Analisis isi pesan Dakwah dalam novel Tuhan izinkan aku menjadi pelacur karya Muhidin M.Dahlan

Gratis

3
23
107
2 years ago
Preview
Full text

  

ANALISIS ISI PESAN DAKWAH

DALAM NOVEL “TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI

PELACUR!” KARYA MUHIDIN M. DAHLAN

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

  Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh:

  

Sisilia Yuliaty Hariputri

  NIM: 106051001885

  

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

  

ANALISIS ISI PESAN DAKWAH

DALAM NOVEL “TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR!”

KARYA MUHIDIN M. DAHLAN

  Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

  Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) Oleh

  

Sisilia Yuliaty Hariputri

  NIM: 106051001885 Dibawah Bimbingan:

  

Drs. Jumroni, M.Si

  NIP: 19630515 199203 1 006

  

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

  

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

  Skripsi yang berjudul ANALISIS ISI PESAN DAKWAH DALAM

  

NOVEL “TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR!” KARYA

MUHIDIN M. DAHLAN telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Ilmu

  Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 11 November 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I) pada program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

  Jakarta, 11 November 2010

  

Sidang Munaqasyah

  Ketua, Sekertaris, Dr. H. Arief Subhan, M.A. Hj. Umi Musyarrofah, M.A.

  NIP: 19660110 199303 1 044 NIP: 19710816 199703 2 002 Anggota,

  Penguji

  I Penguji

  II Dra. Hj. Asriati Jamil, M.Hum. Drs. Sunandar, M.A.

  NIP: 19610422 199003 2 001 NIP: 19620626 199402 1 002 Pembimbing

  Drs. Jumroni, M.Si

LEMBAR PERNYATAAN

  Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1.

  Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  Jakarta, 11 November 2010 Sisilia Yuliaty Hariputri

  

ABSTRAK

Sisilia Yuliaty Hariputri

Analisis Isi Pesan Dakwah dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi

Pelacur!”

  Islam memerintahkan penyebaran ilmu pengetahuan atau menyebarkan dakwah dengan cara dan bentuk apapun, baik tulisan maupun visual, termasuk di dalamnya mencetak, menjual dan mengedarkannya. Maka novel merupakan salah satu pilihan untuk dijadikan sarana penyebaran agama Islam, mengingat banyak diminati oleh berbagai kalangan. Berbeda dengan karya sastra lainnya, novel ini dikemas secara unik, penuh dengan hal-hal kontradiktif dan kontroversi. Meski demikian novel ini sarat akan pesan dakwah dan telah memberi tahu satu hal, bahwa beragama haruslah didasari dengan rasa ikhlas agar tidak mengalami kekecewaan seperti yang dialami oleh tokoh dalam novel ini.

  Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan penelitian adalah: pesan dakwah apa saja yang terdapat dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!? dan pesan dakwah apa yang cenderung mendominasi isi novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!?.

  Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (content analysis) melalui pendekatan kuantitatif. Menurut Berelson analisis isi adalah suatu teknik penelitian yang objektif, sistematik, dan menggambarkan secara kuantitatif isi-isi pernyataan suatu komunikasi. Dalam teknik analisis data dibuat kategorisasi pesan dakwah yang terdapat pada paragraf dalam novel Tuhan,

  

Izinkan Aku Menjadi Pelacur!. Kemudian membuat lembar koding yang diisi juri

  berjumlah tiga orang yang telah ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya, hasil kesepakatan tim juri dijadikan sebagai koefisien reabilitas dan terakhir melakukan penghitungan prosentase mengenai pesan dakwah yang dominan.

  Dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! terdapat 11 sub judul, namun yang dijadikan objek penelitian hanya 4 sub judul. Kategori pesan dakwahnya adalah akidah, syariah, dan akhlak. Setelah dilakukan penghitungan maka dapat diketahui bahwa pesan dakwah yang paling dominan dalam novel ini adalah pesan akhlak dengan perolehan data sebanyak 0,44%, diikuti pesan syariah sebanyak 0,40%, kemudian pesan akidah sebanyak 0,16%.

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillahirabbil ‘alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat

  Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini selesai.

  Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan moril maupun spiritual dari berbagai pihak. Untuk semua itu tidak ada balasan yang sanggup penulis berikan kecuali ucapan terima kasih dari hati sedalam-dalamnya kepada: 1.

  Bapak Dr. H. Arief Subhan, M.A., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

  2. Bapak Drs. Jumroni, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses skripsi ini berjalan.

  3. Ibu Hj. Umi Musyarrofah, M.A., sebagai Sekertaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.

  4. Mas Muhidin M. Dahlan yang telah bersedia memberikan informasi atas novel yang ditulisnya.

  5. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat selama mengikuti perkuliahan.

  6. Ibu dan Bapak (Alm) tercinta yang dengan tulus memberikan kasih sayang dan dukungan tiada henti. Chessy, Catura, Fachru (kakak), dan Farid (adik) yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.

  7. Kawan-kawan mahasiswa KPI Angkatan 2006, khusunya kelas KPI D.

  Terima kasih atas segalanya, kalian telah membuat penulis bersemangat untuk kuliah. Kebersamaan kita akan selalu dirindukan.

  8. Sahabat-sahabatku, yang dengan setia memotivasi, membantu dan memberi informasi-informasi penting sehingga skripsi ini bisa diselesaikan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

  9. Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  10. Seluruh kerabat dan pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terima kasih atas dukungan dan bantuannya.

  Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna baik untuk masa kini dan di kemudian hari bagi siapa saja yang membacanya terutama bagi penulis pribadi. Penulis sadar, bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu mohon maaf atas segala kekurangan, tak lupa mohon kritik dan saran yang membangun. Semoga Allah SWT., selalu melindungi kita semua. Amin.

  Jakarta, 11 November 2010 Penulis

  DAFTAR ISI ABSTRAK………………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR……………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iv

DAFTAR TABEL………………………………………………………………… vi

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang……………………………………………............... 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ……………………………... 4 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian…………………………………….. 5 1. Tujuan Penelitian………………………………………………. 5 2. Manfaat Penelitian……………………………………………... 6 D. Metodologi Penelitian……………………………………………… 6 E. Tinjauan Pustaka…………………………………………………… 10 F. Sistematika Penulisan………………………………………………. 11 BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Analisis Isi ……………………………………………... 13 B. Pesan Dakwah……………………………………………………… 14 1. Akidah………………………………………………………….. 15 2. Syariah…………………………………………………………. 17 3. Akhlak………………………………………………………….. 18 C. Pengertian Novel dan Jenis-jenisnya………………………………. 20 D. Novel Sebagai Media Dakwah……………………………………...23 BAB III SEKILAS TENTANG MUHIDIN M. DAHLAN DAN KARYA- KARYANYA A. Riwayat Hidup Muhidin M. Dahlan……………………………….. 25 B. Karya-karya Muhidin M. Dahlan…………………………………... 27 C. Gambaran tentang Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”……………………………………………………………. 28

  

BAB IV PESAN-PESAN DAKWAH DALAM NOVEL ”TUHAN,

IZINKAN AKU MENJADI PELACUR!” KARYA MUHIDIN M. DAHLAN A. Pesan-pesan Dakwah dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” Karya Muhidin M. Dahlan…………………….. 31 1.

  “Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu!”……………………………………………………... 32 2. “Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk

  Menegakkan Hukum-hukum Tuhan di Indonesia”…………….. 35 3. “Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan”…... 38 4.

  “Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu”…………………………………………... 40 B.

  Pesan Dakwah yang Dominan dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”………………………………………………….. 43

  BAB V PENUTUP A. Kesimpulan…………………………………………………………. 45 B. Saran………………………………………………………............... 46

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………... 48

LAMPIRAN……………………………………………………………………….. 50

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Kategori Pesan Dakwah dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”………………………………………………………... 31

  Tabel 2 Sub Judul yang Diteliti dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”………………………………………………………...

  32 Tabel 3 Koefisien Reabilitas Kesepakatan…………………………………........... 32 Tabel 4 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kesatu:

  Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu!”………………………... 33 Tabel 5 Koefisien Reabilitas Kesepakatan………………………………………... 35 Tabel 6 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kedua: Kupilih

  Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum Tuhan di Indonesia”……………………………………………………………...

  36 Tabel 7 Koefisien Reabilitas Kesepakatan………………………………………... 38 Tabel 8 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Keempat:

  Ketika Nalar dan Imanku Disiakan”……………………………………... 39 Tabel 9 Koefisien Reabilitas Kesepakatan……………………………………….. 40 Tabel 10 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kedelapan:

  Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu”…………………. 41 Tabel 11 Tingkat Kesepakatan antar Juri…………………………………………... 51 Tabel 12 Rincian Kategori Pesan Akidah………………………………………….. 57 Tabel 13 Rincian Kategorisasi Pesan Syariah……………………………………... 63 Tabel 14 Rincian Kategorisasi Pesan Akhlak……………………………………… 79

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berdakwah menggunakan sarana media cetak tentunya membutuhkan bakat mengarang, karena media cetak merupakan sarana komunikasi tulisan. Selain bersifat keterampilan praktis, pendekatan ini bisa juga disebut sebagai seni. Lebih jauh lagi, ukuran keberhasilan seorang jurnalis Muslim dalam

  menorehkan penanya terletak pada adanya perubahan sikap dan perilaku sasaran dakwah. Oleh karena itu, da’wah bil qalam juga dimaksudkan untuk menghantar pembaca menjadi mahir dan efektif dalam hal menyampaikan gagasan dakwah,

   khususnya dalam bahasa tulis-menulis atau mengarang.

  Jalaluddin Rahmat dalam karyanya, Islam Aktual, mengatakan bahwa

  

da’wah bil qalam adalah dakwah melalui media cetak. Mengingat kemajuan

  teknologi informasi yang memungkinkan seseorang berkomunikasi secara intens dan menyebabkan pesan dakwah bisa menyebar seluas-luasnya, maka dakwah

   lewat tulisan mutlak dimanfaatkan oleh kemajuan teknologi informasi.

  Sejalan dengan perkembangan jaman, kini kita telah memasuki abad 21 akan tetapi, perkembangan informasi yang masuk ke rumah-rumah penduduk melalui televisi dan gelombang suara menyebabkan menurunnya minat membaca buku-buku keagamaan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah informasi yang muncul lewat radio dan televisi sebagian besar merupakan informasi yang

1 Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da’wah Bi Al-Qalam

  mengarah kepada konsumerisme dan hedonisme. Sehingga menjadi tantangan

   besar bagi para da’i untuk bisa mengambil perhatian masyarakat.

  Bagi seorang da’i yang memiliki komitmen dengan dakwah, kondisi di atas akan dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Menulis buku-buku bernuansa dakwah adalah pilihan yang sudah selayaknya untuk dilakukan. Agar buku-buku

   menjelma fungsinya sebagai pencerdas dan pencerah umat.

  Berdakwah tidak harus berceramah, dakwah juga bisa dilakukan melalui sebuah tulisan seperti cerpen (cerita pendek), cerbung (cerita bersambung), cergam (cerita bergambar) dan bahkan novel bisa disisipkan nilai-nilai dakwah di dalamnya. Beberapa penulis juga sudah melakukan hal ini. Bahkan sekarang pun beberapa ustadz juga telah menulis buku, hal ini tentunya juga sebagai suatu media dakwah. Di era modern sekarang ini, dakwah harus dikemas dengan berbagai sarana, agar dakwah dapat berlangsung lebih efektif dan tidak ketinggalan zaman. Sehingga diharapkan dakwah yang berupa nasehat ajakan untuk kemaslahatan umat bisa sampai kepada seluruh lapisan golongan masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi dan pendidikan yang berbeda-

   beda.

  Saat ini masih banyak orang yang membaca sebuah karya sastra sekedar menikmatinya sebagai hiburan saja, tanpa berusaha untuk merenungkan apa pesan yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini penulis berusaha untuk menggali isi pesan yang terdapat dalam sebuah novel atau karya sastra.

  3 Badiatul Muchlisin Asti, Berdakwah Dengan Menulis Buku, (Bandung: Media Qalbu, 2004), h. 7. 4 Ibid, h. 29.

  Novel yang berjudul Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan ini diadaptasi dari sebuah pengalaman nyata, yang mengisahkan seorang perempuan bernama Nidah Kirani, muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Kecintaannya pada agama membuat dia memilih untuk hidup yang sufistik. Dan keinginannya hanya satu yaitu menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

  Semangatnya dalam beragama seperti gayung bersambut ketika ia menerima doktrin-doktrin bahwa Islam yang ada di Indonesia sekarang ini tidak murni. Yang murni hanya ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dengan tafsiran, Islam itu bukan agama. Islam itu Dien atau sistem yang hukum- hukumnya ditata dalam syariat. Singkatnya ia ikut tergabung dalam organisasi itu, Organisasi dimana jemaahnya ingin mendirikan negara Islam di Indonesia.

  Setelah sekian lama tergabung dalam organisasi itu, ia merasa tidak ada kemajuan dalam organisasinya. Sistem yang tidak transparan yang di dalamnya terdapat kepalsuan dan kebohongan. Ia merasa sangat kecewa. Belum lagi banyak masalah yang timbul akibat keaktifannya dalam organisasi itu. Bukannya segera bertobat dan kembali ke jalan Allah. Ia malah justru merasa kecewa dengan Allah. ia merasa tidak ada intervensi dari Allah padahal ia telah sebegitu berjuangnya selama menegakkan agama.

  Di saat kondisinya yang galau, ia justru melampiaskan kekecewaannya dengan melakukan free sex. Disini pengarang menjelaskan bahwa semua yang tergoda oleh Nidah Kirani untuk melakukan free sex adalah pria-pria yang merupakan aktivis Islam. Mereka adalah orang-orang munafik pikir Nidah. lebih menguntungkan ketimbang hanya sekedar free sex dengan teman-teman

   kampusnya.

  Novel ini memberikan pesan kepada kita para pembaca, khususnya para orang tua agar memperhatikan pentingnya memupuk pemahaman agama Islam yang benar sejak dini, juga pentingnya keyakinan akan pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya yang sedang dirundung konflik. Meski novel ini disinyalir mengundang kontroversi dan kecaman keras dari berbagai kalangan, namun ada juga yang memberikan pujian karena buku ini telah memulai suatu pengungkapan beberapa hal yang tak terungkap, menerobos tabu-tabu di mana banyak orang yang menghindarinya. Satu hal yang paling penting adalah membongkar kemunafikan dari sejumlah manusia yang bersembunyi di balik topeng-topeng

   perjuangan agama, ideologi, dan atas nama nilai-nilai kebajikan.

  Dari pemaparan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk membahas karya Muhidin M. Dahlan ini dengan mengangkat judul skripsi:

  

Analisis Isi Pesan Dakwah Dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi

Pelacur!” Karya Muhidin M. Dahlan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

  Agar lebih terarah penelitian ini dibatasi pada empat sub judul dari sebelas sub judul pembahasan yang ada dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi

  

Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan yang diterbitkan oleh Scripta Manent 2006.

6 Hadi, Bedah Buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya : Muhidin M Dahlan, artikel diakses pada 24 Oktober 2009 dari http://hadi.staff.uns.ac.id.

  Yakni, Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangan Cinta-Mu!, Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum Tuhan di Indonesia, Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan, dan Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu.

2. Perumusan Masalah

  Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut: a.

  Apa isi pesan-pesan dakwah yang terkandung dalam novel Tuhan,

  Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan? b.

  Apa pesan dakwah yang mendominasi isi novel Tuhan, Izinkan Aku

  Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan? C.

   Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum

  Untuk mengetahui pesan-pesan dakwah yang terkandung dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!.

b. Tujuan Khusus

  1) Mengetahui pesan-pesan dakwah yang terkandung dalam Pengakuan

  Kesatu, Pengakuan Kedua, Pengakuan Keempat, dan Pengakuan Kedelapan pada novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan.

  2) Memperoleh data tentang pesan dakwah yang mendominasi novel tersebut.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis

  Penelitian ini dapat menjadi sebuah kajian yang menarik dalam menempatkan novel sebagai salah satu media dakwah dan menambah khazanah serta referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang komunikasi dan penyiaran Islam. Disamping itu, kita juga dapat menemukan pesan-pesan dakwah yang ada pada novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan.

b. Manfaat Praktis

  Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan menambah wawasan untuk Islam, mahasiswa dan elemen masyarakat luas serta para praktisi dakwah dan menunjukkan bahwa setiap muslim dapat berperan aktif dalam mengembangkan tugas dakwah melalui tulisan, salah satunya dengan hasil karya sastra seperti novel.

D. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi atau disebut juga dengan content analysis yang bersifat kuantitatif. Metode tersebut adalah untuk mengkaji pesan-pesan dalam novel yang akan menghasilkan suatu kesimpulan tentang kecenderungan isi, tema dan lain sebagainya. Menurut Berelson dan Kerlinger, analisis isi merupakan suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif terhadap

  

  pesan yang nampak. Sedangkan unit analisis dalam penelitian ini adalah paragraf-paragraf yang ada pada empat sub judul pembahasan terpilih dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan.

  2. Subjek dan Objek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan. Sedangkan objek penelitiannya adalah isi pesan yang ada pada empat sub judul pembahasan terpilih dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan.

  3. Teknik Pengumpulan Data

  Adapun tahapan-tahapan dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: a.

  Observasi, yaitu dengan membaca dan mengamati setiap paragraf dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!.

  b.

  Dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan variabel berupa catatan, buku-buku penelitian, dakwah, komunikasi, artikel, serta data lainnya tentang novel tersebut yang didapat dari internet.

  4. Teknik Analisis Data

  Analisis dilakukan dengan mengkategorisasikan setiap paragraf yang masuk kedalam tiga kategori pesan dakwah, kemudian dianalisis untuk mencari isi pesan dakwah apa yang terkandung didalamnya.

  Berikut adalah tahapan-tahapan dalam menganalisa data: a.

  Melakukan kategorisasi terhadap paragraf-paragraf dalam novel

  Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!. Menurut Moch. Ali Aziz dalam bukunya yang berjudul Ilmu Dakwah, pesan dakwah terdiri dari tiga aspek yakni akidah, syariah dan akhlak. Berdasarkan kategori tersebut, maka dibuat definisi operasional sebagai berikut: 1)

  Akidah, yaitu tulisan-tulisan yang membahas tentang keyakinan, kepercayaan, keimanan yang termasuk dalam rukun iman.

  2) Syariah, yaitu tulisan-tulisan yang memuat tentang berbagai aturan dan ketentuan yang berasal dari Allah SWT dan Rasulullah

  SAW dalam hal ibadah dan mua’amalah. Ibadah meliputi shalat, puasa, zakat, dan haji. Sedangkan mu’amalah berkenaan dengan hidup antara sesama manusia seperti pernikahan, kewarisan, pidana, peradilan, ekonomi, sosial, dan budaya.

  3) Akhlak, yaitu tulisan-tulisan yang membahas tentang etika, moral, budi pekerti manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.

  b.

  Memasukkan data kedalam lembar koding sesuai dengan kategori yang telah ditentukan.

  c.

  Untuk memperoleh reabilitas dan validitas kategori-kategori isi novel dimintakan pengujian kategori kepada tiga koder atau juri untuk mengisi lembar koding dengan beberapa kategori yang telah ditentukan.

  d.

  Hasil dari kesepakatan tim juri tersebut dijadikan sebagai koefisien

  

  reabilitas dihitung dengan rumus Holsty , yaitu:

  Koefisien Reabilitas:

  2M N1 + N2

  Keterangan:

  2M = Nomor keputusan yang sama antar juri N1, N2 = Jumlah item yang dibuat oleh tim juri

  Setelah itu diperoleh rata-rata nilai keputusan antar juri (komposit reabilitas), dengan menggunakan rumus:

  

Komposit Reabilitas: N (x antar juri)

1 + (N-1) (x antar juri)

  Keterangan: N = Jumlah juri X = Rata-rata koefisien reabilitas antar juri

  e. Kemudian dilakukan penghitungan prosentase mengenai pesan dakwah yang dominan yang terdapat dalam novel ini, selanjutnya menganalisa data. Prosentase pesan dakwah yang dominan dihitung dengan rumus:

  

P = F x 100%

N

  Keterangan: P = Prosentase F = Frekuensi N = Jumlah 5.

   Teknik Penulisan

  Adapun teknik penulisan yang digunakan mengacu pada buku Pedoman Penulis: Hamid Nasuhi dkk, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, (Ciputat: CeQDA, 2007).

E. Tinjauan Pustaka

  Dalam menentukan judul skiripsi ini penulis sudah mengadakan tinjauan pustaka ke perpustakaan yang terdapat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi maupun di Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurut pengamatan penulis, terdapat banyak skripsi yang membahas tentang analisis isi tetapi sampai saat ini hanya menemukan adanya judul yang serupa dengan judul yang penulis ajukan, seperti:

  Analisis Isi Pesan Dakwah dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer, ditulis oleh Toni Sultoni, 2007. Secara garis besar ia membahas tentang pesan dakwah dan moral yang terdapat dalam novel Gadis Pantai. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Ia juga menggunakan 3 koder atau juri. Dengan kategori akidah, syariah dan akhlak. Selain itu, Toni Sultoni juga membahas pesan dakwah yang paling dominan dimana akidah menjadi urutan tertinggi dengan perolehan data sebanyak 38,1%, akhlak 28,6% dan syari’ah 11,2%.

  Analisis Isi Pesan Dakwah dalam Nomik (Novel Komik) Karya Ali Muakhir, ditulis oleh Syajarotul Juhriyah, 2007 membahas tentang pesan dakwah yang terdapat dalam nomik (novel komik) yaitu akidah, syariah dan akhlak, metode yang digunakan adalah kualitatif. Novel ini pemaparannya agak berbeda dengan yang lain karena menggunakan gambar komik. Dakwah yang disampaikan itu, ia membahas pesan dakwah yang paling dominan yaitu akidah sebanyak 52,8%, akhlak 33,10% dan syariah 23,1%.

  Analisis Isi Pesan Dakwah dalam Novel Di Atas Sajadah Cinta Karya Habiburrahman El-Shirazy, ditulis oleh Zakiyah Fiddin, 2008. Skripsi ini membahas tentang novel karya Habiburrahman El-Shirazy yaitu Di Atas Sajadah

  

Cinta yang terdapat 38 pembahasan, namun yang diteliti hanya dari sampel

  bilangan ganjil dari 38 pembahasan maka yang diteliti hanya 19 pembahasan. Ia menganalisisnya per bab dan per dialog. Dalam kategori pesan, Zakiyah Fiddin membagi 3 kategori yaitu akidah, akhlak dan syariah. Metode yang digunakan adalah kuantitatif. Dalam skripsi ini ia membahas pesan dakwah yang paling dominan dalam novel Di Atas Sajadah Cinta yaitu akidah dengan perolehan data sebanyak 52,63%, akhlak 26,31% dan syariah 5,26%.

  Dari sekian banyak skripsi yang membahas analisis isi pesan dakwah tidak satu pun penulis menemukan skripsi yang membahas analisis isi pesan dakwah dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! karya Muhidin M. Dahlan. Dapat disimpulkan penulis ialah orang pertama yang mengangkat novel ini sebagai subjek penelitian. Oleh karena itu, penulis mengajukan judul, Analisis Isi Pesan Dakwah Dalam Novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya Muhidin M. Dahlan.

F. Sistematika Penulisan

  Agar lebih sistematis sehingga tampak adanya gambaran yang terarah, logis dan saling berhubungan antara satu bab dengan bab berikutnya, maka

  BAB I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.

  BAB II : Landasan teori yang terdiri dari pengertian analisis isi, pesan dakwah, pengertian novel dan jenis-jenisnya, novel sebagai media dakwah.

  BAB III : Sekilas tentang Muhidin M. Dahlan dan karya-karyanya yang terdiri dari riwayat Muhidin M. Dahlan, karya- karyanya, dan gambaran tentang novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!.

  BAB IV : Pesan-pesan dakwah dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, terdiri dari Pengakuan Kesatu, Kedua, Keempat, Kedelapan, dan pesan dakwah yang dominan dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!. BAB V : Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Analisis Isi Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan

  secara mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media

  

  massa. Analisis isi dapat juga dikatakan sebagai suatu teknik penelitian terhadap isi atau makna pesan komunikasi berdasarkan data-data yang tersedia untuk dibuat kesimpulannya. Analisis isi merupakan teknik penelitian untuk memperoleh gambaran isi pesan komunikasi massa yang dilakukan secara objektif, sistematik dan relevan secara sosiologis, uraian analisisnya boleh saja menggunakan tata cara

   pengukuran kuantitatif atau kualitatif bahkan keduanya sekaligus.

  Menurut Budd (1967), analisis isi adalah suatu teknik sistematis untuk menganalisis pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka dari komunikator yang

   dipilih.

  Berelson (1952) mendefinisikan analisis isi sebagai suatu teknik penelitian yang objektif, sistematik, dan menggambarkan secara kuantitatif isi-isi pernyataan suatu komunikasi. Sedangkan definisi Kerlinger (1986) agak khas, yaitu: analisis komunikasi secara sistematis, objektif, dan secara kuantitatif untuk mengukur

   variabel. 1 Bambang Setiawan dan Ahmad Muntaha, Metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), Modul 1-9, edisi ke-2, h. 7.9. 2 Zulkarimein Nasution, Sosiologi Komunikasi Massa, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 1993), Modul 1-9, edisi ke-2, h. 2.13. 3 Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Perdana Media Group, 2007), cet. ke-2, h. 228.

  “Dari beberapa definisi yang telah diungkapkan di atas maka muncullah prinsip analisis isi:

  1. Prinsip sistematik Ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis.

  Periset tidak dibenarkan menganalisis hanya pada isi yang sesuai dengan perhatian dan minatnya, tetapi harus pada keseluruhan isi yang telah ditetapkan untuk diriset.

  2. Prinsip objektif Hasil analisis tergantung pada prosedur riset bukan pada orangnya.

  Kategori yang sama bila digunakan untuk isi yang sama dengan prosedur yang sama, maka hasilnya harus sama, walaupun risetnya beda.

  3. Prinsip kuantitatif Mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan. Diartikan juga sebagai prinsip digunakannya metode deduktif.

  4. Prinsip isi yang nyata Yang diriset dan dianalisis adalah isi yang tersurat (tampak) bukan makna yang dirasakan periset. Perkara hasil akhir dari analisis nanti menunjukkan adanya sesuatu yang tersembunyi, hal itu sah- sah saja. Namun semuanya bermula dari analisis terhadap isi yang

  

  tampak…” Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi. Baik surat kabar, berita, radio, televisi, iklan maupun semua bahan- bahan dokumentasi yang lain. Hampir semua disiplin ilmu sosial dapat

   menggunakan analisis isi sebagai teknik metodologi penelitian.

B. Pesan Dakwah

  Dalam ilmu komunikasi pesan dakwah adalah message, yaitu simbol- simbol. Dalam literatur berbahasa Arab, pesan dakwah disebut maudlu’ al-

  

da’wah. Pada prinsipnya, pesan apapun dapat dijadikan sebagai pesan dakwah

  selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis. Oleh sebab itu, apabila sebuah pesan dakwah bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis tidak dapat disebut sebagai pesan dakwah. Semua orang dapat berbicara tentang moral, bahkan dengan mengutip ayat Al-Qur’an sekalipun. Namun, jika hal itu dimaksudkan untuk pembenaran atau dasar bagi kepentingan nafsu semata, maka yang demikian itu bukan termasuk pesan dakwah. Pesan dakwah pada garis besarnya terbagi menjadi dua, yaitu pesan utama (Al-Qur’an dan hadis) dan pesan

   penunjang (selain Al-Qur’an dan hadis).

  Pesan dakwah menurut Toto Tasmara adalah “Semua pernyataan yang bersumberkan Al-Qur’an dan sunnah baik tertulis maupun lisan dengan pesan-

  

  pesan (risalah) tersebut”. Berdasarkan temanya, pesan dakwah tidak berbeda dengan pokok-pokok ajaran Islam. Banyak klasifikasi yang diajukan para ulama dalam memetakan Islam. Endang Saifuddin Anshari, membagi pokok-pokok

   ajaran Islam menjadi tiga bagian, yakni akidah, syariah, dan akhlak.

  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pesan-pesan dakwah yang harus disampaikan kepada objek dakwah (mad’u) mencakup beberapa aspek, sebagai berikut: 1.

   Akidah

  Menurut bahasa, akidah diambil dari kata al-‘Aqd, yaitu mengikat, menguatkan, teguh dan mengukuhkan. Menurut istilah, akidah ialah iman yang kuat kepada Allah dan apa yang diwajibkan berupa tauhid (meng-Esakan Allah dalam peribadatan), beriman kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul- Nya, Hari Akhir, takdir baik dan buruknya, dan mengimani semua cabang dari

  7 8 Moch. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 318-319.

  Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), cet. ke-2, h. pokok-pokok keimanan ini serta hal-hal yang masuk dalam kategorinya berupa

   prinsip-prinsip agama.

  Secara khusus akidah bersifat keyakinan bathiniyah yang mencakup rukun iman, namun pembahasannya tidak tertuju pada masalah yang wajib diimani saja

  

  tetapi juga masalah yang dilarang oleh Islam. Misalnya, meminta bantuan kepada selain Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nisaa’ ayat 48:

  ⌧ ☺ ☺ ☺

  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka

   sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”

  Akidah merupakan dasar bagi setiap muslim untuk memberikan arah bagi kehidupan manusia. Akidah menjadi tema dakwah Nabi Muhammad SAW ketika beliau pertama kali melakukan dakwah di Mekkah. Oleh karena itu, akidah merupakan materi yang wajib disampaikan oleh para da’i, dengan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang keyakinan kaum muslim terhadap keberadaan Allah SWT dengan segala ke-Maha Kuasaan-Nya, maka akan menambah kecintaan para objek dakwah terhadap Tuhannya, sehingga terlahir 10 Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Cara Mudah Memahami Aqidah Sesuai Al-Qur’an, As-Sunnah dan Pemahaman Salafush Shalih, (Jakarta: Pustaka At-Tazkia, 2007), cet. ke-1, h. 3.

11 Moch. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 49.

  pribadi-pribadi muslim yang taat dan patuh akan perintah dan larangan Allah SWT.

2. Syariah

  Secara bahasa syariah berasal dari bahasa Arab yang berarti peraturan atau undang-undang. Dalam pengertian teknis-ilmiah syariah mencakup aspek hukum dari ajaran Islam, yang lebih berorientasi pada aspek lahir (esetoris). Namum demikian karena Islam merupakan ajaran yang tunggal, syariah Islam tidak bisa dilepaskan dari akidah sebagai fondasi dan akhlak yang menjiwai dan tujuan dari

   syariah itu sendiri.

  Syariah dalam Islam adalah berhubungan erat dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan atau hukum Allah, guna mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya begitu pula pergaulan hidup dengan sesama

  

  manusia. Ketetapan Illahi yang mengatur hubungan manusia dengan tuhan disebut ibadah, sedangkan ketetapan yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya disebut muamalah.

  a.

   Ibadah

  Ibadah secara umum meliputi segala hal yang dicintai Allah dan

   diridhai-Nya, baik perkataan maupun perbuatan lahir dan batin.

   Termasuk didalamnya thaharah, shalat, puasa, zakat, dan haji.

  13 Forum Studi Islam, Syariah, artikel diakses pada 08 September 2010 dari http://soni69.tripod.com/Islam/syariah.htm 14 Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h.

  61. 15 Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, Cara Mudah Memahami Aqidah Sesuai Al-Qur’an,

  b.

   Muamalah

  Muamalah berarti aturan-aturan (hukum) Allah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan sekitarnya. Kaitannya dengan hubungan antar sesama manusia, maka dalam muamalah ini mengatur hal-hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, sosial, hukum, kebudayaan, dan

   sebagainya.

3. Akhlak

  Secara etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari kata

  

khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Secara

  terminologi, Abuddin Nata mendefinisikan akhlak adalah “Perbuatan yang telah

   tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga menjadi sebuah kepribadiannya”.

  Imam Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua bagian, yaitu akhlak yang yang terpuji (akhlaqul mahm

  ūdah) dan akhlak yang tercela (akhlaqul madzm ūmah). Berbuat adil, jujur, sabar, pemaaf, dermawan, dan amanah misalnya

  termasuk kedalam akhlak yang terpuji. Sedangkan berbuat dzalim, berdusta, pemarah, pendendam, kikir, dan curiga termasuk kedalam akhlak yang tercela.

   Maka tentu saja akhlak yang terpuji yaitu akhlak yang diridhai oleh Allah SWT.

  Berdasarkan ruang lingkupnya, akhlak mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa). Akhlak kepada Allah diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan sebagai Pencipta. Berkenaan dengan akhlak 17 Hendi Suhendi, Fiqh Mu’amalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), edisi 1- 3, h. 2. 18 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 4.

  kepada Allah dilakukan dengan cara banyak memujinya. Selanjutnya sikap tersebut dilanjutkan dengan senantiasa bertawakkal kepada-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang menguasai diri manusia.

  Sedangkan akhlak terhadap sesama manusia berkaitan dengan perlakuan seseorang terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti fisik, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib seseorang di belakangnya. Kemudian jika bertemu saling mengucapkan salam, berkata baik, tidak berprasangka buruk, saling memaafkan, mendo’akan, serta saling membantu.

  Kemudian akhlak terhadap lingkungan yaitu hewan dan tumbuhan atau benda-benda tak bernyawa lainnya. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al- Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengadung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah SWT., dan menjadi milik-Nya, serta semuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus

   diperlakukan secara wajar dan baik.

C. Pengertian Novel dan Jenis-jenisnya 1. Pengertian Novel

   novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita". Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih komp. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif

   tersebut.

  Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling populer di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, karena daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan

   yaitu karya serius dan karya hiburan.

  Menurut Abdullah Ambary novel adalah “Cerita yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan pelakunya yang menyebabkan perubahan sikap

  

  hidup atau menentukan nasibnya”. Sedangkan menurut Suprapto, “Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang

   di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sikap pelaku”.

  Dari pengertian di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa novel sebagai salah satu bentuk dari karangan fiksi yang menceritakan kejadian luar 21 Wikipedia, Pengertian Novel, artikel diakses pada 4 Maret 2010

  dari http://id.wikipedia.org/wiki/Novel. 22 23 Novel, artikel diakses pada 24 Oktober 2009 dari

  

Abdullah Ambary, Intisari Sastra Indonesia, (Bandung: Djantika, 1983), h. 61. biasa dalam kehidupan seseorang dan orang-orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak setiap tokoh yang ada.

2. Jenis-jenis Novel

  Menurut Mochtar Lubis yang dikutip oleh Umar Yunus, jenis-jenis novel terdiri dari: a.

  Avontur, pada jenis novel ini dipusatkan pada seorang tokoh utama, pengalaman tokoh dimulai dari penglaman pertama diteruskan pada pengalaman selanjutnya hingga akhir cerita. Sering rintangan datang dari rintangan satu ke rintangan lainnya, untuk mencapai tujuan.

  Biasanya novel ini mempunyai sifat romantis yang diperankan oleh seorang wanita, juga memiliki cerita yang kronologis.

  b.

  Psikologis, jenis novel ini lebih mengutamakan pemeriksaan seluruhnya dari pikiran-pikiran pelaku. Berisi kupasan tentang watak, bakat, karakter para pelakunya serta kemungkianan perkembangan jiwa.

  c.

  Detektif, novel jenis ini melukiskan penyelesaian suatu peristiwa atau kejadian untuk membongkar suatu kejahatan. Dalam novel jenis ini dibutuhkan bukti-bukti agar dapat menangkap si pembunuh dan sebagainya.

  d.

  Sosial, dalam novel ini perilaku pria dan wanita tenggelam dalam masyarakat atau golongan. Persoalan ditinjau bukan dari persoalan orang-orang sebagai individu, tetapi ditinjau melingkupi persoalan golongan dalam masyarakat, reaksi setiap pelaku golongan terhadap masalah yang timbul dan pelaku hanya dipergunakan sebagai pendukung jalan cerita.

  e.

  Kolektif, jenis novel ini melukiskan tentang semua aspek kehidupan yang ada atau semua jenis novel di atas dikumpulkan menjadi satu cerita. Novel seperti ini tidak hanya dimainkan oleh satu pemeran saja,

   tetapi juga ada pemeran pendukung.

  Sedangkan menurut Jakob Sumardjo dan Saini K.M (1986:29), jenis novel adalah sebagai berikut: a.

  Novel Percintaan Novel percintaan melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara seimbang bahkan kadang-kadang peranan wanita lebih dominan.

  b.

  Novel Petualangan Novel petualangan sedikit sekali memasukan peranan wanita. Jika wanita disebut dalam novel ini maka penggambarannnya kurang berkenan. Jenis novel ini adalah bacaan pria. Karena tokoh-tokohnya adalah pria, dan dengan sendirinya banyak masalah untuk laki-laki yang tidak ada hubungannya dengan wanita.

  c.

  Novel Fantasi Novel fantasi bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan serba tidak mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari. Novel jenis ini menggunakan karakter yang tidak realistis, setting, dan plot yang juga

   25 tidak wajar untuk menyampaikan ide-ide penelitinya.

  Umar Yunus, Dari Peristiwa ke Imajinasi (Jakarta: PT. Gramedia, 1985), h. 883.

D. Novel Sebagai Media Dakwah

  Berdakwah di era informasi seperti saat ini tidak cukup jika hanya disampaikan melalui lisan tanpa bantuan alat-alat komunikasi massa, yaitu pers (percetakan), radio, televisi, atau film. Karena kata-kata yang terucapkan dari manusia hanya dapat menjangkau jarak yang sangat terbatas, sedang alat-alat komunikasi itu jangkauannya tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

  Novel adalah alat atau media tulisan yang digunakan juru dakwah dalam penyampaian pesan-pesan dakwah yang berbentuk karya sastra. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 27:

  ☺ ⌧ ☺ ☺ ⌧

  “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah.

   Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

  Dalam sebuah karya, utamanya novel selalu terdapat apa yang disebut dengan pesan moral. Novel yang ceritanya berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan akan lebih komunikatif dengan para pembacanya, mereka seolah-olah ikut berada dalam cerita tesebut. Bila sedang membaca terlebih lagi kisah yang dibaca mempunyai kesamaan dengan apa yang dialaminya, maka ia akan menangis dan tertawa sendiri. Dalam hal ini sesuai dengan makna dari kata amar

  

ma’ruf nahi munkar, dengan mempengaruhi orang lain agar timbul dalam dirinya

pengertian, pengahayatan dan pengamalan ajaran agama Islam.

  Dengan media dan sarana yang tersedia, maka para da’i dituntut untuk mempunyai kemampuan berdakwah melalui berbagai aspek. Mengingat kecenderungan umat saat ini yang sibuk dengan kegiatan masing-masing, dengan kemampuan seorang da’i untuk menggunakan media yang ada, artinya kegiatan dakwah tidak harus selalu diadakan dengan cara tatap muka secara langsung. Sebagaimana kita ketahui sudah banyak orang-orang yang mampu memanfaatkan karya sastra, terutama fiksi, sebagai media dakwah atau sarana untuk menyampaikan atau mengekspresikan ajaran-ajaran keislaman (dakwah). Semua itu biasanya mengandung nilai-nilai moral yang dapat kita ambil dan kita pelajari yang kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

BAB III SEKILAS TENTANG MUHIDIN M. DAHLAN DAN KARYA-KARYANYA A. Riwayat Hidup Muhidin M. Dahlan Muhidin M. Dahlan. Biasa disapa Gus Muh. Lahir pada tengahan 1978. Pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Muhidin M. Dahlan adalah anak muda yang berani berikrar bahwa menulis adalah pilihan hidup. Gagal kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (Teknik Bangunan) dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Sejarah Peradaban Islam) membuatnya harus

  mengganti orientasi hidupnya. Akhirnya keterampilan menulis artikel maupun resensi buku di sejumlah media massa membuatnya bisa untuk mempertahankan hidup atau untuk sekadar membeli buku.

  Secara terus terang, ketika pertama kali menulis untuk buletin di organisasinya, Pelajar Islam Indonesia (PII), Muhidin hanya memindahkan tulisan orang lain. Praktis tulisan pertamanya itu adalah hasil rangkuman dari sejumlah buku. Seperti penulis pemula lainnya, saat tulisan dimuat ia sangat bangga.

  Beberapa istilah yang sebenarnya tidak dimengerti pun menghiasi tulisannya sebagai bentuk gagah-gagahan. Aktivitas dan energi menulis Muhidin terus bergelora hingga saat kuliah di Yogyakarta.

  Setelah sibuk mengelola buletin kampus yang jatuh bangun karena keterbatasan dana dan penuh intrik, Muhidin mulai merambah media massa nasional. Tulisan pertamanya yang berupa tanggapan atas tulisan orang lain empat koran tersebut disebut-sebut kalangan penulis sebagai halaman “angker” karena kalau mengirimkan artikel untuk halaman itu harus siap-siap untuk menerima jawaban khasnya: “Maaf kami kesulitan tempat untuk memuat tulisan

  Anda yang berjudul ... .”

  Menulis adalah setali dengan aktivitas membaca. Gila baca sejak di udik adalah dasar berharga dalam perkembangan kegiatan kreatif Muhidin. Bahkan saat mendapatkan honor tulisan hanya sebagian kecil saja untuk biaya makan sebagian besar dialokasikan untuk membeli buku. Cinta dan komitmennya kepada tulis menulis dan buku menjadikan Muhidin sangat kuat menahan lapar dan derita.

  Anak pelaut yang cukup pintar, nekat pergi ke kota dan berproses dengan pergulatan kehidupan kota Pelajar. Gagal menjadi sarjana, dan menemukan buku sebagai pelabuhan hidupnya. Maka ia pun bergumul dengan buku sejadinya. Hingga lahir anak-anak mengagumkan yang selalu menjadi kembang perbincangan di dunia buku. Dari tangan mudanya terlahir Mencari Cinta (2002),

  Di Langit Ada Cinta (2003), Terbang Bersama Cinta (2003).

  Namanya mulai diperhitungkan ketika ia memilih judul yang mendobrak:

  

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (2003). Novel tentang pencarian seorang

  perempuan muda akan Tuhannya itu yang kemudian menyeretnya ke beberapa “persidangan” umum dengan caci maki yang meruntuhkan nyali. Buku itu di

   bakar sekelompok ormas Islam dan dilarang beredar.

  Muhidin sendiri sebenarnya adalah “alumni” dari komunitas yang sangat membenci Pancasila dan menganggap membom gereja adalah sebuah prestasi.

  Tapi, ia berhasil memerdekakan diri dari belenggu indoktrinasi semacam itu.

  Berbekal kesadaran dan pencerahan yang diperolehnya, ia mulai melakukan otokritik. Namun, Muhidin tidak hendak menyatakan kritiknya itu dengan ramai- ramai demonstrasi di jalan. Ia memanfaatkan kekuatan dan ketajaman pena sebagai medium penggugah kesadaran dan penyebar daya otokritik. Muhidin menggugat dengan sastra, dengan tulisan, salah satu cara yang elegan dalam berpolemik.

  Dengan segala kontroversinya, kehadiran Muhidin dengan karya-karya alternatifnya itu layak diapresiasi. Di tengah-tengah masyarakat yang lebih suka memaksakan “kaca buram” untuk melihat dan menilai diri sendiri, Muhidin membawakan semangkuk “air sastra” nan jernih yang bisa dipakai untuk berkaca

   dan mengkritisi diri.

B. Karya-karya Muhidin M. Dahlan

  Beberapa buku yang ditulis Muhidin M. Dahlan dan pernah diterbitkan antara lain, yaitu:

  1. Sosialisme Religius (Kreasi Wacana, 2000).

  2. Postkolonial: Sikap Kita Terhadap Imperialisme (Jendela, 2001).

  3. Amnesti: Antologi Cerpen 12 Nobelis dan 2 Begawan Sastra Lainnya (Jalasastra, 2002).

  4. Mencari Cinta (Pustaka Sufi, 2002).

  5. Di Langit Ada Cinta (Pustaka Sufi, 2003).

  6. Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta (Scripta Manent, 2003).

  7. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (Scripta Manent, 2003).

  8. Terbang Bersama Cinta (Melibas, 2004).

  9. Adam Hawa (Scripta Manent, 2005).

  10. Kabar Buruk dari Langit (Scripta Manent, 2005).

  Berikut ini adalah buku-buku yang ditulis bersama penulis lainnya: 1.

  Pledoi Sastra: Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipanjikusmin (Melibas, 2004).

  2. Laporan dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra 1950-1965 (Merakesumba, 2007).

  3. Tanah Air Bahasa: Seratus jejak Pers Indonesia (Blora Institute, 2007).

  4. Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950-1965 (Merakesumba, 2008) 5. Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 (Merakesumba, 2008).

  6. Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku (Indonesia Buku, 2009).

  C. Gambaran Tentang Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

  Ini kisah perempuan bernama Nidah Kirani. Dia seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk salat, baca Al-Qur’an, dan berdzikir. Dia memilih hidup yang sufistik yang demi ghirah kezuhudannya kerap dia hanya menonsumsi roti ala kadarnya di sebuah pesantren mahasiswa. Cita-citanya hanya satu: untuk menjadi muslimah yaang beragama secara kaffah.

  Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecawaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkannya bisa mengantarkan ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali digugatnya kondisi itu, tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang selama ini dia agung-agungkan seperti “lari dari tanggung jawab” dan “emoh” menjawab keluhannya.

  Dalam keadaan kosong itulah ia terjerembab dalam dunia hitam. Ia melampiaskan frustasinya dengan free sex dan mengonsumsi obat-obatan terlarang. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakan pada-Mu!” katanya setiap kali usai bercinta yang dilakukannya tanpa ada secuil pun raut sesal. Dari petualangan seksnya itu tersingkap topeng- topeng kemunafikan dari para aktivis yang meniduri dan ditidurinya

  ―baik aktivis sayap Kiri maupun sayap Kanan (Islam)—yang selama ini lantang meneriakkan tegaknya moralitas. Bahkan terkuak pula sisi gelap seorang dosen Kampus Matahari Terbit Yogyakarta yang bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata merupakan anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia.

  Jika dilihat dari isinya novel ini tentu mengalami banyak kontroversi dan menyulut reaksi yang berlebihan dari berbagai kalangan. Ada yang mengatakan bahwa Muhidin berusaha menyudutkan gerakan Islam tertentu. Ada pula yang mengatakan dia kafir dan mengusung ide-ide kufur yang sangat Marxis dengan

   derajat kebencian terhadap agama yang luar biasa besarnya. Namun di sisi lain ada juga yang memberikan kritik yang proposional dan tak disertai dengan kemarahan yang meluap-luap sebab buku ini tak ada apa- apanya dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi di sekeliling kita. Ada yang berpendapat bahwa buku ini roman teologis yang memberi ajar dan memberitahu satu hal bahwa beragama harus ikhlas supaya tidak ditimpa kekecewaan sebagaimana yang dialami oleh tokoh yang ada dalam buku ini. Seorang psikologi yang turut membedah buku ini bahkan mengatakan bahwa buku ini telah memerkaya khasanah dunia psikologi ihwal kejiwaan seorang manusia ketika

   bersentuhan dengan agama.

BAB IV PESAN-PESAN DAKWAH DALAM NOVEL “TUHAN, IZINKAN AKU MENJADI PELACUR!” KARYA MUHIDIN M. DAHLAN A. Pesan-Pesan Dakwah dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” Karya Muhidin M. Dahlan Kategori pesan dakwah yang terkandung dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! adalah akidah, syariah dan akhlak. Sedangkan pada setiap

  kategori dibagi dalam beberapa sub kategori. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini:

  Tabel 1 Kategori Pesan Dakwah dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

No. Kategori Sub Kategori

  1. Akidah a.

  Iman Kepada Allah b. Iman Kepada Malaikat c. Iman Kepada Kitab d. Iman Kepada Rasul e. Iman Kepada Hari Kiamat f. Iman Kepada Qadha dan Qadar

  2. Syariah a.

  Ibadah b. Muamalah

  3. Akhlak a.

  Mahmudah b. Madzmumah

  Pada novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ini terdapat 11 sub judul, namun yang dijadikan objek penelitian hanya 4 sub judul. Berikut ini adalah sub judul yang diteliti:

  Tabel 2 Sub Judul yang Diteliti dalam Novel

“Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

Urutan

  Jumlah No. Sub Judul Cerita Sub Judul Pargaraf

  Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku 1. 1

  62 dalam Hangat Cinta-Mu! Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah

  2. 2 untuk Menegakkan Hukum-hukum

  49 Tuhan di Indonesia Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan

  3. 4

  35 Imanku Disiakan Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah

  4. 8 26 adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu

  Dari semua sub judul di atas diteliti pesan-pesan dakwah yang terkandung dalam setiap sub judul tersebut dengan kategori dan sub kategori yang telah dibuat, dan narasi yang diteliti dalam novel tersebut berbentuk paragraf.

  Untuk memperoleh reabilitas dan validitas kategori isi pesan dakwah dalam Pengakuan Kesatu, Pengakuan Kedua, Pengakuan Keempat, dan Pengakuan Kedelapan dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!, diadakan pengujian kategori pada tiga orang juri atau koder yang dipilih dari orang yang dipandang kredibel dan mampu memberikan penilaian secara objektif. Hasil dari kesepakatan tim juri tersebut dijadikan sebagai koefisien reabilitas. Berikut ini adalah tabel dari hasil kesepakatan antar juri pada sub judul pertama: 1.

   “Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu!” Tabel 3 Koefisien Reabilitas Kesepakatan

Antar Juri Item Kesepakatan Ketidaksepakatan Nilai

  Ke 1 & 2

  62

  53 9 0,85 Ke 1 & 3

  62

  60 2 0,97 Dari tabel di atas menunjukkan kesepakatan antar juri 1 & 2 sebesar 0,85 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri).

  Kesepakatan antar juri 1 & 3 sebesar 0,97 (itu berarti menunjukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri), dan kesepakatan antar juri 2 & 3 sebesar 0,85 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri).

  Kemudian untuk menghitung rata-rata perbandingan nilai kesepakatan antar juri tersebut dihitung dengan rumus komposit reabilitas yang ada pada bab sebelumnya. Dari hasil yang ditemukan bahwa rata-rata tingkat kesepakatan antar juri untuk sub judul yang pertama yaitu sebesar 0,96, itu berarti terjadi tingkat kesepakatan yang sangat tinggi diantara para juri.

  Setelah dilakukan penghitungan reabilitas terhadap tiga juri atas kategori- kategori yang telah dibuat, selanjutnya paragraf-paragraf yang mengandung pesan dakwah dihitung untuk mengetahui jumlah frekuensi sehingga dapat ditarik kesimpulan kecenderungan isi pesan dakwah dalam sub judul Pengakuan Kesatu:

  Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu!. Berikut ini adalah hasil

  prosentase dari ketiga kategori pesan dakwah yang telah dihitung:

  Tabel 4 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu!” No. Kategorisasi Frekuensi Prosentase

  1. Akidah 11 0,18

  2. Syariah 34 0,55

  3. Akhlak 17 0,27

  Total 62 100 Dalam sub judul yang pertama ini pesan syariah memperoleh hasil tertinggi sebanyak 0,55%, selanjutnya pesan sebanyak akhlak 0,27% dan urutan terakhir pesan akidah sebanyak 0,18%.

  Pada sub judul ini mengisahkan tentang seorang wanita muslimah yang

  

ghirah keagamaannya sedang tumbuh. Cita-citanya hanya satu, yakni menjadi

  muslimah yang memeluk Islam secara kaffah. Keinginannya seolah terjawab dengan kehadiran sosok laki-laki yang bernama Dahiri, ia adalah salah seorang teman dalam kelompok pengajiannya. Dari temannya yang bernama Dahiri inilah Nidah mengetahui bahwa ada satu jemaah yang mempunyai misi suci, yaitu menyelamatkan akidah keislaman umat Islam di Indonesia dan membuatkan wadah yang suci bagi kemaslahatan hidup mereka.

  Singkat cerita, setelah beberapa pertemuan mendengarkan penjelasan dari temannya yang baru dikenal itu akhirnya Nidah memutuskan untuk ikut bergabung dalam jemaah tersebut. Rupanya Nidah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mulia ini, setiap hari aktivitasnya diisi dengan beribadah. Ia pun dengan segala ketotalan hatinya memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah, ayat-ayat-Nya, hukum-hukum-Nya, di bawah pimpinan seorang khalifah.

  Berikut ini adalah salah satu kutipan pargraf yang ada pada sub judul

  Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu! : Setotal doktrin yang ia semburkan ke wajah ke hatiku, setotal itu pula aku

berubah. Aku seperti duplikat Mbak Rahmi di Pondok Ki Ageng. Sehari-hari

dalam aktivitasku kuisi dengan membaca Alquran lengkap dengan

terjemahannya. Kujalani ritual salat dengan mantap. Hampir seluruh waktuku

kuhabiskan untuk salat. Bukan Cuma yang wajib, tapi juga yang sunat, seperti

rawatib dan lain sebagainya. Paginya aku dipastikan menghadap Allah dalam

salat dhuha sambil menunggu dzuhur menjelang. Malamnya kudirikan tulang-

tulangku dalam tahajud kepada-Nya. Bermalam-malam begitu yang membuat

  Dari paragraf di atas tokoh utama dari novel ini memahami betul bagaimana seharusnya mempersiapkan mental untuk menghadapi tugas yang berat, yakni berdakwah kepada orang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW., Nidah memperdalam pemahamannya tentang Al-Qur’an. Disamping itu ia juga meningkatkan prestasinya dalam menjalankan salat.

  Menurut sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Imran bin Hushain, ia berkata:

  رآﻨ او ﺀﺎﺸﺧﻓ اﻦﻋ ﻰﻬﻨﺗ ةﻼﺼ اﻦا : ﷲا ﻮﻗ ﻦﻋ ﺴﻮ ﻪﻴ ﻋ ﷲا ﻰ ﺼﻲﺑﻨ ا لﺋﺴ

  Artinya: “Nabi SAW., pernah ditanya oleh seseorang tentang tafsir

  ayat: ‘sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.’”

  Dari kutipan Hadis di atas maka jelaslah bahwa salat akan menjadi benteng bagi diri kita, agar tehindar dari perbuatan keji, seperti berzina, merampok, merugikan orang lain, berdusta, menipu dan segala perbuatan munkar lainnya. Maka salat yang dikerjakan dengan khusyu’ akan melatih kita untuk

   selalu zikir, yaitu selalu ingat kepada Allah.

  2. “Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum Tuhan di Indonesia”

  Berikut ini adalah tabel dari hasil kesepakatan antar juri pada sub judul kedua:

  

Tabel 5

Koefisien Reabilitas Kesepakatan

Antar Juri Item Kesepakatan Ketidaksepakatan Nilai

  Ke 1 & 2

  49

  36 13 0,73 Ke 1 & 3

  49

  4 8 0,84 Ke 2 & 3

  49

  35 14 0,71 Dari tabel di atas menunjukkan kesepakatan antar juri 1 & 2 sebesar 0,73 (itu berarti menunujukkan kesepakatan cukup tinggi antar kedua juri).

  Kesepakatan antar juri 1 & 3 sebesar 0,84 (itu berarti menunjukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri), dan kesepakatan antar juri 2 & 3 sebesar 0,71 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang cukup tinggi antar kedua juri).

  Kemudian untuk menghitung rata-rata perbandingan nilai kesepakatan antar juri tersebut dihitung dengan rumus komposit reabilitas yang ada pada bab sebelumnya. Dari hasil yang ditemukan bahwa rata-rata tingkat kesepakatan antar juri untuk sub judul yang pertama yaitu sebesar 0,90, itu berarti terjadi tingkat kesepakatan yang sangat tinggi diantara para juri.

  Setelah dilakukan penghitungan reabilitas terhadap tiga juri atas kategori- kategori yang telah dibuat, selanjutnya paragraf-paragraf yang mengandung pesan dakwah dihitung untuk mengetahui jumlah frekuensi sehingga dapat ditarik kesimpulan kecenderungan isi pesan dakwah dalam sub judul Pengakuan Kedua:

  Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum Tuhan di Indonesia.

  Berikut ini adalah hasil prosentase dari ketiga kategori pesan dakwah yang telah dihitung:

  Tabel 6 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum- hukum Tuhan di Indonesia” No. Kategorisasi Frekuensi Prosentase

  1. Akidah 6 0,12

  2. Syariah 22 0,45

  3. Akhlak 21 0,43

  Total 49 100 Dalam sub judul kedua ini pesan syariah kembali menjadi pesan dakwah yang memperoleh proesentase tertinggi sebanyak 0,45%, selanjutnya pesan akhlak sebanyak 0,43% dan pesan akidah sebanyak 0,12%.

  Pada sub judul yang kedua ini menceritakan tentang kepindahan Nidah dari pondok pesantren ke pos jemaah yang baru ia masuki. Awalnya setelah memutuskan untuk pindah, Nidah merasakan semangat yang sangat menggebu- gebu dan berharap dapat menemukan banyak hal baru yang akan menambah nilai ibadahnya. Namun, yang ia dapati bertolak belakang dengan apa yang selama ini dibayangkan, para jemaah di sana jauh dari semangat perjuangan bahkan ibadahnya sangat biasa. Terbawa suasana dan lingkungan pos jemaah, ibadah Nidah kian menurun. Ditengah kebingungannya ia memutuskan untuk pindah ke pos jemaah lainnya, tapi keadaan di sana pun sama buruknya bahkan membuat sisi sufistik dalam dirinya yang susah payah ia bangun mulai pudar.

  Karena menyempitnya ruang dakwah dan hambarnya sisi sufistik di pos barunya, Nidah memilih rutin mudik ke kampung halamannya di Wonosari.

  Melihat kampungnya yang tandus dan warga yang jauh dari agama, Nidah tergugah untuk memperbaiki keadaan kampungnya. Ia mengisi pengajian di masjid, menanamkan semangat juang untuk membangun negara Islam di bumi Indonesia dan mendoktrin jemaahnya dengan doktrin yang ia dapat dari pos jemaah, terutama para remaja. Pada awalnya semua berjalan lancar, tapi tak lama warga sekitarnya merasa terganggu atas kehadirannya dan menganggap Nidah membawa ajaran sesat. Alhasil Nidah diusir dari kampungnya. Karena peristiwa itu, para petinggi jemaah mengungsikan Nidah dari pos jemaahn ke sebuah kost-

  Berikut ini adalah salah satu kutipan paragraf yang ada pada sub judul

  

Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum

Tuhan di Indonesia : Khatam juga aku membacai dan memahaminya. Lalu apa lagi yang akan

kulakukan? Aku ingin sekali berdiskusi dan bertukar pikir, tapi dengan siapa.

Sepertinya orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Karena tidak

ada diskusi yang intensif, aku pun memperkuat ibadahku—tepatnya

mempertahankan prestasi ibadah yang telah kucapai sebelumnya di Pondok Ki

Ageng. Begitu setiap harinya. (h. 59, prg. 67)

  3. “Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan”

  Berikut ini adalah tabel dari hasil kesepakatan antar juri pada sub judul ketiga:

  

Tabel 7

Koefisien Reabilitas Kesepakatan

Antar Juri Item Kesepakatan Ketidaksepakatan Nilai

  Ke 1 & 2

  35

  27 4 0,77 Ke 1 & 3

  35

  32 3 0,91 Ke 2 & 3

  35

  27 4 0,77 Dari tabel di atas menunjukkan kesepakatan antar juri 1 & 2 sebesar 0,77

  (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang tinggi antar kedua juri). Kesepakatan antar juri 1 & 3 sebesar 0,91 (itu berarti menunjukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri), dan kesepakatan antar juri 2 & 3 sebesar 0,77 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang tinggi antar kedua juri).

  Kemudian untuk menghitung rata-rata perbandingan nilai kesepakatan antar juri tersebut dihitung dengan rumus komposit reabilitas yang ada pada bab sebelumnya. Dari hasil yang ditemukan bahwa rata-rata tingkat kesepakatan antar juri untuk sub judul yang pertama yaitu sebesar 0,93, itu berarti terjadi tingkat

  Pada sub judul ketiga dilakukan penghitungan reabilitas terhadap tiga juri atas kategori-kategori yang telah dibuat, selanjutnya paragraf-paragraf yang mengandung pesan dakwah dihitung untuk mengetahui jumlah frekuensi sehingga dapat ditarik kesimpulan kecenderungan isi pesan dakwah dalam sub judul

  Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan. Berikut ini adalah hasil

  prosentase dari ketiga kategori pesan dakwah yang telah dihitung:

  Tabel 8 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan” No. Kategorisasi Frekuensi Prosentase

  1. Akidah 9 0,26

  2. Syariah 2 0,06

  3. Akhlak 24 0,68

  Total 35 100

  Dalam sub judul ketiga ini pesan akhlak menjadi urutan tertinggi dengan prosentase sebanyak 0,68%, selanjutnya akidah sebanyak 0,26% dan syariah sebanyak 0,06%.

  Pada sub judul ketiga ini menceritakan tentang keterpukulan Nidah setelah pengusiran dan kepindahan yang dialaminya. Ia merasa apa yang ia dapat sekarang tidak sepadan dengan apa yang telah dilakukan, semua usahanya sia-sia. Ia terjebak dalam pikiran yang semeraut, entah siapa yang harus disalahkan atas apa yang ia alami saat ini. Setelah lama berseteru dengan pikirannya, ia memutuskan bahwa penyebab semua ini adalah tuhannya. Kini Nidah mulai meninggalkan semua keyakinannya dan berpaling dari tuhan.

  Ditengah kegalauan hatinya, datang Hudan si pengedar narkotika. Orang yang dahulu selalu ia kecam jalan hidupnya sebagai manusia terkutuk, tapi kini Hudan menjadi teman baiknya. Teman yang mengenalkan dunia malam dan jalanan, dunia baru dalam sejarah kehidupan Nidah.

  Berikut ini adalah salah satu kutipan paragraf yang ada pada sub judul

  Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku Disiakan: “Tuhan, kenapa aku Kau perlakukan seperti ini. Kamu tahu betapa aku

bersungguh-sungguh berniat untuk menjadi hamba. Lihatlah Kau apa yang

kulakukan selama ini. Aku telah berinfaq sedemikian banyak. Bahkan lebih besar

dari yang lain-lain di jalan yang Kau ridhai. Kalau malam aku dirikan salat. Itu

semua kutunjukkan untuk mengabdi kepada-Mu semata. Tapi mengapa itu semua

harus berujung dengan kekecewaan.” (h. 100, prg. 122)

  Hikmah yang dapat kita ambil dari paragraf di atas yaitu, ketika kita mengalami kekecewaan atas kondisi yang sebenarnya tidak diinginkan maka jangan tiba-tiba menyalahkan kuasa Tuhan. Perlu disadari bahwa sebagai manusia, kita harus lebih banyak intropeksi diri atas segala perilaku yang telah diperbuat. Kita juga diingatkan untuk selalu berserah diri kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya.

  4. “Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu”

  Berikut ini adalah tabel dari hasil kesepakatan antar juri pada sub judul keempat:

  

Tabel 9

Koefisien Reabilitas Kesepakatan

Antar Juri Item Kesepakatan Ketidaksepakatan Nilai

  Ke 1 & 2

  26

  26

  1 Ke 1 & 3

  26

  24 2 0,92 Dari tabel di atas menunjukkan kesepakatan antar juri 1 & 2 sebesar 1 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri).

  Kesepakatan antar juri 1 & 3 sebesar 0,92 (itu berarti menunjukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri), dan kesepakatan antar juri 2 & 3 sebesar 0,92 (itu berarti menunujukkan kesepakatan yang sangat tinggi antar kedua juri).

  Kemudian untuk menghitung rata-rata perbandingan nilai kesepakatan antar juri tersebut dihitung dengan rumus komposit reabilitas yang ada pada bab sebelumnya. Dari hasil yang ditemukan bahwa rata-rata tingkat kesepakatan antar juri untuk sub judul yang pertama yaitu sebesar 0,98, itu berarti terjadi tingkat kesepakatan yang sangat tinggi diantara para juri.

  Selanjutnya ada sub judul keempat pun dilakukan penghitungan reabilitas terhadap tiga juri atas kategori-kategori yang telah dibuat, selanjutnya paragraf- paragraf yang mengandung pesan dakwah dihitung untuk mengetahui jumlah frekuensi sehingga dapat ditarik kesimpulan kecenderungan isi pesan dakwah dalam sub judul Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang

  Pernah Kutahu. Berikut ini adalah hasil prosentase dari ketiga kategori pesan

  dakwah yang telah dihitung:

  Tabel 10 Hasil Prosentase Data dalam Sub Judul “Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu” No. Kategorisasi Frekuensi Prosentase

  1. Akidah 2 0,08

  2. Syariah 11 0,42

  3. Akhlak 13 0,5

  Dalam sub judul yang terakhir ini pesan akhlak kembali menjadi posisi tertinggi dengan prosentase sebanyak 0,5%, selanjutnya pesan syariah 0,42% dan pesan akidah 0,08%.

  Dalam sub judul keempat ini menceritakan tentang kehidupan baru Nidah yang menyeretnya jauh dari kebaikan. Terlebih setelah Nidah mengenal Didi, darinya Nidah mengenal pergaulan bebas (free sex). Nidah mulai terbiasa jatuh dari pelukan satu pria ke pria lainnya, dari satu losmen ke losmen lainnya. Setelah lama menjalin hubungan dengan Didi, teman yang pernah Nidah kencani tersebut, Didi memaksa Nidah untuk menikah dengannya. Tapi Nidah menolak karena menurutnya menikah hanya akan menghapus kebebasannya dalam bergaul.

  Karena ajakannya ditolak, maka Didi mengadukan Nidah pada orang tuanya, ia menuturkan bahwa Nidah telah terlibat dalam free sex. Tak lama setelah pengaduan Didi itu, ayah Nidah meninggal dunia. Sempat terbesit perasaan bersalah di hati Nidah, tapi itu tidak berlangsung lama karena menurunya, kematian itu sudah takdir dan tak harus ditangisi berlebihan.

  Berikut ini adalah salah satu kutipan pargraf yang ada pada sub judul

  Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu : Dengan ketakutan aku mundur dan menyandar di dinding. Tapi Didi

mengejarku dan terus mendekatiku. Dari matanya yang merah, aku melihat bara.

Ada lidah dendam yang mengesumat dari sinarannya. Kedua tangannya

menangkap tanganku, menelikungnya, dan dengan cepat tangan kanannya

mencekikku. Aku meronta. Tapi dia tak melepaskan cekikannya. (h. 202, prg. 166)

  Perilaku kasar yang dilakukan Didi terhadap Nidah sebaiknya jangan ditiru, karena pada saat kita marah sesungguhnya setan sedang menguasai diri kita. Oleh sebab itu, ketika sedang marah atau merasa kesal terhadap perilaku seseorang sebaiknya kita bersabar dan memaafkannya, karena itu adalah sikap yang dianjurkan dan niscaya Allah akan menyangi orang yang berbuat baik.

  B.

  

Pesan Dakwah yang Dominan dalam Novel “Tuhan, Izinkan Aku

Menjadi Pelacur!”

  Berdasarkan perolehan data-data di atas, maka dapat diketahui bahwa pesan-pesan yang dominan dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! ini yaitu: pertama, pada sub judul Pengakuan Kesatu: Tuhan, Rengkuh Aku dalam

  

Hangat Cinta-Mu! syariah menjadi pesan dakwah yang dominan dengan

  prosentase tertinggi sebanyak 0,55%, selanjutnya pesan akhlak sebanyak 0,27% dan urutan terakhir pesan akidah sebanyak 0,18%. Kedua, pada sub judul

  

Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah untuk Menegakkan Hukum-hukum

Tuhan di Indonesia pesan syariah kembali menjadi pesan dakwah yang

  memperoleh proesentase tertinggi sebanyak 0,45%, selanjutnya pesan akhlak sebanyak 0,43% dan pesan akidah sebanyak 0,12%.

  Ketiga, pada sub judul Pengakuan Keempat: Ketika Nalar dan Imanku

  

Disiakan pesan akhlak menjadi urutan tertinggi dengan prosentase sebanyak

0,68%, selanjutnya akidah sebanyak 0,26% dan syariah sebanyak 0,06%.

  Keempat, pada sub judul Pengakuan Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh

  

yang Pernah Kutahu pesan akhlak kembali mendominasi memperoleh prosentase

  tertinggi sebanyak 0,5%, selanjutnya pesan syariah 0,42% dan pesan akidah 0,08%.

  Kemudian berdasarkan hasil pengolahan data dari keseluruhan sub judul adalah pesan akhlak yaitu dengan perolehan data sebanyak 0,44% termasuk didalamnya akhlak mahmudah 0,09% dan akhlak madzmumah 0,34%. Sedangkan pesan syariah sebanyak 0,40% termasuk didalamnya ibadah 0,05% dan muamalah 0,35%. Kemudian pesan akidah sebanyak 0,16% termasuk didalamnya iman kepada Allah 0,05%, iman kepada kitab 0,02% dan iman kepada Qadha dan Qadar 0,09 %.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah menjelaskan dan menganalisa data yang telah dikemukakan pada

  bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.

  Dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Mengandung nilai pesan dakwah diantarnya pesan akidah, syariah dan akhlak. Isi pesan yang diteliti dalam novel tersebut adalah berbentuk paragraf. Dari kategori pesan yang telah disebutkan terdapat sub kategori diantaranya yaitu: pesan akidah meliputi iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul dan iman kepada hari kiamat dan iman kepada Qadha dan Qadar. Namun, setelah melakukan penelitian pada sub kategori akidah pesan dakwah yang ditemukan hanya iman kepada Allah, iman kepada kitab, dan iman kepada Qadha dan Qadar. Pesan syariah meliputi: ibadah dan muamalah. Kemudian pesan akhlak meliputi: akhlak mahmudah dan madzmumah.

2. Dari kategori yang terdapat dalam novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi

  Pelacur! maka dapat diketahui pesan-pesan yang dominan dari sub judul yang diteliti, yaitu: pertama, pada sub judul Pengakuan Kesatu: Tuhan,

  Rengkuh Aku dalam Hangat Cinta-Mu! syariah menjadi pesan dakwah

  yang dominan dengan prosentase tertinggi sebanyak 0,55%, selanjutnya pesan akhlak sebanyak 0,27% dan urutan terakhir pesan akidah sebanyak 0,18%. Kedua, pada sub judul Pengakuan Kedua: Kupilih Jalan Dakwah kembali menjadi pesan dakwah yang memperoleh proesentase tertinggi sebanyak 0,45%, selanjutnya pesan akhlak sebanyak 0,43% dan pesan akidah sebanyak 0,12%. Ketiga, pada sub judul Pengakuan Keempat:

  Ketika Nalar dan Imanku Disiakan pesan akhlak menjadi urutan tertinggi

  dengan prosentase sebanyak 0,68%, selanjutnya akidah sebanyak 0,26% dan syariah sebanyak 0,06%. Keempat, pada sub judul Pengakuan

  Kedelapan: Sebab Nikah adalah Ide Teraneh yang Pernah Kutahu pesan

  akhlak kembali mendominasi memperoleh prosentase tertinggi sebanyak 0,5%, selanjutnya pesan syariah 0,42% dan pesan akidah 0,08%.

  3. Berdasarkan hasil pengolahan data dari keseluruhan sub judul yang diteliti, maka dapat diketahui pesan dakwah yang dominan dalam novel ini adalah pesan akhlak menjadi urutan tertinggi dan dominan dengan perolehan data sebanyak 0,44%, termasuk didalamnya akhlak mahmudah 0,09% dan akhlak madzmumah 0,34%. Diikuti oleh pesan syariah dengan perolehan data sebanyak 0,40%, termasuk didalamnya ibadah 0,05% dan muamalah 0,35%. Selanjutnya pesan akidah dengan perolehan data 0,16%, termasuk didalamnya iman kepada Allah 0,05%, iman kepada kitab 0,02% dan iman kepada Qadha dan Qadar 0,09%.

B. Saran

  Adapun saran-saran yang ingin disampaikan adalah: 1. Bagi pengarang, diharapkan dapat menyelesaikan studinya di perguruan tinggi agar mampu menghasilkan karya yang bijaksana. Bukan hanya dari supaya bisa menghidupkan kembali semangat kaum muslimin yang nilai- nilai keagamaannya semakin terkikis oleh jaman. Semoga semangat berkarya selalu mengiri. Jangan pernah ragu untuk melahirkan karya-karya bernuansa ke-Islaman, karena hal itu merupakan bagian dari dakwah melalui tulisan.

  2. Bagi pembaca novel, hendaknya tidak menjadikan novel sebagai hiburan semata, namun mempelajari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, kemudian diambil hikmahnya agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, ini saatnya meningkatkan minat baca dan ketertarikan terhadap karya sastra. Maka untuk mewujudkannya dapat mengadakan kajian sastra, terutama hasil karya dari penulis muslim.

DAFTAR PUSTAKA A.

   BUKU-BUKU

  Ali Aziz, Moch., Ilmu Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009) Ambary, Abdullah, Intisari Sastra Indonesia, (Bandung: Djantika, 1983) Aziz, Abdullah bin Abdul al-Jibrin, Cara Mudah Memahami Aqidah Sesuai

  Al-Qur’an, As-Sunnah dan Pemahaman Salafush Shalih, (Jakarta:

  Pustaka At-Tazkia, 2007), cet. ke-1 Bulaeng, Andi, Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer, (Yogyakarta:

  ANDI, 2004) Dahlan, Muhidin M., “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”, (Yogyakarta:

  Scripta Manent, 2006), cet. ke-9 Departemen Agama R.I., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Madinah: Mujamma’

  Malik Fahd Li Thiba’at al Mush haf Assyarif, 1990) Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ 21, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988) Jumroni, Metode-metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press,

  2006) Kasman, Suf, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-prinsip Da’wah Bi

  Al-Qalam dalam Al-Qur’an, (Bandung: Teraju, 2004)

  Kriyantono, Rachmat, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Perdana Media Group, 2007), cet. ke-2

  Muchlisin Asti, Badiatul, Berdakwah Dengan Menulis Buku, (Bandung: Media Qalbu, 2004)

  Nasution, Harun, dkk., Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992)

  Nasution, Lahmuddin, Fiqh 1, (Jakarta: Logos, 2001) Nasution, Zulkarimein, Sosiologi Komunikasi Massa, (Jakarta: Pusat

  Penerbitan Universitas Terbuka, 1993), Modul 1-9, edisi ke-2 Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008) Setiawan dan Ahmad Muntaha, Bambang, Metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), Modul 1-9, edisi ke-2

  Suhendi, Hendi, Fiqh Mu’amalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), edisi 1-3 Suprapto, Kumpulan Istilah dan Apresiasi Sastra Bahasa Indonesia,

  (Surabaya: Indah, 1993) Syukir, Asmuni, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas,

  1983) Tasmara, Toto, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), cet. ke-2 Yunus, Umar, Dari Peristiwa ke Imajinasi (Jakarta: PT. Gramedia, 1985) Zaidallah, A. Imam, Strategi Dakwah, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. ke-1 B.

   WEBSITE

  Aribowo, Akhlak, artikel diakses pada 25 Maret 2010 dari http://mediasauna.multiply.com/journal Hadi, Bedah Buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Karya: Muhidin M

  Dahlan, artikel diakses pada 24 Oktober 2009 dari

  Novel, artikel diakses pada 24 Oktober 2009 dari

   Sumaryadi Ramadhan, Nugraha, Media Dakwah Islam, artikel diakses pada 25

   Wikipedia, Pengertian Novel, artikel diakses pada 4 Maret 2010 dari

  Yayat R., Muhidin M. Dahlan: Anak Laut Itu Menggiring Buku, artikel diakses pada 4 Maret 2010 dari

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama Lengkap : Sisilia Yuliaty Hariputri Tempat/ tanggal lahir : Sukabumi, 10 Juli 1987 Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Jl. Kaum II RT 02/ 03 No. 473 Cicurug Sukabumi

  Jawa Barat 43359 Telepon : 085692206725/ (0266) 733593

  Riwayat Pendidikan :

  • 2006 – Sekarang S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam, FIDIK – UIN

  Syarif Hidayatullah Jakarta

  MA Daarul ‘Uluum Lido Bogor

  • 2002 – 2005

  MTs Daarul ‘Uluum Lido Bogor

  • 1999 – 2002

  SDN 3 Cicurug

  • 1993 – 1999
Lampiran 2 Tabel yang menunjukkan tingkat kesepakatan antar juri:

  Tabel 11 Tingkat Kesepakatan antar Juri

Kategorisasi

Item

  Akidah Syari’ah Akhlak

  Juri 1 Juri 2 Juri 3 Juri 1 Juri 2 Juri 3 Juri 1 Juri 2 Juri 3 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  8.

  9.

  10.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  18.

  19.

  20.

  21.

  22.

  23.

  24.

  25.

  27.

  

28.

  29.

  30.

  

31

32.

  33.

  34.

  

35.

  36.

  

37.

  38.

  

39.

  

40.

  

41.

  

42.

  

43.

  44.

  45.

  46.

  

47.

  48.

  

49.

  

50.

  51.

  

52.

  

53.

  

54.

  

55.

  

56.

  57.

  59.

  

60.

  

61.

  

62.

  

63.

  

64

65.

  

66.

  

67.

  

68.

  

69.

  

70.

  71.

  

72.

  

73.

  

74.

  

75.

  

76.

  

77.

  

78.

  

79.

  

80.

  

81.

  

82.

  

83.

  

84.

  85.

  

86.

  87.

  88.

  

89.

  91.

  92.

  

93.

  

94.

  

95.

  96.

  97.

  

98.

  

99.

100.

101.

102.

103.

104. 105. 106. 107.

  

108.

109.

110.

111.

112. 113. 114. 115.

  

116.

117.

118. 119. 120. 121.

  123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131.

  

132.

133.

134.

135.

136.

137.

138.

139. 140.

  

141.

142.

143.

144. 145. 146.

  

147.

148.

149.

150.

151.

152.

153.

  

155.

156.

157.

158.

159.

160.

161.

162.

163.

164.

165.

166.

167.

168.

169.

170. 171. 172. Lampiran 3 Tabel yang mengandung rincian kategorisasi pesan dakwah:

  Tabel 12 Rincian Kategori Pesan Akidah Sub Judul/

No. Hal/ Paragraf Keterangan

Paragraf

  1. 1/ 24/

  4 Rahmi kemudian menerangkan secara panjang lebar pengajian yang kudengarkan sepenuh takzim. Bertuturlah ia bahwa Tarbiyah adalah masjid yang menjadi salah Iman kepada satu pusat pengajian soal-soal keislaman Allah untuk membina jiwa setiap muslim dan muslimah agar lekat kepada Allah. Dan umumnya mereka itu mahasiswa. 2. 1/ 34/ 20 “Islam yang ada di Indonesia sekarang ini tidak murni. Yang murni hanya ada dalam

  Iman kepada Qur’an dan Sunnah Rasul. Islam itu Dien.

  Kitab Dan Dien itu adalah sistem yang hukum- hukumnya ditata dalam syari’at.”

  3. 1/ 36/ 25 “Keislaman kita di Indonesia belum dianggap sepenuhnya kalau belum diatur secara total oleh syari’at Islam. Syari’at akan memberikan kebaikan bagi sesama manusia yang hidup di bawah naungannya. Sedikit pun tidak ada alasan untuk menentang syariat. Seseorang yang mengatakan dirinya sebagai muslim

  Iman kepada harus menjadi muslim secara keseluruhan, Kitab secara kaffah. Ini sudah difirmankan Allah:

  ‘Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian semua tanpa kecuali ke dalam Islam secara kaffah dan jangan kalian coba-coba ikuti langkah syaiton karena sesungguhnya syaiton adalah musuh yang sangat nyata bagimu.’”

  4. 1/ 37/ 26 “Jadi Kiran, keimanan kepada Allah bukan sekedar bermakna percaya akan adanya Allah, tapi harus disertai ketundukan pada segenap dan seluruh aturannya. Jangan ragukan sedikit

  Iman kepada pun apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah.

  Allah Ia Maha Tahu. Ia Maha Adil. Sesungguhnya Allah tahu jua apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang tidak baik, melahirkan banyak masalah.” 5. 1/ 37/ 27 “Kamu mesti yakin seyakin-yakinnya bahwa hukum Allah itu bersifat abadi dan senantiasa cocok unuk diterapkan di zaman mana pun. Hukum Islam itu bersifat universal. Allahlah yang menciptakan seluruh manusia, maka Allah pulalah yang tahu apa saja tabiat dan segala hal yang mereka kandungkan. Karena itulah adalah hal logis bila Allah juga telah menyediakan perangkat-perangkat hukum yang menata peri kehidupan manusia baik

  Iman kepada sebagai pribadi maupun sebagai ummah. Dalam arti, ketundukkan manusia pada syariat Kitab merupakan konsistensi dari keimanannya kepada Allah. Jadi, kita bisa menyertakan keimanan orang-orang yang menolak syariat.

  Allah berfirman: ‘demi Tuhanku, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dan putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” 6. 1/ 39/ 29 “Belum saatnya. Nanti juga akan kamu tahu. Tapi kutekankan kepadamu, ini adalah gerakan rahasia. Top secret. Yang pokok sekarang ini adalah kalau ada keraguan-

  Iman kepada raguan, jangan kembalikan kepada manusia, Allah tapi kembalikan kepada Allah. Kalau ada keragu-raguan, mintalah kepada Allah. Kalau bertanya, jangan tanya kepada orang lain, tapi tanyakan kepada saya saja.”

  7. 1/42/36 “Ya Allah, kalau memang ini kebenaran Iman kepada berilah ketetapan hatiku. Aku yakin seyakin-

  Qadha dan yakinnya ya Allah, bahwa hukum-hukum Islam itu harus ditegakkan demi tegaknya

  Qadar ayat-ayatmu” 8. 1/ 42/ 38 Dan semua itu harus dimulai dari dunia yang paling kecil: diriku sendiri. Ya, mulailah dari diri sendiri, lalu keluargamu, lalu….

  Iman kepada Bukankah begitu perintah agama? Aku pun

  Qadha dan dengan segala ketotalan hati memasrahkan Qadar diri sepenuh-penuhnya kepada Allah, kepada ayat-ayat-Nya, hukum-hukum-Nya di bawah pimpinan seorang khalifah.

  9. 1/ 45/ 44 Aku menyambut seutuh-utuhnya ajaran dan Iman kepada masuk Islam secara kaffah. Qadar 10. 1/ 48/ 48 “Dengan memohon kekuatan dari Allah, aku

  Iman kepada sudah sangat mantap untuk turut berjuang Allah bersama tentara-tentara Allah yang lainnya.”

  11. 1/ 54/

  57 Sampai pada suatu malam, ketika aku bersjingkat ke belakang untuk mengambil air wudu, kulihat sinar rembulan menyembul di antara dedaunan nyiur. Begitu indah sinar itu. Begitu dekatnya rembulan itu denganku. Aku melihat alam sekitarnya seakan-akan sujud.

  Iman kepada Sebarisan nyiur, rerimbunan, bebatuan,

  Allah seakan mengarahkan pandang kepadaku. Pandangan yang sejuk dan mendamaikan. Begitu pula ketika pagi-pagi aku berjalan sembari melihat dengan takjub kalong yang terbang bersaf-saf dengan rapinya berangkat entah kemana.

  12. 2/ 61/ 71 Dan aku tahu, pertanyaanku itu dijawab diam oleh Mbak Auliah. Seakan-akan pertanyaanku Iman kepada itu adalah godam subversif baginya dan jalan teraman untuk itu adalah diam. Diam. Dalam Allah hati pun aku bergumam: “Tuhan, ini perjuangan apa?”

  13. 2/ 69/ 87 KARENA menyempitnya ruang dakwahku di Kampus Matahari Terbit dan hambarnya sisi sufistik yang kuanut selama ini di Pos Gamping, aku pun memilih untuk rutin mudik

  Iman kepada ke kota kecilku Wonosari. Sebuah kota di atas Qadha dan bukit di sebelah timur Yogyakarta. Aku tidak ingin layu sebelum tumbuh. Tidak, aku sangat

  Qadar meyakini betapa benarnya ajaran Jemaah yang mencita-citakan berdirinya negara Indonesia yang berqanunkan Islam sebagai syarat tegaknya hukum-hukum Islam. 14. 2/ 70/ 88 Jika panas terus-terusan menghujam tanah ini, keluargaku, tetangga-tetanggaku, manusia- manusia yang tinggal di sini, tak segan-segan

  Iman kepada mengonsumsi belalang sebagai lauk-pauk.

  Qadha dan Bahkan, untuk mendapatkan uang, ada yang berjualan sate belalang di pinggiran-pinggiran

  Qadar jalan. Dan penyakit seperti busung lapar adalah hal biasa terjadi di tanah ini. Betapa miskinnya tetangga-tetanggaku itu. 15. 2/ 71/ 90 Ayat itulah yang kubahas secara detail di hadapan jemaah pengajian kampung itu. Aku

  Iman kepada terjemahkan ayat itu dan kujelaskan satu demi Kitab selihai itu membahas ayat-ayat Alquran. Aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka semua bahwa Alquran itu jangan dijadikan jimat, tapi dipahami isinya agar bermanfaat bagi kehidupan. Aku berhenti pada ayat ke-18 yang menunjuk orang-orang yang buta-tuli. Ayat itu kupakai untuk menyerang pemahaman agam mereka. Pada sesi khotbah terakhirku, kepada mereka semua kutegaskan. 16. 2/ 77/ 102 Dan esoknya, atas pertolongan Allah yang telah membukakan hati hamba-hamba-Nya, mereka bersedia mengikuti baiat dan

  Iman kepada berhasillah kubereskan akidah orangtua dan saudaraku sekampung dan memilih Allah bergabung dalam barisan jundullah yang memerjuangkan berdirinya Daulah Islamiyah di bumi Indonesia.

  17. 2/ 79/ 107 Duh Gusti Allah, fitnahan apalagi yang mereka sodorkan ini? Mengapa mereka bisa berpikiran seperti itu? Pahamkah mereka bahwa Indonesia membutuhkan daulah yang berqanunkan Islam? Tidakkah indah bumi

  Iman kepada Indonesia ini apabila dilindungi hukum- hukum Islam dan tidak gampang dijewer dan Allah ditetak oleh kekuasaan asing Amerika. Tapi mereka, mereka…. Duh Gusti Allah, bukakanlah hati mereka, pikiran orang-orang kampung yang belum bisa ber-Islam secara

  kaffah ini!

  18. 4/ 95/ 112 DI KAMAR KOS YANG BERUKURAN SECUKUPNYA. Kurasai aku seperti Hawa yang dicampakkan di tanah tandus. Ia menggelepar-gelepar setelah dibuang dari semua impian indah surgawi yang penuh pesona dan menyenangkan. Betapa Hawa, di awal sejarah manusia itu, merasakan suasana yang semuanya berbalik. Kalau di surga ia

  Iman kepada bisa meneguk air yang sehat semau dan Qadha dan sepuas-pusanya. Tapi di sini, di tanah tandus

  Qadar ini, ia meraung dan gelisah kala kerongkongan dan lambung kehidupannya meronta minta dibasahi karena kemarau tandus padang pasir. Tapi lolongan Hawa itu hanya disahuti oleh angin yang menderu-deru sampai jauh. Badai. Teriaknya tidak dijawab oleh air melainkan badai. Ia berteriak.

  19. 4/ 95/ 113 Betapa cepatnya hidup seorang manusia, seorang perempuan, seorang Hawa, berbalik.

  Dari surga yang melimpah air, ke tanah Iman kepada tandus yang mengandaskannya menjadi

  Qadha dan perempuan yang tak ubahnya seorang pengemis yang sudah berhari-hari tak

  Qadar menjumpai makanan. Ia kini menjadi gembel dalam kesengsaraannya yang nyaris sempurna pekatnya. 20. 4/ 97/ 114 Dan akulah Hawa itu. Akulah yang menggelepar-gelepar dari hati yang kemarau oleh kemaruk kekecewaan yang aku sendiri tidak tahu dosa apa yang telah kuperbuat.

  Iman kepada Akulah perempuan yang terlempar yang terhempas dari arus besar kehidupan Jemaah

  Qadha dan yang sedang giat-giatnya dan tengah Qadar berlomba untuk menciptakan sebuah kehidupan baru yang dilingkari cincin firman. 21. 4/ 100/ 125 Rongga luka hatiku begini dalam dikoyak- koyak oleh pisau Kabil, putera Hawa yang berdarah ringas. Separuh hatiku telah

  Iman kepada dirampasnya. Bukan separuh, tapi seluruhnya, Qadha dan dengan alasan: kuasa Habil telah berhenti dalam hati itu dan Kabil mendapatkan mandat

  Qadar untuk membersihkannya dengan cara melukai. Kabil telah melukai kepercayaanku, telah melukai imanku. 22. 4/ 103/ 130 Perubahan apakah sesungguhnya yang sedang terjadi denganku? Ho-oh-oh

  ―air segar itu sudah tak lagi menuah. Air, air, di manakah air dalam hatiku. Makin kupanggil air, sahutan api jua yang terngiang. Ia julur-

  Iman kepada julurkan baranya di hatiku, di hati muslimah Qadha dan yang tengah meringkuk dalam kamar

  Qadar menunggu risalah tragedinya diputuskan. Lidah-lidah api siap menggolak kecewaku dan rabunkan abu sisa pembakaran dalam liang lahatku yang bernisankan hitam dan bertuliskan jelaga.

  23. 4/ 104/133 Dengan napas yang masih menyisa, aku langkahkan kaki. Ah, betapa kagetnya aku ketika melihat wajahku di muka cermin. Aku

  Iman kepada sudah lama tidak bercermin. Dan sekarang Qadha dan aku seperti dipancangkan dengan kuat di depannya. Ah, betapa aku tidak seperti dulu

  Qadar lagi dengan pipi yang berisi dan wajah yang kamar yang tak pernah lagi terapikan dan disinari matahari pagi. Wajahku kini cekung dan pipiku tak lagi kenyal. Tulang igaku menonjol sekenanya dalam lipatan kulitku yang mengerut. Demikian pula mata ini. Mata yang dulu memancarkan ketajaman sebagaimana seorang pejuang gagah yang sedang menyongsong syahid, kini sudah mulai menyipit dan sayu; sepertinya kehidupan dalam sinarannya yang bulat perlahan meredup. Rambutku pun mulai merontok, nyaris seperti kehilangan akar tunggang. Ah, tubuhku, mengapa ia bisa sebegini ringkih. Apakah ia pun turut serta merasai akibat sakit luka hati yang kuderitakan kini dari cucupan racun pisau Kabil?

  24. 4/ 106/ 135 Betapa beda dengan di kampungku, di Wonosari sana. Ketika rembang sudah tiba,

  Iman kepada maka kulihat barisan pasukan panjang kalong Qadha dan yang tak putus-putsnya berarak menuju timur untuk selanjutnya berpencar mencari

  Qadar rezekinya sendiri-sendiri. Dan barisan panjang itu akan pulang ketika pagi terjaga. 25. 4/ 113/ 144 Namun demikian, walau sudah kualihkan sedemikian rupa rasa gundah, rasa sesak ini, sakau itu tetap saja mengerek hatiku.

  Iman kepada Perasaan itu terus menggelayut menyiksaku.

  Qadha dan Tapi segera kusadari bahwa inilah tragediku

  Qadar yang paling dramatik dalam sepenggalan perjalanan hidupku dan diusiaku yang belum sampai seperempat abad.

  26. 4/ 113/ 145 Inikah permulaan dari sebuah tragedi besar yang akan mengubah haluan takdirku? Selalu Iman kepada kutanyakan hal itu dalam hati yang tetap

  Qadha dan sunyi dan sendiri.

  Qadar 27. 8/ 204/ 171 “Oh, bapak, oh bapak...maafkan atas segala lakuku. Laku yang dibentuk oleh jalan yang sudah kupilih. Yang sungguh-sungguh kupilukan dan kutangisi dari kepergianmu

  Iman kepada bukan kepergian itu sendiri, melainkan Qadha dan sementara ruhmu dilucuti, aku diperkosa oleh

  Qadar lelaki. Lelaki yang memaksaku untuk menikah. Itu yang membuatku sedih. Itu yang membuatku pilu. Itu yang membuatku menangis.”

  28. 8/ 204/ 172 “Bapak, sudah kuduga maut itu akan datang.

  Sudah kuduga. Dan airmata tak lagi punya Iman kepada guna. Sekarang. Sekarang ini. Berbahagialah

  Qadha dan engkau di alam sana. Alam yang aku tidak tahu berbentuk apa. Selamat jalan bapak.

  Qadar Selamat jalan. Cuma itu yang bisa aku ucapkan untuk keberangkatan abadimu.”

  Jumlah

  

28

Frekuensi Tabel 13 Rincian Kategorisasi Pesan Syariah No. Sub Judul/ Hal/ Paragraf Keterangan Paragraf

  1. 1/ 24/

  2 Kata Rahmi suatu ketika, hidup harus mengikuti cara Rasul. Segala gerak-gerik kita harus mengikuti tuntunan beliau: makan, minum, semua-muanya, termasuk dalam berjalan. “Seperti ini yang diajarkan Rasul.

  Muamalah Bukannya tengok sana tengok sini.” Wuih, begitu indah hidup seperti yang dituntunkan Nabi. Hati menjadi bersih. Kita menjadi suci tanpa dosa. Setiap gerakan kita dihitung sebagai gerakan berpahala.

  2. 1/ 24/

  3 Tanpa pikir panjang aku langsung menyanggupi untuk ikut di pengajian itu karena hidupku ingin berubah. Aku ingin membersihkan jiwaku dari segala kekotoran dunia ini sebagaimana sebelumnya. Aku ingin mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Tidak, aku tidak mau Muamalah membiarkan hidupku berjalan tanpa arti. Aku ingin berubah. Aku tak ingin hatiku terpenjara oleh banyaknya urusan yang tak ada maknanya. Dan ajakan Rahmi seperti oasis dalam kehendak yang terus merenangi jiwaku. 3. 1/ 25/ 5 Rahmi, yang menjadi kawan cakapku di

  Pondok Ki Ageng, memang seorang muslimah yang taat ibadah. Dari gerak- geriknya, aku melihat ada pembawaan yang

  Muamalah lain dari teman-teman putriku yang lain yang selama ini kukenal. Ia tidak banyak bergaya, bersolek sebagaimana perempuan lazimnya. diucapnya itu juga yang dilakukannya. 4. 1/ 25/ 6 Aku lihat di serambi masjid sudah penuh, tapi belum terlampau sesak. Kebanyakan jemaah putri. Masih muda-muda sepertiku dan dari wajah mereka nampak rona keteduhan yang sulit kudapatkan di tempat- tempat yang lain. Aku betul-betul terkesima dibuatnya. Atau karena memang aku orang baru menginjakkan kaki di dunia ini. Di Muamalah dunia serba teduh ini, sebuah dunia yang jiwa-raga dipayungi oleh petunjuk-petunjuk agama. Ya, miriplah keterkesimaan seorang mualaf yang baru pertama kali menjalani ritual salat. Ah, betapa bersyukurnya hati ini apabila tertulari barang sedikit aura keteduhan itu. 5. 1/ 28/ 9 Maka demikianlah, selama satu setengah jam aku mendengarkan kuliah agama yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Betapa mengirinya hatiku tatkala sang pembicara, seorang ikhwan yang dugaku tentu belum Muamalah terlalu tua kalau dibandingkan dengan suara dan patahan-patahan katanya yang teratur membentuk rima yang sejuk menyentuh telinga. 6. 1/ 28/ 10 Sebuah pengalaman yang menurutku betul- betul baru. Hingga ketika pengalaman pertama ini bisa kureguk sedalam-dalamnya, aku pun menjadi kerap mengajak Rahmi Muamalah untuk berdiskusi lebih jauh, lebih jauh, semakin jauh, hingga terkadang diskusi itu jatuh pada jauh malam di Pondok Ki Ageng. 7. 1/ 29/

  11 Ketekunannya beribadah pun tertular kepadaku. Aku pun mulai bisa salat tepat waktu dan berjamaah di masjid yang tepat berada di depan asrama putri. Hampir

  Ibadah dipastikan aku sudah berada di masjid ketika azan belum selesai dikumandangkan. Aku sadar bahwa aku belum menyamai rekor Rahmi. 8. 1/ 29/ 13 Aku dihampiri rasa gelisah. Kugeledahi lemari itu untuk meyakinkan bahwa pakaian

  Rahmi masih ada. Nihil. Yang ada hanyalah Muamalah tumpukan pakaianku. Aku tertunduk. “Mi, kenapa kau tidak bilang-bilang kalau kau keluar dari pondok ini. Rahmi... Rahmi.” matabatinku untuk melihat Allah lebih dekat. Tapi kini, tanpa sepengetahuanku engkau pindah dengan sangat cepat, sebelum kulihat semua amalan ibadahmu. 10. 1/ 32/

  16 PAGI ketika selesai mengikuti kuliah pertama, aku mengumpulkan beberapa kawan sekelasku. Aku harus membuat kelompok pengajian yang mengaji soal-soal keislaman. Aku harus membuat forum itu sebab aku tidak mau mati selagi semangat Muamalah beragamaku tumbuh. Kajian di Pondok Ki Ageng yang didominasi oleh ritual dan doa- doa sudah membuatku sampai pada titik kebosanan yang kronis. 11. 1/ 33/ 17 Kini aku memunyai aktivitas baru dalam kampus. Metode-metode seperti di Tarbiyah kusalin mentah-mentah di forum diskusi yang baru saja kubentuk. Aku pun seperti srikandi dalam forum itu. Menguasai segala- Muamalah galanya. Mulai dari membuka diskusi, melontarkan soal, menjawab keluhan, dan segala macam. Setiap minggu pada hari Kamis selalu begitu. 12. 1/ 33/

  18 Di antara sekian peserta pengajian, ada seorang lelaki yang agak kurus dan sorot mata tajam mendekatiku. Namanya Dahiri. Aku tahu dia teman sekelasku. Dan dia adalah salah satu anggota teraktif di forum

  Muamalah diskusi yang kukelola. Pikirku, pintar juga ini cowok. Apalagi ketika Dahiri sudah mulai angkat bicara dalam forum. Setiap larik katanya selalu diikuti oleh deretan referensi.

  13. 1/ 34/ 19 “Saya tanya kamu sekarang, punyakah kamu pemimpin yang bertanggung jawab atas dirimu baik di dunia dan di akhirat. Tahukah kamu bahwa seorang pemimpin mestinya harus mengayomi warganya di dunia dan di akhirat?” Ditanya demikian aku hanya Muamalah mengerut. Terus terang saja bahwa baru kali ini aku ditanya orang seperti ini. Dan pertanyaannya itu, pertanyaan itu menyisakan kebingungan yang dalam di benakku. 14. 1/ 34/ 21 Aku diliputi oleh gelisah. Bergumpal-gumpal tanya menghembalang dan acak-acakan di Muamalah

  Tarbiyah. Huh… 15. 1/ 35/ 22 Dan seminggu setelahnya aku pun kembali bercakap intens dengan Dahiri. Dan hari-hari setelah itu aku selalu ingin bertemu dengannya. Ternyata Dahiri adalah teman diskusi yang pintar cakapnya. Darinya aku

  Muamalah kemudian tahu tentang konsep Islam. Yakni

  ad-Dien yang melingkupi seluruh semesta..

  dari dia pula kutahu bagaimana Rasulullah menjalankan politik ekspansi utnuk menegakkan ad-Dien di muka bumi. 16. 1/ 38/ 28 “Kuulangi sekali lagi padamu bahwa keislaman kita di Indonesia belum ada apa- apanya, belum murni. Kita masih fase Mekkah. Islam yang sah adalah Islam fase Madinah. Dan sekarang Islam Madinah itu belum juga ada dan masih dalam taraf di-

  Muamalah

  usaha -kan. Islam Madinah adalah Islam

  negara. Daaulah. Kebasahan beragama dan tegaknya syariat tadi ditentukan oleh apakah kita memiliki daulah atau tidak. Dan kami punya rencana besar untuk mengusahakan berdirinya Daulah Islamiyah Indonesia.”

  17. 1/ 39/ 30 Aku heran, aku yang dulu-dulunya selalu mendominasi ketika berdiskusi dengan orang lain sangat berbeda dengan hari ini. Ya, hari ini, siang ini, aku tak ubahnya kambing congek, menurut saja apa kata ikhwan yang Muamalah usianya hanya berpaut setahun lebih tua dariku. Dan kini kudapatkan diriku tak berdaya sama sekali di hadapannya selain hanya angguk-angguk dan iya-iya saja. 18. 1/ 39/

  31 DI PONDOK KI AGENG, isu tentang Jemaah yang ingin mendirikan negara yang berdasar pada Islam di Indonesia merebak dan hangat. Bahkan di kamarku, sebuah

  Muamalah majalah berita nasional yang bersampul hijau dengan wajah seorang muslimah yang tertutup kain hitam menjadi bacaan yang diperebutkan. 19. 1/ 40/

  32 Suara-suara itu terus mendendang dalam gendang dengarku. Aku hanya terpaku antara ragu dan yakin sebab aku baru saja ditemui Mas Dahri yang mengajakku untuk bersama

  Muamalah mereka berjuang bahu-membahu dalam satu jemaah demi satu misi suci: menyelamatkan kemaslahatan hidup mereka. 20. 1/ 41/ 34 Setotal doktrin yang ia semburkan ke wajah ke hatiku, setotal itu pula aku berubah. Aku seperti duplikat Mbak Rahmi di Pondok Ki Ageng. Sehari-hari dalam aktivitasku kuisi dengan membaca Alquran lengkap dengan terjemahannya. Kujalani ritual salat dengan mantap. Hampir seluruh waktuku kuhabiskan untuk salat. Bukan cuma yang wajib, tapi

  Ibadah juga yang sunat, seperti rawatib dan lain sebagainya. Paginya aku dipastikan menghadap Allah dalam salat dhuha sambil menunggu dzuhur menjelang. Malamnya kudirikan tulang-tulangku dalam tahajud kepada-Nya. Bermalam-malam begitu yang membuat mataku sembab oleh tangis ibadah dan kerinduan kepada Allah. 21. 1/ 41/ 35 Tak pernah putus kuiring aktivitasku pada satu stasiun yang sama sekali tak pernah kualami sebelum-sebelumnya: total beribadah. Kerjaku cuma dikamar: salat, baca Quran, dan berdoa. Dalam hati kugumamkan bertangkai-tangkai doa Ibadah harapan. Aku selalu merasa garing. Kering. Tak berdaya. Aku ingin menangkap harapan itu. Memeluknya. Menciumnya.

  Membasuhkannya di hatiku. Dan harapan itu hanya ada di haribaan Allah. 22. 1/ 42/

  37 Dan inilah awal bentuk penyerahan diri dalam Islam itu. Aku harus bersihkan diriku sebersih-bersihnya karena aku sedang dalam tahapan memasuki sebuah gerakan suci yang punya misi mulia: menegakkan Daulah

  Muamalah Islamiyah di bumi Indonesia. Wuihhh, hebat sekali cita-cita itu. Tak pernah kuduga bahwa aku adalah salah satu nantinya yang bekerja menyelamatkan akidah umat Islam Indonesia.

  23. 1/ 44/ 42 “Mas Dahiri,” gumamku dalam hati, “aku siap mengemban amanah mulia yang telah kamu sampaikan itu. Kusambut jalan itu. Aku siap bergabung dengan jundullah- Muamalah jundullah yang merelakan seluruh hidup mereka untuk tegaknya ayat-ayat Tuhan di atas bumi.”

  24. 1/ 44/ 43 DENGAN mengenakan jubah besar warna Muamalah panjang, aku mengikuti prosesi pembaiatan. Aku dijemput Mas Dahiri di Fakultas Hukum dan bertemu dengan beberapa ikhwan.

  25. 1/ 46/ 45 Dan hari Kamis ini puncak screening itu.

  Hari di mana aku akan diambil sumpah. Hari ketika aku sedang tunaikan puasa sunat Senin Kamis. Hari ketika aku bayangkan diri Ibadah seperti di komunitas Nabi yang dikelilingi sahabat-sahabatnya kala membaiat mereka sadar memeluk Islam secara kaffah. 26. 1/ 47/ 46 Aku berhadapan dengan Mas Sugi. Yang lain-lain duduk merapat di dinding. Hanya dalam tempo perbincangan singkat itu aku sudah rasakan ketertarikan yang sangat dengan Mas Sugi. Wuihh, bukan main retorika orang ini. Ucapan-ucapannya tertata Muamalah serupa teks tertulis. Juga sangat tajam. Mungkin yang diajarkan gerakan ini adalah salah satunya mahir berkata-kata sebab kata- kata itu memicu orang lain untuk tertarik dengan ajaran jemaah ini. 27. 1/ 47/ 47 “Maksud kamu ke sini untuk apa?” tanya

  Mas Sugi dengan gelombang suara teratur dan mantap. Dan aku pun menjawab standar, bahwa aku ingin berdakwah, aku ingin Muamalah berjuang menyelamatkan akidah umat Islam dan ikut serta memerjuangkan lahirnya Daulah Islamiyah di Indonesia. 28. 1/ 50/

  49 Katanya lagi kepadaku, “Mbak Kiran, sekarang Mbak adalah saudara saya adalah darah daging saya. Barangsiapa yang melukai Mbak Kiran, saya juga turut terluka. Dan seterusnya Mbak Kiran bisa melindungi saudara Mbak Kiran sendiri. Harus bisa melindungi saudara-saudara Mbak Kiran. Muamalah Kini Mbak Kiran sudah resmi berhijrah sebagaimana Allah berfirman: ‘Dan orang- orang yang beriman, dan hijrah, dan bersungguh-sungguh (pada jalan Allah) bersama-sama kamu; mereka itulah termasuk golonganmu (umat Muhammad).’”

  29. 1/ 50/ 50 Aku pun hanya mengangguk tanda takzim.

  Setelah dibaiat dan dibacakan hak dan kewajiban warga negara Islam Indonesia, Muamalah aku pun dioper ke Pos di mana biasanya para ukhti berkumpul. Di sana aku ukhti yang bernama Auliah. Ketika pertama kali bertemu dengannya, berloncatan kesan dibenakku, wah cantik juga ini perempuan, suaranya lembut, aura dari wajahnya meronakan kesejukan. Aku kagum. Ia sangat perhatian. Kuliah di Kampus Ungu. Tubuhnya kecil. Motif roknya bunga-bunga. Bagus. 30. 1/ 51/ 51 Di PONDOK, setelah prosesi pembaiatan usai, aku benar-benar menjalani kehidupan sufi. Ya, aku menjalani ritus sufi setelah hijrahku dari Mekah ke Medinah, yakni Ibadah usaha-usaha membangun pemerintahan Islam yang diwujudkan dalam bentuk daulah. Dalam bentuk negara. 31. 1/ 51/ 52 Aku yakin bahwa ini benar-benar perjuangan dan aku benar-benar telah masuk Islam kembali. Hakikat seorang hamba adalah mengabdi. Tiap hari aku shaum, aku puasa. Aku bahkan tidak lagi mengonsumsi nasi dan daging. Kalau buka, aku hanya buka dengan Ibadah roti tawar dicampur mesis, blueband, dan susu. Lauknya juga begitu, aku makan satu dua heai roti. Tiap hari demikian. Begitu sederhananya aku memahami kehidupan kaum sufi. 32. 1/ 52/ 53 Suatu hari seorang santri pria yang juga mahasiswa Kampus Jaket Biru membelikanku ayam bakar untuk berbuka karena dia tahu bahwa aku suka puasa tiap hari. Dan ia pun tahu bahwa aku hanya makan roti tawar. Karena ia tahu hidupku seperti itu, ia pun mengutus seorang temannya untuk membelikanku ayam bakar. Muamalah “Kiran, ini ayam bakar. Dari Mas Afif. Katanya, selamat ulang tahun.” Dan bukan Cuma ayam bakar ia belikan, tapi terkadang juga sate. Dan aku dengan senang hati menerima pemberiannya, walaupun dalam hati aku merasakan: biasanya kalau ada cowok yang suka memberi, itu ada maunya. 33. 1/ 53/ 55 Aku merasakan, perjalananku, safari beragamaku akhir-akhir ini benar-benar terasa indah. Terasa teduh. Aku merasa bahwa jalan hidupku benar-benar mendapat Ibadah limpahan kekuatan langsung dari Allah.

hingga isya menjelang. Setelah isya salat lagi, terus mengaji hingga capek. Kalau mau tidur, aku zikir hingga mataku sembab oleh tangis pertaubatan dan derai-derai syukur yang terus mengiring dalam hatiku. Dan aku benar-benar sadar bahwa aku adalah hamba yang tak punya arti di hadapan Allah. 34. 1/ 54/ 58 TIDAK main-main aku mempersiapkan diri untuk memasuki ajang dakwah yang sesungguhnya. Hatiku kuasah sedemikian rupa dan aku berusaha untuk selesai dengan

  Muamalah diriku sendiri sebelum aku mendakwahi dan mengajak orang lain untuk berhijrah dan paham agama lamanya. Dan saatnya sekarang aku berdakwah. 35. 2/ 58/ 65 Hari-hariku di Pos Jemaah kuhabiskan untuk membaca; membaca apa saja yang ada di

  Pos. Majalah, buletin, brosur, buku. Tapi yang paling kusenangi adalah sebuah dokumen tua tentang sejarah perjuangan umat Islam Indonesia yang disusun oleh Eyang Wirjo. Dari Mbak Auliah kutahu bahwa dokumen tua itu ada di setiap pos Muamalah yang merupakan bacaan wajib kader Jemaah yang ingin mengetahui sejarah umat Islam di Indonesia. “Dokumen itu sangat rahasia. Tidak boleh jatuh ke tangan pemerintah kafir Indonesia. Kita bisa hancur kalau itu terjadi,” kata Mbak Auliah dengan paras serius sungguh. 36. 2/ 59/

  67 Khatam juga aku membacai dan memahaminya. Lalu apa lagi yang akan kulakukan? Aku ingin sekali berdiskusi dan bertukar pikir, tapi dengan siapa. Sepertinya orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri-

  Ibadah sendiri. Karena tidak ada diskusi yang intensif, aku pun memperkuat ibadahku— tepatnya mempertahankan prestasi ibadah yang telah kucapai sebelumnya di Pondok Ki Ageng. Begitu setiap harinya.

  37. 2/ 59/

  68 Dibandingkan dengan ritualku, ritual keagamaan mereka itu tak ada apa-apanya.

  Ini bukan riya atau pamer. Tidak. Tapi mata kepalaku sendiri melihat bahwa aktivitas Ibadah mereka tidak sebagaimana tentara Allah yang hendak menyambut syahid di medan berjemaah. Kalau waktunya sudah datang mereka langsung mengisi saf-saf salat. Terutama kalau salat subuh. Kata Mbak Auliah, tradisi itu sudah dipupuk sebelum- belumnya. Karena itu akan ada rasa sesal di hati kalau ketinggalan berjemaah. Jadi, mereka selalu tepat waktu. Terus habis magrib pada baca Quran. 38. 2/ 60/ 69 Tapi secara keseluruhan, yang kulihat di Pos kami, para ukhti itu amat jarang berdakwah.

  Seperti ada yang mereka takutkan. Hanya satu-dua orang yang berdakwah. Setahuku, aku yang paling keras berdakwah menggaet satu dua tiga orang di Kampus Barek yang umumnya ukhti. Dan kurasai pula infak yang kuberikan juga sudah cukup banyak. Aku Muamalah harus mengeluarkan uang paling minim 500 ribu setiap minggunya untuk kas perjuangan. Dan uang itu kuperoleh dari kantong kakakku di luar negeri dan kedua orang tuaku dengan alasan untuk membayar uang kuliah, uang semester, uang buku, dan sebagainya. 39. 2/ 63/ 75 Berselang beberapa hari aku diizinkan untuk berkenalan dengan anggota Jemaah secara agak luas. Maka beberapa kali, saban sore, aku bertemu dengan tamu-tamu ikhwan dan salah satunya adalah komandan yang kedudukannya tinggi. Namanya Komandan Sardi. Dia sudah berkeluarga, tampak agak tua, dan alumni Kampus Putih. Sebagaimana Mas Sugi, kepala Komandemen Kecamatan

  Muamalah ini cara berbicaranya juga sangat fasih. Sepenuturan Mbak Auliah, Komandan Sardi adalah salah satu ikhwan yang dituakan dalam jemaah kami ini. Dari dia aku mencoba menanyakan soal politik lembaga, tapi dia hanya menyambar hal-hal yang bersifat umum: tentang adanya ancaman Amerika dan sekutu-sekutunya atas Indonesia belakangan.

  40. 2/ 66/

  79 Dan Ukhti Salimah hanya diam dan meninggalkanku sendirian di ruang depan.

  Ya, Allah, santai beginikah perjuangan suci dan sangat subversif ini. Kalau ada orang Muamalah didakwahi ya didakwahi. Kalau tidak, ya telenovela. 41. 2/ 66/ 80 BERSAMAAN dengan selesainya kuliah D-

  3-ku di Kampus Barek jurusan Pariwisata, aku mendaftar ke Kampus Matahari Terbit dan diterima di jurusan Hubungan Internasional. Aku kebelet sekali masuk jurusan itu karena aku ingin belajar politik internasional yang membuat cakrawala Muamalah pemikiranku tidak hanya berkutat dalam tempurung nasion Indonesia yang sempit ini. Karena kampusku yang baru ini berada jauh di selatan Yogyakarta, maka aku dianjurkan untuk pindah Pos. Aku pun dioper ke pos yang terletak di wilayah Gamping. 42. 2/ 67/ 81 Yang kuarasakan di Pos Gamping ini lebih parah dari Pos kaliurang. Di Pos yang lama aku masih merasakan sekali-dua kali dialog tentang perjuangan Islam, membahas ayat- ayat, sejarah Rasulullah, perkembangan Islam sampai sekarang. Kalau kami ketemu

  Muamalah biasanya yang kami bicarakan bagaimana pengalaman ibadah, bagaiamana pengalaman dakwah; pendeknya semua tentang Islam, walaupun tidak seintens dan seghirah yang kubayangkan sebelum pindah dari Pondok Ki Ageng. 43. 2/ 68/

  85 Hal yang kulakukan untuk menutupi kegugupanku dalam lingkungan baru yang sama sekali jauh dari anganku itu ialah kupaksakan diri untuk menyuntuki membaca buku-buku tentang Jemaah ini: sejarah dan kontroversinya. Di tengah tak ada teman

  Muamalah diskusi yang berbagi informasi dan pengetahuan, bukulah yang menjadi pertahanan terakhirku untuk mendapatkan setitik tahu tentang Jemaah ini. Juga isu-isu kontemporer menyangkut penegakan syariat Islam. 44. 2/ 69/

  86 Tapi setelah semua itu, setelah semua kubacai, kuselami, aku pun kembali sepi, kembali sendirian. Nelangsa tidak tahu harus berbuat apa. Ya Allah, ini bagaimana, betapa aku rindu hadirnya sahabat diskusi yang

  Muamalah memadai dan cukup kompeten kuajak

  sharing ide dan menampung tanyaku. Ah,

  betapa tak kutemukan lagi sosok-sosok

  45. 2/ 72/ 91 “Pemahaman kita tentang Islam itu begitu sedikitnya. Alangkah menyenangkannya bila banyak orang yang mau belajar tentang Islam. Aku membuka diri kok untuk itu.

  Muamalah Silahkan kalau ada yang mau ingin tahu. Kita bisa berdiskusi bersama. Kita mencari Islam.

  Kita tidak usah setengah-setengah dalam ber- Islam.” 46 2/ 73/ 93 “Kak Kiran, syariat Islam itu apa?” tanya salah seorang ukhti yang memang dari pancaran matanya yang kecil terlihat memiliki keingintahuan yang lebih. Kurasa- rasai, ia mirip sekali denganku ketika Muamalah pertama kai mendapatkan hal-hal yang baru. Kepadanya dan kepada yang lain-lain kuterangkan apa arti syariat itu sendiri, pengertiannya yang elementer. 47. 2/ 73/ 94 “Secara bahasa,” terangku, “syariat bisa diartikan sebagai sumber air minum atau juga jalan lurus. Namun secara istilah, syariat merupakan semesta perundang-undangan yang diturunkan Allah lewat Rasulullah untuk seluruh umat manusia tanpa kecuali baik itu masalah ibadah, akhlak, sandang,

  Muamalah pangan, atau segala aktivitas muamalah. Semua itu untuk membahagiakan lahir-batin kehidupan manusia, baik ketika kita masih hidup di dunia ini maupun kehidupan di akhirat kelak. Jadi, syariat itu bisa dirumuskan begini: from Allah, by people,

  for all of the world.

  48. 2/ 74/ 95 “Karena itu, apa saja hukum yang digali dari sumber-sumber hukum Islam bisa digolongkan sebagai hukum syariat. Jadi sudah jelas, syariat bukan hanya soal rajam bagi pezina, potong tangan bagi maling, atau Muamalah segala hal yang sifatnya kriminil atau apa yang diistilahkan hudud; tapi juga semua aturan yang mengatur semua aspek kehidupan manusia.”

  49. 2/ 74/ 96 “Nah, untuk menegakkan semua itu bagaimana? Di sinilah perlunya kalian kukumpulkan, kuseru-seru agar sadar memikul tugas penegakan itu. Kutegaskan

  Muamalah sekarang,” wajahku kudekatkan pada barisan mereka yang duduk melingkar dan suaraku semua mesti tahu bahwa tak akan pernah ada kemuliaan kecuali dengan Islam, dan tak ada Islam kecuali dengan syariat dan tidak ada syariat kecuali dengan adanya DAULAH.”

  50. 2/ 75/ 98 Kujenterahkan sedemikian rupa bahwa ketika orang masuk Jemaah, seolah-olah mereka tahu bahwa kewajiban mereka adalah menyebarkan ajaran untuk seluruh umat

  Muamalah manusia, siapa pun dan apa pun risikonya. Karena tampak meyakinkan, satu per satu mereka masuk tanpa harus melewati prosedur yang bertele-tele. 51. 2/ 76/ 100 Jemaah inilah yang paling awal memiliki komitmen yang kukuh itu. Konsep daulah paling pertama proklamasi itulah Negara Islam, yakni sistem kekhalifahan. Kulihat kedua orangtuaku dan dua saudaraku hanya manggut-manggut membenarkan dan menerima apa yang kujelaskan. Bahkan

  Muamalah bapakku bercerita sendiri bahwa ia pernah dengar nama Eyang Wirjo. Setahunya, Eyang Wirjo adalah orang yang ingin menjadikan seluruh sendi kehidupan ini Islami. Bahkan seingatnya, Eyang Wiryo itu punya kesaktian karena ketika dibom Belanda, dia tidak apa-apa. 52. 2/ 76/ 101 “Untuk menyelamatkan dari kemusyrikan, kita semua harus berhijrah pada negara Islam tersebut dan menerjunkan diri dalam perjuangan mendirikan negara Islam dalam sebuah pan-Islamisme yang terpisah dari negara kufur seperti Republik Indonesia ini.

  Selama kita mengaku Islam tapi belum Muamalah tunduk pada hukum-hukum Islam maka keislaman kita batal dan syirik, mencampurkan ketaatan pada Al-Quran, pada Allah, dengan ketaatan pada UUD dan pancasila,” tegasku dalam pertemuan keluarga itu. 53. 2/ 77/ 103 Maka tugasku kini adalah bolak-balik

  Yogyakarta-kampung halaman untuk mengurusi prosesi pembaiatan. Seperhitunganku, jumlah mereka yang

  Muamalah kubawa satu per satu turun ke Yogyakarta adalah sekitar 16 orang dengan perincian: 8 akhwat 8 ikhwan. Setelah baiat, satu per satu kusuruh melihat dan membacanya agar pemahaman mereka lebih kukuh dan semoga saja mereka kuat menahan resiko memilih masuk Jemaah. 54. 2/ 78/ 104 Kutekan-tekankan lagi kepada mereka bahwa kampung harus segera diselamatkan. Dan keinginan mereka sama: menjadikan kampung sebagai basis pergerakan dan itu di mulai dari bawah. Untuk pendanaan gerakan, mereka kuminta memberikan infak setiap minggunya. Dana infak itu lalu kuberikan ke

  Muamalah tingkat komandemen berikutnya. Dan setelah itu aku tak tahu kemana infak itu berdiam. Tapi kuyakinkan kepada mereka bahwa tak usah khawatir infak itu disalahgunakan.

  Infak itu akan digunakan untuk penyebaran jaringan nasional agar gerakan ini bisa menyebar secara massif. 55. 2/ 81/ 110 Kampung miskin itu, orang-orang miskin itu mengusirku, mengusir anak kandung mereka sendiri, hanya lantaran aku coba meluruskan akidah mereka yang jelas-jelas kafir dan terpengaruh dengan ajaran-ajaran klenik, Muamalah ajaran-ajaran bid’ah yang menyesatkan. Aku tahu, aku gagal. Aku tersandung. Tapi tidak apa, aku sudah memulainya. Sakit hati karena kegagalan itu masih menyisa. 56. 2/ 81/ 111 KARENA peristiwa itu, oleh petinggi- petinggi Jemaah, aku diungsikan untuk sementara dari Pos Gamping. Mereka khawatir sejak adanya penangkapan itu pasti aparat keamanan akan mengembangkan pencarian siapa sebetulnya yang menjadi

  Muamalah akar dari Jemaah ini. Dan orang kampung amat tahu, akulah yang jadi biang-kerok. Dan itu berbahaya ketika polisi mengejar aku dan anggota-anggota Jemaah yang lebih luas.

  Maka aku pun ikhlas pindah dan tinggal di kos. 57. 4/ 97/ 115 Aku, Nidah Kirani, yang sehari-seharinya bergiat dan berjuang untuk berdakwah demi usungan cita tegaknya syariat Islam di Indonesia, kini harus meringkuk di kamar gamang seperti unta padang pasir yang sakit. Muamalah Nidah Kirani, yang dulu gagah menarik orang-orang untuk bergabung menyatukan pimpinan seorang khalifah agung, harus pasrah madah seperti orang yang baru saja kehilangan kekuasaannya. 58. 4/ 111/ 141 Dan tak sadar kepalaku sudah terantuk-antuk menahan kantuk di sisian Hudan di atas teritis jalan Malioboro setelah hampir separuh malam aku terus berceloteh apa saja Muamalah kepada Hudan, terutama tentang keyakinan dan eksistensi seorang manusia dalam mengarungi hidupnya. 59. 8/ 193/ 147 DI JALANAN Malioboro pulalah aku mengenal seorang pemuda bernama Didi Eka

  Tanjung. Proses perkenalanku dengannya sangat sederhana lewat jasa seorang anak Muamalah jalanan. “Kiran, ini kenalin anak Kampus matahari Terbit. Sekampus denganmu.” Didi sempat terpesona melihatku. 60. 8/ 195/ 151 Maka usai pertemuan dengan Midas itu, aku pun mulai menghindar bertemu dengan Didi dan bergabung dengan anak-anak jalanan lain yang tak punya keinginan untuk menguasai lebih jauh atas tubuhku. Jalanan adalah tempat terbaikku, sebab aku tak tahan terkurung dalam empat dinding kamar dan

  Muamalah rangkulan posesif lelaki seperti Didi. Dan di jalanan tanpa Didi, rasa absurd itu memudar. Hidup seperti melayang. Aku seperti manusia tanpa dibebani rasa dosa, segala petuah kewajiban agama, janji-janji surga dan neraka. Di jalanan bersama anak-anak itu aku merasa seperti manusia yang bebas. 61. 8/ 195/ 152 TERNYATA Didi membawa bencana bagiku. Dia ngotot untuk minta nikah.

  Padahal aku adalah perempuan yang berpetualang dari pelukan laki-laki yang satu ke laki-laki yang lain; yang bekerja sekuat-

  Muamalah kuatnya mengungkap harga diri yang busuk dari lelaki sebanyak-banyaknya yang aku bisa. Nikah itu hanya sekat untuk kita berekspresi setotal-totalnya, semau-maunya. Hanya sekat. Dan aku tak mau menikah. 62. 8/ 197/ 154 Nikah katanya. Huh, nikah adalah ide paling aneh yang pernah kutahu. Tidak, nikah bagiku tak lain adalah pembirokrasian ego negatif dari cinta, yakni ego kepemilikan Muamalah total yang berarti sebuah energi cinta yang energi ini akan terus memroduksi energi baru untuk sebuah keinginan yang semakin menguat akan suatu sensasi baru. Juga menuntut untuk dituntaskan sebagaimana konsep perulangan-perulangan dalam kehidupan ini. 63. 8/ 197/ 155 Persetan dengan nikah! Pernikahan merupakan pengebirian kedirian manusia karena ia mengabdikan ketergantungan seorang perempuan, si lemah, kepada lakinya. Dan dominasi itu secara nyata dan cantik difasilitasi oleh tradisi. Perempuan

  Muamalah pun akhirnya berhasil dirumahkan dan tersingkirkan dari gelombang kehidupan sehingga posisinya semakin termarginalkan.

  Ia menjadi sangat jinak seperti kucing rumahan yang tak mengenali arus kehidupan ―apalagi mengendalikannya. 64. 8/ 198/ 156 Tidak, pernikahan itu adalah konsep aneh, sangat aneh, dan menurutku mengerikan untuk bisa kupercaya. Sejak aku di barisan Jemaah pun, ritual pernikahan sudah demikian menggangguku. Bayangkan, waktu itu, mereka hanya sibuk menikah dan lupa Muamalah pada perjuangan. Dan ternyata, kini, semuanya telah menjadi omong-kosong. Semuanya melebur dalam kehancuran. Aku tak percaya lagi dua-duanya: tidak perjuangan, apalagi nikah. Hah!!!

  65. 8/ 199/ 157 Pernikahan adalah penggantungan diri seorang perempuan. Di sana ada perbudakan.

  Ketika nikah, seorang perempuan telah menjadi pembantu. Bayangkan saja, dia hanya dihargai 100 ribu untuk dipakai seumur hidup. Begitu murahnya. Nikah telah menjadikan perempuan kehilangan

  Muamalah kekuasaan, kehilangan kemandirian. Tak lagi punya daya tawar dan ketika cerai dia hanya bisa menangis menafakuri nasibnya yang tak berdaya. Dan aku tak mau digantung lelaki, dijadikannya pembantu, dan juga aku tak mau rahimku penampung spermanya. Nikah hanyalah seks yang dilegalisasi.

  66. 8/ 200/ 161 Tapi dugaanku meleset. Tak berapa lama, uang nikah pun datang ke rumahku. Wah, betapa kagetnya aku. Lelaki ini rupanya tidak main-main. Aku bingung. Aku kelabakan. Bajingan, uang nikah sudah Muamalah dikirim dan sudah ada di Yogyakarta. Orangtuaku pun sudah tahu karena dia datang ke Wonosari meminangku dengan baik-baik. 67. 8/ 201/ 164 Beberapa hari kemudian Didi mengontakku.

  Bisikku dalam hati, apa lagi yang dimaui laki-laki ini. Kutimbang-timbang, haruskah aku menemuinya? Tapi aku luluh juga dan Muamalah berencana ke kosnya. Tapi sorenya aku memberitahu Fuad Kumala bahwa nanti malam aku hendak ke tempat Didi. 68. 8/ 201/ 165 Berangkatlah aku sendiri dengan naik taksi.

  Di jalan aku coba menduga-duga: jangan- jangan Didi sudah berubah. Lagi pula dia baru saja pulang dari kampung halamannya. Muamalah Siapa tahu ide gilanya menikah sudah ikut tercecer di jalanan sepanjang lintas Sumatera-Yogyakarta. 69. 8/ 202/ 168 “Did, apa sih maumu. Mengapa aku kau perlakukan seperti seorang kriminil? Aku tak mau menikah denganmu. Apa lagi yang harus kukatakan. Bukankah aku sudah mengutarakan alasanku semua-muanya mengapa aku tak mau menikah. Aku tidak Muamalah mempermainkanmu. Karena… karena memang pada awalnya aku memang tidak mau menikah. Lalu aku mau apa lagi. Penjelasan apa lagi yang kau inginkan dariku.”

  Jumlah

  69 Frekuensi

  Tabel 14 Rincian Kategorisasi Pesan Akhlak Sub Judul/

No. Hal/ Paragraf Keterangan

Paragraf

  1. 1/ 23/ 1 MASJID Tabiyah Yogyakarta di pagi hari.

  Aku baru saja turun dari bus kota ketika di hamparan halaman-halamannya yang luas dan berdebu kulihat perempuan-perempuan berjubah besar berjalan berombongan menuju pelataran masjid. Wajah-wajah mereka menunduk seperti sedang menghitung langkah-langkah amalan ibadah. Entahlah, sebab itu hanya kelebatan sangkaku saja. Rahmi, kawan sejalanku di Mahmudah pondok, juga berjalan seperti itu, menunudukkan wajah ke tanah memandangi debu-debu yang beterbangan dan menempel di serat-serat kaos kaki dan ujung jubah. Karena berjalan nyaris tanpa suara, aku pun hanya bisa mengikuti, ya aku mengikuti suasana yang sama sekali jauh dari lingkungan yang pernah membesarkanku. Sebuah suasana yang tampak asing. 2. 1/ 26/ 7 Pengajian belum dimulai. Aku merasa seperti berada di ruang kedap dosa yang disekat oleh hijab di samping kanan dan depan. Tidak ada pemandangan yang bisa dilihat selain tembok putih masjid dan kain- kain jubah yang dikenakan oleh jemaah pengajian, dan tentu saja bentangan kain hijab yang tingginya semeter itu. Anehnya, sinar matahari pagi yang garang berdesakan masuk dan menusuk dari setiap celah tembok depan tak sedikit pun kurasai panas. Betapa tidak, sebelum-belumnya kurasai Mahmudah kalau sudah digarangi oleh matahari yang demikian panas, aku langsung melompat dan mencari rindangan. Tapi kini tidak. Sedikit pun aku tidak bersijingkat dari tempat di mana aku digarangi begitu hebat oleh matahari. Aku tetap duduk tenang seperti tak merasakan apa-apa selain kedamaian abadi. Coba kudongakkan sedikit wajahku yang sedari tadi terus menafakuri lantai dan sedari tadi aku belum melihat wajah mereka. Dan memang itu tidak memungkinkan, sebab pintu masuknya berbeda. Yang terdengar hanya suara bisikan mereka di depan dan di kanan. Dugaku, tentu saja lanskap masjid ini sudah diatur sedemikian rupa agar zina mata antara ikhwan dan akhwat tidak terjadi. Zina mata tidak boleh. Kata Rahmi, Allah melarang perbuatan itu karena itulah yang menjadi mula terbukanya zina yang lebih besar, yakni zina tubuh. 3. 1/ 27/ 8 Tak lama kemudian terdengarlah salam dari

  soundsystem yang bunyinya agak serak dan

  tampak memekakkan telinga. Tapi lupakan soal suara lengkingan buruk itu. Sebab ada suara yang lebih santun melantun memenuhi pelataran masjid. Suara seorang ikhwan. Mahmudah Begitu sopan ia berbicara. Begitu perlahan. Mendengar itu aku membenarkan semua kata-kata Rahmi bahwa di kelompok pengajiannya, hati diasah dalam ketenteraman. 4. 1/ 29/ 12 Sepulang dari Kampus Barek, kudapatkan kamar putri sepi. Hanya ada satu orang di ranjang ujung, tiduran sambil baca buku.

  Madzmumah Sepertinya komik. Kutanyai dia, pada di mana yang lain. Ia hanya angkat bahu tanda tak mengerti.

  5. 1/ 31/ 15 Dan kini aku seperti sendiri di kamar ini.

  Aku tahu yang berlima di sini tidak bisa menggantikan Rahmi. Aku tidak suka dengan mereka. Judes dan santri yang malas beribadah. Kesukaan mereka adalah adalah

  Madzmumah menggunjing orang lain dan mulut mereka dipenuhi oleh kekotoran. Apa mereka tidak tahu bahwa menggunjing adalah perbuatan yang dilarang dan merusak hati serta kekhusukan ibadah.

  6. 1/ 35/

  23 Sinar matahari memasak kulitku yang berada dalam balutan jubah. Debu jalanan Kaliurang mengamuk dan menghambur ke udara lalu mendarat di jilbab dan menjilati permukaan halus kulit tanganku yang tak

  Mahmudah bersarung. Betapa gerahnya siang itu ketika kulihat Mas Dahiri duduk terpekur di emperan Masjid Tarbiyah di selatan

  7. 1/ 36/ 24 “Tidak apa Kiran,” katanya kalem dan kulihat wajahnya basah dan air menitik-nitik dari dagunya. Naga-naganya ia selesai salat. Aku tak berani menginjakkan kaki dipelataran masjid suci itu karena aku lagi “datang bulan”. Kata seorang pembicara soal fikih yang kudengar dari masjid ini bahwa perempuan haid adalah najis, maka najis pula semua yang diinjaknya. Aku tak tahu

  Mahmudah mengapa begitu karena memang aku tak mengerti. Karena tak mengerti, maka kuikuti saja, siapa tahu betul. Bukankah kita beragama harus tunduk dan pasrah, termasuk pada aturan-aturan agama? Dan aku memang mematuhi untuk tidak secuil pun menginjak lantai masjid. Dan duduklah aku di pinggir selasar yang jaraknya tiga tongkat dari Dahiri.

  8. 1/ 40/ 33 Sekali dua kali ku keluhkan keraguanku itu kepada Mas Dahiri dan ia menyambut keluhanku itu dengan kata-kata dan sebarisan ayat-ayat suci. Ia buru aku dengan doktrin yang sungguh-sungguh meyakinkan. Dan aku lagi-lagi terkapar dibuatnya. Imanku mengatakan bahwa apa yang ia katakan benar dan murni, sebuah cita-cita Mahmudah yang sungguh mulia. Dan aku pun secara spontan mengatakan bergabung. Tapi ia menahannya dan kembali membingungkanku: “Jangan dulu. Pikirkanlah masak-masak. Sebab yang dibutuhkan adalah orang-orang yang total berjalan di garis dakwah.”

  9. 1/ 42/ 39 Tapi atas segala kehambaan itu aku pun digunjingi hanya karena jilbabku besar.

  Bahkan ada yang bilang: “Tuh liat, tekstil jalan.” Tapi aku menunduk saja, menunduk, dan menunduk, sebagaimana Rasul pernah mengajarkan. Salahkah aku berpakaian

  Mahmudah demikian? Bukankah aku hanya menuruti perintah Allah dalam Alquran surah An- Nuur ayat 31 yang memerintahkan agar menutup aurat serapat-rapatnya. Salahkah aku berpakaian yang demikian dan mengurangi aktivitas keduniawian?

  10. 1/ 43/

  40 Kudengar pula bisik-bisik yang tak tapi juga santri-santri di seisi Pondok ini, hanya karena aku sudah enggan keluar rumah. 11. 1/ 43/ 41 Isu lain yang tak kalah menyakitkan ialah aku dikatai menentang para kyai, menjelek- jelekkan kyai. Kejamnya isu itu. Mereka katai aku menjelekkan dan membangkangi kyai hanya karena aku enggan salat berjamaah dan mengikuti pengajian rutin yang diselenggarakan di Pondok. Gunjingan itu, terang kukatakan, menggerahkanku.

  Madzmumah Sudah panas betul rasanya hatiku. Aku begitu sadar mendapat intrik dan cibiran yang demikian itu. Tapi ketika kemarahan itu datang, sebuah suara membisiki dari pedalamanku bahwa segala cibiran, segala intrik adalah cobaan dan ujian dari-Nya sebelum aku menapaki jalan dakwah yang luar biasa mulianya nanti.

  12. 1/ 52/ 54 Tapi aku diberi dan aku menerima saja. Dan aku menjauhkan buruk sangka yang tak beralasan atas orang lain. Aku tak mau ber-

  suudzon , berburuk sangka. Itu dosa. Hanya Mahmudah

  menambah-nambah dosa. Dan aku tak mau itu merintangiku menempuh jalan awal menjadi muslim yang sejati-jatinya. 13. 1/ 54/

  56 Pergaulanku dengan santri-santri pondok pun lamat-lamat mulai tertutup. Terutama dengan santri cowoknya. Kalau santri cewek

  Madzmumah tidak. Walaupun ada beberapa orang yang memang sadis denganku, beberapa orang yang pembawaannya agak ketus.

  14. 1/ 55/ 59 Yang pertama kucari adalah orang-orang di sekitar Pondok. Kulihat ada seorang perempuan yang pakaiannya hampir sama denganku: sama-sama besar dan gombrang. Madzmumah Tapi bukan sambutan yang kudapat, tapi usiran. Ternyata ukhti ini adalah seorang salaf. 15. 1/ 55/ 60 Dia menolak terus sembari memohon.

  Karena didorong rasa penasaran, aku mengupulkan informasi kepada beberapa teman putri yang mau berbagi, terutama yang belajar di Kampus Biru. Dari Madzmumah merekalah aku kemudian tahu duduk soal mengapa dia mengusirku. Rupa-rupanya ia bentak. Dia tidak tahu, bahwa aku gerah juga diusir seperti itu. 16. 1/ 55/ 61 Gagal dengan ukhti salaf itu, kudekati yang lainnya. Setiap sore aku mengajak orang untuk berdiskusi. Tapi aku merasakan ada gap yang cukup lebar antara aku dengan Madzmumah santri-santri Pondok. Atau karena jilbab dan jubahku terlalu kebesaran lantas mereka takut atau risih berada di sampingku. 17. 1/ 56/ 62 Tiga bulan aku berdakwah di Pondok, tapi hasilnya tetap nihil. Kuakui, gerakku di pondok tidak leluasa. Sebab sejak awal aku

  Madzmumah memang sudah tak disukai. Maka aku pun memantapkan diri meninggalkan Pondok Ki Ageng dan menuju Pos Jemaah.

  18. 2/ 57/

  63 POS Jemaah itu terletak di sekitar kampusku, Kampus Barek atau di utara Kampus Biru. Tepatnya di Kaliurang. Ada empat kamar yang memanjang ke belakang. Ada juga ruangan khusus salat dan ruang tamu. Kamar mandinya dua. Yang paling ramai biasanya sore atau malam hari di ruang tamu itu. Bukan karena di sana ada televisi, tapi tamu ikhwan kerap berkunjung Madzmumah pada jam-jam itu. Dan tahukah kalian, bahwa ukhti-ukhti jemaah ini paling senang dikunjungi ikhwan, walau para ikhwan tak bisa menangkap rasa gembira itu. Ah begitulah para ukhti, mereka sanggup menutupi dan meredam perasaan gembira yang bergolak-golak ketika dikunjungi ikhwan. 19. 2/ 57/ 64 Aku ditempatkan di kamar Mbak Auliah, yang memang menjadi tentorku sebagaimana rekomendasi awal setelah pembaiatan. Bagiku, Mbak Auliah sudah seperti ibuku sendiri. Kalau aku capek ia dengan senang hati memijiti punggungku. Begitu pula kalau aku ada masalah, dialah Mahmudah yang dengan sabar mendengarkanku mengeluhkan kesah. Tapi kelemahannya cuma satu: kalau kudebat dia tidak bisa menjawab. Padahal aku orangnya seperti ini: suka bertanya atas sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui. 20. 2/ 58/

  66 Karena didorong oleh rasa penasaran kemerdekaan Republik, aku pun suntuk membacai dokumen tua itu. Malam- malamku kuhabiskan untuk membaca, mengaji, dan juga menghafal beberapa poin dari sejarah umat Islam Indonesia yang terluas di didalamnya. Dari situ pula aku menemui selembar dokumen pernyataan proklamasi berdirinya Daulah Islamiyah di Indonesia yang diserukan oleh Eyang Wirjo di Madinah-Indonesia. 21. 2/ 60/ 70 “Kita boleh berbohong, sepanjang itu berkaitan dengan kepentingan Islam dan kerahasiaan perjuangan. Bahkan boleh menipu, mencuri, merampok, menjual barang-barang pribadi, maupun melacur. Ini jihad dan bukan untuk foya-foya. Dan Allah

  Madzmumah Maha Tahu itu semua,” begitu aku seorang ustaz di Jemaahku sesaat aku dilantik.

  Walau aku sangat begidik waktu itu, toh kuterima juga dengan pasrah. Sebab anggapku ini perjuangan ini perjuangan mulia. 22. 2/ 61/ 72 Maka inilah pemandangan sehari-hari yang kulihat dalam Pos Jemaahku ini. Hampir setiap hari aku temukan kesantaian yang sangat dan bukan sosok-sosok yang bersiap- siap menyongsong kesyahidan. Situasi ini hampir tak ada beda dengan aktivitas para santri di Pondok Ki Ageng yang kutinggalkan karena aku tak dapatkan konsentrasi ibadah di sana. Berharap dapatkan suntikan semangat spiritual yang berlebih di sini, eh malahan yang

  Madzmumah kudapatkan adalah hal yang sama di Pondok. Maka menonton televisi adalah pekerjaan yang sangat rutin kulakukan. Apabila acara telenovela datang tiap sore menjelang magrib, kamar-kamar terbuka dan berduyun- duyunlah kami menonton dengan khusyuknya. Bahkan ada uhkti yang menggilai sepakbola. Kalau sudah ada sepakbola, dipastikan ia akan rela melek dan berteriak-teriak sendiri menyoraki gocekan bola pemain dari klub yang dikaguminya.

  23. 2/ 62/ 73 Belum lagi kalau walimahan, seisi Pos akan berpesta. Dan walimahan itu kerap terjadi Madzmumah memasaknya beramai-ramai. Menurut Mbak Auliah, sejak dulu Pos kami ini sering dipakai untuk acara walimahan. Di acara inilah aku mengakrabkan diri dengan para ikhwan dan bercanda bersama dengannya.

  24. 2/ 62/ 74 Sepertinya aku makin menjauh saja dari tradisi sufi yang kubangun dengan sangat payah dan sendiri kala aku masih tinggal di Pondok Ki Ageng. Dan aku tetap merasakan kesesakan hati. Tak ada lagi yang bisa diajak berdiskusi yang sehat. Kekagumanku kepada Mbak Auliah pun perlahan memudar.

  Madzmumah Ternyata ia bukan seorang ukhti Jemaah yang kuidealkan. Perhatiannya yang menyejukkan, penuh persaudaraan, dan sungguh-sungguh kepadaku, ternyata tidak dibarengi dengan keluasan wawasan dan kedalaman pikir untuk mengajarkan ilmu kepada yang lain.

  25. 2/ 64/

  76 Mungkin juga Komandan Sardi enggan menjawab setiap tanyaku karena pertanyaan itu nyerempet ke soal politik yang itu kalau tidak dijawab secara hati-hati akan Mahmudah menggoyahkan keselamatan gerakan Jemaah. Apalagi aku adalah kader termuda yang masih seumur jagung masuknya. 26. 2/ 64/ 77 Akhirnya, tradisi ibadah sufi yang kujalani selama di Pondok Ki Ageng itu rutuh satu demi satu. Reruntuhannya sempat kutimang dan kutangisi, tapi apa boleh buat, reruntuhan itu makin menumpuk dan bertambah hingga aku pun tak kuat, bosan, lalu membiarkannya meruntuh dan terus meruntuh. Pada akhirnya, ibadahku pun kembali merosot. Kalaupun aku terlihat

  Madzmumah menjalani ibadah, itu sekedar menjalani ritual keagamaan belaka. Tubuhku saja lenggak-lenggok menghadapi kiblat, namun hatiku tidak ikut dalam ritual itu. Aku sudah sebagaimana kebanyakan ibadah awam.

  Ibadah pun mulai malas. Sekali dua kali, ketika azan magrib sudah melantun, rasa kosong menghampiriku, hatiku nelangsa tak tahu hendak berbuat apa. 27. 2/ 65/ 78 Karena melihat situasi yang tidak mengenakkan itu, aku memberanikan protes

  Madzmumah perjuangan kayak bukan perjuangan. Santai- santai saja.” Tapi yang kuterima adalah sindiran dan pembelokan masalah

  ―bukan saja datang dari Ukhti Salimah, tapi juga Rahdina, Astuti

  ―yang menyindirku sebagai orang yang jarang silaturahmi kepada ukhti- ukhti yang sudah menikah. 28. 2/ 67/

  82 Tapi di sini, di pos baru ini, yang kudapatkan adalah kehidupan yang individualistik. Yang kudapatkan di sini adalah betapa kehidupan ukhti-ukhti di sini sangat matrealistik: yang mengagungkan pamer-pamer sesuatu yang sifatnya Madzmumah kebendaan, misalnya soal jubah baru, komputer termahal, dan sebagainya, ketimbang mempertajam visi perjuangan dengan jalan mengasah wawasan dengan ilmu dan diskusi. 29. 2/ 68/ 83 Tapi aku hanya seorang aktivis pemula, yang kerap pikirannya goyah oleh keadaan, terpengaruh juga akhirnya oleh lingkungan yang kurang kondusif untuk ibadah

  ―juga berdiskusi yang intens mempertajam wawasan. Dimulai dari salat tahajudku yang Madzmumah mulai bolong-bolong. Kemudian aku pun memiliki kebiasaan baru yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah kulakukan: menonton televisi hingga larut malam. Bahkan kadang lupa salat isya. 30. 2/ 68/

  84 Aku coba menerima dan sekuat-kuatnya meresapi. Aku redam pertanyaan-pertanyaan dan gugatan-gugatan itu. Dan aku berusaha Mahmudah untuk mengikuti semua irama dan aktivitas di sini. Aku ingin mengalir saja. 31. 2/ 71/ 89 Pengajian itu dibuka dengan pembacaan ayat suci Alquran yang kebetulan qariah yang

  Mahmudah ditunjuk membaca ayat-ayat awal surat Al- Baqarah. Aliflamim zalikalkitabulah…. 32. 2/ 72/ 92 Dan betul dugaanku, keterpanaan mereka melahirkan kepenasaranan. Buktinya, seusai acara itu satu dua tiga lima delapan remaja datang yang masih kebanyakan SMU itu ke rumah setiap sore atau malam. Mereka

  Madzmumah datang untuk berdiskusi untuk tahu Islam itu apa. Kata banyak ukhti, aku punya kekuatan argumentatif untuk menarik orang sehingga pengusaha sumber alam itu, punya “apa- apa” karena setiap orang yang ngomong sama dia pasti mengikuti. Dan benar, anak- anak remaja itu kucekoki dengan ajaran yang dibawa oleh Jemaahku selama ini. Yang kulakukan pertama kali adalah seperti yang dilakuakn oleh Mas Dahiri ketika aku pertama kali berkenalan dengan Jemaah, yakni pencabutan akar. Biasanya aku mulai dengan pertanyaan, “Kamu Islam?”

  33. 2/ 74/ 97 Aku buat mereka sekarat sebagaimana aku pernah sekarat didoktrin pada waktu awal- awal aku masuk. Ketika mereka terlihat

  Madzmumah goyah, ragu, dan bimbang, maka kurasukilah hati dan pikirannya dengan doktrin-doktrin Jemaah.

  34. 2/ 75/ 99 Melihat perilakuku begitu, ia terus bertanya dan penasaran, sebab sepengetahuannya selama ini aku dianggapnya badung, nakal,

  Mahmudah dan tidak suka dipaksa-paksa untuk salat ataupun mengaji. Mungkin pikirnya, aku sudah berubah.

  35. 2/ 78/ 105 Tapi sialnya, teror ini mula-mula sekali datangnya. Ketika usia masuk mereka masih dalam hitungan hari, mereka langsung dihadang teror. Padahal aku tahu persis, emosi gerakan mereka belum mantap betul letak duduknya ketika aparat kemanan dan pemerintah desa mencium langkah gerakan. Aku sebetulnya sudah mencium gelagat itu ketika tiap kali aku datang ke masjid, orang- orang pada menyingkir dan tak mau berdiri di sampingku untuk salat berjamaah. Puncak Madzmumah dari kemarahan warga itu adalah ketika Riana, seorang yang baru saja direkrut oleh asisten wilayah dakwahku di Komandemen Desa, pingsan ketika di kelasnya, seorang guru bercerita tentang sejarah Jemaah kami. Kata guru sejarah itu, kalau keluar dari Jemaah dibunuh, kalau di dalam bisa gila. Kader akhwatku itu langsung pingsan. Gempar! Akhirnya Teguh, asistenku, diculik polisi. 36. 2/ 79/ 106 Dan satu demi satu usaha-usaha yang kami lakukan terbongkar. Di keluarga Riana pun

  Madzmumah terbongkar sindikasi gerakan ketika perjuangan suci. Bukan tuduhan meminta- minta itu yang membuatku panik, tapi tuduhan subversif bahwa aku menjadi picu yang merusak otak anak-anak kampung untuk merebut negara yang sah, yang menyuruh orang untuk memberontak dan menurut mereka pemahaman agama seperti ini sangat berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari PKI. 37. 2/ 80/ 108 Tapi kampung bukannya semakin lama semakin mendingin, malahan makin mendidih, makin panas. Setiap anak diinterogasi. Ultimatum dikeluarkan dan bunyinya tidak main-main: kalau tidak keluar dari ajaran Nidah Kirani, maka statusnya sebagai anggota keluarga terhapus. Ketakutan mereka makin menjadi-jadi Madzmumah setelah tahu bahwa keluargaku pun ikut denganku. Spekulasi pun merebak, bahwa: kalau orangtua tak ikut masuk Jemaah, orangtua itu tidak diakui sebagai orangtua. Mereka tuduh ajaran yang kusebarkan itu sebagai sesat karena menganggap orang najis dan anjing semua. 38. 2/ 80/ 109 Sampai pada suatu malam di bulam

  Ramadan. Untunglah malam itu aku berada di Yogyakarta. Sebagaimana diceritakan oleh asistenku, isu beredar dengan cepat dan orang-orang kampung bersiap mengadiliku.

  Madzmumah Orang-orang sudah ramai berkumpul di pelataran masjid. “Sayang, si Kiran itu tidak datang,” umpat mereka kecewa dan bubar begitu saja setelah mengetahui bahwa aku tidak bakalan muncul.

  39. 4/ 98/ 116 Berkali-kali memang kuadukan geleparan siksa ini kepada beberapa pemuka agama yang kukenal. Tapi jawaban mereka segendang sepenarian: “Sabar Nak Kiran, Mahmudah sabar. Allah sedang mengujimu. Sebab untuk mematangkan iman, ia harus diuji terlebih dahulu. Sabar.”

  40. 4/ 98/ 117 Oh kakak-kakakku, oh Ibu, oh Bapak, aku telah menipu kalian. Telah kukuras semua harta untuk beri infak setiap minggunya. Kalian telah berpayah-payah bekerja dan Madzmumah hasil itu semua kukeruk. Untuk apa? Untuk

  41. 4/ 98/ 118 Dosakah aku? Ujiankah ini? Tapi, tapi, ah aku belum bisa terima kenyataan ini.

  Bagaimana bisa aku menerima ujian atau mungkin kutukan dari dosa yang tidak kulakukan. Aku tak merasa berlalu di atas dosa apa pula kesalahanku kepada umat? Bukankah aku bergiat untuk mengoreksi akidah umat? Aku masih yakin, akidah umat sungguh salah. Lalu apa dosaku? Apa salahku? Mengapa aku tiba-tiba dicampakkan begitu saja yang tak dinyana-

  Madzmumah nyana aku telah dapatkan diriku berada dalam kesunyian yang sia. Kalau memang jalan dakwah yang telah kuambil lewat salat istikharah salah, kenapa pula Tuhan tak mencegah orang-orang yang bergiat di Jemaah untuk tidak menyebarkan ajarannya dan malah aku yang harus disuruh bersabar, bersabar, dan imanku diuji. Bukan, bukan diuji, tapi disembelih dan kemudian dikerat- kerat. Huh, kenapa bukan dogma jemaah itu saja yang dihentikan. Dualisme macam apa ini?

  42. 4/ 99/ 119 Ataukah Tuhan tak punya kuasa sehingga sedikit pun tak sanggup menahan laju dogma-dogma itu? Atau mungkin Tuhan

  Madzmumah sudah begitu lemah dan para penyebar dogma itu terlalu meyakinkan untuk dihela dan diperlihatkan kekeliruannya?

  43. 4/ 99/ 120 Dan aku, aku disuruh oleh mereka bersabar...bersabar...dan bersabar coba, hanya aku disuruh mereka. Tapi mengapa mereka begitu sungkan untuk memberitahu

  Madzmumah Tuhan bahwa Ia dan segenap kekuasaan-Nya harus menyetop lalu-lintas dogma dari para pendakwah agama itu di tengah dunia manusia ini.

  44. 4/ 99/ 121 Oh, betapa alasanku hidup selama ini hanya dan hanya menghamba kepada tuhan, menyucikan diri, berjihad hidup demi

  Madzmumah tegaknya sebuah cita-cita. Tapi semua-mua keyakinan itu batal dan tersandung. Betapa kecewa dan patah hatinya aku kepada Tuhan yang merupa begini. 45. 4/ 100/ 122 “Tuhan, kenapa aku Kau perlakukan seperti ini. Kamu tahu betapa aku bersungguh-

  Madzmumah ini. Aku telah berinfaq sedemikian banyak. Bahkan lebih besar dari yang lain-lain di jalan yang Kau ridhai. Kalau malam aku dirikan salat. Itu semua kutunjukkan untuk mengabdi kepada-Mu semata. Tapi mengapa itu semua harus berujung dengan kekecewaan.”

  46. 4/ 100/ 123 Lalu harus bagaimana aku bisa meyakini Tuhan yang menyiksa begini. Yang tidak bisa berpikir, hanya aku yang dipaksa-paksa untuk bersabar, bersabar, dan terus bersabar,

  Madzmumah dan terus bersabar entah sampai kapan batasnya. Betapa mudahnya seorang manusia disalahkan oleh sesamanya atas nama yang di Atas: TUHAN. 47. 4/ 100/ 124 Ah, aku rasakan seolah-olah semua pengabdian yang telah kuberi dibuang begitu saja oleh-Nya. Sungguh, aku sangat kecewa

  ―tidak hanya kecewa, tapi patah hati. Patah hati dengan kuasa Tuhan yang Madzmumah memermainkanku. Aku dengan semena- mena dijadikannya pion permainan-Nya. Duh, napas ini, paru hampa ini, begitu sesak, sesak sekali. Akukah yang hidup dengan hirupan napas yang berasal dari pori-pori kehidupan yang penuh tragedi ini?

  48. 4/ 101/126 Dan kurs kepercayaanku kepada-Nya pun bergerak perlahan tapi pasti ke titik nol. Dan dengan serentak dan setengah berteriak

  Madzmumah seperti orang yang kambuh sakit gilanya suaraku membadai, aku berteriak sekencang- kencangnya lalu airmataku pun tumpah.

  49. 4/ 101/ 127 “Baiklah, permainan lama memang telah berakhir Tuhan. Dan kukatakan kepada-Mu, aku adalah pecundang. Aku adalah sang kalah. Dan aku tak mau tercampakkan segini rupa di kamar ini. Kalau memang Kau tak mau menyapa lagi, aku pun akan melakukan

  Madzmumah hal yang sama seperti yang Kau lakukan atasku. Aku juga tak akan menyapa-Mu. Tidak, setitik pun tidak. Bulshit Tuhan, semua-mua bulshit janji pahala, jihad, kesucian yang telah Kau tanam dan tumbuhkan dalam hatiku.

  50. 4/ 102/ 128 MAGRIB menjelang sebagaimana lima belas magrib sebelumnya. Lelantunan azan Madzmumah tumpul mirip […]. Suara itu memanggil- manggil orang yang tuli yang bisu untuk datang membawa bernampan-nampan harapan dalam sesaji ibadat. Tetapi dulu tak lagi seperti sekarang. Lelantun itu tak lagi membuat hati yang terkoyak oleh belati Kabil ini terpanggil dan segera menyeret tubuh ini untuk sujud berlama-lama hingga menumpahkan airmata taubat dan syukur. Dulu tak sama lagi dengan sekarang. Betapa sekarang suara azan itu begitu menyakitkan. Betapa aku trauma dengan beliung suara azan itu. Jentik suaranya yang buruk menggedor-gedor dan menusuk-nusuk telingaku. Kututup wajahku. Aku mengerang dan sesaat kemudian aku terjerembab menelungkup di atas pembaringan yang sudah awut-awutan karena kutiduri sepanjang malam yang kemarinnya dan kemarinnya dan kemarin-marinnya lagi. Terasa betul aku dilemparkan ke tempat asing. 51. 4/ 103/ 129 “Suara-Mu itu Tuhan yang membuatku terasing! Hampir-hampir aku tidak percaya kalau tatacara azan itu Kau yang mengajarkan. Kalau memang iya, ah betapa brengsek suara sengau itu. Tidak, jangan.

  Madzmumah Suara itu mirip lengkingan suara […] dari kerajaan para […] yang mencacah-cacah hatiku, jiwaku. Dari kejauhan suara itu kudengar seperti lolongan […] yang menakutkan.”

  52. 4/ 103/ 131 Dan sumpah pun kemudian kuikrarkan bahwa mulai saat ini dan entah sampai kapan aku tak sudi merebahkan dahiku di atas sajadah untuk mendirikan salat sebagaiamana dulu. Dulu bukan sekarang. Tidak. Aku ingin hidup dengan kekuatanku sendiri. Maafkan Tuhan bila aku tidak lagi mengharapkan kusa-Mu. Kalau Kau mau dan menyebutku sebagai makhluk ciptaan-

  Madzmumah Mu yang tidak tahu diri tidak tahu terimakasih, silakan...silakan, cabut saja jiwaku. Tapi aku tak akan membiarkan begitu saja Kau mencabutnya. Sebab aku akan melawan dan tak mau turut pasrah pernah kuinginkan. Jadi Kau yang harus bertanggung jawab atas semuanya. Maafkan Tuhan atas sikapku yang kasar ini. Maafkan. 53. 4/ 104/ 132 Maka kuseru-serukan diri ini untuk bangkit dari kematian yang palsu. Aku tak mau lepaskan hidup dari tragedi seperti ini. Aku harus mampu bertahan dari hanyut yang menenggelamkan lalu berbalik menentang arus sejarah yang terpenggal di pertengahan kisah hidupku. Hei, bangkitlah kau diri. Kau, Mahmudah Nidah Kirani, jangan selemah itu. Jangan secengeng itu. Hidup belumlah selesai, hidup belumlah usia, dan revolusi atas kekecewaan tak bisa hanya kau langsungkan di atas pembaringan. Bangkitlah diri, bangkitlah kau Kiran. 54. 4/ 105/ 134 Tanganku sekali dua kali mengambil kerikil dan melempari dua kupu-kupu yang sedang terbang rendah berkejaran-kejaran di atas kopak-kopak bunga yang tumbuh kerdil. Aku tidak suka kehadiran kupu-kupu itu di hadapanku. Kupu-kupu hanya memerlihatkan keindahan yang melenakan. Warna bulunya yang menyilaukan memberi rangsangan tipuan. Keindahannya terlampau

  Madzmumah meta. Aku sebetulnya lebih suka pada kalong. Aku suka hitam bulunya. Begitu perkasanya. Dan satu, kalong adalah binatang malam pekerja. Ia dengan kekuatannya sendiri melanglangi jelaga malam. Tidak seperti kupu-kupu yang memasuki rumah-rumah penduduk

  ―dan terkadang masuk dalam kelambu ranjang. Mirip pengemis tunahunian. 55. 4/ 107/ 136 Namun lamunanku atas kupu dan kalong pupus ketika dalam sekelebat bayang kulihat

  Hudan Hidayat sedang berjalan bersicepat ke arahku. Ya, tampaknya ia sedang menuju ke aku. Ada apa dia menemuiku? Mau apa dia? Kuberitahu, Hudan adalah salah seorang kawan di Kampus Matahari Terbit.

  Madzmumah Dan setahuku ia salah seorang pengedar yang pernah kukecam jalan hidupnya sebagai manusia yang dibuahi oleh setan dalam rahim ibunya. Dan sekarang, melihat sayup-sayup sosoknya yang jangkung dan

  56. 4/ 107/ 137 Hmm, tampaknya Tuhan kini berbaik hati mengirimkan “utusan”nya kepadaku tatkala aku sedang habis. Tatkala hatiku sedang melompong. Dan yang dikirimkannya kepadaku yang sedang kosong ini adalah manusia hasil pembuahan setan. Ah, Tuhan! Madzmumah Ia tak mengirimkan kyai-kyai yang setiap waktu (minta) dikawal lampion-lampion malaikat (katanya!), melainkan setan yang dikutuk-kutuk kaum beriman—termasuk aku dulunya. Dan setan itu bernama pengedar. 57. 4/ 108/ 138 Sepanjang usia dewasaku, aku belum pernah berkenalan dengan dunia gelap, dengan dunia setan. Inikah picu awal ketika diriku mengalami ekstase kosong seperti ini? Oh Tuhan, kau kirimkan dunia baru buatku ternyata, sebagaimana dengan tiba-tiba juga Madzmumah kau sodorkan dunia baru ketika aku pertama kali bergabung dalam barisan Jemaah Islam beberapa tahun silam. Kalau benar ini dunia baru, surga baru, tampakan baru, hidup baru, sudah sepatutnya aku menyambutnya. 58. 4/ 110/ 139 “Jangan langsung marah begitu dong sama saya. Mmm… baiklah, kalau kau minta, baiklah, akan saya kasih. Tapi, tapi tidak sekarang. Gila apa kalau terus-terusan Madzmumah dibawa, saya bisa kena razia. Hi… saya belum mau masuk di acara televisi itu, di acara Patroli ama Buser. ”

  59. 4/ 110/ 140 Karena mungkin kasihan melihatku, Hudan pun mengajakku, tepatnya menyeretku ke depan Gedung Agung yang memang tak jauh dari rumah kosku. Tanpa terlebih dahulu pamit dengan inang hunianku, aku berjalan sempoyongan dalam gapitannya.

  Madzmumah Mataku sayu tak memerlihatkan hasrat ingin hidup. Kondisiku sudah di ambang sakau.

  Dengan udara yang kuhirup aku rasakan kengerian karena udara adalah bagian dari tragediku. Separuh sadar yang masih menyisa kulihat kengerian di sekelilingku. 60. 4/ 112/ 142 SEJAK semalaman bersama Hudan, aku pun ketagihan untuk terus di jalanan. Kukatakan, ini adalah pengalaman pertamaku di jalanan. Ketika aku masih bergiat di jemaah, praktis Madzmumah jalanan adalah terra in cognita, wilayah tak daerah merubungnya dosa dan pelbagai akhlak kafir. Tetapi sekarang, perasaan itu terbalik. Justru aku tak lagi bisa betah dalam kamar sebagaimana ajaran tiga atau empat tahun lalu kuterima bahwa tempat terbaik perempuan adalah di kamar adalah di rumah. Hari ini rumah bagiku bagaikan penjara yang menyiksa. Dan aku tak mau mati dalam kondisi jiwa tertekan di sana. Tidak! Perasaan tertekan ini harus kubebaskan. Tindasan jiwa ini harus kulepaskan jerat- jerat yang mengurungnya. 61. 4/ 112/ 143 Maka begitulah, setiap malam aku mengembarai “dunia luar” dan bertemu kawan-kawan sekampusku, sesama manusia kalong yang menghidupkan malam- malamnya di jalanan. Salah satunya adalah Rani. Seperti nama perempuan. Tapi aku lebih senang menyebutnya demikian daripada nama panajangnya yang menurutku Madzmumah buruk: Raniman. Dari dialah jejariku bisa memegang batangan rokok, barang yang lagi-lagi selama aku berada di jalur putih Jemaah, adalah benda asing. Ke mana-mana aku bersama Rani. Ia mengajakku begadang dan nongkrong tiap malam di depan kampusku sendiri, Kampus Matahari Terbit. 62. 4/ 113/ 146 Dan hari-hariku kini adalah hari-hari perjuangan untuk mengalpakan ingatan akan

  Tuhan dan agama di ceruk-ceruk Madzmumah kesadaranku. Biarlah yang lalu-lalu tertampung dalam kealpaan dan jangan lagi hadir.

  63. 8/ 193/ 148 Ia ungkapkan rasa cintanya dan aku langsung menyambar cinta yang terlontar itu dengan kata iya. Ah, lelaki ini mengutarakan rasa cintanya kepadaku. Ha-ha-ha, cinta… cinta katanya. Apa cinta? Hmmm, bagiku cinta adalah abstraksi dari rasa ketertarikan, kekaguman, keter-pesonaan, sekaligus

  Madzmumah penasaran yang menuntut untuk dituntaskan. Penuntasan rasa ini akan dapat dilakukan melalui seks sampai penyatuan yang paling sempurna. Seks adalah titik orgasme yang tertinggi antara dua manusia. Seks, gairah, grafik yang mendatar lalu memuncak dan kembali mendatar. Itulah cinta. Seks itu puncak cinta. Karena seks itu cinta, maka serta-merta kuterima cintamu, lelaki. Seks. Aku mau itu. Itu saja. 64. 8/ 194/ 149 Hubungangku dengan Didi yang masih dalam hitungan hari itu membuatku hatiku terlena dan terus tertambat di jalanan. Aku pun sudah sangat jarang pulang ke rumah kontrakan saudaraku di Gendongkuning.

  Madzmumah Ternyata ketakpulanganku membuat saudara-saudaraku gelisah. Dan sama kagetnya mereka ketika Rahmanidas Sira menelepon dan menanyakan diriku di Gendongkuning.

  65. 8/ 195/ 150 Aku lihat dari mata Midas ada ganas cemburu. Tapi lelaki pencemburu ini tak pernah tahu bahwa dalam pelukan Didi, yang kurasakan bukanlah kehangatan sebagaimana perempuan-perempuan yang mabuk kepayang ketika berada pertama kali di bawah rangkulan ketiak dan desakan otot lelaki. Tak! Secuil pun kebahagiaan itu tak Madzmumah kukecap. Sebab bawaanku selalu kegelisahan di tengah lalu-lalang orang- orang. Apalagi Didi adalah lelaki posesif yang mengaharapkan perempuan harus begini harus begitu sesuai dengan imaji yang bersarang di batok kepalanya tentang “perempuan ideal”. 66. 8/ 196/ 153 Salahkah aku? Gilakah aku? Tidak, aku hanya mau tahu seberapa besar kebusukan para lelaki dan sekeranjang gombal cintanya. Dan Didi sama sekali tak sadar bahwa aku suka dengannya hanya kembang- kembangnya saja. Hubunganku dengannya tak kurang tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku. Lain Madzmumah tidak. Cinta? Taik. Sehabis kulumat di kamar-kamar losmen di sekitar Malioboro, Umbulharjo bagian selatan, dan di kosnya, Didi sudah seperti yang lain-lainnya. Menimbulkan rasa muak di hatiku. Ah, ternyata lelaki Palembang ini cuma segini harganya. 67. 8/ 199/ 158 Maka aku menolak dengan tegas menikah. mengancamku, “Kalau kamu tidak mau menikah denganku dan coba-coba lari, akan kubongkar rahasiamu ke orangtuamu bahwa kamu sering ngeseks dengan laki-laki.”

  68. 8/ 199/ 159 Aku juga bingung dan cemas dengan ancaman Didi itu: kalau lari rahasiaku bakal terbongkar. Padahal selama ini orangtuaku tak tahu bahwa aku petualang seks di lingkungan mahasiswa Kampus Matahari Terbit. Aku takut apakah mereka Madzmumah menerimaku lagi setelah mereka tahu anak bungsunya terlibat dalam free-sex. Sebab setahu mereka aku masih seorang aktivis Islam yang salihat dan getol berjuang bagi tegaknya hukum-hukum Tuhan di Indonesia. 69. 8/ 199/ 160 Tahu aku sedikit goyah, Didi terus menaikkan hulu daya terornya. Ia makin menjadi-jadi. Aku pun meluruh: “Baiklah

  Madzmumah Di, kita nikah saja.” Asal-asalan kukatakan kalimat pendek itu, siapa tahu ancaman Didi itu hanya gertak sambel.

  70. 8/ 200/ 162 Tapi pernikahan itu gagal ketika Fuad Kumala kutemui dan menganjurkan aku untuk lari. “Sudah Ran, kamu harus lari.

  Cowok seperti itu berbahaya.” Aku pun mengikuti nasihat Fuad dan bersembunyi di rumah kakak sepupuku di Wates. Dari kakakku kudengar bahwa orangtuaku pun

  Madzmumah sudah tahu lewat mulut Didi bahwa aku, anak bungsu mereka, bukan lagi aktivis Islam yang salihat, melainkan telah berganti status menjadi perempuan jalang yang berpindah dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lain, dari losmen satu ke losmen yang lain. 71. 8/ 200/ 163 Lelaki itu telah membongkar semuanya. Dan kali ini, di hidung bapak-ibu yang membesarkanku sehingga aku sedikit tahu tentang dunia

  ―sebuah dunia alusi kaum ber-Tuhan, dunia yang dipenuhi aroma kekotoran Madzmumah

  ―riwayat hitamku sudah terpampang. Hitam. Kubayangkan, tentu wajah ibuku berkerut malu. Kubayangkan, wajah pasi bapakku akan tambah pasi mengenangkan anak bungsunya telah menjadi anak jalang. mengejarku dan terus mendekatiku. Dari matanya yang merah, aku melihat bara. Ada lidah dendam yang mengesumat dari sinarannya. Kedua tangannya menangkap tanganku, menelikungnya, dan dengan cepat tangan kanannya mencekikku. Aku meronta. Tapi dia tak melepaskan cekikannya. 73. 8/ 202/ 167 Kucoba meronta lagi. Terus begitu. Hingga

  Didi kewalahan dan coba mengendurkan cekikannya. Airmataku tumpah dalam dekap Madzmumah lutuku. Aku sesenggukan membayangkan lelaki pemaksa ini. 74. 8/ 203/ 169 Dia hanya diam dan sekali-kali kepalanya menengadah ke langit-langit kamarnya sambil kedua tangannya menyapu mukanya, menyisir rambutnya dengan tangan. Aku Madzmumah menunggu keputusannya dengan persaan was-was, sambil menahan sisa sakit di leherku. 75. 8/ 203/ 170 “Betapa aku sangat mencintaimu Kiran.

  Sangat mencintaimu dan serius menikah denganmu. Tapi kalau memang kamu tak berkenan juga, mmm… ya, apa boleh buat, besok kamu boleh pulang,” katanya perlahan. Suaranya parau. Ia tertunduk. Lama. Dan dengan wajah pesakitan dia Madzmumah mendekatiku. Memelukku. Mungkin berharap aku bisa luluh lagi. Dan aku hanya mematung dalam pelukannya tanpa merasakan gairah apa-apa. Dan semalaman aku diperkosanya. Tanpa senyum. Tanpa rasa. Tanpa cinta. Dingin. Semuanya dingin.

  Jumlah

  75 Frekuensi

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (107 Halaman)
Gratis