Tinjauan Hukum Internasional Mengenai Peranan Uni Eropa Dan International Monetary Fund Sebagai Organisasi Internasional Dalam Penanganan Krisis Uni Eropa

Gratis

8
103
161
3 years ago
Preview
Full text

TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL MENGENAI PERANAN UNI EROPA DAN INTERNATIONAL MONETARY FUND SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL DALAM PENANGANAN KRISIS UNI EROPA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-Syarat dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh : RESZKI ANANIAS 100200078 DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL MENGENAI PERANAN UNI EROPA DAN INTERNATIONAL MONETARY FUND SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL DALAM PENANGANAN KRISIS UNI EROPA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir dan Melengkapi Syarat dalam Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Oleh : RESZKI ANANIAS 100200078 Disetujui oleh : Ketua Departemen Hukum Internasional Arif, S.H., M.Hum NIP : 196403301993031002 Pembimbing I Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum NIP : 197302202002121001 Pembimbing II Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum NIP : 197308012002121002 PROGRAM SARJANA ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR “Not because of who i am, but because of what You’ve done. Not because of what i’ve done, but because of who You are. You’re grace is enough, Lord JC”. Syukur atas kemurahan Yesus Kristus yang memampukan penulis untuk merampungkan penelitian skripsi berjudul “TINJAUAN INTERNASIONAL MENGENAI PERANAN INTERNATIONAL MONETARY FUND UNI SEBAGAI HUKUM EROPA DAN ORGANISASI INTERNASIONAL DALAM PENANGANAN KRISIS UNI EROPA” ini. Berbekal antusias dan keinginan untuk lebih mempelajari kondisi faktual di tengah kawasan bermata uang nomor dua terbesar di dunia dari, sehingga penulis memilih judul dan menyelesaikan penelitian skrispi ini. Tidak dapat dipungkiri, sejak 2008 kemunculan berita krisis ekonomi Uni Eropa sempat membuat dunia internasional mengalami chaos hampir di seluruh bidang di semua negara. Katakan saja, pengangguran, kemampuan daya beli masyarakat, kejatuhan nilai mata uang, collapse-nya beberapa perusahaan keuangan diikuti merosotnya efektivitas sektor lain bahkan hubungan bilateral antara dua negara tak luput dari pergesekan akibat krisis ini, mengingat berlakunya era globalisasi yang menimbulkan interdependensi antara satu kawasan dengan kawasan lain. Masyarakat internasional, negara-negara, organisasi regional juga internasional bahkan perundingan tingkat regional maupun supranasional mendesak terurainya masalah krisis ini. Pendekatan hukum organisasi internasional dalam hal ini bisa digunakan ketika mempelajari dua institusi berwenang, yaitu Uni Eropa melalui badan Euro Central Bank beserta organ Universitas Sumatera Utara perpanjangtanganannya dan forum tertingggi yaitu European Commission. Meninjau apakah tidak ada overlapping antara kedua institusi ini pasalnya wacana pembentukan Uni Eropa sejak mulanya adalah menyaingi peranan dolar di dunia dan kokohnya federasi Amerika Serikat, sementara di satu sisi IMF didominasi pemegang dolar. Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat ketidaksempurnaan akibat keterbatasan kemampuan penulis juga minimnya literatur mengenai krisis Uni Eropa dari pendekatan hukum organisasi internasional. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini, juga perkembangan hukum internasional pada umumnya. Sepanjang penelitian skripsi ini, banyak pihak yang memeri dukungan moril mauun materiil yang sangat berharga, yaitu: 1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTMH&H, M.Sc.(CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Medan; 2. Prof. Dr. Runtung Sitepu., S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan beserta seluruh jajaran pimpinan Fakultas Hukum USU; 3. Arif, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan; 4. Dr. Mahmul Siregar S.H.,M.Hum, selaku Dosen Pembimbing I penulis yang luar biasa. “Inspire to learn, learn to inspire” demikian potret Beliau bagi penulis. Terimakasih telah memberikan kesempatan untuk diskusi, Universitas Sumatera Utara arahan dan dorongan semangat dalam rangka perampungan penelitian skripsi ini. Keberadaannya juga sebagai dosen pengasuh Meriam Debating Club (MDC) Fakultas Hukum USU dalam memberikan pembekalan baik akademis maupun praktis sangat memberi teladan bagi penulis secara pribadi; 5. Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II penulis yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran bahkan rekomendasi berkualitas selama pengerjaan penelitian ini. Baik diskusi substansial maupun dorongan semangat juga sangat membantu penulis dalam hal ini; 6. Prof. Syaffrudin Kalo, S.H., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan dukungan akademis selama penulis duduk sebagai mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan; 7. Dosen-dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah berbagi ilmu selama penulis mengikuti kegiatan perkuliahan; 8. Seluruh civitas Fakultas Hukum, jajaran staf administrasi dan segenap pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) Medan; 9. Papa R. Nadeak dan Mama R. br. Meliala selaku orangtua penulis, untuk setiap kasih sayang, pengertian, dukungan dan terlebih doa-doa tak putus yang menemani penulis sejak awal mengikuti perkuliahan sampai jenjang akhir penyusunan penelitian skripsi ini. Kebaikan dan perhatian kalian sangat menginspirasi penulis secara pribadi; Universitas Sumatera Utara 10. Edwart dan Jogi, saudara-saudara penulis yang menjadi motivasi tersendiri bagi penulis; 11. Mendiang N.Meliala selaku kakek penulis yang beberapa waktu lebih dahulu pergi sebelum bersukacita bersama dalam akhir studi strata satu penulis. Mengingat kebaikan dan ketegasannya sangat membantu penulis dalam penyelesaian penelitian ini walaupun sambil menemani dalam proses pemulihannya. Begitu juga T.br.Sitepu selaku nenek penulis yang memberikan dukungan melimpah; 12. Segenap keluarga besar dari Nadeak dan Meliala dimanapun berada yang tak henti-hentinya mendukung penulis selama ini. Pribadi-pribadi luar biasa dari Silalahi, Ka Risma, Bg Anto, Ka Evi, Bg Os, dll. Tak lupa si kecil Abigail dan Zeimora Zucheta dan yang lainnya yang tak dapat disebutkan satu persatu 13. Teman-teman terbaik penulis Jeanifer Qiu, Glory dan Maria Indriya, beserta Euginia Natalia, Karina Tiani, Irma dan teman-teman di Jakarta; 14. Kelompok Kecil penulis, khususnya Ka Yenni, Dessy, Defina, Yessika dan mendiang Nurmawati, Andre, Mardo, Moria, Nanda, Sam, Tesa, untuk setiap kontribusi dan semangatnya; 15. Segenap teman-teman dalam pelayanan mahasiswa UKM Kebaktian Mahasiswa Kristen (UKM KMK USU) Medan. Khususnya koordinasi UP FH 2012-2013 untuk setiap dukungan, doa, dan pencarian kebenaran-Nya yang bersama-sama dikerjakan; 16. Soulmate : CSW, thanks! Universitas Sumatera Utara 17. Teman-teman: Yeoppo Diana Wijaya, Cynthia Wirawan, Rivera Wijaya, Ekpi Yossara, angkatan 2010 khususnya Grup B, teman bertumbuh bersama sepanjang perkuliahan yang tidak dapat disebut satu persatu; 18. Meriam Debating Club (MDC) wadah canonners yang membantu penulis dalam pembekalan akademis juga Gemar Belajar (GEMBEL); 19. ILSA Angkatan 2010, komunitas mahasiswa hukum internasional terbaik yang pernah ada. Terkhusus partner: Saka, Maharanni, Bang Dedi. Serta teman-teman lain melalui kebersamaan, dukungan, dan setiap kebaikan yang menginspirasi penulis; Kiranya kemurahan Tuhan memberkati dan menyertai kalian dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Terima Kasih. Medan, Maret 2014 Hormat Penulis, RESZKI ANANIAS NIM: 100200078 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Kata Pengantar ...................................................................................................... i Daftar Isi ............................................................................................................... vi Daftar Singkatan ................................................................................................... ix Abstraksi ............................................................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. LATAR BELAKANG ............................................................................. 1 B. RUMUSAN MASALAH ......................................................................... 14 C. TUJUAN PENELITIAN ........................................................................ 15 D. MANFAAT PENELITIAN..................................................................... 15 E. KEASLIAN PENELITIAN .................................................................... 16 F. TINJAUAN KEPUSTAKAAN............................................................... 17 G. METODE PENELITIAN ....................................................................... 19 1. Tipe Penelitian ................................................................................. 19 2. Data Penelitian .................................................................................. 20 3. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 21 4. Analisis Data ..................................................................................... 21 H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN ................................................. 23 BAB II KEDUDUKAN UNI EROPA DAN INTERNATIONAL MONETARY FUND (IMF) SEBAGAI SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL MENURUT HUKUM INTERNASIONAL YANG BERLAKU ..................... 26 Universitas Sumatera Utara A. Pengertian dan Jenis Subjek Hukum Internasional ........................... 26 B. Personalitas Organisasi Internasional sebagai Subjek Hukum Internasional ...................................................................................... 33 C. Wewenang Organisasi Internasional dalam Hukum Internasional ... 41 D. Personalitas Uni Eropa dan International Monetary Fund sebagai Subjek Hukum Internasional menurut Hukum Internasional yang Berlaku .............................................................................................. 44 BAB III PENGATURAN DALAM LISBON TREATY MENGENAI HAK DAN KEWAJIBAN NEGARA-NEGARA ANGGOTA UNI EROPA DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI UNI EROPA ....................... 58 A. Pembentukan Uni Eropa .................................................................... 58 B. Pengaturan tentang kompetensi dan persatuan ekonomi - moneter Uni Eropa menurut Lisbon Treaty. .......................................................... 75 C. Kronologi dan Perkembangan Krisis Ekonomi Uni Eropa ................ 85 D. Hak dan Kewenangan Uni Eropa dalam Penanganan Krisis Uni Eropa menurut Lisbon Treaty ...................................................................... 93 BAB IV KEWENANGAN INTERNATIONAL MONETARY FUND (IMF) DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI GLOBAL DIKAITKAN DENGAN KEBERADAAN DAN KEWENANGAN UNI EROPA DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI UNI EROPA .....................................99 A. Krisis ekonomi dalam konteks global dan regional ...................99 Universitas Sumatera Utara B. Mandat International Monetary Fund (IMF) dalam penanganan krisis ekonomi secara global ......................................................................106 C. Peranan International Monetary Fund (IMF) dalam menangani krisis ekonomi secara global ......................................................................117 D. Kewenangan International Moneter Fund (IMF) dikaitkan dengan kewenangan Uni Eropa dalam menangani krisis ekonomi Uni Eropa ..........................................................................................................121 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan .....................................................................................135 5.2 Saran ...............................................................................................136 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................139 Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN CFSP : Common Foreign and Security Policy CoA : Court of Auditors CS : European Coal and Steel Community Treaty EA : European Atomic Energy Community Treaty EC : European Community ECB : European Central Bank ECJ : European Court Justice ECSC : European Coal and Steel Community ECtHR : European Court of Human Rights EEA : European Economic Area EEC : European Economic Community EESC : European Economic and Social Committee EFTA : European Free Trade Association EFSF : European Financial Stability Facility EFSM : European Financial Stabilisation Mechanism EMS : European Monetary System EMU : European Monetary Union EP : European Parliament ES : European Coal and and Steel Community Treaty ESCB : European System of Central Banks ESDP : Common European Security and Defence Policy EU : European Union Universitas Sumatera Utara Euratom: European Atomic Energy Community IMF : International Monetary Fund TEU : Treaty on European Union/ Treaty of Maastricht TFEU : Treaty on the Functioning of the European Union ToA : Treaty of Amsterdam ToL : Treaty of Lisbon ToN : Treaty of Nice Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI *) Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum **) Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum ***) Reszki Ananias Perkembangan kehadiran kerjasama bidang ekonomi yang bersifat regional- internasional, seperti Uni Eropa, tentu memberikan dampak terhadap tata hukum internasional serta tata hukum ekonomi global umumnya. Jika persoalan ini dibawa dalam konteks krisis ekonomi tentu dampak negatif yang laten dapat melanda seluruh aspek kehidupan dunia. Kesatuan mata uang negaranegara berdaulat ini menjadi penyebab prioritas merosotnya perekonomian dunia. Uni Eropa dilengkapi dengan sebuah parlemen dan sebuah bank sentral, yang menjalankan fungsi pemerintah pusat terkhusus kewenangan moneter Euro. Perspektif lain, keberadaan dan keterlibatan IMF selama hampir enam tahun menandai lenturnya hukum dasar Uni Eropa sebagai pemerintahan supranasional bagi negara anggotanya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sebenarnya kedudukan Uni Eropa dan IMF dalam tata hukum internasional, bagaimana anggaran dasar Uni Eropa yaitu Lisbon Treaty itu sendiri mengatur mengenai kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis di wilayah Uni Eropa serta bagaimana kedudukan IMF sebagai organisasi keuangan internasional yang selama ini menangani krisis secara global dikaitkan dengan kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis Uni Eropa. Metode penulisan yang dipakai dalam menyusun penelitian ini adalah penelitian kepustakaan melalui inventarisir bahan-bahan dari buku, jurnal, internet, instrumen hukum internasional dan hasil tulisan ilmiah terkait lainnya dengan satu tujuan yang termaksud dalam penyusunan penelitian ini. Pada dasarnya baik Uni Eropa maupun IMF memiliki kedudukan di mata hukum internasional melalui kepemilikan personalitas hukum menurut anggaran dasarnya masing-masing. Personalitas ini juga yang memampukan kedua organisasi internasional ini melakukan hubungan hukum dalam penuangan perjanjian internasional berupa Memorandum of Economic and Financial Policies tanggal 3 Mei 2010 dalam rangka penanganan krisis Uni Eropa. Hanya saja, kapasitas dan kewenangannya masing-masing dibatasi oleh anggaran dasar dan perjanjian internasional. Tindakan dalam bentuk apapun yang melampaui ketentuan tersebut tidak dibenarkan. Oleh karena itu, sepanjang tetap taat terhadap perjanjian internasional diantara kedua organisasi internasional tersebut, maka tidak didapati kewenangan yang tumpang tindih. Kata Kunci : Organisasi Internasional, IMF dan Uni Eropa, Krisis Ekonomi *) Dosen Pembimbing I **) Dosen Pembimbing II ***) Mahasiswi Fakultas Hukum USU Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI *) Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum **) Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum ***) Reszki Ananias Perkembangan kehadiran kerjasama bidang ekonomi yang bersifat regional- internasional, seperti Uni Eropa, tentu memberikan dampak terhadap tata hukum internasional serta tata hukum ekonomi global umumnya. Jika persoalan ini dibawa dalam konteks krisis ekonomi tentu dampak negatif yang laten dapat melanda seluruh aspek kehidupan dunia. Kesatuan mata uang negaranegara berdaulat ini menjadi penyebab prioritas merosotnya perekonomian dunia. Uni Eropa dilengkapi dengan sebuah parlemen dan sebuah bank sentral, yang menjalankan fungsi pemerintah pusat terkhusus kewenangan moneter Euro. Perspektif lain, keberadaan dan keterlibatan IMF selama hampir enam tahun menandai lenturnya hukum dasar Uni Eropa sebagai pemerintahan supranasional bagi negara anggotanya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sebenarnya kedudukan Uni Eropa dan IMF dalam tata hukum internasional, bagaimana anggaran dasar Uni Eropa yaitu Lisbon Treaty itu sendiri mengatur mengenai kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis di wilayah Uni Eropa serta bagaimana kedudukan IMF sebagai organisasi keuangan internasional yang selama ini menangani krisis secara global dikaitkan dengan kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis Uni Eropa. Metode penulisan yang dipakai dalam menyusun penelitian ini adalah penelitian kepustakaan melalui inventarisir bahan-bahan dari buku, jurnal, internet, instrumen hukum internasional dan hasil tulisan ilmiah terkait lainnya dengan satu tujuan yang termaksud dalam penyusunan penelitian ini. Pada dasarnya baik Uni Eropa maupun IMF memiliki kedudukan di mata hukum internasional melalui kepemilikan personalitas hukum menurut anggaran dasarnya masing-masing. Personalitas ini juga yang memampukan kedua organisasi internasional ini melakukan hubungan hukum dalam penuangan perjanjian internasional berupa Memorandum of Economic and Financial Policies tanggal 3 Mei 2010 dalam rangka penanganan krisis Uni Eropa. Hanya saja, kapasitas dan kewenangannya masing-masing dibatasi oleh anggaran dasar dan perjanjian internasional. Tindakan dalam bentuk apapun yang melampaui ketentuan tersebut tidak dibenarkan. Oleh karena itu, sepanjang tetap taat terhadap perjanjian internasional diantara kedua organisasi internasional tersebut, maka tidak didapati kewenangan yang tumpang tindih. Kata Kunci : Organisasi Internasional, IMF dan Uni Eropa, Krisis Ekonomi *) Dosen Pembimbing I **) Dosen Pembimbing II ***) Mahasiswi Fakultas Hukum USU Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam bukunya berjudul “The Structure of Scientific Revolution”, Thomas S. Kuhn, menuliskan bahwa dunia mengalami pergeseran paradigma yang akan melahirkan terobosan-terobosan baru di berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam perkembangan hukum internasional, yang kini telah mengalami perubahan secara drastis. 1 Salah satu terobosan tersebut adalah Perang Dingin (Cold War), yang menjadi periode polarisasi yang mendorong setiap kawasan baik negara berkembang maupun negara maju berusaha mempertegas kembali keadaannya dengan kecenderungan mengkonsolidasikan dirinya dalam skema kerja sama dan perjanjian yang melibatkan hubungan antar bangsa (hubungan internasional). 2 Adapun timbulnya hubungan internasional ini disebabkan kepentingan dua negara saja tidak dapat menampung kehendak banyak negara sehingga diperlukan suatu pengaturan internasional yang mengorganisir setiap upaya untuk mencapai tujuan bersama sekaligus kepentingan masing-masing negara tetap terjamin. 3 1 Thomas S. Kuhn, “The Structure of Scientific Revolution”, (US: University Of Chicago Press, 1962), hlm.2 2 Anthonius Sitepu, “Konsep Integrasi Regionalisme dalam Studi Hubungan Internasional”, sebagaimana dimuat dalam http://repository.usu.ac.id/bitsream/12346789/3799/1/fisip_anthonius3.pdf diakses pada tanggal 24 November 2013 3 Sumaryo Suryokusumo,”Hukum Organisasi Internasional” Cet.Pertama, (Jakarta: Penerbit UI Press, 1990), hlm. 1 Universitas Sumatera Utara Sejak pertengahan abad ke-17 perkembangan kerja sama antar negara ini semakin kompleks dengan rupa kerjasama ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, lingkungan, serta berbagai bidang lainnya yang diwujudkan dalam konferensi-konferensi internasional dan melembaga menjadi: komisi (commission), serikat (union), dewan (council), liga (league), perserikatan bangsabangsa (united nations), persemakmuran (commonwealth), komunitas (community), kerja sama (cooperation); 4 Namun, dewasa ini yang kerap ditemui adalah kerjasama di bidang pembentukan pusat-pusat kekuatan ekonomi baru atau integrasi ekonomi. Pada dasarnya integrasi ekonomi, menurut Tinbergen, merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dan menghapuskan semua pembatasan (barriers) yang dibuat terhadap bekerjanya perdagangan bebasdengan membentuk kerja sama dan unifikasi. 5 Secara teoritis, Salvatore menguraikan integrasi ekonomi menjadi beberapa bentuk: pengaturan perdagangan preferensial (preferential trade arrangements), kawasan perdagangan bebas (free trade area), persekutuan pabean (customs union), pasar bersama (common market) dan uni ekonomi (economic union). Klasifikasi terakhir dapat diberikan contoh salah satunya Uni Eropa. 6 Studi integrasi ekonomi regional seperti ini juga termasuk bagian yang perlu diperhatikan dalam hukum internasional, mengingat eksistensinya berdampak masif mempengaruhi dunia. Konsep integrasi ekonomi regional 4 Ibid., hlm 2 Tinbergen, ” Intangible Barriers to International Trade”, sebagaimana dimuat dalam http://archive.nbuv.gov.ua/Portal////Soc_Gum/Ecoroz/2012_4/, diakses pada tanggal 24 November 2013, 07:06 WIB 6 Dominick Salvatore, “International Economics”, (London: Prentice Hall, 1998), hlm.47 5 Universitas Sumatera Utara sendiri melintasi batas kedaulatan setiap negara dimana aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lainnya dengan regulasi moneter yang beragam dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya, bukan tidak mungkin jika kawasan integrasi ini berisiko terimbas krisis yang terjadi di satu negara. 7 Krisis dapat dipahami dalam banyak pengertian. Dalam pendekatan terminologi ekonomi krisis merupakan istilah yang digunakan pada bidang ekonomi dan mengacu pada perubahan drastis perekonomian mengarah pada turunnya nilai tukar mata uang dan harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi. 8 Pendapat Harberler, krisis adalah penyimpangan kegiatan ekonomi yang mencolok dan merupakan titik awal gerak kegiatan ekonomi yang menurun atau down-turn/ the upper turning point. Menurut Mitchell krisis adalah suatu kondisi ekonomi yang sudah mengalami/agak resesi (rather than recession). 9 Definisi krisis untuk negara-negara maju di Utara sangat seragam, yakni serbuan atas meluasnya kesulitan-kesulitan untuk melayani tumpukan hutang negara-negara berkembang yang telah mengancam stabilitas sistem finansial internasional. 10 Sementara dalam pendekatan keuangan, krisis diartikan sebagai situasi dimana lembaga keuangan atau aset kehilangan nilai dalam jumlah besar. Abad 19 dan 20 menilai krisis sebagai gejolak yang melanda dunia perbankan dan 7 Departemen Keuangan, Depkominfo, dan Bappenas, “Memahami Krisis Keuangan Global: Bagaimana Harus Bersikap”, 2008, hlm.2 8 Wikipedia,”Krisis Ekonomi”, penelusuran melalui id.wikipedia.org/wiki/krisis_ekonomi, diakses pada tanggal 24 November 2013, 22:00 WIB 9 James Arthur Estey, “Business Cycles, Their Nature, Causes and Control”, (PrenticeHall,1960), hlm.65. 10 Miles Khaler, “The Politics of International Debt”, (London: Cornell University Press, 1990), sebagaimana dikutip dari Jelly Leviza, ”Tanggung Jawab Bank Dunia dan IMF sebagai subjek Hukum Internasional”, (Jakarta:PT. SOFMEDIA, 2009), hlm.7 Universitas Sumatera Utara sejumlah resesi dengan dampak besar. Termasuk dalam kategori krisis keuangan ini adalah krisis bursa saham, krisis mata uang dan juga sovereignity. 11 Demikianpun pengertiannya, krisis menempatkan pada situasi yang penuh kemelut bagi sebuah negara. Sejarah mencatat beberapa kasus krisis ekonomi yang pernah terjadi di dunia diantaranya: Great Depression pada tahun 1929-1930 yang menjadi catatan ekonomi terburuk dalam sejarah AmerikaSerikat disebabkan oleh runtuhnya pasar saham (stock market crash). 12 Krisis ini berdampak pada menjamurnya pengangguran, jatuhnya sektor perdagangan padahal tingkat kebergantungan akan perdagangan kala itu sangat tinggi, harga dan pendapatan turun, pengurangan akan akses produsen ke Cuba bahkan investasi ke Amerika Latin pun melemah. 13 Pengalaman Indonesia pada krisis 1997-1998, yang berawal dari kegagalan pasar kemudian berdampak buruk bagi perekonomian hingga pemerintah harus mengatasi dampak krisis dengan mengalirkan dana untuk menyelamatkan perekonomian nasional. Pada pertengahan tahun 2007, Amerika Serikat dilanda krisis subprime mortgage dan memuncak pada September 2008, yang ditandai dengan pengumuman kebangkrutan beberapa lembaga keuangan menimbulkan permasalahan likuiditas perusahaan perusahaan keuangan Amerika Serikat. Sebagai pionir pelaku nomor satu ekonomi dunia saat ini, dampak krisisnya terasa pada lebih banyak bidang dan melibatkan lebih banyak negara. Mulai dari dalam 11 Wikipedia, “Financial Crisis”, sebagaimana dimuat dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Financial_crisis/ diakses pada tanggal 24 November 2013 12 Ibsen Martinez ,”Latin America and the Great Depression”, Library of Economic and Liberty. http://www.econlib.org/library/Columns/y2009/Martinezgreatdepression.html diakses pada tanggal 31 Desember 2013. 13 Arminio Fraga, “Latin America since the 1990s: Rising from the Sickbed”, Journal of Economic Perspectives 2004, hlm. 90 Universitas Sumatera Utara Amerika Serikat sendiri seperti jatuhnya Lehman Brothers, resesi yang mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat Amerika Serikat bahkan pada anjloknya pasar saham di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Menyusul dalam daftar berikutnya juga masih ada krisis ekonomi Argentina (1999-2002), krisis ekonomi Amerika Selatan 2002, termasuk krisis ekonomi Eropa tahun 2011. 14 Sejak krisis ekonomi mulai pada tahun 2008, hampir separuh negara anggota Uni Eropa mengalami ancaman kemiskinan yang meningkat namun tidak merata. Jerman, misalnya, krisis tersebut tidak begitu parah mempengaruhi kehidupan sosial penduduknya atau mengharuskan organisasi-organisasi bantuan untuk memberikan bantuan pangan. 15 Sebaliknya di Yunani, banyak warga yang tidak mampu lagi membayar asuransi kesehatan. Menurut organisasi bantuan, Medico Internasional, Spanyol dan Irlandia menderita krisis akibat runtuhnya pasar properti yang sekaligus memicu krisis perbankan. Tahun 2011, Portugal menyerah pada tekanan pasar keuangan. Dalam rentang waktu satu tahun, negara ini telah menghabiskan lebih dari setengah fasilitas kredit dari pemimpin Eropa. Data juga menunjukkan sejak bangkrutnya Yunani, krisis berantai melanda satu demi satu negara di benua tersebut seperti Irlandia, Spanyol, menjalar ke Italia, Inggris, Jerman dan terakhir melanda Perancis, yang masuk ke jurang krisis akibat utang. 16 14 Wikipedia, “Krisis Ekonomi”, sebagaimana dimuat dalam id.wikipedia.org/wiki/krisis_ekonomi, diakses pada tanggal 24 November 2013, 22:00 WIB 15 Bernd Riegert,” Negara Uni Eropa yang Tergantung pada Dana Penyelamatan” sebagaimana dimuat dalam http://www.dw.de/negara-uni-eropa-yang-tergantung-pada-danapenyelamatan/a-16050903, diakses pada tanggal 24 November 2013, 21:48 WIB 16 Ibid. Universitas Sumatera Utara Sebagaimana Charles Kindleberger menggambarkan pola krisis oleh karena faktor demikian: default oleh negara debitur utama (domino default) oleh debitur-debitur besar dan kecil, diikuti oleh kegagalan dari bank utama dan bankbank lainnya. Runtuhnya kepercayaan atas sistem finansial internasional tersebut pada akhirnya mengakibatkan terjadinya penyusutan atas berbagai aktifitas ekonomi dan perdagangan internasional. 17 Ada juga faktor lain seperti: kredit macet, meningkatnya suku bunga dunia, resesi global dan harga-harga komoditas yang rendah maka tingkat pinjaman negara mulai menghadapi kegagalan dalam melakukan pembayaran pinjaman. 18 Variasi kausa krisis tersebut bermuara pada satu hal yang sama yaitu betapa berpengaruhnya konsekuensi sebuah krisis bagi kehidupan internasional. Kecenderungan terjadinya satu per satu kejatuhan perekonomian dunia mendorong berkumpulnya para pakar dan pengambil kebijakan ekonomi berbagai negara untuk serius mengambil waktu memformulasikan strategi sampai akhirnya lahir tiga institusi penting: dua lembaga keuangan internasional yaitu Bank Dunia, IMF dan suatu lembaga perdagangan internasional ITO. 19 ITO sendiri eksistensinya tidak bertahan begitu lama. Hal ini ditandai dengan peristiwa ketika hendak diratifikasi oleh berbagai negara, organisasi yang semula ditujukan untuk menciptakan liberalisasi perdagangan, mengatasi monopoli, dan 17 Miles Khaler, Loc.Cit. Vanessa Baird, “Currencies of Desire”, (New Internationalist Magazine, October 1998) sebagaimana dimuat dalam: http:www2.gol.com/users/bobkeim/money/debt.html diakses pada 10 Oktober 2013 16:47 WIB 19 Cyrillus Harinowo, “IMF Penanganan Krisis & Indonesia Pasca IMF”, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2004) , hlm 79. 18 Universitas Sumatera Utara mengkoordinasikan kebijakan perdagangan negara-negara ini tidak dapat terwujud. 20 Sementara untuk International Monetary Fund (IMF), keberadaannya dapat diperhitungkan sebagai salah satu organisasi keuangan internasional yang memegang peran utama dalam memberikan pinjaman internasional: In effect, the IMF with the strong support of the creditor nations, asserted international control over the commercial banks and the international financial system… Through the use of promises and threats on such…. matters as future access to finance or export markets, the IMF and the creditor coalition defeated calls for a debtor’s cartel and easier terms. 21 Alasan lain kelanjutan eksistensi IMF sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 Anggaran Dasar IMF bahwa tujuan pendirian IMF adalah sebagai berikut: a. Untuk mendorong kerjasama moneter internasional melalui sebuah lembaga yang permanen yang menyediakan mekanisme untuk konsultasi dan kerjasama dalam pemecahan permasalahan moneter internasional; b. Untuk membantu tercapainya perluasan dan keseimbangan pertumbuhan perdagangan internasional, dan untuk menyumbang tercapainya tingkat pendapatan nasional yang tinggi serta untuk pengembangan sumber daya produktif dari semua negara anggota sebagai tujuan utama kebijakan ekonomi; 20 Huala Adolf, A. Chandrawulan, Masalah-Masalah Hukum dalam Perdagangan Internasional, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 6. Berbeda dengan IMF dan Bank Dunia, ITO tidak dilanjutkan pembentukannya. Amerika Serikat sebagai negara yang pertama kali mengusulkan perlunya pembentukan suatu Organisasi Perdagangan Dunia (ITO) menolak karena adanya kekhawatiran berkurangnya kewenangan Amerika Serikat dalam menentukan kebijakan. 21 Robert Gilpin, Jean M. Gilpin, “The Political Economy of International Relations”, (New Jersey: Princeton University Press, 1987), hlm. 318. Universitas Sumatera Utara c. Untuk mendorong stabilitas nilai tukar, mempertahankan sistem nilai tukar yang teratur antar negara anggota serta untuk mencegah terjadinya persaingan untuk melakukan depresiasi mata uang; d. Untuk membantu penciptaan dari sistem pembayaran multilateral antar negara anggota dan penghapusan hambatan transaksi valuta asing, yang menghambat pertumbuhan perdagangan dunia; e. Untuk menciptakan kembali kepercayaan di negara anggota dengan memberikan bantuan memperhatikan unsur keuangan secara keamanan dana temporer tersebut, dengan tetap sehingga dapat memberikan kesempatan untuk memperbaiki ketidakseimbangan neraca pembayaran tanpa harus menggunakan cara-cara yang merusak kemakmuran nasional atau internasional. 22 Berdasarkan uraian tersebut, secara konkret kiprah IMF didominasi pada pemberian pinjaman bagi anggota yang menghadapi masalah neraca pembayaran. Selain itu IMF juga mendukung proses penyesuaian dan kebijakan reformasi untuk mengoreksi permasalahan mendasar perekonomian sebagai berikut: a. Tahun 1947, Pasca Perang Dunia Kedua, Inggris mengalami kejatuhan secara perekonomian yang kemudian mengantarnya menjadi pasien pertama IMF dan bahkan untuk selama lebih dari dua puluh tahun berikutnya. 23 b. Tahun 1947, Meksiko meminta bantuan dana dari IMF. Negara-negara lain mengikuti hal yang sama yaitu Amerika Latin selama periode satu 22 23 Cyrillus Harinowo, Op.Cit., hlm.80 Cyrillus Harinowo, Op.Cit., hlm.130. Universitas Sumatera Utara dasawarsa. Region Amerika Latin mengalami kesulitan pembayaran kewajiban utang bahkan sebelum Perang Dunia Kedua. 24 c. Norwegia dan Finladia melakukan pinjaman dari IMF 25 d. Pada tahun 1956, Prancis melakukan Stand by Arrangement yang berjangka waktu satu tahun dan jika diakumulasikan keseluruhan yang dicairkan menjadi 125 juta dollar AS. 26 e. Selama krisis keuangan Asia tahun 1997–1998, IMF bertindak cepat untuk menolong Korea dengan memperkuat cadangan devisanya. IMF menyediakan 21 miliar dollar AS untuk membantu Korea mereformasi perekonomianya, merestrukturisasi sektor-sektor korporat dan keuangannya, dan memulihakan perekonomiannya dari resesi. Dalam waktu empat tahun, Korea telah cukup pulih kembali untuk melunasi pinjaman tersebut sekaligus membangun kembali cadangan devisanya. f. Bulan Oktober 2000, IMF menyetujui pinjaman tambahan sebesar 52 juta dollar AS kepada Kenya untuk membantu mengatasi permasalahan akibat kekeringan yang hebat. Pinjaman tersebut merupakan bagian dari program pinjaman tiga tahun sebesar 193 juta dollar AS di bawah fasilitas pinjaman untuk “Pertumbuhan dan Pengurangan Kemiskinan” yaitu sebuah program peminjaman konsensional bagi negara-negara berpendapatan rendah. 27 24 Ibid., hlm. 142. Ibid., hlm. 133. 26 Press Release dari IMF pada tanggal 18 Oktober 1956 27 Seksi Grafik IMF, “Buku Pedoman tentang IMF: Apakah Dana Moneter Internasional itu?”, (N.W Washington D.C: 2001), hlm.3. 25 Universitas Sumatera Utara g. Indonesia juga pernah terikat kontrak pinjaman dengan IMF pertama kali pada tahun 1968 dan pada tahun 1997. 28 Lantas, bagaimanan peranan IMF terhadap penanganan krisis di Uni Eropa?. Sebelum pembahasan ke arah sana, perlu diketahui sebelumnya mengenai kronologi krisis ekonomi di kawasan tersebut. Perjalanan sejarah Uni Eropa selalu kental dengan keberhasilan. Menginjak tahun 1995 hampir seluruh negara Eropa Barat bergabung. Pada tahun 1998 sistem keuangan Eropa terintegrasi dalam mata uang tunggal: Euro. Hal ini menempatkan Uni Eropa sebagai kekuatan ekonomi besar di dunia sekaligus menjadi contoh organisasi regional terbaik di dunia. Pada tahun 2012 Uni Eropa mendapatkan hadiah nobel untuk perannya menyatukan benua biru tersebut. 29 Pada tahun 2011, krisis mulai terjadi ketika jatuhnya perekonomian negara anggota Uni Eropa, utamanya Yunani. Lynn dalam buku “BUST Greece, the Euro, and the Sovereign Debt Crisis” tahun 2011, menuliskan bahwa belum terselesaikannya krisis di zona Eropa dikarenakan terlambatnya para petinggi petinggi di zona Eropa dalam menyadari kondisi keuangan Yunani yang sudah tidak mampu membayar jatuh tempo utangnya. 30 Keadaan ini membuat empat negara Uni Eropa yaitu Yunani, Siprus, Portugal, dan Irlandia, mengakses bantuan IMF melalui Stand-By Arrangements (SBA), the Flexible Credit Line (FCL), the Precautionary and Liquidity Line 28 Cyrillus Harinowo, Op.Cit., hlm. 294 Thomson Reuter , “ Reuters Central& East Europe News Service” sebagaimana dimuat dalam thomsonreuters.com , diakses pada tanggal 24 November 2013, 21:00 WIB 30 Matthew Lynn, ”BUST: Greece, The Euro and The Sovereign Debt Crisis”, (Hoboken, N.J : Bloomberg Press, 2011) 29 Universitas Sumatera Utara (PLL), and the Extended Fund Facility (EFF) 31. Mei 2010, IMF memberikan kontribusi sebesar 30 miliar Euro. 32 Desember 2008, IMF menyetujui Stand-By Arrangements (SBA) dengan Latvia. 33 Maret 2009, melalui Stand-By Arrangements (SBA), IMF meminjamkan 13 juta Euro ke Rumania. 34 Pada 12 September 2013 IMF telah menetapkan dana sebesar 103 juta Euro kepada 7 negara Eropa. Ini berarti secara kumulatif IMF telah melakukan pembayaran dan pencegahan sebanyak 60 persen kepada Eropa secara keseluruhan. 35 Bersampingan dengan IMF, ada sebuah lembaga dimana negara-negara Uni Eropa bersepakat untuk menyerahkan kedaulatan moneter nasionalnya kepada lembaga yang berkewenangan dalam hal itu yaiu Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB). ECB menjadi pemegang kewenangan moneter terlebih sejak kerangka European Monetary Union disepakati dan lahirnya mata uang Euro sebagai mata uang tunggal. Idealnya dalam sebuah skema integrasi ekonomi regional, permasalahan termasuk krisis ekonomi ini ditangani di dalam penyelesaian regional, seperti yang ditegaskan Uni Eropa untuk meminimalisir keterlibatan IMF di Yunani. 36 31 IMF Communications Departments, “International Monetary Fund FactSheet: The IMF and Europe”, Washington DC, hlm.2 dimuat dalam http://www.imf.org/external/np/exr/facts/europe.htm diakses pada tanggal 10 September 2013 07:16 WIB 32 Ibid 33 IMF, “IMF Executive Board approves € 1.68 billion (US$ 2.35 Billion) Stand-By Arrangement for Latvia”, Press Release No. 08/345, December 23, 2008 sebagaimana dikutip pada Franz Seitz dan Thomas Jost, “The Role of the IMF in the European Debt Crisis”, HAW im dialog Diskussionspapier Nr. 23 Januar 2012. 34 IMF, “IMF announces staff-level agreement with Romania on € 12.95 billion loan as part of coordinated financial support”, Press Release No. 09/86, March 25, 2009 sebagaimana dikutip pada Franz Seitz dan Thomas Jost, Ibid. 35 IMF Communications Departments, Op.Cit. 36 Rachmat Adhani,” Perekonomian Yunani: Yunani, Bom Waktu Kejatuhan Uni Eropa” 24 http://www.theglobalMaret 2010, sebagaimana dimuat dalam Universitas Sumatera Utara Hal ini berarti setiap negara anggota Uni Eropa menyerahkan urusannya kepada satu pemerintahan supranasional yang juga memiliki organ tersendiri yang fokus dalam kebijakan perekonomian dan moneter. Organ ini bertindak sebagai peminjam usaha terakhir (lender last resort) yang tentunya didasari kebijakan yang telah disepakati dan diterapkan bersama di Uni Eropa, seperti halnya European Central Bank 37 , bersama dengan Komisi Eropa atau European Commission bertindak memegang fungsi eksekutif dan bertanggung jawab untuk memprakarsai legislasi dan kepemimpinan harian Uni Eropa. 38 Sehubungan dengan langkah penyelesaian terdekat, Huelshoff menjelaskan pendapatnya bahwa perlu sebuah pemahaman jelas akan dinamika internal dari negara tersebut dan memperhatikan signifikasi dari konteks politik domestik. Berdasarkan pendekatan tersebut maka perlu melibatkan pakar negara dalam pengambilan kebijakan-kebijakan, dinamika nasional dan pendapat rakyat negara-negara anggota mengenai penanganan krisis Uni Eropa tersebut. 39 review.com/content_detail.php?lang=id&id=1545&type=6#.UpLtdfvDuKE pada 11 November 2013 37 Wikipedia, “Bank Sentral Eropa”, sebagaimana dimuat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/bank_sentral_eropa., diakses pada tanggal 24 November 2013, 21:30 WIB: Kebijakan moneter yang diterapkan oleh Bank Sentral Eropa pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka Bank Sentral akan mengeluarkan kebijakan moneter yang dapat dipakai untuk memulihkan keadaan ekonomi. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral Eropa akan berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali. Terutama jika mulai terjadi gejala kemerosotan keuangan negara-negara anggotanya. Namun, pemberian bailout ataupun bantuan tetap didasari oleh kesepakatan yang dibicarakan tentunya. 38 Wikipedia, “Uni Eropa” sebagaimana dimuat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/uni_eropa, informasi serupa pada http://ec.europe.eu/index_en.htm 39 Huelshoff, “Mediating Domestic and International Discourses” sebagaimana dimuat dalam http://www.ceeisaconf.ut.ee/orb.aw diakses pada Senin 25 November 2013, 09:11 WIB Universitas Sumatera Utara Akan tetapi tercatat menurut data yang menyorot pendapat masyarakat Uni Eropa terhadap institusi-institusi Uni Eropa yaitu European Central Bank, Council of the European Union, European Parliament dan European Commission, keempat institusi tersebut justru mengalami penurunan kepercayaan yang signifikan antara tahun 2008–2011. 40 Konklusi ironis bahwa krisis ekonomi negara-negara di Uni Eropa tidak dapat diselesaikan ditengah kondisi integrasi ekonominya yang terus meningkat. Menurunnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah Uni Eropa mempengaruhi pesatnya kiprah IMF. Seiring berjalannya waktu peran serta IMF terlihat nyata sebagai organisasi keuangan internasional dalam melakukan pemberian pinjaman kepada Yunani. Meskipun dalam sudut pandang politis IMF yang notabene diisi oleh negara-negara bermata uang dollar AS tengah berhadapan dengan organisasi internasional dengan negara-negara berdaulat pemegang euro yang di dalamnya tentu setiap kebijakan dan tindakan berpengaruh masif dan berbau kepentingan kedaulatan negara. 41 Seperti termuat dalam pemberitaan internasional akan kredibilitas Uni Eropa yang dipandang akan menurun apabila IMF ikut menangani masalah di wilayah mereka. Uni Eropa awalnya menginginkan penyelesaian internal diantara mereka sendiri, seperti dengan bantuan finansial atau pembentukan European Monetary Fund (EMF). Namun, sepertinya Yunani tidak bisa menunggu terlalu lama karena mereka harus segera membayar utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Jika Uni Eropa masih sibuk berdebat, mungkin IMF merupakan pilihan yang paling rasional. Jerman, inisiator pembentukan EMF, kini justru berubah sikap. Saat ini, Jerman menyatakan terbuka apabila IMF ingin mengambil peran dalam 40 European Commission 2012 BBC, 201,. “Timeline: The Unfolding Eurozone Crisis” sebagaimana dimuat dalam http://www.bbc.co.uk/news/business-13856580 diakses pada tanggal 21 Oktober 2013, 13:10 WIB 41 Universitas Sumatera Utara penyelamatan Yunani. Jika diperlukan, intervensi IMF dinilai memang tidak bisa terhindarkan. 42 Persoalan-persoalan akan ketidakmampuan Uni Eropa dalam menangani krisis ekonomi ini menuai berbagai pendapat dan kebijakan baik dari subjek hukum internasional seperti negara anggota Uni Eropa, negara-negara lain dan organisasi internasional seperti Uni Eropa dan IMF itu sendiri. IMF memang memiliki kewenangan intervensi, tetapi jauh lebih baik kekuatan regional dengan otoritas lembaga berkaitan yang menangani. Hal ini disebabkan menurut ketentuan Artikel 13 Treaty of European Union, Uni Eropa memiliki tujuh lembaga penting dengan tugas dan kewajiban yang telah ditentukan masingmasing. 43 Salah satu institusi ini yaitu Bank Sentral Eropa (European Central Bank) merupakan tulang punggung dari alur pembuatan keputusan moneter Uni Eropa. Perlu pengkajian lebih mendalam secara hukum internasional untuk melihat bagaimana kewenangan-kewenangan Uni Eropa dengan kewenangan IMF dalam penanganan krisis di wilayah integrasi regional. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini, sebagaimana berikut: 1. Bagaimanakah personalitas Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF) menurut Hukum Internasional yang berlaku? 42 “Yunani, Bom Kejatuhan Dunia”, sebagaimana dimuat dalam http://www.theglobal review.com/content_detail.php?lang=id&id=1545&type=6#.UpLtdfvDuKE pada tanggal 21 November 2013 09:36 WIB 43 Herman Lelieveldt & Sebastian Princen, “ The Politics of The European Union”, (USA: Cambridge University Press),hlm.55. Ketujuh institusi tersebut adalah European Council; European Commission; The Council of the European Union; European Parliament; European Court Of Justice; European Central Bank; dan Court of Auditors. Universitas Sumatera Utara 2. Bagaimanakah Lisbon Treaty mengatur mengenai kewenangan Uni Eropa dalam partisipasinya terkait penanganan krisis ekonomi Uni Eropa? 3. Bagaimanakah kewenangan International Monetary Fund (IMF) dalam penanganan krisis ekonomi global dikaitkan dengan keberadaan kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis ekonomi regional? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Untuk mengetahui kedudukan Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF) menurut Hukum Internasional yang berlaku. 2. Untuk mengetahui pengaturan kewenangan Uni Eropa menurut Lisbon Treaty dalam partisipasinya terkait penanganan krisis ekonomi Uni Eropa. 3. Untuk mengetahui kewenangan International Monetary Fund (IMF) dalam penanganan krisis ekonomi global dikaitkan dengan keberadaan kewenangan Uni Eropa dalam penanganan krisis ekonomi Uni Eropa. D. MANFAAT PENELITIAN Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan secara umum bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan secara khusus bagi ilmu hukum itu sendiri. Selain itu, bertujuan untuk mengisi kesenjangan dan Universitas Sumatera Utara minimnya literatur serta bahan pustaka yang membahas mengenai penanganan krisis ekonomi ditinjau dari peranan organisasi keuangan regional maupun internasional yang diperkirakan semakin dituntut peranan dan kapasitasnya di era globalisasi yang semakin kompleks. 2. Manfaat Praktis Melalui penelitian ini, kiranya dapat memberi pemahaman mendalam dan masukan bagi pemerintah Republik Indonesia, berkenaan dengan kerangka kerja sama regional Asean Economic Community 2015 mendatang yang sempat menimbulkan wacana pemberlakuan mata uang tunggal. Apa yang terjadi dalam masyarakat Eropa terkhusus dalam penanganan krisis ekonomi di tengah kesamaan mata uang dapat menjadi pertimbangan sendiri terhadap wacana tersebut. E. KEASLIAN PENELITIAN Penelitian berjudul “Tinjauan Hukum Internasional mengenai Peranan Uni Eropa dan International Monetary Fund sebagai Organisasi Internasional dalam Penanganan Krisis Uni Eropa” dapat dijamin orisinalitasnya. Gagasan awal penelitian ini lahir dari pengamatan pribadi sejak awal mula kegoyahan perekonomian satu persatu negara anggota Uni Eropa sampai pada akhirnya mempelajari khususnya mata kuliah Hukum Internasional dan Hukum Organisasi Internasional. Penuangan setiap ide dari keseluruhan konsep penelitian ini juga didukung dengan adanya perspektif netral atau objektif, membuat analisa yang komprehensif dari beberapa instrumen hukum internasional Universitas Sumatera Utara yang menaungi masing-masing organisasi ini khususnya keefektifan peranan keduanya dalam penanganan krisis yang sedikit banyak berdampak ke dunia. Jika dilihat dari keberadaannya di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, karya tulis berjudul sama belum pernah ditulis sebelumnya. Hanya saja, tidak dapat dipungkiri ada beberapa penelitian yang menyinggung mengenai perananan International Monetary Fund (IMF) dalam memberikan bantuan namun tidak untuk krisis ekonomi regional seperti Uni Eropa. Hal ini data dipastikan mengingat adanya penegasan serupa dari pihak administrasi baik di bagian perpustakaan maupun jurusan hukum internasional. F. TINJAUAN KEPUSTAKAAN Dalam skema hukum internasional, seperti yang diuraikan J.G Starke bahwa hukum internasional adalah sekumpulan hukum (body of law) yang sebagian terdiri dari asas-asas dan karena itu biasanya ditaati dalam hubungan negara-negara itu sama lain 44, dikenal juga cabang ilmu hukum organisasi internasional, hukum perjanjian internasional dan hukum ekonomi internasional. Pasal 102 ayat (1) Piagam PBB menguraikan bahwa Hukum Organisasi Internasional ialah cabang dari Hukum Internasional yang dipersatukan oleh badan PBB 45 dan yang semata-mata menyangkut organisasi internaisonal publik serta terdiri dari perangkat-perangkat norma-norma hukum yang berhubungan dengan organisasi internasional termasuk badan di bawah naungannya dan pejabat sipil internasionalnya. 44 45 J.G Starke.,”An Introduction to International Law”, (London: Butterworth, 1984) hlm.3 Pasal 102(1) Piagam PBB Universitas Sumatera Utara Kedudukan organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional tidak dapat diragukan lagi, meskipun pada awalnya belum ada kepastian tentang hal itu 46 sehingga memberikan kewenangan baginya sebagaimana diatur hukum internasional, misalnya membuat perjanjian. Seperti pendapat Mc Nair dalam bukunya The Law of Traties tentang kewenangan organisasi internaisonal: If fully sovereign state possesses a treaty power when acting alone, it is not surprising to find the same power attribute to an international organization which they have created from the members of which usually sovereign states. 47 Hak dan kewajiban organisasi internasional tersebut adalah benar-benar kewajiban sebagai organisasi internasional dan bukan hak dan kewajiban negaranegara yang menjadi anggota organisasi internasional tersebut secara individual. 48 Dalam pembahasan isu internasional juga melibatkan sumber-sumber hukum internasional sebagaimana termuat dalam Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional (International Court of Justice) yaitu: a. Perjanjian-perjanjian Internasional (International Conventions) ; b. Hukum Kebiasaan Internasional (International Custom); c. Prinsip umum hukum Internasional (The general principlesof Law Recognized by Civilized Nations); d. Putusan-putusan Pengadilan Internasional dan ajaran sarjana ahli (Subject to the Provisions of Article of 59, Judicial Decisions and the 46 Mochtar Kusumaatmadja, “Pengantar Hukum Internasional” Buku I Bagian Umum (Bandung: Penerbit Bina Cipta, 1982), hlm. 95. 47 Mc Nair, “The Law Of Trreaties”, (Oxford: The Claredon Press, 1961), hlm.50 48 Sri Setianingsih Suwardi, “Pengantar Hukum Organisasi Internasional”, (Jakarta: Penerbit UI Press, 2004), hlm. 9 Universitas Sumatera Utara teachings of the most highly qualified publicists of the various nations, as subsidiary means for the determination of rules of law. 49 Dengan demikian Article Agreement of International Monetary Fund dan Lisbon Treaty: Treaty of European Union (TEU), Treaty On the Functioning of European Union (TFEU) terhitung sebagai perjanjian internasional yang memiliki kekuatan sebagai sumber hukum internasional. G. METODE PENELITIAN Demi ketertiban dan keteraturan secara ilmiah, maka metode penelitian yang digunakan ialah: 1. Tipe Penelitian Secara umum, menurut Soerjono Soekanto dalam penelitian ilmu hukum dikenal dua jenis penelitian yaitu: a. Penelitian Yuridis Normatif meliputi: (i) Penelitian terhadap asas-asas hukum (ii) Penelitian terhadap sistematika hukum (iii) Penelitian terhadap taraf sinkronisasi hukum b. Penelitian Yuridis Sosiologis atau Empiris meliputi: (i) Penelitian terhadap identifikasi hukum (ii) Penelitian terhadap efektivitas hukum 50 Maka penelitian ini merupakan jenis penelitian normatif yang hendak meneliti ketentuan hukum internasional yang berlaku khususnya dalam 49 Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional (Statute of The International Court of Justice) 50 Soerjono Soekanto, “Pengantar Penelitian Hukum”, (Jakarta:UI Press, 2005), hlm.43 Universitas Sumatera Utara konstitusi organisasi internasional Uni Eropa yaitu Treaty of European Union (TEU), Treaty On the Functioning of European Union (TFEU) dan Perjanjian International Monetary Fund (Article of Agreements of The International Monetary Fund) mengenai kompetensi dan kewenangan masing-masing. Penelitian bertujuan melihat keefektifan kedua organisasi tersebut dalam penanganan krisis ekonomi Uni Eropa yang tentunya menurut perspektif hukum internasional. 2. Data Penelitian Adapun sumber data dari penelitian ini berasal dari penelusuran bahan pustaka (library research) yang terdiri dari: a. Bahan hukum primer (primary research / authoritative records) 51 Merupakan bahan-bahan yang memiliki kekuatan hukum mengikat masyarakat (untuk anggota Uni Eropa) karena dibuat pejabat berwenang. Dalam penelitian ini yang ditelusuri ialah dokumen berupa traktat atau perjanjian internasional sebagai anggaran dasar dari organisasi ekonomi seperti Hukum Uni Eropa Lisbon Treaty yang terdiri dari Treaty of European Union (TEU), Treaty On the Functioning of European Union (TFEU) diikuti protokol dan deklarasi yang juga menjadi kesatuan dalam dokumen tersebut serta Article of Agreements International Monetary Fund (IMF). Lebih jauh juga penelitian ini menjajaki tulisan ilmiah dalam buku, jurnal, surat kabar, serta bahan-bahan lain yang berkaitan. 51 Bambang Sunggono, “Metodologi Penelitian Hukum”, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.113-114. Universitas Sumatera Utara b. Bahan hukum sekunder (secondary research/ not authoritative records) 52 Merupakan bahan hukum yang dapat memberi penjelasan mengenai bahan hukum primer, dalam hal penelitian ini ialah penjajakan literatur ilmiah seperti buku, jurnal, hasil penelitian, makalah, kutipan seminar, surat kabar, serta bahan-bahan lain yang berkaitan c. Bahan hukum tersier (tertiary research) Merupakan bahan hukum yang dapat memberikan petunjuk guna kejelasan dalam memahami bahan hukum primer dan sekunder, 53 seperti kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya. Dalam penelitian ini digunakan kamus Bahasa Indonesia untuk fungsi penerjemahan. 1. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam sebuah penelitian maka digunakan teknik penelitian kepustakaan (library research) akan bahan-bahan pustaka atau data sekunder, yaitu penelusuran buku dan jurnal terkait baik milik perpustakaan maupun pribadi. Alat Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi dokumen yakni meneliti dokumen-dokumen perjanjian internasional terkait. 52 53 Ibid. Soerjono Soekanto, Op.Cit. hlm.52 Universitas Sumatera Utara Untuk memudahkan penelitian, dilakukan juga pengelompokkan data yang relevan kemudian tahap penganalisisan untuk pembahasan permasalahan tersebut. 2. Analisis Data Penelitian ini melakukan analisis data secara kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan dengan mengutamakan kalimat-kalimat bukan angka sepertihalnya pendekatan kuantitatif. Selain itu pendekatan kualitatif lebih mengutamakan dalamnya data dibanding banyaknya data. Oleh karena itu penelitian ini akan memfokuskan pada dua kewenangan yaitu: kewenangan organisasi moneter internasional yaitu IMF menurut konstitusi atau anggaran dasarnya Article of Agreements International Monetary Fund dan organisasi internasional Uni Eropa menurut Lisbon Treaty: Treaty of European Union (TEU), Treaty On the Functioning of European Union (TFEU). Secara keseluruhan penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dengan menjabarkan secara mendalam konsep yang diperlukan dan kemudian diuraikan secara komprehensif untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini serta penarikan kesimpulan dengan pendekatan atau metode berikut: a. Metode induktif Proses yang berawal dari proposisi-proposisi khusus sebagai hasil pengamatan dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan Universitas Sumatera Utara baru yang bersifat empirik. Data-data yang telah diperoleh selain dibaca ditafsirkan, dibandingkan juga diteliti demi konfirmasi akan kebenarannya sebelum dituangkan dalam skripsi. b. Metode deduktif Proses yang bertolak dari proposisi umum yang telah diketahui dan diyakini umum kebenarannya yang merupakan kebenaran ideal bersifat aksiomatik, tidak perlu diragukan lagi dan berujung pada kesimpulan (pengetahuan baru) yang bersifat khusus. c. Metode komparatif Sebuah metode yang melibatkan proses perbandingan (komparasi) antara satu sumber bahan hukum dengan bahan hukum lainnya. 54 H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Demi kemudahan dalam memahami setiap pembahasan skripsi ini, penulis melakukan pembabakan pembahasan menjadi 5 (lima) bab dengan sistematika sebagai berikut: BAB I : Bab I memuat hal yang menjadi latar belakang diangkatnya judul dan permasalahan tersebut. Adapun gagasan awal ini beranjak dari pengamatan proses penyelesaian krisis Uni Eropa sejak 2008 khususnya peranan otoritas tertinggi pemegang kebijakan ekonmi moneter Eurozone yaitu European Central Bank dan otoritas organ lain dalam Uni 54 Bambang Sunggono, Ibid. Universitas Sumatera Utara Eropa itu sendiri dengan hubungannya terhadap IMF sebagai organisasi keuangan internasional diikuti dengan perumusan masalah, tujuan penelitian, keaslian penelitian, tinjauan kepustakaan, metode penelitian dan ditutup dengan pengertian subjek hukum sistematika bab. BAB II :Menguraikan mengenai internasional itu sendiri berikut hak dan kewajibannya. Kemudian dibahas secara komprehensif mengenai personalitas Uni Eropa ditinjau dari hukum dasar baik dari Lisbon Treaty: Treaty of European Union (TEU), Treaty On the Functioning of European Union (TFEU) maupun regulasi terkait dan IMF dari Article of Agreements International Monetary Fund. BAB III :Pembahasan spesifik mengenai Uni Eropa personalitas sendiri menurut hukum internasional seperti yang sudah dibahas di bab sebelumnya, juga mengenai krisis ekonomi yang sampai saat ini sedang memasuki tahap penanganan masih menjadi permasalahan utama di tersebut. Perkembangan krisis itu sendiri, dampak dan setiap langkah penanganan yang telah dilakukan Uni Eropa, terkhusus menurut kacamata hukum internasional. BAB IV :Pembahasan didominasi dengan peranan dan kapasitas IMF selaku organisasi keuangan internasional, dimana salah satu Universitas Sumatera Utara fungsi utamanya ialah memberi bantuan pinjaman bagi negara yang mengalami krisis. Hanya saja yang perlu dicermati adalah Uni Eropa yang sendiri memiliki Bank Sentral dan unit-unit lain. Penelusuran lebih lanjut membahas kewenangan IMF dan Uni Eropa ditinjau dari hukum internasional. BAB V :Sebagai penutup, dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang menjadi kesimpulan dari tujuan penelitian hingga akhir pembahasan dilanjutkan dengan saran-saran yang timbul selama pengerjaan skripsi yang dianggap perlu bagi permasalahan tersebut. Universitas Sumatera Utara BAB II KEDUDUKAN UNI EROPA DAN INTERNATIONAL MONETARY FUND (IMF) SEBAGAI SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL MENURUT HUKUM INTERNASIONAL YANG BERLAKU A. Pengertian dan jenis subjek hukum internasional Subjek hukum atau subject van een recht dalam kajian ilmu hukum diartikan sebagai sesuatu yang menurut hukum berhak/berwenang untuk melakukan perbuatan hukum atau siapa saja yang mempunyai hak dan cakap bertindak dalam hukum, atau sesuatu pendukung hak yang menurut hukum berwenang/berkuasa bertindak menjadi pendukung hak (rechtsbevoegheid) dan kewajiban. 55 Adanya kemampuan sebagai pemilik hak dan pemikul kewajiban tersebut menempatkan subjek hukum dapat melakukan hubungan hukum dengan subjek hukum lainnya. Secara umum, yang dapat dikatakan sebagai subjek hukum ialah: a. Individu atau perorangan (Natuurlijk persoon) b. Badan hukum (Recht persoon/ Legal person) 56 Sebagai subjek hukum, individu atau perorangan memiliki derajat yang sama dihadapan hukum tanpa memandang asal usulnya, agama atau kepercayaan, ras atau etnis, maupun jenis kelamin. Padanya juga melekat hak-hak asasi manusia yang dewasa ini, khususnya pada negara hukum modern, sangat diatur, 55 R Soeroso, “Pengantar Ilmu Hukum”, (Jakarta: Sinar Grafika,2005), hlm.227 C.S.T Kansil, “Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia”, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 118 56 Universitas Sumatera Utara dilindungi serta dijunjung tinggi. Badan hukum merupakan suatu konstruksi yuridis yang dapat menunjukkan eksistensinya dalam berbagai bidang kegiatan. 57 Pendapat tersebut secara sederhana dapat dibawakan pada taraf internasional bahwa yang disebut subjek hukum internasional ialah setiap pemegang segala hak dan kewajiban menurut ketentuan hukum internasional. Tidak dapat dipungkiri jika negara mengambil tempat sebagai pribadi utama, mengingat pada awal mula kelahiran hukum internasional, hanya negaralah satusatunya entitas yang dipandang sebagai subjek hukum internasional. Pendefinisian hukum internasional (international law) sendiri diberikan karena hukum ini mengatur hubungan antara bangsa dengan bangsa atau dapat dikategorikan sebagai negara pada masa itu (inter: antara, nation: bangsa dan law: hukum). 58 Dahulu, banyak bermunculan negara merdeka seperti perkembangan di negara Kota Yunani, begitu juga pasca reruntuhan kekuasaan Romawi. Negaranegara tersebut menaati adat-istiadat yang muncul diantara mereka 59. Sudah menjadi kodratnya ketika lebih dari satu individu hidup sebagai masyarakat maka dibutuhkan ketentuan untuk mengatur segala yang mereka lakukan. Dalam hal ini negara memiliki kesederajatan makna dengan masyarakat internasional yang membutuhkan regulasi. Seperti yang diungkapkan Brierly: “Law exists only in a society and society can not exists without a system of law to regulate the relations of its members with one another.” 60 57 Ibid. J.L Brierly, “The Law of Nations”,(5th Edition,1955), hlm.1 59 J.G Starke, “Pengantar Hukum Internasional”, Edisi Kesepuluh, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 10 60 Bishop, “International Law Cases and Materials”, (Third Edition:1962), hlm.8 58 Universitas Sumatera Utara Kedua, pada perkembangannya negara diperhitungkan sebagai aktor hukum yang memberi sumbangsih besar bagi hukum internasional. Dalam berbagai hubungan internasional, perjanjian internasional maupun keputusankeputusan dan resolusi internasional, pendapat negara selalu dipertimbangkan dalam hubungan internasional. 61 Dalam praktik yuridis, negara juga menjadi pihak yang dibebankan kewajiban dengan klausula “Duty on State” seperti pada sejumlah perjanjian maupun konvensi internasional berikut: United Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM), maupun Konvensi Keanekaragamanhayati. Uraian tersebut memberi arti betapa primernya posisi sebuah negara sehingga tidak ada kekuasaan tertinggi yang dapat memaksakan keputusankeputusannya kepada negara atau yang acap kali disebut dengan kedaulatan negara. Hanya saja, tidak semua negara dapat diikutkan sebagai subjek hukum internasional. Ketentuan administratif dan limitatif telah dicanangkan dalam hukum internasional, yaitu dalam hal ini ketentuan Articles 1 Montevideo (Pan American) The Convention on Rights and Duties of State of 1933. Untuk menyebut sebuah entitas sebagai negara ada empat kriteria yang telah dianggap mencerminkan hukum kebiasaan internasional. Pasal tersebut berbunyi demikian: “The States as a person of international law should possess the following qualification: a permanent population; a defined territory; a government; and a capacity to enter into relations with other States.” 62 61 Boer Mauna, “Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global”, (Bandung: PT. Alumni, 2011),hlm.3 62 Lihat Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 Universitas Sumatera Utara Studi kemudian hari menuai sebuah perdebatan pasalnya berdasarkan hukum kebiasaan internasional, dibutuhkan juga subjek hukum lain yang perlu mendapat kedudukan sebagai subjek hukum internasional. Jadi dapat diuraikan bahwa subjek hukum internasional adalah sebagai berikut: 1. Negara yang berdaulat Henry C. Black memberikan pengertian negara sebagai berikut: “The political system of a body of people who are politically organized; the system of rules by which jurisdiction and authority are exercised over such a body of people” 63. Awalnya memang hanya negara merdeka dan berdaulat saja yang diperhitungkan, tetapi pada perkembangannya ada negara bagian yang mempunyai hak dan kewajiban terbatas atau dilakukan oleh pemerintah federalnya, seperti Bellorusia dan Ukraina pada masa Uni Sovyet 64 yang mendapat tempat sebagai subjek hukum internasional. Negara termasuk subjek hukum istimewa dan terpenting (par excellence) dan lebih lanjut negara tersebut haruslah memuat unsur-unsur tertuang dalam Pasal 1 Montevideo Convention on Right and Duties of States 1993. 2. Tahta Suci Vatikan Tahta Suci Vatikan (Stato della Citta del Vaticano) merupakan subjek hukum internasional yang telah ada sejak dahulu. Hal ini didasarkan pada sejarah bahwa pada zaman dahulu Paus tidak hanya Kepala Gereja Roma melainkan juga memiliki kekuasaan duniawi. 65 63 Bryan A. Garner (Ed.), “Black’s Law Dictionary” Seventh Edition, (St. Paul-Minnessota: West Publishing Co.), hlm.1415 64 Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit..,hlm.70-71 65 Mochtar Kusumaatmadja, Loc.Cit. Universitas Sumatera Utara Kewenangan Tahta Suci awalnya memang terbatas masalah kemanusiaan dan perdamaian umat, sehingga terkesan sebagai kekuatan moral belaka. Namun dalam perjalanannya pengaruh Paus sebagai Kepala Tahta Suci atau pemimpin Gereja Katolik diakui dalam hal sekuler di seluruh penjuru dunia,khususnya di semenanjung Italia. Tepatnya pada tahun 1870, dalam gerakan penyatuan Italia daerah yang dikuasai Paus disita menjadi wilayah bagian Italia termasuk ketika Roma dianeksasi. Hal ini diresponi Gereja katolik Roma dan sempat menimbulkan konflik yang akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Lateran (Laterant Treaty 1929) dimana pemimpin Italia mengakui Negara Vatikan sebagai negara merdeka dan berdaulat dibawah pemerintahan Tahta Suci. Italia juga memberikan ganti rugi terhadap penderitaan yang dialami Vatikan. 66 3. Organisasi internasional Keterbatasan pengertian organisasi internasional secara definitif, tidak membuat para ahli berhenti mengemukakan pendapatnya. Dalam literatur internasional, seperti D.W Bowett, merumuskan: 67 “In general, however, they were permanent association i.e postal or railway administration, based on upon a treaty of multilateral than a bilateral type and with some define criterion of purpose” Oranisasi internasional dewasa ini muncul disebabkan 1) pesatnya perkembangan teknologi dan komunikasi, sehingga timbul keinginan 66 Taufik Adi, “Ensiklopedi Pengetahuan Dunia Abad 20”, (Yogyakarta: Javalitera, 2010), hlm.107 67 D.W Bowett, “The Law of International Institutions”, Second Edition, (London: Butter Worth, 1970), hlm. 5-6 Universitas Sumatera Utara untuk mengatur secara kolektif dan 2) meluasnya hubungan internasional serta banyak hal yang tidak dapat diselesaikan secara bilateral atau saluran diplomatik sehingga para ahli hukum beberapa negara menggagas pembentukan organisasi internasional. 68 Secara khusus mengenai organisasi internasional akan dibahas dalam bagian lain penelitian ini. 4. Individu Individu dijadikan sebagai subjek hukum internasional (dalam arti terbatas) pertama kali sejak diadakannya Perjanjian Perdamaian Versailles (1919), 69 ia dapat bertindak atas nama dan untuk dirinya sendiri dalam wilayah hukum internasional. Demikian pula individu dapat dibebani kewajiban-kewajiban internasional dan dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatannya yang bertentangan dengan hukum internasional. Contoh dalam pasal-pasal Perjanjian Versailles tersebut telah dimungkinkan individu (perseorangan) mengajukan perkara ke hadapan Mahkamah Arbiter Internasional. 70 Tendensi hukum internasional memberikan pertanggungjawaban langsung kepada individu telah dikukuhkan dalam Genocide Convention dimana kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Jerman pada Perang Dunia II mengedepankan 'individual criminal responsibility' yang kemudian diterima oleh Majelis Umum PBB tanggal 9 Desember 1948. 71 68 Syahmin A.K., Ibid. Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit.., hlm. 74 70 Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit.., hlm. 74 71 L.J Le Blanc, “The Intend to Destroy Groups in the Genocide Convention” seperti dikutip oleh J.G Starke, Loc.Cit., hlm. 82. 69 Universitas Sumatera Utara 5. Komite Internasional Palang Merah Internasional (International Committee of Red Cross) Contrary to popular belief, the ICRC, is not a non- governmental organization in the most common sense of term, nor is it an inter-state organization such as the United Nations. Because it limits its membership to Swiss nationals only, and because new members are selected by the Committee itself (a process called cooptation), it does not have a policy of open and unrestricted membership for individuals like other legally defined NGOs. 72 ICRC merupakan subjek hukum internasional yang mempunyai arti tersendiri dalam hukum internasional. Lahir dari perkembangan sejarah dan kemudian diakui sebagai subjek hukum internasional dalam konvensi yaitu Konvensi Jenewa 1949 tentang perlindungan korban perang. 73 6. Pihak Bersengketa atau Pemberontak (Belligerent) Menurut Mochtar Kusumatmadja pengakuan belligerensi berawal dari munculnya konsepsi baru tentang pengertian bangsa-bangsa yang dianut negara dunia ketiga, yaitu bangsa-bangsa yang pada hakekatnya mempunyai hak asasi: hak untuk menentukan nasib sendiri; untuk bebas memilih sistem ekonomi, politik dan sosial sendiri; untuk menguasai sumber kekayaan alam dari wilayah yang didudukinya. 74 72 “International Comimitee of The Red Cross”, dikutip dari http://en.wikipedia.org/wiki/International_Committee_of_the_Red_Cross pada Minggu, 01 Desember 2013 16:38 WIB 73 Mochtar Kusumaatmadja, Op.Cit., hlm.120 74 Ibid., hlm.79 Adapun syarat diakuinya kaum beligeren adalah: a) kelompok tersebut telah menguasai beberapa wilayah dalam suatu negara, b) menjalankan pemerintahan yang teratur Universitas Sumatera Utara Kaum pemberontak mencapai tingkatan yang lebih tinggi dibanding pihak yang bersengketa baik secara politik, organisasi dan militer. Dalam batasbatas tertentu sudah mampu menampakkan diri tidak hanya ke dalam (wilayah nasional) tetapi juga keluar pada tingkat internasional. Pengakuan terhadap kaum pemberontak bersifat politis, dengan empat indikator yang harus dipenuhi yakni: a. Kaum pemberontak itu harus terorganisasi dan teratur di bawah pemimpinnya yang jelasl; b. Kaum pemberontak harus menggunakan tanda pengenal atau uniform yang jelas yang menunjukkan identitasnya; c. Kaum pemberontak harus sudah menguasai sebagian wilayah secara efektif sehingga benar-benar wilayah itu berada di bawah kekuasaannya; dan d. Kaum pemberontak harus mendapat dukungan dari rakyat diwilayah yang didudukinya. 75 Dengan hal seperti ini pemberontak akan tampak berkedudukan sama dengan pemerintah resmi dan juga negara berdaulat lain. Contoh Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organisation/PLO) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Indonesia. B. Personalitas organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional B.1 Perkembangan organisasi internasional Subjek hukum internasional yang dikonsentrasikan dalam hal ini ialah organisasi internasional. Pengertian organisasi internasional salah satunya dapat sebagai tandingan terhadap pemerintahan yang berkuasa, c) mentaati hukum perang dan mampu serta bersedia melindungi warga negara asing serta harta bendanya. 75 Lihat Protokol Tambahan 1977 Protocol Additional to Geneva Conventions of 12 August 1949 and Relating to Protection of Victims of International Armed Conflict. Universitas Sumatera Utara ditemukan dalam Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian Internasional dan Konvensi Wina 1986 tentang Hukum Perjanjian Antar Negara dan Organisasi Internasional atau Antara Organisasi Internasional bahwa organisasi internasional merupakan suatu organisasi antar pemerintah. 76 Faktanya tidak semua organisasi internasional adalah subjek hukum internasional. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi suatu organisasi internasional untuk dapat menjadi subjek hukum internasional, yaitu: 1. Harus dapat dibuktikan apakah organisasi internasional itu mempunyai hak dan kewajiban menurut hukum internasional, yang dapat dilihat dari perjanjian yang menjadi dasar terbentuknya organisasi tersebut; 2. Harus dilihat perkembangan organisasi internasional itu dalam masyarakat internasional; 3. Harus dilihat bentuk dan susunan organisasinya; 4. Organisasi internasional itu tidak bertentangan dengan Piagam PBB. 77 Lebih lanjut diklasifikasikan secara umum berdasarkan Piagam PBB bahwa ada dua jenis organisasi internasional yaitu: 1) organisasi internasional antar pemerintah atau International Governmental Organizations (IGOs) dan 2) organisasi non pemerintah atau Non Governmental Organizations (NGOs). 78 Organisasi internasional antar pemerintah atau International Governmental Organizations (IGOs) adalah organisasi permanen yang dibentuk oleh dua negara atau lebih dengan membawa aktivitas yang menjadi kepentingan 76 Pasal 2 ayat 1(i) Konvensi Wina 1969 dan 1986 Edy Zulham, Bahan Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara: Subjek Hukum Internasional, 2011. 78 Pasal 71 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa 77 Universitas Sumatera Utara bersama. 79 Menilik dari catatan sejarah, organisasi, IGOs mengambil tempat dalam perhatian hukum internasional ketika tidak memadainya sistem konferensi ad hoc untuk memecahkan masalah politik yang timbul dari hubungan internasional, bahkan bagi pengaturan hubungan antara kelompok rakyat sebuah negara yang berbeda dari kepentingan. 80 Selain pembentukan International Governmental Organizations (IGOs), saat itu diwarnai juga dengan pembentukan organisasi-organisasi non-pemerintah atau International Non-Governmental Organizations (IGOs (NGOs). Data Union of International Associations mencatat berdampingan dengan perkembangan IGOs yang berjumlah 7 pada tahun 1970-an menjadi 37 pada 1909, perkembangan NGOs lebih cepat dengan pencapaian 176 pada waktu yang sama. 81 Non Governmental Organisations (NGO's) adalah suatu lembaga yang didirikan atas prakarsa swasta atau non-pemerintah. Menurut Yearbook of International Organizations kini terdapat lebih dari 6.500 NGOs yang memiliki keanggotaan dan wilayah operasi di sejumlah negara. Ruang lingkup kegiatan NGOs ini sangat luas dan beraneka ragam: Bidang humaniter seperti Komite Internasional Palang Merah Internasional atau (International Committee of Red Cross/ICRC) yang didirikan oleh Henry Dunant di tahun 1949 dan sangat berperan dalam pembentukan rezim hukum perang, Amnesty International ataupun dewan gereja. Bidang politik seperti Federasi 79 Clive Archer, “International Organizations”, (1983), hlm.35: mendefinisikan organisasi antar pemerintah sebagai struktur formal berkesinambungan yang didirikan berdasarkan perjanjian antar anggota (pemerintahan maupupun bukan pemerintahan) dari dua negara berdaulat atau lebih dengan tujuan yang menjadi kepentingan bersama”. 80 D.W. Bowett, Op.Cit. 81 Yearbook of International Organizations, 1974, Vol.15 seperti dikutip oleh Boer Mauna, Op.Cit., hlm.460 Universitas Sumatera Utara Sosialis, Komunis, Liberal. Bidang ilmu pengetahuan seperti the Institute of International Law Assosiation. Bidang olahraga seperti Komite Olimpiade Internasional dan bidang perlindungan lingkungan seperti Greenpeace. 82 Perkembangan NGOs mampu mencuri perhatian terhadap lembagalembaga formal dunia, misalnya Bank Dunia. Contohnya, saran dari NGOs kepada Bank Dunia untuk membatalkan keputusan membiayai proyek pembangkit tenaga listrik di Nepal cukup diperhitungkan. 83 Terhadap Protokol Kyoto, NGOs seperti Friends of Earth dan WWF juga aktif meningkatkan kewaspadaan mengenai bagaimana protokol itu dilaksanakan. Begitu juga kajian HAM internasional, NGOs memberi perhatian ditandai dengan maraknya forum-forum HAM di tingkat universal maupun regional dan lokal. Kemudian hari timbul wacana tentang pengajuan NGOs sebagai subjek hukum internasional, hal ini didasari pada kiprah NGOs yang memperoleh status konsultatif pada badan-badan tertentu seperti Dewan Ekonomi dan Sosial PBB. 84 Namun sampai saat ini NGOs ditegaskan bukan subjek hukum internasional meski kontras dengan keberadaannya yang makin berperan besar dalam proses pembentukan hukum internasional. Kembali pada organisasi internasional antar pemerintah atau International Governmental Organizations (IGOs) Schwarzenberger menyatakan bahwa berdasarkan fungsinya organisasi internasional dibagi dalam lima (5) klasifikasi sesuai dengan: 82 Boer Mauna, Op.Cit., hlm.54 Margaret P Karns, “International Organizationz: The Politics and The Process of Global Governance”, (London: Lynne Rienner, 2004), hlm.10 84 Lihat Pasal 71 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa 83 Universitas Sumatera Utara a. durasi atau lamanya; adhoc, provisional dan organisasi yang permanen b. sifat kekuasaannya; judicial, conciliatory, governmental, admininistrative, co-operative dan legislative. Jika memberikan bantuan sepenuhnya tergolong comprehensive tetapi jika sebaliknya maka tergolong non-comprehensive. c. sifat homogen atau heterogen sasarannya yakni organisasi yang memiliki satu atau beberapa maksud dan tujuan sejalan dengan sifat sesungguhnya, juga tujuannya adalah politis dan fungsional yang disebutkan dalam ekonomi, sosial, kemanusiaan dan kelembagaan d. bidang yurisdiksinya: personal scope menyangkut universal, universalist dan sectional, geographical scope berupa global, regional dan local, substantive scope berupa general dan limited, temporal scope berupa limited dan unlimited e. tingkat integrasi yang meliputi lembaga internasional dan lembaga supranasional. Penjelasan berikutnya ialah untuk klasifikasi organisasi internasional berkekuasaan supra nasional mampu mengeluarkan keputusan maupun peraturan yang langsung mengikat baik individu, pemerintah bahkan negara, misalnya Uni Eropa yang didirikan berdasarkan hasil Perjanjian Roma 25 Maret 1957. 85 Hal yang membedakan antara organisasi internasional dengan negara ialah organisasi internasional merupakan himpunan dari negara-negara bukanlah subjek asli (mengingat predikat par excellence yang melekat pada negara). Organisasi 85 George Schwarzenberger, “A Manual of International Law: First Edition”, (London: S tevens & Sons Limited, 1967), hlm.238 Universitas Sumatera Utara internasional ialah subjek hukum “buatan” yang dibuat oleh negara-negara yang menciptakannya melalui perjanjian internasional. Menurut segi kewenangan-pun organisasi internasional cenderung lebih sempit dibanding negara-negara. 86 Organisasi internasional sebagai subyek hukum internasional dapat melakukan hubungan bukan saja antara mereka sendiri, tetapi juga dengan subyek hukum internasional lain. Organisasi-organisasi internasional dapat juga menggunakan pengaruhnya dan menerapkan batasan-batasan terhadap kebijakankebijakan dan cara-cara negara-negara anggotanya. 87 B.2 personalitas hukum organisasi internasional Urgensi dari keberadaan subjek hukum internasional ialah kejelasan mengenai pertanggungjawaban hukum dalam kancah hubungan internasional. Berbicara mengenai pertanggungjawaban maka personalitas hukum (legal personality) menjadi hal penting yang harus dipastikan melekat padanya. Maryan Green merumuskan pengertian tentang personalitas hukum dari subjek hukum internasional dengan analogi pada personalitas hukum dari subjek hukum nasional sebagai berikut: “Personalitas dari suatu subjek hukum internasional adalah ukuran dari kapasitasnya untuk bertindak. Beberapa negara, seperti individu-individu dalam hukum nasional, memiliki personalitas hukum yang berukuran penuh. Lainnya, seperti perusahaan dalam hukum nasional, hanya memiliki personalitas hukum sesuai yang disetujui terhadap mereka”. 88 86 Ibid. Margaret P Karns, Ibid.,hlm.8 88 N.A Maryan Green,”International Law, Law of Peace”, (London: Mac Donald &Evants Ltd., 1973), hlm.30 87 Universitas Sumatera Utara Begitu juga dengan organisasi internasional dalam kiprahnya di dunia internasional, maka persyaratan akan personalitas hukum menjadi hal yang mutlak dimiliki agar mampu bertindak dalam hubungan internasional, untuk melaksanakan fungsi hukum seperti membuat kontrak, membuat perjanjian dengan suatu negara atau mengajukan tuntutan dengan negara lainnya. Tanpa personalitas hukum, sebuah organisasi internasional tidak dapat bertindak secara sah menurut hukum. 89 Hukum yang dimaksud baik personalitas hukum terhadap hukum nasional terkait dengan kekebalan dan keistimewaan bagi organisasi internasional itu sendiri di wilayah negara anggota berikut juga pejabatpejabat sipil organisasi tersebut. maupun hukum internasional. 90 Personalitas organisasi internasional semakin diakui setelah adanya kasus “ Reparation For Injuries Case”, dimana Majelis Umum PBB berdasarkan Resolusi 258(III) meminta pendapat hukum tentang apakah PBB memiliki kemampuan hukum (legal capacity) untuk mengajukan tuntutan kepada pemerintah yang bertanggung jawab atau tidak. Dalam kesimpulannya, Mahkamah Internasional memberikan Advisory Opinion yang terkenal tanggal 11 April 1989 berjudul: “Reparation for Injuries Suffered in the Service of the United Nations” yang menempatkan PBB sebagai pribadi internasional yang dapat mempertahankan haknya dengan jalan mengajukan tuntutan atau klaim internasional. 91 Seperti pernyataan berikut: 89 N.A Maryan Green, Loc.Cit. Sumaryo Suryokusumo,”Hukum Organisasi Internasional” Cetakan Pertama, (Jakarta: Penerbit UI Press, 1990), hlm.113. 91 Mochtar Kusumaatmadja, “Pengantar Hukum Internasional-Buku I Bagian Umum” (Bandung: Binacipta), 1989, hlm 7. 90 Universitas Sumatera Utara “... the Court has come to the conclusion that the Organisation is an international person ... it is a subject of international law and capable of possesing international rights and duties, and it has capacity to maintain its rights by bringing international claims” Sebuah studi yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional menyatakan personalitas hukum sebuah organisasi internasional berbeda dengan negara-negara yaitu adanya pembatasan prinsip spesialitas. Ini berarti organisasi internasional hanya dapat melaksanakan kapasitas yuridik yang dimiliki dalam tujuan tetap piagam konstitutif organisasi itu. Berdasarkan uraian diatas, dapat dielaborasi secara teoritis dan akademis mengenai kapasitas yang lekat pada kepemilikan personalitas dalam beberapa aspek berikut: a. Organisasi-organisasi internasional dapat membuat perjanjian internasional dengan negara anggota, negara lain atau organisasi internasional lainnya seperti termaktub dalam Pasal 6 Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian antara Negara-Negara dan OrganisasiOrganisasi Internasional; b. Organisasi-organisasi internasional memiliki hak legasi pasif untuk mengadakan hubungan dengan misi-misi tetap negara anggota yang menghendaki dan hak legasi aktif untuk melaksanakan misi diplomatik di negara atau bahkan organisasi internasional tertentu seperti yang dilakukan PBB dan Uni Eropa; Universitas Sumatera Utara c. Organisasi internasional memiliki hak untuk mengajukan pengaduan internasional atas kerugian yang diderita.; d. Organisasi internasional memiliki otonomi keuangan dan kapasitasnya untuk mempunyai anggaran belanja sendiri. 92 Apabila pada konstitusi organisasi internasional tidak menyatakan secara eksplisit akan personalitas hukum dari organisasi tersebut, maka personalitas hukum masih akan dinikmati oleh organisasi tersebut ketika adanya kesediaan dari suatu negara untuk mengadakan sebuah perjanjian dengan organisasi tersebut, maka dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap personalitas hukumnya. C. Wewenang organisasi internasional dalam hukum internasional Secara akademis keberadaan organisasi internasional terbukti memiliki personalitas hukum yang melahirkan suatu akibat lain yaitu kepemilikan wewenang dalam kegiatan operasionalnya. Mengutip pendapat Louis A Allen yang mengatakan “Authority is the sum of the power and rights entrusted to make possible the performance of the worh delegated” (Wewenang adalah sejumlah kekuasaan (powers) dan hak (rights) yang didelegasikan pada suatu jabatan). Penjelasan utama mengenai wewenang sebuah organisasi internasional dapat dilihat dari kebijakan dan keputusannya yang memiliki kekuatan hukum. Adapun kebijakan berkekuatan hukum tersebut memiliki pengaruh kuat dan dapat dirasakan didalam keanggotaannya. 92 Boer Mauna, Op.Cit.,hlm 480-482 Universitas Sumatera Utara Organisasi internasional memiliki wewenang seperti: a. membuat ketentuan hukum untuk memperlancar kegiatan internal; b. mengikuti konvensi-konvensi internasional, sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Konvensi Wina tahun 1986 yang memberikan kepada organisasi internasional kapasitas untuk membuat perjanjian internasional dengan subjek hukum internasional lainnya; c. memberikan bantuan ekonomi, keuangan, administratif atau dalam hal-hal tertentu bantuan militer kepada negara lain; d. representasi diplomatik seperti hak legasi, pengawasan regularitas penyelenggaraan pemilu dan sebagainya. 93 Wewenang internal ini muncul sebagai reaksi adanya konsensus tiap negara di awal pembuatan organisasi yang secara langsung dapat menekan negara dalam mematuhi mekanisme birokrasi. Hal ini disempurnakan dengan mekanisme pengawasan negara-negara anggota yang tidak melaksanakan kewajiban yang telah disepakati sebelumnya dan menjatuhkan sanksi seperti tercantum dalam pasal 19 Piagam PBB. 94 Hukum internasional menegaskan eksistensi organisasi internasional yang memiliki personalitas hukum sangat membantu pembentukan hukum internasional sehingga pengaruh wewenang ini juga meluas diluar keanggotaannya. Seperti J.G Starke mengungkapkan bahwa: “Decisions or determinations of the Organs of 93 94 Ibid. Pasal 19 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa Universitas Sumatera Utara International Institutions, or of international conference, may lead to the formation of rules of international law in a number of different ways” . 95 Keputusan tersebut mengikat bukan hanya para anggotanya tetapi juga masyarakat internasional, 96 contohnya keputusan Mahkamah Internasional dalam perkara perikanan Norwegia dan Inggris tahun 1951, dimana Mahkamah tersebut membenarkan cara penarikan garis pangkal lurus (straight base line). Keputusan tersebut masyarakat internasional dalam Konvensi Hukum Laut 1958. 97 Kondisi demikian sekaligus membawa respon adanya tanggung jawab internasional yang harus dipatuhi dibalik wewenang yang dilekatkan, seperti ketika tiap-tiap perbuatan atau kelalaian dilakukan organisasi internasional tidak sesuai dengan ketentuan hukum ataupun perjanjian internasional maka pertanggungjawaban organisasi internasional bukan sesuatu yang mustahil. Salah satu kasus mengenai pertanggungjawaban organisasi internasional ialah penuntutan terhadap PBB untuk minta ganti rugi dari tindakan-tindakan yang dilakukan pasukan pemeliharaan perdamaian PBB di Kongo ( Operation des Nation Unies au Congo/ONUC) tahun 1960-an yang menimbulkan banyak pihak mengajukan tuntutan ke tribunal nasional yaitu peradilan Belgia namun PBB menempatkan tanggung jawabnya melalui persetujuan ganti rugi dengan Republik Kongo tanggal 27 November 1961 dan Belgia 20 Febuari 1965. 98 Sejauh 95 J. G Starke, “Introduction to International Law”, (London: Butterworth, 1984), hlm.50 Sri Setianingsih Suwardi, ”Pengantar Hukum Organisasi International”, (Jakarta: UIPress, 2004), hlm.16 97 Keputusan Mahkamah Internasional tentang Perikanan keputusan tanggal 18 Desember 1951. 98 Boer Mauna, Op.Cit., hlm.483 96 Universitas Sumatera Utara pembahasan ini, wewenang internasional menambah bukti akurat akan kepemilikan personalitas hukum oleh organisasi internasional. D. Personalitas IMF dan Uni Eropa sebagai subjek hukum internasional menurut hukum internasional yang berlaku. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa memasuki Perang Dunia ke-II gagasan akan perlunya lembaga keuangan internasional mulai dirintis. Tepatnya pada 1944-1945 diadakanlah Konferensi Moneter dan Keuangan PBB (United Nations Monetary and Financial Conferences) diadakan di Hotel Mount, Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Sekitar 730 orang policymakers dan para pakar keuangan internasional dari 45 negara hadir untuk menulis kembali aturan-aturan sistem keuangan internasional sehingga dampak Perang Dunia II tidak akan mengulangi perdagangan dan kebijakan moneter yang buruk pasca Perang Dunia I 99 . Konferensi ini menghasilkan dasar-dasar bagi pendirian dua lembaga keuangan internasional yakni IMF dan Bank Dunia atau dikenal juga dengan Lembaga Bretton Words (Bretton Woods Institutions.) 100. Jika dikualifikasikan mengenai subjek hukum internasional baik itu negara (state actor) dan bukan negara (non state actors) maka dapat dibuktikan bahwa kedua lembaga ini khususnya IMF termasuk sebagai organisasi internasional (non state actors). 99 Bill Orr, “Are the IMF and the World Bank on the Right Track?”, (ABA Banking Journal, 1990), hlm.74 100 G.J.H van Hoof, “Supervision Within the World Bank” dalam Supervision Mechanisms in International Organizations,eds.,P.van Dijk (Kluwer: T.M.C Asser Institute, 1984) hlm. 403 sebagaimana dikutip oleh Jelly Leviza, “Tanggung Jawab Bank Dunia dan IMF sebagai Subjek Hukum Internasional”, (Jakarta: PT Sofmedia, 2009), hlm. 24. Universitas Sumatera Utara Uraian Leroy Bennet memberi pemahaman lebih lanjut tentang elemenelemen yang harus dimiliki sebuah organisasi internasional sebagai berikut: 1) A permanent organization to carry on a continuing set of functions; Maka IMF, jelas merupakan sebuah organisasi permanen memiliki banyak negara anggota dengan fungsi yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat pada klausula dalam Anggaran Dasar IMF yaitu: ”To promote international monetary cooperation through a permanent institution….” 101 2) Voluntary membership of eligible parties; IMF memiliki jumlah anggota yang hampir global yang terdiri dari 184 negara yang terikat berdasarkan perjanjian persetujuan bukan pemaksaan untuk melindungi kedaulatan negara dalam setiap kegiatan dilakukan. Bergerak untuk mengupayakan kesejahteraan umat manusia seperti yang termuat dalam Pasal 1(5) yang menyatakan tujuan IMF antara lain adalah: “To give confidence to members by making the general resources of the Fund temporarily avalaible to them under adequate safeguards, thus providing them with opportunity to correct maladjustments in the balance of payments without resorting to measures destructive of national or international prosperity” Adapun sumber keuangannya diperoleh berdasar iuran para anggotanya ini. 3) Basic instrument stating goals, structure and methods of operation; 101 Article I (1) Article of Agreements International Moneter Fund Universitas Sumatera Utara Perangkat konstitusi atau hukum dasar yang memuat tujuan, struktur dan metode beroperasinya IMF yaitu The Article of Agreements International Moneter Fund. 4) A broadly representative consultative conference organ; IMF memiliki organ-organ dibawahnya yaitu Dewan Gubernur, Dewan Eksekutif, Direktur Pengelola dan Para Staf. 102 Setiap negara anggota biasanya diwakili oleh Menteri Keuangan atau Pimpinan Bank Sentralnya. 5) Permanent secretariat to carry on continuous administrative, research and information functions IMF adalah lembaga sentral dari sistem moneter internasional dengan markas besarnya berlokasi di Washington, D.C sekaligus kantor penghubung di Paris dan Tokyo untuk melaksanakan hubungan dengan lembaga regional maupun internasional lainnya dan di New York dan Jenewa, terutama sebagai penghubung dengan lembaga lain di dalam sistem PBB. Terdapat 80 perwakilan yang ditempatkan di negara-negara anggota untuk membantu memberi nasihat tentang kebijakan ekonomi. Lebih lanjut jika dikonsentrasikan kepada keberadaan IMF, dapat dilihat pada Pasal 1 Ayat 1 bagian (ii) dari Convention on The Privileges and Immunities of The Specialized Agencies 1947 yang mendaftarkan IMF termasuk dalam badanbadan khusus PBB. Hal ini dibuktikan pada kriteria bahwa IMF keberadaannya didasarkan pada suatu perjanjian antar pemerintah yang menyepakati Articles of Agreements of The International Monetary Fund sebagai konstitusinya. Meskipun 102 Article XII Article of Agreements International Moneter Fund Universitas Sumatera Utara merupakan badan khusus, keberadaan IMF cenderung lebih lama dibanding PBB sehingga tidak dikategorikan sebagai alat perlengkapan PBB. Akan tetapi IMF juga wajib beroperasi dalam aturan main yang disetujui dalam prinsip dan tujuan Piagam PBB 103. Mengindahkan hukum hak asasi internasional sebagai bagian dari hukum internasional publik, prinsip-prinsip hukum umum dan semua sumber hukum. 104 Terpenuhinya keseluruhan syarat tersebut semakin menjelaskan posisi IMF sebagai organisasi internasional yang eksis di bawah naungan hukum internasional. Sehubungan dengan itu Komisi Hukum Internasional saat ini sedang membahas topik yang sangat relevan dengan organisasi internasional yaitu the legal status of international organizations. Komisi Hukum Internasional berpendapat bahwa: 105 International organizations shall enjoy legal personality under international law and under the internal law of their member states. They shall have the capacity to the extent compatible with the instrument establishing them to: (1) contract (2) acquire and dispose of movable and immovable (3) institute legal proceedings The capacity of an international organization to conclude treaties is governed by the relevant rules of that organizations. Dengan kata lain untuk mencapai sasaran yang ditetapkan oleh negaranegara anggota yang membentuknya, organisasi internasional tentunya harus dilengkapi dengan personalitas hukum yang memungkinkannya untuk melaksanakan tugas dengan baik. 106 103 Pasal 41 dan 42 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa Pasal 38 (1) Statuta Mahkamah Internasional 105 “Report of The International Law Commission on Relations between States and International Organizations”, Yearbook of the International Law Commissions 1987, Volume I. 106 Boer Mauna, Op.Cit.,hlm.476 104 Universitas Sumatera Utara Lebih jauh, untuk membuktikan apakah organisasi internasional mempunyai hak dan kewajiban menurut hukum internasional, maka harus kembali melihat akta atau perjanjian dasar berdirinya organisasi tersebut. Sebab, organisasi internasional dibatasi oleh kewenangan konstitusional, membuat lembagalembaga ini berbeda secara mendasar dari negara-negara sebagai subyek hukum internasional. Secara praktis fungsi sebuah organisasi internasional yang tidak berada dalam ketentuan-ketentuan tegas konstitusinya, prima facie adalah di luar kewenangannya. Ini termaktub dalam International Court of Justice yang merujuk pada organisasi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sebagainya: ” Sementara suatu negara memiliki keseluruhan hak dan kewajban internasional, hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari suatu kesatuan seperti organisasi ini harus bergantung pada tujuan-tujuan dan fungsi-fungsinya seperti yang dirinci atau yang tersirat dalam dokumen-dokumen konstitusi dan yang berkembang dalam praktek” 107 Bagi IMF personalitas hukum sekaligus hak dan kewajibannya ditetapkan dalam pasal-pasal sebagai berikut: 1. Pasal IX (2) “Status of Fund” dari AD IMF yang menyebutkan bahwa: “The Fund shall posses full juridical personality and in particular the capacity to contract….” 2. Pasal IX AD-nya IMF juga menyebutkan keabsahan personalitasnya: “to enable the Fund to fulfill the functions with which it is entrusted, the status, 107 ICJ 1949, 180 Universitas Sumatera Utara immunities and privileges set forth in this Article shall be accorded to the Fund in the territories of each member”. 3. Pasal IX (1) Anggaran Dasar IMF bahwa: ”To enable the Fund to fulfill the functions with which it is entrusted, the status, immunities and privileges set forth in this Article shall be accorded to the Fund in the territories of each member”. 108 Berkaitan dengan point pertama tentang kemampuan atau kapasitas untuk menjadi pihak dalam pengadilan internasional perlu digarisbawahi bahwa organisasi internasional tidak hanya dapat menuntut tetapi juga harus bertanggung jawab atas kesalahan dan kelalaiannya. Berarti organisasi internasional tersebut dapat berkedudukan sebagai penggugat maupun tergugat. Jika diluaskan akan personalitas IMF terhadap hukum nasional maka lahirlah kekebalan menyangkut hal-hal sebagai berikut: 109 1) Kekebalan dari proses peradilan (immunity from judicial process) 110 2) Kekebalan dari tindakan-tindakan lain (immunity from other action) 111 3) Kekebalan atas arsip-arsip (immunity of archives) 112 4) Kekebalan pembatasan aset-aset (freedom of assets from restrictions) 113 5) Perlakuan khusus untuk berkomunikasi (privilege for communications) 114 6) Kekebalan dan perlakuan khusus bagi para karyawan dan pekerja (immunities and privilegs of officers and employees) 115 108 Article IX(1) Article of Agreements International Moneter Fund Article IX Article of Agreements International Moneter Fund 110 Article IX (3) Article of Agreements International Moneter Fund 111 Article IX (4) Article of Agreements International Moneter Fund 112 Article IX (5) Article of Agreements International Moneter Fund 113 Article IX (6) Article of Agreements International Moneter Fund 114 Article IX (7) Article of Agreements International Moneter Fund 109 Universitas Sumatera Utara 7) Kekebalan dari pajak (immunities fo taxation) 116 IMF juga memiliki personalitas hukum yang dapat dibuktikan menurut: 1. Hubungan dengan organisasi internasional lain (relations with other international organizations) 117, yaitu antara IMF dengan PBB; 2. Hubungannya dengan negara-negara bukan anggota (relations with non member countries) 118 Meskipun IMF ditentukan dan dibatasi oleh konstitusinya, namun dalam keadaan tertentu demi efektivitas tugas dan tujuannya maka dimungkinkan untuk melakukan interpretasi hukum sepanjang berkaitan dengan kewenangannya. Hal ini mengacu bukan hanya pada konstitusi mereka tapi juga telah diakui dalam hukum internasional. 119 Berpindah kepada organisasi internasional lain yang juga menjadi pembahasan dalam penelitian ini yaitu Uni Eropa. Untuk menguji validitas Uni Eropa perlu dianalisis kembali melalui kriteria-kriteria sebuah subjek hukum internasional apakah termasuk negara ataupun organisasi internasional. Pertamatama, jika dikualifikasikan sebagai subyek hukum internasional, dalam pribadi negara harus memenuhi ketentuan Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 sebagai berikut : “The state as a person of international law should posses the following qualification: 115 Article IX (8) Article of Agreements International Moneter Fund Article IX (9) Article of Agreements International Moneter Fund 117 Article X Article of Agreements International Moneter Fund 118 Article XI Article of Agreements International Moneter Fund 119 Jelly Leviza, Op.Cit.., hlm.149 116 Universitas Sumatera Utara a. A permanent population : Uni Eropa jelas memiliki kesatuan masyarakat yang tetap. Untuk Eropa secara umum terdiri dari 50 negara merdeka dan berdaulat, 7 daerah depedensi dan otonom, 4 negara dengan pengakuan terbatas. Sementara Uni Eropa sejak Juli 2013 telah berjumlah 28 negara anggota. 120 b. A defined territorial: Hal ini pun jelas bahwa Uni Eropa menduduki wilayah yang jelas dan tetap yaitu Benua Eropa. c. Government: Masing-masing negara memiliki pemerintahan baik jenis berdaulat, terbatas maupun depedensi. d. Capacity to enter into relations with other states : Sejak pendiriannya tercatat bahwa Eropa memiliki kemampuan untuk melakukan kerjasama dengan negara lain. Secara formal seperti tertuang dalam Pasal 220 TFEU yang mendukung segala bentuk kerja sama dengan PBB, (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) dan (Organization for Securtiy and Cooperation in Europe/ OSCE). 121 Tidak ada catatan berarti yang meragukan eksistensi Uni Eropa jika dikualifikasikan sebagai negara. Kedua, sebagai pembanding, jika Uni Eropa dikualifikasikan sebagai subyek hukum internasional dalam pribadi organisasi internasional. Jika dimasukkan dalam klasifikasi menurut Paul Reuter, yaitu tipologi organisasi internasional menurut tujuannya, menurut kekuasaannya dan menurut 120 “Daftar negara di eropa”, dikutip dari http://www.id.m.wikipedia.org/wiki/daftar_negara_di_Eropa pada Minggu 05 Januari 2014 10:00 WIB 121 Articles 220-1 Treaty on the Functioning of European Union Universitas Sumatera Utara luas atau ruang lingkupnya. 122 Maka Uni Eropa termasuk klasifikasi ketiga, yaitu organisasi bersifat regional yang bervokasi non universal dan keanggotaannya terbatas pada beberapa negara tertentu yang berdekatan secara geografis. 123 Pembuktian akademis lebih dalam akan kedudukan Uni Eropa sebagai sebuah organisasi dapat mengacu pada ketentuan Pasal 24 (1) Piagam PBB, bahwa suatu organisasi internasional hanya dapat bertindak melalui organorgannya. Secara normal organ-organ dibawah Uni Eropa tidak memiliki personalitas hukum, setiap organ bertindak atas nama dan atas kewenangan organisasi kecuali konstitusinya menentukan lain. Sejalan dengan pendapat sedikitnya ada tiga unsur utama dari suatu organisasi internasional yaitu: (i) adanya himpunan negara sedikitnya tiga negara atau lebih; (ii) adanya suatu perjanjian internasional yang menjadi dasar pembentukannya dan (iii) adanya organ yang berfungsi untuk menjalankan fungsinya, maka Uni Eropa memiliki ketiga perangkat tersebut yaitu negaranegara pendiri (the Inner Sixth) diikat berdasarkan kesepakatan atau persetujuan bersama yaitu dalam bentuk traktat dan beroperasinyapun dimanifestasikan oleh organ-organ dibawahnya sebagai perpanjangtanganan: contoh Komisi Eropa, Dewan Eropa, Parlemen Eropa dan Mahkamah Eropa. 124 122 Wolfgang Friedman, “The Changing Structure of International Law”, (New York: Columbia University Press, 1964), hlm.162-163 123 Boer Mauna, Op.Cit.,hlm. 464 124 “The Institutions of The Union”, dikutip dari http://europa.edu./scadplus/constitution/institutions_en.htm pada Rabu, 02 Januari 2014 22:50 WIB Universitas Sumatera Utara Kembali ditegaskan melalui pendekatan yang diutarakan oleh Leroy Bennet tentang elemen-elemen yang harus dimiliki sebuah organisasi internasional sebagai berikut 125: 1) A permanent organization to carry on a continuing set of functions; Pada akhirnya disebut sebagai Uni Eropa dengan kelembagaan supranasional melintasi pemerintah-pemerintah berdaulat yang memiliki tujuan menurut perjanjian awalnya yaitu Pasal 2 Perjanjian Roma 1957 yaitu 126: (i) pembangunan kegiatan ekonomi yang serasi untuk semua masyarakat; (ii) pengembangan yang seimbang dan berlanjut; (iii) stabilitas yang meningkat; (iv) kenaikan standar penghidupan yang dipercepat dan; 127 (v) hubungan yang lebih erat antar anggota. 2) Voluntary membership of eligible parties; Keanggotaan Uni Eropa tergabung secara sukarela, mulai 25 Maret 1957 enam negara, 50 tahun kemudian komunitas Eropa terus berkembang, pada tahun 1993 menyetujui Perjanjian Maastricht dengan pengembangan dari ekonomi hingga masalah luar negeri. Kini Uni Eropa sudah memiliki 28 negara anggota dengan populasi 500 juta orang. 128 125 A. Leroy Bennet, Op.Cit.., hlm.3 M Budiarto, “Dasar-Dasar Integrasi Ekonomi dan Harmonisasi Masyarakat Eropa”, (Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 1991), hlm.8 127 Tujuan pertama sampai dengan keempat disebut dengan tujuan bidang sosio-ekonomik sementara tujuan kelima disebut tujuan politik. Ibid. 128 I Ward, “A Criitical Introduction to European Law”, 3rd edn, (Cambridge: Cambridge University Press, 2009), hlm.108 126 Universitas Sumatera Utara 3) Basic instrument stating goals, structure and methods of operation; Eropa terbentuk berdasarkan adanya Perjanjian Roma 1957 yang kini diamandemen menjadi Lisbon Treaty: Treaty of European Union (TEU) dan Treaty on the Functioning of the European Union. Dengan demikian perjanjian tersebut menjadi instrumen pokok sekaligus sumber hukum pokok organisasi tersebut. 129 4) A broadly representative consultative conference organ; Uni Eropa memiliki anggota dan alat perlengkapan anggota yaitu: European Commission, European Council, the Council of the European Union dan sebagainya. 130 5) Permanent secretariat to carry on continuous administrative, research and information functions; Secara umum pusat pemerintahan Uni Eropa dioperasikan di Brussel, dilengkapi dengan sebuah parlemen dan seorang presiden yang memegang kekuasaan simbolik. Personalitas hukum dari suatu organisasi internasional pada hakekatnya juga menyangkut kelengkapan organisasi internasional tersebut dalam memiliki suatu kapasitas untuk melakukan prestasi hukum, baik dalam hubungannya dengan negara lain maupun dengan kesatuan lainnya. 131 129 Sumaryo Suryokusumo, Op.Cit.., hlm.110. Walaupun menurut Nigel Foster mengatakan traktat dan hukum uni eropa bersifat dinamis disebabkan karena setiap isu yang muncul akan dibicarakan di dalam institusi, apabila terjadi benturan atau jalan buntu dalam pembahasannya, maka nantinya akan ada lagi traktat-traktat baru yang mengatur hal tersebut. Lihat Nigel Foster, “EU Law Directions”, 2nd ed. (New York: Oxford University Press,2010), hlm.67 130 Ray August, “International Business Law”, (New Jersey, Pearson Education Inc, 2009), hlm. 30-35 131 Sumaryo. S., Op.Cit..,hlm. 120. Universitas Sumatera Utara Sehubungan dengan uraian pembuktian di atas perlu dikemukakan suatu kesimpulan sederhana bahwa kedudukan Uni Eropa dalam subyek hukum internasional berbeda dari sekadar kelompok-kelompok negara belaka seperti G-8 (Amerika Serikat, China, Inggris, Italia, Jerman, Kanada, Perancis, dan Rusia) dan G-77 132 sekalipun sama-sama didirikan berdasarkan perjanjian internasional. Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan IMF sebelumnya, maka perlu juga pembuktian akan personalitas Uni Eropa sebagai organisasi internasional. Tentang personalitas hukum ini , Schermers, mengatakan bahwa suatu organisasi internasional harus memenuhi syarat berikut: (i) dibentuk berdasarkan perjanjian internasional; (ii) memiliki organ yang terpisah dari negara-negara anggotanya; (iii) diatur oleh hukum internasional publik. 133 Jika dianalisis melalui konstitusinya, Lisbon Treaty, secara definitif memang tidak menyebutkan personalitas hukum Uni Eropa, tetapi bukan berarti Uni Eropa tidak memiliki personalitas hukum. 134 Petunjuk kepemilikan personalitas hukum tersebut dapat dilihat melalui doktrin A Leroy Bennet yang menegaskan bahwa salah satu kewenangan organisasi internasional adalah untuk bertindak sebagaimana yang ditentukan instrumen dasarnya. 135 Baik pasal 6 Konvensi Wina dan Komisi Hukum Internasional juga merumuskan demikian. Lebih lanjut bahwa personalitas Uni Eropa sebagai organisasi internasional berbeda dengan personalitas hukum yang dimiliki oleh negara-negara berdaulat 132 Jelly Leviza, op.cit, hlm.131 H.G Schermers,”International Institutional Law”, (Leyden: Sijthoff, 1980), hlm.12-23 134 Boer Mauna., Op.Cit..,hlm 476. 135 A Leroy Bennet, Op.Cit.., hlm 14 133 Universitas Sumatera Utara yang menjadi anggotanya, secara yuridis tidak dapat dipergunakan oleh organisasi internasional. Untuk itu organisasi internasional memang perlu memiliki keabsahan sebagai satuan tersendiri atau memiliki personalitas hukum yang terpisah dari yang dimiliki oleh masing-masing negara anggotanya. 136 Akan tetapi tetap dapat dibuktikan salah satu kriteria yaitu untuk membuat perjanjian internasional. Dalam Lisbon Treaty Uni Eropa dimungkinkan untuk melakukan hubungan yang bermuara pada pembentukan perjanjian internaisional dengan subjek hukum internasional lainnya. Hal ini terlihat dalam pasal 216 (1) TFEU yang berbunyi: “The Union may conclude an agreement with one or more third countries or international organizations where the Treaties so provide or where the conclusion of an agreement is necessary in order to achieve, within the framework of the Union’s policie, one of the objectives reffered to in the Treaties, or is provided for in legally binding Union act or is likely to affect common rules or alter their scope” Maka dapat digambarkan bahwa Uni Eropa mempunyai tugas-tugas penting tersendiri berdasarkan hukumnya untuk menyelenggarakan atas nama masyarakat internasional, dalam hal ini negara-negara berdaulat Eropa dan mengatur masyarakat tersebut dalam kerangka konstitusionalnya. Misalnya menyelenggarakan sejumlah besar fungsi-fungsi eksekutif, legislatif dan yudikatif. 137 136 Teuku May Rudi, “Administrasi dan Organisasi Internasional”,(Bandung: PT Refika Aditama, 1998), hlm 22. 137 Ibid. Universitas Sumatera Utara Tentang kebijakan tersebut pada dasarnya menunjuk kepada primary legal authority 138 untuk bertindak di dalam suatu bidang kebijakan yang khusus. Ada pembagian kewenangan antara Uni Eropa dan negara berdaulat anggota Uni Eropa. Seperti, Uni Eropa mempunyai wewenang eksklusif di perdagangan eksternal dalam barang dan beberapa jasa, kebijakan moneter (bagi negara pemegang Euro), pabean dan perikanan. Ada juga bidang-bidang kebijakan di mana negara anggota merupakan pemain utama, meski Uni Eropa terlibat juga dalam beberapa koordinasi umum atau terlibat di dalam proyek-proyek yang spesifik. Seperti: pendidikan, kebudayaan, kesempatan kerja, kesehatan umum, penelitian, kebijakan sosial dan perkotaan, dan sebagian besar kebijakan luar negeri dan keamanan masuk di bidang ini. Sejauh ini tidak ada pembuktian lebih lanjut, tetapi faktanya jika sebuah organisasi internasional bersifat permanen tidak mungkin melaksanakan tugasnya dengan baik dan lancar jika tidak dilengkapi dengan personalitas hukum. 139 Lagipula para pakar hukum internasional tidak lagi mempersoalkan mengenai personalitas hukum dari organisasi internasional. 140 Walaupun tidak disebutkan dalam konstitusinya, suatu organisasi internasional yang bersifat universal di kawasannya tersebut tidak mungkin tidak memiliki personalitas hukum, hal ini tidak dapat disangkal lagi. 138 Sulistyowati Irianto dan A. W, “ Kajian Sosio Legal”, Ed.1., (Denpasar: Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia, Universitas Leiden, Universitas Groningen, 2012) sebagaimana dimuat media.leidenuniv.nl/legacy/bbrl-socio-legal-studies-final.pdf pada tanggal 10 Januari 2014 10:20 WIB 139 Jelly Leviza, Op.Cit.., hlm 145. 140 Ibid. Universitas Sumatera Utara BAB III PENGATURAN DALAM LISBON TREATY MENGENAI HAK DAN KEWENANGAN UNI EROPA DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI UNI EROPA A. Pembentukan Uni Eropa Sekitar tahun 1951 pelopor integrasi regionalisme yaitu Uni Eropa lahir melalui sebuah kerja sama antar pemerintah dan hingga kini-pun keberadaannya masih dapat diperhitungkan. Satu dekade setelahnya, sebuah produk Economic and Monetary Union (EMU) 141 beroperasi, dengan pencapaian prestasi khususnya di bidang perdagangan lintas negara bahkan integrasi finansial. 142 Sejatinya kehendak integrasi negara-negara Eropa telah dinafaskan jauh sebelum terbentuknya negara-negara modern. 143 Tahun 1945 tercatat gejala integrasi yang terealisasi dalam kerja sama di bidang politik, seperti: PBB yang 141 European Economic and Monetary Union (EMU) adalah fasilitas untuk mewujudkan full economic integration yang bertujuan agar Uni Eropa dapat menciptakan Pasar Tunggal Eropa yang memiliki kapabilitas untuk berperan sebagai suatu blok perdagangan yang handal dalam menghadapi persaingan global. Mekanismenya dengan membentuk lembaga seperti: EMI (Europe Monetary Institute) untuk mempesiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan otoritas moneter Uni Eropa., ECB (Europe Cental Bank) pengendali penyatuan moneter, beserta sistemnya yang disebut ESCB (European System of Central Bank) menciptakan stabilitas harga. Ray August, ”International Business Law”, Fifth Edition, (New Jersey: Pearson Education,2009),hlm.25-26 142 Anthony Smallwood, ”EU: Economic and Monetary Union: A Framework for Stability”, (Washington D.C: the Delegation of the European Commission to the United States, 2009), hlm.1 143 Bangsa Celt adalah bangsa dominan Eropa yang ditaklukan dan dilakukan upaya penyatuan daratan secara paksa atas perintah Kekaisaran Roma di Italia. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh berganti kepada Kaisar Franks dari Cherlemagne berganti lagi kepada Kekaisaran Suci Roma yang berupaya menyatukan wilayah Eropa selama beratus-ratus tahun. Berlanjut pada masa setelah Revolusi Perancis tahun 1800-an, Napoleon Bonaparte dengan Politik Kontinentalnya berusaha menyatukan Eropa di bawah panji-panji Kekaisaran Perancis. . Hitler masuk bersama Jerman juga turut melakukan upaya sama pada tahun 1940-an. Y. Devuyust, “The European Union Transformed: Community Method and Institutional Evolution from the Schuman Plan to the Constitution for Europe”, (Brussels: Peter Lang, 2005), hlm.133 Universitas Sumatera Utara berdiri tahun 1945 dan the Council of Europe di tahun 1949. 144 Adapun pencapaian yang dilakukan the Council of Europe ini adalah pendirian European Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms (ECHR) dengan manifestasi kelembagaan European Court of Human Rights (ECtHR). Kimaks perkembangan kerja sama internasional terjadi ketika memasuki Perang Dunia ke-II dimana negara-negara Eropa penuh dengan kekacauan dan pertumpahan darah akibat perang persaingan ekonomi, sehingga kerja sama antar negara sangat dibutuhkan untuk gantikan peperangan. 145 Pengalaman historis di abad ke- 20 ini sangat membekas dimana dua perang dengan dampak tak terbayangkan 146 terjadi disertai meluasnya dua ideologi yang sarat kekacauan 147. Prakarsa William Penn dilanjutkan Winston Churcil yang memandang perlunya dibentuk the Council of Europe sebagai jalan keluar menyelamatkan 144 Jika diterjemahkan baik the European Council dan the Council of Europe memiliki pengertian Dewan Eropa. Hanya saja yang dimaksud bukanlah Dewan Eropa sebagai salah satu lembaga di bawah bendera Uni Eropa seperti dewasa ini, meskipun keduanya memiliki nama similiar. The Council of Europe tidak berjalan sukses dikarenakan perselisihan pendapat yang membagi negara anggota menjadi dua kubu: Kubu Perancis dengan ide Council tersebut harus berkekuasaan penuh dan Kubu Inggris yang kontra akannya. Sebagaimana dimuat dalam http://www.coe.int/ pada 16 Januari 10:40 WIB. Hal yang sama pada F.Roy Wills, Europe: European Integratian”, Encyclopedia Americana,Vol 10 (New York: Americana Corps,1974), hlm.702 145 “Historical Atlas of the 20th Century: Wars, Massacres and Atrocities of the Twentieth Century” sebagaimana dimuat dalam http://www.users.erols.com/mwhite28/war-1990.htm pada tanggal 16 Januari 2014 13:04 WIB. 146 Diantaranya dampak psikologi, kerusakan fisik, genosida, perbudakan, pembunuhan massa, percabulan bahkan tekanan bagi para Sandra di kemah-kemah selama Perang Dunia ke-II. M. Kishlansky,et.al., “Civilization in the West”, Vol.C, (New York: Harper Collins,1991), hlm.920 147 Sekitar 50 juta jiwa melayang akibat Perang Dunia ke-II, 60 juta jiwa dari 55 etnis dari 27 negara terpaksa dipindahkan, 45 juta jiwa terantar, jutaan lainnya terluka dan hanya sekitar 670.000 jiwa bebas dari kemah kematian Nazi. Alina Kaczorowska. “European Union Law”, (Routledge-Cavendish, 2009), hlm.4 Universitas Sumatera Utara Eropa dari ancaman perang dan situasi yang terjadi di Soviet 148. Hal yang sama juga pernah dilakukan tokoh-tokoh seperti Robert Schuman dan Jean Monet 149 sebagaimana dituangkan dalam The Schuman Plan 1950. Pada intinya prakarsa-prakarsa tersebut menekankan adanya koordinasi antara negara yang terlibat perang, maka dari itu meski hanya negara Perancis dan Jerman yang disebut secara eksplisit, keberadaan The Schuman Plan ini bersifat terbuka untuk negara Eropa lainnya dan khususnya diluar Eropa daratan seperti Inggris. 150 Sebagai upaya menindaklanjuti rencana tersebut, pada tahun 1951 enam negara (Belgia, Perancis, Italia, Jerman, Luksemburg dan Belanda) menandatangani perjanjian kerja sama tersebut di Roma. Pada tahun 1957 anggotanya bertambah menjadi sembilan dengan masuknya Denmark, Irlandia dan Inggris. Pada tahun 1981 Yunani bergabung, sampai saat ini anggotanya menjadi 28 negara di belahan benua Eropa. 151 Dapat disederhanakan bahwa titik mula integrasi ini ialah sebuah komunitas yang mengelola secara bersama produksi batu bara dan baja (dua bahan utama yang diperlukan untuk berperang) sehingga Uni Eropa-pun berkembang 148 Winston Churchill dalam pidatonya di Universitas Zurich tanggal 19 Desember 1946. “From Settin in the Baltic to Trieste in the Adriatic, an iron curtain has descended across the Continent” sebagaimana dimuat dalam http://www.winstonchurchill.org/learn/biography/inopposition/qiron-curtainq-fulton-missouri-1946 pada tanggal 19 Januari 2014 149 Robert Schuman selaku Menteri Luar Negeri Perancis, dan Jean Monett, Ketua Perencanaan Restrukturisasi Perancis berhasil mendirikan Gerakan Eropa (European Movement) pada tahun 1947 dengan keputusannya antara lain adalah pembentukan satu parlemen dan Forum Eropa. Gerakan Eropa juga berhasil mengadakan kongresnya yang pertama di tahun 1948 bertempat di Den Haag Belanda. I Bache and S. George, “Politics in the European Union”, 2nd Ed, (Oford: Oxford University Press, 2006) 150 F. Duchene, “Jean Monnet: The First Statesman of Interdependence”, (London: W.W.Norton & Co.,1996) 151 European Union,”Countries” sebagaimana dikutip dari http://www.Europa.eu/index_en.htm pada tanggal 12 Januari 14:52 WIB Universitas Sumatera Utara hingga kini dengan menampilkan profil kerja sama berbeda yaitu sistem intergovernmentalism dan supranationalism. 152 Adapun tujuan utama pembentukan Uni Eropa ialah sebagai berikut: 1. Membentuk hak-hak dan kewajiban-kewajiban kewarganegaraan Eropa (hak dasar, kebebasan untuk bergerak, hak-hak dalam bidang politik, dan hak dalam bidang sipil); 2. Menjamin kemerdekaan, keamanan, dan keadilan (kerjasama dalam bidang peradilan dan urusan dalam negeri); 3. Meningkatkan kelangsungan sosial dan ekonomi (Pasar Tunggal Eropa, Euro sebagai mata uang umum di Eropa, menciptakan lapangan kerja, perkembangan wilayah, perlindungan wilayah) 4. Menetapkan peranan Eropa di dunia (keamanan menyeluruh dan kesatuan politik di luar negeri, Uni Eropa di dunia). Untuk kemudahan penjelasan tersebut berikut timetable terintegrasinya Uni Eropa 153: No. Tabel No. 1 “Peristiwa Perjalanan Integrasi Uni Eropa” Tahun Peristiwa 152 Intergovernmentalism atau antarpemerintahan merupakan sistem kerja organisasi internasional yang normal dengan pengambilan keputusan berdasarkan kebulatan suara dan cenderung jarang dapat dilaksanakan kecuali dengan persetujuan dan penandatanganan dari para pihak yang tentu akan mengikat sementara supranasionalism merupakan sistem kerja organisasi internasional yang pengambilan keputusan dan kebijakannya dibuat oleh satu lembaga baru yang levelnya berada diatas negara anggota, bahkan keuputusan dan kebijakan terseut dapat mengesampingkan peraturan nasional. Sebagaimana dikutip dari Princeton-Edu, “Intergovernentalism dan Supranationalism” dalam http://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Supranationalism.html dan http://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Intergovernmentalism.html pada tanggal 12 Januari 14:47 WIB 153 PRI-ME, “Sejarah Pembentukan Uni Eropa”, sebagaimana dikutip dari pada http://www.indonesianmission-eu.org/website/page94341866420031009595855.asp#2 tanggal 12 Januari 2014 14:41 WIB Universitas Sumatera Utara 1. 1950 The Schuman Plan 2. 1950 European Convention on Human Rights 3. 1951 European Coal and Steel Community/ ECSC (Treaty of Paris/CS Treaty) berlaku tahun 1952- 2002. 4. 1957 Penandatanganan European Economic Community melalui EC Treaty dan EURATOM melalui EA Treaty 5. 1959 European Free Trade Area Treaty (EFTA Treaty) 6. 1965 Penggabungan ECSC, EEC, EURATOM ditandai pembentukan Dewan dan Komisi. 7. 1968 EEC Customs Union beroperasi 8. 1969 The Hague Summit yang menyetujui pertemuan tingkat kepala pemerintahan secara regular 9. 1978 Pembentukan European Monetary System (EMS) 10. 1979 Pemilihan European Parliament 11. 1981 Yunani bergabung ke EEC 12. 1985 The Schengen Treaty 13. 1986 Spanyol dan Portugal bergabung ke EEC, Portugal tinggalkan EFTA. Penandatanganan the Single European Act (SEA) yang diantaranya berisi kebijakan mengamandemen Treaty of Rome: perluasan pasar, perluasan kekuasaan legislatif European Parliament, dan lainnya. 14. 1987 Single European Act, Brussels ( SEA) mulai berlaku Universitas Sumatera Utara 15. 1990- Jerman Timur bergabung dengan masyarakat ekonomi Eropa 1991 melalui proses reunifikasi COMECON ditutup 16. 1992 Penandatangan The Treaty of Maastricht yang membentuk European Union (TEU), EEC berubah menjadi EU 17. 1995 Austria,Finlandia dan Sweden join EU 18. 1997 Pembentukan Treaty of Amsterdam(ToA) sebagai revisi TEU dengan beberapa penambahan, salah satunya pilihan opt out akan adopsi Euro terhadap Inggris dan Irlandia. 19. 1999 Pemberlakuan mata uang tunggal (EURO) yang dikelola oleh European Central Banks (dimulai dengan 11 anggota) 19. 20. 2000- Treaty of Nice (ToN), EU Charter of Fundamental Rights 2003 (draft Konstitusi Eropa dirilis) 2004 Siprus, Estonia, Slovenia, Poland, Hungaria, Republik Ceko, Slovakia,Latvia, Lithuania, Malta bergabung dengan EU 21. 2007 Aksesi Bulgaria dan Rumania. Perancangan Reformasi Traktat (Reform Treaty) Pada akhirnya The European Council menyetujui Reform Treaty atau dikenal dengan The Lisbon Treaty 22. 2009 Reformasi Traktat diterima di Irlandia 1 Desember 2009: a. EU charter on Fundamental Rights menjadi hukum yang mengikat. Uni Eropa dalam proses mengabulkan European Convention on Human Rights Universitas Sumatera Utara b. Treaty of Rome menjadi Treaty on the Functioning of the European Union (TFEU) 23. 2010 Yunani dan Irlandia diberi bail out untuk atasi krisis finansial. Sumber: Aide-Memorie “ EU Big Events and Big Dates: The History of European Integration Table”, Alina Kaczorowska, Op.Cit..hlm.38-41 Penegasan perjalanan tersebut ialah tepat pada 1 Desember 2009 The Treaty of Lisbon atau Lisbon Treaty secara resmi diberlakukan sebagai konstitusi dasar bagi seluruh Uni Eropa. Lisbon Treaty adalah perjanjian internasional yang menggantikan dua perjanjian yang menjadi dasar konstitusional Uni Eropa (Treaty of European Union/ TEU) dan Perjanjian Roma yang kemudian diubah namanya menjadi Treaty on the Functioning of European Union/TFEU. 154 Berkaitan dengan perjalanan pembentukan Uni Eropa menjadi sebuah organisasi internasional, perlu juga memperhatikan kajian dalam hukum internasional mengenai syarat bagi sebuah organisasi internasional yakni: a) Organisasi internasional tersebut haruslah didirikan berdasarkan kepada perjanjian internasional yang kemudian menjadi konstitusi; b) Organisasi tersebut mempunyai alat perlengkapan (organ); c) Hukum sah bagi organisasi internasional ialah hukum internasional. 155 Analisa pertama tentang keberadaan sebuah perjanjian yang kemudian berlaku anggaran dasar ataupun dasar hukum law-making treaties menjadi indikator penting bagi sebuah organisasi internasional. Bagi Uni Eropa, dapat 154 Jens-Peter Bonde, “From EU Constitution to Lisbon Treaty”, (Foundation for EU Democracy and the EU Democrats), hlm. 41sebagaimana diakses pada www.bonde.com tanggal 26 Februari 2014 15:00 WIB 155 Henry G Scermers, ”International Institutional Law”, (The Netherlands, Rockville, Maryland, USA: Sijthooff & Noordhoff, Alphen aan den Rijn, 1980), hlm.9 Universitas Sumatera Utara dilihat beberapa perjanjian internaisonal yang pernah berlaku, ialah sebagai berikut: a. ECSC Treaty 1951 bertujuan ini adalah menghapus berbagai hambatan perdagangan dan menciptakan suatu pasar bersama dimana produk, pekerja dan modal dari sektor batu bara dan baja dari negara-negara anggotanya dapat bergerak dengan bebas. b. EEC and EURATOM Treaty 1957 merupakan perluasan pertama di semua bidang ekonomi. Adapun tujuan utama EEC Treaty adalah penciptaan suatu pasar bersama diantara negara-negara anggotanya. 156 c. Schengen Agreement 1985 merupakan perjanjian yang secara bertahap menghapuskan pemeriksaan di perbatasan mereka dan menjamin pergerakan bebas manusia, baik warga mereka maupun warga negara lain. d. Single European Act Brussels 1987 menghasilkan pelembagaan pertemuan reguler (paling tidak dua tahun sekali) antara Kepala Negara dan/atau Pemerintahan negara anggota Masyarakat Eropa dengan dihadiri oleh 156 Pencapaian pasar bersama dilakukan melalui: suatu Custom Unions yang di satu sisi melibatkan penghapusan customs duties, import quotas dan berbagai hambatan perdagangan lain diantara negara anggota, serta di sisi lain memberlakukan suatu Common Customs Tariff (CCT) vis-á-vis negara ketiga (non anggota) dan implementasi, inter alia melalui harmonisasi kebijakankebijakan nasionalanggota, empat freedom of movement - barang, jasa, pekerja dan modal. Dari kerangka kerja sama komunitas ini beberapa hal yang tercapai adalah sebagai berikut: a. Ketiga Communities tersebut masing-masing memiliki organ eksekutif yang berbedabeda. Namun sejak tanggal 1 Juli 1967 dibentuk satu Dewan dan satu Komisi untuk lebih memudahkan manajemen kebijakan bersama yang semakin luas, dimana Komisi Eropa mewarisi wewenang ECSC High Authority, EEC Commission dan Euratom Commission. Sejak saat itu ketiga communities tersebut dikenal sebagai European Communities (EC). b. Pembentukan Dewan Menteri UE, yang menggantikan Special Council of Ministers di ketiga Communities, dan melembagakan "Rotating Council Presidency" untuk masa jabatan selama 6 bulan. c. Membentuk Badan Audit Masyarakat Eropa, menggantikan Badan-badan Audit ECSC, Euratom dan EEC. Sebagaimana dikutip dari “European Commission A to Z” dalam http://www.ec.Europa.eu/governance/index_en.htm hal yang sama terdapat di “Sejarah Pembentukan UE-Indonesia-EU Home Page” dalam www.indonesianmission-eu.org pada 12 Januari 2014 19:18 WIB Universitas Sumatera Utara Presiden Komisi Eropa dan penerimaan secara resmi European Political Cooperation sebagai forum koordinasi dan konsultasi antar pemerintah. e. Treaty of European Union (TEU) ditandatangani di Maastricht pada tanggal 7 Februari 1992 dan berkekuatan secara hukum tanggal 1 November 1993. Dalam traktat ini European Communities (EC) diubah menjadi European Union (EU). TEU mencakup, memasukkan dan memodifikasi traktat-traktat terdahulu (ECSC, Euratom dan EEC) dengan menambahkan pilar lain dalam kerangka tiga pilar Uni Eropa, yaitu: (i) Pilar 1: European Communities (EURATOM and EC) meliputi: Custom Union and Single Market, CAP, CFP, EMU, Education and Culture Trans-European Network, Consumer Protection, Healthcare, Research and Develoment, Enviromental Law, Social Policy, Creation of Area Freedom, Security and Justice. (ii) Pilar 2: Common Foreign and Security Policy – CFSP berdasarkan Pasal 11-28 Traktat Uni Eropa ( Treaty of European Union/TEU) meliputi bidang Kebijakan Luar Negeri, HAM, Bantuan Humaniter dan Kebijakan Pertahanan Keamanan Uni Eropa. (iii) Pilar 3: Police and Judicial Co-Operation in Criminal Matters (PJCC) berdasarkan pasal 29-42 Traktat Uni Eropa (Treaty of European Union/TEU) meliputi kejahatan di bidang perdagangan Universitas Sumatera Utara narkoba, penyelundupan senjata, terorisme, perdagangan manusia dan anak, kejahatan terorganisir dan rasisme. 157 f. The Treaty of Amsterdam 1997 merupakan traktat hasil revisi TEU yang menghasilkan sebuah traktat baru. ToA bertujuan utama memprioritaskan hak-hak warga negara, memberi Uni Eropa suara yang lebih kuat di dunia internasional dengan menunjuk seorang High Representative for the CFS serta pilihan opt out bagi Inggris dan Irlandia. g. The Treaty of Nice (ToN) 2000 merupakan traktat hasil perubahan dengan menampung empat masalah yaitu: komposisi dan jumlah Komisioner di Komisi Eropa, bobot suara di Dewan Uni Eropa mulai 1 Januari 2005, mengganti unanimity dengan qualified majority dalam proses pengambilan keputusan dan pengeratan kerjasama. Selanjutnya pada tingkat ini yang perlu dijelaskan adalah adanya mengenai sejumlah perjanjian internasional tersebut yang kemudian menjadi konstitusi dasar Uni Eropa. K.C. Wheare mengartikan “konstitusi” sebagai keseluruhan sistem ketatanegaraan dari suatu negara berupa kumpulan peraturanperaturan yang membentuk, mengatur atau memerintah dalam pemerintahan suatu negara. 158 Sementara konstitusi bagi sebuah organisasi pemerintahan negara pasti 157 Penambahan lain dalam traktat ini yaitu: Menambahkan tiga tahun masa jabatan Komisioner dan memberi wewenang yang lebih besar kepada Parlemen Eropa untuk ikut memutuskan ketentuan hukum Uni Eropa melalui mekanisme co-decision procedure. Adapun bidang-bidang termasuk prosedur ini adalah: pergerakan bebas pekerja, pasar tunggal, pendidikan, penelitian, lingkungan, Trans-European Network, kesehatan, budaya dan perlindungan konsumen. Alina Kaczorowska, Op.Cit.., hlm.129 158 Mirriam Budiardjo, ”Dasar-Dasar Ilmu Politik”, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2003), hlm.10 Universitas Sumatera Utara memuat beragam bentuk dan kompleksitas struktur tertentu, seperti struktur konstitusi politik, ekonomi maupun hukum. 159 Maka dapat dikolaborasikan bahwa Uni Eropa tersusun atas beberapa perjanjian yaitu Perjanjian pembentukan Masyarakat Batu Bara dan Batu Baja Tahun 1951 (ECSC Treaty), Perjanjian Penggabungan Euratom dan ECSC 1957 (EA Treaty) dan Perjanjian Maastricht pembentuk Uni Eropa 1992. 160 Reformasi Perjanjian yang kini dikenal Lisbon Treaty hadir untuk mencakup sebagian besar ketentuan konstitusi Eropa, namun tidak untuk menggabungkan ke satu dokumen. Karakteristik lain dari Konstitusi Uni Eropa ini adalah kemampuan menciptakan regulative norms dan constitutive norms. Regulative norms adalah aturan yang menjelaskan berbagai aturan main dalam kerangka prosedural. Aturan ini menciptakan hak legal Uni Eropa untuk melakukan intervensi secara politik. Sementara constitutive norms menjelaskan kewenangan untuk melakukan fungsi legislasi dan interpretasi yudisial. 161 Sistem konstitusi ini hanya dapat diimplementasikan jika mendapat pengesahan dari seluruh 28 negara anggota. Penolakan satu negara anggota saja sudah cukup menggagalkan pelaksanaan konstitusi. Konstitusi Uni Eropa sendiri telah mengalami beberapa kali amandemen hal ini khususnya terkait dengan penambahan anggota. 162 159 Jimly Asshiddiqie, “Konstitusi Ekonomi: Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial Menurut UUD 1945 serta Mahkamah Konstitusi” (Jakarta: Penerbit Kompas, 2010), hlm 219. 160 Helene Wargnier dan Jean Pierre Quentin, “L’Europe des neuf”, (Paris: Bureau d’Information des Communautes Europeennes, 1973), hlm 32. 161 E Szyszczak, “Understanding EU law, 2nd edition”, (London: Sweet & Maxwell,2008), diakses melalui http://www.eprints.lse.ac.uk tanggal 14 Januari 2014 19;40 WIB 162 The European Integration Online Papers dalam http://www.eiop.or.at/eiop/ tanggal 16 Januari 20:16 WIB Universitas Sumatera Utara Berbicara mengenai penambahan keanggotaan, pada dasarnya kriteria keanggotaan ditetapkan dalam tiga dokumen yaitu Pasal 49 Traktat Uni Eropa (TEU), Deklarasi The European Council Juni 1993 di Kopenhagen, dan kerangka kerja untuk negosiasi dengan calon negara anggota. Ada beberapa penegasan syarat bagi negara calon anggota untuk bergabung yaitu sebagai berikut: a. Pertama, kriteria geografis sebagaimana termaktub dalam Maastricht Treaty 1992 adalah persyaratan bersifat kewilayahan yang menekankan hanya negara-negara di Eropa berhak mengajukan diri menjadi anggota. b. Kedua, persyaratan dasar secara politik, ekonomi dan legislatif (structural coupling of the legal and political system) yang dimuat dalam ketentuan Copenhagen Criteria 163 yang merupakan acuan pertimbangan bagi negara anggota untuk mengarahkan perekonomian Uni Eropa pada konvergensi atau kesatuan yang stabil ditengah segala diferensiasi perekonomian mereka 164. Adapun persyaratan tersebut antara lain sebagai berikut: (i) kesediaan untuk menerapkan ekonomi yang terbuka &kompetitif; 165 163 Copenhagen Criteria merupakan sebuah rules of procedure (ROP) yang harus dilakukan oleh Uni Eropa dalam mempertimbangkan permohonan keanggotaan dari sebuah negara. The European Council merumuskannya pada tahun 1993 di Copenhaggen. Secara garis besar, Copenhagen Criteria mengatur kewajiban negara calon anggota untuk memenuhi : (1) stalibitas organ. Melalui pengaplikasian sistem pemerintahan demokratis; (2) pengaplikasian konsep the rule of law. Yang berarti tidak ada individu yang kebal hukum. Presidency Conclusions, (Copenhagen European Council, 1993), 7.A.iii sebagaimana dikutip dari http://www.Europarl.Europa.eu/enlargement/ec/pdf.cop_en.pdf tanggal 12 Januari 2014 15:48 164 Rolf Caesars, ”Governing the Eurozone: Looking Ahead after the First Decade”, (Germany: Institute for International Security Affairs, 2009), hlm.125 165 Pasar terbuka dan kompetitif seperti ini disebabkan tingginya tekanan oleh pasar dari dalam dan luar Uni Eropa. Universitas Sumatera Utara (ii) bersedia menerapkan European Neighborhood Policy dan seluruh aturan Uni Eropa (acquis communautaires); (iii) mendapat persetujuan dari negara anggota lain (unanimous approve), terkait dengan prediksi bahwa calon negara anggota dapat menyesuaikan diri dengan organ Uni Eropa serta mampu terintegrasi secara penuh dalam bidang ekonomi dan politik. c. Ketiga, persyaratan teknis akan bentuk konstitusi negara tersebut seperti: (i) menjamin basic rights atau Hak Asasi Manusia (HAM) warga Uni Eropa, hak bagi kaum minoritas, termasuk mengatur affirmative action yang dapat dilakukan oleh Uni Eropa; (ii) menjelaskan aturan dan kompetensi Uni Eropa dalam membangun hubungan dengan organ lain.; (iii) memuat jelas perbedaan antara primary law dan secondary law; 166 (iv) memuat aturan European Monetary Union. 167 Analisa kedua selain memiliki konstitusi, Uni Eropa juga membentuk beberapa organ seperti diatur pengaturan pasal 7 EC Treaty dan pasal 3 EA Treaty yaitu the European Council, the European Parliament, the Council, the Commission, the ECJ and the CoA. Kemudian seiring pergantian atau perubahan 166 Primary Law hukum yang diterapkan secara luas dalam organ Uni Eropa. sementara Secondary Law merupakan hukum yang diterapkan dalam level yang lebih rendah, yaitu pada tataran nasional Pembedaan hukum ini menjadi penting untuk menghindari adanya tumpang tindih kewenangan antara pemerintahan supranasional dan pemerintah nasional. 167 Tujuan utama dari pembentukan konstitusi dan syarat-syarat ini adalah untuk mencegah terjadinya politisasi dalam organ Uni Eropa. E Szyszczak,Ibid. Universitas Sumatera Utara konstitusi mengalami perkembangan organ dan terakhir seperti yang diatur dalam pasal 13 Traktat Uni Eropa (Treaty of European Union/TEU)): 168 a. The European Council The European Council atau Dewan Eropa sebagai wadah pertemuan utama bagi para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan negara-negara anggota Uni Eropa dan Presiden Komisi Eropa. Beranggotakan perwakilan menteri-menteri setiap negara anggota untuk mendiskusikan hal-hal politik yang terjadi diluar perjanjian masyarakat Eropa dan merseponi isu-isu internasional. Tugas kerja utama ini diatur dalam Pasal 15(2) Treaty of European Union (TEU) yaitu membentuk masa depan Uni Eropa, mengusahakan kepentingan pembangunan Uni Eropa serta menyelesaikan masalah dengan The Council of European Union. b. The European Commission atau The Commission Komisi Eropa merupakan penggerak dalam mengelola Uni Eropa karena mewakili seluruh kepentingan Uni Eropa dengan tugas kerja berikut: (i) Membuat draft anggaran; (ii) Dapat melayangkan upaya penegakan hukum ke ECJ; (iii) Memformulasikan kebijakan dan memiliki hak ekslusif inisiatif untuk mengajukan proposal (RUU) sebagaimana termaktub dalam pasal 211 EC Treaty/ Pasal 17 TEU/Pasal 288(1) TFEU; (iv) Mengawasi pelaksanaan peraturan yang telah ada bahkan melaporkan adanya pelanggaran dan ketidaktaatan terhadap konstitusi (Guardian 168 Nigel Foster, “EU Law Directions”, 2nd ed. (New York: Oxford University Press, 2010), hlm.41 Universitas Sumatera Utara of the EC Treaty baik dari negara anggota (Pasal 258 TFEU), organ yang lain (Pasal 263 TFEU), dan perorangan; (v) Bertanggung jawab dalam representasi eksternal dan negosiasi international agreements (Pasal 207 dan 218 TFEU). c. The Council of The European Union Perlu dibedakan antara The Council of The European Union dengan The European Council, 169 organ yang satu ini kerap disebut “the council” yang bertugas untuk mewakili kepentingan nasional negara anggota dan dalam hal legislatif memiliki kemampuan general law-making powers. Bersidang dua kali dalam setahun dibawah kepemimpinan Kepala Negara atau Pemerintah negara anggota yang sedang menjabat sebagai Presiden Uni Eropa. Hal ini dapat ditemukan dalam pasal 16(1) TEU dan Pasal 237-243 TFEU yang sekaligus menekankan tugas economic policy-making and coordinating functions bersama-sama dengan the European Parliament dilengkapi dengan hak dalam memberikan keputusan terhadap pelaksanaan sebagian besar prosedur legislatif sekaligus berpartisipasi dalam fungsi pelaksanaan adopsi anggaran tahunan Uni Eropa. d. The European Parliament (EP) 169 The European Council merupakan organ pembuat kebijakan tertinggi di dalam tubuh Uni Eropa yang didominasi oleh Kepala Negara dan Pemerintah untuk mengadakan pertemuan yang disebut “summits”, sementara The Council of European adalah badan legislatif mewakili kepentingan nasional setiap negara . Ada juga The Council of Europe yaitu organisasi antar pemerintahan sejak 1949. Organisasi ini bukan bagian dari pemerintahan Uni Eropa sama sekali. Alina Kaczorowska, op. cit., hlm.186 Universitas Sumatera Utara Merupakan parlemen Uni Eropa yang bertugas mewakili kepentingan warga negara atau rakyat Uni Eropa. Untuk masa jabatan, anggota parlemen ini dipilih setiap lima tahunnya. Tugas kerjanya meliputi: (i) berpartisipasi sebagai cabang legislatif di dalam Uni Eropa untuk melakukan amandemen dan memveto macam-macam kebijakan hanya saja tidak dilengkapi dengan kemampuan general law-making power seperti halnya (Pasal 14(1) TEU); (ii) sebagai pengawasan eksekutif (Pasal 17(7)(8) dan Pasal 234 (TFEU); (iii) keistimewaan dibanding The Council of European Union, EP berkuasa dan bertanggung jawab akan anggaran Uni Eropa (Pasal 314 TFEU) Demi kelancaran tugas dan tujuannya, Uni Eropa juga dilengkapi dengan lembaga- lembaga non politis sebagai berikut: e. The Court of Justice of the European Union (CJEU) The Court of Justice European adalah lembaga yudikatif sebagai mahkamah tertinggi dalam menangani masalah hukum di Uni Eropa. Terdiri dari setiap hakim dari masing-masing negara anggota. Mahkamah ini bertugas untuk menjamin agar traktat Uni Eropa (EA and EC Treaty) teraplikasi di semua negara-negara Uni Eropa, sehingga tercipta pemerataan hukum bagi semua orang (Pasal 220-245 TEU). Mahkamah memiliki kekuasaan untuk mengatasi sengketa hukum antara anggota Uni Eropa, organ-organ Uni Eropa, individu-individu dan kelompok profesi. 170 f. the Court of Auditors (CoA) 170 The European Court of Justice dalam http://www.curia.Europa.eu/ tanggal 16 Januari 2014 20:20 WIB Universitas Sumatera Utara CoA dibentuk pada tahun 1977 dan diakui sebagai Lembaga Komunitas oleh Perjanjian Maasctricht, sebagai badan Audit Independen, pengawas keuangan Uni Eropa yang memiliki kekuatan investigasi kuat, dapat menyelidiki dokumen dari setiap orang atau organisasi yang menangani pendapatan atau pengeluaran Uni Eropa. 171 g. European Central Banks (ECB) Merupakan lembaga independen berkompetensi dalam kebijakan moneter Eurozone. Strukturnya yaitu Dewan Gubernur; Badan Eksekutif; the General Council yang terdiri dari Presiden dan Wakil President ECB dan gubernur dari setiap bank sentral negara anggota dan the Eurosystem yang meliputi ECB dan Bank Sentral negara anggota yang mengadopsi Euro. Adapun ECB menekankan kebijakan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (neraca pembayaran) serta tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi. 172 h. The European System of Central Banks (ESCB) ESCB terdiri dari ECB bersama dengan seluruh bank sentral nasional negara anggota seluruh Uni Eropa. Fungsi dan kewenangannya terutama mengatur kestabilan nilai, seperti diatur dalam Pasal 105(1) traktat EC. i. European Monetary Institute (EMI) 171 European Court of Auditors dalam http://www.eca.Europa.eu/ tanggal 16 Januari 2014 20:29 WIB 172 The European Central Banks dalam http://www.ecb.europa.eu sebagaimana diakses tanggal 16 Januari 2014 20:23 WIB Universitas Sumatera Utara EMI berkapasitas mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan otoritas moneter Uni Eropa. (Ini telah diambil alih oleh the General Council. 173 Banyaknya badan administrasi Uni Eropa ada relevansinya dengan kedinamisan di Eropa sebagaimana pendapat Nigel Foster yang mengatakan “the institutional framework of the EU, like the EU itself is nott a static entity but a changing one.” 174 Kedinamisan ini disebabkan setiap isu yang muncul akan dibicarakan di dalam organ, jikalau terjadi benturan pembahasannya, maka nantinya akan ada lagi traktat-traktat baru yang mengatur tentang perubahan di dalam setiap tugas dan fungsi dari masing-masing organ. 175 B. Pengaturan tentang kompetensi dan persatuan ekonomi – moneter Uni Eropa menurut Lisbon Treaty. B.1 Kompetensi Uni Eropa menurut Lisbon Treaty Dasar-dasar pemikiran pembentukan Masyarakat Eropa dapat dianalisis dalam pembukaan “Treaty Establishing The European Economic Community” 176 yang menuliskan bahwa selain penyatuan di bidang ekonomi dan perdagangan, bidang sosial budaya dan politik juga menjadi motivasi pembentukan. Hal ini tentu menjadi urgensi perlunya harmonisasi hukum antara negara anggota 177. Prinsip utama dalam hukum Eropa ialah bahwa hukum Uni Eropa menjadi sumber hukum yang lebih tinggi daripada hukum nasional. (“EU-sourced laws 173 Alina Kaczorowska, Op.Cit.,, hlm 108 Nigel Foster, Op.Cit.,hlm.67 175 The LCCI Specialist since 1979,” EU INSTITUTE”, dalam http://www.euinstitute-pj.com tanggal 16 Januari 2014 20:30 WIB 176 Official Journal of the European Communities, ”Consolidated Version of the Treaty Establishing the European Community” Lihat bagian Pre-amble. 177 Ibid. Untuk syarat dan ketentuan menjadi anggota Uni Eropa telah dibahas dalam subbab sebelumnya. 174 Universitas Sumatera Utara takes precedence over domestic laws”). Tindakan suatu negara anggota yang membuat hukum yang bertentangan dengan hukum Uni Eropa tidak dibenarkan. Perlu diketahui, konstitusi Uni Eropa tidak seperti konstitusi pada umumnya, sebab secara substansi terdiri atas tiga traktat sebelumnya yang menjadi dua. Umumnya terdapat tiga susunan hukum yang berbeda di Uni Eropa yaitu: 1. Primary legislation, meliputi traktat-traktat dan perjanjian-perjanjian lain yang berkedudukan sama; Klasifikasi ini menjadi letak hukum yang mendasari integrasi Uni Eropa dan kemudian menjadi sumber hukum di atas segala sumber. Seperti yang dinyatakan Pasal 1(3) Treaty Of European Union (TEU) bahwa Uni Eropa didasari oleh dua perjanjian yang memiliki kedudukan hukum yang sama yaitu Treaty of European Union (TEU) dan Treaty on the Functioning of European Union (TFEU) yang mengamandemen Traktat Masyaratkat Eropa (European Community/ EC Treaty). Pada kemudian hari kedua perjanjian ini dikodifikasi dan direvisi menjadi Reform Treaty atau Lisbon Treaty, yang terdiri atas Pembukaan, Perubahan Treaty of European Union, Perubahan Treaty on the Functioning of European Union, Syaratsyarat akhir, Protokol dan Deklarasi. TEU sendiri dibagi atas enam pokok pengaturan yaitu: Ketentuan Umum, Ketentuan Prinsip Demokratis, Ketentuan Kelembagaan, Ketentuan Tingkatan Kerja Sama, Ketentuan Umum mengenai Tindakan Eksternal Uni Eropa dan ketentuan khusus Common Foreign and Security Policy (CFSP) dan Ketentuan Penutup. Sementara TFEU tersusun atas tujuh Universitas Sumatera Utara bagian sebagai berikut: Prinsip-prinsip umum pembagian kompetensi Uni Eropa dan ketentuan umum penerapannya, Prinsip Non-Diskriminasi dan Keanggotaan Uni Eropa, Kebijakan-Kebijakan Internal Uni Eropa termasuk Pilar Ketiga tentang Polisi dan Kerjasama Yudisial dalam Permaslahan Kriminal, Kebijakan-Kebijakan Eksternal Uni Eropa, Asosiasi Negara di Luar Negeri dan Teritorial, Kelembagaan Uni Eropa dan Ketetntuan Anggaran, dan Ketentuan Penutup; 178 2. Secondary legislation, meliputi regulasi, direktif, keputusan, rekomendasi dan pendapat yang didasarkan atas aturan dalam traktat-traktat; 3. Case law,penilaian European Court of Justice dan Court of First Instance. Secara nomenklatur berdasarkan “Lisbon Treaty: Consolidated Version of The Treaty on The Functioning of the European Union (TFEU) Part I Title I, Categories and Areas of Union Competence” 179 telah diatur mengenai Primary Law Uni Eropa dan Secondary Law negara anggota dimana keduanya tidak boleh mengalami overlapping, seperti berikut ini: Tabel No.2 : “Kompetensi Uni Eropa Berdasarkan Lisbon Treaty: Consolidated Version of the Treaty on the Functioning of the European Union (TFEU)” 178 Alina Kaczorowska, Op.Cit.., hlm.46 European Union insight, “A guide to the Treaty of Lisbon”, The Law Society, January 2008 sebagaimana dikutip dari pada 12 http://www.lawsociety.org.uk/documents/downloads/guide_to_treaty_of_lisbon.pdf Januari 2014 22:17 WIB 179 Universitas Sumatera Utara Kompetensi Kompetensi Kompetensi yang Kompetensi tambahan Ekslusif UE yang dibagi dikoordinasikan (pendukung) dengan negara dengan negara anggota anggota Dasar Hukum: Dasar Hukum: Dasar Hukum: Dasar Hukum: Bagian 1 TEU Bagian 1 TEU Bagian 1 TEU Bagian 1 TEU Pasal 3 TFEU Pasal 4.2 TFEU Pasal 5 TFEU Pasal 6 TFEU Berikut area kerja Berikut area kerja Sesama negara Pemerintahan Uni Eropa Uni Eropa sama Uni Eropa anggota akan akan mendukung tujuh (ditangani oleh dan negara berkoordinasi area kerja negara anggota the European anggota: tentang kebijakan berikut: Commission): • Pasar Internal; kepegawaian dan • Perlindungan dan • Kebijakan • Beberapa ekonomi satu sama perbaikan kesehatan Perdagangan; kebijakan sosial; lain untuk manusia; Pajak dan Bea • Pepaduan meminimalisir • Pariwisata; Cukai; ekonomi, gangguan di pasar • Industri; • Kebjakan sosialteritorial; tunggal. • Budaya; Agrikultur; •Permasalahan Berlaku juga bagi • Pendidikan; • Kebijakan Lingkungan; negara non • Perlindungan sipil; Perikanan; • Transportasi; pemegang Euro. • Kerjasama administrasi. • Kebijakan • Energi; Tujuh hal ini tidak Universitas Sumatera Utara Transportasi; • Kebebasan, dibiarkan Uni Eropa • Peraturan Keamanan dan untuk dikerjakan atau persaingan dalam Keadilan; dikelola secara pasar internal; •Beberapa independen oleh negara • Kebijakan masalah anggota. moneter Euro. kesehatan. Sumber: Lisbon Treaty: Consolidated Version of The Treaty On The Functioning of The European Union Uraian tersebut menjelaskan bahwa Uni Eropa mempunyai kompetensi eksklusif di perdagangan internasional dalam barang dan jasa, kebijakan moneter (bagi negara pemegang Euro), pabean, agrikultur dan perikanan, sementara kompetensi negara anggota adalah dalam bidang pendidikan, kebudayaan, kesempatan kerja, kesehatan umum, penelitian, kebijakan sosial dan perkotaan, dan sebagian besar kebijakan luar negeri dan keamanan masuk di bidang ini dengan sedikit keterlibatan Uni Eropa dalam beberapa koordinasi umum atau terlibat di dalam proyek-proyek yang spesifik. Konsekuensi sebuah organisasi supranasional layaknya Uni Eropa adalah, pertama, tidak ada penguasaan totalitas oleh negara anggota terhadap negaranya mengingat secara sukarela mereka telah menyerahkan sebagian kedaulatan dalam rangka penggabungan Uni Eropa. Kedua, menjadi sebuah tantangan sekaligus Universitas Sumatera Utara kewajiban untuk tetap menjaga dan memelihara kestabilan setiap kewenangan dan kebijakan yang terbagi-bagi antara negara anggota dan pemerintahan Uni Eropa. B.2 PERSATUAN EKONOMI-MONETER UNION MENURUT LISBON TREATY Berkaitan dengan kebijakan moneter yang menjadi basis penyatuan negara-negara ini, perlu masuk lebih dalam ke pengaturan hukum Uni Eropa mengenai sistem kerja sama pasar dan mata uang tunggal yang melibatkan lebih dari dua puluh negara berdaulat ini. Economy and Moneter Union (EMU) merupakan perwujudan dari sekumpulan kebijakan yang bermisi mengubah perekonomian anggota-anggota Uni Eropa untuk mengadopsi satu mata uang tunggal, yaitu Euro, melalui tiga tahap sekaligus melahirkan institusi Sistem Bank Sentral Eropa (European System of Central Banks/ ESCB) yang bertugas merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan moneter. 180 Tahapan mencapai EMU tersebut diawali dengan tahap 1 pada periode 1 Juli 1990 hingga 31 Desember 1993 melalui kebijakan penghapusan pengendalian nilai tukar demi pergerakan modal dibebaskan secara penuh di dalam Komunitas Ekonomi Eropa. Tahap dua diselenggarakan pada periode 1 Januari 1994 hingga 31 Desember 1998 dengan pendirian European Moneter Institute (EMI) dengan tugas kerja memperkuat kerjasama moneter antarnegara anggota dan bank-bank nasional mereka, serta mengawasi uang kertas. Tahun 1997 Dewan Eropa (European Council) memutuskan di Amsterdam untuk mengadopsi Pakta 180 Verdun A., “The role of the Delors Committee in the creation of EMU: an epistemic community”, (Journal of European Public Policy, Vol 6, Number 2: June 1999), hlm.308–328. Universitas Sumatera Utara Stabilitas dan Pertumbuhan, yang dirancang untuk menjamin disiplin anggaran setelah penciptaan Euro sekaligus penerapan mekanisme nilai tukar baru untuk memberikan stabilitas Euro dan mata uang nasional negara-negara yang belum memasuki zona Euro. Puncaknya pada dan pada tanggal 31 Desember 1998, Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dibentuk. Pada tahap tiga yaitu periode 1 Januari 1999, Euro resmi menjadi mata uang Uni Eropa dimana kebijakan moneter tunggal dilakukan di bawah otoritas (European Central Bank/ECB). Masa transisi tiga tahun dimulai sebelum pengenalan uang kertas dan koin Euro, namun secara hukum mata uang negaranegara anggota sudah tidak berlaku lagi. 181 Tepatnya pengelolaan perekonomian dibagi menjadi dua yakni bidang moneter yang ditangani oleh EMI dan ECB sebagai representasi dari EMU, sementara bidang fiskal sepenuhnya diserahkan kepada negara anggota. Untuk ketentuan Nilai Tukar Mata Uang Euro menjadi ranah pemerintah Uni Eropa sebagaimana diatur dalam pasal 3 TFEU dan berdasarkan Kriteria Konvergensi 182 kestabilan nilai tukar perlu dipelihara mengingat hubungannya yang erat dengan tingkat inflasi dan sektor fiskal. Meskipun demikian peran serta tiap negara anggota tetap diperlukan untuk menjaga kestabilan nilai tukar mata uang melalui 181 ECB, “Economic and Monetary Union” sebagaimana dimuat dalam http://www.ecb.int/ecb/history/emu/html.index.en.html diakses pada 26 Februari 2014 18:03 WIB 182 Kriteria Konvergensi muncul pada tahap kedua dari proses pembentukan EMU. Tujuannya pada saat itu adalah sebagai sebuah mekanisme makro ekonomi yang berfungsi untuk menilai kesiapan negara anggota dalam mengadopsi Euro dan menjaga kestabilannya pasca bergabung dengan EMU. European Navigator, “Economic and Monetary Union of the European Union”,sebagaimana dimuat dalam www.ena.lu diakses pada tanggal 25 Februari 2014 17:00 WIB Universitas Sumatera Utara mekanisme kurs atau Exchange Rate Mechanism (ERM) tanpa mendevaluasi inisiatif mata uangnya sendiri. Dalam skema EMU ini pula terjadi pemisahan dan pembedaan dalam ikatan tubuh negara anggota. Pertama, sejumlah 28 negara anggota diwakili oleh 28 bank sentralnya bersama European Central bank (ECB) mengasimilasikan diri dalam European System of Central Banks (ESCB). Kedua, irisan dari 28 negara yaitu sejumlah 17 negara yang diwakili bank sentral masing-masing bergabung bersama European Central bank (ECB) ini menyepakati penyerahan kedaulatan mata uang mereka menjadi mata uang tunggal Euro yang disebut Eurozone. 183 Lebih lanjut mengenai kebijakan mengadopsi Euro atau tidak memang bukan sesuatu yang bersifat wajib (obligation) melainkan himbauan (recommendation). Hal demikian memang diizinkan dalam Perjanjian Maastricht 1992 atau kini Lisbon Treaty dengan klausula dasar opt in yaitu kewajiban dari negara anggota tetap ikut dalam semua aturan yang dibuat oleh Uni Eropa, termasuk mengadopsi mata uang Euro yang merupakan kehendak awal integasi organisasi ini dan opt out adalah hak dari negara anggota Uni Eropa untuk keluar dari aturan-aturan yang dibuat oleh Uni Eropa jika bertentangan dengan kepentingan nasionalnya. 184 183 Tujuh belas (17) negara tersebut yaitu: Austria, Belanda, Belgia, Cyprus, Estonia, Finlandia, Irlandia, Italia, Jerman, Luksemburg, Malta, Perancis, Portugal, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Yunani. Selengkapnya dalam Christina Arellano, “Chronc Sovereign Debt Crises in the Eurozone 2010-2012”, (Minneapolis: Federal Reserve Bank of Minneapolis, 2012), hlm.2. 184 Indra Pahlawan, “Terbentuknya Bank Sentral Eropa”, (Jakarta: Thesis-S2, Universitas Indonesia, 2003) ,hlm.94-95 Universitas Sumatera Utara Keputusan untuk tidak mengadopsi Euro ini juga pada akhirnya akan dijadikan sebuah dokumen atau dikenal protokol yang disisipkan dalam konstitusi Uni Eropa yaitu Lisbon Treaty. Dalam hal ini terbukti jelas bahwa memang hukum dasar Uni Eropa dinamis dan terbuka untuk setiap perubahan, sehingga setiap protokol maupun deklarasi terbaru juga dimasukkan dalam Lisbon Treaty. Sejauh ini ada sepuluh negara yang memilih opsi opt out dan tetap dengan mata uang nasional masing-masing yaitu Denmark, Swedia, Republik Ceko, Latvia, Lithuania, Hongaria, Polandia, Bulgaria, Rumania dan tentunya Inggris berdasarkan referendum yang mengindikasikan keengganan penduduk negara ini untuk menggunakan mata uang Euro. Keputusan ini dilampirkan dalam Protocol (No 25) on certain provisions relating to the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland (1992), annexed to the Treaty establishing the European Community. Adapun negara yang ingin bergabung dalam Eurozone haruslah memenuhi kewajiban dan kriteria sebagai berikut: a. Memiliki bank sentral yang independen; b. Memiliki tingkat inflasi yang rendah dan stabil; Setiap negara tidak lebih dari 1,5 poin dari rata-rata inflasi tiga negara anggota yang perekonomiannya paling baik. c. Memiliki nilai tukar mata uang dan suku bunga panjang yang stabil; Nilai tukar tersebut diaplikasikan terhadap Exchange Mechanism Rate oleh European Monetary System selama dua tahun dan tidak boleh mengalami devaluasi terhadap mata uangnya. Sementara suku bunga Universitas Sumatera Utara panjang, dengan nominal tidak melebihi 2 poin persentase dari tiga negara anggota inflasi terendah. Kriteria tersebut untuk memastikan stabilitas moneter melalui mendorong adanya nilai tukar tetap di antara negara anggota d. Memiliki kemampuan finansial pemerintah yang baik dengan indikasi rasio defisit tahunan (tidak lebih dari 3%) dan hutang pemerintah terhadap PDB. Rasio hutang yang dimaksud ialah tidak lebih dari 60% Kriteria terakhir ini untuk menjaga stabilitas Euro sendiri sehingga meminimalisir terjadinya inflasi. 185 Dalam sebuah jurnal “Report on Economic and Monetary Union,” Jacques Delors menyampaikan basis bekerjanya satu mata uang Eropa yaitu mata uang yang diberi nama “Euro” sehingga hal ini menghendaki adanya pengalihan kekuasaan pengambilan keputusan dalam bidang kebijakan moneter dan manajemen ekonomi makro yaitu, kebijakan yang berhubungan dengan anggaran pemerintah, pengelolaan uang (moneter) dan kredit, dan nilai tukar dari masing masing negara ke pemimpin Uni Eropa. Berbagai biaya yang sifatnya overlapping akan dihemat dengan adanya mata uang tunggal ini. Dengan kata lain negara-negara yang menjadikan Euro sebagai mata uang mereka harus berkenan diambil sebagian posisi prestisiusnya oleh EC dalam hal mengelola kebijakan moneter. Meskipun begitu, penentuan anggaran belanja dan 185 Rolf Caesars, Ibid. Universitas Sumatera Utara sistem pajak tetap diberikan kepada kedaulatan negara dengan tetap berkoordinasi demi kestabilan finansial yang menunjang penciptaan pasar yang kuat. 186 Mengingat Euro sendiri dibentuk berdasarkan hukum pada perjanjian Sistem Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Eropa (statuta ESCB) 187 maka wewenang setiap bank sentral Eropa yang berbeda sesuai dengan karakteristiknya dalam pengaturan terhadap kebijakan moneter dalam masing-masing negara dan sejalan dengan itu ESCB harus berusaha menjaga kestabilan dari harga sebagaimana hal ini termaktub dalam statuta tersebut. 188 Landasan hukum dari ESCB mengungkapkan secara jelas bagaimana tujuan utama yang juga menjadi beban ECB yaitu menjaga kestabilan harga, karena ini akan sangat berpengaruh terhadap kestabilan moneter anggota ESCB. 189 Selain ECB dan EMI, ada organ perpanjangtanganan lain dalam kerangka EMU ini yaitu European Financial Stability Facility (EFSF). EFSF memiliki tujuan terkhusus memberi bantuan di Eurozone ketika membutuhkan dana darurat. Seperti ketika Irlandia mengajukan permintaan bantuan EFSF menerbitkan obligasi yang dijamin oleh negara Euro dengan jumlah lebih dari 5 miliar Euro. Organ lain yaitu European Financial Stabilisation Mechanism (EFSM) meminjamkan uang kepada negara Eropa hanya saja obligasi ini dijamin oleh seluruh negara Eropa. Terakhir yaitu ESM (European Stability Mechanism) yang 186 European Central Bank, “ECB Fears Financial Integration Slowdown”, sebagaimana dimuat dalam http://www.ecb.int/ecb/html/crisis.en.html pada tanggal 19 Januari 2014 05:48 WIB 187 ESCB terdiri dari ECB dan bank sentral nasional (NCB’s) dari semua Negara anggota Uni Eropa. Lihat Pasal 107(1) Statuta ECSB. 188 Tujuan utama dari ESCB adalah untuk menjaga kestabilan harga, ESCB akan mendukung kebijakan ekonomi dalam komunitas dengan maksud memberi kontribusi untuk pencapaian dari tujuan utama dari Negara yang tergabung dengan ESCB. Lihat Pasal 105 (1) dan (2) Statuta ESCB 189 “European Central Bank: Eurosystem” sebagaimana dimuat dalam http://www.ecb.int diakses pada 10 Februari 2014 15:30 WIB Universitas Sumatera Utara merupakan gabungan dari EFSF dan EFSM yang bertujuan mengambil beberapa beban hutang negara Eurozone dan memungkinkan negara diluar Eurozone untuk menjadi anggota ESM dengan nominal dana lebih besar. 190 Konsekuensi utama integrasi ekonomi dengan satu mata uang tunggal ini ialah ketergantungan antara satu dengan negara anggota lainnya untuk tetap menjaga kestabilan dan ketangguhan fondasi finansial masing-masing agar performa aktivitas ekonomi tetap maksimal di pasar Uni Eropa bahkan dunia. C. Kronologi dan perkembangan krisis Uni Eropa Krisis yang melanda Eropa baru teridentifikasi pada akhir 2009 sampai ke semester II Tahun 2010 dengan indikasi melonjaknya beban utang, defisit fiskal dan ketidakmampuan negara anggota Uni Eropa dalam membayar utangutangnya, terutama Yunani. Krisis ekonomi yang pertama kali melanda Yunani ini kemudian menjalar ke Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Italia. Reputasi Yunani ketika belum menjadi anggota Eurozone, dikenal sebagai salah satu negara anggota yang menunjukkan performa ekonomi yang buruk di regional Eropa. Indikator penilaian tersebut tampak dari inflasi tahunan Yunani yang merupakan salah satu tingkat inflasi tertinggi di regional tersebut, pengeluaran pemerintah yang tinggi, dan pertumbuhan PDB yang lambat jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang lain. 191 Euforia dan optimisme akan era baru dalam pertumbuhan ekonomi dan stabilitas finansial melalui 190 Ibid. Roger Cohen, “The Great Greek Illusion”, sebagaimana dikutip dari http://www.nytimes.com/2011/06/21/opinion/21iht-edcohen21.html pada 5 Oktober 2013 20:30 WIB 191 Universitas Sumatera Utara bergabung menjadi anggota Eurozone, justru mendorong ketidakseimbangan yang berkelanjutan dalam perekonomian Yunani. Dengan bergabung dengan Eurozone, banyak manfaat didapatkan oleh Yunani. Seperti memiliki akses untuk masuk ke pasar modal Eropa, yang artinya Yunani dapat melakukan pinjaman dalam jumlah besar namun suku bunga rendah layaknya negara-negara besar anggota Uni Eropa, seperti Jerman dan Perancis. 192 Rata-rata pertumbuhan ekonomi Yunani sebesar 4,2% pertahun dan rendahnya yield obligasi pemerintah sebagai refleksi dari rendahnya country risk memungkinkan pemerintah Yunani berhutang dengan menerbitkan obligasi terus menerus guna membiayai sektor publiknya. Setelah Euro muncul, pemerintah Yunani dimanjakan dengan kesempatan melakukan pinjaman mata uang Euro bernilai tinggi dengan bunga rendah karena rendahnya country risk Yunani.Ternyata justru pembiayaan yang tak terkendali membuat Yunani terperangkap pada rasio hutang terhadap PDB diatas 100% saat itu. Setelah menjadi tuan rumah Olympics 2004, hutang Yunani semakin membengkak akibat pembangunan infrastruktur yang memerlukan dana yang besar untuk mempersiapkan Olympics. Akhirnya pemerintah Yunani mengaku bahwa telah memanipulasi data,terkait kondisi perekonomian nasional agar dapat bergabung dengan Eurozone. 193 Kondisi ini semakin parah terjadi pada tahun 2009 ketika krisis subprime mortgage melanda dunia dan menjadi musim gugur terhadap perekonomian 192 Bennett Stancil, “Why Greece Has To Restructure Its Debt”, dalam Paradigm Lost: The Euro In Crisis, Washington, D.C.: Carnegie Endowment for International Peace, 2010, hlm. 25-26 193 Graeme Werde, ”Greek Debt Crises Timeline”, sebagaimana dikutip dari http://www.guardian.co.uk/business/2010/may/05/greece-debt-crisis-timeline tanggal 15 Januari 2014 06:30 WIB Universitas Sumatera Utara Yunani, dua industri terbesar di negara tersebut yaitu industri pelayaran serta pariwisata mengalami tekanan hebat sehingga menyebabkan terjadinya penurunan pendapatan sebesar 15% pada tahun 2009. Pemerintah Yunani kemudian membayar beberapa bank krediturnya untuk menutupi nilai hutang Yunani yang sesungguhnya sebagai upaya untuk memastikan bahwa kondisi perekonomian negara itu masih terkendali. Hingga pada akhirnya rekayasa terhadap laporan keuangan Yunani terbongkar, dan pada akhir tahun 2009 pemerintah merevisi defisit anggaran pemerintahnya menjadi 12,7% terhadap produk domestik bruto (GDP) dari sebelumnya 6%. Selain itu, keterpurukan Yunani dipengaruhi maraknya praktik korupsi yang terstrukturisasi dan terorganisasi di seluruh ranah Yunani, sama sekali tidak mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. Akibatnya, setiap tahun pemerintah Yunani diestimasikan merugi sebesar 8% dari jumlah PDB. Yunani adalah negara terkorup di Eropa, khususnya di Eurozone. 194 Bisnis di Yunani juga berada dalam kondisi tidak begitu baik disebabkan panjangnya proses administrasi dan birokrasi untuk berbisnis. Kenyataannya di Yunani inisiatif mendirikan suatu perusahaan memaksa pelaku bisnis harus melalui 15 prosedur yang kira-kira memakan waktu 38 hari. Padahal rata-rata negara Eropa memiliki enam prosedur yang kira-kira memakan waktu 25 hari. . 195 Suatu fakta utama yang perlu diketahui dalam memahami krisis di Eropa ini adalah nilai riil Euro tidak sama di setiap negara anggota Eurozone. 194 Social Steven Panageotou, “A Critical Review of The Greek Financial Crisis: Globalization and Theory”, 24 Agustus 2011,hlm.5 sebagaimana dimuat dalam http://www.trace.tennessee.edu/cgi 195 Seperti yang ditegaskan oleh Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble di Berlin pada hari Selasa, 27 September 2011, yang dikutip dari harian Kompas, Rabu, 28 September 2011 Universitas Sumatera Utara Penetapan nilai riil mata-uang Euro di setiap negara disesuaikan dengan kondisi negara tersebut, termasuk ketika Euro akan ditukar dengan Euro negara lain. Nilai tukar Euro di Perancis 6 francs, di Belanda 1 Euro sama dengan dua gulden sekian. Kunci utama menentukan nilai tukar sebuah Euro adalah GDP, neraca perdagangan, giro, inflasi, produksi industri dan kepercayaan konsumen dari Eurozone, dikaitkan popularitas Euro di bursa asing sebagai alternatif dari dolar AS serta pertimbangan kondisi ekonomi dan politik di negara seperti Inggris, Swiss, dan Rusia juga memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai Euro. 196 Konsekuensi perbedaan tersebut adalah dalam praktik pasar. Sebagai contoh nyata, bagi negara pemakai Euro yang tingkat perekonominya di atas ratarata seluruh negara pemakai Euro seperti Jerman atau Prancis, perbedaan nilai riil tersebut akan sangat menguntungkan karena secara keseluruhan perekonomian semakin cepat beroperasi dengan ongkos murah. Negara dengan nilai mata uang yang lemah harus menjalankan ekonominya dengan ongkos lebih mahal dan daya saing ekspor cukup tinggi seperti di wilayah Yunani, Italia, dan Portugal. Dapat diasumsikan wilayah tersebut memungkinkan untuk gulung tikar karena produk ekspornya kalah kompetitif di pasar Eropa. 197 Jika dianalogikan pada kondisi krisis ekonomi, dengan kondisi kesehatan ekonomi dan nilai tukar Euro berbeda tetapi terikat pada satu wadah yang sama maka sangatlah wajar secara perlahan tapi pasti negara lain juga terjebak krisis. 196 George Caravelis, “European Monetary Union: An Application of the Fundamental Principles of Monetary Theory”, (Avebury, 2005), hlm 86. 197 Mangun Suba “Pengaruh Single Currency Unit (EURC) Dalam Menghadapi US Dollar Di Kawasan Uni Eropa (1999-2004”, (Universitas Paramadina,2005) hlm.40. Universitas Sumatera Utara Ketika Yunani mengalami gagal bayar (default) dan kejatuhan secara finansial ini sangat mempengaruhi negara-negara di Eropa khususnya yang terikat dengan mata uang Euro dengan nilai tukar yang sama lemahnya dan terlibat dalam satu pasar yang sama tak heran Irlandia kemudian terseret dilanda krisis ekonomi dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 96,2%. Portugal juga demikian dengan rasio utang terhadap PDB-nya pada tahun 2010 mencapai 835. Faktor lain, banyak juga bank di Eropa yang memegang obligasi pemerintah Yunani yang otomatis juga akan merugi ketika Yunani tidak memenuhi kewajibannya. Akibatnya dapat dilihat dari data kumulatif yang mencatat kurs Euro jatuh ke titik terendah dalam 4 tahun terakhir, menjadi 1,2237 dollar AS per 1 Euro diikuti kenaikan pajak hingga 90% serta penutupan 3 kantor perusahaan pariwisata besar di luar negeri. 198 Mengingat faktor intensnya perdagangan dunia dan saling terkaitnya kebijakan perbankan, kalah saing ini dapat menimbulkan guncangan perekonomian dunia. Anggota Non-Eurozone menghadapi tekanan di area perbankan, pengaruh penetapan suku bunga 199 dan tingkat pertumbuhan perekonomian dan ancaman serius dalam pemasukan negara; 200 dan krrisis ekonomi global 2008 memperburuk kinerja ekonomi dari sebagian negara-negara Eurozone, termasuk kerugian Eropa ketika turut terlibat sebagai penjamin dana saat krisis subprime mortgage yang 198 Kompas, “Penyebab-Penyebab Utama Tiga Krisis Ekonomi Besar Selama Periode 19972011”, Kompas Kamis, 27 Mei 2010, hlm.1. 199 Budi Winarno,” Isu-isu Global Kontemporer”, (Yogyakarta: CAPS, 2011), hlm 98. 200 Anonym, “Low interest rates and euro debt crisis will negatively impact insurer profitability and assets as economies slow; industry's capitalisation is stronger than in 2007; emerging markets growth slowed in 2011, but prospects are still robust” sebagaimana dimuat dalam http://www.swissre.com/media/news_releases/nr_20111201_euro_debt_crisis.html diakses 12 Januari 2014 20:08 WIB Universitas Sumatera Utara mencetak defisit keuangan pemerintah dan utang publik. 201 Semuanya menyinggung sektor strategis seperti bisnis dalam skala besar, fondasi perbankan dan kebijakan moneter terhadap ekspor-impor sehingga ketika saling berkolaborasi menciptakan permasalahan semakin serius dan sulit. Akumulasi antara: kondisi defisit dan ekonomi makro yang kacau, instabilitas sistem moneter negara, kebijakan kawasan Eurozone yang berdampak langsung pada landscape domestik negara anggota; turunnya pertumbuhan Non Eurozone, intensitas aktivitas ekonomi antar negara menurun sehingga angka pendapatan negara dan angka kumulatif nilai Euro di mata internasional melemah. Peristiwa diatas jelas menggambarkan adanya efek domino atau “penularan” atau contagion dari krisis Yunani ke negara di Eurozone lainnya. Contagion adalah salah satu mekanisme bagaimana instabilitas finansial menjadi tersebar luas dan kemudian krisis mencapai dimensi sistemik. Perkembangan setahun kemudian kondisi perekonomian di Yunani masih memprihatinkan, lapangan kerja semakin sedikit, pengangguran meningkat mencapai 12 % serta meluasnya kemiskinan. Uni Eropa didesak untuk segera mengambil kebijakan penyelamatan yang tidak melampaui kompetensi menurut konstitusi Uni Eropa yaitu kebijakan moneter Eurozone (Pasal 3 TFEU). Inti dari kebijakan moneter adalah price stability guna menghindari inflasi yang dilakukan dengan cara mengendalikan suku bunga, giro wajib minimum, intervensi di pasar valuta asing dan melakukan peminjaman uang kepada bank201 Berdasarkan laporan tahunan dari Komisi Eropa, rasio utang publik terhadap PDB di 17 negara zona euro terus meroket setelah krisis ekonomi global 2008-09. Untuk tahun 2011, rasio itu diperkirakan mencapai hampir 88 persen, dan akan bertambah menjadi 88,7 persen dari PDB pada tahun 2012 sebagaimana dimuat dalam Kompas, Kolom Internasional, Selasa, 13 September 2011, hlm.11. Universitas Sumatera Utara bank apabila mengalami kesulitan likuiditas. Mekanisme ini dinamakan European Financial Assistance Mechanism (EFSM) yang dibentuk European Commission bekerjasama dengan ECB yang mempunyai peranan untuk memberikan financial assistance kepada negaranegara anggota Uni Eropa yang terkena dampak dari krisis ekonomi. Pengucuran dana bantuan pertama sejumlah 110 milyar Euro ke Yunani dengan kesepakatan adanya upaya menyehatkan kondisi perekonomian. internal pemerintah Yunani untuk Dana gabungan kerja sama anggota Eurozone dan IMF ini menekankan kondisionalitas bagi Yunani terkait kebijakan Economic Adjustment Programme 202 yang kemudian dituangkan dalam Memorandum of Economic and Financial Policies tanggal 3 Mei 2010. Tak sampai disitu, bank-bank swasta di Eropa juga memutuskan penghapusan utang Yunani senilai 100 miliar Euro sehingga secara keseluruhan Yunani mendapat bantuan dana senilai 240 miliar Euro. Sementara Bank Sentral Eropa sendiri menopang pertumbuhan ekonomi dengan menerapkan suku bunga rendah. Seluruh program bantuan itu akan berakhir tahun 2014. Sejauh ini, perekonomian perlahan mulai membaik, tampak pada awal 2013 sampai ketika perekonomian Eurozone menunjukan grafik Produk Domestik Brutto (PDB) naik lebih tinggi pada kuartal keempat 2013. Tak dapat dipungkiri, 202 Economic Adjustment Programme merupakan kebijakan yang disepakati pemerintah Yunani, Uni Eropa dan IMF yang menitikberatkan pada tindakan penghematan anggaran untuk mengatasi defisitnya dana Yunani. Dituangkan dalam Memorandum of Economic and Financial Policies meliputi serangkaian kebijakan struktural, fiskal, finansial dan teknis yang harus dicanangkan oleh pemerintah Yunani sebagai balasan dari pemberian dana penyelamatan sebagiaimana dikutip dari http://www.ec.Europa.eu/economy_finance/publications/occasional_paper/2010/op61_en.htm pada 05 Februari 2014 07:23 WIB Universitas Sumatera Utara Jerman berperan besar akan hal ini yang pertumbuhannya mencapai 0,4% pada akhir 2013. Negara lain khususnya yang sempat diguncang krisis seperti Italia meningkat 0,1% dan Portugal menunjukan pertumbuhan sampai 0,5%. 203 Dalam aturan hukum Uni Eropa Pasal 15(2) TEU, the European Council diwajibkan bersidang dua kali setahun dengan sistem kepemimpinan yang berotasi untuk membahas hal-hal yang telah diagendakan. Tepat 1 Januari 2014 Yunani mengambil alih kepemimpinan Uni Eropa. Yunani harus memimpin ratusan rapat khusus dan 13 pertemuan tingkat menteri di Athena dengan agenda utama pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan pengangguran. Pengalaman 6 tahun terjerembab krisis ekonomi menjadi motivasi bagi pemerintah Yunani untuk menresponi kepemimpinan tersebut. Yunani menerima apresiasi Ketua Komisi Eropa, akan kebijakan penghematan besar-besaran itu. Begitu juga dengan Irlandia, yang sudah keluar dari program bantuan Uni Eropa. 204 Kini, Yunani berencana untuk tidak lagi menerima dana tambahan, meski begitu Kantor Statistik Eropa, Eurostat, masih akan melakukan evaluasi keuangan Yunani bulan April 2014. Setelah itu akan diputuskan, apakah Yunani masih perlu bantuan dana dari Uni Eropa dan IMF untuk periode 2015 sampai 2018. 205 203 DW-DE, “Ekonomi Zona Euro Menguat di Luar Perkiraan”, 14 Febuari 2014 diakses melalui http://www.dw.de/p/1B8ZT pada tanggal 20 Febuari 2014 18:00 WIB 204 DW-DE, “ Komisi Uni Eropa Puji Kebijakan Pemerintah Yunani”, 09 Januari 2014 diakses melalui http://www.dw.de/p/1Ani8 pada tanggal 20 Febuari 2014 18:24 WIB 205 DW-DE, “Yunani Tidak Perlu Bantuan Tambahan”, 31 Desember 2013 diakses melalui http://dw.de/p/1AjTG pada tanggal 12 Januari 2014 17:17 WIB. Universitas Sumatera Utara D. KEWENANGAN UNI EROPA DALAM PENANGANAN KRISIS UNI EROPA MENURUT LISBON TREATY Telah dijelaskan sebelumnya bahwa letak keberhasilan Uni Eropa sebagai integrasi regional ialah penyatuan mata uang menjadi Euro. Konsekuensi sistem mata uang Euro tunggal ini menekankan adanya pengalihan kekuasaan pengambilan keputusan dalam bidang kebijakan moneter dan manajemen ekonomi makro dari masing masing negara ke Pemimpin Uni Eropa. Kewenangan moneter dan kebijakan perekonomian Eurozone diambil alih oleh pemerintahan Uni Eropa berdasarkan Lisbon Treaty Pasal 3 TEU dan pasal 2.C.2 TFEU dengan mengerahkan keberadaan setiap organ yang mempunyai tugas dan kewenangan dalam penentuan kebijakan fiskal dan moneter kawasan Eropa secara umum dan Eurozone secara khusus. Realisasinya, pada tingkat pemimpin Uni Eropa melalui Menteri Luar Negeri Uni Eropa, Presiden Uni Eropa, Gubernur Bank Sentral Uni Eropa Jean Claude Trichet, Kanselir Angela Merkel dari Jerman, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy sepakat untuk memberikan utang sebanyak 110 miliar sebagai utang darurat. Pada tingkat institusional, Bank Sentral Eropa dibantu dengan bank-bank sentral nasional negara anggota. memiliki tanggung jawab besar memantau setiap kebijakan pemerintah Yunani yang telah disepakati dalam Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality 206 Mematuhi Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy 206 Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First Economic Adjustment Programme, hlm.117 3 Mei 2010, hlm.59 sebagaimana dikutip dari http://www.moi.gov.cy/moi/pio/pio.nsf.pdf pada 10 Januari 2014 07:37 WIB Universitas Sumatera Utara Conditionality tersebut, pemerintah Yunani memberlakukan kebijakan fiskal pertama dengan mengubah kebijakan menaikkan pajak. Dengan target minimal mendapatkan 1800 juta Euro dalam jangka waktu satu tahun, maka pajak nilai tambah dinaikkan: semula 19% menjadi 23%, golongan kedua yang semula 11% menjadi 13%, dan golongan ketiga semula 5,5% menjadi 6,5%. Begitu juga dengan pajak bahan bakar, tembakau, dan alkohol yang dinaikkan sebesar 33% untuk mendapatkan 1050 juta Euro dalam waktu satu tahun. Pajak tambahan juga dikenakan pada: perusahaan yang memiliki keuntungan tinggi juga dengan target mendapatkan 600 juta Euro; pajak real estate dengan target untuk mendapatkan 400 juta Euro; pajak barang mewah dengan target mendapatkan 100 juta Euro; serta pajak tambahan minuman alkohol dengan target untuk menambah pendapatan 300 juta Euro. Pada sektor lain, pemerintah mengurangi upah pegawai negeri melalui pengurangan bonus dan tunjangan hari raya dan libur dengan target menghemat 1,5 milyar Euro dalam jangka waktu satu tahun. Pengurangan juga terjadi pada upah pegawai sektor publik dengan mereduksi kurang lebih 50% dan mereduksi upah lember sebesar 20% untuk menargetkan penghematan upah pegawai sektor publik sebesar 770 juta Euro untuk tahun 2011, 600 juta Euro untuk tahun 2012, 306 juta Euro untuk tahun 2014, dan 71 juta Euro untuk tahun 2015. 207 Demi penghematan dari sektor anggaran, maka dilakukan juga: pengurangan dana pensiun untuk menghemat 500 juta Euro dan pengurangan anggaran sosial dari cadangan untuk menghemat 700 juta Euro. Semakin 207 Hellenic Republic Ministry of Finance, Hellenic Economic Policies Programme Newsletter, 19 Mei 2011, hlm.2 sebagaimana dikutip dari http://www.ec.Europa.eu/Europe2020/pdf/nrp/nrp_greece_en.pdf Universitas Sumatera Utara disempurnakan dengan perubahan sistem tahun 2011 dimana hanya satu orang yang dapat diterima untuk bekerja di sektor publik dari lima orang yang diberhentikan. Perubahan ini menargetkan penghematan sebesar 600 juta Euro sampai akhir tahun 2013. Menjawab sulitnya birokrasi pembukaan bisnis sekaligus mendorong kompetisi di pasar terbuka, pemerintah mengadopsi hukum baru untuk menyederhanakannya. Hal ini sejalan dengan aturan yang dihimbau Uni Eropa untuk meningkatkan iklim bisnis dan memfasilitasi penanaman modal asing serta investasi dalam inovasi sektor-sektor strategis.. 208 The First Economic Adjustment Programme Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality kemudian dilanjutkan pada The Second Economic Adjustment Programme Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality tahun 2012. Skenario peranan Uni Eropa terlihat dalam tindakan-tindakan sebagai berikut: sejak Mei 2010, Yunani telah menerima pinjaman darurat dari negara anggota Uni Eropa dan Komisi Uni Eropa. Dua paket bantuan bagi Yunani yang sebelumnya telah disetujui mencakup batas kredit keseluruhan sebesar 240 miliar Euro. Dari jumlah tersebut, menurut EFSF di Luxemburg, 107 miliar Euro sudah dikucurkan dari dana Eropa. Berkenaan dengan Economic Adjustment Programme sendiri, Uni Eropa menyediakan kesempatan untuk bertukar pikiran dan pilihan kebijakan juga penyediaan ahli dalam bidang privatisasi, kesehatan dan jaminan sosial, reformasi 208 Greece: Memorandum Conditionality,Op.Cit..,hlm 61 of Understanding on Specific Economic Policy Universitas Sumatera Utara badan usaha milik negara, reformasi manajemen fiskal, dan reformasi pajak, khususnya terkait teknik pengauditan. 209 Uni Eropa juga menyiapkan firewall (bantalan krisis) yang nilainya mencapai EUR 550 milyar atau setara dengan US$ 730 milyar yang terdiri dari Balance of Payment (BOP) Facility (EUR 50 milyar), EFSF sebesar EUR 440 milyar, dan EFSM senilai EUR 60 milyar. Ketiga fasilitas ini nantinya bergabung menjadi European Financial Stability (EFS) pada Bulan Juli 2012. 210 Pada pertemuan puncak pemimpin Uni Eropa Brussels tahun 2011 diagendakan langkah-langkah yang disiapkan antara lain berupa paket pinjaman baru kepada Yunani serta meningkatkan peran investor swasta dalam restrukturisasi utang. 211 Kepala dana bantuan Eurozone juga membujuk Cina untuk berinvestasi dalam sebuah skema bantuan bagi negara Eropa yang mengalami krisis utang. Cina merupakan langganan yang membeli surat berharga EFSF. 212 Bukan hanya pada Yunani, bantuan dari Komisi Uni Eropa, EFSF dan IMF juga dialokasikan ke Irlandia sebesar 885 miliar Euro dengan catatan Irlandia 209 Directorate-General for Economic and Financial Affairs, European Commission ,“The Economic Adjustment Programme for Greece Fourth Review – Spring 2011”, dalam European Economic: Occasional Paper 82,(Brussels: European Union, 2011), hlm.46 sebagaimana dikutip dari http://www.ec.Europa.eu/Europe2020/pdf/nrp/nrp_greece_en.pdf tanggal 15 Desember 2013 10:00 WIB 210 Fasilitas BoP ditujukan untuk negara-negara Eropa yang bukan anggota Uni Eropa, sementara fasilitas EFSF dan EFSM dapat digunakan oleh negara anggota Uni Eropa dengan tambahan fasilitas yang berasal dari LKM seperti IMF. www.fiskal.depkeu.go.id/2010 tanggal 19 Januari 2014 07:48 WIB 211 BBC, “Uni Eropa Lanjutkan Bahas Krisis Yunani”, 21 Juli 2011 10:10 WIB dilansir dari http://www.bbc.co.uk/indonesia/uni/eropa/lanjutkan/bahas/krisis/yunani/dunia/2011/11/110721.ht ml pada 05 Februari 2014 06:49 WIB 212 BBC, “Eropa Minta Bantuan Cina”, 28 Oktober 2011 14:58 WIB dilansirdari http://www.bbc.co.uk/indonesia/eropa/minta/bantuan/cina/dunia/2011/11/111028.html pada 05 Februari 2014 06:49 WIB Universitas Sumatera Utara melakukan kebijakan pengetatan anggaran. Sementara untuk Italia dan Spanyol, bersamaan dengan pinjaman darurat dari Uni Eropa dan IMF, European Central Banks (ECB) telah membeli obligasi pemerintah dalam skala besar untuk membatu negara yang tengah mengalami krisis. Ini dimaksudkan untuk mempertahankan suku bunga Italia dan Spanyol pada tingkat yang dapat diitoleransi. Sejauh ini, European Central Banks (ECB) telah mengeluarkan sekitar 200 miliar Euro untuk program kontroversial ini. 213 Sebenarnya sejak krisis keuangan global di tahun 2008, peranan Komisi Uni Eropa juga telah nyata khususnya ketika memberikan pinjaman kepada negara-negara anggota yang tidak menggunakan mata uang Euro. Hungaria, Latvia dan Rumania sampai saat ini telah menerima sekitar 14 miliar Euro untuk bantuan anggaran negara. 214 Pendekatan personal negara anggota juga dilakukan dengan melirik salah satu negara dengan perekonomian terkuat, yaitu Jerman sebagai alternatif solusi krisis. Walaupun awalnya Jerman masih enggan melakukan hal tersebut karena belum adanya mekanisme perpolitikan yang jelas, tetapi menurut data Eurostat Bundesbank, bank sentral Eropa, menempati posisi sebagai kreditur terbesar Yunani. 215 Selain Jerman, bank-bank swasta di Eropa berperan dalam 213 Bernd Riegert, DW-DE, “Negara Uni Eropa yang Tergantung pda Dana Penyelamatan” 29 Juni 2012 sebagaimana dimuat dalam http://www.dw.de/negara-uni-eropa-yang- tergantung-pada-dana-penyelamatan/a-16050903 diakses pada tanggal 05 Oktober 2013 10:10 WIB 214 Ibid. Berdasarkan kesimpulan tajam Homburg mengenai posisi Bundesbank dimuat dalam Directorate-General for Economic and Financial Affairs, European Commission ,“The Economic..“Op. Cit. 215 Universitas Sumatera Utara penghapusan utang Yunani senilai 100 miliar Euro dan Bank Sentral Eropa dengan kebijakan penerapan suku bunga rendah Analisis yang pernah dilakukan IMF dan European Central Bank (ECB), atau Bank Sentral Eropa, pada tahun 2011 menyimpulkan perlunya ketersediaan dana likuiditas sebagai firewall di Eropa di atas US$ 1 trilyun. Angka ini dinilai memadai untuk mempertahankan kepercayaan pelaku pasar atas ketahanan ekonomi Eropa. 216 Faktor lain peningkatan firewall ini disebabkan pelaku pasar, investor, dan pemilik dana kurang mempercayai kebijakan yang dikeluarkan oleh otoritas Uni Eropa mengingat pengalaman pahit yang mereka terima di masa lalu, seperti pemotongan mencapai 50% dari nilai nominal obligasi Pemerintah Yunani yang mereka miliki ditambah lagi faktor politik yang terjadi di Eurozone, khususnya pada negara-negara yang terkena krisis yang ditandai oleh pergantian pimpinan pemerintahan 216 Departemen Keuangan Indonesia, “Peningkatan Kapasitas Pendanaan IMF dalam Penanganan Krisis Global” dalam http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010 tanggal 19 Januari 2014 09:48 WIB Universitas Sumatera Utara BAB IV KEWENANGAN INTERNATIONAL MONETARY FUND (IMF) DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI GLOBAL DIKAITKAN DENGAN KEBERADAAN DAN KEWENANGAN UNI EROPA DALAM PENANGANAN KRISIS EKONOMI UNI EROPA A. Krisis ekonomi dalam konteks regional dan global. Sebuah analisa menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi sebuah negara atau kawasan tidak menjadi jaminan luput akan terjadinya krisis. Periode sebelum tahun 2000 krisis umumnya terjadi pada negara-negara berkembang atau berpendapatan menengah, tetapi setelahnya terjadi pergeseran kepada negaranegara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar di masa lalu. Lebih dari itu krisis paska tahun 2000 menampilkan ciri dominan yaitu dampak kerugian yang semakin meluas (contagion effect) ke banyak negara dan kawasan. 217 Potret krisis regional mengetengahkan fenomena yang secara sederhana mengguncang suatu kawasan. Katakan saja seperti krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997-1998 atau disebut krisis keuangan Asia. Krisis yang bermula di Thailand ini terjadi akibat: ekspansi ekonomi yang terlalu agresif dan serangan spekulatif terhadap mata uang Bath; membesarnya defisit transaksi berjalan di dalam neraca pembayaran akibat kenaikkan impor yang besar; depresiasi Bath terhadap dollar AS; jatuhnya harga saham; tersendatnya laju pertumbuhan 217 Departemen Keuangan Indonesia, “Peningkatan Kapasitas Pendanaan IMF dalam Penanganan Krisis Global” dalam www.fiskal.depkeu.go.id/2010/adoku/2012 tanggal 19 Januari 2014 09:48 WIB Universitas Sumatera Utara investasi, termasuk penjadwalan ulang sejumlah proyek besar serta kondisi krisis politik hingga terjadinya perombakan kabinet serta lengsernya pimpinan pemerintahan. 218 Berkaitan dengan hal tersebut, posisi ekonomi Indonesia di Asia saat itu cederung tak sehat dimana tanda-tanda krisis moneter tidak dapat dielakkan seperti: utang luar negeri Indonesia tercatat 138 miliar dolar AS; kondisi sosial demografi yang diwarnai konflik pribumi dan non pribumi di sektor bisnis 219 serta kemerosotan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang meningkat sampai empat kali lipat sehingga para debitur sektor swasta kesulitan membayar utangnya. Bank Sentral Bank Indonesia juga tidak mampu menjamin pinjaman luar negeri. Akhirnya IMF dilirik sebagai pilihan terakhir dan tercatat ada 11 paket kesepakatan Indonesia dengan IMF sampai April 1998. 220 Selain krisis dua negara ini, keadaan perekonomian tiga negara lain di Asia juga tergolong tidak baik yaitu Malaysia, Filipina dan Korea Selatan. Menurut data IMF sepanjang Maret 1997 sampai Juli 1999, tiga negara tesebut juga silih berganti mengalami perombakan kebijakan, pemerintahan bahkan kemerosotan nilai mata uang. 221 Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai krisis keuangan Asia dengan pemicu utama kondisi pilar ekonomi masing-masing negara yang terbilang gawat 218 KOMPAS, “Penyebab-Penyebab Utama Tiga Krisis Ekonomi Besar Selama Periode 1997-2011”, Kamis 27 Mei 2010, hlm.1 219 Jelly Leviza, “Tanggung Jawab Bank Dunia dan IMF sebagai Subjek Hukum Internasional” , (Jakarta:SOFMEDIA, 2009), hlm.226 220 “Lebih Ketat dan Rinci Agar Tak Ingkar (Lagi)”,Forum Keadilan No.2 Tahun VII, 04 Mei 1998 sebagaimana dikutip dari Jelly Leviza, op.cit.,hlm.269 221 IMF, “East Asian Crises’ Cronology” http://www.imf.org/external/pubs/ft/op/opfinsec/index.htm diakses pada tanggal 26 Februari 2014 07:19 WIB Universitas Sumatera Utara dan terlibat dalam pasar Asia sehingga aset-aset bermasalah dikelimanya menghambat laju perekonomian bahkan matinya sektor usaha, tingginya inflasi, suku bunga. Dapat dikonklusikan meskipun krisis ini menjadi sorotan dunia tetapi pribadi yang menderita akibat krisis ini adalah mereka yang berada di kawasan tersebut, belum sampai pada tahap merosotnya gairah perekonomian dunia. Berbeda halnya dengan krisis global,seperti negara adidaya yang tak luput dari pengalaman krisis. Resiko akan dampak krisis ini terbilang mendunia. Pada tahun 2006-2008, dimana salah satu kebijakan pemerintah Amerika Serikat waktu itu ialah pemberian pinjaman kepemilikan rumah (mortgage) yang mudah tanpa jaminan cukup terhadap warganya. Abainya penerapan prinsip kehati-hatian (prudential principe) dengan mempelajari profil dan karakter debitur menimbulkan semua lapisan masyarakat bahkan seorang berpenghasilan rendah sekalipun dapat memperoleh subprime loan tersebut dengan mudah. Tahun 2006 laporan pertumbuhan Amerika Serikat menunjukkan predikat kurang memuaskan sehingga surat berharga properti di Amerika Serikat turut terkena imbasnya. Baik debitur maupun investment banker selaku penerbit hutang dengan jaminan mortgage makin terbelit kredit macet dan gagal bayar pinjamannya (default) dalam jumlah besar dan merata. 222 Sebuah perusahaan asuransi Amerika Serikat yang memiliki kantor cabang di London, AIG 223, menawarkan jaminan pada bank-bank di negara-negara Uni Eropa untuk menjadi kreditur perusahaan-perusahaan berakreditasi AAA 222 Tim Asistensi Sosialisasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan Depkeu-RI., “Buku Putih Bank Century”, (Jakarta: Departemen Keuangan, 2010) 223 American Insurance Group (AIG) adalah perusahaan asuransi terbesar di dunia, dengan aset lebih dari 1 triliun dollar AS dengan lebih dari 100.000 ribu karyawan di seluruh dunia. Sampai Juni 2008, perusahaan ini menderita kerugian sebesar 18,5 miliar dollar AS . Universitas Sumatera Utara (excellent/ top position) tetapi mengalami kesulitan finansial di Amerika Serikat dan hal ini disetujui oleh Uni Eropa. Kemudian 9 Desember 2007, baik Bank Sentral Amerika Serikat menyumbangkan 38 miliar dolar AS dan Eropa 95 miliaran Euro, namun kemudian bibit yang mengecewakan mulai terasa. Performa bursa saham Amerika Serikat di pasar finansial terus menurun tajam, termasuk perusahaan-perusahaan keuangan multinasional seperti Merryl Lynch, Washington Mutual, Lehman Brothers mengalami kesulitan finansial dan kemudian pailit. 224 Pasar finansial Wall Street, diwarnai kegagalan dan pemerintah Amerika Serikat dipaksa untuk memberi dana talangan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut. The Fed mengambil kebijakan menurunkan suku bunga, disusul nasionalisasi beberapa perusahaan termasuk AIG. 225 Sesaat setelah informasi pailitnya Lehman Brothers dan perusahaan raksasa lain di Amerika Serikat, sinyal kepanikan meluas ke berbagai pusat keuangan seluruh dunia. Turbulensi pasar keuangan global merosot sampai ke tingkat terendah, termasuk kerugian besar-besaran di pihak bank-bank di Uni Eropa. Kebijakan pertama di Uni Eropa ialah pengalihan piutang yang dipinjamkan ke perusahaan-perusahaan tersebut kepada pemerintah Amerika Serikat. Namun tetap saja tidak terselesaikan mengingat Amerika Serikat sendiri mengalami fase krisis. Padahal di satu sisi, bank-bank di Uni Eropa mengalami 224 Lehman Brothers merupakan perusahaan keuangan terbesar dan tertua di Amerika Serikat, yang mengawali kinerjanya dalam bidang penjualan kapas kemudian berkembang ke komoditi lainnya sampai menjadi perusahaan perdagangan instrumen investasi. Keberadaannya sangat membantu perkembangan sektor finansial dan pasar modal Amerika Serikat, termasuk mengantisipasi dampak Great Depression. Selengkapnya dalam “Lehman History” sebagaimana dimuat dalam http://www.library.hbs.edu/hc/lehman/history.html, diakses pada 11 Januari 2014. 225 Johan Van Overtveldt, “Bernanke’s Test”, Ben Bernanke, Alan Greenspan dan Drama Bankir Bank Sentral, terjemahan oleh Sugianto Yusuf, (Jakarta: PT Gramedia, 2009), hlm. 153. Universitas Sumatera Utara kesulitan dalam menangani tumpukan piutang mereka serta tanggung jawab mereka terhadap bank sentral masing-masing negara. Hal itu diperparah dengan kesepakatan mereka dengan AIG London yang hanya memberi ganti rugi yang prosentasenya cukup sedikit dari jumlah dana yang dipinjamkan. Kesimpulannya kerugian besar-besaran di pihak bank-bank di Uni Eropa tidak dapat dielakkan. Tidak hanya sampai disitu, dampak lanjutan terlihat melalui beberapa bank besar yang collapse diikuti runtuhnya berbagai bank investasi lainnya di Amerika Serikat. Pasar modal di Eropa dan Asia segera mengalami panic selling yang mengakibatkan jatuhnya indeks harga saham pada setiap pasar modal segera. 226 Data mencatat bahwa Amerika Serikat menyumbang sekitar 20 % terhadap ekonomi global, krisis yang dialaminya secara otomatis mempengaruhi pasar uang (financial market) di belahan Asia. Negara-negara seperti Jepang, Korea, China, Singapura, Hongkong, Malaysia, termasuk Indonesia yang kebetulan sudah lama memiliki surat-surat berharga pada perusahaan-perusahaan tersebut dan ekspor negara-negara Asia juga terkena imbasnya. Contoh paling dekat adalah perekonomian Singapura. Setiap kali perekonomian Amerika turun sampai dengan 2 %, maka ekonomi Singapura ikut terseret turun 2-3%. Laporan kuartal IV-2007, perekonomian Singapura yang biasanya tumbuh sekitar 9 %, turun ke 6 %. 227 Bahkan, perekonomian Cina dengan reputasi kekebalan terhadap resesi negara lain, juga terkena imbas. Indeks Shanghai turun dan mulai mengantisipasi penurunan ekspor ke Amerika Serikat dengan mengalihkan ke pasar regional, 226 Edy Suandi Hamid, “La Riba-Jurnal Ekonomi Islam:Akar Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Indonesia”, Vol III No.1, Juli 2009, hlm.3 227 Universitas Sumatera Utara termasuk Indonesia. Upaya untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor itu harus diwaspadai karena akan membuat banjirnya produk Cina ke Indonesia. 228 Krisis di jantung kapitalisme global sanggup melemahkan perekonomian dunia bahkan mengundang perhatian dan keterlibatanforum internasional maupun lembaga keuangan dunia seperti G-20, IMF, bahkan Bank Dunia. Regulasi yang lunak dan kegagalan di sektor finansial yang dialami Amerika Serikat ditengarai menjadi faktor penting krisis yang terjadi di kawasan Benua Eropa. Efeknya sangat terasa ditandai dengan indeks-indeks harga saham di sejumlah pasar saham di dunia seperti Dow Jones Industrial Average (Amerika Serikat) , Hang Seng (Hong Kong), Kospi (Korea Selatan) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga terjadi kemerosotan. 229 Secara valid analisa IMF pada 6 November 2008 menyatakan Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif (-0,2) pada 2009. Sementara China mengalami penurunan dari 11,9% pada 2007 dan diprediksi terus turun menjadi 8,5% pada 2009. Demikian juga dengan India yang berturut-turut mengalami tren penurunan pertumbuhan ekonomi yaitu 9,3% pada 2007 dan dipredikisi terus turun menjadi 6,3% pada 2009. 230 Semakin panjang dan lama krisis perekonomian suatu wilayah, semakin hancur juga kondisi perekonomian wilayah lain. Rentetan resesi akbar tersebut menunjukan karakterisitik dominan yang mengerucut pada hal yaitu: masifnya dampak sebuah krisis kawasan. Sebagai 228 Agus Salim Hussein, “Memahami Krisis Keuangan Global:Bagaimana Harus Bersikap”, (Jakarta: Departemen Keuangan, Bapennas, Menteri Komunikasi dan Informatika, 2008), hlm.21 229 Kompas, Internasional, Selasa, 20 September 2011, hlm. 11 230 Tim Asistensi Sosialisasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan Depkeu-RI., Ibid. Universitas Sumatera Utara penjelasan akan analisa ini, tak dapat dielakkan adalah faktor dari globalisasi dan interconnected antara pilar-pilar perekonomian. Seperti sektor perbankan yang berperan sebagai penyedia sarana pembayaran ketika mengalami kegagalan (bank failure) akan menyeret kegagalan perusahaan (corporate failure) dan memperlambat masalah pembayaran (payment settlement). Pilar kedua dimana para pelaku bisnis global terinjeksi pada satu bursa saham global sehingga keuntungan korporasi bukan saja di satu kawasan tersebut, sebaliknya kejatuhan bursa tersebut merupakan pelepasan saham-saham secara bersamaan. Jika diikuti dengan kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, kepanikan di pasar uang, pecahnya gelembung finansial, moral hazzard 231, ketiadaan aturan baku maka permasalahan krisis semakin menjadi 232. Maka terbukti apa yang dianalisa Miskhin bahwa: “Gangguan pada pasar uang dapat melebar ke perekonomian yang lebih luas dan menimbulkan dampak buruk terhadap keluaran dan lapangan kerja. Selain itu, menurunnya perekonomian cenderung menyebabkan meningkatkan ketidakpastian tentang nilai aset, yang dapat saja menjadi lingkaran setan di mana krisis finansial menghambat aktivitas perekonomian; situasi semacam itu dapat semakin mengingatkan ketidakpastian serta memperparah krisis keuangan sehingga memperparah kerusakan aktivitas perekonomian secara makro.” 233 231 Moral Hazzard merupakan istilah yang menggambarkan lemahnya penegakan peraturan hukum oleh pemerintah seperti membiarkan perbankan dan lembaga keuangan untuk memberi jaminan dan kredit melebihi dari modalnya sendiri, sehingga menyebabkan investasi berlebih dan berisiko. Teori Moral Hazard pernah digunakan oleh Krugman untuk mengidentifikasi krisis Asia http://www.macroeconomics.tu1997. Selengkapnya dalam berlin.de/fileadmin/fg124/financial_crises/lecture/14-moral_hazzard.pdf diakses pada tanggal 20 Februari 2014 13:23 WIB. 232 Radelet, “The East Asian Financial Crises: Diagnosis, Remedies, Prospects”, sebagaimana dimuat dalam http://www.earth.columbia.edu/sitefiles/file/about/director/documents/BPEA19981withRadeletTheEastAsianFinancialCrises.pdf diakses pada tanggal 10 Februari 2014 13:35 WIB 233 Fredric Mishkin, “How Should We Respond to Asset Price Bubble?” pidato disampaikan di hadapan Warthon Financial Institutions Center and Oliver Wyman Institute’s Annual Finacial Risk Roundtable, Philadelphia, Pennsylvania. Sebagaimana dikutip dari http://www.gsb.columbia.edu/faculty/fmishkin diakses pada tanggal 10 Februari 2014 13:20 WIB. Universitas Sumatera Utara Terbukti bahwa baik industri finansial maupun perbankan memainkan peran signifikan dalam sebuah negara. Keguncangan yang satu berdampak negatif pada seluruh sistem (systemic risk). Semua pelaku ekonomi dunia baik yang menikmati maupun tidak hasil perekonomian tersebut tak luput dari dampaknya. Inilah yang pada kemudian hari dikenal sebagai efek domino yang merupakan fenomena perubahan berantai berdasarkan prinsip geo-politik dan geostrategis. Pendapat ini muncul sebagai konsekuensi dari konsideran geografis, maka obyeknya adalah negara-negara yang secara geografis berdekatan, misalnya terletak dalam satu kawasan, termasuk efek domino sebuah krisis ekonomi juga akan menghapus batas sektor perekonomian dengan hal-hal publik yang dikaji hukum internasional. Krisis global menambah perkembangan bagi hukum internasional itu sendiri, seperti semakin berperannya organisasi keuangan internasional. B. Mandat International Monetary Fund (IMF) dalam penanganan krisis ekonomi global Sebagai salah satu Lembaga Bretton Woods (Bretton Woods Institution), IMF memiliki esensi mengekspresikan prinsip tentang bagaimana perdagangan dan pembayaran internasional harus dilakukan serta memberikan keabsahannya. 234 Berbasis pada esensi itu, IMF mengkonsentrasikan diri pada 234 W. M Scammel, ”International Monetary Policy”, Second Editiion, (New York: St Martin’s Press, 1967), hlm.154-155 sebagaimana dikutip dalam Jelly Leviza, ”Tanggung Jawab Bank Dunia dan IMF sebagai subjek Hukum Internasional”, (Jakarta:PT. SOFMEDIA, 2009), hlm.25 Universitas Sumatera Utara tujuan-tujuan yang secara substansial dimuat dalam Pasal I The Articles of Agreement IMF yaitu sebagai berikut: i. Untuk mempromosikan kerjasama moneter internasional melalui lembaga permanen yang menyediakan mekanisme untuk konsultasi dan kolaborasi tentang masalah moneter internasional; ii. Untuk memudahkan perluasan dan pertumbuhan yang seimbang dari perdagangan internasional, dan dengan demikian ikut mendukung pembinaan dan pemeliharaan tingkat kesempatan kerja maupun pendapatan riil yang tinggi dan pengembangan sumber daya produktif semua anggota sebagai tujuan utama kebijakan ekonomi; iii. Untuk mempromosikan stabilitas nilai tukar, untuk memelihara pengaturan pertukaran yang tertib di antara anggota, dan untuk menghindari depresiasi pertukaran yang kompetitif; iv. Untuk membantu pembentukan sistem pembayaran multilateral dalam rangka menghormati transaksi berjalan antara anggota dan untuk menghapuskan pembatasan valuta asing yang menghambat pertumbuhan perdagangan dunia; v. Untuk memberikan kepercayaan diri bagi para anggotanya dengan menyediakan sumber daya umum IMF yang tersedia bagi mereka dengan tetap menjaga keamanan sumber daya secara memadai, sehingga mampu memberi kesempatan kepada anggota untuk mengoreksi ketidaksesuaian dalam neraca pembayaran mereka tanpa Universitas Sumatera Utara mengambil langkah-langkah yang menghambat kemakmuran nasional atau internasional; vi. Sejalan dengan hal di atas, untuk memperpendek waktu dan mengurangi tingkat ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran internasional para anggota. 235 Tujuan IMF juga semakin signifikan karena meluasnya keanggotaan. Jumlah negara anggota IMF sudah bertambah empat kali lipat dibandingkan awal pembentukannya. 236 Meluasnya keanggotaan IMF dan perubahan di dalam perekonomian dunia, telah membuat IMF beradaptasi dengan bertanggung jawab mengatur sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya untuk membantu masalah-masalah keuangan. Salah satu misinya adalah membantu negara-negara yang mengalami kesulitan ekonomi yang serius, dan sebagai imbalannya, negara tersebut diwajibkan melakukan kebijakan-kebijakan tertentu, misalnya privatisasi badan usaha milik negara. Semua tindakan, kebijakan dan keputusan IMF dibuat berdasarkan tujuantujuan yang ditentukan dalam Anggaran Dasarnya dan untuk mencapai tujuan tersebut, IMF melakukan: a. pemantauan perkembangan dan kebijakan ekonomi dan keuangan dari negara-negara anggotanya dan pada tingkat global, dan memberikan 235 Article I (1) Article of Agreements International Moneter Fund Mengenai keanggotaan, menurut AD IMF dibedakan antara anggota asli dan anggota lain. Anggota asli menurut Pasal II ayat (1) adalah negara-negara yang hadir dalam Konferensi Moneter dan Keuangan PBB dimana pemerintahannya menerima status keanggotaan sebelum 31 Desember 1945. Sedangkan anggota lain menurut Pasal II ayat (2) adalah keanggotaan yang bersifat terbuka bagi negara-negara lain yang statusnya ditentukan oleh Dewan Gubernur. Jelly Leviza, op.cit. 236 Universitas Sumatera Utara nasihat dan masukan kebijakan kepada anggotanya berdasarkan pengalamannya yang lebih dari lima puluh tahun; b. memberikan pinjaman kepada negara anggota yang menghadapi masalah neraca pembayaran, juga untuk mendukung proses penyesuaian dan kebijakan reformasi yang bertujuan untuk mengoreksi permasalahan medasar perekonomian; c. menyediakan bantuan teknis dan pelatihan di bidang yang menjadi keahliannya kepada pemerintah dan bank sentral dari negara anggotanya; d. berkolaborasi secara aktif dengan Bank Dunia, bank-bank pembangunan regional, Organisasi Perdagangan Dunia, lembaga-lembaga PBB, dan badan-badan internasional lainnya. IMF dan Bank Dunia bekerja secara erat di bidang lain termasuk penilaian sektor keuangan. 237 Dekade 1970-an yang ditandai oleh serangkaian krisis finansial turut mendorong proses perombakan peranan IMF dalam pasar-pasar keuangan internasional yaitu membantu sejumlah negara dengan cara yang komprehensif. Tahun 1996, Bank Dunia dan IMF membuka Inisiatif HIPC 238 untuk mengurangi beban hutang negara termiskin di dunia. Inisiatif ini dipandang sebagai sarana untuk membantu negara bersangkutan mencapai pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. Selain itu, IMF juga menyediakan dukungan bagi pemerintah yang sedang membangun strategi mereka, tetapi tanpa menentukan hasil akhir. 237 Seksi Grafik IMF, “Buku Pedoman tentang IMF: Apakah Dana Moneter Internasional itu?”,N.W Washington D.C: 2001, hlm.3. 238 Heavily Indebted Poor Countries (HIPC) merupakan kelompok negara penghutang berpendapatan rendah. Selengkapnya dalam http://www.imf.org/external/np/exr/facts/hipc.htm diakses pada tanggal 24 Februari 2014 15:00 WIB Universitas Sumatera Utara Adapun sejumlah fasilitas Pinjaman IMF terhadap anggota ialah sebagai berikut: a. Fasilitas Pinjaman Siaga adalah inti kebijakan pinjaman IMF. Skema ini memberikan kepastian kepada negara anggota bahwa bantuan pinjaman siaga digunakan sampai sejumlah tertentu, biasanya selama 12–18 bulan, untuk mengatasai masalah neraca pembayaran jangka pendek. b. Fasilitas Pendanaan yang Lebih Panjang. Dukungan IMF bagi anggotanya berdasarkan Fasilitas ini memberikan kepastian bahwa sebuah negara anggota bisa menarik sampai sejumlah tertentu, biasanya selama tiga sampai empat tahun, untuk membantu negara itu mengatasi masalah ekonomi struktural yang menyebabkan kelemahan serius dalam neraca pembayarannya; c. Fasilitas Pertumbuhan dan Pengurangan Kemiskinan adalah fasilitas berbunga rendah untuk membantu negara anggota termiskin menghadapi masalah neraca pembayaran yang terlalu lama. Biaya bagi para peminjam disubsidi melalui hasil dari penjualan emas milik IMF di masa lalu, bersama dengan pinjaman dan dana bantuan yang disediakan kepada IMF untuk tujuan tersebut oleh anggota-anggotanya; d. Fasilitas Cadangan Tambahan, menyediakan pembiayaan jangka pendek tambahan kepada negara anggota yang mengalami kesulitan neraca pembayaran yang terkecuali karena hilangnya kepercayaan pasar yang mendadak dan mengganggu yang tercermin dalam arus modal keluar; Universitas Sumatera Utara e. Kredit Kontinen (Contingent Credit Lines—CCL). Bantuan untuk memudahkan anggota melaksanakan kebijakan ekonomi kuat agar memperoleh pembiayaan IMF jangka pendek ketika menghadapi hilangnya kepercayaan pasar yang mendadak dan mengganggu, biasanga diakibatkan dari “penularan” kesulitan di negara lain; f. Bantuan Darurat yang diperkenalkan tahun 1962 untuk membantu negara anggota mengatasi masalah neraca pembayaran yang timbul dari bencana alam yang mendadak dan tidak disangka, bentuk bantuan ini diperpanjang di tahun 1995 untuk mencakup situasi tertentu di mana anggota telah keluar dari konflik militer, untuk membantu pembangunan kapasitas administratif dan institusional. 239 Dalam level akuntabilitas, IMF bertanggung jawab kepada negara anggota, dan pertanggung-jawaban ini penting untuk efektifitasnya. Secara struktur, pekerjaan sehari-hari IMF dilaksanakan oleh IMF memiliki Dewan Gubernur, Dewan Eksekutif, seorang Direktur Pelaksana, dan staff, dan Penasihat 240, seperti berikut ini: a. Dewan Gubernur, di mana semua anggota negara terwakili, adalah kekuasaan tertinggi dalan organisasi IMF. Setiap negara anggota menunjuk seorang Gubernur—biasanya menteri keuangan negara tersebut atau Gubernur bank sentral negara (atau seorang ekonom senior yang dipercaya) dan seorang Gubernur Alternatif. Dewan Gubernur berhak 239 Syamsul Arifin, “IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional: SuatuTinjauan Kritis”, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2007),hlm.91 240 Articles XII (1) Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Universitas Sumatera Utara untuk memilih dan menunjuk Direktur Eksekutif yang merupakan arbiter utama pada isu terkait penafsiran Anggaran Dasar Perjanjian IMF. Isu-isu kebijakan kunci yang berkaitan dengan sistem moneter internasional dipertimbangkan dua kali per tahun dalam komisi Gubernur yang disebut Komite Keuangan dan Moneter Internasional Pertemuan Tahunan biasanya termasuk dua hari sesi pleno, di mana para Gubernur berkonsultasi satu sama lain dan menyampaikan pandangan negara-negara mereka untuk isu-isu di bidang ekonomi dan keuangan internasional. Selama Rapat, Dewan Gubernur juga membuat keputusan tentang bagaimana isu-isu moneter internasional terkini harus ditangani dan menyetujui resolusi yang sesuai. Pertemuan Tahunan dipimpin oleh seorang Gubernur dengan kepemimpinan yang bergilir di antara keanggotaan setiap tahun. Setiap dua tahun, pada saat Rapat Tahunan, Gubernur Bank memilih Direktur Eksekutif dan Dewan Eksekutif; 241 b. Dewan Eksekutif, Dewan Eksekutif, pihak yang bertanggung jawab untuk menjalankan usaha IMF, dan untuk tujuan ini akan menjalankan segala wewenang yang didelegasikan kepadanya melalui Dewan Gubernur. Dewan Eksekutif terdiri dari Direktur Eksekutif dengan Direktur Pelaksana; 242 c. Direktur Pelaksana dan Staff : Dewan Eksekutif memilih seorang Direktur Pelaksana yang bukan merupakan Gubernur atau Direktur Eksekutif. Direktur Pelaksana tersebut akan menjadi ketua dari Dewan Eksekutif, tapi 241 242 Articles XII (2) Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Articles XII (3) Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Universitas Sumatera Utara tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan dalam hal pembagian yang rata. Direktur Pelaksana akan menjadi kepala staf operasional IMF dan menjalankan, berdasarkan pengarahan dari Dewan Eksekutif, usaha IMF. Berdasarkan pengawasan umum dari Dewan Eksekutif, bertanggung jawab untuk organisasi, penunjukan, dan pembubaran staff IMF. Direktur Pelaksana dan staff IMF, tidak akan tunduk kepada kekuasaan selain dari IMF. Setiap anggota IMF tunduk terhadap ketentuan ini dan tidak mempengaruhi staff tersebut dalam pelaksanaan fungsinya. 243 Pejabat IMF adalah pegawai sipil internasional yang bertanggung jawab kepada IMF, tidak kepada pemerintah nasionalnya (negaranya). Organisasi ini memiliki sekitar dua pertiga para ahli ekonomi sebagai staf professional. Ada 80 perwakilan ditempatkan di negara anggota untuk membantu memberi nasihat tentang kebijakan ekonomi. IMF mempunyai kantor penghubung di Paris dan Tokyo untuk melaksanakan hubungan dengan lembaga regional dan internasional, serta dengan lembaga swadaya masyarakat; IMF juga berkantor di New York dan Jenewa, sebagai penghubung ke lembaga lain di dalam sistem PBB. 244 Ada satu komite gabungan Dewan Gubernur IMF dan Bank Dunia disebut Komite Pembangunan, yang bertugas memberi nasihat dan melaporkan kepada Dewan Gubernur IMF dan Bank Dunia tentang kebijakan pembangunan, ekonomi, dan hal-hal lain yang penting bagi negara-negara berkembang. Tujuan utama pembentukan IMF adalah sebagai organisasi internasional yang meliputi upaya promosi perluasan secara seimbang perdagangan dunia, stabilitas nilai 243 244 Articles XII (4) Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Jeremy Clift, “Buku Pedoman Tentang IMF”, (Washington, 2003). hlm, 13 Universitas Sumatera Utara tukar, pencegahan devalusasi mata uang kompetitif, dan mengoreksi secara tertib persoalan neraca pembayaran suatu negara. Umumnya berbagai mandat IMF tersebut juga disempurnakan dengan melaksanakan fungsi pengawasannya yang dikemas dalam tiga cara berikut: a. Pengawasan Negara Dalam bentuk konsultasi komprehensif teratur (biasanya tahunan) dengan negara anggota secara individu tentang kebijakan-kebijakan ekonomi mereka, dengan diskusi interim seperlunya. Konsultasi tersebut disebut “Article IV Consultations” karena dimandatkan oleh Pasal IV piagam IMF. 245 b. Pengawasan Global Menyangkut peninjauan kecenderungan dan perkembangan ekonomi global oleh Dewan Eksekutif IMF. Pengkajian utama semacam ini adalah berdasarkan pada laporan Ramalan Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) disiapkan oleh staf IMF, biasanya dua kali setahun, sebelum pertemuan Panitia Moneter dan Keuangan Internasional yang diadakan dua kali setahun. Elemen lain dalam pengawasan global IMF adalah biasanya diskusi tahunan Dewan tentang isu pembangunan, prospek, dan kebijakan dalam pasar modal internasional, laporan staf tentang hal-hal ini juga diterbitkan. Dewan Eksekutif juga mengadakan diskusi informal yang lebih sering tentang perkembangan pasar dan ekonomi dunia. c. Pengawasan Regional 245 Article IV, Article of Agreements International Moneter Fund Universitas Sumatera Utara IMF memeriksa kebijakan yang dilaksanakan berdasarkan perjanjian regional. Ini termasuk, misalnya, diskusi Dewan tentang perkembangan di Uni Eropa, Uni Moneter dan Ekonomi Afrika Barat, Komunitas Moneter dan Ekonomi Afrika Tengah, dan Uni Mata Uang Karibia Bagian Timur. Manajemen dan staf IMF juga berpartisipasi dalam diskusi pengawasan kelompok negara semacam itu seperti G-7 (Kelompok Tujuh negara industri utama) dan forum APEC (Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik). Salah satu mandat IMF yang penting adalah penegasan fasilitas pembiayaan yang bersifat kondisional (bersyarat), dalam arti pemerintah negara penerima harus memenuhi serangkaian syarat yang ditentukan oleh IMF sesuai dengan tujuan pemberian pinjaman itu sendiri. Selama 25 tahun pertama pendiriannya, distribusi dana IMF mulai menetapkan kebijakan ekonomi yang harus ditempuh oleh negara penerima atau disebut kondisionalitas. 246 Kondisionalitas ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya IMF dengan mendorong pihak penerima untuk berlaku sedemikian rupa guna mengatasi kekacauan neraca pembayaran secepat mungkin. IMF menekankan negara terlibat juga dalam kebijakan yang dapat mereka kontrol yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. 247 246 Secara praktis, kondisionalitas merupakan hal yang lumrah dalam dunia pinjam meminjam sebagaimana diutarakan Mohsin S.Khan dan Sunil Sharma: “…conditions to those loans-known as “conditionality”. This is nothing unusual in the world of borrowers and lenders. Indeed, the finance literature shows that some form of conditionality must be present virtually all borrower-lender relationship” Mohsin S. Khan, Sunil Sharma, “Reconciling Conditionality and Country Ownership”, Finance & Development, vol.39., (Washington: Juni 2002),hlm.28 247 Forum Ekonomi International Monetary Fund, “Persyaratan IMF: Sebanyak apa cukup itu”, Washington DC. 2001, dalam http://www.lfip.org/laws817/idver/dok/Dok%20IMF.htm tanggal 10 Desember 2013 09:10 WIB Universitas Sumatera Utara Kondisionalitas ini diinterpretasikan oleh pejabat-pejabat IMF dalam ketentuan Pasal V Bagian 3 (a) Anggaran Dasar IMF khususnya pada kalimat: ”conditions governing the use of the Fund’s general resources” atau diartikan sebagai kondisi-kondisi yang berkaitan dengan penggunaan sumber-sumber daya umum IMF. Bunyi lengkap dari pasal tersebut, yakni: “The Fund shall adopt policies on the use of its general resources, including policies on stand by or similar arrangements and may adopt special policies for special balance of payment problem, that will assist members to solve their balance of payment problem in a manner consistent with the provisions of this Agreement and that will establish adequate safeguards for the temporary use of the general resources of the Fund” 248 Hal ini kemudian dilanjutkan dengan prinsip dan pedoman-pedoman kondisionalitas yang diterapkan dalam penggunaan sumber dana umum IMF seperti disebut dalam Keputusan Dewan Eksekutif IMF tanggal 2 Maret 1979. 249 Tujuan pencanangan kondisionalitas ini tidak bergeser jauh dari tujuan makroekonomi dari program-program IMF 250 yaitu untuk memastikan bahwa upaya-upaya yang dilakukan oleh negara peminjam guna mencapai keseimbangan eksternal tidak bersifat destruktif terhadap kemakmuran, nasionalnya. Kondisionalitas diimplementasikan dalam program-program yang telah dirancang kemudian dipantau apakah kebijakan telah ditempuh dalam waktu dan cara tepat. 248 Rosa M. Lastra, “IMF conditionality”, Journal of International Banking Regulation, (London: Desember 2002), hlm.167 sebagaimana dikutip dari Jelly Leviza, op. cit.,hlm.66 249 Ibid. 250 Tujuan makroekonomi dari program-program bantuan IMF menurut Pedoman Kondisionalitas yaitu untuk untuk menyelesaikan masalah-masalah neraca pembayaran tanpa menimbulkan langkah destruktif bagi kesejahteraan nasional. Chandrasekhar, “IMF-World Bank: Search for Legitimacy”, Businessline, Chennai, Oktober 2002, hlm.1 Universitas Sumatera Utara “Policy program” tersebut kemudian dideskripsikan dalam suatu Letter of Intent (LoI) 251 dengan suatu Memorandum of Economic and Financial Policies untuk diajukan sebagai permohonan pinjaman dan bermuara pada kesepakatan. 252 C. Peranan International Monetary Fund (IMF) dalam menangani krisis ekonomi secara global Melihat pada catatan sejarah perekonomian secara global, sudah banyak rekam jejak IMF dalam mengembangkan tingkat pertumbuhan perekonomian dunia. Konsentrasi peranan IMF adalah memberikan pinjaman valuta asing kepada negara yang mengalami masalah neraca pembayaran. Pinjaman IMF ini memotivasi respon dari negara peminjam dengan beberapa penyesuaian yang wajib dilakukan dengan tujuan pembelanjaan sesuai dengan pendapatannya. Sebelum sampai pada peranan IMF dalam penanganan krisis ekonomi global, perlu juga diuraikan mengenai peranan IMF dalam krisis ekonomi sebuah negara. Selama tahun 1990-an IMF telah memprioritaskan usahanya seperti kegiatan berikut 253: a. IMF membantu negara-negara yang perekonomiannya rusak karena terjadinya invansi terhadap Kuwait dan Pengaruh Perang Teluk 1980-an; b. memberikan bantuan keuangan dan teknik kepada negara-negara Eropa Timur yang sedang berupaya beralih dari sistem ekonomi terpusat kepada sistem ekonomi pasar; 251 Letter of Intent (LoI) atau nota kesepakatan adalah dokumen yang berisi apa yang harus dilakukan oleh sebuah negara agar bisa memperoleh pinjaman IMF. LoI memuat kebijakankebijakan berskala besar yang harus diimplementasikan oleh pemerintah. 252 IMF, “About Country Policy Intentions Documents” sebagaimana dikutip dari http://www.imf.org/external/np/loi/mepuba.htm#loi 253 Huala Adolf, Op. Cit., hlm.104 Universitas Sumatera Utara c. IMF juga membantu krisis ekonomi domestik di Pakistan – disebabkan oleh banjir, tingginya harga minyak, dan inflasi yang terus meningkat, dan masalah anggaran yang merusak stabilitas ekonomi; d. Kawasan Asia, krisis yang terjadi pada awal tahun 1997, diawali karena ketidakmampuan mempertahankan sistem nilai tukar mata uang Bath Thailand sebagai akibat dari permainan para spekulator 254 Pelayanan lain yang diberikan IMF adalah dengan menyediakan bantuan teknis seperti: pada tahun 1960-an dimana banyak negara merdeka mencari bantuan dalam mendirikan bank sentral dan kementerian keuangan mereka; pada tahun 1990-an, ketika negara di Eropa tengah dan bagian timur dan bekas Uni Soviet memulai pergantian mereka dari sistem ekonomi yang berdasarkan perencanaan terpusat ke sistem berdasarkan pasar. Tahun 1996, Bank Dunia dan IMF membuka inisiatif HIPC 255 untuk mengurangi beban hutang negara termiskin di dunia. Sejumlah negara mememuhi persyaratan inisiatif tersebut mendapat pengurangan hutang dalam syarat nominal berjumlah lebih dari $6 juta. Sebagian kebijakan IMF berkolaborasi dengan Bank Dunia untuk membantu memastikan bahwa sumber daya yang disediakan oleh pengurangan hutang tepat sasaran. 256 Contoh negara penerima HIPC ini adalah negara berpendapatan rendah di belahan Afrika mulai periode September 2002. 254 Cyrillus Harinowo, “IMF Penanganan Krisis & Indonesia Pasca IMF”, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2004) , hlm 21. 255 Highly Indebted Poor Country (HIPC) atau pendekatan baru atas pengurangan kemiskinan diperkenalkan di tahun 1999, inisiatif tersebut ditingkatkan untuk menyediakan: pengurangan hutang yang lebih luas dan mendalam, serta pengurangan hutang lebih cepat. Melalui HIPC disediakan untuk mendukung kebijakan yang mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Sebagaimana dimuat dalam http://www.imf.org/external/about/hipc.htm diakses pada 26 Februari 2014 08:00 WIB 256 Jeremy Clift, Op.Cit., hlm.44 Universitas Sumatera Utara Tampak ada stigma akan keberadaan IMF sebagai sebuah harapan baru bagi negara-negara miskin untuk dapat memperoleh dana segar yang diperlukan untuk membangun kondisi sosial dan ekonomi negara yang bersangkutan. Jika dibawakan dalam konteks yang lebih luas yaitu krisis ekonomi global, IMF telah menorehkan prestasi peranannya juga. Secara singkat berturut-turut sejak tahun 2008-2014 ini IMF membantu penanganan krisis Amerika Serikat dan Eropa. Untuk krisis Amerika Serikat, The Fed sebagai bank sentral negara tersebut mengambil peranan utama dengan positioning yang tepat mengembalikan stabilitas keuangan internasional yang sempat merosot akibat gagal bayar para banker-nya 257 sementara IMF berusaha merilis decoupling, agar keadaan krisis tidak menjalar ke seluruh dunia, dengan melakukan mitra kerja dengan negara lain. Dalam krisis Eropa tercatat peranan IMF lebih mendominasi dalam pemberian bail out 30 milyar Euro dalam skema Stand By Arrangement (SBA), Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality sampai titik lahirnya institusi Troika. 258 Ibarat dua sisi mata uang, peranan IMF di kancah pemberian dana bantuan tidaklah selalu sempurna seperti apa yang dimandatkan. Ini merupakan point penting untuk dikritisi bahwa bantuan yang diberikan oleh IMF ini seringkali juga memberikan masalah baru bagi negara-negara yang menerima bantuan. 257 The Fed menurunkan suku bunga dari 4,25% menjadi 3,5% (12 Januari 2008), dan 3% (akhir Januari 2008), kemudian 2,5%, bahkan di kuartal I tahun 2009 mengarah pada 0% Kebijakan ini bertujuan mendongkrak harga sekuritas, dan jaminan rasa aman. (Warta Ekonomi April 2009). 258 Untuk bagian ini dibahas lebih lanjut pada sub-bab berikutnya. Universitas Sumatera Utara Penyebabnya antara lain sederet kondisionalitas yang harus dipenuhi oleh negara anggota sebagai peminjam yang menimbulkan adanya intervensi dalam kehidupan nasional suatu negara. Negara-negara berkembang dalam hal ini tidak memiliki posisi tawar yang memadai terhadap ketentuan kondisionalitas yang ditetapkan pada proses peminjaman dan menimbulkan dependensi tinggi terhadap IMF.Sementara bagi negara maju, peranan IMF sarat dengan manuver politik dan intervensi kedaulatan. Seperti yang terjadi di Indonesia sendiri, sekitar awal tahun 2003 Pemerintah Indonesia terpaksa mengambil kebijakan kenaikan Tarif Dasar Listrik dan BBM sebagai kondisionalitas dan rekomendasi IMF. Terjadi pelarian modal (capital flight), penurunan nilai tukar rupiah secara drastis, akhir tahun 1998 lebih dari 50% penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan. Rekomendasi IMF untuk menutup 16 bank bermasalah membuat gejolak bank rush. Terhadap hal ini, analisa IMF dianggap tidak tepat sasaran, seperti tak ada bedanya dengan peristiwa yang membuat Indonesia keluar dari IMF pada 1966. 259 Dalam kaitannya dengan krisis moneter Asia, IMF juga menuai argumen kritiknya seperti (1) program IMF terlalu seragam, padahal masalah yang dihadapi tiap negara tidak seluruhnya sama; dan (2) program IMF terlalu banyak mencampuri kedaulatan negara yang. Faktanya, IMF telah gagal memberikan solusi kepada tiga negara Asia (Thailand, Korea dan Indonesia). 260 259 Revrisond Baswir, “Sidang Tahnan MPR 2003 Harus ‘Gugat’ Kejahatan IMF”, Pikiran http://www.pikiranRakyat, 6 Agustus 2003 sebagaimana diakses melalui rakyat.com/cetak/0803/06 260 Lepi S. Tarmidi, Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF dan Saran. (FEUI:1998) Pidato Pengukuhan Guru Besar, Lepi S. Tarmidi, Guru Besar FE-UI. Universitas Sumatera Utara Begitu juga sepanjang menangani kemelut Yunani-Uni Eropa, IMF juga sempat membuka tabir kesalahannya dengan mengakui bahwa IMF mengklaim pihaknya dan Uni Eropa salah mengatasi mekanisme bailout pertama senilai 110 miliar Euro karena asumsi tinggi dan restrukturisasi hutang agak telat dilakukan. 261 Jelas tiada kesempurnaan bahkan pada lembaga moneter tingkat internasional sekalipun sehingga esensi kedaulatan negara dan kebijaksanaan pemerintah yang berwenang di bidang moneter memegang peranan penting sebelum mengakses keterlibatan dan bantuan IMF. Hal ini pernah dilakukan China, negara yang umumnya menolak rekomendasi kebijakan ataupun asistensi baik dari IMF, Bank Dunia, maupun WTO. Hasilnya, dewasa ini perekonomian China berkembang pesat dan berpredikat sebagai salah satu negara yang menopang perekonomian dunia. D. Kewenangan International Monetary Fund (IMF) dikaitkan dengan kewenangan Uni Eropa dalam menangani krisis ekonomi Uni Eropa. Sejatinya, Uni Eropa dalam setiap kebijakan dan peraturannya tetap mengenal dan menghormati kedaulatan setiap negara anggota seperti termaktub dalam Pasal 2 dan Pasal 6 Traktat Uni Eropa (TEU). Termasuk dalam sistem kebijakan Euro dan penanganan masalah krisis yang diatur Bank Sentral Eropa 261 MonexNews, “Pengakuan Dosa IMF Menuai Kecaman di Yunani”,Jumat 7 Juni 2013 sebagaimana diakses pada http://www.monexnews.com Universitas Sumatera Utara harus dilakukan dengan kerja sama dengan bank sentral masing-masing negara anggota yang mengadopsinya. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri, keberadaan IMF juga sangat diperhitungkan dan dibutuhkan oleh negara-negara anggota Uni Eropa khususnya dalam membantu penanganan krisis di kawasan Eropa. Uni Eropa memandang IMF sebagai lembaga independen akan membantu tercapainya konsensus kebijakan penanganan krisis oleh negara-negara anggota dan memperkuat bantalan krisis (firewall) kawasan. Sementara, bagi negara-negara diluar Eropa kehadiran IMF diharapkan dapat mempercepat penyelesaian krisis dan mendorong pemulihan ekonomi dunia. Sekali waktu di Brussels, pejabat Komisi Eropa berencana mengajukan sebuah proposal untuk "memperkuat koordinasi ekonomi dan pengawasan negara" di 16 negara yang berbagi Euro, yang sebagian besar pengamat merasa pada intinya akan membuat IMF versi Eropa sebagai upaya kesekian atasi krisis, tetapi beurjung penolakan. Bank Sentral Eropa memandang IMF memiliki kekuatan keuangan dan pengalaman untuk langkah dan membantu negara-negara terhutang, sehingga tetap mempertahankan kepanjangan tangannya melalui para pemimpin zona euro Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Presiden ECB Jean-Claude Trichet. 262 Semula ECB selaku pihak berwenang dalam krisis Eurozone ini melalui Presidennya yaitu Trichet menegaskan sikap menolak terhadap pertolongan IMF 262 TV ONE NEWS,”Bank Sentral Eropa Tolak Bentuk IMF Eropa”, sebagaimana dimuat dalam http://ekonomi.tvonenews.tv/berita/view/34064/2010/03/09/bank_sentral_eropa_tolak_bentuk_imf _eropa diakses tanggal 09 Desember 2013 16:08 WIB Universitas Sumatera Utara dan lebih memilih mengatur keseimbangan neraca pembayaran. 263 Akan tetapi, secara sosiologis negara-negara anggota Uni Eropa menyatakan ketidaksetujuan dalam paket penyelamatan yang dilakukan organ-organ Uni Eropa seperti ECB, 264 faktornya antara lain kepesimisan terhadap kredibilitas pemerintahan Uni Eropa. Keadaan ini membuat kerja sama dengan IMF mulai dibangun berawal dari persetujuan Kanselir Jerman terhadap bantuan finansial untuk Yunani. 265 Satu persatu negara Eropa mengakses fasilitas pinjaman Stand By Arrangement (SBA) kepada IMF dan hal ini disetujui oleh Uni Eropa, seperti: Hungaria 266 dan Latvia 267 di tahun 2008, Romania 268 di tahun 2009 dan Yunani 269 di tahun 2010 sampai tahun 2014 ini. Pada dasarnya di Uni Eropa, IMF secara aktif bekerja baik secara independen maupun bersama dengan lembaga-lembaga Eropa, seperti Europe Commission (EC) dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Kombinasi dana yang disiapkan Komisi Uni Eropa, Bank Sentral Eropa melalui EFSF dan EFSM sebesar EUR 80 milyar dan IMF sebesar EUR 30 milyar atau dengan total nilai EUR 110 milyar telah dialokasikan ke Negara Yunani di bawah 263 ECB, “Introductory Remarks and Questions and Answers,” Press Conference, 4 March 2010, sebagaimana dimuat dalam www.ecb.int/press/pressconf/2010/html/is100304.en.html tanggal 14 Febuari 2014 10:00 WIB 264 Nelson et al., “Frequently asked questions about IMF involvement in the Eurozone,” sebagaimana dikutip dari Farkas, Hannah J.; Murphy, Daniel C. (eds.), “The Eurozone: Testing the monetary union”, ( New York, NY: Nova Science Publishers) pp., 43ff. 265 Spiegel Online, “Top Banker attackiert Merkel”, 23. March 2010, sebagaiamana dimuat dalam http://www.spiegel.de/wirtschaft/soziales/0,1518,685443,00.html diakses pada tanggal 14 Februari 2014 10:00 WIB 266 IMF, ”Hungary: Ex post evaluation of exceptional access under the 2008 Stand-by Arrangement,” IMF Country Report No. 11/145, June 2011, hlm. 4. 267 IMF, “IMF Executive Board approves € 1.68 billion (US$ 2.35 Billion) Stand-By Arrangement for Latvia,” Press Release No. 08/345, December 23, 2008. 268 IMF, “IMF announces staff-level agreement with Romania on € 12.95 billion loan as part of coordinatedfinancial support,” Press Release No. 09/86, March 25, 2009. 269 IMF, “Statement by IMF Managing Director Dominique Strauss-Kahn on Greece,” Press Release No. 10/143, April 11, 2010. Universitas Sumatera Utara program Greek Loan Facility (GLF). Hal ini diyakini dapat mempercepat penyelesaian krisis dan meningkatkan daya saing Eropa di masa depan. Sebagian besar sumber daya IMF dialokasikan untuk berbagai kegiatan di Eropa disediakan oleh anggota negara, terutama melalui pembayaran kuota. Berawal pada tahun 2009, IMF menandatangani jumlah pembelian pinjaman bilateral dan catatan baru perjanjian untuk meningkatkan kapasitasnya untuk mendukung negara-negara anggota selama krisis ekonomi global. Keterlibatan IMF semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya ketika empat anggota eurozone yaitu Yunani, Portugal, Irlandia, dan Siprus juga mengakses sumber daya IMF berupa Fasilitas Siaga (Stand By Arrangement/SBA), yang Flexible Credit Line (FCL), Kehati-hatian dan Likuiditas Jalur (Precautionary and Liquidity Line/PLL), dan the Extended Fund Facility (EFF), sebagai berikut: a. IMF melaporkan bahwa Yunani telah mengalami kemajuan dalam mengurangi defisit anggarannya sejak 2010, sehingga perekonomiannya menjadi kompetitif. Resesi panjang ekonomi Yunani diasumsikan akan berakhir pada tahun 2014, dengan pertumbuhan ekonomi 0,6%. Ekonomi fiskalnya membaik dan dapat mengurangi impor secara signifikan; b. Untuk Spanyol, IMF sedang melakukan “independent monitoring mission” yang ketiga tentang sektor keuangan dalam konteks bantuan keuangan Eropa untuk rekapitalisasi perbankan, pada tanggal 20 Juli 2012. Universitas Sumatera Utara c. Tingkat dan kualitas modal di seluruh sistem perbankan Jerman terus membaik, kondisi pendanaan tetap menguntungkan bagi mayoritas bank di Jerman dan ketergantungan sistem pada pendanaan grosir menurun. d. Untuk Latvia, di bawah program IMF yang akan berakhir pada tahun 2011, pemerintah mengimplementasikan strategi komprehensif dan hasilnya adalah upah minimum untuk keluarga meningkat 8%. 270 Secara khusus, dalam beberapa tahun terakhir IMF juga berupaya memperkuat sistem keuangan internasional, termasuk di Eropa. Pada tanggal 12 September 2013, IMF memiliki pengaturan dengan 7 negara di Eropa, yang berjumlah sekitar € 103000000000 (103 milyar Euro) atau sejumlah 137000000000 $ (137 milyar dollar AS). Bantuan teknis IMF juga dikerahkan untuk meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga dan efektivitas kebijakan sektor keuangan Spanyol melalui dukungan terhadap upaya pemerintah Spanyol untuk mengembalikan kesehatan sektor keuangan. Pada tahap pendekatan regional IMF melakukan pengiriman bantuan teknis dan pelatihan, disempurnakan dengan penyelenggaraan kursus untuk para pejabat dari negara-negara anggota Uni Eropa yang baru dan ekonomi lainnya dalam transisi di Eropa dan Asia di Wina Joint Institute di Austria. Sebagai bagian dari standar pengawasan, IMF memberikan saran kebijakan dan analisis ekonomi, 270 Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, “Pendanaan IMF dalam Mengatasi Krisis Keuangan Global”, dalam http://fiskal.depkeu.go.id/2010 tanggal 20 Januari 2014 13:17 WIB Universitas Sumatera Utara secara regular mengadakan konsultasi dengan 17 negara-negara anggota eurozone, juga menyelenggarakan konsultasi per tahun untuk kawasan eurozone. 271 Upaya berikutnya yaitu pembentukan kerjasama institusional tripartit yang disebut “Troika”, melibatkan Komisi Eropa, Bank Sentral dan IMF. Kerjasama melalui Troika berdayaguna untuk memastikan kesinambungan maksimal dan efisiensi dalam program diskusi staf-tingkat dengan pemerintah tentang kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk menempatkan perekonomian kembali pada jalur pertumbuhan berkelanjutan dan penciptaan lapangan kerja dan menangani melalui kebijakan diskusi dengan otoritas nasional khususnya di Yunani, Irlandia, Portugal dan Siprus. 272 Nuansa multilateral terlihat dalam hal ini ketika mengoordinasinya perilaku beberapa institusi internasional atas dasar prinsip-prinsip tertentu yang disepakati bersama (on the basis of generalized principles of conduct) dibawah tujuan penanganan krisis ekonomi global. Melihat kontribusi IMF demikian signifikan tentunya menimbulkan suatu pertanyaan yuridis akan ada atau tidaknya kewenangan yang tumpang tindih akan keduanya atau secara politis yang mengindikasikan kelemahan Uni Eropa dalam menangani krisis wilayahnya. Wacana ini muncul dan menjadi sorotan mengingat kedaulatan supranasional Eropa terkesan dimimalisir dan IMF diposisikan sebagai 271 Pendekatan yang sama juga pernah dilakukan untuk serikat mata uang lainnya, termasuk Afrika Tengah Ekonomi dan Masyarakat Moneter, Karibia Timur Currency Union, dan Uni Ekonomi dan Moneter Afrika Barat. Communications Department, Washington DC 20431, selengkapnya dalam http://www.imf.org/external/np/exr/facts/europe.htm tanggal 16 Desember 2013 12:47 WIB 272 Uni Europa Global Region, “The Troika Watch: Troika Under Scrunity- March 2013”, dalam www.uniglobalunion.org tanggal 19 Januari 2014 20:50 WIB Universitas Sumatera Utara the ultimate lender last resort atau peminjam terakhir yang utama. Sedikit banyak ini juga yang melatarbelakangi pembentukan Troika yang kembali melibatkan bahkan dua organ Uni Eropa yaitu ECB dan European Commission agar tidak memberi posisi dominan bagi IMF. Terlepas dari alasan politis seperti itu, ada point penting yang dapat dikaji secara hukum internasional. Dalam pendekatan pertama ialah sebagaimana yang diatur dalam Pasal V (2) Anggaran Dasar IMF tentang batasan untuk operasi dan transaksi IMF. Pasal ini menekankan: “Jika diminta, IMF dapat memutuskan untuk memberikan pelayanan finasial dan teknis, termasuk pengadministrasian sumber-sumber yang diberikan oleh negara anggota, sesuai dengan tujuan dari IMF. Operasi yang termasuk pemberian pelayanan finansial tersebut tidak ditanggung oleh IMF. Pelayanan dalam sub bagian ini tidak memberikan kewajiban pada suatu negara anggota tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu.” 273 Konotasi dari pasal ini melibatkan unsur: negara-negara dibawah anggota IMF yang menjadi pihak pertama yang berkebutuhan dengan IMF, di sisi lain IMF sebagai pihak yang dimintakan keterlibatannya. Dalam konteks krisis Uni Eropa perlu mengingat fakta bahwa negara anggota, seperti Latvia diikuti negaranegara Eurozone lain, yang lebih dahulu mengakses fasilitas pinjaman dari IMF dan hal ini disetujui oleh Uni Eropa. Manifestasi hubungan hukum kedua pihak ini dilakukan melalui pengalokasian dana dan kebijakan internal yang harus ditanggung sendiri oleh Uni Eropa, seperti Economic Adjusment Program yang berisi kebijakan pengetatan anggaran dan penghematan yang harus dilakukan Yunani. 273 Article V (2) Articles of Agreements International Monetary Fund Universitas Sumatera Utara Berkenaan dengan hubungan hukum ini lebih lanjut diatur dalam Pasal X Anggaran Dasar IMF mengenai ‘Hubungan dengan Organisasi Internasional Lainnya’ yaitu: “IMF bekerja sama dalam persyaratan dalam perjanjian ini dengan setiap perjanjian untuk organisasi internasional umum dan dengan organisasi internasional umum yang memiliki tanggung jawab secara khusus dalam bidang yang berkaitan. Semua perjanjian untuk kerja sama tersebut yang mana akan melibatkan perubahan terhadap ketentuan dari perjanjian ini dapat berlaku hanya setelah amandemen perjanjian ini berdasarkan Pasal XXVIII.” 274 Dua pasal ini bermuara pada kesimpulan bahwa peran serta IMF tidak ada tindakan bersifat salah wewenang.atau salah kompetensi. Kenyataannya memang IMF berbisnis berkenaan di bidang kebijakan ekonomi makro 275 dan kebijakan sektor keuangan 276 menempatkan kapasitas IMF berjalan linear dengan permasalahan yang menjadi konsentrasi Uni Eropa. Pendekatan berikutnya dapat dilihat melalui kacamata hukum Uni Eropa. Dalam Perjanjian Maastricht pasal 130u (1) Title XVII tentang Development Cooperation 277 dan pada Pasal 4 dan Pasal 5 TFEU 278 mengamanatkan adanya keterlibatan Uni Eropa dalam kebijakan ekonomi negara anggota terlebih dalam keadaan yang memungkinkan instabilitas melanda seluruh Uni Eropa. Kondisinya ketika peranan organ ataupun institusi pemerintahan Uni Eropa secara referendum tidak dipandang berkredibilitas maka pengaksesan fasilitas pinjaman IMF menjadi bukti kepekaan dan tanggung jawab Uni Eropa 274 Articles X, Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Kebijakan ekonomi makro yaitu, kebijakan yang berhubungan dengan anggaran pemerintah, pengelolaan uang (moneter) dan kredit, dan nilai tukar. 276 Kebijakan sektor keuangan termasuk regulasi dan pengawasan terhadap perbankan dan lembaga keuangan lainnya. 277 Articles 130u(1) Title XVII Maastricht Treaty 278 Articles 4-5 Treaty on the Functioning of European Union (TFEU) 275 Universitas Sumatera Utara dalam menangani krisis ekonomi wilayahnya. Dalam diksi ketatanegaraan, hal ini dikenal sebagai sebuah kewajiban bagi pemerintah untuk mengusahakan kesejahteraan rakyat (welfare state) yang dipimpinnya termasuk dengan bekerja sama dalam mengatasi kebutuhan nasionalnya dengan pihak lain. Kebiasaan dalam hubungan internasional ini sekaligus menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan adanya kerja sama antara dua organisasi internasional. Alasan yuridis berikutnya adalah seperti yang diatur hukum awal organisasi Uni Eropa yaitu pasal 105-109 Perjanjian Maastricht 1992 yang secara spesifik memungkinkan adanya kerja sama dalam bidang ekonomi moneter mengingat kompetensi ekslusif Uni Eropa adalah berkenaan dengan hal tersebut (Pasal 3 TFEU). Pasal ini memuat jelas ketentuan kebijakan moneter Eropa yang dikembangkan secara sangat terinci dalam paragraf demi paragraf yang bersifat sangat teknis termasuk melalui mekanisme hubungan dengan subjek hukum internasional lain, jika dibutuhkan. Mengenai hubungan internasional yang dapat dilakukan Uni Eropa diatur dalam Pasal 216 Lisbon Treaty tentang ‘Hubungan dengan Subjek Hukum Internasional Lain’ . Adapun bunyi pasal tersebut sebagai berikut: “The Union may conclude an agreement with one or more third countries or international organizations where the Treaties so provide or where the conclusion of an agreement is necessary in order to achieve, within the framework of the Union's policies, one of the objectives referred to in the Treaties, or is provided for in a legally binding Union act or is likely to affect common rules or alter their scope.” Universitas Sumatera Utara Secara jelas ketentuan ini memberi keabsahan hukum bagi Uni Eropa dalam membuat perjanjian dengan subjek hukum internasional manapun sepanjang masih berkesesuaian dengan kerangka kebijakan Uni Eropa. Kemampuan membuat perjanjian internasional dengan juga membuktikan keakuratan personalitas hukum Uni Eropa di mata internasional. Pasal ini juga melahirkan ketegasan bagi Uni Eropa negara anggota untuk terikat dalam setiap akibat hukum didalamnya. Selanjutnya pada pasal 220 TITLE VI LISBON TREATY juga memuat aturan tentang delegasi dari hubungan dengan subjek hukum internasional lain atau selengkapnya berjudul “The Union's Relations with International Organisations and Third Countries and Union Delegations” dengan klausul: “ The Union shall establish all appropriate forms of cooperation with the organs of the United Nations and its specialised agencies, the Council of Europe, the Organisation for Security and Cooperation in Europe and the Organisation for Economic Cooperation and Development. The Union shall also maintain such relations as are appropriate with other international organizations” Pasal ini bermakna ketika Uni Eropa membangun kerja sama internasional dengan organisasi internaisonal tersebut maka diwajibkan untuk mematuhi dan memeliharanya. Dalam kaitannya dengan krisis Eropa, semakin jelas bahwa keterlibatan IMF merupakan sesuatu yang disengaja dan dibenarkan secara yuridis. Hubungan antara Uni Eropa dan IMF ini berbentuk kerja sama yang dituangkan dalam bentuk Memorandum of Economic and Financial Policies tanggal 3 Mei 2010 berisi Economic Adjustment Program (EAP). Universitas Sumatera Utara Sebagai anggota G-20, Uni Eropa juga perlu mempertimbangkan adanya sebuah kebijakan yang dicanangkan bahwa negara-negara yang tergabung dalam G-20 dapat duduk bersama dan menghasilkan komunike KTT G-20 atas dasar minimal satu raison d’être - kepentingan nasional dalam bidang perekonomian. 279 Setiap negara yang terlibat dalam G-20 tentu berkeinginan melindungi kepentingan nasionalnya masing-masing, tetapi tak dapat diabaikan negara-negara juga harus berusaha menjaga mekanisme global agar tetap harmonis berhubung krisis di negara lain juga sedikit banyak dapat memengaruhi perekonomian domestiknya masing-masing. Hal ini juga dapat dianalogikan dengan krisis yang menimpa Uni Eropa, dimana kestabilan perekonomian internasional juga harus menjadi perhatian Uni Eropa sehingga demi kepentingan global Uni Eropa harus bertanggung jawab menangani krisis tersebut, termasuk melalui kerja sama multilateral dengan subjek hukum internasional lain. Seperti tindakan Uni Eropa untuk melibatkan IMF bahkan juga melibatkan G-20, mengupayakan kerja sama dengan China dan kerja sama tingkat bilateral maupun multilateral lainnya dapat diasumsikan berkesesuaian dengan esensi dan amanat konstitusi Uni Eropa sebagai pemerintahan yang telah didesentralisasikan kedaulatan negara anggotanya. Persoalan lain muncul jika kemudian hari didapati adanya kebijakan yang dari Uni Eropa yang bertentangan dengan Anggaran Dasar IMF.Secara normatif, Pasal IV ayat 3 (b) AD- IMF menyatakan sebagai berikut: 279 Mary Sutton, et al, “The Quest for Economic Stabilisation : The IMF and The Third World”, (England : Gower Publishing Company Limited, 1985), hlm. 144. Universitas Sumatera Utara “…The principles adopted by the Fund shall be consistent with cooperative arrangements by which member maintain the values of their currencies in relation to the value of the currency of currencies of other members, as well as with other exchange arrangements of a member’s choice consistent with thepurpose of the Fund and Section 1 of this Article. These principles shall respect the domestic social and political policies of members and in applying these principles the Fund shall pay due regard the circumstances of members.” 280 Menurut pasal tersebut, IMF akan menerapkan prinsip sesuai dengan perjanjian bersama yang dibuat oleh anggota untuk memelihara nilai mata uang mereka. Prinsip-prinsip ini akan mengacu pada kebijakan sosial dan politik domestik negara-negara anggota dan penerapannya akan didasarkan pada keadaan yang dialami oleh setiap anggota. Hal ini mengandung makna bahwa IMF secara normatif tidak akan menerapkan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan kebijakan sosial dan politik negara anggota seingga meminimalisir paksaan maupun intervensi. Dengan kata lain, IMF memang mengembalikan semua ketentuan yang direkomendasikan untuk diratifikasi sesuai dengan kebutuhan internal negara anggota, termasuk Uni Eropa. Akan tetapi setiap negara anggota yang mengikatkan diri wajib tetap tunduk pada ketentuan IMF, sehingga dalam menerapkan kebijakan domestik perlu berhati-hati. Derivasi ketentuan di atas, IMF akan mengerahkan fungsi pengawasannya. IMF menugaskan perusahaan pengawasan untuk kebijakan tingkat perdagangan 280 Article IV (3)(b)) Article of Agreements International Moneter Fund Universitas Sumatera Utara negara-negara anggota, dan menerapkan prinsip yang spesifik sebagai pedoman anggota. Setiap anggota wajib memberikan informasi (keterbukaan) yang diperlukan IMF untuk pengawasan tersebut. Pada Pasal XI AD IMF tentang Hubungan dengan Negara-Negara Non Anggota, IMF melarang negara anggota untuk ikut serta dalam kerja sama dengan negara non anggota yang akan berlawanan dengan ketentuan IMF. 281 Jika hal ini tidak ditepati oleh negara anggota, IMF dapat mengambil peran tegas terhadap setiap hal yang dapat bertentangan dengan perjanjiannya dengan negara anggota. Seperti pada tahun 2011 IMF memperingatkan Jerman karena sangat bertentangan dengan Perancis dan dengan lembaga-lembaga kunci Uni Eropa, dalam mengakui kebutuhan untuk bailout segar untuk menyelamatkan Yunani. IMF bersitegas akan menahan dana bantuan kedua kecuali Jerman berhenti dengan alasan politisnya tersebut. 282 Pasal 220 TITLE VI LISBON TREATY juga memaksa Uni Eropa untuk berintegritas dalam menjalankan kewajiban dan peraturan yang telah dibuat seperti dengan IMF dalam penanganan krisis di wilayah Eropa ini. Seluruh rangkaian dan batasan mekanisme ini ditujukan untuk tetap menjaga kesinambungan perjanjian kooperatif yang dibuat oleh anggota untuk memelihara nilai mata uang mereka sehubungan dengan tujuan dari IMF dan Ayat 1 pasal I Anggaran Dasar IMF dan kepentingan negara anggota. Dengan demikian terlepas dari pandangan bernuansa politis, Uni Eropa berdasarkan mandatnya wajib melakukan tindakan penyelamatan atau penanganan 281 Article XI (1) Article of Agreements International Moneter Fund DW-DE, “demi-yunani-imf-paksa-jerman-beri-bantuan”, sebagaimana dimuat dalam http://www.dw.de/p/1Ajzw diakses pada 24 Februari 2014 08:00 WIB. 282 Universitas Sumatera Utara krisis Uni Eropa. Jika dilihat dari perspektif yuridis maka keterlibatan IMF dalam menangani krisis Uni Eropa tidak dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pelanggaran sebab kedua organisasi internasional tersebut diatas sudah mengikatkan diri dalam kesepakatan dan perjanjian internasional yaitu Memorandum of Economic and Financial Policies. Meskipun IMF ditentukan dan dibatasi oleh konstitusinya, namun dalam keadaan tertentu demi efektivitas tugas dan tujuannya maka dimungkinkan untuk melakukan interpretasi hukum sepanjang berkaitan dengan kewenangannya. Hal ini mengacu bukan hanya pada konstitusi mereka tapi juga telah diakui dalam hukum internasional. 283 283 Jelly Leviza, Op.Cit.., hlm.149 Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Kedudukan Uni Eropa dan International Monetary Fund (IMF) terbukti memiliki personalitas sebagai subjek hukum internasional menurut hukum yang mengaturnya, seperti penjelasan berikut: a. Uni Eropa dan IMF memiliki kapasitas membuat perjanjian-perjanjian internasional berdasarkan Lisbon Treaty Pasal 2 (B) TEU dan Pasal 216 (1), Pasal 220 (1) TFEU serta Pasal IX (2) tentang “Status of Fund” dan Pasal IX dari AD IMF; b. Uni Eropa dan IMF memiliki kapasitas berhubungan dengan subjek hukum internasional lain menurut Lisbon Treaty Pasal 2(b) TEU dan Pasal 216 dan berdasarkan ketentuan pasal X dan XI AD-IMF . Personalitas ini memampukan Uni Eropa dan IMF dalam mengerjakan tujuan dan kegiatannya di mata hukum internasional. Seperti tujuan Uni Eropa dalam menciptakan pasar bersama dengan penyatuan kebijakan moneter dan mata uang tunggal (Pasal 1 Lisbon Treaty) dan IMF dalam memajukan kerja sama moneter internasional melalui institusi yang menyediakan berbagai fasilitas terkait (Pasal 1 Articles of Agreements). 2. Lisbon Treaty memberi kewenangan bagi Uni Eropa untuk mengatur seutuhnya mengenai kebijakan moneter terlebih adanya krisis ekonomi. Hal ini ditangani secara ekslusif oleh Uni Eropa karena berkaitan dengan kebijakan moneter di Eurozone (Pasal 3 TEU). Peranan Uni Eropa Universitas Sumatera Utara pertama kali tampak dalam memberikan bantuan kepada Yunani melalui mekanisme European Financial Assistance Mechanism (EFSM) yang merupakan kebijakan European Central Banks dan melibatkan bank sentral negara anggota lainnya. 3. IMF memiliki kewenangan untuk terlibat dalam penanganan krisis Uni Eropa. Hal ini didasarkan pada ketentuan Pasal V(2) Anggaran Dasar IMF yang menekankan IMF bertindak memberi bantuan sepanjang diminta oleh negara peminjam. Pasal X Anggaran Dasar IMF juga memungkinkan IMF membentuk perjanjian internasional dengan subjek lain. Economic Adjustment Programme Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality. Begitu juga dengan perspektif hukum Uni Eropa, baik negara anggota maupun atas nama Uni Eropa dibenarkan secara sah untuk membentuk hubungan internasional dengan subjek hukum internasional lain termasuk badan khusus PBB, layaknya IMF (Pasal 216 dan 220 Lisbon Treaty). Kewenangan keduanya sejalan dengan amanat dan mandat masing-masing konstitusi sehingga peranan IMF dikaitkan dengan kewenangan Uni Eropa tidak dapat dikatakan sebuah pelanggaran secara yuridis. B. SARAN 1. Berdasarkan kedudukan Uni Eropa dan IMF sebagai organisasi internasional yang memiliki mandat atau kewenangan sesuai Anggaran Dasar masing-masing, maka diharapkan baik Uni Eropa maupun IMF Universitas Sumatera Utara tidak melakukan tindakan di luar batas kewenangan tersebut. Keduanya dibatasi oleh aktivitasnya. Anggaran Uni Eropa Dasar sebagai diharapkan hukum tetap tertinggi melindungi dalam dan menanggungjawabi kebijakan moneter dalam pasar bersama Uni Eropa sementara IMF tetap fokus dalam penanganan masalah krisis ekonomi atau neraca pembayaran yang dialami negara anggotanya. Sebab, organisasi internasional memang dibatasi oleh kewenangan konstitusional dan tidak dibenarkan berada diluar ketentuan-ketentuan tersebut (prima facie). 2. Uni Eropa diharapkan mampu mengakomodir hak-hak negara anggota dan memastikan kewajiban negara anggota dapat dijalankan dengan baik dan tepat, sebab ini juga menjadi tanggung jawab utama yang diatur menurut Lisbon Treaty. Pelaksanaan kewajiban oleh negara anggota harus tetap dalam pengawasan Uni Eropa, mengingat basis integrasi mereka, sektor ekonomi dengan satu mata uang tunggal, merupakan sektor strategis yang berpengaruh masif pada sektor lain seperti perbankan, perdagangan bahkan hubungan dengan pelaku ekonomi lainnya secara global. Uni Eropa diharapkan dapat lebih mentransfer pemahaman dan beban yang sama bagi organ dibawahnya seperti Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa dan melibatkan pemerintah negara anggota sehingga seluruh anggota Eropa dapat melancarkan proses penanganan krisis ekonomi di Eropa ini. Termasuk ketegasan Uni Eropa dalam Universitas Sumatera Utara penerapan Copenhagen Criteria maupun ketentuan lain sehingga meminimalisir persoalan ekonomi regional lainnya. 3. Peranan IMF dalam menangani krisis diharapkan tidak memaksakan terlalu banyak prasyarat (conditionalities), sebagian di antaranya bersifat politis dan sering masuk dalam wilayah mikro-ekonomi, yang berada di luar mandat dan kompetensi IMF. Prasyarat yang berlebihan tersebut menimbulkan program IMF tidak memiliki fokus dan justru kehilangan prioritas dalam penanganan krisis, seperti pernah diakui IMF yang sempat salah menangani krisis Uni Eropa. IMF juga diharapkan semakin mengembangkan kemampuan analisa yang tajam dan akurat dalam menerapkan kebijakan atau tindakan penyelamatan sehingga tidak seragam dan seperti ritualisme terhadap setiap kasus negara peminjam. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Buku A, Verdun, The role of the Delors Committee in the creation of EMU: an epistemic community, Journal of European Public Policy, Vol 6, June 1999. A.K, Syahmin, Pokok-pokok Hukum Organisasi Internasional, Bandung:Penerbit Bina Cipta, 1985. Adolf, Huala, Chandrawulan, Masalah-Masalah Hukum dalam Perdagangan Internasional, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994. Adolf, Huala, Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional, Jakarta: Rajawali Press, 1991. Arifin, Syamsul, IMF dan Stabilitas Keuangan Internasional: Suatu Tinjauan Kritis, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2007. August, Ray, International Business Law, New Jersey, Pearson Education Inc, 2009. Bache, I, S. George, Politics in the European Union, 2nd Ed, Oford: Oxford University Press, 2006. Bennet, Leroy, International Organization, New Jersey: Prentice Hall, Inc, 1979. Bill Orr, Are the IMF and the World Bank on the Right Track?, ABA Banking Journal, 1990. Bowett, D.W, The Law of International Institutions, Second Edition, London: Butter Worth, 1970. Universitas Sumatera Utara Brownlie, Ian, Principles of Public International Law, Fourth Edition, Oxford: Claren-don Press, 1990. Budiardjo, Mirriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2003. Budiarto, M, Dasar-Dasar Integrasi Ekonomi dan Harmonisasi Masyarakat Eropa, Jakarta: CV. Akademika Pressindo, 1991. Caravelis, George, European Monetary Union:An Application of the Fundamental Principles of Monetary Theory, Avebury, 2005. Chandrasekhar, IMF-World Bank: Search for Legitimacy, Businessline, Chennai, Oktober 2002. Departemen Keuangan, Depkominfo, dan Bappenas, Memahami Krisis Keuangan Global: Bagaimana Harus Bersikap , 2008. Devuyust, Y., The European Union Transformed: Community Method and Institutional Evolution from the Schuman Plan to the Constitution for Europe, Brussels: Peter Lang, 2005. Duchene, F, Jean Monnet: The First Statesman of Interdependence, London: W.W.Norton & Co.,1996 Foster, Nigel, EU Law Directions, 2nd ed, New York: Oxford University Press,2010. Fraga, Arminio, Latin America since the 1990s: Rising from the Sickbed, Journal of Economic Perspectives 2004. Friedman,Wolfgang, The Changing Structure of International Law, New York: Columbia University Press, 1964. Universitas Sumatera Utara Garner, Bryan A, Black’s Law Dictionar, Seventh Edition, St. Paul-Minnessota: West Publishing Co. Gilpin, Robert, Jean M. Gilpin, The Political Economy of International Relations, New Jersey: Princeton University Press, 1987. Green, N.A Maryan, International Law, Law of Peace, London: Mac Donald &Evants Ltd., 1973. Harinowo, Cyrillus, IMF Penanganan Krisis & Indonesia Pasca IMF, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama 2004. Kaczorowska, Alina, European Union Law, Routledge-Cavendish, 2009. Karns, Margaret P, International Organizationz: The Politics and The Process of Global Governance, London: Lynne Rienner, 2004. Khaler, Miles, The Politics of International Debt, London: Cornell University Press, 1990. Kuhn, Thomas S., The Structure of Scientific Revolution, US: University Of Chicago Press, 1962. Kusumaatmadja, Mochtar, Pengantar Hukum Internasional, Buku I Bagian Umum, Bandung: Penerbit Bina Cipta, 1982. Lastra, Rosa M, IMF conditionality, Journal of International Banking Regulation, London: Desember 2002. Lelieveldt, Herman & Sebastian Princen, The Politics of The European Union, USA: Cambridge University Press. Leviza, Jelly, Tanggung Jawab Bank Dunia dan IMF sebagai subjek Hukum Internasional, Jakarta: PT. SOFMEDIA, 2009. Universitas Sumatera Utara Lynn, Matthew, BUST: Greece, The Euro and The Sovereign Debt Crisis, Hoboken, N.J : Bloomberg Press, 2011. Mary Sutton, et al, The Quest for Economic Stabilisation : The IMF and The Third World, England : Gower Publishing Company Limited, 1985. Mauna, Boer, Hukum Internasional: Pengertian Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global, Bandung: PT. Alumni, 2011. Nasution, Sanwani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, Medan: Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum USU, 1992. Ray August, International Business Law, Fifth Edition, New Jersey: Pearson Education, 2009. Scermers, Henry G, International Institutional Law, The Netherlands, Rockville, Maryland, USA: Sijthooff & Noordhoff, Alphen aan den Rijn, 1980. Schwarzenberger, George, A Manual of International Law: First Edition, London: S tevens & Sons Limited, 1967. Seksi Grafik IMF, Buku Pedoman tentang IMF: Apakah Dana Moneter Internasional itu?,N.W Washington D.C: 2001. Sistem Keuangan Depkeu-RI., Buku Putih Bank Century, Jakarta: Departemen Keuangan, 2010 Smallwood, Anthony, EU: Economic and Monetary Union: A Framework for Stability, Washington D.C: the Delegation of the European Commission to the United States, 2009. Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 2005. Universitas Sumatera Utara Sorensen,Max, Manual of Public International Law, New York: Mac Millan-St. Martin Press, 1968. Stancil, Bennett, Why Greece Has To Restructure Its Debt, Paradigm Lost: The Euro In Crisis, Washington, D.C.: Carnegie Endowment for International Peace, 2010. Starke, J.G., An Introduction to International Law, London: Butterworth, 1984. Suryokusumo, Sumaryo, Hukum Organisasi Internasional, Cetakan Pertama, Jakarta: Penerbit UI Press, 1990. Suwardi, Sri Setianingsih, Pengantar Hukum Organisasi Internasional, Jakarta: Penerbit UI Press, 2004. W. M Scammel, International Monetary Policy, Second Editiion, New York: St Martin’s Press, 1967. Ward, I, A Criitical Introduction to European Law, 3rd edn, Cambridge: Cambridge University Press, 2009. Wills, F.Roy, Europe: European Integratian, Encyclopedia Americana,Vol 10 New York: Americana Corps,1974. 2. Instrumen Hukum Internasional Articles of Agreements International Monetary Fund (IMF) Charter of United Nation European System of Central Banks Statute Konvensi Wina 1969 dan 1986 Lisbon Treaty: Maastricht Treaty, Treaty on the Functioning of European Union Universitas Sumatera Utara Statute of The International Court of Justice 3. Laporan Organisasi Internasional IMF, Hungary: Ex post evaluation of exceptional access under the 2008 Stand-by Arrangement,IMF Country Report No. 11/145, June 2011. IMF, IMF Executive Board approves € 1.68 billion (US$ 2.35 Billion) Stand-By Arrangement for Latvia,Press Release No. 08/345, December 23, 2008. IMF, IMF announces staff-level agreement with Romania on € 12.95 billion loan as part of coordinatedfinancial support, Press Release No. 09/86, March 25, 2009. IMF, Statement by IMF Managing Director Dominique Strauss-Kahn on Greece,”Press Release No. 10/143, April 11, 2010. Seitz, Franz dan Thomas Jost, The Role of the IMF in the European Debt Crisis, HAW im dialog Diskussionspapier Nr. 23 Januar 2012. Yearbook of the International Law Commissions 1987, Volume I. Report of The International Law Commission on Relations between States and International Organizations. 4. Jurnal Anonym, Low interest rates and euro debt crisis will negatively impact insurer profitability and assets as economies slow; industry's capitalisation is stronger than in 2007; emerging markets growth slowed in 2011, but prospects are still robust, Universitas Sumatera Utara http://www.swissre.com/media/news_releases/nr_20111201_euro_debt_cr isis.html Churchill, Winston, From Settin in the Baltic to Trieste in the Adriatic, an iron curtain has descended across the Continent, http://www.winstonchurchill.org/learn/biography/in-opposition/qironcurtainq-fulton-missouri-1946 Communications Department, Washington DC 20431, http://www.imf.org/external/np/exr/facts/europe.htm Directorate-General for Economic and Financial Affairs, European Commission, The Economic Adjustment Programme for Greece Fourth Review – Spring 2011, European Economic: Occasional Paper 82, Brussels: European Union, 2011, http://www.ec.Europa.eu/Europe2020/pdf/nrp/nrp_greece_en.pdf Greece: Memorandum of Understanding on Specific Economic Policy Conditionality, The First Economic Adjustment Programme, hlm.117 3 Mei 2010, http://www.moi.gov.cy/moi/pio/pio.nsf.pdf Huelshoff, Mediating Domestic and International Discourses, http://www.ceeisaconf.ut.ee/orb.aw Ibsen Martinez ,Latin America and the Great Depression, Library of Economic, http://www.econlib.org/library/Columns/Martinezgreatdepression.html International Comimitee of The Red Cross, http://en.wikipedia.org/wiki/International_Committee_of_the_Red_Cross Panageotou, Steven, A Critical Review of The Greek Financial Crisis: Universitas Sumatera Utara Globalization and Social Theory, http://www.trace.tennessee.edu/cgi Presidency Conclusions, (Copenhagen European Council, 1993), 7.A.iii http://www.Europarl.Europa.eu/enlargement/ec/pdf.cop_en.pdf Sitepu, Anthonius, Konsep Integrasi Regionalisme dalam Studi Hubungan Internasional,http://repository.usu.ac.id/bitsream/12346789/3799/1/fisip_a nthonius3.pdf Szyszczak, E, Understanding EU law, 2nd edition, London: Sweet & Maxwell,2008, http://www.eprints.lse.ac.uk The LCCI Specialist since 1979, EU INSTITUTE, http://www.euinstitute-pj.com Thomson Reuter , Reuters Central& East Europe News to International Service thomsonreuters.com Tinbergen, Intangible Barriers Trade, http://archive.nbuv.gov.ua/Portal////Soc_Gum/Ecoroz/2012_4/ Uni Europa Global Region, The Troika Watch: Troika Under Scrunity- March 2013, www.uniglobalunion.org Vanessa Baird, Currencies of Desire, New Internationalist Magazine, October 1998, http:www2.gol.com/users/bobkeim/money/debt.html 5. Kamus Longman Dictionary of Contemporary English, First Published, St Ives, England, 1981. Wedbster Ninth New Collegate Dictionary, Merriam-Webster Inc, Springfield, Massachusetts, 1990 Universitas Sumatera Utara

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa
0
85
77
Tinjauan Yuridis Atas Hukum Uni Eropa Terkait Pembentukan Hukum Nasional Di Inggris Dalam Perspektif Hukum Organisasi Internasional
1
43
98
Tinjauan Hukum Internasional Mengenai Peranan Uni Eropa Dan International Monetary Fund Sebagai Organisasi Internasional Dalam Penanganan Krisis Uni Eropa
8
103
161
Analisis Determinan Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa
4
63
139
Peranan International Monetary Fund Dalam Restrukturisasi Perbankan Di Indonesia
13
153
109
Kroasia Bergabung dengan Uni Eropa
0
35
34
Implementasi Economic Adjustment Program International Monetary Fund Dalam Penyelesaian Krisis Finansial Di Cyprus
1
7
9
Promosi demokrasi Uni Eropa di Maroko dalam kerangka European neighborhood policy 2011-2013.
4
37
118
Upaya pemerintah turki untuk bergabung dengan Uni Eropa (2004-2008)
0
6
1
Upaya pemerintah turki untuk bergabung dengan Uni Eropa (2004-2008)
0
5
1
Peranan Uni Eropa Melalui Program IPA (Instrumen Pre-Accession Assistance) Dalam Membangun Perekonomian Kosovo (2008-2012)
0
12
120
Peranan Uni Eropa Melalui Kerangka Multi Donor Trust Fund For Aceh and North Sumatera (MDTFANS) dalam Membantu Proses Rekontruksi Aceh Pasca Bencana Tsunami 2004
0
12
154
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa
0
0
16
II. TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa
0
2
17
Tinjauan Hukum Humaniter Internasional Mengenai Perlindungan Anak
0
0
129
Show more