KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Gratis

14
136
51
2 years ago
Preview
Full text
Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia ABSTRAK KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) OLEH RAHMA ARTA YULIA Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konflik dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dan kelayakan novel tersebut sebagai bahan ajar sastra di sekolah menengah atas (SMA). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konflik dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA yang ditinjau dari tiga aspek: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kesastraan, dan pendidikan karakter. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penulis mendeskripsikan data-data yang berupa kata, frasa, ungkapan, dan kalimat yang mengandung konflik yang terdapat dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia Rahma Arta Yulia Sumber data penelitian ini adalah novel yang berjudul Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. Novel ini diterbitkan oleh Laksana pada tahun 2010, edisi pertama, cetakan pertama, dan novel ini setebal 361 halaman Berdasarkan analisis data, ditemukan berbagai macam konflik dan akibat yang ditimbulkannnya. Konflik-konflik yang ditemukan dalam novel ini adalah konflik pribadi, konflik antarkelas sosial, konflik batin, konflik sosial, dan konflik antarindividu. Adapun akibat-akibat dari konflik-konflik yang ditemukan dalam novel ini di antaranya keretakan hubungan antarindividu dan persatuan kelompok, berubahnya kepribadian individu, dan hancurnya harta benda. Berdasarkan hasil analisis kelayakan novel yang ditinjau dari tiga aspek di atas, penulis menyimpulkan bahwa novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy layak dijadikan sebagai bahan ajar sastra di SMA. Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia MOTO “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.“ (Q.S. An-Nahl:43) “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).“ (Q.S. Al Insyirah:5-7) Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia Sinopsis Novel Daun Pun Berzikir Judul : Daun pun berdzikir Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy. Penerbit : Laksana Terbit : Mei 2010 Kategori : Fiksi/Novel Tebal : 361 halaman Ini adalah sebuah novel Religius Inspirasional yang ditulis oleh Taufiqurrahman Al-Azizy. Di novel ini sang penulis menceritakan tentang cinta dan persahabatan. Tokoh utama nya adalah seorang pemuda yang bernama Haydar yang sangat religius memiliki beberapa sahabat diantara nya Sofi dan Nayla. Semenjak kepergian sang ayah ke alam baka telah merubah keadaan Haydar. Kepergian sang Ayah tercinta telah membuat jiwa Haydar tergoncang, sedih yang begitu dalam dirasakan Haydar karena dia tak sempat melihat jenazah ayahnya. Hari-harinya di lalui oleh Hayar dengan menyendiri dan menyepi. Kepada pohon dia berbicara, seakan-akan dia tengah berbicara dengan ayahnya. Pohon diajak berbicara sebab ayahnya sering berteduh dibawahnya. Kepada sungai yang mengalir, dia berkata-kata, sebab disanalah sang ayah sering kali mengajarkan betapa indah alam di ciptakan-Nya. Ketika diladang, dia sering meneteskan air mata, sebab disanalah dia sering bersama ayahnya menghabiskan siang untuk bekerja. Ketika malam, dia sering berada dimesjid menjeritkan hati dan menumpahkan air mata di hadapan-Nya, hingga suara sengguk tangisnya membangunkan orang-orang disekitarnya. Perubahan sikap Haydar ini menyebabkan telah terjadi salah penilaian warga dusun Gagatan terhadap diri Haydar sehingga berhembuslah berita "Haydar Gila". Sebutan ini telah menjauhkan Haydar dengan sahabatnya Sofi. Ibu Sofi telah membuat sangkar emas untuk Sofi agar dia tak bisa lagi menemui Haydar. Sang ibu tak menginginkan anak perempuannya mencintai Haydar yang miskin dan gila itu, sehingga sang ibu mempertemukannya dengan seorang pemuda kota bernama Bram. Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia Bram berbeda sekali dengan Haydar. Caranya mendekati dan mencuri hati Sofi. Cinta Bram yang begitu besar tak mampu meluluhkan hati Sofi. Penolakan Sofi telah menghancurkan hati dan jiwa Bram, hingga Bram kehilangan akal sehat dan prilakunya menjadi lebih aneh lagi dibandingkan Haydar. Karena dia telah meletakkan harta diatas cinta, hingga cinta itu tak berharga apa-apa bagi Sofi. Teman - teman Bram mencoba membantu Bram untuk mendapatkan hati Sofi, berbagai taktik licik dilakukannya seperti mempermalukan Haydar di depan Sofi dan bahkan memfitnah Haydar telah menggunakan guna-guna untuk mendapatkan hati Sofi. Begitu banyak cobaan yang dihadapi Haydar. Tetapi begitu kayanya jiwa Haydar, hingga dia dapat melewatinya dengan tabah dan sabar dan disamping itu sahabatnya Nayla ikut memberikan suport kepada Haydar, hingga Haydar semakin kuat menerima cobaan yang bertubi - tubi menghampiri Haydar. Cinta Bram yang begitu besar terhadap Sofi telah membuat dia kehilangan diri sendiri. dan menjauh dari teman-temannya, dia telah bertingkah laku aneh, badannya tak lagi terurus, telah menjadi sangat kurus, rambut acak-acakan, baju nya lusuh dan compang - camping, berbeda sekali dengan penampilan sebelumnya, seorang pemuda kota yang kaya dan gagah. Syukurlah Bram diketemukan oleh Kiai Ali Musthaofa. Kepada Kiai Ali Musthaofa , Bram menumpahkan beban didadanya yang telah lama menghimpitnya. Sebuah nasehat diberikan Kia Ali kepada Bram jika kau ingin mengenal cinta, kenalilah dirimu terlebih dahulu dihadapan-Nya. Dihadapan Allah SWT. cinta itu berasal dari-Nya, sebab cinta itu ditiupkan bersama ruh yang menghidupkan kita. Ruh dan cinta melebur menjadi satu. Kau merasa seakan-akan memiliki cinta, sementara engkau abaikan Zat Yang Memberimu cinta. Maka, bagaimana mungkin perasaan cintamu akan benar ? Bagaimana benar bila semakin lama engkau mencintai gadis itu, justru semakin lama engkau jauhi Dia yang menanamkan cinta kedalam hatimu? Nasehat dari Kia Ali itu telah membuka mata hati Bram, mulailah dia melakukan perbaikan diri nya yang telah sesat selama ini. Bram mulai mendekati diri kepada pemberi cinta itu yakni Allah SWT. Kecintaan Bram kepada sang pemberi cinta telah membuat Bram menjadi pemuda yang lembut, tak lagi sombong. Bram mengunjungi Haydar untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan terhadap Haydar yang telah menambahkan kesengsaraan Haydar. Kemudian Bram memberikan mobil nya yang selama ini menemaninya didesa Gagatan kepada Haydar, dia tahu mobil itu tak bisa menghapuskan dosa-dosa nya terhadap Haydar. Tetapi kekayaan jiwa Haydar mampu memaafkan semua kesalahan Bram terhadap dirinya, begitu mulianya hati Haydar, inilah yang menyebabkan warga desa Gagatan semakin malu pada diri mereka sendiri mengingat apa yang telah mereka lakukan pada Haydar. Karena Bram tak mungkin mendapatkan cinta Sofi, maka dia memutuskan untuk kembali kekota meninggalkan desa Gagatan dengan membawa cintanya pada Rahma RahmaArta ArtaYulia Yulia Sofi. Sebelum dia pergi, Bram sempatkan berpamitan kepada Sofi dan ibunya. Bram tertunduk menahan gejolak didadanya, tanpa dia sadari air mata menetes di pipinya. Bram memejamkan mata, menghela nafas dalam-dalam. Telapak tangannya dikepalkan seakan-akan dia ingin mencari kekuatan dari kepalan tangannya itu. Masih dengan mata terpejam, akhirnya terucap juga curahan hatinya. " Sofi, demi Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Aku tidak pantas untuk mendapatkan cintamu. Untuk mendapatkan kasihmu. Jiwaku hanyalah pungguk dihadapan bulan kemulian jiwamu. Aku manusia yang tak tahu diri, tak punya etika dan sopan santun. Aku selalu menganggap diriku adalah manusia sempurna dengan segala yang kumiliki. Ternyata aku salah, aku keliru. Yang tengah kucintai ternyata bukan manusia biasa. Engkau bagai bunga dari surga, jiwamu tersulam dari benang-benang surgawi, yang tak tersentuh, tak teraih. sedangkan jiwaku tersulam dari benang-benang kejahatan dan kebejatan. Maafkanlah aku, Sofi" Setelah Bram mencurahkan isi hatinya, Bram segera mohon diri dan keluar dari rumah Sofi. Sofi hanya duduk temangu-mangu setelah mendengar pengakuan Bram. Keesokkan hari Bram bersama-sama teman yang lain Asep, Rohman, Lidya, Nana pergi meninggalkan desa Gagatan yang telah memberikan pelajaran rohani yang luar biasa pada mereka semua. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba terdengar suara lembut yang memanggil Bram. Bram.... ! Tegakah engkau meninggalkanku, setelah kau menyatakan perasaanmu yang paling tulus dan berharga ? Karena Allah, aku pun mencintaimu. Ucapan itu terucap dari bibir Sofi. Sebuah suara yang sangat dirindukan, yang sangat didambakanya. Sebuah suara yang dicarinya selama ini kemana-mana. Sebuah suara yang menghentikan langkahnya, memejamkan matanya, mendebarkan detak jantungnya, menggetarkan sendi tubuhnya. Sebuah suara yang tak diduga-duganya. Panggilan kekasih. Senang sekali aku telah membaca buku yang luar biasa ini. Sudahkah sahabat membacanya juga? Di buku ini banyak sekali kata-kata bijak yang dapat kita jadikan renungan. Kepribadian Haydar dapat menjadi tauladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan, sikap sabar dan lembut serta hati yang penuh dengan cinta, kasih sayang kepada siapapun dapat kita ambil contoh dari diri seorang Haydar yang hidup dengan kesederhanaan tetapi memiliki jiwa yang sangat kaya. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia pasti pernah mengalami konflik di dalam hidupnya. Konflik merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan merupakan situasi yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Konflik menjadikan hidup yang kita jalani menjadi lebih sempurna dan berwarna dengan segala lika-liku problematika yang bisa ditimbulkannya. Seseorang pasti akan merasa hampa jika selama hidupnya hanya merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, seseorang lainnya pun akan merasa bosan jika terus-menerus menderita. Konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Salah satu faktor penyebab terjadinya konflik dalam kehidupan bermasyarakat adalah adanya perbedaan individu. Setiap manusia tentu memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan pandangan tidak jarang menimbulkan rasa amarah. Hal itu dapat berlanjut pada perasaan benci hingga dapat menyebabkan orang yang sedang berkonflik terkadang berniat untuk menghancurkan pihak lawan. Konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif, bergantung bagaimana cara mengelolanya. 2 Sama halnya posisi konflik dalam kehidupan, di dalam karya sastra konflik menjadi nyawa yang menentukan hidup matinya sebuah karya sastra. Semakin baik konflik yang terkandung dalam karya sastra, semakin bagus pula apresiasi terhadap karya tersebut. Konflik dalam sebuah karya sastra merupakan sebuah gambaran dari kehidupan nyata karena karya sastra adalah bentuk refleksi dari kehidupan. Konflik dalam sastra berfungsi sebagai penyampai tema. Konflik juga merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada akhirnya membentuk alur atau plot. Ada hubungan langsung antara tema dan alur dalam novel. Alur yang digariskan haruslah menjabarkan tema. Alur terbentuk dari rangkaian situasi di dalam cerita novel yang terjadi karena adanya konflik. Situasi-situasi tersebut selanjutnya akan membentuk konflik-konflik yang lebih besar. Konflik-konflik yang lebih besar itulah yang disebut tema. Penulis tertarik menganalisis konflik dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy karena konflik yang terjadi di dalam novel tersebut merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat sekitar kita. Konflik yang terjadi dalam novel disebabkan adanya pertentangan dari tokoh pendukung cerita terhadap tokoh utama dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. Konflik terjadi karena adanya pertentangan dari tokoh lain yang tidak suka jika Haydar (tokoh utama) yang digambarkan sebagai pemuda miskin mencintai Shofi (tokoh utama) yang digambarkan sebagai gadis yang berasal dari keluarga kaya. 3 Konflik dalam novel semakin menarik ketika Bram (tokoh utama) yang digambarkan pengarang sebagai pemuda dari keluarga kaya yang berasal dari kota, datang ke kampung Shofi dan mencintai tokoh Shofi. Penulis mengkaji novel dengan menggunakan unsur alur dan tokoh. Konflik sebagai salah satu unsur intrinsik dalam novel layak untuk dijadikan sebagai alternatif bahan ajar di sekolah sebab pengarang mengelola konflik dalam novel dengan baik. Pengarang menggambarkan penyelesaian konflik secara kekeluargaan. Selain itu, di dalam novel ini banyak terkandung nilai sosiologis dan nilai moral yang dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi pembaca dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan membaca novel ini, siswa dapat mencontoh bagaimana cara menyelesaikan suatu konflik dari tokoh cerita dalam novel dan dapat meniru akhlak mulia yang dicontohkan tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Siswa juga mampu mengelola konflik secara efektif dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah yang melatarbelakangi penulis untuk meneliti novel religi Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA. Penulis juga menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. Sejak tahun 2010, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan yang bernilai karakter bagi semua tingkat pendidikan. Program ini dicanangkan sebab selama ini dunia pendidikan dinilai kurang berhasil dalam mengantarkan generasi bangsa menjadi pribadi-pribadi yang bermartabat. Pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh guru yang mampu 4 mempengaruhi karakter peserta didik (Elkind dalam Aunillah, 2011:21). Dalam hal ini, guru membantu membentuk watak peserta didik agar senantiasa positif. Pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dalam penerapan pendidikan karakter, faktor yang harus dijadikan sebagai tujuan adalah terbentuknya kepribadian peserta didik supaya menjadi manusia yang baik. Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, secara garis besar karya sastra (novel) yang hendak dijadikan bahan ajar bagi peserta didik hendaknya berisikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa. Dalam hal ini peran guru SMA dalam pemilihan bahan ajar sastra akan menentukan pencapaian keberhasilan siswa. Keberhasilan yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya keberhasilan membentuk kecerdasan peserta didik dalam mengapresiasi sastra, akan tetapi juga membentuk karakter peserta didik sehingga menjadi pribadi yang bermoral. Dengan demikian kejelian guru dalam memilih novel yang akan dijadikan bahan ajar sastra sangatlah dibutuhkan. Terkait dengan pembelajaran sastra di sekolah, materi menganalisis konflik dalam novel merupakan bagian dari pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam silabus KTSP jenjang SMA kelas XI semester pertama terdapat standar kompetensi membaca yakni memahami berbagai hikayat dan novel Indonesia/novel terjemahan. Adapun kompetensi dasarnya adalah menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan. Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, peneliti tetarik untuk menganalisis konflik yang terdapat dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman 5 Al Azizy dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di SMA kelas XI. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran umum bahasa dan sastra Indonesia, yaitu siswa mampu menikmati, menghayati, memahami dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, memperhalus budi perkerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (Depdiknas, 2006:1). Alasan peneliti memilih novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy sebagai subjek penelitian adalah. 1. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami karena sama seperti bahasa yang dipakai dalam kehidupan siswa sehari-hari. 2. Novel ini tidak termasuk novel yang laris atau terkenal. Namun, novel ini sangat menarik untuk dikaji dari segi konflik yang terjadi di antara tokohtokoh dalam novel tersebut. 3. Novel ini mengandung pesan moral yang membahas mengenai masalah perbedaan status sosial, kaya, dan miskin. 4. Dalam novel ini pengarang mengelola konflik secara baik sehingga layak untuk dijadikan bahan ajar di sekolah. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah konflik dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA?” 6 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konflik yang terdapat di dalam novel Daun Pun Berzikir dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA. 1.4 Manfaat Penelitian Suatu penelitian ilmiah harus memberikan manfaat secara teoretis maupun praktis sehingga teruji kualitas penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti. Adapun manfaat yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Manfaat Teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan terutama dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dan landasan atau dasar sumber informasi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan konflik yang merupakan salah satu unsur intrinsik di dalam novel, serta memperkuat teori-teori di bidang mata pelajaran bahasa Indonesia. 2. Manfaat Praktis 1. Meningkatkan pemahaman dan apresiasi pembaca karya sastra mengenai kandungan konflik dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. 2. Membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menentukan alternatif bahan ajar sastra, salah satunya dalam upaya mencapai tujuan pengajaran sastra di SMA, khususnya pada bahan ajar novel. 7 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini mencakup hal-hal berikut. 1. Konflik yang terdapat di dalam novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy. 2. Kelayakan novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy sebagai bahan ajar sastra di SMA. II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Novel Istilah novel berasal dari kata novellas yang diturunkan dari kata novies yang berarti “baru”. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain maka jenis novel ini muncul kemudian (Tarigan, 1985: 164). Istilah novel berasal dari bahasa Italia, yaitu novella (yang dalam bahasa Jerman:novelle). Pada hakikatnya novel adalah cerita, yaitu menyampaikan tentang kehidupan manusia yang digali dari kehidupan sehari-hari yang dapat dirasa dan dihayati oleh masyarakat pembaca (Priyatni, 2010:126). Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia dan di dalammya terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup para pelakunya (Esten, 1987:12). Dalam Glosarium Bahasa dan Sastra dikemukakan bahwa novel adalah hasil kesusastraan yang berbentuk prosa yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dan dari kejadian itu lahirlah satu konflik suatu pertikaian yang mengubah nasib mereka (Lubis, 1994:161). 9 2.2 Pendekatan Sosiologi Sastra Pendekatan dalam penelitian suatu karya sastra cukup beragam. Setiap karya sastra dapat dianalisis dari pendekatan dan sudut pandang yang berbeda sehingga menghasilkan tafsiran yang berbeda pula. Dalam menganalisis karya sastra pembaca mengenal dua pendekatan yaitu pendekatan intrinsik dan ekstrinsik (Semi, 1988: 34). Pendekatan intrinsik berati mendekati unsur-unsur yang membangun karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra, sedangkan yang dimaksud dengan pendekatan ekstrinsik adalah mendekati unsur-unsur yang membangun karya sastra yang berasal dari luar yang berati penjelasan atau analisis karya sastra berdasarkan ilmu yang lain yang berada di luar ilmu sastra (Semi, 1988:35). Penelitian sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologi memperlihatkan kekuatan, yaitu sastra dipandang sebagai sesuatu hasil budaya yang sangat diperlukan masyarakat. Karya sastra dibuat untuk mendidik masyarakat. Sastra merupakan media komunikasi yang mampu merekam gejolak hidup masyarakat dan sastra mengabadikan diri untuk kepentingan masyarakat (Semi, 1988 :76). Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahui strukturnya, kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang ada di luar sastra (Damono, 1978:3). Sosiologi mempelajari masalahmasalah sosial kemasyarakatan, sedangkan sastra merupakan media untuk mendokumentasikan masalah-masalah sosial. Damono mengungkapkan keterkaitan karya sastra dengan masyarakat biasa disebut dengan sosiologi sastra. 10 Sosiologi dapat memberikan penjelasan yang bermanfaat tentang sastra dan bahkan tanpa sosiologi pemahaman tentang sastra belum lengkap (Damono, 1978: 2). Oleh karena itu, untuk dapat menerapkan pendekatan ini, di samping harus menguasai ilmu sastra, kita juga harus menguasi konsep-konsep (ilmu) sosiologi dan data-data kemasyarakatan yang biasanya ditelaah oleh (ilmu) sosiologi. Damono mengemukakan tiga macam klasifikasi masalah sosiologi sastra yaitu. a. Konteks sosial pengarang Pada pokok ini ada hubungannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai seseorang di samping mempengaruhi isi karya sastranya. Fakta sosial yang harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, (b) profesionalisme dan kepengarangan, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang. b. Sastra sebagai cermin masyarakat Sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat yang terutama mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu karya sastra ditulis, (b) sifat “lain dari yang lain,” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya, (c) genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat, dan (d) sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan 11 masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak bisa dipercaya sebagai cerminan masyarakat. c. Fungsi sosial sastra Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu: (a) sudut pandang ekstrik kaum Romantik, misalnya menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi yang berpendirian bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak, (b) sastra bertugas sebagai penghibur, dan (c) adanya kompromi dapat dicapai dengan meminjam slogan klasik bahwa sastra harus mengguanakan sesuatu dengan cara menghibur. Klasifikasi di atas menunjukkan adanya gambaran bahwa sosiologi sastra, merupakan pendekatan terhadap sastra dengan mempertimbangkan segi-segi mempunyai cakupan luas beragam, rumit, yang menyangkut tentang pengarang, teks sastra sebagai sebuah karya, serta pembacanya. Fungsi sastra dalam Novel Daun Pun Berzikir ini termasuk ke dalam fungsi yang kedua, yaitu sastra sebagai cerminan masyarakat karena cerita dari novel yang ditulis atau dibuat oleh pengarang menggambarkan realita kehidupan yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. 2.3 Kedudukan dan Fungsi Konflik di dalam Sastra Konflik terjadi dalam situasi yang terdapat dua atau lebih kebutuhan, harapan, keinginan, dan tujuan yang berbeda sehingga menyebabkan suatu organisme merasa ditarik ke arah dua jurusan yang berbeda sekaligus dan menimbulkan perasaan yang tidak enak. Konflik adalah pergumulan yang dialami oleh karakter dalam cerita dan konflik ini merupakan inti dari sebuah karya sastra yang pada 12 akhirnya membentuk alur atau plot. Ada dua jenis konflik yaitu konflik internal dan konflik esternal. Konflik internal disebut juga dengan konflik kejiwaan (konflik batin). Konflik ini merupakan konflik yang terjadi karena pertentangan hati atau jiwa seseorang tokoh dengan tokoh lain. Konflik batin ini juga bisa terjadi dalam diri seorang tokoh itu sendiri. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara tokoh yang satu dengan orang di luar tokoh utama. Dari beberapa penjelasan dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi di dalam cerita sebuah novel berkedudukan sebagai unsur dasar cerita serta berfungsi, antara lain, sebagai unsur yang memiliki peranan utama dalam menghidupkan peristiwa-peristiwa yang membentuk alur, serta secara umum berfungsi pula sebagai penyampai tema. 2.4 Pengertian Konflik Pengertian konflik dalam sastra adalah ketegangan atau pertentangan dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antar dua kekuatan, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya. Sedangkan konflik sosial adalah pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan (KBBI , 2011:723). Konflik dapat berupa perselisihan, adanya tegangan atau munculnya kesulitankesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai pada tahap ketika pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing. Konflik adalah interaksi sosial manusia yang saling berlawanan. Artinya konflik adalah bagian dari sebuah 13 proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik emosi, kebudayaan, dan perilaku (Soekanto, 2012:91). Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan pertentangan atau perselisihan yang terjadi di dalam suatu lingkungan masyarakat karena adanya perbedaan fisik, kebudayaan, emosi, dan perilaku. 2.5 Bentuk-Bentuk Konflik Konflik adalah proses sosial yang di dalamnya orang per orang atau kelompok manusia berusaha mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan menggunakan ancaman atau kekerasan. Sebagai bagian masyarakat negara dan masyarakat dunia, tidak ada seorang pun yang menginginkan timbulnya konflik. Walaupun demikian, konflik akan selalu ada di setiap pola hubungan dan juga budaya. Pada dasarnya konflik merupakan fenomena dan pengalaman alamiah. Konflik yang biasanya terjadi dalam masyarakat dibedakan menjadi konflik pribadi, konflik rasial, konflik antarkelas sosial, konflik politik, dan konflik internasional. 1. Konflik Pribadi Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam. Perasaaan benci yang mendalam bisa mendorong seseorang untuk memaki, menghina, bahkan memusnahkan pihak lawan. Pada dasarnya konflik pribadi sering terjadi dalam masyarakat. 14 2. Konflik Antarkelas Sosial Konflik antarkelas sosial yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan, semua itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas-kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar menempati posisi atas, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah. Dari setiap kelas mengandung hak dan kewajiban serta kepentingan yang berbeda-beda. 3. Konflik Rasial Konflik rasial adalah pertentangan kelompok ras yang berbeda karena kepentingan dan kebudayaan yang saling bertabrakan. Konflik rasial sudah berlangsung lama dalam sejarah kehidupan manusia. Konflik rasial umumnya terjadi karena salah satu ras merasa sebagai golongan yang paling unggul dan paling sempurna di antara ras lainnya. Konflik rasial misalnya, terjadi di Afrika Selatan yang terkenal dengan politik apartheid. Konflik ini terjadi antara golongan kulit putih yang merupakan kelompok penguasa dan golongan kulit hitam yang merupakan golongan mayoritas yang dikuasai. Konflik antarras di Afrika Selatan ini meluas tidak hanya pada isu seputar masalah rasial, tetapi sampai ke masalah ekonomi, politik, dan sosial budaya. Secara nyata golongan penguasa yang mayoritas berkulit putih memisahkan aktivitas-aktivitas ekonomi dan sosial budaya. Mereka telah menyediakan tempat tersendiri yang terpisah untuk melakukan aktivitasnya. Konflik ini berakhir dengan dimenangkannya pemilu oleh golongan kulit hitam. Politik apartheid kemudian dihapuskan di Afrika Selatan. Contoh lain konflik rasial 15 adalah konflik antara suku Indian dengan para migran dari Eropa. Kelompok migran orang-orang Eropa ini berusaha membinasakan eksistensi suku-suku Indian. 4. Konflik Politik Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut ketidaknyamanan atau ketidaktenangan dalam masyarakat. Masalah politik sering mengakibatkan konflik antarmasyarakat. Konflik politik merupakan konflik yang menyangkut golongan-golongan dalam masyarakat maupun di antara negara-negara yang berdaulat. Konflik politik pernah terjadi antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1963. 5. Konflik Internasional Konflik internasional, yaitu pertentangan yang melibatkan beberapa kelompok negara (blok) karena perbedaan kepentingan. Banyak kasus terjadinya konflik internasional sebenarnya bermula dari konflik antara dua negara karena masalah politik atau ekonomi. Konflik berkembang menjadi konflik internasional karena masing-masing pihak mencari kawan atau sekutu yang memiliki kesamaan visi atau tujuan terhadap masalah yang dipertentangkan. Dengan demikian, terjadilah konflik internasional (Soekanto, 2012:94). Bentuk konflik sebagai suatu kejadian dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu konflik fisik dan konflik batin, konflik eksternal dan konflik internal (Stanton dalam Nurgiyantoro, 2010:124). 16 1. Konflik internal Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seseorang tokoh cerita. Jadi, konflik internal merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin). Konflik ini tidak melibatkan orang lain, konflik ini ditandai dengan gejolak yang timbul di dalam diri sendiri mengenai beberapa hal seperti nilai-nilai dan pertentangan antara dua keinginan, keyakinan dan pilihan yang berbeda, harapan-harapan atau masalah-masalah yang lainnya. Kekuatan karakter akan terlihat dalam usahanya menghadapi gejolak tersebut. 2. Konflik eksternal Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seseorang tokoh dengan sesuatu yang ada diluar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam atau mungkin dengan lingkungan manusia. Konflik eksternal dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik fisik dan konflik sosial (Jones dalam Nurgiyantoro, 2012:124). a. Konflik fisik (konflik antara tokoh dengan alam) Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya, konflik atau permasalahan yang dialami oleh seseorang tokoh akibat adanya banjir, gunung meletus, dan sebagainya. b. Konflik sosial (konfik tokoh dengan masyarakat) Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia. c. Konflik antarindividu terjadi karena adanya perbedaan pandangan terhadap suatu hal atau masalah. 17 Berdasarkan pengertian dan jenis konflik di atas dapat disimpulkan bahwa konflik internal dan eksternal saling berkaitan. Artinya, konflik-konflik itu dapat terjadi sekaligus dan dialami oleh seseorang tokoh cerita dalam waktu yang bersamaan, walau tingkat intensitasnya mungkin saja tidak sama. Tingkat kompleksitas konflik yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi dalam banyak hal menentukan kualitas, kuantitas, dan kemenarikan karya itu. Bahkan, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menulis cerita sebenarnya tidak lain adalah membangun atau mengembangkan konflik itu. Konflik itu sendiri dicari, ditemukan, diimanjinasikan, dan dikembangkan berdasarkan konflik yang dapat ditemui di dunia nyata. 2.6 Akibat Konflik Konflik dapat bersifat fungsional secara positif maupun negatif. Dampak secara positif apabila tersebut berdampak memperkuat kelompok, sebaliknya bersifat negatif apabila bergerak melawan struktur. Dalam kaitannya dengan sisitem nilai yang ada dalam masyarakat, konflik berdampak negatif apabila menyerang suatu nilai ini. Dalam hal konflik antara satu kelompok dengan kelompok lain, konflik dapat berdampak positif karena membantu pemantapan batas-batas struktural dan mempertinggi integritas dalam kelompok. Dampak atau akibat negatif yang timbul dari sebuah konflik sebagai berikut. 1. Keretakan Hubungan Antarindividu dan Persatuan Kelompok Visi dan misi dalam kelompok menjadi tidak dipandang lagi sebagai dasar penyatuan. Setiap anggota berusaha menjatuhkan anggota lain dalam kelompok yang sama sehingga dapat dipastikan kelompok tersebut tidak akan bertahan dalam waktu yang lama. 18 2. Berubahnya Kepribadian Individu Dalam konflik sosial biasanya membentuk opini yang berbeda, misalnya orang yang setuju dan mendukung konflik, ada yang menaruh simpati kepada kedua belah pihak, ada pribadi-pribadi yang tahan menghadapi situasi konflik, akan tetapi ada yang merasa tertekan sehingga menimbulkan penderitaan pada batinnya dan merupakan suatu penyiksaan mental. 3. Hancurnya Harta Benda dan Jatuhnya Korban Jiwa Setiap konflik yang terjadi umumnya membawa kehancuran dan kerusakan bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini disebabkan karena masing-masing pihak yang berkonflik mengerahkan segala kekuatan untuk memenangkan pertikaian. Oleh karena itu, tidak jarang segala sesuatu yang ada di sekitar menjadi bahan amukan. Peristiwa ini menyebabkan penderitaan yang berat bagi pihak-pihak yang bertikai. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban jiwa wujud nyata akibat konflik (Soekanto, 2012: 95). 2.7 Pemilihan Bahan Ajar Sastra di SMA Pengajaran sastra dapat membantu keterampilan berbahasa apabila dalam pengajaran sastra guru melibatkan langsung kemampuan berbahasa siswa meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pengajaran sastra dapat mengembangkan cipta dan rasa apabila dalam pengajaran sastra guru mencoba memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kecakapan yang dimilikinya. Kecakapan siswa berupa penalaran indrawi, afektif, social, dan religius sehingga pengajaran sastra mampu mengembangkan kualitas pribadi siswa (Rahmanto, 1993:27). Selain mengembangkan kecakapan siswa harus 19 melakukan penghayatan dalam memahami sebuah karya sastra agar siswa mampu mencerna dan memahami sebuah karya sastra. Dalam sebuah karya sastra ada yang disebut dengan penghayatan keindahan atau penghayatan nilai. Penghayatan nilai bermula dari pengamatan dan pencerahan jiwanya atau suatu karya sastra. Penghayatan nilai disebut dengan penghayatan atau pengalaman estetik. Penghayatan estetik ini tidak selalu mudah karena suatu karya sastra yang diciptakan untuk semua orang yang mau membacanya itu sering tidak dapat diresapi oleh setiap orang. Hal yang demikian terjadi karena dua kemungkinan, yaitu pembacanya terlalu tertutup dan tegar untuk dapat menyerap sastra yang halus dan tinggi atau karya sastra itu terlalu tidak berdaya untuk menggerakkan minat dan hati pembacanya. Penghayatan estetik tidak terjadi dengan sendiri, kesadaran pribadi seseorang pembaca akan nampak kuat dan mustahil larut ke dalam rahasia karya sastra yang dihadapi. Apabila penghayatan estetik terjadi seseorang kritikus akhirnya sadar kembali akan pribadinya dan menjelaskan bagaimana sebuah karya yang ia baca telah dia hayati, bagaimana penghayatan itu terjadi dan mengapa penghayatan itu terjadi karena telah dijelaskan bahwa penghayatan estetik berati penemuan nilai, dalam penjelasannya kritikus menuliskan bagaimana dalam sebuah karya sastra dia menemukan suatu nilai, bagaimana penemuan nilai terjadi, dan mengapa penemuan nilai terjadi. Tetapi apabila penghayatan benar-benar berpangkal dari persepsi tentulah penghayatan estetik itu dapat sejalan dan memang merupakan nilai yang hendak diungkapkan oleh pengarang yang bersangkutan (Harjana, 1985:16-17). 20 2.8 Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Sastra Pembelajaran merupakan interaksi atau komunikatif aktif antara dua pihak, yaitu interaksi antara pengajar dengan pengajaran. Pengajar berkedudukan sebagai perancang, penggerak, dan fasilitator bagi pembelajar. Di lain pihak pembelajar berkemampuan untuk menafsirkan petunjuk-petunjuk melakukan antisipasi dan aktif bertindak sesuai dengan karakteristik yang ia miliki. Pembelajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak (Rahmanto, 1993:16). Pembelajaran sastra mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran dapat berhasil dengan baik apabila ditunjang penggunaan media dan bahan ajar yang memadai yang dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan. Novel adalah salah satu media dan bahan ajar yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra di sekolah. Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis kelayakan novel Daun Pun Berzikir karya Taufiqurrahman Al Azizy dari tiga aspek, yaitu (1) pemilihan bahan ajar ditinjau dari aspek kurikulum, (2) pemilihan bahan ajar sastra ditinjau dari aspek kesastraan, dan (3) pemilihan bahan ajar sastra ditinjau dari aspek pendidikan karakter. 21 2.8.1 Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Secara umum tujuan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (BNSP, 2006:16) adalah sebagai berikut. 1. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; 2. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; 3. Menghargai dan membanggakan sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) artinya dalam proses pemilihan bahan ajar sastra harus disesuaikan dengan KTSP. Hal ini berarti bahwa kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran harus sesuai dengan standar isi yang tercantum dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Standar isi mata pelajaran bahasa Indonesia ini mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan yang tertuang dalam silabus pembelajaran (Mulyasa, 2009:21). Berdasarkan hal tersebut, materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan pada siswa hendaknya berisi materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi. 22 Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) materi yang berkaitan dengan konflik dalam novel terkait pada kelas XI semester pertama terdapat pada satandar kompetensi (Memahami berbagai hikayat dan novel Indonesia/terjemahan) dengan kompetensi dasar menganalisis unusr-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia dan terjemahan. Indikator yang harus dicapai menganalisis unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsik (alur, tema, penokohan, sudut pandang, nilai sosial, budaya, dan lain-lain). Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan peserta didik yang menggambarkan pengusaan, pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Dengan Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia ini, diharapkan siswa dapat menumbuhkan penghargaan dan mengambil hikmah terhadap hasil karya kesusastraan. Dengan penentuan bahan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) dan didukung dengan kriteria tujuan pembelajaran sastra, diharapkan pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat lebih bermakna. 2.8.2 Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Sastra Berdasarkan Aspek Kesastraan Dalam penelitian ini, untuk menentukan layak tidaknya novel Daun Pun Berzikir dapat dijadikan sebagai bahan ajar sastra. Kriteria pemilihan bahan ajar sastra (Rahmanto, 1993:27) sebagai berikut. 23 1. Bahasa Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang dibahas, tetapi juga faktor-faktor lain seperti cara penulisan yang dipakai oleh pengarang, bahasa yang digunakan si pengarang yang menggunakan bahasa yang baku, komunikatif, memperhitungkan kosakata baru, isi wacana, cara menuangkan ide yang disesuaikan dengan kelompok pembaca yang ingin dijangkau sehingga mudah dipahami semua kalangan, serta ciri-ciri karya sastra yang disesuaikan pada waktu penulisan karya itu. 2. Psikologi Dalam memilih bahan ajar, tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan karena sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan keengganan anak didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan psikologi sangat berpengaruh terhadap daya ingat kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Ada empat tahap perkembangan psikologis yang penting diperhatikan oleh guru untuk memahami psikologi anak-anak sekolah dasar dan menengah (Rahmanto, 1993:30). Empat tahap perkembangan psikologis tersebut adalah sebagai berikut. a. Tahap pengkhayal (8 sampai 9 tahun) Pada tahap ini imajinasi anak-anak belum banyak diisi dengan hal-hal yang nyata, tetapi masih penuh dengan fantasi kekanak-kanakan. 24 b. Tahap romantik (10 sampai 12 tahun) Anak mulai meninggalkan fantasi dan berpikir mengarah ke realitas. Meski pandangan ke dunia ini masih sangat sederhana. Anak-anak mulai menyenangi cerita kepahlawanan, petualangan, bahkan kejahatan. c. Tahap realistik (13 sampai 16 tahun) Pada tahap ini anak mulai terlepas dari dunia fantasi. Mereka sangat berminat pada realitas atau apa yang benar-benar terjadi. Mereka terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan nyata. d. Tahap generalisasi (16 tahun ke atas) Pada tahap ini anak mulai tidak lagi hanya berminat pada hal-hal yang praktis saja, tetapi juga berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan menganalisis suatu fenomena yang ada. Mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena itu dan terkadang mengarah kepada pemikiran filsafat untuk menentukan keputusan-keputusan moral. Karya sastra dipilih untuk diajarkan hendaknya sesuai dengan tahap psikologis pada umumnya dalam suatu kelas. Usia anak SMA berada antara tahap realistik dan generalisasi. Tentu saja tidak semua siswa dalam satu kelas memunyai tahap psikologis yang sama. Walaupun demikian, guru harus berusaha untuk menyajikan karya sastra yang setidak-tidaknya secara psikologis dapat menarik minat sebagian besar siswa dalam kelas itu. 25 3. Latar belakang budaya Latar belakang karya sastra meliputi hampir semua faktor kehidupan manusia dan lingkungannya, seperti geografi, sejarah, legenda, pekerjaan, kepercayaan, cara berpikir, nilai-nilai masyarakat, seni, moral etika, dan sebagainya. Biasanya siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka, terutama apabila karya itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan yang memunyai kesamaan dengan mereka atau orang-orang di sekitar mereka. Namun, latar belakang budaya luar budaya lokal perlu diperkenalkan agar siswa mengenal dunia lain (Rahmanto, 1993:32). 2.8.3 Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Berdasarkan Aspek Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa sehingga akan terwujud insan kamil (Aunillah, 2011: 18-19). Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, dan watak. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak pada nilainilai karakter dasar manusia. Nilai- nilai karakter dasar yang harus diajarkan kepada peserta didik sejak dini adalah sifat dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya integritas. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan 26 karakter di sekolah sebaiknya berpijak pada nilai-nilai karakter dasar tersebut, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau tinggi, yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Adapun ciri yang dapat dicermati pada seseorang yang mampu memanfaatkan potensi dirinya adalah terpupuknya sikap-sikap terpuji, seperti jujur, percaya diri, bersikap kritis, analitis, peduli, kreatif-inovatif, mandiri, bertanggung jawab, sabar, berhati-hati, tegas, rela berkorban, berani, rendah hati, bekerja keras, disiplin, mampu mengendalikan diri, sportif, tekun, ulet, dan berhati lembut. Dengan demikian, para peserta didik yang disebut berkarakter baik adalah mereka yang selalu berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasi (perasaan) (Aunillah, 2011:21). Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar budaya dan karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional Tujuan pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan yang lebih menghargai kebebasan individu. Pendidikan karakter juga bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan 27 akhlak mulia peserta didik secara utuh terpadu dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter, diharapakan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan karakter yang terpadu dalam pembelajaran adalah kegiatan spesifikasi dalam pembelajaran merupakan pengenalan nilai-nilai, diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan internalisasi nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Kegiatan pembelajaran bertujuan menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, serta dirancang untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari, atau peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dalam bentuk perilaku. Dalam pendidikan karakter di butuhkan metodologi yang efektif, aplikatif, dan produktif agar tujuannya bisa tercapai dengan baik. Metodologi pendidikan karakter adalah sebagai berikut. 1. Pengajaran Mengajarkan pendidikan karakter dalam rangka memperkenalkan pengetahuan teoritis tentang konsep nilai. Pemahaman konsep ini menjadi bagian dari pemahaman pendidikan karakter itu sendiri sebab anak-anak akan banyak belajar pemahaman dan pengertian tentang nilai-nilai yang dipahami oleh para guru dan pendidik dalam setiap perjumpaan mereka. 28 2. Keteladanan Keteladanan menjadi salah satu hal klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan karakter. Tujuan pendidikan karakter ada pada pundak guru. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui pembelajaran di kelas, melainkan nilai itu juga tampil dalam diri sang guru, dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. 3. Menentukan Prioritas Lembaga pendidikan memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakteristik yang ingin diterapkan di lingkungan mereka, pendidikan karakter menghimpun banyak kumpulan nilai yang dianggap bagi pelaksanaan dan realisasi atau visi lembaga pendidikan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan mesti menentukan tuntutan standar atas karakter yang akan ditawarkan kepada peserta didik sebagai bagian dari kinerja kelembagaan mereka. 4. Praksi Prioritas Unsur lain yang sangat penting bagi pendidikan karakter adalah bukti dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan tuntutan lembaga pendidikan atau prioritas nilai yang menjadi visi kinerja pendidikannya, lembaga pendidikan harus mampu membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan skolastik melalui berbagai macam unsur yang ada dalam lembaga pendidikan itu sendiri. 29 5. Refleksi Karakter yang ingin dibentuk oleh lembaga pendidikan melalui berbagai macam program dan kebijakan senantiasa perlu dievaluasi dan direfleksikan secara berkesinambungan dan kritis sebagaimana dikatakan Socrates, “Hidup yang tidak direfleksikan merupakan hidup yang tidak laya dihayati.” Tanpa ada usaha untuk melihat kembali sejauh mana proses pendidikan karakter ini direfleksikan dan dievaluasi, tidak akan pernah terdapat kemajuan (Koesoema dalam Asmani, 2011:67). Metodologi pendidikan karakter tersebut menjadi catatan penting bagi semua pihak, khususnya guru yang berinteraksi langsung kepada anak didik. Tentu, lima hal ini bukan satu-satunya sehingga masing-masing tertantang untuk menyuguhkan alternatif pemikiran dan gagasan untuk memperkaya metodologi pendidikan karakter. Sastra dalam kaitan dengan pendidi

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
3
52
52
CIRI-CIRI KAPITALISTIK PADA NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF DAN KELAYAKANNYA TERHADAP BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
2
10
12
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
9
121
151
CIRI-CIRI TOKOH DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SMA
2
33
14
KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
14
136
51
MAJAS DALAM PUISI PADA KOLOM SASTRA HARIAN LAMPUNG POST EDISI SEPTEMBER 2011 DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
39
66
MAJAS DALAM PUISI PADA KOLOM SASTRA HARIAN LAMPUNG POST EDISI SEPTEMBER 2011 DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
25
66
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
3
47
21
GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM OTOBIOGRAFI AJAHN BRAHM YANG BERJUDUL SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
46
72
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
25
596
37
ASPEK MORAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL ALIF KARYA TAUFIQURRAHMAN AL-AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
3
21
53
CITRA PEREMPUAN DALAM ROMAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
4
43
54
KONFLIK DALAM NOVEL PEREMPUAN PENUNGGANG HARIMAU KARYA MUHAMMAD HARYA RAMDHONI DAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
6
27
69
GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK KARYA TERE LIYE DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
21
163
81
CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL IBUK KARYA IWAN SETYAWAN DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA
4
20
51
Show more