Feedback

Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu

Informasi dokumen
ABSTRAK ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu. Dibimbing oleh ANWAR BEY PANE dan RETNO MUNINGGAR Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan satu-satunya pelabuhan perikanan tibe B di pantai selatan Jawa Barat. Adanya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang baik dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapan di sana karena dapat meningkatkan pendapatan nelayan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktifitas penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, besaran biayanya dan nilai organoleptik hasil tangkapan dominan di PPN Palabuhanratu. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk kondisi aktual penanganan dan pendistribusian, analisis finansial untuk besaran biayanya dan analisis statistik non parametrik untuk nilai organoleptik. Hasil analisis menyatakan secara umum penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan belum dilakukan oleh nelayan, hasil tangkapan baru ditangani di tempat pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer. Pendistribusian hasil tangkapan dilakukan dalam bentuk segar dan ikan olahan dengan tujuan lokal, nasional dan ekspor. Biaya penanganan berupa biaya-biaya penyediaan alat dan bahan penanganan, sedangkan biaya-biaya pendistribusian terdiri dari pas masuk, sewa sarana pendistribusian dan biaya angkut. Urutan hasil tangkapan dari mutu paling tinggi di tempat pendaratan adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, sedangkan di tempat pedagang pengecer adalah cakalang, tongkol, layur dan tunatuna kecil. Masih terdapat beberapa kekurangan dalam penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu yang harus diperbaiki. Kata kunci : hasil tangkapan, organoleptik, PPN Palabuhanratu, penanganan, pendistribusian ii ABSTRACK ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Handling and Distribution of the Catch with the Cost in PPN Palabuhanratu. Supervised by ANWAR BEY PANE and RETNO MUNINGGAR Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu is the only one fishing port type B on the south coast of West Java. The existence a good handling and distribution of the catch can attract fishermen to land the cacth in there because can increase the income of fishermen. The study was conducted to dertermine the activity of handling and distribution of the catch, the amount of the cost and organoleptic value of the dominant catch in PPN Palabuhanratu. Data analysis was conducted descriptively to the actual conditions of handling and distribution, financial analysis to the amount of the cost dan non-parametric statistical analysis to organoleptic value. The analysis states in general handling of the catch at landing site not handling by fishermen, the catch just handling on-site collectors, corporate colectors dan retailers. The catch are distribution by type of fresh and fickle in destination local, national dan export. Handling cost is include providing equipment and material handling cost, while distribution cost in include pass go into PPN Palabuhanratu, the rent of distributions tool dan cost of transport. The catch from the highest quality at the landing site is tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, while at the retailers is cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. There are still some of weakness in handling of the catch in PPN Palabuhanratu be fixed. Key words : the cacth, organoleptic, PPN Palabuhanratu, handling, distribution iii 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha penangkapan ikan akan menghasilkan hasil tangkapan sebagai output atau hasil dari usaha tersebut. Hasil tangkapan dari usaha penangkapan ikan merupakan sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan melalui operasi penangkapan ikan di perairan laut, yang mana hasil tangkapan tersebut dapat digunakan sebagai bahan makanan. Hasil tangkapan dapat berupa ikan, binatang berkulit keras, binatang berkulit lunak, tumbuhan air, binatang bercangkang dan binatang air lainnya. Hasil tangkapan tersebut harus ditangani dengan cara yang khusus dan baik. Hasil tangkapan merupakan komoditi yang mudah rusak dan cepat busuk, terutama bila terkena suhu tinggi. Karena sifatnya yang mudah busuk sehingga dibutuhkan penanganan hasil tangkapan yang baik untuk menjaga mutunya. Penanganan hasil tangkapan dapat berupa grading (pengelompokan berdasarkan jenis, ukuran dan mutu), pencucian, pengaturan suhu, pembersihan, pengemasan dan lainnya. Penanganan bertujuan mempertahankan mutu atau kesegaran hasil tangkapan, sehingga penanganan hasil tangkapan dapat diartikan sebagai cara memperlakukan hasil tangkapan agar mutu atau kesegarannya terjaga. Adanya penanganan hasil tangkapan yang baik, efektif dan efisien akan membuat mutu hasil tangkapan terjaga pada kondisi yang bagus. Hasil tangkapan yang mutu bagus, harganya akan lebih tinggi dan permintaannya juga akan meningkat. Selain itu permintaan hasil tangkapan untuk konsumsi atau industri biasanya adalah hasil tangkapan yang bermutu tinggi. Kegiatan penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapan membutuhkan pembiayaan dalam operasinya. Pembiayaan penanganan merupakan total semua biaya (biaya investasi dan biaya produksi) yang dikeluarkan oleh pelaku penanganan untuk melakukan kegiatan penanganan terhadap suatu hasil tangkapan. Biaya penanganan tersebut dapat dibuat dalam satuan waktu per hari, ber bulan dan atau per tahun. 2 Pembiayan tersebut di atas membuat pelaku penanganan membutuhkan sumber pemasukan. Pemasukan didapatkan dengan “mengalirkan” hasil tangkapan tersebut kepada pihak lain sehingga hasil tangkapan memiliki nilai. “Mengalirkan” hasil tangkapan dari produsen sampai ke tangan konsumen disebut dengan pendistribusian hasil tangkapan. Pendistribusian hasil tangkapan dapat dilakukan terhadap hasil tangkapan hidup, segar dan beku. Hasil tangkapan hidup, segar dan beku didistribusikan kepada pedagang, rumah tangga, restoran, perusahaan pengolahan dan konsumen lainnya. Hasil tangkapan tersebut setelah sampai di tangan konsumen akan digunakan sebagai bahan pangan yang dikonsumsi, sehingga sangat penting bagi konsumen untuk mengetahui bagaimana sumber pangan tersebut ditangani dan didistribusikan. Pengolahan hasil tangkapan pada umumnya dilakukan oleh perusahaan, dimana perusahaan tersebut menjadikan hasil tangkapan sebagai bahan bakunya. Kualitas produk hasil olahan tersebut akan sangat bergantung kepada kualitas bahan bakunya, maka sangat penting bagi perusahaan untuk mendapatkan informasi mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang akan dijadikan bahan baku. Hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan selain ditujukan untuk konsumsi lokal juga dapat didistribusikan keluar daerah dan atau ekspor. Pendistribusian hasil tangkapan dari pelabuhan baik keluar daerah maupun ekspor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di daerah atau negara lain agar hasil tangkapan tersebut dapat mempunyai nilai tambah. Selain itu adanya pendistribusian hasil tangkapan ke luar daerah dan atau ekspor akan mampu secara langsung menambah pemasukan bagi pelaku pendistribusian khususnya dan secara tidak langsung kepada pelabuhan umumnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil tangkapan dapat didistribusikan ke daerah lokal, luar daerah dan ekspor. Setiap jenis hasil tangkapan yang didaratkan, akan didistribusikan dengan jumlah dan tujuan pendistribusian yang berbeda sesuai dengan permintaan yang masuk ke pelabuhan. Perbedaan jumlah dan tujuan pendistribusian tersebut dapat dipetakan, dengan tujuan agar mempermudah mendapatkan informasi mengenai seberapa besar dan ke mana 3 pendistribusian hasil tangkapan dilakukan. Pemetaan dapat diartikan sebagai penyajian data ke dalam peta tematik sehingga memudahkan intrepetasi data bagi yang membacanya. Tidak jauh berbeda dengan penanganan hasil tangkapan, pendistribusian hasil tangkapan juga memiliki pembiayan untuk melakukan operasi kegiatannya. Biaya pendistribusian yang dimaksud adalah seluruh biaya (biaya investasi dan biaya produksi) yang dikeluarkan distributor untuk mengalirkan hasil tangkapan ke tangan konsumen. Seperti halnya biaya penanganan, biaya pendistribusian juga dapat dibuat dalam satuan waktu per hari, per bulan dan atau per tahun. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan salah satu pelabuhan yang berpartisipasi dalam ekspor hasil tangkapan dari Indonesia. Adapun hasil tangkapan PPN Palabuhanratu yang di ekspor adalah tuna dan layur. Hal tersebut karena PPN Palabuhanratu terletak di pantai selatan Jawa yang langsung berhubungan dengan Samudera Hindia, sehingga komoditas tuna, tongkol dan layur masih bisa dieksploitasi dengan baik. Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dekat dengan daerah pemasaran Jakarta, kalau ditempuh melalui jalan darat hanya memerlukan waktu 3-4 jam. Waktu tempuh yang cukup singkat dan menggunakan rantai dingin (suhu rendah) membuat hasil tangkapan dapat diekspor melalui Jakarta. Berdasarkan hal tersebut sangat diharapkan PPN Palabuhanratu dapat berpartisipasi optimum dalam penyediaan hasil tangkapan yang berkualitas melalui sistem penanganan dan pendistribusian yang baik. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa penanganan dan pendistribusian merupakan hal penting untuk diperhatikan dalam pelabuhan perikanan. Begitu juga di PPN Palabuhanratu, penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi perhatian. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu untuk mengetahui gambaran karakteristik dan aktivitas penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan. 4 Diharapkan, dengan adanya penelitian ini dapat diketahui jenis, jumlah dan harga hasil tangkapan serta pelaku , cara, jalur, tujuan dan biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya dengan jelas : 1. Kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu 2. Kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu dan peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusian 3. Besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu 1.3 Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk : 1. Mengetahui kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu baik penanganan di tempat pendaratan, di tempat pedagang pengumpul maupun di tempat pedagang pengecer 2. Mendapatkan gambaran kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusiannya 3. Mendapatkan besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu 1.4 Manfaat Penelitian ini diharapkan membawa manfaat bagi : 1. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola pelabuhan yaitu memberikan informasi dan masukan mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu 5 2. Nelayan untuk memberikan informasi kemana dan seberapa besar hasil tangkapan mereka didistribusikan 3. Pengelola pelabuhan, pedagang dan perusahaan yaitu memberikan informasi tentang peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu 4. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola PPN Palabuhanratu yaitu memberikan informasi besaran investasi dan besaran biaya produksi yang dikeluarkan untuk penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan 6 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Tangkapan Ikan, menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan merupakan segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Ikan ini meliputi ikan bersirip (Pisces); udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea); kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya (Mollusca); ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata); teripang, bulu babi dan sebangsanya (Echinodermata); paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mamalia); rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae); dan biota perairan lainnya yang terkait dengan jenis-jenis di atas termasuk ikan. Sumberdaya ikan menurut Mallawa (2006) terbagi menjadi dua yaitu ikan konsumsi dan ikan non konsumsi. Ikan konsumsi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, udang dan crustacea lainnya, ikan karang konsumsi dan cumi-cumi. Ikan non konsumsi terdiri dari ikan hias dan benih alam komersial. Sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan, melalui operasi penangkapan ikan, disebut dengan hasil tangkapan. Hasil tangkapan secara umum digunakan sebagai bahan makanan sumber protein (ikan konsumsi). Hasil tangkapan dapat diklasifikasikan berdasarkan habitat asalnya terbagi menjadi dua jenis yaitu hasil tangkapan pelagis dan demersal. Hasil tangkapan pelagis adalah hasil tangkapan sumberdaya ikan yang hidup di bagian atas dan kolom perairan. Menurut Aryadi (2007) sifat sumberdaya ini di habitatnya suka berkelompok, sehingga penyebarannya tidak merata. Selain itu ruayanya jauh dengan olah gerak yang besar. Sumberdaya ikan pelagis juga dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ukurannya, yaitu ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Contoh ikan pelagis besar adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna mata besar (Thunnus obesus) dan tuna sirip biru (Thunnus maccoyii), sedangkan beberapa ikan yang termasuk ikan pelagis kecil adalah tongkol (Auxis sp.) dan tenggiri (Scomberromorus sp.). 7 Hasil tangkapan demersal merupakan hasil tangkapan sumberdaya ikan yang hidup di dekat atau di dasar perairan. Adapun sifatnya menurut Aryadi (2007), membentuk kelompok yang kecil, penambahan populasinya tidak banyak bervariasi karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang relatif stabil, dan ruaya yang tidak terlalu jauh dengan aktivitas gerak yang relatif rendah. Hasil tangkapan yang termasuk jenis ikan demersal antara lain adalah cucut (Sphyrna sp.), layur (Trichiurus savala), kakap merah (Lutjanus sp.), pari (Dasyatis sp.) dan lainnya. Selain ikan, binatang berkulit lunak dan berkulit keras juga merupakan hasil tangkapan yang penting di Indonesia. Contoh binatang berkulit lunak adalah cumi-cumi yang termasuk jenis cumi dan sotong. Menurut Mallawa (2006) terdapat banyak jenis cumi-cumi di Indonesia namun yang paling banyak tertangkap adalah jenis Loligo edulis. Contoh binantang berkulit keras adalah udang, kepiting dan rajungan; berbagai jenis udang antara lain udang jerbung, udang windu dan udang lainnya. Hasil tangkapan di atas tidak semuanya selalu terdapat di setiap pelabuhan perikanan. Hal itu bergantung kepada keadaan perairan daerah penangkapan ikan dimana ikan tersebut ditangkap yang menentukan jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan, sehingga jenis dan jumlah hasil tangkapan di suatu pelabuhan dapat berbeda dengan pelabuhan lainnya. Tidak semua hasil tangkapan di suatu pelabuhan memiliki nilai jual dan permintaan konsumen yang tinggi. Hasil tangkapan yang memiliki nilai jual dan permintaan konsumen yang tinggi disebut dengan ikan ekonomis penting. Menurut Aryadi (2007), ikan ekonomis penting tersebut memiliki perbedaan pada tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitasnya. Hasil tangkapan yang memiliki tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitas yang tinggi dari pada ikan ekomomis penting lainnya disebut dengan komoditas unggulan. Aryadi menambahkan bahwa secara garis besar komoditas unggulan hasil tangkapan dapat dikelompokkan menjadi dua yakni : 1) Komoditas unggulan lokal, yaitu jika komoditas tersebut telah memenuhi kriteria komoditas unggulan, tetapi masih dipasarkan di dalam negeri (lokal), baik dalam bentuk segar maupun telah diolah 8 2) Komoditas unggulan ekspor, yaitu komoditas yang telah memenuhi kriteria komoditas unggulan dan dipasarkan ke luar negeri (ekspor) 2.2 Penanganan dan Mutu Hasil Tangkapan Penanganan hasil tangkapan merupakan segala cara memperlakukan hasil tangkapan untuk menjaga mutu hasil tangkapan. Penanganan dalam usaha penangkapan ikan memegang peran yang sangat penting. Hal tersebut dikarenakan baik dan buruknya penanganan akan mempengaruhi mutu hasil tangkapan yang ditangani. Semakin bagus mutu hasil tangkapan maka harga dan permintaan hasil tangkapan tersebut juga akan semakin bagus. Hasil tangkapan mempunyai karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan komoditas lain, yaitu mudah busuk dan rusak. Penanganan yang semestinya diharapkan mampu membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan, karena mutu hasil tangkapan sebenarnya tidak dapat ditingkatkan lagi. Mutu hasil tangkapan hanya dapat dipertahankan dengan menghentikan metabolisme bakteri yang ada di dalam tubuh hasil tangkapan. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan penyimpanan yang menggunakan es untuk mengurangi degradasi atau penurunan kesegaran fisik hasil tangkapan, mencegah penurunan mutu dan penciutan karena hasil tangkapan mengering (Junianto, 2003). Penanganan hasil tangkapan dimulai dari setelah hasil tangkapan tiba di atas kapal sampai dengan hasil tangkapan didistribusikan, karena proses perubahan mutu hasil tangkapan telah terjadi sejak ikan selesai ditangkap sampai didistribusikan. Ikan ditempatkan di palka kapal, sesampainya di pelabuhan selanjutnya dikeluarkan ke dek sampai dermaga bongkar kemudian dari dermaga tersebut diangkut menuju ke tempat pelelangan ikan (TPI) dan seterusnya sampai pendistribusian ke konsumen (Mulyadi, 2007). Penanganan terhadap hasil tangkapan dapat berupa pencucian, pembersihan, pemotongan, pengklasifikasian, pengolahan, penyimpanan, pemberian bahan lain, pengaturan suhu dan lainnya. Cara penanganan hasil tangkapan baik di atas kapal, di darat, maupun selama pengangkutan dan pendistribusian, serta penanganan selama penjualan dan pengeceran menurut Berita Perikanan Papua (2007) adalah sebagai berikut : 9 1) Penanganan di atas kapal (1) Hasil tangkapan dipisahkan berdasar spesies dan ukuran (2) Hasil tangkapan dibongkar dari kapal atau perahu secara cepat dan higienis agar terhindar dari kenaikan suhu dan bakteri (3) Mencuci hasil tangkapan harus dengan air yang bersih, jangan memakai air dari kolam pelabuhan (4) Hasil tangkapan dimasukkan ke dalam wadah dan diselimuti es curah (5) Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain. (6) Lantai dek kapal dibersihkan sebelum dan sesudah pembongkaran hasil tangkapan dan tidak menggunakan air dari kolam pelabuhan 2) Penanganan di darat (1) Wadah hasil tangkapan segera dinaikkan ke atas lantai dermaga dan langsung diangkut menuju TPI (2) TPI harus bersih dan hasil tangkapan tidak boleh diletakkan langsung di lantai TPI tanpa wadah (3) Setelah hasil tangkapan sampai di TPI hasil tangkapan segera dilelang dan selama proses lelang berjalan suhu hasil tangkapan harus senantiasa terjaga (4) Hasil tangkapan langsung dibawa oleh pemenang lelang 3) Penanganan selama pengangkutan dan pendistribusian (1) Suhu hasil tangkapan harus selalu dijaga dan hasil tangkapan jangan terkena matahari langsung (2) Hasil tangkapan dilapisi dengan es curah, bagian lapisan paling bawah dan paling atas esnya lebih tebal daripada lapisan lainnya (3) Sebaiknya menggunakan mobil bak tertutup yang telah dilengkapi dengan pengatur suhu 4) Penanganan selama penjualan dan pengeceran (1) Hasil tangkapan ditempatkan di wadah khusus dan diusahakan tumpukannya tidak besar dan tinggi karena dapat menyebabkan hasil tangkapan pada lapisan terbawah rusak 10 (2) Sebaiknya hasil tangkapan ditempatkan di dalam wadah yang mampu melindungi hasil tangkapan dari matahari, debu, serangga, binatang dan kotoran (3) Sebaiknya suhu hasil tangkapan selama penjualan dan pengeceran tetap terjaga, bisa dilakukan dengan cara dilapisi es (4) Selain itu hasil tangkapan akan lebih terjamin mutunya jika tidak sering disentuh dengan tangan Agar dapat melakukan penanganan hasil tangkapan dengan baik, diperlukan sarana dan prasarana pelabuhan perikanan yang menunjang keberlangsungan penanganan hasil tangkapan. Adapun sarana dan prasarana pelabuhan perikanan yang dimanfaatkan dalam kegiatan penanganan hasil tangkapan adalah tempat pelelangan ikan (TPI), instalasi air bersih, pabrik es, dermaga, kolam pelabuhan dan lain sebagainya. Jika sarana dan prasarana pelabuhan perikanan tersebut tersedia dalam keadaaan baik, maka penanganan hasil tangkapan dapat berjalan dengan lancar, sehingga mutu hasil tangkapan akan terjaga dengan baik pula. Penilaian mutu hasil tangkapan yang akan ditangani perlu diketahui. Penilaian mutu tersebut menurut Pane (2012) dapat diketahui setidaknya dengan 3 cara yaitu : 1) Pengukuran kadar N dari hasil tangkapan 2) Perhitungan jumlah bakteri yang terkandung di dalam hasil tangkapan 3) Penilaian skala organoleptik dari hasil tangkapan Penilaian skala organoleptik jika dibandingkan dengan kedua cara lainnya memiliki kelebihan yaitu waktu penilaian yang lebih cepat dan biayanya relatif tidak ada, namun kelemahannya yaitu penilaian skala organoleptik bersifat subjektif karena sangat bergantung kepada ketajaman indra dari orang yang melakukan penilaian. Pengujian organoleptik dilakukan dengan berpedoman kepada daftar spesifikasi dan skala nilai skala organoleptik yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi Nasional (Tabel 1): 11 Tabel 1 Daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan Spesifikasi 1. MATA - Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih - Cerah bola mata rata, kornea jernih - Agak cerah, bola mata rata, pupil agak keabu-abuan, kornea agak jernih - Bola mata agak cekung, pupil berubah keabu-abuan, kornea agak keruh - Bola mata agak cekung, pupil keabu-abuan, kornea agak keruh - Bola mata cekung, pupil mulai berubah menjadi putih susu, kornea keruh - Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea jernih - Bola mata tenggelam, ditutupi lendir kuning yang tebal 2. INSANG - Warna merah cemerlang, tanpa lendir dan bakteri - Warna merah kurang cemerlang, tanpa lendir - Warna merah agak kusam, tanpa lendir - Merah agak kusam, tanpa lendir - Mulai ada kolaborasi merah muda, merah coklat, sedikit lendir - Mulai ada diskolaborasi, sedikit lendir - Perubahan warna merah coklat, lendir tebal - Warna merah coklat atau kelabu, lendir tebal - Warna putih kelabu, lendir tebal sekali 3. DAGING DAN PERUT - Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada sayatan tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut, dagingnya utuh, bau isi perut segar - Sayatan daging sangat cemerlang, warna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut, dagingnya masih utuh, bau netral - Sayatan daging cemerlang, warna asli, ada sedikit pemerahan pada sepanjang tulang belakang, perut agak lembek, ginjal merah mulai pudar, bau netral - Daging agak lembek, agak kemerahan pada tulang belakang, perut agak lembek, sedikit bau susu - Sayatan daging mulai pudar, didua perut lembek, banyak pemerahan pada tulang belakang, bau seperti susu - Sayatan daging tidak cemerlang, didua perut lunak, pemerahan sepanjang tulang belakang, rusuk mulai lembek, bau perut sedikit asam - Sayatan daging kusam, warna merah jelas sekali pada sepanjang tulang belakang, dinding perut lunak sekali, bau asam amoniak - Sayatan daging kusam sekali, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut memudar, bau busuk sekali Nilai Skala 9 8 7 6 5 4 3 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 9 8 7 6 5 4 2 1 12 Lanjutan Tabel 1 Spesifikasi 4. KONSITENSI - Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang - Agak padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek jari dari tulang belakang, kadang-kadang agak lunak sesuai dengan jenisnya - Agak lunak, elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang - Agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang - Agak lunak, belum ada bekas jari bila ditekan, mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihat bila ditekan tetapi cepat hilang, mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihah lama bila ditekan dan mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihat lama bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang - Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang Nilai Skala 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Keterangan : 1 sampai 3 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat busuk 4 sampai 5 = hasil tangkapan dalam kondisi busuk 6 sampai 7 = hasil tangkapan dalam kondisi agak baik 8 = hasil tangkapan dalam kondisi baik 9 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat baik (prima) Sumber : Standar Penelitian Indonesia Bidang Perikanan, Petunjuk Pengujian Organoleptik, Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi Nasional Nilai skala organoleptik dengan skala 9 merupakan nilai untuk hasil tangkapan dengan mutu tertinggi, sedangkan nilai skala organoleptik dengan skala 1 merupakan nilai untuk hasil tangkapan dengan mutu terendah. Berdasarkan hal tersebut diketahui semakin tinggi nilai skala organoleptiknya maka semakin bagus mutu hasil tangkapan tersebut, demikian sebaliknya semakin rendah nilai skala organoleptiknya maka mutu hasil tangkapan tersebut semakin buruk. Menurut Pane (2012) di Indonesia ikan dengan nilai skala organoleptik 9 sampai 6 layak dikonsumsi, sedangkan ikan dengan nilai skala organoleptik 5 sampai 1 tidak layak dikonsumsi. Berbeda dari Indonesia, di Uni Eropa ikan yang layak dikonsumsi adalah ikan dengan nilai skala organoleptik 9 dan 8, ikan dengan nilai skala organoleptik 7 ke bawah tidak layak di konsumsi. 13 Selain menurut nilai skala organoleptik seperti di atas, mutu hasil tangkapan juga dapat diperhatikan berdasarkan ciri-ciri hasil tangkapan yang segar dan yang busuk. Adapun ciri-ciri tersebut menurut Junianto (2003) terdapat pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2 Ciri hasil tangkapan segar dan hasil tangkapan busuk Parameter Hasil Tangkapan Segar Hasil Tangkapan Busuk 1. Tekstur Elastis dan jika ditekan tidak Daging kehilangan elastisitasnya daging ada bekas jari serta padat atau lunak dan jika ditekan maka atau kompak bekas tekanannya lama hilang 2. Mata Pupil hitam menonjol dengan Pupil mata kelabu tertutup lendir kornea jernih, bola mata seperti putih susu, bola mata cembung dan cemerlang atau cekung dan keruh cerah 3. Insang Insang berwarna merah Warna merah coklat sampai cemerlang atau merah tua keabu-abuan dan lendir tebal tanpa adanya lendir 4. Bau Bau segar atau sedikit berbau Bau menusuk seperti asam asetat amis yang lembut dan lama kelamaan menjadi bau busuk yang menusuk hidung 5. Keadaan Perut tidak pecah masih utuh Perut sobek, warna sayatan perut dan dan warna sayatan daging daging kurang cemerlang dan sayatan cemerlang serta jika hasil terdapat warna merah sepanjang daging tangkapan dibelah daging tulang belakang serta jika melekat pada tulang terutama dibelah daging mudah lepas rusuknya 6. Keadaan Warnanya sesuai dengan Warna sudah pudar dan kulit dan aslinya dan cemerlang, lendir memucat, lendir tebal dan dipermukaan jernih dan menggumpal serta lengket, lendir transparan dan baunya khas warnanya berubah seperti putih menurut jenisnya susu Sumber : Junianto 2003 Jika daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan pada Tabel 1 dibandingkan dengan ciri-ciri hasil tangkapan segar dan busuk pada Tabel 2, maka diketahui bahwa ciri-ciri hasil tangkapan segar sesuai dengan nilai skala organoleptik 9, sedangkan ciri-ciri hasil tangkapan busuk mulai terlihat pada nilai skala organoleptik 5. Berdasarkan uraian ini dapat juga disimpulkan bahwa hasil tangkapan yang segar adalah ikan dengan nilai skala organoletik 9, sedangkan ikan yang sudah busuk adalah ikan dengan skala organoleptik 5 sampai dengan 1. 14 2.3 Pendistribusian Hasil Tangkapan “Mengalirkan” hasil tangkapan kepada pihak lain dapat disebut dengan pendistribusian hasil tangkapan, sedangkan pendistribusian menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 01/MEN/2007 vide Departeman Kelautan dan Perikanan (2007) yaitu rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain dari produksi sampai dengan pemasaran. Menurut Mc Donald (1993) vide Malik (2006), pendistribusian adalah istilah yang biasa digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bagaimana suatu produk atau jasa dibuat secara fisik tersedia bagi konsumen. Pendistribusian meliputi kegiatan pergudangan, transportasi, persediaan, penanganan pesanan dan lain-lain. Pendistribusian hasil tangkapan akan sangat berbeda dengan pendistribusian barang hasil pabrik, dikarenakan hasil tangkapan memiliki sifat dan keadaan khusus yang membuat cara pendistribusiannya berbeda. Ciri-ciri pendistribusian hasil tangkapan menurut Malik (2006) antara lain : 1. Hasil tangkapan sangat bergantung kepada musim dan iklim, sehingga penawarannya tidak stabil sepanjang tahun. Padahal permintaan hasil tangkapan sepanjang tahun relatif stabil karena hasil tangkapan merupakan bahan pangan yang dibutuhkan oleh konsumen 2. Adanya sifat hasil tangkapan yang sesuai dengan musim membuat pendistribusian hasil tangkapan tersebut juga musiman 3. Adanya sistem ijon (pemberian kredit atau modal) oleh pengumpul membuat nelayan harus menjual dan mendistribusikan hasil tangkapannya melalui pengumpul tersebut. 4. Kelembagaan pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari nelayan, pengumpul, perusahaan, grosir dan pedagang eceran. Pengumpul memiliki kedudukan yang paling penting dalam pendistribusian hasil tangkapan Menurut Siregar (1990) vide Aryadi, (2007) ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum terjadinya proses pendistribusian yaitu : 1) Ada muatan yang diangkut (sumberdaya) 2) Tersedianya kendaraan sebagai angkutannya (media transportasi) 3) Ada jalan yang dilalui (jalur pendistribusian) 15 Selain persyaratan, dalam pendistribusian terdapat dua jenis peralatan yang digunakan yakni : 1. Sarana angkutan yaitu berupa peralatan yang dipakai untuk mengangkut barang dan penumpang yang digerakkan oleh mesin motor atau penggerak lainya. 2. Prasarana angkutan yang terdiri dari jalanan (sebagai tempat bergeraknya sarana angkutan) dan terminal (sebagai tempat memberikan pelayanan kepada penumpang dalam perjalanan, barang dalam pengiriman dan kendaraan sebelum maupun sesudah melakukan operasi) Pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari beberapa jenis seperti yang dijelaskan oleh Moeljanto (1992) vide Aryadi (2007), pendistribusian hasil tangakapan berdasarkan jalurnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1) Pendistribusian melalui jalur darat Pendistribusian ini menggunakan jalur darat, adapun sarana yang dapat digunakan di jalan darat antara lain gerobak, kereta api, truk terbuka, atau truk bak tertutup dengan pendingin. Komoditas yang melalui jalur ini harus didinginkan sampai suhu 0ºC agar mutunya terjaga. 2) Pendistribusian melalui jalur laut Pendistribusian lewat jalur laut memakai kapal sebagai sarananya. Konstruksi palka kapalnya harus lebih baik karena di laut sering terjadi goncangan, palka yang baik akan melindungi hasil tangkapan dari kehancuran akibat goncangan. 3) Pendistribusian melalui jalur udara Sarana pendistribusian lewat jalur udara adalah pesawat terbang. Sarana ini merupakan sarana pendistribusian yang paling cepat sekaligus paling mahal. Pendistribusian jenis ini cocok untuk mendistribusikan komoditas hasil tangkapan yang mempunyai harga mahal dan memerlukan waktu yang singkat untuk mencapai tujuan. Kegiatan pendistribusian memerlukan daerah sebagai tujuan pendistribusian. Daerah tujuan pendistribusian dapat diartikan sebagai daerah-daerah yang menerima pasokan hasil tangkapan dari pelabuhan perikanan. Daerah tersebut 16 dapat berada di sekitar pelabuhan, ke laur daerah tetapi masih di dalam negara Indonesia dan sampai ke luar negeri. 2.4 Pemetaan Pendistribusian Hasil Tangkapan Menurut Hanafiah dan Saepudin (1986) vide Malik (2006) pemetaan pendistribusian merupakan kegiatan yang meliputi pemetaan wilayah pasar secara geografis. Kegiatan pemetaan ini berguna untuk mengetahui bagaimana nelayan meningkatkan produksi sesuai dengan pemesanan dan permintaan, serta bagaimana keadaan pendistribusian dan cara-cara memperbaikinya dalam menghadapi permintaan dan pesanan. Departemen Perdagangan (1977) vide Darmawan (2006) menyebutkan ada lima jenis pemetaan di dalam kegiatan pendistribusian yaitu : 1) Pemetaan wilayah pasar (market areas mapping) Langkah pertama yang dapat memberikan gambaran struktur geografis dalam pendistribusian adalah pembuatan peta (map) yang dapat menggambarkan secara jelas mengenai batas-batas geografisnya. Secara ideal suatu wilayah dapat dibagi-bagi kedalam struktur geografis yang menunjukkan luas areal supply untuk semua ukuran dari barang yang didistribusikan. Peta ini digunakan untuk merencanakan areal penjualan dan melihat kemungkinan proses pengolahan. 2) Pemetaan kuantitatif (quantified mapping) Pemetaan kuantitatif berfungsi untuk mengetahui berapa banyak, dari mana dan kemana hasil tangkapan dijual. Data kuantitatif dapat ditambahkan kedalam peta wilayah pasar geografis yang telah dibuat. Membandingkan peta untuk waktu yang berbeda dalam satu tahun akan menunjukkan pola musiman pendistribusian, sedangkan jika membandingkan peta untuk tahun yang berbeda akan menunjukkan indikasi peningkatan atau penurunan pendistribusian di suatu pasar. 3) Pemetaan harga (price mapping) Pemetaan harga berguna dalam perbaikan efisiensi pemasaran, selain itu komoditas pendistribusian hasil tangkapan biasanya tidak sama satuan dan kualitasnya, sehingga sangat perlu mencatat satuan dan kualitas yang disesuaikan dengan harga. Membandingkan peta harga pada waktu yang berbeda bertujuan untuk mengetahui perubahan dalam struktur harga. 17 4) Pemetaan kualitas (quality mapping) Berdasarkan kualitas hasil tangkapan dapat dipetakan daerah pasar tujuan pendistribusian suatu hasil tangkapan. Pemetaan ini dapat menunjukkan kecendrungan permintaan dan daya beli suatu daerah terhadap hasil tangkapan yang didistribusikan. Peta kualitas akan sangat membantu dalam memprediksi dan menggambarkan permintaan konsumen dan trend konsumsi komoditi perikanan. 5) Skema arus barang niaga (commodity flow chart) Merupakan bagan alir kegiatan pendistribusian hasil tangkapan yang menunjukkan jalur pendistribusian serta komponen yang terlibat dalam proses pendistribusian hasil tangkapan dari produsen sampai ke konsumen. Pada peta ini digambarkan secara jelas struktur kelembagaan atau organisasi dari kegiatan pendistribusian hasil tangkapan. Tujuannya adalah untuk melihat saluran atau pola pendistribusian mana yang memungkinkan kegiatan pendistribusian yang paling efisien. 2.5 Pelabuhan Perikanan Berdasarkan Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan, pelabuhan perikanan dalam mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya, pelabuhan perikanan berfungsi sebagai : 1) Pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan 2) Pelayanan bongkar muat 3) Pelayanan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan 4) Pemasaran dan distribusi ikan 5) Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan 6) Tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan 7) Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan 8) Tempat pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan 9) Pelaksanaan kesyahbandaran 10) Tempat pelaksanaan fungsi karantina ikan 18 11) Publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas kapal perikanan 12) Tempat publikasi hasil riset kelautan dan perikanan 13) Pemantauan wilayan pesisir dan wisata bahari 14) Pengendalian lingkungan Menurut Lubis (2006), salah satu fungsi pelabuhan yaitu sebagai kepentingan komersil. Fungsi ini timbul karena pelabuhan perikanan sebagai tempat awal untuk mempersiapkan pendistribusian produk hasil tangkapan melalui transaksi pelelangan hasil tangkapan. Selanjutnya pedagang atau bakul hasil tangkapan akan mengambil hasil tangkapan yang telah dilelang atau dibeli secara cepat dan diberi es untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan tersebut. Para pedagang atau bakul hasil tangkapan tersebut lalu mendistribusikan hasil tangkapan dalam bentuk segar dengan menggunakan truk, mobil bak terbuka yang dilapisi styrofoam, atau mobil yang dilengkapi dengan alat pendingin. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 vide Departemen Kelautan dan Perikanan (2006) menyatakan bahwa klasifikasi pelabuhan perikanan dibagi menjadi empat yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) atau tipe A, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) atau tipe B, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) atau tipe C dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) atau tipe D. Klasifikasi tersebut didasarkan kepada kriteria pada Tabel 3. Beberapa contoh pelabuhan perikanan yang terdapat di Indonesia berdasarkan klasifikasi tersebut adalah : 1. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) : PPS Nizam Zachman Jakarta, PPS Bungus, PPS Belawan, PPS Cilacap dan PPS Kendari 2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) : PPN Palabuhanratu, PPN Sibolga, PPN Pekalongan dan PPN Brondong 3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) : PPP Muncar, PPP Blanakan, PPP Bojomulyo dan PPP tasik Agung 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) : PPI Cisolok, PPI Cituis, PPI Muara Angke dan PPI Jetis 19 Tabel 3 Kriteria tipe pelabuhan perikanan di Indonesia Pelabuhan Kriteria Perikanan 1. Samudera (A) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan laut lepas b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 60 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT kapal perikanan sekaligus e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor f. Terdapat industri perikanan 2. Nusantara (B) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut Teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 30 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT kapal perikanan sekaligus e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor 3. Pantai (C) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut Teritorial b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 10 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT kapal perikanan sekaligus 4. Pangkalan a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan Pendaratan Ikan perikanan di perairan pedalaman dan perairan (D) kepulauan b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 3 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan sekaligus Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan (2006) 20 2.6 Analisis Pengujian Perbedaan Mutu Hasil Tangkapan : Mann-Whitney Test dan Kruskal Wallis Test Santoso (1999) menjelaskan mengenai statistika seperti penjelasan di bawah ini. Statistika dalam praktek berhubungan dengan banyak angka, sehingga statistika sering diasosiasikan dengan sekumpulan data. Statistika dipakai untuk melakukan berbagai analisis terhadap data seperti peramalan, pengujian dan lainnya. Statistika terbagi menjadi dua berdasarkan karakteristik datanya yaitu : 1) Statistika parametrik Statistika parametrik dipakai untuk menganalisis data yang berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Statistika parametrik dapat berupa ratarata/mean, median, standar deviasi, varians, t-test, f-test dan lainnya. 2) Statistika non parametrik. Statistika non parametrik dipakai untuk menganalisis data yang jumlahnya sedikit, berupa data kategori atau berasal dari populasi data yang tidak normal. Statistika non parametrik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan statistika parametrik yaitu : (1) Tidak mengharuskan data berdistribusi normal, karena itu statistika ini sering juga dinamakan uji distribusi bebas (distribution free test), dengan demikian statistika ini dapat dipakai untuk semua bentuk distribusi data dan lebih luas penggunaannya (2) Dapat dipakai untuk level data seperti nominal dan ordinal. Hal ini penting bagi para peneliti sosial (3) Cenderung lebih sederhana dan mudah dimengerti daripada pengerjaan statistika parametrik Disamping kelebihan di atas, statistika non parametrik juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu tidak adanya sistematika yang jelas seperti statistika parametrik dan tabel yang yang dipakai lebih bervariasi dibandingkan tabel-tabel standar pada statistika parametrik. Berikut ini adalah beberapa statistika non parametrik yang dapat digunakan pada software SPSS (Statistical Product and Service Solutions) pada Tabel 4 berikut ini : 21 Tabel 4 Jenis aplikasi statistika parametrik dan non parametrik berdasarkan hubungan sampel Test Aplikasi Test Non Parametrik Parametrik 1. Dua sampel saling berhubungan t-test Sign test (Two Dependent Sampels) z-tes Wilcoxon Signed-Rank Mc Nemar Change test 2. Dua sampel tidak berhubungan t-test Mann-Whitney U test (Two Independent Sampel) z-tes Moses Extreme reactions Chi-Square test Kolmogorov-Smirnov test Walt-Wolfowitz runs 3. Beberapa sampel berhubungan Friedman test (Several Dependent Sampels) Kendall W test Cochran’s Q 4. Beberapa sampel tidak ANOVA Kruskal-Wallis test berhubungan test Chi Square test (Several Independent Sampel) (f-test) Median test Sumber : Santoso (1999) 1) Mann-Whitney test Menurut Santoso (1999) analisis statistika menggunakan Mann-Whitney test digunakan untuk membandingkan dua data independent atau data yang tidak berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat bebas dan tidak saling terikat satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :  Buka software SPSS  Buka lembar kerja baru  Membuat dan member nama variabel sesuai data  Mengisi data sesuai dengan variabelnya  Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define group, test type mann-whitney dan oke  Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika  Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0) 2) Kruskal Wallis test Santoso (1999) menyatakan bahwa analisis statistika menggunakan Kruskal Wallis test digunakan untuk membandingkan tiga atau lebih data independent atau data yang tidak saling berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat 22 bebas dan tidak saling terkait satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :  Buka software SPSS  Buka lembar kerja baru  Membuat dan member nama variabel sesuai data  Mengisi data sesuai dengan variabelnya  Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define group, test type kruskal-wallis dan oke  Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika  Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0) 2.7 Analisis Finansial Menurut Kadariah (1988) terdapat dua jenis analisis biaya yaitu analisis finansial dan analisis ekonomi. Analisis finansial merupakan analisis biaya yang dilihat dari sudut penanam modal, sedangkan analisis ekonomi dilihat dari sudut perekonomian secara keseluruhan. Pada analisis finansial terdapat dua jenis pengeluaran yaitu pengeluaran untuk barang investasi dan biaya untuk produksi. Biaya produksi menurut Rosyidi (2009) merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan produk atau semua nilai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk. Biaya produksi ini terbagi atas tiga jenis yaitu : 1. Biaya tetap/fixed cost (FC) Biaya tetap merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang tidak berubah walaupun jumlah produk yang dihasilkan berubah. Biaya ini tetap harus dikeluarkan atau dibayarkan walaupun tidak ada produk yang dihasilkan. Contoh dari biaya tetap adalah sewa, asuransi, biaya pemeliharaan, biaya penyusutan, bagi hasil, gaji, pajak dan alat tulis kantor. 2. Biaya variabel/variabel cost (VC) Biaya variabel merupakan biaya yang dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang berubah sesuai dan searah dengan perubahan jumlah produk. Biaya ini tidak dikeluarkan atau dibayarkan jika tidak ada produk yang 23 dihasilkan. Contoh dari biaya variabel adalah bahan mentah atau bahan baku, bahan bakar, penggunaan listrik, penggunaan air dan pengangkutan. 3. Biaya total/total cost (TC) Biaya total merupakan keseluruhan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pengusaha, sehingga biaya ini adalah hasil penjumlahan dari biaya tetap dengan biaya variabel. Penyusutan merupakan pengalokasian investasi setiap tahun sepanjang umur ekomomis proyek atau kegiatan untuk memastikan modal terhitung dalam neraca rugi laba tahunan (Kadariah, 1988). Standar Akuntansi Keuangan (2007) vide (Nurlaelani, 2011) mendefinisikan penyusutan sebagai alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang disetimasi. Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokan sebagai berikut (Nurlaelani, 2011): 1) Metode aktivitas (Activity Method) Metode aktivitas (activity method) juga disebut pendekatan beban variabel, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas bukan dari berlalunya waktu. 2) Metode Garis Lurus (Straight Line Method) Metode garis lurus mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan fungsi dari penggunaan. 3) Metode Beban Menurun (Decreasing Charge Method) Metode beban menurun (Decreasing Charge Method) yang seringkali disebut metode penyusutan dipercepat menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang. Metode ini terbagi dua yaitu :  Metode Jumlah Angka Tahun (Sum Of The Year Digits) adalah yang menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan.  Metode Saldo Menurun adalah metode yang menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus. 24 4) Metode Penyusutan Khusus  Metode Kelompok dan Gabungan merupakan metode dimana beberapa akun aktiva seringkali disusutkan dengan satu tarif. Metode kelompok sering digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen dan memiliki masa manfaat yang hampir sama. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda.  Metode Campuran atau Kombinasi dimana selain metode penyusutan diatas, perusahaan bebas mengembangkan metode penyusutan sendiri yang khusus atau dibuat khusus. 25 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2010 dengan tempat penelitian di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat (Lampiran 1). 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer hasil kuesioner, data sekunder yang berhubungan dengan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, peta dunia dan peta Jawa Barat.. Alat yang dipakai adalah kuesioner untuk wawancara, Microsoft Office Excel untuk membuat tabel dan diagram, Adobe Ilustrator 10 dan Corel Draw X4 sebagai pembuat peta, serta Minitab Solution untuk pengujian normalitas data dan SPSS 12 untuk analisis statistika. 3.3 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kasus yaitu dengan mengamati dan mengkaji dua aspek yaitu penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan aspek tersebut ingin diketahui data dan informasi mengenai kondisi terkini dan sekaligus mendapatkan permasalahanpermasalahan yang dihadapi oleh PPN Palabuhanratu. Informasi dan permasalahan yang diperoleh digunakan sebagai masukan dalam perbaikan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Data atau informasi yang ingin diketahui mengenai penanganan hasil tangkapan yaitu sarana dan prasarana penanganan, cara penanganan, pelaku penanganan dan biaya penanganan, sedangkan informasi yang ingin diketahui mengenai pendistribusian hasil tangkapan yaitu jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, sarana dan prasarana pendistribusian, cara pendistribusian, pelaku pendistribusian, alur pendistribusian, daerah tujuan pendistribusian dan biaya pendistribusian. Untuk mendapatkan hal-hal tersebut dilakukan pengamatan, wawancara dan pengumpulan data sekunder. 26 1) Pengamatan yang dilakukan pada saat penelitian di lapangan adalah : (1) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pendaratan terhadap sarana dan prasarana, alat dan bahan, pelaku dan cara penanganan serta masalah dalam kegiatan tersebut. (2) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pedagang pengumpul. Hal yang diamati dan dicatat adalah sarana dan prasarana yang digunakan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, cara penanganan dan masalah yang terjadi pada kegiatan tersebut. (3) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pedagang pengecer. Hal yang diamati dan dicatat adalah sarana dan prasarana yang digunakan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, cara penanganan dan masalah yang terjadi pada kegiatan tersebut. (4) Pengamatan dengan uji organoleptik, dilakukan terhadap contoh hasil tangkapan yang diambil dengan cara purposive sampling yaitu empat jenis hasil tangkapan dominan dari sisi volume maupun harga yang didaratkan di PPN Palabuhanratu yaitu layur (Trichiurus savala), tongkol (Auxis sp.), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tuna-tuna kecil atau tuna baby (Thunnus sp.). Pengamatan dilakukan di dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu. Diasumsikan bahwa ikan yang diuji organoleptik di tempat pendaratan dan pedagang pengecer berasal dari tempat dan waktu pendaratan yang sama. Pada masing-masing tempat diambil 75 ekor ikan sebagai sampel dengan 5 kali pengulangan, sehingga total sampel ikan yang diamati adalah 600 ekor. Pengamatan organoleptik yang dilakukan yaitu pengamatan mata, insang dan konsistensi (elastisitas kulit dan daging ikan). Pengamatan terhadap daging dan isi perut tidak dilakukan dikarenakan keterbatasan dana penelitian. (5)Pengamatan terhadap cara pendistribusian hasil tangkapan, pelaku pendistribusian, sarana dan prasarana pendistribusian serta jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan 27 2) Wawancara Wawancara yang dilakukan pada saat penelitian ini menggunakan kuesioner kepada pihak-pihak terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yaitu nelayan, pedagang, pengelola TPI, perusahaan penanganan dan pengelola PPN Palabuhanratu. Pemilihan jumlah responden dilakukan dengan metode purposive sampling {jumlah responden ditentukan dan diambil secara sengaja dan secara prinsip jawaban-jawaban responden mengumpul di sekitar nilai rata-rata sehingga diperkirakan dapat mencapai tujuan penelitian Pane (2012)}. Jumlah responden dan hal-hal yang ingin diketahui dari masing-masing responden yaitu : (1) Lima belas orang nelayan yang diambil dari tiga nelayan payang, tiga nelayan pancing rumpon, tiga nelayan rawai layur, tiga nelayan longline dan tiga nelayan bagan. Hal yang ingin diketahui yaitu cara penanganan yang dilakukan (di atas kapal dan di tempat pendaratan), alat dan bahan yang digunakan untuk penanganan, besaran biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan, komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, sarana dan prasarana pendistribusian, cara pendistribusian, alur pendistribusian, biaya pendistribusian dan kendala yang dihadapi terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan (2) Lima orang pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu, dengan informasi yang ingin didapat yaitu jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang ditangani, harga beli hasil tangkapan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan dan pendistribusian, komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, daerah tujuan pendistribusian dan kendala yang dihadapi. (3) Lima orang pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu. Informasi yang ingin didapat yaitu alat dan bahan penjualan hasil tangkapan, adakah penanganan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan hasil tangkapan, siapa konsumennya, biaya yang dikeluarkan dan kendala yang dihadapi. (4) Satu orang pengelola TPI, untuk mengetahui adakah penanganan hasil tangkapan selama di TPI, cara penanganan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, besar biaya penanganan yang dilakukan di TPI dan kendala yang dihadapi. 28 (5) Dua orang responden dari perusahaan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan. Perusahaan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang terdapat di PPN Palabuhanratu adalah perusahaan penanganan dan pendistribusian layur (PT Agro Global Bisnis), perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna (PT Tuna Tunas Mekar, PT Jaya Mitra dan PT Karya Maju). Informasi yang ingin didapat yaitu jenis hasil tangkapan yang ditangani dan didistribusikan, cara penanganan dan pendistribusian, alat dan bahan penanganan dan pendistribusian, prasarana dan sarana pelabuhan yang digunakan untuk penanganan dan pendistribusian, biaya yang dikeluarkan dalam penanganan dan pendistribusian, daerah tujuan pendistribusian dan kendala yang dihadapi. (6) Dua orang pengelola pelabuhan, untuk mengetahui prasarana dan sarana apa yang disediakan pelabuhan untuk melakukan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas penanganan dan pendistribusian, program terkait penanganan dan pendistribusian, serta kendala yang dihadapi. (7) Dua orang dari Laboratorium Bina Mutu (LBM). Hal yang ingin diketahui adalah tugas, cara pengujian, alat pengujian dan hasil pengujian. 3) Pengumpulan data sekunder Data sekunder didapatkan dari pengelola PPN Palabuhanratu, Dinas Kelautan dan Perikanan Palabuhanratu, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi dan pengelola perusahaan penanganan. Data yang dikumpulkan selama penelitian terdiri dari data utama dan tambahan yaitu : (1) Data utama 1. Data Primer  Alat dan bahan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Cara penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Pelaku penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Alur pendistribusian hasil tangkapan  Daerah tujuan pendistribusian hasil tangkapan  Biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Nilai uji organoleptik 29 2. Data Sekunder  Kabupaten Sukabumi dalam angka  Laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Palabuhanratu  Hasil tangkapan bulanan lima tahun terakhir  Komposisi dan jumlah alat penangkap ikan  Daerah tujuan pendistribusian hasil tangkapan  Jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan  Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan lokal, luar daerah dan ekspor  Daftar sarana dan prasarana pelabuhan (2) Data tambahan 1. Data primer yaitu keadaaan fasilitas pelabuhan 2. Data sekunder yaitu letak geografis PPN Palabuhanratu dan Kabupaten Sukabumi 3.4 Analisis Data Untuk mengetahui keadaan penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu baik di tempat pendaratan, di tempat pedagang pengumpul maupun di tempat pedagang pengecer dilakukan analisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel, gambar dan diagram. Data yang digunakan dalam analisis adalah data primer berupa ada atau tidaknya penanganan, hasil tangkapan yang ditangani, pelaku penanganan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan. Data yang berupa aktivitas serta karakteristik hasil tangkapan dideskripsikan menjadi gambaran penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Analisis volume dan kondisi hasil tangkapan dilakukan secara deskriptif dengan data sekunder maupun hasil pengamatan langsung terhadap hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu. Analisis data sekunder yaitu analisis persentase volume hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan persentase hasil tangkapan yang didistribusikan. Analisis dengan data hasil pengamatan langsung dilakukan berdasarkan pengukuran organoleptik dengan numerial scoring system (skor dengan angka). Data sajian nilai skala organoleptik berupa kisaran dan rata-rata dengan Microsoft Office Excel. 30 Hasil pengukuran organoleptik dianalisis secara statistika dengan memakai Software Minitab Solution dan SPSS 12 untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan di antara pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer dan diantara jenis hasil tangkapan yang diuji. Analisis dilakukan dengan langkah sebagai berikut : 1. Pengelompokan data sesuai jenis hasil tangkapan, kategori pengujian dan tempat pengujian (Lampiran 4 sampai 11). Jenis hasil tangkapan meliputi tunatuna kecil, tongkol, layur dan cakalang. Kategori pengujian terdiri dari mata, insang dan konsistensi. Pengujian dilakukan di dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. 2. Pengujian normalitas dan transformasi data dengan Minitab Solution untuk mengetahui apakah data menyebar normal atau tidak. Jika data membentuk kurva miring dari kiri ke kanan maka data menyebar normal dan jika tidak maka data menyebar tidak normal. Jika data menyebar normal maka data dianalisis menggunakan statistika parametrik, namun jika data menyebar tidak normal maka data dianalisis menggunakan statistika non parametrik. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa semua data menyebar tidak normal, sehingga semua data dianalisis menggunakan statistika non parametrik. Terdapat dua analisis statistika non parametrik yang digunakan yaitu analisis statistika Mann-Whitney test yang digunakan untuk perbandingan antar dua data independent dan analisis Kruskal Wallis test yang digunakan untuk perbandingan dua, tiga atau lebih data independent. 3. Analisis statistika non parametrik untuk perbandingan hasil pengujian organoleptik antara di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer untuk setiap jenis hasil tangkapan dan untuk keseluruhan sampel dilakukan menggunakan Mann-Whitney test dengan software SPSS 12. Hal ini karena membandingkan dua data independent yaitu data hasil uji organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan data hasil uji organoleptik hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik hasil tangkapan yang nyata diantara kedua tempat tersebut. Hasil analisis dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel (Lampiran 12 sampai 16). Jika dari hasil analisis 31 didapatkan asymp sig ≥ 0,05 berarti tidak terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata antara hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer. Jika berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai asymp sig < 0,05 dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata antara hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hasil tangkapan yang memiliki nilai mean rank lebih tinggi artinya memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang lebih tinggi daripada hasil tangkapan lainnya. Semakin jauh perbedaan mean rank hasil tangkapan maka semakin jauh perbedaan nilai skala organoleptik atau mutunya. 4. Analisis statistika perbandingan antar jenis hasil tangkapan (layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang) menggunakan Kruskal Wallis test dengan software SPSS 12. Hal ini karena pada analisis ini yang akan dibandingkan adalah empat data independent yaitu data hasil uji organoleptik layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata diantara keempat jenis hasil tangkapan tersebut. Analisis ini akan dilakukan terhadap dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis statistika dengan SPSS 12 dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel (Lampiran 17 dan 18). Jika nilai asymp sig hasil pengujian ≥ 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara jenis hasil tangkapan yang dibandingkan. Tetapi jika nilai asymp sig hasil pengujian < 0,05 artinya terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara jenis hasil tangkapan yang dibandingkan. Hasil tangkapan dengan nilai mean rank yang lebih tinggi memiliki arti nilai skala organoleptik atau mutunya lebih tinggi dibandingkan hasil tangkapan lainnya. Semakin besar selisih perbedaan nilai mean rank antara hasil tangkapan berarti semakin besar selisih nilai skala organoleptik atau mutunya. 5. Kemudian dilakukan uji lanjutan terhadap hasil butir 4 di atas berupa pemberian peringkat dan perhitungan secara manual. Hasil analisis statistika uji lanjutan dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel 32 (Lampiran 19 sampai dengan 26). Berikut ini adalah rumus yang digunakan dalam uji lanjutan : 2 N N  1  1 N 2 S   R ( X j )   N 1  4  2  k Rj N N  1     nj 4   2 Rj Rj ' 2 N 1    t   S  , N k  nj nj ' N k  2 2  2 1 S2 ` 2 1 1  artinya tolak H0 (beda nyata) nj nj ' Keterangan : j = kelompok jenis ikan 1 j′ = kelompok jenis ikan 2 N = jumlah keseluruhan sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok kenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(X)² = jumlah kuardrat rank sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 Sumber : Lawry (1999) Untuk mendapatkan gambaran keadaan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusiannya dilakukan analisis secara deskriptif dan info geografis dengan menggunakan tabel, diagram, gambar dan peta. Tabel, diagram, gambar dan peta tesebut digunakan untuk mengetahui keadaan terkini pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dan memetakan pendistribusian hasil tangakapan dari PPN Palabuhanratu. Berdasarkan sub bab 2.5 terdapat lima jenis pemetaan dalam kegiatan pendistribusian. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan kuantitatif dan skema arus barang niaga untuk kegiatan pendistribusian. Pemetaan kuantitatif berfungsi menjelaskan berapa banyak, dari mana dan kemana hasil tangkapan didistribusikan. Skema arus barang niaga untuk menunjukkan jalur dan pelaku pendistribusian hasil tangkapan tersebut. Data yang digunakan dalam analisis adalah data primer (cara pendistribusian, alat dan bahan pendistribusian, pelaku pendistribusian dan alur pendistribusian) dan data sekunder (jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan 33 dan daerah tujuan pendistribusian). Analisis data sekunder yaitu analisis persentase volume hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan persentase hasil tangkapan yang didistribusikan ke luar PPN Palabuhanratu menuju hinterland. Pembuatan analisis deskriptif dalam bentuk pemetaan dibantu tiga software agar lebih informatif yaitu Microsoft Office Excel, Adobe Ilustrator 10 dan Corel Draw X4. Biaya yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon pada skripsi ini dihitung berdasarkan analisis finansial (Lampiran 27 sampai dengan Lampian 38. Analisis ini akan mengkaji beberapa hal yaitu biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan hasil tangkapan dan untuk melakukan pendistribusian hasil tangkapan. Pada analisis finansial pengeluaran untuk penanganan dan pendistribusian dibedakan menjadi dua yaitu investasi dan biaya produksi. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Pane selaku dosen pembimbing ditambahkan pinjaman dalam analisis ini karena dalam memulai, melanjutkan atau mempertahankan usaha terkadang dilakukan peminjaman dana. Biaya produksi tersebut terdiri dari biaya tetap, biaya variabel dan biaya total. Biaya total dihitung dengan rumus sebagai berikut : TC = TFC + TVC Keterangan : TC = total cost/biaya total TFC = total fixed cost/jumlah biaya tetap TVC = total variabel cost/jumlah biaya variabel Sumber : Rosyidi (2009) Perhitungan biaya penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 2.4 metode garis lurus dihitung konstan sepanjang umur teknis barang investasi. Perhitungan penyusutan dilakukan dengan rumus : Biaya penyusutan = Nilai investasi awal : umur teknis Kerangka pemikiran penelitian yang dilakukan oleh peneliti secara ringkas ditampilkan pada Gambar 1 : 34 a. Ada atau tidaknya penanganan b. Tempat dan cara penanganan c. Bahan dan alat penanganan d. Pelaku penanganan e. Nilai skala organoleptik f. Ada atau tidak pengawasan mutu oleh pengelola PPN Palabuhanratu dan bentuknya a. Ada atau tidaknya pendistribusian b. Produk yang didistribusikan dan jumlahnya c. Cara pendistribusian d. Bahan dan alat pendistribusian e. Pelaku pendistribusian f. Daerah tujuan pendistribusian a. Biaya pengadaan alat b. Biaya pengadaan bahan c. Biaya penyusutan alat d. Biaya upah karyawan e. Biaya lainnya f. Siapa yang mengeluarkan biaya tersebut Metode penelitian : a. Wawancara (nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul, pedagang pengecer dan pengelola PPN Palabuhanratu) b. Pengamatan terhadap proses penanganan hasil tangkapan c. Pengujian organoleptik (ikan tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) d. Pengambilan data sekunder dari pengelola PPN Palabuhanratu Analisis data : a. Deskriptif \menggunakan tabel, gambar dan diagram b. Untuk data organoleptik  Rata-rata dan kisaran  Uji normalitas  SPSS Mann Wihtney  SPSS Kurskal Wallis dengan uji lanjutan Metode penelitian : a. Wawancara (nelayan, pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul) b. Pengamatan terhadap proses pendistribusian hasil tangkapan c. Pengambilan data sekunder dari pengelola PPN Palabuhanratu Analisis data : a. Deskriptif menggunakan tabel, gambar, diagram dan peta b. Diagram alir pendistribusian c. Pemetaan berdasarkan jenis hasil tangkapan yang didistribusikan d. Pemetaan berdasarkan tujuan pendistribusian e. Pementaan pendistribusian hasil olahan asin dan pindang Metode penelitian : a. Wawancara kepada nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul, pedagang pengecer dan pengelola PPN Palabuhanratu b. Pengamatan terhadap alat dan bahan penanganan hasil tangkapan c. Pengamatan terhadap alat dan bahan pendistribusian hasil tangkapan Analisis data : Menggunakan analisis finansial yang terdiri dari : a. Tabel biaya untuk investasi b. Tabel biaya produksi  Biaya tetap  Biaya variabel  Biaya total Mengetahui kondisi penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Mengetahui gambaran kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Mendapatkan besaran biaya penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Input Proses Mendapatkan besaran biaya pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Output Gambar 1 Kerangka penelitian Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu 34 35 4 KEADAAN UMUM 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi Keadaan umum daerah Kabupaten Sukabumi dikemukakan dalam sub bab 4.1.1 sampai dengan 4.1.3 di bawah ini meliputi keadaan geografis dan topografis, kependudukan, keadaan prasaranan umum, keadaan pemerintahan dan keadaan perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi. 4.1.1 Keadaan geografis dan topografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari ibukota Propinsi Jawa Barat (Bandung) dan 119 km dari ibukota negara (Jakarta). Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak diantara 60 57` - 70 25` LS dan 1060 49` - 1070 00` BT dan mempunyai luas daerah 4.128 km2 atau 14,39% dari luas Jawa Barat atau 3,01% dari luas Pulau Jawa (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a) Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa Kabupaten Sukabumi berbatasan dengan beberapa kabupaten lain di Jawa Barat dan ada bagian yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia yaitu : 1) Sebelah Utara : Kabupaten Bogor, 2) Sebelah Selatan : Samudera Indonesia, 3) Sebelah Barat : Kabupaten Lebak dan Samudera Indonesia, 4) Sebelah Timur : Kabupaten Cianjur. Kabupaten Sukabumi adalah daerah yang beriklim tropis dengan suhu udara berkisar antara 20º-30º C, kelembaban udara 85% - 89% dan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.805 mm dengan hari hujan 144 hari. Curah hujan antara 3.0004.000 mm/tahun terdapat di daerah utara, sedangkan curah hujan antara 2.0003.000 mm/tahun terdapat di daerah bagian tengah sampai selatan Kabupaten Sukabumi (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b). Curah hujan di atas adalah penting bagi persediaan air tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber air bagi penduduk di kabupaten ini. Sungai yang mengalir di daerah Kabupaten Sukabumi antara lain Sungai Cipelang, Citatih, Citarik, Cibodas, Cidadap, Ciletuh, Cikarang, Cikaso, Cibuni serta Sungai 36 Cimandiri dan anak sungainya. Sumber-sumber air asal sungai tersebut banyak digunakan masyarakat untuk mengairi lahan pertaniannya, mengairi kolam, keperluan hidup dan untuk keperluan usaha lainnya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) menjelaskan mengenai keadaan topografis Kabupaten Sukabumi yaitu bentuk topografi wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya meliputi dataran rendah dengan beberapa bukit kecil di daerah bagian selatan dan barat. Daerah ini sangat cocok dikembangkan menjadi daerah perkotaan. Selain itu daerah ini merupakan daerah yang memiliki pantai karena berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Keadaan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia membuat daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi perikanan tangkap yang baik, dengan jangkauan daerah penangkapan yang luas. Sebagian besar daerah pantai di Kabupaten Sukabumi membentuk teluk yang menyebabkan daerah tersebut terlindung dari gelombang laut Samudera Indonesia yang cukup besar sehingga keberadaan PPN Palabuhanratu sebagai sentral kegiatan perikanan tangkap pada saat ini sudah sangat sesuai dengan kondisi geografi pantai berupa teluk tersebut. Daerah Kabupaten Sukabumi juga terdiri dari daerah yang bergunung di daerah bagian utara dan tengah (Gunung Salak dengan ketinggian 2.211 m dan Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 m). Adanya daerah pegunungan ini membuat jalur transportasi ke dan dari ibu kota negara (Jakarta) dan sekitarnya harus melalui pegunungan tersebut. Hal ini membuat jalur yang dilalui merupakan tanjakan dan turunan yang cukup tajam, sehingga perjalanan tidak bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi dan memakan waktu yang cukup lama. Produk perikanan merupakan produk yang sangat rentan terhadap pembusukan dan kerusakan, sehingga dalam pendistribusian melalui jalur seperti di atas distributor harus sangat memperhatikan kemasan dan suhu produk perikanan yang didistribusikan. Adanya bentuk topografis yang beragam itu membuat Kabupaten Sukabumi memiliki pariwisata yang beragam pula seperti wisata bahari, arung jeram dan perkebunan. Wisata bahari di Kabupaten Sukabumi dapat berupa pantai berpasir, karang, memancing, surfing dan wisata makanan hasil perikanan. Pariwisata yang 37 menjanjikan tersebut membuat banyak didirikannya penginapan dan restoran di sepanjang pantai di Kabupaten Sukabumi. 4.1.2 Keadaan penduduk, pendidikan dan rumah tangga perikanan 1) Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi yang tercatat dalam laporan BPS Kabupaten Sukabumi tahun 2009 mencapai 2.328.804 orang yang terdiri atas 1.185.833 laki-laki dan 1.142.971 perempuan. Rasio jenis kelamin penduduk di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 sebesar 104 yang artinya pada setiap 104 laki-laki terdapat 100,0 perempuan. Kepadatan penduduk Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 adalah sebesar 559 orang per km2 meningkat dibandingkan tahun 2008 yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 547 orang per km2. Hal tersebut mengartikan bahwa pada setiap 1 km di Kabupaten Sukabumi dihuni oleh 559 orang (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Penduduk yang terdapat di Kabupaten Sukabumi jika dikelompokkan berdasarkan umurnya adalah sebagai berikut (Tabel 5) : Tabel 5 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kelompok Jumlah Persentase Kelompok Jumlah Persentase umur (orang) (%) umur (orang) (%) ≤4 266.132 11,4 40-44 167.712 7,2 5-9 221.163 9,5 45-49 140.590 6,0 10-14 265.428 11,4 50-54 115.666 5,0 15-19 189.441 8,1 55-59 80.545 3,5 20-24 153.651 6,6 60-64 62.915 2,7 25-29 186.616 8,0 65-69 47639 2.05 30-34 159.349 6,8 70-74 34234 1.47 35-39 185.927 8,0 ≥ 75 51796 2.22 Jumlah 2.328.804 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Penduduk yang memiliki komposisi terbanyak di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah ≤ 4 tahun dan 10-14 tahun dengan persentase masing-masing sebesar 11,4% dan 11,4%. Sebagian besar penduduk Kabupaten Sukabumi berusia muda, sehingga sangat bagus menjadi target pemasaran hasil tangkapan ikan 38 melalui pendekatan kandungan gizi hasil tangkapan ikan. Salah satu kandungan gizi hasil tangkapan ikan yang penting dan terkenal adalah omega 3 yang baik untuk daya ingat dan perkembangan sel otak (Dechacare, 2011) Penduduk di atas tersebar ke dalam 47 kecamatan seperti yang terdapat pada Tabel 6 di bawah ini : Tabel 6 Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kecamatan 1. Bantargadung 2. Bojonggenteng 3. Caringin 4. Ciambar 5. Cibadak 6. Cibitung 7. Cicantayan 8. Cicurug 9. Cidadap 10 .Cidahu 11. Cidolog 12. Ciemas 13. Cikakak 14. Cikembar 15. Cikidang 16. Cimanggu 17. Ciracap 18. Cireunghas 19. Cisaat 20. Cisolok 21. Curug kembar 22. Gegerbitung 23. Gunung guruh 24. Jampang kulon Jumlah (orang) 38.374 31.664 44.095 36.414 105.140 25.737 50.026 108.735 19.343 54.954 17.974 49.381 38.554 73.043 64.259 22.279 44.262 31.029 107.428 62.538 31.169 38.754 46.789 41.202 P (%) 1,6 1,4 1,9 1,6 4,5 1,1 2,1 4,7 0,8 2,4 0,8 2,1 1,7 3,1 2,8 1,0 1,9 1,3 4,6 2,7 1,3 1,7 2,0 1,8 Kecamatan 25. Jampang tengah 26. Kabandungan 27. Kadudampit 28. Kalapanunggal 29. Kalibunder 30. Kebonpedes 31. Lengkong 32. Nagrak 33. Nyalindung 34. Pabuaran 35. Palabuhanratu 36. Parakansalak 37. Parungkuda 38. Purabaya 39. Sagaranten 40. Simpenan 41. Sukabumi 42. Sukalarang 43. Sukaraja 44. Surade 45. Tegalbuleud 46. Waluran 47. Warungkiara Jumlah Jumlah (orang) 66.250 37.605 48.220 40.298 27.516 28.544 29.712 76.991 45.528 39.935 94.266 38.890 32.377 41.742 49.656 48.066 44.566 37.345 76.988 70.665 32.877 25.835 56.993 2.328.804 P (%) 2,8 1,6 2,1 1,7 1,2 1,2 1,3 3,3 1,9 1,7 4,1 1,7 1,4 1,8 2,1 2,1 1,9 1,6 3,3 3,0 1,4 1,1 2,5 100,0 Keterangan : P = persentase penduduk per kecamatan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Tabel 6 diatas memberikan informasi bahwa pada tahun 2009 kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Sukabumi adalah Cisaat (4,6%), Cicurug (4,7%), Cibadak (4,5%) dan Palabuhanratu (4,1%). Kecamatan- 39 kecamatan yang memiliki penduduk banyak dan terbanyak merupakan pasar yang sangat potensial bagi pendistribusian hasil tangkapan. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak penduduk suatu daerah maka semakin banyak orang yang dapat dijadikan target pemasaran. Sehingga dapat diasumsikan bahwa Cisaat, Cicurug, Cibadak dan Palabuhanratu merupakan pasar potensial bagi produk perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi. 2) Pendidikan Pendidikan yang ada di Kabupaten Sukabumi berupa taman kanak-kanak (TK), sekolan dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan Madrasah. Walaupun banyak tersedia jenis pendidikan di Kabupaten Sukabumi, namun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan masih sangat rendah. Masyarakat Kabupaten Sukabumi umumnya memilih untuk menyuruh anak mereka bekerja membantu ekonomi keluarga dibandingkan bersekolah. Maka sangat diperlukan perhatian yang khusus dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi agar masalah ini dapat teratasi (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b) Pada tahun 2009 Pemda Kabupaten Sukabumi telah menganggarkan dana pendidikan pada tahun 2009 sebesar 535 juta rupiah, yang akan dialokasikan kepada beasiswa murid dari keluarga miskin, beasiswa putera daerah ke perguruan tinggi, meningkatkan kesejahteraan guru dan biaya operasional sekolah (BOS). Hal lain yang menjadi bukti perhatian Pemda Kabupaten Sukabumi terhadap pendidikan adalah dengan mencanangkan program pendidikan anak usia dini (PAUD) setara TK. Program ini bertujuan agar anak-anak di bawah umur bersekolah di SD dapat belajar menulis, membaca dan berhitung, agar memudahkan mereka menerima pelajaran di tingkat pendidikan selanjutnya (Desentralisasi, 2009). Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi juga sangat menyadari bahwa ketersediaan sarana prasarana pendidikan yang memadai menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan di suatu wilayah. Maka Pemda Kabupaten Sukabumi berupaya menyediakan fasilitas pendidikan yaitu : 40 Tabel 7 Jumlah sekolah dan murid berdasarkan jenisnya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Sekolah (unit) Murid (orang) Jenis sekolah Negeri Swasta Jumlah Negeri Swasta Jumlah 1. SD 1.164 22 1.186 268.068 4.061 272.129 2. SLTP 119 88 207 54.848 22.801 77.649 3. SLTA 22 33 55 12.425 4.784 17.209 4. SMK 10 52 62 4.314 15.164 19.478 Jumlah 1.315 195 1.510 339.655 46.810 386.465 Persentase (%) 87,1 12,9 100,0 87,9 12,1 100,0 Keterangan : SD = Sekolah negeri; SLTP = Selolah Lanjutan Tingkat Pertama; SLTA = Sekolah Lanjutan Tingkat Atas; SMK = Sekolah Menengah Kejuruan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa jumlah sekolah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 1.510 unit. Sekolah yang jumlahnya paling banyak pada tahun tersebut di Kabupaten Sukabumi adalah SD dengan jumlah 1.186 unit, sedangkan sekolah yang jumlahnya paling sedikit adalah SLTA sebanyak 55 unit. Sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi dikelola oleh dua pihak yaitu negeri (pemerintah) dan swasta. Jumlah sekolah terbanyak berdasarkan pengelolanya adalah sekolah negeri yaitu sebesar 1.315 unit atau 87,1%, sedangkan sekolah swasta hanya berjumlah 195 unit atau 12,9% dari keseluruhan sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi. Jenis sekolah negeri terbanyak adalah SD dengan jumlah 1.164 unit, sedangkan jenis sekolah swasta terbanyak berjumlah 88 unit yaitu SLTP. Jumlah jenis sekolah negeri paling sedikit adalah SMK dengan jumlah 10 unit, sedangkan jenis sekolah swasta paling sedikit adalah SD yang berjumlah 22 unit (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010). Murid dari sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berjumlah 386.465 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 339.655 orang (87, 9%) dari sekolah negeri dan 46.810 orang (12,1%) dari sekolah swasta. Jumlah murid terbanyak untuk sekolah negeri adalah murid SD, sementara murid terbanyak untuk sekolah swasta berasal dari SLTP (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Selain jenis sekolah di atas, terdapat satu jenis sekolah lagi di Kabupaten Sukabumi yaitu madrasah. Madrasah merupakan sekolah berlandaskan agama Islam. Berikut ini adalah jenis dan jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 : 41 Tabel 8 Jenis dan jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Persentase (%) Jenis Madrasah Jumlah (unit) 7,0 1. Raudhatul Athfal 215 74,9 2. Diniah Awaliah 2.294 9,6 3. Ibtidaiyah 293 6,2 4. Tsanawiyah 189 2,3 5. Aliah 71 100,0 Jumlah 3.062 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Pada Tabel 8 diketahui bahwa jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berjumlah 3.062 unit. Jumlah madrasah tersebut terdiri dari madradah raudhatul athfal 251 unit (7,0%), madrasah diniah awaliah 2.294 unit (74,9%), madrasah ibtidaiyah 293 unit (9,6%), madrasah tsanawiyah 189 unit (6,2) dan madrasah aliah 71 unit (2,3%). Hal ini memberitahukan bahwa jenis madrasah dengan jumlah terbanyak adalah diniah awaliah. Menurut (Desentralisasi, 2009) jumlah madrasah cukup banyak dikarenakan Pemda Kabupaten Sukabumi menitik beratkan kepada pembangunan manusia yang berakhlaqulkarimah (berakhlak baik). Sekolah perikanan yang terdapat di Kecamatan Palabuhanratu adalah sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 (Pelayaran) Palabuhanratu. Jurusanjurusan yang terdapat di sekolah ini adalah nautika perikanan laut (NPL), teknika perikanan laut (TPL), pengolahan hasil perikanan (PHP), teknik kendaraan ringan/otomotif (TKR) dan nautika kapal niaga (NKN). Sekolah ini melakukan kerja sama dengan PT Harini Duta Ayu Jakarta, PT Mariana Pratama Jakarta, PT Angkasa Jakarta, PT Ocean Mitramas, PT Budi Agung, PT Mega Golden, PT Agung Jaya serta perusahaan yang ada di luar negeri seperti Jepang , Taiwan dan Singapore (Info Parahyangan, 2011). 3) Rumah tangga perikanan Rumah tangga perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu rumah tangga pemilik (RTP) dan rumah tangga buruh perikanan (RTBP). Pengelompokan ini belum termasuk pelaku perikanan lainnya seperti pedagang, pengolah ikan, penyedia kebutuhan melaut, produsen kapal, produsen kapal dan lainnya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). 42 Tabel 9 Jenis dan jumlah rumah tangga perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis rumah tangga Jumlah (orang) Persentase (%) 1. RTP 2.063 18,7 2. RTBP 8.988 81,3 Jumlah 11.051 100,0 Keterangan : RTP = rumah tangga pemilik; RTBP = rumah tangga buruh perikanan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Rumah tangga perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 menurut Tabel 9 berjumlah 11.051 rumah tangga. Jumlah rumah tangga pemilik perikanan tangkap tahun 2009 di Kabupaten Sukabumi 2.063 rumah tangga (18,7%), sedangkan rumah tangga buruh perikanan tangkap berjumlah 8.988 rumah tangga (81,3%). Salah satu pelaku perikanan tangkap selain rumah tangga perikanan tangkap adalah pengolah ikan. Pengolahan ikan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan menambah nilai jual ikan hasil tangkapan rumah tangga perikanan tangkap melalui proses merubah ikan menjadi suatu produk. Banyak jenis usaha pengolahan, pelaku dan produksinya dikemukakan seperti di bawah ini (Tabel 10): Tabel 10 Jenis usaha pengolahan ikan dan jumlah pelakunya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Pemilik (orang) Buruh Jumlah buruh per Jenis usaha atau usaha (unit) (orang) usaha (orang) 1. Ikan asin 64 275 4 2. Pindang 752 1.587 2 3. Bakso ikan 4 16 4 4. Abon ikan 2 29 14 5. Pengasapan ikan 1 6 6 6. Pengolahan ikan lain 2 27 13 Jumlah 825 1.940 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jenis usaha pengolahan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi adalah ikan asin, pindang, bakso ikan, abon ikan, pengasapan ikan dan pengolahan ikan lain. Usaha pengolahan dominan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah pindang dengan jumlah 752 unit usaha (91,1%) dan ikan asin sebanyak 64 unit usaha 43 (7,5%). Usaha pengolahan pindang dan ikan asin juga merupakan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi yaitu 1.587 orang pada usaha pindang dan 275 orang pada usaha ikan asin. Pelaku usaha pengolahan ikan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 terdiri dari pemilik usaha dan buruh yang bekerja di pabrik pengolahan ikan. Buruh pengolahan ikan di Kabupaten Sukabumi berjumlah 1.940 orang, sedangkan jumlah pemilik usaha pengolahan adalah 825 orang. Jumlah ini sesuai karena satu orang pemilik usaha pengolahan memimpin beberapa orang buruh dalam menjalankan usahanya. Jumlah buruh berkisar antara 2 sampai dengan 14 orang buruh per usaha. 4.1.3 Keadaan prasarana umum 1) Transportasi dan Komunikasi Transportasi udara tidak tersedia di Kabupaten Sukabumi, yang tersedia di Kabupaten Sukabumi adalah transportasi laut dan darat. Transportasi laut yang terdapat di Kabupaten Sukabumi hanya digunakan sewaktu-waktu atau bersifat insidental. Hal ini membuat peran transportasi di Kabupaten Sukabumi sangat bergantung kepada transportasi darat. Transportasi darat di Kabupaten Sukabumi berupa prasarana jalan raya dan sarana kendaraan bermotor (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Menurut BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) prasarana transportasi (jalan raya) di Kabupaten Sukabumi dikelola oleh beberapa instansi yaitu negara sepanjang 172.830 km, propinsi sepanjang 242.360 km, kabupaten sepanjang 1.752.285 km, serta jalan desa sepanjang 485.200 km. Panjang jalan yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagian besar telah diaspal (72,9%), sisanya masih berupa batu/teleford (23,6%) dan jalan tanah (3,5%). Kondisi jalan aspal yang kondisinya baik dan sedang hanya sebesar 37,1% sedangkan sisanya 62,9% pada kondisi sedang rusak, rusak dan rusak berat. Sarana transportasi di Kabupaten Sukabumi berupa kendaraan seperti pada Tabel di bawah ini (Tabel 11): 44 Tabel 11 Jenis dan jumlah kendaraan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis kendaraan Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Mobil penumpang 534 1,8 2. Mobil barang 532 1,7 3. Bus 25 0,1 4. Sepeda motor 30.090 96,5 Jumlah 31.181 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Kendaraan di Kabupaten Sukabumi terbagi ke dalam mobil penumpang, mobil barang, bus dan sepeda motor. Kendaraan terbanyak di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah sepeda motor dengan jumlah 30.090 unit atau 96,5%, sedangkan kendaraan dengan jumlah paling sedikit tahun 2009 di Kabupaten Sukabumi ialah bus dengan jumlah 25 unit atau 0,1%. Prasarana dan sarana transportasi berperan penting bagi perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi, yaitu sebagai prasarana dan sarana pendistribusian hasil tangkapan dan pengangkutan bahan kebutuhan melaut. Jika prasarana dan sarana transportasi mencukupi dan dalam keadaan baik, maka kegiatan pendistribusian hasil tangkapan dan pengangkutan bahan kebutuhan melaut akan berjalan dengan baik. Hal itu dapat meningkatkan kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi. Komunikasi yang terdapat di Kabupaten Sukabumi terdiri dari pos, telepon dan telepon seluler. Pada awalnya telekomunikasi yang tersedia adalah pos. Sarana komunikasi yang disediakan pos adalah surat dan paket. Sarana tersebut membutuhkan waktu beberapa hari untuk sampai kepada orang yang dituju. Hal ini membuat penduduk mencari alternatif sarana komunikasi lain yang lebih efektif, yaitu telepon dan telepon seluler (BPPT Kabupaten Sukabumi, 2010) Sarana telepon disediakan oleh PT. Telkom, sarana ini membuat orang bisa berbicara dengan orang lain secara langsung tanpa harus bertatap muka. Kekurangan sarana telepon di Kabupaten Sukabumi adalah belum mampu menjangkau seluruh pelosok wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Sarana telekomunikasi yang sudah lebih menjangkau beberapa wilayah pelosok kecamatan adalah telepon seluler. Ada beberapa provider sambungan telepon 45 seluler di Kabupaten Sukabumi yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcom, TelkomFlexi dan Mobile-8 (BPPT Kabupaten Sukabumi, 2010). Telekomunikasi dalam kegiatan perikanan tangkap berperan mempermudah hubungan komunikasi jarak jauh dalam berbagai aktivitas masyarakat perikanan tangkap seperti hubungan antara Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) daerah, hubungan komunikasi pelaku-pelaku perikanan tangkap di pelabuhan perikanan anrata lain dalam hal pendistribusian hasil tangkapan, pemesanan kebutuhan melaut dan lainnya. Jika telekomunikasi dapat memperlancar hubungan jarak jauh masyarakat perikanan tangkap, maka kegiatan perikanan tangkap juga akan dapat semakin berkembang. 2) Air dan Listrik Kebutuhan air bersih dan listrik merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan oleh masyarakat, karena kedua kebutuhan ini adalah faktor utama penunjang kehidupan masyarakat. Air bersih diperlukan untuk minum, MCK, kebutuhan usaha perikanan, kebutuhan pengolahan dan usaha lainnya. Listrik sangat digunakan untuk penerangan dan menjalankan alat elektronik yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan untuk kebutuhan usaha. Penyaluran air bersih di Kabuapten Sukabumi telah diusahakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang merupakan perusahaan milik negara dan diatur oleh negara. Jumlah air bersih yang didistribusikan oleh PDAM pada tahun 2009 adalah 4.526.459 m³ (BPS Kabupaten Sukabumi 2010a). Tabel 12 Jenis dan jumlah konsumen pengguna air bersih di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Persentase (%) Jenis konsumen Jumlah (orang) 93,5 1. Rumah tangga tinggal 16.689 2,6 2. Niaga kecil 474 0,3 3. Niaga besar 46 2,5 4. Sosial 440 0,5 5. Instansi 89 0,4 6. Keran umum 67 0,1 7. Industri 21 0,1 8. Tentara Nasional Indonesia (TNI) 23 100,0 Jumlah 17.849 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a 46 Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa pada tahun 2009 PDAM di Kabupaten Sukabumi digunakan oleh 17.849 konsumen. Konsumen tersebut dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok yaitu rumah tangga tinggal, niaga kecil, niaga besar, sosial, instansi, keran umum, industri dan TNI. Konsumen PDAM terbesar di Kabupaten Sukabumi adalah rumah tangga tinggal, yaitu sebesar 93,5% dari keseluruhan konsumen PDAM Kabupaten Sukabumi. Kelompok konsumen PDAM yang paling sedikit jumlahnya di Kabupaten Sukabumi adalah industri dan TNI, yaitu masing-masing 0,1% dari keseluruhan konsumennya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010b). Peranan PDAM bagi perikanan tangkap adalah penting sebagai penyedia air bersih yang diperlukan dalam penanganan hasil tangkapan, pembuatan es balok, bahan kebutuhan melaut dan kebutuhan industri lainnya. Dengan adanya PDAM maka kebutuhan para pelaku perikanan tangkap akan air bersih dapat terpenuhi. Para pelaku perikanan tangkap dapat menghemat dana, tenaga dan waktu untuk mencari dan mengolah sumber air bersih. Pelayanan untuk pengadaan listrik Kabupaten Sukabumi diusahakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), dengan distribusi listrik pada tahun 2009 berjumlah 818.009.353 kwh. Listrik tersebut didistribusikan oleh PLN kepada 430.568 langganan di Kabupaten Sukabumi (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010b). Listrik berperan dalam menjalankan berbagai alat-alat, mesin dan elektronik yang digunakan dalam pembuatan kapal, perbaikan kapal dan mesin, penanganan hasil tangkapan (coldstorage), mercusuar dan alat lainnya. Listrik juga berperan penting untuk penerangan di pelabuhan perikanan. 4.2 Keadaan umum perikanan tangkap Kabupaten Sukabumi 4.2.1 Jenis dan produksi hasil tangkapan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi (2010) menyatakan bahwa jenis hasil tangkapan yang dominan tertangkap secara umum di perairan Kabupaten Sukabumi adalah cakalang, cucut, layang, layaran, layur, peperek/pepetek, tembang, tongkol dan tuna. Hasil tangkapan tersebut didaratkan di beberapa tempat pendaratan di kecamatan-kecamatan pesisir Kabupaten Sukabumi. Setiap kecamatan memiliki jenis hasil tangkapan dominan didaratkan yang berbeda-beda seperti pada Tabel 13 : 47 Tabel 13 Keragaman jenis hasil tangkapan dominan didaratkan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kecamatan Jenis ikan didaratkan 1. Simpenan Layur, lobster, kakap dan beronang 2. Ciemas Pelagis kecil dan ikan hias Kakap, beronang, swangi, serepet, ikan sebelah, bawal hitam 3. Cikakak dan lobster 4. Cibitung Tuna, layur dan kepiting bakau Lobster, kakap, kerapu, udang jerebung, layur, kuwe dan 5. Tegal buled kepiting Tenggiri, kakap, lobster, ikan hias, jenis moluska dan ikan 6. Ciracap pelagis 7. Surade Ikan berbagai jenis dan rumput laut Layur, tuna, tongkol, cucut, kuwe, salayang, pedang-pedang, 8. Cisolok semar, kakap, swangi, bawal hitam, kembung, teri Teri, tuna, layur, kembung, cakalang, tongkol, cumi, pelagis 9. Palabuhanratu kecil dan ikan hias Sumber : DKP Kabupaten Sukabumi, 2010 Keberagaman di atas bukan dikarenakan berbedanya daerah penangkapan ikan, karena sebagian besar kecamatan diatas sama-sama melakukan operasi penangkapan di teluk Palabuhanratu dan sekitarnya. Perbedaan tersebut lebih dikarenakan perbedaan jenis alat tangkap yang digunakan, perbedaan permintaan yang pasar dan perbedaan pemasaran hasil tangkapan. Selain perbedaan jenis, masing-masing kecamatan di Kabupaten Sukabumi juga memiliki jumlah hasil tangkapan yang didaratkan berbeda yaitu (Tabel 14) : Tabel 14 Jumlah hasil tangkapan didaratkan per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2008 Kecamatan Jumlah (kg 103) Nilai (Rp 106) 1. Simpenan 125,5 5.090,2 2. Ciemas 135,6 745,8 3. Cikakak 0,0 0,0 4. Cibitung 24,8 136,1 5. Tegal buled 0,0 0,0 6. Ciracap 226,0 1.243,9 7. Surade 52,8 290,4 8. Cisolok 279,1 1.534,9 9. Palabuhanratu 6.593,0 36.261,4 Jumlah 66.776,8 45.302,7 Sumber : DKP Kabupaten Sukabumi, 2009 48 Kecamatan Palabuhanratu merupakan kecamatan dengan jumlah hasil tangkapan didaratkan terbanyak karena di Kecamatan Palabuhanratu terdapat PPN Palabuhanratu yang merupakan satu-satunya pelabuhan perikanan tipe B di Kabupaten Sukabumi dan di pantai selatan Jawa Barat. Keberadaan PPN tersebut membuat armada penangkapan ikan mendaratkan hasil tangkapannya di Kecamatan Palabuhanratu, baik armada dari Kecamatan Palabuhanratu sendiri maupun dari daerah lainnya. Alasan pemilik armada memilih mendaratkan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu karena PPN Palabuhanratu memiliki fasilitas yang memadai, permintaan pasar yang tinggi dan sarana transportasi yang baik untuk pendistribusian hasil tangkapan ke luar daerah. Berdasarkan bahasan di atas dapat dikatakan bahwa keberagaman jenis dan jumlah hasil tangkapan dipengaruhi oleh armada dan alat tangkap yang terdapat di masing-masing kecamatan, potensi pemasaran hasil tangkapannya, keadaan transportasi dan fasilitas yang tersedia. 4.2.2 Unit penangkapan ikan dan nelayan 1) Armada/kapal Berdasarkan BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) armada penangkapan ikan yang beroperasi di Kabupaten Sukabumi terbagi kedalam tiga jenis yaitu perahu tanpa motor, motor tempel dan kapal motor. Jenis dan jumlah armada penangkanan ikan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 terdapat pada Tabel 15 di bawah ini : Tabel 15 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis armada Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Perahu tanpa motor 224 14,2 2. Motor tempel 975 61,9 3. Kapal motor 376 23,9 Jumlah 1.575 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 1.575 unit. Jenis armada yang paling banyak terdapat di Kabupaten 49 Sukabumi tahun 2009 adalah armada motor tempel sebesar 975 unit (61,9%). Hal ini menunjukkan bahwa armada perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi adalah armada berukuran kecil dengan memakai motor tempel sebagai mesinnya. Armada dengan jumlah paling sedikit yang berada di Kabupaten Sukabumi adalah jenis armada perahu tanpa motor sebanyak 224 unit (14,2%). 2) Alat tangkap Alat tangkap yang dioperasikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 pada Tabel 16 terdiri dari alat tangkap payang, dogol, jaring insang hanyut, jaring insang lingkar, jaring insang tetap, bagan rakit, bagan tancap, rawai tuna, pancing tonda, pancing ulur dan garpu. Tabel 16 Jenis dan jumlah alat tangkap ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis alat tangkap Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Payang 150 7,7 2. Dogol 24 1,2 3. Jaring insang hanyut 905 46,4 4. Jaring insang lingkar 9 0,5 5. Jaring insang tetap 106 5,4 6. Bagan rakit 154 7,9 7. Bagan tancap 54 2,8 8. Rawai tuna 350 17,9 9. Pancing tonda 100 5,1 10. Pancing ulur 84 4,3 11. Garpu 15 0,8 Jumlah 1.951 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jumlah keseluruhan alat tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berdasarkan statistika Kabupaten Sukabumi adalah 1.951 unit. Alat tangkap jaring insang hanyut merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 dengan jumlah 905 unit (46,4%). Alat tangkap yang paling sedikit digunakan nelayan Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah jaring insang lingkar yang memiliki jumlah sebesar 9 unit (0,5%). 50 3) Nelayan Nelayan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi terbagi kedalam dua kelompok yaitu nelayan pemilik dan nelayan buruh. Pada Tabel 17 berikut ini terdapat jenis dan jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009. Tabel 17 Jenis dan jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis nelayan Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Pemilik 2.063 18,7 2. Buruh a. Penuh 6.875 62,2 b. Sambilan utama 1.615 14,6 c. Sambilan tambahan 498 4,5 Jumlah 11.051 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Selama tahun 2009 Kabupaten Sukabumi memiliki nelayan dengan jumlah 11.051 orang. Nelayan yang mendominasi di Kabupaten Sukabumi adalah nelayan buruh dengan jumlah 8.988 orang (18,7%), sedangkan nelayan pemilik berjumlah 2.063 orang (71,3%). Nelayan buruh perikanan tangkap terbagi menjadi tiga kelompok yaitu buruh penuh, buruh sambilan utama dan buruh sambilan tambahan. Nelayan buruh penuh adalah nelayan yang semua waktunya digunakan untuk bekerja menjadi buruh, nelayan buruh sambilan utama merupakan nelayan yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja sebagai buruh, sedangkan nelayan buruh sambilan tambahan adalah nelayan yang hanya memakai sedikit waktunya untuk bekerja sebagai buruh. Jumlah nelayan buruh penuh di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 6.875 orang (62,2%), sedangkan nelayan buruh sambilan utama dan sambilan tambahan masing-masing berjumlah 1.615 orang (14,6%) dan 498 orang (4,5%). 4.2.3 Prasarana perikanan tangkap Prasarana perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi yang tersebar di 9 kecamatan pesisir yaitu Cisolok, Cikakak, Palabuhanratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung, dan Tegalbuled. Kegiatan perikanan tangkap terbesar terletak di Kecamatan Palabuhanratu dan Cisolok, dikarenakan di kedua 51 kecamatan tersebut terdapat prasarana perikanan tangkap yang lebih baik dan besar dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Sukabumi. Prasarana tersebut adalah PPN Palabuhanratu di Kecamatan Palabuhanratu dan PPI Cisolok di Kecamatan Cisolok (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Prasarana perikanan tangkap di kecamatan lainnya menurut DKP Kabupaten Sukabumi berstatus TPI yaitu TPI Simpenan di Kecamatan simpenan, TPI Ciwaru di Kecamatan Ciemas, TPI Ujung genteng di Kecamatan Ciracap, TPI Cikakak di Kecamatan Cikakak, TPI Ciracap di Kecamatan Ciracap, TPI Cibitung di Kecamatan Cibitung, TPI Tegalbuled di Kecamatan Tegalbuled dan TPI Surade di Kecamatan Surade (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Namun, menurut Pane (2012) prasarana perikanan tangkap atau pelabuhan perikanan yang tidak termasuk ke dalam kategori PPS, PPN dan PPP dimasukkan ke dalam PPI sesuai kategori pelabuhan perikanan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Dengan demikian, ketujuh TPI lainnya pada hakekatnya termasuk kategori PPI. Kedelapan PPI yang ada di Kabupaten Sukabumi yaitu Cisolok, Cikakak, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung dan Tegalbuled dalam menjalankan aktivitasnya sebagian besar hanya memiliki dermaga, breakwater serta gedung pelelangan ikan. Terdapat juga PPI yang hanya memiliki satu atau dua dari ketiga fasilitas tersebut, dan sebagian besar fasilitas tersebut tercatat dalam keadaan rusak (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Mahyuddin (2007) mengungkapkan bahwa semua urusan pembangunan dan operasional PPI ditangani langsung oleh kepala cabang DKP Kabupaten Sukabumi, sehingga operasional PPI tersebut belum optimal. Pengumpulan data statistika dilakukan tidak sempurna dan tidak ada petugas khusus untuk pengumpulan data statistika. Data statistika dikumpulkan langsung oleh kepala cabang DKP Kabupaten Sukabumi. 4.3 Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu 4.3.1 Sejarah dan Keadaan Organisasi PPN Palabuhanratu Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1989 membangun PPI Palabuhanartu menjadi PPN Palabuhanratu, dengan dana pembangunan pada tahap awal bersumber dari Asian Development Bank (ADB) dan Islamic 52 Development Bank (ISDB). Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu mulai beroperasi pada tanggal 18 Februari 1993 setelah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia (PPN Palabuhanratu, 2010a) Pengelola suatu pelabuhan perikanan di Indonesia terbagi ke dalam Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Perum Prasarana yang berada di bawah Kementrian Badan Usaha Milik Negara. Unit pelaksana teknis menangani administrasi dan fasilitas publik terkait usaha penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu, sedangkan Perum Prasarana menangani fasilitas komersial. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pengelola PPN Palabuhanratu yang terletak di Kecamatan Palabuhanratu diketahui bahwa di pelabuhan ini tidak terdapat Perum Prasarana, hal ini membuat semua kegiatan dan fasilitas di PPN Palabuhanratu dikelola oleh pengelola PPN Palabuhanratu yang merupakan UPT PPN Palabuhanratu. Pengelola PPN Palabuhanratu menolak keberadaan Perum Prasarana di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan PPN Palabuhanratu (2010a) diketahui susunan organisaasi pengelola PPN Palabuhanratu yang mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER.06/MEN/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan (Gambar 2) : Kepala PPN Palabuhanratu Kepala Sub Bag Tata Usaha Kepala Seksi Pengembangan Kepala Seksi Tata Operasonal Kelompok Jabatan Fungsional Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010a Gambar 2 Struktur organisasi PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Kepala Pelabuhan Perikanan Kepala Pelabuhan bertugas melaksanakan fasilitas produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan untuk 53 pelestariannya dan kelancaran kegiatan kapal perikanan, serta pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan.  Sub Bagian Tata Usaha Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program, urusan tata usaha dan rumah tangga, pelaksanaan dan koordinasi pengendalian lingkungan yang meliputi keamanan, ketertiban, kebersihan, kebakaran dan pencemaran di kawasan pelabuhan perikanan serta pengelolaan administrasi kepegawaian dan pelayanan masyarakat perikanan.  Seksi Pengembangan Seksi Pengembangan mempunyai tugas melakukan pembangunan, pemeliharaan pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana, pelayanan jasa dan fasilitasi usaha, pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari, pemberdayaan masyarakat perikanan, serta koordinasi peningkatan produksi.  Seksi Tata Operasional Seksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan pelayanan teknis kapal perikanan dan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan, fasilitasi pemasaran dan pendistribusian hasil perikanan serta penyuluh perikanan, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data perikanan, pengelolaaan sistem informasi, publikasi hasil riset, produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya.  Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional Pranata Humas di lingkungan PPN Palabuhanratu terdiri dari 3 orang yaitu 1 orang Pranata Humas Muda, 1 orang Pranata Humas Pertama dan 1 orang Prata Humas Pelaksana. 4.3.2 Sarana dan prasarana PPN Palabuhanratu Untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap di PPN Palabuhanratu, maka pemerintah menyediakan sarana dan prasarana di PPN Palabuhanratu (Lampiran 2). Sarana dan prasarana tersebut dikelompokkan menjadi tiga fasilitas, yaitu fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Fasilitas yang termasuk kedalam kategori tersebut yaitu (Tabel 18) : 54 Tabel 18 Jenis, jumlah, ukuran dan kondisi fasilitas yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Ukuran atau Fasilitas Jumlah (unit) Kondisi satuan I. Fasilitas Pokok 1. Areal pelabuhan 1 Luas 10,29 ha Baik 2. Dermaga 1 1 Panjang 509 m Baik 3. Dermaga 2 1 Panjang 410 m Baik 4. Kolam 1 1 Luas 3 ha Baik 5. Kolam 2 1 Luas 2 ha Baik 6. Breakwater 1/utara 1 Panjang 125 m Baik 7. Breakwater 2/selatan 1 Panjang 294 m Baik 8. Breakwater baru timur 1 Panjang 200 m Baik 9. Breakwater baru barat 1 Panjang 50 m Baik 10. Alat bantu navigasi 2 Baik 11. Alur masuk 1 Panjang 294 m Baik 12. Turap sungai 1 Panjang 200 m Baik 13. Krib penahan sedimen 2 Panjang 74 m Baik II. Fasilitas Fungsional 1. Gedung TPI 1 Luas 900 m2 Baik 2 2. UPT PPN palabuhanratu 1 Luas 528 m Baik 2 3. Pasar ikan 1 Luas 352 m Baik 4. Lahan industri … … … 3 5. Tangki air 1 Volume 400 m Baik 6. Pompa air 4 Unit Baik 2 7. Rumah pompa 1 Luas 27 m Baik 8. Tangki BBM 2 Panjang 208 m Baik 9. Listrik + instalasi 1 82,50 KVA Baik 10. Genset + instalasi 2 95 KVA Baik 11. Gedung perbaikan jaring 1 Luas 500 m2 Baik 12. Tempat penjemuran dan 1 Luas 3000 m2 Baik perbaikan jaring 13. Balai pertemuan nelayan 1 Luas 150 m2 Baik 14. Radio SSB 2 Baik 2 15. Pos Jaga 2 Luas 52 m Baik 16. Garasi alat berat 1 Luas 200 m2 Baik 17. Forklift 2 Unit Baik 18. Dump truck 1 Unit Baik 19. Truck folder crane 2 Unit Baik 20. Kendaraan operasional 9 Unit Baik 21. Jalan dalam komplek … m Baik 2 22. Laboratorium bina mutu 1 Luas 117 m Baik III.Fasilitas Penunjang 1. Rumah kepala pelabuhan 1 Luas 70 m2 Baik 2 2. Rumah pegawai 5 Luas 70 m Baik 3. Rumah pegawai 1 Luas 50 m2 Baik 2 4. Guest house 2 Luas 70 m Baik 55 Lanjutan Tabel 18 Fasilitas 5. Mess operator 6. Mushola dan MCK 7. Tempat parkir 8. Billboard prakiraan cuaca Keterangan : … = tidak tersedia data Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010c Jumlah (unit) 1 1 … 1 Ukuran Luas 190 m2 Luas 45 m2 m2 Unit Kondisi Baik Baik Baik Baik Fasilitas pokok yang terdapat di PPN Palabuhanratu meliputi dermaga, kolam pelabuhan, breakwater, krip, alur masuk dan alat bantu navigasi. Secara keseluruhan fasilitas pokok yang terdapat di PPN Palabuhanratu masih baik dan dapat digunakan. Fasilitas fungsional PPN Palabuhanratu sangat beragam dan sebagian besar masih berfungsi dengan baik. Fasilitas fungsional yang dirasa masih kurang jumlahnya oleh pengelola PPN Palabuhanratu adalah lahan industri. Hal ini dikarenakan industri perikanan yang terdapat di PPN Palabuhanratu hanya berupa perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna dan layur dengan lahan yang terbatas sehingga bangunannya tidak bisa diperluas. Industri pengolahan hasil tangkapan belum terdapat di PPN Palabuhanratu. Fasilitas fungsional yang masih belum terdapat di PPN Palabuhanratu adalah pabrik es. Terdapat beberapa fasilitas fungsional yang dikelola oleh pihak swasta yaitu gedung TPI, pasar ikan, lahan industri, tangki BBM, tangki air dan fasilitas yang berhubungan dengan docking. Fasititas penunjang yang terdapat di PPN Palabuhanratu meliputi rumah pegawai, guest house, mess operator, mushola, MCK, tempat parkir dan lainnya. Fasilitas-fasilitas ini masih dalam keadaan baik dan bisa digunakan. 4.3.3 Jenis dan produksi hasil tangkapan PPN Palabuhanratu Jenis, jumlah dan nilai produksi perikanan tangkap merupakan salah satu yang menjadi indikator perkembangan perikanan tangkap di suatu daerah. Hal tersebut menjadikan sangat perlu untuk mengetahui seberapa besar jumlah dan nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta mengetahui perkembangannya. Jika semakin besar perkembangan produksi hasil tangkapan di suatu pelabuhan perikanan maka perkembangan perikanan tangkap di pelabuhan 56 perikanan tersebut dapat dikatakan berkembang dengan baik, sekurang-kurangnya dari aspek produksi hasil tangkapan. Tabel 19 Produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanartu tahun 2005-2009 Tahun Produksi 2005 2006 2007 2008 2009 3 Pr (kg 10 ) 6.601 5.462 6.056 4.581 3.950 1. Didaratkan di pelabuhan Pt (%) -17,3 10,9 -24,4 -13,8 3 2. Masuk Pr (kg 10 ) 5.873 4.472 7.490 4.256 4.767 melalui jalur Pt (%) -23,9 67,5 -43,2 12,0 darat Pr (kg 103) 12.474 9.934 13.546 8.837 8.717 Jumlah Pt (%) -20,4 36,4 -34,8 -1,4 Keterangan : Pr = produksi; Pt = pertumbuhan Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Keseluruhan produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 (Tabel 19) berjumlah 8.717.000 kg. Produksi hasil tangkapan tahun 2009 di PPN Palabuhanratu tersebut di atas terdiri dari hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu sejumlah 3.950.000 kg (45,3%) dan dari hasil tangkapan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu sejumlah 4.767.000 kg (54,7%). 16.000 Produksi (kg 103 ) 14.000 Didaratkan di PPN Palabuhanratu 12.000 10.000 Masuk melalui jalur darat 8.000 6.000 Produksi Keseluruhan 4.000 2.000 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 3 Grafik perkembangan jumlah produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 57 Perkembangan produksi keseluruhan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung fluktuatif (Gambar 3), peningkatan jumlah keseluruhan produksi PPN Palabuhanratu terjadi pada tahun 2007 yaitu 36,4%. Peningkatan ini dikarenakan pada tahun tersebut baik jumlah produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu maupun yang masuk melalui jalur darat meningkat paling tajam. Penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2009 dengan penurunan sebesar 34,76%. Penurunan ini juga disebabkan karena pada tahun tersebut baik jumlah produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu maupun yang masuk melalui jalur darat menurun paling tajam. Penurunan ini juga diduga disebabkan karena berkurangnya jumlah alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 sebesar 23,4% (Tabel 17). Perkembangan produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung menurun, peningkatan produksi hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu hanya terjadi pada tahun 2007 sebesar 10,9%. Perkembangan produksi ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu cenderung fluktuatif, dimana pada tahun 2006 dan 2008 terjadi penurunan sedangkan pada tahun 2007 dan 2009 terjadi peningkatan. Tabel 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Tahun Nilai Produksi (Rp 106) 2005 2006 2007 2008 2009 1. Didaratkan di pelabuhan 32.154 32.551 38.696 42.563 56.736 2. Masuk melalui jalur 34.032 29.097 49.924 35.589 52.919 66.186 61.648 88.620 78.152 109.655 Jumlah Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Pada tahun 2009 nilai keseluruhan produksi hasil tangkapan berdasarkan Tabel 20 adalah Rp109.655.000.000,00. Nilai tersebut terdiri dari nilai hasil tangkapan didaratkan di pelabuhan sejumlah Rp 56.735.000,00 dan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat sejumlah Rp52.919.000,00. 58 Nilai Produksi (Rp 106) 120.000 100.000 80.000 Didaratkan di Pelabuhan 60.000 Masuk melalui jalur darat 40.000 Nilai keseluruhan 20.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun b Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010 (data diolah kembali) Gambar 4 Grafik perkembangan nilai produksi PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. hasil tangkapan di Perkembangan nilai produksi keseluruhan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung meningkat (Gambar 4), peningkatan paling tajam terjadi pada tahun 2009. Nilai produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu mengalami perkembangan yang cenderung meningkat dari tahun 2005 sampai tahun 2009, sedangkan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu cenderung fluktuatif. Peningkatan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu terjadi pada tahun 2007 dan 2009, sedangkan penurunan nilainya terjadi pada tahun 2006 dan 2008. 1) Produksi hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu merupakan produksi armada penangkapan ikan yang berbeda-beda, namun ada juga beberapa hasil tangkapan yang ditangkap oleh armada penangkapan ikan yang sama. Berikut ini (Tabel 21) adalah jenis hasil tangkapan yang didaratkan per jenis armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara : 59 Tabel 21 Jenis hasil tangkapan per jenis armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Hasil tangakapan Alat tangkap Utama Sampingan 1. Payang Tongkol (Auxis sp.) Ikan pelagis kecil Cakalang (Katsuwonus pelamis) 2. Pancing Kembung (Rastrelliger sp.) Tuna (Thunnus sp.) rumpon Tuna-tuna kecil (Thunnus sp.) 3. Rawai layur Layur (Trichiurus sp.) Ikan kecil Cakalang (Katsuwonus pelamis) 4. Tuna longline Tuna (Thunnus sp.) Tuna-tuna kecil (Thunnus sp.) 5. Gillnet Ikan pelagis kecil 6. Rampus Ikan kecil Pepetek (Leiognathus sp. ) Cumi (Loligo edulis) 7. Bagan Udang rebon Ikan kecil lainnya 8. Trammel net Ikan kecil 9. Purse seine Tongkol (Auxis sp.) Ikan pelagis kecil 10. Pancing ulur Ikan pelagis kecil Setiap tahunnya produksi hasil tangkapan yang didaratkan pada suatu armada penangkapan ikan tidak selalu sama, tetapi berfluktuasi. Selain itu jumlah produksi hasil tangkapan yang didaratkan antara satu armada penagkapan ikan dengan armada penangkapan ikan lainnya juga berbeda-beda seperti yang terdapat pada Tabel 22. Berdasarkan Tabel 22 diketahui bahwa secara keseluruhan hasil tangkapan yang paling banyak didaratkan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berasal dari armada tuna longline, pancing tonda dan rampus. Jumlah hasil tangkapan yang berasal dari armada longline pancing tonda dan rampus berada di atas 500 ton, sedangkan hasil tangkapan yang berasal dari armada lain berkisar di bawah 500 ton. Armada yang paling sedikit mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah trammel net yaitu 413 kg. Jika dilihat berdasarkan kategori armadanya maka diketahui bahwa armada yang paling banyak mendaratkan hasil tangkapan untuk kategori kapal motor adalah alat tangkap tuna longline, sedangkan armada yang paling banyak mendaratkan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu untuk kategori perahu motor tempel adalah rampus. Armada yang paling sedikit mendaratkan hasil 60 tangkapannya di PPN Palabuhanaratu pada tahun 2009 adalah payang untuk kategori kapal motor dan trammel net untuk kategori perahu motor tempel. Tabel 22 Produksi hasil tangkapan per jenis armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Armada 2005 2006 2007 2008 2009 1.472.457 1.244.068 1.995.736 1.967.094 1.769.593 2. Gillnet 151.681 969.415 572.740 276.310 122.801 3. Rawai 86.207 87.402 48.242 24.167 - 4. Pancing tonda 198.804 309.329 284.068 292.167 601.221 5. Pancing ulur 103.354 16.237 88.216 66.314 34.752 1.258.582 679.737 82.177 472.360 259.494 7. Trammel net - 683 - - - 8. Payang - - 6.838 16.870 3.931 9. Rampus - - - 3.451 4.489 123.128 196.679 44.161 76.547 150.503 - - 1.067.357 3.612 40.059 6.609 3.769 1.673 1.936 413 3.106.329 1.687.489 1.444.282 189.809 212.112 14. Rampus 27.677 100.757 268.033 1.059.129 682.472 15. Pancing ulur 65.702 165.996 152.733 130.917 68.427 16. Jaring klitik - - - - - 6.600.530 5.461.561 6.056.256 4.580.683 3.950.267 A. Kapal motor 1. Tuna longline 6. Bagan 10. Purse Seinne B. Perahu motor tempel 11. Bagan 12. Trammel net 13. Payang Jumlah Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu memiliki keberagaman yang sangat tinggi, karena didaratkan oleh armada penangkapan ikan yang beragam seperti di atas. Namun terdapat hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah yaitu pada Tabel 23. Hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 (tabel 23) adalah cakalang, cucut, layang, layur, pepetek, tembang, tongkol abu-abu, tongkol banyar, tongkol lisong, tuna big eye, tuna albakora dan tuna yellow fin. Diantara hasil tangkapan dominan di atas yang paling banyak didaratkan tahun 2005 dan 2006 adalah cakalang dan 61 tuna yellow fin, sedangkan yang paling sedikit adalah tongkol abu-abu. Pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 hasil tangkapan dominan yang paling banyak didaratkan di PPN Palabuhanratu adalah tuna big eye dan tembang, sedangkan yang paling sedikit didaratkan adalah cucut dan tongkol abu-abu. Tabel 23 Hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah tahun 2005-2009 Jenis hasil tankapan 1. Cakalang (Katsuwonus pelamis) 2. Cucut (Carcharhinus sp.) 3. Layang (Decapterus sp.) 4. Layur (Trichiurus savala) 5. Peperek/Pepetek (Leiognathus sp. ) 6. Tembang (Sardinella albella) 7. Tongkol Abu-abu (Auxis sp. ) 8. Tongkol Banyar (Auxis sp. ) 9. Tongkol Lisong (Auxis sp. ) 10. Tuna Big Eye (Thunnus obesus) 11. Tuna Albakora (Thunnus alalunga) 12. Tuna Yellow Fin (Thunnus albacares) 13. Lainnya Jumlah Jumlah (kg) 2007 2005 2006 2008 2009 1.860.679 1.001.301 742.047 272.577 320.733 94.756 114.800 56.249 44.168 20.285 338.200 - 66.104 107.689 120.787 188.993 222.642 246.691 203.203 103.230 265.263 144.007 307.164 44.484 29.917 60.989 369.578 866.316 1.497.882 739.610 12.755 506.543 210.760 74.256 12.050 163.130 152.035 9.607 - - 462.919 454.285 787.451 38.143 301.675 273.246 562.035 1.289.866 1.403.295 1.272.155 144.018 143.796 59.258 23.565 107.687 1.495.105 677.842 683.271 590.557 542.584 1.240.477 6.600.530 1.112.697 5.461.561 731.472 6.056.256 280.864 4.580.683 379.554 3.950.267 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 2) Ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu Ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat merupakan hasil tangkapan yang berasal dari luar daerah PPN Palabuhanratu. Hal ini dapat dikarenakan oleh beberapa sebab yaitu di PPN Palabuhanratu permintaan ikan lebih besar dan pasar lebih besar, terlihat dari ikan yang dijual di PPN Palabuhanratu selalu habis terjual dan terlihat banyak penjual dan pembeli yang 62 beraktivitas di pasar ikan PPN Palabuhanratu. Selain itu juga disebabkan fasilitas pemasaran yang cukup memadai di PPN Palabuhanratu yang merupakan satusatunya pelabuhan tipe B di selatan Jawa Barat. Berikut ini ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat berdasarkan jenis ikannya : Tabel 24 Jenis dan jumlah ikan masuk melalui jalur darat yang dominan secara jumlah ke PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jenis ikan 1. Bandeng (Chanos chanos) 2. Cakalang (Katsuwonus pelamis) 3. Eteman (Mene maculata) 4. Kembung (Rastrellinger sp.) 5. Layang (Decapterus sp. ) 6. Layur (Trichiurus savala ) 7. Marlin/Jangilus (Makaira indica) 8. Swangi/Camaul (Priacanthus sp.) 9. Tembang (Sardinella albella) 10. Tongkol (Auxis sp. ) Jumlah Jumlah (kg) 2007 2005 2006 2008 2009 481.472 233.500 687.100 1.004.000 469.500 36.950 7.900 31.700 - 338.400 1.218.400 560.300 740.700 385,500 554.000 78.580 165.250 609.600 49.560 47.350 - 448.178 828.100 38.000 229.000 376.375 633.256 1.624.200 1.086.300 1.329.200 288.400 165.900 223.200 179.500 188.500 660.100 269.000 307.400 48.500 325.100 54.320 4.070 70.960 125.500 175.500 2.337.102 1.819.500 1.865.600 877.000 446.500 5.872.569 4.472.158 7.490.428 4.256.260 4.766.510 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Jenis ikan dominan yang paling banyak masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat tahun 2009 berdasarkan Tabel 24 adalah ikan layur (1.329.200 kg), sedangkan ikan dominan dengan jumlah paling sedikit masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat tahun 2009 adalah ikan kembung (47.350 kg). Jumlah ikan yang paling banyak masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2007 adalah ikan tongkol (diatas 1.800.000 kg per tahun), namun tahun 2008 mulai menurun. 63 Ikan-ikan di atas masuk dari berbagai daerah, baik dari daerah yang berada di dalam Kabupaten Sukabumi maupun dari luar Kabupaten Sukabumi. Pasokan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu berasal dari (Tabel 25) berikut ini : Tabel 25 Jumlah ikan masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah asal tahun 2005-2009 Jumlah ikan (kg) Daerah asal 2005 2006 2007 2008 2009 1. Jakarta 4.538.727 2.825.900 3.932.300 1.613.500 1.849.700 2. Cisolok 69.895 84.195 78.085 112.810 99.900 3. Loji 35.005 63.413 104.308 14.800 5.000 4. Ujung genteng 362.950 526.900 1.512.900 587.800 758.950 5. Binuangeun 29.692 23.450 63.435 290.850 313.360 6. Cianjur/Cidaun 210.000 200.000 7. Blanakan 65.500 8. Pameungpeuk 31.000 230.000 9. Cibereno 61.700 10. Pangandaran 60.000 11. Indramayu 773.775 404.000 915.100 266.000 204.500 12. Gadobangkong 4.675 13. Rancabuaya 250 14. Juwana 32.600 513.300 884.300 1.106.500 917.900 15. Bengkulu 25.000 16. Lampung 54.000 Jumlah 5.872.569 4.472.158 7.490.428 4.256.260 4.766.510 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah asal ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat adalah Jakarta, Loji, Ujung Genteng, Cisolok, Binuangen, Indramayu, Pangandaran, Blanakan, Pameungpeuk, Cianjur, Cibareno dan Jawana Jawa Tengah. Daerah yang paling banyak memasukkan ikan melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah Jakarta (1.849.700 kg) dan Juwana (917.900 kg), sedangkan yang paling sedikit adalah Loji (5.000 kg). Ikan yang berasal dari daerah Blanakan, Cibereno dan Pangandaran baru masuk ke PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 (PPN Palabuhanratu, 2010b). 64 Masih berdasarkan statistika PPN Palabuhanratu diketahui jumlah ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu berfluktuatif setiap tahunnya. Tidak setiap tahun suatu daerah selalu mengirimkan ikan melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu. Daerah yang selalu mengirimkan ikan melalui jalur darat terbanyak setiap tahunnya dari tahun 2004 sampai tahun 2009 ke PPN Palabuhanratu yaitu Jakarta, Cisolok, Ujung Genteng dan Binuangen. 4.3.4 Unit Pengkapan Ikan dan Nelayan di PPN Palabuhanratu 1) Armada penangkapan ikan Armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu dibedakan menjadi dua jenis yaitu perahu motor tempel (PMT) dan kapal motor (KM). Perahu motor tempel digunakan untuk pengoperasian alat tangkap payang, pancing ulur, jaring rampus, trammel net dan gillnet, sedangkan KM digunakan untuk pengoperasian alat tangkap gillnet, rawai, pancing tonda dan untuk angkutan bagan (PPN Palabuhanratu, 2010b). Jumlah armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 26 di bawah ini : Tabel 26 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009 Tahun Jenis armada Rata-rata 2005 2006 2007 2008 2009 PMT (unit) 428 511 531 416 364 450 KM (unit) 248 287 321 230 394 296 Jumlah (unit) 676 798 852 646 758 746 Pertumbuhan (%) 18,0 6,8 -24,2 17,3 4,5 Keterangan : PMT = perahu motor temple; KM = Kapal motor Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Pada Tabel 26 diketahui bahwa keseluruhan armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berjumlah 758 unit, jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 17,34%. Armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 tersebut terdiri dari PMT sebanyak 364 unit (48,02%) dan KM sebanyak 394 unit (51,98%). 65 900 800 Jumlah (unit) 700 600 500 PMT 400 KM 300 Jumlah kapal 200 100 0 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Keterangan : PMT = perahu tanpa motor; KM = Kapal motor Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 5 Grafik perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009. Berdasarkan Gambar 5 diketahui bahwa armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami peningkatan, sedangkan tahun 2008 jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu menurun dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2009. Armada PMT di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami peningkatan, namun mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai tahun 2009. Armada KM di PPN Palabuhanratu cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai dengan 2007. Pada tahun 2008 jumlah armada KM di PPN Palabuhanratu menurun, namun pada tahun 2009 jumlah KM di PPN Palabuhanratu kembali mengalami peningkatan. Hal ini diduga disebabkan nelayan PPN Palabuhanratu berpindah dari alat tangkap payang yang memakai PMT ke alat tangkap pancing rumpon yang memakai armada KM, sesuai dengan hasil wawancara peneliti terhadap nelayan dan pengelola PPN Palabuhanratu. 2) Alat penangkapan ikan Jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan di PPN Palabuhanratu pada n 2009 tahum antara lain payang, pancing ulur, jaring rampus, bagan apung, trammel net, gillnet, rawai, pancing tonda dan tuna longline (Tabel 27). 66 Tabel 27 Jenis dan jumlah alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2009 Alat tangkap Jumlah (unit) Persentase (%) 25,2 1. Pancing ulur 188 6,4 2. Jaring rampus 48 10,3 3. Payang 77 3,4 4. Dogol 25 18,0 5. Bagan 134 8,7 6. Pancing tonda 65 7,0 7. Gillnet 52 21,0 8. Tuna longline 157 100,0 Jumlah 746 6,4 - 25,2 Kisaran 25 – 188 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Keseluruhan alat penangkapan ikan tersebut berjumlah 746 unit. Alat penangkapan yang dominan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan Tabel 28 dan Gambar 6 adalah pancing ulur 188 unit (25,2%) , tuna longline 157 unit (21,0%) dan bagan 134 unit (18,0%). Alat penangkapan ikan lainnya yang terdapat di PPN Palabuhanratu berjumlah di bawah 100 unit, alat tangkap tersebut adalah payang, jaring rampus, pancing tonda, dogol dan gillnet. Tuna longline 21% Pancing ulur 25% Gillnet 7% Jaring rampus 7% Pancing tonda 9% Payang 10% Bagan 18% Dogol 3% Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 6 Komposisi alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009. 67 3) Nelayan Nelayan yang ada di PPN Palabuhanratu meliputi nelayan penetap dan nelayan pendatang. Nelayan penetap merupakan nelayan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Palabuhanratu, sedangkan nelayan pendatang merupakan nelayan yang berasal dari luar wilayah Kecamatan Palabuhanratu. Nelayan di PPN Palabuhanratu didominasi oleh nelayan penetap. Berdasarkan status kepemilikan unit penangkapan ikannya, nelayan di PPN Palabuhanratu terdiri dari nelayan pemilik dan nelayan pekerja atau anak buah kapal (ABK). Nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki modal berupa kapal dan alat tangkap, sedangkan ABK adalah nelayan yang tidak memiliki peranan dalam pembelian alat tangkap maupun kapal melainkan hanya bekerja dan berperan dalam kegiatan operasi penangkapan saja. Berdasarkan waktu kerjanya, nelayan di PPN Palabuhanratu dikelompokkan menjadi nelayan penuh dan nelayan sambilan utama. Nelayan penuh adalah nelayan yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan, sedangkan nelayan sambilan utama adalah nelayan yang sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan. Pekerjaan sambilan nelayan adalah bertani, beladang atau berkebun, tukang, buruh angkut dan lainnya. Nelayan di PPN Palabuhanratu didominasi oleh nelayan penuh, hal ini dibuktikan dengan kegiatan mereka yang hanya di rumah jika tidak pergi melaut. Berikut ini adalah jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai 2009 : Tabel 28 Jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Tahun Nelayan 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah (orang) 3.498 4.363 5.994 3.900 4.453 Pertumbuhan (%) 24,7 37,4 -34,9 14,2 Rata-rata 4441,60 10,34 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Berdasarkan Tabel 28 diketahui bahwa nelayan di PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 berjumlah 4.453 orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 sebesar 14,2%. Hal tersebut sesuai dengan peningkatan jumlah armada penangkapan ikan yang beroperasi di PPN Palabuhanratu. 68 7.000 Jumlah (orang) 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 7 Grafik perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009. Pertumbuhan rata-rata jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 adalah 10,34%. Pertumbuhan tersebut terdiri dari peningkatan dan penurunan jumlah nelayan. Menurut Tabel 28 dan Gambar 7 diketahui bahwa jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 cenderung meningkat setiap tahunnya. Penurunan jumlah nelayan terjadi pada tahun 2008 sebesar 34,9% dan kembali meningkat pada tahun 2009. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah armada di PPN Palabuhanratu, dimana jumlah armada pada tahun 2008 menurun dan kembali meningkat pada tahun 2009 (Tabel 26 dan Gambar 5). 4.3.5 Daerah dan Musim Penangkapan Ikan 1) Daerah Penangkapan Ikan Salah satu faktor penentu keberhasilan operasi penangkapan ikan adalah penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground). Metode yang digunakan oleh nelayan PPN Palabuhanratu dalam menentukan daerah penangkapan ikan (DPI) umumnya berpedoman pada tanda-tanda alam seperti air yang berbusa, burung yang terbang dekat permukaan air dan warna air yang lebih gelap. Penentuan DPI juga dilakukan berdasarkan pengalaman nelayan pada trip-trip penangkapan ikan sebelumnya. 69 Berikut ini adalah DPI berdasarkan armada dan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2010 : Tabel 29 Daerah penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis/ukuran kapal 1. Perahu Motor Tempel (PMT) Jenis alat tangkap Payang Pancing ulur Rampus Trammel net Purse seine Bagan Gillnet Pancing ulur 2. Kapal Motor (KM) < 10 GT Rawai Trammel net Pancing tonda Payang 3. Kapal Motor (KM) 11-20 GT 4. Kapal Motor (KM) 21-30 GT Gillnet Rawai Gillnet Rawai Tuna longline Gillnet 5. Kapal Motor (KM) > 30 GT Rawai Tuna longline Daerah penangkapan ikan Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangeun Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Samudra Hindia Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangeun Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Samudra Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Samudra Hindia Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b Daerah penangkapan ikan yang menjadi tujuan nelayan PPN Palabuhanratu dalam operasi penangkapannya yaitu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangen, Cidaun, Ujung Kulon, Sumatera, Jawa Tengah dan Samudera 70 Hindia (Tabel 29). Namun terdapat beberapa DPI yang paling sering menjadi tujuan nelayan yaitu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng dan Samudera Hindia. Perahu motor tempel yang mengoperasikan alat tangkap payang, beroperasi di sekitar Perairan Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah dan Binuangeun, sedangkan alat tangkap pancing ulur, rampus dan trammel net beroperasi hanya di sekitar teluk Palabuhanratu. Kapal motor berukuran ≤ 10 GT memiliki DPI di sekitar Teluk Palabuhanratu, perairan selatan Jawa hingga ke Samudera Hindia. Kapal motor ukuran 11-30 GT dan > 30 GT beroperasi di DPI perairan Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, perairan sekitar Sumatera dan Samudera Hindia. Keberagaman DPI bagi kapal-kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dikarenakan perbedaan kemampuan mesin kapal, penyesuaian kapal terhadap kondisi alam dan alat tangkap yang dioperasikan. 2) Musim Penangkapan Ikan Menurut pengelola PPN Palabuhanratu dan nelayan di PPN Palabuhanratu, kegiatan penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tidak dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan kegiatan penangkapan ikan bergantung kepada cuaca dan musim penangkapan ikan. Musim penangkapan ikan yang dikenal masyarakat perikanan Palabuhanratu yaitu musim barat (Desember-Maret) dan musim timur (Juni-Agustus). Selanjutnya pengelola PPN Palabuhanratu dan nelayan PPN Palabuhanratu menyatakan bahwa sebagian besar nelayan di PPN Palabuhanratu tidak melakukan operasi penangkapan di laut ketika musim barat. Hampir semua nelayan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan, terutama untuk kapal-kapal ukuran kecil (< 10GT). Hal ini karena pada musim ini sering terjadi angin sangat kencang, ombak yang besar dan hujan lebat. Berbeda dari musim barat, pada saat musim timur keadaan perairan relatif lebih tenang, angin yang bertiup tidak terlalu kencang dan jarang terjadi hujan. Keadaan ini memungkinkan bagi nelayan untuk turun ke laut. Musim peralihan diantara musim barat dan timur dikenal sebagai musim “Liwung”. 71 5 KONDISI AKTUAL PENANGANAN DAN MUTU HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU Penanganan hasil tangkapan dalam usaha penangkapan ikan memegang peran yang sangat penting, hal ini dikarenakan hasil tangkapan dalam usaha penangkapan ikan mempunyai karakteristik yang mudah busuk dan rusak. Penanganan terhadap hasil tangkapan akan mempengaruhi mutu hasil tangkapan yang ditangani, dikarenakan penanganan mampu membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan. Berdasarkan tinjauan pustaka sub bab 5.2 Junianto (2003) yang menyatakan mutu hasil tangkapan sebenarnya tidak dapat ditingkatkan lagi, namun hanya dapat dipertahankan dengan menghentikan metabolisme bakteri yang ada di dalam tubuhnya. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan penyimpanan dengan es untuk mengurangi degradasi atau penurunan kesegaran fisik, mencegah penurunan mutu dan penciutan karena hasil tangkapan mengering. Hal ini sesuai dengan pendapat Moeljanto (1982) vide Hardani (2008) yaitu semakin tinggi suhu maka kecepatan membusuk juga semakin besar, sebaliknya bila suhu ikan selalu dipertahankan serendah-rendahnya maka proses pembusukan bisa diperlambat. Penanganan hasil tangkapan seharusnya dilakukan semenjak hasil tangkapan baru saja dinaikkan ke atas kapal. Berdasarkan hasil wawancara kepada responden nelayan longline, pancing rumpon atau pancing tonda, payang, bagan, rawai layur dan gillnet diperoleh cara penanganan hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu pada saat di atas kapal (Tabel 30). Hasil tangkapan mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda pada saat di atas kapal, pada ikan tuna dan tuna-tuna kecil diberikan penanganan berupa pembuangan insang dan isi perut, lalu khusus untuk tuna hasil tangkapan longline dilakukan pembungkusan ikan dengan plastik sebelum dimasukkan ke dalam palka. Ikan cakalang, tongkol dan layur hanya dimasukkan ke dalam styrofoam atau blong berlapis es curah dengan urutan penyusunan es-ikan-es-ikan-es. Penanganan yang diberikan pada ikan kecil lainnya (tembang, selar, pepetek dan lainnya) tidak sebaik penanganan hasil tangkapan lainnya karena hasil tangkapan ini sebagian besar ditempatkan di dalam wadah tanpa diberi es curah. 72 Tabel 30 Cara penanganan hasil tangakapan di atas kapal berdasarkan jenis ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Cara penanganan di atas kapal 1. Tuna  Tuna longline : insang dan isi perut dibuang, rongga kepala (Thunnus sp.) dan perut diberi es curah, ikan dibungkus dengan plastik, ditimbang, diberi label, lalu dimasukkan kedalam palka dengan sistem pendingin (air es)  Pancing rumpon : insang dan isi perut ikan dibuang, lalu rongga kepala dan perut diisi dengan es curah, baru kemudian ikan dimasukkan ke dalam palka berisi es curah 2. Tuna-tuna  Tuna longline : sama dengan HT tuna kecil  Pancing rumpon : ikan dimasukkan ke dalam palka berisi (Thunnus sp.) es curah (biasanya menggunakan es curah yang telah digunakan pada penanganan tuna pada trip sebelumnya); urutan penempatan es dan ikan : es-ikan-es-ikan-es 3. Cakalang  Pancing rumpon, longline dan payang : ikan dimasukkan (Katsuwonus ke dalam palka, blong atau styrofoam berisi es curah, ikan pelamis) dan es curah disusun di dalam palka atau styrofoam secara berlapis dengan urutan es-ikan-es-ikan-es-ikan-es  Gillnet : ditempatkan diatas dek begitu saja atau disatukan dengan hasil tangkapan kecil lainnya (butir 6) 4. Tongkol  Ikan ditempatkan ke dalam blong, diberi es curah, ikan dan (Auxis sp.) es curah ditempatkan dengan urutan : es-ikan-es-ikan-es 5. Layur  Penempatan ikan dilakukan menggunakan styrofoam, di (Trichiurus dalam styrofoam ikan disusun berlapis dengan es curah savala)  Terkadang jika jumlah ikan sedikit, maka ikan hanya disatukan dan diikat menggunakan tali 6. Ikan kecil  Biasanya ikan ditempatkan ke dalam styrofoam, keranjang lainnya bambu atau karung tanpa diberi es curah. Hanya sedikit nelayan yang memberi hasil tangkapan mereka es curah Adanya perbedaan penanganan yang dilakukan oleh nelayan terhadap hasil tangkapan di atas kapal dikarenakan antara lain perbedaan jenis hasil tangkapan dan perbedaan lama trip penangkapan ikan yang dilakukan. Umumnya armada perikanan yang melakukan trip penangkapan ikan selama 3 hari atau lebih menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya di atas kapal, sedangkan armada perikanan yang one day fishing jarang menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya. Armada perikanan one day fishing yang paling banyak menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya di atas kapal adalah payang. 73 Perbedaan penanganan yang dilakukan nelayan terhadap hasil tangkapan di atas juga didasarkan pada perbedaan nilai produk dan tujuan pendistribusinya. Hasil tangkapan tuna yang dianggap oleh nelayan bernilai ekonomis lebih tinggi dan tujuan ekspor ditangani dengan penanganan khusus yang berbeda bila dibandingkan dengan hasil tangkapan lainnya yang memiliki nilai ekonomis lebih rendah dari pada tuna dan hanya bertujuan lokal dan nasional. Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu tidak hanya mengalami penanganan di atas kapal, tetapi juga akan mengalami penanganan lainnya selama berada di PPN Palabuhanratu. Penanganan tersebut adalah penanganan di tempat pendaratan (di dermaga), di tempat pedagang pengumpul dan di tempat pedagang pengecer. Selain penanganan-penanganan tersebut, seharusnya terdapat penanganan hasil tangkapan pada saat di TPI, namun hal ini tidak terdapat di PPN Palabuhanratu. Menurut pengamatan di lapangan nelayan di PPN Palabuhanratu tidak menjual hasil tangkapannya melalui pelelangan di TPI PPN Palabuhanratu, sehingga menyebabkan penanganan hasil tangkapan di TPI tidak dilakukan. Tidak adanya proses pelelangan di TPI PPN Palabuhanratu juga dikemukakan oleh Hamzah (2011). 5.1 Penanganan di Tempat Pendaratan 1) Penanganan tuna Ikan tuna (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan utama alat tangkap pancing rumpon dan tuna longline. Kedua alat tangkap tersebut menggunakan cara yang berbeda dalam penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan. a) Penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan wawancara diketahui bahwa nelayan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu tidak melakukan penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan. Hasil tangkapan tuna setelah dikeluarkan dari palka langsung diangkut menuju ke tempat perusahaan pengumpul tuna di dekat dermaga II. Pengangkutan hasil tangkapan tuna tersebut dilakukan menggunakan gerobak kayu. 74 Tidak adanya penanganan hasil tangkapan tuna yang dilakukan oleh nelayan pancing rumpon di tempat pendaratan bertujuan untuk mengurangi pengeluaran dan agar hasil tangkapan dapat langsung dibawa dan dijual kepada perusahaan pengumpul tuna. Jika hasil tangkapan tuna langsung dijual kepada perusahaan pengumpul tuna, maka nelayan akan lebih cepat mendapatkan uang hasil penjualan hasil tangkapan tuna tersebut. b) Penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline Penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan pada alat tangkap longline dilakukan di atas dermaga. Penanganan yang dilakukan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan dilakukan oleh perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu, bukan oleh nelayan. Penanganan yang dilakukan adalah :  Penggunaan terpal sebagai alas tempat ikan tuna dan es curah agar tidak diletakkan di atas lantai dermaga yang kotor (Gambar 8). Gambar 8 Penggunaan terpal sebagai alas ikan pada penanganan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Pemberian es ke dalam rongga kepala dan perut ikan tuna dengan cara mengganti es sebelumnya yang terdapat di dalam rongga tersebut dengan es curah yang baru (Gambar 9) 75 Gambar 9 Pengisian es pada rongga kepala dan perut ikan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Pemberian es curah pada susunan ikan secara berlapis saat ikan diletakkan dan disusun di dalam mobil bak tertutup sebelum didistribusikan; dengan urutan estuna-es-tuna-es dan seterusnya (Gambar 10) Gambar 10 Penyusunan ikan tuna dan es pada mobil bak tertutup tahun 2010. Setelah penanganan selesai dilakukan dan hasil tangkapan tersebut telah disusun berlapis es di dalam mobil bak tertutup, hasil tangkapan langsung didistribusikan ke luar daerah (ke Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta) untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri. Alat bantu yang digunakan dalam penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan adalah terpal, sedangkan bahan yang digunakan dalam penanganan adalah es curah. 76 2) Penanganan tuna-tuna kecil Ikan tuna-tuna kecil merupakan hasil tangkapan tuna yang berukuran kurang dari 30 kg. Ikan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan sampingan alat tangkap pancing rumpon, tuna longline dan payang. Nelayan ketiga alat tangkap tersebut tidak melakukan penanganan terhadap tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. Perusahaan pengumpul tuna yang melakukan penanganan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan (sub bab 5.1 butir 1), tidak melakukan penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan. Hasil tangkapan tuna-tuna kecil alat tangkap pancing rumpon, tuna longline dan payang hanya dikeluarkan dari palka atau styrofoam lalu diangkut ke tempat perusahaan pengumpul tuna di dekat dermaga II dengan bantuan gerobak kayu. Tidak adanya penanganan yang dilakukan nelayan ketiga alat tangkap tersebut terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya dikarenakan tuna-tuna kecil tersebut harganya jauh di bawah tuna dan hanya didistribusikan dengan tujuan lokal dan nasional. Pedagang lokal dan nasional tidak memiliki standar mutu hasil tangkapan yang mereka terima, sedangkan importir luar negeri memiliki kriteria mutu hasil tangkapan yang mereka terima. Hal ini membuat nelayan dan perusahaan pengumpul lebih memperhatikan mutu hasil tangkapan yang bisa didistribusikan dengan tujuan ekspor seperti ikan tuna dan kurang memperhatikan hasil tangkapan dengan tujuan distribusi lokal dan nasional seperti tuna-tuna kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Pane (2012) yang menyatakan bahwa harga ikan tuna dan layur yang tinggi membuat nelayan PPN Palabuhanratu yang menangkap ikan tuna dan layur melakukan penanganan dengan lebih baik, contohnya dengan melakukan pengesan bagi ikan tuna dan penyimpanan di dalam kotak styrofoam berisi es curah bagi ikan layur dan bahkan ikan layur tersebut “digendong” dengan hati-hati sewaktu pengangkutannya saat pendaratan; yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. 3) Penanganan cakalang Ikan cakalang (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan alat tangkap gillnet, pancing rumpon, tuna longline dan payang di PPN 77 Palabuhanratu. Keempat alat tangkap tersebut mempunyai cara penanganan hasil tangkapan cakalang yang berbeda di tempat pendaratan yaitu : a) Penanganan cakalang hasil tangkapan gillnet Ikan cakalang pada alat tangkap gillnet di tempat pendaratan tidak ditangani oleh nelayan gillnet. Jumlah hasil tangkapan cakalang pada alat tangkap gillnet biasanya tidak banyak dan tidak selalu didapatkan oleh nelayan pada saat operasi penangkapan ikan. Jumlahnya yang sedikit membuat hasil tangkapan cakalang langsung didaratkan oleh nelayan dengan diangkat menggunakan tangan untuk dijual kepada pedagang pengumpul atau pedagang pengecer. b) Penanganan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon Penanganan yang dilakukan oleh nelayan pancing rumpon terhadap hasil tangkapan cakalang yaitu penempatan hasil tangkapan cakalang ke dalam blong di tempat pendaratan (Gambar 11). a.Ikan dikeluarkan dari palka b.Ikan dimasukkan ke dalam blong Gambar 11 Penanganan ikan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Penempatan seperti di atas bertujuan agar hasil tangkapan tidak diletakkan di lantai dek atau dermaga yang kotor dan tidak diletakkan di atas gerobak tanpa alas pada saat pengangkutan hasil tangkapan ke tempat pengumpul. Penanganan seperti di atas menyebabkan tidak ada bahan (es, garam atau air laut) yang digunakan dalam penanganan ikan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon di tempat pendaratan. 78 c) Penanganan cakalang hasil tangkapan tuna longline Ikan cakalang hasil tangkapan tuna longline tidak ditangani oleh nelayan di tempat pendaratan. Sesaat setelah didaratkan, ikan cakalang langsung diangkut menggunakan gerobak kayu ke tempat pedagang pengumpul di pasar belakang TPI. Sama halnya dengan hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya, tidak adanya penanganan terhadap hasil tangkapan cakalang dikarenakan harga jual cakalang berada di bawah harga tuna dan hanya didistribusikan lokal atau ke daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. d) Penanganan cakalang hasil tangkapan payang Di tempat pendaratan, ikan cakalang hasil tangkapan payang yang disimpan di dalam blong langsung didaratkan oleh nelayan tanpa dikeluarkan dari blong dan tanpa ditangani telebih dahulu. Blong-blong yang berisi ikan cakalang setelah sampai di atas dermaga langsung diangkut ke tempat pedagang pengumpul di pasar belakang TPI menggunakan bantuan gerobak kayu. Tidak adanya penanganan yang dilakukan di tempat pendaratan menurut nelayan payang karena jarak antara tempat pendaratan (dermaga pendaratan di depan TPI) ke tempat pedagang pengumpul (pasar belakang TPI) sangat dekat. Nelayan payang juga berpendapat kalau ada atau tidaknya penanganan yang dilakukan di tempat pendaratan tidak merubah harga ikan saat dijual kepada pedagang pengumpul, selain itu tidak adanya penanganan juga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. 4) Penanganan tongkol Ikan tongkol (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan dua jenis alat tangkap yang terdapat di PPN Palabuhanratu yaitu alat tangkap payang dan pancing rumpon. Penanganan hasil tangkapan tongkol pada kedua alat tangkap tersebut sedikit berbeda. Berikut ini adalah penanganan hasil tangkapan tongkol pada masing-masing alat tangkap di atas : a) Penanganan tongkol hasil tangkapan payang Alat tangkap payang merupakan alat tangkap one day fishing, yang berangkat melaut pada pagi hari dan mendaratkan hasil tangkapannya pada sore 79 sampai malam hari. Trip penangkapan yang demikian menyebabkan sebagian besar kapal payang di PPN Palabuhanratu tidak memiliki palka, sehingga nelayan paying menggunakan blong sebagai wadah hasil tangkapan utamanya. Kalaupun di kapal payang tersebut tersedia palka, palka tersebut hanya digunakan sebagai tempat meletakkan blong yang berisi hasil tangkapan. Hal ini sesuai dengan pendapat Pane (2008) yang menyatakan bahwa payang sering menggunakan blong, yang berfungsi sebagai pengganti palka karena payang tidak memiliki palka. Blong juga digunakan pada saat pendaratan dan penjualan ikan di TPI. Nelayan payang tidak melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan tongkol yang didaratkan. Hal ini karena nelayan payang tidak mempedulikan penanganan di tempat pendaratan, menurut mereka jarak dari tempat pendaratan (dermaga pendaratan di depan TPI) ke tempat pedagang pengumpul (pasar belakang TPI) sangat dekat dan adanya penanganan tidak merubah harga ikan pada saat dijual kepada pedagang pengumpul, terutama pada saat musim ikan. Blong-blong yang berisi hasil tangkapan tongkol langsung didaratkan dan diangkut menuju ke tempat pedagang pengumpul dengan bantuan gerobak kayu. b) Penanganan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon Sistem penanganan yang dilakukan nelayan pancing rumpon terhadap hasil tangkapan tongkolnya di tempat pendaratan adalah penempatan hasil tangkapan ke dalam wadah baru. Hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan ditempatkan ke dalam blong milik pengumpul. Penempatan hasil tangkapan tersebut bertujuan agar hasil tangkapan tidak diletakkan di lantai dek atau dermaga yang kotor dan tidak diletakkan di atas gerobak tanpa alas pada saat pengangkutan hasil tangkapan ke tempat pengumpul. 5) Penanganan layur Ikan layur (Lampiran 3) ditangkap menggunakan alat tangkap pancing atau rawai yang melakukan operasi penangkapan ikan dengan sistem one day fishing. Hal ini membuat hasil tangkapan secara umum hanya disimpan di dalam styrofoam atau disatukan dan diikat menggunakan tali. Penjelasan ini sesuai dengan Pane (2008), yang menyatakan nelayan rawai layur menggunakan 80 styrofoam sejak penangkapan, pendaratan sampai pemasaran hasil tangkapan sebagai wadah. Menurut pengamatan di lapangan diketahui bahwa pada saat pendaratan styrofoam yang berisi ikan layur atau hasil tangkapan layur yang disatukan dalam bentuk ikatan langsung diangkat ke atas dermaga oleh nelayan menggunakan tangan untuk langsung dijual kepada pengumpul tanpa ditangani terlebih dahulu. Menurut nelayan yang menangkap layur, tidak adanya penanganan karena penanganan memerlukan biaya dan mereka merasa berat dengan biaya tersebut. Selain itu menurut nelayan hasil tangkapan layur tersebut langsung di tangani setelah sampai di tangan pedagang pengumpul atau pedagang pengecer, sehingga mereka tidak perlu melakukan penanganan dan hanya perlu secepatnya menjual hasil tangkapan layur tersebut kepada pedagang pengumpul atau pedagang pengecer. 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Ikan tembang, layang, kuwe, kakap, selar, kembung, udang rebon, cumi dan ikan kecil lainnya merupakan hasil tangkapan gillnet, rampus, bagan dan alat tangkap tradisional lainnya. Umumnya alat tangkap tersebut tidak menggunakan es dalam penanganan hasil tangkapannya dan hasil tangkapan hanya dimasukkan kedalam keranjang bambu, styrofoam atau karung. Nelayan tidak melakukan penanganan terhadap ikan-ikan tersebut di tempat pendaratan. Nelayan menyatakan bahwa mereka tidak melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan di tempat pendaratan karena ada atau tidaknya penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan harga jual hasil tangkapan tersebut sama saja. Jadi pada saat pendaratan wadah-wadah yang berisi hasil tangkapan dibawa langsung oleh nelayan memakai tangan tanpa bantuan apapun ke atas dermaga. Sesampai di atas dermaga, hasil tangkapan tersebut langsung dijual kepada pedagang pengecer, pedagang pengumpul (yang sebagian besar adalah pemilik coldstorage pribadi) atau pengolah yang telah menunggu mereka di atas dermaga. Berdasarkan pembahasan dari sub bab 5.1 ini dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan secara keseluruhan belum 81 dilakukan. Penanganan hanya dilakukan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline, cakalang hasil tangkapan pancing rumpon dan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon. Penanganan yang dilakukan terhadap tuna hasil tangkapan tuna longline adalah pemberian es curah, sedangkan penanganan terhadap cakalang dan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon adalah penempatan hasil tangkapan ke dalam wadah. Tidak adanya penanganan beberapa hasil tangkapan di tempat pendaratan dikarenakan menurut pendapat nelayan yang menangkap hasil tangkapan tersebut ada atau tidaknya penanganan di tempat pendaratan tidak mempengaruhi harga jual hasil tangkapan tersebut, jarak pengangkutan yang dekat, harga jual hasil tangkapan tersebut yang tidak tinggi dan dengan tidak adanya penanganan dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tidak adanya penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan disebabkan kurangnya kesadaran nelayan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapannya. 5.2 Penanganan di Tempat Pedagang atau Perusahaan Pengumpul Pedagang pengumpul yang dimaksud adalah pedagang yang mengumpulkan jenis ikan tertentu dari banyak nelayan untuk didistribusikan kembali namun tidak memiliki badan hukum. Perusahaan pengumpul yang dimaksud adalah pedagang yang mengumpulkan ikan tertentu dari banyak nelayan atau dari banyak pedagang pengumpul untuk didistribusikan dan memiliki badan hukum. Perusahaan dapat berupa perusahaan terbatas (PT) atau CV. 1) Penanganan tuna Hasil tangkapan tuna yang sampai ke tempat perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu umumnya adalah ikan tuna hasil tangkapan alat tangkap pancing rumpon. Hal ini dikarenakan tuna hasil tangkapan alat tangkap tuna longline ditangani oleh perusahaan pengumpul tuna di tempat pendaratan seperti yang telah dikemukakan pada sub bab 5.1 butir 1b. Ikan tuna hasil tangkapan alat tangkap tuna longline tersebut setelah ditangani langsung dimasukkan ke mobil bak tertutup untuk diangkut (didistribusikan) menuju Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta sebelum diekspor ke luar negeri. 82 Penanganan yang dilakukan terhadap tuna hasil tangkapan pancing rumpon oleh perusahaan pengumpul tuna adalah penggantian es curah pada rongga kepala dan perut ikan, grading (pengelompokan ikan berdasarkan ukuran dan mutu) dan pemakaian terpal. Penggantian es curah dilakukan dengan mengeluarkan es dari rongga kepala dan perut ikan tuna yang kemudian diisi kembali dengan es curah yang baru dengan tujuan mempertahankan suhu dan mutu hasil tangkapan. Grading dilakukan berdasarkan ukuran dan mutu hasil tangkapan. Hasil tangkapan yang mutunya memenuhi syarat ekspor (ukuran minimal 30 kg; mata cerah dan jernih; daging merah cemerlang; daging padat dan elastis; tidak berbau) langsung dimasukkan oleh perusahaan pengumpul tuna ke dalam mobil bak tertutup untuk diangkut menuju Jakarta, sementara hasil tangkapan yang mutunya tidak memenuhi syarat ekspor dimasukkan ke dalam coldstorage menunggu jumlah yang cukup untuk didistribusikan dengan tujuan daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. Pemakaian terpal sebagai alas pada saat penanganan bertujuan agar ikan tuna dan es curah tidak bersentuhan langsung dengan lantai yang kotor dan banyak bakteri yang dapat mempercepat kemunduran mutu ikan. Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa alat bantu dan bahan yang digunakan oleh perusahaan pengumpul tuna dalam penanganan hasil tangkapan tuna tersebut adalah coldstorage, terpal dan es curah. 2) Penanganan tuna-tuna kecil Penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil oleh perusahaan pengumpul tuna adalah penggantian es pada rongga kepala dan perut untuk hasil tangkapan tuna longline, sedangkan untuk hasil tangkapan pancing rumpon insang dan isi perut dibuang dan diganti dengan es curah yang bertujuan untuk mempertahankan suhu dan mutu hasil tangkapan. Kemudian hasil tangkapan dimasukkan ke dalam coldstorage menunggu jumlah yang cukup untuk didistribusikan dengan tujuan lokal atau daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. Alat yang digunakan oleh perusahaan pengumpul ikan tuna dalam penanganan tuna-tuna kecil berdasarkan uraian di atas adalah coldstorage dan bahan yang digunakan dalam penanganan tersebut adalah es curah. 83 3) Penanganan cakalang Hasil tangkapan cakalang di pedagang pengumpul pribadi berasal dari nelayan gillnet, longline, payang dan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu. Hasil tangkapan tersebut kemudian mendapatkan penanganan dari pedagang pengumpul sebagai berikut : (1) Ikan cakalang ditempatkan sementara di dalam kotak plastik dengan diberi es dan air laut. Ikan dan es disusun berlapis dengan urutan es-ikan-es-ikan-es sampai kotak plastik penuh, lalu diberi air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan mutu ikan cakalang dalam menunggu ikan cakalang hasil tangkapan kapal lainnya (2) Setelah dirasa tidak ada lagi hasil tangkapan cakalang yang akan didaratkan, ikan cakalang ditempatkan ulang ke dalam blong (rata-rata 95 kg ikan per blong) dengan susunan es-ikan-es-ikan-es tanpa diberi air laut. (3) Blong dinaikkan ke atas mobil pick up (1 mobil dapat memuat 18 blong) untuk didistribusikan ke Muara baru, Pasar baru dan Muara Angke. Mobil pick up tersebut ditutupi dengan terpal untuk menjaga blong berisi ikan cakalang dari sinar matahari langsung. Dilihat dari penjelasan di atas diketahui bahwa alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengumpul dalam penanganan hasil tangkapan cakalang adalah kotak plastik, blong dan terpal untuk menutupi mobil pick up. Sementara bahan yang digunakan yaitu es bongkahan yang berasal dari es balok yang dipecah kecilkecil dan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. 4) Penanganan tongkol Ikan tongkol yang dibeli oleh pedagang pengumpul akan mengalami penanganan setelah gerobak yang mengangkut blong-blong yang berisi hasil tangkapan tongkol sampai di tempat pedagang pengumpul. Penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul terhadap hasil tangkapan tongkol adalah sebagai berikut : (1) Ikan tongkol ditempatkan sementara di dalam kotak plastik bersama es curah dan air laut (Gambar 12). Penyusunan ikan dan es di dalam kotak plastik adalah secara berlapis dengan susunan es-ikan-es-ikan-es sampai kotak plastik 84 tersebut penuh. Tahap berikutnya adalah pemberian air laut yang diambil dari kolam pelabuhan ke dalam kotak plastik. Penempatan ikan, es curah dan air laut di dalam kotak plastik dilakukan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan tongkol dalam menunggu hasil tangkapan tongkol kapal lainnya. a.Pemberian es b.Pemberian air laut Gambar 12 Penempatan sementara ikan tongkol oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010. (2) Setelah dirasa ikan tongkol cukup atau tidak ada lagi hasil tangkapan tongkol yang akan didaratkan, ikan tongkol ditempatkan ulang ke dalam blong dengan susunan es-ikan-es-ikan-es dan seterusnya tanpa diberi air laut. Setelah semua hasil tangkapan tongkol selesai ditempatkan ulang ke dalam blong, maka blong yang berisi hasil tangkapan tongkol dinaikkan ke atas mobil pick up untuk didistribusikan ke Muara baru, Pasar baru dan Muara angke. Mobil pick up tersebut ditutupi dengan terpal untuk menjaga blong berisi hasil tangkapan dari sinar matahari. Alat bantu yang digunakan adalah kotak plastik, blong dan terpal, sementara bahan yang digunakan yaitu es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil dan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. 5) Penanganan layur Pedagang pengumpul hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu ada dua jenis yaitu pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul layur yaitu PT Agro Global Bisnis (AGB). Walaupun terdapat dua jenis pengumpul di PPN Palabuhanratu, tidak menyebabkan adanya persaingan diantara kedua pengumpul tersebut. Hal tersebut dikarenakan pedagang pengumpul bertugas mengumpulkan 85 hasil tangkapan layur dari nelayan, dimana hasil tangkapan layur grade A dan B (sesuai dengan standar PT ABG) yang dikumpulkannya dijual kepada PT AGB. Sementara hasil tangkapan layur yang tidak masuk kriteria kedua grade tersebut dijual oleh pedagang pengumpul kepada pengecer lokal maupun di daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. a) Pedagang pengumpul Penanganan hasil tangkapan layur yang dilakukan di tempat pedagang pengumpul layur adalah grading berdasarkan ukuran dan mutu layur, penempatan layur ke dalam wadah dan pemberian es curah. Grading dilakukan untuk memisahkan hasil tangkapan layur yang memenuhi syarat dari PT AGB dengan yang tidak memenuhi syarat dari PT AGB. Hasil tangkapan layur dengan mutu dan ukuran yang sama dimasukkan ke dalam styrofoam yang sama lalu berisi es curah dengan tujuan mempertahankan mutu hasil tangkapan layur. b) PT Agro Global Bisnis Perusahaan Agro Global Bisnis merupakan perusahaan perseorangan yang menjual jasa pengumpulan, penanganan dan pendistribusian ikan layur ke luar negeri (ekspor). Negara tujuan ekspor PT AGB adalah negara Korea Selatan, karena pemilik PT AGB adalah orang Korea Selatan yang menanamkan investasinya di Indonesia sehingga melihat, memahami dan menguasai potensi pemasaran ikan layur di Korea Selatan. Pasokan ikan layur didapatkan oleh PT AGB dari seluruh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu. Setiap pedagang pengumpul biasanya telah mengetahui persyaratan ukuran (minimal 30 cm), suhu (kurang dari 5ºC ) dan kualitas ikan (tidak boleh lecet dan tidak boleh pecah perut) yang ditetapkan oleh PT AGB. Pedagang pengumpul pribadi dapat menjual ikan layur setiap hari kepada PT AGB mulai dari pukul 11.00 sampai dengan pukul 14.00. Pada saat ikan layur sampai di PT AGB, ikan layur akan diuji kelayakannya melalui pengujian ukuran dan suhu ikan serta pengecekan kualitas ikan. Setelah semua pengujian dilakukan baru kemudian dapat dipastikan ikan layur tersebut diterima atau tidak oleh PT AGB. 86 Ikan layur yang diterima oleh PT AGB dimasukkan ke bagian penanganan untuk ditangani dengan urutan tahapan seperti pada Gambar 13 berikut ini : Grading menurut ukuran dan mutu, ikan layur dengan ukuran dan mutu yang sama dimasukkan ke dalam keranjang plastik yang sama Pencucian ikan layur dengan air bersuhu rendah Ikan layur disusun ke dalam kotak baja ringan lalu diberi label berisi keterangan ukuran, berat dan mutu Kotak baja ringan yang berisi ikan layur dimasukkan ke dalam freezer lebih kurang 24 jam Setelah 24 jam ikan layur dikeluarkan, lalu dicuci kembali dengan air bersuhu rendah untuk membersihkan darah yang masih tertinggal Ikan layur disusun kedalam kotak kardus, lalu diberi label berisi keterangan ukuran, berat dan mutu Kotak kardus yang berisi ikan layur dimasukkan ke dalam coldstorage milik perusahaan lebih kurang 24 jam atau sampai jumlahnya mencukupi 1 mobil box Kotak kardus dipindahkan dari dalam coldstorage ke mobil bak tertutup yang memiliki pengatur suhu, untuk dibawa ke Jakarta dengan tujuan ekspor Gambar 13 Tahapan penanganan ikan layur di PT AGB tahun 2010. Perusahaan Agro Global Bisnis sangat memperhatikan kualitas ikan layur yang didistribusikannya, maka setiap pekerja diharuskan memakai sepatu bot, sarung tangan, celemek dan mencuci tangan sebelum bekerja. Alat bantu yang digunakan dalam penanganan ikan layur oleh PT AGB adalah keranjang, timbangan, kotak baja ringan, freezer, coldstorage, kotak kardus dan mobil bak tertutup. Bahan yang digunakan yaitu air dingin dengan suhu dibawah 5ºC. 87 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Pengumpul hasil tangakapan ikan kecil lain tidak mengumpulkan hasil tangkapan berdasarkan jenis hasil tangkapannya. Pedagang pengumpul lebih kepada pemilik coldstorage pribadi yang mengumpulkan hampir semua jenis hasil tangkapan ikan kecil. Sebagian besar hasil tangkapan yang sudah dikumpulkan tersebut tidak dicuci tetapi langsung dimasukkan ke dalam coldstorage, yang kemudian dijual kembali di sekitar TPI pada pagi hari kepada pemindang ikan, produsen ikan asin dan produsen terasi tanpa ada penanganan sebelum penjualan dilakukan. Kurangnya penanganan membuat hasil tangkapan yang dijual tidak lagi segar, mutunya menurun dan banyak ikan yang rusak dan tidak utuh. Hanya sebagian kecil hasil tangkapan yang ditangani untuk didistribusikan dalam bentuk segar. Jenis hasil tangkapan kecil yang umum ditangani adalah tembang. Hasil tangkapan tersebut ditangani dengan cara di masukkan ke dalam styrofoam dan diberi es balok yang sudah dipecah kecil-kecil, kemudian styrofoam tersebut dinaikkan ke atas mobil bak terbuka untuk didistribusikan. Sub bab 5.2 secara keseluruhan memberikan informasi bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul telah dilakukan. Penanganan yang dilakukan pedagang pengumpul bervariasi yang terdiri dari pencucian ikan, pemberian es, penggunaan air laut, penempatan ke dalam wadah, penggunaan pelindung berupa atap atau alas dan penyimpanan hasil tangkapan ke dalam coldstorage atau freezer. 5.3 Penanganan di Tempat Pedagang Pengecer 1) Penanganan tuna Hasil tangkapan tuna biasanya tidak dipasarkan kepada pedagang pengecer lokal, karena sangat kurangnya permintaan dan harganya yang cukup mahal bagi pedagang pengecer. Adapun hasil tangkapan tuna yang dipasarkan oleh pengecer lokal adalah tuna-tuna kecil, yang akan dibahas pada sub sub bab di bawah ini. 2) Penanganan tuna-tuna kecil Pada saat ikan tuna-tuna kecil berada di tempat pedagang pengecer terdapat beberapa cara penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengecer terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil tersebut yaitu : 88 (1) Ikan tuna-tuna kecil diletakkan di atas meja yang beralaskan daun pisang atau terpal dan dilindungi oleh atap terpal. Ikan tuna-tuna kecil ini beberapa kali disiram dengan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan agar ikan tuna-tuna kecil tetap terlihat segar (2) Ikan tuna-tuna kecil yang tidak habis terjual pada hari itu akan disimpan di dalam kotak plastik atau styrofoam dan diberi es, agar mutunya tetap terjaga sampai dijual keesokan harinya. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengecer dalam penanganan tuna-tuna kecil adalah kotak plastik atau styrofoam, meja kayu dan daun pisang. Bahan yang digunakan untuk penanganan ikan adalah es dan air laut. Es yang digunakan adalah es yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil. Air laut yang dipakai berasal dari kolam pelabuhan. 3) Penanganan cakalang Penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer terdiri dari beberapa cara. Cara-cara penanganan hasil tangkapan cakalang tersebut adalah : 1. Sebagian besar ikan cakalang ditempatkan di atas meja yang beralaskan daun pisang atau terpal, ikan tersebut disiram dengan air laut dalam selang waktu tertentu. Meja tempat meletakkan ikan cakalang dilindungi dengan atap terpal untuk melindungi ikan cakalang dari cahaya matahari langsung. 2. Ikan cakalang juga ditempatkan di dalam kotak plastik atau styrofoam. Ikan cakalang tersebut ada yang diberi air laut dan es, ada yang hanya diberi air laut, serta ada yang tidak diberi air laut maupun es 3. Jika sampai malam hari ikan cakalang tidak habis terjual, maka sisanya akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es Kotak plastik, styrofoam atau meja kayu adalah alat penanganan yang berfungsi sebagai tempat meletakkan hasil tangkapan cakalang, sedangkan terpal dan daun pisang merupakan alat penanganan yang berfungsi sebagai alas hasil tangkapan. Es dan air laut yang digunakan dalam penanganan merupakan bahan yang berfungsi menjaga mutu hasil tangkapan cakalang. Es yang digunakan dalam 89 penanganan adalah es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang digunakan diambil dari kolam pelabuhan. 4) Penanganan tongkol Tidak semua hasil tangkapan tongkol dijual ke luar daerah oleh pedagang pengumpul, sebagian kecil dijual kepada pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu. Pedagang pengecer tongkol di PPN Palabuhanratu melakukan penanganan yang beragam terhadap hasil tangkapan tongkol yaitu : (1) Sebagian besar ikan tongkol disusun di atas meja yang beralaskan daun pisang/terpal. Meja dilindungi oleh atap terpal dan ikan tongkol yang disusun di atasnya disiram dengan air dalam selang waktu tertentu (2) Terdapat juga ikan tongkol yang ditempatkan di dalam kotak plastik atau styrofoam. Ikan tersebut sebagian besar diberi air laut dan es, namun ada yang hanya diberi air laut saja (Gambar 14) Gambar 14 Penyimpanan ikan tongkol di dalam kotak plastik atau styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. (3) Jika ikan tongkol tidak habis terjual, maka sisanya akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es untuk menjaga mutunya Alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengecer dalam penanganan hasil tangkapan tongkol berdasarkan penjelasan di atas adalah kotak plastik, styrofoam atau meja kayu sebagai wadah hasil tangkapan dan terpal atau daun pisang sebagai alas hasil tangkapan. Bahan yang digunakan dalam penanganan ini adalah es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan. 90 5) Penanganan layur Hasil tangkapan layur yang ditangani dan dijual oleh pedagang pengecer lokal adalah hasil tangkapan layur yang tidak diterima oleh PT AGB. Hal tersebut menyebabkan hasil tangkapan layur yang ditangani dan dijual oleh pedagang pengecer tersebut bukanlah hasil tangkapan layur dengan kualitas terbaik. Maka sebaiknya penanganan hasil tangkapan layur tersebut sangat diperhatikan agar kualitasnya tidak cepat turun dan sampai di tangan konsumen dengan kualitas yang masih baik. Cara penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan layur pada saat di pedagang pengecer PPN Palabuhanratu adalah : 1. Biasanya ikan layur diletakkan dan disusun di atas meja yang beralaskan terpal (Gambar 15 butir 1) atau daun pisang (Gambar 15 butir 2). Meja tersebut dilindungi oleh atap terpal agar tidak terkena cahaya matahari langsung. Beberapa kali ikan layur disiram dengan air yang diambil dari kolam pelabuhan, dengan tujuan agar ikan terlihat segar. 1. di atas meja beralas terpal 2. di atas meja beralas daun pisang Gambar 15 Penempatan ikan layur diatas meja oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. 2. Ada sebagian ikan layur yang diletakkan di atas keranjang kecil yang terbut dari anyaman bambu (Gambar 16), namun pada saat dijual ikan layur tersebut dibawa berkeliling pasar ikan tanpa penutup sehingga terkena cahaya matahari langsung 91 Gambar 16 Penempatan layur di atas keranjang oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 3. Ikan layur yang tidak habis terjual sampai malam hari akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es agar mutunya tetap terjaga Bahasan di atas menginformasikan bahwa alat yang digunakan pedagang pengecer dalam penanganan hasil tangkapan layur adalah kotak plastik, styrofoam, meja kayu, keranjang dan daun pisang. Bahan yang digunakan dalam penanganan hasil tangkapan layur menurut bahasan tersebut adalah es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan di PPN Palabuhanratu. 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Hasil tangakapan tembang, layang, selar, cumi dan ikan kecil lainnya pada saat dibeli oleh pedagang pengecer dari nelayan dalam keadaan ditumpuk di dalam keranjang, styrofoam atau karung. Hanya sebagian kecil hasil tangkapan yang dibeli oleh pedagang pengecer yang sudah diberi es. Pada saat hasil tangkapan ikan-ikan kecil berada di pedagang pengecer hasil tangkapan tersebut mengalami penanganan sebagai berikut :  Ikan-ikan kecil diletakkan di atas meja kayu beralaskan daun pisang atau terpal. Ikan-ikan kecil tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukuran. Ikan-ikan tersebut beberapa kali disiram oleh pedagang pengecer menggunakan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan agar ikan kelihatan segar  Ikan-ikan kecil ditempatkan di dalam keranjang kecil 92  Ikan-ikan kecil diletakan di dalam styrofoam. Selama penjualam ikan diberi dan direndam air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dan sedikit es agar hasil tangkapan tetap segar (Gambar 17) Gambar 17 Penempatan ikan-ikan kecil di dalam styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Jika ikan tidak habis terjual akan disimpan di dalam styrofoam dan diberi es Secara keseluruhan pembahasan pada sub bab 5.3 dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer sudah dilakukan. Penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengecer adalah pemberian es, penggunaan air laut, penempatan atau penyimpanan di dalam wadah dan penempatan di atas meja beralas terpal atau daun pisang. 5.4 Masalah dalam Penanganan Hasil Tangkapan Masalah penanganan yang paling penting di PPN Palabuhanratu adalah pemakaian air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan baik di tingkat pedagang pengumpul maupun di tingkat pedagang pengecer (Gambar 18). Pedaganag pengumpul ikan cakalang, tongkol dan ikan kecil lainnya memakai air dari kolam pelabuhan dalam proses penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan. Begitu juga dengan pedagang pengecer yang terdapat di pasar ikan di sekitar PPN Palabuhanratu. 93 Gambar 18 Pengambil air dari kolam pelabuhan oleh pedagang pengumpul atau pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Pedagang pengumpul dan pengecer yang menggunakan air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan disebabkan tidak perlu mengeluarkan biaya dalam penggunaannya. Menurut Mahyuddin (2007) nelayan cenderung menggunakan air laut untuk membersihkan ikan karena mudah diperoleh di depan dermaga dan ketersediaan air tawar di TPI belum cukup memadai. Padahal pada tahun 2004 dilakukan penyediaan pompa air laut guna memperoleh air laut yang bersih, namun kesulitan dalam pemeliharaannya karena alat pompanya mudah korosi akibat air laut. Air kolam pelabuhan yang digunakan tersebut tidak bersih karena di dalam kolam pelabuhan PPN Palabuhanratu banyak terdapat sampah, kotoran dan minyak. Adanya material lain di dalam air dapat membuat air yang digunakan tidak bersih dan diduga mengandung bakteri yang dapat mempercepat pemunduran mutu ikan. Penggunaan air kolam pelabuhan yang kotor akan mempengaruhi mutu ikan sesuai dengan Lubis, et al.,2005 dan Pane, et al.,2007. Ilyas (1983) vide Hardani (2008) menyatakan bahwa tidak ada seekor ikan pun baik berukuran kecil maupun besar boleh bersentuhan dengan air kolam pelabuhan, bakteri atau lainnya kecuali hanya dengan wadah pengangkut ikan. Masalah lainnya adalah penempatan ikan di dalam wadah sampai terlalu padat, penggunaan air laut yang merendam ikan, tidak adanya pengawasan dari pihak pengelola PPN Palabuhanratu dan kurangnya kepedulian serta pengetahuan nelayan mengenai pentingnya penanganan hasil tangkapan. 94 Penempatan atau penyimpanan ikan di dalam wadah sampai terlalu penuh dapat menyebabkan ikan bagian bawah tertekan oleh ikan-ikan yang berada di bagian atasnya sehingga badannya rusak dan mutunya menurun. Penggunaan air laut yang merendam ikan dan diberi sedikit es bertujuan agar ikan tetap segar, namun hal ini dapat menyebabkan mutu ikan tersebut menurun. Hal tersebut dikarenakan air akan masuk ke dalam daging ikan yang dapat membuat daging ikan lembek (merusak konsistensi ikan) sehingga ikan mudah rusak atau hancur. Masalah penanganan hasil tangkapan yang cukup penting juga di PPN Palabuhanratuadalah kurangnya fasilitas dan pelayanan yang menunjang kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan jenis dan jumlah fasilitas di PPN Palabuhanratu yang terdapat pada Tabel 18 diketahui bahwa fasilitas terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang terdapat di PPN Palabuhanratu adalah dermaga, instalasi air bersih, TPI, pasar ikan dan Laboratorium Bina Mutu, Fasilitas tersebut kurang atau tidak dimanfaatkan oleh nelayan. Selain itu terdapat fasilitas yang berperan penting dalam penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan namun tidak terdapat di PPN Palabuhanratu yaitu pabrik es. Tidak adanya pengawasan terhadap penanganan hasil tangkapan dari pihak pengelola PPN Palabuhanratu mengakibatkan nelayan tidak melakukan penanganan hasil tangkapan dengan baik. Hal ini juga mengakibatkan pengelola PPN Palabuhanratu kurang mengetahui kondisi aktual penanganan hasil tangkapan di lapangan, sehingga tidak dapat mengambil kebijakan yang baik terhadap pengadaan atau perbaikan fasilitas pelayanan terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan dan pemilihan penyuluhan dan pelatihan yang sesuai bagi nelayan. Adanya penyuluhan atau pelatihan diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan nelayan yang kurang. Adanya peningkatan pengetahuan nelayan terhadap penanganan hasil tangkapan diharapkan dapat meningkatkan kepedulian nelayan terhadap pentingnya penanganan hasil tangkapan, sehingga masalah-masalah penanganan di atas dapat dikurangi atau dihilangkan. 95 5.5 Mutu Hasil Tangkapan Didaratkan 5.5.1 Kelembagaan terkait mutu hasil tangkapan 1) Laboratorium Bina Mutu di PPN Palabuhanratu Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Laboratorium Bina Mutu (LBM) dan pihak pengelola PPN Palabuhanratu diketahui bahwa laboratorium ini merupakan tempat pengujian sampel hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuharatu. Laboratorium Bina Mutu berdiri pada tahun 2004, namun mulai beroperasi pada tahun 2006. Tugas dari LBM menurut Peraturan Tingkat I Propinsi Jawa Barat nomor 11 tahun 1991 ayat 1 tentang pengujian dan pembinaan mutu hasil perikanan (Perda Jawa Barat) adalah : a) Menginventarisasi semua unit pengolahan/pengawetan dan pelaku tata niaga hasil perikanan di daerah; b) Mencatat dan menguji secara organoleptik dan atau laboratoris mutu produk akhir hasil perikanan yang diproduksi dan atau diperdagangkan di daerah dan atau melintasi daerah dan diekspor; c) Melakukan pembinaan terhadap unit pengolahan/pengawetan dan pelaku tata niaga hasil perikanan dalam hal penanganan, pengolahan, pengepakaan dan penyimpanan hasil perikanan; d) Melakukan pembinaan terhadap laboratorium penguji mutu hasil perikanan milik swasta; e) Melakukan pengujian terhadap bahan baku, bahan pembantu serta produk akhir hasil perikanan. Selanjutnya masih dalam peraturan yang sama ayat 2 menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengujian maka LBM mengeluarkan sertifikat mutu dan surat keterangan mutu. Sertifikat mutu adalah surat yang menyatakan bahwa produk akhir hasil perikanan yang akan diekspor, berdasarkan laporan hasil pengujian adalah telah sesuai dengan standar mutu. Surat keterangan mutu adalah surat yang menerangkan bahwa produk akhir hasil perikanan yang dipasarkan pada pasar domestik, berdasarkan hasil pengujian laboratorium adalah layak dikonsumsi manusia. Kondisi aktual di lapangan menyatakan bahwa tugas butir b dan c telah dilakukan oleh LBM di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan laporan LBM PPN Palabuhanratu diketahui bahwa LBM telah melakukan pengujian formalin (Tabel 96 30), organoleptik (Tabel 34) dan angka lempeng total (Tabel 35). Pada saat penelitian dilakukan, LBM sedang melakukan pembinaan kepada nelayan di aula milik LBM dan berdasarkan hasil wawancara dengan petugas laboratorium maupun nelayan diketahui bahwa kegiatan pembinaan sudah beberapa kali dilakukan oleh LBM terkait hasil tangkapan. Menurut hasil wawancara dengan pengelola PPN Palabuhanratu dan petugas LBM PPN Palabuhanratu, Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu juga melakukan pengujian suhu terhadap hasil tangkapan. Pengujian suhu dan organoleptik terhadap hasil tangkapan dilakukan langsung pada saat inspeksi di lapangan, sedangkan pengujian lainnya dilakukan di laboratorium dengan sampel yang diambil dari lapangan. Pada tahun 2008 pengujian yang dilakukan terhadap sampel tersebut adalah uji formalin. Pengujian angka lempeng total (ALT) merupakan pengujian jumlah koloni mikroba yang terdapat pada 1 gram sampel ikan. Pengujian ALT dilakukan pada tahun 2009, sedangkan pengujian histamin dilakukan pada tahun 2011 terhadap hasil tangkapan tuna, tuna-tuna kecil, cakalang dan setuhuk. Alat pengujian ALT yang dimiliki oleh LBM PPN Palabuhanratu adalah alat penghitung koloni (Colony Counter) seperti pada Gambar 19, sedangkan alat pengujian histamin adalah Reader Stat Fax 450 nm seperti pada Gambar 20. Gambar 19 Alat penghitung koloni (Colony Counter) untuk pengujian ALT di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010. 97 Gambar 20 Alat Reader Stat Fax 450 nm untuk pengujian histamin di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010. Petugas LBM menyatakan bahwa pengujian formalin yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu mencakup pengujian formalin terhadap ikan segar dan terhadap produk olahan. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pada ikan segar atau produk olahan tersebut terkandung formalin. Formalin adalah zat kimia yang berfungsi mengawetkan ikan segar dan produk olahan agar tidak cepat membusuk, namun zat ini berbahaya bagi kesehatan manusia sebagai konsumen ikan segar dan produk olahan tersebut. Berikut ini adalah hasil pengujian formalin ikan segar dan produk olahan yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu tahun 2008-2009. Tabel 31 Hasil uji formalin terhadap ikan segar dan produk olahan Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2008-2009 Hasil uji formalin terhadap Hasil uji formalin terhadap ikan segar (ekor) produk olahan (ekor) Tahun uji Jumlah Negatif Positif Jumlah Negatif Positif sampel (-) (+) sampel (-) (+) 2008 501 501 289 285 4 2009 63 63 65 59 6 Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel 31 di atas diketahui bahwa jumlah sampel yang diambil pada tahun 2009 menurun jika dibandingkan tahun 2008. Jumlah sampel yang positif mengandung formalin pada tahun 2008 adalah sebanyak 1,38% dari sampel yang diambil, sedangkan pada tahun 2009 sampel produk olahan yang positif mengandung formalin berjumlah 10,17% dari sampel yang diambil. 98 Tabel 32 Hasil uji formalin berdasarkan jenis ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 JS Jenis ikan (-) (+) Bulan uji (ekor) I. Penjual ikan pasar tradisional 1. Eteman (Mene maculata) 1 1 - Mei 2. Kakap (Lutjanus sp.) 3 3 - Januari, Mei, Oktober 3. Kembung (Rastrelliger sp.) 1 1 - Januari 4. Kurisi (Nemitarus 1 1 - Oktober nematopharus) 5. Lemcam (Lethrinus lentjam) 1 1 - Oktober 6. Layur (Trichiurus savala) 2 2 - Januari, Oktober 7. Marlin/Jangilus (Makaira 2 2 - Januari, Mei indica) 8. Sarden/selayang (Sardinella 1 1 - Januari longiceps) 9. Swangi/Camaul 2 2 - Mei, Oktober (Priacanthus sp.) 10. Tongkol (Auxis sp.) 2 2 - Januari, Mei 11. Tuna (Thunnus sp.) 1 1 - Januari II. TPI 1. Cumi-cumi (Loligo edulis) 1 1 - Februari 2. Kakap 2 2 - Februari, Juni 3. Kembung 1 1 - Juni 4. Kerong-kerong (Terapan sp.) 1 1 - Agustus 5. Kuwe (Caranx melampygus) 1 1 - Agustus 6. Layang (Decapterus sp.) 2 2 - Februari, Agustus 7. Layur 2 2 - Februari, Agustus 8. Marlin/Jangilus 1 1 - Juni 9. Swangi/Camaul 1 1 - Juni 10. Tetengkek/Selar 1 1 - Agustus (Megalaspis cordyla) 11. Tongkol 2 2 - Juni, Agustus 12. Tuna 1 1 - Februari III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Baronang (Siganus sp.) 1 1 - Maret 2. Bawal (Formio niger) 1 1 - Desember 3. Cumi-cumi 1 1 - Maret 4. Eteman 1 1 - November 5. Kakap 2 2 - Juli, Desember 6. Kerapu (Epinephelus sp.) 1 1 - Maret 7. Kuwe 2 2 - Juli, Desember 8. Layang 1 1 - Maret 99 Lanjutan Tabel 32 Jenis ikan 9. Layur 7. Marlin/Jangilus 8. Sarden/selayang 9. Swangi/Camaul 10. Tongkol 11. Tuna V. Penjual ikan dermaga 2 1. Eteman 2. Kakap 3. Kembung 4. Kuwe 5. Layur 6. Sarden/selayang 7. Semar/serepet (Lampis guttatis) 8. Tongkol 9. Tuna Jumlah sampel (ekor) JS (ekor) (-) 3 3 - 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 - Juli, November, Desember November Juli November Maret, November Juli, Desember 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 - April September April September April, September April 1 1 - September 1 1 63 1 1 63 - September - April - (+) Bulan uji Keterangan : JS = jumlah sampel; (-) = negatif atau tidak mengandung formalin; (+) = positif atau mengandung formalin Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Pengujian formalin terhadap ikan segar yang dilakukan LBM PPN Palabuhanratu pada Tabel 32 meliputi ikan-ikan yang terdapat pada penjual ikan di pasar tradisional, TPI, pasar ikan PPN Palabuhanratu dan penjual ikan dermaga dua. Total sampel yang diuji oleh LBM tahun 2009 berjumlah 63 ekor ikan, yaitu jenis bawal, bronang, camaul, cumi-cumi, eteman, kakap, kembung, kerongkerong, kurisi, kuwe, layang, layur, marlin, selayang, semar, selar/tetengkek, tongkol dan tuna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 63 sampel negatif, yang artinya tidak mengandung formalin. Tidak terdapat sampel yang hasil ujinya positif, yang artinya tidak terdapat sampel yang mengandung formalin (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Pengujian formalin terhadap produk olahan yang dilakukan LBM PPN Palabuhanratu berdasar Tabel 33 meliputi ikan-ikan yang terdapat di pasar tradisional Palabuhanratu dan pasar ikan PPN Palabuhanratu. Jenis produk olahan 100 yang mendapat pengujian formalin adalah jambal, teri asin, pari asin, cumi asin, layur asin, dendeng ikan, sepat asin, japuh asin, swangi asin, cucut asin, peda asin, bakso, eteman asin, marlin asin, terasi, tembang asin, ikan pindang, kapasan asin dan teri rebus (cue) (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Tabel 33 Hasil uji formalin berdasar jenis produk olahan di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Jenis produk olahan Sampel (ekor) Negatif (-) Positif (+) I. Pasar tradisonal Palabuhanratu 1. Jambal 4 4 2. Teri asin 7 6 1 3. Pari asin 4 4 4. Cumi asin 3 3 5. Layur asin 2 2 6. Dendeng ikan 2 2 ) 7. Sepat asin* 1 1 8. Japuh asin 2 2 9. Swangi asin 1 1 10. Cucut asin 2 2 11.Peda asin 3 3 12.Bakso 3 3 13. Eteman asin 2 2 14.Marlin asin 1 1 II. Pasar ikan di PPN Palabuhanratu 1. Jambal 3 3 2. Teri asin 5 0 5 3. Peda asin 1 1 4. Cumi asin 4 4 5. Terasi 1 1 6. Tembang asin 4 4 7. Ikan pindang 2 2 8. Kapasan asin 2 2 9. Dendeng ikan 2 2 10. Teri rebus (Cue) 1 1 11. Layur asin 1 1 12. Cucut asin 1 1 13. Eteman asin 1 1 Jumlah sampel (ekor) 65 59 6 ) Keterangan : * = ikan olahan air tawar Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) 101 Selanjutnya LBM PPN Palabuhanratu menyatakan bahwa dari jumlah total sampel produk olahan yang diuji oleh LBM tahun 2009 berjumlah 65 produk olahan didapatkan bahwa 59 sampel negatif yang artinya tidak mengandung formalin dan 6 sampel positif yang artinya terdapat 6 sampel produk olahan yang mengandung formalin. Sampel produk olahan yang positif mengadung formalin adalah teri asin yang berasal dari pasar tradisional Kecamatan Palabuhanratu dan dari pasar ikan di PPN Palabuhanratu. Kekurangan dari pengujian formalin terhadap ikan segar dan terhadap produk olahan adalah setiap hasil tangkapan atau produk olahan tidak diuji setiap bulan dalam satu tahun. Pengujian terbanyak yang dilakukan untuk satu jenis ikan segar atau produk olahan adalah tiga kali dalan satu tahun. Hal ini membuat pengujian yang dilakukan tidak merata karena ada ikan atau produk yang diuji 3 kali dalam setahun dan ada pula yang hanya sekali dalam setahun. Selain itu sampel yang diambil hanya 1 ekor ikan segar atau produk untuk setiap jenisnya. Pengujian organoleptik ikan segar yang dilakukan oleh LBM di PPN Palabuhanratu meliputi beberapa tempat yaitu penjual ikan pasar tradisional, TPI, pasar ikan PPN Palabuhanratu dan penjual ikan dermaga 2. Jenis hasil tangkapan ikan segar dari semua tempat tersebut yang mendapat pengujian formalin adalah ikan bawal, bronang, camaul, cumi-cumi, eteman, kakap, kembung, kerapu, kerong-kerong, kuwe, layang, layur, marlin, selayang, serepet, tetengkek, tongkol dan tuna (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Selanjutnya LBM PPN Palabuhanratu memberikan informasi bahwa total sampel ikan segar yang diuji organoleptik oleh petugas LBM tahun 2009 berjumlah 63 ekor (Tabel 34). Hasil pengujian organoleptik tersebut menunjukkan bahwa nilai skala organoleptik sampel ikan segar tersebut berada diantara 6 sampai dengan 9. Hal ini berarti ikan segar di keempat tempat tersebut masih bisa untuk dikonsumsi; dikarenakan sesuai dengan Deptan (1984) di Indonesia ikan dengan nilai skala organoleptik 9 sampai 6 masih layak untuk dikonsumsi oleh konsumen. Pengujian ini seperti halnya pengujian formalin hanya dilakukan terhadap 1 sampel ikan segar dan tidak dilakukan setiap bulan dalam satu tahun, sehingga kurang mewakili populasi ikan segar yang dijual di keempat hasil tangkapan tersebut. 102 Tabel 34 Hasil uji organoleptik ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Hasil uji Sampel Jenis ikan segar organoleptik Bulan uji (ekor) skala 1-9 I. Penjual ikan pasar tradisional 1. Eteman (Mene maculata) 1 7 Mei 2. Kakap (Lutjanus sp.) 2 8 dan 7 Januari, Oktober 3. Kembung (Rastrelliger sp.) 1 7 Januari 4. Kurisi (Nemitarus Oktober nematopharus) 1 8 5. Lemcam (Lethrinus lentjam) 1 7 Oktober Januari, Mei, 6. Layur (Trichiurus savala) 3 7, 6 dan 7 Oktober 7. Marlin/Jangilus (Makaira 2 7 dan 7 Januari,Mei indica) 8. Sarden/selayang (Sardinella 1 7 Januari longiceps) 9. Swangi/Camaul Mei, Oktober (Priacanthus sp.) 2 6 dan 7 10. Tongkol (Auxis sp.) 2 6 dan 7 Januari, Mei 11. Tuna (Thunnus sp.) 1 8 Januari II. TPI 1. Cumi-cumi (Loligo edulis) 1 8 Februari 2. Kakap 2 7 dan 6 Februari, Juni 3. Kembung 1 6 Juni 4. Kerong-kerong (Terapan sp.) 1 8 Agustus 5. Kuwe (Caranx Agustus melampygus) 1 7 6. Layang (Decapterus sp.) 2 8 dan 7 Februari, Agustus 7. Layur 2 6 dan 8 Februari, Agustus 8.Marlin 1 7 Juni 9. Swangi 1 7 Juni 10. Tetengkek/ Selar Agustus (Megalaspis cordyla) 1 7 11.Tongkol 2 7 dan 7 Juni, Agustus 12.Tuna 1 7 Februari III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Baronang (Siganus sp.) 1 6 Maret 2. Bawal (Formio niger) 1 8 Desember 3. Cumi-cumi 1 7 Maret 4. Eteman 1 7 November 5. Kakap 2 7 dan 7 Juli, Desember 103 Lanjutan Tabel 34 Jenis ikan segar 6. Kerapu (Epinephelus sp.) 7. Kuwe 8. Layang 9. Layur 10. Marlin/Jangilus 11. Sarden/selayang 12. Swangi/Camaul 13. Tongkol 14. Tuna IV. Penjual ikan Dermaga 2 1. Eteman 2. Kakap 3. Kembung 4. Kuwe 5. Layur 6. Sarden/selayang 7. Semar/serepet (Lampis guttatis) 8. Tongkol 9. Tuna Total sampel (ekor) Hasil uji organoleptik Bulan uji skala 1-9 1 8 Maret 2 7 dan 8 Juli, Desember 1 7 Maret Juli, November, 3 6, 8 dan 8 Desember 1 7 November 1 7 Juli 1 6 November 2 7 dan 7 Maret, November 2 7 dan 6 Juli, Desember Sampel (ekor) 1 1 1 1 2 1 7 7 8 8 7 dan 8 8 1 1 1 63 April September April September April, September April September 7 7 September 7 April Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Pengujian ALT yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan tabel 35 meliputi : a) Pengujian terhadap ikan segar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terdiri dari ikan tongkol, tuna, kuwe, kembung, layur, kakap, selayang, eteman, swangi dan marlin b) Pengujian ikan olahan yang terdapat pada penjual ikan di pasar tradisional yaitu terhadap teri asin, cumi asin, sepat asin, peda asin, japuh asin, gabus asin dan bakso ikan c) Pengujian terhadap ikan segar di pasar ikan PPN Palabuhanratu dengan jenis yang diuji adalah ikan kakap, layur, bawal dan kuwe 104 Tabel 35 Hasil uji angka lempeng total di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Jenis ikan segar/produk Sampel Nilai ALT Bulan uji lahan (ekor) (koloni/gr) I. TPI 1. Tongkol segar 2 2,6x103 dan 9,4x102 Oktober, November 2. Tuna segar 1 4,2x104 Oktober 3 3. Kuwe segar 1 4,6x10 Oktober 3 4. Kembung segar 1 2,2x10 Oktober 2 3 5. Layur segar 2 3,7x10 dan 1,0x10 Oktober, November 3 6. Kakap segar 1 1,2x10 Oktober 3 7. Sarden segar 1 2,1x10 Oktober 3 8. Eteman segar 1 1,9x10 November 3 9. Swangi segar 1 1,0x10 November 3 10. Marlin segar 1 1,5x10 November II. Penjual ikan pasar tradisional 1. Teri asin 1 5,8x104 Oktober 3 2. Cumi asin 1 1,4x10 Oktober ) 3 3. Sepat asin* 1 1,8x10 Oktober 3 4. Japuh asin 1 2,4x10 Oktober 3 5. Gabus asin 1 2,8x10 Oktober 3 6. Bakso 1 2,8x10 November III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Kakap segar 1 3,1x104 Desember 3 2. Tuna segar 1 3,2x10 Desember 4 3. Layur segar 1 1,2x10 Desember 4 4. Bawal segar 1 1,9x10 Desember 3 5. Kuwe segar 1 2,4x10 Desember Jumlah Sampel 24 Layak Konsumsi 24 Tidak Layak Konsumsi 0 ) Keterangan : * = ikan olahan air tawar Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel 35 juga diketahui bahwa pada sampel ikan segar di penjual ikan pasar tradisional nilai ALT berkisar antara 3,7x102 koloni/gr sampai dengan 4,2x104 koloni/gr, artinya jumlah mikroorganisme aerob maupun anaerob yang terkadung di dalam sampel tersebut berjumlah antara 3,7x102 koloni/gr sampai dengan 4,2x104 koloni/gr. Hasil uji ALT pada sampel ikan segar di pasar ikan PPN Palabuhanratu berkisar antara 2,4x103 koloni/gr sampai 3,1x104 105 koloni/gr, yang berarti pada sampel ikan segar tersebut terkandung mikroorganisme aerob dan anaerob 2,4x103 koloni/gr sampai 3,1x104 koloni/gr. Ikan olahan yang dijual oleh penjual ikan pasar tradisional memiliki hasil uji ALT sebesar 1,4x103 koloni/gr sampai 5,8x104 koloni/gr, yang artinya jumlah mikoorganisme aerob dan anaerob yang terkadung dalam sampel produk olahan tersebut berkisar antara 1,4x103 koloni/gr sampai 5,8x104 koloni/gr. Menurut DKP Provinsi Riau (2011) yang didasarkan pada SNI 01-2729.12006, batas dan standar maksimal nilai ALT pada produk perikanan adalah 5 x 105 koloni/gram. Berdasarkan ketentuan tersebut dan dibandingkan dengan hasil pengujian ALT oleh LBM PPN Palabuhanratu (Tabel 36) diketahui bahwa hasil pengujiannya tidak melebihi batas maksimal dari SNI 01-2729.1-2006 sehingga ikan-ikan tersebut layak untuk dikonsumsi. 2) Pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dipasarkan di PPN Palabuhanratu Menurut Pane (2012) pengawasan mutu harian adalah pengecekan mutu hasil tangkapan yang dilelang atau dipasarkan di suatu TPI pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan yang dilakukan oleh petugas khusus pada setiap hari dan pelelangan hasil tangkapan. Pengecekan harian ini sangat penting dilakukan agar mutu hasil tangkapan yang beredar dan berasal dari suatu pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan tidak mengandung zat-zat yang membahayakan konsumen (seperti formalin), mutunya terjamin aman dan baik dikonsumsi konsumen. Pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dipasarkan di PPN Palabuhanratu belum dilakukan. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam Pane (2010) yang menyatakan bahwa organisasi pengontrolan mutu ikan di PPN Palabuhanratu masih lemah, belum terdapat petugas berwenang yang mengontrol mutu hasil tangkapan yang didaratkan dan dijual setiap hari. Seharusnya pengawasan mutu harian ini menjadi salah satu hal penting diperhatikan oleh PPN Palabuhanratu. Pengawasan mutu harian ini seharusnya dilakukan oleh petugas pengawas perikanan yang terdapat di PPN Palabuhanratu. Pada saat ini pengawas perikanan PPN Palabuhanratu hanya mencatat jumlah 106 hasil tangkapan didaratkan, jenis hasil tangkapan dan kebutuhan melaut kapal perikanan. 5.5.2 Pengujian organoleptik Pengujian organoleptik sebagaimana telah dikemukakan di dalam sub bab 3.3 dilakukan peneliti terhadap empat jenis hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu yaitu ikan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Pengujian dilakukan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. Sehingga pengujian organoleptik yang dilakukan oleh peneliti adalah terhadap 75 ekor ikan layur di tempat pendaratan, 75 ekor ikan layur di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan tongkol di tempat pendaratan, 75 ekor ikan tongkol di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan cakalang di tempat pendaratan, 75 ekor ikan cakalang di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan 75 ekor ikan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer atau jumlah seluruhnya 600 ekor. Bagian tubuh ikan yang menjadi objek pengujian organoleptik adalah mata, insang dan konsistensi. Berikut ini (Tabel 36) adalah data hasil pengujian organoleptik yang dilakukan terhadap sampel hasil tangkapan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang : Tabel 36 Hasil pengujian organoleptik terhadap sampel hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tempat pengujian A B Jenis sampel L T Tk C L T Tk C M K 7-8 9 7 -9 8-9 6-8 7-9 6-9 7 -9 I R K 7,79 7 - 8 9,00 9 7,51 7 -9 8,77 8 - 9 7,29 6 - 8 7,99 7 - 9 6,95 6 - 9 8,16 7 -9 Ko R 7,81 9,00 7,77 8,73 7,24 7,95 7,20 8,20 K 7–8 9 7 -9 8–9 6–8 7–9 6–9 8–9 R 7,93 9,00 7,97 8,91 7,49 8,16 7,27 8,08 Rata-rata K 7,00 - 8,00 9,00 7,00 - 9,00 8,00 - 9,00 6,00 - 8,00 7,00 - 9,00 6,00 - 8,67 7,67 - 9,00 R 7,84 9,00 7,75 8,80 7,34 8,03 7,14 8,15 Keterangan : A = di tempat pendaratan; B = di tempat pedagang pengecer; K = kisaran; R = ratarata; M = mata; I = insang; Ko = konsistensi; L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; dan C = cakalang; 107 Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan berkisar antara 7 sampai dengan 9, sedangkan nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer berkisar antara 6 sampai dengan 9. Jika nilai skala organoleptik rata-rata mata, insang dan konsistensi keempat sampel hasil tangkapan di tempat pendaratan dibandingkan didapatkan mutu hasil tangkapan dari yang paling bagus yaitu tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil. Hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan rata-rata memiliki nilai skala organoleptik 9, hal ini dikarenakan hasil tangkapan tongkol merupakan produksi alat tangkap dengan trip penangkapan one day fishing. Nilai skala organoleptik tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik paling rendah di tempat pendaratan dikarenakan di tangkap oleh alat tangkap yang umumnya melakukan trip selama 7 hari, sehingga hasil tangkapan sudah agak lama tersimpan di dalam palka berisi es curah. Hasil perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata ketiganya (mata, insang dan konsistensi) keempat sampel hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul menghasilkan jenis hasil tangkapan dengan urutan mutu dari yang paling bagus yaitu cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Jika dibandingkan mutu hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengumpul diketahui bahwa nilai skala organoleptik rata-rata keempat hasil tangkapan tersebut mengalami penurunan. Hal ini memiliki arti terjadi penurunan mutu hasil tangkapan antara tempat pendaratan dengan tempat pedagang pengecer. Hasil pengujian nilai skala organoleptik di atas dianalisis dengan menggunakan analisis statistika non parametrik karena data hasil uji organoleptik merupakan data skala, selain itu berdasarkan pengujian normalitas (normal test) dan tranformasi hasil pengujian tidak memenuhi kaedah kurva normal. Peneliti melakukan tiga bagian analisis statistika terhadap hasil uji organoleptik hasil tangkapan di lapangan yaitu : 1) analisis perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer 2) analisis perbandingan hasil uji organoleptik berdasarkan tempat (di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer) dalam jenis hasil tangkapan 108 3) analisis perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan. Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang, baik di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer terdapat pada poin 1 sampai dengan 3 di bawah ini : 1) Perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer Analisis perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 16) memakai hipotesis sebagai berikut : H0 = Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Hasil pengujian statistika perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer terdapat pada Tabel 37 di bawah ini : Tabel 37 Analisis statistika (Mann-Whitney test) perbandingan hasil uji organoleptik terhadap hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 366,42 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 234,58 A 367,98 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 233,02 A 380,21 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 220,79 A 375,60 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 225,41 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai oragnoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Berdasarkan hasil uji statistika nilai skala organoleptik mata, insang, konsistensi, dan rata-rata ketiganya didapatkan bahwa asymp sig keempat kategori 109 tersebut berada dibawah 0,05. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 3.3, nilai asymp sig tersebut memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal itu mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan yang nyata di kedua tempat tersebut. Secara keseluruhan mean rank hasil tangkapan di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan mean rank hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer, yang artinya nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai skala organoleptik di tempat pedagang pengecer. Hal tersebut dapat juga diartikan mutu hasil tangkapan di tempat pendaratan jauh lebih bagus dari pada di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai asymp sig dan mean rank seperti dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan yang dilakukan terhadap keseluruhan jenis hasil tangkapan yang diuji (layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang) belum mampu mempertahankan mutu hasil tangkapan dengan baik, sehingga perlu diadakan evaluasi dan perbaikan terhadap cara penanganan tersebut. 2) Perbandingan hasil uji organoleptik berdasarkan tempat (di tempat pendaratan dan pedagang pengecer) dalam jenis hasil tangkapan a) Layur Hipotesis yang digunakan dalam analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 12) adalah : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Berikut ini (Tabel 38) adalah hasil analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer menggunakan analisis statistika Mann-Whitney test : 110 Tabel 38 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 92,43 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 58,57 A 93,64 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 57,36 A 91,07 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,93 A 95,75 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 55,25 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa hasil analisis terhadap hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya memiliki nilai asymp sig yang kurang dari 0,05. Arti dari nilai asymp sig tersebut adalah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan layur yang nyata diantara kedua tempat tersebut. Masih menurut Tabel di atas diketahui nilai mean rank hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean rank hasil tangkapan layur di tempat pedagang pengecer. Arti dari nilai mean rank tersebut adalah nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan di tempat pedagang pengecer atau dapat juga berarti mutu hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih bagus dibandingkan di tempat pedagang pengecer. Nilai asymp sig dan mean rank hasil analisis di atas memberikan informasi bahwa penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan layur belum bisa mempertahankan mutu hasil tangkapan layur dengan baik. Melihat dari cara penanganan yang selama ini dilakukan terhadap hasil tangkapan layur (sub bab 5.1 sampai 5.3 pada butir 5) terdapat beberapa kekurangan pada penanganan tersebut yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan yaitu : - Tetap memberikan es terhadap hasil tangkapan layur pada saat di atas kapal dan di tempat pendaratan walaupun jumlahnya sedikit 111 - Menghilangkan pemakaian air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan layur. Hal ini bisa menjadi masukan bagi pengelola PPN Palabuhanratu untuk menyediakan pasokan air laut yang bersih, lancar, dan murah untuk digunakan dalam penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu - Mengurangi atau menghilangkan penempatan hasil tangkapan layur di dalam keranjang kecil tanpa penutup sehingga terkena cahaya matahari langsung b) Tongkol Pada analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer (Lampiran 13) digunakan hipotesis sebagai berikut : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Asumsi di atas digunakan untuk menganalisis hasil perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer dengan hasil seperti yang terdapat pada Tabel 39 berikut ini : Tabel 39 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 107,00 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 44,00 A 105,50 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 45,50 A 101,50 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 49,50 A 108,00 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 43,00 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer 112 Analisis statistika terhadap nilai skala organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya pada Tabel 39 menghasilkan asymp sig keempat kategori tersebut kecil dari 0,05. Nilai asymp sig tersebut memberikan pengertian bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer atau dapat juga diartikan terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan tongkol diantara kedua tempat tersebut. Berdasarkan hasil analisis Tabel 39 di atas juga didapatkan nilai mean rank hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan yang lebih tinggi daripada di tempat pedagang pengecer. Hal tersebut berarti nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan lebih tinggi daripada di tempat pedagang pengecer dan bisa diartikan bahwa mutu hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan lebih bagus daripada mutu hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis di atas menyatakan bahwa penanganan hasil tangkapan tongkol yang dilakukan selama ini (sub bab 5.1 sampai 5.3 butir 4) belum bisa menjaga mutu hasil tangkapan tongkol dengan baik. Beberapa perbaikan terhadap penanganan hasil tangkapan tongkol yang dapat dilakukan adalah : - Tidak lagi memakai air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan tongkol. Sebaiknya pengelola PPN Palabuhanratu bisa menyediakan instalasi pengadaan air laut untuk penanganan hasil tangkapan yang bersih dan biayanya terjangkau - Pemakaian es pada saat hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer baik pada saat penjualan maupun pada saat penyimpanan hasil tangkapan tongkol c) Tuna-tuna kecil Perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 14) dianalisis menggunakan hipotesis sebagai berikut : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata 113 Hasil perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer dapat dilihat pada Tabel 40 di bawah ini : Tabel 40 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 91,33 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,67 A 91,99 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,01 A 100,70 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 50,30 A 102,91 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 48,09 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Hasil analisis terhadap hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya menghasilkan nilai asymp sig kecil dari 0,05. Hal tersebut memiliki arti nilai skala organoleptik antara hasil tangkapan tuna-tuna kecil pada di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer memiliki perbedaan yang nyata atau dapat juga diartikan mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata. Nilai mean rank hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean rank hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hal ini memiliki arti nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hal ini juga memiliki arti mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan lebih bagus dibandingkan mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis di atas dapat memberikan informasi bahwa penanganan yang telah dilakukan terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil belum mampu menjaga mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil. Merujuk pada sub bab 5.1 sampai dengan 114 sub bab 5.3 pada butir 2 tentang penanganan tuna-tuna kecil ada beberapa perbaikan terhadap cara penanganan yang dapat dilakukan yaitu : - Pemberian es terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan walaupun jarak tempat pendaratan dengan tempat pedagang pengumpul dekat - Penempatan hasil tangkapan tuna-tuna kecil ke dalam wadah di tempat pendaratan sehingga tidak diletakkan tanpa alas di atas gerobak pengangkut dan dilindungi dari cahaya matahari langsung menggunakan terpal atau karung - Tidak lagi menggunakan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan sebagai bahan penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil. Hal ini bisa menjadi perhatian bagi pengelola PPN Palabuhanratu untuk menyediakan pasokan air laut untuk penanganan hasil tangkapan yang bersih dan harganya terjangkau oleh nelayan dan pedagang ikan d) Cakalang Analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 15) dilakukan dengan memakai hipotesis berikut ini : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Tabel 41 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 98,23 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 52,77 A 92,57 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 58,43 A 106,50 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 44,50 A 104,42 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 46,58 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer 115 Perbandingan antara nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer menghasilkan (Tabel 41) bahwa hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya dalam analisis di atas menghasilkan nilai asymp sig kecil dari 0,05. Besaran nilai asymp sig yang kecil dari 0,05 tersebut mengartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik cakalang yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal itu juga mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan cakalang yang nyata diantara keduanya. Berdasarkan Tabel di atas juga diketahui bahwa nilai mean rank hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan di tempat pedagang pengecer, hal ini berarti nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat pedagang pengecer. Sehingga secara tidak langsung mutu hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan jauh lebih bagus daripada di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan bahasan di atas diketahui bahwa penanganan hasil tangkapan cakalang yang dilakukan belum mampu mempertahankan mutunya. Dilihat dari penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan cakalang pada butir 3 sub bab 5.1 sampai dengan sub bab 5.3 diketahui perbaikan yang dapat dilakukan terhadap penanganan hasil tangkapan cakalang yaitu penggunaan air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan cakalang tidak lagi dilakukan. Pengelola PPN Palabuhanratu diharapkan bisa menyediakan pasokan air tawar yang bersih dan terjangkau untuk melakukan penanganan hasil tangkapan dan pemberian es terhadap hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan 3) Perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan Analisis hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan (Lampiran 17 dan 18) membandingkan hasil uji organoleptik suatu jenis hasil tangkapan baik mata, insang, konsistensi atau rata-rata ketiganya dengan hasil uji organoleptik jenis hasil tangkapan lainnya. Hipotesis yang digunakan dalam analisis ini adalah : 116 H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan antara jenis satu dan jenis lainnya tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan antara jenis satu dan jenis lainnya berbeda nyata Tabel 42 Analisis statistika (Kruskal Wallis test) perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan yang diuji di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tempat uji A B Mean Rank *) M I Ko R M I Ko R Jenis sampel L T Tk C Asimp sig**) 93,01 83,46 77,30 89,43 114,82 106,80 120,81 108,16 232,50 234,50 228,50 237,50 192,58 192,58 197,01 196,42 71,65 84,74 81,33 66,39 82,38 106,11 90,22 79,80 204,85 199,30 214,87 208,69 212,22 208,07 193,96 217,62 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Df Chisquare Hasil 3 3 3 3 3 3 3 3 224,17 219,78 263,91 240,63 136,82 94,11 108,57 139,46 BN BN BN BN BN BN BN BN Keterangan : *)mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **)asymp sig = taraf signifikansi; df = kasus-1; chi-square taraf kesetaraan; A = di tempat pendaratan; B = di tempat pedagang pengecer; L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; C = cakalang; M = mata; I = insang; Ko = konsistensi; dan R = rata-rata Berdasarkan Tabel 42 diketahui bahwa nilai asymp sig keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan berada dibawah 0,05 yang memiliki arti tolak H0. Hal tersebut mengartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata diantara keempat hasil tangkapan tersebut baik pada mata, insang, konsistensi atau rata-rata ketiganya di tempat pendaratan. Hal yang sama seperti di tempat pendaratan terjadi pada hasil anaslisis di tempat pedagang pengecer, dimana secara keseluruhan nilai asypm sig hasil analisis berada di bawah 0,05. Hal tersebut juga memiliki arti yang sama, yaitu tolak H0 atau terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata di antara keempat hasil tangkapan yang diuji. Nilai mean rank hasil analisis keempat hasil tangkapan secara keseluruhan di tempat pendaratan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil. Sementara itu hasil analisis terhadap keempat hasil tangkapan tersebut di tempat pedagang pengecer menghasilkan nilai mean rank secara keseluruhan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah cakalang, 117 tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Hal tersebut mengartikan bahwa nilai skala organoleptik atau mutu hasil hangkapan di tempat pendaratan dari yang terbesar adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, sedangkan nilai skala organoleptik atau mutu hasil hangkapan di tempat pedagang pengecer dari yang terbesar adalah cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Secara tidak langsung penjelasan di atas memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan mean rank atau rata-rata peringkat nilai skala organoleptik hasil tangkapan diantara di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Peringkat mean rank nilai organoletik hasil tangkapan cakalang meningkat dari peringkat dua di tempat pendaratan menjadi peringkat satu di tempat pedagang pengecer. Mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer meningkat dibandingkan di tempat pendaratan. Hal sebaliknya terjadi pada hasil tangkapan tongkol yang mengalami penurunan mean rank dari tempat pendaratan dibandingkan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal di atas memiliki arti rata-rata peringkat mutu layur, cakalang dan tunatuna kecil di tempat pendagang pengecer lebih besar dibandingkan dengan di tempat pendaratan. Maka dapat disimpulkan bahwa penanganan yang dilakukan terhadap layur, cakalang dan tuna-tuna kecil lebih mampu mempertahankan mutu hasil tangkapannya tersebut dibandingkan penanganan terhadap hasil tangkapan tongkol. Walapun penanganan hasil tangkapan layur dan tuna-tuna kecil lebih mampu mempertahankan mutu hasil tangkapannya, namun mean rank tongkol lebih besar di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer dibandingkan layur. Hal ini mengartikan bahwa mutu hasil tangkapan tongkol lebih tinggi daripada layur dan tuna-tuna kecil, sehingga yang perlu ditingkatkan dari penanganan tongkol adalah penanganan yang dilakukan di tempat pedagang pengumpul dan di tempat pedagang pengecer. Hasil beda nyata di atas ditunjang oleh hasil perhitung kesemua kategori di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer yang menghasilkan nilai chi-square hitung yang lebih besar dari pada nilai chi-square tabel. Dimana chisquare tabel untuk data yang memiliki taraf signifikansi 0,5% dan df 3 adalah 7,814. Nilai chi-square hitung berdasarkan Tabel di atas berada antara 94,11 sampai dengan 263,91. 118 Perbaikan yang dapat dilakukan pedagang pengumpul adalah tidak lagi menggunakan air kolam pelabuhan dalam penempatan sementara hasil tangkapan, sedangkan oleh pedagang pengecer adalah tidak lagi menempatkan hasil tangkapan tanpa es dan pemberian air kolam pelabuhan. Dari semua penjelasan diketahui bahwa perlu diadakan peninjauan kembali terhadap penanganan layur dan tuna-tuna kecil di atas kapal. Hal ini dikarenakan secara keseluruhan nilai mean rank hasil tangkapan layur dan tuna-tuna kecil lebih rendah dibandingkan tongkol dan cakalang. Perbaikan penanganan tuna-tuna kecil dapat dilakukan terlihat pada sub bab 5.1 sampai dengan 5.3. Hasil pengujian dengan statistika Kruskal Waliis test di atas belum menjelaskan perbandingan antara masing-masing jenis hasil tangkapan. Maka perlu dilakukan uji lanjutan terhadap hasil tersebut. Berdasarkan rumus pada sub bab 3.4 dan perhitungan pada Lampiran 20 sampai dengan 26 didapatkan hasil analisis perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan seperti pada Tabel 43 sampai dengan Tabel 46 berikut ini : Tabel 43 Uji lanjutan nilai skala organoleptik antar jenis di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 Di tempat pendaratan Di tempat pedagang pengecer Jenis Kategori ikan L T Tk C L T Tk C L T BN BN Mata Tk BN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Insang Tk TBN BN TBN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Konsistensi Tk TBN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Rata-rata Tk BN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN Keterangan : L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; C = cakalang; BN = beda nyata atau tolak H0; TBN = tidak beda nyata atau terima H0 119 Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik mata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pendaraan berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai skala organoleptik mata atau mutu mata hasil tangkapan layur di tempat pendaratan berbeda dengan nilai skala organoleptik mata atau mutu mata hasil tangkapan tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Nilai skala organoleptik tongkol juga berbeda terhadap tuna-tuna kecil dan cakalang, serta terdapat perbedaan nilai skala organoleptik mata yang nyata diantara tuna-tuna kecil dan cakalang Hasil yang sama terjadi pada analisis perbandingan nilai skala organoleptik mata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pedagang pengecer. Semua hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan nilai skala organoleptik mata yang nyata diantara layur, tongkol, tua-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer. Hasil perbandingan nilai skala organoleptik insang antara layur dengan tongkol dan cakalang di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer berbeda nyata atau tolak H0, yang berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang atau mutu insang yang nyata diantara layur, tongkol dan cakalang di kedua tempat tersebut. Selain itu Tabel tersebut juga memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang yang nyata diantara tongkol dan tuna-tuna kecil, tongkol dan cakalang, serta tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer. Perbandingan nilai skala organoleptik yang tidak berbeda nyata adalah nilai skala organoleptik insang layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer. Berarti insang layur dan tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang hampir sama. Berdasarkan Tabel 43 juga diketahui bahwa hasil perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antara layur dengan tongkol dan cakalang di tempat pendaratan berbeda nyata atau tolak H0, yang berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik konsistensi atau mutu daging yang nyata diantara layur, tongkol dan cakalang di tempat pendaratan. Selain itu Tabel tersebut juga memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang 120 yang nyata diantara tongkol dan tuna-tuna kecil, tongkol dan cakalang, serta tunatuna kecil dan cakalang di tempat pendaratan. Perbandingan nilai skala organoleptik yang tidak berbeda nyata adalah nilai skala organoleptik konsistensi layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. Hal tersebut memiliki arti konsistensi layur dan tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang hampir sama. Secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antara layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik konsistensi atau mutu daging yang nyata diantara layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa nilai skala organoleptik konsistensi antara layur dan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan tidak berbeda nyata, namun di tempat pedagang pengecer nilai skala organoleptik konsistensi kedua hasil tangkapan tersebut menjadi berbeda nyata. Hal ini sesuai dengan Tabel 42, dimana mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan adalah 77,30 dan 81,33 sementara mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer adalah 120,81 dan 90,22. Secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik rata-rata atau mutu yang nyata diantara layur, tongkol, cakalang dan tuna-tuna kecil. 121 6 KONDISI AKTUAL PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU Ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu berasal dari dua sumber yaitu hasil tangkapan yang didaratkan di dermaga PPN Palabuhanratu dan ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat yang berasal dari daerah di sekitar PPN Palabuhanratu (Tabel 19). Ikan-ikan yang berasal dari dua sumber tersebut kemudian didistribusikan ke beberapa tujuan yaitu di sekitar PPN Palabuhanratu, ke luar daerah dan ke luar negeri (ekspor). Pendistribusian tersebut dapat dibedakan berdasarkan jenis hasil tangkapan yang didistribusikan seperti tuna, tuna-tuna kecil, layur, tongkol, cakalang dan ikan kecil lainnya. Selain pendistribusian ikan segar yang berasal dari pendaratan di PPN Palabuhanratu dan ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu, terdapat pendistribusian ikan olahan jadi dari PPN Palabuhanratu. Ikan olahan tersebut berupa ikan olahan asin dan ikan olahan pindang. Berikut ini (sub bab 6.1 sampai dengan 6.3) dijelaskan pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah tujuan pendistribusian dan jenis hasil tangkapan didistribusikan, serta pendistribusian ikan olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu. 6.1 Pendistribusian Berdasarkan Jenis Hasil Tangkapan Didistribusikan 1) Pendistribusian tuna Ikan tuna didistribusikan menggunakan mobil bak tertutup dan dengan memakai sistem rantai dingin. Sistem rantai dingin adalah cara mempertahankan mutu ikan dengan menjaga suhu ikan tetap rendah. Sistem rantai dingin dapat dilakukan dengan pemberian es curah atau mobil dengan pengatur suhu. Sebagian besar sistem rantai dingin yang digunakan dalam pendistribusian ikan tuna dari PPN Palabuhanratu adalah dengan pemberian es curah. Hal ini sesuai dengan penjelasan pada penanganan tuna (sub bab 5.1 dan 5.2 masing-masing pada butir 1), yang mana pada saat penanganan di tempat pendaratan dan di tempat perusahaan pengumpul rongga insang dan perut ikan tuna diisi dengan es curah dan penempatan ikan tuna di dalam mobil bak tertutup dilakukan secara berlapis dengan es curah. 122 Jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2009 terdapat pada Tabel 44 berikut ini : Tabel 44 Jenis dan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 1.Tuna big eye 919.982 1.367.708 1.219.998 2.Tuna albakor 52.253 23.565 107.687 3.Tuna yellow Fin 556.596 517.865 482.862 Jumlah 1.814.271 1.282.313 1.528.831 1.909.138 1.810.547 Pertumbuhan (%) -29,32 19,22 24,88 -5.16 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Menurut data statistika PPN Palabuhanratu tahun 2010, jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah 1.810.547 kg. Jumlah tersebut terdiri dari tuna big eye sebanyak 1.219.998 kg (67,4%), tuna yellow fin sebanyak 482.862 kg (26,7%) dan tuna albakor sebanyak 107.687 kg (5,9%). Tahun 2005 pencatatan yang dilakukan oleh Bagian Statistika PPN Palabuhanratu terhadap ikan tuna dilakukan tanpa membedakan jenisnya, baru pada pertengahan tahun 2007 sudah terdapat jumlah ikan tuna yang dibedakan berdasar jenisnya. 2.500 Jumlah (103 kg) 2.000 1.500 1.000 0.500 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 21 Grafik perkembangan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 123 Jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung fluktuatif (Gambar 21). Keadaan yang fluktuatif tersebut terlihat dari ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan 2006 cenderung menurun, namun pada tahun 2006 sampai tahun 2008 jumlah ikan tuna yang didistribusikan meningkat. Pada tahun 2009 jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu kembali turun. Tahun yang paling banyak terdapat pendistribusian ikan tuna dalam selang tahun 2005-2009 di PPN Palabuhanratu adalah tahun 2008 sebesar 1.909.138 kg, sedangkan tahun yang paling sedikit adalah tahun 2006 dengan jumlah 1.282.313 kg. Peningkatan jumlah ikan tuna didistribusikan dari PPN Palabuhanratu yang paling tajam terjadi pada tahun 2008 sebesar 24,88%, sedangkan penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2006 sebesar 29,32%. Hasil tangkapan tuna di atas didistribusikan dalam alir pendistribusian yang berbeda berdasarkan jenis alat tangkap yang menangkapnya yaitu pancing rumpon dan tuna longline. Diagram alir pendistribusian tuna hasil tangkapan kedua alat tangkap tersebut dijelaskan di bawah ini (Gambar 23 dan 24) : a. Pancing rumpon Seperti dijelaskan pada sub bab 5.1 dan 5.2 bahwa tuna hasil tangkapan pancing rumpon diangkut atau didistribusikan kepada perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu (pengumpul kecil). Tiga perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanru yaitu PT Tuna Tunas Mekar, PT Jaya Mitra dan PT Karya Maju. Ikan tuna yang dikumpulkan oleh perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu dari nelayan pancing rumpon didistribusikan kepada pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta (Gambar 22). Tuna yang didistribusikan ke pedagang pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta sebagian besar kemudian diekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Sisanya didistribusikan ke pengolah di Jakarta dan pedagang pengecer nasional di berbagai daerah di Indonesia. Tidak terdapat ikan tuna yang didistribusikan langsung dari perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu kepada pengolah di Jakarta, pedagang pengecer nasional dan yang diekspor keluar negeri. Dari pengolah ikan di Jakarta 124 hasil olahan tuna dapat didistribusikan kepada pedagang pengecer nasional dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Tujuan akhir dari pendistribusian tuna ke pedagang pengecer nasional adalah konsumen nasional, sedangkan tujuan akhir tuna yang didisribusikan ke eksportir Jepang atau Korea Selatan adalah konsumen di kedua negara tersebut. Nelayan Perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu (di dalam bangunan perusahaan) Perusahaan pengumpul besar di Muara Baru Perusahaan pengumpul besar di Muara Angke Importir Jepang atau Korea Selatan Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Konsumen nasional Pengolah di Jepang atau Korea Selatan Pedagang pengecer di Jepang atau Korea Selatan Konsumen Jepang atau Korea Selatan Gambar 22 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan pancing rumpon dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. b. Tuna longline Tuna hasil tangkapan tuna longline sebagian besar didistribusikan ke luar negeri (ekspor), hanya sebagian kecil yang didistribusikan nasional. Berdasarkan Gambar 23 diketahui bahwa pertama-tama tuna yang dikumpulkan perusahaan pengumpul tuna kecil PPN Palabuhanratu didistribusikan terlebih dahulu kepada 125 perusahaan pengumpul besar di Muara Baru atau Muara Angke Jakarta, untuk digabungkan dengan hasil tangkapan tuna dari pelabuhan perikanan lainnya. Pedagang pengumpul besar di Muara Baru atau Muara Angke kemudian mendistribusikan ikan tuna ke Jepang atau Korea Selatan, ke pengolah di Jakarta dan pedagang pengecer nasional. Pendistribusian tuna ke Jepang dan Korea dilakukan dengan menggunakan pesawat udara dari Bandara Soekarno Hatta di Tanggerang. Sebagian besar hasil olahan tuna dari pengolah di Jakarta diekspor ke Korea Selatan dan Jepang, sisanya didistribusikan ke pedagang pengecer nasional. Di Korea Selatan dan Jepang ikan tuna didistribusikan oleh importir ke pengolah ikan dan pedagang pengecer di kedua negara tersebut. Nelayan Perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu (di tempat pendaratan) Perusahaan pengumpul besar di Muara Baru Perusahaan pengumpul besar di Muara Angke Importir Jepang atau Korea Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Pengolah di Jepang atau Korea Selatan Pedagang pengecer di Jepang atau Korea Selatan Konsumen Jepang atau Korea Selatan Gambar 23 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan tuna longline dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. Konsumen nasional 126 2) Pendistribusian tuna-tuna kecil Ikan tuna-tuna kecil dalam buku statistik perikanan PPN Palabuhanratu dimasukkan ke dalam kelompok ikan tuna. Namun, dalam kegiatan perikanan tangkap khususunya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, ikan tuna dan ikan tuna-tuna kecil sangat berbeda (perbedaan penanganan terlihat pada sub bab 5.1 sampai dengan 5.3). Walaupun perusahaan pengumpul ikan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu sama dengan perusahaan pengumpul ikan tuna, namun tujuan akhir pendistribusiannya berbeda. Hal tersebut terlihat pada diagram pendistribusian ikan tuna-tuna kecil (Gambar 24). Pendistribusian ikan tuna-tuna kecil hanya terbatas lokal dan nasional, sedangkan pendistribusian ikan tuna diutamakan untuk tujuan ekspor. Selain itu ikan tuna-tuna kecil dapat dijumpai di pasar ikan di PPN Palabuhanratu karena terkadang nelayan langsung menjual hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya ke pedagang pengecer lokal. Sebagian besar ikan tuna-tuna kecil didistribusikan melalui Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta. Hanya sebagian kecil ikan tunatuna kecil yang langsung didistribusikan langsung ke pedagang pengecer nasional dan pengolah di Jakarta. Nelayan Perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul di PPS Muara Baru Pedagang pengumpul di PPI Muara Angke Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 24 Pendistribusian ikan tuna-tuna kecil dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010. 127 3) Pendistribusian cakalang Ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 45 : Tabel 45 Jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Cakalang 657.020 302.103 239.180 67.956 99.107 Pertumbuhan (%) -54,02 -20,83 -71,59 45,84 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 adalah 99.107 kg. Pendistribusian ikan cakalang dari tahun 2005 sampai tahun 2008 cenderung menurun (Gambar 25). Penurunan jumlah ikan cakalang didistribusikan terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar 71,59%. Pada tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan cakalang meningkat sebesar 45,84%. Peningkatan pendistribusian hasil ikan cakalang tahun 2009 diduga karena peningkatan jumlah hasil tangkapan cakalang didaratkan di PPN Palabuhanratu (Tabel 23) dan peningkatan jumlah ikan cakalang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu (Tabel 24). 700.000 Jumlah (kg) 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 25 Grafik perkembangan jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 128 Alur pendistribusian ikan cakalang memiliki kesamaan dengan alur pendistribusian ikan tuna-tuna kecil, yaitu dapat langsung didistribusikan oleh nelayan kepada pedagang pengecer lokal. Perbedaan pendistribusian ikan cakalang dengan ikan tuna-tuna kecil adalah pendistribusian ke pengolah di Jakarta, karena tidak terdapat pendistribusian ikan cakalang dari pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu, Muara Baru ataupun Muara Angke ke pengolah di Jakarta. Sebagian besar pendistribusian ikan cakalang merupakan pendistribusian yang melewati pedagang pengumpul kecil yang bertempat di PPN Palabuhanratu. Kemudian pedagang pengumpul kecil tersebut membagi hasil tangkapan yang akan didistribusikan kepada pedagang pengumpul besar Muara Baru atau Muara Angke dan kepada pedagang pengecer lokal. Ikan cakalang yang sampai di tangan pengumpul besar Muara Baru dan Muara Angke kemudian didistribusikan ke pedagang pengecer nasional. Aliran pendistribusian hasil tangkapan cakalang tersebut terdapat pada Gambar 26 berikut ini : Nelayan Pedagang pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul besar di Muara Baru Pedagang pengumpul besar di Muara Angke Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 26 Pendistribusian ikan cakalang dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010. 129 4) Pendistribusian tongkol Ikan tongkol didistribusikan dari PPN Palabuhanratu dengan jenis dan jumlah bervariasi setiap tahun. Jenis dan jumlah tersebut terdapat pada Tabel 46 berikut ini : Tabel 46 Jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Tongkol 317.392 277.225 Tongkol abu-abu 103.798 97.310 24.347 6.911 Tongkol banyar 5.208 5.900 24.180 6.035 Tongkol lisong 76.933 417.190 18.038 82.437 Tongkol kekek 2.509 2.013 3.594 132 Jumlah 317.392 465.673 522.413 70.159 95.515 Pertumbuhan (%) 46,72 12,18 -86,57 36,14 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan Tabel di atas berjumlah 95.515 kg. Jenis ikan tongkol yang paling banyak didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah tongkol lisong (82.437 kg), sedangkan hasil tangkapan tongkol yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 adalah tongkol kekek (132 kg). 600.000 Jumlah (kg) 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 27 Grafik perkembangan jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 130 Perkembangan jumlah ikan tongkol (Gambar 27) yang didistribusikan dari tahun 2005 sampai tahun 2007 cenderung meningkat, namun tahun 2008 terjadi penurunan jumlah ikan tongkol dari PPN Palabuhanratu yang cukup banyak yaitu sebesar 86,57%. Tahun 2009 kembali terjadi peningkatan jumlah ikan tongkol yang didistribusikan. Ikan tongkol hanya didistribusikan untuk tujuan pasar lokal dan nasional (Gambar 28). Sebagian besar ikan tongkol didistribusikan melalui pedagang pengumpul kecil yang terdapat di PPN Palabuhanratu, kemudian didistribusikan ke pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta. Dari pedagang pengumpul besar di kedua tempat tersebut kemudian ikan tongkol didistribusikan ke pemindang atau pedagang pengecer nasional. Hanya sebagian kecil ikan tongkol yang didistribusikan langsung oleh nelayan ke pedagang pengecer lokal, dari pedagang pengumpul kecil PPN Palabuhanratu ke pemindang dan dari pedagang pengumpul kecil PPN Palabuhanratu pedagang pengecer lokal atau nasional. Adanya pemindang dalam alur pendistribusian membuat ikan tongkol yang diterima oleh konsumen terbagi ke dalam dua bentuk yaitu ikan segar dan produk olahan pindang. Nelayan Pedagang pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul besar di Muara Baru Pedagang pengumpul besar di Muara Angke Pemindang Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 28 Pendistribusian ikan tongkol dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 131 5) Pendistribusian layur Ikan layur merupakan ikan yang bernilai jual tinggi di PPN Palabuhanratu karena dapat didistribusikan dengan tujuan ekspor. Berikut ini (Tabel 47) adalah jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Tabel 47 Jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Layur 178.268 193.816 258.250 203.203 20.329 Pertumbuhan (%) 8,72 33,24 -21,31 -90 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah 20.329 kg. Pendistribusian ikan layur dari tahun 2005 sampai tahun 2007 cenderung meningkat, namun dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan layur menurun (Gambar 29). Peningkatan pendistribusian ikan layur yang paling tajam terjadi pada tahun 2007 dengan pertumbuhan 33,24%, sedangkan penurunan ikan layur yang paling tajam terjadi pada tahun 2009 sebesar 90% 300.000 Jumlah (kg) 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 29 Grafik perkembangan jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 132 Ikan layur didistribusikan nelayan melalui pedagang pengumpul ke perusahaan pengumpul ikan layur di PPN Palabuhanratu yaitu PT AGB (Gambar 30). Pendistribusian ikan layur yang dilakukan oleh PT AGB Palabuhanratu ditujukan untuk pasar ekspor, dimana layur didistribusikan terlebih dahulu kepada PT AGB Muara Angke. Tujuan ekspor ikan layur dari PT AGB adalah negara Korea Selatan. Hal ini karena permintaan dari negara tersebut yang besar, selain itu karena pemilik PT AGB adalah orang Korea Selatan yang sangat mengerti dan menguasai pasar di negara tersebut. Nelayan Pedagang pengumpul Perusahaan pengumpul (PT AGB PPN palabuhanratu) Perusahaan pengumpul (PT AGB Muara Angke) Importir Korea Pengolah Korea Selatan Pedagang pengecer Korea Selatan Konsumen Korea Selatan Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 30 Pendistribusian ikan layur dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 133 6) Pendistribusian ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Ikan kecil lainnya biasanya terbatas untuk pendistribusian lokal di daerah sekitar PPN Palabuhanratu dan untuk pasar nasional (Sukabumi, Bogor, Jakarta, Cianjur, Bandung, Jawa Tengah dan Banten). Oleh karena itu alur pendistribusiannya (Gambar 31) hanya melibatkan nelayan, pedagang pengumpul pribadi, pedagang pengecer dan pengolah ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu maupun di daerah lain di Indonesia. Hasil tangkapan tuna, tongkol, cakalang dan layur di PPN Palabuhanratu umumnya dijual kepada pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul dengan sistem langgan. Namun untuk hasil tangkapan tembang, selar dan ikan kecil lainnya banyak yang didistribusikan langsung oleh nelayan kepada pedagang pengecer karena jumlah hasil tangkapannya tidak banyak. Nelayan Pedagang pengumpul pribadi di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul pribadi di daerah lain di Indonesia Pengolah ikan asin Pedagang pengecer lokal Pedagang pengecer di daerah lain di Indonesia Konsumen Gambar 31 Pendistribusian ikan tembang, selar dan ikan kecil lainnya dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 6.2 Pendistribusian Berdasarkan Daerah Tujuan Pendistribusiannya 1) Pendistribusi hasil tangkapan ke sekitar PPN Palabuahnratu (lokal) Hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ada yang dijual di pasar PPN Palabuhanratu dan pasar-pasar tradisional di sekitar Kecamatan Palabuhanratu. 134 Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) adalah sebagai berikut (Tabel 48) : Tabel 48 Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Daerah tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 317.484 Palabuhanratu 322.429 675.381 504.698 250.652 26,66 Pertumbuhan (%) 109,47 -25,27 -50,34 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 berjumlah 317.484 kg. Jika diamati perkembangan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 109,47%, namun pada tahun 2007 sampai tahun 2008 pendistribusian hasil tangkapan ke sekitar PPN Palabuhanratu mengalami penurunan (Gambar 32). Baru pada tahun 2009 hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu kembali meningkat. 800.000 700.000 Jumlah (kg) 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 32 Grafik jumlah hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009. Jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu adalah cakalang, cucut, layaran, layang, layur, tembang, tongkol 135 dan tuna (Tabel 49). Hasil tangkapan dominan yang paling banyak didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah ikan tembang (115.755 kg), sedangkan yang paling sedikit didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah ikan layaran (3.890 kg). Tabel 49 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis hasil tangkapan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Cakalang 78.213 63.267 64,689 20.398 27.417 2. Cucut 20.020 31.718 5.209 5.879 5.505 3. Layaran 19.694 16.365 12.371 6.095 3.890 4. Layang 13.127 10.442 4.808 10.215 4.759 5. Layur 39.816 79.179 80.537 29.719 20.329 6. Tembang 22.956 17.218 61.262 62.594 115.755 7. Tongkol - 41.048 119.871 27.156 27.561 8. Tuna 8.957 21.180 30.204 15.419 36.140 Jumlah 322.429 675.381 504.698 250.652 317.484 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 2) Pendistribusian ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu Hasil tangkapan yang ada di PPN Palabuhanratu juga didistribusikan ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu. Berikut ini adalah daerah yang menerima hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dan jumlahnya. Tabel 50 Pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Daerah tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Sukabumi 39.336 26.198 14.338 40.351 107.851 2. Bogor 9.567 73.107 3. Jakarta 2.780.734 1.941.027 2.235.991 2.075.967 2.162.376 4. Cianjur 223.597 325.226 5. Bandung 58.500 6. Jawa Tengah 158.993 7. Banten 77.434 Jumlah 2.878.570 1.967.225 2.250.329 2.585.909 2.668.560 Pertumbuhan (%) -31,66 14,39 14,91 3,20 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 136 Berdasarkan Tabel 50 diketahui bahwa daerah yang menjadi tujuan pendistribusian dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu adalah Sukabumi, Bogor, Jakarta dan Cianjur. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke daerah-daerah tersebut pada tahun 2009 berjumlah 2.669.560 kg. Pada tahun 2009 hasil tangkapan paling banyak didistribusikan ke Jakarta dengan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan berada diatas 2.000 ton, sementara daerah lainnya hanya menerima jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dibawah 500 ton. Jika diamati dari tahun 2005 sampai tahun 2009 hasil tangkapan yang didistribusikan ke berbagai daerah lain tersebut cenderung meningkat (Gambar 33). Peningkatan yang tajam terjadi pada tahun 2007 dan 2008 yaitu masingmasing sebanyak 14,39% dan 14,91%, sedangkan penurunan hanya terjadi pada tahun 2006 yaitu sebanyak 31,66%. 3.500 Jumlah (103kg) 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 0.500 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 33 Grafik jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2005-2009. Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke berbagai daerah tersebut terdiri dari beberapa jenis hasil tangkapan dominan. Berdasarkan Tabel 54 diketahui bahwa jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke Sukabumi adalah cakalang, tembang, tongkol dan tuna. Jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke Bogor adalah kembung, tembang dan tongkol, sedangkan yang 137 dominan didistribusikan ke Cianjur adalah cucut, layang dan tembang. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke Jakarta memiliki jenis dominan cakalang, layaran, layang, pedang-pedang, marlin/setuhuk, tongkol dan tuna. Tabel 51 juga memberikan informasi bahwa hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan ke Sukabumi tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 64,160 kg, sedangkan ke Bogor tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 43.036 kg, ke Jakarta tahun 2009 adalah ikan tuna sebanyak 1.766.195 kg dan ke Cianjur tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 304.863 kg. Tabel 51 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009 Daerah tujuan Jenis ikan Sub jumlah (kg) Jumlah (kg) pendistribusian Cakalang 5.491 Tembang 64.160 1. Sukabumi Tongkol 17.400 107.851 Tuna 6.852 Lainnya 13.948 Kembung 8.120 Tembang 43.036 2. Bogor 73.107 Tongkol 12.500 Lainnya 9.451 Cakalang 66.199 Layaran 26.829 Layang 43.186 Pedang-pedang 82.703 3. Jakarta 2.162.376 Marlin/Setuhuk 49.212 Tongkol 24.854 Tuna 1.766.195 Lainnya 96.198 Cucut 2.163 Layang 5.000 4. Cianjur 325.226 Tembang 304.863 Lainnya 13.200 Jumlah 2.668.560 2.668.560 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah tujuan distribusi hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu dan besaran jumlahnya dijelaskan peta pada Gambar 34 berikut ini : 138 Gambar 34 Peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009. 138 139 3) Pendistribusian untuk tujuan ekspor Beberapa jenis hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu didistibusikan untuk tujuan ekspor. Jumlah ekspor hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 52 di bawah ini : Tabel 52 Jumlah hasil tangkapan didistribusikan untuk tujuan ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Negara tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 Korea Selatan 193.263 110.087 163.120 263.272 83.413 Pertumbuhan (%) -43,04 48.17 61,40 -68,32 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Tabel 52 menginformasikan bahwa negara tujuan ekspor hasil tangkapan dari PPN Palabuharatu adalah negara Korea Selatan. Padahal berdasarkan hasil wawancara (Gambar 25 dan 26) diketahui bahwa hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu juga diekspor ke negara Jepang. Hasil tangkapan yang didistribusikan dengan tujuan ekspor ke Jepang adalah tuna. Terdapat hasil tangkapan tuna ke Jepang maupun ke Korea Selatan dan hasil tangkapan layur ke Korea Selatan yang tidak dimasukkan ke dalam jumlah hasil tangkapan didistribusikan ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 oleh pengelola PPN Palabuhanratu. Hal itu dikarenakan hasil tangkapan tuna dan layur tersebut didistribusikan terlebih dahulu ke Jakarta sehingga dimasukkan ke dalam pendistribusian hasil tangkapan ke Jakarta. Hasil tangkapan yang diekspor ke Korea Selatan tahun 2009 berjumlah 83.413 kg. Jumlah ekspor hasil tangkapan dengan tujuan Korea Selatan tahun 2005-2006 cenderung fluktuatif (Gambar 35). Pertumbuhan positif pendistribusian ekspor paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 61,40%, sedangkan pertumbuhan negatif paling besar terjadi pada tahun 2009 sebesar 68,32%. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan jumlah hasil tangkapan layur yang didaratkan di PPN Palabuhanratu (Tabel 24) yang menjadi komoditas ekspor ke Korea Selatan dari PPN Palabuhanratu (Tabel 53). 140 300.000 Jumlah (kg) 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 0.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 35 Grafik jumlah hasil tangkapan didistribusikan ke Indonesia/ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Hasil tangkapan yang menjadi target ekspor luar tahun 2009 dari PPN Palabuhanratu adalah ikan layur dan swangi (Tabel 53 dan Gambar 36). Pada tahun tersebut jumlah ikan layur yang diekspor adalah 82.901 kg, jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2008 yang berjumlah 173.484 kg. Jenis hasil tangkapan yang diekspor pada tahun 2009 adalah ikan layur dan swangi. Pendistribusian hasil tangkapan swangi untuk tujuan ekspor hanya terjadi pada tahun 2009 dengan jumlah 512 kg. Hasil tangkapan lain yang menjadi komoditi ekspor dari PPN Palabuhanratu adalah ikan tuna dan lobster. Hasil tangkapan lobster terbanyak diekspor adalah tahun 2006 dengan jumlah 450 kg, sedangkan hasil tangkapan tuna yang paling banyak diekspor adalah tahun 2005 sebanyak 148.007 kg. Tabel 53 Jenis dan jumlah hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu yang didistribusikan untuk tujuan ekspor tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis hasil tangkapan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Layur 45.256 114.637 163.000 173.484 82.901 2. Lobster Laut Dalam 450 120 3. Tuna 148.007 89.788 4. Swangi 512 Jumlah 193.263 110.087 163.120 263.272 83.413 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 141 Gambar 36 Peta pendistribusian hasil tangkapan dengan tujuan ekspor dari PPN Palabuahnratu tahun 2009. 141 142 6.3 Pendistribusian Ikan Olahan Asin dan Pindang Menurut hasil wawancara dan data statistik PPN Palabuhanratu diketahui bahwa bentuk ikan olahan yang diproduksi di PPN Palabuhanratu terdiri dari ikan olahan asin dan ikan olahan pindang. Hal yang sama dikemukakan oleh Muninggar (2008) yaitu ikan olahan di PPN Palabuhanratu baru dilakukan pengolahan tradisional yaitu pengasinan (ikan asin) dan pemindangan (ikan pindang). 1) Pendistribusian ikan olahan asin Produksi ikan olahan asin dari pengolah ikan asin yang terdapat di PPN Palabuhanratu didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu dan ke daerah lain di luar Palabuhanratu. Berikut ini (Tabel 54) adalah jumlah ikan olahan asin yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 : Tabel 54 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan asin Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Kota tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 1. Palabuhanratu 69.872 68.467 118.656 25.844 2. Sukabumi 195.386 206.135 278.374 37.614 3. Cibadak 120.588 4. Cicurug 177.605 177.609 193.207 38.560 5. Bogor 455.721 293.308 374.155 57.500 6. Cianjur 348.186 143.847 159.840 63.918 7. Bandung 85.227 289.784 Jumlah (kg) 1.452.585 889.366 1.124.232 513.220 Pertumbuhan (%) -38,77 26,41 -54,35 dari PPN 2009 22.927 27.527 8.243 16.760 9.620 103.235 188.312 -63,31 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Tabel 54 menginformasikan bahwa pendistribusian ikan olahan asin mencakup daerah tujuan lokal dan nasional. Pada tahun 2009 ikan olahan asin didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Cicurug, Bogor, Cianjur dan Bandung. Jumlah ikan olahan asin yang paling banyak didistribusikan tahun 2009 adalah 103.235 kg dengan daerah tujuan Bandung, sementara itu jumlah ikan olahan asin yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 berjumlah 8.243 kg dengan tujuan Cicurug. 143 Kecendrungan jumlah ikan olahan asin yang didistribusikan tahun 2005 sampai tahun 2006 adalah menurun (Gambar 37). Peningkatan terjadi pada tahun 2007, namun jumlah pendistribusian ikan olahan asin kembali menurun pada tahun 2008 sampai tahun 2009. Peningkatan hanya terjadi tahun 2007 dengan sebesar 26,41%, sementara penurunan yang paling tajam terjadi tahun 2009 dengan penurunan sebesar 63,31%. 1.600 Jumlah (103kg) 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 37 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan asin dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Daerah tujuan pendistribusian yang menampung paling banyak ikan olahan asin setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 beragam yaitu tahun 2005 Bogor (455.721 kg), tahun 2006 Bogor (293.308 kg), tahun 2007 Bogor (374.155 kg), tahun 2008 Bandung (289.784 kg) dan tahun 2009 Bandung (103.235 kg). Daerah yang menampung ikan olahan asin paling sedikit dari tahun 2005 sampai 2009 didominasi daerah Palabuhanratu yaitu dari tahun 2005 sampai tahun 2008. 2) Pendistribusian ikan olahan pindang Pengolah ikan di PPN Palabuhanratu juga menghasilkan ikan pindang sebagai produk olahannya. Selain didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal), produksi ikan olahan pidang dari PPN Palabuhanratu juga didistribusikan ke daerah lain di luar Palabuhanratu. Jumlah ikan olahan pindang yang 144 didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 55. Pendistribusian ikan olahan pindang pada Tabel 55 mencakup daerah tujuan lokal (ke sekitar PPN Palabuhanratu) dan daerah lain di luar Palabuhanratu. Pada tahun 2009 ikan olahan pindang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Cicurug, Bogor, Cianjur dan Bandung. Jumlah ikan olahan pindang yang paling banyak didistribusikan tahun 2009 adalah 312.105 kg dengan daerah tujuan pendistribusian Bandung, sementara itu jumlah ikan olahan pindang yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 berjumlah 50.753 kg dengan daerah tujuan pendistribusian Cianjur. Tabel 55 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Kota tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Palabuhanratu 205.160 224.287 239.185 81.927 79.040 2. Sukabumi 150.681 266.467 333.001 131.593 104.373 3. Cicurug 38.091 148.684 223.636 118.402 80.175 4. Bogor 400.020 492.760 311.113 125.837 59.742 5. Cianjur 430.048 356.800 283.565 160.209 50.753 6. Cibadak 35.168 7. Garut 125.350 8. Bandung 362.669 330.504 230.369 279.516 312.105 Jumlah (kg) 1.747.187 1.819.502 1.620.869 897.484 686.188 Pertumbuhan (%) 4,14 -10,92 -44,63 -23,54 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah tujuan pendistribusian yang menampung banyak ikan olahan pindang setiap tahunnya beragam yaitu tahun 2005 Cianjur (430.048 kg), tahun 2006 Bogor (492.760 kg), tahun 2007 Sukabumi (333.001 kg), tahun 2008 Bandung (279.516 kg) dan tahun 2009 Bandung (312.105 kg). Daerah yang menampung ikan olahan pindang paling sedikit dari tahun 2005 sampai tahun 2009 yaitu, 2005 Cibadak (35.168 kg), tahun 2006 Cicurug (148.684 kg), tahun 2007 Cicurug (223.636 kg), tahun 2008 Palabuhanratu (81.927 kg) dan tahun 2009 Cianjur (50.753 kg). 145 Kecendrungan jumlah ikan olahan pindang yang didistribusikan tahun 2005 sampai tahun 2006 mengalami peningkatan, namun dari tahun 2007 sampai tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan olahan pindang cenderung menurun (Gambar 38). Penurunan jumlah pendistribusian ikan olahan pindang yang paling tajam terjadi tahun 2008 dengan penurunan sebesar 44,63%. 2.000 1.800 Jumlah (103kg) 1.600 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 38 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Berdasarkan pembahasan pada sub sub bab 6.2.2 keseluruhan diketahui bahwa hasil ikan olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu didistribusikan di sekitar PPN Palabuhanratu dan ke daerah lain di Indonesia. Daerah lain di Indonesia yang menjadi tujuan distribusi ikan olahan asin and pindang hampir sama. Perbedaannya adalah ikan olahan pindang didistribusikan ke daerah Garut, sedangkan ikan olahan asin tidak didistribusikan ke daerah tersebut. Pendistribusian olahan asin dan pindang yang didistribusikan dengan tujuan daerah lain di luar Palabuhanratu diperjelas oleh peta pada Gambar 39. Pada peta tersebut juga dapat terlihat besaran jumlah hasil ikan olahan asin dan pindang yang didistribusikan ke daerah tersebut. 146 Gambar 39 Peta pendistribusi hasil olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2009. 146 147 7 BIAYA PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU 7.1 Biaya Penanganan Biaya penanganan merupakan keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan oleh pelaku penanganan untuk melakukan kegiatan penanganan hasil tangkapan. Biaya penanganan dapat berupa biaya investasi dan dapat berupa biaya produksi yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Berikut ini (Tabel 56) adalah besaran biaya penangana yang dikeluarkan oleh nelayan di tempat pendaratan, oleh pedagang/perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Tabel 56 Besaran biaya penanganan hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Biaya Investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC TC A. di tempat pendaratan 1. Tuna hasil tangkapan a. Tuna longline (oleh 90.000 28.000 357.000.000 357.028.000 perusahaan pengumpul) b. Pancing rumpon 2. Tuna-tuna kecil 3. Cakalang 4. Tongkol 5. Layur 6. Ikan kecil lainnya B. di tempat pedagang/perusahaan pengumpul 1. Tuna hasil tangkapan a. Tuna longline Dilakukan perusahaan pengumpul di tempat pendaratan b. Pancing 85.425.000 18.835.000 309.370.000 328.205.000 rumpon 2. Tuna-tuna kecil 90.000.000 19.000.000 189.000.000 208.000.000 3. Cakalang 5.257.500 5.327.500 34.300.000 39.627.500 4. Tongkol 9.007.500 5.702.500 39.100.000 40.002.500 P - - - 148 Lanjutan Tabel 56 Jenis ikan Biaya investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC TC P 5. Layur a. oleh pedagang 90.000 18.000 5.950.000 5.968.000 pengumpul b. oleh PT AGB 216.250.000 36.000.000 122.050.000 158.050.000 6. Ikan kecil 51.315.000 11.665.000 37.440.000 49.105.000 lainnya C. di tempat pedagang pengecer 1. Tuna Tidak dijual di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu 2. Tuna-tuna kecil 1.372.500 855.500 5.950.000 6.805.500 3. Cakalang 1.417.500 864.500 2.975.000 3.839.500 4. Tongkol 1.417.500 864.500 2.975.000 3.839.500 5. Layur 1.387.500 858.500 1.750.000 2.608.500 6. Ikan kecil 277.500 756.500 11.900.000 12.656.500 lainnya Keterangan : TFC = total fixed cost/jumlah keseluruhan biaya tetap; TVC = total variable cost/jumlah keseluruhan biaya varibel; TC = total cost/jumlah keseluruhan biaya produksi; P = pinjaman Biaya investasi dan biaya produksi penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu hanya dikeluarkan untuk penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline. Biaya penanganan tuna hasil tangkapan longline di tempat pendaratan dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, karena kegiatan tersebut dilakukan oleh perusahaan pengumpul tuna bukan oleh nelayan (sub bab 5.1 butir 1). Tidak terdapat biaya penanganan untuk jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pendaratan.  Tuna Berdasarkan Tabel 56 diketahui bahwa biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna dalam penanganan hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan berjumlah Rp 90.000,00. Besaran biaya investasi tersebut terdiri dari pembelian terpal dan pembelian sekop (Lampiran 27). Biaya produksi penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline oleh perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 375.028.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 28.000,00 dan biaya variabel Rp 357.000.000,00. Biaya tetap yang dikeluarkan terdiri dari biaya penyusutan terpal dan penyusutan sekop, sedangkan biaya variabelnya merupakan biaya pembelian es. 149 Perusahaan pengumpul tuna mengeluarkan biaya investasi Rp 85.425.000,00 untuk melakukan penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon. Berdasarkan Lampiran 27 diketahui biaya investasi tersebut terdiri dari pembelian terpal, sekop, alat checker dan pengadaan coldstorage. Perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu pada tahun 2010 mengeluarkan biaya produksi penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon sebesar Rp 328.205.000,00 (Tabel 57). Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap (penyusutan terpal, penyusutan sekop, penyusutan checker, penyusutan coldstorage, perawatan coldstorage dan sewa bangunan) dengan jumlah Rp 18.835.000,00 dan biaya variabel (upah karyawan, listrik, pembelian es dan air) dengan jumlah Rp 309.370.000,00 (Lampiran 27).  Tuna-tuna kecil Besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul untuk penanganan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengumpul berdasarkan Tabel 59 berjumlah Rp 90.000.000,00 yang digunakan untuk pengadaan coldstorage, sedangkan besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer berjumlah Rp 1.372.500,00 yang digunakan untuk pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan ember (Lampiran 28). Komposisi biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul terdiri biaya tetap (sewa bangunan dan penyusutan kotak plastik) dan biaya variabel (upah karyawan dan pembelian es). Biaya tetap dan variabel tersebut masing-masing berjumlah Rp 19.000.000,00 dan Rp 189.000.000,00, sehingga biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 208.000.000,00. Biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 6.805.500,00. Biaya tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap (Rp 855.500,00) dan biaya variabel (Rp 5.950.000,00). Biaya tetapnya terdiri dari penyusutan terpal, penyusutan styrofoam, penyusutan kotak plastik, penyusutan ember dan sewa bangunan, sedangkan biaya variabelnya dikeluarkan untuk pengadaan es (Lampiran 28). 150  Cakalang Penanganan cakalang memerlukan biaya investasi dengan jumlah Rp 5.357.500,00 bagi pedagang pengumpul dan Rp 1.417.500,00 bagi pedagang pengecer. Besaran biaya investasi oleh pedagang pengumpul berdasarkan Lampiran 29 merupakan pengeluaran untuk pembelian ember, blong dan kotak plastik. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk penanganan cakalang merupakan pengeluaran untuk pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan pembelian ember (Lampiran 29). Berdasarkan Tabel 57 didapatkan bahwa pada tahun 2010 pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu mengeluarkan biaya produksi penanganan cakalang sebesar Rp 39.627.500,00. Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 5.327.500,00 (penyusutan ember, penyusutan blong, penyusutan kotak plastik dan sewa bangunan) dan biaya variabel sebesar Rp 34.300.000 (upah karyawan dan pembelian es). Tabel 57 juga memberikan informasi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk melakukan penanganan cakalang yaitu sebesar Rp 3.839.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 864.000,00 dan biaya variabel Rp 2.975.000,00. Komponen biaya tetapnya adalah penyusutan terpal, penyusutan kotak plastik, penyusutan, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa bangunan, sedangkan biaya variabelnya merupakan biaya pembelian es.  Tongkol Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul untuk melakukan penanganan terhadap tongkol berjumlah Rp 9.007.500,00 yang terdiri dari pembelian ember, blong dan kotak plastik. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk penanganan tongkol sama dengan penanganan cakalang yaitu sebesar Rp 1.417.500,00 yang terdiri dari pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan pembelian ember. Penanganan hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 40.002.500. Biaya tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap Rp 5.702.500,00 dan biaya variabel Rp 39.100.000. Berdasarkan Lampiran 30 diketahui bahwa biaya tetap dikeluarkan dalam bentuk 151 penyusutan ember, penyusutan blong, penyusutan kotak plastik dan sewa bangunan. Lampiran 30 juga memberikan informasi bahwa biaya variabel dikeluarkan dalam bentuk upah karyawan dan pembelian es. Biaya produksi penanganan tongkol oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 3.839.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 864.000,00 (penyusutan terpal, penyusutan kotak plastik, penyusutan, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa bangunan) dan biaya variabel Rp 2.975.000,00 (biaya pembelian es).  Layur Penanganan layur di PPN Palabuhanratu dilakukan oleh pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul layur (PT AGB) dan pedagang pengecer. Besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh masing-masing pelaku penanganan tersebut yaitu Rp 90.000,00 oleh pedagang pengumpul, Rp 215.250.000,00 oleh PT AGB dan Rp 1.387.000,00 oleh pedagang pengecer. Investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul merupakan pembelian styrofoam, yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri dari pembelian trais, kotak baja ringan, pengadaan coldstorage dan pengadaan freezer, sedangkan oleh pedagang pengumpul terdiri dari pembelian kotak palstik, styrofoam dan ember. Biaya produksi penanganan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 (Tabel 57) yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul berjumlah Rp 5.968.000,00, yang terdiri dari biaya tetap (Rp 18.000,00) dan biaya variabel (Rp 5.950.000,00). Biaya tetap tersebut dikeluarkan dalam bentuk penyusutan styrofoam, sedangan biaya variabel dikeluarkan dalam bentuk pembelian es. Biaya operasional penanganan layur oleh PT AGB berjumlah Rp 158.050.000,00. Jumlah tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 18.000.000,00 dan biaya variabel Rp 122.050.000,00. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT AGB adalah penyusutan trais, penyusutan kotak baja ringan, penyusutan coldstorage, penyusutan freezer, perawatan coldstorage, perawatan freezer, sewa tanah dan pas kebersihan. Biaya variabelnya adalah penggunaan air, penggunaan listrik, upah karyawan dan pembelian kotak kardus (Lampiran 31). Biaya penanganan layur yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer berjumlah Rp 2.608.500,00. Biaya ini merupakan 152 penjumlahan dari biaya tetap (penyusutan kotak plastik, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa kios) sebesar Rp 858.500,00 dan biaya variabel (pembelian daun pisang dan es) sebesar Rp 1.750.000.  Ikan kecil lainnya Biaya investasi yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan ikan kecil lainnya hanya dikeluarkan oleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, karena hanya di tempat kedua pelaku tersebut hasil tangkapan ikan kecil lainnya mendapatkan penanganan (sub bab 5.1 butir 6). Besaran biaya investasi yang dikeluarkan pedagang pengumpul sebesar Rp 51.315.000 menurut Lampiran 32 merupakan biaya pengadaan coldstorage, pembelian ember, trais dan styrofoam. Besaran biaya investasi oleh pedagang pengecer yang berjumlah Rp 277.500,00 dan berdasarkan lampiran 31 diketahui terdiri dari pembelian styrofoam dan ember. Biaya produksi penanganan ikan kecil lainnya berjumlah Rp 49.105.000.00. Biaya tersebut menurut Lampiran 32 terdiri dari biaya tetap (sewa bangunan, upah karyawan, listrik dan penyusutan investasi) sebesar Rp 11.665.000,00 dan biaya variabel (penggunaan air dan es) sebesar Rp 37.440.000,00. Pedagang pengecer ikan kecil lainnya mengeluarkan biaya produksi penanganan ikan kecil lainnya dengan jumlah Rp 12.656.500,00. Biaya produksi tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap (sewa bangunan, penyusutan styrofoam dan penyusutan ember) Rp 756.500,00 dengan biaya variabel (pembelian es) Rp 11.900.000,00. Secara umum biaya investasi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu layur, tuna-tuna kecil, tuna, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Biaya produksi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tuna, tuna-tuna kecil, layur, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Investasi pendistribusian hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, layur dan tuna-tuna kecil. Biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tongkol, tuna, layur, cakalang, ikan kecil lainnya dan tuna-tuna kecil. Secara umum tidak terdapat pinjaman yang dilakukan untuk 153 melakukan kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa secara keseluruhan biaya investasi dan biaya produksi untuk hasil tangkapan tujuan ekspor (tuna dan layur) lebih besar dibandingkan dengan hasil tangkapan lainnya. Biaya investasi dan biaya produksi tersebut dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul yang melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan tersebut sebelum didistribusikan. Kekurangan dari penanganan hasil tangkapan tuna dan layur adalah penanganan hasil tangkapan tersebut lebih terfokus pada hasil tangkapan yang layak di ekspor saja. Hasil tangkapan tuna dan layur yang tidak layak ekspor dan hanya didistribusikan lokal dan nasional tidak terlalu diperhatikan oleh nelayan dan pedagang pengecer. Hal tersebut terlihat dari biaya produksi penanganan hasil tangkapan tersebut di tempat pedagang pengecer yang lebih kecil dibandingkan ikan kecil lainnya. Sebaiknya penanganan hasil tangkapan yang bukan tujuan ekspor lebih diperhatikan untuk menjaga kualitasnya walaupun biaya investasi dan biaya produksi yang dikeluarkan lebih besar. Hal ini sangat berat bagi nelayan dan pedagang karena walaupun investasi dan biaya produksi penanganan meningkat, namun permintaan dan harga tidak meningkat. Hal ini disebabkan karena konsumen Indonesia lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas. 7.2 Biaya Pendistribusian Pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu dapat berupa pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu (pengangkutan hasil tangkapan dari satu tempat pelaku pemasaran hasil tangkapan ke tempat pelaku pemasaran lainnya tetapi masih di dalam PPN Palabuhanratu) maupun pengangkutan hasil tangkapan dari dalam PPN Palabuhanratu ke luar PPN Palabuhanratu. Contoh dari pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu adalah pengangkutan hasil tangkapan tuna dari tempat pendaratan ke tempat perusahaan pengumpul tuna, sedangkan contoh dari pendistribusian ke luar PPN Palabuhanratu adalah pendistribusian layur dari PT AGB PPN Palabuhanratu ke PT AGB Muara Angke Jakarta. 154 Pendistribusian tersebut memerlukan biaya yang terdiri dari biaya investasi dan biaya produksi pendistribusian. Berikut ini merupakan hasil perhitungan investasi dan biaya produksidalam pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berdasarkan jenis hasil tangkapannya : Tabel 57 Besaran biaya pendistribusian hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Biaya investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC A. di tempat pendaratan 1. Tuna 2. Tuna-tuna kecil 3. Cakalang 4. Tongkol 5. Layur 6. Ikan kecil lainnya B. di tempat pedagang/perusahaan pengumpul 1. Tuna 375.000.000 21.400.000 2. Tuna-tuna kecil 150.000.000 8.600.000 3. Cakalang 60.000 4. Tongkol 50.000 5. Layur a. oleh pedagang 75.000 pengumpul b. oleh PT AGB 225.000.000 13.500.000 6. Ikan kecil 35.000 lainnya P TC 1.600.000 800.000 3.500.000 3.500.000 - 1.600.000 800.000 3.000.000 3.000.000 - - - - - 21.400.000 140.700.000 192.850.000 385.700.000 373.150.000 149.300.000 192.910.000 385.750.000 - 6.000.000 7.075.000 - 216.300.000 229.800.000 - 192.850.000 192.885.000 - Keterangan : TFC = total fixed cost/jumlah keseluruhan biaya tetap; TVC = total variable cost/jumlah keseluruhan biaya varibel; TC = total cost/jumlah keseluruhan biaya produksi; P = pinjaman Berdasarkan Tabel 58 di atas diketahui bahwa secara umum yang mengeluarkan biaya investasi dalam pendistribusian hasil tangkapan dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur. Hal ini bukan berarti pendistribusian hanya dilakukan oleh ketiga pelaku tersebut, terdapat pelaku pendistribusian lainnya yang tidak mengeluarkan biaya investasi untuk melakukan pendistribusian hasil tangkapannya. Bentuk investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan perusahan pengumpul layur (PT 155 AGB) sama yaitu pembelian mobil bak tertutup. Besaran biaya invetasi perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 untuk tuna berjumlah Rp 375.000.000,00 (5 unit mobil bak tertutup), untuk tuna-tuna kecil berjumlah Rp 150.000.000,00 (2 unit mobil bak tertutup) dan untuk layur berjumlah Rp 225.000.000,00 (3 unit mobil bak tertutup). Selain mengeluarkan biaya investasi, pelaku pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu berdasarkan hasil wawancara juga mengeluarkan biaya produksi pendistribusian. Biaya produksi tersebut terdiri dari biaya tetap (selalu dikeluarkan dan tidak bergantung pada jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan) dan biaya variabel (tidak selalu dikeluarkan dan bergantung pada besaran jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan). Berikut ini dijelaskan biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapannya :  Tuna Biaya produksi pendiribusian tuna di PPN Palabuhanratu dikeluarkan oleh nelayan dan perusahaan pengumpul tuna. Biaya produksi pendistribusian tuna yang dikeluarkan oleh nelayan merupakan biaya variabel yaitu upah angkut tuna dari tempat pendaratan ke tempat perusahan pengumpul tuna. Biaya tersebut tahun 2010 berjumlah Rp 1.600.000,00 (Tabel 59). Biaya produksi pendistribusian tuna oleh perusahaan pengumpul tuna berjumlah Rp 373.000.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 21.250.000,00 dan biaya variabel Rp 351.750.000,00 (Lampiran 33). Biaya tetap yang dikeluarkan berupa penyusutan, perawatan mobil bak tertutup dan alat tulis kantor, sedangkan biaya variabel yang dikeluarkan berupa pas masuk mobil ke pelabuhan, bensin mobil, gaji sopir dan gaji kenek mobil.  Tuna-tuna kecil Keseluruhan biaya produksi pendistribusian tuna-tuna kecil oleh nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 800.000,00 (Tabel 59). Biaya tersebut berupa upah angkut tuna-tuna kecil dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Biaya produksi pendistribusian tuna-tuna kecil yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul PPN Palabuhanratu berjumlah Rp 149.300.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 8.600.000,00 dan biaya variabel Rp 140.700.000,00. Biaya tetap yaitu hasil penjumlahan penyusutan dan 156 perawatan mobil bak tertutup dan alat tulis kantor, sedangkan biaya variabel yaitu penjumlahan biaya pas masuk PPN Palabuhanratu, sewa mobil pick up dan bensin mobil (Lampiran 34).  Cakalang Pendistribusian cakalang oleh nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 menurut Tabel 59 memerlukan biaya produksi sejumlah Rp 3.000.000,00. Biaya tersebut dikeluarkan nelayan berupa upah angkut hasil tangkapan cakalang dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul mengeluarkan biaya produksi pendistribusian cakalang dengan jumlah Rp 192.910.000,00 (Tabel 59). Biaya tersebut merupakan pernjumlahan biaya tetap Rp 60.000,00 berupa alat tulis kantor dengan biaya variabel Rp 192.850.000,00 berupa penjumlahan biaya sewa mobil pick up, bensin mobil dan pas masuk PPN Palabuhanratu (Lampiran 35).  Tongkol Bentuk biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh nelayan untuk pendistribusian tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 adalah upah angkut dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Biaya tersebut berjumlah Rp 3.000.000,00 (Lampiran 36). Biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pedagang pengumpul untuk mendistribusikan hasil tangkapan tongkol dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 385.700.000,00. Jumlah tersebut merupakan penjumlahan biaya tetap berupa alat tulis kantor dengan biaya variabel yang terdiri dari sewa mobil pick up, pas masuk PPN Palabuhanartu dan bensin mobil. Besar biaya tetapnya adalah Rp 50.000,00 sedangkan besar biaya variabelnya adalah Rp 385.700.000,00.  Layur Besaran biaya produksi pendistribusian yang dikeluarkan oleh PT AGB selaku perusahaan penanganan layur adalah Rp 229.300.000,00. Biaya produksi PT AGB tersebut terdiri dari biaya tetap Rp 13.000.000,00 dan biaya variabel Rp 216.300.000,00 (Lampiran 37). Biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri 157 dari alat tulis kantor, penyusutan dan perawatan mobil bak tertutup.. Biaya variabel yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri dari pembayaran pas masuk PPN Palabuhanratu, bensin mobil, gaji sopir dan gaji kenek.  Ikan kecil lainnya Biaya produksi pendistribusian ikan kecil lainnya di PPN Palabuhanratu tahun 2010 hanya dikeluarkan oleh pedagang pengumpul dengan jumlah Rp 192.885.000,00. Biaya tersebut teridiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Berdasarkan Lampiran 38 biaya tetap yang dikeluarkan adalah alat tulis kantor dengan jumlah Rp 35.000,00. Biaya variabel yang dikeluarkan berupa sewa mobil pick up, pas masuk PPN Palabuhanartu dan bensin mobil yang kesemuanya berjumlah Rp 192.850.000,00. Berdasarkan uraian pada bab 7.2 secara keseluruhan diketahui bahwa investasi hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur. Hal ini karena perusahaan tuna, tuna-tuna kecil dan layur melakukan pengadaan mobil bak tertutup untuk pendistribusian ikannya. Pelaku pendistribusian lainnya tidak melakukan pengadaan alat yang berupa investasi, gerobak dan mobil bak terbuka yang digunakan dalam pendistribusian disewa oleh pelaku sehingga termasuk ke dalam biaya operasional. Biaya produksi secara keseluruhan dikeluarkan oleh 3 pelaku yaitu nelayan, pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh nelayan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul. Hal ini karena perbedaan jarak pendistribusian dimana nelayan melakukan pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu, sedangkan pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul melakukan pendistribusian ke luar PPN Palabuhanratu. Selain itu terdapat perbedaan alat yang digunakan dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan. Biaya produksi yang paling besar dikeluarkan oleh pedagang pengumpul tongkol, walaupun tongkol hanya didistribusikan untuk tujuan lokal dan nasional. Biaya produksi tongkol tersebut lebih besar dibandingkan biaya produksi tuna, tuna-tuna kecil dan layur yang merupakan komoditas ekspor. Hal ini karena 158 pedagang pengumpul tongkol masih menyewa mobil bak terbuka kepada orang lain yang dimasukkan ke dalam biaya produksi, sedangkan perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur melakukan investasi berupa mobil bak tertutup sehingga tidak terdapat penyewaan mobil di dalam biaya produksinya. 159 8 KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan 1) Penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan secara umum belum dilakukan oleh nelayan PPN Palabuhanratu. Di tempat pedagang pengumpul dan pedagang pengecer sebagian besar hasil tangkapan ditangani dengan cara penempatan ke dalam wadah dan pemberian es. Rata-rata nilai skala organoleptik hasil tangkapan sampel di tempat pendaratan dari yang terbesar adalah tongkol (9,00), cakalang (8,80), layur (7,84) dan tuna-tuna kecil (7,75), sedangkan di tempat pedagang pengecer adalah cakalang (8,15), tongkol (8,03), layur (7,34) dan tuna-tuna kecil (7,14). Terjadi penurunan nilai skala organoleptik atau mutu hasil tangkapan sampel yang nyata dari tempat pendaratan sampai ke tempat pedagang pengecer dan terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara keempat sampel hasil tangkapan tersebut. Secara keseluruhan nilai skala organoleptik atau mutu satu hasil tangkapan sampel dengan satu hasil tangkapan sampel lainnya berbeda nyata, kecuali pada insang layur dengan tuna-tuna kecil di kedua tempat dan konsistensi layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. 2) Pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu secara umum telah berjalan dengan baik. Tujuan pendistribusian hasil tangkapan keluar PPN Palabuhanratu adalah daerah di sekitar PPN Palabuhanratu (pasar lokal), daerah lain di Indonesia (pasar nasional) dan luar negeri (ekspor : Korea dan Jepang). Hasil tangkapan yang didistribusikan ke daerah tersebut dapat berupa ikan segar atau ikan olahan (pindang dan asin). Penanganan mutu ikan dalam pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dilakukan dengan memakai es curah. 3) Biaya penanganan di tempat pendaratan hanya dikeluarkan pada penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline oleh perusahaan pengumpul. Secara umum investasi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu layur, tuna-tuna kecil, tuna, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Biaya produksi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tuna, tuna-tuna kecil, layur, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Investasi pendistribusian 160 hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, layur dan tuna-tuna kecil. Biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tongkol, tuna, layur, cakalang, ikan kecil lainnya dan tuna-tuna kecil. Secara umum tidak terdapat pinjaman yang dilakukan untuk melakukan kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. 8.2 Saran 1) Untuk penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul dan pedagang pengecer diperlukan adanya penyediaan air tawar yang bersih dan terjangkau dari pengelola PPN Palabuhanratu 2) Sebaiknya pelelangan ikan di TPI kembali dijalankan, agar penanganan hasil tangkapan di TPI PPN Palabuhanratu dapat dilakukan dengan lebih baik. 3) Diperlukan adanya pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dijual di PPN Palabuhanratu oleh petugas pengawas perikanan PPN Palabuhanratu. 4) Perlu dicari dan dikembangkan daerah tujuan pendistribusian baru dengan tujuan nasional atau ekspor dari PPN Palabuhanratu, karena keberagaman daerah tujuan pndistribusiannya masih sangat sedikit. PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN SERTA BIAYANYA DI PPN PALABUHANRATU ELWIDYA BASTIAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ABSTRAK ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu. Dibimbing oleh ANWAR BEY PANE dan RETNO MUNINGGAR Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan satu-satunya pelabuhan perikanan tibe B di pantai selatan Jawa Barat. Adanya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang baik dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapan di sana karena dapat meningkatkan pendapatan nelayan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktifitas penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, besaran biayanya dan nilai organoleptik hasil tangkapan dominan di PPN Palabuhanratu. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk kondisi aktual penanganan dan pendistribusian, analisis finansial untuk besaran biayanya dan analisis statistik non parametrik untuk nilai organoleptik. Hasil analisis menyatakan secara umum penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan belum dilakukan oleh nelayan, hasil tangkapan baru ditangani di tempat pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer. Pendistribusian hasil tangkapan dilakukan dalam bentuk segar dan ikan olahan dengan tujuan lokal, nasional dan ekspor. Biaya penanganan berupa biaya-biaya penyediaan alat dan bahan penanganan, sedangkan biaya-biaya pendistribusian terdiri dari pas masuk, sewa sarana pendistribusian dan biaya angkut. Urutan hasil tangkapan dari mutu paling tinggi di tempat pendaratan adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, sedangkan di tempat pedagang pengecer adalah cakalang, tongkol, layur dan tunatuna kecil. Masih terdapat beberapa kekurangan dalam penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu yang harus diperbaiki. Kata kunci : hasil tangkapan, organoleptik, PPN Palabuhanratu, penanganan, pendistribusian ii ABSTRACK ELWIDYA BASTIAN, C44063391. Handling and Distribution of the Catch with the Cost in PPN Palabuhanratu. Supervised by ANWAR BEY PANE and RETNO MUNINGGAR Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu is the only one fishing port type B on the south coast of West Java. The existence a good handling and distribution of the catch can attract fishermen to land the cacth in there because can increase the income of fishermen. The study was conducted to dertermine the activity of handling and distribution of the catch, the amount of the cost and organoleptic value of the dominant catch in PPN Palabuhanratu. Data analysis was conducted descriptively to the actual conditions of handling and distribution, financial analysis to the amount of the cost dan non-parametric statistical analysis to organoleptic value. The analysis states in general handling of the catch at landing site not handling by fishermen, the catch just handling on-site collectors, corporate colectors dan retailers. The catch are distribution by type of fresh and fickle in destination local, national dan export. Handling cost is include providing equipment and material handling cost, while distribution cost in include pass go into PPN Palabuhanratu, the rent of distributions tool dan cost of transport. The catch from the highest quality at the landing site is tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, while at the retailers is cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. There are still some of weakness in handling of the catch in PPN Palabuhanratu be fixed. Key words : the cacth, organoleptic, PPN Palabuhanratu, handling, distribution iii PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Mei 2012 Elwidya Bastian C44063391 i © Hak cipta IPB, Tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB iv PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN SERTA BIAYANYA DI PPN PALABUHANRATU ELWIDYA BASTIAN Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 v Judul Skipsi : Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Nama : Elwidya Bastian NRP : C44063391 Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Disetujui : Komisi Pembimbing Ketua Anggota Dr. Ir. Anwar Bey Pane, DEA NIP 195410141980031003 Retno Muninggar, S.Pi, ME NIP 197807182005012002 Diketahui : Ketua Program Studi Derparteman Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc NIP 196212231987031001 Tanggal lulus : 15 Mei 2012 vi PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ” Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu”. Skripsi ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni sampai dengan September 2010. Skripsi ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Anwar Bey Pane, DEA selaku pembimbing pertama yang telah membimbing penulis mulai dari pointerisasi proposal penelitian sampai dengan penulisan skripsi, dan kepada Retno Muninggar, S.Pi, ME selaku pembimbing kedua yang telah membimbing penulis dalam penulisan proposal penelitian dan skripsi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Ernani Lubis, DEA selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritikan bagi penulis; Dr. Ir. Mohammad Imron, M.Si selaku Komisi Pendidikan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan; Bapak Ir.Arif Rahman Lamatta,MM selaku Kepala PPN Palabuhanratu beserta jajarannya; Elbastian, ST dan Dra. Linda Enita selaku orangtua penulis yang memberikan doa, dana dan motivasi dalam pengerjaan skripsi ini; Ardi Yasa yang telah memberikan semangat dan membatu penulis dengan bertukar skripsi untuk saling mengedit kalimat; Rahmad Caesario yang telah mengajarkan cara penggunaan software SPSS untuk pengolahan statistik dan semua pihak lainnya yang telah membantu proses penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga hasil penelitian dalam bentuk skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya. Bogor, Mei 2012 Elwidya Bastian vii RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat pada tanggal 16 Desember 1987 dari pasangan Elbastian, ST dan Dra. Linda Enita. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan formal ditempuh dari TK Aisyah (1993 dan 1994), SDN 11 Kampung Baru Batusangkar (1994–2000), kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 1 Batusangkar (2000-2003) dan dilanjutkan di SMU Negeri 1 Batusangkar (2003-2006). Penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun yang sama. Penulis memilih Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah Iktiologi Perairan tahun ajaran 2008/2009, Dasar-Dasar Perikanan Tangkap tahun ajaran 2008/2009 dan Tingkah Laku Ikan tahun ajaran 2008/2009. Penulis terpilih menjadi Mahasiswa Prestasi (MAPRES) Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan pada tahun 2009. Penulis juga pernah aktif dalam organisasi diantaranya sebagai anggota Departemen Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan tahun 2008/2009 dan 2009/2010, selain itu penulis juga mengikuti kepanitiaan dalam kegiatan BEM KM IPB dan BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Penulis melakukan penelitian lapang dan menyusun skripsi dengan judul “Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu” dalam rangka menyelesaikan tugas akhir. Penulis dinyatakan lulus dalam ujian akhir sarjana pada tanggal 15 Mei 2012. viii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ...................................................................................................... ix DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xvi 1. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah .............................................................................. 4 1.3 Tujuan ................................................................................................... 4 1.4 Manfaat ................................................................................................. 4 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 6 2.1 Hasil Tangkapan .................................................................................. 6 2.2 Penanganan dan Mutu Hasil Tangkapan ............................................. 8 2.3 Pendistribusian Hasil Tangkapan ........................................................ 14 2.4 Pemetaan Pendistribusian Hasil Tangkapan ........................................ 16 2.5 Pelabuhan Perikanan ............................................................................ 17 2.6 Analisis Pengujian Perbedaan Mutu Hasil Tangkapan : Mann Whitney Test dan Kruskal Wallis Test .................................................. 20 2.7 Analsis Finansial .................................................................................. 22 3. METODOLOGI .......................................................................................... 25 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................. 25 3.2 Bahan dan Alat ..................................................................................... 25 3.3 Metode Penelitian ................................................................................ 25 3.4 Analisis Data ....................................................................................... 29 4. KEADAAN UMUM ................................................................................... 35 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi ................................... 35 4.1.1 Keadaan topografis dan geografis ............................................. 4.1.2 Keadaan penduduk, pendidikan dan rumah tangga perikanan .. 4.1.3 Keadaan prasarana umum ......................................................... 35 37 43 4.2 Keadaan Umum Perikanan Tangkap Kabupaten Sukabumi ............... 46 4.2.1 Jenis dan produksi hasil tangkapan ........................................... 4.2.2 Unit penangkapan ikan dan nelayan ......................................... 4.2.3 Prasarana perikanan tangkap ..................................................... 46 48 50 ix 4.3 Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu .................................. 51 4.3.1 Sejarah dan keadaan organisasi PPN Palabuhanratu .................. 4.3.2 Sarana dan prasarana PPN Palabuhanratu .................................. 4.3.3 Jenis dan produksi hasil tangkapan PPN Palabuhanratu ............ 4.3.4 Unit penangkapan ikan dan nelayan di PPN Palabuhanratu ....... 4.3.5 Daerah dan musim penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu ..... 51 53 55 64 68 5. KONDISI AKTUAL PENANGANAN DAN MUTU HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU .......................................... 71 5.1 Penanganan di Tempat Pendaratan ....................................................... 73 5.2 Penanganan di Tempat Pedagang atau Perusahaan Pengumpul .......... 81 5.3 Penanganan di Tempat Pedagang Pengecer ........................................ 87 5.4 Masalah dalam Penanganan Hasil Tangkapan .................................... 92 5.5 Mutu Hasil Tangkapan Didaratkan ..................................................... 95 5.5.1 Kelembagaan terkait mutu hasil tangkapan ................................ 95 5.5.2 Pengujian organoleptik ............................................................... 106 6. KONDISI AKTUAL PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU ......................................................................... 121 6.1 Pendistribusian Berdasarkan Jenis Hasil Tangkapan Didistribusikan.. 121 6.2 Pendistribusian Berdasar Daerah Tujuan Pendistribusian ................... 133 6.3 Pendistribusian Ikan Olahan Asin dan Pindang .................................. 142 7. BESARAN BIAYA PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU ............................. 147 7.1 Biaya Penanganan ............................................................................... 147 7.2 Biaya Pendistribusian .......................................................................... 153 8. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 159 8.1 Kesimpulan .......................................................................................... 159 8.2 Saran .................................................................................................... 160 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 161 LAMPIRAN ...................................................................................................... 165 x DAFTAR TABEL Halaman 1 Daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan ........................................... 11 2 Ciri hasil tangkapan segar dan hasil tangkapan busuk ................................. 13 3 Kriteria tipe pelabuhan perikanan di Indonesia ........................................... 19 4 Jenis aplikasi statistika parametrik dan non parametrik berdasarkan hubungan sampel ......................................................................................... 21 5 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................................... 37 6 Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009....... 38 7 Jumlah sekolah dan murid berdasarkan jenisnya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................................... 40 8 Jenis dan jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 ................ 41 9 Jenis dan jumlah rumah tangga perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................. 42 10 Jenis usaha pengolahan ikan dan jumlah pelakunya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................. 42 11 Jenis dan jumlah kendaraan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 ............... 44 12 Jenis dan jumlah konsumen pengguna air bersih di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................................... 45 13 Keragaman jenis hasil tangkapan dominan didaratkan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................. 47 14 Jumlah hasil tangkapan didaratkan per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2008 .................................................................................. 47 15 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .................................................................................................... 48 16 Jenis dan jumlah alat tangkap ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 .... 49 17 Jenis dan jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 ................... 50 18 Jenis, jumlah, ukuran dan kondisi fasilitas yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 54 19 Produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 ... 56 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .... 57 21 Jenis hasil tangkapan per jenis armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 59 22 Produksi hasil tangkapan per jenis alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 60 xi 23 Hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah tahun 2005-2009 .............................................................................. 61 24 Jenis dan jumlah ikan masuk melalui jalur darat dominan secara jumlah ke PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 ..................................................... 62 25 Jumlah ikan masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah asal tahun 2005-2009 ................................................... 63 26 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009 .................................................................................................... 64 27 Jenis dan jumlah alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2009 ............... 66 28 Jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 ............................ 67 29 Daerah penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ..................... 69 30 Cara penanganan di atas kapal berdasarkan jenis hasil tangakapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 72 31 Hasil uji formalin terhadap ikan segar dan produk olahan Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2008-2009 ........................................ 97 32 Hasil uji formalin berdasarkan jenis ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 .......................................................... 98 33 Hasil uji formalin berdasar jenis produk olahan di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 .......................................................... 100 34 Hasil uji organoleptik ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 ............................................................................ 102 35 Hasil uji angka lempeng total di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 ............................................................................ 104 36 Hasil pengujian organoleptik terhadap sampel hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 106 37 Analisis statistika (Mann-Whitney test) perbandingan hasil uji organoleptik terhadap hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................... 108 38 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ..................................... 110 39 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................. 111 40 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................... 113 41 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................... 114 42 Analisis statistika (Kruskal Wallis test) perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan yang diuji di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................................................... 116 xii 43 Hasil uji lanjutan nilai organoleptik antar jenis di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................... 118 44 Jenis dan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .......................................................................................... 122 45 Jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .................................................................................................... 127 46 Jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .................................................................................................... 129 47 Jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .................................................................................................... 131 48 Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 ....................................................... 134 49 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 ....................................................... 135 50 Pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2005-2009..................................... 136 51 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009 .. 137 52 Jumlah hasil tangkapan didistribusikan untuk tujuan ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 139 53 Jenis dan jumlah hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu yang didistribusikan untuk tujuan ekspor tahun 2005-2009 ................................. 140 54 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan asin dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 142 55 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 144 56 Besaran biaya penanganan hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................... 147 57 Besaran biaya pendistribusian hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................... 154 xiii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka penelitian Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu ...................................................................................... 34 2 Struktur organisasi PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................... 52 3 Grafik perkembangan jumlah produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 56 4 Grafik perkembangan nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 58 5 Grafik perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 65 6 Komposisi alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 ........ 66 7 Grafik perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 20002009.............................................................................................................. 68 8 Pengggunakan terpal sebagai alas ikan pada penangnanan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 74 9 Pengisian es pada rongga kepala dan perut ikan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 75 10 Penyusunan ikan tuna dan es pada mobil bak tertutup tahun 2010 ............. 75 11 Penanganan ikan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 77 12 Penempatan sementara ikan tongkol oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 84 13 Tahapan penanganan ikan layur di PT AGB tahun 2010............................. 86 14 Penyimpanan ikan tongkol di dalam kotak plastik atau styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................ 89 15 Penempatan ikan layur di atas meja oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 90 16 Penempatan ikan layur di atas keranjang oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 91 17 Penempatan ikan-ikan kecil di dalam styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................... 92 18 Pengambilan air dari kolam pelabuhan oleh pedagang pengumpul atau pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................ 93 19 Alat Penghitung Koloni (Colony Counter) untuk pengujian ALT di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010 .......................... 96 20 Alat Reader Stat Fax 450 nm untuk pengujian histamin di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................. 97 xiv 21 Grafik perkembangan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 122 22 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan pancing rumpon dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 124 23 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan tuna longline dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 125 24 Pendistribusian ikan tuna-tuna kecil dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010 126 25 Grafik perkembangan jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 .......................................................... 127 26 Pendistribusian ikan cakalang dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010 .......... 128 27 Grafik perkembangan jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 129 28 Pendistribusian ikan tongkol dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............. 130 29 Grafik perkembangan jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 131 30 Pendistribusian ikan layur dari PPN Palabuhanratu tahun 2010.................. 132 31 Pendistribusian ikan tembang, selar dan ikan kecil lainnya dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 133 32 Grafik jumlah hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 .............................................. 134 33 Grafik jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 20052009.............................................................................................................. 136 34 Peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009 .............................................. 138 35 Diagram jumlah hasil tangkapan didistribusikan ke luar Indonesia/ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 ................................................... 140 36 Peta pendistribusian hasil tangkapan dengan tujuan ekspor dari PPN Palabuahnratu tahun 2009 ............................................................................ 141 37 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan asin dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 143 38 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009................................................................... 145 39 Peta distribusi hasil olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 .................................................................................................... 146 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Peta lokasi PPN Palabuhanratu .................................................................... 166 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu tahun 2010 ........... 167 3 Foto hasil tangkapan yang diuji organoleptik di PPN Palabuhanratu tahun 2010.............................................................................................................. 168 4 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................................... 169 5 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................... 170 6 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................. 171 7 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................... 172 8 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................. 173 9 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................... 174 10 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................. 175 11 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................... 176 12 Hasil analisis statistika nilai organoleptik hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 177 13 Hasil analisis statistika nilai organoleptik hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 178 14 Hasil analisis statistika nilai organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................... 179 15 Hasil analisis statistika nilai organoleptik hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................. 180 16 Hasil analisis statistika perbandingan nilai organoleptik keseluruhan sampel hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ................................................ 181 17 Hasil analisis statistika perbandingan nilai organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ........... 182 18 Hasil analisis statistika perbandingan nilai organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010.............................................................................................................. 183 xvi 19 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010.............................................................................................................. 184 20 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................................................... 185 21 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................................................... 186 22 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 187 23 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................................................... 188 24 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 189 25 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 .................................................................................................... 190 26 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 191 27 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 192 28 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 194 29 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 196 30 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 198 31 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 200 32 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan ikan kecil lainnya di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 203 33 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 205 34 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 206 xvii 35 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 207 36 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 208 37 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................................................................ 209 38 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan ikan kecil lainnya oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 ............................ 210 xviii 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha penangkapan ikan akan menghasilkan hasil tangkapan sebagai output atau hasil dari usaha tersebut. Hasil tangkapan dari usaha penangkapan ikan merupakan sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan melalui operasi penangkapan ikan di perairan laut, yang mana hasil tangkapan tersebut dapat digunakan sebagai bahan makanan. Hasil tangkapan dapat berupa ikan, binatang berkulit keras, binatang berkulit lunak, tumbuhan air, binatang bercangkang dan binatang air lainnya. Hasil tangkapan tersebut harus ditangani dengan cara yang khusus dan baik. Hasil tangkapan merupakan komoditi yang mudah rusak dan cepat busuk, terutama bila terkena suhu tinggi. Karena sifatnya yang mudah busuk sehingga dibutuhkan penanganan hasil tangkapan yang baik untuk menjaga mutunya. Penanganan hasil tangkapan dapat berupa grading (pengelompokan berdasarkan jenis, ukuran dan mutu), pencucian, pengaturan suhu, pembersihan, pengemasan dan lainnya. Penanganan bertujuan mempertahankan mutu atau kesegaran hasil tangkapan, sehingga penanganan hasil tangkapan dapat diartikan sebagai cara memperlakukan hasil tangkapan agar mutu atau kesegarannya terjaga. Adanya penanganan hasil tangkapan yang baik, efektif dan efisien akan membuat mutu hasil tangkapan terjaga pada kondisi yang bagus. Hasil tangkapan yang mutu bagus, harganya akan lebih tinggi dan permintaannya juga akan meningkat. Selain itu permintaan hasil tangkapan untuk konsumsi atau industri biasanya adalah hasil tangkapan yang bermutu tinggi. Kegiatan penangkapan ikan dan penanganan hasil tangkapan membutuhkan pembiayaan dalam operasinya. Pembiayaan penanganan merupakan total semua biaya (biaya investasi dan biaya produksi) yang dikeluarkan oleh pelaku penanganan untuk melakukan kegiatan penanganan terhadap suatu hasil tangkapan. Biaya penanganan tersebut dapat dibuat dalam satuan waktu per hari, ber bulan dan atau per tahun. 2 Pembiayan tersebut di atas membuat pelaku penanganan membutuhkan sumber pemasukan. Pemasukan didapatkan dengan “mengalirkan” hasil tangkapan tersebut kepada pihak lain sehingga hasil tangkapan memiliki nilai. “Mengalirkan” hasil tangkapan dari produsen sampai ke tangan konsumen disebut dengan pendistribusian hasil tangkapan. Pendistribusian hasil tangkapan dapat dilakukan terhadap hasil tangkapan hidup, segar dan beku. Hasil tangkapan hidup, segar dan beku didistribusikan kepada pedagang, rumah tangga, restoran, perusahaan pengolahan dan konsumen lainnya. Hasil tangkapan tersebut setelah sampai di tangan konsumen akan digunakan sebagai bahan pangan yang dikonsumsi, sehingga sangat penting bagi konsumen untuk mengetahui bagaimana sumber pangan tersebut ditangani dan didistribusikan. Pengolahan hasil tangkapan pada umumnya dilakukan oleh perusahaan, dimana perusahaan tersebut menjadikan hasil tangkapan sebagai bahan bakunya. Kualitas produk hasil olahan tersebut akan sangat bergantung kepada kualitas bahan bakunya, maka sangat penting bagi perusahaan untuk mendapatkan informasi mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang akan dijadikan bahan baku. Hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan selain ditujukan untuk konsumsi lokal juga dapat didistribusikan keluar daerah dan atau ekspor. Pendistribusian hasil tangkapan dari pelabuhan baik keluar daerah maupun ekspor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di daerah atau negara lain agar hasil tangkapan tersebut dapat mempunyai nilai tambah. Selain itu adanya pendistribusian hasil tangkapan ke luar daerah dan atau ekspor akan mampu secara langsung menambah pemasukan bagi pelaku pendistribusian khususnya dan secara tidak langsung kepada pelabuhan umumnya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hasil tangkapan dapat didistribusikan ke daerah lokal, luar daerah dan ekspor. Setiap jenis hasil tangkapan yang didaratkan, akan didistribusikan dengan jumlah dan tujuan pendistribusian yang berbeda sesuai dengan permintaan yang masuk ke pelabuhan. Perbedaan jumlah dan tujuan pendistribusian tersebut dapat dipetakan, dengan tujuan agar mempermudah mendapatkan informasi mengenai seberapa besar dan ke mana 3 pendistribusian hasil tangkapan dilakukan. Pemetaan dapat diartikan sebagai penyajian data ke dalam peta tematik sehingga memudahkan intrepetasi data bagi yang membacanya. Tidak jauh berbeda dengan penanganan hasil tangkapan, pendistribusian hasil tangkapan juga memiliki pembiayan untuk melakukan operasi kegiatannya. Biaya pendistribusian yang dimaksud adalah seluruh biaya (biaya investasi dan biaya produksi) yang dikeluarkan distributor untuk mengalirkan hasil tangkapan ke tangan konsumen. Seperti halnya biaya penanganan, biaya pendistribusian juga dapat dibuat dalam satuan waktu per hari, per bulan dan atau per tahun. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan salah satu pelabuhan yang berpartisipasi dalam ekspor hasil tangkapan dari Indonesia. Adapun hasil tangkapan PPN Palabuhanratu yang di ekspor adalah tuna dan layur. Hal tersebut karena PPN Palabuhanratu terletak di pantai selatan Jawa yang langsung berhubungan dengan Samudera Hindia, sehingga komoditas tuna, tongkol dan layur masih bisa dieksploitasi dengan baik. Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dekat dengan daerah pemasaran Jakarta, kalau ditempuh melalui jalan darat hanya memerlukan waktu 3-4 jam. Waktu tempuh yang cukup singkat dan menggunakan rantai dingin (suhu rendah) membuat hasil tangkapan dapat diekspor melalui Jakarta. Berdasarkan hal tersebut sangat diharapkan PPN Palabuhanratu dapat berpartisipasi optimum dalam penyediaan hasil tangkapan yang berkualitas melalui sistem penanganan dan pendistribusian yang baik. Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa penanganan dan pendistribusian merupakan hal penting untuk diperhatikan dalam pelabuhan perikanan. Begitu juga di PPN Palabuhanratu, penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan merupakan salah satu hal penting yang harus menjadi perhatian. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu untuk mengetahui gambaran karakteristik dan aktivitas penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan. 4 Diharapkan, dengan adanya penelitian ini dapat diketahui jenis, jumlah dan harga hasil tangkapan serta pelaku , cara, jalur, tujuan dan biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. 1.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya dengan jelas : 1. Kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu 2. Kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu dan peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusian 3. Besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu 1.3 Tujuan Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk : 1. Mengetahui kondisi penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu baik penanganan di tempat pendaratan, di tempat pedagang pengumpul maupun di tempat pedagang pengecer 2. Mendapatkan gambaran kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusiannya 3. Mendapatkan besaran biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang dikeluarkan oleh nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu 1.4 Manfaat Penelitian ini diharapkan membawa manfaat bagi : 1. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola pelabuhan yaitu memberikan informasi dan masukan mengenai penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu 5 2. Nelayan untuk memberikan informasi kemana dan seberapa besar hasil tangkapan mereka didistribusikan 3. Pengelola pelabuhan, pedagang dan perusahaan yaitu memberikan informasi tentang peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu 4. Nelayan, pedagang, perusahaan dan pengelola PPN Palabuhanratu yaitu memberikan informasi besaran investasi dan besaran biaya produksi yang dikeluarkan untuk penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan 6 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Tangkapan Ikan, menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan merupakan segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Ikan ini meliputi ikan bersirip (Pisces); udang, rajungan, kepiting dan sebangsanya (Crustacea); kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput dan sebangsanya (Mollusca); ubur-ubur dan sebangsanya (Coelenterata); teripang, bulu babi dan sebangsanya (Echinodermata); paus, lumba-lumba, pesut, duyung dan sebangsanya (Mamalia); rumput laut dan tumbuh-tumbuhan lain yang hidupnya dalam air (Algae); dan biota perairan lainnya yang terkait dengan jenis-jenis di atas termasuk ikan. Sumberdaya ikan menurut Mallawa (2006) terbagi menjadi dua yaitu ikan konsumsi dan ikan non konsumsi. Ikan konsumsi tersebut terdiri dari ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, udang dan crustacea lainnya, ikan karang konsumsi dan cumi-cumi. Ikan non konsumsi terdiri dari ikan hias dan benih alam komersial. Sumberdaya ikan yang ditangkap oleh alat penangkap ikan, melalui operasi penangkapan ikan, disebut dengan hasil tangkapan. Hasil tangkapan secara umum digunakan sebagai bahan makanan sumber protein (ikan konsumsi). Hasil tangkapan dapat diklasifikasikan berdasarkan habitat asalnya terbagi menjadi dua jenis yaitu hasil tangkapan pelagis dan demersal. Hasil tangkapan pelagis adalah hasil tangkapan sumberdaya ikan yang hidup di bagian atas dan kolom perairan. Menurut Aryadi (2007) sifat sumberdaya ini di habitatnya suka berkelompok, sehingga penyebarannya tidak merata. Selain itu ruayanya jauh dengan olah gerak yang besar. Sumberdaya ikan pelagis juga dapat dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan ukurannya, yaitu ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Contoh ikan pelagis besar adalah cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna mata besar (Thunnus obesus) dan tuna sirip biru (Thunnus maccoyii), sedangkan beberapa ikan yang termasuk ikan pelagis kecil adalah tongkol (Auxis sp.) dan tenggiri (Scomberromorus sp.). 7 Hasil tangkapan demersal merupakan hasil tangkapan sumberdaya ikan yang hidup di dekat atau di dasar perairan. Adapun sifatnya menurut Aryadi (2007), membentuk kelompok yang kecil, penambahan populasinya tidak banyak bervariasi karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang relatif stabil, dan ruaya yang tidak terlalu jauh dengan aktivitas gerak yang relatif rendah. Hasil tangkapan yang termasuk jenis ikan demersal antara lain adalah cucut (Sphyrna sp.), layur (Trichiurus savala), kakap merah (Lutjanus sp.), pari (Dasyatis sp.) dan lainnya. Selain ikan, binatang berkulit lunak dan berkulit keras juga merupakan hasil tangkapan yang penting di Indonesia. Contoh binatang berkulit lunak adalah cumi-cumi yang termasuk jenis cumi dan sotong. Menurut Mallawa (2006) terdapat banyak jenis cumi-cumi di Indonesia namun yang paling banyak tertangkap adalah jenis Loligo edulis. Contoh binantang berkulit keras adalah udang, kepiting dan rajungan; berbagai jenis udang antara lain udang jerbung, udang windu dan udang lainnya. Hasil tangkapan di atas tidak semuanya selalu terdapat di setiap pelabuhan perikanan. Hal itu bergantung kepada keadaan perairan daerah penangkapan ikan dimana ikan tersebut ditangkap yang menentukan jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan, sehingga jenis dan jumlah hasil tangkapan di suatu pelabuhan dapat berbeda dengan pelabuhan lainnya. Tidak semua hasil tangkapan di suatu pelabuhan memiliki nilai jual dan permintaan konsumen yang tinggi. Hasil tangkapan yang memiliki nilai jual dan permintaan konsumen yang tinggi disebut dengan ikan ekonomis penting. Menurut Aryadi (2007), ikan ekonomis penting tersebut memiliki perbedaan pada tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitasnya. Hasil tangkapan yang memiliki tingkat kontinuitas dan jumlah produktifitas yang tinggi dari pada ikan ekomomis penting lainnya disebut dengan komoditas unggulan. Aryadi menambahkan bahwa secara garis besar komoditas unggulan hasil tangkapan dapat dikelompokkan menjadi dua yakni : 1) Komoditas unggulan lokal, yaitu jika komoditas tersebut telah memenuhi kriteria komoditas unggulan, tetapi masih dipasarkan di dalam negeri (lokal), baik dalam bentuk segar maupun telah diolah 8 2) Komoditas unggulan ekspor, yaitu komoditas yang telah memenuhi kriteria komoditas unggulan dan dipasarkan ke luar negeri (ekspor) 2.2 Penanganan dan Mutu Hasil Tangkapan Penanganan hasil tangkapan merupakan segala cara memperlakukan hasil tangkapan untuk menjaga mutu hasil tangkapan. Penanganan dalam usaha penangkapan ikan memegang peran yang sangat penting. Hal tersebut dikarenakan baik dan buruknya penanganan akan mempengaruhi mutu hasil tangkapan yang ditangani. Semakin bagus mutu hasil tangkapan maka harga dan permintaan hasil tangkapan tersebut juga akan semakin bagus. Hasil tangkapan mempunyai karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan komoditas lain, yaitu mudah busuk dan rusak. Penanganan yang semestinya diharapkan mampu membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan, karena mutu hasil tangkapan sebenarnya tidak dapat ditingkatkan lagi. Mutu hasil tangkapan hanya dapat dipertahankan dengan menghentikan metabolisme bakteri yang ada di dalam tubuh hasil tangkapan. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan penyimpanan yang menggunakan es untuk mengurangi degradasi atau penurunan kesegaran fisik hasil tangkapan, mencegah penurunan mutu dan penciutan karena hasil tangkapan mengering (Junianto, 2003). Penanganan hasil tangkapan dimulai dari setelah hasil tangkapan tiba di atas kapal sampai dengan hasil tangkapan didistribusikan, karena proses perubahan mutu hasil tangkapan telah terjadi sejak ikan selesai ditangkap sampai didistribusikan. Ikan ditempatkan di palka kapal, sesampainya di pelabuhan selanjutnya dikeluarkan ke dek sampai dermaga bongkar kemudian dari dermaga tersebut diangkut menuju ke tempat pelelangan ikan (TPI) dan seterusnya sampai pendistribusian ke konsumen (Mulyadi, 2007). Penanganan terhadap hasil tangkapan dapat berupa pencucian, pembersihan, pemotongan, pengklasifikasian, pengolahan, penyimpanan, pemberian bahan lain, pengaturan suhu dan lainnya. Cara penanganan hasil tangkapan baik di atas kapal, di darat, maupun selama pengangkutan dan pendistribusian, serta penanganan selama penjualan dan pengeceran menurut Berita Perikanan Papua (2007) adalah sebagai berikut : 9 1) Penanganan di atas kapal (1) Hasil tangkapan dipisahkan berdasar spesies dan ukuran (2) Hasil tangkapan dibongkar dari kapal atau perahu secara cepat dan higienis agar terhindar dari kenaikan suhu dan bakteri (3) Mencuci hasil tangkapan harus dengan air yang bersih, jangan memakai air dari kolam pelabuhan (4) Hasil tangkapan dimasukkan ke dalam wadah dan diselimuti es curah (5) Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain. (6) Lantai dek kapal dibersihkan sebelum dan sesudah pembongkaran hasil tangkapan dan tidak menggunakan air dari kolam pelabuhan 2) Penanganan di darat (1) Wadah hasil tangkapan segera dinaikkan ke atas lantai dermaga dan langsung diangkut menuju TPI (2) TPI harus bersih dan hasil tangkapan tidak boleh diletakkan langsung di lantai TPI tanpa wadah (3) Setelah hasil tangkapan sampai di TPI hasil tangkapan segera dilelang dan selama proses lelang berjalan suhu hasil tangkapan harus senantiasa terjaga (4) Hasil tangkapan langsung dibawa oleh pemenang lelang 3) Penanganan selama pengangkutan dan pendistribusian (1) Suhu hasil tangkapan harus selalu dijaga dan hasil tangkapan jangan terkena matahari langsung (2) Hasil tangkapan dilapisi dengan es curah, bagian lapisan paling bawah dan paling atas esnya lebih tebal daripada lapisan lainnya (3) Sebaiknya menggunakan mobil bak tertutup yang telah dilengkapi dengan pengatur suhu 4) Penanganan selama penjualan dan pengeceran (1) Hasil tangkapan ditempatkan di wadah khusus dan diusahakan tumpukannya tidak besar dan tinggi karena dapat menyebabkan hasil tangkapan pada lapisan terbawah rusak 10 (2) Sebaiknya hasil tangkapan ditempatkan di dalam wadah yang mampu melindungi hasil tangkapan dari matahari, debu, serangga, binatang dan kotoran (3) Sebaiknya suhu hasil tangkapan selama penjualan dan pengeceran tetap terjaga, bisa dilakukan dengan cara dilapisi es (4) Selain itu hasil tangkapan akan lebih terjamin mutunya jika tidak sering disentuh dengan tangan Agar dapat melakukan penanganan hasil tangkapan dengan baik, diperlukan sarana dan prasarana pelabuhan perikanan yang menunjang keberlangsungan penanganan hasil tangkapan. Adapun sarana dan prasarana pelabuhan perikanan yang dimanfaatkan dalam kegiatan penanganan hasil tangkapan adalah tempat pelelangan ikan (TPI), instalasi air bersih, pabrik es, dermaga, kolam pelabuhan dan lain sebagainya. Jika sarana dan prasarana pelabuhan perikanan tersebut tersedia dalam keadaaan baik, maka penanganan hasil tangkapan dapat berjalan dengan lancar, sehingga mutu hasil tangkapan akan terjaga dengan baik pula. Penilaian mutu hasil tangkapan yang akan ditangani perlu diketahui. Penilaian mutu tersebut menurut Pane (2012) dapat diketahui setidaknya dengan 3 cara yaitu : 1) Pengukuran kadar N dari hasil tangkapan 2) Perhitungan jumlah bakteri yang terkandung di dalam hasil tangkapan 3) Penilaian skala organoleptik dari hasil tangkapan Penilaian skala organoleptik jika dibandingkan dengan kedua cara lainnya memiliki kelebihan yaitu waktu penilaian yang lebih cepat dan biayanya relatif tidak ada, namun kelemahannya yaitu penilaian skala organoleptik bersifat subjektif karena sangat bergantung kepada ketajaman indra dari orang yang melakukan penilaian. Pengujian organoleptik dilakukan dengan berpedoman kepada daftar spesifikasi dan skala nilai skala organoleptik yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi Nasional (Tabel 1): 11 Tabel 1 Daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan Spesifikasi 1. MATA - Cerah, bola mata menonjol, kornea jernih - Cerah bola mata rata, kornea jernih - Agak cerah, bola mata rata, pupil agak keabu-abuan, kornea agak jernih - Bola mata agak cekung, pupil berubah keabu-abuan, kornea agak keruh - Bola mata agak cekung, pupil keabu-abuan, kornea agak keruh - Bola mata cekung, pupil mulai berubah menjadi putih susu, kornea keruh - Bola mata cekung, pupil putih susu, kornea jernih - Bola mata tenggelam, ditutupi lendir kuning yang tebal 2. INSANG - Warna merah cemerlang, tanpa lendir dan bakteri - Warna merah kurang cemerlang, tanpa lendir - Warna merah agak kusam, tanpa lendir - Merah agak kusam, tanpa lendir - Mulai ada kolaborasi merah muda, merah coklat, sedikit lendir - Mulai ada diskolaborasi, sedikit lendir - Perubahan warna merah coklat, lendir tebal - Warna merah coklat atau kelabu, lendir tebal - Warna putih kelabu, lendir tebal sekali 3. DAGING DAN PERUT - Sayatan daging sangat cemerlang, berwarna asli, tidak ada sayatan tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut, dagingnya utuh, bau isi perut segar - Sayatan daging sangat cemerlang, warna asli, tidak ada pemerahan sepanjang tulang belakang, perut utuh, ginjal merah terang, dinding perut, dagingnya masih utuh, bau netral - Sayatan daging cemerlang, warna asli, ada sedikit pemerahan pada sepanjang tulang belakang, perut agak lembek, ginjal merah mulai pudar, bau netral - Daging agak lembek, agak kemerahan pada tulang belakang, perut agak lembek, sedikit bau susu - Sayatan daging mulai pudar, didua perut lembek, banyak pemerahan pada tulang belakang, bau seperti susu - Sayatan daging tidak cemerlang, didua perut lunak, pemerahan sepanjang tulang belakang, rusuk mulai lembek, bau perut sedikit asam - Sayatan daging kusam, warna merah jelas sekali pada sepanjang tulang belakang, dinding perut lunak sekali, bau asam amoniak - Sayatan daging kusam sekali, warna merah jelas sepanjang tulang belakang, dinding perut memudar, bau busuk sekali Nilai Skala 9 8 7 6 5 4 3 1 9 8 7 6 5 4 3 2 1 9 8 7 6 5 4 2 1 12 Lanjutan Tabel 1 Spesifikasi 4. KONSITENSI - Padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek daging dari tulang belakang - Agak padat, elastis bila ditekan dengan jari, sulit menyobek jari dari tulang belakang, kadang-kadang agak lunak sesuai dengan jenisnya - Agak lunak, elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang - Agak lunak, kurang elastis bila ditekan dengan jari, agak mudah menyobek daging dari tulang belakang - Agak lunak, belum ada bekas jari bila ditekan, mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihat bila ditekan tetapi cepat hilang, mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihah lama bila ditekan dan mudah menyobek daging dari tulang belakang - Lunak, bekas jari terlihat lama bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang - Sangat lunak, bekas jari tidak mau hilang bila ditekan, mudah sekali menyobek daging dari tulang belakang Nilai Skala 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Keterangan : 1 sampai 3 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat busuk 4 sampai 5 = hasil tangkapan dalam kondisi busuk 6 sampai 7 = hasil tangkapan dalam kondisi agak baik 8 = hasil tangkapan dalam kondisi baik 9 = hasil tangkapan dalam kondisi sangat baik (prima) Sumber : Standar Penelitian Indonesia Bidang Perikanan, Petunjuk Pengujian Organoleptik, Departemen Pertanian (1984) dan SNI 01.2346.2006 dari Badan Standarisasi Nasional Nilai skala organoleptik dengan skala 9 merupakan nilai untuk hasil tangkapan dengan mutu tertinggi, sedangkan nilai skala organoleptik dengan skala 1 merupakan nilai untuk hasil tangkapan dengan mutu terendah. Berdasarkan hal tersebut diketahui semakin tinggi nilai skala organoleptiknya maka semakin bagus mutu hasil tangkapan tersebut, demikian sebaliknya semakin rendah nilai skala organoleptiknya maka mutu hasil tangkapan tersebut semakin buruk. Menurut Pane (2012) di Indonesia ikan dengan nilai skala organoleptik 9 sampai 6 layak dikonsumsi, sedangkan ikan dengan nilai skala organoleptik 5 sampai 1 tidak layak dikonsumsi. Berbeda dari Indonesia, di Uni Eropa ikan yang layak dikonsumsi adalah ikan dengan nilai skala organoleptik 9 dan 8, ikan dengan nilai skala organoleptik 7 ke bawah tidak layak di konsumsi. 13 Selain menurut nilai skala organoleptik seperti di atas, mutu hasil tangkapan juga dapat diperhatikan berdasarkan ciri-ciri hasil tangkapan yang segar dan yang busuk. Adapun ciri-ciri tersebut menurut Junianto (2003) terdapat pada Tabel 2 berikut ini : Tabel 2 Ciri hasil tangkapan segar dan hasil tangkapan busuk Parameter Hasil Tangkapan Segar Hasil Tangkapan Busuk 1. Tekstur Elastis dan jika ditekan tidak Daging kehilangan elastisitasnya daging ada bekas jari serta padat atau lunak dan jika ditekan maka atau kompak bekas tekanannya lama hilang 2. Mata Pupil hitam menonjol dengan Pupil mata kelabu tertutup lendir kornea jernih, bola mata seperti putih susu, bola mata cembung dan cemerlang atau cekung dan keruh cerah 3. Insang Insang berwarna merah Warna merah coklat sampai cemerlang atau merah tua keabu-abuan dan lendir tebal tanpa adanya lendir 4. Bau Bau segar atau sedikit berbau Bau menusuk seperti asam asetat amis yang lembut dan lama kelamaan menjadi bau busuk yang menusuk hidung 5. Keadaan Perut tidak pecah masih utuh Perut sobek, warna sayatan perut dan dan warna sayatan daging daging kurang cemerlang dan sayatan cemerlang serta jika hasil terdapat warna merah sepanjang daging tangkapan dibelah daging tulang belakang serta jika melekat pada tulang terutama dibelah daging mudah lepas rusuknya 6. Keadaan Warnanya sesuai dengan Warna sudah pudar dan kulit dan aslinya dan cemerlang, lendir memucat, lendir tebal dan dipermukaan jernih dan menggumpal serta lengket, lendir transparan dan baunya khas warnanya berubah seperti putih menurut jenisnya susu Sumber : Junianto 2003 Jika daftar nilai skala organoleptik hasil tangkapan pada Tabel 1 dibandingkan dengan ciri-ciri hasil tangkapan segar dan busuk pada Tabel 2, maka diketahui bahwa ciri-ciri hasil tangkapan segar sesuai dengan nilai skala organoleptik 9, sedangkan ciri-ciri hasil tangkapan busuk mulai terlihat pada nilai skala organoleptik 5. Berdasarkan uraian ini dapat juga disimpulkan bahwa hasil tangkapan yang segar adalah ikan dengan nilai skala organoletik 9, sedangkan ikan yang sudah busuk adalah ikan dengan skala organoleptik 5 sampai dengan 1. 14 2.3 Pendistribusian Hasil Tangkapan “Mengalirkan” hasil tangkapan kepada pihak lain dapat disebut dengan pendistribusian hasil tangkapan, sedangkan pendistribusian menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 01/MEN/2007 vide Departeman Kelautan dan Perikanan (2007) yaitu rangkaian kegiatan penyaluran hasil perikanan dari suatu tempat ke tempat lain dari produksi sampai dengan pemasaran. Menurut Mc Donald (1993) vide Malik (2006), pendistribusian adalah istilah yang biasa digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bagaimana suatu produk atau jasa dibuat secara fisik tersedia bagi konsumen. Pendistribusian meliputi kegiatan pergudangan, transportasi, persediaan, penanganan pesanan dan lain-lain. Pendistribusian hasil tangkapan akan sangat berbeda dengan pendistribusian barang hasil pabrik, dikarenakan hasil tangkapan memiliki sifat dan keadaan khusus yang membuat cara pendistribusiannya berbeda. Ciri-ciri pendistribusian hasil tangkapan menurut Malik (2006) antara lain : 1. Hasil tangkapan sangat bergantung kepada musim dan iklim, sehingga penawarannya tidak stabil sepanjang tahun. Padahal permintaan hasil tangkapan sepanjang tahun relatif stabil karena hasil tangkapan merupakan bahan pangan yang dibutuhkan oleh konsumen 2. Adanya sifat hasil tangkapan yang sesuai dengan musim membuat pendistribusian hasil tangkapan tersebut juga musiman 3. Adanya sistem ijon (pemberian kredit atau modal) oleh pengumpul membuat nelayan harus menjual dan mendistribusikan hasil tangkapannya melalui pengumpul tersebut. 4. Kelembagaan pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari nelayan, pengumpul, perusahaan, grosir dan pedagang eceran. Pengumpul memiliki kedudukan yang paling penting dalam pendistribusian hasil tangkapan Menurut Siregar (1990) vide Aryadi, (2007) ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum terjadinya proses pendistribusian yaitu : 1) Ada muatan yang diangkut (sumberdaya) 2) Tersedianya kendaraan sebagai angkutannya (media transportasi) 3) Ada jalan yang dilalui (jalur pendistribusian) 15 Selain persyaratan, dalam pendistribusian terdapat dua jenis peralatan yang digunakan yakni : 1. Sarana angkutan yaitu berupa peralatan yang dipakai untuk mengangkut barang dan penumpang yang digerakkan oleh mesin motor atau penggerak lainya. 2. Prasarana angkutan yang terdiri dari jalanan (sebagai tempat bergeraknya sarana angkutan) dan terminal (sebagai tempat memberikan pelayanan kepada penumpang dalam perjalanan, barang dalam pengiriman dan kendaraan sebelum maupun sesudah melakukan operasi) Pendistribusian hasil tangkapan terdiri dari beberapa jenis seperti yang dijelaskan oleh Moeljanto (1992) vide Aryadi (2007), pendistribusian hasil tangakapan berdasarkan jalurnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1) Pendistribusian melalui jalur darat Pendistribusian ini menggunakan jalur darat, adapun sarana yang dapat digunakan di jalan darat antara lain gerobak, kereta api, truk terbuka, atau truk bak tertutup dengan pendingin. Komoditas yang melalui jalur ini harus didinginkan sampai suhu 0ºC agar mutunya terjaga. 2) Pendistribusian melalui jalur laut Pendistribusian lewat jalur laut memakai kapal sebagai sarananya. Konstruksi palka kapalnya harus lebih baik karena di laut sering terjadi goncangan, palka yang baik akan melindungi hasil tangkapan dari kehancuran akibat goncangan. 3) Pendistribusian melalui jalur udara Sarana pendistribusian lewat jalur udara adalah pesawat terbang. Sarana ini merupakan sarana pendistribusian yang paling cepat sekaligus paling mahal. Pendistribusian jenis ini cocok untuk mendistribusikan komoditas hasil tangkapan yang mempunyai harga mahal dan memerlukan waktu yang singkat untuk mencapai tujuan. Kegiatan pendistribusian memerlukan daerah sebagai tujuan pendistribusian. Daerah tujuan pendistribusian dapat diartikan sebagai daerah-daerah yang menerima pasokan hasil tangkapan dari pelabuhan perikanan. Daerah tersebut 16 dapat berada di sekitar pelabuhan, ke laur daerah tetapi masih di dalam negara Indonesia dan sampai ke luar negeri. 2.4 Pemetaan Pendistribusian Hasil Tangkapan Menurut Hanafiah dan Saepudin (1986) vide Malik (2006) pemetaan pendistribusian merupakan kegiatan yang meliputi pemetaan wilayah pasar secara geografis. Kegiatan pemetaan ini berguna untuk mengetahui bagaimana nelayan meningkatkan produksi sesuai dengan pemesanan dan permintaan, serta bagaimana keadaan pendistribusian dan cara-cara memperbaikinya dalam menghadapi permintaan dan pesanan. Departemen Perdagangan (1977) vide Darmawan (2006) menyebutkan ada lima jenis pemetaan di dalam kegiatan pendistribusian yaitu : 1) Pemetaan wilayah pasar (market areas mapping) Langkah pertama yang dapat memberikan gambaran struktur geografis dalam pendistribusian adalah pembuatan peta (map) yang dapat menggambarkan secara jelas mengenai batas-batas geografisnya. Secara ideal suatu wilayah dapat dibagi-bagi kedalam struktur geografis yang menunjukkan luas areal supply untuk semua ukuran dari barang yang didistribusikan. Peta ini digunakan untuk merencanakan areal penjualan dan melihat kemungkinan proses pengolahan. 2) Pemetaan kuantitatif (quantified mapping) Pemetaan kuantitatif berfungsi untuk mengetahui berapa banyak, dari mana dan kemana hasil tangkapan dijual. Data kuantitatif dapat ditambahkan kedalam peta wilayah pasar geografis yang telah dibuat. Membandingkan peta untuk waktu yang berbeda dalam satu tahun akan menunjukkan pola musiman pendistribusian, sedangkan jika membandingkan peta untuk tahun yang berbeda akan menunjukkan indikasi peningkatan atau penurunan pendistribusian di suatu pasar. 3) Pemetaan harga (price mapping) Pemetaan harga berguna dalam perbaikan efisiensi pemasaran, selain itu komoditas pendistribusian hasil tangkapan biasanya tidak sama satuan dan kualitasnya, sehingga sangat perlu mencatat satuan dan kualitas yang disesuaikan dengan harga. Membandingkan peta harga pada waktu yang berbeda bertujuan untuk mengetahui perubahan dalam struktur harga. 17 4) Pemetaan kualitas (quality mapping) Berdasarkan kualitas hasil tangkapan dapat dipetakan daerah pasar tujuan pendistribusian suatu hasil tangkapan. Pemetaan ini dapat menunjukkan kecendrungan permintaan dan daya beli suatu daerah terhadap hasil tangkapan yang didistribusikan. Peta kualitas akan sangat membantu dalam memprediksi dan menggambarkan permintaan konsumen dan trend konsumsi komoditi perikanan. 5) Skema arus barang niaga (commodity flow chart) Merupakan bagan alir kegiatan pendistribusian hasil tangkapan yang menunjukkan jalur pendistribusian serta komponen yang terlibat dalam proses pendistribusian hasil tangkapan dari produsen sampai ke konsumen. Pada peta ini digambarkan secara jelas struktur kelembagaan atau organisasi dari kegiatan pendistribusian hasil tangkapan. Tujuannya adalah untuk melihat saluran atau pola pendistribusian mana yang memungkinkan kegiatan pendistribusian yang paling efisien. 2.5 Pelabuhan Perikanan Berdasarkan Departemen Kelautan dan Perikanan (2010) pada pasal 41 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia No 45 tahun 2009 tentang Perikanan, pelabuhan perikanan dalam mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan dan lingkungannya, pelabuhan perikanan berfungsi sebagai : 1) Pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan 2) Pelayanan bongkar muat 3) Pelayanan pembinaan mutu dan pengolahan hasil perikanan 4) Pemasaran dan distribusi ikan 5) Pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan 6) Tempat pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan 7) Pelaksanaan kegiatan operasional kapal perikanan 8) Tempat pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan 9) Pelaksanaan kesyahbandaran 10) Tempat pelaksanaan fungsi karantina ikan 18 11) Publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan dan kapal pengawas kapal perikanan 12) Tempat publikasi hasil riset kelautan dan perikanan 13) Pemantauan wilayan pesisir dan wisata bahari 14) Pengendalian lingkungan Menurut Lubis (2006), salah satu fungsi pelabuhan yaitu sebagai kepentingan komersil. Fungsi ini timbul karena pelabuhan perikanan sebagai tempat awal untuk mempersiapkan pendistribusian produk hasil tangkapan melalui transaksi pelelangan hasil tangkapan. Selanjutnya pedagang atau bakul hasil tangkapan akan mengambil hasil tangkapan yang telah dilelang atau dibeli secara cepat dan diberi es untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan tersebut. Para pedagang atau bakul hasil tangkapan tersebut lalu mendistribusikan hasil tangkapan dalam bentuk segar dengan menggunakan truk, mobil bak terbuka yang dilapisi styrofoam, atau mobil yang dilengkapi dengan alat pendingin. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER. 16/MEN/2006 vide Departemen Kelautan dan Perikanan (2006) menyatakan bahwa klasifikasi pelabuhan perikanan dibagi menjadi empat yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) atau tipe A, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) atau tipe B, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) atau tipe C dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) atau tipe D. Klasifikasi tersebut didasarkan kepada kriteria pada Tabel 3. Beberapa contoh pelabuhan perikanan yang terdapat di Indonesia berdasarkan klasifikasi tersebut adalah : 1. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) : PPS Nizam Zachman Jakarta, PPS Bungus, PPS Belawan, PPS Cilacap dan PPS Kendari 2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) : PPN Palabuhanratu, PPN Sibolga, PPN Pekalongan dan PPN Brondong 3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) : PPP Muncar, PPP Blanakan, PPP Bojomulyo dan PPP tasik Agung 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) : PPI Cisolok, PPI Cituis, PPI Muara Angke dan PPI Jetis 19 Tabel 3 Kriteria tipe pelabuhan perikanan di Indonesia Pelabuhan Kriteria Perikanan 1. Samudera (A) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut Teritorial, Zona Ekonomi Eksklusif dan laut lepas b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 60 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 300 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 100 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 6.000 GT kapal perikanan sekaligus e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor f. Terdapat industri perikanan 2. Nusantara (B) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di laut Teritorial dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 30 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 150 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 3 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 75 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 2.250 GT kapal perikanan sekaligus e. Hasil tangkapan yang didaratkan sebagian untuk ekspor 3. Pantai (C) a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan pedalaman, perairan kepulauan dan laut Teritorial b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 10 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 100 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 30 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 300 GT kapal perikanan sekaligus 4. Pangkalan a. Melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan Pendaratan Ikan perikanan di perairan pedalaman dan perairan (D) kepulauan b. Memiliki fasilitas tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran sekurang-kurangnya 3 GT c. Panjang dermaga sekurang-kurangnya 50 m, kedalaman kolam sekurang-kurangnya minus 2 m d. Mampu menampung sekurang-kurangnya 20 kapal perikanan atau jumlah keseluruhan sekurang-kurangnya 60 GT kapal perikanan sekaligus Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan (2006) 20 2.6 Analisis Pengujian Perbedaan Mutu Hasil Tangkapan : Mann-Whitney Test dan Kruskal Wallis Test Santoso (1999) menjelaskan mengenai statistika seperti penjelasan di bawah ini. Statistika dalam praktek berhubungan dengan banyak angka, sehingga statistika sering diasosiasikan dengan sekumpulan data. Statistika dipakai untuk melakukan berbagai analisis terhadap data seperti peramalan, pengujian dan lainnya. Statistika terbagi menjadi dua berdasarkan karakteristik datanya yaitu : 1) Statistika parametrik Statistika parametrik dipakai untuk menganalisis data yang berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Statistika parametrik dapat berupa ratarata/mean, median, standar deviasi, varians, t-test, f-test dan lainnya. 2) Statistika non parametrik. Statistika non parametrik dipakai untuk menganalisis data yang jumlahnya sedikit, berupa data kategori atau berasal dari populasi data yang tidak normal. Statistika non parametrik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan statistika parametrik yaitu : (1) Tidak mengharuskan data berdistribusi normal, karena itu statistika ini sering juga dinamakan uji distribusi bebas (distribution free test), dengan demikian statistika ini dapat dipakai untuk semua bentuk distribusi data dan lebih luas penggunaannya (2) Dapat dipakai untuk level data seperti nominal dan ordinal. Hal ini penting bagi para peneliti sosial (3) Cenderung lebih sederhana dan mudah dimengerti daripada pengerjaan statistika parametrik Disamping kelebihan di atas, statistika non parametrik juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu tidak adanya sistematika yang jelas seperti statistika parametrik dan tabel yang yang dipakai lebih bervariasi dibandingkan tabel-tabel standar pada statistika parametrik. Berikut ini adalah beberapa statistika non parametrik yang dapat digunakan pada software SPSS (Statistical Product and Service Solutions) pada Tabel 4 berikut ini : 21 Tabel 4 Jenis aplikasi statistika parametrik dan non parametrik berdasarkan hubungan sampel Test Aplikasi Test Non Parametrik Parametrik 1. Dua sampel saling berhubungan t-test Sign test (Two Dependent Sampels) z-tes Wilcoxon Signed-Rank Mc Nemar Change test 2. Dua sampel tidak berhubungan t-test Mann-Whitney U test (Two Independent Sampel) z-tes Moses Extreme reactions Chi-Square test Kolmogorov-Smirnov test Walt-Wolfowitz runs 3. Beberapa sampel berhubungan Friedman test (Several Dependent Sampels) Kendall W test Cochran’s Q 4. Beberapa sampel tidak ANOVA Kruskal-Wallis test berhubungan test Chi Square test (Several Independent Sampel) (f-test) Median test Sumber : Santoso (1999) 1) Mann-Whitney test Menurut Santoso (1999) analisis statistika menggunakan Mann-Whitney test digunakan untuk membandingkan dua data independent atau data yang tidak berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat bebas dan tidak saling terikat satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :  Buka software SPSS  Buka lembar kerja baru  Membuat dan member nama variabel sesuai data  Mengisi data sesuai dengan variabelnya  Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define group, test type mann-whitney dan oke  Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika  Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0) 2) Kruskal Wallis test Santoso (1999) menyatakan bahwa analisis statistika menggunakan Kruskal Wallis test digunakan untuk membandingkan tiga atau lebih data independent atau data yang tidak saling berhubungan. Data pada sampel yang diambil bersifat 22 bebas dan tidak saling terkait satu dengan lainnya. Analisis ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :  Buka software SPSS  Buka lembar kerja baru  Membuat dan member nama variabel sesuai data  Mengisi data sesuai dengan variabelnya  Memilih menu statistika, nonparametrik test, grouping variabel, define group, test type kruskal-wallis dan oke  Merangkum dan menganalisis hasil pengujian statistika  Mengambil keputusan (terima H0 atau tolak H0) 2.7 Analisis Finansial Menurut Kadariah (1988) terdapat dua jenis analisis biaya yaitu analisis finansial dan analisis ekonomi. Analisis finansial merupakan analisis biaya yang dilihat dari sudut penanam modal, sedangkan analisis ekonomi dilihat dari sudut perekonomian secara keseluruhan. Pada analisis finansial terdapat dua jenis pengeluaran yaitu pengeluaran untuk barang investasi dan biaya untuk produksi. Biaya produksi menurut Rosyidi (2009) merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha untuk dapat menghasilkan produk atau semua nilai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk. Biaya produksi ini terbagi atas tiga jenis yaitu : 1. Biaya tetap/fixed cost (FC) Biaya tetap merupakan biaya yang tidak dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang tidak berubah walaupun jumlah produk yang dihasilkan berubah. Biaya ini tetap harus dikeluarkan atau dibayarkan walaupun tidak ada produk yang dihasilkan. Contoh dari biaya tetap adalah sewa, asuransi, biaya pemeliharaan, biaya penyusutan, bagi hasil, gaji, pajak dan alat tulis kantor. 2. Biaya variabel/variabel cost (VC) Biaya variabel merupakan biaya yang dipengaruhi oleh jumlah produk yang dihasilkan atau biaya yang berubah sesuai dan searah dengan perubahan jumlah produk. Biaya ini tidak dikeluarkan atau dibayarkan jika tidak ada produk yang 23 dihasilkan. Contoh dari biaya variabel adalah bahan mentah atau bahan baku, bahan bakar, penggunaan listrik, penggunaan air dan pengangkutan. 3. Biaya total/total cost (TC) Biaya total merupakan keseluruhan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pengusaha, sehingga biaya ini adalah hasil penjumlahan dari biaya tetap dengan biaya variabel. Penyusutan merupakan pengalokasian investasi setiap tahun sepanjang umur ekomomis proyek atau kegiatan untuk memastikan modal terhitung dalam neraca rugi laba tahunan (Kadariah, 1988). Standar Akuntansi Keuangan (2007) vide (Nurlaelani, 2011) mendefinisikan penyusutan sebagai alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang disetimasi. Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokan sebagai berikut (Nurlaelani, 2011): 1) Metode aktivitas (Activity Method) Metode aktivitas (activity method) juga disebut pendekatan beban variabel, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas bukan dari berlalunya waktu. 2) Metode Garis Lurus (Straight Line Method) Metode garis lurus mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan fungsi dari penggunaan. 3) Metode Beban Menurun (Decreasing Charge Method) Metode beban menurun (Decreasing Charge Method) yang seringkali disebut metode penyusutan dipercepat menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang. Metode ini terbagi dua yaitu :  Metode Jumlah Angka Tahun (Sum Of The Year Digits) adalah yang menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan.  Metode Saldo Menurun adalah metode yang menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus. 24 4) Metode Penyusutan Khusus  Metode Kelompok dan Gabungan merupakan metode dimana beberapa akun aktiva seringkali disusutkan dengan satu tarif. Metode kelompok sering digunakan apabila aktiva bersangkutan cukup homogen dan memiliki masa manfaat yang hampir sama. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda.  Metode Campuran atau Kombinasi dimana selain metode penyusutan diatas, perusahaan bebas mengembangkan metode penyusutan sendiri yang khusus atau dibuat khusus. 25 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian lapang dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2010 dengan tempat penelitian di PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat (Lampiran 1). 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer hasil kuesioner, data sekunder yang berhubungan dengan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, peta dunia dan peta Jawa Barat.. Alat yang dipakai adalah kuesioner untuk wawancara, Microsoft Office Excel untuk membuat tabel dan diagram, Adobe Ilustrator 10 dan Corel Draw X4 sebagai pembuat peta, serta Minitab Solution untuk pengujian normalitas data dan SPSS 12 untuk analisis statistika. 3.3 Metode Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kasus yaitu dengan mengamati dan mengkaji dua aspek yaitu penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan aspek tersebut ingin diketahui data dan informasi mengenai kondisi terkini dan sekaligus mendapatkan permasalahanpermasalahan yang dihadapi oleh PPN Palabuhanratu. Informasi dan permasalahan yang diperoleh digunakan sebagai masukan dalam perbaikan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Data atau informasi yang ingin diketahui mengenai penanganan hasil tangkapan yaitu sarana dan prasarana penanganan, cara penanganan, pelaku penanganan dan biaya penanganan, sedangkan informasi yang ingin diketahui mengenai pendistribusian hasil tangkapan yaitu jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, sarana dan prasarana pendistribusian, cara pendistribusian, pelaku pendistribusian, alur pendistribusian, daerah tujuan pendistribusian dan biaya pendistribusian. Untuk mendapatkan hal-hal tersebut dilakukan pengamatan, wawancara dan pengumpulan data sekunder. 26 1) Pengamatan yang dilakukan pada saat penelitian di lapangan adalah : (1) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pendaratan terhadap sarana dan prasarana, alat dan bahan, pelaku dan cara penanganan serta masalah dalam kegiatan tersebut. (2) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pedagang pengumpul. Hal yang diamati dan dicatat adalah sarana dan prasarana yang digunakan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, cara penanganan dan masalah yang terjadi pada kegiatan tersebut. (3) Pengamatan aktivitas penanganan di tempat pedagang pengecer. Hal yang diamati dan dicatat adalah sarana dan prasarana yang digunakan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, cara penanganan dan masalah yang terjadi pada kegiatan tersebut. (4) Pengamatan dengan uji organoleptik, dilakukan terhadap contoh hasil tangkapan yang diambil dengan cara purposive sampling yaitu empat jenis hasil tangkapan dominan dari sisi volume maupun harga yang didaratkan di PPN Palabuhanratu yaitu layur (Trichiurus savala), tongkol (Auxis sp.), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tuna-tuna kecil atau tuna baby (Thunnus sp.). Pengamatan dilakukan di dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu. Diasumsikan bahwa ikan yang diuji organoleptik di tempat pendaratan dan pedagang pengecer berasal dari tempat dan waktu pendaratan yang sama. Pada masing-masing tempat diambil 75 ekor ikan sebagai sampel dengan 5 kali pengulangan, sehingga total sampel ikan yang diamati adalah 600 ekor. Pengamatan organoleptik yang dilakukan yaitu pengamatan mata, insang dan konsistensi (elastisitas kulit dan daging ikan). Pengamatan terhadap daging dan isi perut tidak dilakukan dikarenakan keterbatasan dana penelitian. (5)Pengamatan terhadap cara pendistribusian hasil tangkapan, pelaku pendistribusian, sarana dan prasarana pendistribusian serta jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan 27 2) Wawancara Wawancara yang dilakukan pada saat penelitian ini menggunakan kuesioner kepada pihak-pihak terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yaitu nelayan, pedagang, pengelola TPI, perusahaan penanganan dan pengelola PPN Palabuhanratu. Pemilihan jumlah responden dilakukan dengan metode purposive sampling {jumlah responden ditentukan dan diambil secara sengaja dan secara prinsip jawaban-jawaban responden mengumpul di sekitar nilai rata-rata sehingga diperkirakan dapat mencapai tujuan penelitian Pane (2012)}. Jumlah responden dan hal-hal yang ingin diketahui dari masing-masing responden yaitu : (1) Lima belas orang nelayan yang diambil dari tiga nelayan payang, tiga nelayan pancing rumpon, tiga nelayan rawai layur, tiga nelayan longline dan tiga nelayan bagan. Hal yang ingin diketahui yaitu cara penanganan yang dilakukan (di atas kapal dan di tempat pendaratan), alat dan bahan yang digunakan untuk penanganan, besaran biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan, komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, sarana dan prasarana pendistribusian, cara pendistribusian, alur pendistribusian, biaya pendistribusian dan kendala yang dihadapi terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan (2) Lima orang pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu, dengan informasi yang ingin didapat yaitu jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang ditangani, harga beli hasil tangkapan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan, biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan dan pendistribusian, komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan, daerah tujuan pendistribusian dan kendala yang dihadapi. (3) Lima orang pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu. Informasi yang ingin didapat yaitu alat dan bahan penjualan hasil tangkapan, adakah penanganan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan hasil tangkapan, siapa konsumennya, biaya yang dikeluarkan dan kendala yang dihadapi. (4) Satu orang pengelola TPI, untuk mengetahui adakah penanganan hasil tangkapan selama di TPI, cara penanganan, alat dan bahan penanganan, pelaku penanganan, besar biaya penanganan yang dilakukan di TPI dan kendala yang dihadapi. 28 (5) Dua orang responden dari perusahaan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan. Perusahaan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang terdapat di PPN Palabuhanratu adalah perusahaan penanganan dan pendistribusian layur (PT Agro Global Bisnis), perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna (PT Tuna Tunas Mekar, PT Jaya Mitra dan PT Karya Maju). Informasi yang ingin didapat yaitu jenis hasil tangkapan yang ditangani dan didistribusikan, cara penanganan dan pendistribusian, alat dan bahan penanganan dan pendistribusian, prasarana dan sarana pelabuhan yang digunakan untuk penanganan dan pendistribusian, biaya yang dikeluarkan dalam penanganan dan pendistribusian, daerah tujuan pendistribusian dan kendala yang dihadapi. (6) Dua orang pengelola pelabuhan, untuk mengetahui prasarana dan sarana apa yang disediakan pelabuhan untuk melakukan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan, biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas penanganan dan pendistribusian, program terkait penanganan dan pendistribusian, serta kendala yang dihadapi. (7) Dua orang dari Laboratorium Bina Mutu (LBM). Hal yang ingin diketahui adalah tugas, cara pengujian, alat pengujian dan hasil pengujian. 3) Pengumpulan data sekunder Data sekunder didapatkan dari pengelola PPN Palabuhanratu, Dinas Kelautan dan Perikanan Palabuhanratu, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi dan pengelola perusahaan penanganan. Data yang dikumpulkan selama penelitian terdiri dari data utama dan tambahan yaitu : (1) Data utama 1. Data Primer  Alat dan bahan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Cara penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Pelaku penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Alur pendistribusian hasil tangkapan  Daerah tujuan pendistribusian hasil tangkapan  Biaya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan  Nilai uji organoleptik 29 2. Data Sekunder  Kabupaten Sukabumi dalam angka  Laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Palabuhanratu  Hasil tangkapan bulanan lima tahun terakhir  Komposisi dan jumlah alat penangkap ikan  Daerah tujuan pendistribusian hasil tangkapan  Jumlah dan komposisi hasil tangkapan yang didistribusikan  Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan lokal, luar daerah dan ekspor  Daftar sarana dan prasarana pelabuhan (2) Data tambahan 1. Data primer yaitu keadaaan fasilitas pelabuhan 2. Data sekunder yaitu letak geografis PPN Palabuhanratu dan Kabupaten Sukabumi 3.4 Analisis Data Untuk mengetahui keadaan penanganan hasil tangkapan yang terjadi di PPN Palabuhanratu baik di tempat pendaratan, di tempat pedagang pengumpul maupun di tempat pedagang pengecer dilakukan analisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel, gambar dan diagram. Data yang digunakan dalam analisis adalah data primer berupa ada atau tidaknya penanganan, hasil tangkapan yang ditangani, pelaku penanganan, cara penanganan, alat dan bahan penanganan. Data yang berupa aktivitas serta karakteristik hasil tangkapan dideskripsikan menjadi gambaran penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Analisis volume dan kondisi hasil tangkapan dilakukan secara deskriptif dengan data sekunder maupun hasil pengamatan langsung terhadap hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu. Analisis data sekunder yaitu analisis persentase volume hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan persentase hasil tangkapan yang didistribusikan. Analisis dengan data hasil pengamatan langsung dilakukan berdasarkan pengukuran organoleptik dengan numerial scoring system (skor dengan angka). Data sajian nilai skala organoleptik berupa kisaran dan rata-rata dengan Microsoft Office Excel. 30 Hasil pengukuran organoleptik dianalisis secara statistika dengan memakai Software Minitab Solution dan SPSS 12 untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan di antara pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer dan diantara jenis hasil tangkapan yang diuji. Analisis dilakukan dengan langkah sebagai berikut : 1. Pengelompokan data sesuai jenis hasil tangkapan, kategori pengujian dan tempat pengujian (Lampiran 4 sampai 11). Jenis hasil tangkapan meliputi tunatuna kecil, tongkol, layur dan cakalang. Kategori pengujian terdiri dari mata, insang dan konsistensi. Pengujian dilakukan di dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. 2. Pengujian normalitas dan transformasi data dengan Minitab Solution untuk mengetahui apakah data menyebar normal atau tidak. Jika data membentuk kurva miring dari kiri ke kanan maka data menyebar normal dan jika tidak maka data menyebar tidak normal. Jika data menyebar normal maka data dianalisis menggunakan statistika parametrik, namun jika data menyebar tidak normal maka data dianalisis menggunakan statistika non parametrik. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa semua data menyebar tidak normal, sehingga semua data dianalisis menggunakan statistika non parametrik. Terdapat dua analisis statistika non parametrik yang digunakan yaitu analisis statistika Mann-Whitney test yang digunakan untuk perbandingan antar dua data independent dan analisis Kruskal Wallis test yang digunakan untuk perbandingan dua, tiga atau lebih data independent. 3. Analisis statistika non parametrik untuk perbandingan hasil pengujian organoleptik antara di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer untuk setiap jenis hasil tangkapan dan untuk keseluruhan sampel dilakukan menggunakan Mann-Whitney test dengan software SPSS 12. Hal ini karena membandingkan dua data independent yaitu data hasil uji organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan data hasil uji organoleptik hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik hasil tangkapan yang nyata diantara kedua tempat tersebut. Hasil analisis dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel (Lampiran 12 sampai 16). Jika dari hasil analisis 31 didapatkan asymp sig ≥ 0,05 berarti tidak terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata antara hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer. Jika berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai asymp sig < 0,05 dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata antara hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hasil tangkapan yang memiliki nilai mean rank lebih tinggi artinya memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang lebih tinggi daripada hasil tangkapan lainnya. Semakin jauh perbedaan mean rank hasil tangkapan maka semakin jauh perbedaan nilai skala organoleptik atau mutunya. 4. Analisis statistika perbandingan antar jenis hasil tangkapan (layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang) menggunakan Kruskal Wallis test dengan software SPSS 12. Hal ini karena pada analisis ini yang akan dibandingkan adalah empat data independent yaitu data hasil uji organoleptik layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata diantara keempat jenis hasil tangkapan tersebut. Analisis ini akan dilakukan terhadap dua tempat yaitu di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis statistika dengan SPSS 12 dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel (Lampiran 17 dan 18). Jika nilai asymp sig hasil pengujian ≥ 0,05 artinya tidak terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara jenis hasil tangkapan yang dibandingkan. Tetapi jika nilai asymp sig hasil pengujian < 0,05 artinya terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara jenis hasil tangkapan yang dibandingkan. Hasil tangkapan dengan nilai mean rank yang lebih tinggi memiliki arti nilai skala organoleptik atau mutunya lebih tinggi dibandingkan hasil tangkapan lainnya. Semakin besar selisih perbedaan nilai mean rank antara hasil tangkapan berarti semakin besar selisih nilai skala organoleptik atau mutunya. 5. Kemudian dilakukan uji lanjutan terhadap hasil butir 4 di atas berupa pemberian peringkat dan perhitungan secara manual. Hasil analisis statistika uji lanjutan dibuat ke dalam bentuk tabel dengan Microsoft Office Excel 32 (Lampiran 19 sampai dengan 26). Berikut ini adalah rumus yang digunakan dalam uji lanjutan : 2 N N  1  1 N 2 S   R ( X j )   N 1  4  2  k Rj N N  1     nj 4   2 Rj Rj ' 2 N 1    t   S  , N k  nj nj ' N k  2 2  2 1 S2 ` 2 1 1  artinya tolak H0 (beda nyata) nj nj ' Keterangan : j = kelompok jenis ikan 1 j′ = kelompok jenis ikan 2 N = jumlah keseluruhan sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok kenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(X)² = jumlah kuardrat rank sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 Sumber : Lawry (1999) Untuk mendapatkan gambaran keadaan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke daerah-daerah tujuan pendistribusiannya dilakukan analisis secara deskriptif dan info geografis dengan menggunakan tabel, diagram, gambar dan peta. Tabel, diagram, gambar dan peta tesebut digunakan untuk mengetahui keadaan terkini pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dan memetakan pendistribusian hasil tangakapan dari PPN Palabuhanratu. Berdasarkan sub bab 2.5 terdapat lima jenis pemetaan dalam kegiatan pendistribusian. Pada penelitian ini dilakukan pemetaan kuantitatif dan skema arus barang niaga untuk kegiatan pendistribusian. Pemetaan kuantitatif berfungsi menjelaskan berapa banyak, dari mana dan kemana hasil tangkapan didistribusikan. Skema arus barang niaga untuk menunjukkan jalur dan pelaku pendistribusian hasil tangkapan tersebut. Data yang digunakan dalam analisis adalah data primer (cara pendistribusian, alat dan bahan pendistribusian, pelaku pendistribusian dan alur pendistribusian) dan data sekunder (jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan 33 dan daerah tujuan pendistribusian). Analisis data sekunder yaitu analisis persentase volume hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan persentase hasil tangkapan yang didistribusikan ke luar PPN Palabuhanratu menuju hinterland. Pembuatan analisis deskriptif dalam bentuk pemetaan dibantu tiga software agar lebih informatif yaitu Microsoft Office Excel, Adobe Ilustrator 10 dan Corel Draw X4. Biaya yang dikeluarkan oleh perikanan pancing rumpon pada skripsi ini dihitung berdasarkan analisis finansial (Lampiran 27 sampai dengan Lampian 38. Analisis ini akan mengkaji beberapa hal yaitu biaya yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan hasil tangkapan dan untuk melakukan pendistribusian hasil tangkapan. Pada analisis finansial pengeluaran untuk penanganan dan pendistribusian dibedakan menjadi dua yaitu investasi dan biaya produksi. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Pane selaku dosen pembimbing ditambahkan pinjaman dalam analisis ini karena dalam memulai, melanjutkan atau mempertahankan usaha terkadang dilakukan peminjaman dana. Biaya produksi tersebut terdiri dari biaya tetap, biaya variabel dan biaya total. Biaya total dihitung dengan rumus sebagai berikut : TC = TFC + TVC Keterangan : TC = total cost/biaya total TFC = total fixed cost/jumlah biaya tetap TVC = total variabel cost/jumlah biaya variabel Sumber : Rosyidi (2009) Perhitungan biaya penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 2.4 metode garis lurus dihitung konstan sepanjang umur teknis barang investasi. Perhitungan penyusutan dilakukan dengan rumus : Biaya penyusutan = Nilai investasi awal : umur teknis Kerangka pemikiran penelitian yang dilakukan oleh peneliti secara ringkas ditampilkan pada Gambar 1 : 34 a. Ada atau tidaknya penanganan b. Tempat dan cara penanganan c. Bahan dan alat penanganan d. Pelaku penanganan e. Nilai skala organoleptik f. Ada atau tidak pengawasan mutu oleh pengelola PPN Palabuhanratu dan bentuknya a. Ada atau tidaknya pendistribusian b. Produk yang didistribusikan dan jumlahnya c. Cara pendistribusian d. Bahan dan alat pendistribusian e. Pelaku pendistribusian f. Daerah tujuan pendistribusian a. Biaya pengadaan alat b. Biaya pengadaan bahan c. Biaya penyusutan alat d. Biaya upah karyawan e. Biaya lainnya f. Siapa yang mengeluarkan biaya tersebut Metode penelitian : a. Wawancara (nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul, pedagang pengecer dan pengelola PPN Palabuhanratu) b. Pengamatan terhadap proses penanganan hasil tangkapan c. Pengujian organoleptik (ikan tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) d. Pengambilan data sekunder dari pengelola PPN Palabuhanratu Analisis data : a. Deskriptif \menggunakan tabel, gambar dan diagram b. Untuk data organoleptik  Rata-rata dan kisaran  Uji normalitas  SPSS Mann Wihtney  SPSS Kurskal Wallis dengan uji lanjutan Metode penelitian : a. Wawancara (nelayan, pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul) b. Pengamatan terhadap proses pendistribusian hasil tangkapan c. Pengambilan data sekunder dari pengelola PPN Palabuhanratu Analisis data : a. Deskriptif menggunakan tabel, gambar, diagram dan peta b. Diagram alir pendistribusian c. Pemetaan berdasarkan jenis hasil tangkapan yang didistribusikan d. Pemetaan berdasarkan tujuan pendistribusian e. Pementaan pendistribusian hasil olahan asin dan pindang Metode penelitian : a. Wawancara kepada nelayan, pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul, pedagang pengecer dan pengelola PPN Palabuhanratu b. Pengamatan terhadap alat dan bahan penanganan hasil tangkapan c. Pengamatan terhadap alat dan bahan pendistribusian hasil tangkapan Analisis data : Menggunakan analisis finansial yang terdiri dari : a. Tabel biaya untuk investasi b. Tabel biaya produksi  Biaya tetap  Biaya variabel  Biaya total Mengetahui kondisi penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Mengetahui gambaran kegiatan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Mendapatkan besaran biaya penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Input Proses Mendapatkan besaran biaya pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu Output Gambar 1 Kerangka penelitian Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu 34 35 4 KEADAAN UMUM 4.1 Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi Keadaan umum daerah Kabupaten Sukabumi dikemukakan dalam sub bab 4.1.1 sampai dengan 4.1.3 di bawah ini meliputi keadaan geografis dan topografis, kependudukan, keadaan prasaranan umum, keadaan pemerintahan dan keadaan perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi. 4.1.1 Keadaan geografis dan topografis Kabupaten Sukabumi berada di wilayah Propinsi Jawa Barat dengan jarak tempuh 96 km dari ibukota Propinsi Jawa Barat (Bandung) dan 119 km dari ibukota negara (Jakarta). Secara geografis wilayah Kabupaten Sukabumi terletak diantara 60 57` - 70 25` LS dan 1060 49` - 1070 00` BT dan mempunyai luas daerah 4.128 km2 atau 14,39% dari luas Jawa Barat atau 3,01% dari luas Pulau Jawa (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a) Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi menyatakan bahwa Kabupaten Sukabumi berbatasan dengan beberapa kabupaten lain di Jawa Barat dan ada bagian yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia yaitu : 1) Sebelah Utara : Kabupaten Bogor, 2) Sebelah Selatan : Samudera Indonesia, 3) Sebelah Barat : Kabupaten Lebak dan Samudera Indonesia, 4) Sebelah Timur : Kabupaten Cianjur. Kabupaten Sukabumi adalah daerah yang beriklim tropis dengan suhu udara berkisar antara 20º-30º C, kelembaban udara 85% - 89% dan curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.805 mm dengan hari hujan 144 hari. Curah hujan antara 3.0004.000 mm/tahun terdapat di daerah utara, sedangkan curah hujan antara 2.0003.000 mm/tahun terdapat di daerah bagian tengah sampai selatan Kabupaten Sukabumi (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b). Curah hujan di atas adalah penting bagi persediaan air tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber air bagi penduduk di kabupaten ini. Sungai yang mengalir di daerah Kabupaten Sukabumi antara lain Sungai Cipelang, Citatih, Citarik, Cibodas, Cidadap, Ciletuh, Cikarang, Cikaso, Cibuni serta Sungai 36 Cimandiri dan anak sungainya. Sumber-sumber air asal sungai tersebut banyak digunakan masyarakat untuk mengairi lahan pertaniannya, mengairi kolam, keperluan hidup dan untuk keperluan usaha lainnya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Selanjutnya BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) menjelaskan mengenai keadaan topografis Kabupaten Sukabumi yaitu bentuk topografi wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya meliputi dataran rendah dengan beberapa bukit kecil di daerah bagian selatan dan barat. Daerah ini sangat cocok dikembangkan menjadi daerah perkotaan. Selain itu daerah ini merupakan daerah yang memiliki pantai karena berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Keadaan yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia membuat daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi perikanan tangkap yang baik, dengan jangkauan daerah penangkapan yang luas. Sebagian besar daerah pantai di Kabupaten Sukabumi membentuk teluk yang menyebabkan daerah tersebut terlindung dari gelombang laut Samudera Indonesia yang cukup besar sehingga keberadaan PPN Palabuhanratu sebagai sentral kegiatan perikanan tangkap pada saat ini sudah sangat sesuai dengan kondisi geografi pantai berupa teluk tersebut. Daerah Kabupaten Sukabumi juga terdiri dari daerah yang bergunung di daerah bagian utara dan tengah (Gunung Salak dengan ketinggian 2.211 m dan Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 m). Adanya daerah pegunungan ini membuat jalur transportasi ke dan dari ibu kota negara (Jakarta) dan sekitarnya harus melalui pegunungan tersebut. Hal ini membuat jalur yang dilalui merupakan tanjakan dan turunan yang cukup tajam, sehingga perjalanan tidak bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi dan memakan waktu yang cukup lama. Produk perikanan merupakan produk yang sangat rentan terhadap pembusukan dan kerusakan, sehingga dalam pendistribusian melalui jalur seperti di atas distributor harus sangat memperhatikan kemasan dan suhu produk perikanan yang didistribusikan. Adanya bentuk topografis yang beragam itu membuat Kabupaten Sukabumi memiliki pariwisata yang beragam pula seperti wisata bahari, arung jeram dan perkebunan. Wisata bahari di Kabupaten Sukabumi dapat berupa pantai berpasir, karang, memancing, surfing dan wisata makanan hasil perikanan. Pariwisata yang 37 menjanjikan tersebut membuat banyak didirikannya penginapan dan restoran di sepanjang pantai di Kabupaten Sukabumi. 4.1.2 Keadaan penduduk, pendidikan dan rumah tangga perikanan 1) Penduduk Jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi yang tercatat dalam laporan BPS Kabupaten Sukabumi tahun 2009 mencapai 2.328.804 orang yang terdiri atas 1.185.833 laki-laki dan 1.142.971 perempuan. Rasio jenis kelamin penduduk di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 sebesar 104 yang artinya pada setiap 104 laki-laki terdapat 100,0 perempuan. Kepadatan penduduk Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 adalah sebesar 559 orang per km2 meningkat dibandingkan tahun 2008 yang memiliki kepadatan penduduk sebesar 547 orang per km2. Hal tersebut mengartikan bahwa pada setiap 1 km di Kabupaten Sukabumi dihuni oleh 559 orang (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Penduduk yang terdapat di Kabupaten Sukabumi jika dikelompokkan berdasarkan umurnya adalah sebagai berikut (Tabel 5) : Tabel 5 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kelompok Jumlah Persentase Kelompok Jumlah Persentase umur (orang) (%) umur (orang) (%) ≤4 266.132 11,4 40-44 167.712 7,2 5-9 221.163 9,5 45-49 140.590 6,0 10-14 265.428 11,4 50-54 115.666 5,0 15-19 189.441 8,1 55-59 80.545 3,5 20-24 153.651 6,6 60-64 62.915 2,7 25-29 186.616 8,0 65-69 47639 2.05 30-34 159.349 6,8 70-74 34234 1.47 35-39 185.927 8,0 ≥ 75 51796 2.22 Jumlah 2.328.804 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Penduduk yang memiliki komposisi terbanyak di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah ≤ 4 tahun dan 10-14 tahun dengan persentase masing-masing sebesar 11,4% dan 11,4%. Sebagian besar penduduk Kabupaten Sukabumi berusia muda, sehingga sangat bagus menjadi target pemasaran hasil tangkapan ikan 38 melalui pendekatan kandungan gizi hasil tangkapan ikan. Salah satu kandungan gizi hasil tangkapan ikan yang penting dan terkenal adalah omega 3 yang baik untuk daya ingat dan perkembangan sel otak (Dechacare, 2011) Penduduk di atas tersebar ke dalam 47 kecamatan seperti yang terdapat pada Tabel 6 di bawah ini : Tabel 6 Jumlah penduduk per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kecamatan 1. Bantargadung 2. Bojonggenteng 3. Caringin 4. Ciambar 5. Cibadak 6. Cibitung 7. Cicantayan 8. Cicurug 9. Cidadap 10 .Cidahu 11. Cidolog 12. Ciemas 13. Cikakak 14. Cikembar 15. Cikidang 16. Cimanggu 17. Ciracap 18. Cireunghas 19. Cisaat 20. Cisolok 21. Curug kembar 22. Gegerbitung 23. Gunung guruh 24. Jampang kulon Jumlah (orang) 38.374 31.664 44.095 36.414 105.140 25.737 50.026 108.735 19.343 54.954 17.974 49.381 38.554 73.043 64.259 22.279 44.262 31.029 107.428 62.538 31.169 38.754 46.789 41.202 P (%) 1,6 1,4 1,9 1,6 4,5 1,1 2,1 4,7 0,8 2,4 0,8 2,1 1,7 3,1 2,8 1,0 1,9 1,3 4,6 2,7 1,3 1,7 2,0 1,8 Kecamatan 25. Jampang tengah 26. Kabandungan 27. Kadudampit 28. Kalapanunggal 29. Kalibunder 30. Kebonpedes 31. Lengkong 32. Nagrak 33. Nyalindung 34. Pabuaran 35. Palabuhanratu 36. Parakansalak 37. Parungkuda 38. Purabaya 39. Sagaranten 40. Simpenan 41. Sukabumi 42. Sukalarang 43. Sukaraja 44. Surade 45. Tegalbuleud 46. Waluran 47. Warungkiara Jumlah Jumlah (orang) 66.250 37.605 48.220 40.298 27.516 28.544 29.712 76.991 45.528 39.935 94.266 38.890 32.377 41.742 49.656 48.066 44.566 37.345 76.988 70.665 32.877 25.835 56.993 2.328.804 P (%) 2,8 1,6 2,1 1,7 1,2 1,2 1,3 3,3 1,9 1,7 4,1 1,7 1,4 1,8 2,1 2,1 1,9 1,6 3,3 3,0 1,4 1,1 2,5 100,0 Keterangan : P = persentase penduduk per kecamatan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Tabel 6 diatas memberikan informasi bahwa pada tahun 2009 kecamatan dengan penduduk terbanyak di Kabupaten Sukabumi adalah Cisaat (4,6%), Cicurug (4,7%), Cibadak (4,5%) dan Palabuhanratu (4,1%). Kecamatan- 39 kecamatan yang memiliki penduduk banyak dan terbanyak merupakan pasar yang sangat potensial bagi pendistribusian hasil tangkapan. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak penduduk suatu daerah maka semakin banyak orang yang dapat dijadikan target pemasaran. Sehingga dapat diasumsikan bahwa Cisaat, Cicurug, Cibadak dan Palabuhanratu merupakan pasar potensial bagi produk perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi. 2) Pendidikan Pendidikan yang ada di Kabupaten Sukabumi berupa taman kanak-kanak (TK), sekolan dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) dan Madrasah. Walaupun banyak tersedia jenis pendidikan di Kabupaten Sukabumi, namun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan masih sangat rendah. Masyarakat Kabupaten Sukabumi umumnya memilih untuk menyuruh anak mereka bekerja membantu ekonomi keluarga dibandingkan bersekolah. Maka sangat diperlukan perhatian yang khusus dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi agar masalah ini dapat teratasi (Pemda Kabupaten Sukabumi, 2010b) Pada tahun 2009 Pemda Kabupaten Sukabumi telah menganggarkan dana pendidikan pada tahun 2009 sebesar 535 juta rupiah, yang akan dialokasikan kepada beasiswa murid dari keluarga miskin, beasiswa putera daerah ke perguruan tinggi, meningkatkan kesejahteraan guru dan biaya operasional sekolah (BOS). Hal lain yang menjadi bukti perhatian Pemda Kabupaten Sukabumi terhadap pendidikan adalah dengan mencanangkan program pendidikan anak usia dini (PAUD) setara TK. Program ini bertujuan agar anak-anak di bawah umur bersekolah di SD dapat belajar menulis, membaca dan berhitung, agar memudahkan mereka menerima pelajaran di tingkat pendidikan selanjutnya (Desentralisasi, 2009). Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi juga sangat menyadari bahwa ketersediaan sarana prasarana pendidikan yang memadai menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan di suatu wilayah. Maka Pemda Kabupaten Sukabumi berupaya menyediakan fasilitas pendidikan yaitu : 40 Tabel 7 Jumlah sekolah dan murid berdasarkan jenisnya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Sekolah (unit) Murid (orang) Jenis sekolah Negeri Swasta Jumlah Negeri Swasta Jumlah 1. SD 1.164 22 1.186 268.068 4.061 272.129 2. SLTP 119 88 207 54.848 22.801 77.649 3. SLTA 22 33 55 12.425 4.784 17.209 4. SMK 10 52 62 4.314 15.164 19.478 Jumlah 1.315 195 1.510 339.655 46.810 386.465 Persentase (%) 87,1 12,9 100,0 87,9 12,1 100,0 Keterangan : SD = Sekolah negeri; SLTP = Selolah Lanjutan Tingkat Pertama; SLTA = Sekolah Lanjutan Tingkat Atas; SMK = Sekolah Menengah Kejuruan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa jumlah sekolah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 1.510 unit. Sekolah yang jumlahnya paling banyak pada tahun tersebut di Kabupaten Sukabumi adalah SD dengan jumlah 1.186 unit, sedangkan sekolah yang jumlahnya paling sedikit adalah SLTA sebanyak 55 unit. Sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi dikelola oleh dua pihak yaitu negeri (pemerintah) dan swasta. Jumlah sekolah terbanyak berdasarkan pengelolanya adalah sekolah negeri yaitu sebesar 1.315 unit atau 87,1%, sedangkan sekolah swasta hanya berjumlah 195 unit atau 12,9% dari keseluruhan sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi. Jenis sekolah negeri terbanyak adalah SD dengan jumlah 1.164 unit, sedangkan jenis sekolah swasta terbanyak berjumlah 88 unit yaitu SLTP. Jumlah jenis sekolah negeri paling sedikit adalah SMK dengan jumlah 10 unit, sedangkan jenis sekolah swasta paling sedikit adalah SD yang berjumlah 22 unit (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010). Murid dari sekolah yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berjumlah 386.465 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 339.655 orang (87, 9%) dari sekolah negeri dan 46.810 orang (12,1%) dari sekolah swasta. Jumlah murid terbanyak untuk sekolah negeri adalah murid SD, sementara murid terbanyak untuk sekolah swasta berasal dari SLTP (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Selain jenis sekolah di atas, terdapat satu jenis sekolah lagi di Kabupaten Sukabumi yaitu madrasah. Madrasah merupakan sekolah berlandaskan agama Islam. Berikut ini adalah jenis dan jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 : 41 Tabel 8 Jenis dan jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Persentase (%) Jenis Madrasah Jumlah (unit) 7,0 1. Raudhatul Athfal 215 74,9 2. Diniah Awaliah 2.294 9,6 3. Ibtidaiyah 293 6,2 4. Tsanawiyah 189 2,3 5. Aliah 71 100,0 Jumlah 3.062 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Pada Tabel 8 diketahui bahwa jumlah madrasah di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berjumlah 3.062 unit. Jumlah madrasah tersebut terdiri dari madradah raudhatul athfal 251 unit (7,0%), madrasah diniah awaliah 2.294 unit (74,9%), madrasah ibtidaiyah 293 unit (9,6%), madrasah tsanawiyah 189 unit (6,2) dan madrasah aliah 71 unit (2,3%). Hal ini memberitahukan bahwa jenis madrasah dengan jumlah terbanyak adalah diniah awaliah. Menurut (Desentralisasi, 2009) jumlah madrasah cukup banyak dikarenakan Pemda Kabupaten Sukabumi menitik beratkan kepada pembangunan manusia yang berakhlaqulkarimah (berakhlak baik). Sekolah perikanan yang terdapat di Kecamatan Palabuhanratu adalah sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 (Pelayaran) Palabuhanratu. Jurusanjurusan yang terdapat di sekolah ini adalah nautika perikanan laut (NPL), teknika perikanan laut (TPL), pengolahan hasil perikanan (PHP), teknik kendaraan ringan/otomotif (TKR) dan nautika kapal niaga (NKN). Sekolah ini melakukan kerja sama dengan PT Harini Duta Ayu Jakarta, PT Mariana Pratama Jakarta, PT Angkasa Jakarta, PT Ocean Mitramas, PT Budi Agung, PT Mega Golden, PT Agung Jaya serta perusahaan yang ada di luar negeri seperti Jepang , Taiwan dan Singapore (Info Parahyangan, 2011). 3) Rumah tangga perikanan Rumah tangga perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu rumah tangga pemilik (RTP) dan rumah tangga buruh perikanan (RTBP). Pengelompokan ini belum termasuk pelaku perikanan lainnya seperti pedagang, pengolah ikan, penyedia kebutuhan melaut, produsen kapal, produsen kapal dan lainnya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). 42 Tabel 9 Jenis dan jumlah rumah tangga perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis rumah tangga Jumlah (orang) Persentase (%) 1. RTP 2.063 18,7 2. RTBP 8.988 81,3 Jumlah 11.051 100,0 Keterangan : RTP = rumah tangga pemilik; RTBP = rumah tangga buruh perikanan Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Rumah tangga perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 menurut Tabel 9 berjumlah 11.051 rumah tangga. Jumlah rumah tangga pemilik perikanan tangkap tahun 2009 di Kabupaten Sukabumi 2.063 rumah tangga (18,7%), sedangkan rumah tangga buruh perikanan tangkap berjumlah 8.988 rumah tangga (81,3%). Salah satu pelaku perikanan tangkap selain rumah tangga perikanan tangkap adalah pengolah ikan. Pengolahan ikan merupakan semua kegiatan yang berhubungan dengan menambah nilai jual ikan hasil tangkapan rumah tangga perikanan tangkap melalui proses merubah ikan menjadi suatu produk. Banyak jenis usaha pengolahan, pelaku dan produksinya dikemukakan seperti di bawah ini (Tabel 10): Tabel 10 Jenis usaha pengolahan ikan dan jumlah pelakunya di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Pemilik (orang) Buruh Jumlah buruh per Jenis usaha atau usaha (unit) (orang) usaha (orang) 1. Ikan asin 64 275 4 2. Pindang 752 1.587 2 3. Bakso ikan 4 16 4 4. Abon ikan 2 29 14 5. Pengasapan ikan 1 6 6 6. Pengolahan ikan lain 2 27 13 Jumlah 825 1.940 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jenis usaha pengolahan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi adalah ikan asin, pindang, bakso ikan, abon ikan, pengasapan ikan dan pengolahan ikan lain. Usaha pengolahan dominan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah pindang dengan jumlah 752 unit usaha (91,1%) dan ikan asin sebanyak 64 unit usaha 43 (7,5%). Usaha pengolahan pindang dan ikan asin juga merupakan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Kabupaten Sukabumi yaitu 1.587 orang pada usaha pindang dan 275 orang pada usaha ikan asin. Pelaku usaha pengolahan ikan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 terdiri dari pemilik usaha dan buruh yang bekerja di pabrik pengolahan ikan. Buruh pengolahan ikan di Kabupaten Sukabumi berjumlah 1.940 orang, sedangkan jumlah pemilik usaha pengolahan adalah 825 orang. Jumlah ini sesuai karena satu orang pemilik usaha pengolahan memimpin beberapa orang buruh dalam menjalankan usahanya. Jumlah buruh berkisar antara 2 sampai dengan 14 orang buruh per usaha. 4.1.3 Keadaan prasarana umum 1) Transportasi dan Komunikasi Transportasi udara tidak tersedia di Kabupaten Sukabumi, yang tersedia di Kabupaten Sukabumi adalah transportasi laut dan darat. Transportasi laut yang terdapat di Kabupaten Sukabumi hanya digunakan sewaktu-waktu atau bersifat insidental. Hal ini membuat peran transportasi di Kabupaten Sukabumi sangat bergantung kepada transportasi darat. Transportasi darat di Kabupaten Sukabumi berupa prasarana jalan raya dan sarana kendaraan bermotor (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a). Menurut BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) prasarana transportasi (jalan raya) di Kabupaten Sukabumi dikelola oleh beberapa instansi yaitu negara sepanjang 172.830 km, propinsi sepanjang 242.360 km, kabupaten sepanjang 1.752.285 km, serta jalan desa sepanjang 485.200 km. Panjang jalan yang dikelola oleh pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagian besar telah diaspal (72,9%), sisanya masih berupa batu/teleford (23,6%) dan jalan tanah (3,5%). Kondisi jalan aspal yang kondisinya baik dan sedang hanya sebesar 37,1% sedangkan sisanya 62,9% pada kondisi sedang rusak, rusak dan rusak berat. Sarana transportasi di Kabupaten Sukabumi berupa kendaraan seperti pada Tabel di bawah ini (Tabel 11): 44 Tabel 11 Jenis dan jumlah kendaraan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis kendaraan Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Mobil penumpang 534 1,8 2. Mobil barang 532 1,7 3. Bus 25 0,1 4. Sepeda motor 30.090 96,5 Jumlah 31.181 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Kendaraan di Kabupaten Sukabumi terbagi ke dalam mobil penumpang, mobil barang, bus dan sepeda motor. Kendaraan terbanyak di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah sepeda motor dengan jumlah 30.090 unit atau 96,5%, sedangkan kendaraan dengan jumlah paling sedikit tahun 2009 di Kabupaten Sukabumi ialah bus dengan jumlah 25 unit atau 0,1%. Prasarana dan sarana transportasi berperan penting bagi perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi, yaitu sebagai prasarana dan sarana pendistribusian hasil tangkapan dan pengangkutan bahan kebutuhan melaut. Jika prasarana dan sarana transportasi mencukupi dan dalam keadaan baik, maka kegiatan pendistribusian hasil tangkapan dan pengangkutan bahan kebutuhan melaut akan berjalan dengan baik. Hal itu dapat meningkatkan kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi. Komunikasi yang terdapat di Kabupaten Sukabumi terdiri dari pos, telepon dan telepon seluler. Pada awalnya telekomunikasi yang tersedia adalah pos. Sarana komunikasi yang disediakan pos adalah surat dan paket. Sarana tersebut membutuhkan waktu beberapa hari untuk sampai kepada orang yang dituju. Hal ini membuat penduduk mencari alternatif sarana komunikasi lain yang lebih efektif, yaitu telepon dan telepon seluler (BPPT Kabupaten Sukabumi, 2010) Sarana telepon disediakan oleh PT. Telkom, sarana ini membuat orang bisa berbicara dengan orang lain secara langsung tanpa harus bertatap muka. Kekurangan sarana telepon di Kabupaten Sukabumi adalah belum mampu menjangkau seluruh pelosok wilayah kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Sarana telekomunikasi yang sudah lebih menjangkau beberapa wilayah pelosok kecamatan adalah telepon seluler. Ada beberapa provider sambungan telepon 45 seluler di Kabupaten Sukabumi yaitu Telkomsel, Indosat, Excelcom, TelkomFlexi dan Mobile-8 (BPPT Kabupaten Sukabumi, 2010). Telekomunikasi dalam kegiatan perikanan tangkap berperan mempermudah hubungan komunikasi jarak jauh dalam berbagai aktivitas masyarakat perikanan tangkap seperti hubungan antara Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) pusat dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) daerah, hubungan komunikasi pelaku-pelaku perikanan tangkap di pelabuhan perikanan anrata lain dalam hal pendistribusian hasil tangkapan, pemesanan kebutuhan melaut dan lainnya. Jika telekomunikasi dapat memperlancar hubungan jarak jauh masyarakat perikanan tangkap, maka kegiatan perikanan tangkap juga akan dapat semakin berkembang. 2) Air dan Listrik Kebutuhan air bersih dan listrik merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan oleh masyarakat, karena kedua kebutuhan ini adalah faktor utama penunjang kehidupan masyarakat. Air bersih diperlukan untuk minum, MCK, kebutuhan usaha perikanan, kebutuhan pengolahan dan usaha lainnya. Listrik sangat digunakan untuk penerangan dan menjalankan alat elektronik yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan untuk kebutuhan usaha. Penyaluran air bersih di Kabuapten Sukabumi telah diusahakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang merupakan perusahaan milik negara dan diatur oleh negara. Jumlah air bersih yang didistribusikan oleh PDAM pada tahun 2009 adalah 4.526.459 m³ (BPS Kabupaten Sukabumi 2010a). Tabel 12 Jenis dan jumlah konsumen pengguna air bersih di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Persentase (%) Jenis konsumen Jumlah (orang) 93,5 1. Rumah tangga tinggal 16.689 2,6 2. Niaga kecil 474 0,3 3. Niaga besar 46 2,5 4. Sosial 440 0,5 5. Instansi 89 0,4 6. Keran umum 67 0,1 7. Industri 21 0,1 8. Tentara Nasional Indonesia (TNI) 23 100,0 Jumlah 17.849 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a 46 Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa pada tahun 2009 PDAM di Kabupaten Sukabumi digunakan oleh 17.849 konsumen. Konsumen tersebut dapat dikategorikan ke dalam beberapa kelompok yaitu rumah tangga tinggal, niaga kecil, niaga besar, sosial, instansi, keran umum, industri dan TNI. Konsumen PDAM terbesar di Kabupaten Sukabumi adalah rumah tangga tinggal, yaitu sebesar 93,5% dari keseluruhan konsumen PDAM Kabupaten Sukabumi. Kelompok konsumen PDAM yang paling sedikit jumlahnya di Kabupaten Sukabumi adalah industri dan TNI, yaitu masing-masing 0,1% dari keseluruhan konsumennya (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010b). Peranan PDAM bagi perikanan tangkap adalah penting sebagai penyedia air bersih yang diperlukan dalam penanganan hasil tangkapan, pembuatan es balok, bahan kebutuhan melaut dan kebutuhan industri lainnya. Dengan adanya PDAM maka kebutuhan para pelaku perikanan tangkap akan air bersih dapat terpenuhi. Para pelaku perikanan tangkap dapat menghemat dana, tenaga dan waktu untuk mencari dan mengolah sumber air bersih. Pelayanan untuk pengadaan listrik Kabupaten Sukabumi diusahakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), dengan distribusi listrik pada tahun 2009 berjumlah 818.009.353 kwh. Listrik tersebut didistribusikan oleh PLN kepada 430.568 langganan di Kabupaten Sukabumi (BPS Kabupaten Sukabumi, 2010b). Listrik berperan dalam menjalankan berbagai alat-alat, mesin dan elektronik yang digunakan dalam pembuatan kapal, perbaikan kapal dan mesin, penanganan hasil tangkapan (coldstorage), mercusuar dan alat lainnya. Listrik juga berperan penting untuk penerangan di pelabuhan perikanan. 4.2 Keadaan umum perikanan tangkap Kabupaten Sukabumi 4.2.1 Jenis dan produksi hasil tangkapan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi (2010) menyatakan bahwa jenis hasil tangkapan yang dominan tertangkap secara umum di perairan Kabupaten Sukabumi adalah cakalang, cucut, layang, layaran, layur, peperek/pepetek, tembang, tongkol dan tuna. Hasil tangkapan tersebut didaratkan di beberapa tempat pendaratan di kecamatan-kecamatan pesisir Kabupaten Sukabumi. Setiap kecamatan memiliki jenis hasil tangkapan dominan didaratkan yang berbeda-beda seperti pada Tabel 13 : 47 Tabel 13 Keragaman jenis hasil tangkapan dominan didaratkan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Kecamatan Jenis ikan didaratkan 1. Simpenan Layur, lobster, kakap dan beronang 2. Ciemas Pelagis kecil dan ikan hias Kakap, beronang, swangi, serepet, ikan sebelah, bawal hitam 3. Cikakak dan lobster 4. Cibitung Tuna, layur dan kepiting bakau Lobster, kakap, kerapu, udang jerebung, layur, kuwe dan 5. Tegal buled kepiting Tenggiri, kakap, lobster, ikan hias, jenis moluska dan ikan 6. Ciracap pelagis 7. Surade Ikan berbagai jenis dan rumput laut Layur, tuna, tongkol, cucut, kuwe, salayang, pedang-pedang, 8. Cisolok semar, kakap, swangi, bawal hitam, kembung, teri Teri, tuna, layur, kembung, cakalang, tongkol, cumi, pelagis 9. Palabuhanratu kecil dan ikan hias Sumber : DKP Kabupaten Sukabumi, 2010 Keberagaman di atas bukan dikarenakan berbedanya daerah penangkapan ikan, karena sebagian besar kecamatan diatas sama-sama melakukan operasi penangkapan di teluk Palabuhanratu dan sekitarnya. Perbedaan tersebut lebih dikarenakan perbedaan jenis alat tangkap yang digunakan, perbedaan permintaan yang pasar dan perbedaan pemasaran hasil tangkapan. Selain perbedaan jenis, masing-masing kecamatan di Kabupaten Sukabumi juga memiliki jumlah hasil tangkapan yang didaratkan berbeda yaitu (Tabel 14) : Tabel 14 Jumlah hasil tangkapan didaratkan per kecamatan di Kabupaten Sukabumi tahun 2008 Kecamatan Jumlah (kg 103) Nilai (Rp 106) 1. Simpenan 125,5 5.090,2 2. Ciemas 135,6 745,8 3. Cikakak 0,0 0,0 4. Cibitung 24,8 136,1 5. Tegal buled 0,0 0,0 6. Ciracap 226,0 1.243,9 7. Surade 52,8 290,4 8. Cisolok 279,1 1.534,9 9. Palabuhanratu 6.593,0 36.261,4 Jumlah 66.776,8 45.302,7 Sumber : DKP Kabupaten Sukabumi, 2009 48 Kecamatan Palabuhanratu merupakan kecamatan dengan jumlah hasil tangkapan didaratkan terbanyak karena di Kecamatan Palabuhanratu terdapat PPN Palabuhanratu yang merupakan satu-satunya pelabuhan perikanan tipe B di Kabupaten Sukabumi dan di pantai selatan Jawa Barat. Keberadaan PPN tersebut membuat armada penangkapan ikan mendaratkan hasil tangkapannya di Kecamatan Palabuhanratu, baik armada dari Kecamatan Palabuhanratu sendiri maupun dari daerah lainnya. Alasan pemilik armada memilih mendaratkan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu karena PPN Palabuhanratu memiliki fasilitas yang memadai, permintaan pasar yang tinggi dan sarana transportasi yang baik untuk pendistribusian hasil tangkapan ke luar daerah. Berdasarkan bahasan di atas dapat dikatakan bahwa keberagaman jenis dan jumlah hasil tangkapan dipengaruhi oleh armada dan alat tangkap yang terdapat di masing-masing kecamatan, potensi pemasaran hasil tangkapannya, keadaan transportasi dan fasilitas yang tersedia. 4.2.2 Unit penangkapan ikan dan nelayan 1) Armada/kapal Berdasarkan BPS Kabupaten Sukabumi (2010a) armada penangkapan ikan yang beroperasi di Kabupaten Sukabumi terbagi kedalam tiga jenis yaitu perahu tanpa motor, motor tempel dan kapal motor. Jenis dan jumlah armada penangkanan ikan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 terdapat pada Tabel 15 di bawah ini : Tabel 15 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis armada Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Perahu tanpa motor 224 14,2 2. Motor tempel 975 61,9 3. Kapal motor 376 23,9 Jumlah 1.575 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 1.575 unit. Jenis armada yang paling banyak terdapat di Kabupaten 49 Sukabumi tahun 2009 adalah armada motor tempel sebesar 975 unit (61,9%). Hal ini menunjukkan bahwa armada perikanan tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi adalah armada berukuran kecil dengan memakai motor tempel sebagai mesinnya. Armada dengan jumlah paling sedikit yang berada di Kabupaten Sukabumi adalah jenis armada perahu tanpa motor sebanyak 224 unit (14,2%). 2) Alat tangkap Alat tangkap yang dioperasikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 pada Tabel 16 terdiri dari alat tangkap payang, dogol, jaring insang hanyut, jaring insang lingkar, jaring insang tetap, bagan rakit, bagan tancap, rawai tuna, pancing tonda, pancing ulur dan garpu. Tabel 16 Jenis dan jumlah alat tangkap ikan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis alat tangkap Jumlah (unit) Persentase (%) 1. Payang 150 7,7 2. Dogol 24 1,2 3. Jaring insang hanyut 905 46,4 4. Jaring insang lingkar 9 0,5 5. Jaring insang tetap 106 5,4 6. Bagan rakit 154 7,9 7. Bagan tancap 54 2,8 8. Rawai tuna 350 17,9 9. Pancing tonda 100 5,1 10. Pancing ulur 84 4,3 11. Garpu 15 0,8 Jumlah 1.951 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Jumlah keseluruhan alat tangkap yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 berdasarkan statistika Kabupaten Sukabumi adalah 1.951 unit. Alat tangkap jaring insang hanyut merupakan alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan Kabupaten Sukabumi pada tahun 2009 dengan jumlah 905 unit (46,4%). Alat tangkap yang paling sedikit digunakan nelayan Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah jaring insang lingkar yang memiliki jumlah sebesar 9 unit (0,5%). 50 3) Nelayan Nelayan yang terdapat di Kabupaten Sukabumi terbagi kedalam dua kelompok yaitu nelayan pemilik dan nelayan buruh. Pada Tabel 17 berikut ini terdapat jenis dan jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009. Tabel 17 Jenis dan jumlah nelayan di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 Jenis nelayan Jumlah (orang) Persentase (%) 1. Pemilik 2.063 18,7 2. Buruh a. Penuh 6.875 62,2 b. Sambilan utama 1.615 14,6 c. Sambilan tambahan 498 4,5 Jumlah 11.051 100,0 Sumber : BPS Kabupaten Sukabumi, 2010a (data diolah kembali) Selama tahun 2009 Kabupaten Sukabumi memiliki nelayan dengan jumlah 11.051 orang. Nelayan yang mendominasi di Kabupaten Sukabumi adalah nelayan buruh dengan jumlah 8.988 orang (18,7%), sedangkan nelayan pemilik berjumlah 2.063 orang (71,3%). Nelayan buruh perikanan tangkap terbagi menjadi tiga kelompok yaitu buruh penuh, buruh sambilan utama dan buruh sambilan tambahan. Nelayan buruh penuh adalah nelayan yang semua waktunya digunakan untuk bekerja menjadi buruh, nelayan buruh sambilan utama merupakan nelayan yang sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja sebagai buruh, sedangkan nelayan buruh sambilan tambahan adalah nelayan yang hanya memakai sedikit waktunya untuk bekerja sebagai buruh. Jumlah nelayan buruh penuh di Kabupaten Sukabumi tahun 2009 adalah 6.875 orang (62,2%), sedangkan nelayan buruh sambilan utama dan sambilan tambahan masing-masing berjumlah 1.615 orang (14,6%) dan 498 orang (4,5%). 4.2.3 Prasarana perikanan tangkap Prasarana perikanan tangkap di Kabupaten Sukabumi yang tersebar di 9 kecamatan pesisir yaitu Cisolok, Cikakak, Palabuhanratu, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung, dan Tegalbuled. Kegiatan perikanan tangkap terbesar terletak di Kecamatan Palabuhanratu dan Cisolok, dikarenakan di kedua 51 kecamatan tersebut terdapat prasarana perikanan tangkap yang lebih baik dan besar dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupaten Sukabumi. Prasarana tersebut adalah PPN Palabuhanratu di Kecamatan Palabuhanratu dan PPI Cisolok di Kecamatan Cisolok (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Prasarana perikanan tangkap di kecamatan lainnya menurut DKP Kabupaten Sukabumi berstatus TPI yaitu TPI Simpenan di Kecamatan simpenan, TPI Ciwaru di Kecamatan Ciemas, TPI Ujung genteng di Kecamatan Ciracap, TPI Cikakak di Kecamatan Cikakak, TPI Ciracap di Kecamatan Ciracap, TPI Cibitung di Kecamatan Cibitung, TPI Tegalbuled di Kecamatan Tegalbuled dan TPI Surade di Kecamatan Surade (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Namun, menurut Pane (2012) prasarana perikanan tangkap atau pelabuhan perikanan yang tidak termasuk ke dalam kategori PPS, PPN dan PPP dimasukkan ke dalam PPI sesuai kategori pelabuhan perikanan yang dikeluarkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Dengan demikian, ketujuh TPI lainnya pada hakekatnya termasuk kategori PPI. Kedelapan PPI yang ada di Kabupaten Sukabumi yaitu Cisolok, Cikakak, Simpenan, Ciemas, Ciracap, Surade, Cibitung dan Tegalbuled dalam menjalankan aktivitasnya sebagian besar hanya memiliki dermaga, breakwater serta gedung pelelangan ikan. Terdapat juga PPI yang hanya memiliki satu atau dua dari ketiga fasilitas tersebut, dan sebagian besar fasilitas tersebut tercatat dalam keadaan rusak (DKP Kabupaten Sukabumi, 2010). Mahyuddin (2007) mengungkapkan bahwa semua urusan pembangunan dan operasional PPI ditangani langsung oleh kepala cabang DKP Kabupaten Sukabumi, sehingga operasional PPI tersebut belum optimal. Pengumpulan data statistika dilakukan tidak sempurna dan tidak ada petugas khusus untuk pengumpulan data statistika. Data statistika dikumpulkan langsung oleh kepala cabang DKP Kabupaten Sukabumi. 4.3 Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu 4.3.1 Sejarah dan Keadaan Organisasi PPN Palabuhanratu Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 1989 membangun PPI Palabuhanartu menjadi PPN Palabuhanratu, dengan dana pembangunan pada tahap awal bersumber dari Asian Development Bank (ADB) dan Islamic 52 Development Bank (ISDB). Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu mulai beroperasi pada tanggal 18 Februari 1993 setelah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia (PPN Palabuhanratu, 2010a) Pengelola suatu pelabuhan perikanan di Indonesia terbagi ke dalam Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Perum Prasarana yang berada di bawah Kementrian Badan Usaha Milik Negara. Unit pelaksana teknis menangani administrasi dan fasilitas publik terkait usaha penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu, sedangkan Perum Prasarana menangani fasilitas komersial. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pengelola PPN Palabuhanratu yang terletak di Kecamatan Palabuhanratu diketahui bahwa di pelabuhan ini tidak terdapat Perum Prasarana, hal ini membuat semua kegiatan dan fasilitas di PPN Palabuhanratu dikelola oleh pengelola PPN Palabuhanratu yang merupakan UPT PPN Palabuhanratu. Pengelola PPN Palabuhanratu menolak keberadaan Perum Prasarana di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan PPN Palabuhanratu (2010a) diketahui susunan organisaasi pengelola PPN Palabuhanratu yang mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER.06/MEN/2007 tanggal 25 Januari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelabuhan Perikanan (Gambar 2) : Kepala PPN Palabuhanratu Kepala Sub Bag Tata Usaha Kepala Seksi Pengembangan Kepala Seksi Tata Operasonal Kelompok Jabatan Fungsional Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010a Gambar 2 Struktur organisasi PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Kepala Pelabuhan Perikanan Kepala Pelabuhan bertugas melaksanakan fasilitas produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan untuk 53 pelestariannya dan kelancaran kegiatan kapal perikanan, serta pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan.  Sub Bagian Tata Usaha Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana dan program, urusan tata usaha dan rumah tangga, pelaksanaan dan koordinasi pengendalian lingkungan yang meliputi keamanan, ketertiban, kebersihan, kebakaran dan pencemaran di kawasan pelabuhan perikanan serta pengelolaan administrasi kepegawaian dan pelayanan masyarakat perikanan.  Seksi Pengembangan Seksi Pengembangan mempunyai tugas melakukan pembangunan, pemeliharaan pengembangan dan pendayagunaan sarana dan prasarana, pelayanan jasa dan fasilitasi usaha, pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari, pemberdayaan masyarakat perikanan, serta koordinasi peningkatan produksi.  Seksi Tata Operasional Seksi Tata Operasional mempunyai tugas melakukan pelayanan teknis kapal perikanan dan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan, fasilitasi pemasaran dan pendistribusian hasil perikanan serta penyuluh perikanan, pengumpulan, pengolahan dan penyajian data perikanan, pengelolaaan sistem informasi, publikasi hasil riset, produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya.  Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional Pranata Humas di lingkungan PPN Palabuhanratu terdiri dari 3 orang yaitu 1 orang Pranata Humas Muda, 1 orang Pranata Humas Pertama dan 1 orang Prata Humas Pelaksana. 4.3.2 Sarana dan prasarana PPN Palabuhanratu Untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap di PPN Palabuhanratu, maka pemerintah menyediakan sarana dan prasarana di PPN Palabuhanratu (Lampiran 2). Sarana dan prasarana tersebut dikelompokkan menjadi tiga fasilitas, yaitu fasilitas pokok, fasilitas fungsional dan fasilitas penunjang. Fasilitas yang termasuk kedalam kategori tersebut yaitu (Tabel 18) : 54 Tabel 18 Jenis, jumlah, ukuran dan kondisi fasilitas yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Ukuran atau Fasilitas Jumlah (unit) Kondisi satuan I. Fasilitas Pokok 1. Areal pelabuhan 1 Luas 10,29 ha Baik 2. Dermaga 1 1 Panjang 509 m Baik 3. Dermaga 2 1 Panjang 410 m Baik 4. Kolam 1 1 Luas 3 ha Baik 5. Kolam 2 1 Luas 2 ha Baik 6. Breakwater 1/utara 1 Panjang 125 m Baik 7. Breakwater 2/selatan 1 Panjang 294 m Baik 8. Breakwater baru timur 1 Panjang 200 m Baik 9. Breakwater baru barat 1 Panjang 50 m Baik 10. Alat bantu navigasi 2 Baik 11. Alur masuk 1 Panjang 294 m Baik 12. Turap sungai 1 Panjang 200 m Baik 13. Krib penahan sedimen 2 Panjang 74 m Baik II. Fasilitas Fungsional 1. Gedung TPI 1 Luas 900 m2 Baik 2 2. UPT PPN palabuhanratu 1 Luas 528 m Baik 2 3. Pasar ikan 1 Luas 352 m Baik 4. Lahan industri … … … 3 5. Tangki air 1 Volume 400 m Baik 6. Pompa air 4 Unit Baik 2 7. Rumah pompa 1 Luas 27 m Baik 8. Tangki BBM 2 Panjang 208 m Baik 9. Listrik + instalasi 1 82,50 KVA Baik 10. Genset + instalasi 2 95 KVA Baik 11. Gedung perbaikan jaring 1 Luas 500 m2 Baik 12. Tempat penjemuran dan 1 Luas 3000 m2 Baik perbaikan jaring 13. Balai pertemuan nelayan 1 Luas 150 m2 Baik 14. Radio SSB 2 Baik 2 15. Pos Jaga 2 Luas 52 m Baik 16. Garasi alat berat 1 Luas 200 m2 Baik 17. Forklift 2 Unit Baik 18. Dump truck 1 Unit Baik 19. Truck folder crane 2 Unit Baik 20. Kendaraan operasional 9 Unit Baik 21. Jalan dalam komplek … m Baik 2 22. Laboratorium bina mutu 1 Luas 117 m Baik III.Fasilitas Penunjang 1. Rumah kepala pelabuhan 1 Luas 70 m2 Baik 2 2. Rumah pegawai 5 Luas 70 m Baik 3. Rumah pegawai 1 Luas 50 m2 Baik 2 4. Guest house 2 Luas 70 m Baik 55 Lanjutan Tabel 18 Fasilitas 5. Mess operator 6. Mushola dan MCK 7. Tempat parkir 8. Billboard prakiraan cuaca Keterangan : … = tidak tersedia data Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010c Jumlah (unit) 1 1 … 1 Ukuran Luas 190 m2 Luas 45 m2 m2 Unit Kondisi Baik Baik Baik Baik Fasilitas pokok yang terdapat di PPN Palabuhanratu meliputi dermaga, kolam pelabuhan, breakwater, krip, alur masuk dan alat bantu navigasi. Secara keseluruhan fasilitas pokok yang terdapat di PPN Palabuhanratu masih baik dan dapat digunakan. Fasilitas fungsional PPN Palabuhanratu sangat beragam dan sebagian besar masih berfungsi dengan baik. Fasilitas fungsional yang dirasa masih kurang jumlahnya oleh pengelola PPN Palabuhanratu adalah lahan industri. Hal ini dikarenakan industri perikanan yang terdapat di PPN Palabuhanratu hanya berupa perusahaan penanganan dan pendistribusian tuna dan layur dengan lahan yang terbatas sehingga bangunannya tidak bisa diperluas. Industri pengolahan hasil tangkapan belum terdapat di PPN Palabuhanratu. Fasilitas fungsional yang masih belum terdapat di PPN Palabuhanratu adalah pabrik es. Terdapat beberapa fasilitas fungsional yang dikelola oleh pihak swasta yaitu gedung TPI, pasar ikan, lahan industri, tangki BBM, tangki air dan fasilitas yang berhubungan dengan docking. Fasititas penunjang yang terdapat di PPN Palabuhanratu meliputi rumah pegawai, guest house, mess operator, mushola, MCK, tempat parkir dan lainnya. Fasilitas-fasilitas ini masih dalam keadaan baik dan bisa digunakan. 4.3.3 Jenis dan produksi hasil tangkapan PPN Palabuhanratu Jenis, jumlah dan nilai produksi perikanan tangkap merupakan salah satu yang menjadi indikator perkembangan perikanan tangkap di suatu daerah. Hal tersebut menjadikan sangat perlu untuk mengetahui seberapa besar jumlah dan nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, serta mengetahui perkembangannya. Jika semakin besar perkembangan produksi hasil tangkapan di suatu pelabuhan perikanan maka perkembangan perikanan tangkap di pelabuhan 56 perikanan tersebut dapat dikatakan berkembang dengan baik, sekurang-kurangnya dari aspek produksi hasil tangkapan. Tabel 19 Produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanartu tahun 2005-2009 Tahun Produksi 2005 2006 2007 2008 2009 3 Pr (kg 10 ) 6.601 5.462 6.056 4.581 3.950 1. Didaratkan di pelabuhan Pt (%) -17,3 10,9 -24,4 -13,8 3 2. Masuk Pr (kg 10 ) 5.873 4.472 7.490 4.256 4.767 melalui jalur Pt (%) -23,9 67,5 -43,2 12,0 darat Pr (kg 103) 12.474 9.934 13.546 8.837 8.717 Jumlah Pt (%) -20,4 36,4 -34,8 -1,4 Keterangan : Pr = produksi; Pt = pertumbuhan Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Keseluruhan produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 (Tabel 19) berjumlah 8.717.000 kg. Produksi hasil tangkapan tahun 2009 di PPN Palabuhanratu tersebut di atas terdiri dari hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu sejumlah 3.950.000 kg (45,3%) dan dari hasil tangkapan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu sejumlah 4.767.000 kg (54,7%). 16.000 Produksi (kg 103 ) 14.000 Didaratkan di PPN Palabuhanratu 12.000 10.000 Masuk melalui jalur darat 8.000 6.000 Produksi Keseluruhan 4.000 2.000 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 3 Grafik perkembangan jumlah produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 57 Perkembangan produksi keseluruhan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung fluktuatif (Gambar 3), peningkatan jumlah keseluruhan produksi PPN Palabuhanratu terjadi pada tahun 2007 yaitu 36,4%. Peningkatan ini dikarenakan pada tahun tersebut baik jumlah produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu maupun yang masuk melalui jalur darat meningkat paling tajam. Penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2009 dengan penurunan sebesar 34,76%. Penurunan ini juga disebabkan karena pada tahun tersebut baik jumlah produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu maupun yang masuk melalui jalur darat menurun paling tajam. Penurunan ini juga diduga disebabkan karena berkurangnya jumlah alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 sebesar 23,4% (Tabel 17). Perkembangan produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung menurun, peningkatan produksi hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu hanya terjadi pada tahun 2007 sebesar 10,9%. Perkembangan produksi ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu cenderung fluktuatif, dimana pada tahun 2006 dan 2008 terjadi penurunan sedangkan pada tahun 2007 dan 2009 terjadi peningkatan. Tabel 20 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Tahun Nilai Produksi (Rp 106) 2005 2006 2007 2008 2009 1. Didaratkan di pelabuhan 32.154 32.551 38.696 42.563 56.736 2. Masuk melalui jalur 34.032 29.097 49.924 35.589 52.919 66.186 61.648 88.620 78.152 109.655 Jumlah Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Pada tahun 2009 nilai keseluruhan produksi hasil tangkapan berdasarkan Tabel 20 adalah Rp109.655.000.000,00. Nilai tersebut terdiri dari nilai hasil tangkapan didaratkan di pelabuhan sejumlah Rp 56.735.000,00 dan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat sejumlah Rp52.919.000,00. 58 Nilai Produksi (Rp 106) 120.000 100.000 80.000 Didaratkan di Pelabuhan 60.000 Masuk melalui jalur darat 40.000 Nilai keseluruhan 20.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun b Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010 (data diolah kembali) Gambar 4 Grafik perkembangan nilai produksi PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. hasil tangkapan di Perkembangan nilai produksi keseluruhan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung meningkat (Gambar 4), peningkatan paling tajam terjadi pada tahun 2009. Nilai produksi yang didaratkan di PPN Palabuhanratu mengalami perkembangan yang cenderung meningkat dari tahun 2005 sampai tahun 2009, sedangkan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu cenderung fluktuatif. Peningkatan nilai produksi yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu terjadi pada tahun 2007 dan 2009, sedangkan penurunan nilainya terjadi pada tahun 2006 dan 2008. 1) Produksi hasil tangkapan didaratkan di PPN Palabuhanratu Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu merupakan produksi armada penangkapan ikan yang berbeda-beda, namun ada juga beberapa hasil tangkapan yang ditangkap oleh armada penangkapan ikan yang sama. Berikut ini (Tabel 21) adalah jenis hasil tangkapan yang didaratkan per jenis armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara : 59 Tabel 21 Jenis hasil tangkapan per jenis armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Hasil tangakapan Alat tangkap Utama Sampingan 1. Payang Tongkol (Auxis sp.) Ikan pelagis kecil Cakalang (Katsuwonus pelamis) 2. Pancing Kembung (Rastrelliger sp.) Tuna (Thunnus sp.) rumpon Tuna-tuna kecil (Thunnus sp.) 3. Rawai layur Layur (Trichiurus sp.) Ikan kecil Cakalang (Katsuwonus pelamis) 4. Tuna longline Tuna (Thunnus sp.) Tuna-tuna kecil (Thunnus sp.) 5. Gillnet Ikan pelagis kecil 6. Rampus Ikan kecil Pepetek (Leiognathus sp. ) Cumi (Loligo edulis) 7. Bagan Udang rebon Ikan kecil lainnya 8. Trammel net Ikan kecil 9. Purse seine Tongkol (Auxis sp.) Ikan pelagis kecil 10. Pancing ulur Ikan pelagis kecil Setiap tahunnya produksi hasil tangkapan yang didaratkan pada suatu armada penangkapan ikan tidak selalu sama, tetapi berfluktuasi. Selain itu jumlah produksi hasil tangkapan yang didaratkan antara satu armada penagkapan ikan dengan armada penangkapan ikan lainnya juga berbeda-beda seperti yang terdapat pada Tabel 22. Berdasarkan Tabel 22 diketahui bahwa secara keseluruhan hasil tangkapan yang paling banyak didaratkan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berasal dari armada tuna longline, pancing tonda dan rampus. Jumlah hasil tangkapan yang berasal dari armada longline pancing tonda dan rampus berada di atas 500 ton, sedangkan hasil tangkapan yang berasal dari armada lain berkisar di bawah 500 ton. Armada yang paling sedikit mendaratkan hasil tangkapannya di PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah trammel net yaitu 413 kg. Jika dilihat berdasarkan kategori armadanya maka diketahui bahwa armada yang paling banyak mendaratkan hasil tangkapan untuk kategori kapal motor adalah alat tangkap tuna longline, sedangkan armada yang paling banyak mendaratkan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu untuk kategori perahu motor tempel adalah rampus. Armada yang paling sedikit mendaratkan hasil 60 tangkapannya di PPN Palabuhanaratu pada tahun 2009 adalah payang untuk kategori kapal motor dan trammel net untuk kategori perahu motor tempel. Tabel 22 Produksi hasil tangkapan per jenis armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Armada 2005 2006 2007 2008 2009 1.472.457 1.244.068 1.995.736 1.967.094 1.769.593 2. Gillnet 151.681 969.415 572.740 276.310 122.801 3. Rawai 86.207 87.402 48.242 24.167 - 4. Pancing tonda 198.804 309.329 284.068 292.167 601.221 5. Pancing ulur 103.354 16.237 88.216 66.314 34.752 1.258.582 679.737 82.177 472.360 259.494 7. Trammel net - 683 - - - 8. Payang - - 6.838 16.870 3.931 9. Rampus - - - 3.451 4.489 123.128 196.679 44.161 76.547 150.503 - - 1.067.357 3.612 40.059 6.609 3.769 1.673 1.936 413 3.106.329 1.687.489 1.444.282 189.809 212.112 14. Rampus 27.677 100.757 268.033 1.059.129 682.472 15. Pancing ulur 65.702 165.996 152.733 130.917 68.427 16. Jaring klitik - - - - - 6.600.530 5.461.561 6.056.256 4.580.683 3.950.267 A. Kapal motor 1. Tuna longline 6. Bagan 10. Purse Seinne B. Perahu motor tempel 11. Bagan 12. Trammel net 13. Payang Jumlah Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu memiliki keberagaman yang sangat tinggi, karena didaratkan oleh armada penangkapan ikan yang beragam seperti di atas. Namun terdapat hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah yaitu pada Tabel 23. Hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 (tabel 23) adalah cakalang, cucut, layang, layur, pepetek, tembang, tongkol abu-abu, tongkol banyar, tongkol lisong, tuna big eye, tuna albakora dan tuna yellow fin. Diantara hasil tangkapan dominan di atas yang paling banyak didaratkan tahun 2005 dan 2006 adalah cakalang dan 61 tuna yellow fin, sedangkan yang paling sedikit adalah tongkol abu-abu. Pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 hasil tangkapan dominan yang paling banyak didaratkan di PPN Palabuhanratu adalah tuna big eye dan tembang, sedangkan yang paling sedikit didaratkan adalah cucut dan tongkol abu-abu. Tabel 23 Hasil tangkapan yang dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu secara jumlah tahun 2005-2009 Jenis hasil tankapan 1. Cakalang (Katsuwonus pelamis) 2. Cucut (Carcharhinus sp.) 3. Layang (Decapterus sp.) 4. Layur (Trichiurus savala) 5. Peperek/Pepetek (Leiognathus sp. ) 6. Tembang (Sardinella albella) 7. Tongkol Abu-abu (Auxis sp. ) 8. Tongkol Banyar (Auxis sp. ) 9. Tongkol Lisong (Auxis sp. ) 10. Tuna Big Eye (Thunnus obesus) 11. Tuna Albakora (Thunnus alalunga) 12. Tuna Yellow Fin (Thunnus albacares) 13. Lainnya Jumlah Jumlah (kg) 2007 2005 2006 2008 2009 1.860.679 1.001.301 742.047 272.577 320.733 94.756 114.800 56.249 44.168 20.285 338.200 - 66.104 107.689 120.787 188.993 222.642 246.691 203.203 103.230 265.263 144.007 307.164 44.484 29.917 60.989 369.578 866.316 1.497.882 739.610 12.755 506.543 210.760 74.256 12.050 163.130 152.035 9.607 - - 462.919 454.285 787.451 38.143 301.675 273.246 562.035 1.289.866 1.403.295 1.272.155 144.018 143.796 59.258 23.565 107.687 1.495.105 677.842 683.271 590.557 542.584 1.240.477 6.600.530 1.112.697 5.461.561 731.472 6.056.256 280.864 4.580.683 379.554 3.950.267 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 2) Ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu Ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat merupakan hasil tangkapan yang berasal dari luar daerah PPN Palabuhanratu. Hal ini dapat dikarenakan oleh beberapa sebab yaitu di PPN Palabuhanratu permintaan ikan lebih besar dan pasar lebih besar, terlihat dari ikan yang dijual di PPN Palabuhanratu selalu habis terjual dan terlihat banyak penjual dan pembeli yang 62 beraktivitas di pasar ikan PPN Palabuhanratu. Selain itu juga disebabkan fasilitas pemasaran yang cukup memadai di PPN Palabuhanratu yang merupakan satusatunya pelabuhan tipe B di selatan Jawa Barat. Berikut ini ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat berdasarkan jenis ikannya : Tabel 24 Jenis dan jumlah ikan masuk melalui jalur darat yang dominan secara jumlah ke PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jenis ikan 1. Bandeng (Chanos chanos) 2. Cakalang (Katsuwonus pelamis) 3. Eteman (Mene maculata) 4. Kembung (Rastrellinger sp.) 5. Layang (Decapterus sp. ) 6. Layur (Trichiurus savala ) 7. Marlin/Jangilus (Makaira indica) 8. Swangi/Camaul (Priacanthus sp.) 9. Tembang (Sardinella albella) 10. Tongkol (Auxis sp. ) Jumlah Jumlah (kg) 2007 2005 2006 2008 2009 481.472 233.500 687.100 1.004.000 469.500 36.950 7.900 31.700 - 338.400 1.218.400 560.300 740.700 385,500 554.000 78.580 165.250 609.600 49.560 47.350 - 448.178 828.100 38.000 229.000 376.375 633.256 1.624.200 1.086.300 1.329.200 288.400 165.900 223.200 179.500 188.500 660.100 269.000 307.400 48.500 325.100 54.320 4.070 70.960 125.500 175.500 2.337.102 1.819.500 1.865.600 877.000 446.500 5.872.569 4.472.158 7.490.428 4.256.260 4.766.510 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Jenis ikan dominan yang paling banyak masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat tahun 2009 berdasarkan Tabel 24 adalah ikan layur (1.329.200 kg), sedangkan ikan dominan dengan jumlah paling sedikit masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat tahun 2009 adalah ikan kembung (47.350 kg). Jumlah ikan yang paling banyak masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2007 adalah ikan tongkol (diatas 1.800.000 kg per tahun), namun tahun 2008 mulai menurun. 63 Ikan-ikan di atas masuk dari berbagai daerah, baik dari daerah yang berada di dalam Kabupaten Sukabumi maupun dari luar Kabupaten Sukabumi. Pasokan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu berasal dari (Tabel 25) berikut ini : Tabel 25 Jumlah ikan masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah asal tahun 2005-2009 Jumlah ikan (kg) Daerah asal 2005 2006 2007 2008 2009 1. Jakarta 4.538.727 2.825.900 3.932.300 1.613.500 1.849.700 2. Cisolok 69.895 84.195 78.085 112.810 99.900 3. Loji 35.005 63.413 104.308 14.800 5.000 4. Ujung genteng 362.950 526.900 1.512.900 587.800 758.950 5. Binuangeun 29.692 23.450 63.435 290.850 313.360 6. Cianjur/Cidaun 210.000 200.000 7. Blanakan 65.500 8. Pameungpeuk 31.000 230.000 9. Cibereno 61.700 10. Pangandaran 60.000 11. Indramayu 773.775 404.000 915.100 266.000 204.500 12. Gadobangkong 4.675 13. Rancabuaya 250 14. Juwana 32.600 513.300 884.300 1.106.500 917.900 15. Bengkulu 25.000 16. Lampung 54.000 Jumlah 5.872.569 4.472.158 7.490.428 4.256.260 4.766.510 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah asal ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat adalah Jakarta, Loji, Ujung Genteng, Cisolok, Binuangen, Indramayu, Pangandaran, Blanakan, Pameungpeuk, Cianjur, Cibareno dan Jawana Jawa Tengah. Daerah yang paling banyak memasukkan ikan melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah Jakarta (1.849.700 kg) dan Juwana (917.900 kg), sedangkan yang paling sedikit adalah Loji (5.000 kg). Ikan yang berasal dari daerah Blanakan, Cibereno dan Pangandaran baru masuk ke PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 (PPN Palabuhanratu, 2010b). 64 Masih berdasarkan statistika PPN Palabuhanratu diketahui jumlah ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu berfluktuatif setiap tahunnya. Tidak setiap tahun suatu daerah selalu mengirimkan ikan melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu. Daerah yang selalu mengirimkan ikan melalui jalur darat terbanyak setiap tahunnya dari tahun 2004 sampai tahun 2009 ke PPN Palabuhanratu yaitu Jakarta, Cisolok, Ujung Genteng dan Binuangen. 4.3.4 Unit Pengkapan Ikan dan Nelayan di PPN Palabuhanratu 1) Armada penangkapan ikan Armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu dibedakan menjadi dua jenis yaitu perahu motor tempel (PMT) dan kapal motor (KM). Perahu motor tempel digunakan untuk pengoperasian alat tangkap payang, pancing ulur, jaring rampus, trammel net dan gillnet, sedangkan KM digunakan untuk pengoperasian alat tangkap gillnet, rawai, pancing tonda dan untuk angkutan bagan (PPN Palabuhanratu, 2010b). Jumlah armada penangkapan ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 26 di bawah ini : Tabel 26 Jenis dan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009 Tahun Jenis armada Rata-rata 2005 2006 2007 2008 2009 PMT (unit) 428 511 531 416 364 450 KM (unit) 248 287 321 230 394 296 Jumlah (unit) 676 798 852 646 758 746 Pertumbuhan (%) 18,0 6,8 -24,2 17,3 4,5 Keterangan : PMT = perahu motor temple; KM = Kapal motor Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Pada Tabel 26 diketahui bahwa keseluruhan armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berjumlah 758 unit, jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 17,34%. Armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 tersebut terdiri dari PMT sebanyak 364 unit (48,02%) dan KM sebanyak 394 unit (51,98%). 65 900 800 Jumlah (unit) 700 600 500 PMT 400 KM 300 Jumlah kapal 200 100 0 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Keterangan : PMT = perahu tanpa motor; KM = Kapal motor Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 5 Grafik perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009. Berdasarkan Gambar 5 diketahui bahwa armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami peningkatan, sedangkan tahun 2008 jumlah armada penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu menurun dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2009. Armada PMT di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2007 mengalami peningkatan, namun mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai tahun 2009. Armada KM di PPN Palabuhanratu cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2005 sampai dengan 2007. Pada tahun 2008 jumlah armada KM di PPN Palabuhanratu menurun, namun pada tahun 2009 jumlah KM di PPN Palabuhanratu kembali mengalami peningkatan. Hal ini diduga disebabkan nelayan PPN Palabuhanratu berpindah dari alat tangkap payang yang memakai PMT ke alat tangkap pancing rumpon yang memakai armada KM, sesuai dengan hasil wawancara peneliti terhadap nelayan dan pengelola PPN Palabuhanratu. 2) Alat penangkapan ikan Jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan di PPN Palabuhanratu pada n 2009 tahum antara lain payang, pancing ulur, jaring rampus, bagan apung, trammel net, gillnet, rawai, pancing tonda dan tuna longline (Tabel 27). 66 Tabel 27 Jenis dan jumlah alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2009 Alat tangkap Jumlah (unit) Persentase (%) 25,2 1. Pancing ulur 188 6,4 2. Jaring rampus 48 10,3 3. Payang 77 3,4 4. Dogol 25 18,0 5. Bagan 134 8,7 6. Pancing tonda 65 7,0 7. Gillnet 52 21,0 8. Tuna longline 157 100,0 Jumlah 746 6,4 - 25,2 Kisaran 25 – 188 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Keseluruhan alat penangkapan ikan tersebut berjumlah 746 unit. Alat penangkapan yang dominan di PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan Tabel 28 dan Gambar 6 adalah pancing ulur 188 unit (25,2%) , tuna longline 157 unit (21,0%) dan bagan 134 unit (18,0%). Alat penangkapan ikan lainnya yang terdapat di PPN Palabuhanratu berjumlah di bawah 100 unit, alat tangkap tersebut adalah payang, jaring rampus, pancing tonda, dogol dan gillnet. Tuna longline 21% Pancing ulur 25% Gillnet 7% Jaring rampus 7% Pancing tonda 9% Payang 10% Bagan 18% Dogol 3% Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 6 Komposisi alat penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2009. 67 3) Nelayan Nelayan yang ada di PPN Palabuhanratu meliputi nelayan penetap dan nelayan pendatang. Nelayan penetap merupakan nelayan yang berdomisili di wilayah Kecamatan Palabuhanratu, sedangkan nelayan pendatang merupakan nelayan yang berasal dari luar wilayah Kecamatan Palabuhanratu. Nelayan di PPN Palabuhanratu didominasi oleh nelayan penetap. Berdasarkan status kepemilikan unit penangkapan ikannya, nelayan di PPN Palabuhanratu terdiri dari nelayan pemilik dan nelayan pekerja atau anak buah kapal (ABK). Nelayan pemilik adalah nelayan yang memiliki modal berupa kapal dan alat tangkap, sedangkan ABK adalah nelayan yang tidak memiliki peranan dalam pembelian alat tangkap maupun kapal melainkan hanya bekerja dan berperan dalam kegiatan operasi penangkapan saja. Berdasarkan waktu kerjanya, nelayan di PPN Palabuhanratu dikelompokkan menjadi nelayan penuh dan nelayan sambilan utama. Nelayan penuh adalah nelayan yang seluruh waktu kerjanya digunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan, sedangkan nelayan sambilan utama adalah nelayan yang sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan. Pekerjaan sambilan nelayan adalah bertani, beladang atau berkebun, tukang, buruh angkut dan lainnya. Nelayan di PPN Palabuhanratu didominasi oleh nelayan penuh, hal ini dibuktikan dengan kegiatan mereka yang hanya di rumah jika tidak pergi melaut. Berikut ini adalah jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai 2009 : Tabel 28 Jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Tahun Nelayan 2005 2006 2007 2008 2009 Jumlah (orang) 3.498 4.363 5.994 3.900 4.453 Pertumbuhan (%) 24,7 37,4 -34,9 14,2 Rata-rata 4441,60 10,34 Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Berdasarkan Tabel 28 diketahui bahwa nelayan di PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 berjumlah 4.453 orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 sebesar 14,2%. Hal tersebut sesuai dengan peningkatan jumlah armada penangkapan ikan yang beroperasi di PPN Palabuhanratu. 68 7.000 Jumlah (orang) 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber : PPN Palabuhanratu, 2010b (data diolah kembali) Gambar 7 Grafik perkembangan jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2000-2009. Pertumbuhan rata-rata jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 adalah 10,34%. Pertumbuhan tersebut terdiri dari peningkatan dan penurunan jumlah nelayan. Menurut Tabel 28 dan Gambar 7 diketahui bahwa jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 cenderung meningkat setiap tahunnya. Penurunan jumlah nelayan terjadi pada tahun 2008 sebesar 34,9% dan kembali meningkat pada tahun 2009. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah armada di PPN Palabuhanratu, dimana jumlah armada pada tahun 2008 menurun dan kembali meningkat pada tahun 2009 (Tabel 26 dan Gambar 5). 4.3.5 Daerah dan Musim Penangkapan Ikan 1) Daerah Penangkapan Ikan Salah satu faktor penentu keberhasilan operasi penangkapan ikan adalah penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground). Metode yang digunakan oleh nelayan PPN Palabuhanratu dalam menentukan daerah penangkapan ikan (DPI) umumnya berpedoman pada tanda-tanda alam seperti air yang berbusa, burung yang terbang dekat permukaan air dan warna air yang lebih gelap. Penentuan DPI juga dilakukan berdasarkan pengalaman nelayan pada trip-trip penangkapan ikan sebelumnya. 69 Berikut ini adalah DPI berdasarkan armada dan alat tangkap di PPN Palabuhanratu tahun 2010 : Tabel 29 Daerah penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis/ukuran kapal 1. Perahu Motor Tempel (PMT) Jenis alat tangkap Payang Pancing ulur Rampus Trammel net Purse seine Bagan Gillnet Pancing ulur 2. Kapal Motor (KM) < 10 GT Rawai Trammel net Pancing tonda Payang 3. Kapal Motor (KM) 11-20 GT 4. Kapal Motor (KM) 21-30 GT Gillnet Rawai Gillnet Rawai Tuna longline Gillnet 5. Kapal Motor (KM) > 30 GT Rawai Tuna longline Daerah penangkapan ikan Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangeun Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng Samudra Hindia Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangeun Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Samudra Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, Samudera Hindia Sumatera, Jawa Tengah, Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon Samudra Hindia Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b Daerah penangkapan ikan yang menjadi tujuan nelayan PPN Palabuhanratu dalam operasi penangkapannya yaitu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah, Binuangen, Cidaun, Ujung Kulon, Sumatera, Jawa Tengah dan Samudera 70 Hindia (Tabel 29). Namun terdapat beberapa DPI yang paling sering menjadi tujuan nelayan yaitu Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng dan Samudera Hindia. Perahu motor tempel yang mengoperasikan alat tangkap payang, beroperasi di sekitar Perairan Teluk Palabuhanratu, Ujung Genteng, Bayah dan Binuangeun, sedangkan alat tangkap pancing ulur, rampus dan trammel net beroperasi hanya di sekitar teluk Palabuhanratu. Kapal motor berukuran ≤ 10 GT memiliki DPI di sekitar Teluk Palabuhanratu, perairan selatan Jawa hingga ke Samudera Hindia. Kapal motor ukuran 11-30 GT dan > 30 GT beroperasi di DPI perairan Ujung Genteng, Cidaun, Ujung Kulon, perairan sekitar Sumatera dan Samudera Hindia. Keberagaman DPI bagi kapal-kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dikarenakan perbedaan kemampuan mesin kapal, penyesuaian kapal terhadap kondisi alam dan alat tangkap yang dioperasikan. 2) Musim Penangkapan Ikan Menurut pengelola PPN Palabuhanratu dan nelayan di PPN Palabuhanratu, kegiatan penangkapan ikan di PPN Palabuhanratu tidak dilakukan setiap hari sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan kegiatan penangkapan ikan bergantung kepada cuaca dan musim penangkapan ikan. Musim penangkapan ikan yang dikenal masyarakat perikanan Palabuhanratu yaitu musim barat (Desember-Maret) dan musim timur (Juni-Agustus). Selanjutnya pengelola PPN Palabuhanratu dan nelayan PPN Palabuhanratu menyatakan bahwa sebagian besar nelayan di PPN Palabuhanratu tidak melakukan operasi penangkapan di laut ketika musim barat. Hampir semua nelayan tidak melakukan aktivitas penangkapan ikan, terutama untuk kapal-kapal ukuran kecil (< 10GT). Hal ini karena pada musim ini sering terjadi angin sangat kencang, ombak yang besar dan hujan lebat. Berbeda dari musim barat, pada saat musim timur keadaan perairan relatif lebih tenang, angin yang bertiup tidak terlalu kencang dan jarang terjadi hujan. Keadaan ini memungkinkan bagi nelayan untuk turun ke laut. Musim peralihan diantara musim barat dan timur dikenal sebagai musim “Liwung”. 71 5 KONDISI AKTUAL PENANGANAN DAN MUTU HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU Penanganan hasil tangkapan dalam usaha penangkapan ikan memegang peran yang sangat penting, hal ini dikarenakan hasil tangkapan dalam usaha penangkapan ikan mempunyai karakteristik yang mudah busuk dan rusak. Penanganan terhadap hasil tangkapan akan mempengaruhi mutu hasil tangkapan yang ditangani, dikarenakan penanganan mampu membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan. Berdasarkan tinjauan pustaka sub bab 5.2 Junianto (2003) yang menyatakan mutu hasil tangkapan sebenarnya tidak dapat ditingkatkan lagi, namun hanya dapat dipertahankan dengan menghentikan metabolisme bakteri yang ada di dalam tubuhnya. Salah satu cara yang dapat digunakan yaitu dengan penyimpanan dengan es untuk mengurangi degradasi atau penurunan kesegaran fisik, mencegah penurunan mutu dan penciutan karena hasil tangkapan mengering. Hal ini sesuai dengan pendapat Moeljanto (1982) vide Hardani (2008) yaitu semakin tinggi suhu maka kecepatan membusuk juga semakin besar, sebaliknya bila suhu ikan selalu dipertahankan serendah-rendahnya maka proses pembusukan bisa diperlambat. Penanganan hasil tangkapan seharusnya dilakukan semenjak hasil tangkapan baru saja dinaikkan ke atas kapal. Berdasarkan hasil wawancara kepada responden nelayan longline, pancing rumpon atau pancing tonda, payang, bagan, rawai layur dan gillnet diperoleh cara penanganan hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu pada saat di atas kapal (Tabel 30). Hasil tangkapan mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda pada saat di atas kapal, pada ikan tuna dan tuna-tuna kecil diberikan penanganan berupa pembuangan insang dan isi perut, lalu khusus untuk tuna hasil tangkapan longline dilakukan pembungkusan ikan dengan plastik sebelum dimasukkan ke dalam palka. Ikan cakalang, tongkol dan layur hanya dimasukkan ke dalam styrofoam atau blong berlapis es curah dengan urutan penyusunan es-ikan-es-ikan-es. Penanganan yang diberikan pada ikan kecil lainnya (tembang, selar, pepetek dan lainnya) tidak sebaik penanganan hasil tangkapan lainnya karena hasil tangkapan ini sebagian besar ditempatkan di dalam wadah tanpa diberi es curah. 72 Tabel 30 Cara penanganan hasil tangakapan di atas kapal berdasarkan jenis ikan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Cara penanganan di atas kapal 1. Tuna  Tuna longline : insang dan isi perut dibuang, rongga kepala (Thunnus sp.) dan perut diberi es curah, ikan dibungkus dengan plastik, ditimbang, diberi label, lalu dimasukkan kedalam palka dengan sistem pendingin (air es)  Pancing rumpon : insang dan isi perut ikan dibuang, lalu rongga kepala dan perut diisi dengan es curah, baru kemudian ikan dimasukkan ke dalam palka berisi es curah 2. Tuna-tuna  Tuna longline : sama dengan HT tuna kecil  Pancing rumpon : ikan dimasukkan ke dalam palka berisi (Thunnus sp.) es curah (biasanya menggunakan es curah yang telah digunakan pada penanganan tuna pada trip sebelumnya); urutan penempatan es dan ikan : es-ikan-es-ikan-es 3. Cakalang  Pancing rumpon, longline dan payang : ikan dimasukkan (Katsuwonus ke dalam palka, blong atau styrofoam berisi es curah, ikan pelamis) dan es curah disusun di dalam palka atau styrofoam secara berlapis dengan urutan es-ikan-es-ikan-es-ikan-es  Gillnet : ditempatkan diatas dek begitu saja atau disatukan dengan hasil tangkapan kecil lainnya (butir 6) 4. Tongkol  Ikan ditempatkan ke dalam blong, diberi es curah, ikan dan (Auxis sp.) es curah ditempatkan dengan urutan : es-ikan-es-ikan-es 5. Layur  Penempatan ikan dilakukan menggunakan styrofoam, di (Trichiurus dalam styrofoam ikan disusun berlapis dengan es curah savala)  Terkadang jika jumlah ikan sedikit, maka ikan hanya disatukan dan diikat menggunakan tali 6. Ikan kecil  Biasanya ikan ditempatkan ke dalam styrofoam, keranjang lainnya bambu atau karung tanpa diberi es curah. Hanya sedikit nelayan yang memberi hasil tangkapan mereka es curah Adanya perbedaan penanganan yang dilakukan oleh nelayan terhadap hasil tangkapan di atas kapal dikarenakan antara lain perbedaan jenis hasil tangkapan dan perbedaan lama trip penangkapan ikan yang dilakukan. Umumnya armada perikanan yang melakukan trip penangkapan ikan selama 3 hari atau lebih menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya di atas kapal, sedangkan armada perikanan yang one day fishing jarang menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya. Armada perikanan one day fishing yang paling banyak menggunakan es curah dalam penanganan hasil tangkapannya di atas kapal adalah payang. 73 Perbedaan penanganan yang dilakukan nelayan terhadap hasil tangkapan di atas juga didasarkan pada perbedaan nilai produk dan tujuan pendistribusinya. Hasil tangkapan tuna yang dianggap oleh nelayan bernilai ekonomis lebih tinggi dan tujuan ekspor ditangani dengan penanganan khusus yang berbeda bila dibandingkan dengan hasil tangkapan lainnya yang memiliki nilai ekonomis lebih rendah dari pada tuna dan hanya bertujuan lokal dan nasional. Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu tidak hanya mengalami penanganan di atas kapal, tetapi juga akan mengalami penanganan lainnya selama berada di PPN Palabuhanratu. Penanganan tersebut adalah penanganan di tempat pendaratan (di dermaga), di tempat pedagang pengumpul dan di tempat pedagang pengecer. Selain penanganan-penanganan tersebut, seharusnya terdapat penanganan hasil tangkapan pada saat di TPI, namun hal ini tidak terdapat di PPN Palabuhanratu. Menurut pengamatan di lapangan nelayan di PPN Palabuhanratu tidak menjual hasil tangkapannya melalui pelelangan di TPI PPN Palabuhanratu, sehingga menyebabkan penanganan hasil tangkapan di TPI tidak dilakukan. Tidak adanya proses pelelangan di TPI PPN Palabuhanratu juga dikemukakan oleh Hamzah (2011). 5.1 Penanganan di Tempat Pendaratan 1) Penanganan tuna Ikan tuna (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan utama alat tangkap pancing rumpon dan tuna longline. Kedua alat tangkap tersebut menggunakan cara yang berbeda dalam penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan. a) Penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan wawancara diketahui bahwa nelayan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu tidak melakukan penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan. Hasil tangkapan tuna setelah dikeluarkan dari palka langsung diangkut menuju ke tempat perusahaan pengumpul tuna di dekat dermaga II. Pengangkutan hasil tangkapan tuna tersebut dilakukan menggunakan gerobak kayu. 74 Tidak adanya penanganan hasil tangkapan tuna yang dilakukan oleh nelayan pancing rumpon di tempat pendaratan bertujuan untuk mengurangi pengeluaran dan agar hasil tangkapan dapat langsung dibawa dan dijual kepada perusahaan pengumpul tuna. Jika hasil tangkapan tuna langsung dijual kepada perusahaan pengumpul tuna, maka nelayan akan lebih cepat mendapatkan uang hasil penjualan hasil tangkapan tuna tersebut. b) Penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline Penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan pada alat tangkap longline dilakukan di atas dermaga. Penanganan yang dilakukan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan dilakukan oleh perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu, bukan oleh nelayan. Penanganan yang dilakukan adalah :  Penggunaan terpal sebagai alas tempat ikan tuna dan es curah agar tidak diletakkan di atas lantai dermaga yang kotor (Gambar 8). Gambar 8 Penggunaan terpal sebagai alas ikan pada penanganan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Pemberian es ke dalam rongga kepala dan perut ikan tuna dengan cara mengganti es sebelumnya yang terdapat di dalam rongga tersebut dengan es curah yang baru (Gambar 9) 75 Gambar 9 Pengisian es pada rongga kepala dan perut ikan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Pemberian es curah pada susunan ikan secara berlapis saat ikan diletakkan dan disusun di dalam mobil bak tertutup sebelum didistribusikan; dengan urutan estuna-es-tuna-es dan seterusnya (Gambar 10) Gambar 10 Penyusunan ikan tuna dan es pada mobil bak tertutup tahun 2010. Setelah penanganan selesai dilakukan dan hasil tangkapan tersebut telah disusun berlapis es di dalam mobil bak tertutup, hasil tangkapan langsung didistribusikan ke luar daerah (ke Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta) untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri. Alat bantu yang digunakan dalam penanganan hasil tangkapan tuna di tempat pendaratan adalah terpal, sedangkan bahan yang digunakan dalam penanganan adalah es curah. 76 2) Penanganan tuna-tuna kecil Ikan tuna-tuna kecil merupakan hasil tangkapan tuna yang berukuran kurang dari 30 kg. Ikan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan sampingan alat tangkap pancing rumpon, tuna longline dan payang. Nelayan ketiga alat tangkap tersebut tidak melakukan penanganan terhadap tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. Perusahaan pengumpul tuna yang melakukan penanganan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan (sub bab 5.1 butir 1), tidak melakukan penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan. Hasil tangkapan tuna-tuna kecil alat tangkap pancing rumpon, tuna longline dan payang hanya dikeluarkan dari palka atau styrofoam lalu diangkut ke tempat perusahaan pengumpul tuna di dekat dermaga II dengan bantuan gerobak kayu. Tidak adanya penanganan yang dilakukan nelayan ketiga alat tangkap tersebut terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya dikarenakan tuna-tuna kecil tersebut harganya jauh di bawah tuna dan hanya didistribusikan dengan tujuan lokal dan nasional. Pedagang lokal dan nasional tidak memiliki standar mutu hasil tangkapan yang mereka terima, sedangkan importir luar negeri memiliki kriteria mutu hasil tangkapan yang mereka terima. Hal ini membuat nelayan dan perusahaan pengumpul lebih memperhatikan mutu hasil tangkapan yang bisa didistribusikan dengan tujuan ekspor seperti ikan tuna dan kurang memperhatikan hasil tangkapan dengan tujuan distribusi lokal dan nasional seperti tuna-tuna kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Pane (2012) yang menyatakan bahwa harga ikan tuna dan layur yang tinggi membuat nelayan PPN Palabuhanratu yang menangkap ikan tuna dan layur melakukan penanganan dengan lebih baik, contohnya dengan melakukan pengesan bagi ikan tuna dan penyimpanan di dalam kotak styrofoam berisi es curah bagi ikan layur dan bahkan ikan layur tersebut “digendong” dengan hati-hati sewaktu pengangkutannya saat pendaratan; yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. 3) Penanganan cakalang Ikan cakalang (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan alat tangkap gillnet, pancing rumpon, tuna longline dan payang di PPN 77 Palabuhanratu. Keempat alat tangkap tersebut mempunyai cara penanganan hasil tangkapan cakalang yang berbeda di tempat pendaratan yaitu : a) Penanganan cakalang hasil tangkapan gillnet Ikan cakalang pada alat tangkap gillnet di tempat pendaratan tidak ditangani oleh nelayan gillnet. Jumlah hasil tangkapan cakalang pada alat tangkap gillnet biasanya tidak banyak dan tidak selalu didapatkan oleh nelayan pada saat operasi penangkapan ikan. Jumlahnya yang sedikit membuat hasil tangkapan cakalang langsung didaratkan oleh nelayan dengan diangkat menggunakan tangan untuk dijual kepada pedagang pengumpul atau pedagang pengecer. b) Penanganan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon Penanganan yang dilakukan oleh nelayan pancing rumpon terhadap hasil tangkapan cakalang yaitu penempatan hasil tangkapan cakalang ke dalam blong di tempat pendaratan (Gambar 11). a.Ikan dikeluarkan dari palka b.Ikan dimasukkan ke dalam blong Gambar 11 Penanganan ikan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Penempatan seperti di atas bertujuan agar hasil tangkapan tidak diletakkan di lantai dek atau dermaga yang kotor dan tidak diletakkan di atas gerobak tanpa alas pada saat pengangkutan hasil tangkapan ke tempat pengumpul. Penanganan seperti di atas menyebabkan tidak ada bahan (es, garam atau air laut) yang digunakan dalam penanganan ikan cakalang hasil tangkapan pancing rumpon di tempat pendaratan. 78 c) Penanganan cakalang hasil tangkapan tuna longline Ikan cakalang hasil tangkapan tuna longline tidak ditangani oleh nelayan di tempat pendaratan. Sesaat setelah didaratkan, ikan cakalang langsung diangkut menggunakan gerobak kayu ke tempat pedagang pengumpul di pasar belakang TPI. Sama halnya dengan hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya, tidak adanya penanganan terhadap hasil tangkapan cakalang dikarenakan harga jual cakalang berada di bawah harga tuna dan hanya didistribusikan lokal atau ke daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. d) Penanganan cakalang hasil tangkapan payang Di tempat pendaratan, ikan cakalang hasil tangkapan payang yang disimpan di dalam blong langsung didaratkan oleh nelayan tanpa dikeluarkan dari blong dan tanpa ditangani telebih dahulu. Blong-blong yang berisi ikan cakalang setelah sampai di atas dermaga langsung diangkut ke tempat pedagang pengumpul di pasar belakang TPI menggunakan bantuan gerobak kayu. Tidak adanya penanganan yang dilakukan di tempat pendaratan menurut nelayan payang karena jarak antara tempat pendaratan (dermaga pendaratan di depan TPI) ke tempat pedagang pengumpul (pasar belakang TPI) sangat dekat. Nelayan payang juga berpendapat kalau ada atau tidaknya penanganan yang dilakukan di tempat pendaratan tidak merubah harga ikan saat dijual kepada pedagang pengumpul, selain itu tidak adanya penanganan juga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. 4) Penanganan tongkol Ikan tongkol (Lampiran 3) di PPN Palabuhanratu merupakan hasil tangkapan dua jenis alat tangkap yang terdapat di PPN Palabuhanratu yaitu alat tangkap payang dan pancing rumpon. Penanganan hasil tangkapan tongkol pada kedua alat tangkap tersebut sedikit berbeda. Berikut ini adalah penanganan hasil tangkapan tongkol pada masing-masing alat tangkap di atas : a) Penanganan tongkol hasil tangkapan payang Alat tangkap payang merupakan alat tangkap one day fishing, yang berangkat melaut pada pagi hari dan mendaratkan hasil tangkapannya pada sore 79 sampai malam hari. Trip penangkapan yang demikian menyebabkan sebagian besar kapal payang di PPN Palabuhanratu tidak memiliki palka, sehingga nelayan paying menggunakan blong sebagai wadah hasil tangkapan utamanya. Kalaupun di kapal payang tersebut tersedia palka, palka tersebut hanya digunakan sebagai tempat meletakkan blong yang berisi hasil tangkapan. Hal ini sesuai dengan pendapat Pane (2008) yang menyatakan bahwa payang sering menggunakan blong, yang berfungsi sebagai pengganti palka karena payang tidak memiliki palka. Blong juga digunakan pada saat pendaratan dan penjualan ikan di TPI. Nelayan payang tidak melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan tongkol yang didaratkan. Hal ini karena nelayan payang tidak mempedulikan penanganan di tempat pendaratan, menurut mereka jarak dari tempat pendaratan (dermaga pendaratan di depan TPI) ke tempat pedagang pengumpul (pasar belakang TPI) sangat dekat dan adanya penanganan tidak merubah harga ikan pada saat dijual kepada pedagang pengumpul, terutama pada saat musim ikan. Blong-blong yang berisi hasil tangkapan tongkol langsung didaratkan dan diangkut menuju ke tempat pedagang pengumpul dengan bantuan gerobak kayu. b) Penanganan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon Sistem penanganan yang dilakukan nelayan pancing rumpon terhadap hasil tangkapan tongkolnya di tempat pendaratan adalah penempatan hasil tangkapan ke dalam wadah baru. Hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan ditempatkan ke dalam blong milik pengumpul. Penempatan hasil tangkapan tersebut bertujuan agar hasil tangkapan tidak diletakkan di lantai dek atau dermaga yang kotor dan tidak diletakkan di atas gerobak tanpa alas pada saat pengangkutan hasil tangkapan ke tempat pengumpul. 5) Penanganan layur Ikan layur (Lampiran 3) ditangkap menggunakan alat tangkap pancing atau rawai yang melakukan operasi penangkapan ikan dengan sistem one day fishing. Hal ini membuat hasil tangkapan secara umum hanya disimpan di dalam styrofoam atau disatukan dan diikat menggunakan tali. Penjelasan ini sesuai dengan Pane (2008), yang menyatakan nelayan rawai layur menggunakan 80 styrofoam sejak penangkapan, pendaratan sampai pemasaran hasil tangkapan sebagai wadah. Menurut pengamatan di lapangan diketahui bahwa pada saat pendaratan styrofoam yang berisi ikan layur atau hasil tangkapan layur yang disatukan dalam bentuk ikatan langsung diangkat ke atas dermaga oleh nelayan menggunakan tangan untuk langsung dijual kepada pengumpul tanpa ditangani terlebih dahulu. Menurut nelayan yang menangkap layur, tidak adanya penanganan karena penanganan memerlukan biaya dan mereka merasa berat dengan biaya tersebut. Selain itu menurut nelayan hasil tangkapan layur tersebut langsung di tangani setelah sampai di tangan pedagang pengumpul atau pedagang pengecer, sehingga mereka tidak perlu melakukan penanganan dan hanya perlu secepatnya menjual hasil tangkapan layur tersebut kepada pedagang pengumpul atau pedagang pengecer. 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Ikan tembang, layang, kuwe, kakap, selar, kembung, udang rebon, cumi dan ikan kecil lainnya merupakan hasil tangkapan gillnet, rampus, bagan dan alat tangkap tradisional lainnya. Umumnya alat tangkap tersebut tidak menggunakan es dalam penanganan hasil tangkapannya dan hasil tangkapan hanya dimasukkan kedalam keranjang bambu, styrofoam atau karung. Nelayan tidak melakukan penanganan terhadap ikan-ikan tersebut di tempat pendaratan. Nelayan menyatakan bahwa mereka tidak melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan di tempat pendaratan karena ada atau tidaknya penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan harga jual hasil tangkapan tersebut sama saja. Jadi pada saat pendaratan wadah-wadah yang berisi hasil tangkapan dibawa langsung oleh nelayan memakai tangan tanpa bantuan apapun ke atas dermaga. Sesampai di atas dermaga, hasil tangkapan tersebut langsung dijual kepada pedagang pengecer, pedagang pengumpul (yang sebagian besar adalah pemilik coldstorage pribadi) atau pengolah yang telah menunggu mereka di atas dermaga. Berdasarkan pembahasan dari sub bab 5.1 ini dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan secara keseluruhan belum 81 dilakukan. Penanganan hanya dilakukan terhadap ikan tuna hasil tangkapan tuna longline, cakalang hasil tangkapan pancing rumpon dan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon. Penanganan yang dilakukan terhadap tuna hasil tangkapan tuna longline adalah pemberian es curah, sedangkan penanganan terhadap cakalang dan tongkol hasil tangkapan pancing rumpon adalah penempatan hasil tangkapan ke dalam wadah. Tidak adanya penanganan beberapa hasil tangkapan di tempat pendaratan dikarenakan menurut pendapat nelayan yang menangkap hasil tangkapan tersebut ada atau tidaknya penanganan di tempat pendaratan tidak mempengaruhi harga jual hasil tangkapan tersebut, jarak pengangkutan yang dekat, harga jual hasil tangkapan tersebut yang tidak tinggi dan dengan tidak adanya penanganan dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh nelayan. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tidak adanya penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan disebabkan kurangnya kesadaran nelayan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapannya. 5.2 Penanganan di Tempat Pedagang atau Perusahaan Pengumpul Pedagang pengumpul yang dimaksud adalah pedagang yang mengumpulkan jenis ikan tertentu dari banyak nelayan untuk didistribusikan kembali namun tidak memiliki badan hukum. Perusahaan pengumpul yang dimaksud adalah pedagang yang mengumpulkan ikan tertentu dari banyak nelayan atau dari banyak pedagang pengumpul untuk didistribusikan dan memiliki badan hukum. Perusahaan dapat berupa perusahaan terbatas (PT) atau CV. 1) Penanganan tuna Hasil tangkapan tuna yang sampai ke tempat perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu umumnya adalah ikan tuna hasil tangkapan alat tangkap pancing rumpon. Hal ini dikarenakan tuna hasil tangkapan alat tangkap tuna longline ditangani oleh perusahaan pengumpul tuna di tempat pendaratan seperti yang telah dikemukakan pada sub bab 5.1 butir 1b. Ikan tuna hasil tangkapan alat tangkap tuna longline tersebut setelah ditangani langsung dimasukkan ke mobil bak tertutup untuk diangkut (didistribusikan) menuju Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta sebelum diekspor ke luar negeri. 82 Penanganan yang dilakukan terhadap tuna hasil tangkapan pancing rumpon oleh perusahaan pengumpul tuna adalah penggantian es curah pada rongga kepala dan perut ikan, grading (pengelompokan ikan berdasarkan ukuran dan mutu) dan pemakaian terpal. Penggantian es curah dilakukan dengan mengeluarkan es dari rongga kepala dan perut ikan tuna yang kemudian diisi kembali dengan es curah yang baru dengan tujuan mempertahankan suhu dan mutu hasil tangkapan. Grading dilakukan berdasarkan ukuran dan mutu hasil tangkapan. Hasil tangkapan yang mutunya memenuhi syarat ekspor (ukuran minimal 30 kg; mata cerah dan jernih; daging merah cemerlang; daging padat dan elastis; tidak berbau) langsung dimasukkan oleh perusahaan pengumpul tuna ke dalam mobil bak tertutup untuk diangkut menuju Jakarta, sementara hasil tangkapan yang mutunya tidak memenuhi syarat ekspor dimasukkan ke dalam coldstorage menunggu jumlah yang cukup untuk didistribusikan dengan tujuan daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. Pemakaian terpal sebagai alas pada saat penanganan bertujuan agar ikan tuna dan es curah tidak bersentuhan langsung dengan lantai yang kotor dan banyak bakteri yang dapat mempercepat kemunduran mutu ikan. Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa alat bantu dan bahan yang digunakan oleh perusahaan pengumpul tuna dalam penanganan hasil tangkapan tuna tersebut adalah coldstorage, terpal dan es curah. 2) Penanganan tuna-tuna kecil Penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil oleh perusahaan pengumpul tuna adalah penggantian es pada rongga kepala dan perut untuk hasil tangkapan tuna longline, sedangkan untuk hasil tangkapan pancing rumpon insang dan isi perut dibuang dan diganti dengan es curah yang bertujuan untuk mempertahankan suhu dan mutu hasil tangkapan. Kemudian hasil tangkapan dimasukkan ke dalam coldstorage menunggu jumlah yang cukup untuk didistribusikan dengan tujuan lokal atau daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. Alat yang digunakan oleh perusahaan pengumpul ikan tuna dalam penanganan tuna-tuna kecil berdasarkan uraian di atas adalah coldstorage dan bahan yang digunakan dalam penanganan tersebut adalah es curah. 83 3) Penanganan cakalang Hasil tangkapan cakalang di pedagang pengumpul pribadi berasal dari nelayan gillnet, longline, payang dan pancing rumpon di PPN Palabuhanratu. Hasil tangkapan tersebut kemudian mendapatkan penanganan dari pedagang pengumpul sebagai berikut : (1) Ikan cakalang ditempatkan sementara di dalam kotak plastik dengan diberi es dan air laut. Ikan dan es disusun berlapis dengan urutan es-ikan-es-ikan-es sampai kotak plastik penuh, lalu diberi air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan mutu ikan cakalang dalam menunggu ikan cakalang hasil tangkapan kapal lainnya (2) Setelah dirasa tidak ada lagi hasil tangkapan cakalang yang akan didaratkan, ikan cakalang ditempatkan ulang ke dalam blong (rata-rata 95 kg ikan per blong) dengan susunan es-ikan-es-ikan-es tanpa diberi air laut. (3) Blong dinaikkan ke atas mobil pick up (1 mobil dapat memuat 18 blong) untuk didistribusikan ke Muara baru, Pasar baru dan Muara Angke. Mobil pick up tersebut ditutupi dengan terpal untuk menjaga blong berisi ikan cakalang dari sinar matahari langsung. Dilihat dari penjelasan di atas diketahui bahwa alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengumpul dalam penanganan hasil tangkapan cakalang adalah kotak plastik, blong dan terpal untuk menutupi mobil pick up. Sementara bahan yang digunakan yaitu es bongkahan yang berasal dari es balok yang dipecah kecilkecil dan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. 4) Penanganan tongkol Ikan tongkol yang dibeli oleh pedagang pengumpul akan mengalami penanganan setelah gerobak yang mengangkut blong-blong yang berisi hasil tangkapan tongkol sampai di tempat pedagang pengumpul. Penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul terhadap hasil tangkapan tongkol adalah sebagai berikut : (1) Ikan tongkol ditempatkan sementara di dalam kotak plastik bersama es curah dan air laut (Gambar 12). Penyusunan ikan dan es di dalam kotak plastik adalah secara berlapis dengan susunan es-ikan-es-ikan-es sampai kotak plastik 84 tersebut penuh. Tahap berikutnya adalah pemberian air laut yang diambil dari kolam pelabuhan ke dalam kotak plastik. Penempatan ikan, es curah dan air laut di dalam kotak plastik dilakukan untuk mempertahankan mutu hasil tangkapan tongkol dalam menunggu hasil tangkapan tongkol kapal lainnya. a.Pemberian es b.Pemberian air laut Gambar 12 Penempatan sementara ikan tongkol oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010. (2) Setelah dirasa ikan tongkol cukup atau tidak ada lagi hasil tangkapan tongkol yang akan didaratkan, ikan tongkol ditempatkan ulang ke dalam blong dengan susunan es-ikan-es-ikan-es dan seterusnya tanpa diberi air laut. Setelah semua hasil tangkapan tongkol selesai ditempatkan ulang ke dalam blong, maka blong yang berisi hasil tangkapan tongkol dinaikkan ke atas mobil pick up untuk didistribusikan ke Muara baru, Pasar baru dan Muara angke. Mobil pick up tersebut ditutupi dengan terpal untuk menjaga blong berisi hasil tangkapan dari sinar matahari. Alat bantu yang digunakan adalah kotak plastik, blong dan terpal, sementara bahan yang digunakan yaitu es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil dan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan. 5) Penanganan layur Pedagang pengumpul hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu ada dua jenis yaitu pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul layur yaitu PT Agro Global Bisnis (AGB). Walaupun terdapat dua jenis pengumpul di PPN Palabuhanratu, tidak menyebabkan adanya persaingan diantara kedua pengumpul tersebut. Hal tersebut dikarenakan pedagang pengumpul bertugas mengumpulkan 85 hasil tangkapan layur dari nelayan, dimana hasil tangkapan layur grade A dan B (sesuai dengan standar PT ABG) yang dikumpulkannya dijual kepada PT AGB. Sementara hasil tangkapan layur yang tidak masuk kriteria kedua grade tersebut dijual oleh pedagang pengumpul kepada pengecer lokal maupun di daerah lain di luar PPN Palabuhanratu. a) Pedagang pengumpul Penanganan hasil tangkapan layur yang dilakukan di tempat pedagang pengumpul layur adalah grading berdasarkan ukuran dan mutu layur, penempatan layur ke dalam wadah dan pemberian es curah. Grading dilakukan untuk memisahkan hasil tangkapan layur yang memenuhi syarat dari PT AGB dengan yang tidak memenuhi syarat dari PT AGB. Hasil tangkapan layur dengan mutu dan ukuran yang sama dimasukkan ke dalam styrofoam yang sama lalu berisi es curah dengan tujuan mempertahankan mutu hasil tangkapan layur. b) PT Agro Global Bisnis Perusahaan Agro Global Bisnis merupakan perusahaan perseorangan yang menjual jasa pengumpulan, penanganan dan pendistribusian ikan layur ke luar negeri (ekspor). Negara tujuan ekspor PT AGB adalah negara Korea Selatan, karena pemilik PT AGB adalah orang Korea Selatan yang menanamkan investasinya di Indonesia sehingga melihat, memahami dan menguasai potensi pemasaran ikan layur di Korea Selatan. Pasokan ikan layur didapatkan oleh PT AGB dari seluruh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu. Setiap pedagang pengumpul biasanya telah mengetahui persyaratan ukuran (minimal 30 cm), suhu (kurang dari 5ºC ) dan kualitas ikan (tidak boleh lecet dan tidak boleh pecah perut) yang ditetapkan oleh PT AGB. Pedagang pengumpul pribadi dapat menjual ikan layur setiap hari kepada PT AGB mulai dari pukul 11.00 sampai dengan pukul 14.00. Pada saat ikan layur sampai di PT AGB, ikan layur akan diuji kelayakannya melalui pengujian ukuran dan suhu ikan serta pengecekan kualitas ikan. Setelah semua pengujian dilakukan baru kemudian dapat dipastikan ikan layur tersebut diterima atau tidak oleh PT AGB. 86 Ikan layur yang diterima oleh PT AGB dimasukkan ke bagian penanganan untuk ditangani dengan urutan tahapan seperti pada Gambar 13 berikut ini : Grading menurut ukuran dan mutu, ikan layur dengan ukuran dan mutu yang sama dimasukkan ke dalam keranjang plastik yang sama Pencucian ikan layur dengan air bersuhu rendah Ikan layur disusun ke dalam kotak baja ringan lalu diberi label berisi keterangan ukuran, berat dan mutu Kotak baja ringan yang berisi ikan layur dimasukkan ke dalam freezer lebih kurang 24 jam Setelah 24 jam ikan layur dikeluarkan, lalu dicuci kembali dengan air bersuhu rendah untuk membersihkan darah yang masih tertinggal Ikan layur disusun kedalam kotak kardus, lalu diberi label berisi keterangan ukuran, berat dan mutu Kotak kardus yang berisi ikan layur dimasukkan ke dalam coldstorage milik perusahaan lebih kurang 24 jam atau sampai jumlahnya mencukupi 1 mobil box Kotak kardus dipindahkan dari dalam coldstorage ke mobil bak tertutup yang memiliki pengatur suhu, untuk dibawa ke Jakarta dengan tujuan ekspor Gambar 13 Tahapan penanganan ikan layur di PT AGB tahun 2010. Perusahaan Agro Global Bisnis sangat memperhatikan kualitas ikan layur yang didistribusikannya, maka setiap pekerja diharuskan memakai sepatu bot, sarung tangan, celemek dan mencuci tangan sebelum bekerja. Alat bantu yang digunakan dalam penanganan ikan layur oleh PT AGB adalah keranjang, timbangan, kotak baja ringan, freezer, coldstorage, kotak kardus dan mobil bak tertutup. Bahan yang digunakan yaitu air dingin dengan suhu dibawah 5ºC. 87 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Pengumpul hasil tangakapan ikan kecil lain tidak mengumpulkan hasil tangkapan berdasarkan jenis hasil tangkapannya. Pedagang pengumpul lebih kepada pemilik coldstorage pribadi yang mengumpulkan hampir semua jenis hasil tangkapan ikan kecil. Sebagian besar hasil tangkapan yang sudah dikumpulkan tersebut tidak dicuci tetapi langsung dimasukkan ke dalam coldstorage, yang kemudian dijual kembali di sekitar TPI pada pagi hari kepada pemindang ikan, produsen ikan asin dan produsen terasi tanpa ada penanganan sebelum penjualan dilakukan. Kurangnya penanganan membuat hasil tangkapan yang dijual tidak lagi segar, mutunya menurun dan banyak ikan yang rusak dan tidak utuh. Hanya sebagian kecil hasil tangkapan yang ditangani untuk didistribusikan dalam bentuk segar. Jenis hasil tangkapan kecil yang umum ditangani adalah tembang. Hasil tangkapan tersebut ditangani dengan cara di masukkan ke dalam styrofoam dan diberi es balok yang sudah dipecah kecil-kecil, kemudian styrofoam tersebut dinaikkan ke atas mobil bak terbuka untuk didistribusikan. Sub bab 5.2 secara keseluruhan memberikan informasi bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul telah dilakukan. Penanganan yang dilakukan pedagang pengumpul bervariasi yang terdiri dari pencucian ikan, pemberian es, penggunaan air laut, penempatan ke dalam wadah, penggunaan pelindung berupa atap atau alas dan penyimpanan hasil tangkapan ke dalam coldstorage atau freezer. 5.3 Penanganan di Tempat Pedagang Pengecer 1) Penanganan tuna Hasil tangkapan tuna biasanya tidak dipasarkan kepada pedagang pengecer lokal, karena sangat kurangnya permintaan dan harganya yang cukup mahal bagi pedagang pengecer. Adapun hasil tangkapan tuna yang dipasarkan oleh pengecer lokal adalah tuna-tuna kecil, yang akan dibahas pada sub sub bab di bawah ini. 2) Penanganan tuna-tuna kecil Pada saat ikan tuna-tuna kecil berada di tempat pedagang pengecer terdapat beberapa cara penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengecer terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil tersebut yaitu : 88 (1) Ikan tuna-tuna kecil diletakkan di atas meja yang beralaskan daun pisang atau terpal dan dilindungi oleh atap terpal. Ikan tuna-tuna kecil ini beberapa kali disiram dengan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan agar ikan tuna-tuna kecil tetap terlihat segar (2) Ikan tuna-tuna kecil yang tidak habis terjual pada hari itu akan disimpan di dalam kotak plastik atau styrofoam dan diberi es, agar mutunya tetap terjaga sampai dijual keesokan harinya. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengecer dalam penanganan tuna-tuna kecil adalah kotak plastik atau styrofoam, meja kayu dan daun pisang. Bahan yang digunakan untuk penanganan ikan adalah es dan air laut. Es yang digunakan adalah es yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil. Air laut yang dipakai berasal dari kolam pelabuhan. 3) Penanganan cakalang Penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer terdiri dari beberapa cara. Cara-cara penanganan hasil tangkapan cakalang tersebut adalah : 1. Sebagian besar ikan cakalang ditempatkan di atas meja yang beralaskan daun pisang atau terpal, ikan tersebut disiram dengan air laut dalam selang waktu tertentu. Meja tempat meletakkan ikan cakalang dilindungi dengan atap terpal untuk melindungi ikan cakalang dari cahaya matahari langsung. 2. Ikan cakalang juga ditempatkan di dalam kotak plastik atau styrofoam. Ikan cakalang tersebut ada yang diberi air laut dan es, ada yang hanya diberi air laut, serta ada yang tidak diberi air laut maupun es 3. Jika sampai malam hari ikan cakalang tidak habis terjual, maka sisanya akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es Kotak plastik, styrofoam atau meja kayu adalah alat penanganan yang berfungsi sebagai tempat meletakkan hasil tangkapan cakalang, sedangkan terpal dan daun pisang merupakan alat penanganan yang berfungsi sebagai alas hasil tangkapan. Es dan air laut yang digunakan dalam penanganan merupakan bahan yang berfungsi menjaga mutu hasil tangkapan cakalang. Es yang digunakan dalam 89 penanganan adalah es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang digunakan diambil dari kolam pelabuhan. 4) Penanganan tongkol Tidak semua hasil tangkapan tongkol dijual ke luar daerah oleh pedagang pengumpul, sebagian kecil dijual kepada pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu. Pedagang pengecer tongkol di PPN Palabuhanratu melakukan penanganan yang beragam terhadap hasil tangkapan tongkol yaitu : (1) Sebagian besar ikan tongkol disusun di atas meja yang beralaskan daun pisang/terpal. Meja dilindungi oleh atap terpal dan ikan tongkol yang disusun di atasnya disiram dengan air dalam selang waktu tertentu (2) Terdapat juga ikan tongkol yang ditempatkan di dalam kotak plastik atau styrofoam. Ikan tersebut sebagian besar diberi air laut dan es, namun ada yang hanya diberi air laut saja (Gambar 14) Gambar 14 Penyimpanan ikan tongkol di dalam kotak plastik atau styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. (3) Jika ikan tongkol tidak habis terjual, maka sisanya akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es untuk menjaga mutunya Alat bantu yang digunakan oleh pedagang pengecer dalam penanganan hasil tangkapan tongkol berdasarkan penjelasan di atas adalah kotak plastik, styrofoam atau meja kayu sebagai wadah hasil tangkapan dan terpal atau daun pisang sebagai alas hasil tangkapan. Bahan yang digunakan dalam penanganan ini adalah es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan. 90 5) Penanganan layur Hasil tangkapan layur yang ditangani dan dijual oleh pedagang pengecer lokal adalah hasil tangkapan layur yang tidak diterima oleh PT AGB. Hal tersebut menyebabkan hasil tangkapan layur yang ditangani dan dijual oleh pedagang pengecer tersebut bukanlah hasil tangkapan layur dengan kualitas terbaik. Maka sebaiknya penanganan hasil tangkapan layur tersebut sangat diperhatikan agar kualitasnya tidak cepat turun dan sampai di tangan konsumen dengan kualitas yang masih baik. Cara penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan layur pada saat di pedagang pengecer PPN Palabuhanratu adalah : 1. Biasanya ikan layur diletakkan dan disusun di atas meja yang beralaskan terpal (Gambar 15 butir 1) atau daun pisang (Gambar 15 butir 2). Meja tersebut dilindungi oleh atap terpal agar tidak terkena cahaya matahari langsung. Beberapa kali ikan layur disiram dengan air yang diambil dari kolam pelabuhan, dengan tujuan agar ikan terlihat segar. 1. di atas meja beralas terpal 2. di atas meja beralas daun pisang Gambar 15 Penempatan ikan layur diatas meja oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. 2. Ada sebagian ikan layur yang diletakkan di atas keranjang kecil yang terbut dari anyaman bambu (Gambar 16), namun pada saat dijual ikan layur tersebut dibawa berkeliling pasar ikan tanpa penutup sehingga terkena cahaya matahari langsung 91 Gambar 16 Penempatan layur di atas keranjang oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 3. Ikan layur yang tidak habis terjual sampai malam hari akan disimpan di dalam kotak plastik dan diberi es agar mutunya tetap terjaga Bahasan di atas menginformasikan bahwa alat yang digunakan pedagang pengecer dalam penanganan hasil tangkapan layur adalah kotak plastik, styrofoam, meja kayu, keranjang dan daun pisang. Bahan yang digunakan dalam penanganan hasil tangkapan layur menurut bahasan tersebut adalah es bongkahan yang berasal dari es balok yang telah dipecah kecil-kecil dan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan di PPN Palabuhanratu. 6) Penanganan ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Hasil tangakapan tembang, layang, selar, cumi dan ikan kecil lainnya pada saat dibeli oleh pedagang pengecer dari nelayan dalam keadaan ditumpuk di dalam keranjang, styrofoam atau karung. Hanya sebagian kecil hasil tangkapan yang dibeli oleh pedagang pengecer yang sudah diberi es. Pada saat hasil tangkapan ikan-ikan kecil berada di pedagang pengecer hasil tangkapan tersebut mengalami penanganan sebagai berikut :  Ikan-ikan kecil diletakkan di atas meja kayu beralaskan daun pisang atau terpal. Ikan-ikan kecil tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukuran. Ikan-ikan tersebut beberapa kali disiram oleh pedagang pengecer menggunakan air laut yang diambil dari kolam pelabuhan agar ikan kelihatan segar  Ikan-ikan kecil ditempatkan di dalam keranjang kecil 92  Ikan-ikan kecil diletakan di dalam styrofoam. Selama penjualam ikan diberi dan direndam air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dan sedikit es agar hasil tangkapan tetap segar (Gambar 17) Gambar 17 Penempatan ikan-ikan kecil di dalam styrofoam oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010.  Jika ikan tidak habis terjual akan disimpan di dalam styrofoam dan diberi es Secara keseluruhan pembahasan pada sub bab 5.3 dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer sudah dilakukan. Penanganan yang dilakukan oleh pedagang pengecer adalah pemberian es, penggunaan air laut, penempatan atau penyimpanan di dalam wadah dan penempatan di atas meja beralas terpal atau daun pisang. 5.4 Masalah dalam Penanganan Hasil Tangkapan Masalah penanganan yang paling penting di PPN Palabuhanratu adalah pemakaian air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan baik di tingkat pedagang pengumpul maupun di tingkat pedagang pengecer (Gambar 18). Pedaganag pengumpul ikan cakalang, tongkol dan ikan kecil lainnya memakai air dari kolam pelabuhan dalam proses penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan. Begitu juga dengan pedagang pengecer yang terdapat di pasar ikan di sekitar PPN Palabuhanratu. 93 Gambar 18 Pengambil air dari kolam pelabuhan oleh pedagang pengumpul atau pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Pedagang pengumpul dan pengecer yang menggunakan air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan disebabkan tidak perlu mengeluarkan biaya dalam penggunaannya. Menurut Mahyuddin (2007) nelayan cenderung menggunakan air laut untuk membersihkan ikan karena mudah diperoleh di depan dermaga dan ketersediaan air tawar di TPI belum cukup memadai. Padahal pada tahun 2004 dilakukan penyediaan pompa air laut guna memperoleh air laut yang bersih, namun kesulitan dalam pemeliharaannya karena alat pompanya mudah korosi akibat air laut. Air kolam pelabuhan yang digunakan tersebut tidak bersih karena di dalam kolam pelabuhan PPN Palabuhanratu banyak terdapat sampah, kotoran dan minyak. Adanya material lain di dalam air dapat membuat air yang digunakan tidak bersih dan diduga mengandung bakteri yang dapat mempercepat pemunduran mutu ikan. Penggunaan air kolam pelabuhan yang kotor akan mempengaruhi mutu ikan sesuai dengan Lubis, et al.,2005 dan Pane, et al.,2007. Ilyas (1983) vide Hardani (2008) menyatakan bahwa tidak ada seekor ikan pun baik berukuran kecil maupun besar boleh bersentuhan dengan air kolam pelabuhan, bakteri atau lainnya kecuali hanya dengan wadah pengangkut ikan. Masalah lainnya adalah penempatan ikan di dalam wadah sampai terlalu padat, penggunaan air laut yang merendam ikan, tidak adanya pengawasan dari pihak pengelola PPN Palabuhanratu dan kurangnya kepedulian serta pengetahuan nelayan mengenai pentingnya penanganan hasil tangkapan. 94 Penempatan atau penyimpanan ikan di dalam wadah sampai terlalu penuh dapat menyebabkan ikan bagian bawah tertekan oleh ikan-ikan yang berada di bagian atasnya sehingga badannya rusak dan mutunya menurun. Penggunaan air laut yang merendam ikan dan diberi sedikit es bertujuan agar ikan tetap segar, namun hal ini dapat menyebabkan mutu ikan tersebut menurun. Hal tersebut dikarenakan air akan masuk ke dalam daging ikan yang dapat membuat daging ikan lembek (merusak konsistensi ikan) sehingga ikan mudah rusak atau hancur. Masalah penanganan hasil tangkapan yang cukup penting juga di PPN Palabuhanratuadalah kurangnya fasilitas dan pelayanan yang menunjang kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan jenis dan jumlah fasilitas di PPN Palabuhanratu yang terdapat pada Tabel 18 diketahui bahwa fasilitas terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan yang terdapat di PPN Palabuhanratu adalah dermaga, instalasi air bersih, TPI, pasar ikan dan Laboratorium Bina Mutu, Fasilitas tersebut kurang atau tidak dimanfaatkan oleh nelayan. Selain itu terdapat fasilitas yang berperan penting dalam penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan namun tidak terdapat di PPN Palabuhanratu yaitu pabrik es. Tidak adanya pengawasan terhadap penanganan hasil tangkapan dari pihak pengelola PPN Palabuhanratu mengakibatkan nelayan tidak melakukan penanganan hasil tangkapan dengan baik. Hal ini juga mengakibatkan pengelola PPN Palabuhanratu kurang mengetahui kondisi aktual penanganan hasil tangkapan di lapangan, sehingga tidak dapat mengambil kebijakan yang baik terhadap pengadaan atau perbaikan fasilitas pelayanan terkait penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan dan pemilihan penyuluhan dan pelatihan yang sesuai bagi nelayan. Adanya penyuluhan atau pelatihan diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan nelayan yang kurang. Adanya peningkatan pengetahuan nelayan terhadap penanganan hasil tangkapan diharapkan dapat meningkatkan kepedulian nelayan terhadap pentingnya penanganan hasil tangkapan, sehingga masalah-masalah penanganan di atas dapat dikurangi atau dihilangkan. 95 5.5 Mutu Hasil Tangkapan Didaratkan 5.5.1 Kelembagaan terkait mutu hasil tangkapan 1) Laboratorium Bina Mutu di PPN Palabuhanratu Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Laboratorium Bina Mutu (LBM) dan pihak pengelola PPN Palabuhanratu diketahui bahwa laboratorium ini merupakan tempat pengujian sampel hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuharatu. Laboratorium Bina Mutu berdiri pada tahun 2004, namun mulai beroperasi pada tahun 2006. Tugas dari LBM menurut Peraturan Tingkat I Propinsi Jawa Barat nomor 11 tahun 1991 ayat 1 tentang pengujian dan pembinaan mutu hasil perikanan (Perda Jawa Barat) adalah : a) Menginventarisasi semua unit pengolahan/pengawetan dan pelaku tata niaga hasil perikanan di daerah; b) Mencatat dan menguji secara organoleptik dan atau laboratoris mutu produk akhir hasil perikanan yang diproduksi dan atau diperdagangkan di daerah dan atau melintasi daerah dan diekspor; c) Melakukan pembinaan terhadap unit pengolahan/pengawetan dan pelaku tata niaga hasil perikanan dalam hal penanganan, pengolahan, pengepakaan dan penyimpanan hasil perikanan; d) Melakukan pembinaan terhadap laboratorium penguji mutu hasil perikanan milik swasta; e) Melakukan pengujian terhadap bahan baku, bahan pembantu serta produk akhir hasil perikanan. Selanjutnya masih dalam peraturan yang sama ayat 2 menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengujian maka LBM mengeluarkan sertifikat mutu dan surat keterangan mutu. Sertifikat mutu adalah surat yang menyatakan bahwa produk akhir hasil perikanan yang akan diekspor, berdasarkan laporan hasil pengujian adalah telah sesuai dengan standar mutu. Surat keterangan mutu adalah surat yang menerangkan bahwa produk akhir hasil perikanan yang dipasarkan pada pasar domestik, berdasarkan hasil pengujian laboratorium adalah layak dikonsumsi manusia. Kondisi aktual di lapangan menyatakan bahwa tugas butir b dan c telah dilakukan oleh LBM di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan laporan LBM PPN Palabuhanratu diketahui bahwa LBM telah melakukan pengujian formalin (Tabel 96 30), organoleptik (Tabel 34) dan angka lempeng total (Tabel 35). Pada saat penelitian dilakukan, LBM sedang melakukan pembinaan kepada nelayan di aula milik LBM dan berdasarkan hasil wawancara dengan petugas laboratorium maupun nelayan diketahui bahwa kegiatan pembinaan sudah beberapa kali dilakukan oleh LBM terkait hasil tangkapan. Menurut hasil wawancara dengan pengelola PPN Palabuhanratu dan petugas LBM PPN Palabuhanratu, Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu juga melakukan pengujian suhu terhadap hasil tangkapan. Pengujian suhu dan organoleptik terhadap hasil tangkapan dilakukan langsung pada saat inspeksi di lapangan, sedangkan pengujian lainnya dilakukan di laboratorium dengan sampel yang diambil dari lapangan. Pada tahun 2008 pengujian yang dilakukan terhadap sampel tersebut adalah uji formalin. Pengujian angka lempeng total (ALT) merupakan pengujian jumlah koloni mikroba yang terdapat pada 1 gram sampel ikan. Pengujian ALT dilakukan pada tahun 2009, sedangkan pengujian histamin dilakukan pada tahun 2011 terhadap hasil tangkapan tuna, tuna-tuna kecil, cakalang dan setuhuk. Alat pengujian ALT yang dimiliki oleh LBM PPN Palabuhanratu adalah alat penghitung koloni (Colony Counter) seperti pada Gambar 19, sedangkan alat pengujian histamin adalah Reader Stat Fax 450 nm seperti pada Gambar 20. Gambar 19 Alat penghitung koloni (Colony Counter) untuk pengujian ALT di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010. 97 Gambar 20 Alat Reader Stat Fax 450 nm untuk pengujian histamin di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2010. Petugas LBM menyatakan bahwa pengujian formalin yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu mencakup pengujian formalin terhadap ikan segar dan terhadap produk olahan. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pada ikan segar atau produk olahan tersebut terkandung formalin. Formalin adalah zat kimia yang berfungsi mengawetkan ikan segar dan produk olahan agar tidak cepat membusuk, namun zat ini berbahaya bagi kesehatan manusia sebagai konsumen ikan segar dan produk olahan tersebut. Berikut ini adalah hasil pengujian formalin ikan segar dan produk olahan yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu tahun 2008-2009. Tabel 31 Hasil uji formalin terhadap ikan segar dan produk olahan Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2008-2009 Hasil uji formalin terhadap Hasil uji formalin terhadap ikan segar (ekor) produk olahan (ekor) Tahun uji Jumlah Negatif Positif Jumlah Negatif Positif sampel (-) (+) sampel (-) (+) 2008 501 501 289 285 4 2009 63 63 65 59 6 Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel 31 di atas diketahui bahwa jumlah sampel yang diambil pada tahun 2009 menurun jika dibandingkan tahun 2008. Jumlah sampel yang positif mengandung formalin pada tahun 2008 adalah sebanyak 1,38% dari sampel yang diambil, sedangkan pada tahun 2009 sampel produk olahan yang positif mengandung formalin berjumlah 10,17% dari sampel yang diambil. 98 Tabel 32 Hasil uji formalin berdasarkan jenis ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 JS Jenis ikan (-) (+) Bulan uji (ekor) I. Penjual ikan pasar tradisional 1. Eteman (Mene maculata) 1 1 - Mei 2. Kakap (Lutjanus sp.) 3 3 - Januari, Mei, Oktober 3. Kembung (Rastrelliger sp.) 1 1 - Januari 4. Kurisi (Nemitarus 1 1 - Oktober nematopharus) 5. Lemcam (Lethrinus lentjam) 1 1 - Oktober 6. Layur (Trichiurus savala) 2 2 - Januari, Oktober 7. Marlin/Jangilus (Makaira 2 2 - Januari, Mei indica) 8. Sarden/selayang (Sardinella 1 1 - Januari longiceps) 9. Swangi/Camaul 2 2 - Mei, Oktober (Priacanthus sp.) 10. Tongkol (Auxis sp.) 2 2 - Januari, Mei 11. Tuna (Thunnus sp.) 1 1 - Januari II. TPI 1. Cumi-cumi (Loligo edulis) 1 1 - Februari 2. Kakap 2 2 - Februari, Juni 3. Kembung 1 1 - Juni 4. Kerong-kerong (Terapan sp.) 1 1 - Agustus 5. Kuwe (Caranx melampygus) 1 1 - Agustus 6. Layang (Decapterus sp.) 2 2 - Februari, Agustus 7. Layur 2 2 - Februari, Agustus 8. Marlin/Jangilus 1 1 - Juni 9. Swangi/Camaul 1 1 - Juni 10. Tetengkek/Selar 1 1 - Agustus (Megalaspis cordyla) 11. Tongkol 2 2 - Juni, Agustus 12. Tuna 1 1 - Februari III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Baronang (Siganus sp.) 1 1 - Maret 2. Bawal (Formio niger) 1 1 - Desember 3. Cumi-cumi 1 1 - Maret 4. Eteman 1 1 - November 5. Kakap 2 2 - Juli, Desember 6. Kerapu (Epinephelus sp.) 1 1 - Maret 7. Kuwe 2 2 - Juli, Desember 8. Layang 1 1 - Maret 99 Lanjutan Tabel 32 Jenis ikan 9. Layur 7. Marlin/Jangilus 8. Sarden/selayang 9. Swangi/Camaul 10. Tongkol 11. Tuna V. Penjual ikan dermaga 2 1. Eteman 2. Kakap 3. Kembung 4. Kuwe 5. Layur 6. Sarden/selayang 7. Semar/serepet (Lampis guttatis) 8. Tongkol 9. Tuna Jumlah sampel (ekor) JS (ekor) (-) 3 3 - 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 - Juli, November, Desember November Juli November Maret, November Juli, Desember 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 - April September April September April, September April 1 1 - September 1 1 63 1 1 63 - September - April - (+) Bulan uji Keterangan : JS = jumlah sampel; (-) = negatif atau tidak mengandung formalin; (+) = positif atau mengandung formalin Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Pengujian formalin terhadap ikan segar yang dilakukan LBM PPN Palabuhanratu pada Tabel 32 meliputi ikan-ikan yang terdapat pada penjual ikan di pasar tradisional, TPI, pasar ikan PPN Palabuhanratu dan penjual ikan dermaga dua. Total sampel yang diuji oleh LBM tahun 2009 berjumlah 63 ekor ikan, yaitu jenis bawal, bronang, camaul, cumi-cumi, eteman, kakap, kembung, kerongkerong, kurisi, kuwe, layang, layur, marlin, selayang, semar, selar/tetengkek, tongkol dan tuna. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 63 sampel negatif, yang artinya tidak mengandung formalin. Tidak terdapat sampel yang hasil ujinya positif, yang artinya tidak terdapat sampel yang mengandung formalin (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Pengujian formalin terhadap produk olahan yang dilakukan LBM PPN Palabuhanratu berdasar Tabel 33 meliputi ikan-ikan yang terdapat di pasar tradisional Palabuhanratu dan pasar ikan PPN Palabuhanratu. Jenis produk olahan 100 yang mendapat pengujian formalin adalah jambal, teri asin, pari asin, cumi asin, layur asin, dendeng ikan, sepat asin, japuh asin, swangi asin, cucut asin, peda asin, bakso, eteman asin, marlin asin, terasi, tembang asin, ikan pindang, kapasan asin dan teri rebus (cue) (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Tabel 33 Hasil uji formalin berdasar jenis produk olahan di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Jenis produk olahan Sampel (ekor) Negatif (-) Positif (+) I. Pasar tradisonal Palabuhanratu 1. Jambal 4 4 2. Teri asin 7 6 1 3. Pari asin 4 4 4. Cumi asin 3 3 5. Layur asin 2 2 6. Dendeng ikan 2 2 ) 7. Sepat asin* 1 1 8. Japuh asin 2 2 9. Swangi asin 1 1 10. Cucut asin 2 2 11.Peda asin 3 3 12.Bakso 3 3 13. Eteman asin 2 2 14.Marlin asin 1 1 II. Pasar ikan di PPN Palabuhanratu 1. Jambal 3 3 2. Teri asin 5 0 5 3. Peda asin 1 1 4. Cumi asin 4 4 5. Terasi 1 1 6. Tembang asin 4 4 7. Ikan pindang 2 2 8. Kapasan asin 2 2 9. Dendeng ikan 2 2 10. Teri rebus (Cue) 1 1 11. Layur asin 1 1 12. Cucut asin 1 1 13. Eteman asin 1 1 Jumlah sampel (ekor) 65 59 6 ) Keterangan : * = ikan olahan air tawar Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) 101 Selanjutnya LBM PPN Palabuhanratu menyatakan bahwa dari jumlah total sampel produk olahan yang diuji oleh LBM tahun 2009 berjumlah 65 produk olahan didapatkan bahwa 59 sampel negatif yang artinya tidak mengandung formalin dan 6 sampel positif yang artinya terdapat 6 sampel produk olahan yang mengandung formalin. Sampel produk olahan yang positif mengadung formalin adalah teri asin yang berasal dari pasar tradisional Kecamatan Palabuhanratu dan dari pasar ikan di PPN Palabuhanratu. Kekurangan dari pengujian formalin terhadap ikan segar dan terhadap produk olahan adalah setiap hasil tangkapan atau produk olahan tidak diuji setiap bulan dalam satu tahun. Pengujian terbanyak yang dilakukan untuk satu jenis ikan segar atau produk olahan adalah tiga kali dalan satu tahun. Hal ini membuat pengujian yang dilakukan tidak merata karena ada ikan atau produk yang diuji 3 kali dalam setahun dan ada pula yang hanya sekali dalam setahun. Selain itu sampel yang diambil hanya 1 ekor ikan segar atau produk untuk setiap jenisnya. Pengujian organoleptik ikan segar yang dilakukan oleh LBM di PPN Palabuhanratu meliputi beberapa tempat yaitu penjual ikan pasar tradisional, TPI, pasar ikan PPN Palabuhanratu dan penjual ikan dermaga 2. Jenis hasil tangkapan ikan segar dari semua tempat tersebut yang mendapat pengujian formalin adalah ikan bawal, bronang, camaul, cumi-cumi, eteman, kakap, kembung, kerapu, kerong-kerong, kuwe, layang, layur, marlin, selayang, serepet, tetengkek, tongkol dan tuna (LBM PPN Palabuhanratu, 2010). Selanjutnya LBM PPN Palabuhanratu memberikan informasi bahwa total sampel ikan segar yang diuji organoleptik oleh petugas LBM tahun 2009 berjumlah 63 ekor (Tabel 34). Hasil pengujian organoleptik tersebut menunjukkan bahwa nilai skala organoleptik sampel ikan segar tersebut berada diantara 6 sampai dengan 9. Hal ini berarti ikan segar di keempat tempat tersebut masih bisa untuk dikonsumsi; dikarenakan sesuai dengan Deptan (1984) di Indonesia ikan dengan nilai skala organoleptik 9 sampai 6 masih layak untuk dikonsumsi oleh konsumen. Pengujian ini seperti halnya pengujian formalin hanya dilakukan terhadap 1 sampel ikan segar dan tidak dilakukan setiap bulan dalam satu tahun, sehingga kurang mewakili populasi ikan segar yang dijual di keempat hasil tangkapan tersebut. 102 Tabel 34 Hasil uji organoleptik ikan segar di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Hasil uji Sampel Jenis ikan segar organoleptik Bulan uji (ekor) skala 1-9 I. Penjual ikan pasar tradisional 1. Eteman (Mene maculata) 1 7 Mei 2. Kakap (Lutjanus sp.) 2 8 dan 7 Januari, Oktober 3. Kembung (Rastrelliger sp.) 1 7 Januari 4. Kurisi (Nemitarus Oktober nematopharus) 1 8 5. Lemcam (Lethrinus lentjam) 1 7 Oktober Januari, Mei, 6. Layur (Trichiurus savala) 3 7, 6 dan 7 Oktober 7. Marlin/Jangilus (Makaira 2 7 dan 7 Januari,Mei indica) 8. Sarden/selayang (Sardinella 1 7 Januari longiceps) 9. Swangi/Camaul Mei, Oktober (Priacanthus sp.) 2 6 dan 7 10. Tongkol (Auxis sp.) 2 6 dan 7 Januari, Mei 11. Tuna (Thunnus sp.) 1 8 Januari II. TPI 1. Cumi-cumi (Loligo edulis) 1 8 Februari 2. Kakap 2 7 dan 6 Februari, Juni 3. Kembung 1 6 Juni 4. Kerong-kerong (Terapan sp.) 1 8 Agustus 5. Kuwe (Caranx Agustus melampygus) 1 7 6. Layang (Decapterus sp.) 2 8 dan 7 Februari, Agustus 7. Layur 2 6 dan 8 Februari, Agustus 8.Marlin 1 7 Juni 9. Swangi 1 7 Juni 10. Tetengkek/ Selar Agustus (Megalaspis cordyla) 1 7 11.Tongkol 2 7 dan 7 Juni, Agustus 12.Tuna 1 7 Februari III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Baronang (Siganus sp.) 1 6 Maret 2. Bawal (Formio niger) 1 8 Desember 3. Cumi-cumi 1 7 Maret 4. Eteman 1 7 November 5. Kakap 2 7 dan 7 Juli, Desember 103 Lanjutan Tabel 34 Jenis ikan segar 6. Kerapu (Epinephelus sp.) 7. Kuwe 8. Layang 9. Layur 10. Marlin/Jangilus 11. Sarden/selayang 12. Swangi/Camaul 13. Tongkol 14. Tuna IV. Penjual ikan Dermaga 2 1. Eteman 2. Kakap 3. Kembung 4. Kuwe 5. Layur 6. Sarden/selayang 7. Semar/serepet (Lampis guttatis) 8. Tongkol 9. Tuna Total sampel (ekor) Hasil uji organoleptik Bulan uji skala 1-9 1 8 Maret 2 7 dan 8 Juli, Desember 1 7 Maret Juli, November, 3 6, 8 dan 8 Desember 1 7 November 1 7 Juli 1 6 November 2 7 dan 7 Maret, November 2 7 dan 6 Juli, Desember Sampel (ekor) 1 1 1 1 2 1 7 7 8 8 7 dan 8 8 1 1 1 63 April September April September April, September April September 7 7 September 7 April Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Pengujian ALT yang dilakukan oleh LBM PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan tabel 35 meliputi : a) Pengujian terhadap ikan segar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang terdiri dari ikan tongkol, tuna, kuwe, kembung, layur, kakap, selayang, eteman, swangi dan marlin b) Pengujian ikan olahan yang terdapat pada penjual ikan di pasar tradisional yaitu terhadap teri asin, cumi asin, sepat asin, peda asin, japuh asin, gabus asin dan bakso ikan c) Pengujian terhadap ikan segar di pasar ikan PPN Palabuhanratu dengan jenis yang diuji adalah ikan kakap, layur, bawal dan kuwe 104 Tabel 35 Hasil uji angka lempeng total di Laboratorium Bina Mutu PPN Palabuhanratu tahun 2009 Jenis ikan segar/produk Sampel Nilai ALT Bulan uji lahan (ekor) (koloni/gr) I. TPI 1. Tongkol segar 2 2,6x103 dan 9,4x102 Oktober, November 2. Tuna segar 1 4,2x104 Oktober 3 3. Kuwe segar 1 4,6x10 Oktober 3 4. Kembung segar 1 2,2x10 Oktober 2 3 5. Layur segar 2 3,7x10 dan 1,0x10 Oktober, November 3 6. Kakap segar 1 1,2x10 Oktober 3 7. Sarden segar 1 2,1x10 Oktober 3 8. Eteman segar 1 1,9x10 November 3 9. Swangi segar 1 1,0x10 November 3 10. Marlin segar 1 1,5x10 November II. Penjual ikan pasar tradisional 1. Teri asin 1 5,8x104 Oktober 3 2. Cumi asin 1 1,4x10 Oktober ) 3 3. Sepat asin* 1 1,8x10 Oktober 3 4. Japuh asin 1 2,4x10 Oktober 3 5. Gabus asin 1 2,8x10 Oktober 3 6. Bakso 1 2,8x10 November III. Pasar ikan PPN Palabuhanratu 1. Kakap segar 1 3,1x104 Desember 3 2. Tuna segar 1 3,2x10 Desember 4 3. Layur segar 1 1,2x10 Desember 4 4. Bawal segar 1 1,9x10 Desember 3 5. Kuwe segar 1 2,4x10 Desember Jumlah Sampel 24 Layak Konsumsi 24 Tidak Layak Konsumsi 0 ) Keterangan : * = ikan olahan air tawar Sumber: LBM PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel 35 juga diketahui bahwa pada sampel ikan segar di penjual ikan pasar tradisional nilai ALT berkisar antara 3,7x102 koloni/gr sampai dengan 4,2x104 koloni/gr, artinya jumlah mikroorganisme aerob maupun anaerob yang terkadung di dalam sampel tersebut berjumlah antara 3,7x102 koloni/gr sampai dengan 4,2x104 koloni/gr. Hasil uji ALT pada sampel ikan segar di pasar ikan PPN Palabuhanratu berkisar antara 2,4x103 koloni/gr sampai 3,1x104 105 koloni/gr, yang berarti pada sampel ikan segar tersebut terkandung mikroorganisme aerob dan anaerob 2,4x103 koloni/gr sampai 3,1x104 koloni/gr. Ikan olahan yang dijual oleh penjual ikan pasar tradisional memiliki hasil uji ALT sebesar 1,4x103 koloni/gr sampai 5,8x104 koloni/gr, yang artinya jumlah mikoorganisme aerob dan anaerob yang terkadung dalam sampel produk olahan tersebut berkisar antara 1,4x103 koloni/gr sampai 5,8x104 koloni/gr. Menurut DKP Provinsi Riau (2011) yang didasarkan pada SNI 01-2729.12006, batas dan standar maksimal nilai ALT pada produk perikanan adalah 5 x 105 koloni/gram. Berdasarkan ketentuan tersebut dan dibandingkan dengan hasil pengujian ALT oleh LBM PPN Palabuhanratu (Tabel 36) diketahui bahwa hasil pengujiannya tidak melebihi batas maksimal dari SNI 01-2729.1-2006 sehingga ikan-ikan tersebut layak untuk dikonsumsi. 2) Pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dipasarkan di PPN Palabuhanratu Menurut Pane (2012) pengawasan mutu harian adalah pengecekan mutu hasil tangkapan yang dilelang atau dipasarkan di suatu TPI pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan yang dilakukan oleh petugas khusus pada setiap hari dan pelelangan hasil tangkapan. Pengecekan harian ini sangat penting dilakukan agar mutu hasil tangkapan yang beredar dan berasal dari suatu pelabuhan perikanan atau pangkalan pendaratan ikan tidak mengandung zat-zat yang membahayakan konsumen (seperti formalin), mutunya terjamin aman dan baik dikonsumsi konsumen. Pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dipasarkan di PPN Palabuhanratu belum dilakukan. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam Pane (2010) yang menyatakan bahwa organisasi pengontrolan mutu ikan di PPN Palabuhanratu masih lemah, belum terdapat petugas berwenang yang mengontrol mutu hasil tangkapan yang didaratkan dan dijual setiap hari. Seharusnya pengawasan mutu harian ini menjadi salah satu hal penting diperhatikan oleh PPN Palabuhanratu. Pengawasan mutu harian ini seharusnya dilakukan oleh petugas pengawas perikanan yang terdapat di PPN Palabuhanratu. Pada saat ini pengawas perikanan PPN Palabuhanratu hanya mencatat jumlah 106 hasil tangkapan didaratkan, jenis hasil tangkapan dan kebutuhan melaut kapal perikanan. 5.5.2 Pengujian organoleptik Pengujian organoleptik sebagaimana telah dikemukakan di dalam sub bab 3.3 dilakukan peneliti terhadap empat jenis hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu yaitu ikan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Pengujian dilakukan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer. Sehingga pengujian organoleptik yang dilakukan oleh peneliti adalah terhadap 75 ekor ikan layur di tempat pendaratan, 75 ekor ikan layur di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan tongkol di tempat pendaratan, 75 ekor ikan tongkol di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan cakalang di tempat pendaratan, 75 ekor ikan cakalang di tempat pedagang pengecer, 75 ekor ikan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan 75 ekor ikan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer atau jumlah seluruhnya 600 ekor. Bagian tubuh ikan yang menjadi objek pengujian organoleptik adalah mata, insang dan konsistensi. Berikut ini (Tabel 36) adalah data hasil pengujian organoleptik yang dilakukan terhadap sampel hasil tangkapan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang : Tabel 36 Hasil pengujian organoleptik terhadap sampel hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tempat pengujian A B Jenis sampel L T Tk C L T Tk C M K 7-8 9 7 -9 8-9 6-8 7-9 6-9 7 -9 I R K 7,79 7 - 8 9,00 9 7,51 7 -9 8,77 8 - 9 7,29 6 - 8 7,99 7 - 9 6,95 6 - 9 8,16 7 -9 Ko R 7,81 9,00 7,77 8,73 7,24 7,95 7,20 8,20 K 7–8 9 7 -9 8–9 6–8 7–9 6–9 8–9 R 7,93 9,00 7,97 8,91 7,49 8,16 7,27 8,08 Rata-rata K 7,00 - 8,00 9,00 7,00 - 9,00 8,00 - 9,00 6,00 - 8,00 7,00 - 9,00 6,00 - 8,67 7,67 - 9,00 R 7,84 9,00 7,75 8,80 7,34 8,03 7,14 8,15 Keterangan : A = di tempat pendaratan; B = di tempat pedagang pengecer; K = kisaran; R = ratarata; M = mata; I = insang; Ko = konsistensi; L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; dan C = cakalang; 107 Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan berkisar antara 7 sampai dengan 9, sedangkan nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer berkisar antara 6 sampai dengan 9. Jika nilai skala organoleptik rata-rata mata, insang dan konsistensi keempat sampel hasil tangkapan di tempat pendaratan dibandingkan didapatkan mutu hasil tangkapan dari yang paling bagus yaitu tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil. Hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan rata-rata memiliki nilai skala organoleptik 9, hal ini dikarenakan hasil tangkapan tongkol merupakan produksi alat tangkap dengan trip penangkapan one day fishing. Nilai skala organoleptik tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik paling rendah di tempat pendaratan dikarenakan di tangkap oleh alat tangkap yang umumnya melakukan trip selama 7 hari, sehingga hasil tangkapan sudah agak lama tersimpan di dalam palka berisi es curah. Hasil perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata ketiganya (mata, insang dan konsistensi) keempat sampel hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul menghasilkan jenis hasil tangkapan dengan urutan mutu dari yang paling bagus yaitu cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Jika dibandingkan mutu hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengumpul diketahui bahwa nilai skala organoleptik rata-rata keempat hasil tangkapan tersebut mengalami penurunan. Hal ini memiliki arti terjadi penurunan mutu hasil tangkapan antara tempat pendaratan dengan tempat pedagang pengecer. Hasil pengujian nilai skala organoleptik di atas dianalisis dengan menggunakan analisis statistika non parametrik karena data hasil uji organoleptik merupakan data skala, selain itu berdasarkan pengujian normalitas (normal test) dan tranformasi hasil pengujian tidak memenuhi kaedah kurva normal. Peneliti melakukan tiga bagian analisis statistika terhadap hasil uji organoleptik hasil tangkapan di lapangan yaitu : 1) analisis perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer 2) analisis perbandingan hasil uji organoleptik berdasarkan tempat (di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer) dalam jenis hasil tangkapan 108 3) analisis perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan. Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang, baik di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer terdapat pada poin 1 sampai dengan 3 di bawah ini : 1) Perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer Analisis perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 16) memakai hipotesis sebagai berikut : H0 = Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Hasil pengujian statistika perbandingan hasil uji organoleptik keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer terdapat pada Tabel 37 di bawah ini : Tabel 37 Analisis statistika (Mann-Whitney test) perbandingan hasil uji organoleptik terhadap hasil tangkapan di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 366,42 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 234,58 A 367,98 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 233,02 A 380,21 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 220,79 A 375,60 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 225,41 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai oragnoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Berdasarkan hasil uji statistika nilai skala organoleptik mata, insang, konsistensi, dan rata-rata ketiganya didapatkan bahwa asymp sig keempat kategori 109 tersebut berada dibawah 0,05. Sesuai dengan penjelasan pada sub bab 3.3, nilai asymp sig tersebut memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal itu mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan yang nyata di kedua tempat tersebut. Secara keseluruhan mean rank hasil tangkapan di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan mean rank hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer, yang artinya nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai skala organoleptik di tempat pedagang pengecer. Hal tersebut dapat juga diartikan mutu hasil tangkapan di tempat pendaratan jauh lebih bagus dari pada di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai asymp sig dan mean rank seperti dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa penanganan hasil tangkapan yang dilakukan terhadap keseluruhan jenis hasil tangkapan yang diuji (layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang) belum mampu mempertahankan mutu hasil tangkapan dengan baik, sehingga perlu diadakan evaluasi dan perbaikan terhadap cara penanganan tersebut. 2) Perbandingan hasil uji organoleptik berdasarkan tempat (di tempat pendaratan dan pedagang pengecer) dalam jenis hasil tangkapan a) Layur Hipotesis yang digunakan dalam analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 12) adalah : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Berikut ini (Tabel 38) adalah hasil analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer menggunakan analisis statistika Mann-Whitney test : 110 Tabel 38 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 92,43 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 58,57 A 93,64 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 57,36 A 91,07 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,93 A 95,75 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 55,25 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa hasil analisis terhadap hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya memiliki nilai asymp sig yang kurang dari 0,05. Arti dari nilai asymp sig tersebut adalah terdapat perbedaan nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan layur yang nyata diantara kedua tempat tersebut. Masih menurut Tabel di atas diketahui nilai mean rank hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean rank hasil tangkapan layur di tempat pedagang pengecer. Arti dari nilai mean rank tersebut adalah nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan di tempat pedagang pengecer atau dapat juga berarti mutu hasil tangkapan layur di tempat pendaratan lebih bagus dibandingkan di tempat pedagang pengecer. Nilai asymp sig dan mean rank hasil analisis di atas memberikan informasi bahwa penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan layur belum bisa mempertahankan mutu hasil tangkapan layur dengan baik. Melihat dari cara penanganan yang selama ini dilakukan terhadap hasil tangkapan layur (sub bab 5.1 sampai 5.3 pada butir 5) terdapat beberapa kekurangan pada penanganan tersebut yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan yaitu : - Tetap memberikan es terhadap hasil tangkapan layur pada saat di atas kapal dan di tempat pendaratan walaupun jumlahnya sedikit 111 - Menghilangkan pemakaian air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan layur. Hal ini bisa menjadi masukan bagi pengelola PPN Palabuhanratu untuk menyediakan pasokan air laut yang bersih, lancar, dan murah untuk digunakan dalam penanganan hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu - Mengurangi atau menghilangkan penempatan hasil tangkapan layur di dalam keranjang kecil tanpa penutup sehingga terkena cahaya matahari langsung b) Tongkol Pada analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer (Lampiran 13) digunakan hipotesis sebagai berikut : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Asumsi di atas digunakan untuk menganalisis hasil perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer dengan hasil seperti yang terdapat pada Tabel 39 berikut ini : Tabel 39 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 107,00 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 44,00 A 105,50 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 45,50 A 101,50 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 49,50 A 108,00 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 43,00 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer 112 Analisis statistika terhadap nilai skala organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya pada Tabel 39 menghasilkan asymp sig keempat kategori tersebut kecil dari 0,05. Nilai asymp sig tersebut memberikan pengertian bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer atau dapat juga diartikan terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan tongkol diantara kedua tempat tersebut. Berdasarkan hasil analisis Tabel 39 di atas juga didapatkan nilai mean rank hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan yang lebih tinggi daripada di tempat pedagang pengecer. Hal tersebut berarti nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan lebih tinggi daripada di tempat pedagang pengecer dan bisa diartikan bahwa mutu hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan lebih bagus daripada mutu hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis di atas menyatakan bahwa penanganan hasil tangkapan tongkol yang dilakukan selama ini (sub bab 5.1 sampai 5.3 butir 4) belum bisa menjaga mutu hasil tangkapan tongkol dengan baik. Beberapa perbaikan terhadap penanganan hasil tangkapan tongkol yang dapat dilakukan adalah : - Tidak lagi memakai air laut yang berasal dari kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan tongkol. Sebaiknya pengelola PPN Palabuhanratu bisa menyediakan instalasi pengadaan air laut untuk penanganan hasil tangkapan yang bersih dan biayanya terjangkau - Pemakaian es pada saat hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer baik pada saat penjualan maupun pada saat penyimpanan hasil tangkapan tongkol c) Tuna-tuna kecil Perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 14) dianalisis menggunakan hipotesis sebagai berikut : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata 113 Hasil perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer dapat dilihat pada Tabel 40 di bawah ini : Tabel 40 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 91,33 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,67 A 91,99 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 59,01 A 100,70 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 50,30 A 102,91 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 48,09 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer Hasil analisis terhadap hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya menghasilkan nilai asymp sig kecil dari 0,05. Hal tersebut memiliki arti nilai skala organoleptik antara hasil tangkapan tuna-tuna kecil pada di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer memiliki perbedaan yang nyata atau dapat juga diartikan mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata. Nilai mean rank hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai mean rank hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hal ini memiliki arti nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hal ini juga memiliki arti mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan lebih bagus dibandingkan mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer. Hasil analisis di atas dapat memberikan informasi bahwa penanganan yang telah dilakukan terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil belum mampu menjaga mutu hasil tangkapan tuna-tuna kecil. Merujuk pada sub bab 5.1 sampai dengan 114 sub bab 5.3 pada butir 2 tentang penanganan tuna-tuna kecil ada beberapa perbaikan terhadap cara penanganan yang dapat dilakukan yaitu : - Pemberian es terhadap hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan walaupun jarak tempat pendaratan dengan tempat pedagang pengumpul dekat - Penempatan hasil tangkapan tuna-tuna kecil ke dalam wadah di tempat pendaratan sehingga tidak diletakkan tanpa alas di atas gerobak pengangkut dan dilindungi dari cahaya matahari langsung menggunakan terpal atau karung - Tidak lagi menggunakan air laut yang berasal dari kolam pelabuhan sebagai bahan penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil. Hal ini bisa menjadi perhatian bagi pengelola PPN Palabuhanratu untuk menyediakan pasokan air laut untuk penanganan hasil tangkapan yang bersih dan harganya terjangkau oleh nelayan dan pedagang ikan d) Cakalang Analisis perbandingan nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer (Lampiran 15) dilakukan dengan memakai hipotesis berikut ini : H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer berbeda nyata Tabel 41 Analisis statistika (Mann-Whitney test) hasil uji organoleptik pada hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Kategori Mean rank *) Asymp sig **) Hasil analisis A 98,23 1.Mata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 52,77 A 92,57 2.Insang 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 58,43 A 106,50 3.Konsistensi 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 44,50 A 104,42 4.Rata-rata 0,000 Beda nyata (Tolak H0) B 46,58 Keterangan : *) mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **) asymp sig = taraf signifikansi; A = di tempat pendaratan; dan B = di tempat pedagang pengecer 115 Perbandingan antara nilai skala organoleptik hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer menghasilkan (Tabel 41) bahwa hasil uji organoleptik mata, insang, konsistensi dan rata-rata ketiganya dalam analisis di atas menghasilkan nilai asymp sig kecil dari 0,05. Besaran nilai asymp sig yang kecil dari 0,05 tersebut mengartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik cakalang yang nyata di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal itu juga mengartikan bahwa terdapat perbedaan mutu hasil tangkapan cakalang yang nyata diantara keduanya. Berdasarkan Tabel di atas juga diketahui bahwa nilai mean rank hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan di tempat pedagang pengecer, hal ini berarti nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat pedagang pengecer. Sehingga secara tidak langsung mutu hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan jauh lebih bagus daripada di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan bahasan di atas diketahui bahwa penanganan hasil tangkapan cakalang yang dilakukan belum mampu mempertahankan mutunya. Dilihat dari penanganan yang dilakukan terhadap hasil tangkapan cakalang pada butir 3 sub bab 5.1 sampai dengan sub bab 5.3 diketahui perbaikan yang dapat dilakukan terhadap penanganan hasil tangkapan cakalang yaitu penggunaan air kolam pelabuhan dalam penanganan hasil tangkapan cakalang tidak lagi dilakukan. Pengelola PPN Palabuhanratu diharapkan bisa menyediakan pasokan air tawar yang bersih dan terjangkau untuk melakukan penanganan hasil tangkapan dan pemberian es terhadap hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan 3) Perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan Analisis hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan (Lampiran 17 dan 18) membandingkan hasil uji organoleptik suatu jenis hasil tangkapan baik mata, insang, konsistensi atau rata-rata ketiganya dengan hasil uji organoleptik jenis hasil tangkapan lainnya. Hipotesis yang digunakan dalam analisis ini adalah : 116 H0 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan antara jenis satu dan jenis lainnya tidak berbeda nyata H1 = Nilai skala organoleptik hasil tangkapan antara jenis satu dan jenis lainnya berbeda nyata Tabel 42 Analisis statistika (Kruskal Wallis test) perbandingan hasil uji organoleptik antar jenis hasil tangkapan yang diuji di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tempat uji A B Mean Rank *) M I Ko R M I Ko R Jenis sampel L T Tk C Asimp sig**) 93,01 83,46 77,30 89,43 114,82 106,80 120,81 108,16 232,50 234,50 228,50 237,50 192,58 192,58 197,01 196,42 71,65 84,74 81,33 66,39 82,38 106,11 90,22 79,80 204,85 199,30 214,87 208,69 212,22 208,07 193,96 217,62 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Df Chisquare Hasil 3 3 3 3 3 3 3 3 224,17 219,78 263,91 240,63 136,82 94,11 108,57 139,46 BN BN BN BN BN BN BN BN Keterangan : *)mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik; **)asymp sig = taraf signifikansi; df = kasus-1; chi-square taraf kesetaraan; A = di tempat pendaratan; B = di tempat pedagang pengecer; L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; C = cakalang; M = mata; I = insang; Ko = konsistensi; dan R = rata-rata Berdasarkan Tabel 42 diketahui bahwa nilai asymp sig keseluruhan hasil tangkapan di tempat pendaratan berada dibawah 0,05 yang memiliki arti tolak H0. Hal tersebut mengartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata diantara keempat hasil tangkapan tersebut baik pada mata, insang, konsistensi atau rata-rata ketiganya di tempat pendaratan. Hal yang sama seperti di tempat pendaratan terjadi pada hasil anaslisis di tempat pedagang pengecer, dimana secara keseluruhan nilai asypm sig hasil analisis berada di bawah 0,05. Hal tersebut juga memiliki arti yang sama, yaitu tolak H0 atau terdapat perbedaan nilai skala organoleptik yang nyata di antara keempat hasil tangkapan yang diuji. Nilai mean rank hasil analisis keempat hasil tangkapan secara keseluruhan di tempat pendaratan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil. Sementara itu hasil analisis terhadap keempat hasil tangkapan tersebut di tempat pedagang pengecer menghasilkan nilai mean rank secara keseluruhan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah cakalang, 117 tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Hal tersebut mengartikan bahwa nilai skala organoleptik atau mutu hasil hangkapan di tempat pendaratan dari yang terbesar adalah tongkol, cakalang, layur dan tuna-tuna kecil, sedangkan nilai skala organoleptik atau mutu hasil hangkapan di tempat pedagang pengecer dari yang terbesar adalah cakalang, tongkol, layur dan tuna-tuna kecil. Secara tidak langsung penjelasan di atas memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan mean rank atau rata-rata peringkat nilai skala organoleptik hasil tangkapan diantara di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer. Peringkat mean rank nilai organoletik hasil tangkapan cakalang meningkat dari peringkat dua di tempat pendaratan menjadi peringkat satu di tempat pedagang pengecer. Mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer meningkat dibandingkan di tempat pendaratan. Hal sebaliknya terjadi pada hasil tangkapan tongkol yang mengalami penurunan mean rank dari tempat pendaratan dibandingkan dengan di tempat pedagang pengecer. Hal di atas memiliki arti rata-rata peringkat mutu layur, cakalang dan tunatuna kecil di tempat pendagang pengecer lebih besar dibandingkan dengan di tempat pendaratan. Maka dapat disimpulkan bahwa penanganan yang dilakukan terhadap layur, cakalang dan tuna-tuna kecil lebih mampu mempertahankan mutu hasil tangkapannya tersebut dibandingkan penanganan terhadap hasil tangkapan tongkol. Walapun penanganan hasil tangkapan layur dan tuna-tuna kecil lebih mampu mempertahankan mutu hasil tangkapannya, namun mean rank tongkol lebih besar di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer dibandingkan layur. Hal ini mengartikan bahwa mutu hasil tangkapan tongkol lebih tinggi daripada layur dan tuna-tuna kecil, sehingga yang perlu ditingkatkan dari penanganan tongkol adalah penanganan yang dilakukan di tempat pedagang pengumpul dan di tempat pedagang pengecer. Hasil beda nyata di atas ditunjang oleh hasil perhitung kesemua kategori di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer yang menghasilkan nilai chi-square hitung yang lebih besar dari pada nilai chi-square tabel. Dimana chisquare tabel untuk data yang memiliki taraf signifikansi 0,5% dan df 3 adalah 7,814. Nilai chi-square hitung berdasarkan Tabel di atas berada antara 94,11 sampai dengan 263,91. 118 Perbaikan yang dapat dilakukan pedagang pengumpul adalah tidak lagi menggunakan air kolam pelabuhan dalam penempatan sementara hasil tangkapan, sedangkan oleh pedagang pengecer adalah tidak lagi menempatkan hasil tangkapan tanpa es dan pemberian air kolam pelabuhan. Dari semua penjelasan diketahui bahwa perlu diadakan peninjauan kembali terhadap penanganan layur dan tuna-tuna kecil di atas kapal. Hal ini dikarenakan secara keseluruhan nilai mean rank hasil tangkapan layur dan tuna-tuna kecil lebih rendah dibandingkan tongkol dan cakalang. Perbaikan penanganan tuna-tuna kecil dapat dilakukan terlihat pada sub bab 5.1 sampai dengan 5.3. Hasil pengujian dengan statistika Kruskal Waliis test di atas belum menjelaskan perbandingan antara masing-masing jenis hasil tangkapan. Maka perlu dilakukan uji lanjutan terhadap hasil tersebut. Berdasarkan rumus pada sub bab 3.4 dan perhitungan pada Lampiran 20 sampai dengan 26 didapatkan hasil analisis perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan seperti pada Tabel 43 sampai dengan Tabel 46 berikut ini : Tabel 43 Uji lanjutan nilai skala organoleptik antar jenis di tempat pendaratan dan di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu tahun 2010 Di tempat pendaratan Di tempat pedagang pengecer Jenis Kategori ikan L T Tk C L T Tk C L T BN BN Mata Tk BN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Insang Tk TBN BN TBN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Konsistensi Tk TBN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN L T BN BN Rata-rata Tk BN BN BN BN C BN BN BN BN BN BN Keterangan : L = layur; T = tongkol; Tk = tuna-tuna kecil; C = cakalang; BN = beda nyata atau tolak H0; TBN = tidak beda nyata atau terima H0 119 Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik mata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pendaraan berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai skala organoleptik mata atau mutu mata hasil tangkapan layur di tempat pendaratan berbeda dengan nilai skala organoleptik mata atau mutu mata hasil tangkapan tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang. Nilai skala organoleptik tongkol juga berbeda terhadap tuna-tuna kecil dan cakalang, serta terdapat perbedaan nilai skala organoleptik mata yang nyata diantara tuna-tuna kecil dan cakalang Hasil yang sama terjadi pada analisis perbandingan nilai skala organoleptik mata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pedagang pengecer. Semua hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan nilai skala organoleptik mata yang nyata diantara layur, tongkol, tua-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer. Hasil perbandingan nilai skala organoleptik insang antara layur dengan tongkol dan cakalang di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer berbeda nyata atau tolak H0, yang berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang atau mutu insang yang nyata diantara layur, tongkol dan cakalang di kedua tempat tersebut. Selain itu Tabel tersebut juga memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang yang nyata diantara tongkol dan tuna-tuna kecil, tongkol dan cakalang, serta tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer. Perbandingan nilai skala organoleptik yang tidak berbeda nyata adalah nilai skala organoleptik insang layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan maupun di tempat pedagang pengecer. Berarti insang layur dan tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang hampir sama. Berdasarkan Tabel 43 juga diketahui bahwa hasil perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antara layur dengan tongkol dan cakalang di tempat pendaratan berbeda nyata atau tolak H0, yang berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik konsistensi atau mutu daging yang nyata diantara layur, tongkol dan cakalang di tempat pendaratan. Selain itu Tabel tersebut juga memberikan informasi bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik insang 120 yang nyata diantara tongkol dan tuna-tuna kecil, tongkol dan cakalang, serta tunatuna kecil dan cakalang di tempat pendaratan. Perbandingan nilai skala organoleptik yang tidak berbeda nyata adalah nilai skala organoleptik konsistensi layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. Hal tersebut memiliki arti konsistensi layur dan tuna-tuna kecil memiliki nilai skala organoleptik atau mutu yang hampir sama. Secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antara layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini berarti terdapat perbedaan nilai skala organoleptik konsistensi atau mutu daging yang nyata diantara layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang di tempat pedagang pengecer. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa nilai skala organoleptik konsistensi antara layur dan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan tidak berbeda nyata, namun di tempat pedagang pengecer nilai skala organoleptik konsistensi kedua hasil tangkapan tersebut menjadi berbeda nyata. Hal ini sesuai dengan Tabel 42, dimana mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan adalah 77,30 dan 81,33 sementara mean rank layur dan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer adalah 120,81 dan 90,22. Secara keseluruhan hasil perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antara satu jenis hasil tangkapan dengan jenis hasil tangkapan lainnya berbeda nyata atau tolak H0. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat perbedaan nilai skala organoleptik rata-rata atau mutu yang nyata diantara layur, tongkol, cakalang dan tuna-tuna kecil. 121 6 KONDISI AKTUAL PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU Ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu berasal dari dua sumber yaitu hasil tangkapan yang didaratkan di dermaga PPN Palabuhanratu dan ikan yang masuk ke PPN Palabuhanratu melalui jalur darat yang berasal dari daerah di sekitar PPN Palabuhanratu (Tabel 19). Ikan-ikan yang berasal dari dua sumber tersebut kemudian didistribusikan ke beberapa tujuan yaitu di sekitar PPN Palabuhanratu, ke luar daerah dan ke luar negeri (ekspor). Pendistribusian tersebut dapat dibedakan berdasarkan jenis hasil tangkapan yang didistribusikan seperti tuna, tuna-tuna kecil, layur, tongkol, cakalang dan ikan kecil lainnya. Selain pendistribusian ikan segar yang berasal dari pendaratan di PPN Palabuhanratu dan ikan yang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu, terdapat pendistribusian ikan olahan jadi dari PPN Palabuhanratu. Ikan olahan tersebut berupa ikan olahan asin dan ikan olahan pindang. Berikut ini (sub bab 6.1 sampai dengan 6.3) dijelaskan pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu berdasarkan daerah tujuan pendistribusian dan jenis hasil tangkapan didistribusikan, serta pendistribusian ikan olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu. 6.1 Pendistribusian Berdasarkan Jenis Hasil Tangkapan Didistribusikan 1) Pendistribusian tuna Ikan tuna didistribusikan menggunakan mobil bak tertutup dan dengan memakai sistem rantai dingin. Sistem rantai dingin adalah cara mempertahankan mutu ikan dengan menjaga suhu ikan tetap rendah. Sistem rantai dingin dapat dilakukan dengan pemberian es curah atau mobil dengan pengatur suhu. Sebagian besar sistem rantai dingin yang digunakan dalam pendistribusian ikan tuna dari PPN Palabuhanratu adalah dengan pemberian es curah. Hal ini sesuai dengan penjelasan pada penanganan tuna (sub bab 5.1 dan 5.2 masing-masing pada butir 1), yang mana pada saat penanganan di tempat pendaratan dan di tempat perusahaan pengumpul rongga insang dan perut ikan tuna diisi dengan es curah dan penempatan ikan tuna di dalam mobil bak tertutup dilakukan secara berlapis dengan es curah. 122 Jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2009 terdapat pada Tabel 44 berikut ini : Tabel 44 Jenis dan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 1.Tuna big eye 919.982 1.367.708 1.219.998 2.Tuna albakor 52.253 23.565 107.687 3.Tuna yellow Fin 556.596 517.865 482.862 Jumlah 1.814.271 1.282.313 1.528.831 1.909.138 1.810.547 Pertumbuhan (%) -29,32 19,22 24,88 -5.16 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Menurut data statistika PPN Palabuhanratu tahun 2010, jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah 1.810.547 kg. Jumlah tersebut terdiri dari tuna big eye sebanyak 1.219.998 kg (67,4%), tuna yellow fin sebanyak 482.862 kg (26,7%) dan tuna albakor sebanyak 107.687 kg (5,9%). Tahun 2005 pencatatan yang dilakukan oleh Bagian Statistika PPN Palabuhanratu terhadap ikan tuna dilakukan tanpa membedakan jenisnya, baru pada pertengahan tahun 2007 sudah terdapat jumlah ikan tuna yang dibedakan berdasar jenisnya. 2.500 Jumlah (103 kg) 2.000 1.500 1.000 0.500 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 21 Grafik perkembangan jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 123 Jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu dari tahun 2005 sampai tahun 2009 cenderung fluktuatif (Gambar 21). Keadaan yang fluktuatif tersebut terlihat dari ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan 2006 cenderung menurun, namun pada tahun 2006 sampai tahun 2008 jumlah ikan tuna yang didistribusikan meningkat. Pada tahun 2009 jumlah ikan tuna yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu kembali turun. Tahun yang paling banyak terdapat pendistribusian ikan tuna dalam selang tahun 2005-2009 di PPN Palabuhanratu adalah tahun 2008 sebesar 1.909.138 kg, sedangkan tahun yang paling sedikit adalah tahun 2006 dengan jumlah 1.282.313 kg. Peningkatan jumlah ikan tuna didistribusikan dari PPN Palabuhanratu yang paling tajam terjadi pada tahun 2008 sebesar 24,88%, sedangkan penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2006 sebesar 29,32%. Hasil tangkapan tuna di atas didistribusikan dalam alir pendistribusian yang berbeda berdasarkan jenis alat tangkap yang menangkapnya yaitu pancing rumpon dan tuna longline. Diagram alir pendistribusian tuna hasil tangkapan kedua alat tangkap tersebut dijelaskan di bawah ini (Gambar 23 dan 24) : a. Pancing rumpon Seperti dijelaskan pada sub bab 5.1 dan 5.2 bahwa tuna hasil tangkapan pancing rumpon diangkut atau didistribusikan kepada perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu (pengumpul kecil). Tiga perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanru yaitu PT Tuna Tunas Mekar, PT Jaya Mitra dan PT Karya Maju. Ikan tuna yang dikumpulkan oleh perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu dari nelayan pancing rumpon didistribusikan kepada pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta (Gambar 22). Tuna yang didistribusikan ke pedagang pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta sebagian besar kemudian diekspor ke Korea Selatan dan Jepang. Sisanya didistribusikan ke pengolah di Jakarta dan pedagang pengecer nasional di berbagai daerah di Indonesia. Tidak terdapat ikan tuna yang didistribusikan langsung dari perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu kepada pengolah di Jakarta, pedagang pengecer nasional dan yang diekspor keluar negeri. Dari pengolah ikan di Jakarta 124 hasil olahan tuna dapat didistribusikan kepada pedagang pengecer nasional dan diekspor ke Jepang dan Korea Selatan. Tujuan akhir dari pendistribusian tuna ke pedagang pengecer nasional adalah konsumen nasional, sedangkan tujuan akhir tuna yang didisribusikan ke eksportir Jepang atau Korea Selatan adalah konsumen di kedua negara tersebut. Nelayan Perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu (di dalam bangunan perusahaan) Perusahaan pengumpul besar di Muara Baru Perusahaan pengumpul besar di Muara Angke Importir Jepang atau Korea Selatan Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Konsumen nasional Pengolah di Jepang atau Korea Selatan Pedagang pengecer di Jepang atau Korea Selatan Konsumen Jepang atau Korea Selatan Gambar 22 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan pancing rumpon dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. b. Tuna longline Tuna hasil tangkapan tuna longline sebagian besar didistribusikan ke luar negeri (ekspor), hanya sebagian kecil yang didistribusikan nasional. Berdasarkan Gambar 23 diketahui bahwa pertama-tama tuna yang dikumpulkan perusahaan pengumpul tuna kecil PPN Palabuhanratu didistribusikan terlebih dahulu kepada 125 perusahaan pengumpul besar di Muara Baru atau Muara Angke Jakarta, untuk digabungkan dengan hasil tangkapan tuna dari pelabuhan perikanan lainnya. Pedagang pengumpul besar di Muara Baru atau Muara Angke kemudian mendistribusikan ikan tuna ke Jepang atau Korea Selatan, ke pengolah di Jakarta dan pedagang pengecer nasional. Pendistribusian tuna ke Jepang dan Korea dilakukan dengan menggunakan pesawat udara dari Bandara Soekarno Hatta di Tanggerang. Sebagian besar hasil olahan tuna dari pengolah di Jakarta diekspor ke Korea Selatan dan Jepang, sisanya didistribusikan ke pedagang pengecer nasional. Di Korea Selatan dan Jepang ikan tuna didistribusikan oleh importir ke pengolah ikan dan pedagang pengecer di kedua negara tersebut. Nelayan Perusahaan pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu (di tempat pendaratan) Perusahaan pengumpul besar di Muara Baru Perusahaan pengumpul besar di Muara Angke Importir Jepang atau Korea Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Pengolah di Jepang atau Korea Selatan Pedagang pengecer di Jepang atau Korea Selatan Konsumen Jepang atau Korea Selatan Gambar 23 Pendistribusian ikan tuna hasil tangkapan tuna longline dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. Konsumen nasional 126 2) Pendistribusian tuna-tuna kecil Ikan tuna-tuna kecil dalam buku statistik perikanan PPN Palabuhanratu dimasukkan ke dalam kelompok ikan tuna. Namun, dalam kegiatan perikanan tangkap khususunya penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, ikan tuna dan ikan tuna-tuna kecil sangat berbeda (perbedaan penanganan terlihat pada sub bab 5.1 sampai dengan 5.3). Walaupun perusahaan pengumpul ikan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu sama dengan perusahaan pengumpul ikan tuna, namun tujuan akhir pendistribusiannya berbeda. Hal tersebut terlihat pada diagram pendistribusian ikan tuna-tuna kecil (Gambar 24). Pendistribusian ikan tuna-tuna kecil hanya terbatas lokal dan nasional, sedangkan pendistribusian ikan tuna diutamakan untuk tujuan ekspor. Selain itu ikan tuna-tuna kecil dapat dijumpai di pasar ikan di PPN Palabuhanratu karena terkadang nelayan langsung menjual hasil tangkapan tuna-tuna kecilnya ke pedagang pengecer lokal. Sebagian besar ikan tuna-tuna kecil didistribusikan melalui Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta. Hanya sebagian kecil ikan tunatuna kecil yang langsung didistribusikan langsung ke pedagang pengecer nasional dan pengolah di Jakarta. Nelayan Perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul di PPS Muara Baru Pedagang pengumpul di PPI Muara Angke Pengolah di Jakarta Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 24 Pendistribusian ikan tuna-tuna kecil dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010. 127 3) Pendistribusian cakalang Ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 45 : Tabel 45 Jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Cakalang 657.020 302.103 239.180 67.956 99.107 Pertumbuhan (%) -54,02 -20,83 -71,59 45,84 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Berdasarkan Tabel di atas diketahui bahwa jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu pada tahun 2009 adalah 99.107 kg. Pendistribusian ikan cakalang dari tahun 2005 sampai tahun 2008 cenderung menurun (Gambar 25). Penurunan jumlah ikan cakalang didistribusikan terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar 71,59%. Pada tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan cakalang meningkat sebesar 45,84%. Peningkatan pendistribusian hasil ikan cakalang tahun 2009 diduga karena peningkatan jumlah hasil tangkapan cakalang didaratkan di PPN Palabuhanratu (Tabel 23) dan peningkatan jumlah ikan cakalang masuk melalui jalur darat ke PPN Palabuhanratu (Tabel 24). 700.000 Jumlah (kg) 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 25 Grafik perkembangan jumlah ikan cakalang yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 128 Alur pendistribusian ikan cakalang memiliki kesamaan dengan alur pendistribusian ikan tuna-tuna kecil, yaitu dapat langsung didistribusikan oleh nelayan kepada pedagang pengecer lokal. Perbedaan pendistribusian ikan cakalang dengan ikan tuna-tuna kecil adalah pendistribusian ke pengolah di Jakarta, karena tidak terdapat pendistribusian ikan cakalang dari pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu, Muara Baru ataupun Muara Angke ke pengolah di Jakarta. Sebagian besar pendistribusian ikan cakalang merupakan pendistribusian yang melewati pedagang pengumpul kecil yang bertempat di PPN Palabuhanratu. Kemudian pedagang pengumpul kecil tersebut membagi hasil tangkapan yang akan didistribusikan kepada pedagang pengumpul besar Muara Baru atau Muara Angke dan kepada pedagang pengecer lokal. Ikan cakalang yang sampai di tangan pengumpul besar Muara Baru dan Muara Angke kemudian didistribusikan ke pedagang pengecer nasional. Aliran pendistribusian hasil tangkapan cakalang tersebut terdapat pada Gambar 26 berikut ini : Nelayan Pedagang pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul besar di Muara Baru Pedagang pengumpul besar di Muara Angke Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 26 Pendistribusian ikan cakalang dari PPN Palabuhanaratu tahun 2010. 129 4) Pendistribusian tongkol Ikan tongkol didistribusikan dari PPN Palabuhanratu dengan jenis dan jumlah bervariasi setiap tahun. Jenis dan jumlah tersebut terdapat pada Tabel 46 berikut ini : Tabel 46 Jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Tongkol 317.392 277.225 Tongkol abu-abu 103.798 97.310 24.347 6.911 Tongkol banyar 5.208 5.900 24.180 6.035 Tongkol lisong 76.933 417.190 18.038 82.437 Tongkol kekek 2.509 2.013 3.594 132 Jumlah 317.392 465.673 522.413 70.159 95.515 Pertumbuhan (%) 46,72 12,18 -86,57 36,14 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 berdasarkan Tabel di atas berjumlah 95.515 kg. Jenis ikan tongkol yang paling banyak didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah tongkol lisong (82.437 kg), sedangkan hasil tangkapan tongkol yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 adalah tongkol kekek (132 kg). 600.000 Jumlah (kg) 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 27 Grafik perkembangan jumlah ikan tongkol yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 130 Perkembangan jumlah ikan tongkol (Gambar 27) yang didistribusikan dari tahun 2005 sampai tahun 2007 cenderung meningkat, namun tahun 2008 terjadi penurunan jumlah ikan tongkol dari PPN Palabuhanratu yang cukup banyak yaitu sebesar 86,57%. Tahun 2009 kembali terjadi peningkatan jumlah ikan tongkol yang didistribusikan. Ikan tongkol hanya didistribusikan untuk tujuan pasar lokal dan nasional (Gambar 28). Sebagian besar ikan tongkol didistribusikan melalui pedagang pengumpul kecil yang terdapat di PPN Palabuhanratu, kemudian didistribusikan ke pedagang pengumpul besar di Muara Baru dan Muara Angke Jakarta. Dari pedagang pengumpul besar di kedua tempat tersebut kemudian ikan tongkol didistribusikan ke pemindang atau pedagang pengecer nasional. Hanya sebagian kecil ikan tongkol yang didistribusikan langsung oleh nelayan ke pedagang pengecer lokal, dari pedagang pengumpul kecil PPN Palabuhanratu ke pemindang dan dari pedagang pengumpul kecil PPN Palabuhanratu pedagang pengecer lokal atau nasional. Adanya pemindang dalam alur pendistribusian membuat ikan tongkol yang diterima oleh konsumen terbagi ke dalam dua bentuk yaitu ikan segar dan produk olahan pindang. Nelayan Pedagang pengumpul kecil di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul besar di Muara Baru Pedagang pengumpul besar di Muara Angke Pemindang Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 28 Pendistribusian ikan tongkol dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 131 5) Pendistribusian layur Ikan layur merupakan ikan yang bernilai jual tinggi di PPN Palabuhanratu karena dapat didistribusikan dengan tujuan ekspor. Berikut ini (Tabel 47) adalah jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Tabel 47 Jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis ikan 2005 2006 2007 2008 2009 Layur 178.268 193.816 258.250 203.203 20.329 Pertumbuhan (%) 8,72 33,24 -21,31 -90 Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah 20.329 kg. Pendistribusian ikan layur dari tahun 2005 sampai tahun 2007 cenderung meningkat, namun dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan layur menurun (Gambar 29). Peningkatan pendistribusian ikan layur yang paling tajam terjadi pada tahun 2007 dengan pertumbuhan 33,24%, sedangkan penurunan ikan layur yang paling tajam terjadi pada tahun 2009 sebesar 90% 300.000 Jumlah (kg) 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: Statistika PPN Palabuhanratu 2010 (diolah kembali) Gambar 29 Grafik perkembangan jumlah ikan layur yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. 132 Ikan layur didistribusikan nelayan melalui pedagang pengumpul ke perusahaan pengumpul ikan layur di PPN Palabuhanratu yaitu PT AGB (Gambar 30). Pendistribusian ikan layur yang dilakukan oleh PT AGB Palabuhanratu ditujukan untuk pasar ekspor, dimana layur didistribusikan terlebih dahulu kepada PT AGB Muara Angke. Tujuan ekspor ikan layur dari PT AGB adalah negara Korea Selatan. Hal ini karena permintaan dari negara tersebut yang besar, selain itu karena pemilik PT AGB adalah orang Korea Selatan yang sangat mengerti dan menguasai pasar di negara tersebut. Nelayan Pedagang pengumpul Perusahaan pengumpul (PT AGB PPN palabuhanratu) Perusahaan pengumpul (PT AGB Muara Angke) Importir Korea Pengolah Korea Selatan Pedagang pengecer Korea Selatan Konsumen Korea Selatan Pedagang pengecer nasional Pedagang pengecer lokal Konsumen Gambar 30 Pendistribusian ikan layur dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 133 6) Pendistribusian ikan kecil lainnya (tembang, layang, selar dan lainnya) Ikan kecil lainnya biasanya terbatas untuk pendistribusian lokal di daerah sekitar PPN Palabuhanratu dan untuk pasar nasional (Sukabumi, Bogor, Jakarta, Cianjur, Bandung, Jawa Tengah dan Banten). Oleh karena itu alur pendistribusiannya (Gambar 31) hanya melibatkan nelayan, pedagang pengumpul pribadi, pedagang pengecer dan pengolah ikan yang terdapat di PPN Palabuhanratu maupun di daerah lain di Indonesia. Hasil tangkapan tuna, tongkol, cakalang dan layur di PPN Palabuhanratu umumnya dijual kepada pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul dengan sistem langgan. Namun untuk hasil tangkapan tembang, selar dan ikan kecil lainnya banyak yang didistribusikan langsung oleh nelayan kepada pedagang pengecer karena jumlah hasil tangkapannya tidak banyak. Nelayan Pedagang pengumpul pribadi di PPN Palabuhanratu Pedagang pengumpul pribadi di daerah lain di Indonesia Pengolah ikan asin Pedagang pengecer lokal Pedagang pengecer di daerah lain di Indonesia Konsumen Gambar 31 Pendistribusian ikan tembang, selar dan ikan kecil lainnya dari PPN Palabuhanratu tahun 2010. 6.2 Pendistribusian Berdasarkan Daerah Tujuan Pendistribusiannya 1) Pendistribusi hasil tangkapan ke sekitar PPN Palabuahnratu (lokal) Hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ada yang dijual di pasar PPN Palabuhanratu dan pasar-pasar tradisional di sekitar Kecamatan Palabuhanratu. 134 Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) adalah sebagai berikut (Tabel 48) : Tabel 48 Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Daerah tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 317.484 Palabuhanratu 322.429 675.381 504.698 250.652 26,66 Pertumbuhan (%) 109,47 -25,27 -50,34 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 berjumlah 317.484 kg. Jika diamati perkembangan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 109,47%, namun pada tahun 2007 sampai tahun 2008 pendistribusian hasil tangkapan ke sekitar PPN Palabuhanratu mengalami penurunan (Gambar 32). Baru pada tahun 2009 hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu kembali meningkat. 800.000 700.000 Jumlah (kg) 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 32 Grafik jumlah hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009. Jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu adalah cakalang, cucut, layaran, layang, layur, tembang, tongkol 135 dan tuna (Tabel 49). Hasil tangkapan dominan yang paling banyak didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah ikan tembang (115.755 kg), sedangkan yang paling sedikit didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu tahun 2009 adalah ikan layaran (3.890 kg). Tabel 49 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal) tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis hasil tangkapan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Cakalang 78.213 63.267 64,689 20.398 27.417 2. Cucut 20.020 31.718 5.209 5.879 5.505 3. Layaran 19.694 16.365 12.371 6.095 3.890 4. Layang 13.127 10.442 4.808 10.215 4.759 5. Layur 39.816 79.179 80.537 29.719 20.329 6. Tembang 22.956 17.218 61.262 62.594 115.755 7. Tongkol - 41.048 119.871 27.156 27.561 8. Tuna 8.957 21.180 30.204 15.419 36.140 Jumlah 322.429 675.381 504.698 250.652 317.484 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 2) Pendistribusian ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu Hasil tangkapan yang ada di PPN Palabuhanratu juga didistribusikan ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu. Berikut ini adalah daerah yang menerima hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dan jumlahnya. Tabel 50 Pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Daerah tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Sukabumi 39.336 26.198 14.338 40.351 107.851 2. Bogor 9.567 73.107 3. Jakarta 2.780.734 1.941.027 2.235.991 2.075.967 2.162.376 4. Cianjur 223.597 325.226 5. Bandung 58.500 6. Jawa Tengah 158.993 7. Banten 77.434 Jumlah 2.878.570 1.967.225 2.250.329 2.585.909 2.668.560 Pertumbuhan (%) -31,66 14,39 14,91 3,20 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 136 Berdasarkan Tabel 50 diketahui bahwa daerah yang menjadi tujuan pendistribusian dari PPN Palabuhanratu tahun 2009 ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu adalah Sukabumi, Bogor, Jakarta dan Cianjur. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke daerah-daerah tersebut pada tahun 2009 berjumlah 2.669.560 kg. Pada tahun 2009 hasil tangkapan paling banyak didistribusikan ke Jakarta dengan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan berada diatas 2.000 ton, sementara daerah lainnya hanya menerima jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dibawah 500 ton. Jika diamati dari tahun 2005 sampai tahun 2009 hasil tangkapan yang didistribusikan ke berbagai daerah lain tersebut cenderung meningkat (Gambar 33). Peningkatan yang tajam terjadi pada tahun 2007 dan 2008 yaitu masingmasing sebanyak 14,39% dan 14,91%, sedangkan penurunan hanya terjadi pada tahun 2006 yaitu sebanyak 31,66%. 3.500 Jumlah (103kg) 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 0.500 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 33 Grafik jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2005-2009. Jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan ke berbagai daerah tersebut terdiri dari beberapa jenis hasil tangkapan dominan. Berdasarkan Tabel 54 diketahui bahwa jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke Sukabumi adalah cakalang, tembang, tongkol dan tuna. Jenis hasil tangkapan dominan yang didistribusikan ke Bogor adalah kembung, tembang dan tongkol, sedangkan yang 137 dominan didistribusikan ke Cianjur adalah cucut, layang dan tembang. Hasil tangkapan yang didistribusikan ke Jakarta memiliki jenis dominan cakalang, layaran, layang, pedang-pedang, marlin/setuhuk, tongkol dan tuna. Tabel 51 juga memberikan informasi bahwa hasil tangkapan yang paling banyak didistribusikan ke Sukabumi tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 64,160 kg, sedangkan ke Bogor tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 43.036 kg, ke Jakarta tahun 2009 adalah ikan tuna sebanyak 1.766.195 kg dan ke Cianjur tahun 2009 adalah ikan tembang sebanyak 304.863 kg. Tabel 51 Jenis dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009 Daerah tujuan Jenis ikan Sub jumlah (kg) Jumlah (kg) pendistribusian Cakalang 5.491 Tembang 64.160 1. Sukabumi Tongkol 17.400 107.851 Tuna 6.852 Lainnya 13.948 Kembung 8.120 Tembang 43.036 2. Bogor 73.107 Tongkol 12.500 Lainnya 9.451 Cakalang 66.199 Layaran 26.829 Layang 43.186 Pedang-pedang 82.703 3. Jakarta 2.162.376 Marlin/Setuhuk 49.212 Tongkol 24.854 Tuna 1.766.195 Lainnya 96.198 Cucut 2.163 Layang 5.000 4. Cianjur 325.226 Tembang 304.863 Lainnya 13.200 Jumlah 2.668.560 2.668.560 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah tujuan distribusi hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu dan besaran jumlahnya dijelaskan peta pada Gambar 34 berikut ini : 138 Gambar 34 Peta pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu ke berbagai daerah lain di luar Palabuhanratu tahun 2009. 138 139 3) Pendistribusian untuk tujuan ekspor Beberapa jenis hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu didistibusikan untuk tujuan ekspor. Jumlah ekspor hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 52 di bawah ini : Tabel 52 Jumlah hasil tangkapan didistribusikan untuk tujuan ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Negara tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 Korea Selatan 193.263 110.087 163.120 263.272 83.413 Pertumbuhan (%) -43,04 48.17 61,40 -68,32 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Tabel 52 menginformasikan bahwa negara tujuan ekspor hasil tangkapan dari PPN Palabuharatu adalah negara Korea Selatan. Padahal berdasarkan hasil wawancara (Gambar 25 dan 26) diketahui bahwa hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu juga diekspor ke negara Jepang. Hasil tangkapan yang didistribusikan dengan tujuan ekspor ke Jepang adalah tuna. Terdapat hasil tangkapan tuna ke Jepang maupun ke Korea Selatan dan hasil tangkapan layur ke Korea Selatan yang tidak dimasukkan ke dalam jumlah hasil tangkapan didistribusikan ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 oleh pengelola PPN Palabuhanratu. Hal itu dikarenakan hasil tangkapan tuna dan layur tersebut didistribusikan terlebih dahulu ke Jakarta sehingga dimasukkan ke dalam pendistribusian hasil tangkapan ke Jakarta. Hasil tangkapan yang diekspor ke Korea Selatan tahun 2009 berjumlah 83.413 kg. Jumlah ekspor hasil tangkapan dengan tujuan Korea Selatan tahun 2005-2006 cenderung fluktuatif (Gambar 35). Pertumbuhan positif pendistribusian ekspor paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 61,40%, sedangkan pertumbuhan negatif paling besar terjadi pada tahun 2009 sebesar 68,32%. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan jumlah hasil tangkapan layur yang didaratkan di PPN Palabuhanratu (Tabel 24) yang menjadi komoditas ekspor ke Korea Selatan dari PPN Palabuhanratu (Tabel 53). 140 300.000 Jumlah (kg) 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 0.000 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 35 Grafik jumlah hasil tangkapan didistribusikan ke Indonesia/ekspor dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Hasil tangkapan yang menjadi target ekspor luar tahun 2009 dari PPN Palabuhanratu adalah ikan layur dan swangi (Tabel 53 dan Gambar 36). Pada tahun tersebut jumlah ikan layur yang diekspor adalah 82.901 kg, jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2008 yang berjumlah 173.484 kg. Jenis hasil tangkapan yang diekspor pada tahun 2009 adalah ikan layur dan swangi. Pendistribusian hasil tangkapan swangi untuk tujuan ekspor hanya terjadi pada tahun 2009 dengan jumlah 512 kg. Hasil tangkapan lain yang menjadi komoditi ekspor dari PPN Palabuhanratu adalah ikan tuna dan lobster. Hasil tangkapan lobster terbanyak diekspor adalah tahun 2006 dengan jumlah 450 kg, sedangkan hasil tangkapan tuna yang paling banyak diekspor adalah tahun 2005 sebanyak 148.007 kg. Tabel 53 Jenis dan jumlah hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu yang didistribusikan untuk tujuan ekspor tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Jenis hasil tangkapan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Layur 45.256 114.637 163.000 173.484 82.901 2. Lobster Laut Dalam 450 120 3. Tuna 148.007 89.788 4. Swangi 512 Jumlah 193.263 110.087 163.120 263.272 83.413 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) 141 Gambar 36 Peta pendistribusian hasil tangkapan dengan tujuan ekspor dari PPN Palabuahnratu tahun 2009. 141 142 6.3 Pendistribusian Ikan Olahan Asin dan Pindang Menurut hasil wawancara dan data statistik PPN Palabuhanratu diketahui bahwa bentuk ikan olahan yang diproduksi di PPN Palabuhanratu terdiri dari ikan olahan asin dan ikan olahan pindang. Hal yang sama dikemukakan oleh Muninggar (2008) yaitu ikan olahan di PPN Palabuhanratu baru dilakukan pengolahan tradisional yaitu pengasinan (ikan asin) dan pemindangan (ikan pindang). 1) Pendistribusian ikan olahan asin Produksi ikan olahan asin dari pengolah ikan asin yang terdapat di PPN Palabuhanratu didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu dan ke daerah lain di luar Palabuhanratu. Berikut ini (Tabel 54) adalah jumlah ikan olahan asin yang didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 : Tabel 54 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan asin Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Kota tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 1. Palabuhanratu 69.872 68.467 118.656 25.844 2. Sukabumi 195.386 206.135 278.374 37.614 3. Cibadak 120.588 4. Cicurug 177.605 177.609 193.207 38.560 5. Bogor 455.721 293.308 374.155 57.500 6. Cianjur 348.186 143.847 159.840 63.918 7. Bandung 85.227 289.784 Jumlah (kg) 1.452.585 889.366 1.124.232 513.220 Pertumbuhan (%) -38,77 26,41 -54,35 dari PPN 2009 22.927 27.527 8.243 16.760 9.620 103.235 188.312 -63,31 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Tabel 54 menginformasikan bahwa pendistribusian ikan olahan asin mencakup daerah tujuan lokal dan nasional. Pada tahun 2009 ikan olahan asin didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Cicurug, Bogor, Cianjur dan Bandung. Jumlah ikan olahan asin yang paling banyak didistribusikan tahun 2009 adalah 103.235 kg dengan daerah tujuan Bandung, sementara itu jumlah ikan olahan asin yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 berjumlah 8.243 kg dengan tujuan Cicurug. 143 Kecendrungan jumlah ikan olahan asin yang didistribusikan tahun 2005 sampai tahun 2006 adalah menurun (Gambar 37). Peningkatan terjadi pada tahun 2007, namun jumlah pendistribusian ikan olahan asin kembali menurun pada tahun 2008 sampai tahun 2009. Peningkatan hanya terjadi tahun 2007 dengan sebesar 26,41%, sementara penurunan yang paling tajam terjadi tahun 2009 dengan penurunan sebesar 63,31%. 1.600 Jumlah (103kg) 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 37 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan asin dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Daerah tujuan pendistribusian yang menampung paling banyak ikan olahan asin setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 beragam yaitu tahun 2005 Bogor (455.721 kg), tahun 2006 Bogor (293.308 kg), tahun 2007 Bogor (374.155 kg), tahun 2008 Bandung (289.784 kg) dan tahun 2009 Bandung (103.235 kg). Daerah yang menampung ikan olahan asin paling sedikit dari tahun 2005 sampai 2009 didominasi daerah Palabuhanratu yaitu dari tahun 2005 sampai tahun 2008. 2) Pendistribusian ikan olahan pindang Pengolah ikan di PPN Palabuhanratu juga menghasilkan ikan pindang sebagai produk olahannya. Selain didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu (lokal), produksi ikan olahan pidang dari PPN Palabuhanratu juga didistribusikan ke daerah lain di luar Palabuhanratu. Jumlah ikan olahan pindang yang 144 didistribusikan dari PPN Palabuhanratu tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 terdapat pada Tabel 55. Pendistribusian ikan olahan pindang pada Tabel 55 mencakup daerah tujuan lokal (ke sekitar PPN Palabuhanratu) dan daerah lain di luar Palabuhanratu. Pada tahun 2009 ikan olahan pindang didistribusikan ke sekitar PPN Palabuhanratu, Sukabumi, Cicurug, Bogor, Cianjur dan Bandung. Jumlah ikan olahan pindang yang paling banyak didistribusikan tahun 2009 adalah 312.105 kg dengan daerah tujuan pendistribusian Bandung, sementara itu jumlah ikan olahan pindang yang paling sedikit didistribusikan tahun 2009 berjumlah 50.753 kg dengan daerah tujuan pendistribusian Cianjur. Tabel 55 Jumlah dan daerah tujuan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009 Jumlah (kg) Kota tujuan dan pertumbuhan 2005 2006 2007 2008 2009 1. Palabuhanratu 205.160 224.287 239.185 81.927 79.040 2. Sukabumi 150.681 266.467 333.001 131.593 104.373 3. Cicurug 38.091 148.684 223.636 118.402 80.175 4. Bogor 400.020 492.760 311.113 125.837 59.742 5. Cianjur 430.048 356.800 283.565 160.209 50.753 6. Cibadak 35.168 7. Garut 125.350 8. Bandung 362.669 330.504 230.369 279.516 312.105 Jumlah (kg) 1.747.187 1.819.502 1.620.869 897.484 686.188 Pertumbuhan (%) 4,14 -10,92 -44,63 -23,54 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Daerah tujuan pendistribusian yang menampung banyak ikan olahan pindang setiap tahunnya beragam yaitu tahun 2005 Cianjur (430.048 kg), tahun 2006 Bogor (492.760 kg), tahun 2007 Sukabumi (333.001 kg), tahun 2008 Bandung (279.516 kg) dan tahun 2009 Bandung (312.105 kg). Daerah yang menampung ikan olahan pindang paling sedikit dari tahun 2005 sampai tahun 2009 yaitu, 2005 Cibadak (35.168 kg), tahun 2006 Cicurug (148.684 kg), tahun 2007 Cicurug (223.636 kg), tahun 2008 Palabuhanratu (81.927 kg) dan tahun 2009 Cianjur (50.753 kg). 145 Kecendrungan jumlah ikan olahan pindang yang didistribusikan tahun 2005 sampai tahun 2006 mengalami peningkatan, namun dari tahun 2007 sampai tahun 2009 jumlah pendistribusian ikan olahan pindang cenderung menurun (Gambar 38). Penurunan jumlah pendistribusian ikan olahan pindang yang paling tajam terjadi tahun 2008 dengan penurunan sebesar 44,63%. 2.000 1.800 Jumlah (103kg) 1.600 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 2005 2006 2007 2008 2009 Tahun Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010b (diolah kembali) Gambar 38 Grafik perkembangan pendistribusian ikan olahan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2005-2009. Berdasarkan pembahasan pada sub sub bab 6.2.2 keseluruhan diketahui bahwa hasil ikan olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu didistribusikan di sekitar PPN Palabuhanratu dan ke daerah lain di Indonesia. Daerah lain di Indonesia yang menjadi tujuan distribusi ikan olahan asin and pindang hampir sama. Perbedaannya adalah ikan olahan pindang didistribusikan ke daerah Garut, sedangkan ikan olahan asin tidak didistribusikan ke daerah tersebut. Pendistribusian olahan asin dan pindang yang didistribusikan dengan tujuan daerah lain di luar Palabuhanratu diperjelas oleh peta pada Gambar 39. Pada peta tersebut juga dapat terlihat besaran jumlah hasil ikan olahan asin dan pindang yang didistribusikan ke daerah tersebut. 146 Gambar 39 Peta pendistribusi hasil olahan asin dan pindang dari PPN Palabuhanratu tahun 2009. 146 147 7 BIAYA PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN DI PPN PALABUHANRATU 7.1 Biaya Penanganan Biaya penanganan merupakan keseluruhan pengeluaran yang dikeluarkan oleh pelaku penanganan untuk melakukan kegiatan penanganan hasil tangkapan. Biaya penanganan dapat berupa biaya investasi dan dapat berupa biaya produksi yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Berikut ini (Tabel 56) adalah besaran biaya penangana yang dikeluarkan oleh nelayan di tempat pendaratan, oleh pedagang/perusahaan pengumpul dan pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010. Tabel 56 Besaran biaya penanganan hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Biaya Investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC TC A. di tempat pendaratan 1. Tuna hasil tangkapan a. Tuna longline (oleh 90.000 28.000 357.000.000 357.028.000 perusahaan pengumpul) b. Pancing rumpon 2. Tuna-tuna kecil 3. Cakalang 4. Tongkol 5. Layur 6. Ikan kecil lainnya B. di tempat pedagang/perusahaan pengumpul 1. Tuna hasil tangkapan a. Tuna longline Dilakukan perusahaan pengumpul di tempat pendaratan b. Pancing 85.425.000 18.835.000 309.370.000 328.205.000 rumpon 2. Tuna-tuna kecil 90.000.000 19.000.000 189.000.000 208.000.000 3. Cakalang 5.257.500 5.327.500 34.300.000 39.627.500 4. Tongkol 9.007.500 5.702.500 39.100.000 40.002.500 P - - - 148 Lanjutan Tabel 56 Jenis ikan Biaya investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC TC P 5. Layur a. oleh pedagang 90.000 18.000 5.950.000 5.968.000 pengumpul b. oleh PT AGB 216.250.000 36.000.000 122.050.000 158.050.000 6. Ikan kecil 51.315.000 11.665.000 37.440.000 49.105.000 lainnya C. di tempat pedagang pengecer 1. Tuna Tidak dijual di tempat pedagang pengecer PPN Palabuhanratu 2. Tuna-tuna kecil 1.372.500 855.500 5.950.000 6.805.500 3. Cakalang 1.417.500 864.500 2.975.000 3.839.500 4. Tongkol 1.417.500 864.500 2.975.000 3.839.500 5. Layur 1.387.500 858.500 1.750.000 2.608.500 6. Ikan kecil 277.500 756.500 11.900.000 12.656.500 lainnya Keterangan : TFC = total fixed cost/jumlah keseluruhan biaya tetap; TVC = total variable cost/jumlah keseluruhan biaya varibel; TC = total cost/jumlah keseluruhan biaya produksi; P = pinjaman Biaya investasi dan biaya produksi penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu hanya dikeluarkan untuk penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline. Biaya penanganan tuna hasil tangkapan longline di tempat pendaratan dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, karena kegiatan tersebut dilakukan oleh perusahaan pengumpul tuna bukan oleh nelayan (sub bab 5.1 butir 1). Tidak terdapat biaya penanganan untuk jenis hasil tangkapan lainnya di tempat pendaratan.  Tuna Berdasarkan Tabel 56 diketahui bahwa biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna dalam penanganan hasil tangkapan tuna longline di tempat pendaratan berjumlah Rp 90.000,00. Besaran biaya investasi tersebut terdiri dari pembelian terpal dan pembelian sekop (Lampiran 27). Biaya produksi penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline oleh perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 375.028.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 28.000,00 dan biaya variabel Rp 357.000.000,00. Biaya tetap yang dikeluarkan terdiri dari biaya penyusutan terpal dan penyusutan sekop, sedangkan biaya variabelnya merupakan biaya pembelian es. 149 Perusahaan pengumpul tuna mengeluarkan biaya investasi Rp 85.425.000,00 untuk melakukan penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon. Berdasarkan Lampiran 27 diketahui biaya investasi tersebut terdiri dari pembelian terpal, sekop, alat checker dan pengadaan coldstorage. Perusahaan pengumpul tuna di PPN Palabuhanratu pada tahun 2010 mengeluarkan biaya produksi penanganan tuna hasil tangkapan pancing rumpon sebesar Rp 328.205.000,00 (Tabel 57). Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap (penyusutan terpal, penyusutan sekop, penyusutan checker, penyusutan coldstorage, perawatan coldstorage dan sewa bangunan) dengan jumlah Rp 18.835.000,00 dan biaya variabel (upah karyawan, listrik, pembelian es dan air) dengan jumlah Rp 309.370.000,00 (Lampiran 27).  Tuna-tuna kecil Besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul untuk penanganan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengumpul berdasarkan Tabel 59 berjumlah Rp 90.000.000,00 yang digunakan untuk pengadaan coldstorage, sedangkan besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer berjumlah Rp 1.372.500,00 yang digunakan untuk pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan ember (Lampiran 28). Komposisi biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul terdiri biaya tetap (sewa bangunan dan penyusutan kotak plastik) dan biaya variabel (upah karyawan dan pembelian es). Biaya tetap dan variabel tersebut masing-masing berjumlah Rp 19.000.000,00 dan Rp 189.000.000,00, sehingga biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 208.000.000,00. Biaya produksi penanganan tuna-tuna kecil yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 6.805.500,00. Biaya tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap (Rp 855.500,00) dan biaya variabel (Rp 5.950.000,00). Biaya tetapnya terdiri dari penyusutan terpal, penyusutan styrofoam, penyusutan kotak plastik, penyusutan ember dan sewa bangunan, sedangkan biaya variabelnya dikeluarkan untuk pengadaan es (Lampiran 28). 150  Cakalang Penanganan cakalang memerlukan biaya investasi dengan jumlah Rp 5.357.500,00 bagi pedagang pengumpul dan Rp 1.417.500,00 bagi pedagang pengecer. Besaran biaya investasi oleh pedagang pengumpul berdasarkan Lampiran 29 merupakan pengeluaran untuk pembelian ember, blong dan kotak plastik. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk penanganan cakalang merupakan pengeluaran untuk pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan pembelian ember (Lampiran 29). Berdasarkan Tabel 57 didapatkan bahwa pada tahun 2010 pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu mengeluarkan biaya produksi penanganan cakalang sebesar Rp 39.627.500,00. Biaya tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 5.327.500,00 (penyusutan ember, penyusutan blong, penyusutan kotak plastik dan sewa bangunan) dan biaya variabel sebesar Rp 34.300.000 (upah karyawan dan pembelian es). Tabel 57 juga memberikan informasi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk melakukan penanganan cakalang yaitu sebesar Rp 3.839.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 864.000,00 dan biaya variabel Rp 2.975.000,00. Komponen biaya tetapnya adalah penyusutan terpal, penyusutan kotak plastik, penyusutan, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa bangunan, sedangkan biaya variabelnya merupakan biaya pembelian es.  Tongkol Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul untuk melakukan penanganan terhadap tongkol berjumlah Rp 9.007.500,00 yang terdiri dari pembelian ember, blong dan kotak plastik. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer untuk penanganan tongkol sama dengan penanganan cakalang yaitu sebesar Rp 1.417.500,00 yang terdiri dari pembelian terpal, kotak plastik, styrofoam dan pembelian ember. Penanganan hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 40.002.500. Biaya tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap Rp 5.702.500,00 dan biaya variabel Rp 39.100.000. Berdasarkan Lampiran 30 diketahui bahwa biaya tetap dikeluarkan dalam bentuk 151 penyusutan ember, penyusutan blong, penyusutan kotak plastik dan sewa bangunan. Lampiran 30 juga memberikan informasi bahwa biaya variabel dikeluarkan dalam bentuk upah karyawan dan pembelian es. Biaya produksi penanganan tongkol oleh pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 3.839.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 864.000,00 (penyusutan terpal, penyusutan kotak plastik, penyusutan, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa bangunan) dan biaya variabel Rp 2.975.000,00 (biaya pembelian es).  Layur Penanganan layur di PPN Palabuhanratu dilakukan oleh pedagang pengumpul, perusahaan pengumpul layur (PT AGB) dan pedagang pengecer. Besaran biaya investasi yang dikeluarkan oleh masing-masing pelaku penanganan tersebut yaitu Rp 90.000,00 oleh pedagang pengumpul, Rp 215.250.000,00 oleh PT AGB dan Rp 1.387.000,00 oleh pedagang pengecer. Investasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul merupakan pembelian styrofoam, yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri dari pembelian trais, kotak baja ringan, pengadaan coldstorage dan pengadaan freezer, sedangkan oleh pedagang pengumpul terdiri dari pembelian kotak palstik, styrofoam dan ember. Biaya produksi penanganan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 (Tabel 57) yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul berjumlah Rp 5.968.000,00, yang terdiri dari biaya tetap (Rp 18.000,00) dan biaya variabel (Rp 5.950.000,00). Biaya tetap tersebut dikeluarkan dalam bentuk penyusutan styrofoam, sedangan biaya variabel dikeluarkan dalam bentuk pembelian es. Biaya operasional penanganan layur oleh PT AGB berjumlah Rp 158.050.000,00. Jumlah tersebut terdiri dari biaya tetap sebesar Rp 18.000.000,00 dan biaya variabel Rp 122.050.000,00. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT AGB adalah penyusutan trais, penyusutan kotak baja ringan, penyusutan coldstorage, penyusutan freezer, perawatan coldstorage, perawatan freezer, sewa tanah dan pas kebersihan. Biaya variabelnya adalah penggunaan air, penggunaan listrik, upah karyawan dan pembelian kotak kardus (Lampiran 31). Biaya penanganan layur yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer berjumlah Rp 2.608.500,00. Biaya ini merupakan 152 penjumlahan dari biaya tetap (penyusutan kotak plastik, penyusutan styrofoam, penyusutan ember dan sewa kios) sebesar Rp 858.500,00 dan biaya variabel (pembelian daun pisang dan es) sebesar Rp 1.750.000.  Ikan kecil lainnya Biaya investasi yang dikeluarkan untuk melakukan penanganan ikan kecil lainnya hanya dikeluarkan oleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, karena hanya di tempat kedua pelaku tersebut hasil tangkapan ikan kecil lainnya mendapatkan penanganan (sub bab 5.1 butir 6). Besaran biaya investasi yang dikeluarkan pedagang pengumpul sebesar Rp 51.315.000 menurut Lampiran 32 merupakan biaya pengadaan coldstorage, pembelian ember, trais dan styrofoam. Besaran biaya investasi oleh pedagang pengecer yang berjumlah Rp 277.500,00 dan berdasarkan lampiran 31 diketahui terdiri dari pembelian styrofoam dan ember. Biaya produksi penanganan ikan kecil lainnya berjumlah Rp 49.105.000.00. Biaya tersebut menurut Lampiran 32 terdiri dari biaya tetap (sewa bangunan, upah karyawan, listrik dan penyusutan investasi) sebesar Rp 11.665.000,00 dan biaya variabel (penggunaan air dan es) sebesar Rp 37.440.000,00. Pedagang pengecer ikan kecil lainnya mengeluarkan biaya produksi penanganan ikan kecil lainnya dengan jumlah Rp 12.656.500,00. Biaya produksi tersebut merupakan penjumlahan dari biaya tetap (sewa bangunan, penyusutan styrofoam dan penyusutan ember) Rp 756.500,00 dengan biaya variabel (pembelian es) Rp 11.900.000,00. Secara umum biaya investasi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu layur, tuna-tuna kecil, tuna, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Biaya produksi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tuna, tuna-tuna kecil, layur, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Investasi pendistribusian hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, layur dan tuna-tuna kecil. Biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tongkol, tuna, layur, cakalang, ikan kecil lainnya dan tuna-tuna kecil. Secara umum tidak terdapat pinjaman yang dilakukan untuk 153 melakukan kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa secara keseluruhan biaya investasi dan biaya produksi untuk hasil tangkapan tujuan ekspor (tuna dan layur) lebih besar dibandingkan dengan hasil tangkapan lainnya. Biaya investasi dan biaya produksi tersebut dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul yang melakukan penanganan terhadap hasil tangkapan tersebut sebelum didistribusikan. Kekurangan dari penanganan hasil tangkapan tuna dan layur adalah penanganan hasil tangkapan tersebut lebih terfokus pada hasil tangkapan yang layak di ekspor saja. Hasil tangkapan tuna dan layur yang tidak layak ekspor dan hanya didistribusikan lokal dan nasional tidak terlalu diperhatikan oleh nelayan dan pedagang pengecer. Hal tersebut terlihat dari biaya produksi penanganan hasil tangkapan tersebut di tempat pedagang pengecer yang lebih kecil dibandingkan ikan kecil lainnya. Sebaiknya penanganan hasil tangkapan yang bukan tujuan ekspor lebih diperhatikan untuk menjaga kualitasnya walaupun biaya investasi dan biaya produksi yang dikeluarkan lebih besar. Hal ini sangat berat bagi nelayan dan pedagang karena walaupun investasi dan biaya produksi penanganan meningkat, namun permintaan dan harga tidak meningkat. Hal ini disebabkan karena konsumen Indonesia lebih mementingkan kuantitas dibandingkan kualitas. 7.2 Biaya Pendistribusian Pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu dapat berupa pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu (pengangkutan hasil tangkapan dari satu tempat pelaku pemasaran hasil tangkapan ke tempat pelaku pemasaran lainnya tetapi masih di dalam PPN Palabuhanratu) maupun pengangkutan hasil tangkapan dari dalam PPN Palabuhanratu ke luar PPN Palabuhanratu. Contoh dari pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu adalah pengangkutan hasil tangkapan tuna dari tempat pendaratan ke tempat perusahaan pengumpul tuna, sedangkan contoh dari pendistribusian ke luar PPN Palabuhanratu adalah pendistribusian layur dari PT AGB PPN Palabuhanratu ke PT AGB Muara Angke Jakarta. 154 Pendistribusian tersebut memerlukan biaya yang terdiri dari biaya investasi dan biaya produksi pendistribusian. Berikut ini merupakan hasil perhitungan investasi dan biaya produksidalam pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berdasarkan jenis hasil tangkapannya : Tabel 57 Besaran biaya pendistribusian hasil tangkapan berdasarkan jenisnya di tempat pedaratan, di tempat pedagang/perusahaan pengumpul dan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Jenis ikan Biaya investasi Besaran (Rp) Biaya produksi TFC TVC A. di tempat pendaratan 1. Tuna 2. Tuna-tuna kecil 3. Cakalang 4. Tongkol 5. Layur 6. Ikan kecil lainnya B. di tempat pedagang/perusahaan pengumpul 1. Tuna 375.000.000 21.400.000 2. Tuna-tuna kecil 150.000.000 8.600.000 3. Cakalang 60.000 4. Tongkol 50.000 5. Layur a. oleh pedagang 75.000 pengumpul b. oleh PT AGB 225.000.000 13.500.000 6. Ikan kecil 35.000 lainnya P TC 1.600.000 800.000 3.500.000 3.500.000 - 1.600.000 800.000 3.000.000 3.000.000 - - - - - 21.400.000 140.700.000 192.850.000 385.700.000 373.150.000 149.300.000 192.910.000 385.750.000 - 6.000.000 7.075.000 - 216.300.000 229.800.000 - 192.850.000 192.885.000 - Keterangan : TFC = total fixed cost/jumlah keseluruhan biaya tetap; TVC = total variable cost/jumlah keseluruhan biaya varibel; TC = total cost/jumlah keseluruhan biaya produksi; P = pinjaman Berdasarkan Tabel 58 di atas diketahui bahwa secara umum yang mengeluarkan biaya investasi dalam pendistribusian hasil tangkapan dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur. Hal ini bukan berarti pendistribusian hanya dilakukan oleh ketiga pelaku tersebut, terdapat pelaku pendistribusian lainnya yang tidak mengeluarkan biaya investasi untuk melakukan pendistribusian hasil tangkapannya. Bentuk investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan perusahan pengumpul layur (PT 155 AGB) sama yaitu pembelian mobil bak tertutup. Besaran biaya invetasi perusahaan pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 untuk tuna berjumlah Rp 375.000.000,00 (5 unit mobil bak tertutup), untuk tuna-tuna kecil berjumlah Rp 150.000.000,00 (2 unit mobil bak tertutup) dan untuk layur berjumlah Rp 225.000.000,00 (3 unit mobil bak tertutup). Selain mengeluarkan biaya investasi, pelaku pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu berdasarkan hasil wawancara juga mengeluarkan biaya produksi pendistribusian. Biaya produksi tersebut terdiri dari biaya tetap (selalu dikeluarkan dan tidak bergantung pada jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan) dan biaya variabel (tidak selalu dikeluarkan dan bergantung pada besaran jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan). Berikut ini dijelaskan biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapannya :  Tuna Biaya produksi pendiribusian tuna di PPN Palabuhanratu dikeluarkan oleh nelayan dan perusahaan pengumpul tuna. Biaya produksi pendistribusian tuna yang dikeluarkan oleh nelayan merupakan biaya variabel yaitu upah angkut tuna dari tempat pendaratan ke tempat perusahan pengumpul tuna. Biaya tersebut tahun 2010 berjumlah Rp 1.600.000,00 (Tabel 59). Biaya produksi pendistribusian tuna oleh perusahaan pengumpul tuna berjumlah Rp 373.000.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 21.250.000,00 dan biaya variabel Rp 351.750.000,00 (Lampiran 33). Biaya tetap yang dikeluarkan berupa penyusutan, perawatan mobil bak tertutup dan alat tulis kantor, sedangkan biaya variabel yang dikeluarkan berupa pas masuk mobil ke pelabuhan, bensin mobil, gaji sopir dan gaji kenek mobil.  Tuna-tuna kecil Keseluruhan biaya produksi pendistribusian tuna-tuna kecil oleh nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 800.000,00 (Tabel 59). Biaya tersebut berupa upah angkut tuna-tuna kecil dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Biaya produksi pendistribusian tuna-tuna kecil yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul PPN Palabuhanratu berjumlah Rp 149.300.000,00 yang terdiri dari biaya tetap Rp 8.600.000,00 dan biaya variabel Rp 140.700.000,00. Biaya tetap yaitu hasil penjumlahan penyusutan dan 156 perawatan mobil bak tertutup dan alat tulis kantor, sedangkan biaya variabel yaitu penjumlahan biaya pas masuk PPN Palabuhanratu, sewa mobil pick up dan bensin mobil (Lampiran 34).  Cakalang Pendistribusian cakalang oleh nelayan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 menurut Tabel 59 memerlukan biaya produksi sejumlah Rp 3.000.000,00. Biaya tersebut dikeluarkan nelayan berupa upah angkut hasil tangkapan cakalang dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul mengeluarkan biaya produksi pendistribusian cakalang dengan jumlah Rp 192.910.000,00 (Tabel 59). Biaya tersebut merupakan pernjumlahan biaya tetap Rp 60.000,00 berupa alat tulis kantor dengan biaya variabel Rp 192.850.000,00 berupa penjumlahan biaya sewa mobil pick up, bensin mobil dan pas masuk PPN Palabuhanratu (Lampiran 35).  Tongkol Bentuk biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh nelayan untuk pendistribusian tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 adalah upah angkut dari tempat pendaratan ke tempat pedagang pengumpul. Biaya tersebut berjumlah Rp 3.000.000,00 (Lampiran 36). Biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh pedagang pengumpul untuk mendistribusikan hasil tangkapan tongkol dari PPN Palabuhanratu tahun 2010 berjumlah Rp 385.700.000,00. Jumlah tersebut merupakan penjumlahan biaya tetap berupa alat tulis kantor dengan biaya variabel yang terdiri dari sewa mobil pick up, pas masuk PPN Palabuhanartu dan bensin mobil. Besar biaya tetapnya adalah Rp 50.000,00 sedangkan besar biaya variabelnya adalah Rp 385.700.000,00.  Layur Besaran biaya produksi pendistribusian yang dikeluarkan oleh PT AGB selaku perusahaan penanganan layur adalah Rp 229.300.000,00. Biaya produksi PT AGB tersebut terdiri dari biaya tetap Rp 13.000.000,00 dan biaya variabel Rp 216.300.000,00 (Lampiran 37). Biaya tetap yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri 157 dari alat tulis kantor, penyusutan dan perawatan mobil bak tertutup.. Biaya variabel yang dikeluarkan oleh PT AGB terdiri dari pembayaran pas masuk PPN Palabuhanratu, bensin mobil, gaji sopir dan gaji kenek.  Ikan kecil lainnya Biaya produksi pendistribusian ikan kecil lainnya di PPN Palabuhanratu tahun 2010 hanya dikeluarkan oleh pedagang pengumpul dengan jumlah Rp 192.885.000,00. Biaya tersebut teridiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Berdasarkan Lampiran 38 biaya tetap yang dikeluarkan adalah alat tulis kantor dengan jumlah Rp 35.000,00. Biaya variabel yang dikeluarkan berupa sewa mobil pick up, pas masuk PPN Palabuhanartu dan bensin mobil yang kesemuanya berjumlah Rp 192.850.000,00. Berdasarkan uraian pada bab 7.2 secara keseluruhan diketahui bahwa investasi hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur. Hal ini karena perusahaan tuna, tuna-tuna kecil dan layur melakukan pengadaan mobil bak tertutup untuk pendistribusian ikannya. Pelaku pendistribusian lainnya tidak melakukan pengadaan alat yang berupa investasi, gerobak dan mobil bak terbuka yang digunakan dalam pendistribusian disewa oleh pelaku sehingga termasuk ke dalam biaya operasional. Biaya produksi secara keseluruhan dikeluarkan oleh 3 pelaku yaitu nelayan, pedagang pengumpul dan perusahaan pengumpul. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh nelayan jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul. Hal ini karena perbedaan jarak pendistribusian dimana nelayan melakukan pendistribusian di dalam PPN Palabuhanratu, sedangkan pedagang pengumpul atau perusahaan pengumpul melakukan pendistribusian ke luar PPN Palabuhanratu. Selain itu terdapat perbedaan alat yang digunakan dan jumlah hasil tangkapan yang didistribusikan. Biaya produksi yang paling besar dikeluarkan oleh pedagang pengumpul tongkol, walaupun tongkol hanya didistribusikan untuk tujuan lokal dan nasional. Biaya produksi tongkol tersebut lebih besar dibandingkan biaya produksi tuna, tuna-tuna kecil dan layur yang merupakan komoditas ekspor. Hal ini karena 158 pedagang pengumpul tongkol masih menyewa mobil bak terbuka kepada orang lain yang dimasukkan ke dalam biaya produksi, sedangkan perusahaan pengumpul tuna, tuna-tuna kecil dan layur melakukan investasi berupa mobil bak tertutup sehingga tidak terdapat penyewaan mobil di dalam biaya produksinya. 159 8 KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan 1) Penanganan hasil tangkapan di tempat pendaratan secara umum belum dilakukan oleh nelayan PPN Palabuhanratu. Di tempat pedagang pengumpul dan pedagang pengecer sebagian besar hasil tangkapan ditangani dengan cara penempatan ke dalam wadah dan pemberian es. Rata-rata nilai skala organoleptik hasil tangkapan sampel di tempat pendaratan dari yang terbesar adalah tongkol (9,00), cakalang (8,80), layur (7,84) dan tuna-tuna kecil (7,75), sedangkan di tempat pedagang pengecer adalah cakalang (8,15), tongkol (8,03), layur (7,34) dan tuna-tuna kecil (7,14). Terjadi penurunan nilai skala organoleptik atau mutu hasil tangkapan sampel yang nyata dari tempat pendaratan sampai ke tempat pedagang pengecer dan terdapat perbedaan nilai skala organoleptik atau mutu yang nyata diantara keempat sampel hasil tangkapan tersebut. Secara keseluruhan nilai skala organoleptik atau mutu satu hasil tangkapan sampel dengan satu hasil tangkapan sampel lainnya berbeda nyata, kecuali pada insang layur dengan tuna-tuna kecil di kedua tempat dan konsistensi layur dengan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan. 2) Pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu secara umum telah berjalan dengan baik. Tujuan pendistribusian hasil tangkapan keluar PPN Palabuhanratu adalah daerah di sekitar PPN Palabuhanratu (pasar lokal), daerah lain di Indonesia (pasar nasional) dan luar negeri (ekspor : Korea dan Jepang). Hasil tangkapan yang didistribusikan ke daerah tersebut dapat berupa ikan segar atau ikan olahan (pindang dan asin). Penanganan mutu ikan dalam pendistribusian hasil tangkapan dari PPN Palabuhanratu dilakukan dengan memakai es curah. 3) Biaya penanganan di tempat pendaratan hanya dikeluarkan pada penanganan tuna hasil tangkapan tuna longline oleh perusahaan pengumpul. Secara umum investasi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu layur, tuna-tuna kecil, tuna, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Biaya produksi penanganan per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tuna, tuna-tuna kecil, layur, ikan kecil lainnya, tongkol dan cakalang. Investasi pendistribusian 160 hanya dikeluarkan oleh perusahaan pengumpul tuna, layur dan tuna-tuna kecil. Biaya produksi pendistribusian per jenis hasil tangkapan dari yang terbesar yaitu tongkol, tuna, layur, cakalang, ikan kecil lainnya dan tuna-tuna kecil. Secara umum tidak terdapat pinjaman yang dilakukan untuk melakukan kegiatan penanganan dan pendistribusian hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu. 8.2 Saran 1) Untuk penanganan hasil tangkapan di tempat pedagang pengumpul dan pedagang pengecer diperlukan adanya penyediaan air tawar yang bersih dan terjangkau dari pengelola PPN Palabuhanratu 2) Sebaiknya pelelangan ikan di TPI kembali dijalankan, agar penanganan hasil tangkapan di TPI PPN Palabuhanratu dapat dilakukan dengan lebih baik. 3) Diperlukan adanya pengawasan mutu harian hasil tangkapan yang didaratkan dan dijual di PPN Palabuhanratu oleh petugas pengawas perikanan PPN Palabuhanratu. 4) Perlu dicari dan dikembangkan daerah tujuan pendistribusian baru dengan tujuan nasional atau ekspor dari PPN Palabuhanratu, karena keberagaman daerah tujuan pndistribusiannya masih sangat sedikit. 161 DAFTAR PUSTAKA Arhadi O. 2007. Pengendalian Kualitas Ikan pada Distribusi Hasil Tangkapan di PPP Cilauteureun Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten. Garut [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Berita Perikanan Papua]. 2007. Info Iptek Perikanan dan Kelautan : Cara Penanganan Ikan Segar. Berita Perikanan Papua [internet]. [diunduh 2 Januari 2008]. http://beritaperikananpapua.wordpress.com/2007/11/19/in fo-iptek-perikanan-dan-kelautan-cara-penangan-ikan-segar/. [BPPT Kabupaten Sukabumi]. 2010. Sarana dan Prasaraa. BPPT Kabupaten Sukabumi [internet]. [diunduh 12 Januari]. http://bppt.kabupaten sukabumi.go.id/index.php?option=com_ content&view=article&id=124&Itemid=68. [BPS Kabupaten Sukabumi] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. 2010a. Sukabumi dalam Angka Tahun 2009. Kabupaten Sukabumi (ID) : Badan BPS Kabupaten Sukabumi. [BPS Kabupaten Sukabumi]. 2010b. Listrik dan Air Minum. Sukabumi BPS [internet]. [diunduh 10 Januari 2011]. http://sukabumikab.bps.go.id/ component/content/article /75/112-listrik-dan-air-minum.html. Darmawan A. 2006. Distribusi Hasil Tangkapan di PPS Nizam Zachman Jakarta. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Dechacare]. 2011. Omega 3 Modal untuk Kecerdasan. Dechacare [internet]. [diunduh 16 Februari 2011]. http://www.dechacare. com/Omega-3-ModalUntuk-Kecerdasan-I489.html. [Deptan] Departemen Pertanian. 1984. Daftar nilai skala organoleptik. Jakarta (ID) : Deptan. [Desentralisasi]. 2009. Pemenuhan Hak-Hak Dasar di Kabupaten Sukabumi. Desentralisasi [internet]. [diunduh 15 Februari 2011]. http://desentralisasi.net/good-practices/pemenuhan-hak-hak-dasar-di-kabupatensukabumi_20100109. [Diskanlut Riau]. 2011. LPPMHP Amankan Ikan yang Kita Makan. Diskanlut Riau [internet]. [diunduh 17 Oktober 2011]. http://diskanlutriau.net /lppmhp/. 162 [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 10/MEN/2004 Tentang Pelabuhan Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.01/MEN/2007 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2009 pada Pasal 41 Ayat 1 tentang pelabuhan perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [Deptan] Departemen Pertanian. 1984. Petunjuk Pengujian Organoleptik. Standart Pertanian Indonesi Bidang Perikanan. Jakarta (ID) : Deptan. [DKP Kabupaten Sukabumi] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. 2009. Statistik Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Tahun 2008. Sukabumi (ID): DKP Kabupaten Sukabumi. [DKP Kabupaten Sukabumi] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. 2010. Statistik Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Tahun 2009. Sukabumi (ID): DKP Kabupaten Sukabumi. Hamzah A. 2011. Kemampuan Pelelangan Hasil Tangkapan oleh Pengelola TPI di PPN Palabuhanratu. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hardani R. 2008. Studi Hubungan Hasil Tangkapan dengan Ukuran Basket/Wadah Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Info Parahyangan]. 2011. SMK Negeri 1 Palabuhanratu. Info Parahyangan [internet]. [diunduh 21 Oktober 2011]. http://infoparahyangan. com/infopendidikan/smk-negeri-1-palabuhanratu. Junianto. 2003. Teknik Penanganan Hasil Tangkapan. Jakarta (ID) : PT. Penebar Swadaya Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek : Analisis Ekonomis Edisi Dua. Jakarta (ID): Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kusrianto A. 2003. Panduan Lengkap Memakai Adobe Ilustrator 10. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo. 163 [LBM PPN Palabuhanratu] Laboratorium Bina Mutu Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010. Laporan Hasil Pengujian Mutu Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Kabupaten Sukabumi (ID) : LBM PPN Palabuhanratu. Lowry. 1999. The Kruskal-Wallis Test. Faculty Vassar [internet]. [diunduh 14 Juli 2011]. http://faculty.vassar.edu/lowry/ch14a. html. Lubis E. 2006. Pengantar Pelabuhan Perikanan. Buku II. Bogor (ID) : Laboratorium Pelabuhan Perikanan, Departemen Suberdaya Perikanan, FPIK-IPB. Maharbhakti HM. 2003. Sistem Informasi Avant Pays Meritime Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Mahyuddin B. 2007. Pola Pengembangan Pelabuhan Perikanan dengan Konsep Triptyque Portuaire : Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Malik JS. 2006. Kajian Distribusi Hasil Tangkapan Ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke Jakarta Utara. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Mallawa A. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Regional Coremap [internet]. [diunduh 29 Januari 2012]. http://regional.coremap.or.id/downloads/Materi-pengelolaan.pdf. Mulyadi MD. 2007. Analisis Pendaratan dan Penanganan Hasil Tangkapan dan Fasilitas Terkait di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Muninggar R. 2008. Analisis Suppy Chain dalam Aktivitas Distribusi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. [Buletin PSP]. Bogor (ID): Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Nurlaelani 2011. Bab II Landasan Teori. Scribd [internet]. [diunduh 1 April 2012]. http://www.scribd.com/doc/69967300/jbptunikompp-gdl-nurlaelani 19802-5-babii-k. Pane AB. 2008. Basket Hasil Tangkapan dan Keterkaitannya dengan Mutu Hasil Tangkapan dan Sanitasi di TPI PPN Palabuhanratu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol.13 No.3. 150-157. 164 Pane AB. 2010. Kajian Hasil Tangkapan : Kasus PPN Palabuhanratu Sukabumi. Jurnal Mangrove dan Pesisir X(1). Pane AB. 2012. Komunikasi Pribadi. Bogor (ID) : Pelabuhan Perikanan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut, Pertanian Bogor. [Pemda Kabupaten Sukabumi]. 2010a. Statistika Kabupaten Sukabumi Tahun 2009. Kabupaten Sukabumi (ID) : Pemda Kabupaten Sukabumi. [Pemda Kabupaten Sukabumi]. 2010b. About Kabupaten Sukabumi. Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi [internet]. [diunduh 12 Januari 2011]. http://www.kabupatensukabumi.go.id/trial/index.php?option=com_content& view=article&id=50&Itemid=77&lang=en. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010a. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2009. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010b. Statistik Perikanan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2010. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010c. Daftar Fasilitas Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2010. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. Rosyidi S. 2009. Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Makro dan Mikro. Jakarta (ID) : Rajawali Pres. Santoso S. 2008. SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Jakarta (ID) : PT Elek Media Kompetindo. 165 LAMPIRAN 166 Lampiran 1 Peta lokasi PPN Palabuhanratu 166 167 Lampiran 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu tahun 2010 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010 167 168 Lampiran 3 Foto jenis hasil tangkapan yang diuji organoleptik di PPN Palabuhanratu tahun 2010 1. Hasil tangkapan layur (Trichiurus sp) 2. Hasil tangkapan tongkol (Auxis sp.) 3. Hasil tangkapan tuna baby (Thunnus sp.) 4. Hasil tangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis) 169 Lampiran 4 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 8 8 8 8 8 7 7 8 8 7 7 8 7 8 7 8 8 7 8 8 8 7 8 8 I 8 8 8 8 7 8 7 7 8 7 8 8 8 7 8 8 8 8 7 7 7 8 7 8 8 K 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 Organoleptik layur di tempat pendaratan R M I K R M 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 7 7,00 8 8 8 8,00 7 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7,67 8 8 8 8,00 8 7,67 7 7 7 7,00 7 8,00 8 8 8 8,00 8 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 7 8 8 7,67 8 8,00 7 7 8 7,33 8 7,33 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata I 8 8 8 8 8 8 7 8 8 7 7 7 8 8 8 8 8 7 8 7 8 8 8 8 8 K 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 R 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 7,00 8,00 8,00 7,33 7,67 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 8,00 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 170 Lampiran 5 M 7 7 7 7 8 8 7 6 8 7 7 7 7 7 7 7 7 8 7 8 7 8 7 8 8 I 7 7 7 7 7 8 7 7 8 7 7 6 8 7 7 8 7 7 7 7 7 8 7 7 7 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Organoleptik layur di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 8 7,33 7 7 8 7,33 7 7 7 7,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 6 7 7,00 7 7 8 7,33 7 7 8 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 7 7 7 6,67 7 7 7 7,00 7 7 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8 7 7,00 7 6 7 6,67 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,33 6 6 7 6,33 7 7 7 7,00 7 8 8 7,67 8 8 8 7,67 6 6 6 6,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 7,67 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 8 7,67 7 7 8 7,33 6 6 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 7 8 8 7 7 8 8 7 7 7 8 7 8 7 8 7 8 7 8 8 8 6 7 R 7,33 8,00 7,00 7,33 8,00 6,67 7,00 8,00 8,00 7,00 7,00 7,00 8,00 7,00 7,33 7,00 8,00 7,00 8,00 7,00 8,00 7,33 7,33 6,00 7,00 171 Lampiran 6 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 I K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Organoleptik tongkol di tempat pendaratan R M I K R M I 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 R 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 172 Lampiran 7 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 9 8 8 8 8 9 8 7 8 8 8 8 9 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 7 I 8 9 8 7 7 8 9 7 7 8 8 8 8 9 8 9 7 9 8 9 8 7 9 9 7 Organoleptik tongkol di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 9 9,00 8 7 8 9 9 7,67 9 8,33 9 9 9 8 8 9,00 8 7,67 9 8 9 8 8 8,67 8 7,67 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 9 9,00 7 7 7 8 7 7,00 8 7,67 8 8 8 7 7 8,00 7 7,00 8 7 8 8 8 7,67 8 8,00 7 7 7 8 8 7,00 8 8,00 8 8 9 8 8 8,33 8 8,00 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 9 9 9 8 8 9,00 9 9,00 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 9 9 9 9 9 9,00 9 8,67 7 8 8 8 8 7,67 7 7,00 8 8 8 9 9 8,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 8 8,00 8 8 8 8 8 8,00 9 8,67 8 8 9 9 9 8,33 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 8 7,67 8 8 8 8 8 8,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 7 7,00 9 8 9 8 8 8,67 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 7 9 8 8 9 8 8 7 8 9 8 8 8 9 9 8 9 8 8 9 7 8 8 8 8 R 7,00 9,00 8,00 8,00 8,33 7,33 7,67 7,00 8,00 8,33 8,00 8,00 8,00 8,33 9,00 8,00 9,00 8,00 8,00 9,00 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 173 Lampiran 8 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 7 8 9 8 8 7 8 7 8 7 8 9 8 8 9 7 7 7 8 8 8 7 8 7 I 8 8 8 8 7 7 7 7 8 7 8 7 8 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 7 8 Organoleptik tuna-tuna kecil di tempat pendaratan K R M I K R M I 8 8,00 8 8 8 8,00 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 8,00 7 8 8 7,67 7 8 8 8,33 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 7 8 7,67 7 8 8 7,33 8 7 8 7,67 7 7 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 9 8 8,33 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 8 8,33 8 7 8 7,67 7 7 7 7,67 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 8 8 9 9,00 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 8 8 8,00 7 8 8 7,67 8 7 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 7 7 7 7,00 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 8 7,67 8 8 8 8,00 7 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 7 8 R 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,33 7,67 7,67 7,67 7,67 7,33 7,33 8,00 8,00 7,67 8,00 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,00 7,67 174 Lampiran 9 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 7 9 7 7 8 6 7 7 7 6 6 6 7 8 7 7 6 7 8 7 7 6 8 6 6 I 6 8 7 8 7 6 6 7 8 7 7 7 6 6 7 8 7 8 8 6 8 6 7 6 7 Organoleptik tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I K 7 6,67 7 8 8 7,67 7 7 7 9 8,67 7 7 7 7,00 6 7 7 7 7,00 6 6 6 6,00 7 8 7 7 7,33 6 7 7 6,67 7 7 7 7 7,33 7 8 8 7,67 6 7 7 7 6,33 8 7 8 7,67 7 8 7 7 6,67 7 7 8 7,33 7 7 8 7 7,00 7 8 7 7,33 7 8 8 8 7,67 6 6 7 6,33 7 7 7 7 6,67 7 6 7 6,67 7 8 7 7 6,67 8 9 8 8,33 7 7 7 7 6,67 7 8 7 7,33 6 7 7 7 6,67 6 7 8 7,00 7 7 7 7 7,00 6 7 7 6,67 8 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 7 7 7,33 7 8 7 7,33 7 7 7 6 6,33 7 8 8 7,67 8 7 7 8 7,67 7 7 8 7,33 7 8 7 7 7,67 8 8 8 8,00 7 8 7 7 6,67 7 8 7 7,33 8 7 7 7 7,33 7 6 7 6,67 7 7 7 7 6,33 8 7 8 7,67 7 7 7 8 7,67 6 7 7 6,67 7 8 7 7 6,33 7 8 8 7,67 6 7 7 7 6,67 8 7 8 7,67 7 8 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata R 7,00 6,67 7,33 7,00 6,67 7,33 7,33 7,67 7,00 7,33 7,00 6,67 7,00 8,00 7,00 7,00 7,33 7,33 7,33 7,33 7,00 7,00 7,33 6,67 7,67 175 Lampiran 10 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 I 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 8 8 9 9 9 9 8 K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 Organoleptik cakalang di tempat pendaratan R M I K R M I 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 9 9 9,00 9 8 9 8,67 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 8 9,00 9 9 9 9,00 9 8 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 9 8,33 9 9 8,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 8,33 9 9 9 9,00 8 8 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 8 8 9,00 9 8 9 8,67 9 9 8,33 9 9 9 9,00 9 9 8,67 9 9 9 9,00 9 9 8,67 8 9 9 8,67 8 8 8,67 9 8 9 8,67 9 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 9 8 8,00 9 9 9 9,00 8 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 9 9 9 9 9 9 8 R 9,00 8,67 9,00 9,00 9,00 8,67 8,67 8,67 9,00 9,00 9,00 8,67 9,00 8,33 9,00 8,00 9,00 9,00 9,00 8,33 9,00 9,00 9,00 8,67 8,00 176 Lampiran 11 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 8 8 8 8 8 8 9 9 8 8 9 9 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 8 8 I 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 7 9 9 8 9 9 9 7 8 7 9 8 8 8 8 Organoleptik cakalang di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 9 9 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 9 9 8 7,67 8 9 8 8,33 8 8 8 8,67 8 9 8 8,33 8 8 8 8,67 8 7 8 7,67 8 7 8 8,00 8 9 8 8,33 9 9 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 9 9,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,33 8 8 8 8,00 7 7 8 7,67 9 8 9 8,67 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 7,67 9 9 9 9,00 8 8 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 8 7 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 8 8 8 8 9 8 8 9 8 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 R 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 9,00 8,00 8,00 9,00 8,00 8,00 7,67 9,00 8,00 8,00 7,33 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 177 Lampiran 12 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan layur yang diuji 1. Mata 2. Insang 3. Konsistensi 4. Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 92,43 58,57 93,64 57,36 91,07 59,93 95,75 55,25 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 6932,00 4393,00 7023,00 4302,00 6830,00 4495,00 7181,00 4144,00 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.543,00 4.393,00 -5,51 0,000 1.452,00 4.302,00 -5,85 0,000 1.645,00 4.495,00 -5,67 0,000 1.294,00 4.144,00 -6,14 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 176 178 Lampiran 13 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan tongkol yang diuji 1. Mata 2. Insang 3. Konsistensi 4. Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 107,00 44,00 105,50 45,50 101,50 49,50 108,00 43,00 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 8025,00 3300,00 7912,50 3412,50 7612,50 3712,50 8100,00 3225,00 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 450,00 3.300,00 -10,14 0,000 562,00 3.412,00 -9,69 0,000 862,50 3.712,50 -8,76 0,000 375,00 3.225,00 -10,20 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 177 179 Lampiran 14 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan tuna-tuna kecil yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n Mean rank 75 75 75 75 75 75 75 75 91,33 59,67 91,99 59,01 100,70 50,30 102,91 48,09 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 6849,50 4475,50 6899,50 4425,50 7552,50 3772,50 7718,50 3606,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.625,00 4.475,00 -4,99 0,000 1.575,50 4.425,50 -5,19 0,000 922,50 3.772,50 -8,33 0,000 756,50 3.606,50 -8,04 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 178 180 Lanpiran 15 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan cakalang yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 98,23 52,77 92,57 58,43 106,50 44,50 104,42 46,58 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 7367,00 3958,00 6942,50 4382,50 7987,50 3337,50 7831,50 3493,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.108,00 3.958,00 -7,36 0,000 1.532,50 4.382,50 -5,44 0,000 487,50 3.337,50 -10,09 0,000 643,50 3.493,50 -8,52 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 179 181 Lampiran 16 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik keseluruhan sampel hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 300 300 300 300 300 300 300 300 Mean rank 366,42 234,58 367,98 233,02 380,21 220,79 375,60 225,41 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 109.926,00 70.374,00 110.394,00 69.906,00 114.064,00 66.236,00 112.678,50 67.621,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 25.224,00 70.374,00 -9,91 0,000 24.756,00 69.906,00 -10,19 0,000 21.086,00 66.236,00 -12,42 0,000 22.471,50 67.621,50 -10,84 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 180 182 Lampiran 17 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji di tempat pendaratan 1.Mata 2.Insang 3.Konsisitensi 4.Rata-rata Keterangan : L = layur T = tongkol Tk = tuna-tuna kecil C = cakalang n = jumlah sampel per jenis Asymp sig = taraf signifikansi Jenis ikan L T Tk C L T Tk C L T Tk C L T Tk C n 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 93,01 232,50 71,65 204,85 83,46 234,50 84,74 199,30 77,30 228,50 81,33 214,87 89,43 237,50 66,39 208,69 Chi square df Asymp sig 224,171 3 0,000 219,776 3 0,000 263,910 3 0,000 240,635 3 0,000 Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Chi square = nilai keselarasan (untuk asymp sig 0,5% dan df 3 = 7,814) df = derajad bebas = kasus - 1 kasus = banyak spesies yang diambil sebagai contoh = layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang 183 Lampiran 18 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji di tempat pedagang pengecer 1.Mata 2.Insang 3.Konsisitensi 4.Rata-rata Keterangan : L = layur T = tongkol Tk = tuna-tuna kecil C = cakalang n = jumlah sampel per jenis Asymp sig = taraf signifikansi Jenis ikan n Mean rank L T Tk C L T Tk C L T Tk C L T Tk C 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 114,82 192,58 82,38 212,22 106,80 181,02 106,11 208,07 120,81 187,01 90,22 193,96 108,16 196,42 79,80 217,62 Chi square df Asymp sig 136,823 3 0,000 94,109 3 0,000 108,568 3 0,000 139,462 3 0,000 Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Chi square = nilai keselarasan (untuk asymp sig 0,5% dan df 3 = 7,814) df = derajad bebas = kasus - 1 kasus = banyak spesies yang diambil sebagai contoh = layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang 184 Lampiran 19 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.975,5 17.437,5 5.373,5 15.363,5 R² 48.657.600,25 304.066.406,3 28.874.502,25 236.037.132,3 n 75 75 75 75 R/n 93,0 232,5 71,6 204,8 R²/n 648.768,00 4.054.218,75 384.993,36 3.147.161,76 R(x)² 733.400,75 4.054.218,75 585.386,75 3.342.836,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.715.843 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.423,97 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.235.141,88 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 139,49 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 21,36 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 111,84 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 160,85 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 27,65 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 224,17 74,83 296 40,30 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 12,90 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau ≥ Beda Nyata 133,2 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 185 Lampiran 20 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.611,5 14.443,5 6.178,5 15.916,5 R² 741.57.932,25 208.614.692,3 38.173.862,25 253.334.972,3 n 75 75 75 75 R/n 114,82 192,58 82,38 212,22 R²/n 988.772,43 2.781.529,23 508.984,83 3.377.799,63 R(x)² 1.295.496,75 3.074.040,75 811.650,75 3.497.646,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² (N*(N+1)²)/4 S² X² 136,82 8.678.835 N-1-X² 162,18 6.795.075 N-k 6.300,20 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.657.086,12 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 77,76 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 58,75 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata 32,44 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 97,4 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 110,2 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 19,64 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 18,80 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 129,84 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 186 Lampiran 21 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.259,5 17.587,5 6.355,5 14.947,5 R² 39.181.340,25 309.320.156,3 40.392.380,25 223.427.756,3 N 75 75 75 75 R/n 83,46 234,5 84,74 199,3 R²/n 522.417,87 4.124.268,75 538.565,07 2.979.036,75 R(x)² 615.180,75 4.124.268,75 683.820,75 3.234.588,75 N 300 α 0,05 k 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.657.859 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.230,05 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.164.288,44 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 151,04 |(Ra/na)-(Rc/nc)| X² 219,78 79,22 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 40,83 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 1,28 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 115,84 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 149,76 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 35,2 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 13,07 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 114,56 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 187 Lampiran 22 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.010 13.576,5 7.958,5 15.605 R² 64.160.100 184.321.352,3 63.337.722,25 243.516.025 N 75 75 75 75 106,8 181,02 106,11 208,07 855.468 2.457.618,03 844.502,96 3.246.880,333 1.148.272,5 2.836.706,25 1.222.973,25 3.523.266 R/n R²/n R(x)² N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.731.218 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.475,39 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.404.469,33 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 74,22 |(Ra/na)-(Rc/nc)| X² 101,27 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 74,91 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 27,05 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| 204,89 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 66,95 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 0,69 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 94,11 ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 21,43 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 101,95 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 188 Lampiran 23 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 5.797,5 17.137,5 6.099,5 16.115,5 R² 33.611.006,25 293.693.906,3 37.203.900,25 259.709.340,3 N 75 75 75 75 R/n 77,3 228,5 81,33 214,87 R²/n 448.146,75 3.915.918,75 496.052,00 3.462.791,20 R(x)² 476.538,75 3.915.918,75 535.516,75 3.598.076,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.526.051 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 5.789,22 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.322.908,71 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 151,20 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 4,03 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 137,57 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 147,17 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 13,63 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 263,91 35,09 296 26,20 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 8,38 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau ≥ Beda Nyata 133,55 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 189 Lampiran 24 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 7.111 12.725,5 5.766,5 11.097 R² 50.566.321 161.938.350,3 33.252.522,25 123.143.409 N 75 75 75 75 R/n 94,81 169,67 76,89 147,96 R²/n 674.217,61 2.159.178,00 443.366,96 1.641.912,12 R(x)² 816.862,5 2.663.970,75 597.510,75 1.765.285,5 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 5.843.629,5 X² N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² -3.182,09 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 1/S² -0,0003 Σ(R²/n) 4.918.674,7 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 74,86 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 17,93 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 53,15 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 92,79 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 21,71 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| 589,67 -290,67 296 55,90 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 17,89 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 71,07 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 190 Lampiran 25 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.707 17.812,5 4.979 15.651,5 R² 44.983.849 317.285.156,3 24.790.441 244.969.452,3 N 75 75 75 75 R/n 89,43 237,5 66,39 208,69 R²/n 599.784,65 4.230.468,75 330.539,21 3.266.259,36 R(x)² 726.241,5 4.230.468,75 462.339 3.403.830,75 N 300 Α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.822.880 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.781,96 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.427.051,98 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 148,07 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 23,04 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 119,26 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 171,11 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 28,81 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² 240,64 58,36 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 36,57 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 11,70 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 142,3 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 191 Lampiran 26 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.112 14.731,5 5.985 16.321,5 R² 65.804.544 217.017.092,3 35.820.225 266.391.362,3 N 75 75 75 75 108,16 196,42 79,8 217,62 R²/n 877.393,92 2.893.561,23 477.603 3.551.884,83 R(x)² 1.200.162 3.310.610,25 734.522 3.705.238,25 R/n N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.950.532,5 (N*(N+1)²)/4 6.795.075 S² 7.208,89 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.800.442,98 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 88,26 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 28,36 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 109,46 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 116,62 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 21,2 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² 139,46 N-1-X² 159,54 N-k 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 62,33 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 19,95 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 137,82 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 192 Lampiran 27 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (oleh perusahaan pengumpul tuna untuk hasil tangakapan longline) 1) Investasi  Terpal 5 tahun 75.000 per unit 1 unit 75.000  Sekop 5 tahun 15.000 per unit 1 unit 15.000 Jumlah investasi 90.000 2) Biaya Produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal - 25.000 per unit 1 unit 25.000  Penyusutan sekop - 3.000 per unit 1 unit 3.000  Perawatan - - - -  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 28.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 17.000 per balok - 60 balok x 350 kali pendaratan 357.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 357.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 357.028.000 3) Pinjaman 2. di tempat perusahaan pengumpul (oleh perusahaan pengumpul tuna untuk hasil tangkapan pancing rumpon) 1) Investasi  Terpal 5 tahun 85.000 per unit 1 unit 85.000  Sekop 5 tahun 15.000 per unit 1 unit 15.000  Alat checker 5 tahun 325.000 per unit 1 unit 325.000  Pengadaan coldstorage 20 tahun 85.000.000 per unit 1 unit 85.000.000 Jumlah investasi 85.425.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan serok  Penyusutan alat checker -  Penyusutan coldstorage - - 17.000 per unit 1 unit 17.000 3.000 per unit 1 unit 3.000 65.000 per unit 1 unit 65.000 4.250.000 per unit 1 unit 4.250.000 193 Lanjutan lampiran 27 Umur teknis Tingkat penanganan  Perawatan coldstorage -  Sewa bangunan -  Asuransi -  Pajak - Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat 2.500.000 per unit 1 unit 1.000.000 per bulan 1 unit x 12 bulan - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) Biaya (Rp) 2.500.000 12.000.000 18.835.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Air - 160.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 1.920.000  Es - 17.000 per balok 50 balok x 350 hari 297.500.000  Upah karyawan - 15.000 per orang 3 orang x 350 hari  Listrik - 350.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 4) Pinjaman 15.750.000 4.200.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 309.370.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 328.205.000 - 194 Tabel 28 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat perusahaan pengumpul 1) Investasi  Coldstorage 90.000.000 per unit 20 tahun 1 unit Jumlah investasi 90.000.000 90.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan coldstorage - 4.500.000 per unit 1 unit 4.500.000  Perawatan coldstorage - 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000  Sewa bangunan - 1.000.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 12.000.000 19.000.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 17.000 per balok 30 balok x 350 hari 178.500.000  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 189.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 208.000.000 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 3 unit 135.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.372.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik  Penyusutan styrofoam - 6.000 per unit 1 unit 6.000 - 60.000 per unit 2 unit 120.000 - 9.000 per unit 3 unit 27.000 195 Lanjutan lampiran 28 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan ember  Perawatan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat - 2.500 per unit 1 unit - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit  Asuransi - - 1 unit x 350 hari -  Pajak - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) Biaya (Rp) 2.500 700.000 855.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 1 balok x 350 hari 5.950.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 5.950.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 6.805.500 17.000 per balok - 196 Lampiran 29 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit  Blong 10 tahun 150.000 per unit 15 unit 2.250.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 5 unit 3.000.000 Jumlah investasi 7.500 5.257.500 2) Biaya produski a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan ember - 2.500 per unit 1 unit  Penyusutan blong  Penyusutan kotak plastik  Perawatan - 15.000 per unit 15 unit 225.000 - 60.000 per unit 5 unit 300.000 - - -  Sewa kios - 400.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - 2.500 - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 4.800.000 5.327.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000  Es - 17.000 per balok 4 balok x 350 hari 23.800.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 34.300.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 39.627.500 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.417.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik - 6.000 per unit 1 unit 6.000 - 60.000 per unit 2 unit 120.000 197 Lanjutan lampiran 29 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan Styrofoam  Penyusutan ember Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 9.000 per unit 4 unit 36.000 - 2.500 per unit 1 unit 2.500  Perawatan - - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 864.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 1/2 balok x 350 hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 17.000 per balok Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 2.975.000 2.975.000 3.839.500 - 198 Lampiran 30 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit  Blong 10 tahun 150.000 per unit 20 unit 3.000.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 10 unit 6.000.000 Jumlah investasi 7.500 9.007.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan ember  Penyusutan blong  Penyusutan kotak plastik  Perawatan 2.500 per unit 1 unit 2.500 15.000 per unit 20 unit 300.000 60.000 per unit 10 unit 600.000 - - -  Sewa kios - 400.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 4.800.000 5.702.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000  Es - 17.000 per balok 4 balok x 350 hari 23.800.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 39.100.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 40.002.500 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.417.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik 6.000 per unit 1 unit 6.000 60.000 per unit 2 unit 120.000 199 Lanjutan lampiran 30 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 9.000 per unit 4 unit 36.000 - 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - - - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - -  Sewa bangunan Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 864.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 17.000 per balok 1/2 balok x 350 hari 2.975.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 2.975.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.839.000 - 200 Lampiran 31 Pembiayaan penanganan hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedangang pengumpul 1) Investasi  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 2 unit 90.000 Jumlah investasi 90.000 9.000 per unit 2 unit 18.000 - - - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan styrofoam  Perawatan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 18.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 1 balok x 350 hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 17.000 per balok Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 5.950.000 5.950.000 5.968.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul (PT AGB) 1) Investasi  Trais 5 tahun 25.000 per unit 150 unit 3.750.000  Kotak baja ringan  Pengadan coldstorage  Pengadaan freezer 5 tahun 30.000 per unit 250 unit 7.500.000 20 tahun 85.000.000 per unit 1 unit 85.000.000 20 tahun 120.000.000 per unit 1 unit 120.000.000 Jumlah investasi 216.250.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan trais  Penyusutan kotak baja ringan  Penyusutan coldstorage  Penyusutan freezer  Perawatan coldstorage  Perawatan freezer 5.000 per unit 150 unit 750.000 6.000 per unit 250 unit 1.500.000 4.250.000 per unit 1 unit 4.250.000 6.000.000 per unit 1 unit 6.000.000 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000 3.000.000 per unit 1 unit 3.000.000 201 Lanjutan lampiran 31 Umur teknis Tingkat penanganan  Sewa bangunan dan pas kebersihan  Asuransi  Pajak Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 1.500.000 per bulan 1 unit x 12 bulan - - - - - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 18.000.000 36.000.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Air - 150.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 1.800.000  Listrik - 250.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 3.000.000  Upah karyawan - 20.000 per orang 13 orang x 350 hari 91.000.000  Kotak kardus - 1.500 per unit 50 unit x 350 hari 26.250.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 122.050.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 158.050.000 3) Pinjaman - 3. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.387.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan kotak plastik  Penyusutan styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan 60.000 per unit 2 unit 120.000 9.000 per unit 4 unit 36.000 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - -  Sewa kios - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 858.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Daun pisang - 500 per lembar 3 lembar x 350 hari 525.000 202 Lanjutan lampiran 31 Umur teknis Tingkat penanganan  Es - Biaya satuan (Rp) Kebutuhan per tahun Bahan/alat 1/2 balok x 350 17.000 per balok hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman Biaya (Rp) 1.225.000 1.750.000 2.608.500 - 203 Lampiran 32 Pembiayaan penanganan hasil tangkapan ikan kecil lainnya di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat penanganan Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Coldstorage 2 tahun 50.000.000 per unit 1 unit 50.000.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 2 unit 15.000  Trais 5 tahun 25.000 per unit 25 unit 625.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 15 unit 675.000 Jumlah investasi 51.315.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan coldstorage  Penyusutan ember  Penyusutan trais  Penyusutan styrofoam  Perawatan coldstorage 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000 2.500 per unit 2 unit 5.000 5.000 per unit 25 unit 125.000 9.000 per unit 15 unit 135.000 500.000 per unit 1 unit 500.000 - 700.000 per bulan  Asuransi - - 1 unit x 12 bulan -  Pajak - - -  Sewa bangunan Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 8.400.000 11.665.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC) 1 instalasi x 12 bulan 3 orang x 350 hari  Listrik - 200.000 per bulan  Upah karyawan - 15.000 per orang  Air - 120.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan  Es - 17.000 per balok 3 balok x 350 hari 17.850.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 37.440.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 49.105.000 3) Pinjaman 2.400.000 15.750.000 1.440.000 - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 6 unit 270.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 277.500 204 Lanjutan lampiran 32 Tingkat penanganan Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan Styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan 9.000 per unit 6 unit 54.000 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 756.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 2 balok x 350 hari 11.900.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 11.900.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 12.656.500 17.000 per balok - 205 Lampiran 33 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 4 kali angkut x tempat perusahaan angkut 40 hari pengumpul tuna Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 1.600.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 1.600.000 3) Pinjaman 1.600.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul tuna 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 5 unit Jumlah investasi 375.000.000 375.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kantor 3.750.000 per unit 500.000 per unit - 5 unit 18.750.000 5 unit 2.500.000 - 150.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk pelabuhan  Bensin mobil  Gaji sopir  Gaji kenek 1.000 per unit 5 unit x 350 hari 150.000 per 5 unit x 350 hari unit 30.000 per 5 orang x 350 hari orang 20.000 per 5 orang x 350 hari orang Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) - Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 21.400.000 1.750.000 262.500.000 52.500.000 35.000.000 351.750.000 373.150.000 - 206 Lampiran 34 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 2 kali angkut x 40 tempat pedagang angkut hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 800.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 800.000 3) Pinjaman 800.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul tuna 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 2 unit Jumlah investasi 150.000.000 150.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kasntor - 3.750.000 per unit 2 unit 7.500.000 500.000 per unit 2 unit 1.000.000 - - 100.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 8.600.000 2 unit x 350 hari 700.000 2 unit x 350 hari 105.000.000  Gaji sopir - 30.000 per orang 2 orang x 350 hari 21.000.000  Gaji kenek - 20.000 per orang 2 orang x 350 hari 14.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 140.700.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 149.300.000  3) Pinjaman \ - 207 Lampiran 35 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 1 kali angkut x tempat pedagang angkut 300 hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 3.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.500.000 3) Pinjaman 3.500.000 - 2. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 60.000 60.000 1 unit x 350 hari 140.000.000 1 unit x 350 hari 350.000 1 unit x 350 hari 52.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 192.850.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 192.910.000 - 208 Lampiran 36 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 1 kali angkut x tempat pedagang angkut 350 hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 3.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.500.000 3) Pinjaman 3.500.000 - 2. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 50.000 50.000 2 unit x 350 hari 280.000.000 2 unit x 350 hari 700.000 2 unit x 350 hari 105.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 385.700.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 385.750.000 - 209 Lampiran 37 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - 75.000 Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 75.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC) 10.000 per 1x 2 kali angkut x  Upah angkut ke angkut 350 hari PT AGB Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 6.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 6.075.000 3) Pinjaman 6.000.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul (PT AGB) 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 3 unit Jumlah investasi 225.000.000 225.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kantor - 3.750.000 per unit 3 unit 11.250.000 500.000 per unit 3 unit 1.500.000 - - 750.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil  Gaji sopir  Gaji kenek 3) Pinjaman 3 unit x 350 hari 13.500.000 1.050.000 3 unit x 350 hari 3 orang x 350 35.000 per orang hari 3 orang x 350 20.000 per orang hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 157.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 229.800.000 36.750.000 21.000.000 216.300.000 - 210 Lampiran 38 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan ikan kecil lainnya oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 35.000 35.000 1 unit x 350 hari 140.000.000 1 unit x 350 hari 350.000 1 unit x 350 hari 52.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 192.850.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 192.885.000 - PENANGANAN DAN PENDISTRIBUSIAN HASIL TANGKAPAN SERTA BIAYANYA DI PPN PALABUHANRATU ELWIDYA BASTIAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 161 DAFTAR PUSTAKA Arhadi O. 2007. Pengendalian Kualitas Ikan pada Distribusi Hasil Tangkapan di PPP Cilauteureun Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten. Garut [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Berita Perikanan Papua]. 2007. Info Iptek Perikanan dan Kelautan : Cara Penanganan Ikan Segar. Berita Perikanan Papua [internet]. [diunduh 2 Januari 2008]. http://beritaperikananpapua.wordpress.com/2007/11/19/in fo-iptek-perikanan-dan-kelautan-cara-penangan-ikan-segar/. [BPPT Kabupaten Sukabumi]. 2010. Sarana dan Prasaraa. BPPT Kabupaten Sukabumi [internet]. [diunduh 12 Januari]. http://bppt.kabupaten sukabumi.go.id/index.php?option=com_ content&view=article&id=124&Itemid=68. [BPS Kabupaten Sukabumi] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sukabumi. 2010a. Sukabumi dalam Angka Tahun 2009. Kabupaten Sukabumi (ID) : Badan BPS Kabupaten Sukabumi. [BPS Kabupaten Sukabumi]. 2010b. Listrik dan Air Minum. Sukabumi BPS [internet]. [diunduh 10 Januari 2011]. http://sukabumikab.bps.go.id/ component/content/article /75/112-listrik-dan-air-minum.html. Darmawan A. 2006. Distribusi Hasil Tangkapan di PPS Nizam Zachman Jakarta. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Dechacare]. 2011. Omega 3 Modal untuk Kecerdasan. Dechacare [internet]. [diunduh 16 Februari 2011]. http://www.dechacare. com/Omega-3-ModalUntuk-Kecerdasan-I489.html. [Deptan] Departemen Pertanian. 1984. Daftar nilai skala organoleptik. Jakarta (ID) : Deptan. [Desentralisasi]. 2009. Pemenuhan Hak-Hak Dasar di Kabupaten Sukabumi. Desentralisasi [internet]. [diunduh 15 Februari 2011]. http://desentralisasi.net/good-practices/pemenuhan-hak-hak-dasar-di-kabupatensukabumi_20100109. [Diskanlut Riau]. 2011. LPPMHP Amankan Ikan yang Kita Makan. Diskanlut Riau [internet]. [diunduh 17 Oktober 2011]. http://diskanlutriau.net /lppmhp/. 162 [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP. 10/MEN/2004 Tentang Pelabuhan Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP.01/MEN/2007 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2010. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 tahun 2009 pada Pasal 41 Ayat 1 tentang pelabuhan perikanan. Jakarta (ID) : DKP. [Deptan] Departemen Pertanian. 1984. Petunjuk Pengujian Organoleptik. Standart Pertanian Indonesi Bidang Perikanan. Jakarta (ID) : Deptan. [DKP Kabupaten Sukabumi] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. 2009. Statistik Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Tahun 2008. Sukabumi (ID): DKP Kabupaten Sukabumi. [DKP Kabupaten Sukabumi] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. 2010. Statistik Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Tahun 2009. Sukabumi (ID): DKP Kabupaten Sukabumi. Hamzah A. 2011. Kemampuan Pelelangan Hasil Tangkapan oleh Pengelola TPI di PPN Palabuhanratu. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hardani R. 2008. Studi Hubungan Hasil Tangkapan dengan Ukuran Basket/Wadah Hasil Tangkapan di PPN Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [Info Parahyangan]. 2011. SMK Negeri 1 Palabuhanratu. Info Parahyangan [internet]. [diunduh 21 Oktober 2011]. http://infoparahyangan. com/infopendidikan/smk-negeri-1-palabuhanratu. Junianto. 2003. Teknik Penanganan Hasil Tangkapan. Jakarta (ID) : PT. Penebar Swadaya Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek : Analisis Ekonomis Edisi Dua. Jakarta (ID): Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kusrianto A. 2003. Panduan Lengkap Memakai Adobe Ilustrator 10. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo. 163 [LBM PPN Palabuhanratu] Laboratorium Bina Mutu Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010. Laporan Hasil Pengujian Mutu Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. Kabupaten Sukabumi (ID) : LBM PPN Palabuhanratu. Lowry. 1999. The Kruskal-Wallis Test. Faculty Vassar [internet]. [diunduh 14 Juli 2011]. http://faculty.vassar.edu/lowry/ch14a. html. Lubis E. 2006. Pengantar Pelabuhan Perikanan. Buku II. Bogor (ID) : Laboratorium Pelabuhan Perikanan, Departemen Suberdaya Perikanan, FPIK-IPB. Maharbhakti HM. 2003. Sistem Informasi Avant Pays Meritime Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Mahyuddin B. 2007. Pola Pengembangan Pelabuhan Perikanan dengan Konsep Triptyque Portuaire : Kasus Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Malik JS. 2006. Kajian Distribusi Hasil Tangkapan Ikan di Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke Jakarta Utara. [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Mallawa A. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat. Regional Coremap [internet]. [diunduh 29 Januari 2012]. http://regional.coremap.or.id/downloads/Materi-pengelolaan.pdf. Mulyadi MD. 2007. Analisis Pendaratan dan Penanganan Hasil Tangkapan dan Fasilitas Terkait di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan [Skripsi]. Bogor (ID) : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Muninggar R. 2008. Analisis Suppy Chain dalam Aktivitas Distribusi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. [Buletin PSP]. Bogor (ID): Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Nurlaelani 2011. Bab II Landasan Teori. Scribd [internet]. [diunduh 1 April 2012]. http://www.scribd.com/doc/69967300/jbptunikompp-gdl-nurlaelani 19802-5-babii-k. Pane AB. 2008. Basket Hasil Tangkapan dan Keterkaitannya dengan Mutu Hasil Tangkapan dan Sanitasi di TPI PPN Palabuhanratu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol.13 No.3. 150-157. 164 Pane AB. 2010. Kajian Hasil Tangkapan : Kasus PPN Palabuhanratu Sukabumi. Jurnal Mangrove dan Pesisir X(1). Pane AB. 2012. Komunikasi Pribadi. Bogor (ID) : Pelabuhan Perikanan. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut, Pertanian Bogor. [Pemda Kabupaten Sukabumi]. 2010a. Statistika Kabupaten Sukabumi Tahun 2009. Kabupaten Sukabumi (ID) : Pemda Kabupaten Sukabumi. [Pemda Kabupaten Sukabumi]. 2010b. About Kabupaten Sukabumi. Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi [internet]. [diunduh 12 Januari 2011]. http://www.kabupatensukabumi.go.id/trial/index.php?option=com_content& view=article&id=50&Itemid=77&lang=en. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010a. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2009. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010b. Statistik Perikanan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2010. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. [PPN Palabuhanratu] Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu. 2010c. Daftar Fasilitas Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu Tahun 2010. Palabuhanratu (ID): PPN Palabuhanratu. Rosyidi S. 2009. Pengantar Teori Ekonomi : Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Makro dan Mikro. Jakarta (ID) : Rajawali Pres. Santoso S. 2008. SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Jakarta (ID) : PT Elek Media Kompetindo. 165 LAMPIRAN 166 Lampiran 1 Peta lokasi PPN Palabuhanratu 166 167 Lampiran 2 Lay out Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu tahun 2010 Sumber: PPN Palabuhanratu, 2010 167 168 Lampiran 3 Foto jenis hasil tangkapan yang diuji organoleptik di PPN Palabuhanratu tahun 2010 1. Hasil tangkapan layur (Trichiurus sp) 2. Hasil tangkapan tongkol (Auxis sp.) 3. Hasil tangkapan tuna baby (Thunnus sp.) 4. Hasil tangkapan cakalang (Katsuwonus pelamis) 169 Lampiran 4 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 8 8 8 8 8 7 7 8 8 7 7 8 7 8 7 8 8 7 8 8 8 7 8 8 I 8 8 8 8 7 8 7 7 8 7 8 8 8 7 8 8 8 8 7 7 7 8 7 8 8 K 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 Organoleptik layur di tempat pendaratan R M I K R M 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 7 7,00 8 8 8 8,00 7 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7,67 8 8 8 8,00 8 7,67 7 7 7 7,00 7 8,00 8 8 8 8,00 8 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 7 8 8 7,67 8 8,00 7 7 8 7,33 8 7,33 8 8 8 8,00 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7,67 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7,33 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 8,00 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata I 8 8 8 8 8 8 7 8 8 7 7 7 8 8 8 8 8 7 8 7 8 8 8 8 8 K 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 7 8 8 8 8 8 R 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 7,00 8,00 8,00 7,33 7,67 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 8,00 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 170 Lampiran 5 M 7 7 7 7 8 8 7 6 8 7 7 7 7 7 7 7 7 8 7 8 7 8 7 8 8 I 7 7 7 7 7 8 7 7 8 7 7 6 8 7 7 8 7 7 7 7 7 8 7 7 7 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan layur di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Organoleptik layur di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 8 7,33 7 7 8 7,33 7 7 7 7,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 6 7 7,00 7 7 8 7,33 7 7 8 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 7 7 7 6,67 7 7 7 7,00 7 7 8 7,67 8 8 8 8,00 8 8 7 7,00 7 6 7 6,67 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,33 6 6 7 6,33 7 7 7 7,00 7 8 8 7,67 8 8 8 7,67 6 6 6 6,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 7,67 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 7 7 7,00 7 7 7 7,00 7 7 8 7,67 7 7 8 7,33 6 6 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 7 8 8 7 7 8 8 7 7 7 8 7 8 7 8 7 8 7 8 8 8 6 7 R 7,33 8,00 7,00 7,33 8,00 6,67 7,00 8,00 8,00 7,00 7,00 7,00 8,00 7,00 7,33 7,00 8,00 7,00 8,00 7,00 8,00 7,33 7,33 6,00 7,00 171 Lampiran 6 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 I K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Organoleptik tongkol di tempat pendaratan R M I K R M I 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 9 9 9 9 9 9,00 9,00 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 R 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 172 Lampiran 7 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tongkol di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 9 8 8 8 8 9 8 7 8 8 8 8 9 8 8 7 8 8 8 8 8 8 8 7 I 8 9 8 7 7 8 9 7 7 8 8 8 8 9 8 9 7 9 8 9 8 7 9 9 7 Organoleptik tongkol di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 9 9,00 8 7 8 9 9 7,67 9 8,33 9 9 9 8 8 9,00 8 7,67 9 8 9 8 8 8,67 8 7,67 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 9 9,00 7 7 7 8 7 7,00 8 7,67 8 8 8 7 7 8,00 7 7,00 8 7 8 8 8 7,67 8 8,00 7 7 7 8 8 7,00 8 8,00 8 8 9 8 8 8,33 8 8,00 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 9 9 9 8 8 9,00 9 9,00 8 8 8 8 8 8,00 8 8,00 9 9 9 9 9 9,00 9 8,67 7 8 8 8 8 7,67 7 7,00 8 8 8 9 9 8,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 8 8,00 8 8 8 8 8 8,00 9 8,67 8 8 9 9 9 8,33 8 8,00 8 8 8 7 7 8,00 8 7,67 8 8 8 8 8 8,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 9 8,67 7 7 7 8 8 7,00 7 7,00 9 8 9 8 8 8,67 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 7 9 8 8 9 8 8 7 8 9 8 8 8 9 9 8 9 8 8 9 7 8 8 8 8 R 7,00 9,00 8,00 8,00 8,33 7,33 7,67 7,00 8,00 8,33 8,00 8,00 8,00 8,33 9,00 8,00 9,00 8,00 8,00 9,00 7,00 8,00 8,00 8,00 8,00 173 Lampiran 8 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 7 8 9 8 8 7 8 7 8 7 8 9 8 8 9 7 7 7 8 8 8 7 8 7 I 8 8 8 8 7 7 7 7 8 7 8 7 8 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 7 8 Organoleptik tuna-tuna kecil di tempat pendaratan K R M I K R M I 8 8,00 8 8 8 8,00 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 8,00 7 8 8 7,67 7 8 8 8,33 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 7 8 7,67 7 8 8 7,33 8 7 8 7,67 7 7 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 9 8 8,33 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 8 8,33 8 7 8 7,67 7 7 7 7,67 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 8 8 9 9,00 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 8 8 7,67 7 8 8 7,67 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 8 8 8,00 7 8 8 7,67 8 7 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 7 7 7 7,00 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 7 7 8 7,67 8 8 8 8,00 7 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 7 8 R 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,33 7,67 7,67 7,67 7,67 7,33 7,33 8,00 8,00 7,67 8,00 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,67 7,00 7,67 174 Lampiran 9 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 7 9 7 7 8 6 7 7 7 6 6 6 7 8 7 7 6 7 8 7 7 6 8 6 6 I 6 8 7 8 7 6 6 7 8 7 7 7 6 6 7 8 7 8 8 6 8 6 7 6 7 Organoleptik tuna-tuna kecil di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I K 7 6,67 7 8 8 7,67 7 7 7 9 8,67 7 7 7 7,00 6 7 7 7 7,00 6 6 6 6,00 7 8 7 7 7,33 6 7 7 6,67 7 7 7 7 7,33 7 8 8 7,67 6 7 7 7 6,33 8 7 8 7,67 7 8 7 7 6,67 7 7 8 7,33 7 7 8 7 7,00 7 8 7 7,33 7 8 8 8 7,67 6 6 7 6,33 7 7 7 7 6,67 7 6 7 6,67 7 8 7 7 6,67 8 9 8 8,33 7 7 7 7 6,67 7 8 7 7,33 6 7 7 7 6,67 6 7 8 7,00 7 7 7 7 7,00 6 7 7 6,67 8 8 8 8 7,33 7 7 7 7,00 7 7 7 7 7,33 7 8 7 7,33 7 7 7 6 6,33 7 8 8 7,67 8 7 7 8 7,67 7 7 8 7,33 7 8 7 7 7,67 8 8 8 8,00 7 8 7 7 6,67 7 8 7 7,33 8 7 7 7 7,33 7 6 7 6,67 7 7 7 7 6,33 8 7 8 7,67 7 7 7 8 7,67 6 7 7 6,67 7 8 7 7 6,33 7 8 8 7,67 6 7 7 7 6,67 8 7 8 7,67 7 8 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata R 7,00 6,67 7,33 7,00 6,67 7,33 7,33 7,67 7,00 7,33 7,00 6,67 7,00 8,00 7,00 7,00 7,33 7,33 7,33 7,33 7,00 7,00 7,33 6,67 7,67 175 Lampiran 10 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 I 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 8 9 9 9 8 8 8 9 9 9 9 8 K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 Organoleptik cakalang di tempat pendaratan R M I K R M I 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 9 9 9,00 9 8 9 8,67 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 8 9,00 9 9 9 9,00 9 8 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 9 8,33 9 9 8,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 8 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 8,33 9 9 9 9,00 8 8 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 8 8 9,00 9 8 9 8,67 9 9 8,33 9 9 9 9,00 9 9 8,67 9 9 9 9,00 9 9 8,67 8 9 9 8,67 8 8 8,67 9 8 9 8,67 9 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 9 9 9 9,00 9 9 9,00 8 8 8 8,00 9 8 8,00 9 9 9 9,00 8 8 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 9 8 9 9 9 9 9 9 9 9 8 R 9,00 8,67 9,00 9,00 9,00 8,67 8,67 8,67 9,00 9,00 9,00 8,67 9,00 8,33 9,00 8,00 9,00 9,00 9,00 8,33 9,00 9,00 9,00 8,67 8,00 176 Lampiran 11 Hasil pengujian organoleptik hasil tangkapan cakalang di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 M 8 8 8 8 8 8 8 9 9 8 8 9 9 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 8 8 I 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 7 9 9 8 9 9 9 7 8 7 9 8 8 8 8 Organoleptik cakalang di tempat pedagang pengecer K R M I K R M I 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 7 8 8 7,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 9 9 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 9 9 8 7,67 8 9 8 8,33 8 8 8 8,67 8 9 8 8,33 8 8 8 8,67 8 7 8 7,67 8 7 8 8,00 8 9 8 8,33 9 9 8 8,33 8 9 8 8,33 8 8 9 9,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,33 8 8 8 8,00 7 7 8 7,67 9 8 9 8,67 8 8 8 8,00 8 9 8 8,33 8 8 8 7,67 9 9 9 9,00 8 8 8 8,33 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 8 8 8,00 8 7 8 7,67 8 8 8 8,00 9 9 8 8,67 8 7 Keterangan : M = mata; I = insang; K = konsistensi; R = rata-rata K 8 8 8 8 8 8 9 8 8 9 8 8 8 9 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 R 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 9,00 8,00 8,00 9,00 8,00 8,00 7,67 9,00 8,00 8,00 7,33 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 7,67 177 Lampiran 12 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan layur yang diuji 1. Mata 2. Insang 3. Konsistensi 4. Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 92,43 58,57 93,64 57,36 91,07 59,93 95,75 55,25 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 6932,00 4393,00 7023,00 4302,00 6830,00 4495,00 7181,00 4144,00 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.543,00 4.393,00 -5,51 0,000 1.452,00 4.302,00 -5,85 0,000 1.645,00 4.495,00 -5,67 0,000 1.294,00 4.144,00 -6,14 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 176 178 Lampiran 13 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan tongkol yang diuji 1. Mata 2. Insang 3. Konsistensi 4. Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 107,00 44,00 105,50 45,50 101,50 49,50 108,00 43,00 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 8025,00 3300,00 7912,50 3412,50 7612,50 3712,50 8100,00 3225,00 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 450,00 3.300,00 -10,14 0,000 562,00 3.412,00 -9,69 0,000 862,50 3.712,50 -8,76 0,000 375,00 3.225,00 -10,20 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 177 179 Lampiran 14 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan tuna-tuna kecil yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n Mean rank 75 75 75 75 75 75 75 75 91,33 59,67 91,99 59,01 100,70 50,30 102,91 48,09 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 6849,50 4475,50 6899,50 4425,50 7552,50 3772,50 7718,50 3606,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.625,00 4.475,00 -4,99 0,000 1.575,50 4.425,50 -5,19 0,000 922,50 3.772,50 -8,33 0,000 756,50 3.606,50 -8,04 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 178 180 Lanpiran 15 Hasil analisis statistika nilai skala organoleptik hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian ikan cakalang yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 98,23 52,77 92,57 58,43 106,50 44,50 104,42 46,58 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 7367,00 3958,00 6942,50 4382,50 7987,50 3337,50 7831,50 3493,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 1.108,00 3.958,00 -7,36 0,000 1.532,50 4.382,50 -5,44 0,000 487,50 3.337,50 -10,09 0,000 643,50 3.493,50 -8,52 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 179 181 Lampiran 16 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik keseluruhan sampel hasil tangkapan di tempat pendaratan dengan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji 1.Mata 2.Insang 3.Konsistensi 4.Rata-rata Tempat pengujian A B A B A B A B n 300 300 300 300 300 300 300 300 Mean rank 366,42 234,58 367,98 233,02 380,21 220,79 375,60 225,41 Keterangan : A = di tempat pendaratan n = jumlah sampel Sum of rank = jumlah dari peringkat nilai skala organoleptik Asymp sig = taraf signifikansi Sum of rank 109.926,00 70.374,00 110.394,00 69.906,00 114.064,00 66.236,00 112.678,50 67.621,50 Mann-whitney U Wilcoxon W Z Asymp sig 25.224,00 70.374,00 -9,91 0,000 24.756,00 69.906,00 -10,19 0,000 21.086,00 66.236,00 -12,42 0,000 22.471,50 67.621,50 -10,84 0,000 B = di tempat pedagang pengecer Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Z = nilai uji z 180 182 Lampiran 17 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji di tempat pendaratan 1.Mata 2.Insang 3.Konsisitensi 4.Rata-rata Keterangan : L = layur T = tongkol Tk = tuna-tuna kecil C = cakalang n = jumlah sampel per jenis Asymp sig = taraf signifikansi Jenis ikan L T Tk C L T Tk C L T Tk C L T Tk C n 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 Mean rank 93,01 232,50 71,65 204,85 83,46 234,50 84,74 199,30 77,30 228,50 81,33 214,87 89,43 237,50 66,39 208,69 Chi square df Asymp sig 224,171 3 0,000 219,776 3 0,000 263,910 3 0,000 240,635 3 0,000 Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Chi square = nilai keselarasan (untuk asymp sig 0,5% dan df 3 = 7,814) df = derajad bebas = kasus - 1 kasus = banyak spesies yang diambil sebagai contoh = layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang 183 Lampiran 18 Hasil analisis statistika perbandingan nilai skala organoleptik antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Bagian yang diuji di tempat pedagang pengecer 1.Mata 2.Insang 3.Konsisitensi 4.Rata-rata Keterangan : L = layur T = tongkol Tk = tuna-tuna kecil C = cakalang n = jumlah sampel per jenis Asymp sig = taraf signifikansi Jenis ikan n Mean rank L T Tk C L T Tk C L T Tk C L T Tk C 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 75 114,82 192,58 82,38 212,22 106,80 181,02 106,11 208,07 120,81 187,01 90,22 193,96 108,16 196,42 79,80 217,62 Chi square df Asymp sig 136,823 3 0,000 94,109 3 0,000 108,568 3 0,000 139,462 3 0,000 Mean rank = rata-rata peringkat nilai skala organoleptik Chi square = nilai keselarasan (untuk asymp sig 0,5% dan df 3 = 7,814) df = derajad bebas = kasus - 1 kasus = banyak spesies yang diambil sebagai contoh = layur, tongkol, tuna-tuna kecil dan cakalang 184 Lampiran 19 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.975,5 17.437,5 5.373,5 15.363,5 R² 48.657.600,25 304.066.406,3 28.874.502,25 236.037.132,3 n 75 75 75 75 R/n 93,0 232,5 71,6 204,8 R²/n 648.768,00 4.054.218,75 384.993,36 3.147.161,76 R(x)² 733.400,75 4.054.218,75 585.386,75 3.342.836,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.715.843 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.423,97 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.235.141,88 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 139,49 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 21,36 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 111,84 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 160,85 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 27,65 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 224,17 74,83 296 40,30 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 12,90 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau ≥ Beda Nyata 133,2 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 185 Lampiran 20 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik mata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.611,5 14.443,5 6.178,5 15.916,5 R² 741.57.932,25 208.614.692,3 38.173.862,25 253.334.972,3 n 75 75 75 75 R/n 114,82 192,58 82,38 212,22 R²/n 988.772,43 2.781.529,23 508.984,83 3.377.799,63 R(x)² 1.295.496,75 3.074.040,75 811.650,75 3.497.646,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² (N*(N+1)²)/4 S² X² 136,82 8.678.835 N-1-X² 162,18 6.795.075 N-k 6.300,20 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.657.086,12 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 77,76 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 58,75 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata 32,44 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 97,4 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 110,2 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 19,64 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 18,80 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 129,84 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 186 Lampiran 21 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.259,5 17.587,5 6.355,5 14.947,5 R² 39.181.340,25 309.320.156,3 40.392.380,25 223.427.756,3 N 75 75 75 75 R/n 83,46 234,5 84,74 199,3 R²/n 522.417,87 4.124.268,75 538.565,07 2.979.036,75 R(x)² 615.180,75 4.124.268,75 683.820,75 3.234.588,75 N 300 α 0,05 k 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.657.859 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.230,05 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.164.288,44 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 151,04 |(Ra/na)-(Rc/nc)| X² 219,78 79,22 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 40,83 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 1,28 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 115,84 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 149,76 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 35,2 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 13,07 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 114,56 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 187 Lampiran 22 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik insang antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.010 13.576,5 7.958,5 15.605 R² 64.160.100 184.321.352,3 63.337.722,25 243.516.025 N 75 75 75 75 106,8 181,02 106,11 208,07 855.468 2.457.618,03 844.502,96 3.246.880,333 1.148.272,5 2.836.706,25 1.222.973,25 3.523.266 R/n R²/n R(x)² N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.731.218 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.475,39 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.404.469,33 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 74,22 |(Ra/na)-(Rc/nc)| X² 101,27 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 74,91 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 27,05 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| 204,89 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 66,95 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 0,69 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 94,11 ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 21,43 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 101,95 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 188 Lampiran 23 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 5.797,5 17.137,5 6.099,5 16.115,5 R² 33.611.006,25 293.693.906,3 37.203.900,25 259.709.340,3 N 75 75 75 75 R/n 77,3 228,5 81,33 214,87 R²/n 448.146,75 3.915.918,75 496.052,00 3.462.791,20 R(x)² 476.538,75 3.915.918,75 535.516,75 3.598.076,75 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.526.051 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 5.789,22 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.322.908,71 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 151,20 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 4,03 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 137,57 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 147,17 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 13,63 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 263,91 35,09 296 26,20 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Terima H0 atau Tidak Beda Nyata ≥ ≥ ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 8,38 Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau Beda Nyata Tolak H0 atau ≥ Beda Nyata 133,55 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 189 Lampiran 24 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik konsistensi antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 7.111 12.725,5 5.766,5 11.097 R² 50.566.321 161.938.350,3 33.252.522,25 123.143.409 N 75 75 75 75 R/n 94,81 169,67 76,89 147,96 R²/n 674.217,61 2.159.178,00 443.366,96 1.641.912,12 R(x)² 816.862,5 2.663.970,75 597.510,75 1.765.285,5 N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 5.843.629,5 X² N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² -3.182,09 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 1/S² -0,0003 Σ(R²/n) 4.918.674,7 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 74,86 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 17,93 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 53,15 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 92,79 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 21,71 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| 589,67 -290,67 296 55,90 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 17,89 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 71,07 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 190 Lampiran 25 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pendaratan di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 6.707 17.812,5 4.979 15.651,5 R² 44.983.849 317.285.156,3 24.790.441 244.969.452,3 N 75 75 75 75 R/n 89,43 237,5 66,39 208,69 R²/n 599.784,65 4.230.468,75 330.539,21 3.266.259,36 R(x)² 726.241,5 4.230.468,75 462.339 3.403.830,75 N 300 Α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.822.880 N-1-X² (N*(N+1)²)/4 6.795.075 N-k S² 6.781,96 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 8.427.051,98 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 148,07 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 23,04 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 119,26 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 171,11 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 28,81 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² 240,64 58,36 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 36,57 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 11,70 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 142,3 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 191 Lampiran 26 Pengujian lanjutan statistika perbandingan nilai skala organoleptik rata-rata antar jenis hasil tangkapan di tempat pedagang pengecer di PPN Palabuhanratu tahun 2010 layur (a) tongkol (b) tuna-tuna kecil ( c) cakalang (d) R 8.112 14.731,5 5.985 16.321,5 R² 65.804.544 217.017.092,3 35.820.225 266.391.362,3 N 75 75 75 75 108,16 196,42 79,8 217,62 R²/n 877.393,92 2.893.561,23 477.603 3.551.884,83 R(x)² 1.200.162 3.310.610,25 734.522 3.705.238,25 R/n N 300 α 0,05 K 4 1/(N-1) 0,003 ΣR(x)² 8.950.532,5 (N*(N+1)²)/4 6.795.075 S² 7.208,89 1/S² 0,0001 Σ(R²/n) 7.800.442,98 |(Ra/na)-(Rb/nb)| 88,26 |(Ra/na)-(Rc/nc)| 28,36 |(Ra/na)-(Rd/nd)| 109,46 |(Rb/nb)-(Rc/nc)| 116,62 |(Rb/nb)-(Rd/nd)| 21,2 |(Rc/nc)-(Rd/nd)| X² 139,46 N-1-X² 159,54 N-k 296 √S²[(N-1-X²)/(N-k)] 62,33 t(α/2 ; N-k) 1,96 √(1/na)+(1/nb) 0,16 ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ t{α/2(N-k)}*[√S²{(N-1-X²)/(N-k)}]*[√(1/na)+(1/nb)] 19,95 Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata ≥ Tolak H0 atau Beda Nyata 137,82 Keterangan : N = jumlah seluruh sampel ikan = 300 ekor n = jumlah sampel masing-masing kelompok jenis ikan = 75 ekor k = jumlah kelompok jenis ikan = 4 (tuna-tuna kecil, tongkol, layur dan cakalang) R = jumlah rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan R(x)² = jumlah kuadrat rangking (peringkat) sampel dalam satu kelompok jenis ikan α = selang kepercayaan = 0,05 S = didapatkan berdasar rumus pada sub bab 3.4 192 Lampiran 27 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (oleh perusahaan pengumpul tuna untuk hasil tangakapan longline) 1) Investasi  Terpal 5 tahun 75.000 per unit 1 unit 75.000  Sekop 5 tahun 15.000 per unit 1 unit 15.000 Jumlah investasi 90.000 2) Biaya Produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal - 25.000 per unit 1 unit 25.000  Penyusutan sekop - 3.000 per unit 1 unit 3.000  Perawatan - - - -  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 28.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 17.000 per balok - 60 balok x 350 kali pendaratan 357.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 357.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 357.028.000 3) Pinjaman 2. di tempat perusahaan pengumpul (oleh perusahaan pengumpul tuna untuk hasil tangkapan pancing rumpon) 1) Investasi  Terpal 5 tahun 85.000 per unit 1 unit 85.000  Sekop 5 tahun 15.000 per unit 1 unit 15.000  Alat checker 5 tahun 325.000 per unit 1 unit 325.000  Pengadaan coldstorage 20 tahun 85.000.000 per unit 1 unit 85.000.000 Jumlah investasi 85.425.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan serok  Penyusutan alat checker -  Penyusutan coldstorage - - 17.000 per unit 1 unit 17.000 3.000 per unit 1 unit 3.000 65.000 per unit 1 unit 65.000 4.250.000 per unit 1 unit 4.250.000 193 Lanjutan lampiran 27 Umur teknis Tingkat penanganan  Perawatan coldstorage -  Sewa bangunan -  Asuransi -  Pajak - Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat 2.500.000 per unit 1 unit 1.000.000 per bulan 1 unit x 12 bulan - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) Biaya (Rp) 2.500.000 12.000.000 18.835.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Air - 160.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 1.920.000  Es - 17.000 per balok 50 balok x 350 hari 297.500.000  Upah karyawan - 15.000 per orang 3 orang x 350 hari  Listrik - 350.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 4) Pinjaman 15.750.000 4.200.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 309.370.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 328.205.000 - 194 Tabel 28 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat perusahaan pengumpul 1) Investasi  Coldstorage 90.000.000 per unit 20 tahun 1 unit Jumlah investasi 90.000.000 90.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan coldstorage - 4.500.000 per unit 1 unit 4.500.000  Perawatan coldstorage - 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000  Sewa bangunan - 1.000.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 12.000.000 19.000.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 17.000 per balok 30 balok x 350 hari 178.500.000  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 189.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 208.000.000 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 3 unit 135.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.372.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik  Penyusutan styrofoam - 6.000 per unit 1 unit 6.000 - 60.000 per unit 2 unit 120.000 - 9.000 per unit 3 unit 27.000 195 Lanjutan lampiran 28 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan ember  Perawatan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat - 2.500 per unit 1 unit - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit  Asuransi - - 1 unit x 350 hari -  Pajak - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) Biaya (Rp) 2.500 700.000 855.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 1 balok x 350 hari 5.950.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 5.950.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 6.805.500 17.000 per balok - 196 Lampiran 29 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit  Blong 10 tahun 150.000 per unit 15 unit 2.250.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 5 unit 3.000.000 Jumlah investasi 7.500 5.257.500 2) Biaya produski a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan ember - 2.500 per unit 1 unit  Penyusutan blong  Penyusutan kotak plastik  Perawatan - 15.000 per unit 15 unit 225.000 - 60.000 per unit 5 unit 300.000 - - -  Sewa kios - 400.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - 2.500 - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 4.800.000 5.327.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000  Es - 17.000 per balok 4 balok x 350 hari 23.800.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 34.300.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 39.627.500 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.417.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik - 6.000 per unit 1 unit 6.000 - 60.000 per unit 2 unit 120.000 197 Lanjutan lampiran 29 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan Styrofoam  Penyusutan ember Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 9.000 per unit 4 unit 36.000 - 2.500 per unit 1 unit 2.500  Perawatan - - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 864.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 1/2 balok x 350 hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 17.000 per balok Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 2.975.000 2.975.000 3.839.500 - 198 Lampiran 30 Perhitungan biaya penanganan hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit  Blong 10 tahun 150.000 per unit 20 unit 3.000.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 10 unit 6.000.000 Jumlah investasi 7.500 9.007.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan ember  Penyusutan blong  Penyusutan kotak plastik  Perawatan 2.500 per unit 1 unit 2.500 15.000 per unit 20 unit 300.000 60.000 per unit 10 unit 600.000 - - -  Sewa kios - 400.000 per bulan 1 unit x 12 bulan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 4.800.000 5.702.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah karyawan - 15.000 per orang 2 orang x 350 hari 10.500.000  Es - 17.000 per balok 4 balok x 350 hari 23.800.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 39.100.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 40.002.500 3) Pinjaman - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Terpal 5 tahun 30.000 per unit 1 unit 30.000  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.417.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan terpal  Penyusutan kotak plastik 6.000 per unit 1 unit 6.000 60.000 per unit 2 unit 120.000 199 Lanjutan lampiran 30 Umur teknis Tingkat penanganan  Penyusutan styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 9.000 per unit 4 unit 36.000 - 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - - - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - -  Sewa bangunan Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 864.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 17.000 per balok 1/2 balok x 350 hari 2.975.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 2.975.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.839.000 - 200 Lampiran 31 Pembiayaan penanganan hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat penanganan Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedangang pengumpul 1) Investasi  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 2 unit 90.000 Jumlah investasi 90.000 9.000 per unit 2 unit 18.000 - - - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan styrofoam  Perawatan  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 18.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es - 1 balok x 350 hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 17.000 per balok Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 5.950.000 5.950.000 5.968.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul (PT AGB) 1) Investasi  Trais 5 tahun 25.000 per unit 150 unit 3.750.000  Kotak baja ringan  Pengadan coldstorage  Pengadaan freezer 5 tahun 30.000 per unit 250 unit 7.500.000 20 tahun 85.000.000 per unit 1 unit 85.000.000 20 tahun 120.000.000 per unit 1 unit 120.000.000 Jumlah investasi 216.250.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan trais  Penyusutan kotak baja ringan  Penyusutan coldstorage  Penyusutan freezer  Perawatan coldstorage  Perawatan freezer 5.000 per unit 150 unit 750.000 6.000 per unit 250 unit 1.500.000 4.250.000 per unit 1 unit 4.250.000 6.000.000 per unit 1 unit 6.000.000 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000 3.000.000 per unit 1 unit 3.000.000 201 Lanjutan lampiran 31 Umur teknis Tingkat penanganan  Sewa bangunan dan pas kebersihan  Asuransi  Pajak Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) - 1.500.000 per bulan 1 unit x 12 bulan - - - - - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 18.000.000 36.000.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Air - 150.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 1.800.000  Listrik - 250.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan 3.000.000  Upah karyawan - 20.000 per orang 13 orang x 350 hari 91.000.000  Kotak kardus - 1.500 per unit 50 unit x 350 hari 26.250.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 122.050.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 158.050.000 3) Pinjaman - 3. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Kotak plastik 10 tahun 600.000 per unit 2 unit 1.200.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 4 unit 180.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 1.387.500 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan kotak plastik  Penyusutan styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan 60.000 per unit 2 unit 120.000 9.000 per unit 4 unit 36.000 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - -  Sewa kios - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 858.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Daun pisang - 500 per lembar 3 lembar x 350 hari 525.000 202 Lanjutan lampiran 31 Umur teknis Tingkat penanganan  Es - Biaya satuan (Rp) Kebutuhan per tahun Bahan/alat 1/2 balok x 350 17.000 per balok hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman Biaya (Rp) 1.225.000 1.750.000 2.608.500 - 203 Lampiran 32 Pembiayaan penanganan hasil tangkapan ikan kecil lainnya di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat penanganan Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi  Coldstorage 2 tahun 50.000.000 per unit 1 unit 50.000.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 2 unit 15.000  Trais 5 tahun 25.000 per unit 25 unit 625.000  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 15 unit 675.000 Jumlah investasi 51.315.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan coldstorage  Penyusutan ember  Penyusutan trais  Penyusutan styrofoam  Perawatan coldstorage 2.500.000 per unit 1 unit 2.500.000 2.500 per unit 2 unit 5.000 5.000 per unit 25 unit 125.000 9.000 per unit 15 unit 135.000 500.000 per unit 1 unit 500.000 - 700.000 per bulan  Asuransi - - 1 unit x 12 bulan -  Pajak - - -  Sewa bangunan Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 8.400.000 11.665.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC) 1 instalasi x 12 bulan 3 orang x 350 hari  Listrik - 200.000 per bulan  Upah karyawan - 15.000 per orang  Air - 120.000 per bulan 1 instalasi x 12 bulan  Es - 17.000 per balok 3 balok x 350 hari 17.850.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 37.440.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 49.105.000 3) Pinjaman 2.400.000 15.750.000 1.440.000 - 2. di tempat pedagang pengecer 1) Investasi  Styrofoam 5 tahun 45.000 per unit 6 unit 270.000  Ember 5 tahun 7.500 per unit 1 unit 7.500 Jumlah investasi 277.500 204 Lanjutan lampiran 32 Tingkat penanganan Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan Styrofoam  Penyusutan ember  Perawatan 9.000 per unit 6 unit 54.000 2.500 per unit 1 unit 2.500 - - -  Sewa bangunan - 2.000 per unit 1 unit x 350 hari  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 700.000 756.500 b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Es 3) Pinjaman - 2 balok x 350 hari 11.900.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 11.900.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 12.656.500 17.000 per balok - 205 Lampiran 33 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 4 kali angkut x tempat perusahaan angkut 40 hari pengumpul tuna Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 1.600.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 1.600.000 3) Pinjaman 1.600.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul tuna 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 5 unit Jumlah investasi 375.000.000 375.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kantor 3.750.000 per unit 500.000 per unit - 5 unit 18.750.000 5 unit 2.500.000 - 150.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk pelabuhan  Bensin mobil  Gaji sopir  Gaji kenek 1.000 per unit 5 unit x 350 hari 150.000 per 5 unit x 350 hari unit 30.000 per 5 orang x 350 hari orang 20.000 per 5 orang x 350 hari orang Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) - Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3) Pinjaman 21.400.000 1.750.000 262.500.000 52.500.000 35.000.000 351.750.000 373.150.000 - 206 Lampiran 34 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tuna-tuna kecil di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 2 kali angkut x 40 tempat pedagang angkut hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 800.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 800.000 3) Pinjaman 800.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul tuna 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 2 unit Jumlah investasi 150.000.000 150.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kasntor - 3.750.000 per unit 2 unit 7.500.000 500.000 per unit 2 unit 1.000.000 - - 100.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 8.600.000 2 unit x 350 hari 700.000 2 unit x 350 hari 105.000.000  Gaji sopir - 30.000 per orang 2 orang x 350 hari 21.000.000  Gaji kenek - 20.000 per orang 2 orang x 350 hari 14.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 140.700.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 149.300.000  3) Pinjaman \ - 207 Lampiran 35 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan cakalang di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 1 kali angkut x tempat pedagang angkut 300 hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 3.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.500.000 3) Pinjaman 3.500.000 - 2. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 60.000 60.000 1 unit x 350 hari 140.000.000 1 unit x 350 hari 350.000 1 unit x 350 hari 52.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 192.850.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 192.910.000 - 208 Lampiran 36 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan tongkol di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Umur teknis Tingkat pendistribusian Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pendaratan (nelayan) 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC) - b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Upah angkut ke 10.000 per 1x 1 kali angkut x tempat pedagang angkut 350 hari pengumpul Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 3.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 3.500.000 3) Pinjaman 3.500.000 - 2. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 50.000 50.000 2 unit x 350 hari 280.000.000 2 unit x 350 hari 700.000 2 unit x 350 hari 105.000.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 385.700.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 385.750.000 - 209 Lampiran 37 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan layur di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - 75.000 Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) 75.000 b. Biaya variabel/variable cost (VC) 10.000 per 1x 2 kali angkut x  Upah angkut ke angkut 350 hari PT AGB Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 6.000.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 6.075.000 3) Pinjaman 6.000.000 - 2. di tempat perusahaan pengumpul (PT AGB) 1) Investasi  Mobil bak tertutup 20 tahun 75.000.000 per unit 3 unit Jumlah investasi 225.000.000 225.000.000 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Penyusutan mobil bak tertutup  Perawatan mobil bak tertutup  Alat tulis kantor - 3.750.000 per unit 3 unit 11.250.000 500.000 per unit 3 unit 1.500.000 - - 750.000  Asuransi - - - -  Pajak - - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil  Gaji sopir  Gaji kenek 3) Pinjaman 3 unit x 350 hari 13.500.000 1.050.000 3 unit x 350 hari 3 orang x 350 35.000 per orang hari 3 orang x 350 20.000 per orang hari Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 157.500.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 229.800.000 36.750.000 21.000.000 216.300.000 - 210 Lampiran 38 Perhitungan biaya pendistribusian hasil tangkapan ikan kecil lainnya oleh pedagang pengumpul di PPN Palabuhanratu tahun 2010 Tingkat pendistribusian Umur teknis Kebutuhan per tahun Biaya satuan (Rp) Bahan/alat Biaya (Rp) 1. di tempat pedagang pengumpul 1) Investasi - 2) Biaya produksi a. Biaya tetap/fixed cost (FC)  Alat tulis kantor - - - Jumlah biaya tetap/total fixed cost (TFC) b. Biaya variabel/variable cost (VC)  Sewa mobil pick 400.000 per unit up + terpal + sopir  Pas masuk 1.000 per unit pelabuhan 150.000 per unit  Bensin mobil 3) Pinjaman 35.000 35.000 1 unit x 350 hari 140.000.000 1 unit x 350 hari 350.000 1 unit x 350 hari 52.500.000 Jumlah biaya variabel/total variable cost (TVC) 192.850.000 Jumlah biaya produksil/total cost (TC) 192.885.000 -
Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Analisis Data Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Analisis Finansial Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Analisis Pengujian Perbedaan Mutu Hasil Tangkapan : Mann-Whitney Biaya Penanganan Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Biaya Pendistribusian Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Daerah dan Musim Penangkapan Ikan 1 Jenis dan produksi hasil tangkapan Jenis dan produksi hasil tangkapan PPN Palabuhanratu Keadaan geografis dan topografis Keadaan penduduk, pendidikan dan rumah tangga perikanan Keadaan prasarana umum Keadaan Umum Daerah Kabupaten Sukabumi Kelembagaan terkait mutu hasil tangkapan Kesimpulan Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Latar Belakang Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Masalah dalam Penanganan Hasil Tangkapan Pelabuhan Perikanan Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Pemetaan Pendistribusian Hasil Tangkapan Penanganan dan Mutu Hasil Tangkapan Penanganan di Tempat Pedagang atau Perusahaan Pengumpul Penanganan di Tempat Pedagang Pengecer Penanganan di Tempat Pendaratan Pendistribusian Berdasarkan Daerah Tujuan Pendistribusiannya 1 Pendistribusian Berdasarkan Jenis Hasil Tangkapan Didistribusikan Pendistribusian Hasil Tangkapan Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu Pendistribusian Ikan Olahan Asin dan Pindang Pengujian organoleptik Mutu Hasil Tangkapan Didaratkan Perumusan Masalah Tujuan Manfaat Hasil Tangkapan Prasarana perikanan tangkap Keadaan umum perikanan tangkap Kabupaten Sukabumi Sarana dan prasarana PPN Palabuhanratu Sejarah dan Keadaan Organisasi PPN Palabuhanratu Unit penangkapan ikan dan nelayan Unit Pengkapan Ikan dan Nelayan di PPN Palabuhanratu 1 Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Penanganan dan Pendistribusian Hasil Tangkapan serta Biayanya di PPN Palabuhanratu

Gratis