Kajian morfologi dan kimia kayu akway (drymis sp) sebagai afrodisiak endemik Papua

Gratis

20
165
163
2 years ago
Preview
Full text
KAJIAN MORFOLOGI DAN KIMIA KAYU AKWAY (Drymis sp) SEBAGAI AFRODISIAK ENDEMIK PAPUA ELDA KRISTIANI PAISEY SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 SURAT PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam tesis yang berjudul : Kajian Morfologi dan Kimia Kayu Akway (Drymis sp) sebagai Afrodisiak Endemik Papua Merupakan hasil penelitian saya bersama tim pembimbing. Hak atas kepemilikan intelektual data dan hasil dari penelitian ini merupakan milik peneliti dari Institut Pertanian Bogor dengan mempertimbangkan kontribusi tim peneliti, publikasi, dan pemanfaatan data yang didapat. Tesis ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan dengan jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Bogor, Agustus 2008 Elda Kristiani Paisey NRP : A151060091 ABSTRACT ELDA KRISTIANI PAISEY. (Study of Morphology and Chemical Akway Wood (Drymis sp) as Papua Endemic Aphrodisiacs). Advised by HERDHATA AGUSTA, MUHAMMAD SYAKIR. Drymis plants are used as medicine in Arfak ethnic, Papua, to increase aphrodisiac. These plants grow in Arfak mountains. The local people use it continuously harvested from the forest without carrying out the cultivation of these plants which can endanger its existence. The objectives of this study were to describe morphological characteristics of Drymis species growing at different altitudes to analyze the chemical content and to provide scientific support to which growing different altitudes, to analyze the chemical content and support to local knowledge for the use of Drymis as aphrodisiac. This study used single compartment method which determine purposively to describe Drymis species growing at 1200 m, 1600 m, 2000 m, 2400 m above sea level and it also used GC-MS to analyze its chemical content. There were 3 species of Drimys found; Drymis winterii. Forst, Drymis piperita. Hook, and Drymis beccariana. Gibbs. There were morphological differences of the species ; on leaf size, tree height, amount of branches, stem diameter, appearance of crown, stem color, shoot color, outside of bark, direction of stem grow, trees architecture model, leaf formation, leaf shape and leaf apex There is differences in leaf apex between species at different elevation. Phenantren 9,10-dimety, although there are differences in chemical profile and content of the stigmaterol, sitosterol among the three species. It concentration at 1600 m above sea level is higher than at 1200 m above sea level. This study also showed that morphological characteristic and secondary metabolite compounds are influenced by the altitudes. RINGKASAN ELDA KRISTIANI PAISEY. Kajian Morfologi dan Kimia Kayu Akway (Drymis sp) sebagai Afrodisiak Endemik Papua. Dibimbing oleh HERDHATA AGUSTA dan MUHAMMAD SYAKIR. Drymis sp merupakan tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat suku Arfak di Papua. Tumbuhan ini hidup di kawasan hutan pegunungan Arfak dengan nama daerah yaitu Kayu Akway. M asyarakat menggunakan tumbuhan ini sebagai obat untuk meningkatkan vitalitas seksual pada kaum lelaki suku Arfak dan juga sebagai peningkat stamina untuk beraktivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan morfologi species Drymis sehingga dapat digunakan sebagai alat identifikasi diajukan sebagai varietas lokal Papua untuk pengembangan lebih lanjut; menganalisis kandungan kimia akway (Drymis sp.) yang dijumpai; memberikan dukungan ilmiah kepada masyarakat tentang penggunaan kayu akway sebagai afrodisiak dan peningkatan stamina. Lokasi penelitian dilakukan di Distrik Menyambouw pada ketinggian 1200 mdpl, 1600 mdpl, 2000 mdpl dan 2400 mdpl. Metode yang digunakan adalah petak tunggal berdasarkan fase pertumbuhan yang ditentukan secara purposive dibuat sebanyak 3 petak pada setiap ketinggian tempat sehingga di peroleh 12 petak percobaan dimana masing-masing petak diambil 3 sampel untuk masing-masing spesies yang ditemukan. Kemudian diukur 27 karakter morfologi yang terdiri atas 23 variabel ordinal dan 4 variabel pengukuran. Analisis komponen kimia dilakukan pada setiap spesies yang ditemukan yang dibagi atas analisis bagian akar, batang, kulit batang dan akar dari masing-masing spesies yang tumbuh pada ketinggian 1200 mdpl dan 1600 mdpl dengan menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan penelitian diperoleh tiga jenis tanaman kayu akway (Drymis sp) diantaranya tanaman kayu akway putih (Drymis winterii. Forst), kayu akway merah besar (Drymis piperita. Hook) dan kayu akway merah kecil (Drymis beccariana. Gibbs). Perbedaan morfologi diantara ketiga spesies tersebut adalah tinggi pohon, jumlah cabang, diameter batang, penampilan tajuk, warna batang dan warna pucuk. Adapula perbedaan morfologi ujung daun pada setiap ketinggian. Sedangkan perbedaan morfologi pada species yang berbeda ditunjukkan pada pepagan bagian luar, arah tumbuh cabang, model arsitektur pohon, warna pucuk, warna daun, susunan daun, bentuk helaian daun dan tepi daun. Hasil analisis kimia kandungan kayu akway memberikan dukungan ilmiah kepada pengetahuan tradisonal masyarakat suku Arfak yaitu terdapat senyawasenyawa untuk meningkatkan hormon pria seperti stigmasterol, γ-sitostreol, Phenanthrene, 9,10-dimethyl dengan kosentrasi yang lebih tinggi pada elevasi 1600 mdpl dibandingkan 1200 mdpl. Kayu akway merah besar memiliki jumlah komponen kimia peningkat stamina dan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya. Hak Cipta Milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2008 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB KAJIAN MORFOLOGI DAN KIMIA KAYU AKWAY (Drymissp) SEBAGAI AFRODISIAK ENDEMIK PAPUA ELDA KRISTIANI PAISEY Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Agronomi SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 Judul Tesis : Kajian Morfologi dan Kimia Kayu Akway (Drymis sp) Sebagai Afrodisiak Endemik Papua Nama Mahasiswa : Elda Kristiani Paisey Nomor Pokok : A151060091 Program Studi : Agronomi Diketahui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Herdhata Agusta Ketua Dr. Ir. M. Syakir, MS Anggota Diketahui Ketua Program Studi Agronomi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Ujian : 6 Agustus 2008 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala anugrah dan karuniaNya kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan studi S2 di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (SPs IPB). Tesis yang berjudul, “Kajian Morfologi Dan Kimia Kayu Akway (Drymis Sp) Sebagai Afrodisiak Endemik Papua”, merupakan tugas akhir studi magister di SPs IPB. Dalam pelaksanaan penelitian penulis banyak mendapatkan bantuan baik perorangan maupun lembaga atau instansi tertentu. Oleh karena itu penulis mengucapkan Terimakasih kepada : 1. Departemen Pertanian dan Institut Pertanian Bogor atas kerjasamanya dalam program KKP3T sehingga penulis memperoleh dana penelitian. 2. Balai Tanaman Obat dan Aromatik khususnya kepada ibu Dr. Nurliani Bermawi, Pak Ma’mun, Ibu Novi atas bantuan yang diberikan kepada penulis selama penelitian. 3. Universitas Negeri Papua yang telah memberikan pinjaman peralatan lapangan. 4. Bupati Kabupaten Manokwari, Kepala Distrik Menyambouw, Kepala Desa Menyambouw serta masyarakat desa Indabri dan sekitarnya yang telah memberikan ijin dan membantu dalam pelaksanaan penelitian. 5. Semua rekan-rekan SPs IPB PS Agronomi 2006 dan rekan-rekan SPs IPB asal Unipa yang telah membantu dan memberikan semangat. Ucapan terimakasih dan penghargaan secara khusus kepada Komisi Pembimbing Dr. Herdhata Agusta dan Dr. M. Syakir atas bimbingan dan arahan akademis yang diberikan selama penelitian dan penulisan tesis. Terimakasih dan Penghargaan juga penulis sampaikan kepada Mama Tercinta atas doa, semangat dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis dan juga kepada Bapak (almarhum). Penulis juga berterimakasih kepada semua Keluarga Paisey (k’feny sekeluarga, k’foris&k’igi, k’li sekeluarga, bunda&bang jek, ninik, marice) atas bantuan materil, tenaga dan doanya hingga terselesainya studi S2 kami. Penulis juga sangat berterimakasih kepada k’syarif atas dukungan, tenaga, pikiran yang diberikan dari awal sampai selesainya penelitian ini. Penulis tidak dapat membalas semua curahan bantuan materil, tenaga, pikiran dan semangat tetapi hanya doa yang penulis panjatkan semoga Tuhan membalas semua kebaikan yang diberikan kepada penulis. Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Terimakasih. Bogor, Agustus 2008 Elda Kristiani Paisey DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.................................................................................................xi DAFTAR GAMBAR...........................................................................................xiv DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xvi PENDAHULUAN .....................................................................................................1 Latar Belakang ..................................................................................................1 Tujuan Penelitian ..............................................................................................3 Hipotesis............................................................................................................3 Ruang Lingkup ..................................................................................................3 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi Kandungan Drymis SP ...................................................................6 Gambaran Umum Kabupaten Manokwari ........................................................7 Iklim ..................................................................................................................8 Ekologi Pegunungan Arfak ...............................................................................9 Sosial Ekonomi Suku Arfak ..............................................................................11 Morfologi Tumbuhan ........................................................................................11 METODE PENELITIAN Karakterisasi Morfologi Tempat dan Waktu............................................................................................27 Bahan dan Alat .................................................................................................27 Metode Penelitian .............................................................................................27 Pengamatan .......................................................................................................29 Analisis kimia akwai dari bebarapa agroekologi Tempat dan Waktu............................................................................................31 Bahan dan Alat .................................................................................................31 Metode Penelitian .............................................................................................31 Analisis Data ....................................................................................................34 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Morfologi Drymis sp ..................................................................35 Keadaan umum daerah Menyambouw.........................................................35 Karakteristik morfologi Kayu akway...........................................................36 Sifat Kimia Tanah dan Iklim tempat tumbuh Kayu akway .........................45 Asosiasi Kayu akway dan tumbuhan lain ....................................................47 Penyebaran Kayu akway ..................................................................................47 Analisis Fitokimia Drymis sp ...........................................................................54 Fitokimia D. winterii Forst pada 1200 mdpl ................................................57 Fitokimia D. piperita Hook pada 1200 mdpl ...............................................61 Fitokimia D. beccariana Gibbs pada 1200 mdpl .........................................65 Fitokimia D. winterii Forst pada 1600 mdpl ................................................69 Fitokimia D. piperita Hook pada 1600 mdpl ...............................................74 Fitokimia D. beccariana Gibbs pada 1600 mdpl .........................................81 Perbandingan kandungan senyawa kimia bagian kulit batang, batang, daun dan akar pada ketiga spesies yang tumbuh di ketinggian 1600 mdpl................................................................................ ............................86 Pengaruh unsur hara tanah pada elevasi 1200 mdpl dan 1600 mdpl terhadap kandungan kimia kayu akway (Drymis sp) ..................................94 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ..................................................................................................100 Saran ............................................................................................................101 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................102 LAMPIRAN ...............................................................................................................106 DAFTAR TABEL 1. Sifat morfologi Drymis sp dan ketegori pengukuran ...........................................29 2. Rata-rata tinggi pohon, jumlah cabang, ukuran daun, diameter batang pada Drymis sp .............................................................................................................40 3. Rata-rata tinggi pohon, jumlah cabang, ukuran daun, diameter batang pada ketinggian berbeda ...............................................................................................40 4. Nilai Rata-rata tinggi pohon masing-masing kayu akway ..................................41 5. Nilai Rata-Rata Jumlah Cabang masing-masing kayu akway .............................41 6. Nilai Rata-Rata Diameter Batang masing-masing kayu akway ...........................42 7. Nilai Rata-Rata Ukuran Daun masing-masing kayu akway ................................42 8. Rata-rata pepagan luar, arah tumbuh cabang, model arsitektur dan warna pucuk pada tiga species Drymis ...........................................................................43 9. Rata-rata warna daun, susunan daun, bentuk helaian dauan dan tepi daun pada tiga species Drimys sp .................................................................................44 10. Species Dominan yang ditemukan tumbuh bersama dengan Drimys sp..............47 11. Penyebaran Populasi spesies Drymis winterii Forst pada beberapa ketinggian ..48 12. Penyebaran Populasi spesies Drymis piperita.Hook pada beberapa ketinggian ..50 13. Penyebaran Populasi spesies Drymis beccariana Gibss pada beberapa ketinggian .............................................................................................................52 14. Rata-rata jumlah pohon akway (Drymis sp) perelevasi pada luasan 6.348m2 ....54 15. Hasil Analisis Mutu Tanaman Drymis sp pada 1200 mdpl..................................54 16. Hasil Uji Fitokimia Drymis sp .............................................................................56 17. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. Winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................57 18. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. Winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................58 19. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................60 20. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................61 21. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................62 22. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................64 23. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl .................................................................................65 24. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 mdpl ..................................................................................67 25. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 mdpl ..................................................................................68 26. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D.winterii yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................69 27. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................71 28. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................72 29. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................73 30. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................75 31. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................77 32. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ...................................................................78 33. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................80 34. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl .................................................................................81 35. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................83 36. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ...................................................................84 37. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl .................................................................................84 38. Perbandingan senyawa kimia yang dimiliki pada bagian kulit batang ketiga species 86 39. Perbandingan senyawa kimia yang dimiliki pada bagian batang species Drymis sp .............................................................................................................88 40. Perbandingan senyawa kimia yang dimiliki pada bagian daun ketiga species ....90 41. Perbandingan senyawa kimia yang dimiliki pada bagian akar ketiga species .....92 42. Rata-rata sifat kimia tanah pada elevasi 1200 m dpl dan 1600 m dpl..................94 DAFTAR GAMBAR 1. Bagian Daun D.winterii. Forst, D. beccariana. Gibbs, D.piperita Hook ..............45 2. Bagian Batang D. winterii. Forst, D. piperita. Hook, D. beccariana. Gibbs.........45 3. Bagian Akar D. winterii, Forst, D. beccariana. Gibbs., D. piperita Hook ............45 4. Hasil Pengujian kadar air dan rendemen bahan pada akar, batang, kulit dan daun Drymis winterii. Forst .................................................................................55 5. Hasil Pengujian kadar air dan rendemen bahan pada akar, batang, kulit dan daun Drimys piperita. Hook.................................................................................55 6. Hasil Pengujian kadar air dan rendemen bahan pada akar, batang, kulit dan daun Drimys beccariana. Gibbs...........................................................................56 7. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. Winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................58 8. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. Winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................59 9. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................60 10. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl..........................................................................................62 11. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................63 12. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................65 13. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................66 14. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................67 15. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1200 m dpl. ................................................................................69 16. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D.winterii yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................70 17. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................71 18. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................73 19. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D.winterii Forst yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................74 20. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................76 21. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. Piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................77 22. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl ....................................................................79 23. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. piperita Hook yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl..........................................................................................80 24. Jenis dan komposisi senyawa kimia akar D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................82 25. Jenis dan komposisi senyawa kimia batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................83 26. Jenis dan komposisi senyawa kimia kulit batang D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ...................................................................84 27. Jenis dan komposisi senyawa kimia daun D. beccariana Gibbs yang tumbuh pada ketinggian 1600 m dpl. ................................................................................85 28. Kandungan senyawa kimia tertinggi pada bagian kulit batang pada Drymis sp ..88 29. Kandungan senyawa kimia tertinggi pada bagian batang pada Drymis sp. .........90 30. Kandungan senyawa kimia tertinggi pada bagian daun Drymis sp.....................92 31. Kandungan senyawa kimia tertinggi pada bagian akar Drymis sp. ....................94 32. Perbandingan senyawa atsiri, seskuiterpen dan asam lemak pada Drymis winterii.Forst di 1200 mdpl dan 1600 mdpl .........................................................95 33. Perbandingan senyawa atsiri, seskuiterpen dan asam lemak pada Drymis piperita.Hook di 1200 mdpl dan 1600 mdpl ........................................................97 34. Perbandingan senyawa atsiri, seskuiterpen dan asam lemak pada Drymis beccariana.Gibbs di 1200 mdpl dan 1600 mdpl ..................................................98 DAFTAR LAMPIRAN 1. Uji Ragam Bartllet’s Karakter Morfologi D. winterii Wine Pada 4 Lokasi Pengamatan dan skor Pengukurannya. .........................................106 2. Analisis covarian (ANOVA) pada sifat morfologi kuantitatif .............................107 3. Kruskal-Wallis Test pada sifat morfologi kualitatif ................................................109 4. Hasil analisis tanah dibeberapa titik......................................................................125 5. Kondisi Iklim Pada Lokasi Penelitian ...................................................................126 6. Rangkuman senyawa dengan kandungan (di atas 5 %) tertinggi dari ketiga jenis akway ............................................................................129 7. Peta Lokasi Penelitian Distrik Menyambouw dan Penyebaran Drymis sp ............134 8. Karakter Morpologi yang bersifat kualitatif ..........................................................135 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Manokwari pada tanggal 22 Desember 1979 dari ayah Yohanes Paisey dan ibu Suniati. Penulis merupakan putri kelima dari enam bersaudara. Tahun 1998 penulis lulus SMA Negeri I Manokwari dan pada tahun yang sama penulis lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri di Universitas Negeri Cenderawasih (UNCEN) yang saat ini telah menjadi Universitas Negeri Papua (UNIPA). Penulis memilih program studi agronomi pada Fakultas Pertanian dan teknologi Pertanian. Penulis menyelesaikan program Strata satu pada tahun 2003 dan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada tahun 2004 di Universitas Negeri Papua. Penulis diberi kesempatan Oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI) untuk melanjutkan program Strata dua di Institut Pertanian Bogor tahun 2006. 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tumbuh-tumbuhan di Indonesia yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, salah satunya adalah sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Di Indonesia telah diketahui terdapat 1.000 jenis dari 30.000 jenis yang bisa dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat (Badan POM, 2004). Secara lengkap PT Eisei (1995) mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 2.500 tumbuhan yang berpotensi sebagai obat, dan 1.845 yang telah diidentifikasikan memiliki potensi medis. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia biasanya hanya berdasarkan pada pengalaman dan pengetahuan tradisional yang diturunkan oleh nenek moyang. Salah satu pemanfaatan tumbuhan obat adalah sebagai obat kuat oleh masyarakat Papua khususnya suku Arfak. Tumbuhan obat yang digunakan untuk meningkatkan vitalitas seksual pada kaum pria suku Arfak adalah kayu akway (Drymis sp). Bermawie et al. (2006, tidak dipublikasi) menduga terdapat dua jenis Drymis yang digunakan sebagai obat yaitu Drymis piperita. Hook dan Drymis beccarina. Gibbs. Tumbuhan Drymis sp. yang dimanfaatkan oleh masyarakat di kawasan pegunungan Arfak tahun 2007 diperkirakan setiap bulannya mencapai ± 640 pohon pada satu desa. Tumbuhan ini digunakan untuk konsumsi keluarga dan juga dikomersilkan ke pasar lokal. Drymis yang tumbuh di daerah Arfak diperkirakan 11,5 juta pohon dengan rata-rata populasi 180 pohon/ha pada satu desa. Kerapatan pertumbuhan di alam yang minim menyebabkan tumbuhan ini telah jarang ditemui pada saat sekarang. 2 Tumbuhan Drymis terdapat pada pegunungan Arfak yang merupakan Cagar Alam (CA) terletak di daerah kepala burung Pulau Papua, 25 km dari Manokwari kearah Tenggara. Cagar Alam ini luasnya 63.750 ha dan berada di ketinggian 15 m hingga ketinggian 2.940 m di atas permukaan laut (dpl). Pegunungan Arfak memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dan tak ternilai. Meskipun sebagian besar dari kawasan ini berupa pegunungan namun wilayah ini memiliki koridor ke daerah dataran rendah, sehingga membentuk unit ekologi yang lengkap (Craven dan de Fretes, 1987). D’Albertis dan Beccari pada tahun 1872-1873 telah melakukan identifikasi terhadap tumbuhan yang tumbuh pada daerah ini termasuk Drymis sp., dua jenis Drymis yang ditemukan hanya arfakinensis dan beccariana Gibbs (Gibbs, 1916). Tumbuhan Obat yang mempunyai bahan aktif yang bersifat afrodisiak akan berfungsi untuk meningkatkan hormon testosteron (Poedjaidi, 1994). Pada umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai afrodisiak mengandung senyawa-senyawa turunan sterol, saponin, alkaloid, tanian dan senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh dan memperlancar peredaran darah. Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya cincin siklopentana perihidrofenantrena yang tidak hanya terdapat pada hewan tetapi juga pada tumbuhan tingkat tinggi. Senyawa ini terdiri dari stigmasterol, -sitosterol dan kampesterol yang sangat berperan dalam peningkatan hormon pria yaitu testosteron (Harborne, 2006). Pada batang kayu akway (Drymis sp) ditemukan senyawa-senyawa golongan fenantren sehingga pemanfaatan Drymis sp sebagai tanaman obat oleh masyarakat suku Arfak dapat dibuktikan secara empiris, (Bermawie et al. 2006, tidak dipublikasi) 3 Pemanfaatan secara terus-menerus tanpa adanya usaha budidaya untuk melestarikan dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati Papua khususnya pegunungan Arfak. Oleh karena itu perlu adanya usaha konservasi untuk mengurangi kepunahan species Drymis. Adapun usaha tersebut adalah mengeksplorasi Drymis sp dengan mendeskripsikan morfologi, menganilisis kandungan kimia, mengkaji aspek agronomi merupakan cara awal yang dapat ditempuh untuk membudidayakan Drymis sp agar tetap lestari. Tujuan Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk (1) mendeskripsikan morfologi sehingga dapat digunakan sebagai alat identifikasi species Drymis untuk pengembangan lebih lanjut; (2) menganalisis kandungan kimia akway (Drymis sp.) yang dijumpai; (3) memberikan informasi ilmiah mengenai kandungan kimia untuk mendukung penggunaan kayu akway sebagai afrodisiak dan peningkatan stamina. Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah : (1) terdapat perbedaan morfologi sehingga dapat digunakan untuk identifikasi (2) terdapat perbedaan morfologi pada tumbuhan akway (Drimys sp) yang tumbuh berbeda pada kondisi lingkungan yang berbeda (3) perbedaan kandungan senyawa kimia sebagai afrodisiak pada ketiga species Drimys pada ketinggian 1200 mdpl dan 1600 mdpl; (4) terdapat perbedaan kosentrasi senyawa afrodisiak pada bagian daun, batang, kulit batang dan akar dari tiga jenis Drimys di ketinggian 1200 mdpl dan 1600 mdpl. Ruang Lingkup dan Kerangka pemikiran. Penelitian ini meliputi beberapa kegiatan dan tahapan yang saling terkait untuk mencapai tujuan yang diharapkan, Karakterisasi sifat morfologi tanaman 4 kayu akway dan analisa parameter ekologi dalam kaitannya dengan mutu (komposisi kimia) penyimpanan metabolit sekuder. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan yaitu Karakterisasi sifat morfologi dari kayu akway yang ditemukan dan karakterisasi komponen kimia kayu akway yang berasal dari dua tipe atau zona agroekologi dataran tinggi. Selain itu sebagai pendukung dilakukan analisis terhadap sifat fisik dan kimia tanah dari lokasi penelitian yang merupakan tempat tumbuh dari kayu akway tersebut. Hal ini dilakukan karena penyebaran Drymis sp. cukup luas di dataran tinggi. 5 Kerangka pemikiran : DRYMIS SP MER UPAKAN SALAH SATU KEANAKARAGAMAN HAYATI TANPA BUDIDAYA PEMANFAATAN SECARA LANGSUNG SEBAGAI AFRODISIAK KURANGNYA PLASMA NUTFAH USAHA PEMECAHAN DILAKUKAN BUDIDAYA PELESTARIAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KAJIAN AGRONOMI KAJIAN MORFOLOGI 6 TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Kandungan Drymis SP Tumbuhan ini berasal dari family Magnoleacea (Winteraceae). Tumbuhan ini tergolong dalam tumbuhan aromatik. Beberapa spesies yang berada di Papua adalah : Drimys arfakensis Gibbs, Drimys beccariana Gibbs. Drimys brassii A.C. Sm., Drimys bullata, Drimys calothyrsa Diels, Drimys coriacea Pulle, Drimys crassifolia Baill, Drimys cyclopum Diels Drimys densifolia Ridl, Drimys dictyophlebia Diels, (plantencyclo, 2007). Berdasarkan hasil analisis kimia yang dilakukan oleh Bermawie et al. (2006), pada batang kayu akway (Drymis sp) ditemukan 12 senyawa dengan kosentrasi dari 0,57-16,72 %, dengan senyawa tertinggi yang ditemukan adalah 7,11-Epoksi isogomakron sebanyak 16,72%; 9,10-Dimetil penatren: 8,12%; 2,5Dimetil-3-etilfuran : 7,36% ; 7,8-Isopropiliden dioksi bisiklo (4,2) : 3,43% dan 5Sedranon sekitar 1,87%. Pemanfaatan tumbuhan ini adalah sebagai obat kuat pada kaum lelaki suku Arfak. Pemakaiannya secara langsung dari batang yang telah mengering, kemudian dikikis bagian kulit dan diseduh menggunakan air panas (tradisional knowledge). Metabolit sekunder merupakan senyawa yang disintesis tanaman yang digolongkan menjadi lima yaitu glikosida, fenol, flavonoid, dan alkaloid. Senyawa-senyawa tersebut bermanfaat bagi tanaman itu sendiri maupun bagi serangga, hewan dan manusia. Fungsi senyawa metabolit sekunder sangat penting antara lain : 7 1. Sistem pertahanan terhadap virus, bakteri dan jamur 2. Sistem pertahanan terhadap serangga 3. Sistem pertahanan terhadap tanaman lain melalui allelopati 4. Atraktan serangga untuk membantu polinasi 5. Sistem pertahanan terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya kekeringan, adanya logam berat dan keadaan yang terlalu panas atau terlalu dingin. 6. Sebagai obat, food additive, flavor, pewarna dan pestisida nabati (Vickery dan Vickery, 1981). Gambaran Umum Kabupaten Manokwari Kabupaten Manokwari terdiri dari 12 Kecamatan dan 132 Desa. Kabupaten Manokwari sering juga disebut kota buah-buahan karena disini tanahnya sangat subur untuk berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Penduduk Asli Kabupaten Manokwari terdiri dari beberapa suku seperti suku Sough, suku Karon, suku Hatam, suku Meyeh dan suku Wamesa, suku-suku ini mempunyai budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Luas wilayah Kabupaten Manokwari 37.901 km2 terletak di bagian kepala burung Pulau Papua. secara geografis Kabupaten ini terletak antara 0015 Lintang Utara dan 3025 Lintang Selatan dan terbentang dari 132035 sampai 134045 Bujur Timur. Batas-batas Kabupaten Manokwari adalah sebagai berikut: - Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Nabire dan Kabupaten Paniai. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Biak Numfor dan 8 - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sorong. Topografi Kabupaten Manokwari pada umumnya adalah daerah berbukit dan dataran tinggi, atau sekitar 80% dari luas wilayahnya terdapat di bagian tengah yakni Kecamatan Kebar, Anggi dan Merdey dan selebihnya 20% merupakan dataran rendah yang terdapat di bagian Selatan yakni di Kecamatan Bintuni dan Babo. Puncak-puncak gunung yang terdapat di kabupaten ini adalah: Gunung Umsini 2950 m, Gunung Borai 2340 m, Gunung Wondi 2390 m, dan gunung-gunung lain yang tingginya hampir sama. Jenis flora di Kabupaten Manokwari sama dengan jenis flora di Australia seperti Arancavis, Darydrum, Lybfocedrus, Tristanea, dan lain-lain. Bagian terbesar dari kawasan ini tertutup oleh hutan hujan tropis. Jenis Pohon yang terdapat di Kabupaten Manokwari adalah pohon Matoa, Aghtis, Rhizopora, Instsia Bugeira dan lain-lain. Dari 819 species anggrek yang tumbuh di Papua, banyak terdapat di daerah Manokwari seperti jenis Debrobium Speclabile JJS. Tumbuhan yang menjadi makanan sehari-hari termasuk pisang, buah keluwih/sukun, pohon kelapa, sagu, pepaya, nanas dan kentang. Iklim Kabupaten Manokwari tergolong daerah beriklim basah, curah hujan cukup tinggi, rata-rata 2688 mm pertahun, hutan rata-rata 123 hari pertahun. Suhu antara 260C sampai 320C dan kelembaban rata-rata 84,7% dan intensitas panas matahari 54,3%. 9 Ekologi Pegunungan Arfak Lokasi pegunungan Arfak secara geografis terletak pada Timur Laut semenanjung kepala burung, dengan Distrik Manokwari, kurang lebih 25 km Barat Daya kota Manokwari. Sebelah Barat Gunung Arfak dibatasi oleh Sungai Ransiki, dan sebalah Barat Laut dibatasi oleh Sungai Prafi, sebelum meluas bagian Tenggara kaki gunung dan dataran rendahnya mengarah ke pesisir pantai. Dapat dilalui dengan kendaraan dari Manokwari dan Ransiki, sedangkan melalui udara menuju ke sebalah Barat , pada 1°00'-1°29'S, 133°53'-134°15'E. Iklim wilayahnya adalah tropical basah dengan kelembaban relatif antara 85% sampai 90% pada level pantai dan akan turun menjadi 75% sampai 85% pada ketinggian 2.050 m. Rata-rata temperatur maksimum pada level pantai adalah 31oC dan rata-rata minimum adalah 24oC. Rata-rata temperatur maksimum dan minimum adalah 22.5oC dan 16oC berturut-turut pada 2.050 m. Variasi geografi memberikan efek perbedaan curah hujan, telah dicatat bahwa curah hujan di Ransiki adalah 1404 mm dan di Manokwari adalah 3038 mm. Pada periode kering dari Juli sampai Oktober dan periode basah dari bulan Januari sampai Mey. (Craven and de Fretes, 1987). Vegetasi dominan pada 1500 m adalah pohon dengan spesies Lithocarpus spp. dan Lauraceae spp., sedangkan Nothofagus spp. berada diantara 1,500 m dan 2,800 m. Diatas ketinggian 2,000 m adalah gingers Zingiberaceae, ferns and epiphytes seperti Selaginellaceae and Thelypteridaceae.Other epiphytes termasuk orchids Dendrobium spp. dan pandan panjat Pandanus spp. Bagian timur (antara 300 m and 1.000 m) sebagai kaki gunung tercatat Genera pohon predominan diantaranya Ficus, Alstonia, Canarium, Syzygium, Araucaria, Terminalia, dan 10 Myristica. Pohon yang bernilai ekonomi diantaranya Pometia spp., Palaquium spp. and Intsia spp. Selain itu didominasi pula oleh gingers, palms dan pakis Cyathea spp. Sebagian kecil dataran rendah hutan hujan teropis ini juga terdapat berbagai tipe spesies. Genera pohon yang dominan diantaranya Mallotus, Aglaia, Albizia, dan Ficus. Pandanus adalah sumber yang sangat penting karena merupakan bahan makanan dan bahan bangunan, sedangkan Pometia spp., Intsia spp.dan Palaquium spp. telah dieksploitasi guna komersil. Aristolochia spp., sebagai tumbuhan makanan kupu-kupu dan burung, tumbuhan berkantong Nepenthes spp dan beberapa Piper spp. Epiphytes termasuk Antrophyum reticulum dan Asplenium nidus. Termasuk pakis atau paku-pakuan Stenosemia aurita, pohon pakis Cyathea spp dan bunga-bunga Amorphophallus paeoniifolius (Craven and de Fretes, 1987). Keragaman aneka tanaman Papua termasuk salah satu yang terbesar di dunia dengan sekitar 2700 spesies anggrek. Selain dari pada itu, Papua juga kaya akan pohon pakis, lianas dan berbagai tumbuhan obat-obatan. Pegunungan Arfak memiliki keanekaragaman yang tinggi dan tak ternilai. Meskipun sebagian besar dari kawasan ini berupa pegunungan, wilayah ini memiliki koridor ke daerah dataran rendah, sehingga membentuk unit ekologi yang lengkap. Eksplorasi secara intensif oleh d’Albertis dan Beccari pada tahun 1872-1873 (Gibbs, 1916) menemukan sedikitnya 320 jenis burung, 350 jenis kupu-kupu dan 110 jenis mamalia. Vegetasi di kawasan ini diantaranya matoa (Pometia spp), nyatoh, rotan, dll. Pegunungan Arfak dikenal pula sebagai pusat keanekaragaman hayati untuk kupu-kupu sayap burung (Ornithoptera spp.), yang memiliki sayap yang besar dan indah. Selain itu, terdapat pula jenis endemik 11 seperti burung pintar (Amblyornis innornatus), kanguru pohon, landak papua dan lain-lain. Sosial ekonomi Suku Arfak Di Pegunungan Arfak hidup empat suku asli , yaitu Hatam, Moule, Sough, dan Meyakh, yang mendiami 25 desa dengan total populasi 12 ribu jiwa. Ekonomi masyarakat Arfak umumnya masih subsisten. Kebutuhan pangan dipenuhi dari berladang, berburu dan mengambil hasil hutan. Secara adat masyarakat diperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu, kulit kayu, dan daun pandan untuk membangun rumah serta kayu bakar. Masyarakat Arfak secara adat telah memiliki konsep pengelolaan kawasan, yang disebut Igya Ser Hanjop (padanan kata konservasi dalam bahasa Hatam), serta zonasi. Ada zona Bahamti (daerah konservasi), Nimahanti (daerah wisata terbatas/daerah penyangga), dan Susti (daerah pemanfaatan). Konsep Igya Ser Hanjop inilah yang dicoba diangkat kembali, sebagai dasar pengelolaan keanekaragaman hayati yang bertumpu pada masyarakat di Arfak. Morfologi Tumbuhan Perbedaan pohon di hutan Indonesia dapat dibedakan berdasarkan perbedaan morfologi yang terdiri atas morfologi batang, tajuk dan dahan, daun, akar, bunga, buah dan biji. Deskriptor untuk membuat deskripsi tanaman pohon berdasarkan PROSEA, 1998. A. MORFOLOGI BATANG A. Pohon 1.1. Penampilan umum : 1. Batang silindris 12 2. Batang berlekuk atau berbaling 3. Batang berbuncak 1.2 Penampilan pangkal batang 1. Batang mulus 2. Batang berbanir 1.3 Penampilan pepagan luar 1. Berdamar, 2. Licin 3. Berlekah 4. Bersisik 5. Lepas berkotak 6. Berpuru 7. bergelang dan berbaris melintang 8. Berduri 9. Mengelupas 10. Retak-retak 1.2. Morfologi bagian dalam. Secara umum variasi sifat morfologi bagian dalam batang pohon sebagai berikut : 1. Pepagan bergetah, meliputi : a. Pepagan bergetah putih b. Pepagan bergetah kuning c. Pepagan bergetah merah d. Pepagan bergetah hitam 13 2. Pepagan tanpa getah. a. Pepagan berlapis b. Pepagan berserat c. Pepagan mamasir d. Pepagan bermiang e. Pepagan bercorak daging 3. Bau Pepagan terdiri atas : a. Bau harum b. Bau resin dan aromatik c. Bau kamper d. Bau bawang e. Bau kacang f. Bau asam jawa g. Bau kepinding 4. Arah tumbuh batang a. Tegak lurus b. Menggantung c. Berbaring d. Menjalar e. Serong ke atas f. Mengangguk g. Memanjat h. Membelit ke kanan atau ke kiri 14 B. MORFOLOGI TAJUK DAN DAHAN 1. Penampilan tajuk secara umum Tajuk pohon dewasa yang umumnya dijumpai di hutan Indonesia antara lain : a. Tajuk bertingkat atau berbentuk pagoda b. Tajuk bentuk kubah c. Tajuk bulat d. Tajuk bentuk payung e. Tajuk bulat silinder f. Tajuk bentuk kerucut g. Tajuk bentuk kubus 2. Pola percabangan a. Perkembangan batang pokok - Perkembangan simpodial, yaitu perkembangan batang pokok (utama) yang terbagi dua atau lebih. Selanjutnya disebut batang simpodial. - perkembangan monopodial, yaitu perkembangan batang pokok yang tidak terbagi. Selanjutnya disebut batang monopodial b. perkembangan cabang - Latak cabang pada batang pokok dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu 1. Percabangan ritmik, yaitu apabila beberapa cabang tumbuh pada ketinggian tertentu pada batang pokok secara berulang dengan jarak antara kelompok cabang yang satu dengan kelompok cabang berikutnya jelas terlihat. 15 2. Percabangan menerus, yaitu apabila satu cabang tumbuh pada ketinggian tertentu pada batang pokok, diikuti cabang-cabang lain, demikian seterusnya dan tidak jelas berulangnya. - Arah pertumbuhan cabang ada dua macam, yaitu : 1. cabang ortotropik, apabila arah pertumbuhannya menuju ke atas dan bagian kuncup ujung cabang ataupun ujung ranting tampak menghadap ke atas. 2. cabang palgiotropik, apabila arah pertumbuhannya menuju ke samping dan kuncup ujung menghadap ke samping atau terkulai ke bawah. - pembagian meristem cabang atau ranting 1. Cabang simpodial, apabila pertumbuhan terbagi pada setiap modul atau cabang tumbuh terminal kemudian cabang berikutnya tumbuh pada bagian bawah ujungnya. 2. cabang monopodial, apabila pertumbuhan cabang terus berlanjut pada satu cabang, tanpa meristem yang terbagi. c. Latak bunga atau pembungaan - Bunga di ujung batang, cabang atau ranting (bunga terminal) - Bunga di bagian samping batang, cabang atau ranting (bunga lateral) d. Deskripsi singkat model arsitektur 1. Model Koriba Batang simpodial dengan beberapa bagian batang tumbuh secara plagiotropik kecuali satu diantaranya tumbuh secara ototropik. Selanjutnya batang yang plagiotropik itu berubah fungsinya menjadi cabang dan berkembang lagi secara plagiotropik, sedangkan bagian yang 16 ototropik tmbuh menjadi batang ke dua yang selanjutnya terbagi lagi seperti kejadian sebelumnya. Pada batang pokok tampak letak kelompok cabang yang pertama bertentangan arah dengan kelompok cabang kedua dan seterusnya, sehingga pertumbuhan batang tampak zig-zag. Jadi cabang simpodial dan plagiotropik. 2. Model Sccarone Batang monopodial, percabangan ritmik. Cabang simpodial dan ototropik. 3. Model Rauh Batang monopodial, percabangan ritmik. Cabang monopodial dan ototropik 4. Model Attims Batang monopodial dengan cabang-cabang yang tidak ritmik (disebut cabang menerus) pada batang. Cabang monopodial dan ototropik. 5. Model Massart Batang monopodial dan ototropik, percabangan ritmik. Cabang monopodial dan plagiotropik. 6. Model Aubreville Batang monopodial dengan pertumbuhan tahap demi tahap bersamaan dengan pertumbuhan cabang-cabang yang ritmik. Cabang-cabangnya yang simpodial bersifat terminal terkenal dengan istilah percabangan terminallia. Model arsitektur ini dikenal dengan nama model pagoda. 17 7. Model Prevost Batang simpodial dan ototropik. Pada model ini terlihat adanya batang yang tumbuh proleptik dibagian bawah percabangan batang utama. Batang tersebut merupakan batang kedua dan seperti pada batang pertama, batang kedua inipun berhenti disusul oleh pertumbuhan cabang. 8. Model Roux Batang monopodial dan ototropik. Berbeda dengan model Massart, pada model Roux cabang-cabang pohon tidak ritmik, tetapi menerus pada batang. 9. Model Troll Batang tumbuh plagiotropik. Setelah itu pada bian batang yang melengkung tumbuh batang baru secara plagiotropik juga dan seterusnya tumbuh demikian. Cabang-cabang monopodial dan plagiotropik. C. MORFOLOGI DAUN 1. Komposisi daun, terdiri atas : a. Daun tunggal, yakni daun yang tangkainya hanya terdapat satu helai daun. b. Daun majemuk, yakni apabila pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helai daun. Daun majemuk yang biasa dijumpai banyak ragamnya, yaitu : 1. Daun majemuk menjari, yakni daun majemuk yang terdiri atas beberapa helai anak daun (leaflet) yang terkumpul pada ujung tangkai sehingga membentuk jari-jari. 2. Daun majemuk bersirip, yakni daun majemuk yang terdiri atas beberapa helai anak daun yang terletak sepanjang kiri-kanan tangkai daun. Daun majemuk bersirip ada dua macam, yaitu 18 bersirip ganjil jika pada ujung daun terdapat 1 atau 3 anak daun. Dan bersirip genap jika diakhiri dengan dua anak daun. 3. Daun majemuk bersirip ganda, yakni daun majemuk bersirip yang setiap siripnya terbagi lagi menjadi beberapa helai anak daun sehingga menjadi 2 kali bersirip. 2. Susunan daun, terdiri atas : a. Berhadapan, yaitu bila daun-daun pada posisi berhadapan secara berpasangan pada ranting. Pasangan yang satu dengan pasangan berikutnya dapat sebidang atau berlainan bidang. Kadang-kadang susunan daun berhadapan sebidang. b. Terpusar, yakni bila daun-daun mengelilingi ranting pada suatu lingkaran. c. Berselang, yakni bila daun-daun tersusun seacra berselang di kiri dan di kanan bagaian ranting dan jika dirapikan daun-daun tersebut tampak terletak pada satu bidang d. Tersebar, yakni bila daun-daun bersusun secara berselang, mengelilingi ranting yang secara teratur membentuk suatu spiral. 3. Kuncup daun dan stipula Secara garis besar terdapat dua macam kuncup daun yaitu kuncup telanjang dan kuncup terbungkus stipula. a. Kuncup telanjang, yakni kuncup bakal daun tanpa pembungkus. b. Kuncup berstipula, yakni kuncup bakal daun yang terbungkus stipula. Stipula adalah bagian yang menutup dan membungkus kuncup daun, yang disebut pula menumpu. Pada pepohonan dijumpai beberapa macam bentuk stipula yaitu : 19 1. Stipula bentuk tudung, yang tampak runcing pada ujung ranting. Bagian pangkal leher membungkus seluruh bagian kuncup. Sesungguhnya tudung tersebut terdiri atas dua helaian yang saling menutupi sangat kuat. Jika kuncup mengembang, tudung akan terbuka dan terbagi menjadi dua bagian yang lepas dan meninggalkan lampang (bekas) berupa garis yang melingkari ranting, yang dikenal sebagai berkas cincin pada ranting 2. Stipula bentuk bumbung yang tumpul pada bagian ujung dan pangkalnya tidak melebar. Bumbung ini terdiri atas dua helaian yang saling menutupi pada waktu kuncup masih sangat muda. Jika kuncup mengembang, stipula terbagi menjadi dua helaian yang berragam bentuknya, memanjang seperti selendang dan setelah lepas akan meninggalkan berkas cincin pada ranting. 3. Stipula bentuk helaian biasa, terdiri atas dua helaian yang bervariasi baik dalam ukuran maupun bangunnya. 4. Stipula bentuk jarum, yang runcing pada pangkal dan ujungnya. 5. Stipul

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Potensi Tanaman Obat Endemik Papua Kayu Akway (Drymis sp.) sebagai Afrodisiak
1
22
1
Potensi aktivitas antioksidan pada kulit kayu dan daun tanaman akway (Drymis sp.)
0
24
32
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY Aktivitas Antibakteri Dan Bioautografi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drimys piperita Hook. f.) Terhadap Bacillus subtilis Dan Pseudomonas aeruginosa.
0
1
12
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY (Drimys piperita Hook. f.) TERHADAP Aktivitas Antibakteri Dan Bioautografi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drimys piperita Hook. f.) Terhadap Bacillus subtilis Dan Pseudomonas aerugi
0
1
13
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY (Drymis piperita Aktivitas Antibakteri dan Bioautografi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis piperita Hook. f.) Terhadap Staphylococcus saprophyticus dan Shigella sonnei.
0
1
12
PENDAHULUAN Aktivitas Antibakteri dan Bioautografi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis piperita Hook. f.) Terhadap Staphylococcus saprophyticus dan Shigella sonnei.
0
1
7
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY (Drymis piperita Aktivitas Antibakteri dan Bioautografi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis piperita Hook. f.) Terhadap Staphylococcus saprophyticus dan Shigella sonnei.
0
2
12
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY (Drymis piperita Aktivitas Antibakteri dan Bioautogafi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis Piperita Hook. f.) terhadap Staphylococcus Epidermidis dan Salmonella thypi.
0
1
12
PENDAHULUAN Aktivitas Antibakteri dan Bioautogafi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis Piperita Hook. f.) terhadap Staphylococcus Epidermidis dan Salmonella thypi.
0
1
8
DAFTAR PUSTAKA Aktivitas Antibakteri dan Bioautogafi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis Piperita Hook. f.) terhadap Staphylococcus Epidermidis dan Salmonella thypi.
0
1
14
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN BIOAUTOGRAFI EKSTRAK ETANOL KULIT KAYU AKWAY (Drymis piperita Aktivitas Antibakteri dan Bioautogafi Ekstrak Etanol Kulit Kayu Akway (Drymis Piperita Hook. f.) terhadap Staphylococcus Epidermidis dan Salmonella thypi.
0
1
15
IDENTIFIKASI MORFOLOGI TANAMAN PENGHASIL GAHARU (Aquilaria sp) ENDEMIK SUMATERA BARAT.
0
0
1
NAMA BINATANG SEBAGAI KOMPONEN PEMBENTUK KOMPOSITUM KAJIAN MORFOLOGI DAN SEMANTIS.
0
0
6
MORFOLOGI DAN KARAKTERISTIK KIMIA TANAH
0
0
12
MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP CULEX Sp.docx
0
0
9
Show more