STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN

 12  147  17  2017-02-15 09:00:59 Report infringing document
Informasi dokumen
i SKRIPSI ILMA FARDHIA STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013 i ii Lembar Pengesahan STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN SKRIPSI Dibuat untuk memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang 2013 Oleh: ILMA FARDHIA NIM: 09040097 Disetujui Oleh : Pembimbing I Pembimbing II Engrid Juni Astuti., S. Farm., Apt NIP.UMM. Drs. H. Harjana, M. Sc .,Apt NIP.UMM. ii iii Lembar Pengujian STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN SKRIPSI Telah diuji dan dipertahankan di depan tim penguji pada tanggal 10 Juli 2013 Oleh : ILMA FARDHIA NIM: 09040097 Tim Penguji : Penguji I Penguji II Drs. H. Achmad Inoni, Apt NIP. Arina Swastika Maulita, S.Farm., Apt NIP. Penguji III Penguji IV Drs. Harjana, M.Sc., Apt NIP. Engrid Juni Astuti, S. Farm.,Apt NIP. iii iv KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Studi Kandungan Boraks dalam Bakso Daging Sapi di Sekolah Dasar di Kecamatan Bangil – Pasuruan“ sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan erima kasih yang sebesar – besarnya kepada: 1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran selama proses pengerjaan tugas akhir ini. 2. Bapak Drs. H. Harjana,. M. Sc.,Apt selaku pembimbing utama dan Ibu Engrid Juni Astuti., S. Farm., Apt selaku pembimbing serta atas segala waktu, kesabaran, ketelitian , bimbingan serta memberikan masukan selama peneliti menyelesaikan tugas akhir ini. 3. Bapak Drs. H.Achmad Inoni.,Apt dan Ibu Arina Swastika.,S.Farm.,Apt selaku penguji yang telah memberikan saran dan masukan hingga terselesaikan tugas akhir ini. 4. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, Ibu Tri Lestari Handayani, M.Kep., Sp. Mat., atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti program sarjana. 5. Ketua Program Studi Farmasi Ibu Dra. Uswatun Chasanah, Apt yang dengan senantiasa dan sabar memberikan bimbingan dan semangat untuk menjadi lebih baik lagi dalam menimba ilmu. 6. Ibu Sovia Aprina Basuki, S. Farm., M.Si., Apt selaku Kepala Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi dan Kimia Terpadu II, yang telah memberikan kesempatan untuk menggunakan fasilitas laboratorium dalam menyelesaikan tugas akhir ini. 7. Ibu Siti Rofida, S. Farm.,Apt selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan dan nasehat selama masa pendidikan. iv v 8. Ayahanda dan ibunda, terima kasih atas segala dukungan moral, materiil, serta doa yang sangat berarti buat ananda selama ini. 9. Mas Toni dan Mbk Tika, terima kasih atas doa, motivasi, perhatiannya khususnya mbk Tika yang banyak membantu selama proses penelitian berlangsung. 10. Apoteker Andri terimakasih atas segala kasih sayang, semangat, serta kerjasamanya selama proses penyelesaian tugas akhir ini berakhir. 11. Teman – teman Farmasi Angkatan 2009, 2008, 2007, 2010 terima kasih telah memberi semangat dan dukungan khususnya Sahabatku dela, tiara, rhima, myrna, titi, hendra, syifa. terima kasih atas segala kebersamaan dikala suka dan duka, dan saling memberi semangat dikala putusasa, menemani dan saling membantu sama lain selama ini. 12. Mbak Susi, Mas Ferdi dan Mas Bowo selaku laboran, terima kasih atas semua bantuan waktu dan tenaga selama penyelesaian tugas akhir ini. 13. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang 2009, tempat bertukar pikiran dan candaan, semoga kita semua menjadi calon apoteker tebaik di masyarakat. 14. Semua pihak yang telah memberi bantuan kepada peneliti baik langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat diharapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya. Malang, 10 Juli 2013 Penyusun Ilma Fardhia v vi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL . Halaman i LEMBAR PENGESAHAN . ii LEMBAR PENGUJIAN . iii KATA PENGANTAR . iv RINGKASAN . vi ABSTRAK . viii DAFTAR ISI . x DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR . xiv DAFTAR LAMPIRAN . xii BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Rumusan Masalah. 3 1.3 Tujuan Penelitian . 3 1.4 Manfaat Penelitian . 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 4 2.1 Bakso . 4 2.1.1 Cara Mengolah Bakso . 5 2.1.2 Nilai Gizi Bakso . 7 2.1.3 Peggunaan Zat Adiktif Bakso . 8 2.1.4 Jenis- Jenis Pengawet . 9 2.2 Bahan Tambahan . 10 2.1.1 Bahan Tambahan yang dilarang digunakan dalam – makanan . 10 2.3 Boraks . 10 2.3.1 Organoleptis. 11 2.3.2 Fungsi Boraks . 11 2.3.3 Toksisitas Boraks . 12 2.3.4 Ciri-ciri Bakso mengandung Boraks . 13 2.3.5 Dampak Negatif bagi Tubuh . 14 viX vii 2.4 Metode Analisis . 15 2.4.1 Uji kualitatif Pengujian Boraks & Asam Borat dalam Pangan . 15 BAB III KERANGKA KONSEPTUAL . 21 3.1 Uraian Kerangka Konseptual . 21 3.2 Bagan Alir Kerangka Konseptual . 22 BAB IV METODE PENELITIAN . 23 4.1 Rancangan Penelitian . 23 4.2 Metode Sampling . 23 4.2.1 Lokasi Sampling . 23 4.2.2 Sampel . 24 4.3 Waktu Penelitian . 25 4.4 Bahan dan Alat . 26 4.4.1 Bahan . 26 4.4.2 Alat . 26 4.5 Prosedur Kerja. 26 4.5.1 Pembuatan Pereaksi . 26 4.5.2 Pembuatan Larutan Sampel untuk Uji Konfirmasi . 27 4.5.3 Pembuatan Larutan Pembanding. 27 4.1 Uji Kualitatif . 27 4.2 Uji Kontrol . 28 4.7.1 Uji Kontrol Positif . 28 4.7.2 Uji Kontrol Negatif . 28 4.3 Analisis Data . 28 BAB V HASIL PENELITIAN . 29 5.1 Teknik Sampling. 29 5.2 Analisis Kualitatif Boraks pada Bakso Daging Sapi . 29 5.2.1 Batasan Timbulnya Boraks pada Uji Kualitatif . 29 5.2.2 Uji Kertas Kunyit. 30 5.2.3 Uji Nyala Api. 30 5.3 Uji Kontrol Positif dan Negatif . 32 5.3.1 Uji Kontrol Positif . 31 xi vii viii 5.3.2 Uji Kontrol Negatif . 32 BAB VI PEMBAHASAN . 33 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN . 37 7.1 Kesimpulan . 37 7.2 Saran . 37 DAFTAR PUSTAKA . 38 LAMPIRAN . 41 viii xii ix DAFTAR TABEL Tabel Halaman IV.1 Tabel Data Sekolah Dasar di Kecamatan Bangil . 24 V.1 Batasan Timbulnya Boraks Pada Uji Kualitatif . 29 V.2 Hasil Pemeriksaan Uji Kertas Kunyit . 30 V.3 Hasil Pemeriksaan Uji Nyala Api . 30 V.4 Hasil Pemeriksaan Uji Kontrol Positif dan Negatif. 31 V.5 Hasil Pemeriksaan Uji Kontrol Positif . 32 V.6 Hasil Pemeriksaan Uji Konrol Negatif . 32 xiii ix x DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.2. Struktur Kimia Natrium Tetraborat . 11 3.2. Bagan Alir Kerangka Konseptual . 23 4.3. Peta Lokasi Sampling. 25 6.1. Struktur Kimia Asam Borat . 35 6.2. Struktur Kimia Kurkumin. . 35 6.3. Sruktur Kimia Rosocyanine. . 35 x xiv xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Daftar Riwayat Hidup . 44 2. Surat Pernyataan Bebas Plagiasi . 45 3. Hasil dan penimbangan bahan . 46 4. Foto sampel bakso daging sapi . 47 5. Foto batasan timbulnya boraks pada uji kualitatif . 48 6. Foto lokasi sampling . 49 7. Daftar Kertas Turmerik . 50 xi xv xii DAFTAR PUSTAKA Alexeyev, 1967. Qualitative Analysis. Moscow: MIR Pubishers. Anindita, Satya. 2003. Keamanan Pangan dan Nilai Gizi Bakso Pedagang Sektor Informal di Desa Babakan da Kelurahan Cibadak Bogor Selama Penjualan. Tesis, Institut Pertanian Bogor. Ardinan, 2010. Identifikasi Boraks Pada Bakso Yang Dijual Di Pasar Pucang Gading Kabupaten Demak. Tesis, Universitas Muhammadiyah Semarang. Ayurah, Githa. 2010. Dampak formalin terhadap kesehatan. Terdapat dalam http://githa.student.umm.ac.id/2010/07/02/dampak-formalin-terhadapkesehatan (diakses tanggal 7 November 2012). Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. 2009. Bakso Sehat. Warta penelitian dan pengembangan pertanian vol 31 No 6. Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2013. Ciri bakso mengandung boraks. Terdapat dalam http://www.pom.go.id/index.php/subsite/balai/palangka raya /18 /tips/17 (diakses tanggal 16 juli 2013) Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Diana dan Lip. 2009. Alam Sekitar IPA Terpadu. Departemen Pendidikan Nasional. Tempat terbit: Penerbit PT. Leuser Cita Pustaka. Dinkes Jombang. 2005. BORAX. Terdapat dalam http://www.jombangkab.go.id/ SatKerDa/page/1.2.6.2/borax.htm (diakses tanggal 10 November 2012). Harper, B., Gervais, J.A., Buhl, K., dan Stone, D. 2012. Boric Acid Technical Fact Sheet. national information center. Oregon state university extension service. Terdapat dalam http://npic.orst.edu/factsheets/borictech.pdf (diakses tanggal 10 November 2012). Hernyanti et al., 2006. Toksisitas Boraks Per Oral Terhadap Respon Imunologis, Gambaran Histologis, dan Enzimatis Hepar Mencit (Mus musculus L.). Laporan hasil penelitian. Universitas Jenderal Soedirman. Hermana. 1991. Iradiasi Pangan. Bandung: Penerbit Institut Teknologi Bandung. Horwitz, W. 2000. Official Methods of Analysis of AOAC International 17th ediotion. AOAC international , USA. Chapter 47, p 13. xii 38 xiii 39 Karina, M.B., Edi, S., dan Ristianto, U. 2010, Kualitas Bakso Daging Sapi Peranakan Ongole Yang Diberi Pakan Basal Tongkol Jagung Dan Undegraded Protein Dalam Complete Feed. Buletin Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada.Vol. 3 No.2, Hal: 103-113. Kusnadi at al., 2012. Daya Ikat Air, Tingkat Kekenyalan dan Kadar Protein pada Bakso Kombinasi Daging Sapi dan Daging Kelinc., Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. Vol.1 No.2, hal 28. Leni,H.A. 2008. Teknologi Pengawetan Panga. Bandung: Alfabeta. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1168/Menkes/Per/X/1999. tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan tentang Bahan Tambahan Makanan. Puspita, D., dan Rohima, I. 2009. Alam Sekitar IPA Terpadu. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Putra, A.N. 2009. Boraks dan Formalin pada Makanan. Terdapat dalam http://uwityangyoyo.wordpress.com/2009/10/09/%E2%80%9Cboraksdan-formalin-pada-makanan%E2%80%9D/(diakses tanggal 7 november 2012) Ramces, P. 2006. Sifat fisik, Kimia, dan Palatabiliras Bakso Daging Kerbau dengan Menggunakan Bagian Daging dan Taraf Tepung Tapioka yang Berbeda. Skripsi, Program Studi Teknologi hasil ternak Fakultas Peternakanan Lnstitut Pertanian Bogor. Roswita, S. 1992. Karakteristik Mutu Bakso Daging Sapi dan Pengaruh Penambahan Natrium klorida dan Natrium tripolifosfat Terhadap Perbaikan Mutu. Skripsi, Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Satya, A. 2003. Keamanan Pangan dan Nilai Gizi Bakso Pedagang Sektor Informal Di Desa Babakan dan Kelurahan Cibadak, Bogor, Selama Penjualan. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor . Setiadi, H. 2012. Tingkat Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Pedagang Bakso Terhadap Boraks Disekitar Wilayah Wirobrajan Yogyakarta. Terdapat dalam http://publikasi.umy.ac.id/index.php/penddokter/article/view/4227 (diakses tanggal 10 November 2012) Sri, S. 2006. Analisis Faktor-faktor Risiko Pencemaran Bahan Toksik Boraks dan Pewarna pada Makanan Jajanan Tradisional yang dijual di Pasar-pasar Kota Semarang Tahun 2006, Tesis Megister Lingkungan, Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang. xiii xiv 40 Standar Naional Indonesia. 1995. Bahan Tambahan Makanan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor:722/Menkes/Per/IX/88. Sugiyonno. 2011. Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta. Svehla, G, diterjemahkan oleh Ir.L.Setiono.1979. VOGEL, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, Bagian I dan II. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka. hal 367. Syah,D. 2005. Manfaat Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Falteta. Untoro at al., 2012. Kadar Air, Kekenyalan, Kadar Lemak dan Citarasa Bakso Daging Sapi dengan Penambahan Ikan Bandeng Presto (channos channos Forsk. Animal Agriculture journal, Vol.1 No.1, hal 567-583. U.S. Environmental Protection Agency, Office of Prevention, Pesticides, and Toxic Subtance, Health effect Division. 2006. Boric Acid/Sodium Borate Salts: HED Chapter of the Tolerance Reassement Elegibility Decision Document (TRED). Washington DC: US Govermant Printing Office. Yuliarti, N. 2007. Awas,Bahaya Dibalik Lezatnya Makanan. Yogyakarta: Penerbit Andi. Wisnu, C. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: PT Bumi Askara. WHO. 1998. International Programme on Chemical Safety. Geneva: World Health Organization. Winarno, F.G., dan Rahayu, T.S. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. xiv BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELKANG MASALAH kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAPI DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN BANGIL – PASURUAN LATAR BELKANG MASALAH PENDAHULUAN
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM BAKSO DAGING SAP..

Gratis

Feedback