Peranan orang tua dalam pembinaan keberagamaan anak : studi kasus : di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan

79 

Full text

(1)

PERANAN ORANG TUA DALAM PEMBINAAN KEBERAGAMAAN ANAK

(Studi Kasus: di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai

Gelar Sarjana Sosiologi Agama

Oleh NUR AINI NIM: 102032224691

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

(2)

PERANAN ORANG TUA DALAM PEMBINAAN

KEBERAGAMAAN ANAK

(Studi Kasus: MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai

Gelar Sarjana Sosiologi Agama

Oleh: NURAINI NIM: 102032224691

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA. Dra. Marzuqoh, MA. NIP. 150 050 741 NIP. 150 270 809

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “ Peranan Orang Tua dalam Pembinaan Keberagamaan Anak (Studi Kasus: di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan)”, telah diujikan dalam sidang munaqosyah Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 7 Maret 2007. Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Jurusan Sosiologi Agama.

Jakarta, 07 Maret 2007

SIDANG MUNAQOSYAH

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota,

Drs. Masri Mansoer, M.A. Joharatul Jamilah, M.Si. NIP. 150 244 493 NIP. 150 282 401

Anggota,

Penguji I, Penguji II,

Prof. Dr. Musyrifah Sunanto Dra. Ida Rasyidah, M.A. NIP. 150 062 829 NIP. 150 242 267

Pembimbing I, Pembimbing II,

(4)

KATA PENGANTAR

Al-hamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, yang menjadi hujjah-Nya atas semua manusia, pemimpin dan imam kita, teladan dan kekasih kita, beserta kerabat dan sahabat.

Dalam penulisan skripsi ini tidak sedikit kesulitan serta hambatan yang dialami oleh penulis, namun banyak juga pelajaran yang didapat, baik dengan rintangan maupun dengan kemudahan. Berkat dengan kesungguhan hati dan motivasi serta bantuan dari berbagai pihak, maka segala kesulitan tersebut memberikan hikmah bagi penulis.

Pada kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang telah membimbing serta memberikan pengarahan kepada penulis dalam suka maupun duka untuk segera menyelesaikan skripsi. Penulis menyadari bahwa dukungan dan bimbingan semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Adapun ucapan terima kasih ingin penulis sampaikan kepada:

(5)

2. Dra.Ida Rosyidah, M.A., Ketua Jurusan Sosiologi Agama dan Ibu Jaharotul Jamilah, M. Si., Sekretaris Jurusan Sosiologi Agama yang telah memberikan pengarahan dan mengesahkan judul skripsi ini.

3. Prof. Dr. Ahmad Mubarok, MA., dosen pembimbing I dan Dra. Marzuqoh, MA., dosen pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing serta mengarahkan dengan sabar dan tekun sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

4. Dr. H. Suwarno Imam, dosen Penasehat Akademik yang telah membantu memperbaiki judul skripsi ini.

5. Seluruh dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama perkuliahan sebagai bekal penulis untuk masa yang akan datang.

6. Kepala Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta para stafnya yang telah memberikan bantuan dan kemudahan kepada penulis untuk mendapat berbagai literatur yang dibutuhkan selama penulisan ini, begitu juga berbagai perpustakaan lain yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. 7. Kepala Sekolah MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan Drs. Mahyudin

HF beserta para dewan guru dan siswa-siswanya yang telah membantu dan memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian di tempat tersebut.

(6)

SWT membalas semua jerih payah dan jasa-jasanya, sekaligus menyayangi beliau sebagaimana beliau menyayangiku diwaktu aku kecil. Juga tak lupa kepada kakak-kakakku Abdul Fakih dan isteri tercinta Tuti Fahrianti, Mahrojah, Ilham yang telah memberikan semangat dan dukungannya, adik-adikku yang kusayangi Zulfikar (BSI) dan Abdul Khair/ Oih (UHAMKA), keponakanku tercinta Syavira Aulia Az-Zahra, Udin (terima kasih atas bantuannya), rental Asem II (makasih ya Mpo’ Hasanah atas bantuannya), juga kepada keluarga besar H. A. Aziz, tante, om serta sepupu-sepupuku yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan inspirasi, semangat dan bantuannya kepada penulis untuk selalu tabah dan terus maju untuk meraih cita-cita yang didambakan orang tua dan berguna bagi bangsa.

9. Teman-temanku yang tercinta komponen Sosiologi Agama angkatan 2002, sahabat-sahabatku Farihah, Eva Nailufar, Ama, Dilah, Ina I, Nurlaila (UHAMKA) dan teman-teman lainnya yang telah banyak membantu serta memberikan semangat.

Penulis hanya bisa berharap dan berdo’a semoga Allah SWT membalas segala jasa dan amal baik mereka dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Jakarta, 8 Agustus 2006

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... iv

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metodologi Penelitian ... 9

E. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Orang Tua 1. Pengertian Peranan... 17

2. Pengertian Orang Tua ... 21

3. Tugas-tugas dan Kewajiban Orang Tua... 23

B. Pembinaan Keberagamaan Anak 1. Pengertian Pembinaan Keberagamaan Anak ... 33

2. Ruang Lingkup Pembinaan Keberagamaan Anak ... 39

(8)

BAB III : GAMBARAN UMUM LATAR BELAKANG ORANG TUA DAN MI AL-IHSAN CIPETE CILANDAK

A. Orang Tua

1. Latar Belakang Pendidikan ... 43

2. Keadaan Ekonomi ... 44

3. Keadaan Komunitas ... 44

B. MI Al-Ihsan 1. Sejarah Berdiri dan Perkembangan MI Al-Ihsan ... 46

2. Organisasi dan Tujuan... 48

3. Keadaan Guru, Murid dan Karyawan ... 49

4. Sarana dan Prasarana... 52

BAB IV : PERANAN ORANG TUA DALAM PEMBINAAN KEBERAGAMAAN ANAK A. Analisa Sosiologis Peranan Orang Tua 1. Peranan Orang Tua Sebagai Pembimbing ... 55

2. Peranan Orang Tua Sebagai Teladan ... 56

3. Peranan Orang Tua Sebagai Pengawas ... 57

B. Hambatan-hambatan yang dihadapi Orang Tua dalam Pembinaan Keberagamaan Anak 1. Pendidikan... 58

2. Ekonomi ... 59

3. Pengawasan ... 59

(9)

BAB V : PENUTUP

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak adalah anugerah Allah yang tidak ternilai harganya, karena itu ia harus dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang artinya bahwa: "seluruh anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu ayah dan ibunya yang menjadikan Yahudi, Majusi dan Nasrani". Setiap orang tua seharusnya dapat memberikan kasih dan sayangnya kepada anak dalam jumlah yang cukup. Namun tidak berarti, karena rasa kasih sayang itu orang tua membiarkan anak berbuat sesuka hatinya.

Anak juga merupakan rahmat Allah yang diamanahkan kepada kedua orang tuanya yang membutuhkan pemeliharaan, penjagaan, kasih sayang, dan perhatian. Kesemuanya itu menjadi tanggung jawab orang tua, guru dan masyarakat sebagai penanggung jawab pendidikan.1

Orang tua, terutama ibu bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Jika orang tua ingin mempunyai anak yang saleh, tentu ia tidak hanya berdiam diri atau berpangku tangan saja, karena anak yang saleh tidak lahir (tidak datang) dengan begitu saja, tetapi ia lahir karena doa orang tua yang dikabulkan-Nya, dan karena didikannya yang baik, yang tidak pernah mengenal lelah dan putus asa.2

1

Mohammad Kasiram, Ilmu Jiwa: Perkembangan Bagian Ilmu Jiwa Anak (Surabaya: Usaha Nasional, 1983).

2

(11)

Keluarga merupakan suatu kelompok sosial yang utama tempat anak belajar menjadi manusia sosial. Rumah tangga menjadi tempat pertama perkembangan segi-segi sosial anak, dan di dalam interaksi sosial dengan orang tuanya yang wajar, anak pun memperoleh perbekalannya yang memungkinkannya untuk menjadi anggota masyarakat yang berharga kelak, sedangkan apabila hubungannya dengan orang tuanya kurang baik, maka besar kemungkinannya bahwa interaksi sosialnya pada umumnya pun berlangsung kurang baik pula. Salah satu pertanda dari pada hubungan baik antara anak dengan orang tuanya ialah bahwa anaknya tidak segan-segan untuk menceritakan isi hatinya atau cita- citanya kepada orang tuanya.3

Keluarga juga merupakan suatu kelompok terkecil ditengah masyarakat, hendaknya berfungsi sebagai suatu tempat pertama dan utama dalam proses pendidikan. Anak mengalami pembinaan pribadi pada permulaan di dalam keluarga. Suasana keluarga dan apa yang dihayati di dalam keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa anak, oleh sebab itu hubungan antara ayah, ibu dan anak akan mempunyai pengaruh besar terhadap suasana keluarga pada umumnya, dan khususnya terhadap perkembangan anak; terutama pada kehidupan perasaan dan kehidupan sosial. Pentinglah bahwa kasih sayang itu perlu dibina dalam kehidupan keluarga, sehingga setiap anggota keluarga merasa terpuaskan kebutuhan akan kasih sayang.4

Orang tua juga perlu diberikan penerangan, agar mereka dapat mengarahkan anak dan memberikan contoh-contoh yang baik di dalam kehidupan keluarga. Orang tua juga harus mengubah sikapnya yang menguntungkan bagi

3

Gerungan Dipl, Psikologi Sosial (Bandung: PT Eresco, 1987), Cet ke-10, h. 202. 4

Kartini Kartono, Seri Psikologi Terapan IV: Mengenal Dunia Kanak-kanak (Jakarta: CV. Rajawali, 1985), Cet ke-1, h. 35.

(12)

perkembangan anaknya. Mereka harus berusaha untuk memberikan cinta kasih yang tulus dan perhatian penuh pada anaknya. Hubungan antara ayah dan ibu harus dibina kembali, agar anak-anak dapat merasakan suasana yang tentram dalam keluarga, yang dapat tumbuh secara sehat, baik dalam kehidupan pribadi, jiwa maupun sosialnya.5

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak-anak ialah faktor keutuhan rumah tangga, yang dimaksudkan dengan keutuhan keluarga ialah, pertama-tama keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu bahwa di dalam keluarga itu adanya ayah di samping adanya ibu dan anak-anaknya. Apabila tidak ada ayahnya atau ibunya atau kedua-duanya, maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Juga apabila ayahnya atau ibunya jarang pulang ke rumah dan berbulan-bulan meninggalkan anaknya karena tugas atau hal-hal lain, dan hal ini terjadi secara berulang-ulang, maka struktur keluarga itu pun sebenarnya tidak utuh lagi. Pada akhirnya, apabila orang tuanya hidup bercerai, juga keluarga itu tidak utuh lagi.

Selain keutuhan dalam struktur keluarga, dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa di dalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Apabila orang tuanya sering bercekcok dan menyatakan sikap saling bermusuhan dengan disertai tindakan-tindakan yang agresif, keluarga itu tidak dapat disebut utuh. Ketidakutuhan keluarga pada umumnya mempunyai pengaruh yang negatif terhadap perkembangan sosial anak-anaknya.6

5

Kartono, Seri Psikologi Terapan IV: Mengenal Dunia Kanak-kanak, h. 47. 6

(13)

Begitu juga dengan keadaan sosiol-ekonomi keluarga tentulah mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anak, dengan adanya perekonomian yang cukup dan lingkungan material yang memadai, anak mendapat kesempatan yang

lebih luas untuk memperkembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak

mungkin di peroleh dalam keluarga yang ekonominya terbatas. Hubungan orang

tuanya hidup dalam status sosial-ekonomi serba cukup dan kurang mengalami

tekanan-tekanan fundamental seperti dalam memperoleh nafkah hidup yang

memadai. Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada

pendidikan anaknya apabila ia tidak disulitkan dengan perkara

kebutuhan-kebutuhan primer kehidupan manusia.

Masalah pencarian nafkah, Islam telah menetapkan bahwa urusan mencari

nafkah adalah kewajiban laki-laki, bukan kewajiban wanita. Tetapi jika ia

berkehendak, maka diperbolehkan seorang wanita untuk bekerja, jika diizikan

oleh suaminya atau ayahnya jika ia belum menikah, sebab hal itu mubah baginya.

Seorang wanita diperbolehkan bekerja untuk memperoleh harta; itu adalah

perkara ibadah baginya, bukan merupakan kewajiban, sebab memang tidak ada

beban bagi wanita untuk mencari nafkah. 7

Status sosial-ekonomi bukan merupakan faktor mutlak dalam

perkembangan sosial, sebab hal ini bergantung kepada sikap-sikap orang tuanya

dan bagaimana corak interaksi di dalam keluarga itu. Walaupun status

sosial-ekonomi orang tua memuaskan, tetapi apabila mereka itu, tidak memperhatikan

didikan anaknya atau senantiasa bercekcok, hal itu juga tidak menguntungkan

perkembangan sosial anak-anaknya. Pada akhirnya, perkembangan sosial anak itu

7

(14)

turut ditentukan pula oleh sikap-sikap anak sendiri terhadap keadaan keluarganya.

Mungkin sekali status sosial-ekonomi orang tua mencukupi, serta corak interaksi

sosial di rumah pun tiada berkekurangan, namun anak itu berkembang dengan tidak wajar. Perkembangan sosial memang ditentukan oleh saling pengaruh dari banyak faktor di luar dirinya dan di dalam dirinya, sehingga tidak mudah pula untuk menentukan faktor manakah yang menyebabkan kesulitan dalam perkembangan sosial seseorang, yang pada suatu saat mengalami kegagalan.8

Begitu juga dengan norma-norma dan peraturan-peraturan yang menjamin berlangsungnya interaksi yang wajar ke arah tercapainya tujuan keluarga yang sesuai dengan Pancasila yaitu mendidik anaknya menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap Tuhan, terhadap negara dan masyarakatnya, dan terhadap dirinya sendiri. Dalam usaha supaya anak-anak itu menaati norma-norma dan peraturan-peraturan yang menuju ke tujuan keluarga itu, kadang-kadang perlu juga anak itu di hukum; hukuman tersebut dapat merupakan peringatan, kecaman, pengasingan, dan hukuman-hukuman yang lebih berat lagi. Kiranya tindakan menghukum itu, di samping tindakan menghargai, merupakan tindakan yang terlibat dalam tiap-tiap pendidikan yang wajar, dengan catatan bahwa hukuman itu diberikan secara objektif dan disertai pengertian akan maksudnya, dan bukan untuk melepaskan kebencian atau kejengkelan terhadap anak. Maka hukuman itu kadang-kadang perlu untuk mendidik dan menyalurkan tingkah laku anak ke arah yang sewajarnya. Adanya tindakan hukuman dalam suatu keluarga dapat merupakan pertanda bahwa orang tua mempunyai perhatian yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan anaknya. Sebaliknya anak yang tak pernah

8

(15)

mengalami hukuman itu mungkin mengalami kelalaian dalam pendidikannya, sebab anak itu memerlukan bimbingan ke arah perkembangan sosialnya yang wajar, termasuk perkembangan norma-normanya, juga apabila ia melanggar norma atau peraturan tersebut.9

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak. Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya, oleh karena itu ia meniru perangai ibunya.10

Berbahagialah anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai pendidikan, beriman dan beramal saleh, dimana keluarga tersebut memahami ciri-ciri anak pada umur-umur tertentu dan mengetahui keperluan utama anak pada berbagai tahap umur. Pada umur balita, yang amat diperlukan oleh anak adalah contoh, pembiasaan dan latihan dan perlakuan yang penuh kasih sayang yang membawa kepada rasa aman dan tentram dalam kehidupannya yang masih sangat memerlukan bantuan dan pemeliharaan.

Faktor identifikasi dan meniru pada anak-anak amat penting, sehingga mereka terbina, terdidik dan belajar dari pengalaman langsung, lebih besar dari pada informasi atau pengajaran lewat instruksi dan petunjuk dengan kata-kata.

9

Gerungan Dipl, Psikologi Sosial, h. 203-204. 10

(16)

Karena itulah maka suasana keluarga, ketaatan ibu bapak beribadah dan berperilaku, sikap dan cara hidup yang sesuai dengan ajaran Islam, akan menjadikan anak yang baru lahir dan dibesarkan dalam keluarga baik, beriman dan berakhlak terpuji.11

Mengingat begitu pentingnya penanaman pendidikan sedini mungkin bagi

anak-anak dalam kehidupannya, maka penulis tertarik untuk membahas masalah

"Peranan Orang Tua dalam Pembinaan Keberagamaan Anak" (Studi Kasus di MI

Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan) sebagai judul karya ilmiah atau skripsi

dengan alasan:

1. Secara umum orang tua dalam mendidik anaknya hanya menyerahkan kepada

sekolah, termasuk juga pendidikan agama. Mereka jarang bahkan tidak pernah

mengawasi pendidikan agama anaknya yang telah diberikan di sekolah,

termasuk memberikan contoh kepada anak dalam kehidupan keberagamaan di

lingkungan keluarganya, seperti tata cara makan, minum, tata cara berpakaian,

tata cara bersikap kepada kedua orang tua, kepada orang lain, seperti kepada

saudara saudaranya, teman-temannya, termasuk juga tata cara beribadah

seperti tata cara berwudhu yang baik yang disertai dengan do'a-do'anya, shalat

lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan.

2. Pendidikan agama yang diberikan di sekolah bukan merupakan jaminan, bahwa

anak atau siswa telah mendapatkan pendidikan agama secara memadai, karena

yang diberikan di sekolah hanya 2 jam pelajaran (80 menit) dalam satu

minggu, belum lagi disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga sehingga

jam pelajaran agama tidak dapat dilaksanakan.

11

(17)

3. Pendidikan agama pada anak dapat membentangi dirinya dari pengaruh luar

yang bersifat negatif yang dapat merusak jiwa anak, seperti pengaruh media

elektronik, media cetak dan informasi-informasi dari luar yang diperoleh

dalam kehidupan anak-anak. Berdasarkan latar belakang masalah diatas

penulis membahas skripsi ini dengan judul peranan orang tua dalam

pembinaan keberagamaan anak di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta

selatan.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah dalam pelaksanaan penelitian, penulis membatasi

masalah yang diteliti tentang upaya orang tua dalam membina keberagamaan anak

di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan khususnya orang tua kelas VI.

2. Peumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penulis merumuskan

permasalahann karya ilmiah atau skripsi sebagai berikut:

- Bagaimana peranan orang tua dalam membina keberagamaan anak di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan khususnya orang tua kelas VI.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan formal dari penelitian ini adalah sebagai tugas akhir untuk

mendapatkan gelar Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

(18)

memahami dan menganalisis peranan orang tua dalam membina keberagamaan

anak di MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan.

Adapun manfaat dari penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui peranan orang tua dalam membina keberagamaan anak.

2. Dapat mengetahui bagaimana orang tua dalam menanamkan ajaran agama

pada anak-anak mereka.

3. Sebagai laporan ilmiah kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta untuk mencapai gelar kesarjanaan.

D. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini penulis mencoba mengumpulkan bahan-bahan data

yang diperlukan dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini dengan

menggunakan metodologi penelitian sebagai berikut:

1. Pendekatan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode pendekatan

kuantitatif dengan dukungan data kualitatif. Pendekatan kuantitatif yang

digunakan dalam penelitian ini menggunakan bentuk studi kasus yang dapat

memberikan nilai tambah pada pengetahuan kita secara unik tentang fenomena

individual dan dapat digeneralisasikan ke dalam proposisi teoritis.12

2. Teknik Pengumpulan Data

12

(19)

Dalam rangka memperoleh data yang diperlukan, serta informasi yang

dibutuhkan sebagai bahan dalam rangka penelitian skripsi ini, maka teknik

pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:

Penelitian Lapangan (Field Research), yaitu penulis terjun langsung ke

objek penelitian untuk memperoleh data primer. Adapun teknik yang dipakai

dalam penelitian lapangan ini adalah sebagai berikut:

a). Angket atau Kuesioner

(20)

teladan bagi anaknya. Untuk lebih jelasnya dari beberapa butir pertanyaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Variabel Penelitian

No Variabel Jumlah Item Jumlah Jawaban 1. Orang sebagai pembimbing 8 4

2. Orang tua sebagai pengawas 8 4 3. Orang tua sebagai teladan 8 4

b). Wawancara

Interview yang sering juga disebut wawancara atau kuesioner lisan adalah

sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewner) untuk

memperoleh informasi dari terwawancara atau yang diwawancarai (narasumber).

Interview yang digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang,

misalnya untuk mencari data variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan

dan lain-lain.

Dalam pelaksanaannya wawancara dibagi menjadi tiga bagian,

diantaranya:

a).Wawancara bebas (inguided interview), dimana pewawancara bebas

menanyakan apa saja yang diinginkannya, tetapi ia juga harus mengingat akan

data apa yang akan dikumpulkannya. Dalam pelaksanaannya pewawancara

tidak membawa pedoman apa yang akan ditanyakannya.

b). Wawancara terpimpin (guided interview), yaitu wawancara dilakukan dengan

(21)

c). Wawancara bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara wawancara bebas dan

wawancara terpimpin. Dalam pelaksanaannya, pewawancara hanya membawa

pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan

ditanyakan.13

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode wawancara bebas terpimpin, yang berarti dalam wawancara ini penulis hanya membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan. Adapun wawancara ini ditujukan kepada kepala Madrasah MI Al-Ihsan, para guru dan karyawan yang menyangkut latar belakang sekolah dari sejak berdirinya hingga saat ini,

wawancara ini juga ditujukan kepada para orang tua guna mengetahui

keberagamaan anak mereka. Wawancara ini dilakukan sebanyak tujuh kali baik dengan para guru atau pun dengan para orang tua.

c). Metode Kepustakaan (Library Research)

Metode kepustakaan ini digunakan untuk memperoleh data dan informasi

yang berkaitan dengan permasalahan dari berbagai sumber. Metode ini digunakan

untuk mendukung penelitian dengan cara mencari teori-teori yang sudah ada.

3. Populasi dan Sampel

Adapun populasi dan sample dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a). Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin

meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya

merupakan penelitian populasi.14 Populasi yang terdapat pada lapangan penelitian

13

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), Cet ke-10, h. 144-145.

14

(22)

ini adalah seluruh orang tua kelas I sampai kelas VI MI Al-Ihsan Cipete-Cilandak,

Jakarta Selatan yang berjumlah 192 orang tua.

b). Sampel

Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian

tersebut disebut penelitian sampel. Sampel adalah sebagian atau wakil dari

populasi yang diteliti.15 Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sampel purposif (purposive sampling), yaitu sampel yang ditetapkan secara

sengaja oleh peneliti didasarkan atas pertimbangan tertentu, jadi tidak melalui

proses pemilihan sebagaimana yang dilakukan dalam teknik random. Jadi

penelitian ini hanya tertuju kepada orang tua kelas VI yang berjumlah 30 orang

tua dengan alasan bahwa murid kelas VI telah menempuh pendidikan di MI

Al-Ihsan Cipete-Cilandak, Jakarta Selatan selama kurang lebih 5 tahun, sehingga para

orang tua mengetahui dengan pasti tentang peranan mereka terhadap

putra-putrinya.

4. Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

Dalam pengolahan data ini penulis memperoleh data melalui angket,

wawancara dan studi kepustakaan kemudian diolah dan diedit yang selanjutnya

dianalisis dan disimpulkan.

Adapun data yang diperoleh melalui angket dianalisa dan diolah data

statistik frekuensi, yaitu memeriksa jawaban-jawaban dari para orang tua lalu

dijumlahkan, diklasifikasikan dan ditabulasikan (dibuat tabel), data yang didapati

15

(23)

dari setiap item jawaban akan dibuat satu tabel yang didalamnya langsung dibuat

frekuensi dan menggunakan rumus:

P = F x 100% N

Dimana:

P= Prosentase

F= Frekuensi

N= Jumlah Sampel

100%= Bilangan Tetap

Analisa Data

Setelah data yang diperlukan terkumpul, langkah selanjutnya adalah

menganalisis data. Untuk menganalisis data (suatu cara yang digunakan untuk

menguraikan data agar dapat dipahami), maka penulis melakukan

langkah-langkah sebagai berikut:

1). Editing: Pada tahap ini dilakukan pengecekan pengisian angket atau meneliti

kembali angket yang telah diisi oleh responden, setiap angket harus diteliti

satu persatu mengenai kelengkapan, kejelasan dan kebenaran pengisian angket

tersebut sehingga meminimalisir dan menghindarkan dari kekeliruan atau

kesalahan dalam mendapatkan informasi sehingga dapat diperoleh data yang

(24)

2). Koding: Yaitu usaha mengklasifikasikan jawaban responden menurut

macamnya, pada tahap koding ini penulis hanya membuat pertanyaan berupa

pilihan ganda (close question).

3). Tabulating: Yaitu langkah perhitungan jawaban (penyusunan data jawaban

responden) yang telah diberikan skor ke dalam bentuk tabel, dalam penelitian

ini penulis menggunakan persentase untuk semua jawaban.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dan memperjelas penulisan skripsi ini, penulis membaginya kedalam lima bab sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Kajian Pustaka, yang berisi tentang studi pustaka mengenai orang tua dalam pembinaan keberagamaan anak yang terdiri dari pengertian, tugas-tugas dan kewajiban orang tua dalam membina keberagamaan anak, ruang lingkup pembinaan keberagamaan anak, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan keberagamaan anak.

BAB III : Gambaran umum tentang objek penelitian, yang berisi tentang orang tua mengenai latar belakang pendidikan, keadaan ekonomi dan keadaan komunitas, sejarah berdiri dan perkembangan tempat penelitian, organisasi dan tujuan, keadaan guru, murid dan karyawan serta sarana dan prasarananya.

(25)

peranan orang tua sebagai teladan dan peranan orang tua sebagai pengawas serta hambatan-hambatan yang dihadapi orang tua dalam pembinaan keberagamaan anak yang terdiri dari pendidikan, ekonomi, pengawasan dan keteladanan.

BAB V : Penutup, pada bab ini penulis menguraikan tentang kesimpulan dan saran-saran.

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Orang Tua

1. Pengertian Peranan

Dalam kamus Bahasa Indonesia, pengertian "peranan" berasal dari kata “peran" yang berarti seperangkat tingkat yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat. Kata peran jika mendapat awalan pe- dan akhiran an- menjadi "peranan" yang mempunyai arti bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.1

Dalam peranan yang berhubungan dengan pekerjaannya, seseorang diharapkan menjalankan kewajiban-kewajibannya yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya. Gross, Mason dan McEachern mendefinisikan peranan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Harapan-harapan tersebut merupakan imbangan dari norma-norma sosial dan oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peranan-peranan itu ditentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat. Maksudnya seseorang diwajibkan untuk melakukan hal-hal yang diharapkan oleh masyarakat di dalam pekerjaannya, di dalam keluarga dan di dalam peranan- peranan lainnya.

Di dalam peranan terdapat 2 (dua) macam harapan, yaitu: 1). Harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban-kewajiban dari pemegang peran, 2). Harapan-harapan yang dimiliki oleh si pemegang peran

1

(27)

terhadap masyarakat atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya dalam menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibannya.2

Dalam konsep Islam fiqh (al-ahwal al-syakhshiyyah) telah diatur stuktur dan fungsi anggota keluarga. Setiap anggota keluarga mempunyai peran dan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Seorang laki-laki (suami) sebagai kepala rumah tangga mempunyai tugas dan bertanggung jawab untuk memberi nafkah bagi keluarganya (isteri dan anak-anak), sementara perempuan (isteri) berkewajiban mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anak serta mengurus masalah-masalah domestik (dalam rumah).3

Seorang ayah dianggap sebagai kepala keluarga yang diharapkan mempunyai sifat-sifat kepemimpinan yang mantap sesuai dengan ajaran-ajaran tradisional (jiwa), maka seorang pemimpin harus dapat memberikan semangat sehingga pengikut itu kreatif. Sebagai seorang pemimpin di dalam rumah tangga, seorang ayah juga harus mengerti serta memahami kepentingan-kepentingan dari keluarga yang dipimpinnya.

Walaupun tidak dinyatakan secara konkret, akan tetapi pada umumnya anak-anak mengharapkan fungsi-fungsi ideal tersebut di atas terwujud di dalam kenyataannya. Di dalam proses sosialisasi, seorang ayah harus dapat menanamkan hal-hal yang kelak dikemudian hari, merupakan modal utama untuk dapat berdiri sendiri. Misalnya, seorang ayah diharapkan untuk menurunkan nilai/ norma yang memegang teguh prinsip tanggung jawab terhadap hal-hal yang dilakukan. Nilai

2

David Berry, Pokok-pokok Pikiran dalam Sosiologi (Jakarta: CV. Rajawali, 1981), h. 99-101.

3

(28)

kejujuran merupakan nilai yang harus diutamakan oleh seorang ayah, dan sikap untuk senantiasa tidak bergantung kepada orang lain.

Di dalam menanamkan rasa tanggung jawab di dalam diri si anak, bahwa apabila dia berbuat kesalahan, maka pengakuan harus datang dari dirinya. Artinya, jangan sampai menunggu bahwa kesalahan tersebut ditunjuk oleh orang lain. Dari seorang ayah diharapkan suatu kewibawaan, dan semakin meningkat usia si anak, peranan tersebut berubah menjadi seorang kakek atau sahabat.4

Seperti yang sudah dijelaskan diatas tentang peranan ayah, ada juga peranan ayah atau pria yang disebutkan dalam buku yang berjudul “Wanita Indonesia, Konsepsi dan Obsesi”, sebagai berikut:

- pria berperan sebagi bapak atau suami dalam kehidupan rumah tangga. - pria berperan sebagai pemimpin atau kepala rumah tangga.

- pria berperan sebagai pengambil keputusan utama dalam rumah tangga. - pria berperan sebagai pengarah atau penunjuk jalan dalam rumah tangga. - pria berperan sebagai pendidik atau pengajar bagi anggota keluarga di rumah tangga.

- pria berperan sebagai motor penggerak jalannya rumah tangga sekaligus berfungsi sebagai mekanisme atau tukang memperbaiki bila terjadi kerusakan dalam roda rumah tangga.5

Begitu juga dengan peranan ibu pada masa anak-anak besar sekali. Sejak anak dilahirkan, peranan tersebut tampak dengan nyata sekali. Tugas alami untuk

4

Soerjono Soekanto, Sosiologi Keluarga; Tentang Ihwal Keluarga, Remaja dan Anak

(Jakarta: Rineka Cipta, 1992), Cet ke-2, h. 116. 5

(29)

pekerjaan ibu adalah mengurus rumah tangga, menjadi seorang istri, menjadi ibu dari anak-anaknya, serta menjadi pendidik, pengatur, dan pemelihara rumah tangga. Ibu adalah pemimpin rumah tangganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.6

Kaum suami diposisikan sebagai kepala keluarga karena pada umumnya mereka yang lebih kuat, sehingga merekalah yang melindungi kaum istri. Dalam hal ini, tidak berarti mereka harus memiliki semua kekuasaan, melainkan harus ada kesepakatan atau kerjasama. Suami dan istri yang saling membantu, menolong dan memikul tanggung jawab bersama merupakan “kata kunci”.

Pada suatu kenyataan yang harus disadari bersama antara suami-istri atau laki-laki dan perempuan bahwa kepemimpinan sebuah keluarga atau rumah tangga sebaliknya dilaksanakan bersama-sama, sebab jika hanya satu dari dua, akan memunculkan kediktatoran.7

Orang tua sebenarnya merupakan kunci motivasi dan keberhasilan anak. Tidak ada pihak lain yang akan dapat menggantikan peranan orang tua seutuhnya. Keberhasilan orang tua di dalam menunjang motivasi dan keberhasilan anak terletak pada eratnya hubungan orang tua dengan anak-anaknya. Orang tua merupakan tempat anak berlindung dan mendapatkan kedamaian melalui keserasian antara ketertiban dan ketentraman, dan mempertimbangkan dan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.8

6

Husein Syahatah, Ekonomi Rumah Tangga Muslim (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), Cet ke-1, h. 127.

7

Subhan, Rekonstruksi Pemahaman Jender dalam Islam, h. 29. 8

(30)

2. Pengertian Orang Tua

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata orang tua mempunyai arti sebagai berikut: 1). Ayah ibu dan kandung, 2). Orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli, dsb), 3). Orang-orang yang dihormati dan disegani dikampung.9

Sedangkan dalam Bahasa Arab, orang tua bisa diistilahkan dengan "al-Walidain". Kata ini adalah bentuk jamak dari "al-waalid" yang bisa diartikan bapak kandung. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Isra ayat 23, yang berbunyi:

كﺪْ

ﻐ ْ

ﺎ إ

ﺎ ﺎﺴْﺣإ

ْﺪ اﻮْﺎ و

ﺎ إ

ﺎ إ

اوﺪ ْ

ﺎ أ

ﻚ ر

ﻰﻀ و

ﺎ هﺎ آ

ْوأ

ﺎ هﺪﺣأ

ﺮ ﻜْا

ﺎ ﻬ

ْ و

ﺎ هْﺮﻬْ

ﺎ و

فأ

ﺎ ﻬ

ْ

ﺎ ﻓ

ﺎ ﺮآ

ﺎ ْﻮ

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia".10

Pengertian orang tua juga adalah ibu bapak yaitu orang yang melahirkan (bagi ibu), merawat, mendidik, dan bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam aspek kehidupan yang dapat membentuk anak menjadi pribadi-pribadi yang mampu mensosialisasikan semua itu dalam kehidupan beragama. berbangsa dan bernegara.

Kedua orang tua melakukan bagian (kewajiban) mereka dalam membesarkan anak-anak dengan bayaran berupa kesenangan dan kenyamanan

9

Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 629. 10

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an (YPPA), Al-Qur’an dan Terjemahnya

(31)

yang mereka dapatkan. Ayah merasa bahagia menghabiskan uangnya yang didapatkannya dengan susah payah atas mereka, sementara ibu memberi makan mereka dari (air susu)nya. Oleh karenanya anak-anak tumbuh besar oleh kerja keras bersama, cinta dan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Maka dari itu perlakuan yang terbaik dari anak-anak (untuk mereka) ditekankan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi hal itu adalah juga suatu fakta yang paling sederhana, bahwa seorang ibu melakukan lebih banyak pengorbanan dan memikul penderitaan lebih besar dari pada seorang ayah ketika membesarkan anak-anak.

Ibu memberi makanan dan menjaga mereka dengan mengorbankan kesenangannya di siang hari dan tidurnya di malam hari, tanpa suatu perasaan ketamakan (kerakusan) atau tekanan (paksaan), tetapi semata-mata keluar dari perasaan cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan ikhlas yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam sejarah manusia. Inilah alasan mengapa al-Qur’an telah memberi ibu kedudukan lebih penting dan menekankan atas anak-anak agar lebih penuh perhatian serta bersikap patuh kepadanya jika dibandingkan dengan ayah.

Fakta menjadi jelas, bahwa ibu mendapat pelayanan, cinta, sikap patuh, ketaatan dan terima kasih anak-anaknya lebih dari sang ayah. Ini dibenarkan, karena sang ibu menghadapi penderitaan yang pedih, dan memberikan pengorbanan yang khusus dalam membesarkan anak-anaknya.11

Hadits Nabi SAW, yang mengatakan bahwa “ibu adalah pengembala di rumah tangga dan suaminya bertanggung jawab atas gembalaannya”, sesungguhnya mengisyaratkan kerjasama ibu dan ayah dalam pendidikan anak.

11

(32)

Hanya saja, terutama dalam lingkungan keluarga yang menuntut ayah lebih berada di luar rumah untuk mencari nafkah dan ibu lebih banyak di rumah untuk mengatur urusan rumah dan pengaruh pendidikan yang diberikan ibu lebih besar. Hal ini karena anak dalam proses tumbuh kembangnya sampai menjadi manusia yang memikul kewajiban banyak dekat dengan ibunya. Itulah sebabnya mengapa wanita penting dipersiapkan untuk menjadi ibu yang diharapkan mampu menjalankan tugas sebagai pendidik.

Tugas-tugas dan Kewajiban Orang Tua

Di masa ini banyak buku-buku bacaan, majalah-majalah yang menjelaskan teori pendidikan dan ilmu jiwa perkembangan anak untuk membekali orang tua dalam mendidik anak. Sedangkan di dalam Al-Qur'an/ Hadits banyak dijelaskan tentang kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua, antara lain adalah:

a. Menanamkan akidah atau tauhid b. Memberi nama yang baik kepada anak c. Menanamkan akhlak yang baik

d. Mendidik anak agar berbakti kepada kedua orang tua e. Melatih anak mengerjakan shalat

f. Mengajarkan Al-Qur'an

(33)

Sesuai dengan ajaran Islam, pendidikan anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua, dan hasil ataupun buah dari pendidikan anak tersebut kelak diakhirat nanti, kedua orang tuanya akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Dalam hal ini tugas-tugas dan kewajiban orang tua terhadap anaknya antara lain adalah:

a. Menanamkan akidah atau tauhid

Kewajiban pokok manusia adalah taat kepada Allah, karena itu sebagai orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan akidah tauhid, yaitu menanamkan keimanan kepada Allah SWT. Tuhan Maha Tunggal dan Maha Berkuasa atas segala-galanya yang wajib disembah, menyembah selain Allah adalah perbuatan syirik.12 Sebagaimana yang dijelaskan Allah melalui firman-Nya;

كْﺮ ا

نإ

ْكﺮْ

ﻮهو

ْﺎ

نﺎ ْ

لﺎ

ْذإو

ْﻈ

" Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: " Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS. Luqman/ 31: 13).13

Menanamkan ajaran tauhid kepada anak sejak kecil adalah kewajiban paling utama bagi orang tua. Tauhid dalam bentuknya yang murni merupakan akidah (keyakinan yang kuat dalam jiwa) yang akan menjadi " way of life " (asas hidup). Bukan hanya sekedar ucapan yang terlontar lewat mulut atau hanya menempel dihati, akan tetapi akidah tauhid meronai seluruh hidup dan kehidupan seseorang. Tauhid yang benar akan tercermin dalam syariat yang benar dan akhlak yang mulia. Efeknya yang pertama antara lain menerapkan syariat Allah sebagai

12

M. Thalib, 40 Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1995), Cet ke-9, h. 82.

13

(34)

pokok hukum yang mendominasi hidup dan kehidupan manusia. Jika tidak, maka akidah tauhid berarti belum tegak dalam dirinya, sebab hanya dengan tauhid jiwa itu akan tegak. Sebaliknya, tauhid (akidah) seseorang itu belum dianggap tegak jika pengaruhnya tidak dapat direalisasikan dalam seluruh aspek kehidupan.14

Untuk dapat mengajarkan tauhid pada anak-anak, terlebih dahulu orang tua harus mengetahui pentingnya pendidikan tauhid agar tidak lengah menanamkan ajaran ini kepada anak-anak. Orang tua juga harus lebih dahulu wajib mengetahui keyakinan dan perbuatan-perbuatan syirik, kufur dan munafik. Jika orang tua sendiri tidak tahu makna keyakinan syirik dan kafir, maka keyakinan tauhid sudah tentu tidak akan dapat ia ajarkan kepada anaknya.

Upaya untuk mengajarkan tauhid atau akidah kepada anak dapat ditempuh dengan praktis adalah sebagai berikut: mengajarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang menerangkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini, memberikan pendidikan keimanan yaitu mengajarkan anak beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat, beriman kepada Kitab, beriman kepada hari akhir, beriman kepada takdir dan beriman kepada perkara-perkara yang ghaib.

Pendidikan keimanan adalah mengajarkan kepada seorang anak sejak mulai anak dapat berfikir tentang rukun iman serta membiasakan anak untuk melaksanakan rukun Islam dan mengajarkan pula tentang syariat Islam sejak masa tamyiz atau usia sekolah.

Wajib bagi orang tua atau pendidik untuk menumbuhkan dalam jiwa seorang anak kefahaman tentang keimanan, sebagai dasar bagi pendidikan Islam. Dengan demikian akan terjalinlah akidah yang benar dengan ibadah yang sesuai.

14

(35)

Maka anak hanya akan mengenal Islam sebagai agamanya dan Al-Qur'an sebagai imannya serta Rasulullah SAW sebagai tokoh dan pemimpin yang wajib diteladani.15

Selain langkah menanamkan tauhid, orang tua harus menjauhkan anak-anak dari bacaan-bacaan, kaset-kaset serta film-film yang potensial merusak akidah, akhlak dan kesehatan jiwa anak. Melihat betapa banyaknya ajaran yang sesat, pikiran yang bertentangan dengan akidah tauhid, maka orang tua wajib membimbing anak-anaknya dalam memilih buku bacaan, kaset, nyanyian atau ceritera dan film sejarah atau pun ilmu pengetahuan. Karena pada zaman modern ini sarana kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan jauh lebih banyak dibanding sarana pendidikan tauhid. Juga perlu diperhatikan oleh para orang tua pola pikir kafir dan musyrik agar anak-anak dapat diselamatkan dari pengaruh berfikir kufur dan syirik.16

b. Memberi nama yang baik kepada anak

Ada dua kewajiban orang tua yang mutlak harus diberikan kepada putra-putrinya yang baru lahir, adalah memberikan nama yang baik dan memberikan kasih sayang. Rasulullah SAW menerangkan hadits yang artinya berbunyi " sebagian dari pada kewajiban ayah terhadap anaknya ialah beri dia nama yang baik, ajari dia menulis dan kawinkan dia apabila ia baligh " (HR. Ibnu Najjar).

Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya adalah memberikan nama yang baik karena nama merupakan segala sesuatu yang berarti baik bagi sang anak. Karena nama mengandung sebuah makna dan harapan dari kedua orang tuanya. Untuk itu, hendaknya orang tua memberikan nama yang

15

Salwa Shahab, Membina Muslim Sejati (Gresik: Karya Indonesia, 1989), Cet ke-1, h. 24.

16

(36)

mempunyai harapan baik di hari depannya, sehingga menjadi motivasi bagi sang anak dalam mengarungi bahtera kehidupan. Selain mengandung makna dan harapan orang tua, nama sangat berarti untuk kepentingan diri sendiri, karena nama merupakan predikat dan identitas seseorang.

Nama yang diberikan orang tuanya seringkali menentukan kehormatannya, dengan nama itu dapat menunjukkan identitas keluarganya, bangsa dan agama. Para ahli ilmu jiwa anak-anak maupun ahli pendidikan anak menyadari pentingnya nama dalam pembentukan konsep jati diri. Secara tidak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image, gambaran) yang terkandung dalam namanya. Teori labelling (penamaan) menjelaskan, kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Untuk itu Islam mengajarkan kepada umatnya “berilah nama yang baik kepada anak-anakmu" karena nama mengandung unsur doa dan harapan dimasa yang akan datang.17

Nama seseorang juga tidak hanya terpakai semasa ia hidup di dunia ini, tetapi terus terpakai sampai di alam akhirat. Dihadapan Allah kelak, ketika kita semua menghadapi panggilan dan perhitungan amal kita, nama yang kita pakai di dunia inilah yang akan disebut untuk memanggil diri kita. Karena itu, hendaklah para orang tua memberi nama yang baik lagi indah kepada anak-anaknya, nama

yang mengandung pujian atau doa dan harapan atau semangat keluhuran.18

c. Menanamkan akhlak yang baik

Setiap orang tua ingin membina anaknya agar menjadi orang yang baik,

mempunyai kepribadian yang kuat, sikap mental yang sehat dan akhlak yang

17

Maimunah Hasan, Membangun Kreativitas Anak secara Islami (Yogyakarta: Bintang Cemerlang, 2001), h. 10-11.

18

(37)

terpuji. Semuanya itu dapat di usahakan melalui pendidikan, baik yang formil (di

sekolah) maupun yang informal (di rumah).19

Orang tua berkewajiban membiasakan anak-anaknya berakhlak Islam, dan

setiap orang tua juga harus tahu seluk beluk agama Islam agar ia dapat

mengajarkannya kepada anak-anaknya. Adapun yang harus diajarkan orang tua

kepada anaknya tentang pendidikan akhlak antara lain adalah: orang tua harus

senantiasa tanggap terhadap perilaku anaknya yang tidak sesuai dengan Islam.

Jadi, orang tualah yang harus istiqamah menjaga akhlak Islam supaya

anak-anaknya dapat mencontoh dan melakukan akhlak yang baik, bila hendak masuk

rumah mengucapkan salam, hendak bepergian pamit dan minta izin kepada kedua

orang tua, berdo'a sebelum dan sesudah tidur dan menjauhkan diri dari hal-hal

kotor.20

Adapun tujuan dari pendidikan akhlak antara lain adalah membentuk

putera-puteri berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan

keras, beradab sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur

dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya. 21

d. Mendidik anak agar berbakti kepada kedua orang tua

AI-Qur'an telah mengisahkan derita sengsara seorang ibu dalam mengandung, melahirkan, menyusui dan memelihara anak-anaknya. Begitu pula betapa beratnya dan susahnya seorang bapak berusaha mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.

19

Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996), Cet ke-15, h. 56.

20

Thalib, 40 Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak, h. 80-81. 21

(38)

Semua pengorbanan ini mengharuskan seseorang untuk memikirkan dan merasakan betapa perlunya membalas budi kebaikan ibu dan bapak.22 Dalam hal ini Allah berfirman dalam Q.S. Al-Luqman/ 31:14

ﺎ ﻓو

ْهو

ﺎ ْهو

أ

ْ ﺣ

ْﺪ اﻮ

نﺎﺴْﺈْا

ﺎ ْ وو

ْﺮﻜْ ا

نأ

ْ ﺎ

ْا

إ

ﻚْﺪ اﻮ و

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tua ibu bapak; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapinya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu".23

Kewajiban taat kepada kedua orang tua menempati urutan kedua setelah Allah, karena itu sang ibu wajib mengajarkan kepada putera-puterinya agar berbakti kepada kedua orang tuanya sejak kecil agar tidak menjadi orang lalai, yang melupakan budi jasa orang tuanya. Banyak terjadi, anak-anak acuh bahkan melawan orang tuanya. Ini tidak lain disebabkan kelalaian orang tuanya sebagai pendidik yang pertama.24

Islam memberikan tuntunan berbuat baik dan bertindak yang beradab kepada ibu bapak, antara lain:

_

orang tua harus mengajarkan kepada anaknya bahwa keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua.

- berbakti kepada orang tua harus didahulukan dari pada jihad di jalan Allah SWT, berdo'a untuk orang tua setelah mereka wafat dan menghormati teman mereka itu termasuk pengabdian kepada kedua orang tua.

22

M. Thalib, Pedoman Mendidik Anak Menjadi Shalih (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1996), Cet ke-1, h. 161-162.

23

Yayasan Penyelenggara dan Penterjemah Al-Qur’an (YPPA), Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 654.

24

(39)

- berbakti kepada ibu harus didahulukan dari pada berbakti kepada bapak. Islam mendahulukan berbakti kepada ibu ketimbang kepada ayah karena sebab berikut: karena ibu lebih banyak memperhatikan anak, mulai hamil, melahirkan, menyusui, megurus, merawat dan mendidik anaknya dari pada ayah.

- tatakrama berbakti kepada kedua orang tua. Kewajiban para pendidik adalah mengajari anak-anak akan sopan santun bertingkah laku terhadap orang tua mereka yang urutannya adalah sebagai berikut: anak-anak tidak berjalan di depan orang tua mereka, tidak memanggil mereka dengan nama mereka, tidak membantah nasehat mereka, berbicara dengan lemah lembut dengan muka manis dan tutur kata yang baik, minta izin bila hendak bepergian serta tidak membantah perintah mereka.25

Orang tua harus mendidik dan mengajarkan perilaku hormat kepada orang tua tersebut diatas secara bertahap dan konsisten. Bila anak-anak tidak mematuhi ketentuan tersebut, maka pertama-pertama mereka harus diperingatkan dan dinasehati.

Mendidik anak memang tidak hanya bisa dengan nasehat semata-mata. Karena itu, berbagai metode pendidikan dan pengajaran harus dicoba diterapkan oleh orang tua sampai memperoleh hasil yang diinginkan sejalan dengan ketentuan syariat. Tujuan orang tua mendidik anak agar mereka berlaku beradab

kepada orang tua dan supaya mereka tidak durhaka kepada ibu bapaknya. Karena

perbuatan durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar.26

25

Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Sosial Anak: Pendidikan Anak menurut Islam

(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992), Cet ke-2, h. 41. 26

(40)

e. Melatih dan mengajarkan anak shalat

Cara paling tepat mendidik anak-anak mengenal Allah adalah melatih anak

mengerjakan shalat, dengan cara ini para orang tua membiasakan anak-anak untuk

bersujud, walaupun mereka belum mengerti kepada siapa dan untuk apa mereka

bersujud. Tetapi minimal anak-anak dapat menghayati bahwa dia bersama orang

tuanya bersujud bersama-sama. Sekalipun ia tidak tahu untuk siapa dan untuk apa

orang tuanya bersujud pula, namun dengan begitu sudah tertanam dihati anak

bahwa yang paling tinggi diatas dirinya bukanlah orang tuanya. Inilah yang paling

penting tertanam dihati anak, bahwa orang tua masih tunduk kepada orang lain.

Begitu pentingnya shalat sebagai jalan menjadikan manusia tunduk kepada

Allah SWT, maka Nabi Ibrahim memohon kepada Allah SWT agar dirinya dan

keturunannya dijadikan sebagai orang -orang yang tetap menegakkan shalat. Hal

ini tercantum dalam Q.S. Ibrahim/ 14: 40

ءﺎ د

ْ و

ﺎ ر

رذ

ْ و

ةﺎ ا

ْ ْﺟا

بر

" Hai Tuhanku, jadikanlah aku yang paling mendirikan shalat dan (begitu juga) anak cucuku; Hai Tuhan kami, kabulkanlah do'a ku!".27

Orang tua harus menyadari bahwa shalatlah yang merupakan pilar utama untuk mengisi jiwa anak-anak dalam berakidah tauhid, sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anak-anaknya mengerjakan shalat ketika berumur 7 tahun.

Adapun orang yang mempunyai kewajiban melatih anak-anak mengerjakan shalat sudah tentu ia harus lebih dahulu mengerti tentang cara shalat yang benar menurut tuntunan hadits-hadits Rasulullah. Jangan sampai

27

(41)

mengerjakan shalat dengan semaunya tanpa dasar hadits Rasulullah atau hanya berpegang teguh pada nasehat kiayi atau buku-buku tuntunan shalat yang tidak ada dasarnya.28

f. Mengajarkan Al-Qur'an

Selain mengajarkan shalat kepada anak, hendaklah mereka juga diajarkan mengaji (melatih membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar), agar ketika dewasa tidak mengalami kesulitan dan tidak menyesal, karena Al-Qur'an merupakan pedoman pokok Islam. Sudah logis orang Islam dapat membaca dan memahami Al-Qur'an. Mengajarkan anak membaca Al-Qur'an adalah sumber dari segala sumber hukum seorang muslim, karena itu sudah sepantasnyalah jika seorang muslim dapat membaca dan memahami isinya, kemudian mengamalkan perintah di dalamya.29 Setiap orang dapat dikatakan benar dalam menjalankan kewajiban agama Islam jika ia dapat membaca dan memahami Al-Qur'an dalam bahasa aslinya, bukan lewat transkip atau terjemahan. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib mempelajari bahasa Arab yang kata-katanya dipergunakan dalam Al-Qur'an, minimal sebanyak kata-kata yang terpakai dalam Al-Qur'an atau Hadits-hadits Rasulullah.

Sebagai umat Islam anak-anak wajib diajari membaca Al-Qur'an minimal mengenal huruf-huruf dan cara membacanya, karena sejak umur tujuh tahun orang tua wajib mendidik anak-anaknya mengerjakan shalat. Sedangkan do'a dan bacaan shalat sebagian diambil dari ayat Al-Qur'an dan yang lain dari Hadits-hadits Rasulullah. Oleh sebab itu, logislah setiap orang tua muslim mengajarkan

28

Thalib, 40 Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anak, h. 88-89. 29

(42)

membaca dan menulis Al-Qur'an guna memenuhi kewajiban beribadah kepada Allah, seperti shalat.

Cara-cara orang tua mengajarkan anak-anaknya membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

- mengajarkannya sendiri dan cara ini yang terbaik, karena orang tua sekaligus dapat lebih akrab dengan anak-anaknya dan mengetahui sendiri tingkat kemampuan anak-anaknya. Ini berarti orang tualah yang wajib terlebih dahulu dapat membaca Al-Qur'an dan memahami ayat-ayat yang dibacanya.

- menyerahkan kepada guru mengaji Al-Qur'an atau memasukkan anak-anak di sekolah-sekolah yang mengajarkan baca tulis Al-Qur'an.

- dengan alat yang lebih canggih, dapat mengajarkan Al-Qur'an lewat video casette jika orang tua mampu menyediakan peralatan semacam ini. Tetapi cara pertamalah yang terbaik.

Setiap orang tua harus menyadari bahwa mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak adalah suatu kewajiban mutlak, sebab bagaimana anak-anak dapat mengerti ayatnya jika mereka tidak mengerti Al-Qur'an. Selain itu untuk

kepentingan bacaan dalam shalat, anak-anak pun wajib mengetahui dapat

membaca surat Al-Fatihah atau surat-surat lain yang menjadi keperluan, muslim

dalam shalat. Dengan adanya tuntunan kewajiban shalat sehingga orang tua wajib

melatih anaknya sejak umur tujuh tahun mengerjakan shalat, maka mutlak orang

tua harus mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya.30

30

(43)

B. Pembinaan Keberagamaan Anak

1. Pengertian Pembinaan Keberagamaan Anak

Kata pembinaan berasal dari kata “bina” yang berarti bangun, bentuk.31 Jika mendapat awalan me- menjadi " membina " yang mempunyai arti mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna, dsb). Pembinaan itu sendiri berarti usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.32 Pembinaan dalam kamus Bahasa Indonesia kontemporer adalah “proses membina, membangun, atau menyempurnakan, upaya mendapat hasil yang lebih baik”.

Keberagamaan adalah pembicaraan mengenai pengalaman atau fenomena yang menyangkut hubungan antar agama dan penganutnya, atau suatu keadaan yang ada di dalam diri seseorang (penganut agama) yang mendorongnya untuk bertingkah laku yang sesuai dengan agamanya.33

Kata keberagamaan berasal dari kata “Beragama”. Kata beragama dalam kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu, antara lain:

1. Menganut (memeluk) agama.

2. Beribadah, taat kepada agama (baik hidupnya menurut agama), misalnya ia berasal dari keluarga yang taat beragama.34

Nurkholis Majid mengemukakan tentang pengertian agama. Menurut beliau agama merupakan fitrah munazalah (fitrah yang diturunkan) yang diberikan Allah untuk menguatkan fitrah yang ada pada manusia secara alami. Agama dapat

31

Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English, 1991), h. 205.

32

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 117. 33

Djamaludin Ancok, Psikologi Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h. 76. 34

(44)

dikatakan sebagai kelanjutan natur manusia sendiri dan merupakan wujud nyata dari kecenderungan yang dialaminya.

Fitrah beragama dalam diri manusia merupakan naluri yang menggerakkan hatinya untuk melakukan perbuatan " suci " yang di ilhami oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah manusia mempunyai sifat suci, yang dengan nalurinya

tersebut ia secara terbuka menerima kehadiran Tuhan Yang Maha Esa.35

Selanjutnya Mohammad Djamaluddin, mendefinisikan keberagamaan

sebagai manifestasi seberapa jauh individu penganut agama meyakini,

memahami, menghayati dan mengamalkan agama yang dianutnya dalam

semua aspek kehidupan.36

Keberagamaan atau religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat oleh mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang. Karena itu, keberagamaan seseorang meliputi berbagai macam sisi dimensi, dengan demikian agama adalah sebuah sistem yang berdimensi banyak.

Agama, dalam pengertian Glock & Stark adalah sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem perilaku keterlembagaan, yang semuanya itu berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai yang paling maknawi.

Menurut Glock & Stark, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu: dimensi keyakinan (ideologis), dimensi peribadatan/ praktek agama (ritualistik),

35

Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), Cet ke-1, h. 20. 36

(45)

dimensi penghayatan (eksperiensial), dimensi pengamalan (konsekuensial), dan dimensi pengetahuan agama (intelektual).37

Keberagamaan menurut penulis adalah bagaimana seseorang itu berperilaku dalam agama, ia memahami dan mengamalkan ajaran agamanya sesuai dengan perintah Tuhan Yang Maha Esa dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa. Dari kata-kata orang yang ada dilingkungannya, yang pada permulaannya diterimanya secara acuh tak acuh saja. Akan tetapi setelah ia melihat orang-orang dewasa menunjukkan rasa kagum dan takut terhadap Tuhan, maka mulailah ia merasa sedikit gelisah dan ragu tentang sesuatu yang ghaib yang tidak dapat dilihatnya itu, mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya. Lambat laun tanpa disadarinya, akan masuklah pemikiran tentang Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya dan menjadi obyek pengalaman agamis. Maka Tuhan bagi anak-anak pada permulaan, merupakan nama dari sesuatu yang asing, yang tidak dikenalnya dan diragukan kebaikan niatnya.38

Perkembangan agama pada masa anak, melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, di sekolah dan dalam masyarakat lingkungan. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama, (sesuai dengan ajaran agama), akan semakin banyak unsur agama, sikap, tindakan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama.39

37

Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islam: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), Cet ke-1, h. 77.

38

Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, h. 35-36. 39

(46)

Pembinaan keberagamaan anak adalah pembinaan agama pada anak yang dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat sehingga anak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan mengamalkan ajaran agama.

Memahami konsep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak turnbuh mengikuti pola “ideas concept on authority" . Idea keagamaan pada anak hampir sepenuhnya authoritarius, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh unsur dari luar dari mereka. Hal tersebut dapat dimengerti karena anak sejak usia muda telah melihat, mempelajari hal-hal yang berada di luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu hingga kemashalatan agama. Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua maupun guru mereka. Bagi mereka sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun ajaran itu belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut.40

Dalam Islam penyemaian rasa agama dimulai sejak pertemuan ibu dan bapak yang membuahkan janin dalam kandungan, yang dimulai dengan do'a kepada Allah, agar janinnya kelak lahir dan besar menjadi anak saleh. Begitu si anak lahir, dibisikkan ditelinganya kalimah adzan dan iqamah, dengan harapan

40

(47)

kata-kata thaiyibah itulah hendaknya yang pertama kali didengar oleh anak, kemudian ia akan berulang kali mendengar.

Agama bukan ibadah saja, agama mengatur seluruh segi kehidupan. Semua penampilan ibu dan bapak dalam kehidupan sehari-hari yang disaksikan dan dialami oleh anak bernafaskan agama, disamping latihan dan pembiasaan tentang agama, perlu dilaksanakan sejak si anak kecil, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya.41

Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dulu. Apabila seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, maka pada dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang di waktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, misalnya ibu-bapaknya orang yang tahu beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup menjalakan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama secara sengaja di rumah, sekolah dan masyarakat. Maka orang-orang itu akan dengan sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama.42

Anak mengenal Tuhan, juga melalui ucapan ibunya di waktu ia kecil. Apa pun yang dikatakan ibunya tentang Tuhan, akan diterimanya dan dibawanya sampai dewasa.

41

Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, h. 64. 42

(48)

Dalam memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada anak, hendaklah didahulukan sifat-sifat Allah yang mendekatkan hatinya kepada Allah, misalnya: Penyayang, Pengasih, Adil dan lain sebagainya. Dan hendaklah si anak dijauhkan dari perasaan yang mendorongnya kepada prasangka buruk kepada Tuhan seperti sifat keras, jahat, kejam dan sebagainya.

Perlu diketahui, bahwa kualitas hubungan anak dan orang tuanya, akan mempengaruhi keyakinan beragamanya dikemudian hari. Apabila ia merasa disayang dan diperlakukan adil, maka ia akan meniru orang tuanya dan menyerap agama dan nilai-nilai yang dianut oleh orang tuanya. Dan jika yang terjadi sebaliknya, maka ia menjauhi apa yang diharapkan oarng tuanya, mungkin ia tidak mau melaksanakan ajaran agama dalam hidupnya, tidak shalat, tidak puasa dan sebagainya.43

2. Ruang Lingkup Pembinaan Keberagamaan Anak

Ruang lingkup keberagamaan anak sejalan dengan isi pendidikan agama Islam di Sekolah Dasar, yang menjadi materi pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah, meliputi empat unsur pokok, yaitu:

1. Keimanan adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, dari padanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.

2. Akhlak adalah perbuatan yang biasa dilakukan tanpa memerlukan pikiran. 3. Ibadah yaitu menyerahkan diri kepada Allah dan selalu mengikuti perintah-Nya

dan menuruti yang dikehendakiNya.

43

(49)

4. Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup manusia.44

Ruang lingkup bahan pelajaran diatas, merupakan usaha untuk mewujudkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:

1. Hubungan manusia dengan Allah SWT. 2. Hubungan manusia dengan manusia. 3. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

4. Hubungan manusia dengan makhluk lain dan alam lingkungannya.45 3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Keberagamaan anak

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi dalam membina keberagamaan anak, seperti yang dikemukakan oleh Mahyudin dalam bukunya " Konsep Dasar Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur'an " yang diringkas sebagai berikut:

1). Faktor Pembawaan Naluriah (garizah atau instink)

Sebagai makhluk biologis, ada faktor bawaan sejak lahir yang menjadi pendorong perbuatan setiap manusia, faktor itu disebut naluri. Naluri tidak pernah berubah sejak manusia itu lahir, akan tetapi pengaruh negatifnya bisa dikendalikan oleh faktor pendidikan, latihan atau pembiasaan. Karena faktor naluri ini sangat terkait dengan nafsu (ammarah dan mutmainah), maka dapat membawa manusia kepada kehancuran moral, dan dapat pula menyebabkan manusia mencapai tingkat yang lebih tinggi.46

44

Departemen Agama RI, Panduan Guru Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), tahun 2003.

45

Departemen Pendidikan Nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 (Jakarta: Puskur-Dit. PGTK S, 2003), h. 318.

46

(50)

Tatkala naluri manusia cenderung kepada perbuatan buruk, maka akal dan tuntunan agama dapat mengendalikannya. Tetapi tatkala naluri itu cenderung kepada perbuatan baik, maka akal dan tuntunan agama yang dapat memberikan jalan seluas-luasnya untuk meningkatkan intensitas perbuatan itu. Disinilah perlunya manusia memiliki agama sebagai pengendali dan menuntun dalam hidupnya.47

2). Faktor Sifat-sifat Keturunan dan Pendidikan

Sifat-sifat keturunan dari orang tua kepada keturunannya ada dua, yaitu sifat langsung dari kedua orang tua kepada anaknya, dan sifat tidak langsung yang

tidak turun kepada anaknya, tetapi bisa turun kepada cucunya atau anaknya. 48 Disamping adanya sifat bawaan anak sejak lahir (naluri dan sifat keturunan), sebagai potensi dasar untuk mempengaruhi perbuatan manusia ada juga faktor lingkungan yang mempengaruhinya, yaitu pendidikan dan tuntunan agama. Semakin besar pengaruh faktor pendidikan dan tuntunan agama kepada manusia, semakin kecil pula kemungkinan warisan sifat-sifat buruk orang tua dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya. Dengan demikian peranan orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk anaknya menjadi manusia yang beragama, berilmu dan berakhlak.

3). Faktor Lingkungan dan Adat Kebiasaan

Pertumbuhan dan perkembangan manusia, ditentukan oleh faktor dari luar dirinya, yaitu faktor pengalaman yang disengaja maupun yang tidak. Pengalaman

47

Mahyudin, Konsep Dasar Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits, h. 26.

48

(51)

yang disengaja termasuk pendidikan dan latihan, sedangkan yang tidak disengaja termasuk lingkungan alam dan lingkungan sosialnya (adat kebiasaan).49

Ketika manusia lahir di lingkungan yang baik, maka pengaruhnya kepada pembentukan perilaku/ akhlaknya juga baik. Bila ia lahir di lingkungan yang kurang baik, maka akhlaknya juga menjadi tidak baik. Tuntunan agama sangat diperlukan untuk membentuk dan mengembangkan akhlak manusia.

4). Faktor Agama

Agama sebagai suatu sistem kepercayaan, maka ia harus selalu menjadi pegangan dalam spiritual yang membentuk ajaran keimanan dan ketakwaannya, yang akan menjadi motivasi dan pengendali dalam setiap sikap dan perilaku hidup manusia.50

Tatkala manusia itu mendapatkan kesenangan maka ia tidak takabur dan sombong, tetapi ia harus bersyukur kepada zat yang memberikan kesenangan yaitu Allah. Ketika ia ditimpa kesusahan sebagai suatu cobaan hidupnya maka ia tidak putus asa, tetapi ia harus bersabar menerima ketentuan Allah dan berusaha menghindarinya.

49

Mahyudin, Konsep Dasar Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Penerapannya dalam Hadits, h. 28.

50

(52)

BAB III

GAMBARAN UMUM LATAR BELAKANG ORANG TUA DAN MI AL-IHSAN

A. Orang Tua

Untuk mengetahui sejauh mana peranan orang tua di rumah, sedikit akan disinggung mengenai latar belakang orang tua, dilihat dari tingkat pendidikan, ekonomi dan juga dari komunitas atau kehidupan sosialnya.

1. Latar Belakang Pendidikan

Setelah penulis teliti tentang latar belakang pendidikan orang tua ternyata sebagian besar para orang tua tersebut dapat mengenyam pendidikan baik dari tingkat sekolah dasar (SD), tingkat menengah bawah (SLTP), tingkat atas (SLTA) maupun perguruan tinggi (PT). Adapun jumlah para orang tua yang lulus perguruan tinggi (PT) kurang lebih 20 %, lulusan SLTA 30 %, lulusan SLTP 20 % dan sisanya adalah lulusan sekolah dasar (SD). Tingkat pendidikan yang tinggi inilah yang menunjang keberhasilan mereka dalam mendidik putera-puterinya menjadi generasi yang mempunyai imtaq dan iptek.

Gambar

KeadaanTabel 1  Guru Tahun Ajaran 2005-2006
KeadaanTabel 1 Guru Tahun Ajaran 2005 2006 . View in document p.59
Tabel 2 Keadaan Murid
Tabel 2 Keadaan Murid . View in document p.61
Tabel 3 Keadaan Sarana dan Prasarana
Tabel 3 Keadaan Sarana dan Prasarana . View in document p.62
Tabel 4 Persentase Rata-rata Jawaban Mengenai
Tabel 4 Persentase Rata rata Jawaban Mengenai . View in document p.64
Tabel 5 Persentase Rata-rata Jawaban Mengenai
Tabel 5 Persentase Rata rata Jawaban Mengenai . View in document p.65
Tabel 6 Persentase Rata-rata Jawaban Mengenai
Tabel 6 Persentase Rata rata Jawaban Mengenai . View in document p.66

Referensi

Memperbarui...

Download now (79 pages)