PENGHAMBATAN LAJU KOROSI PADA BAJA KARBON C-Mn STEEL MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA)

Gratis

16
113
62
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGHAMBATAN LAJU KOROSI PADA BAJA KARBON C-Mn STEEL MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA) Oleh LULUK JAZILAH ISSA Abstrak. Telah dilakukan penelitian mengenai inhibisi korosi pada baja karbon rendah C-Mn steel oleh ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) dalam media korosif Asam Sulfat (HCl) dan Natrium Klorida (NaCl) dengan konsentrasi 1 M. Pengujian dilakukan dengan metode penurunan berat. Laju korosi diuji pada baja C-Mn steel dengan inhibitor ekstrak kulit buah manggis selama 120 jam dengan konsentrasi 0%, 10%, 15%, dan 20%. Hasil laju korosi dan efisiensi inhibitor menunjukkan bahwa semakin bertambahnya konsentrasi inhibitor maka laju korosi menurun dan efisiensi inhibitor meningkat. Hasil karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) memperlihatkan bahwa fasa yang terbentuk adalah Fe murni. Karakterisasi Scanning Electron Microscopy (SEM) menunjukkan adanya gumpalan, retakan, dan lubang pada permukaan sampel. Hasil uji Energy Dispersive Spectroscopy (EDS), produk korosi yang paling banyak adalah FeO. Kata kunci: C-Mn Steel, ekstrak Garcinia mangostana, inhibisi korosi, SEMEDS, XRD. ABSTRACT INHIBITION CORROSION RATE OF CARBON C-MN STEEL USING INHIBITOR EXTRACT OF MANGOSTEEN PEEL (GARCINIA MANGOSTANA) Oleh LULUK JAZILAH ISSA Abstrac. Corrosion inhibition of low carbon C-Mn steel by extract of mangosteen peel (Garcinia mangostana) in corrosive medium of Hydrochloride Acid (HCl) and Natrium Chloride (NaCl) of 1 M. Corrosion rate was tested on C-Mn steel with the extract of mangosteen peel for 120 hour with concentration of 0%, 10%, 15%, and 20%. The results rate corrosion and inhibitor efficiency suggests that the increasing concentration of inhibitor, the rate of corrosion inhibitor decreases and the efficiency increases. The X-Ray Diffraction (XRD) result showed that the phase was Fe. Scanning Electron Microscopy (SEM) showed that the cluster, crack, and hole. Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) showed that the most widely corrosion product is FeO. Key words. C-Mn steel, Garcinia mangostana extract, corrosion inhibition, SEMEDS, XRD. PENGHAMBATAN LAJU KOROSI PADA BAJA KARBON C-Mn STEEL MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana) Oleh Luluk Jazilah Issa Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA SAINS pada Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 iii RIWAYAT HIDUP Penulis yang bernama lengkap Luluk Jazilah Issa, dilahirkan di Martapura-Sumatera Selatan pada tanggal 13 Juli 1994 dari pasangan berbahagia Bapak Drs. Imam Syafi’I dan Ibu Siti A’Ida sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 3 Martapura pada tahun 2005, melanjutkan pendidikan Madrasah Tsanawiyah MTs Negri Srono Banyuwangi tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Cluring Banyuwangi Jawa Timur pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa di Universitas Lampung, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam melalui jalur mandiri. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Fisika Universitas Lampung, penulis pernah menjadi anggota kaderisasi HIMAFI, penulis pernah menjadi anggota kaderisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM MIPA). Penulis pernah menjadi asisten Praktikum Fisika Dasar I, Praktikum Fisika Dasar II. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Pusat Penelitian Fisika-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2F – LIPI), SerpongBanten pada tahun 2014 dengan judul “PENGARUH VARIASI Ph TERHADAP KARAKTERISASI LAPISAN TIPIS SUBSTRAT Fe DENGAN MERODE ELECTROPLATING “. Co-Cr PADA PERSEMBAHAN Dengan rasa syukur kepada ALLAH SAW. Skripsi ini kupersembahkan kepada: Abah dan Ibu Tersayang (Drs. Imam Syafii dan Siti A ida) yang telah memberikan kasih sayang, dukungan materi, doa, serta motivator terbesar dalan hidupku Adik- adik ku Tercinta (Alin Nisamukarromah Issa dan Nur Muhammad Faiz Issa) yang telah memberikan motivasi untuk tetap terus semangat dan berjuang Sahabat FISIKA 2011 Almamater Tercinta MOTTO Everythings Possible Nothings Easy Keep Struggle and Truly Belive in ALLAH (luluk jazilah issa) viii SANWACANA Alhamdulillahirabbil ’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan sekalian alam yang maha kuasa atas bumi, langit dan seluruh isinya, serta hakim yang maha adil di hari akhir nanti, sebab hanya dengan kehendaknya maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam tak lupa semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa Rahmatan Lil’Aalaamiin, serta kepada dua malaikat yang setiap saat mencatat segala tingkah laku penulis, dengan sangat jujur dan tanpa lelah, Raqib dan Atid. Penulis menyadari ini bukanlah hasil jerih payah sendiri akan tetapi berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materiil sehingga penulisan skripsi ini dapat selesai. Oleh karena itu, di dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan rasa terima kasih yang tulus kepada : 1. Bapak Drs. Ediman Giniting Suka-suka, S.Si,. M.Si selaku Pembimbing I (satu) yang telah banyak mengarahkan dalam perbaikan skripsi ini agar menjadi lebih baik. 2. Ibu Suprihatin, S.Si,. M.Si selaku Pembimbing II (dua) yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk memberikan coretan-coretan yang sangat membantu dalam perbaikan skripsi penulis, dan petuahnya yang tidak terlupakan yaitu agar selalu memperbanyak membaca buku. Terima kasih atas ilmu dan nasehat yang diberikan selama masa kuliah. 3. Bapak Drs. Pulung Karo-karo, S.Si,. M.Si selaku pembahas yang telah meluangkan waktu untuk menguji hasil penelitian yang penulis lakukan. 4. Bapak Prof. Dr. Warsito, DEA yang sudah menjadi Pembimbing Akademik penulis. 5. Ibu Dr. Yanti Yulyanti, S.Si,. M.Si selaku ketua jurusan fisika Fmipa UNILA. 6. Kedua orang tua, Ibu Siti A’ida dan Abah Drs. Imam Syafi’I yang telah menjadi inspirasi terbesar penulis, terimakasih atas bimbingan, motivasi 7. Adik ku tercinta Alinnisa Mukarromah Issa dan Muhammad Fais Issa yang telah memberi semangat walaupun bikin jengkel terus. 8. Kakak Hadi dan Hendra. Terimakasih atas support, motivasi dan kasih sayang nya untuk selalu membantu dalam menyelesaikan skripsi penulis. 9. Sahabatku Ayu Sevtia Anggraini yang telah melewati susah senang besamasama. 10. Sahabat-sahabat seperjuangan Kalsum Sari Asih, S.H, Moh. Iqbal Immadudin, Umi Rohmah, Desty Neni, Laras Pancawati, Ulil Ulfah terimakasih telah memberi dukungan lansung maupun tidak langsung kepada penulis. 11. Sahabat fisika 2011 fmpia UNILA PUTRI, FATHUL, NAWIRA, NESYA, GANA, DANI, PAUL, MARLINA, SHELA, NUR, NINDY, UMI.L, EXSA, ABDAN, HENDRI, HERY, DIWAN, SAMI, ANISA, YUNI, NIKA, VIVI, ALI, BAWANI, EDO, DITA, SUNARSIH, RINI, NAILA, yang telah menghabiskan waktu bersama-sama. Semoga atas segala bantuan, doa, motivasi, dan dukungan menjadi yang terbaik untuk penulis,. Penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi semuanya. Bandar Lampung, 2015 Penulis Luluk Jazilah Issa KATA PENGHANTAR Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, taufik dan hidayah-Nya, penyusunan skripsi yang berjudul “Penghambatan Laju Korosi Pada Baja C-Mn Steel menggunakan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana)” dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini banyak mengalami kendala, namun berkat bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan berkah dari Allah SWT sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Drs. Ediman Ginting Suka-suka, S.Si., M.Si selaku pembimbing I 2. Ibu Suprihatin, S.Si., M.Si selaku pembimbing II 3. Bapak Drs. Pulung Karo-karo selaku pembahas Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, sehingga penulis mengharapkan adanya saran dan kritikyang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Bandar Lampung, November 2015 Penulis, Luluk Jazilah Issa DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI .................................................................................................................... i DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................... iii DAFTAR TABEL ............................................................................................................ vi I. A. B. C. D. E. II. PENDAHULUAN Latar Belakang ................................................................................................ Rumusan Masalah ........................................................................................... Batasan Masalah .............................................................................................. Tujuan Penelitian............................................................................................. Manfaat Penelitian........................................................................................... 1 4 4 5 5 J. TINJAUAN PUSTAKA Baja.................................................................................................................. Buah Manggis ................................................................................................. Tanin................................................................................................................ Maserasi .......................................................................................................... Evaporasi ......................................................................................................... Korosi .............................................................................................................. Asam Klorida .................................................................................................. Natrium Klorida .............................................................................................. Scanning Electron Microscopy (SEM) dilengkapi dengan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) ........................................................................................ X-Ray Diffraction (XRD) ................................................................................ 25 26 A. B. C. D. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ......................................................................... Alat dan Bahan ................................................................................................ Proses Ekstraksi............................................................................................... Preparasi Sampel ............................................................................................. 30 30 31 32 A. B. C. D. E. F. G. H. I. III. i 6 9 11 14 15 17 23 24 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Komposisi Kimia ............................................................................. Hasil Karakterisasi Laju Korosi dan Efesiensi ................................................ Hasil Karakterisasi Scanning Electron Microscopy (SEM) ............................ Hasil Karakterisasi X-Ray Difraction (XRD).................................................. 37 38 43 47 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ..................................................................................................... B. Saran ................................................................................................................ 50 51 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 52 A. B. C. D. V. LAMPIRAN ii DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Konstanta Laju Korosi ........................................................................................ 35 Tabel 2. Komposisi Kimia Baja C-Mn Steel ..................................................................... 38 Tabel 3. Penimbangan Massa pada Sampel Sebelum dan Setelah Perendaman ............... 39 Tabel 4. Laju Korosi dan Efesiensi dalam media korosif HCl dan NaCl dengan Penambahan Inhibitor Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana) dengan Konsentrasi 0%, 10%, 15% dan 20%...................................................... 40 Tabel 5. Produk Korosi yang Terdeteksi dengan EDS...................................................... 46 Tabel 6. Perbandingan Hasil Sampel C-Mn Steel +HCl 0%(-) dengan PCPDFWIN ....... 48 Tabel 7. Perbandingan Hasil Sampel C-Mn Steel +HCl 20%(+) dengan PCPDFWIN .... 49 Tabel 8. Hasil perhitungan massa sampel sebelum dan sesudah pencelupan …………... 85 . i DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Gallotani .......................................................................................................... 12 Gambar 2. Elagitanin......................................................................................................... 13 Gambar 3. Floroglusinol ................................................................................................... 13 Gambar 4. Rotary Evaporator ........................................................................................... 16 Gambar 5. Korosi Galvanik .............................................................................................. 18 Gambar 6. Mekanisme Korosi Celah ................................................................................ 19 Gambar 7. Mekanisme Korosi Sumuran ........................................................................... 20 Gambar 8. Korosi Batas Butir ........................................................................................... 21 Gambar 9. Korosi Erosi ..................................................................................................... 21 Gambar 10. SEM (Scanning Electron Spectroscopy) ....................................................... 25 Gambar 11. XRD (X-Ray Diffraction) .............................................................................. 27 Gambar 12. Proses Ekstraksi Kulit Manggis .................................................................... 31 Gambar 13. Proses Preparasi Sampel ................................................................................ 32 Gambar 14. Hubungan antara laju korosi pada Baja C-Mn Steel dengan konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) dalam media korosif HCl dan NaCl .................................................................................... 40 Gambar 15. Hubungan antara efesiensi inhibitor (%) pada Baja C-Mn Steel dengan konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) dalam media korosif HCl dan NaCl............................................................... 41 Gambar 16. Hasil Foto SEM dengan perbesaran 500x (a) Sampel Baja C-Mn Steel +HCl 0% (-), (b) Sampel Baja C-Mn Steel +HCl 20% (+)............................ 43 Gambar 17. Hasil EDS sampel C-Mn Steel +HCl 0% (-) ................................................. 45 Gambar 18. Hasil EDS sampel C-Mn Steel +HCl 20% (+) .............................................. 46 i Gambar 19. Hasil Analisis Difraksi Sinar-X Sampel Baja C-Mn Steel +HCl 0% (-) dan Sampel Baja C-Mn Steel +HCl 20% (+) ....................................................... 48 Gambar 20. Jangka Sorong Analog................................................................................... 57 Gambar 21. Neraca Sartorius Digital ............................................................................... 57 Gambar 22. Pipet Tetes ..................................................................................................... 57 Gambar 23. Spatula .......................................................................................................... 58 Gambar 24. Amplas .......................................................................................................... 58 Gambar 25. Tissue ........................................................................................................... 58 Gambar 26. Allumunium Foil ........................................................................................... 59 Gambar 27. Beaker Glass.................................................................................................. 59 Gambar 28. Gelas ukur ..................................................................................................... 59 Gambar 29. Benang ......................................................................................................... 60 Gambar 30. Kayu ............................................................................................................. 60 Gambar 31. Rotary Vaccum Evaporator ........................................................................... 60 Gambar 32. X-Ray Diffraction (XRD) ............................................................................. 61 Gambar 33. Scanning Electron Microscopy (SEM).......................................................... 61 Gambar 34. Baja C-Mn Steel ............................................................................................ 62 Gambar 35. Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana) ............................................... 62 Gambar 36. Asam sulfat (HCl) ........................................................................................ 62 Gambar 37. Natrium klorida (NaCl) ................................................................................ 63 Gambar 38. Aquades ......................................................................................................... 63 Gambar 39. Hasil ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana) ............................ 64 Gambar 40. Pembuatan Media Korosif ............................................................................. 64 Gambar 41. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif HCl dengan konsentrasi inhibitor 0%. .................................................................................................. 65 Gambar 42. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif HCl dengan konsentrasi inhibitor 10%. ................................................................................................ 65 Gambar 43. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif HCl dengan konsentrasi inhibitor 15%. ................................................................................................ 65 ii Gambar 44. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif HCl dengan konsentrasi inhibitor 20%. ................................................................................................ 66 Gambar 45. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif NaCl dengan konsentrasi inhibitor 0%. ............................................................................... 66 Gambar 46. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif NaCl dengan konsentrasi inhibitor 10%. ............................................................................. 66 Gambar 47. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif NaCl dengan konsentrasi inhibitor 15%. ............................................................................. 67 Gambar 48. Perendaman baja C-Mn Steel pada media korosif NaCl dengan konsentrasi inhibitor 20%. ............................................................................. 67 Gambar 49. Hasil PCPDFWIN unsur Fe untuk nilai d(A) ................................................ 68 Gambar 50. Hasil PCPDFWIN unsur Fe untuk nilai 2Ɵ................................................... 68 . iii 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia telah banyak memanfaatkan logam untuk berbagai keperluan di dalam hidupnya. Salah satu contoh diantaranya penggunaan pelat baja lunak yang biasa digunakan sebagai pelat pada kapal laut (Surya, 2007). Namun dari berbagai pengalaman disadari bahwa akibat reaksi dengan lingkungan, logam mengalami penurunan mutu atau kerusakan material. Penurunan mutu logam atau kerusakan material tersebut dikenal dengan korosi (Scendo, 2007). Di Indonesia permasalahan korosi perlu mendapat perhatian serius, mengingat dua pertiga wilayah nusantara terdiri dari lautan dan terletak pada daerah tropis dengan curah hujan tinggi, kandungan senyawa klorida yang tinggi, dimana lingkungan seperti ini dikenal sangat korosif. Lingkungan yang menyebabkan korosi sangat dipengaruhi oleh adanya gas limbah (sulfur dioksida, sulfat, hidrogen sulfida, klorida), kandungan O2, pH larutan, temperatur, kelembaban, dan kecepatan alir (Smallman dan Bishop, 1999). Korosi adalah penurunan mutu logam yang disebabkan oleh reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan pada teori kimia, korosi terjadi akibat adanya reaksi oksidasi dan reduksi antara material dengan 2 lingkungannya (Mohammad, 2009). Reaksi oksidasi diartikan sebagai reaksi yang menghasilkan elektron dan reduksi adalah reaksi antara dua unsur yang mengikat elektron. Metode pencegahan korosi bisa berupa pemberian lapisan pelindung (coating) proteksi katodik dan pemilihan material (Hidayat, 2010). Sebagian besar kebutuhan material untuk pembuatan alat dan peralatan produksi menggunakan baja. Material baja dengan unsur paduan utama karbon, sering dinamakan baja karbon. Baja jenis ini dibedakan menjadi tiga yaitu: baja karbon rendah, baja karbon medium dan baja karbon tinggi. Baja karbon rendah lebih banyak digunakan untuk konstruksi mesin dibandingkan kedua jenis baja karbon lainnya. Disamping harganya lebih murah, baja ini mempunyai kemampuan untuk dimesin maupun dilas yang sangat baik (Supardi, 1997). Pemanfaatan tumbuhan sebagai inhibitor korosi (anti karat) merupakan suatu alternatif yang perlu dikaji terus menerus karena bahan alam biasanya lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan senyawa kimia yang diproduksi sendiri. Indonesia yang kaya dengan berbagai jenis tumbuhan, sangat memungkinkan menyimpan potensi yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan anti karat (Surya, 2004; Raja, 2007). Inhibitor korosi merupakan suatu senyawa kimia yang sengaja dimasukkan ke dalam media korosif, dapat berasal dari senyawa anorganik, organik atau campurannya. Inhibitor anorganik bersifat toksik dan karsinogenik, sehingga penggunaannya tidak aman untuk lingkungan dan kesehatan. Sedangkan inhibitor organik tidak bersifat toksik maupun karsinogenik, relatif mudah didapat dan biodegradable (mudah diuraikan oleh mikroorganisme) (Roberge, 1999). 3 Penggunaan inhibitor organik telah banyak diteliti, contohnya Rahmi dkk (2007) menemukan efisiensi inhibitor tanin dari Rhizospora apiculata dalam asam sulfat mencapai 73,6%. Kemudian Oki dkk (2011) menemukan efisiensi inhibitor tanin dari Rhizospora racemosa dalam asam klorida mencapai 55%, lalu Obot dkk (2011) menemukan efisiensi inhibitor tanin dalam asam sulfat mencapai 93,12% dan Carvas dkk (2012) menemukan efisiensi inhibitor antosianin dalam air tercampur diesel dan biodiesel mencapai 90%. Ekstrak kulit buah manggis banyak mengandung senyawa-senyawa organik seperti antosianin, tanin dan xanton. Senyawa-senyawa tersebut banyak mengandung pasangan elektron bebas dan dapat berikatan langsung pada permukaan logam sehingga permukaan logam tidak mengalami kontak langsung dengan media korosif (Adriana dkk, 2000). Asam klorida dipilih sebagai media korosif karena sangat reaktif dan juga sering digunakan di industri sebagai pembersih karat (produk korosi) yang dapat memicu terjadinya karat baru (Chaovanalikit dkk, 2012). Pada penelitian ini akan dilakukan penghambatan korosi pada baja C-Mn steel dengan inhibitor ekstrak kulit buah manggis dan media korosif natrium klorida (NaCl) dan asam klorida (HCl) dengan kadar 1M. Variasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis yang dilakukan yaitu 0%, 10%, 15%, dan 20%, direndam selama 120 jam. Karakterisasi yang akan dilakukan menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) dan SEM (Scanning Electron Microscopy) yang dilengkapi dengan EDS (Energy Dispersive Spectroscopy), dan perhitungan laju korosi dan efisiensi. 4 B. Rumusan Masalah Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah unsur produk korosi yang dihasilkan pada baja C-Mn Steel setelah direndam dalam media korosif, dengan konsentrasi inhibitor 0%, 10%, 15%, dan 20%? 2. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan asam klorida dan natrium klorida tanpa dan dengan inhibitor terhadap laju korosi, struktur mikro dan fasa baja C-Mn Steel? 3. Bagaimana pengaruh laju korosi dan efisiensi inhibitor akibat variasi konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis sebesar 0%, 10%, 15%, dan 20%? C. Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Baja yang digunakan adalah baja C-Mn Steel. 2. Inhibitor yang digunakan yaitu ekstrak kulit buah manggis. 3. Baja direndam dalam larutan asam klorida dan natrium klorida dengan konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis 0%, 10%, 15%, dan 20% selama 120 jam. 4. Karakterisasi yang dilakukan adalah X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM) yang dilengkapi EDS (Energy Dispersive Spectroscopy), perhitungan laju korosi dan efisiensi. 5 D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui unsur produk korosi yang dihasilkan pada baja C-Mn Steel perendaman dalam media korosif dengan inhibitor 0%, 10%, 15%, dan 20%. 2. Mengetahui pengaruh konsentrasi larutan asam klorida dan natrium klorida tanpa dan dengan inhibitor terhadap laju korosi, struktur mikro dan fasa baja CMn Steel. 3. Mengetahui pengaruh laju korosi dan efisiensi inhibitor akibat variasi konsentrasi inhibitor ekstrak kulit buah manggis sebesar 0%, 10%, 15%, dan 20%. E. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Meningkatkan pengetahuan mengenai baja C-Mn Steel. 2. Memperoleh informasi tentang inhibitor kulit buah manggis. 3. Sebagai informasi dan referensi untuk pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian mengenai baja karbon rendah dan korosi yang terjadi pada lingkungan asam klorida dan natrium klorida tanpa dan dengan inhibitor ekstrak kulit buah manggis. 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Baja Baja adalah paduan logam yang tersusun dari besi sebagai unsur utama dan karbon sebagai unsur penguat. Unsur karbon inilah yang banyak berperan dalam peningkatan performan. Perlakuan panas dapat mengubah sifat baja dari lunak seperti kawat menjadi keras seperti pisau (Purboto, 2009). Penyebabnya adalah perlakuan panas mengubah struktur mikro besi yang berubah-ubah dari susunan kristal berbentuk kubik berpusat ruang menjadi kubik berpusat sisi atau heksagonal. Dengan perubahan struktur kristal, besi adakalanya memiliki sifat magnetik dan adakalanya tidak. Besi memang bahan bersifat unik. Bijih besi bertebaran hampir di seluruh permukaan bumi dalam bentuk oksida besi. Meskipun inti bumi tersusun dari logam besi dan nikel, oksida besi yang ada di permukaan bumi tidak berasal darinya, melainkan dari meteor yang jatuh ke bumi. Di Australia, Brasil, dan Kanada, ditemukan bongkahan bijih besi berketebalan beberapa puluh meter dan mengandung 65 persen besi (Trethewey, 1991). Baja karbon adalah baja yang hanya terdiri dari besi (Fe) dan karbon (C) saja tanpa adanya bahan campuran. Unsur lain yang kadang terdapat pada baja karbon seperti Si, Mn, P, S hanyalah dengan presentase yang sangat kecil yang biasa dinamakan impurities. Pengaruh dari unsur diatas adalah: 7 1. Si dan Mn Biasanya kandungan paling banyak untuk Si adalah 0,4% dan untuk Mn adalah 0,5-0,8%. Kedua unsur ini tidak banyak berarti pengaruhnya terhadap sifat mekanik dari baja. Mn dipakai untuk mengurangi sifat rapuh dan mampu menghilangkan lubang-lubang pada saat proses penuangan atau pembuatan baja. 2. Phosphor Phosphor dalam baja karbon akan mengakibatkan kerapuhan dalam keadaan dingin. Semakin besar presentase phosphor semakin tinggi batas tegangan tariknya, tetapi impact strength dan ductility nya turun. 3. Sulfur Presentase sulfur pada baja karbon 0,04%. Sulfur dapat mempengaruhi sifat rapuh-panas (Jones, 1996). a) Klasifikasi Baja Berdasarkan kandungan komposisi kimia baja dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. Baja Karbon (Carbon steel) Baja karbon adalah baja yang terdiri dari campuran besi (Fe) dan karbon (C) saja tanpa adanya bahan atau unsur lainnya. Baja karbon dibagi menjadi tiga macam: a) Baja karbon rendah (low carbon steel) Baja karbon rendah adalah baja yang memiliki kandungan kurang dari 0,3%. Baja karbon rendah ini memiliki sifat yang relatif lunak dan lemah serta memiliki keuletan dan ketangguhan yang tinggi. Baja dapat diaplikasikan dalam pembutan bodi mobil, pagar dan lan-lainnya. 8 b) Baja karbon medium (medium carbon steel) Baja karbon medium adalah baja yang memiliki kandungan karbon sebesar 0,3%-0,6%. Baja karbon medium sifat mekaniknya dapat dinaikkan melalui perlakuan panas (austenitizing, quenching, dan tempering). Baja jenis ini banyak digunakan dalam poros, roda gigi dan lain-lainnya. c) Baja karbon tinggi (high carbon steel) Baja karbon tinggi adalah baja yang memiliki kandungan karbon sebesar 0,6%-1,7%. Sifat baja karbon tinggi adalah paling kuat, paling keras dan paling getas bila dibandingkan dengan baja karbon lainnya. Baja karbon tinggi banyak diaplikasikan pada pisau cukr dan alat-alat perkakas dan lainlainnya. 2. Baja Paduan (Alloy Steel) Pada baja, selain unsur karbon biasanya ada pula unsur-unsur lainnya yang ikut dalam baja seperti ini umumnya disebut baja paduan. Baja paduan ini terdiri dari kromium, mangan, vanadium dan unsur-unsur lainnya. Baja paduan dapat dibagi menjadi dua macam: a) Baja paduan rendah (low alloy steel) Low alloy steel adalah baja paduan yang memiliki kadar paduan yang rendah, yaitu kurang dari 8%. Baja jenis ini memiliki kekuatan dan ketangguhan yang tinggi bila dibandingkan dengan baja karbon. b) Baja paduan tinggi (high alloy steel) High alloy steel adalah baja yang memiliki kadar paduan yang tinggi yaitu lebih dari 8%. Penggunaan baja paduan tinggi ini biasanya bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat baja (Abimanyu, 2011). 9 3. Baja Tahan Karat (Stainless Steel) Baja tahan karat adalah baja paduan tinggi yang mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap korosi. Unsur utama dalam paduan tersebut adalah krom, biasanya lebih dari 10,5%. Sifat yang dimiliki oleh baja tahan karat adalah mudah dibentuk, mempunyai kemampuan las, dan ketangguhan yang tinggi (Ekaditya, 2011). B. Buah Manggis Buah manggis (Garcinia mangostana), buah yang tumbuh di daerah tropis di Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Philipina dan Vietnam, terdiri dari kulit halus tebal berwarna ungu gelap yang di kenal dengan sebutan “ Queen of Fruits” atau si ratu buah, sebutan ini yakni lepas dari kulit, daging, dan juga biji buah itu sendiri. Buah manggis kaya akan vitamin B1, B2 dan C, serta kalsium, potassium, sodium dan zat besi. Manggis juga mengandung xanthone, mangostin, garsinon, flavonoid, epicatechin, spingomyolinase dan gartanin. Dalam kulit buahnya, kandungan xanthone yang tertinggi, yaitu 40 persen. Dengan kandungan xanthone yang tinggi (123,97 mg/ml) dalam kulit buah manggis, dapat membunuh penyakit dan memperbaiki sel yang telah rusak serta melindungi sel-sel di dalam tubuh. xanthone adalah substansi kimia alami, yang tergolong senyawa polyhenolic yang dapat digunakan sebagai zat untuk mengatasi berbagai penyakit. Xanthone bermanfaat mengobati penyakit jantung, aterosklorosis (plak di pembuluh darah), hipertensi dan trombosis. 10 Kulit Buah Kulit buah manggis memiliki permukaan bagian luar yang halus dengan tebal 4-8 mm, keras, berwarna ungu kecoklatan pada bagian luarnya dan ungu pada bagian dalamnya (pada buah tua) dan mengandung getah kuning yang pahit. Kekerasan merupakan salah satu indikasi kerusakan buah, semakin keras kulit buah manggis semakin rusak dan tidak disukai oleh konsumen. Menurut Sawanagul (1989), pengerasan cangkang buah secara fisiologis terjadi setelah mengalami proses pemasakan, yaitu setelah melalui proses klimaterik disertai dengan dehidrasi tinggi. Lama kelamaan permukaan buah secara keseluruhan mengalami pengerasan sehingga sangat sulit untuk dibuka. Tekstur kulit buah bergantung pada ketegangan, ukuran, bentuk dan keterikatan selsel, adanya jaringan penunjang dan susunan tanamannya. Ketegangan disebabkan oleh tekanan isi sel pada dinding sel, dan bergantung pada konsentrasi zat-zat osmotik aktif dalam vakuola, permeabilitas protoplasma dan elastisitas dinding sel (Pantastico 1989). Pada buah yang masih muda, banyak mengandung senyawa protopektin yang berfungsi sebagai penguat lamella tengah dan membran sel. Protopektin tersebut merupakan makromolekul yang tersusun dari polimer asam galakturonat, banyak kalsium dan magnesium. Pengaruh kekerasan oleh ion kalsium disebabkan terbentuknya ikatan menyilang antara ion kalsium divalent dengan polimer senyawa pektin yang bermuatan negatif yaitu pada gugus karboksil asam galakturonat. Ikatan tersebut akan mempengaruhi daya larut senyawa pektin sehingga akan semakin kokoh dari gangguan mekanis (Winarno dan Aman 1981). 11 C. Tanin Metabolisme sekunder yang terjadi pada tumbuhan akan menghasilkan beberapa senyawa yang tidak digunakan sebagai cadangan energi, tetapi sebagai menunjang kelangsungan hidupnya seperti untuk pertahanan dari predator. Beberapa senyawa seperti alkaloid, triterpen dan golongan phenol merupakan senyawa-senyawa yang dihasilkan dari metabolisme skunder. Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau dua gugus hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi flavonoid, fenil propanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan (Harbone, 1996). Tanin merupakan salah satu jenis senyawa yang termasuk ke dalam golongan polifenol. Senyawa tanin ini banyak dijumpai pada tumbuhan. Tanin dahulu digunakan untuk menyamakkan kulit hewan karena sifatnya yang dapat mengikat protein. Selain itu tanin dapat mengikat alkaloid dan glatin (Auliani, 2010). Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu tanin terkondensasi (condensed tannins) dan tanin-terhidrolisiskan (hydrolysable-tannins) (Hagerman dkk, 1992). Tanin memiliki peranan biologis yang kompleks. Hal ini dikarenakan sifat tanin yang sangat kompleks mulai dari pengendap protein hingga pelengketan logam. Maka dari itu efek yang disebabkan tanin tidak dapat diprediksi. Tanin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis. Maka dari itu semua penelitian tentang berbagai jenis senyawa tanin mulai dilirik para peneliti sekarang (Hagerman, 2002). 12 1) Klasifikasi Tanin Senyawa tanin termasuk senyawa polifenol yang artinya senyawa yang memiliki bagian berupa fenolik. Senyawa tanin dibagi menjadi dua yaitu tanin yang terhidrolisis dan tanin yang terkondensasi. a) Tanin Terhidrolisis (hydrolysable tanins). Tanin ini biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka tanin ini dapat dihidrolisis menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat dengan asam galat. Contoh jenis tanin terhidrolisis dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Gallotanin (Hermawan, 2002). Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin terhidrolisis yang bisa disebut ellagitanin. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam hexa hydroxy diphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galik jika dilarutkan dalam air. Ellagitanin dapat dilihat pada Gambar 2. 13 Gambar 2. Ellagitanin. b) Tanin terkondensasi (condensed tannins). Tanin jenis ini biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi menghasilkan asam klorida. Tanin jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flafonoid. Nama lain dari tanin ini adalah proanthocyanidin. Salah satu contohnya adalah sorghum procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin. Senyawa ini jika dikondensasi akan menghasilkan flavonoid jenis flavan dengan bantuan nukleofil berupa floroglusinol. Floroglusinol dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Floroglusinol (Hangerman, 2002). 14 2) Sifat umum tanin a) Sifat Fisika. 1) Jika dilarutkan ke dalam air akan membentuk koloid, memiliki rasa asam dan sepet. 2) Jika dicampur dengan alkaloid dan glatin terjadi endapan. 3) Tidak dapat mengkristal. 4) Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik. b) Sifat kimia. 1) Merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sulit dipisahkan sehingga sulit mengkristal. 2) Tanin dapat diidentifikasikan dengan kromotografi. 3) Senyawa fenol dari tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptik dan pemberi warna. D. Maserasi Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisa dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif didalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Peristiwa ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan didalam sel. Berikut ini keuntungan dan kelemahan metode maserasi: 15 1. Keuntungan dari metode ini: a. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam b. Biaya operasionalnya relatif rendah c. Prosesnya relatif hemat penyari d. Tanpa pemanasan (Mejeha, 2010). 2. Kelemahan dari metode ini: a. Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja b. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan pengawet, yang diberikan pada awal penyarian (Pramana, 2010). E. Evaporasi Rotary vacuum evaporator adalah instrumen yang menggunakan prinsip destilasi (pemisahan). Prinsip utama dalam instrumen ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut dapat menguap lebih cepat di bawah titik didihnya. Instrumen ini lebih disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat, bila dibandingkan dengan teknik pemisahan lainnya. Alat rotary vacuum evaporator dapat diperlihatkan pada Gambar 4. 16 Gambar 4. Rotary vacuum evaporator. a. Nama dan fungsinya alat pada rotary vacuum evaporator 1) Hot plate berfungsi untuk mengatur suhu pada water bath sesuai temperatur yang diinginkan (tergantung pada titik didih pelarut). 2) Water bath berfungsi sebagai wadah air yang dipanaskan oleh hot plate untuk labu alas yang berisi “sampel”. 3) Ujung rotor “sampel” berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung. 4) Lubang kondensor berfungsi sebagai pintu masuk bagi air ke dalam kondensor yang airnya disedot oleh pompa vakum. 5) Kondensor berfungsi sebagai pendingin yang mempercepat proses perubahan fasa, dari fasa gas ke fasa cair. 6) Lubang kondensor berfungsi sebagai pintu keluar bagi air dari dalam kondensor. 7) Labu alas bulat penampung berfungsi sebagai wadah bagi penampung pelarut. 8) Ujung rotor “penampung” berfungsi sebagai tempat labu alas bulat penampung bergantung. 17 F. Korosi Korosi didefinisikan sebagai penurunan mutu logam akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungannya (Trethewey, 1991). Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Peristiwa korosi sendiri merupakan proses elektrokimia, yaitu proses (perubahan atau reaksi kimia) yang melibatkan adanya aliran listrik. Bagian tertentu dari logam berlaku sebagai kutub negatif (elektroda negatif, anoda), sementara bagian yang lain sebagai kutub positif (elektroda positif, katoda). Elektron mengalir dari anoda ke katoda, sehingga terjadi peristiwa korosi (Daryanto, 2003). a) Jenis korosi Secara umum, korosi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Korosi Seragam (Uniform Corrosion) Korosi seragam merupakan korosi dengan serangan merata pada seluruh permukaan logam. Korosi terjadi pada permukaan logam yang terekspos pada lingkungan korosif. Jenis korosi ini biasanya dikategorikan, menurut reaksi elektrokimia secara menyeluruh, karena logam memiliki kesamaan metalurgi dan komposisi kimia. Bentuk korosi ini merupakan bentuk paling utama dari bentuk-bentuk korosi. Luas penampang logam yang mengalami korosi jenis ini akan semakin kecil. Contohnya peristiwa korosi seragam ini dapat dilihat pada tangki-tangki atau pada baja karbon yang mengandung H2S. Korosi jenis ini dapat diatasi dengan cara melakukan teknik pelapisan (coating) menggunakan inhibitor dan pelindung dengan katoda (cathodic protection) (Fontana, 1986). 18 2. Korosi Galvanik Korosi galvanik terjadi jika dua logam yang berbeda tersambung melalui elektrolit sehingga salah satu dari logam tersebut akan terserang korosi sedang lainnya terlindungi dari korosi. Untuk memprediksi logam yang terkorosi pada korosi galvanik dapat dilihat pada deret galvanik. Logam yang memiliki nilai potensial elektroda yang lebih rendah dalam daftar deret elektrokimia akan memiliki ketahanan korosi yang lebih rendah pula dibandingkan dengan logam yang memiliki potensial elektroda yang tinggi (Widayat, 2010). Logam atau material yang meliliki ketahanan korosi yang rendah akan menjadi anoda dan logam material yang memiliki ketahanan korosi yang tinggi akan bertindak sebagai katoda. Contoh dari korosi galvanik adalah logam baja dan alumunium yang menempel, maka yang akan bertindak sebagai anoda sehingga alumunium akan mengalami korosi (Sarmin, 2011). Bentuk dari korosi galvanik antara baja dan alumunium dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5. Korosi galvanik 3. Korosi Celah Mirip dengan korosi galvanik, dengan pengecualian pada perbedaan konsentrasi media korosifnya. Celah atau ketidakteraturan permukaan lainnya seperti celah paku keling (rivet), baut, washer, gasket, deposit dan sebagainya, yang bersentuhan dengan media korosif dapat menyebabkan korosi terlokalisasi. Penyebab terjadinya 19 korosi ini adalah adanya genangan cairan yang ada di celah logam, adanya pengotor yang mengendap dipermukaan logam, serta adanya perbedaan kandungan oksigen yang terdapat pada celah dan diluar celah pada logam atau material. Korosi ini dapat dicegah dengan cara mengeringkan air yang terperangkap pada logam atau material dan dengan cara membersihkan kotoran-kotoran yang menempel pada celah-celah logam atau material. Mekanisme korosi celah dapat diperlihatkan pada Gambar 6. b a Gambar 6. Mekanisme korosi celah Pada Gambar 6. (a) kondisi awal Korosi terjadi di seluruh permukaan logam (b) Kondisi akhir pelarutan logam hanya terjadi di sebelah dalam celah karena keasaman meningkat, konsentrasi ion klorida meningkat, dan reaksi selanjutnya mampu berjalan sendiri (Septiana, 2012). 4. Korosi Sumuran Korosi sumuran terjadi karena adanya serangan korosi lokal pada permukaan logam sehingga membentuk cekungan atau lubang pada permukaan logam. Korosi logam pada baja tahan karat terjadi karena rusaknya lapisan pelindung (passive film). Korosi ini menyerang logam atau material secara lokal yang membentuk lubang halus yang sulit diamati dengan mata. Umumnya lubang-lubang halus pada logam 20 atau material digambarkan sebagai rongga atau lubang dengan diameter lubang kirakira sama bahkan lebih kecil dari kedalamannya. Bentuk sumuran atau pit yang terjadi akibat korosi jenis ini bervariasi. Mekanisme terjadinya korosi sumuran dapat dilihat pada Gambar 7 (Berlian, 2011). Gambar 7. Mekanisme korosi sumuran. 4. Korosi Batas Butir ( intergranular corrosion ) Korosi batas butir adalah jenis korosi yang terjadi pada batas butir, yang merupakan tempat berkumpulnya impurity pada logam atau material. Adanya batas butir (grain boundary) banyak memberikan efek dari aplikasi atau penggunaan suatu material. Jika suatu logam terkorosi secara merata maka batas butir akan terlihat jelas lebih reaktif dibandingkan pada butir material tersebut. Pada beberapa kondisi, pertemuan butir sangat reaktif dan menyebabkan terjadinya korosi pada batas butir lebih cepat dibandingkan dengan korosi pada butir. Intergranular corrosion akan mengurangi atau menghilangkan kekuatan dari material (Ardra, 2013). Korosi batas butir dapat diperlihatkan pada Gambar 8. 21 Gambar 8. Korosi batas butir 5. Korosi Erosi Korosi erosi disebabkan oleh kombinasi fluida korosif dan kecepatan aliran yang tinggi. Bagian fluida yang kecepatan alirannya rendah akan mengalami laju korosi rendah, sedangkan fluida kecepatan tinggi menyebabkan terjadinya erosi dan dapat menggerus lapisan pelindung sehingga mempercepat korosi (Lucya, 2012). Kegagalan pada sistem perpipaan dapat menyebabkan berbagai dampak yang sangat serius (Sarmin, 2011). Bila sistem perpipaan tersebut merupakan jalur penghubung untuk fluida yang berbahaya, maka dampak utama yang ditimbulkan akan sangat mengancam kehidupan manusia dan ekosistem sekitar daerah dimana sistem perpipaan tersebut melintas. Korosi erosi dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9. Korosi erosi 22 6. Korosi Aliran (Flow induced Corrosion) Korosi Aliran digambarkan sebagai efek dari aliran terhadap terjadinya korosi. Meskipun mirip tetapi antara korosi aliran dan korosi erosi adalah merupakan dua hal yang berbeda. Korosi aliran adalah peningkatan laju korosi yang disebabkan oleh turbulensi fluida dan perpindahan massa akibat dari aliran fluida di atas permukaan logam. Korosi erosi adalah naiknya korosi dikarenakan benturan secara fisik pada permukaan oleh partikel yang terbawa fluida (Caturina, 2008). b) Laju Korosi Laju korosi adalah peristiwa merambatnya proses korosi yang terjadi pada suatu material. Pada beberapa pengujian korosi sebagian besar yang dilakukan adalah laju korosi. Hal ini disebabkan laju korosi berkaitan erat nilai ekonomis dan teknis material. Laju korosi pada umumnya dapat diukur menggunakan dua metode yaitu: metode kehilangan berat dan metode elektrokimia. Metode kehilangan berat adalah menghitung kehilangan berat yang terjadi setelah beberapa waktu pencelupan (Emriadi, 2000). Beberapa cara yang dapat memperlambat laju reaksi korosi antara lain dengan cara pelapisan permukaan logam agar terpisah dari medium korosif, membuat paduan logam yang cocok sehingga tahan korosi, dan dengan penambahan zat tertentu yang berfungsi sebagai inhibitor reaksi korosi (Favre, 1993). c) Inhibitor Inhibitor dalah suatu zat kimia yang dapat menghambat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Sedangkan inhibitor korosi adalah suatu zat kimia yang bila ditambahkan ke dalam suatu lingkungan, dapat menurunkan laju penyerangan 23 korosi lingkungan itu terhadap suatu logam. Mekanisme penghambatannya terkadang lebih dari satu jenis (Qosim, 2007). Menurut bahan dasarnya, inhibitor korosi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: a. Inhibitor Organik Merupakan inhibitor yang menghambat korosi dengan cara teradsorbsi kimiawi. Inhibitor organik menurunkan laju korosi dengan cara mengisolasi permukaan logam dari lingkungan yang korosif dalam pembentukan film teradsorbsi. Cara kerja dari inhibitor organik adalah dengan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam. Inhibitor ini diperoleh dari bahan organik (Halimatuddahliana, 2003). b. Inhibitor Anorganik Inhibitor anorganik adalah jenis inhibitor yang terbuat dari bahan-bahan anorganik. Inhibitor ini diperoleh dari mineral-mineral yang mengandung unsur karbon di dalam senyawanya. Contoh inhibitor anorganik adalah kromat, nitrit, silikat, dan posfat (Firmansyah, 2011). G. Asam Klorida (HCl) Asam klorida adalah larutan gas HCl dalam air. Kelarutan gas HCl dalam air dapat mencapai 450 liter air pada suhu 0oC dan tekanan 1 atmosfer. Gas HCl tidak berwarna, membentuk kabut jika terkena udara lembab, baunya sangat menusuk dan sangat asam. Udara yang mengandung 0,004 % gas tersebut dapat membunuh. Asam klorida pekat yang murni berupa cairan tidak berwarna, sedangkan yang teknis berwarna agak kuning karena mengandung feri. Asam klorida pekat memiliki massa jenis 1,19 dan memiliki kadar sebesar 38%. Asam klorida adalah asam yang 24 sangat kuat, dapat melarutkan hampir semua logam, termasuk Pb pada kondisi panas, kecuali logam-logam mulia (Meilizia dkk, 2011). Sejak Revolusi Industri, senyawa ini menjadi sangat penting dan digunakan untuk berbagai tujuan, meliputi produksi massal senyawa kimia organik seperti vinil klorida untuk plastik PVC dan MDI/TDI untuk poliuretana. Kegunaan kecil lainnya meliputi penggunaan dalam pembersih rumah, produksi gelatin, dan aditif makanan. Sekitar 20 juta ton gas HCl diproduksi setiap tahunnya. Potensi bahaya dari asam klorida pekat (asam klorida berasap) yaitu akan membentuk kabut asam. Baik kabut dan larutan tersebut bersifat korosif terhadap jaringan tubuh, dengan potensi kerusakan pada organ pernapasan, mata, kulit, dan usus. Seketika asam klorida bercampur dengan bahan kimia oksidator lainnya, seperti natrium hipoklorit (pemutih NaClO) atau kalium permanganat (KMnO4), gas beracun klorin akan terbentuk (Meilizia dkk, 2011). H. Natrium Klorida (NaCl) Natrium klorida yang dikenal sebagai garam meja atau garam karang merupakan senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium klorida adalah garam yang paling berperan penting dalam salinitas laut dan dalam cairan ekstraselular dari banyak organisme multiselular. NaCl sangat umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet. Natrium klorida adalah garam yang berbentuk kristal ata

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus viridans
0
6
17
IDENTIFIKASI SENYAWA INHIBITOR KOROSI ORGANIK DARI EKSTRAK METANOL BUAH PINANG (Areca catechu L.)
7
36
38
IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF DARI KULIT BUAH ASAM KERANJI (Dalium indum ) SEBAGAI INHIBITOR KOROSI BAJA LUNAK
15
60
33
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA DIFENILTIMAH(IV) DIKLOROBENZOAT SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA LUNAK
2
15
100
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA DIBUTILTIMAH(IV) DIKLOROBENZOAT SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA LUNAK
4
41
67
PENGHAMBATAN LAJU KOROSI PADA BAJA KARBON C-Mn STEEL MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA)
16
113
62
INHIBISI KOROSI BAJA KARBON RENDAH C-Mn STEEL OLEH EKSTRAK DAUN TEH (Camellia sinensis) DALAM MEDIUM KOROSIF
0
23
67
PEMANFAATAN SENYAWA EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (G. mangostana L.) SEBAGAI INHIBITOR KERAK KALSIUM KARBONAT (CaCO3) DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEEDED EXPERIMENT
2
28
67
PENGENDALIAN LAJU KOROSI BAJA St-37 DALAM MEDIUM ASAM KLORIDA DAN NATRIUM KLORIDA MENGGUNAKAN INHIBITOR EKSTRAK DAUN TEH (Camelia sinensis) Desi Mitra Sari
0
0
8
PENGARUH KONSENTRASI INHIBITOR EKSTRAK DAUN KAKAO (Theobroma cacao) TERHADAP LAJU KOROSI BAJA HARDOX 450 Anike Malfinora
0
0
7
PEMANFAATAN EKSTRAK KULIT KAKAO SEBAGAI ADITIF CAT UNTUK PENGENDALIAN LAJU KOROSI PADA PAKU KONSTRUKSI KAPAL KAYU
0
0
6
SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL KITOSAN – EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia Mangostana)
0
0
8
ANALISA PENGARUH EKSTRAK KULIT BUAH NAGA SEBAGAI GREEN INHIBITOR CORROSION PADA LAJU KOROSI BAJA ST-42
0
0
9
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN DAN KONSENTRASI EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava, Linn) SEBAGAI INHIBITOR TERHADAP LAJU KOROSI BAJA SS 304 DALAM LARUTAN GARAM DAN ASAM
0
0
10
UJIAKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Gardnia mangostana Linn)
0
0
5
Show more