Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story

 7  49  111  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

TINDAK TUTUR PERMINTAAN DALAM FILM TOKYO LOVE STORY TESIS Oleh ROSMITA SYAHRI / LNG 097009004 SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011

  Rahim Matondang, MSIE ) Tanggal lulus: 2 Agustus 2011 Telah diuji pada Tanggal 2 Agustus 2011PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Aggota : 1.

2. Dr. Deliana, M. Hum 3. Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP

PERNYATAAN TINDAK TUTUR PERMINTAAN DALAM FILM TOKYO LOVE STORY

  Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian –bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya sacara jelas sesuai dengannorma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ternyata di temukan Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang sayasandang dan sanksi-sanksi lainya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

RIWAYAT PENULIS A

IDENTITAS Nama : Rosmita SyahriTempat / Tgl lahir : Medan / 4 Oktober 1986Jenis Kelamin : PerempuanPendidikan : MahasiswaAgama : IslamAlamat : Jln, SMA 7 no. 44 Lubuk Buaya PadangEmail : tabitha_libra2000@yahoo.com

B. PENDIDIKAN 1. Tahun 1992-1998 tamat SDN 20 Sangkir, Lubuk Basung

  Tahun 2007-2008 Mendapat Beasiswa Pertukaran Mahasiswa antara Universitas Bung Hatta dengan Sonoda Women’s University, Osaka Jepang. Tahun 2009 – Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Pada Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Universitas Sumatera Utara Medan.

KATA PENGANTAR

  Tesis ini berjudul “Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story” yang terdiri atas enam bab yaitu: Bab I : Pendahuluan, Bab II : Tinjauan Pustaka, Bab III :Metode Penelitian, Bab : IV : Analisis dan Pembahasan, Bab V : Temuan Hasil Penelitian, Bab VI : Simpulan dan Saran. Hasil penelitian yang tertuang pada tesis ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi kajian pragmatik di Indonesia khususnya bagi pembelajar bahasa Jepangmengenai tindak tutur dalam bahasa Jepang.

UCAPAN TERIMA KASIH

  Hum dan ibunda Rosdaini beserta adik-adik penulis yang penulis sayangi (Erni,Budi dan Lia) serta untuk seseorang yang sangat penulis sayangi terima kasih untuk semangatnya yang selalu dibagi kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Ag dan anak (Rido, Shaza, Dura, Fudla dan Tsuroiya) dan Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bang Sabriandi Erdian, SS, M, Hum.beserta istri kak Eka Satria Bukhari dan anak (‘Akilla dan Mufliha) yang telah membantu penulis selama masa kuliah dan menyelesaikan tesis ini.

DAFTAR LAMPIRAN

  Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaandalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-lakilebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebihcenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan tidaklangsung (ketidakterusterangan). Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaandalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-lakilebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebihcenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan tidaklangsung (ketidakterusterangan).

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatik (yang oleh Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentukverbal dan mendapatkan status dan konteks interaksi tersebut. Tindak tutur direktif yang dikhususkan pada tuturan permintaan adalah tindak tutur yang dilakukan penutur dalam bentuk perintah atau suruhan dengan maksudmeminta mitra tutur untuk melakukan sesuatu.

1.2 Rumusan Masalah

  Jenis tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS? Jenis dan fungsi tindak tutur permintaan manakah yang paling dominan pada film TLS?

1.3 Tujuan Penelitian

  Mendeskripsikan jenis tindak tutur permintaan yang terdapat pada film TLS, 2. Menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan yang paling dominan pada film TLS, 4.

1.4 Manfaat Penelitian

  Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan yang lengkap dan mendalam khususnya oleh pembelajar bahasa, budaya dansastra Jepang di Indonesia dalam memahami pola pikir bangsa Jepang. Temuan penelitian ini dapat menambah kajian kosakata bahasa Jepang khususnya yang berhubungan dengan tindak tutur.

1.5 Landasan Teori

  Untuk teori sosiopragmatik sebagai kajian dalam tesis ini, penulis mengacu pada pendapat Rahardi (2009 : 21) yang mengatakan sebagai ilmu bahasa yang mempelajarikondisi penggunaan bahasa manusia, pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks situasi yang mewadahi bahasa itu. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak)Untuk pengertian mengenai tindak tutur permintaan penulis menggunakan pendapat Bach dan Harnish ( 1979 : 41 ) yang mengatakan tindak tutur permintaanmerupakan jenis tindak tutur yang dilakukan oleh penutur untuk membuat mitra tuturnya melakukan sesuatu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahasa Jepang

  Kita dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang atau dengan orang lain yang pernah mempelajarinya menurut Sudjianto (1995 : 3) Dari sisi lain kita juga melihat bangsa Jepang hanya memakai satu bahasa sebagai bahasa nasionalnya yaitu bahasa Jepang. Tidak ada bahasa lain yang dipakai di Jepang Dilihat dari aspek-aspek kebahasaannya, bahasa Jepang memiliki karakteristik tetentu yang dapat kita amati dari huruf yang dipakainya, kosakata, sistem pengucapan,gramatika, dan ragam bahasanya.

2.2 Sosiopragmatik

  Salah satu kaitan yang dapatkita lihat adalah munculya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu menurutSumarno dan Partana (2004 : 322) Ihwal sosiopragmatik dapat dijelaskan dari pengertian oleh pakar-pakar linguistik dalam Rahardi (2009 : 20) yaitu Levinson (1983) mendefiisikan sebagai studi bahasayang mempelajari relasi bahasa dengan konteknya. Dalam masyarakat setempat yang lebih khusus ini jelas terlihat bahwa prinsip koperatif atau prinsip kerjasama dan prinsip kesopansantunan berlangsung secaraberubah-ubah dalam kebudayaan yang berbeda-beda atau aneka masyarakat bahasa, dalam situasi-situasi sosial yang berbeda-beda, dan sebagainya.

2.2.1 Sosiolinguistik

  Sosiolinguistik adalah bidangilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat menurut Chaer dan Agustina (2004 : 2-3). Menurut Rahardi (2010:16) Sosiolinguistik mengkaji bahasa dengan memperhitungkan hubungan antara bahasa dan masyarakat, khususnya masyarakatpenutur bahasa itu.

2.2.2 Pragmatik

  Purwo (1990 : 16) dan Leech (1983: 21) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu yang mengkaji makna tuturan, sedangkan semantik adalah ilmu yang mengkaji maknakalimat, pragmatik mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Djajasudarma (1994 : 56) sendiri menerangkan bahwa pragmatik itu mengkaji unsur makna ujaran yang tidak dapat dijelaskan melalui referensi langsung padapengungkapan ujaran dan juga mencakup studi interaksi antara pengetahuan kebahasaan dan dasar pengetahuan tentang dunia yang dimiliki oleh pendengar / pembaca.

2.2.3 Pragmatik Bahasa Jepang

  Pragmatik adalah studi dari penggunaan untuk pemeriksaan terhadap tindakan dalam komunikasi linguistik, baik berupa ucapan yang dibuat dalam sebuah tuturan, baikberupa teks yang tepat dalam pertama penggunaannya sehingga memiliki makna di dalamnya. Maka itu berarti, kata-kata dan pernyataan yang digunakan dalam beberapa situasi itu menentukan suatu tindakan.

2.3 Tindak Tutur

  Selanjutnya menurut Fasold (1990 : 58) , Bach dan Harnish (1979 : 47) bahwa tindak tutur permintaan tidak hanya penutur menuntut mitra tutur melakukan sesuatu,bertindak atau berkata, tetapi ia (penutur) menuntut mitra tuturnya melakukan kegiatan yang sesuai dengan pandangan Grice (1975 : 40-50) baik menyangkut apa yang dikatakan,apa yang dimaksudkan maupun apa yang dilakukan yang sangat berkaitan dengan tataran sosio budaya masyarakat tuturnya. Dalam tindak tutur permintaan, pelaku tutur dihadapkan pada : (1) konteks sosio- budaya yang berupa struktur dan fungsi sosial dalam sistem nilai yang ada dalammasyarakat tuturnya, misalnya hubungan sosial (status dan fungsi peserta tutur, mobilitas strata peserta tutur seperti uchi dan soto dikebudayaan Jepang.

2.4 Kesopanan

  Jikadijabarkan, formalitas berarti ‘jangan memaksa atau jangan angkuh (aloof); ketaktegasan berarti ‘buatlah sedemikian rupa sehingga mitra tutur anda dapat menentuka piliha(option); dan persamaan atau kesekawanan berarti ‘bertindaklah seolah-olah anda dan mitra tutur anda sama’ atau dengan kata lain ‘buatlah ia merasa senang’. Leech dalam Rahardi (2009 : 5-9) menyampaikan maksim-maksim di dalam prinsip kesantunan itu sebagai berikut (1) Maksim Kebijaksanaan menyatakan : (a) kurangilahkerugian orang lain, dan (b) tambahlah keuntungan untuk orang lain.

2.5 Fungsi Tindak Tutur

  Untuk maksud “permintaan” menurut Blum-Kulka (1987) dalam Kartika(2010 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai ujaran seperti berikut: Berdasarkan penelitian empiris tentang tindak tutur permintaan dalam berbagai bahasa yang berbeda, Blum Kulka dalam Kartika (2010 : 29-30) menjabarkan haltersebut ke dalam sembilan subtingkat yang berbeda yang disebut “fungsi tindak tutur” yang membentuk skala ketidaklangsungan. Saragih (2001 : 64) mengamati bahwa realisasi aksi atau tindak tutur pada strata semantik dan tata bahasa bukanlah hubungan ’satu ke satu’ (biunique relatio); artinya bahwa semantik aksi ’pernyataan’ tidak selamanya direalisasikan oleh modus deklaratif, ’pertanyaan’ oleh interogatif dan perintah oleh imperatif.

2.6 Jenis-Jenis Tindak Tutur

  Jika maksud tuturan itu adalah untuk untuk menyindir atau untuk mengejek sang mitra tutur maka tindak tutur yang demikian itu disebut sebagai tindak tutur nonliteralatau tindak tutur tidak literal. Dari empat macam jenis tindak tutur yang disampaikan di atas itu, masing-masing kemudian bisa diinterseksikan antara yang satu dengan yang lainnya.

2.7 Ragam Bahasa Hormat dan Ragam Bahasa Biasa

  Disamping itu, pula perlu dikenali apakah ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orangdewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 :1) Ragam bahasa biasa adalah bentuk bahasa sehari-hari / biasa dalam bahasa Jepang dan biasanya digunakan kepada orang yang lebih muda atau kepada orang yang sudahakrab. Maka sebuah ranah, misalnya saja, akan dapat dianggap sebagai ranah keluarga apabila terdapat pertuturan yang terjadi di rumah atau dalam sebuah keluarga, terdapattopik perbincangan mengenai masalah keluarga, dan terdapat para partisipan tutur yang merupakan bagian dari keluarga itu menurut Rahardi (2002) dan Sumarsono (1993)dalam Rahardi (2009 : 39).

2.8 Kajian Terdahulu / Sebelumnya

  Penelitian mengenai tindak tutur telah dilakukan oleh beberapa orang, diantaranya penelitian mengenai jenis dan fungsi tindak tutur yang mendekati dengan penelitian yangpenulis tulis adalah: Eviravriza (2000) dalam tesisnya mengkaji tentang tindak tutur permintaan yang menjadi studi kasusnya adalah pengguna bahasa Melayu Riau di Pekan Baru. Eviravrizamembahas tentang modus dan bagaimana bentuk kesopanan direfleksikan dengan tindak tutur khususnya permintaan yang objek studi kasusya pengguna bahasa Melayu Riau diPekan Baru.

2.9 Kerangka Konseptual

  Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka(1987) dalam Kartika (2010 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan berbagai iujaran sebagai berikut: 1. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak)Teori ini penulis jadikan acuan dalam penelitian yang akan penulis kaji karena teori ini relevan dengan penelitian yang dilakukan.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Mendengarkan seluruh teks film secara cermat dan teliti dengan menggunakan alat berupa CD yang merupakan objek yang menjadi kajian tesis ini dan mediabantu yang lain berupa laptop dan hadset untuk mendengarkan tuturan-tuturan dalam film tersebut. Metode yang digunakan untuk menganalisis keragaman wujud verbal tindak tutur permintaan dapat menggunakan metode padan pragmatis dan metode agih dengan tekniklesap, teknik ganti dan teknik sisip menurut Sudaryanto (1993 : 15 ) di sini akan tampak keragaman wujud verbal tindak tutur permintaan itu dan refleksi kesopanan dari tindaktutur permintaan.

3.5 Contoh Analisis Data

  Berikut ini adalah contoh analisis dengan menggunakan teknik-teknik di atas adalah :Tuturan ini ditandai dengan adanya kelompok kata sebenarnya...., sebaiknya....,sesungguhnya....., dengan berat hati...., dilihat dari sudut penerimaan oleh mitra tutur , tuturan performatif berpagar ini akan mengganggu kebebasan pribadi mitra tutur untuk melaksanakan apa yang di minta oleh penutur. Ketidaklangsungan tuturan tersebut dipahami oleh mitra tutur sebagai pengurangan dominasi penutur, pemaksaan tindakan yang diminta penutur dalam tuturan performatif berpagar sangatlah diindahkan dalam interaksidengan mitra tutur .

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data

Setelah data terkumpul maka dilakukan analisis terhadap data penelitian dari tindak tutur permintaan dalam Bahasa Jepang dalam Film TLS sebagai berikut.

4.1.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Pada data Ragam Kinerja Verbal

  Penghargaan dan pengaturan citra diri cenderung dipakai sebagai kerangka rujukan pemilihan pemakaian kenerja verbal tindak tutur permintaan dalam interaksiBahasa Jepang pada Film TLSy, seperti terlihat pada tabel 3 berikut: Lampiran 2Kinerja Kesopanan N oFungsiTuturan Tuturan Permintaan ArtiTuturan 1 Tuturan performatifberpagar Sebaiknya kitaberpisah Wakareta hou ga ii ne saja. Oleh sebab itu kinerja tindak tuturpermintaan yang tidak sopan cenderung kurang menghargai dan mengakui citra diri mitra tutur seperti terlihat pada tabel 4 berikut: Lampiran 3Kinerja Ketidaksopanan No Fungsi Tuturan Tuturan Permintaan Arti Tuturan 1 Tuturan Bermodus Coba,, kamu periksaImperatifcontoh barang yang .sudah datang.

4.1.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa Jepang dalam Film Tokyo Love Story

Pemakaian bentuk tindak tutur permintaan oleh penutur bahasa Jepang pada Film TLS cenderung berpedoman pada tingkatan bahasa, dalam penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah ungkapantersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 : 1) Sebagai bagian masyarakat tutur yang berpedoman pada tingkatan bahasa yaitu adanya bahasa ragam hormat dan ragam biasa, pemakaian tindak tutur permintaan dalaminteraksi pada masyarakat Jepang ternyata tidak dapat melepaskan pandangan hidup masyarakat Jepang pada umumnya, yaitu pandangan hidup yang mengindahkan prinsiphormat dan senioritas.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan

Tabel 2 menunjukkan ragam kinerja verbal tindak tutur permintaan dalam Bahasa Jepang pada Film TLS.

4.2.1.1 Tuturan Bermodus Imperatif

  Imperatif sebagaiman pendapat Alisjahbana (1959 : 54) dan Mees (1969 : 161) dapat dimaksudkan sebagai perintah langsung, yaitu makna literal langsung dimanatuturan yang disampaikan sama dengan makna yang dimaksud. Dengan demikian, tuturan modus imperatif di atas dapat memberikann tingkat keterancaman citra diri ( nosi negatif ) tingkat nominasi dalam interaksi antara orang tua-anak, atasan – bawahan, pembantu- majikan, namun semua tuturan modus imperatif tersebut apabila ditambahkan modal tolong dan mari dapat mengurangi keterancamancitra diri mitra tutur dan merupakan pernyataan bantuan ataupun permintaan.

4.2.1.2 Tuturan Performatif Eksplisit

  Tuturan performatif eksplisit merupakan tuturan yang menggunakan kalimat dengan formula subjek orang pertama, misalnya dalam tindak tutur permintaan, isiproposisi Leech (1993 : 176) dan Fasold (1984 : 149). Oleh sebab itu, tindak tutur permintaan dengan tuturan performatif eksplisit dikatakan wajar dalam ranah keluarga, perusahaan jikadituturkan oleh orang tua kepada anaknya, majikan kepada pembantunya, kakak kepada adiknya, atasan kepada bawahannya, atau sebaliknya sesuai dengan kewenangan dan lataryang tepat dalam ranah keluarga, perusahaan , meskipun cenderung kurang menguntungkan mitra tutur karena penutur kurang mengindahkan citra diri mitra tutur.

4.2.1.3 Tuturan Perforamtif Berpagar

  Tuturan ini ditandai dengan adanya kelompok kata sebenarnya...., sebaiknya....,sesungguhnya....., dengan berat hati...., dilihat dari sudut penerimaan oleh mitra tutur , tuturan performatif berpagar dibutuhkan jalan inferensi yang panjang dari apa yang dimaksudkan penutur bila dibandingkan dengan tuturan performatif eksplisit. Ketidaklangsungan tuturan tersebut dipahami oleh mitra tutur sebagai pengurangan dominasi penutur, pemaksaan tindakan yang diminta penutur dalam Perhatikan tuturan berikut apabila dilepaskan penanda tuturan berpagar ini akan tampak selengkapnya dalam (6a) dan (7a) berikut ini:(6a) ??

4.2.1.4 Tuturan Dengan Proposisi Keharusan

  Dengan keyakinan penutur dan cenderung dipahami juga oleh mitra tutur , bahwa tuturan dengan proposisi keharusan tidak dapatditolak dan harus dilaksanakan oleh pelaku tutur, karena apa yang diingini penutur sesuai dengan keinginan dan kehendak mitra tutur selama ini. 5 Tuturan yang menunjukkan Kesangsian (Pesimis) Tuturan yang menunjukkan kesangsian terjadi karena peran dan persepsi tindakan yang diinginkan atau diharapkan penutur kepada mitra tutur dimungkinkan dapatmerugikan baik bagi penutur sendiri maupun bagi mitra tutur dalam interaksi.

4.2.1.6 Tuturan dengan Pengandaian Bersyarat

  Pengandaian terjadi berdasar pada orientasi penutur dalam melaksanakan sesuatu kepada mitra tutur, namun dalam pengandaian tindakan yang dimaksudkan penuturmenguntungkan mitra tutur dan tidak merugikan penutur. Tuturan pengandaian bersyarat yang dimaksud pada tuturan (13) adalah permintaan seorang teman sebaya sesama lelaki yang sama-sama menyukai wanita yangsama, sehingga mereka melakukan taruhan untuk memperebutkannya, tuturan (14) Tuturan (13) adalah dimaksudkan sebagai permintaan dengan modus pernyataan, tuturan (14) dimaksudkan sebagai permintaan dengan modus pertanyaan.

4.2.1.7 Tuturan yang Menyertakan Alasan

  Oleh sebab itudengan pemanfaatan tuturan menyertakan alasan dalam interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung dipahami oleh mereka bahwa tuturan yang menyertakan alasan sebagaikinerja tindakan yang tidak menunjukkan pemaksaan dan bahkan cenderung dapat menciptakan hubungan mereka secara harmonis serta dapat dimasukkan sebagai tuturanyang sopan. Hal ini berdampak pada pertimbangan citra muka, untung rugi, serta tuturan langsung dantidak langsung pada pemakaian kinerja verbal tindak tutur permintaan seperti 4.2.1 Dengan pertimbangan citra muka, baik positif maupun negatif berarti penutur menghargai dan mengakui citra diri mitra tutur dalam interaksi yang bersifat tidak resmi.

4.2.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa Jepang dalam Film Tokyo Love Story

  Sesuai dengan pemanfaatan ancangan hymes (1980) yang difokuskan pada hubungan peran danlatar pemakaian tindak tutur permintaan dalam interaksi dalam masyarakat Jepang maka ragam kinerja verbal di atas di dasrkan pada citra muka (muka negatif dan positif) yangmerupakan pengakuan dan penghargaan citra diri. Sebagai masyarakat tutur yang berlatar belakang budaya hormat dan memiliki ragam bahasa hormat dan ragam bahasa biasa , pemakaian tindak tutur permintaan dalaminteraksi pada film TLS ternyata tidaklah dapat melepaskan pandangan hidup yang mengindahkan prinsip saling menghargai dan hormat.

BAB V TEMUAN HASIL PENELITIAN

5.1 Temuan Hasil Penelitian

  3 1 2 4 1 2 2 Setelah data terkumpul dan dianalisis, maka diperolehlah hasil penelitian dari tindak tutur permintaan dalam Bahasa Jepang dalam Film TLS sebagai berikut. Hal inidilakukan agar mitra tutur tidak merasa tersakiti atau berpotensi mengancam muka mitra tutur dan dapat merusak hubungan yang harmonis antara penutur dengan mitra tutur padawaktu penutur melakukan tindak tutur.

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

  Dalam interaksi masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, gender laki-laki lebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, hal iniditandai dengan seringnya muncul tuturan permintaan yang disampaikan dengan jenis tuturan langsung, sementara tuturan dalam interaksi yang digunakan oeh junior , lebihmuda, pembantu, bawahan, gender perempuan lebih cenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan tidaklangsung (ketidakterusterangan). Dari analisis tindak tutur permintaan dapat disebutkan bahwa tindak tutur permintaan yang paling dominan dalam film TLS adalah tindak tutur yang menunjukkan kesangsian(pesimis) dengan jumlah tuturan lebih banyak dari pada fungsi tuturan yang lainnya yaitu 4 tuturan.

6.2 Saran

  Disamping itu, tindak tutur permintaan dalam penelitian ini yang termasuk dalam bentuk direktif, mungkin dapat dikaji dengan tindak tutur yang lain misalnyaperintah saja atau saran saja. Temuan hasil penelitian tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang padaFilm TLS hanya terbatas pada Film, karena itu perlu ditindaklanjuti dengan penelitian yang sama dalam masyarakat tutur yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

  Bahasa Dalam Konteks Sosial : Pendekatan Linguistik Fungsional Sistemik Terhadap Tata Bahasa dan Wacana, Medan : Pasca Sarjana USU. Pemertahanan Bahasa dan Sikap Bahasa : Kasus Masyarakat Bilingual di Medan, Jakarta, Depdikbud.

Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story Analisis Data Contoh Analisis Data Bahasa Jepang TINJAUAN PUSTAKA Jenis-Jenis Tindak Tutur Ragam Bahasa Hormat dan Ragam Bahasa Biasa Kajian Terdahulu Sebelumnya Kerangka Konseptual Kesopanan Fungsi Tindak Tutur Kinerja Kesopanan Kinerja Ketidaksopanan Kinerja Ketidaksopanan Pembahasan .1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Metode Penelitian Sumber Data Teknik Pengumpulan Data Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Landasan Teori Saran SIMPULAN DAN SARAN Simpulan SIMPULAN DAN SARAN Tindak Tutur Permintaan Tindak Tutur Tuturan dengan Pengandaian Bersyarat Tuturan yang Menyertakan Alasan Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love..

Gratis

Feedback