EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA

Gratis

0
5
55
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA Oleh AYU FEBRIYANTI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pringsewu semester genap tahun pelajaran 2014/2015 yang terdistribusi dalam enam kelas. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purposive random sampling dan terpilih siswa kelas VIII.1 sebagai sampel. Penelitian ini menggunakan one group pretest posttest design. Berdasarkan hasil analisis data, disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah tidak efektif digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Kata Kunci: efektivitas, kemampuan komunikasi matematis, PBM EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA Oleh Ayu Febriyanti Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA (Skripsi) Oleh Ayu Febriyanti FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. vii DATAR LAMPIRAN ....................................................................................... viii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................... 4 C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 5 D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 5 E. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................................... 6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka......................................................................................... 7 1. Efektivitas Pembelajaran..................................................................... 7 2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah .............................................. 9 3. Kemampuan Komunikasi Matematis.................................................. 14 B. Penelitian yang Relevan ......................................................................... 16 C. Kerangka Pikir ........................................................................................ 17 D. Anggapan Dasar .................................................................................... 19 E. Hipotesis Penelitian ................................................................................ 20 III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel ............................................................................... 21 B. Desain Penelitian .................................................................................... 21 C. Langkah-Langkah Penelitian .................................................................. 22 D. Data Penelitian ....................................................................................... 23 E. Teknik Pengumpulan Data ...................................................................... 23 F. Instrumen Penelitian ............................................................................... 24 G. Analisi Data ............................................................................................ 30 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 35 B. Pembahasan............................................................................................. 38 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ................................................................................................ 41 B. Saran........................................................................................................ 41 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAIN-LAIN DAFTAR LAMPIRAN Halaman A. PERANGKAT PEMBELAJARAN A.1 Silabus Pembelajaran ...................................................................... 47 A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ................................... 52 A.3 Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) .............................................. 87 B. INSTRUMEN PENILAIAN B.1 Kisi-kisi Penilaian Tes Kemampuan Komunikasi Matematis ........ 121 B.2 Soal Kemampuan Komunikasi Matematis....................................... 126 B.3 Kunci Jawaban Tes Kemampuan Komunikasi Matematis .............. 130 B.4 Form Validasi Tes Kemampuan Komunikasi Matematis................ 140 C. ANALISIS DATA C.1 Analisis Relaibilitas Hasil Uji Coba Tes Kemampuan Komunikasi Matematis ......................................................................................... 145 C.2 Analisis Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda Soal ................... 149 C.3 Data Kemampuan Komunikasi Matematis ...................................... 151 C.4 Uji Normalitas Kemampuan Awal Komunikasi Matematis ........... 153 C.5 Uji Normalitas Kemampuan Akhir Komunikasi Matematis .......... 157 C.6 Uji Homogenitas Kemampuan Komunikasi Matematis .................. 161 C.7 Uji Proporsi Kemampuan Komunikasi Matematis .......................... 163 C.8 Uji Kesamaan Dua Rata-Rata Kemampuan Komunikasi Matematis......................................................................................... 164 C.9 Pencapaian Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis............ 167 v D. LAMPIRAN D D.1 Surat Penelitian Pendahuluan ......................................................... 172 D.2 Surat Izin Penelitian ........................................................................ 173 D.3 Surat Keterangan Penelitian............................................................. 174 vi DAFTAR TABEL Halaman Tabel 3.1 Data Guru yang Mengajar Kelas VIII .............................................. 21 Tabel 3.2 Desain Penelitian.............................................................................. 22 Tabel 3.3 Rubrik Penskoran Tes Komunikasi Matematis................................ 25 Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Koefisisen Reliabilitas ......................................... 26 Tabel 3.5 Klasifikasi Indeks Kesukaran........................................................... 27 Tabel 3.6 Klasifikasi Daya Pembeda .............................................................. 28 Tabel 3.7 Data Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Awal Komunikasi Matematis Siswa.......................................................... 29 Tabel 3.8 Data Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Akhir Komunikasi Matematis Siswa.......................................................... 29 Tabel 3.9 Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Awal dan Kemampuan Akhir Komunikasi Matematis..................................... 31 Tabel 4.1 Data Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa ........................... 35 Tabel 4.2 Hasil Uji Proporsi Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa ..... 36 Tabel 4.3 Hasil Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji-t Berpasangan) Data Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa .................................... 37 Tabel 4.4 Data Pencapaian Indikator Hasil Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa ............................................................................. 38 MOTO Selama kita mau bergerak dan berusaha pasti ada jalan untuk menuju kesuksesan. (Penulis) PERSEMBAHAN Alhamdulillahirobbil alamin Dengan hati yang ikhlas dan rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, kupersembahkan karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada: Ibunda Siti Jaroh dan Ayahanda Muchlasin (Alm) dan yang selalu berusaha memberikan yang terbaik, mencurahkan kasih sayang, perhatian, kerja keras tanpa mengenal lelah, serta doa yang tulus yang selalu mengiringi keberhasilanku. Seluruh Kakakku yang selalu memberikan kasih sayang, nasehat, motivasi, kritik dan saran yang membangun, serta kerja kerasnya demi keberhasilanku. Para pendidik yang dengan tulus dan sabar dalam mendidik dan memberikan ilmunya Sahabat-sahabat seperjuangan Almamater Universitas Lampung tercinta RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada 18 Februari 1993. Penulis adalah anak bungsu pasangan Bapak Muchlasin (Alm) dan Ibu Siti Jaroh. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 1 Pajaresuk, Kecamatan Pringsewu pada tahun 2005, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Pringsewu pada tahun 2008, dan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Pringsewu pada tahun 2011. Penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung pada tahun 2011 dengan mengambil program studi Pendidikan Matematika. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) pada tahun 2014 di Pekon Talang Rejo, Kecamatan Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus sekaligus melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Erlangga Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus. SANWACANA Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Kemampuan Komuniaksi Matemastis Siswa.” Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Kedua orang tuaku dan kakak-kakakku tercinta yang selalu memberikan cinta, kasih, semangat, doa, serta kerja keras yang tak kenal lelah demi keberhasilanku. 2. Bapak Drs. Pentatito Gunowibowo, M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan ilmunya sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 3. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan ilmunya sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 4. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku Pembahas dan Ketua Program Studi Pendidikan Matematika yang telah memberikan kritik dan saran sehingga skripsi ini menjadi lebih baik. 5. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Pembimbing Akademik dan Ketua Jurusan PMIPA yang telah memberikan kemudahan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. 6. Bapak dan Ibu dosen yang mengajar di program studi pendidikan matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 7. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung, beserta staf dan jajarannya. 8. Bapak Dwi Purwanto, S.Pd., selaku Kepala SMP Negeri 1 Pringsewu yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan penelitian. 9. Ibu Ferinita, S.Pd., selaku guru mitra di SMP Negeri 1 Pringsewu yang telah memberikan kesempatan, semangat, dan motivasi selama penelitian. 10. Keluarga besarku yang telah memberikan doa, motivasi, dan dukungan. 11. Sahabat-sahabatku di Pendidikan Matematika angkatan 2011: Vina, Ayu Tam, Fuji, Enggar, Laili, Ria, Dewi, Titi, Rosa, Ipeh, Dedes, Fitri, Emi, Ade, Eni, Dian, Desy, Indah, Winda, Siti, Sela, Yola, Rizka, Selvy, Ayu Anindra, Ayu Sekar, Flo, Ayu Tiara, Citra, Dina, Emil, Ista, Lidia, Muthia, Niluh, Novi, Pobby, Veni, Gilang, Heizlan, Ikhwan, Panji, Ansori, Abi, Suci, Fuji, Enggar, Laili, Ria, Dewi, Titi, Rosa, Ipeh, Dedes, Fitri, Hani, Nourma, Ismi, Venti, Yulisa, Ratna, Siska, Agung, Yusuf, Bayu, Agus, Aliza, Didi, Iwan, Uli, Ige, Elcho, Hasbi. 12. Kakak tingkat angkatan 2008, 2009, dan 2010 serta adik tingkat angkatan 2012, 2013, dan 2014 atas kebersamaannya selama ini. 13. Teman seperjuangan KKN PPL Pekon Talang Rejo : Yesie, Sondang, Irfan, Ferdian, Mulyadi, Susi, Septri dan Dewi atas kebersamaannya, semangat, dan motivasi yang diberikan. 14. Siswa-siswi kelas VIII semester genap SMP Negeri 1 Pringsewu tahun pelajaran 2013/2014 atas kerjasamanya. 15. Almamater tercinta yang telah mendewasakanku. 16. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Semoga kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT dan semoga skripsi ini bermanfaat. Bandar Lampung, Agustus 2015 Penulis, Ayu Febriyanti 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Hal ini diatur dalam Undangundang Dasar 1945 pasal 31. Melalui pendidikan akan diperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai serta norma sosial yang berlaku di masyarakat. Pendidikan menyiapkan generasi muda agar dapat menjalani kehidupan di masa mendatang. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi harus memiliki perilaku yang sesuai nilai dan norma yang baik. Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang mendukung terbentuknya generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Kewajiban pemerintah menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan tujuan Negara Indonesia dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan Negara Indonesia ini dapat dicapai dalam pendidikan formal, informal maupun nonformal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. Pada pendidikan formal terdapat sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa, salah satunya adalah mata pelajaran matematika. 2 Matematika merupakan dasar dari segala ilmu, digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang ada, seperti ilmu komputer, teknik dan lain-lain. Suherman (2003: 17) menyatakan bahwa matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang berperan penting dalam pengembangan logika dan nalar siswa. Pengembangan logika dan nalar ini diperlukan untuk mengembangkan kemampuan siswa menyelesaikan masalah. Menurut Depdiknas dalam Herman, (2007: 47), tujuan pembelajaran matematika adalah (1) melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan; (2) mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, serta mencoba-coba; (3) mengembangkan kemampuan pemecahan masalah; dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan mengomunikasikan gagasan. Tujuan pembelajaran ini harus tercapai dengan baik, termasuk juga kemampuan komunikasi matematis siswa harus berkembang dengan baik. Namun, pada kenyataannya kemampuan matematis siswa Indonesia masih rendah, hal ini terlihat dari hasil survei Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil survei TIMSS (Mullis et al, 2012: 462) pada tahun 2011 yang menyebutkan bahwa nilai rata-rata matematika siswa Indonesia menempati urutan ke-38 dari 42 negara dengan nilai rata-rata 386 jauh di bawah standar TIMSS yaitu 500. Studi ini menunjukkan siswa Indonesia berada pada rangking yang amat rendah dalam kemampuan memahami informasi yang kompleks, teori, analisis dan pemecahan masalah, pemakaian alat, prosedur, dan pemecahan masalah, serta melakukan 3 investigasi. Sementara itu survei PISA (OECD, 2013: 5) pada 2012 menempatkan Indonesia di posisi 64 dari 65 negara, dengan nilai rata-rata 375 jauh di bawah nilai standar PISA yaitu 500. Selain pengetahuan dan keterampilan matematis yang harus dikembangkan, kecakapan siswa dalam berperilaku sesuai dengan nilai dan norma juga perlu dikembangkan, sehingga dapat membentuk karakter generasi muda yang baik. Pentingnya pendidikan karakter siswa dalam sekolah didukung oleh penerapan krikulum 2013. Kurikulum ini diterapkan pemerintah untuk menggantikan kurikulum berbasis kompetensi 2006. Pembelajaran pada kurikulum ini memperhatikan tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap dan perilaku. Pembelajaran matematika menggunakan kurikulum 2013 masih baru diberlakukan, sehingga perlu dikaji efektivitasnya. Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajarannya sehingga siswa dituntut aktif dalam kegiatan pembelajaran. Apabila siswa terlibat aktif dalam proses belajar, mereka akan lebih mampu membangun gagasan, ide, dan konsep matematika. Kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran matematika mengakibatkan kemampuan komunikasi matematisnya kurang baik. Hal dapat dilihat dalam pembelajaran di kelas, misalnya siswa dapat mengerjakan soal matematika yang diberikan, namun ketika ditanya bagaimana langkah-langkah untuk mendapatkan hasilnya, siswa menjadi bingung dan kesulitan dalam menjelaskan. Selain itu, masih seringnya ditemukan kesalahan siswa dalam menyatakan notasi matematika, simbol dan istilah. Hal ini terlihat juga pada siswa kelas VIII SMPN 1 Pringsewu. Siswa 4 terbiasa mengerjakan soal-soal matematika, namun hanya sebagian kecil saja yang mampu menjelaskan ide-idenya dalam bentuk tulisan, menggunakan istilah atau notasi matematika, dan menyatakan situasi ke dalam model matematika dengan tepat. Salah satu model pembelajaran yang disarankan dalam kurikulum 2013 adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBM). PBM adalah model pembelajaran yang memunculkan masalah sebagai sarana siswa untuk memperoleh pemahaman mengenai suatu hal. Pada pembelajaran ini, dibutuhkan peran aktif dari siswa untuk mencari solusi dari masalah yang diberikan, lalu menyajikan hasil kerjanya di depan kelas, dan mengevaluasi langkah-langkah yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran menggunakan model ini, masalah dalam kehidupan nyata digunakan untuk memotivasi siswa untuk mengidentifikasi dan meneliti konsep dan prinsip yang dibutuhkan untuk mengetahui dan memecahkan masalah tersebut. Siswa belajar bekerjasama dalam kelompoknya, menyatukan pendapat, berkomunikasi dan menyusun informasi mengenai masalah yang disajikan. Sehingga dengan model pembelajaran ini memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi matematisnya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pembelajaran berbasis masalah efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa?” 5 Dari rumusan masalah di atas terdapat dua pertanyaan penelitian, yaitu: 1. Apakah presentase jumlah siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik lebih dari 70% dari jumlah siswa dalam kelas? 2. Apakah kemampuan komunikasi matematis siswa setelah menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dibandingkan sebelum menggunakan pembelajaran berbasis masalah? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang sudah disebutkan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi mengenai model pembelajaran berbasis masalah dan hubungannya dengan kemampuan komunikasi matematis siswa. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi praktisi pendidikan sebagai alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. 6 E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini antara lain : 1. Efektivitas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target yang telah tercapai, dimana telah ditentukan terlebih dahulu batas dari target tersebut. Pembelajaran dikatakan efektif apabila: a. Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik (memiliki skor 75 (skala 100)) mencapai lebih dari 70% dari jumlah siswa dalam kelas. b. Kemampuan komunikasi matematis siswa SMPN 1 Pringsewu kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 setelah pembelajaran lebih tinggi dibanding sebelum pembelajaran menggunakan PBM. 2. Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari untuk memperoleh pemahaman mengenai materi yang dipelajari. 3. Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan untuk mengekspresi- kan ide-ide matematika untuk memperoleh informasi, saling berbagi pikiran serta menilai dan mempertajam ide agar dapat meyakinkan orang lain. 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Efektivitas Pembelajaran Efektif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 352) diartikan sebagai keadaan berpengaruh, keberhasilan tentang usaha atau tindakan. Sutikno (2005) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan, dan dapat mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan. Arikunto (2004) dalam Ayu (2012: 13) berpendapat bahwa efektivitas adalah taraf tercapainya suatu tujuan yang telah ditentukan. Untuk mengukur keefektivan suatu perlakuan adalah dengan melihat apakah tujuan yang ditentukan tercapai dengan baik dan juga dilakukan sesuai prosedur. Efektivitas ini merupakan suatu ukuran seberapa jauh tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Suatu pembelajaran dikatakan efektif apabila tujuan pembelajaran tercapai dilihat dari kemampuan siswa yang semakin baik dibanding sebelumnya. Lebih lanjut menurut Hamalik (2004: 171), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sendiri dengan melakukan aktivitas-aktivitas belajar. Penyediaan kesempatan untuk belajar secara mandiri ini diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami makna pembelajaran yang sedang dipelajarinya. 8 Prinsip efisien dan efektifnya suatu proses pembelajaran, menurut Rohani (2004: 28) adalah apabila proses pengajarannya menggunakan waktu yang cukup sekaligus dapat membuahkan hasil secara cermat serta optimal. Adapun hasilnya, menurut pendapat yang dikemukakan Nasution (2002: 27) “bahwa belajar yang efektif hasilnya merupakan pemahaman, pengetahuan, atau wawasan”. Lebih lanjut Mulyasa (2006: 193) menyatakan bahwa pembelajaran dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru, dan membentuk kompetensi peserta didik, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan peserta didik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Seluruh peserta didik harus dilibatkan secara penuh agar bersemangat dalam pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran betul-betul kondusif, dan terarah pada tujuan dan pembentukan kompetensi peserta didik. Setiap pelajaran yang dipelajari siswa memiliki indikator masing-masing. Keefektifan suatu pembelajaran dapat terlihat dari persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar untuk masing-masing. Dalam kurikulum 2013, keefektifan suatu pembelajaran ditentukan oleh tenaga pendidik pada setiap sekolah. Untuk mata pelajaran matematika kemampuan yang diukur dalam pencapaian ketuntasan belajar terdiri dari kemampuan rendah hingga kemampuan tingkat tinggi. Jadi pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sehingga memperoleh pengalaman, pemahaman dan pengetahuan serta mencapai tujuan pembelajaran yang sudah ditentukan. 9 2. Pembelajaran Berbasis Masalah Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model pembelajaran yang memungkinkan untuk berkembangnya keterampilan siswa dalam berpikir termasuk di dalamnya kemampuan bernalar, komunikasi dan koneksi. Barrows dalam Huda (2013: 271) mendefinisikan pembelajaran berbasis masalah sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah, masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan ada masalah-masalah yang sengaja dimunculkan agar siswa memperoleh pemahaman akan sesuatu hal. Boud dan Felleti dalam Husnidar, dkk. (2014: 75), yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah sekaligus melatih kemandirian siswa. Savery (2006) menyatakan PBL is an instructional (and curricular) learner-centered approach that empowers learners to conduct research, integrate theory and practice, and apply knowledge and skills to develop a viable solution to a defined problem. Maksudnya adalah pembelajaran berbasis masalah adalah pendekatan pembelajaran yang memberdayakan untuk melakukan penelitian, mengintegrasikan teori dan praktek, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan solusi yang layak untuk masalah yang didefinisikan. Lebih lanjut Tan dalam Rusman (2010: 232), mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampu- 10 an menghadapi sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Jadi, dalam pembelajaran ini siswa akan menggunakan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki agar dapat menyelesaikan permasalahan yang mungkin dimunculkan dalam pembelajaran, sehingga siswa akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih tinggi setelah pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Ibrahim dan Nur dalam Rusman (2010: 241), pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi siswa dalam situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Jadi pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah dalam dunia nyata yang merangsang siswa untuk berpikir tingkat tinggi menggunakan berbagai kecerdasan yang dimiliki sekaligus melatih kemandirian siswa. Herman (2007: 49) mengemukakan lima karakteristik pembelajaran berbasis masalah, yaitu 1) memposisikan siswa sebagai self-directed problem solver melalui kegiatan kolaboratif, 2) mendorong siswa untuk mampu menemukan masalah dan mengelaborasinya dengan mengajukan dugaan-dugaan dan merencanakan penyelesaian, 3) memfasilitasi siswa untuk mengeksplorasi berbagai alternatif penyelesaian dan implikasinya, serta mengumpulkan dan mendistribusikan informasi, 4) melatih siswa untuk terampil menyajikan temuan, dan 5) membiasakan siswa untuk merefleksi tentang efektivitas cara berpikir mereka dalam menyelesaikan masalah. Dari karakteristik pembelajaran seperti di atas, jelaslah bahwa pembelajaran ini menuntut siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Siswa didorong untuk mampu menyelesaikan masalah dan juga menyajikan hasil temuannya, serta mengevaluasi dirinya tentang cara berpikir saat menyelesaikan masalah. 11 Dengan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik di atas akan dicapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Seperti yang dijelaskan dalam definisi pembelajaran berbasis masalah bahwa siswa diharapkan dapat mengembangkan kecerdasannya dengan berpikir tingkat tinggi serta melatih kemandirian. Sularso (2005) dalam Darnati, dkk. (2011: 21) mengatakan bahwa tujuan PBM antara lain: mengembangkan basis pengetahuan untuk mendefinisikan dan mengelola problem dalam rangka mencari pemecahan masalah, serta mengembangkan proses penalaran yang efektif meliputi keterampilan untuk melakukan sintesa permasalahan, pembentukan hipotesa, penilaian kritis terhadap informasi yang tersedia, analisis dan pengambilan keputusan. Masalah yang ada dalam pembelajaran ini harus mampu mendukung pembelajaran yang diharapkan, seperti merangsang kemampuan berpikir siswa. Duch (1996) menyebutkan karakteristik masalah yang ada dalam PBM sebagai berikut: 1. Masalah yang diajukan harus sesuai dengan minat siswa dan memotivasi mereka untuk menganalisis masalah dengan baik sehingga lebih memahami konsep yang diperkenalkan. Masalah juga harus berhubungan dengan kenyataan di sekitar siswa, sehingga lebih mudah untuk dipahami siswa. 2. Masalah harus menuntun siswa untuk membuat keputusan atau penilaian berdasarkan fakta, informasi, logika dan/atau rasionalisasi. Siswa harus menentukan apakah asumsi yang telah diambil diperlukan, informasi yang didapat relevan dan langkah-langkah yang diambil dapat menyelesaikan masalah. 3. Dituntut kerjasama yang baik agar dapat bekerja dengan efektif menyelesaikan masalah atau kasus yang ada. 4. Pertanyaan-pertanyaan awal dalam masalah haruslah bersifat terbuka, terhubung dengan pengetahuan yang dipelajari sebelumnya, isu-isu kontroversional yang akan memicu opini yang beragam. Hal ini diperlukan agar mendorong siswa berpikir secara individu di awal masalah. 5. Masalah harus memuat tujuan yang akan dicapai. Masalah dengan karakteristik di atas akan menciptakan pembelajaran yang ideal untuk memfasilitasi siswa berpikir dan membangun pengetahuannya untuk 12 memahami konsep yang diajarkan. Dengan masalah seperti di atas guru juga akan lebih mudah dalam mengarahkan kegiatan belajar siswa, sehingga pengetahuan yang didapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam pelaksanaannya model PBL memiliki keunggulan dan kelemahan. Riyanto (2012: 286) mengemukakan bahwa beberapa kelebihan pembelajaran berbasis masalah adalah : 1. Peserta didik dapat belajar, mengingat, menerapkan, dan melanjutkan proses belajar secara mandiri. Dengan belajar secara mandiri maka pembelajaran lebih bermakna dan pengetahuan yang didapat akan lebih mudah diingat oleh siswa. 2. Peserta didik diperlakukan sebagai pribadi yang dewasa. Perlakuan ini memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengimplementasikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah. Adapun untuk kelemahan model PBM yang dikemukakan oleh Wina (2006: 221) bahwa kelemahan model PBM adalah sebagai berikut: 1. Ketika siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan sehingga masalah yang dipelajari sulit dipecahkan maka siswa akan merasa enggan untuk mencoba. 2. Keberhasilan pembelajaran ini membutuhkan waktu yang cukup banyak. 3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka siswa tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari. Untuk mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah disebutkan dan meminimalisir kelemahan model ini, dibutuhkan proses yang sesuai dengan karakter pem- 13 belajaran berbasis masalah. Kesesuaian dan ketepatan langkah-langkah pembelajaran adalah suatu keharusan agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Ibrahim dan Nur (2000) dan Ismail (2002) dalam Rusman (2012:243) mengemukakan bahwa langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah adalah 1) orientasi siswa pada masalah, 2) mengorganisasi siswa untuk belajar, 3) membimbing penyelidikan individual/kelompok, 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada langkah pertama yaitu orientasi siswa pada masalah, guru berperan dalam menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan menjelaskan hal-hal yang diperlukan dalam pembelajaran. Dilanjutkan dengan langkah kedua, mengorganisasi siswa untuk belajar, siswa akan mendapat bantuan dari guru untuk mendefinisikan dan mengatur atau menyusun tugas belajar yang berhubungan dengan masalah. Langkah selanjutnya adalah membimbing penyelidikan individual/kelompok, guru mendorong siswa untuk mencari dan mengumpulkan informasi yang sesuai serta melakukan eksperimen untuk mendapatkan jawaban dari masalah. Langkah yang keempat yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya, guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya sesuai yang ditentukan dan juga membantu siswa berbagi tugas dengan temannya. Langkah yang terakhir yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, yang harus dilakukan guru adalah membantu siswa mengevaluasi proses komunikasi yang mereka gunakan apakah sudah baik atau belum. 14 Jadi, berdasarkan pendapat di atas, maka pada penelitan ini langkah-langkah pembelajaran menggunakan model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: Langkah 1 guru mengorientasi siswa pada masalah Langkah 2 guru mengorganisasi siwa untuk belajar Langkah 3 guru membimbing penyelidikan individual/kelompok Langkah 4 siswa mengembangkan dan menyajikan hasil karya Langkah 5 guru bersama siswa menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. 3. Kemampuan Komunikasi Matematis Komunikasi dalam pembelajaran merupakan hal yang sangat penting, termasuk dalam pembelajaran matematika. Komunikasi memungkinkan siswa untuk menyatakan pendapatnya mengenai sesuatu, bertukar pikiran dan informasi dengan siswa lain, dan juga lingkungannya. Dengan begitu akan ada diskusi yang membahas ide-ide yang muncul, dengan diskusi kemampuan komunikasi akan berkembang demikian juga dengan kemampuan komunikasi matematis, karena dengan diskusi siswa dituntut menuangkan pemikiran mengenai suatu topik matematika dalam tulisan, gambar maupun secara lisan. Yeager, A. dan Yeager, R. (2008) dalam Izzati dan Didi (2010: 725) menyatakan bahwa kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan untuk mengomunikasikan matematika baik secara lisan, visual, maupun dalm bentuk tertulis dengan menggunakan kosa kata matematika yang tepat dan berbagai representasi yang sesuai serta memperhatikan kaidah-kaidah matematika. Lebih lanjut dalam NCTM (2000) dalam Qohar (2011: 46) menyatakan bahwa kemampuan komuni- 15 kasi matematis adalah 1) menyusun dan mengkonsolidasikan berpikir matematis siswa melalui komunikasi; 2) mengomunikasikan pemikiran matematisnya secara koheren dan jelas dengan siswa lainnya atau dengan guru; 3) menganalisis dan mengevaluasi pemikiran matematis dan strategi – strategi lainnya; 4) menggunakan bahasa matematis untuk menyatakan ide - ide matematik dengan tepat. Kemudian Sumarmo (2008) dalam Suhedi (2012: 193) menyatakan bahwa kegiatan yang tergolong pada komunikasi matematis di antaranya adalah: (1) menyatakan suatu situasi, gambar, diagram, atau benda nyata ke dalam bahasa, simbol, ide, atau model matematik; (2) menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematis secara lisan atau tulisan; (3) mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika; (4) membaca dengan pemahaman suatu representasi matematis tertulis; (5) membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi; (6) mengungkapkan kembali suatu uraian atau paragrap matematika dalam bahasa sendiri. Jadi, kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan siswa untuk mengungkapkan pemikiran matematisnya dalam bentuk lisan, tulisan maupun gambar dengan bahasa yang baik dan tepat, serta dapat memahami representasi matematis dengan baik. Dalam penelitian ini, kemampuan komunikasi matematis yang akan diteliti adalah kemampuan komunikasi dalam bentuk tulisan meliputi kemampuan menggambar, menulis dan ekspresi matematis dengan indikator: a. Menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah menggunakan gambar dan secara aljabar b. Menjelaskan ide, solusi, dan relasi matematika secara tulisan c. Menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat. Kemampuan komunikasi matematis siswa dianggap memadai ketika mencapai rata-rata keseluruhan kemampuan matematis yaitu kriteria ketuntasan minimal (KKM), hal ini dikarenakan tidak ada rujukan mengenai ukuran baku kemampu- 16 an komunikasi matematis yang baik. KKM yang digunakan oleh SMPN 1 Pringsewu adalah 75, jadi kemampuan komunikasi matematis siswa dianggap baik atau memadai ketika mencapai nilai minimal 75. Berdasarkan pembahasan di atas, pembelajaran berbasis masalah dikatakan efektif meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa apabila memenuhi dua kriteria, yaitu: a. Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik (memiliki skor 75 dalam skala 100) mencapai lebih dari 70% dari jumlah siswa dalam kelas. b. Kemampuan komunikasi matematis siswa SMPN 1 Pringsewu kelas VIII semester genap tahun pelajaran 2014/2015 setelah pembelajaran lebih tinggi dibanding sebelum pembelajaran menggunakan PBM. B. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian yang sudah dilakukan berkaitan dengan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut: 1. ”Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Penalaran Matematis Siswa Madrasah Tsanawiyah melalui Pembelajaran Berbasis Masalah” oleh Ade Yedi R.H. (2011), dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa terapat peningkatan kemampuan komunikasi dan penalaran matematis setelah dilakukan pembelajaran menggunakan model PBM. 2. “Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Berpikir Kritis Matematis Siswa melalui Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Strategi Teams-Assisted Individualization” oleh Nurningsih Abdullah (2013). Pada penelitian ini 17 dapat disimpulkan bahwa PBM dengan strategi TAI dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan berpikir kritis matematis siswa. 3. “Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematis serta SelfConcept Siswa Mts Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah : Penelitian Kuasi Eksperimen pada Salah Satu Mts Negeri di Kabupaten Subang” oleh Neneng Arwinie (2014) dengan hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kemampuan penalaran dan komunikasi serta Self-Concept siswa setelah pembelajaran menggunakan PBM. Ketiga penelitian tersebut memiliki hasil yang sama yaitu menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. C. Kerangka Pikir Penelitian tentang penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa ini terdiri atas satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah model pembelajaran berbasis masalah, dan yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan komunikasi matematis siswa. Pada pembelajaran berbasis masalah, siswa dihadapkan ada masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata, siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah dimulai dari mengorientasi siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelom- 18 pok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Langkah yang pertama yaitu mengorientasi siswa pada masalah. Pada tahap ini, guru menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menjelaskan segala sesuatu yang diperlukan, dan memotivasi siswa untuk terlibat pada aktivitas pemecahan masalah. Hal ini perlu dilakukan agar siswa memiliki semangat dan keinginan kuat saat pembelajaran, dan mengetahui tujuan dari pembelajaran yang akan dilaksanakan. Langkah yang kedua yaitu mengorganisasi siswa untuk belajar, pada langkah ini guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang heterogen dengan tujuan semua kelompok memiliki kemampuan yang sama, bagi siswa yang kurang mampu dapat dibantu siswa yang pintar dalam kelompoknya, sehingga diharapkan akan terjadi komunikasi pada kegiatan diskusi. Langkah selanjutnya yaitu membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Pada tahap ini guru mengawasi kegiatan diskusi siswa dan memberikan bantuan kepada siswa baik secara perorangan maupun kelompok. Pada tahap ini akan terjadi pertukaran informasi antar siswa dalam kelompok saat mengerjakan permasalahan dalam lembar kerja yang diberikan. Pada tahap ini akan mendukung siswa mengembangkan kemampuan menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah menggunakan gambar dan secara aljabar, menjelaskan ide, solusi, dan relasi matematika secara tulisan, menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat. Sehingga kemampuan komunikasi matematisnya dapat berkembang. 19 Langkah yang keempat adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Setelah melakukan diskusi untuk mencari solusi dari permasalahan dalam lembar kerja, beberapa kelompok dalam kelas akan menyajikan hasil diskusinya, dalam kegiatan ini jelaslah diperlukan komunikasi agar informasi hasil diskusi tersampaikan dengan baik, kegiatan ini juga dapat menjadi tempat belajar siswa untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Kegiatan ini akan mendukung siswa mengembangkan kemampuan menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah menggunakan gambar dan secara aljabar, menjelaskan ide, solusi, dan relasi matematika secara tulisan, menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat. Sehingga kemampuan komunikasi matematisnya dapat berkembang. Langkah yang terakhir adalah menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru bersama-sama dengan siswa membahas hasil karya siswa, pada tahap ini terjadi komunikasi, seperti tanya jawab antara guru dengan siswa maupun antarsiswa sehingga diharapkan dapat mengembangkan kemampuan menjelaskan ide, solusi, dan relasi matematika secara tulisan, menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat. Jelaslah bahwa tahapan ini mendukung untuk melatih komunikasi matematis siswa sehingga mengalami peningkatan kualitas. D. Anggapan Dasar Penelitian ini mempunyai anggapan dasar bahwa faktor lain yang mempengaruhi peningkatan kemampuan komunikasi matematis selain model pembelajaran berbasis masalah dianggap memiliki pengaruh yang sama seperti pada saat sebelum pembelajaran berbasis masalah dilakukan. 20 E. Hipotesis Penelitian Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah model pembelajaran berbasis masalah efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII SMPN 1 Pringsewu. Sedangkan hipotesis khusus dalam penelitian ini adalah 1. Siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik mencapai lebih dari 70% dari jumlah siswa dalam kelas. 2. Kemampuan komunikasi matematis siswa setelah pembelajaran lebih tinggi dibanding sebelum pembelajaran menggunakan PBM. 21 III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 1 Pringsewu tahun pelajaran 2014/2015 semester genap yang terdiri atas enam kelas yaitu kelas VIII.1 sampai VIII.6. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive random sampling, dengan langkah sebagai berikut: 1. Memilih salah satu guru yang mengajar pada kelas VIII, dan terpilih Ibu Ferinita, S.Pd.. Berikut ini data guru yang mengajar di kelas VIII. Tabel 3.1 Data guru yang mengajar kelas VIII No 1 2 3 4 5 6 Kelas VIII.1 VIII.2 VIII.3 VIII.4 VIII.5 VIII.6 Nama Guru Ferinita, S.Pd. Sri Yuniawanti, S.Pd. Sri Wahyuni, S.Pd. Sri Wahyuni, S.Pd. Ferinita, S.Pd. Ferinita, S.Pd. 2. Menentukan secara acak satu kelas yang diajar oleh guru tersebut, dan terpilih sebagai sampel penelitian adalah kelas VIII.1 dengan jumlah siswa 33 orang. B. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang terdiri dari satu variabel bebas yaitu model pembelajaran berbasis masalah dan satu variabel terikat yaitu kemampuan komunikasi matematis siswa. Desain yang digunakan dalam 22 penelitian ini adalah One Group Pretest Posttest. Dalam desain ini dilakukan dua kali tes, yaitu tes kemampuan awal (pretest) sebelum perlakuan dan tes kemampuan akhir (posttest) setelah diberi perlakuan. Desain penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut dalam Sugiyono (2013: 111). Tabel 3.2 One Group Pretest Posttest Kelas Awal Eksperimen O1 Keterangan : O1 : tes kemampuan awal O2 : tes kemampuan akhir X : model pembelajaran berbasis masalah Perlakuan X Akhir O2 C. Langkah-langkah Penelitian Terdapat tiga tahap dalam penelitian ini, diantaranya tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis data. Penjelasan dari tahap-tahap di atas adalah sebagai berikut. 1. Tahap Persiapan Adapun langkah-langkah dalam tahap persiapan sebagai berikut : a. mengidentifikasi masalah yang diteliti; b. melakukan penelitian pendahuluan; c. menetapkan materi pelajaran; d. menyusun instrumen penelitian; e. melakukan validasi instrumen; f. melakukan uji coba tes yang telah dibuat pada kelas selain kelas eksperimen. 23 2. Tahap Pelaksanaan Adapun langkah-langkah dalam tahap pelaksanaan sebagai berikut : a. memberikan tes kemampuan awal (pre-test) komunikasi matematis; b. pelaksanaan model pembelajaran berbasis masalah pada kelas eksperimen; dan c. memberikan tes kemampuan akhir (post-test) kemampuan komunikasi matematis. 3. Tahap Analisis Data Adapun langkah-langkah dalam tahap analisis data sebagai berikut : a. mengumpulkan hasil data kuantitatif berupa tes kemampuan awal dan tes kemampuan akhir dari kelas eksperimen; b. mengolah dan menganalisis data yang diperoleh untuk menjawab rumusan masalah; dan c. membuat kesimpulan berdasarkan hipotesis yang telah dirumuskan. D. Data Penelitian Data dalam penelitian adalah data kemampuan komunikasi matematis yang berupa data kuantitatif . E. Teknik Pengumpulan Data Dalam prosedur pengumpulan data, digunakan teknik tes untuk memperoleh data kuantitatif. Tes yang dimaksud dalam adalah tes tertulis yang dilaksanakan dua kali, yaitu tes kemampuan awal yang dilakukan sebelum perlakuan diberikan dan tes kemampuan akhir yang dilakukan setelah perlakuan. 24 F. Instrumen Penelitian Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis tentang kemampuan komunikasi matematis siswa. Untuk mendapatkan data kemampuan komunikasi matematis yang akurat, maka tes yang digunakan haruslah tes yang baik. Ciri-ciri tes yang baik adalah memiliki validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran yang baik. 1. Validitas Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas isi melihat apakah isi tes mewakili keseluruhan materi atau bahan ajar, indikator kemampuan komunikasi matematis yang akan diukur dan sesuai dengan kemampuan bahasa yang dimiliki siswa sehingga dapat mengukur kemampuan komunikasi matematis siswa. Agar tes mewakili validitas isi yang baik maka dilakukan penyusunan instrumen tes dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. menentukan cangkupan materi yang akan diujikan; 2. menentukan bentuk tes, yaitu tes tertulis dengan soal berbentuk uraian berjumlah lima soal; 3. menentukan waktu pengerjaan soal, yaitu 80 menit; 4. menyusun kisi-kisi soal berdasarkan indikator yang akan diukur disesuaikan dengan waktu pengerjaan soal; 5. menyusun rubrik penyekoran. 25 Rubrik penyekoran kemampuan komunikasi matematis yang digunakan adalah rubrik penyekoran yang dikembangkan oleh Puspaningtyas (2012: 23) yaitu: Tabel 3.3 Rubrik Penyekoran Komunikasi Matematis (2) (1) Ekspresi (3) Matematika Menulis Menggambar Skor (Written Texts) (Mathematical (Drawing) Expression) Tidak ada jawaban, kalaupun ada hanya memperlihatkan tidak memahami konsep sehingga informasi yang diberikan tidak 0 memiliki arti Hanya sedikit dari Hanya sedikit dari Hanya sedikit dari penjelasan yang pendekatan gambar yang benar 1 benar matema-tika yang benar Penjelasan secara Membuat Membuat gambar matematis masuk pendekatan namun kurang akal namun hanya matematika dengan lengkap dan benar 2 sebagian yang benar, namun salah lengkap dan benar dalam mendapatkan solusi Penjelasan secara Membuat Membuat gambar, matematis tidak pendekatan secara lengkap dan tersusun secara logis matematika dengan benar atau terdapat sedikit benar, kemudian kesalahan bahasa melakukan 3 perhitungan atau mendapatkan solusi secara lengkap dan benar Penjelasan secara matematis masuk akal dan jelas serta 4 tersusun secara sistematis Skor maksi 4 3 3 mal 6. menulis butir soal sesuai dengan kisi-kisi; 7. penilaian validitas isi oleh guru mitra yang dipandang sebagai ahli. 26 Setelah dilakukan penilaian oleh guru mitra, diperoleh bahwa seluruh instrumen tes kemampuan awal dan kemampuan akhir komunikasi matematis siswa telah sesuai untuk digunakan sebagai instrumen ditinjau dari bahasa dan bahan ajar. Setelah dilakukan uji coba, langkah selanjutnya adalah menganalisis hasil uji coba untuk mengetahui reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal. 2. Reliabilitas Untuk menentukan apakah tes hasil belajar bentuk uraian yang disusun telah memiliki reliabilitas yang tinggi ataukah belum, pada umumnya digunakan sebuah rumus yang dikenal dengan nama Rumus Alpha. Adapun rumus alpha dimaksud adalah : = 1 1 keterangan: : reliabilitas yang dicari n : banyaknya butir soal : jumlah varians skor tiap-tiap item : varians total Harga r11 yang diperoleh diimplementasikan dengan kriteria dari Arikunto (2010: 75) seperti tertera dalam Tabel 3.2 berikut: Tabel 3.4 Interpretasi Nilai Koefisien Reliabilitas Koefisien reliabilitas (r11) 0,80 < r11≤ 1,00 0,60 < r11 ≤ 0,80 0,40 < r11≤ 0,60 0,20 < r11≤ 0,40 0,00 < r11≤ 0,20 Kriteria Sangat tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat rendah 27 Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan harus memilki kriteria relibilitas cukup hingga sangat tinggi. Hasil perhitungan terdapat pada Tabel 3.7 dan 3.8 (halaman 29). 3. Indeks kesukaran Indeks kesukaran dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus dari Suherman (2003: 17) sebagai berikut: = Keterangan : IK = indeks kesukaran X = skor rata-rata tiap butir soal SMI = skor maksimum ideal tiap butir soal Adapun klasifikasi indeks kesukaran berdasarkan Suherman (2003: 170) dapat dilihat pada Tabel 3.5. Tabel 3.5 Klasifikasi Indeks Kesukaran Indeks Kesukaran IK = 0,00 0,00 < IK ≤ 0,30 0,30 < IK ≤ 0,70 0,70 < IK ≤ 1,00 IK > 1,00 Interpretasi Soal terlalu sukar Soal sukar Soal sedang Soal mudah Soal terlalu mudah Pada penelitian ini, instrumen tes yang digunakan memiliki indeks kesukaran mudah sampai sukar. Hasil perhitungan indeks kesukaran terdapat pada Tabel 3.7 dan 3.8 (hala

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (55 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMPREDIKSI DAN PENGUASAAN KONSEP MATERI ASAM-BASA
0
7
1
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA MATERI ASAM-BASA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBERIKAN PENJELASAN SEDERHANA DAN PENJELASANLANJUT SISWA
0
3
64
PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS DAN SELF CONFIDENCE
5
38
58
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Tamansiswa Telukbetung Tahun Pelajaran 2013/2014)
1
8
45
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS DAN BELIEF SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Pringsewu T.P. 2013/2014)
0
5
66
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA
0
5
55
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA
6
31
56
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
0
0
11
INTERAKSI ANTARA MODEL PEMBELAJARAN DENGAN KEMAMPUAN AWAL MATEMATIK SISWA TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA
0
0
6
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DALAM MENYELESAIKAN MASALAH STATISTIKA
0
0
14
INOVASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MATEMATIS MAHASISWA PADA PENGAJARAN HIMPUNAN DAN LOGIKA Adi Suarman Situmorang
0
0
8
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN MODEL TREFFINGER
0
0
10
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MTs HIFZIL QUR’AN MEDAN TAHUN AJARAN 20172018
0
0
176
PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS-GAMESTOURNAMENTS
0
1
7
PENILAIAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP
0
0
9
Show more