Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah

 8  63  142  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
Informasi dokumen

ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH TESIS

  Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkanadanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidaksekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatuyang telah disepakati dalam kontrak. Yusnah Kosim, SH serta buah hatiku Puan Fadillah, Daffa AlKautsar dan Annisa Ulina yang penuh rasa kasih sayang dan senantiasa memberi semangat dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikanpenulisan Tesis ini Penulis sayangi atas kesabaran dan pengertiannya serta memberikan Doa dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini.

KATA PENGANTAR

  Yusnah Kosim, SH serta buah hatiku Puan Fadillah, Daffa AlKautsar dan Annisa Ulina yang penuh rasa kasih sayang dan senantiasa memberi semangat dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikanpenulisan Tesis ini Penulis sayangi atas kesabaran dan pengertiannya serta memberikan Doa dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkanadanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidaksekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatuyang telah disepakati dalam kontrak.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehadiran Ekonomi Syariah telah memunculkan harapan baru bagi banyak

  Ekonomi Syariah merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diaturberdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum 2 dalam rukun iman dan rukun Islam. Menurut catatan, bank syariah yang pertama kalimemperoleh ijin usaha sebelum diundangkannya Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan adalah BPRS Berkah Amal Sejahtera, dan BPRS DanaMardhatillah pada tanggal 19 Agustus 1991, BPRS Amanah Rabbaniah pada tanggal 24 Oktober 1991, ketiganya beroperasi di Bandung dan BPRS Hareukat pada tanggal 6 10 Nopember 1991, beroperasi di Aceh.

8 Islami (haram)

  Memang secara teoritis bahwa yang terpenting pertama-pertama adalah karakter dari nasabah calon penerima pembiayaan (nasabah debitur), karena jikakarakternya baik, sekalipun kondisi yang lainnya buruk, nasabah debitur akan tetap berusaha serius dan dengan jujur melaporkan hasil usahanya dengan mengembalikandana pembiayaan yang disertai bagi hasilnya. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimanadisinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangathati-hati.

B. Permasalahan

  Manfaat Penelitian Setiap penelitian pasti mendatangkan manfaat sebagai tindak lanjut dari apa yang telah dirumuskan dalam tujuan penelitian. Manfaat praktisSebagai suatu informasi dan referensi bagi individu atau instansi yang menjadi atau yang terkait dari objek yang diteliti.

E. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan pemeriksaan dan hasil-hasil penelitian yang ada, penelitian mengenai “Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah” belum pernahdilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Guna menghindari terjadinya duplikasi penelitian terhadap masalah yang sama, maka peneliti melakukan pengumpulan data tentang “Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah”, dan juga pemeriksaan terhadap hasil-hasil penelitian yang ada mengenai hal-hal di atas, ternyata penelitian ini belum pernah dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama oleh peneliti lainnya baik di lingkunganUniversitas sumatera Utara maupun Perguruan Tinggi lainnya.

1. Ahmad Fauzi/ 027011002, Jaminan dalam Akad Pembiayaan pada Bank

  Syariah yang Bernuansa Konflik (Studi Kasus Bank Muamalat Indonesia, tbkCab. Medan) 2. Rina Dahlia/ 037011072, Kedudukan Lembaga Gadai Syariah (Ar-Rahn) dalam Sistem Perekonomian Islam (Studi di Bank Muamalat Indonesia Cab.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

  Demikian halnya para ahli fikih, khususnya fikih harta, juga telah menjelaskan syarat-syarat, kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan di balik usaha mencarimateri dan kekayaan, dan bagaimana pula memperoleh dan menggunakannya, dengan penjelasan yang detail dan dapat menghapus ruang keragu-raguan tentang perhatianIslam terhadap masalah harta kekayaan dan juga tentang seruannya kepada umatnya untuk mencari dan mengumpulkannya sesuai dengan tujuan-tujuan dan batasan- 27 batasan syariat. Adanya jaminan dalam pembiayaan syariah didasarkan atas pemahaman dalam surat Al-Baqarah ayat 283 yang menyebutkan bahwa dalam bermuamalahbarang yang dijadikan jaminan/pertanggungan dipegang/ dikuasai oleh pemberi utang, sehingga hal ini yang dijadikan dalam rahn, akan tetapi hal tersebut dilakukan 28 apabila satu sama lain tidak percaya mempercayai.

2. Konsepsi

  Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup 34 rakyat. Perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, 35 serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

  di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan/atau 39 unit syariah. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah atau UUS dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak 41 sesuai dengan Prinsip Syariah.

Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

42 Fasilitas

G. Metode Penelitian

  selain itu, penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu, yangbertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya, kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalamterhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas 45 permasalahan-permasalahan yang timbul dalam gejala bersangkutan. memberikan kemungkinan yang lebih besar, untuk meneliti hal-hal yang belum diketahuic.

1. Jenis Penelitian

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatifyang disebut juga sebagai penelitian doctrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitianyang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through judicial process) 47 . Logika keilmuan yang juga dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukum itu sendiri.

2. Sumber Data

  Bahan Hukum TertierYaitu semua dokumen yang berisi konsep-konsep dan keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti: kamus,ensiklopedia dan lain-lain. Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan(Library Research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka untuk memperoleh data sekunder berupa buku-buku baik koleksi pribadimaupun dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari media cetak maupun media elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk peraturan perundang-undangan.

KONSEP JAMINAN MENURUT HUKUM ISLAM

A. Kafalah

  Secara umum, jaminan dalam hukum Islam (fiqh) dibagi menjadi dua; jaminan yang berupa orang (personal guaranty) dan jaminan yang berupa hartabenda. Jaminan yang berupa orang sering dikenal dengan istilah dlaman atau kafalah, sedangkan jaminan yang berupa harta benda dikenal dengan istilah rahn.

1. Pengertian Kafalah

a. Menurut bahasa

  Sedangkan menurut terminologi Kafalah didefinisikan sebagai:“Jaminan yang diberikan oleh kafiil (penanggung) kepada pihak ketiga atas 52 kewajiban/ prestasi yang harus ditunaikan pihak kedua (tertanggung)”. pada Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 72; yang artinya : “Penyeru itu berseru, Kami kehilangan piala raja dan barang siapa yang dapat mengembalikannyaakan memperoleh makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya” dan juga hadis Nabisaw; “Pinjaman hendaklah dikembalikan dan yang menjamin hendaklah membayar” (HAL.

a. Menurut syara’

  Secara terminologi, sebagaimana yang dinyatakan para ulama fikih, kafalah 53 dapat didefinisikan sebagai berikut:1) Mazhab Hanafi, kafalah adalah, "menggabungkan dua tanggungan dalam permintaan dan hutang.”2) Mazhab Maliki, Kafalah adalah “Orang yang mempunyai hak mengerjakan tanggungan pemberi beban serta bebannya sendiri yangdisatukan, baik menanggung pekerjaan yang sesuai (sama) maupun pekerjaan yang berbeda”. Di dalam Kamus Istilah Fikih, kafalah diartikan menanggung atau penanggungan terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, danberserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab terhadap hak tersebut 55 dalam menghadapi penagih (utang).

2. Dasar Hukum

  14             "Mereka menjawab"Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan akujamin itu" b. Berkatalah AbuQatadah: "Dua dinar itu tanggung jawabku." Karenanya, Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya Allah telah menunaikan hak orang yang memberi hutang dan si mayit akan terlepas dari tanggung jawabnya." Rasulullah lalu menshalatkannya.

59 Kebolehan akad kafalah dalam Islam juga

didasarkan pada kebutuhkan manusia dan sekaligus untuk menegaskan madharat bagi orang-orang yang berhutang. 60

3. Rukun dan Syarat Kafalah

  Pihak penjamin/penanggung (kafil), dengan syarat baligh (dewasa), berakal sehat, berhak penuh melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya, danrela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut. Obyek jaminan (makful bih), merupakan tanggungan pihak/orang yang berhutang (ashil), baik berupa uang, benda, maupun pekerjaan, bisadilaksanakan oleh pejamin, harus merupakan piutang mengikat (luzim) yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan, harus jelasnilai, jumlah, dan spesifikasinya, tidak bertentangan dengan syari'ah (diharamkan).

4. Macam-macam Orang Yang Dapat Ditanggung

  Sedangkan Imam Hanafi menyatakan tidakboleh, dengan alasan bahwa tanggungan tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan orang yang tidak ada. 72-73 kepada orang yang dipenjara atau orang yang sedang dalam keadaan musafir.

5. Masa Tanggungan

  Masa tanggungan dengan harta, yakni masa penuntutan kepada penanggung adalah dimulai sejak tetapnya hak atas orang yang ditanggung, baik berdasarkanpengakuannya maupun saksi, demikian pendapat fuqaha'. Selanjutnya, kapan pengambilan hak itu terjadi atau kapankah pengambilan hak itu menjadi wajib, dan sampai kapan waktunya?, Sebagian fuqaha' berpendapatbahwa apabila debitur dapat menyampaikan bukti-bukti yang kuat atau saksi misalnya, maka ia harus memberikan penanggung (dengan badan), sehingga terlihathaknya.

6. Kewajiban Penanggung

  Pendapat Imam Malik yang mengatakan, bahwa penanggung harus menanggung kerugian atas orang yang ditanggung apabila ia pergi,didasarkan pada Hadis Ibnu 'Abbas r.a. Tentang pandangan yang membolehkan kreditur menuntut penanggung, baik yang ditanggung itu bepergian atau tidak, kaya atau miskin, maka merekaberalasan dengan Hadis Qubaishah Ibn al-Makhariqi r.a.

7. Obyek Tanggungan

  Dalam masalah tanggungan hutang, disyaratkanbahwa hendaknya, nilai barang tersebut tetap pada waktu terjadinya transaksi tanggungan/ jaminan dan bahwa barangnya diketahui, karena apabila tidakdiketahui, maka dikhawatirkan akan terjadi gharar. Kafalah dengan harta, yaitu jaminan yang diberikan oleh seorang penjual kepada pembeli karena adanya risiko yang mungkin timbul dari barang yang 71 dijual- belikan.

8. Macam-macam Kafalah

  Bentuk kafalah ini merupakan sarana yang paling luas bagi bank untuk memberikan jaminan kepada para nasabahnya dengan imbalan/ fee tertentu. Kafalah al-munjazah, adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu dan untuk tujuan/ kepentingan tertentu.

9. Upah Atas Jasa Kafalah

  Adiwarman A. Karim memberikan keterangan tentang upah atas jasa kafalah ini yang ia kemukakan dengan mengawali sebuah pertanyaan: "Bolehkah si pejaminmengambil upah atas jasanya itu?" Kemudian ia menjelaskan bahwa, ulama kontemporer, seperti Mustafa Abdullah al-Hamsyari yang mengutip pendapat ImamSyafi'i, berpadangan bahwa pemberian uang (fee) kepada orang yang ditugaskan untuk mengadukan suatu masalah kepada raja tidak dapat dianggap sebagai uang 73 memperhitungkan upahnya.

10. Akibat-akibat Hukum Kafalah

  Dalam hal orang yang ditanggung melarikan diri, sedangkan ia tidak mengetahui tempatnya, maka si penanggung tidak wajib mendatangkannya, tetapi apabila ia mengetahuitempatnya, maka ia wajib mendatangkannya, dan si penanggung diberikan waktu 75 yang cukup untuk keperluan tersebut. pernyataan tertulis untuk mengikatkan diri kepada penerima jaminan apabila di kemudian hari pihakterjamin tidak memenuhi kewajibannya kepada penerima jaminan sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah ditentukan.

B. Rahn

1. Pengertian Rahn

  Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa ar-Rahn (gadai) ialah suatu sistem muamalah dimana pihak yang satu memberikan pinjaman dan pihak yang lain menyimpan barang berharga atau bernilai sebagai jaminan atas pinjaman terhadap orang yang menerima gadai. 1 dari 2 atau dijadikan sebagai jaminan/pegangan manakala salah si peminjam tidak dapat mengembalikan pinjamannya sesuai dengan waktu yang disepakati dan juga sebagaipengikat kepercayaan di antara keduanya, agar si pemberi pinjaman tidak ragu atas pengembalian barang yang dipinjamnya.

2. Rukun dan Syarat Rahn

  Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itumenunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah o rang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu 92 kerjakan. [Rasul bersabda: "kullu qardhin jarra manfa'atan fahuwa majhun min wujûhi ar-ribâ (Setiappinjaman yang menarik suatu manfaat maka itu termasuk salah satu bentuk riba.) [HR al-Baihaqi] Jika ar-rahn itu untuk akad utang dalam bentuk dayn, yaitu utang barang yang tidak mempunyai padanan dan tidak bisa dicarikan padanannya, seperti hewan, kayu 102 bakar, properti dan barang sejenis yang hanya bisa dihitung berdasarkan nilainya.

3. Fungsi dan Manfaat Rahn

  Alangkah baiknya kalau mereka mengikuti syari’at dalam penggadaian, karena kalau mereka mengikuti syari’at tidak ada yang menjadi korban keserakahanorang-orang kaya yang bisa menutupi pintu-pintu yang tidak terbuka dan melarat orang yang didahuluinya maka dengan kemewahan dan kebahagiaan. Pada hakekatnya yaitu memberikan jaminan kepada orang berpiutang sebagai usaha untuk memudahkan bagi yang mendapat kesulitan terhadapsesuatu, sementara orang yang berpiutang mempunyai barang yang berharga (barang yang dapat digadaikan).

C. Daman

  Jaminan dalam menghadirkan seseorang di tempat tertentu, misalnya A menjamin mengehadirkan B yang sedang dalam perkara ke muka pengadilanpada waktu dan tempat yang telah ditentukan. Dari pengertian di atas, diketahui bahwa daman dapat dan boleh diterapkan dalam berbagai bidang dalam lapangan muamalah, menyangkut jaminan atas hartabenda dan jiwa manusia.

URGENSI JAMINAN DALAM PEMBIAYAAN SYARIAH

A. Akad Pembiayaan Syariah

Operasional bank syari'ah 113

a. Larangan riba

  Riba yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transasksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktupenyerahan (fadhl), atau dalam transaksi pinjam meminjam yang mempersyaratkan nasabah penerima fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi produkpinjaman karena berjalannya waktu (nasi’ah). Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yangbesar.6) Q.

b. Mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli

  Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Nabi menjawab: "Seorang pekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mulus danbersih".

c. Keadilan, kemitraan, transparansi, dan universal dalam kemitraan Dalam operasionalnya, bank syariah berada dalam beberapa koridor prinsip

  Bank syariah memberikan bagi hasil(mudharabah), transfer prestasi dari mitra usaha sesuai dengan hasil kerjanya masing- masing dalam proporsi yang adil sesuai dengan fitrah alam. Keempat, universal dalamkemitraan, yakni bank syariah harus menjadi alat yang ampuh untuk mendukung perkembangan usaha tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan.

d. Kebersamaan dan Tolong Menolong

  Al Wadiah Yaitu perjanjian antara pemilik barang (termasuk uang) dengan penyimpan(termasuk bank) dimana pihak penyimpan bersedia untuk menyimpan dan menjaga keselamatan barang dan atau uang yang dititipkan kepadanya. An-Nisa: 58 Akad wadi’ah adalah Akad penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang dan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untukmenjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang atau uang.

c. Al-Musyarakah

  Dalam pengertian lain musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usahatertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/ expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung125 bersama sesuai dengan kesepakatan. Shad.: 24, dan hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah.

d. Al-Murabahah dan Al-Bai’u Bithaman Ajil

  bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tiga perkara di dalamnya terdapat keberkatan, yaitu (1) menjual dengan pembayaransecara kredit, (2) muqaradhah (nama lain dari mudharabah), (3) mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan bukan untukdi jual. Murabahah, sebagaimana digunakan dalam perbankan Islam, ditemukan terutama berdasarkan dua unsur: hargamembeli dan biaya yang terkait, dan kesepakatan berdasarkan mark-up 127 (keuntungan).

e. Al-Ijarah dan Al-Ta’jiri

  Sedangkan Al-Ta Jiri , adalah perjanjian antar milik barang dengan penyewa yang membolehkan penyewa untuk memanfaatkan barang tersebut dengan membayarsewa, sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak. Murabahah, sebagaimana diyakini di sini, diterapkan pada setiap pembiayaan dimana ada 129 komoditas yang dapat diidentifikasikan untuk dijual.

f. AI-Qardhul Hasan

  Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karuniaAllah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang,tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dari kegiatan ini bank akan memperoleh fee sebagaiimbalan, yaitu perjanjian dimana pihak pertama berjanji untuk memberi sejumlah imbalan-imbalan tertentu kepada pihak kedua (amil) atas suatuusaha/layanan proyek yang sifat dan batasan-batasannya tercantum di dalam pe perjanjian.

B. Urgensi Jaminan dalam Akad Pembiayaan Syariah

1. Jaminan dalam Hukum Islam

  Secara terminologis ar-rahn adalah menjadikan harta sebagai 130 mendefinisikan ar-Rahn sebagai berikut:Artinya: Harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan utang yang bersifat mengikat. Sedangkan para ilmuwan Hukum Islam aliran Syafii mengartikan ar-Rahn 132 sebagai:Artinya: Menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang, yang dapat dijadikan pembayar utang, apabila orang yang berutang tidak dapat membayarutangnya itu.

2. Dasar hukum jaminan di dalam Hukum Islam

  Artinya: Dan jika kamu dalam perjalanan (dalam bermuamalah tidak secara tunai), sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah adabarang tanggungan yang dipegang. Yaitu Ar-Rahn hanya khusus diperbolehkan dalam perjalanan dan tidakdiperbolehkan dilakukan ketika dalam keadaan menetap dalam tempat tinggalnya.

3. Syarat-syarat syahnya jaminan

  Dalam hukum Islam adanya utang ini dipersyaratkan; (1)bahwa utang merupakan kewajiban debitur yang harus dilunasi kepada kreditur; (2) Bahwa utang tersebut boleh dilunasi dengan jaminan, jikaternyata kemudian debitur ingkar janji; (3) Bahwa utang yang dijamin itu harus jelas dan tertentu. Dalam akadyang demikian, maka bahwa jaminan (ar-rahn) baru dianggap sempurna jika pihak debitur sebagai orang yang berhutang telah menerima utang dari pihak kreditursebagai pihak yang berpiutang dan barang jaminan telah diserahkan secara hukum berdasarkan atas hak oleh debitur sebagai pihak yang berhutang kepada kreditursebagai pihak yang berpiutang.

4. Status Hukum Barang Jaminan Dalam Hukum Islam

  Kedudukan jaminan adalah terjaminnya pembayaran atas suatu utang dari debitur atau pihak yang berhutang kepada kreditur atau pihak yang berpiutang. Oleh karena penerima jaminan hanya mempunyai hak menguasai sementara waktu sampai jatuh tempo, maka penerima jaminan tidak diperbolehkanmengalihkan hak atas barang yang menjadi jaminan atas namanya dan tidak diperbolehkan menjual barang yang ada dalam penguasaannya selama piutang yangtelah diberikannya belum jatuh tempo dalam waktu yang ditentukan.

5. Pemanfaatan Barang Jaminan di Dalam Hukum Islam

  Pemegang jaminan boleh memanfaatkan barang jaminan yang ada di tangannya asalkan mendapat persetujuan dari pihak yang memberikan jaminan.sebaliknya, pemberi jaminan atau pemilik yang menjaminkan barangnya dapat juga memanfaatkan barang yang dijaminkan itu asalkan disetujuai oleh pemegangjaminan. Larangan bagi pihak yang memberikan pinjaman untuk memanfaatkan jaminan yang dikategorikan sebagai riba ini didasarkan pada riwayat al-hadis 137 yang menyatakan:Artinya: Dari Ali ia berkata: telah bersabda rasulullah saw: Tiap-tiap hutang yang menarik faedah, maka yaitu riba.

6. Urgensi Jaminan dalam Produk Pembiayaan Syariah

  Memang secara teoritis bahwa yang terpenting pertama-pertama adalah karakter dari nasabah calon penerima pembiayaan (nasabah debitur), karena jikakarakternya baik, sekalipun kondisi yang lainnya buruk, nasabah debitur akan tetap Atas dasar beberapa pertimbangan di atas, maka pengajuan pembiayaan di bank syari’ah yang menggunakan skim musyarakah ataupun mudhrabah dikenakankewajiban memberikan anggunan. Kenyataan di atas, meskipun masih menyimpan persoalan status hukumnya dari sisi hukum Islam, menunjukkan bahwa jaminan mutlak diperlukan untukmemberikan kepastian bahwa dana tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapatmengeksekusi agunan atau jaminan yang telah diberikan, karena debitur bertindak semaunya atau asal-asalan dalam menjalankan usaha bisnisnya.

2. Dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 5/7/PBI/2003 tentang kaualitas

  Dalam KUH Perdata Pasal 1131 dan Pasal 1132 berikut ini: “Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru ada di kemudian hari,menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.” (Pasal 1131). Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itudibagi bagi menurut keseimbangan yaitu menurut besar-kecilnya piutang masing-masing kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasanyang sah untuk didahulukan.

A. Konsep Jaminan dalam Undang-Undang Perbankan Syariah

  7 Dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah terdapat beberapa ketentuan umum, misalnya di dalam Pasal 18, Pasal 19, Pasal 23,dan atau Pasal 40, yang menjadi pedoman teknis pelaksanaan mudarabah dan harus menjadi bagian dari kesepakatan antara keduanya dalam hal ini adalah masalahjaminan. Dalam perbankan itu sendiri jaminan merupakan salah satu bentuk mekanisme bank untuk pengelolaan modal masyarakat yang mengandung unsur kemaslahatandan merupakan suatu sistem transaksi yang saling menguntungkan bagi pihak-pihak yang melakukan.

B. Aplikasi/ Penerapan Jaminan dalam Perbankan Syariah Penerapan jaminan pada perbankan syariah mutlak tidak dapat dihindari

  Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi merekapermohonan jaminan oleh pihak perbankan pada mudarib adalah tidak sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untukmeyakinkan bahwa mudarib benar-benar melaksanakan segala sesuatu yang telah 146 disepakati dalam kontrak. Memberikan jaminan agar nasabah berperan dan turut serta dalam transaksi yang dibiayai dengan kredit bank sehingga dengan demikian kemungkinannasabah untuk meninggalkan usaha atau proyek yang akan merugikan nasaha itu sendiri dapat dicegah dan diperkecil 3.

C. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah

  Berdirinya BAMUI ini dimaksudkan sebagai antisipasi terhadap permasalahan hukum yang mungkin timbul akibat penerapa hukum mu’amalah oleh Lembaga 149 Keuangan Syari’ah yang pada waktu itu telah berdiri. 149 Arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa perdata di luar peradilan umum yangdidasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa (Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999), sedangkan perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatanberupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelahterjadi sengketa.

2. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syari’ah Pasca Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006

  Namun karena selama ini, pengadilan agamatidak menangani sengketa yang terkait dengan perekonomian syari’ah, maka wawasan yang dimilikinya pun tentu masih terbatas. Selanjutnya dalam Pasal 61 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 dinyatakan, “Dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase dengansukarela, putusan dilaksanakan berdasarkan perintah Ketua Pengadilan Negeri atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa”.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  Urgensi jaminan dalam produk pembiayaan syariah yakni jaminan tersebut untuk memberikan kepastian bahwa dana tersebut dapat dikembalikan, atausetidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang telahdiberikan, karena penerima fasilitas pembiayaan bertindak semaunya atau asal-asalan dalam menjalankan usaha bisnisnya. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagimereka permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidak sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinyamodal yang dipinjam, namun untuk meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatu yang telah disepakatidalam kontrak.

B. Saran

  Hendaknya para pelaku perbankan syariah betul-betul menerapkan hukum jaminan sebagaimana yang dimaksudkan peraturan perundang-undangan danjuga tidak bertentangan dengan aturan hukum Islam, agar perkembangan perbankan syariah dapat tetap terjaga dengan baik. Hal ini ditujukan bagi perlindungan terhadap pemberidan penerima fasilitas pembiayaan syariah, dan juga yang terpenting adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai kedudukanjaminan dalam pembiayaan syariah.

Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Al-Ijarah dan Al-Ta’jiri AI-Qardhul Hasan Al-Musyarakah Al-Murabahah dan Al-Bai’u Bithaman Ajil Aplikasi Penerapan Jaminan dalam Perbankan Syariah Dasar Hukum Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Jaminan dalam Hukum Islam Jenis Penelitian Sumber Data Keadilan, kemitraan, transparansi, dan universal dalam Kebersamaan dan Tolong Menolong Al Wadiah Al-Mudharabah Kerangka Teori Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Kewajiban Penanggung Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Konsep Jaminan dalam Undang-Undang Perbankan Syariah Konsepsi Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Larangan riba Akad Pembiayaan Syariah Masa Tanggungan Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli Obyek Tanggungan Macam-macam Kafalah Penerapan Kafalah Dalam Perbankan Pengertian Rahn Permasalahan Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Keaslian Penelitian Pilihan forum dalam penyelesaian sengketa perbankan syariah sebelum Rukun dan Syarat Kafalah Macam-macam Orang Yang Dapat Ditanggung Rukun dan Syarat Rahn Status Hukum Barang Jaminan Dalam Hukum Islam Pemanfaatan Barang Jaminan di Dalam Hukum Islam Syarat-syarat syahnya jaminan Ada persetujuan antara yang memberikan jaminan dan yang menerima Teknik pengumpulan data Pengertian Kafalah Upah Atas Jasa Kafalah Akibat-akibat Hukum Kafalah Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah

Gratis

Feedback