Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

 1  102  56  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

  ANAL LISIS INTE ERAKSI SO OSIAL DUA A KELOM MPOK SISW WA DALA AM NOVEL “GROTES SQUE” KA ARYA NAT TSUO KIR RINO NATSUO O KIRINO O NO SAKU UHIN NO " "GROTES QUE" NO O SHOUSET TSU NI OKER RU FUTAT TSU NO GA AKUSEITA ACHI NO GURUPU SHAKAIT TENI NA S SAYOU NO O BUNSEK KI SKRIP PSI

  Skripsi i ini diajuka an kepada P Panitia Ujian n Fakultas I Ilmu Buday ya Universit tas Sumater ra Utara Me edan untuk m melengkapi i salah satu syarat ujian n sarjana da lam bida ang Ilmu Sas stra Jepang

  OLEH H : RANI LEST R TARI FAR RIDA SIMB BOLON 0707080 035 DEPARTE EMEN SA STRA JEP PANG FAKUL LTAS ILM MU BUDAY YA UNIVERSI U

  ITAS SUM MATERA U UTARA MEDA AN 2011

  

1

  

ANAL LISIS INTE ERAKSI SO OSIAL DUA A KELOM MPOK SISW WA DALA AM

NOVEL L GROTES SQUE KAR RYA NATS SUO KIRIN NO

NATSUO O KIRINO O NO SAKU UHIN NO " "GROTES QUE" NO O SHOUSET TSU

  

NI OKER RU FUTAT TSU NO GA AKUSEITA ACHI NO GURUPU SHAKAIT TENI

NA S SAYOU NO O BUNSEK KI

  Skripsi in ni diajukan kepada P anitia Ujia an Fakultas Ilmu Bud daya Unive ersitas Sumatera Utara Med dan untuk m melengkapi salah satu syarat ujia an sarjana d dalam bidang Ilm mu Sastra Je epang

  Oleh : : R RANI LEST TARI FAR RIDA SIMB BOLON

0707080 035

Pe embimbing

  I Pe embimbing g II Drs. Ema an Kusdiyan na, M.Hum m Pro of.Hamzon Situmoran ng.M.S,Ph.D D

  NIP. 19 9600919 198 8803 1 001 NIP. 19 9580704.19 84.12.1.001

  1 DEPARTE EMEN SA STRA JEP PANG

  FAKUL LTAS ILM MU BUDAY YA UNIVERSI U

  ITAS SUM MATERA U UTARA

MEDA AN

2011

  

1

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Skripsi yang berjudul ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA

  

KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO

KIRINO ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar sarjana

  di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara.

  Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih, penghargaan, serta penghormatan yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan studi dan skripsi ini, antara lain kepada :

  1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

  2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.hum selaku ketua Departemen Sastra Jepang dan juga selaku Dosen pembimping pertama saya, terimakasih untuk waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya.

  3. Bapak Prof. Hamzon Situmorang.M.S,Ph.D selaku Dosen pembimbing dua saya, terimakasih atas waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya.

  4. Kepada orangtua saya yang sangat saya sayangi S. Simbolon dan K.Purba, terimakasih atas dukungan materi, semangat, kasih saying dan segala bantuan yang telah kalisn berikan kepada saya. Terimakasih karena selalu ada untukku di saat sedih maupun bahagia.

  5. Kepada kakakku Nora dan adik-adik yang sangat saya sayangi, Tohom, Grace dan Lija, terimakasih atas segala bantuan dan dukungan semangat yang telah kalian berikan.

  6. Kepada teman-teman seperjuangan Eka, Kristin dan teman-teman stambuk 2007 lainnya, yang sudah banyak memberikan bantuan kepada saya.

  7. Kepada sahabat-sahabatku Vita, Hesti, Femy, David, Ellya yang senantiasa memberikan dukungan semangat kepada saya. Terimakasih untuk semua yang sudah kita jalani selama ini.

  8. Kepada kakak abang senior dan juga adik stambuk yang sudah memberikan dukungan semangat kepada saya.

  Medan, September 2011 Penulis, Rani Lestari F Simbolon.

  DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. i DAFTAR ISI …………………………………………………………………… ii

  BAB I. PENDAHULUAN

  1.1.Latar Belakang Masalah ……………………………………………. 1

  1.2.Perumusan Masalah ………………………………………………… 5

  1.3.Ruang Lingkup Pembahasan ………………………………………... 6

  1.4.Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ……………………………… 7

  1.5.Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………..……………... 11

  1.6.Metodologi penelitian ……………………………..………………. 12

  BAB II. TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE

  2.1. Setting Novel Groteque………………………………………....... 14

  2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque ………………………………... 17

  2.3. Interaksi Sosial …………………………………….…………….. 19

  2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque ….……. 22

  BAB III. ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTEQUE KARYA NATSUO KIRINO

  3.1. Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino……………………………...…... 28

  BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN

  4.1. Kesimpulan…………………………………………………………. 44

  4.2. Saran ……………………………………………………….………. 45 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 47

  ABSTRAK ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO Novel adalah adalah salah satu hasil karya sastra fiksi yang dapat dijadikan sebagai cerminan dari kehidupan nyata. Isi cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi pengarang yang di dapat dari pengalamannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukan hanya pengalaman yang dialami sendiri bisa saja sesuatu yang di lihat dan di ketahuinya dari orang lain. Novel dibangun dengan dua unsur yaitu unsur intrinstik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur yang membangun novel secara langsung misalnya tema, alur, gaya bahasa, penokohan dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang secara tidak langsung mempengaruhi novel misalnya keadaan sosial, ekonomi, kebudayaan dll.

  Dalam sebuah novel sering dijumpai permasalahan yang sama seperti pada kehidupan nyata. Permasalahan dapat dilihat melalui hubungan yang di bangun oleh para tokoh dalam novel tersebut. Para tokoh harus melakukan interaksi supaya dapat membentuk sebuah cerita yang dapat dipahami pembaca. Seperti dalam kehidupan nyata, dalam interaksi sosial salah satu pihak akan melakukan aksi dan pihak lain akan memberikan reaksi.

  Pada skripsi ini penulis akan menganalisis interaksi sosial dua kelompok siswa dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino.. Kedua kelompok itu adalah kelompok orang dalam dan kelompok orang luar. Kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa melalui ujian, mereka masuk secara otomatis karena sudah merupakan siswa di perguruan Q pada tingkat sebelumnya. Dan kebanyakan siswa yang ada di kelompok orang dalam berasal dari keluarga yang kaya. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui ujian dan mereka hanya berasal dari keluarga yang biasa saja.

  Untuk menganalisis novel ini penulis menggunakan teori interaksi sosial untuk mengetahui bagaimana interaksi kedua kelompok siswa tersebut dan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa dari kelompok orang luar dan sebaliknya. Penulis menganalisis apa saja yang dapat menunjukkan bentuk interaksi dua kelompok siswa tersebut melalui cuplikan-cuplikan pada novel.

  Setelah melakukan analisis dengan menggunakan teori interaksi sosial, penulis menemukan bahwa interaksi yang dilakukan kedua kelompok siswa menunjukkan bahwa siswa dari kelompok orang dalam selalu bersikap semena- mena terhadap siswa dari kelompok orang luar. Siswa dari kelompok orang dalam mendapatkan kekuasaan dan kebebasan yang sangat besar di sekolah yang mengakibatkan siswa di kelompok orang luar mendapatkan banyak tekanan.

  Antara kedua kelompok siswa yaitu kelompok orang dalam dan kelompok orang luar yang tidak terdapat persamaan hak. Siswa di kelompok orang luar sering mendapatkan diskriminasi dan perlakuan yang tidak baik. Dari cuplikan terlihat bahwa siswa dari kelompok orang luar ada yang berusaha mendapatkan hak yang sama seperti siswa dari kelompok orang dalam yaitu Kazue Sato. Ada juga yang mencari cara untuk dapat selamat dari gangguan yang di berikan siswa dari kelompok orang dalam. Cara tersebut diantaranya berusah menyembunyikan asal tempat tinggalnya yang bukan di perumahan mewah, berusaha meniru perilaku siswa dari kelompok orang dalam dan berusaha menunjukkan dirinya melalui prestasi dalam pelajaran.

  Banyak pelajaran dan yang penulis dapatkan dari penelitian ini. Seperti pembedaan siswa di sekolah berdasarkan kekayaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Setiap siswa seharusnya mendapatkan hak dan kewajiban yang sama di sekolah. Setiap siswa seharusnya bisa berhubungan dengan siapa saja tanpa melihat berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarganya. Dengan demikian penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dalam menjalani kehidupan ke depannya.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

  Jepang adalah salah satu negara maju yang cukup berpengaruh di dunia saat ini. Jepang banyak menghasilkan teknologi-teknologi canggih dan sekarang digunakan juga oleh negara-negara lain. Masyarakat Jepang dikenal dengan sikap disiplin dan kerja kerasnya. Hal inilah yang menyebabkan Jepang mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah kejatuhan mereka pada perang dunia ke-2. Jepang negara yang memiliki budaya yang sangat unik. Mereka menjalani dua hal yang menjadi kebalikan secara bersamaan misalnya, Jepang sangat maju dalam bidang teknologi, tetapi masyarakat Jepang juga sangat menghargai alam dan menyukai sesuatu yang bersifat alami, dan peduli tentang keadaan alamnya.

  Dalam menjalani kehidupannya masyarakat Jepang didukung dengan fasilitas- fasilitas yang praktis dan canggih, dan saat ini kehidupan masyarakat Jepang juga sudah banyak dipengaruhi oleh budaya mayarakat barat tetapi budaya tradisional mereka juga tetap mereka jaga dan tetap memberi pengaruh dalam setiap kehidupan masyarakat Jepang. Budaya-budaya tradisional Jepang yang memberi pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Jepang diantaranya adalah budaya kelompok dan budaya malu. Selain teknologi, dalam bidang kesusastraan Jepang juga terus mengalami perkembangan. Jepang menghasilkan banyak karya sastra dan dikenal di dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya novel hasil karya sastra Jepang yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga memiliki banyak peminat.

  Novel Jepang sebagai salah satu karya sastra Jepang, sama seperti novel lainnya yaitu banyak berisi tentang hal-hal yang terjadi dalam masyarakat.Hal ini sesuai dengan pengertian sastra menurut wellek dalam Melani Budianto (1997:109), bahwa sastra adalah lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambar kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan. Menurut Jan Van Luxemburg (1986:23-24) sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial, sastra yang di tulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat-istiadat zaman itu. Sastra pun di pergunakan sebagai sumber untuk menganalisa sistim masyarakat. Sastra juga mencerminkan kenyataan dalam masyarakat dan merupakan sarana untuk memahaminya.

  Menurut Iswanto dalam Jabrohim (http://blognyaphie.blogspot.com/), Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen, novel, dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui tokoh-tokoh ceritanya.

  Karya sastra terbagi atas dua jenis yaitu karya sastra fiksi dan non fiksi. Menurut Aminuddin (2000 : 66), fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Sedangkan menurut Nurgiyantoro (1995: 166) fiksi adalah suatu bentuk kreatif, maka bagaimana pengarang mewujudkan dan mengembangkan tokoh-tokoh cerita pun tidak lepas dari kebebasan kreatifitas. Karya sastra fiksi lebih lanjut dapat dibedakan menjadi berbagai macam bentuk yaitu roman, novel, novelet maupun cerpen.

  Dalam bahasa Jepang novel disebut dengan shousetsu. Kawabata Takeo dalam Muhammad Pujiono (2006:6) mengatakan bahwa novel timbul sebagai sesuatu yang menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, meskipun kejadiannya tidak nyata. Tetapi itu merupakan sesuatu yang dapat dipahami dengan prinsip yang sama dengan kehidupan sehari-hari.

  Menurut Moeliono (1988:618) dijelaskan bahwa novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel sebagai karya sastra fiksi memiliki dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri atau unsur-unsur yang secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang ada di luar karya sastra tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra tersebut atau dapat dikatakan sebagai unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Unsur-unsur ekstrinsik itu yaitu kebudayaan, ekonomi, keyakinan dll. Untuk membuat suatu cerita maka diperlukan semua unur-unsur tersebut untuk menciptakan hubungan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dalam sebuah novel antara satu tokoh dan tokoh yang lain tentu terjadi saling interaksi untuk menunjukkan watak, sifat dan peran tokoh tersebut dalam cerita. Setiap interaksi yang terjadi dalam cerita bisa menunjukkan banyak hal seperti pertentangan, kerja sama, persaingan dll.

  Dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino juga terdapat interaksi antara tokoh-tokohnya. Dalam novel ini ada dua kelompok siswa sekolah lanjutan atas yang saling membangun hubungan melalui interaksi-interaksi yang mereka lakukan. Dua kelompok siswa ini diceritakan oleh pengarang saat menceritakan kehidupan Kazue Sato saat berada di sekolah lanjutan atas.

  Kazue Sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Dia menghadapi masalah saat berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok orang dalam, yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q, yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain disebut kelompok orang luar, yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue Sato termasuk ke dalam kelompok orang luar. Perbedaan kelompok orang dalam dan kelompok orang luar sangat jelas terlihat, kelompok orang dalam adalah siswa-siswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kelompok orang dalam memiliki kekuasan dan kebebasan di sekolah, berbeda dengan siswa kelompok orang luar mereka sering mendapat diskriminasi. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siswa kelompok orang dalam mereka sering bertindak sesuka hati dan memperlakukan siswa kelompok orang luar dengan semena-mena. Kazue sato yang berasal dari keluarga yang biasa selalu ingin menjadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, dia tidak setuju kalau dirinya ditempatkan di kelompok orang luar yang merupakan kelompok yang ada di bawah kelompok orang dalam. Sehingga dia berusaha untuk bisa mendapatkan hak yang sama seperti kelompok orang dalam. Teman- teman Kazue di kelompok orang luar lainnya juga merasa tidak suka atas sikap kelompok siswa orang dalam terhadap mereka. Antara siswa kelompok orang dalam yang berkuasa dan siswa kelompok orang luar yang sering mendpatkan diskriminasi saling melakukan interaksi saat menjalankan keseharian mereka di sekolah. Siswa kelompok dalam memberikan sebuah aksi dan siswa kelompok orang luar memberikan reaksi, begitupun sebaliknya.

  Dari hal di atas maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana interaksi kedua kelompok yang sangat berbeda tersebut.Oleh karena itu penulis memilih judul Analisis Interaksi Sosial Dua kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

1.2.Perumusan Masalah

  Dalam novel Grotesque ini pengarang yaitu Natsuo Kirino menyebutkan adanya pembagian siswa menjadi dua kelompok saat menceritakan kehidupan Kazue sato saat berada di sekolah lanjutan atas. Kedua kelompok tersebut adalah siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Perbedaan antara kedua kelompok ini sangat jelas. Siswa kelompok orang dalam adalah siswa dari keluarga yang kaya sedangkan siswa kelompok orang luar adalah siswa yang berasal dari keluarga biasa saja. Siswa di kelompok dalam, dianggap sebagai siswa yang terbaik, mereka disegani dan memiliki kekuasaan. Sedangkan siswa di kelompok luar cenderung tidak memiliki kebebasan dan sering mendapatkan diskriminasi. Kazue Sato yang berasal dari kelompok luar ingin menjadi yang terbaik, dia juga ingin mendapatkan hak yang sama seperti siswa di kelompok dalam. Dia melakukan banyak usaha untuk bisa seperti siswa di kelompok dalam dan mendapatkan pengakuan dari siswa-siswa lainnya. Dia berusaha menentang segala sesuatu yang membatasi dirinya yang juga dialami siswa dari kelompok luar lainnya. Tetapi ketidakpuasan atas sikap siswa kelompok orang dalam juga ditunjukkan oleh siswa kelompok orang luar lainnya.

  Dari hal di atas yang ingin diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana interaksi yang terjadi antara kedua kelompok tersebut saat menjalani kehidupan mereka di Sekolah. Dalam bentuk pertanyaan masalah yang akan di teliti dalam skripsi ini adalah :

  1. Bagaimana interaksi sosial golongan atas dan golongan bawah yang terlihat dalam novel Grotesque karya Natsuo ?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan

  Analisis ini difokuskan kepada bagaimana interaksi sosial dua kelompok siswa yang ditunjukkan oleh interaksi siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar yang terdapat pada novel Grotesque. Kelompok orang dalam maksudnya adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa ujian dan mereka berasal dari keluarga-keluarga yang kaya. Sedangkan kelompok orang luar maksudnya mereka yang masuk ke selokah lanjutan atas melalui ujian dan berasal dari keluarga yang biasa saja. Interaksi yang akan dilihat disini adalah tindakan semena-mena yang ditunjukkan oleh siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa di kelompok orang luar, dan bagaimana sikap siswa di kelompok orang luar menanggapi perlakuan tersebut. Untuk menganalisisnya penulis akan menggunakan teori interaksi dan pendekatan semiotik.

  Untuk menghindari permasalahan melebar dan tidak fokus maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup pembahasan. Sebelum melakukan kajian mengenai interaksi sosial dua kelompok siswa pada novel “Grotesque” ini, penulis akan mencoba membahas mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu: setting novel “Groteque” , sinopsis cerita novel “Grotesque”, interaksi sosial dan pembentukan kelompok siswa dalam novel “Grotesque”

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori

a. Tinjauan Pustaka

  Sastra adalah bagian dari hasil budaya manusia. Sastra tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Menurut Semi dalam ( http://asemmanis.wordpress.com/ 2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/) Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai medianya. Menurut Rene wellek dalam Melani budianto (1995:109) bahwa sastra adalah lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Setiap karya sastra yang dihasilkan tentunya mempunyai tujuan memberikan manfaat bagi para pembaca. Oleh karena itu sebuah karya sastra dihasilkan dengan melihat lingkungan dan kehidupan sehari-hari dan diharapkan memberikan manfaat juga bagi kehidupan.

  Novel adalah karya sastra yang sangat popular. Meskipun novel merupakan hasil karya fiksi namun isi cerita dalam novel merupakan penggambaran dari sebuah kehidupan. Sehingga pembuatan sebuah novel juga dipengaruhi dengan budaya atau keadaan lingkungan dan sosial masyarakat.

  Dalam kehidupan nyata setiap individu tidak dapat terlepas dari interaksi sosial. Setiap individu selalu akan melakukan interaksi sosial dalam menjalani kehidupannya. Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/ pengertian-interaksi-sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.

  Dalam novel, setiap tokoh harus melakukan interaksi satu sama lain untuk menunjukkan permasalahan yang ada sehingga menghasilkan sebuah cerita yang dapat di pahami pembaca. Dalam novel Grotesque juga terdapat interaksi antara tokoh-tokohnya. Sama seperti kehidupan nyata para tokohnya melakukan interaksi dan membangun sebuah hubungan. Interaksi yang akan dilihat dalam novel ini adalah interaksi antara dua kelompok siswa sekolah lanjutan atas. Kedua kelompok itu adalah siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Siswa kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke sekolah atas perguruan Q tanpa melalui ujian karena sudah merupakan siswa di perguruan Q pada tingkat sebelumnya, dan mereka adalah siswa yang berasal dari keluarga yang kaya. Sedangkan siswa kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui ujian dan mereka berasal dari keluarga yang biasa saja. Siswa kelompok orang dalam memiliki kekuasaan dan kebebasan di sekolah. Hal ini menyebabkan siswa kelompok orang dalam bersikap semena- mena terhadap kelompok orang luar. Siswa kelompok orang luar yang sering mendapat diskriminasi merasa tidak suka atas sikap siswa kelompok orang dalam.

  Hal ini menyebabkan Kazue Sato salah satu siswa kelompok orang luar berusaha mendapatkan hak yang sama dengan kelompok orang dalam. Dan kelompok orang luar lainnya pun berusaha untuk menghindar dan terlepas dari tekanan siswa kelompok orang dalam. Kedua kelompok ini saling berhubungan dan menghasilkan suatu interaksi yang menunjukkan sikap siswa dari kelompok orang dalam selalu mendominasi.

b. Kerangka Teori

  Untuk mengetahui bagaimana interaksi antara dua kelompok siswa yang terdapat dalam novel Grotesque, penulis akan menggunakan teori interaksi sosial serta pendekatan semiotik.

  Kehidupan sehari-hari tidak bisa terlepas dari interaksi sosial. Satu indivudu harus melakukan interaksi dengan individu lainnya agar dapat menjalani kehidupannya. Dalam novel setiap tokoh juga harus melakukan interaksi dengan tokoh lain untuk membangun suatu cerita. Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya. Sebagai mahluk sosial kehidupan sehari-hari tidak pernah terlepas dari interaksi sosial. Antara individu yang satu dengan yang lain saling membangun hubungan dan melakukan interaksi. Pihak yang satu akan melakukan aksi dan yang lain akan memberikan reaksi, begitu sebaliknya saling mempengaruhi.

  Dalam novel grotesque terdapat interaksi dua kelompok siswa yaitu siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Dalam interaksi kedua kelompok siswa ini terdapat aksi dan reaksi yang ditunjukkan satu sama lain dan juga saling mempengaruhi. Dari interaksi itu juga dapat diketahui sikap siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa di kelompok orang luar dan bagaimana tanggapan siswa kelompok orang luar terhadap sikap tersebut, begitu juga sebaliknya.

  Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan peneliti adalah pendekatan semiotik. Pradopo dkk (2001 : 71) menyatakan bahwa semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Menurut Hoed (dalam Nurgiyantoro 1995;40), semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rambut, pakaian, karya seni sastra, patung, dan lain-lain yang berada di sekitar kita. Bahasa juga merupakan tanda. Dalam karya sastra bahasa digunakan sebagai tanda untuk menunjukkkan suatu pemikiran, keadaan atau gejala sosial. Sehingga dalam meneliti sebuah novel pendekatan semiotik digunakan untuk melihat tanda- tanda yang ada dalam novel tersebut. Setelah mendapatkan tanda-tanda yang ada dalam sebuah novel, tanda-tanda itu akan dideskripsikan berdasarkan konteksnya, dan ditafsirkan maknanya.

  Berdasarkan pendekatan semiotik tersebut penulis akan menginterpretasikan sikap dan interaksi pada tokoh ke dalam tanda. Tanda-tanda tersebut diperoleh dari teks-teks cerita yang ada dalam novel. Tanda yang ada dalam novel Grotesque ini akan dipilih bagian mana yang menunjukkkan adanya interaksi sosial antara dua kelompok siswa. Dengan demikian maka interaksi sosial antara dua kelompok siswa yang terlihat dalam novel ini dapat ditemukan dan dapat mengambil makna dari interaksi tersebut.

1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian a.Tujuan Penelitian

  Dengan mencoba meneliti tentang budaya kelompok di Jepang melalui novel Grotesque ini maka tujuan dari penelitian ini yaitu:.

  1. Untuk mengetahui bagaimana interaksi sosial dua kelompok siswa yang ada dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino.

  b.Manfaat Penelitian

  Dengan melakukan penelitian tentang permasalahan di atas penulis dan juga pembaca dapat memperoleh manfaat diantaranya:

  1. Menambah wawasan penulis dan pembaca tentang interaksi sosial.

  2. Sebagai referensi tentang bentuk interaksi sosial antara kelompok siswa di sekolah.

1.6. Metode Penelitian

  Penelitian ini menggunakan metode deskriftif yang termasuk dalam cakupan penelitian kumulatif dan menggunakan pendekatan semiotik. Menurut Koentjaraningrat (1976 : 30) bahwa penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberi gambaran yang secermat mungkin mengenai individu , keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Metode deskriftif merupakan metode yang menggambarkan keadaan atau objek penelitian yang dilakukan berdasarkan fakta- fakta yang tampak atau sebagaimana adanya dan dipakai untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasi, mengkaji dan menginterpretasi data. Muhammad nazir (1988:84) menerangkan bahwa penelitian deskriftif mempelajari masalah masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari suatu fenomena. Oleh karena itu, dengan metode itu peneliti akan meneliti bagaimana interaksi sosial dua kelompok siswa yang ada dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino. Dengan menggunakan teori interaksi sosial dan pendekatan semiotik yang akan digunakan untuk menunjukkan interaksi tersebut.

  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kata tulisan yang dikutip dari buku-buku yang berhubungan dengan sastra, novel, interaksi sosial, dan lain sebagainya. Adapun teknik pengumpulan data adalah dengan cara studi pustaka (library research), yaitu dengan menyusuri sumber-sumber kepustakaan dengan cara membaca buku referensi yang berkaitan dengan masalah yang akan dijelaskan. Data yang diperoleh dari berbagai referensi tersebut kemundian di analisa untuk mendapatkan kesimpulan dan saran. Teknik penelitian adalah dengan penelaahan terhadap buku-buku kepustakaan. Penulis akan mempelajari buku-buku tersebut kemudian menganalisis unsur-unsur ekstrisik yang terkandung di dalamnya, dan menginterpretasikanya ke dalam teks-teks cerita dari novel Grotesque. Dalam hal ini teks yang diambil merupakan teks-teks yang berkaitan dengan tentang interaksi sosial dua kelompok siswa dalam novel grotesque.

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA PADA NOVEL GROTESQUE

2.1. Setting Novel Grotesque

  Menurut Ikram (1980:21), setting adalah tempat secara umum dan dan waktu atau masa terjadi. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:216), latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan.

  Setting merupakan bagian intrinstik dalam novel. Setting menunjukkan tempat, waktu dan menjelaskan suasana terjadinya suatu kejadian dalam sebuah cerita novel. Setting merupakan bagian penting dalam novel, tanpa adanya setting pembaca akan sulit untuk mengerti isi cerita dalam sebuah novel. Dengan adanya setting para pembaca juga bisa mudah menghayati dan membayangkan suasana saat kejadian dalam cerita novel tersebut terjadi.

  Unsur latar atau setting dapat dibedakan ke dalam tiga unsure pokok yaitu tempat, waktu, dan sosial. Meskipun ketiga unsur itu masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995 : 227)

  1.Latar Tempat

  Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita terjadi. Unsur-unsur tempat yang dipergunakan bisa berupa tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu atau mungkin juga dengan suatu penggambaran lokasi tertentu tanpa menyebutkan nama. Cuplikan halaman 61.

  

Kazue dan aku lulus ujian masuk dan masuk ke sistim perguruan Q di sekolah

lanjutan atas. Aku yakin kau tahu, bahwa sekolah lanjutan atas Q untuk

perempuan mudah sangat kompetitif dan hanya menerima mereka yang nilai

ujiannya paling tinggi.

  Dari cuplikan di atas digambarkan bahwa latar tempat pada cerita “Grotesque” berada di sebuah Sekolah Lanjutan atas yang merupakan bagian dari Perguruan Q yang sangat kompetitif. Dan tidak mudah untuk bisa menjadi salah satu dari siswanya.

  2.Latar Waktu Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa, dalam plot secara historis. Melalui pemberian waktu secara jelas, akan tergambar tujuan fiksi tersebut secara jelas pula. Dengan adanya latar waktu akan tergambar jelas urutan setiap kejadian-kejadian yang ada dalam cerita, sehingga akan mudah untuk memahami cerita. Cuplikan halaman 68

  Waktu kami pertama mulai bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk

perempuan muda, aku tidak tahu nama Kazue dan tidak tertarik untuk mencari

tahu. Waktu itu, semua orang luar berkumpul bersama dan kelihatan bingung dan dungu sehingga tidak mungkin membedakan masing-masing.

  Dari cuplikan di atas diganbarkan bahwa kejadian terjadi saat tokoh baru bersekolah di Sekolah lanjutan Atas Q untuk perempuan muda. Saat itu semua siswa yang merupakan siswa baru belum saling mengenal.

  3.Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.

  Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara bersiakap dan lain-lain. Disamping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya kalangan bawah, menengah atau atas. Cuplikan halaman 63

  Waktu aku pertama mulai tinggal bersama kakekku, aku bermimpi tentang

bagaimana hidupku sebagai siswa di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk perempuan

muda yang sangat didambakan itu. Imajinasiku subur sekali, adegan demi adegan

berkembang. Menuruti khayalan-khayalan ini memberiku kenikmatan besar,

seperti sudah kukatakan. Aku akan bergabung dengan kelab-kelab, berteman dan

menjalani kehidupan normal seperti orang normal lainnya. Namun kenyataan

mencabik-cabik impian-impian ini hingga berkeping-keping. Pada dasarnya,

keberadaan kubu-kubu menghancurkan diriku. Kau tidak bisa begitu saja

berteman dengan siapa saja, tahu. Bahkan kegiatan kelab-kelab diberi peringkat

dan disusun dalam hierarki masing-masing, jelas dibedakan antara yang

didambakan dan yang pinggiran. Dasar dari pemeringkatan ini tentu saja

pengertian elit ini.

  Dari cuplikan diatas menggambarkan adanya keadaan sosial yang masyarakatnya dibagi ke dalam kelas-kelas atau kubu-kubu dan menjadikan sesuatu yang dianggap elit sebagai dasar dari pembagian peringkat setiap kelas. Setiap orang tidak bisa begitu saja berteman dengan siapa saja. Semua diatur berdasarkan peringkat kelasnya. Dengan siapa berteman sampai kelab yang bisa dimasuki sesuai dengan kelasnya.

2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque

  Novel Grotesque ini menceritakan tentang kehidupan dua orang wanita yang berprofesi sebagai seorang pelacur yang terbunuh secara sadis. Kedua wanita tersebut adalah Kazue Sato dan Yuriko. Dalam novel ini kehidupan kedua wanita tersebut diceritakan oleh kakak yuriko dan juga teman satu sekolah kazue. Dan cerita tentang kehidupan kedua wanita ini juga di dapat dari buku harian mereka.

  Yuriko adalah seorang anak keturunan swiss dan Jepang. Ayahnya adalah sosok yang otoriter yang selalu mengganggap dirinya benar. Sedangkan Ibunya adalah sosok penurut. Dia memiliki rupa yang sangat cantik dan di kagumi banyak orang. Bahkan orang-orang tidak percaya kalau dia adalah salah satu dari keluarganya karena tidak mirip. Orang-orang juga tidak percaya kalau yuriko mempunyai ayah, ibu dan kakak yang sangat biasa. Kecantikan yang membuat semua orang kagum kepadanya membuat yuriko sangat mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan itulah yang membuat kakaknya sangat benci kepadanya.

  Sehingga kakaknya memutuskan untuk tetap tinggal di Jepang bersama kakeknya saat keluarganya akan pindah ke swiss, agar berada jauh dari Yuriko. Di Swiss ibunya akhirnya bunuh diri karena depresi akibat tanggapan negatif dari masyarakat tentang bagaimana mungkin seorang yang biasa saja memiliki anak yang sangat cantik. Kecantikan yuriko jugalah yang membuat banyak pria yang tertarik kepadanya. Hal ini membuat yuriko terobsesi menjadi seorang pelacur.

  Kazue sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Permasalahan terjadi saat dia berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah menengah atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok dalam yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain di sebut kelompok luar yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue sato termasuk ke dalam kelompok luar. Perbedaan kelompok dalam dan kelompok luar sangat jelas terlihat, kelompok dalam adalah siswa- siswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu.

  Sedangkan kelompok luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kazue sato dalam keluarga selalu dituntut untuk jadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Hal ini berdampak pada sekolahnya. Di sekolah dia melakukan segala hal untuk bisa menjadi yang terbaik dan semua itu harus dimulai dengan masuk kelompok dalam. Berbagai usaha dilakukannya untuk bisa masuk ke dalam kelompok dalam tetapi ternyata itu tidak mudah. Kegagalan usaha Kazue yang ingin masuk ke dalam kelompok dalam pada akhirnya menjadikan dia terobsesi untuk menjadi nomor satu tanpa mempedulikan orang lain. Bahkan sampai saat dia sudah memiliki pekerjaan dia yang bagus dia tetap ingin menjadi pusat perhatian orang disekitarnya, dan ini membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman dan menjauhinya.

  Yuriko dan Kazue diduga dibunuh oleh orang yang sama yaitu Zhang warga negara china yang datang ke Jepang secara illegal, demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dia adalah salah satu orang yang memakai jasa Yuriko dan Kazue. Dia membunuh Yuriko karena terlibat perkelahian. Sedangkan untuk pembunuhan Kazue dia tidak mengakuinya.

2.3.Interaksi Sosial

  Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi- sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.

  Kehidupan bermasyarakat tidak mungkin terlepas dari interaksi sosial. Sebagai makhluk sosial setiap anggota masyarakat harus melakukan interaksi dengan anggota masyarakat lain untuk bisa menjalani kehidupannya.

  Ada beberapa bentuk-bentuk interaksi sosial menurut Park dan Burgess dalam Santosa (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) yaitu :

  a. Kerja sama

  Kerja sama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerja sama atau bantu-membantu untuk mencapai tujuan bersama.

  b. Persaingan Persaingan ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok berlomba untuk meraih tujuan yang sama c. Pertentangan

  Pertentangan ialah suatu bentuk interaksi sosial berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dan orang atau kelompok dan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.

  d. Persesuaian Persesuaian ialah proses penyesuaian dimana orang-orang atau kelompok-kelompok yang sedang bertentangan bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut-larut dengan melakukan interaksi damai baik bersifat sementara maupun bersifat kekal. Selain itu persesuaian juga memiliki arti yang lebih luas yaittu penyesuaian antara orang yang satu dengan yang lain, antara seorang dengan kelompok, dan antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain.

  e. Perpaduan Perpaduan adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok. Dan juga merupakan usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama.

  Faktor-faktor yang mendasari proses terbentuknya interaksi sosial adalah : 1.

  Imitasi yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di lungkungan keluarga, kemudian lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat.

  

2. Indentifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk

  menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui serangkain proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses kejiwaaan yang sangat mendalam.

  3. Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan sesorang

  individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional.

  4. Motivasi yaitu rangsangan pengaruh, stimulus yang diberikan seorang

  individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti tau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab . Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa, misalnya dari seorang ayah kepada anak, seorang guru kepada siswa.

  

5. Simpati adalah proses kejiwaan , dimana seorang individu merasa tertarik

  kepada seseorang atau kelompok orang, karena sikapnya, penampilannya, wibawanya atau perbuatannya yang sedemikian rupa.

6. Empati yaitu mirip dengan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan

  kejiwaan saja. Empati dibarengi dengan perasaan organisme tubuh yang sangat intens/dalam. (http://id.shvoong.com/social-sciences /sociology/ 1809953-interaksi-sebagai-proses-sosial/ )

  Semua bentuk-bentuk interaksi sosial di atas selain dapat dilihat di dalam kehidupan sehari-hari juga bisa dilihat dalam karya sastra, khususnya novel.

  Tokoh yang satu dengan yang lain saling berinteraksi sehingga menghasilkan sebuah cerita. Dalam novel grotesque interaksi dilakukan oleh dua kelompok siswa. Siswa kelompok orang dalam menunjukkan golongan atas dan siswa kelompok orang luar menunjukkan golongan bawah. Setiap perilaku masing- masing kelompok ini memberikan pengaruh terhadap kelompok lainnya. Setiap tindakan dan sikap dari siswa kelompok orang dalam mendapat tanggapan dari siswa kelompok orang luar begitu juga sebaliknya. Dari setiap interaksi tersebut juga dapat di lihat bagaimana hubungan yang terjadi antara kedua kelompok ini.

2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

  Berikut adalah cuplikan-cuplikan cerita yang akan menunjukkan pembentukan kelompok siswa dalam novel Grotesque.

  Cuplikan halaman 62-63

  Itu karena Universitas Q tidak begitu saja menerima siapa pun. Dan

karena itu siswa-siswa yang masuk ke system Q-yang akhirnya mampu meluncur

  

masuk ke universitas Q-merasa berhak. Semakin awal si siswa masuk ke sistim

ini, semakin kuat kesadaran elit mereka.

  Justru karena sistim ekskalator inilah orang tua yang kaya raya berupaya

keras agar anak mereka masuk sekolah Q tingkat dasar. Kudengar dari orang

lain bahwa keseriusan mereka dalam menghadapi ujian awal ini sudah mendekati histeri.

  Dari cuplikan diatas di jelaskan bahwa sistem perguruan Q bukanlah sistim yang menerima siswa dengan mudah, semakin cepat seorang siswa masuk ke dalam sistim ini maka mereka akan semakin dianggap elit. Perguruan Q memiliki sistim ekskalator maka siswa yang masuk saat sekolah dasar bisa masuk ke tingkat berikutnya dengan mudah tanpa test. Karena itulah maka para orang tua yang kaya raya berupaya keras agar anak mereka masuk dari tingkat dasar. Hal itu juga merupakan alasan kenapa semakin cepat siswa masuk ke dalam sistim perguruan Q semakin mereka dianggap elit karena siswa sekolah dasar perguruan Q merupakan siswa yang berasal dari keluarga yang kaya. Sistim perguruan Q ini juga menyebabkan siswa yang masuk pada tingkat berikutnya dianggap lebih rendah dibandingkan siswa yang masuk di tingkat sebelumnya dan melanjut tanpa ujian.

  Cuplikan halaman 64

  Siswa-siswa tingkat satu dibagi atas dua kelompok besar: mereka yang

melanjutkan dari dalam sistem sekolah Q dan mereka yang masuk tahun itu.

  

Sekilas mudah melihat yang mana kelompok apa. Panjang rok seragam sekolah

kamilah yang membedakan kami.

  Diantara kami yang masuk untuk pertama kali-masing-masing dari kami-

sesudah berhasil lulus ujian masuk, memakai rok yang panjangnya tepat di atas

lutut, tepat sesuai peraturan sekolah. Tetapi, separuh siswa yang sudah sejak

tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah ada di sistem itu, memakai rok yang

pendek hingga ke paha mereka. Nah, aku bukan bicara tentang jenis rok yang di

pakai gadis-gadis sekarang, rok yang hampir tidak menutupi apa pun sehingga

seperti sama sekali tidak ada.

  Dari cuplikan di atas dijelaskan bagaimana kelompok siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang masuk melalui sistim dan yang kedua yang masuk melalui test pada tahun itu. Pada cuplikan yang ingin dijelaskan bukanlah masalah panjang rok tetapi perbedaan yang sangat menonjol pada kedua kelompok tersebut. Kelompok pertama memakai rok yang sangat pendek yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, tanpa takut akan mendapat hukuman. Mereka merasa berkuasa di sekolah itu sehingga memiliki keberanian untuk melanggar peraturan yang ada. Sedangkan kelompok yang kedua adalah siswa-siswa baru yang taat dengan peraturan yang ada. Dari cuplikan sebelumnya kelompok pertama jelas merupakan siswa-siswa yang dianggap lebih elit dari pada siswa yang ada di kelompok kedua.

  Cuplikan halaman 65

  Upacara matrikulasi pun dimulai. Kami orang luar memperhatikan

dengan serius semua yang dikatakan. Tetapi sebaliknya siswa-siswa yang naik

dari tingkat dasar hanya pura—pura mendengarkan. Mereka mengunyah permen

karet, saling berbisik, dan bersikap seakan-akan mereka sama sekali tidak peduli

  

dengan apa yang sedang berlangsung. Bukannya bersikap serius, mereka malah

bertingkah laku seperti anak kucing yang lincah, sangat disayang, dan sulit

diatur. Dan mereka tidak satu kali pun melirik kearah kami.

  Kontras sekali dengan para siswa pendatang, yang ketika memperhatikan cara orang dalam bersikap, merasa semakin gelisah.

  Cuplikan di atas juga menunjukkan bahwa siswa yang baru masuk disebut “orang luar” dan siswa yang masuk melalui sistim disebut “orang dalam”. Dalam cuplikan juga ditunjukkan bahwa perbedaan sikap antara dua kelompok siswa tersebut. Siswa yang termasuk ke dalam kelompok “orang dalam” bertindak sesuka hati dan sama sekali tidak mempedulikan siswa di kelompok “orang luar” Cuplikan halaman 76-77

  “Di sini kami punya masyarakat berdasarkan golongan dalam seluruh kejayaan yang menjijikkan,” lanjut Mitsuru.

  “ Pasti lebih buruk di sini dari tempat lain mana pun di seluruh Jepang. Penampilan menguasai segalanya. Karena itulah orang-orang di lingkaran dalam dan mereka yang berorbit di luarnya tidak pernah berbaur.”

  “Lingkaran dalam? apa itu?” “Mereka yang mulai bersekolah disini sejak sekolah dasar adalah putri-

putri berdarah biru sejati, anak-anak perempuan dari para ayah yang memiliki

kartel-kartel raksasa. Mereka tidak pernah harus bekerja sama sekali dalam

hidup mereka. Bahkan, kalau punya pekerjaan malah memalukan.” “Bukankah itu agak kuno?” aku mendengus jijik, tetapi Mitsuru melanjutkan dengan serius sekali.

  “Nah, aku setuju tentu saja. Tetapi begitulah sikap lingkaran dalam

terhadap penaksiran nilai. Mungkin agak lepas dari kenyataan, tetapi mereka

sangat kokoh dalam posisi mereka, maka semua orang lain terbawa

menyimpang.”

  

“Nah, bagaimana dengan orang-orang lain di sekeliling mereka?”

“Mereka anak-anak orang upahan,” jawab Mitsuru dengan nada sedih.

  

“ Anak perempuan dari orang yang bekerja untuk mendapatkan bayaran tidak

pernah bisa menjadi bagian dari lingkaran dalam. Mungkin saja dia pintar dan

berbakat, tetapi hal itu tidak menjadikannya berbeda. Ia bahkan tidak akan

terperhatikan. Kalau ia mencoba bergerak dengan licin ke tengah mereka, ia

akan diejek. Tambahan lagi, meskipun dia cukup cerdas, tetapi ia tidak keren dan jelek maka ia tidak lebih dari sampah di tempat ini.”

  Cuplikan diatas adalah merupakan percakapan antara tokoh pengarang sebagai tokoh “aku” dengan salah satu tokoh lain bernama Mitsuru. Cuplikan ini menjelaskan bagaimana keadaan kehidupan sosial dalam sekolah itu. Pembentukan kelompok siswa dalm novel ini terjadi didasarkan pada perbedaan kekayaan. Siswa kelompok orang dalam merupakan putri-putri orang-orang kaya dan di luarnya yaitu siswa kelompok orang luar merupakan putri dari orang-orang upahan. Siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar tidak dapat berbaur satu sama lain. Kepintaran dan bakat yang dimiliki siswa tidak memiliki pengaruh banyak, hal itu tidak bisa menjadikan siswa dari golongan luar biasa masuk ke golongan dalam. Bahkan jika ada yang berusa untuk masuk maka dia akan mendapatkan perlakuan buruk seperti diejek. Siswa-siswa yang berasal dari golongan luar atau anak dari orang upahan selalu dianggap tidak penting dan dianggap seperti sampah.

  Dari cuplikan-cuplikan di atas dapat diketahui bagaimana kedua kelompok siswa ini terbentuk. Perbedaan kekayaan yang dimiliki oleh siswa menjadi pembeda kedua kelompok siswa ini. Siswa yang ada di kelompok orang dalam adalah siswa yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim. Sedangkan siswa yang ada di kelompok orang luar adalah siswa yang masuk melalui ujian di tahun itu. Antara kedua kelompok ini tidak bisa saling berbaur satu sama lain. Berada di kelompok mana menentukan juga dengan siapa para siswa boleh berhubungan atau berteman.

  Kelompok orang dalam dianggap lebih elit daripada kelompok orang luar. Kelompok orang dalam memiliki kekuasaan di sekolah dan mendapatkan banyak kebebasan sedangkan kelompok orang luar tidak memiliki kekuasaan mereka patuh terhadap peraturan yang ada.

BAB III ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO

  

3.1. Analisis Interaksi Sosial Dua kelompok Siswa dalam Novel Grotesque

Karya Natsuo Kirino

  Berikut adalah cuplikan-cuplikan yang menunjukkan interaksi antara kelompok orang dalam dan kelompok orang luar atau golongan atas dan golongan bawah.

  Cuplikan halaman 66-67

  Di hari-hari sesudah upacara matrikulasi, semakin banyak gadis mulai muncul di sekolah dengan rok pendek.

  Kazue termasuk yang pertama. Namun sepatu dan tas bukunya sama

sekali tidak serasi dengan panjang roknya dan menandainya sebagai orang-luar.

  

Siswa dari kelompok orang-dalam, tidak membawa tas siswa model standar.

Mereka dating ke sekolah dengan kantong nilon ringan menggantung pada

pundak mereka, atau kalau tidak, mereka menenteng tas bermalam mewah yang

di masa itu masih tidak umum.

  Analisis Interaksi yang terlihat dalam cuplikan diatas adalah interaksi yang terjadi secara tidak langsung. Dari cuplikan dapat dilihat bahwa siswa di kelompok orang dalam sangat memberi pengaruh terhadap siswa lain. Gaya berpakaian mereka menjadi salah satu yang menarik perhatian siswa lain. Salah satunya Kazue sato. Setelah masuk sekolah dia mulai meniru gaya berpakaian siswa dari kelompok orang dalam. Tetapi itu tidak membuat dia terlihat seperti siswa dari kelompok orang dalam karena tas yang dia gunakan bukan merupakan jenis tas yang digunakan siswa di kelompok orang dalam. Interaksi sosial yang dapat dilihat di sini adalah bahwa perilaku dari siswa di kelompok orang dalam mempengaruhi siswa di kelompok orang luar. Banyak siswa dari kelompok orang lusr yang meniru perilaku siswa kelompok orang luar, terutama cara berpakaian siswa kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 69

  “ Nah, coba lihat! Lihat!” Bunyi tawa memenuhi ruangan. Gadis-gadis lain menghampirinya untuk melihat, membentuk lingkaran di seputar pemegang kaus kaki itu.

  “Wah, rupanya di sulam!” “Mahakarya hebat!” Pemilik kaus kaki rupanya membeli kaus kaki biru tua biasa dan

menyulam pinggiran atasnya dengan benang merah agar tampak seperti logo

  Ralph Lauren.

  Gadis yang menemukan kaos kaki itu bukan mencari pemiliknya karena upaya bermurah hati mempertemukan kembali si pemilik dengan barangnya yang hilang. Ia hanya ingin tau kaus itu milik siapa. Karena itu ia berteriak seperti itu. Tidak ada yang maju mengakui kaus kaki itu sebagai miliknya. Semua orang-luar

berganti pakaian sambil membisu, dan para orang-dalam juga tidak bicara.

  

Tetapi wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan yang mereka rasakan

sementara menanti-nanti adegan yang pasti akan terjadi pada saat pelajaran

berikutnya di mulai.

  Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa siswa dari kelompok orang dalam sangat senang mempermalukan orang lain. Hal ini terlihat dari kebahagiaan mereka saat melihat kaus kaki yang memakai merek palsu yang di sulam. Mereka penasaran ingin tahu siapa pemilik kaus kaki ini bukan untuk mengembalikannya tetapi mereka memikirkan kesenangan yang akan mereka dapat apabila tahu siapa pemilik kaus kaki itu. Siswa kelompok orang dalam tampak tidak sabar masuk pelajaran berikutnya karena saat itu mereka bisa mengetahui siapa pemilik kaus kaki. Setelah itu mereka akan mengejeknya dan mempermalukannya. Interaksi sosial yang dapat dilihat adalah siswa di kelompok orang luar mendapat pengaruh dari sikap siswa di kelompok dalam sehingga menyulam kaus kakinya dengan merek palsu agar terlihat sama seperti yang digunakan oleh siswa di kelompok orang dalam. Dan reaksi yang ditunjukkan siswa di kelompok orang dalam menunjukkan bahwa mereka akan menjadikan itu sebagai alasan baru untuk mengejek siswa dari kelompok orang luar.

  Cuplikan halaman 70

  Karena sudah lolos dari keadaan yang sulit tadi, ekspresi muka Kazue

acuh tak acuh. Hari itu, seperti biasanya, ia mengangkat tangannya dan

dipanggil untuk berdiri dan membaca dari buku pelajaran dengan suara keras.

Ada siswa-siswa yang pernah tinggal di luar negeri dan banyak siswa di kelas

  

yang unggul dalam bahasa Inggris. Tetapi hal itu tidak menghentikan Kazue.

Dengan percaya diri, ia mengangkat tangannya tanpa berpikir panjang.

  Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kazue tidak terlalu peduli dengan pembagian kelompok yang ada di sekolah. Dia ingin belajar dan berkompetisi sebagaimana sekolah pada umumnya tanpa harus memikirkan tanggapan orang lain, terutama tanggapan dari siswa dari kelompok orang dalam yang pasti akan merasa tidak senang atas sikap percaya diri Kazue.

  Dari analisis diatas interaksi sosial yang dapat dilihat menunjukkan bahwa ada sebuah reaksi yang ditunjukkan oleh Kazue yang berasal dari siswa kelompok orang luar terhadap ketidaksetujuannya dengan pembedaan siswa. Siswa di kelompok orang dalam selalu dianggap paling hebat sehingga dia berusaha menunjukkan bahwa ada siswa di kelompok orang luar juga memiliki kemampuan yang sama dengan siswa di kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 71

  Aku mengerti bahwa Kazue menyulam kaus kakinya bukan karena

keluarganya terlalu miskin untuk membeli barang asli tetapi karena pendirian

yang rasional. Namun menurutku, jenis rasionalitas Kazue, yang mencoba

menyesuaikan diri dengan kemewahan sekolah, konyol sekali. Kazue mempunyai

kepicikan watak yang sudah tertanam dalam dirinya. Karena itulah tidak ada yang menyukainya. Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kazue tidak setuju dengan adanya pembedaan siswa di sekolah. Sehingga dia berusaha menyesuaikan diri dengan kemewahan yang ditunjukkan siswa kelompok orang dalam tetapi tidak ingin mengeluarkan uangnya untuk membeli barang asli karena berpikir tidak harus dengan barang-barang seperti itu maka dia bisa sama seperti siswa di kelompok orang dalam. Interaksi sosial yang dapat dilihat di sini adalah bahwa Kazue selalu berusaha masuk dan menyesuaikan diri dengan siswa di kelompok orang dalam, dan itu membuat siswa kelompok orang dalam tidak menyukainya.

  Cuplikan halaman 72

  Satu bulan sesudah aku masuk sekolah itu, kami mendapat ujian pertama kami. Para siswa orang-luar bertekad untuk tidak kalah dalam pelajaran. Mereka

sudah cukup sengsara akibat tekanan terus-menerus dari kelompok orang-dalam.

kelompok yang rajin belajar-yang nonstop mengerjakan pekerjaan sekolah dan

bercita-cita melebihi para orang-dalam-yang terutama bertekad kuat, tetapi

mereka tidak sendirian semua orang luar dengan semangat besar mengerahkan

diri untuk persiapan ujian.

  Analisis Dari cuplikan di atas siswa-siswa yang ada di kelompok orang luar, sangat berusaha keras untuk melakukan perlawanan kepada siswa-siswa di kelompok orang dalam. Cara yang dapat mereka lakukan adalah dengan mengalahkan siswa dari kelompok dalam saat ujian. Oleh karena itu saat ujian pertama semua siswa dari kelompok orang luar belajar keras dengan semangat besar mempersiapkan diri. Interaksi sosial yang dapat dilihat di sini adalah adanya bentuk perlawanan yang dilakukan siswa dari kelompok orang luar terhadap tekanan yang dilakukan oleh siswa dari kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 78 “Oke. Akan kubeberkan yang sebenarnya-tetapi aku hanya cerita

  

kepadamu. Sebenarnya, rumahku juga di Distrik P. Ibuku bilang agar jangan

memberitahu siapa pun, dan ia menyewa apartemen di Distrik Minato-hanya

untukku. Tentu saja, kami berpura-pura memilikinya. Ibuku datang setiap hari

dan membersihkan, memasak makananku, dan mencuci.”

  “Kenapa kalian lakukan itu?” “karena jika tidak, aku akan digertak.”

  Analisis Cuplikan di atas adalah percakapan antara tokoh aku dengan Mitsuru. Di dalam cuplikan Mitsuru menceritakan bahwa dia merahasiakan dia tinggal di

  Distrik P dan menyewa apartemen di Distrik Minato hanya untuk menghindari penggertakan yang dilakukan oleh siswa dari kelompok orang dalam. Apartemen yang ada di Distrik Minato adalah apartemen mewah sedangkan rumah yang ada di Distrik P adalah perumahan pemerintah yang sangat biasa. Interaksi sosial yang dapat di lihat disini adalah adanya usaha dari siswa kelompok orang luar untuk selamat dari penggertakan siswa kelompok orang dalam dengan berusaha menyembunyikan dimana tempat tinggalnya sebenarnya, dan berusaha menyesuaikan diri dengan siswa kelompok orang dalam tinggal di rumah mewah.

  Karena bila siswa kelompok orang dalam tahu dia adalah orang miskin maka dia akan digertak.

  Cuplikan halaman 79

  Kazue tidak akan pernah berbaur dengan lingkaran dalam, tetapi Kazue

tidak menyadari hal ini. Kalau para siswa mengusik Kazue, mereka mengusiknya

gara-gara ketidak mampuannya menyadari tempatnya. Mereka bukan

mengusiknya karena tempat lahirnya, atau bagaimana ia menghayati

pandangannya tentang nilai-nilai.

  Analisis Dari cuplikan di atas dapat terlihat alas an siswa kelompok orang dalam mengusik atau mengganggu Kazue. Mereka tidak melakukannya bukan karena tempat lahirnya atau bagaimana ia menghayati pandangannya tentang nilai-nilai tetapi karena Kazue tidak menyadari posisinya ada di kelompok mana. Kazue yang tidak bisa menerima dia berada di kelompok siswa orang luar dan selalu berusaha masuk ke kelompok siswa orang dalam. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa Kazue siswa yang berasal dari kelompok orang luar tidak bisa terima begitu saja di tempatkan di kelompok orang luar yang sering mendapatkan diskriminasi. Dia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan siswa dari kelompok orang dalam untuk mendapatkan hak yang sama. Atas sikapnya itu siswa dari kelompok orang dalam selalu mengusiknya.

  Cuplikan halaman 84

  “ Yang ingin kukatakan adalah, kenapa sekolah harus tidak adil begitu? Sembunyi-sembunyi begitu! Mereka sudah memilih pemenang sebelum permainan dimainkan!” “ Apa yang kau bicarakan?” sekarang giliranku bertanya.

  “Begini, aku ingin ikut tim pemandu sorak. Aku memasukkan

permohonanku dan sebelum mereka membacanya mereka sudah menolakku,

begitu saja. Bukankah menurutmu itu salah?”

  Analisis Dari cuplikan di atas dapat di lihat bahwa siswa yang berasal dari kelompok orang luar tidak bisa dengan mudah masuk ke kelab yang mereka sukai.

  Dalam cerita kelab pemandu sorak adalah kelab yang paling di sukai semua siswa sehingga yang masuk ke sana hanyalah siswa-siswa yang berasal dari kelompok orang dalam. Kazue yang berasal dari siswa kelompok orang luar langsung ditolak tanpa melihat surat permohonannya lebih dulu. Interaksi sosial yang dapat dilihat di sini adalah menunjukkan siswa yang ada di kelompok orang luar merasa kecewa atas sikap siswa orang dalam yang mengatur siapa yang bisa masuk kelab sesuka hati mereka. Siswa dari kelompok orang luar tidak mendapatkan hak yang sama seperti yang didapatkan siswa-siswa dari kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 101 “Tunggu.” Aku memegang blusnya. Ia membalik untuk memandangku.

  

“waktu kau digertak, kata ibumu kau mempersenjatai dirimu sendiri.

Bagaimana?”

  “Nah”- Mitsuru memberi isyarat kepada temannya untuk jalan lebih dulu agar ia bisa bicara denganku-“aku membiarkan mereka memakai catatanku.” “Tetapi kalau begitu kau membiarkan mereka memanfaatkanmu, bukan? Bagaimana kau bisa berbaik hati kepada anak-anak yang mengganggumu?” Mitsuru mengetuk gigi depannya yang besar dengan jarinya. “Aku hanya

cerita ini kepadamu, oke ? catatan yang kupinjamkan kepada mereka bukan

catatanku yang sebenarnya.” “apa maksudmu?”

  “Aku punya dua set. Catatanku yang sebenarnya jauh lebih teliti dan detail daripada set yang kutunjukkan kepada mereka. Set itu punya beberapa poin penting, maka mereka tidak tahu. Tetapi catatan itu kupalsukan.”

  Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa siswa dari kelompok orang luar tidak menerima semua perlakuan dari siswa dari kelompok orang dalam. Mitsuru menyelamatkan diri dari penggertakan dengan meminjamkan catatannya kepada siswa dari kelompok dalam tetapi dia tidak ingin dimanfaatkankan secara keseluruhan oleh sisiwa dari kelompok dalam. Dia memalsukan catatannya dan memberikannya ke siswa dari kelompok orang dalam. Dengan demikian Mitsuru bisa selamat dari penggertakan dan tidak memberikan semua yang dia tahu pada siswa dari kelompok orang dalam. Interaksi sosial yang dapat dilihat adalah bahwa siswa di kelompok orang luar berusaha mencari bentuk perlawanan terhadap siswa dari kelompok orang dalam tetapi tidak akan membahayakan dirinya. Siswa di kelompok orang luar tahu mereka dimanfaatkan dan ingin memberikan perlawanan. Bentuk perlawanan itu dapat dilihat dari tindakan memalsukan catatan yang akan diberikan kepada siswa kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 101-102

  Karena aku membolehkan mereka menyalin catatanku, mereka berhenti

menggertakku; begitulah tukar-menukar yang kami sepakati. Gadis-gadis itu

cepat mengerti. Mereka langsung tahu bahwa aku lebih dari sekedar anak lemah

yang bisa mereka permainkan. Aku bisa bermanfaat untuk mereka, maka mereka

mengalihkan penjajahan mereka kepada siswa lain.”

  Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa siswa dari kelompok orang dalam hanya akan melepaskan orang yang bisa mereka manfaatkan. Mereka menukarkan kenyamanan dengan sesuatu yang bisa menguntungkan mereka. Setelah itu mereka akan mencari orang yang bisa mereka gertak lagi, tentunya siswa yang berasal dari kelompok orang luar. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah adanya tukar menukar antara siswa dari kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Siswa kelompok orang dalam mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari siswa kelompok orang luar dan siswa kelompok orang luar dilepaskan dari penggertakan.

  Cuplikan halaman 220

  “Yang kumaksud, siswa-siswa orang-dalam begitu kejam sampai mereka tidak mengijinkanmu masuk kelab-kelab yang kau ingini, bukan?”

  Kazue mendeham panjang-lebar, berusaha menghindari kesinisanku. Ia

sudah bergabung dengan kelab ice-skating. Tetapi aku dengar yang lainnya

bergunjing bahwa ia kesulitan untuk membayar biaya tempat skating.

  Analisis Dari cuplikan di atas dapat di lihat bahwa siswa dari kelompok orang dalam mengatur semua siapa bisa masuk ke sebuah kelab. Kazue tidak diijinkan masuk ke kelab yang dia inginkan karena dia berasal dari kelompok orang luar, sementara kelab yang dia ingin masuki adalah kelab fevorit dan hanya bisa dimasuki oleh siswa dari kelompok orang dalam. Tetapi kazue tidak menyerah dia tetap ingin masuk ke kelab yang cukup favorit yaitu kelab ice-skating, meskipun dia kesulitan membayar biaya tempat skating, dia tetap ingin masuk ke sana karena ingin mendapatkan hak yang sama dengan siswa dari kelompok orang dalam. Interaksi sosial yang terlihat disini adalah bahwa ada siswa di kelompok orang luar yang berusaha menyesuaikan diri dengan siswa di kelompok orang dalam dengan cara memaksakan diri masuk ke kelab yang biayanya tidak mampu dia bayar.

  Cuplikan halaman 221

  “Menurutku mereka hanya membiarkan kau membersihkan tempat dan

merawat sepatu mereka. Mungkin mereka menyebutnya pelatihan fisik, tetapi

sebenarnya lebih seperti perpeloncoan. Dan berapa kali kau harus lari keliling

lapangan waktu itu ketika suhu lebih dari 95 derajat Fahrenheit? Kau kelihatan seperti akan mati! Apakah kau jenis hiburan yang cocok untuk seorang putri?” Analisis Cuplikan di atas merupakan percakapan antara tokoh aku dengan Kazue.

  Kazue yang masuk ke kelab skating dan di suruh melakukan sesuatu yang dianggap sebagai pelatihan fisik tetapi itu semua hanyalah alasan untuk menyiksanya. Siswa dari kelompok orang dalam menyuruhnya membersihkan tempat, membersihkan sepatu-sepatu mereka dan juga berlari keliling lapangan pada suhu yang panas. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah siswa di kelompok orang dalam tidak menyukai siswa dari kelompok orang luar ada di kelab mereka. Sehingga saat siswa dari kelompok orang luar masuk ke kelab mereka maka mereka akan menyuruhnya melakukan hal-hal yang berat dengan alasan latihan.

  Cuplikan halaman 241

  “Tim sudah menunjuk komite peninjauan tengah semester, dan kami yang

ditugaskan. Aku sungkan bertanya sebenarnya, tetapi bolehkah kami menyalin

catatn bahasa Inggris dan sastra klasikmu? Kau murid terbaik di tim” “Tentu saja”, jawab Kazue, berseri-seri dengan bangga.

  “kalau begitu, kau keberatan tidak kalau kami juga pinjam catatan ilmu sosial dan geografimu? Semuanya akan sangat berterima kasih.” “Tidak jadi masalah.” Mereka bergegas keluar ruangan. Aku yakin mereka sedang tertawa histeris di lorong.

  “Kau tolol sekali!” aku berkata. “Tidak ada yang namanya komite peninjauan tengah semester.” Analisis Dari cuplikan di atas terlihat siswa dari kelompok orang dalam yang berada dalam kelab yang sama dengan Kazue, mencoba memanfaatkan Kazue.

  Mereka berpura-pura menjadi tim komite peninjauan tengah semester dan memuji Kazue sebagai siswa terbaik di kelab agar bisa meminjam catatan kazue. Tetapi meskipun Kazue mengetahui hal itu, dia tetap meminjamkannya karena dia menganggap itu akan bisa membuat dia diakui di kelab dan siswa dari kelompok orang dalam akan berhenti mengusiknya. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa siswa dari kelompok orang luar berusaha untuk bisa mendapatkan kenyamanan yang di tukar dengan sesuatu yang bisa berguna bagi siswa di kelompok orang dalam.

  Cuplikan halaman 263

  Kudengar reputasinya di kelab skating benar-benar buruk. Tak peduli

berapa surat tagihan yang di terimanya, ia tidak pernah membayar sewa tempat.

  

Ia memakai seragam kompetisinya bahkan selama latihan dan meluncur

sekeliling gelanggang tanpa mempedulikan apa pun. Kelihatannya tinggal

masalah waktu saja sebelum ia diminta keluar dari tim, tetapi toh anehnya itu

tidak pernah terjadi. Itu karena Kazue berguna kalau datang saatnya meminjam

catatannya untuk ujian.

  Analisis Dari cuplikan di atas terlihat bahwa Kazue tidak sanggup membayar sewa tempat di kelab skating. Itu karena biaya tersebut terlalu mahal. Kelab skating di penuhi siswa dari kelompok orang dalam sehingga fasilitas yang mereka gunakan tentunya harus mewah. Tetapi dia tidak mempedulikan itu semua. Dia tetap ingin berada di sana sama seperti siswa dari kelompok orang dalam lainnya. Tim skating tidak mengeluarkannya dari tim karena mereka masih membutuhkan catatan Kazue saat ujian tiba. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa siswa dari kelompok orang dalam akan mempertahankan siswa dari kelompok orang luar, selama siswa tersebut bisa mereka manfaatkan. Siswa dari kelompok orang dalam tidak akan memberikan reaksi negatif atas sikap siswa dari kelompok orang luar yang tidak mereka suka selama mereka masih membutuhkan siswa tersebut.

  Cuplikan halaman 272

  Waktu murid-murid lain masuk ke kelas dan melihat Kazue, kebanyakan

kelihatan gelisah dan cepat-cepat membuang muka seperti baru saja melihat

sesuatu yang mestinya tidak mereka lihat. Tetapi Kazue yang tidak menyadari itu

semua, melenggang ke salah satu gadis yang masuk tim skating yang pernah

meminjam catatannya.

  “Kazue, apa yang terjadi denganmu?” Kazue memandang murid itu seperti linglung, malu.

  “Kau tidak bisa begitu saja tidak muncul sebelum tes!” “Maaf.” “Setidaknya kau bisa meminjamiku catatan Inggris dan sastra klasikmu.” Kazue mengangguk takut, berulang kali. Analisis Cuplikan di atas adalah cuplikan cerita setelah Kazue tidak masuk sekolah karena memiliki masalah dengan orang yang di sukainya. Cuplikan di atas menunjukkan bahwa siswa dari kelompok orang dalam yang pernah meminjam catatan kazue tidak benar-benar peduli terhadap keadaan Kazue. Siswa dari kelompok orang dalam tersebut hanya ingin memanfaatkan Kazue. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa siswa di kelompok orang dalam selalu berusaha memanfaatkan siswa di kelompok orang luar tanpa mempedulikan keadaan siswa kelompok luar tersebut. Dan siswa dari kelompok orang luar berusaha memenuhi keinginan siswa dari kelompok orang dalam agar tidak digertak.

  Cuplikan halaman 264

  Aku juga melihat bahwa kazue juga memberondong guru-gurunya dengan

rentetan pertanyaan selama pelajaran. Guru-guru segera menjadi tidak sabar.

  

“Oke, mari kita beralih ke pertanyaan berikutnya,” kata mereka, sambil melirik

jam tangan mereka, hanya mengakibatkan Kazue mengeluh, dengan suara

terisak,”Tetapi, Profesor, aku masih belum mengerti.” Meskipun semua siswa di

kelas memutar-mutar bola mata mereka penuh frustasi, ia tidak acuh. Kukira

Kazue tidak pernah memperhatikan reaksi orang-orang di sekitarnya. Lambat-

laun ia kehilangan kesadaran terhadap realitas masa sekarang. Setiap kali guru

mengajukan pertanyaan yang jawabannya diketahui Kazue, ia menjadi yang

pertama mengangkat tangannya, dengan ekspresi kemenangan pada wajahnya.

  

Dan kalau ia menulis jawaban atas pertanyaan, ia selalu menutupi kertasnya

  

dengan tangannya-seperti kembali ke masa waktu ia menjadi murid yang

bersaing di sekolah dasar. Oh, ya tak diragukan lagi, ia begitu ganjil, bertingkah

laku begitu aneh sehingga tidak ada yang mau bergaul dengannya.

  Analisis Dari cupliakan di atas Kazue semakin tidak mempedulikan di kelompok mana dia berada. Dia berusaha menarik perhatian siswa lain dan guru. Dia selalu berusaha terlihat lebih pintar dan lebih aktif dari pada siswa lain pada saat pelajaran. Dia tidak peduli dengan rasa tidak suka yang ditunjukkan siswa-siswa lainnya. Dia merasa sangat senang apabila bisa menjawab pertanyaan, dan tidak membiarkan orang lain mengetahui jawaban yang dia tulis. Interaksi sosial yang dapat dilihat disini adalah bahwa ada siswa dari kelompok orang luar yang berusaha menyaingi siswa dari kelompok orang dalam semakin kuat. Sebagai bentuk balasan dari semua tekanan yang dia dapatkan, dia ingin menunjukkan dirinya yang berasal dari kelompok orang luar bisa bersaing dengan siswa dari kelompok orang dalam.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

  Dari analisis di atas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:

  1. Pembentukan kelompok siswa yang ada dalam novel Groteque karya Natsuo Kirino ini didasarkan pada perbedaan kekayaan yang dimiliki kedua siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar.

  2. Dua kelompok siswa yang terdapat dalam novel grotesque ini siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar.

  3. Siswa di kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke tingkat berikutnya perguruan Q tanpa ujian tetapi melalui sistim dan mereka berasal dari keluarga-keluarga yang kaya. Sedangkan siswa di kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke Sekolah Lanjutan Atas perguruan Q dengan cara mengikuti ujian dan berasal dari keluarga yang biasa saja.

  4. Semakin cepat seorang siswa masuk ke sisitim perguruan Q maka mereka akan dianggap semakin “elit”. Itulah sebabnya siswa di kelompok orang dalam yang masuk melalui sistim dianggap lebih elit.

  5. Antara dua kelompok siswa tidak bisa saling berbaur satu sama lain.

  6. Siswa di kelompok orang dalam memiliki kekuasaan yang besar di sekolah.

  7. Interaksi yang terjadi antara kedua kelompok ini menunjukkan adanya pertentangan dan persaingan.

  8. Siswa di kelompok orang luar sering mendapatkan diskriminasi dan tidak mendapatkan hak yang sama dengan siswa di kelompok orang dalam.

  9. Siswa di kelompok dalam sering menjadikan siswa dari kelompok orang luar sebagai bahan permainan, mengejek dan menggertak.

  10. Siswa di kelompok orang dalam akan melepaskan siswa dari kelompok orang luar apabila mereka dapat keuntungan dari siswa tersebut. Siswa kelompok orang dalam tidak akan mengertak siswa dari kelompok orang luar yang bisa mereka pinjami catatan.

  11. Kebanyakan siswa dari kelompok dalam hanya berpura-pura baik kepada siswa dari kelompok orang luar. Mereka melakukan itu hanya untuk memanfaatkan siswa dari kelompok orang luar tersebut. Kelompok orang dalam pura-pura mau berteman dengan kelompok orang luar, agar bisa meminjam catatan siswa kelompok orang luar.

  12. Siswa dari kelompok orang luar tidak semua bisa menerima tekanan yang di berikan siswa-siswa dari kelompok orang dalam.

  13. Kazue tidak mau menerima kenyataan dia berada di kelompok orang luar sehingga berusaha bersaing dan mengimbangi siswa dari kelompok orang dalam.

  14. Kazue tidak peduli terhadap batasan-batasan antara kelompok orang dalam dan kelompok orang luar. Dia berusaha untuk mendapatkan persamaan hak.

4.2. Saran

  Dari kesimpulan yang di dapat penulis berharap agar kejadian yang terjadi pada novel grotesque ini tidak perlu terjadi. Dalam dunia sekolah tidak perlu ada pembeda-bedaan siswa seperti yang terjadi dalam novel Grotesque. Setiap siswa harusnya mendapatkan hak yang sama dan tidak mendapatkan diskriminasi. Tindakan penggertakan juga tidak perlu terjadi, apalagi alasan penggertakan itu adalah masalah harta atau kekayaan. Setiap siswa harusnya bisa berteman dengan siapa saja, tidak ditentukan dari banyaknya kekayaan yang mereka miliki. Setiap siswa seharusnnya berkompetisi secara adil dalam pendidikan maupun dalam ekstakulikuler. Pihak sekolah juga diharapkan memberikan sangsi kepada siswa- siswanya yang tidak patuh terhadap peraturan yang ada. Perlu ada tindakan yang tegas dari pihak sekolah untuk mengajarkan siswa-siswa tentang kedisiplinan. Sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu bukan tempat untuk menunjukkan kekayaan dan setiap siswa seharusnya mendapatkan kesempatan, hak dan kewajiban yang sama.

  

Daftar Pustaka

  Aminuddin, 2000. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo Ikram, Achadiati, 1980. Hikayat Sri Rama: Suntingan Naskah disertai telaah

  amanat dan Struktur. Jakarta: UI Press

  Koentjaraningrat. 1976. Metode-Metode penelitian Masyarakat. Jakarta: UI Press Luxemburg, Jan Van. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia Melani, Budianto. 1997. Teori kesusasteraan. Jakarta: Gramedia Moeliono, Anton M. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkaji Sastra. Yogyakarta: UGM Press Natsuo, Kirino. 2010. Grotesque. Jakarta: Gramedia Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia Pradopo, Rahmat Djoko. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hinindita Pudjiono, Muhammad.2006. Analisis Nilai-Nilai Religius dalam Cerita Pendek

  (cerpen) Karya Miyazawa Kenzi.Medan: USU Press

  http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/ http://blognyaphie.blogspot.com/ http://www.fikom.unpad.ac.id/?page=detailartikel&id=106 http://id.wikipedia.org/wiki/Stratifikasi_sosial http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1809953-interaksi-sebagai- proses-sosial/ http://asemmanis.wordpress.com/2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan- menurut-para-ahli/

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa..

Gratis

Feedback