Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara).

 5  66  211  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

  KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DI KALANGAN MAHASISWA (Studi Analisis Etnografi Tentang Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara) SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Oleh: RIFAL ASWAR TANJUNG 070904016 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011

  ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah, dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki. Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence, dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan

  

conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan

  secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri. i

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan, kekuatan, keberanian serta semangat dari hari ke hari sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta tak lupa pula shalawat beriring salam, penulis hadiahkan kepada Sang Suri Tauladan, Nabi Muhammad SAW.

  Penulisan skripsi dengan judul “Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa

  

dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan

Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara”

  ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.sos) di Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

  Dalam penyelesaian skripsi ini, tentunya merupakan hasil pelajaran yang penulis terima selama mengikuti proses perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, serta juga dari data yang di dapat melalui riset lapangan, perpustakaan, internet, dan buku-buku literatur lainnya.

  Secara khusus, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis, ayahanda (Alm) Yusuf Effendy Tanjung, dan ibunda Hj. Siti Aisyah Lubis untuk dukungan serta kasih sayang nya selama ini, juga kepada ketiga saudara peneliti, Nina Karmila Tanjung, Fitri Yanthi Tanjung, dan Khairil Anwar Tanjung, serta Abang-abang ipar peneliti, Nashruddin Setiawan dan Ulpin Yaser Lubis, dan tentunya keponakan-keponakan peneliti. ii

  Dalam penulisan skripsi ini pula, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

  2. Ibu Dra. Fatmawardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, serta Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas segala bantuannya yang sangat berguna bagi penulis.

  3. Bapak Alm. Siswo Suroso, M.A selaku dosen wali penulis dari semester 1-4, Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si selaku dosen wali penulis dari semester 5-7, dan ibu Dra. Dayana, M,Si selaku dosen wali penulis pada semester 8 ini. Terima kasih atas nasehat-nasehat akademiknya selama penulis mengikuti perkuliahan.

  4. Ibu Dr. Nurbani, M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak membantu dan membimbing penulis dalam penulisan skripsi selama 1 semester terakhir. 5. (Ketua Penguji) yang telah memberikan saran, kritik, serta masukan pada skripsi ini hingga menjadi lebih baik.

  6. (Penguji Utama) yang juga memberikan masukan untuk perbaikan skripsi ini hingga akhirnya dapat bisa menjadi lebih baik lagi.

  7. Seluruh dosen dan staff pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi yang telah mendidik dan membimbing penulis mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan perkuliahan di kampus ini. iii

  8. Seluruh staff non-akademik yang udah banyak membantu penulis, khususnya belakangan ini, kak Ros, kak Icut, kak Maya, Bang Mul, dan lain-lainnya.

  9. Teman-teman komunikasi 2007, Sitong, Vony, Arief, Dhina, Mambo, Ririn, Wulan, Devia, Hanan, Ara, Said, Kakek, Ubur, Ali, Ayu, Venta, Amel, dan Hera.

  Terima kasih untuk doa, dukungan dan persahabatan kita selama ini. Mudah- mudahan persahabatan ini akan tetap berlanjut sampai kita sukses nanti. Amin

  10. Terimakasih juga kepada teman-teman ilmu komunikasi 2007 FISIP USU lainnya yang sudah bersama-sama kurang lebih selama 4 tahun ini.

  11. Terimakasih kepada Bob Riandy dan Toni, yang sudah banyak membantu peneliti selama proses penelitian skripsi ini.

  12. Serta terima kasih kepada seluruh informan yang dengan senang hati telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini.

  Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, dukungan, dan doa yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu kritik dan saran tentu sangat dibutuhkan demi penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Amin…. Yaaa Rabbalalaminnn…

  Medan, Juni 2011 Penulis

  RIFAL ASWAR TANJUNG iv

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ABSTRAKSI .................................................................................................. i KATA PENGANTAR .................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................. v

  BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah .................................................................

  1 I.2. Perumusan Masalah ....................................................................... 9 I.3. Pembatasan Masalah ......................................................................

  9 I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................... 10 I.4.1. Tujuan Penelitian .................................................................

  10 I.4.2. Manfaat Penelitian ..............................................................

  11 I.5. Kerangka Teori ...............................................................................

  11 I.5.1. Teori Interaksi Simbolik ...................................................... 11

  I.5.2. Komunikasi .......................................................................... 13

  I.5.3. Komunikasi Antarbudaya..................................................... 15 I.5.4. Identitas Etnis .......................................................................

  16 I.5.5. Kompetensi Komunikasi ...................................................... 18

  I.5.6. Etnis Tionghoa ..................................................................... 19 I.6. Kerangka Konsep ...........................................................................

  21 I.7. Operasional Konsep .......................................................................

  22 I.8. Defenisi Operasional ......................................................................

  24 BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Teori Interaksi Simbolik ..............................................................

  28 II.1.1. Defenisi Teori Interaksi Simbolik .....................................

  28 II.2. Komunikasi ..................................................................................

  32 II.2.1. Latar Belakang Sejarah .....................................................

  32 II.2.2. Defenisi Komunikasi ........................................................

  33 II.2.3. Proses Komunikasi ............................................................

  35 II.3. Komunikasi Antarbudaya ............................................................

  38 II.3.1. Sejarah Komunikasi Antarbudaya ....................................

  38 II.3.2. Defenisi Komunikasi Antarbudaya ...................................

  41 II.3.3. Dimensi-Dimensi Komunikasi Antarbudaya ....................

  44 II.4. Identitas Etnis ..............................................................................

  47 II.4.1. Defenisi Identitas Etnis .....................................................

  47 II.4.2. Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis .................. 51 II.5. Kompetensi Komunikasi ..............................................................

  54 II.6. Etnis Tionghoa .............................................................................

  60 II.6.1. Sejarah ..............................................................................

  60 v

  II.6.1.1 Masa-masa awal ...................................................

  60 II.6.1.2 Era Kolonial .........................................................

  61 II.6.1.3 Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI .............

  62 II.6.1.4 Pasca Kemerdekaan ...........................................

  63 II.6.2 Daerah asal China ..............................................................

  66 II.6.3 Daerah Konsentrasi ............................................................

  67 BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Metode Penelitian ....................................................................

  69 III.1.1. Metode Penelitian Kualitatif .......................................

  69 III.1.2. Studi Analisis Etnografi ..............................................

  71 III.1.2.1 Suatu Pemahaman Awal ................................

  71 III.1.2.2 Pijakan Teoritis dalam Model Etnografi .......

  72 III.1.2.3 Bentuk-Bentuk Penelitian Model Etnografi .. 74 III.2. Lokasi Penelitian ......................................................................

  79 III.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian .........................................

  79 III.2.1.1 Sejarah Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

  79 III.2.1.2 Visi dan Misi .............................................................

  80 III.2.1.3 Tujuan ........................................................................

  81 III.2.1.4 Kebijakan ...................................................................

  82 III.2.1.5 Struktur Kepengurusan ..............................................

  88 III.3. Waktu Penelitian ......................................................................

  88 III.4. Subjek atau Informan Penelitian ..............................................

  89 III.5. Teknik Pengumpulan Data .......................................................

  91 III.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research) ..........................

  91 III.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research) .................

  92 III.6. Teknik Analisis Data ................................................................

  92 BAB IV PEMBAHASAN IV.1. Latar Belakang Informan Penelitian ........................................

  99 IV.1.1 Tabel Latar Belakang Informan Penelitian ...................

  99 IV.1.2 Kesimpulan Latar Belakang Informan Penelitian ........ 109

  IV.2. Identitas Etnis ........................................................................... 114

  IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian .............. 115

  IV.2.2 Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian .......... 152

  IV.2.2.1 Mampu Mengenali ......................................... 154

  IV.2.2.2 Kurang Mampu Mengenali ............................ 157

  IV.2.2.3 Tidak Mampu Mengenali ............................... 158

  IV.3. Kompetensi Komunikasi .......................................................... 160

  IV.3.1 Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian ..................................................... 160

  IV.3.2 Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian ..................................................... 199 vi

  BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan ................................................................................ 209 V.2. Saran........................................................................................... 215 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  vii

  ABSTRAKSI

  Penelitian ini berjudul Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas etnis yang dibangun dalam kompetensi komunikasi antarbudaya antara mahasiswa yang beretnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di lingkungan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  Metode penelitian dalam penelitian ini adalah studi analisis etnografi budaya yaitu studi yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan data nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan dapat diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas etnis dapat berperan sebagai pendorong dalam melakukan kompetensi komunikasi antara mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi. Identitas etnis yang berbeda, tidak menjadikan penghambat dalam kompetensi komunikasi yang mereka laukan. Jenis kelamin, agama, asal daerah, dan pekerjaan orang tua mampu membentuk identitas etnis pada mahasiswa etnis Tionghoa, sedangkan usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester bukanlah karakteristik yang dapat membentuk identitas etnis pada mereka. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa, informan perempuan lebih mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya masing-masing lebih baik daripada informan laki-laki. Informan laki-laki juga mampu mengenali identitas etnisnya, tetapi hanya secara umumnya saja yang dimiliki oleh mayoritas etnis Tionghoa. Informan laki-laki tidak mampu mengenali identitas etnisnya secara pribadi. Meskipun ada perbedaan dalam kemampuan mengenali identitas etnisnya, tetapi keduanya mampu melakukan kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi. Kompetensi komunikasi yang mereka miliki umumnya berada pada tataran mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan baik atau yang disebut dengan istilah unconscious competence, dan tataran ini dimiliki oleh 9 orang informan. Sedangkan 2 orang informan lainnya berada pada tataran conscious incompetence yaitu mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain namun ia tidak melakukan sesuatu, dan

  

conscious competence yaitu mampu berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan

  secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. Jadi kompetensi komunikasi ke 11 informan mahasiswa Tionghoa berada pada tataran yang cukup efektif. Meskipun identitas etnis yang berbeda dengan mahasiswa pribumi, lantas tidak membuat mereka enggan untuk melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Lantas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada tidak membuat mahasiswa etnis Tionghoa menutup diri. i

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, komunikasi sebagai sebuah proses pertukaran simbol verbal dan

  nonverbal antara pengirim dan penerima untuk merubah tingkah laku, kini melingkupi proses yang lebih luas. Jumlah simbol-simbol yang dipertukarkan tentu tak bisa dihitung dan dikelompokkan secara spesifik kecuali bentuk simbol yang dikirim, verbal dan non verbal. Memahami komunikasi pun seolah tak ada habisnya. Mengingat komunikasi sebagai suatu proses yang tiada henti melingkupi kehidupan manusia, salah satunya mengenai komunikasi antarbudaya.

  Edward T. Hall mengatakan budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan. Konsekuensinya kebudayaan merupakan landasan berkomunikasi. Charley H. Dood mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang mewakili pribadi, antar pribadi, kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta, sedangkan Sitaram berpendapat bahwa komunikasi antarbudaya sendiri bermakna sebagai sebuah seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan (Liliweri, 2004: 11).

  Untuk memahami interaksi antarbudaya, terlebih dahulu kita harus memahami komunikasi manusia. Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, apa yang dapat terjadi, akibat- akibat dari apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.

  Hal-hal yang sejauh ini dibicarakan tentang komunikasi, berkaitan dengan komunikasi antarbudaya. Fungsi-fungsi dan hubungan-hubungan antara komponen- komponen komunikasi juga berkenaan dengan komunikasi antarbudaya. Apa yang terutama menandai komunikasi antarbudaya adalah bahwa sumber dan penerimanya berasal dari budaya yang berbeda. Ciri ini saja memadai untuk mengidentifikasi suatu bentuk interaksi komunikatif yang unik yang harus memperhitungkan peranan dan fungsi budaya dalam proses komunikasi.

  Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya lainnya. Dalam keadaan demikian, kita segera dihadapkan kepada masalah-masalah yang ada dalam suatu situasi di mana suatu pesan disandi dalam suatu budaya dan harus disandi balik dalam budaya lain. Seperti telah kita lihat, budaya mempengaruhi orang yang berkomunikasi. Budaya bertanggungjawab atas seluruh perbendaharaan perilaku komunikatif dan makna yang dimiliki setiap individu. Konsekuensinya, perbendaharaan- perbendaharaan yang dimiliki dua orang yang berbeda budaya akan berbeda pula, yang dapat menimbulkan segala macam kesulitan. Melalui studi dan pemahaman atas komunikasi antarbudaya, kita dapat mengurangi atau hampir dapat menghilangkan kesulitan-kesulitan tersebut.

  Melalui budaya kita bertukar dan belajar banyak hal, karena pada kenyataannya siapa kita adalah realitas budaya yang kita terima dan pelajari. Untuk itu, saat komunikasi menuntun kita bertemu dan bertukar simbol dengan orang lain maka kita pun dituntut untuk memahami orang lain yang berbeda budaya dan perbedaan itu tentu menimbulkan bermacam kesukaran dalam kelangsungan komunikasi yang terjalin.

  Identitas etnis secara sederhana dipahami sebagai sense tentang self individu sebagai anggota atau bagian dari suatu kelompok etnis tertentu dan sikap maupun perilakunya juga berhubungan dengan sense tersebut. Artinya identitas etnis menyangkut pengetahuan, kesadaran, komitmen, dan perilaku terkait etnisnya. Artinya, identitas etnis dibangun atas kesadaran kita akan budaya kita., budaya mempengaruhi identitas etnis kita bahkan melalui konteks budaya lah identitas etnis dipertukarkan dan dipelajari dari generasi ke generasi.

  Memahami budaya yang berbeda dengan kita juga bukan hal yang mudah, dimana kita dituntut untuk mau mengerti realitas budaya orang lain yang membuat ada istilah ‘’mereka’’ dan ‘’kita’’. Masalahnya, perkembangan zaman membuat budaya juga berubah, nilai-nilai budaya dahulu mungkin sekarang sedikit demi sedikit, lambat laun makin memudar.

  Akibat perubahan zaman dan pengaruh budaya massa, memahami identitas etnis sendiri bisa jadi lebih susah daripada memahami identitas etnis lain, namun yang menjadi masalah tentu bukan sekadar pengaruh media massa dalam membantu membangun persepsi khalayak baik secara sengaja atau tidak dalam menggambarkan etnis tertentu dalam tayangannya, tetapi control dan pilihan tentu ada di tangan audiens, bagaimana si audiensnya dalam menanggapi realitas yang dibangun lingkungan dan pandangannya sendiri dalam persepsinya.

  Dalam suatu negara, seperti Indonesia banyak sekali terdapat beberapa kelompok etnis yang berbeda. Misalnya di daerah Sumatera Utara, kita mengenal ada etnis Batak, Minang, Cina, Jawa, Melayu, Aceh dan sebagainya. Keberadaan kelompok etnis ini menjadikan Sumatera Utara memiliki keberagaman etnis. Sehingga akan menimbulkan tingkat pergaulan antarbudaya yang kompleks.

  Memasuki dunia baru di mana kita dituntut untuk beradaptasi bukanlah hal yang mudah. Beradaptasi di lingkungan baru, kita dituntut belajar serta memahami budaya baru. Terlebih lagi adaptasi tentu akan semakin sulit. Jika lingkungan yang baru adalah lingkungan yang berbeda jauh budayanya dengan lingkungan sebelumnya. Sebuah lingkungan baru, di mana realitas etnisnya sangat berbeda. Menghadapi budaya yang berbeda bukan perkara mudah, begitupun yang dirasakan oleh mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Mengingat selama ini mereka cenderung bersekolah di sekolahan yang memang menampung siswa dari komunitas etnisnya.

  Ketika mereka memasuki lingkungan yang berbeda, adaptasi pun harus dimulai perlahan demi perlahan.

  Dalam konteks penelitian ini, identitas etnis mahasiswa Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi menjadi penting untuk diperhitungkan mengingat andil identitas etnis selama ini kurang disadari. Kita tentu perlu tahu, saat kita berkomunikasi khususnya komunikasi antarbudaya, apakah kita menyadari diri kita sebagai bagian dari satu kelompok etnis tertentu dan lawan bicara kita sebagai anggota kelompok etnis lain. Untuk itu, jawaban dari pertanyaan itu nantinya akan membantu untuk menjawab realitas yang lebih spesifik mengenai komunikasi antarbudaya yaitu etnisitas. Nantinya akan dilihat apakah komunikasi antarbudaya terjalin secara efektif ?.

  Sikap etnis Tionghoa yang masih tertutup dan enggan berbaur dengan penduduk asli Kota Medan, terus menjadi polemik dikalangan masyarakat. Semenjak berabad-abad lalu, etnis Tionghoa berada di Indonesia dengan jumlah cukup besar, tetapi karena persoalan menyangkut etnis masih dianggap peka, sebelum tahun 2000, jumlah suku bangsa/etnis di Indonesia tidak pernah dimasukkan ke dalam sensus penduduk Republik Indonesia.

  Kebijakan pemerintah Indonesia menyangkut persoalan etnis Tionghoa dari masa ke masa, terutama masa orde baru dengan proyek kebijakan asimilasi dan masa pasca rezim Soeharto ditandai dengan penghapusan pilar-pilar kebudayaan Tionghoa (termasuk penutupan sekolah Tionghoa, pembubaran organisasi etnis Tionghoa dan pemberedelan mass media Tionghoa) serta simbol-simbol dan adat-istiadat etnis Tionghoa.

  Dalam keadaan demikian, sejumlah orang Tionghoa telah dibaur dan tidak merasa sebagai Tionghoa lagi. Kelompok etnis Tionghoa tidak lenyap dan jumlahnya masih sangat besar di Indonesia. Kemudian dengan berubahnya kebijakan pemerintah menjadi lebih akomodatif, kebangkitan identitas diri etnis Tionghoa bukan hal yang tidak mungkin.

  Kesulitan juga dirasakan oleh etnis Tionghoa yaitu tidak dapat diterima oleh kaum nasionalis Indonesia sebagai bagian dari Indonesia. Masyarakat kolonial membeda- bedakan penduduk Indonesia berdasarkan ras/suku bangsa yang mempengaruhi pemikiran nasionalis-nasionalis Indonesia, sehingga mengakibatkan terpisahnya peranakan Tionghoa dari pergerakan nasional Indonesia. Nasionalisme Tionghoa timbul lebih awal dari nasionalisme Indonesia. Nasionalisme Tionghoa termasuk peranakan, tumbuh terpisah dari dan dikehendaki pemerintah Indonesia rezim orde baru dengan kebijakan asimilasinya. Di satu sisi kecenderungna untuk mempertahankan identitas etnisnya terdapat pada sebagian warga etnis Tionghoa, sedangkan di sisi lain, mereka telah merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

  Nasionalisme Indonesia dikonstruksi berdasarkan konsep “kepribumian”, dan etnis Tionghoa dikategorikan sebagai orang asing yang dianggap bukan merupakan bagian dari Indonesia. Nasionalis Indonesia didefenisikan sebagai “milik” bangsa pribumi, yaitu kelompok yang mempunyai daerah mereka sendiri.

  Selanjutnya, konsep pribumi sebagai tuan rumah telah berakar di bumi Indonesia. Etnis Tionghoa dianggap sebagai non-pribumi dan pendatang baru yang tidak bisa diterima sebagai suku bangsa sebelum mereka mengasimilasi diri. Pribumi memiliki persepsi bahwa etnis Tionghoa merupakan sebuah kelompok etnis yang menduduki tangga ekonomi lebih tinggi dan terpisah dari pribumi. Implikasinya, konsep masyarakat majemuk yang menekankan pada pentingnya kesukubangsaan, akan selalu menempatkan posisi etnis Tionghoa sebagai orang asing, walaupun mereka tersebut berstatus WNI.

  Secara tidak langsung, etnis Tionghoa yang non-pribumi itu harus membaur menjadi pribumi kalau ingin diterima sebagai orang Indonesia.

  Secara umum pelajar etnis Tionghoa belum terbaur menjadi pribumi sebagaimana yang diartikan dan dikehendaki pemerintah Indonesia “Rezim Orde Baru” dengan kebijakan asimilasinya. Di satu sisi kecenderungan untuk mempertahankan identitas etnisnya terdapat pada sebagian warga etnis Tionghoa, sedangkan di sisi lain, mereka telah merasa menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

  Pada rezim Soeharto, pilar-pilar kebudayaan Tionghoa dipulihkan kembali, pembukaan sekolah Tionghoa ala pemerintahan Sukarno, meskipun masih tidak diizinkan kebebasan menggunakan bahasa Tionghoa, bahkan perayaan festival etnis Tionghoa juga telah diizinkan oleh negara. Walaupun diskriminasi etnis belum terkikis habis, namun minoritas etnis mendapat jaminan, sekurang-kurangnya dari sudut hukum, dan seiring dengan menguatnya persoalan identitas ke-etnis-an, nasionalisme bisa terancam menjadi nasionalisme suku bangsa yang sempit.

  Pada penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Pemilihan lokasi penelitian yaitu di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dilakukan karena mahasiswa etnis Tionghoa juga banyak ditemui di Fakultas ini. Menyadari bahwa etnis mereka berbeda maka untuk itu penting memahami bagaimana para mahasiswa tersebut melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Bagaimana realitas identitas yang dibangun, baik menyangkut budayanya sendiri maupun mengenai budaya lain. Telaah mengenai komunikasi antarbudaya ini setidaknya dapat membantu dalam memperoleh pengetahuan tentang bagaimana selama ini mereka membangun komunikasi dalam interaksi khususnya komunikasi antarbudaya. Jawaban mengenai tindak kompetensi komunikasi mahasiswa etnis tionghoa tersebut, akan menunjukkan pada tataran kompetensi komunikasi seperti apa yang mereka miliki.

  Ketertarikan penelitian ini didasari pada kemungkinan adanya perasaan in group maupun out group yang sedikit banyak mendorong atau bahkan menghambat komunikasi dalam interaksi, yang bisa jadi nantinya akan bisa ditarik kesimpulan apakah komunitas mahasiswa etnis Tionghoa ini tertutup atau bahkan sebaliknya.

  Penelitian ini nantinya akan melihat bagaimanakah identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi?, apakah identitas etnis tersebut dapat menghambat mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas Teknik USU dalam menjalin komunikasi yang efektif atau sebaliknya mungkin membantu dalam berkomunikasi. Pada akhirnya akan ditemukan kompetensi komunikasi seperti apa yang mereka miliki.

  Penelitian ini menggunakan analisis metode penelitian kualitatif, maka diharapkan berbagai pertanyaan seputar masalah identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dapat terjawab.

  I.2 Perumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimanakah identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 USU dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi?”

  I.3 Pembatasan Masalah

  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, tidak mencari hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Penelitian ini hanya berusaha untuk menggali suatu permasalahan secara mendalam, tentunya dengan menggunakan pedoman dari metode penelitian kualitatif.

  Penelitian ini juga menggunakan studi analisis etnografi, yang nantinya akan melukiskan secara sistematis mengenai suatu kebudayaan kelompok yaitu perihal identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa yang di himpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama.

  Sesuai dengan masalah penelitian yang dirumuskan di atas, dan supaya tidak terjadi ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, dimana dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti merasa perlu untuk membuat pembatasan masalah agar menjadi lebih jelas. Pembatasan masalah yang akan diteliti adalah :

  1. Latar belakang mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 yang ada di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  2. Identitas etnis yang terbentuk pada mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara baik dalam memaknai serta memahami identitas etnis mereka maupun identitas etnis mahasiswa pribumi.

  3. Kompetensi komunikasi antarbudaya mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara.

  I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

  I.4.1 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui latar belakang mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 yang ada di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  2. Untuk mengetahui identitas etnis yang terbentuk pada mahasiswa etnis Tionghoa di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera

  Utara baik dalam memaknai serta memahami identitas etnis mereka maupun identitas etnis mahasiswa pribumi.

  3. Untuk mengetahui kompetensi komunikasi antarbudaya mahasiswa etnis Tionghoa dengan mahasiswa pribumi di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara.

  I.4.2 Manfaat Penelitian

  1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara.

  2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis mengenai komunikasi antarbudaya khususnya mengenai identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak- pihak yang membutuhkan pengetahuan yang berkenan dengan penelitian ini.

  I.5 Kerangka Teori

  Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti perlu menyusun suatu kerangka teori. Kerangka teori disusun sebagai landasan berfikir yang menunjukkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (Nawawi. 1995:40).

  Dalam penelitian ini, teori-teori yang dianggap relevan diantaranya adalah:

I.5.1 Teori Interaksi Simbolik

  Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar yang sering disebut perspektif fenomenologis atau perspektif interpretif.

  Maurice Natanson menggunakan istilah fenomenologis sebagai suatu istilah generik untuk merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap kesadaran manusia dan makna subjektifnya sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial. Selanjutnya pandangan fenomenologis atas realitas sosial menganggap dunia intersubjektif sebagai terbentuk dalam aktivitas kesadaran yang salah satu hasilnya adalah ilmu alam. Interaksionisme simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif , reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika individu-individu berpikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama. (Mulyana, 2001: 59-61).

  Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspetasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan sebaliknya. Dalam konteks ini, makna dikonstruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial. (Mulyana, 2001: 68-70).

  Menurut teoritisi interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia dengan menggunakan simbol-simbol. Secara ringkas, interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut: pertama, individu merespons suatu situasi simbolik. Mereka merespon lingkungan, termasuk objek fisik dan sosial berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

I.5.2 Komunikasi

  Menurut Brelson dan Steiner (dalam Arifin, 1988: 25), komunikasi adalah penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan dan seterusnya melalui penggunaan simbol, kata-kata, gambar, angka, grafik dan lain-lain. Carl I. Hovland (dalam Arifin, 1988: 26) mendefenisikan komunikasi sebagai proses yang berlangsung dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang lain (komunikan).

  Kita mulai dengan suatu asumsi dasar bahwa komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia- manusia lainnya. Hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang- orang lainnya, dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi. Pesan-pesan itu akan mengemuka lewat perilaku manusia. Ketika kita melambaikan tangan, tersenyum, bermuka masam, menganggukkan kepala, atau memberikan suatu isyarat, kita juga sedang berperilaku. Sering perilaku-perilaku ini merupakan pesan-pesan; pesan-pesan itu digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada seseorang.

  Sejauh ini, defenisi kita tentang komunikasi telah bersifat umum, untuk menampung berbagai keadaan di mana komunikasi mungkin terjadi. Kita sekarang akan merumuskan suatu defenisi yang menyertakan kesengajaan untuk berkomunikasi, tetapi juga dengan tidak melupakan bahwa perilaku tak sadar dan tak sengaja mungkin merumitkan situasi-situasi komunikasi. Batasan kita tentang komunikasi juga akan merinci unsur-unsur komunikasi dan beberapa dinamika yang terdapat dalam komunikasi.

I.5.3 Komunikasi Antarbudaya

  Kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Istilah “culture”berasal dari kata colere yang artinya adalah mengolah atau mengerjakan, yang dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan tanah atau bertani. Kata “colore”, kemudian berubah menjadi culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soekamto, 1996: 188).

  Komunikasi antarbudaya sendiri dapat dipahami sebagai pernyataan diri antar pribadi yang paling efektif antara dua orang yang saling berbeda latar belakang budaya (Liliweri, 2004: 9). Dalam rangka memahami kajian komunikasi antarbudaya maka kita mengenal beberapa asumsi, yaitu: Proses komunikasi antarbudaya sama seperti proses komunikasi lainnya, yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta dinamis (Liliweri, 2004: 24).

  Dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau tidak berkomunikasi. Demikian pula dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan 1. komunikasi antarbudaya dimulai dengan anggapan dasar bahwa ada perbedaan persepsi antara komunikator dengan komunikan. 2. dalam komunikasi antarbudaya terkandung isi dan relasi antarpribadi 3. gaya personal mempengaruhi komunikasi antarpribadi 4. komunikasi antarbudaya bertujuan mengurangi tingkat ketidakpastian 5. komunikasi berpusat pada kebudayaan 6. efektivitas antarbudaya merupakan tujuan komunikasi antarbudaya, antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbaharui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manajemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi dan mengurangi konflik.

  Mengutip pendapat Habermas, bahwa dalam setiap proses komunikasi (apapun bentuknya) selalu ada fakta dari semua situasi yang tersembunyi di balik para partisipan komunikasi. Menurutnya, beberapa kunci iklim komunikasi dapat ditunjukkan oleh karakteristik antara lain; suasana yang menggambarkan derajat kebebasan, suasana di mana tidak ada lagi tekanan kekuasaan terhadap peserta komunikasi, prinsip keterbukaan bagi semua, suasana yang mampu memberikan komunikator dan komunikan untuk dapat membedakan antara minat pribadi dan minat kelompok. Dari sini bisa disimpulkan bahwa iklim komunikasi antarabudaya tergantung pada 3 dimensi, yakni perasaan positif, pengetahuan tentang komunikan, dan perilaku komunikator (Liliweri, 2004: 48).

I.5.4 Identitas Etnis Identitas etnis secara substansial bermakna sama dengan etnisitas atau rasial.

  Istilah-istilah ini kadang-kadang digunakan identik atau punya makna sama oleh para ahli (Mulyana & Jalaludin Rahmat, 2005: 151).

  Dalam konteks identitas etnis, Mead dalam Mulyana berpendapat bahwa konsep diri seseorang bersumber dari partisipasinya dalam budaya di mana ia dilahirkan atau yang ia terima. Budaya diperoleh individu lewat simbol-simbol dan simbol-simbol ini bermakna baginya lewat eksperimentasi dan akhirnya Familiarity dengan berbagai situasi. Identitas etnis juga merupakan suatu proses. Ia berbentuk lewat interpretasi realitas fisik dan sosial sebagai memiliki atribut-atribut etnis. Identitas etnis berkembang melalui internalisasi pengkhasan diri oleh orang lain yang dianggap penting, tentang siapa aku dan siapa orang lain berdasarkan latar belakang etnis mereka (Mulyana, 2001: 231).

  Identitas etnis berhubungan pada latar belakang etnis mereka yang dianggap sebagai inti diri mereka. Diri yang berkonteks etnis inilah yang disebut identitas etnis (Mulyana & Jalaludin Rahmat, 2005: 152).

  Identitas etnis merupakan sense tentang self individu sebagai anggota atau bagian dari suatu kelompok etnis tertentu dan sikap maupun perilakunya juga berhubungan dengan sense tersebut. Mereka juga menyatakan bahwa perkembangan identitas etnis merupakan suatu proses eksplorasi dari identitas yang tidak terseleksi sampai identitas etnis yang dicapai. Dari definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam diri individu terdapat sense tentang diri dalam kaitannya sebagai bagian dari kelompok etnis tertentu dan proses inilah yang menyebabkan identitas etnis terbentuk.

  Menurut Phinney dan Alipora identitas etnis adalah sebuah konstruksi kompleks yang mengandung sebuah komitmen dan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis, evaluasi positif pada kelompok, berminat di dalam dan berpengetahuan tentang kelompok, dan turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok. Identitas itu berkaitan dengan masa lalu dan aspirasi masa depan yang berhubungan dengan etnisitas. Jadi, identitas etnis akan membuat seseorang memiliki harapan akan masa depan yang berkait dengan etnisnya. Weinreich juga menyebutkan bahwa identitas sosial, termasuk identitas etnik merupakan penggabungan ide-ide, perilaku, sikap, dan simbol-simbol bahasa yang ditransfer dari generasi ke generasi melalui sosialisasi (http://suryanto.blog.unair.ac.id/ di akses tanggal 09 Februari 2011).

I.5.5 Kompetensi Komunikasi

  Komponen komunikasi mengacu pada kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Kompetensi ini mengacu pada hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak untuk dikomunikasikan kepada pendengar tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain).

  Pengetahuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya, kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi. Dengan meningkatkan kompetensi, anda akan mempunyai banyak pilihan dalam berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan yang anda punyai untuk melakukan komunikasi dalam keseharian.

  Howell, salah seorang penasihat Gundykunst, menyebutkan ada empat tataran kompetensi komunikasi, yaitu : 1) unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan, (2) conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu, (3) conscious competence yaitu, seseorang berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif, dan

  (4) unconscious competence yiatu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya. (Rahardjo, 2005:69).

I.5.6 Etnis Tionghoa Kata Tionghoa telah digunakan dalam surat setia kepada tentara Nippon ini.

  Tionghoa atau tionghwa, adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan Cina di Indonesia, yang berasal dari kata zhonghua dalam Bahasa Mandarin. Zhonghua dalam dialek Hokkian dilafalkan sebagai Tionghoa.

  Wacana Cung Hwa setidaknya sudah dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Cina untuk terbebas dari kekuasaan dinasti kerajaan dan membentuk suatu negara yang lebih demokratis dan kuat. Wacana ini sampai terdengar oleh orang asal Cina yang bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan Orang

  Cina.

  Sekelompok orang asal Cina yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda, merasa perlu mempelajari kebudayaan dan bahasanya. Pada tahun 1900, mereka mendirikan sekolah di Hindia Belanda, di bawah naungan suatu badan yang dinamakan "Tjung Hwa Hwei Kwan", yang bila lafalnya di Indonesiakan menjadi Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK). THHK dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan Cina, tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda, seiring dengan perubahan istilah "Cina" menjadi "Tionghoa" di Hindia Belanda.

  Suku bangsa Tionghoa (biasa disebut juga Cina) di Indonesia adalah salah satu etnis di Indonesia. Biasanya mereka menyebut dirinya dengan istilah Tenglang

  (Hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongnyin (Hakka). Dalam bahasa Mandarin 唐人 mereka disebut Tangren (Hanzi: , "orang Tang"). Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa orang Tionghoa-Indonesia mayoritas berasal dari Cina selatan yang menyebut diri mereka sebagai orang Tang, sementara orang Cina utara menyebut diri mereka sebagai 漢人 orang Han (Hanzi: , hanyu pinyin: hanren, "orang Han").

  Leluhur orang Tionghoa-Indonesia berimigrasi secara bergelombang sejak ribuan tahun yang lalu melalui kegiatan perniagaan. Peran mereka beberapa kali muncul dalam sejarah Indonesia, bahkan sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan terbentuk. Catatan-catatan dari Cina menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di Cina. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari Cina ke Nusantara dan sebaliknya.

  Setelah negara Indonesia merdeka, orang Tionghoa yang berkewarganegaraan Indonesia digolongkan sebagai salah satu suku dalam lingkup nasional Indonesia, sesuai Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

  (http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 9 Februari 2011).

I.6 Kerangka Konsep

  Dari beberapa teori yang telah diuraikan pada kerangka teori maka langkah selanjutnya merumuskan kerangka konsep sebagai hasil dari suatu pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai (Nawawi, 1995:40). Konsep adalah penggambaran fenomena yang hendak diteliti, yakni istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok, atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial (Singarimbun, 1995: 33).

  Maka kerangka konsep yang akan di teliti adalah : Latar Belakang Informan - Identitas Etnis - Kompetensi Komunikasi -

I.7 Operasional Konsep

  Berdasarkan kerangka konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat dijadikan acuan untuk memecahkan masalah. Agar konsep operasional dapat membentuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, maka dioperasionalkan sebagai berikut:

  Operasional Konsep Indikator Latar Belakang Informan

  1. Karakteristik informan penelitian: (a) usia (b) jenis kelamin (c) departemen (d) stambuk (e ) semester (f) asal daerah (g) agama (h) pekerjaan orangtua. Identitas Etnis

  1. Indikator identitas etnis yang akan di teliti: (a) mampu mengenali (b) kurang mampu mengenali (b) tidak mampu mengenali

  2. Derajat keterikatan pada kelompok dan kebudayaannya: (a) secara jelas mengetahui nilai-nilai yang dimiliki sebagai seorang etnis dalam suatu kelompok (b) membentuk kelompok kecil/perkumpulan (c) komitmen (d) evaluasi positif pada kelompok/etnis (e) berminat di dalam dan berpengetahuan tentang kelompok/etnis (f) turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok (g) sense of belonging (h) pemahaman akan rasa cinta pada kelompok & budaya (i) harapan akan masa depan yang berkait dengan etnisnya. Kompetensi Komunikasi

  1. Indikator dari kompetensi komunikasi: (a) unconscious incompetence (b) conscious incompetence (c) conscious competence (d) unconscious competence (Rahardjo, 2005: 69).

  2. Kompetensi komunikasi yang akan dijangkau: (a) motivasi (b) pengetahuan (c) kemampuan (Gundykunst & Young, 2003: 275).

I.8 Definisi Operasional

  Menurut Singarimbun (1995:46), defenisi operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya untuk mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, defenisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama.

  Defenisi Operasional dari penelitian ini adalah:

  I.8.1 Latar Belakang Informan

  I.8.1.1 Karakteristik informan penelitian: (a) Usia, yaitu kriteria usia informan yang akan dijadikan sebagai subjek penelitian yaitu 18, 19, dan 20 tahun.

  (b) Jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. (c) Departemen, yaitu jurusan atau studi yang di pilih dari subjek penelitian yaitu teknik industri, teknik elektro, teknik kimia, teknik sipil, teknik mesin, dan teknik arsitektur. (d) Stambuk, yaitu masuk pada angkatan di tahun berapa subjek penelitian tersebut, 2009 atau 2010.

  (e) Semester, yaitu berada di tingkatan semester berapa subjek penelitian, semester II atau IV.

  (f) Asal daerah, yaitu asal tempat tinggal subjek penelitian. (g) Agama, yaitu keyakinan yang di anut oleh subjek penelitian. (h) Pekerjaan orang tua, yaitu jenis kegiatan tetap yang dilakoni oleh orang tua dari subjek penelitian.

  1.8.2 Identitas Etnis

  1.8.2.1 Indikator identitas etnis yang akan di teliti: (a) Mampu mengenali, yaitu mahasiswa etnis Tionghoa mampu mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya dan in-group nya.

  (b) Kurang mampu mengenali, yaitu mahasiswa etnis Tionghoa kurang mampu mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya dan in-group nya.

  (c) Tidak mampu mengenali, yaitu mahasiswa etnis Tionghoa tidak mampu mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya dan in-group nya.

  1.8.2.2 Derajat keterikatan pada kelompok dan kebudayaannya:

  (a) Secara jelas mengetahui nilai-nilai yang dimiliki sebagai seorang etnis dalam suatu kelompok, mampu mengenali makna dari identitas etnis yang ada di dalam dirinya masing-masing. (b) Membentuk kelompok kecil/perkumpulan, yaitu tindakan membentuk suatu perkumpulan dengan anggota etnis yang sama.

  (c) Komitmen, yaitu memiliki loyalitas atau perasaan terikat terhadap kelompok etnisnya.

  (d) Evaluasi positif pada kelompok/etnis, yaitu tindakan pelabelan positif pada etnisnya.

  (e) Berminat di dalam dan berpengetahuan tentang kelompok/etnis, yaitu selalu berminat dalam kelompok dan berminat mengeksplorasikan pengetahuan seputar etnisnya. (f) Turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok, yaitu terlibat dalam aktivitas kelompok etnisnya.

  (g) Sense of belonging, perasaan memiliki kelompok etnisnya. (h) Pemahaman akan rasa cinta pada kelompok & budaya, yaitu memiliki kecintaan pada kelompok dan budayanya.

  (i) Harapan akan masa depan yang berkait dengan etnisnya, yaitu harapan yang dibangun terkait etnisnya.

  1.8.3. Kompetensi Komunikasi

  1.8.3.1 Komponen dari kompetensi komunikasi

  (a) Unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.

  (b) Conscious incompetence, yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu. (c) Conscious competence, yaitu seseorang berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif. (d) Unconscious competence, yaitu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya.

  1.8.3.2 Kompetensi komunikasi yang akan dijangkau (a) Motivasi, yaitu hasrat kita untuk berkomunikasi secara tepat dan efektif dengan orang lain.

  (b) Pengetahuan, yaitu kesadaran kita atau pemahaman kita akan apa yang kita butuhkan untuk dilakukan supaya komunikasi berjalan secara efektif dan tepat. (c) Kemampuan, yaitu kemampuan dalam mengolah perilaku yang perlu dalam berkomunikasi secara tepat dan efektif.

BAB II URAIAN TEORITIS II.1 Teori Interaksi Simbolik II.1.1 Defenisi Teori Interaksi Simbolik Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dalam lingkup

  sosiologi, sebenarnya ide ini telah dikemukakan oleh George Herbert Mead (guru Blumer) yang kemudian dimodifikai oleh Blumer untuk tujuan tertentu.

  Karakteristik dasar ide ini adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan. Realitas sosial merupakan rangkaian peristiwa yang terjadi pada beberapa individu dalam masyarakat. Interaksi yang dilakukan antar individu itu berlangsung secara sadar dan berkaitan dengan gerak tubuh, vokal, suara, dan ekspresi tubuh, yang kesemuanya itu mempunyai maksud dan disebut dengan “simbol”.

  Pendekatan interaksi simbolik yang dimaksud Blumer mengacu pada tiga premis utama, yaitu: (1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka (2) Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan oleh orang lain, dan (3) Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung (Kuswarno, 2008: 22).

  Interaksi simbolik dalam pembahasannya telah berhasil membuktikan adanya hubungan antara bahasa dan komunikasi. Sehingga, pendekatan ini menjadi dasar pemikiran ahli-ahli ilmu sosiolinguistik dan ilmu komunikasi.

  Esensi interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan cirri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Blumer mengintegrasikan gagasan-gagasan tentang interaksi simbolik lewat tulisannya, terutama pada tahun 1950an dan 1960an, diperkaya dengan gagasan-gagasan dari John Dewey, Wiliam I. Thomas dan Charles H. Cooley (Mulyana, 2001: 68).

  Perspektif interaksi simbolik sebenarnya berada di bawah payung perspektif yang lebih besar yang sering disebut perspektif fenomenologis atau perspektif interpretative.

  Selama dekade-dekade awal perkembangannya, teori interaksi simbolik seolah-olah tetap tersembunyi di belakang dominasi teori fungsionalisme dari Talcott Parsons. Namun kemunduran fungsionalisme tahun 1950an dan tahun 1960an mengakibatkan interaksi simbolik muncul kembali ke permukaan dan berkembang pesat hingga saat ini.

  Weber mendefenisikan tindakan sosial sebagai semua perilaku manusia ketika dan sejauh individu memberikan suatu makna subjektif terhadap perilaku tersebut.

  Tindakan disini bisa terbuka atau tersembunyi, bisa merupakan intervensi positif dalam suatu situas atau sengaja berdiam diri sebagai tanda setuju dalam situasi tersebut.

  Menurut Weber, tindakan bermakna sosial sejauh berdasarkan makna subjektifnya yang diberikan individu atau individu-individu, tindakan itu mempertimbangkan perilaku orang lain dan karenanya diorientasikan dalam penampilannya (Mulyana, 2001: 61).

  Interaksi simbolik mempelajari sifat interaksi yang merupakan kegiatan sosial dinamis manusia. Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif, kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme yang pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada di luar dirinya. Oleh karena individu terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi interaksilah yang dianggap variabel penting yang menentukan perilaku manusia bukan struktur masyarakat. Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia, yakni ketika idividu-individu berfikir dan bertindak secara stabil terhadap seperangkat objek yang sama. Senada dengan asumsi di atas, dalam fenomenologi Schutz, pemahaman atas tindakan, ucapan, dan interaksi merupakan prasyarat bagi eksistensi sosial siapa pun. Dalam pandangan Schutz, kategori pengetahuan pertama bersifat pribadi dan unik bagi setiap individu dalam interaksi tatap muka dengan orang lain. Kategori pengetahuan kedua adalah berbagai pengkhasan yang telah terbentuk dan dianut oleh semua anggota budaya (Mulyana, 2001: 61-62).

  Interaksi simbolik Mahzab Lowa menggunakan metode saintifik (positivistik) dalam kajian-kajiannya, yakni untuk menemukan hukum-hukum universal mengenai perilaku sosial yang dapat diuji secara empiris, sementara Mahzab Chicago menggunakan pendekatan humanistik, dan Mahzab yang popular digunakan adalah Mahzab Chicago (Mulyana, 2001: 69).

  Blumer bersama anggota-anggota Mahzab Chicago mengkonseptualisasikan manusia sebagai menciptakan atau membentuk kembali lingkungannya, sebagai “merancang dunia objek-nya, dalam aliran tindakannya alih-alih sekedar merespons pengharapan kelompok” (Mulyana, 2001: 70).

  Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegaskan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Dalam konteks ini, maka dikonstruksikan dalam proses interaksi, dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial (Mulyana, 2001: 70).

  II.2 Komunikasi

  II.2.1 Latar Belakang Sejarah

  Ilmu komunikasi yang kita kaji sekarang, sebenarnya merupakan hasil dari suatu proses perkembangan yang panjang. Status ilmu komunikasi ini di Indonesia diperoleh melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/82 tahun 1982. Keppres itu telah membawa penyeragaman nama dari ilmu yang dikembangkan di Indonesia, termasuk ilmu kita ini. Sebelumnya terdapat beberapa nama yang berbeda di berbagai universitas atau perguruan tinggi. Di Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung dan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta misalnya digunakan nama Publisistik, sedang di Universitas Indonesia (UI) Jakarta nama Publisistik telah lama diganti dengan Ilmu Komunikasi Massa. Selain itu di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menggunakan nama Publisistik Ilmu Komunikasi. Di Unpad berdiri sebagai suatu Fakultas, sedang di UI, UGM, USU, UNHAS dan universitas lainnya, berstatus sebagai jurusan (departemen) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Arifin, 1988: 1-2).

  Sesungguhnya kajian ini di tanah air di mulai dengan nama Publisistik, dengan dibukanya jurusan publisistik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada (1950) dan pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat di Universitas Indonesia (1959). Demikian juga di Jakarta di buka pada tahun 1956 Akademi Penerangan dan Perguruan Tinggi Jurnalistik (kemudian jurnalistik berganti menjadi publisistik). Pada tahun 1960 di Universitas Padjajaran Bandung dibuka Fakultas Jurnalistik dan Publisistik (Arifin, 1988: 2).

  Beberapa tokoh yang telah berjasa memasukkan ilmu kita ini ke Indonesia dan kemudian mengembangkannya di Perguruan Tinggi, antara lain Drs. Marbangun, Sundoro, Prof. Sujono Hadinoto, Adinegoro, dan Prof. Dr. Mustopo. Pada tahun 1960an, deretan tokoh itu bertambah lagi dengan datangnya dua orang pakar dalam bidang kajian ini, yaitu Dr. Phil. Astrid S. Sutanto dari Jerman Barat (1964) dan Dr. M. Alwi Dahlan dari Amerika Serikat (1967) (Arifin, 1988: 3)

  Nama ilmu komunikasi massa dan ilmu komunikasi baru mulai muncul dalam berbagai diskusi dan seminar pada awal tahun 1970an. Kemudian pada tahun 1973 Jurusan Publisistik pada Fakultas Sosial Politik Universitas Hasanuddin yang di buka tahun 1961, telah memperbaharui nama menjadi Jurusan Publisistk/Ilmu Komunikasi.

  Demikian juga Jurusan Publisistik pada Fakultas Ilmu-ilmu sosial Universtas Indonesia (UI) dengan resmi berganti nama menjadi Departemen Ilmu Komunikasi Massa tahun 1976.

  Ilmu Publisistik berkembang di Eropa, khususnya Jerman, sedang ilmu komunikasi massa lahir di Amerika Serikat. Masuknya ke dua ilmu itu ke tanah air, selain karena adanya hubungan dengan bangsa-bangsa dari dua benua tersebut, juga terutama karena dibawa oleh mereka yang pernah belajar baik di Eropa maupun di Amerika. Akhirnya untuk melacak asal-usul Ilmu Komunikasi itu, kita harus mengkaji perkembangan ilmu kita ini baik di Eropa maupun di Amerika Serikat. Di Eropa, khususnya di Jerman, Ilmu komunikasi berkembang dari Publizistikwisenshaft, sedang di Amerika Serikat berkembang dari Ilmu komunikasi massa (Arifin, 1988: 3).

II.2.2 Defenisi Komunikasi

  Istilah komunikasi hari ke hari semakin popular. Begitu populernya sampai muncul berbagai macam istilah komunikasi. Ada komunikasi timbale nalik, ada komunikasi tatap muka, ada komunikasi langsung, komunikasi vertikal, komunikasi dua arah dan lain sebagainya.

  Sebenarnya istilah-istilah seperti itu tidak perlu membingungkan kita. Apapun istilahnya bila kita tetap berpijak pada objek formal ilmu komunikasi dan memahami ruang lingkupnya, maka semua istilah itu dapat diberi pengertian secara jelas dan dapat dibedakan menurut karakteristiknya masing-masing. Salah satu persoalan di dalam memberi pengertian komunikasi, yakni banyaknya defenisi yang telah dibuat oleh para pakar menurut bidang ilmunya.

  Sebuah defenisi dibuat oleh Harold D. Lasswell bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya”.

  Lain halnya dengan Steven, justru ia mengajukan sebuah defenisi yang lebih luas, bahwa komunikasi terjadi kapan saja suatu organisme memberi reaksi terhadap suatu objek atau stimuli. Apakah itu berasal dari seseorang atau lingkungan sekitarnya.

  Sebuah defenisi yang dbuat oleh kelompok sarjana komunikasi yang mengkhususkan diri pada studi komunikasi antar manusia (human communication) bahwa:

  “Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang- orang mengatur lingkungannya dengan: (1) membangun hubungan antar sesame manusia (2) melalui pertukaran informasi (3) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain (4) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu” (Mulyana, 2001: 33).

  Everett M. Rogers seorang pakar sosiologi pedesaan Amerika yang telah banyak memberi perhatian pada riset stdi komnikasi, khususnya dalam hal penyebaran inovasi membuat defenisi bahwa:

  “Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima ata lebih, dengan maksud untuk mengbah tingkah laku mereka”.

  Defenisi ini kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D. Lawrence Kincaid (1981) sehingga melahirkan suatu defenisi baru yang menyatakan bahwa:

  “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.

  Defenisi-defenisi yang dikemukakan di atas tentunya belum mewakili semua defenisi komunikasi yang telah dibuat oleh banyak pakar, namun sedikit banyaknya kita telah dapat memperoleh gambaran seperti apa yang diungkapkan oleh Shannon dan Weaver (1949) bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja.

II.2.3 Proses Komunikasi

  Dari pengertian komunikasi sebagaimana diutarakan diatas, tampak adanya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Dalam “bahasa komunikasi” komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan - Pesan, yaitu pernyataan yang didukung oleh lambing-lambang - Komunikan, yaitu orang yang menerima pesan - Media, yaitu sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikasi jauh - tempatnya atau banyak jumlahnya Efek, yaitu dampak sebagai pengaruh pesan. - Teknik berkomunikasi adalah cara atau seni penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan komunikator adalah pernyataan sebagai paduan pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran dan sebagainya. Pernyataan tersebut dibawakan oleh lambang, umumnya bahasa. Dikatakan bahwa umumnya bahasa yang dipergunakan untuk menyalurkan pernyataan itu, sebab ada juga lambang lain yang dipergunakan, antara lain kial, yakni gerakan anggota tubuh, gambar, warna, dan sebagainya.

  Melambaikan tangan, mengedipkan mata, mencibirkan bibir, atau menganggukkan kepala adalah kial yang merupakan lambang untuk menunjukkan perasaan atau fikiran seseorang. Gambar, apakah itu foto, lukisan, sketsa, karikatur, diagram, grafik, atau lain-lainnya, adalah lambang yang biasa digunakan untuk menyampaikan pernyataan seseorang. Demikian pula warna, seperti pada lampu lalu lintas: merah berarti berhenti, kuning berarti hati-hati, dan hijau berarti berjalan.

  Kesemuanya itu lambang yang dipergunakan polisi lalu lintas untuk menyampaikan instruksi kepada para pemakai jalan.

  Diantara sekian banyak lambang yang biasa digunakan dalam komunikasi adalah bahasa, sebab dapat menunjukkan pernyataan seseorang mengenai hal-hal, selain yang kongkret juga yang abstrak, baik yang terjadi sekarang, lalu dan dimasa yang akan datang. Tidak demikian kemampuan lambang-lambang lainnya.

  Yang penting dalam komunikasi adalah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan dampak atau efek tertentu pada komunikan.

  Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya, yakni:

  a. Dampak positif

  b. Dampak afektif

  c. Dampak behavioural Dampak kognitif adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya. Di sini pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pikiran si komunikan. Dengan kata lain, tujuan komnikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran dari komunikan.

  Dampak efektif lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Di sini tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu, tetapi tergerak hatinya; menimbulkan perasaan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Yang paling tinggi kadarnya adalah dampak behavioral, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.

  Untuk contoh mengenai ketiga jenis dampak di atas dapat diambil dari berita surat kabar. Pernah sebuah surat kabar membuat berita yang dilengkapi foto mengenai seorang wanita yang menderita tumor yang menahun sehingga perutnya besar tak terperikan. Peristiwa yang diberitakan lengkap dengan fotonya itu menarik perhatian banyak pembaca. Berita tersebut dapat menimbulkan berbagai jenis efek. Jika seorang membaca hanya tertarik untuk membacanya saja dan kemudian ia menjadi tahu, maka dampaknya hanya berkadar kognitif saja.

  Apabila ia merasa iba atas penderita perempuan yang hidupnya tidak berkecukupan itu, berita tersebut menimbulkan dampak afektif. Tetapi kalau si pembaca yang tersentuh hatinya itu, kemudian pergi ke redaksi surat kabar yang memeberitakannya dan menyerahkan sejumlah uang untuk disampaikan kepada si penderita, maka berita tadi menimbulkan dampak behavioral.

  II.3 Komunikasi Antarbudaya

  II.3.1 Sejarah Komunikasi Antarbudaya

  Akar dari studi komunikasi antarbudaya dapat ditemukan dari era Perang Dunia Kedua, ketika Amerika mendominasi panggung dunia. Bagaimanapun, disadari pemerintah dan pebisnis bekerja melewati benua, dan berpindah-pindah dan akhirnya mereka sering menyadari perbedaan budaya yang terjadi. Kendala utama adalah bahasa, bagaimana mereka harus mempersiapkan ini dan hal ini menjadi tantangan bagi komunikasi antarbudaya yang mereka jalani.

  Sebagai respon, pemerintah Amerika pada tahun 1946 membangun sebuah FSI

  (Foreign Service Institute). FSI ini kemudian memilih Edward T. Hall dan beberapa ahli

  antropologi dan bahasa termasuk Ray Birdwhistell dan George Trager untuk mengurus keberangkatan dan kursus untuk para pekerja yang biasa ke luar negeri. Karena bahan pelatihan antarbudaya masih jarang atau langka maka mereka mengembangkan keahlian mereka sendiri. Alhasil, FSI memformulasikan cara baru untuk melihat budaya dan komunikasi, dan lahirlah studi komunikasi antarbudaya (Martin & Thomas, 2007: 44-45). Istilah antarbudaya (interculture) pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropolog, Edward T. Hall pada 1959 dalam bukunya The Silent Language. Karya Hall tersebut hanya menerangkan tentang keberadaban konsep-konsep unsur kebudayaan, misalnya sistem ekonomi, religi, sistem pengetahuan sebagaimana apa adanya. Hakikat perbedaan antarbudaya dalam proses komunikasi baru dijelaskan satu setelah itu, oleh David K. Berlo melalui bukunya The Process of Communication (an introduction to

  

theory and practice) pada tahun 1960. Dalam tulisan itu, Berlo menawarkan sebuah

  model proses komunikasi. Menurut Berlo, komunikasi akan berhasil jika manusia memperhatikan faktor-faktor SMCR yaitu source, messege, channel, receiver (Liliweri, 2001: 1).

  Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. Berlo berasumsi bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan tindakan itu.

  Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komunikasi seseorang termasuk memahami makna-makna yang di persepsi terhadap tindakan komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001: 2).

  Semua tindakan komunikasi itu berasal dari konsep kebudayaan. Berlo berasumsi berasumsi bahwa kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya untuk melaksanakan tindakan itu. Berarti kontribusi latar belakang kebudayaan sangat penting terhadap perilaku komunikasi seseorang termasuk memahami makna-makna yang dipersepsi terhadap tindakan komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2001: 2).

  Studi komunikasi antarbudaya, menggabungkan 2 unsur yaitu budaya dan komunikasi. Hubungan antarbudaya dan komunikasi begitu kompleks, perspektif dialektis mengasumsikan bahwa budaya dan komunikasi saling berhubungan dan timbal balik. Jadi, budaya mempengaruhi komunikasi dan sebaliknya. Menurut Burke dalam

  

Intercultural Communication in Context, untuk itu kelompok budaya mempengaruhi

  proses di mana persepsi dari realitas diciptakan dan dibangun: “semua komuniatas di seluruh tempat setiap waktu memanifestasikan pandangan mereka sendiri terhadap realitas yang mereka lakukan. Keseluruhan budaya merefleksikan model realitas kontemporer”. Bagaimanapun, kita mungkin saja bisa mengatakan bahwa komunikasi membantu menciptakan realitas budaya dari suatu komunitas (Martin & Thomas, 2007:92).

  Rumusan objek formal komunikasi antarbudaya baru difikirkan pada tahun 1970- 1980an. “Annual” tentang komunikasi antarbudaya yang disponsori Speech

  Communication Association, terbit pertama kali tahun 1974 oleh Fred Casmir dalam The

International and Intercultural Communication Annual. Kemudian Dan Landis menguatkan konsep komunikasi antarbudaya dalam International Journal of Intercultural Relations pada tahun 1977 (Liliweri, 2001: 2).

  Tahun 1979, Molefi Asante, Cecil Blake dan Eileen Newmark menerbitkan sebuah buku khusus membicarakan komunikasi antarbudaya, yakni The Handbook of

  

Intercultural Communication. Selanjutnya tahun 1983 lahir International and

Intercultural Communication Annual yang dalam setiap volumenya mulai menempatkan

  rubrik khusus untuk menampung tulisan tentang komunikasi antarbudaya. Edisi lain tentang komunikasi, kebudayaan, proses kerja sama antarbudaya ditulis oleh Gundykunst, Steward dan Ting Toomey tahun 1985, komunikasi antaretnik oleh Kim tahun 1986, adaptasi antarbudaya oleh Kim dan Gundykunst tahun 1988 dan terakhir komunikasi/bahasa dan kebudayaan oleh Ting Toomey & Korzenny, tahun 1988 (Liliweri, 2001: 3).

  Fokus perhatian studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, bagaimana menjajaki makna, pola-pola tindakan, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antarmanusia (Liliweri, 2004: 10).

  Young Yun Kim dalam Raharjo mengatakan, tidak seperti studi-studi komunikasi lain, maka hal yang terpenting dari komunikasi antarbudaya yang membedakannya dari kajian keilmuan lainnya adalah tingkat perbedaan yang relative tinggi pada latar belakang pengalaman pihak-pihak yang berkomunikasi karena adanya perbedaan kultural.

  Selanjutnya menurut Kim, asumsi yang mendasari batasan tentang komunikasi antarbudaya adalah bahwa individu-individu yang memiliki budaya yang sama pada umumnya berbagi kesamaan-kesamaan (homogenitas) dalam keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang yang berasal dari budaya yang berbeda (Raharjo, 2005: 52-53).

II.3.2 Defenisi Komunikasi Antarbudaya

  Kata “budaya” berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi, yang berarti “budi” atau “akal”. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Istilah “culture”berasal dari kata colere yang artinya adalah mengolah atau mengerjakan, yang dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan tanah atau bertani. Kata “colore”, kemudian berubah menjadi culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soekamto, 1996: 188).

  E.B Taylor, seorang antropolog memberikan defenisi mengenai kebudayaan sebagai suatu yang kompleks yang mencakupi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan-kemampuan, dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Bahkan beliau mengatakan bahwa kebudayaan mencakupi semua yang didapatkan dan dipelajari dari pola-pola perilakunormatif, artinya mencakup segala cara atau pola berpikir, merasakan dan bertindak (Soekamto, 1996: 189).

  Sementara itu, komunikasi dalam pengertian secara umum dapat dibagi dari dua sisi, yaitu secara etimologis dan terminologis. Secara etimologis berasal dari bahasa latin “communis” yang berarti sama makna. Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain (Onong, 2003: 67).

  Komunikasi tidak bisa dipandang sekedar sebagai sebuah kegiatan yang menghubungkanmanusia dalam keadaan pasif, tetapi komunikasi harus dipandang sebagai proses yang menghubungkan manusia melalui sekumpulan tindakan yang terus menerus diperbaharui (Liliweri, 2001: 24).

  Dengan demikian, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik langsung melalui lisan maupun tidak langsung melalui media (Onong, 2003: 5).

  Dengan pemahaman yang sama, maka komunikasi antarbudaya dapat diartikan/didefenisikan melalui bebrapa pernyataan sebagai berikut:

  1. Tubbs dan Moss (1996): komunikasi antarbudaya terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda-beda (ras, etnis, sosio-ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan itu.

  2. Samover dan Porter (1983, 1994, 2003): komunikasi antarbudaya terjadi manakala bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi tersebut membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh kelompoknya.

  3. Sitaram (1970): komunikasi antarbudaya adalah seni untuk memahami dan saling pengertian antara khalayak yang berbeda kebudayaan (intercultural

  communication : the art of understanding and being understood by the audience of mother culture).

  4. Charley H. Dood (1991: 5): komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok, dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta (Liliweri, 2003: 11).

  5. Lustig dan Koester (1993): “Intercultural Communication Competence”, yang mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses komunikasi simbolik, interpretative, transaksional, konstekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang yang karena memiliki perbedaan derajat kepentingan tertentu, memberikan interpretasi dan harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan (Liliweri, 2003: 11).

  Seluruh defenisi di atas memberi penekanan pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya mengakui dan mengurusi permasalahan mengenai perbedaan- perbedaan maupun persamaan-persamaan di antara peserta peserta komunikasi dengan karakteristik yang dibawanya.

  Komunikasi dan kebudayaan mempunyai hubungan timbal balik seperti dua sisi mata uang. Kebudayaan menjadi bagian perilaku komunikasi, dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan, memelihara, mengembangkan atau mewariskan budaya, seperti yang dikatakan oleh Edward T. Hall pada bahasan sebelumnya. Pada satu sisi, komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat, baik secara horizontal (dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya), ataupun secara vertical (dari suatu generasi kepada generasi berikutnya). Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu.

II.3.3 Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya

  Untuk mencari kejelasan dan mengintegrasikan berbagai konseptualisasi tentang komunikasi antarbudaya, ada tiga dimensi yang perlu kita perhatikan.

  1. Tingkat masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi Istilah kebudayaan telah digunakan untuk menunjukkan pada macam-macam tingkat lingkungan dan kompleksitas dari organisasi sosial. Umumnya istilah kebudayaan mencakupi:

  Kawasan-kawasan di dunia, seperti budaya Timur-Barat - Sub kawasan di dunia, seperti budaya Amerika Utara, Asia Tenggara, Timur - Tengah, dan lain-lain

  Kelompok-kelompok etnis/ras, seperti budaya orang Melayu, Batak, Cina - Indonesia, dan lain-lain.

  Macam-macam sub kelompok sosiologis berdasarkan jenis kelamin, kelas sosial, - seperti budaya orang dipenjara, budaya waria, budaya orang gelandangan, budaya di pesantren, budaya hippis, dan lain-lain.

  2. Konteks sosial tempat terjadinya komunikasi antarbudaya Jenis KAB dapat lagi diklasifikasikan berdasarkan konteks sosial dari terjadinya.

  Yang biasanya termasuk dalam studi KAB: Business - Organizations - Pendidikan - Akulturasi imigran - Politik - Penyesuaian pelancong/pendatang sementara - Perkembangan alih teknologi/pembangunan/difusi inovasi - Konsultasi terapis. - Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsur-unsur dasar dan proses komunikasi manusia (transmitting, receiving, processing). Tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi pemikiran. Penggunaan pesan-pesan verbal/nonverbal serta hubungan-hubungan antaranya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang mempengaruhi proses-prose KAB. Misalnya: Komunikasi antar orang

  Indonesia dan Jepang dalam suatu transaksi dagang akan berbeda dengan komunikasi antar keduanya dalam berperan sebagai dua mahasiswa dari suatu universitas.

  Jadi konteks sosial khusus tempat terjadinya KAB memberikan pada para partisipan hubungan-hubungan antar peran. Ekspektasi, norma-norma dan aturan-aturan tingkah laku yang khusus.

  3. Saluran yang dilalui oleh pesan-pesan komunikasi antarbudaya, baik yang bersifat verbal maupun non verbal.

  Dimensi lain yang membedakan KAB ialah saluran melalui mana KAB terjadi. Secara garis besar, saluran dapat dibagi atas:

  • Antarpribadi/interpersonal/person-person
  • Media massa

SALURAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

  (Orang dengan orang secara langsung) (Radio, surat kabar, TV, Film, Majalah) Bersama-sama dengan dua dimensi sebelumnya, saluran-saluran komunikasi juga mempengaruhi proses dan hasil keseluruhan dari KAB. Misalnya: orang Indonesia

  ANTARPRIBADI MEDIA MASSA menonton melalui TV keadaan hidup di Afrika akan memilih pengalaman yang berbeda dengan keadaan apabila ia sendiri berada disana dan melihat dengan mata kepala sendiri.

  Umumnya, pengalaman komunikasi antarpribadi dianggap memberikan dampak lebih mendalam. Komunikasi melalui media kurang dalam hal feedback langsung antar partisipan dan bersifat satu arah. Sebaliknya, saluran antarpribadi tidak dapat menyaingi kekuatan saluran-saluran media dalam mencapai jumlah besar manusia sekaligus melalui batas-batas kebudayaan. Tetapi dalam keduanya, proses-proses komunikasi bersifat antarbudaya bila partisipan-partisipannya berbeda latar belakang budayanya.

  II.4 Identitas Etnis

  II.4.1 Defenisi Identitas Etnis

  Identitas adalah suatu konsep y7ang abstrak dan beraneka ragam yang memainkan peran yang signifikan dalam seluruh interaksi komunikasi. Untuk itu penting memberikan apresiasi pada apa yang membawa identitas, dan untuk memberikan pemahaman mengenai hal tersebut, maka perlu untuk memperluas kebutuhan untuk mengerti peran dari identitas dalam masyarakat yang beragam budaya ini. Dan kebutuhan akan pemahaman perasaan tentang identitas akan terbukti sendiri. Perkembangan identitas dipertimbangkan sebagai sebuah aspek kritis bagi kebaikan/kesehatan psikologis setiap orang. Menurut Phinney dalam Samovar dkk, sebuah prinsip objektif bagi orang dalam masa-masa usia dewasa adalah pembentukan sebuah identitas dan siapa yang gagal memperoleh sebuah identitas yang tepat akan menghadapi kebingungan identitas, kekurangan kejernihan pemikiran tentang siapa mereka dan apa peran mereka dalam hidup.

  Pemahaman akan identitas juga sebuah aspek yang penting dalam studi dan praktek komunikasi antarbudaya. Perhatian dari studi komunikasi antarbudaya adalah bagaimana identitas mempengaruhi dan menuntun ekspektasi tentang apa peran sosial diri dan orang lain maupun menyediakan tuntunan bagi interaksi komunikasi dengan orang lain (Samovar dkk, 2007: 109-110).

  Secara sederhana identitas dipahami sebagai konsep pribadi mengenai diri di dalam sebuah konteks sosial, geografik, budaya dan politik. Menurut Mathews dalam Samovar dkk, identitas adalah bagaimana diri menyusun dirinya sendiri dan label untuknya sendiri (Samovar dkk, 2007: 111). Menurut Alba, identitas etnis dinilai sebagai orientasi subjektif seseorang yang mengarahkannya pada etnis asalnya. Bahkan menurut Rossens, identitas etnis membantu kita mendefenisikan siapa kita (Gundykunst & Kim, 2003: 103).

  Tipologi identitas dalam Communication between cultures, terbagi atas: identitas ras, identitas etnis, identitas gender, identitas nasional, identitas regional, identitas organisasi, identitas pribadi, dan identitas maya dan fantasi (Samovar dkk, 2007: 113- 118). Sedangkan dalam Intercultural Communication In Context, identitas budaya dan sosial di bagi atas: identitas gender, identitas usia, identitas ras, identitas etnis, identitas agama, identitas kelas, identitas nasional, identitas regional, dan identitas pribadi (Martin & Thomas, 2007: 171-188).

  Identitas etnis sering sekali dikaji oleh para sosiolog, antropolog, psikolog, dan sejarahwan. Para ahli meneliti asal-usul, substansi, konsekuensi dan proses etnisitas yang sedang berubah dalam berbagai komunitas. Istilah-istilah lain yang sering menjadi sinonim adalah etnisitas, dan konsep diri kultural atau rasial. Istilah-istilah ini kadang- kadang digunakan identik atau punya makna yang sama oleh para ahli. Namun kadang- kadang konsep yang sama diartikan secara berbeda oleh para ahli. Makna konsep identitas etnis tidak selalu eksplisit dalam kajian-kajian itu. Sering ia berkelindan dengan dan atau tersirat dalam kajian tentang akulturasi, asimilasi suatu kelompok etnis (Mulyana & Jalaluddin, 2005: 151).

  Identitas etnis sendiri sebenarnya merupakan bentuk spesifik dari identitas budaya. Ting-Toomey dalam Rahardjo, mendefenisikan identitas kultural merupakan perasaan (emosional significance) dari seseorang untuk ikut dalam memiliki (sense of

  

belonging) atau berafiliasi dengan kultur tertentu (Rahardjo, 2005: 1-2). Sedangkan

  identitas etnis bisa dilihat sebagai sebuah kumpulan ide tentang satu kepemilikan keanggotaan kelompok etnis. Hal ini menyangkut beberapa dimensi: Identifikasi diri sendiri - Pengetahuan tentang budaya etnis (tradisi, kebiasaan, nilai, perilaku) - Perasaan mengenai kepemilikan pada kelompok etnis tertentu. - Identitas etnis sering melibatkan sebuah perasaan yang dibagi tentang asal dan sejarah, di mana mungkin mata rantai kelompok etnis pada kelompok budaya yang jauh di Eropa, Asia, Amerika Latin atau tempat lain (Martin & Thomas, 2007: 175).

  Memiliki sebuah identitas etnis berarti mengalami sebuah perasaan memiliki pada suatu kelompok dan mengetahui sesuatu tentang pengalaman yang dibagi pada anggota kelompok (Martin & Thomas, 2007: 175).

  Identitas etnis merupakan identitas sosial yang penting yang dapat mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain (berbeda budaya). Cara kita bereaksi dengan orang lain sering didasarkan pada asumsi kita mengenai etnisitas mereka, sebagai contoh, kita mengkategorisasikan orang asing dan melekatkan label etnis pada mereka. Bagaimanapun ketika kita melekatkan label pada orang beda budaya, kita tidak mungkin melekatkan label, orang yang berbeda budaya tersebut akan digunakan untuk mendeskripsikan diri mereka. Bahkan Devos menjelaskan bahwa etnisitas melibatkan penggunaan beberapa aspek dari sebuah latar belakang kelompok budaya yang digunakan untuk memisahkan anggota kelompok dari yang bukan termasuk di dalaam kelompok. Sedangkan Giles dan Johnson melihat sebuah kelompok etnis sebagai orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka yang memiliki kategori etnis yang sama (Gundykunst & Kim, 2003: 103). Beberapa ahli menyatakan identifikasi etnis dan ras sama dan ada yang menyebutkan keduanya berbeda. Beberapa ahli menyebutkan identitas etnis dikonstruksikan oleh dirinya sendiri dan lainnya tetapi identitas ras dikonstriksikan semata-mata oleh dirinya (Martin & Thomas, 2007: 177)

  Kita akan bisa untuk mengabaikan perbedaan kelompok etnis ketika kita berinteraksi dengan orang lain yang juga secara lemah mengidenfikasi kesamaannya dengan kelompok etnisnya. Jika orang lain tersebut, secara kuat dam jelas mengidentifikasi kesamaannya maka kita tidak dapat mengabaikan perbedaan kelompok.

  Ketika orang lain dengan jelas menemukan dan merasakan kesamaannya dengan kelompok etnisnya dan kita mengabaikan etnisitas orang lain tersebut ketika kita berinteraksi dengannya, maka kita tidak mendukung konsep dirinya dan tidak akan mampu memahami tingkah lakunya. Ini adalah sebuah masalah karena dukungan konsep diri justru perlu untuk orang lain yang berbeda budaya tersebut, agar dia bisa merasakan kepuasan dengan komunikasi mereka dengan kita (Gundykunst & Kim, 2003: 110).

II.4.2 Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis

  Ada dua pendekatan terhadap identitas etnis yaitu pendekatan objektif (struktural) dan pendekatan subjektif (fenomenologis). Jika pendekatan objektif melihat sebuah kelompok etnis sebagai kelompok yang bisa dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya berdasarkan cirri-ciri budayanya seperti bahasa, agama, atau asal-usul kebangsaan.

  Kontras dengan itu, perspektif subjektif merumuskan etnisitas sebagai suatu proses dimana orang-orang mengalami atau merasakan diri mereka sebagai bagian dari suatu kelompok etnis dan diidentifikasikan demikian oleh orang lain dan memusatkan perhatiannya pada keterikatan dan rasa memiliki yang dipersepsi kelompok etnis yang diteliti (Mulyana & Jalaluddin, 2005: 152).

  Jadi penelitian ini menggunakan pendekatan kedua yaitu pendekatan subjektif yang sejalan dengan perspektif interpretif. Pendekatan kedua menganggap etnisitas bersifat dinamis. Pendekatan subjektif (fenomenologis) terhadap identitas etnis dapat dilacak hingga ke defenisi Cooley dan Mead tentang diri. Pendekatan ini mengkritik pendekatan positivistik dalam arti bahwa ia membatasi kemungkinan perilaku manusia yang dapat dipelajasri. Berbeda dengan pendekatan positivistik, yang memandang individu-individu sebagai pasif dan perubahannya disebabkan kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka, pendekatan fenomenologis memandang manusia jauh dari pasif (Mulyana & Jalaluddin, 2005: 155).

  Secara tradisional, etnisitas dipandang sebagai seperangkat cirri sosio-kultural yang membedakan kelompok-kelompok etnis antara yang satu dengan yang lainnya.

  Barth yang dikutip dari Komunikasi Antarbudaya menyebutkan bahwa ciri-ciri penting suatu kelompok etnis adalah askripsi yang diberikan kelompok dalam dan kelompok luar, memandang kelompok etnis sebagai suatu jenis organisasi sosial tempat para aktor menggunakan identitas-identitas etnis untuk mengkategorisasikan diri mereka dan orang- orang lain untuk tujuan interaksi (Mulyana & Jalaluddin, 2005: 156).

  Perspektif Barth akhirnya mengilhami banyak ahli untuk meneliti apa yang disebut Paden dan Cohen etnisitas situasional, yaitu bagaimana identitas etnis digunakan individu-individu dalam interaksi mereka dengan orang lain. Kajian-kajian ini menganggap identitas etnis sebagai dinamik, cair dan situasional (Mulyana &Jalaluddin, 2005: 156).

  Pendekatan subjektif ini sejalan dengan perspektif interpreti dalam menilai identitas. Perspektif interpretative menekankan bahwa identitas bisa dirundingkan, bisa dibentuk kembali, diperkuat dan dijalani melalui komunikasi dengan yang lain: identitas etnis muncul ketika pesan saling dipertukarkan di antara orang-orang. Ini artinya bahwa menunjukkan identitas kita bukanlah sebuah proses yang sederhana. Tentu tidak setiap orang melihat kita sebagaimana kita melihat diri kita sendiri. Konsep avowal (pengakuan ) dan askripsi penting untuk membantu kita memahami bagaimana kesan dapat menimbulkan konflik (Martin & Thomas, 2007: 158).

  Pengakuan sendiri dipahami sebagai proses di mana individu memerankan diri mereka sendiri sedangkan askripsi adalah proses dimana orang lain mengatribusikan identitas tertentu pada mereka. Identitas yang berbeda digunakan tergantung individu yang terlibat dalam komunikasi. Artinya bisa saja saat kita berinteraksi dengan lawan jenis, maka identitas yang muncul adalah identitas gender dan saat kita bertemu dan berinteraksi dengan orang yang berbeda etnis, identitas yang muncul adalah identitas etnis. Intinya, perspektif interpretative beranggapan bahwa identitas dan khususnya identitas etnis diekspresikan secara komunikatif melalui core symbols, label, dan norma.

  

Core symbols (nilai budaya) memberitahukan tentang kepercayaan fundamental dan

  konsep sentral yang memberi defenisi identitas tertentu, yang dibagikan di antar anggota kelompok budaya (Martin & Thomas, 2007: 159).

II.5 Kompetensi Komunikasi

  Tindakan komunikatif individu sebagai bagian dari suatu masyarakat tutur, dalam perspektif etnografi komunikasi lahir dari integrasi tiga keterampilan, yaitu keterampilan linguistik, keterampilan interaksi, dan keterampilan kebudayaan. Kemampuan atau ketidakmampuan dalam menguasai satu jenis keterampilan (kompetensi atau inkompetensi komunikasi), akan mengakibatkan tidak tepatnya perilaku komunikasi yang ditampilkan. Kompetensi ini akan sangat membantu penutur ketika mereka menggunakan atau menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik.

  Singkatnya, kompetensi komunikasi akan melibatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan bahasa dan dimensi komunikatif dalam setting sosial tertentu.

  Komunikasi Antarbudaya sangat perlu untuk memperhatikan kompetensi komunikasi ini, karena apabila tidak, culture shock dan miscommunication akan sangat mungkin terjadi. Seperti penelitian yang diungkapkan oleh Abrahams (1973), dalam masyarakat kulit hitam, percakapan bisa melibatkan beberapa orang yang berbicara pada saat yang sama, suatu praktek percakapan yang akan melanggar kaidah interaksi kelas menengah warga kulit putih. Terlihat seperti hal yang sangat sepele, tetapi bila tidak memperhatikan dengan benar, bukan tidak mungkin perang akan terjadi lagi di berbagai belahan dunia ini.

  Kompetensi komunikasi melibatkan aspek budaya dan sosial, maka kompetensi komunikasi mengacu pada pengetahuan dan keterampilan komunikatif yang sama-sama dimiliki oleh satu kelompok sosial atau masyarakat. Namun kompetensi komunikasi ini dapat bervariasi pada tingkat individu, mengingat individu adalah makhluk yang memiliki motif dan tujuan yang berbeda-beda. Sehingga kompetensi komunikasi tidak dapat berlaku seterusnya, melainkan dinamis mengikuti perubahan individu-individu yang menggunakannya. Sebagai contoh, dalam kebudayaan Indonesia, memberikan sesuatu dengan tangan kiri merupakan contoh pelanggaran terhadap kompetensi komunikasi, tetapi seiring perkembangan zaman, khususnya dikalangan anak muda, memberikan sesuatu dengan tangan kiri menjadi hal yang lumrah dan dapat diterima, walaupun itu terbatas pada orang-orang tertentu saja. Akhirnya terjadi perubahan harapan terhadap interpretasi budaya di kalangan anak muda.

  Walaupun demikian, setiap kebudayaan dapat memliki kompetensi komunikasi secara global, dan berlaku secara berkelanjutan. Berikut adalah komponen-komponen kompetensi komunikasi yang dapat ditemukan pada suatu masyarakat tutur:

  a. Pengetahuan linguistik (linguistic knowledge) i. Elemen-elemen verbal ii. Elemen-elemen non verbal iii. Pola elemen-elemen dalam peristiwa tutur tertentu iv. Rentang varian yang mungkin (dalam semua elemen dan pengorganisasian elemen-elemen itu)

b. Keterampilan interaksi (interaction skills)

  i. Persepsi cirri-ciri penting dalam situasi komunikatif ii. Seleksi dan interpretasi bentuk-bentuk yang tepat untuk situasi, peran, dan hubungan tertentu (kaidah untuk penggunaan ujaran) iii. Norma-norma interaksi dan interpretasi iv. Strategi untuk mencapai tujuan

c. Pengetahuan kebudayaan (cultural knowledge)

  i. Struktur sosial ii. Nilai dan sikap iii. Peta dan skema kognitif iv. Proses enkulturasi (transmisi pengetahuan dan keterampilan)

  (Kuswarno, 2008: 45). Beberapa ahli berusaha merumuskan kompetensi komunikasi antarbudaya, Kim menawarkan sebuah defenisi detail mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya, yaitu

  “keseluruhan kapabilitas internal dari seseorang untuk menghadapi ciri-ciri dari tantangan yang sering terjadi saat komunikasi antarbudaya terjadi, yaitu: perbedaan budaya, dan ketidaksamaan, sikap intergroup”. Jadi, pengertian ini bisa dipahami untuk menjadi komunikator yang kompeten, kita harus memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi dan memilih mode dari perilaku yang tepat (Samovar, dkk, 2007: 314).

  Gundykunst & Kim dalam Rahardjo mengatakan sebenarnya bahwa paling tidak ada dua pandangan mengenai sifat kompetensi. Pandanga pertama menegaskan kompetensi seharusnya di dalam diri seseorang (komunikator) sebagai kapasitas atau kapabilitas orang tersebut untuk memfasilitasi proses komunikasi antar individu yang berbeda budaya sedangkan pandangan kedua berpendapat, kompetensi harus ada pada kedua belah pihak (Rahardjo, 2005: 72).

  Menurut Samovar, komunikator yang efektif adalah mereka yang memiliki motivasi, mempunyai kerangka pengetahuan, memiliki kemampuan komunikasi yang diperlukan, dan memiliki karakter yang baik (Samovar, dkk, 2007: 314), sedangkan Judith N. Martin dan Thomas Nakayama dalam bukunya Intercultural Communication in

  Context merumuskan dua komponen kompetensi yaitu komponen individu yang terdiri

  dari: motivasi, pengetahuan, sikap, perilaku dan kemampuan, komponen konstektual yaitu melihat konteks-konteks yang dapat mempengaruhi komunikasi antarbudaya sebagai contoh, konteks historis, konteks hubungan, konteks budaya ataupun konteks lainnya seperti gender, ras dan sebagainya (Martin & Thomas, 2007: 435-445).

  Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakpastian dan kecemasan mengalami penurunan atau peningkatan dalam suatu pertemuan antarbudaya. Faktor- faktor tersebut adalah motivasi, pengetahuan dan kecakapan (Rahardjo, 2005: 69-70). Faktor-faktor tersebut dianggap Gundykunst sebagai kompetensi komunikasi antarbudaya, yang secara konseptual diberi arti sebagai kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan oleh suatu pihak untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda latar belakang budaya (Rahardjo, 2005: 71).

  Motivasi sendiri adalah dimensi paling penting dalam kompetensi komunikasi. Jika kita tidak termitivasi dalam berkomunikasi dengan orang lain maka tak akan ada gunanya kemempuan yang kita punya. Jadi secara sederhana motivasi bisa di nilai sebagai hasrat untuk membuat komitmen dalam hubungan, untuk belajar tentang diri dan orang lain, dan untuk menyisakan keluwesan (Martin & Nakayama, 2007: 435) sedangkan pengetahuan dipahami sebagai kualitas dari pemehaman kita tentang apa yang dibutuhkan dan tindakan supaya memiliki kompetensi komunikasi antarbudaya (Rahardjo, 2005: 71). Dan kecakapan sendiri menyangkut pada kinerja perilaku yang sebenarnya yang dirasakan efektif dan pantas dalam konteks komunikasi (Rahardjo, 2005: 71).

  Berikut adalah tabel penjelasan komponen kompetensi komunikasi antarbudaya:

  Komponen Kompetensi Komunikasi Elemen Antarbudaya

  • 1. Motivasi Kebutuhan untuk memprediksi, Kebutuhan untuk menghindari - penyebaran kecemasan, dan
  • Kebutuhan untuk menopang konsep diri (gundykunst & kim, 2003: 276- 279).
  • Mindful terhadap ranah identitas,
  • Mindful terhadap kebutuhan identitas,
  • Mindful terhadap kecendrungan etnosentrisme (Rahardjo, 2005: 76).

  2. Pengetahuan - Pengetahuan tentang bagaimana mengumpulkan informasi,

  • Pengetahuan tentang perbedaan

    kelompok,

    personal,

  • Pengetahuan tentang interpretasi alternative (gundykunst & kim, 2003:

    279-283).

  • Pengetahuan tentang nilai kultural/personal,
  • Pengetahuan tentang bahasa dan komunikasi verbal,
  • pengetahuan tentang komunikasi non

    verbal,

  • Pengetahuan tentang batas in group dan out group,
  • Pengetahuan tentang pengembangan

    relasi,-

  • Manajemen konflik,
  • Pengetahuan tentang adaptasi antarbudaya (Rahardjo, 2005: 76).

  3. Kecakapan - Kemampuan untuk memberi perhatian/mengamati dan mendengarkan,

  • Kemampuan untuk bertoleransi pada ambiguitas,
  • Kemampuan dalam mengelola kecemasan,
  • Kecemasan berempati,
  • Kemampuan untuk menyesuaikan

    perilaku,

  • Kemampuan untuk memberikan ketepatan dalam memprediksi dan menjelaskan perilaku orang lain teratas dari kompetensi komunikasi memerlukan kombinasi berf (gundykunst & kim, 2003: 285-292).
  • Mindful dalam pengamatan, dan dalam mendengarkan,
  • Mampu empati verbal,
  • Memiliki kepekaan non-verbal,
  • Memiliki kecakapan menyesuaikan
diri dan konflik konstrukstif, Memiliki mindful terhadap stereotype - (Rahardjo, 2005: 76).

  Howell menitikberatkan bahwa komunikasi antarbudaya adalah sama, yang akan memiliki lebih dapat diperoleh melalui analisis secara sadar, dan tingkat tertinggi dari kompetensi komunikasi diperoleh dari proses pemikiran yang analitik dan holistic. Howell kemudian mendefenisikan empat level kompetensi komunikasi antarbudaya yaitu: unconscious incompetence, conscious incompetence, conscious competence, dan

  unconscious competence (Rahardjo, 2005: 69).

  Dalam “Intercultural Communication In Context”, Howell menitikberatkan bahwa komunikasi antarbudaya adalah sama, hanya saja diperoleh melalui analisis kesadaran dan yang berada pada level teratas dari kompetensi komunikasi memrlukan kombinasi berfikir holistic dan analtik. Howell mengidentifikasikan empat level kompetensi komunikasi antarbudaya, unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan, conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu, conscious

  competence yaitu, seseorang berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus-

  menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif, dan

  

unconscious competence yiatu seseorang telah mengembangkan kecakapan

komunikasinya. (Rahardjo, 2005:69).

  II.6 Etnis Tionghoa

  II.6.1 Sejarah

  II.6.1.1 Masa-masa awal

  Orang dari Tiongkok daratan telah ribuan tahun mengunjungi dan mendiami kepulauan Nusantara.Beberapa catatan tertua ditulis oleh para agamawan, seperti Fa Hien pada abad ke-4 dan I Ching pada abad ke-7. Fa Hien melaporkan suatu kerajaan di Jawa ("To lo mo") dan I Ching ingin datang ke India untuk mempelajari agama Buddha dan singgah dulu di Nusantara untuk belajar bahasa Sansekerta dahulu. Di Jawa ia berguru pada seseorang bernama Jñânabhadra.Dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, para imigran Tiongkok pun mulai berdatangan, terutama untuk kepentingan perdagangan. Pada prasasti-prasasti dari Jawa orang Cina disebut-sebut sebagai warga asing yang menetap di samping nama-nama sukubangsa dari Nusantara, daratan Asia Tenggara dan anakbenua India. Dalam suatu prasasti perunggu bertahun 860 dari Jawa Timur disebut suatu istilah, Juru Cina, yang berkait dengan jabatan pengurus orang- orang Tionghoa yang tinggal di sana. Beberapa motif relief di Candi Sewu diduga juga mendapat pengaruh dari motif-motif kain sutera Tiongkok.

  Catatan Ma Huan, ketika turut serta dalam ekspedisi Cheng Ho, menyebut secara jelas bahwa pedagang Cina muslim menghuni ibukota dan kota-kota bandar Majapahit (abad ke-15) dan membentuk satu dari tiga komponen penduduk kerajaan itu. Ekspedisi Cheng Ho juga meninggalkan jejak di Semarang, ketika orang keduanya, Wang Jinghong, sakit dan memaksa rombongan melepas sauh di Simongan (sekarang bagian dari Kota Semarang). Wang kemudian menetap karena tidak mampu mengikuti ekspedisi selanjutnya. Ia dan pengikutnya menjadi salah satu cikal-bakal warga Tionghoa Semarang. Wang mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut "Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong"), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu. Di komplek ini Wang juga dikuburkan dan dijuluki "Mbah Jurumudi Dampo Awang".

  Sejumlah sejarawan juga menunjukkan bahwa Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, memiliki darah Tiongkok selain keturunan Majapahit. Beberapa wali penyebar agama Islam di Jawa juga memiliki darah Tiongkok, meskipun mereka memeluk Islam dan tidak lagi secara aktif mempraktekkan kultur Tionghoa.

  Kitab Sunda Tina Layang Parahyang menyebutkan kedatangan rombongan Tionghoa ke muara Ci Sadane (sekarang Teluknaga) pada tahun 1407, di masa daerah itu masih di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Pemimpinnya adalah Halung dan mereka terdampar sebelum mencapai tujuan di Kalapa.

II.6.1.2 Era kolonial

  Di masa kolonial, Belanda pernah mengangkat beberapa pemimpin komunitas dengan gelar Kapiten Cina, yang diwajibkan setia dan menjadi penghubung antara pemerintah dengan komunitas Tionghoa. Beberapa diantara mereka ternyata juga telah berjasa bagi masyarakat umum, misalnya So Beng Kong dan Phoa Beng Gan yang membangun kanal di Batavia. Di Yogyakarta, Kapiten Tan Djin Sing sempat menjadi Bupati Yogyakarta. Sebetulnya terdapat juga kelompok Tionghoa yang pernah berjuang melawan Belanda, baik sendiri maupun bersama etnis lain. Bersama etnis Jawa, kelompok Tionghoa berperang melawan VOC tahun 1740-1743. Di Kalimantan Barat, komunitas Tionghoa yang tergabung dalam "Republik" Lanfong berperang dengan pasukan Belanda pada abad XIX. Dalam perjalanan sejarah pra kemerdekaan, beberapa kali etnis Tionghoa menjadi sasaran pembunuhan massal atau penjarahan, seperti pembantaian di Batavia 1740 dan pembantaian masa perang Jawa 1825-1830. Pembantaian di Batavia tersebut melahirkan gerakan perlawanan dari etnis Tionghoa yang bergerak di beberapa kota di Jawa Tengah yang dibantu pula oleh etnis Jawa. Pada gilirannya ini mengakibatkan pecahnya kerajaan Mataram. Orang Tionghoa tidak lagi diperbolehkan bermukim di sembarang tempat. Aturan Wijkenstelsel ini menciptakan pemukiman etnis Tionghoa atau pecinan di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.

II.6.1.3 Masa Revolusi dan Pra Kemerdekaan RI

  Pada masa revolusi tahun 1945-an, Mayor John Lie yang menyelundupkan barang-barang ke Singapura untuk kepentingan pembiayaan Republik. Rumah Djiaw Kie Siong di Rengasdengklok, dekat Karawang, diambil-alih oleh Tentara Pembela Tanah Air (PETA), kemudian penghuninya dipindahkan agar Bung Karno dan Bung Hatta dapat beristirahat setelah "disingkirkan" dari Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD'45 terdapat 4 orang Tionghoa yaitu; Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat 1 orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian yang meninggal dalam status sebagai warganegara asing, sesungguhnya ikut merancang UUD 1945. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman, pun pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po. Dalam perjuangan fisik ada beberapa pejuang dari kalangan Tionghoa, namun nama mereka tidak banyak dicatat dan diberitakan. Salah seorang yang dikenali ialah Tony Wen, yaitu orang yang terlibat dalam penurunan bendera Belanda di Hotel Oranye Surabaya.

II.6.1.4 Pasca kemerdekaan

  Orde Lama Pada Orde Lama, terdapat beberapa menteri Republik Indonesia dari keturunan

  Tionghoa seperti Oei Tjoe Tat, Ong Eng Die, Siauw Giok Tjhan, dll. Bahkan Oei Tjoe Tat pernah diangkat sebagai salah satu Tangan Kanan Ir. Soekarno pada masa Kabinet Dwikora. Pada masa ini hubungan Ir. Soekarno dengan beberapa tokoh dari kalangan Tionghoa dapat dikatakan sangat baik. Walau pada Orde Lama terdapat beberapa kebijakan politik yang diskriminatif seperti Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1959 yang melarang WNA Tionghoa untuk berdagang eceran di daerah di luar ibukota provinsi dan kabupaten. Hal ini menimbulkan dampak yang luas terhadap distribusi barang dan pada akhirnya menjadi salah satu sebab keterpurukan ekonomi menjelang tahun 1965 dan lainnya.

  Orde Baru Selama Orde Baru dilakukan penerapan ketentuan tentang Surat Bukti

  Kewarganegaraan Republik Indonesia, atau yang lebih populer disebut SBKRI, yang utamanya ditujukan kepada warga negara Indonesia (WNI) etnis Tionghoa beserta keturunan-keturunannya. Walaupun ketentuan ini bersifat administratif, secara esensi penerapan SBKRI sama artinya dengan upaya yang menempatkan WNI Tionghoa pada posisi status hukum WNI yang "masih dipertanyakan".

  Pada Orde Baru Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan menggulingkan pemerintahan Indonesia.

  Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di sana. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan pemerintah.

  Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan pengaruh komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan.

  Orang Tionghoa dijauhkan dari kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk menghindari dunia politik karena khawatir akan keselamatan dirinya.Pada masa akhir dari Orde Baru, terdapat peristiwa kerusuhan rasial yang merupakan peristiwa terkelam bagi masyarakat Indonesia terutama warga Tionghoa karena kerusuhan tersebut menyebabkan jatuhnya banyak korban bahkan banyak diantara mereka mengalami pelecehan seksual, penjarahan, kekerasan, dan lainnya.

  Reformasi Reformasi yang digulirkan pada 1998 telah banyak menyebabkan perubahan bagi kehidupan warga Tionghoa di Indonesia. Walau belum 100% perubahan tersebut terjadi, namun hal ini sudah menunjukkan adanya tren perubahan pandangan pemerintah dan warga pribumi terhadap masyarakat Tionghoa. Bila pada masa Orde Baru aksara, budaya, ataupun atraksi Tionghoa dilarang dipertontonkan di depan publik, saat ini telah menjadi pemandangan umum hal tersebut dilakukan. Di Medan, Sumatera Utara, misalnya, adalah hal yang biasa ketika warga Tionghoa menggunakan bahasa Hokkien ataupun memajang aksara Tionghoa di toko atau rumahnya. Selain itu, pada Pemilu 2004 lalu, kandidat presiden dan wakil presiden Megawati-Wahid Hasyim menggunakan aksara Tionghoa dalam selebaran kampanyenya untuk menarik minat warga Tionghoa.

  

(Sumber:(http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 01

Maret 2011).

II.6.2 Daerah Asal di Cina

  Ramainya interaksi perdagangan di daerah pesisir tenggara Cina, menyebabkan banyak sekali orang-orang yang juga merasa perlu keluar berlayar untuk berdagang. Tujuan utama saat itu adalah Asia Tenggara. Karena pelayaran sangat tergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya para pedagang akan bermukim di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disinggahi mereka. Demikian seterusnya ada pedagang yang memutuskan untuk menetap dan menikahi wanita setempat, ada pula pedagang yang pulang ke Cina untuk terus berdagang.

  Orang-orang Tionghoa di Indonesia, umumnya berasal dari tenggara Cina. Mereka termasuk suku-suku: Hakka, Hainan, Hokkien, Kantonis, Hokchia, Tiochiu.

  Daerah asal yang terkosentrasi di pesisir tenggara ini dapat dimengerti, karena dari sejak zaman Dinasti Tang kota-kota pelabuhan di pesisir tenggara Cina memang telah menjadi Bandar perdagangan yang ramai. Quanzhou pernah tercatat sebagai Bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia pada zaman tersebut.

  

(Sumber:(http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 01

Maret 2011).

II.6.3 Daerah Konsentrasi Sebagian besar dari orang-orang Tionghoa di Indonesia menetap di Pulau Jawa.

  Daerah-daerah lain dimana mereka juga menetap dalam jumlah besar selain di daerah perkotaan adalah: Sumatera Utara, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Lombok, Kalimantan Barat, Banjarmasin dan beberapa tempat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

  (a) Hakka – Aceh, Sumatera Utara, Batam, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Sulawesi Selatan, Manado, Ambon dan Jayapura.

  (b) Hainan – Pekanbaru, Batam, dan Manado. (c) Hokkien – Sumatera Utara, Riau (Pekanbaru Selat Panjang, Bagansiapi-api, dan

  Bengkalis), Padang, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa, Bali (terutama Denpasar dan Singaraja), Banjarmasin, Kutai, Sumbawa, Manggarai, Kupang, Makassar, Kendari, Sulawesi Tengah, Manado, dan Ambon.

  (d) Kantonis – Jakarta, Makassar, dan Manado. (e) Hokchia – Jawa (terutama Bandung, Cirebon, Banjarmasin, dan Surabaya). (f) Tiochiu – Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat (khususnya di Pontianak dan Ketapang).

  Di Tangerang Banten, masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan penduduk setempat dan mengalami pembauran lewat perkawinan, sehingga warna kulit mereka kadang-kadang lebih gelap dari Tionghoa lainnya. Istilah buat mereka disebut Cina Benteng. Keseniannya yang masih ada disebut Cokek, sebuah tarian lawan jenis secara bersama dengan iringan paduan musik campuran Cina, Jawa, Sunda, dan Melayu.

  

(Sumber:(http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 01

Maret 2011).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Metode Penelitian III.1.1 Metode Penelitian Kualitatif Metode penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metodologi

  adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban. Dengan ungkapan lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metodologi dipengaruhi atau berdasarkan perspektif teoritis yang kita gunakan untuk melakukan penelitian, sementara perspektif teoritis itu sendiri adalah suatu kerangka penjelasan atau interpretasi yang memungkinkan peneliti memahami data dan menghubungkan data yang rumit dengan peristiwa dan situasi lain.

  Sebagaimana perspektif yang merupakan suatu rentang dari yang sangat objektif hingga sangat subjektif, maka metodologi pun sebenarnya merupakan suatu rentang juga, dari yang sangat kuantitatif (objektif) hingga yang sangat kualitatif (subjektif) (Mulyana, 2001: 145-146).

  Seperti juga teori, metodologi diukur berdasarkan kemanfaatannya, dan tidak bisa di nilai apakah suatu metode benar atau salah. Untuk menelaah hasil penelitian secara benar, kita tidak cukup sekedar melihat apa yang ditemukan peneliti, tetapi juga bagaimana peneliti sampai pada temuannya berdasarkan kelebihan dan keterbatasan metode yang digunakannya (Mulyana, 2001: 146).

  Metode penelitian kualitatif tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip langka, atau metode statistik. Pembicaraan yang sebenarnya, isyara, dan tindakan sosial lainnya adalah bahan mental untuk analisis kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas-kualitasnya, alih-alih mengubahnya menjadi entitas-entitas kualitatif (Mulyana, 2001: 150).

  Dalam penelitian kuantitatif, pengamatan berperan serta, wawancara mendalam, dan analisis dokumen juga dikenal, tetapi tidak dianggap terlalu penting, sementara dalam penelitian kualitatif ketiga metode tersebut bersifat fundamental dan sering digunakan bersama-sama, seperti dalam studi kasus. Jelasnya penelitian kualitatif bertujuan memperoleh pemahaman yang otentik mengenai pengalaman orang-orang, sebagaimana dirasakan oleh orang-orang bersangkutan. Oleh karena itu, salah satu cirri penelitian kualitatif adalah bahwa tidak ada hipotesis yang spesifik pada saat penelitian dimulai; hipotesis justru dibangun selama tahap-tahap penelitian, setelah di uji atau dikonfrontasikan dengan data yang diperoleh penelitian selama penelitian tersebut (Mulyana, 2001: 155-156).

  Setidaknya ada empat aliran teori dalam ilmu sosial yang lazim diasosiasikan dengan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu (1) teori-teori tentang budaya, (2) teori fenomenologi, (3) teori etnomenologi, dan (4) teori interaksionisme simbolik (Bungin, 2003: 7).

  Pemikiran positivistik ala ilmu-ilmu kealaman rasanya memang patut dipertanyakan keterandalannya bagi upaya memahami dunia manusia. Untuk memahami fenomena sosial tampaknya memang perlu suatu pendekatan tersendiri, dan itulah yang ditawarkan oleh pendekatan penelitian kualitatif.

  III.1.2 Studi Analisis Etnografi

  III.1.2.1 Suatu Pemahaman Awal

  Istilah etnografi sebenarnya merupakan istilah antropologi. Etnografi merupakan embrio dari antropologi, yaitu lahir pada tahap pertama dari perkembangannya, yaitu sebelum tahun 1800-an. Etnografi merupakan hasil-hasil catatan penjelajah Eropa tatkala mencari rempah-rempah ke Indonesia. Mereka mencatat semua fenomena menarik yang dijumpai selama perjalananya, antara lain berisi tentang adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik dari suku-suku bangsa tersebut.

  Etnografi yang kemudian diartikan sebagai deskripsi tentang bangsa-bangsa berasal dari kata etnhos dan graphein. Ethnos berarti bangsa atau suku bangsa, sedangkan

  

graphein adalah tulisan atau uraian. Charles Winnick (dalam Bungin, 2003: 168)

  mendefenisikan etnografi sebagai “the study of individual cultures. It is primarily a descriptive and non interprestative study”. Hal yang sama dikatakan oleh Adamson E.

  Hoebel, menurut Hoebel (dalam Bungin, 2003: 168), etnografi adalah “to write about peoples. As we used the term, if refers to desctriptive study of human society”.

  Penulisannya mengacu pada studi deskriptif.

  Dalam perkembangan dewasa ini, etnografi tidak hanya merupakan paparan saja, tanpa interpretasi. Roger M. Keesing mendefenisikannya sebagai pembuatan dokumentasi dan analisis budaya tertentu dengan mengadakan penelitian lapangan. Artinya, dalam mendeskripsikan suatu kebudayaan seorang etnografer (peneliti etnografi) juga menganalisis. Jadi, bisa disimpulkan bahwa etnografi adalah pelukisan yang sistematis dan analisis suatu kebudayaan kelompok, masyarakat atau suku bangsa yang dihimpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama.

  Bila di dalam antropologi sebagai pengamatan empirik dan mengklasifikasikan kasar, maka etnografi ini menarik ketika digunakan oleh ilmu-ilmu lain, seperti sosiologi, ekonomi dan politik, ketika hendak mencermati persoalan-persoalan yang tampak “kecil” dalam konteks yang lebih luas. Ringkasnya, bila seorang peneliti ingin mencermati fenomena secara holistik (menyeluruh), sebagaimana ciri khas antropologi, misalnya seorang ekonomi ingin melihat sektor informal, tidak saja dari sisi ekonomi makro (nasional), tetapi juga peranan kekerabatan dalam usaha tersebut. Atau, seperti yang ditulis oleh C. Geertz tentang perilaku keagamaan yang dihubungkan dengan politik di Mojokuto (Bungin, 2003: 169).

III.1.2.2 Pijakan Teoritis dalam Model Etnografi

  Ada 2 (dua) pijakan teoritis yang memberikan penjelasan tentang model etnografi, yaitu interaksi simbolik dan aliran fenomenologi, termasuk konstruksi sosial dan etnomenologi. Selama ini pemahaman etnografi selalu dilandasi oleh pemikiran James P. Spradley. Pemikirannya dilandasi oleh teori interaksi simbolik. Di dalam teori itu, budaya dipandang sebagai sistem simbolik di mana makna tidak berada dalam benak manusia, tetapi simbol dan makna itu terbagi dalam actor sosial di antara, bukan di dalam, dan mereka adalah umum, tidak mempribadi. Budaya adalah lambang-lambang makna yang terbagi (bersama). Budaya juga merupakan pengetahuan yang didapat seseorang untuk menginterpretasikan pengalaman dan menyimpulkan perilaku sosial.

  Teori ini mempunyai 3 premis, yaitu (1) tindakan manusia terhadap sesuatu didasarkan atas makna yang berarti baginya, (2) makna sesuatu itu diderivikasikan dari atau lahir di antar mereka dan (3) makna tersebut digunakan dan dimodifikasi melalui proses interprestasi yang digunakan manusia untuk menjelaskan sesuatu yang ditemui.

  Ketiga premis ini dikembangkan menjadi ide-ide dasar dari interaksi simbolik. Ide-ide dasar itu menyebutkan bahwa (1) masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi dan membentuk apa yang disebut organisasi atau struktur sosial; (2) interaksi yang merupakan berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain ini bisa merupakan non simbolik bila mencakup stimulus respon yang sederhana, ataupun simbolik mencakup “penafsiran tindakan”; (3) objek itu sendiri tidak mempunyai makna intrinsik, makna lain merupakan produk interaksi simbolik, artinya dunia objek “diciptakan, disetujui, ditransformir, dan dikesampingkan” lewat interaksi simbolik; (4) bahkan manusia sendiri tidak hanya mengenal objek internal, mereka dapat melihat dirinya sebagai objek, pandangan terhadap dirinya sendiri ini, sebagaimana dengan semua objek, lahir saat proses interaksi simbolik; (5) tindakan manusia itu tindakan interpretative yang dibuat oleh manusia itu sendiri; dan (6) tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok, dan menjadi tindakan bersama (Bungin, 2003: 170).

III.1.2.3 Bentuk-bentuk Penelitian Model Etnografi

  Bentuk-bentuk penelitian. Perkembangan dewasa ini penelitian etnografi itu tidak saja berbentuk etnografi lengkap (comprehensive ethnography) di mana mencatat satu

  total way of life atau memberikan satu deskripsi utuh, lengkap dan mendetail tentang

  sistem sosial dan sistem kebudayaan suatu suku bangsa dan topic oriented ethnography (monografi) yang terfokuskan pada satu aspek tertentu, melainkan mulai beranjak ke arah hyphothesis oriented ethnography yang bertujuan untuk menguji hipotesa dan tidak sekedar mendeskripsikan, padahal pada awalnya jenis ini dihindari. Jenis ini didasarkan oleh konsep baru tentang etnografi, seperti yang dikemukakan oleh Roger M. Keesing. Namun, hanya sedikit antropolog melakukan itu dan bersifat eksploratif, seperti Margaret Mead di Bali dan Cora du Bois di Alor (Bungin, 2003: 172).

  Pencapaian hasil ini tidak mungkin tercapai bila tidak mempunyai kemampuan menterjemahkan, suatu kemampuan menterjemahkan makna dari satu budaya ke dalam suatu bentuk yang tepat pada budaya yang lain. Ini disebabkan karena pengetahuan budaya dikomunikasikan melalui bahasa dan perilaku. Seseorang dari budaya dan bahasa yang berbeda akan mengkategorikan pengalaman dan dunianya secara berbeda pula, dan mereka memverbalisasikan dalam cara yang berbeda pula, meski dalam kenyataannya peneliti etnografi selalu memerlukan penterjemah, yaitu seseorang yang memiliki dwi- bahasa untuk memahami dan mengutarakan hal yang tepat sama bahasa lain.

  Kemampuan menterjemahkan ini berpengaruh pada hasil penelitian.

  Berkaitan dengan kemampuan menterjemahkan, etnografi menghasilkan 6 bentuk paparan, yakni (1) paparan etnosentris (ethnocentric descriptions), (2) paparan ilmu sosial (social scince descriptions), (3) etnografi standart (standart ethnography), (4) etnografi satu bangsa (monolingual ethnographies) dan (5) riwayat hidup ( life histories) serta (6) novel etnografi (ethnographic novels).

  Paparan etnosentris adalah studi yang dibentuk dengan tidak menggunakan bahasa asli dan mengabaikan makna yang ada. Masyarakat dan cara berperilaku dikarakteristikkan secara stereotype, sedangkan paparan ilmu sosial digunakan untuk studi yang terfokus secara teoritis pada uji hipotesis. Studi ini mendasari pada pengamatan, wawancara, kuesioner, dan uji psikologis yang merefleksikan pandangan penutur asli, namun tidak pada pengetahuan strukturalnya. Peneliti tetap di luar dari budaya dan aspek analistisnya tidak diusahakan dari informan-informannya (Bungin, 2003: 173).

  Berbeda pula dengan etnografi standart, ia menggambarkan variasi luas yang ada pada penutur asli dan menjelaskan konsep asli.

  Berbeda pula dengan etnografis standard, ia menggambarkan variasi luas yang ada pada penutur asli dan menjelaskan konsep asli. Studi ini juga menyesuaikan kategori analitisnya pada budaya lain. Langkah lebih maju terjadi pada etnografi satu bahasa. Dalam studi ini, seorang anggota masyarakat yang dibudayakan menulis etnografi dalam bahasa aslinya. Etnografer secara hati-hati membawa sistem semantik bahasanya dan menterjemahkan ke dalam bahasanya.

  Studi ini dilanjutkan ke dalam bentuk riwayat hidup. Riwayat hidup adalah salah satu bentuk deksirpsi yang menawarkan pemahaman terhadap budaya lain. Mereka yang melakukan studi ini akan mengamati secara mendetail kehidupan seseorang dan proses yang menunjukkan bagian penting dari budaya tersebut. semua itu dicatat dalam bahasa asli, kemudian diterjemahkan, lebih mudah lagi bila informan sebagai bilingual, diedit dan disajikan dalam bentuk yang sama sesuai dengan pencatatan.

  Unit Analisis : Dari masalah ke Pendekatan Teoritis. Berbicara tentang unit analisis atau subyek penelitian, pertama harus di lihat dari masalah dan kemudian dihubungkan dengna pijakan teoritisnya. Sejak awal etnografi memiliki permasalahan yang cukup khas, yaitu mempelajari etnis dan budayanya. Persoalannya kemudian adalah etnis (masyarakat) dan budaya bukan sesuatu yang statis. Tidak berubah sepanjang masa, terlebih lagi pada abad ke-20 , dan seterusnya. Masyarakat suatu etnis tertentu, dalam arti komunitas, yang kecil jumlahnya, hubungannya akrab dan diikat oleh suatu nilai budayannya merupakan barang akibat hubungan dengan bangsa lain, apalagi di dalam Eropa.

  Persoalan kedua adalah tidak ada budaya yang sangat sederhana dan terisolasi. Seorang etnografer tidak bisa meneliti seperti di bidang biologi. Ketika hendak melihat rahasia kromosom dan gen, seorang peneliti cukup menangkap lalat buah yang jumlah kromosonya Cuma 4 ( empat) pasang. Akibat perjumpaan dengan bangsa lain, terjadi difusi, kemudian akulturasi, maka budaya un berubah, belum lagi ditambah dengan kreativitas-kreativitas masyarakat belum lagi ditambah dengan kreativitas-kreativitas masyarakat pendukungnya. Meski memiliki unsur-unsur universalnya, budaya pada etnis maupun dan di manapun menjadi kompleks.

  Spradley (1979) menyarankan penggunaan etnografi dilakukan bila peneliti ingin memahami dan belajar pada masyarakat. Namun, tidak sekedar itu, masyarakat tersebut memiliki pola-pola perilaku dan pola-pola untuk berprilaku tertentu yang membedakan masyarakt lain. Artinya, budaya harus diberi “makna” yang lebih luas, sehingga etnografi bisa juga digunakan dalam masyarakat yang kompleks (lihat Spradley dan McCurdy, 1972), seperti kelompok-kelompok dalam masyarakat itu bisa didasarkan atas latar belakang etnis, agama, umur, atau profesi dan kelas sosial. Seorang etnografer bisa saja mencermati bagaimana budaya “kebut-kebutan” dalam remaja, budaya “geng-geng” di perkotaan, dan bagaimana remaja melakukan budaya “nggandol.”

  Lama tidaknya penelitian etnografi ini juga bergantung pada pemahaman terhadap gejala yang diteliti. Penelitian ini bisa berlangsung dalam kurun waktu singkat bila hanya meliputi satu peristiwa, misalnya meneliti tentang tata cara upaya perkawinan adat Jawa daerah Surabaya. Sebaliknya, akan berlangsung dalam waktu yang lama bila hendak meneliti a single society, masyarakat yang kompleks.

  Pemahaman teoritis akan menentukan siapa yang menjadi subyek penelitian atau informan. Bila menggunakan interaksi simbolik, maka peristiwa atau perilaku itu dipahami sebagai simbol-simbol yang terbagi bersama. Artinya, dalam situasi yang sama semua orang memiliki “budaya” tersebut akan bertukar pemakaian dan kemudian membentuk pemahaman yang sama akan simbol-simbol itu. Semua orang bisa diajak untuk berbicara tentang peristiwa yang diamati.

  Berbeda dengan fenomenologi, termasuk di dalamnya kontruksi sosial dan etnometodologi, pemaknaan-pemaknaan itu berlangsung dala kesadaran individu, sehingga mereka yang lebih sering mengalami (intentional) dalam keseharian (everday

  life) akan memberi pemahaman yang lebih banyak dan lengkap. Sama seperti dalam

  rancangan antropologi kognitif, individu tampil secara simultan sebagai pembelajar, sekaligus pencipta budaya. Individu menampilkan pemahamannya tentang pengalaman sebagai pengetahuan budaya dalam berbagai bentuk dan menetapkan kembali sesuai dengan konteksnya. Individu-individu yang kehidupan sehari-harinya lebih berkecimpung persoalan-persoalan yang menjadi focus peneliti itulah informan atau tepatnya informan kunci. Berbicara tentang pertanian, lebih tepat bila mewawancarai petani daripada penyuluhannya misalnya (Bungin, 2003: 176-177).

  Khusus tentang kontruksi sosial, selain individu yang terlibat langsung, informan lainnya adlaah mereka yang duduk di birokrasi lokal atau lembaga-lembaga lain yang merupakan kepanjangan dari negara, sebagai realitas obyektifnya, biasanya dalam kajian ilmu politik. Bisa pula tetua-tetua adat bila bentuk realitas obyektif lain adalah nilai-nilai, norma-norma dan peraturan-peraturan.

  III.2 Lokasi Penelitian

  III.2.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

  Suatu penelitian harus memiliki tempat penelitian yang jelas. Penelitian ini di laksanakan di Kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Lokasi ini beralamatkan di Jalan Almamater Kampus Universitas Sumatera Utara.

  Terkadang penelitian ini juga menyesuaikan dengan kesediaan waktu dan tempat informan berada, sehingga peneliti mengikuti kehendak informan dalam menentukan tempat untuk melakukan wawancara. Jadi tempat wawancara kemunginan juga bisa terjadi di luas wilayah kampus, seperti : rumah, mall, tempat makan, tempat ibadah, dan lain sebagainya.

  III.2.1.1 Sejarah Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

  Pendirian Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT USU) diawali dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 18 Januari 1958, No 5/XII/PSU tentang pembentukan suatu Panitia Teknis Pembentukan Fakultas Teknik di Sumatera Utara dengan tugas menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pendirian sebuah Fakultas Teknik di Sumatera Utara, yang hasilnya akan disampaikan selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan. Untuk merealisasi usaha-usaha persiapan ke arah terbentuknya Fakultas Teknik USU, maka Departemen P&K mengeluarkan Surat Keputusan No.2855/S tertanggal 16 Maret 1959 tentang pembentukan suatu panitia yang bertugas mempersiapkan Pembentukan Fakultas Teknik pada Universitas Sumatera Utara. Panitia ini bekerja terhitung mulai tanggal 1 Januari 1959. Akhirnya usaha-usaha tersebut dapat berhasil dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia No.83303/ S tertanggal 26 Agustus 1959 tentang persiapan berdirinya Fakultas Teknik di Medan yang bernaung di bawah panji-panji Universitas Sumatera Utara terhitung mulai tanggal 1 September 1959 Fakultas resmi berdiri dan tahun tersebut dijadikan sebagai awal tahun berdirinya. Saat ini terdapat 6 (enam) Departemen di Fakultas Teknik USU yaitu: Departemen Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Kimia, dan Arsitektur.

III.2.1.2 Visi dan Misi Visi:

  Visi Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara adalah menjadi lembaga pendidikan tinggi teknik yang handal dalam mengembangkan Iptek dan menghasilkan lulusan yang kompeten bagi pemberdayaan potensi Sumatera Utara dan merespon isu strategis nasional maupun global.

  Misi:

  Misi Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara mengacu pada Tri Dharma Perguruan`Tinggi dan dijabarkan sebagai berikut: Menyiapkan staf pengajar yang mampu berkontribusi terhadap pengembangan IPTEK melalui penelitian dan pengabdian masyarakat yang dapat membantu memecahkan berbagai permasalahan di industri dan masyarakat pada tingkat nasional maupun asia dengan mengembangkan program yang sejalan dengan USU sebagai The University for Industry.

  1. Menyiapkan lulusan yang kompeten, mandiri, inovatif dan berwawasan kewirausahaan, dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi serta mampu bersaing secara global, bersikap terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan ilmu dan keteknikan.

  2. Menyediakan sarana dan prasarana demi terselenggaranya Tri Dharma Perguruan Tinggi.

  3. Membina dan mengembangkan manajemen kependidikan yang professional.

  4. Membina dan mengembangkan tumbuhnya sinergi secara berkelanjutan dengan pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan tinggi lain dan dunia usaha.

III.2.1.3 Tujuan

  Tujuan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara adalah:

  1. Meningkatkan kualitas pendidikan dengan kapasitas intelektual yang tinggi dalam pengetahuan dan keahlian, kreativitas, kesehatan jasmani, moral, karakter, dan kematangan emosi untuk menghasilkan lulusan.

  2. Meningkatkan kegiatan dan kualitas penelitian untuk berperan dalam kemajuan sains dan teknologi, serta untuk mengembangkan dan memasyarakatkan sains dan teknologi yang relevan untuk kemajuan industri dan masyarakat.

  3. Meningkatkan pengabdian pada masyarakat dengan menyebarkan hasil penelitian terapan, kaji tindak, teknologi tepat guna untuk meningkatkan mutu kehidupan masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

III.2.1.4 Kebijakan

  1. Strategi pencapaian Untuk merealisasikan visi, misi, dan tujuan, maka FT USU menyusun sasaran dan strategi pencapaian lulusan FT USU berupa: a. Memiliki kemampuan untuk menerapkan pengetahuan matematika dasar, sains dasar dan dasar-dasar kerekayasaan.

  b. Memiliki kemampuan untuk merancang dan melakukan eksperimen serta melakukan analisis dan sintesis.

  c. Memiliki kemampuan untuk merancang sistem, komponen atau proses untuk memenuhi kebutuhan dalam bidang keteknikan.

  d. Memiliki kemampuan untuk bekerja efektif baik secara mandiri maupun berkelompok dalam kelompok multidisiplin dan multikultural pada kapasitasnya sebagai pemimpin, manajer maupun anggota kelompok.

  e. Memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, merumuskan, dan memecahkan masalah-masalah keteknikan.

  f. Memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif baik dalam lingkungan akademik maupun dengan masyarakat luas.

  g. Memiliki kemampuan berbahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan.

  h. Memiliki tanggung jawab sosial, kultural, global, lingkungan dan pentingnya pembangunan berkelanjutan beserta prinsip-prinsip yang mendasarinya. i. Memiliki kreativitas yang tinggi, memahami proses inovasi serta mempunyai jiwa kewirusahaan. j. Memiliki kemampuan untuk menggunakan teknik, keterampilan dan perangkat kerekayasaan modern yang diperlukan untuk praktek keteknikan. k. Memiliki kemampuan untuk terus menerus mengembangkan diri dengan belajar sepanjang hayat.

  2. Sistem Penjaminan Mutu Penjamin mutu (quality assurance) merupakan proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan tinggi secara konsisten dan berkelanjutan. Penjamin mutu ini akan membuat para pemangku kepentingan (mahasiswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, dosen, tenaga penunjang, dan pihak lain yang berkepentingan) memperoleh kepuasan.

  Mutu Pendidikan di USU bersifat proaktif dalam arti bahwa lulusan USU mampu secara terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta realitas sosial budaya yang terus berkembang secara dinamis. Mutu pendidikan di USU juga mencakup aspek pelayanan administratif, sarana, prasarana, organisasi dan manajemen yang dapat memenuhi harapan sivitas akademika dan masyarakat (baik orang tua mahasiswa, pengguna lulusan, maupun masyarakat luas).

  Sistem Penjamin Mutu Akademik di USU dirancang dan dilaksanakan untuk dapat menjamin mutu gelar akademik yang diberikan. Hal ini berarti bahwa Sistem Penjaminan Mutu harus dapat menjamin bahwa lulusan akan memiliki kompetensi yang ditetapkan dalam spesifikasi Departemen. Dengan demikian Universitas juga menjamin mahasiswa akan memperoleh pengalaman mengajar seperti yang dijanjikan di dalam spesifikasi Departemen.

  Sistem Manajemen Mutu (SMM) Akademik di Universitas Sumatera Utara dilaksanakan secara berjenjang yaitu pada tingkat Universitas, Fakultas, Departemen serta Unit Penunjang lainnya sesuai dengan Buku Pedoman Sistem Manajemen Mutu USU, yang di dalamnya berisi kebijakan mutu, organisasi, tanggung jawab dan wewenang, Manual Mutu Akademik, serta Manual Prosedur.

  Pada tingkat Fakultas dirumuskan Kebijakan Akademik Fakultas, Standar Akademik Fakultas, dan Buku Manual Mutu Akademik Fakultas, serta dilakukan Audit Mutu Akademik Departemen.

  Kebijakan Mutu Universitas Sumatera Utara dinyatakan sebagai berikut: USU siap melaksanakan usaha perbaikan mutu secara berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat hingga mencapai atau melebihi standar mutu untuk memberikan kepuasan kepada stakeholders secara dinamis.

  Untuk menindaklanjuti Sistem Penjaminan Mutu Tinggi di lingkungan Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Teknik telah membentuk Tim Penjaminan Mutu Fakultas (TPMF) Teknik yang tertuang dalam SK Rektor nomor 1024A/H5.1.R/SK/SDM/2008. Penyelenggaraan dan Pengembangan Pendidikan di FT USU secara menyeluruh mengacu kepada arah penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan USU. Diantaranya otonomi pengembangan pendidikan yang terus menerus kepada fakultas dan departemen serta unit-unit terkait. Pengembangan ini diaktualisasikan dalam bentuk akuntabilitas dan akreditasi berdasarkan evaluasi diri dalam rangka mempersiapkan mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan dan dikembangkan.

  Untuk mempersiapkan mahasiswa sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan diperlukan suatu proses pembelajaran yang bermutu baku yang terukur yang mengacu kepada RAISE ++, yaitu Relevance, Academic Atmosphere, Internal Management and Organisation, Sustainability and Efficiency, Leadership, Equity, Accessability,and Partnership.

  Atas dasar pemikiran tersebut disusunlah Kebijakan Akademik FT USU dengan mengacu kepada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, Undang-Undang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi nomor 18 tahun 2002, serta Kerangka Pengembangan Pendidikan Tinggi Jangka Panjang (KPPTJP IV 2003-2010) untuk mencapai kompetensi serta kesantunan melalui akreditasi dan proses evaluasi diri. Tim Gugus Jaminan Mutu Fakultas Teknik (GJM-FT) USU telah menyusun dokumen Kebijakan Akademik FT USU untuk memberikan pedoman dan arah bagi penyelenggaraan kehidupan akademik di FT USU. Dalam rangka menentukan sasaran-sasaran akademik yang ingin dicapai FT USU pedoman ini diturunkan dari visi dan misi FT USU. Kebijakan Akademik ini merupakan Dokumen Akademik yang digunakan dalam menyusun Standar Akademik FT USU yang dilengkapi dengan Sistem Penjaminan Mutu Akademik dan harus dikembangkan terus secara berkelanjutan oleh FT USU dalam kehidupan akademik yang unggul dan memiliki daya saing dalam dunia Internasional.

  3. Sistem pengelolaan Pelaksanaan kegiatan di Fakultas Teknik secara menyeluruh berpegang pada peraturan tentang sistem dan mekanisme kerja yang telah disusun dan ditetapkan melalui

  RENSTRA Universitas Sumatera Utara. Upaya memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing unsur di dalam sistem organisasi dan mekanisme kerja masih terus ditingkatkan melalui konsep POACE (Planning, Organizing, Action, Controlling dan

  Evaluation) sebagai berikut:

  a. Planning Rencana kegiatan Fakultas disusun bersama-sama dengan Departemen berjangka lima tahunan (Rencana Strategis) dan 1 tahunan (Rencana Tahunan), digunakan sebagai pedoman dan arah kegiatan Fakultas.

  b. Organizing Pimpinan Fakultas melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan berbagai unsur pelaksana terkait dalam upaya membentuk sistem organisasi tata laksana yang solid.

  c. Action Semua rencana kegiatan baik rencana strategis maupun rencana tahunan dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana (planning) yang ditetapkan.

  d. Controlling.

  Rencana kegiatan dapat berjalan dengan baik seperti yang diharapkan perlu dilakukan kontrol (pengawasan) dari berbagai unsur yang terlibat.

  e. Evaluation.

  Mekanisme evaluasi diperlukan agar planning, organizing, action dan controlling yang sudah berjalan dapat diketahui kekurangan dan kelemahannya untuk perbaikan. Rencana Strategi 5 tahunan terdiri dari kegiatan-kegiatan: a. Relevansi, berkaitan dengan sistem dan proses belajar mengajar, kurikulum, silabus, ketersediaan: perpustakaan, laboratorium, dan studio.

  b. Atmosfir akademik, berkaitan dengan hubungan dosen dengan mahasiswa, pengembangan kelompok studi oleh dosen maupun mahasiswa.

  c. Sustainability (berkelanjutan), berkaitan dengan motivasi dosen untuk membuat buku, publikasi hasil penelitian, metode mengajar, efisiensi sarana dan prasarana penunjang, perkuliahan, kehadiran dosen, penyelesaian studi lebih cepat, akreditasi Departemen.

  d. Pengembangan sumberdaya strategis meliputi jumlah dan kualitas SDM, pemanfaatan sarana dan prasarana (laboratorium/studio) menjadi revenue generating activity (RGA).

  e. Rencana kegiatan FT USU disusun berdasarkan RENSTRA USU 2005/2010 yang mempunyai isu daya saing, otonomi, dan kesehatan organisasi. Setiap 1 tahun, sesuai dengan ketentuan universitas, FT USU membuat evaluasi diri, sebagai dasar untuk menyusun analisis Strength Weakness Opportunity and Threat (SWOT). Berdasarkan analisis SWOT ini dan kerangka kerja USU, FT USU membuat rencana kegiatan setiap tahun yang dituang dalam Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB).

  III.2.1.5 Struktur Kepengurusan

  (http://ft.usu.ac.id/ di akses tanggal 3 Maret 2011)

  III.3 Waktu Penelitian

  Penelitian ini sendiri di mulai pada bulan Februari 2011, yaitu peneliti awalnya hanya melakukan obervasi awal guna memperoleh gambaran mengenai subjek penelitian.

  Kemudian penelitian berlanjut pada bulan Maret 2011, yaitu peneliti melakukan observasi lanjutan setelah melakukan seminar proposal. Proses penelitian selanjutnya yaitu berupa wawancara mendalam kepada subjek penelitian yang dilakukan pada bulan April sampai Mei 2011, dengan lama penelitian yang disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Apabila data yang diperoleh telah mencukupi, maka penelitian akan dihentikan, dan penelitian pun berakhir di subjek penelitian ke 11.

  Jadi, dapat disimpulkan waktu penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah kurang lebih selama 4 bulan, yaitu Februari sampai Mei 2011.

III.4 Subjek atau Informan Penelitian

  Riset kualitatif tidak bertujuan untuk membuat generelisasi hasil riset. Hasil riset lebih bersifat konstekstual dan kausistik, yang berlaku pada waktu dan tempat tertentu sewaktu penelitian dilakukan. Karena itu, pada riset kualitatif tidak dikenal istilah sampel. Sampel pada riset kualitatif disebut subjek penelitian atau informan, yaitu orang- orang yang dipilih untuk diwawancarai atau diobservasi sesuai tujuan riset. Disebut subjek riset bukan objek karena informan dianggap aktif mengkontruksi realitas, bukan sekedar objek yang hanya mengisi kuesioner (Kriyantono, 2008:161).

  Untuk studi kasus, jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian, orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja yang mudah diakses. Melalui metode kualitatif kita dapat mengenal orang (subjek) secara pribadi dan melihat mereka mengembangkan defenisi mereka sendiri tentang dunia dan komunikasi yang mereka lakukan. Kita dapat merasakan apa yang mereka alami dalam pergaulan masyarakat mereka sehari-hari. Melalui metode ini memungkinkan kita menyelidiki konsep yang dalam pendekatan lainnya akan hilang (Bodgan, 1992: 5).

  Subjek penelitian yang selanjutnya disebut informan adalah mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 Fakultas Teknik Universita Sumatera Utara.

  Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian Pendidikan Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, jumlah mahasiswa etnis Tionghoa pada stambuk 2009 adalah sekitar 92 orang dan stambuk 2010 adalah sekitar 104 orang. Jadi, total mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara adalah adalah sekitar 196 orang.

  Pemilihan informan dilakukan dengan teknik perumusan karakteristik informan penelitian yaitu berdasarkan : (1). Usia (2). Jenis kelamin (3). Departemen/Stambuk/Semester (4). Asal daerah (5). Agama (6) Pekerjaan orang tua Merujuk dari hal tersebut, maka peneliti menggunakan teknik penarikan snowball.

  Teknik ini banyak ditemui dalam riset kualitatif, misalnya riset eksplorasi. Sesuai namanya, teknik ini bagaikan bola salju yang turun menggelinding dari puncak gunung ke lembah, semakin lama semakin membesar ukurannya. Jadi, teknik ini merupakan teknik penentuan informan yang awalnya berjumlah kecil, kemudian berkembang semakin banyak. Orang yang dijadikan informan pertama diminta memilih atau menunjuk orang lain untuk dijadikan informan berikutnya, begitu pula seterusnya sampai jumlahnya mencukupi. Proses ini baru berakhir bila periset merasa data telah jenuh, artinya periset merasa tidak lagi menemukan yang baru dari wawancara tersebut (Kriyantono, 2008 : 158-159).

III.5 Teknik Pengumpulan Data

  Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

III.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research)

  Penelitian lapangan adalah pengumpulan data yang meliputi kegiatan survey dilokasi penelitian, pengumpulan data dari subjek atau informan penelitian melalui :

  1. Observasi, yaitu kegiatan mengamati secara langsung tanpa mediator suatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut.

  Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan pada riset kualitatif. Yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi antara subjek yang diriset (Kriyantono, 2006: 108). Sedangkan observasi yang digunakan adalah observasi non-partisipan. Observasi non- partisipan merupakan metode observasi tanpa ikut terjun melakukan aktivis seperti yang dilakukan kelompok yang diriset, baik kehadirannya diketahui atau tidak (Kriyantono, 2008: 110).

  2. Wawancara mendalam, yaitu sejumlah pertanyaan lisan yang di ajukan peneliti terhadap pihak-pihak yang terkait sambil bertatap muka antar pewawancara dengan informan atau orang-orang yang diwawancarainya, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lain. Dengan demikian keabsahan wawancara adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan (Bungin, 2008:108).

III.5.2 Penelitian Kepustakaan (Library Research)

  Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilakukan dengan menghimpun data dari buku-buku serta bacaan yang relevan dan mendukung penelitian.

III.6 Teknik Analisis Data

  Maleong mendefenisikan analisis data sebagai proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan kerangka kerja (Kriyantono, 2008: 163).

  Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif yang merupakan pengukuran dengan menggunakan nominal yang menyangkut klasifikasi atau kategorisasi sejumlah variabel ke dalam beberapa sub kelas nominal. Melalui pendekatan kualitatif, data yang diperoleh dari lapangan diambil kesimpulan yang bersifat khusus kepada yang bersifat umum kemudian disajikan dalam bentuk narasi.

  Untuk studi kualitatif, jumlah informan dan individu yang menjadi informan dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian. Orang-orang yang dapat dijadikan informan adalah orang yang memiliki pengalaman sesuai dengan penelitian, orang-orang dengan peran tertentu dan tentu saja mudah untuk diakses.

  Untuk teknik analisis data dalam etnografi komunikasi, baik Hymes maupun Seville-Troike tidak menjelaskan bagaimana teknik analisis data nya. Bagi etnografi komunikasi menemukan hubungan antara komponen komunikasi sudah merupakan analisis data yang utama, karena berdasarkan itulah pola komunikasi itu dibuat. Selain itu, analisis juga dapat dilakukan pada komponen kompetensi komunikasi, untuk mengetahui pengaruh dari aspek sosiokultural terhadap pola komunikasi yang sudah ada.

  Pada dasarnya proses analisis data dalam etnografi berjalan bersamaan dengan pengumpulan data. Ketika peneliti melengkapi catatan lapangan setelah melakukan observasi, pada saat itu sesungguhnya ia telah melakukan analisis data. Sehingga dalam etnografi, peneliti bisa kembali lagi ke lapangan untuk mengumpulkan data, sekaligus melengkapi analisisnya yang dirasa masih kurang. Hal ini akan terus berulang sampai analisis dan data yang mendukung cukup. Dengan kata lain, proses pengambilan data dalam penelitian etnografi, tidak cukup hanya sekali.

  Tahap analisis data sebenarnya terdiri dari upaya-upaya meringkaskan data, memilih data, menerjemahkan, dan mengorganisasikan data. Dengan kata lain, upaya mengubah kumpulan data yang tidak teroganisir menjadi kumpulan kalimat singkat yang dapat dimengerti oleh orang lain. Upaya ini mencakup kedalaman pengamatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, menemukan regularitas dan pola yang berlaku, dan mengambil kesimpulan yang dapat menggeneralisasikan fenomena yang diamati.

  Dan teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah seperti yang dipaparkan oleh Creswell, yaitu:

  1. Deskripsi Deskripsi menjadi tahap pertama bagi etnografer dalam menuliskan laporan etnografinya. Pada tahap ini etnografi mempresentasikan hasil penelitiannya dengan menggambarkan secara detil subjek penelitiannya itu. Gaya penyampaiannya kronologis dan seperti narator. Ada beberapa gaya penyampaian yang lazim digunakan, diantaranya menjelaskan day in life secara kronologis atau berurutan dari seseorang atau kelompok masyarakat, membangun cerita lengkap denga alur cerita dan karakter-karakter yang hidup di dalamnya, atau membuat seperti cerita misteri yang mengundang tanda tanya orang yang membacanya kelak. Misalnya dengan menjelaskan interaksi sosial yang terjadi, menganalisisnya dalam tema tertentu, lalu mengemukakan pandangan-pandangan yang berbeda dari para informan. Dengan membuat deskripsi, etnografer mengemukakan latar belakang dari masalah yang diteliti, dan tanpa disadari merupakan persiapan awal menjawab pertanyaan penelitian.

  2. Analisis Pada bagian ini, etnografer menemukan beberapa data akurat mengenai subjek penelitian, biasanya melalui tabel, grafik, diagram, model, yang menggambarkan subjek penelitian. Penjelasan pola-pola atau regularitas dari perilaku yang diamati juga termasuk pada tahap ini. Bentuk yang lain dari tahap ini adalah membandingkan subjek-subjek yang diteliti dengan subjek lain, mengevaluasi subjek dengan nilai-nilai yang umum berlaku, membangun hubungan antara subjek penelitian dengan lingkungan yang lebih besar. Selain itu, pada tahap ini juga etnografer dapat mengemukakan kritik atau kekurangan terhadap penelitian yang telah dilakukan, dan menyarankan desain penelitian yang baru, apabila ada yang akan melanjutkan penelitian atau akan meneliti hal yang sama.

  3. Interpretasi Interpretasi menjadi tahap akhir analisis data dalam penelitian etnografi.

  Etnografer pada tahap ini mengambil kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Pada tahap ini, etnografer menggunakan penjelasannya, untuk menegaskan bahwa apa yang ia kemukakan adalah murni hasil interpretasinya (Kuswarno, 2008: 67-69).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti pada bulan Februari hingga Mei 2011, dengan melakukan observasi serta wawancara mendalam pada

  mahasiswa etnis Tionghoa stambuk 2009 dan 2010 yang ada di Kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  Setelah mendapat persetujuan judul skripsi ini dan melakukan seminar proposal, maka peneliti kemudian melakukan observasi ke tempat yang menjadi lokasi penelitian, sembari mengurus surat izin penelitian di lokasi penelitian yaitu Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara. Peneliti tidak hanya melakukan observasi pasca seminar proposal, tetapi pra seminar proposal pun, peneliti juga telah melakukan observasi awal.

  Pada saat observasi awal, peneliti hanya melakukan observasi di kantin Fakultas Teknik yang berada di sebelah gedung Departemen Teknik Kimia saja, hal ini peneliti lakukan karena peneliti belum mempunyai surat izin penelitian. Di lingkungan kantin, peneliti yang di temani oleh seorang teman mahasiswa pribumi dari kampus tersebut melihat pemandangan yang sebelumnya sudah dapat di prediksikan. Terlihat kumpulan mahasiswa pribumi di satu meja, dan kumpulan mahasiswa etnis Tionghoa di meja lainnya. Peneliti mulai menanyakan kepada teman yang mendampingi peneliti, apakah hal seperti ini memang setiap hari terjadi? Teman tersebut menjawab,

  “Iya, etnis Tionghoa di Fakultas Teknik ini bukannya sombong, mereka ramah-ramah, tetapi karena mereka memang memiliki komunitas yang banyak, jadi mereka tentunya akan mengutamakan kelompok etnisnya,

tetapi tidak menutup kemungkinan mereka juga sering berkomunikasi

  1 1 dengan mahasiswa pribumi”.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Toni, Medan, 24 Februari 2011.

  Pada observasi selanjutnya, setelah mendapatkan surat izin penelitian dari Fakultas Teknik, barulah peneliti mulai berani untuk melakukan observasi ke ruangan kelas. Di ruangan kelas, peneliti melihat banyak mahasiswa etnis Tionghoa yang berkelompok dengan teman se-etnis nya bahkan sampai di luar kelas, dan ada juga beberapa berbaur dengan mahasiswa pribumi. Pada observasi ini, peneliti juga menanyakan jumlah mahasiswa etnis Tionghoa kepada mahasiswa-mahasiswa etnis Tionghoa dari setiap departemen yang ada di Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010, karena memang bagian kemahasiswaan dari Fakultas Teknik itu sendiri tidak mempunyai data seperti itu. Peneliti juga sekaligus menanyakan kesediaan seorang mahasiswa untuk menjadi informan pertama dalam penelitian ini.

  Dalam penelitian ini, peneliti berhasil mewawancarai 11 (sebelas) orang informan penelitian. Sesuai dengan teknik snowball, awalnya yang menjadi informan penelitian adalah hanya 1 orang, atau yang disebut dengan informan pertama. Kemudian dari informan pertama lah peneliti berhasil mendapatkan informan kedua untuk di wawancarai, begitu pula seterusnya sampai peneliti merasa data penelitian yang di dapat sudah jenuh dan tidak ada sesuatu yang baru yang di dapat dari penelitian tersebut, dan akhirnya penelitian berakhir pada informan kesebelas.

  Pelaksanaan dalam pengumpulan data ini dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam, tentunya juga dengan melakukan pendekatan terhadap informan penelitian. Penelitian (wawancara) tidak hanya dilakukan di lingkungan kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara saja, tetapi juga dilakukan di coffe shop, dan di tempat futsal. Tetapi sebagian besar wawancara memang dilakukan di lingkungan kampus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

  Peneliti membuat suatu karakteristik informan yang tujuannya untuk membantu peneliti menemukan sejumlah kemungkinan terkait hubungan karakteristik informan dengan kesadaran atau pemahaman identitas etnis dan pengalaman serta kompetensi komunikasi antarbudaya. Karakteristik informan yang ditentukan peneliti adalah: Usia, jenis kelamin, departemen/stambuk/semester, asal daerah, agama, dan pekerjaan orang tua. Tentu peneliti harus menemukan temuan yang dapat dijadikan kesimpulan nantinya mengenai apa sebenarnya yang berpengaruh pada kedua hal tersebut, dan pada akhirnya peneliti harus mampu menemukan jawaban “Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik Stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara”.

IV.1 Latar Belakang Informan Penelitian

  Pada tahap ini, peneliti merangkup hasil pengamatan wawancara yang telah dilakukan kepada 11 orang informan penelitian. Kemudian peneliti mendeskripsikan secara jelas latar belakang dari kesebelas orang informan penelitian berdasarkan karakteristik informan yang telah di dapat.

  Berikut adalah hasil pengamatan wawancara dan pendeskripsian terhadap latar belakang informan berdasarkan karakteristik informan penelitian yang dirangkum dalam tabel berikut ini:

  IV.1.1 TABEL LATAR BELAKANG INFORMAN PENELITIAN

  INFORMAN 1 JASINDA (XIN ER)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Latar Belakang Asal Daerah Agustus 1991. Saat ini ia sedang duduk di bangku semester IV, Departemen Teknik Kimia, angkatan 2009. Perempuan yang pada Agustus nanti akan genap berusia 20 tahun ini, mempunyai nama Tionghoa yang di berikan oleh kedua orangtuanya. Xin Er, merupakan nama Tionghoa yang sudah ada pada dirinya sejak ia lahir. Namun, nama Indonesia tetap menjadi nama utama yang ia gunakan, baik itu dalam akte kelahiran, pergaulan di luar maupun di rumah. Untuk penggunaan nama Tionghoa sendiri, ia mengatakan bahwa nama Tionghoa tersebut hanya akan digunakan jika ia menikah ataupun meninggal nanti. Xin Er sendiri menurutnya mempunyai arti yaitu hati matahari ataupun cahaya matahari. Konon katanya, kedua orangtuanya menginginkan ia selalu bersinar menerangi setiap orang dimanapun dan pada saat apapun ia berada. lahir dan besar di Medan. Selama kurang lebih 19 tahun hidup di Indonesia, khususnya di Kota Medan, membuat ia merasakan bahwa Medan adalah kampung halamannya. Ia tidak pernah mempunyai anggapan bahwa ada negara lain yang menjadi kampung halaman. Anggapan akan adanya negara lain seperti RRC, Taiwan, Hongkong dan lain sebagainya sebagai kampung halaman, pernah dirasakan oleh kakek dan neneknya karena orangtua dari keduanya memang berasal langsung dari sana. Namun, hal tersebut tidak bagi Jasinda dan kedua orangtuanya. Ini disebabkan Jasinda dan kedua orangtuanya sudah berada di Medan sejak lama.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Jasinda adalah agama Buddha. Kedua orangtua dan adiknya juga beragama Buddha. Akan tetapi ia juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen. Hubungan antara mereka yang beragama Buddha dengan keluarga yang bergama Kristen sangat baik, tidak pernah adanya pandangan negatif perihal keagamaan, yang mereka

  Pekerjaan ayah dari Jasinda adalah seorang pegawai swasta, dan ibunya seorang wiraswasta. Ayahnya adalah seorang pegawai swasta di salah satu perusahaan asuransi di daerah lubuk pakam, yang mana ia tidak dapat mengatakan nama perusahaan tersebut dikarenakan alasan tertentu, dan ibunya seorang wiraswasta di bidang catering. utamakan adalah prinsip ke-etnisaan, yaitu etnis Tionghoa dalam keluarga.

  INFORMAN 2 MIMI R.G (LI ZIA)

  Usia, Departemen/Stambuk/Semester Informan kedua pada peneliti ini adalah seorang perempuan yang juga berkuliah di semester IV, Departemen Teknik Kimia stambuk 2009. Mimi Regina Gunawan, lahir di Medan, 12 Februari 1991. Perempuan yang lahir 20 tahun silam ini mempunyai nama Tionghoa, Li Zia, yang mana ia tidak mengetahui apa makna dari nama Tionghoa nya tersebut, karena memang tidak mempunyai arti apa-apa. Ia mengambil kesimpulan bahwa nama-nama Tionghoa sama halnya dengan nama- nama orang pribumi lainnya, ada juga yang tidak mempunyai arti meskipun namanya terdengar bagus.

  Mimi lahir dan besar di Medan. Ia tidak pernah tinggal ataupun menetap di suatu kota ataupun negara lain dalam waktu yang lama. Anggapan perihal negara lain sebagai kampung halaman tidak pernah ia fikirkan meskipun ia berfikir bahwa ciri-ciri fisik yang ada pada dirinya memang lebih cocok berada di negara-negara seperti China, dll. Namun anggapan seperti itu tentunya hanya sebatas anggapan saja. Pada kenyataannya ia adalah warganegara Indonesia beretnis Tionghoa. Jadi, Indonesia adalah kampung halamannya, bukan negara lain yang penduduknya mayoritas Tionghoa.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Mimi merupakan seorang Tionghoa yang beragama Kristen Protestan. Terlahir dalam keluarga Tionghoa yang bergama Kristen, tidak membuat ia merasa asing dengan etnis Tionghoa yang umumnya beragama Buddha. Keluarga inti yang dimilikinya juga beragama Kristen Protestan, dan keluarga lainnya juga banyak yang beragama Kristen mupun Buddha.

  Ayah dari Mimi adalah seorang wiraswasta, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang hanya di rumah untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Ayahnya seorang wiraswastawan di bidang perbengkelan. Menjual kebutuhan-kebutuhan sepeda motor, becak, maupun mobil, serta melayani service kendaraan.

  INFORMAN 3 KRISNAWATI (GOH LIE YUNG)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Latar Belakang Asal Daerah Krisnawati, mempunyai nama Tionghoa, Goh Lie Yung. Lahir di Medan, 1 April 1991. Perempuan yang sekarang ini juga masih duduk di stambuk 2009 ini, juga mengaku bahwa ia dan kedua orangtuanya tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ia punya. Untuk penggunaan nama Tionghoa sendiri, nama Goh Lie Yung tersebut hanya ia gunakan ketika berada di rumah dan pada saat ia menikah ataupun meninggal nanti.

  Krisna lahir dan besar di Medan, meskipun ia pernah tinggal selama setahun di Belitung ketika berusia 4 tahun, tetapi ia merasa bahwa Medan tempat ia di besarkan. Ia juga tidak mempunyai anggapan perihal kampung halaman di negara lain selain Indonesia. Anggapan seperti itu diakuinya memang ada pada beberapa orang, tetapi bukan untuk dirinya. Kunjungan ke luar negeri seperti negara-negara dengan etnis Tionghoa, hanya dilakukan atas dasar liburan saja, tidak ada perasaan pulang kampung, karena ketika disana ia juga merasakan adanya perbedaan dengan penduduk-penduduk di negara tersebut. Jadi anggapan perihal Indonesia sebagai kampung halaman adalah benar, karena ia lebih mengenal dan lebih terbiasa dengan hal-hal yang berbau Indonesia. Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua

  Agama yang di anut ataupun yang sudah ada pada dirinya sejak ia lahir adalah agama Buddha, sama seperti mayoritas etnis Tionghoa pada umumnya. Kedua orangtuanya juga beragama Buddha. Ia juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen, akan tetapi mayoritas keluarga besarnya beragama Buddha.

  Ayah Krisna adalah seorang wiraswasta, begitu pula dengan ibunya. Keduanya merupakan wiraswasta dalam bidang perbengkelan. Keduanya menjual sparepart ataupun alat-alat sepeda motor dan sejenisnya yang juga melayani service kenderaan tersebut.

  INFORMAN 4 JOHN THEDY (YONG AN)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Latar Belakang Asal Daerah Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Jhon Thedy, yang biasanya di panggil Jhon berasal dari Medan, lahir dan John ini, lahir di Medan, pada 11 besar di Medan, dan hanya mengetahui Desember 1992. John merupakan Medan sebagai tempat satu-satunya ia mahasiswa semester II, Departemen berasal. Jadi, tidak ada anggapan anak laki-laki yang mempunyai nama kampung halaman, dan tidak pernah Tionghoa, Yong An. Dalam hal ini, ada tradisi pulang kampung yang ia John juga tidak mengetahui apa makna lakukan ke negara-negara tertentu. dari nama Tionghoa yang ia sandang. Nama Tionghoa hanya ia gunakan pada saat di rumah saja. Meskipun demikian, ia mempunyai rasa kebanggaan terhadap nama Tionghoa yang dimilikinya.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama Buddha adalah agama yang di Kedua orangtua John berprofesi sebagai anut oleh John sejak ia terlahir ke dunia wiraswasta di bidang kuliner. Keduanya ini. Kedua orangtuanya juga beragama membuka usaha rumah makan Chinese Buddha, begitu pula dengan satu orang di daerah Guruh Pattimpus Medan. kakak dan satu orang adiknya. Ia juga mempunyai keluargan yang beragama Kristen dan Islam, meskipun hanya minoritas. Kehidupan sosialisasinya dengan keluarga yang berbeda agamapun diakuinya sejauh ini baik- baik saja.

  INFORMAN 5 RUDI KIRANA (ZHENG HAO)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Latar Belakang Asal Daerah Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Rudi Kirana, mahasiswa semester II di Rudi lahir dan besar di Medan, dengan Departemen Teknik Sipil stambuk 2010 kata lain ia berasal dari Kota Medan. ini, lahir di Medan, 23 Mei 1992. Laki- Rudi mempunyai kakek dan nenek yang laki berusia 19 tahun ini mempunyai masih menetap di daratan China. Rudi artinya mulia. Penggunaan nama neneknya disana, meskipun pernah Tionghoa juga berada pada urutan pergi ke dartana China dan kedua setelah nama Indonesia yang ia mengunjungi neneknya, tetapi ia tidak sandang. Ini dikarenakan ia lahir di mempunyai anggapan bahwa China itu Indonesia, yang memang adalah kampung halamannya. Ia mengharuskan menggunakan nama- menganggap Kota Medan dan Negara nama Indonesia untuk memudahkan Indonesia lah kampung halamannya, segala hal. karena ia lahir dan besar di Indonesia.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Rudi adalah Ayah Rudi bekerja sebagai seorang agama Buddha, begitu pula dengan wiraswasta dan ibunya hanya seorang kedua orangtua nya serta kedua ibu rumah tangga. Ayahnya merupakan adiknya. Rudi tidak mempunyai guru matematika di SMA Sutomo keluarga di luar agama Buddha. Semua Medan. Sebagai etnis Tionghoa yang keluarganya sepengetahuannya semua berprofesi sebagai seorang guru beragama Buddha. memang sedikit jarang terdengar. Ia mengatakan bahwa ayahnya memang senang dengan dunia eksakta, ditambah dengan jenjang pendidikan ayahnya yang seorang Sarjana dalam bidang pendidikan matematika, menjadikan ayahnya memang harus menjadi seorang guru.

  INFORMAN 6 MICHAEL (THEO SIAN UN)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Latar Belakang Asal Daerah Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Theo Shian Un, merupakan nama Menjadi warganegara Indonesia, lahir Tionghoa dari informan keenam, dan besar di Kota Medan, awalnya Michael. Michael lahir di Medan, pada tidak membuat Michael mempunyai 19 Januari 1992. Saat ini ia duduk di fikiran akan identitas kenegaraannya. stambuk 2010. Laki-laki berusia 19 Indonesia, ia tidak membuat anggapan tahun ini tidak mengetahui makna dari bahwa ia adalah bagian dari negara- nama Tionghoa yang ada pada dirinya. negara di daratan China tersebut. Ia Nama Indonesia adalah nama yang hanya menganggap Medan lah sebagai lebih sering ia gunakan, baik itu di kota kelahirannya, karena ia lahir dan rumah, sekolah, kampus, maupun besar di Medan, dan kedua orangtuanya dalam lingkungan pergaulan. juga berada di Medan. Tetapi belakangan ini, ia juga mempunyai keinginan untuk dapat menjadi bagian dari penduduk-penduduk yang ada di daratan China. Alasannya adalah karena kenyamanan dalam berteman yang lebih ia dapatkan dengan seetnis.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Michael terlahir sebagai seseorang yang Michael hidup dalam keluarga yang beragama Buddha dari kedua orangtua berprofesi sebagai wiraswasta. yang juga beragama Buddha. Seluruh Ayahnya seorang pedagang elektronik keluarga besarnya mayoritas juga dan ibunya seorang pedagang pakaian beragama Buddha, meskipun ada di pasar petisah Medan. beberapa yang beragama Kristen.

  INFORMAN 7 SUSANTO SALIM (KEN LIE)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Latar Belakang Asal Daerah Susanto Salim, lahir di Medan, 21 November 1992. Susanto merupakan mahasiswa semester II, Departemen Teknik Industri, stambuk 2010. Susanto Ken Lie. Tetapi, sama seperti kebanyakan informan sebelumnya. Susanto juga tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ia sandang. Nama Tionghoa sendiri ia gunakan ketika ia bersekolah di SMA yang mayoritas siswanya adalah Tionghoa. Nama Tionghoa juga ia gunakan dalam lingkungan keluarga. Keluarga, khususnya kedua orangtuanya selalu memanggilnya dengan nama Ken Lie.

  Medan adalah kota kelahiran dari Susanto. Selama kurang lebih 18 tahun di Medan, ia juga mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi daratan China. Namun hal tersebut hanyalah sebatas keinginan. Ia masih lebih menganggap Indonesia lah negaranya. Susanto juga masih mempunyai saudara di daratan China, yaitu di RRC, namun ia mengatakan bahwa mereka hanyalah saudara jauh yang tidak begitu dekat dengan keluarga mereka. Jadi, tidak ada tradisi pulang kampung yang ia dan keluarganya lakukan, karena kampung halamannya adalah Kota Medan, Indonesia.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Susanto beserta keluarga besarnya adalah agama Buddha. Ada juga beberapa keluarga yang beragama Kristen, namun ia mengatakan keluarga tersebut adalah keluarga jauh.

  Ayah dan Ibu dari Susanto berprofesi sebagai wiraswasta. Ayahnya seorang pedagang elektronik dan ibunya membuka salon kecantikan.

  INFORMAN 8 PUTRA JAYA (MIN ZONG)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Latar Belakang Asal Daerah Usia, Departemen/Stambuk/Semester Putra Jaya, lahir di Medan, 11 Putra lahir dan besar di Kota Medan.

  September 1992. Putra merupakan Sejak kecil ia sudah berada di Kota mahasiswa semester II, Departemen Medan dan bertradisi selayaknya Teknik Industri, stambuk 2010. Laki- penduduk Medan. Kedua orangtua nama Tionghoa, Min Zong, dan ia juga di Medan sudah sangat lama sekali. tidak dapat mengatakan makna dari Oleh sebab itu ia menganggap nama Tionghoanya tersebut, karena Medanlah sebagai kampung faktor ketidaktahuan. Nama Tionghoa halamannya, bukan yang lain. juga hanya ia gunakan di lingkungan rumah. Nama Putra Jaya, tetap menjadi nama pertama yang ia gunakan baik dalam pergaulan antara teman-teman se-etnis maupun teman-teman di luar etnisnya. Ini diakuinya karena nama yang ada di akte kelahiran adalah nama Putra Jaya tersebut, bukan Min Zhong.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh Putra dan Pekerjaan dari kedua orangtua Putra keluarganya adalah agama Buddha. Ia adalah wiraswasta. Ayah dan ibunya juga mempunyai keluarga selain yang merupakan pedagang barang-barang beragama Buddha. Kakek dan elektronik di daerah jalan Asia Medan. neneknya ada yang beragama Kristen Katolik, tetapi mereka adalah keluarga jauh dan juga tidak tinggal di Medan.

  INFORMAN 9 ADI SURYA (CIN AN)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Latar Belakang Asal Daerah Informan kesembilan, Cin An atau yang lebih dikenal dengan nama Adi Surya, lahir di Aek Kanopan, 4 Juli 1991. Adi adalah mahasiswa semsester II, 2009. Adi mempunyai nama Tionghoa, Cin An. Nama Cin An sendiri diakuinya hanya menjadi identitas semata, karena pemakaiannya juga tidak begitu di rasakannya. Oleh sebab itu, ia juga tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa yang ada pada dirinya.

  Cin An, atau yang dikenal dengan Adi, lahir di sebuah desa kecil yang ada di daerah Mandailing Natal, yaitu Aek Kanopan. Sejak dilahirkan sampai ia daerah tersebut, dan ketika ia berusia 12 tahun, ia beserta kedua orangtuanya dan kedua abangnya pindah dan menetap di Kota Medan sampai saat ini. Ia tidak mempunyai keluarga di daratan China, ia juga tidak merasa daratan China adalah sebagai kampung halamannya. Ia lebih merasa Aek Kanopan lah sebagai kampung halamannya, karena ia lahir disana dan masa kecilnya juga berada disana. Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua

  Adi adalah seorang Tionghoa beragama Buddha, begitupula dengan kedua orangtuanya dan kedua abangnya yang juga beragama Buddha. Ia mengaku bahwa ia tidak mempunyai keluarga yang beragama Kristen, tetapi ia mempunyai keluarga yang beragama Islam. Ini disebabkan karena keluarga besarnya berada di daerah Tapanuli Selatan yang umumnya beragama Islam, jadi sejak dahulu buyut-buyutnya sudah melakukan pernikahan dengan warga-warga sekitar yang beragama Islam.

  Sama seperti etnis Tionghoa pada umumnya, pekerjaan dari kedua orangtuanya adalah wiraswasta. Ketika di Aek Kanopan, kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang kelontong, tetapi ketika pindah ke Medan orangtuanya beralih usaha menjadi usaha di bidang sparepart kenderaan bermotor dan juga melayani service kenderaan bermotor.

INFORMAN 10 MELIANA (LIE CHIN)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Latar Belakang Asal Daerah Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Meliana, lahir di Medan, 6 Agustus Meliana berasal dari Kota Medan, ia 1992. Merupakan mahasiswi lahir dan besar di Kota Medan, oleh Departemen Teknik Arsitektur, sebab itu tidak ada anggapan bagi stambuk 2010. Mahasiswi semester II dirinya bahwa adanya negara-negara Chin. Nama Tionghoa yang tidak ia menganggap Medan lah kampung ketahui artinya, karena merupakan halamannya. Keluarga yang menetap di pemberian nama dari seorang shinshe. daratan China juga tidak ada, jadi tidak Bahkan mamanya sendiri juga tidak ada tradisi pulang kampung yang ia mengetahui makna dari nama tersebut. lakukan ke negara-negara lain.

  Penggunaan nama Tionghoa juga ia akui hanya digunakan ketika ia menikah ataupun meninggal nanti. Selain itu, nama Tionggoa juga menjadi nama panggilan bagi Meliana pada saat berada di rumah.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Meliana merupakan etnis Tionghoa

  Pekerjaan dari kedua orangtua Meliana yang beragama Kristen Katolik, kedua adalah wiraswasta. Kedua orangtuanya orangtuanya juga beragama Kristen membuka usaha dalam bidang Katolik. Ia juga mempunyai keluarga penjualan sparepart kenderaan besar yang beragama Buddha. Keluarga bermotor, becak dan kendaraan yang beragama Kristen maupun yang sejenisnya. Usaha tersebut berada di bergaama Buddha, menurutnya sama Jalan Jamin Ginting, lebih tepatnya di besarnya dan sama tingkat dekat simpang kampus Universitas kedekatannya, tidak ada pembedaan Sumatera Utara. yang ia lakukan.

INFORMAN 11 ANTON HALIM (LIM SEN TONG)

  Latar Belakang Nama, Jenis Kelamin, Usia, Departemen/Stambuk/Semester

  Latar Belakang Asal Daerah Anton Halim, lahir di Medan, 10 Juli 1992. Mempunyai nama Tionghoa, Lim Sen Tong, yang menurutnya mempunyai arti “dasar-dasar yang semester II, Departemen Teknik Arsitektur, stambuk 2010. Anton juga tidak merasakan pemakaian nama Tionghoa yang efisien dalam kesehariannya. Nama yang ia gunakan dalam kesehariannya adalah nama Indonesia bukan nama Tionghoa. Akte kelahiran, ijazah, sim, sampai pada panggilan keluarga juga memakai nama Indonesia, Anton Halim.

  Sejak lahir, Anton sudah berada di Medan, sampai ia berusia 19 tahun, ia masih tetap menetap di Medan. Anton tidak pernah tinggal di suatu kota yang lama. Ia pernah melakukan kunjungan ke Bandung, Jakarta, Singapur, dan lain sebagainya, tetapi hanya sebatas liburan saja, tidak ada istilah menetap dalam konteks waktu yang lama. Ia juga tidak mempunyai keluarga lain, selain di Indonesia, sehingga tidak ada istilah pulang kampung ke luar Indonesia yang ia lakukan.

  Latar Belakang Agama Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Agama yang di anut oleh pria berusia 19 tahun ini adalah agama Buddha. Kedua orangtuanya juga beragama Buddha, begitupula saudara-saudaranya yang lain. Ia juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen, dan itu menurutnya suatu kewajaran, sama seperti etnis Tionghoa pada umumnya.

  Sama seperti etnis Tionghoa pada umumnya, dan sama seperti kebanyakan informan pada umumnya, pekerjaan dari kedua orantua Anton adalah wiraswasta. Ayah dan ibunya, keduanya membuka usaha panglong di daerah Jalan Japaris, atau yang lebih dikenal dengan Jalan Rahmadsyah.

IV.1.2 Kesimpulan Latar Belakang Informan

  Berdasarkan hasil tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah informan laki-laki sebanyak 7 orang dan informan perempuan sebanyak 4 orang dari jumlah informan secara keseluruhan yaitu 11 orang. Berdasarkan data yang dapat dilihat di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa sebagian besar informan dalam penelitian ini adalah laki-laki.

  Hal ini disebabkan karena sebagian besar mahasiswa yang ada di Fakultas Teknik adalah laki-laki, sehingga lebih mudah untuk mendapatkan informan laki-laki dibanding informan perempuan.

  Usia informan menunjukkan bahwa usia informan 18 tahun adalah sebanyak 4 orang, untuk usia 19 tahun sebanyak 5 orang, dan untuk usia 20 tahun adalah sebanyak 2 orang dari total keseluruhan informan sebanyak 11 orang. Ini menunjukkan bahwa dari keseluruhan informan penelitian, mahasiswa etnis Tionghoa yang banyak dijadikan informan penelitian adalah mereka yang berusia 19 tahun, ketidaksengajaan ini tentunya didapat karena teknik pengumpulan data yang menggunakan teknik snowball, sehingga secara tidak sengaja mereka yang berusia 19 tahunlah yang banyak jadi informan penelitian.

  Untuk departemen ataupun jurusan yang di duduki oleh informan penelitian, dapat dilihat bahwa Departemen Teknik Arsitektur 2 orang, Departemen Teknik Elektro 1 orang, Departemen Teknik Industri 2 orang, Departemen Teknik Kimia 3 orang, Departemen Teknik Mesin 1 orang, dan Departemen Teknik Sipil sebanyak 2 orang dari 11 orang informan penelitian. Dari data yang dilihat di atas, dapat kita simpulkan bahwa informan penelitian berasal dari seluruh Departemen yang ada di Fakultas Teknik.

  Berdasarkan tabel tersebut, orang-orang yang terpilih menjadi informan penelitian dapat terlihat jelas sebagian besar adalah mereka yang berada di stambuk 2010. Stambuk 2009 sebanyak 4 orang, dan stambuk 2010 sebanyak 7 orang dari 11 orang informan penelitian. Hal ini disebabkan karena informan yang kebetulan memang banyak peneliti temui adalah mereka-mereka yang berada di stambuk 2010.

  Untuk semester, sama seperti karakteristik stambuk di atas. Dapat dilihat bahwa informan yang masih duduk di semester II adalah 7, dan informan yang berada di semester IV adalah sebanyak 4 orang dari 11 orang informan penelitian. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa informan penelitian kebanyakan mereka yang masih berada di semester II.

  Latar belakang informan berdasarkan asal daerah, terlihat jelas dari tabel di atas bahwa keseluruhan informan penelitian adalah berasal dari Kota Medan. Berdasarkan informasi yang di dapatkan dari kesebelas informan, sebagian besar mahasiswa etnis Tionghoa yang ada di Fakultas Teknik memang berasal dari Kota Medan. Dalam penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa ada 10 orang informan sejak dilahirkan sudah berada di Kota Medan, sedangkan 1 orang informan lagi sejak ia lahir sampai ia berusia 11 tahun, ia berada di daerah Aek Kanopan, Mandailing Natal. Setelah berusia 12 tahun barulah ia beserta keluarganya pindah dan memilih untuk menetap di Kota Medan. Kesebelas informan tidak mempunyai anggapan bahwa ada negara lain selain Indonesia yang mereka anggap sebagai kampung halaman. Anggapan negara lain selain Indonesia sebagai kampung halaman, biasanya lebih dirasakan oleh kakek dan nenek mereka, karena orangtua dari kakek dan nenek mereka alias buyut mereka, masih ada beberapa yang berasal dari daratan China. Berbeda dengan para informan yang sudah menganggap Kota Medan dan Negara Indonesia sebagai kampung halaman karena sejak lahir sudah berada di Indonesia. Ada di antara mereka yang mengaku bahwa masih punya saudara di luar negeri, yaitu di Taiwan, akan tetapi itu hanyalah saudara jauh yang tidak begitu dekat dengan mereka. Jadi, tidak ada anggapan bahwa mereka mempunyai kampung halaman di luar Indonesia. Tidak ada tradisi pulang kampung ke luar negeri yang mereka lakukan. Kunjungan ke luar negeri hanya sebatas liburan semata saja. Meskipun pada dasarnya, ada 2 orang informan yang menyadari identitas fisik mereka yang seharusnya berada di negara-negara daratan China, bukan di Indonesia. Namun, pemikiran seperti itu mulai berubah seiring dengan bertambahnya usia dan pemikiran yang semakin matang. Mereka terlahir dan hidup di Kota Medan, jadi kampung halaman yang mereka anggap adalah Kota Medan, Negara Indonesia.

  Informan yang beragama Buddha adalah sebanyak 9 orang, informan yang beragama Kristen Katolik 1 orang dan yang beragama Kristen Protestan 1 orang dari 11 orang jumlah informan penelitian. Mayoritas etnis Tionghoa itu lazimnya adalah beragama Buddha. Jadi, ketika melakukan penelitian di kampus Fakultas Teknik, kebanyakan informan-informan yang ditemukan adalah mereka yang memang beragama Buddha. 2 orang informan yang beragama Kristen, menyadari bahwa agama mereka berada di urutan kedua dalam etnis Tionghoa berdasarkan konteks keagamaan, tetapi hal tersebut tidak mengurangi kesadaran mereka akan identitas etnis Tionghoa mereka. Informan yang beragama Buddha juga mempunyai keluarga yang beragama Kristen, begitupula sebaliknya, informan yang bergama Kristen Juga mempunyai keluarga yang beragama Buddha. Tidak itu saja, mereka yang beragama Buddha, juga mempunyai keluarga yang beragama Islam, meskipun hanya dalam skala minoritas saja. Akan tetapi hubungan kekeluargaan dengan keluarga yang berbeda-beda agama tetap terjalin dengan baik, karena mereka tetap mengutamakan konsep ke-etnis-an.

  Tabel di atas menunjukkan pekerjaan ayah dari informan-informan penelitian. Guru 1 orang, Pegawai swasta 1 orang, dan Wiraswasta sebanyak 9 orang dari total 11 informan. Sesuai dengan kebanyakan bidang pekerjaan dari etnis Tionghoa pada umumnya yaitu wiraswasta. Jadi, tidak heran lagi jika sebagian besar pekerjaan ayah dari informan penelitian ini adalah seorang wiraswastawan.

  Salah satu pekerjaan dari ayah informan dalam penelitian ini adalah seorang guru. Tentunya ini adalah suatu hal yang baru yang diketahui dari etnis Tionghoa dari sisi pekerjaannya. Ayah dari informan kelima ini adalah seorang guru matematika di salah satu SMA Swasta di Kota Medan. Menjadi seorang guru memang menjadi hal yang sudah diinginkan oleh ayah dari informan kelima tersebut. Kecintaannya terhadap dunia eksakta khususnya matematika, membuatnya mempunyai niat untuk menjadi seorang guru, dan itu di wujudkannya dengan menimba ilmu di bangku kuliah di jurusan matematika.

  Pekerjaan sebagai seorang guru tidak menjadikan ayah dari informan kelima ini merasa rendah hati ataupun keluar dari stereotype etnis Tionghoa dari sisi pekerjaan.

  Baginya, semua pekerjaan itu bebas di jalani oleh orang-orang dari etnis manapun, tidak ada pengecualian.

  Ayah dari informan pertama, berprofesi sebagai seorang pegawai swasta di salah satu perusahaan sawit di daerah Lubuk Pakam, sedangkan kesembilan informan lainnya, profesi orangtua mereka adalah wiraswasta yang bergerak dalam bidang usaha yang berbeda-beda mulai dari usaha perbengkelan, rumah makan, elektronik, sampai pada usaha panglong.

  Berdasarkan dari tabel di atas, dapat di lihat pula pekerjaan ibu dari informan- informan penelitian ini sebagian besar juga wiraswasta yaitu sebanyak 9 orang, dan sisanya adalah ibu rumah tangga sebanyak 2 orang saja dari 11 orang jumlah informan pada penelitian ini.

  Umumnya ibu ikut dengan ayah dalam membuka usaha, tetapi berbeda dengan 2 orang informan yang ibunya mempunyai aktivitas/kegiatan yang berbeda dengan ayah mereka. Kedua orang informan tersebut ayahnya bekerja sebagai pedagang elektronik, tetapi ibu mereka membuka usaha pakaian (butik) dan salon kecantikan. Untuk 2 orang ibu yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga, mereka tidak sepenuhnya tidak mempunyai kegiatan yang bermanfaat untuk dapat membantu keuangan rumah tangga.

  Mereka juga mempunyai usaha kecil-kecilan seperti membuat kue jika ada pesanan, dan menerima jahitan jika ada yang ingin menempah pakaian. Namun, itu hanya usaha sampingan saja, karena prioritas utama mereka adalah mengurus rumah tangga atau yang di sebut dengan ibu rumah tangga.

  IV.2 Identitas Etnis

  Dalam tahapan ini, peneliti terlebih dahulu mendeskripsikan identitas etnis yang dimiliki oleh masing-masing informan penelitian secara satu-persatu. Setelah melakukan pendeskripsian identitas etnis yang dimiliki oleh informan-informan tersebut, kemudian peneliti mengelompokkan 11 informan ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu mampu mengenali, kurang mampu mengenali, dan tidak mampu mengenali.

  Berikut adalah deskripsi identitas etnis yang dimiliki oleh kesebelas informan penelitian:

  IV.2.1 Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian

  INFORMAN 1 JASINDA (XIN ER)

  Sebagai warganegara Indonesia keturunan Tionghoa, Jasinda tentu mempunyai nama Tionghoa yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Untuk nama Tionghoa yang di milikinya, Jasinda mampu memberikan pemaknaan terhadap nama Tionghoanya tersebut.

  “Nama Tionghoa aku itu tuh, Xin Er. Kalo artinya hati matahari atau cahaya matahari. Orangtua aku pengen aku kayak matahari selalu terang. Hehee”

2 Jasinda mampu mengenali identitas etnisnya, dari mana ia berasal dan dimana seharusnya ia berada berdasarkan wujud fisik yang dimilikinya.

  “Kalo dilihat dari fisik saya, orang tahu kalo saya orang China, dan saya juga menganggap seharusnya saya itu memang jadi bagian dari orang-orang di Negara China sana, tetapi karena saya lahir dan besar di Medan, ya saya jadi bagian negara inilah bang, bukan negara China itu”.

3 Menjadi etnis Tionghoa beragama Buddha, merupakan identitas utama yang ia

  miliki, karena etnis Tionghoa itu umumnya dikenal dengan masyarakat kulit putih bermata sipit yang beragama Buddha.

  Identitas etnis Tionghoa yang selanjutnya ada pada Jasinda adalah pekerjaan orangtuanya. Ibunya merupakan seorang wiraswasta, sama halnya dengan pekerjaan warga Tionghoa pada umumnya, dan ini menunjukkan salah satu identitas etnis yang di tonjolkannya dalam kategori pekerjaan orangtua. 2 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 13 Juni 2011. 3 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 13 Juni 2011.

  Mengenai nilai-nilai yang dimiliki sebagai seorang etnis Tionghoa, Jasi menjelaskan bahwa sebagai seorang etnis Tionghoa, nilai-nilai yang ia pegang adalah nilai-nilai tradisi seperti cara berpakaian dan cara berbicara, yang mana keduanya harus sopan dan santun. Menurut Jasi, etnis Tionghoa itu akan terlihat menonjol dari cara berpakaiannya yang sopan dan cara berbicaranya yang santun, bukan dari warna kulitnya yang putih ataupun bola matanya yang kecil alias sipit.

  Sebagai etnis Tionghoa yang ber-studi di kampus yang mayoritas mahasiswa nya pribumi, penting bagi Jasi untuk menunjukkan identitas etnis dirinya sebagai seorang etnis Tionghoa. Bagi Jasi cara yang paling sering ia lakukan adalah dengan berperilaku yang baik kepada semua orang supaya hal itu juga dapat berpengaruh terhadap pandangan orang akan etnis nya.

  

“Untuk perilaku, saya harus menunjukkan sikap yang baik kesemua orang

yang saya temui, karena kalo saya bersikap baik kan pasti image saya di

mata orang itu akan baik, dan itu akan berpengaruh pula pada pandangan

  4 orang terhadap etnis saya.”

  Ketika peneliti menanyakan apakah jika di beri kesempatan untuk jadi etnis lain, apakah Jasi ingin berpindah menjadi etnis lain atau akan tetap menjadi seorang Tionghoa, Jasi menjawab bahwa ia mempunyai keinginan untuk menjadi etnis lain, menjadi bagian dari orang-orang Barat. Ia menganggap bahwa orang-orang Barat itu segala sesuatu nya lebih bebas dan lebih maju, di bandingkan orang-orang Asia. Tetapi itu hanya keinginan, khalayan yang belum tentu bisa terjadi. Jasi mengatakan seperti itu karena di dalam ajaran agama nya ada ajaran yang mengatakan bahwa mereka bisa terlahir kembali. Nah, karena itu lah Jasi ingin menjadi bagian dari kehidupan yang lain. Tetapi menjadi etnis

4 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011.

  Tionghoa tetap menjadi hal yang harus Jasi syukuri sekarang dan harus di cintai dan di jaga.

  

“Saya ingin menjadi orang barat, karena lebih bebas dan lebih maju

hahahaa. Saya hanya ingin menjadi sesuatu yang beda aja dari sekarang.

Karena di agama kami kan, terlahir kembali itu ada, dan saya ingin jadi

  5 diri saya yang lain.”

  Untuk menambah kecintaanya terhadap etnis Tionghoa, Jasi juga ikut bergabung dengan suatu kegiatan organisasi kampus yaitu Keluarga Mahasiswa Buddhist (KMB).

  Organisasi yang beranggotakan mahasiswa-mahasiswi Tionghoa beragama Buddha dari seluruh Fakultas di Universitas Sumatera Utara. Organisasi ini tidak hanya beranggotan etnis Tionghoa dari 1 golongan status sosial saja, melainkan dari berbagai golongan status sosial. Tetapi karena memang mayoritas status sosial sebagian besar mahasiswa Tionghoa adalah keluarga wiraswasta atau pedagang, jadi terlihat seolah-olah yang menjadi anggota dari organisasi itu adalah mereka yang dari keluarga pedagang saja.

  Perihal harapan mengenai masa depan etnis Tionghoa, Jasi menanggapi nya dengan bijaksana. Jasi menginginkan masa depan yang cerah bagi semua etnis Tionghoa, serta kedepannya etnis Tionghoa juga mempunyai visi dan misi yang lebih baik lagi. Menurutnya, nilai-nilai Tionghoa sekarang ini sudah mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Sama hal nya juga seperti nilai-nilai yang di miliki oleh etnis-etnis lainnya yang ada di Indonesia.

  Untuk makna dari identitas etnis sendiri bagi Jasi, Jasi memaknai nya sebagai pegangan atau nilai, dan identitas tersebut tentu nya akan sangat penting, khususnya untuk dapat membedakan dirinya dengan yang lain. Jasi menambahi, identitas etnis bermakna sebagai ciri khas bagi setiap etnis Tionghoa, khususnya bagi dirinya, memiliki 5 kebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat yang beraneka-ragam.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011.

  “Yaa menjadi ciri khas bagi setiap etnis Tionghoa, memiliki kebudayaan,

tradisi, dan adat-istiadat yang beraneka-ragam. Jadi saya harus

  6 banggalah dengan etnis saya.”

  Kesimpulan Kasus:

  Secara umum, dapat dikatakan bahwa Jasi memiliki identitas etnis yang cukup tinggi. Ia mampu memaknai nama Tionghoa yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Ia mampu mengenali daerah daratan China sebagai tempat etnisnya berasal. Ia menganggap agama Buddha sebagai pengenal identitas etnisnya. Pekerjaan orangtua sebagai wiraswasta dan pegawai swasta juga menjadi salah satu penambah identitas etnis yang ia miliki. Ia menganggap sebagai etnis Tionghoa, ia harus menjaga serta mensyukuri apa yang telah diberikan kepadanya, meskipun pada kenyataannya Jasi mempunyai keinginan untuk dilahirkan kembali menjadi bagian dari etnis lain, tetapi itu hanyalah sebatas keinginan kedua yang memang ada di dalam ajaran agama nya. Tetapi pada dasarnya, Jasi tetap bangga menjadi bagian dari etnis Tionghoa.

  Perihal identitas etnisnya, Jasi yakin dapat mengenali in-group nya, dan tentunya itu dapat membuktikan bahwa Jasi mampu mengenali etnisnya sendiri dan mampu mengenali perbedaan yang ada di antara kelompok etnis Tionghoa dengan kelompok mahasiswa pribumi. Untuk sikap sense of belonging dan komitmen Jasi terbilang cukup tinggi, tetapi Jasi belum mempunyai pemahaman perihal kecintaannya tersebut. Jasi hanya sekedar mengatakan bahwa ia bangga menjadi seorang etnis Tionghoa, tetapi ia tidak mengatakan dengan jelas alasan perihal kecintaannya tersebut.

6 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011.

  INFORMAN 2

Mimi R.G (Li Zia)

  Mimi Regina Gunawan, atau yang di kenal dengan Mimi, mempunyai nama Tionghoa, Li Zia. Ia tidak mampu memberikan pemaknaan terhadap makna nama Tionghoa yang ada pada dirinya. Menurutnya, nama Tionghoa yang ia sandang memang tidak mempunyai arti. Ia menganggap bahwa nama Tionghoa itu juga sama seperti nama- nama Indonesia yang juga tidak mempunyai arti, meskipun terdengar bagus.

  Menurut Mimi, nilai-nilai yang dimilikinya sebagai seorang etnis Tionghoa itu terlihat jelas melekat pada perilakunya yang merupakan cerminan dari tradisi dan kebudayaan Tionghoa, seperti bersopan-santun kepada semua orang, menghormati kedua orangtua, dosen-dosen, teman-teman yang berbeda tradisi dan kebudayaan, dan lain-lain.

  “Nilai yang melekat pada saya memang dapat dilihat dari perilaku saya, dan perilaku saya merupakan cerminan dari tradisi dan kebudayaan saya sebagai seorang etnis Tionghoa. Kebudayaan yang saya punya itu ya cara

saya bersopan-santun kepada semua orang, menghormati kedua

orangtua, dosen-dosen, teman-teman yang berbeda tradisi dan

  7 kebudayaan, dan lain-lain nya lah.” Mimi mengatakan bahwa tradisi Tionghoa itu berasal dari tradisi Buddha.

  Meskipun Mimi beragama Protestan, tetapi nilai-nilai Buddha itu tetap ada di dalam tradisi. Salah satunya yaitu menghidupkan dupa di depan halaman rumah dan ruko tempat kerja.

  Mimi lebih lanjut menambahkan perihal identitas etnis Tionghoa,

  “Etnis Tionghoa cenderung bersikap resolusi terhadap etnis, dan itu membuat etnis Tionghoa mengerti bagaimana perasaan terhadap etnis dan menyukai kehidupan

serta budaya etnis Tionghoa, karena 100 % dari mahasiswa etnis Tionghoa pasti

7 menyatakan kadang-kadang dan tidak pernah pada pernyataan ”Saya tidak mengerti Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  bagaimana perasaan saya terhadap etnis Tionghoa”, atau “Saya tidak suka hidup saya

  8 dipengaruhi oleh budaya etnis Tionghoa”.

  Jadi, dalam hal ini wujud konkret yang dilakukan Mimi untuk menunjukkan identitas etnis Tionghoa mereka, yaitu dengan menunjukkan citra baik kepada siapa saja dan bersembahyang sebagai kaum yang bersopan santun dan menjalankan nilai-nilai Buddha. Mimi juga menambahkan, sebagai seorang etnis Tionghoa yang berstudi di kampus pribumi, Mimi harus mampu menjadi diri sendiri, tetapi tetap memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang harus dan akan terjadi di dalamnya.

  Mimi mengatakan bahwa menjadi seorang Tionghoa itu adalah sebuah keunikan tersendiri baginya, dan jika dilahirkan kembali, Mimi tetap akan memilih terlahir sebagai etnis Tionghoa, karena Mimi mengatakan bahwa dirinya sudah nyaman dengan etnis ini.

  Bayangan Mimi perihal masa depan etnis Tionghoa ke depannya akan kekal sepanjang masa. Mimi berharap etnis Tionghoa untuk lebih menjadi kelompok yang berbudaya, dengan itu etnis Tionghoa beserta budaya nya akan terlihat lebih besar lagi oleh budaya lainnya.

  Mengenai sikap sense of belonging yang identik ada pada setiap etnis, Mimi mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu penganut asumsi seperti itu. Meskipun hidup dan bergaul dengan berbagai etnis, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya akan tetap mencari dan menomor satukan etnis nya dimanapun ia berada. Mimi mengatakan bahwa identitas etnis Tionghoa itu merupakan jati dirinya sebagai manusia. Ia yang kebetulan terlahir sebagai seorang keturunan Tionghoa, yang mempunyai kebudayaan, tradisi, serta adat-istiadat yang beraneka ragam, dan Mimi tentunya bangga 8 dengan semua itu.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 13 Juni 2011.

  “Identitas etnis Tionghoa bermakna, jati diri saya sebagai manusia yang

kebetulan dilahirkan sebagai seorang Tionghoa yang berkebudayaan,

tradisi, dan adat-istiadat yang beranekaragam, dan saya harus bangga

  9 dan mensyukurinya.”

  Kesimpulan Kasus:

  Mimi memiliki nilai-nilai identitas etnis yang cukup tinggi. Mimi mampu mengenali in group maupun out group nya. Komitmen dan rasa sense of belonging nya terhadap kelompok etnis nya juga sangat tinggi, dan hal tersebut mampu mendorongnya sering terlibat dalam aktivitas kelompok. Mimi juga memahami akan rasa kecintaannya tersebut pada kelompok dan budayanya sebagai suatu hal yang mendorongnya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai Tionghoa yang dimilikinya dan Mimi juga mampu memberikan harapan-harapan positif untuk masa depan etnis Tionghoa ke depannya.

  Identitas etnis yang cukup tinggi tidak menjadikan Mimi sebagai seorang etnis yang etnosentris. Tidak ada masalah mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya nya dengan mahasiswa pribumi. Mimi tidak merasakan adanya kecemasan karena perbedaan budaya khususnya perbedaan nilai-nilai.

  INFORMAN 3 KRISNAWATI (GOH LIE YUNG) Identitas etnis utama yang di miliki oleh Krisna adalah nama Tionghoa.

  Mempunyai nama Tionghoa, Goh Lie Yung menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Meskipun tidak mengetahui makna dari nama Tionghoa, tetapi nama tersebut 9 mampu memberikan pemaknaan terhadap identitas etnisnya sebagai etnis Tionghoa.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  Krisna sebagai informan kedua menjelaskan bahwa nilai-nilai yang ia miliki sebagai etnis Tionghoa itu, nilai kesopanan dan nilai-nilai agama. Salah satu nya yaitu bersembahyang, sebagai seorang Buddist yang taat. Bersembahyang akan dapat menunjukkan identitas nya sebagai etnis Tionghoa yang taat kepada agama dan tradisi, begitu penuturannya.

  

“Ohh, nilai kesopanan dan agama. Misalnya bersembahyang.

Sembahyang menunjukkan identitas saya sebagai seorang Tionghoa yang taat kepada agama dan tradisi.”

10 Krisna menuturkan bahwa memang etnis Tionghoa itu identik dengan agama Buddha, jadi orang Tionghoa biasanya membawa nilai-nilai Buddha.

  Jika dilahirkan kembali, Krisna memilih untuk terlahir kembali menjadi etnis lain, menjadi orang dari bagian barat. Pernyataan Krisna ini tentunya diiringi oleh alasannya.

  Jasi mengatakan bahwa tujuannya ia ingin lebih mengenal kebudayaan dari etnis lain. Krisna membayangkan perihal maha depan etnis Tionghoa untuk lebih maju dari sekarang, dan etnis Tionghoa semakin banyak komunitasnya di seluruh dunia.

  Jasi mampu mengenali perbedaan identitas etnis Tionghoa asli dengan identitas etnis Tionghoa peranakan. Perbedaan identitas etnis tersebut berhubungan dengan ciri fisik kedua kelompok tersebut. Tubuh merupakan unsur pokok yang paling jelas terlihat dalam identifikasi. Tubuh adalah unsur biologis yang tidak dapat dibantah, diperoleh sebagai warisan yang paling penting.

  “Pada mahasiswa etnis Tionghoa asli ciri fisik masih sangat terlihat karena berasal dari orang tua yang memiliki ciri fisik etnis Tionghoa yang jelas misal mata sipit, kulit putih dan rambut lurus, sedangkan pada mahasiswa etnis Tionghoa peranakan biasanya hanya mewariskan campuran dari ciri fisik etnis Tionghoa dan ciri fisik masyarakat Indonesia misal memiliki mata sipit dengan kulit coklat dengan rambut 10 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011.

  lurus atau sebaliknya sehingga mahasiwa etnis Tionghoa peranakan

  11 lebih menyerupai masyarakat Indonesia asli” .

  Berdasarkan kriteria yang dilakukannya tersebut, Krisna merasa bahwa ia masih termasuk etnis Tionghoa asli, karena sesuai dengan kriteria-kriteria yang ia ucapkan tadi.

  Dalam keluarga juga tidak ada pernikahan campuran yang dilakukan dengan masyarakat pribumi.

  Bagi Krisna, etnis Tionghoa itu adalah etnis yang ulet, pekerja keras dan bisa diandalkan. Etnis Tionghoa terkenal karena keuletannya. Oleh sebab itu pula etnis Tionghoa penuh dengan kesuksesan. Sebagai anak dari seorang pedagang, Krisna juga berniat untuk menerusi usaha keluarganya suatu saat nanti. Menurutnya menjadi seorang pedagang mempunyai kepuasan tersendiri akan hasil usaha yang di dapat. Sebagai anak dari seorang wiraswasta, Krisna tidak pernah membeda-bedakan teman dalam pergaulan sesama etnis. Tidak ada alasan buatnya untuk membeda-bedakan teman.

  Kesimpulan Kasus:

  Identitas etnis yang tinggi juga dimiliki oleh Krisna. Krisna mengakui bahwa dirinya tidak terlalu kaku dalam mengenali in-group nya. Rasa sense of belonging serta komitmen pada kelompok etnisnya juga sangat tinggi, dan tentu hal tersebut mendorong minatnya di dalam kelompok, dan oleh sebab itu ia sering terlibat dalam aktivitas kelompok seperti organisasi-organisasi ke-etnis-an yang ada di lingkungan kampus. Krisna juga memahami akan rasa kecintaannya pada kelompok budaya etnisnya sendiri dan menjadikannya untuk tetap mempertahankan nilai-nilai Tionghoa yang dimilikinya.

11 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 13 Juni 2011.

  Krisna mampu memberikan pemaknaan terhadap perbedaan identitas etnis Tionghoa asli dengan etnis Tioghoa peranaka, dan ia menganggap bahwa ia termasuk pada golongan etnis Tionghoa asli, berdasarkan kriteria yang telah diutarakannya.

  Dalam hal ini, Krisna juga memberikan harapan positif tentang masa depan etnis Tionghoa ke depannya. Krisna menginginkan masa depan yang lebih maju lagi bagi semua komunitas etnis Tionghoa di seluruh dunia. Krisna juga mampu memberikan evaluasi positif terhadap etnisnya, yaitu perihal ibadah dan cara melakukannya yang berbeda antara agama Islam dengan tradisi Buddha. Kecintaanya terhadap etnis Tionghoa ditambahinya dengan berspekulasi bahwa etnis Tionghoa itu adalah etnis yang pekerja keras, ulet. Oleh sebab itulah etnis Tionghoa di seluruh dunia itu maju.

  INFORMAN 4 JOHN THEDY (YONG AN)

  John, begitu ia di panggil, ketika ditanya mengenai nilai-nilai budaya Tionghoa yang dimilikinya, John hanya menjawab singkat.

  “Nilai-nilai Tionghoa terkenal dengan nilai-nilai kemanusiaannya,

  12 keagamaan, sopan-santun, dan tata tertib”.

  Sama seperti nilai-nilai yang di anut oleh oleh timur pada umumnya. Menurutnya, nilai- nilai seperti itu kemungkinan juga dimiliki oleh etnis Tionghoa, dan kebungkinan tidak.

  Perbedaan fisik dengan masyarakat pribumi juga menjadi salah satu identitas etnis yang ada pada dirinya, sehingga menyebabkan ia merasa berbeda dengan mahasiswa etnis asli Indonesia dan timbul sikap afirmasi terhadap etnis dengan cara mencari orang yang sama 12 dengan mereka, berkelompok dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan etnis mereka.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011. Misalnya sama-sama menjalankan upacara adat istiadat, melakukan ritual-ritual dan kegiatan-kegiatan yang erat hubungannya dengan etnis mereka. Hal ini ditunjukkan dengan menyatakan tidak pernah pada pernyataan,

   ”Saya merasa terpaksa menjalankan adat istiadat, kebiasaan dan

  13 norma etnis Tionghoa dalam keluarga dan kehidupan saya”.

  Mempunyai nama Tionghoa, meskipun tidak dapat menyebutkan makna dari nama Tionghoanya tersebut dikarenakan tidak mempunyai arti sama sekali, tetapi ia merasa mempunyai kebanggan tersendiri perihal namanya tersebut, karena menjadi suatu identitas penting dalam dirinya sebagai etnis Tionghoa.

  “Arti nama Tionghoa aku tuh nggak ada lah bang, memang nggak ada artinya lah. Hehehe. Hhhmm.. gimana ya? Memang nggak ada artinya. Tapi aku tetap bangga lah punya nama Tionghoa, selain keren kayak nama-nama orang Korea, aku jadi punya kebanggaan

  14 sama nama Tionghoaku itu, biarpun nggak ada artinya. Hahaa”

  Menjadi etnis Tionghoa beragama Buddha dan kedua orangtua berprofesi sebagai pedagang, juga menjadi kebanggaan bagi dirinya sendiri. Sesuai dengan stereotype warganegara Tionghoa pada umumnya, dan hal tersebut juga menjadi satu identitas etnisnya sebagai etnis Tionghoa.

  “Aku bersyukur dan bangga juga lah lahir jadi orang China, agama Buddha, kerjaan ortuku juga pedagang sekarang ini. Jadi, sesuai lah sama orang-orang China yang lain. Jadi, itukan juga jadi identitas etnis

  15 aku kan bang”.

  Mempunyai nilai-nilai seperti itu tentunya menimbulkan kebanggaan buat John. Itu merupakan suatu warisan yang harus dijaga dan dibanggakan. John mengunggapkan, nilai-nilai lainnya yang umunya dimiliki oleh etnis Tionghoa adalah nilai kasih sayang 13 sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya. 14 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 13 Juni 2011. 15 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 13 Juni 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 13 Juni 2011.

  Kasih sayang antar sesama, manusia, maupun makhluk hidup harus tetap dijaga, karena itu adalah nilai budaya yang sudah dilakukan semenjak dahulu kala.”

16 John juga tergabung di dalam suatu organisasi kampus yang beranggotakan dari

  mahasiswa-mahasiswa Buddha yang ada di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara. Organisasi yang sebenarnya hanya diikuti oleh etnis Tionghoa ber agama Buddha, tetapi ada juga mahasiswa Buddha Non-Tionghoa yang pernah ikut dalam organisasi tersebut.

  

“Sebenarnya organisasi yang saya ikuti itu yaitu KMB (Keluarga

Mahasiswa Buddhis) yaitu organisasi mahasiswa Buddhis, namun pernah

ada juga yang ikut bergabung dalam organisasi ini meski ia bukan

Tionghoa ataupun minoritas.”

17 Menurut John, wujud konkret yang sering ia lakukan untuk menunjukkan identitasnya sebagai etnis Tionghoa adalah dengan menunjukkan sikap rendah hati.

  Menunjukkan sikap rendah hati tentunya dengan tujuan supaya orang-orang tahu bahwa etnis Tionghoa itu baik. John juga membayangkan perihal masa depan etnis Tionghoa kedepannya akan seperti apa. John berharap, untuk kedepannya etnis Tionghoa dalam mengerjakan segala sesuatunya, tidak harus memandang dari sisi etnisnya terlebih dahulu. Hal ini bertujuan supaya etnis lain tahu bahwa etnis Tionghoa itu tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya.

  Makna dari identitas etnis itu sendiri bagi John sangat berharga. Apa yang sudah ada pada diri kita harus kita hargai. Tidak hanya sebagai etnis Tionghoa, tetapi jika John terlahir sebagi etnis lain pun, John akan berusaha untuk menghargainya.

  “Identitas etnis Tionghoa itu sama halnya dengan identitas etnis yang lain, ini tergantung kitanya, tergantung dari diri kita masing-masing bagaimana memaknai identitas etnis tersebut. Nah, kalo bagi aku sih, 16 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011. 17 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011.

  etnis Tionghoa bermakna segalanya bagi aku. Aku terlahir sebagai seorang Tionghoa dan aku harus menghargainya. Mungkin kalo aku terlahir sebagai orang batak, aku juga akan tetap menghargainya.

  18 Karena pada dasarnya kita hanyalah manusia.” Kesimpulan Kasus:

  John memiliki identitas etnis yang tinggi. Ini dapat disimpulkan secara sederhana dari kemampuannya dalam mengenali dentitas etnis yang ada pada dirinya, mulai dari arti nama Tionghoa bagi hidupnya, agama Buddha yang di anutnya, pekerjaan orangtuanya berdasarkan stereotype etnis Tionghoa, sampai pada nilai-nilai budaya dan tradisi etnis Tionghoa pada umumnya. Rasa sense of belonging yang dimiliki juga menjadikan John pada kriteria mampu mengenali identitas etnisnya, karena ia akan membutuhkan orang- orang dari etnisnya terlebih dahulu dalam mencari kecocokan.

  John yakin bahwa dirinya mempunyai pengetahuan terhadap etnisnya, baik mengenai bahasa serta nilai Tionghoa lainnya, jadi ia tidak takut akan kehilangan nilai- nilai tersebut selama ia masih menjaganya.

  INFORMAN 5 RUDI KIRANA (ZHENG HAO)

  Menurut Rudi, nilai-nilai yang dimilikinya sebagai seorang yang beretnis Tionghoa adalah menjunjung tinggi kebersamaan dan saling menghormati perbedaan satu sama lainnya. Nilai-nilai lainnya yaitu menghormati leluhur dan tradisi imlek. Baginya nilai-nilai Tionghoa adalah nilai-nilai yang baik, yang patut untuk di jaga dan di 18 pertahankan.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011.

  Untuk menunjukkan identitas etnisnya sebagai seorang Tionghoa, selain warna kulit yang putih dan mata yang sipit, hanya ada satu cara yang memungkinnya dapat melakukan hal tersebut yaitu dapat berbicara dengan bahasa dan logat mandarin. Oleh sebab itu, saat ini dirinya sedang giat-giatnya belajar bahasa mandarin supaya tidak memalukan dirinya sebagai etnis Tionghoa yang tidak dapat berbahasa mandarin.

  “Kalau saya sekarang ini lagi giat-giatnya belajar bahasa mandarin, karena saya jujur tidak bisa bahasa mandarin sepenuhnya. Malu kan orang Tionghoa tapi nggak bisa bahasa mandarin? Akan tetapi secara

  19 penampilan fisik pun orang-orang juga udah tau. Hehehee”

  Bagi Rudi, mungkin itulah satu-satunya cara yang dapat ia lakukan untuk menunjukkan identitas etnisnya sebagai seorang Tionghoa. Kebersamaan dan tradisi imlek menjadi point yang di utamakan oleh Rudi sekarang ini, sebagaimana layaknya etnis Tionghoa yang lain. Rudi juga memiliki kebanggaan akan niai-nilai yang ada pada dirinya maupun pada etnis Tionghoa lainnya. Ia mengatakan bahwa nilai-nilai tersebut adalah merupakan tradisi keluarga yang harus dijaga, dan dengan adanya nilai-nilai seperti itu, etnis Tionghoa dapat membangun dan menciptakan dunia yang penuh cinta kasih tanpa adanya peperangan. Wujud kecintaannya terhadap identitas etnis Tionghoa, juga ia buktikan ketika peneliti menanyakan apakah jika dilahirkan kembali ia akan tetap memilih untuk dilahirkan menjadi etnis Tionghoa atau tidak? Rudi menjawab,

  “Menjadi etnis apapun sebenarnya tidak masalah karena pada dasarnya sama saja, asal kan memiliki kehidupan yang sejahtera dan bahagia, tetapi karena Rudi sudah terlahir menjadi seorang Tionghoa, Rudi akan tetap memilih untuk menjadi seorang etnis

20 Tionghoa selamanya.

  Sebagai etnis Tionghoa, Rudi mempunyai nama Tionghoa yang di berikan oleh 19 kedua orangtuanya. Nama tersebut adalah, Zheng Hao, yang artinya mulia. 20 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011.

  “Punya nama Tionghoa juga. Namanya, Zheng Hao. Artinya tuh kata ibu saya mulia. Katanya sih, biar saya tetap terlihat mulia di mata orang-orang, dan saya juga bisa selalu memuliakan Tuhan. Itu kata

  21 mama saya. Hihii”

  Identitas etnis selanjutnya yang ia miliki adalah agama Buddha, yang menjadi agama utama dari etnis Tionghoa, dan itu juga menjadi penanda identitas etnis pada dirinya.

  Rudi juga mengungkapkan bahwa pada kenyataannya identitas etnis bersifat subjektif.

  “Keetnisan seseorangitu bukan hanya dinilai melalui kriteria fisik secara objektif, atau berdasarkan budaya yang diwariskan padanya tetapi secara khusus ia juga memilih identitas etnisnya atau disebut juga dengan resolusi yaitu memutuskan dengan etnis mana seseorang dapat menganggap dirinya sebagai anggota, nah kalo saya tetap merasa menjadi bagian etnis Tionghoa dan memiliki nilai-nilai-nilai etnis

  22 Tionghoa, meskipun saya menetap di Indonesia”.

  Rudi memberikan pemaknaan terhadap etnis Tionghoa, menurutnya menjadi etnis Tionghoa itu sebagai suatu profit buat dirinya sendiri, karena akan memudahkan dirinya dan etnis Tionghoa yang lainnya untuk dikenali oleh etnis lain dan juga memudahkan etnis Tionghoa untuk berbagi hal positif .

  “Ya buat saya etnis Tionghoa tetap menjadi yang spesial buat saya. Satu profit buat saya sendiri, karena gampang untuk dikenali dan

  23 memudahkan kami untuk berbagai hal positif.”

  Rudi membayangkan masa depan etnis Tionghoa dengan bayangan yang penuh optimis. Rudi menjelaskan bahwa akan makin banyak orang yang saling menghormati kalau kita memulai untuk menghormati mereka terlebih dahulu.

  “Kepada etnis Tionghoa, sebaiknya belajarlah dan menyerap segala hal 21 positif dan hindarilah hal negatif supaya kita tetap menjadi etnis yang 22 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 13 Juni 2011. 23 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 13 Juni 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011.

  maju dalam segala hal. Semoga dapat diterima di masyarakat tanpa

  24 memandang derajat dan adanya perbedaan.” Rudi mengakui bahwa dirinya adalah etnis Tionghoa yang sense of belonging.

  Alasannya pun didasari karena nilai kebersamaan yang dimiliki oleh etnis Tionghoa yang telah ia sebutkan di awal wawancara. Baginya selama ia berkuliah di kampus Departemen Teknik Sipil, ia merasa bahwa dirinya dapat bergaul dengan siapa saja tanpa pandang etnis dengan tetap menjaga adab dari etnis Tionghoa. Rudi meyakini bahwa dirinya dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi keakraban dan kenyamanan memang lebih ditemukannya dalam kelompok etnisnya.

  Kesimpulan Kasus:

  Dapat di nilai, dalam hal ini Rudi memiliki identitas etnis yang sangat tinggi, sebab ia mampu mengenali kesamaan dalam kelompok in-group nya. Rudi secara jelas dapat mengenali in-group nya. Rudi sendiri masih merasakan dirinya masih tergolong dalam kategori sense of belonging. Ia masih memiliki rasa kepemilikan terhadap kelompok etnis Tionghoa yang didasari karena prinsip kebersamaan.

  Rudi mempunyai nama Tionghoa, yang mana ia mampu memberikan pemaknaan terhadap namanya tersebut, dan menjelaskan secara jelas tujuan pemberian nama tersebut oleh kedua orangtuanya. Rudi juga mampu mengenali agama Buddha, agama yang ia anut, sebagai salah satu penanda identitas etnisnya sebagai etnis Tionghoa.

24 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011.

  INFORMAN 6 MICHAEL (THEO SHIAN UN)

  Nilai yang dimiliki Mike sebagai seorang Tionghoa cukup sama dengan penuturan informan-informan sebelumnya, akan tetapi dalam hal ini Mike nemanbahkan adat-istiadat sebagaimana orang timur dalam jawabannya.

  “Ohh, selain warna kulit yang putih dan mata saya yang sipit, nilai- nilai budaya yang saya punya sebagai seorang etnis Tionghoa, yaaa tentunya adat-istiadat sebagaimana orang timur. Sopan-santun, ramah- tamah, semuanya sesuai adat timur. Tradisi menyapa orang yang lebih

  25 tua, Kalau perilaku, orang lain lah yang menilai saya. Hehee”

  Jika dilahirkan kembali, Mike tetap akan memilih untuk dilahirkan menjadi etnis Tionhoa, itu disebabkan karena kecintaannya akan etnis tersebut.

  “Dilahirkan kembali ya? Hhmmm.. kalo dilahirkan kembali sih, mungkin pertamanya pengen jadi manusia dulu, karena memang di agama kami (Buddha) bisa aja jadi makhluk lain, tapi mau nya jadi manusia dulu. Tapi kalo di tanya mau jadi etnis apa? Pengennya sih lahir tetap jadi etnis Tionghoa Indonesia, karena memang saya sudah nyaman dengan etnis ini, dan karena memang dari lahir saya udah berada di etnis seperti

  26 ini, yaaa… jadi udah lebih banyak tahu lah tentang etnis Tionghoa.”

  Hal yang akan dilakukan Mike untuk menunjukkan identitas etnisnya adalah dengan tidak meyombongkan diri dan tetap membawa adab ketimurannya sebagai orang Tionghoa. Penampilan fisik juga dijadikannya sebagai modal utama untuk menunjukkan identitas etnisnya.

  “Yang pastinya fisik, terutama itu warna kulit. Kan ada yang sama- sama putih, tapi keliatannya tetap beda. Kemuadian kalau kami lagi ngumpul sesama etnis Tionghoa, yaa kami ngomongnya pake bahasa

  25 26 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  Hokkian, itu aja sih.. Kalau sikap yaa sopan santun kepada semua

  27 orang.”

  Michael menambahkan perihal ketahuannya terhadap identitas etnis Tionghoa yang ada pada dirinya. Ia melakukan penjelasan terhadap etnis Tionghoa asli dengan etnis Tionghoa peranakan. Ia menganggap bahwa ia merupakan etnis Tionghoa asli yang selalu mendapatkan pelajaran akan tradisi Tionghoa dari keluarganya.

  “Anak-anak keturunan etnis Tionghoa asli akan belajar kebudayaan Tionghoa dari orang tua mereka juga dengan orang-orang disekitar mereka yang sebagian besar adalah keluarga yang berorientasi pada kebudayaan Tionghoa, sehingga identitas etnis Tionghoa mereka cenderung kuat. Pada keturunan etnis Tionghoa peranakan memiliki dua model imitasi yang berbeda, tetapi sebagian besar orang tua mereka berada ditengah masyarakat asli daerah tempat mereka tinggal dan berbaur dengan masyarakat disekitarnya sehingga pembelajaran kebudayaan cenderung mengikuti kebudayaan masyarakat di tempat tinggal mereka. Hal ini menyebabkan identitas etnis Tionghoa pada keturunan etnis Tionghoa

  28 peranakan tidak kuat.

  Michael menginginkan negara-negara yang ada di daratan China sebagai identitas kenegaraannya, dikarenakan kenyamanan yang ia dapat dalam hal pertemanan dengan seetnis. Meskipun ia menyadari bahwasanya Medan adalah sebagai kampung halamannya.

  Ketidakmampuannya dalam mengenali identitas etnisnya hanya di karenakan ketidakmampuan dalam menyebutkan makna dari nama Tionghoa yang ia punya, karena memang nama Tionghoa yang ia sandang tidak mempunyai arti apa-apa, meskipun terdengar bagus.

  “Hhmm.. nggak ada arti bang, karena nggak semua juga nama

  29 27 Tionghoa itu ada artinya”. 28 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011. 29 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 13 Juni 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 13 Juni 2011.

  Saat ditanyai mengenai makna khusus etnis Tionghoa bagi dirinya sendiri, Mike tidak bisa menjelaskan secara khusus, karena menurutnya menjadi etnis Tionghoa di Indonesia, sama saja menjadi warga negara Indonesia seutuhnya. Oleh sebab itu tidak ada makna khusus yang dapat ia rasakan.

  “Kalau aku rasa, etnis Tionghoa itu yaa tetap salah satu bagian dari Indonesia juga, kalau dibilang khusus gimanapun nggak bisa. Mungkin dari segi warna kulitnya aja beda. Etnis Tionghoa itu sama aja sama

  

30

etnis lainnya, nggak ada perbedaan.”

  Pergaulan Mike di kampusnya tidak hanya dalam lingkup se-etnis Tionghoa yang ada dalam satu golongan saja. Dalam arti, ia berteman dengan semua etnis Tionghoa dari semua golongan status sosial. Meskipun ia dari keluarga wiraswasta atau pedangang, tetapi tidak menjadikan ia hanya berteman dengan mahasiswa-mahasiswa dari golongan tersebut. Mike juga berteman dengan mahasiswa-mahasiswa dari golongan keluarga pegawai, pengusaha, sampai pada keluarga menengah ke bawah sekalipun.

  Membayangkan masa depan etnis Tionghoa, Mike menghimbau agar semua etnis Tionghoa mampu berinteraksi dengan semua etnis yang ada di lingkungan kampus Fakultas Teknik. Mike juga mengharapakan perbedaan-perbedaan yang ada di antara etnis Tionghoa dengan pribumi dijadikan untuk saling menutupi kekurangan masing- masing. Dalam arti, Mike mengharapkan kedua belah pihak dalam menerima keadaan dari kedua etnis dalam kondisi tersebut. Mike merasa bahwa nilai-nilai Tionghoa sekarang ini kebanyakan luntur karena tingkah pola etnis Tionghoa itu sendiri yang juga diakibatkan oleh perkembangan zaman.

  “Sebagai etnis Tionghoa, mungkin lebih gabung dengan semua orang- 30 orang di lingkungan kampus, bukan hanya dengan sesama etnis aja.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  Yaaaa… memang beda, namun perbedaan itu kita jadikan untuk saling

  31 menutupi kekurangan masing-masing aja.”

  Kesimpulan Kasus:

  Mike memiliki identitas etnis yang sangat baik. Ia dapat mengenali in-group nya dengan baik, dan tidak mengenali out-group nya. Tetapi itulah yang membuat identitas etnisnya menjadi tinggi. Mike menunjukkan kecintaannya terhadap identitas etnisnya salah satunya dengan ketidak inginanya untuk menjadi etnis lain, meskipun diberikan kesempatan untuk menjadi etnis lain jika terlahir kembali.

  Kemampuannya dalam mengenali perbedaan antara identitas etnis Tionghoa asli dengan identitas etnis peranakan menjadikan identitas etnis yang dimilikinya tergolong sangat baik. Ia mengatakan bahwa ia masuk kedalam etnis Tionghoa asli berdasarkan cirri-ciri fisik dan tradisi kebudayaan etnis Tionghoa asli yang telah ia uraikan.

  Kebanggaan akan nama Tionghoa serta keinginan untuk menjadi warganegara dari negara-negara di daratan China, menjadikan identitas etnis yang ada pada dirinya juga sangat tinggi. Oleh sebab itu, ia termasuk dalam kriteria mampu mengenali identitas etnisnya.

31 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  INFORMAN 7 SUSANTO SALIM (KEN LIE)

  Susanto mengatakan nilai-nilai yang di pegangnya sebagai seorang etnis Tionghoa adalah hanya sebatas nilai kesopanan dan adat-istiadat seperti hari raya imlek.

  Ia kurang begitu mengetahui nilai-nilai apalagi yang ada pada dirinya sebagai penunjuk identitas etnisnya.

  Susanto menganggap bahwa Medan adalah sebagai kampung halaman, meskipun ia mempunyai keluarga di daratan China.

  “Kalo keluarga, saya ada di China, tetapi kalo kampung halaman, kampung halaman saya ya tetap di Indonesia, karena saya lahir dan besar disini, orangtua saya juga disini”.

  32 Susanto menambahkan nilai-nilai lainnya dari etnis Tionghoa yang ia ketahui ialah seperti tradisi dupa dan dan bersembahyang untuk menghormati leluhur.

  Wujud konkret yang Susanto lakukan untuk dapat menunjukkan identitas etnisnya adalah dengan selalu mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya seperti sikap sopan-santun dan tradisi-tradisi yang tadi sudah ia sebutkan sebelumnya. Identitas etnis seperti imlek, merupakan suatu kebanggan bagi dirinya, karena di hari besar tersebut, ia dapat berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya.

  Jika dilahirkan kembali ia lebih memilih menjadi etnis Tionghoa dikarekan ia sudah nyaman dengan etnisnya sekarang ini.

  “Terserah Tuhan aja saya mau jadi apa? Karena bukan saya yang mengatur kehidupan ini. Hahaaa Tetapi saya tetap ingin jadi etnis Tionghoa karena tidak ada kekurangan yang saya alami sebagai etnis Tionghoa dan saya juga sudah nyamanlah”

  33 . 32 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 13 Juni 2011. 33 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 25 April 2011. Makna identitas sendiri bagi Susanto sangat berharga sekali, ibarat surga di telapak kaki ibu. Jadi untuk menggapai surga itu, kita harus selalu menjaganya.

  Kecintaan akan identitas etnis juga ditunjukkan oleh Susanto dengan bergaul dengan semua etnis Tionghoa dari berbagai kalangan. Tidak ada penggolongan berdasarkan status sosial yang disandang, menjadi anak dari seorang wiraswasta tidak membuat mereka untuk membeda-bedakan teman, hal ini dikarenakan mereka menganggap semuanya sama saja. Tidak ada pembedaan antara anak konglomerat sampai pada anak pengangguran sekalipun.

  Susanto menambahkan bahwa kecintaan akan identitas etnis Tionghoa belum tentu menjadikannya memiliki rasa sense of belonging, atau rasa memiliki terhadap kelompok etnis sendiri dimanapun ia berada. Ia menambahkan bahwa ia akan lebih merasa memiliki terhadap orang-orang Indonesianya, bukan hanya terhadap etnis Tionghoanya.

  “Tentu. Sebenarnya tidak terbatas etnis Tionghoa sendiri. Tapi etnis

  34 lain juga, terutama yang ada di Indonesia.”

  Harapan akan masa depan etnis diungkapkan Susanto dengan ungkapan,

  “Menginginkan etnis Tionghoa itu bisa lebih diterima di Indonesia, dianggap menjadi bagian dari bangsa Indonesia, dan dapat disetarakan

  35 dengan penduduk di Indonesia”

  Susanto melihat sekarang ini masih banyak yang menganggap bahwa etnis Tionghoa bukanlah etnis yang berasal dari negara ini, tetapi berasal dari daerah China.

  Oleh sebab itu, Susanto lebih menginginkan pengakuan dari masyarakat Indonesia saja 34 akan keberadaan kelompok mereka. 35 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 25 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 25 April 2011.

  “Mungkin masih ada orang dari etnis lain di Indonesia yang menganggap

etnis Tionghoa itu bukan bagian dari Indonesia. Seandainya etnis

Tionghoa bisa disamakan atau disetarakan dengan etnis lainnya di

36 Indonesia, pasti akan lebih baik.”

  Kesimpulan Kasus:

  Susanto kurang mampu dalam mengenali identitas etnisnya dengan baik, ia tidak begitu mengetahui nilai-nilai apa saja yang ada dalam dirinya sebagai etnis Tionghoa, baik itu secara fisik ataupun tradisi. Ia hanya mampu mengatakan nilai sopan-santun dan tradisi imlek sebagai nilai-nilai etnis Tionghoa yang ia miliki, akan tetapi ia tidak mampu memberikan penilaian akan identitas etnis yang ada dalam dirinya sendiri. Susanto mempunyai rasa sense of belonging yang tidak begitu tinggi. Ia tidak mempunyai keterikatan yang tinggi dengan in-group nya. Ia mampu beradaptasi dengan orang-orang disekitarnya, tanpa mencari kesamaan etnis terlebih dahulu. Inilah yang membuat identitas etnis yang dimiliki oleh Susanto terlihat cukup lemah, sehingga dapat disimpulkan bahwa ia kurang mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya.

  Dalam mengenali identitas etnis berdasarkan latar belakang tempat tinggal, ia hanya mampu mengatakan Medanlah sebagai kampung halamannya dan sebagai tempat ia berasal. Ia tidak mampu menjelaskan sebenarnya darimana ia dan etnisnya berasal. Ini jugalah yang membuat Susanto kurang mengetahui identitas keetnisannya.

36 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 25 April 2011.

  INFORMAN 8 PUTRA JAYA (MIN ZHONG)

  Putra mengakui kekurangtahuannya secara mendalam mengenai nilai-nilai yang ia miliki sebagai seorang etnis Tionghoa. Alasannnya, karena sejak lahir ia sudah menjadi warganegara Indonesia, dan keluarganya pun tidak mengajarkannya akan nilai-nilai Tionghoa, ia hanya melihat nilai-nilai yang ada dari lingkungan sekitar saja, seperti tradisi imlek, tradisi pernikahan serta menghormati orang tua.

  “Jujur aja, tidak banyak karena sejak lahir saya sudah hidup di Indonesia. Yang masih ada hanya tradisi imlek dan tradisi dalam pernikahan. Lagipula keluarga saya tidak banyak mengajarkan tradisi maupun adat istiadat etnis Tionghoa secara khusus. Akan tetapi yang saya pegang sekarang ini yaa nilai sopan-santun, menghargai dan

  37 menghormati orang lain.”

  Meskipun ia tidak mampu mendeskripsikan secara pasti perihal nilai-nilai lainnya yang dimiliki oleh etnis Tionghoa, tetapi ia mengatakan bahwa,

  “Mungkin masih ada juga yang tahu banyak dan menjalankan tradisinya sebagai etnis Tionghoa lebih dari itu. Seperti misalnya kepercayaan-kepercayaan maupun filsafat yang pada akhirnya membentuk perilaku hidup sehari-hari. Karena ini tergantung

  38 pendidikan keluarga juga.”

  Putra mengambil kesimpulan bahwa semua itu sebenarnya adalah tergantung dari ajaran keluarga masing-masing, setelah mendapatkan pelajaran dari keluarga masing- masing, barulah kita mampu melakukan adaptasi-adaptasi terhadap nilai-nilai tersebut.

  Putra mengatakan bahwa wujud konkret yang akan ditunjukkannya adalah dengan selalu mempertahankan nilai-nilai ke-Tionghoa-an yang sudah ada pada dirinya, 37 termasuk logat bicara yang dapat berubah karena pergaulan dengan berbagai etnis. 38 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 25 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 25 April 2011.

  Putra juga mempunyai kebanggaan terhadap identitas etnis yang dimilikinya bahkan oleh etnis Tionghoa pada umumnya. Akan tetapi ia mengunggapkan bahwa dirinya lebih bangga sebagai etnis Tionghoa Indonesia dibandingkan sebagai Tionghoa China, karena sesungguhnya nilai-nilai sebagai Tionghoa Indonesia lah yang sudah ia terapkan selama ini.

  “Iya bangga. Akan tetapi kalo ditanya lebih dalam lagi rasanya biasa

saja. Karena di dalam organisasi keagamaan yang kuikuti selalu

mengajarkan saya bahwa negara kita adalah Indonesia. Bukan Cina.

  Identitas etnis dalam hal asal daerah dikatakannya bahwa Medan adalah sebagai kota kelahirannya dan Indonesia adalah negaranya, karena ia sejak lahir sampai ia besar, ia berada di Medan. Tidak ada anggapan bahwa ia mempunyai negara lain sebagai daerah ia berasal.

  “Sejak lahir saya sudah di Medan, kampung saya di Medanlah bukan dimana-mana lagi”.

39 Pekerjaan orangtua sebagai pedagang, dan terlahir sebagai seorang Tionghoa beragama Buddha, bukanlah menjadi salah satu penanda identitas etnisnya.

  “Pedagang kan juga bisa orang pribumi, bukan orang China saja. Agama Buddha juga ada orang pribumi atau orang barat, bukan orang China saja. Jadi tergantung orangnya lah”.

40 Putra tidak mempunyai pilihan khusus untuk dilahirkan kembali menjadi etnis

  apa, ia hanya berfikir bahwa semua etnis itu sama saja, karena sama-sama memiliki kesempatan untuk berkarya di dunia ini.

  Makna identitas etnis sendiri bagi Putra, hanyalah sebagai pedoman. Pengenal dirinya kepada etnis lainnya, karena dengan melihat fisiknya saja, orang-orang sudah mengetahui identitas etnisnya. 39 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 13 Juni 2011. 40 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 13 Juni 2011.

  Putra menambahkan bahwa kecintaan akan identitas etnis Tionghoa belum tentu menjadikannya memiliki rasa sense of belonging yang tinggi, atau rasa memiliki terhadap kelompok etnis sendiri dimanapun ia berada.

  Kesimpulan Kasus:

  Kesimpulan yang dapat diambil dari informan kedelapan ini adalah sebagai berikut: Putra adalah sosok yang lebih sedikit terbuka. Putra lebih mampu mengenali out- group nya, tetapi ia tidak secara pasti dapat mengenali identitas etnis dari in-group nya.

  Pernyataannya yang mengatakan bahwasanya ia lebih bangga dikatakan sebagai warga Indonesia dibanding menjadi warga China, adalah salah satu kelemahan sebagai identitas etnis Tionghoa yang ia miliki.

  Latar belakang asal daerah dan pekerjaan orangtua sebagai pedagang, menurutnya juga dimiliki oleh masyarakat pribumi lainnya, bukan hanya orang Tionghoa saja.

  Nilai-nilai etnis Tionghoa, selama ini hanya ia lihat berdasarkan nilai-nilai yang ada dari lingkungan sekitar saja, seperti tradisi imlek, tradisi pernikahan serta menghormati orang tua. Tidak ada pengajaran dari keluarga yang ia dapat.

  Dalam hal ini Putra mengetahui nilai-nilai identitas etnis Tionghoa yang dimiliki oleh etnis Tionghoa pada umumnya, tetapi ia kurang mampu mengenali identitas etnis yang ada dalam dirinya secara pribadi, dan ini menjadikan ia dalam kategori kurang mampu mengenali identitas etnisnya.

  INFORMAN 9 ADI SURYA (CIN AN)

  Nilai-nilai yang dimilikinya sebagai seorang etnis Tionghoa hanyalah sebatas warna kulit yang putih bersih serta matanya yang sipit. Sedangkan untuk perilaku dan lain-lainnya, menurutnya orang lain lah yang berhak menilainya.

  “Yang aku punyai sebagai seorang etnis Tionghoa ya pastinya warna kulit aku yang putih bersih dan mata aku yang sipit. Kalo perilaku, pasti aku bilang nya baik, kan aku yang menilai sendiri. Kalo orang lain nggak tau kan? Hehehee”

41 Adi mempunyai nama Tionghoa yaitu, Cin An. Adi tidak mengetahui makna dari

  nama Tionghoa yang ada pada dirinya. Adi juga tidak mengetahui asal-muasal etnisnya berasal, karena selama ini ia hidup di 2 daerah Sumatera Utara, Aek Kanopan dan Medan, yang menyebabkan ia hanya mengetahui kedua daerah tersebutlah sebagai daerah asal-muasalnya.

  “Setau aku, daerah asalku itu Aek Kanopan, karena aku lahir disana, terus sejak aku masuk SMP, kami pindah ke Medan. Jadi, asal-muasal aku ya dari Aek Kanopan sama Medan”.

  42 Untuk mendeskripsikan identitas keetnisan yang ia miliki, Adi tidak mampu

  menyebutkan nilai-nilai apalagi yang ia miliki sebagai etnis Tionghoa. Selama ini hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat pribumi, dan bergaul dengan pribumi. Membuat ia merasa kehilangan nilai-nilai keetnisa etnis Tionghoa.

  “Apalagi ya? Hhmmm… nggak tau lagi bang. Karena sejak kecil dah main-main sama pribumi”.

  43

  41 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011. 42 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 13 Juni 2011. 43 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 13 Juni 2011.

  Meskipun Adi tidak mengetahui nilai-nilai apalagi yang dimilikinya sebagai seorang Tionghoa, tetapi ia merasa bangga menjadi bagian dari etnis tersebut. Hal tersebut dikarenakan itu dapat menunjukkan identitasnya kepada etnis lain, dan menjadi etnis Tionghoa menurutnya adalah tradisi yang sudah turun-temurun.

  Adi mempunyai keinginan untuk menjadi etnis lain jika dilahirkan kembali.

  “Seandainya dilahirkan kembali, aku cuma ingin terlahir menjadi etnis

  44 yang lain di negara yang perekonomiannya lebih baik”.

  Akan tetapi, menjadi etnis Tionghoa adalah suatu hal yang sudah iya syukuri dari awal. Sesuai ajaran kedua orangtuanya, yaitu harus bangga dengan yang sudah dimiliki sekarang ini.

  Menjadi etnis Tionghoa yang beragama Buddha, tidak menjadi keunggulan bagi Adi. Ia menganggap bahwa setiap etnis Tionghoa terdiri dari agama-agama yang beraneka, mulai dari Kristen, Islam, Hindu, ataupun agama lainnya yang ada.

  “Orang China kan bukan hanya Tionghoa, tapi agama lainnya juga

  

45

banyak ada di orang-orang China”.

  Makna dari identitas etnis sendiri bagi Adi adalah hanya sebatas ciri-ciri fisik dengan kulit putih dan mata sipit. Adi pun menaruh harapan positif perihal etnis Tionghoa ke depannya. Ia ingin etnis Tionghoa menjadi etnis yang lebih baik lagi dari sekarang, dan dapat terbuka dengan etnis manapun.

  Kecintaannya terhadap etnis Tionghoa, lantas tidak menjadikannya menjadi sense

  of belonging. Adi mengatakan bahwa dirinya dapat beradaptasi dimana pun dan dengan etnis apa pun ia berada disuatu daerah.

  “Aku gampang beradaptasi, tetapi jujur aku lebih nyaman dengan

  46 44 teman pribumi, mungkin karena dari kecil kawan sama pribumi” 45 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 13 Juni 2011.

  Ini disebabkan karena sejak kecil ia sudah hidup di daerah yang mayoritas penduduknya pribumi. Tetangga-tetangga yang ada disekitar rumahnya pun juga pribumi.

  Jadi, pergaulannya selama ini memang dengan pribumi.

  Kesimpulan Kasus:

  Adi tidak mampu mengenali in-group nya, tidak memiliki komitmen yang tinggi akan etnisnya. Adi tidak memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap kelompok dan etnisnya. Adi juga tidak aktif dalam kegiatan kelompok, baik itu berupa organisasi keetnisan maupun pergaulan dengan teman seetnis. Namun itu lantas tidak membuat ia tidak mencintai etnisnya. Ia juga mempunyai harapan positif buat etnisnya kea rah yang lebih baik lagi.

  Ketidaktahuannya akan asal daerah etnisnya berasal, menjadikan salah satu faktor yang menyatakan Adi tidak mampu mengenali identitas etnisnya. Ia hanya mengatakan Aek Kanopan dan Medan sebagai daerah tempat ia berasal. Ia tidak mampu menjelaskan dari mana etnis Tionghoa itu berasal.

  Masalah identitas agama Buddha sebagai identitas etnis Tionghoa, Adi menyatakan ketidak sepakatannya. Ia menganggap etnis Tionghoa terdiri dari berbagai agama yang ada. Namun, ini menjadi salah satu kelemahan baginya, karena sesungguhnya etnis Tionghoa itu berasal dari agama dan tradisi Buddha, meskipun ada agama lain dalam etnis Tionghoa.

46 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011.

INFORMAN 10 MELIANA (LIE CHIN)

  Meliana mempunyai nama Tionghoa, Lie Chin. Nama Tionghoa yang tidak ia ketahui artinya, karena merupakan pemberian nama dari seorang shinshe. Bahkan mamanya sendiri juga tidak mengetahui makna dari nama tersebut.

  “Nggak tau artinya apa? Itu nama pemberian shinshe waktu mamaku

  47 minta ke shinshe nya. Mamaku juga nggak tau itu artinya apa”.

  Meliana tidak mengetahui asal-muasal etnis Tionghoa berasal, dan tidak ada anggapan bagi dirinya bahwa adanya negara-negara lain sebagai kampung halaman. Ia menganggap Medan lah kampung halamannya. Keluarga yang menetap di daratan China juga tidak ada, jadi tidak ada tradisi pulang kampung yang ia lakukan ke negara-negara lain.

  48 “Sejak lahir udah di Medan, jadi setau aku asal ku adalah Medan”.

  Meliana merupakan etnis Tionghoa yang beragama Kristen Katolik, kedua orangtuanya juga beragama Kristen Katolik. Ia tidak mampu menjelaskan identitas etnis Tionghoa berdasarkan latar belakang agama.

  Meliana mengatakan nilai-nilai yang ia miliki sebagai seorang etnis Tionghoa adalah berupa adat-istiadat dan tradisi imlek. Ia tidak mampu menjelaskan lebih jauh lagi perihal identitas etnis yang dimilikinya. Akan tetapi, Meliana mempunyai kebanggan terhadap etnis Tionghoa, etnis yang sudah ada pada dirinya sejak ia dilahirkan. Ia mengatakan bahwa sebagai seorang yang telah dititipkan suatu kebudayaan, haruslah ia 47 menjaga dan bangga terhadap kebudayaan tersebut. 48 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 13 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 13 Mei 2011.

  Kebanggannya terhadap etnis Tionghoa, tidak dibuktikankan nya melalui pernyataan ketika peneliti menanyakan jika ia dilahirkan kembali,

  “Ingin menjadi etnis lain jika dilahirkan kembali, menjadi etnis barat

  49 yang lebih bebas dan lebih maju”.

  Tidak ada wujud konkret yang Meliana tunjukkan untuk menonjolkan identitas etnisnya sebagai seorang Tionghoa. Meliana tidak dapat mengungkapkan sedikitpun apa makna yang ia rasakan sebagai seorang etnis Tionghoa selama ini.

  Dalam pergaulan dengan teman-temannya, Meliana salah satu yang senang berteman dengan siapa saja dan dari etnis manapun. Begitu pula denga teman se-etnisnya, Meliana tidak pernah membeda-bedakan teman se-etnis berdasarkan status sosial mereka. Meliana lebih memilih untuk berteman dengan semua etnis Tionghoa dari semua golongan yang ada, karena menurutnya tidak ada alasan kuat bagi dirinya untuk membeda-bedakan teman berdasarkan status sosialnya.

  Dalam hal ini, Meliana mengatakan bahwa dirinya tidak termasuk etnis Tionghoa yang masuk dalam kategori sense of belonging.

  “Aku lebih memiliki rasa memiliki terhadap orang yang lebih dekat dengan aku tanpa ada unsur etnis, aku akan tetap mengutamakan

50

kepentingan mereka terlebih dahulu”.

  Meliana sendiri secara khusus tidak pernah membayangkan perihal masa depan etnis Tionghoa kedepannya. Ia tidak pernah terfikir untuk membuat suatu pergerakan guna membuat perubahan bagi etnisnya. Tetapi setidaknya, Meliana menginginkan etnis Tionghoa lebih baik lagi dari sekarang.

  “Tidak pernah membayangkan. Tetapi harahapannya sih tentu menjadi

  51 49 lebih baik lagi”. 50 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011. 51 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011.

  Kesimpulan Kasus: Secara umum, Meliana dikatakan tidak memiliki identitas etnis yang cukup tinggi.

  Ketidakmampuan dalam mengenali in-group nya, menjadikannya lemah dalam identitas etnisnya. Komitmen serta sense of belonging tidak dirasakan oleh Meliana. Dalam hal ini, Meliana belum memiliki pemahaman khusus perihal kecintaannya tersebut.

  Meliana tidak mampu dalam mengenali makna dari nama Tionghoa yang ia miliki, ia juga tidak mempunyai kebanggaan terhadap nama Tionghoa tersebut, karena terdengar lucu.

  Meliana juga tidak mampu mengenali asal-muasal etnis Tionghoa, ia hanya mengetahui Medanlah sebagai tempat ia berasal, tidak ada yang lain karena ia beserta keluarga besarnya sudah ada di Medan sejak lama.

  Meliana juga tidak mampu mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya lebih dalam lagi. Ia hanya mengatakan adat-istiadat dan imlek lah nilai-nilai yang ia miliki. Itu merupakan nilai-nilai yang dimiliki oleh etnis Tionghoa pada umumnya. Tidak ada penjelasan lebih dalam lagi yang ia lakukan.

  Dapat terlihat suatu kesimpulan bahwasanya identitas etnis yang ia miliki tidak tinggi. Banyak hal-hal perihal identitas keetnisan Tionghoa yang tidak ia ketahui, mulai dari tradisi, budaya, asal-muasal, ataupun nilai-nilai lainnya.

INFORMAN 11 ANTON HALIM (LIM SEN TONG)

  Anton, informan ke 11 dalam penelitian ini juga tidak dapat menjelaskan secara detail nilai-nilai apa saja yang ia miliki sebagai seorang etnis Tionghoa. Ketika ditanya oleh peneliti, Anton hanya mengatakan budaya, adat-istiadat, dan hormat kepada leluhur lah nilai-nilai yang ia miliki sebagai seorang etnis Tionghoa. Tetapi ketika peneliti menanyakan perihal nilai-nilai lainnya, Anton tidak dapat memberikan suatu pengetahuan yang baru bagi peneliti.

  Sama halnya dengan Meliana, Anton juga tidak mengetahui makna dari identitas etnis Tionghoa yang tidak dapat ia jelaskan dengan pasti.

  52 “Saya sendiri nggak tahu seperti apa Hahaa”.

  Meskipun Anton tidak mengetahui makna dari identitas etnis Tionghoa bagi dirinya, tetapi Anton memiliki kebanggaan sendiri terhadap kebudayaan dan nilai-nilai yang ada pada etnis Tionghoa.

  “Bangga karena seburuk apapun itu, kalo budaya sendiri haruslah

  53 dibanggakan.”

  Ketika ditanya apakah jika dilahirkan kembali, Anton akan tetap memilih terlahir sebagai etnis Tionghoa atau ingin menjadi etnis lain, Anton lebih memilih untuk berfikir positif.

  “Bagi saya menjadi etnis apapun sama saja, karena masing-masing

  54 etnis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.”

  Terlahir dari keluarga yang berkecukupan, juga tidak membuat dirinya untuk membeda-bedakan teman berdasarkan status sosialnya. Anton memiliki berbagai teman dari berbagai golongan status sosial yang berbeda. Baik itu dari teman-teman seetnis maupun yang berbeda etnis.

  Perihal rasa memiliki kesamaan dengan teman se-etnis, Anton tidak merasakan 52 adanya perasaan sense of belonging pada dirinya, ia mampu beradaptasi dengan 53 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Anton Halim, Medan, 13 Juni 2011. 54 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Anton Halim, Medan, 9 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Anton Halim, Medan, 9 Mei 2011. lingkungan sekitar, dan ia hanya akan memiliki rasa memiliki terhadap orang-orang yang juga merasa memilikinya.

  “Tidak, saya hanya mempunyai rasa memiliki kepada orang-orang yang juga

  55 memiliki rasa memiliki terhadap saya.”

  Untuk masa depan etnis Tionghoa, sama halnya dengan Meliana, Anton juga tidak mempunyai bayangan perihal masa depan etnisnya. Ia hanya mempunyai harapan positi untuk kemajuan etnis Tionghoa kedepannya.

  Kesimpulan Kasus: Anton dapat dikatakan tidak memiliki identitas etnis yang cukup tinggi.

  Ketidakmampuan dalam mengenali in-group nya, menjadikannya lemah dalam identitas etnisnya. Tetapi bukan berarti ia tidak memiliki kebanggaan terhadap etnis Tionghoa yang ia sandang sekarang. Ketidakmampuannya dalam mengenali in-group nya, menjadi kelemahan bagi dirinya sendiri karena ia lebih mampu mengenali out-group nya dibanding out-group nya. Komitmen serta sense of belonging tidak dirasakan olehnya. Dalam hal ini, Anton belum memiliki pemahaman khusus perihal kecintaan mereka tersebut.

  Anton tidak mampu menjelaskan lebih jauh lagi perihal nilai-nilai etnis Tionghoa yang ada pada dirinya. Oleh sebab itulah, ia masuk dalam kategori tidak mampu mengenali identitas etnisnya.

55 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Anton Halim, Medan, 9 Mei 2011.

IV.2.2 Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian

  Setelah melakukan pendeskripsian terhadap identitas etnis yang dimiliki oleh kesebelas etnis Tionghoa, kemudian peneliti melakukan menyimpulan hasil deskripsi yang peneliti rangkum ke dalam tabel dengan mengelompokkan kesebelas informan ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu mampu mengenali, kurang mampu mengenali, dan tidak mampu mengenali.

  TABEL KATEGORI IDENTITAS ETNIS INFORMAN PENELITIAN

  No Mampu Mengenali Kurang Mampu Tidak Mampu Mengenali Mengenali

  1. Informan1 Informan 7 Informan 9 Jasinda (Xin Er) Susanto Salim (Ken Lie) Adi Surya (Cin An)

  2. Informan 2 Informan 8 Informan 10 Mimi R.G (Li Zia) Putra Jaya (Min Zhong) Meliana (Lie Chin)

  3. Informan 3 -- Informan

  11 Krisnawati Anton Halim (Goh Lie Yung)

  (Lim Sen Tong)

  4. Informan 4 -- -- John Thedy (Yong An)

  5. Informan 5 -- -- Rudi Kirana

  (Zheng Hao)

  6. Informan 6 -- -- Michael

  (Theo Shian Un) Berdasarkan hasil-hasil yang telah diperoleh dari wawancara, peneliti menyimpulkan bahwa ada 6 orang informan yang dikatakan mampu mengenali identitas etnisnya, 2 orang informan yang kurang mampu mengenali identitas etnisnya, dan 3 orang informan yang tidak mampu mengenali identitas etnis yang ada pada diri masing- masing. Pengelompokan informan ke dalam 3 kategori tentunya melalui proses analisis berdasarkan derajat keterikatan pada kelompok dan kebudayaannya, yaitu: (a) secara jelas mengetahui nilai-nilai yang dimiliki sebagai seorang etnis dalam suatu kelompok, (b) membentuk kelompok kecil/perkumpulan, (c) komitmen, (d) evaluasi positif pada kelompok/etnis, (e) berminat di dalam dan berpengetahuan tentang kelompok/etnis, (f) turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok, (g) sense of belonging, (h) pemahaman akan rasa cinta pada kelompok & budaya, (i) harapan akan masa depan yang berkait dengan etnisnya.

IV.2.2.1 Mampu Mengenali

  Dalam penelitian ini, peneliti menemukan ada 6 (enam) orang informan penelitian yang masuk dalam kriteria mampu mengenali. Penilaian tersebut didasari karena kemampuan keenam informan dalam mengenali identitas etnis yang ada di dalam diri mereka maupun yang ada pada etnis mereka pada umumnya, serta didukung dengan penilaiaan lainnya berdasarkan kriteria penggolongan yang telah di uraikan di atas.

  Tradisi sebagaimana orang timur pada umumnya, merupakan nilai-nilai identitas etnis yang di akui oleh keenam orang informan sebagai nilai-nilai identitas etnis yang ada pada diri mereka. Selain warna kulit yang putih bersih serta mata yang cenderung sipit, nilai-nilai lainnya yang dimiliki adalah seperti menghormati orang yang lebih tua, menghormati orang-orang dari kebudayaan yang berbeda, cara berpakaian, berbicara, dan berperilaku yang sopan-santun.

  Adanya pemaknaan terhadap nama Tionghoa yang dimiliki oleh 2 orang informan, meskipun ada 4 orang yang tidak mempunyai makna terhadap nama Tionghoa yang dimiliki, tetapi mereka mempunyai rasa kecintaan terhadap nama Tionghoa yang mereka sandang.

  Keenam informan mampu memberikan pembedaan terhadap etnis Tionghoa asli dengan etnis Tionghoa peranakan berdasarkan ciri-ciri fisik yang dimiliki maupun tradisi ataupun adat-istiadatnya. Etnis Tionghoa asli mempunyai kulit yang lebih putih dan mata yang lebih sipit di bandingkan etnis Tionghoa peranakan, karena etnis Tionghoa peranakan umumnya sudah melakukan perkawinan campuran dengan non-Tionghoa. Etnis Tionghoa asli mengetahui tradisi dan kebudayaan Tionghoa berdasarkan pengajaran yang turun-temurun dari keluarganya, sedangkan etnis Tionghoa peranakan mendapatkan pengajaran berdasarkan apa yang ia lihat dalam masyarakat. Jadi, ada percampuran tradisi dan kebudayaan yang mereka dapat, yaitu tradisi/kebudayaan Tionghoa dan tradisi/kebudayaan etnis yang ada pada suatu daerah tersebut. Misalnya, di Indonesia mereka akan mengadopsi tradisi/kebudayaan Tionghoa dan pribumi.

  Keenam informan mempunyai identitas etnis sebagaimana layaknya orang timur, dan menjadi kebanggaan bagi keenamnya. Mereka mengatakan bahwa dengan menerapkan semua nilai-nilai identitas etnis yang ada, hal itu akan berdampak positif terhadap pandangan etnis lain ataupun masyarakat dari negara ataupun kebudayaan lain terhadap etnis mereka. Masyarakat akan memberikan suatu pandangan yang positif terhadap etnis Tionghoa, jika orang-orang Tionghoanya sendiri mampu menerapakan nilai-nilai ke-identitas-an tersebut dengan baik.

  Identitas etnis lainnya yang dimiliki oleh keenam orang informan adalah tradisi imlek, tradisi dupa, menghormati leluhur dan tradisi bersembahyang yang menunjukkan identitas mereka sebagai seorang Tionghoa yang taat kepada ajaran agama dan tradisi.

  Keenam orang informan juga ikut aktif dalam kegiatan sosial kelompok seperti kegiatan organisasi keagamaan yang ada di lingkungan kampus Universitas Sumatera Utara, yaitu organisasi Keluarga Mahasiswa Buddist atau yang biasa disebut KMB. Meskipun 1 di antara 6 orang informan beragama Kristen, tetapi ia mengakui bahwa dirinya juga sering ikut serta dalam kegiatan kelompok tersebut seperti acara-acara sosial yang dilakukan, meskipun sebenarnya ia tidak ikut bergabung dalam organisasi tersebut.

  Keikutsertaan dan keaktifan 6 orang informan penelitian dalam kegiatan kelompoknya, juga dapat menunjukkan identitas etnis yang tinggi yang ada pada diri mereka. Mereka mampu mengenali identitas etnisnya ketika mereka sedang aktif dalam kegiatan kelompok, seperti dalam diskusi-diskusi kegamaan yang sering dilakukan ketika berkumpul, sehingga sedikit demi sedikit mereka mulai menyadari dan menemukan identitas etnis yang ada pada diri mereka itu sebenarnya.

  Derajat keterikatan lainnya yang dimiliki oleh keenam orang informan penelitian sebagai penguat identitas etnis yang dimiliki adalah komitmen, evaluasi positif pada kelompok/etnis, adanya rasa sense of belonging dan pemahaman akan rasa cinta pada kelompok & budaya.

  Memiliki komitmen tidak ingin menjadi etnis lain jika dilahirkan kembali, ini menandakan kecintaan mereka terhadap identitas etnis yang mereka miliki. Tetap menjadi etnis Tionghoa jika terlahir kembali merupakan pilihan yang utama bagi keenamnya, dikarenakan faktor keistimewaan yang mereka rasakan dari etnis Tionghoa serta faktor keterbiasaan dengan identitas tersebut yang sudah ada pada diri masing- masing sejak mereka dilahirkan.

  Rasa sense of belonging yang cukup tinggi juga menjadikan penguat identitas etnis dalam diri mereka. Mereka mengakui bahwa dimanapun mereka berada, mereka akan lebih mencari teman dari etnis Tionghoa terlebih dahulu dibanding teman-teman etnis lain yang berbeda budaya, alasannya karena itu akan lebih membantu mereka untuk lebih percaya diri. Namun, pada dasarnya mereka terbuka kepada setiap orang yang mereka temui. Oleh karena itu rasa sense of belonging yang cukup menjadi salah satu penguat identitas etnis pada keenam informan penelitian.

  Kemampuan dalam mengenali identitas etnis juga disertai dengan adanya harapan dari keenam orang informan penelitian terhadap etnis Tionghoa. Mereka mempunyai bayangan serta harapan positif terhadap etnis Tionghoa kedepannya. Harapan akan etnis Tionghoa supaya lebih menjadi kelompok/etnis yang berbudaya, mempunyai tujuan supaya etnis Tionghoa tetap di lihat besar oleh etnis dan budaya lainnya. Harapan perihal etnis Tionghoa untuk kedepannya, menunjukkan kecintaan mereka terhadap etnis Tionghoa, sehingga akan lebih membuat mereka mampu menggali lebih dalam lagi identitas etnis Tionghoa yang ada pada diri mereka maupun etnis Tionghoa pada umumnya.

IV.2.2.2 Kurang Mampu Mengenali

  Peneliti menemukan ada 3 orang informan penelitian yang kurang mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada dalam dirinya masing-masing. Mereka mampu mengenali identitas etnis Tionghoa, tetapi hanya secara umum dan tidak dapat menjabarkannya secara lebih detail lagi. Mereka tetap memiliki rasa sense of belonging yang tinggi, akan tetapi mereka tidak mengetahui bagaimana tingkatan rasa sense of

  belonging yang mereka miliki tersebut. Mereka mengaku cinta terhadap etnisnya, tetapi

  mereka juga mempunyai rasa kecintaan terhadap masyarakat pribumi yang berasal dari Indonesia.

  Kedua orang informan memiliki tidak memiliki komitmenyang jelas jika dilahirkan kembali, keduanya menganggap menjadi etnis apapun sama saja, terserah Tuhan saja, menjadikan mereka sebagai etnis apa. Ini menandakan kurangnya komitmen dan rasa kecintaan mereka terhadap identitas etnis yang mereka miliki.

  Kurang mampu dalam mengenali identitas etnisnya, sehingga membuat mereka juga tidak begitu yakin mengenai bayangan ataupun harapan akan masa depan etnis Tionghoa kedepannya. Ada bayangan akan etnis Tionghoa kedepannya, tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan oleh kedua informan dalam rangka pewujudan harapan tersebut.

IV.2.2.3 Tidak Mampu Mengenali

  Pada penelitian ini juga ditemukan 3 orang informan penelitian yang tidak mampu dalam mengenali identitas etnis yang ada dalam dirinya masing-masing. Mereka hanya mampu mengenali identitas etnis Tionghoa secara umum dan tidak dapat menjabarkannya secara lebih detail lagi. Ketidakmampuan ketiga orang informan penelitian dalam mengenali identitas etnis yang ada pada diri mereka, kebanyakan di karenakan faktor ketidaksadaran akan identitas yang mereka miliki. Beberapa diantara mereka juga mengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali identitas etnis dikarenakan tidak adanya pengajaran dari keluarga akan nilai-nilai norma etnis Tionghoa yang sesungguhnya. Sejak kecil, ketiganya sudah berdomisili di Kota Medan. Identitas etnis yang dapat mereka pegang saat ini hanya sebatas tradisi imlek maupun tradisi menikah. Tidak banyak yang dapat mereka pelajari dari keluarganya masing-masing, dikarenakan keluarga mereka juga tidak menerapkan hal yang seharusnya ada pada etnis Tionghoa. Jadi, selama ini mereka hanya mengatahui nilai-nilai tersebut dari pergaulan dengan teman-teman se-etnis saja. Akan tetapi penerapannya tidak dilaksanakan sepenuhnya. Mereka menganggap nilai-nilai yang mereka miliki umumnya lebih seperti masyarakat pribumi yang ada di Kota Medan, seperti bahasa yang digunakan serta logat Medan yang sedikit keras. Salah seorang informan juga menambahkan bahwa sejak kecil ia sudah hidup di tengah-tengah orang pribumi, mempunyai teman-teman pribumi dan bertempat tinggal di lingkungan yang mayoritas pribumi. Jadi pergaulan yang ia jalani selama ini adalah pergaulan dengan orang-orang pribumi, sehingga identitas etnis yang ia rasakan pada dirinya hanya sebatas warna kulit dan mata yang sipit saja. Rasa sense of belonging yang tidak begitu dimiliki oleh ketiga orang informan penelitian ini menjadikan identitas etnis Tionghoa yang mereka miliki terlihat tidak begitu tinggi. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan yang sudah mereka dapatkan sejak kecil. Pergaulan dengan masyarakat pribumi sejak kecil dan tidak adanya pengajaran dari keluarga akan nilai-nilai Tionghoa, menjadikan mereka tidak begitu merasakan adanya perasaan sense of belonging.

  Suatu perkumpulan ataupun organisasi yang dapat menguatkan identitas etnis pun tidak ada di jalani oleh ketiga orang informan ini, jadi kesempatan ataupun ruang untuk melakukan diskusi dengan sesama etnispun tidak ada.

  Ketidakmampuan dalam mengenali identitas etnisnya, membuat mereka juga tidak mempunyai suatu bayangan ataupun harapan akan masa depan etnis Tionghoa kedepannya. Tidak pernah terfikir mengenai harapan etnis Tionghoa kedepannya.

  IV.3 Kompetensi Komunikasi Setelah melakukan proses analisis terhadap identitas etnis pada kesebelas orang informan penelitian berdasarkan kriteria mampu mengenali, kurang mampu mengenali dan tidak mampu mengenali, kemudian peneliti melakukan pendeskripsian terhadap kesebelas informan penelitian berdasarkan indikator kompetensi komunikasi yang dilakukan.

IV.3.1 Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian

  INFORMAN 1 JASINDA (XIN ER)

  Penilaian Jasi mengenai mahasiswa pribumi lebih cenderung positif di bandingkan negatifnya. Jasi memandang mahasiswa pribumi itu lebih merakyat, tidak sombong, dan apa adanya. Penilaiannya di dasari dari penglihatannya selama berkuliah kurang lebih 2 tahun di Departemen Teknik Kimia. Jasi melihat mahasiswa pribumi itu terkenal dengan kekompakannya, pemikiran mereka juga simpel, dan itu bagi Jasi sangat menarik.

  “Mereka itu saya lihat sikapnya lebih merakyat dan tidak sombong, yang

saya lihat menarik, pemikiran mereka yang lebih simpel dan

  56 kekompakannya juga.”

  Menurut pengakuannya, Jasi sangat senang berteman dengan mahasiswa pribumi, terutama mahasiswa pribumi dengan pribadi yang baik dan penyabar. Karena mereka dengan pribadi yang baik dan penyabar akan memudahkan Jasi untuk berkomunikasi, 56 sehingga akan berdampak pada pergaulan dan juga studi. Selama melakukan pendekatan Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. dengan mahasiswa pribumi, Jasi juga tidak pernah mengalami kendala untuk dapat di terima oleh mahasiswa pribumi. Respon dari mahasiswa pribumi juga baik, dan itulah yang membuat Jasi senang berteman dengan mereka. Jasi juga mempunyai 5 teman dekat dari mahasiswa pribumi, yaitu Dewi, Kartika, Dian, Agus, dan Lisa. Jasi mengatakan kelima orang tersebut merupakan teman baik nya karena mereka adalah teman-teman yang baik, apa adanya, pembicaraannya nyambung, sehingga sering terjadi percakapan dengan mereka berlima.

  “Respon mereka itu baik kalau saya berkomunikasi dengan mereka. Saya juga punya teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi, Dewi, Kartika, Dian, Agus, dan Lisa. Mereka berlima baik-baik, saya sering ngobrol-

  57 ngobrol sama mereka, pembicaraan kami juga nyambung.”

  Awalnya Jasi juga mempunyai penilaian awal terhadap mahasiswa pribumi sebelum mengenal mereka. Jasi membuat semacam penilaian kalau mahasiswa pribumi itu tidak sombong, baik, dan supel. Tentunya semua itu berdasarkan hal-hal yang dilihat oleh Jasi selama ia tinggal di Kota Medan. Setelah berkuliah di Universitas yang mayoritas mahasiswa nya pribumi, Jasi menyadari bahwa penilaiannya selama itu ternyata benar. Mayoritas mahasiswa pribumi yang ia kenal sejauh ini sesuai dengan apa yang ia interpretasikan selama ini.

  

“Mereka tuh menurut saya tidak sombong, baik, dan supel. Itu

interpretasi awal saya, dan setelah berkuliah disini, ternyata interpretasi

  58 saya selama ini tuh benar, bang.”

  Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Jasi merasakan ada sedikit perbedaan dalam berbahasa. Walaupun sama-sama bermukim di Medan, tetapi Jasi merasakan juga adanya perbedaan dalam berbahasa dengan mahasiswa pribumi. 57 Misalnya istilah-istilah yang sering digunakan oleh mahasiswa pribumi. Bahasa daerah 58 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. yang sering di gunakan oleh mahasiswa pribumi serta bahasa Hokkian yang sering Jasi gunakan juga dalam berkomunikasi dengan sesama etnis, sering menjadi penghambat dalam pemahaman komunikasi Jasi dengan mahasiswa pribumi.

  “Bahasa itu kadang ada juga kata-kata yang tidak dimengerti, walaupun

sama-sama dari medan sekalipun. Terutama istilah-istilah ataupun

bahasa daerah nya. Mereka sering berbahasa batak, kami juga berbahasa hokkian sesama kami. Jadi kadang nggak nyambung juga.”

  59 Perbedaan itu tentunya tidak membuat Jasi menjadi etnosentris. Jasi menganggap

  itu adalah sebuah pelajaran tambahan di luar pelajaran yang ada di kampus. Menghargai satu sama lainnya, karena itu merupakan keanekaragaman. Perbedaan itu harus dipelajari, supaya tahu bagaimana menyatukannya.

  “Perbedaan adalah membuat kita menghargai satu sama lain, dengan

adanya keanekaragaman, perbedaan itu menjadikan saya tidak

etnosentris.”

60 Untuk itu, Jasi selalu menghargai setiap perbedaan yang ada, sampai pada perihal

  ketertarikannya terhadap budaya mahasiswa pribumi. Salah satunya yaitu, budaya berpuasa bagi yang Muslim. Jasi terus terang tidak pernah melakukan evaluasi perihal ketertarikannya tersebut. Jasi hanya sekedar menanyakan kepada mereka kenapa berpuasa? Dan setelah itu Jasi sedikit tahu maksud dan tujuan mereka untuk berpuasa.

  Jasi juga tidak pernah melakukan semacam evaluasi ataupun perbandingan dengan budaya etnis nya sendiri.

  

“Hhmm apa yaa? Saya terus terang nggak pernah juga melakukan

evaluasi terhadap etnis saya. Hahaa. Saya memang punya ketertarikan dengan budaya mereka, berpuasa bagi yang Muslim, tetapi tidak pernah ada evaluasi, baik itu terhadap budaya tersebut sampai pada evaluasi terhadap budaya etnis saya.”

  61 59 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. 60 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. 61 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. Meskipun demikian, Jasi mengakui bahwa dirinya memang lebih banyak berinteraksi dengan teman seetnis, karena Jasi menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang sense of belonging, selalu mencari etnis nya terlebih dahulu dimana pun ia berada. Hal ini juga disebabkan karena Jasi juga mempunyai banyak teman mahasiswa Tionghoa di kampus Departemen Teknik Kimia. Tetapi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi juga sering, karena tiapa hari juga ketemu. Setiap kali berbicara, waktu yang dihabiskan untuk berkomunikasi pun cukup lama, sekitar 30 menit sampai 1 jam untuk setiap pembahasan, dan biasanya hal-hal yang dibahas itu mengenai pelajaran dan lain- lainnya.

  Selama berkuliah dan berteman dengan mahasiswa pribumi, Jasi tidak pernah membuat semacam penilaiaan negatif terhadap mahasiswa pribumi, artinya siapa yang etnis Tionghoa dan siapa yang pribumi. Jasi menganggap semua nya sama, sederajat, dan tidak ada bedanya. Kesalahpahaman yang berakibat perpecahan karena perbedaan budaya pun tidak pernah terjadi. Untuk memahami segala perbedaan yang ada, Jasi hanya berusaha untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada mahasiswa pribumi dan selalu berbuat baik guna terciptanya kompetensi komunikasi yang lebih efektif lagi.

  “Yaa lebih mendekatkan diri lagi ke mereka dan berperilaku baik, supaya komunikasi kami lebih baik lagi, dan tidak terjadi

  62 kesalahpahaman ataupun perpecahan.”

  Kesimpulan Kasus:

  Mengenai kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, Jasi adalah tipe mahasiswa Tionghoa yang terbuka dan senang berteman dengan siapa saja, dan dari etnis 62 manapun. Meskipun pada dasarnya Jasi tetap mempunyai tingkat interaksi yang lebih Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jasinda, Medan, 8 April 2011. tinggi kepada teman seetnisnya. Hal ini memang tidak bisa di pungkiri, mengingat rasa

  sense of belonging yang cukup tinggi tadi, yang ada pada diri nya, di tambah lagi dengan jumlah mahasiswa etnis Tionghoa yang cukup tinggi di Fakultas Teknik.

  Identitas etnis yang tinggi dan termasuk dalam kategori mampu mengenali identitas etnisnya, tidak membuat Jasi mengalami hambatan dalam melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  Jasi mengatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Jasi tidak sepenuhnya menyandarkan komunikasi nya berdasarkan identitas etnis nya, di tambah dengan pemahaman perihal mahasiswa pribumi yang sudah di dapatnya, sehingga ia dapat mengatur bagaimana dan seperti apa ia akan berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  Dalam hal ini, kompetensi komunikasi yang di miliki Jasi adalah unconscious

  competence yaitu seseorang yang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya. Jasi

  merupakan seorang yang lancar berkomunikasi dengan siapa saja, dan Jasi menyadari setiap proses yang ia lakukan. Ini dapat dilihat dari komponen-komponen komunikasi yang dimilikinya. Jasi memiliki motivasi untuk berkomunikasi dengan etnis yang berbeda, yaitu mahasiswa pribumi. Ini dapat dilihat dari penjelasan Jasi perihal perasaan nya yang senang berkomunikasi dengan mereka. Untuk faktor motivasi, Jasi sadar bahwa identitas etnisnya perlu dikomunikasikan dengan etnis lain nya, supaya dapat mengetahui dimana letak perbedaannya.

  Jasi juga menyadari pentingnya faktor kemampuan untuk mampu melakukan pengembangan relasi antar etnis sebagai tindakan supaya memiliki kompetensi komunikasi secara antarbudaya, terutama dalam hal intensitas berbahasa. Untuk faktor kemampuan, Jasi sendiri termasuk orang yang cakap dalam berkomunikasi. Jasi mengetahui bagaimana kinerja perilakunya yang sebenarnya yang dirasakannya efektif dan pantas dalam konteks komunikasi, dan dari seluruh komponen komunikasi, komponen yang dapat dikatakan lebih menonjol dari Jasi adalah motivasi dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan mahasiswa pribumi, sehingga terjalin kompetensi komunikasi antarbudaya yang efektif.

  INFORMAN 2 MIMI R.G (LI ZIA)

  Pandangan Mimi pada mahasiswa pribumi biasa-biasa saja. Tidak ada hal-hal yang ia buat untuk dapat memberikan citra-citra tertentu pada mahasiswa pribumi. Mimi menganggap bahwa semua mahasiswa pribumi itu adalah teman, sama seperti mahasiswa etnis Tionghoa.

  “Pandangan biasa aja, nggak pernah di pandang-pandang kali. Hahahaa

  63 karena saya anggap mereka semua teman saya.”

  Kuliah di kampus yang notabennya adalah mahasiswa pribumi, tentunya Mimi sering berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Baik dalam hal pelajaran juga dalam pergaulan di kampus, sampai di luar kampus. Menurut Mimi, mahasiswa pribumi cenderung suka melucu, itu yang membuatnya menarik karena buat keadaan jadi ramai dan menjadi penghilang stress akibat mata kuliah yang berat.

  Perbedaan dalam berkomunikasi tentunya juga terjadi di antara Mimi dengan teman-teman pribuminya. Terutama dalam hal logat bahasa, meskipun tinggal di Medan, 63 tetapi logat Mimi masih kental dengan logat Tionghoa.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  Perbedaan tersebut lantas tidak membuat Mimi menjadi mahasiswa yang etnosentris ataupun menganggap etnis nya lah yang terbaik. Karena menurutnya, setiap etnis itu mempunyai keunikannya masing-masing.

  “Menganggap yang terbaik sih nggak, karena masing-masing etnis mempunyai keunikannya masing masing kan? Tapi ya saya tetap akan

  64 menganut keyakinan bahwa etnis saya itu baik.”

  Bahasa yang beraneka ragam dari mahasiswa pribumi, menjadikan Mimi tertarik akan budaya tersebut. Kadang Mimi sampai bingung itu bahasa apa? dan karena penasaran, Mimi pun menanyakan kepada temannya perihal ketertarikannya tersebut. Jadi, jika lain kali di dengar lagi, Mimi tidak perlu bingung lagi. Evaluasi Mimi hanya sebatas pada tahap menanyakan saja, tidak mempelajari. Mimi juga mulai melakukan evaluasi terhadap ketertarikannya tersebut dengan evaluasi terhadap etnis sendiri.

  Saya hanya membandingkan dengan berbagai jenis bahasa dari orang- orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa kan juga punya banyak bahasa yang berbeda. Mungkin orang-orang pribumi juga akan bingung dengan

  65 itu. Seperti yang saya rasakan lah.”

  Kompetensi komunikasi yang Mimi jalani dengan mahasiswa pribumi, mendapatkan respon yang baik, karena menurut Mimi jika kitanya baik, mereka juga akan baik. Interaksi dalam berkomunikasi sering nya terjadi di ruangan kelas dan lab, hal ini di dasari karena interaksinya memang sering terjadi disana. Waktu untuk bertemu nya lebih banyak di kedua lokasi tersebut. Waktu untuk berkomunikasi pun tidak pernah dihitung, akan tetapi biasanya bersamaan dengan berakhirnya kelas. Meskipun mempunyai banyak teman dari mahasiswa pribumi, tetapi pada hakikatnya Mimi itu lebih banyak berkomunikasi dengan mahasiswa yang seetnis. Katanya untuk menunjukkan 64 bahwa komunitas mereka itu solid. Hal ini sesuai dengan identitas etnis yang sangat 65 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011. tinggi yang dimilikinya, serta kategori mampu mengenali identitas etnis yang ada pada dirinya.

  Mimi juga mempunyai 6 orang teman dekat dari mahasiswa pribumi. Teman dekat yang ia punyai diantaranya Sinta, Sari, Laura, Rinal, Farhan, dan Lince. Mimi mengangga mereka berenam adalah teman baik karena mereka baik-baik da pembicaraannya juga nyambung. Saking dekatnya, Mimi juga mengetahui hal-hal apa saja yang di sukai oleh keenam teman pribumi nya.

  “Kalo makanan kita sering makan siang bareng, sering nya sih kita itu makan ayam penyet, minumnya teh manis dingin. Kalo mata kuliah,

  66 beda- beda.”

  Penilaian terhadap mahasiswa pribumi juga penah dilakukan oleh Mimi sebelum mengenal mereka. Penilaian awal Mimi, mahasiswa pribumi itu pemarah dan tidak mau menerima keberadaan mahasiswa etnis Tionghoa. Tetapi interpretasi nya selama ini salah.

  “Memang kalo belum kenal ya nggak boleh sembarangan menilai, nggak

  67 baik.”

  Untuk menjadikan kompetensi komunikasi yang lebih efektif lagi dengan mahasiswa pribumi, Mimi berpendapat bahwa ia harus lebih banyak bergaul dengan mahasiswa pribumi, supaya tahu bagaimana pribadi nya lebih banyak lagi.

  68 “Kalo udah taukan jadi kalo berkomunikasi ya enak.”

  Penilaian Mimi hanya sebatas penilaian untuk pembandingan saja, tetapi kalau aplikasinya Mimi berteman dengan semuanya. Untuk itu, Mimi tetap mempertahankan 66 budaya nya dalam kopetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. 67 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011. 68 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  

“Ya kalo sesama etnis tetaplah, karena kan itu kan udah termasuk

budaya. Tapi kalo di depan etnis Pribumi, kita berbahasa Indonesia lah,

  69 supaya nggak terjadi kesalahpahaman.”

  Kesimpulan Kasus:

  Mimi memiliki tingkat kompetensi komunikasi yang cukup baik. Hal tersebut secara tidak langsung dikarenakan Mimi bekuliah di lingkungan kampus yang mayoritas adalah pribumi. Perbedaan logat bahasa dan nilai-nilai tidak dijadikan Mimi sebagai alasan untuk tidak berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Perbedaan-perbedaan tersebut malah mendorongnya untuk dapat berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  Motivasi untuk berkomunikasi juga ada di dalam diri Mimi, Mimi menjadikan motivasi tersebut sebagai tenaga untuk mencari tahu apa yang sebenarnya harus diketahuinya sehingga ia mempunyai suatu pemahaman dalam berkomunikasi secara efektif dengan mahasiswa pribumi. Alhasil, dalam hal ini Mimi mampu berkomunikasi dengan etnis lain yaitu mahasiswa pribumi. Maka dapat dikatakan bahwa Mimi berada pada tataran kompetensi komunikasi unconscious competence yaitu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya. Mimi terus berusaha untuk dapat melakukan komunikasi yang efektif denganmahasiswa pribumi, guna terciptanya kompetensi komunikasi yang efektif.

69 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Mimi R.G, Medan, 9 April 2011.

  INFORMAN 3 KRISNAWATI (GOH LIE YUNG)

  Pandangan Krisna juga sama dengan pandangan Mimi perihal mahasiswa pribumi. Krisna menganggap mahasiswa pribumi itu sama saja dengan mahasiswa Tionghoa.

  

“Tidak jauh berbeda dengan pandangan saya terhadap teman-teman se-

etnis saya. Sama aja lah.”

70 Krisna tentunya juga sering berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, baik itu

  dalam konteks perkuliahan sampai pada pergaulan. Bergaul dengan mahasiswa pribumi tentunya akan menambah wawasan akan kebudayaan yang berbeda. Dalam setiap percakapan pasti ada masalah tentang budaya.

  “Percakapan mengenai kebudayaan kita masing-masing. Kadang kalo

  kita nobrol, sering juga ngomongin hal-hal seperti itu. Jadi menariklah.”

71 Krisna mengunggapkan bahwasanya ia lebih nyaman berkomunikasi dengan

  mahasiswa pribumi yang lebih terbuka, karena akan memudahkannya dalam berkomunikasi. Perbedaan yang ia rasakan bukan hanya dari bahasa ataupun logatnya saja, tetapi juga dalam pemikiran. Mahasiswa pribumi pemikirannya cenderung tidak mau tahu akan segala sesuatu yang berbau pelajaran. Mahasiswa pribumi terlihat lebih banyak malasnya dibanding kedisiplinannya, baik itu dalam perkuliahan di kelas, lab, sampai pada tugas kuliah.

  “Dalam hal bahasa, pemikiran juga. Maaf ya, kadang saya lihat pemikiran teman-teman pribumi ini lebih cenderung nggak mau tau. Kalo kami kan etnis Tionghoa lebih ingin berfikir ke depan biar lebih 70 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011. 71 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011.

  maju, tapi teman-teman pribumi ini saya lihat lebih banyak malasnya.

  72 Dalam pengerjaan tugas kuliah juga, lab juga.”

  Perbedaan yang dirasakan Krisna, membuatnya mengatakan bahwa adakalanya Krisna menjadi etnosentris dan ada kalanya juga tidak. Tergantung dalam situasi bagaimana ia berada.

  “Dalam beberapa hal, saya dapat mengatakan diri saya etnosentris. Kalo berdasarkan penilaian saya seperti yang tadi. Yaa pastinya saya

  73 merasa saya itu etnosentris, kelompok saya lah yang paling baik.”

  Krisna juga mempunyai ketertarikan akan budaya dari mahasiswa pribumi, yaitu puasa dan sholat. Evaluasi pun terjadi, yaitu dengan menanyakan perihal alasan mereka kenapa melakukan ibadah sholat dan puasa?.

  “Pernah, saya menyakan kenapa sholat dan kenapa puasa? Untuk apa

  74 itu? Dan mereka menjelaskan. Barulah saya benar-benar mengerti.”

  Evaluasi terhadap budaya etnis sendiri tentunya juga terjadi. Krisna membandingkan apa yang ia lihat dengan apa yang ia ketahui ada di dalam etnis dan agamnya. Di agamanya juga ada hal serupa, tetapi tentunya dengan cara yang berbeda.

  Dalam hal ini Krisna berpendapat, ketika ia berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, ia selalu mendapat sambutan yang hangat dari mereka. Meskipun lebih sering berkomunikasi dengan teman se-etnis, tetapi Krisna juga mempunyai teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi, yaitu Rani. Rani adalah satu-satu nya teman dekat yang Krisna punya, karena dengan Rani lah Krisna sering belajar dan bekerja sama.

  Setelah banyak berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Krisna mulai memperoleh pengetahuan bahwa penilaiaanya selama ini benar, ada yang dapat dijadikan 72 teman dan ada yang tidak. Upaya yang ia lakukan untuk terjalinnya kompetensi 73 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011. 74 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Krisnawati, Medan, 9 April 2011. komunikasi yang lebih efektif lagi dengan mereka, yaitu dengan hanya berteman dengan orang-orang tertentu dan menjauhi orang-orang yang tidak dapat diajak berkomunikasi.

  Krisna juga pernah melakukan penilaian kecil terhadap mahasiswa pribumi perihal siapa yang etnis Tionghoa dan siapa yang pribumi, dan itu jelas menghambat kompetensi komunikasi nya dengan mahasiswa pribumi. Kesalahpahaman karena perbedaan budaya juga pernah terjadi. Salah satunya mengenai ibadah, seperti yang sudah ia jelaskan sebelumnya. Agar terciptanya kompetensi komunikasi yang lebih efektif lagi, Krisna akan menghormati budaya tersebut dan sekaligus mempertahankan budaya dari etnis nya sendiri.

  Kesimpulan Kasus:

  Mengenai kompetensi komunikasinya, Krisna termasuk kriteria yang cukup termotivasi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi khususnya teman-teman mahasiswa pribumi yang ada di Departemen Teknik Kimia. Meskipun pada kenyataannya frekuensi dan intensitas komunikasi Krisna masih sangat besar pada kelompoknya, dan hal ini menjadikan Krisna terlalu memilih-milih teman mahasiswa pribumi yang dapat diajak untuk berkomunikasi.

  Krisna tidak memiliki kompetensi komunikasi yang lebih baik dari Mimi. Krisna telalu membuat pertimbangan siapa saja teman dari mahasiswa pribumi yang bisa ia ajak berkomunikasi. Krisna sendiri sebenarnya sudah memiliki motivasi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi. Namun Krisna sedikit membatasi komunikasi dengan mahasiswa pribumi yang memang tidak bisa di ajak berkomunikasi secara efektif dengan dirinya. Krisna lebih memilih untuk menjauhi mahasiswa-mahasiswa pribumi denga tipe seperti itu. Meskipun Krisna sering bersama kelompoknya, Krisna masih berkeinginan untuk memenuhi hasrat kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan yang harus dikomunikasikan dan dipertukarkan dengan mahasiswa pribumi. Krisna mengakui bahwa dirinya senang berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, khususnya ketika bercerita mengenai budaya yang berbeda. Melalui pembicaraan tersebut dapat membantu Krisna untuk mengetahui ranah identitas etnisnya dan semakin menyandarkannya pada tahap etnosentris. Sikap etnosentrisme yang ia miliki masih dalam batas yang wajar saja. Ia hanya berusaha untuk berani membela apa yang menurutnya benar.

  Krisna mengakui bahwasanya ia cukup sering bertukar informasi akan budaya dengan teman pribuminya. Hasil dari pertukaran informasi tersebut membuatnya sedikit menemukan perbedaan. Menyadari perbedaan kadang mampu memfasilitasi kompetensi komunikasi. Namun, Krisna tidak memanfaatkan keadaan ini, ia lebih memilih untuk menjauhi daripada mendekatinya, sehingga hal-hal seperti ini dapat menghambat kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Jadi dapat disimpulkan bahwa Krisna berada pada tataran conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Krisna menyadari bahwasanya ia dapat berkomunikasi dengan baik dengan mahasiswa pribumi, dibuktikan dengan ketertarikannya dalam bercerita tentang budaya yang berbeda dengan mahasiswa pribumi. Tetapi karena ketidakcocokan dengan beberapa tipe dari mahasiswa pribumi, menjadikan ia tidak mau melakukan suatu perbaikan guna terciptanya kompetensi komunikasi yang efektif.

  INFORMAN 4 JOHN THEDY (YONG AN)

  Pandangan John terhadap mahasiswa pribumi sama saja dengan pandangan John terhadap teman-teman seetnisnya. John menganggap mahasiswa pribumi adalah teman yang merupakan sama-sama manusia. John juga tidak menilai orang berdasarkan etnisnya. John hanya menilai orang perbuatannya, jika perbuatannya jelek, berarti itu nilainya negatif, begitu pula sebaliknya jika perbuatannya baik, berarti nilainya positif. Ini dibuktikan dengan John yang juga mempunyai teman dekat dari mahasiswa pribumi, diantaranya Lamhot, Fander, dan Fransiskus.

  Komunikasi yang ia lakukan dengan teman-teman pribuminya tidak hanya dalam konteks belajar, tetapi juga dalam pergaulan di dalam maupun di luar kampus. Dalam komunikasinya dengan teman-teman pribumi, John juga merasakan adanya perbedaan dalam komunikasi mereka. Perbedaan yang John rasakan menurutnya adalah bukan perbedaan yang besar, hanya sebatas perbedaan dalam logat berbahasa saja. Mereka yang ber-etnis Tionghoa tentu logatnya adalah logat Tionghoa bercampur logat Medan, dan mahasiswa yang non-Tionghoa tentu berlogat Medan yang keras. Kalau bahasa tidak ada perbedaan yang John rasakan, ini dikarenakan John juga sudah lama tinggal di Kota Medan.

  Ketika sedang bergaul dengan mahasiswa pribumi, John juga pernah merasa kesal dengan mereka. Biasanya John merasa kesal kepada mahasiswa pribumi ketika mereka mengerjakan tugas sendiri, dimana seharusnya tugas itu adalah tugas kelompok yang harus dikerjakan bersama-sama. Tetapi John menganggap itu hanyalah warna-warni dalam perkuliahan. John juga tidak menjadikan kekesalannya tersebut jadi sikap etnosentris, karena itu akan dapat menghambat pertemanannya.

  “Supaya tidak terjadi kesalahpahaman, saya mencoba berfikir positif aja dengan mereka, dan etnosentris itu pasti setiap etnis menganggap etnis nya yang paling baik, tetapi itu tidak juga dikatakan dapat menghambat

  75 pertemanan.”

  Mengenai budaya mahasiswa pribumi, John mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mempunyai ketertarikan dengan budaya mahasiswa pribumi dikarenakan ia kurang begitu tahu tentang budaya lain, sehingga ia tidak dapat melakukan evaluasi terhadap budaya mahasiswa pribumi tersebut maupun budaya dari etnisnya sekalipun.

  Selama berteman dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi, dan melakukan kompetensi komunikasi dengan mereka, John mengakui bahwa ia selama ini membuat suatu interpretasi yang salah dengan mahasiswa pribumi. Awalnya, ia menganggap mahasiswa pribumi itu tidak suka dengan etnis Tionghoa, tetapi interpretasinya itu salah.

  Untuk menjalin komunikasi yang lebih efektif lagi, John berusaha untuk lebih dekat lagi dengan mereka, agar lebih mengenal lebih dekat bagaimana pribadi mereka.

  Iya, interpretasi ku selama ini salah, kebanyakan teman-teman pribumi

itu baik-baik, welcome sama kami. Mungkin itu tergantung pribadi

orangnya ya? Kebetulan aku dapat teman yang baik-baik. Saya juga jadi

  76 tahu nama-nama daerah di sumut dari daerah-daerah asal mereka.”

  Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi John akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada diri nya sebagai etnis Tionghoa. John akan memilih nilai mana yang lebih baik baginya, namun dalam hal ini kebudayaan dan tradisi Tionghoa tetap akan dipertahankannya.

  75 76 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Jhon Thedy, Medan, 12 April 2011.

  Kesimpulan Kasus:

  John mengakui bahwa dirinya mempunyai hasrat yang cukup besar untuk dapat berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Karena selama ini ia bersekolah di sekolahan yang mayoritas siswanya adalah Tionghoa. Jadi ia ingin merasakan suatu pengalaman yang baru. Perasaan mengenai perbedaan bahasa, nilai dan pola perilaku kultural yang mendorong John supaya aktif dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  John sudah memiliki motivasi untuk berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Adanya kesadaran untuk memenuhi kebutuhan identitasnya, dan John pun bisa mengenali siapa yang ada dalam in-group maupun out-group nya. Dari faktor penegtahuan, John sudah mengembangkan relasinya dan mampu melakukan adaptasi budaya dan pengetahuan tersebut dipergunakannya secara maksimal. John juga mempunyai kecakapan dalam menyesuaikan, dan ia mampu mengenali secara jelas etnis temannya yang berbeda budaya. Jadi, nilai kompetensi komunikasi yang John miliki ada pada tataran unconscious competence yaitu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya. John sudah menyadari bahwa adanya perbedaan dan ia merasa perlu untuk melakukan hal-hal untuk memperbaiki pemahamannya mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya.

  INFORMAN 5 RUDI KIRANA ( ZHENG HAO)

  Selama berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Rudi selalu mendapat respon yang baik dari mahasiswa pribumi. Meskipun sebelum masuk ke USU, Rudi awalnya sedikit takut dengan mahasiswa pribumi, karena sebelumnya ia selalu bergaul dengan teman-teman seetnis selama ia sekolah. Tetapi setelah mengenal dan bergaul dengan mahasiswa pribumi, Rudi merasa tidak ada masalah. Hal tersebut dengan alasan karena Rudi berkuliah di USU yang memang mayoritas mahasiswanya adalah pribumi, jadi memang mengharuskan dirinya untuk berkomunikasi. Kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi tidak hanya ia lakukan dalam konteks belajar saja, tetapi juga dalam pergaulan di dalam kampus sampai di luar kampus juga.

  Rudi mengakui bahwa dirinya adalah etnis Tionghoa yang sense of belonging. Alasannya pun didasari karena nilai kebersamaan yang dimiliki oleh etnis Tionghoa yang telah ia sebutkan di awal wawancara. Baginya selama ia berkuliah di kampus Departemen Teknik Sipil, ia merasa bahwa dirinya dapat bergaul dengan siapa saja tanpa pandang etnis dengan tetap menjaga adab dari etnis Tionghoa. Rudi meyakini bahwa dirinya dapat bergaul dengan siapa saja, tetapi keakraban dan kenyamanan memang lebih ditemukannya dalam kelompok etnisnya. Tema pembicaraan Rudi dengan mahasiswa pribumi biasanya dalam konteks belajar dan pergaulan juga, banyak ketertarikan yang Rudi rasakan saat berkomunikasi dengan teman-teman pribuminya, diantaranya mengenal lebih banyak budaya serta adat yang berbeda dan dapat menambah pengetahuan. Perbedaan pun memang tidak mustahil ada yang ia rasakan saat berkomunikasi dengan teman-teman mahasiswa pribuminya. Perbedaan yang Rudi rasakan ada pada cara pandang dan pengetahuan antara kedua belah pihak yang berbeda.

  Rudi mampu mengenali in-group dan out-group nya. Rudi mampu berkompetensi komunnikasi dengan teman se-etnis juga dengan teman-teman mahasiswa pribumi.

  Meskipun pada hakikatnya, interaksi memang lebih sering terjadi pada in-group nya.

  Ketertarikan Rudi juga tertuju pada salah satu budaya dari mahasiwa pribumi, yaitu budaya-budaya dari suku batak dan suku jawa. Ketertarikannya di dasari dari penglihatannya terhadap teman-teman mahasiswa pribumi etnis Jawa dan Batak yang selalu bertolak belakang jika dalam keadaan berkomunikasi. Ketertarikannya terhadap kedua budaya tersebut, lantas tidak dijadikan oleh Rudi untuk melakukan evaluasi terhadap etnis tersebut serta etnisnya.

  Kompetensi komunikasi yang efektif dengan mahasiswa pribumi juga dibuktikan Rudi, bahwa ia juga mempunyai 5 orang teman dekat dari mahasiswa pribumi. Rudi mengatakan mereka berlima sebagai teman baik karena mereka berlima selalu ada disaat susah maupun senang.

  Awalnya, Rudi menginterpretasikan bahwa mahasiswa pribumi itu tertutup, tetapi setelah kenal lebih lanjut dengan mereka, Rudi baru menyadari bahwa mereka umunya lebih terbuka, meskipun masih ada yang tertutup. Penilaian seperti itu awalnya membuat kompetensi komunikasi Rudi terhambat.

  “Awalnya sih iya menghambat, tapi semakin kesini, semakin enjoy-enjoy

aja. Nggak ada hambatan. Karena keinginan untuk bergaul dan

menambah teman, itu adalah motivasi saya untuk berkomunikasi dengan

  77 siapa saja, termasuk mahasiswa pribumi.”

  Menurut Rudi, ia tidak terlalu menemukan kendala dalam berkomunikasi dengan teman berbeda etnis, bahkan ia merasa tidak ada pengalaman mengenai kesalahpahaman yang terjadi karena perbedaan budaya, ia selalu berusaha untuk bertoleransi dengan teman-teman mahasiswa pribumi. Ia dapat menerima perbedaan yang ada, walaupun ia tidak begitu merasakan perbedaan itu.

77 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011.

  Dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, Rudi akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa. Ia merasa itu sangat penting bagi kelangsungan etnis Tionghoa yang ada di Indonesia. Meskipun warganegara Indonesia, tetapi Rudi mengatakan bahwa etnisnya tetap etnis Tionghoa yang harus ia jaga dan banggakan.

  

“Saya warganegara Indonesia, tetapi etnis saya kan Tionghoa.

Gimanapun saya akan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya

78 Tionghoa Indonesia saya tentunya.”

  Kesimpulan Kasus:

  Interaksi yang tinggi terhadap kelompoknya, lantas tidak membuat Rudi tidak mempunyai keinginan untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Berada dalam lingkungan yang berbeda, dan selalu berkumpul dengan mahasiswa seetnis, tidak membuat Rudi kaku dalam berkomunikasi dengan etnis lain dan cukup merasa dalam kondisi yang aman. Jadi, wajar jika Rudi merasakan kompetensi komunikasi yang efektif dengan mahasiswa pribumi.

  Masalah yang Rudi hadapi terkadang hanyalah masalah cara pandang yang berbeda saja. Tetapi Rudi tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena cara pandang orang berbeda-beda. Dalam hal ini Rudi mempunyai motivasi sebagai dasar utama untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, dan dorongan itu pun secara tidak sadar digunakan Rudi untuk sharing atau bertukar cerita tentang budaya yang berbeda dengan mahasiswa pribumi, dan itu merupakan suatu hal yang menyenangkan baginya.

  Pemahaman tersebut lebih lanjut dijadikannya untuk membantu kompetensi komunikasi 78 anatarbudaya yang dilakukannya sampai pada tidak ada keraguan dalam dirinya untuk Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Rudi Kirana, Medan, 15 April 2011. berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi yang berbeda budaya. Jadi secara umum, nilai kompetensi komunikasi Rudi berada pada tataran unconscious competence, yaitu dalam hal ini Rudi telah mengembangkan kecakapan komunikasinya untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, ia merasakan bahwa hal tersebut sangat dibutuhkan untuk berkompetensi komunikasi dengan mereka mahasiswa pribumi.

  INFORMAN 6 MICHAEL (THEO SHIAN UN)

  Mike menjelaskan pandangannya mengenai mahasiswa pribumi, ada yang menurutnya perilakunya tidak jelas dan ada yang menurutnya berperilaku yang jelas.

  Dalam arti, ada diantara mereka yang memang baik, dan tidak menutup diri, dan ada juga diantara mereka yang selalu menutup diri, sehingga membuat nya sedikit kesusahan untuk dapat berkomunikasi. Mike juga menambahkan sikap lainnya yang termasuk sikap tidak jelas itu adalah sikap kebanyakan mahasiswa pribumi yang sering tidak masuk ke laboratorium padahal mereka ada di lingkungan kampus tersebut.

  “Kalau dalam lingkungan kampus, saya liat teman-teman saya yang pribumi, datang ke kampus tapi nggak masuk kelas, lebih seringnya sih nggak masuk lab. Ini mahasiswa atau bukan? Saya sering bertanya

  79 seperti itu pada diri saya sendiri”.

  Pandangan seperti itu tentunya tidak membuat Mike untuk tidak berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Mike selalu berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi dalam segala hal, baik itu dalam belajar, bermain, jalan-jalan, bermain game DOTA dan lain-lain. Mike bercerita, bahwa saking dekatnya dengan mahasiswa pribumi, ia dan

79 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  teman-temannya juga sering terlibat percakapan yang sangat menarik sampai mereka tertawa terbahak-bahak.

  “Yang menarik banyak, karena kan kalau tiap ngobrol, pasti beda-beda yang di bahas, bukan itu-itu aja. Tapi kalau ditanya yang paling menarik itu kalau kita cowok-cowok lagi ngumpul-ngumpul, pasti yang dibahas itu tentang cewek, mulai dari yang bagus-bagusnya sampai

  80 yang jelek-jelek bahkan jorok-joroknya juga. Hahahaaaa”

  Mike berani untuk merasakan sesuatu yang beda yaitu dengan membuka kompetensi komunikasi antarbudaya nya baik dengan teman mahasiswa Tionghoa maupun dengan teman mahasiswa pribumi. Rasa nyaman memang lebih ditemukannya dengan teman seetnis. Ia merasa cara berinteraksi yang sama membuatnya lebih cocok dengan mereka. Tetapi itu tidak menjadikannya menjadi etnosentris dan menutup diri terhadap mahasiswa dari etnis lain. Pergaulan yang tidak terbatas membuat Mike sudah tidak lagi merasakan adanya perbedaan dan belum pernah mengalami kesalahpahaman yang bisa menghambat komunikasi.

  Mike senang berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi dengan pribadi yang baik, ramah, dan tidak sombong. Karena menurut Mike, untuk terjalinnya kompetensi komunikasi yang efektif terlebih dahulu kita harus nyaman dengan keadaan lawan bicara kita. Katanya, Mike juga mempunyai teman-teman dari mahasiswa pribumi sebanyak 10 orang. Kesepuluh teman dekat pribumi yang ia miliki, ia merasa nyaman dengan semuanya, karena ia sudah menemukan kecocokan berdasarkan kriteria yang ia sudah tetapkan tersebut. Mike juga mengetahui hal-hal apa saja yang disukai maupun tidak disukai oleh teman-teman pribuminya.

80 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  “Hehee kalau mata kuliah taulah, karena sama semua kan? Hehee.. kalau makanan, minuman sih kurang tau, yang saya tau mereka nggak boleh

  81 makan-makanan dan minuman yang haram.”

  Interpreatsi mengenai perilaku mahasiswa pribumi juga pernah dilakukan oleh Mike sebelum mengenal teman-teman pribuminya tersebut. Awalnya Mike menganggap bahwa kalau dilihat dari tampang sepertinya ada diantara mereka yang terlihat agak seram, jahat, bringasan. Tetapi setelah lama-lama berteman ternyata orangnya sangat lembut dan baik hati. Dalam hal ini, interpretasi Mike selama ini salah. Jadi selama ini Mike telah membuat interpretasi yang salah sebelum ia mengenal teman-temannya tersebut.

  “Yaa.. terlebih dahulu ya memang harus ada pendekatan dulu, perhatikan

bagaimana sikap dia ke orang lain. Setidaknya dari situ kita taulah

  82 bagaimana dia.”

  Selama ini Mike pernah membuat semacam penilaian sederhana tentang siapa Mike? Siapa teman bicara Mike? Artinya siapa yang etnis Tionghoa dan siapa yang etnis pribumi. Secara tidak langsung Mike pernah melakukan penilaian seperti itu. Mike menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar, terutama disaat awal-awal masuk kuliah, tetapi ia merasa bahwa hal tersebut tidak boleh ia perlihatkan apalagi secara langsung kepada teman-teman mahasiswa pribumi sebelum mengenal mereka lebih lanjut lagi.

  Penilaian seperti itu menurut Mike awalnya memang bisa menghambat kompetensi komunikasinya. Tetapi sekarang ini hambatan itu sudah tidak dirasakan nya lagi, dan dalam kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, Mike akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada diri Mike sebagai etnis Tionghoa.

  “Pastinya, nilai-nilai itu kan nggak akan bisa berubah, sampai kapan 81 pun saya akan tetap jadi seorang Tionghoa. Tetapi untuk bisa berbaur 82 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  dengan mahasiswa pribumi, saya juga harus menerima nilai-nilai budaya mereka, tanpa merubah nilai-nilai budaya saya sebagai seorang

  83 etnis Tionghoa.”

  Jadi, jika dapat disimpulkan, Mike memang lebih sering berkomunikasi dengan teman-teman seetnis dibandingkan dengan mahasiswa pribumi. Walaupun menurut penuturannya, dalam berkomunikasi bisa dikatakan ia sama seringnya dalam hal berkomunikasi dengan keduanya.

  84 “Beda tipislah, tapi ya memang lebih sering dengan teman seetnis.”

  Kesimpulan Kasus:

  Interaksi antarbudaya Mike dengan mahasiswa pribumi dan dengan teman se- etnis juga berimbang. Ia dapat dengan mudah akrab dengan teman mahasiswa pribumi tetapi ia ia tetap mempertahankan keterikatannya dengan in-group nya.

  Motivasi yang kuat dimiliki Mike untuk mau berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, bahkan Mike akhirnya dapat mengenali karakter-karakter dari teman-teman pribuminya yang dinilainya berbeda dengan karakter-karakter yang ada di dalam etnisnya. Motivasi yang ia punya menunjukkan kesadarannya akan kebutuhan menghindari kecemasan dan kebutuhan untuk menopang konsep diri, serta secara pasti juga mempunyai mindful terhadap ranah dan kebutuhan identitas. Mike juga memiliki pengetahuan mengenai perbedaaan kelompoknya dan cara mengumpulkan informasi antarbudaya sehingga menciptakan kompetensi komunikasi yang efektif.

  Dalam kasus ini, kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh Mike adalah

  

unconscious competence yaitu seseorang yang telah mengembangkan kecakapan

83 komunikasinya. Dalam hal ini, Mike menunjukkan kecakapannya dalam berkomunikasi 84 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Michael, Medan, 18 April 2011. dengan mahasiswa pribumi, dan itu menunjukkan bahwa dirinya mampu mengatasi masalah out-group nya.

  INFORMAN 7 SUSANTO SALIM (KEN LIE)

  Kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi selalu ditunjukkan oleh Susanto dengan baik. Ia tidak pernah membuat pandangan negatif terhadap mahasiswa pribumi. Penilaian awal terhadap mahasiswa pribumi memang ada sebelum ia mengenal mahasiswa pribumi tersebut lebih dekat lagi. Kompetensi komunikasi dibuktikan dengan ia juga mempunyai teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi. Kegiatan untuk bertukar fikiran ketika belajar di kampus, di jadikannya untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, dalam hal bergaul di dalam maupun di luar kampus juga dijadikannya untuk memaju kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi.

  Perbedaan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi juga dirasakan olehnya. Perbedaan dalam hal logat bahasa menjadi masalah dalam komunikasi mereka.

  Memang ia mengatakan bahwa itu bukanlah masalah yang berat dalam komunikasi mereka dengan mahasiswa pribumi.

  Berteman dengan mahasiswa pribumi, tentunya juga membuat Susanto mempunyai kriteria terhadap mahasiswa pribumi yang nyaman untuk diajak berkomunikasi. Susanto mengatakan yang apa adanya dan tidak ditutup-tutupi menjadi kriteria yang ia inginkan dari teman mahasiswa pribumi.

  Ketika sedang berkomunikasi, Susanto juga pernah merasakan kekesalan terhadap teman-teman pribuminya, biasanya dalam hal tugas kampus, tetapi itu hanyalah kekesalan sesaat, karena Susanto yakin bahwa sebenarnya mereka itu tidak seperti itu.

  “Sering, karena mereka bandel. Tapi sebenarnya rajin sih. Kadang

  85 dibilang ini, di kerjain yang itu. Biasanya dalam tugas kampus.”

  Kekesalannya tersebut lantas tidak menjadikan dirinya etnosentris, karena ia menganggap bahwa hal seperti itu biasa, tidak semuanya dalam pergaulan semuanya harus sama, karena belum tentu kita lebih baik daripada orang lain karena masing-masing orang ada kelebihannya dan kekurangannya, begitu penuturan dari dirinya.

  Dalam kondisi seperti ini, Susanto lebih memilih untuk lebih intensif dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi supaya lebih efektif, dan tentunya dengan saling membantu satu sama lain, karena ia menganggap komunikasinya selama ini seimbang antara teman mahasiswa pribumi dengan teman-teman seetnis yang ada di kampusnya.

  Susanto terlihat sejauh ini belum mempunyai ketertarikan khusus terhadap budaya dari mahasiswa pribumi, sehingga tidak ada evaluasi positif perihal budaya etnis Tionghoa dan mahasiswa pribumi yang ia lakukan.

  Kesimpulan Kasus:

  Kesimpulan yang dapat diambil dari informan ini adalah sebagai berikut: Susanto mempunyai ketertarikan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, meskipun pada kenyataannya Susanto yang merasa bahwa dirinya mempunyai

85 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Susanto Salim, Medan, 25 April 2011.

  interaksi kompetensi komunikasi yang seimbang antara teman se-etnis dengan teman mahasisa pribumi.

  Susanto sudah mempunyai motivasi untuk berkomunikasi, dan hal tersebut menunjukkan kebutuhannya untuk mengurangi sikap etnosentrisme akan etnis. Ia juga mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi tentang mahasiswa pribumi, serta ia juga tahu perbedaan kelompok dan kesamaannya.

  Pengetahuan terhadap adaptasi antarbudaya dan pengembangan relasi menunjukkan kemampuan mereka dalam berkompetensi komunikasi dengan baik serta mampu mengebangkan relasi antar etnis dan mampu bertoleansi terhadap sifat ambiguitas dan menghilangkan kecemasan karena perbedaan warna kulit.

  Umumnya, Susanto menggunakan identitas etnisnya sebagai motivasi untuk membuka jaringan komunikasi. Artinya identitas etnis dipahami sebagai alat yang berguna untuk membantunya mengenal siapa dirinya dan mendorong dirinya untuk mau berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Hal inilah yang terjadi pada dirinya, meskipun ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa sebagai pendorong bukan penghambat dalam komunikasi.

  Dalam hal ini, tataran kompetensi komunikasi yang ada pada Susanto adalah

  

unconscious competence yaitu kemampuannya dalam mengembangkan kecakapan

  komunikasinya dengan mahasiswa pribumi, tentunya dengan mempertahankan identitas etnis yang sudah ada dalam dirinya.

  INFORMAN 8 PUTRA JAYA (MIN ZONG)

  Kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi ditunjukkannya dengan baik. Putra menambahkan, misalnya sebelum mengenal teman-teman pribumi yang cowok, ia melihat tampang mereka yang seram sebagai sosok menakutkan seperti preman, tetapi setelah mengenal lebih dekat lagi Putra baru mengenal bagaimana pribadi mereka yang sebenarnya. Perbedaan dalam hal logat bahasa menjadi masalah dalam komunikasi mereka. Ia mengatakan bahwa ini bukanlah masalah yang berat dalam komunikasinya dengan mahasiswa pribumi.

  “Terkadang ada satu bahasa Hokkien yang tidak dapat di jelaskan dalam satu kata di bahasa Indonesia, dan terkadang logat daerah yang 86 mahasiswa pribumi gunakan juga dapat membingungkan”.

  Tentunya semua itu dapat di atasi dengan memahami kekurangan-kekurangan tersebut.

  Putra mempunyai kriteria terhadap mahasiswa pribumi yang nyaman untuk diajak berkomunikasi. Putra mengatakan bahwa ia menginginkan teman pribumi yang terbuka dan tidak rasis dan tentunya dengan pribadi yang dapat menghargai orang lain. Karena dengan kriteria itu mereka tentunya akan nyaman dalam berkomunikasi.

  Putra mengungkapkan bahwa mahasiswa pribumi suka menunda-nunda yang seharusnya harus segera dilaksanakan. Tetapi Putra juga tidak menjadikan masalah tersebut menjadi dirinya yang etnosentris, karena menurutnya itu bukanlah masalah yang 86 besar, hanya masalah ego individu saja. Putra hanya berusaha untuk berpikir positif dan Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 25 April 2011. melihat kelebihan mereka serta memberikan masukan jika waktunya sudah tepat. Intinya saling menghargai perasaan satu sama lain.

  Putra pernah mempunyai ketertarikan terhadap budaya dari mahasiswa pribumi yang ia sadari bahwa itu tidak ia dapatkan dari lingkungan keluarganya.

  “Pernah, Saya suka cara mereka mendidik anak dalam keluarga. Lebih banyak keterbukaan antara orang tua dan anak. Tidak seperti di keluarga etnis Tionghoa yang menganut paham orang tua paling berkuasa benar

  87 dan berkuasa.”

  Evalusi terhadap ketertarikannya tersebut tidak pernah ia lakukan. Putra hanya mengaguminya saja, tetapi tidak pernah melakukan evaluasi perihal ketertarikannya tersebut. Evaluasi perihal etnis sendiri juga tidak pernah ia lakukan sendiri.

  

“Saya tidak pernah mengevaluasi. Paling juga dijadikan topik

pembicaraan dengan teman-teman saja. Kadang ada sisi positif dan

  

88

negatif dari kedua budaya atau etnis.”

  Kesimpulan Kasus:

  Putra mempunyai ketertarikan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, meskipun pada kenyataannya, Putra memang lebih memiliki intensitas pergaulan yang lebih dengan teman seetnis. Putra sudah mempunyai motivasi untuk berkomunikasi, dan hal tersebut menunjukkan kebutuhannya untuk mengurangi sikap etnosentrisme akan etnis. Ia juga mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi tentang mahasiswa pribumi, serta ia juga tahu perbedaan kelompok dan kesamaannya.

  Pengetahuan terhadap adaptasi antarbudaya dan pengembangan relasi menunjukkan kemampuannya dalam berkompetensi komunikasi dengan baik serta mampu

  87 88 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 25 April 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Putra Jaya, Medan, 25 April 2011. mengebangkan relasi antar etnis dan mampu bertoleansi terhadap sifat ambiguitas dan menghilangkan kecemasan karena perbedaan warna kulit.

  Putra menggunakan identitas etnisnya sebagai motivasi untuk membuka jaringan komunikasi. Artinya identitas etnis dipahami sebagai alat yang berguna untuk membantu ia mengenal siapa dirinya dan mendorong dirinya untuk mau berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Hal inilah yang terjadi padanya, meskipun ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa sebagai pendorong bukan penghambat dalam komunikasi.

  Putra berada dalam tataran, conscious competence yaitu mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan mahasiswa pribumi, meskipun ia tidak mampu mengenali identitas etnisnya sendiri, tetapi ia juga mampu berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, dan berteman baik dengan banyak mahasiswa pribumi, meskipun menurutnya intensitas pertemanannya memang lebih banyak dengan teman se- etnis.

  INFORMAN 9 ADI SURYA (CIN AN)

  Pergaulannya dikampus juga lebih kepada mahasiswa-mahasiswa pribumi. Jadi, ketika ditanya apakah ia sering bergaul dengan mahasiswa pribumi, jawabannya,

  

“sering”. Sejak kecil ia sudah berteman dengan orang-orang pribumi, jadi ia sudah

  menemukan kecocokan dengan mereka. Pergaulan yang ia lakukan bukan hanya dalam konteks belajar di dalam kampus saja, tetapi pergaulan di luar kampus juga. Waktu yang mereka habiskan untuk berkomunikasi pun relatif.

  “Kalau waktu sih, yaaa kadang sebentar aja, dan kadang juga lama, apalagi kalau lagi nunggu mata kuliah yang memang jarak jam kelasnya

  89 lama kali. Jadi sering ngobrol-ngobrol lah disitu.”

  Perbedaan dalam berkomunikasi juga tidak dirasakan oleh Adi. Karena faktor kebiasaan berteman sudah dari kecil, jadi Adi tidak merasakan adanya perbedaan yang begitu menonjol yang ia rasakan. Paling hanya perbedaan bahasa, dan bahasa itu selalu digunakannya pada tempatnya, tidak untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi.

  Jadi jika dapt disimpulkan, Adi memang lebih banyak berinteraksi dengan teman- teman pribumi di lingkungan kampusnya. Teman-teman yang ia punya pun juga kebanyakan dari mahasiswa-mahasiswa pribumi. Mahasiswa pribumi yang ramah, dapat di ajak bercanda dan tidak sombong merupakan kriteria teman-teman pribumi yang ia senangi. Tetapi tidak menutup kemungkinan ia untuk berteman dengan tipe-tipe mahasiswa pribumi lainnya.

  Sebelum kenal dengan mahasiswa pribumi yang ada di kampusnya, ia tidak pernan menimbulkan suatu interpretasi terhadap mereka.

  “Nggak pernah ada seperti itu, paling kenalan dulu ya anggap aja

  90 kayak teman baru.”

  Adi juga mempunyai ketertarikan terhadap budaya dari mahasiswa pribumi, tetapi belum mengetahui secara pasti budaya apa yang sedang ia minati tersebut. Masalah evaluasi perihal ketertarikannya tersebut, Adi mengaku juga sering memperhatikan dan menghormati teman-temannya yang sedang sholat maupun yang sedang berpuasa, dan

  89 90 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011 evaluasi yang ia lakukan hanya sebatas itu saja, sedangkan untuk evaluasi etnis sendiri,

  91 Adi belum terfikirkan untuk melakukan suatu evaluasi, katanya, “Jalani aja hidup ini”.

  Karena tidak adanya penilaian dan kedekatan yang sudah cukup lama dengan mahasiswa pribumi, menjadikan komunikasinya dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi tidak pernah ada hambatan. Tetapi dalam kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi, bagaimanapun Adi akan tetap mempertahankan identitas etnis Tionghoanya.

  “Tentu. Nilai apapun yang ada pada diri saya, harus tetap saya pertahanin. Sebagai etnis apapun saya. Ehhmm.. saya sih jadi diri saya

  92 sendiri aja.”

  Kesimpulan Kasus: Adi mampu berkompetensi komunikasi dengan baik dengan mahasiswa pribumi.

  Komunikasi yang ia lakukan pun bukan hanya dalam batas belajar di lingkungan kampus saja, tetapi juga dalam pergaulan sampai di luar kampus.

  Motivasi sebagai komponen utama dalam kompetensi komunikasi, sudah bisa dipastikan Adi ada pada dirinya. Tidak diperlukannya lagi suatu pemahaman mengenai apa yang bisa membantunya dalam komunikasi dengan mahasiswa pribumi, karena sudah di dapatnya sejak ia masih kecil.

  Jadi, tataran kompetensi komunikasi yang ada pada Adi berada pada tataran

  

unconscious competence yaitu seseorang yang telah mengembangkan kecakapan

  komunikasinya. Dalam hal ini Adi telah mempunyai modal yang besar dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, dan ia selalu berusaha untuk 91 mengembangkan kecakapan komunikasinya untuk menjadikan kompetensi komunikasi 92 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Adi Surya, Medan, 4 Mei 2011. yang jauh lebih efektif lagi. Meskipun pada dasarnya ia telah menyadari kecakapan komunikasinya yang sudah baik dibandingkan teman se-etnis lainnya.

INFORMAN 10 MELIANA (LIE CHIN)

  Menjadi etnis Tionghoa, lantas tidak membuat Meliana tidak ingin bergaul dengan mahasiswa pribumi. Ini dibuktikan dengan ia mempunyai teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi, diantaranya Shasya, Yohana, Judith, Natahalia, Gabryella. Kelima mahasiswa pribumi yang ia anggap adalah teman dekat ini, sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. Kegiatan yang sering mereka lakukan bersama pun beraneka ragam seperti belajar, bersenda gurau, dan jalan-jalan di luar kegiatan kampus. Ini juga membuktikan bahwa dirinya sering melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Di lingkungan kampus sendiri, Meliana mengaku sering berkomunikasi dengan teman-teman pribumi lainnya selain dari teman-teman dekatnya tersebut. Hal itu dikatakannya karena ia orang yang senang untuk bergaul dan ia tidak bisa hidup tanpa berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

  Tidak pernah ada pandangan tehadap mahasiswa pribumi yang ia lakukan. Ia menganggap mahasiswa pribumi itu sama saja dengan teman-teman se-etnis yang ia punya. Meliana juga mempunyai tipe-tipe mahasiswa pribumi yang memang nyambung untuk dijadikan teman bicara.

  93 “Yang gila. Dalam arti suka bercanda dan orangnya terbuka.”

  Jadi, jika dapat disimpulkan, Meliana memang lebih sering melakukan 93 komunikasi dengan teman-teman pribuminya dibanding dengan teman-teman se-etnis.

  Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011 Hal ini dikatakannya karena ia terlebih dahulu mendapat kecocokan dengan teman-teman mahasiswa pribuminya ketika awal masuk ke Departemen Teknik Arsitektur dibanding teman-teman se-etnis.

  Berteman dengan yang berbeda budaya tentunya akan mendapatkan suatu perbedaan juga. Meliana merasakan adanya perbedaan dalam konteks bahasa. Memang menurutnya itu bukanlah masalah yang besar, karena ia mampu mengkondisikan dimana dan kapan ia dapat berbahasa hokkien, begitu pula dengan teman-teman pribuminya yang juga mempunyai bahasa-bahasa daerah.

  “Hanya dalam konteks bahasa. Karena terkadang kami sesama Tionghoa berbahasa Hokkian dan mereka juga ada yang berbahasa

  94 daerah.”

  Selama berteman dengan teman pribuminya, Meliana tidak pernah membuat suatu penilaian perihal siapa yang etnis Tionghoa dan siapa yang pribumi. Ini dikarenakan ia telah merasakan kenyamanan dengan teman-teman pribuminya tersebut.

  Dalam berkomunikasi tentu pernah ada kesalahpahaman dalam kata-kata yang Meliana rasakan dengan teman pribuminya.

  “Biasa sih dalam hal bahasa, ketika saya berkata ini ada beberapa

  95 yang nggak ngerti begitu juga sebaliknya.”

  Menurutnya itu merupakan hal yang biasa dan menjadi variasi dalam pergaulannya dengan teman-teman pribuminya tersebut. Akan tetapi, dalam kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi, ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai etnis Tionghoa yang ada pada dirinya, tanpa mengindahkan nilai-nilai budaya dari 94 mahasiswa pribumi. 95 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011 Rifal Aswar Tanjung, Wawancara dengan Meliana, Medan, 9 Mei 2011

  Meliana juga mempunyai ketertarikan akan budaya mahasiswa pribumi, yaitu tarian daerah. Tetapi ketertarikannya tersebut tidak ia barengi dengan adanya suatu evaluasi terhadap budaya tersebut maupun budaya dari etnisnya sendiri. Ia hanya sebatas mengagumi saja.

  Kesimpulan Kasus:

  Dalam kompetensi komunikasi dengan out-group nya, Meliana lebih memiliki interaksi kompetensi komunikasi yang lebih besar dengan out-group nya yang ada di lingkungan kampus Departemen Teknik Arsitektur.

  Dalam hal ini, kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh Meliana berada pada tataran unconscious competence yaitu kemampuannya dalam mengembangkan kecakapan komunikasinya, dan ia mempunyai motivasi dan kecakapan komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi sehingga ia mendapatkan suatu pengetahuan yang baru dari kompetensi komunikasinya.

INFORMAN 11 ANTON HALIM (LIM SEN TONG)

  Sama seperti Meliana, Anton juga hampir mempunyai pandangan yang sama terhadap mahasiswa pribumi. Anton melihat teman bukan berdasarkan etnisnya melainkan berdasarkan sikap perorangnya, karena menurutnya tidak etis membandingkan teman berdasarkan etnis ataupun agama.

  Berdasarkan pernyataan Anton tersebut, dapat disimpulkan bahwa dirinya juga sering berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Anton mengatakan bahwa dirinya juga mempunyai teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi, tetapi ia tidak dapat mengatakan secara pasti berapa banyak teman dekat mahasiswa pribumi yang ia punya. Kedekatannya dengan mahasiswa pribumi dikatakannya hanya dalam konteks belajar dan pergaulan di dalam kampus saja, karena menurutnya dalam pergaulan di luar kampus, ia lebih sering bergaul dengan teman-teman SMA nya.

  Perbedaan dalam hal berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Anton juga tidak dapat mengungkapkannya. Ia merasa tidak ada perbedaan yang ia temukan dalam komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Jika dapat disimpulkan, dalam konteks ini Anton memang lebih sering berinteraksi dengan teman-teman seetnisnya, baik itu dalam pelajaran maupun dalam konteks pergaulan.

  Pada saat berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, Anton tidak pernah membuat penilaian perihal siapa yang Tionghoa dan siapa yang pribumi. Ia hanya melakukan pembedaan dalam konteks berbahasa saja antara berbicara dengan pribumi dan berbicara dengan teman se-etnis.

  Anton mempunyai ketertarikan terhadap salah satu kebudayaan dari mahasiswa pribumi yaitu batik. Meskipun ia sadar bahwa batik itu milik Indonesia dan etnisnya adalah bagian dari Negara Indonesia, tetapi ia lebih menfokuskan batik sebagai milik dari orang pribumi. Evaluasi yang ia lakukan hanya sebatas ikut mengenakan batik pada hari- hari tertentu, tidak sampai pada evaluasi yang mendalam. Begitu pula terhadap evaluasi terhadap kebudayaan etnis sendiri. Anton tidak pernah melakukan evaluasi untuk etnisnya, yang ia tahu bahwa antara etnisnya dengan pribumi harus saling mengormati supaya tercipta kompetensi komunikasi yang lebih efektif.

  Kesimpulan Kasus:

  Dalam kompetensi komunikasi dengan out-group nya, Anton memiliki interaksi kompetensi komunikasi yang lebih besar dengan in-groupnya, tetapi ia juga melakukan kompetensi komunikasi yang cukup efektif dengan out-group nya yang ada di lingkungan kampus Departemen Teknik Arsitektur.

  Untuk Anton sendiri juga berada pada tataran unconscious competence , ini dikarenakan faktor karena ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan out-group nya meskipun interaksinya lebih banyak kepada in-group nya. Tetapi ia juga tidak mempunyai kelemahan ataupun keraguan dalam komunikasinya dengan out-group nya.

IV.3.2 Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian

  Setelah melakukan pendeskripsian terhadap kompetensi komunikasi informan penelitian, kemudian peneliti melakukan penyimpulan terhadap kompetensi komunikasi tersebut. Peneliti mengelompokkan kesebelas informan kedalam 4 (empat) kategori tingkatan kompetensi. Tingkatan kompetensi komunikasi yang di tetapkan adalah: (a)

  unconscious incompetence, (b) conscious incompetence, (c) conscious competence, dan

  (d) unconscious competence (Rahardjo, 2005: 69). Sedangkan indikator yang di masukkan dalam penentuan tingkatan tersebut adalah: (a) motivasi, (b) pengetahuan, (c) kemampuan atau kecakapan (Gundykunst & Young, 2003: 275).

  Berikut adalah tingkatan kompetensi yang dijangkau oleh kesebelas orang informan penelitian:

TINGKATAN KOMPETENSI KOMUNIKASI

  • -- -- -- -- -- -- -- -- --

  Krisnawati

  incompetence, dan unconscious competence.

  Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan, tidak ada 1 pun informan yang masuk pada tingkatan ini. Tidak adanya informan yang salah menginterpretasikan perilaku mahasiswa pribumi dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan. Kesebelas orang infroman masih berada pada tingkatan conscious competence , conscious

  Unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan.

  Anton Halim

  Adi Surya Meliana

  Michael Susanto Salim

  John Thedy Rudi Kirana

  Jasinda Mimi R.G

  Putra Jaya

  8.

  9.

  7.

  6.

  5.

  4.

  3.

  2.

  1.

  Conscious Competence Unconscious Competence

  Unconscious Incompetence Conscious Incompetence

  N O

IV.3.2.1 Unconscious Incompetence

IV.3.2.2 Conscious Incompetence

  Conscious incompetence, yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu.

  Sama halnya dengan tingkatan conscious competence, pada tingkatan conscious

  incompetence juga terdapat 1 orang informan, yaitu Krisnawati. Krisna tentunya juga

  sering berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, baik itu dalam konteks perkuliahan sampai pada pergaulan. Krisna mengunggapkan bahwasanya ia lebih nyaman berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi yang lebih terbuka, karena akan memudahkannya dalam berkomunikasi.

  Perbedaan yang ia rasakan bukan hanya dari bahasa ataupun logatnya saja, tetapi juga dalam pemikiran. Mahasiswa pribumi pemikirannya cenderung tidak mau tahu akan segala sesuatu yang berbau pelajaran. Mahasiswa pribumi terlihat lebih banyak tingkat kemalasannya dibanding kedisiplinannya, baik itu dalam perkuliahan di kelas, lab, sampai pada tugas kuliah. Perbedaan yang dirasakan Krisna, membuatnya mengatakan bahwa adakalanya Krisna menjadi etnosentris dan ada kalanya juga tidak. Tergantung dalam situasi bagaimana ia berada.

  Krisna juga pernah melakukan penilaian kecil terhadap mahasiswa pribumi perihal siapa yang etnis Tionghoa dan siapa yang pribumi, dan itu jelas menghambat kompetensi komunikasi nya dengan mahasiswa pribumi. Kesalahpahaman karena perbedaan budaya juga pernah terjadi. Salah satunya mengenai ibadah, seperti yang sudah ia jelaskan sebelumnya. Agar terciptanya kompetensi komunikasi yang lebih efektif lagi, Krisna akan menghormati budaya tersebut dan sekaligus mempertahankan budaya dari etnis nya sendiri.

  Mengenai kompetensi komunikasinya, Krisna termasuk kriteria yang cukup termotivasi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi khusunya teman-teman mahasiswa pribumi yang ada di Departemen Teknik Kimia. Meskipun pada kenyataannya frekuensi dan intensitas komunikasi Krisna masih sangat besar pada kelompoknya, dan hal ini menjadikan Krisna terlalu memilih-milih teman mahasiswa pribumi yang dapat diajak untuk berkomunikasi.

  Krisna tidak memiliki kompetensi komunikasi yang lebih baik. Ia menyadari bahwa pengelompokan-pengelompokan yang ia lakukan terhadap mahasiswa pribumi akan mampu menghambat kompetensi komunikasinya, akan tetapi ia tidak mengindahkan hal tersebut. Krisna telalu membuat pertimbangan siapa saja teman dari mahasiswa pribumi yang bisa ia ajak berkomunikasi. Krisna sendiri sebenarnya sudah memiliki motivasi untuk berkomunikasi dengan mahasiswa-mahasiswa pribumi. Namun Krisna sedikit membatasi komunikasi dengan mahasiswa pribumi yang memang tidak bisa di ajak berkomunikasi secara efektif dengan dirinya. Krisna lebih memilih untuk menjauhi mahasiswa-mahasiswa pribumi dengan tipe seperti itu. Meskipun Krisna sering bersama kelompoknya, Krisna masih berkeinginan untuk memenuhi hasrat kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan yang harus dikomunikasikan dan dipertukarkan dengan mahasiswa pribumi. Krisna mengakui bahwa dirinya senang berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, khususnya ketika bercerita mengenai budaya yang berbeda. Melalui pembicaraan tersebut dapat membantu Krisna untuk mengetahui ranah identitas etnisnya dan semakin menyandarkannya pada tahap etnosentris. Sikap etnosentrisme yang ia miliki masih dalam batas yang wajar saja. Ia hanya berusaha untuk berani membela apa yang menurutnya benar.

  Krisna mengakui bahwasanya ia cukup sering bertukar informasi akan budaya dengan teman pribuminya. Hasil dari pertukaran informasi tersebut membuatnya sedikit menemukan perbedaan. Menyadari perbedaan kadang mampu memfasilitasi kompetensi komunikasi. Namun, Krisna tidak memanfaatkan keadaan ini, ia lebih memilih untuk menjauhi daripada mendekatinya, sehingga hal-hal seperti ini dapat menghambat kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Jadi dapat disimpulkan bahwa Krisna berada pada tataran conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu untuk memperbaikinya. Krisna menyadari bahwasanya ia dapat berkomunikasi dengan baik dengan mahasiswa pribumi, dibuktikan dengan ketertarikannya dalam bercerita tentang budaya yang berbeda dengan mahasiswa pribumi. Tetapi karena ketidakcocokan dengan beberapa tipe dari mahasiswa pribumi, menjadikan ia tidak mau melakukan suatu perbaikan guna terciptanya kompetensi komunikasi yang efektif.

IV.3.2.3 Conscious Competence

  Conscious competence, yaitu seseorang berpikir tentang kecakapan

  komunikasinya dan secara terus-menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif.

  Untuk tingkatan ini, peneliti menyimpulkan hanya ada 1 orang informan yaitu Putra Jaya. Kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi selalu ditunjukkan Putra dengan baik. Ia tidak pernah membuat pandangan negatif terhadap mahasiswa pribumi.

  Penilaian awal terhadap mahasiswa pribumi memang ada sebelum ia mengenal mahasiswa pribumi tersebut lebih dekat lagi. Putra menambahkan, misalnya sebelum mengenal teman-teman pribumi yang cowok, ia melihat tampang mereka yang seram sebagai sosok menakutkan seperti preman, tetapi setelah mengenal lebih dekat lagi Putra baru mengenal bagaimana pribadi mereka yang sebenarnya. Kompetensi komunikasinya dibuktikan dengan ia mempunyai teman-teman dekat dari mahasiswa pribumi. Kegiatan untuk bertukar fikiran ketika belajar di kampus, ia jadikan untuk berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, dalam hal bergaul di dalam maupun di luar kampus juga dijadikannya untuk memacu kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi.

  Perbedaan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi juga dirasakannya. Perbedaan dalam hal logat bahasa menjadi masalah dalam komunikasi mereka. Memang keduanya mengatakan bahwa ini bukanlah masalah yang berat dalam komunikasi mereka dengan mahasiswa pribumi.

  Putra mengatakan bahwa ia menginginkan teman pribumi yang terbuka dan tidak rasis dan tentunya dengan pribadi yang dapat menghargai orang lain. Karena dengan kriteria tersebut ia tentunya akan nyaman dalam berkomunikasi. Tetapi Putra juga tidak menjadikan hal tersebut sebagai masalah dan menjadikan dirinya etnosentris.

  Putra mempunyai motivasi untuk berkomunikasi, dan hal tersebut menunjukkan kebutuhannya untuk mengurangi sikap etnosentrisme akan etnis. Ia juga mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi tentang mahasiswa pribumi, serta ia juga tahu perbedaan kelompok dan kesamaannya. Pengetahuan terhadap adaptasi antarbudaya dan pengembangan relasi menunjukkan kemampuannya dalam berkompetensi komunikasi dengan baik serta mampu mengebangkan relasi antar etnis dan mampu bertoleransi terhadap sifat ambiguitas dan menghilangkan kecemasan karena perbedaan warna kulit.

  Umumnya, Putra menggunakan identitas etnisnya sebagai motivasi untuk membuka jaringan komunikasi. Artinya identitas etnis dipahami sebagai alat yang berguna untuk membantunya mengenal siapa diri mereka dan mendorongnya untuk mau berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Hal inilah yang terjadi pada dirinya, meskipun ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa sebagai pendorong bukan penghambat dalam komunikasi.

  Dalam hal ini, Putra berada dalam tataran, conscious competence yaitu mampu mengembangkan kecakapan komunikasinya dengan mahasiswa pribumi, meskipun ia tidak mampu mengenali identitas etnisnya sendiri, tetapi ia juga mampu berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, dan berteman baik dengan banyak mahasiswa pribumi, meskipun menurutnya intensitas pertemanannya memang lebih banyak dengan teman se-etnis.

IV.3.2.4 Unconscious Competence

  Unconscious competence, yaitu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya.

  Dalam penelitian ini, telah disimpulkan bahwa 9 orang informan penelitian masuk ke dalam tingkatan kompetensi komunikasi unconscious competence. 5 orang informan yang masuk dalam kategori mampu mengenali identitas etnisnya, 1 orang informan yang kurang mampu mengenali identitas etnisnya, dan 3 orang informan yang tidak mampu mengenali identitas etnisnya.

  Mengenai kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi, kelima orang informan yang mampu mengenali identitas etnisnya ini tidak merasa adanya kejanggalan dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Kemampuan yang kuat dalam mengenali identitas etnisnya, lantas tidak menjadi hambatan dalam melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Meskipun pada dasarnya mereka mempunyai tingkat interaksi yang lebih tinggi dengan teman se-etnis, dan rasa sense of

  belonging yang cukup tinggi.

  Kelima orang informan ini mengatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, mereka tidak sepenuhnya menyandarkan komunikasinya berdasarkan identitas etnisnya, di tambah dengan pemahaman perihal mahasiswa pribumi yang sudah di dapatnya selama berkuliah di Fakultas Teknik, sehingga mereka dapat mengatur bagaimana dan seperti apa mereka akan berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Begitu pula dengan keempat orang informan yang tidak mampu mengenali identitas etnisnya ini juga mempunyai tingkat interaksi dalam kompetensi komunikasi yang cukup tinggi dengan mahasiswa pribumi. Mereka lebih mempunyai ruang yang besar dalam melakukan kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Mereka lebih banyak mempunyai teman dari mahasiswa pribumi di kampus mereka berada.

  Dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, kelima informan yang mampu mengenali identitas etnisnya ini merasakan adanya sedikit perbedaan dalam logat berbahasa. Meskipun sama-sama bermukim di Medan, tetapi mereka juga merasakan adanya perbedaan dalam logat berbahasa dengan mahasiswa pribumi. Jadi terkadang dalam komunikasi mereka dengan mahasiswa pribumi, sering terjadi kelucuan akibat logat yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak.

  Perbedaan itu tentunya tidak membuat mereka menjadi etnosentris. Mereka menganggap itu hanyalah sebuah ciri khas identitas etnis masing-masing pihak. Untuk itu, mereka selalu menghargai setiap perbedaan yang ada dalam hal kompetensi komunikasinya, sampai pada perihal kompetensi komunikasi yang efektif.

  Berbeda dengan kelima informan yang mampu mengenali identitas etnisnya, keempat informan yang kurang mampu dan tidak mampu mengenali identitas etnisnya ini tidak merasakan adanya perbedaan dalam kompetensi komunikasi yang dilakukan dengan mahasiswa pribumi. Ini dikarenakan faktor domisili yang sudah lama berdomisili di Medan serta pergaulan dengan orang-orang pribumi yang juga sudah dilakukan sejak mereka masih kecil. Jadi, tidak ada kendala dalam kompetensi komunikasi yang dilakukan oleh keempatnya.

  Adanya motivasi yang dirasakan oleh kesembilan orang informan penelitian dari lingkungan sekitar, membuat mereka mempunyai keinginan yang besar untuk dapat melakukan kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Mereka menyadari bahwa mereka berkuliah di Universitas yang mayoritas mahasiswanya adalah pribumi, sehingga memang mengharuskan mereka untuk mampu melakukan interaksi serta kompetensi komunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi, guna memperlancar proses belajar-mengajar maupun dalam pergaulan di lingkungan kampus.

  Ketika motivasi telah ada pada diri kesembilan orang informan penelitian, kemudian mereka mulai mempunyai pengetahuan perihal mahasiswa pribumi yang di dapat melalui proses belajar-mengajar tadi, sehingga akan menimbulkan suatu kecakapan dalam kemampuan berkomunikasi yang baik dengan mahasiswa pribumi.

  Jadi, dalam hal ini kesembilan orang informan telah mempunyai kemampuan dalam mengembangkan kecakapan komunikasinya atau yang disebut dengan unconscious

  competence.

BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian tentang identitas etnis mahasiswa etnis Tionghoa dalam

  kompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi di kalangan mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

V.1.1 Latar Belakang Informan

  V.1.1.1 Latar belakang nama, agama, asal daerah dan pekerjaan orangtua cukup berpengaruh dalam memaknai identitas etnis serta dapat mempengaruhi dalam pembentukan identitas etnis.

  • Dari 11 orang informan penelitian, hanya terdapat 3 informan saja yang mampu memberikan pemaknaan terhadap nama Tionghoa yang ada pada identitas etnisnya.
  • Agama Buddha merupakan pembentuk dalam identitas etnis Tionghoa, tradisi dan kebudayaan Tionghoa merupakan tradisi Buddha. Etnis Tionghoa yang beragama Kristen juga menganut tradisi yang sama dengan yang beragama Buddha, baik itu tradisi imlek, dupa, maupun tradisi bersembahyang, yang membedakan hanyalah perayaan hari besar yang hanya di rayakan oleh masing- masing pihak berdasarkan agamanya.

  • Kesebelas orang informan penelitian semuanya berasal dari Kota Medan, dan berdasarkan data yang telah di peroleh, kesebelas orang informan ini tidak mempunyai kampung halaman di luar negeri. Mereka mengaku bahwa sejak lahir, mereka sudah tinggal di Indonesia dan tidak mempunyai siapa-siapa di luar negeri, ataupun bahkan menganggap RRC, Hongkong, Taiwan, maupun negara- negara lainnya sebagai kampung halaman. Anggapan seperti itu pernah di utarakan oleh beberapa orang informan, akan tetapi hal tersebut hanyalah berupa angan-angan semata saja. Anggapan seperti itu biasanya hanya di miliki oleh buyut-buyut mereka, dan tidak untuk mereka maupun kedua orang tua mereka. Hidup di Kota Medan dengan komunitas yang sangat besar, mampu menjadikan identitas etnis mereka terbentuk dengan sendirinya akibat tradisi maupun budaya dari lingkungan sekitar Kota Medan.
  • 9 orang informan orangtuanya bekerja sebagai wiraswasta, 1 orang guru, dan 1 orang pegawai swasta. Pekerjaan orang dapat membentuk identitas etnis. Mereka yang orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta dan pegawai swasta, mempunyai pemikiran bahwa nilai-nilai yang mereka miliki sebagai etnis Tionghoa itu adalah pekerja keras, ulet, dan lihai dalam berbisnis, sedangkan yang pekerjaan orang tua seorang guru, ia lebih menganggap nilai-nilai yang dimiliki sebagai etnis Tionghoa itu lebih kepada sopan-santun, dan saling hormat-menghormati kepada sesama.

  V.1.1.2 Usia beserta departemen, stambuk, dan tingkatan semester tidak berpengaruh dalam memaknai identitas etnis dan bukanlah pembentuk dalam identitas etnis.

V.1.2 Identitas Etnis

  V.1.2.1 Terdapat 2 (dua) kategori informan penelitian dalam penentuan identitas etnis, yaitu mampu mengenali dan tidak mampu mengenali.

  • 6 orang informan mampu mengenali identitas etnisnya. Selain warna kulit yang putih bersih serta mata yang cenderung sipit, nilai-nilai lainnya yang dimiliki adalah seperti menghormati orang yang lebih tua, menghormati orang-orang dari kebudayaan yang berbeda, cara berpakaian, berbicara, dan berperilaku yang sopan-santun. Identitas etnis lainnya yang dimiliki oleh keenam orang informan adalah tradisi imlek, tradisi dupa, menghormati leluhur dan tradisi bersembahyang yang menunjukkan identitas mereka sebagai seorang Tionghoa yang taat kepada ajaran agama dan tradisi. Keenam infoman juga mengetahui perbedaan antara etnis Tionghoa asli dengan etnis Tionghoa peranakan. Etnis Tionghoa asli, dalam ciri-ciri fisik mempunyai rambut lurus, mata sipit dan kulit putih besih, sedangkan etnis Tionghoa peranakan, mempunyai ciri-ciri fisik yang terlihat bercampur dengan etnis yang ada dalam suatu negara. Etnis Tionghoa asli mempelajari tradisi dan kebudayaan Tionghoa dari pengajaran keluarga secara turun-temurun, sedangkan etnis Tionghoa peranakan mempelajari budaya dan tradisi melalui hal- hal yang dilihat dari lingkungan sekitar, dan juga terjadi percampuran budaya dari etnis dalam suatu wilayah tersebut. Misal, di Indonesia, budaya Tionghoa bercampur dengan kebudayaan masyarakat pribumi.
  • 5 orang informan kurang mampu dan tidak mampu mengenali identitas etnisnya. Kekurangmampuan kedua orang informan serta ketidakmampuan ketiga orang informan penelitian ini dalam mengenali identitas etnis yang ada pada diri
mereka, kebanyakan di karenakan faktor ketidaksadaran akan identitas yang mereka miliki. Beberapa diantara mereka juga mengatakan bahwa ketidakmampuan dalam mengenali identitas etnis dikarenakan tidak adanya pengajaran dari keluarga akan nilai-nilai norma etnis Tionghoa yang sesungguhnya. Identitas etnis yang dapat mereka pegang saat ini hanya sebatas tradisi imlek maupun tradisi meikah. Tidak banyak yang dapat mereka pelajari dari keluarganya masing-masing, dikarenakan keluarga mereka juga tidak menerapkan hal yang seharusnya ada pada etnis Tionghoa. Jadi, selama ini mereka hanya mengatahui nilai-nilai tersebut dari pergaulan dengan teman-teman se-etnis saja. Akan tetapi penerapannya tidak dilaksanakan sepenuhnya.

V.1.3 Kompetensi Komunikasi

  V.1.3.1 Dari 4 tingkatan kompetensi yang ada, hanya ada 3 tingkatan saja yang masuk ke dalam analisis penggolongan tingkatan kompetensi komunikasi informan penelitian, yaitu unconscious competence, conscious competence, dan conscious incompetence, sedangkan tingkatan unsconcious incompetence tidak ada.

  • 9 orang informan berada pada tingkatan unconscious competence, ke-9 orang informan ini mengatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi, mereka tidak sepenuhnya menyandarkan komunikasinya berdasarkan identitas etnisnya, di tambah dengan pemahaman perihal mahasiswa pribumi yang sudah di dapatnya selama berkuliah di Fakultas Teknik, sehingga mereka dapat mengatur bagaimana dan seperti apa mereka akan berkomunikasi dengan mahasiswa pribumi. Perbedaan dalam logat berbahasa yang dirasakan tidak
membuat mereka menjadi etnosentris. Mereka menganggap itu hanyalah sebuah ciri khas identitas etnis masing-masing pihak. Untuk itu, mereka selalu menghargai setiap perbedaan yang ada dalam hal kompetensi komunikasinya, sampai pada perihal kompetensi komunikasi yang efektif.

  • 1 orang informan berada pada tingkatan conscious competence, yaitu Putra Jaya. Putra mempunyai motivasi untuk berkomunikasi, dan hal tersebut menunjukkan kebutuhannya untuk mengurangi sikap etnosentrisme akan etnis. Ia juga mempunyai pengetahuan tentang bagaimana cara mengumpulkan informasi tentang mahasiswa pribumi, serta ia juga tahu perbedaan kelompok dan kesamaannya. Pengetahuan terhadap adaptasi antarbudaya dan pengembangan relasi menunjukkan kemampuannya dalam berkompetensi komunikasi dengan baik serta mampu mengebangkan relasi antar etnis dan mampu bertoleransi terhadap sifat ambiguitas dan menghilangkan kecemasan karena perbedaan warna kulit. Umumnya, Putra menggunakan identitas etnisnya sebagai motivasi untuk membuka jaringan komunikasi. Artinya identitas etnis dipahami sebagai alat yang berguna untuk membantunya mengenal siapa diri mereka dan mendorongnya untuk mau berkompetensi komunikasi dengan mahasiswa pribumi. Hal inilah yang terjadi pada dirinya, meskipun ia akan tetap mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada pada dirinya sebagai etnis Tionghoa sebagai pendorong bukan penghambat dalam komunikasi.
  • 1 orang informan berada pada tingkatan conscious incompetence, yaitu Krisnawati. Mengenai kompetensi komunikasinya, pada kenyataannya frekuensi dan intensitas komunikasi Krisna masih sangat besar pada kelompoknya, dan hal
ini menjadikan Krisna terlalu memilih-milih teman mahasiswa pribumi yang dapat diajak untuk berkomunikasi. Krisna tidak memiliki kompetensi komunikasi yang lebih baik. Ia menyadari bahwa pengelompokan-pengelompokan yang ia lakukan terhadap mahasiswa pribumi akan mampu menghambat kompetensi komunikasinya, akan tetapi ia tidak mengindahkan hal tersebut. Krisna telalu membuat pertimbangan siapa saja teman dari mahasiswa pribumi yang bisa ia ajak berkomunikasi. Meskipun Krisna sering bersama kelompoknya, Krisna masih berkeinginan untuk memenuhi hasrat kebutuhan identitasnya, yaitu kebutuhan yang harus dikomunikasikan dan dipertukarkan dengan mahasiswa pribumi. Krisna mengakui bahwasanya ia cukup sering bertukar informasi akan budaya dengan teman pribuminya. Hasil dari pertukaran informasi tersebut membuatnya sedikit menemukan perbedaan. Menyadari perbedaan kadang mampu memfasilitasi kompetensi komunikasi. Namun, Krisna tidak memanfaatkan keadaan ini, ia lebih memilih untuk menjauhi daripada mendekatinya, sehingga hal-hal seperti ini dapat menghambat kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi.

V.2 Saran

  Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti perlu mengajukan beberapa saran, diantaranya:

  1. Diharapkan latar belakang dalam karakteristik informan tidak menjadi penghambat dalam berkomunikasi dengan teman-teman in-group maupun out-

  group nya.

  2. Diharapkan informan lebih mampu lagi dalam mengenali in-group maupun out-

  

group nya. Informan yang mampu mengenali in-groupnya, diharapkan lebih

  mampu untuk membawa identitas etnisnya ke dalam area kompetensi komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa pribumi. Informan yang tidak mampu mengenali

  

in-group nya, diharapkan lebih mampu menggali apa yang ada di dalam in-group

nya.

  3. Diharapkan informan dapat meningkatkan kompetensi komunikasi nya dengan mahasiswa pribumi. 2 orang informan penelitian yang ada pada tingkatan kompetensi komunikasi conscious competence dan conscious incompetence untuk kedepannya dapat berada pada tingkatan unsconcious competence.

  4. Penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan dalam melihat identitas etnis mahasiswa Tionghoa dalam kompetensi komunikasinya dengan mahasiswa pribumi. Penelitian ini juga dapat dijadikan referensi untuk penelitian sejenis pada kondisi yang berbeda.

  DAFTAR PUSTAKA Arifin, Anwar. 1988. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Rajawali.

  Bodgan, Robert dan Steven J. Taylor. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Kualitatif.

  Surabaya: Usaha Nasional. Bungin, Burhan. 2003. Teknik-Teknik Analisis Kualitatif. Jakarta: Kencana. . 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana. Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Gundykunst, William & Young Yun Kim. 2003. Communicating with Strangers. New York : Mc. Graw Hill International.

  Kriyantono, Rachmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

  Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi: Pengantar dan Contoh Penelitiannya.

  Bandung: Widya Padjajaran. Liliweri, Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  . 2004. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Martin, Judith dan Thomas K. Nakayama. 2007. Intercultural Communication in Contexts. New York: Mc Graw Hill International.

  Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya.

  Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rahmat. 2005. Komunikasi Antarbudaya. Panduan

  Praktis dengan Orang-Orang yang Berbeda Budaya. Bandung: Remaja Rosda Karya.

  Nawawi, Hadari. 1995. Metodologi Penelitian Sosial. Yogyakarta : UGM Press. Raharjo, Turnomo. 2005. Menghargai Perbedaan Kultur. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Samovar, Richard E. Porter dan Edwin Mc Daniel. 2007. Communication Between Cultures. Belmont : Thomson Learning.

  Singarimbun, Masri dan Sofyan Effendy. 1995. Metode Penelitian Survey. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia.

  Soekamto, Soerjono. 1996. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Grafindo Persada.

  Sumber lain : (http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia di akses tanggal 9 Februari dan 1 Maret 2011).

  (http://suryanto.blog.unair.ac.id/ di akses tanggal 9 Februari 2011). (http://ft.usu.ac.id/ di akses tanggal 3 Maret 2011)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  NAMA : RIFAL ASWAR TANJUNG TEMPAT/TANGGAL LAHIR : PADANGSIDEMPUAN, 26 NOVEMBER 1989 JENIS KELAMIN : LAKI-LAKI AGAMA : ISLAM ALAMAT : JALAN GARU 1 GANG BACANG NO.85B MEDAN NAMA ORANG TUA : (ALM) YUSUF EFFENDY TANJUNG

  HJ. SITI AISYAH LUBIS JUMLAH SAUDARA : TIGA ORANG, YAITU:

  o

  NINA KARMILA TANJUNG

  o

  FITRI YANTHI TANJUNG

  o

  KHAIRIL ANWAR TANJUNG ALAMAT ORANG TUA : JALAN RAJA INAL SIREGAR NO. 7

  BATUNADUA KOTA PADANGSIDEMPUAN PENDIDIKAN : SDN 142426/10 KOTA P.SIDEMPUAN (1995-2001)

  MTS.S YPKS KOTA P.SIDEMPUAN (2001-2004) MAN 2 KOTA P.SIDEMPUAN (2004-2007) DEPT. ILMU KOMUNIKASI FISIP USU (2007-2011)

  PRAKTEK KERJA LAPANGAN : MAJALAH HAI PT. GRAMEDIA (2010 )

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Conscious Competence Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Daerah Asal di Cina Daerah Konsentrasi Defenisi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya .1 Sejarah Komunikasi Antarbudaya Defenisi Komunikasi Komunikasi .1 Latar Belakang Sejarah Deskripsi Identitas Etnis Informan Penelitian Deskripsi Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Dimensi-dimensi Komunikasi Antarbudaya Komunikasi Antarbudaya .1 Sejarah Komunikasi Antarbudaya Identitas Etnis Kerangka Teori Kesimpulan Latar Belakang Informan Kompetensi Komunikasi Etnis Tionghoa Kompetensi Komunikasi Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Komunikasi Komunikasi Antarbudaya Kerangka Teori Kurang Mampu Mengenali Tidak Mampu Mengenali Latar Belakang Informan Kesimpulan Latar Belakang Masalah Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa (Identitas Etnis Mahasiswa Etnis Tionghoa dalam Kompetensi Komunikasi dengan Mahasiswa Pribumi di Kalangan Mahasiswa Fakultas Teknik stambuk 2009 dan 2010 Universitas Sumatera Utara). Mampu Mengenali Kesimpulan Identitas Etnis Informan Penelitian Operasional Konsep Definisi Operasional Pendekatan Subjektif terhadap Identitas Etnis Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Kerangka Konsep Proses Komunikasi Komunikasi .1 Latar Belakang Sejarah Teori Interaksi Simbolik .1 Defenisi Teori Interaksi Simbolik Teori Interaksi Simbolik Kerangka Teori Unconscious Competence Kesimpulan Kompetensi Komunikasi Informan Penelitian Unconscious Incompetence Conscious Incompetence
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa..

Gratis

Feedback