Feedback

Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

Informasi dokumen
ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL “GROTESQUE” KARYA NATSUO KIRINO NATSUO KIRINO NO SAKUHIN NO "GROTESQUE" NO SHOUSETSU NI OKERU FUTATSU NO GAKUSEITACHI NO GURUPU SHAKAITENI NA SAYOU NO BUNSEKI SKRIPSI Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam bidang Ilmu Sastra Jepang OLEH : RANI LESTARI FARIDA SIMBOLON 070708035 DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO NATSUO KIRINO NO SAKUHIN NO "GROTESQUE" NO SHOUSETSU NI OKERU FUTATSU NO GAKUSEITACHI NO GURUPU SHAKAITENI NA SAYOU NO BUNSEKI Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam bidang Ilmu Sastra Jepang Oleh : RANI LESTARI FARIDA SIMBOLON 070708035 Pembimbing I Pembimbing II Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum NIP. 19600919 198803 1 001 Prof.Hamzon Situmorang.M.S,Ph.D NIP. 19580704.1984.12.1.001 DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih, penghargaan, serta penghormatan yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan studi dan skripsi ini, antara lain kepada : 1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.hum selaku ketua Departemen Sastra Jepang dan juga selaku Dosen pembimping pertama saya, terimakasih untuk waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya. 3. Bapak Prof. Hamzon Situmorang.M.S,Ph.D selaku Dosen pembimbing dua saya, terimakasih atas waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya. 4. Kepada orangtua saya yang sangat saya sayangi S. Simbolon dan K.Purba, terimakasih atas dukungan materi, semangat, kasih saying dan segala bantuan yang telah kalisn berikan kepada saya. Terimakasih karena selalu ada untukku di saat sedih maupun bahagia. Universitas Sumatera Utara 5. Kepada kakakku Nora dan adik-adik yang sangat saya sayangi, Tohom, Grace dan Lija, terimakasih atas segala bantuan dan dukungan semangat yang telah kalian berikan. 6. Kepada teman-teman seperjuangan Eka, Kristin dan teman-teman stambuk 2007 lainnya, yang sudah banyak memberikan bantuan kepada saya. 7. Kepada sahabat-sahabatku Vita, Hesti, Femy, David, Ellya yang senantiasa memberikan dukungan semangat kepada saya. Terimakasih untuk semua yang sudah kita jalani selama ini. 8. Kepada kakak abang senior dan juga adik stambuk yang sudah memberikan dukungan semangat kepada saya. Medan, September 2011 Penulis, Rani Lestari F Simbolon. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI ii BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah . 1 1.2.Perumusan Masalah 5 1.3.Ruang Lingkup Pembahasan . 6 1.4.Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 7 1.5.Tujuan dan Manfaat Penelitian . . 11 1.6.Metodologi penelitian . . 12 BAB II. TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE 2.1. Setting Novel Groteque . 14 2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque . 17 2.3. Interaksi Sosial . . 19 2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque . . 22 BAB III. ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTEQUE KARYA NATSUO KIRINO 3.1. Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino . . 28 Universitas Sumatera Utara BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan . 44 4.2. Saran . . 45 DAFTAR PUSTAKA . 47 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO Novel adalah adalah salah satu hasil karya sastra fiksi yang dapat dijadikan sebagai cerminan dari kehidupan nyata. Isi cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi pengarang yang di dapat dari pengalamannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukan hanya pengalaman yang dialami sendiri bisa saja sesuatu yang di lihat dan di ketahuinya dari orang lain. Novel dibangun dengan dua unsur yaitu unsur intrinstik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur yang membangun novel secara langsung misalnya tema, alur, gaya bahasa, penokohan dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang secara tidak langsung mempengaruhi novel misalnya keadaan sosial, ekonomi, kebudayaan dll. Dalam sebuah novel sering dijumpai permasalahan yang sama seperti pada kehidupan nyata. Permasalahan dapat dilihat melalui hubungan yang di bangun oleh para tokoh dalam novel tersebut. Para tokoh harus melakukan interaksi supaya dapat membentuk sebuah cerita yang dapat dipahami pembaca. Seperti dalam kehidupan nyata, dalam interaksi sosial salah satu pihak akan melakukan aksi dan pihak lain akan memberikan reaksi. Pada skripsi ini penulis akan menganalisis interaksi sosial dua kelompok siswa dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino. Kedua kelompok itu adalah kelompok orang dalam dan kelompok orang luar. Kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa melalui ujian, mereka masuk secara otomatis karena sudah merupakan siswa di perguruan Q pada tingkat sebelumnya. Dan kebanyakan siswa yang ada di kelompok orang Universitas Sumatera Utara dalam berasal dari keluarga yang kaya. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui ujian dan mereka hanya berasal dari keluarga yang biasa saja. Untuk menganalisis novel ini penulis menggunakan teori interaksi sosial untuk mengetahui bagaimana interaksi kedua kelompok siswa tersebut dan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa dari kelompok orang luar dan sebaliknya. Penulis menganalisis apa saja yang dapat menunjukkan bentuk interaksi dua kelompok siswa tersebut melalui cuplikan-cuplikan pada novel. Setelah melakukan analisis dengan menggunakan teori interaksi sosial, penulis menemukan bahwa interaksi yang dilakukan kedua kelompok siswa menunjukkan bahwa siswa dari kelompok orang dalam selalu bersikap semenamena terhadap siswa dari kelompok orang luar. Siswa dari kelompok orang dalam mendapatkan kekuasaan dan kebebasan yang sangat besar di sekolah yang mengakibatkan siswa di kelompok orang luar mendapatkan banyak tekanan. Antara kedua kelompok siswa yaitu kelompok orang dalam dan kelompok orang luar yang tidak terdapat persamaan hak. Siswa di kelompok orang luar sering mendapatkan diskriminasi dan perlakuan yang tidak baik. Dari cuplikan terlihat bahwa siswa dari kelompok orang luar ada yang berusaha mendapatkan hak yang sama seperti siswa dari kelompok orang dalam yaitu Kazue Sato. Ada juga yang mencari cara untuk dapat selamat dari gangguan yang di berikan siswa dari kelompok orang dalam. Cara tersebut diantaranya berusah menyembunyikan asal tempat tinggalnya yang bukan di perumahan mewah, berusaha meniru perilaku Universitas Sumatera Utara siswa dari kelompok orang dalam dan berusaha menunjukkan dirinya melalui prestasi dalam pelajaran. Banyak pelajaran dan yang penulis dapatkan dari penelitian ini. Seperti pembedaan siswa di sekolah berdasarkan kekayaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Setiap siswa seharusnya mendapatkan hak dan kewajiban yang sama di sekolah. Setiap siswa seharusnya bisa berhubungan dengan siapa saja tanpa melihat berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarganya. Dengan demikian penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dalam menjalani kehidupan ke depannya. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jepang adalah salah satu negara maju yang cukup berpengaruh di dunia saat ini. Jepang banyak menghasilkan teknologi-teknologi canggih dan sekarang digunakan juga oleh negara-negara lain. Masyarakat Jepang dikenal dengan sikap disiplin dan kerja kerasnya. Hal inilah yang menyebabkan Jepang mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah kejatuhan mereka pada perang dunia ke-2. Jepang negara yang memiliki budaya yang sangat unik. Mereka menjalani dua hal yang menjadi kebalikan secara bersamaan misalnya, Jepang sangat maju dalam bidang teknologi, tetapi masyarakat Jepang juga sangat menghargai alam dan menyukai sesuatu yang bersifat alami, dan peduli tentang keadaan alamnya. Dalam menjalani kehidupannya masyarakat Jepang didukung dengan fasilitasfasilitas yang praktis dan canggih, dan saat ini kehidupan masyarakat Jepang juga sudah banyak dipengaruhi oleh budaya mayarakat barat tetapi budaya tradisional mereka juga tetap mereka jaga dan tetap memberi pengaruh dalam setiap kehidupan masyarakat Jepang. Budaya-budaya tradisional Jepang yang memberi pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Jepang diantaranya adalah budaya kelompok dan budaya malu. Selain teknologi, dalam bidang kesusastraan Jepang juga terus mengalami perkembangan. Jepang menghasilkan banyak karya sastra dan dikenal di dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya novel hasil karya sastra Jepang yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga memiliki banyak peminat. Universitas Sumatera Utara Novel Jepang sebagai salah satu karya sastra Jepang, sama seperti novel lainnya yaitu banyak berisi tentang hal-hal yang terjadi dalam masyarakat.Hal ini sesuai dengan pengertian sastra menurut wellek dalam Melani Budianto (1997:109), bahwa sastra adalah lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambar kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan. Menurut Jan Van Luxemburg (1986:23-24) sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial, sastra yang di tulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat-istiadat zaman itu. Sastra pun di pergunakan sebagai sumber untuk menganalisa sistim masyarakat. Sastra juga mencerminkan kenyataan dalam masyarakat dan merupakan sarana untuk memahaminya. Menurut Iswanto dalam Jabrohim (http://blognyaphie.blogspot.com/), Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen, novel, dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui tokoh-tokoh ceritanya. Karya sastra terbagi atas dua jenis yaitu karya sastra fiksi dan non fiksi. Menurut Aminuddin (2000 : 66), fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Sedangkan menurut Nurgiyantoro (1995: 166) fiksi adalah suatu bentuk kreatif, maka bagaimana pengarang mewujudkan dan mengembangkan tokoh-tokoh cerita pun tidak lepas dari kebebasan kreatifitas. Karya sastra fiksi Universitas Sumatera Utara lebih lanjut dapat dibedakan menjadi berbagai macam bentuk yaitu roman, novel, novelet maupun cerpen. Dalam bahasa Jepang novel disebut dengan shousetsu. Kawabata Takeo dalam Muhammad Pujiono (2006:6) mengatakan bahwa novel timbul sebagai sesuatu yang menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, meskipun kejadiannya tidak nyata. Tetapi itu merupakan sesuatu yang dapat dipahami dengan prinsip yang sama dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Moeliono (1988:618) dijelaskan bahwa novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel sebagai karya sastra fiksi memiliki dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri atau unsur-unsur yang secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang ada di luar karya sastra tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra tersebut atau dapat dikatakan sebagai unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Unsur-unsur ekstrinsik itu yaitu kebudayaan, ekonomi, keyakinan dll. Untuk membuat suatu cerita maka diperlukan semua unur-unsur tersebut untuk menciptakan hubungan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dalam sebuah novel antara satu tokoh dan tokoh yang lain tentu terjadi saling interaksi untuk menunjukkan watak, sifat dan peran tokoh tersebut dalam cerita. Setiap interaksi yang terjadi dalam cerita bisa menunjukkan banyak hal seperti pertentangan, kerja sama, persaingan dll. Universitas Sumatera Utara Dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino juga terdapat interaksi antara tokoh-tokohnya. Dalam novel ini ada dua kelompok siswa sekolah lanjutan atas yang saling membangun hubungan melalui interaksi-interaksi yang mereka lakukan. Dua kelompok siswa ini diceritakan oleh pengarang saat menceritakan kehidupan Kazue Sato saat berada di sekolah lanjutan atas. Kazue Sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Dia menghadapi masalah saat berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok orang dalam, yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q, yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain disebut kelompok orang luar, yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue Sato termasuk ke dalam kelompok orang luar. Perbedaan kelompok orang dalam dan kelompok orang luar sangat jelas terlihat, kelompok orang dalam adalah siswa-siswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kelompok orang dalam memiliki kekuasan dan kebebasan di sekolah, berbeda dengan siswa kelompok orang luar mereka sering mendapat diskriminasi. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siswa kelompok orang dalam Universitas Sumatera Utara mereka sering bertindak sesuka hati dan memperlakukan siswa kelompok orang luar dengan semena-mena. Kazue sato yang berasal dari keluarga yang biasa selalu ingin menjadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, dia tidak setuju kalau dirinya ditempatkan di kelompok orang luar yang merupakan kelompok yang ada di bawah kelompok orang dalam. Sehingga dia berusaha untuk bisa mendapatkan hak yang sama seperti kelompok orang dalam. Temanteman Kazue di kelompok orang luar lainnya juga merasa tidak suka atas sikap kelompok siswa orang dalam terhadap mereka. Antara siswa kelompok orang dalam yang berkuasa dan siswa kelompok orang luar yang sering mendpatkan diskriminasi saling melakukan interaksi saat menjalankan keseharian mereka di sekolah. Siswa kelompok dalam memberikan sebuah aksi dan siswa kelompok orang luar memberikan reaksi, begitupun sebaliknya. Dari hal di atas maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana interaksi kedua kelompok yang sangat berbeda tersebut.Oleh karena itu penulis memilih judul Analisis Interaksi Sosial Dua kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino. 1.2.Perumusan Masalah Dalam novel Grotesque ini pengarang yaitu Natsuo Kirino menyebutkan adanya pembagian siswa menjadi dua kelompok saat menceritakan kehidupan Kazue sato saat berada di sekolah lanjutan atas. Kedua kelompok tersebut adalah siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Perbedaan antara kedua kelompok ini sangat jelas. Siswa kelompok orang dalam adalah siswa dari keluarga yang kaya sedangkan siswa kelompok orang luar adalah siswa yang Universitas Sumatera Utara berasal dari keluarga biasa saja. Siswa di kelompok dalam, dianggap sebagai siswa yang terbaik, mereka disegani dan memiliki kekuasaan. Sedangkan siswa di kelompok luar cenderung tidak memiliki kebebasan dan sering mendapatkan diskriminasi. Kazue Sato yang berasal dari kelompok luar ingin menjadi yang terbaik, dia juga ingin mendapatkan hak yang sama seperti siswa di kelompok dalam. Dia melakukan banyak usaha untuk bisa seperti siswa di kelompok dalam dan mendapatkan pengakuan dari siswa-siswa lainnya. Dia berusaha menentang segala sesuatu yang membatasi dirinya yang juga dialami siswa dari kelompok luar lainnya. Tetapi ketidakpuasan atas sikap siswa kelompok orang dalam juga ditunjukkan oleh siswa kelompok orang luar lainnya. Dari hal di atas yang ingin diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana interaksi yang terjadi antara kedua kelompok tersebut saat menjalani kehidupan mereka di Sekolah. Dalam bentuk pertanyaan masalah yang akan di teliti dalam skripsi ini adalah : 1. Bagaimana interaksi sosial golongan atas dan golongan bawah yang terlihat dalam ia akan mampu menampilkan perwatakan yang pas. Dengan pengetahuan ilmu jiwa, pengarang akan menggambarkan gerak dan tingkah laku yang cocok dengan jiwa dan batinnya. Tidak hanya itu saja yang perlu diketahui, pengetahuan sosial budaya suatu masyarakat, seluk-beluk kehidupan masyarakat modern pun perlu dipelajari. Kesimpulannya, semua aspek kehidupan manusia dimana saja dan kapan saja perlu diketahui guna menunjang keberhasilan sebuah cerita. Selain unsur-unsur yang datangnya dari luar diri pengarang, hal-hal yang sudah ada dan melekat pada kehidupan pengarang pun cukup besar pengaruhnya terhadap terciptanya suatu karya sastra (Suroto, 1989:139). 2.2 Defenisi Sosiologi Sastra Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari kata sosio (Yunani) (socius berarti bersama-sama, bersatu, kawan, teman) dan logi (logos berarti sabda, perkataan, perumpamaan). Perkembangan berikutnya mengalami perubahan makna, sosio/socius berarti masyarakat, logi/logos berarti UNIVERSITAS SUMATERA UTARA ilmu. Jadi, sosiologis berarti ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi. Akhiran kata tra berarti alat, sarana. Jadi, sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Makna kata sastra lebih spesifik sesudah terbentuk menjadi kata jadian, yaitu kesusastraan, artinya kumpulan hasil karya yang baik (Ratna, 2003:1-2). Sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ingin melihat sastra sebagai cermin kehidupan masyarakat. Karenanya, asumsi dasar penelitian sosiologi sastra adalah kelahiran sastra tidak dalam kekosongan sosial. Kehidupan sosial akan menjadi pemicu lahirnya karya sastra. Karya sastra yang berhasil atau sukses yaitu yang mampu merefleksikan zamannya (Endaswara, 2008:77). Secara institusional obyek sosiologi dan sastra adalah manusia dalam masyarakat, sedangkan obyek ilmu-ilmu kealaman adalah gejala-gejala alam. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Perbedaannya, apabila sosiolog melukiskan kehidupan manusia dan UNIVERSITAS SUMATERA UTARA masyarakat melalui analisis ilmiah dan obyektif, sastrawan mengungkapkannya melalui emosi, secara subyektif dan evaluatif. Sastra juga memanfaatkan pikiran, intelektualitas, tetapi tetap didominasi oleh emosionalitas. Karena itu, menurut Damono (1978:6-8), apabila ada dua orang sosiolog yang melakukan penelitian terhadap masalah suatu masyarakat yang sama, maka kedua penelitiannya cenderung sama. Sebaliknya, apabila dua orang seniman menulis mengenai masalah masyarakat yang sama, maka hasil karyanya pasti berbeda. Hakikat sosiologi adalah obyektifitas dan kreatifitas, sesuai dengan panjang masing-masing pengarang. Karya sastra yang sama dianggap plagiat. Karya sastra bukan semata-mata kualitas itonom atau dokumen sosial, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Kenyataan yang ada dalam sosiologi bukanlah kenyataan obyektif, tetapi kenyataan yang sudah ditafsirkan, kenyataan sebagai konstruksi sosial. Alat utama dalam menafsirkan kenyataan adalah bahasa, sebab bahasa merupakan milik bersama. Di dalamnya terkandung persediaan pengetahuan sosial. Lebih-lebih dalam sastra, kenyataan bersifat interpretatif subyektif, sebagai kenyataan yang diciptakan. Pada gilirannya kenyataan yang tercipta dalam karya menjadi model, lewat mana masyarakat pembaca dapat membayangkan dirinya sendiri. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Karakterisasi tokoh-tokoh dalam novel misalnya, tidak diukur atas dasar persamaannya dengan tokoh masyarakat yang dilukiskan. Sebaliknya, citra tokoh masyarakatlah yang mesti meneladani tokoh novel, karya seni sebagai model yang diteladani. Proses penafsirannya bersifat bolak-balik, dwi arah, yaitu antara kenyataan dengan rekaan (Teew, 1984:224-249). Sastra merupakan refleksi lingkungan sosial budaya yang merupakan satu tes dialektika antara pengarang dengan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra. Itulah sebabnya memang beralasan jika penelitian sosiologi sastra lebih banyak memperbincangkan hubungan antara pengarang dengan kehidupan sosialnya. Baik aspek bentuk maupun isi karya sastra akan terbentuk oleh suasana lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu. Dalam hal ini, teks sastra dilihat sebagai suatu pantulan zaman. Sekalipun aspek imajinasi dan manipulasi tetap ada dalam sastra, aspek sosial pun juga tidak bisa diabaikan. Aspek-aspek kehidupan sosial akan memantul penuh ke dalam karya sastra. Hal terpenting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin (mirror). Dalam kaitan ini, sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Kendati demikian, sastra tetap diakui sebagai sebuah ilusi atau khayalan dari kenyataan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Dari sini, tentu sastra tidak semata-mata menyodorkan fakta secara mentah. Sastra bukan sekedar copy-an kenyataan, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukan jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis. Secara esensial sosiologi sastra adalah penelitian tentang: a. Studi ilmiah manusia dan masyarakat secara obyektif. b. Studi lembaga-lembaga sosial lewat sastra dan sebaliknya. c. Stusi proses sosial. Yaitu, bagaimana masyarakat mungkin, dan bagaimana mereka melangsungkan hidupnya. Studi semacam itu secara ringkas merupakan penghayatan teks sastra terhadap struktur sosial. Aspek-aspek sosiologis yang terpantul dalam karya sastra tersebut, selanjutnya dihubungkan dengan beberapa hal, yaitu: a. Konsep stabilitas sosial. b. Konsep kesinambungan dengan masyarakat yang berbeda. c. Bagaimana seorang individu menerima individu lain dalam kolektifnya. d. Bagaimana proses masyarakat lebih berubah secara bertingkat. e. Bagaimana perubahan besar masyarakat, misalnya dari feodalisme ke kapitalisme. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Pandangan yang amat popular dalam studi sosiologi sastra adalah pendekatan cermin. Melalui pendekatan ini, karya sastra dimungkinkan menjadi cermin bagi zamannya. Dalam pandangan Lowenthal (Laurenson dan Swingewood, 1972:16-17) sastra sebagai cermin nilai dan perasaaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu menyosialisasikan diri melalui struktur sosial. Perubahan dan cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sorotan pengarang yang tercermin lewat teks. Cermin tersebut, menurut Stendal dapat berupa pantulan langsung segala aktifitas kehidupan sosial. Maksudnya, pengarang secara real memantulkan keadaan masyarakat lewat karyanya, tanpa perlu banyak diimajinasikan. Karya sastra yang cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, sebenarnya pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus sebagai alat komunikasi antara pengarang dengan pembacanya. 2.2.1 Masalah Sosial Pada umumnya masalah sosial ditafsirkan sebagai suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh sebagian besar warga masyarakat. Hal itu disebabkan karena UNIVERSITAS SUMATERA UTARA gejala tersebut merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau norma dan nilai serta standar moral yang berlaku. Lebih dari itu, suatu kondisi juga dianggap sebagai masalah sosial karena menimbulkan berbagai penderitaan dan kerugian baik fisik maupun non fisik (Soetomo, 1995:10). Parillo dalam Soetomo (1995:4) menyatakan bahwa untuk dapat memahami pengertian masalah sosial perlu memperhatikan 4 komponen, yaitu: 1. Masalah itu bertahan untuk suatu periode waktu. 2. Dirasakan dapat menyebabkan berbagai kerugian fisik atau mental baik pada individu maupun masyarakat. 3. Merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai atau standar sosial dari suatu atau beberapa sendi kehidupan masyarakat. 4. Menimbulkan kebutuhan akan pemecahan Sementara itu tidak semua masalah dalam kehidupan manusia merupakan masalah sosial. Masalah sosial pada dasarnya adalah masalah yang terjadi dalam antar hubungan warga masyarakat. Dengan demikian menyangkut aturan dalam hubungan bersama baik formal maupun informal. Masalah sosial terjadi apabila: UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 1. Banyak terjadi hubungan antar warga masyarakat yang menghambat pencapaian tujuan penting dari sebagian besar warga masyarakat. 2. Organisasi sosial menghadapi ancaman serius oleh ketidakmampuan mengatur hubungan antar warga. 2.2.2 Klasifikasi Masalah Sosial Masalah sosial yang akan dibicarakan pada bagian ini adalah kondisi yang terjadi setelah berlangsungnya suatu aktifitas pembangunan masyarakat. Mengingat bahwa gejala social merupakan fenomena yang saling berkaitan, maka akhir-akhir ini mulai berubah dengan tidak memberi nafkah kepadanya untuk membesarkan kedua anaknya yang masih berusia 5 dan 3 tahun, main perempuan, berjudi dan menghabiskan uang tabungan Yayoi bahkan memukuli Yayoi. Hal ini menjadi masalah dalam keluarga Yayoi yang berusaha untuk bebas dari suaminya yang berlaku kasar kepadanya dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya dengan bekerja shift malam. 5. Tokoh Yoshie Azuma merupakan wanita yang memiliki masalah kepenatan hidup yang dihadapi dalam hidupnya dengan beban hidup untuk mengurus ibu mertuanya yang sudah 6 tahun tidak bisa berjalan dan menyekolahkan anaknya sampai tingkat akademi. Hal ini tentunya membuat Yoshie harus bekerja keras dengan mengandalakan bekerja shift malam dan meminjam uang kepada temannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 6. Tokoh Kuniko Jonouchi merupakan wanita konsumerisme yang berpikir secara dangkal yang selalu ingin tampil gaya dan modis di depan teman-temannya. Tetapi keiinginannya ini tidak diimbangi dengan kemampuan ekonominya. Hal ini tentunya menjadi masalah dalam kehidupan Kuniko. Dalam mengatasi masalah ini, Kuniko meminjam uang dari rentenir, bekerja shift malam dan berusaha mencari pekerjaan tambahan. Universitas Sumatera Utara 7. Kebebasan hidup merupakan sebuah hal yang sangat paling diinginkan oleh para tokoh utama dalam novel OUT ini. Setiap tokoh utama dalam novel ini berusaha untuk merubah kondisi dalam kehidupan mereka seperti yang mereka inginkan. Dalam sudut pandang sosiologis, hal ini tentunya merupakan sebuah hal yang akan dilakukan oleh setiap orang untuk mengatasi masalah hidupnya dengan cara mereka masing-masing. 4.2. Saran Dari analisis yang telah dilakukan terhadap novel OUT karya Natsuo Kirino, saran dari penulis kepada peneliti selanjutnya khususnya peneliti yang melakukan analisis novel dengan pendekatan sosiologis adalah sebagai berikut: 1. Penulis diharapkan dapat memberikan nilai positif kepada masyarakat terhadap gambaran objektif kehidupan sosiologis dalam karya sastra tersebut d 2. Bagi peneliti selanjutnya yang akan menganalisis novel menggunakan Pendekatan sosiologis, penulis sarankan sebaiknya memiliki beberapa referensi, seperti jurnal-jurnal atau buku-buku mengenai pendekatan sosiologi sastra agar pembaca dapat memahami secara jelas tentang kajian sosiologis. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Amminudin. 2000. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung : Sinar Baru. Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pengangan Penelitian Satra Bandingan. Jakarta :Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Guniesti, Veryani. 2008. Analisis Peranan Wanita Sebagai Tokoh” Dalam Novel Out Karya Kirino Natsuo. Medan : Universitas Sumatera Utara Hardjana, Andre. 2000. Evaluasi Komunikasi: Praktek dan Teori. Jakarta: PT Grassindo. Kirino,Natsuo. 2007. OUT Bebas. Jakarta : Gramedia Pustaka Umum. Koentjaraningrat, 1990.Metode-Metode Penelitian Masyarakat . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum Luxemburg, Jan Van. 1992.Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum. Moeliono, Anton M. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka Nazir, Moh. 2002.Metodologi Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia. Nurgiyantoro, Burhan .2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta : BPFE. Pradopo. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra : Teori dan Penerapannya. Yogyakarta : Gajah Mada University Universitas Sumatera Utara Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Soekanto, Soerjono. 1990.Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo. Soemardjo, Jakob, dan Saini K.M. 1997. ApresiasiKesusateraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Wellek, Rene dan Austin Warren.1995. Teori Kesusasteraaan. Jakarta : PT Gramedia. Wiyarti, Sri. 2008. Sosiologi, Surakarta :UNS Press Zainuddin. 1992. Materi pokok bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta . http://www.scribd.com/mobile/doc/13494084 http://teori-sastra.blogspot.com/2010/05/sosiologi-sastra.html http://www.lokerseni.web.id/2011/09/pengertian-novel-menurut-para-pakar.html http://bookreviewsfortheaveragejoe.wetpaint.com/page/Biography+of+Natsuo+Kirin o http://japanreview.net/interview_Natsuo_Kirino.htm http://www.scribd.com/mobile/doc/13494084 http://teori-sastra.blogspot.com/2010/05/sosiologi-sastra.html http://www.lokerseni.web.id Universitas Sumatera Utara http://cikapublishing.blogspot.com http://www.ombar.net/2009/08/plotalur.html http://kajiansastra.blogspot.com http://www.ombar.net/2009/08/plotalur.html Universitas Sumatera Utara ABSTRAK ろんぶん だいめい なつお きりの さくひん こ の ,論文 の ,題名 は └ ,夏生 ,桐野 の ,作品 しょうせつ しゅじんこう しゃかいがくてき ぶんせき の ,小説の ,主人公の ,社会学的の ,分析┘ につ ろんぶん しゃかいがくてき ぶんせき つか いて である。この ,論文は ,社会学的の ,分析な を ,使 ろんぶん か もくてき った。この ,論文 を ,書 く ,目的 は しゃかいもんだい ,社会問題 なつおきりの しょうせつ しゅじんこう と ,夏生桐野 の ア ウ ト の ,小説 の ,主人公 きぼう し ろんぶん こうよう の ,希望 を ,知 る た め で あ る 。 ,論文 の ,効用 しゃかいもんだい は ,社会問題 じょうほう の ,情報 しゅじんこう と アウト の ,主人公 きぼう わ ろんぶん じょうほう の ,希望 を ,分かるようになる。この ,論文の ,情報 と デ けんきゅう かんけい ータは この ,研究と ,関係が ある ほん ,本 や インタネッ ト などからである。 Universitas Sumatera Utara ぶんがく げんご そだ ,文学 は ,言語 で な ぐ さ め た り ,育 て た り し しよう しゃかい せいかつ びょうしゃ て、 ,使用 さ せる ,社会の ,生活 の ,描写 としてであ ぶんがく ないよう ひっしゃ しこう る。 ,文学 の ,内容 は ,筆者 の ,思考 のアイデアであ ぶんがくさくひん しゃかいもんだい しゃかいせいかつ る。 ,文学作品は ,社会問題か ,社会生活 を 解 ぶんがくさくひん しゃかいじけん 説することができる。でも、その ,文学作品 の ,社会事件 しょうさい はな ときどき じけん ひっしゃ は ,詳細に ,話さない。 ,時々 その ,事件 は ,筆者 いであ ひっしゃ しこう の ,イデア とか ,筆者 の ,思考 だけである。 しょうせつ ぶんがく さくひん しょうせつ ,小説は ある ,文学 ,作品の部分である。 ,小説 せかい ゆうめい ぶんがくさくひん しょうせつ は ,世界 で ,有名 な ,文学作品 で あ る 。 ,小説 しゃかい しょうせつ なか どうとく は ,社会になぐさめる ものである。 ,小説の ,中では ,道徳 げんりょう ,原料 、 しゃかいがくてき きょういく ,社会学的 、 ,教育 な ど が 入 っ て い しょうせつ はな ないよう る。 ,小説の ,話しの ,内容は 二つに 分かれる。それは フィク ション と ノン フィクション である。フィクションの 話しは 事実 Universitas Sumatera Utara に 基 がない 話し であるが、ノン フィクション の 話し は は たと れきし せんそう はな っきり事件を 話しである。 ,例えば、 ,歴史、 ,戦争の ,話しで そうぐう ある。 アウトの 小説のテーマ は 日本の女性の社会問題 を ,遭遇 することを話していた。アウトの主人公は 4 人女性である。このアウトの 小説は 大体 社会問題と 経済問題 を 話していた。たとえ かていちょうわてきもんだい かてい もんだい あま ば ,家庭調和的問題 、 ,家庭 の ,問題 、 あ り ,余 せいかつ つか せいかつもんだい る ,生活 、 ,疲れた ,生活問題 である。 社会額的な分析 は 読者 と 筆者 と関係している文学 作品の しゃかいがくてき ぶんせき かいしゃ せいかつ 分析である。 ,社会学的 な ,分析 は ,会社 の ,生活 はいけい しゃかい せいかつ ひっしゃ しこう わ の ,背景、 ,社会の ,生活、 ,筆者の ,思考 などを ,分か しゃかいがくてき ぶんせき もくてき らなければならない。 ,社会学的の ,分析の ,目的は 読者と ぶんがくさくひん ひっしゃ ぶんか きょういく 筆者のことである。 ,文学作品 は ,筆者 が ,文化、 ,教育 かくしん せいかつ ひっしゃ けいけん か 、 ,確信 の ,生活、 ,筆者の ,経験などが ,書かれたからで Universitas Sumatera Utara しゃかいがくてき ぶんせき みっ ある。 ,社会額的 な ,分析 は ,三 つ に 分かれる。つま ひっしゃ しゃかいがく ぶんがくさくひん しゃかいがく り、 ,筆者 の ,社会学 、 ,文学作品 の ,社会学 ぶんがく しゃかいがく 、 ,文学 の ,社会学 ひっしゃ で あ る 。 ,筆者 の しゃかいがく ,社会学 ひっしゃ はいけい ひっしゃ しこう ひっしゃ けいけん は ,筆者の ,背景、 ,筆者の ,思考、 ,筆者の ,経験 かんけい ぶんがくさくひん しゃかいがく はな に ,関係 している。 ,文学作品 の ,社会学 は ,話 し ないよう ひっしゃ もくてき はな か の ,内容 と ,筆者の ,目的 に その ,話しを ,書い かんけい ぶんがく しゃかいがく た という ,関係 で あ る 。 ,文学 の ,社会学 は 読 者 しょうがい えいきょう かんけい に ,障害 と 話しの ,影響に ,関係している。 しょうせつ にん じょせい しゅじんこう はな アウトの ,小説は 4 ,人 の ,女性の ,主人公を ,話 にん じょせい していた。その4 ,人 の ,女性は マサコ カトリ、ヤヨイ ヤマモ かれ ト 、 ジ ョ ウ ノ ウ チ ク ニ コ と ヨ シ エ ア ズ マ で あ る 。 ,彼 ら とうきょう こうがい しょくひん こうじょう は ,東京 の ,郊外 に あ る ,食品 の ,工場 はたら しゅじんこう べつべつ もんだい で ,働いていた。その ,主人公 は ,別々 な ,問題 Universitas Sumatera Utara かとり かてい ちょうわてき があった。マサコ ,カトリ は ,家庭 の ,調和的 もんだい かれ おっと しごと な ,問題 であった。 ,彼の ,夫は ,仕事からやらなって、それか おとこ くすり うった さんか ら かれの ,男 ,薬 の パーデイ を ,訴えて ,参加した。 もんだい かれ おとこ そのの ,問題 をやった 後、 ,彼は ,男の夫とは マサコ と 連絡 う は なかった。ヤヨイは 夫と 問題があった。彼の夫は いつも彼を ,打 か っていて、お金を ,賭けていて、ヤヨイの貯金 を無してしまった。そし て、ヤヨイは 彼の子供を手入れするために、食品の工場で働かなければな らなかった。 クニコは あり余る生活とお金がたくさん ある生活を 希 ぎふ 望していた。ヨシエ は 彼の ,義父 を手入れなければなんらなかった。 そして、彼は 疲れた生活の問題があった。. すぐ その 4 人主人公は 彼の自由 を望むために、これらの問題を ,優 たましい もど れて動力した。マサコ はいつも 彼の男と夫の ,魂を ,戻して動力し Universitas Sumatera Utara ていた。そして、彼の夫と男 はマサコ と 理解したかった。ヤヨイは 食品の工場で働いて、彼の夫を変ことができるのが 希望していた。クニコ さが こうりかし は ほかの仕事を ,探しったり、食品の工場で働いたり、 ,高利貸 か ら お金を借りていた。ヨシエ は友達 から お金を 借りたり、食品の 工場で働いていた。 ちが ア ウ ト の 小 説 は 一 人 主 人 公 と 他 の 主 人 公 が あ る ,違 しゃかいもんだい そうぐう い ,社会問題を ,遭遇するについて話しであった。この事は夏生 そうぞうてき かだ 桐野 から ,創造的 を ,描 き ,出 し た 。 た と え ば 、 マ サ コ かていちょうわてきもんだい は ,家庭調和的問題を 遭遇して、ヤヨイは 彼の夫の問題 を 遭遇していた。クニコは あり余る生活 を 希望していて、ヨシエは 疲れた生活問題を 遭遇した。 Universitas Sumatera Utara
Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

Gratis