JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) AS A MILITARY EQUIPMENT BY THE UNITED STATES OF AMERICA IN THE TERRITORY OF THE OTHER STATE ACCORDING TO THE INTERNATIONAL LAW ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK (UNMANNED AE

 5  86  85  2017-04-20 00:06:57 Laporkan dokumen yang dilanggar
ABSTRACT JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) AS A MILITARY EQUIPMENT BY THE UNITED STATES OF AMERICA IN THE TERRITORY OF THE OTHER STATE ACCORDING TO THE INTERNATIONAL LAW by ICHSAN JAYA KELANA Drone (Unmanned Aerial Vehicle / UAV) offered significant benefits in the civilian and military activities. However, the advantages in terms of production, survivability and flexibility led drone more used in military activities compared to the civil activities. The use of drone in practice of military activities was mostly conducted in the region of other countries that now it raised new legal issues, such as the use of drones by the United States in the territory of Afghanistan, Yemen, Somalia, Iran and Pakistan by reason of war-on-terror and self-deffence that had caused many civilian casualties and extensive damage to the object that protected by International Law. The problems about how the legality of drone usage in international law and how the regulation of international law for drone attacks by the United States in the territory another state became the problem of this study. The method used was the normative method with data collection procedures was through the main source of legal material. Data acquired and processed in this study were secondary data obtained from literature sources. Literature study was conducted by studying the literature, articles and other reading material related to the thesis research. As a drone aircraft, especially military aircraft of the state, it should be subjected to the Article 3 of the Chicago Convention of 1944, that its use in the outside of the state territory required a special authorization. Drone should also be subjected to the conventions regarding the means and methods of war, where every means and methods of war should be in accordance with the principles of international humanitarian law. Aggresions conducted by the United States against Afghanistan, Yemen, Somalia, Iraq and Pakistan were clearly a violation of international law. According to the Montevideo Convention 1933 on the rights and obligations of a sovereign nation, that actions were the violation of the sovereignty of another state jurisdiction, on the other hand the United States aggresion by the reason of self-defense did not meet the criteria and requirements contained in Article 51 of the Charter of the United Nations (UN) and it was contrary to Article 2 Paragraph 4 of the United Nations Charter on the use of military force in the territory of another state. The action of thr war-on-terror whose only purposed to eliminate any accused terrorist was not justified under Article 6 and Article 14 Convenan on Civil and Political Rights (ICCPR), while judging from the number of casualties and damages to civilian objects which were not military objectives had caused the assault as violations of the humanitarian law and war crimes as specified in Article 51 of Additional Protocol I to the Geneva Conventions of 1977, it was re-affirmed by a decision of the International Court of Justice (ICJ) in the case of Nicaragua vs. United States that stated any reason related to the use of military force and resulted any loss against civilians or civilian objects was a violation of values and humanitarian principles. Keywords: Unmanned Aircraft, International Law, United States of America. Aggresion ABSTRAK ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) SEBAGAI ALAT MILITER OLEH AMERIKA SERIKAT DI WILAYAH NEGARA LAIN MENURUT HUKUM INTERNASIONAL Oleh: ICHSAN JAYA KELANA Pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) memberikan manfaat yang besar dalam melakukan kegiatan sipil maupun militer. Namun, keunggulan dalam segi produksi, survivabilitas dan fleksibilitas menyebabkan pesawat tanpa awak lebih banyak digunakan dalam kegiatan-kegiatan militer dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan sipil. Penggunaan pesawat tanpa awak dalam kegiatan militer pada prakteknya banyak dilakukan di wilayah negara lain yang kini justru menimbulkan masalah hukum yang baru, seperti penggunaan pesawat tanpa awak oleh Amerika Serikat di wilayah Afganistan, Yaman, Somalia, Iran dan Pakistan dengan alasan war on terror dan self deffence yang telah banyak menimbulkan korban sipil dan kerusakan luas terhadap objek yang dilindungi hukum internasional. permasalahan mengenai bagaimana legalitas penggunanaan pesawat tanpa awak dalam hukum internasional serta bagaimana pengaturan hukum internasional yang berlaku bagi serangan pesawat tanpa awak oleh Amerika Serikat di wilayah negara lain menjadi rumusan masalah yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan bersifat normatif dengan prosedur pengumpulan data yang sumber utamanya adalah bahan hukum. Data yang diperoleh dan diolah dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari sumber kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara mempelajari literatur, artikel serta bahan bacaan lainnya yang berkaitan dengan penelitian skripsi. Pesawat tanpa awak sebagai pesawat udara negara khususnya pesawat militer tunduk pada Pasal 3 Konvensi Chicago 1944, bahwa penggunaannya di luar wilayah negara membutuhkan otorisasi khusus dari negara kolong. Pesawat tanpa awak juga harus tunduk pada konvensi-konvensi mengenai sarana dan metode berperang, dimana setiap sarana dan metode berperang harus sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Humaniter Internasional. Serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap negara Afganistan, Yaman, Somalia, Irak dan Pakistan jelas merupakan pelanggaran hukum internasional. Menurut Konvensi Montevideo 1933 mengenai hak dan kewajiban negara berdaulat, tindakan tersebut merupakan pelangaran terhadap kedaulatan yurisdiksi negara lain, di sisi lain serangan Amerika Serikat dengan alasan self defence tidak memenuhi kriteria dan syarat yang ada dalam Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sangat bertentangan dengan Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB mengenai penggunaan kekuatan militer di dalam wilayah negara lain. Tindakan war on terror yang hanya bertujuan untuk membunuh terduga teroris sangat tidak dibenarkan menurut Pasal 6 dan Pasal 14 Convenan on Civil and Political Right (ICCPR), sedangkan dilihat dari banyaknya korban dan kerusakan objek sipil yang bukan sasaran militer telah mengakibatkan serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum kemanusiaan dan merupakan kejahatan perang sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 51 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977, hal ini kembali ditegaskan dengan adanya putusan International Court of Justice (ICJ) dalam kasus Nicaragua vs Amerika Serikat yang menyatakan bahwa alasan apapun yang berkaitan dengan penggunaan kekuatan militer dan menimbulkan kerugian terhadap sipil atau objek sipil merupakan pelanggaran terhadap nilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Kata Kunci : Pesawat Tanpa Awak, Hukum Internasional, Serangan Amerika Serikat Persembahan Dengan rasa puji dan syukur kepada Allah Yang Maha Esa dan sukacita yang luar biasa, penulis mempersembahkan karya ini kepada: Ayahanda tercinta Hi. Yusanuli, S.H., M.H., dan Ibunda tersayang Emi Lusiana yang senantiasa memberikan limpahan kasih, cinta dan do’a serta pengorbanan yang tiada hentinya yang selalu menjadi kekuatan bagi penulis. Arief Rachman Hakim, S.H., kakak yang selalu menjadi panutan hidup serta selalu mendukung dan memberi motivasi pada setiap jalan hidupku. Adik tersayang Anizar Ayu Pratiwi yang selalu menemani dan menghiburku di setiap waktu. Ramita Rizka Aldina yang bersedia menjadi kawan bicara, berteduh, bersandar serta tempat berbagi keluh, kesah, suka dan cita di setiap waktunya.. Almamaterku tercinta… RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Semarang, pada tanggal 5 November 1992 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara oleh pasangan Hi. Yusanuli, S.H., M.H. dan Emi Lusiana.memiliki seorang kakak yang menempuh pendidikan perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Lampung dan telah lulus pada bulan Juni 2014 serta seorang adik perempuan yang juga berkuliah di Fakultas dan Universitas yang sama sejak tahun 2013. Penulis menyelesaikan Pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) di TK Taruna Jaya, Bandar Lampung pada tahun 1998. Sekolah Dasar (SD) di SD Al-Kautsar, Bandar Lampung tahun 2004. Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 4 Rawa Laut, Bandar Lampung, tahun 2007. Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA YP Unila, Bandar Lampung pada tahun 2010. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung (FH UNILA) melalui jalur Penelusuran Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB) pada tahun 2010. Selama menjadi mahasiswa penulis aktif di berbagai organisasi mahasiswa internal Fakultas Hukum seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum (BEM-FH), Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Mahasiswa Hukum Pengkaji Masalah Hukum (UKMF-MAHKAMAH), Perhimpunan Mahasiswa Hukum untuk Seni (PERSIKUSI) dan Himpunan Mahasiswa Hukum Internasional (HIMA-HI). Penulis juga aktif pada kegiatan organisasi eksternal kampus yaitu Himpunan mahasiswa Islam (HmI) Komisariat Hukum Universitas Lampung, Cabang Bandar Lampung, dengan mengikuti Latihan Kader I (Basic Training) pada tahun 2010 dan Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional Cabang Depok pada tahun 2011. Penulis juga melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Gunung Pekuwon, Kecamatan Gunung Labuhan, Kabupaten Way Kanan pada tahun 2013. MOTO Engkau berpikir tentang dirimu sebagai seonggok materi semata, padahal di dalam dirimu tersimpan kekuatan yang tak terbatas -Ali Bin Abi ThalibClose your eyes, clean your heart -The KillersMelangkahlah menutut ilmu untuk mencapai keselamatan -Nabi Muhammad SAWBersabarlah, karna sebenarnya ketergesaan menghasilkan kegagalan -Penulis- Persembahan Dengan rasa puji dan syukur kepada Allah Yang Maha Esa dan sukacita yang luar biasa, penulis mempersembahkan karya ini kepada: Ayahanda tercinta Hi. Yusanuli, S.H., M.H., dan Ibunda tersayang Emi Lusiana yang senantiasa memberikan limpahan kasih, cinta dan do’a serta pengorbanan yang tiada hentinya yang selalu menjadi kekuatan bagi penulis. Arief Rachman Hakim, S.H., kakak yang selalu menjadi panutan hidup serta selalu mendukung dan memberi motivasi pada setiap jalan hidupku. Adik tersayang Anizar Ayu Pratiwi yang selalu menemani dan menghiburku di setiap waktu. Ramita Rizka Aldina yang bersedia menjadi kawan bicara, berteduh, bersandar serta tempat berbagi keluh, kesah, suka dan cita di setiap waktunya.. Almamaterku tercinta… SANWACANA Bismillaahirrohmaanirrohiim, Puji syukur penulis ucapkan ke-hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan ridho-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi dengan judul “Analisis Yuridis Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Sebagai Alat Militer oleh Amerika Serikat di Wilayah Negara Lain Menurut Hukum Internasional” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum di Universitas Lampung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung atas kesediaannya meluangkan waktu, tenaga, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini; 2. Bapak Naek Siregar, S.H., M.H., selaku pembimbing utama yang dengan sabar membimbing dan meluangkan waktu, tenaga, pemikiran serta segala masukan dalam proses penyelesaian skripsi ini; 3. Bapak Abdul Muthalib Tahar, S.H., M.Hum., selaku Ketua bagian Hukum Internasional sekaligus Pembahas Utama atas kesediaannya meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini; 4. Ibu Desy Churul Aini, S.H., M.H., selaku Pembimbing Kedua atas kesabarannya untuk meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian skripsi ini; 5. Bapak Ahmad Syofyan, S.H., M.H., selaku Pembahas Kedua atas kesediaannya meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan saran dan kritik yang membangun dalam proses penyelesaian skripsi ini; 6. Bapak Prof. Sunarto D.M, S.H., M.H., selaku Pembantu Rektor III sekaligus Pembimbing Akademik; 7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum, khususnya bagian Hukum Internasional (Bapak DR. Khaidir Anwar, S.H., M.H., Ibu Melly Aida, S.H., M.H., Ibu Widya Krulinasari, S.H., M.H., dan lain-lain), atas bimbingan, masukan, saran dan kritik yang sangat membantu dalam penyelesaian skripsi ini; 8. Bapak Marjiyono, Bapak Sujarwo dan Bapak Supendi selaku Staf Administrasi Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Lampung, atas bantuan, saran, masukan serta motivasi yang diberikan dalam penyelesaian skripsi ini; 9. Squad of International Law 2010 ( Muhammad Haves, S.H., M. Insan Tarigan, S.H., Jefry, Ade A.Y Marbun, S.H., Kisti Artiasha, S.H., Adji, Aryo, Ozi, Reza, Emi, Siska dan Mba Aldis) atas rasa kekeluargaan, kebersamaan, dukungan dan pengalaman serta pelajaran luar biasa yang kalian berikan. Akan selalu mengingat hari dimana kita bersama; 10. Teman-teman Rumah Bagus Productions (RBP) (Bagus, Havez, Jefrry, Jana, Insan, Reza, Inggit) untuk cinta kasih, tawa, dukungan dan kebersamaannya selama ini; 11. Buat kawan-kawan seperjuangan (Hardiansyah, Rindi Purnama, Dani Amran Hakim, Zulkipli, Aristo, Haikal, Farid Anfasa, Taufik Ardiansyah, Aristo), untuk kebersamaannya, dukungan dan kekeluargaan yang sangat luar biasa. 12. Presidium HmI Komisariat Hukum Unila periode 2010-2011, 2011-2012 dan 2012-2013 untuk kerjasama, bimbingan di organisasi dan pengalaman yang berharga selama ini. 13. Keluarga besar HmI Komisariat Hukum Unila, untuk kebersamaan, pengalaman serta kekeluargaan yang sangat luar biasa. 14. Kepada semua pihak yang terlibat namun tidak dapat disebutkan satu persatu, penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Bandar Lampung, 15 Juli 2014 Penulis Ichsan Jaya Kelana DAFTAR ISI Halaman ABSTRACT ABSTRAK HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN RIWAYAT HIDUP PERSEMBAHAN MOTO SANWACANA DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah............................................................................ 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................. 1.3.1. Tujuan Penelitian........................................................................... 1.3.2. Manfaat Penelitian......................................................................... 1.4. Ruang Lingkup Kajian .............................................................................. 1.5. Sistematika Penulisan ............................................................................... 1 11 11 11 11 12 13 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian-pengertian ............................................................................... 15 2.1.1. Analisis Yuridis ............................................................................. 15 2.1.2. Alat Militer .................................................................................... 16 2.2. Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) .......................... 17 2.2.1. Jenis - Jenis Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV)................................................................................. 19 2.2.1.1. RQ8A Fire Scout ............................................................ 19 2.2.1.2. RQ2B Pioneer ................................................................ 19 2.2.1.3. Boeing Scan Eagle ......................................................... 2.2.1.4. Northrop Grumman Global Hawk ................................. 2.2.1.5. General Atomics MQ9 Reaper ....................................... 2.2.1.6. Aero Vironment Raven ................................................... 2.2.1.7. Bombardier CL 327 VTOL ............................................. 2.2.1.8. Yamaha RMAX ............................................................... 2.2.1.9. Puna, Indonesia .............................................................. 2.2.2. Fungsi Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) ................................................................................ 2.2.2.1. Fungsi Sosial dan Sipil................................................... 2.2.2.2. Fungsi Militer dan Publik .............................................. 2.2.3. Perbandingan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dengan Pesawat Berawak Sebagai Alat Militer ..... 2.2.3.1. Keterjangkauan (Affordability) ....................................... 2.2.3.2. Ketepatan Serangan dan Pertahanan Diri (On Target Attack and Survivability) .............................. 2.2.3.3. Kecepatan (Speed)........................................................... 2.2.3.4. Range .............................................................................. 2.2.3.5. Fleksibilitas (Flexibility) ................................................. 2.3. Hak Pembelaan Diri (Self Defence) .......................................................... 2.4. Perang Melawan Terorisme (War on Terror) ........................................... 2.5. Prinsip Yurisdiksi Universal ..................................................................... 2.6. Asas-Asas Hukum Humaniter Internasional ............................................. 2.6.1. Asas Kepentingan Militer.............................................................. 2.6.2. Prinsip Proporsional (Proportionality) ......................................... 2.6.3. Prinsip Pembedaan (Distinction) ................................................... 2.6.4. Larangan Menyebabkan Penderitaan yang Tidak Seharusnya (Prohibition of Causing Unnecessary Suffering) .......................... 2.6.5. Asas Perikemanusiaan ................................................................... 2.6.6. Asas Kesatriaan ............................................................................. 2.6.7. Asas Keterpaksaan (Necessity)...................................................... 2.7. Pengaturan Mengenai Sarana dan Metode dalam Berperang ................... 2.7.1. Metode dan sarana Berperang Dalam Konvensi-Konvensi Den Haag 1907 .............................................................................. 2.7.2. Sarana dan Metode Berperang Menurut Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977 .................................................................. 2.8. Orang-orang Sipil dan Objek-objek yang Dilindungi Hukum Humaniter Internasional ............................................................................ 20 20 21 22 22 23 23 24 24 25 25 25 26 28 29 30 31 32 35 38 39 39 39 40 41 41 42 42 42 45 47 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian.......................................................................................... 3.2. Pendekatan Masalah .................................................................................. 3.3. Sumber Data .............................................................................................. 3.3.1. Bahan Hukum Primer .................................................................... 3.3.2. Bahan Hukum Sekunder................................................................ 3.4. Metode Pengumpulan Data dan Pengolahan Data .................................... 50 51 52 52 53 53 3.4.1. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 53 3.4.2. Metode Pengolahan Data .............................................................. 54 3.5. Analisis Data ............................................................................................. 54 IV. HASIL PENELITIAN 4.1. Relevansi Hukum Internasional Terkait Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) sebagai Alat Militer .................. 4.1.1. Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Sebagai Pesawat Udara Militer di Wilayah Negara Lain ................................................................................... 4.1.2. Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Sebagai Sarana dan Metode Berperang ................ 4.1.2.1. Konvensi Den Haag 1907 .............................................. 4.1.2.2. Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1949................ 4.2. Serangan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) oleh Amerika Serikat di Wilayah Negara Lain Menurut Hukum Internasional .............................................................................................. 4.2.1. Pelanggaran Terhadap Asas-asas Hukum Humaniter Internasional .................................................................................. 4.2.1.1. Prinsip Proporsional (Proportionality) .......................... 4.2.1.2. Larangan Menyebabkan Penderitaan yang Tidak Seharusnya (Prohibition of Causing Unnecessary Suffering)......................................................................... 4.2.1.3. Asas Perikemanusiaan..................................................... 4.2.2. Tindakan Pembunuhan Berencana (Targeted Killing) .................. 4.2.3. Pelanggaran Kedaulatan Negara Lain ........................................... 4.2.4. Penggunaan Kekuatan Bersenjata (Use of Armed Force) dan Pelanggaran Prinsip Non-intervensi .............................................. 4.3 Serangan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) di Wilayah Negara Lain dalam Perspektif Amerika Serikat ......................... 4.3.1. Perang Melawan Terorisme (War on Terror) Berdasarkan Hukum Humaniter Internasional ................................................... 4.3.2. Self Deffence Amerika Serikat ...................................................... 4.3.3. Penerapan Yurisdiksi Universal Terhadap Kejahatan Terorisme ...................................................................................... 56 57 62 63 66 70 70 71 73 76 78 81 88 95 95 98 103 V. PENUTUP 5.1. Kesimpulan ............................................................................................... 108 5.2. Saran ......................................................................................................... 111 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR GAMBAR Gambar 1. RQ 8A Fire Scout ........................................................................... 19 Gambar 2. RQ 2B Pioneer ............................................................................... 19 Gambar 3. Boing Scan Eagle ........................................................................... 20 Gambar 4. Norhrop Grumman Global Hawk ................................................... 20 Gambar 5. General Automics MQ9 Reaper ..................................................... 21 Gambar 6. Aero Vironment Raven .................................................................. 22 Gambar 7. Bombardier CL 327 ........................................................................ 22 Gambar 8. Yamaha RMAX.............................................................................. 23 Gambar 9. Puna ................................................................................................ 23 1 BAB I PENDAHULAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi di era modern kini telah memberikan banyak keuntungan dalam segala kebutuhan atau keperluan manusia, baik dalam bidang informasi, komunikasi, transpotasi dan bidang-bidang lainnya. Berbagai jenis teknologi dan perlengkapan diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih efektif, cepat dan mudah. Penciptaan teknologi baru tidak hanya membawa dampak positif dalam kehidupan manusia, terlebih penciptaan, pengembangan atau penemuan tersebut membawa manusia dalam segala hal yang lebih bersifat instan. Dampak negatif yang paling nyata sering terjadi di dalam perkembangan teknologi militer atau alat berperang yang sewaktu-waktu berpotensi mengancam kehidupan manusia.1 Negara-negara maju pada era modern terlihat berlomba-lomba untuk menemukan, mengembangkan atau menciptakan persenjataan yang lebih unggul. 2 Perlombaan dalam mengembangkan sarana dan metode berperang oleh banyak negara tersebut 1 Lihat, Ronan Doaré, Didier Danet, Jean-Paul Hanon, & Gérard de Boisboissel, Robots on the Battleield Contemporary Issues and Implications for the Future, Combat Studies Institute Press, Fort Leavenworth, Kansas, 2014. Hlm. 89-90 2 Ibid. 2 justru menimbulkan potensi terjadinya penyalahgunaan yang akan mengancam pencapaian perdamaian dan keamanan internasional serta penghormatan terhadap nilai kemanusiaan, seperti munculnya senjata nuklir, biologi, kimia, peluru kendali, misil pendeteksi panas dan senjata non-konvensional lainnya pasca perang dunia kedua yang merupakan contoh nyata dapak negatif dari perkembangan sarana dan metode berperang, perkembangan teknologi militer yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dunia internasional adalah lahirnya teknologi pesawat tanpa awak, yang perkembangannya pada dekade terakhir ini telihat tidak dapat diimbangi oleh kemajuan pengaturan hukum internasional.3 Pesawat tanpa awak memiliki manfaat yang sangat besar bagi negara yang memilikinya, terutama untuk mendukung kegiatan-kegiatan sosial maupun militer. Fungsi positif penggunaan pesawat tanpa awak pada kegiatan-kegiatan sosial antara lain, sebagai sarana transportasi logistik di daerah terpencil yang sulit diakses, pemetaan jalur pipa, kegunaan pertanian, pemadam kebakaran serta pencarian orang hilang. Bahkan kini Amerika Serikat telah memberikan sertifikasi terhadap pesawat tanpa awak jenis Northrop Grumman Global Hawk untuk dapat digunakan sebagai alat transportasi sipil lintas negara. Pesawat tanpa awak dalam melaksanakan tugas militerpun memiliki keunggulan yang sangat baik dibandingkan teknologi pesawat udara militer lainnya, yaitu sebagai alat pengintai, pemburuan terduga militan, melaksanakan misi pada wilayah-wilayah 3 Orasi Ilmiah, Abad 21 Akan Muncul Senjata Pemusnah Massal!, 2009, diakses dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2009/08/21/11370514/orasi.ilmiah.abad.21.akan.muncul.senj ata.pemusnah.massal, pada tanggal 27 Juni 2014, pukul: 19.10 WIB. 3 yang berbahaya, dan untuk melakukan patroli keamanan secara rutin serta membantu tugas-tugas kepolisian.4 Pesawat tanpa awak muncul pertama kali sebagai alat militer pada abad ke 18 yang digunakan oleh North Atlantic Treaty Organizations (NATO) untuk keperluan pengintaian dan mata-mata, demikian pula Amerika Serikat telah menggunakan pesawat tanpa awak sebagai alat pengintai pada perang teluk tahun 1990, bahkan jauh sebelumnya Israel telah menggunakan pesawat tanpa awak pengintai pada tahun 1982 dan tahun 1996 di Lebanon. Pesawat tanpa awak pada prakteknya memang lebih banyak digunakan sebagai alat militer. Minimnya resiko dalam melakukan misi-misi berbahaya, tingkat efisiensi penggunaan yang tinggi serta biaya produksi yang lebih kecil dibandingkan dengan pesawat berawak menjadi alasan utama mengapa pesawat tanpa awak sangat diminati penggunaannya di bidang militer. Keunggulan-keunggulan tersebut juga menyebabkan pesawat tanpa awak banyak digunakan dan dikembangkan di berbagai negara.5 Pesawat tanpa awak pada prakteknya memiliki target sasaran yaitu berupa sekelompok orang yang menunjukan tanda-tanda, atau karakteristik tertentu akan tetapi identitas mereka tidak diketahui. Definisi target dalam serangan pesawat tanpa awak yang tidak spesifik, mendetil serta tidak adanya penyelidikan terlebih dahulu mengakibatkan banyak jatuhnya korban jiwa yang bukan merupakan target 4 Witny Tanod, Analisis Yuridis Terhadap Penggunaan Kekuatan Bersenjata Dengan Menggunakan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Drones) Dalam Hukum Internasional, 2013, diakses dari: ejournal.unsrat.ac.id/index.php/lexcrimen/article/download/1009/822, pada tanggal 5 Mei 2014, pukul 10.00 WIB. Hlm. 3 5 Aviasi dan Alutsista, Keunggulan Pesawat Tanpa Awak, 2011, diakses dari: http://www.aviasista.com/2011/12/keunggulan-pesawat-tanpa-awak.html, pada tanggal: 27 Juni 2014, pukul: 20.00 WIB. 4 atau sasaran militer. Bahkan dalam melakukan penyerangan, pesawat tanpa awak kini telah dilengkapi sistem mandiri atau otonom, dengan hanya diprogram sebelumnya pesawat dapat menyerang tanpa kendali dan tanpa peringatan terhadap objek yang sesuai dengan program targetnya.6 Pada satu sisi perkembangan teknologi, khususnya pengembangan pesawat tanpa awak memang memberikan banyak manfaat yang positif, namun di sisi lain kemajuan teknologi tersebut tidak dapat diimbangi dengan kemajuan hukum yang ada, sehingga kesenjangan ini justru berpeluang terjadinya penyalahgunaan kekuatan militer tersebut. Ketentuan-ketentuan yang terdapat pada ke empat Konvensi Jenewa 1949 mengenai perlindungan korban perang, serta pengaturan-pengaturan mengenai alat dan metode berperang pada Konvensi-konvensi Den Haag 1907 telah memberikan petunjuk yang jelas mengenai apa yang dimaksud sebagai pelanggaran penggunaan kekuatan militer. Contoh tindakan yang merupakan penyalahgunaan kekuatan militer terdapat di dalam Pasal 50 Konvensi Jenewa I 1949 bahwa yang merupakan pelanggaan berat dalam penggunaan sarana dan metode berperang yaitu, pembunuhan yang disengaja, penganiayaan atau perlakuan tak berkeperimanusiaan, menyebabkan dengan sengaja penderitaan besar atau luka berat atas badan dan kesehatan, pembinasaan luas, tindakan pemilikan atas harta benda yang tidak dibenarkan oleh kepentingan militer dan dilaksanakan dengan melawan hukum serta penyerangan yang dilakukan dengan membabi buta. Ketentuan-ketentuan bersamaan dalam Hukum Humaniter Internasional (HHI) juga telah mentapkan bahwa segala sarana dan metode 6 Covert Drone War, diakses dari: http://www.thebureauinvestigates.com/category.drones, pada tanggal 10 Januari 2014, pukul 11.22 WIB. 5 berperang harus sesuai dengan prinsip-prinsip atau asas-asas yang menjadi dasar dalam penggunaan kekuatan militer di setiap situasi dan kondisi konflik apapun.7 Segala bentuk sarana dan metode berperang yang bertentangan dengan prinsip dan asas-asas HHI tersebut secara tegas dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran penggunaan kekuatan militer. Amerika Serikat akhir-akhir ini kerap menggunakan pesawat tanpa awak yang biasa disebut Unmanned Aerial Vehicle (UAV), dan merupakan pesawat udara yang dapat diterbangkan dari jarak jauh atau dioperasikan tanpa menggunakan keahlian awak penerbangan di dalamnya. Pesawat tanpa awak khususnya pada fungsi militer memiliki kekuatan dan kecepatan yang memang dirancang untuk melakukan pengintaian, serangan senjata berat serta melakukan penyerangan tak terduga.8 Pesawat tanpa awak dalam penggunaannya oleh Amerika Serikat dipersenjatai dengan rudal-rudal dan dapat menjatuhkan bom yang mampu menimbulkan kerusakan yang sangat serius. Mengingat besarnya peluang terjadinya penyalahgunaan kekuatan militer pada pesawat tanpa awak, maka membatasi penggunaannya sebagai alat militer sangatlah penting.9 Contoh kasus yang merupakan penyalahgunaan pesawat tanpa awak yaitu serangan Amerika Serikat terhadap negara Afganistan, Irak, Yaman, Somalia dan Pakistan dengan 7 Use force, diakses dari: http://fl.unud.ac.id/block-book/HI/course%20materials/use% 20force. docx, pada tanggal 27 Juni 2014, pukul 20.30 WIB. 8 The New York Times, Predator Drones and Unmanned Aerial Vehicles (UAVs), diakses dari: http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/subjects/u/unmanned_aerial_vehicles/ index.html, pada tanggal 5 September 2013, pukul 07.41 WIB. 9 O'Connell dan Mary Ellen, Socio-Legal Perspectives on the Use of Lethal Force: A case study of Pakistan, Oxford, 2004-2009. Hlm. 84 6 alasan spionase jaringan terrorisme dan berbagai macam alasan bahkan dengan memanfaatkan hak personalitasnya. 10 Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengakui telah menggunakan pesawat tanpa awak yang dilengkapi misil untuk menyerang target yang mengancam patroli Amerika Serikat dan Inggris di Irak Selatan pada Oktober 2002.11 Penyerangan Amerika Serikat terhadap negara-negara Timur Tengah dengan menggunakan pesawat tanpa awak telah menimbulkan kerusakan skala besar dan kerusakan lingkungan dalam jangka waktu yang lama bahkan banyak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang bukan merupakan sasaran militer.12 Amerika Serikat mengatakan serangan ini menargetkan terroris, namun sumbersumber data menyatakan warga sipil telah menjadi korban utama dari serangan tersebut. Selain Amerika Serikat, Israel juga merupakan pihak yang sering melanggar aturan internasional terkait penggunaan pesawat tanpa awak, salah satu bukti nyata ialah serangan pesawat tanpa awak oleh rezim Israel di jalur Gaza pada 14 Agustus 2007 sampai dengan sekarang.13 Hasil penelitian yang dilakukan para aktivis hak asasi manusia di Oxford University menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Barack Obama diperkirakan mencapai 2.400 jiwa. Sedangkan The Bureau of Investigative Journalism (TBIJ), mengatakan bahwa selain operasi pesawat tanpa awak di wilayah Afganistan, 10 The New York Times, Predator Drones and Unmanned Aerial Vehicles (UAVs). Op. Cit. News, Serangan pesawat tanpa awak (UAV) 2004-2009, diakses dari www.mirror.unpad.ac.id koran ... korantempo 2011-12-0 .pd , pada tangal 18 Desember 2013, pukul 19.36 WIB. 12 Ibid. 13 Menit.tv, Pesawat Tanpa Awak AS Banyak Makan Korban Sipil, 2013, http://m.menit.tv /welcome/read/2013/10/24/24866/0/14/Pesawat-Tanpa-Awak-AS-Banyak-Makan-Korban-Sipil, pada tanggal 10 Januari 2014, pukul 10.55 WIB. 11 7 Pemerintahan Barack Obama juga mengembangkan program pengunaan pesawat tanpa awak otonom di Pakistan dan juga meningkatkan penggunaannya di Yaman dan Somalia dan negara-negara lainnya yang dianggap sebagai basis Al-Qaeda.14 Human Rights Watch dan Amnesti Internasional pada bulan Oktober 2009 sampai pada Januari 2012 telah menerbitkan dua laporan yang mengkritik keras kerahasiaan program pesawat tanpa awak Amerika Serikat, dan menyerukan penyelidikan atas kematian korban serangan yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan terrorisme atau tujuan militer yang akan dicapai. Meskipun Amerika Serikat menyatakan bahwa target serangan adalah anggota kelompok terroris, seperti Hakimullah Mehsud, pemimpin Taliban Pakistan yang dituduh bertanggung jawab atas kematian ratusan warga sipil dalam berbagai tindak kejahatan terrorisme yang dinyatakan tewas dalam serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat di Pakistan,15 namun Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif berulang kali menuntut diakhirinya serangan di Pakistan dengan menyatakan bahwa penggunaannya bukan hanya merupakan pelanggaran terus-menerus terhadap integritas teritorial Pakistan, tetapi juga merugikan tekad dan upaya pemerintah domestik untuk menghilangkan terrorisme dari negara Pakistan yang kini justru semakin kuat dan terorganisir.16 Menyikapi pernyataan Perdana Menteri Pakistan, Pengadilan Tinggi Peshawar pada bulai Mei 2012 telah memutuskan bahwa serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat di wilayah Pakistan adalah ilegal dan tidak manusiawi, 14 Ibid. PBB Minta AS Serahkan Data Korban Serangan Pesawat Tanpa Awak, diakses dari: http://www.bbc.co.uk /indonesia/dunia/2013/10/131018_amerika_pesawattanpaawak.shtml, pada tanggal 10 Januari 2014, pukul 10.40 WIB. 16 Ibid. 15 8 melanggar piagam PBB tentang hak asasi manusia serta merupakan kejahatan perang.17 Amerika Serikat memang telah mengurangi jumlah serangan pesawat tanpa awak di Pakistan setelah keluarnya putusan Peshawar, Pemerintahan Barack Obama berjanji akan menerapkan aturan ketat dan transparansi yang lebih baik untuk program tersebut, akan tetapi pesawat tanpa awak Amerika Serikat masih terus terbang di atas wilayah Pakistan, meskipun tidak melakukan penyerangan.18 Amerika Serikat dan sekutunya menginvasi Afghanistan, Yaman, Somalia, Irak dan Pakistan setelah serangan terroris yang terjadi pada 11 September 2001 sebagai bagian dari tindakan perang melawan terror. Tindakan perang melawan terror mendapatkan kritikan keras dari berbagai elemen masyarakat internasional. New Amerika Foundation yang bermarkas di Washington menyatakan ada 350 serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat sejak tahun 2004 selama pemerintahan Presiden Barack Obama. New Amerika Fwoundation juga memperkirakan jumlah korban tewas khusus invasi Amerika Serikat ke Afganistan berjumlah 1.963 dan 3.293. Selanjutnya TBIJ mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan-serangan di Pakistan, Yaman dan Somalia antara 3.072 sampai 4.756 orang.19 Pesawat tanpa awak Amerika Serikat melakukan serangan di negara Pakistan dengan total 380 serangan, serta serangan pada masa pemerintahan Barack Obama berjumlah 329 serangan dengan total terbunuh 2.534-3.642 orang termasuk didalamnya korban anak-anak berjumlah 168-200 orang dan korban luka 1.127-1.556 orang. 17 Drone: Perang Tanpa Moralitas Ala Amerika, diakses dari, http://syamina.org/ syamina5-DRONE-Perang-Tanpa-Moralitas-Ala-Amerika.html, pada tanggal 10 Januari 2014, pukul 10.00 WIB. Op. Cit. 18 Menit.tv, Pesawat Tanpa Awak AS Banyak Makan Korban Sipil, Op. Cit. 19 Ibid. 9 sedangkan serangan pesawat tanpa awak di negara Yaman total 55-65 serangan, total terbunuh 269-389 orang, anak terbunuh: 5 orang serta dengan serangan tambahan berjumlah 83-102 serangan, dengan data total terbunuh 302-481 orang, terluka 81-108 orang dan serangan operasi lain berjumlah 12-77 serangan, dengan korban terbunuh 144-380 orang, anak-anak 24-26 orang serta korban terluka 22114 orang. Selain itu serangan terhadap negara Somalia dengan total serangan 410, total terbunuh 9-30 orang, terluka 2-24 orang serta meliputi serangan pada operasi lainnya berjumlah 8-15 serangan, total terbunuh 48-150 orang, anakanak 1-3 orang.20 United Nations (UN) Secretary-General Ban Ki-moon pada saat dilangsungkannya The Inaguration of a Centre for International Peace and Stability di Islamabad menyatakan bahwa penggunaan pesawat tanpa awak harus tunduk pada aturan hukum internasional yang sudah lama berlaku, termasuk hukum kemanusiaan internasional sama seperti sarana dan metode berperang lainnya.21 Ban Ki-moom juga mengatakan bahwa penggunaan pesawat tanpa awak oleh Amerika Serikat di wilayah negara-negara lain yang banyak mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, menimbulkan keprihatinan tinggi terhadap terlaksananya hukum internasional. Selain itu United Nations Commission on Human Rights (UNCHR) juga telah menyerukan Amerika Serikat untuk memastikan kepatuhan terhadap hukum internasional yang berlaku dan menekan 20 The Bureau of Investigative Journalism, Covert Drone War, diakses dari: http://www.thebureauinvestigates.com/category/projects/drones/, pada tanggal 21 Juni 2014, pukul 10.50 WIB. 21 The New York Times, Journal of a Centre for International Peace and Stability in Islamabad, diakses dari http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/subjects/uav/ Peace and Stability index.html, pada tanggal 5 September 2013, pukul 07.41 WIB. 10 penyalahgunaan kekuatan militer yang dilarang dalam hukum internasional terkait penggunaan pesawat tanpa awak.22 Hukum internasional telah memberikan kewajiban kepada negara yang mengembangkan sarana dan metode berperang yang dicantumkan di dalam Pasal 36, Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977 untuk menyikapi banyaknya masalah yang timbul karena perkembangan sarana dan metode berperang yang begitu pesat dengan menyatakan: “Apabila suatu negara mengadakan studi, mengembangkan suatu senjata baru atau cara berperang baru, maka negara tersebut diharuskan menentukan apakah penggunaannya akan dilarang oleh protokol ini dan ketentuan lain dari hukum internasional yang berlaku bagi negara tersebut” (Pasal 36) Ketentuan di atas menuntut dan mewajibkan negara-negara yang mengembangkan alat dan metode berperang baru untuk mengkaji dan menilai apakah alat dan metode berperang yang dikembangkan sesuai dengan ketentuan Protokol, nilainilai kemanusiaan serta hukum internasional lainnya yang terkait dan wajib dihormati oleh semua pihak.23 Pesawat tanpa awak terkait penggunaannya yang marak oleh berbagai negara hingga saat ini memang belum memiliki pengaturan khusus, namun hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan pengkajian terhadap ketentuan hukum internasional serta mengumpulkan ketentuan-ketentuan yang relevan untuk dapat dijadikan sebagai dasar hukum dalam penggunaan pesawat tanpa awak. Dengan demikian penulis memilih penelitian dengan judul “Analisis Yuridis Penggunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Sebagai Alat Militer oleh Amerika Serikat di Wilayah Negara Lain Menurut Hukum Internasional. 22 Ibid. Ahmad Baharudin Naim, Hukum Humaniter Internasional, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2010. Hlm. 3 23 11 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengaturan hukum internasional yang relevan untuk menjadi dasar hukum terkait penggunaan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) sebagai alat militer? 2. Apakah serangan menggunakan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) oleh Amerika Serikat di wilayah negara lain melanggar hukum internasional? 1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian a. Mengetahui dan menganalisis pengaturan hukum internasional yang relevan untuk menjadi dasar hukum penggunaan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) sebagai alat militer. b. Mengetahui dan menganalisis apakah serangan menggunakan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) oleh Amerika Serikat di wilayah negara lain telah melanggar hukum internasional. 1.3.2. Manfaat Penelitian a. Kegunaan Teoritis Berguna untuk pengembangan kemampuan berkarya ilmiah dan daya nalar, dengan acuan yang disesuaikan dengan disiplin ilmu yang dipelajari yaitu hukum pada umumnya dan hukum internasional pada khususnya serta 12 berguna untuk menambah pengetahuan teoritis dalam penelitian yang berkaitan dengan hukum internasional. b. Kegunaan Praktis Sebagai bahan bacaan dan tambahan pengetahuan terkait dengan penggunaan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) menurut hukum internasional, serta sebagai bahan acuan awal analisis lebih lanjut mengenai pengaturan hukum internasional terhadap dampak penyalahgunaan kekuatan militer serta sebagai bahan bacaan dan bahan ajar hukum humaniter internasional mengenai penggunaan alat atau kekuatan militer. 1.4. Ruang Lingkup Kajian Ruang lingkup kajian yang diteliti adalah menganalisis hukum internasional yang relevan dan dapat berlaku untuk dijadikan dasar hukum terkait penggunaan pesawat tanpa awak yang digunakan sebagai alat militer dan bukan pada fungsinya dalam bidang sosial atau sipil. Permasalahan kedua mengenai serangan pesawat tanpa awak yang dilakukan oleh amerika serikat diwilayah negara lain, peneliti membatasi pengkajian yang ada dalam skripsi ini dengan menitik beratkan pada pertanyaan mengenai hukum apa yang menjadi dasar bagi serangan tersebut. Peneliti juga menempatkan dua pandangan, dimana pengkajian pertama melihat hukum internasional secara normatif melalui pengaturan-pengaturan yang berkaitan dengan kasus, sedangkan pandangan kedua dengan melihat dari sudut subjektif Amerika Serikat mengenai alasan dan faktor yang menjadi pembenaran atas serangan tersebut. Dua pandangan tersebut berfungsi untuk membentuk pendapat yang lebih komprehensif. 13 1.5. Sistematika Penulisan Peneliti menulis skripsi ini dengan merujuk pada pedoman penulisan karya ilmiah pada umumnya, Penulisan skripsi ini dibagi menjadi 5 (lima) Bab, yaitu: BAB I: PENDAHULUAN Bab ini menguraikan latar belakang permasalahan mengenai lahirnya teknologi pesawat tanpa awak sebagai alat militer modern yang menjadi sorotan dunia internasional dewasa ini, serta menghadirkan data dampak dari penggunaannya di wilayah negara lain oleh Amerika Serikat. Dikemukakan pula rumusan masalah yang akan diteliti dan tentang apa tujuan penulis dalam tulisannya, serta yang terakhir adalah tentang bagaimana sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini. BAB II: TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan meringkas dan menjelaskan tentang istilah yang ada dalam penelitian. Membentuk landasan teori yang sesuai dengan ruang lingkup bahasan mengenai penggunaan pesawat tanpa awak serta menjelaskan secara umum asas dan prinsip HHI. Bab ini juga mencantumkan tinjauan umum mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan pesawat tanpa awak militer oleh Amerika Serikat di wilayah negara lain yang bertujuan untuk menunjang hasil penelitian. BAB III: METODE PENELITIAN Bab ini memuat penjelasan tentang metode yang digunakan penulis dalam penyusunan dan penelitiannya, akan diuraikan secara singkat mengenai cara penulis dalam melakukan pendekatan masalah serta kemudian menjelaskan 14 bagaimana penulis menghimpun dan mengolah data hingga menjadi tulisan yang dapat dipahami, akan ditampilkan pula jenis analisis data yang digunakan dalam penelitian. BAB IV: PEMBAHASAN Bab ini mengandung hasil penelitian yang dilakukan penulis sebagai hasil pengolahan data yang merupakan jawaban atas permasalahan yang diteliti. Selanjutnya akan memaparkan hukum yang relevan untuk menjadi landasan hukum bagi penggunaan pesawat tanpa awak, dan akan menampilkan serta menguraikan hukum yang berlaku dalam kasus penggunaan pesawat tanpa awak sebagai alat militer oleh Amerika Serikat di wilayah negara Afganistan, Yaman, Somalia, Irak dan Pakistan. BAB V: PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan, garis besar atau pokok pikiran dari hasil penelitian. kesimpulan merupakan uraian singkat hasil analisis penulis terhadap permasalahan. Dalam bab ini pula akan disertakan saran-saran yang didasarkan atas hasil keseluruhan penelitian sebagai pemecahan masalah yang diangkat dan dibahas pada skripsi. 15 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian-Pengertian 2.1.1. Analisis Yuridis Analisis adalah kegiatan merangkum sejumlah data besar yang masih mentah kemudian mengelompokan atau memisahkan komponen-komponen serta bagian-bagian yang relevan untuk kemudian mengkaitkan data yang dihimpun untuk menjawab permasalah. Analisis merupakan usaha untuk menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasil analisis dapat dipelajari dan diterjemahkan dan memiliki arti.24 Sedangkan yuridis adalah hal yang diakui oleh hukum, didasarkan oleh hukum dan hal yang membentuk keteraturan serta memiliki efek terhadap pelanggarannya,25 yuridis merupakan suatu kaidah yang dianggap hukum atau dimata hukum dibenarkan keberlakuannya, baik yang berupa peraturan-peraturan, kebiasaan, etika bahkan moral yang menjadi dasar penilaiannya. 24 Surayin, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Analisis, Yrama Widya, Bandung, 2001. Hlm. 10 25 Informasi Media, Pengertian Definisi Analisis, diakses dari: http:// media informasill .com/2012/04/pengertian-definisi-analisis.html, pada tanggal 8 November 2013, pukul 17:00 WIB. 16 Dalam penelitian ini yang dimaksud oleh penulis sebagai analisi yuridis adalah kegiatan untuk mencari dan memecah komponen-komponen dari suatu permasalahan untuk dikaji lebih dalam serta kemudian menghubungkannya dengan hukum, kaidah hukum serta norma hukum yang berlaku sebagai pemecahan permasalahannya. Kegiatan analisis yuridis adalah mengumpulkan hukum dan dasar lainnya yang relevan untuk kemudian mengambil kesimpulan sebagai jalan keluar atau jawaban atas permasalahan.26 Tujuan kegiatan analisis yuridis yaitu untuk membentuk pola pikir dalam pemecahan suatu permasalahan yang sesuai dengan hukum khususnya mengenai masalah penggunaan teknologi pesawat tanpa awak sebagai alat militer. 2.1.2. Alat Militer Militer adalah angkatan bersenjata dari suatu negara dan segala sesuatu yang berhubungan dengan angkatan bersenjata atau tentara, militer biasanya terdiri atas para prajurit atau serdadu. 27 Militer selain sebagai keamanan negara berfungsi pula pada hal yang berkaitan dengan kepentingan-kepentingan negara yang bersifat lebih pada penguasaan wilayah, perang serta hal-hal yang terkait pada bentuk kekerasan dengan menggunakan senjata mematikan dan dapat memusnahkan. Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa maksud dari alat militer adalah segala sesuatu yang berfungsi untuk mendukung kerja atau tujuan militer. 26 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2008. Hlm. 83-88 27 Arti Kata Alat Militer, diakses dari: http://www.artikata.com/arti-340951-militer.html, pada tanggal 8 November 2013, pukul 20.35 WIB. 17 2.2. Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Pesawat tanpa awak adalah pesawat jenis baru yang diterbangkan dengan menggunakan kontrol eksternal atau bahkan dengan kemampuan mengendalikan diri secara otonom. Pesawat tanpa awak berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, hal ini dikarenakan banyaknya konflik global yang terjadi sehingga menimbulkan kebutuhan untuk merevolusi teknologi militer. Alasan utama dalam pembuatan pesawat tanpa awak adalah agar para pilot dapat mengontrol pesawat dengan sistem kontrol eksternal sehingga tidak ada bahaya yang mengancam nyawa awak, konfigurasi pesawat tanpa awak bersifat aerodinamic, taktis dan memberi keuntungan ekonomi serta keselamatan para awak.28 Pesawat tanpa awak berguna untuk pelayanan sipil, pemerintahan, namun pada kenyataannya pesawat jenis ini lebih banyak digunakan sebagai alat militer, bahkan kini Eropa, Kanada dan Amerika Serikat terus berfokus untuk mengembangkan kegunaan pesawat tanpa awak dalam bidang militer terutama sebagai alat peperangan. Pengembangan pesawat tanpa awak militer dimulai pada tahun 1990, dengan adanya peristiwa 11 September, pesawat tanpa awak mulai dioperasikan untuk kepentingan militer di luar wilayah negara.29 Perkembangan pesawat tanpa awak kini justru terihat lebih memberikan implikasi negatif terhadap penerapan hukum internasional khususnya pada HHI.30 28 Hagrave, The Aerial Target and Aerial Torpedo in the USA, diakses dari: http://www.ctie.monash.edu/hargrave/rpav_usa.html, pada tanggal 16 Juni 2014, pukul 20.43 WIB. 29 Bill Yenne, Attack of the Drones: A History of Unmanned Aerial Combat , Zenith Press, USA, 2004. Hlm. 9 30 Ibid. 18 Pesawat tanpa awak sampai saat ini masih belum memiliki definisi yang pasti dan konsisten serta diterima secara formal. Pesawat tanpa awak dalam perkembangannya dikenal juga dengan sebutan drone, pilotless aircratft, uninhabited aircraft, Remotely Piloted Vehicles (RPV) dan Remotely Operated Aircraft (ROA) serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV). 31 Hambatan dalam menentukan definisi yang tepat untuk pesawat tanpa awak dikarenakan aplikasi penggunaannya yang berbeda-beda, namun terdapat beberapa definisi yang bisa dijadikan komparasi, antara lain: “A power driven aircraft, other than a model aircraft, that is designed to fly without a human operator on board” Sebuah pesawat yang berbeda dengan model pesawat lainnya, pesawat yang didesain untuk terbang tanpa operator manusia didalamnya.32 “A powered, aerial vehicle that does not carry a human operator, uses aerodynamic forces to provide lift, can fly autonomously or be piloted remotely, can be expandable or recoverable, and can carry a lethal or nonlethal payload. Ballistic or semi ballistic vehicles, cruise missiles, and artillery projectiles are not considered Unmanned Aerial Vehicles” Sebuah pesawat bertenaga angin yang tidak dapat membawa operator manusia, menggunakan sistem aerodinamis untuk mengangkatnya naik, dapat terbang secara otonom atau dikontrol dengan pengendali, dan dapat membawa atau tidak membawa senjata. Kendaraan balistik atau bukan blistik, misil dan projektil artileri tidak dapat dikatakan sebagai pesawat tanpa awak. 33 Penulis berpendapat bahwa meskipun tedapat perbedaan pendapat dari berbagai ahli mengenai definisi pesawat tanpa awak, namun di dalam setiap pendapat terdapat kesamaan dalam hal pengendalian, dimana pesawat tanpa awak tidak memiliki awak yang berada di dalam pesawat serta pesawat diterbangkan dengan kendali eksternal ataupun pengendalian otonom melalui program. Misil, rudal, 31 Wheatley S, The Time Is Right: Developing a UAV Policy for the Canadian Forces. Makalah Simposium, 2002. Hlm. 2 32 New USA Today, Drone Malfunctions, Hits Navy Ship During Training, diakses dari: http://www.usatoday.com/story/news/nation/2013/11/17/drone-navy-ship-california/3617687/, pada tanggal 21 November 2013, pukul 09.02 WIB. 33 United States, Dictionary of Military and Associated Terms, Departmenr of Defense, 2001. Hlm. 563 19 atau alteleri lain yang dapat dikendalikan secara eksternal maupun otonom yang merupakan senjata itu sendiri, tidak dapat dikatakan sebagai pesawat tanpa awak karena tidak dapat digunakan kembali, sedangkan pesawat tanpa awak dapat digunakan kembali dan berfungsi hampir sama dengan pesawat udara lainnya. 2.2.1. Jenis - Jenis Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) 2.2.1.1. RQ8A Fire Scout Helikopter tanpa awak RQ8A diadopsi dari jenis helikopter ringan Schweizer Model Gambar 1. RQ 8A Fire Scout 330SP. RQ8A Fire Scout digunakan oleh US Navy dalam misi pengintaian. Helikopter ini dapat beroperasi selama empat jam lebih dengan jarak 192 kilometer dari pusat kendali. Fire Scout dilengkapi dengan sistem navigasi berbasis GPS dan mampu beroperasi secara otonom. 34 Mampu beroperasi secara otonom, sehingga pusat kendali dapat mengendalikan tiga helikopter secara simultan. 35 Helikopter tanpa awak RQ8A Fire Scout mampu mengangkut rudal udara darat (air to surface missiles) untuk misi pengeboman. 2.2.1.2. RQ2B Pioneer Pesawat tanpa awak ini adalah hasil kolaborasi antara Amerika Serikat dan Israel Aircraft Gambar 2.RQ 2B Pioneer Industries. Pesawat ini telah dipergunakan oleh US Marine Corps, US Navy dan US Army sejak 1986. Pioneer bertugas 34 Jenis-jenis Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) diakses dari: http://itjen.kemhan.go.id/sites/default/files/files/JenisJenis%20Pesawat%20Tanpa%20Awak%20% 28UAV%29_0.pdf, pada tanggal 23 Januari 2014, Pukul 15.00 WIB. 35 simultan adalah pengendalian dengan waktu yang bersamaan, terbang bersamaan dan operator dapat mengendalikan dengan bergantian dalam posisi pesawat tetap mengudara dalam posisi tempur. 20 melakukan pengintaian, pengawasan, pencarian target, dan mendukung penembakan angkatan laut baik pada siang hari maupun malam hari. Pesawat ini dapat diluncurkan dari kapal dengan bantuan dorongan roket atau diluncurkan dari darat dengan bantuan alat pelontar, panjang badan 14 kaki dan rentang sayap 17 kaki, Pioneer dapat terbang hingga ketinggian 15.000 kaki selama lima jam. Pioneer dalam melakukan misi dapat mengangkut beban hingga 37 Kg dan dilengkapi sensor optik serta alat pendeteksi ranjau.36 2.2.1.3. Boeing Scan Eagle Pesawat berbobot 20 Kg ini dapat terbang selama 15 jam dengan ketinggian lebih dari Gambar 3. Boeing Scan Eagle 16.000 kaki dan kecepatan 96 Kmph. Pesawat ini dapat diluncurkan baik dari darat maupun dari kapal laut. Scan Eagle adalah pesawat tanpa awak yang tidak dapat dideteksi oleh radar, selain itu suaranya hampir tidak terdengar. Scan Eagle terbang dengan dipandu sistem GPS dan dilengkapi dengan kamera dan sensor.37 2.2.1.4. Northrop Grumman Global Hawk Global Hawk adalah pesawat tanpa awak yang terbesar dan tercanggih di dunia saat Gambar 4. Northrop Grumman Global Hawk ini. RQ4 Global Hawk adalah pesawat tanpa awak pertama yang memperoleh sertifikasi dari badan penerbangan Amerika untuk terbang dan mendarat di bandara sipil secara otomatis, karena 36 United States Navy Fact File, RQ-2A PIONEER Unmanned Aerial Vehicle (UAV), diakses dari: http://www.navy.mil/navydata/fact_display.asp?cid=1100&tid=2100&ct=1, pada tanggal 10 Mei 2014, pukul 12.34 WIB. 37 Insitu, ScanEagle System, diakses dari: http://www.insitu.com/systems/scaneagle, pada tanggal 1 mei 2014, pukul 10.20 WIB. 21 keunggulannya ini, Global Hawk diharapkan dapat menjadi perintis pesawat penumpang dengan pilot otomatis dimasa mendatang. Pada saat pengujian, Global Hawk mampu terbang dari Amerika Serikat menuju Australia pulang pergi dengan membawa sejumlah alat pengintai. Untuk keperluan militer, pesawat ini dapat dipergunakan untuk melakukan pengintaian, pengawasan dan survey intelejen lainnya pada daerah yang luas dan dalam jangka waktu yang lama.38 2.2.1.5. General Atomics MQ9 Reaper Reaper adalah pesawat multifungsi tanpa awak yang dikembangkan untuk menjadi Gambar 5. General Atomics MQ 9 Reaper mesin penghancur. Dalam operasi militer Amerika di Afghanistan, Yaman Somalia, Irak dan Pakistan, Reaper dilengkapi dengan rudal AGM 114 Hellfire 39 dan dipergunakan untuk memburu dan menghancurkan target. Pesawat ini dapat mengangkut beban hingga lima ton, berkecapatan 368 Kmph pada ketinggian 50.000 kaki dan dapat terbang sejauh 5.891 kilometer dari pusat kendali. Pesawat ini dilengkapi dengan IR targeting sensor, laser rangefinder 40 dan synthetic aperture radar 41 . Reaper dapat dibongkar pasang dan diangkut ke berbagai lokasi dengan mudah.42 38 Northrop Grumman, Global Hawk The Value of Pefomance, diakses dari: http://www.northropgrumman.com/Capabilities/GlobalHawk/Pages/default.aspx?utm_source=Prin tAd&utm_medium=Redirect&utm_campaign=GlobalHawk+Redirect, pada tangal 1 Mei 2014, pukul 11.02 WIB. 39 AGM-114 Hellfire adalah sebuah peluru kendali udara untuk serangan darat yang dibuat untuk kegunaan pertempuran anti tank. Roket ini dapat ditembakkan dari berbagai situasi baik di udara, laut dan darat dan dipergunakan untuk menghancurkan banyak target dalam satu tembak. Nama hellfire berasal dari tujuan asalnya sebagai senjata tembak yang mematikan. 40 Laser rangefinder atau pengintai laser adalah perangkat yang menggunakan sinar laser untuk menentukan jarak ke obyek. Bentuk yang paling umum dari pengintai laser yaitu dengan mengirimkan sinar laser sempit menuju objek dan mengukur waktu yang dibutuhkan oleh laser yang akan terpantul dari target dan dikembalikan ke pengirim. 22 2.2.1.6. Aero Vironment Raven RQ 11A Raven, yang dibuat pada tahun 20022003, merupakan versi kecil dari 1999 vintage Gambar 6. Aero Vironment Raven Aero Vironment Pointer, yang dilengkapi dengan GPS navigation sistem, dan peralatan control. Badan pesawat ini terbuat dari kevlar dan berbobot dua kilogram. Pesawat tanpa awak ini memiliki radius operasi lebih dari 9,6 kilometer dan dapat terbang selama 80 menit pada kecepatan 96 Kmph. Raven B dilengkapi dengan berbagai jenis sensor dan laser target designator43.44 2.2.1.7. Bombardier CL 327 VTOL Bombardier CL 327 VTOL adalah pesawat pengawas tanpa awak yang dimotori mesin Williams International WTS 125 turbo shaft engine berdaya 100 tenaga kuda, dengan Gambar 7. Bombardier CL 327 VTOL bobot maksimum 300 Kg. Saat take off, CL 327 dapat difungsikan sebagai alat relay komunikasi. Pada penggunaannya CL 327 juga berfungsi untuk menginspeksi keadaan lingkungan dan melakukan patroli di daerah perbatasan. Pesawat ini telah banyak membantu aparat dalam upaya pemberantasan narkotika dan dalam operasi-operasi pengintaian militer. 41 Synthetic Aperture Radar adalah teknologi radar imaging yang memanfaatkan teknik pemrosesan sinyal untuk membuat agar antena berukuran kecil dapat memberikan hasil seperti antenna yang berukuran lebih panjang dengan cara menggerakkan antenna tersebut. 42 United States Air Force, MQ-9 Reaper diakses dari: http://www.af.mil/AboutUs/ FactSheets/ Display/ tabid/224/Article/104470/mq-9-reaper.aspx, pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 20.00 WIB. 43 laser designator adalah sinar laser yang digunakan untuk menunjuk target. Designators Laser digunakan untuk menargetkan bom, rudal, atau amunisi presisi artileri, seperti seri Paveway bom, Lockheed-Martin Hellfire, atau Copperhead yang dipandu dari laser. 44 Unmanned Aerial System, UAS: RQ 11A Raven, https:// www.avinc.com /uas/ small/ uas/raven/, pada tanggal 2 Mei 2014, pukul 10.34 WIB 23 Pesawat ini dapat mengudara selama lima jam dan dilengkapi dengan berbagai sensor, datalink sistems dan sistem navigasi lain baik berupa GPS maupun inertial navigation sistems45.46 2.2.1.8. Yamaha RMAX Pesawat ini adalah pesawat terbang tanpa awak yang paling banyak dipergunakan di Gambar 8. Yamaha RMAX dunia untuk keperluan non militer. Helikopter mini Yamaha RMAX, dipergunakan untuk berbagai keperluan non-militer seperti alat untuk menyemprotkan pestisida atau pupuk serta melakukan survey untuk keperluan penelitian. Helikopter ini mempergunakan dua mesin Yamaha dan dapat terbang hingga ketinggian 500 kaki.47 2.2.1.9. Puna, Indonesia Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) digunakan untuk berbagai keperluan pemantauan dari Gambar.9. Puna udara, seperti pemetaan, pemantauan kebakaran hutan, investigasi bencana, pencarian korban hingga keperluan militer. Prinsipnya, PUNA mampu membawa terbang berbagai peralatan seperti kamera, alat pengintai dan sejenisnya hingga seberat 20kg. Kegiatan pengembangan 45 Inertial Navigation Sistem (INS) adalah bantuan navigasi yang menggunakan sensor komputer, gerak (accelerometers) dan sensor rotasi (giroskop) untuk terus menghitung melalui perhitungan mati posisi, orientasi, dan kecepatan (arah dan kecepatan gerakan) objek yang bergerak tanpa perlu referensi eksternal. Hal ini digunakan pada kendaraan seperti kapal, pesawat terbang, kapal selam, rudal, dan pesawat ruang angkasa. Istilah lain yang digunakan untuk merujuk pada sistem navigasi inersia yaitu sistem inersia platform, instrumen inersia, unit pengukuran inersia (IMU) dan berbagai variasi lainnya. 46 Naval Drones, CL 327 Guardian, diakses dari: http://www.Navaldrones.com /CL327 .html, pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 11.00 WIB. 47 Yamaha RMAX, Specifications, diakses dari: http://rmax.yamaha-motor.com. au/specifications, pada tanggal 10 Mei 2014, pukul 15.44 WIB. 24 PUNA diawali dengan pembuatan wahana sasaran tembak atau target pesawat tanpa awak yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan prajurit Pusenart (Pusat Senjata Artileri) TNI-AD. PUNA mempunyai kecepatan jelajah 80 knot dengan jangkauan terbang mencapai 30 Kmph pada ketinggian 7.000 kaki.48 2.2.2. Fungsi Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) 2.2.2.1. Fungsi Sosial dan Sipil Pada kegiatan kegiatan sosial dan keperluan sipil pesawat tanpa awak memberikan banyak kegunaan, beberapa fungsi penggunaan pesawat tanpa awak dalam kegiatan sosial yaitu sebagai pembawa logistik dan bantuan ke wilayahwilayah yang terpencil dan berbahaya, pencarian orang hilang serta membantu dalam melakukan suatu penelitian. Pesawat tanpa awak dapat digunakan dalam keperluan-keperluan sipil, seperti dalam penyemprotan pestisida skala besar, serta berfungsi sebagai alat pengawasan dan keamanan lingkungan. 49 Terdapat beberapa jenis pesawat tanpa awak yang dapat dimiliki pribadi tanpa aturan yang ketat, bahkan sering kali tidak mempermasalahkan pendaftaran dan kualifikasi pesawat seperti jenis Yamaha RMAX.50 48 Inovasi Indonesia, PUNAI : Indonesian Made Unmanned Reconnaissance Aircraft, Diakses dari: http://www.bic.web.id/login/inovasi-indonesia-unggulan/655-punai-pesawat-udaranir-awak-indonesia, pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 16.00 WIB. 49 Viva Log, Fungsi Pesawat Tanpa Awak di Masa Depan, diakses dari: http://log.viva.co.id/news/read/394848-fungsi--pesawat-tanpa-awak-di-masa-depan, pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 20.00 WIB. 50 Ibid. 25 2.2.2.2. Fungsi Militer Berdasarkan fakta lapangan dalam implementasi penggunaannya, pesawat tanpa awak di bidang militer memiliki fungsi utama yaitu membantu misi pasukan darat untuk memborbardir dan membuka jalan untuk pasukan sebelum melakukan serangan atau bahkan saat mendapat serangan darat dan udara serta melakukan patroli secara rutin dilangit atau sebagai alat mata-mata untuk menangani kasuskasus yang terlalu berbahaya bagi pesawat berawak. Pesawat tanpa awak militer pada umumnya menggunakan bom dan misil. 51 Ketiadaan awak untuk berkomunikasi dan memberi peringatan sebelum melakukan penyerangan menyebabkan pesawat tanpa awak banyak digunakan dalam misi yang hanya bertujuan untuk melakukan pembunuhan atas terduga militan.52 2.2.3. Perbandingan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dengan Pesawat Berawak sebagai Alat Militer 2.2.3.1. Keterjangkauan (Affordability) Perbandingan Affordability adalah perhitungan dalam segi produksi yang biasanya dalam bentuk perhitungan nominal harga atau pendanaan yang harus ditanggung, seperti resiko, biaya material dan keamanan. 53 Pesawat berawak memerlukan biaya pembangunan atau produksi yang relatif tinggi mengingat bentuk struktur yang besar dan memerlukan raw material yang banyak serta mekanisme perhitungan 51 yang harus lebih matang menyebabkan pesawat berawak Barak Militer, Jenis-jenis UAV Yang Dipakai Dimedan Perang, diakses dari: http://www.momosergeidragunov.com/2012/09/jenis-jenis-uav-yang-dipakai-dimedan.html, pada tanggal 3 Mei 2014, pukul 22.20 WIB. 52 Pesawat Pengintai Tak Berawak, diakses dari http://www.artikelpintar.com/2010/11/ pesawat-pengintai-tak-berawak .html, tanggal 21 Maret 2011, pukul 11.00 WIB. 53 Affordability, dalam istilah berarti segi pembangunan dan pengadaannya serta bagaimana segi ekonominya. 26 membutuhkan waktu produksi sangat lama, hal ini dikarenakan adanya keterlibatan awak pesawat yang harus dijamin keselamatannya saat menguji performa pesawat. Konsekuensinya, harga jual pesawat berawak akan tinggi, demikian juga biaya pemeliharaannya mengingat tingkat kompleksitas sistem. Fakta ini berbanding terbalik dengan pesawat tanpa awak, yang dapat dibangun dengan lebih efisien, serta dengan resiko minim karena tidak memerlukan awak pesawat yang harus dijamin keselamatannya dalam uji coba menyebabkan harga produksi pesawat tanpa awak jauh lebih murah. Sebagai perbandingan, harga satu unit pesawat berawak jenis F-15E Strike Eagle adalah US$ 79,24 juta, 54 sementara harga satu unit pesawat tanpa awak jenis Predator adalah US$ 40 juta. 55 Maka dalam segi affordability pesawat tanpa awak jauh melampaui pesawat berawak sehingga menyebabkan pesawat tanpa awak banyak dikembangkan di berbagai negara. 2.2.3.2. Ketepatan Serangan dan Pertahanan Diri (On Target Attack and Survivability) Ketepatan dalam melakukan serangan dan pertahanan diri suatu pesawat udara militer adalah hal yang harus diperhitungkan dalam penggunaannya pada kondisi petempuan, 56 kelengkapan pertahanan diri (self-defence) baik pada pesawat berawak maupun pesawat tanpa awak sangat berpengaruh dalam menjalankan misi-misi atau tujuan militer. Pesawat berawak maupun pesawat tanpa awak sama-sama dapat dilengkapi dengan kemampuan pengintaian, bahkan sistem 54 Tumpal Napitupulu, Use of UAV for Target Designation, diakses dari: http://www.tandef.net/use-uav-target-designation-0, CAPT, 2009, pada tanggal 14 Februari 2014, pukul 08.35 WIB. 55 Grunt Military, Jurnal Internasional: RQ-1 Predator UAV, diakses dari: http://www. Gruntsmilitary.com /rq1.shtml, pada tanggal 14 November 2013, pukul 12.06 WIB. 56 Survivability and On Target Attack, tingkat bertahannya dan ketepatan dalam serangan. 27 pertahanan yang lebih aktif seperti rudal atau roket untuk menyerang balik sistem musuh. Mengingat fakta bahwa pesawat tanpa awak jenis predator pernah terlibat dalam pertempuran udara melawan pesawat berawak jenis MiG-25 Irak pada tahun 2002, dengan dilengkapi misil pendeteksi panas (Stinger),57 menunjukkan hasil yang seimbang. Meskipun tidak memiliki awak pengendali didalamnya, pesawat tanpa awak mampu mempertahankan diri terhadap serangan udara musuh sama baiknya dengan pesawat berawak. Dalam variabel ini, kedua opsi dapat dinilai seimbang. Kontrol jarak jauh mengakibatkan pencitraan pandangan pada pesawat tanpa awak yang dihasilkan kurang baik, sehingga pesawat tanpa awak dalam melakukan misi penyerangan cenderung menggunakan persenjataan yang lebih besar kekuatannya untuk mempertahankan serangan yang efektif dibandingkan dengan jenis pesawat militer lainnya, seperti misil, rudal dan bom. Penggunaan persenjataan besar pada pesawat tanpa awak dimaksudkan agar serangan dapat memenuhi target walaupun mengakibatkan kerusakan yang luas dan korban lain yang bukan merupakan target serangan dan dalam prestasinya memiliki kemungkinan 70% melakukan false attack. Pesawat berawak dalam melakukan fungsi-fungsi militer lebih unggul dibandingkan dengan pesawat tanpa awak jika dilihat dari ketepatan melakukan serangan, namun jika dalam melaksanakan misi tertentu yang bersifat pemusnahan maka pesawat tanpa awak dapat dikatakan lebih unggul.58 57 Pilotless Warriors Roar To Success, Drones, diaskses dari: www.cbsnews.com, pada tanggal 11 November 2013, pukul 05.35 WIB. 58 Brent D. Bowen and Frederick D. Hansen, The Human Interface Elements of System Safety in the Emerging Small Aircraft Transportation Technology, University of Nebraska, Omaha, 2001. Hlm. 23 28 2.2.3.3. Kecepatan (Speed) Keunggulan dalam segi kecepatan merupakan nilai lebih yang harus dimiliki pesawat udara militer, namun sistem pesawat juga harus mendukung dan seimbang dengan kecepatan yang dimiliki. Dilihat pada aspek kecepatan, pesawat berawak memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan dengan pesawat tanpa awak. Kecepatan pesawat berawak mata-mata jenis SR-71 Blackbird telah melampaui angka 3.530 Kmph. 59 Pesawat berawak jenis lainnya seperti U-2 memiliki kecepatan 844,8 Kmph,60 sedangkan pesawat tanpa awak tercepat sejauh ini adalah Global Hawk yang memiliki kecepatan 626 Kmph. Bedasarkan dalam segi kecepatan pesawat berawak jauh melampaui pesawat tanpa awak. Kecepatan yang tinggi dalam melaksanakan misi-misi militer harus berbanding lurus dengan survivability sebuah sistem, bila tidak didukung dengan perangkat pengamatan dan pengintaian dengan resolusi yang tinggi, kecepatan justru akan mengurangi kualitas pencitraan yang dihasilkan oleh pesawat tersebut. Pesawat tanpa awak yang memang memiliki kecepatan yang jauh di bawah pesawat berawak, namun sistem pesawat tanpa awak dengan kecepatan maksimal sekalipun sudah dapat dijangkau atau dimbangi dengan teknologi pencitraan yang ada, sedangkan teknologi pengindraan sampai saat ini belum dapat mengimbangi kecepatan maksimal pesawat berawak, sehingga dapat dikatakan kecepatan yang tinggi pada pesawat berawak terlihat sia-sia dalam misi pengamatan walaupun dalam segi survivability kecepatan yang dimiliki pesawat berawak sangat 59 Federation of American Scientists, History of Mystery Aircraft (2011), diaskses dari: http://www.fas.org/irp/mystery/history.htm, pada tanggal 13 April 2011, pukul 17.18 WIB. 60 Global Aircraft, U-2 Dragon Lady Drones (2011), diakses dari: http://www.Global aircraft .org/planes/u-2_dragon_lady.pl, pada tanggal 13 November 2013, pukul 07.35 WIB. 29 berfungsi dengan signifikan. Dengan demikian kecepatan dengan diimbangi teknologi pengamatan atau pengindraan pada pesawat tanpa awak lebih unggul dalam misi pengamatan dan pengintaian. 61 Berdasarkan data yang dihimpun, maka dalam segi kecepatan memang pesawat berawak lebih unggul dibandingkan dengan pesawat tanpa awak, namun keseimbangan antara kecepatan dan teknologi yang dimiliki pesawat tanpa awak menyebabkan penggunaannya semakin diminati oleh banyak negara pada misi pengamatan dan misi intelegen lainnya. 2.2.3.4. Range Range adalah kemampuan terbang atau jarak tempuh baik dalam skala horizontal ataupun kemampuan jangkauan ketinggian. Berdasarkan data yang ada, jangkauan terbang (range) pesawat berawak jauh lebih unggul dibandingkan pesawat tanpa awak, pesawat berawak seperti U-2S telah melampaui angka 6000 mil, sementara pesawat tanpa awak dengan jangkauan terbang terjauh saat ini adalah Global Hawk dengan range sejauh 3000 mil. Jarak jangkau yang lebih unggul pada pesawat berawak dalam misi pengamatan dan pengintaian adalah sebuah variabel yang menguntungkan, karena luas wilayah yang dapat diamati jauh lebih besar, sehingga informasi intelijen yang diperoleh akan lebih banyak. Tentu saja hal ini akan memudahkan seorang pimpinan dalam sebuah operasi udara untuk mengambil keputusan secara lebih akurat bagi kekuatan militernya. Dalam satu variabel ini, keunggulan pesawat pengintai berawak cukup signifikan dibandingkan pesawat tanpa awak.62 61 The UAV, diakses dari: http://www.theuav.com/, pada tanggal 31 Maret 2014, pukul 23.00 WIB. 62 Military Weapons on Air Space, diakses dari: http://www.airspacemag.com/militaryaviation/unconventional-weapon-23371597/, pada tanggal 13 Januari 2013, pukul 19.16 WIB 30 2.2.3.5. Fleksibilitas (Flexibility) Tingkat Flexibility suatu pesawat udara militer menentukan apakah penggunaannya akan semakin diminati ataukah tidak, 63 kekuatan udara harus dapat digerakkan kapan saja dan di mana saja, dapat dikerahkan seketika untuk misi yang berbeda dari rencana semula sesuai perkembangan situasi. persiapan pesawat berawak tentu saja membutuhkan sumber daya yang relatif besar, seperti personel persiapan penerbangan, marshaller, hanggar, shelter, runway, ground support equipment serta perangkat pendukung lainnya. Semakin besar ukuran struktur pesawat, tingkat fleksibilitasnya akan semakin rendah karena sarana dan prasarana pendukung serta personel dalam persiapan tempur yang dibutuhkan akan lebih banyak.64 Pesawat tanpa awak memiliki dimensi yang umumnya jauh lebih kecil, memiliki tingkat fleksibilitas yang lebih baik dan ketahanan terbang yang jauh lebih lama dibandingkan pesawat berawak dimana pesawat tanpa awak dapat digunakan lebih leluasa tanpa perlu melakukan pengisisan bahan bakar di udara (air refueling). Pesawat tanpa awak berukuran besar seperti Global Hawk hanya memiliki panjang 14,8m, wing span 38,7m dan tinggi 5,07m sedangkan pesawat berawak pemburu jenis U-2 berdimensi panjang 21m dan wing span 34,3m, serta tinggi 5,3m,65 maka pada variabel ini pesawat tanpa awak jauh lebih unggul.66 63 Flexibility, kegunaan yang menyangkut situasional, tingkat efektifitas dalam penggunaan di segala situasi termasuk keadaan yang membutuhkan kecepatan perubahan pola. 64 HQ-2 Gin Sling, diakses dari: http://www.globalsecurity.org/military/world/china/hq2.htm, pada tanggal 31 Maret 2014, pukul 20.00 WIB. 65 US Centennial of Flight Commission, Stealth Technology, diakses dari: http://www.centennialofflight.gov/essay/Evolution_of_Technology/Stealth_, pada tanggal 10 April 2014, pukul 11.43 WIB. 66 Pesawat Pengintai Tak Berawak, diakses dari: http://www.artikelpintar.com/ 2010/11/pesawat-pengintai-tak-berawak.html, pada tanggal 21 Maret 2014, pukul 14.00 WIB. 31 2.3. Hak Pembelaan Diri (Self Defence) Munculnya hak pembelaan diri dimulai dari serangan Inggris terhadap kapal Amerika Serikat Caroline yang disita dan dihancurkan pada tahun 1837, dikarenakan kapal tersebut memasok kebutuhan kelompok-kelompok warga Amerika Serikat yang melakukan serangan terhadap teritorial Kanada. Menyikapi hal tersebut, menteri luar negeri Amerika Serikat merumuskan dasar-dasar pembelaan diri berdasarkan kasus tersebut, yaitu harus adanya aspek yang mendesak, harus segera dilaksanakan serta tidak adanya cara lain atau kesempatan untuk memikirkan cara lainnya (tidak ada waktu atau cara untuk melakukan tindakan diplomatik). 67 Tidak hanya kondisi tersebut yang harus ada dalam tindakan pembelaan diri, tetapi tindakan tersebut harus sesuai dengan HHI, bahwa tindakan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan sehingga menyebabkan suatu akibat (kerusakan dan korban) yang tidak perlu. Pasal 51 piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan: “Tidak ada satupun hal dalam piagam saat ini yang boleh mengganggu hak inheren pembelaan diri individual atau kolektif jika terjadi serangan bersenjata terhadap salah satu anggota PBB sampai Dewan Keamanan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kedamaian dan keamanan internasional. Tindakan yang dilakukan anggota harus segera diaporkan kepada Dewan Keamanan dan tidak boleh mempengaruhi otoritas dan tanggung jawab Dewan Keamanan di bawah piagam untuk sewaktuwaktu mengambil tindakan yang dianggap perlu guna memulihkan keadaan keamanan dan kedamaian internasional.” Hak pembelaan diri juga tidak boleh lepas dari asas umum hukum internasional yang ada, serangan yang dilakukan dengan alasan pembelaan diri harus dibuktikan apakah serangan tersebut memang harus dilakukan dan apakah 67 D. J. Harris, Cases and Materials on International Law, Sixth Edition, Sweet & Maxwell, London, 2004. Hlm. 889 32 serangan tersebut sesuai dengan kebutuhan untuk pembelaan diri. Penggunaan senjata dalam tindakan pembelaan diri adalah terbatas, dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip HHI harus diberlakukan walaupun menyangkut hak pembelaan diri yang memiliki aspek mendesak dan inheren.68 2.4. Perang Melawan Terorisme (War on Terror) Terorisme telah menjadi polemik jauh sebelum munculnya regulasi, konvensi serta resolusi yang mencantumkan hal tersebut, namun sering kali pertanyaan yang timbul sampai saat ini adalah persoalan yuridiksi negara, apakah hal tersebut merupakan peristiwa hukum nasional (munsipal) atau sebagai kejahatan internasional. Terorisme dalam perkembangannya menyerang negara lain dengan metode-metode yang sangat berbahaya serta mengakibatkan banyak kerugian baik terhadap lingkungan ataupun ketentraman masyarakat luas. Kecaman terhadap aksi terorisme dapat dilihat pada lahirnya deklarasi komite ad hoc tentang pemberantasan terorisme pada 1994, kemudian diikuti dengan adanya Konvensi, Reguasi dan Resolusi lain yang mengutuk aksi terorisme. Melihat dampak dan kerugian yang diakibatkan oleh tindak kejahatan terorisme membuat banyak negara berpandangan sama bahwa terorisme merupakan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia serta mengganggu perdamaian dan ketertiban internasional, sehingga terorisme mendapatkan tempat 68 Ibid. 33 dan hak yang istimewa bagi seluruh masyarakat internasional untuk mengusahakan penanggulangannya.69 Pemerintahan George W. Bush mendeklarasikan perang melawan teror (war on terror) sebagai respon Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Bush menyatakan melalui pidatonya bahwa serangan 9/11 adalah serangan terorisme dan Amerika Serikat harus membalas dengan melakukan perang melawan teror.70Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintahan Bush akan melakukan pembalasan dengan aksi militeristik (perang) dan didukung oleh para representatif dari pejabat pemerintahan dan komentator politik serta para penasehat industri militer yang mendeskripsikan serangan 9/11 sebagai act of war dan membutuhkan pembalasan dengan tindakan militer.71 Perang melawan terorisme berbeda dengan semua karakteristik perang pada umumnya. Perang melawan teror tidak dilakukan di medan perang konvensional, melainkan di daerah tempat tinggal penduduk. Pembedaan antara kombatan dan non-kombatan juga tidak jelas, pihak kombatan tidak bisa secara cepat diidentifikasi. Ketidakjelasan ini juga diakibatkan oleh tindakan warga sipil yang seringkali memberikan dukungan material bagi teroris yang menjadi kombatan melalui penempatan strategis, komunikasi, dan lain-lain. Di sisi lain, teroris melakukan aksi terorisme dengan target acak yang korbannya merupakan warga 69 Sayidiman Suryohadiprojo, Si Vis Pacem Para Bellum, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005. Hlm. 6-8 70 Statement by the President in His Address to the Nation, 11 September 2001, diakses dari: http://georgewbush-whitehouse.archives.gov/news/releases/2001/09/20010911-16.html, pada tanggal 23 Mei 2014, pukul 05.59 WIB 71 Douglas Kellner, From 9/11 to Terror War: the Dangers of the Bush Legacy, Rowman and Littlefield, Oxford, 2003. Hlm. 54 34 sipil atau non-kombatan ataupun orang-orang tidak bersalah (innocent people).72 Teroris juga cenderung diidentifikasi sebagai aktor non-negara sehingga tidak jelas bagaimana rangkaian komando mereka. Upaya tradisional seperti diplomasi dan intervensi politik lainnya juga kurang efektif sejauh ini ketika sulit untuk mengetahui siapa yang yang harus didekati untuk diajak berdiplomasi serta komitmen ideologis kelompok teroris yang juga menghalangi keberhasilan upayaupaya tersebut. Karakteristik terorisme sebagai kombatan yang berbeda jika dilihat dari kacamata perang menjadi pertimbangan utama untuk menentukan taktik untuk melawan teroris tersebut. Amerika Serikat kemudian mempopulerkan strategi perang melawan teror untuk menghadapi ancaman-ancaman terorisme yang datang dari luar, maupun melindungi dan menjaga warga negara Amerika Serikat dari dalam. Permasalah yang kemudian timbul adalah strategi perang melawan teror tersebut mencakup tindakan-tindakan yang bertentangan dengan aturan legal dan norma internasional. Beberapa tindakan yang termasuk dalam perang melawan teror tersebut meliputi perbedaan status prisoner of war (POW) yang terkait dengan perlakuan-perlakuan bagi pihak yang diduga teroris dalam penahanan, torture (penyiksaan) serta assassination atau targeted killing (pembunuhan berencana).73 72 Sebagaimana dikutip dari Fritz Allhoff, The War on Terror and the Ethics of Exceptionalism, Journal of Military Ethics, 8:4, 2009. Hlm. 265-266. US Department of State mendefinisikan terorisme sebagai kekerasan direncanakan, bermotif politis yang menargetkan nonkombatan dan dilakukan oleh kelompok sub-nasional atau kelompok rahasia yang biasanya bermaksud untuk mempengaruhi audiens tertentu. Definisi yang lebih spesifik juga diberikan oleh revisi konsensus akademik yang mendefinisikan terorisme dalam dua hal, yakni sebagai doktrin mengenai suatu bentuk tindakan atau taktik kekerasan politik koersif dan terkalkulasi tanpa batasan legal ataupun moral, utamanya menarget warga sipil dan non-kombatan, yang ditujukan untuk menimbulkan efek propaganda dan psikologis terhadap variasi audiens dan pihak yang berkonflik. 73 Magnus Ranstorp, Mapping Terrorism Research: State of the Art, Gaps, and Future Direction, Routledge, New York, 2007. Hlm. 33 35 2.5. Prinsip Yurisdiksi Universal Yurisdiksi bila dikaitkan dengan negara memiliki arti sebagai kekuasaan atau kewenangan untuk menetapkan dan memaksakan (to declare and to enfore) hukum yang dibuat oleh negara atau bangsa itu sendiri. 74 Yurisdiksi adalah kompetensi atau kekuasaan hukum negara terhadap orang, benda dan peristiwa hukum. Yurisdiksi merupakan refleksi dari prinsip dasar kedaulatan negara, persamaan derajat negara dan prinsip non-intervensi. Menurut John O’Brien ada beberapa macam yurisdiksi yang dimiliki oleh negara yang berdaulat, yaitu: a. Kewenangan negara untuk membuat ketentuan-ketentuan hukum terhadap orang, benda, peristiwa, maupun perbuatan hukum yang terjadi di wilayah teritorialnya (legislative jurisdiction or prescriptive jurisdiction), b. Kewenangan negara untuk memaksakan berlakunya ketentuan-ketentuan hukum nasionalnya (executive jurisdiction or enforcement jurisdiction); c. Kewenangan pengadilan negara untuk mengadili dan memberikan putusan hukum (yudicial jurisdiction).75 Negara memiliki kekuasaan penuh di bawah hukum internasional (to prescribe jurisdiction), namun pelaksanaan prescriptive jurisdiction tersebut terbatas hanya di wilayah teritorialnya saja. Penggunaan kekuatan polisi, eksekusi putusan pengadilan nasional, tidak dapat dilakukan di wilayah negara lain, kecuali diperjanjikan secara khusus oleh pihak-pihak terkait. Kedaulatan negara dibatasi oleh hukum internasional dan kepentingan negara lain. Yurisdiksi merupakan 74 Andrey Sujatmoko, Tanggung Jawab Negara dalam Pelanggaran Berat HAM, Trisakti, Jakarta, 2005. Hlm. 76 75 Ibid. Hlm. 185 36 kekuasaan mutlak dan tertinggi yang dimiliki suatu negara untuk melindungi, mengatur serta menindak segala hal yang ada di dalam wilayah teritorialnya dan tidak dapat diganggu oleh negara lain, namun terdapat prinsip yurisdiksi universal yang menjadi pengecualian terhadap yurisdiki yang dimiliki suatu negara. 76 Berdasarkan prinsip ini setiap negara memiliki yurisdiksi untuk mengadili pelaku kejahatan internasional yang dilakukan dimanapun tanpa memperhatikan kebangsaan pelaku maupun korban. Alasan munculnya prinsip ini adalah bahwa pelaku dianggap orang yang sangat kejam, musuh seluruh umat manusia, jangan sampai ada tempat untuk pelaku meloloskan diri dari hukuman, sehingga tuntutan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap pelaku adalah atas nama seluruh masyarakat internasional.77 Beberapa ciri dari yuridiksi universal yaitu: a. Setiap negara berhak untuk melaksanakan yurisdiksi universal. kata setiap negara mengarah hanya pada negara yang merasa bertanggung jawab untuk turut serta secara aktif menyelamatkan masyarakat internasional dari bahaya yang ditimbulkan oleh serious crime, sehingga merasa wajib untuk menghukum pelakunya. Rasa bertanggung jawab tersebut harus dibuktikan dengan tidak adanya niat untuk melindungi pelaku dengan memberikan perlindungan dan jaminan keamanan dalam wilayah negaranya. b. Setiap negara yang ingin melaksanakan yurisdiksi universal tidak perlu mempertimbangkan siapa dan berkewarganegaraan apa pelaku dan juga korban dimana serious crime dilakukan. Dengan kata lain tidak diperlukan titik hubungan antara negara yang akan melaksanakan yurisdiksinya dengan pelaku, korban dan tempat dilakukannya kejahatan itu sendiri. 76 Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010. Hlm. 233-234 77 Ibid. 37 c. Setiap negara hanya dapat melaksanakan yurisdiksi universalnya terhadap pelaku international serious crime.78 Hal diatas juga diungkapkan oleh hakim Supreme Court Amerika Serikat dalam Hostage Case, dengan mengatakan: “an international crime is such an act universally recognized as criminal, which is considered as agrave matter of international concern and for some valid reason cannot be left within the state that would have control over it under normal circumatances”79 Bahwa, suatu kejahatan dapat dikatan sebagai international serious crime harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: a. Perbuatan itu diakui universal sebagai tindak pidana dan sudah dirumuskan sebagai tindak pidana dalam sistem hukum pidana domestik di semua negara. Semua negara mengutuk (condemn) perbuatan itu dan menentukan hukuman yang layak. b. Tindak pidana itu harus memenuhi kriteria tertentu sebagai international crime, yaitu bahwa pelakunya merupakan musuh umat manusia dan tindakannya bertentangan dengan kepentingan umat manusia sehingga penegakan hukum internasionalnya harus dilakukan, dengan merujuk pada hukum kebiasaan internasional maupun perjanjian internasional. c. Karena sifatnya yang sangat membahayakan masyarakat internasional maka sangat beralasan untuk tidak hanya memberikan yurisdiksi pada suatu negara saja yang jika dalam keadaan normal memang berhak untuk melaksanakannya.80 78 Bandingkan dengan J.G. Starke, Introduction to International Law, Tenth Edition, Butterworths, London, 1989, Hlm. 304 79 Tien Saefullah, Hubungan antara Yurisdiksi Universal dengan Kewajiban Negara Berdasarkan Prinsip Aut Dedere Aut Judicare dalam Tindak Pidana Penerbangan dan Implementasinya di Indonesia, Volume I No. 1, Jurnal Hukum Internasional FH. Universitas Padjajaran, Bandung , 2002. Hlm. 45 80 Malcolm N. Shaw, Hukum Internasional, Nusa Media, Bandung, 2013. Hlm. 651 38 Hukum internasional menyebutkan kejahatan perang (war crime) dan piracy sebagai kejahatan internasional yang kepadanya dapat diterapkan yurisdiksi universal. Pasal 404 Restatement (Third) of the Foreign Relations Law of United States menyebutkan yurisdiksi universal diberlakukan terhadap perdagangan budak, piracy, attack or hijacking of aircraft, genocide, war crimes dan terrorism. The International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) juga memasukkan pelanggaran berat Konvensi Jenewa 1949, seperti pelanggaran hukum dan kebiasaan dalam berperang, genocide, dan kejahatan kemanusiaan sebagai kejahatan internasional yang memerlukan yurisdiksi universal.81 2.6. Asas-Asas Hukum Humaniter Internasional Pada setiap peperangan, konflik bersenjata baik non-internasional ataupun internasional, serta perihal lainnya yang berkaitan dengan penggunaan senjata berlaku baginya ketentuan-ketentuan yang ada pada HHI yang dibentuk berdasarkan hukum kebiasaan berperang dan sisi-sisi kemanusiaan yang dijunjung tinggi. Segala bentuk penggunaan kekuatan bersenjata harus memperhatikan asasasas dan prinsip dasar HHI yang sama sekali tidak boleh dilanggar. Asas dan prinsip-prinsip HHI merupakan kaidah dasar yang harus dilaksanakan pada setiap penggunaan kekuatan militer di dalam konflik bersenjata, hal ini dikarenakan asas dan prinsip tersebut merupakan bentuk penghormatan nilai-nilai kemanusian. Asas dan prinsip-prinsip HHI memberi pandangan yang sangat jelas mengenai apa yang tidak boleh dilakukan di waktu konflik bersenjata dan acuan dasar dalam bertindak serta berprilaku dalam konflik bersenjata. 81 Ibid. 39 2.6.1. Asas Kepentingan Militer Berdasarkan asas ini maka pihak yang bersengketa dibenarkan menggunakan kekerasan untuk menundukkan lawan demi tercapainya tujuan dan keberhasilan perang, namun, asas kepentingan militer dalam pelaksanaannya harus memenuhi dan melaksanakan prinsip pembatasan (limitation principle), prinsip proporsionalitas (proportionally principle) dan prinsip pembedaan (distinction).82 2.6.2. Prinsip Proporsional (Proportionality) Menurut prinsip proporsional, setiap serangan dalam operasi militer harus didahului dengan tindakan yang memastikan bahwa serangan tersebut tidak akan menyebabkan korban lain di pihak sipil berupa kehilangan nyawa, luka-luka, ataupun kerusakan harta benda yang berlebihan dibandingkan keuntungan militer yang diharapkan langsung dari serangan tersebut.83 2.6.3. Prinsip Pembedaan (Distinction) Pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata harus membedakan antara sasaran perang (kombatan) dengan orang sipil. Oleh karena itu, setiap kombatan harus membedakan dirinya dari orang sipil, karena orang sipil tidak boleh diserang. Tujuan dari prinsip pembedaan ini adalah untuk melindungi orang sipil dan objek sipil.84 82 Kunz, Joseph, The Changing Law of National, 1968. Hlm 873, sebagaimana dikutip dalam Haryomataram, Hukum Humaniter, Rajawali, Jakarta, 1984. Hlm. 34 83 M.Cheriff Bassiouni, Introduction to International Criminal Law, Transnational Publisher Inc., New York, 2003. Hlm. 4-7 84 Haryomataram, Hukum Humaniter, Rajawali, Jakarta, 1984. Hlm. 34 40 2.6.4. Larangan Menyebabkan Penderitaan yang Tidak Seharusnya (Prohibition of Causing Unnecessary Suffering). Asas HHI mengenai larangan menyebabkan penderitaan yang tidak seharusnya, sering disebut sebagai principle of limitation (prinsip pembatasan). Prinsip pembatasan ini merupakan aturan dasar yang berkaitan dengan metode dan alat perang, bahwa metode perang yang benar adalah metode yang dilaksanakan hanya untuk melemahkan kekuatan militer lawan. 85 Prinsip pembatasan adalah suatu prinsip yang menghendaki adanya pembatasan terhadap sarana atau alat serta cara dan metode berperang yang dilakukan oleh pihak yang bersengketa, seperti adanya larangan penggunaan senjata beracun, larangan penggunaan peluru dumdum, atau larangan menggunakan suatu proyektil yang dapat menyebabkan lukaluka yang berlebihan (superfluous injury) dan penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering). Penggunaan senjata beracun (kimia) termasuk senjata biologi atau nuklir yang merupakan senjata non-konvensional tidak dapat dibenarkan karena sifatnya yang dapat mengakibatkan kerugian secara massal tanpa dapat membedakan antara objek sipil dan orang sipil dengan sasaran militer yang seharusnya. Pasal 22 dan 23 Hague Regulations (Lampiran dari Konvensi Den Haag IV 1907), menyatakan bahwa, hak dari Belligerents dalam menggunakan alat untuk melukai musuh adalah bukan tidak terbatas (terbatas). Adapun batasan-batasan tersebut, termasuk kedalam penjabaran prinsip proporsionalitas.86 85 Stuart Maslen, Anti-Personel Mines Under Humaniterian Law, Oxford press, New York, 2001. Hlm. 211 86 Arlina Permanasari, Pengantar Hukum Humaniter, ICRC, Jakarta, 1999. Hlm. 11 41 2.6.5. Asas Perikemanusiaan Menurut prinsip ini pihak yang bersengketa diharuskan untuk memperhatikan nilai perikemanusiaan, dilarang untuk menggunakan kekerasan yang dapat menimbulkan luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu. 87 PrinsipPrinsip kemanusiaan ditafsirkan sebagai larangan terhadap penggunaan sarana dan metode berperang yang berlebihan dan tidak seimbang dengan keuntungan yang akan dicapai. Mahkamah Internasional PBB menafsirkan prinsip kemanusian sebagai ketentuan untuk memberikan bantuan tanpa diskriminasi kepada orang yang terluka di medan perang, berupaya dengan kapasitas internasional dan nasional untuk mengurangi penderitaan manusia dimanapun mereka ditemukan. Prinsip ini juga bertujuan untuk melindungi dan menjamin penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.88 2.6.6. Asas Kesatriaan Berdasarkan asas ini bahwa di dalam perang, kejujuran harus diutamakan. Penggunaan alat-alat yang tidak terhormat, berbagai tipu muslihat dan cara-cara yang bersifat khianat adalah dilarang. Dalam situasi sengketa bersenjata pihak lawan diperbolehkan untuk menggunakan berbagai strategi untuk menundukkan lawannya agar kemenangan berada di pihaknya, namun harus memperhatikan berbagai asas yang lain, bahwa perang harus dilaksanakan dengan jujur dan memperhatikan aspek kemanusiaan.89 87 Ibid. Ibid. Hlm. 13 89 Ibid. 88 42 2.6.7. Asas Keterpaksaan (Necessity) HHI telah menetapkan bahwa yang dapat dijadikan sasaran serangan dalam pertempuran hanyalah sasaran militer atau obyek militer, di sisi lain terdapat pula ketentuan yang memungkinkan suatu obyek sipil menjadi sararan militer apabila memenuhi persyaratan tertentu. Dengan demikian, prinsip keterpaksaan adalah ketentuan yang menetapkan bahwa suatu obyek sipil hanya bisa dijadikan sasaran militer apabila telah memenuhi persyaratan tertentu.90 2.7. Pengaturan Mengenai Sarana dan Metode dalam Berperang 2.7.1. Metode dan Sarana Berperang Dalam Konvensi-konvensi Den Haag 1907 Dalam memahami peraturan Den Haag mengenai sarana dan metode berperang, terlebih dahulu harus diketahui dua peraturan dasar (basic rules) yang melandasinya, yaitu: a. In any armed conflict, the right of the Parties to the conflict to choose methods or means of warfare si not unlimited. (Dalam setiap konflik bersenjata Hak para pihak yang terlibat konflik untuk memilih metode atau alat perang bukan tidak terbatas). b. It is prohibited to employs weapons, projectiles and material and methods of warfare of a nature to cause superfluous injury or unnecessary suffering. (Dilarang untuk menggunakan senjata, proyektil, material alat ledak serta penggunaan alam sebagi metode peperangan dan 90 US Department of Defence, Dictionary of Military and Associated Terms, 2005, diakses dari: http://usmilitary.about.com/od/glossarytermsm/g/m3987.htm, pada tanggal 1 April 2014, pukul 13.00 WIB 43 segala serangan yang ditujukan untuk menyebabkan cedera berlebihan atau penderitaan yang tidak perlu).91 Peraturan dasar paling utama dalam menggunakan sarana atau alat untuk melakukan peperangan (means of warfare) dalam suatu sengketa bersenjata adalah keterbatasan dalam memilih dan menggunakan sarana atau alat berperang. Prinsip ini tercantum dalam ketentuan Pasal 22 Regulasi Den Haag (The Hague Regulation), yang menyatakan bahwa hak untuk menggunakan sarana berperang bukan tidak terbatas (is not unlimited). Penggunaan kata belligerents dalam Pasal 22 dimaksudkan bukan hanya kepada beligerents sebagaimana dimaksud pada umumnya, namun segala gerakan militer yang memiliki unsur sama tetap berlaku baginya pasal tersebut. Prinsip ini ditegaskan kembali dalam Resolusi XXVIII dan Konferensi Internasional Palang Merah ke XX di Wina (1965) serta dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 2444(XXIII).92 Penggunaan prinsip ini tampak pada konvensi yang dihasilkan dalam Konferensi Perdamaian ke-II, misalnya: Pasal 1 Konvensi Den Haag VIII (Convention relative to the laying of automatic submarine contact mines) yang melarang penggunaan ranjau dan torpedo, dengan pengecualian yang cukup ketat, sebagai berikut: a. To lay unanchored automatic contact mines, expect when they are so constructed as so become harmless one hour at most after the person who laid them ceases to control them. (Untuk tidak meletakkan ranjau kontak otomatis dengan kendali yang tidak berbahaya hanya ketika pengendali berhenti mengendalikannya). 91 Suardi, Jurnal Ilmiah: Konflik Bersenjata Dalam Hukum humaniter Internasional, Vol. 2, 2005. Hlm. 291 92 Ibid. 44 b. To lay unanchored automatic contact mines which do not become harmless as soon as they have broken loose from their moorings (Untuk tidak meletakan ranjau kontak otomatis yang membahayakan nyawa setelah telepas tambatannya). c. To use torpedoes which do not become harmless when they have missed their mark. (Untuk menggunakan torpedo yang memiliki kemampuan untuk mengikuti target).93 Pengaturan mengenai sarana dan metode berperang juga tercantum pada Pasal 1 Konvensi Den Haag VIII (Convention relative to the laying of automatic submarine contact mines) yang menerangkan bahwa negara yang bersengketa tidak dapat sebebas-bebasnya menggunakan ranjau, namun dibatasi oleh syaratsyarat tertentu, serta larangan penggunaan racun dan senjata-senjata beracun (poison and poisoned weapons), yang tercantum dalam Pasal 23 (a) Hague Regulations, selain itu terdapat pula larangan penggunaan senjata atau proyektil yang dapat menyebabkan luka yang berlebih-lebihan atau penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering) yang tercantum dalam Pasal 23(e) Hague Regulations.94 Konvensi Den Haag I 1899 menyatakan bahwa “the contracting powers agreeto prohibit, for a term of five year, the launching of projectiles and explosive from balloons, or by other new methods of a similar nature”, klausula ini menentukan batasan-batasan dalam penggunaan alat berperang yang melarang penggunaan proyektil yang diledakan dengan bantuan balon, atau dengan cara lain yang 93 Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humaniter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994. Hlm. 11 94 Andrew Clapham, Paola Gaeta, The Oxford Handbook of International Law in Armed Conflict, Oxford Universiy Press, United Kingdom, 2014. Hlm. 60 45 hampir serupa dengan balon. 95 Konvensi Den Haag II 1899 juga menyatakan “The contracting powers agree to abstain from the use of projectiles the sole object of wich is the diffusion of asphyxiating or deleterious gases”. Melarang penggunaan proyektil berisi gas beracun atau gas cekik.96 Konvensi Den Haag III 1899 kemudian menentukan pelarangan penggunaan peluru jenis tertentu, berdasarkan Pasal I Konvensi tersebut menyebutkan bahwa, “Bullets which expand offlattern easily in the human body, such as bullets with hard envelope which does notentirely cover the core or is pierced with incisions”. Semua jenis peluru yang dapat menghasilkan akibat-akibat yang sebanding dengan proyektil-proyektil, dapat menyala dan meledak dilarang untuk digunakan, sebagaimana telah dituangkan dalam Deklarasi St. Petersburg 1868 Deklarations Renounching the Use, in Time of War, of Explosive Projectiles Under 400 Grammes Weight.97 2.7.2. Sarana dan Metode Berperang Menurut Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977 Sarana dan metode berperang di atur menurut menurut Protokol Tambahan Konvensi Jenewa II 1977 di dalam bagian III Protokol yang berjudul “Methods and Means of Warfare, Combatant and Prisoner of War Status” (Pasal 35-47). Protokol ini telah menyempurnakan ketentuan mengenai alat dan cara atau metode berperang yang ada dalam Konvensi Den Haag 1907 dengan adanya penambahan aturan dasar (basic rules), yakni ketentuan mengenai senjata-senjata baru, penambahan lambang-lambang internasional yang harus dihormati selama masa 95 Ibid. Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humaniter. Op. Cit. Hlm. 20 97 Ibid. 96 46 peperangan, perluasan kategori orang-orang yang dapat terlibat dalam sengketa bersenjata, ketentuan baru mengenai tentara bayaran, mata-mata, dan sebagainya.98 Perkembangan dalam Protokol juga muncul pada saat terjadinya Perang Vietnam 1975, dimana perang tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat besar. Kepedulian di bidang lingkungan mulai tumbuh pesat setelah terbentuknya Declaration of the United Nations atau biasa disebut Deklarasi Stockholm 1972, yang menyebabkan ditambahkannya satu aturan dasar (basic rule), yaitu tentang larangan merusak dan menggunakan lingkungan sebagai sarana dan metode berperang yang dinyatakan dengan: “It is prohibited to employ methods or means of warfare which are intende, or maybe expected, to cause widespread, long term and severe damage to the natural environment”.99 Ketentuan lain mengenai alat atau sarana berperang dalam Protokol adalah adanya kewajiban bagi pihak peserta agung untuk meneliti, mengkaji atau menilai dan kemudian menentukan apakah penggunaan senjata-senjata baru yang sedang dikembangkan akan bertentangan dengan Protokol Tambahan Jenewa I 1977 serta aturan hukum internasional lainnya yang mengikat negara tersebut (Pasal 36 Protokol). Apabila negara yang bersangkutan tidak melakukan hal tersebut, maka negara tersebut akan bertanggungjawab terhadap setiap kerusakan yang terjadi serta perluasan konsep khianat (perfidy).100 98 Alma Manuputty, Hukum Humaniter dan Kejahatan Internasional, Unhas Press, Makasar, 2012. Hlm. 54 99 John O’Brian, International Law, New York: Routledge-Cavendish, 2001. Hlm.679 100 Ibid. 47 Konvensi Den Haag 1907 sebelumnya telah mengemukakan dan mengenalkan konsep ini dalam Pasal 23 (b) Haggue Regulations 1988, perbedaannya dalam konvensi Den Haag, larangan melakukan perfidy hanya diterapkan dalam kaitannya dengan pembunuhan, melukai atau menangkap musuh saja, sedangkan dalam Protokol I larangan tersebut tidak hanya diterapkan pada operasi-operasi pertempuran saja, namun juga diterapkan pada penghormatan terhadap bendera gencatan senjata (sub-Ayat 1a), tanda kebangsaan (sub-Ayat 1b), penduduk sipil (sub-Ayat 1c), dan lambang-lambang internasional lainnya (sub-Ayat 1d).101 2.8. Orang-orang Sipil dan Humaniter Internasional Objek-objek yang Dilindungi Hukum Hukum perang pada awalnya lebih banyak memberikan perhatian kepada para kombatan serta sarana dan metode yang mereka pergunakan dalam peperangan dan hanya sedikit ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai penduduk sipil. Melihat fakta bahwa sejak Perang Dunia I, korban di pihak penduduk sipil meningkat dengan pesat (sampai 80%), maka sejak itu pula ketentuan-ketentuan hukum perang mulai memberikan perhatian yang signifikan terhadap perlindungan penduduk sipil dan kerugian-kerugian yang mereka alami akibat suatu peperangan.102 101 ICRC, Hukum Humaniter dan Hak Asasi Manusia, diakses dari: http://www.icrc.org/ eng/assets/files/other/indo-irrc_857_henckaerts.pdf, pada tanggal 1 April 2012, pukul 15:35 WIB. 102 Teguh Sulista, Pengaturan Perang dan Konflik Bersenjata Dalam Hukum Humaniter Internasional, Jurnal Hukum Internasional Vol. 4, Fakultas Hukum UNPAD, Bandung, 2007. Hlm. 535 48 Usaha-usaha yang perlu dipahami dan dilaksanakan dalam peperangan untuk membedakan obyek sipil dan sasaran militer dalam suatu sengketa bersenjata, sebenarnya telah sejak lama dituangkan dalam Hukum Den Haag dan Hukum Jenewa yang menerangkan bahwa di dalam setiap konflik bersenjata objek sasaran adalah terbatas. Meskipun dalam peperangan atau konflik bersenjata sudah tentu akan menimbulkan korban yang bukan merupakan sasaran sarangan, namun HHI memberikan garis terang mengenai apa dan siapa yang dapat dijadikan objek sasaran untuk menghindari hal tersebut.103 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa 1977 merupakan suatu perjanjian yang mengatur tentang perlindungan penduduk sipil secara komperhensif. Aturanaturan tentang penduduk sipil ini terdapat dalam Bagian IV Protokol, khususnya pada Pasal 48 yang mengatur mengenai aturan-aturan dasar (basic rules) bagi perlindungan penduduk sipil. Protokol ini memberikan suatu istilah dan definisidefinisi yang sebelumnya tidak dipergunakan dalam Konvensi-konvensi Den Haag 1907, seperti istilah penduduk sipil (civilian population), orang sipil (civilian/individual civilian), obyek-obyek sipil (civilian objects), serta istilah kombatan (combatant) dan Sasaran Militer (military objectives). Dengan adanya pasal di atas kita dapat melihat bahwa istilah dan definisi tentang obyek sipil dan sasaran militer telah diterima oleh negara-negara untuk pertama kalinya dalam suatu naskah perjanjian yang telah berlaku (enter into force).104 103 Ria Wierma Putri, Hukum Humaniter Internasional, Unila, Bandar Lampung, 2011. Hlm. 63-72 104 Apang Supandi, Perang dan Kemanusiaan Dalam Pandangan Hukum Humaniter Internasional dan kajian islam, diakses dari: http://www.pelita.or.id/baca.php?id=88924, pada tanggal 8 Juli 2014, pukul 20.54 WIB. 49 Pengertian mengenai objek atau sasaran militer diatur dalam Pasal 52 ayat (2) Protokol I tahun 1977 sebagai berikut: “Military objectives are limited to those objects which by their nature, location, purpose or use make an effective contribution to military action and whose total or partial destruction, capture or neutralization, in the circumstances ruling at the time, offers a definite military advantage.” Objek militer yang dimaksudkan dalam pasal di atas adalah objek-objek yang karena sifat, lokasi, tujuan atau penggunaannya memberikan kontribusi yang efektif kepada suatu aksi militer yang penghancuran sebagian atau seluruhnya, penahanan atau penetralannya pada situasi dan saat tertentu memberikan suatu keuntungan militer yang nyata. Objek sipil sepeti rumah sakit, sekolah dan rumah ibadah, dapat menjadi objek sasaran militer apabila penggunaannya memberikan kontribusi militer musuh yang efektif atau sedang digunakan sebagai sarana militer musuh maka pada saat itu pula objek tersebut menjadi objek militer. Sebaliknya apabila suatu objek tersebut sudah tidak digunakan untuk tujuan militer lagi, maka objek tersebut tidak lagi merupakan objek sasaran militer.105 Amerika Serikat mempunyai definisi yang berbeda mengenai objek sasaran militer, dengan menambahkan kata military sustainability setelah kata military action. Dengan demikian menurut Amerika Serikat yang dapat dijadikan sasaran militer definisinya lebih luas, karena tidak hanya segala sesuatu yang memberikan kontribusi efektif kepada suatu aksi militer, tetapi juga terdapat objek lainnya yang dapat memberikan kontribusi efektif kepada pertahanan militer dan dianggap sah untuk dijadikan sebagai sasaran militer.106 105 106 Ria Wierma Putri, Hukum Humaniter Internasional. Op.Cit. Ibid. 50 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini merupakan penelitian ilmu hukum normatif yang meneliti dan mengkaji hukum tertulis dan kaidah hukum yang sedang berlaku. Fokus kajian dalam penelitian ini adalah hukum positif (Ius Constitutum)107. pengkajian hukum positif mempuanyai fungsi, antara lain: a. Mendeskripsikan hukum positif, yaitu bertugas untuk mendeskripsikan atau memaparkan isi dan struktur hukum positif. b. Mensistematisasikan hukum positif, yaitu isi dan struktur hukum positif yang telah dideskripsikan. c. Menginterprestasikan hukum positif, yaitu berusaha menjelaskan makna yang terkandung dalam aturan. d. Menilai hukum positif, yaitu menemukan sifat normatif murni dari ilmu hukum, dimana objeknya bukan hanya norma akan tetapi juga menyangkut dengan dimensi penormaan. 107 Ius Constitutum merupakan hukum yang berlaku untuk suatu masyarakat dalam suatu tempat pada suatu waktu tertentu. Hal ini sangat penting untuk menunjang metode serta kualitas hukum dan penjelasan mengenai sebab akibat hukum. Objek ilmu hukum positif berbeda dengan hukum ilmu pasti dalam ilmu alam. Hukum positif sebagai sebuah perangkat kaidah kehidupan manusia dalam masyarakat, diatur oleh metode keilmuan Humanities Humaniora, bukan diatur oleh metode keilmuan ilmu pasti. 51 e. Menganalisis hukum positif, dalam hal ini menganalis isi pengaturannya, bahwa yang dimaksud adalah antara aturan hukum dan kepatutan harus dipikirkan dalam suatu hubungan, oleh karena itu norma hukum harus bertumpu pada asas-asas hukum dan dibalik asas hukum itu dapat disistematisasi gejala-gejala lainnya. 108 Hukum positif yang dimaksudkan di dalam penelitian skripsi ini adalah di mana pengaturan yang relevan dikumpulkan sebagai dasar hukum bagi suatu kejadian dan permasalahan hukum, bentuk pengaturan yang dijadikan objek kajian tidak hanya berdasar pada hukum tertulis namun norma-norma yang terbentuk sebagai suatu hal yang sama sekali tidak boleh dilanggar juga termasuk di dalamnya.109 Penelitian mengenai penggunaan pesawat tanpa awak sebagai alat militer, yang menjadi fokus kajian adalah norma tertulis dan norma kebiasaan internasional, dikarenakan objek penelitian belum memiliki pengaturan yang secara jelas mencantumkan hal tersebut, maka menghimpun dan mengkaji pengaturan tertulis maupun norma kebiasaan serta pengaturan-pengaturan lainnya yang relevan untuk dapat dijadikan dasar hukum pagi penggunaan pesawat tanpa awak adalah jenis penelitian yang dimaksud oleh penulis. 3.2. Pendekatan Masalah Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif. penelitian atau pengkajian ilmu hukum normatif berfungsi untuk menjelaskan hukum atau mencari makna serta nilai akan hukum, dalam pendekatannya hanya menggunakan konsep hukum dan langkah-langkah yang 108 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Hukum. Op. Cit. Hlm. 43 Hans Kelsen, (Alih Bahasa Somardi), Teori Hukum Murni, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriftif, Rimdi Press, Jakarta, 1995. Hlm. 256 109 52 ditempuh dalam penelitian ini adalah langkah normatif. Penelitian mengenai pesawat tanpa awak, pendekatan masalah ditekankan pada praktek serta dampak yang ditimbulkan dalam penggunaannya untuk kemudian mencari dan menghubungkannya dengan hukum yang berlaku dan relevan. 3.3. Sumber Data Sumber data utama dalam skripsi ini adalah bahan hukum. Penelitian dan pengkajian ini bertumpu pada bahan hukum yang berisi aturan-aturan yang bersifat normatif. Dalam pembahasan penulisan skripsi ini yaitu mengenai “Analisis Yuridis Pengunaan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) Sebagai Alat Militer Menurut Hukum Internasional”, dan kemudian penulis menentukan bahan-bahan hukum tersebut yaitu: 3.3.1. Bahan Hukum Primer Berupa Traktat dan Konvensi Internasional multilateral ataupun bilateral. a. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. b. Keputusan Prosecutor of the International Crime tribunal for Yugoslavia (ICTY) tanggal 14 Mei 1999. c. Konvensi Chicago 1944, The International Civil Aviations Conference. d. Konvensi Den Haag 1907, Convention (IV) Respecting the Laws and Customs of War on Land and its annex: Regulations concerning the Laws and Customs of War on Land. e. Konvensi Jenewa 1949, The Amelioration of the Condition of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field. f. Konvensi Montevideo 1933 mengenai Unsur-Unsur Negara 53 g. Konvensi Paris 1919, Convention Relating to the Regulation of Aerial Navigation. h. Protokol Pertama Konvensi Den Haag “Protection of Cultural Property in the Events of Armed Conflict” 1954. i. Protokol Kedua Konvensi Den Haag ”Protection of Cultural Property in the Events of Armed Conflict” 1999. j. Putusan International Court of Justice (ICJ) kasus Nicaragua vs Amerika Serikat. k. Statuta International Criminal Court. 3.3.2. Bahan Hukum Sekunder a. Buku-buku ilmu hukum, b. Jurnal ilmu hukum, Laporan penelitian ilmu hukum, c. Artikel ilmiah hukum, bahan seminar, catatan perkuliahan dan sebagainya yang berupa data hard atau tertulis. 3.4. Metode Pengumpulan Data dan Pengolahan Data 3.4.1. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data menggunakan metode kepustakaan (library Research). Penelitian atau studi kepustakaan adalah dengan menentukan data sekunder, identifikasi data sekunder yang diperlukan dan menginventarisasi data yang relevan terhadap rumusan masalah dengan cara pengutipan atau pencatatan serta 54 mengkaji data yang sudah terkumpul guna meningkatkan relevansinya dengan kebutuhan untuk menjawab rumusan masalah.110 3.4.2. Metode Pengolahan Data Setelah data dikumpulkan, lalu diolah dengan menggunakan metode interprestasi, yakni memaparkan atau menjelaskan hukum tersebut. Selanjutnya peneliti berupaya untuk menjelaskan unsur-unsur pembentuk ketentuan tersebut sehingga dapat terlihat apakah pengaturan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar hukum bagi penggunaan pesawat tanpa awak sebagai alat militer di wilayah negara lain. 3.5. Analisis Data Kegiatan dalam menganalisis data, peneliti menggunakan jenis analisis yuridis normatif, dengan melihat adalah apakah syarat-syarat normatif dari hukum itu sudah terpenuhi atau belum dengan cara mengkaji bangunan hukum itu sendiri. Dalam pengkajiannya dan analisisnya penelitian ini tidak menggunakan statistik karena penelitian ilmu hukum normatif merupakan pengkajian yang sifatnya hukum murni.111 Teori kebenarannya adalah pragmatis, kebenaran pragmatis artinya dapat bermanfaat secara pragtis dalam kehidupan serta sarat dengan nilai yang dipengaruhi juga oleh subjek hukum, sebab pada penelitian ilmu hukum 110 Mohammad Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983. Hlm. 41 Aarnio, Aulis, A Hermeunik Approach in Legal Theory dalam Pshilophical Perspektive In Jurisprudence, Helsinki, 1983. Hlm. 114 111 55 normatif, justru adanya pengaruh itulah sifat spesifik dari ilmu hukum normatif itu dapat diungkap.112 Penulis menghimpun dan menganalisis hukum-hukum yang memenuhi sifat normatif dan relevan untuk dijadikan dasar hukum bagi penggunaan pesawat tanpa awak, kemudian mensistematiskan pengaturan tersebut sebagai penyelesaian masalah. Penelitian ini juga tidak hanya mengkaji hukum tertulis, namun juga norma kebiasaan internasional yang bersifat fundamental, hal ini dikarenakan hukum internasional merupakan refleksi dari norma-norma hubungan yang hidup dan harus ditaati. 112 Purbacaraka, Purnadi, Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum Bagi Pendidikan Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995. Hlm. 42 108 BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Menurut fakta dan data yang berhasil dihimpun dan setelah dianalisis maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pesawat tanpa awak dalam praktek-praktek negara difungsikan sebagai pesawat udara militer yang penggunaannya harus sesuai dan berkorelasi pada pengaturan Pasal 3 konvensi Chichago 1944 dimana penggunaannya diluar batas wilayah territorial harus mendapatkan otorisasi khusus dari negara kolong. Berdasarkan Pasal 36 Protokol Tamabahan I Konvensi Jenewa 1949 bahwa pesawat tanpa awak yang merupakan suatu sarana dan metode berperang baru harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada didalam Protokol dan Konvensi serta pengaturan lainnya yang berlaku dan penggunaan pesawat tanpa awak sebagai alat dan metode berperang tidak sesuai dengan Pasal 57 Protokol Tambahan I. 109 Berdasarkan fakta penggunaannya sebagai alat militer atau sarana dan metode berperang pada praktek negara-negara, pesawat tanpa awak telah banyak menimbulkan korban jiwa dipihak sipil serta menyerang dengan potensi adanya korban sipil 3:5 (tiga berbanding lima) jelas merupakan pelanggaran ketentuan-ketentuan HHI mengenai sarana dan metode berperang yang juga bertentangan dengan Pasal 23 Regulasi Den Haag mengenai larangan penggunaan senjata yang berpotensi mengakibatkan kerusakan atau kerugian yang meluas. 2. Serangan Amerika Serikat merupakan pelanggaran kedaulatan yurisdiksi negara lain sebagaimana termuat dalam Konvensi Montevideo 1933 mengenai hak dan kewajiban negara. Tindakan perang melawan terror (war on teror) sebagai upaya pertahanan diri (self defence) yang dilakukan Amerika Serikat juga telah melanggar ketentuan hukum internasional yang termuat dalam Piagam PBB, Pasal 2 ayat (4) tentang larangan penggunaan kekuatan bersenjata dalam hubungan internasional. Declaration on The Inadmissibility ofIntervention in The Domestic Affairs of States and The Protection of Their Independence and Sovereignty 1965, juga menyatakan bahwa segala bentuk penggunaan kekuatan bersenjata untuk tujuan intervensi terhadap urusan domestik dilarang untuk dilakukan. Tindakan Self Deffence Amerika Serikat memang memiliki legalitasnya berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, meskipun tindakan Amerika Serikat dibenarkan oleh Pasal 51 Piagam PBB, pemisahan antara ius ad bellum dengan ius in bello harus diterapkan sepenuhnya dalam situasi war on 110 terror. Berdasarkan keputusan International Court of Justice (ICJ) pada kasus Nicaragua v Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa alasan apapun mengenai penggunaan senjata yang menimbulkan kerugian terhadap sipil atau objek sipil sangat bertentangan dengan nilai kemanusian yang telah menjadi hukum kebiasaan internasional (customary law). Self deffence Amerika Serikat juga tidak memenuhi kriteria dan syarat pelaksanaannya yang diadopsi pada kasus kapal Carolina. Serangan atau tindakan-tindakan Amerika Serikat jika didasarkan pada perlindungan terhadap hak asasi manusia jelas bertentangan dengan Pasal 6 dan Pasal 14 Convenan on Civil and Political Right (ICCPR) dan berdasarkan fakta dampak dari serangan Amerika Serikat menurut Pasal 51 ayat 3 tindakan Amerika Serikat tersebut merupakan suatu kejahatan perang. Meskipun banyaknya pendapat dan keterangan-keterangan dari berbagai sumber hukum bahwa penanganannya serta pemberantasannya tindak kejahatan terorisme dapat melalui penerapan yurisdiksi universal namun hingga saat ini penerapan prinsip yurisdiksi tersebut masih belum memiliki dukungan dari banyak pihak, hal ini dikarenakan banyaknya anggapan bahwa penerapan yurisdiksi tersebut dapat menggagu kedaulatan dari negara lain, sehingga meskipun penanganan tindak kejahatan terorisme oleh Amerika Serikat dapat ditempuh melalui penerapan yurisdiksi universal namun penerapannya sampai saat ini masih tidak dapat dilaksanakan secara penuh. 111 5.2. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diajukan saran berupa: 1. Pengaturan pesawat udara publik dalam hal ini pesawat udara militer harus lebih diperkuat mengenai pesawat yang dikendalikan dengan sistem mandiri atau remote control perlu mendapatkan perhatian khusus serta membuat redaksional baru mengenai pengaturannya. 2. Memperkuat dasar hukum yang ada mengenai pesawat udara yang dipersenjatai sesuai dengan klasifikasinya, seperti etik seorang prajurit yang memegang senjata. Serta penggunaan pesawat tanpa awak ataupun penggunaan kekuatan bersenjata lainnya diluar zona tempur guna mendukung misi suatu negara perlu dibuat aturan yang bersifat khusus. 3. Konsep pelaksanaan hak membela diri (self deffence) dan penerapan prinsip yurisdiksi universal perlu diteliti dan membentuk redaksional baru mengenai syarat dan kriteria yang harus dipenuhi pemegang hak, agar tidak terjadi penyalahgunaan hak tersebut untuk kepentingan subjektif individu suatu negara. 4. Penggunaaan kekuatan militer sebagai kebijakan luar negeri seperti perang terhadap terorisme (war on terror) perlu untuk ditinjau kembali, dan perlu dilakukan pengawasan khusus terhadap persenjataan yang digunakan untuk mendukung hal tersebut demi menjamin hak asasi manusia. DAFTAR PUSTAKA A. Buku Aarnio, Aulis, A Hermeunik Approach in Legal Theory dalam Pshilophical Perspektive In Jurisprudence, Helsinki, 1983. Abdulrasyid, Priyatna, Kedaulatan Negara di Ruang Udara, Pusat Penelitian Hukum Angkasa, Jakarta, 1972. Agus, Fadillah, Hukum Humaniter, Pusat studi Hukum Humaniter, Fakultas Hukum Trisakti, Jakarta, 1997. Alston, Philip, Report of the Special Rapporteur on extrajudicial, summary or arbitrary executions, U.N. Human Rights Council, (A/HRC/14/24/Add.6), 28 May 2010. Ambarawati, Denny Ramdhani, Rina Rusman, Hukum Humaniter Internasional dalam Studi Hubungan Internasional, 2012, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Arlina, Customary International Humanitarian Law (Hukum Humaniter Internasional Kebiasaan), ICRC, 2002. Barnidge, Robert P., a Qualified Defence of American Drone Attacks in Northwest Pakistan Under International Humanitarian Law, Boston University International Law Journal Vol. 30:409, 2008. Bassiouni, M.Cheriff, Introduction to International Criminal Law, Transnational Publisher Inc., New York, 2003. Bedjaoui, Mohammed, Modern Wars: Humanitarian Challenge. A Report for the Independent Commission on International Humanitarian Issues, Zed Books Ltd., London, 1986. Boyle, Michael J., The Costs and Consequences of Drone Warfare, 2009. Bowett, Pembelaan-diri dalam Hukum Internasional, Sinar ilmu, Bandung, 1958. Bowet, Brent D. and Frederick D. Hansen, The Human Interface Elements of System Safety in the Emerging Small Aircraft Transportation Technology, University of Nebraska, Omaha, 2001. Brudenlein, Claude, Custom in International Humanitarian Law, International Review of the Red Cross, Nomor 285, Nopember-Desember, 1991. Clapham, Andrew and Paola Gaeta, The Oxford Handbook of International Law in Armed Conflict, Oxford Universiy Press, United Kingdom, 2014. Doswald-Beck, Louise, San Remo Manual on International Law Applicable to Armed Conflict at Sea, IRRC, No. 309, November-December 1995. Harris, D. J., Cases and Materials on International Law, Sixth Edition, Sweet & Maxwell , London, 2004. Haryomataram, Hukum Humaniter, Rajawali, Jakarta, 1984. , Sekelumit tentang Hukum Humaniter, Sebelas Maret University Press, Surakarta, 1994. Hasin, Hinayahtullah, Gerakan Terrorisme di Timur Tengah, Mizan, Bandung, 1999. Hehir, Aidan, Humanitarian Intervention After Kosovo, Palgrave Mcmilan, England, 2008. Istanto, F. Sugeng, Penerapan hukum Humaniter pada orang sipil perlindungannya dalam pertikaian Bersenjata, Fakultas Hukum Trisakti, Jakarta. 1997. Kalshoven, Frits and Liesbeth Zegveld, Constraints on the Waging of War: An Introduction to International Humanitarian Law, ICRC, Geneva, 2001. Kelsen Hans, (Alih Bahasa Somardi), Teori Hukum Murni, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Empirik-Deskriftif, Rimdi Press, Jakarta, 1995. Lawrence, Jessica C. dan Kevin Jon Heller, The first Ecocentric Environmental War Crime: the Limits of Article 8(2)(b)(iv) of the Rome Statute, Georgetown International Environmental Law Review, Vol. 20, 2007. Macedo, Stephen, Universal Jurisdiction: National Courts and the Prosecution of Serious Crimes under International Law, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 2004. Manuputty, Alma, Hukum Humaniter dan Kejahatan Internasional, Unhas Press, Makasar, 2012. Mauna, Boer, Hukum Internasional, Alumni, Bandung, 2000. Maslen, Stuart, Anti-Personel Mines Under Humaniterian Law, Oxford press, New York, 2001. Mova, Al Mohamad, Kampanye Melawan Terorisme Telah Merusak Tatanan Hukum, Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia, Fakultas Hukum UI, 2012. Naim, Ahmad Baharudin, Hukum Humaniter Internasional, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2010. Nijhoff, Martinus, The International Law Commission's Draft Articles on State Responsibility, , Kluwer Akademic Publishers, Netherland, 1991. Nasution, Bahder Johan, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2008. Nugraha, Bagus Surya Widya, Christian D. Simbolon, Leonardis Gultom, Ni Putu Elvina Suryani, Dilema Penanganan Terorisme di Amerika: Perang Baru, Torture dan Homeland Security, Depatemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2012. O’Brian, John, International Law, New York: Routledge-Cavendish, 2001. O'Connell dan Mary Ellen, Socio-Legal Perspectives on the Use of Lethal Force: A case study of Pakistan, Oxford, 2004-2009. Oktoberina, Sri Rahayu, Prinsip Yrisdiksi Universal dalam Praktek Negaranegara dalam Pro Justisia No. 1/2005, Fakultas Hukum Unpar, Bandung, 2005. Paust, Jordan J., Self-Defense Targetings of Non-State Actors and Permissibility of U.S. Use of Drones in Pakistan, Transnat’l, 2010. Permanasari, Arlina, Pengantar Hukum Humaniter, ICRC, Jakarta, 1999 Pfanner, Toni, International Review of the Red Cross, Vol. 87, No. 859, 2005. Peter, Anthony Lester, Peter Martin, Shawcross And Beaumont on Air Law, Third Edition, Butterworths, London, 1966. Purbacaraka, Purnadi, Penggarapan Disiplin Hukum dan Filsafat Hukum Bagi Pendidikan Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995. Putri, Ria Wierma, Hukum Humaniter Internasional, Unila, Bandar Lampung. 2011. Rakate, Phenyo Keising, the Shelling of Knin by the Croatian Army in August 1995: A Police Operation or a Non-international Armed Conflict?, International Review of the Red Cross, Volume 82 Desember 2000. Reinold, Theresa, State Weakness, Irregular Warfare, and the Right to SelfDefense, 2011. Rover, C de, to Serve and to Protect: Acuan Universal Penegakan HAM, (terjemahan), PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2000. Sassoli, Marco and Bouvier Antonie, How Does Protect in War, ICRC, Geneva, 2006. Sefriani, Hukum Internasional Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010. Shaw, Malcolm N, Hukum Internasional, Nusa Media, Bandung, 2013. Schmitt, Michael N., Targeted Killings and International Law: Law Enforcement, Self-Defense, and Armed Conflict, in International Humanitarian Law and Human Rights Law: Towards a New Merger in International Law, London, 2010. Starke, J.G., Introduction to International Law, Tenth Edition, Butterworths, London, 1989. Sujatmoko, Andrey, Tanggung Jawab Negara dalam Pelanggaran Berat HAM, Trisakti, Jakarta, 2005. Sukma, Rizal, The Second Front Discourse: Southeast Asia & The Problem of Terrorism, Asia Pacific Security, Uncertainty in a Changing World Order, Kuala Lumpur, 2002. Surayin, Kamus Umum Bahasa Indonesia: Analisis, Yrama Widya, Bandung, 2001. Suryohadiprojo, Sayidiman, Si Vis Pacem Para Bellum, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005. Swinarski, Christophe (Ed), Studies And Essays On International Humanitarian Law And Red Cross Principles, International Committee of the Red Cross, Martinus Nijhoff Publishers, 1984. Tasrif, Yasin, Perlindungan HAM di Masa Damai dan di Masa Sengketa Bersenjata, Pidato Ilmiah, Dies Natalis FH Undip, Semarang, 1997. Trahan, Jennifer dkk, Genocide, War Crimes, And Crimes Against Humanity: Topical Digests Of The Case Law Of The International Criminal Tribunal For Rwanda And The International Criminal Tribunal For The Former Yugoslavia, Human Rights Watch, New York, 2004. United States, Dictionary of Military and Associated Terms, Departmenr of Defense, 2001. Verri, Pietro, Dictionary of International Law of Armed Conflict, International Committee of the Red Cross, Geneva, 1992. Wheatley S, The Time Is Right: Developing a UAV Policy for the Canadian Forces. Makalah Simposium, 2002. Woodliffe, The peacetime Use of Foregn Military Installations Under Modern International Law, Dordrecht, 1992. Year Book of International Law Commision, Report of The Commision to The General Assembly on The work of Its Fifty-Third Session, United Nations, DC, 2001. Yenne, Bill, Attack of the Drones: A History of Unmanned Aerial Combat, Zenith Press, USA, 2004. B. Traktat dan Konvensi-Konvensi Internasional Canadian Aviation Regulations (CAN) Reg 101.1. Convention On The Prohibition or Restrictions on the use of Certain Coventional Weapons Which may be deemed do be exessively injorious or to have indiscriminate effects. (1980 Konvensi Senjata Konvensional). Declaration on The Inadmissibility of Intervention in The Domestik Affairs of States and The Protection of Their Independence and Sovereignty, 1965. Deklarasi tentang hak dan kewajiban negara-negara oleh Komisi Hukum Internasional (ILC), 1949. Draft Comprehensive Convention against International Terrorism. UN Doc. A/59/894. App. II, 12 Agustus 2005. International Crime tribunal for Yugoslavia (ICTY) Keputusan Prosecutor of the International Crime tribunal for Yugoslavia (ICTY) tanggal 14 Mei 1999. Konvensi Chicago 1944, The International Civil Aviations Conference. Konvensi Den Haag 1907, Convention (IV) Respecting the Laws and Customs of War on Land and its annex: Regulations concerning the Laws and Customs of War on Land. Konvensi Jenewa 1949, The Amelioration of the Condition of the Wounded and Sick in Armed Forces in the Field. Konvensi Motevideo 1933 Konvensi Paris 1919, Convention Relating to the Regulation of Aerial Navigation. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Protokol Pertama Konvensi Den Haag “Protection of Cultural Property in the Events of Armed Conflict” 1954. Protokol Kedua Konvensi Den Haag ”Protection of Cultural Property in the Events of Armed Conflict” 1999. Putusan International Court of Justice (ICJ) kasus Nicaragua vsAmerikaSerikat. Statuta International Criminal Court C. Jurnal Hukum dan Artikel Hukum Aviasi dan Alutsista, Keunggulan Pesawat Tanpa Awak, 2011, diakses dari: http://www.aviasista.com/2011/12/keunggulan-pesawat-tanpa-awak.html. Embassy of the United States Belgium, President’s Speech on the Global War on Terror, 2006, diakses dari http://www.uspolicy.be//article.asp? ID=26DAEF5F-IF4A-40EC-B530-CD7158426. Federation of American Scientists, History of Mystery Aircraft, 2011, diaskses dari: http://www.fas.org/irp/mystery/history.htm. Grunt Military, Jurnal Internasional: RQ-1 Predator UAV, diakses dari: http:// www. Gruntsmilitary .com /rq1.shtml. ICJ, Legality of the Threat or Use of Nuclear Weapons, Advisory Opinion July 8, 1996. Diakses dari: http://www.icj-cij.org/docket/index.php ?p1=3&p2= 4&k=e1&p3=4&case=95. ICRC, Hukum Humaniter dan Hak Asasi Manusia, diakses dari: http:// www.icrc.org/ eng/assets/files/other/indo-irrc_857_henckaerts.pdf. Moore, Scott, The Preemptive and Preventive Use of Force in the Age of Global Terror, diakses dari: http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1transitional. dtd. Orasi Ilmiah, Abad 21 Akan Muncul Senjata Pemusnah Massal!, 2009, diakses dari: http://megapolitan. kompas.com/ read/ 2009/ 08/ 21/ 11370514/ orasi.ilmiah.abad.21.akan.muncul.senjata.pemusnah.massal. Saefullah, Tien, Hubungan antara Yurisdiksi Universal dengan Kewajiban Negara Berdasarkan Prinsip Aut Dedere Aut Judicare dalam Tindak Pidana Penerbangan dan Implementasinya di Indonesia, Volume I No. 1, Jurnal Hukum Internasional FH. Universitas Padjajaran, Bandung , 2002. Scharf, Michael P., Defining Terrorism as the Peacetime equivalent of War Crimes: Problems and Prospects, Case Western Reserve Journal of International Law, 2004. Hlm. 359, diakses dari: www.westlaw.com Suardi, Jurnal Ilmiah: Konflik Bersenjata Dalam Hukum humaniter Internasional, Vol. 2, 2005. Tanod, Witny, Analisis Yuridis Terhadap Penggunaan Kekuatan Bersenjata Dengan Menggunakan Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Drones) Dalam Hukum Internasional, 2013, diakses dari: ejournal.unsrat.ac.id/index.php /lexcrimen/ article/download/1009/822. US Department of Defence, Dictionary of Military and Associated Terms, 2005, diakses dari: http://usmilitary.about.com/od/glossarytermsm/g/m3987.htm. Sulista, Teguh, Pengaturan Perang dan Konflik Bersenjata Dalam Hukum Humaniter Internasional, Jurnal Hukum Internasional Vol. 4, Fakultas Hukum UNPAD, Bandung, 2007. Supandi, Apang, Perang dan Kemanusiaan Dalam Pandangan Hukum Humaniter Internasional dan kajian islam, diakses dari: http://www.pelita.or.id/ baca.php?id=88924. The Bureau of Investigative Journalism, Covert Drone War, diakses dari: http://www.thebureauinvestigates.com/category/projects/drones/. Use force, diakses dari: http://fl.unud.ac.id/block-book/ HI/ course% 20materials/ use% 20force .docx, pada tanggal 27 Juni 2014, pukul 20.30 WIB. Widagdo, Setyo, Dasar Pengaturan Prinsip Persamaan Kedaulatan dan Hak Veto dalam Pengambilan Keputusan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, diakses dari: http://risalah.fhunmul.ac.id/wpcontent/uploads/2012/02/1.pdf. D. Website Arti Kata Alat Militer, diakses dari: http://www.artikata.com/arti-340951militer.html. Barak Militer, Jenis-jenis UAV Yang Dipakai Dimedan Perang, diakses dari: http://www.momosergeidragunov.com/2012/09/jenis-jenis-uav-yang-dipakaidimedan.html. Drone: Perang Tanpa Moralitas Ala Amerika, diakses dari, http://syamina.org /syamina5-DRONE-Perang-Tanpa-Moralitas-Ala-Amerika.html. Global Aircraft, U-2 Dragon Lady Drones, 2011, diakses dari: http://www. Global aircraft .org/planes/u-2_dragon_lady.pl. Hagrave, The Aerial Target and Aerial Torpedo in the USA, diakses dari: http://www.ctie.monash.edu/hargrave/rpav_usa.html HQ-2 Gin Sling, diakses dari: http://www.globalsecurity.org/military/world/china /hq-2.htm Informasi Media, Pengertian Definisi Analisis, diakses dari: http:// media informasill .com/2012/04/pengertian-definisi-analisis.html Inovasi Indonesia, PUNAI : Indonesian Made Unmanned Reconnaissance Aircraft, Diakses dari: http://www.bic.web.id/login/inovasi-indonesiaunggulan/655-punai-pesawat-udara-nir-awak-indonesia. Insitu, ScanEagle System, diakses dari: http://www.insitu.com/systems/scaneagle. Jenis-jenis Pesawat Tanpa Awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV), diakses dari: http://itjen.kemhan.go.id/sites/default/files/files/JenisJenis%20Pesawat%20Tanpa %20Awak%20%28UAV%29_0.pdf. Mayer, Jane, The Predator War: What Are the Risks of the C.I.A.’s Covert Drone Program?, New Yorker, diakses dari: http://www.newyorker.com /reporting/2009/10/26/091026fa_ fact_ mayer. Menit.tv, Pesawat Tanpa Awak AS Banyak Makan Korban Sipil, 2013, http://m.menit.tv/welcome/read/2013/10/24/24866/0/14/Pesawat-Tanpa-AwakAS-Banyak-Makan-Korban-Sipil. Military Weapons on Air Space, diakses dari: http://www.airspacemag.com/ military-aviation/unconventional-weapon-23371597/. Napitupulu, Tumpal, Use of UAV for Target Designation, CAPT, 2009, diakses dari http://www.tandef.net/use-uav-target-designation-0. Naval Drones, CL 327 Guardian, diakses dari: http://www.Navaldrones.com /CL327 .html. New USA Today, Drone Malfunctions, Hits Navy Ship During Training, diakses dari: http://www.usatoday.com/story/news/nation/2013/11/17/drone-navy-shipcalifornia/3617687/. News, Serangan pesawat tanpa awak (UAV) 2004-2009, diakses dari www.mirror.unpad.ac.id/koran/.../korantempo_2011-12-08.pdf. Northrop Grumman, Global Hawk The Value of Pefomance, diakses dari: http://www.northropgrumman.com/Capabilities/GlobalHawk/Pages/default.aspx? utm_source=PrintAd&utm_medium=Redirect&utm_campaign=GlobalHawk+Red irect. PBB Minta AS Serahkan Data Korban Serangan Pesawat Tanpa Awak, diakses dari: http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/ 2013/ 10/ 131018 _amerika_ pesawattanpaawak.shtml. Pesawat Pengintai Tak Berawak, diakses dari: http://www.artikelpintar.com /2010/11/pesawat-pengintai-tak-berawak.html. Pilotless Warriors Roar To Success, Drones, diaskses dari: www.cbsnews.com Republika Online, Korut Bantah Tudingan Korsel Soal Drone, diakses dari: http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/14/05/12/n5fxe7-korutbantah-tudingan-korsel-soal-drone. Serangan WTC, Legitimasi Penjajahan Amerika, diakses dari: http:// www. satumedia. info/ 2012/ 09/ serangan-wtc-legitimasi-penjajahan.html. The New York Times, Predator Drones and Unmanned Aerial Vehicles (UAVs), diakses dari: http://topics.nytimes.com/top/reference/timestopics/subjects/u/ unmanned_aerial_vehicles/index.html. The New York Times, Journal of a Centre for International Peace and Stability in Islamabad, diakses dari http://topics.nytimes.com/top/reference/ timestopics/subjects/uav/Peace and Stability index.html. The UAV, diakses dari: http://www.theuav.com/. United States Navy Fact File, RQ-2A Pioneer Unmanned Aerial Vehicle (UAV), diakses dari: http://www.navy.mil/navydata/fact_display.asp?cid =1100&tid =2100&ct=1. United States Air Force, MQ-9 Reaper, diakses dari: http://www.af.mil/AboutUs/ FactSheets/ Display/ tabid/224/Article/104470/mq-9-reaper.aspx. Unmanned Aerial System, UAS: RQ 11A Raven, https:// www.avinc.com /uas/ small/ uas/raven/. US Centennial of Flight Commission, Stealth Technology, diakses dari: http://www.centennialofflight.gov/essay/Evolution_of_Technology/Stealth_. Viva Log, Fungsi Pesawat Tanpa Awak di Masa Depan, diakses dari: http://log.viva.co.id/news/read/394848-fungsi--pesawat-tanpa-awak-di-masadepan. Yamaha RMAX, Specifications, diakses dari: http://rmax.yamaha-motor.com. au/specifications.
Informasi dokumen
JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) AS A MILITARY EQUIPMENT BY THE UNITED STATES OF AMERICA IN THE TERRITORY OF THE OTHER STATE ACCORDING TO THE INTERNATIONAL LAW ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK (UNMANNED AE Aero Vironment Raven Bombardier CL 327 VTOL Analisis Data METODE PENELITIAN Asas Perikemanusiaan Asas Kesatriaan Bahan Hukum Primer Sumber Data Boeing Scan Eagle Northrop Grumman Global Hawk Fleksibilitas Flexibility Perbandingan Pesawat Tanpa Awak Unmanned Aerial VehicleUAV Fungsi Sosial dan Sipil General Atomics MQ9 Reaper Hak Pembelaan Diri Self Defence Jenis Penelitian METODE PENELITIAN Kecepatan Speed Perbandingan Pesawat Tanpa Awak Unmanned Aerial VehicleUAV Ketepatan Serangan dan Pertahanan Diri On Target Attack and Larangan Menyebabkan Penderitaan yang Tidak Seharusnya Latar Belakang Masalah PENDAHULAN Metode dan Sarana Berperang Dalam Konvensi-konvensi Den Haag METODE PENELITIAN JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) AS A MILITARY EQUIPMENT BY THE UNITED STATES OF AMERICA IN THE TERRITORY OF THE OTHER STATE ACCORDING TO THE INTERNATIONAL LAW ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN PESAWAT TANPA Metode Pengumpulan Data Metode Pengumpulan Data dan Pengolahan Data Orang-orang Sipil dan Objek-objek yang Dilindungi Hukum PEMBAHASAN PENUTUP JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMANNED AERIAL VEHICLE/UAV) AS A MILITARY EQUIPMENT BY THE UNITED STATES OF AMERICA IN THE TERRITORY OF THE OTHER STATE ACCORDING TO THE INTERNATIONAL LAW ANALISIS YURIDIS PENGGUNAAN PESAWAT TANP Pendekatan Masalah METODE PENELITIAN Perang Melawan Terorisme War on Terror Prinsip Pembedaan Distinction Asas-Asas Hukum Humaniter Internasional Prinsip Yurisdiksi Universal TINJAUAN PUSTAKA Range Perbandingan Pesawat Tanpa Awak Unmanned Aerial VehicleUAV RQ8A Fire Scout RQ2B Pioneer Rumusan Masalah Ruang Lingkup Kajian Sarana dan Metode Berperang Menurut Protokol Tambahan I Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Yamaha RMAX Puna, Indonesia
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Study Of The United States Institutes

Study Of The United States Institute

Study Of The United States Institutes Susi

The Use Of To Be

Obligation Of The State

JURIDICAL ANALYSIS OF THE USE OF DRONE (UNMAN..

Gratis

Feedback