Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams-Games Tournament) terhadap pemahaman konsep matematika siswa

Full text

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT

(TEAMS GAMES TOURNAMENT) TERHADAP PEMAHAMAN

KONSEP MATEMATIKA SISWA

OLEH:

MALKAN SANTOSO 103017027239

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

MALKAN SANTOSO (103017027239), “Pengaruh Model Pembelajaran

Kooperatif Tipe (TGT) Terhadap Pemahaman Konsep

Matematika Siswa.”. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.

Tujuan dari penelitian ini (1) Mengetahui pengaruh pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( ) terhadap pemahaman konsep matematika siswa, (2) Mengetahui pemahaman konsep matematika siswa setelah penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( ), (3)Mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ( ).Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMPN 2I Tangerang, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 2I Tangerang tahun ajaran 2010/2011. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik , dipilih dua kelas secara acak untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif

tipe (TGT), sedangkan kelas kontrol memperoleh

pembelajaran secara konvensional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan desain penelitian

. Instrumen penelitian yang diberikan berupa tes yang terdiri dari 20 soal bentuk uraian. Uji prasyarat analisis menggunakan uji dan uji , diperoleh bahwa kedua sampel berdistribusi normal dan homogen.

Dari perhitungan uji statistik diperoleh thitung < ttabel (1,499 < 1,66), maka H0 diterima dan Ha ditolak pada taraf signifikan

α

= 0,05 dengan derajat kebebasan (db) = 77. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ! terdapat pengaruh

pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap peningkatan pemahaman matematika siswa.

Kata kunci: " #

(6)

ii

Puji sukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat serta karunia nikmatNya yang tiada batas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Terhadap Pemahaman Konsep Matematika

Siswa” ini dengan baik. Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada

baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan cahaya dalam hidup penulis berupa cahaya Islam.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan. Walaupun waktu, tenaga dan pikiran telah diperjuangkan dengan segala keterbatasan kemampuan yang penulis miliki, demi terselesaikannya skripsi ini agar bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan, pengarahan, dukungan serta bantuan dari berbagai pihak kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis sangat berterima kasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Dede Rosada, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Maifalinda Fatra, M.Pd dan Otong Suhyanto, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Firdausi, S.Si, M.Pd. selaku dosen pembimbing I dan Otong Suhyanto, M.Si selaku dosen pembimbing II yang selalu sabar dan teliti dalam mengoreksi dan membimbing penulis dalam membuat skripsi ini.

4. Pimpinan dan seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

iii

memberikan kontribusi pemikiran melalui pengajaran dan diskusi yang berkaitan dengan skripsi ini.

6. Dra. Widiana Ramayanti selaku kepala sekolah SMPN 21 Tangerang, serta segenap guru dan karyawan sekolah yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

7. Paling istimewa untuk ayahanda dan Ibunda tercinta yang nuraninya mengalir indah dalam darahku, yang telah tulus merawat, membesarkan, mendidik, dan mencurahkan kasih sayang serta tak bosan?bosannya memberikan dukungan moril, materil, semangat dan do’a untuk penulis. 8. Sahabat sejatiku, Mahasiswa Satu Angkatan 2003, Jurusan Pendidikan

Matematika yang motonya tak ada putus asa, pasti bisa asal terus berusaha, karena ada Dia. Yang selalu memberi canda, tawa, serta warna warni masa perkuliahan; mu_doph, reply, e?both, b?dul, olan, e?mon, obay, popo, yie, eva, lucky, fera, rosmala, u?wie, lia, thya, anam, syukron, rijal, away, dan semuanya. terima kasih untuk semua dukungan dan perhatian yang diberikan kepada penulis. Teruntuk “nenk” Mien Minarni penulis sampaikan “syukron katsir” berkat motivasi, dampingan serta kesabarannya selama penulis menyelesaikan skripsi ini. Dan juga kepada teman?temanku yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu.

9. Keluarga besar “Amazon?net”; boz?Doph, Ruri, Vino, lathiev, Moe?in, thanx a lot atas fasilitas base_camp dan warnetnya sehingga penulis leluasa untuk “browsing” bahan?bahan pustaka selama penulisan skripsi ini.

Penulis berharap dan berdo’a kepada Allah SWT, agar seluruh pengorbanan yang telah diberikan kepada penulis, akan mendapatkan balasan yang setimpal disisiNya, ! ! .

Jakarta, Februari 2011 Penulis,

(8)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Rumusan Masalah ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 7

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. Landasan Teori ... 9

1. Pemahaman Konsep Matematika ... 9

a. Pengertian Pemahaman ... 9

b. Pengertian Konsep ... 10

c. Pengertian dan Karakteristik Matematika ... 12

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT ( ) ... 18

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif ... 18

b. Karakteristik dan Urgensi Pembelajaran Kooperatif ... 21

(9)

v

d. TGT ( ) ... 27

e. Langkah?langkah model pembelajaran kooperatif tipe TGT ... 31

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 35

C. Kerangka Berpikir ... 36

D. Pengajuan Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38

B. Metode dan Desain Penelitian ... 38

C. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

D. Teknik Pengumpulan Data ... 40

E. Instrumen Penelitian ... 41

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 44

G. Hipotesis Statistik ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 50

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 58

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ... 60

D. Keterbatasan Penelitian ... 63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 64

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(10)

vi

DAFTAR TABEL

1. Lembar Skor Game ... 33

2. Perhitungan Poin Turnamen ... 33

3. Lembar Rangkuman Kelompok ... 34

4. Kriteria Pemberian Penghargaan ... 35

5. Desain Penelitian ... 39

6. Perincian Populasi dan Sampel ... 39

7. Penskoran Aspek Lembar Observasi Aktifitas Belajar Siswa ... 40

8. Kriteria Pemberian Skor Essay ... 44

9. Kualifikasi Persentase skor Hasil Observasi Keaktifan Belajar siswa ... 49

10. Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen ... 51

11. Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen ... 53

12. Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol ... 54

13. Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol ... 56

14. Perbandingan Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 57

15. Hasil Uji Normalitas Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 59

16. Hasil Uji Homogenitas Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ... 59

17. Hasil Uji?t Kelompok Eksperimen dan Kelompok kontrol ... 60

18. Perhitungan Validitas Test Uraian ... 122

19. Perhitungan Reliabilitas Test Uraian ... 125

20. Perhitungan Daya BedaTest Uraian ... 127

21. Perhitungan Tingkat Kesukaran Test Uraian ... 129

22. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Eksperimen ... 145

(11)

vii

DAFTAR GAMBAR

1. Diagram Pembagian Meja Turnamen Siswa ... 29 2. Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok

Eksperimen ... 52 3. Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok

(12)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelompok Eksperimen ... 70

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelompok Kontrol ... 99

3. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Matematika siswa... 105

4. Rekapitulasi Skor Observasi Aktifitas Belajar Matematika Siswa ... 106

5. Kisi?kisi Instrumen Test Essay ... 107

6. Lembar Soal (Test) ... 110

7. Jawaban Instrumen Test Essay ... 113

8. Langkah?langkah Penghitungan Validitas Test Uraian ... 121

9. Langkah?langkah Penghitungan Reliabilitas Test Uraian ... 124

10. Langkah?langkah Penghitungan Daya Pembeda Test Uraian ... 126

11. Langkah?langkah Penghitungan Tingkat Kesukaran Test Uraian ... 128

12. Rekapitulasi Nilai Posttest ... 131

13. Rekapitulasi Skor Observasi Aktifitas Belajar Siswa ... 134

14. Penghitungan Data Statistik Awal Kelompok Eksperimen ... 135

15. Penghitungan Data Statistik Awal Kelompok Kontrol ... 140

16. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Eksperimen ... 145

17. Penghitungan Uji Normalitas Kelompok Kontrol ... 147

18. Penghitungan Uji Homogenitas ... 149

19. Penghitungan Pengujian Hipotesis ... 151

20. Pedoman Wawancara ... 153

21. Hasil Wawancara ... 154

22. Tabel Product Moment ... 157

23. Tabel Kritis L Untuk Uji Lilliefors ... 158

24. Tabel Nilai Fischer (Daftar A) ... 159

25. Tabel Nilai Fischer (Daftar B) ... 163

26. Tabel Distribusi Normal ... 164

27. Surat Bimbingan Skripsi ... 169

28. Surat Permohonan Penelitian ... 170

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, ketrampilan dan keahlian tertentu kepada individu guna mengembangkan bakat serta kepribadian mereka. Pendidikan membuat manusia berusaha mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi akibat adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini disebutkan dalam undang?undang sistem pendidikan nasional:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”1

Oleh karena itu masalah pendidikan perlu mendapat perhatian dan penanganan yang lebih baik yang menyangkut berbagai masalah yang berkaitan dengan kuantitas ataupun kualitasnya.

Manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan akan mempunyai derajat kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah SWT, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al?Mujadalah pada akhir ayat 11:

َK

1 UU SISDIKNAS RI No. 20 Th. 2003 Bab II pasal 3, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), Cet.

Ke?3, h. 5.

2 DEPAG,

(14)

2

Begitu penting pendidikan sehingga harus dijadikan prioritas utama dalam pembangunan bangsa. Oleh karena itu diperlukan mutu pendidikan yang baik sehingga tercipta proses pendidikan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan kompetitif.

Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur?unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.”3 Proses pembelajaran ini dapat terjadi di sekolah atau di luar sekolah.

Sebagai salah satu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal, sekolah mempunyai peranan penting dalam usaha mendewasakan siswa agar menjadi anggota masyarakat yang berguna. Untuk tujuan tersebut, sekolah menyelenggarakan kegiatan belajar?mengajar dan kurikulum sebagai wadah dan bahan mentahnya.

Matematika merupakan kurikulum dan mata pelajaran yang ada dalam tiap tingkatan sekolah, mulai dari Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Keberadaan matematika diperlukan di tiap tingkat sekolah karena matematika memegang peranan penting dalam ilmu pengetahuan, sehingga siswa di tiap tingkat sekolah harus mempelajari matematika.

Dalam proses belajar mengajar matematika, diharapkan terjadi transfer belajar, yakni materi yang disajikan guru dapat diterapkan ke dalam struktur kognitif siswa. Struktur kognitif adalah perangkat fakta?fakta, konsep?konsep, generalisasi?generalisasi yang terorganisasi yang telah dipelajari dan dikuasai seseorang.4 Fakta? fakta yang dimaksud misalnya ruas garis dan sudut sedangkan konsep?konsep yang dimaksud misalnya titik dan garis.

(15)

3

Hamalik dalam bukunya , !

! mengemukakan bahwa Ranah kognitif menurut Bloom,

dkk terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut: (1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode; (2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari; (3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru; (4) Analisis mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian?bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik; (5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk pendapat suatu pola baru; dan (6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.5 Aspek pemahaman dalam ranah kognitif menurut Bloom berada dalam urutan kedua setelah aspek pengetahuan.

Akibat terjadinya transfer belajar yang diterapkan ke dalam struktur kognitif siswa, Siswa dapat menguasai materi pelajaran tidak hanya terbatas pada tahap ingatan tanpa pengertian, tetapi bahan pelajaran dapat diserap secara bermakna. Demikian pula dengan tujuan pengajaran matematika yang akan tercapai dengan pengajaran bermakna. Konsep?konsep matematika tersusun secara terstruktur, logis dan matematis mulai dari konsep yang sederhana sampai pada konsep prasyarat selanjutnya.

Mata pelajaran Matematika selain mempunyai sifat abstrak, pemahaman konsep yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan pemahaman konsep sebelumnya.65 Sampai saat ini masih banyak ditemui kesulitan siswa dalam memahami konsep?konsep matematika. Akibatnya, siswa kesulitan untuk memahami konsep?konsep selanjutnya. Sehingga siswa akan menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan tidak menyenangkan. Menurut Ruseffendi dalam bukunya yang

5Oemar Hamalik,

, ! ! + (Bandung:PT

Citra Aditya Bakti, 1990), h. 148.

(16)

4

berjudul " ! " ! + " +

, hal ini disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya kecerdasan siswa, bakat siswa, kemampuan belajar, minat siswa, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru, serta kondisi masyarakat luas.

Wahyudin dalam Inayah mengemukakan bahwa tingkat penguasaan atau hasil belajar matematika terhadap matematika cenderung rendah. Salah satu penyebab rendahnya penguasaan atau hasil belajar siswa dalam matematika adalah siswa tidak memahami konsep?konsep atau persoalan? persoalan yang diberikan dalam pembelajaran matematika.76Agar siswa dapat memahami konsep matematika dengan baik maka perlu dikembangkan suatu cara atau metode pengajaran matematika guna membantu siswa dalam memahami konsep dan menentukan hubungan yang bermakna dalam menyelesaikan soal?soal matematika.

Metode mengajar merupakan sarana interaksi guru dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Perlu diperhatikan adanya ketepatan dalam memilih metode mengajar, metode mengajar yang dipilih harus sesuai dengan tujuan, jenis dan sifat materi yang diajarkan. Kemampuan guru dalam memahami dan melaksanakan metode tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Kesalahan menggunakan suatu metode dapat menimbulkan kebosanan, kurang dipahami dan monoton sehingga mengakibatkan sikap acuh terhadap pelajaran matematika.

Salah satu metode yang memungkinkan siswa dapat memahami konsep matematika dengan baik adalah metode pembelajaran

(TGT). TGT merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran

- yaitu pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas

dengan membentuk kelompok?kelompok kecil, guru memberikan permainan? permainan akademik dan guru mengadakan turnamen/kompetisi antar kelompok. Hal ini memungkinkan siswa yang belum memahami konsep yang

7 Nina Nurinayah, “

! ! . $ .% / ,

(17)

5

disampaikan oleh guru dapat bertanya kepada teman satu timnya untuk memperoleh informasi lebih, sehingga dalam kegiatan turnamen siswa telah memahami materi pelajaran dan siap bersaing dengan lawannya.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe (TGT)

ini terdapat beberapa tahap yang harus dilalui selama proses pembelajaran. Tahap awal, siswa belajar dalam suatu kelompok dan diberikan suatu materi yang dirancang sebelumnya oleh guru, setelah itu siswa bersaing dalam turnamen untuk mendapatkan penghargaan kelompok. Selain itu terdapat kompetisi antar kelompok yang dikemas dalam suatu permainan agar pembelajaran tidak membosankan. Pembelajaran kooperatif tipe TGT juga membuat siswa aktif mencari penyelesaian masalah dan mengkomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada orang lain, sehingga masing?masing siswa diharapkan lebih memahami konsep dan menguasai materi.

(18)

6

tetapi hanya dibahas bersama oleh guru. Hal ini dikarenakan siswa tidak ada yang berani mempresentasikan hasil tugas mereka.

Berdasar hasil pengamatan tersebut, terdapat beberapa siswa yang dapat secara langsung memahami konsep yang disampaikan oleh guru dan sebagian yang lain belum memahami konsep secara jelas. Metode pembelajaran yang digunakan guru adalah metode ceramah dan tanya jawab. Bertolak dari semua hal di atas peneliti ingin melakukan suatu penelitian tentang pengaruh pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap pemahaman konsep matematika siswa.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah antara lain:

1. Matematika dianggap mata pelajaran yang membosankan menurut sebagian besar siswa.

2. Kurangnya keaktifan siswa ketika proses pembelajaran. 3. Masih rendahnya hasil belajar matematika siswa. 4. Masih rendahnya pemahaman konsep siswa.

5. Kurangnya kreatifitas guru dalam menggunakan metode pembelajaran.

C. Pembatasan Masalah

Agar permasalahan tidak meluas, maka dalam penyusunan skripsi ini penulis membatasi permasalahannya sebagai berikut:

1. Penelitian dilakukan pada kelas 8 SMPN 21 Tangerang pada tahun ajaran 2010/2011 pada pokok bahasan Teorema Pythagoras dan lingkaran yang diajarkan pada semester II.

2. Model pembelajaran kooperarif tipe (TGT)

(19)

7

3. Pemahaman konsep matematika siswa diukur dari hasil posttest pada pokok bahasan Teorema Pythagoras dan Lingkaran.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran matematika dengan model

pembelajaran kooperatif tipe TGT ( %terhadap

pemahaman konsep matematika siswa?

2. Bagaimana pemahaman konsep matematika siswa setelah penerapan

pembelajaran kooperatif tipe TGT ( )?

3. Bagaimana aktifitas siswa selama proses pembelajaran dengan model

pembelajaran kooperatif tipe TGT ( %?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk:

1. Mengetahui pengaruh pembelajaran matematika dengan model

pembelajaran kooperatif tipe TGT ( ) terhadap

pemahaman konsep matematika siswa.

2. Mengetahui pemahaman konsep matematika siswa setelah penerapan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (

).

3. Mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan model

pembelajaran kooperatif tipe TGT ( ).

4.

F. Manfaat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian mengenai pembelajaran kooperatif tipe TGT diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya :

1. Bagi Guru, Penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran, menambah wawasan dan pengalaman melaksanakan pembelajaran dalam hal ini meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa dengan

(20)

8

dapat mengasah kreativitas dengan menyusun sendiri Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mempermudah guru mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

2. Bagi Peneliti, hasil dari penelitian ini dapat menjadi wahana ilmiah dalam mengaplikasikan kemampuan yang diperoleh selama menjalani perkuliahan dan dapat memberi gambaran yang jelas mengenai pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.

(21)

9

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN

PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Pemahaman Konsep Matematika

a. Pengertian Pemahaman

Pemahaman berasal dari kata paham yang dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai “mengerti benar” 1. Pemahaman atau

- mempunyai beberapa tingkat kedalaman arti yang

berbeda. Pemahaman dapat diartikan kemampuan untuk menangkap makna dari suatu konsep. Pemahaman juga dapat diartikan sebagai kemampuan menerangkan suatu hal dengan kata?kata yang berbeda dengan yang terdapat dalam buku teks, kemampuan menginterpretasikan atau kemampuan menarik kesimpulan. “Pemahaman tampak pada alih bahan dari suatu bentuk ke bentuk lainnya, penafsiran dan memperkirakan.”2 Misalnya menerjemahkan bahan dari suatu bentuk ke bentuk lainnya, menafsirkan bagan, menerjemahkan bahan verbal ke rumus matematika. Sedangkan Hamalik mengatakan, “Pemahaman adalah kemampuan melihat hubungan?hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi yang poblematis.”3

Bloom membagi ranah kognitif menjadi 6 bagian, yaitu: mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, mengevaluasi, dan mengkreasi. (1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Mengingat berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori,

1Departemen Pendidikan Nasional,

# , , 0 , (Jakarta: Balai

Pustaka, 2007). Edisi Ke?3, Cet. Ke?3. h.811.

2 Oemar Hamalik,

# ! , (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 80.

3 Oemar Hamalik,

(22)

10

prinsip, atau metode; (2) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari; (3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru; (4) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian?bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik; (5) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk pendapat suatu pola baru; dan (6) Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.4

“Memahami” merupakan ranah kognitif setelah mengingat. Anderson dan krathwohl dalam bukunya & 1 +

& mengemukakan definisi tentang “memahami”

sebagai berikut, 23

+ + +

'45 “memahami” didefinisikan sebagai membangun

makna pesan instruksional meliputi lisan, tulisan dan komunikasi grafik.

b. Pengertian Konsep

Para ahli berbeda?beda dalam mendifinisikan suatu konsep. Hamalik menyatakan bahwa “Konsep adalah suatu kelas atau kategori stimuli yang memiliki ciri?ciri umum.”6 Sedangkan menurut Kuslan dan Stone, “konsep adalah sifat khas yang diberikan pada sejumlah objek , proses, fenomena, atau peristiwa yang dapat dikelompokkan berdasarkan kelompok itu.”7 Rumusan definisi diatas mempunyai

4Oemar Hamalik,

, ! ! + (Bandung:PT

Citra Aditya Bakti, 2005), h. 120.

5Lorin W. Anderson, and David R. Krathwohl,

& 1 +

& , (New York: Addison Wesley Longman, Inc.,2001) p. 30.

6 Oemar Hamalik,

, ! ! +(Jakarta:

Bumi Aksara, 2005), Cet. Ke?4, h. 162.

7Reviandari Widyatiningtyas,

! + !

(23)

11

makna yang sama, yaitu konsep merupakan suatu abstraksi yang menggambarkan ciri?ciri umum dari suatu kelompok objek, proses, peristiwa, fakta atau pengalaman lainnya.

Mengajarkan konsep kepada siswa dapat dibantu dengan instruksi verbal, yakni sebagai berikut:

1. Lebih dahulu diajarkan benda?benda yang mengandung konsep yang dipelajari.

2. Guru menanyakan konsep itu dalam situasi?situasi yang belum dihadapi anak lalu ditanya ”Apa ini? ” atau “ Di mana sudutnya? “. Bila respon salah kita dapat memperbaikinya.

3. Kemudian anak dihadapkan kepada berbagai situasi yang baru yang mengandung konsep itu dan menanyakan rangkaian verbal yang belum pernah dipelajarinya.

Dalam menerima konsep baru hendaknya dalam proses belajar mengajar siswa diarahkan untuk dapat mencoba melakukannya sendiri. Siswa diharapkan dapat menemukan konsep yang baru tersebut sebagai sesuatu yang bermakna baginya. Sehingga dalam menyelesaikan suatu masalah matematika siswa akan menggunakan konsep yang sudah ia miliki. Hal ini sejalan dengan pendapat Bruner yang dikutip Suherman yang menyatakan, bahwa:

“ jika anak ingin mempunyai kemampuan dalam hal menguasai konsep, teorema, definisi, dan semacamnya, anak harus dilatih untuk melakukan penyusunan representasinya. Untuk meletakkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran, anak?anak harus menguasai konsep dengan mencoba dan melakukannya sendiri. Dengan demikian, jika anak aktif dan terlibat dalam kegiatan mempelajari konsep yang dilakukan dengan jalan memperlihatkan representasi konsep tersebut, maka anak akan lebih memahaminya. ”8

Seorang guru dapat mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap suatu konsep yang diberikan dengan melihat dari apa yang

8 Erman Suherman,

" ! # '(Bandung: Jurusan

(24)

12

diperbuatnya, seperti ia dapat membedakan dari contoh dan bukan contoh, ia dapat menyebutkan ciri?ciri dari suatu konsep sampai kepada kemampuannya dalam memecahkan masalah.

Sedangkan menurut Hamalik, untuk mengetahui apakah siswa telah mengetahui dan memahami suatu konsep, paling tidak ada empat yang diperbuatnya. Yaitu sebagai berikut:

a. Ia dapat menyebutkan nama contoh?contoh konsep bila dia melihatnya.

b. Ia dapat menyatakan ciri?ciri konsep tersebut.

c. Ia dapat memilih, membedakan antara contoh?contoh dari yang bukan contoh

d. Ia mungkin lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan dengan konsep. 9

Begitu pula dalam belajar matematika, siswa harus benar?benar memahami konsep yang dipelajarinya dengan baik karena matematika merupakan bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang?lambang matematika bersifat artifisial dan baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Jadi matematika di sini merupakan bahasa yang terdiri dari lambang?lambang yang bersifat artifisial dan sudah merupakan kesepakatan bersama. Tanpa pemberian makna tersebut matematika hanya merupakan kumpulan rumus?rumus mati.

c. Pengertian dan Karakteristik Matematika

Istilah (Inggris), ! (Jerman),

6 (Perancis), (Italia), ! (Rusia)

atau !/ ! (Belanda) berasal dari perkataan latin

, yang mulanya diambil dari perkataan Yunani,

!e yang berarti “ ”. Perkataan ini

mempunyai akar kata yang berarti pengetahuan atau ilmu

9 Oemar Hamalik,

(25)

13

(! , ). Secara etimologi matematika mempunya

pengertian “ilmu pengetahuan yang diperoleh secara bernalar”10, hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktifitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran.

”Secara simpel matematika diartikan sebagai telaah tentang pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat, karenanya matematika bukan pengetahuan yang menyendiri, tetapi keberadaannya untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.”11

James dan James dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa, ”matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep?konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.”12 Namun pembagian yang jelas sangatlah sukar untuk dibuat, sebab cabang?cabang itu semakin bercampur. Sebagai contoh adanya pendapat yang mengatakan matematika itu timbul karena pemikiran?pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi menjadi 4 wawasan yang luas yaitu aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistika.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika yang berkenaan dengan ide?ide, penalaran, struktur?struktur dan hubungan?hubungannya yang diatur menurut urutan yang logis. Adapun wilayah pembahasan matematika meliputi empat wawasan, yaitu aritmatika, aljabar, analisis dan geometri.

10 Erman Suherman,

(26)

14

Berdasarkan pengertian matematika, maka perlu diperhatikan beberapa karakteristik pembelajaran matematika di sekolah. Karakteristik yang membedakan matematika dengan pelajaran lain yaitu dapat dilihat dari objek pembicaraannya yang abstrak, pembahasan mengandalkan tata nalar artinya info awal dibuat seefisien mungkin, pengertian/konsep atau pernyataan sangat jelas berjenjang, melibatkan perhitungan, dapat dipakai dalam ilmu yang lain serta dalam kehidupan sehari?hari. 13Menurut Suherman, dkk dalam buku yang

berjudul " ! # , beberapa

karakteristik matematika di sekolah diantaranya adalah bahwa pembelajaran matematika adalah berjenjang, mengikuti metoda spiral, menekankan pola pikir deduktif, serta menganut kebenaran konsistensi.14

Karakteristik pembelajaran matematika yang menyatakan pembelajaran matematika adalah berjenjang dimaksudkan bahwa materi matematika diajarkan secara bertahap. Dimulai dari mengajarkan hal yang konkrit dilanjutkan ke hal yang abstrak. Dalam pembelajaran matematika terdapat materi atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami materi atau konsep selanjutnya. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika harus dilakukan tahap demi tahap, dimulai dengan hal yang sederhana ke hal yang kompleks. Siswa tidak mungkin mempelajari konsep yang tinggi sebelum siswa menguasai konsep yang lebih rendah, karenanya matematika diajarkan dari konsep yang mudah menuju konsep yang lebih sukar.

Selain diajarkan secara bertahap, pembelajaran matematika juga mengikuti metoda spiral. Dalam mengajarkan konsep yang baru, perlu dikaitkan dengan konsep yang telah dimiliki siswa sebelumnya, sekaligus untuk mengingatkannya kembali. Pengulangan konsep dengan cara memperluas dan memperdalam diperlukan dalam

13 Asep Jihad,

# ! 7+hlm, 152?153.

14 Erman Suherman,

(27)

15

pembelajaran matematika. Metoda spiral yang dimaksud di sini adalah mengajarkan konsep dengan pengulangan atau perluasan dengan adanya peningkatan. Jadi, spiral yang dimaksud adalah spiral naik, bukan spiral datar.

Sifat pembelajaran matematika selanjutnya adalah menekankan pola pikir deduktif. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa matematika merupakan ilmu deduktif. Namun demikian, dalam mengajarkannya, perlu disesuaikan dengan kondisi siswa. Misalnya, sesuai dengan perkembangan intelektual siswa di SMP, maka dalam pembelajaran matematika tidak sepenuhnya menggunakan pendekatan secara deduktif, melainkan dicampur dengan induktif. Seperti dalam pengenalan teorema pythagoras, tidak langsung diberikan teorema tersebut. Tetapi diawali dengan memberikan simulasi untuk mendapatkan teorema tersebut.

Pembelajaran matematika juga menganut kebenaran konsistensi yang didasarkan kepada kebenaran?kebenaran terdahulu yang telah diterima. Kebenaran dalam matematika diperoleh secara deduktif. Walaupun dimulai dengan pembuktian secara induktif, tetapi selanjutnya harus bisa dibuktikan secara deduktif dengan cara pengandaian.

Pemahaman dalam pengertian pemahaman konsep matematika mempunyai beberapa tingkat kedalaman arti yang berbeda?beda. Berikut diuraikan beberapa jenis pemahaman menurut para ahli:

a. Pollastek membedakan dua jenis pemahaman, yaitu:

1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakannya secara algoritmik saja.

(28)

16

b. Copeland membedakan dua jenis pemahaman, yaitu:

1) # , yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara

rutin/algoritmik.

2) # , yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan

proses yang dikerjakannya.

c. Polya membedakan empat jenis pemahaman suatu hukum, yaitu: 1) Pemahaman mekanikal, yaitu pemahaman yang dimiliki

seseorang bila ia dapat mengingat dan menerapkan hukum secara benar.

2) Pemahaman indukif, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang bila ia telah mencoba hukum itu berlaku dalam kasus serupa. 3) Pemahaman rasional, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang

bila ia dapat membuktikan hukum itu.

4) Pemahaman intuitif, yaitu pemahaman yang dimiliki seseorang bila ia telah yakin akan kebenaran hukum itu tanpa ragu?ragu lagi.15

d. Skemp membedakan dua jenis pemahaman konsep, yaitu

pemahaman instruksional ( ) dan

pemahaman relasional ( ).16 Adapun

masing?masing jenis pemahaman mengandung pengertian sebagai berikut: :

1) Pemahaman instruksional ( ), yaitu

pemahaman atas konsep yang saling terpisah dan hanya hafal rumus dalam perhitungan sederhana. Dalam tahap ini siswa hanya sekedar tahu dan hafal suatu rumus dan dapat menggunakannya untuk menyelesaikan suatu soal, tetapi belum/tidak bisa menerapkannya pada keadaan lain yan berkaitan.

(29)

17

2) Pemahaman relasional ( ), yaitu

pemahaman yang termuat dalam suatu skema atau struktur yang dapat digunakan pada penyelesaian masalah yang lebih luas. Dalam tahap ini siswa tidak hanya sekedar tahu dan hafal suatu rumus, tetapi juga tahu bagaimana dan mengapa rumus itu dapat digunakan.

e. Menurut Bloom pemahaman dapat dibedakan menjadi tiga kategori yakni pengubahan ( ), pemberian arti ( ), dan Pembuatan ekstrapolasi ( 1 ).17 Pengubahan ( ),

yaitu pemahaman yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menerjemahkan kalimat dalam soal menjadi bentuk kalimat lain, misalnya menyebutkan variabel?variabel yang diketahui dan yang ditanyakan. Pemberian arti (0 ) yaitu pemahaman yang

berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menentukan konsep? konsep yang tepat untuk digunakan dalam menyelesaikan soal. Pembuatan ekstrapolasi (81 ) yaitu pemahaman yang

berkaitan dengan kemampuan siswa menerapkan konsep dalam perhitungan matematis untuk menyelesaikan soal atau menyimpulkan dari sesuatu yang telah diketahui.

Dari pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa tingkat penguasaan konsep dalam matematika meliputi:

a. Kemampuan mengucapkan konsep dengan tepat dan benar. b. Kemampuan menjelaskan konsep dengan kata?kata sendiri. c. Kemampuan mengidentifikasi sesuatu yang diberikan. d. Kemampuan menginterpretasikan konsep.

Konsep dalam matematika tidak cukup hanya dihafalkan tetapi harus dipahami melalui suatu proses berfikir dan aktifitas pemecahan masalah. Sehingga dapat dinyatakan bahwa matematika merupakan

17 Gusni Satriawati, “

! 8 ! " ! !

# # ! " ! " ”, dalam ALGORITMA Jurnal

(30)

18

suatu ilmu yang dinyatakan dengan bahasa simbolis untuk menyampaikan suatu informasi dengan jelas dan singkat.

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan pemahaman konsep adalah kemampuan siswa untuk menerangkan suatu hal meliputu aspek penerjemahan, penafsiran dan ekstrapolasi dalam menyelesaikan soal atau menyimpulkan dari sesuatu yang telah diketahui.

2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe

a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Kata “pembelajaran” dalam “# , , 0 4

adalah kata benda yang diartikan sebagai proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar.18 Suyitno mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa.”19

Menurut Fontana dalam Suherman, “pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.”20 Sedangkan Suherman mengemukakan pengertian lain tentang pembelajaran antara lain:

a. Menurut konsep sosiologi, pembelajaran adalah proses yang mempengaruhi sosio?psikologis untuk memelihara kegiatan belajar tersebut sehingga tiap individu yang belajar akan belajar secara optimal dalam mencapai tingkat kedewasaan dan dapat hidup sebagai anggota masyarakat yang baik.

18Departemen pendidikan Nasional,

# , , 0 , (Jakarta: Balai

Pustaka, 2007). Edisi Ke?3, Cet. Ke?3, h. 17.

19www.mathematic.transdigit.com. 20 Suherman,

(31)

19

b. Menurut konsep komunikasi, pembelajaran adalah proses perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan melalui komunikasi fungsional yang terjasi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa.21

Pembelajaran dapat pula dikatakan sebagai suatu proses belajar mengajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar tercapai tujuan?tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Pada dasarnya pembelajaran merupakan interaksi antara pendidik dalam mengajar ( ) dan peserta didik dalam belajar ( ).

Proses pembelajaran terjadi secara optimal jika pengetahuan dipelajari dalam tahap?tahap sebagai berikut :

a. Tahap Enaktif

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda?benda konkret atau situasi nyata.

b. Tahap Ikonik

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan diwujudkan dalam bentuk bayangan visual, gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret.

c. Tahap Simbolik

Suatu tahap pembelajaran dimana pengetahuan diwujudkan dalam bentuk simbol?simbol abstrak, baik simbol verbal, lambang? lambang matematika maupun lambang abstrak lainnya.22

Suherman menyatakan bahwa, “pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama.”23 Menurut Lie, “sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas?tugas

21 Suherman,

" ! ' ' ',h. 9.

22 www.mathematic.transdigit.com 23 Erman Suherman,

(32)

20

terstruktur disebut sebagai sistem “pembelajaran gotong royong” atau pembelajaran kooperatif.”24

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mendorong siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah pada akhir ayat 159 dalam surat Ali Imran:

...

Pembelajaran kooperatif juga dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mendorong siswa aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui keterampilan proses. Siswa aktif belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen.

Eggen dan Kauchak dalam Trianto mendefinisikan pembelajaran kooperatif yaitu sebuah kelompok pengajaran yang melibatkan siswa bekerja sama dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.26 Pembelajaran kooperatif adalah “suatu pembelajaran teman sebaya dimana siswa bekerjasama dalam kelompok?kelompok kecil yang

24 Anita Lie,

- 9 " ! !!

-# . (Jakarta: Grasindo, 2002), h. 12.

25 Depag, Alquran dan terjemahannya, (Jakarta:

CV.Kathoda, 2005), h. 90.

26 Trianto,

" " 0 : +(Jakarta: Kencana Prenada

(33)

21

mempunyai tanggung jawab bagi individu maupun kelompok terhadap tugas?tugas”. 27

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama?sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Dalam pembelajaran kooperatif ini siswa dapat lebih menemukan dan memahami konsep?konsep yang sulit melalui diskusi dan bila dibandingkan dengan pembelajaran individual, pembelajaran kooperatif lebih dapat mencapai kesuksesan akademik dan sosial siswa. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.

Berdasarkan pendapat?pendapat di atas dapat diambil pengertian bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam kelompok kecil atau tim untuk saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi dalam menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama dalam pembelajaran.

b. Karakteristik dan Urgensi Pembelajaran Kooperatif

Arends dalam Trianto, dkk mengemukakan bahwa kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri?ciri sebagai berikut:

1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.

27 Ani Kurniasari, “Komparasi Hasil Belajar Antara Siswa yang Diberi Metode TGT

(34)

22

2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda?beda.

4. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.28 Karakteristik yang utama dalam pembelajaran kooperatif adalah pengelompokkan heterogenitas. Kelompok heterogenitas bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender dan kemampuan akademis. Kelompok ini biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerjasama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan

Menurut Roger dan Johnson seperti yang dinyatakan oleh Lie, bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif sehingga untuk mencapai hasil yang maksimal perlu diterapkan lima unsur model pembelajaran kooperatif, yaitu:

1. Saling ketergantungan positif, artinya keberhasilan kelompok sangat dipengaruhi oleh usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.

2. Tanggung jawab perseorangan, artinya setiap anggota kelompok harus melaksanakan tugasnya dengan baik untuk keberhasilan kelompok.

28 Trianto,

" " 0 : , # ! : !+

(35)

23

3. Tatap muka, artinya setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan mendorong siswa untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota kelompoknya. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing?masing.

4. Komunikasi antar anggota, unsur ini menghendaki agar siswa dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi, karena keberhasilan kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.

5. Evaluasi proses kelompok, guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama secara efektif.29

Perlu diterapkan pembelajaran kooperatif dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa karena pembelajaran kooperatif tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan belajar, meningkatkan kehadiran siswa dan kerja siswa yang lebih positif, menambah motivasi dan percaya diri serta menambah rasa senang berada di sekolah. Selain itu menurut Johnson&Johson dan Sutton, pembelajaran kooperatif sangat penting dikarenakan memberikan nilai positif bagi siswa dengan adanya saling ketergantungan dalam kelompoknya, meningkatkan interaksi antara siswa dalam hal tukar?menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari, siswa belajar bertanggung jawab dalam hal membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas kelompoknya, berkembangnya tingkat keterampilan

29 Anita Lie,

- 9 " ! !!

(36)

24

interpersonal siswa sebagai anggota kelompok juga ketika siswa menyampaikan ide dalam kelompoknya.30

Selanjutnya menurut Slavin mengemukakan konsep utama dari belajar kooperatif, adalah sebagai berikut:

1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.

2. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompoknya. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.

3. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama?sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota sangat bernilai.31

Tim Instruktur Matematika dalam Kurniasari mengemukakan bahwa kelebihan pembelajaran kooperatif sebagai berikut:

1. Dengan pembelajaran kooperatif memungkinkan adanya komunikasi diantara kelompok.

2. Siswa dapat lebih mudah melihat kesulitan siswa yang lain dan kadang?kadang dapat menerangkan lebih jelas daripada yang dilakukan oleh guru.

3. Siswa dapat bekerja lebih daripada bekerja sendiri.

4. Siswa lebih termotivasi dan terlibat dalam proses pembelajaran. 5. Menumbuhkan persahabatan, saling menghargai dan bekerjasama

yang lebih baik karena adanya pengenalan diantara anggota kelompok.32

c. Teori yang Melandasi Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif bernaung dalam teori konstruktivis. Teori konstruktivisme adalah “suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern”. 33 Dalam proses pembelajaran konsep ini siswa dapat membandingkan kemampuannya secara konstruktif

30 Trianto,

" " 7+h. 60?61.

31 Trianto,

" " 7+h. 61?62.

32 Ani Kurniasari, “Komparasi Hasil Belajar…, h. 31.

33Jurnal Ciptakan Kemajuan Dengan Ilmu, “Pembelajaran Konstruktivistik”, dalam

(37)

25

menyesuaikan diri dengan tuntutan ilmu pengetahuannya dan teknologi, siswa aktif mengembangkan pengetahuan bukan hanya menunggu arahan dan petunjuk dari guru atau menunggu temannya. Pembelajaran kooperatif ini muncul dari “konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.”34

Siswa secara rutin bekerja dalam kelompoknya untuk saling membantu memecahkan masalah?masalah yang kompleks. Sebagaimana teori : dari Bruner dalam Komalasari mengatakan

bahwa “proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman”.35 Begitu pula dengan teori belajar Vygotsky yang menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya, yang mana pengetahuan tersebut tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial.36 Kemudian Ausubel mengemukakan bahwa belajar lebih bermakna bagi siswa jika materi pelajaran diurutkan dari umum ke khusus, dari keseluruhan ke yang rinci dan dalam pembelajaran hendaknya dirancang dalam bentuk abstrak atau ringkasan konsep?konsep dasar tentang apa yang dipelajari dan hubungannya antara materi yang baru dengan materi yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.37

Terdapat dua teori penting yang melandasi pembelajaran kooperatif, yaitu:

a. Teori motivasi

Menurut teori motivasi, motivasi siswa dalam pembelajaran kooperatif terutama terletak dalam bagaimana bentuk hadiah atau struktur pencapaian tujuan siswa melaksanakan kegiatan. Diidentifikasikan ada tiga macam struktur pencapaian tujuan

34 Trianto,

" " 7+h.56.

35 Kokom Komalasari,

# ! =# & ! +(Bandung:PT.

Refika Aditama, 2010), Cet.Ke?1, h.21.

36 Kokom Komalasari,

# ! 7+h. 23.

37 Kokom Komalasari,

(38)

26

yaitu:a) Kooperatif, dimana orientasi tujuan masing?masing siswa turut membantu pencapaian tujuan siswa lain;b) Kompetitif, dimana upaya siswa untuk mencapai tujuan akan menghalangi siswa lain dalam pencapaian tujuan;c) Individualistik, dimana upaya siswa untuk mencapai tujuan tidak ada hubungannya dengan siswa lain dalam mencapai tujuan tersebut.38

Berdasarkan pandangan teori motivasi, struktur tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana satu?satunya cara agar tujuan tiap anggota kelompok tercapai adalah jika kelompok tersebut berhasil. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pribadi mereka, anggota kelompok harus membantu teman sekelompoknya dalam hal apa saja yang dapat membuat kelompok berhasil, dan lebih penting mendorong teman kelompoknya untuk berusaha secara maksimal. Dengan kata lain penghargaan kepada kelompok berdasarkan pada kemampuan kelompok dalam menciptakan struktur penghargaan antar perorangan sedemikian rupa sehingga anggota kelompok akan saling member penguatan sosial sebagai respon terhadap upaya?upaya pengerjaan tugas teman sekelompoknya.

b. Teori Kognitif

Teori ini mengukur efek?efek dari bekerjasama dalam diri individu.Teori ini dikelompokkan dalam dua kategori:a) Teori Perkembangan, asumsi dasar teori perkembangan adalah interaksi siswa dalam menyelesaikan tugas?tugas yang sesuai dengan kemampuan mereka ketika menghadapi soal?soal yang sulit. Vygotsky mendefinisikan > 1 ( : sebagai

jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman

(39)

27

sebaya yang lebih mampu;39 b) Teori Elaborasi kognitif, teori ini mempunyai pandangan yang berbeda. Penelitian dalam psikologi kognitif telah menemukan bahwa supaya informasi dapat disimpan di dalam memori dan terkait dengan informasi yang sudah ada dalam memori itu, maka siswa harus terlibat dalam kegiatan restruktur atau elaborasi kognitif atas suatu materi. Sebagai contoh membuat ikhtisar merupakan kegiatan yang lebih baik daripada sekedar membuat catatan, karena membuat ikhtisar menghendaki siswa mereorganisasi dan memilih materi yang penting. Salah satu elaborasi kognitif yang paling efektif adalah menjelaskan materi itu pada orang lain.

d. (TGT)

Secara umum metode pembelajaran TGT hampir sama dengan STAD kecuali satu hal. TGT menggunakan turnamen akademik dan menggunakan kuis?kuis serta sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kemampuan akademiknya setara. Pada akhirnya siswa?siswa yang berprestasi paling rendah pada setiap kelompok memiliki peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi kelompoknya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al?Baqarah pada akhir

39 Kokom Komalasari,

(40)

28

! $ ! %' & " #

'4?@

Meskipun keanggotaan kelompok tetap sama, tetapi siswa yang mewakili kelompok untuk bertanding dapat berubah?ubah atas dasar penampilan dan prestasi masing?masing anggota. Misalnya mereka yang berprestasi rendah, yang mula?mula bertanding melawan siswa?siswa kemampuannya sama dapat bertanding melawan siswa?siswa yang berprestasi tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu.

Menurut Slavin komponen?komponen dalam TGT yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Presentasi Kelas

Dalam presentasi kelas guru memperkenalkan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung atau mendiskusikan dalam kelas. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan oleh guru agar nantinya dapat membantu siswa dalam mengikuti diskusi kelompok, dan turnamen.

2. Kelompok

Kelompok terdiri empat sampai lima orang yang heterogen misalnya berdasar kemampuan akademik dan jenis kelamin, jika memungkinkan suku, ras atau kelas sosial. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk menyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota mempersiapkan diri untuk mengikuti dan turnamen dengan sebaik?baiknya. Diharapkan tiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik bagi kelompoknya dan adanya usaha kelompok melakukan untuk membantu anggota kelompoknya sehingga dapat meningkatkan kemampuan akademik dan menumbuhkan

40 DEPAG,

(41)

29

pentingnya kerjasama diantara siswa serta meningkatkan rasa percaya diri.

3. (permainan)

Permainan ( % dibuat dengan isi pertanyaan?

pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. dimainkan dengan meja yang berisi tiga sampai lima murid yang mewakili kelompok yang berbeda. Siswa mengambil kartu bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain.

4. (kompetisi)

Biasanya turnamen diselenggarakan akhir minggu, setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok?kelompok mengerjakan tugas?tugasnya. Untuk turnamen pertama guru mengelompokkan siswa dengan kemampuan serupa yang mewakili tiap timnya. Kompetisi ini merupakan sistem penilaian kemampuan perorangan sebagaimana dalam tipe STAD. Kompetisi ini juga memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk memaksimalkan nilai kelompok mereka menjadi terbaik. Alur penempatan peserta turnamen menurut Slavin dapat dilihat pada Diagram berikut:

Gambar1

(42)

30

Pengelompokkan siswa untuk meja A?1, A?2, A?3, dan A?4 dibuat berdasarkan ranking.

a. Siswa yang mendapatkan skor tertinggi dari setiap meja, akan dipindahkan pada meja pertandingan yang lebih tinggi, kecuali yang menempati meja I. Misalnya, dari meja IV ke meja III, pemenang kedua dan ketiga tetap menempati meja pertandingan sebelumnya, sedangkan siswa dengan skor terendah dari setiap meja akan berpindah ke meja yang lebih rendah, kecuali yang menempati meja IV.

b. Jika siswa setelah berpindah ke meja yang lebih rendah, maka siswa akan berusaha untuk berpindah ke meja yang lebih tinggi. c. Jumlah anggoat kelompok yang dapat menempati meja skor

tinggi (meja I) merupakan pemenang dalam turnament tersebut. d. Perhitungan nilai turnamen berdasarkan kriteria yang telah

ditentukan, kemudian dilakukan pemberian penghargaan. 5. Penghargaan Kelompok (Rekognisi Tim)

Setelah mengikuti dan turnamen, setiap kelompok akan memperoleh poin. Rata?rata poin kelompok yang diperoleh dari dan turnamen akan digunakan sebagai penentu penghargaan kelompok. Jenis penghargaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Penghargaan kelompok dapat berupa hadiah, sertifikat, dan sebagainya.41

Adapun keunggulan dari pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah sebagai berikut:

1. Siswa lebih banyak mencurahkan waktunya dalam mengerjakan tugas,

2. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu, 3. Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara

mendalam,

4. Siswa terlibat aktif dalam proses belajar,

41 Robert E. Slavin, (1995).

- : + ! !+ Terj'dari

- : 9 + oleh Nurulita, (Bandung: Nusa Media,

(43)

31

5. Mendidik siswa untuk bersosialisasi dengan orang lain, 6. Meningkatnya motivasi belajar siswa,

7. Meningkatkan hasil belajar siswa, dan

8. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.42

e. Langkah langkah model pembelajaran kooperatif tipe TGT

Adapun langkah?langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif

tipe (TGT) adalah:

1. Mengajar

Mengajar dalam metode TGT sama dengan pembelajaran pada umumnya, yaitu guru mempresentasikan pelajaran yang akan dibahas, ketika guru mempresentasikan pelajaran, siswa sudah berada pada kelompok?kelompok kecil.

2. Kelompok Belajar

Selama siswa belajar, anggota kelompok bertugas memahami materi yang telah dipresentasikan dan membantu anggota kelompok lainnya dalam memahami materi tersebut.

Tiap kelompok mendapatkan lembar kerja dan lembar jawaban, sehingga mereka dapat mempraktekkan kemampuan yang diperoleh dan untuk menilai kemampuan mereka. Setiap kelompok hanya dua kopian lembar kerja dan lembar jawaban, agar mereka dapar belajar dalam kelompok.

Hari pertama dari kerja kelompok dalam TGT adalah menjelaskan kepada siswa mengenai makna belajar dalam kelompok dan aturan yang berlaku. Secara khusus aturannya adalah sebagai berikut:

a. Siswa duduk dalam meja kelompok.

(44)

32

c. Memberikan lembar kerja dan lembar jawaban (dua kopian tiap kelompok).

d. Beri motivasi bahwa siswa bekerja sama dengan kelompok sehingga bila di antara mereka mengalami kesulitan dapat ditanyakan pada teman sekelompoknya sebelum ditanyakan kepada guru.

e. Yakinkan bahwa siswa harus dapat memperoleh nilai 100. f. Informasikan kepada siswa mengenai kegunaan lembar kerja

dan lembar jawaban. Lembar kerja untuk mempelajari dan menguji materi yang telah dipresentasikan dan lembar jawaban untuk menilai kemampuan yang diperoleh.

g. Ketika mereka bekerja dalam kelompoknya, guru berkeliling memberikan respon kepada setiap kelompok. Duduk di antara kelompok untuk mendengar bagaimana siswa bekerja dalam kelompoknya.

3. Kompetisi atau turnamen

Siswa berkompetisi di antara tiap satu meja yang terdiri dari tiga sampai empat orang yang berkemampuan sama. Setiap meja turnamen terdiri dari lembar penempatan , satu lembar game yang terdiri dari pertanyaan, satu lembar jawaban game, satu lembar skor game dan kartu bernomor, korespondensi dari nomor pertanyaan pada lembar game.

(45)

33

menantang atau pas, penantang kedua memeriksa jawaban di lembar jawaban. Siswa yang mendapat jawaban dengan benar mengambil kartu dari pertanyaan tersebut. Jika tidak ada yang menjawab dengan benar kartu dikembalikan ke meja.

Untuk giliran selanjutnya terjadi perpindahan posisi sesuai arah jarum jam sehingga semua kartu game habis. Ketika kartu game habis, pemain melaporkan banyaknya kartu yang mereka menangkan pada lembar skor game, sehingga pada akhir mereka dapat menghitung skor total dan menuliskan poin turnamen. Contoh lembar skor game dan perhitungan poin turnamen dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 1 Lembar skor game Meja :……..

Pemain Kelompok Skor Game Poin turnamen

(46)

34

Setelah turnamen selesai, usahakan sesegera mungkin tulis skor kelompok dan persiapkan sertifikat atau penghargaan lainnya.

Yang perlu dilakukan :

a. Cek lembar skor game tiap turnamen.

b. Pindahkan poin turnamen tiap siswa ke dalam lembar rangkuman kelompok berdasarkan kelompoknya.

c. Jumlahkan semua skor anggota kelompok dan bagi sesuai banyaknya anggota kelompok. Contoh lembar rangkuman kelompok dapat dilihat pada tabel berikut:

(47)

35

Ada 3 tingkatan dalam pemberian penghargaan, dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 4

Kriteria Pemberian Penghargaan

Kriteria Penghargaan

40 Good Team

45 Great Team

50 Super Team

Berdasarkan teori?teori mengenai pembelajaran kooperatif tipe TGT di atas, penulis menggunakan teori pembelajaran kooperatif tipe TGT yang dikemukakan oleh Slavin sebagai acuan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TGT di SMPN 21 Tangerang.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini seperti yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) oleh Arifah Nur Triyani (2009) dalam skripsinya yang berjudul “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams?Games?Tournament) Sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan Peluang Dan Statistika di SMPN 4 Depok Yogyakarta”. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa keaktifan belajar matematika siswa mengalami peningkatan karena rata? rata yang diperoleh dari aspek keaktifan siswa belajar siswa pada siklus I 61,17% dan meningkat menjadi 77,11 % pada siklus II.

(48)

36

76,05 sedangkan nilai rata?rata siswa yang diajarkan dengan metode STAD sebesar 70,13.

3. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) oleh Diyanto (2006), dalam laporannya yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran - :

Melalui Tipe TGT (Teams?Games?Tournament) Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII?6 MTs Filial Al Iman Adiwena Tegal Pada Pokok Bahasan Bilangan Bulat”. Berdasarkan hasil? hasil dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: (1) peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika pokok bahasan bilangan bulat melalui penerapan model pembelajaran : melalui

tipe TGT meningkat, dan (2) hasil belajar matematika pokok bahasan bilangan bulat melalui penerapan model pembelajaran :

melalui tipe TGT meningkat. Hal ini didasarkan dari ketuntasan belajar dari 76,6% pada siklus I, menjadi 85,3% pada siklus II, dan pada siklus III meningkat menjadi 87,7%.

Dari beberapa hasil penelitian di atas, terlihat bahwa model

pembelajaran : melalui tipe TGT (Teams?Games?

Tournament) dapat mengaktifkan siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif melalui tipe TGT terhadap pemahaman konsep matematika siswa.

C. Kerangka Berfikir

Pemahaman konsep merupakan salah satu unsur evaluasi dalam pembelajaran matematika selain kemampuan penalaran, komunikasi dan pemecahan masalah. Adapun indikator dalam pemahaman konsep meliputi: 1) , yaitu kemampuan untuk mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa pengubahan makna. 2)0 + yaitu kemampuan untuk

menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol, baik simbol verbal atau nonverbal. 3)8! + yaitu kemampuan untuk melihat kecenderungan

(49)

37

Teori kognitif menyatakan bahwa interaksi antar siswa diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan soal?soal yang sulit. Sedangkan teori motivasi mengemukakan bahwa orientasi tujuan masing?masing siswa turut membantu pencapaian tujuan siswa lain. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang dilandasi oleh kedua teori tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pada interaksi siswa dan kerjasama kelompok, salah satu tipe pembelajaran kooperatif adalah

TGT ( ), dimana dalam proses pembelajarannya

menggunakan untuk membuat siswa senang mempelajari matematika. Di dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT, terdapat tiga dimensi utama;

, di dalamnya kerjasama kelompok diarahkan pada kegiatan pembelajaran sesuai materi pelajaran yang telah ditentukan; , proses kegiatan pembelajaran didesain dalam bentuk game (permainan), pada proses inilah pemahaman suatu konsep materi dapat dilaksanakan dengan efektif; , setelah kegiatan pembelajaran siswa juga diberikan motivasi, karena di dalam , siswa akan mendapatkan nilai dan juga

yang mampu memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga diyakini oleh penulis, bahwa model pembelajaran tipe TGT dapat mempengaruhi secara positif terhadap siswa dalam memahami konsep materi pelajaran yang diberikan.

Berdasarkan uraian di atas diduga bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat berpengaruh positif terhadap pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika.

D. Pengajuan Hipotesis

Gambar

grafik.
grafik. . View in document p.22
gambar atau
gambar atau . View in document p.31
Gambar 1 Diagram Pembagian Meja Turnamen Siswa
Gambar 1 Diagram Pembagian Meja Turnamen Siswa . View in document p.41
Tabel 1 Lembar skor game
Tabel 1 Lembar skor game . View in document p.45
Tabel 3 Lembar Rangkuman Kelompok
Tabel 3 Lembar Rangkuman Kelompok . View in document p.46
Tabel 4 Kriteria Pemberian Penghargaan
Tabel 4 Kriteria Pemberian Penghargaan . View in document p.47
Tabel 5 Desain Penelitian
Tabel 5 Desain Penelitian . View in document p.51
Tabel 6 Perincian Populasi dan Sampel
Tabel 6 Perincian Populasi dan Sampel . View in document p.51
Tabel 7
Tabel 7 . View in document p.52
Tabel 8 Kriteria Pemberian Skor Tes Essay
Tabel 8 Kriteria Pemberian Skor Tes Essay . View in document p.56
Tabel 9, Kualifikasi Persentase Skor Hasil Observasi Keaktifan
Tabel 9 Kualifikasi Persentase Skor Hasil Observasi Keaktifan . View in document p.61
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Eksperimen . View in document p.63
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep
Tabel 11 Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep . View in document p.65
Tabel 12 Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol
Tabel 12 Distribusi Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol . View in document p.66
Gambar 3:Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol Interval Data
Gambar 3 Histogram dan Poligon Frekuensi Pemahaman Konsep Kelompok Kontrol Interval Data . View in document p.67
Tabel 13 Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep
Tabel 13 Distribusi Frekuensi Indikator Pemahaman Konsep . View in document p.68
Tabel 14 Perbandingan Hasil Posttest
Tabel 14 Perbandingan Hasil Posttest . View in document p.69
Tabel 16
Tabel 16 . View in document p.71
Tabel 17 Hasil Uji�t Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Tabel 17 Hasil Uji t Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol . View in document p.72
Gambar tangga terhadap pohon digambarkan seperti segitiga di bawah ini
Gambar tangga terhadap pohon digambarkan seperti segitiga di bawah ini . View in document p.87
Gambar di samping adalah segitiga siku?siku #�"� dengan siku?0
Gambar di samping adalah segitiga siku siku dengan siku 0. View in document p.122
Tabel persiapan penghitungan Mean, Simpanan Baku dan Varians:
Tabel persiapan penghitungan Mean Simpanan Baku dan Varians . View in document p.147
Tabel persiapan pengitungan Koefisien Kurtosis  (α
Tabel persiapan pengitungan Koefisien Kurtosis . View in document p.150
Tabel persiapan penghitungan Mean, Simpanan Baku dan Varians:
Tabel persiapan penghitungan Mean Simpanan Baku dan Varians . View in document p.152

Referensi

Memperbarui...

Download now (185 pages)
Related subjects : Teori Belajar Bruner teori bruner