Hak atas Kesehatan reproduksi perempuan dalam cedaw dan hukum Islam (studi komparaif)

 7  86  110  2017-02-28 19:38:59 Report infringing document
HAK ATAS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM CEDAWDAN HUKUM ISLAM (STUD I KOMPARATIF) Disusun Oleh ANAPRAWATI 103045228175 KONSENTRASI SIYASAH SYAR'IYYAH PROGRAM STUDI JINAYAH DAN SIYASAH FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 HI 2008 M PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi berjudul "HAK ATAS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM CEDAWDAN HUKUM ISLAM (STUDI KOMPARATIF)" telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Selasa, 10 Juni 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Program Studi Jinayah Siyasah Konsentrasi Siyasah Syar'iyyah. Jakarta, 10 juni 2008 . . Muhammad Amin Suma, S.H, M.A, M.M. NIP. 150 210 422 Panitia Ujian : 1. Ketua : Asmawi. M.Ag. NIP. 150 282 394 2. Sekretaris : Sri Hidayati. M.Ag NIP. 150 282 403 ( 3. Pembimbing I : Dr. Rumadi, MA. NIP. 150 283 352 4. Pembimbing II : Dr. Enis Nurlaelawati, MA NIP. 150 277 992 5. Penguji I : Prof. DR. H. Muhanunad Amin Sum NIP. 150 210 422 5. Penguji II : Dr. H. Ahmad Mukri Aji, MA. NIP. 150 220 544 ) ( . KATA PENGANTAR H"-)1 セIi@ .iii;=------! Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia serta segala petunjuk yang telah diberikan-Nya. Shalawat dan salam, semoga Allah melimpahkan kepada Nabi Muhammad saw., para keluarga, sahabat dan pada pengikutnya hingga akhir zaman. Penulis bersyukur telah menyelesaian skripsi yang diajukan sebagai salah satu syarat dalam menempuh gelar Saijana Hukum Islam di Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakaiia yang berjudul " HAK ATAS KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DALAM CEDAW DAN HUKUM ISLAM (STUDI KOMPARATIF) ". Dalam setiap tahap penyusunan skripsi ini begitu banyak bantuan, bimbingan, dorongan serta perhatian yang diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: I. Bapak Prof. DR. Drs. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SyarifHidayatullah Jakarta. 2. Bapak Asmawi, M.Ag. selaku Ketua Program Studi Jinayah Siyasah. 3. Ibu Sri Hidayati, M.Ag. selaku Sekretaris Program Studi Jinayah Siyasah. 4. Bapak Dr. Rumadi MA. dan Ibu Dr. Enis Nurlaelawati MA. selaku Pembimbing Skripsi Penulis. 5. Pimpinan dan segenap JaJaran pengurus Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum yang telah memberikan fasilitas kepada penulis untuk mengadakan studi perpustakaan. 6. Keluarga tercinta, Ibu Rumjanah (aim), Engkong H. Salim (aim) dan Nyai Hj. Asiah Salim. Untuk paman dan bibi terimakasih atas segalanya, telah mengasuh dan mendidik penulis san1pai saat ini, serta saudarn-saudaraku Yusi, Rury, Roby, Ade, Ivie, Eggie, dan Imen yang tak pemah lepas dan lupa dengan segala do' a, kasih sayang dan pengorbanannya sehingga tidak hentihentinya memberikan motivasi material dan spiritualnya. I love you all . 7. Rekan-rekan Siyasah Syar'iyyah angkatan 2003 senasib dan seperjua11gan, Iwa, Boncue, kong Nawi, Bajuri, Q-Roy, Oi', B'Dur, Icuy, Nazir, dan Babeh, Oi, Fadinla. Kompak selalu . ! ! ! 8. Sahabat-sahabatku, Isya, Rieny, Jeane dan kawan-kawan, yang telah menemani dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini selama di pondok akkazaman. Maaf sering kali merepotkan kalian, but Thank's for everythink. Chayoo Semoga bantuan, bimbingan, dorongan serta perhatian yang diberikan oleh mereka mendapat balasan yang berlipat dari Allah SWT. Akhir kata, penulis berharap skiipsi ini dapat bermallfaat khususnya bagi penulis pribadi dan pembaca pada umumnya. Amiin. Tangerang, Maret 2008 Penulis DAFTARISI KATA PENGANTAR . . DAFTAR ISi . 111 BABI : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Pembatasan dan Pernmusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8 D. Tinjauan Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9 E. Metode Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11 F. Sistematika Penulisan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG CEDAW A. Pengertian CEDAW . 15 B. Landasan Pemikiran dan Prinsip-Prinsip Konvensi CEDAW. . 17 C. Pokok-Pokok Isi Konvensi CEDAW . 22 D. Perkembangan CEDA W di Indonesia . 28 BAB III: CEDAWDAN KESEHATAN PEREMPUAN: HAK REPRODUKSI A. Pengertian Hak dan Kesehatan Perempuan dalam CEDAW . . . . . . . . . 35 B. Bentuk-Bentuk Isu Kesehatan Reproduksi Perempuan: I. Aborsi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 40 2. Female Genital Mutilation (FGM) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 61 C. Instrumen Hulmm yang Memberi Perlindungan bagi Kesehatan Perempuan di Indonesia . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 67 BAB IV : TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HAK-HAK KESEHATAN PEREMPUAN DALAM CEDAW A. I-Iak-Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Dalam Pandangan Islam 73 B. Dasar Hukum Islam yang Menguatkan Hak-Hak Kesehatan Perempuan dalam CEDA W. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79 C. Reinterpretasi Terhadap Hukum Islam Mengenai Hak-Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam CEDA W . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 84 BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . . . . . . . . 91 B. Saran . 95 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN - LAMPIRAN BABI PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai suatu istilah, Hak Asasi Manusia (HAM) dirasakan penting dan dapat diterima masyarakat umum sekitar 50 tahun lalu. Tetapi hak asasi perempuan baru menjadi perhatian nmnm sejak tahun 1970, namun ironisnya hak asasi perempuan tidak secara otomatis dikenali ketika hak asasi tersebut diproklamirkan. 1 Pada tahun 1967 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan deklarasi mengenai penghapusan diskriminasi terhadap wanita. Deklarasi tersebut memuat hak dan kewajiban wanita berdasarkan persamaan hak dengan pria. Tahun 1979 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui isi konvenan tersebut. 2 Kemudian Pada tanggal 7 Juli 1984 Indonesia telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Diskriminasi masih terdapat dalam berbagai bidang kehidupan hingga ke peraturan hukum. Maka dari itu Perserikatan Bangsa-Bangsa memberi kesempatan kepada lembaga swadaya masyarakat di negara anggota PBB untuk membuat laporan tentang pelaksanaan konvensi tersebut. Hingga sekarang, telah 1 Zumrotin K. susilo, dkk, Pere1npuan Bergerak: Membingkai Gerakan Konsun1en dan Penegakan Hak-Hak Perempuan, (Makassar: Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan, 2000), h.22 2 Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum. Direktorat Hukum Dan Peradilan Mabkamah Agung RI, Informasi Peraturan Perundang-Undangan Tentang Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Direktorat Hukum Dan Peradilan Mahkamah Agung RI, 2003) h.139 2 dilakukan pembahasan pelaksanaan CEDAW untuk bidang berbeda-beda, sesuai dengan pasal-pasal menyangkut hak perempuan, seperti diantaranya hak atas kesehatan (pasal 12 CEDAW). 3 Dalam tatanan masyarakat di dunia, kedudukan wanita seringkali dianggap lebih rendah dari pria, pandangan yang tidak seimbang atas kedudukan wanita ini menimbulkan suatu masalah klasik yang telah dihadapi kaum wanita selama berabad-abad, yaitu ketidakadilan yang disebabkan perbedaan gender. Masalah ini kemudian berakar kuat dalam masyarakat dan belum pernah ada penyelesaian yang memuaskan untuk menuntaskan keadaan ini. Faktor utama penyebab masalah ini adalah masih dianutnya pabam patriakal di sebagian masyarakat adat di dunia, dimana pria dianggap sebagai makhluk yang lebih superior dibandingkan wanita. 4 Berbicara mengenai masalah perempuan, luas persoalan yang hams dibahas, seperti termasuk di dalamnya persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, kekerasan, ekonomi, lingkungan hidup dan media. Semua itu berangkat dari bentuk ketidakadilan yang dialami pihak perempuan sebagai akibat subordinasi posisi mereka terhadap laki-laki. Persoalan sekarang ini adalah kekhawatiran dari dampak ketidakadilan itu sendiri, yang tentu akan berimbas pada perempuan baik secara individu maupun kelompok dan mungkin akan 3 http://www.defathya.multiply.com/reviews/item.html, diakses pada tangggal 23 Desember 2007 4 Sulistyowati Irianto, Peretnpuan dan Hukum: Menuju Hukzun yang Berperspektff Kesetaraan dan Keadilan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2006), h.489 3 berimbas juga pada generasi berikutnya. Tidak mengherankan apabila dewasa ini isu kesehatan perempuan (sebagian besar mengenai kesehatan reproduksi) menjadi tema yang paling besar menyita perhatian, sehingga bukan suatu yang tabu jika reproduksi dikatakan merupakan pokok sekaligus pangkal dari keseluruhan persoalan perempuan. 5 Lebih banyak perempuan dan anak perempuan yang mati setiap hari karena berbagai bentuk penyalahgunaan hak asasi atas diskriminasi jenis kelamin.6 Kondisi kesehatan perempuan yang demikian memprihatiukan sesungguhnya disebabkan oleh ketiadaan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Apalagi kesehatan dalam sistem sekuler7 merupakan barang yang mahal, ditambah dengan kondisi perekonomian saat ini, layanan kesehatan yang berkualitas tidak bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. 8 Dengan kondisi seperti ini bukan hanya perempuan saja yang menjadi tidak sehat tetapi juga mencakup kaum laki-laki. Fungsi reproduksi yang melambangkan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan diperluas dalam sistem patriarki sebagai ciri pemisahan domestik dan publik. Akibatnya, gender acapkali terkonotasikan dengan ungkapan "perempuan lebih cocok dirumah". Konstruksi dikotomi jender seperti ini, secara 5 Lies Marcoes-Natsir, Mencoba Mencari Titik Temu Islam dan Hak Reproduksi Perempuan, dalam Syafiq Hasyim, ed., Menakar Harga Perempuan, (Jakarta: Mizan, 1999), h.19. 6 C. de Rever, To Serve & To Protect: Acuan Universal Penegakan HAM, Penerjemah Supardan Mansyur, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h.341. 7 Sistem sekuler yaitu sistem yang didasarkan pada aliran yang menghendaki agar kesusilaan atau budi pekerti tidak didasarkan pada ajaran agama. ' Ummu Fadhiilah, "Hak-Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan Da/am Pandangan Islam" artikel dalam ィエーZOキNオォ。ッイゥ、_アセョ・ャ@ 9, diakses pada 23 Desember 2007. 4 langsung maupun tidak langsung menumbuhkan asimetri antara laki-laki dan perempuan (laki-laki superior sedangkan perempuan inferior), sehingga istilab kodrat, hakikat dan martabat seringkali hanya diungkapkan kepada kaum perempuan. Sebenarnya, perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanya terletak pada kemampuan untuk hamil dan melahirkan. Namun, karena ha! ini secara langsung maupun tidak langsung membatasi gerak alami perempuan, maka tradisi ini lalu direkayasa menjadi pembenaran kodrat perempuan yang sekaligus membatasi gerak perempuan dalam berperan. 9 Di Indonesia berbagai wacana tentang hak-hak kesehatan perempuan atau hak reproduksi menjadi pembahasan baru dalam kaitan hukum Islam maupun wacana gender sendiri. Sebelum terkait dengan agama, budaya dan politik, isu hak reproduksi perempuan (reproductive right) dianggap kurang menarik, setidaknya bagi kalangan yang baru mendengar istilab ini karena nuansanya yang terkesan medis. Definisi kesehatan reproduksi sendiri sering dikaitkan dengan sistem reproduksi, fungsi, maupun proses reproduksi sendiri, namun sebenarnya maksudnya adalah suatu keadaan yang menyeluruh, meliputi aspek fisik, mental, dan sosial. 10 Salab satu aspek fundamental kemampuan suatu agama adalab untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Dalam al-Quran 9 Dadang S, Anshori, dkk., Membincangkan Feminisme: Rejleksi Muslimah Alas Peran Sosial Kaz11n Wanita, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997) h. 34 '°http://www.kompas.com/kompas_cetak/03 l l/swara.html, diakses tanggal 23 Desember 2007 5 digambarkan bahwa kedatangan Nabi Mnbammad bertujuan untuk membebaskan umat dari belenggu penindasan yang menghilangkan integritas kemanusiaan (QS. Al- A'raaf: 157). Disamping mengajarkan tauhid, al-Quran juga merekam berbagai kisah penindasan yang terjadi pada masa kenabian Muhammad seperti perbudakan, subordinasi perempuan dan pihak-pihak lain yang marginal secara sosial dan budaya. Ironisnya kitab-kitab fiqih yang dikodifikasikan saat Islam mencapai puncak peradaban justru telah memasung kaum perempuan pada dinding yang membatasi akses mereka terhadap pendidikan yang setara dengan laki-laki. Saat itu, pendidikan yang memadai hanyalah milik laki-laki sedangkan perempuan Islam yang seharusnya menjadi dinamis, mandiri, mulia, dan terhormat hanya menjadi perempuan yang rapnb. Stereotip dan subordinasi di atas akibat tidak tersentuhnya riwayat-riwayat dari hadits Nabi Muhammad secara eksplisit oleh setiap gerakan pembaharuan pemikiran Islam saat itu. 11 Terdapatnya hak untuk hidup dan hak perlindungan untuk hidup dalam komposisi hak asasi berkaitan erat dengan keselamatan pribadi manusia dengan kebebasannya. Hal ini dapat kita analogikan sebagai suatu jaminan kesehatan bagi setiap manusia, tentunya dengan tidak membedakan jenis kelamin. Perempuan diakui memiliki beberapa macam hak dasar, yaitu: 12 11 Siti Ruhaini Dzuhayatin, Rekonstruksi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.15 12 http://hidayatullah.com/index.php?option=com content&task=view&ID=26 l O&Itemed=60 diakses pada tanggal 13 Januari 2008 6 1. Hak untuk mendapatkan standar tertinggi kesehatan reproduksi dan seksual. 2. Hak untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kebebasan reproduksi yang bebas dari paksaan, dan kekerasan. 3. Hak bebas memutuskanjumlah anak danjarak kelahiran anak, serta hak untuk memperoleh informasi sekaligus sarananya. 4. Hak untuk mendapatkan kepuasan dan keamanan hubungan seks. Berangkat dari permasalahan yang tertera di atas, dalam skripsi ini penulis mencoba membahas suatu skripsi denganjudul: "Hak Atas Kesehatan Reproduksi Perempuan Dalam CEDA W dan Hukum Islam (Studi Komparatif)" dengan beberapa alasan sebagai berikut: a. Banyak hak-hak wanita seputar kesehatan reproduksi yang belum terpenuhi karena berbagai alasan baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. b. Ada beberapa sisi menarik yang perlu ditelaah dalam berbagai nonna dan menurut perspektifhukum dalam menyoroti masalah-masalah seputar hak-hak reproduksi karena selama ini hak kesehatan reproduksi hanya di identikkan sebagai bagian dari medis. c. Isu tentang hak-hak kesehatan reproduksi telah memunculkan efek yang cenderung amoral. Terlebih bila diamati betapa gencarnya upaya penggalangan dukungan untuk mengamandemen UU kesehatan No.23 Tahun 1992, yang mengarah kepada upaya legalisasi aborsi, atas nama hak-hak dan kesehatan reproduksi perempuan, sehingga terkesan ada muatan politis yang tersembunyi dibaliknya. 8 1. Bagaimana hak-hak kesehatan perempuan yang terdapat dalam CEDA W? 2. Bagaimana bentuk instrumen hukum yang memberi perlindungan terhadap kesehatan perempuan? 3. Bagaimana hukum Islam melihat hak-hak kesehatan perempuan yang terdapat dalam CEDA W? C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah: 1. Untuk mengetahui bentuk hak-hak atas perempuan dalam bidang kesehatan 2. Untuk mengetahui jenis perlindungan yang diberikan oleh instrumen hukum terhadap perempuan dalam memperoleh haknya 3. Untuk mengetahui hak-hak perempuan dalam CEDAW apakah telah sesuai dengan hukum Islam. Sedangkan manfaat dari penulisan skripsi ini adalah untuk menambah pengetahuan tentang CEDA W pada umumnya. Manfaat praktis bagi penulis, pembaca, serta masyarakat adalah mengetahui apa saja yang masuk kedalam hakhak kesehatan reproduksi perempuan yang terdapat dalam CEDA W dan hukum Islam. Secara akademis dapat bermanfaat bagi para akademisi Fakultas Syari' ah dan Hukum pada umumnya dan bagi program studi Siyasah Syar'iyyah khususnya, sebagai penamba11 referensi tentang studi komparatif mengenai hak atas kesehatan reproduksi perempuan dalam CEDA W dan Hukum Islam. 9 D. Tinjauan Pustaka Dalam menjaga keaslian judul yang akan penulis ajukan dalam skripsi ini perlu kiranya penulis uraikan juga beberapa buku atau karangan yang berkaitan atau mengkaji isu seperti ini. Berdasarkan buku-buku yang akan dicantumkan dibawah ini, baik kiranya jika dikelompokan terlebih dahulu menjadi beberapa bagian sudut pandang. Dari sudut pandang Hak Asasi Manusia, buku yang digunakan lebih cenderung global menyangkut hak asasi, diantaranya To Serve To Protect, Acuan Universal Penegakkan HAM oleh C. de Rover. Dalam buku ini HAM dikaitkan dengan Hukum Humaniter Internasional dan kemudian menempatkan HAM pada keadaan operasional dengan melibatkan penegak hukum, polisi dan angkatan bersenjata. Kemudian terdapat juga buku Informasi Peraturan Perundang- undangan tentang Hak Asasi Manusia yang diterbitkan oleh Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Direktorat Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI 2003. Tujuan dikeluarkannya buku kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak 16 a. Teori Permintaan dan Penawaran . 16 b. Saluran Pemasaran. 18 c. Biaya Pemasaran. 19 d. Keuntungan Pemasaran (Marketing Margin). 19 e. Efisiensi Pemasaran . 20 2.1.4 Kontribusi Usahatani . 21 2.2 Kerangka Pemikiran. 23 2.3 Hipotesis . 26 III. METODOLOGI PENELITIAN . 27 3.1 Penentuan Daerah Penelitian . 27 3.2 Metode Penelitian . 27 3.3 Metode Pengambilan Contoh. 27 3.4 Metode Pengumpulan Data . 28 x 3.5 Metode Analisis Data . 29 3.6 Terminologi . 33 IV. TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN . 34 4.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian. 34 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis . 34 4.1.2 Keadaan Penduduk . 34 4.1.3 Keadaan Pendidikan . 35 4.1.4 Keadaan Mata Pencaharian . 36 4.1.5 Keadaan Sarana Komunikasi dan Transportasi. 37 4.1.6 Usahatani Anggur di Wilayah Kecamatan Wonoasih . 38 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 40 5.1 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 40 5.2 Efisiensi Saluran Pemasaran Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 45 5.3 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Terhadap Pendapatan Keluarga. 53 VI. KESIMPULAN DAN SARAN . 57 6.1 Kesimpulan . 57 6.2 Saran. 57 DAFTAR PUSTAKA . 58 LAMPIRAN xi DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Data Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 28 2 Sebaran Penduduk Menurut Golongan Umur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . 35 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 . . 35 Sebaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004. . 36 Sebaran Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 36 Jumlah Sarana Komunikasi di Kecamatan Wonoasih Tahun 2004 37 Rata-rata Penerimaan, Total Biaya, dan Pendapatan Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 41 Hasil Analisis Uji F-Hitung Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo. . 42 Hasil Analisis Uji Duncan Perbedaan Pendapatan Per Hektar Petani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 43 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 pada Ketiga Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 44 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 47 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 xii Tabel Judul Halaman 13 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 48 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Red Prince pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 49 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 50 Rata-rata Biaya Pemasaran dan Keuntungan Pemasaran Anggur Belgie pada Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 50 Efisiensi Pemasaran Anggur Red Prince pada Masingmasing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Alphonso lavalle pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 51 Efisiensi Pemasaran Anggur Belgie pada Masing-masing Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo 52 Total Pendapatan Keluarga Petani dari Berbagai Sumber dan Kontribusi Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . . 54 Jumlah Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 Berdasarkan Status Usaha Pokok . 56 14 15 16 17 18 19 20 21 xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Profit Maximization dengan Memperbesar Total Penerimaan. 14 Konsep Memperoleh Tambahan Keuntungan Melalui Pendekatan Cost Minimization dengan Memperkecil Total Biaya 15 3 Harga Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran. 16 4 Kurva Demand dan Keuntungan Pemasaran . 20 5 Skema Kerangka Pemikiran 25 6 Saluran Pemasaran Komoditas Anggur . 45 2 xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Total Penerimaan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 60 Total Biaya Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 61 Pendapatan Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Masa Panen Maret-April Tahun 2005 . 62 Rekapitulasi Data Penelitian Usahatani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 . 63 Pendapatan Per Hektar Usahatani Anggur Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo . 64 Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar pada Berbagai Saluran Pemasaran di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 65 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan Pendapatan Usahatani Anggur Per Hektar Masa Panen Maret-April Tahun 2005 di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Berbagai Saluran Pemasaran . 66 7 Hasil Analisis Uji Anova dan Uji Duncan (Lanjutan) . 67 8 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran I di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 68 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 69 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran II di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 70 Produsen Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo pada Tahun 2005 . 71 2 3 4 5 6 7 9a 9b 10a xv Lampiran Judul Halaman 10b Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III di Kotamadya Probolinggo Tahun 2005. 72 Lembaga Pemasaran Buah Anggur untuk Saluran Pemasaran III (lanjutan) . 73 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Red Prince di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 74 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Alphonso lavalle di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 76 Perhitungan Margin Pemasaran dan Efisiensi Pemasaran Anggur Jenis Belgie di Kecamatan Wonoasih Kotamadya Probolinggo Tahun 2005 . 78 Kontribusi Pendapatan Usahatani Anggur Terhadap Pendapatan Total Keluarga Per Tahun 2005 80 Kontribusi Pendapatan Keluarga Petani Anggur di Kecamatan Wonoasih Tahun 2005 dari Berbagai Sumber dan Persentasenya . 81 Kuisioner . . 82 10b 11 12 13 14 15 16 xvi
Dokumen baru
Dokumen yang terkait

Hak atas Kesehatan reproduksi perempuan dalam..

Gratis

Feedback