Analisis kelayakan investasi pengusahaan tapioka (studi kasus pengrajin tapioka uhan di desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor)

Gratis

0
14
117
2 years ago
Preview
Full text
ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) NOVIYANTI A07400129 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) Oleh: NOVIYANTI A07400129 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 RINGKASAN NOVIYANTI. Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor). Di bawah Bimbingan RITA NURMALINA. Lemahnya posisi petani ubi kayu dalam menghadapi pengaruh fluktuasi harga, terutama karena ubi kayu memiliki daya simpan yang rendah, dan produktifitasnya juga rendah akibat modal usaha yang sangat terbatas. Seiring terjadinya perubahan harga ubi kayu yang cukup tinggi dengan peningkatan nilai tambah dan industri pengolahan ubi kayu, maka prospek pengembangan industri menjadi hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Jenis idustri pengolahan ubi kayu melibatkan petani secara langsung dalam kegiatan pengelolaannya dan diharapkan peningkatan nilai tambah yang dihasilkan dapat didistribusikan langsung kepada petani. Tapioka adalah hasil pengolahan pertama dari ubi kayu basah yang berbentuk tepung dan dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti industri makanan, industri kimia dan industri tekstil. Ketergantungan usaha terhadap lingkungan eksternal seperti lingkungan, cuaca dan iklim, produk ini juga perishable dan voluminious. Hal ini mengakibatkan usaha ini memiliki resiko yang besar, sehingga keputusan investasi dalam usaha ini harus dibuat dengan benar-benar tepat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji keragaan sistem usaha tapioka serta menganalisis kelayakan investasi usaha tapioka dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi, dan aspek keuangan. Penelitian dilakukan pada perusahaan pengrajin tapioka milik Bapak Uhan Burhanudin di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan November sampai Desember 2006. Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Aspek pasar menunjukkan bahwa peluang pasar untuk tapioka masih terbuka lebar meskipun beberapa kendala yang sangat mempengaruhi pemasarannya. Salah satu kendala pemasaran tapioka terletak pada minimnya informasi yang diperoleh pengusaha mengenai harga dan jumlah permintaan pasar. Disamping itu, kualitas tapioka juga ditentukan oleh mutu bahan baku yang terkadang tidak selalu baik. Banyak petani yang menerapkan pola panen yang tidak optimal dengan memanen ubi kayu yang belum berumur 7 bulan. Analisis aspek teknis menunjukkan bahwa perusahaan telah memenuhi persyaratan teknis yang dibutuhkan. Mulai dari pemilihan lokasi usaha yang tidak jauh dari daerah pemasarannya, penyediaan bahan baku, teknik pengolahan yang sederhana didukung dengan fasilitas dan peralatan produksi yang memadai serta keuletan tenaga kerjanya. Kegiatan manajemen perusahaan sudah ditetapkan dengan baik dan sesuai kebutuhan. Dari sudut aspek sosial ekonomi, banyak pihak yang memperoleh manfaat dari usaha tapioka ini. Selain kenaikan pendapatan, usaha ini juga mampu menyerap tenaga kerja yang diperoleh dari masyarakat sekitar sehingga secara tidak langsung mengurangi jumlah pengangguran. Analisis aspek finansial usaha ini dilakukan dengan dua skenario berdasarkan dari bahan baku yang digunakan, yaitu Skenario 1 (pengolahan tapioka dengan bahan baku ubi kayu belum dikupas) dan Skenario 2 (pengolahan tapioka denga bahan baku ubi kayu sudah dikupas). Adapun yang termasuk dalam analisis kriteria investasi yaitu meliputi NPV ( Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C (Net Benefit Cost Ratio), dan Discounted Payback Period. Hasil perhitungan kriteria kelayakan investasi menunjukkan bahwa Skenario1 dan Skenario 2 layak untuk dilaksanakan, karena kedua skenario tersebut menunjukkan NPV yang positif, Net B/C yang lebih besar dari satu, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat diskonto yang diisyaratkan (10 %), dan Payback Period yang lebih kecil dibanding umur proyek. Jika dibandingkan, Skenario 1 menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada Skenario 2. Analisis sensitivitas dilakukan pada penurunan harga output dan kenaikan biaya operasional sebesar 7 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha pengolahan tapioka Skenario 1 masih layak untuk dijalankan, sedangkan Skenario 2 tidak layak untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari nilai NPV yang lebih kecil dari nol, nilai IRR lebih kecil dari tingkat diskonto yang berlaku, dan Net B/C bernilai lebih kecil dari satu. Akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyimpan modalnya di bank. Berdasarkan hasil analisis switching value, usaha tapioka pada Skenario 1 masih layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga output, namun penurunannya tidak lebih dari 11,09 persen. Kelayakan usaha tapioka Skenario 1 ini juga dapat tercapai jika kenaikan biaya operasional tidak lebih dari 13,28 persen. Usaha tapioka pada Skenario 2 masih layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga output, namun penurunannya tidak lebih dari 0,84 persen. Kelayakan usaha tapioka Skenario 2 ini juga dapat tercapai jika kenaikan biaya operasional tidak lebih dari 1,29 persen. Judul : Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) Nama : Noviyanti NRP : A07400129 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. NIP. 131 685 542 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP. 131 124 019 Tanggal Kelulusan:................................................. PERNYATAAN DENGAN INI MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL: ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (STUDI KASUS PENGRAJIN TAPIOKA UHAN DI DESA CIPAMBUAN, KECAMATAN BABAKAN MADANG, KABUPATEN BOGOR) ADALAH BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN DALAM BENTUK APAPUN KEPADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA PENELITIAN MANAPUN. BOGOR, FEBRUARI 2008 NOVIYANTI A07400129 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tangerang, pada tanggal 22 November 1981, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, puteri dari Bapak Hamdani dan Ibu Sri Suliyanti. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sartika pada tahun 1988. kemudian pada tahun 1994 penulis menamatkan pendidikan di SDN Karawaci III Tangerang. Pendidikan menengah pertama penulis selesaikan pada tahun 1997 di SLTP Negeri 9 Tangerang, yang kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMU Negeri 1 Tangerang pada tahun 2000. pada tahun yang samapenulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Selama menjadi mahasiswa penulis menetap di Asrama Putri Darmaga, dimana pada tahun 2002-2003 penulis menjabat sebagai ketua asrama. Selain itu, semenjak tahun 2006-2008 penulis juga ikut aktif berpartisipasi dalam Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari). Moto hidup penulis adalah “Serius, Santai dan Sukses”. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas segala karunia dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Selama proses persiapan dan pelaksanaan penelitian serta penyusunan skripsi banyak pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan demi kelancaran semua kegiatan tersebut. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Ibu Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan banyak pelajaran dalam penyusunan skripsi ini. 2. Ibu Tanti Novianty, SP, Msi selaku dosen penguji utama. 3. Ibu Anita Primaswari W, SP, Msi selaku dosen penguji dari komisi pendidikan. 4. Orang tua penulis Drs. Hamdani (Alm) dan Sri Suliyanti serta Sutomo, Mba Yuli, Kak Dodi, Oka, Sandra dan Dian atas semua doa, dukungan, pengorbanan, perhatian, kasih sayang dan pengertiannya. 5. Seluruh keluarga besar M. Tohir Sunarto (Alm) dan M. Ali Anzib atas doa dan dukungannya. 6. Bapak Uhan Burhanudin dan keluarga selaku pemilik usaha atas semua kerjasamanya di lokasi penelitian. 7. Rekan-rekan di Yayasan Tunas Tani Mandiri: Pak David, Pak Wahono, Pak Hery, Pak Hermanu, Pak Widodo, Pak Dindin, Pak Witoro, Pak Beny, Mas Ayip, Mas Wawan, Mas Agus, Mas Ucup, Deni, Mba Yuni dan Sri atas semua dukungan dan motivasinya. 8. Penghuni Istana Mungil tercinta Asrama Putri Darmaga (APD), yaitu: angkatan Komoceng, angkatan Bolly, angkatan Tulalit, angkatan Letoy, angkatan Mituti, angkatan Salis, angkatan Tepar, angkatan Lemot, angkatan Ngeyel, angkatan Pelor, angkatan Lambret, dan angkatan Mentok. Terima kasih atas semua dukungan, pelajaran, pengalaman, pengertian dalam masa-masa kebersamaan yang indah. 9. Teman-teman AGB angkatan 37, terutama Cici, Unul, Nui dan Neno serta Mahasiswa “Kadal” atas segala doa, dorongan dan kebersamaannya. 10. Teman-teman AGB angkatan 38 terutama Susan atas bantuannya dalam mengolah data. 11. Teman satu atap di Bafak: Cici, Eneng, Intan, dan Tasa. Semoga tercapai semua cita-citanya. 12. Teman-teman di SLTP N 9 Tangerang terutama Ari dan Euis yang tetap setia menemani di kala suka dan duka. 13. Teman-teman di SMU N 1 Tangerang terutama Rien, Cicit, Bev, Sandy, Riri dan Reni atas dukungan dan persahabatan yang tetap terjalin. 14. Teh Ida Komdik, Mba Dian dan mba Dewi PS Agb, serta Mba Dian PAP Faperta atas bantuannya dalam administrasi. 15. Semua pihak yang telah membantu selama penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) NOVIYANTI A07400129 PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) Oleh: NOVIYANTI A07400129 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 RINGKASAN NOVIYANTI. Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor). Di bawah Bimbingan RITA NURMALINA. Lemahnya posisi petani ubi kayu dalam menghadapi pengaruh fluktuasi harga, terutama karena ubi kayu memiliki daya simpan yang rendah, dan produktifitasnya juga rendah akibat modal usaha yang sangat terbatas. Seiring terjadinya perubahan harga ubi kayu yang cukup tinggi dengan peningkatan nilai tambah dan industri pengolahan ubi kayu, maka prospek pengembangan industri menjadi hal yang sangat penting untuk dikembangkan. Jenis idustri pengolahan ubi kayu melibatkan petani secara langsung dalam kegiatan pengelolaannya dan diharapkan peningkatan nilai tambah yang dihasilkan dapat didistribusikan langsung kepada petani. Tapioka adalah hasil pengolahan pertama dari ubi kayu basah yang berbentuk tepung dan dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti industri makanan, industri kimia dan industri tekstil. Ketergantungan usaha terhadap lingkungan eksternal seperti lingkungan, cuaca dan iklim, produk ini juga perishable dan voluminious. Hal ini mengakibatkan usaha ini memiliki resiko yang besar, sehingga keputusan investasi dalam usaha ini harus dibuat dengan benar-benar tepat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji keragaan sistem usaha tapioka serta menganalisis kelayakan investasi usaha tapioka dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum, aspek manajemen, aspek sosial ekonomi, dan aspek keuangan. Penelitian dilakukan pada perusahaan pengrajin tapioka milik Bapak Uhan Burhanudin di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan November sampai Desember 2006. Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Aspek pasar menunjukkan bahwa peluang pasar untuk tapioka masih terbuka lebar meskipun beberapa kendala yang sangat mempengaruhi pemasarannya. Salah satu kendala pemasaran tapioka terletak pada minimnya informasi yang diperoleh pengusaha mengenai harga dan jumlah permintaan pasar. Disamping itu, kualitas tapioka juga ditentukan oleh mutu bahan baku yang terkadang tidak selalu baik. Banyak petani yang menerapkan pola panen yang tidak optimal dengan memanen ubi kayu yang belum berumur 7 bulan. Analisis aspek teknis menunjukkan bahwa perusahaan telah memenuhi persyaratan teknis yang dibutuhkan. Mulai dari pemilihan lokasi usaha yang tidak jauh dari daerah pemasarannya, penyediaan bahan baku, teknik pengolahan yang sederhana didukung dengan fasilitas dan peralatan produksi yang memadai serta keuletan tenaga kerjanya. Kegiatan manajemen perusahaan sudah ditetapkan dengan baik dan sesuai kebutuhan. Dari sudut aspek sosial ekonomi, banyak pihak yang memperoleh manfaat dari usaha tapioka ini. Selain kenaikan pendapatan, usaha ini juga mampu menyerap tenaga kerja yang diperoleh dari masyarakat sekitar sehingga secara tidak langsung mengurangi jumlah pengangguran. Analisis aspek finansial usaha ini dilakukan dengan dua skenario berdasarkan dari bahan baku yang digunakan, yaitu Skenario 1 (pengolahan tapioka dengan bahan baku ubi kayu belum dikupas) dan Skenario 2 (pengolahan tapioka denga bahan baku ubi kayu sudah dikupas). Adapun yang termasuk dalam analisis kriteria investasi yaitu meliputi NPV ( Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), Net B/C (Net Benefit Cost Ratio), dan Discounted Payback Period. Hasil perhitungan kriteria kelayakan investasi menunjukkan bahwa Skenario1 dan Skenario 2 layak untuk dilaksanakan, karena kedua skenario tersebut menunjukkan NPV yang positif, Net B/C yang lebih besar dari satu, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat diskonto yang diisyaratkan (10 %), dan Payback Period yang lebih kecil dibanding umur proyek. Jika dibandingkan, Skenario 1 menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada Skenario 2. Analisis sensitivitas dilakukan pada penurunan harga output dan kenaikan biaya operasional sebesar 7 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha pengolahan tapioka Skenario 1 masih layak untuk dijalankan, sedangkan Skenario 2 tidak layak untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari nilai NPV yang lebih kecil dari nol, nilai IRR lebih kecil dari tingkat diskonto yang berlaku, dan Net B/C bernilai lebih kecil dari satu. Akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyimpan modalnya di bank. Berdasarkan hasil analisis switching value, usaha tapioka pada Skenario 1 masih layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga output, namun penurunannya tidak lebih dari 11,09 persen. Kelayakan usaha tapioka Skenario 1 ini juga dapat tercapai jika kenaikan biaya operasional tidak lebih dari 13,28 persen. Usaha tapioka pada Skenario 2 masih layak untuk dijalankan walaupun terjadi penurunan harga output, namun penurunannya tidak lebih dari 0,84 persen. Kelayakan usaha tapioka Skenario 2 ini juga dapat tercapai jika kenaikan biaya operasional tidak lebih dari 1,29 persen. Judul : Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor) Nama : Noviyanti NRP : A07400129 Menyetujui, Dosen Pembimbing Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. NIP. 131 685 542 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP. 131 124 019 Tanggal Kelulusan:................................................. PERNYATAAN DENGAN INI MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL: ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENGUSAHAAN TAPIOKA (STUDI KASUS PENGRAJIN TAPIOKA UHAN DI DESA CIPAMBUAN, KECAMATAN BABAKAN MADANG, KABUPATEN BOGOR) ADALAH BENAR-BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN DALAM BENTUK APAPUN KEPADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA PENELITIAN MANAPUN. BOGOR, FEBRUARI 2008 NOVIYANTI A07400129 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tangerang, pada tanggal 22 November 1981, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, puteri dari Bapak Hamdani dan Ibu Sri Suliyanti. Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sartika pada tahun 1988. kemudian pada tahun 1994 penulis menamatkan pendidikan di SDN Karawaci III Tangerang. Pendidikan menengah pertama penulis selesaikan pada tahun 1997 di SLTP Negeri 9 Tangerang, yang kemudian dilanjutkan dengan menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMU Negeri 1 Tangerang pada tahun 2000. pada tahun yang samapenulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Agribisnis, Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Selama menjadi mahasiswa penulis menetap di Asrama Putri Darmaga, dimana pada tahun 2002-2003 penulis menjabat sebagai ketua asrama. Selain itu, semenjak tahun 2006-2008 penulis juga ikut aktif berpartisipasi dalam Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari). Moto hidup penulis adalah “Serius, Santai dan Sukses”. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas segala karunia dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Selama proses persiapan dan pelaksanaan penelitian serta penyusunan skripsi banyak pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan demi kelancaran semua kegiatan tersebut. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Ibu Dr. Ir. Rita Nurmalina, MS. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, motivasi dan banyak pelajaran dalam penyusunan skripsi ini. 2. Ibu Tanti Novianty, SP, Msi selaku dosen penguji utama. 3. Ibu Anita Primaswari W, SP, Msi selaku dosen penguji dari komisi pendidikan. 4. Orang tua penulis Drs. Hamdani (Alm) dan Sri Suliyanti serta Sutomo, Mba Yuli, Kak Dodi, Oka, Sandra dan Dian atas semua doa, dukungan, pengorbanan, perhatian, kasih sayang dan pengertiannya. 5. Seluruh keluarga besar M. Tohir Sunarto (Alm) dan M. Ali Anzib atas doa dan dukungannya. 6. Bapak Uhan Burhanudin dan keluarga selaku pemilik usaha atas semua kerjasamanya di lokasi penelitian. 7. Rekan-rekan di Yayasan Tunas Tani Mandiri: Pak David, Pak Wahono, Pak Hery, Pak Hermanu, Pak Widodo, Pak Dindin, Pak Witoro, Pak Beny, Mas Ayip, Mas Wawan, Mas Agus, Mas Ucup, Deni, Mba Yuni dan Sri atas semua dukungan dan motivasinya. 8. Penghuni Istana Mungil tercinta Asrama Putri Darmaga (APD), yaitu: angkatan Komoceng, angkatan Bolly, angkatan Tulalit, angkatan Letoy, angkatan Mituti, angkatan Salis, angkatan Tepar, angkatan Lemot, angkatan Ngeyel, angkatan Pelor, angkatan Lambret, dan angkatan Mentok. Terima kasih atas semua dukungan, pelajaran, pengalaman, pengertian dalam masa-masa kebersamaan yang indah. 9. Teman-teman AGB angkatan 37, terutama Cici, Unul, Nui dan Neno serta Mahasiswa “Kadal” atas segala doa, dorongan dan kebersamaannya. 10. Teman-teman AGB angkatan 38 terutama Susan atas bantuannya dalam mengolah data. 11. Teman satu atap di Bafak: Cici, Eneng, Intan, dan Tasa. Semoga tercapai semua cita-citanya. 12. Teman-teman di SLTP N 9 Tangerang terutama Ari dan Euis yang tetap setia menemani di kala suka dan duka. 13. Teman-teman di SMU N 1 Tangerang terutama Rien, Cicit, Bev, Sandy, Riri dan Reni atas dukungan dan persahabatan yang tetap terjalin. 14. Teh Ida Komdik, Mba Dian dan mba Dewi PS Agb, serta Mba Dian PAP Faperta atas bantuannya dalam administrasi. 15. Semua pihak yang telah membantu selama penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan pada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Kelayakan Investasi Pengusahaan Tapioka (Studi Kasus Pengrajin Tapioka Uhan di Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor)”. Shalawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabatnya. Penelitian ini telah memberikan banyak pengetahuan, wawasan dan pengalaman penulis terhadap bentuk dan upaya serta problema dalam pengusahaan tapioka. Penulis berharap apa yang telah dihasilkan ini dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap penelitian dan upaya pengusahaan tapioka. Akhir kata penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah memungkinkan diselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini berguna bagi yang membacanya. Bogor, Februari 2008 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI......................................................................................................... iv DAFTAR TABEL................................................................................................. vii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... x I. II. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang .................................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah ............................................................................ 4 1.3. Tujuan Penilitian................................................................................. 6 1.4. Kegunaan Penelitian ........................................................................... 7 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Bahan Baku Komoditas......................................... 8 2.2. Pengolahan Tepung Tapioka............................................................... 10 2.3. Penelitian Terdahulu ........................................................................... 12 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis .............................................................. 15 3.1.1. Definisi Proyek ........................................................................ 3.1.2. Identifikasi Biaya dan Manfaat................................................. 3.1.3. Studi Kelayakan Investasi......................................................... 3.1.4. Aspek-aspek dalam Analisis Sudi Kelayakan Proyek .............. 3.1.5. Analisis Sensitivitas dan Switching Value ................................ 15 15 15 16 19 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ....................................................... 20 IV. METODE PENELITIAN V. 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................................. 22 4.2. Jenis dan Sumber Data ....................................................................... 22 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data ............................................... 22 4.3.1. Analisis Kelayakan Finansial.................................................... 4.3.2. Analisis Sensitivitas dan Switching Value ................................ 23 25 4.5. Definisi Operasional ........................................................................... 26 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Geografis dan Pemerintahan ............................................................... 27 5.2. Kependudukan .................................................................................... 28 5.3. Lokasi, Sejarah dan Visi Perusahaan .................................................. 30 VI. ANALISIS ASPEK PASAR 6.1. Potensi Pasar Luar dan Dalam Negeri ................................................ 31 6.2. Persaingan dan Peluang Pasar............................................................. 33 6.3. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) ................................................... 34 6.4. Hasil Keputusan Analisis Pasar .......................................................... 37 VII. ANALISIS ASPEK TEKNIS 7.1. Lokasi dan Layout Perusahaan............................................................ 38 7.2. Fasilitas Produksi dan Peralatan ......................................................... 38 7.3. Bahan Baku......................................................................................... 39 7.4. Tenaga Kerja....................................................................................... 41 7.5. Proses Produksi................................................................................... 42 7.6. Hasil Keputusan Analisis Aspek Teknis............................................. 46 VIII. ANALISIS ASPEK MANAJEMEN, DAN SOSIAL EKONOMI IX. 8.1. Analisis Aspek Manajemen ................................................................ 47 8.1.1. Bentuk dan Struktur Organisasi. ............................................... 8.1.2. Sistem Pembagian Kerja ........................................................... 47 48 8.3. Analisis Aspek Sosial Ekonomi.......................................................... 48 8.3.1. Kondisi Sosial ........................................................................... 8.3.2. Dampak Lingkungan................................................................. 49 49 8.4. Hasil Keputusan Analisis Aspek Manajemen, dan Sosial Ekonomi... 50 ANALISIS ASPEK KEUANGAN 9.1. Arus Penerimaan................................................................................. 53 9.1.1. Penerimaan Penjualan............................................................... 9.1.2. Penerimaan Sampingan............................................................. 9.1.3. Nilai Sisa................................................................................... 53 54 55 9.2. Arus Biaya .......................................................................................... 55 9.2.1. Biaya Investasi .......................................................................... 9.2.2. Biaya Operasional..................................................................... 55 55 9.3. Analisis Rugi Laba.............................................................................. 56 9.4. Kriteria Kelayakan Investasi Usaha Pengolahan Tapioka .................. 57 9.4.1. Kriteria Kelayakan Investasi Skenario 1................................... 57 X. 9.4.2. Kriteria Kelayakan Investasi Skenario 2................................... 58 9.5. Analisis Sensitivitas dan Switching Value .......................................... 58 9.5.1. Analisis Sensitivitas ................................................................. 9.5.2. Switching Value........................................................................ 58 60 KESIMPULAN DAN SARAN 10.1. Kesimpulan ......................................................................................... 61 10.2. Saran ................................................................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 62 XII. LAMPIRAN ................................................................................................ 65 XI. DAFTAR TABEL Nomor 1. Halaman Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Ubi kayu di Indonesia, Tahun 2000-2007 ......................................................... 1 Harga Perdagangan Besar Beberapa Hasil Pertanian di Jakarta (rupiah per kuintal, 1999-2003........................................................... 2 3. Penggunaan Ubi kayu ........................................................................ 3 4. Perkembangan Produksi dan Konsumsi Ubi kayu di Indonesia, Tahun 1990-2005 ............................................................................... 4 Luas Lahan Kering Dirinci Menurut Jenis Penggunaannya di Kabupaten Bogor Tahun 2006 ....................................................... 5 6. Perbedaan Teknologi Pengolahan Tapioka........................................ 10 7. Pola Penggunaan Lahan di Desa Cipambuan Tahun 2004 ................ 27 8. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur Desa Cipambuan Tahun 2004 ..................................................................... 28 Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Desa Cipambuan Tahun 2004 ..................................................................... 29 Jumlah Rumah Tangga Menurut Jenis Pekerjaan Utama Desa Cipambuan Tahun 2004 ............................................................ 29 Perkembangan Ekspor Ubi Kayu (Cassava Tapioca) Dunia, Tahun 2000 – 2001 ............................................................................ 31 12. Neraca Pemakaian Makanan Berpati Dalam Negeri Tahun 2005 ..... 32 13. Ekspor Tapioka Indonesia Tahun 1999-2003 .................................... 32 14. Permintaan Tapioka Kabupaten Bogor Tahun 2006.......................... 33 15. Kualitas Tapioka ................................................................................ 35 16. Harga Jual Tapioka dan Onggok Berdasatkan Kualitas..................... 35 2. 5. 9. 10. 11. 17. Fasilitas dan Peralatan Produksi ........................................................ 39 18. Varietas Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku serta Potensi Hasil dan Sifat Penting Lainnya .................................................................. 40 Pembagian Jumlah Tenaga Kerja dalam Industri Tapioka di Desa Cipambuan Tahun 2005........................................................ 48 20. Penerimaan Penjualan Skenario 1...................................................... 53 21. Penerimaan Penjualan Skenario 2...................................................... 54 22. Penerimaan Sampingan Skenario 1.................................................... 54 23. Penerimaan Sampingan Skenario 2.................................................... 54 24. Rekapitulasi Biaya Investasi Usaha Tapioka ..................................... 55 25. Hasil Analisis Kriteria Investasi Skenario 1 ...................................... 58 26. Hasil Analisis Kriteria Investasi Skenario 2 ...................................... 58 27. Hasil Analisis Sensitivitas Usaha Tapioka Skenario 1 ...................... 59 28. Hasil Analisis Sensitivitas Usaha Tapioka Skenario 2 ...................... 60 29. Hasil Analisis Switching Value .......................................................... 60 19. DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Ubi Kayu ....................................................................................... 8 2. Proses Produksi Tapioka .............................................................. 12 3. Bagan Kerangka Pemikiran........................................................... 21 4. Pola Pemasaran Tapioka di Desa Cipambuan............................... 36 5. Jalur Umum Pengadaan Bahan Baku Tapioka di Desa Cipambuan 41 6. Pengupasan Kulit Ubi Kayu (Manual) .......................................... 42 7. Pencucian Ubi Kayu (Manual) ...................................................... 43 8. Pemarutan Ubi Kayu (Semi Mekanis) .......................................... 43 9. Ekstraksi Ubi Kayu (Semi Mekanis)............................................. 44 10. Pengendapan Pati Ubi Kayu.......................................................... 44 11. Penjemuran Tapioka...................................................................... 46 12. Penjemuran Onggok ...................................................................... 46 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Luas Panen, Produksi, dan Hasil per Hektar Tanaman Pangan, 1999-2003 ............................................................................. 66 2. Produksi Ubi kayu menurut Provinsi (ton), 1999-2003....................... 67 3. Data Runtun Luas Panen, Hasil per Hektar dan Produksi Ubi kayu di Indonesia Tahun 1995-2004............................................. 68 4. Harga Konsumen Pedesaan Ubi kayu (Rupiah per Kg) Tahun 2001-2003 ................................................................................. 69 5. Produksi Tanaman Ubi kayu (ton) di Kabupaten Bogor Tahun 2004-2006 ................................................................................. 70 6. Bagan Produk Olahan dan Hasil Akhir Ubi kayu................................ 71 7. Peraturan Pemerintah Tentang Pajak Pendapatan Badan Usaha dan Perseroan Tahun 2000............................................ 72 8. Peta Wilayah Kecamatan Babakan Madang ........................................ 72 9. Lay Out Tempat Pengolahan Tapioka ................................................. 73 10. Peralatan Produksi ............................................................................... 74 11. Alur Pembuatan Tapioka ..................................................................... 75 12. Kebutuhan Biaya Investasi .................................................................. 76 13. Biaya Operasional per Tahun Skenario 1 (Bahan Baku Ubi kayu Belum Dikupas) ............................................. 77 14. Biaya Operasional per Tahun Skenario 2 (Bahan baku Ubi kayu Sudah Dikupas)............................................... 77 15. Analisis Rugi Laba Skenario 1 ............................................................ 78 16. Analisis Rugi Laba Skenario 1 (penurunan harga output sebesar 7 persen) .................................................................................. 78 17. Analisis Rugi Laba Skenario 1 (peningkatan biaya opersional sebesar 7 persen) .................................................................................. 78 18 Analisis Rugi Laba Switching Value Skenario 1 (penurunan harga output sebesar 11,09 persen)...................................................... 79 19. Analisis Rugi Laba Switching value Skenario 1 (peningkatan biaya opersional sebesar 13,28 persen)................................................ 79 20. Analisis Rugi Laba Skenario 2 ............................................................ 80 21. Analisis Rugi Laba Skenario 2 (penurunan harga output sebesar 7 persen) .................................................................................. 80 22. Analisis Rugi Laba Skenario 2 (peningkatan biaya opersional sebesar 7 persen) .................................................................................. 80 23 Analisis Rugi Laba Switching Value Skenario 2 (penurunan harga output sebesar 2,13 persen)........................................................ 81 24. Analisis Rugi Laba Switching value Skenario 2 (peningkatan biaya opersional sebesar 2,07 persen).................................................. 81 25. Cash Flow Skenario 1 Usaha Pengolahan Tapioka ............................. 82 26. Cash Flow Skenario 1 (penurunan harga output utama dan sampingan sebesar 7 persen) .............................................. 82 27. Cash Flow Skenario 1 (peningkatan biaya opersional secara umum sebesar 7 persen)............................................................ 83 28. Cash Flow Switching Value Skenario 1 (penurunan harga produk utama dan sampingan sejumlah 11,09 persen) ........................ 83 29. Cash Flow Switching Value Skenario 1 (peningkatan biaya operasional sejumlah 13,28 persen) ........................................... 84 30. Cash Flow Skenario 2 Usaha Pengolahan Tapioka ............................. 85 31. Cash Flow Skenario 2 (penurunan harga output utama dan sampingan sebesar 7 persen) .............................................. 85 32. Cash Flow Skenario 2 (peningkatan biaya opersional secara umum sebesar 7 persen)............................................................ 86 33. Cash Flow Switching Value Skenario 2 (penurunan harga produk utama dan sampingan sejumlah 0,84 persen) .......................... 86 34. Cash Flow Switching Value Skenario 2 (peningkatan biaya operasional sejumlah 1,29 persen) ............................................. 87 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian dewasa ini tidak hanya ditujukan kepada peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk, tetapi lebih ditekankan pada upaya peningkatan pendapatan petani. Penganekaragaman usahatani secara horizontal dan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan (diversifikasi vertikal) diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani dan menjamin kecukupan pangan. Komoditas pangan sangatlah beragam. Namun demikian, padi dan palawija masih tetap menjadi perhatian pemerintah. Ini tidak lepas dari kenyataan bahwa padi dan palawija merupakan komoditas strategis yang keberadaannya menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal ini terlihat pada Lampiran 1. Ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak diusahakan oleh masyarakat, seperti tampak pada Lampiran 2. Tanaman ini mempunyai kemampuan adaptasi yang cukup luas, baik terhadap kondisi iklim yang kurang baik, maupun lahan tandus dan kurang subur. Dengan demikian penanaman ubi kayu berarti pemanfaatan secara optimal lahan-lahan pertanian yang semula tidak dapat memberikan hasil. Ubi kayu termasuk tanaman penghasil karbohidrat dan biomasa paling tinggi per satuan luas dan waktu dibandingkan tanaman pangan lain (Rinardi, 2002). Tabel 1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman Ubi kayu di Indonesia, tahun 2000 - 2007 Luas Panen Tahun (Ha) 2000 1,284,040 2001 1,317,912 2002 1,276,533 2003 1,244,543 2004 1,255,805 2005 1,213,460 [4] 2006 1,222,814 [1] 2007 1,206,904 Sumber: Departemen Pertanian, 2006 Keterangan: [1] Angka Ramalan [4] Angka Sementara Produksi (ton) 16,089,020 17,054,648 16,912,901 18,523,810 19,424,707 19,321,183 [4] 19,927,589 [1] 19,610,071 Produktivitas (Ku/Ha) 16,089,020 17,054,648 16,912,901 18,523,810 19,424,707 19,321,183 [4] 19,927,589 [1] 19,610,071 2 Hasil Survei Pertanian menunjukkan produksi ubi kayu di Indonesia tahun 2000 hingga 2006, ditunjukkan pada Tabel 1, cenderung mengalami peningkatan. Selama periode ini produktivitas ubi kayu meningkat dari 16,09 ton per hektar pada tahun 2000 menjadi 19,93 ton per hektar pada tahun 2006. Tingginya pertumbuhan ini terutama dikarenakan ditemukannya varietas unggul ubi kayu berdaya hasil tinggi, seperti Adira-1 sampai Adira-4, dan varietas unggul lainnya. Kondisi perubikayuan di daerah-daerah sentra produksi pada saat-saat tertentu mengalami mengalami kendala harga jual. Survei mengenai harga perdagangan besar yang dilakukan oleh BPS memperlihatkan fluktuasi dan perbedaan harga yang besar antara ketela pohon atau ubi kayu dengan beberapa hasil pertanian lainnya, seperti terlihat pada Tabel 2. Tabel 2. Harga Perdagangan Besar Beberapa Hasil Pertanian di Jakarta (rupiah per kuintal), 1999-2003 Jenis Barang 1999 2000 2001 2002 250 720 231 358 270 357 289 794 Beras 178 550 147 042 173 896 197 000 Jagung 251 792 211 375 245 813 247 458 Kacang Kedelai 510 833 427 708 434 417 486 562 Kacang Hijau 904 5831 641 042 660 417 631 000 Kacang Tanah 39 354 47 572 41 979 Ketela Pohon 31 750 81 229 69 911 68 896 Ketela Rambat 63 125 250 833 319 708 319 625 Kentang 316 042 Sumber: BPS, 2003 (diolah dari hasil Survei Harga Perdagangan Besar) Keterangan: 1 Tahun 2001, kualitas impor 2003 306 229 220 625 257 500 438 542 710 909 37 979 67 583 271 875 Penanaman ubi kayu yang hampir bersamaan pada awal musim hujan, ditunjukkan pada Lampiran 3, menyebabkan panen raya yang bersamaan pada bulan Juli–Oktober. Hal ini terjadi karena tidak adanya upaya pengaturan pola panen yang merata setiap bulan (Karama, 2003). Melimpahnya produksi ubi kayu, terutama di daerah sentra produksi ubi kayu pada bulan-bulan tertentu menyebabkan merosotnya harga ubi kayu. Rendahnya harga dipacu adanya sifat ubi kayu segar yang mudah rusak dan teknologi pengolahan masih sederhana. Sebagai gambaran harga ubi kayu pada konsumen pedesaan di Jawa Barat dapat dilihat pada Lampiran 4. 3 Komponen kimiawi yang mempengaruhi karakteristik umbi ubi kayu segar adalah kandungan sianida (HCN), kadar air (65%), dan kadar pati (34,6%). Mengingat kadar airnya yang tinggi, maka ubi kayu segar tidak tahan lama disimpan, sehingga petani harus menjual dalam waktu cepat. Kerusakan ini dimulai dari kerusakan secara mekanis berupa luka akibat umbi terpangkas, terpotong, tergores, retak bagian dalamnya dan memar. Kemudian dilanjutkan dengan kerusakan fisiologis oleh adanya air, enzim dan proses respirasi, serta kerusakan patologis oleh cendawan dan bakteri. Kerusakan fisiologis terjadi tiga hari setelah panen dan dilanjutkan oleh bakteri setelah hari ke 5 hingga 7 hari yang menjadikan umbi busuk (Suismono, 2003). Terbatasnya masa jual dan dan bentuk olahan ubi kayu serta teknologi pasca panen merupakan permasalahan yang dihadapi petani (Andrizal, 2003). Keterbatasan tersebut berpengaruh terhadap pendapatan petani yang cenderung rendah. Salah satu langkah perbaikan pendapatan petani ubi kayu adalah dengan diversivikasi hasil, yaitu mengolah ubi kayu segar menjadi produk olahan yang dapat disimpan lama. Produk olahan ubi kayu yang cukup penting adalah gaplek (cassava chip flour) dan tapioka (tapioca starch). Tapioka adalah hasil pengolahan pertama dari ubi kayu basah yang berbentuk tepung dan dapat digunakan sebagai bahan baku industri seperti industri makanan, industri kimia dan industri tekstil. Penggunaan ubi kayu secara rinci disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Penggunaan Ubi kayu No 1 2 3 Komponen Ubi kayu basah Kegunaan Gaplek, Tapioka dan dextrine, Glukosa dan fruktosa, Sorbitol, Tepung ubi kayu Makanan Ternak, Tepung ubi kayu, Konsumsi Gaplek Tapioka Kertas, Tekstil, Makanan a. Tapioka Pearl Makanan b. Dextrine Kimia (perekat) c. Glukosa Industri makanan d. Fruktosa HFS (sirup) e. Etanol Bahan kimia, Industri makanan, Industri Kimia f. Asam Organik Industri kimia (pasta gigi) g. Sorbitol Konsumen akhir h. Makanan ringan Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2003 4 Total konsumsi ubi kayu di Indonesia selama periode 1990 hingga 2005 meningkat dari 16,50 juta ton pada tahun 1990 menjadi 18,24 juta ton pada tahun 2005. Selama periode 1990 hingga 2003, Indonesia mempunyai net ekspor ubi kayu dalam bentuk gaplek rata-rata 0,47 juta ton per tahun dan dalam bentuk tapioka 10,5 ribu ton, atau masing-masing setara dengan 1,18 juta ton dan 43,85 ribu ton ubi segar. Sementara itu, dalam bentuk tepung ubi kayu, ternyata neraca perdagangan defisit rata-rata hampir 47,3 ribu ton, atau setara dengan 0,13 juta ton per tahun. Perkembangan produksi dan konsumsi ubi kayu disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Perkembangan Produksi dan Konsumsi Ubi kayu di Indonesia Tahun 1990-2005 Produksi (000 ton) 1990 15,830 1995 15,441 1997 15,134 1998 14,696 2000 16,089 2001 17,055 2002 16,913 2003 18,524 2004 19,425 2005 19,321 Sumber: FAO, 2005; BPS, 1990-2006. Diolah. Tahun Konsumsi (000 ton) 16,500 15,832 14,038 13,925 16,740 17,289 17,711 17,876 18,052 18,245 Neraca -670 -391 1,096 771 -651 -234 -798 648 1,373 1,076 1.2. Perumusan Masalah Dalam era otonomi daerah, masing-masing daerah berusaha untuk mengembangkan potensi daerahnya. Salah satu daerah yang yang mengembangkan potensinya adalah Kabupaten Bogor. Pengembangan usaha mikro dan kecil dilaksanakan dengan mempertimbangkan potensi sumber daya yang dimiliki Kabupaten Bogor, salah satunya sebagai sentra produsen ubi kayu (Hafsah, 2003). Produsen ubi kayu tersebar di tiap desa dari 10 kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor, yaitu Sukaraja, Citereup, Pamijahan, Cibinong, Babakan Madang, Ciampea, Gunung Sindur, Leuwiliang, Cigudeg, dan Tenjolaya. Data 5 mengenai produksi tanaman ubi kayu dirinci menurut kecamatan di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Lampiran 5. Petani lebih memilih menanami lahannya dengan ubi kayu dikarenakan selain karena ubi kayu cocok dengan keadaan alamnya, juga karena di Kabupaten Bogor banyak terdapat pengusahaan aci-tapioka yang menggunakan ubi kayu sebagai bahan baku. Hal ini erat dengan perolehan keuntungan bagi petani disamping adanya kepastian pasar. Pola penggunaan lahan kering di Kabupaten Bogor seluas 249,724 hektar pada tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 5. Pada tabel terlihat bahwa penggunaan lahan terbesar untuk hutan negara sebesar 31,81 persen. Selanjutnya untuk penggunaan tegal/kebun/ladang/huma sebesar 24,71 persen yang sebagian besar ditanami ubi kayu. Tabel 5. Luas Lahan Kering Dirinci Menurut Jenis Penggunaannya Di Kabupaten Bogor Tahun 2006 Penggunaan Tanah Luas (Ha) Persentase (%) Pekarangan 38,404 15.38 Tegal/Kebun/Ladang/Huma 61,705 24.71 Padang Rumput 1,870 0.75 Lahan yang Sementara Tidak Diusahakan 892 0.36 Hutan Rakyat Tanaman Kayu-kayuan 15,168 6.07 Hutan Negara 79,433 31.81 Perkebunan 24,063 9.64 Lain-lain 28,189 11.29 Jumlah 249,724 100.00 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa barat, 2007. Diolah. Ubi kayu perlu diolah menjadi berbagai bentuk produk olahan guna memberikan pendapatan yang layak bagi petaninya. Olahan ubi kayu dalam industri pada dasarnya dapat digolongkan menjadi tiga yaitu ubi kayu yang dikeringkan (gaplek) dan tepung singkong atau tapioka, dan onggok atau ampas dari hasil olahan. Tapioka digunakan dalam industri makanan atau pakan ternak, dekstrin, glukosa (gula). Bagan produk olahan dan hasil akhir ubi kayu disajikan pada Lampiran 6. Pengusahaan tapioka merupakan usaha yang sederhana, tidak memerlukan keterampilan khusus, dapat dikerjakan dengan teknologi yang relatif sederhana, dan dapat dikerjakan oleh pria dan wanita baik orang dewasa maupun remaja, 6 sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Industri tapioka sendiri mulai marak tahun 1980-an, dimana dalam melakukan usahanya selama ini, menggunakan modal sendiri dan sebagian menggunakan modal dari perbankan dan bantuan dari BUMN serta kemitraan. Usaha pengolahan ubi kayu menjadi tapioka memiliki karakteristik yang sama dengan usaha agribisnis lainnya. Selain ketergantungan usaha terhadap lingkungan eksternal seperti lingkungan, cuaca dan iklim, produk ini juga perishable dan voluminious. Hal ini mengakibatkan usaha ini memiliki resiko yang besar, sehingga keputusan investasi dalam usaha ini harus dibuat dengan benar-benar tepat. Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana kelayakan pengusahaan tapioka dilihat dari sudut kelayakan usaha yang meliputi aspek pasar, teknis, manajemen dan sosial ekonomi? 2. Bagaimana kelayakan finansial pengusahaan tapioka dengan menggunakan beberapa kriteria kelayakan investasi, seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan Discounted Payback Period? 3. Bagaimana sensitivitas dan switching value pengusahaan tapioka terhadap perubahan harga output dan biaya operasional? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis kelayakan aspek pasar, teknis, manajemen dan sosial ekonomi pengusahan tapioka. 2. Menganalisis kelayakan finansial pengusahaan tapioka dengan menggunakan beberapa kriteria kelayakan investasi seperti NPV, IRR, Net B/C, dan Discounted Payback Period. 3. Menganalisis sensitivitas dan switching value pengusahaan tapioka terhadap perubahan harga output dan biaya operasional. 7 1.4. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi perusahaan, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan pengembangan usaha untuk kedepannya. 2. Bagi investor, dapat bermanfaat sebagai bahan informasi untuk keputusan investasi dalam menanamkan modalnya dalam usaha tapioka. 3. Bagi pembaca, dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan rujukan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Bahan Baku Komoditas Kedudukan ubi kayu dalam sistematika taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatofyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua) Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Manihot Species : Manihotsculenta crantz Sin. M utilissima Poh. Ubi kayu merupakan tanaman daerah tropis yang mempunyai daya adaptasi yang cukup tinggi baik terhadap iklim yang kurang baik, maupun jenis lahan yang kurang subur. Ubi kayu harus ditanam di daerah yang memiliki penyinaran penuh minimal 10 jam per hari guna mendapatkan hasil yang tinggi. Tanaman ini dapat tumbuh pada segala jenis tanah terutama Latosol, Alluvial, dan Podsolik serta memerlukan curah hujan tahunan optimum 760 sampai 1.500 mm. Ubi kayu, di Indonesia, dapat ditanam di dataran sampai ketinggian kira-kira 1.500 m dari permukaan laut, suhu minimum 10oC dan kelembaban rata-rata 65 persen (Rukmana,1997). Gambar 1. Ubi kayu 9 Batang tanaman ubi kayu berkayu, beruas-ruas dan panjang, berbentuk bulat dengan diameter antara 2,5 - 4 cm, dengan tinggi beragam mulai dari 1 - 4 m atau lebih, tergantung pada varietas dan kondisi ekologi. Empelur batang berwarna putih, lunak dan strukturnya empuk seperti gabus. Warna batang bervariasi tergantung kulit luar, tetapi pada umumnya batang muda berwarna hijau dan setelah tua berubah menjadi keputih-putihan, kelabu, hijau kelabu atau coklat kelabu. Daun ubi kayu

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis biaya pemasaran produk berdasarkan daerah pemasaran pada perusahaan tepung tapioka PT. Sumber bina usaha abadi di Kediri
0
7
111
Analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing komoditi padi pada berbagai sistem irigasi di kabupaten Jember (studi kasus di desa Tisnogambar, desa Langkap kecamatan Bangsalsari, dan desa Pringgowirawan kecamatan Sumberbaru kabupaten Jember)
0
24
144
Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember
1
84
63
FAKTOR-FAKTOR SOSIAL EKONOMI YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KONSUMSI PANGAN KELUARGA PETANI (studi kasus di desa Cakru, Kecamatan Kencong Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur)
0
16
89
KAJIAN TEKNIS DAN FINANSIAL PADA AGROINDUSTRI TAHU DAN TEMPE (Studi kasus di desa Gambiran Kecamatan Gambiran dan desa Genteng Wetan Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi)
1
6
131
Konsep kelayakan nasabah dalam pengajuan pembiayaan KPR Syariah bersubsidi (studi kasus pada BTN Syariah)
2
23
93
Tranformasi pemahaman masyarakat tentang mahar adat Jambi (studi kasus desa Penegak Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun)
2
49
61
Pendapatan petani setelah konversi lahan (studi kasus di kelurahan Mekarwangi Kota Bogor)
2
14
117
Kontribusi tradisi lokal terhadap solidaritas masyarakat (studi kasus tradisi ngarot di desa lela Indramayu
3
24
87
Dampak positif poligami dalam perspektif hukum Islam (studi kasus desa saninten kecamatan kadu hejo Kabupaten Pandeglang)
3
37
108
Ganti rugi pembatalan khitbah dalam tinjauan sosiologis (studi kasus masyarakat desa Pulung Rejo Kecamatan Rimbo Ilir Jambi)
0
17
107
Kontribusi tradisi lokal terhadap solidaritas masyarakat (studi kasus tradisi ngarot di desa Lelea Indramayu)
1
10
87
Efisiensi pemasaran kayu jenis sengon (paraserianthes falcataria) (studi kasus Hutan Rakyat Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor)
16
90
118
Tinjauan proses pengolahan tepung tapioka pada PT.Trio Jaya Makmu di Karang Pucung Majenang : laporan kerja praktek
1
3
41
Analisis marjin pemasaran ubi kayu (Manihot utilissim ) (studi kasus di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri)
0
1
85
Show more