Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di 5 Posyandu Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan Karawang Tahun 2013

Gratis

9
74
153
2 years ago
Preview
Full text

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEJALA

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi, status imunisasi, PM10, suhu, kelembaban, racun nyamuk, kebiasaan merokok,bahan bakar memasak, luas ventilasi dan kepadatan hunian dengan gejala ISPA pada balita di desa tamansari dan dilaksanakan April-Juni 2013. Faktor yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita pada penelitian ini adalah kepadatan hunia (p=0,032).

DATA RIWAYAT HIDUP PENULIS

  Alhamdulillah pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di 5 Posyandu Desa TamansariKecamatan Pangkalan Karawang Tahun 2013 ” dengan baik dan penuh perjuangan. Skripsi ini aku persembahkan untuk kedua orang tuaku tercinta yang telah memberikan semangat, bimbingan dan doa yang tiada henti untuk lulustepat waktu.

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1Lampiran 2Lampiran 3Lampiran 4Lampiran 5Lampiran 6 KuisonerHasil Analisis StatistikFoto-foto DokumentasiData Kesakitan Puskesmas Pangkalan tahun 2012Surat Izin PenelitianSurat keterangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyebab utama

  Kejadian ISPA di Propinsi Jawa Barat masih menjadi urutan pertama dibandingkan dengan penyakit lainnya yakni sebesar 33,44%, menurut ProfilKesehatan Jawa Barat tahun 2006, jumlah anak balita penderita ISPA diJawa Barat mencapai 199.287 anak, dengan jumlah kematian akibat pneumonia pada bayi mencapai 63 orang dan pada anak balita mencapai 19orang. Berdasarkan uraian di atas, penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan angka kematian yang cukup tinggi,sehingga dalam penanganannya diperlukan kesadaran yang tinggi baik dari masyarakat maupun petugas kesehatan, terutama tentang kondisi pencemaranudara di dalam rumah balita yang mempengaruhi kejadian ISPA yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan rumah dan karakteristik balita.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan data laporan Puskesmas Pangkalan tahun 2012, menunjukkan bahwa penyakit ISPA merupakan penyakit infeksi yang palingsering diderita oleh masyarakat khususnya kelompok bayi dan balita ISPA menempati urutan pertama dalam daftar sepuluh penyakit tertinggi padakelompok umur 1-4 tahun di wilayah kerja Puskesmas Pangkalan dengan presentase sebesar 54.50%. Berdasarkan data inilah maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balitadi Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang tahun 2013.

C. Pertanyaan Penelitian

  Apakah ada hubungan karakteristik balita (status gizi dan status imunisasi) dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu DesaTamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang tahun 2013? Apakah ada hubungan antara kadar PM10 dalam kamar dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan,Kabupaten Karawang tahun 2013?

D. Tujuan Penelitian

  Tujuan Umum Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu, Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan,Kabupaten Karawang tahun 2013. Diketahuinya hubungan antara lingkungan fisik rumah (suhu, kelembaban, pemakaian racun nyamuk, kebiasaan merokok,pemakaian bahan bakar memasak, luas ventilasi dan kepadatan penghuni) dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu DesaTamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang tahun 2013.

E. Manfaat Penelitian 1. Puskesmas

  Hasil penelitian ini digunakan sebagai masukan untuk menyusun perencanaan program program P2 ISPA dalam upaya pencegahan diKecamatan Pangkalan khususnya dan daerah lain yang mempunyai masalah yang sama pada umumnya, sehingga angka kesakitan ISPA dapatdikurangi. Manfaat Bagi Peneliti Dapat meningkatkan pengetahuan dan mendapatkan kesempatan untuk mengaplikasikan teori yang telah didapatkan dalam operasionalkesehatan lingkungan, serta sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan bahan bacaan oleh peneliti selanjutnya.

F. Ruang Lingkup

  Penelitian ini mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu desa tamansari, kecamatan pangkalan, kabupaten karawang tahun 2013, dilakukan oleh mahasiswa peminatanKesehatan Lingkungan Kesehatan Masyarakat UIN Syarif HidayatullahJakarta. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita yang berusia 1-59 bulan di 5 posyandu desa Tamansari, sedangkan sampel adalah balita yang dipilih secara random dengan menggunakan metode.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Infeksi saluran pernapasan akut sering disalahartikan sebagai infeksi

  Berdasarkan penelitian di Pulau Lombok tahun 1997-2003 serta penelitian di berbagai negara yang dipublikasikan WHO, penyebab ISPA yang paling umum dan paling sering ditemukan pada balita adalah bakteri Streptococcus pneumoniae dan Haemophyllus influenzae. Pada balita usia 4 bulan sampai 5 tahun, virus merupakan penyebab tersering dari pneumonia, yaitu Respiratory Synctyial Menurut publikasi WHO penelitian yang dilakukan di berbagai negara berkembang juga menunjukkan bahwa Streptococcus Pneumoniae dan Haemophylus Influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan dua pertiga dari hasil isolasi (73,9% aspirat paru dan 69,1% hasil isolasi dari spesimen darah).

C. Klasifikasi ISPA Pada Balita

  Tanda dan Gejala Klinis ISPA Penyakit ISPA pada balita dapat menimbulkan bermacam-macam tanda dan gejala seperti batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek,sakit telinga dan demam. 2) Gejala dari ISPA sedangSeseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :a) Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu : untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebihuntuk umur 2-<12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan - < 5 tahun.

F. Masalah ISPA di Indonesia

  Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan saluran pernapasan lain adalah rendahnya kualitas udara di dalam rumah dan atau di luar rumah baik secara biologis, Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA di Indonesia mulai tahun1984, bersamaan dengan dilancarkannya pemberantasan penyakit ISPA di tingkat global oleh WHO. Namun dalam penerapannya, untuk memperoleh jaminan pelayanan MTBS yang berkualitasdan mencakup sasaran yang luas ternyata memerlukan dukungan sumber daya yang sangat besar, baik untuk biaya pelatihan, proses pelaksanaannya dipuskesmas maupun untuk monitoring dan pembinaan yang berkualitas, teratur dan berkelanjutan.

G. Faktor Risiko ISPA

  ISPA menyebabkansekitar 19% dari seluruh kematian pada anak-anak usia kurang dari 5 tahun, dan lebih dari 70% terjadi di Sahara Afrika dan Asia Tenggara (WHO, 2008). Faktor risiko yang meningkatkan insiden ISPA adalah umur <2bulan, laki-laki, gizi kurang, berat badan lahir rendah, tidak dapat ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi yang tidakmemadai, membendung anak (menyelimuti berlebihan), defisiensi vitamin A, pemberian makanan tambahan terlalu dini, ventilasi rumah kurang (DepkesRI, 2004).

H. Karakteistik Balita 1. Usia

  Anak balita pada kelompok umur di bawah 2 tahun menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada tahun 1995 dan 1998dibanding tahun 1989 dan 1992. Disebutkan pula bahwa proses pertumbuhan yang sangat cepat terjadi hanya pada 2 tahun pertamakehidupan manusia, sehingga pada proses pertumbuhan tersebut dibutuhkan zat gizi yang optimal (Jahari dkk, 2000).

2. Status Gizi

  Status gizi balita dipengaruhi oleh pola asuh anak yang tidak memadai karena kurangnya pengetahuan, ketrampilan ibumengenai gizi serta imunisasi dan pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai. Sedangkan standar baku yang digunakan dalam penentuan status gizi anak balita pada KMS, berdasarkan hasil kesepakatan diskusi yangdiselenggarakan oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), bekerjasama dengan UNICEF Indonesia dan LIPI, yaitu (DepartemenKesehatan, 2000): a.

3. Status Imunisasi

  Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel- sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secarakolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing seperti kuman- kuman penyakit atau racun yang masuk ke dalam tubuh. Balitayang mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap dan teratur akan mengurangi angka kesakitan dan kematian bayi sebesar 80-90% (Purwana,1999).

I. Faktor Pendidikan Ibu

  Tingkat pendidikan ibu, dalam hal ini lebih dikaitkan dengan kemampuan seorang ibu yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi pada umumnyamemiliki pengetahuan yang lebih luas, sehingga dapat lebih mudah dalam menyerap dan menerima informasi serta aktif berperan serta dalam mengatasimasalah kesehatannya dan keluarganya. Faktor lingkungan tingkat rumah tangga yang berkaitan dengan pencemaran udara di rumah tangga seperti yang diungkapkan oleh Stephen &Harpam, 1991 (dalam Handajani, 1996, Safwan, 2003) ialah: 1) Kepadatan dalam rumah, 2) Merokok, 3) Jenis bahan bakar, 4) Ventilasi rumah, 5)Kelembaban dalam rumah, 6) Debu rumah.

3. Jenis Bahan Bakar Memasak

4. Partikulat PM 10

  Berbagai studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara pajanan PM10 terhadap gangguan saluran pernafasan telah banyak dilakukan,beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: Berdasarkan Penelitian Farieda (2009) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kadar PM10 dalam rumah dengan kejadian ISPA (p<0,05) pada balita yang dipengaruhi oleh ventilasi dalam rumah, kepadatan hunian dan lubang asap dapur. Penelitian Situmorang, (2003) di Kelurahan Cakung Timur, JakartaTimur menyatakan bahwa kejadian ISPA pada balita yang tinggal di dalam 3 rumah yang konsentrasi PM10 lebih dari 70 µg/m adalah 6,1 kali dibanding balita yang tinggal di rumah yang konsentrasi PM10 kurang atau sama 3 dengan 70 µg/m .

1. Luas Ventilasi

  Kurangnya ventilasi akan menyebabkan proses sirkulasi udara dalam rumah berjalan tidak normal serta udara dalam rumah terasapanas, diperberat lagi apabila rumah padat penghuni akan menyebabkan kurangnya O (oksigen) dalam rumah sehingga kadar CO yang bersifat 2 2 racun bagi penghuni rumah menjadi meningkat. Ventilasi dapat digolongkan dalam dua sistem antara lain ventilasi alamiah ialah ventilasi yang terjadi secara alamiah ialah ventilasi yang terjadisecaraalamiah dimana udara masuk ke dalam ruangan melalui jendela, pintu ataupun lubang angin yang sengaja dibuat untuk itu.

2. Kepadatan Hunian

  Hal ini akan mengakibatkan keadaan perumahan yang padat dan kondisi bangunan yang tidak memadai. Rumah dikatakan padat penghuninya apabila perbandingan luaslantai seluruh ruangan rumah dengan jumlah penghuni kecil lebih dari 10 2 m /orang, sedangkan ukuran yang dipakai untuk luas lantai ruang tidur 2 minimal 3 m per orang dan untuk mencegah penularan penyakit(misalnya penyakit pernapasan) jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lain minimum 90 cm (Depkes RI, 2002).

BAB II I KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori diatas, maka kerangka konsep yang dibuat

  peneliti dalam penelitian ini dimana variabel dependen dalam penelitian ini yaitu gejala ISPA, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalahstatus gizi, status imunisasi, PM10, suhu, kelembaban, racun nyamuk bakar, kebiasaan merokok, bahan bakar memasak, luas ventilasi dan kepadatanhunian. Jenis KelaminPada penelitian ini jenis kelamin tidak diteliti karena berdasarkan penelitian dan teori tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dankejadian ISPA semua memiliki risiko yang sama antara laki-laki dan perempuan.

B. Definisi Operasional

  Maka kadar PM 10 maksimal dalam 3 rumah adalah 70 µg/m (Kepmenkes,1999) No Variabel Defenisi Cara Ukur Alat ukur Skala Hasil Ukur Ukur 5 Suhu Temperatur udara dalam ruanga dengan Pengukuran Termometer Rasio C 30 C (Kepmenkes,1999) 6 Kelembaban Jumlah uap air di udara dalam rumah dan Pengukuran Hygrometer Rasio % dinyatakan dalam persen berkisar antara40%-70% (Kepmenkes 1999) 7 Racun Jenis obat nyamuk yang dipakai di dalam Wawancara Kuisioner Nominal 0. Ada (memakai racunNyamuk Bakar rumah yang mengandung senyawa kimia dan observasi nyamuk bakar) dan partikulat yang dilepaskan ke udara 1.

9 Memasak untuk keperluan rumah tangga sehari-hari dan observasi Syarat (TMS)(Ada asap (memasak, penerangan dan sebagainya)

  Memenuhi Syarat anggota keluarga menggunakan minyak(MS)(Tidak ada asap tanah saat memasak dianggap ada asappencemar/gas).pencemaran dalam rumah dan pada waktu anggota keluarga menggunakan komporgas saat memasak dianggap tidak ada asap dalam rumah (Soewati,S. Tidak memenuhi syaratRumah luas jendela dan lubang angin kamar balita observasi dan kuisioner (< 10% luas lantai) sering tidur untuk aliran udara dari dalam pengukuran 1.

C. Hipotesis

  Ada hubungan antara (status gizi, status imunisasi) dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan,Kabupaten Karawang tahun 2013. Ada hubungan antara (suhu, kelembaban, racun nyamuk bakar, kebiasaan merokok, bahan bakar memasak, luas ventilasi dan kepadatan hunian)dengan gejala ISPA pada balita di 5 psyandu Desa Tamansari, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang tahun 2013.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

  dengan metode analitik observasional dengan desain studi cross sectional yaitu penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengangejala ISPA pada balita. Dalam penelitian ini variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau disebut juga variabel dependent dan independent akan dikumpulakn dalam waktu bersamaan dan secara langsung (Notoatmodjo, S, 2010).

1. Populasi

2. Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari unit di dalam pengamatan yang akan peneliti lakukan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua jumlah balitayang berada di 5 posyandu Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan Kabupaten Besar sampel penelitian ditentukan menggunakan uji hipotesis beda 2 proporsi dengan rumus sebagai berikut (Ariawan, 1998) :√ √ Keterangan : n = Jumlah sampel yang ditelitiZα = Tingkat kemaknaan α (untuk α = 0,05 adalah 1,96)Zβ = Kekuatan Uji = 80 %P = Rata- rata pada populasiP = proporsi status gizi kurang dengan gejala ISPA = 74,5% = 0.745 1 P 2 = proporsi status gizi baik dengan gejala ISPA = 54,3%= 0.54,3 Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka sampel yang dibutuhkan sebanyak 68 responden.

D. Teknik Pengambilan Sampel

  Pengambilan sampel secara purposive sampling adalah dengan mengambil sampel di seluruh posyandu yang berada di Desa Tamansari dan akan dipilihsecara tidak acak. Kemudian anak balita yang datang di 5 posyandu yang terkena sampel tersebut adalah anak balita yang akan diteliti.

1. Pengukuran PM10

  Alat yang digunakan untuk mengukur kadar PM10 adalah EPAM-5000, langkah-langkah mengoperasikan EPAM-5000: a. Nyalakan mesin dengan menekan tombol ON b.

2. Termohygrometer

  Alat yang digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban ruang kamar balita, langkah-langkaha. Nyalakan alat b.

G. Pengumpulan Data

  Jenis data dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder: a. Data Primer Data primer dalam penelitian ini yakni berupa data yang diperoleh secara langsung dari orang tua balita mengenai faktor-faktor yangberhubungan dengan gejala ISPA seperti status gizi, status imunisasi, racun nyamuk bakar, kebiasaan merokok, bahan bakar masak, kepadatanhunian dilakukan dengan pengisian kuisioner, sedangkan PM10, suhu dan kelembaban menggunakan dengan melakukan pengukuran menggunakanalat EPAM-5000, dan alat Termohygrometer.

H. Pengolahan Data

  EditingEditing sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengkoreksi data yang meliputi kelengkapan pengisian kuisioner, konsistensi atas jawaban dan kesalahan jawaban padakuisioner. CodingCoding merupakan kegiatan memberikan kode pada jawaban kuisioner yang ada untuk mempermudah proses pengolahan dalam komputerisasi.

d. Cleaning

  Cleaning data adalah proses pengecekan kembali data yang sudah dientry apakah ada kesalahan atau tidak. Tahapan cleaning data terdiri dari mengetahui missing data, mengetahui variasi data dan mengetahuikonsistensi data.

I. Analisis

  Variabel tersebut meliputi variabel gejala ISPA pada balita, status gizi, status imunisasi, PM10, suhu, kelembaban, racun nyamuk bakar,kebiasaan merokok, bahan bakar memasak, luas ventilasi dan kepadatan hunian yang mempengaruhi gejala ISPA serta gambaran gejala ISPA padabalita. Mata pencarian sebagian besar adalah sebagai petani dan buruh penambang batu kapur yang ada diwilayah Desa Tamansari yang telahada sejak puluhan tahun yang lalu.

B. Hasil Analisis Univariat

  Gambaran Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa prevalensi gejala ISPA pada balita di 5 posyandu Desa Tamansari tahun 2013 adalahsebesar 57,4 % untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1. Distribusi Gejala ISPA pada Balita di Desa Tamansari Tahun 2013 Gejala ISPA Frekuensi PresentaseIya 39 57,4% Tidak 29 42,6%Jumlah 68 100% Sumber : Data Primer Tahun 2013Berdasarkan tabel 5.1.

3 PM10 (µg/m ) 162,50 117,00 14,20 41-628

  Gambaran Racun Nyamuk Bakar Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data yang menggunakan racun nyamuk bakar di Desa Tamansari sebagaiberikut: Tabel 5.10. didalam tabel dihasilkan bahwa dari 68 kelurga terdapat 55 keluarga (80,9%) yang tidur dalam satu kamar lebihdari 2 orang dan 13 keluarga (19,1%) keluarga yang tidur tidak lebih dari 2 orang.

D. Hasil Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara

1. Hubungan Status Gizi dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hasil analisi hubungan antara status gizi dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 5.15. diketahui balita yang status gizi kurang dan menderita ISPA adalah 71,4% serta balita dengan status gizi kurangtidak mengalami ISPA adalah 28,6%.

2. Hubungan Status Imunisasi dengan gejala ISPA pda Balita

  diketahui balita yang status imunisai tidak lengkap dan menderita ISPA sebanyak 75,0% serta balita dengan statusimunisasi tidak lengkap dan tidak mengalami ISPA sebesar 25,0%, sedangkan balita yang imunisasi lengkap dan menderita ISPA adalah55,0% serta balita dengan status imunisasi lengkap dan tidak mengalami pvalue 0,451 (pvalue > 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status imunisasi dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013.

3. Hubungan antara PM10 dengan Kejadian ISPA pada Balita

  Hasil analisis hubungan antara PM10 dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 diperoleh dengan menggunakan uji non parametrik yaitu man-whitney hal tersebut dikarenakan data variabel PM10 merupakan data yang berdistribusi tidak normal. Adapun hasil uji yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 5.17.

3 PM10 (µg/m ) N Rata-rata pvalue

  Gejala ISPAIya 39 35,49 0,633 Tidak 29 33,17Sumber : Data Primer Tahun 2013Berdasarkan tabel 5.17. diketahui nilai rata-rata PM10 yang 3 mengalami gejala ISPA adalah 35,49 µg/m dan nilai rata-rata PM10 yang 3 tidak mengalami ISPA adalah 33,17 µg/m .

4. Hubungan antara Suhu dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hasil analisis hubungan antara suhu dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 diperoleh dengan menggunakan uji non parametrik yaitu man-whitney hal tersebut dikarenakan data variabel suhu merupakan data yang berdistribusi tidak normal. Hubungan antara suhu dengan Gejala ISPA pada Balita di Desa Tamansari Tahun 2013 Suhu ( C) N Rata-rata PvalueGejala ISPA Iya 39 35,00 0,809Tidak 29 33,83 Sumber : Data Primer Tahun 2013Berdasarkan tabel 5.18.

5. Hubungan antara Kelembaban dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hasil analisis hubungan antara kelembaban dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 diperoleh dengan menggunakanuji non parametrik yaitu man-whitney hal tersebut dikarenakan data variabel kelembaban merupakan data yang berdistribusi tidak normal. Sehingga dapat disimpulaknbahwa pada alpha 5% tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata kelembaban antara balita yang mengalami ISPA dengan yang tidakmengalami ISPA di Desa Tamansari tahun 2013.

6. Hubungan antara Racun Nyamuk Bakar dengan Gejala ISPA pada Balita

  diketahui responden yang menggunakan racun nyamuk bakar dan mengalami ISPA adalah (57,4%) serta respondenyang menggunakan racun nyamuk bakar dan tidak mengalami ISPA sebanyak 42,6%. Sedangkan responden yang tidak menggunakan racunnyamuk bakar dan mengalami ISPA sebanyak 57,1% serta responden yang tidak menggunakan racun nyamuk bakar dan tidak mengalami ISPA42,9%.

7. Hubungan antara Kebiasaan Merokok dengan Gejala ISPA pada Balita

  diketahui balita yang anggota keluarganya merokok dan menderita ISPA adalah 59,3% serta balita yang anggotakeluarganya merokok dan tidak mengalami ISPA adalah 40,7%. Sedangkan balita yang anggota keluarganya tidak merokok dan mengalami ISPA sebanyak 50,0% serta balita yang anggota keluarganya tidak merokok dan tidak mengalami ISPA sebanyak 50,0%.

8. Hubungan Bahan Bakar Masak dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hasil analisis hubungan antara bahan bakar masak dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 5.22. Hubungan antara Bahan Bakar Masak dengan Gejala ISPA pada Balita di Desa Tamansari Tahun 2013 Bahan Bakar Gejala ISPAMasak Total pvalueIya Tidak N % N % N %Kayu, minyak 6 60,0% 4 40,0% 10 100% Gas 33 56,9% 25 43,1% 58 100% 1,000Jumlah 39 57,4% 29 42,6% 68 100% Sumber: Data Primer Tahun 2013Berdasarkan tabel 5.22.

9. Hubungan Luas Ventilasi dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hasil analisis hubungan antara luas ventilasi dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013 dapat dilihat pada tabel 5.23. Hubungan antara Luas Ventilasi dengan Gejala ISPA pada Balita di Desa Tamansari Tahun 2013 Gejala ISPALuas Ventilasi Total pvalueIya Tidak N % N % N %TMS 26 59,1% 18 40,9% 44 100% MS 13 54,2% 11 45,8% 24 100% 0,799Jumlah 39 57,4% 29 42,6% 68 100% Sumber: Data Primer Tahun 2013Berdasarkan tabel 5.23.

10. Hubungan Kepadatan hunian dengan Gejala ISPA pada Balita

  diketahui kepadatan hunian balita yang lebih dari 2 orang dan mengalami ISPA adalah 50,9% serta kepadatanhunian yang lebih dari 2 orang dan tidak mengalami ISPA sebanyak 49,1%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan gejala ISPA pada balita di Desa Tamansari tahun 2013.

BAB VI PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian Dalam pelaksanaan penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan

  Meskipun demikian, desain ini dipilih karena paling sesuai dengan tujuan penelitian, serta efektif dari segi waktu. Pemeriksaan gejala ISPA langsung ditanyakan ke ibu balita, tanpa mengunakan pemeriksaan dokter untuk memperkuat hasil.

B. Analisis Univariat

  Gambaran Gejala ISPA pada Balita di Desa Tamansari Pada penelitian ini untuk gejala ISPA yaitu dengan menanyakan pada ibu balita yang pernah dialami balita selama kurunwaktu dua minggu baik itu batuk, pilek, demam dan panas. Gejala ISPA yang terjadi pada balita di 5 posyandu DesaTamansari dan hanya ditanyakan kepada ibu balita dalam kategori mengalami ISPA dan tidak mengalami ISPA hanya sebatas gejalasubjektif yang diperhatikan oleh seorang ibu, harus diperhatikan secara serius.

C. Analisis Bivariat

1. Analisis Hubungan Status Gizi dengan Gejala ISPA pada Balita

  diketahui balita yang status imunisai tidak lengkap dan menderita ISPA sebanyak 75,0% serta balita dengan 25,0%, sedangkan balita yang imunisasi lengkap dan menderita ISPA adalah 55,0% serta balita dengan status imunisasi lengkap dan tidakmengalami ISPA sebanyak 45,0%. Imunisasi merupakan salah satu bentuk intervensi yang sangat Status imunisasi merupakan faktor yang menjadi risiko mengalami kejadian ISPA, Pemberian imunisasi pada balita sangatbermanfaat, sejalan dengan penyakit ISPA sebagai penyebab utama kematian balita dapat dicegah dengan imunisasi.

3. Analisis Hubungan PM10 dengan Gejala ISPA pada Balita

  Sehingga dapat disimpulakn bahwa pada alpha 5% tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata PM10 antara balita yang mengalami ISPA denganyang tidak mengalami ISPA di 5 posyandu desa tamansari tahun 2013. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Farieda (2009) yang mengatakan ada hubungan yang Melihat data diatas dengan adanya perbedaan dengan teori, hal ini dapat dimungkinkan karena jarak antara wawancara gejala ISPAdengan saat dilakukan pengukuran terlalu lama yaitu satu minggu, bisa saja tidak terjadinya hubungan saat dilakukan wawancara balita dalamkondisi sehat dan mempunyai daya tahan tubuh yang baik sehingga PM10 tidak menyebabkan gejala ISPA.

4. Analisis Hubungan Suhu dengan Gejala ISPA pada Balita

  Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Heru (2012) menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara suhu dengankejadian ISPA pada balita. Namun suhu juga sebagai pemicu kejadian ISPA, untuk itu perlu dilakukanupaya agar suhu didalam kamar balita tetap memenuhi syarat yang telah ditentukan seperti membuka jendela dan pintu setiap pagi, sehinggaterjadi sirkulasi udara dan suhu tetap stabil.

5. Analisis Hubungan Kelembaban dengan Gejala ISPA pada Balita

  Meskipun berdasarkan uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian ISPA, namuntetap dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi pencemaran asap rokok dalam rumah karena menurut teori dan penelitia-penelitian terhadulumenjelaskan bahwa balita dengan anggota keluarga yang terbiasa merokok dalam rumah berisiko terhadap kesehatan terutama bagi anakbalita maka perlu dihindari kontak antara perokok dengan balita. diketahui responden yang memakai bahan bakar memasak menggunakan kayu atau minyak dan mengalami ISPA sebanyak 60,0% serta responden yang memakai bahan bakar memasak menggunakan kayu atau minyak dan tidak mengalami ISPAsebanyak 40,0% sedangkan responden yang memakai bahan bakar memasak menggunakan gas dan mengalami ISPA sebanyak 56,9%serta responden yang memakai bahan bakar memasak menggunakan gas dan tidak mengalami ISPA sebanyak 43,1%.

9. Analisis Hubungan antara Luas Ventilasi dengan Gejala ISPA pada Balita

  diketahui balita yang luas ventilasi kamar tidak memenuhi syarat dan mengalami ISPA adalah 59,1% sertaluas ventilasi kamar tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami ISPA sebanyak 40,9% sedangkan luas ventilasi kamar yang memenuhi syaratdan mengalami ISPA sebanyak 54,2% serta luas ventiasi kamar yang memenuhi syarat dan tidak mengalami ISPA sebanyak 45,8%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nuryanto (2012) yang mengatakan bahwa anak yang tinggal di rumah yang padat (<10 2 m /orang) akan mendapatkan risiko mengalami ISPA sebesar 3,09 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padatpenghuninya.

BAB VI I SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 68 responden di 5

  Gambaran balita di Desa Tamansari yang mengalami gejala ISPA ada 39 balita (57,4%), sedangkan balita yang tidak mengalamigejala ISPA ada 29 balita (42,6%). Faktor yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita di 5 Adapun faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan gejala ISPA pada balita di 5 posyandu Desa Tamansari tahun 2013 adalah statusgizi, status imunisasi, PM10, suhu, kelembaban, racun nyamuk, kebiasaan merokok, bahan bakar memasak, dan luas ventilasi.

B. Saran

  Diharapkan kepada anggota keluarga saat tidur bersama balita tidak lebih dari 2 orang saja yang berada di dalam kamar. Pihak puskesmas mengadakan posyandu sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, selain itu pada setiap posyandudiharapkan adanya pemberian makanan pendamping asi seperti biskuit, bubur kacang hijau dan lain sebagainya.

3. Bagi Peneliti Lain

  Peneliti lain melakukan penelitian lebih lanjut mengenai ISPA pada balita dapat dilakukan secara medis untuk memperolehdata yang objektif. Hubungan Kondisi Fisik Lingkungan Rumah dan Perilaku Orang Tua dengan Kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja puskesmas Kedungmundu Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh Perilaku Ibu dan Kondisi Fisik Rumah Terhadap Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Kecamatan Namorambe Kabupaten Deli Serdang Tahun 2013
8
124
124
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pangaribuan Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2012
0
58
123
Hubungan Paparan Asap Rumah Tangga dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Bagian Atas pada Balita di Puskesmas Tegal Sari-Medan Tahun 2014
2
112
78
Hubungan Kondisi Fisik Rumah Nelayan dengan Keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Lingkungan Pintu Angin, Kelurahan Sibolga Hilir, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga Tahun 2013
5
74
107
Hubungan ASI Eksklusif terhadapKejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas Padang Bulan, Medan
5
82
76
Hubungan Karakteristik Individu dengan Tindakan Ibu dalam Pencegahan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Puskesmas Amplas Tahun 2005
6
49
96
Hubungan Peran Orang Tua dalam Pencegahan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan Kekambuhan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Martubung Medan
17
140
71
Kajian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita di Kota Medan &amp; Kabupaten Deli Serdang
0
33
3
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di 5 Posyandu Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan Karawang Tahun 2013
9
74
153
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pengolahan Batu Kapur di Desa Tamansari Kab. Karawang Tahun 2013
2
51
182
Pemodelan Proporsi Kasus Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) bagian Atas pada Balita di Kabupaten Gresik dengan Geographically Weighted Regression
0
0
6
Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Episode Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan
0
0
5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) 1. Defenisi - Hubungan Status Imunisasi dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Sakit (1-5 tahun) di Puskesmas Teladan Medan Tahun 2014
0
1
13
Hubungan ASI Eksklusif terhadapKejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas Padang Bulan, Medan
0
0
20
Hubungan ASI Eksklusif terhadapKejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Bayi di Puskesmas Padang Bulan, Medan
0
0
15
Show more