Feedback

Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah

Informasi dokumen
ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH TESIS Oleh KOMIS SIMANJUNTAK 017005020/HK         PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara   ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum dalam Program Studi Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh KOMIS SIMANJUNTAK 017005020/HK   PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara   Judul Tesis Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi : ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH : Komis Simanjuntak : 017005020 : Ilmu Hukum Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. H. Abdullah Syah, M.A) Ketua (Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, M.A) Anggota Ketua Program Studi (Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H) (Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H) Anggota Dekan (Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum) Tanggal lulus : 26 Mei 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal 26 Mei 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. H. Abdullah Syah, M.A Anggota : 1. Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, M.A 2. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H 3. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum 4. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum Universitas Sumatera Utara   ABSTRAK Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan penyaluran dananya melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum memberikan kredit atau pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Kelima unsur tersebut yang sering disebut 5C perkreditan (character, capital, capacity, collateral dan condition of economy). Pada kenyataannya, jaminan sangat menentukan tingkat keamanan pembiayaan yang disalurkan oleh bank. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangat hati-hati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif. Konsep jaminan dalam hukum Islam (fiqh) dibagi menjadi dua; jaminan yang berupa orang (personal guaranty) dan jaminan yang berupa harta benda. Jaminan yang berupa orang sering dikenal dengan istilah dlaman atau kafalah, sedangkan jaminan yang berupa harta benda dikenal dengan istilah rahn. Kafalah diartikan menanggung atau penanggungan terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan berserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang), sedangkan arRahn, yaitu menyimpan suatu barang sebagai tanggungan hutang. Urgensi jaminan dalam produk pembiayaan syariah yakni jaminan tersebut untuk memberikan kepastian bahwa dana tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang telah diberikan, karena penerima fasilitas pembiayaan bertindak semaunya atau asal-asalan dalam menjalankan usaha bisnisnya. Penerapan jaminan pada perbankan syariah mutlak tidak dapat dihindari. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidak sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatu yang telah disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, hal ini tentunya belum berdasarkan apa yang dikenal dalam Hukum Islam, melainkan masih sama dengan yang diatur dalam Hukum Jaminan Hak Tanggungan dan Fidusia.   Kata Kunci : Konsep Jaminan, Hukum Islam Universitas Sumatera Utara ABSTRACT As a form of prudential behavior of banks in channeling of funds through financing schemes through this sharing, before granting credit or financing, shariah bank must conduct a thorough assessment of the character, ability, capital, collateral, and business prospects of the Debtors. The five elements are often called credit 5C (character, capital, capacity, collateral and condition of the economy). In fact, the guarantee is to determine the level of security provided by bank financing. In addition, the presence of collateral becomes very important, and this corresponds to the basic philosophy of bank funds, as mentioned above, namely that the bank funds are customer funds, public funds, which therefore must be protected and used very carefully. The method used in this research is normative. Normative research method known as doctrinal studies (doctrinal research) is a study that analyzed the law both written in the book (law as it is written in the book), or the law that was decided by the judge through the court process (law it is decided by the judge through judicial process). Normative legal research in this study based on secondary data and emphasize steps speculative-theoretical and normative analysis-qualitative. The concept of security in Islamic law (fiqh) is divided into two; guarantee that a person (personal Guaranty) and collateral in the form of property. Assurance that such people are often known by the term dlaman or kafalah, while the collateral in the form of property known as the rahn. Kafalah interpreted or bear responsibility for something, namely contract containing the agreement of a person where it is right that must be met for others, and association with others, in terms of responsibility for those rights in the face of collectors (debt), while ar- Rahn, ie save a good as mortgage debt. Urgency warranties in Islamic financing products that guarantee is to provide assurance that these funds can be returned, or at least the banks will not experience losses that are too large, if for example it turns out only to execute collateral or guarantees which have been given, because the recipients of financing facilities to act arbitrarily or origin at random in running their business. Application of absolute security in Islamic banking can not be avoided. Statement of context mudarabah jurists who do not allow the existence of collateral does not seem to respond by Islamic banks, because of their application for collateral by the banks on financing facilities recipient is not merely intended to ensure the return of borrowed capital, but to ensure that recipients of financing facilities is really implementing everything that had been agreed in the contract. Thus, it is certainly not based on what is known in Islamic law, but still the same as those stipulated in the Law of Guarantee Mortgage, and Fiduciary. Key Words : The concept of security, Islamic law     Universitas Sumatera Utara   KATA PENGANTAR Puji syukur penulis Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga Tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai gelar Magister Hukum pada Program Studi Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Univesitas Sumatera Utara, Medan. Adapun judul Tesis penelitian ini adalah: “ ASPEK HUKUM JAMINAN DALAM PERBANKAN SYARIAH”. Di dalam menyelesaikan Tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan baik berupa pengajaran, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat para pembimbing : Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA., Prof. Dr. H. Hasballah Thaib, MA., Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH., di tengah-tengah kesibukannya masih tetap meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, dan mendorong semangat penulis untuk menyelesaikan penulisan Tesis ini. Perkenankanlah juga, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian studi ini, kepada: Universitas Sumatera Utara 1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), SpA(K) diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan. 2. Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Ketua Program Studi Ilmu Hukum Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 4. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum, sebagai Komisi Penguji yang telah meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan, bimbingan, saran kepada penulis. 5. Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum., sebagai Komisi Penguji yang telah meluangkan waktunya dan dengan penuh perhatian memberikan dorongan, bimbingan, saran dan masukan yang sangat penting kepada penulis. 6. Kepada Kedua Orang Tua tercinta Almarhum Ayahanda Jasitambul Pohan, Almarhumah Ibunda Sitiasmi Siregar yang semasa hidupnya mendidik dengan penuh rasa kasih sayang. 7. Istri tercinta Hj. Yusnah Kosim, SH serta buah hatiku Puan Fadillah, Daffa Al Kautsar dan Annisa Ulina yang penuh rasa kasih sayang dan senantiasa memberi semangat dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini Universitas Sumatera Utara 8. Kepada Kakak Hj. Jubaidah, Abang, Saidi, Soheh, dan Adik Sarbawati, Penulis sayangi atas kesabaran dan pengertiannya serta memberikan Doa dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini. 9. Keluarga besar almarhum H. Muhammad Kosim dan Almarhumah Hj. Siti Poni yang senantiasa memberikan dorongan kepada penulis 10. Kepada Rekan-rekan di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Beserta seluruh Staff Ilmu Hukum terima kasih atas segala bantuan selama penulis mengikuti perkuliahan, semoga Allah S.W.T membalas kebaikan yang berlipat ganda, dan rekan-rekan kerja saya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga Tesis ini dapat memberi manfaat dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan permintaan maaf yang tulus jika seandainya dalam penulisan ini terdapat kekurangan dan kekeliruan, penulis juga menerima kritik dan saran yang bertujuan serta bersifat membangun untuk menyempurnakan penulisan Tesis ini. Medan, Mei 2011 Penulis, Komis Simanjuntak Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Nama : Komis Simanjuntak Tempat/Tanggal Lahir : Sibangkua, 19 Mei 1966 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Dosen Alamat : Jl. Imam Bonjol No.274 Kisaran Pendidikan : SD Negeri 142 486 Sibangkua Tamat Tahun 1980 SMP Negeri 3 Padang Sidimpuan tamat Tahun 1983 SMA Negeri 1 Padang Sidimpuan Tamat Tahun 1986 Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Tamat Tahun 1993 Strata Dua (S2) Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara Tamat Tahun 2011               Universitas Sumatera Utara   DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK i ABSTRACT . ii KATA PENGANTAR. iii RIWAYAT HIDUP . vi DAFTAR ISI . vii BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang . 1 B. Permasalahan . 9 C. Tujuan Penelitian . 9 D. Manfaat Penelitian . 9 E. Keaslian Penelitian. 10 F. Kerangka Teori dan Konsepsi. 11 1. Kerangka teori. 11 2. Konsepsi. 19 G. Metode Penelitian . 22 BAB II KONSEP JAMINAN MENURUT HUKUM ISLAM. 27 A. Kafalah . 27 B. Rahn . 41 Universitas Sumatera Utara BAB III URGENSI JAMINAN DALAM PEMBIAYAAN SYARIAH. . 64 A. Akad Pembiayaan Syariah . 64 B. Urgensi Jaminan dalam Akad Pembiayaan Syariah. 82 BAB IV APLIKASI KONSEP JAMINAN DALAM HUKUM ISLAM DALAM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA. 99 A. Konsep Jaminan dalam Undang-Undang Perbankan Syariah . 99 B. Aplikasi/ Penerapan Jaminan dalam Perbankan Syariah. 108 C. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah . 111 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. 118 A. Kesimpulan . 118 B. Saran. 119 DAFTAR PUSTAKA . 121 Universitas Sumatera Utara   ABSTRAK Sebagai wujud sikap kehati-hatian bank dalam melakukan penyaluran dananya melalui skim pembiayaan melalui bagi hasil ini, sebelum memberikan kredit atau pembiayaan, bank syari’ah harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur. Kelima unsur tersebut yang sering disebut 5C perkreditan (character, capital, capacity, collateral dan condition of economy). Pada kenyataannya, jaminan sangat menentukan tingkat keamanan pembiayaan yang disalurkan oleh bank. Di samping itu, keberadaan agunan menjadi sangat penting, dan hal ini berhubungan dengan filosofi dasar dari dana bank sebagaimana disinggung di atas, yaitu bahwa dana bank adalah dana nasabah, dana masyarakat, yang oleh karenanya harus dilindungi dan digunakan secara sangat hati-hati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Metode penelitian normatif disebut juga sebagai penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik yang tertulis didalam buku (law as it is written in the book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the judge through judicial process). Penelitian hukum normatif dalam penelitian ini didasarkan data sekunder dan menekankan pada langkah-langkah spekulatif-teoritis dan analisis normatif-kualitatif. Konsep jaminan dalam hukum Islam (fiqh) dibagi menjadi dua; jaminan yang berupa orang (personal guaranty) dan jaminan yang berupa harta benda. Jaminan yang berupa orang sering dikenal dengan istilah dlaman atau kafalah, sedangkan jaminan yang berupa harta benda dikenal dengan istilah rahn. Kafalah diartikan menanggung atau penanggungan terhadap sesuatu, yaitu akad yang mengandung perjanjian dari seseorang di mana padanya ada hak yang wajib dipenuhi terhadap orang lain, dan berserikat bersama orang lain itu dalam hal tanggung jawab terhadap hak tersebut dalam menghadapi penagih (utang), sedangkan arRahn, yaitu menyimpan suatu barang sebagai tanggungan hutang. Urgensi jaminan dalam produk pembiayaan syariah yakni jaminan tersebut untuk memberikan kepastian bahwa dana tersebut dapat dikembalikan, atau setidaknya bank tidak akan mengalami kerugian yang terlalu besar, jika misalnya ternyata hanya dapat mengeksekusi agunan atau jaminan yang telah diberikan, karena penerima fasilitas pembiayaan bertindak semaunya atau asal-asalan dalam menjalankan usaha bisnisnya. Penerapan jaminan pada perbankan syariah mutlak tidak dapat dihindari. Pernyataan fuqaha terhadap konteks mudarabah yang tidak membolehkan adanya jaminan nampaknya tidak direspon oleh perbankan Islam, karena bagi mereka permohonan jaminan oleh pihak perbankan pada penerima fasilitas pembiayaan adalah tidak sekedar dimaksudkan untuk memastikan kembalinya modal yang dipinjam, namun untuk meyakinkan bahwa penerima fasilitas pembiayaan benar-benar melaksanakan segala sesuatu yang telah disepakati dalam kontrak. Dengan demikian, hal ini tentunya belum berdasarkan apa yang dikenal dalam Hukum Islam, melainkan masih sama dengan yang diatur dalam Hukum Jaminan Hak Tanggungan dan Fidusia.   Kata Kunci : Konsep Jaminan, Hukum Islam Universitas Sumatera Utara ABSTRACT As a form of prudential behavior of banks in channeling of funds through financing schemes through this sharing, before granting credit or financing, shariah bank must conduct a thorough assessment of the character, ability, capital, collateral, and business prospects of the Debtors. The five elements are often called credit 5C (character, capital, capacity, collateral and mungkin berbeda satu dengan lainnya, untuk tingkat internasional telah dibentuk International Association of Islamic Bank’s yang berkedudukan di Kairo. Sedangkan di tingkat nasional dibentuklah suatu Konsorsium Dewan Pengawas Syariah Nasional di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan Bank Indonesia. 2. Leason Syariah 75 Ibid., hal. 3. 76 Ibid., hal. 5. Universitas Sumatera Utara Oleh karena Dewan Pengawas Syariah secara administratif tidak berada di bawah kekuasaan bank, maka dibentuk suatu penghubung atau perantara Dewan Pengawas Syriah dengan Dewan Direksi Bank. Perantara ini disebut Leason Syariah yang tugas-tugasnya meliputi:77 a. Menyusun dan melaksanakan program jangka panjang dan jangka pendek sekretariat Dewan Pengawas Syariah. b. Memberikan informasi tentang mekanisme operasional bank Islam dan prinsip syariah kepada pihak luar dengan persetujuan Dewan Direksi dan atau Dewan Pengawas Syariah. c. Mengenai jalannya aktifitas bank Islam dan mengajukan ke Dewan Pengawas Syariah apabila Bank Islam terbukti melakukan suatu pelanggaran. d. Menyusun dan melaksanakan paket atau modul-modul tertentu untuk meningkatkan intelektualitas dan komitmen keislaman segenap jajaran dan segmen bank Islam. e. Memberi kejelasan syariah kepada segenap jajaran internal bank. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan tambahan modal kerja untuk membiayai suatu usaha produktif, halal dan menguntungkan perlu disediakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan sesuai dengan prinsip syariah. Pemberian pembiayaan untuk tujuan modal kerja dapat diberikan dengan prinsip mudharabah dan musyawarah. Maka beberapa ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan sehubungan dengan penerapan prinsip syariah tersebut adalah:78 1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan (lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1992 nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3471 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor 182, tambahan Lembaran Negara Nomor 3790); 77 Ibid, hal. 4. 78 Dasar hukum penerapan sistem pembagian hasil berdasarkan prinsip syariah pada PT. Bank Sumut Syariah Cabang Lubuk Pakam berdasarkan Surat Keputusan Direksi PT. Bank Sumut Nomor 120/DIR/DUSY-PDJS/SK/2009 tentang Pembiayaan Modal Kerja. Universitas Sumatera Utara 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Tanggal 16 Juli 2008 Tentang Perbankan Syariah; 3. Akta notaris Alina Hanum SH Nomor 38 Tanggal 16 April 1999 tentang pendirian PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara dengan di singkat PT. Bank SUMUT yang telah mendapat pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor C-8224 HT.01.01.TH 99 tanggal 05 Mei 1999 dan diumumkan dalam tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 tanggal 06 Juli 1999 dan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir diubah dengan Akta Nomor 39 tanggal 10 Juni 2008 yang dibuat dihadapan H.Marwansyah Nasution, SH Notaris di Medan yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-87927.AH.01.02 tahun 2008 tanggal 20 November 2008 dan diumumkan dalam tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 10 tanggal 03 Februari 2009; 4. Surat keputusan Dewan Komisaris PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Nomor 65/DK-BPDSU/SK/2004 tanggal 3 November 2004 tentang tata tertib dan tata cara menjalankan Pekerjaan Direksi PT. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara; 5. Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tantang kegiatan usaha Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah oleh Bank Umum Konvensional sebagaimana telah diubah peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/7/PBI/2007 tanggal 04 Mei 2007; 6. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 9/19/PBI/2007 tanggal 17 Desember 2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah dalam kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana serta pelayanan jasa Bank Syariah sebagaimana diubah peraturan Bank Indonesia Nomor 10/16/PBI/2008 tanggal 25 September 2008; 7. Surat edaran Bank Indonesia Nomor 10/14/DPBS tanggal 17 Maret 2008 perihal pelaksanaan dan penyaluran dana serta pelayanan Jasa Bank Syariah; 8. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/46/PBI/2005 tanggal 14 November 2005 tentang Akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah; 9. Surat Keputusan Direksi PT. Bank SUMUT Nomor 057/DIR/DUSYPDJS/SK/2009 tanggal 12 Mei 2009 tentang Penyempurnaan Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana pada PT. Bank SUMUT Unit Usaha Syariah; 10. Fatwa dewan Syariah Nasional Nomor 07/DSN-MUI/IV/2000 tanggal 29 Dzulhijjah 1420 H/04 April 2000 tentang Pembiayaan Mudharabbah (qiradh); Surat keputusan tersebut mulai berlaku sejak tanggal 24 Agustus 2009 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan atau ketidasesuaian di dalamnya Universitas Sumatera Utara maka akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Hal ini dilakukan untuk menyelaraskan perkembangan keadaan dengan kondisi hukum atau peraturan perundang-undangan terkait agar dapat tercapai kepastian hukum sehubungan dengan penerapan prinsip-prinsip syariah pada sistem perbankan saat ini. C. Pelaksanaan Bagi Hasil Pada Bank Sumut Syariah Cabang Lubuk Pakam 1. Beberapa Istilah Syariah yang Diterapkan Dalam pengertian bagi hasil pada bank syariah cabang lubuk pakam, menggunakan beberapa istilah pembiayaan yaitu pembiayaan yang dikenal dengan Mudharabah dan Musyarakah yaitu: a. Mudharabah. Penanaman dana dari pemilik dana (dinamakan shahibul maal) kepada pengelola dana (mudharib) untuk melaksanakan kegiatan usaha tertentu dengan pembagian keuntungan atau bagi hasil dengan menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit and loss sharing) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing) antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Adalah perjanjian nasabah dengan pengusaha (bank). Dimana setiap keuntungan yang diraih akan dibagi menurut rasio tertentu yang disepakati. Resiko kerugian ditanggung penuh pihak bank kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan pengelolaan, kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan. b. Musyarakah. Universitas Sumatera Utara Penanaman dana dari pemilik dana/modal untuk mencampurkan dana/modal kerja pada suatu usaha tertentu, dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua pemilik dana/modal berdasarkan bagian dana/modal masingmasing. Musyarakah disebut juga dengan joint venture konsep model partnership. Keuntungan yang diraih akan dibagi dalam rasio yang disepakati sementara kerugian akan dibagi berdasarkan rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak. Bagi hasil yang dikenal dalam pembiayaan bank syariah cabang lubuk pakam yaitu pembagian keuntungan atas usaha yang dilakukan nasabah dengan pihak bank berdasarkan syariah (hukum) Islam. Dalam sistem syariah Islam ini, mengenal nisbah yaitu perandingan bagi hasil antara bank dan nasabah dalam persentase yang harus ditetapkan dalam akad (perjanjian) atau akad pembiayaan. Akad pembiayaan dimaksud adalah perjanjian tertulis yang memuat ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan) antara bank dan nasabah yang berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak sesuai dengan psinsip syariah, setelah syaratsyarat yang ditetapkan dalam Surat Persetujuan Prinsip Pemberian Pembiayaan (SP4) dan seluruh aspek yuridis yang berkaitan dengan pembiayaan telah dipenuhi pemohon. 2. Penetapan Ekspektasi atau Proyeksi Bagi Hasil Tingkat minimal ekspektasi/proyeksi bagi hasil berpedoman kepada ketentuan yang berlaku dalam Surat Edaran Direksi tersendiri. Kantor cabang Universitas Sumatera Utara dapat menetapkan tingkat ekspektasi/proyeksi bagi hasil kepada nasabah di atas ketentuan minimal, dengan pertimbangan misalnya: a. Keuntungan usaha yang akan diperoleh dukup besar; dan b. Jarak lokasi usaha yang cukup jauh sehingga membutuhkan waktu dan biaya monitoring/pengawasan yang cukup besar. Perhitungan ekspektasi/proyeksi bagi hasil menggunakan sistem perhitungan efektif artinya ekspektasi bagi hasil dihitung berdasakan baki debet;. Untuk pembiayaan yang pembayaran pokok dan pembagian hasil dapat langsung dihitung secara komputerisasi dalam rumus perhitungan annuitas (menurun). 3. Nisbah Bagi Hasil Hal-hal yang harus diperhatikan oleh bank dalam menentukan porsi bagi hasil keuntungan adalah: 1) Keuntungan yang diperoleh merupakan hasil dari pengelolaan dana pembiayaan yang diberikan; 2) Besar pembagian keuntungan dinyatakan dalam bentuk persentase nisbah yang disepakati; 3) Nasabah harus membayarkan bagian keuntungan yang menjadi hak bank sesuai dengan jadwal yang disepakati; 4) Pelaksanaan bagi hasil dan besarnya kewajiban pembagian keuntungan ditetapkan berdasarkan laporan dari hambatan ataupun halangan baik dalam mencari data ataupun dalam penyelesaian penulisannya. Di samping itu, juga banyak mendapat saran, bimbingan, dan pengarahan baik yang bersifat moril maupun materil, serta dorongan dan semangat dari berbagai pihak yang sangat bermanfaat. Dalam kesempatan ini tak lupa dihaturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materil dan terutama dihaturkan rasa terima kasih yang sebesar – sebesarnya kepada : 1. Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya yang telah diberikan-Nya. 3    Universitas Sumatera Utara 2. Kedua orang tua Penulis, ASRUL dan IDA MURNI NASUTION yang telah banyak mencurahkan cinta dan kasih sayangnya buat Penulis, yang memberikan bantuan tak terhingga nilainya, sehingga Penulis dapat melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi sampai selesai. (teladan, semangatmu, harapanmu, kebangganmu dan do’amu membuatku mampu menyelesaikan studyku). Thank yau very much, I love you. 3. Bapak Prof. RUNTUNG SITEPU, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Prof. Dr. BISMAR NASUTION, SH. MH selaku kepala bagian Hukum Ekonomi, Guru besar dan Dosen Hukum Ekonomi, serta Pembimbing I. Terima kasih yang sebesar – besarnya atas segala bantuan serta dukungannya yang sangat berguna dan bermanfaat bagi Penulis. 5. Ibu Prof. Dr. SUNARMI, SH.M.Hum selaku Pembimbing II dan Dosen Hukum Ekonomi. Terima kasih yang sebesar – besarnya atas segala bantuan serta dukungan atas segala bantuan serta dukungan yang sangat berguna dan bermanfaat bagi Penulis. 6. Ibu CHAIRUL BARIAH, SH.M.Hum selaku Dosen Wali selama mengikuti perkuliahan dari awal hingga akhir perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 7. Seluruh Dosen dan Staf pengajar yang telah mendidik dan membimbing mulai dari semester awal hingga Penulis menyelesaiakan perkuliahan di kampus tercinta ini. 4    Universitas Sumatera Utara 8. Seluruh Guru – guru Penulis mulai dari MIN (MIN MEDAN SUNGGAL), MTs (MTs NEGERI 3 MEDAN) dan SMA (SMA NEGERI 15 MEDAN), yang telah banyak mendidik, dan membimbing Penulis. 9. Buat adik – adikku tersayang, Ilvana Wanda, Melva Wanda, Muhammad Alexander Agung, dan Anwar Siregar yang senantiasa selalu membuat Penulis tertawa dan bersemangat (terima kasih untuk support n kebersamaannya ya sayang.). 10. Tak lupa buat opungku, AMILLAH LUBIS dan SAMPERIA NASUTION atas segala doanya, semoga kalian dilimpahkan kesehatan selalu oleh Allah SWT. Dan buat semua keluarga besar Penulis yang tidak bisa Penulis sebutkan satu – persatu terima kasih atas doa, dukungan dan semangat yang diberikan buat Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan study di Perguruan Tinggi. 11. Teman – teman terbaikku di SD, SLTP dan di SMA. Saida, Putra. Olive, Sekar, Sari, Mevid, Hadi, dan yang lainnya yang tak bisa disebutkan satu – persatu oleh Penulis. Terima kasih buat semangat dan dukungannya. 12. Buat sahabatku, Ayank Keke n Ayank Ela yang selalu dan tak henti – hentinya memberikan dukungan dan semangat kepada Penulis, terima kasih buat semuanya yank (I miss u honey). Buat Alwan H. Dalimunthe,SH, Daud H. Lubis, Anggi P. Harahap, M. Zeini n M. Firnanda (yang selalu iseng pinjam baterai hp Penulis) makasih buat support n kebersamaannya selama ini. 5    Universitas Sumatera Utara 13. Buat Ayank N.S Dewi Marpaung n Ahmad Parlindungan makasih udah ngasi pinjaman laptopnya, buat Rizky Kurnia yang selalu senantiasa bantuin Penulis dengan masalah komputernya. Nisa Lokita, Sudirman Naibaho makasih semangatnya. 14. Buat teman – teman, Ani, Fira, Riri, Octris, Jesika, Tiwi, Icha, Meci,Uun, Rizka,dan yang lainnya makasih buat semangat dan kebersamaannya selama kita kuliah. 15. Buat adik – adik stambuk 07, 08, 09, n 10 yang tak dapat Penulis sebutkan satu persatu makasih buat semuanya ya dek, dan tak lupa untuk keluarga besar Pengurus HmI Komisariat Fakultas Hukum USU selama berproses di kampus tercinta, terima kasih banyak atas kesempatan berproses bersama – sama dengan teman – teman yang diberikan kepada Penulis. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membaca dan Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan dan begitu banyak kekurangannya. Untuk itu, sangat mengaharapkan saran dan kritiknya yang membangun dari semua pihak demi perbaikan dan kesempurnaan tulisan ini. Semoga ALLAH SWT melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua dan membalas segala kebaikan dan jasa semua pihak yang telah membantu secara ikhlas, dan semoga mendapat balasan yang setimpal. Amin . Medan, 09 Desember 2010 Penulis NINA WANDA 6    Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI. v ABSTRAK . vii BAB I PENDAHULUAN BAB II A. Latar Belakang Masalah 1 B. Perumusan Masalah . 7 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan. 7 D. Keaslian Penulisan. 8 E. Tinjauan Kepustakaan. 8 F. Metode Penelitian. 14 G. Sistematika .   16  PENGATURAN OBLIGASI SYARIAH DI INONESIA A. Sejarah Obligasi Syariah . . 18 B. Pengertian Obligasi Syariah . . 23 C. Jenis dan Peringkat Obligasi . . 27 D. Pengaturan Obligasi Syariah . 31 BAB III BENTUK – BENTUK PELAKSANAAN PERJANJIAN (AKAD) DALAM MEKANISME INVESTASI OBLIGASI SYARIAH A. Para Pihak dalam Obligasi Syariah . 59 7    Universitas Sumatera Utara B. Hak dan Kewajiban Para Pihak dalam Obligasi Syariah. 65 C. Penerapan Prinsip Syariah dalam Pengelolaan Obligasi Syariah . 67 D. Bentuk Pelaksanaan Perjanjian (Akad) dalam Mekanisme Investasi Obligasi Syariah . 71 BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DALAM INVESTASI MELALUI OBLIGASI SYARIAH A. Perlindungan Hukum Terhadap Investor dalam Investasi Melalui Obligasi Syariah . 84 B. Peran Dewan Pengawas Syariah . . 92 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN i. Kesimpulan . 96 ii. Saran . DAFTAR PUSTAKA . 100 LAMPIRAN 8    Universitas Sumatera Utara ASPEK HUKUM OBLIGASI SYARIAH SEBAGAI INSTRUMENT PASAR MODAL SYARIAH BISMAR NASUTION*1 SUNARMI** NINA WANDA*** ABSTRAK Eksistensi obligasi syariah sebagai salah satu istrument dalam pasar modal syariah memiliki karakteristik yang berbeda obligasi konvensional. Dalam melakukan pengelolaan investasi (reinvesment), maka pengelolaan obligasi syariah harus berpedoman terhadap prinsip-prinsip syariah. Obligasi syariah yang juga dikenal dengan sukuk merupakan efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan memiliki bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas kepemilikan aset berwujud tertentu, nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu.skripsi ini mengemukakan permasalahan bagaiman pengaturan obligasi syariah di Indonesia, dan bagaimana bentuk-bentuk pelaksanaan perjanjian (akad) dalam mekanisme investasi melalui obligasi syariah serta bagaimana perlindungan hukum terhadap investor dalam investasi melali obligasi syariah. Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian normatif dengan pengumpulan data secara pustaka (library research) disertai dengan mengumpulkan data dan membaca referensi melalui peraturan, internet dan sumber lainnya, kemudian diseleksi data-data yang layak untuk mendukung penulisan. Kesimpulan dalam skripsi ini adalah bahwa obligasi syariah adalah obligasi yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip syariah Islam. . obligasi syariah sebagai instrumen investasi yang tunduk terhadap peraturan perundang – undangan di bidang pasar modal, harus menerapkan prinsip keterbukaan guna memberikan perlindungan terhadap investor dan obligasi syariah juga dilarang untuk melakukan praktek insider trading serta reksadana syariah juga harus terbebas dari kegiatan usaha yang bertentangan dengan syariah Islam. Adapun saran yang dapat dikemukakan adalah bahwa pemerintah harus mengupayakan sesegera mungkin merealisasi Undang – Undang tentang Pasar Moda Syariah yang dibuat secara efektif dan efisien serta terperinci, termasuk didalamnya pelaksanaan opersional obligasi syariah, sehingga adanya jaminan kepastian hukum mengenai masalah perlindungan investor dalam melakukan investasi melalui obligasi syariah. Kata kunci : obligasi syariah, investasi, pasar modal syariah.                                                             *Dosen Pembimbing I  ** Dosen Pembimbing II  ***Mahasiswa Fakultas Hukum Sumatera Utara  9    Universitas Sumatera Utara
Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Aspek Hukum Jaminan Dalam Perbankan Syariah

Gratis