Feedback

STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN

Informasi dokumen
STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) Ilmu Pemerintahan Disusun Oleh: HIDAYAT 201210050311006 JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2016 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL SAMPUL . i HALAMAN PERSETUJUAN . ii HALAMAN PENGESAHAN . iii HALAMAN BERITA ACARA . iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN . v KATA PENGANTAR . vi HALAMAN PERSEMBAHAN . viii MOTTO . x DATAR ISI . xi DAFTAR TABEL . xiv DADFTAR GAMBAR . xv ABSTRAKSI. xvi BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang . 1 B. Rumusan Masalah . 12 C. Tujuan Penelitian . 12 D. Manfaat Penelitian . 13 E. Definisi Konseptual . 14 1. Pengertian Strategi . 14 2. Kota Layak Anak . 15 3. MAKOLA . 16 4. Fasitiltas Pendidikan . 17 F. Definisi Oprasional . 18 G. Metode Penelitian . 19 1. Jenis Penelitian . 19 2. Sumber Data . 20 3. Teknik Pengumpulan Data . 21 4. Subjek Penelitian . 23 5. Lokasi Penelitian . 23 6. Teknik Analisis Data . 23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Strategi . 27 1. Tahap-tahap Strategi . 27 2. Faktor Pendukung Pelaksanaan Strategi . 28 3. Strategi Pemerintah Daerah . 30 4. Strategi Kebijakan Pembangunan Kawasan Perkotaan . 34 B. Kota Layak Anak . 34 1. Konsep Kota Layak Anak . 34 2. Kriteria KLA . 37 3. Indiktor KLA Bidang Pendidikan . 39 4. MAKOLA . 41 C. Teori dan Konsep Kota Layak Anak. 45 D. Fasilitas Pendidikan . 49 BAB III DESKRIPSI WILAYAH A. Gambaran Umum Kota Malang . 56 1. Profil Kewilayahan . 57 2. Jumlah Kecamatan dan Kelurahan di Kota Malang . 57 3. Potensi Pengembangan Wilayah . 59 B. Malang Kota Layak Anak . 61 1. Pengembangan Anak di Kota Malang . 61 2. Fasilitas Penunjang KLA . 62 3. Peta Kota Layak Anak . 68 4. Milestons KLA . 74 C. Pemerintahan Daerah Kota Malang . 75 1. Visi dan Misi Pemerintah Kota Malang . 76 D. Lembaga dan Instansi . 79 1. BAPPEDA Kota Malang . 79 2. BKBPM Kota Malang. 87 3. Dinas Pendidikan Kota Malang . . 88 BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISA DATA A. Strategi Pemerintah Kota Malang dalam Mewujudkan MAKOLA Melalui Penyediaan Fasilitas Pendidikan . 89 1. Pengalokasian dana APBD untuk Failitas Pendidikan . 90 2. Kerjasama dengan Private Sector dan CSR . 94 3. Bentuk Fasilitas Pendidikan Penunjang Makola . 99 B. Progres Penerapan MAKOLA . 113 C. Faktor-faktor yang Berpengaruh . 115 BAB V KESIMPULAN DAN PENUTUP A. Kesimpulan 1 . 122 B. Saran . 124 DAFTAR TABEL 1. Tabel 1.1 Indikator Kota Layak Anak . 9 2. Tabel 3.1 Jumlah Kecaamatan dan Kelurahan di Kota Malang .58 3. Tabel 3.2 Jumlah sekolah Negeri dan Swata Kota Malang .60 4. Tabel 3.3 Sekolah di Kota Malang . 64 5. Tabel 4.1 Data APBD Kota Malang serta Dana MAKOLA . 91 6. Tabel 4.2 Anggaran Dukungan Dana MAKOLA Klaste 4 . 93 7. Tabel 4.3 Fasilitas Pemeberian CSR . 97 8. Tabel 4.4 Rute Bus Sekolah . 103 9. Tabel 4.4 Zona Selamat Sekolah Kota Malang . 112 DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 1.1 Bagan Mekanisme Hak Asasi Manusia . 3 2. Gambar 1.2 Bagan Analisis Data Miles dan Huberman . 25 3. Gambar 3.1 Grafik Luas Wilayah Kecamatan Kota Malang . 58 4. Gambar 3.2 Peta Wilayah Administrasi . 59 5. Gambar 3.3 Periodesasi Perkembangan Anak . 62 6. Gambar 3.4 Peta KLA . 69 7. Gambar 3.5 Milestons KLA . 75 8. Gambar 3.4 Struktur Organisasi BAPPEDA Kota Malang . 85 9. Gambar 4.1 Bus Sekolah Gratis . 100 10. Gambar 4.2 Perpustakaan Keliling . 107 11. Gambar 4.3 Zona Selamat Sekolah Kota Malang . 111 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum. Wr. Wb. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Mahan Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis panjatkan segala puji syukur ke hedirat-Nya karena atas izin Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi pemerintah dalam Mewujudkan Malang Kota Layak Anak (MAKOLA) Melalui Penyediaan Fasitas Pendidikan” yang merupakan salah satu syarat untuk meyelesaikan studi sarjana Strata Satu (S1) pada jurusan Ilmu Pemerintahan Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memerlukan revisi dan penyempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Keberhasilan dalam penyelesaian skripsi ini tentu berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada: 1. Drs. H. Fauzan, M.Pd. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. 2. Dr. Asep Nurjaman, M.Si Selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang. 3. Hevi Kurnia Hardini, S.IP, MA.Gov selaku Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang. 4. Hevi Kurnia Hardini, S.IP, MA.Gov selaku pembimbing I dan Dr. Oman Sukmana, M.Si Selaku Pembimbing II yang telah memberikan waktunya untuk membimbing dan berdiskusi dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi bekal pengalaman penulis. 6. Desy Pratiwi Irma Suryani, S.IP selaku teman yang ikut membimbing serta telah memberikan waktunya untuk berdiskusi dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Pemerintah Kota Malang dalam hal ini BKBPM, BAPPEDA serta Dinas Pendidikan Kota Malang yang telah membantu dalam penelitian. 8. Seluruh staff tata usaha FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. 9. Seluruh narasumber yang terlibat dalam penulisan skripsi ini. 10. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu disini yang telah memberikan semangat dan bantuan dalam penulisan skripsi ini. Akhirnya, penulis berharap kiranya Allah SWT mempermudah langkah kita untuk memperdalam ilmu dan megamalkannya. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang memerlukan dan para pembaca. Malang, 10 Oktober 2016 Penulis LEMBAR PENGESAHAN Telah Dipertahankan Dihadapan Sidang Dewan Penguji Skripsi Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Pada: Hari : Kamis Tanggal : 27 Oktober 2016 Jam : 11.00 wib Tempat : Ruang Sidang Jurusan Ilmu Pemerintahan Dewan Penguji 1. Drs. Krishno Hadi, MA : 2. Dr. Saiman, M.Si : 3. Hevi Kurnia Haridini,S.IP, MA.Gov : 4. Dr. Oman Sukmana, M.Si : Mengesahkan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang Dr. Asep Nurjaman, M.Si DAFTAR PUSTAKA Buku: Adisasmita, Rahardjo. 2013. Pembangunan Kawasan dan Tata Ruang.Yogyakarta: Graha Ilmu. Arikunto, Suharsimi. 1993. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta: PT GrafindoPersada, Cet. II Arikunto, Suharsimi. 2000. Pengelolaan Materiil. Jakarta: Primakarya Ary H, Gunawan.1996. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta: PT Rineka Cipta. Burhanuddin, Yusak. 2005. Administrasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Hariadi, Bambang.2005. Strategi Manajemen.Malang: Bayumedia Publishing. Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Ibrahim, Bafdal. 2003. Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara. Ilhami. 1990. Strategi Pembangunan Perkotaan di Inonesia. Surabaya: Usaha Nasional. Joni, Muhammad, & Tanamas, Zulchaina, Z. 1999. Aspek Hukum Perlindungan Anak dalam Perspektif Konvensi Hak Anak. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Kartono, Kartini. 1990. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Penerbit Mandar Maju. Mamang, Etta. 2010. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: CV Andi Masyhur, Effendi. 2005. Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia (HAM) dan Proses Dinamika Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia (Hakham). Bogor: Ghalia Indonesia. Nazir, Moh. 2011. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Siagia, Sugiyono. 2014. Memahami Penelitian. Bandung: Alfabeta. Sondang, P. 2007. Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara. Sukirman, Harrtati, dkk. 2008. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Yogyakarta: UNY PRESS. Tufieq, Uwaidha, dkk. 2013. Modul Fasilitasi Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak Propinsi Jawa Tengah. Semarang: Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Propinsi Jawa Tengah. Wina, Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Predia Media Group. Dokumen Pemerintah: Buku profil pendidikan kota Malang tahun 2015. Buku saku. Ayo Tingkatkan Malang Sebagai Kota Layak Anak. Buku V. KLA Kota Malang. Buku I. Kelembagaan dan program inovasi. Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perilindungan Anak republik Indonesia no 12 tahun 2011 tentang indikator kabupaten/kota layak anak. Undang-undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Atas Hak Anak pasal 19. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.1304/AJ.403/DJPD/2014 tentang Zona Selamat Sekolah (ZoSS). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 47 tahun 2008 tetang Wajib Belajar. Petunjuk Teknis Pengisian Indikator Pengembangan Kabupaten/ Kota Layak anak, hal 28. Renstra Bappeda Kota Malang 2014-2018. RPJMD Kota Malang 2014-2018. Visi Program Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015. BAPPENAS. Internet: Dodi, Widyanto dan R. Rijanta, “Lingkungan Kota Layak Anak (Child Frendly City) Berdasarkan Presepsi Dari Orang Tua Di Kota Yogyakarta,” sumber: (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=16007&val=988.ht ml.) diakses pada tanggal 23 april 2016. Hamid,Patalima. 2014. Konvensi hak anak. sumber: http://www.kompasiana.com/hamidpatilima/konvensi-hak-anak.html diakses 15 agustus 2016. Ptilima, Hamid. Kota Layak Anak. Diakses dari http://www.ykai.net/index.php?view=article&id=97:kota-layak-anak. Pada 23 juni 2016 Republika News, Malang Raih Penghargaan Kota layak anak, diakses dari (http://www.kompasiana.com/m_yunus/ruang-publik-ramah-sosial-ditaman-kota-malang.html) pada 13 februari 2016. Sejarah Kora Ramah Anak. Sumber: http://www.kla.or.id/. Diakses pada 23 april 2016. Setyawan, David. KPAI: Pelaku Kekerasan Anak Terus Meningkat. Sumber: (http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku-kekerasan-terhadap-anak-tiaptahun-meningkat.html.) Pada 14 juni 2016. Umansangadji, Sukri. 2013. Analisis Kebutuhan dan penempatan Prasaranasarana Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Wori. Sumber: ejournal.unsrat.ac.id. diakses pada 18 juni 2016 UNICEF Laporan Tahunan 2012. Sumber: (http://www.unicef.org/indonesia/id/UNICEF_Annual_Report_(Ind).html ) diakses 23 juni 2016. Wicaksono, Bagus. 2015. Bahan Bacaan Awal Mengenai Hak Anak. (https://www.academia.edu/Bahan_Bacaan_Awal_Mengenal_Hak_Anak ), diakses pada 1 februari 2016. (http://mediacenter.malangkota.go.id/2015/08/kota-malang-raih-penghargaankota-layak-anak.html) pada 13 februari 2016. Sumber Tesis: Sujarto. 1998. Model Neighborhood Pengembangan Komunitas. Tesis Unit Sebagai Pendukung Proses Sumber wawancara: Wawancara langsung dengan Endang, Staf Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya (EKOSOSBUD), BAPPEDA Kota Malang. Wawancara Langsung dengan Erna, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), BKBPM Kota Malang. Wawancara Langsung dengan Fedy Loysius, Pustakawan Perpustakaan Kota Malang. Wawancara Langsung dengan Handayani, Kepala Bagian Pendidikan Formal dan Informal, Dinas Pendidikan Kota Malang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota memiliki sistem yang menggerakkannya, yaitu sistem aktivitas kota, sistem pengembangan lahan dan sistem lingkungan, sehingga kawasaan kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak Moch. Fathorrazi, SE, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Jember beserta staf edukatif dan administratif; 4. kedua orang tuaku tercinta, Abahku (H.Abdul Fatah) dan Umiku (Hj. AttinUmayah), terima kasih atas kasih sayang, nasihat-nashat dan do`a dalam setiap langkahku; 5. semua teman angkatan IESP 2007 Fakultas Ekonomi Universitas Jember, terimakasih atas waktu dan penglaman yang telah kalian berikan; 6. sahabat-sahabatku Yusman Arif A., SE, Artha P., SE, Pera Wibowo P., SE, M. Subahillah, SE, M. Rifqi H dan Tatto H., SE terima kasih atas pengalaman suka dukanya selama di Kota Jember. x Akhir kata penulis telah berusaha keras dan maksimal untuk membuat skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan tambahan ilmu pengetahuan bagi karya tulis selanjutnya. Jember, 14 Februari 2013 Penulis xi DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL. i HALAMAN TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI . iii HALAMAN PERNYATAAN . iv HALAMAN PENGESAHAN . v HALAMAN PERSEMBAHAN. vi HALAMAN MOTTO. vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. xii DAFTAR ISI. xiv DAFTAR TABEL. xvii DAFTAR GAMBAR. xviii DAFTAR LAMPIRAN. xix BAB 1. PENDAHULUAN. 1 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Rumusan Masalah. 3 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian. 4 1.3.1 Tujuan Penelitian. 4 1.3.2 Manfaat Penelitian. 4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 5 2.1 Landasan Teori. 5 2.1.1 Teori Penawaran. 6 2.1.2 Teori Permintaan. 8 2.1.3 Variasi Harga Musiman. 9 2.1.4 Mekanisme Harga Keseimbangan . 12 2.1.5 Efisiensi Pemasaran. 14 2.1.6 Elastisitas Harga Permintaan. 16 xii 2.1.7 Hasil Penelitian Sekarang dan Sebelumnya. 17 2.2 Kerangka Pemikiran. 21 2.3 Hipotesis. 25 BAB 3. METODE PENELITIAN. 25 3.1 Jenis Penelitian. 25 3.2 Penentuan Daerah Penelitian. 25 3.3 Jenis dan Sumber Data . 25 3.4 Metode Analisis Data . 26 3.4.1 Analisis Deskriptif . 26 3.4.2 Analisis Regresi Linear Berganda. 27 3.4.3 Elastisitas Harga Penawaran. 28 3.5 Uji Statistik. 29 3.5.1 Uji Statistik F (F-test) . 29 3.5.2 UjiStatistik t (t-test). 30 3.5.3 Uji Determinasi Berganda (Uji-R2) . 30 3.6 Uji Asumsi Klasik. 31 3.6.1 Uji Multikolinearitas. 31 3.6.2 Uji Autokorelasi. 32 3.6.3 Uji Heteroskedastisitas. 32 3.6.4 Uji Normalitas. 33 3.7 Definisi Variabel Operasional dan Pengukuran. 35 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 36 4.1 Keadaan Umum Perikanan Kabupaten Banyuwangi. 36 4.1.1 Gambaran Umum Perikanan . 36 4.1.2 Kondis Penangkapan Ikan Perairan Umum . 37 4.1.3 Perkembangan Perikanan Budidaya dan Tangkap. 37 4.2 Analisis Hasil Penelitian. 43 4.2.1 Analisi Regresi Linear Berganda. 43 xiii 4.2.2 Analisis Elastisitas Harga Penawaran. 44 4.3 Uji Statistik. 44 4.3.1Uji Determinan Berganda (R2). 44 4.3.2 Uji F (F-test). 45 4.3.3 Uji t (t-test). 46 4.4Uji Ekonometrik (Asumsi Klasik). 47 4.4.1 Uji Multikoliniearitas. 47 4.4.2 Uji Heteroskedastisitas. 48 4.4.3 Uji Autokorelasi. 48 4.5 Pembahasan. 49 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN. 52 5.1 Kesimpulan. 52 5.2 Saran. 52 DAFTAR PUSTAKA. 54 LAMPIRAN. 55 xiv DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2.1 Penelitian Sebelumnya dan Penelitian Sekarang. 20 4.1 Produksi Perikanan Tangkap dan Budidaya Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010-2011. 38 4.2 Produksi Perikanan Tangkap Kabupaten Banyuwangi Tahun 2009-2010 . 4.3 Jumlah Penduduk 39 Petani Ikan dan Nelayan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2011. 40 4.4 Produksi Perikanan Laut Kabupaten Banyuwangi Tahun 20092010 . 42 4.5 Hasil Regresi Linear Berganda . 44 4.6 Hasil Uji t (t-test) . 47 4.7 Perbandingan r2 (adjusted R-squared dengan R Model Empiris) . 49 4.8 Uji Heteroskedastisitas. 49 4.9 Uji Autokorelasi. 50 xv DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Kurva Penawaran . 7 2.2 Kurva Permintaan. 9 2.3 Permintaan Musiman dan Perubahan Harga Musiman. 10 2.4 Penawaran Musiman dan Perubahan Harga Musiman . 10 2.5 Prilaku Harga Musiman Teoritis . . 11 2.6 Mekanisme Harga Keseimbangan . 13 2.7 Fungsi Primer dan Fungsi Turunan pada Margin Pemasaran. 15 2.8 Kerangka Konseptual. 24 4.1 Jumlah Penjualan Ikan Lemuru Tahun 2006-2010. xvi 41 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman A. Produktivitas Bulanan Harga Ikan Lemuru dan Total Produk Ikan Lemuru Tahun 2006-2010 . 56 B. Perhitungan Regresi dengan OLS . 58 C. Uji Determinan Berganda (R²). 59 D. Uji t (t-test) . 60 E. Uji Multikolinearitas. 61 F. Uji Normalitas . 62 F. Produktivitas Tangkapan Lemuru di Muncar Tahun 2006-2010. 63 xvii
STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN Jenis Penelitian Subjek Penelitian Lokasi Penelitian klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan klaster hak sipil dan kebebasan klaster lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya Klaster perlindungan khusus Latar Belakang Kota Layak Anak Definisi Konseptual MAKOLA Fasilitas Pendidikan Definisi Konseptual Observasi Wawancara Terstruktur Dokumentasi Reduksi Data Penyajian Data Rumusan Masalah Manfaat Penelitian Definisi Operasional 1. Strategi Pemerintah dalam mewujudkan MAKOLA Melalui Penyediaan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN

Gratis