Fenomena Enjo-Kosai Di Jepang Dewasa Ini

Gratis

16
127
65
2 years ago
Preview
Full text

FENOMENA ENJO-KOSAI DI JEPANG DEWASA INI

  

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera

Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu

Sastra Jepang

  

OLEH :

AGNES NATALIA PANDIANGAN

NIM : 110708049

  

DEPARTEMEN SASTRA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MED AN

2015

FENOMENA ENJO-KOSAI DI JEPANG DEWASA INI

  

SKRIPSI

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera

Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu

Sastra Jepang

  Pembimbing I, Pembimbing II, Prof. Drs. Hamzon Situmorang, MS,. Ph.D.Drs. Amin Sihombing NIP. 19580704 1984 12 1 001 NIP. 19600403 1991 03 1 001

  

DEPARTEMEN SASTRA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2015

  Disetujui Oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Medan, Oktober 2015 Departemen Sastra Jepang Ketua, Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum NIP. 19600919 198803 1 001

KATA PENGANTAR

  Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas anugerah- anugerahNyalah penyusunan skripsi berjudul “ Fenomena

  Enjo Kōsai di Jepang Dewasa

ini ” dapat terselesaikan tepat waktu. Penulisan skripsi ini juga ditulis untuk memenuhi

  persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan Departemen Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

  Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah member bantuan dan dukungan selama pembuatan skripsi ini, dari awal hingga akhir. Adapun ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada : 1.

  Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum, selaku Ketua Departemen Saatra Jepang Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Prof. Drs. Hamzon Situmorang, MS,.Ph.D, selaku Dosen Pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan dan saran kepada penulis.

  4. Bapak Drs. Amin Sihombing, selaku Dosen Pembimbing II, yang memberikan masukan dan perbaikan kepada penulis.

  5. Seluruh staff pengajar Departemen Sastra Jepang, yang telah banyak memberikan penulis masukan dan ilmu. Mulai dari tahun pertama hingga akhirnya dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Semoga semua ilmu yang diberikan bermanfaat bagi banyak orang.

  6. Teristimewa sekali, penulis sampaikan terima kasih kepada alm. papa, L.

  Pandiangan, yang semasa hidupnya selalu menyayangi penulis dan mengajarkan kebaikan kepada penulis. Terima kasih juga kepada mama, L. Siburian, yang sangat penulis sayangi. Terima kasih untuk semua kasih sayang, doa, kesabaran, dukungan semangat, keringat dan air mata, serta dukungan materil yang tak terhingga, demi kebahagiaan, pendidikan serta keberhasilan anak-anaknya. Semoga Tuhan Yesus senantiasa memberikan kesehatan, rezeki dan umur yang panjang kepada mama sehingga penulis akan dapat membahagiakan dan membalas semua kebaikan mama.

  7. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada abang, Yosua Paska Pandiangan dan adik, Christian Bernando Pandiangan, yang sangat penulis sayangi. Terima kasih untuk semua dukungan dan semangat yang kalian berikan kepada penulis.

  8. Dosen Penguji Ujian Seminar Proposal dan Penguji Ujian Skripsi, yang telah menyediakan waktu untuk membaca dan menguji skripsi ini.

  9. Teman-teman Sastra Jepang stambuk 2011; Jenny, Kristina, Lora, Agnes, Cindy, Romando dan semua-semuanya. Tak pernah terpikirkan penulis mendapatkan teman seperti kalian. Kenangan dan pengalaman indah kita bersama tak akan penulis lupakan. Maaf dan terima kasih.

  10. Terima kasih kepada Kak Desi, Kak Olivia, Kak Frisil, Kak Echa, Kak Liska yang sudah penulis anggap seperti kakak sendiri. Terima kasih atas dukungan dan masukannya kepada penulis dan maaf atas tingkah penulis yang selalu membuat kalian kesal.

  11. Serta kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah memberika bantuan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Tanpa penulis saari sangat banyak orang-orang yang ikut berperan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan kalian semua.

  Penulis menyadari aepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari isi maupun uraiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan kritik dan saran yang membangun. Akhir kata, semoga skripsi ini nantinya dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis, pembaca serta peneliti yang ingin meneliti

  

Enjo Kōsai lebih lanjut, khususnya mahasiswa/mahasiswi Jurusan Satra Jepang

Universitas Sumatera Utara.

  Medan, Oktober 2015 Penulis,

  Agnes Natalia Pandiangan

  DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………...i DAFTAR ISI .…………………………………………………………………...iv

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang Masalah ……………………………………1

  1.2 Perumusan Masalah ………………………………………...5

  1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ………………………….........7

  1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teo………………………7

  1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………...10

  1.6 Metode Penelitian …………………………………………..11

  BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ENJO-KOSAI DI JEPANG

  2.1 Pandangan Seksualitas orang Jepang …………………….13

  2.2 Fenomena Enjo-Kosai ……………………………………...15

  2.2.1 Kemunculan dan Perkembangan Enjo Kosai …..18

  2.2.2 Praktik Enjo Kosai oleh Remaja Jepang ………..25

  2.3 Faktor-faktor Penyebab Enjo-Kosai ………………………27

  2.4 Pandangan Masyarakat Jepang terhadap Enjo Kosai …...34

  

BAB III USAHA PENANGGULANGAN ENJO-KOSAI DI JEPANG DEWASA

INI

  3.1 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Keluarga .....37

  3.2 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Sekolah …....44

3.3 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Pemerintah..46

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

  4.1 Kesimpulan ………………………………………………51

  4.2 Saran ……………………………………………………..53 DAFTAR PUSTAKA ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya tidak lepas dari interaksi sosial dengan sesama manusia lainnya. Seiring dengan keseharian manusia yang terus berinteraksi, membentuk sebuah peradaban. Kemudian dari peradaban tersebut lahirlah berbagai bentuk kebudayaan yang kemudian memunculkan bermacam-macam fenomena.

  Menurut Ienaga Saburo dalam Situmorang (2009:2-3) menerangkan kebudayaan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas adalah seluruh cara hidup manusia (ningen no seikatsu no itonami kata). Ienaga menjelaskan bahwa kebudayaan ialah keseluruhan hal yang bukan alamiah. Sedangkan dalam arti sempit kebudayaan adalah terdiri dari ilmu pengetahuan, sistem kepercayaan dan seni, oleh karena itu Ienaga mengatakan kebudayaan dalam arti luas ialah segala sesuatu yang bersifat konkret yang diolah manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan kebudayaan dalam arti sempit ialah sama dengan budaya yang berisikan sesuatu yang tidak kentara atau yang bersifat semiotik.

  Dari kebudayaan yang memadukan ilmu pengetahuan, sistem kepercayaan dan seni tumbuhlah kejadian-kejadian baru dikalangan masyarakat yang disebut dengan fenomena budaya. Dalam pemahaman Edmund Husserl, ia menyatakan bahwa (zainabzilullah.wordpress.com/2013/01/20/pemikian-fenomenologi- menurut-edmund-husserl/) fenomenologi adalah suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman- pengalaman yang didapat secara langsung seperti religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Ia juga menyarankan fokus utama filsafat hendaknya tertuju kepada penyelidikan tentang Labenswelt (dunia kehidupan) atau Erlebnisse (kehidupan subjektif dan batiniah). Fenomenologi sebaiknya menekankan watak intensional kesadaran, dan tanpa mengandaikan praduga-praduga konseptual dari ilmu-ilmu empiris.

  Fenomenologi berusaha mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka intersubyektivitas (pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain) (Kuswarno, 2009 : 2)

  Jepang merupakan salah satu Negara maju di dunia. Selain memiliki kemajuan dalam bidang teknologi, industry dan ekonomi, Jepang pun dikenal nyata sebagai suatu tempat yang dipenuhi oleh orang-orang dengan berbagai perbedaan dan keunikan yang mengacu pada pemikiran barat. Masyarakat Jepang saat ini pun tidak sedikit yang mengambil unsur-unsur dari Budaya Barat dan menerapkannya pada kehidupan mereka. Meskipun tidak sedikit pula yang tetap mempertahankan kebudayaan aslinya. Akibat dari kemajuan itu maka terjadilah modernisasi di Jepang, baik yang berdampak positif maupun negatif. Dampak positif akibat terjadinya modernisasi ialah kemajuan teknologi, industri serta perekonomian. Sedangkan salah satu dampak negatif dari modernisasi adalah merebaknya paham konsumerisme yang melanda para remaja. Sejak dulu masalah

  

konsumerisme,fashion, dan prostitusi tidak pernah habis dibahas dalam kehidupan

orang Jepang.

  Seiring dengan berkembangnya budaya pop (popular) menjadikan Jepang sebagai salah satu Negara konsumer fashion terbesar. Kehidupan para remaja kota besar Jepang yang identik dengan keglamouran, mengakibatkan kecenderungan untuk konsumtif dalam memenuhi kebutuhan yang mendukung eksistensi mereka tetap dilihat. Membeli barang-barang berlabel terkenal merupakan sesuatu hal yang dianggap perlu dilakukan. Ditunjang dengan pesatnya kemajuan teknologi, para remaja pun kerap berganti-ganti telepon genggam yang memiliki fitur-fitur yang lebih maju. Tidak hanya telepon genggam saja, notebook, peralatan software dan video game pun sudah menjadi hal yang wajib dimiliki. Para remaja kini mulai mencari identitasnya di sekolah dan di luar rumah.

  Seperti halnya Negara maju lainnya, Jepang pun banyak mengalami fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat apalagi dikalangan remaja. Trend dan gaya hidup berputar sangat cepat sehingga menimbulkan hal-hal baru yang membuat orang sekitar menjadi gagap budaya.

  Suasana gagap budaya itu menimbulkan suatu keadaan yang nantinya mampu menimbulkan persepsi yang berbeda tentang penyimpangan perilaku. Salah satunya penyimpangan hubungan seks yang terjadi diluar pernikahan yang dilakukan oleh remaja Jepang atau lebih dikenal dengan istilah

  Enjo Kōsai.

  Kata

  Enjo Kōsai (援助交際) sendiri menurut kamus Matsuura Kenji

  adalah pergaulan saling membantu. Tetapi ternyata kata

  Enjo Kōsai (援助交際) mempunyai arti lain di dalam kehidupan masyarakat Jepang.

  Enjo Kōsai (援助交

  際) adalah kegiatan atau praktek yang dilakukan oleh para remaja putri yang dibayar oleh laki-laki tengah umur dengan menemani mereka berkencan ataupun sampai berhubungan seks untuk mendapatkan imbalan berupa uang ataupun barang-barang bermerk. (Jamie Smith, 1998 : para.7). Sebenarnya ini bukan merupakan masalah baru di Jepang. Pada tahun 1973, di era pemerintahan Shogun Tokugawa, pemerintah melegalkan untuk menjual anak perempuan mereka ke dalam prostitusi. Akan tetapi hal itu mereka lakukan untuk mencari uang supaya keluarganya dapat bertahan hidup (Garon Sheldon, 1993 : 710). Berbeda halnya dengan

  Enjo Kōsai, anak remaja yang terlibat dalam Enjo Kōsai sebagian besar

  tidak mempunyai kesulitan dalam bidang ekonomi. Mereka melakukan hal itu hanya untuk mendapatkan banyak uang saja dan tidak ada yang salah dengan melakukan Enjo Kōsai (Ben Hills, 1996 : 11).

  Bila kita membicarakan

  Enjo Kōsai maka kita tidak akan lepas dengan

  gadis remaja Jepang yang disebut dengan Kogyaru atau Kogals (Jamie Smith 1998, para.7). Etimilogis dari kata Kogals adalah Koukou ( 高校 ) yang berarti sekolah menengah umum ( SMU ) tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Ko dari kata Kogyaru adalah Ko ( 子 ) yang berarti anak, sedangkan kata Gals berasal dari saluran bahasa Inggris (slank) yang berarti perempuan. Kogals atau Kogyaru identik dengan fashion yang menjadi dasar identitas para remaja. Kogals mudah dikenali karena mereka umumnya mengenakan pakaian yang unik seperti memakai sepatu boot yang tinggi atau hak sepatu yang tebal, rok mini, dan tidak sedikit yang memakai tata rias wajah yang menarik perhatian. Selain itu mereka umumnya mewarnai rambut mereka dengan warna pirang atau blond. (Kyoko Fujitani, 2000 : 22) Banyak yang mengkritik keberadaan Kogyaru karena tidak sedikit dari mereka yang terlibat dengan

  Enjo Kōsai untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka.

  Enjo Kōsai merupakan suatu fenomena sosial menarik. Disamping karena

  pelakunya adalah remaja sekolah dengan klien yang rata-rata berusia paruh baya, para gadis yang melakukan

  Enjo Kōsai menjual tubuhnya dengan sukarela tanpa

  paksaan atau dorongan dari apapun atau siapapun. Keberadaan

  Enjo Kōsai ini juga berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat Jepang dewasa ini.

  Tentunya

  Enjo Kōsai ini memiliki pengaruh positif dan negatif bagi pelaku

  maupun masyarakat. Dimulai dari pengaruh terhadap diri sendiri, dilihat dari segi negatif, pelaku akan di kucilkan dalam pergaulan di masyarakat, pandangan masyarakat yang menilai bahwa pelaku

  Enjo Kōsai ini merupakan jamur yang

  merusak pergaulan remaja Jepang, sedangkan pengaruh positifnya bagi si pelaku ialah dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk gaya hidup konsumtif. Dan karena kepopuleran fenomena

  Enjo Kōsai ini, Enjo Kōsai banyak diangkat kedalam dunia sastra, film dan dokumentasi di Jepang.

  Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk menganalisis tentang fenomena

  Enjo Kōsai lebih lanjut dikarenakan Enjo Kōsai yang sifatnya

  menyebar dan tidak terorganisir ini, telah menjadi suatu fenomena di kalangan remaja Jepang dan penulis menuangkannya dalam penulisan skripsi yang diberi judul

  “Fenomena Enjo Kōsai di Jepang Dewasa Ini”

1.2 Perumusan Masalah

  Fenomena

  Enjo Kōsai kini menjamur dan mulai meluas di kalangan

  masyarakat Jepang terutama di daerah ibukota. Banyak faktor yang mempengaruhi remaja putri memilih menjadi seorang pelaku

  Enjo Kōsai. Sekelompok remaja usia sekolah mengenakan barang-barang bermerk, berdandan mencolok, berambut pirang atau blond lalu menjajakan dirinya kepada lelaki berusia paruh baya untuk memperoleh barang-barang mahal yang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari mereka. Dalam Kompas Online (30 November 1997) sebagian gadis-gadis remaja menemukan kedamaian di tere-kura atau klub telepon. Tere-kura inilah yang mempertemukan laki-laki dengan wanita melalu telepon. Pria yang diteleponnya apapun maksud sesungguhnya dengan sabar mendengar cerita dari gadis-gadis, hingga akhirnya mereka bertemu muka.

  Sewaktu pertama kali melakukan

  Enjo Kōsai mereka hanya menemani makan

  atau bernyanyi di karoke saja. Dari sini mereka mendapat imbalan. Tentu saja pengalaman ini membuat mereka merasa dapat mencari uang dengan mudah.

  Mereka lalu menyadari bahwa dirinya mempunyai nilai komersial, dan tidak keberatan lagi melakukan kencan dengan laki-laki demi mendapatkan uang. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kuat remaja putri memilih melakukan Enjo

  

Kōsai. Tempat kencan mereka pun tidak lagi hanya restoran dan karoke saja tetapi

  juga love hotel. Fenomena Enjo Kōsai ini sudah menjadi salah satu masalah yang dihadapi Negara Jepang saat ini. Jika hal ini terus berlanjut, maka dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi si pelaku, lingkungan masyarakat maupun pemerintah. Maka dari itu diperlukan upaya pencegahan untuk mengurangi praktik

  Enjo Kōsai ini baik dari keluarga, sekolah maupun pemerintah Jepang sendiri.

  Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mengangkat permasalahan dalam bentuk pertanyaan yang akan dibahas pada skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Apa faktor penyebab terjadinya praktik Enjo Kōsai di Jepang?

2. Bagaimana usaha penanggulangan praktik Enjo Kōsai di Jepang?

  1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

  Dalam setiap penelitian diperlukan adanya pembatasan masalah agar pembahasannya tidak terlalu melebar sehingga menyulitkan pembaca untuk memahami pokok permasalahan yang dibahas. Dalam penulisan skripsi ini, penulis mencoba membahas fenomena

  Enjo Kōsai di Jepang khususnya upaya

  yang dilakukan untuk menanggulangi masalah Enjo Kōsai di Jepang.

  Dan untuk mendukung pembahasan ini, penulis juga akan membahas mengenai asal usul dan perkembangan

  Enjo Kōsai di Jepang, praktik-praktik Enjo

Kōsai di Jepang serta faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya

  praktik Enjo Kōsai di Jepang.

  1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

1. Tinjauan Pustaka

  Setiap kebudayaan yang tercipta akan melahirkan budaya baru dan menghasilkan fenomena. Dewasa ini dimana aktivitas, teknologi dan media semakin canggih juga menimbulkan berbagai macam fenomena di kalangan masyarakat yang dihasilkan melalui dampak berkembangnya kehidupan masyarakat.

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fenomena diartikan sebagai hal-hal yang dinikmati oleh panca indra dan dapat ditinjau secara ilmiah.

  

Enjo Kōsai sendiri sebenarnya adalah hubungan saling membantu (Matsuura

  Kenji : 165), tetapi kini

  Enjo Kōsai mempunyai arti lain dikalangan masyarakat Jepang. Enjo Kōsai adalah kegiatan atau praktek yang dilakukan oleh remaja putri

  yang dibayar oleh laki-laki tengah umur dengan menemani mereka berkencan ataupun sampai berhubungan seks kemudian remaja putri tersebut akan mendapatkan imbalan berupa uang ataupun barang-barang bermerk yang mereka inginkan. (Jamie Smith, 1998 : para.7).

2. Kerangka Teori

  Dalam pengerjaan penelitian ini, penulis menggunakan pendeketan penelitian fenomenologi. Fenomenologi berusaha mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep penting dalam kerangka intersubyektivitas ( pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain) (Kuswarno, 2009 : 2)

  Penulis berpendapat, teori Fenomenologi diatas ialah setiap manusia membutuhkan saling berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Karena kesuksesaan suatu kelompok juga didasarkan karena hubungannya dengan satu sama lainnya. Interaksi yang dilakukan pelaku

  Enjo Kōsai dengan pelanggannya

  merupakan interaksi yang membentuk suatu kelompok manusia yang saling menguntungkan satu sama lain melalui proses kerjasama dengan memanfaatkan situasi yang berkembang pada zaman dewasa ini. Kurangnya komunikasi antar manusia saat ini menyebabkan munculnya fenomena baru termasuk fenomena

  

Enjo Kōsai yang akhirnya membentuk lingkungan baru yang dibentuk oleh

  hubungan gadis remaja sebagai pelaku Enjo Kōsai dengan pelanggannya.

  Agar dapat menjelaskan kasus Enjo Kosai, penulis juga menggunakan pendekatan sosiologis untuk meneliti

  Enjo Kōsai yang terjadi di Jepang. Sosiologi

  adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat tidak sebagai individu yang terlepas dari kehidupan masyarakat. Fokus bahasan sosiologi adalah interaksi manusia, yaitu pengaruh timbal balik di antara dua orang atau lebih dalam perasaan, sikap, dan tindakan. Ruang kajiannya dapat berupa masyarakat, komunitas, keluarga, perubahan gaya hidup, struktur, mobilitas sosial, gender, interaksi sosial, perubahan sosial, perlawanan sosial, konflik, integrasi sosial, norma dan sebagainya (Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2004:3-4). Tujuan penelitian ini adalah memahami arti subjektif dari perilaku sosial, bukan semata-mata menyelidiki arti objektifnya.

  Konsumerisme menurut Wikipedia Free Encylopedia (2005) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh menyamakan kebahagiaan pribadi dengan membeli barang untuk dimiliki. Menurut Miles dalam Wikipedia Free Encylopedia (2005) suatu kultur yang mengandung tingkat konsumerisme yang tinggi disebut sebagai budaya konsumtif, yaitu dorongan yang kuat untuk membeli barang yang bukan merupakan kebutuhan primer demi mempertahankan prestise atau sekedar mengikuti trend mode. Konsumerisme menyebabkan semua orang melawan dirinya sendiri terhadap permintaan yang tidak pernah berakhir untuk pencapaian barang-barang material atau dunia khayalan itu menjadi nyata dengan membeli barang-barang tersebut, seperti: bedah plastik, make-up,

  

fashionable dan sebagainya merupakan sebagai suatu contoh dimana orang-orang

  mengubah diri mereka menjadi alat konsumsi manusia. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya para gadis remaja pelaku

  Enjo Kōsai sebagian besar adalah

  

Kogyaru. Diluar seragam sekolah Kogyaru dapat dikenali dengan fashion trendi

  seperti sepatu boot, rok pendek, make-up yang berlebihan, pewarnaan rambut, tas mahal dan berkumpul di sekitar stasiun, tempat-tempat karaoke, toko makanan

  

frenchies, dan departemen store (Kyoko Fujitani, 2000 : 22). Mereka sangat

  menyukai barang-barang bermerk terkenal seperti Channel dan Louis Vuittion, dan hampir semua fashion mereka memiliki merk-merk nomor satu tersebut.

  

Kogyaru tidak pernah puas dengan merk-merk yang telah mereka miliki dan terus

  mencari merk-merk baru yang sedang trendy. Dan untuk membeli barang-barang bermerk tersebut maka para gadis remaja ini harus memiliki banyak uang. Dan akhirnya mereka melakukan praktik

  Enjo Kōsai. Karena alasan tersebut maka

  penulis menggunakan teori Konsumerisme juga dalam penelitian karena sifat konsumerisme yang dimiliki para gadis remaja inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab gadis remaja melakukan Enjo Kōsai.

1.5 Tujuan Penelitan dan Manfaat Penelitian.

  1. Tujuan Penelitian

  Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya praktik Enjo Kōsai di Jepang.

  2. Untuk mengetahui usaha penanggulangan praktik Enjo Kōsai di Jepang.

  2. Manfaat Penelitian

  1. Menambah wawasan penulis dan pembaca mengenai Fenomena Enjo Kōsai di Jepang.

  2. Bagi para pembaca, penelitian ini juga dapat dijadikan sumber ide dan tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti Enjo

  Kōsai lebih jauh.

1.6 Metode Penelitian

  Metode ialah merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah langkah yang sistematik untuk mengumpulkan data dengan metode atau teknik tertentu guna,menari jawaban atas permasalahan yang ada (Sinaga dkk;1997:2). Sedangkan menurut Siswantoro (2005:55) metode penelitian dapat diartikan seebagai prosedur atau tatacara yang sistematis yang dilakukan seorang peneliti dalam upaya mencapai tujuan seperti memecahkan masalah atau menguak kebenaran atas fenomena tertentu.

  Metode penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan suatu gejala sosial tertentu (Bungin, 2001). Menurut Koentjaraningrat (1976:30) bahwa penelitian yang bersifat deskriptif adalah memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu.

  Penelitian ini dilakukan dengan mengamati objek masalah yang terjadi, kemudian mengumpulkan data berdasarkan fakta-fakta yang ada, kemudian mengembangkan data yang telah didapat sesuai dengan informasi dan data yang sesuai dan berhubungan dengan masalah dalam skripsi ini. Data-data yang berhubungan dan dibutuhkan dalam penelitian ini didapat dan dikumpulkan melalui metode Penelitian Kepustakaan atau Library Research. Menurut Nasution (1996 : 14), metode kepustakaan atau Library Research adalah mengumpulkan data dan membaca referensi yang berkaitan dengan topik permasalahan yang dipilih penulis. Kemudian merangkainya menjadi suatu informasi yang mendukung penulisan skripsi ini. Studi kepustakaan merupakan aktivitas yang sangat penting dalam kegiatan penelitian yang dilakukan. Beberapa aspek yang perlu dicari dan diteliti meliputi : masalah, teori, konssep, kesimpulan serta saran.

  Metode kepustakaan merupakan metode yang mengutamakan pengumpulan data dari beberapa buku atau referensi yang berkaitan dengan pembahasan untuk mencapai tujuan penelitian.

  Data dihimpun dari berbagai literatur buku yang berhubungan dengan masalah penelitian. Survey book dilakukan diberbagai perpustakaan,seperti : Perpustakaan Jurusan Sastra Jepang USU, Perpustakaan USU, dan beberapa perpustakaan lainnya. Sementara Documentary Research dilakukan dengan menghimpun data yang bersumber dari internet seperti Google Book maupun

  

blog-blog yang membahas mengenai permasalahan yang berkaitan dengan judul

penelitian ini.

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG ENJO KOSAI DI JEPANG

2.1 Pandangan Seksualitas Orang Jepang

  Di Jepang sudah lazim melakukan seks tanpa ikatan pernikahan. Seks bukan hal baru lagi bagi masyarakat Jepang. Di Jepang kita masih menemukan istilah dekichatta kekkon, yaitu pernikahan karena si perempuan terlanjur hamil. Anak-anak muda Jepang memang sudah menganggap hubungan seks diluar nikah sebagai hal yang lumrah.

  Seringkali remaja Jepang dipandang sebagai sosok yang manis, lugu, serius yang selalu berkutat dengan pekerjaan rumah dan belajar, bahkan ada juga pandangan yang menganggap mereka tidak aktif dalam hal seksualitas. Tercatat pada tahun 1993, 87% dari remaja putri Jepang yang sudah aktif dengan seks sejak umur 15 tahun dan telah melakukan masturbasi lebih dari 2 kali dalam seminggu disamping dengan melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya.

  Hal ini disebabkan karena bagi remaja Jepang, seks dipandang sebagai suatu tantangan, bukan sebagai aspek yang mendukung keharmonisan suatu hubungan. ( White, 1993 : 172 )

  Keterbukaan dan kebebasan perilaku seks remaja Jepang tentunya tidak lepas dari informasi seputar seks yang mereka dapatkan. Peran media massa juga tak dapat diabaikan dalam kehidupan masyarakat Jepang, terutama remaja, karena media massa menjadikan hal ini sebagai target pemasarannya. Melalui media berupa komik-komik porno yang disebut eromanga, terekura dan juga dari majalah-majalah para remaja mendapatkan informasi mengenai seks. Pada tahun 1989 tercatat dari 1,9 milyar komik yang beredar, 474 juta diantaranya berisi mengenai seks. Baik komik maupun majalah isinya lebih menekankan pada praktek melakukan hubungan intim daripada pendidikan dan pengetahuan mengenai perilaku dan konsekuensi dari hubungan intim itu.

  Yasou Higashi dari Kobe menyatakan bahwa di Jepang, seks dan kedewasaan tidaklah saling berhubungan seperti di Amerika Serikat. Berbeda dengan remaja Amerika yang memandang hubungan intim sebagai langkah besar dalam perkembangan kedewasaan dan hubungan mereka, sedangkan bagi remaja Jepang menjadi aktif dalam hubungan seksual bukan berarti menjadi dewasa ( White, 1993 : 193 ).

  Maraknya industri-industri seks atau bisnis hiburan malam di Jepang juga membuat masyarakat Jepang tidak terlalu mempermasalahkan masalah kebutuhan seks mereka. Ketika mereka merasa mereka ingin berhubungan seks mereka bisa langsung pergi ke industri-industri seks.

  Melihat maraknya media yang memproduksi hal-hal yang berisikan tentang seks diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jepang memandang seksualitas dengan bebas. Kebebasan berhubungan seks bukan lagi hal baru bagi masyarakat Jepang.

2.2 Fenomena

  Enjo Kōsai

  Fenomena

  Enjo Kōsai banyak diangkat sebagai topik dalam berbagai

  media informasi seperti komik, majalah, acara bincang-bincang di televisi dan film pada awal tahun 1990-an. Berdasarkan komponen pembentukannya, Enjo

  

Kōsai terdiri dari dua kata, yaitu Enjo ( 援助 ) dan Kōsai ( 交際 ). Enjo yang

  berarti ‘sokongan’ atau ‘bantuan’sedangkan

  Kōsai berarti ‘pergaulan’. Sehingga

  jika diterjemahkan secara harafiah kedalam Bahasa Indonesia,

  Enjo Kōsai berarti

  ‘pergaulan bantuan/sokongan’. Istilah

  Enjo Kōsai ini pertama kali disebutkan

  dalam surat kabar harian Yomiuri Shinbun pada tahun 1994 ketika mengungkapkan fenomena terlibatnya remaja dalam prostitusi ( Leheny 2006 : 73 ). Sejak saat itu pula muncul banyak perdebatan pendapat mengenai penggunaan istilah tersebut dan assosiasinya dengan prostitusi. Banyak yang mempertanyakan apakah

  Enjo Kōsai ini sama dengan prostitusi atau tidak. Untuk memperjelas

  pemahaman terhadap fenomena

  Enjo Kōsai ini, pertama-tama kita akan melihat

  arti istilah Enjo Kōsai menurut beberapa sumber.

  Thollar dalam (Liska, 2011 : 24) menyatakan bahwa

  Enjo Kōsai

  merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena siswi sekolah (terutama yang berusia 13-19 tahun) menjual waktu dan tubuh mereka pada pria dewasa. Dalam bahasa Inggris, kita dapat menemukan penggunaan istilah supportive relationship, paid escort, paid dating, subsidied dating,

  

assisting relations, supportive exchange, subsidized socialicing, teenage

prostitution untuk menggambarkan fenomena tersebut. Compased

  

datingmerupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam tulisan berbahasa

  Inggris yang mengangkat topik Enjo Kōsai.

  Dalam laporan penelitian yang diadakan oleh Asosoasi Pendidikan Psikologi Jepang dibawah pimpinan Mamoru Fukutomi dengan di sponsori oleh

  

The Asian Women’s Fund (AWF) pada bulan Oktober 1997 di Tokyo (Sakuraba,

  2001 : 167),

  Enjo Kōsai diartikan sebagai berikut : “Melakukan serangkaian kegiatan seksual sebagai bentuk pertukaran dengan uang atau barang”.

  Sedangkan menurut Koujien dalam (Liska, 2011 : 25 ),

  Enjo Kōsai

  memiliki arti seperti yang dikutip dibawah ini. “Suatu pergaulan yang menjadikan tunjangan atau bantuan finansial sebagai upahnya, khususnya merupakan suatu istilah yang secara implisit mengandung makna prostitusi yang dilakukan oleh para remaja putri dengan tujuan uang”.

  Melalui uraian di atas, kita dapat melihat bahwa ada pendapat-pendapat yang menilai

  Enjo Kōsai sebagai salah satu bentuk prostitusi, termasuk berasal

  dari masyarakat Jepang sendiri. Sehingga, istilah “pergaulan bantuan/sokongan” pun tidak dapat menggambarkan fenomena ini dengan tepat dalam Bahasa Indonesia. Menurut para konservatif di Jepang yang memandang

  Enjo Kōsai

  sebagai suatu bentuk prostitusi,

  Enjo Kōsai tetap harus disebut sebagai prostitusi jika diterjemahkan dalam bahasa asing.

  Istilah prostitusi dalam standar definisi sosiologi, seperti yang diungkapkan oleh A. Jordan, dapat diartiakan sebagai transaksi layanan seksual yang dilakukan tanpa perasaan cinta dan tanpa paksaan antara dua orang dewasa yang saling sepakat. Sedangkan masyarakat awam mengartikan prostitusi secara sederhana sebagai transaksi komersial berupa pertukaran antara uang dan seks. Dalam perspektif umum, orang yang melakukan prostitusi ini adalah wanita, dilakukan secara heteroseksual, bayaran transaksi ini dilakukan dengan uang tunai dan transaksi dilakukan secara fisik tanpa melibatkan perasaan satu sama lain.

  Adanya kemiripan definisi antara

  Enjo Kōsai dan prostitusi mendorong

  banyak orang mengartikan

  Enjo Kōsai sebagai prostitusi. Namun, fenomena yang

  direpresentasikan oleh istilah

  Enjo Kōsai ini sendiri tidak dapat dimengerti

  sebagaimana yang tergambar dalam pandangan masyarakat umum. Ketika melakukan

  Enjo Kōsai, mungkin saja para pelakunya langsung melakukan

  hubungan intim di hotel, tetapi tidak jarang pula sekedar mengobrol di restoran atau kafe ataupun menonton film di bioskop. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Pendidikan Psikologi Jepang pada tahun 1997 di Tokyo, didapati bahwa 23% dari pelaku

  Enjo Kōsai melakukan hubungan intim, 23% lainnya

  melakukan kontak fisik lain seperti berciuman dan seks oral, sedangkan 48% sekedar menemani dannanya (yang berarti sponsor atau tuan) mengobrol, makan, dan minum (Sakuraba, 2001 : 168)

  Hal tersebut berarti bahwa tidak semua remaja putri yang melakukan praktik

  Enjo Kōsai melakukan hubungan intim dengan pria yang menjadi

  rekannya. Walaupun para danna ini kerap memberikan uang tunai (umumnya sekitar 30.000-60.000 yen) sebagai balasannya, tidak sedikit juga yang memberikan hadiah berupa barang-barang mahal dan bermerk terkenal (Liska, 2011 : 26). Dengan demikian, dalam prostitusi terjadi transaksi komersial antara uang dan seks, sedangkan dalam

  Enjo Kōsai transaksi yang berlangsung tidak selalu antara uang dan seks.

2.2.1 Kemunculan dan Perkembangan Enjo Kōsai

A. Terekura Sebagai Titik Mula Enjo Kōsai.

  Berasal dari kata bahasa Inggris, telephone club. Penggunaan kata terehon-

  

kurabu kemudian disingkat menjadi terekura merupakan suatu toko atau tempat

yang menjadi perantara untuk mengobrol dengan wanita melalui telepon.

  Tergantung pada bagaimana isi obrolan yang dilakukan, penelepon dapat membuat janji uantuk bertemu, berkenan bahkan melakukan hubungan seksual dengan wanita tersebut. Banyak terekura terletak di sekitar sekolah dan pintu masuknya sering kali ditempeli gambar siswi SMA.

  Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa bisnis ini pertama kali dibuka di seluruh Jepang pada tahun 1985 oleh Kobayashi Tomomi di Shinjuku dengan nama “Atelier Keyhole”, ada juga yang menyatakan dibuka di musim gugur tahun yang sama dengan nama “Tokyo 12 Channel”.

  Bagaimanapun asal-usulnya, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan promosi yang gencar melalui penyebaran poster di berbagai tempa seperti tiang listrik dan kotak telepon umum, terekura menjadi sangat populer pada tahun 1990-an terutama dikalangan remaja. Banyak remaja yang menyatakan bahwa mereka mengenal terekura melalui selebaran dan tisu gratis yang dibagikan di sekitar sekolah dan stasiun.

  Oleh karena penggunaan layanan ini tidak membutuhkan nama maupun identitas, siapapun termasuk para remaja dapat menggunakannya dengan bebas.

  Dalam tulisannya Schoolgirl Prostitution and Compased Dates mengungkapkan bahwa studi yang diadakan oleh Persatuan Orangtua Murid dan Guru Seluruh Jepang pada pertengahan tahun 1990 mendapati 25% dari 2.200 orang siswi SMA pernah menggunakan terekura setidaknya sekali. Sedangkan tahun 1995, terdapat lebih dari 30% pelajar putri tahun kedua dan ketiga SMP (berusia 13-15 tahun) yang pernah menggunakan terekura (Lawless, 2008 : 83). Mudahnya cara menggunakannya telah menjadikan terekura sebagai titik mula kemunculan Enjo Kōsai oleh kaum remaja di Jepang.

  Hays mengatakan dalam data statistik yang diperoleh oleh Agen Kepolisian Nasional Jepang pada tahun 1995 disebutkan bahwa jumlah remaja putri yang terlibat sebagai pelaku

  Enjo Kōsaidengan modus terekura atau sejenisnya adalah 5.841 dan 25% dari mereka masih duduk dibangku SMP.

  Selanjutnya pada tahun 1996, survei yang dilakukan oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo terhadap 110 orang remaja putri menyatakan bahwa sekitar 4% remaja yang duduk di bangku SMA dan 3,8% remaja putri yang duduk di bangku SMP pernah menggunakan layanan terekura untuk mengikuti

  Enjo Kōsai.

  Angka ini dinyatakan naik setiap tahunnya (Liska, 2011 :28) B. Kemunculan “Terekura-terekura” Lainnya.

  Dalam perkembangan sarana-sarana Enjo Kōsai, muncul beberapa tempat yang menyerupai terekura, salah satunya adalah kafe kencan atau deto-kafe. Di tempat ini, pria dan wanita memasuki ruangan yang berbeda dan para pria mengamati para wanita melalui cermin dua arah. Jika pria tersebut melihat seorang wanita yang menarik baginya, ia dapat meminta dengan bayaran 2000 yen pada pihak kafe untuk mengobrol dengan wanita tersebut. Pria tersebut akan memberikan bayaran khusus pada wanita yang bersedia pegi bersamanya dan sekitar 8000 yen pada kafe itu. Kafe-kafe ini biasanya memiliki tanda di luar tokonya yag berbunyi, “Kafe kopi dan komik, gratis biaya masuk bagi wanita” dan tanda lain seperti, “Kami menyambut wanita berusia 16 tahun ke atas”. Para wanita ini diberikan makanan, minuman dan perawatan kuku gratis. Beberapa kafe menempelkan larangan masuk bagi perempuan yang berusia di bawah 18 tahun. Akan tetapi, pada kenyataanya tidak ada tanda-tanda kafe ini mencegah perempuan yang berusia di bawah 18 tahun masuk ke dalam kafe.

  Kemunculan berbagai sarana

  Enjo Kōsailainnya seiring dengan

  menyebarnya media informasi komunikasi membuat jumlah terekura semakin berkurang. Hal tersebut seperti yang dikutip dari Dbpedia berikut ini : sekarang ini (terekura) menurun sebagai dampak menyebarnya situs-situs kencan yang diakses dengan menggunakan personal computer dan telepon genggam Walaupun demikian, jumlah layanan pesan suara komersial dan bisnis lain yang berkaitan dengan pelayanan seksual dinyatakan terus meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 900 unit pada tahun 1992, 2.164 unit pada tahun 1995 dan pada tahun berikutnya menjadi 2200 unit. Unit-unit pelayanan seksual tersebut tidak lagi berwujud toko seperti terekura dan telah menggunakan media informasi dan komunikasi yang lebih canggih, seperti internet. Mendukung hal tersebut, Schreiber menyatakan bahwa banyak bisnis berorientasi seksual, termasuk terekura, yang menggunakan berbagai teknologi informasi komunikasi baru untuk melakukan perdagangan seksual, misalnya dengan membuat situs jejaring dalam internet yang dapat diakses melalui telepon genggam Terekura modern menyediakan layanan penyimpanan pesan suara, yang digunakan untuk menjual celana dalam atau stocking, dan telepon dengan pesan bergambar atau disertai dengan video call

  Salah satu sarana

  Enjo Kōsaiyang terkenal adalah dengon daiyaru (伝言ダ

  イ ヤ ル ). Dengon-daiyaru ini merupakan layanan telepon berbayar yang digunakan untuk menelepon dan mengirimkan pesan di rumah-rumah (Kuronuma, 1996 : 29). Dengon daiyaru ini menawarkan beberapa bentuk program dengan tariff yang berbeda-beda. Dengon sabisu adalah program bertarif 100 yen per menit untuk bertukaran pesan dengan pengguna wanita, sedangkan tsuushotto (two shot) sabisu digunakan untuk mengobrol langsung dengan tarif 150 yen per menit. Dengon daiyaru hanya dapat diakses melalui telepon rumah saja dan ketentuan tarif tersebut hanya berlaku pada pengguna pria. Sedangkan untuk pengguna wanita, terdapat program free dial yang berarti program tersebut dapat digunakan tanpa dikenakan biaya apapun. Kuronuma menjelaskan tahap-tahap penggunaan layanan ini sebagai berikut :

  Dengarkan pesan suara di kotak pesan umum → berminat pada pesan dari

  A → kirimkan pesan langsug ke kotak pesan pribadi A → balasan dari A langsung ke kotak pribadi

  → saling kirim pesan (berkomunikasi) Jika komunikasi berjalan lancar, sama seperti terekura, mereka dapat membuat janji untuk bertemu muka. Informasi tentang daiyon daiyaru ini sangat banyak ditemukan terutama di dalam majalah porno, baik majalah khusus pria maupun wanita. Berbagai informasi ini umumnya dituliskan dalam kalimat-kalimat yang menantang, mengundang rasa ingin tahu dan membentuk fantasi tertentu, seperti kutipan dibawah ini (Kuronuma 1996 : 51-52) :

  Majalah pria : “Pusat belanja hasrat pria : pilih dan bicara,langsung bisa!” ; “Anda bisa bertemu! Langsung terjadi! Kepuasan besar hasrat terselubung anda!” ; “Dari 1.500.000 tisu yang dibagikan di jalan tiap bulan, dari iklan yang dipasang di 65 komik wanita: pilih sesuka hati anda dari kogal, office lady, ibu rumah tangga dan siswi bimbingan belajar”.

  Majalah wanita : “Mari bersenang-senang dengan dengon! Mari dapatkan hadiahnya!” ; “Dengan satu kali telepon, drama pun dimulai!” ; “Pertemuan dimulai dari keberanianmu!” ; “Mari temukan wanita yang tersembunyi dalam dirimu!” ; “pilihan ada ditanganmu” ; “Sebentar lagi kamu pun akan mengalami kisah cinta dunia dewasa”. Selain yang disebutkan di atas, Dial Q2 (dibaca : kyu kyu) yang ditawarkan oleh NTT menjadi salah satu sarana yang sangat banyak digunakan untuk melakukan

  Enjo Kōsaisetelah kemunculannya pada tahun 1990. Layanan

  ini merupakan layanan dengon daiyaru dengan program tsuushotto (two shot)yang sudah mengalami inovasi, yaitu dapat diakses dengan menggunakan telepon genggam. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, Dial Q2 berkembang menjadi dapat digunakan dengan komputer, telepon genggam dan internet. Para remaja putri dapat menemukan orang-orang yang bersedia melakukan

  Enjo Kōsaidi berbagai situs kencan dengan mudah melalui layanan ini

  (http://www.ntt-east.co.jp/) C. Contoh Penggunaan Terekura oleh Para Remaja Putri.

  Berikut ini adalah beberapa contoh penggunaan terekura sebagai sarana untuk melakukan

  Enjo Kōsaioleh remaja putri. ( Miyadai, 1994 : 117-119 )

  • Halo, saya seorang siswi kelas 3 SMA, dan berniat melakukan

  Enjo Kōsai. Bagi anda yang bekesempatan datang ke Ikebukuro pada hari rabu tanggal 4 Mei jam 6 sore, tolong hubungi saya ya.

  Pembayaran sekita 50.000 yen, dan bila ingin melakukan hubungan intim gunakanlah pelindung. Saya menantikan seorang paman yang baik hati. Tolong hubungi ya.

  • Salam kenal. Saya siswi SMA kelas 2. Sekarang saya sedang mencari orang yang ingin melakukan

  Enjo Kōsai. Orang yang bisa

  bertemu di Shibuya besok sabtu lepas petang hari, terutama orang yang suka anak SMA dan ingin berhubungan seks dengan anak yang menggunakan seragam, cukup dengan memberikan saya uang saku 50.000 yen. Tinggi badan saya 155 dan saya cukup percaya diri dengan penampilan saya. Saya tidak peduli dengan usiamu, jadi segera hubungi ya.

  • Selamat siang. Aku seorang perempuan berusia 15 tahun yang ingin melakukan

  Enjo Kōsai. Kalau boleh, tolong beritahu aku

  nomormu. Penampilanku sih, kalau dijelaskan secara singkat, tinngi 162 cm, berat badan 47 kilo. Hm, karna aku ini masih perawan, banyak hal yang tidak kumengerti, tolong ajari aku bermacam-macam hal ya. Ah, kirimkan juga harga yang kamu inginkan. Tolong ya.

  • Saya anak SMA berumur 17 tahun yang tinggal di pedalaman gunung di Pref. Yamanashi. Saya sangat menyukai hal-hal yang berbau ecchi. Saya bersedia melakukannya untuk anda. Bagi yang bisa memberi saya uang saku, saya tunggu pesan anda. Sampai jumpa.
  • Saya siswi kelas dua SMA. Karena saya ingin uang jadi saya bersedia melakukan

  Enjo Kōsaiatau sekedar kencan biasa juga tak

  apa. Bila sekedar kencan biayanya 20.000-30.000 yen, dan bila sampai melakukan hubungan intim biayanya 40.000-50.000 yen.

  Bagi anda yang berminat, tolong hubungi saya ya. Pesan-pesan yang dibuat oleh pelaku Enjo Kosai di club telepon terekura tersebut hanya berlaku selama 24 jam dan setelah itu akan terhapus secara otomatis terhapus sendiri. Dari pesan ini pria mendapatkan nomor si remaja putri, dan bila si pria tertarik maka ia akan menghubungi remaja putri tersebut ia akan mengirim pesan pada remaja putri tersebut dan remaja putri juga memiliki kesempatan untuk memilih pria yang sesuai dengan keinginannya untuk dijadikan teman kencan berdasarkan pesan-pesan dari pria-pria yang masuk ke nomornya.

2.2.2 Praktik Enjo Kōsai oleh Remaja Jepang

  Berikut ini adalah beberapa contoh praktik

  Enjo Kōsaiyang dilakukan oleh remaja putri Jepang.

  • Yumi dan Mariko adalah siswi kelas tiga SMA yang tinggal di prefektur

  Niigita. Keduanya berpenampilan sederhana dan bukan anak yang memiliki masalah baik di lingkungan rumah maupun sekolah, sebaliknya mereka adalah siswi yang selalu mengikuti pelajaran di sekolahnya dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, ketika malam tiba, mereka akan berdandan dengan alat rias dan pakaian bermerk terkenal ( lipstick Gucci, pemulas mata Dior, aksesoris rambut Burberry’s, kaos Gucci, celana jins DKNY dan tas Fendi ) dan melakukan

  Enjo Kōsai. Yumi dan Mariko

  menggunakan telepon genggam sebagai sarana melakukan

  Enjo Kōsai,

  yaitu dengan mendaftarkan diri dalam situs-situs kencan dan membuat janji untuk bertemu dengan pria-pria yang rata-rata berusia 30-40 tahun.

  Menurut mereka Enj

  o Kōsaibukanlah hal yang memalukan atau tidak

  boleh dilakukan. Sebaliknya, mereka berpendapat bahwa Enjo

  Kōsaimerupakan hal yang sangat mudah dilakukan untuk mendapatkan

  uang atau barang-barang mahal. Dengan mengobrol, makan dan minum bersama di kafe atau rstoran, dan hal-hal lain berbau seksual seperti berciuman, mereka bisa mendapatkan uang sekitar 50.000 yen setiap kalinya. (http://www.freezerbox.com/archieve/articel.asp?id=188)

  • Seorang wanita muda bercerita kepada Kate Drake, seorang penulis dari

  Time, mengenai bagaimana pengalamannya melakukan Enjo Kōsai. Wanita muda ( kita sebut sebagai X ) ini mulai melakukan Enjo

  

Kōsaiketika masih kelas dua SMA. Walaupun merasa sekolah sangat

  membosankan, X tetap pergi ke sekolah setiap hari layaknya seorang pelajar. Akan tetapi setelah putus dengan kekasihnya, ditambah tidak memiliki uang untuk berpergian, kebosanan yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. X kemudian melakukan Enjo Kosai untuk pertama kalinya dengan meninggalkan pesan dalam situs-situs kencan. Setelah saling berkirim pesan selama seminggu pada pria yang beminat padanya, mereka membuat janji untuk bertemu di stasiun Kyoto. Pada hari itu mereka pergi ke restoran Italia untuk makan dan mengobrol, malamnya mereka pergi ke hotel dan melakukan hubungan seksual dan mendapatkan uang 50.000 yen. Sejak saat itu, ia melakukan

  Enjo Kōsaidengan cara yang sama. X

  meninggalkan pesan di berbagai situs kencan dan memilih untuk menerima atau menolak tawaran pria yang menghubunginya berdasarkan usia dan pekerjaan. Pria-pria yang mengencaninya rata-rata berusia 30 tahunan, bekerja sebagai sarariman dengan penampilan tipikal. Bayaran yang ia terima bukan hanya berupa uang, tetapi juga barang mahal seperti cincin Gucci. Uang yang ia terima biasanya digunakan untuk berlibur.

  

2.3 Faktor-faktor Penyebab terjadinya Enjo Kōsai

  Fenomena

  Enjo Kōsaiyang secara mencolok muncul beberapa tahun

  belakangan ini mau tak mau menuntut masyarakat Jepang untuk merenungkan sistem kemasyarakatan mereka. Mereka berusaha mencari tahu mengapa remaja putri ini begitu saja menjual diri mereka dengan melakukan Enjo Kōsai. Kesimpulan yang pasti memang belum ada, namun ada beberapa hal yang dihubungkan sebagai latar belakang kemunculan fenomena ini.

  Salah satu pendapat diungkapkan oleh seorang sosiolog Kawai Hayao dalam tulisannya yang bertajuk The Message from Japan’s Schoolgirl Prostitues yang dimuat dalam Japan Echo volume 24 tahun 1997, Kawai menyatakan : “Teenagers in Japan are under pressure to buy expensive items not covered by

  

their allowances and thus they seek money from other sources”. Adanya desakan

  dari lingkungan remaja Jepang yang berlimpah dengan barang-barang mahal, membuat mereka berkeinginan untuk membeli barang-barang itu dan bila mereka tidak mampu membiayai keinginannya, maka mereka mencari sumber untuk mendapatkan uang, salah satu caranya ialah dengan melakukan

  Enjo Kōsai.

  Pandangan yang sama juga diungkapkan oleh Kuronuma Katsushi dalam bukunya yang menyatakan bahwa motivasi para remaja putri Jepang melakukan Enjo Kosai ialah sekaichuu ni aru kakko ii mono ga te ni iretai ( 世界中にあるかっこいい 物がてにいれたい) yang berarti ingin memiliki barang-barang yang mewah. ( Kuronuma, 1996 : 34 )

  Weston menyebutkan ada 2 faktor utama terjadinya

  Enjo Kōsai, yaitu :

  1. Para pria yang menyukai gadis-gadis sekolahan yang kawai dan bersedia membayar mereka untuk kencan yang disebut dengan Lolita

  Complex atau disingkat Lolikon, hal inilah penyebab utama

  terbentuknya pasar untuk praktik

  Enjo Kōsaitersebut. Kecenderungan

  para pria-pria tua ini terlibat dalam Enjo Kosai adalah berawal dari istilah ‘tamaranai’, yaitu secara harafiah dapat diterjemahkan sebagai

  ‘an uncontrollable attraction’ atau ketertarikan yang tidak terkontrol.

  Ini merupakan alasan kaum pria Jepang yang berusia 50-an akan ketertarikan mereka terhadap gadis Jepang yang berusia 15 tahunan.

  Tamaranai disini juga bisa muncul akibat kurangnya perhatian dari

  istri-istri mereka karena faktor jam kerja lembur di Jepang. Untuk itulah mereka mencari gadis-gadis remaja Jepang yang bersedia menemani mereka untuk berkencan maupun berhubungan seks.

  2. Berasal dari remaja putri atau Kogyaru itu sendiri. Remaja putri yang terlibat dalam

  Enjo Kōsaikebanyakan barasal dari keluarga menengah,

  mereka tidak menjual diri mereka untuk menyambung kebutuhan hidup tetapi untuk membiayai kesenangan mereka dalam berbelanja (konsumerisme).

  Jelaslahbahwafaktoryangpalingbanyakmengundangfenom enaEnjokōsai adalahparapriaLolikon.Kebanyakandarimereka adalahparasalarymanyangberumur 30an sampai 50-an.Sepertiyangkitaketahui,orang-orang Jepangadalahpekerja kerasatauseringdisebutsebagaiWorkalcoholicolehorangAmerikadanjamkerjadi Jepangyangpadatmenyebabkan orang-orangJepangjarangberinteraksidenganlawan jenisnya.Kesepian yangdirasakan olehpria-priaJepangitu memicusuatuperasaan tamaranai(tidaktahan)saatmelihatparaKogyaruyangkawaii.Keterobsesian terhadap gadis-gadisberseragam sailorfukumembuatparapriaJepangmemburuparagadisitu setiapharinyadijalan-jalanuntukmengajakmerekaberkencandenganmenawarkan uangdalamjumlahyangbesarsertahadiah-hadiahyangmenggiurkan.Tidakjarangpara gadisitumenerimaajakankencanyangditawariolehpria-prialolikon tersebutkarena tergiurolehuangdalam jumlahbesar.Halinidisebabkankarenabudayakonsumtifpara gadisremajaterbendungolehbanyaknya uang yang mereka butuhkan untuk memenuhi kesenangannya yangkemudianmemaksagadistersebut merupakansolusiyangtercepatuntukmemecahkan untukbekerja,danEnjokōsai masalahtersebut.OlehkarenaituselainfenomenaLolikon,keberhasilan

  Enjokōsaijuga sangatbergantungpadakeputusanKogyaru itu sendiri.

  AlasanKogyaruterlibatdalamEnj okōsaisangatkompleks. Kuronuma(1998) menuliskankembalihasilwawancaranyaterhadapKogyarubernamaSawakodanYum i yangditemuinya disebuahklubkencanmengenaialasanparaKogyarumelakukan Enjokōsai.

  情報収集の成果である。二人が通学校では「売春」と言う言葉 は使わず に、「ウリ」あるいは「仕事」と表現する。「ユミちゃ ん、遊ぼう」「今日は仕事だからダメ」という会話が、放課後の 素顔を知っている友達のあいだで平然と交わされている。二 人がウリに手を出すようになった最初 の動機は、世界の一流 品 を 手 に 入 れ た い と い う 物 欲 に 目 覚 め た か ら だ っ た 。 (Kuronuma,1998:334)

  “Darihasilyangdikumpulkan.Keduanyatidakmenggunakankata‘prostitu si’, melainkanlebihmenunjukkanpada ‘berjualan’atau‘bekerja’.‘YumiChan, mainyuk!’ajakSawako.‘Hariiniadaperkerjaan, jaditidakbisa’,tolaknya.

  Sepulang dari sekolah, keduanya saling melemparkan bahasa isyarat dan memulaibekerjadengantenang.Motivasipertamayangmenjadikan mereka m elakukanEnjokōsai karenatimbulnyakesadaranuntukmemilikibarang-barang kelassatusedunia.”(Kuronuma,1998:34)

  Kogyaru tidak menga nggap bahwa padakenyataannyaEnjokōsai sebagai aktivitasseksatausecarakasaryangkitasebutprostitusi.Merekamenganggap hal tersebutmerupakansuatupekerjaan,yaitu‘menjual’(seks)sebagaimana yangkita ketahuisebagaidefinisidaribekerjadalamartimendapatkanupah.

  サワコ「ウチの学校、高校生がブランド物持ってるじゃん。 ヴィトンが 好きな子はシャネルとか興味ない。どこそこの学 校が好きっていう趣味 みたいなもんだよね。で、先輩がこれ 持ってたから私の欲しいなー、と か思うんだよね。けっこう くだらない理由だよね。」 くだらない理由

  ―日本の十時代が ブランド物になるのは、いつの時代も だいたいくだらない理 由からだ。このブランドじゃないと基本的人権が おかされろ とか、このブランドこそが恒久の平和をもたらすとか、そん なことを主張して ブ ランドを買い求 める 十代がいたためし

  はない。(Kuronuma1998:3637) “Sawakoberkata,“Disekolah,siswa-siswamembawabarang-barang bermerk. Orangyangmenyukaimerk ‘Vuitton’tidaktertarikpadamerk ‘Channel’. Sepertimemilihsekolahyangdiminati. Karenakakakkelasmemilihini,saya juga menginginkannya. Sungguh alasan yang cukup bodoh ‘kudaranai’, bukan.” Alasan‘kudaranai’-selama10abadJepangterikatolehbarang- barangbermerk itu,jadisetiapabaditukebanyakankarenaalasan‘kudaranai’. Merk- merkini tidakmenentang hakdasarmanusia,namunsebaliknya iamembawakedamaian yang abadi.Menuntut akan hal itu tidak ada permintaan akan pembelian terhadapmerkselamasepuluhtahun”.(Kuronuma,1998:36-37).

  SalahseorangKogyaruyangbernamaSawakomengatakan bahwaalasannya m elakukan Enjokōsaiadalahkarenamerasasadarakanhasratuntukmemilikibarang nomor satu di dunia. Barang-barangbermerkakan memberikan pesona kepada seseorang, sepertiChannelyangsangatterkenal,namunsuatusaatdiaakanketinggalan zaman.Selerasetiaporangberbeda- beda,bagiorangyangmenyukaimerkChannel,tidak akantertarikataumenganggapmerkVuittonadalahterkenal,begitujugasebaliknya.

  Hanya ada satualasan untuk menyimpulkan prilaku anak muda tersebut yaitu ‘Kudaranai’ yang diartikan bodoh,sia-sia, tidakberguna.Katsushi menyimpulkan bahwaJepangyangselama10generasitergiurolehbarang-barang bermerkdisebabkan olehalasan‘kudaranai’.Dikatakanbahwamerk-merktersebuttidakmenentanghak- hakasasimanusianamunsebaliknya membawakedamaian bagibagimerekayang mengkonsumsinya.

  Penulis juga berpendapat bahwa orang Jepang sangat memperhatikan penampilandanselaluingintampilunikdanmenarikmenurutpenilaiannya sendiri khususnya para remaja. Mereka tidak segan-segan menghabiskan uangnya untuk kesenangan,trend, fashion,memperbaikipenampilannya,dansetiapsaatpulafashion berubahsehinggamerekamerasatidakdanbelumsepenuhnya fashionabledanterus mengikutiperubahantanpaakhiryangjelas.Demikianlahdisebutkan bahwaremaja Jepanghanyamelakukansesuatuyangbodoh dantidakberguna.

  Sementara menurut sosiolog Universitas Keio, Jun Nagamoto menyatakan bahwa setidaknya ada 5 faktor yang melatarbelakangi keberadaan

  Enjo Kōsaiini, yaitu : 1.

  Pengaruh dari kemajuan ekonomi Jepang yang mempengaruhi daya kontrol seseorang dalam mengkonsumsi barang.

  2. Pengaruh dari media massa dengan iklan-iklannya yang menuntun pembaca dan penontonnya untuk mengkonsusmsi barang, media massa juga membentuk opini publik terutama remaja sehingga mereka melihat

  Enjo Kōsaisebagai suatu hal yang wajar untuk mendapatkan uang.

  3. Perubahan struktur keluarga Jepang yang membuat anggota keluarganya memiliki sedikit waktu untuk saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.

  4. Tidak adanyan ketegasan hukum dalam menindak masalah-masalah yang berhubungan dengan pelacuran.

  5. Pengaruh dari pendidikan sekolah yang hanya menekankan pada nilai akademis siswa-siswinya.

  Masi berkenaan dengan fenomena

  Enjo Kōsaiini, Miyadi Shinji ( Miyadai,

  1994 : 118 ) menyatakan bahwa

  Enjo Kōsaiitu sendiri terbagi menjadi beberapa

  tipe atau bentuk, yaitu : 1.

  Tipe yang mendambakan komunikasi, ingin lebih mengenal pria, dan berkeinginan untuk lebih tahu tentang masyarakat terutama prianya.

  2. Tipe yang mendambakan pengakuan atas dirinya dan ingin meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya lebih dari sekedar murid bodoh atau murid pintar yang kampungan.

  3. Tipe pembangkangan secara emosional kepada orangtua yang terlalu keras pada mereka sampai-sampai tidak mengizinkan mereka memiliki pacar.

  4. Tipe yang ingin bisa bergaul dan diterima oleh lingkungan sekitarnya atau tempat bermainnya.

  5. Tipe yang ingin ganti suasana dari lingkungan keluarga dan sekolah yang membuat mereka jenuh, dengan cara memuaskan dorongan mereka dengan mengkonsumsi barang.

  6. Tipe yang memang mengiginkan barang-barang mewah.

2.4 Pandangan Masyarakat Jepang terhadap Enjo Kōsai

  Seperti masalah Ijime, boryouku (tindak kekerasan) yang berpusat kepada anak sebagai pelaku atau korban tindakan itu,

  Enjo Kōsaitelah menambah daftar

  deretan fenomena sosial dalam masyarakat Jepang. Tentu saja kemunculan fenomena

  Enjo Kōsaiini telah mendatangkan keresahan pada orangtua khususnya masyarakat Jepang.

  Kini dalam masyarakat di Jepang bila mendengar kata

  Enjo Kōsaimaka

  secara otomatis langsung terbayang dalam benak mereka bahwa itu berhubungan dengan tindakan para remaja usia belia, yang melayani kebutuhan biologis dari para lelaki setengah baya untuk mendapatkan uang yang banyak dan barang- barang bermerk terkenal dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya barang- barang yang menjadi incaran mereka adalah barang produksi luar negri seperti

Prada dan Hermes juga kosmetik merk Channel.

  (http://ballz.ababa.net/uninvited/enjokousai.htm) Berdasarkan polling yang dibuat oleh program TV Jepang Asahi Asa

  

Made Nama Terebi pada tahun 1997 menunjukkan bahawa 70% responden

  menentang Enjo Kosai melibatkan interaksi seksual, sementara 30% menyetujuinya. Banyak kritikus yang khawatir bahwa anak perempuan yang melakukan Enjo Kosai akan tumbuh menjadi istri dan ibu yang tidak layak. Persepsi ini muncul dari kecurigaan bahwa ketika gadis-gadis ini menjadi dewasa, mereka akan dengan cepat meninggalkan loyalitas dan komitmen mereka dengan keluarga mereka untuk tawaran uang dan keuntungan materi ( Leheny, 2006 : 75 )

  Akan tetapi ada juga pendapat yang menyatakan bahwa praktik

  Enjo Kōsai

  tidak sepenuhnya salah gadis remaja karena sebenarnya mereka hanyalah korban dari kebiharian para lolikon.

  Fukutomimengatakanbahwa, "Manyteen-agegirlsinvolvedinprostitutionhavefamilyproblems.Theytendto beunabletoexerciseself-restraint, actimpulsivelyandfeellonely. Manyof themeitherhavefewchancestotalkwiththeirparentsorareoverprotectedby theirparents. Theloosertheirrelations withtheirparents, thelessreluctant theyaretoprostitutethemselves.However,theyarevictimsinawayandmen whobuythemaretoblame." "Banyakgadisremajaterlibatdalamprostitusi memiliki masalahdidalam keluarganya.Merekacenderungtidakmampumenahanhawanafsu,bertindak sesuaidorongan hatidanmerasakesepian. Banyakdiantaramerekayanghanya mempunyaisedikitkesempatanuntukberbicaradenganorangtuamerekaatau terlaludikekangolehorangtuamereka.Merekayangkehilangan hubungan denganorangtua,semakinsedikitkesegananmerekauntukmelacurkan diri.

  Bagaimanapun,merekaadalahkorbandanorang-orangyangmembelimereka pantasdisalahkan." ml) Banyak media yang mengangkat isu tentang

  Enjo Kōsaiseperti, manga,

  anime dan film. Media-media yang mengangkat isu tentang

  Enjo Kōsaiini tidak

  semua menempatkan pelaku

  Enjo Kōsaidalam posisi yang buruk. Media inilah

  yang yang menggambarkan perasaan gadis pelaku

  Enjo Kōsaiseperti pemikiran yang menempatkan perasaan pelaku

  Enjo Kōsaisebagai perasaan manusiawi yang

  tidak salah. Banyak media yang seakan membenarkan perilaku Enjo Kōsaiini. Sekalipun hal ini juga tidak mempengaruhi keseluruhan masyarakat Jepang dapat menerima keberadaan

  Enjo Kōsai.

   Memang banyak masyarakat Jepang menunjukkan perasaan tidak suka dan merasa terganggu oleh keberadaan pelaku

  Enjo Kōsai. Namun jika dibandingkan

  masyarakat pada umumnya, para pelanggan yang merupakan sebagian dari penduduk Jepang menganggap keberadaan

  Enjo Kōsaimerupakan bagian dari

  kehidupan mereka. Keberadaan

  Enjo Kōsaibisa menjadi hiburan tersendiri bagi

  para pria salaryman yang membutuhkan hiburan, teman mengobrol ataupun teman melakukan seks.

BAB III USAHA PENANGGULANGAN ENJO KŌSAIDI JEPANG DEWASA INI

3.1 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Keluarga

  Keluarga adalah unit dasar dimana didalamnya untuk pertama kalinya seorang anak manusia melakukan hubungan interaksi dengan sesame manusia.

  Ketika seorang anak lahir, maka masyarakat yang pertama kali dikenalnya adalah keluarga. Dalam keluarga tersebut orang tua dikenal sebagai guru dan rumah sebagai ruang kelasnya. Sebagai guru yang pertama kali dikenal oleh anak, orang tua memberikan pendidikan yang disebut pendidikan keluarga atau kateikyouiku.

  

Kateikyouiku adalah sesuatu yang dipelajari oleh anak didalam keluarganya,

  termasuk cara pandang terhadap suatu hal, cara bersikap dan juga cara berpikir ( Kakiuchi, 1981 : 12 ). Ini berarti bahwa segala pengetahuan yang didapat anak, diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman dalam keluarganya yang tercermin lewat sikap kedua orang tuanya. Semua itulah yang nantinya kelak menentukan sikap anak dalam menghadapi hal-hal yang terjadi disekitarnya.

  Anak belajar berbicara, dididik menghayati pola-pola dasar tingkah laku yang diperlukan dalam kehidupan sosial. Perwatakan yang terbentuk pada masa anak- anak akan menjadi dasar kepribadiannya.

  Peran orang tua sangat mempengaruhi pola pikir dan juga kepribadian anak. Pembagian peran orang tua dengan fungsi ayah bekerja diluar untuk mencari nafkah, sedangkan ibu bertanggung jawab atas keadaan rumah. Tingginya standar hidup orang Jepang maka membuat ayah sebagai figur yang bertanggung jawab untuk memenuhi nafkah dan menjamin kehidupan keluarga dituntut untuk bekerja keras. Menurut data statistik yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja Jepang, rata-rata jam kerja pada tahun 1990 adalah 2.052 jam pertahun, ini belum termasuk jam kerja yang digunakan untuk pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah dan juga lembur kerja. Sebagai dampaknya 34,7% mengatakan bahwa mereka tidak melakukan kontak dengan anak mereka selama hari kerja, dan kontak yang terjadi hanya 36 menit dalam sehari. Ayah di Jepang hanya memiliki sedikit waktu untuk bercakap-cakap dengan anaknya bahkan 16,1% diantaranya menyatakan bahwa dalam hari libur sekalipun mereka tidak melakukan kontak sama sekali dengan anak-anaknya. 1 jam 32 menit setiap minggunya termasuk hari minggu adalah waktu yang bisa diberikan kepada keluarganya. Hal inilah yang menyebabkan dewasa ini ayah tidak memiliki peran yang besar dalam pendidikan anak dirumah. Ketika ayah meluangkan waktunya untuk keluarga maka hal itu disebut dengan service atau pelayanan yang dikenal dengan istilah kazoku sabisu (pelayanan untuk keluarga) ( Jolivet, 1997 : 61)

  Peranan ibu di Jepang sangat penting dalam menyangkut kehidupan berkeluarga, mulai dari menyusun anggaran keluarga, membuat keputusan dan merencanakan pendidikan anak, membeli makanan dan pakaian, juga membayar tagihan-tagihan rumah tangga. Para ibu di Jepang memantau perkembangan akademi anak-anaknya. Mereka meyakini bahwa tanpa dukungan dan dorongan dari mereka sebagai ibu, anak-anak tidak akan mencapai keberhasilannya di sekolah. Selain itu saat lulus SMP, pada umumnya semua anak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA pilihannya dengan mengikuti ujian masuk SMA. Masa ujian ini seringkali disebut sebagai ‘neraka ujian’ (juken

  

jigoku) karena tekanan luar biasa yang dialami peserta ujian. Walaupun para siswa

  dapat mengikuti lagi ujian ini pada tahun berikutnya jika mereka gagal, mereka menyadari bahwa ujian ini merupakan titik yang menentukan masa depan mereka.

  Peserta yang gagal dalam ujian ini disebut sebagai rounin, yang berarti seorang pelajar yang tidak bernaung dalam intuisi pendidikan tertentu. Istlah ‘neraka ujian’ ini tidak hanya digunakan untuk menyebut masa ujian masuk SMA, melainkan juga ujian masuk perguruan tinggi atau universitas.

  Untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian ini banyak siswa-siswi sekolah yang mengikuti pendidikan khusus diluar jam sekolah yang disebut sebagai

  

gakushujuku ( 学習塾 ) yang disingkat dengan Juku. Anak yang mengikuti Juku

  memulainya setelah jam sekolah selesai yaitu dari jam 5-7 sore sampai dengan jam 8.30-10 malam. Juku sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu Shingaku Juku, yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berada pada tahun akhir dari tingkatan sekolah. Selain itu ada juga Gakushu Juku yang diperuntukkan membantu anak- anak dalam mengikuti pelajaran yang diterima di sekolah, melalui Juku mereka dikondisikan untuk mengulang pelajaran-pelajaran yang diterima disekolahnya.

  Monbusho, yaitu Kementrian Pendidikan, Kebudayaan dan Teknologi, pada tahun 1999 melakukan penelitian mengenai juku dan mendapati bahwa sebanyak 36,7% pelajar SD, 75,8% pelajar SMP dan 36,9% pelajar SMA mengikuti juku ( Katsurajima, 2005 : 82 ). Persentasi didapati pada pelajar SMP yang berada pada masa persiapan menuju SMA unggulan. Karena dengan masuk SMA unggulan kesempatan untuk masuk ke perguruan tinggi unggulan juga lebih besar.

  Selain juku, banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke sekolah- sekolah pembinaan sejak dini seperti taman kanak-kanak (TK), sebagai persiapan untuk mengikuti ujian masuk SMA dan universitas. Hal ini dinyatakan juga oleh Matsumoto dalam pernyataan berikut. “ Ada ibu-ibu yang berpikir bahwa perlu memulai pendidikan anak-anak mereka dari TK untuk masuk ke universitas ternama. Para ibu ini berusaha segenap tenaga dalam pendidikan anak-anaknya. ( Liska, 2011 : 43 )

  Dalam tulisannya yang berjudul The Japanese Today : change and

  continuity, Edwin O. Reishauer mengutarakan pendapat yang sama dengan

  menyatakan bahwa kira-kira sepertiga dari setiap kelompok usia pelajar bahkan mengikuti pendidikan taman kanak-kanak pada usia 3 atau 4 tahun sebagai langkah awal untuk memasuki dunia pendidikan. Sehingga, anak-anak di Jepang sejak usia dini telah mendapatkan suatu gambaran bahwa dunia pendidikan yang mereka masuki terutama universitas, akan menentukan sukses atau tidaknya mereka dimasa depan.

  Katakunciyangsangatpentingsaatberpikir tentang

  Enjo Kōsaiadalahyang

  dikatakandenganGAP(perbedaan polapikir,dsb).Yaitupolapikiryang mempengaruhi paragadisuntukmenjualseksdanparapriayangmembeliseks.

  Fukutomi juga mengatakan bahwa, “Banyak gadis remaja yang terlibat dalam prostitusi memiliki masalah dalam keluarganya. Mereka cenderung tidak mampu menahan hawa nafsu, bertindak sesuai dorongan hati dan merasa kesepian. Banyak diantara mereka yang hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara dengan orang tua mereka atau terlalu dikekang oleh orang tua mereka. Mereka yang kehilangan hubungan dengan orang tua, maka semakin sedikit keseganan mereka untuk melacurkan diri mereka. Bagaimanapun, mereka adalah korban dan orang-orang yang membeli mereka yang harus disalahkan.” m016000..html) Seperti yang telah dikatakan diatas bahwa gadis remaja melakukan prostitusi memiliki masalah dengan keluarganya. Hilangnya sosok ayah sebagai panutan kedisplinan dan pembentukan karakter dalam keluarga dikarenakan kesibukan ayah yang membuat ayah selalu pulang larut serta sedikitnya interaksi antara anak dan orang tua juga menjadi pendorong para remaja putri melakukan

  

Enjo Kōsai. Seperti yang diungkapkan oleh Miyadai Shinji bahwa salah satu dari

  tipe

  Enjo Kōsai adalah mendambakan komunikasi dengan pria, dalam hal ini

  sosok ayah sangat diperlukan oleh anak. Tetapi karena kecilnya keberadaan sosok ayah dan mengecilnya komunikasi dengan ayah yang dirasakan oleh anak membuat anak mendambakan komunikasi itu ia mencarinya ditempat lain. Selain itu, ibu yang selalu memantau masalah akademi mereka memberikan tekanan tersendiri bagi anak. Hal ini membuat mereka ingin melepaskan diri dari pandangan orang tua dan masyarakat yang hanya menuntut seseorang dari kemampuan akademisnya, dan melihat seorang anak sebagai murid yang pintar atau bodoh. Dengan melakukan

  Enjo Kōsailah mereka mendapat pengakuan yang

  lain, yaitu pengakuan sebagai seorang perempuan, bukan cuma sekedar murid yang pandai atau bodoh.

  Melalui tindakan

  Enjo Kōsai, remaja putri ini ingin membuktikan bahwa

  apa yang selalu ditekankan oleh orang dewasa mengenai pentingnya pendidikan yang nantinya akan menunjang kemampuan seseorang untuk mencapai kemapanan dan menjamin pemenuhan konsumsi mereka kelak tidak berlaku bila mereka melakukan

  Enjo Kōsai. Tanpa ditanya mengenai pencapaian nilai

  akademis di sekolah ataupun dia murid yang pintar atau bodoh, remaja putri ini bisa mendapatkan uang yang banyak dan barang mewah yang mereka inginkan.

  Mereka merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga mereka serta merasa kurang diperhatikan oleh orang tua membuat mereka memutuskan untuk mencari kenyamanan diluar rumah. Salah satunya dengan melakukan terekura. Remaja putri mendapatkan kedamaian dari terekura itu sendiri karena para pria yang diteleponnya akan dengan sabar mendengar cerita serta keluh kesah mereka. Sampai akhirnya mereka bertatap muka dan akhirnya melakukan praktik

  Enjo Kōsai.

  Maka dari itu menurut analisis penulis, untuk mengurangi praktik Enjo

  

Kōsai yang dilakukan oleh remaja putri ini, harus dimulai dari keluarga terlebih

  dahulu. Karena kita tahu remaja sangat rentan melakukan pemberontakan. Oleh karena itu orang tua harus bisa melakukan pendekatan pada remaja. Orang tua hendaklah lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Pergi piknik atau melakukan hal menyenangkan lainnya bersama keluarga. Buat remaja merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarganya. Orang tua juga bisa melakukan pendekatan pada remaja dengan saling berkomunikasi. Orang tua diharapkan lebih sering berbicara dengan remaja. Saat berbicara dengan remaja juga, berbicaralah dengan perlahan dan tanyakan pendapat remaja. Remaja membutuhkan kebebasan untuk berpikir berbeda dan membentuk pendapatnya sendiri ( Gray, 2006 : 360 ). Orang tua perlu ingat bahwa lebih penting menjaga agar remaja tetap berbicara dengan mereka daripada memberi dia terlalu banyak nasihat dan kritikan yang bahkan akan membuat dia semakin menjauh. Seorang remaja akan tetap berbicara selama orang tuanya tetap mendengarkan apa yang dia katakan. Orang tua harus bisa membuat remaja merasa nyaman ketika mereka sedang bertukar pikiran agar komunikasi tidak terputus. Karena ketika komunikasi sudah terputus, maka ada kemungkinan remaja akan menghadapi resiko dipengaruhi oleh teman-temannya dan mendapat pengaruh yang tidak baik ( Gray, 2006 : 362 ). Orang tua juga sebaiknya tidak terlalu memaksakan kehendaknya pada remaja. Untuk masalah pendidikan jangan mendorong remaja terlalu keras untuk terus-menerus belajar lebih keras. Cukup berikan pandangan pada remaja agar tidak malas belajar. Dan dukung setiap kegiatan yang dilakukan oleh remaja baik akademi maupun non akademi. Adalah tidak benar mendorong-dorong anak untuk belajar terlalu keras.

  Terlalu mendesak anak untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah atau untuk melakukan tugas-tugas dirumah dapat menghalangi anak mengembangkan kemampuannya untuk berbahagia dan menikmati kehidupan. Kalau anak mengalami perasaan senang dalam belajar dan melakukan tugas-tugas di rumah, ia tidak hanya akan lebih bahagia dalam hidupnya, tetapi juga akan menikmati pekerjaannya dan akan terus belajar sepanjang hidupnya ( Gray, 2006 : 356 ). Ada baiknya juga orang tua memberikan kebebasan dan kepercayaan pada remaja. Hal tersebut akan membuat remaja merasa bahwa ia memiliki tanggung jawab penuh atas perbuatannya. Dengan begitu remaja akan selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak saat melakukan sesuatu. Dia akan memikirkan resiko apa yang akan diterimanya jika ia melakukan perbuatan yang salah.

3.2 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Sekolah

  Sejak tahun 1947, pendidkan 9 tahun menjadi pendidikan wajib di Jepang, yaitu 6 tahun masa pendidikan sekolah dasar (SD) bagi seluruh anak berusia 7-12 tahun dan 3 tahun masa pendidikan SMP ( Katsurajima, 2005 : 80 ). Secara menyeluruh, system pendidikan Jepang modern terdiri atas 6 tahun SD, 3 tahun SMP, 3 tahun SMA dan 4 tahun pendidikan perguruan tinggi atau universitas.

  Sistem pendidikan di Jepang sejak tahun 1962 menekankan pengembangan keterampilan yang dibutuhkan untuk perkembangan ekonomi negara. Pemerintah mendesak sekolah-sekolah untuk menyesuaikan sistem belajar mengajar dengan kurikulum baru yang dapat memasukkan para pelajarnya ke sekolah-sekolah ternama dan universitas elit dan menetapkan bahwa semua SD harus beroperasi selama 240 hari dalam setiap tahun akademik ( Mangdubrati, 2010 : 78 ). Melalui kurikulum pendidikan yang berfokus pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi diseluruh wilayah negaranya, Jepang pun berangsur-angsur menjadi Negara maju dengan tercapainya pertumbuhan ekonomi tingkat tinggi.

  Pada tahun 1970-an sampai 1980-an pemerintah Jepang berhasil mencapai kesuksesan dalam memajukan teknologi dan perekonomiannya. Akan tetapi, Cumming dalam ( Mangdubrati, 2010 : 78 ) menyatakan bahwa kesuksesan ini dibayar mahal dengan pengorbanan pelajarnya. Para pelajar di Jepang harus mengikuti sejumlah besar mata pelajaran sebagai mata pelajaran wajib berdasarkan kurikulum sekolah dan pemerintah.

  Mercer juga menyatakan bahwa dikarenakan adanya pandangan dalam masyarakat yang menyatakan pentingnya peran pendidikan sebagai penentu kesuksesan seseorang dimasa depan. Para pelajar yang tidak dapat mengikuti kurikulum di sekolahnya dengan baik pada akhirnya dicap sebagai suatu kegagalan ( Liska, 2011 : 44 ).

  Diera ini muncul istilah ‘kyouiku jigoku ni ochiru’ ( 教育地獄に落ちる ) yang berarti ‘memasuki neraka pendidikan’. Hal ini disebabkan oleh banyaknya peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh para guru maupun para pelajar di dalam institusi pendidikan. Katsurajima ( 2005 : 83 ) menyatakan bahwa perilaku kekerasan ini terwujud dalam beberapa bentuk, misalnya kekerasan dalam sekolah ( kounai bouryoku構内暴力 ), keengganan untuk pergi ke sekolah ( futoukou不登 校 ), penganiayaan ( ijime苛め ), kerusuhan dan ketidakmampuan staf pengajar untuk menertibkan kelas ( gakkyuu houkai学級崩壊 ). Pada puncak tahun 1985, terdapat sekitar 155.000 kasus ijime yang dilaporkan terjadi diseluruh wilayah Jepang ( Sugimoto, 2003 : 137 ). Beberapa anak yang menjadi korban ijime ini seringkali mengalami luka serius dan tak jarang mengambil tindakan bunuh diri.

  Peristiwa perilaku kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah menjadi tanda menyebarluasnya kebosanan dan kelelahan yang dirasakan oleh para pelajar. Hal ini disebabkan oleh berbagai tekanan yang terjadi karena kerasnya sistem pendidikan yang diterapkan oleh sekolah-sekolah berdasarkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. Pihak sekolah pun menyadari akan kebosanan siswa-siswinya. Biar bagaimanapun sekolah merupakan rumah kedua bagi remaja.

  Remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di rumah. Sekolah harusnya menjadi tempat yang nyaman bagi remaja untuk menuntut ilmu. Maka dari itu sekolah menyediakan fasilitas-fasilitas yang lengkap dan ekstrakulikuler untuk mendukung siswa-siswinya. Membuat acara study tour diluar sekolah juga dilakukan pihak sekolah sebagai upaya mengurangi tingkat kebosanan para siswa-siswinya.

  Selain itu sekolah juga bekerja sama dengan pemerintah untuk mengurangi praktik

  Enjo Kōsai di kalangan siswi-siswinya dengan melakukan penyuluhan melalui pendidikan kepada siswi-siswi tentang dampak buruk yang disebabkan oleh

  

Enjo Kōsai

  Biar bagaimanapun sekolah sudah mengupayakan yang terbaik bagi para siswi-siswi agar tidak terlibat pada praktik

  Enjo Kōsai, akan tetapi Enjo Kōsai itu juga dapat dicegah melalui keinginan dari diri remaja itu sendiri.

3.3 Usaha Penanggulangan yang Dilakukan oleh Pemerintah

  Perkembangan perekonomian di Jepang telah mampu meningkatkan taraf hidup masyarakatnya baik di desa maupun di kota. Kemajuan ekonomi ini, terutama di daerah perkotaan kota terlihat lebih jelas dengan kehidupan material yang berlimpah mulai daari kebutuhan mendasar sampai pada kebutuhan akan hiburan. Menurut Fukutake Tadashi, sehubungan dengan kehidupan material yang berlimpah maka keinginan dan harapan remaja pun meningkat dan bilamana daya beli mereka tidak dapat terpenuhi mereka akan frustasi yang pada tahap selanjutnya akan melahirkan tindak kejahatan atau setidaknya kenakalan remaja.

  Hal initerbukti dengan munculnya tindak kejahatan yang dilakukan oleh remaja. Kenakalan remaja ini kadang sering lahir dalam bentuk tindakan yang melanggar hukum.

  Menurut catatan kepolisian, remaja putri adalah yang paling cepat mengulangi tindak pelanggarannya dengan selang waktu 6 bulan dari masa pembebasannya dari pengawasan pengadilan sedangkan remaja pria berselang waktu setahun untuk kemudian melakukan tindak pelanggaran hukum lagi.

  Tindakan yang biasa dilakukan oleh remaja putri adalah manbiki atau mencuri barang-barang di toko-toko dan melakukan tindak pelacuran. Tercatat bahwa 60% dari tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh remaja putri di Jepang adalah pelacuran. Pada tahun 1996 berdasarkan catatan putih kepolisian menyatakan bahwa sebanyak 5.481 remaja putri di Jepang yang berusia 13-19 tahun ditangkap karena kasus pelacuran, jumlah ini meningkat 6% dari tahun 1994. Dari jumlah itu sebanyak 46,8% mengaku bahwa mereka melakukan tindak pelacuran dengan alasan untuk mendapatkan banyak uang, dan sebanyak 29,6% melakukannya karena rasa keingintahuan dan rasa penasaran

  Dewasa ini salah satu perilaku remaja yang meresahkan masyarakat Jepang adalah suatu fenomena yang disebut dengan

  Enjo Kōsai. Istilah Enjo Kōsaiberarti bergaul dan mendapat bantuan, berupa suatu tindakan remaja putri

  usia 13-19 tahun yang mencari uang tambahan untuk membeli barang-barang bermerek dan berharga mahal yang mereka inginkan dengan berkencan dengan pria yang lebih tua.

  Fenomena Enjo

  Kōsaiini sudah sangat marak terjadi di Jepang, sehingga

  pihak kepolisian di Jepang sampai-sampai perlu menyebarkan poster yang menegaskan bahwa

  Enjo Kōsaiadalah sama dengan pelacuran. Poster-poster itu

  dibagikan ke sekolah-sekolah. Dari penelitian yang dilakukan oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo tahun 1996, terungkap bahwa 3,8% siswi SMP, dan 4,0% siswi SMA pernah melakukan

  Enjo Kōsai. Ini berarti bahwa rata-rata ada seorang murid dalam satu kelas yang pernah berpraktek menjual dirinya.

  Fenomena

  Enjo Kōsaiini tentu menciptakan kekhawatiran pada

  masyarakat Jepang. Pemerintah kemudian menyadari bahwa perlu juga dipertanyakan mengenai etika pria-pria di Jepang selain para remaja putri, sehingga pada tahun 1999 dibuatlah Undang-Undang yang menentang praktek illegal

  Enjo Kōsaitersebut. Dan bagi yang melanggarnya akan dikenakan denda

  sebesar 500.000 yen dan dikenakan hukuman penjara selama setahun ( http://ballz.ababa.net/uninvited/enjokousai.htm).

  Fenomena

  Enjo Kōsaimemberikan dampaknegatif,yakniterancamnyamasa

  depangenerasimudaJepangakibatrusaknyahubungan sosialyangwajardiantarapara remaja,banyakgadis-gadisyangmenganggap laki-lakiseusiamerekamasihkekanak- kanakan.

  Enjo Kōsaijuga menyebabkanbanyak gadis remaja yang berhenti

  sekolah akibatkemungkinan hamildiluarnikahyangdisebabkanolehhubunganseks

  

Enjo Kōsai sehingga

  menyebabkanangkaaborsidiJepangsemakintinggisebelumadanya Undang- Undangtahun1999yangmenentang praktekilegal Enjo

  

Kōsai.Halinidapatdilihatdari tabelberikutiniyangmenunjukkan

  semakintinggiangkaaborsidiJepangakibatseks bebas,penyakit,danmasalahekonomisebelumtahun1999danmenurunsetelah tahun 2000-2003

  Tabel angka aborsi di Jepang tahun 1995-2003 Tahun Angka Laporan Tidak Rasio Aborsi % (

  Kelahiran Legal Dilaporkan Aborsi ( laporan ) Aborsi laporan ) 1995 1.187.064 343.023 39.403 289 22,4

  1996 1.206.555 338.867 39.536 281 21,9 1997 1.191.665 337.799 39.546 283 22,1

  1998 1.203.147 333.220 38.988 277 21,7 1999 1.117.669 337.314 38.452 286 22,3 2000 1.190.547 341.164 38.393 287 22,3 2001 1.170.662 341.588 37.467 292 22,6 2002 1.153.855 329.326 36.978 285 22,2 2003 1.123.610 319.831 35.330 285 22,2

  Selain meningkatnya angka aborsi di Jepang, penulis menganalisa bahwa tidak menutup kemungkinan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS akibat seks bebas dalam

  Enjo Kōsai. Menurut Hall, tingginya persepsi AIDS setiap tahun di Jepang

  disebabkan karena"sexualbehavioroftheJapanese has becomemoreliberated" yang diterjemahkan “kebiasaanseksualorangJepangyangsemakinbebas”.

  (http://www.japanic.net/article.php?articleID=671) Sepertikasus Enjokōsai,meskipunpemerintahtelahmengeluarkanundang-undang pelecehanseksual terhadapgadisdibawahusia18tahun,namuntanggung jawabdankesadarandarisetiap individubaikdariKogyaru sendirimaupunparaOyajimasihsangatkurang.

  Melihat banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari praktik Enjo

  

Kōsaiini memunculkan kepedulian tidak hanya dari pihak pemerintah tetapi juga

  pihak swasta untuk berperan mengurangi kasus remaja putri Jepang yang melakukan praktik

  Enjo Kōsai. Selain penegakan hukum terkait pornografi dan

  prostitusi dalam UU 52 Tahun 1999, pemerintah juga melakukan upaya penanggulangan praktik Enjo Kosai melalu pendidikan dan sosialisasi media.

  Pendirian pusat rehabilitasi berupa bantuan konseling anak sebagai penanggulangan anak-anak dibawah umur yang terkena gangguan secara psikologis setelah terjun dalam dunia prostitusi.

  Selain dari pemerintah, juga telah banyak pihak swasta yang mendirikan organisasi non profit berupa lembaga swadaya masyarakat dengan tujuan yang sama. Dua diantaranya adalah Polaris Project atau Support Centre Light House yang berdiri sejak tahun 2004 dan Colabo yang berdiri sejak tahun 2011.

  Kegiatan-kegiatan mereka juga berupa pendidikan, seminar, penyuluhan, bantuan hukum dan bimbingan konseling.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN 1.

  Enjo Kōsaiadalah suatu tindakan remaja putri usia 13-18 tahun yang yang mencari uang tambahan untuk membeli barang-barang mewah yang merekaa inginkan dengan cara berkencan dengan pria-pria dewasa.

  2. Fenomena Enjo Kōsaiyang secara mencolok beberapa tahun belakangan ini sebenarnya bukanlah hal yang baru di Jepang.

  Enjo Kōsaiini sudah ada

  sejak tahun 90-an. Namun yang perlu dicermati dari kemunculan Enjo

  Kōsaiini adalah latar belakang yang menyebabkan fenomena ini. Pada

  umumnya jawaban klise yang didapatkan dari pelaku pelacuran adalah karena kebutuhan hidup yang memaksa mereka untuk melakukannya walaupun sebenarnya mereka tidak ingin melakukan itu. Namun, tidak begitu halnya dengan motivasi pelaku Enjo Kōsai. Mereka melakukan

  Enjo Kōsaibukan karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidup,

  tetapi untuk mewujudkan keinginannya mendapatkan barang-barang mewah.

  3. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kemunculan fenomena Enjo

  Kōsaiini. Perubahan struktur keluarga Jepang yang membuat anggota

  keluarganya memiliki sedikit waktu untuk saling berinteraksi satu dengan yang lainnya dan pengaruh dari kerasnya sistem pendidikan sekolah yang hanya menekankan pada nilai akademis siswa-siswinya merupakan faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya praktik

  Enjo Kōsaiini. Besarnya

  keinginan remaja putri mengkonsumsi barang-barang mewah juga menjadi alasan mereka melakukan

  Enjo Kōsai.

  4. Enjo Kōsai juga menyebabkan banyak gadis remaja yang berhenti sekolah dan hamil diluar nikah.

  5. Upaya yang dilakukan keluarga dengan memberikan perhatian lebih pada remaja, karena kita tahu remaja sangat rentan dengan pemberontakan.

  Lebih banyak menjalin komunikasi yang baik dan meluangkan banyak waktu dengan remaja. Dengan begitu remaja akan merasa nyaman berada ditengah-tengah keluarga.

  6. Upaya yang dilakukan pihak sekolah seperti melakukan upaya dengan cara mengadakan bimbingan konseling tentang dampak yang ditimbulkan dari

  Enjo Kōsai.

  7. Pemerintah juga sudah melakukan upaya untuk mengurangi praktik Enjo

  Kōsaiini dengan membuat UU tahun 1999 yang menentang praktik Enjo Kōsaidan memberikan denda bagi pria-pria yang memakai jasa Enjo Kōsaisebesar 500.000 yen dan hukuman 1 tahun penjara.

4.2 SARAN

  1. Bagipara remajaJepang,perlulebihditekankanpadapengetahuansosialtentang bahayanyahubunganseksbebasdansebuahwadahuntukmempertanyakanseb erapa pentingkahhargadirimereka.Pemikirankonservatifmentebabkanpembicaraa n tentang seksmenjaditabu,sehingggaremajaJepangperlumendapatkanpendidikantent angseks dengandemikianmerekatidakperluterjunlangsunguntukmempelajarinya. Selainitu paraorangtuaJepangperlusesekalimengoreksi diri. Orangtuadansekolah perlulebih memperhatikan apayangdiinginkanolehremajatersebut,danperluditekankanbahwa perhatiandankasihsayangdariorang-orang tuaadalahlangkahawalyangterpenting untukmencegah

  Enjo Kōsai.

  2. Pemerintah juga harus sekuat tenaga berupaya mencegah terjadinya praktik

  Enjo Kōsai di Jepang.

  3. Enjo PendapatpenulismeskipunKogyaruberanggapanbahwa

  Kōsaimemiliki

  dampakpositifbagidirimereka,namunmenurutpenuliskarenadampaknegatif nya lebihbesardansangatmerugikan remaja putri itu sendiridanlingkungan sekitarmakasebaiknya Enjo Kōsai tidakdilakukan.

  DAFTAR PUSTAKA Fujitani, Kyoko. 2000. Kogal. Tokyo: Japanese Lifestyle Magazine.

  Fukutake, Tadashi. 1998. Masyarakat Jepang Dewasa Ini. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

  Gray, John. 2006. Children are From Heaven. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama..

  Hills, Ben. 1996. Japan Behind the Lines Sydney. Melbourne: The Sidney Morning Herald.

  Jolivet, Muriel. 1997. Japan : The Childless Society? The Crisiss of

  Motherhood. Terj. Anne Marie Glasheen. Inggris : Routledge

  Kakiuchi, Toshio. 1981. Oya ga Sodateba, Kodomo mo Sodats. Osaka : Meiji Tosho Shuppan Kabushiki Kaisha.

  Katsurajima, Nobuhiro. 2005. Ryugakusei no tame no Nihon Jijou Nyuumon.

  Kyoto : Bunrikaku. Koentjaraningrat. 1976. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT.

  Gramedia Pustaka Utama. Kuronuma, Katsushi. 1996.

  Enjo Kōsai: Joshi Chuukousei no Kikenna Houkago.

  Tokyo: Bungei Shunjuu. Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi (Fenomena pengemis kota Bandung).

  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Lawless, Jonathan W. 2008. The Representation of Marginal Youth in

  Contemporary Japanese Popular Fiction. Amherst : University of Massachusetts Amherst.

  Leheny, David. 2006. Think Global, Fear Local : Sex, Violence and Anxiety in Contemporary Japan. Ithaca : Cornell University Press.

  Liska, Mariska. 2011. Konsumerisme Sebagai Faktor Penarik Terjadinya

  Fenomena Enjo Kōsai Dalam Mayarakat Jepang Kontemporer. Jakarta:

  Universitas Indonesia. Mangdubrangti, Diah. 2010. Nihon Shakai Bunka Kenkyuu vol 3. Yutori Kyouiku : Education in Japanese Society.

  Miyadai, Shinji. 1994. Seifuku Joseitachi no Sentaku. Japan : Kodansha. Moleong, Lexy J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif (Cetakan Ke- 23).

  Bandung: PT. Serambi Ilmu Pustaka. Nasution, M. Arif. 2001. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Pratiwi, Yunita. 2007. Enjokosai Cerminan Hidup Matrealisme dan Hedonisme.

  Bandung: Universitas Kristen Maranatha. Sakuraba, Et.al. 2001. Joshi Kousei ni Okeru ‘Enjokousai’ no Haikei Youin.

  Tokyo : Nihon Kyouiku Shinrigaku Kai. Sheldon, Garon. 1993. The World’s Oldest Debate? Prostitusion and The State in Imperial Japan, 1900-1945. American Historical Review.

  Sinaga M, dan Sinuhaji J. 1997. Metode Penelitian. Medan. USU Press.

  Situmorang, Hamzon. 2009. Ilmu Kejepangan I (Edisi Revisi). Medan: USU Press.

  Sugimoto, Yoshio. 2003. An Introduction to Japanese Society. Cambridge : Cambridge University Press.

  Suyanto, Bagong dan J. Dwi Narwoko. Sosiologi Teks. Pengantar dan Terapan.

  Jakarta : Prenada Media. White, Merry. 1993. The Material Child Coming of Age in Japan and America.

  New York : The Free Press, A Division of Mac Millan Inc. http://id.wikipedia.org/wiki/konsumerisme (diakses 15 Maret 2015) http://www.weekender.co.jp/LatestEdition/980904/oped.hmtl(diakses 10 Maret

  2015) zainabzilullah.wordpress.com/2013/01/20/pemikiran-fenomenologi-menurut- edmund-husserl/ (diakses 10 Maret 2015) (diakses 16 Agustus 2015) diakses 16 Agustus 2015)

  diakses 22 Agustus 2015) diak ses 22 Agustus 2015) diakses 20 Agustus 2015) diaks es 22 Agustus 2015) (diakses 8 Agustus 2015) (diakses 8 Agustus 2015) diakses 20 Agustus 2015) diakses 16 Agustus

  2015)

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (65 Halaman)
Gratis

Tags

Lansia Di Jepang Shiatsu Di Jepang Pria Dewasa Fenomena Blackberry Dewasa Madya Fenomena Hallyu Icu Dewasa Fenomena Gyaru Fenomena Hedonisme Dewasa Muda Individu Dewasa Bahasa Jepang
Show more