Skripsi ini mengkaji tentang akhlak guru yang ideal menurut al-Ghazali. Pembahasan skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui pendidikan akhlak dan akhlak guru yang ideal menurut pandangan al-Ghazali. Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang banyak memberika

Gratis

0
5
84
3 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Khalimi, MA yang telah sabar dan meluangkan waktunya di tengah kesibukannya untuk membimbing, mengarahkan dan memberikansemangat selama proses penulisan dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak dan ibu dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah memberikan ilmunya kepada penulis, semoga bapak dan ibu dosen selaludalam rahmat dan lindungan Allah SWT.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan dan kemajuan bangsa selalu diinspirasi dan digerakkan oleh

  Pentingnya guru dalam dunia pendidikan ditegaskan dalam al-Qur'an yaitu untuk membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampumenjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya, guna 2 membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan Allah. Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak ataupenghancur bagi hari depan anak didik, terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang 6 mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

2. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi para guru agar memiliki akhlak yang mulia sebagai modal awal dalam mendidik. Hasil penelitian ini merupakan langkah awal dan dapat ditindak lanjuti oleh penulis berikutnya.

BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Akhlak Pengertian akhlak dari segi bahasa berasal dari bahasa arab, yang berarti

  Secara Linguistik (kebahasaan) Kata akhlak merupakan isim Jamid atau ghair mustaq, yaitu isim yang tidak mempunyai akar kata, melainkan kata tersebut begitu adanya. Kata akhlaq adalah jama’ dari kata Khulqun atau khuluq yangartinya sama dengan arti akhlak sebagaimana telah disebutkan diatas.

1 Qur’an maupun al-Hadits

  Abdullah DirrozAkhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihanpihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam 3 hal akhlak yang jahat) c. Imam al-GhazaliMenurut al-Ghazali akhlak adalah "al-khuluq" (jamaknya al-akhlak) ialah ibarat (sifat atau keadaan) dari perilaku yang konstan (tetap) danmeresap dalam jiwa, darinya timbuh perbuatan-perbuatan dengan wajar dan 6 mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan".

B. Pengertian, Tugas dan Tanggung Jawab Guru 1

  Selain itu, adalah al- mudarris (untuk arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran) dan al-muaddib (yang merujuk kepada guru yang secara khusus mengajar di istana) serta al-ustadz (untuk menunjuk kepada guru yangmengajar bidang pengetahuan agama Islam, dan sebutan ini hanya dipakai 8 oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia). Al-Ghazali menyebutkan "Seorang guru adalah berurusan dengan hati dan jiwa manusia, dan wujud yang paling mulia di muka bumi ini adalah jenismanusia.

2. Tugas Guru

  Bagi anak yang pandai, pelajaran tertentu itu mudah, sedangkanbagi anak yang lambat dalam memahami pelajaran tersebut maka itu terasa sulit untuk menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan individual,kondisi yang demikian ini berarti yang harus diperhatikan bukan anak- anak yang lambat saja, akan tetapi juga anak-anak yang pandai, sehinggasetiap anak dapat berkembang sesuai dengan kecepatan dan bakat masing- masing. Tanggung jawab guru dalam bidang pendidikan di sekolah, yaitu setiap guru harus menguasai cara belajar mengajar yang efektif, mampumembuat satuan pelajaran, memahami kurikulum yang baik, mampu mengajar di kelas, mampu menjadi model bagi siswa mampu memberikannasehat, mampu menguasai teknik-teknik pemberian bimbingan dan layanan serta mampu membuat dan melaksanakan evaluasi.

C. Syarat-syarat Guru

  H mengatakan ada beberapa syarat-syarat guru diantaranya: 1) Mempunyai komitmen yang kuat terhadap tugas dan program.2) Komitmen terhadap pelayanan publik.3) Bekerja berdasarkan sifat dan etika profesional.4) daya tanggap (responsiveness) dan akuntabilitas Memiliki (accountability).5) Memiliki derajat otonomi yang. Hasan mengatakan perlu adanya persyaratan profesionalisme guru, agar melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitusebagai berikut: 1)28 Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang; Desi Fernanda, Etika Organisasi Pemerintah, (Jakarta: Lembaga Administrasi Negara, 2003), h.

4) Pengembangan profesi secara berkesinambungan

  Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhiperkembangan profesi guru yang profesional. Mengenai syarat-syarat guru,Ibn Jama'ah mengatakan bahwa seorang guru harus menghiasi dirinya dengan akhlak seorang yang beragama, bersikap zuhud dan qana ’ah serta berkepribadian agamis, yaitu memelihara dan menegakkan syariat Islam.

3) Guru tidak boleh meninggalkan sedikitpun dari nasihat-nasihat guru

  37 7)Guru seyogyanya menyampaikan kepada murid yang pendek (akal) akan sesuatu yang jelas dan patut baginya, dan ia tidak menyebutkan kepadanyabahwa di balik ini ada sesuatu yang dinilai, dimana ia menyimpannya. Bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagaiorator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment.

D. Kriteria Guru yang Berakhlakul Karimah

  Zakiah Daradjat, merumuskan persyaratan kepribadian bagi seorang guru adalah sebagai berikut :34 Ibid., h. 180 Suka bekerjasama, dengan demokratis, penyayang, menghargai kepribadian anak didik, sabar, memiliki pengetahuan, keterampilan danpengalaman yang brmacam, macam, perawakan yang menyenangkan dan kelakuan baik, adil dan tidak memihak, toleran, mantap, dan stabil, adaperhatian terhadap persoalan anak didik, lincah, mampu memuji perbuatan baik dan menghargai anak didik cukup dalam pengajaran, serta mampu 40 memimpin secara baik.

1) Memiliki sifat zuhud, dan mengajar karena mencari ridho Allah SWT

  66-70 Sedangkan Siti Meichati menyatakan tentang persyaratan kepribadian guru adalah perhatikan dan kesenangan anak didik, kecakapan merangsang anakdidik untuk belajar dan mendorong untuk berfikir, simpati, kejujuran, dan keadilan, sedia menyesuaikan diri dan memperhatikan orang lain,kegembiraan dan antusiasme, luas perhatiannya, adil dalam tindakan, 42 menguasai diri, serta mengusai ilmu". Dari uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa persyaratan akhlak dan kepribadian guru selain seorang guru harus memiliki tabiat yang baik dalamdirinya sendiri juga harus memiliki akhlak dan kepribadian yang baik saat42 menghadapi peserta didik dalam proses belajar mengajar.43 Siti Meichati, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: FIP IKIP, 1982), h.

C. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN

  Kesimpulan dari ketiga judul skripsi yang penulis ambil dengan tujuan untuk mengkomparasi atau membandingkan dengan skripsi yang penulis buat,secara khusus skripsi-skripsi itu dibuat dengan penelitian kuantitatif yaitu meneliti mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan darihasilnya, dengan disertai table, grafik, bagan, gambar atau tampilan lain. Adapun subjek dari skripsi ini bersifat khusus yaitu membahas tentang” akhlak guru” yakni bagimana sosok guru memberikanperanannya kepada anak didiknya dengan baik dalam membentuk kepribadian, sehingga hasilnya anak didiknya memiliki perilaku yang baik dan menjadi anakyang sholeh dambaan setiap umat sesuai dengan pandangan Islam.

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Pendidikan Akhlak Menurut Al-Ghazali a. Arti Pendidikan Akhlak Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang banyak memberikan

  Al-Ghazali mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan akhlak, sebagaimana al-Ghazali katakan dalam kitab Mizan al-Amal: yangdikutip dan diterjamahkan oleh Zaenuddin, dkk “tujuan murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang, adalah 1 kesempurnaan dan keutamaan jiwanya”. Mahmud Yunus mengatakan”tugas yang pertama dan terutama yang terpikul atas pundak alim ulama, guru agama dan pemimpin Islam ialahmendidik anak-anak, para pemuda, putra-putri, orang-orang dan masyarakat umumnya supaya semuanya itu berakhlak mulia dan berbudi 5 pekerti yang halus”.

6 Sebagaimana dijelaskan dalam al-

  Sama halnya dengan yang dikatakan Abuddin Nata bahwa pembentukan atau pendidikan akhlak diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak, dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan 9 dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Secara tidaklangsung, al-Ghazali tidak sependapat dengan aliran nativisme yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah instinct (garizah) yang dibawa sejak lahir, sehingga orang yang bakatnya pendek misalnya tidak dapat dengan sendirinya meninggikan dirinya, demikian pula sebaliknya.

16 Perhatian al-Ghazali terhadap faktor makanan baik orangtua atau

  Senada yang dikatakan Ibnu Miskawaih, tujuan pendidikan akhlak adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorongmelakukan perbuatan yang benilai baik atau pribadi susila, sehingga akan memperoleh kebahagian disisi Allah di akhirat kelak dan hidup denganprilaku yang baik di dunia. Sebaliknya jika anak itu sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan keburukan dandibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya, yakni sebagaimana seseorang yang memeliharabinatang, maka akibatnya anak itupun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya, sedang dosanya yang utama tentulah dipikulkan kepadaorang (orang tua, pendidik) yang bertanggung jawab untuk 24 memelihara dan mengasuhnya.

B. Kriteria Akhlak Guru yang Ideal

  Sebelum membahas akhlak guru yang ideal menurut al-Ghazali, penulis akan menjelaskan terlebih dahulu pengertian akhlak, pengertianguru, profesi guru serta tugas dan kewajiban guru menurut al-Ghazali. Akhlak guru yang ideal yang akan dibahas dalam bab ini adalah akhlak guru terhadap dirinya sendiri (kepribadian guru) dan akhlak guru kepadamurid.

1. Pengertian Akhlak

31 Al-Ghazali memberikan kriteria terhadap akhlak

  Sama seperti yang dikatakan Ibrahim Anis bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya lahirlah macam-macamperbuatan, baik dan buruk tanpa membutuhkan pemikiran dan 35 pertimbangan. Abdullah Dirroz juga berkata bahwa akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendakmana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam 36 hal akhlak yang jahat).

H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung:CV. Pustaka Setia, 2005), cet. III, h. 14

  Dalam Ihya Ulumu al-Din, al-Ghazali membagi menjadi empat bagian yaitu ibadah, adab, akhlak yang menghancurkan (muhlikat) dan akhlak yang menyelamatkan(munjiyat). Jadi akhlak berasal dari kata (al-khuluq) yang berarti prilaku, selanjutnya al-Ghazali menerangkan adalah perilaku yang tetap yangberasal dari dalam jiwa, sehingga menghasilkan perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa adanya pemikiran sehingga menghasilkan perbuatanyang baik atau buruk.

2. Pengertian Guru

  Kata tersebut dalam ayat yang dimaksud digunakan dalam hubungannya dengan orang-orang yang mampumenangkap hikmah atau pelajaran yang tersirat dalam berbagai 42 perumpamaan yang diceritakan dalam al- Qur’an. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Abuddin Nata bahwasanya guru berasal dari kata al-alim berarti seorang guru yang harus memilikikecerdasan intelektual yang tinggi, sehingga mampu menangkap pesan- pesan, hikmah, petunjuk, dan rahmat dari segala ciptaan Tuhan sertamemiliki potensi batiniyah yang kuat sehingga ia dapat mengarahkan 43 hasil kerja dari kecerdasan untuk diabdikan kepada Tuhan.

44 Allah SWT. Abuddin Nata menambahkan, al-Ghazali berpendapat

  bahwa guru yang diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadicontoh dan teladan bagi muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak 45 muridnya.

3. Profesi Guru

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi alas an dalam profesi guru yaitu:a. Alasan yang berhubungan dengan sifat naluriyahDalam kitab Ihya Ulum al-Din ia menyebutkan “apabila ilmu itulebih utama dalam segala hal, maka mempelajarinya adalah mencari yang lebih mulia, maka mengajarkannya adalah memberikan faedah

52 Jadi profesi guru sebagai pengajar dan bagi keutamaan itu”

  Saifuddin yang menyatakan pekerjaan guru adalah pekerjaan yang paling mulia, sesuai dengan filsafat hidupnya yang menjunjung tingginilai-nilai sikap pengabdiannya, yaitu pelayanan jasa pada masyarakat 55 dan kemanusiaan. Karena guru adalah seseorang yang bertugas membersihkan dan menyempurnakan hati murid-muridnya, yang dalam hal ini al-Ghazalimenjelaskan bahwa hati adalah bagian paling mulia dari tubuh manusia.

4. Tugas dan Kewajiban Guru

  Jadi, hubungan psikologis antara kedua orang tua dengan anaknya, seperti hubungan naluriah antara kedua orangtua dan ananya, sehingga hubungan timbal balik yang harmonis tersebut akan berpengaruh positif ke dalam proses pendidikan dan pengajaranc. Maka gurulah yang betanggung jawab menyediakan dan menciptakanlingkungan yang asri, nyaman dan menyenangkan agar terjadi proses belajar yang efektif.

5. Akhlak Guru yang Ideal

  Yaitu seorang guru harus menjadi pembaharu dalam pembelajaran yang selama ini salah diterima anak didiknya, serta berusaha untukmemperbaiki dirinya juga muridnya agar menjadi pribadi yang kuat. Pertama, tabiat dan prilaku pendidik, yaitu sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harusditerima baik, senantiasa harus bersifat kasih tidak pilih kasih, jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya/pamer, tidak takabur, kecuali terhadaporang zalim, dengan maksud mencegah dari tindakannya, dan bersikap tawadhu dalam pertemuan-pertemuan.

66 Pendapat al-Ghazali juga seperti diungkapkan Majdah namanya”

  Begitu pula yang dijelaskan Abuddin Nata bahwa seorang guru harus memiliki syarat keagamaan, yaitu patuh dan tunduk melaksanakan syariatIslam, lalu senantiasa berakhlak yang mulia yang dihasilkan dari 68 pelaksanaan syariat tersebut. Kemudian kesimpulan dari pemaparan al-Ghazali tentang kepribadian guru yang ideal yang kedua, keteraampilan mengajar serta perhatian terhadap proses belajar mengajar yakni sikap dan pembicaraannya tidak main-main, menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya, menyantuni serta tidakmembentak-bentak orang bodoh dan memebimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.

70 Kemudian kesimpulan ketiga, sikap ilmiah dan

  Hampir sama dengan Abdullah Badran yang mengatakan “jika da orang yang bertanya tentang sesuatu yang ganjilmaka janganlah orang yang bertanya itu diremehkan atau dihina, dan apabila ditanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya ataumenyimpang dari topik pembahasannya, maka katakanlah bahwasanya saya belum tahu atau saya tidak menjelaskannya, dan jangan malumengatakan yang demikian itu”. 72 Pendapat al-Ghazali tentang kepribadian guru juga sejalan dengan Siti Meichati juga menyatakan “…perhatian dan kesenangan kepada anak didik, kecakapan merangsang anak didik untuk belajardan mendorong untuk berfikir, simpati, kejujuran, keadilan, serta sedia menyesuaikan diri dan memperhatikan orang lain, kegembiraandan antusiasme, luas perhatiannya, adil dalam tindakan, menguasai diri, menguasai ilmu”.

73 Juga yang dijelaskan Zakiah Dardjat syarat

  kepribadian seorang guru yaitu:Suka bekerjasama dengan demokratis, penyayang, menghargai kepribadian anak didik, sabar, memiliki pengetahuan,keterampilan, dan pengalaman yang bermacam-macam, perawakan yang menyenangkan dan kelakuan baik, adil danmemihak, toleran, mantap, dan stabil, ada perhatian terhadap persoalan anak didik, cukup dalam pengajaran, serta mampumemimpin secara baik. Berkenaan dengan ini maka sesuaidengan istilah tarbiyah yang pada intinya menumbuhkan pemahaman melalui diri si anak itu sendiri, dan karenanya waqjib mengikuti cara-cara yang sesuai dalam memperlakukanpara siswa disertai petunjuk dan arahan guru.

81 Hal ini didasarkan kepada pemahaman bahwa tujuan otaknya”

  Jika terpenuhi syarat-syarat ketelitian, pemjelasan dan keterangan dari suatu ilmu yang diberikan kepada seorang pelajar,dan apabila ia merasa belum menguasai dengan sempurna dan mencapai tujuan dengan sesungguhnya, dan jika dimungkinkanpelajaran lebih dapat menjelaskan dan tergerak hatinya, namun ia kikir menyampaikannya. Seorang guru menurut al-Ghazali adalah seorang yang diserahi menghilangkanakhlak buruk dan menggantinya dengan akhlak yang baik agar para pelajar itu mudah menuju jalan ke akhirat yang menyampaikannya 8582 kepada Allah.83 Imam al-Ghazali, op.cit., h.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang banyak memberikan perhatian

  Guru berasal dari bahasaIndonesia yang berarti orang yang mengajar, sedangkan al-Ghazali mempergunakan istilah guru dengan kata al-mu’allim (guru) yang berarti orang yang mengetahui dan istilah ini banyak digunakan para ulama/ahlipendidikan. Sedangkan akhlak guru kepada muridnya yaitu guru yangmemiliki motivasi mengajar yang tulus, beersikap kasih sayang kepada muridnya, tidak meminta imbalan, tidak menyembunyikan ilmunya, menjauhiakhlak yang buruk, tidak mewajibkan muridnya cenderung kepada guru tertentu, memperlakukan murid dengan kesanggupannya, bekerja samadengan murid dalam membahas pelajaran dan mengamalkan ilmunya.

B. Saran 1

  Hendaknya para guru memahami bahwa tujuan dari tugasnya yang terpenting adalahmenjadikan anak didiknya berakhlak mulia, dengan terlebih dahulu para guru memiliki kepribadian yang mulia. Hendaknya para guru dalam menjalankan proses pembelajaran diiringi dengan akhlak mulia sehingga mampu mencapai tujuan pembelajaransudah direncanakan, sehingga murid-muridnya berakhlak mulia, bahkan menjadikan mereka dekat dengan Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

  Mahjuddin, Konsep Pendidikan Akhlak dalam al- Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits, Jakarta: Kalam Mulia, Cet. Quraish, Membumikan al- Qur’an dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, Cet.

Dokumen baru