatu yang kondusif untuk mencapai, 2.3.4 Kekuasaan Kekuasaan dipandang terdapat pada setiap level hubungan sosial. Kekuasaan bukan hanya sekadar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatankoersif yang menempatkan sekelompok orang di bawah orang lain, meskipun dia pada dasarnya memang demikian, karena dia juga merupakan proses yangmembangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau tatanan sosial.

2.3.6 Representasi

  Representasi adalah gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistorsi. Representasi adalah sebuah cara memaknai apa yang diberikan pada benda yang digambarkan.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan pada bagaimana teks-teks yang ada dalam komunikasi itu terbaca dalaminteraksi sosial; dan bagaimana teks-teks itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Selanjutnya beliau juga menjelaskan, pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan Menurut Teeuw (1984: 123) hermeneutik adalah ilmu atau keahlian menginterpretasi karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.

3.2 Teknik Analisis Data

  Sebagaimana yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya, bahwasanya relasi metode pengumpulan data dan teknik-teknik analisis data dilakukan sekaligussecara bersamaan, karena suatu metode pengumpulan data juga sekaligus adalah metode dan teknik analisis data. Dengan kata lain, peneliti baru memanfaatkan analisis konten apabila hendak mengungkap kandungannilai tertentu dalam karya sastra.” Pada dasarnya, metode-metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sekaligus juga adalah metode analisis data atau, dengan kata lain, prosedur metodissekaligus juga adalah strategis analisis data itu sendiri, sehingga proses pengumpulan data juga adalah proses analisis data.

3.3 Data dan Sumber Data

  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pustaka deskriptif yang berupa uraian cerita, ungkapan, pernyataan, kata-kata tertulis, dan perilaku yangdigambarkan dalam teks. Cultural studies cenderung merespons kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi.

3.3.1 Sumber Data Primer

Sumber data primer yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:Judul : Entrok Pengarang : Okky Madasari Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Tebal Buku : 288 halaman Ukuran : 20 cm Cetakan : Pertama Tahun : 2010 Warna sampul : warna cokelat muda, hijau, kuning, dan merah muda Gambar sampul: Gambar braDesain sampul : Restu Ratnaningtyas

3.3.2 Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yang digunakan peneliti dalam menganalisis data primer antara lain berupa analisis sumber dari internet dan buku-buku yang dapatdijadikan sebagai acuan.

3.4 Model Penelitian

  Formasi ideologi yang digambarkan Okky Madasari dalam novel Entrok menitikberatkan pada ideologi aparatus negara yaitu militer yang kerap melakukantindakan-tindakan represif terhadap masyarakat sebagai tokoh-tokoh publik yang berada di wilayah praktik sosial berlangsung. Kemudian ideologi juga lahir dari kekuasaan partai politik dominan dan kerap memunculkan terjadinya doktrinasi ideologi olehkelompok dominan terhadap kelompok subaltern atau yang lazim dikenal sebagai kelompok subordinat atau yang terpinggirkan.

BAB IV FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK

4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik

  Kutipan-kutipan tersebut juga merupakan elemen material yang berwujud aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian sebagai petinggi atau sebagaiinstitusi publik yang sering mengancam warganya, juga Marni sebagai warga yang selalu mengikuti kemauan petinggi, agar dia tidak mendapat masalah. Berbagai aktivitas transendental warga Desa Singget merupakan reaksi terhadap pemerintah Orde Baru yang senantiasa menindas mereka, para wargatersebut meminta keselamatan dan petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dirinya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dan juga dari perlakuansewenang-wenang aparat pemerintah Orde Baru, dalam hal ini tentara-tentara dan juga institusi publik lainnya.

4.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik

  Untuk mengetahui sifat-sifat formasi ideologi tokoh-tokoh publik dan institusi publik, maka terlebih dahulu dipaparkan mengenai para tokoh yang dianalisis dalamnovel Entrok. Penganalisisan meliputi para tokoh publik dan para tokoh institusi publik.

4.2.1 Tokoh-tokoh Publik dalam Novel Entrok

Adapun tokoh-tokoh publik dalam novel Entrok yang dianalisis adalah sebagai berikut:  Simbok  Marni  Rahayu  Pak Waji  Koh Cayadi  Teja  Kyai Hasbi  Mbah Noto Sedangkan tokoh-tokoh institusi publik dalam novel Entrok yang dianalisis antara lain sebagai berikut:  Sumadi atau Komandan  Pak Lurah

4.2.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Para Tokoh

  Adapun sifat-sifat formasi ideologi para tokoh yang dianalisis adalah sebagai berikut:  Marni sebagai Ibu dengan Rahayu sebagai anak adalah formasi bersifat bertentangan.  Marni dengan Mbah Noto sebagai kuli yang paling tua di Pasar Ngranget adalah formasi bersifat korelatif.

4.3 Kelompok Ideologi

  Kedua, konflik tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok Kata kunci dalam pemahaman teori hegemoni Gramsci adalah negosiasi yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus semua kelompok ideologi sebagai berikut:kelompok ideologi dominan yang dalam hal ini adalah ideologi kapitalisme yang mendapat dukungan dari ideologi otoriterisme dan ideologi militerisme. Feodalisme adalah sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepadagolongan bangsawan atau sistem sosial yang mengagung-agungkan pangkat jabatan dan bukan mengagung-agungkan prestasi kerja.

BAB V POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK

5.1 Ideologi dalam Novel Entrok

  Sumadi atau Komandan adalah pimpinantentara yang digolongkan ke dalam tokoh institusi publik dan dikategorikan sebagai kelompok dominan. Begitu juga halnya dengan Pak Lurah, Pak Camat, dan PakBupati yang digolongkan ke dalam institusi publik dan dan dikategorikan sebagai kelompok dominan.

5.2 Politik dan Kekuasaan

  Dalam novel Entrok terlihat bahwa kelas atas dalam hal ini kaum dominan yaitu Pak Lurah, Pak Camat, dan PakBupati sekaligus tentara dan polisi memperlihatkan kekuasaannya dan kekuatannya terhadap orang-orang kelas bawah atau kelompok subaltern. Kesusastraan tidak lagidipandang semata-mata sebagai gejala kedua yang tergantung dan ditentukan oleh masyarakat kelas sebagai infrastrukturnya, melainkan dipahami sebagai kekuatan dankultural yang berdiri sendiri, yang mempunyai sistem sendiri meskipun tidak terlepas dari infrastrukturnya.

BAB VI PENGARUH POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI PARA TOKOH DALAM NOVEL ENTROK

6.1 Kekuasaan Pemerintah Orde Baru

  Kebijakan pemerintah pada era orde baru adalah suatu kebijakan yang cenderung pada militeristis, hal ini dapat dibuktikan melalui latar belakangpendidikan militer yang dimiliki oleh kebanyakan petinggi negara, meliputi pejabat sipil, seperti gubernur, bupati maupun pejabat negara yang menangani berbagai divisipenting negara, misalnya Bulog, Pertamina, Perhubungan dan lain-lain. Kaum militer dalam hal ini juga mempengaruhi pejabat-pejabat sipil atau non militer, yakni mengupayakan agar para pejabat sipil tersebut berseteru denganmasyarakat sipil melalui provokasi, sehingga dalam kurun waktu yang tidak lama masyarakat sipil yang digolongkan ke dalam kelompok subaltern tersebut akanmeminta perlindungan kepada kaum militer, yaitu Panglima Militer, KomandanKorem, Komandan Kodim, Komandan Koramil dan lain-lain.

6.2 Kekuasaan Kaum Militer

  Mereka saling bekerja samadan berupaya semaksimal mungkin agar tanah yang akan dibangun oleh pemerintah era orde baru itu akan berjalan dengan baik dan tanpa hambatan dari masyarakat sipilyang memiliki rumah dan tanah di lokasi tersebut. Orang-orang yang punya kuasa dan senjata itu datang begitu saja, mematok tanah-tanahmereka dan berkata, “Segera pergilah atau kau mati tenggelam bersama moyangmu yang sudah terkubur di tanah ini.” (Entrok: 214-215).

6.3 Kekuasaan Partai Politik

  Pemerintah yang berkuasa pada rezimnya senantiasa ditandai dengan partai politik yang menang di dalam setiap pemilu, oleh sebab itu pemilu selalu menjadiajang adu kekuatan, adu argumentasi dan sebagainya. “Aku nyoblos gambar kuning itu karena disuruh Pak Lurah dan orang- orang berseragam loreng yang menjaga di depan kamar coblosan.

6.4 Doktrinasi Ideologi

  Gambaran situasi di atas menunjukkan doktrinasi yang dilakukan olehKomandan Tentara terhadap Wagimun, salah seorang warga yang enggan pindah dari lokasi yang direncanakan pemerintah akan dijadikan waduk. Doktrinasi yang dilakukan oleh tentara kepada masyarakat sepanjang kekuasaan Orde baru biasanya bertujuan untuk kepentingan golongan tertentu bagiorang-orang yang menolak berbagai kebijakan pemerintah atau negara sesuai dengan semangat developmentalismenya akan dicap sebagai orang-orang PKI.

BAB VI I SIMPULAN DAN SARAN

7.1 Simpulan

  Institusi publik atau masyarakat politik atau negara telah mempelajari terlebih dahulu dengan seksama mengenai formasi ideologi tokoh-tokoh publik ataumasyarakat sipil di wilayah tempat praktik sosial berlangsung, masyarakat politik atau negara dengan mudah menjalankan kekuasaannya terhadap tokoh-tokohpublik atau masyarakat sipil di wilayah tersebut melalui negosiasi ideologi, sehingga institusi publik dapat menguasai tokoh-tokoh atau masyarakat sipilmelalui sebuah konsensus. Dalam deskripsi politik dan kekuasaan yang terdapat pada wilayah tempat praktik sosial berlangsung, dapat dilihat bahwa orang-orang yang tergolong ke dalam 92 3.

7.2 Saran

  Masyarakat sipil atau tokoh-tokoh publik yang berdomisili di wilayah tempat praktik sosial berlangsung, seharusnya lebih dini melakukan negosiasi denganmasyarakat politik atau negara agar orang-orang yang menjadi korban tidak semakin banyak. Penduduk yang berdomisili di wilayah tempat praktik sosial berlangsung seharusnya mempelajari atau memperoleh informasi sekaligus edukasi mengenaipolitik, sehingga dapat diketahui strategi perpolitikan di wilayah tersebut, dan akhirnya masyarakat politik atau negara sulit untuk menguasai mereka.

DAFTAR PUSTAKA

  Tinggal di Jakarta dan dapat dihubungi di okky_madasari@yahoo.com danwww.madasari.blogspot.com Lampiran 2Sinopsis Novel Entrok Karya Okky Madasari Okky Madasari mengawali Entrok-nya dengan kehadiran dua orang yang berperan sebagai tokoh utama, yakni Sumarni dan Rahayu. Ditambah lagi dengan hadirnya sesajen di dalam kamar Sumarni yang berisi tumpengan dan panggang yang ditujukan kepada para leluhur di setiaptanggal kelahiran dan hari-hari tertentu.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okk..

Gratis

Feedback