EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung T.P. 2013/2014)

Gratis

1
10
51
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung T.P. 2013/2014) Oleh LINA WIDIATAMI Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran TPS ditinjau dari pemahaman konsep matematis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 262 siswa dan terdistribusi dalam 7 kelas. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas VIIB yang diambil secara acak. Desain penelitian ini adalah one group posttest only design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes pemahaman konsep matematis berupa esai. Berdasarkan hasil analisis data, persentase siswa yang memahami konsep matematis siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak lebih dari 65%. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe TPS tidak efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014. Kata Kunci : pemahaman konsep matematis, TPS EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung T.P. 2013/2014) (Skripsi) Oleh LINA WIDIATAMI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2014 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ ix I. II. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .............................................................................. 4 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 4 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 4 E. Ruang Lingkup Penelitian.................................................................. 5 TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori ........................................................................................ 7 1. Hakikat Belajar .............................................................................. 7 2. Efektivitas Pembelajaran ............................................................... 8 3. Hakikat Matematika ....................................................................... 9 4. Pembelajaran Matematika .............................................................. 10 5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS ................................... 13 6. Pemahaman Konsep Matematis ..................................................... 16 B. Kerangka Pikir .................................................................................... 18 C. Anggapan Dasar ................................................................................... 20 D. Hipotesis Penelitian ............................................................................ 21 III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel........................................................................... 21 B. Desain Penelitian ................................................................................ 22 C. Prosedur Penelitian ............................................................................. 22 D. Data Penelitian.................................................................................... 23 E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 23 F. Instrumen Penelitian............................................................................ 24 G. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ................................... 27 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN V. A. Hasil Penelitian ................................................................................... 30 B. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa .......................... 31 C. Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep ........................................ 32 D. Pencapaian Perilaku Berkarakter dan Keterampilan Siswa................ 33 E. Pembahasan ........................................................................................ 35 SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................................. 40 B. Saran .................................................................................................. 40 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 41 LAMPIRAN vi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman A. Perangkat Pembelajaran A.1 Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)........................................................ 45 A.2 Lembar Kerja Siswa ............................................................................ 83 B. Perangkat Tes B.1 Kisi-Kisi Soal-Soal Posttest ................................................................ 115 B.2 Soal Posttest............. ........................................................................... 116 B.3 Kunci Jawaban Posttest ....................................................................... 118 B.4 Form Validasi Instrumen ..................................................................... 120 B.5 Lembar Penilaian Diri ................................................................... 122 C. Analisis Data C.1 Tabel Analisis Tes Uji Coba............................................................... 126 C.2 Data Post Test ..................................................................................... 127 C.3 Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep Matematis ........................ 128 C.4 Uji Hipotesis Penelitian.................................................................. 132 C.5 Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep Matematis.................. 134 C.6 Ketercapaian prilaku berkarakter dan keterampilan siswa............ 137 C.7 Ketercapaian prilaku berkarakter dan keterampilan siswa............ 138 D. Lain-lain D.1 Surat izin penelitian D.2 Surat telah melakukan penelitian DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Rata-rata Nilai Mid Semester Matematika Semester Ganjil ................. 22 3.3 Kriteria Penskoran Pemahaman Konsep Matematis ............................. 24 4.2 Hasil Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep Matematis ................. 30 4.1 Skor Tertinggi, Skor Terendah, Rata-rata Skor dan Simpangan Baku Post-test Kelas Eksperimen dan Kontrol ..................................... 4.2 Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep Pada Kelas Eksperimen ...... 31 32 4.3 Ketercapaian Perilaku Berkarakter Siswa Kelas Eksperimen Pertemuan ke-2 ....................................................................................... 33 4.4. Ketercapaian Perilaku Berkarakter Siswa Kelas Eksperimen Pertemuan ke-4 ....................................................................................... 34 MOTO “Saya percaya bahwa rencana Allah Lebih indah dari apa yang hambanya bayangkan” “Saya berjalan Mengikuti apa kata hati dan lebih mengikuti pendapat yang lebih baik bagi saya” “yang terbaik akan selalu mengindahkan” (Penulis) PERSEMBAHAN Alhamdulillahirobbil ’Alamin… Terucap syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya, Dengan kerendahan hati dan rasa sayang yang tulus, kupersembahkan lembaran-lembaran sederhana ini untuk : Ayah dan Ibunda ku tercinta yang telah membesarkanku dengan penuh cinta kasih dan kesabaran. Terimakasih atas lantunan do’a dan untaian nasehat yang terucap, atas harapan dan kepercayaan yang tak pernah pudar, atas peluh yang tercucur, atas semua yang tak mungkin terbalaskan, engkaulah penguat dalam rapuhku. Oom dan uncu tercinta yang telah mendidikku dengan penuh keikhlasan, mengantarkanku hingga sampai saat ini. Tanpa itu semua aku bukanlah siapa-siapa, mungkin tak terbalaskan olehku. Terimakasih atas lantunan do’a dan untaian nasehat yang terucap, atas harapan dan kepercayaan yang tak pernah pudar, engkaulah penopang hidupku kakak-adikku tersayang “ajo, minak, kakang, atu, yobi” dan “sissi” yang turut mendo’akan dan memberi dukungan kepadaku, Kebahagiaan kalian adalah semangat dan motivasiku. Teman-teman seperjuangan Sahabat-sahabatku yang selalu menjadi penyemangat bagiku. Para pengajar dan pembimbing yang ku hormati Almamater tercinta RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Penengahan Kecamatan Negri Agung, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung pada tanggal 18 Agustus 1988. Penulis adalah anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Bapak Ciknang dan Ibu Kosmawati Pendidikan formal yang ditempuh penulis berawal dari Sekolah Dasar di SD Negeri 1 sunsang dan lulus tahun 2001. Selanjutnya Sekolah Menengah Pertama di Pilial 5 Kotabaru dan lulus tahun 2004. Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Negri Agung hingga tahun 2007. Melalui jalur Ujian Mandiri (UM) penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung pada tahun 2008. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Adi Luhur Kecamatan Panca Jaya Mesuji dan pada tahun yang sama penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 2 Panca Jaya. SANWACANA Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif tipe TPS Ditinjau dari Pemahaman Konsep Matematis Siswa (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)”. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada: 1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta staf dan jajarannya yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini; 2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Lampung, atas kesediaannya memberikan sumbangan pemikiran, saran, dan kritik baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi 3. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika, sekaligus Selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya memberikan bimbingan, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran, baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi ii 4. Ibu Dra. Nurhanurawati, M.Pd., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaannya memberikan bimbingan, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran, baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi; 5. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik, sekaligus selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya memberikan bimbingan, sumbangan pemikiran, kritik, dan saran, baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi; 6. Ibu Dra. Arnelis Djalil, M.Pd., selaku Pembahas atas kesediaannya memberikan sumbangan pemikiran, saran, dan kritik baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi; 7. Seluruh dosen yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menyelesaikan studi; 8. Ibu Lista Dora, M.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 20 Bandar Lampung beserta Wakil, staff, dan karyawan yang telah memberikan izin dan kemudahan selama penelitian.; 9. Ibu Nurlena, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian, serta murid-murid kelas VIIA dan VIIB SMP Negeri 20 Bandar Lampung atas partisipasinya dalam penelitian ini; 10. Ayah, Ibu, Uncu ,Om dan kakak-adik tercinta: Ajo, Minak, Kakang, Atu, Yobi dan Sissi serta keluarga besarku yang selalu menyayangi, mendoakan, dan selalu memberikan dukungan untuk keberhasilanku. Terima kasih untuk lautan kasih sayang, kesabaran, dan pengertian yang sudah diberikan; 11. Trio yang telah memberikan dukungan dan do’a untuk keberhasilanku terimakasih untuk itu semua. iii 12. Sahabat-sahabatku : (Dewi, Nope, Helda, Eka, Amel, Martina, Evi, Ferny, Meta, dan Ayu; Kost Raflesia: Makcik, Mba nina, Mba wayan, intan, citra, mumun, dan iin) yang senantiasa memberikan dukungan dan motivasi. Terimakasih atas Pelajaran yang sangat berharga dan mendewasakan. Semoga persahabatan dan kebersamaan kita selalu terjalin dalam indahnya tali persaudaraan; 13. Teman-teman seperjuangan angkatan 2008 Mandiri: Adi, Agita, Amel, Andika, Antoni, Asep, Cici, Dedi, Decky, Dewi, Dila, Dwi, Eka, Elva, Endah, Evi, Ferny, Fepy, Kahepi, Kiki, Helda, Made, Martina, Meta, Mulyanah, Neliyan, Nia, Persi, Qori, Qurrota Ayuni, Radit, Ratna, Reza, Rico, Riko, Rini, Savitri, Siska, Sri Aryanti, Tutik, Wayan eko, dan Yeni. Terima kasih untuk persahabatan dan kebersamaannya selama ini. 14. Teman-teman KKN & PPL SMP 2 Panca Jaya Mesuji : Trio, Shoffa, Ratih, Radit ,Vidi, Edi Bb, Edi, Irdi, Sumantri, Intan, Inggrit, Ana, Reni, Zona, Ari, Warlan, , dan Ernia atas kebersamaan selama 3 bulan yang luar biasa; 15. Teman-teman angkatan 2008 Reguler, kakak-kakakku angkatan 2007 dan 2006, teman-teman dan adik-adikku angkatan 2009, 2010, 2011, 2012 dan 2013 atas kebersamaannya. 16. Almamater yang telah mendewasakanku; Penulis berharap semoga Allah SWT senantiasa membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan semoga skripsi ini bermanfaat. Bandarlampung, September 2014 Penulis, Lina Widiatami iv I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa dan mempersiapkan kehidupan masa kini dan masa depan. Pendidikan mengarahkan manusia untuk membangun kehidupan masa kini untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan dan lebih bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan mempunyai peranan penting bagi manusia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi yang baik, mempunyai etika, produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini tercantum dalam Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 68 tahun 2013 tentang kurikulum 2013 yang menyatakan bahwa: Kurikulum bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. (Permendikbud: 2013). Mengingat pentingnya peranan pendidikan, maka perlu adanya upaya dari pemerintah, lembaga dan masyarakat yang peduli untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini dapat dilakukan melalui Kurikulum 2013 yang diberlakukan mulai tahun ajaran 2013/2014 memenuhi seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai 2 pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran dan cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Untuk mencapai suatu pendidikan yang baik perlu adanya pembelajaran yang merupakan unsur utama. Pembelajaran merupakan interaksi pendidik dengan peserta didik, kemudian peserta didik dengan materi pembelajaran. Interaksi belajar akan ada jika terjadi penyampaian dari guru ke siswa dengan adanya materi pembelajaran didalamnya, sehingga diperlukan suatu strategi pembelajaran yang menghasilkan perubahan terhadap peserta didik sehingga lebih aktif dalam proses belajar. Proses pembelajaran merupakan langkah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik terhadap peserta didik dan sangat mempengaruhi perkembangan peserta didik. Jika proses pembelajaran berjalan dengan baik maka peserta didik akan merasa nyaman dan aktif selama proses pembelajaran. Sebaliknya, jika proses pembelajaran yang monoton maka cendrung membuat peserta didik menjadi bosan dan pasif. Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu dilakukan secara optimal pada semua mata pelajaran, termasuk dalam pembelajaran matematika. Matematika memegang peranan yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan. Menurut Susilo (Sugiman, 2006: 1) dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini tidak bisa kita pungkiri bahwa matematika memegang peranan penting. Pada mata pelajaran matematika ada materi yang ada keterkaitannya dengan materi pelajaran selanjutnya yang merupakan prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya. Untuk menguasai materi pelajaran 3 matematika pada tingkat kesukaran yang lebih tinggi diperlukan penguasaan materi tertentu sebagai pengetahuan prasyarat, salah satunya yaitu dengan memiliki pemahaman konsep yang baik dengan tujuan mempermudah siwa dalam memahami materi selanjutnya. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kemampuan pemahaman konsep matematis siswa masih kurang baik. Berdasarkan wawancara terhadap beberapa guru SMP di Provinsi Lampung, dapat terlihat beberapa permasalahan dalam pembelajaran matematika pada siswa SMP salah satunya SMP Negeri 20 Bandar Lampung yang masih mendapat pembelajaran yang hanya berupa penjelasan antara lain keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran masih belum tampak, siswa jarang mengajukan pertanyaan walaupun guru sering meminta agar siswa bertanya jika ada hal-hal yang belum jelas atau kurang paham, kurangnya keberanian siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas. Model pembelajaran yang hanya menjelaskan didepan kelas pada umumnya diterapkan guru SMP dalam pembelajaran matematika menyebabkan rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa dan mengabaikan sifat sosial dari belajar matematika itu sendiri. Kenyataan ini menjadi tugas besar bagi seorang guru matematika untuk terus melakukan perbaikan agar terjadi kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Salah satu perbaikan yang harus lakukan oleh guru adalah dalam pemilihan model pembelajaran. Guru sebaiknya merancang strategi pembelajaran secara ber-kelompok, sehingga siswa mampu 4 berkomunikasi dengan sesama temannya untuk membangun pengetahuan dari aktivitas belajar kelompok. Agar proses pembelajaran memenuhi hal-hal di atas diperlukan suatu kondisi yang memungkinkan siswa aktif, lebih bebas mengemukakan pendapat, saling membantu dan berbagi pendapat dengan teman, serta bersama-sama menyelesaikan masalah untuk memperoleh pengetahuan baru. Kondisi yang memungkinkan munculnya hal-hal tersebut yaitu belajar dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang disebut pembelajaran kooperatif. Ismail (2003:18) mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif yaitu belajar dengan teman, tatap muka antar teman, mendengarkan diantara anggota, belajar dari teman sendiri didalam kelompok, belajar dalam kelompok kecil, produktif berbicara atau mengeluarkan pendapat, siswa membuat keputusan dan siswa aktif. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi model yang dapat diterapkan, salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe TPS, yang membantu siswa untuk memahami konsep-konsep materi pelajaran. Dengan demikian saya memilih model pembelajaran kooperatif untuk melakukan penelitian tentang “Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS Ditinjau dari Pemahaman Konsep Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)”. 5 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini : “apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematis siswa kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung?”. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui efektifitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS ditinjau dari pemahaman konsep matematis siswa SMP Negeri 20 Bandar Lampung. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis 2. Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap perkembangan pembelajaran matematika, terutama terkait pemahaman konsep matematis siswa dan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. 3. Manfaat Praktis Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain : a. Bagi sekolah, dapat memberikan sumbangan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam pembelajaran matematika. 6 b. Bagi guru, dapat menjadi alternatif dalam menggunakan model pembelajaran yang efektif dilihat dari penguasaan konsep matematis siswa. c. Bagi kepala sekolah, diharapkan dengan penelitian ini memperoleh imformasi sebagai masukan dalam upaya pembinaan para guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. E. Ruang Lingkup Penelitian Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini antara lain : 1. Efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dalam pembelajaran untuk mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Pembelajaran dikatakan efektif bila fersentase siswa yang tuntas lebih dari 65%. 2. Model pembelajaran TPS ( Think Pair Share ) Pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu model pembelajaran kooperatif dengan cara memproses informasi dengan mengembangkan cara berpikir dan komunikasi siswa. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir (Think) atas pertanyaan atau masalah yang diberikan guru secara individu, berpasangan (Pair) untuk berdiskusi dan berbagi (Share) dengan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. 3. Pemahaman konsep siswa merupakan kemampuan siswa dalam memahami konsep materi pelajaran matematika tentang persamaan dan pertidaksamaan linear satu variable. Kemampuan siswa dalam pengusaan materi pelajaran ,kemampuan berpikir, memahami definisi, pengertian, ciri khusus, isi dari materi matematika dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan prosedur secara efisien dan berani bertindak dengan tepat sehinggga siswa 7 dapat lebih mudah memahami materi selanjutnya dalam pembelajaran matematika pemahaman konsep yang dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa setelah melakukan tes pemahaman konsep dengan menggunakan metode pembelajaran koopratif tipe TPS. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Hakikat Belajar Manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari proses belajar, karena dengan belajar pengetahuan seseorang akan terus bertambah. Menurut Syah (2002:89), belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Oleh karena itu, tanpa proses belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Menurut Djaafar (2001:82), belajar adalah suatu perilaku aktif dari pembelajaran itu sendiri sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas belajar sendiri menghasilkan perubahan berupa sesuatu yang baru, baik yang segera nampak atau tersembunyi atau penyempurnaan terhadap sesuatu yang pernah dipelajari. Perubahan yang bersifat konstan itu dapat meliputi perubahan pengetahuan, keterampilan maupun nilai sikap. Teori Vygotsky dalam Slavin (2000:17), belajar diartikan sebagai proses membangun makna atau pemahaman terhadap informasi dan pengalaman hasil interaksi antar siswa, proses membangun makna tersebut dilakukan sendiri oleh siswa dan dimantapkan bersama orang lain. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses kegiatan yang berperilaku aktif dari pembelajaran itu sendiri sebagai hasil karena 8 adanya interaksi antar siswa maupun dengan lingkungannya karena adanya suatu usaha sehingga menghasilkan pengetahuan dan pemahaman terhadap informasi yang diberikan kepada peserta didik kemudian diterima dan digunakan sehingga bermanfaat. 2. Efektivitas pembelajaran Menurut Uno (2011:29), pada dasarnya efektivitas ditunjukkan untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk mengukur efektivitas dari suatu tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan menentukan seberapa jauh konsep-konsep yang telah dipelajari dapat dipindahkan ke dalam mata pelajaran selanjutnya atau penerapan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Artinya bahwa untuk mengukur pembelajaran efektif matematika dapat dilakukan dengan menentukan seberapa jauh konsep matematika yang sudah dipelajari siswa dapat digunakan oleh siswa itu sendiri dalam memecahkan suatu masalah. Mulyasa (2006:193) menyatakan bahwa pembelajaran dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Sementara Sutikno (2005:32) mengungkapkan bahwa efektivitas pembelajaran berarti kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran yang telah direncanakan yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan mudah dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Simanjuntak dalam Arifin (2010 juga menyatakan bahwa suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila menghasilkan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan atau dengan kata lain tujuan yang 9 diinginkan tercapai. Dengan demikian, efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu pembelajaran sehingga erat kaitannya dengan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar merupakan kriteria dan mekanisme penetapan ketuntasan minimal yang ditetapkan di sekolah. Menurut Trianto (2010:241) berdasarkan ketentuan KTSP, penentuan ketuntasan belajar ditentukan sendiri oleh masingmasing sekolah yang dikenal dengan kriteria ketuntasan minimal dengan berpedoman pada tiga pertimbangan, yaitu kemampuan setiap peserta didik yang berbeda-beda, fasilitas (sarana) setiap sekolah yang berbeda-beda dan daya dukung setiap sekolah yang berbeda-beda. Ketuntasan belajar siswa yang sesuai dengan KKM pelajaran matematika di sekolah mencakup semua kemampuan matematika siswa, termasuk pemahaman konsep siswa. 3. Hakikat Matematika Matematika merupakan cabang ilmu pengetahuan eksak yang digunakan hampir pada semua bidang ilmu pengetahuan. Menurut Suherman (2003:15), matematika (dalam bahasa inggris: mathematics) berasal dari perkataan latin mathematica yang mulanya diambil dari perkataan Yunani, mathematike, yang berarti “relating to learning”. Perkataan ini mempunyai akar kata mathema yang berarti know ledge (pengetahuan). Pengertian tentang matematika yang diungkapkan dalam Soedjadi (2000:11), yaitu: (1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik; (2) Matematika adalah pengetahuantentang bilangan dan kalkulasi; (3) Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan 10 berhubungan dengan bilangan; (4) Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk; (5) Matematika adalah pengetahuan tentang struktur yang logik; (6) Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat. Menurut James dalam Suherman, dkk (2003:16) matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. Dari pengertian dan karakter matematika diatas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu sebagai sarana berpikir yang meliputi penalaran logik, bilangan, kalkulasi dan fakta-fakta kuantitatif yang terorganisir secara sistematik. 4. Pembelajaran Matematika Dalam lingkup sekolah, aktivitas untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Menurut Kimble dan Garmezy (Thobroni dan Mustofa, 2011:18) “pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang”. Dalam proses pembelajaran, peserta didik dilibatkan secara aktif untuk mencari, menemukan, menganalisis, merumuskan, memecahkan masalah dan menyimpulkan suatu masalah. Selain itu, Dimyati dan Mujiono (2002:157) menyatakan ”Pembelajaran sebagai proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap”. Sedangkan pembelajaran menurut Ahmad (2012:12) adalah “suatu proses interaksi antara guru dan peserta 11 didik yang berisi berbagai kegiatan yang bertujuan agar terjadi belajar (perubahan tingkah laku) pada diri peserta didik. Menurut Muhaimin (Riyanto,2010:131)“pembelajaran membelajarkan siswa untuk belajar. adalah upaya Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien”. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Komalasari (2010:3) bahwa : Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan siswa yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/ pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Suherman, dkk (2003:8), menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi bantuan agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Mulyasa (2002:100), berpendapat bahwa pembelajaran pada hakikatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perbedaan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam pembelajaran akan terjadi suatu interaksi antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai tujuannya, guru memberikan informasi berupa pengetahuan kepada siswa sedangkan siswa mempunyai tujuan untuk memahami dan menguasai materi yang diajarkan oleh guru. Interaksi antara guru dan siswa tersebut merupakan proses pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru perlu memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode dan teknik yang banyak melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Siswa dibawa kearah mengamati, menebak, berbuat, mencoba, mampu menjawab pertanyaan mengapa, dan kalau mungkin mendebat. Menurut Suherman, dkk (2003:63), 12 dalam hal ini kreativitas guru amat penting untuk mengembangkan model-model pembelajaran yang secara khusus cocok dengan kelas yang dibinanya termasuk sarana dan prasarana yang mendukung terjadinya optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika merupakan serangkaian proses kegiatan dalam mempelajari konsepkonsep matematika dan struktur-struktur matematika yang melibatkan guru dan siswa dalam usaha mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dengan demikian guru perlu memperhatikan setiap perubahan pada siswa, rasa ingin tahu siswa untuk mencapai suatu tujuan, sehingga siswa perlu dibiasakan untuk diberi kesempatan bertanya dan mengemukakan berpendapat. Saat ini terdapat banyak sekali model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam sebuah kelas. Salah satu model pembelajaran yang mungkin dapat diterapkan dan dikembangkan adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning. 5. Model Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan membentuk siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berpasangan. Dalam kelompok ini siswa dipilih dengan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dari segi budaya, jenis kelamin dan kemampuan akademiknya. Sebagai anggota kelompok, siswa bekerja sama untuk membantu dan memahami suatu bahan pelajaran serta tugas-tugas yang diberikan oleh guru. 13 Menurut Baharuddin dan Nur (2008:128) Pembelajaran kooperatif adalah strategi yang digunakan untuk proses belajar dimana siswa akan lebih mudah menemukan secara komprehensif konsep-konsep yang sulit jika mereka mendiskusikan dengan siswa lainnya tentang problem yang dihadapi. Hal ini sejalan dengan pendapat Karli dan Sri (2002:70) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri atas dua orang atau lebih. Keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Dalam pendekatan ini, siswa merupakan bagian dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai hasil yang optimal dalam belajar. Ada beberapa alasan dipilihnya interaksi kooperatif dalam proses pembelajaran, diantaranya menurut Johnson (Abdurrahman, 2003:124), adalah sebagai berikut: Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi kooperatif memiliki berbagai pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Berbagai pengaruh positif tersebut adalah: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. meningkatkan prestasi belajar; meningkatkan retensi; lebih dapat digunakan untuk mencapai taraf penalaran tingkat tinggi; lebih dapat mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik; lebih sesuai untuk meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen; meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah; meningkatkan sikap anak yang positif terhadap guru; meningkatkan harga diri anak; meningkatkan perilaku penyesuaian sosial yang positif; dan meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong. Salah satu model pembelajaran yang yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yaitu pembelajaran kooperatif tipe TPS. Pembelajaran yang berpusat pada siswa. 14 Pembelajaran ini tidak hanya merangsang aktivitas siswa untuk berfikir dan mendiskusikan hasil pemikirannya dengan teman, tetapi juga merangsang keberanian siswa untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Model Pada pembelajaran ini siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari satu pasang siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif dan waktu tunggu. Pendekatan khusus ini mula-mula dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Strategi ini menantang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan di dalam setting seluruh kelompok. Menurut Sriudin (2011) [online], model pembelajaran kooperatif tipe TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit, yaitu: a. Berpikir (Thinking). Guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian siswa diberi waktu untuk memahami sendiri masalah yang dihadapi. Merenungkan langkah-langkah apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. b. Berpasangan (Pairing). Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau menyatukan pendapat mereka sehingga didapatkan solusi terbaik. c. Berbagi (Share). Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Hal ini dapat dilakukan oleh beberapa pasangan saja, namun jika waktu memungkinkan untuk semua pasangan maka diharapkan semua pasangan bisa berbagi. 15 Manfaat dengan menerapkan TPS dalam pembelajara menurut Nurhadi (2004:66) menyatakan bahwa Think Pair Share merupakan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan siswa. Manfaat menurut Lie (Sahrudin, 2011) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS sebagai berikut: a. Akan meningkatkan partisipasi siswa; b. Cocok untuk tugas sederhana; c. Lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok; d. Interaksi lebih mudah; e. Lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Hal yang sama diungkapkan Kagan (Fadholi, 2010) menyatakan manfaat TPS sebagai berikut: a. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain. b. Para guru juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi. 6. Pemahaman Konsep Matematis. Pemahaman konsep terdiri dari dua kata yaitu pemahaman dan konsep. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, paham berarti mengerti dengan tepat. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Sadiman (2008:42) yang menyatakan bahwa “pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran”. Oleh sebab itu, belajar harus mengerti secara makna dan filosofinya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya. Rusman (2010:139) menyatakan bahwa “pemahaman merupakan suatu proses individu yang menerima dan 16 memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran yang didapat melalui perhatian”. Menurut Soedjadi (2000:14) “konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek”. Sebagai contoh, segitiga adalah nama dari suatu konsep abstrak dan bilangan asli adalah nama suatu konsep yang lebih kompleks karena terdiri dari beberapa konsep yang sederhana, yaitu bilangan satu, bilangan dua dan seterusnya. Menurut Winkel (2000:44) “konsep dapat diartikan sebagai suatu sistem satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama”. Konsep matematika disusun secara berurutan sehingga konsep sebelumnya akan digunakan untuk mempelajari konsep selanjutnya. Misalnya konsep operasi bentuk aljabar diajarkan terlebih dahulu daripada konsep persamaan dan pertidaksamaan linear. Hal ini karena untuk mencari persamaan dan pertidaksamaan linear berbentuk aljabar sehingga konsep operasi bentuk aljabar akan digunakan untuk menyelesaikan persamaan dan pertidaksamaan linear. Pemahaman terhadap konsep materi prasyarat sangat penting karena apabila siswa menguasai konsep materi prasyarat maka siswa akan mudah untuk memahami konsep materi selanjutnya. Penilaian perkembangan siswa terhadap pemahaman konsep matematika dicantumkan dalam beberapa indikator sebagai hasil belajar matematika. Berikut ini indikator siswa yang memahami suatu konsep berdasarkan penjelasan teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004: 1. 2. menyatakan ulang sebuah konsep; mengklasifikasi obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan 17 3. 4. 5. 6. 7. konsepnya); memberi contoh dan non-contoh dari konsep; menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep; mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah; dan menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematika adalah pengusaan materi pelajaran ,kemampuan siswa dalam berpikir, memahami definisi, pengertian, ciri khusus, dan isi dari materi matematika dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan prosedur secara efisien dan berani bertindak dengan tepat sehinggga siswa dapat lebih mudah memahami materi selanjutnya dalam pembelajaran matematika. Konsep matematika harus diajarkan secara berurutan, karena pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara acak tetapi harus tahap demi tahap, dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai ke tahap yang lebih kompleks. Pemahaman konsep materi prasyarat sangat penting untuk memahami konsep selanjutnya. B. Kerangka Pikir Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam pengusaan materi pelajaran ,kemampuan siswa dalam berpikir, memahami definisi, pengertian, ciri khusus, isi dari materi matematika dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan prosedur secara efisien serta berani bertindak dengan tepat sehinggga siswa dapat lebih mudah memahami materi selanjutnya dalam pembelajaran matematika. Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran matematika yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika. 18 Model pembelajaran kooperatif berpusat pada siswa. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran dan banyak bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk belajar secara mandiri dalam kelompok. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan untuk membantu siswa dalam memahami konsep adalah model pembelajaran koperatif tipe TPS. Pembelajaran dengan model TPS adalah pembelajaran yang merangsang aktivitas siswa untuk berfikir dan mendiskusikan hasil pemikirannya dengan teman dan juga merangsang keberanian siswa untuk mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Pembelajaran kooperatif tipe TPS menekankan kepada siswa untuk bekerjasama dengan pasangannya dan saling membantu dalam memecahkan masalah bersama. Didalam pelaksanaan TPS terdapat tiga unsur penting yaitu berpikir, berpasangan dan berbagi. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, model pembelajaran kooperatif tipe TPS juga diharapkan dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi di dalam kelas. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS yang memiliki tiga tahap penting yakni thinking, pairing dan sharing, sangat cocok diterapkan untuk membangun pemahaman konsep dari materi yang diberikan guru. Melalui tahap Think siswa diberikan waktu berpikir secara individu, pada tahap ini siswa membangun 19 pemahamannya sendiri terhadap materi yang disampaikan guru serta memikirkan langkah-langkah dalam menyelesaikan pertanyaan yang diberikan, sehingga pada saat tahap berikutnya, yaitu pairing, siswa tidak hanya berdiskusi saja tetapi mereka sudah memiliki pemahaman sendiri yang bisa didiskusikan dengan pasangannya. Pada tahap pairing, siswa mengungkapkan dan mendiskusikan ideide yang sudah dipikirkan sebelumnya dengan pasangannya, pada tahap ini siswa saling memperbaiki jika ada pemahaman yang keliru. Pada tahap akhir yaitu tahap sharing, siswa berbagi dengan seluruh anggota kelas, mengambil kesimpulan dari materi yang telah dipelajari secara bersama-sama sehingga akan lebih mempekuat pemahaman tentang konsep materi yang telah diajarkan. Dengan mengikuti ketiga tahap model pembelajaran kooperatif tipe TPS, diharapkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa akan lebih baik, karena seluruh siswa yang terdapat dikelas dituntut untuk berpikir secara individu kemudian secara berpasangan, siswa berulang kali memikirkan jawaban atau permasalahan yang diberikan oleh guru. Dengan demikian penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. C. Anggapan Dasar Penelitian ini memiliki anggapan dasar: 1. Seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung memperoleh materi pelajaran matematika yang sama dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku. 2. Faktor lain yang mempengaruhi pemahaman konsep matematika siswa selain model pembelajaran TPS dianggap memberikan kontribusi yang sama. 20 D. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran TPS efektif ditinjau dari pemahaman konsep matematika siswa kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014. III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII semester ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013/2014, terdiri dari 262 siswa yang terdistribusi dalam 7 kelas dari kelas VIIA - VIIG dengan nilai rata-rata 65,43. Kemampuan siswa relatif sama terlihat dari data nilai mid semester siswa yang tertera pada tabel berikut : Tabel 3.1 Distribusi Siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung TP 2013/2014. No Kelas Banyak siswa 1 VII A 38 2 VII B 36 3 VII C 36 4 VII D 38 5 VII E 36 6 VII F 38 7 VII G 36 Nilai rata-rata populasi Rata-rata nilai mid semester ganjil 64,25 67,18 64,10 64,06 67,09 64,35 67,03 65,43 Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara acak, dengan tekhnik random sampling, sehingga diperoleh satu kelas yaitu kelas VII-B yang berjumlah 36 siswa sebagai sampel penelitian. 22 B. Desain Penelitian Desain yang digunakan adalah one group posttest only design, yaitu meneliti pada satu kelas eksperimen dengan menerapkan model pembelajaran TPS dan di akhir pertemuan diberikan posttest untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment karena peneliti tidak dapat mengendalikan semua variabel yang mungkin berpengaruh terhadap variabel yang diteliti. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan Budiyono (2003:82) bahwa tujuan penelitian eksperimen semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol semua variabel yang relevan. Variabel yang diukur di dalam penelitian ini adalah pemahaman konsep matematika siswa. C. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian dikelompokan menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan meliputi: 1. Identifikasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran matematika di Provinsi Lampung. Identifikasi masalah dilakukan dengan mewawancarai beberapa guru matematika SMP di Provinsi Lampung. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa secara umum siswa SMP belum memiliki kemampuan pemahaman konsep yang kurang baik. 2. Pemilihan populasi penelitian yang dapat mewakili kondisi kemampuan pemahaman konsep matematis siswa SMP di Provinsi Lampung, yaitu seluruh siswa kelas VII SMPN 20 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013-2014. 23 3. Pemilihan sampel penelitian yang dilakukan dengan mengambil satu dari tujuh kelas secara acak, dan terpilihlah kelas VII-B sebagai kelas eksperimen. 4. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kerja siswa (LKS) untuk delapan kali pertemuan. LKS diberikan kepada masing-masing siswa di kelas VII-B ketika pembelajaran memasuki tahap thinking. 5. Membuat instrumen penelitian yang terlebih dahulu dibuat kisi-kisi yang sesuai dengan indikator pembelajaran dan indikator kemampuan pemahaman konsep matematis beserta penyelesaian dan aturan penskorannya. Tersusunlah instrumen tes yang terdiri dari 6 soal dan akan digunakan sebagai ujicoba insrumen dan posttest di kelas VIIC dan VII-B. 6. Uji validitas instrumen tes kepada guru matematika kelas VII SMPN 20 Bandar Lampung. Setelah dinyatakan valid, instrumen tes kemudian diujikan pada siswa kelas VII-C SMPN 20 Bandar Lampung yang selanjutnya dihitung reliabilitas. 7. Setelah dilakukan analisis uji instrumen, soal dinyatakan memiliki nilai uji yang valid dan reliabilitas yang baik. Oleh karena itu, soal tersebut dipakai dalam pengambilan data penelitian. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan meliputi: 1. Pemberian uji coba pada kelas VII-C untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. 2. Melakukan pembelajaran di kelas VII-B dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Urutan pembelajaran yang dilakukan di kelas VII B adalah sebagai berikut. 24 a. Kegiatan Awal 1) Apersepsi untuk menggali materi kemampuan prasyarat siswa mengenai materi yang akan dibahas melalui tanya jawab. 2) Memberi pengarahan tentang prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. 3) Mengarahkan siswa untuk duduk berpasangan. b. Kegiatan Inti 1) Guru menyampaikan sekilas materi ajar. 2) Guru membagikan LKS kepada setiap siswa. Siswa mengerjakan LKS secara individu. (Tahap think) 3) Siswa berdiskusi dengan pasangannya masing-masing. Setiap siswa mengutarakan hasil pemikiran individunya pada tahap awal sehingga didapatkan jawaban yang merupakan hasil diskusi kelompok (pasangan). Guru memantau jalannya diskusi kelompok. (Tahap pair) 4) Guru meminta beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya, kelompok yang lain menganggapi. (Tahap share) 5) Guru membimbing siswa dalam menyimpulkan hasil diskusi. c. Kegiatan penutup 1) Dengan bimbingan guru, siswa menyimpulkan hasil pembelajaran yang diperoleh. 2) Guru menginformasikan materi untuk pertemuan selanjutnya. 3) Pemberian posttest dipertemuan kesembilan pada kelas VII-B untuk melihat pemahaman konsep matematis akhir siswa. 8. Mengadakan posttest. Pada pertemuan ke sembilan. 25 9. Menganalisis data. 10. Membuat kesimpulan. C. Data Penelitian Data dalam penelitian ini adalah data pemahaman konsep pada materi persamaan linear satu variabel, aritmatika sosial dan perbandingan yang dilaksanakan setelah siswa mendapatkan perlakuan menggunakan pembelajaran model TPS. D. Teknik Pengumpulan Data. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes berupa post test, yang dilakukan setelah pembelajaran. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami konsep yang dibahas dalam pembelajaran. E. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal pemahaman konsep berbentuk uraian pada materi persamaan linear satu variabel, aritmatika sosial dan perbandingan. Penyusunan instrumen tes dimulai dengan menyusun kisi-kisi tes didasarkan pada kompetensi dasar dan indikator yang telah dipilih, dan diakhiri menyusun instrumen tes berdasarkan kisi-kisi yang dibuat. Skor jawaban disusun berdasarkan indikator kemampuan pemahaman konsep. Adapun teknik pensekoran untuk soal tes uraian dapat dilihat pada Tabel 3.3. 26 Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Pemahaman Konsep No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Indikator Ketentuan a. Tidak menjawab b. Menyatakan ulang sebuah konsep tetapi Menyatakan ulang salah sebuah konsep c. Menyatakan ulang sebuah konsep dengan benar a. Tidak menjawab Mengklasifikasikan b. Mengklasifikasi objek menurut sifat objek menurut sifat tertentu tetapi tidak sesuai dengan tertentu sesuai konsepnya dengan konsep-nya c. Mengklasifika

Dokumen baru

Download (51 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 23 Bandarlampung Semester Genap Tahun Ajaran 2011/2012)
0
7
53
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 5 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
15
67
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 22 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
8
54
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
8
39
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pekalongan Kab. Lampung Timur Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
10
39
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
1
12
36
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBING-PROMPTING DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Bandar Lampung T.P. 2012/2013)
0
11
15
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 20 Bandar Lampung Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2014/2015)
0
10
52
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 28 Bandar Lampung T.P. 2013/2014)
1
26
152
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2013-2014)
0
9
59
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS (THINK PAIR SHARE) DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Ganjil SMP Negeri 20 Bandar Lampung T.P. 2013/2014)
1
10
51
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TPS DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 1 Kota Agung Barat Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
6
42
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BERBASIS CTL DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 1 Bangunrejo, Kab. Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
10
205
EVEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Ketapang TP 2013/2014)
0
20
40
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
19
44
Show more