Praktik Copy-Paste dalam Penyusunan Standar Kompetensi Kerja

Gratis

0
11
2
2 years ago
Preview
Full text

TELAAH PENDIDIKAN

  

Praktik Copy-Paste

dalam Penyusunan Standar

Kompetensi Kerja

MUHAMMAD SAYUTI

  Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) mungkin tidak banyak dikenal oleh 100-an juta angkatan kerja di Indonesia. SKKNI adalah dokumen penting ketenagakerjaan dan kependidikan yang merupakan hasil dari Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor 227 tahun 2003 (revisi tahun 2004 dan 2007) sebagai turunan dari Undang Undang nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

  Secara global, model standar kompetensi dan kerangka kualifikasi kerja telah menjadi isu penting untuk menjembatani kesenjangan berkepanjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Paling tidak ada 70 negara yang telah dan sedang mengembangkan model kualifikasi dan standar kompetensi (Chakroun, 2010), di antaranya adalah Afrika Selatan, Australia, Jerman, Inggris, Malaysia, Pilipina, Selandia Baru, dan Skotlandia. Meski tujuan yang ingin mereka capai adalah sama, namun konteks khas dari masing-masing negara menyebabkan variasi dalam wujud standar kualifikasi dan kompetensi yang mereka kembangkan.

  SKKNI adalah “uraian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang untuk menduduki jabatan tertentu yang berlaku secara nasional” (Kepmen no 227/2003). Lebih lanjut disebutkan bahwa SKKNI “menjadi acuan bagi

  Kerja di kota besar seperti Makassar ini membutuhkan kompetensi kerja.

  De m o (Vi si t ht tp:

  //www.pdfspl itm erge r.c om )

25 MUHARAM - 9 SHAFAR 1432 H

TELAAH PENDIDIKAN

  

Keterampilan Generik dalam

Kepmen tentang SKKNI (2004) Generic Skills dalam Mayer Key Competencies Australia (1992)

  //www.pdfspl itm erge r.c om )

  Tabel Perbandingan antara Aspek Keterampilan Generik di SKKNI dan Generic Skills di Mayer Key Competencies Australia De m o (Vi si t ht tp:

  Memecahkan masalah Solving problems

Menggunakan teknologi (Kepmen

2004) Using technology (Mayer, 1992)

  Menggunakan ide-ide dan tehnik metematika Using mathematical ideas and techniques

  

Merencanakan dan mengorganisir

aktifitas-aktifitas Planning and organising activities Bekerja dengan orang lain dan kelompok Working with others and in teams

  Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi Communicating ideas and information

  

Mengumpulkan, mengorganisir dan

menganalisa informasi Collecting, analysing and organising information

  51 SUARA MUHAMMADIYAH 01 / 96 | 1 - 15 JANUARI 2011

  penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan profesi serta uji kompetensi dan sertifikasi profesi yang secara teknis dikerjakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang penetapannya dilakukan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). SKKNI berisi dua hal pokok, yaitu kompetensi teknis dan keterampilan generik/kompetensi kunci. Kemendiknas, kemenakertrans, kementrian lain yang terkait, asosiasi profesi serta pemangku kepentingan lain yang terkait merancang SKKNI untuk kemudian disyahkan oleh Menakertrans dalam bentuk Kepmen. Selanjutnya, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) akan melakukan ujian untuk memastikan bahwa seseorang yang berminat untuk mendapatkan sertifikat profesi dinyatakan kompeten atau tidak untuk sebuah profesi. Misalnya, untuk menjadi pemeriksa hasil penjelasan terdapat Keputusan Menakertrans nomor 42 tahun 2009 tentang Penetapan SKKNI Sub Bidang Welding Inspector. Ribuan kompetensi sub bidang akan menyusul di masa yang akan datang. Sektor pendidikan, termasuk sekolah kejuruan dan Balai Latihan Kerja (BLK) pada gilirannya wajib merujuk SKKNI dalam pengembangan kurikulum serta dalam mengembangkan pembelajaran berbasis kompetensi.

  kebijakan tertentu benar-benar efektif. Praktik copy-paste aspek keterampilan dalam dokumen pemerintah sekelas SKKNI ini tentu sangat mengherankan dalam konteks dilakukan oleh negara, yang sesungguhnya memiliki infrastruktur untuk melakukan kajian secara komprehensif sebelum mengambil kebijakan.

  paste sebuah dokumen. Banyak aspek yang harus dilihat agar

  untuk meminjamkan sistem pendidikan yang mereka gunakan ke negara yang terbelakang atau sedang berkembang. Sebaliknya, praktik ini bisa juga dimulai oleh negara berkembang yang ingin mengadopsi sistem pendidikan negara maju. Cerita kegagalan praktik peminjaman ini sering disebabkan oleh perbedaan banyak aspek dari ke dua belah pihak yang seringkali tidak bisa dikejar dalam waktu singkat. Gray dan Paryono (2004) mengingatkan tiga aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam membandingkan atau mengadopsi suatu sistem dari negara lain, ketiganya adalah input-proses-output. Input terdiri atas iklim pemerintahan, kondisi alam, modal SDM, modal sosial dan status ekonomi. Proses akan menyangkut keadaan pendidikan di suatu negara baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sementara output terkait dengan keadaan dan kualitas angkatan kerja serta tingkat migrasinya. Menurut keduanya, proses meminjam sebuah model kebijakan yang terkait dengan pendidikan ketenagakerjaan akan efektif jika kesemua aspek di atas dipertimbangkan. Oleh karenanya mengopi konsep dan sistem dari sebuah negara tidaklah semudah mengopi dan

  Cultural borrowing awalnya dimulai dari keinginan negara maju

  bidang pendidikan. Dalam kajian pendidikan perbandingan (comparative education) keprihatinan tentang cultural borrowing ini sudah cukup lama muncul (Watson, 1994).

  cultural borrowing (peminjaman budaya) yang juga terjadi di

  Praktik mengopi semacam ini menjadi bagian dari istilah

  Tulisan ini akan fokus untuk mengkaji keterampilan generik yang menjadi bagian tidak terpisahkan dengan SKKNI. Keterampilan generik sendiri masih merupakan istilah baru di Indonesia. Istilah yang lebih luas digunakan adalah softs- kills sebagai lawan dari hard-skills. Temuan yang menarik untuk diungkap adalah tujuh aspek keterampilan generik dalam SKKNI hanya merupakan terjemahan dari model Mayer Key Competencies di Australia (Mayer, 1992). Lebih menarik lagi jika dicermati bahwa di Australia, model Mayer tersebut telah diganti dengan Employability Skills Framework pada tahun 2001. Banyak pertanyaan yang patut diajukan atas pilihan untuk hanya sekedar menerjemahkan satu model standar kompetensi agar bisa diterapkan di Indonesia yang situasinya sangat berbeda dengan negara asalnya. Di antaranya, adalah apakah telah dilakukan kajian yang mendalam yang melibatkan pemangku kepentingan langsung dari SKKNI sebelum menyusun daftar keterampilan generik versi SKKNI? Apakah aspirasi para pemangku kepentingan itu memang seratus persen sama dengan tujuh aspek keterampilan generik versi Australia? Kalau pun tim penyusun SKKNI memang ingin mengopi model Mayer, apakah tidak ada ikhtiar untuk melakukan modifikasi agar perbedaan infrastruktur, sistem pendidikan ketenagakerjaan, sistem pemerintahan serta lingkungan bisnis dan industri di Indonesia-Australia bisa dijembatani?

  l ______________________________________________________ Penulis adalah Dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta sedang belajar tentang Pendidikan Kejuruan di Universitas Newcastle Australia.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Praktik Copy-Paste dalam Penyusunan Standar Kompetensi Kerja
0
11
2
Standar Kompetensi Guru Kompetensi Guru
0
14
7
Kompetensi Standar Kompetensi Guru
0
0
7
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
0
0
11
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar PEDAGOGIK
0
0
20
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Dasar
0
0
6
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
0
0
17
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
0
1
11
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Pedagogik
0
0
13
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar PEDAGOGI
0
0
15
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru Mapel Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Pedagogik
0
0
15
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru Mapel Standar Kompetensi Kompetensi Dasar PEDAGOGIS
0
0
18
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Kompetensi Guru MapelGuru Kelas Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Pedagogik
0
0
20
Standar Isi Indikator Esensial Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
0
0
7
Kompetensi Utama Standar Kompetensi guru
1
1
9
Show more