Komunikasi Antar Pribadi Ayah Dan Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja (Studi Korelasional tentang Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Ayah terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja di SMA Swasta Al- Ulum, Medan)

Gratis

0
43
140
2 years ago
Preview
Full text

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI AYAH DAN PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK REMAJA

(Studi Korelasional tentang Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Ayah terhadapPerkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja di SMA Swasta Al- Ulum, Medan) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Pendidikan Sarjana(S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Departemen Ilmu KomunikasiDiajukan Oleh :

RIKA AFRIANI 060904036

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

  Penelitian ini merupakan studikorelasional sebuah studi yang bertujuan untuk melihat sejauhmana variasi-variasi antara variabel komunikasi antar pribadi ayah yang berkaitan dengan variabelperkembangan kecerdasan emosional anak remaja yang berdasarkan pada koefisien korelasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Swasta Al-Ulum Medan yang duduk di kelas X dan XI dengan jumlah 304 orang. Berdasarkan koefisien korelasi skala Guilford, hasil 0,412 berada pada skala 0,40-0,70, hal ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup berarti antaraKomunikasi Antar Pribadi Ayah dengan Perkembangan Kecerdasan EmosionalAnak Remaja di SMA Swasta Al-Ulum, dan besarnya pengaruh KomunikasiAntar Pribadi terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja adalah 17%.

KATA PENGANTAR

  Rasa bahagia dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya peneliti ucapkan kepada yang teristimewa ayahanda Chairuddin dan ibunda Marianayang telah banyak memberikan kasih sayang, mendidik, membimbing dan mendoakan serta memberikan kekuatan kepada peneliti baik berupa moril maupunmaterial sehingga peneliti dapat menyelesaikan studi ini, juga kepada kakanda Fitria Ningsih, SE dan Sri Astuty, SE serta adik tersayang Yazid Utomo yang telah memberikan semangat dan doa kepada peneliti. Penelitian ini merupakan studikorelasional sebuah studi yang bertujuan untuk melihat sejauhmana variasi-variasi antara variabel komunikasi antar pribadi ayah yang berkaitan dengan variabelperkembangan kecerdasan emosional anak remaja yang berdasarkan pada koefisien korelasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Swasta Al-Ulum Medan yang duduk di kelas X dan XI dengan jumlah 304 orang.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk yang memiliki rasa dan emosi. Hidup manusia

  Kecerdasan emosional pada remaja yang berkembang dengan baik dapat terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja mampu untuk memberi kesanyang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaandan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif. Jika sang ayah mampu melakukan komunikasi tatap muka dengan anak remajanya maka sang ayah dapat mengetahui apa yang dirasakan sang anak,bagaimana pendapatnya tentang suatu persoalan, apa yang membuatnya senang, apa yang membuatnya khawatir sehingga sang ayah pun dapat memberikanmasukan yang membangun agar anak remajanya dapat mengelola emosi-emosi yang dirasakannya dan dengan begitu perkembangan kecerdasan emosional padaanak remajanya pun dapat berkembang dengan baik.

I. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Lawrance Kincaid, 1981 (dalam Cangara, 2005 : 19) mendefenisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana dua orangatau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Berlo dari Michigan state University menyebut secara ringkas bahwa komunikasi sebagai instrumen dari interaksisosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi sikap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam menciptakan keseimbangan denganmasyarakat (Byrner,1965 dalam Cangara, 2005 : 3).

I. 5.2) Komunikasi Antar Pribadi

  Menurut Devito, komunikasi antar pribadi merupakan pengiriman pesan- pesan dari seorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang denganefek dan umpan balik yang langsung. Juga Tan, 1981 mengemukakan bahwa interpersonal communication (komunikasi antar pribadi )adalah komunikasi tatap muka antara dua orang atau lebih (Liliweri, 1991 :12) Keberadaan interaksi dalam komunikasi antar pribadi menunjukkan bahwa komunikasi antar pribadi tersebut menghasilkan suatu umpan balik pada tingkat a.

I. 5.3) Self Disclosure

  Sidney Gambar : 1Jendela Johari tentang bidang pengenalan diri dan orang lain Diketahui sendiri Tidak diketahui sendiriDiketahui orang lain Tidak diketahui orang lainSumber : (Liliweri,1991 : 53) Asumsi Johari bahwa kalau setiap individu bisa memahami diri sendiri maka dia bisa mengendalikan sikap dan tingkah lakunya di saat berhubungandengan orang lain. Bidang 1, melukiskan suatu kondisi dimana antara seorang dengan yang lain mengembangkan suatu hubungan yang terbuka sehingga dua pihaksaling mengetahui masalah tentang hubungan mereka.

I. 5.4) Remaja

  Perbedaan proses perkembangan yang jelas pada masa remaja ini adalah perkembangan psikoseksualitas dan emosionalitasyang mempengaruhi tingkah laku para remaja, yang sebelumnya pada masa anak tidak nyata pengaruhnya. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung atau dependence terhadap orang tua kearahkemandirian atau independence, minat-minat seksual, perenungan diri, dan Masa remaja ditandai dengan 3 ciri utama:(http://buletinlitbang.dephan.go.id/) a.

I. 5.5) Kecerdasan Emosional

  Selama ini banyak orang menganggap bahwa jika seseorang memiliki tingkat kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, maka orang tersebut memilikipeluang untuk meraih kesuksesan yang lebih besar di banding orang lain. Sementara Yale, Salovey dan Meyer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :“Kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri, untuk berempati terhadap perasaan orang lain dan untuk mengatur emosi yang secara bersamaberperan dalam peningkatan taraf hidup seseorang”(Martin, 2003: 41) Selanjutnya Howes dan Herald (1999) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadipintar menggunakan emosi.

I. 6. Kerangka Konsep

  Kerangka sebagai hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapaidapat mengantar penelitian pada rumusan hipotesis (Nawawi, 1995: 33) Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena yang sama. Model Teoritis Variabel- variabel yang telah dikelompokkan dalam kerangka konsep, dibentuk menjadi model teoritis sebagai berikut :Gambar : 2 Model Teoritis Variabel bebas (X) Variabel terikat (Y) Komunikasi antar Perkembanganpribadi antara ayah dan kecerdasan emosional remajaremaja Karakteristik responden I.8.

I. 9. Defenisi Operasional

  Mengelola emosi, yaitu seseorang yang mampu mengelola emosi dengan baik akan mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan,dapat melepas kecemasan, dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain. Untukdapat membina hubungan dengan orang lain, seseorang harus memiliki kemampuan berkomunikasi, memiliki sikap bersahabatatau mudah bergaul dengan teman sebaya dan memiliki sikap yang demokratis dalam bergaul dengan orang lain.

I. 10. Hipotesa

  Hipotesa adalah suatu kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang masih belum sempurna (Burhan Bungin, 2009:75) Hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :H : Tidak terdapat pengaruh komunikasi antar pribadi antara ayah o dan anak remaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak remajanya. H : Terdapat pengaruh komunikasi antar pribadi antara ayah dan a anak remaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak remajanya.

BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi II.1.1) Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah hubungan kontak antara manusia baik individu

  Lasswell memberikan sebuah formulasi yang banyak digunakan dalam ilmu komunikasi yakni “ Who Says What in Which Channel To Whom With What Effec?” yang menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yaitu : a. Proses ini termasuk sambungan dari proses primer untuk menembus dimensi ruangdan waktu, dalam prosesnya komunikasi sekunder ini akan semakin efektif dan efisien karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakincanggih, yang ditopang oleh teknologi-teknologi lainnya.

II. 1.2) Tujuan Komunikasi

  Misalnya memberikan informasimengenai bahaya dari seks bebas pada remaja khususnya dan tujuannya adalah agar masyarakat dan remaja khususnya tidak melakukan hubunganseks bebas dan agar terhindar dari penularan HIV AIDS. Untuk mengubah masyarakat (to change the society)Memberikan berbagai informasi pada masyarakat, yang pada akhirnya bertujuan agar masyarakat mau mendukung dan ikut serta terhadap tujuaninformasi yang disampaikan.

II. 1.3) Fungsi Komunikasi

  InformasiPengumpulan, penyampaian, pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta, dan pesan, opini dan komentar yang dibutuhkan agar orangdapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi internasional, lingkungan dan orang lain, kemudian agar dapat mengambil keputusanyang tepat. Sosialisasi (pemasyarakatan)Penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif yang menyebabkania sadar akan fungsi sosialnya sehingga ia dapat aktif di dalam masyarakat.

II. 1.4) Proses Komunikasi

  Tahap Ketiga, MediaMedia adalah sarana yang dapat membentuk ciri atau karakteristik pesan komunikasi dan sebagai sarana yang dapat menyebarkan pesan komunikasidalam jarak jauh. Dari pendapat yang dikemukakan Cassagrande, dapat disimpulkan bahwa keinginan berkomunikasi antar pribadi disebabkan karena dorongan pemenuhan Komunikasi antar pribadi sebenarnya merupakan satu proses sosial di mana orang-orang yang terlibat didalamnya saling mempengaruhi.

II. 2.2) Ciri- ciri Komunikasi Antar Pribadi

  Sedangkanextrinsik adalah adanya standar atau tata aturan lain yang ditimbulkan karena adanya pengaruh pihak ketiga atau pengaruh situasi dan kondisisehingga komunikasi antar manusia harus diperbaiki atau malah dihentikan. Sunarjo (1983) dari pelbagai sumber menyebutkan persuasi tidak lain merupakan teknik untuk mempengaruhi manusia dengan memanfaatkandata dan fakta psikologis maupun sosiologis dari komunikan yang hendak dipengaruhi .

II. 2.3) Faktor-Faktor yang Menumbuhkan Hubungan Antar Pribadi dalam Komunikasi Antar Pribadi

  Dalam komunikasi antar pribadi ada beberapa faktor yang mempengaruhi hubungan antar pribadi, yaitu (Rakhmat, 2007 : 129) : 1. Secara ilmiah ,”percaya”didefinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh risiko.

II. 2.4) Tujuan Komunikasi Antar Pribadi

  Dengan demikian banyak waktu yang digunakan dalam komunikasi antar pribadi bertujuan untuk menciptakan dan memeliharahubungan sosial dengan orang lain. Membantu orang lain Kita sering memberikan berbagai nasehat dan saran pada teman-teman yang sedang menghadapi masalah atau suatu persoalan dan berusaha untukmenyelesaikannya.

II. 3. Self Disclosure

  Pembukaan diri atau self disclosure adalah mengungkapkan reaksi atau tanggapan kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relavan atau yang berguna untuk memahamitanggapan kita di masa kini tersebut. Pada dasarnya, Luft berpendapat bahwa memperbesar kuadran terbuka merupakan hal yang menyena ngkan dan memuaskan― yaitu tidak saja belajar lebih mengenali diri sendiri dan memperluas wawasan tapi juga membeberkan informasi tentang diri kita sendiri sehingga orang lain dapat mengenali kitadengan lebih baik (Tubbs, 2005 : 15).

II. 4.2. Karakteristik Perkembangan Remaja

  Identity : mengemukakan dan mengerti siapa diri sebagai individu Autonomy : menetapkan rasa yang nyaman dalam ketidak-tergantunganIntimacy : membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain Sexuality : mengekpresikan perasaan-perasaan dan merasa senang jika ada kontak fisik dengan orang lain. Karena bisa lebih dipahami mengapakeinginan untuk diakui, keinginan untuk memperkuat kepercayaan diri, dan keinginan untuk menegaskan kemandirian menjadi hal yang sangat penting bagiremaja, terutama mereka yang akan mengakhiri masa itu.

II. 4.3. Tugas Perkembangan Remaja

  Pada setiap tahapan perkembangan manusia terdapat tugas-tugas tertentu yang berasal dari harapan masyarakat yang harus dipenuhi oleh individu, dan inisering disebut tugas-tugas perkembangan. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupunkelompok.

1. Mencapai relasi baru dan lebih matang bergaul dengan teman seusia dari kedua jenis kelamin

  Indikatornya: memiliki seorang teman dekat menjadi anggota “klik” atau “gang” namun kurang mendapat perhatian, memiliki kemampuan sosial yang sedang, kadang-kadang mau menghadiri acaradengan teman lawan jenis, merasa tidak percaya diri, apabila berada dalm kelompok yang beragam, mempunyai peran yang netral dalam kegiatankelompok. Indikatornya: tidak memiliki tema akrab, tidak pernah di undang untuk menghadiri acara kelompok, sering dikambing hitamkan oleh kelompok sebaya, sering balas dendam dengan sikap bermusuhan,berperilaku penyimpangan penyesuaian sosial, dan sangat malu bergaul dengan lawan jenis.

2. Mencapai Maskulinitas dan Femininitas dari peran sosial

   Dasar Biologis : Terjadi perbedaan secara fisik antara laki-laki dan wanita dalam konteks kekuatan fisik  Dasar Psikologis : Peran mengenai maskulinitas dan femininitas yang berbeda dalam lingkungan sosial tidak sulit, baik bagi laki-laki maupun wanita untuk menjalani peran sebagai laki-laki dewasa dan wanita dewasa. Indikatornya: Remaja pria matang seksualnya dan melalui siklus perkembangan pubertas menyenangi acara-acara yang diadakankelompok yang beragam jenis kelamin, menyenangi lawan jenis, memelihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga, dan mempunyaiminat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.

2) Sedang. Indikatornya: Remaja pria matang seksualnya namun kurang

3) Rendah. Indikatornya: remaja pria tidak matang fisiknya, tidak

mempunyai perhatian terhadap remaja wanita, mempunyai perhatian untuk mempunyai interes terhadap remaja wanita, tidak menyenangi olahraga, tubuh atau penampilannya kurang maskulin, remaja wanitakematangannya terlambat, mungkin tidak menstruasi, penampilannya seperti anak kecil, penampilannya “tomboy”, dan senang bergaul denganpria.

3. Menerima perubahan fisik dan menggunakannya secara efektif

  Indikatornya: mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak dalam waktu lama, memiliki persepsi yang sedang terhadap tubuh manusia dan keragaman seksual, kadang-kadang bersikapmenolak terhadap tubuhnya atau jenis kelaminnya, memiliki pengetahuan tentang reproduksi, namun memiliki rasa takut yang tidak rasional tentanghal itu (bagi wanita), tubuhnya matang, dan memiliki sedikit keterampilan untuk memelihara rumah. Indikatornya: kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan, tidak dapat mengendalikan diri, cenderung fisiknya kurang matang, memiliki distorsi persepsi tenang tubuhnya dan keragaman seks,menampakan ketidaksenangan terhadap tubuhnya, merasa cemas tentang kematangannya atau penampilan fisiknya yang menyimpang, tidakmemiliki pengatahuan yang tepat tentang reproduksi, dan menyatakan kesenangannya untuk menjadi lawan jenis kelaminnya.

8. Mencapai dan diharapkan untuk memiliki tingkah laku sosial secara bertanggung jawab

  Semua yang terjadi pada remaja dalam masa ini menuntut individu untuk melakukan penyesuaian di dalam dirinya, menerima perubahan-perubahan itu sebagai bagian dari dirinya, dan membentuk suatu sense of self yang baru tentang siapa dirinya, untuk mempersiapkan diri menghadapi masa dewasa. Pendapat lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap Kadar hubungan emosi yang dirasakan seseorang dalam suatu perjumpaan tercermin dari betapa rapinya koordinasi gerakan fisik yang terjadi ketika merekaberbicara — suatu petunjuk kedekatan yang biasanya tak disadari.

II. 5.2) Bentuk-Bentuk Kecerdasan Emosional

  Menurut Daniel Goleman (1995), sesungguhnya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi,dan nuansanya sehingga makna yangdikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata dan dfinisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Dari deretan daftar emosi tersebut, berdasarkan temuan penelitian PaulEkman dari University of California di San Fransisico ternyata ada bahasa emosi yang dikenal oleh bangsa-bangsa diseluruh dunia, yaitu emosi yang diwujudkandalam bentuk ekspresi wajah yang di dalamnya mengandung emosi takut, marah, sedih dan senang.

II. 5.3) Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Remaja

  Dalamkehidupan sehari-hari dapat dilihat nenerapa tingkah laku emosional seperti agresif, rasa takut yang berlebihan, sikap apatis dan tingkah laku yang menyakitidiri, seperti melukai diri dendiri dan memukul-mukul kepala sendiri. Sebaliknya, individu yang sulit untuk membedakan suasana emosi spesifik yang sedang dirasakannya akan mengalami hambatan untukmengendalikan emosinya secara konstruktif menuju perkembangan diri yang optimal.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN III.1 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode korelasional yakni metode yang

  bertujuan untuk meneliti sejauhmana variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor lain (Rakhmat, 2004 :27). Pada penelitian ini variabel bebas,komunikasi antar pribadi ayah dengan anak remaja-nya terhadap variabel terikat, perkembangan kecerdasan emosional anak remaja yang bertujuan untukmenemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada, seberapa erat hubungannya dan berarti atau tidaknya hubungan tersebut.

III. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian

  Jumlah siswa yang mendaftar dan yang diterima setiap tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. III.3 Populasi dan Sampel III.3.1)Populasi Populasi penelitian merupakan keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa,sikap hidup, dan sebagainya, sehingga objek-objek ini dapat menjadi data penelitian (Bungin, 2001: 101).

2 N(d) + 1

  Keterangan : n = Jumlah sampelN = Jumlah populasi d = Nilai presisi yang diterapkan sebesar 10 % atau d = 0,1 Berdasarkan rumus di atas maka jumlah smapel yang diperoleh adalah: n = 304304 (0,1) 2 3.04+1 n = 3044.04 n = 75,24 Jadi, besar sampel adalah 75 orang. Sampel Stratifikasi Proporsional (Proportional Stratified Sampling)Dalam teknik ini, populasi dikelompokkan kedalam kelompok atau katagori yang disebut strata dengan tujuan untuk membuat sifat yang homogendari populasi yang heterogen (Kriyantono, 2006:151).

III. 5 Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian Kepustakaan (Library Research)Penelitian kepustakaan atau library research dilakukan dengan cara mengumpulkan data menggunakan jasa perpustakaan seperti buku,referensi, jurnal dan sebagainya yang relevan dan mendukung penelitian. Menurut Denzin,1970 (Black,2009 : 306) wawancara adalah pertukaran percakapan dengan tatap muka di mana seseorang memperolehinformasi dari yang lain.wawancara dalam penelitian ini akan dilakukan pada beberapa ayah dari siswa-siswi kelas X-XI hanyasebagai data tambahan untuk menguatkan pada hasil analisis dan pembahasan.

III. 6 Teknik Analisis Data

  Analisa tabel tunggal, yaitu analisa yang dilakukan dengan mebagi variabel-variabel penelitian ke dalam katagori-katagori yang dilakukanatas dasar frekuensi. Adapun rumus koefisien korelasinya, yaitu sebagai berikut : 26 di ∑r 1−s = 2n n 1− − ( ) Keterangan : r = koefisien korelasi tata jenjang s di = beda antara jenjang tiap sampel n = jumlah sampel1 dan 6 = bilangan konstan = sigma atau jumlah ∑Spearman Rho Koefisien adalah metode untuk menganalisa data dan untuk melihat hubungan antara variabel yang sebenarnya dengan skala ordinal.

III. 7 Langkah- Langkah Penelitian

  Setelah mendapatkan izin, peneliti mengurus surat izinpenelitian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk diserahkan kepada pihak sekolah agar peneliti diberi izin untuk melakukan penelitian di sekolahtersebut dan menjelaskan penelitian yang akan dilakukan adalah dengan cara membagikan kuesioner kepada beberapa siswa kelas X dan XI. III.7.5)Editing Editing yaitu proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesilapan pengisiandalam kotak kode yang disediakan.

III. 7.9)Tabulasi Data

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Analisi Tabel Tunggal Analisa dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam katagori- katagori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam rangka menganalisa data yang terdiri dari kolom, sejumlahfrekuensi dan persentase untuk katagori (Singarimbun, 1995: 226) Data yang disajikan dalam tabel tunggal ini terdiri dari 3 bagian yaitu, karakteristik responden, komunikasi antar pribadi dan kecerdasan emosional.

IV. 1.1) Karakteristik Responden

  Tabel 17Topik yang sering dibicarakan No Topik yang sering dibicarakan Frekuensi % 1 Pelajaran sekolah 17 22.7 2 Masalah pekerjaan di rumah 5 6.7 3 Kejadian sehari-hari yang dialami 42 56.0 4 Hubungan dengan teman-teman 1 1.3 5 Tentang hobi kamu 9 12.0 6 Dan lain-lain, sebutkan 1 1.3 Total75 100.0 Sumber: P.16/FC.18Tabel 17 menunjukkan topik apa saja yang sering dibicarakan oleh ayah dan responden dalam kesehariannya. Tabel 25 Perbedaan pendapat antara anak dan ayah No Perbedaan pendapat antara anak dan ayah Frekuensi % 1 Masalah hobi 4 5.3 2 Masalah nilai 14 18.7 3 Masalah minat 16 21.3 4 Masalah sikap dan perilaku 41 54.7 Total75 100.0 Sumber: P.24/FC.26Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat hal-hal yang dapat menimbulkan perbedaan antara responden dan ayah nya.

IV. 1.3) Perkembangan Kecerdasan Emosional Remaja

  Tidak mampu MampuSangat mampu TotalF % F % F % F % 1 Tidak terbuka 1 1.3 5 6.7 1 1.3 7 2 Biasa-biasa saja 4 8 10.7 26 34.7 6 8.0 40 53.3 3 Terbuka Seperti perasaan marah, senang, sedih, takut yang dirasakan dapat diketahui Berdasarkan tabel 40 diatas 26 responden (34.7%) menyatakan bahwa keterbukaan yang berlangsung pada tingkat biasa-biasa saja dalam artian tidaktertutup ataupun sangat terbuka pada ayahnya tetap mampu untuk mengenali emosi yang sedang dirasakannya. Kemampuan untuk menunjukkan sikap positif terhadap nasihat atau masukan dari ayah atas perilaku yang salah membuatsang anak mampu untuk mengendalikan emosi atau mengelola emosi kearah yang Berdasarkan tabel 41 diatas, 29 responden (38.7%) mampu mendengarkan nasihat atau masukan dari ayah atas perilakunya yang salah dan mampu untukmengendalikan emosi dan mengelolanya ke arah yang lebih baik.

IV. 3. Uji Hipotesa

  Interpretasi out Besarnya koefisien korelasi tata jenjang (r ) adalah 0, 412 dari output s diatas dapat diketahui besarnya probabilitas adalah 0.000 lebih kecil dari 0,05 (H o ditolak dan H diterima) dimana H adalah tidak terdapat pengaruh komunikasi a o antar pribadi ayah dan anak remaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak dan H a adalah terdapat pengaruh komunikasi antar pribadi ayah dan anakremaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak. Dan dua tanda Berdasarkan skala Guliford, dengan hasil r = 0,412 berada pada skala s 0,40- 0,70 yang menunjukkan adanya hubungan yang cukup berarti antara Selanjutnya untuk menguji signifikansi digunakan rumus di bawah ini :Uji Tingkat Signifikansi : t hitun=N 2 s −r 1− sr t 0,412 75—2 hitung = 2 1- (0,412)= 0,412 731- 0,169744 = 0,412 730,830256 = 0,412 √ 87,924688 = 0,412 x 9,376816= 3,863 Kemudian kita melihat nilai t tabel melalui tabel distribusi nilai t.

2 Kp = (0,41 ) x 100%

  Kp= 0,169744 x 100%Kp = 16,9744 %Kp = 17 %Maka kekuatan pengaruh komunikasi antar pribadi ayah terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak remaja adalah sebesar 17%. Hal iniberarti bahwa hanya 17 % perkembangan kecerdasan emosional anak remaja yang dipengaruhi oleh komunikasi antar pribadi ayah, selebihnya yaitu 83% lainnyadipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

IV. 4. Pembahasan

  Pengukuran tingkathubungan diantara dua variabel yang linear menggunakan rumus KoefisienKorelasi Tata Jenjang (Rank Order Correlation Coeffecient) oleh Spearman yang menunjukkan hubungan antara variabel x dan variabel y yang tidak diketahui Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil r s = 0,412 yang berarti hipotesis diterima karena r s > 0. Hal ini dikuatkan dengan hasil wawancara dari beberapa ayah siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini bahwa sebagian ayah menyatakan bahwamereka sering menobrol dengan anak mereka pada saat selesai shalat maghrib hingga menjelang shalat isya dan ada juga pada saat mereka menonton tvbersama.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan Penelitian ini mengambil fokus tentang “Komunikasi Antar Pribadi Ayah

  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada remaja di SMA Swasta Al-Ulum Medan, penelitimenyimpulkan kemampuan untuk berkomunikasi antar pribadi yang dimiliki oleh remaja dengan ayahnya sudah cukup baik walaupunkomunikasi antara mereka tidak berlangsung lama hanya kurang dari 1 jam karena kesibukan ayah yang bekerja di luar rumah lebih dari 8 jam . Hal inimenunjukkan bahwa H ditolak dan H diterima, dimana H adalah tidak o a o terdapat pengaruh komunikasi antar pribadi ayah dan anak remaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak dan H a adalah terdapatpengaruh komunikasi antar pribadi ayah dan anak remaja terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak.

V. 2 Saran

  Komunikasi antar pribadi ayah dan perkembangan kecerdasan emosional oleh remaja di SMA Swasta Al-Ulum Medan yang sudah cukup baik danpositif, tidak lepas dari dukungan seorang ibu dan anggota keluarga 2. Hal ini akan dapat membantu menigkatkan kedekatan secaraemosional terhadap ayah yang juga memiliki peran dalam membantu perkembangan kecerdasan emosional yang lebih baik.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi Pimpinan Dan Produktivitas Kerja (Studi Korelasional Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi Pimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Padangsidimpuan)
6
67
85
Komunikasi Antar Pribadi Dan Kepemimpinan (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Penggunaan Komunikasi Antar Pribadi Terhadap Keberhasilan Kepemimpinan Hotel Emeral Garden Medan)
0
37
110
Komunikasi Antar Pribadi Dan Pembentukan Konsep Diri (Studi Korelasional Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Pengurus Panti Asuhan Terhadap Pembentukan Konsep Diri Anak-Anak Panti Asuhan Yayasan Elida Medan)
5
51
121
Komunikasi Antar Pribadi Ayah Dan Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja (Studi Korelasional tentang Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Ayah terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja di SMA Swasta Al- Ulum, Medan)
0
43
140
Komunikasi Antar Pribadi Dan Motivasi Belajar (Studi Korelasional Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Guru BP Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di SMK Negeri 7 Medan)
0
59
128
Gambaran Kecerdasan Emosional Pada Remaja Yang Berpacaran
4
58
172
Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Delinkuen Pada Remaja Laki-Laki
8
51
85
Komunikasi Antar Pribadi Dan Pembentukan Konsep Diri (Studi Kasus Mengenai Komunikasi AntarPribadi Orang Tua Terhadap Pembentukan Konsep Diri Remaja Pada Beberapa Keluarga di Medan)
11
126
114
Komunikasi Antar Pribadi Dan Kepribadian Anak-Anak Cacat (Studi Deskriptif Peranan Komunikasi Antar Pribadi Guru Dalam Perkembangan Kepribadian Anak-anak Cacat Pada YPAC Melalui Pendekatan Behaviorisme di Kota Medan)
10
79
109
Komunikasi Antar Pribadi Ibu Dan Remaja Putri Terhadap Pengetahuan Pendidikan Seks Remaja Putri (Studi Korelasional Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Ibu dan Remaja Putri terhadap Pengetahuan Pendidikan Seks Remaja Putri di SMU Sultan Iskandar Muda
1
45
92
Komunikasi Antar Pribadi Dan Keterampilan Berbahasa (Studi Korelasional Pengaruh Komunikasi Antarpribadi Guru Bahasa Inggris Terhadap Keterampilan Berbahasa Inggris Siswa di SMP Swasta Pertiwi Medan)
0
41
150
Perbedaan Kecerdasan Emosional Pada Remaja Pengurus Osis Dengan Remaja Anggota OSIS
3
62
90
Komunikasi Antar Pribadi
0
5
1
Komunikasi Antar Pribadi
0
6
140
Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi Pimpinan Dan Produktivitas Kerja (Studi Korelasional Efektifitas Komunikasi Antar Pribadi Pimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Padangsidimpuan)
0
0
15
Show more