Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan)

 3  67  114  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK RELOKASI PASAR TRADISIONAL MERANTI DAN PEMBANGUNAN JALAN BARU

  Banyak pedagang yang telah direlokasikan kembali ke lokasi semula Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif Pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendeskripsikan masalah yang terjadi padaproses relokasi pasar tradisional yang terjadi di Pasar Tradisional Meranti. Karena dalam hal Relokasi Pasar Tradisional Meranti ini pedagang banyak yang mendapatkan penurunan pendapatan baik yang berada dilokasi lama maupun baru.lebih khusus untuk pedagang di lokasi baru mengalami penurunan yang sangat drastic dikarenakan masih beroperasinya Pasar yang lama dan membuat Pasar MerantiBaru menjadi sepi oleh pengunjung.

KATA PENGANTAR

  Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan perkuliahan danjuga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “ RELOKASI PASARTRADISIONAL MERANTI DAN PEMBANGUNAN JALAN BARU ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan) ”. Namun,berkat pertolongan dan kehendak Allah SWT yang selalu memberi kekuatan, ketabahan dan keyakinan kepada penulis dan juga seluruh teman dan saudara yang selalumemberikan dukungan pada saat penulis mengalami kesulitan, hingga akhirnya skripsi ini dapat selesai.

DAFTAR ISI

ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

  Banyak pedagang yang telah direlokasikan kembali ke lokasi semula Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif Pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mendeskripsikan masalah yang terjadi padaproses relokasi pasar tradisional yang terjadi di Pasar Tradisional Meranti. Karena dalam hal Relokasi Pasar Tradisional Meranti ini pedagang banyak yang mendapatkan penurunan pendapatan baik yang berada dilokasi lama maupun baru.lebih khusus untuk pedagang di lokasi baru mengalami penurunan yang sangat drastic dikarenakan masih beroperasinya Pasar yang lama dan membuat Pasar MerantiBaru menjadi sepi oleh pengunjung.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Seperti Relokasi Pasar Tradisionalyang pernah terjadi di Pasar Tradisional Yuka Martubung yang mengalami kegagalan yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tidak efektifnya sosialisasi oleh pemerintah,lokasi yang jauh dan tidak strategis dan faktor lainnya yang masih menyisakan permasalahan yang belum selesai hingga saat ini. Akibat kegiatan Pedagang Kaki Lima yang tidak teratur, ruang dan tempat aktivitasnya dengan tampilan bentuk wadah fisik yang beragam sering dianggap merusakkawasan dan wajah fisik suatu lingkungan kota yang sudah dibangun dengan rapi, Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah sering melakukan penertiban dan penggusuran, namun kembali beraktivitas di lokasi yang semula.

1.2. Perumusan Masalah

  Dalam suatu penelitian, yang sangat signifikan untuk dapat memulai penelitian adalah adanya masalah yang akan diteliti. Menurut Arikunto, agar dapat dilaksanakanpenelitian dengan sebaik-baiknya maka peneliti haruslah merumuskan masalah dengan jelas, sehingga akan jelas dimana harus dimulai, kemana harus pergi dan dengan apa (Arikunto, 1996:19 ) Berdasarkan uraian tersebut dan berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalaha) Bagaimana proses Relokasi Pasar Tradisonal Meranti dan Pembangunan Jalan baru ?

1.3. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan perumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah untuk untuk mengetahuibagaimana proses Relokasi Pasar Meranti dan Pembagunan Jalan baru, Pembangunan yang Partisipatif dan Berkelanjutan serta dampak yang ditimbulkan oleh Relokasi PasarTradisonal Meranti dan Pembangunan Jalan baru. 1.4 .

1.4.1. Manfaat Teoritis

1.4.2. Manfaat praktis

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada peneliti dan juga kepada pembaca mengenai proses Relokasi Pasar Meranti dan PembangunanJalan Baru dan bermanfaat dalam pengembangan teori ilmu-ilmu sosial khususnya pada mata kuliah Sosiologi Pembangunan . Dan juga dapat memberikan sumbangan kepada para pedagang yang beradadi Pasar Meranti Lama dan Pasar Meranti baru serta kepada Pemerintah sebagai pengambil keputusan untuk bisa membuat peraturan yang lebih baik lagi kedepannya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Keberadaan Pedagang Kaki Lima Sebagai Salah Satu Bentuk Sektor Informal

  PKL dipandang sebagai suatu jawaban terakhir yang berhadapan dengan proses urbanisasi yang berangkai dengan migrasi desa-kota yang besar, perkembangan kota,pertambahan penduduk yang pesat, pertumbuhan kesempatan kerja yang lambat dalam sektor industri dan persiapan teknologi impor yang padat modal dalam keadaan kelebihantenaga kerja (Bromley dalam Alisjahbana, 2005:35). Ketidakberhasilan kebijakan dan program pemerintah dalam mengembangkan PKL terkait dengan berbagai hal, seperti :(1) pendekatan pemerintah yang masih bersifat “supplyside” oriented (pengaturan, penataan, dan bantuan terhadap PKL dilakukan tanpa melakukan komunikasi dankerjasama dengan PKL sendiri), (2) pelaksanaan kebijakan/program bagi PKL sarat dengan keterlibatan berbagai aparat pembina.

2.2. Dilematis Pasar Tradisonal antara Pembangunan dan Penggusuran

  Akibatnya terjadi pengangguran terutama di kalangan usia muda dan terdidik, yang diikuti membengkaknya sektor informal (Effendi, 1988:2) PKL sebagai sektor informal perkotaan tumbuh tanpa terencana dan memiliki bentuk serta keragaman jasa pelayanannya, membuat karakter PKL menjadi beragampula masalah yang timbul di wilayah berdagangnya. Permasalahan umum yang terjadi di negara berkembang seperti di Indonesia adalah bahwa sektor informal seperti PKL sering tidakdiperhitungkan atau terpinggirkan dalam penataan ruang, sehingga seringkali PKL tidak memiliki alokasi ruang khusus yang mengakibatkan PKL sering berbenturan denganruang publik.

2.3. Kebijakan Pemerintah Kota Medan Terkait dengan Pedagang Kaki Lima

  Pemko Medan melakukan penataan pedagang kaki lima (PKL) sesuai peraturan daerah (Perda) Kota Medan nomor 31 tahun 1993 dan Undang-undang nomor 7 tahun2004 tentang pemakaian badan jalan, trotoar dan diatas parit tidak boleh dibangun. Ketidaktegasan pemerintahan kota Medan dalam mengatur peruntukan ruang bagi para PKL menyebabkan parapedagang yang berjualan di tempat yang strategis dan potensial akan mengganggu ketertiban umum.

2.4. Dimensi Sosial Budaya Terkait dengan Permasalahan Pedagang Kaki Lima

  Sebagaimana disadari bahwa para PKL umumnya banyak berasal dari kelompok yang kurang mendapat pendidikan yang baik dan kurang terampil, tidak mempunyaipengetahuan hukum dan kesadaran terhadap ketertiban lingkungan yang cukup, serta miskin sehingga wajar bilamana interaksi sosial antara pihak Pemerintah Kota denganPKL tidak memberikan hasil yang memuaskan. membuat alokasi wewenang (authority) dan menentukan dengan seksama pihak- pihak yang secara sah dapat melakukan paksaan dengan sekaligus memilih sanki-sanksi yang tepat dan efektif; c.

2.5. Pelibatan Masyarakat Marginal dalam Perencanaan Pembangunan yang Pertisipatif dan Berkelanjutan

  Sejalan dengan dikedepankannya prinsip tata pemerintahan yang baik terutama di tingkat Kabupaten/Kota, maka konsep perencanaan pembangunan partisipatif mulaidigagas dan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia Keterlibatan dalam sektor informal lebih akibat keterpaksaan daripada pilihan(Hugo) karena tekanan dari sistem ekonomi yang tidak memberi tempat bagi mereka yang kurang berpendidikan dan ketrampilan . Diharapkan dengan pembangunan yang partisipatif dapat menciptakan peraturan yang kondusif dan menghasilkan kebijakan yang tetap bertolak ukur padaketiga indikator pembangunan berkelanjutan.

2.6 Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima

  Pembangunan jalan sangat diperlukan untuk menopang pelaksanaan pembangunan di bidang lain, yang ditujukan untuk keseimbangan dan pemerataanpelaksanaan pembangunan serta pengembangan wilayah. Dalam hal ini, fenomenolog Edmun Husserl (Muhadjir, 1998:12-13) menyatakan bahwa obyekilmu itu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melainkan mencakup fenomena yang tidak lain terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan subyek yangmenuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu kontsruksi ganda, melihat obyeknya dalam suatu konteks natural, dan bukan parsial.

2.9. Defenisi Konsep

  Disamping mempermudah dan memfokuskan penelitian konsep juga berfungsisebagai panduan bagi peneliti untuk menindaklanjuti kasus tersebut serta menghindari Beberapa konsep yang dibatasi dengan pendefinisiannya secara operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 2. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada prosestawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Metode penelitian kualitatif merupakan metode yang bermaksud untukmemahami fenomena tentang apa yang dialami oleh objek peneliti penelitian kwalitatif juga diartikan sebagai pendekatan yang dapat menghasilkan data, tulisan, dan tingkahlaku yang didapat dari yang diamati (Moleong, 2006). Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang menelahannya kepada satu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensi.

3.3. Unit Analisis Dan Informan

  Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di sekitar lokasi Pasar Meranti dan Pembangunan Jalan Baru, para pedagang dilokasi Pasar Meranti lama dan Pasar Meranti baru, serta Pengelola PD. Pasar.adapun jumlah dari para pedagang yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah 10 orang pedagang, yang diantaranya adalah 5 orang pedagang yang berada di PasarMeranti Baru dan 5 orang yang berada di Pasar Meranti Lama, baik pedagang yang telah direlokasikan, pedagang telah kembali ke lokasi semula, dsb.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer

  Teknik pengumpulan data primer adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian (field research) untuk mencaridata-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Wawancara mendalam yang dimaksudkan adalah percakapan yang sifatnya luwes, terbuka, dan tidak baku.

3.4.2 Pengumpulan Data Sekunder

  Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder yaitu bdengan mengumpulkan data dan mengambil informasi dari beberapaliterature dianttaranya adalah : buku buku referensi, dokumen majalah, jurnal, internet, yang dianggap revelan dengan masalah yang diteliti. Oleh karena itu, sumber datasekunder diharapkan dapat berperan membantu mengungkap data yang diharapkan, membantu memberi keterangan sebagai pelengkap dan bahan pembanding (Bungin,2001;129).

3.5. Tekhnik Interpretasi data

  Analisis data jugamensyaratkan bahwa peneliti terbuka untuk kemungkinan dan melihat pertentangan atau penjelasan alternatif untuk penemuan juga, kecenderungannya adalah untuk peneliti Dalam analisa data kualitatif ada beberapa langkah yang dapat membantu pengembangan analisa data yaitu;1. menyarankan dalam rencana analisis data yang akan dilakukan sebagai suatu kegiatan secara bersamaan dengan pengumpulan data, interpretasi data, dan menulis laporannarasi.2.

3.6. Keterbatasan Penelitian

  Keterbatasan dalam penelitian ini disebabkan oleh terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian ilmiah. Adapun kendala-kendala yang dihadapi oleh peneliti adalah terbatasnya waktu dan materi Di samping itu konflik yang telah terjadi akibat adanya Relokasi Pasar Meranti membuat kondisi para pedagang semakin sulit untuk diwawancarai dan dimintaiketerangan.

BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN PROFIL INFORMAN

4.1. Nilai Historis Pasar Meranti

  Pada umumnya yang menjadi pedagang diLokasi Pasar Meranti lama adalah para warga yang bermukim ataupun bertempat tinggal di sekitar lokasi Pasar tersebut, yakni Jalan Meranti, Gang Warga, Jalan PWS, JalanPasundan, dan Jalan Punak, namun tidak jarang juga ditemukan pedagang yang tidak bermukim di daerah tersebut. Para pedagang di Pasar ini banyak yang sudah sejak puluhan tahun lalu berjualan di Pasar tersebut dan bahkan banyak yang merupakan usaha turunan dari para orang tuamereka yang dahulunhya merupakan pedagang di Pasar tersebut.seperti yang dituturkan oleh salah seorang warga yang sekaligus juga pedagang di Pasar Meranti lama, iamengatakan ; “ saya berjualan di pasar ini sudah lama sekali, bahkan sejak kecil karena ikut orang tua.

4.2. Deskripsi Wilayah Pasar Meranti

  secara khusus yang menjadi lokasi penelitian adalah Pasar Meranti Baru dan Pasar MerantiLama yang berada di Kelurahan Sei Putih Timur II. Adapun yang menjadi alasan Relokasi pasar Merantilama ke pasar meranti baru dikarenakan lokasi Pasar Meranti yang lama tidak sesuai peraturan kota Medan yaitu Peraturan Daerah Tahun 1993 mengenai penertiban PKL,lebih khususnya lagi perda tersebut berisikan mengenai larangan berjualan di atas JalurHijau yaitu berupa sarana umum seperti jalan, taman, parit, jembatan, trotoar dan sebagainya.

4.3. Keadaan Demografi

  Adapun batas wilayahnya adalahsebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Sei Putih Timur I, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Sekip, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Sei Sikambingdan sebelah Barat berbatasan dengan Sei Putih Tengah. 4.3.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Adapun jumlah penduduk di Kelurahan Sei Putih Timur II adalah :No.

4.3.5 Penduduk Berdasarkan Keturunan WNA Pribumi

  Nilai jual untuk di pasar meranti ujung jugalebih tinggi karena konsumennya berbeda, apalagi disini yang berjualan banyak etnis china”(Wawancara Maret 2011) Selain lokasi rumah mereka yang sangat dekat dengan lokasi Pasar Meranti lama, disamping itu mereka juga lebih memilih untuk berbelanja di Pasar Meranti Lamadikarenakan, adanya hubungan sosial yang tak terpisahkan antara pedagang etnis China yang berjualan di Pasar Meranti Lama. Di Pasar Meranti Baru pedagangnya hanya sedikitsaja yang merupakan etnis China, dan dapat dikatakan juga konsumnn ataupun pembeli di Pasar Meranti baru Mayoritas penduduk Pribumi, hanya sedikit saja penduduk EtnisChina yang berbelanja di lokasi Pasar Meranti baru, dan di sekitar Lokasi Pasar Meranti baru juga penduduknya didominasi oleh penduduk pribumi.

4.4.2 Sarana Umum Kelurahan Sei Putih Timur II Mesjid =

4 - Gereja = Posyandu = 7 Pasar Tradisonal =

1 Dalam daftar kelurahan Sei Putih Timur II , hanya satu Pasar Tradisonal saja yang

  Pasar Tradional Meranti lama tidak terdaftar di dalam kelurahan karenabukan merupakan Pasar yang disahkan oleh Pemerintah. Yang terdaftar dalam data kelurahan adalah Pasar Meranti baru, dimana Pasar ini merupakan pasar yang secararesmi disahkan oleh pemerintah.

4.4. Letak dan Kondisi Pasar Meranti

  Berbeda dengan kondisi di lokasi Pasar Meranti Baru, Melalui wawancara dengan para pedagang yang telah kembali kelokasi semula mengatakan bahwa cukup nyamanuntuk berdagang di lokasi pasar yang baru dikarenakan, terhindar dari panas, hujan, dan becek, tetapi untuk apa berjualan dengan nyaman jika hasil yang diharapkan tidak adamalah memperoleh kerugian. Melalui hasil pengamatan saya melihat banyak pembeli di Pasar Meranti lama yang merupakan orang-orang Tiong-hua yang memilki daya beli yang cukup tinggijika dibandingkan dengan masyarakat Pribumi yang berbelanja ke Pasar Meranti Baru.

4.5 Profil Informan

  Dan harapan ia untuk Hal Relokasi Pasar Meranti adalah agar semua pedagang yang Nama : Hayati TariganJenis Kelamin : perempuanUsia : 46 tahunAlamat : Pancur BatuJenis Pedagang: pedagang buahLokasi ; Pasar Meranti Lama Ibu Hayati merupakan pedagang yang berada di Pasar Meranti Lama. Pembeli pastinya mau lokasi yang praktis dan Nama : Sugianto NJenis Kelamin : laki lakiUsia : 55 tahunAlamat : Jl.merantiJenis Pedagang: pedagang pecah belahLokasi : Pasar Meranti Lama Bapak Sugianto merupakan pedagang asli Pasar Meranti yang aktivitas berjualan sehari-harinya adalah berjualan barang pecah belah dan bahan-bahan kain serta ia jugamenerima jasa menjahit.

BAB V TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA

5.1. Proses Pembangunan Jalan Baru Jalan Warga adalah jalan baru yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2010.

  Proses awal pembangunan Jalan tersebut yang pertama adalah pembebasan lahan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dan yang keduaadalah relokasi pasar meranti lama ke pasar Meranti baru yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Proses yang pertama adalah penggusuran para pedagang, meratakan dan merapikan kios-kios, penimbunandan pembuatan saluran air yang tadinya parit, kemudian dibangun dan dibuat jadi padat dan ditimbun”(wawancara Maret 2011) Kemudian selanjutnya adalah diaspal Proses awal pembangunan jalan baru dimulai sekitar 3 bulan setelah Pasar Meranti direlokasikan dan jarak antara tahappembangunan jalan yang satu dengan tahap berikutnya memakan waktu yang cukup lama.

5.2. Proses relokasi Pasar Meranti

  Sudah nyaman berjualan disini”(Wawancara Maret 2011) Proses Relokasi Pasar menuai penolakan yang cukup keras oleh para pedagang,Mulai dari pembongkaran dan penggusuran yang beberapa kali dilakukan oleh para pedagang di Pasar Meranti. Adapun awal dari proses relokasi Pasar Meranti ini adalah dengan melakukan pendataan bagi para pedagang dan pemilik kiosk yang akan direlokasikan ke Pasar yangbaru.

5.2.1. Para Pedagang yang telah direlokasikan kembali ke lokasi semula

  Relokasi pasar meranti dilakukan serentak oleh para pedagang yang berada di pasar meranti yang lama pindah ke pasar meranti yang baru pada Tanggal 06 Februari2010, namun kondisi bertahannya para perdagang di lokasi pasar yang baru hanya beberapa saat saja. Setelah itu sebagian dari kami kembali lagi danbuka lapak baru di pasar yang lama” (Wawancara Maret 2011) Para pedagang dilokasi pasar meranti yang semulanya berada di Gang Warga setelah relokasi pasar tersebut para pedagang yang telah direlokasikan sebagian besarkembali ke lokasi tersebut, namun kali ini para pedagang membuka kios-kios baru tepat berada di badan Jalan Meranti.

5.2.2 Alasan Para Pedagang tidak mau direlokasikan

  Jarak kios denganyang sebelahnya saja berdempetan.” (Wawancara Maret 2011) Contoh lain adalah pada pedagang ayam yang memiliki mesin untuk merebus dan menguliti bulu ayam tersebut, maka ukuran stan dan kiosk bahkan tidak cukup untuk “ kios ini sangat tidak sesuai dengan kebutuhan jualan saya, saya jualan ayam potong mana bisa dengan ukuran kios seperti ini. Tetaapi hal ini tetap saja membuat ketidakefektifan bagi para pengunjung, dikarenakanlokasinya yang berada diluar Pasar juga dikarenakan lokasinya yang terlalu “cukup memprihatinkan pengembangan Pasar yang tidak dilengkapi dengan Fasilitas Parkir dan tempat berjualan yang terlalu sempit”.

5.3. Pasar Meranti dan Pengelolanya

  Pasar Meranti yang lama dengan yang baru terletak dalam satu lokasi kelurahan yang sama, namun tetap saja letakknya jauh dari lokasi pasar yang lama. Dan lebih aman jika menyimpan barang-barang, tetapi karena sangat-sangatnyamannya sampai-sampai orang pun malas datang kemari” (Wawancara Maret 2011) Berdasarkan yang telah dipaparkan diatas diketahui bahwa Pasar Meranti Baru dipandang dari segi aspek kebersihan dan ketertiban lebih baik dibandingkan dengan Pasar MerantiLama, tetapi kembali lagi pada kondisi lokasi Pasar Meranti Baru yang berada di lokasi yang kurang strategis yaitu didalam Gang.

5.3.1 Kiosk dan Pedagang di Pasar Meranti

  Seperti penuturan salahseorang pedagang, ia mengatakan; “ bagaimana lah mau pindah, kios saja pun tidak dapat. Saya pun tidak mengerti mengapa ada yang dapat dan ada yang tidak dapat.

5.3.2 Kepemilikan kios oleh Pemerintah dan Swasta

  Meskipun demikian peraturan yang telah dikeluarkan, melalui hasilpengamatan saya terlihat banyak kiok-kiosk kosong yang telah ditinggal oleh para pedagang karena kembali berjualan di lokasi Pasar yang lama dan tetap saja hak pakaikiosk maupun stan tersebut tidak dicabut oleh pihak direksi PD. Pasar, ia mengatakan; “ yang berhak untuk mendapatkan kios dan stan adalah para pedagang dan pemilik kios dilokasi yang, dan selanjutnya adalah kewenangan direksi dalam menentukan siapa yang berhak untuk mendapatkan kios ataupun stan”(Wawancara Maret 2011) Karena pada realitanya ada beberapa pedagang yang cuma memiliki stan tapi mendapatkan kiosk.

5.3.4. Pengelola Pasar dan Wewenangnya

  Kami tidak berhak untuk melakukan penertiban terhadap para pedagang yang berada di lokasi Pasar meranti lama”(Wawancara Maret 2011) Begitu juga dengan beberapa kios yang dikelola oleh pihak swasta, pihak pengelola pasar tidak memiliki wewenang untuk melakukan penertiban maupun pengutipan biayapenunjang seperti biaya kebersihan, biaya listrik, biaya keamanan, dsb. Namun, dikarenakan pasar meranti yang lama masih beroperasi maka pasar meranti baru ini tidak bisa berjalan dengan sempurna dan saya juga berharap bahwa pihak pemko medansegera mengambil tindakan yang tegas untuk menertibkannya, karena sebaik apapun para pedagang berusaha untuk berjualan dengan baik di lokasi pasar yang baru, kalaupasar yang lama masih beroperasi tidak ada gunanya.

5.4 Pendapat Walikota Medan mengenai Relokasi Pasar Meranti

  Penertiban yang dilakukan PemkoMedan bukan masalah kepentingan pribadi melainkan menciptakan Kota Medan yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya dan pembeli yang berbelanja juga terhindar darikotor. Masalah kontra bisa diselesaikan dengan baik asalkan tidak ditunggangi Rahudman memberikan waktu selama seminggu kepada Asisten II Pemko Medan,PD Pasar, Satpol PP, aparat kecamatan Medan Petisah agar bisa memindahkan pedagang yang masih berjualan di Pasar Meranti yang kini sedang ditata untuk dijadikan jalanalternatif yang tembus ke Jalan Gatot Subroto Medan.

5.5 Kondisi Sosial Ekonomi Pedagang

5.5.1. Hubungan Sosial Para Pedagang

  Relokasi Pasar yang dilakukan serentak pada tanggal 2 Februari 2010 sedikitnya telah membuat lega para pedagang di Pasar Meranti Baru, namun keadaan ini tidakberlangsung lama hanya beberapa saat saja mereka bertahan dan akhirnya kembali membuka kios baru dilokasi semula. Keadaan seperti inilah yang membuat para pedagang di Pasar Meranti baru menjadi cukup kecewa dengan Para pedagang yang kembali ke lokasi semula,dikarenakan kondisi Pasar lambat laun semakin sepi karena terpecahnya tempat belanja menjadi dua tempat, jika dilihat dari sisi praktis pasti para pembeli lebih memilih untukberbelanja di lokasi yang lama karena lokasinya mudah dijangkau.

5.5.2. Penurunan Tingkat Pendapatan Para Pedagang Paska Relokasi di Pasar Meranti Lama dan Baru Pasca Relokasi

  Mungkin karena dulunya lokasi kios saya berada di belakang dansekarang berada di depan menjadi lebih mudah dicapai konsumen” (Wawancara Maret 2011) Kondisi Penurunan pendapatan ekonomi yang dirasakan oleh para pedagang baik yang berada di Pasar Meranti Lama maupun yang baru terjadi dikarenakan menurunnyakonsumen ataupun pedagang. Yang ada rugi saja setiap hari, sementara pasar meranti yang lama semakin ramai dan kami disini semakin hari semakin banyakyang pindah dan gulung tikar.” (Wawancara Maret 2011) Penurunan pendapatan oleh pedagang, tidak hanya dirasakan oleh Pedagang diPasar Meranti baru saja, pedagang yang telah kembali berjualan di lokasi Pasar Meranti lama pun ikut mengalami penurunan pendapatan, meskipun tidak sama dengan parapedagang di Pasar Meranti baru.

5.5.3. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pembangunan Jalan baru

  Adapun kondisi sosial yang ada di lingkungan pembangunan jalan baru setelah pembangunan jalan baru dan relokasi Pasar berlangsung adalah terbukanya akses bagiwarga dan lebih mudah untuk mencapai suatu tempat. Rumah–rumah yang berada di ruas kiri jalan baru saat ini adabebarapa rumah yang mulai berubah dari yang awalnya rumah biasa, kini mereka mulai membangun kios-kios ataupun mulai membuka usaha, seperti berjualan makanan.

5.5.4. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Baru

5.5.5. Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Lama

  Bagi masyarakat yang bertempat tinggal disekitarlokasi Pasar dan pembangunan jalan baru yang juga sekaligus menjadi pedagang di PasarMeranti lama, mereka menganggap bahwa kemacetan tersebut tidak menjadi sebuah persoalan, karena bagi mereka yang berjualan dan membuka kios dihalaman-halamanmereka dan disewakan pastinya mendatangkan keutungan bagi mereka. Melalui Hasil wawancara dengan pedagang di Pasar Meranti lama diketahui bahwa pemerintah sebelumnya tidak pernah bertanya ataupun berdiskusi kepada parapedagang mengenai prihal lokasi Pasar, ukuran kiosk, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan di Pasar yang baru tersebut.

5.6.2. Prinsip Pembangunan yang Berkelanjutan pada Relokasi Pasar Meranti dan Pembangunan Jalan baru

  Berbeda dengan di lokasi yang baru bahkan diantara ParaPedagang di Pasar Meranti Baru banyak yang mengalami kerugian Faktor lokasi, ukuran kios, dan sepinya pengunjung di lokasi Pasar Meranti yang baru membuat para pegagang tidak mau pindah. Dan indikator lainnya yang terpenting dan juga tidak tercipta dalam Relokasi Paar Meranti adalah tujuan ekoomi,dimana dalam hal Relokasi Pasar Meranti ini tidak membawa kesejahteraan ekonomi bagi para pedagang, disisi lain membuat para pedagang mengalami penurunanpendapatan.

5.6.3. Kesadaran dan pengetahuan para pedagang dalam menciptakan lingkungan yang tertib dan bersih

  Melalui Hasil Observasi dan Wawancara yang telah saya lakukan, semua pedagang baik di Pasar Meranti Lama maupun di Pasar Meranti baru mengetahui denganjelas mengenai Larangan berjualan diatas badan jalan, parit, trotoar dan sebagainya. Seperti yang dituturkan oleh salah seorang pedagang di Pasar Meranti Baru,ia mengatakan ; “ Disini memang enak kondisinya, lebih tertib dan bersih karena sudah ada petugas kebersihan yang dikelola oleh PD.

5.7. Keefektifan Pembangunan Jalan Baru

  Jalan Baru yang proses pembangunannnya dimulai pada pertengahan tahun 2010 dan selesai pengaspalan pada awal tahun 2011 ini dapat dikatakan tidak efektif,dikarenakan pembangunan jalan tersebut terkesan lambat. Jalan ini yang awalnya diperuntukan sebagai jalan alternatif kemacetan kota tapi terbengkalai sampai dengansaat ini padahal proses pembangunannya membutuhkan dana yang cukup besar.

5.8. Harapan Masyarakat dan Para Pedagang dalam Hal Relokasi Pasar Meranti dan Pembangunan Jalan Baru

  Tapi kalau dipikir-pikir mana mungkin lagi pasar yang sudahsiap sedemikian rupa dirombak lagi”.(Wawancara Maret 2011 Untuk harapan masyarakat yang berada di sekitar lokasi Pasar Meranti dan Baru mengharapkan adanya kejelasan Pembangunan jalan yang hingga sampai saat ini belumdiresmikan dan belum tahu bagaimana kejelasannya. Bagi mereka yang tidak berjulan dan mempunyai kios di Pasar Meranti lama juga mengharapkan keadaan yang sama,yaitu agar seluruh pedagang direlokasikan ke Pasar yang baru sehingga tidak mengganggu aktivitas jalan dan membuat kesan kumuh dan kotor.

6.2. Kesimpulan

  Dengan kondisi yang demikian membuat proses relokasi Pasar Meranti menjadi tidak efektif, hal ini terbukti dengan kembalinya para pedagang berjualan ke lokasi yang lamayang membawa dampak negatif yaitu; Pasar Meranti baru menjadi sepi dan pedagangnya mengalami penurunan pendapatan, terjadinya kecemburuan sosial. Dalam hal ini pembangunan jalan baru juga tidak berlangsung dengan efektif, karena sampai dengan skripsi ini diselesaikan jalan tersebut belum diresmikan juga,sementara jalan tersebut sudah banyak yang rusak dan berlubang.

6.3. Saran

  Saat ini sikap yang harus diambil Pemerintah adalah sikap tegas untuk melakukan penertiban terhadap para PKL yang masih beraktivitas di lokasi semula, agar tidak terjadiketimpangan pendapatan dan kecemburuan sosial. Pemerintah juga perlu melakukan pembinaan terhadap para pedagang demi meningktkan kesadarn para pedagng danhal lainnya adlah Pemerintah kota Medan perlumelengkapi berbagai fasilitas yang dirasa masih kurang di Pasar Tradisional Meranti seperti toilet yang jumlahnya kurang dan belum adanya sarana parkir,.

DAFTAR PUSTAKA

  Pelibatan Masyarakat Marginal dalam Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota.

SUMBER TAMBAHAN

http://analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=34043:penggu suran-pkl-antara-mengganggu-keindahan-kota-dan-hak-ekosob&catid=78:umum&Itemid=131 diakses pada hari kamis 06-01-2010 pukul 16.30WIB http://www.hariansumutpos.com 02/2010/11/20:537/menegakkan-perda-kota-Medan.html diakses pada hari Senin 18/10/10 12.45 http://njiee.blogspot.com/2010/04/pasar-tradisional-pasar-tradisional.html diakses hariMinggu 12-12-10 Pukul 14.10 WIB http://www.akatiga.org/index.php/artikeldanopini/kemiskinan/110-kota-untuk-siapa )diakses pada hari kamis 06-01-2010 pukul 16.10 WIB http://njiee.blogspot.com/2010/04/pasar-tradisional-pasar-tradisional.html diakses hariMinggu 12-12-10 Pukul 14.10.http://veggy.wetpaint.com/page/Fenomenologi,+Hermeneutika+dan+Positivisme oleh :Reza A.A Wattimena diakses pada hari Senin 07 Februari 2011 15.43

INTERVIEW GUIDE PEDAGANG DI PASAR MERANTI LAMA

  Apakah pihak Pemerintah sebelumnya pernah bertanya kepada bapak / ibu mengenai sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh Pasar Meranti yang baru,seperti parkir dan sarana kebersihan contohnya? Menurut Bapak / Ibu sarana dan prasarana apa yang harus dilengkapi untuk meningkatkan kenyamanan lokasi Pasar yang baru?

INTERVIEW GUIDE DI PASAR MERANTI BARU

  Apakah pihak Pemerintah sebelumnya pernah bertanya kepada bapak / ibu mengenai sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh Pasar Meranti yang baru,seperti parkir dan sarana kebersihan contohnya? Menurut Bapak / Ibu sarana dan prasarana apa yang harus dilengkapi untuk meningkatkan kenyamanan lokasi Pasar yang baru?

INTERVIEW GUIDE MASYARAKAT YANG TINGGAL DI SEKITAR LOKASI PASAR MERANTI DAN PEMBANGUNAN JALAN BARU

  Lokasi Pasar yang mana yang paling nyaman menurut anda, apakah lokasi Pasar yang baru atau lokasi Pasar yang lama? Bagaimana Tanggapan Bapak / Ibu dengan keberadaan PKL di lokasi Pasar yang berada di badan Jalan Meranti?

Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan) Alasan Para Pedagang tidak mau direlokasikan Defenisi Konsep Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan) Deskripsi Wilayah Pasar Meranti Dilematis Pasar Tradisonal antara Pembangunan dan Penggusuran Dimensi Sosial Budaya Terkait dengan Permasalahan Pedagang Kaki Lima Efektivitas Kebijakan Relokasi Pedagang Kaki Lima Informan Unit Analisis Dan Informan 1 Unit Analisis Jenis Penelitian Lokasi Penelitian Tekhnik Interpretasi data Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Penduduk Berdasarkan Keturunan WNA Pribumi Kebijakan Pemerintah Kota Medan Terkait dengan Pedagang Kaki Lima Keefektifan Pembangunan Jalan Baru Kesadaran dan pengetahuan para pedagang dalam menciptakan lingkungan yang tertib dan bersih Kesimpulan Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan) Keterbatasan Penelitian Nilai Historis Pasar Meranti Kiosk dan Pedagang di Pasar Meranti Kepemilikan kios oleh Pemerintah dan Swasta Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Lama Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pembangunan Jalan baru Kondisi Sosial di Lingkungan Masyarakat sekitar Pasar Meranti Baru Latar Belakang Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pembangunan Jalan Baru ( Studi Kasus di Pasar Tradisional Meranti Kelurahan Sei Putih Timur II Kecamatan Medan Petisah kotamadya Medan) Letak dan Kondisi Pasar Meranti Para Pedagang yang telah direlokasikan kembali ke lokasi semula Pembangunan Jalan Teori Fenomenologi Pengelola Pasar dan Wewenangnya Perumusan Masalah Keberadaan Pedagang Kaki Lima Sebagai Salah Satu Bentuk Sektor Informal Profil Informan Profil pedagang di Pasar Meranti lama dan baru Proses Pembangunan Jalan Baru Tingkat pemahaman pesan yang perlu ditingkatkan terutama dalam hal penerimaan
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Relokasi Pasar Tradisional Meranti Dan Pemba..

Gratis

Feedback