MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Gratis

1
6
61
2 years ago
Preview
Full text
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh SYAMSIYAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2012 MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI KELAS V SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh SYAMSIYAH ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dengan menggunakan Alat Peraga Gambar di kelas V SDN 1 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus digunakan 1 Metode pengumpulan data 2 Teknik penumpulan data. 3 Analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Alat Peraga Gambar pada pembelajaran Matematika efektif untuk meningkatkan Aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat: (1) Aktivitas Belajar siswa mengalami peningkatan dari 67,65% di siklus I menjadi 84,31% di siklus II. (2) Hasil Belajar siswa mengalami peningkatan dari rata-rata 66,23 pada silus I (satu) menjadi 72,18 pada siklus II (dua). Kata Kunci : Aktivitas Belajar siswa, Hasil Belajar siswa, Alat Peraga Gambar. PERNYATAAN Yang bertandatangan di bawah ini : Nama : SYAMSIYAH NPM : 1013119212 Program Studi : S.1 PGSD Jurusan : Ilmu Pendidikan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. Judul Laporan : Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika dengan Menggunakan Alat Peraga Gambar di Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran 2011/2012 Menyatakan bahwa Laporan Penelitian ini adalah hasil pekerjaan Saya sendiri, dan sepanjang pengetahuan saya tidak berisi materi yang telah dipublikasikan atau ditulis oleh orang lain atau telah dipergunakan dan diterima sebagai persyaratan penyelesaian studi pada Universitas atau Institut lain. Demikian Surat Pernyataan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Bandar Lampung, Juli 2012 Yang Membuat Pernyataan, SYAMSIYAH NPM 1013119212 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Pengayunan pada tanggal 16 September 1958 dari pasangan Bapak Muhammad Nawawi dan Ibu Hindun. Penulis merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri Sediamaju, diselesaikan pada tahun 1971. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Gading Rejo diselesaikan pada tahun 1974. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Pringsewu, diselesaikan tahun 1977. D2 PGSD diselesaikan pada tahun 1998. Pada tahun 2010 Penulis mengikuti Program Pendidikan S1 PGSD dalam jabatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk : 1. Allah SWT karena berkat kuasa dan KaruniaNya saya mampu menyusun Tugas Akhir ini hingga selesai. 2. Bapak Dosen Pembimbing dan Ibu Pembahas yang telah memberi pengarahan yang kami butuhkan sehingga saya bisa tahu hal-hal yang saya belum tahu. 3. Rekan sejawat yang telah membantu dan mendukung penulis dalam pelaksanaan Penelitian saya. 4. Anak-anak dan cucu-cucuku tersayang karena telah mendukung dan menjadi motivatorku. 5. Sahabatku, semoga silaturahmi yang sudah baik ini akan tetap terjalin selamnya. 6. Dan kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu pesatu yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini. MOTTO  Tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu.  Keberaniaan bertindak merupakan langkah awal menuju kesuksesan.  Sebaik-sebaik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.  Jatuh itu biasa, bangkit itu luar biasa.  Lebih baik mencoba lalu gagal, dari pada anda gagal untuk mencoba. KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat merencanakan, melaksanakan, memperbaiki serta menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan lancar dan sukses tidak menemukan kendala apapun yang berat. Selesainya penyususnan laporan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat : 1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd Sebagai Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Bapak Dr.Hi. Darsono, M.Pd sebagai Ketua Program Studi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 4. Bapak Dr. Riswandi. M.Pd Selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan dukungan dalam penyelesaian penulisan Tugas Akhir ini. 5. Ibu Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd. Sebagai Dosen Pembahas yang telah memberikan banyak saran dan masukan dalam penyempurnaan penulisan tugas akhir ini. 6. Bapak dan Ibu dosen selaku Tim pengajar dalam pelaksanaan Program S1 PGSD dalam jabatan yang telah memberikan banyak Ilmu Pengetahuan selama penulis menyelesaikan studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 7. Rekan Guru SD Negeri 1 Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu yang ikut mendukung penyelesaian tugas Akhir ini. 8. penelitian ini. 9. Rekan-rekan mahasiswa S1 PGSD Unila sebagai rekan diskusi dalam pelaksanaan dan penyususnan Tugas Akhir ini. 10. Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis banggakan. Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diarapkan oleh penulis. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin. Bandar Lampung, Juli 2012 Penulis, SYAMSIYAH NPM 1013119212 Judul Skripsi : MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI KELAS V SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Nama Mahasiswa : SYAMSIYAH Nomor Pokok Mahasiswa : 1013119212 Program Studi : S.1 PGSD Dalam Jabatan Jurusan : Ilmu Pendidikan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan MENYETUJUI Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Dosen Pembimbing Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd. Dr. Riswandi, M.Pd. NIP. 19510507 198103 1 002 NIP. 19760808 200912 1 001 MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Penguji : Dr. Riswandi, M.Pd. Penguji Bukan Pembimbing : Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd. 2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si NIP 19600315 198503 1 003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan semakin mengalami kemajuan. Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidi kan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan dibidang pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun. Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran. Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor di antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Pembelajaran Matematika di SDN 1 Pringsewu Timur dirasakan kurang berhasil. Dikarenakan Mata Pelejaran Matematika diangap sulit oleh para siswa dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Disamping itu juga guru dalam menyampaikan pembelajaran Matematika dalam praktiknya selalu monoton. Sebagian besar guru menggunakan metode Ceramah, Tanya Jawab, dan Latihan Soal yang digunakan dalam proses pembelajaran Matematika. Pemahaman siswa untuk materi yang diterangkan oleh guru dirasa masih banyak belum dipahami. Hal tersebut dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa yang kurang baik pada saat pembelajaran Matematika berlangsung, sehingga pada saat guru mengajukan pertanyaan siswa banyak yang tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebagian kecil dari seluruh jumlah siswa kelas V SDN 1 Pringsewu Timur yang dapat aktif dalam proses pembelajaran Matematika. Berikut ini data aktivitas belajar siswa kelas V SDN 1 Pringsewu Timur. Tabel1.1 Data Aktivitas Belajar Siswa Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur No 1 2 3 4 % Kategori Aktivitas Belajar Siswa 5,9 Baik Sekali 1 29,4 Baik 5 23,5 Cukup 4 41,2 Kurang 7 100 Jumlah Siswa 17 Sumber: Data Keaktivan Siswa Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur Pada Mata Pelajaran Matematika Semester 2 Tahun Pelajaran 2011-2012 Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebesar 41,17% dari jumlah siswa masuk kedalamn kategori aktivitas belajar kurang. Sisanya masuk kedalam kategori aktivitas belajar cukup, baik, dan baik sekali. Hasil evaluasi belajar siswa untuk Mata Pelajaran Matematika, banyak siswa yang masih belum memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Untuk lebih jelas mengenai nilai hasil belajar siswa dapat dilihat pada table berikut. Tabel 1.2 Nilai Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V di SDN 1 Pringsewu Timur No 1 2 3 Nilai 40 49 50 59 60 69 Jumlah Siswa 5 4 5 % 29,4 23,5 29,4 4 5 11,8 70 79 2 5,9 80 89 1 100 Jumlah Siswa 17 Sumber: Data Nilai Kelas V SDN 1 Pringsewu Timur Pada Mata Pelajaran Matematika Semester 2 Tahun Pelajaran 2011-2012 Tabel di atas menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai dibawah enam puluh ada sembilan orang siswa, sedangkan yang mendapatkan nilai enam puluh keatas hanya delapan orang. Sebagian besar siswa mendapatkan hasil belajar dengan nilai enam puluh kebawah. Dari data di atas menunjukan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berupa alat peraga gambar. Penggunaan alat peraga gambar dalam upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dapat memperbaiki kondisi yang selayaknya untuk memperoleh peningkatan dalam hal aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu penelitian tindakan kelas dengan eningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V Dengan Menggunakan Alat Peraga Gambar Di SDN 1 Pringsewu Timur Kecamatan Pringsewu B. Identifikasi Masalah Berdasarkan Latar Belakang diatas maka Permasalahan tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut. 1. Penyampaian pembelajaran Matematika dalam praktiknya selalu monoton karena sebagian besar guru menyajikan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, tanya siswa menjadi kurang. jawab, dan latihan soal sehingga aktivitas 2. Kegiatan pembelajaran Kreatifitas siswa pada mata pelajaran Matematika membutuhkan dan kemandirian dalam belajar sehingga memungkinkan dengan menggunakan alat peraga gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Kurangnya pencapaian hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. C. Perumusan Masalah Berdasarkan Identifikasi masalah di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 1. Penggunaan alat peraga gambar dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas V SDN 1 Pringsewu timur semester genap tahun pelajaran 2011/2012 2. Apakah penggunaan alat peraga gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Pringsewu Timur semester genap tahun pelajaran 2011-2012. D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah sebagaimana telah dikemukakan di atas maka tujuan penelitian adalah untuk: 1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Matematika kelas V SDN 1 Pringsewu Timur dengan menggunakan alat peraga gambar. 2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Pringsewu Timur dengan mengunakan alat peraga gambar. E. Manfaat Penelitian Bagi Siswa Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V di SDN 1 Pringsewu Timur. Bagi Guru Memberikan informasi tentang penggunaan alat peraga yang sesuai dengan mata pelajaran Matematika Kelas V SD. Bagi Sekolah Memberikan masukan bagi sekolah sebagai pedoman untuk mengambil kebijakan di sekolah tersebut. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Teori Belajar 1. Teori Belajar Konstruktivisme Teori konstruktivis menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentrasformasikan informasi komplek, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Pieget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain seperti teori menurut Bruner ( Slavin dalam Nur, 2002:8 ). Menurut teori konstruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut. Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler dalam Nabisi (2009:29) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut : (1) memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan pada peserta didik untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan pada peserta didik untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki peserta didik, (5) mendorong peserta didik untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkunga belajar yang kondusif. 2. Teori Pengembangan Kognitif Teori perkembangan Pieget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalamanpengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Menurut teori Pieget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru dilahirkan sampai menginjak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu sensorimotor, praoperasional, operasional kongkrit, dan operasional formal. Lebih lanjut Pieget menyatakan bahwa perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Implikasinya dalam proses pembelajaran adalah saat guru memperkenalkan informasi yang melibatkan siswa menggunakan konsep-konsep, memberikan waktu yang cukup untuk menemukan ide-ide dengan menggunakan pola-pola berfikir formal. Berdasarkan dua teori belajar diatas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh sejauh mana guru dapat menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Disamping itu tingkat perkembangan kognitif siswa perlu diperhatikan sehingga guru dapat secara tepat menyuguhkan lingkungan belajar yang kondusif. Lingkugan belajar yang kondusif dapat berupa ruangan belajar yang baik, suasana yang menarik, pengaturan kelas alat-alat peraga yang mendukung, dan lain-lain. 3. Teori Belajar Behaviorisme Menurut Prof. Dr udin. S. Winata Putra dkk (2008:2.16), belajar merupakan suatu proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap. Teori Behavioristik lahir sebagai upaya penyempurnaan terhadap presvektif tentang cara manusia belajar. Menurut teori belajar Behavioristik belajar merupakan perubahan prilaku manusia yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi. Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem takterkondisi dalam diri seseorang serta gerak refleks setelah menerima stimulus menurut Pavlov, penguatan berperan penting dalam mengkondisikan mnculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali. Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang akibat munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap. Teori behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks. B. Proses Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1995:14 ), pembelajaran berasal dari kata ajar yang artinya petunjuk yang diberikan agar dipahami. Maka pembelajaran dapat diartikan sebagai mengajarkan atau memberi pelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Dengeng dalam Sobry Sutikno ( 2007:50 ), yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, dan Sobry Sutikno sendiri ( 2007:50 ), berpendapat bahwa pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Sedangkan Gagne dalam Sidik dkk. ( 2008:6 ) mengungkapkan bahwa, pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/alat peraga tertentu ke penerima pesan. Menurut paradigma konstruktivistik, seperti yang ditawarkan dalam Quantum Teaching oleh Bobbi De Porter dkk. (2003:10 ) pembelajaran lebih diutamakan untuk membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali , atau mentransformasi informasi baru. Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Untuk itu dibutuhkan guru yang mampu merancang pembelajaran secara dinamis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur-unsur tujuan, strategi pembelajaran, metode, siswa, dan guru. Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Kegiatan pembelajaran bukan lagi sekedar kegiatan mengajar (pengajaran) yang mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekedar menyiapkan pengajaran dan melaksanakan prosedur mengajar, akan tetapi pembelajaran lebih kompleks lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola pembelajaran yang bervariasi. Menurut Mudhofir dalam sungkono (2008:19) secara garis besar ada empat pola pembelajaran yaitu: a. Pola pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat bantu. Pola ini sangat tergantung pada kemampuan guru dalam mengingat dan menyampaikan bahan pembelajaran. b. Pola pembelajaran guru, alat bantu, dan siswa. Dengan pola ini guru dibantu oleh berbagai bahan pembelajaran/alat peraga dalam menjelaskan dan memperagakan suatu pesan yang bersifat abstrak. c. Pola pembelajaran guru, alat peraga, dan siswa. Guru memanfaatkan berbagai alat peraga pembelajaran sebagi sumber belajar. Berdasarkan dari pendapat para ahli yang diuraikan diatas, maka keberhasilan pembelajaran di pengaruhi oleh peran serta guru, alat peraga, metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran dan karakteristik peserta didik. 2. Belajar dan Pembelajaran Kata belajar lebih sering diartikan dalam pengertian yang sempit, yaitu belajar hanya dikaitkan dengan belajar formal disekolah, misalnya mempelajari IPA, matematika dan sebagainya, sehingga hasil yang berupa prestasi dalam bentuk angka-angka atau nilai ujian. Tapi pada dasarnya belajar berarti berusaha mengubah tingkah laku, jadi belajar akan membawa sesuatu perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, demikian, dapat dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian dari kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan pribadi seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dilihat dalam belajar praktek, perubahan tingkah laku seseorang dapat dilihat secara konkrit atau dapat diamati. Pengamatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan yang dilakukan terhadap suatu objek yang dikerjakannya. Seorang guru memberikan perintah kepada siswa untuk melakukan kegiatan praktek ung dapat diamati. Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan. Untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Hal ini penting karena agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, sebaiknya memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori siswa yang sesai agar informasi yang baru dapat dipahami. Belajar merupakan proses perubahan yang menetap dalam setiap individu. Belajar adalah sikap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Dari pengertian belajar tersebut maka untuk dapat dianggap belajar, perubahan itu harus relatif menetap. Periode waktu itu dapat berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia sertadapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/1961162belajar/#ixzz1qIVupCMR. 3. Pembelajaran Matematika di SD Gatot Muhsetyo, dkk (2008:1.26) mengungkapkan bahwa, pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi pembelajaran matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual peserta didik, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan aktif peserta didik, (5) keterkaitan dengan kehidupan peserta didik sehari-hari, dan (6) pengembangan dan pemahaman penalaran matematis. Beberapa strategi pembelajaran matematika yang konstruktivistik dan dianggap sesuai pada saat ini antara lain (1) problems solving (2) problems pasing, (3) open-anded problems, (4) mathematical investigation, (5) guided discovery, (6) contextual learning, dan (7) cooperative learning. 1. Pemecahan Masalah ( Problem solving ) Ciri utama problem solving (pemecahan masalah) dalam matematika adalah adanya masalah yang tidak rutin (non-routine problem). Masalah seperti ini dirancang atau dibuat agar siswa tertantang untuk menyelesaikan.meskipun peserta didik pada awalnya mengalami kesulitan mengerjakan pemecahan masalah karena tidak ada aturan, prosedur atau langkah-langkah yang segera dapat digunakan, mereka menjadi terbiasa dan cerdas memecahkan masalah setelah mereka memperoleh banyak latihan. Banyak manfaat dari pengalaman memecahkan masalah, antara lain adalah peserta didik menjadi (1) kreatif dalam berpikir, (2) kritis dalam menganalisis data, fakta, dan informasi, (3) mandiri dalamb bertindak dan bekerja. 2. Penyelidikan Matematis (mathematical investigation) Penyelidikan matematis adalah penyelidikan tentang masalah yang dapat dikembangkan menjadi model matematika, berpusat pada tema tertentu, berorientasi pada kajian atau eksplorasi mendalam, dan bersifat open-ended. Kegiatan belajar yang dilaksanakan dapat berupa cooperative learning. 3. Penemuan Terbimbing Penemuan terbimbing adalah suatu kegiatan pembelajaran yang mana guru membimbing siswa-siswanya dengan menggunakan langkah-langkah yang sistematis sehingga mereka merasa menemukan sesuatu. Apa yang diperoleh siswa bukanlah temuan-temuan baru bagi guru, tetapi bagi siswa dapat mereka rasakan sebagai temuan baru. Agar siswa-siswa dapat mengetahui dan memahami proses penemuan, mereka perlu dibimbing antara lain dengan menggunakan pengamatan dan pengukuran langsung atau bekerja secara induktif berdasarkan fakta-fakta khusus untuk memperoleh aturan umum. 4. Contextual Learning Contextual learning adalah pengelolaan suasana belajar yang mengaitkan bahan pelajaran dengan situasi dan/atau kehidupan sehari-hari, hal-hal yang faktual atau keadaan nyata yang dialami siswa. C. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan atau yang dicita-citakan (Nasution, 2008:88). Sedangkan menurut Sardiman bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan yang bersifat fisik atau mental dalam usaha memenuhi kebutuhan yang telah direncanakan (2007:95). Dari kedua pendapat ahli di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa aktivitas belajar adalah merupakan suatu kegiatan belajar siswa yang menimbulkan perubahan-perubahan kecakapan, suatu kegiatan yang dilakukan seseorang/siswa dan diikuti dengan pikiran dan bekerja untuk memenui kebutuhan sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya. Jenis-jenis aktivitas menurut Paul B. Diedrich dalam Sardiman ( 2006.100) indikator yang menyatakan aktivitas siswa dalam belajar mengajar, yaitu: 1. Visual activities: Misalnya membaca, melihat gambar, memperhatikan percobaan dan pekerjaan orang lain. 2. Oral activities: Seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, member saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interuksi. 3. Listening activities: Sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. 4. Writing activities: Seperti menulis cerita, karangan laporan, angket, menyalin. 5. Drawing activities: Misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram. 6. Motor activities: Yang termasuk di dalamnya antara lain melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak. 7. Mental activities: Sebagai contoh: menanggapi, mengingat, memecahkan masalah menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan. 8. Emotional activities: Seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. Berdasarkan uraian di atas bahwa semua kegiatan tersebut merupakan aktivitas siswa. Siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam mencari suatu informasi guna memecahkan suatu permasalahan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang kondisif, dimana para peserta didik dapat mengembangkan aktivitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Keaktivan siswa tentu juga dipengaruhi oleh guru dalam memberikan pembelajaran, keaktivan tersebut dapat dilihat saat proses pembelajaran berlangsung. Guru tidak hanya mengajarkan materi saja namun juga mempunyai tugas sebagai pembimbing siswa dalam belajar, seprti mengusahakan agar siswanya aktif jasmani maupun rohani. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2012/3/20-jenis aktivitas dalam pembelajaran/#ixzz1VOqFLzDL Keberhasilan peserta didik dalam belajar tergantung dari aktivitas yang dilakukannya dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap rangkaian atau kegiatan secara sadar yang dilakukan seseorang yang mengakibatkan perubahan pada dirinya, baik berupa perubahan atau kemahiran yang sifatnya tergantung pada sedikit banyaknya perubahan. aktivitas. Dan aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan. Banyak macam-macam kegitan (aktivitas belajar) yang dapat dilakukan anak-anak dikelas, tidak hanya mendengar atau mencatat tetapi dengan pembelajaran mengunakan media gambar siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan belajar karna siswa mencari, memahami, mencerna dan menganalisis sendiri pengetahuan atau pengalaman baru yang didapat, melakukan diskusi dengan teman satu kelas dan juga dapat menyimpulkan dan membaca hasil dari diskusi sehingga siswa dapat berinteraksi dengan baik. Sehingga siswa dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan peserta didik). Dengan pembelajaran menggunakan media gambar siswa dituntut harus lebih aktif dan kreatif dalam mengumpulkan data, tanya jawab, berdiskusi, dan mencatat atau menulis serta membacakan kesimpulan hasil diskusi yang didapat dari informasi baru dan dapat menyelsaikan soal dengan benar sehingga terjadi perubahan pada diri siswa baik perubahan dalam pengetahuan maupun perbuatan. Dalam penelitian ini penulis akan mengobservasi aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran Matematika. Aktivitas belajar Matematika yang dinilai sebagai berikut: 1. Bertanya tentang materi yang dibahas 2. Menjawab pertanyaan guru atau teman sekelompoknya 3. Memperhatikan materi yang sedang dibahas 4. Terlibat aktif dalam diskusi kelompok 5. Mengemukakan pendapatnya dengan baik dan sopan 6. Mengerjakan tugas kelompok D. Hasil Belajar Hasil belajar adalah pola pembuatan, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Hasil belajar yang diharapkan bukan hanya penguasaan hasil latihan saja, melainkan mengalami perubahan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan prilaku (psikomotor) yang dicapai siswa setelah pembelajaran matematika dengan menggunakan media gambar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif. Menurut Nana Sudjana (2005), hasil belajar adalah suatu akibat dari suatu proses belajar dengan menggunakan alat pengukur, yaitu berupa tes yang tersusun secara terencana. Sedangkan pendapat lain bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Untuk melihat hasil belajar dilakukan penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi atau institusi pendidikan yang bertujuan untuk menjamin tercapainya kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan Penilaian dilakukan oleh guru terterhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar adalah suatu puncak proses belajar, hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil belajar dapat berupa dampak pengejaran dan dampak pengiring. Untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan belajar yang telah dicapai adalah dengan melalui tes. Tes hasil belajar merupakan butir tes yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti belajar. Tes hasil belajar meliputi tes hasil belajar produk (kognitif), tes hasil belajar proses (afektif), dan tes hasil belajar keterampilan (psikomotor). E. Alat Peraga Gambar 1. Pengertian Alat Peraga Gambar Menurut Piaget dalam Hudoyo (2007:4), perkembangan kognitif peserta didik SD berada pada tahap berpikir konkrit, sehingga dalam proses pembelajaran sangat diperlukan alat peraga untuk mempermudah pemahaman peserta didik. Alat peraga adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang menyebarkan ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima. Alat peraga adalah segala jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara untuk mencapai tujuan. Kemudian menurut Arsyad ( 1997:5 ), mengemukakan bahwa alat peraga adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instraksional dilingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Media gambar adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian. Media gambar untuk mengkomunikasikan suatu pesan kepada siswa (audience) biasanya digunakan untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga menarik dan diingat orang. Dari beberapa pendapat para ahli tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa alat peraga gambar adalah alat atau sarana yang digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian alat peraga gambar di samping sebagai sarana atau perantara juga dapat menjadi sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk lebih giat dalam belajar. 2. Fungsi alat peraga Alat peraga dalam pembelajaran mempunyai fungsi sebagai sumber belajar, dan sebagai alat bantu. Maksudnya bahwa alat peraga mempunyai fungsi untuk membantu guru dalam menyampaikan materi supaya lebih menarik dan bagi siswa akan lebih mudah memahami materi yang dipelajari. Menurut Gagne dalam Sungkono (2008:6), guru yang mengajar tanpa Menggunakan alat peraga/media tentu akan kurang merangsang/menantang siswa untuk belajar. Apalagi bagi siswa SD yang perkembangan intelektualnya masih membutuhkan alat peraga. Selain mempunyai fungsi, alat peraga juga mempunyai manfaat. Adapun manfaat media menurut Sudjana dan Rifai dalam Arsyad ( 1997:25 ), adalah bahwa pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. Dengan demikian penggunaan alat peraga dalam pembelajaran sangat memberikan kontribusi dalam meningkatkan aktivitas siswa dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3. Kelebihan Alat Peraga Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika mempunyai kelebihan sebagai berikut: a. Pembelajaran akan lebih menarik b. Membangkitkan motivasi belajar siswa c. Mencegah terjadinya verbalisme d. Materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami siswa 4. Kelemahan Alat Peraga Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika mempunyai kelemahan sebagai berikut: a. Membutuhkan kemampuan guru dalam membuat alat peraga b. Membutuhkan sarana dan prasarana c. Membutuhkan pengawasan dalam menggunakan alat peraga Untuk mengatasi kelemahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat ditempuh yaitu: a. Guru berusaha mengembangkan kemampuannya untuk membuat alat peraga b. Guru bekerja sama dengan pihak sekolah dan komite sekolah untuk pengadaan alat peraga. Guru bekerja sama dengan kepala sekolah, teman sejawat dan siswa untuk meningkatkan pengawasan dan perawatan alat peraga yang ada. F. Kerangka Pikir Alat peraga gambar merupakan sarana atau media yang digunakan dalam suatu proses pembelajaran. Informasi dalam gambar tesebut berfungsi untuk merangsang atau menstimulus kognitif siswa untuk mengembangkan ide gagasan yang ada dalam pikiran kedalam suatu pemahaman mengenai sifat-sifat bangun datar. Dengan media tersebut peserta dapat menangkap setiap informasi yang ada dalam gambar untuk memahami sifat-sifat bangun datar. Jadi secara tidak langsung alat praga gambar menyuruh siswa untuk mengaktifkan otak kiri dan kanannya agar berfikir keritis pada setiap imformasi yang ada dalam alat praga gambar untuk memahami sifat-sifat bangun datar. Penelitian mengenai upaya meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika Kelas V dengan menggunakan alat peraga gambar, memerlukan suatu kerangka pikir yang akan menuntun dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas seperti yang digambarkan dalam gambar berikut ini: KONDIS I AWAL TINDAKA Guru: Belum memanfaatkan alat praga gambar dalam pembelajaran matematika Memanfaatkan alat praga gambar dalam pembelajaran matematika Diduga dengan alat praga gambar dapat meningkatkan KONDISI AKHIR aktivitas dan hasil belajar matematika Kelas V pada semester genap tahun pelajaran 2011-2012 Siswa: Aktivitas dan hasil belajar siswa mengenai sifat-sifat bangun datar rendah Siklus I Memanfaatkan alat praga gambar secara berkelompok besar dalam pembelajaran matematika Siklus II Memanfaatkan alat praga gambar secara berkelompok kecil dalam pembelajaran matematika Gambar 2.1 Kerangka Pikir Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka pikir diatas, diduga bahwa dengan menggunakan alat praga gambar dalam proses pembelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas V semester genap tahun pelajaran 2011-2012. G. Hipotesis Tindakan Hipotesis Tindakan dalam PTK ini adalah jika pembelajaran Matematika dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga gambar, maka dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam Mata Pelajaran Matematika kelas V SDN 1 Pringsewu Timur semester genap Tahun Pelajaran 2011-2012. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru. Dalam pelaksanaanya guru perlu melakukan segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir. Ciri khas peneliti ini ialah adanya masalah pembelajaran dan tindakan untuk memecahkan masalah ini. Tahapan penelitian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi refleksi yang dapat diulang sebagai siklus. Refleksi merupakan pemaknaan dari hasil tindakan yang dilakukan dalam rangka memecahkan masalah. Penelitian yang dilakukan dalam laporan ini berupa penelitian pengembangan media dan tindakan dengan menggunakan metode kerja kelompok/diskusi. B. Subjek Penelitian 1) Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah: Nama Sekolah Kelas Jml Siswa Mata Pelajaran Waktu Penelitian Tahun Pelajaran SDN 1 Pringsewu Timur V 17 Siswa Matematika Maret-Mei 2011/2012 2) Lokasi/Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Pringsewu Timur beralamat di jalan Pelita Pringsewu Timur, Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu. C. Metode Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data yaitu: 1. Lembar observasi, untuk mendapatkan data tentang aktivitas belajar. 2. Tes untuk mendapatkan data tentang hasil belajar Pengumpulan data untuk penelitian ini meminta bantuan teman sejawat yang bertugas sebagai observer dan mengisi lembar observasi tentang Penilaian Aktivitas Belajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam mempermudah pengambilan data, alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Observasi, dilakukan untuk mengamati kegiatan pembelajaran yaitu aktivitas peserta didik selama penelitian sebagai upaya mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan. Dan aktivitas peserta didik diperoleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas peserta didik. Penilaian lembar observasi dengan menggunakan nilai / point 1 (satu) setiap kriteria YA memang aktivitas tersebut benar-benar dilakukan siswa pada proses pembelajaran matematika. 2. Catatan lapangan dimaksud untuk memperoleh data secara objektif yang tidak terekam dalam lembar observasi, mengenai hal-hal yang terjadi selama pemberian tindakan. Catatan lapangan ini dapat berupa catatan prilaku peserta didik, maupun permasalahan yang dapat dijadikan pertimbangan bagi pelaksanaan langkah berikutnya ataupun masukan terhadap keberhasilan yang sudah dicapai. 3. Lembar tes, diberikan pada setiap akhir siklus untuk mengetahui hasil belajar peserta didik setelah diterapkannya pembelajaran matematika menggunakan media gambar. D. Prosedur Penelitian Metode yang digunakan Dalam Pengambilan Kesimpulan Peneliti ini adalah menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan ragam penelitian pembelajaran yang berkonteks kelas yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan maslah-masalah pembelajaran yang dihadapi oleh guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran. Berdasarkan jumlah dan sifat perilaku para anggotanya, PTK dapat berbentuk individual dan kolaboratif, yang dapat disebut PTK individual dan PTK kolaboratif. Dalam PTK individual seorang guru melaksanakan PTK di kelasnya sendiri atau kelas orang lain, sedang dalam PTK kolaboratif beberapa orang guru secara sinergis melaksanakan PTK di kelas masing-masing dan diantara anggota melakukan kunjungan antar kelas. Tujuan PTK sebagai berikut: 1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik dilaksanakan guru demi tercapainya tujuan pembelajaran. pembelajaran yang 2. Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi maslah pembelajaran dikelas agar pembelajaran bermutu. 3. Meningkatkan, memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. 4. Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran ( misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. 5. Mencobakan gagasan, pikiran,kiat, cara, dan strategi baru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu selain kemampuan inovatif guru. 6. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan umum atau asumsi. Pelaksanaan PTK 1. Menyusun proposal PTK. Dalam kegiatan ini perlu dilakukan kegiatan pokok, yaitu:(1) mendeskripsikan dan menemukan masalah PTK dengan berbagai metode dan cara, (2) menentukan cara pemecahan masalah PTK dengan pendekatan, strategi, media atau kiat tertentu, (3) memilih dan merumuskan masalah PTK baik berupa pertanyaan atau pertanyaan sesuai dengan masalah dan cara pemecahannya, (4) Menerapkan tujuan masalah PTK sesuai dengan masalah yang ditetapkan, (5) memilih dan menyusun perspektif, konsep, dan perbandingan yang akan mendukung dan melandasi pelaksanaan PTK, (6) menyusun siklus-siklus yang berisi rencana-rencana tindakan yang diyakini dapat memecahkan masalah-masalah yang telah dirumuskan, (7) menetapkan cara mengumpulkan data sekaligus menyusun instrument yang diperlukan untuk menjaring data PTK,(8) menetapkan dan menyusun cara-cara analisis data PTK. 2. Melaksanakan siklus (rencana tindakan) didalam kelas. Dalam kegiatan ini diterapkan rencana tindakan yang telah disusun dengan variasi tertentu sesuai dengan kondisi kelas. Selama pelaksanaan tindakan dalam siklus dilakukan pula pengamatan dan repleksi, baik pelaksanan tindakan, pengamatan maupun repleksi dapat dilakukan secara beriringan, bukan bersamaan. Semua hal yang berkaitan dengan hal diatas perlu dikumpulkan dengan sebaik-baiknya. 3. Menganalisis data yang telah dikumpulkan baik data perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, maupun refleksi. Analisis data ini harus di sesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan. Hasil analisis data ini dipaparkan sebagai hasil PTK. Setelah itu, perlu dibuat kesimpulan dan rumusan saran. 4. Menulis laporan PTK, yang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan menganalisis data. Dalam kegiatan ini pertama-tama perlu ditulis paparan hasil hasil PTK. Paparan hasil hasil PTK ini disatukan dalam deskripsi masalah, rumusan masalah, tujuan dan kajian konsep atau teortis. Inilah Laporan PTK. Prosedur penelitian ini akan dilakukan melalui 2 (dua) siklus, setiap siklus dilakukan selama 2 x 35 menit yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Refleksi Siklus I Observasi Rencana Tindakan Pelaksanaan Tindakan Refleksi Siklus II Observasi Rencana Tindakan Pelaksanaan Tindakan dst Gambar: Prosedur Penelitian Tindakan Kelas Hopkins (dalam Arikunto, 2006) a. Siklus I 1) Tahap Perencanaan Tahap perencanaan dalam penelitian ini sebagai berikut. a) Identifikasi permasalahan pada kondisi awal melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan identifikasi permasalahn pada kondisi setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II menggunakan lembar pengamatan dan penilaian. b) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) c) Membuat scenario pembelajaran sesuai dengan strategi yang akan dilaksanakan. d) Menyiapkan alat bantu pembelajaran berupa media gambar e) Membuat lembar observasi dalam pelaksanaan pembelajaran untuk siswa dan guru. f) Menyiapkan soal-soal yang diperlukan untuk melaksanakan latihan. 2) Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan yang dilakukan adalah merujuk pada sekenario pembelajaran yang telah dirancang yaitu melalui pembelajaran dengan menggunakan media gambar dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. b) Guru menyajikan materi dengan mendemonstrasikan contoh media gambar dan menjelaskan cara membuat media gambar tersebut c) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggotanya tahu cara menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota kelompok itu mengerti. d) Guru memberi tugas soal kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab atau mengerjakan soal tidak boleh saling membantu. e) Memberi evaluasi f) Kesimpulan 3) Observasi Observasi dilakukan pelaksanaan tindakan pembelajaran oleh guru dilaksanakan dengan bantuan rekan guru lainnya atau dengan teman sejawat untuk mengidentifikasi kegiatan dan hasil belajar siswa dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan, yang dilakukan oleh observer mengenai (a). Perhatian siswa mendengarkan penjelasan guru (b). Keaktifan siswa dalam bertanya pada guru (c). Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan guru. (d) Keaktifan siswa dalam bekerja sama atau diskusi dalam kelompok. (e) Kemampuan dan ketepatan siswa dalam mengerjakan tugas soal. 4) Refleksi Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan analisis yang didiskusikan dengan rekan kerja atau teman sejawat. Refleksi dilakukan untuk mengkaji apakah pelaksanan tindakan sudah dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa pada penyelesaian soal dengan menggunakan gambar, bangun datar persegi panjang dan segitiga meningkat atau belum. Refleksi hasil a

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012
1
12
144
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012
0
21
55
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2
16
63
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
23
108
52
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
5
53
PAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA DI KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
3
42
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA DI KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
31
213
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS IV SD N 2 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
4
39
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS IV SD N 2 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
23
109
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
1
6
61
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GRAFIS DI KELAS VI SDN 1 PAREREJOKECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU T.P 2011/2012
0
3
48
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GRAFIS DI KELAS VI SDN 1 PAREREJOKECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU T.P 2011/2012
0
5
63
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BUATAN PADA SISWA KELAS III SDN I LUGUSARI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2011/2012
0
6
46
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA BUATAN PADA SISWA KELAS III SDN I LUGUSARI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2011/2012
0
9
40
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN 1 PRINGSEWU UTARA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
27
82
Show more