Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies dan Tinjauan Sanitasi Lingkungan Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011

Gratis

41
261
141
2 years ago
Preview
Full text
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KULIT INFEKSI SKABIES DAN TINJAUAN SANITASI LINGKUNGAN PESANTREN DAREL HIKMAH KOTA PEKANBARU TAHUN 2011 SKRIPSI Oleh: FRENKI NIM. 091000205 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KULIT INFEKSI SKABIES DAN TINJAUAN SANITASI LINGKUNGAN PESANTREN DAREL HIKMAH KOTA PEKANBARU TAHUN 2011 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Oleh: FRENKI NIM. 091000205 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2011 Universitas Sumatera Utara HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KULIT INFEKSI SKABIES DAN TINJAUAN SANITASI LINGKUNGAN PESANTREN DAREL HIKMAH KOTA PEKANBARU TAHUN 2011 Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh: FRENKI NIM. 091000205 Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 23 November 2011 Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji Ketua Penguji Penguji I Ir. Evi Naria, M.Kes NIP. 19680320 199303 2 001 dr.Devi Nuraini Santi,M.Kes NIP. 1970219 199802 2 001 Penguji II Penguji III DR.dr.Wirsal Hasan,MPH NIP. 19491119 198701 1 001 DR.Dra.Irnawati Marsaulina,MS NIP. 196550 199403 2 002 Medan, November 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Dr.Drs.Surya Utama,M.S NIP. 19610831 198903 1 001 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Penyakit scabies disebut kutu badan.Skabies mudah menyebar baik secara kontak langsung dengan penderita maupun secara tidak langsung melalui pakaian, sprei, handuk, bantal ataupun kasur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene santri ( kebersihan pakaian, kulit, tangan dan kuku, genitalia, handuk, tempat tidur dan sprei) dengan kejadian skabies dan tinjauan sanitasi lingkungan pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah survai analitik dengan desain case control. Populasi penelitian adalah kasus yaitu santri yang menderita scabies sebanyak 36 orang dan control adalah santri yang tidak menderita scabies sebanyak 36 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebersihan pakaian (p=0,025), kebersihan kulit (p=0,000), kebersihan tangan dan kuku (p=0,029), kebersihan genitalia (p=0,000), kebersihan handuk (p=0,034), kebersihan tempat tidur dan sprei (p=0,000) dengan kejadian scabies.Keadaan fisik lingkungan asrama santri meliputi kelembaban, ventilasi, pencahayaan,100% memenuhi syarat dan kepadatan hunian ruang tidur 80.0% padat dan 20.0% tidak padat.Sanitasi dasar meliputi air bersih, sarana pembuangan limbah, jamban dan sarana pembuangan sampah termasuk kategori tidak sehat. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bagi pondok pesantren dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kejadian scabies melalui penyuluhan dan pelatihan kepada tenaga kesehatan di pondok pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru dan bagi santri agar perlu meningkatkan kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit menular scabies. Kata kunci : Skabies, Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan Pesantren. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei, a mite belongs to the class of Arachnida. This mite is very small and can only be seen through a microscope. Scabies is also called body lice. Scabies spreads easily either through a direct contact with the patient (sufferer) or indirect contact through clothing, bed linen, towels, pillows or mattresses. The purpose of this analytical survey study with case-control design was to analyze the relationship between personal hygiene of santri (cleanliness of clothing, skin, hands and nails, genitalia, towels, bed and bed linen) and the incident of scabies based on a review of environmental sanitation in the Pesantren Darel Hikmah, the city of Pekanbaru in 2011. The populations of this study were 36 santris suffering from scabies and the control group comprised 36 santris who were not suffering from scabies. The result of this study showed that there was a significant relationship between cleanliness of clothing (p = 0.025), skin (p = 0.000), hands and nails (p = 0.029), genitalia (p = 0.000), towels (p = 0.034), bed and bed linen (p = 0.000) and the incident of scabies. The physical environment of the dormitory for the santris including humidity, ventilation, and lighting has met the standard requirement (100%), the bedrooms was 80% densely occupied and 20% less densely occupied. The sanitation including clean/drinking water, waste disposal facility, latrines and garbage disposal facility belongs to the unhealthy category. The management of the Pondok Pesantren is suggested to provide further information about the incident of scabies through extension and training to the health workers working in the Pesantren Darel Hikmah, the city of Pekanbaru, and the santris need to improve their self-hygiene and to maintain the cleanliness of their environment in order to be avoided from the infectious disease of scabies. Keywords: Scabies, Personal Hygiene, Pesantren Environmental Sanitation Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Frenki Tempat/Tanggal Lahir : Benai / 15 Januari 1987 Agama : Islam Status Perkawinan : Belum Menikah Alamat Rumah : Komp.Villa Taman Raya Raudha Blok E/19 Kel. Delima Kec. Tampan kota Pekanbaru RIWAYAT PENDIDIKAN : 1. SD Negeri 014 INHU : Tahun 1993-1999 2. SMP Negeri 1 Benai : Tahun 1999-2002 3. SMU Negeri 1 Benai : Tahun 2002-2005 4. Universitas Abdurrab Jurusan Keperawatan Pekanbaru : Tahun 2005-2008 5. Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU : Tahun 2009-2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul “Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies dan Tinjauan Sanitasi Lingkungan Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Dalam menyusun skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagi pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas Sumatera Utara, yaitu Prof. Dr . dr. Syahril Pasaribu, DTMH, MSc (CTM), Sp.A(K). Selanjutnya kepada Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Ir. Evi Naria, M.Kes selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, sekaligus sebagi pembimbing I (satu) penyusunan skripsi ini. Terimakasih penulis ucapkan kepada dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes selaku pembimbing II (dua) yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu dan pikiran serta dengan penuh kesabaran membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara Terimakasih penulis ucapkan kepada Pimpinan Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru yang telah memberi izin penelitian dan masukan untuk penyempurnaan penulisan skripsi ini. Terimakasih tak terhingga kepada kedua orangtua, abang dan teman-teman seperjuangan yang telah memberi motivasi serta dukungan doa dan kasih sayang kepada penulis untuk melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan skripsi ini. Selanjutnya terimakasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu penulis dan masih bersedia untuk dapat berkonsultasi dalam penyusunan sekripsi ini dan semua pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini hingga selesai. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan sehinggga membutuhkan banyak masukan dan kritikan dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dalam memperkaya materi skripsi ini. Namun demikian, penulis berharap semoga skrisi ini dapat menjadi sumbangan berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat. Medan, November 2011 PENULIS Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Pengesahan Abstrak .................................................................................................. Abstract ................................................................................................... Daftar Riwayat Hidup ........................................................................... Kata Pengantar ...................................................................................... Daftar Isi ................................................................................................ Daftar Tabel ........................................................................................... Daftar Gambar ...................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................... 1.2 Perumusan Masalah ....................................................... 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................... 1.3.1 Tujuan Umum ....................................................... 1.3.2 Tujuan Khusus ...................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ........................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Personal Hygiene ............................................................ 2.1.2 Kebutuhan Personal Hygiene .................................. 2.1.3 Kebersihan Diri ...................................................... 2.2 Penyakit Kulit Infeksi ..................................................... 2.2.1 Pengertian Skabies ................................................. 2.2.2 Etiologi .................................................................. 2.2.3 Patogenesis............................................................. 2.2.4 Cara Penularan ....................................................... 2.2.5 Gejala Klinis .......................................................... 2.2.6 Klasifikasi Skabies ................................................. 2.2.7 Pengobatan Skabies ................................................ 2.2.8 Prognosis ............................................................... 2.3 Lingkungan ...................................................................... 2.4 Hygiene Dan Saniatasi Lingkungan.................................. 2.5 Kondisi Fisik Rumah ....................................................... 2.5.1. Ventilasi ................................................................. 2.5.2. Kelembaban ........................................................... 2.5.3. Pencahayaan........................................................... 2.5.4. Kepadatan Penghuni ............................................... 2.6. Pesantren ......................................................................... i ii iii iv vi ix xi 1 4 5 5 5 7 8 11 11 12 12 13 14 15 16 17 19 19 20 20 24 24 25 25 26 27 Universitas Sumatera Utara 2.7. Kerangka Konsep ............................................................. 2.8. Hipotesis Penelitian ......................................................... BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ................................................................ 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................... 3.2.1. Tempat Penelitian................................................... 3.2.2. Waktu Penelitian .................................................... 3.3. Populasi dan Sampel ......................................................... 3.3.1. Populasi .................................................................. 3.3.2 Sampel .................................................................... 3.4. Metode Pengumpulan Data ............................................... 3.4.1. Data Primer ............................................................. 3.4.2. Data Sekunder ......................................................... 3.5. Variabel dan Definisi Operasional..................................... 3.5.1. Variabel Independen ............................................... 3.5.2. Definisi Dependen .................................................. 3.6. Aspek Pengukuran ............................................................ 3.7. Metode Analisa Data......................................................... 3.7.1 Analisa Univariat .................................................... 3.7.2 Analisa Bivariat....................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Pesantren................................................ 4.1.1. Lokasi ...................................................................... 4.1.2. Sarana dan Prasarana ................................................ 4.2 Analisis Univariat ............................................................... 4.3.Analisis Bivariat ................................................................. 4.4.Gambaran Kondisi Fisik Asrama santri ............................... 4.5 Gambaran Sanitasi Dasar Pesantren.................................... BAB V PEMBAHASAN 5.1.Gambaran Karakterisitik Responden ................................... 5.2.Hubungan Kebersihan Kulit dengan Kejadian Skabies ........ 5.3.Hubungan Kebersihan Tangan dan Kuku dengan kejadian Skabies................................................................................ 5.4 Hubungan Kebersihan Genitalia dengan kejadian Skabies ............................................................................... 5.5. Hubungan Kebersihan Pakaian dengan Kejadian Skabies ... 5.6. Hubungan Kebersihan Handuk dengan Kejadian Skabies ... 5.7. Hubungan Kebersihan Tempat tidur dan sprei dengan Kejadian Skabies ............................................................... 28 29 30 30 30 30 30 30 31 31 31 31 31 31 32 34 39 39 39 40 40 40 41 56 56 61 63 64 65 66 67 68 69 Universitas Sumatera Utara 5.8. Gambaran Sanitasi Asrama Pesantren ................................ 5.8.1. Kelembaban ............................................................. 5.8.2. Ventilasi ................................................................... 5.8.3. Pencahayaan............................................................. 5.8.4. Kepadatan Penghuni................................................. 5.9. Gambaran Sanitasi Dasar Pesantren ................................... 5.9.1. Sarana Air Bersih ..................................................... 5.9.2. Jamban ..................................................................... 5.9.3. Sarana Pembuangan Air Limbah .............................. 5.9.4. Sarana Pembuangan Sampah .................................... BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan........................................................................ 6.2. Saran ................................................................................. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Kuesioner Lembar Observasi Master Data Output Hasil Penelitian Surat Balasan Peneltian dari Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru Surat Permohonan izin Penelitian Foto Dokumentasi Penelitian 70 70 70 71 72 73 73 75 76 77 78 79 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Nomor Judul Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Responden pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru ....................................................................................... 41 Distribusi Kebersihan Kulit Responden pada Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru ............................................................................... 42 Distribusi Kebersihan Tangan dan Kuku Responden pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru ........................................................ 44 Distribusi Kebersihan Genitalia Responden pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru .................................................................. 46 Distribusi Kebersihan Pakaian responden pada pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru ................................................................. 48 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Halaman Tabel 4.6 Distribusi Kebersihan Handuk responden berdasarkan pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru ........................................................ 50 Tabel 4.7 Distribusi Kebersihan Tempat Tidur dan Sprei responden berdasarkan Kasus dan Kontrol pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru ... 52 Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene santri pada pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru .................................................................. 54 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Santri pada Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru .................................................................. 56 Tabel 4.10 Distribusi Bangunan Fisik Ruangan tidur Berdasarkan Kelembaban pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru .................................. 59 Tabel 4.11 Distribusi Bangunan Fisik Ruangan tidur Berdasarkan Ventilasi pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru .......................................... 60 Tabel 4.12 Distribusi Bangunan Fisik Ruangan tidur Berdasarkan Pencahayaan pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru .................................. 60 Universitas Sumatera Utara Tabel 4.13 Distribusi Bangunan Fisik Ruangan tidur Berdasarkan Kepadatan Hunian Ruang Tidur pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru . 61 Tabel 4.14 Hasil Observasi Sanitasi Dasar pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011………………………………………………..62 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Sarcoptes Scabiei ................................................................... 13 Gambar 2. Ruam pada Skabies ................................................................. 17 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop. Penyakit scabies disebut kutu badan.Skabies mudah menyebar baik secara kontak langsung dengan penderita maupun secara tidak langsung melalui pakaian, sprei, handuk, bantal ataupun kasur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan personal hygiene santri ( kebersihan pakaian, kulit, tangan dan kuku, genitalia, handuk, tempat tidur dan sprei) dengan kejadian skabies dan tinjauan sanitasi lingkungan pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah survai analitik dengan desain case control. Populasi penelitian adalah kasus yaitu santri yang menderita scabies sebanyak 36 orang dan control adalah santri yang tidak menderita scabies sebanyak 36 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kebersihan pakaian (p=0,025), kebersihan kulit (p=0,000), kebersihan tangan dan kuku (p=0,029), kebersihan genitalia (p=0,000), kebersihan handuk (p=0,034), kebersihan tempat tidur dan sprei (p=0,000) dengan kejadian scabies.Keadaan fisik lingkungan asrama santri meliputi kelembaban, ventilasi, pencahayaan,100% memenuhi syarat dan kepadatan hunian ruang tidur 80.0% padat dan 20.0% tidak padat.Sanitasi dasar meliputi air bersih, sarana pembuangan limbah, jamban dan sarana pembuangan sampah termasuk kategori tidak sehat. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bagi pondok pesantren dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kejadian scabies melalui penyuluhan dan pelatihan kepada tenaga kesehatan di pondok pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru dan bagi santri agar perlu meningkatkan kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit menular scabies. Kata kunci : Skabies, Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan Pesantren. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei, a mite belongs to the class of Arachnida. This mite is very small and can only be seen through a microscope. Scabies is also called body lice. Scabies spreads easily either through a direct contact with the patient (sufferer) or indirect contact through clothing, bed linen, towels, pillows or mattresses. The purpose of this analytical survey study with case-control design was to analyze the relationship between personal hygiene of santri (cleanliness of clothing, skin, hands and nails, genitalia, towels, bed and bed linen) and the incident of scabies based on a review of environmental sanitation in the Pesantren Darel Hikmah, the city of Pekanbaru in 2011. The populations of this study were 36 santris suffering from scabies and the control group comprised 36 santris who were not suffering from scabies. The result of this study showed that there was a significant relationship between cleanliness of clothing (p = 0.025), skin (p = 0.000), hands and nails (p = 0.029), genitalia (p = 0.000), towels (p = 0.034), bed and bed linen (p = 0.000) and the incident of scabies. The physical environment of the dormitory for the santris including humidity, ventilation, and lighting has met the standard requirement (100%), the bedrooms was 80% densely occupied and 20% less densely occupied. The sanitation including clean/drinking water, waste disposal facility, latrines and garbage disposal facility belongs to the unhealthy category. The management of the Pondok Pesantren is suggested to provide further information about the incident of scabies through extension and training to the health workers working in the Pesantren Darel Hikmah, the city of Pekanbaru, and the santris need to improve their self-hygiene and to maintain the cleanliness of their environment in order to be avoided from the infectious disease of scabies. Keywords: Scabies, Personal Hygiene, Pesantren Environmental Sanitation Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesehatan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat,bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduk yang hidup dengan perilaku dan lingkungan yang sehat.Upaya perbaikan dalam bidang kesehatan masyarakat salah satunya dilaksanakan melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit, menurunkan angka kesakitan dan angka kematian sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat (Depkes, 2004) Paradigma sehat menjadi orientasi baru dalam pembangunan kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Perumusan visi Indonesia sehat 2010,melalui empat strategi pembangunan kesehatan merupakan wujud dari perubahan paradigma yang kita anut.Paradigma sehat adalah upaya pembangunan kesehatan berorientasi kepada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan penduduk sehat dan bukan hanya penyembuhan pada orang sakit.Kebijaksanaan pembangunan akan lebih ditekankan pada upaya promotif dan preventif dengan meningkatkan, memelihara, melindungi orang sehat agar menjadi lebih sehat dan produktif serta tidak jatuh sakit, sedangkan yang sakit dapat pula segera disembuhkan agar menjadi sehat (Depkes RI, 2004). Universitas Sumatera Utara Menurut H.L.Blum (1974), dalam buku Soekidjo (2003) menjelaskan bahwa derajat kesehatan di pengaruhi oleh beberapa factor yaitu lingkungan, prilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan. Faktor lingkungan dan prilaku adalah merupakan factor yang mempunyai pengaruh paling besar yang merugikan kesehatan masyarakat, baik masyarakat di pedesaan maupun perkotaan yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat di bidang kesehatan dan ekonomi. Keadaan perumahan atau pemukiman adalah salah satu faktor menentukan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan, tempat – tempat dimana hygiene dan sanitasi lingkungan diperbaiki, mortality dan morbidity menurun dan wabah berkurang dengan sendirinya, seperti yang dikemukakan WHO bahwa perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit mengakibatkan pula tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat. Karena rumah terlalu sempit makan perpindahan (penularan) bibit penyakit dari manusia yang satu kemanusia yang lain akan lebih mudah terjadi (Entjang, 2000). Universitas Sumatera Utara Pesantren atau Pondok Pesantren adalah sekolah Islam berasrama (Islamic boarding school) dan pendidikan umum yang persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam daripada ilmu umum. Para pelajar pesantren disebut sebagai santri belajar pada sekolah ini, sekaligus tinggal pada asrama yang disediakan oleh pesantren. Selama tinggal berpisah dengan orang tua maka santri akan tinggal bersama-sama dengan teman-teman dalam satu asrama, kehidupan berkelompok yang akan dijalani dengan berbagai macam karakteristik para santri dan dalam kehidupan berkelompok masalah yang dihadapi adalah pemeliharaan kebersihan, yaitu kebersihan kulit, kebersihan tangan dan kuku, kebersihan genitalia, kebersihan lingkungan dan kebersihan pakaian (Badri, 2008). Perilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perseorangan di pondok pesantren pada umumnya kurang mendapatkan perhatian dari santri (Depkes, 2007). Faktanya, sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi buruk (Badri, 2008). Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti menggantung pakaian di kamar, tidak membolehkan pakaian santri wanita dijemur di bawah terik matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi, seperti sisir dan handuk (Depkes, 2007) Tinggal bersama dengan sekelompok orang seperti di pesantren memang berisiko mudah tertular berbagai penyakit kulit, penularan terjadi bila kebersihan pribadi dan lingkungan tidak terjaga dengan baik. Hal inilah umumnya menjadi penyebab timbulnya penyakit skabies. Faktor yang mempengaruhi penularan penyakit skabies adalah , kebersihan perseorangan yang buruk, , perilaku yang tidak mendukung kesehatan, hunian yang padat, tinggal satu kamar, ditambah kebiasaan saling bertukar Universitas Sumatera Utara pakaian, handuk, dan perlengkapan pribadi meningkatkan risiko penularan (Badri, 2008). Kejadian penyakit skabies disebuah pondok pesantren di jakarta mencapai 78,70%, dikabupaten Pasuruan kejadian penyakit skabies sebesar 66,70% (Depkes, 2000). Kejadian penyakit skabies tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kejadian penyakit skabies di negara berkembang yang hanya 6-27% atau prevalensi penyakit skabies di Indonesia sebesar 4,60-12,95% saja (Notobroto, 2005). Data yang diperoleh dari Poliklinik Pesantren Darel Hikmah tiap tahunnya angka kejadian penyakit scabies pada santri tetap terjadi dari tahun ke tahun (Ponpes, 2010). Terdapat kejadian penyakit scabies 86 kasus pada tahun 2008, dan 98 kasus pada tahun 2009, serta 115 kasus pada tahun 2010 dari 474 santri. 1.2.Perumusan Masalah Angka kejadian penyakit scabies yang meningkat dari tahun ketahun serta prilaku hidup bersih dan sehat terutama kebersihan perorangan dan sanitasi yang kurang bagus yang menyebabkan angka kesakitan maka perumusan masalah yang dapat dikembangkan adalah bagaimana hubungan personal hygiene santri terhadap kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011. Universitas Sumatera Utara 1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan personal hygiene santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dan tinjauan sanitasi lingkungan Pondok Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui Hubungan kebersihan kulit santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi skabies b. Untuk mengetahui Hubungan kebersihan tangan dan kuku santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi skabies c. Untuk mengetahui Hubungan kebersihan genitalia santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi skabies d. Untuk mengetahui Hubungan kebersihan pakaian santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies e. Untuk megetahui Hubungan kebersihan handuk santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies f. Untuk mengetahui Hubungan kebersihan tempat tidur dan sprei santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies g. Untuk mengetahui hubungan personal hygiene santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi skabies h. Untuk mengetahui kelembaban asrama santri i. Untuk mengetahui ventilasi asrama santri j. Untuk mengetahui pencahayaan asrama santri Universitas Sumatera Utara k. Untuk mengetahui kepadatan hunian asrama santri l. Untuk mengetahui sanitasi dasar pesantren Universitas Sumatera Utara 1.4. Manfaat Penelitian a.Bagi Peneliti Dapat memberikan suatu masukan yang berkaitan dengan penyakit kulit infeksi seperti scabies dan meningkatkan pengetahuan terhadap pola pencegahan penyakit kulit infeksi b.Bagi Santri Dapat menjadi masukan terhadap perbaikan kebiasaan hidup yang merugikan bagi kesehatan sehingga dapat menjaga kesehatan diri khususna yang berkaitan dengan penyakit kulit infeksi seperti scabies. Universitas Sumatera Utara BAB II TINAJUAN PUSTAKA 2.1. Personal Hygiene Personal hygiene berasal dari bahasa yunani yaitu: personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto & Wartonah, 2003). Pemeliharaan kebersihan diri berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri sesorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan memiliki kebersihan diri baik apabila, orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, tangan dan kuku,dan kebersihan genitalia (Badri, 2008). Banyak manfaat yang dapat di petik dengan merawat kebersihan diri, memperbaiki kebersihan diri, mencegah penyakit, meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan keindahan (Wartonah, 2003). Menurut Perry (2005), personal hygiene adalah suatu tindakan unutk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya. Universitas Sumatera Utara Usaha kesehatan pribadi adalah : daya upaya dari seorang demi seorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri ( Entjang, 2000) Usaha – usaha itu adalah : a.Kebersihan Kulit Kebersihan individu yang buruk atau bermasalah akan mengakibatkan berbagai dampak baik fisik maupun psikososial. Dampak fisik yang sering dialami seseorang tidak terjaga dengan baik adalah gangguan integritas kulit (Wartonah, 2003) Kulit yang pertama kali menerima rangsangan seperti rangsangan sentuhan, rasa sakit, maupun pengaruh buruk dari luar. Kulit berfungsi untuk melindungi permukaan tubuh, memelihara suhu tubuh dan mengeluarkan kotoran-kotoran tertentu. Kulit juga penting bagi produksi vitamin D oleh tubuh yang berasal dari sinar ultraviolet. Mengingat pentingnya kulit sebagai pelindung organ-organ tubuh didalammnya, maka kulit perlu dijaga kesehatannya. Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit hewani dan lain-lain. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit adalah Skabies ( DJuanda, 2000). Sabun dan air adalah hal yang penting untuk mempertahankan kebersihan kulit. Mandi yang baik adalah : 1). Satu sampai dua kali sehari, khususnya di daerah tropis. 2). Bagi yang terlibat dalam kegiatan olah raga atau pekerjaan lain yang mengeluarkan banyak keringat dianjurkan untuk segera mandi setelah selesai kegiatan tersebut. 3). Gunakan sabun yang lembut. Germicidal atau sabun antiseptik tidak dianjurkan untuk mandi sehari-hari. 4). Bersihkan anus dan genitalia dengan baik karena pada kondisi tidak bersih, sekresi normal dari anus dan genitalia akan Universitas Sumatera Utara menyebabkan iritasi dan infeksi. 5). Bersihkan badan dengan air setelah memakai sabun dan handuk yang tidak sama dengan orang lain (Webhealthcenter, 2006). b.Kebersihan tangan dan kuku Indonesia adalah negara yang sebagian besar masyarakatnya menggunakan tangan untuk makan, mempersiapkan makanan, bekerja dan lain sebagainya. Bagi penderita skabies akan sangat mudah penyebaran penyakit ke wilayah tubuh yang lain. Oleh karena itu, butuh perhatian ekstra untuk kebersihan tangan dan kuku sebelum dan sesudah beraktivitas. 1). Cuci tangan sebelum dan sesudah makan, setelah ke kamar mandi dengan menggunakan sabun. Menyabuni dan mencuci harus meliputi area antara jari tangan, kuku dan punggung tangan.2). Handuk yang digunakan untuk mengeringkan tangan sebaiknya dicuci dan diganti setiap hari. 3). Jangan menggaruk atau menyentuh bagian tubuh seperti telinga, hidung, dan lain-lain saat menyiapkan makanan. 4). Pelihara kuku agar tetap pendek, jangan memotong kuku terlalu pendek sehingga mengenai pinch kulit (Webhealthcenter, 2006). c. Kebersihan Genitalia Karena minimnya pengetahuan tentang kebersihan genitalia, banyak kaum remaja putri maupun putra mengalami infeksi di alat reproduksinya akibat garukan, apalagi seorang anak tersebut sudah mengalami skabies diarea terterntu maka garukan di area genitalia akan sangat mudah terserang penyakit kulit skabies, karena area genitalia merupakan tempat yang lembab dan kurang sinar matahari. Salah satu contoh pendidikan kesehatan di dalam keluarga, misalnya bagaimana orang tua mengajarkan anak cebok secara benar. Seperti penjelasan, bila ia hendak cebok harus dibasuh dengan air bersih. Caranya menyiram dari depan ke belakang bukan belakang Universitas Sumatera Utara ke depan. Apabila salah, pada alat genital anak perempuan akan lebih mudah terkena infeksi. Penyebabnya karena kuman dari belakang (dubur) akan masuk ke dalam alat genital. Jadi hal tersebut, harus diberikan ilmunya sejak dini. Kebersihan genital lain, selain cebok, yang harus diperhatikan yaitu pemakaian celana dalam. Apabila ia mengenakan celana pun, pastikan celananya dalam keadaan kering. Bila alat reproduksi lembab dan basah, maka keasaman akan meningkat dan itu memudahkan pertumbuhan jamur. Oleh karena itu seringlah menganti celana dalam (Safitri, 2008). 2.1.1. Kebutuhan Personal Hygiene Dalam kehidupan sehari- hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dalam dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh individu dan kebiasaan. Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang di perhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut di biarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum ( Tarwoto & Wartonah, 2003). 2.1.2. Kebersihan diri Kebersihan diri merupakan factor penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat. Menjaga kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum. Cara menjaga kebersihan diri dapat dilakukan sebagai berikut : a) Mandi setiap hari minimal 2 kali sehari secara teratur dengan menggunakan sabun, muka harus bersih, telinga juga harus dibersihkan serta bagian genitalia. Universitas Sumatera Utara b) Tangan harus dicuci sebelum menyiapkan makanan dan minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar atau buang air kecil. c) Kuku digunting pendek dan bersih, agar tak melukai kulit atau menjadi sumber infeksi. d) Pakaian perlu diganti sehabis mandi dengan pakaian yang habis dicuci bersih dengan sabun/ detergen, dijemur di bawah sinar matahari dan di setrika (Wolf, 2000) 2.2 Penyakit Kulit Infeksi Penyakit kulit infeksi adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh karena parasit,contoh penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit yaitu Skabies, Pedikulosis, Creeping Eruption (Arif, M, dkk, 2000) 2.2.1 Pengertian Skabies Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat mikroskopis. Penyakit skabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga mudah menular dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Skabies mudah menyebar baik secara langsung atau melalui sentuhan langsung dengan penderita maupun secara tak langsung melalui baju, seprai, handuk, bantal, air, atau sisir yang pernah dipergunakan penderita dan belum dibersihkan dan masih terdapat tungau sarcoptesnya. Skabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti disela-sela jari, siku, selangkangan. Skabies identik dengan penyakit anak pondok pesantren, penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang kurang terajaga, sanitasi yang buruk, Universitas Sumatera Utara kurang gizi dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang mendapat sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit scabies menular dengan cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies (Yosefw, 2007). 2.2.2 Etiologi Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih, kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 – 450 mikron x 250 – 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 – 240 mikron x 150 – 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Gambar 1.Sarcoptes Scabiei Universitas Sumatera Utara Siklus hidup tungau ini sebagai berikut, setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari (Handoko, 2001). 2.2.3 Patogenesis. Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko,2001) 2.2.4 Cara Penularan. Penyakit skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tak langsung. Yang paling sering adalah kontak langsung yang saling bersentuhan atau Universitas Sumatera Utara dapat pula melalui alat-alat seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian. Bahkan penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita dengan orang yang sehat. Di Amerika Serikat dilaporkan, bahwa skabies dapat ditularkan melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat utama (Brown, 1999). Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan, atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relative sempit. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada (Benneth, 1997). Penularan skabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman terjadi peningkatan insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti tidur bersama. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di lingkungan padat penduduk (Meyer, 2000). 2.2.5 Gejala Klinis Skabies a. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. Universitas Sumatera Utara b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, serta kehidupan di pondok pesantren, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier). c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang bewarna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang satu cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mame (wanita), umbilicus, bokong, genetalia eksterna (pria), dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. d. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. e. Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang umumnya muncul disela-sela jari, siku, selangkangan dan lipatan paha, dan muncul gelembung berair pada kulit (Mawali,2000). Universitas Sumatera Utara Gambar 2. Ruam Pada Skabies 2.2.6 Klasifikasi Skabies Adapun bentuk-bentuk khusus skabies yang sering terjadi pada manusia adalah sebagai berikut :(a). Skabies pada orang bersih yang merupakan skabies pada orang dengan tingkat kebersihannya cukup, bisa salah didiagnosis karena kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. (b). Skabies pada bayi dan anak lesi skabies yang mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi terdapat di muka. (c). Skabies yang ditularkan oleh hewan dapat menyerang manusia yang pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan tersebut. Misalnya peternak dan gembala. Gejalanya ringan, rasa Universitas Sumatera Utara gatal kurang, tidak timbul terowongan, lesi terutama terdapat pada tempat-tempat kontak, dan akan sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi bersihbersih.(d). Skabies Nodular terjadi akibat reaksi hipersensitivitas. Tempat yang sering dikenai adalah genitalia pria, lipatan paha, dan aksila. Lesi ini dapat menetap beberapa minggu hingga beberapa bulan, bahkan hingga satu tahun walaupun telah mendapat pengobatan anti skabies. (e).Skabies Inkognito, obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies, sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya, pengobatan dengan steroid topikal yang lama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena penurunan respons imun selular. (f). Skabies terbaring di tempat tidur merupakan penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal di tempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (g). Skabies krustosa ( Norwegian Scabies), lesinya berupa gambaran eritodermi, yang disertai skuama generalisata, eritema, dan distrofi kuku. Krusta terdapat banyak sekali, dimana krusta ini melindungi sarcoptes scabiei di bawahnya. Bentuk ini mudah menular karena populasi sarcoptes scabiei sangat tinggi dan gatal tidak menonjol. Bentuk ini sering salah didiagnosis, malahan kadang diagnosisnya baru dapat ditegakkan setelah penderita menularkan penyakitnya ke orang banyak. Sering terdapat pada orang tua dan orang yang menderita retardasi mental (Down’s syndrome), sensasi kulit yang rendah (lepra, syringomelia dan tabes dorsalis), penderita penyakit sistemik yang berat (leukemia dan diabetes), dan penderita imunosupresif (Emier, 2007). 2.2.7 Pengobatan Skabies Pengobatan skabies dapat dilakukan dengan delousing yakni shower dengan Universitas Sumatera Utara air yang telah dilarutkan bubuk DDT (Diclhoro Diphenyl Trichloroetan). Pengobatan lain adalah dengan mengolesi salep yang mempunyai daya miticid baik dari zat kimia organic maupun non organic pada bagian kulit yang terasa gatal dan kemerahan dan didiamkan selama 10 jam. Alternatif lain adalah mandi dengan sabun sulfur/belerang karena kandungan pada sulfur bersifat antiseptik dan antiparasit, tetapi pemakaian sabun sulfur tidak boleh berlebihan karena membuat kulit menjadi kering. Pengobatan skabies harus dilakukan secara serentak pada daerah yang terserang skabies agar tidak tertular kembali penyakit skabies (Sadana, 2007). 2.2. 8 Prognosis. Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat di berantas dan memberikan prognosis yang baik (Harahap, 2000 ). 2.3 Lingkungan Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, dan berbagai sarana umum. Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan cara membersihkan jendela dan perabot santri, menyapu dan mengepel lantai, mencuci peralatan makan, membersihkan kamar, lingkungan dimulai dari menjaga serta membuang sampah. Kebersihan kebersihan halaman dan selokan, dan membersihkan jalan di depan asrama dari sampah (Ponpes, 2008). Penularan penyakit skabies terjadi bila kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan tidak terjaga dengan baik. Faktanya, sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang kumuh, tempat mandi dan WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi buruk (Badri, 2008). Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti Universitas Sumatera Utara menggantung pakaian di kamar, tidak dibawah terik matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi, seperti sisir dan handuk (Depkes, 2007) 2.4 Hygiene dan Sanitasi Lingkungan Hygiene dan sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologi,social, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna di tingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. Usaha dalam hygiene dan sanitasi lingkungan di Indonesia terutama meliputi : a. Menyediakan air rumah tangga yang baik, cukup kualitas maupun kwantitasnya. b. Mengatur pembuangan kotoran, sampah dan air limbah c. Mendirikan rumah-rumah sehat, menambah jumlah rumah agar rumahrumah tersebut menjadi pusat kesenangan rumah tangga yang sehat. d. Pembasmian binatang-binatang penyebar penyakit seperti : lalat, nyamuk (Entjang, 2000) Istilah Hygiene dan sanitasi mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengusahakan cara hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit, tetapi dalam penerapannya mempunyai arti yang sedikit berbeda. Usaha sanitasi lebih menitik beratkan pada factor lingkungan hidup manusia, sementara hygiene lebih menitik beratkan pada usaha-usaha kebersihan perorangan (Kusnoputranto, 1986). Sanitasi dasar lingkungan merupakan hal yang harus diperhatikan. Oleh karena itu untuk mencapai kemampuan hidup sehat di masyarkat, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : Universitas Sumatera Utara a.Penyediaan air Bersih Air merupkakan suatu sarana untuk menigkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit (Slamet, 1996). Untuk itu penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan seperti : a. Syarat Fisik : Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. b. Syarat Bakteriologis : Air merupakan keperluan yang sehat yang harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. c. Syarat Kimia : Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia (Notoatmodjo, 2003). Air sangat erat hubungannya dengan kehidupan dan merupakan salah satu bahan pokok yang mutlak dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Sumber air yang banyak dipergunakan oleh ,masyarakat adalah air permukaan (air sungai, danau, rawa, dan sebagainya). Apabila tidak diperhatikan, maka air dari sumber tersebut diatas dapat mengganggu kesehatan manusia. Untuk mencegah timbulnya penyakit yang dapat ditularkan melalui air, maka air yang dipergunakan terutama untuk air minum harus memenuhi syarat-syarat kesehatan. (Depkes RI, 1993). Universitas Sumatera Utara b.Jamban Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpukan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman ( Dirjen P2M & PL, 1998). Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan terjadinya berbagai penyakit seperti diare, cholera, dysentri, ascariasis, dan sebagainya.kotoran manusia merupakan buangan padat, selain menimbulkan bau, mengotori lingkungan juga merupakan media penularan penyakit pada masyarakat. Perjalanan agen penyebab penyakit melalui cara transmisi seperti dari tangan, maupun dari peralatan yang terkontaminasi ataupun melalui mata rantai lainnya. Dimana memungkinkan tinja atau kotoran yang mengandung agent penyebab infeksi masuk melalui saluran pernafasan. c.Pengelolaan Sampah Sampah ialah suatu bahan/ benda yang terjadi karena berhubungan dengan aktfitas manusia yang tidak terpakai lagi, tidak disenangi dan dibuang dengan caracara saniter kecuali bungan yang berasal dari tubuh manusia (Kusnoputranto, 2000) Mengingat efek dari sampah terhadap kesehatan maka pengelolaan sampah harus memenuhi criteria sebagai berikut : 1. Tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan penutup 2. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam rata dan dilengkapi dengan penutup 3. Tempat sampah dikosongkan setiap 1 x 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi penuh Universitas Sumatera Utara 4. Jumlah dan volume sampah disesuaikan dengan sampah yang dihasilkan sertiap kegiatan. Tempat sampah harus disediakan minimal 1 buah untuk setiap radius 10 meter, dan tiap jarak 20 meter pada ruang terbuka dan tunggu 5. Tersedianya tempat pembuangan sampah semetara yang mudah dikosongkan, tidak terbuat dari beton permanen, terletak dilokasi yang terjangkau kendaraan pengangkut sampah dan harus dikosongkan sekurang-kurangnya 3 x 24 jam. d.Pengelolaan Air Limbah Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industry dan pada umumya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung didalam air limbah, maka limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran penyakit (Notoadmodjo, 2003). Saluran pembuangan air limbah yang tidak mengalir lancar, dengan bentuk SPAL tidak tertutup dibanyak tempat, sehingga air limbah menggenang ditempat terbuka. Keadaan ini berpotensi sebagai tempat berkembang biak vector dan bernilai negative dari aspek estetika (Soejadi, 2003). 2.5 Kondisi Fisik Rumah 2.5.1. Ventilasi Ventilasi adalah sarana untuk memelihara kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu ruangan yang terlalu padat penghuninya dapat memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan pada penghuni tersebut, untuk itu pengaturan sirkulasi udara sangat diperlukan (Chandra, 2007). Universitas Sumatera Utara Lubang penghawaan pada bangunan harus dapat menjamin pergantian udara didalam kamar/ruang dengan baik. Luas lubang penghawaan yang dipersyaratkan minimal 20% dari luas lantai (Soejadi,2003). 2.5.2 Kelembaban Kelembaban sangat berperan penting dalam pertumbuhan kuman penyakit.Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai oleh kuman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan yang lembab dapat mendukung terjadinya penularan penyakit (Notoatmodjo, 2007). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.829 tentang persyaratan kesehatan rumah dari aspek kelembaban udara ruang, dpersyaratkan ruangan mempunyai tingkat kelembaban udara yang diperbolehakan antara 40-70%. Tingkat kelembaban yang tidak memenuhi syarat ditambah dengan prilaku tidak sehat, misalnya dengan penempatan yang tidak tepat pada berbagai barang dan baju, handuk, sarung yang tidak tertata rapi, serta kepadatan hunian ruangan ikur berperan dalam penularan penyakit berbasis lingkungan seperti scabies (memudahkan tungau Sarcoptes Scabiei berpindah dari reservoir ke barang sekitarnya hingga mencapai pejamu baru (Soedjadi, 2003). 2.5.3. Pencahayaan Salah satu syarat rumah sehat adalah tersedianya cahaya yang cukup, karena suatu rumah yang tidak mempunyai cahaya selain dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman, juga dapat menimbulkan penyakit (Prabu, 2009). Menurut Sukini (1989), sinar matahari berperan secara langsung dalam mematikan bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat dilingkungan rumah, Universitas Sumatera Utara khususnya sinar matahari pagi yang dapat menghambat perkembangbiakan bakteri patogen. Dengan demikian sinar matahari sangat diperlukan didalam ruangan rumah terutama ruangan tidur. Pencahayaan alami dan / atau buatan langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan (Kepmenkes RI,1999). 2.5.4. Kepadatan Penghuni Kepadatan hunian sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri penyebab penyakit menular.Selain itu kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara didalam rumah. Dimana semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara dalam rumah mengalami pencemaran oleh karena CO2 dalam rumah akan cepat meningkat dan akan menurunkan kadar O2 yang diudara (Sukini, 1989). Tingkat kepadatan penghuni di ponpes cenderung padat namun dalam batas toleransi persyaratan.Kepadatan hunian merupakan syarat mutlak untuk kesehatan rumah pemondokan termasuk ponpes, karena dengan kepadatan hunian yang tinggi terutama pada kamar tidur memudahkan penularan berbagai penyakit secara kontak dari satu santri kepada santri lainnya (Soejadi, 2003). Menurut Kepmenkes RI (1999), kepadatan dapat dilihat dari : Kepadatan hunian runag tidur : Luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari dua orang dalam satu ruangan tidur, kecuali anak dibawah usia 5 tahun. Universitas Sumatera Utara 2.6. Pesantren Pesantren adalah tempat mengaji, belajar`agama islam. Suatu lembaga pendidikan islam dikatakan pesantren apabila terdiri dari unsure-unsur Kyai/Syekh/Ustadz yang mendidik serta mengajar, ada santri yang belajar, ada mesjid/ musalla dan ada pondok/asrama tempat para santri bertempat tinggal. Asrama adalah rumah pemondokan yang ditempati oleh santri-santri, pegawai dan sebagainya yang digunakan sebagai tempat untuk berlindung, beristirahat, dan sebagai tempat bergaul antar sesama teman (Dariansyah, 2006) Universitas Sumatera Utara 2.7. Kerangka Konsep Variabel Independen Variabel Dependen Personal Hygiene Santri 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kebersihan Kulit Kebersihan Tangan dan Kuku. Kebersihan Genitalia. Kebersihan Pakaian Kebersihan Handuk Kebersihan Tempat Tidur dan Sprei Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies Sanitasi Lingkungan Pesantren 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kelembaban Ventilasi Pencahayaan Kepadatan Hunian Ruangan Tidur Sarana Air Bersih Sarana Pembuangan Limbah Sarana Pembuangan Kotoran Sarana Pembuangan Sampah Kepemenkes RI/Non.829/Men kes/SK/VII/1999 Universitas Sumatera Utara 2.8. Hipotesis Penelitian Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesa penelitian sebagai berikut : 1. Ada hubungan kebersihan kulit dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 2. Ada hubungan Kebersihan tangan dan kuku dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 3. Ada hubungan kebersihan genitalia dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 4. Ada Hubungan Kebersihan Pakaian dengan kejadian penyakit kulit infeksi pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 5. Ada hubungan Kebersihan handuk dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 6. Ada hubungan kebersihan tempat tidur dan sprei dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies pada Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian dilakukan adalah jenis survey analitik dengan desain Case control study yaitu untuk mengetahui hubungan personal hygiene santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dan tinjauan sanitasi lingkungan Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Penelitian dilakukan pada Pondok Pesantren Darel Hikmah kota Pekanbaru 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan Mei-Juli 2011 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi a. Kasus adalah semua santri yang menderita skabies Kelas II dan III Tsanawiyah berdasarkan diagnosis rekam medik periode januari – Mei 2011 b. Kontrol adalah semua santri yang tidak menderita skabies Kelas II dan III tsanawiyah dan tidak satu asrama dengan penderita skabies. 3.3.2 Sampel a. Kasus adalah santri yang menderita penyakit scabies berdasarkan rekam medis yang didiagnosa oleh dokter periode januari – mei 2011, besar sampel dalam penelitian ini yaitu 36 orang. Universitas Sumatera Utara b. Kontrol adalah santri yang berada dalam pesantren namun tidak menderita penyakit scabies dalam penelitian ini diambil sesuai dengan jumlah kasus yaitu 36 orang, kemudian dilakukan matching (umur, kelas,dan jenis kelamin) 3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer Data primer berupa personal hygiene santri dan sanitasi lingkungan pesantren dari peninjauan langsung pada objek penelitian yaitu kelapangan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi. 3.4.2 Data Sekunder Data sekunder di dapat dari hasil penelusuran dokumen dan laporan data poliklinik dari pesantren yang terkait dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies. 3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah personal hygiene dan sanitasi lingkungan pesantren yang dilihat dari kebersihan kulit,kebersihan tangan dan kuku, kebersihan genitalia, kebersihan pakaian, handuk, tempat tidur dan sprei, penyediaan air bersih, sarana pembuangan limbah, sarana pembuangan kotoran, pengelolaan sampah, ventilasi, kelembaban, pencahayaan dan kepadatan hunian kamar. 3.5.2 Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian penyakit kulit infeksi scabies Universitas Sumatera Utara 3.5.3 Definisi Operasional 1. Personal hygiene adalah kebersihan pribadi seorang individu yang sangat berpengaruh terhadap kesehatannya. 2. Kebersihan kulit adalah usaha individu untuk menjaga kebersihan kulit dengan cara mandi menggunakan sabun agar terhindar dari penyakit kulit 3. Kebersihan tangan dan kuku adalah prilaku individu dalam menjaga kebersihan tangan dan kuku seperti cuci tangan sebelum dan sesudah makan, sesudah kekamar mandi, serta memotong kuku agar tetap pendek. 4. Kebersihan genitalia adalah prilaku santri dalam mejaga kebersihan genetalia dengan cara membersihkan dan mengganti celana dalam 5. Kebersihan pakaian adalah prilaku santri dalam mengganti pakaian serta mencuci pakaian 6. Kebersihan handuk adalah prilaku santri berdasarkan frekuensi mencuci handuk dan menjemurnya. 7. Kebersihan tempat tidur dan sprei adalah prilaku santri berdasarkan frekuensi menjemur kasur dan bantal, mengganti sprei dan sarung bantal. 8. Kelembaban adalah keadaan lembab dalam ruangan yang berkisar 40%-70% diukur dengan alat Hygrometer. 9. Ventilasi adalah luas penghawaan atau ventilasi yang permanen minimal 10% dari luas lantai. 10. Pencahayaan adalah keadaan penerangan dalam ruangan baik bersumber alami maupun buatan yaitu cukup dan tidak silau sehingga dapat digunakan untuk membaca dengan normal. Universitas Sumatera Utara 11. Kepadatan hunian ruangan tidur adalah luas ruang tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari 2 orang (Permenkes No.829/Menkes/SK/II/1999). 12. Penyediaan air bersih merupakan suatu sarana untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memenuhi syarat fisik, biologi, dan kimia 13. Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk menampung kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu. 14. Sampah merupakan suatu bahan/ benda yang terjadi karena berhubungan dengan aktivitas manusia yang tidak terpakai lagi. 15. Air limbah merupakan adalah sisa air yang dibuang berasal dari rumah tangga dan industri. 16. Kejadian penyakit kulit infeksi scabies adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit sarcoptes scabiei, timbul dengan gejala gatal terutama malam hari berdasarkan rekam medis periodic januari – mei 2011 dan pernah mendapat obat scabies. Universitas Sumatera Utara 3.6 Aspek pengukuran 1. Kebersihan Kulit Pengukuran variabel Kebersihan kulit didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 2. Kebersihan Tangan dan Kuku Pengukuran variabel Kebersihan tangan dan kuku didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 3. Kebersihan Genitalia Pengukuran variabel Kebersihan genitalia didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 Universitas Sumatera Utara b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 4. Kebersihan Pakaian Pengukuran variabel Kebersihan Pakaian didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 5. Kebersihan Handuk Pengukuran variabel Kebersihan handuk didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 6. Kebersihan Tempat Tidur dan Sprei Pengukuran variabel Kebersihan tempat tidur dan sprei didasarkan pada skala ukur ordinal dari 6 pertanyaan dengan total skor 12, alternatife jawaban “Ya” diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol), kemudian dikategorikan berdsarkan jumlah skor yang diperoleh dengan kategori sebagai berikut : Universitas Sumatera Utara a) Baik, Jika skor yang diperoleh responden ≥ 75 % atau ≥ 9 b) Sedang, jika skor yang diperoleh responden 45 – 74 % atau 5 – 8 c) Buruk, jika skor yang diperoleh responden < 45 % atau < 5 7. Kelembaban Cara pengukuran dengan menggunakan alat yaitu hygrometer. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal yang dibagi dalam 2 kategori yaitu : 1. Tidak memenuhi syarat apabila < 40% atau > 70% 2. Memenuhi syarat apabila 40% - 70% 8. Ventilasi Adapun pengukuran ventilasi dengan menggunakan meteran. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal dibagi dalam 2 kategori yaitu: 1. Tidak memenuhi syarat apabila < 10% dari luas lantai 2. Memenuhi syarat apabila ≥ 10% dari luas lantai 9. Pencahayaan Adapun pengukuran pencahayaan adalah dengan melakukan observasi di dalam asrama. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal dibagi dalam 2 kategori yaitu: 1. Cukup, sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal 2. Tidak cukup, sehingga tidak dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal Universitas Sumatera Utara 10. Kepadatan hunian ruang tidur Cara pengukuran dengan menggunakan meteran (observasi) dan dibandingkan dengan SK Menteri Kesehatan No.829/1999. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal dibagi dalam 2 kategori yaitu: 1. Padat < 4 meter persegi/penghuni 2. Tidak padat ≥ 4 meter persegi / penghuni 11. Penilaian sanitasi dasar lingkungan pesantren dengan mempergunakan Kepmenkes RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan, yang terdiri dari 2 (dua) kriteria yaitu “sehat” apabila skor ≥ 334 dan “tidak sehat” apabila skor < 334 Adapun komponen yang dinilai pada lembar observasi dihitung berdasarkan nilai x bobot dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Sarana air bersih yaitu ada,milik sendiri, tidak berbau,tidak berwarna, tidak berasa dengan skor 100 2. Jamban yaitu : ada,leher angsa, septic tank dengan skor 100 3. Sarana pembuangan air limbah yaitu ada, dialirkan keselokan tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut dengan skor 100 4. Sarana pembuangan sampah yaitu : ada, kedap air, dan bertutup dengan skor 75. Universitas Sumatera Utara 12. Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies Kejadian scabies adalah santri yang menderita penyakit scabies di Pondok Pesantren Darel Hikmah selama 3 bulan terakhir yang tinggal di asrama berdasarkan rekam medis poliklinik pesantren dan pernah mendapat obat skabies.Didasarkan pada skala ukur ordinal dari 2 pertanyaan, alternatife jawaban ‘Ya’ diberi skor 2 (dua), dan tidak diberi skor 0 (nol) kemudian dikategorikan sebagai berikut : a) Menderita b) Tidak menderita Universitas Sumatera Utara 3.7 Metode Analisa Data 3.7.1. Analisa Univariat Analisa data dengan mendistribusikan variabel personal hygiene dan tinjauan sanitasi lingkungan pesantren yang disajikan dalam bentuk tabel dan distribusi frekuensi. 3.7.2 Analisa Bivariat Variabel penelitian dan kejadian penyakit kulit infeksi skabies akan dianalisa dengan menggunakan uji chi-square atau Excat fisher pada taraf kepercayaan 95% sehingga diketahui hubungan antar variable penelitian. Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 4.1.1. Lokasi Pesantren Darel Hikmah terletak dijalan raya HR.Subrantas/ jalan Manyar Sakti km 12 Kelurahan Simpang baru Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Lokasi Pesantren Darel Hikmah ditengah kota Pekanbaru yang relatif ramai dan berdekatan dengan UNRI (Universitas Riau) ± 300 meter dan UIN Suska (Universitas Islam Negeri) kurang lebih 500 meter. Pesantren Darel Hikmah berdiri tahun 1987 dengan pendirinya adalah Bapak H.Abdullah, Dr. H. Satria Efendi M.Zein, (Dosen Pasca Sarjana UIN Sahid Jakarta).Luas seluruh bangunan 35. 325 m2. 4.1.2. Sarana dan Prasarana No 1 Fasilitas Ruang Kelas Belajar 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Ruang Komputer Ruang Perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Kepala Madrasah Ruang Waka kurikulum Ruang Wakakesiswaan Ruang Guru Ruang TU Kamar Mandi WC guru Kamar mandi WC Siswa Ruang Ibadah Masjid Asrama Putra Asrama Putri Ruang Tamu Gedung Serbaguna Klinik Kesehatan Ruang Sanggar Seni Kantin dan Rumah makan Ruang Pramuka,OSIS,UKS Jumlah 26 Luas 8x8 1 1 1 1 1 1 2 1 1 15 1 2 3 1 1 1 1 2 1 8x8 5x6 8x8 3,5 x 3,5 3,5 x 3,5 3,5 x 3,5 8x8 3,5 X 3,5 5x6 1,5 x 1 20 x 30 15 x 40 15 x 40 2x3 15 x 30 8x8 4x6 8x8 8x8 Universitas Sumatera Utara 4.2 Analisis Univariat 4.2.1. Analisis Univariat Karakteristik Responden Adapun gambaran karakteristik responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini. Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No 1. 2. 3. Distribusi Karakteristik Responden Umur 12 – 13 tahun 14 -16 tahun Total Jenis Kelamin Laki - laki Perempuan Total Pendidikan Kelas 2 MTs Kelas 3 MTs Total Jumlah (Orang) Persentase (%) 40 32 72 55.6 44.4 100.0 56 16 72 77.8 22.2 100.0 40 32 72 55.6 44.4 100.0 Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden berdasarkan umur pada siswa Madrasah Tsanawiyah Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 terbanyak pada umur 12-13 tahun yaitu 40 responden (55.6%). Sedangkan jumlah responden menurut jenis Kelamin terbanyak laki-laki yaitu sebanyak 56 responden (77.8%) dan menurut tingkat pendidikan terbanyak pada kelas 2 MTs yaitu sebanyak 40 orang (55.6%) Universitas Sumatera Utara 4.2.2 Personal Hygiene Santri 4.2.2.1. Kebersihan Kulit Adapun gambaran kebersihan kulit respoden pada peneltian ini dapat dilihat pada tabel 4.2. dibawah ini. Tabel 4.2. Distribusi Kebersihan Kulit Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No Kebersihan Kulit Kontrol 1. Mandi 2x sehari Jumlah a. Ya b. Tidak Total Mandi menggunakan sabun a. Ya b. Tidak Total Menggosok badan saat mandi a. Ya b. Tidak Total Menggunakan sabun sendiri a. Ya b. Tidak Total Mandi setelah olahraga a. Ya b. Tidak Total Teman pernah memakai sabun a. Ya b. Tidak Total 36 0 36 100 0 100 27 9 36 75.0 25.0 100 36 0 36 100 0 100 36 0 36 100 0 100 36 0 36 100 0 100 34 2 36 94.4 5.6 100 32 4 36 88.9 11.1 100 26 10 36 72.2 27.8 100 31 5 36 86.1 13.9 100 18 18 36 50.0 50.0 100 21 15 36 58.3 41.7 100 26 10 36 72.2 27.8 100 2. 3. 4. 5. 6. Kasus % Jumlah % Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat diketahui bahwa responden pada kelompok kasus mandi 2 kali sehari sebanyak 27 orang (75.0%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 36 orang (100%). Untuk mandi menggunakan sabun pada kelompok kasus sebanyak 36 orang (100%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 36 orang (100%). Untuk menggosok badan saat mandi pada kelompok kasus sebanyak 34 orang (94.4%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 36 orang (100%). Untuk responden yang menggunakan sabun sendiri pada kelompok kasus sebanyak 26 orang (72.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 32 orang (88.9%). Untuk responden yang mandi setelah olahraga pada kelompok kasus sebanyak 18 orang ( 50.0%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 31 orang (86.1%).Untuk teman apakah pernah memakai sabun pada kelompok kasus sebanyak 26 orang (72.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 21 orang (58.3%). Dilihat dari variabel kebersihan kulit dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan kulit yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.2. Kebersihan Tangan dan Kuku Adapun gambaran kebersihan tangan dan kuku responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.3. dibawah ini. Tabel 4.3 Distribusi Kebersihan Tangan dan Kuku Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kebersihan Tangan Kuku Mencuci tangan setelah membersihkan tempat tidur a. Ya b. Tidak Total Mencuci tangan setelah membersihkan kamar mandi a a. Ya b. Tidak Total Memotong Kuku sekali seminggu a. Ya b. Tidak Total Mencuci tangan sesudah BAB/BAK pakai sabun a. Ya b. Tidak Total Mencuci tangan setelah menggaruk badan a. Ya b. Tidak Total Menyikat kuku pakai sabun a. Ya b. Tidak Total Kontrol Jumlah Kasus % Jumlah % 34 2 36 94.4 5.6 100 35 1 36 97.2 5.8 100 36 0 36 100 0 100 35 1 36 97.2 5.8 100 20 16 36 55.6 44.4 100 9 27 36 25.0 75.0 100 22 14 36 61.1 38.9 100 13 23 36 36.1 63.9 100 5 31 36 13.9 86.1 100 9 27 36 25.0 75.0 100 21 15 36 58.3 41.7 100 13 23 36 36.1 63.9 100 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.3 diatas terlihat bahwa pada kelompok kasus yang mencuci tangan setelah membersihkan tempat tidur sebanyak 35 orang (97.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 34 orang ( 94.4%). Untuk responden yang mencuci tangan setelah membersihkan kamar mandi pada kelompok kasus sebanyak 35 orang (97.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 36 orang (100%). Untuk responden yang memotong kuku sekali seminggu pada kelompok kasus sebanyak 27 orang (75.0%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 20 orang (55.6%). Untuk responden yang mencuci tangan sesudah BAB/BAK pakai sabun pada kelompok kasus sebanyak 23 orang (63.9%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 14 orang (38.9%).Untuk responden yang mencuci tangan setelah menggaruk badan pada kelompok kasus sebanyak 27 orang (75.0%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 31 orang (86.1%). Untuk responden yang menyikat kuku pakai sabun pada kelompok kasus tidak sebanyak 23 orang (63.9%) sedangkan pada kelompok control tidak sebanyak 15 orang (41.7%). Dilihat dari variabel kebersihan tangan dan kuku dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan tangan dan kuku yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.3. Kebersihan Genitalia Adapun gambaran kebersihan genitalia responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.4. berikut ini. Tabel 4.4 Distribusi Kebersihan Genitalia Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kebersihan Genitalia Kontrol Mengganti pakaian Jumlah dalam sesudah mandi a. Ya b. Tidak Total Mencuci pakaian dalam a. Ya b. Tidak Total Membersihkan alat genital a. Ya b. Tidak Total Menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari a. Ya b. Tidak Total Membersihakn alat genital sesudah BAB/BAK a. Ya b. Tidak Total Merendam pakain dalam disatukan sesama teman a. Ya b. Tidak Total Kasus % Jumlah % 30 6 36 83.3 16.7 100 19 17 36 52.8 47.2 100 35 1 36 97.2 2.8 100 32 4 36 88.9 11.1 100 36 0 36 100 0 100 32 4 36 94.4 5.6 100 16 20 36 44.4 55.6 100 11 25 36 30.6 69.4 100 35 1 36 97.2 2.8 100 32 4 36 88.9 11.1 100 1 35 36 2.8 97.2 100 3 33 36 8.3 91.7 100 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa responden yang mengganti pakaian dalam sesudah mandi pada kelompok kasus sebanyak 19 orang (52.8%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 30 orang (83.3%). Untuk responden yang mencuci pakaian dalam pada kelompok kasus sebanyak 32 orang (88.9%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 35 orang (97.2%). Untuk responden yang membersihkan alat genitalia pada kelompok kasus sebanyak 32 orang (94.4%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 36 orang (100%). Untuk responden apakah menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari pada kelompok kasus tidak sebanyak 25 orang (69.4%) sedangkan pada kelompok control tidak sebanyak 20 orang (55.6%). Untuk responden yang membersihkan alat genital sesudah BAB/BAK pada kelompok kasus sebanyak 32 orang (88.9%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 35 orang (97.2%). Untuk responden yang merendam pakaian dalam disatukan sesama teman pada kelompok kasus tidak sebanyak 33 orang (91.7%) sedangkan pada kelompok control tidak sebanyak 35 orang (97.2%). Dilihat dari variabel kebersihan genetalia dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan genitalia yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.4. Kebersihan Pakaian Adapun gambaran kebersihan pakaian responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.5. berikut ini. Tabel 4.5 Distribusi Kebersihan Pakaian Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011 No Kebersihan Pakaian Kontrol 1. Mengganti pakaian 2x sehari Jumlah a. Ya b. Tidak Total Bertukar pakaian sesama teman a. Ya b. Tidak Total Mencuci pakaian menggunakan detergen a. Ya b. Tidak Total Menyetrika baju a. Ya b. Tidak Total Merendam pakaian disatukan sesama teman a. Ya b. Tidak Total Menjemur pakaian dibawah terik matahari a. Ya b. Tidak Total 28 8 36 77.8 22.2 100 21 15 36 58.3 41.7 100 14 22 36 38.9 61.1 100 28 8 36 77.8 22.2 100 35 1 36 97.2 2.8 100 33 3 36 91.7 8.3 100 35 1 36 97.2 2.8 100 28 8 36 77.8 22.2 100 3 33 36 8.3 91.7 100 27 9 36 75.0 25.0 100 32 4 36 88.9 11.1 100 8 28 36 22.2 77.8 100 2. 3. 4. 5. 6. Kasus % Jumlah % Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa responden yang mengganti pakaian 2 kali sehari pada kelompok kasus sebanyak 21 orang (58.3%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 28 orang (77.8%). Untuk responden yang bertukar pakaian sesama teman pada kelompok kasus sebanyak 28 orang (77.8%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 14 orang (38.9%). Untuk responden yang mencuci pakaian menggunakan detergen pada kelompok kasus sebanyak 33 orang (91.7%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 35 orang (97.2%). Untuk responden yang menyetrika baju pada kelompok kasus sebanyak 28 orang (77.8%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 35 orang (97.2%). Untuk responden apakah merendam pakaian disatukan sesama teman pada kelompok kasus sebanyak 27 orang (75.0%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 3 orang (8.3 %). Untuk responden apakah menjemur pakaian dibawah terikmatahri pada kelompok kasus tidak sebanyak 28 orang (77.8%) sedangkan pada kelompok control tidak sebanyak 4 orang (11.1%). Dilihat dari variabel kebersihan pakaian dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan pakaian yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.5. Kebersihan Handuk Adapun gambaran kebersihan handuk responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.6. dibawah ini. Tabel 4.6 Distribusi Kebersihan Handuk Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No Kebersihan Handuk 1. Menggunakan Handuk sendiri 2. 3. 4. 5. 6. a. Ya b. Tidak Total Menjemur setelah mandi a. Ya b. Tidak Total Mencuci disatukan teman a. Ya b. Tidak Total Menggunakan bergantian teman a. Ya b. Tidak Total Menjemur dibawah matahari a. Ya b. Tidak Total Menggunakan yang kering a. Ya b. Tidak Total Kontrol Jumlah Kasus % Jumlah % 30 6 36 83.3 16.7 100 14 22 36 38.9 61.1 100 30 6 36 83.3 16.7 100 16 20 36 55.6 44.4 100 5 31 36 13.9 86.1 100 12 24 36 33.3 66.7 100 9 27 36 25.0 75.0 100 29 7 36 80.6 19.4 100 24 12 36 66.7 33.3 100 19 17 36 52.8 47.2 100 25 11 36 69.4 30.6 100 20 16 36 55.6 44.4 100 handuk handuk sesama handuk sesama handuk terik handuk Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa responden yang menggunakan handuk sendiri pada kelompok kasus sebanyak 14 orang (38.9%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 30 orang (83.3%). Untuk responden yang menjemur handuk setelah mandi pada kelompok kasus sebanyak 16 orang (55.6%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 30 orang (83.3%). Untuk responden yang mencuci handuk disatukan sesama teman pada kelompok kasus tidak sebanyak 24 orang (66.7%) sedangkan pada kelompok control tidak sebanyak 31 orang (86.1%). Untuk responden yang menggunakan handuk bergantian sesama teman pada kelompok kasus sebanyak 29 orang (80.6%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 9 orang (25.0%). Untuk responden yang menjemur handuk dibawah terik matahari pada kelompok kasus sebanyak 19 orang (52.8%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 24 orang (66.7%). Untuk responden menggunakan handuk yang kering pada kelompok kasus sebanyak 20 orang (55.6%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 25 orang (69.4%). Dilihat dari variabel kebersihan handuk dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan handuk yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.6. Kebersihan Tempat Tidur dan Sprei Adapun gambaran kebersihan tempat tidur dan sprei responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.7. dibawah ini. Tabel 4.7 Distribusi Kebersihan Tempat tidur dan Sprei Responden pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kebersihan Tempat tidur dan sprei Sprei digunakan untuk tidur bersama sama a. Ya b.Tidak Total Tidur ditempat tidur sendiri a. Ya b.Tidak Total Teman pernah tidur ditempat sendiri a. Ya b.Tidak Total Menjemur kasur sekali seminggu a. Ya b.Tidak Total Mengganti sprei sekali seminggu a. Ya b.Tidak Total Mencuci sprei disatukan sama teman a. Ya b. Tidak Total Kontrol Jumlah Kasus % Jumlah % 18 18 36 50.0 50.0 100 22 14 36 61.1 38.9 100 30 6 36 83.3 16.7 100 25 11 36 69.4 30.6 100 21 15 36 58.3 41.7 100 32 4 36 88.9 11.1 100 28 8 36 77.8 22.2 100 8 28 36 22.2 78.8 100 33 3 36 91.7 8.3 100 6 30 36 16.7 83.3 100 8 28 36 22.2 77.8 100 26 10 36 72.2 27.8 100 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa responden yang sprei digunakan untuk tidur bersama-sama pada kelompok kasus sebanyak 22 orang (61.1%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 18 orang (50.0%). Untuk responden yang tidur ditempat tidur sendiri pada kelompok kasus sebanyak 25 orang (69.4%)sedangkan pada kelompok control sebanyak 30 orang (83.3%). Untuk responden apakah teman pernah tidur ditempat tidur sendiri pada kelompok kasus sebanyak 32 orang (88.9%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 21 orang (58.3%). Untuk responden yang menjemur kasur sekali seminggu pada kelompok kasus sebanyak 8 orang (22.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 28 orang (77.8%). Untuk responden yang mengganti sprei sekali seminggu pada kelompok kasus sebanyak 6 orang (16.7%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 33 orang (91.7%). Untuk responden yang mencuci sprei disatukan sama teman pada kelompok kasus sebanyak 26 orang (72.2%) sedangkan pada kelompok control sebanyak 8 orang (22.2%). Dilihat dari variabel kebersihan tempat tidur dan sprei dapat diketahui bahwa kelompok kontrol memiliki kebersihan tempat tidur dan sprei yang lebih baik dari pada kelompok kasus. Universitas Sumatera Utara Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Personal Hygiene Santri pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Personal Hygiene Kebersihan Pakaian 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Kulit 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Tangan Kuku 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Genitalia 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Handuk 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan tempat tidur dan sprei 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kontrol Jumlah % Kasus Jumlah Total % 24 12 0 36 66.7 33.3 0 100.0 14 19 3 36 38.9 52.8 8.3 100.0 38 31 3 72 35 1 0 36 97.2 2.8 0 100.0 22 13 1 36 61.1 36.1 2.8 100.0 57 14 1 72 17 16 3 36 47.2 44.4 8.3 100.0 7 21 8 36 19.4 58.3 22.2 100.0 24 37 11 72 23 13 0 36 63.9 36.1 0 100.0 8 22 6 36 22.2 61.1 16.7 100.0 38 28 6 72 9 24 3 36 25.0 66.7 8.3 100 3 23 10 36 8.3 63.9 27.8 100 12 47 13 72 29 7 0 36 80.6 19.4 0 100 3 24 9 36 8.3 66.7 12.5 100 31 31 9 72 Universitas Sumatera Utara Dari Tabel 4.8. diatas diketahui bahwa kebersihan pakaian pada kelompok kasus baik sebanyak 14 orang (38.9 %), sedangkan pada kelompok control kebersihan pakaian baik sebanyak 24 orang (66.7%). Untuk proporsi kebersihan Kulit pada kelompok Kasus yang baik sebanyak 22 orang (61.1%),sedangkan pada kelompok control Baik sebanyak 35 orang (97.2%). Untuk proporsi Kebersihan tangan dan kuku pada kelompok kasus baik sebanyak 7 orang (19.4%), sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 17orang (47.2%). Untuk proporsi kebersihan genitalia pada kelompok kasus baik sebanyak 8 orang (22.2%), sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 23 orang (63.9%) Untuk proporsi kebersihan handuk pada kelompok kasus baik sebanyak 3orang(8.3%), sedangkan pada kelompok kontrol baik sebanyak 9 orang (25.0%) Untuk proporsi kebersihan tempat tidur dan sprei pada kelompok kasus baik sebanyak 3 orang (8.3%), sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 29 orang (80.6%) Universitas Sumatera Utara 4.3. Analasis Bivariat. 4.3.1. Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies Adapun hasil analisis bivariat personal hygiene santri dengan kejadian scabies yang meliputi kebersihan pakaian, kulit, tangan dan kuku, genitalia, handuk serta tempat tidur dan sprei disajikan pada tabel 4.9. berikut ini. Tabel 4.9. Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Personal Hygiene Kebersihan Pakaian 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Kulit 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Tangan Kuku 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Genitalia 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan Handuk 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kebersihan tempat tidur dan sprei 1. Baik 2. Sedang 3. Buruk Total Kontrol Jumlah % Kasus Jumlah Total % P Value 24 12 0 36 66.7 33.3 0 100.0 14 19 3 36 38.9 52.8 8.3 100.0 38 31 3 72 35 1 0 36 97.2 2.8 0 100.0 22 13 1 36 61.1 36.1 2.8 100.0 57 14 1 72 17 16 3 36 47.2 44.4 8.3 100.0 7 21 8 36 19.4 58.3 22.2 100.0 24 37 11 72 23 13 0 36 63.9 36.1 0 100.0 8 22 6 36 22.2 61.1 16.7 100.0 38 28 6 72 9 24 3 36 25.0 66.7 8.3 100 3 23 10 36 8.3 63.9 27.8 100 12 47 13 72 29 7 0 36 80.6 19.4 0 100 3 24 9 36 8.3 66.7 12.5 100 31 31 9 72 0.025 0.000 0.029 0.000 0.034 0.000 Universitas Sumatera Utara Dari tabel 4.9 diatas dapat dikatahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan pakaian yang baik sebanyak 14 orang (66.7%) sedangkan kebersihan pakaian pada kelompok control baik sebanyak 24 orang (66.7%).Hasil uji statistic diperoleh p < 0,05 yaitu P= 0,025 Artinya ada hubungan yang signifikan antara kebersihan pakaian dengan kejadian scabies. Dengan kata lain kejadian skabies dipengaruhi oleh kebersihan pakaian yang buruk. Berdasarkan variabel kebersihan kulit diketahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan kulit yang baik sebanyak 22 orang (61,1%),sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 35 orang (97.2%). Hasil uji statistic diperoleh p< 0,05 yaitu p=0,000 artinya ada hubungan yang signifikan antara kebersihan kulit dengan kejadian scabies. Dengan kata lain kejadian sakbies dipengaruhi oleh kebersihan kulit. Berdasarkan variabel kebersihan tangan dan kuku diketahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan tangan dan kuku baik sebanyak 7 orang (19,4%), sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 17 orang (47.2%). Hasil uji statistic diperoleh p<0,05 yaitu p=0,029 artinya ada hubungan yang signifikan antara kebersihan tangan dan kuku dengan kejadian scabies.Dengan kata lain bahwa kejadian scabies dipengaruhi oleh kebersihan tangan dan kuku. Berdasarkan variabel kebersihan genitalia diketahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan genitalia baik sebanyak 8 orang (22.2%), sedangkan pada kelompok control baik sebanyak 23 orang (63.9%). Hasil uji statistic diperoleh p<0,05 yaitu p=0,000 artinya ada hubungan antara kebersihan genitalia dengan kejadian penyakit Universitas Sumatera Utara kulit scabies. Dengan kata lain bahwa kejadian scabies dipengaruhi oleh kebersihan genitalia. Berdasarkan variabel kebersihan handuk dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan handuk baik sebanyak 3 orang (8.3%), sedangkan pada kelompok control kebersihan handuk baik sebanyak 9 orang (25,0%). Hasil uji statistic diperoleh p<0,05 yaitu p=0,034 artinya ada hubungan yang signifikan antara kebersihan handuk dengan kejadian penyakit scabies. Dengan kata lain bahwa kejadian scabies dapat dipengaruhi oleh kebersihan handuk. Berdasarkan variabel kebersihan tempat tidur dan sprei dapat diketahui bahwa pada kelompok kasus kebersihan tempat tidur baik sebanyak 3 orang (8.3%), sedangkan tingkat kebersihan tempat tidur dan sprei pada kelompok control baik sebanyak 29 orang (80.6%). Hasil uji statistic diperoleh p<0,05 yaitu p=0.000 artinya ada hubungan yang signifikan antara kebersihan tempat tidur dan sprei dengan kejadian scabies. Dengan kata lain bahwa kejadian scabies dapat dipengaruhi oleh kebersihan tempat tidur dan sprei. Universitas Sumatera Utara 4.4. Gambaran Sanitasi Asrama Santri pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 4.4.1 Kelembaban Ruang tidur Kelembaban Ruang tidur yang memenuhi syarat kesehatan menurut Kepmenkes No.829 Tahun 1999 adalah berkisar antara 40%-70% dan yang tidak memenuhi syarat kesehatan jikan kelembaban < 40% atau > 70%. Hasil pengukuran kelembaban di ruang tidur santri dengan menggunakan alat hygrometer disajikan pada tabel 4.10 berikut ini. Tabel 4.10. Distribusi Bangunan Fisik Ruangan tidur Berdasarkan Kelembaban Pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. Kelembaban Memenuhi syarat Tidak Memenuhi syarat Total Jumlah 5 0 5 Persentase (%) 100 0 100 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah ruangan tidur menurut kelembaban pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 terbanyak memenuhi syarat yaitu 5 kamar atau sekitar 100 % dengan kelembaban 40%-70%. 4.4.2 Ventilasi ruang tidur Ventilasi runag tidur yang memenuhi syarat kesehatan menurut Kepmenkes RI No.829 Tahun 1999 adalah bila luas ventilasi tersebut minimal 10 % dari luas lantai ruang tidur dan yang tidak memenuhi syarat kesehatan apabila < 10% dari luas lantai ruang tidur. Hasil pengukuran ventilasi di ruang tidur dengan menggunakan meteran disajikan pada tabel 4.11. berikut ini. Universitas Sumatera Utara Tabel 4.11. Distribusi Bangunan Fisik Asrama Berdasarkan Ventilasi Ruang Tidur Pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. Ventilasi Ruang tidur Memenuhi syarat Tidak Memenuhi syarat Total Jumlah 5 0 5 Persentase (%) 100 0 100 Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah asrama berdasarkan berdasarkan Ventilasi ruang tidur pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 yang memenuhi syarat yaitu 5 ruang tidur atau sekitar 100%. 4.4.3. Pencahayaan Ruang Tidur Pencahayaan pada ruang tidur yang memenuhi syarat yaitu cukup, sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal dan yang tidak memenuhi syarat yaitu tidak cukup, sehingga tidak dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal. Hasil pengamatan terhadap pencahayaan pada ruang tidur santri disajikan dalam tabel 4.12 berikut ini. Tabel 4.12. Distribusi Bangunan Fisik Asrama Berdasarkan Pencahayaan Ruang Tidur Pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. Pencahayaan Cukup Tidak cukup Total Jumlah 5 0 5 Persentase (%) 100 0 100 Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah ruang tidur berdasarkan pencahayaan pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 yaitu sebanyak 5 ruang tidur atau sekitar 100 % pencahayaannya cukup sehingga dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal. Universitas Sumatera Utara 4.4.4. Kepadatan Hunian Ruang tidur Ruangan tidur dikatakan padat jika < 4 meter persegi / penghuni sedangkan tidak padat bila ≥ 4 meter persegi/penghuni. Hasil pengukuran terhadap kepadatan hunian ruang tidur disajikan pada tabel berikut ini. Tabel 4.13. Distribusi Bangunan Fisik Asrama Berdasarkan Kepadatan Hunian Ruang Tidur Pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011. Kepadatan Hunian Ruang Tidur Padat Tidak Padat Total Jumlah Persentase (%) 4 1 5 80.0 20.0 100 Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa kepadatan hunian ruang tidur pada Pesantern Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 padat yaitu 4 kamar atau sekitar 80 % dan tidak padat yaitu 1 kamar atau sekitar 20%. 4.5 Gambaran Sanitasi Dasar Pesantren Penilaian sanitasi dasar lingkungan pesantren dengan mempergunakan Kepmenkes RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan, yang terdiri dari 2 (dua) kriteria yaitu “sehat” apabila skor≥ 334 dan “tidak sehat” apabila skor < 334 Universitas Sumatera Utara Hasil observasi sanitasi dasar lingkungan pesantren dapat disajikan pada tabel 4.14 berikut ini. Tabel 4.14. Hasil Observasi Sanitasi Dasar pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011 Bobot No Komponen yang dinilai Nilai 1. Sarana Air Bersih 25 Ada, milik sendiri, berbau, berwarna, dan 2 50 berasa 2. Jamban (Sarana pembuangan kotoran Ada, Leher angsa,septic tank 4 100 Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) 3. Ada,dialirkan keselokan terbuka 2 50 4. Sarana Pembuangan sampah Ada, Kedap air dan tidak bertutup 2 50 Berdasarkan tabel 4.14 diatas dapat diketahui bahwa sarana air bersih pada pesantren darel hikmah kota pekanbaru yaitu ada, milik sendiri, berbau, berwarna dan berasa dengan nilai skor 50.Untuk jamban pada pesantren darel hikmah kota pekanbaru yaitu ada,leher angsa, dan memiliki septic tank dengan skor 100. Untuk Sarana pembuangan air limbah (SPAL) berdasarkan observasi yaitu ada, dan dialirkan keselokan terbuka dengan skor 50, sedangkan untuk sarana pembuangan sampah berdasarkan observasi yaitu ada, kedap air dan tidak bertutup dengan skor 50.Jadi total secara keseluruhan yaitu 275 ini artinya sarana sanitasi dasar pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tidak sehat. Universitas Sumatera Utara BAB V PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Karakteristik Responden Hasil observasi dan analisis data didapat bahwa responden yang memiliki jenis kelamin laki-laki paling banyak menderita scabies yaitu sebesar 77.8% dan perempuan hanya sekitar 22.2%. Menurut Muin (2009) bahwa orang dengan jenis kelamin perempuan akan lebih kecil resiko terpapar penyakit scabies karena perempuan lebuh cenderung merawat diri dan menjaga penampilan sedangkan lakilaki cenderung tidak memperhatikan penampilan diri, hal itu tentunya akan berpengaruh terhadap perawatan kebersihan diri, dan kebersihan diri yang buruk akan sangat berpengaruh terhadap kejadian scabies. Berada pada kelompok umur yang paling banyak menderita scabies yaitu berumur 12 sampai 13 tahun sebanyak 55.6%. Beberapa penyakit menular tertentu menunjukkan bahwa umur muda mempunyai resiko yang tinggi, bukan saja karena tingkat kerentanannya melainkan juga pengalaman terhadap penyakit tersebut biasanya sudah dialami oleh mereka yang berumur tinggi (Noor, 2008). Menurut Muin (2009) bahwa pengalaman keterpaparan sangat berperan karena mereka yang berumur lebih tinggi dan mempunyai pengalaman terhadap penyakit scabies tentu mereka akan lebih tahu cara pencegahannya serta penularannya.Untuk tingkat pendidikan yang paling banyak menderita scabies adalah kelas 2 MTs yaitu sebesar 55.6%. Menurut Notoatmodjo (2003), tingkat pendidikan seseorang dapat meningkatkan pengetahuan itu termasuk pengetahuan tentang Universitas Sumatera Utara kesehatan. Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mereka tahu bagaimana cara pencegahan dan penularan penyakit scabies. 5.2 Hubungan kebersihan Kulit dengan kejadian scabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 22 orang ( 61.1%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan kulit secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Scabies merupakan penyakit kulit yang desebabkan oleh tungau sarcoptes scabiei dan sering muncul karena kurangnya kebersihan diri salah satunya kebersihan kulit.Penyakit ini juga bisa terjadi karena pemakaian sabun sacara bergantian sesama teman.Pada pertanyaan apakah pernah memakai sabun bergantian sesama teman didapat bahwa sebanyak 72.2% penderita scabies pernah memakai sabun secara bergantian.Hali ini sejalan dengan penelitian Debi (2004) bahwa prilaku yang sering mendukung terjadinya scabies adalah saling bergantian memakai sabun sesama teman. Menurut Tarwoto dan Martonah (2003), Kebersihan diri termasuk kebersihan kulit sangat penting dalam usaha pemeliharaan kersehatan seperti mandi 2 kali sehari menggunakan sabun agar terhindar dari penyakit menular. Bagi Kenyamanan tubuh kita sendiri, mandi 2 kali sehari seharusnya merupakan suatu keharusan. Disamping tujuan membersihkan mandi akan sangat menyegarkan dan melepaskan dari rasa gelisah, tidak enak dan bau badan yang kurang sedap. Selain kenyamanan fisik juga merupakan kebutuhan integritas kulit, Universitas Sumatera Utara maka perawatan lahiriah yang sesuai dengan apa yang dikehendaki sangat penting artinya dan juga tubuh akan terhindar dari penyakit infeksi (Wolf, 1984). 5.3 Hubungan Kebersihan Tangan dan Kuku dengan kejadian scabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 7 orang ( 19.4%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan tangan dan kuku secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,029 (p < 0,05). Kebersihan tangan dan kuku sangatlah penting karena apabila penderita scabies memiliki kebersihan tangan yang buruk dan kuku yang panjang dapat menyebabkan perkembangan kuman penyakit scabies.Pada pertanyaan apakah memotong kuku sekali seminggu didapat bahwa sebanyak 75.0% penderita scabies tidak memotong sekali seminggu. Hal ini sejalan dengan penelitian Desi (2005) bahwa penyakit scabies bisa tejadi akibat kebersihan tangan dan kuku yang kurang baik. Menurut Wolf (2000), Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah melakukan kegiatan apapun seperti sebelum makan, sesudah makan, sesudah buang air besar ataupun buang air kecil ini dapat mencegah terjadinya perkembangan kuman penyakit dan mengurangi kesempatan infeksi. Menurut Stevens (2000), adapun tujuan perawatan kuku yaitu membersihkan kuku, mengembalikan batas-batas kulit ditepi kuku ke keadaan normal serta mencegah terjadinya perkembangan kuman penyakit maka dari itu perlu perawatan Universitas Sumatera Utara kuku dengan cara menggunting kuku sekali seminggu dan menyikat kuku menggunakan sabun. 5.4 Hubungan Kebersihan Genitalia dengan kejadian scabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 8 orang ( 22.2%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan genitalia secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Pada pertanyaan apakah menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari didapat bahwa sebanyak 69.4% penderita skabies tidak menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari. Menurut Lita (2005), apabila pakaian dalam tidak dijemur dibawah terik matahari ini akan menyebabkan kuman scabies cepat berkembang biak karena lembab.Dengan menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari ini akan dapat mengurangi perkembangbiakannya. Sepatutnya dalam sehari minimal mengganti pakaian dalam sebanyak dua kali sehari untuk menjaga kebersihan, jika tidak jamur,bakteri bahkan parasit bisa menempel dialat kelamin.Hindari untuk saling bertukar pakaian dalam dengan orang lain karena mudah menularkan penyakit infeksi (Handri, 2010) Universitas Sumatera Utara 5.5.Hubungan Kebersihan pakaian dengan kejadian scabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 14 orang ( 38.9%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan pakaian secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,025 (p < 0,05). Pada pertanyaan apakah pernah bertukar pakaian sesama teman didapat bahwa responden yang menderita scabies sebanyak 77.8 % pernah bertukar pakaian sesama teman. Hasil penelitian Ma’rufi (2005), bahwa prilaku yang sering mendukung terjadinya scabies adalah sering bergantian pakaian sesama teman. Menurut Mansyur (2007) penularan scabies secara tidak langsung dapat disebabkan melalui perlengkapan tidur,pakaian dan handuk. Menurut Lita (2005), bila pakaian tidak pernah di cuci ataupun dijemur dalam jangka waktu yang lama Maka kemungkinan jumlah kuman scabies yang ada di pakaian itu banyak sekali dan sangat besar resiko untuk menularkan pada orang lain. Adapun penularan penyakit scabies dapat secara kontak tidak langsung yaitu melalaui benda – benda terkontaminasi karena telah berhubungan dengan penderita seperti pakaian, handuk, sprei, bantal dan sebagainya. Universitas Sumatera Utara 5.6 Hubungan Kebersihan Handuk dengan kejadian Skabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 3 orang ( 8.3%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan pakaian secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,034 (p < 0,05). Secara kontak tidak langsung penyakit scabies disebabkan karena sering bertukaran handuk sesama teman dan tidak dijemur dibawah terik matahari.Hal ini sejalan dengan penelitian Sidit (2004) bahwa sebagian besar santri sering bertukaran handuk sesama teman. Pada pertanyaaan apakah menggunakan handuk bergantian sesama teman didapat bahwa sebanyak 80.6% penderita skabies menggunakan handuk secara bergantian. Menurut Lita (2005), sebaiknya tidak boleh memakai handuk secara bersama sama karena mudah menularkan kuman scabies dari penderita ke orang lain. Apalagi bila handuk tidak pernah dijemur dibawah terik matahari ataupun tidak dicuci dalam jangka waktu yang lama maka kemungkinan jumlah kuman scabies yang ada pada handuk banyak sekali dan sangat beresiko untuk menularkan pada orang lain. Universitas Sumatera Utara 5.7 Hubungan Kebersihan Tempat Tidur dan Sprei dengan Kejadian Skabies Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kasus yang termasuk dalam kategori baik yaitu 3 orang ( 8.3%) dengan menggunakan uji chi square diketahui variabel Kebersihan pakaian secara signifikan mempunyai hubungan dengan kejadian scabies di Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru dengan nilai p = 0,000(p < 0,05). Pada pertanyaaan apakah menjemur kasur sekali seminggu didapat bahwa sebanyak 78.8% penderita scabies tidak menjemur kasur sekali seminggu dan pada pertanyaan apakah mengganti sprei sekali seminggu didapat bahwa sebanyak 83.3 % penderita skabies tidak mengganti sprei sekali seminggu. Menurut Lita (2005),kuman scabies paling senang hidup dan berkembang biak di perlengkapan tidur. Dengan menjemur kasur sekali seminggu dan mengganti sprei sekali seminggu ini bisa mengurangi perkembangbiakan kuman scabies.Menurut Handayani (2007) penularan melalui kontak tidak langsung seperti melalui perlengkapan tidur memegang peranan penting dalam penyakit scabies. Kasur merupakan salah satu factor yang menentukan kualitas tidur. Agar kasur tetap bersih dan terhindar dari kuman penyakit maka perlu menjemur kasur 1x seminggu karena tanpa disadari kasur juga bisa menjadi lembab hal ini dikarenakan seringnya berbaring dan suhu kamar yang berubah rubah (Handri,2010) Universitas Sumatera Utara 5.8 Gambaran Sanitasi Asrama Pesantren 5.8.1. Kelembaban Berdasarkan hasil pengukuran kelembaban pada asrama santri didapatkan hasil bahwa 100% kelembaban asrama santri sudah memenuhi syarat kesehatan dimana kelembaban ruangan yang di perbolehkan menurut Kepmenkes RI No 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah 40%-70%. Tingkat kelembaban yang tidak memenuhi syarat ditambah dengan prilaku tidak sehat, misalnya dengan penempatan yang tidak tepat pada berbagai barang dan baju, handuk, sarung yang tidak tertata rapi, serta kepadatan hunian ruangan tidur berperan dalam penularan (memudahkan tungau penyakit berbasis lingkungan seperti scabies Sarcoptes Scabiei berpindah dari reservoir ke barang sekitarnya hingga mencapai pejamu baru (Soedjadi, 2003). Kelembaban sangat berperan penting dalam pertumbuhan kuman penyakit.Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai oleh kuman untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan yang lembab dapat mendukung terjadinya penularan penyakit (Notoatmodjo, 2007). 5.8.2. Ventilasi Berdasarkan hasil observasi didapatkan hasil bahwa ventilasi pada asrama santri 100 % sudah memenuhi syarat kesehatan. Menurut Kepmenkes RI No 829/Menkes/SK/VII/1999 luas ventilasi adalah 10% dari luas lantai. Ventilasi adalah sarana untuk memelihara kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan bagi manusia. Suatu ruangan yang terlalu padat penghuninya dapat memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan pada Universitas Sumatera Utara penghuni tersebut, untuk itu pengaturan sirkulasi udara sangat diperlukan (Chandra, 2007). Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara didalam ruangan tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen didalam rumah yang berarti kadar karbon dioksida yang bersifat racun bagi penghuni semakin meningkat. Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan akan naik karena proses penguapan cairan dari kulit dan peneyarapan. Kelembaban ini merupakan media yang baiak untuk bakteri pathogen. Fungsi kedua dari ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri pathogen, karena terjadi aliran udara yang terus menerus (Notoatmodjo, 2003). 5.8.3. Pencahayaan Berdasarkan hasil observasi pencahayaan pada kamar tidur santri didapatkan hasil bahwa pencahayaannya 100 % sudah cukup, sehingga dapat digunakan untuk membaca dengan normal. Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga akan menjadi berkembangbiaknya bakteri pathogen. Sebaliknya terlalu banyak cahaya yang masuk kedalam ruangan akan menyebabkan silau, sehingga dapat merusak mata. Jendela dapat berfungsi sebagai ventilasi dan jalan masuknya cahaya kedalam ruangan (Notoadmodjo, 2003). Universitas Sumatera Utara Pada malam hari rumah yang sehat harus memperoleh cahaya yang cukup. Cahaya pada malam hari dapat menggunakan lampu minyak, api, listrik, dan sebagainya. Namun idealnya rumah sehat menggunakan listrik sebagai sumber pencahayaan pada malam hari.Pencahayaan dalam rumah minimal 60 lux sampai 100 lux (Prabu, 2009). 5.8.4. Kepadatan Penghuni Berdasarkan hasil observasi pada 5 ruang tidur asrama santri didapat hasil bahwa 80% termasuk dalam kategori padat ini artinya tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No/829/Menkes/SK/VII/1999 Tentang persyaratan kesehatan perumahan yakni luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak dianjurkan lebih dari dua orang dalam satu ruangan tidur, kecuali anak dibawah usia 5 tahun. Kepadatan Hunian merupakan syarat mutlak untuk kesehatan rumah pemondokan termasuk ponpes, karena dengan kepadatan hunian yang tinggi terutama pada kamar tidur memudahkan penularan berbagai penyakit secara kontak langsung maupun tidak langsung dari satu santri kepada santri yang lainnya (Soejadi, 2003). Kepadatan hunian sangat berpengaruh terhadap jumlah bakteri penyebab penyakit menular.Selain itu kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara didalam rumah. Dimana semakin banyak jumlah penghuni maka akan semakin cepat udara dalam rumah mengalami pencemaran oleh karena CO2 dalam rumah akan cepat meningkat dan akan menurunkan kadar O2 yang diudara (Sukini, 1989). Universitas Sumatera Utara Seperti yang dikemukan W.H.O perumahan yang terlalu sempit mengakibatkan pula tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat. Karena rumah terlalu sempit maka perpindahan (Penularan) bibit penyakit dari manusia ke manusia yang lainnya akan lebih mudah terjadi misalnya : TBC, penyakit – penyakit kulit (Entjang, 2000). 5.9. Gambaran Sanitasi Dasar Pesantren 5.9.1. Sarana Air Bersih Pada saat di observasi sarana air bersih pada pesantren darel hikmah kota pekanbaru ada,milik sendiri, berbau, berwarna dan berasa sumber air bersih yang digunakan adalah sumur Gali. Santri mengeluhkan air pada asaramanya karena airnya berbau,berwarna dan berasa. Menurut Santoso (2010) Air yang berkualitas harus memenuhi persyaratan fisik sebagai berikut : a. Tidak berwarna Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti mengandung bahan-bahan koloid dan bahan-bahan yang terlarut dalam air yang berbahaya bagi kesehatan. b. Tidak berasa Secara fisik air bisa dirasakan oleh lidah, air yang terasa asam, pahit atau asin Menunjukkan air tersebut tidak baik. Air yang biasanya berbau,dan berasa terjadi akibat adanya dekomposisi bahan organic didalam air. Rasa asin disebabkan adanya garam – garam tertentu yang larut dalam air. Sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organic maupun asam anorganik. Universitas Sumatera Utara c. Tidak berbau Air yang memenuhi standart kualitas harus bebas dari bau, air yang berbau Biasanya disebabkan oleh bahan –bahan organic sedang mengalami dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air. Air merupakan hal yang paling esensial bagi kesehatan, tidak hanya dalam upaya produksi tetapi juga untuk konsumsi domestik dan pemanfaatannya (minum, masak, mandi, dll). Promosi yang meningkat dari penyakit – penyakit infeksi yang bisa mematikan maupun merugikan kesehatan ditularkan melalui air yang sudah tercemar.Sebagian penyakit yang berkaitan dengan air yang bersifat menular, penyakit-penyakit tersebut umumnya diklasifikasikan menurut berbagai aspek lingkungan yang dapat di intervensi oleh manusia (WHO, 2001) .Dan menurut slamet (2002) air mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan. Air merupakan suatu sarana untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit. Melalui penyediaan air bersih baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya disuatu daerah maka penyebaran penyakit menular diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin. Kurangnya air bersih khususnya untuk menjaga kebersihan diri dapat menimbulkan berbagai penyakit kulit karena jamur, bakteri, termasuk juga penyakit scabies (Notobroto, 2005). Universitas Sumatera Utara 5.9.2. Jamban (Sarana Pembuangan Kotoran) Berdasarkan observasi pada pesantren darel hikmah kota pekanbaru terdapat sarana pembuangan kotoran, seluruhnya menggunakan jamban leher angsa, mempunyai konstruksi yang baik tapi kondisi jamban kurang bersih, dan tidak tersedia sabun di jamban untuk digunakan santri sehari hari. Hal ini dapat beresiko untuk kontaminasi tinja dari tangan manusia yang tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar. Adapun syarat jamban yang memenuhi syarat menurut Depkes (1997) yaitu: 1. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter) 2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus. 3. Dilengkapi dinding dan atap pelindung 4. Penerangan cukup 5. Tersedia air dan alat pembersih 6. Aman digunakan dan mudah dibersihkan. Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan terjadinya berbagai penyakit diantaranya tipus, kolera, disentri, poliomyelitis, ascariasis, dan sebagainya. Kotoran manusia merupakan buangan padat yang selain menimbulkan bau, mengotori lingkungan, juga merupakan media penularan penyakit pada masyarakat. Oleh sebab itu perlu sekali menjaga kebersihan jamban dan kamar mandi, sehinggan tidak terjadi penularan penyakit yang diakibatkan oleh tinja (Azwar, 1995). Universitas Sumatera Utara 5.9.3. Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) Berdasarkan hasil observasi pada pesantren terdapat pembuangan saluran air limbah tetapi dialirkan keselokan terbuka sehingga limbah cair tidak mengalir dengan lancar, hal ini diakibatkan drainase terbuka dan tidak di tutup dengan kisi-kisi yang terbuat dari logam sehingga mengakibatkan banyak sampah yang masuk ke dalam saluran drainase dan mengakibatkan saluran air limbah tidak lancar. Selain itu saluran air limbah ini juga menimbulkan bau dan ketidaknyamanan bagi santri maupun pengunjung yang datang. Ketidakpedulian pengelola pesantren maupun santri terhadap kondisi ini menjadi penyebab utama buruknya kondisi pesantren. melalui penampungan dan pembuangan yang memenuhu persyaratan teknis kesehatan guna melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Lingkungan yang tidak sehat akibat tercemar air buangan dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat. Air buangan dapat menjadi tempat berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, larva nyamuk ataupun serangga lainnya yang dapat menjadi media transmisi penyakit, terutama penyakit-penyakit yang penularannya melalui air yang tercemar seperti kolera, tipus abdominalis, disentri dan sebagainya (Kusnoputranto, 2000). Universitas Sumatera Utara 5.9.4. Sarana Pembuangan Sampah Berdasarkan hasil observasi didapat bahwa pada pesantren terdapat sarana pembuangan sampah, kedap air tetapi tidak bertutup.Kondisi tempat sampah yang tidak bertutup ini dapat menimbulkan bau yang tidak enak dari segi estetika. Secara umum pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan antara lain berkembang biaknya serangga dan tikus, dapat menjadi sumber pengotoran tanah, pencemaran air dalam tanah, dan pencemaran udara, serta dapat menjadi tempat berkembangbiaknya kuman penyakit yang membahayakan kesehatan. Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit, serta sampah tersebut tidak menjadi media perantara menyebarluasnya suatu penyakit. Syarat lain yang harus dipenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara, air atau tanah, tidak menimbulka bau (segi estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya (Azwar, 1996). Universitas Sumatera Utara BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan kulit santri dengan kejadian penyalit kulit infeksi scabies dengan (p = 0,000) 2. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan tangan dan kuku santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dengan( p= 0,029) 3. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan genitalia santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dengan (p= 0,000) 4. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan pakaian santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dengan (p=0,025) 5. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan Handuk santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dengan (p=0,034) 6. Ada hubungan yang bermakna antara kebersihan tempat tidur dan sprei santri dengan kejadian penyakit kulit infeksi scabies dengan (p=0,000). 7. Sebagian besar keadaan lingkungan fisik asrama santri pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 memiliki kelembaban yang memenuhi syarat 100%, ventilasi memenuhi syarat 100%, Pencahayaan memenuhi syarat 100%, kepadatan hunian dalam ruang tidur padat sebesar 4 kamar (80.0%), dan yang tidak padat 1 kamar (20.0%). Universitas Sumatera Utara 8. Sanitasi dasar pada Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru tahun 2011 yang meliputi sarana air bersih, jamban, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan sampah termasuk kategori tidak sehat. 6.2 Saran 1. Bagi pondok pesantren diharapkan dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang kejadian scabies melalui penyuluhan dan pelatihan kepada tenaga kesehatan di pondok Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru 2. Bagi Santri perlu meningkatkan kebersihan diri dengan memotong kuku sekali seminggu, mandi 2x sehari, tidak bergantian memakai handuk sesama teman, menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari dan menjemur kasur minimal sekali seminggu dan menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya membersihkan SPAL agar terhindar dari penyakit skabies. 3. Bagi Pengelola pesantren agar dapat menyediakan fasilitas yang cukup seperti tempat penyimpanan pakaian serta tempat menjemur pakaian 4. Bagi pengembangan ilmu kesehatan lingkungan, yaitu memberikan kontribusi referensi untuk pengembangan pengetahuan dan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penyakit scabies dan sanitasi lingkungan Pesantren. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Azwar, Azrul, 1995. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber, Jakarta. Badri, (2008). Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Bandung. http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk gdl-greymohbadri-2623&node=146&start=141 yang diakses bulan Mei 2011 2008- Benneth, F.J., (1997). Seputar Kedokteran dan Linux.Jakarta http://medlinux.blogspot.com/2009/02/skabies.html yang diakses bulan April 2011 BrownT.Y. et al, (1999).Seputar Kedokteran dan Linux.Jakarta http://medlinux.blogspot.com/2009/02/skabies.html yang diakses bulan April 2011 Chandra, Budiman, 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC, Jakarta Dariansyah, F, 2006. Tinjauan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit scabies di Pesantren Oemar Diyan Kecamatan Indarapuri Kabupaten Aceh Besar. Skripsi, FKM, UNAIR. Deby, K (2004). Hubungan antara praktik kebersihan pribadi dan kontak perseorangan dengan kejadian scabies.Skripsi FKM UNDIP, Semarang. Depkes, (1997). Petunjuk Teknis Penyuluhan Program Penyehatan Lingkungan Bagi Petugas Puskesmas.Depkes RI, Jakarta. Depkes,( 1999). Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999, Persyaratan Kesehatan Perumahan, Depkes RI.Jakarta. Tentang Depkes, (2007). Cegah dan Hilangkan Penyakit ‘Khas’ Pesantren.Jakarta. website http://suhelmi.wordpress.com/2007/10/23/cegah-dan-hilangkan- penyakitkhas-pesantren/ yang diakses bulan Maret 2011 Depkes, 2004. Panduan Konseling Bagi Petugas Klinik Sanitasi di Puskesmas. Depkes RI, Jakarta. Desi, (2005).Hubungan antara praktik kebersihan diri dengan kejadian scabies. Skripsi FKM UNDIP, Semarang. Dirjen P2M & PL, 1998. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Kecacingan, Depkes RI, Jakarta. Universitas Sumatera Utara Djuanda, A. dkk. (2000). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. FK UI,Jakarta. Emier,(2007). Scabies. Diakses bulan April websitehttp://emier86.blogspot.com/2007/10/scabies.html 2011. Entjang Indan, 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Handayani. 2007. Hubungan Antara Praktik Kebersihan Diri dengan Kejadian Skabies di Pondok Pesantren Nihayatul Amal Waled Kabupaten Cirebon. Diakses: Okteber 2011. http://fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4& Handoko, R. (2001). Seputar Kedokteran dan Linux. Jakarta website.http://medlinux.blogspot.com/2009/02/skabies.html diakses pada bulan Mei 2011 Handri, 2010. Info kesehatan Penyakit Kulit. Jakarta Harahap, M, (2000). Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipocrates. Kusnoputranto, H, 1986. Kesehatan Lingkungan. Departemen P & K UI, Jakarta. Kusnoputranto, H, 2000. Kesehatan Lingkungan.FKM UI, Jakarta Lita Sri, (2005). Perilaku Santri Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Skabies di Pondok Pesantren Ulumu Qur’an Stabat, volume 9, nomor 3,USU press, Medan. Ma’Rufi, 2005. Faktor Sanitasi Lingkungan yang Berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Skabies. Jurnal Kesehatan Lingkungan.Vol 2 No 1, Surabaya. Mansyur, 2007. Pendekatan Keluarga pada penatalaksanaan Skabies. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol 57 No 2, Jakarta. Mansur, A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga Jilid kedua. Media Aesculapius FKUI, Jakarta. Meyer, J. et al, (2000). Seputar Kedokteran http://medlinux.blogspot.com/2009/02/skabies.html dan Linux. Muin, 2009. Hubungan Umur, Pendidikan, Jenis Kelamin dan Kepadatan Hunian Ruang tidur Terhadap Kejadian Skabies. Skripsi FKM Universitas Muhammadiyah, Surakarta. Universitas Sumatera Utara Noor, Nasry (2008). Epidemiologi Penyakit Menular. PT Rineka Cipta, Jakarta. Notoatmodjo S. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatana. cetakan pertama, Jakarta: Rineka Cipta. ……………. , 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta, Jakarta …………….., 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineke Cipta, Jakarta. Notobroto, 2005. Faktor Sanitasi Lingkungan yang berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Skabies.FKM UNAIR, Surabaya. Perry, P. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC Prabu, Putra, 2009. Rumah sehat. http://putraprabu.wordpress.com. Sadana, (2007). Untuk Pengobatan Scabies. Jakarta. Dibuka pada website http://yosefw.wordpress.com/2007/12/30/krim-permethrin-5-untuk pengobatan-scabies/ Safitri, (2008). Menjaga kebersihan genital. Jakarta. http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelTeens.php?artikelID=228 Santoso, U.(2010). Kualitas dan Kuantitas Air Bersih Untuk Pemenuhan Kebutuhan Manusia.Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Sidit,Supriyadi 2004. Perbedaan Sanitasi Lingkungan dan Hygiene Perorangan Terhadap Kejadian Skabies.Skripsi FKM UNAIR,Surabaya. Slamet, JS, 1996. Kesehatan Lingkungan.Gajahmada University Press, Yogyakarta Slamet, Juli Soemirat, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gajahmada University Press, Yogyakarta Soejadi, 2003. Upaya Sanitasi Lingkungan di Pondok Pesantren Ali Maksum Almunawir dan Pandanaran Dalam Penaggulangan Penyakit Skabies. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Ponpes, Jawa Timur. Stevens, P.J.M, 2000. Ilmu Keperawatan Jilid 5 Edisi 2.EGC,Jakarta Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Administrasi Edisi Revisi, Cetakan ke 15, CV Alfabeta, Bandung. Sukini, Elisabeth, 1989. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Depkes, Jakarta. Universitas Sumatera Utara Tarwoto dan Martonah, 2003. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Edisi pertama. Salemba Medika. Webhealthcenter. (2006). Personal Hygiene. Dibuka pada website http://www. webhealthcenter.com, Jakarta WHO. 2001. Planet Kita Kesehatan Kita. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Wolf, LV dkk, 2000. Dasar-Dasar Ilmu Keperawatan. Penerbit Gunung Agung, Jakarta. Yosefw, (2007). Krim Permethin untuk pengobatan scabies, Dibuka pada website http://yosefw.wordpress.com/2007/12/30/krim-permethrin-5untuk pengobatan-scabies/ Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT KULIT INFEKSI SKABIES DAN TINJAUAN SANITASI LINGKUNGAN PESANTREN DAREL HIKMAH KOTA PEKANBARU TAHUN 2011 IDENTITAS RESPONDEN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Nomor Responden Nama Jenis kelamin Umur Nama Pesantren Alamat Kelas : : : : : : : Personal hygiene Kebersihan Pakaian 1. Apakah anda mengganti pakaian 2x sehari? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda pernah bertukar pakaian sesama teman? a. Ya b. Tidak 3. Apakah anda mencuci pakaian anda menggunakan detergen? a. Ya b. Tidak 4. Apakah anda menyetrika baju anda? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda merendam pakaian disatukan dengan pakaian teman yang lain? a. Ya b. Tidak 6. Apakah anda menjemur pakaian dibawah terik matahari? Universitas Sumatera Utara a. Ya b. Tidak Kebersihan Kulit 1. Apakah anda mandi 2 x sehari? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda mandi menggunakan sabun? a. Ya b. Tidak 3. Apakah anda menggosok badan saat mandi? a. Ya b. Tidak 4. Apakah anda mandi menggunakan sabun sendiri? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda mandi setelah melakukan kegiatan seperti olah raga? a. Ya b. Tidak 6. Apakah teman anda pernah memakai sabun anda? a. Ya b. Tidak Kebersihan Tangan dan Kuku 1. Apakah anda mencuci tangan setelah membersihkan tempat tidur anda? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda mencuci tangan setelah membersihkan kamar mandi anda? a. Ya b. Tidak 3. Apakah anda memotong kuku sekali seminggu? a. Ya b. Tidak 4. Apakah anda mencuci tangan pakai sabun menggunakan sabun sesudah BAB/BAK? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda mencuci tangan setelah menggaruk badan anda? Universitas Sumatera Utara a. Ya b. Tidak 6. Apakah anda menyikat kuku menggunakan sabun saat mandi? a. Ya b. Tidak Kebersihan Genitalia 1. Apakah anda mengganti pakaian dalam anda sesudah mandi? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda mencuci pakaian dalam anda menggunakan detergen? a. Ya b. Tidak 3. Apakan anda kalau mandi membersihkan alat genital? a. Ya b. Tidak 4. Apakah anda menjemur pakaian dalam anda dibawak terik matahari? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda membersihkan alat genital setiap sesudah BAB/BAK? a. Ya b. Tidak 6. Apakah anda merendam pakaian dalam dijadikan satu sama teman anda? a. Ya b. Tidak Kebersihan Handuk 1. Apakah anda mandi menggunakan handuk sendiri? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda menjemur handuk setelah di gunakan untuk mandi? a. Ya b. Tidak 3. Apakah anda mencuci handuk bersamaan atau dijadikan satu dengan teman anda? a. Ya b. Tidak Universitas Sumatera Utara 4. Apakah anda menggunakan handuk bergantian dengan teman anda? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda menjemur handuk dibawah terik sinar matahari? a. Ya b. Tidak 6. Apakah anda menggunakan handuk dalam keadaan kering tiap hari? a. Ya b. Tidak Kebersihan Tempat tidur dan Sprei 1. Apakah sprei yang anda gunakan untuk tidur digunakan untuk bersama-sama? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda tidur ditempat tidur anda sendiri? a. Ya b. Tidak 3. Apakah teman anda pernah tidur ditempat tidur anda? a. Ya b. Tidak 4. Apakah anda menjemur kasur tempat tidur anda sekali seminggu? a. Ya b. Tidak 5. Apakah anda mengganti sprei tempat tidur anda sekali seminggu? a. Ya b. Tidak 6. Apakah anda mencuci sprei tempat tidur anda dijadikan satu dengan teman anda? a. Ya b. Tidak Universitas Sumatera Utara Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies 1. Selama 3 bulan terakhir ini apakah anda pernah menderita penyakit kulit infeksi scabies? a. Ya b. Tidak 2. Apakah anda pernah mengalami gejala seperti gatal pada malam hari,iritasi dan adanya tonjolan kulit berwarna putih ke abu-abuan pada sela jari, telapak tangan, pergelangan tangan, dan alat genitalia? a. Ya b. Tidak Universitas Sumatera Utara LEMBAR OBSERVASI KEADAAN SANITASI ASRAMA PONDOK PESANTREN 1. Kelembaban % a. Ruang kamar tidur ……….. % 2. Pencahayaan alami dalam asrama pondok pesantren a. Ruang kamar tidur………... 3. Total luas ventilasi kamar a. Luas lantai kamar………… m2 b. Jumlah luas ventilasi kamar adalah….. 4. Ada berapa orang tinggal dalam satu kamar? 1. > 16 Orang 2. 10 sampai 15 orang 3. < 10 orang Universitas Sumatera Utara Lembar Observasi Sanitasi dasar lingkungan pesantren menurut Kepmenkes RI Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan Kesehatan Perumahan No Komponen yang dinilai SARANA SANITASI 1 Sarana Air Bersih Jamban (sarana 2 pembungan kotoran) 3 Sarana Pembuanagn Air Limbah (SPAL) Kriteria Nilai a. Tidak ada b. Ada, bukan milik sendiri, berbau,berwarna dan berasa c. Ada, milik sendiri, berbau, berwarna dan berasa d. Ada, milik sendiri, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa e. Ada, bukan milik sendiri, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa 0 1 2 3 4 a. Tidak ada b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan kesungai/kolam c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, disalurkan kesungai atau kekolam d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septic tank e. Ada, leher angsa, septic tank a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur dihalaman b. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber air (jarak sumber air jarak dari sumber < 10 meter c. Ada, dialirkan keselokan terbuka d. Ada, diresapkan dan tidak mencemari sumber air (jarak dengan sumber 0 1 2 3 4 0 1 Bobot 25 2 3 Universitas Sumatera Utara Sarana pembungan 4 sampah air > 10 meter) e. Ada, dialirkan keselokan tertutup (saluran kota) untuk diolah lebih lanjut 4 a. Tidak ada b. Ada, tetapi tidak kedap air c. Ada, kedap air dan tidak bertutup d. Ada, kedap air dan bertutup 0 1 2 3 TOTAL HASIL PENILAIAN Keterangan Kriteria 1. Sehat 2. Tidak sehat Nilai x Bobot ≥ 334 < 334 Universitas Sumatera Utara MASTER DATA No Um JK PD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 16 16 12 14 14 14 13 15 14 14 14 12 14 13 13 14 13 13 15 14 14 16 16 14 14 15 13 14 13 14 14 14 13 13 13 13 13 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 Keb.Pakaian P1 P2 P3 P4 P5 P6 2 0 2 2 2 2 2 0 2 0 2 0 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 0 0 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 2 0 2 0 0 2 2 2 2 0 0 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 0 0 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 0 2 2 0 0 2 2 2 2 2 0 0 0 2 2 2 0 2 2 2 0 2 2 0 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 0 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 0 0 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 0 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 2 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 Keb. Kulit Keb.Tangan dan Kuku Keb. Genetalia Keb.Handuk Jlh P1 P2 P3 P4 P5 P6 Jlh P1 P2 P3 P4 P5 P6 Jlh P1 P2 P3 P4 P5 P6 Jlh P1 P2 P3 P4 P5 P6 10 2 2 2 2 2 2 12 2 2 2 0 0 2 8 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 0 2 0 6 0 2 0 2 0 2 6 2 2 0 0 0 0 4 2 2 2 0 2 0 8 0 2 0 2 2 2 8 0 2 0 2 0 0 4 2 2 0 0 2 2 8 0 0 2 0 2 0 4 0 2 2 2 0 2 10 0 2 2 0 0 2 6 2 2 2 2 0 0 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 0 2 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 0 0 2 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 2 2 8 2 2 2 2 2 2 12 2 2 2 2 0 0 8 2 2 2 0 2 0 8 0 2 0 0 2 0 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 0 2 6 0 2 2 0 2 0 6 2 0 0 0 2 0 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 2 0 0 6 2 2 2 0 2 0 8 0 2 2 0 2 0 8 2 2 2 2 0 0 8 2 2 2 0 0 0 6 0 2 2 2 2 0 8 2 2 0 0 2 2 10 0 2 2 0 0 2 6 2 2 0 0 0 0 4 0 2 2 0 2 0 6 2 2 0 2 2 0 10 0 2 2 0 0 2 6 2 2 0 0 0 0 4 2 2 2 2 2 0 10 0 2 0 2 0 0 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 0 0 2 8 0 2 2 0 2 0 6 2 2 0 0 2 2 12 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 0 2 0 8 2 2 2 2 2 2 10 2 2 2 2 0 2 10 2 2 0 0 2 2 8 2 0 0 0 2 0 4 0 0 0 2 2 0 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 0 0 4 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 2 2 10 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 2 0 2 10 2 2 2 0 0 0 6 2 2 0 0 2 2 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 2 0 2 10 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 2 2 10 2 2 2 2 0 0 8 2 2 2 0 0 0 6 2 2 0 0 2 0 6 0 2 0 2 2 2 6 2 2 2 2 2 2 12 2 2 0 0 0 2 6 0 2 2 0 2 0 6 0 2 0 2 0 2 10 2 2 2 2 2 2 12 2 2 2 2 0 2 10 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 2 0 2 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 0 0 2 8 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 0 2 0 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 2 0 0 6 2 2 2 0 2 2 10 2 2 0 0 2 2 8 2 2 2 2 0 0 8 2 2 0 0 0 2 6 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 0 2 8 2 2 2 2 2 2 12 2 2 0 0 0 0 4 0 2 2 0 2 0 6 0 2 0 2 0 2 8 2 2 2 2 2 0 10 2 2 2 2 0 2 10 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 0 2 2 6 2 2 2 2 0 2 10 2 2 0 0 0 2 6 2 2 0 2 0 2 8 0 0 2 2 2 0 8 2 2 2 2 0 2 10 2 2 0 2 0 2 8 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 0 2 2 8 2 2 2 2 2 2 12 2 2 0 0 0 0 4 0 2 2 0 2 0 6 0 2 0 0 2 0 8 2 2 2 0 2 2 10 2 2 2 2 0 2 10 0 2 2 0 2 0 6 0 2 0 2 0 2 8 2 2 2 2 0 0 8 2 2 0 0 2 0 6 2 2 2 0 2 0 8 0 0 2 2 0 2 10 2 2 2 2 2 2 12 2 2 0 2 2 2 10 2 2 2 2 2 0 10 2 0 0 0 2 2 10 2 2 2 0 2 2 10 2 2 0 2 0 2 8 0 2 2 0 2 0 6 0 2 2 2 2 2 8 2 2 2 2 2 2 12 0 2 2 0 0 2 6 2 2 2 0 2 0 10 0 0 2 0 0 0 12 2 2 2 2 0 2 10 2 2 0 2 0 0 6 0 2 2 0 2 0 6 0 0 0 2 2 0 10 2 2 2 2 2 0 12 2 2 2 0 2 2 10 2 2 2 2 2 0 10 2 2 0 0 2 2 10 2 2 2 0 0 2 8 2 2 0 0 0 0 4 2 2 2 0 2 0 8 2 2 0 0 0 2 8 2 2 2 0 0 2 8 2 2 0 0 0 0 4 0 2 2 2 2 0 8 0 2 0 2 0 2 Keb. Tempat Tdr dan Sprei K.Skabies Jlh P1 P2 P3 P4 P5 P6 Jlh P1 P2 Jlh 6 2 0 2 2 2 2 10 0 0 0 8 2 2 2 0 0 2 8 2 2 4 8 2 2 0 0 2 2 8 2 2 4 6 0 2 2 0 0 0 4 2 2 4 8 2 2 0 2 2 0 8 0 0 0 6 2 2 2 2 2 0 10 0 0 0 6 2 2 0 0 2 0 6 0 0 0 8 0 2 2 0 2 0 6 0 0 0 8 0 2 0 2 2 0 6 0 0 0 8 2 0 2 0 0 2 6 2 2 4 4 0 2 2 0 0 2 4 2 2 4 8 0 2 2 2 2 0 8 0 0 0 12 2 2 0 0 2 0 6 0 0 0 4 2 2 2 0 0 2 8 2 2 4 8 0 2 2 2 2 0 8 0 0 0 8 2 2 2 0 0 2 8 0 0 0 8 0 2 0 2 2 0 6 0 0 0 8 2 2 2 0 0 2 8 2 2 4 6 0 2 2 0 0 0 4 2 2 4 8 0 2 2 0 0 2 6 2 2 4 6 2 2 0 2 2 0 8 0 0 0 8 0 2 2 0 2 0 6 0 0 0 6 0 2 2 2 2 0 8 0 0 0 6 0 2 2 2 0 2 8 2 2 4 8 2 2 0 0 2 2 8 0 0 0 6 2 2 0 0 0 2 6 2 2 4 8 0 0 0 2 2 0 4 0 0 0 4 2 0 2 0 0 2 6 2 2 4 6 2 2 2 2 2 0 10 0 0 0 6 2 2 2 0 0 2 8 2 2 4 6 0 2 2 0 0 0 6 2 2 4 10 2 0 2 2 2 2 10 2 2 4 2 0 2 0 2 0 2 6 0 0 0 4 2 0 2 0 0 2 6 2 2 4 8 0 2 0 0 2 2 6 2 2 4 6 0 2 0 2 2 0 6 0 0 0 6 0 0 2 0 0 2 4 2 2 4 Universitas Sumatera Utara 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 12 13 13 15 16 14 14 14 14 16 12 14 13 15 14 13 14 14 13 13 13 13 15 15 13 15 15 13 15 15 15 13 13 14 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 0 0 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 2 2 0 0 0 2 2 0 0 0 2 2 2 0 2 2 2 2 0 0 2 2 0 2 2 2 0 0 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 0 0 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 0 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 2 0 2 2 0 2 2 2 2 0 0 2 0 0 2 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 0 2 2 2 0 0 2 0 2 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 2 2 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 8 6 8 6 4 8 6 10 6 10 8 8 8 8 6 8 10 10 8 2 8 6 10 8 6 8 8 10 8 10 10 6 10 10 6 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 0 0 0 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 0 0 0 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 0 0 2 0 2 10 12 10 12 10 12 12 12 10 12 12 12 12 8 12 12 10 12 6 8 6 6 12 12 12 10 10 6 12 12 10 10 12 10 10 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 0 0 2 2 0 2 0 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 0 0 2 2 2 2 2 2 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 0 0 0 2 2 0 2 0 2 0 2 2 0 0 2 2 2 2 0 2 2 2 0 0 2 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 2 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 8 8 6 12 6 10 6 6 6 4 10 6 6 8 2 8 6 4 6 6 6 4 6 10 6 8 8 6 10 10 4 10 10 10 8 0 2 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 0 0 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 0 0 2 2 2 0 2 0 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 6 10 6 8 4 10 10 6 10 6 8 10 8 10 8 8 8 8 6 4 8 6 10 10 10 10 10 8 10 6 8 10 4 8 8 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 0 0 0 2 2 2 0 0 0 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 0 0 2 0 0 2 2 0 0 0 0 0 2 2 0 2 0 2 2 0 2 0 2 2 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2 2 2 2 2 2 0 0 0 2 0 0 0 0 2 0 0 2 0 2 2 2 0 0 0 2 0 2 2 2 2 0 2 0 2 2 2 2 2 0 0 2 0 0 2 2 2 2 0 2 2 0 0 2 0 2 2 2 0 2 0 2 0 0 0 2 2 2 0 2 0 0 0 0 2 2 0 2 0 0 2 0 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 8 10 4 12 6 8 6 8 6 6 6 6 4 10 4 6 4 8 4 4 4 6 6 10 6 4 4 4 10 8 6 8 8 8 8 0 0 2 2 0 2 0 2 0 2 0 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 0 2 0 2 0 2 0 0 2 2 0 0 2 2 2 2 2 2 2 2 0 2 0 2 2 0 2 2 0 2 2 2 0 2 0 2 2 2 0 2 0 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 2 2 0 0 0 2 2 2 0 0 2 2 2 2 0 0 2 2 0 0 0 0 2 2 0 2 0 0 2 2 2 2 0 2 0 2 0 0 2 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 2 0 0 8 8 8 12 4 8 8 12 8 4 8 6 10 12 4 8 10 8 8 8 8 6 6 6 4 10 8 6 8 8 6 8 6 8 4 2 0 2 2 2 0 0 0 2 2 0 0 0 2 2 2 0 0 2 2 2 2 0 0 2 0 0 2 0 0 2 0 2 0 2 2 0 2 2 2 0 0 0 2 2 0 0 0 2 2 2 0 0 2 2 2 2 0 0 2 0 0 2 0 0 2 0 2 0 2 Keterangan Jenis Kelamin : 1 = Laki-laki 2 = Perempuan Pendidikan : 1 = Kelas II MTs 2 = Kelas III MT Kejadian scabies 0 = Kontrol 4 = Kasus Universitas Sumatera Utara 4 0 4 4 4 0 0 0 4 4 0 0 0 4 4 4 0 0 4 4 4 4 0 0 4 0 0 4 0 0 4 0 4 0 4 Umur * KejSkabies Crosstabulation KejSkabies kontrol Umur 12-13 Count % of Total 14-16 Total 20 40 27.8% 27.8% 55.6% 16 16 32 22.2% 22.2% 44.4% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Total 20 Count % of Total kasus pendidikan * KejSkabies Crosstabulation KejSkabies kontrol pendidikan kls 2 MTS Count % of Total kls 3 MTS Count % of Total Total Count % of Total kasus Total 20 20 40 27.8% 27.8% 55.6% 16 16 32 22.2% 22.2% 44.4% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Universitas Sumatera Utara JK * KejSkabies Crosstabulation KejSkabies kontrol JK LAKI-LAKI Count % of Total PEREMPUAN Count % of Total Total Count % of Total kasus Total 28 28 56 38.9% 38.9% 77.8% 8 8 16 11.1% 11.1% 22.2% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Universitas Sumatera Utara KPakaian * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol KPakaian BAIK Count % of Total SEDANG BURUK 14 38 33.3% 19.4% 52.8% 12 19 31 16.7% 26.4% 43.1% 0 3 3 .0% 4.2% 4.2% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Total Count % of Total Total 24 Count % of Total kasus Chi-Square Tests Point Value df Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig. Probabilit (2-sided) (2-sided) (1-sided) 7.212a 2 .027 .019 Likelihood Ratio 8.416 2 .015 .016 Fisher's Exact Test 6.767 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear Association b 6.948 N of Valid Cases y .025 1 .008 .013 .007 .005 72 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.50. b. The standardized statistic is 2.636. Universitas Sumatera Utara KKulit * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol KKulit BAIK Count % of Total SEDANG 22 57 48.6% 30.6% 79.2% 1 13 14 1.4% 18.1% 19.4% 0 1 1 .0% 1.4% 1.4% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Total Count % of Total Total 35 % of Total BURUK kasus Chi-Square Tests Exact Asymp. Sig. Exact Sig. Value df (2-sided) (2-sided) 14.251a 2 .001 .000 Likelihood Ratio 16.581 2 .000 .000 Fisher's Exact Test 14.914 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear b 13.381 Sig. (1- Point sided) Probability .000 1 .000 .000 .000 .000 Association N of Valid Cases 72 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .50. b. The standardized statistic is 3.658. Universitas Sumatera Utara Ktangandankuku * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol Ktangandankuku BAIK Count % of Total SEDANG Count % of Total BURUK Count % of Total Total Count % of Total kasus Total 17 7 24 23.6% 9.7% 33.3% 16 21 37 22.2% 29.2% 51.4% 3 8 11 4.2% 11.1% 15.3% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig. Point (2-sided) (2-sided) (1-sided) Probability 7.115a 2 .029 .027 Likelihood Ratio 7.333 2 .026 .027 Fisher's Exact Test 6.987 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear Association b 6.795 N of Valid Cases .027 1 .009 .014 .007 .005 72 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.50. b. The standardized statistic is 2.607. Universitas Sumatera Utara KGenetalia * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol KGenetalia BAIK Count % of Total SEDANG BURUK 8 31 31.9% 11.1% 43.1% 13 22 35 18.1% 30.6% 48.6% 0 6 6 .0% 8.3% 8.3% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Total Count % of Total Total 23 Count % of Total kasus Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. Point (2-sided) sided) (1-sided) Probability 15.572a 2 .000 .000 Likelihood Ratio 18.230 2 .000 .000 Fisher's Exact Test 15.683 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear Association b 15.356 N of Valid Cases .000 1 .000 .000 .000 72 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.00. b. The standardized statistic is 3.919. Universitas Sumatera Utara .000 KHanduk * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol KHanduk BAIK Count % of Total SEDANG BURUK Total 3 12 12.5% 4.2% 16.7% 24 23 47 33.3% 31.9% 65.3% 3 10 13 4.2% 13.9% 18.1% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Count % of Total Total 9 Count % of Total kasus Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig. Point (2-sided) (2-sided) (1-sided) Probability 6.791a 2 .034 .037 Likelihood Ratio 7.137 2 .028 .037 Fisher's Exact Test 6.630 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear Association N of Valid Cases b 6.670 .037 1 .010 .015 .008 .005 72 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.00. b. The standardized statistic is 2.583. Universitas Sumatera Utara KTtidurdansprei * KejSkabies Crosstab KejSkabies kontrol KTtidurdansprei BAIK Count % of Total SEDANG BURUK 3 32 40.3% 4.2% 44.4% 7 24 31 9.7% 33.3% 43.1% 0 9 9 .0% 12.5% 12.5% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Total Count % of Total Total 29 Count % of Total kasus Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- Exact Sig. Exact Sig. Point sided) (2-sided) (1-sided) Probability 39.448a 2 .000 .000 Likelihood Ratio 46.783 2 .000 .000 Fisher's Exact Test 42.772 Pearson Chi-Square Linear-by-Linear Association b 35.896 N of Valid Cases .000 1 .000 .000 .000 72 a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.50. b. The standardized statistic is 5.991. Universitas Sumatera Utara .000 Dokumentasi Penelitian Gambar 1. Wawancara dengan salah satu responden pada Pesantren Darel Hikmah Gambar 2. Keadaan dalam ruang tidur santri pada Pesantren Darel Hikmah Universitas Sumatera Utara Gambar 3. Hygrometer (Alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban) Gambar 4. Salah satu santri yang menderita scabies pada Pesantren Darel Hikmah Universitas Sumatera Utara Gambar 5. Sarana Pembuangan Air Limbah pada Pesantren Darel Hikmah Gambar 6. Sarana Pembuangan Sampah pada Pesantren Darel Hikmah Universitas Sumatera Utara 1. Mengganti pakaian 2 x sehari KP1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP1 Tidak Ya Total Kasus Count Total 8 15 23 % within KP1 34.8% 65.2% 100.0% % within JLH8 22.2% 41.7% 31.9% % of Total 11.1% 20.8% 31.9% 28 21 49 % within KP1 57.1% 42.9% 100.0% % within JLH8 77.8% 58.3% 68.1% % of Total 38.9% 29.2% 68.1% 36 36 72 % within KP1 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 2. Bertukar pakaian sesama teman KP2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP2 Tidak Ya Total Count Kasus Total 22 8 30 % within KP2 73.3% 26.7% 100.0% % within JLH8 61.1% 22.2% 41.7% % of Total 30.6% 11.1% 41.7% 14 28 42 % within KP2 33.3% 66.7% 100.0% % within JLH8 38.9% 77.8% 58.3% % of Total 19.4% 38.9% 58.3% 36 36 72 Count Count Universitas Sumatera Utara % within KP2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 3. Mencuci pakaian menggunakan detergen KP3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP3 Tidak Ya Total Count Kasus Total 1 3 4 % within KP3 25.0% 75.0% 100.0% % within JLH8 2.8% 8.3% 5.6% % of Total 1.4% 4.2% 5.6% 35 33 68 % within KP3 51.5% 48.5% 100.0% % within JLH8 97.2% 91.7% 94.4% % of Total 48.6% 45.8% 94.4% 36 36 72 % within KP3 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 4. Menyetrika baju KP4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP4 Tidak Ya Total Count Kasus Total 1 8 9 % within KP4 11.1% 88.9% 100.0% % within JLH8 2.8% 22.2% 12.5% % of Total 1.4% 11.1% 12.5% 35 28 63 % within KP4 55.6% 44.4% 100.0% % within JLH8 97.2% 77.8% 87.5% % of Total 48.6% 38.9% 87.5% 36 36 72 % within KP4 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 5. Merendam pakaian disatukan sesama teman KP5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP5 Tidak Ya Count Kasus Total 33 9 42 % within KP5 78.6% 21.4% 100.0% % within JLH8 91.7% 25.0% 58.3% % of Total 45.8% 12.5% 58.3% 3 27 30 % within KP5 10.0% 90.0% 100.0% % within JLH8 8.3% 75.0% 41.7% % of Total 4.2% 37.5% 41.7% Count Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KP5 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 6. Menjemur pakaian dibawah terik matahari KP6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KP6 Tidak Count Total Total 4 28 32 % within KP6 12.5% 87.5% 100.0% % within JLH8 11.1% 77.8% 44.4% 5.6% 38.9% 44.4% 32 8 40 % within KP6 80.0% 20.0% 100.0% % within JLH8 88.9% 22.2% 55.6% % of Total 44.4% 11.1% 55.6% 36 36 72 % within KP6 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Ya Kasus Count Count % of Total 1. Mandi 2x sehari KK1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK1 Tidak Count Kasus Total 0 9 9 % within KK1 .0% 100.0% 100.0% % within JLH8 .0% 25.0% 12.5% % of Total .0% 12.5% 12.5% Universitas Sumatera Utara Ya Count 36 27 63 % within KK1 57.1% 42.9% 100.0% % within JLH8 100.0% 75.0% 87.5% 50.0% 37.5% 87.5% 36 36 72 % within KK1 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Total Count % of Total 2. Mandi menggunakan sabun KK2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK2 Ya Count Total 36 36 72 % within KK2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% 36 36 72 % within KK2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Total Kasus Count % of Total 3. Menggosok badan saat mandi KK3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK3 Tidak Count Kasus Total 0 2 2 % within KK3 .0% 100.0% 100.0% % within JLH8 .0% 5.6% 2.8% % of Total .0% 2.8% 2.8% Universitas Sumatera Utara Ya Count 36 34 70 % within KK3 51.4% 48.6% 100.0% % within JLH8 100.0% 94.4% 97.2% 50.0% 47.2% 97.2% 36 36 72 % within KK3 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Total Count % of Total 4. Menggunakan sabun sendiri KK4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK4 Tidak Count Total Total 4 10 14 % within KK4 28.6% 71.4% 100.0% % within JLH8 11.1% 27.8% 19.4% 5.6% 13.9% 19.4% 32 26 58 % within KK4 55.2% 44.8% 100.0% % within JLH8 88.9% 72.2% 80.6% % of Total 44.4% 36.1% 80.6% 36 36 72 % within KK4 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Ya Kasus Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 5. Mandi setelah olahraga KK5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK5 Tidak Count Total Total 5 18 23 % within KK5 21.7% 78.3% 100.0% % within JLH8 13.9% 50.0% 31.9% 6.9% 25.0% 31.9% 31 18 49 % within KK5 63.3% 36.7% 100.0% % within JLH8 86.1% 50.0% 68.1% % of Total 43.1% 25.0% 68.1% 36 36 72 % within KK5 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Ya Kasus Count Count % of Total 6. Bertukaran sabun sesama teman KK6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KK6 Tidak Ya Count Kasus Total 15 10 25 % within KK6 60.0% 40.0% 100.0% % within JLH8 41.7% 27.8% 34.7% % of Total 20.8% 13.9% 34.7% 21 26 47 % within KK6 44.7% 55.3% 100.0% % within JLH8 58.3% 72.2% 65.3% % of Total 29.2% 36.1% 65.3% Count Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KK6 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 1. Mencuci tangan setelah membersihkan tempat tidur KTK1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK1 Tidak Ya Total Count Kasus Total 2 1 3 % within KTK1 66.7% 33.3% 100.0% % within JLH8 5.6% 2.8% 4.2% % of Total 2.8% 1.4% 4.2% 34 35 69 % within KTK1 49.3% 50.7% 100.0% % within JLH8 94.4% 97.2% 95.8% % of Total 47.2% 48.6% 95.8% 36 36 72 % within KTK1 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 2. Mencuci tangan setelah membersihkan kamar mandi KTK2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK2 Tidak Count Kasus Total 0 1 1 % within KTK2 .0% 100.0% 100.0% % within JLH8 .0% 2.8% 1.4% % of Total .0% 1.4% 1.4% Universitas Sumatera Utara Ya Count 36 35 71 % within KTK2 50.7% 49.3% 100.0% % within JLH8 100.0% 97.2% 98.6% 50.0% 48.6% 98.6% 36 36 72 % within KTK2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Total Count % of Total 3. Memotong kuku sekali seminggu KTK3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK3 Tidak Ya Total Count Kasus Total 16 27 43 % within KTK3 37.2% 62.8% 100.0% % within JLH8 44.4% 75.0% 59.7% % of Total 22.2% 37.5% 59.7% 20 9 29 % within KTK3 69.0% 31.0% 100.0% % within JLH8 55.6% 25.0% 40.3% % of Total 27.8% 12.5% 40.3% 36 36 72 % within KTK3 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 4. Mencuci tangan sesudah BAB/BAK pakai sabun KTK4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK4 Tidak Ya Total Count Kasus Total 14 23 37 % within KTK4 37.8% 62.2% 100.0% % within JLH8 38.9% 63.9% 51.4% % of Total 19.4% 31.9% 51.4% 22 13 35 % within KTK4 62.9% 37.1% 100.0% % within JLH8 61.1% 36.1% 48.6% % of Total 30.6% 18.1% 48.6% 36 36 72 % within KTK4 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 5. Mencuci tangan setelah menggaruk badan KTK5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK5 Tidak Ya Count Kasus Total 31 27 58 % within KTK5 53.4% 46.6% 100.0% % within JLH8 86.1% 75.0% 80.6% % of Total 43.1% 37.5% 80.6% 5 9 14 % within KTK5 35.7% 64.3% 100.0% % within JLH8 13.9% 25.0% 19.4% 6.9% 12.5% 19.4% Count % of Total Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KTK5 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 6. Menyikat kuku pakai sabun. KTK6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTK6 Tidak Ya Total Count Kasus Total 15 23 38 % within KTK6 39.5% 60.5% 100.0% % within JLH8 41.7% 63.9% 52.8% % of Total 20.8% 31.9% 52.8% 21 13 34 % within KTK6 61.8% 38.2% 100.0% % within JLH8 58.3% 36.1% 47.2% % of Total 29.2% 18.1% 47.2% 36 36 72 % within KTK6 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 1. Mengganti pakaian dalam sesudah mandi. KG1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG1 Tidak Count Total Total 6 17 23 % within KG1 26.1% 73.9% 100.0% % within JLH8 16.7% 47.2% 31.9% 8.3% 23.6% 31.9% 30 19 49 % within KG1 61.2% 38.8% 100.0% % within JLH8 83.3% 52.8% 68.1% % of Total 41.7% 26.4% 68.1% 36 36 72 % within KG1 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Ya Kasus Count Count % of Total 2. Mencuci pakaian dalam KG2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG2 Tidak Ya Count Kasus Total 1 4 5 % within KG2 20.0% 80.0% 100.0% % within JLH8 2.8% 11.1% 6.9% % of Total 1.4% 5.6% 6.9% 35 32 67 % within KG2 52.2% 47.8% 100.0% % within JLH8 97.2% 88.9% 93.1% % of Total 48.6% 44.4% 93.1% Count Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KG2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 3. Membersihkan alat genitalia KG3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG3 Tidak Ya Count Total 0 4 4 % within KG3 .0% 100.0% 100.0% % within JLH8 .0% 11.1% 5.6% % of Total .0% 5.6% 5.6% 36 32 68 % within KG3 52.9% 47.1% 100.0% % within JLH8 100.0% 88.9% 94.4% 50.0% 44.4% 94.4% 36 36 72 % within KG3 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total Total Kasus Count % of Total 4. Menjemur pakaian dalam dibawah terik matahari KG4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG4 Tidak Count Kasus Total 20 25 45 % within KG4 44.4% 55.6% 100.0% % within JLH8 55.6% 69.4% 62.5% % of Total 27.8% 34.7% 62.5% Universitas Sumatera Utara Ya Total Count 16 11 27 % within KG4 59.3% 40.7% 100.0% % within JLH8 44.4% 30.6% 37.5% % of Total 22.2% 15.3% 37.5% 36 36 72 % within KG4 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count % of Total 5. Membersihkan alat genitalai sesudah BAB/BAK KG5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG5 Tidak Ya Total Count Kasus Total 1 4 5 % within KG5 20.0% 80.0% 100.0% % within JLH8 2.8% 11.1% 6.9% % of Total 1.4% 5.6% 6.9% 35 32 67 % within KG5 52.2% 47.8% 100.0% % within JLH8 97.2% 88.9% 93.1% % of Total 48.6% 44.4% 93.1% 36 36 72 % within KG5 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 6. Merendam pakaian dalam disatukan sesama teman KG6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KG6 Tidak Ya Total Count Kasus Total 35 33 68 % within KG6 51.5% 48.5% 100.0% % within JLH8 97.2% 91.7% 94.4% % of Total 48.6% 45.8% 94.4% 1 3 4 % within KG6 25.0% 75.0% 100.0% % within JLH8 2.8% 8.3% 5.6% % of Total 1.4% 4.2% 5.6% 36 36 72 % within KG6 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 1. Menggunakan handuk sendiri. KH1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH1 Tidak Count Total 6 22 28 % within KH1 21.4% 78.6% 100.0% % within JLH8 16.7% 61.1% 38.9% 8.3% 30.6% 38.9% 30 14 44 % within KH1 68.2% 31.8% 100.0% % within JLH8 83.3% 38.9% 61.1% % of Total 41.7% 19.4% 61.1% % of Total Ya Kasus Count Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KH1 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 2. Menjemur handuk setelah mandi KH2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH2 Tidak Count Total Total 6 16 22 % within KH2 27.3% 72.7% 100.0% % within JLH8 16.7% 44.4% 30.6% 8.3% 22.2% 30.6% 30 20 50 % within KH2 60.0% 40.0% 100.0% % within JLH8 83.3% 55.6% 69.4% % of Total 41.7% 27.8% 69.4% 36 36 72 % within KH2 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Ya Kasus Count Count % of Total 3. Mencuci handuk disatukan sesama teman KH3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH3 Tidak Count Kasus Total 31 24 55 % within KH3 56.4% 43.6% 100.0% % within JLH8 86.1% 66.7% 76.4% % of Total 43.1% 33.3% 76.4% Universitas Sumatera Utara Ya Count 5 12 17 % within KH3 29.4% 70.6% 100.0% % within JLH8 13.9% 33.3% 23.6% 6.9% 16.7% 23.6% 36 36 72 % within KH3 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total Total Count % of Total 4. Menggunakan handuk bergantian sesama teman KH4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH4 Tidak Ya Total Count Kasus Total 27 7 34 % within KH4 79.4% 20.6% 100.0% % within JLH8 75.0% 19.4% 47.2% % of Total 37.5% 9.7% 47.2% 9 29 38 % within KH4 23.7% 76.3% 100.0% % within JLH8 25.0% 80.6% 52.8% % of Total 12.5% 40.3% 52.8% 36 36 72 % within KH4 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total Universitas Sumatera Utara 5. Menjemur handuk dibawah terik matahari KH5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH5 Tidak Ya Total Count Kasus Total 12 17 29 % within KH5 41.4% 58.6% 100.0% % within JLH8 33.3% 47.2% 40.3% % of Total 16.7% 23.6% 40.3% 24 19 43 % within KH5 55.8% 44.2% 100.0% % within JLH8 66.7% 52.8% 59.7% % of Total 33.3% 26.4% 59.7% 36 36 72 % within KH5 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % of Total 6. Menggunakan handuk yang kering KH6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KH6 Tidak Ya Count Kasus Total 11 16 27 % within KH6 40.7% 59.3% 100.0% % within JLH8 30.6% 44.4% 37.5% % of Total 15.3% 22.2% 37.5% 25 20 45 % within KH6 55.6% 44.4% 100.0% % within JLH8 69.4% 55.6% 62.5% % of Total 34.7% 27.8% 62.5% Count Universitas Sumatera Utara Total Count 36 36 72 % within KH6 50.0% 50.0% 100.0% % within JLH8 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% % of Total 1. Sprei digunakan untuk tidur bersama-sama KTTS1 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS1 Tidak Ya Total Count Kasus Total 18 14 32 % within KTTS1 56.3% 43.8% 100.0% % within JLH8 50.0% 38.9% 44.4% % of Total 25.0% 19.4% 44.4% 18 22 40 % within KTTS1 45.0% 55.0% 100.0% % within JLH8 50.0% 61.1% 55.6% % of Total 25.0% 30.6% 55.6% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % within KTTS1 % within JLH8 % of Total 2. Tidur ditempat tidur sendiri KTTS2 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS2 Tidak Count Kasus Total 6 11 17 % within KTTS2 35.3% 64.7% 100.0% % within JLH8 16.7% 30.6% 23.6% 8.3% 15.3% 23.6% % of Total Universitas Sumatera Utara Ya Total Count 30 25 55 % within KTTS2 54.5% 45.5% 100.0% % within JLH8 83.3% 69.4% 76.4% % of Total 41.7% 34.7% 76.4% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count % within KTTS2 % within JLH8 % of Total 3. Teman pernah tidur ditempat tidur anda sendiri KTTS3 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS3 Tidak Ya Total Count Kasus Total 15 4 19 % within KTTS3 78.9% 21.1% 100.0% % within JLH8 41.7% 11.1% 26.4% % of Total 20.8% 5.6% 26.4% 21 32 53 % within KTTS3 39.6% 60.4% 100.0% % within JLH8 58.3% 88.9% 73.6% % of Total 29.2% 44.4% 73.6% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % within KTTS3 % within JLH8 % of Total Universitas Sumatera Utara 4. Menjemur kasur sekali seminggu KTTS4 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS4 Tidak Ya Total Count Kasus Total 8 28 36 % within KTTS4 22.2% 77.8% 100.0% % within JLH8 22.2% 77.8% 50.0% % of Total 11.1% 38.9% 50.0% 28 8 36 % within KTTS4 77.8% 22.2% 100.0% % within JLH8 77.8% 22.2% 50.0% % of Total 38.9% 11.1% 50.0% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % within KTTS4 % within JLH8 % of Total 5. Mengganti sprei sekali seminggu KTTS5 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS5 Tidak Ya Count Kasus Total 3 30 33 % within KTTS5 9.1% 90.9% 100.0% % within JLH8 8.3% 83.3% 45.8% % of Total 4.2% 41.7% 45.8% 33 6 39 % within KTTS5 84.6% 15.4% 100.0% % within JLH8 91.7% 16.7% 54.2% % of Total 45.8% 8.3% 54.2% Count Universitas Sumatera Utara Total Count % within KTTS5 % within JLH8 % of Total 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% 6. Mencuci sprei disatukan sesama teman KTTS6 * JLH8 Crosstabulation JLH8 Kontrol KTTS6 Tidak Ya Total Count Kasus Total 28 10 38 % within KTTS6 73.7% 26.3% 100.0% % within JLH8 77.8% 27.8% 52.8% % of Total 38.9% 13.9% 52.8% 8 26 34 % within KTTS6 23.5% 76.5% 100.0% % within JLH8 22.2% 72.2% 47.2% % of Total 11.1% 36.1% 47.2% 36 36 72 50.0% 50.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 50.0% 50.0% 100.0% Count Count % within KTTS6 % within JLH8 % of Total Universitas Sumatera Utara

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (141 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Hubungan Kepadatan Lalat, Personal Hygiene dan Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare pada Balita di Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015
15
115
159
Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian Penyakit Skabies pada Santri Perempuan di Pesantren Syamsudhuha Cot Murong Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh utara
20
153
71
Pengaruh Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Skabies pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013
4
61
219
Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Keluhan Penyakit Kulit di Kelurahan Denai Kecamatan Medan Denai Kota Medan Tahun 2012
12
116
135
Pengaruh Sanitasi Lingkungan dan Personal Hygiene terhadap Kejadian Penyakit Skabies pada Warga Binaan Pemasyarakatan yang Berobat Ke Klinik di Rumah Tahanan Negara Klas 1 Medan
9
91
155
Hubungan Personal Hygiene Santri dengan Kejadian Penyakit Kulit Infeksi Skabies dan Tinjauan Sanitasi Lingkungan Pesantren Darel Hikmah Kota Pekanbaru Tahun 2011
41
261
141
Tingkat Pengetahuan Santri Terhadap Penyakit Skabies Di Pondok Pesantren Darularafah Raya
9
101
71
Hubungan Sosiodemografi dan Lingkungan Dengan Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru Tahun 2008
3
55
108
Pengaruh Komponen Fisik Rumah Susun, Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Terhadap Kejadian Penyakit Skabies di Rumah Susun Sederhana Sewa di Kota Medan Tahun 2015
2
51
197
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Personal Hygiene 2.1.1 Pengertian - Hubungan Personal Hygiene Dengan Keluhan Kulit dan Fasilitas Sanitasi di TPA Terjun Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2014
1
1
28
1. Dapur Rumah Responden - Hubungan Kepadatan Lalat, Personal Hygiene dan Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare pada Balita di Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015
1
1
30
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Hubungan Kepadatan Lalat, Personal Hygiene dan Sanitasi Dasar dengan Kejadian Diare pada Balita di Lingkungan I Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015
0
0
9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Skabies 2.1.1. Pengertian Skabies - Pengaruh Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Skabies pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013
0
0
27
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Pengaruh Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Skabies pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013
0
0
8
Pengaruh Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan terhadap Kejadian Skabies pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013
0
0
80
Show more