Feedback

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).

Informasi dokumen
KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA (Studi Analisis Etnografi Tentang Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Oleh: RIFAL ASWAR TANJUNG 070904016 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah, dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki. Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence, dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri. i Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan, kekuatan, keberanian serta semangat dari hari ke hari sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta tak lupa pula shalawat beriring salam, penulis hadiahkan kepada Sang Suri Tauladan, Nabi Muhammad SAW. Penulisan skripsi dengan judul “Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara” ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.sos) di Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Dalam penyelesaian skripsi ini, tentunya merupakan hasil pelajaran yang penulis terima selama mengikuti proses perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, serta juga dari data yang di dapat melalui riset lapangan, perpustakaan, internet, dan buku-buku literatur lainnya. Secara khusus, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, ayahanda (Alm) Yusuf Effendy Tanjung, dan ibunda Hj. Siti Aisyah Lubis untuk dukungan serta kasih sayang nya selama ini, juga kepada ketiga saudara peneliti, Nina Karmila Tanjung, Fitri Yanthi Tanjung, dan Khairil Anwar Tanjung, serta Abang-abang ipar peneliti, Nashruddin Setiawan dan Ulpin Yaser Lubis, dan tentunya keponakan-keponakan peneliti. ii Universitas Sumatera Utara Dalam penulisan skripsi ini pula, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas segala bantuannya yang sangat berguna bagi penulis. 3. Bapak Alm. Siswo Suroso, M.A selaku dosen wali penulis dari semester 1-4, Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si selaku dosen wali penulis dari semester 5-7, dan ibu Dra. Dayana, M,Si selaku dosen wali penulis pada semester 8 ini. Terima kasih atas nasehat-nasehat akademiknya selama penulis mengikuti perkuliahan. 4. Ibu Dr. Nurbani, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam penulisan skripsi selama 1 semester terakhir. 5. (Ketua Penguji) yang telah memberikan saran, kritik, serta masukan pada skripsi ini hingga menjadi lebih baik. 6. (Penguji Utama) yang juga memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini hingga akhirnya dapat bisa menjadi lebih baik lagi. 7. Seluruh dosen dan staff pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah mendidik dan membimbing penulis mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di kampus ini. iii Universitas Sumatera Utara 8. Seluruh staff non-akademik yang udah banyak membantu penulis, khususnya belakangan ini, kak Ros, kak Icut, kak Maya, Bang Mul, dan lain-lainnya. 9. Teman-teman komunikasi 2007, Sitong, Vony, Arief, Dhina, Mambo, Ririn, Wulan, Devia, Hanan, Ara, Said, Kakek, Ubur, Ali, Ayu, Venta, Amel, dan Hera. Terima kasih untuk doa, dukungan dan persahabatan kita selama ini. Mudahmudahan persahabatan ini akan tetap berlanjut sampai kita sukses nanti. Amin 10. Terimakasih juga kepada teman-teman ilmu komunikasi 2007 FISIP USU lainnya yang sudah bersama-sama kurang lebih selama 4 tahun ini. 11. Terimakasih kepada Bob Riandy dan Toni, yang sudah banyak membantu peneliti selama proses penelitian skripsi ini. 12. Serta terima kasih kepada seluruh informan yang dengan senang hati telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, dukungan, dan doa yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran tentu sangat dibutuhkan demi penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin . Yaaa Rabbalalaminnn Medan, Juni 2011 Penulis RIFAL ASWAR TANJUNG iv Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAKSI . i KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . v BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah . I.2. Perumusan Masalah . I.3. Pembatasan Masalah . I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian . I.4.1. Tujuan Penelitian . I.4.2. Manfaat Penelitian . I.5. Kerangka Teori. I.5.1. Teori Interaksi Simbolik . I.5.2. Komunikasi . I.5.3. Komunikasi Antarbudaya. I.5.4. Identitas Etnis . I.5.5. Kompetensi Komunikasi . I.5.6. Etnis Tionghoa . I.6. Kerangka Konsep . I.7. Operasional Konsep . I.8. Defenisi Operasional . 1 9 9 10 10 11 11 11 13 15 16 18 19 21 22 24 BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Teori Interaksi Simbolik . II.1.1. Defenisi Teori Interaksi Simbolik . II.2. Komunikasi . II.2.1. Latar Belakang Sejarah . II.2.2. Defenisi Komunikasi . II.2.3. Proses Komunikasi. II.3. Komunikasi Antarbudaya . II.3.1. Sejarah Komunikasi Antarbudaya . II.3.2. Defenisi Komunikasi Antarbudaya . II.3.3. Dimensi-Dimensi Komunikasi Antarbudaya . II.4. Identitas Etnis . II.4.1. Defenisi Identitas Etnis . II.4.2. Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis . II.5. Kompetensi Komunikasi. II.6. Etnis Tionghoa . II.6.1. Sejarah . 28 28 32 32 33 35 38 38 41 44 47 47 51 54 60 60 v Universitas Sumatera Utara II.6.1.1 Masa-masa awal . II.6.1.2 Era Kolonial . II.6.1.3 Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI. II.6.1.4 Pasca Kemerdekaan . II.6.2 Daerah asal China . II.6.3 Daerah Konsentrasi . 60 61 62 63 66 67 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian . III.1.1. Metode Penelitian Kualitatif . III.1.2. Studi Analisis Etnografi . III.1.2.1 Suatu Pemahaman Awal . III.1.2.2 Pijakan Teoritis dalam Model Etnografi . III.1.2.3 Bentuk-Bentuk Penelitian Model Etnografi . III.2. Lokasi Penelitian . III.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian . III.2.1.1 Sejarah Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara III.2.1.2 Visi dan Misi . III.2.1.3 Tujuan . III.2.1.4 Kebijakan. III.2.1.5 Struktur Kepengurusan . III.3. Waktu Penelitian . III.4. Subjek atau Informan Penelitian . III.5. Teknik Pengumpulan Data . III.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research) . III.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research) . III.6. Teknik Analisis Data. 69 69 71 71 72 74 79 79 79 80 81 82 88 88 89 91 91 92 92 BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Latar Belakang Informan Penelitian . IV.1.1 Tabel Latar Belakang Informan Penelitian . IV.1.2 Kesimpulan Latar Belakang Informan Penelitian . IV.2. Identitas Etnis. IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian . IV.2.2 Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian . IV.2.2.1 Mampu Mengenali . IV.2.2.2 Kurang Mampu Mengenali . IV.2.2.3 Tidak Mampu Mengenali . IV.3. Kompetensi Komunikasi . IV.3.1 Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian . IV.3.2 Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian . 99 99 109 114 115 152 154 157 158 160 160 199 vi Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan . V.2. Saran. 209 215 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii Universitas Sumatera Utara ABSTRAKSI Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah, dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki. Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence, dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke dan kompetensi komunikasi yang berbeda. 1. Afifah memiliki nilai identitas etnis yang cukup tinggi. Ia mampu mengidentifikasi in-group dan out-group secara jelas, komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnisnya sangat tinggi, dan tentu hal tersebut Universitas Sumatera Utara mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan Afifah juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya sebagai suatu yang mendorongnya untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya dan Afifah memberikan harapan positif tentang masa depan etnisnya. Dengan identitas etnis yang sangat tinggi memberikan masalah dalam komunikasi antarbudaya Afifah. Masalah yang dihadapinya adalah upayanya mencari kesamaan mendorongnya untuk terus nyaman dengan ‘’orang-orang yang sama’’ (seetnis), akhirnya ia menarik diri dari interaksi antarbudaya, dan jika ia tidak dalam kelompok, kecemasan yang dirasakannya cukup tinggi, bahkan Afifah masih merasakan kecemasan karena perbedaan budaya khususnya perbedaan bahasa dan nilai. Akhirnya, komunikasi Afifah sangat terbatas pada kelompoknya dan ia tidak terlalu berminat berinteraksi dengan etnis lain. Afifah memiliki tingkat kompetensi komunikasi yang rendah. Dan hal tersebut disadarinya. Mungkin hal tersebut secara langsung ataupun tidak dipengaruhi oleh lingkungan Afifah, di mana dirinya selalu berada dalam kondisi bersama dengan mereka yang sama dengan dirinya (Melayu). Afifah sudah merasa nyaman dan menemukan semua kebutuhan komunikasinya dalam kelompoknya. Wajar memang, Afifah tidak terlau merasakan Culture Shock dan dampak dari ketegangan kasus Indonesia–Malaysia, sebab dirinya selalu berupaya ‘’berlindung’’ dalam kelompok, sehingga Culture Shock pun bisa saja diatasi, karena dirinya masih merasa dalam kelompok. Terlebih lagi mengenai kasus Indonesia-Malaysia, Afifah tentu tak merasakan dampak apa pun karena Universitas Sumatera Utara komunikasinya yang tertutup, sehingga membuat dirinya acuh tak acuh terhadap kasus tersebut. Afifah menjadikan permasalah perbedaan bahasa dan nilai sebagai alasan kenapa dia tak menemukan kenyamanan komunikasi, padahal, jika pun hak tersebut alasannya, Afifah bisa belajar dan mencoba atau barangkali memilih berkomunikasi dengan teman senegaranya yang berbeda etnis, misalnya etnis India dan Cina, namun hal tersebut juga tak dilakukannya. Namun alasan Afifah yang paling jitu untuk menjelaskan komunikasinya yang terbatas tersebut karena dia memang susah untuk bisa akrab dengan orang lain. Motivasi untuk berkomunikasi sebenarnya ada dalam diri Afifah, namun sayang, motivasi tersebut tidak dijadikannya tenaga untuk mau mencari tahu apa yang seharusnya diketahuinya sehingga dia punya pemahaman dalam berkomunikasi secara efektif dengan etnis lain. Alhasil, dirinya pun tak mampu berkomunikasi dengan etnis lain. Masalah utama yang melingkupi Afifah adalah upaya menarik diri dari komunikasi antarbudaya dan pencarian kesamaan. Afifah merasa dia mendapatkan kepastian dan keamanan dalam kelompok yang didasarkan atas kesamaan etnis dan akhirnya dia menarik diri dari interaksi dengan yang mereka yang berbeda budaya. Maka bisa dikatakan bahwa Afifah berada pada tataran Unconcious Incompetence yaitu pada level di mana seseorang tidak begitu menyadari atau untuk Afifah barangkali lebih tepatnya tidak mau menyadari adanya perbedaan dan merasa tidak perlu untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Universitas Sumatera Utara 2. Aqila, juga memiliki identitas etnis yag cukup tinggi sama dengan Afifah. Aqila mengakui ia tak terlalu kaku dalam nmengidentifikasi in-groupnya, tapia tetap mampu mengidentifikasi in-group dan out-group, komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnis Aqila juga sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan Aqila juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya sebagai suatu yang mendorongnya untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya dan Aqila memberikan harapan positif tentang masa depan etnisnya bahkan Aqila mampu memberikan evaluasi positif tentang etnisnya. Mengenai interaksi, Aqila cukup termotivasi untuk berkomunikasi dengan teman beda etnis khususnya teman Indonesianya yang dinilainya semua beretnis Batak. Intensitas dan frekuensi komunikasi Aqila masih sangat besar pada kelompoknya tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu menutup diri walaupun akhirnya ia merasa lebih nyaman dengan teman seetnis. Aqila, memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik daripada Afifah. Aqila memiliki pertimbangan lain dalam menerima teman yang berbeda etnis, dia akan berusaha menerima dan mau berkomunikasi dengan teman yang berbeda etnis selama ada kesamaan nilai yaitu agama. Aqila sendiri sebenarnya sudah memiliki motivasi untuk berkomunikasi dengan mereka yang berbeda etnis. Namun yang berbeda etnis ini memang sedikit dibatasi Aqila pada mereka yang satu agama. Walaupun dia tetap mencari kesamaan dan juga sering bersama kelomponya, Aqila masih mau berusaha untuk terbuka dan memenuhi hasrat Universitas Sumatera Utara kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan untuk dikomunikasikan dan dipertukarkan. Aqila mengakui senang bercerita mengenai budaya dengan teman Indonesianya. Melalui pembicaraan tersebut tentu akan membantu Aqila untuk menyadari dan mengetahui ranah identitasnya dan makin menyadarkannya akan etnosentrisme. Etnosentrisme yang dimiliki Aqila masih dalam batas wajar, namun meyakinkannya untuk mau membela dan berani, hal tersebut diketahui dari penjelasannya tentang kasus Indonesia-Malaysia yang ditanggapinya dengan cukup emosional. Aqila mengakui ia cukup sering bertukar informasi budaya dengan teman Indonesianya, namun hal tersebut tidak menjadikannya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai nilai budaya lain. Hasil dari pertukaran informasi yang didapatnya malah membuatnya menemukan perbedaan. Sebenarnya untuk berkomunikasi secara efektif, kita memang harus mengerti dengan jelas perbedaan antara kelompok kita dengan kelompok lain. Menyadari perbedaan kadang memfasilitasi komunikasi yang efektif (Gundy kunst & Kim, 2007: 281), namun sayang hal tersebut tidak diasari Aqila sebagai upaya untuk memperkokoh identitas etnisnya. Kesadaran tersebut justru dimaknai Aqila sebagai ketidakmampuannya menghadapi perbedaan dan tida tahu harus berbuat apa untuk memperbaiki hal tersebut. Sehingga Aqila tidak memiliki kemampuan untuk mau mengamati, dan mau menyesuaikan diri. Jadi bisa disimpulkan Aqila berada pada tataran concious Incompetence, yaitu pada level di mana seseorang menyadari adanya perbedan, menyadari sesuatu tidak berjalan dengan lancar Universitas Sumatera Utara dalam interaksi namun tidak yakin kenapa hal tersebut terjadi dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasinya. 3. Nisa, juga memiliki identitas etnis yang cukup tinggi, Nisa mengakui ia tak terlalu kaku dalam mengidentifikasi in-groupnya, walaupun ia mampu mengidentifikasi in-group dan out-group, tapi sebisa mungkin ia tak mau terlalu mempermasalahkan hal tersebut, agar tak mengahambat komunikasinyai. Nisa juga memiliki komitmen dan sense of belongingnya pada kelompok dan etnis yang sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorongnya berminat di dalam kelompok dan sering terlibat dalam aktivitas kelompok, dan dengan memahami rasa kecintaannya pada kelompok dan budaya, Nisa terdorong untuk mempertahankan nilai Melayu yang dimilikinya. Walaupun ia pesimis membayangkan masa depan etnisnya, tapi Nisa berusaha memberikan evaluasi positif pada etnisnya. Interaksi Nisa juga masih sangat besar dengan kelompoknya. Namun hampir tiga tahun tinggal di Medan, lambat laun, mendorongnya untuk mau berkomunikasi dengan etnis dan tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan yang ada. Dan sekarang, Nisa mengakui ia mulai bisa terbuka dengan teman beda etnis, bahkan kadang ia melakukan aktivitas bersama teman beda etnisnya misalnya jalan-jalan. Nisa memiliki pertimbangan lain dalam menerima teman yang berbeda etnis yaitu kesamaan identitas agama. Nisa sendiri mengakui dirinya termotivasi untuk terbuka dengan teman beda etnis khususnya mahasiswa Medan (Indonesia). Motivasi tersebut mendorongnya belajar bahasa Indonesia (komuniksi verbal) agar bisa Universitas Sumatera Utara membantunya untuk berkomunikasi dengan lancar. Motivasinya membuatnya sadar sadar akan ranah identitasnya artinya siapa yang Melayu dan non Melayu dan sadar akan kebutuhan identitasnya yaitu untuk dikomunikasikan. Motivasinya membuatnya menambah pengetahuan dan pemahamannya mengenai apa yang dibutuhkan saat berkomuniksi dengan steman Indonesianya yaitu bahasa Indonesia. Jadi faktor pengetahuan membuatnya mau untuk belajar dan menjadikannya memiliki kemampuan untuk berbahasa Indonesia dan sadar akan kebutuhan untuk menyesuaikan diri. Pengetahuannya mengenai perbedaan kelompok, mendorongnya untuk mencari tahu kesamaan personal. Nisa sebenarnya memiliki kesadaran, ciek. : Surang se Wahyu pai kamari? : Iyo, surang se, wak dak tantu ado urang-urang tu ado di kos doh, kalau tau kan wak panggia kawan kos tu. Baa lai, sajak tu sampai kini ndak pernah naiak becak lai do. : Kalau tentang makanan disiko baa? : aa. iyo.makanan di medan partamo kali mancubo makanan di Medan, jauah bana beda rasonyo samo nasi yang di Padang.nasinyo agak-agak lengket, tapi kini lah tabiaso. : Makan di lua atau masak surang? : Makan di kos, di masak an bu kos. : Kalau sambanyo disiko baa? : Sambanyo samo-samo se nyo, nasinyo yang beda. : Partamo kali disiko dulu samo sia wahyu partamo kali bagaul? : Samo senior-senior di SMA, kak Dini, bang Ezy, bang Egith, bang Eko, barampek. : Kalau di kampus pas ospeknyo dulu ado masalah ndak? : Ndak, pas ospek dulu dibaok sanang se nyo, soalnyo kan bahaso nyo lain, kalau disiko kan ospeknyo kan pake bahaso melayu lah gitu, jadi beda la rasonyo. Kalau jo yang di Padang, wak danga-danga kawan wak kanai ospek kan, kalau wak mandanganyo baa tu??sakik ati rasonyo. Tapi kalau urangurang Medan ko yang ma hariak-hariak, dak ka awak rasonyo do. : Ado dak yang kasa-kasa gitu? : Indak, paliang yang kurang suko wak dek disuruah botak itu se nyo, itu se yang buek sakik ati, yang lain nyo indak ado. : Kalau masalah bahaso ado kesulitan dak? : Awal-awalnyo ado, kesulitan bahaso, tapi kalau logat ndak masalah do, banyak bahaso2 lokal lah yang awak dak tau. : Misalnyo bantuak apo? : Misalnyo kayak kareta, pajak, dak tau do, dulu kan taunyo kereta tu kereta api, banyak la yang lain. : Baa se taunyo? : Dari kawan-kawan di kampus. Wak galak-galak se kan, dak tau wak bahaso tu, kalau masalah logat bisa. : Trus kalau kawan2 yu nanyo dari ma? Apo wahyu jawek? : Dari Padang, kan emang dari Padang. : Apo tanggapan kawan2 Wahyu? : Dak do, paliang cuma ngecek-ngecek dari Padang,,,jauh yaa, gitu ajo. : Di kampus yu banyak bakawan samo urang batak? : Urang Batak lai, urang malayu. : Kalau urang awak di kampus bara yo ? : Kalau yang yo bana urang awak sorangnyo, paliang banyak keturunan gitu. : Yang paliang acok wahyu ajak interaksi sia? : Urang batak sih, urang awak ado juo, tapi labiah acok samo urang batak. : Pertukaran informasi tentang budaya salamo yu bainteraksi ado ndak? Universitas Sumatera Utara I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P : Ado, paliang ado diskusi-diskusi tentang budaya, misalnyo tentang pambagian warisan, yang tentang harto pusako tu kan, baa kok padusi yang macik, kalau dalam islam kan laki-laki, tu wak kecek an, yang padusi macik tu bukan harta pencarian, tapi harato pusako, tu wak jalehan, harato pusako tu kayak iko, kayak iko,. : Dari ma wahyu tau tentang itu? : Dari sekolah, kan pernah baraja. : Dak dari keluarga do? : Dari keluarga ado lo, dari keluarga tu mama ado maagiah tau, lai di kecek an. : Trus, yang lain apo lai? : Urang tu kalau maagiah informasi tentang urang batak, paliangan dak lo awak khusus lo wak nanyo do. : Selain harato pusako tu apo lai yang pernah dibahas? : Tentang marantau, misalnyo baa kok suko bana marantau?”keceknyo kan, yo bosan, kecek yuk an, tapi kebanyakan urang minang tu marantau cari harato, tapi kalau kami yang mahasiswa ko kan cari ilmu, gitu. : Kalau salamo satuhun ko wahyu berinteraksi tu, pernah ngalami kesulitan? : Kesulitannyo, misalnyo kalau wak buek salah, kesulitannyo payah minta maafnyo ka urang tu. Pernah tu, ba masalah jo urang batak, lamo mintak maafnyo. : Baa dulu tu kok bisa gitu? : Ado la yang wak galak2an, ee.padang.ee batak,” kecek wak kan, ado yang tasingguang kan, tu via sms se, ngamboknyo lamo. : Kalau menurut Wahyu apo perbedaan yang mancolok antaro masyarakat disiko jo di kampuang? : Kalau masyarakat, wak caliak kan, wak pai jalan2 ka Berastagi, lain rasonyo suasana di tapi2 jalan tu, kalau misalnyo disiko, perkampungan urang Batak asli kan, wak caliak halaman rumahnyo tu kumuah lah, tu dari pandangan wak, urangnyo ibaratnyo ndak barasiah do. Kalau di kampuang kan wak caliak, asalkan ado anak gadih di dalam rumah tu, pasti halamannyo tu barasiah, kalau di Minang tu wak caliak tapi-tapi jalannnyo tu kan rapi, Payakumbuah, Bukittinggi, kalau pulang kan acok lewat2 situ. : Kalau di Medan menurut yu baa? : Kalau disiko kan, lingkuangannyo anak kos kebanyakan, dek nyo bacampua2 jadi payah lo mandeskripsikannyo. : Di dakek kosan wahyu baa? : Kalau di kos yu, ado urang batak, urang duri, urang aceh, jadi biaso-biaso se nyo, dak ado interaksi yang mancolok bana do, tapi kami tu akrab se. : Kalau di kosan Wahyu pakai bahaso apo? : Pakai bahaso Indonesia, kalau di kos dek urang minangnyo sadonyo keturunan, jadi bahaso Indonesia juo, yang sorang kawan SMA, tapi gaek padusinyo yang urang minangnyo, tapi iduiknyo di Aceh. 3 tahun se di Maninjau nyo : Kalau perbedaan sikap urang-urangnyo baa? : Kalau jo urang batak ko nyo main langsuang2 se nyo, dak mikian parasaan urang, mungkin lah memang gitu tabiatnyo kan, mungkin kalau nyo sasamo urang Batak kayak-kayaknyo gitu tu biaso2 se nyo, tapi kalau awak urang minang yang marasoan agak lain gitu, kadangnyo di muko urang rami gai kan, mode tu. : Pernah takanai? Universitas Sumatera Utara I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P I P : Pernah, waktu tu misalnyo wak talambek pai waktu tu kan, tu wak batanyo, dak dijaweknyo do, “ kok gak dijawab.” Kecek wak kan, malas jawab ah, kau tadi terlambat.”keceknyo di muko urang rami, tu wak, ooo iyo lah. : Trus baa tanggapan wahyu? ; Awak diam se nyo. : Maraso sakik ati ndak? : Iyo lah, : Tu baa, dak ado bakecek an do? : Padian se lah, tapi kan dek urang-urang tu biaso dek nyo nyo, di daerah2 siko kan tu biaso se nyo, kalau di awak yang urang minang kan, maagak-agak an hati urang. : Yang lainnyo apo? : Aa.tu masalah itu, kalau di Minangkan, kalau biasonyo wak sadang makan, rami-rami gitu kan, kalau basandao tu kan dak elok do, kalau disiko baru tadi pagi baru wak sadang makan, yang tukang manjua nyo tu malahan, kareh.is.wak sadang makan, baa la . : Trus Wahyu maanghadapi hal-hal bantuak itu baa? : Biasonyo diam se nyo, ndak pernah protes do, takuiknyo beko awak lo yang salah, masalahnyo awak di lingkungan urang. : Kalau konflik atau masalah disiko ado ndak? : Ndak, dak ado do. Paliang batak-batak ko, nyo keceknyo kasa kan, kadang ado gai nada mengancam, tapi itu wak anggap sebagai gurauan se nyo. : Kalau urang tu ngecek “kau-kau” gitu baa? : Kalau itu kan, dek factor bahaso, itu biaso se nyo, kan dulu di sekolah ado juo urang Medan, jadi kadang nyo ba”kau-kau” juo. : Wahyu sendiri kalau carito-carito gitu, labiah nyamannyo jo sia? : Nyaman lah samo urang minang lai, dek labiah masuak ngecek kan, dek bahaso, bahaso ibu wak sorang. Kadang kalau ngecek jo urang-urang Batak, tabaok-baok lo bahaso Minang. : Menurut Wahyu pandangan yu tentang budaya minang tu baa? : Budaya Minang tu halus lah, kalau dibandiangan jo batak, tu lebih sopan. Kan kalau kesopanan tu dalam konteks budaya itu tu relative, misalnyo dek urang batak tu ngecek kareh-kareh tu sopan mah, tapi kalau dek awak tu lain. Jadi budaya minang tu lebih sopan dan halus. : Wahyu sendiri caro manunjuak an identitas Wahyu sebagai urang minang baa? : Kalau budaya secara mancolok dak ado do, tapi kalau dalam pergaulan lai, contohnyo kalau misalnyo wak basalah ka urang, yo lah awak duluan yang minta maaf. Baa caronyo wak tu harus mintak maaf samo urang tu. Tu awak tu harus bausaho manjago, ibaraiknyo layang2 gitu ni, banyak patimbangan lah. Kalau misalnyo lah talampau tagang, di uluan stek, kalau dak ado angin di tagangan stek, gitu lah. Pandai-pandai baco situasi. : Kalau perubahan yang wahyu rasoan ado ndak salamo tingga disiko? : Misalnyo, dek pergaulan labiah luas kan, ado urang batak, urang minang, urang aceh, urang melayu, pokoknyo banyak kan urang2 gai, jadi ibaraiknyo kini ko labiah luas lah pengetahuan tentang baa caro menghadapi urangurang ko, du kan agak pandiam, kalau kini kan agak-agak banyak ngecek lah stek jo urang-urang tu. : Apo dorongan Wahyu untuak banyak-banyak ngecek jo urang tu? Universitas Sumatera Utara I P I P I P I P I : Cari kawan, memang niaik dari dulu, selain pai kuliah, yo tambah kawankawan. : Kalau samo logat urang siko tabaok-baok ndak? : Tabaok, pernah waktu tu di Padang, reuni kan, jadi tabaok kan, tu digalak an dek kawan-kawan yu. : Sajak bilo tu wahyu tabiaso samo bahaso urang siko? : Sajak 6 bulan disiko la. Tapi itu sakali-sakali se nyo. : Kalau culture shock yang lain baa? : Culture shock yo bantuak bahaso tadi, kayak sopan santun yang kurang tadi, kalau dibandiangan jo budaya minang kan. Trus kalau disiko kan lebih individual, paliang wak tau samo yang sobok jo awak, sabalah kosan wak dak tau ntah jo sia-sia do. : Kalau kedekatan wahyu samo kawan-kawan kampus baa? : Dakek ajo sih sadonyo. O iyo, tu kalau masalah culture shock tu dek balainan agama gitu. Agama di Medan kan banyak, dikelas tu se ado 4 agama, budha, hindu ado. Tapi kalau masalah kedekatan yo labiah dakek lah inyo samo inyo ajo. Universitas Sumatera Utara
Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Conscious Competence Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Daerah Asal di Cina Daerah Konsentrasi Defenisi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya .1 Sejarah Komunikasi Antarbudaya Defenisi Komunikasi Komunikasi .1 Latar Belakang Sejarah Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya .1 Sejarah Komunikasi Antarbudaya Identitas Etnis Kerangka Teori Kesimpulan Latar Belakang Informan Kompetensi Komunikasi Etnis Tionghoa Kompetensi Komunikasi Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Komunikasi Komunikasi Antarbudaya Kerangka Teori Kurang Mampu Mengenali Tidak Mampu Mengenali Latar Belakang Informan Kesimpulan Latar Belakang Masalah Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Mampu Mengenali Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian Operasional Konsep Definisi Operasional Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Kerangka Konsep Proses Komunikasi Komunikasi .1 Latar Belakang Sejarah Teori Interaksi Simbolik .1 Defenisi Teori Interaksi Simbolik Teori Interaksi Simbolik Kerangka Teori Unconscious Competence Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Unconscious Incompetence Conscious Incompetence
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).

Gratis