Perspektif hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam UU No.12 tahun 2006

111 

Full text

(1)

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP KONSEP KEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM

UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006

Oleh : Abd. Rohman Nawi

103045228168

KONSENTRASI SIYASAH SYAR’IYYAH (KETATANEGARAAN ISLAM) PROGRAM STUDI JINAYAH DAN SIYASAH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

! " # $ # ! %&'&()**+%,+

- $ - .

/! ! ! 0 0 0

# ! %)& *%& (**

(3)

# $%&'$()*+ ,(,- &./- $%0/1/' 23&$' $4/%5/3$5/%//3 3123$&*/ 1/./- 31/35 31/35 2-2% /0,3

6 . 1

2 3 # . 2 # / 4

0 &+ *&&5! .

.

. 4 6 7 !

4 0 &+ *&&5

. 0

%2+7 %7 7 ,0/--/1 -*3 ,-/8 8 8 7

7 "99 9 9 ":

%! 6 ! $ 0 ! .!

8888!!

# ! %59*%&%& %559&' % &&+

*! 0 ! .

8888!!

# ! %59%&*%) %559&' * &&*

'! . /! ! ! 0 0 0

8888!!

(4)

(! . /! ! ! -! 2 : 0 :;0 8888!!

# ! %)&*9&,%(

)! . ! < 0 !

8888!!

(5)

;

. $

%! .

. %

2 3 # . 2 # / 4 !

*! . .

; . .

2 3 # . 2 # / 4 !

'! 4 $

. 0

. 2 3

# . 2 # / 4 !

4 0 &+

*&&5

(6)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas berbagai karunia dan anugerah yang diberikan kepada segenap hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh dengan ikhlas mengharapkan ridha-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada hamba pilihan-Nya yang membawa risalah kebenaran, pemimpin bagi pembawa cahaya keridhaan-Nya yang abadi, yaitu Sayyidina Muhammad SAW, sebaik-baik makhluk dan dipenuhinya dengan akhlak yang sempurna.

Penulis bersyukur telah menyelesaikan skripsi yang diajukan sebagai salah satu syarat dalam menempuh gelar Sarjana Hukum Islam di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul “PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP KONSEP KEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006”.

(7)

1. Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum, Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA.,MM.

2. Ketua Program Studi Jinayah dan Siyasah, Dr. Asmawi, M.Ag., dan Sekretaris Program Studi Jinayah dan Siyasah, Sri Hidayati, M.Ag., beserta staff dan seluruh dosen yang telah memberi ilmu, membimbing dan mengarahkan penulis sejak masa perkuliahan hingga berakhirnya skripsi ini. 3. Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA.,MM. Selaku pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan ilmunya dan bimbingannya serta do’anya dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Pimpinan Perpustakaan, baik Pimpinan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum maupun Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah yang telah memberikan fasilitas pada Penulis untuk mengadakan studi kepustakaan. 5. Kedua orang tua penulis, Ayahanda H. Sarmada dan Ibunda tercinta Hj.

Hanifah (Almh), bang Sobur, mama Uum, bang Tohir, mpo Idah, bang O.G., mama Ayu, Noer, Yati, ibu Nina yang selalu mendukung penulis dengan sepenuh hati dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

Semoga bantuan, bimbingan, dorongan serta perhatian yang diberikan oleh mereka mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis pribadi dan pembaca pada umumnya. Amîn.

Jakarta, 08 Desember 2009

(9)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ii

LEMBAR PERNYATAAN iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 7

D. Review Studi Terdahulu 8

E. Metode Penelitian 11

F. Sistematika Penulisan 12

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN

A. Warga Negara dalam Hukum Kewarganegaraan Indonesia 14 B. Sejarah Perundang-undangan Tentang Kewarganegaraan Indonesia 19 C. Asas Kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12

(10)

D. Syarat Memperoleh Kewarganegaraan Indonesia Menurut

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 39

BAB III ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KONSEP

KEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM

UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006

A. Warga Negara dalam Islam 44

B. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Asas Kewarganegaraan Berdasarkan

Sisi Kelahiran 56

C. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Asas Kewarganegaraan Berdasarkan

Sisi Perkawinan 57

D. Syarat Memperoleh Kewarganegaraan dalam Islam 70 BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan 74

B. Saran 76

DAFTAR PUSTAKA 77

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Negara merupakan suatu organisasi kemasyarakatan, oleh karena itu di dalamnya pasti dihuni oleh sejumlah penduduk. Dalam pengetahuan hukum tata negara, untuk dapat dipandang sebagai suatu negara haruslah memenuhi tiga hal, yang salah satunya adalah sekumpulan manusia yang hidup bersama di suatu tempat tertentu sehingga merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diatur oleh suatu tertib hukum nasional1 yang dalam kajian ilmu politik disebut rakyat. Bahkan menurut berbagai teori yang dikembangkan dalam ilmu negara, negara ada demi warga negara. Terutama jika mengacu kepada paham demokratis, yang dianut oleh berbagai negara modern dewasa ini, termasuk Indonesia. Eksistensi negara adalah dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat.

Hal tersebut sudah sepantasnya, sebab maksud adanya negara adalah untuk menyelenggarakan kepentingan warganya. Negara akan menjadi kuat dan sukses bila warga negara sebagai pendukungnya juga kuat. Kuat dalam arti seluas-luasnya, termasuk kuat dalam arti persatuan diantara rakyatnya. Oleh karena itu ketentuan siapa yang akan menjadi warga negara bukanlah persoalan perorangan akan tetapi merupakan persoalan atau wewenang bagi negara yang berdaulat dengan tetap menghormati prinsip-prinsip umum Internasional. Atas

1

(12)

dasar itulah diperlukan pengaturan mengenai kewarganegaraan. Di Indonesia mengenai kewarganegaraan diatur dalam Pasal 26 Undang-Undang Dasar 1945.2

Penduduk atau rakyat suatu negara terdiri dari warga negara, yaitu orang sebagai bagian dari suatu penduduk yang menjadi unsur negara, yang mempunyai hubungan yang tidak terputus dengan tanah airnya, dengan Undang-Undang Dasar negaranya, sekalipun yang bersangkutan berada di luar negeri, selama yang bersangkutan tidak memutuskan hubungannya atau terikat oleh ketentuan hukum Internasional.3

Selain itu, dalam suatu negara adakalanya dijumpai golongan minoritas yang oleh Wolhoff disebut “minoriteit, yaitu golongan orang yang berjumlah kecil atau disebut juga warga negara asing (WNA)”4, sedangkan hubungannya dengan negara yang didiaminya hanyalah selama yang bersangkutan bertempat tinggal dalam wilayah negara tersebut.5

Dalam wilayah kewarganegaraan Indonesia muncul suatu kendala yang cukup jelas dihadapan kita selama ini, yaitu kendala konsep dalam memahami arti

2

Tim Redaksi Pustaka Pergaulan, UUD 1945, Naskah Asli dan Perubahannya, (Jakarta: Pustaka Pergaulan, 2004), Cet ke-3, h. 74.

3

I Wayan Phartiana, Pengantar Hukum Internasional, (Bandung: Mandar Maju, 2003), Cet. Ke-2, h. 94.

4

Abu Bakar Busro dan Abu Daud Busroh, Hukum Tata Negara, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), h. 169.

5

(13)

warga negara. Pertanyaan sederhana yang ada pada kita yaitu, apakah warga negara itu orang yang dalam kartu identitas (KTP, SIM, PASPOR) tertulis kewarganegaraan tertentu ? Dalam wilayah ini saja terkadang pemahaman kita masih simpang-siur tentang warga negara itu sendiri. Ada orang yang asal lahirnya di Indonesia, dia adalah warga negara Indonesia, atau sebaliknya bagi warga negara Indonesia yang melahirkan anaknya di luar wilayah teritorial Indonesia anak tersebut menjadi warga negara asing.6

Sebagai contoh, dalam zaman keterbukaan seperti sekarang ini, tidak setiap warga negara dari suatu negara selalu berada di dalam negaranya.7 Tidak bisa kita pungkiri bahwa kita sering menyaksikan banyak sekali penduduk suatu negara yang berpergian keluar negeri, baik karena direncanakan dengan sengaja ataupun tidak, dapat saja melahirkan anak-anak di luar negeri. Bahkan dapat pula terjadi, karena alasan pelayanan medis yang lebih baik, orang sengaja melahirkan anak di rumah sakit di luar negeri yang dapat lebih menjamin kesehatan dalam proses persalinan.

Dalam hal negara tempat asal seseorang dengan negara tempat ia melahirkan atau dilahirkan menganut sistem kewarganegaraan yang sama tentu tidak akan menimbulkan persoalan. Akan tetapi apabila kedua negara yang

6

Mohammad AS. Hikam, dkk, Fiqh Kewarganegaraan, Intervensi Agama-Negara Terhadap Masyarakat Sipil, (Yogyakarta: CV Adipura, 2000), h. 41-42.

7

(14)

bersangkutan memiliki sistem yang berbeda maka dapat terjadi problem mengenai status kewarganegaraan yang menyebabkan seseorang menyandang status dwi-kewarganegaraan (double citizenship) atau sebaliknya malah menjadi tidak berkewarganegaraan sama sekali (stateles)8.

Berbeda dengan prinsip kelahiran itu, di beberapa negara dianut prinsip ‘Ius sanguinis’ yang mendasarkan diri pada faktor pertalian seseorang dengan status orang tua yang berhubungan darah dengannya. Apabila orang tuanya berkewarganegaraan suatu negara, maka otomatis kewarganegaraan anak-anaknya dianggap sama dengan kewarganegaraan orang tuanya itu.9 Akan tetapi, sekali lagi, dalam dinamika pergaulan antar bangsa yang makin terbuka dewasa ini, kita tidak dapat lagi membatasi pergaulan antar penduduk yang berbeda status kewarganegaraannya. Sering terjadi perkawinan campuran yang melibatkan status kewarganegaraan yang berbeda-beda antara pasangan suami dan istri. Terlepas dari perbedaan sistem kewarganegaraan yang dianut oleh masing-masing negara asal pasangan suami istri itu, hubungan hukum antar suami istri yang melangsungkan perkawinan campuran seperti itu selalu menimbulkan persoalan berkenaan dengan status kewarganegaraan dari putera-puteri mereka.10

8

C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet ke- 8, h. 98.

9

Soependri Soeriadinata, Sendi Pokok Tata Negara Indonesia, (Jakarta: CV. Karya Indah, 1974), h. 94-95.

10

(15)

Mengenai masalah kewarganegaraan sistem politik Islam terkandung secara implisit dan dapat dipahami dari al-Quran dan al-Sunnah. Kewarganegaraan sistem politik Islami pertama-tama berdasarkan agama Islam, tetapi apakah ini berarti bahwa semua orang Islam secara otomatis menjadi warga negara sistem politik Islam atau orang bukan muslim tidak dapat menjadi warga negara sistem politik Islam ?11

Dalam hal konsep kewarganegaraan sistem politik Islam-pun masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana Islam mengatur hal tersebut. Meski pada kenyataannya mayoritas warga negara Indonesia adalah beragama Islam. Oleh karena itu, ada baiknya konsep kewarganegaraan Islam dimasukkan dalam pembahasan ini sebagai bahan perbandingan.

Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka penulis merasa perlu melakukan penelitian dan mengangkatnya menjadi sebuah skripsi yang berjudul ”PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP KONSEP KEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006”.

11

Abd. Mu'in Salim, Fiqh Siyasah, Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur'an,

(16)

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Untuk memudahkan pembatasan masalah dan fokus kajian skripsi ini, penulis akan membatasi masalah dan merumuskan permasalahan. Pembatasan permasalahan merupakan hal yang penting untuk menghindari dari melebar dan meluasnya obyek kajian, sedang perumusan masalah ditujukan untuk mengarahkan alur bahasa dan menjawab berbagai permasalahan sebagai suatu substansi dari skripsi ini.

Berdasarkan atas pemaparan latar belakang skripsi ini, penulis membatasi permasalahan pada konsep kewarganegaraan menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, dan kemudian ditelaah secara komparatif menurut hukum Islam.

Dari pembatasan masalah di atas, secara lebih rinci perumusan masalah dalam skripsi ini lebih mengkhususkan pada beberapa pembahasan sebagai berikut:

1. Bagaimana konsep dan aturan hukum mengenai kewarganegaraan menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 dan dalam hukum Islam ?

2. Apakah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Indonesia telah sesuai dengan ajaran hukum Islam ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

(17)

1. Untuk mengetahui konsep dan muatan hukum yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Indonesia dan dalam Islam;

2. Untuk mengetahui pandangan menurut Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006.

Sedangkan manfaat dari penulisan skripsi ini adalah sebagai aspirasi penulis kepada Pemerintah dan Lembaga yang berwenang untuk semakin baik dan adil dalam pelaksanaannya. Manfaat praktis bagi penulis, pembaca, serta masyarakat pada umumnya, adalah mengetahui bagaimana konsep dan aturan hukum Indonesia mengenai kewarganegaraan menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Secara akademis dapat bermanfaat bagi para akademisi Fakultas Syariah dan Hukum pada umumnya dan bagi program studi Jinayah Siyasah Syar’iyyah khususnya, sebagai tambahan referensi tentang studi komparatif mengenai konsep kewarganegaraan baik dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 dan dalam hukum Islam.

D. Review Studi Terdahulu

(18)

masalah lain yang berkaitan dengan kewarganegaraan, baik yang mengkaji secara spesifik masalah tersebut maupun yang menyinggung secara umum. Berikut ini paparan tinjauan umum atas sebagian karya-karya penelitian tersebut.

Tim ICCE UIN Jakarta, yang berjudul ”Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani (Civic Education)”. Pokok masalah yang dikaji ialah tinjauan terhadap konsep kewarganegaraan dalam Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958. Temuan pokok dalam masalah ini antara lain asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran yang mencakup asas ius soli dan ius sanguinis, berdasarkan perkawinan yang mencakup asas persatuan hukum dan asas persamaan derajat, karena pengangkatan, karena dikabulkannya permohonan untuk menjadi warga negara Indonesia, karena pewarganegaraan, karena turut ayah dan atau ibu, dan karena pernyataan.

(19)

Karya A. Ubaidillah.- (et all), yang berjudul “Pendidikan Kewargaan (civic education) Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani”. Yang membahas mengenai unsur-unsur warga negara yang meliputi, asas ius sanguinis, asas ius soli dan asas naturalisasi, problem kewarganegaraan yang meliputi, problem apatride dan bipatride, dan membahas sejarah Undang-Undang kewarganegaraan di Indonesia, seperti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1947, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1947, pasal 5 dan 194 Undang-Undang Dasar RIS, persetujuan KMB (1949), perjanjian Soenarjo-Chou en Lai (1955), Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1969, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976, dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1976.

Drs. C.S.T. Kansil, S.H., yang berjudul “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia”, yang secara umum membahas asas kewarganegaraan, problem yang menyangkut masalah kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 1946, Undang-Undang-Undang-Undang RI Nomor 62 Tahun 1958, perubahan Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 62 Tahun 1958 berdasarkan Undang RI Nomor 3 Tahun 1976, peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976 (PP Nomor 13 Tahun 1976)

(20)

3 Tahun 1946, Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958, dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976 mengenai perubahan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958.

Dari beberapa kajian yang telah disebutkan di atas, terlihat bahwa semua hanya membahas mengenai konsep kewarganegaraan Indonesia dan itupun dalam Undang-Undang yang sudah tidak berlaku lagi pada saat ini. Akan tetapi, belum terdapat suatu kajian perbandingan yang spesifik mengenai konsep kewarganegaraan dalam sistem ketatanegaraan Islam dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 yang merupakan perbedaan spesifik dibanding karya tulis yang telah ada.

Mengenai pedoman penulisan skripsi ini, penulis menggunakan “Buku Pedoman Penulisan Skripsi” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah & Hukum. Penggunaan dari berbagai macam tinjauan pustaka ini untuk menjadi acuan dalam melaksanakan penulisan agar dapat mencapai tujuannya. Dengan adanya patokan diharapkan dapat membuat penulis dapat lebih mudah dalam melaksanakan penulisan skripsi.

E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

(21)

mengumpulkan bahan-bahan yang berasal dari buku-buku, artikel-artikel, makalah, majalah, koran serta bahan-bahan lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diangkat.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kepustakaan, yaitu dengan membaca buku atau literatur yang relevan dengan topik masalah dalam penelitian ini.

3. Sumber Data

a. Data Primer, yaitu buku-buku yang berkaitan dengan bahan penulisan antara lain Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 dan buku-buku lain yang berkaitan dengan bahasan penulisan.

b. Data Sekunder yang Penulis gunakan dalam penulisan skripsi ini yaitu artikel-artikel dan makalah-makalah yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.

4. Teknik Analisis Data

Pada tahap analisis data, data diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa sampai berhasil menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat dipakai untuk menjawab persoalan yang diajukan dalam penelitian. Adapun data-data tersebut dianalisis dengan metode deskriptif analisis, yaitu suatu metode menganalisis dan menjelaskan suatu permasalahan dengan memberikan suatu gambaran secara jelas hingga menemukan jawaban yang diharapkan.

(22)

Adapun teknik penulisan skripsi ini, penulisan mengacu pada buku "Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007".

F. Sistematika Penulisan

Untuk lebih memperoleh gambaran yang menyeluruh, skripsi ini ditulis dengan menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab I Berisi Pendahuluan yang mencakup Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Review Studi Terdahulu, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan. Alasan sub-sub bab tersebut diletakkan pada bab 1 adalah untuk lebih mengetahui alasan pokok kenapa penulisan ini dilakukan dan mengetahui batasan dan metode yang dilakukan sehingga maksud dari isi penulisan ini dapat dipahami. Bab II Tinjauan umum tentang kewarganegaraan, yang dibagi kedalam lima sub

(23)

Bab III Membahas mengenai analisis hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, yang dibagi juga kedalam beberapa sub bab, yaitu: Warga Negara dalam Islam, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Sisi Kelahiran, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Sisi Perkawinan, Syarat Memperoleh Kewarganegaraan dalam Islam.

(24)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARGANEGARAAN E. Warga Negara dalam Hukum Kewarganegaraan Indonesia

Istilah warga negara merupakan terjemahan dari bahasa Inggris yaitu “citizen” dan istilah Perancis-nya adalah “citoyen”. Secara harfiyah keduanya berarti warga kota. Hal itu terpengaruh oleh konsep ”polis” pada masa Yunani Purba. Polis mempunyai warga yang disebut warga polis atau warga kota. Kemudian istilah ini disempurnakan kedalam bahasa Belanda ”staatsburger” atau warga negara. Dalam bahasa Indonesia dahulu dikenal pula istilah kaulanegara. Istilah tersebut diambil dari bahasa Jawa yang dalam peraturan perundang-undangan Hindia-Belanda mempunyai arti yang serupa dengan ”onderdaan”.12

AS Hikam mendefinisikan bahwa ”Warga negara adalah anggota dari sebuah komunitas yang membentuk negara itu sendiri. Istilah tersebut merupakan terjemahan dari citizenship, yang menurutnya istilah itu lebih baik ketimbang istilah kawula negara. Karena istilah warga negara dipakai jika bentuk pemerintahan negara itu republik, sedangkan istilah kawula negara dipakai jika bentuk pemerintahan negara itu kerajaan”.13

12

A. Ubaidillah, dkk, Pendidikan Kewargaan: Demokrasi, HAM & Masyarakat Madani,

(Jakarta: IAIN Jakarta Press, 2000), h. 58.

13

(25)

Warga negara merupakan salah satu tiang daripada adanya negara, atau dalam kata lain merupakan faktor terpenting dalam hal untuk mendukung terbentuknya suatu negara. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa syarat untuk mendirikan suatu negara yang merdeka dan berdaulat salah satunya adalah dengan adanya warga negara disamping dua syarat yang lain, yaitu wilayah dan pemerintah negara.14

Berdasarkan hubungannya dengan dunia Internasional, maka orang-orang yang bertempat tinggal di dalam suatu wilayah kekuasaan negara harus dibedakan antara warga negara dan penduduk, karena setiap warga negara adalah penduduk dari negara tersebut tetapi tidak setiap penduduk adalah warga negara yang bersangkutan, dalam hal ini disebut penduduk bukan warga negara atau warga negara asing.15

Warga negara yaitu mereka yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh peraturan negara sehingga yang bersangkutan dapat dikatakan sebagai warga negara dan diperkenankan mempunyai tempat tinggal tetap (domisili). Sedangkan penduduk yang bukan warga negara ialah mereka yang bertempat tinggal di suatu negara tidak untuk selamanya dan tidak ada maksud menetap di wilayah negara tersebut.

14

B.P. Paulus, Kewarganegaraan RI di Tinjau dari UUD 1945: Khususnya Kewarganegaraan Peranakan Tionghoa, (Jakarta: P.T. Pradnya Paramita, 1983), h. 41.

15

(26)

Dengan kata lain warga negara adalah sekelompok manusia yang ada dalam kewenangan hukum suatu negara. Warga negara itu sendiri mempunyai kedudukan yang khusus terhadap negaranya yaitu hubungan hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik diantara keduanya.16 Berbeda dengan warga negara asing, meski mereka memiliki hak dan kewajiban tetapi dalam bebrapa hal tidaklah sama dengan warga negara dari negara yang bersangkutan.

Meskipun seseorang mempunyai status sebagai warga negara asing ia tetap mempunyai hubungan dengan negara yang didatanginya tetapi hanya selama ia bertempat tinggal di wilayah negara tersebut.

Warga negara menurut hukum kewarganegaraan Indonesia disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006 Bab 1 Pasal 2, yaitu: “Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara”.

1. Hak dan Kewajiban Warga Negara

Wujud hubungan antara warga negara dengan negara pada umumnya adalah berupa peranan (role). Peranan pada dasarnya adalah tugas apa yang dilakukan sesuai dengan status yang dimiliki, dalam hal ini sebagai warga negara.

16

(27)

Hak dan kewajiban warga negara Indonesia tercantum dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 Undang Undang Dasar 1945. Bebarapa hak warga negara Indonesia antara lain sebagai berikut :

a. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. b. Hak membela negara

c. Hak berpendapat

d. Hak kemerdekaan memeluk agama e. Hak mendapatkan pengajaran

f. Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan Nasional Indonesia g. Hak ekonomi untuk mendapatkan kesejahteraan sosial

h. Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial

Sedangkan kewajiban warga negara Indonesia terhadap negara Indonesia adalah :

a. Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan b. Kewajiban membela negara

c. Kewajiban dalam upaya pertahanan negara

(28)

a. Hak negara untuk ditaati hukum dan pemerintah b. Hak negara untuk dibela

c. Hak negara untuk menguasai bumi, air , dan kekayaan untuk kepentingan rakyat

d. Kewajiban negara untuk menajamin sistem hukum yang adil e. Kewajiban negara untuk menjamin hak asasi warga negara

f. Kewajiban negara mengembangkan sistem pendidikan nasional untuk rakyat g. Kewajiban negara memberi jaminan sosial

h. Kewajiban negara memberi kebebasan beribadah

(29)

F. Sejarah Perundang-undangan Tentang Kewarganegaraan Indonesia

Sebelum Indonesia merdeka, penduduknya terbagi ke dalam tiga macam golongan, yaitu:

1. Golongan Indonesia atau pribumi (yang pada waktu itu oleh kerajaan Belanda disebut “inlanders”);

2. Golongan Timur Asing; 3. Golongan orang Eropa.17

Setelah Indonesia terbebas dari para penjajah kurang lebih satu tahun setelah diproklamasikannya kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan suatu peraturan perundang-undangan tentang kewarganegaraan yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1946.

Undang-Undang itu mengatur bahwa penduduk negara adalah mereka yang bertempat tinggal di wilayah kekuasaan negara Indonesia selama satu tahun berturut-turut. Selanjutnya disebutkan bahwa yang menjadi warga negara Indonesia pada pokoknya adalah:

1. Penduduk asli dalam daerah Republik Indonesia, termasuk anak-anak dari penduduk asli itu;

2. Istri seorang warga negara Indonesia;

17

(30)

3. Keturunan dari seorang warga negara yang dikawin dengan wanita negara asing;

4. Anak-anak yang lahir dalam daerah Republik Indonesia yang oleh orang tuanya tidak diakui dengan cara yang sah;

5. Anak-anak yang lahir dalam daerah Indonesia dan tidak diketahui siapa orang tuanya;

6. Anak-anak yang lahir dalam waktu 300 hari setelah ayahnya, yang memiliki kewarganegaraan Indonesia, meninggal;

7. Orang yang bukan penduduk asli yang paling akhir telah bertempat tinggal di Indonesia selama 5 tahun berturut-turut, dan telah berumur 21 tahun atau telah kawin. Dalam hal ini bila berkeberatan untuk menjadi warga negara Indonesia, ia boleh menolak dengan keterangan, bahwa ia adalah warga negara dari negara lain;

8. Masuk menjadi warga negara Indonesia dengan jalan pewarganegaraan (naturalisasi).

(31)

Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 1949 telah dicapai suatu persetujuan perihal penentuan warga negara antara Republik Indonesia dan kerajaan Belanda. Menurut persetujuan itu yang menjadi warga negara Republik Indonesia adalah:

1. Penduduk “asli” Indonesia yaitu mereka yang dulu termasuk golongan “bumi Putra”, yang berkedudukan di wilayah Republik Indonesia. Apabila mereka lahir di luar Indonesia dan bertempat tinggal di negeri Belanda atau di luar daerah peserta Uni (Indonesia – Belanda), maka mereka berhak memilih kewarganegaraan Belanda dalam kurun waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949;

2. Orang Indonesia, kaulanegara Belanda, yang bertempat tinggal di suriname atau antillen (koloni Belanda). Akan tetapi jika mereka lahir di luar kerajaan Belanda maka berhak memilih kewarganegaraan Belanda dalam kurun waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949. jika mereka lahir di wilayah kerajaan Belanda mereka memperoleh kewarganegaraan Belanda, akan tetapi mereka berhak memilih kewarganegaraan Republik Indonesia dalam kurun waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949;

(32)

4. Orang Belanda yang dilahirkan di wilayah Republik Indonesia atau sedikit-dikitnya bertempat tinggal enambulan di wilayah Republik Indonesia dalam kurun waktu dua tahun sesudah tanggal 27 Desember 1949 menyatakan memilih warga negara Indonesia (hak opsi = hak memilih sesuatu kewarganegaraan);

5. Orang Asing (kaulanegara Belanda) bukan orang Belanda yang lahir di Indonesia dan bertempat tinggal di Republik Indonesia apabila dalam kurun waktu dua tahun sesudah tanggal 27 Desember 1949 tidak menolak kewarganegaraan Indonesia.

Singkatnya orang Indonesia tetap menjadi orang Indonesia, mereka dengan sendirinya menjadi warga negara Indonesia. Untuk orang Timur Asing bagi mereka berlaku yang disebut “sistem passif” (tidak berbuat apa-apa), maka dengan waktu yang ditentukan mereka dengan sendirinya menjadi warga negara kecuali jika mereka menolak kewarganegaraan itu.

Sedangkan untuk orang Eropa bagi mereka berlaku yang biasa disebut “sistem aktif”. Maksudnya apabila salah seorang dari mereka hendak jadi warga negara Indonesia maka dia harus memintanya dengan mengajukan permohonan.

(33)

Menurut Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 yang dikatakan sebagai warga negara Indonesia adalah:

1. Mereka yang telah menjadi warga negara berdasarkan Undang-Undang/Peraturan/Perjanjian, yang terlebih dahulu berlaku (berlaku surut); 2. Mereka yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang ditetapkan

Undang-Undang tersebut.

Selain warga negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang lebih dahulu telah berlaku, maka seorang dapat menjadi warga negara Indonesia, jika ia memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Pada waktu lahirnya mempunyai hubungan kekeluargaan dengan seorang warga negara Indonesia (misalnya ayahnya adalah WNI);

2. Lahir dalam waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dan ayah itu pada waktu meninggal dunia adalah warga negara Republik Indonesia;

3. Lahir dalam wilayah Republik Indonesia selama orang tuanya tidak diketahui; 4. Memperoleh kewarganegaraan Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 62

Tahun 1958. Misalnya:

a. Anak asing yang berumur 5 tahun yang dianggkat oleh seorang warga negara Republik Indonesia apabila pengangkatan itu disahkan oleh pengadilan negeri;

b. Anak di luar perkawinan dari seorang ibu WNI;

(34)

Dengan demikian seorang dapat dikatakan sebagai orang asing jika ia tidak memenuhi syarat-syarat sebagai warga negara seperti yang telah disebutkan.18

Pada perkembangannya Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 khususnya Pasal 18 Undang-Undang tersebut pada tanggal 5 April 1976 Presiden Republik Indonesia Telah mengesahkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1976 tentang perubahan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958.

Dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 ditegaskan bahwa ”Seorang yang kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia termaksud dalam Pasal 17 huruf k memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia kembali jika ia bertempat tinggal di Indonesia berdasarkan kartu izin masuk dan menyatakan keterangan untuk itu. Keterangan itu harus dinyatakan kepada pengadilan negeri dari tempat tinggalnya dalam satu tahun setelah orang itu bertempat tinggal di Indonesia”.

Pasal 17 huruf k Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 memberikan kewajiban warga negara Republik Indonesia mengajukan pernyataan keinginan untuk tetap menjadi warga negara Republik Indonesia dalam jangka waktu 5 tahun yang pertama dan selanjutnya untuk tiap 2 tahun sekali, yaitu bagi mereka yang bertempat tinggal di luar negeri selain untuk menjalankan dinas negara.

18

(35)

Pada kenyataannya tidak semua warga negara Republik Indonesia yang bertempat tinggal di luar negeri dapat memenuhi kewajiban tersebut bukan dikarenakan lalai melainkan dari suatu keadaan di luar kesalahannya, sehingga mereka terpaksa tidak menyatakan keinginannya tersebut tepat pada waktunya, seperti akibat sengketa Irian Barat yang berakibat pada tidak dapat dilaksanakannya ketentuan Pasal 17 huruf k sama sekali atau sebagian secara keseluruhan oleh Perwakilan Republik Indonesia, dan akibat kasus-kasus lainnya. Guna memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia, maka dianggap perlu melakukan perubahan terhadap Pasal 18 Undang-Undang Nomor 62 tahun 1958, karena pasal tersebut tidak menampung orang-orang di atas.

Berdasarkan alasan diatas maka Pasal 1 Undang-Undang Nomor 3 tahun 1976 menetapkan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 diubah sebagai berikut:

Pasal 18

(36)

2. Seorang yang bertempat tinggal di luar negeri, yang telah kehilangan kewarganegaraan Republik Indonesia termaksud dalam Pasal 17 huruf k, karena sebab-sebab yang di luar kesalahannya, sebagai akibat dari keadaan di negara tempat tinggalnya yang menyebabkan tidak dapat dilaksanakannya kewajiban sebagaimana diatur dalam ketentuantersebut dapat memperoleh kembali kewarganegaraan Republik Indonesia:

a. Jika ia melaporkan diri dan menyetakan keterangan untuk itu kepada perwakilan Republik Indonesia di negara tempat tinggalnya dalam jangka waktu 1 tahun terhitung sejak tanggal diundangkannya undang-undang ini; b. Jika ia melaporkan diri dan menyatakan keterangan untuk itu kepada perwakilan Republik Indonesia di negara yang terdekat dari tempat tinggalnya dalam jangka waktu 2 tahun setelah berlakunya undang-undang ini.

3. Selain menyatakan keterangan untuk memperoleh kembali kewarganegaraan republik Indonesia seperti tersebut dalam ayat (2), orang yang bersangkutan harus:

a. Menunjukkan keinginan yang sungguh-sungguh untuk menjadi warga negara Republik Indonesia;

b. Telah menunjukkan kesetiaannya terhadap negara Republik Indonesia. 4. Seorang yang telah menyatakan sesuai dengan ketentuan dalam ayat (2),

(37)

memenuhi syarat-syarat tersebut dalam ayat (3) dan setelah mendapat keputusan Menteri Kehakiman. Keputusan Menteri Kehakiman yang memberikan kembali kewarganegaraan Republik Indonesia mulai berlaku pada hari permohonan menyatakan sumpah atau janji setia di hadapan Perwakilan Republik Indonesia dan berlaku surut hingga hari tanggal Keputusan Menteri Kehakiman tersebut.19

Berdasarkan keterangan di atas, bahwa Republik Indonesia telah mengalami banyak perubahan dalam hal perundangan khususnya undang-undang mengenai kewarganegaraan Indonesia. Sampai saat ini Undang-Undang yang berlaku di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Indonesia.

Adapun kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 berdasarkan Pasal 2, dinyatakan bahwa yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Berdasarkan pernyataan di atas, yang dapat disebut sebagai warga negara Indonesia adalah orang-orang bangsa Indonesia asli, yaitu orang Indonesia yang menjadi warga negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri dan orang-orang lain yang disahkan

19

(38)

dengan undang-undang, misalnya dengan cara mengajukan permohonan untuk menjadi warga negara Indonesia.20

Adapun perincian mengenai siapa saja yang dapat disebut sebagai warga negara Indonesia dilihat pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 yang menyebutkan, warga negara Indonesia adalah:

a. Setiap orang yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau berdasarkan perjanjian Pemerintah Republik Indonesia dengan negara lain sebelum undang-undang ini berlaku sudah menjadi warga negara Indonesia; b. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah dan ibu warga

negara Indonesia;

c. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara Indonesia dan ibu warga negara asing;

d. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu warga negara Indonesia;

e. Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara Indonesia, tetapi ayahnya tidak mempunyai kewarganegaraan atau hukum negara asal ayahnya tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut;

20

(39)

f. Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 (tiga ratus) hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah dan ayahnya warga negara Indonesia;

g. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara Indonesia;

h. Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah warga negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin;

i. Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya;

j. Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui;

k. Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak mempunyai kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya;

(40)

m. Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Berdasarkan beberapa hal yang telah disebutkan oleh undang-undang tersebut di atas maka sudah cukup jelas siapa saja yang dapat disebut sebagai warga negara Indonesia. Dengan demikian secara otomatis siapa saja yang tidak dan atau belum memenuhi syarat-syarat peraturan kewarganegaraan yang ditetapkan dalam undang-undang dinamakan bukan warga negara atau orang asing.

(41)

C. Asas Kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006

Asas kewarganegaraan merupakan pedoman dasar bagi suatu negara untuk menentukan siapakah yang menjadi warga negaranya. Setiap negara menurut hukum internasional mempunyai kebebasan untuk menentukan siapa saja yang menjadi warga negara dan asas kewarganegaraan mana saja21 yang hendak dipergunakannya.

Adapun asas kewarganegaraan Indonesia dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 adalah:

1. Asas kewarganegaraan Indonesia berdasarkan sisi kelahiran

Asas kewarganegaraan Indonesia berdasarkan sisi kelahiran adalah asas Ius Sanguinis dan asas Ius Soli. Berikut ini penjelasan mengenai kedua asas tersebut.

a. Asas Ius Sanguinis (law of the blood)

Asas Ius Sanguinis adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan garis keturunan tanpa perlu mempersoalkan tempat orang tersebut dilahirkan.22

21

Kusumadi Pudjosewojo, Pedoman Pelajaran Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004) Cet. Ke-10, h. 116.

22

(42)

Hal ini dapat dibuktikan dari sikap negara kita yang pada hakikatnya baru akan menganggap seorang anak sebagai warga negara Indonesia bila anak tersebut telah memenuhi persyaratan yang oleh negara dapat dinilai sebagai seorang anak yang secara sah dan meyakinkan dapat dibuktikan sebagai keturunan dari ayah dan/atau ibunya yang menjadi warga negara Indonesia. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Anak yang ketika dilahirkan masih mempunyai hubungan hukum keluarga dengan ayah dan/atau ibunya yang menjadi warga negara Indonesia;

2) Anak yang lahir dalam 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia, apabila dari status perkawinan yang sah dan ayah itu pada waktu meninggal dunia sebagai warga negara Indonesia;

3) Dalam hal anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah tetapi seorang ayah tidak mempunyai kewarganegaraan atau negara asal ayah tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut, sedangkan ibunya warga negara Indonesia, maka anak tersebut mengikuti kewarganegaraan ibunya;

4) Anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak sah dan salah satu dari kedua orang tuanya adalah warga negara Indonesia.

(43)

kewarganegaraan dari negara asalnya. Oleh karena itu asas Ius Sanguinis cukup menguntungkan Negara Republik Indonesia.

Sebagai contoh ilustrasi, seorang ibu berinisial F berkewarganegaraan Indonesia melahirkan di negara tetangga, Malaysia. Kemudian dia melahirkan seorang anak di negara itu, oleh karena negara Indonesia menganut asas Ius Sanguinis maka secara otomatis anak tersebut berkewarganegaraan Indonesia.

Seperti tertera dalam Pasal 4 huruf (b, c, d, e, f, g, h, l dan m) b. Asas Ius Soli (law of the soil) Terbatas

Ius Soli adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran tanpa perlu mempersoalkan keturunan darah orang yang bersangkutan. Asas ini diberlakukan terbatas bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.23

Hal ini dapat dibuktikan dari adanya perlakuan terhadap seorang anak atau setiap anak yang dilahirkan di Indonesia bahwa mereka dianggap sebagai warga negara Indonesia atas dasar:

1) Tidak jelas status kewarganegaraan kedua orang tuanya; 2) Kedua orang tuanya tidak diketahui;

3) Kedua orang tuanya tidak mempunyai kewarganegaraan atau keberadaannya tidak diketahui.

(44)

Asas ini dianut terutama oleh yang disebut negara-negara immigrasi diantaranya Amerika Serikat, Australia dan Canada yang memperoleh manfaat dari padanya karena dengan kelahiran anak-anak para immigran di negara tersebut maka terputuslah hubungan anak yang baru lahir itu dengan negara asal orang tuanya.

Di Indonesia sendiri asas ini dipakai dengan maksud agar tidak terjadi apatride/stateless yaitu seseorang berstatus tanpa kewarganegaraan yang secara yuridis-formal dia bukanlah warga dari negara manapun juga.24 Seperti seseorang yang tidak mempunyai atau tidak jelas status kewarganegaraannya, tetapi dia melahirkan anaknya di wilayah negara Republik Indonesia, agar anak tidak menyandang status tanpa kewarganegaraan seperti kedua orang tuanya, maka berdasarkan asas Ius Soli tersebut secara otomatis anak itu mendapat kewarganegaraan Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada Pasal 4 huruf (i, j dan k). 2. Asas kewarganegaraan Indonesia berdasarkan sisi perkawinan

Perkawinan tidak hanya terjadi antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang berkewarganegaraan sama tetapi dapat saja terjadi dari para pihak yang berbeda kewarganegaraan atau biasa disebut juga perkawinan campuran. Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok tanah air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan dan transportasi

24

(45)

telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia.25

Dengan banyak terjadinya perkawinan campur di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam perundang-undangan di Indonesia.

Dalam perundang-undangan di Indonesia, perkawinan campuran didefinisikan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 57: ”Yang dimaksud dengan perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.”

Sejak dahulu diakui bahwa soal keturunan termasuk status personal (Statuta personalia adalah kelompok kaidah yang mengikuti kemana ia pergi).26 Negara-negara common law berpegang pada prinsip domisili (ius soli) sedangkan negara-negara civil law berpegang pada prinsip nasionalitas (ius sanguinis).27 Umumnya yang dipakai ialah hukum personal dari sang ayah sebagai kepala keluarga (pater familias) pada masalah-masalah keturunan secara sah. Hal ini adalah demi kesatuan hukum dalam keluarga dan demi kepentingan kekeluargaan,

25

Nuning Hallet, Mencermati Isi Rancangan UU Kewarganegaraan, Artikel diakses pada 5 Juni 2009 dari http://www.mixedcouple.com.

26

Sudargo Gautama, Hukum Perdata Internasional Indonesia, B, Jilid III Bagian I, Buku ke-7, (Bandung: Penerbit Alumni, 1995), hal.3.

27

(46)

demi stabilitas dan kehormatan dari seorang istri dan hak-hak maritalnya. Sistem kewarganegaraan dari ayah adalah yang terbanyak dipergunakan di negara-negara lain, seperti misalnya Jerman, Yunani, Italia, Swiss dan kelompok negara-negara sosialis.28

Prof.Sudargo Gautama menyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demi kesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak–anak dalam keluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadap anak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama. Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 62 tahun 1958.29

Dalam Undang-Undang kewarganegaraan yang baru saat ini yaitu Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, kewarganegaraan Indonesia mengenal dua asas yang erat kaitannya dengan masalah perkawinan yaitu asas kewarganegaraan tunggal dan asas kewarganegaraan ganda terbatas, dimana masing-masing dari kedua asas ini diterapkan kepada setiap orang dewasa dan diterapkan hanya terbatas pada anak-anak saja.

Untuk lebih jelasnya akan kami uraikan permasalahan asas kewarganegaraan tunggal dan asas kewarganegaraan ganda di bawah ini:

a. Asas Kewarganegaraan Tunggal

28

Ibid., hal.81.

29

(47)

Yaitu asas yang menentukan satu kewarganegaraan bagi setiap orang. Hal ini disebutkan dalam pasal 6 yang mengatakan bahwa terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf (c, d, h, l) dan pasal 5, yaitu:

1) anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah Warga Negara Indonesia dan ibu warga negara asing;

2) anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah warga negara asing dan ibu Warga Negara Indonesia;

3) anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin;

4) anak yang dilahirkan di luar wilayah negara Republik Indonesia dari seorang ayah dan ibu Warga Negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan;

5) anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia;

(48)

Mengakibatkan anak tersebut berkewarganegaraan ganda, namun setelah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin anak yang dimaksud harus menyatakan memilih salah satu kewarganegaraannya. Pernyataan untuk memilih tersebut harus disampaikan paling lambat 3 (tiga) tahun setelah anak berusia 18 (delapan belas) tahun atau setelah kawin, dengan kata lain bahwa kewarganegaraan tunggal dalam undang-undang ini ditujukan bagi setiap orang yang telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin.

b. Asas Kewarganegaraan Ganda Terbatas

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Pasal 4 huruf (c, d, h dan l) dan Pasal 5 ayat (1 dan 2) anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNI dengan pria WNA maupun anak yang lahir dari perkawinan seorang wanita WNA dengan pria WNI, baik perkawinan itu sah atau tidak sama-sama diakui sebagai warga negara Indonesia.

Akibatnya anak tersebut akan berkewarganegaraan ganda, demikian juga dengan anak yang lahir di luar wilayah Indonesia dari seorang ayah dan ibu warga negara Indonesia yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan dan anak warga negara Indonesia yang belum berusia lima tahun diangkat secara sah sebagai anak oleh warga negara asing berdasarkan penetapan pengadilan.

(49)

karena sebelum usia itu seorang anak dianggap belum cakap melakukan tindakan hukum, yang praktis menghindarkan kemungkinan dampak negatif persoalan hukum yang diakibatkan oleh adanya kewarganegaraan ganda tersebut.30

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, secara umum undang-undang Kewarganegaraan saat ini menghindari terjadinya status kewarganegaraan ganda (bipatride), tanpa status kewarganegaraan (apatride), kecuali kewarganegaraan ganda terbatas yang diberikan kepada anak-anak dari Warga Negara Indonesia yang dilahirkan di negara-negara berasas ius soli seperti Amerika Serikat atau anak-anak dari perkawinan antara Warga Negara Indonesia dan warga negara lain.

D. Syarat Memperoleh Kewarganegaraan Indonesia Memurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006

Dalam Pasal 2 undang-undang ini menyebutkan bahwa yang menjadi warga negara Indonesia adalah orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

Bagi orang-orang bangsa lain yang ingin menjadi warga negara Indonesia dapat diperoleh melalui pewarganegaraan. Permohonan pewarganegaraan dapat diajukan oleh yang bersangkutan jika memenuhi syarat-syarat yang telah disebutkan dalam undang-undang ini (pasal 9), yaitu:

1. Telah berusia 18 tahun atau sudah kawin;

30

(50)

2. Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah negara Republik Indonesia paling singkat 5 tahun berturut-turut atau paling singkat 10 tahun tidak berturut-turut;

3. Sehat jasmani dan rohani;

4. Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

5. Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 1 tahun atau lebih;

6. Jika dengan memperoleh kewarganegaraan Indonesia, tidak menjadi berkewarganegaraan ganda;

7. Mempunyai pekerjaan dan/atau penghasilan tetap; dan 8. Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.

Dalam Pasal 10 undang-undang ini mengatur prosedur yang harus ditempuh oleh pemohon kewarganegaraan, antara lain:

1. Permohonan pewarganegaraan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia di atas kertas bermaterai cukup;

2. Surat permohonan ditujukan kepada Presiden melalui Menteri; 3. Berkas permohonan disampaikan kepada pejabat;

(51)

5. Kepada pemohon ditetapkan biaya pewarganegaraan yang besarnya akan diatur labih lanjut dalam peraturan pemerintah. (peraturan pemerintah tersebut belum ditetapkan menurut undang-undang ini peraturan pelaksanaannya harus ditetapkan paling lambat 6 bulan setelah undang-undang ini berlaku);

6. Presiden punya hak untuk mengabulkan atau menolak permohonan kewarganegaraan tersebut;

7. Apabila permohonan dikabulkan maka Presiden menetapkan keputusan Presiden yang ditetapkan paling lambat 3 bulan terhitung sejak permohonan diterima oleh Menteri dan diberitahukan kepada pemohon paling lambat 14 hari terhitung sejak keputusan Presiden ditetapkan. Keputusan Presiden mengenai pengabulan terhadap permohonan pewarganegaraan baru berlaku efektif terhitung sejak tanggal permohonan mengucapkan sumpah janji setia yang dilangsungkan paling lambat 3 bulan terhitung sejak putusan Presiden dikirim kepada pemohon. Adalah kewajiban pejabat memanggil pemohon untuk mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia;

(52)

9. Apabila permohonan ditolak maka penolakannya harus disertai alasan dan diberitahukan oleh Menteri kepda yang bersangkutan paling lambat 3 bulan terhitung sejak tanggal permohonan diterima oleh Menteri.

1. Analisis

Yang menjadi Warga Negara Indonesia sebagai identitas Bangsa Indonesia Asli sebagaimana dimaksud dari ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 menentukan bahwa “Yang menjadi Warga Negara Indonesia adalah orang-orang Bangsa Indonesia Asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai Warga Negara.” Dalam penjelasan Pasal 2 tersebut menerangkan pengertian orang-orang Bangsa Indonesia Asli adalah “Warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima kewarganegaraan lain atas kehendak sendiri”. Kemudian ketentuan Pasal 4 menegaskan bahwa anak yang dilahirkan di wilayah Negara Republik Indonesia dianggap Warga Negara Indonesia sekalipun status Kewarganegaraan orang tuanya tidak jelas, hal ini berarti secara yuridis ketentuan ini sedapat mungkin mencegah timbulnya keadaan tanpa kewarganegaraan.

(53)

dianggap Warga Negara Indonesia asli. Konsekuensi yuridisnya semua Warga Negara Indonesia keturunan yang sudah menikah dan mempunyai keturunan yang sudah lahir di wilayah Negara Republik Indonesia demi hukum menjadi orang-orang bangsa Indonesia asli karenanya secara yuridis tidak diperlukan lagi membuat Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) melainkan cukup menunjukkan akta kelahiran saja.

(54)

BAB III

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KONSEP

KEWARGANEGARAAN INDONESIA DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2006

E. Warga Negara dalam Islam

Islam adalah agama yang mementingkan kemaslahatan dan kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Ajarannya tetap aktual bagi manusia di segala zaman dan tempat. Islam tidak hanya merupakan rahmat bagi manusia, tetapi juga bagi alam semesta. Islam memperlakukan manusia secara adil tanpa membeda-bedakan kebangsaan, warna kulit dan agamanya, seperti ditegaskan Allah dalam QS. Al-Hujurat (49): 13.

!

(55)

Berdasarkan prinsip ini maka Islam membuat berbagai ketentuan yang mengatur hubungan antar sesama manusia, baik muslim sendiri maupun non-muslim.31

Negara Islam merupakan negara ideologis, maka kewarganegaraan sistem politik Islam pertama-tama berdasarkan agama Islam. Meski begitu negara ini membatasi kewarganegaraannya hanya kepada orang-orang yang tinggal di wilayahnya atau bermigrasi ke dalam wilayahnya. Dengan kata lain bahwa Negara Islam bukan negara ekstra-teritorial. Hal ini diungkapkan dalam QS. Al-Anfal (8): 72.

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan

31

(56)

tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi, dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang Telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”.

Ayat ini meletakkan prinsip dasar lain dari hukum perundang-undangan Islam, yaitu negara Islam melindungi segenap orang-orang yang berada di tanah tumpah darah negara Islam atau yang berhijrah ke negara Islam yang bersangkutan. Mengenai kaum muslim yang berada di luar wilayah negara Islam, negara tidak akan memberikan perlindungannya. Kaitan antara persaudaraan Islam tetap ada, tetapi tidak ada tanggung jawab legal bagi perlindungannya. Jika mereka berhijrah ke negara Islam yang bersangkutan, maka mereka barulah akan memperoleh perlindungannya. Jika mereka hanya datang sebagai pelancong atau tamu serta tidak melepaskan kewarganegaraannya (dari negara non-Islam), mereka akan dianggap warga negara non-Islam dan tidak berhak atas perlindungan negara Islam. 32

Walaupun kewarganegaraan sistem politik Islam berdasarkan agama Islam, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi warga negara lain yang non-muslim untuk dapat menjadi warga negara Islam dengan adanya suatu perjanjian dengan pemerintah Islam. Untuk selanjutnya bagi non-muslim tersebut dinamakan ahl-dzimmah.

32

(57)

Islam menggolongkan rakyatnya berdasarkan satu prinsip dan satu ideologi. Dengan demikian di manapun seseorang dilahirkan baik dia itu seorang muslim atau bukan (non-muslim) tetap berstatus kewarganegaraan Dar al-Islam selama mereka berhijrah atau menerima ideologi tersebut sebagai prinsip dasar.

Para ulama fiqh membagi kewarganegaraan seseorang kedalam dua macam kelompok yaitu Muslim dan Non-muslim, sedangkan penduduk Dar al-Islam terdiri dari Muslim, Ahl al-Dzimmi dan musta’min. Hal tersebut untuk memudahkan urusan pemerintahan dan pengurusan warganya. Pemisahan ini adalah karena berbedanya cara hidup orang Islam dengan yang bukan Islam, ada peraturan yang dikenakan kepada orang Islam tetapi tidak dikenakan pada orang bukan Islam. Misalnya, umat Islam diwajibkan membayar zakat bila cukup nisab dan haulnya, sedangkan umat bukan Islam tidak berzakat. Sebab itu bagi warga negara yang bukan Islam ada beberapa peraturan khusus untuk mereka. Berikut akan kami berikan sedikit definisi mengenai istilah di atas:

a. Muslim

Istilah Muslim merupakan nama yang diberikan bagi orang yang menganut agama Islam. Seorang muslim meyakini dengan sepenuh hati kebenaran agama Islam dalam kaidah, syariah dan akhlak sebagai aturan hidupnya.

(58)

banyak terdapat dalam al-Quran dan al-Hadits. Sebagaimana yang tertera dalam QS. Al-Hajj (22) :78.

Artinya: “ … Dia yang menamakan kamu dengan muslim semenjak masa lalu. Hal ini dimaksudkan supaya Nabi Saw. menjadi saksi atas kamu dan kamu menjadi saksi atas sekalian manusia...”.

Berdasarkan tempat menetapnya, muslim dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya, Yaitu:

1) Mereka yang menetap di Dar al-Islam dan mempunyai komitmen yang kuat untuk mempertahankan Dar al-Islam. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah orang Islam yang menetap sementara waktu di Dar al-Islam sebagai musta’min dan tetap komitmen kepada Islam serta mengakui pemerintahan Islam;

2) Muslim yang tinggal menetap di Dar al-Harb dan tidak berkeinginan untuk berhijrah ke Dar al-Islam. Status mereka, menurut Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad, sama dengan muslim lainnya di Dar al-Islam. Harta benda dan jiwa mereka tetap terpelihara. Namun menurut Abu Hanifah, mereka berstatus sebagai penduduk harbiyun, karena berada di negara yang tidak dikuasai Islam. Konsekuensinya, harta benda dan jiwa mereka tidak terjamin.

(59)

Kata ahl al-dzimmi atau ahl al-dzimmah merupakan bentuk tarkib idhafi (kata majemuk) yang masing-masing katanya berdiri sendiri. Kata “ahl” secara bahasa, berarti keluarga atau sahabat. Sedangkan kata “dzimmi / dzimmah”, berarti janji, jaminan dan keamanan33.

Secara sederhana kata ahl al-dzimmi diartikan orang-orang non-muslim yang tidak memusuhi Islam. Menurut Yusuf al-Qardhawi ahl dzimmi adalah orang-orang non-muslim (ahli kitab maupun bukan) yang menjadi warga negara Islam. Menurut Muhammad Dhiya Din Rais, yang dimaksud dengan al-Aqalliyyah al-diniyah adalah non-muslim (ahli kitab maupun bukan).34 Secara umum ahl dzimmi diartikan mereka yang mendapatkan perlindungan keamanan, hak hidup dan tempat tinggal di tengah komunitas muslim.

Mereka dinamakan dzimmah (yang berarti perjanjian, jaminan dan keamanan) karena memiliki jaminan perjanjian (‘ahd) Allah dan Rasul-Nya serta jamaah kaum muslimin untuk hidup dengan aman dan tenteram dibawah perlindungan Islam. Jadi mereka berada dalam jaminan keamanan kaum muslimin berdasarkan akad dzimmah. Dengan demikian, dzimmah ini memberikan kepada kaum non-muslim suatu hak yang dimasa sekarang mirip dengan apa yang yang disebut sebagai kewarganegaraan politis yang diberikan negara kepada rakyatnya.

33

Iqbal, Fiqh Siyasah, h. 233.

34

(60)

Dengan ini pula mereka memperoleh dan terikat pada hak-hak dan kewajiban-kewajiban semua warga negara.

Akad dzimmah ini adalah akad yang berlaku selama-lamanya, mengandung ketentuan membiarkan (membolehkan) orang-orang non-muslim tetap dalam agama mereka disamping hak menikmati perlindungan dan perhatian jamaah kaum muslimin, dengan syarat ia membayar jizyah serta berpegang pada hukum-hukum Islam dalam hal-hal yang tidak berhubungan langsung dengan masalah-masalah agama. Dengan ini, mereka menjadi bagian dari Dar al-Islam.35 a. Musta’min

Secara bahasa kata “musta’min” merupakan bentuk isim fail (pelaku) dari kata kerja ista’mana. Kata ini seakar dengan kata amana yang berarti aman. Dengan demikian kata ista’mana mengandung pengertian ”meminta jaminan keamanan”.

Menurut pengertian ahli fiqh musta’min adalah orang yang memasuki wilayah lain dengan mendapat jaminan keamanan dari pemerintah setempat, baik ia muslim maupun harbiyun. Menurut Al-Dasuki antara musta’min dengan mu’ahid mempunyai pengertian yang sama. Mu’ahid adalah orang non-muslim yang memasuki wilayah Dar al-Islam dengan memperoleh jaminan keamanan dari pemerintah Islam untuk tujuan tertentu, kemudian ia kembali ke wilayah Dar al-Harb.

35

(61)

Musta’min yang memasuki wilayah Dar al-Islam bisa sebagai utusan perdamaian, anggota korps diplomatik, pedagang/invertor, pembawa jizyah atau orang-orang yang berziarah.36

Ajaran Islam membolehkan Dar al-Islam menerima permohonan non-muslim untuk meminta jaminan keamanan berdasarkan QS. Al-Taubah (9) :6.

@

,

Artinya: ”Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, Kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak Mengetahui.”.

Berdasarkan ayat tersebut, permohonan orang musyrik harbiyun untuk mendapatkan jaminan keamanan di Dar al-Islam harus dikabulkan. Keamanan ini meliputi keselamatan diri, harta, transaksi yang dilakukannya bahkan keluarga mereka juga. Ia tidak hanya dibolehkan menetap di Dar al-Islam tetapi juga

36

(62)

melakukan hubungan muamalah dengan umat Islam serta saling menolong. Dengan jaminan ini mereka tidak dibebankan membayar jizyah.

Jaminan keamanan untuk mereka berlaku sesuai dengan masa yang ditetapkan dalam perjanjian dengan Dar al-Islam. Mazhab Syafi’i membatasi masa aman tidak melebihi empat bulan, selama musta’min tersebut bukan musafir dan utusan politik. Berakhirnya masa aman bagi mereka terkait dengan berakhirnya kepentingan atau urusan musta’min itu sendiri. Pembatasan masa aman ini dikhususkan hanya bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan tidak dikaitkan dengan waktu tertentu.

Menurut Mazhab Maliki, keamanan yang tidak dibatasi oleh waktu dengan sendirinya berakhir setelah melewati masa empat bulan. Sedangkan keamanan yang dibatasi waktu tertentu berakhir sesuai masanya, selama perjanjian tersebut tidak dibatalkan.

Mazhab Hanafi dan Syiah Zaidiyah membahas masa aman maksimal selama setahun. Bila lewat masa setahun, maka si musta’min wajib membayar jizyah kepada pemerintah Islam, sebagaimana halnya ahl al-zimmi. Sementara Mazhab Hambali memberi batasan waktu yang lebih luas dan lama, yaitu empat tahun. Ahmad Ibn Hambal merujuk pendapatnya berdasarkan pada kenyataan sejarah bahwa para anggota korps diplomatik memperoleh jaminan keamanan selama tiga hingga empat tahun.37

37

(63)

Istilah musta’min juga dapat digunakan untuk orang-orang Islam dan ahl al-dzimmi yang memasuki wilayah Dar al-harb dengan mendapat izin dan jaminan keamanan dari pemerintah setempat. Hal ini diakui selama mereka hanya menetap sementara di tempat tersebut dan kembali ke Dar al-Islam sebelum izinnya habis. Status yang bersangkutan masih tetap muslim, selama ia tidak murtad. Bila murtad maka ia menjadi harbiyun.

1. Hak dan Kewajiban Warga Negara

Setiap orang Islam, baik yang asli (penduduk setempat) atau mendatang (pendatang, wisatawan, tetamu, pelarian dan lain-lain) mendapat hak asasi yang sama saja. Orang kaya maupun orang miskin tidak dibeda-bedakan dalam urusan mendapatkan hak-hak asasi. Yaitu:

1. Kebebasan untuk memiliki rumah, harta dan lain-lain. 2. Kebebasan bekerja dan berbicara.

3. Peluang belajar di dalam dan luar negeri. 4. Melaksanakan dan mengurus hak-hak agama.

5. Kalau dihina akan dilindungi dan penghina itu akan dihukum.

6. Mempertahankan kehormatan diri, harta, keluarga dan lain-lain. Bahkan dalam jaran Islam seorang yang mati karena mempertahankan dirinya, harga dirinya, keluarganya dan hartanya itu dianggap mati syahid. Rasulullah bersabda:

(64)

dan siapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka dia juga syahid”. (Riwayat Abu Daud dan At Tarmizi)

Itulah dia hak-hak asasi umat Islam secara umum dalam Negara Islam. Mereka dibolehkan, bahkan bebas berorganisasi, beraktivitas, berdagang, mengumpulkan harta, berjuang, menikmati hiburan, menulis, mengeluarkan pendapat dengan syarat tidak melanggar syariat Allah dan tidak melanggar hak asasi orang lain. Juga tidak bertentangan dengan perintah pemimpin bila perintah itu sesuai dengan ajaran Islam, arahan pemimpin yang tidak syar'i tidak wajib ditaati.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Hormat dan patuh kepada orang Muslim adalah wajib, baik perkara itu disukai atau tidak selama tidak diperintahkan perkara maksiat. Apabila seseorang itu diperintahkan supaya melakukan maksiat maka tidak ada hormat dan ketaatan”. (Riwayat Al Bukhari)

Adapun hak bagi warga negara bukan Islam (ahl dzimmi), yaitu: 1. Kebebasan memiliki rumah dan harta.

2. Peluang-peluang belajar di dalam dan luar negeri.

3. Kebebasan bekerja dan berbicara dengan syarat tidak melanggar hak asasi orang lain.

4. Bebas menganut agama apapun. Pemerintah atau umat Islam tidak boleh memaksa mereka menganut Islam.

Allah berfirman: Artinya: “Tiada paksaan dalam memilih agama”.

(65)

6. Diberi perlindungan bila mereka dihina. Sekalipun yang menghina itu dari kalangan orang Islam sendiri, pasti dihukum.

7. Berhak mempertahankan harga diri, harta dan keluarga.

Berbeda dengan umat Islam, warga negara bukan Islam tidak dikenakan zakat, fitrah, sedekah, berkorban dan lain-lain sebagai sumbangan kepada negara dan masyarakat. Dengan sumbangan tersebut negara akan jadi kuat dan dapat menguatkan individu-individu terutama orang-orang susah. Maka untuk tujuan yang sama di samping kepentingan-kepentingan keselamatan dan pengurusan mereka, Negara Islam menetapkan warganya yang bukan Islam mesti membayar jizyah atau pajak kepala, tidak ada pajak lainnya. Kadar pajak itu menurut taraf hidup dan kemampuan masing-masing seperti yang diputuskan oleh hakim atau ketua negara.38

F. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Sisi Kelahiran

Dalam Islam status kewarganegaraan seseorang dapat dilihat berdasarkan dua macam asas, yaitu:

'+ Artikel diakses pada 10 Desember 2009 dari

Gambar

Grafika, 2004) Cet. Ke-10, h. 116.
Grafika 2004 Cet Ke 10 h 116 . View in document p.41

Referensi

Memperbarui...

Download now (111 pages)