Feedback

Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control

Informasi dokumen
1 KOMBINASI ZOOPROFILAKSIS DAN PEMBALURAN INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA TERNAK SAPI SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA BUDI SANTOSO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 2 3 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida Deltametrin pada Ternak Sapi Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Oktober 2012 Budi Santoso NIM B252100011 4 5 RINGKASAN BUDI SANTOSO. Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida Deltametrin pada Ternak Sapi Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria. Dibimbing oleh SUSI SOVIANA dan UPIK KESUMAWATI HADI. Pemanfaatan hewan ternak untuk mengalihkan gigitan nyamuk Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk. Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan reproduksinya Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles. Lokasi penelitian ini Desa Hanura Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung yang merupakan daerah endemis malaria tinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan April 2012 menggunakan umpan hewan sapi yang telah dibalurkan dengan insektisida deltametrin. Selanjutnya hewan sapi di pasang antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk (lagoon), dengan maksud sebagai penghalang supaya nyamuk Anopheles tidak mendatangi pemukiman. Pengukuran lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi dilakukan dengan metode cone test. Pengukuran kepadatan nyamuk Anopheles pada manusia diperoleh dari hasil landing collection malam hari selama 12 jam (pukul 18.00 – 06.00), sedangkan pengukuran kepadatan pada sapi dilakukan dengan menangkap nyamuk yang hinggap di dalam kelambu perangkap (magoon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada sapi dapat bertahan 8 hari dengan tingkat kematian nyamuk sebesar 95%. Pembaluran deltametrin pada sapi berpengaruh terhadap kepadatan Anopheles yang menggigit manusia. Hal ini tercermin pada penurunan angka gigitan pasca perlakuan, yaitu An. sundaicus sebesar 63.52%, An. vagus 80%, An. barbirostris 85.71%, An. subpictus 82.45%, An. aconitus 92.30%, An. kochi 80% . Selain itu, dampak pembaluran deltametrin juga menurunkan kepadatan nyamuk pada sapi, yaitu, An. sundaicus sebesar 95.12%, An. vagus 90.64%, An. barbirostris 80%, An. subpictus 85.5%, An. aconitus 94.34%, An. kochi 100% dan An. hyrcanus group 100% . Keberhasilan kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida terbukti menurunkan angka gigitan baik pada manusia maupun pada sapi. Hal ini menjadi gagasan yang dapat diterapkan dalam pengendalian malaria. Kata kunci : Anopheles, deltametrin, malaria, sapi, zooprofilaksis. 6 7 SUMMARY BUDI SANTOSO. Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control. Under Supervision of SUSI SOVIANA and UPIK KESUMAWATI HADI. Utilization of cattle to divert Anopheles mosquito bites from humans to animals is known as zooprophylactic. However, using animals as a protection from mosquito bites has double impacts. The presence of cattle on the one hand can be used to divert mosquitoes from humans to animals, but on the other hand can sustain the survival of the mosquitoes, because it can serve as mosquitoes blood meal source to maintain the viability of mosquitoes. The mosquitoes take blood mammals as a protein source for the reproductive development. This study aimed to measure the effect combination of zooprophylactic application with the smearing of residual deltamethrin insecticide on cattle against the rate of Anopheles mosquito biting. Location of this study was in Hanura Village of Padang Cermin Subdistrict, Pesawaran Regency, Lampung Province, which belong to a high malaria endemic area. The study was conducted on February to April 2012 using three cattle which were smeared by deltamethrin insecticide. Then, the cattle were placed between the resident houses and mosquito breeding places (lagoon). The observation of the insecticide residue on the cattle were measured by cone test method. The measurement of the density of Anopheles mosquitoes in human was obtained by bare leg collection method during whole night, where as the measurement of Anopheles mosquito density on cattle were done by magoon trap method. The result showed that the residue of deltamethrin insecticide on the cattle caused 95% mortality of mosquitoes were found till eight days. Placement of cattle smeared with insecticide caused the decreasing in density of Anopheles mosquito bites in human and in cattle. The decreasing of Anopheles mosquito biting rate in human were 63.52% in An. sundaicus, 80% in An. vagus, 85.71% in An. barbirostris, 82.45% in An. subpictus, 92.30% in An. aconitus and 80% in An. kochi. In addition, the decreasing of biting rate in cattle were 95.12% in An. sundaicus, 90.64% in An. vagus, 80% in An. barbirostris, 85.5% in An. subpictus, 94.34% in An. aconitus, 100% in An. kochi and 100% in An. hyrcanus group. The successful result on combination of zooprophylactic with deltrametrin on reducing the mosquitoes biting rate both in human and in cattle were being a good idea for malaria vector control. Key words: Anopheles, deltamethrin, malaria, cattle, zooprophylactic. 8 9 © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2012 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB 10 11 KOMBINASI ZOOPROFILAKSIS DAN PEMBALURAN INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA TERNAK SAPI SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA BUDI SANTOSO Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 12 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. drh. Dwi Jayanti Gunandini, M.Si 13 Judul Tesis : Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida Deltametrin pada Ternak Sapi Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria. Nama : Budi Santoso NIM : B252100011 Disetujui Oleh Komisi Pembimbing Dr. drh. Susi Soviana, M.Si Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS Ketua Anggota Diketahui Oleh Ketua Program Studi/Mayor Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr Tanggal Ujian : 26 September 2012 Tanggal Lulus : 14 15 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012 ini ialah pemanfaatan hewan ternak dalam pemberantasan malaria, dengan judul kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida deltametrin pada ternak sapi sebagai upaya pengendalian vektor malaria. Dalam penyelesaian tulisan ini, berbagai pihak telah banyak membantu mulai dari tahap persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian hingga proses penyelesaiannya. Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu Dr. drh. Susi Soviana, M.Si sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan ibu Dr. drh. Upik Kesumawati Hadi, MS sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang telah banyak mengarahkan dan membimbing selama penelitian. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. dr. Inge Sutanto, M.Phil sebagai Kepala Proyek Malaria Transmission Consortium (MTC) Site Lampung yang telah memberikan beasiswa Pascasarjana Parasitologi dan Entomologi Kesehatan IPB Bogor. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada kepada Bapak Prof. Dr. drh. Singgih H. Sigit, M.Sc, Bapak FX. Koesharto, M.Sc, Ibu Dr. drh. Dwi Jayanti Gunandini, M.Si, Bapak Dr. drh. M. Amin, M.Sc yang selama ini telah memberikan ilmunya, tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada para staf di Jurusan Parasitologi dan Entomologi Kesehatan (PEK) Ibu Juju, Pak Heri, Pak Yunus (Alm), Pak Priyono, Bu Een dan teman seperjuangan Mas Didik yang selama ini telah membantu penulis menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang telah memberikan kesempatan tugas belajar dan juga telah memfasilitasi alat-alat yang dipergunakan dalam menyelesaikan penelitian ini. Di samping itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Politeknik Negeri Jurusan Malaria Banjar Negara Jawa Tengah yang telah membantu penelitian di lapangan. Akhirnya, penulis sampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang selalu memberikan dorongan moril maupun materiil sehingga penulis berhasil menyelesaikan penelitian ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Oktober 2012 Budi Santoso 16 17 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xiv 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1.2 Tujuan Penelitian.................................................................................. 1.3 Manfaat Penelitian ............................................................................... 1 1 3 3 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 2.1 Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria ........................................ 2.2 Habitat Perkembangbiakan Anopheles ................................................ 2.3 Perilaku Nyamuk Anopheles ............................................................... 2.4 Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang ................... 2.4.1 Suhu ............................................................................................ 2.4.2 Kelembaban Udara ..................................................................... 2.4.3 Karbondioksida ........................................................................... 2.4.4 Aroma ......................................................................................... 2.4.5 Visual .......................................................................................... 2.5 Pemanfaatan Ternak Dalam Pengendalian Nyamuk Anopheles ......... 2.6 Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles........... 2.7 Deltametrin dan Cara Kerjanya ............................................................ 2.8 Resistensi dan Mekanismenya ............................................................. 2.8.1 Mekanisme Biokimia ................................................................. 2.8.2 Mekanisme Faali ........................................................................ 5 5 6 6 8 8 8 9 9 9 10 12 12 13 14 14 3 METODE PENELITIAN ............................................................................ 3.1 Tempat Penelitian ................................................................................ 3.2 Waktu Penelitian .................................................................................. 3.3 Hewan Ternak yang digunakan ............................................................ 3.4 Insektisida yang dipakai ....................................................................... 3.5 Pembaluran Insektisida pada Sapi ........................................................ 3.6 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi ................................ 3.7 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia ................ 3.8 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi ..................... 3.9 Identifikasi Nyamuk ............................................................................. 3.10 Analisis Data Nyamuk Anopheles ..................................................... 3.10.1 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi ................... 3.10.2 Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles ................................... 3.10.3 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia 3.10.4 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi ..... 17 17 17 17 18 18 19 20 20 21 22 22 22 23 23 18 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 4.1 Lama Residu Insektisida di Badan Sapi ............................................ 4.2 Keragaman dan Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles yang Tertangkap Pra Perlakuan .................................................................. 4.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra Perlakuan ............................................................................................ 4.3.1 Anopheles sundaicus ................................................................. 4.3.2 Anopheles vagus ........................................................................ 4.3.3 Anopheles barbirostris .............................................................. 4.3.4 Anopheles subpictus .................................................................. 4.3.5 Anopheles aconitus .................................................................... 4.3.6 Anopheles kochi ......................................................................... 4.4 Aktivitas Nyamuk Anopheles Menghisap Darah ............................... 4.5 Pengamatan Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pasca Perlakuan ............................................................................................ 4.5.1 Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.5.2 Kepadatan Nyamuk Anopheles vagus Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.5.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles barbirostris Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.5.4 Kepadatan Nyamuk Anopheles subpictus Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.5.5 Kepadatan Nyamuk Anopheles aconitus Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.5.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles kochi Pra dan Pasca Perlakuan................................................................................... 4.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pra dan Pasca Pembaluran Insektisida....................................................................... 25 25 43 5 SIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 5.1 Simpulan............................................................................................. 5.2 Saran ................................................................................................... 47 47 47 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 49 DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... 61 26 29 29 31 32 32 32 34 35 37 38 39 40 41 42 43 19 DAFTAR TABEL Halaman 1 2 Keragaman dan kelimpahan nisbi Anopheles yang tertangkap pra perlakuan .......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles tertangkap umpan orang per orang per jam (MHD) pasca perlakuan ................................................. 27 37 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Sapi yang digunakan dalam penelitian ..................................................... Insektisida deltametrin ............................................................................. Pembaluran insektisida pada sapi ............................................................. Pelaksanaan cone test................................................................................ Penangkapan nyamuk metode BLC .......................................................... Penangkapan nyamuk pada perangkap sapi.............................................. Identifikasi nyamuk .................................................................................. Rata-rata kematian (%) nyamuk Anopheles setelah dikontakkan Dengan sapi yang dibalurkan insektisida.................................................. Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap darah per orang per jam (MHD) di luar rumah dan di dalam rumah pra perlakuan .......... Fluktuasi MHD setiap jam penangkapan dari pukul 18.00 – 06.00 ......... Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap orang pra dan pasca perlakuan ......................................................................................... Rata-rata kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap pada magoon sapi pra dan pasca perlakuan ...................................................... 17 18 18 19 20 21 22 25 29 31 32 33 34 35 36 38 39 40 41 42 43 44 20 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 2 Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhapad Kepadatan Gigitan Anopheles pada Manusia ........................................................................... Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhapad Kepadatan Gigitan Anopheles pada Sapi .................................................................................. 63 67 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyamuk merupakan kelompok serangga yang paling banyak menimbulkan masalah di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keragaman spesies, distribusi yang luas, populasinya yang besar dan banyaknya spesies yang berperan sebagai pengganggu dan vektor (Becker et al. 2003). Beberapa penyakit tular nyamuk (mosquito-borne diseases) di Indonesia adalah malaria, demam berdarah dengue, filariasis limfatik, japanese encephalitis dan chikungunya (Hadi dan Soviana 2010). Nyamuk Anopheles dikenal sebagai vektor Plasmodium penyebab malaria yang sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengendalian nyamuk Anopheles merupakan komponen utama untuk memutuskan rantai penularan malaria, yang menjadi elemen dasar keberhasilan program pemberantasan malaria (WHO 2011). Pengendalian nyamuk Anopheles dilakukan dengan metode umum secara konvensional selama ini Indoor Residual Spraying (IRS) yaitu menyemprotkan insektisida residual pada dinding rumah. Metode IRS memerlukan insektisida dalam jumlah yang sangat besar, yang berdampak pada biaya yang mahal dan memberatkan bagi negara-negara berkembang. Mengingat vektor malaria berbasis lingkungan dan bersifat spesifik lokal, jenis teknologi pengendaliannya tidak hanya mengandalkan satu program intervensi tetapi perlu dicari metode yang lebih murah dan efektif. Hadi dan Koesharto (2006) menyatakan keberhasilan pengendalian vektor malaria sangat tergantung pada pilihan metode yang tepat dengan memperhatikan bioekologi nyamuk dan perilakunya di alam. Perilaku nyamuk Anopheles yang dapat digunakan sebagai dasar pengendalian adalah perilaku nyamuk Anopheles yang bersifat zoofilik, yaitu lebih menyukai darah hewan. Soedir (1985) melaporkan bahwa di pantai Glagah Daerah Istimewa Yogyakarta ternak menjadi daya tarik yang besar bagi nyamuk. Dari 3081 nyamuk yang tertangkap 54.3% di antaranya menyukai darah sapi, 33.4% darah domba dan sisanya 5.3% darah manusia. Sementara itu, Naswir (2012) melaporkan bahwa beberapa metode penangkapan nyamuk yang dilakukan di Ujung Bulu Kabupaten 2 Bulukumba Sulawesi Selatan, hasilnya menunjukkan umpan hewan lebih berhasil mendapatkan Anopheles dalam jumlah banyak (980 nyamuk), dibandingkan dengan cara umpan orang (783 nyamuk). Sigit dan Kesumawati (1988) Anopheles menyatakan bahwa beberapa nyamuk sundaicus dan An. barbirostris yang seperti An. aconitus, An. merupakan vektor utama malaria di Indonesia juga bersifat zoofilik. Pemanfaatan hewan ternak untuk mengalihkan gigitan nyamuk Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk. Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan reproduksinya (Saul 2003). Kelemahan metode zooprofilaksis ini dapat ditanggulangi dengan membalurkan insektisida pada tubuh hewan umpan. Pemanfaatan metode kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida pernah dilakukan di Afganistan, terbukti murah dan sama efektifnya dengan penyemprotan rumah (IRS). Biaya yang dibutuhkan 80% lebih murah, mudah dan aman serta berdampak pada peningkatan produksi ternak akibat kematian ektoparasit ternak (Rowland et al. 2001). Metode kombinasi tersebut di Indonesia juga pernah diteliti oleh Hasan (2006) di Bogor. Aplikasi metode tersebut terbukti dapat menurunkan 42.19% kepadatan gigitan Anopheles vagus dan 74.07% Anopheles indefinitus. Di Indonesia intervensi penggunaan kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida yang secara khusus digunakan sebagai metode pemberantasan malaria di daerah endemis belum pernah dikerjakan. Sampai saat ini belum ada data secara ilmiah yang dapat mengukur keberhasilan program tersebut, terutama pengaruh kepadatan gigitan Anopheles pada manusia maupun pengaruh populasi nyamuknya sendiri. 3 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles. 1.3 Manfaat Penelitian Metode kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida menjadi dasar pengembangan program pengendalian malaria di Indonesia, sedangkan bagi masyarakat yang memelihara ternak dapat meningkatkan sumber ekonomi keluarga sekaligus sebagai tameng terhadap penularan malaria. 4 5 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria Jenis nyamuk di seluruh dunia telah diketahui terdapat kurang lebih ada 4500 spesies nyamuk dalam 34 genus dari famili Culicidae. Hanya spesies dari genus Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria pada manusia. Jumlah Anopheles yang telah diidentifikasi berdasarkan morfologi kurang lebih 424 spesies, dan 70 spesies di antaranya diketahui sebagai vektor malaria. Jumlah spesies Anopheles yang tercatat di Indonesia sebanyak 80 dan 22 di antaranya telah dikonfirmasi sebagai vektor malaria (Sukowati 2009). Di Indonesia telah dilaporkan spesies Anopheles utama sebagai vektor malaria adalah An. aconitus, An. sundaicus, An. ludlowi, An. sinensis , An. balabacensis, An. koliensis, An. maculatus, An.subpictus, An. bancrofti, An. letifer, An. minimus, An. flavirostris, An. barbirostris, An. leucosphyrus, An. nigerrimus , An. vagus, An. farauti, An. karwari, An. punctulatus, An. umbrosus, An. tesellatus, An. parangensis, An. kochi, An. ludlowi, An. annullaris yang tersebar di berbagai pulau (Winarno dan Rogayah 2009). Di Provinsi Lampung, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor adalah An. sundaicus, An. aconitus, An. maculatus, An. nigerrimus, An. sinensis (Depkes 2005). Di pulau Sumatera, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. kochi, An. sundaicus, An. tesselatus, dan berpotensi sebagai vektor yaitu An. nigerrimus, An. letifer, An. umbrosus. Di Pulau Jawa, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. aconitus, An. balabacencis, An. maculatus dan An. sundaicus. Di Pulau Kalimantan nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. balabacensis, An. leucosphyrus dan An. sundaicus, sedangkan yang berpotensi sebagai vektor adalah An. letifer dan An. tesselatus. Di Pulau Bali, nyamuk yang berperan sebagai vektor adalah An. subpictus. Di Pulau Nusa Tenggara Timur yang berperan sebagai vektor adalah An. barbirostris, An. subpictus dan An. sundaicus. Di Indonesia bagian Timur, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor malaria adalah An. bancrofti, An. koliensis, An. punctulatus, An. farauti, An. subpictus, An. barbirostris, An. sundaicus, dan yang berpotensi sebagai vektor yaitu An. vagus. Di Pulau Sulawesi, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria 6 adalah An. barbirostris, An. sundaicus, An. kochi, An. nigerrimus, dan yang berpotensi sebagai vektor adalah An. flavirostris, An. umbrosus, An. minimus dan An. sinensis (Munif et al. 2008). Penyebaran vektor malaria sangat dipengaruhi oleh struktur lansekap, penggunaan lahan yang berbeda pada struktur lansekap berpengaruh terhadap kepadatan dan keragaman nyamuk Anopheles (Han et al. 2002). Distribusi spasial Anopheles meliputi penyebaran berdasarkan wilayah geografis yang dipengaruhi oleh kondisi topografi, ketinggian tempat, kemiringan lereng dan pemanfaatan lahan (Sukowati 2009). Hasil analis prevalensi malaria menurut letak geografis di Bukit Menoreh Jawa Tengah menunjukan bahwa risiko terjadinya penularan malaria dipengaruhi suhu udara, kelembaban, vegetasi tanaman dan penggunaan lahan. Nilai konstanta dan nilai fungsi masing-masing variabel prediktor intensitas penularan malaria adalah 1.938 suhu, 1.871 kelembaban, 1.339 vegetasi tanaman dan 1.893 penggunaan lahan (Ahmad et al. 2003). 2.2 Habitat Perkembangbiakan Anopheles Habitat perkembangbiakan merupakan tempat perkembangbiakan pradewasa, mulai dari telur, larva dan pupa. Bates (1970) membagi habitat larva menjadi empat kelompok, (1) habitat yang permanen dan semi permanen seperti rawa, danau, (2) daerah aliran air yang berasosiasi dengan tumbuhan, (3) kontainer termasuk genangan air pada ketiak daun tumbuhan, (4) genangan air pada tanah yang bersifat sementara. Arianti et al. (2007) melaporkan di Kepulauan Seribu bahwa larva An. subpictus merupakan larva yang dapat hidup pada berbagai tipe habitat. Larva jenis Anopheles ini dapat hidup pada air mengalir, maupun tidak mengalir seperti di kolam, pinggir danau, saluran irigasi, persawahan, air tawar dan air payau. Dari kolam perendaman rumput laut ditemukan 27.3 % positif mengandung larva An. subpictus, 13.6% sumur dangkal. 2.3 Perilaku Nyamuk Anopheles Eksofilik adalah sifat atau kebiasaan nyamuk yang menyukai istirahat di luar rumah sampai saat telurnya matang dan siap untuk diletakkan ditempat 7 perindukannya. Nyamuk dengan sifat seperti ini menghabiskan sebagian besar siklus gonotrofiknya di luar rumah manusia. Pengendalian nyamuk yang bersifat eksofilik, metode penyemprotan rumah dan penggunaan kelambu yang berinsektisida tidak efektif, karena nyamuk Anopheles yang menjadi sasaran tidak berkontak dengan insektisida yang disemprotkan. Pengendalian di luar rumah seperti manajemen lingkungan merupakan cara yang tepat untuk menurunkan populasi vektor yang bersifat eksofilik. Berbeda dengan eksofilik, endofilik adalah sifat atau kebiasaan nyamuk yang sebagian besar waktu istirahat di dalam rumah. Perilaku nyamuk dalam memilih sumber darah dapat dibedakan menjadi zoofilik dan antropofilik, zoofilik merupakan sifat nyamuk Anopheles yang lebih menyukai darah hewan dan antropofilik adalah sifat nyamuk Anopheles yang menyukai darah manusia. Terkait dengan sifat antropofilik, nyamuk Anopheles dapat menggigit manusia di dalam rumah (endofagik) atau di luar rumah (eksofagik). Nyamuk Anopheles vagus bersifat zoofilik di desa Hargotirto, Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta (Aprianto 2002). Nyamuk An. maculatus dan An. balabasensis di lokasi yang sama bersifat antropofilik. Berkaitan dengan lokasi mengigit, Aprianto (2002) tidak dapat memastikan sifat eksofagik atau endofagik dari An. maculatus dan An. vagus. Boesri (1991) melaporkan bahwa An. sundaicus di desa Tarahan Lampung Selatan banyak ditemukan di sekitar kandang dan lebih menyukai mengigit di luar rumah. Suwito (2010) melaporkan juga bahwa An. sundaicus di Kecamatan Padang Cermin Pesawaran bersifat antropofilik lebih menyukai darah orang dibandingkan darah hewan. Jastal (2005) melaporkan dari delapan spesies nyamuk Anopheles yang didapatkan di desa Tongua, Donggala Sulawesi Tengah, yaitu An. barbirostris, An. nigerimus, An. barbumbrosus, An. tesselatus, An. vagus, An. punctulatus, An. kochi dan An. maculatus semuanya bersifat eksofagik. Spesies Anopheles yang bersifat antropofilik yaitu An. barbirostris, An. nigerrimus. Tiga spesies lainnya bersifat zoofilik yaitu An. tesselatus, An. vagus dan An. kochi. 8 Penyebaran nyamuk Anopheles mencari sumber darah dipengaruhi oleh keadaan lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik yang dimaksud dapat berupa suhu, kelembaban dan curah hujan, sedangkan lingkungan biotik dapat berupa fauna dan flora di suatu daerah. 2.4 Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang Setiap spesies nyamuk mempunyai perilaku berbeda dalam mencari inangnya. Hal ini disebabkan oleh daya tarik masing-masing inang tersebut terhadap nyamuk tidak sama. Beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi nyamuk dalam mencari inang adalah suhu, kelembaban, karbondioksida, aroma tubuh dan macam-macam faktor visual (Olanga et al. 2010). 2.4.1 Suhu Suhu merupakan faktor penting sebagai perangsang dalam penemuan inang dan merupakan daya tarik utama bagi nyamuk untuk bereaksi menggigit, peningkatan suhu akibat viremia akan lebih menarik nyamuk untuk mendekati inang (Carver et al. 2009). Wang et al. (2009) melaporkan bahwa panas tubuh 250C sampai dengan 370C mampu meningkatkan sistem sensor pada nyamuk Anopheles gambiae untuk menuntun mendekati inang . Sistem sensor nyamuk mulai berkurang pada suhu di bawah 180C dan di atas 400C. 2.4.2 Kelembaban Udara Kelembaban udara dapat mempengaruhi aktivitas terbang serangga di alam. Takken et al. (1997) melaporkan bahwa kelembaban relatif di bawah 40% menurunkan aktifitas nyamuk untuk mendekati inang. Sebaliknya kelembaban udara antara 45% sampai dengan 90% meningkatkan aktifitas nyamuk untuk mendekati inang. Olayemi et al. (2011) melaporkan bahwa kelembaban yang tinggi meningkatkan aktifitas nyamuk untuk mencari darah serta mampu memperpanjang hidup Anopheles gambiae di Negeria. Kepadatan nyamuk Anopheles gambiae mengisap darah orang pada kelembaban 79% sebesar 123 per orang, sedangkan kepadatan gigitan Anopheles gambiae pada kelembaban 40% menurun hanya 40 per orang. Umur Anopheles gambiae juga bertambah panjang 9 sampai dengan 21 hari pada kelembaban 79%, sedangkan pada kelembaban 40% umur nyamuk Anopheles gambiae hanya sampai 4 hari. 2.4.3 Karbondioksida Karbondioksida yang dikeluarkan ketika hewan maupun manusia bernapas memainkan peran yang sangat penting bagi nyamuk untuk mendapatkan inang. Smallegange et al. (2010) melakukan uji coba pada perangkap nyamuk yang diberikan aliran CO2, menemukan bahwa pada aliran CO2 25 ml/menit berhasil menangkap 86 nyamuk, CO2 60 ml/menit 100 nyamuk dan ketika aliran CO2 dinaikan menjadi 100 ml/menit jumlah nyamuk yang tertangkap bertambah menjadi 177. Roiz et al. (2012) menemukan bahwa perangkap nyamuk yang ditambahkan CO2 dapat meningkatkan jumlah nyamuk yang tertangkap dibandingkan dengan perangkap nyamuk yang tidak ditambahkan CO2. Perangkap nyamuk yang ditambahkan CO2 mampu menangkap nyamuk lebih dari 1000 nyamuk/perangkap/malam, sedangkan perangkap yang tidak diberikan CO2 jumlah nyamuk yang tertangkap dibawah 100 nyamuk/ perangkap/malam. 2.4.4 Aroma Jawara et al. (2011) menemukan bahwa campuran asam laktat, amonia, lebih menarik bagi nyamuk An. gambiae dan asam tetradecanoic untuk mendekat. Nyamuk melakukan respon terhadap aroma keju dan susu tradisional Afrika, aroma tersebut memiliki potensi sebagai umpan bau yang efektif untuk perangkap nyamuk maupun sebagai atraktan oviposisi untuk vektor malaria Anopheles funestus (Owino 2010). Cooperband et al. (2008) juga menyimpulkan bahwa aroma kotoran ayam mampu menarik Culex quinquefasciatus untuk datang mendekat. Aroma darah sapi dilaporkan mempunyai daya tarik terhadap nyamuk Ae. aegypti empat kali lebih besar dari pada air dan plasma darah lima kali lebih besar dari pada air (Burgess dan Brown 1957). 2.4.5 Visual Respon visual mempengaruhi nyamuk dalam memilih inang. Bentuk dan pemantulan cahaya serta gerakan inang ternyata merupakan faktor penting, sebab mampu menuntun nyamuk yang aktif mencari darah pada siang hari. 10 Brown dan Bennet (1981) melaporkan bahwa Ae. aegypti lebih banyak menggigit tangan yang memakai kaos warna gelap dibandingkan dengan tangan yang memakai warna terang. Visual rangsangan seperti gerakan, panjang gelombang cahaya dan intensitas, warna, bentuk, pola, memainkan peran penting dalam pencarian inang oleh nyamuk dewasa betina (Bidlingmayer 1994). Dalam beberapa spesies Aedes, deteksi gerakan penting bagi penentuan lokasi inang (Brown dan Bennet 1981). Spesies lain mungkin mengandalkan intensitas cahaya atau warna seperti biru, hitam dan merah sebagai rangsangan yang menuntun kearah inang. Ali et al. (1989) mampu menunjukkan bahwa Culex lebih menyukai warna cahaya dari pada intensitas. Demikian pula Burkett dan Butler (1998) menyatakan bahwa tidak hanya cahaya, tetapi panjang gelombang cahaya tertentu memainkan peranan penting dalam daya tarik inang. Walaupun faktor visual telah dibuktikan mempengaruhi nyamuk tetapi tidak semua nyamuk tergantung kepada faktor tersebut. Faktor visual berperan penting terutama pada nyamuk yang menggigit di siang hari. Nyamuk Anopheles mulai menggigit pada sore hingga malam hari, berbeda dengan nyamuk Aedes yang menggigit di siang hari (Mattingly 1969). 2.5 Pemanfaatan Ternak Dalam Pengendalian Nyamuk Anopheles Pemanfaatan ternak merupakan salah satu cara hayati yang bertujuan untuk mencegah dan menghindarkan kejadian kontak antara nyamuk dengan manusia. Upaya pengendalian nyamuk vektor penyakit, dengan menyediakan hewan sebagai tameng dikenal istilah zooprofilaksis. Tindakan tersebut merupakan perubahan orientasi nyamuk dari menggigit manusia kepada menggigit hewan. Zooprofilaksis didefinisikan sebagai penggunaan hewan domestik ataupun liar yang bukan inang reservoir dari suatu penyakit tertentu untuk mengalihkan gigitan nyamuk vektor dari manusia sebagai inang penyakit tersebut (Saul 2003). Tindakan zooprofilaksis lebih khusus dilakukan terhadap nyamuk dengan cara menempatkan kelompok ternak di dekat sumber tempat perindukan nyamuk. Tindakan yang direncanakan dan dilakukan seperti itu disebut zooprofilaksis aktif. Sebaliknya zooprofilaksis pasif, yaitu zooprofilaksis yang tidak 11 direncanakan, mempunyai daya merubah nyamuk vektor yang antrofilik menjadi zoofilik dalam batas tertentu. Pengendalian vektor melalui zooprofilaksis juga sangat tergantung pada peran serta masyarakat. Karena diharapkan mereka yang akan memelihara ternak di sekeliling rumah sebagai perlindungan terhadap gigitan nyamuk. Pada tahap awal peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam ujicoba ternak yang mempunyai daya profilaksis yang paling tinggi. Soedir (1985) melaporkan bahwa sapi mampu menarik 20 spesies nyamuk, domba 19 spesies, dan manusia 9 spesies. Adapun tiga hewan lainnya yaitu monyet, kelinci, serta ayam mempunyai daya tarik yang relatif kecil. Masingmasing hanya menyumbang 1.2% (delapan spesies), 2.1% (sepuluh spesies) dan 3.7% (enam spesies) dari seluruh nyamuk yang tertangkap. Hasil uji presipitin yang dilakukan Boewono (1986) di desa Kali Gading, Jawa Tengah menunjukkan 56.04% dari populasi An. aconitus mengisap darah sapi, 13.19% darah domba dan 4.40% darah kambing serta 3.30% darah manusia. Faktor yang membedakan daya tarik ternak bagi nyamuk An. aconitus adalah jarak penempatan kandang ternak terhadap rumah penduduk, semakin dekat penempatan sapi atau kerbau dari rumah penduduk, semakin banyak infestasi nyamuk An. aconitus. Bruce-Chwatt (1985) menemukan An. gambiae lebih menyukai darah ternak dan kuda. Di negara pecahan Unisoviet, ternak digunakan sebagai salah satu metode pengendaliaan malaria. Di bagian Utara Eropa dan sejumlah negara di Amerika Utara, metode zooprofilaksis juga dapat menurunkan kasus malaria di masing-masing daerah tersebut. Melihat kenyataan tersebut, pemberdayaan ternak sebagai tameng terhadap penyakit malaria mempunyai potensi dan prospek yang baik dimasa depan. Penelitian tentang zooprofilaksis dilaporkan Hewitt et al. (1994) pada tempat pengungsi Afganistan di Pakistan dengan mengunakan seekor sapi dan dua ekor kerbau sebagai zooprofilaksis, diperoleh hasil adanya peningkatan angka gigitan nyamuk oleh An. staphensi masing-masing 38% dan 50% untuk penggunaaan sapi dan kerbau sebagai zoobarier. Mathys (2010) menyatakan ada dua syarat untuk keberhasilan program zooprofilaksis yaitu pertama, jenis spesies Anopheles harus bersifat zoofilik. 12 Kedua, ternak tersebut harus disebar dalam bentuk tameng antara nyamuk vektor dan manusia. Lokasi penempatan ternak harus sejauh mungkin dari permukiman manusia. Berdasarkan hasil tersebut Hewitt et al. (1999) mengusulkan agar pengertian zooprofilaksis didefinisikan sebagai penyebaran ternak yang bukan inang reservoar dari suatu penyakit untuk mengalihkan gigitan nyamuk vektor dari manusia yang menjadi inang dari penyakit tersebut. 2.6 Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles Pengendalian nyamuk vektor dengan memanfaatkan ternak bertujuan mengalihkan preferensi nyamuk vektor dari manusia ke hewan. Penggunaan hewan diharapkan dapat mengurangi transmisi penyakit malaria. Selain itu mengkombinasikan dengan aplikasi insektisida pada hewan tersebut akan dapat menambah efektifitas pengendalian. Kombinasi ternak dan insektisida menurut Rowland et al. (2001) dapat menurunkan insiden penyakit malaria yang disebabkan Plasmodium falciparum sebesar 31%, dengan biaya sebesar 56% dan Plasmodium vivax yang lebih rendah sekitar 80% dibandingkan dengan metode penyemprotan dalam ruang (indoor spraying). Kombinasi aplikasi insektisida pada ternak tidak hanya menguntungkan bidang kesehatan masyarakat saja, tapi juga memberi keuntungan bagi kedokteran hewan. Pegram et al. (1989) meneliti di Zambia dari tahun 1982 sampai dengan 1986 menyatakan bahwa, penggunaan insektisida untuk pengendalian ekstoparasit pada sapi berdampak pada peningkatan berat badan sapi. Penggunaan deltametrin untuk pengendalian ekstoparasit pada ternak juga telah digunakan untuk pengendalian lalat tsetse di Uganda oleh Okello et al. (1994), yang hasilnya berdampak pada penurunan populasi lalat tsetse sampai dengan 100%. Penggunaan deltametrin sebagai insektisida pengendali ektoparasit tidak berbahaya bagi konsumen dan produk hewan (NPIC 2010). Kombinasi ternak dan insektisida tersebut dapat mengurangi transmisi malaria sama baiknya dengan penyemprotan dalam rumah. Secara teknis dan dapat diarahkan untuk mengurangi resiko resistensi yang berkelanjutan. Sehingga dengan keuntungan yang diperoleh tersebut. Metode ini dapat menjadi salah satu strategi pengandalian malaria disamping penyemprotan dalam rumah (Hewitt dan Rowland 1999). 13 2.7 Deltametrin dan Cara Kerjanya Deltametrin telah digunakan secara luas pada sektor pertanian dan kesehatan masyarakat. Penggunaan deltametrin dalam pengendalian penyakit malaria terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk Anopheles dewasa. Deltametrin digunakan secara intensif di Afrika sebagai bahan aktif untuk kelambu celup berinsektisida (impregenated badnet), untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles (Robert et al. 1991). Deltametrin merupakan insektisida sintesis yang termasuk ke dalam golongan piretroid generasi ke empat dengan nama kimia (S)-α-cyano-3phenoxybenzyl (1R,3R)-3-(2,2-dibromovinyl)-2,2 dimethyl cyclopro pane carboxylate. Sifat fisika deltametrin antara lain (1) berbentuk kristal, tidak korosif dan berwarna putih, (2) mempunyai tekanan uap 1.5 x 10-8 mmHg pada suhu 25°C, (3) berat molekul 505.2 g/mol, (4) larut dalam air, antara 0.002 sampai dengan 0.0002 mg/L, (5) terserap dalam tanah, antara 7.05 x 105 sampai dengan 3.14 x 106 (NPIC 2010). Menurut cara kerja piretroid berdasarkan pola resistensi silang dan sifat knockdown, deltametrin termasuk piretroid tipe II. Piretroid tipe II mempunyai koefisien suhu positif, menyebabkan penghambatan fungsi sistem saraf pusat, efek klinis yang terlihat pada serangga adalah konvulsi, hiperaktif dan kontraksi pada tungkai metatoraks (Irawan 2006). 2.8 Resistensi dan Mekanismenya Resistensi merupakan kemampuan kelompok serangga untuk bertahan hidup terhadap suatu dosis insektisida yang dalam keadaan normal dapat membunuh spesies serangga tersebut (WHO 1998). Kasus resistensi pertama kali dilaporkan pada lalat rumah Musca domestica terhadap DDT di Swedia pada tahun 1947. Perkembangan resistensi semakin cepat setelah ditemukannya bahan sintetik organik sebagai insektisida dan acarisida. Pada era tahun 1940-an hanya tujuh spesies serangga yang dilaporkan resistensi terhadap DDT, tetapi pada era 1980 jumlahnya meningkat mencapai 447 spesies. Dari jumlah tersebut 59% terdiri dari serangga hama, 38% serangga penggangu kesehatan hewan dan manusia, 3% 14 sisanya adalah serangga yang berguna seperti predator dan parasitoid (Georghiou 1986). Menurut WHO (1998) sampai saat ini lebih dari 100 spesies nyamuk mengalami resisten terhadap satu atau lebih insektisida. Dari jumlah tersebut, di antaranya adalah 56 spesies nyamuk Anopheles dan 39 spesies Culex. Anopheles yang mengalami proses resistensi tersebut antara lain, An. sacharovi di Lebanon, Iran dan Turki, An. sundaicus di Indonesia dan Myanmar, An. quadrimaculatus di Mexiko resisten terhadap dieldrin. An. aconitus di Indonesia juga mulai resisten terhadap organofosfat (Widiarti et al. 2009). Nyamuk An. minimus di Thailand sejak tahun 2000 dinyatakan resisten terhadap permetrin (Chareoviriyaphap et al. 2002) dan An. gambiae di Kamerun sejak tahun 2006 telah mengalami resistensi terhadap DDT dan piretroid (Etang et al. 2006). Mekanisme resistensi dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu (1) biokimia dan (2) faali (Sigit 2004). 2.8.1 Mekanisme Biokimia Mekanisme ini menyangkut daya kerja enzim tertentu didalam tubuh hama yang merombak molekul pestisida menjadi molekul-molekul lain yang tidak toksik (detoksifikasi) molekul pestisida harus berinteraksi dengan target dalam proses toksikologinya terhadap sistem kehidupan di dalam tubuh hama, untuk dapat menimbulkan dampak letal (mematikan). Dengan dirombaknya molekul pestisida itu, maka di dalam individu hama pada populasi resisten, interaksi tersebut tidak terjadi. Tipe resistensi dengan mekanisme biokimia ini sering disebut sebagai resistensi enzimatik 2.8.2 Mekanisme Faali Ada tiga macam mekanisme faali, yaitu (1) berkenaan dengan target di dalam tubuh hama, (2) berkenaan dengan eksoskolet (kerangka luar) hama, (3) berkenaan dengan kepekaan mendeteksi adanya pestisida. Mengenai target pestisida ada individu-individu hama yang mempunyai situs lain yang merupakan target pestisida tadi, tetapi yang interaksinya dengan molekul pestisida tidak menimbulkan dampak letal. Populasi resisten disini bukannya terdiri dari individu yang memiliki enzim perombak. 15 Mengenai eksoskelet (kerangka luar), ada individu-individu hama yang memiliki struktur eksoskelet sedemikian rupa sehingga pestisida sulit menembusnya, dengan demikian pestisida tidak sampai kepada targetnya. Mengenai kepekaan mendeteksi pestisida, diantara individu-individu hama terdapat keragaman. Ada yang sangat peka, sehingga sebelum berkontak (cukup lama) dengan mereka sudah menghindarinya, dengan lain perkataan, pada tipe resistensi semacam ini sebenarnya pestisida tidak atau tidak cukup mengenai hama, tipe resistensi ini sering disebut behavioural resistance. 16 17 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Hanura Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Desa Hanura merupakan daerah endemis malaria dengan angka Annual Parasite Incidence (API) sebesar 14.060/00 (Dinkes Kab. Pesawaran 2011). 3.2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. Pengukuran kepadatan gigitan nyamuk Anopheles pada manusia dan pada sapi dilakukan pada malam hari, frekwensi pengukuran setiap tujuh hari sekali. 3.3 Hewan Ternak yang digunakan Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan ternak sapi (Gambar 1). Jumlah sapi yang digunakan tiga ekor, dengan luas permukaan badan sapi antara 1.5 sampai dengan 3 m². Jenis sapi yang digunakan adalah peranakan onggole (PO) milik penduduk yang disewa selama penelitian. Umur sapi berkisar 1 sampai dengan 2 tahun, tidak terlalu besar, supaya dapat dimasukkan ke dalam perangkap magoon yang akan dipasang selama penelitian. Gambar 1 Sapi yang digunakan dalam penelitian. 18 3.4 Insektisida yang dipakai Insektisida yang dipakai adalah deltametrin 5% (K-Othrine® 5WP) dalam bentuk tepung yang dikemas dalam kantong plastik @ 85 gram (Gambar 2) yang bersifat residual dengan toksisitas rendah pada mamalia. Dosis yang digunakan adalah 25 mg/m2 sesuai dengan dosis aplikasi yang dianjurkan. Gambar 2 Insektisida deltametrin. 3.5 Pembaluran Insektisida pada Sapi Pembaluran dilakukan dengan melumuri insektisida pada badan sapi sampai bulu-bulunya basah, dengan bantuan spon dan sarung tangan (Gambar 3). Rowland et al. (2001) melaporkan bahwa 99% nyamuk Anopheles mengisap darah di daerah bawah garis tengah (midline) badan hewan, maka pemaparan terutama dilakukan di bagian tersebut sampai dengan bagian kaki. Gambar 3 Pembaluran insektisida pada sapi. 19 3.6 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi Penentuan lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi menggunakan metode cone test (WHO 1998). Cone test dilakukan untuk mengetahui daya tahan residu insektisida yang diaplikasikan pada tubuh sapi yang menyebabkan tingkat kematian untuk nyamuk Anopheles hingga 95% . Pelaksanaan cone test dilakukan dengan cara menempelkan 5 buah cone (kerucut) yang masing-masing berisi 25 nyamuk Anopheles betina yang diperoleh dari hasil penangkapan di sekitar kandang. Waktu penempelan nyamuk Anopheles pada badan sapi yang telah dibaluri dengan insektisida deltametrin berlangsung selama satu jam (Gambar 4 A). Pelaksanaan cone test ini dilakukan setiap hari dengan cara yang sama sampai hasil pengamatan mencapai 95%. Pengamatan dihentikan ketika angka kematian menunjukkan di bawah 95%. Kriteria ini digunakan berdasarkan penelitian Hasan (2006). Pada sapi kontrol (tidak dibalurkan insektisida) digunakan dua buah kerucut yang masing-masing juga berisi dua puluh lima nyamuk Anopheles betina dikontakkan kepada tubuh sapi dengan cara yang sama seperti pada sapi perlakuan. Setelah itu nyamuk dipindahkan ke gelas kertas yang diberi makan larutan gula 10%, gelas-gelas tersebut ditempatkan pada kotak yang dilapisi dengan pelepah pisang untuk menjaga agar kelembaban berkisar 85% (Gambar 4 B). Kematian nyamuk diamati 24 jam pasca kontak dengan insektisida. A B Gambar 4 Pelaksanaan cone test. A. Penempelan nyamuk B. Penyimpanan. 20 3.7 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Gambar 5 Penangkapan nyamuk metode BLC. Pengukuran kepadatan nyamuk dilakukan 2 kali sebelum (pra) dan sesudah (pasca perlakuan). Kepadatan nyamuk yang menggigit orang mengunakan metode BLC- bare leg collection (Gambar 5), yang dilakukan pada malam hari selama 12 jam (pukul 18.00 sampai dengan 06.00). Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pra perlakuan yaitu H-21(21 hari sebelum perlakuan), H-14 (14 hari sebelum perlakuan) dan H-7(7 hari sebelum perlakuan), sedangkan pada pasca perlakuan pengukuran dilakukan sebanyak empat kali yaitu H0 (hari pertama perlakuan), H+7(7 hari setelah perlakuan pertama), H+14 (14 hari setelah perlakuan pertama) dan H+21(21 hari setelah perlakuan pertama). Pelaksanaan BLC dilakukan pada 3 rumah, pada setiap rumah bertugas dua orang penangkap, satu orang bertugas di luar rumah dan satu orang di dalam rumah. Penangkapan dilakukan selama 45 menit dan istirahat 15 menit dalam setiap jamnya. Nyamuk yang tertangkap dibunuh dengan menggunakan klorofom selanjutnya dipining kemudian diidentifikasi. 3.8 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pengukuran kepadatan nyamuk dilakukan 2 kali sebelum (pra) dan sesudah (pasca perlakuan). Penangkapan Anopheles pada magoon trap berumpan sapi, berukuran panjang 6 m, lebar 6 m dan tinggi 2 m, yang dilengkapi dengan pintu 21 masuk (Gambar 6 A), selanjutnya sapi ditempatkan pada tiga rumah yang berada di sekitar tempat perindukan nyamuk Anopheles. A B Gambar 6 Penangkapan nyamuk pada sapi A. Magoon trap B. Penangkapan nyamuk. Pemasangan ditempatkan kurang lebih 5 sampai dengan 10 meter dari rumah, dengan posisi tempat pemasangan antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk Anopheles yang bertujuan sebagai penghalang nyamuk sebelum sampai ke rumah. Penangkapan nyamuk dilakukan pada jam 06.00 pagi setelah sapi dipasang selama 12 jam dari jam 18.00 sampai dengan 06.00. Nyamuk Anopheles ditangkap menggunakan aspirastor (Gambar 6 B) di masukkan dalam gelas kertas dan dibunuh menggunakan kloroform selanjutnya dipining untuk diidentifikasi. Pengukuran kepadatan nyamuk Anopheles pada sapi dilakukan sebanyak tiga kali pra perlakuan yaitu H-20 (20 hari sebelum perlakuan), H-13 (13 hari sebelum perlakuan), H- 6 (6 hari sebelum perlakuan), sedangkan pada pasca perlakuan dilakukan sebanyak empat kali yaitu H0 (hari pertama perlakuan), H+7(7 hari setelah perlakuan pertama), H+14 (14 hari setelah perlakuan pertama) dan H+21 (21 hari setelah perlakuan pertama). 3.9 Identifikasi nyamuk Nyamuk Anopheles yang diperoleh kemudian diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop stereo untuk memeriksa serangga (Gambar 7). Identifikasi menggunakan kunci buku identifikasi O’Connor dan Soepanto 22 (1979). Nyamuk Anopheles yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung jumlah masing-masing spesiesnya. Gambar 7 Identifikasi nyamuk. 3.10 Analisis Data 3.10.1 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi Pengukuran efek residu insektisida ditentukan berdasarkan persentase kematian nyamuk uji dalam pengamatan 24 jam. Nyamuk yang lumpuh dan tidak bisa terbang dihitung atau dianggap mati. Bila kematian nyamuk kontrol 5–20% maka dikoreksi dengan menggunakan rumus Abbot’s. Bila kematian nyamuk kontrol lebih dari 20% maka uji dianggap gagal dan harus diulang kembali. x 100% Kriteria lama residu ditentukan oleh kematian nyamuk uji minimal 95%, pengamatan dihentikan ketika angka kematian menunjukkan di bawah 95%. 3.10.2 Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles Kelimpahan nisbi digunakan untuk mengetahui spesies dominan (WHO 2003). Kelimpahan nisbi dihitung berdasarkan jumlah spesies Anopheles tertentu yang tertangkap dibagi dengan total spesies Anopheles yang tertangkap dikalikan dengan seratus persen. N = x 100% 23 Keterangan : N = Kelimpahan Nisbi. a = Jumlah spesies tertentu b = Total spesies 3.10.3 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Nyamuk Anopheles yang mengisap perorang per jam dihitung berdasarkan nilai man hour density (MHD). Nilai MHD dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di badan per jam dibagi dengan jumlah penangkap dikali waktu penangkapan. Keterangan : MHD = Man hour density (Jumlah nyamuk Anopheles hinggap di badan per orang per jam). 3.10.4 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Nyamuk Anopheles yang hinggap pada sapi per malam dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di kelambu sapi per malam dibagi dengan jumlah sapi. 24 25 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Lama Residu Insektisida di Badan Sapi 102 100 Kematian (%) 98 96 94 92 90 88 86 1 Gambar 8 2 3 4 5 6 Hari ke 7 8 9 10 Rata-rata angka kematian (%) nyamuk Anopheles setelah dikontakan dengan sapi yang dibalurkan insektisida. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada ternak sapi, menimbulkan tingkat kematian rata-rata mampu bertahan delapan hari 95% (Gambar 8). Hasil pengamatan ini memberikan gambaran bahwa sampai batas waktu delapan hari setelah aplikasi residu insektisida deltametrin masih mampu efektif untuk membunuh Anopheles, untuk dapat menimbulkan tingkat kematian yang tinggi pengulangan aplikasi insektisida deltametrin sebaiknya dilakukan setiap delapan hari sekali. Efektifitas residu insektisida deltametrin hanya mampu bertahan selama delapan hari pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan uji coba serupa yang dilakukan oleh Hasan (2006) di Bogor dengan mengolesi kerbau dengan deltametrin hasilnya hanya mampu mempertahankan untuk tingkat kematian nyamuk 95% selama tiga hari, dan lebih rendah dibandingkan Hewitt et al. (1999) yang meneliti di Pakistan mendapatkan residu deltametrin mampu bertahan selama tiga puluh satu hari. Hasil ini berhubungan dengan metode peternakan di Hanura yang pada siang hari menambatkan ternaknya di luar kandang untuk mencari rumput sehingga ternak ini sering terpapar sinar matahari dan hujan. Suhu udara dipantai 26 relatif lebih tinggi dari rata-rata suhu di tempat lain yang berdampak ternak mudah berkeringat sehingga menghilangkan residu yang melekat. Penyebab lain adalah jenis formulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah bentuk wettable powders (WP) yang kurang kuat melekat pada badan sapi dibandingkan bentuk emulsifiable concentrates (EC). Winarno et al. (2010) meneliti status resistensi insektisida di wilayah Lampung menemukan deltametrin 5 WP masih dinyatakan susceptible karena mampu menimbulkan kematian 100% pada nyamuk uji, hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini yang mendapatkan hasil pada pengujian pertama mampu menimbulkan kematian sebesar 100%. Mahande et al. (2007) menyatakan keberhasilan deltametrin sebagai insektisida residual terutama tergantung pada lokasi daerah pengujian, konsentrasi insektisida yang digunakan, formulasi insektisida, permukaan benda yang di semprot, kelembaban dan suhu. Vatandoost et al. (2009) meneliti residu deltametrin dengan dosis 25 mg/m2 pada berbagai permukaan benda menemukan bahwa permukaan dinding semen mampu mempertahankan kematian 95% selama enam puluh hari, pada kayu kurang dari tiga puluh hari. Mahande et al. (2007) meneliti di Tanzania menemukan, kemampuan deltametrin yang dibalurkan pada badan ternak sapi yang digembalakan di padang rumput mampu mempertahankan effek knock down 50% pada An. arabiensis selama dua puluh satu hari, pada ternak yang di kandangkan mampu bertahan selama dua puluh sembilan hari. 4.2 Keragaman dan Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles yang Tertangkap Pra Perlakuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh spesies Anopheles yang ditemukan berdasarkan metode umpan orang dan umpan sapi. Enam spesies ditemukan pada umpan orang yaitu An. sundaicus, An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus, An. aconitus, An. kochi. Tujuh spesies ditemukan pada umpan sapi yaitu An. subpictus, An. vagus, An. barbirostris, An. sundaicus, An. aconitus, An. kochi, An. hyrcanus group (Tabel 1). 27 Tabel 1 No 1 2 3 4 5 6 7 Keragaman dan kelimpahan nisbi Anopheles yang tertangkap pra perlakuan Spesies nyamuk Umpan orang Umpan sapi Jumlah Kelimpahan nisbi (%) Jumlah Kelimpahan nisbi (%) An. sundaicus 533 57,81 123 5,36 An. vagus 193 20,93 769 33,54 An. barbirostris 81 8,79 300 13,08 An. subpictus 85 9,22 1014 44,22 An. aconitus 21 2,28 53 2,31 An. kochi 9 0,98 26 1,13 0 0 8 0,35 An. hyrcanus group 922 100 2293 100 Total Anopheles sundaicus ditemukan sebagai spesies terbanyak pada umpan orang, dengan kelimpahan nisbi sebesar 57.81%. Anopheles subpictus ditemukan sebagai spesies terbanyak pada umpan sapi, dengan kelimpahan nisbi sebesar 44.22%. Hasil pengamatan dua metode penangkapan nyamuk Anopheles pada pra perlakuan yaitu umpan orang dan umpan sapi, jenis nyamuk yang paling banyak tertangkap menggunakan umpan sapi. Dari tiga kali penangkapan jumlah nyamuk Anopheles yang tertangkap sebanyak 2293 individu, sedangkan menggunakan umpan orang dari tiga kali penangkapan jumlah nyamuk Anopheles yang tertangkap sebesar 922 individu. Jenis kondisi Anopheles yang ditemukan dalam penelitian ini sesuai dengan daerah penelitian yaitu mempunyai daerah pantai dengan tambak-tambak ikan yang terbengkalai, rawa-rawa dan persawahan yang sangat sesuai untuk habitat jenis spesies Anopheles tersebut. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan oleh Safitri (2009) dan Suwito (2010), yang menemukan jenis spesies Anopheles di wilayah pantai Lampung ada sebelas spesies Anopheles yaitu An. sundaicus, An. subpictus, An. vagus, An. kochi, An. annularis, An. aconitus, An. barbirostris , An. tessellatus, An. minimus, An. indefinitus, An. maculatus. Sukowati (2009) menyatakan bahwa penyebaran nyamuk Anopheles tidak hanya berdasarkan zoogeografi, namun juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat, pemanfaatan lahan dan ekosistem. 28 Perbedaan kelimpahan nisbi spesies Anopheles tertentu yang ditemukan pada umpan orang dan umpan sapi menunjukkan kesukaan inang tertentu dari nyamuk. Kesukaan suatu spesies nyamuk terhadap jenis inang tertentu dapat dihubungkan dengan tanggapan spesies nyamuk terhadap tingkatan faktor fisik dan kimia, yang dikeluarkan oleh inang tersebut. Temperatur, kelembaban tubuh, karbon dioksida, bau serta faktor visual telah diketahui secara nyata merupakan stimuli yang mampu mempengaruhi nyamuk mendekati inang. Suatu spesies nyamuk akan berbeda dengan spesies lainnya dalam memberi respon terhadap pengaruh faktor fisik dan kimia yang dikeluarkan oleh inang (Olanga et al. 2010). Hasil ini sesuai dengan penelitian Soedir (1985) di pantai Glagah, Yogyakarta terhadap sejumlah hewan dan manusia menunjukkan ternak mempunyai daya tarik yang besar bagi nyamuk. Dari 3081 nyamuk yang tertangkap 54.3% menyukai darah sapi, darah domba 33.4%, darah manusia hanya 5.3%. Naswir (2012) menemukan di Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan dari beberapa metode penangkapan nyamuk, metode menggunakan umpan hewan lebih banyak nyamuk Anopheles yang tertangkap (50.23%). Sigit & Kesumawati (1988) menyatakan bahwa beberapa nyamuk Anopheles seperti An. aconitus, An. sundaicus dan An. barbirostris yang merupakan vektor utama malaria di Indonesia juga bersifat zoofilik, suka mengisap darah hewan. Vektor dominan kontak dengan manusia di lokasi penelitian adalah Anopheles sundaicus yang bersifat antropofilik, untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam metode zooprofilaksis juga diperlukan peran serta masyarakat dalam perlindungan diri. Orientasi kesukaan Anopheles mengisap darah inang bukan hanya ditentukan oleh sifat biologi dari vektor yang bersifat zoofilik ataupun antropofilik namun juga didorong oleh tindakan perlindungan dari masyarakat sehingga nyamuk akan mencari sumber darah selain manusia. Penggunaan baju yang tertutup dan repelen anti nyamuk ketika keluar rumah serta tidur di dalam kelambu akan merubah orientasi gigitan nyamuk lebih banyak ke hewan yang tersedia. 29 Perlindungan pribadi dan ditunjukkan oleh Mathys zooprofilaksis memiliki efek interaktif (2010) di Afrika yang menunjukkan bahwa penggunaan kelambu dan zooprofilaksis bersama-sama mengurangi risiko manusia untuk terkena gigitan nyamuk. 4.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra Perlakuan Perilaku mengisap darah yang selama ini dikenal dengan perilaku menggigit merupakan aspek penting dalam bioekologi Anopheles. Aktivitas mengisap darah dihitung berdasarkan nilai Man Hour Density (jumlah gigitan nyamuk/orang/jam). mengisap darah per orang per jam Aktivitas dihitung selama 12 jam penangkapan. Angka MHD menunjukkan besaran jumlah vektor yang mengisap darah manusia yang mempengaruhi jumlah kasus malaria, sehingga rekaman data dapat dijadikan rujukan untuk peringatan dini dan penyusunan strategi pengendalian vektor. 4.3.1 Anopheles sundaicus Anopheles sundaicus merupakan jenis Anopheles yang nilai MHD paling tinggi dibandingkan jenis Anopheles yang lain. Nilai MHD Anopheles sundaicus lebih tinggi di luar rumah di bandingkan di dalam rumah (Gambar 9) . MHD (nyamuk/orang/jam) 6 5 4 3 2 1 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 9 Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap darah per orang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. 30 Tiga kali penangkapan pra perlakuan ditemukan MHD nyamuk Anopheles sundaicus adalah 3.04, 3.63 dan 3.2 nyamuk/orang/jam. Besarnya kontak nyamuk Anopheles sundaicus yang ditemukan pada penelitian ini memberikan gambaran peranan Pengetahuan fluktuasi kepadatan nyamuk ini sebagai vektor malaria. An. sundaicus sangat penting untuk memahami penularan malaria di wilayah pesisir. An. sundaicus merupakan vektor malaria di sebagian besar wilayah di sepanjang pantai di Indonesia. Spesies ini juga merupakan vektor malaria di desa Hanura (Suwito 2010). Spesies lainnya yang berperan juga sebagai vektor malaria adalah An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus merupakan vektor sekunder malaria di daerah pantai, biasanya terdapat bersama-sama dengan An. sundaicus (Soedir 1985). Nyamuk Anopheles sundaicus karena banyak lagun, rawa-rawa dan banyak ditemukan di wilayah pantai tambak terbengkalai yang merupakan habitat potensial bagi larva An. sundaicus. Semakin luas habitat perkembang biakan larva, maka semakin tinggi kepadatan nyamuk hinggap di badan (Suwito 2010). Distribusi An. sundaicus meliputi daerah pesisir dari India timur laut ke Vietnam dinyatakan selatan, Nicobar, Andaman dan Indonesia. Anopheles sundaicus, sebagai vektor malaria di sepanjang pantai pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan kepulauan Nusa Tenggara Timur. Spesies tersebut juga dilaporkan sebagai vektor malaria di daerah pantai pulau Sulawesi (Winarno dan Hutajulu 2009). Perbedaan perilaku nyamuk dewasa dan habitat larva An. sundaicus adalah indikasi dari peningkatan risiko kontak dengan manusia. Anopheles sundaicus dianggap sebagai vektor utama atau vektor sekunder malaria tergantung pada wilayah dan Negara (Meek 1995). An. sundaicus sebelumnya dianggap sebagai vektor sekunder di Thailand, namun karena kejadiannya dekat dengan lokasi wisata sekarang dianggap sebagai vektor utama yang potensial (Chowanadisai et al. 1989). 31 4.3.2 Anopheles vagus Hasil penelitian menemukan An. vagus termasuk spesies yang tertangkap mengunakan umpan orang nomor dua setelah An. sundaicus. Kepadatan Nyamuk An. vagus mengisap orang dari tiga kali pengamatan adalah 1.06, 1.30 dan 1.19 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk yang tertangkap di luar MHD (nyamuk/orang/jam) rumah lebih tinggi dari pada di dalam rumah (Gambar 10). 2 1,8 1,6 1,4 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 10 Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Nyamuk Anopheles vagus umumnya bersifat eksofilik suka mencari darah di luar rumah. Lestari et al. (2007) melaporkan di Purworejo semua An. vagus ditemukan di luar rumah, sedangkan di daerah pantai Banyuwangi An. vagus lebih suka mengisap darah ternak di kandang dibandingkan mengisap darah umpan orang di luar maupun di dalam rumah (Shinta et al. 2003). Garjito et al. (2005) menemukan di Kabupaten Parigi Muotong, nyamuk Anopheles lebih banyak ditemukan di luar rumah jika dibandingkan dengan dalam rumah, tempat istirahat yang paling di sukai adalah dinding kandang hewan. Nyamuk An. vagus di Indonesia dikonfirmasi sebagai vektor di Sukabumi Jawa Barat dengan indeks sporozoit 0.0012 (Munif 2008) dan di NTT (Adnyana 2011). Nyamuk ini juga merupakan vektor sekunder pada permukiman yang tidak memiliki ternak atau primata (Prakash et al. 2004). 32 4.3.3 Anopheles barbirostris Anopheles barbirostris adalah spesies terbanyak ketiga yang tertangkap melalui umpan orang. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles barbirostris adalah 0.87, 0.72 dan 0.61 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 11). 1,6 1,4 MHD (nyamuk/orang/jam) 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 11 Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Spesies An.barbirostris ini memiliki kemampuan berkembang biak pada habitat yang sangat beragam, di air jernih atau keruh, menggenang atau mengalir, ditempat teduh atau kena sinar matahari. Larvanya dapat ditemukan di persawahan, kolam dan rawa. Cooper et al. (2010) melakukan penelitian di kawasan pantai Dili Timor Leste, menemukan spesies An.barbirostris tersebar luas di seluruh pesisir pantai dan dataran rendah. Sedangkan penelitian Naswir (2012) menemukan An. barbirostris mengisap darah orang baik di dalam rumah maupun di luar rumah. 4.3.4 Anopheles subpictus Nyamuk An. subpictus yang tertangkap pra perlakuan nomor empat terbanyak dari enam spesies Anopheles yang tertangkap.Tiga kali penangkapan pra perlakuan ditemukan MHD nyamuk Anopheles subpictus adalah 0.52, 0.50 33 dan 0.60 nyamuk/orang/jam. MHD nyamuk yang mengisap di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 12) Nyamuk An. subpictus diketahui positif mengandung sporozoit di Sulawesi Selatan, Cirebon, Atambua, Banyuwangi dan Flores, nyamuk ini MHD (nyamuk/orang/jam) bersifat zoofilik (Boesri 2007). 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 12 Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Nyamuk An. subpictus di pulau Jawa banyak ditemukan di sawah, di Nusa Tenggara Timur merupakan spesies yang dominan di daerah pantai dan paling melimpah (65.5%) di daerah pantai di Nusa Tenggara Barat (Ndoen et al. 2010). An. subpictus dilaporkan menyebar luas sebagai vektor di Asia. Nyamuk jenis ini di Sri Lanka merupakan nyamuk yang dominan baik dalam fase larva maupun dewasa. Sibling An. subpictus C tahan terhadap kadar garam hingga 4 ppt dan An. subpictus D hingga 8 ppt (Surendran et al. 2011). Meskipun kepadatan gigitan An. subpictus lebih rendah jika dibandingkan dengan An. sundaicus, An. vagus dan An. barbirostris di Hanura, penelitian Amerasinghe et al. (1992) di Sri Lanka menemukan spesies ini perlu diperhatikan karena merupakan inang bagi Plasmodium vivax dan P. falciparum. Di Indonesia An. subpictus termasuk spesies Anopheles yang dikonfirmasi sebagai vektor di Maluku Utara (Winarno dan Hutajulu 2009), dan oleh Boesri (2007) dinyatakan juga sebagai vektor malaria di Sumatera Barat, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulawesi Tenggara. 34 4.3.5 Anopheles aconitus Nyamuk An. aconitus tertangkap pra perlakuan umpan orang kepadatannya nomor lima dari enam jenis Anopheles yang ditemukan. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles aconitus adalah 0.15, 0.09 dan 0.17 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 13). Nyamuk ini telah ditemukan positif sporozoit di Cianjur (1919), Purworejo (1954), Banjarnegara (1978), Jepara (1980), dan Wonosobo (1982). Nyamuk betina bersifat zoofilik dan eksofilik (Boesri 2007). Tempat perindukan adalah daerah persawahan dengan saluran-saluran irigasi, sungai pada musim kemarau MHD (nyamuk/orang/jam ) serta kolam ikan dengan tanaman (Sugiarto 2010). 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 13 Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. 4.3.6 Anopheles kochi Nyamuk An. kochi tertangkap pra perlakuan umpan orang kepadatannya nomor enam paling rendah dibandingkan jenis Anopheles yang ditemukan. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles kochi adalah 0.09, 0.02 dan 0.06 nyamuk/orang/jam. 35 0,20 MHD (nyamuk/orang/jam) 0,15 0,10 0,05 0,00 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 14 Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Kepadatan nyamuk Anopheles kochi di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah Nyamuk (Gambar 14). Anopheles kochi di Halmahera banyak tertangkap di sekitar perkebunan (Amirullah 2012), di Indonesia, nyamuk ini tidak termasuk sebagai vektor malaria (Sukowati 2009) tetapi dinyatakan sebagai vektor untuk parasit Japanese encephalitis di Semarang, Jawa Tengah dan vektor filariasis di Papua (Winarno dan Hutajulu 2009). 4.4 Aktivitas Nyamuk Anopheles di Malam Hari Penangkapan nyamuk Anopheles dengan umpan orang setiap jam selama 12 jam menunjukan fluktuasi aktivitas menggigit nyamuk Anopheles sepanjang malam dengan puncak aktivitas pada pukul 02.00 sampai dengan 03.00 (Gambar 15). Perilaku vektor lebih banyak menggigit di luar rumah yang ditemukan dalam penelitian ini, menjadikan penerapan metode zooprofilaksis mempunyai prospek yang bagus untuk diterapkan dalam program pengendalian malaria. Enam spesies Anopheles semuanya mengisap darah di luar rumah bersifat eksofagik. Penelitian Suwito (2010) di daerah yang sama juga menemukan sebagian besar nyamuk Anopheles beristirahat di luar rumah. Beberapa penelitian bionomik nyamuk Anopheles yang pernah dilakukan di Lampung, Safitri (2009) dan Suwito (2010) melaporkan juga bahwa nyamuk 36 Anopheles di daerah pesisir pantai Lampung lebih banyak bersifat eksofagik yaitu lebih senang mengisap darah manusia di luar rumah tidak jauh berbeda dengan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini. Perilaku menggigit nyamuk Anopheles yang cenderung bersifat eksofagik tersebut hampir serupa dengan hasil yang di dapatkan oleh Situmeang (1991) di pantai Pangandaran Jawa Barat menemukan nyamuk Anopheles lebih dominan mencari mangsanya di luar rumah dibandingkan di dalam rumah. Gambar 15 FluktuasiMHD setiap jam penangkapan dari pukul18.00 – 06.00. Nyamuk Anopheles di Desa Hanura adalah eksofilik atau eksofagik, sehingga upaya pengendalian difokuskan pada perubahan lingkungan dari sarang nyamuk. Mengalirkan lagoon air payau dengan drainase efektif dalam mengurangi kepadatan vektor, prinsip kerja metode dari drainase tersebut adalah meningkatkan sirkulasi air laut untuk mengurangi genangan dari air pasang sehingga dapat mencegah pergembangbiakan Anopheles . Upaya lain untuk menekan perkembangan larva Anopheles sundaicus dilakukan oleh Takagi et al. (1995) di Jawa Barat, menanami kolam dengan tanaman palem dan ditambahkan ikan pemakan larva nyamuk. Strategi ini lebih murah, mudah untuk dikembangkan dan efisien. Penebaran ikan pemakan larva nyamuk juga dapat di kombinasi dengan Bacillus thuringiensis israelensis dan larvasida kimia seperti yang (Ikemoto et al. 1986). pernah diuji coba di Sumatera bagian utara 37 4.5 Pengamatan Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pasca Perlakuan Pengamatan yang dilakukan terhadap kepadatan nyamuk Anopheles yang hinggap di badan pasca perlakuan ditemukan enam spesies Anopheles yaitu An. sundaicus, An. vagus, An. barbirostris, An. aconitus, An. kochi, An. subpictus. Anopheles sundaicus ditemukan sebagai spesies yang tertinggi hinggap di badan per jam (MHD) dibandingkan spesies yang lain (Tabel 2). Tabel 2 No Kepadatan nyamuk Anopheles tertangkap umpan orang per orang per jam (MHD) pasca perlakuan Spesies Anopheles MHD H0 H+7 H+14 H+21 UOD UOL UOD UOL UOD UOL UOD UOL 1 An.sundaicus 0,74 2,11 0,48 2,074 0,41 1,70 0,2963 1,48 2 An.vagus 0,15 0,78 0,07 0,44 0 0,37 0 0,26 3 An.barbirostris 0 0,37 0 0,22 0 0,19 0 0,11 4 An.subpictus 0,04 0,26 0 0,15 0 0,11 0 0,04 5 An.aconitus 0 0,11 0 0 0 0 0 0 6 An.kochi 0 0,07 0 0 0 0 0 0 Keterangan : MHD = Man Hour Density UOD = Umpan Orang Dalam UOL= Umpan Orang Luar H0-H+21= Pengamatan kepadatan Anopheles pasca perlakuan. Beberapa spesies Anopheles seperti An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus, An. aconitus dan An. kochi angka MHD dapat diturunkan sampai dengan di bawah 1 nyamuk/orang/jam, sedangkan angka MHD nyamuk An. sundaicus walaupun menurun namun masih di atas 1 nyamuk/orang/jam. Keberhasilan metode zooprofilaksis untuk mengalihkan gigitan nyamuk pada manusia menurut Mathys (2010) tergantung pada nyamuk Anopheles lebih bersifat zoofilik. Semakin besar kesukaan nyamuk terhadap darah hewan peluang untuk keberhasilan mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan semakin besar. 4.5.1 Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus yang tertangkap menggunakan umpan orang pra perlakuan rata-rata sebesar 3.29 nyamuk/orang/jam. Angka MHD pasca perlakuan menurun menjadi 1.2 nyamuk/orang/jam, ada penurunan 38 sebesar 63.52%. Dari perhitungan uji statistik mempunyai hubungan yang MHD (Nyamuk/orang/Jam) bermakna (p value < 0,05) (Gambar 16). 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 H+14 H+21 Pengamatan Gambar 16 Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Penurunan angka MHD Anopheles sundaicus mulai melandai pada H+14 sampai dengan H+21. Sampai dengan perlakuan ke empat angka gigitan Anopheles sundaicus nyamuk/orang/jam, belum hal ini mampu diturunkan di bawah satu kemungkinan karena kecenderungan kesukaan nyamuk tersebut bersifat antropofilik. Sinka et al. (2011) mengamati perilaku Anopheles sundaicus dalam mencari darah di beberapa daerah seperi Nicobar, Sarawak Malaysia, Sumatera dan Jawa menemukan jenis nyamuk ini cenderung bersifat antropofilik. 4.5.2 Kepadatan Nyamuk Anopheles vagus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk An. vagus pra perlakuan rata-rata sebesar nyamuk/orang/jam. Pasca perlakuan kepadatan nyamuk An. vagus nyamuk/orang/jam, 1.3 0.26 atau ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 80% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 17). Ada hubungan yang bermakna antara pra perlakuan dan pasca perlakuan (p value < 0,05). MHD (Nyamuk/orang/jam) 39 1,4 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 17 Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anopheles pra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh pemasangan sapi dan paparan insektisida terhadap penurunan gigitan Anopheles vagus An. vagus. Penurunan angka gigitan berkaitan dengan sifatnya yang hewan. Naswir (2012) menemukan bahwa zoofilik menyukai darah Anopheles vagus di Bulukumba Sulawesi Selatan paling banyak tertangkap disekitar kandang, hasil yang sama juga dilaporkan oleh Hasan (2006) di Bogor yang menemukan pemasangan ternak sapi yang dibalurkan insektisida dapat menurunkan gigitan nyamuk Anopheles vagus pada manusia dari sebelum pemasangan sebesar 1.137 nyamuk/ orang/malam setelah pemasangan menurun menjadi 0.28 nyamuk/ orang/ malam. 4.5.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles barbirostris Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris berbeda nyata antara pra dan pasca perlakuan (Gambar 18). Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris pra perlakuan rata-rata 0.7 nyamuk/orang/jam. Kepadatan pasca perlakuan 0.1 nyamuk/orang/jam, ada penurunan sebesar 85.71% dibandingkan pra perlakuan. Ada hubungan yang bermakna antara pra dan pasca perlakuan ( p value < 0,05). 40 1 MHD (Nyamuk/ornag/jam) 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 18 Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Pada penelitian ini dapat dilihat ada hubungan yang bermakna pemasangan sapi dengan penurunan gigitan nyamuk pada manusia. Anopheles barbirostris di Hanura cenderung bersifat zoofilik. Menurut Boesri (2007) nyamuk Anopheles barbirostris di Sulawesi dan NTT banyak menggigit manusia tetapi di Jawa dan Sumatera lebih banyak menggigit ternak. Penelitian yang sama juga ditemukan oleh Sukowati et al. (2004) menemukan An. barbirostris di daerah Jawa bersifat zoofilik menyukai darah ternak sedangkan di daerah Flores (NTT) bersifat antrophofilik lebih menyukai darah manusia. 4.5.4 Kepadatan Nyamuk Anopheles subpictus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus berbeda nyata pra dan pasca perlakuan (Gambar 19). Kepadatan nyamuk An. subpictus pra perlakuan rata-rata 0.54 nyamuk/orang/jam. Kepadatan pasca perlakuan menjadi 0.07 nyamuk/orang/jam, atau menurun sebesar 82.45% dibandingkan pra perlakuan. MHD (Nyamuk/orang/jam) 41 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 19 Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Pengaruh pemasangan hewan ternak sapi yang dibalurkan insektisida mempunyai hubungan yang bermakna (p value < 0,05) terhadap penurunan kepadatan nyamuk Anopheles subpictus pada manusia, hal ini juga berkaitan dengan kesukaan dari nyamuk Anopheles subpictus yang bersifat zoofilik lebih menyukai hewan. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Kiszewski (2004) yang melaporkan Human Blood Index (HBI) pada nyamuk Anopheles subpictus yang tertangkap hanya sebesar 9.3% lebih cenderung kesukaan darah inang dari nyamuk ini adalah darah hewan. Hasil yang sama juga dilaporkan oleh Bruce-Chatt et al. (1960) yang melaporkan An. subpictus yang tertangkap 98.5% menggigit hewan. 4.5.5 Kepadatan Nyamuk Anopheles aconitus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus pra perlakuan rata-rata 0.13 nyamuk/orang/jam. Pra perlakuan kepadatan nyamuk An. aconitus menjadi 0.01 nyamuk/orang/jam, ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 92.30% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 20). Ada hubungan yang bermakna antara pra dan pasca perlakuan ( p value < 0,05). Keberhasilan pemasangan dan pembaluran insektisida untuk mengurangi angka gigitan nyamuk Anopheles aconitus karena sifatnya yang zoofilik. Uji presiptin terhadap darah yang dihisap oleh An. aconitus dari beberapa lokasi di 42 Jawa Tengah menunjukan angka 93.5% berasal dari hewan, dan hanya 6.5 % berasal dari manusia. Dari darah hewan, ternyata darah bovidae (kerbau, sapi) MHD (Nyamuk/orang/jam) menunjukan sumber utama, lebih dari 90%. 0,18 0,16 0,14 0,12 0,1 0,08 0,06 0,04 0,02 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 20 Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus menggigit orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Kesukaan nyamuk Anopheles aconitus di beberapa lokasi yang jumlah ternak sangat sedikit atau tidak ada ternak sama sekali angka untuk darah berasal dari manusia (human blood index) naik menjadi 54,3% (Kirnowardoyo1984, dalam Sigit dan Kesumawati 1988 ). 4.5.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles kochi Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles kochi pra perlakuan rata-rata 0.05 nyamuk/orang/jam. Pasca perlakuan kepadatan nyamuk An. kochi menjadi 0.01 nyamuk/orang/jam, ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 80% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 21). Do Manh et al. (2010) yang mengamati perilaku mencari darah Anopheles kochi di Vietnam menemukan An. kochi 96,7% menyukai darah hewan dan menyimpulkan nyamuk ini bersifat zoofilik. MHD (Nyamuk/orang/jam) 43 0,1 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 21 Kepadatan nyamuk Anopheles kochi menggigit orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. 4.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pra dan Pasca Pembaluran Insektisida Kepadatan nyamuk Anopheles yang hinggap di magoon sapi pembaluran insektisida pasca menunjukkan adanya penurunan (Gambar 22). Pemaparan insektisida yang dilakukan sebanyak empat kali, mampu menurunkan kepadatan nyamuk Anopheles subpictus 85.5%, Anopheles vagus 90.64%, Anopheles barbirostris 80%, Anopheles sundaicus 95.12%, Anopheles aconitus 94.34%, Anopheles kochi 100% dan Anopheles hyrcanus group 100% . Berkurangnya nyamuk Anopheles yang tertangkap dikelambu sapi disebabkan efek dari insektisida deltametrin yang menyebabkan nyamuk yang berkontak dengan badan sapi mati dan jatuh. Penangkapan dan perhitungan nyamuk hanya yang hinggap di kelambu sedangkan yang jatuh sangat sulit untuk dilakukan perhitungan karena terinjak-injak sapi dan bercampur dengan kotoran. 44 Kepadatan (nyamuk/sapi/malam) 120,0 100,0 80,0 60,0 40,0 20,0 0,0 H-20 H-13 H-6 H0 H+7 H+14 H+21 An.subpictus Pengamatan An.vagus An.barbirostris An. sundaicus An. aconitus An.kochi An. hyrcanus group Gambar 22 Rata-rata kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap pada magoon sapi pra dan pasca perlakuan. Deltametrin adalah piretroid yang membunuh serangga secara kontak atau dengan cara terkonsumsi. Secara umum modus aksi dari deltametrin adalah mempengaruhi aktifitas saraf dengan menunda penutupan saluran natrium. Pada keadaan normal protein ini membuka untuk memberikan rangsangan pada saraf dan menutup untuk menghentikan sinyal saraf. Piretroid terikat pada gerbang ini dan mencegah penutupan secara normal yang rangsangan gerakan saraf berkelanjutan. inkordinasi Hal ini yang mengakibatkan pada serangga. menghasilkan tremor dan Deltametrin memiliki spektrum pengendalian yang luas (broad spectrum) dan efektif terhadap banyak spesies serangga hama dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, Orthoptera dan Thysanoptera. Namun kebanyakan piretroid tidak aktif terhadap tungau (mite,acarinae), kecuali beberapa senyawa seperti fenpropatrin, bifentrin. (Schleier dan Peterson 2011). Tingkat penurunan kepadatan Anopheles yang tertangkap dalam magoon sapi yang telah dibalur insektisida sangat besar hal ini dimaklumi karena dari hasil cone test pada awal penelitian menemukan kematian nyamuk uji setelah 45 kontak satu jam mendapatkan daya bunuh yang tinggi sampai dengan hari ke delapan. Studi neurofisiologis menunjukkan bahwa efek knockdown disebabkan oleh keracunan dari saraf perifer dan efek mematikan ini disebabkan oleh kerusakan yang ireversibel pada kedua neuron perifer dan sentral yang terjadi ketika insektisida kontak dengan nyamuk. Nilai KDT 50 (knock-down time) untuk deltametrin berada pada kisaran 22 sampai dengan 27 menit (Simsek 2007). Monitoring status resistensi insektisida oleh Winarno et. al (2010) di wilayah Lampung menemukan deltametrin 5 WP masih dinyatakan susceptible dimana dalam pengujian tersebut mampu menimbulkan kematian 100 % pada nyamuk uji. Naswir (2012) melaporkan hasil pengujian kerentanan spesies An. subpictus terhadap insektisida menggunakan deltametrin 0.05% menghasilkan persentase kematian nyamuk uji sebesar 100%. Hasil yang sama dengan dilaporkan Widiarti et al. (2009) pada pengujian kerentanan spesies vektor An.subpictus dengan menggunakan deltametrin 0,05% di desa Sanggalangit Kabupaten Buleleng Bali juga menunjukkan hasil dengan persentase yang sama yakni kematian 100%. Betson et al. ( 2009) juga melaporkan mortalitas 100% pada beberapa daerah di Gambia pada Anopheles gambiae terhadap deltametrin 0.05%. Zooprofilaksis saat ini mengalami perkembangan lebih lanjut dengan pemanfaatan insektisida untuk lebih meningkatkan efektifitasnya. Sejauh ini ada dua riset yang dilaporkan menggunakan kombinasi insektisida dan zooprofilaksis. Pertama penyemprotan kandang ternak menghemat penggunaan yang menurut Barodji (2010) dapat insektisida sebesar 83% bila dibandingkan penyemprotan dalam rumah (indoor spraying). Metode kedua adalah paparan insektisida langsung ke tubuh ternak. Penggunaan kombinasi zooprofilaksis dan insektisida banyak dikritik oleh beberapa pengamat lingkungan yang mempertanyakan tentang efek repellen dari insektisida yang dibalurkan pada ternak akan menyebabkan vektor kembali mudah mengigit manusia. Habtewold et al. (2004) melakukan penelitian di 46 Ethiopia menemukan sapi yang dibalur dengan insektisida tidak mempengaruhi nyamuk untuk mengigit sapi dan tidak dialihkan mencari darah inang manusia. Berkurangnya kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap dalam kelambu dalam penelitian ini belum bisa menjadi indikator penurunan populasi nyamuk Anopheles di alam. Evaluasi pengaruh penggunaan insektisida dalam menurunkan populasi nyamuk Anopheles di alam, dapat menggunakan indikator penurunan kepadatan larva di alam. Namun sayangnya hal ini sulit untuk dilakukan mengingat luasnya tempat perindukan nyamuk yang ada di lokasi penelitian. Keberhasilan kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektsida dalam menurunkan untuk kepadatan gigitan nyamuk mengurangi transmisi penularan Anopheles diharapkan juga mampu malaria di masyarakat. Untuk mendapatkan hasil yang bermakna secara epidemiologi dalam penurunan kasus malaria di masyarakat perlu implementasi dalam skala yang cukup besar. Kelayakan implementasinya di lapangan di samping kajian teknis perilaku nyamuk juga perlu kajian efektifitas biaya. Penerapan dalam skala besar mencakup satu wilayah desa atau wilayah daerah perlu dipertimbangkan faktor biaya dan sumber daya yang tersedia dalam masyarakat. Implementasi metode zooprofilaksis tidak semudah yang kita bayangkan, mengingat daerah malaria adalah sebagian besar daerah tertinggal. Kemandirian masyarakat untuk menyediakan ternak sapi merupakan kendala non teknis terbesar yang harus dihadapi jika ingin metode ini dapat di implementasikan. Peran serta Pemerintah Daerah sangat diharapkan bantuan terutama Dinas Peternakan dapat menyediakan sapi yang diprioritaskan untuk daerah endemis malaria. Dengan demikian disamping untuk mengentaskan kemiskinan penduduk yang memelihara sapi juga dapat terhindar dari malaria dan dapat produktif untuk bekerja. 47 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada sapi dapat bertahan 8 hari dengan tingkat kematian nyamuk sebesar 95%. Pembaluran deltametrin pada sapi berpengaruh terhadap kepadatan Anopheles yang menggigit manusia. Hal ini tercermin pada penurunan angka gigitan pasca perlakuan, yaitu An. sundaicus sebesar 63.52%, An. vagus 80%, An. barbirostris 85.71%, An. subpictus 82.45%, An. aconitus 92.30%, An. kochi 80% . Selain itu, dampak pembaluran deltametrin juga menurunkan kepadatan nyamuk pada sapi, yaitu, An. sundaicus sebesar 95.12%, An. vagus 90.64%, An. barbirostris 80%, An. subpictus 85.5%, An. aconitus 94.34%, An. kochi 100% dan An. hyrcanus group 100% . 5.2 Saran Kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida deltametrin pada ternak sapi dapat menjadi alternatif pengendalian vektor Anopheles di daerah endemis malaria. 48 49 DAFTAR PUSTAKA Adnyana NWD. 2011. Beberapa aspek bionomic Anopheles di Kabupaten Sumba Tengah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Med Lit Bang Kes 21(2): 62-70. Amerasinghe FP, Peiris JS, Wirtz RA. 1992. Anopheline ecology and malaria infection during the irrigation developmentof an area of the Mahaweli Project, Sri lanka. Am J Trop Med Hyg 45 (2): 26-35. Ahmad H, Mardihusodo SJ, Sutanto, Hartono, Kusnanto H. 2003. Estimasi tingkat penularan malaria dengan dukungan penginderaan jauh (studi kasus di daerah endemis malaria pegunungan Menoreh perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. J Ekol Kes 2 (1): 157-164. Ali A, Nayar JK, Knight JW, Stanley BH. 1989. Attraction of Florida mosquitoes (Diptera: Culicidae) to artificial light in the field. Proc Calif Mosq Contr Assoc 57: 82–88. Amirullah. 2012. Studi bioekologi Anopheles spp. sebagai dasar penyusunan strategi pengendalian vektor malaria di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Andiyatu. 2005. Fauna nyamuk di wilayah kampus IPB Darmaga serta potensinya sebagai penular penyakit [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Aprianto A. 2002. Studi perilaku menggigit nyamuk Anopheles di Desa Hargotirto Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Arianti J, Sukowati S, Andris H. 2007. Habitat nyamuk Anopheles subpictus di enam pulau Kabupaten Kepulauan Seribu. J Ekol Kes 6 (1): 511-517. Barodji. 2010. Keberadaan sapi dan kerbau di daerah pedesaan dan kemungkinan pemanfaatannya sebagai zooprophylaksis malaria. J Medika 36 (3): 166 – 173. Baroji, Dammar, Boesri H, Sudini, Sumardi. 2003. Bionomik vector dan situasi malaria di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta. J Ekol Kes 2 (1): 209 -216. Bates M. 1970. The Natural History of Mosquitoes. The Mc Millian Company, Baltimore. 378 hal. 50 Becker N, Petric D, Zgomba M, Boase C, Dahl C, Lane J, Kaiser A. 2003. Mosquito And Their Control. Kluwer Academic/Plenum Publishers. New York. 497 hal. Bidlingmayer. 1994. How mosquitoes see traps: role of visual response. J Am Mosq Contr Assoc 10: 272-279. Betson M, Jawara M, Awoloa TS. 2009. Status of insecticide susceptibility in Anopheles gambiae from malaria surveilnce sites in the Gambia. Malar J 8: 187- 191. Boesri H. 2007. Standar penangkapan vector dalam rangka penelitian penularan malaria di Indonesia. J Kemas 3 (1): 41 – 47. Boesri H. 1991. Perilaku Anopheles sundaicus dalam hubungannya dengan penularan penyakit malaria dan cara pemberantasannya di Desa Tarahan Tanjungan Lampung Selatan [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Boewono TD. 1986. Pengaruh penempatan ternak kerbau dan sapi terhadap investasi nyamuk di dalam rumah [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bragdon GW, McAllister JC. 1989. Insecticide resistance and vector control. Emer Infect Dis 4 (4): 605 – 613. Brown AWA, Sarkaria DS,Thomson RP. 1951. Studies on the responses of the female Aedes mosquito, Part I. the search for attractants vapours. Bull Entomol Res 42: 105 – 114. Brown AWA, Pal R. 1971. Insecticides Resistence In Arthropods. Ed ke-2. WHO. Geneva. Brown AWA, Bennet GF. 1981. Response of mosquito (Diptera: Culicidae to visual stimuli). J Med Entomol 6: 505 – 521. Bruce-Chwatt LJ.1985. Essential malariology. Edisi ke 2. Aldren Press oxford. London. 452 hal. Bruce-Chwatt LJ, Gockel CW, Weitz B. 1960. A study of the blood feeding patterns of Anopheles mosquitos through precipitin tests . Bull Wld Hlth Org 22: 685 – 720. Burgess L, Brown AWA. 1957. Studies on the responses of the female Aedes mosquito.The attactiveness of beef blood to Aedes aegypty. Bull Entomol Res 48: 783 – 793. 51 Burkett DA , Butler, Kline DL. 1998. Field evaluation of colored light-emitting diodes as attractants for woodland mosquitoes and other Diptera in north central Florida. Am J Mosq. Contr Assoc 14:186-195. Carver S, Bestall A, Jardine A, Ostfeld RS. 2009. Influence of Hosts on the ecology of arboviral transmission: potential mechanisms influencing Dengue, Murray Valley Encephalitis,and Ross River Virus in Australia. Vect Brn Zoo Dis 9 (1): 51-64. Chareonviriyaphap T, Rongnoparut P, Juntarumporn P. 2002. Selection for pyrethroid resistence in a colony of Anopheles minimus species, a malaria vector in Thailand. J Vec Ecol 27 (2): 222 – 231. Chowanadisai L, Krairiksh S, Thanasripukdikul S. 1989. Microbial control of Anopheles sundaicus, a malaria vector in Thailand, by Bacillus sphaericus 2362. Mosq Brn Dis Bull 6: 39–44. Clements AN. 1963. The Physiology Of Mosquito. Mc Millan Company, New York. 393 hal. Cooper RD, Edstein MD, Frances SP, Beebe NW. 2010. Malaria vectors of Timor Leste. Malar J 9: 40-43. Cooperband MF, Mcelfresh JS, Millar JG, Carde RT. 2008. Attraction of female Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) to odors from chiken feces. J Insect Physiol 54: 1184 -1192. Daykin PN, Kellogg FE, Wrigth RH. 1965. Host finding and repulsion of Aedes aegypti. Can Entomol 97: 239 – 263. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Vektor Malaria di Indonesia. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Draf Profil Subdit BPP Tahun 2005. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Modul Entomologi Malaria. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Dinkes Kab.Pesawaran] Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran.2011. Laporan Evaluasi Program Malaria Kabupaten Pesawaran. Gedong Tataan, Lampung. Do Manh C, Beebe NW, Thi Van VN, Quang TL, Lein CT, Nguyen DV, Nguyen T, Ngoc AL, Cooper RD. 2010. Vectors and malaria transmission in deforested, rural communities in north-central Vietnam. Malar J 9:259-264. 52 Dusfour I, Harbach RE, Manguin S. 2004. Bionomic and systematic of the oriental Anopheles sundaicus complex in relation to malaria transmission and vector control. Am J Trop Med Hyg 7 (4): 518-524. Eldrigde FB, Edman DJ. 2000. Medical Entomology. Kluwer Publisher. Dordrecht. 659 hal. Academic Etang J, Manga L, Toto JC, Guillet P, Fondjo E, Chandre F.2 006.Spectrum of metabolic-based resistance to DDT and pyrethroids in Anopheles gambiae populations from Cameroon. J Vect Ecol 3 (1) : 123-133. Garjito A, Jastal, Wijaya Y, Lili, Chadijah S, Erlan A, Rosmini, Samarang, Udin Y, Labatjo Y. 2004. Studi bioekologi nyamuk Anopheles di wilayah pesisir pantai timur Kabupaten Parigi Muotong, Sulawesi Tengah. Bul Penel Kes 32 (2): 49-61. Georghiou PG. 1986. The Magnitude of the Resistence Problem. Dalam Pesticide Resistence, Strategic and Tactics for Management. National Research Council Washington DC. hal 14-43. Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya. IPB Press. Bogor. 227 hal. Hadi UK, Koesharto FX. 2006. Nyamuk. Dalam: Sigit SH & Upik K. Hadi 2006. Hama Permukiman Indonesia; Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. UKPHP FKH IPB. Bogor. Hal 23 – 51. Hans O, Ekbom B, Suwonkerd W, Takagi T. 2002. Effect of landscape structure on Anopheline mosquito density and diversity in northern Thailand : Implicatios for malaria transmission and control. Lansc Ecol 18: 605-619. Hasan M. 2006. Efek paparan insektisida deltametrin pada kerbau terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles vagus pada manusia [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Habtewold, Prior A, Torr SJ, Gibson G. 2004. Could insecticide-treated cattle reduce Afrotropical malaria transmission? Effects of deltamethrin-treated Zebu on Anophelesarabiensis behavior and survival in Ethiopia. Med Vet Entomol 18: 408 - 417. Hewitt S, Rowland M. 1999. Control of zoophilic malaria vectors by applying pyrethroid insecticides to cattle. Trop Med Int Hlth 4 : 481 – 486. Hewitt S, Kamal M, Muhammad N, Rowland M. 1994. An entomological investigation of the likely impact of cattle ownership on malaria in Afghan Refugee Camp in The Nort West Frontier Province of Pakistan. Med Vet Entomol 8: 160 - 164. 53 Idram NS , Sudomo M, Sujitno. 1993. Fauna Anopheles di daerah pantai hutan mangrove Kecamatan Padang Cermin Lampung Selatan. Bul Penel Kes 26 (1) : 3 – 14. Ikemoto T, Sumitro , Panjaitan W, Shibuya T. 1986. Laboratory and small scale field tests of larvicides and larvivorous fishes against Anopheles sundaicus larvae at Perupuk Village, NorthSumatra, Indonesia. Jpn J Sanit Zool 37: 105–112. Jastal. 2005. Perilaku nyamuk Anopheles mengisap darah di Desa Tongoa, Donggala Sulawesi Tengah [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Jawara M, Awolola TS, Pinder M, Jeffries D, Smallegange RC, Takken W, Conway DJ. 2011. Field testing of different chemical combinations as odour baits for trapping wild mosquitoes in the Gambia. PLoS One [Internet]. [diunduh 2012 Okt 7]; 6: 128.Tersedia pada: http:// www. plosone.org. html. Kiamos IS, Louis C. 2004. Interactions between malariaparasites and their mosquito hosts in the midgut. Insec Bioch Mol biol 37: 679 – 685. Kirnowardoya S, Yoga GP. 1987. Entomological investigations of an outbreak of malaria in Chilacap on south coast of central Java, Indonesia during 1985. J Commun Dis 19: 121–127. Kiszewski A, Mellinger A, Spielman A, Malaney P, Sachs SE, Sachs J. 2004. A global index representing the stability of malaria transmission. Am J Trop Med Hyg 70 (5): 486 – 495. Lestari EW,Sukowati S, Soekojo,Wigati RA. 2007.Vektor malaria di Bukit Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah. Med Lit Bang Kes 12 (1): 30-35. Mahande AM, Mosha FW, Mahande JM, Kweka EJ. 2007. Role of cattle treated with deltamethrine in areas with a high population of Anopheles arabiensis in Moshi, Northern Tanzania. Malar J 6: 109-117. Matsumura F. 1975. Toxicology of Insecticides. Plenum Press.New York. 503 hal. Mathys T. 2010. Effectiveness of zooprophylaxis for malaria prevention and control in settings of complex and protracted emergency. Int Perspect Sci Human 1: 1-26. Mattingly FP. 1969. The Biology Of Mosquito- Borne Disease. George Allen and Unwin Ltd. London. 184 hal. McGregor BD. 2000. Pesticides Residues In Food 2000: Deltamethrin. International Agency For Research On Cancer, Lyon, France. 54 Meek SR. 1995. Vector control in some countries of Southeast Asia: comparing the vectors and the strategies. Ann Trop Med Parasitol 89: 135–147. Munif A, Rusmiarto S, Aryati Y, Andris H, Stoops CA. 2008. Konfirmasi status Anopheles vagus sebagai vektor pendamping saat kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Sukabumi Indonesia. J Ekol Kes 7 (1):689-696. Naswir. 2012. Fauna dan status kerentanan nyamuk Anopheles spp terhadap insektisida golongan sintetik piretroid di Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ndoen E, Wild C, Dale P, Sipe N, Dale M. 2010. Relationship between Anopheline mosquitoes and topography in West Timor and Java, Indonesia. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Apr 2]; 9:242. Tersedia pada: http://www. malariajournal.com/ content/9/1/242.html. [NPIC] National Pesticide Information Centre. 2010. Deltamethrin Technical Fact Sheet, Oregon. 11 hal. O’Connor CT, Supanto A. 1979. Kunci Bergambar Nyamuk Anopheles Betina di Indonesia. Depkes RI. Dit. Jen P2M & PLP. Jakarta. 40 hal. Okello OJ, Heinonen R, Ssekitto CM, Mwayi WT, Kakaire D, Kabarema M. 1994. Control of tsetse flies in Uganda by dipping cattle in deltamethrin. Trop Anim Health Prod 26 (1): 21-27. Olanga EA, Okal MN, Mbadi PA, Kokwaro ED, Mukabana WR. 2010. Attraction of Anopheles gambiaeto odour baits augmented with heat and moisture. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Feb 15]; 9:6. Tersedia pada: http://www. Malaria journal.com/content/9/1/6. Owino EA. 2010. Trapping mosquitoes using milk products as odour baits in Western Kenya. J Par Vect 3 :55 – 78. Pegram RG, Lemche J, Chizyuka, Sutherest RW, Floyd RB, Kerr JD, Cosker PJ.1989. Effect of tick control on liveweight gain of cattle in central Zambia. Met Vet Entomol 3 (3): 313 – 320. Prakash A, Bhattacharryya DR, Mohapatra PK, Mahanta J. 2004. Role of the prevalent Anopheles species in the transmission of Plasmodium falciparum and P. vivax in Assam State, North-Eastern India. Ann Trop Med Parasitol 98 (6): 559-568. Robert V, Carnevale P. 1991. Influence of deltamethrin treatment of bed nets onmalaria transmission in the Kou valley, Burkina Faso. Bull Wld Hlth Org 69 (6): 735-740. 55 Roiz D, Roussel M, Munoz J, Ruiz S, Soriguer R, Figuerola J. 2012. Efficacy of mosquito traps for collecting potensil West Nile mosquito vectors in natural Mediterranean Wetland. Am J Trop Med Hyg 86 (4): 642 – 648. Rowland M, Durani N, Kenward M, Mohammed, Urahman H, Hewitt S. 2001. Control of malaria by applying delthamethrin insecticides to cattle : a community randomized trial. Lancet 357: 1837-1841. Rowley WA, Graham CL. 1968. The effect of temperature and relative humidity on the flight performance of female Aedes aegypti. J Insect Physiol 14 : 1251 -1257. Rudolf W. 1925.Relation between temperature humidity and activity of house mosquitoes. J New York Entomol Soc 33: 163-169. Safitri A. 2009. Habitat perkembangbiakan dan beberapa aspek perilaku Anopheles sundaicus di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten lampung Selatan. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Saul A. 2003. Zooprophylaxis or zoopotentiation: the outcome of introducing animals on vector transmission is highly dependent on the mosquito mortality while searching. Malar J 2: 32 [Terhubung berkala]. http://www.malariajournal.com/content/2/1/32.html [12 Nov 2011]. Schleier J, Peterson RK. 2011. Pyrethrine and pyrethroid insecticides. J Grn chem 11:95-131. Service MW. 1976. Mosquito Ecology. Field Sampling Methods. Applied Science Publisher Ltd. London. 583 hal. Shinta, Sukowati S, Mardiana. 2003. Komposisi spesies dan dominasi nyamuk Anopheles di daerah pantai Banyuwangi, Jawa Timur. Med Lit Bang Kes 13 (3):1-8. Sigit SH, Kesumawati U. 1988.Telaah infestasi nyamuk pada kerbau di Bogor. J Anim Sci 73 (1): 20 – 33. Sigit SH. 2004. Masalah resistensi dalam penggunaan pestisida (terhadap hama) permukiman. Kursus Reguler Pengenalan dan Pengendalian Hama Permukiman Instar II. Bagian Entomologi FKH - IPB. Bogor. Sigit SH, Hadi UK. 2006. Hama Pemukiman Indonesia.Pengenalan,Biologi dan Pengendalian. Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman FKH – IPB. Bogor. Simsek FM, Caglar SS, Kaynab S, Alten B. 2007. Evaluation of the performance of K-Otab (Deltamethrin) tablet formulation impregnated bednets agains 56 the malaria vector Anopheles (Cellia) superpictus Grasssi 1899 (Diptera: Culicidae) under laboratory conditions. Turk J Zoo 31:75-82. Sinka ME, Bangs MJ, Manguin S, Chareonviriyaphap T, Patil PA, Temperley WH, Gething PW, Elyazar IR, Kabaria CW, Harbach RE, Hay RI. 2011. The dominant Anopheles vectors of human malaria in the Asia-Pacific region: occurrence data, distribution maps and bionomic précis. Par Vect J [Internet]. [diunduh 2012 Mar 9]; 4: 89. Tersedia pada : http://www. parasitesandvectors. com/ content/ 4/1/89.html. Situmeang RK. 1991. Studi perilaku Anopheles sundaicus rodenwaldt di Desa Sukaresik Pangandaran Jawa Barat dan dampak pembersihan tempat perindukannya. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Smallegange R,Schmied WH, Roey KJV, Verhulst NO, Spitzen J, Mukabana WR, Takken W. 2010. Sugar fermenting yeast as an organic source of carbon dioxide to attract the malaria mosquito Anopheles gambiae. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Feb 17]; 9:292. Tersedia pada: http://www.malaria journal. com/ content/9/1/292.html. Soedir S.1985. Efektivitas berbagai jenis umpan untuk koleksi nyamuk. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sugiarto. 2010. Pengaruh suhu terhadap perkembangan pradewasa dan siklus gonotropik nyamuk Anopheles aconitus serta aplikasinya dalam penghitungan kapasitas vektor malaria.[Tesis]. Bogor : Program Pasca sarjana, Institut Pertanian Bogor. Sukowati S, Andris H, Sondakh J, Shinta. 2004. Penelitian spesies sibling Anopheles barbirostris Van Der Wulp di Indonesia. J Ekol Kes 4 (1) : 172 – 180. Sukowati S. 2009. Masalah Keragaman Spesies Vektor Malaria dan Cara Pengendaliannya di Indonesia. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi. Balitbangkes Depkes RI. Sukowati S, Shinta, Suwito. 2010. Keragaman vektor malaria di Kabupaten Pesawaran Lampung. Laporan kegiatan MTC Lampung. Suprapto G. 2010. Perilaku nyamuk Anopheles punctulatus Donitz dan kaitannya dengan epidemiologi malaria di Desa Dulan pokpok Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Surendran SN, Jude PJ, Weerarathne TC, Karunaratne SP, Ramasamy R. 2011.Variations in susceptibility to common insecticides and resistance mechanisms among morphologically identified sibling species of the malaria 57 vector Anopheles subpictus in Sri Lanka. Parasit Vector [Internet]. [diunduh 2012 Feb 27]; 5:34. Tersedia pada: http:// www. parasitesandvectors. com/content/5/1/34. Suwito. 2010. Bioekologi spesies Anopheles di Kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran : keragaman, karakteristik habitat, kepadatan, perilaku dan distribusi spasial [Disertasi] Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Takagi M, Pohan W, Hasibuan H, Panjaitan W, Suzuki T. 1995. Evaluation of shading of fish farming ponds as a larval control measure against Anopheles sundaicus Rodenwaldt (Diptera:Culicidae). J Trop Med Pblc Hlth 26: 748–753. Vatandoost H, Abai MR,Abbasi M, Shaeghi M, Abtahi M, Rafie F. 2009. Designing of laboratory model for evaluation of the residual effects of deltamethrine ( K-othrine WP 5 %) on different surfaces against malaria vector Anopheles stephensi (Diptera : Culicidae). J Vect Brn Dis 46: 261-267. Wang G, Qiu YT, Lu T, Kwon HW, Pitts RJ, Loon JJA, Takken W, Zwiebel LJ. 2009. Anopheles gambiae TRPA1 is a heat-activated channel expressed in thermo sensitive sensilla of female antennae. Europ J Neurosci 30: 967–974. [WHO] World Health Organzation. 1998.Test Prosedures for Insecticide Resistance Monitoring in Malaria Vectors, Bio-Efficacy and Persistence of Insecticides on Treated Surfaces. Geneva. 43 hal. [WHO] World Health Organzation. 2003. Malaria entomology and vector control;.Tutor’sGuide. [Internet]. [diunduh 2012 Apr 9]. Tersedia pada: http://whqlibdoc.who.int/hq/2003 / WHO_ CDSCPE_ SMT_ 2002.18_ Rev.1_Part I.pdf [WHO] World Health Organization. 2011. World Malaria Report 2010. [Inetrnet]. [diunduh 2012 Feb 27]. Tersedia pada: http://www. who.int/ malaria/ publications/country profiles /profile_ idn_en .pdf. Widiarti, Boewono DT, Widyastuti U, Mujiono. 2003. Uji biokimia kerentanan vector malaria terhadap insektisida organofosfat dan karbamat di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Med Litbang Kes 12 (1): 84-96. Widiarti, Sukamdani, Mujiono. 2009. Resistensi vektor malaria terhadap insektisida di Dusun Karyaari dan Tukatpule Pulau Bali dan Desa Rendang Reed labuhan Haji Pulau Lombok. Med Litbang Kes 19 (3):154-157. 58 Winarno, Zubaidah, Santoso B, Sukmono, Sarjono. 2010. Monitoring status resistensi vektor malaria di Indonesia. Laporan kegiatan MTC Jakarta. Winarno, Hutajulu B. 2009. Review of National Vector Control Policy in Indonesia. Directorat of VBDC DG DC & EH,MOH Indonesia. Makalah laporan. Jakarta. Winarno, Rogayah H. 2009. Profile Monitoring of Insecticide Resistance in Indonesia. Directorat of VBDC DG DC & EH,MOH Indonesia. Makalah laporan. Jakarta. Wirawan IA. 2006. Insektisida Permukiman, Dalam : Sigit SH & Hadi UK. Hama Pemukiman Indonesia; Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. UKPHP. FKH IPB. Bogor. Hal. 315-433. Yamtana, Soengkowo, Renold. 2008. Bionomic vektor malaria di Kota Jayapura. J Bin San 1 (1): 8 – 17. 59 LAMPIRAN 60 61 Lampiran 1 Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhadap Kepadatan Gigitan Anopheles pada Manusia. An. sundaicus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 14,8056 5,6667 N 36 36 Std. Deviation 8,11989 3,61742 Std. Error Mean 1,35331 ,60290 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 9,13889 Std. Deviation Std. Error Mean 5,91440 ,98573 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 7,13774 9,271 11,14003 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. vagus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 5,3056 1,3611 N 36 36 Std. Deviation 3,16065 1,39699 Std. Error Mean ,52677 ,23283 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 3,94444 Std. Deviation Std. Error Mean 2,74585 ,45764 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 3,01538 8,619 4,87351 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 62 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An.barbirostris Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 3,3056 ,5833 N 36 36 Std. Deviation 2,43568 ,73193 Std. Error Mean ,40595 ,12199 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 2,72222 Std. Deviation Std. Error Mean 2,19885 ,36647 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,97824 7,428 3,46620 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. subpictus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 2,3611 ,4167 N 36 36 Std. Deviation 2,00218 ,64918 Std. Error Mean ,33370 ,10820 63 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 1,94444 Std. Deviation Std. Error Mean 1,86616 ,31103 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,31303 6,252 2,57586 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. aconitus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,5833 ,0833 N 36 36 Std. Deviation ,60356 ,28031 Std. Error Mean ,10059 ,04672 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,50000 Std. Deviation Std. Error Mean ,56061 ,09344 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,31032 ,68968 t 5,351 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. kochi Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,2500 ,0556 N 36 36 Std. Deviation ,43916 ,23231 Std. Error Mean ,07319 ,03872 64 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,19444 Std. Deviation Std. Error Mean ,40139 ,06690 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,05863 ,33025 t 2,907 df Sig. (2-tailed) 35 ,006 karena p-value(0.006) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara Lampiran 2 Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhadap Kepadatan Gigitan Anopheles pada Sapi. An. subpictus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 112,6667 5,3333 N 9 9 Std. Deviation 13,50000 4,33013 Std. Error Mean 4,50000 1,44338 65 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan 107,33333 Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 13,99107 4,66369 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 96,57885 118,08782 t df 23,015 Sig. (2-tailed) 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. vagus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 85,4444 2,6667 N 9 9 Std. Deviation 7,17829 2,59808 Std. Error Mean 2,39276 ,86603 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 82,77778 Std. Deviation Std. Error Mean 8,19722 2,73241 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 76,47684 89,07872 t 30,295 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. barbirostris Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 33,3333 2,1111 N 9 9 Std. Deviation 9,75961 1,61589 Std. Error Mean 3,25320 ,53863 ,000 66 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 31,22222 Std. Deviation Std. Error Mean 9,65373 3,21791 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 23,80171 38,64273 t df Sig. (2-tailed) 9,703 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. sundaicus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 13,6667 ,2222 N 9 9 Std. Deviation 5,70088 ,44096 Std. Error Mean 1,90029 ,14699 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 13,44444 Std. Deviation Std. Error Mean 5,65931 1,88644 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 9,09431 7,127 17,79457 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. aconitus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 5,8889 ,1111 N 9 9 Std. Deviation 2,80377 ,33333 Std. Error Mean ,93459 ,11111 ,000 67 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 2,72845 ,90948 5,77778 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 3,68050 6,353 7,87505 df Sig. (2-tailed) 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. kochi Paired Samples Statistics Pair 1 Mean 2,8889 ,0000 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan N 9 9 Std. Deviation 1,53659 ,00000 Std. Error Mean ,51220 ,00000 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 1,53659 ,51220 2,88889 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,70776 5,640 4,07002 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. hyrcanus group Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,8889 ,0000 N 9 9 Std. Deviation 1,05409 ,00000 Std. Error Mean ,35136 ,00000 ,000 68 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,88889 Std. Deviation Std. Error Mean 1,05409 ,35136 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,07864 1,69914 t 2,530 df Sig. (2-tailed) 8 ,035 karena p-value(0.035) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lampung, 5 Desember 1969, dari ayah Bakir Hadisumarto dan Ibu Sumaryamdari dan merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Penulis menikah dengan Tiarny dan dikarunia satu orang anak bernama Bernadeta Zefani Valenria. Penulis menyelesaikan sekolah menengah di SMAN 1 Pringsewu Lampung tahun 1989 dan lulus Akademi Penilik Kesehatan Tanjung Karang tahun 1992. Penulis meneruskan pendidikan S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan lulus tahun 2003. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan tahun 2010. Penulis pernah bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan tahun 1993-1998, kemudian dipindahkan ke Kanwil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 1998-2000. Sejak tahun 2000 hingga sekarang penulis bekerja di Subdin Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyamuk merupakan kelompok serangga yang paling banyak menimbulkan masalah di bidang kesehatan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh keragaman spesies, distribusi yang luas, populasinya yang besar dan banyaknya spesies yang berperan sebagai pengganggu dan vektor (Becker et al. 2003). Beberapa penyakit tular nyamuk (mosquito-borne diseases) di Indonesia adalah malaria, demam berdarah dengue, filariasis limfatik, japanese encephalitis dan chikungunya (Hadi dan Soviana 2010). Nyamuk Anopheles dikenal sebagai vektor Plasmodium penyebab malaria yang sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengendalian nyamuk Anopheles merupakan komponen utama untuk memutuskan rantai penularan malaria, yang menjadi elemen dasar keberhasilan program pemberantasan malaria (WHO 2011). Pengendalian nyamuk Anopheles dilakukan dengan metode umum secara konvensional selama ini Indoor Residual Spraying (IRS) yaitu menyemprotkan insektisida residual pada dinding rumah. Metode IRS memerlukan insektisida dalam jumlah yang sangat besar, yang berdampak pada biaya yang mahal dan memberatkan bagi negara-negara berkembang. Mengingat vektor malaria berbasis lingkungan dan bersifat spesifik lokal, jenis teknologi pengendaliannya tidak hanya mengandalkan satu program intervensi tetapi perlu dicari metode yang lebih murah dan efektif. Hadi dan Koesharto (2006) menyatakan keberhasilan pengendalian vektor malaria sangat tergantung pada pilihan metode yang tepat dengan memperhatikan bioekologi nyamuk dan perilakunya di alam. Perilaku nyamuk Anopheles yang dapat digunakan sebagai dasar pengendalian adalah perilaku nyamuk Anopheles yang bersifat zoofilik, yaitu lebih menyukai darah hewan. Soedir (1985) melaporkan bahwa di pantai Glagah Daerah Istimewa Yogyakarta ternak menjadi daya tarik yang besar bagi nyamuk. Dari 3081 nyamuk yang tertangkap 54.3% di antaranya menyukai darah sapi, 33.4% darah domba dan sisanya 5.3% darah manusia. Sementara itu, Naswir (2012) melaporkan bahwa beberapa metode penangkapan nyamuk yang dilakukan di Ujung Bulu Kabupaten 2 Bulukumba Sulawesi Selatan, hasilnya menunjukkan umpan hewan lebih berhasil mendapatkan Anopheles dalam jumlah banyak (980 nyamuk), dibandingkan dengan cara umpan orang (783 nyamuk). Sigit dan Kesumawati (1988) Anopheles menyatakan bahwa beberapa nyamuk sundaicus dan An. barbirostris yang seperti An. aconitus, An. merupakan vektor utama malaria di Indonesia juga bersifat zoofilik. Pemanfaatan hewan ternak untuk mengalihkan gigitan nyamuk Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk. Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan reproduksinya (Saul 2003). Kelemahan metode zooprofilaksis ini dapat ditanggulangi dengan membalurkan insektisida pada tubuh hewan umpan. Pemanfaatan metode kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida pernah dilakukan di Afganistan, terbukti murah dan sama efektifnya dengan penyemprotan rumah (IRS). Biaya yang dibutuhkan 80% lebih murah, mudah dan aman serta berdampak pada peningkatan produksi ternak akibat kematian ektoparasit ternak (Rowland et al. 2001). Metode kombinasi tersebut di Indonesia juga pernah diteliti oleh Hasan (2006) di Bogor. Aplikasi metode tersebut terbukti dapat menurunkan 42.19% kepadatan gigitan Anopheles vagus dan 74.07% Anopheles indefinitus. Di Indonesia intervensi penggunaan kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida yang secara khusus digunakan sebagai metode pemberantasan malaria di daerah endemis belum pernah dikerjakan. Sampai saat ini belum ada data secara ilmiah yang dapat mengukur keberhasilan program tersebut, terutama pengaruh kepadatan gigitan Anopheles pada manusia maupun pengaruh populasi nyamuknya sendiri. 3 1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles. 1.3 Manfaat Penelitian Metode kombinasi zooprofilaksis dengan insektisida menjadi dasar pengembangan program pengendalian malaria di Indonesia, sedangkan bagi masyarakat yang memelihara ternak dapat meningkatkan sumber ekonomi keluarga sekaligus sebagai tameng terhadap penularan malaria. 5 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria Jenis nyamuk di seluruh dunia telah diketahui terdapat kurang lebih ada 4500 spesies nyamuk dalam 34 genus dari famili Culicidae. Hanya spesies dari genus Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria pada manusia. Jumlah Anopheles yang telah diidentifikasi berdasarkan morfologi kurang lebih 424 spesies, dan 70 spesies di antaranya diketahui sebagai vektor malaria. Jumlah spesies Anopheles yang tercatat di Indonesia sebanyak 80 dan 22 di antaranya telah dikonfirmasi sebagai vektor malaria (Sukowati 2009). Di Indonesia telah dilaporkan spesies Anopheles utama sebagai vektor malaria adalah An. aconitus, An. sundaicus, An. ludlowi, An. sinensis , An. balabacensis, An. koliensis, An. maculatus, An.subpictus, An. bancrofti, An. letifer, An. minimus, An. flavirostris, An. barbirostris, An. leucosphyrus, An. nigerrimus , An. vagus, An. farauti, An. karwari, An. punctulatus, An. umbrosus, An. tesellatus, An. parangensis, An. kochi, An. ludlowi, An. annullaris yang tersebar di berbagai pulau (Winarno dan Rogayah 2009). Di Provinsi Lampung, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor adalah An. sundaicus, An. aconitus, An. maculatus, An. nigerrimus, An. sinensis (Depkes 2005). Di pulau Sumatera, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. kochi, An. sundaicus, An. tesselatus, dan berpotensi sebagai vektor yaitu An. nigerrimus, An. letifer, An. umbrosus. Di Pulau Jawa, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. aconitus, An. balabacencis, An. maculatus dan An. sundaicus. Di Pulau Kalimantan nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria adalah An. balabacensis, An. leucosphyrus dan An. sundaicus, sedangkan yang berpotensi sebagai vektor adalah An. letifer dan An. tesselatus. Di Pulau Bali, nyamuk yang berperan sebagai vektor adalah An. subpictus. Di Pulau Nusa Tenggara Timur yang berperan sebagai vektor adalah An. barbirostris, An. subpictus dan An. sundaicus. Di Indonesia bagian Timur, nyamuk Anopheles yang terbukti sebagai vektor malaria adalah An. bancrofti, An. koliensis, An. punctulatus, An. farauti, An. subpictus, An. barbirostris, An. sundaicus, dan yang berpotensi sebagai vektor yaitu An. vagus. Di Pulau Sulawesi, nyamuk yang berperan sebagai vektor malaria 6 adalah An. barbirostris, An. sundaicus, An. kochi, An. nigerrimus, dan yang berpotensi sebagai vektor adalah An. flavirostris, An. umbrosus, An. minimus dan An. sinensis (Munif et al. 2008). Penyebaran vektor malaria sangat dipengaruhi oleh struktur lansekap, penggunaan lahan yang berbeda pada struktur lansekap berpengaruh terhadap kepadatan dan keragaman nyamuk Anopheles (Han et al. 2002). Distribusi spasial Anopheles meliputi penyebaran berdasarkan wilayah geografis yang dipengaruhi oleh kondisi topografi, ketinggian tempat, kemiringan lereng dan pemanfaatan lahan (Sukowati 2009). Hasil analis prevalensi malaria menurut letak geografis di Bukit Menoreh Jawa Tengah menunjukan bahwa risiko terjadinya penularan malaria dipengaruhi suhu udara, kelembaban, vegetasi tanaman dan penggunaan lahan. Nilai konstanta dan nilai fungsi masing-masing variabel prediktor intensitas penularan malaria adalah 1.938 suhu, 1.871 kelembaban, 1.339 vegetasi tanaman dan 1.893 penggunaan lahan (Ahmad et al. 2003). 2.2 Habitat Perkembangbiakan Anopheles Habitat perkembangbiakan merupakan tempat perkembangbiakan pradewasa, mulai dari telur, larva dan pupa. Bates (1970) membagi habitat larva menjadi empat kelompok, (1) habitat yang permanen dan semi permanen seperti rawa, danau, (2) daerah aliran air yang berasosiasi dengan tumbuhan, (3) kontainer termasuk genangan air pada ketiak daun tumbuhan, (4) genangan air pada tanah yang bersifat sementara. Arianti et al. (2007) melaporkan di Kepulauan Seribu bahwa larva An. subpictus merupakan larva yang dapat hidup pada berbagai tipe habitat. Larva jenis Anopheles ini dapat hidup pada air mengalir, maupun tidak mengalir seperti di kolam, pinggir danau, saluran irigasi, persawahan, air tawar dan air payau. Dari kolam perendaman rumput laut ditemukan 27.3 % positif mengandung larva An. subpictus, 13.6% sumur dangkal. 2.3 Perilaku Nyamuk Anopheles Eksofilik adalah sifat atau kebiasaan nyamuk yang menyukai istirahat di luar rumah sampai saat telurnya matang dan siap untuk diletakkan ditempat 7 perindukannya. Nyamuk dengan sifat seperti ini menghabiskan sebagian besar siklus gonotrofiknya di luar rumah manusia. Pengendalian nyamuk yang bersifat eksofilik, metode penyemprotan rumah dan penggunaan kelambu yang berinsektisida tidak efektif, karena nyamuk Anopheles yang menjadi sasaran tidak berkontak dengan insektisida yang disemprotkan. Pengendalian di luar rumah seperti manajemen lingkungan merupakan cara yang tepat untuk menurunkan populasi vektor yang bersifat eksofilik. Berbeda dengan eksofilik, endofilik adalah sifat atau kebiasaan nyamuk yang sebagian besar waktu istirahat di dalam rumah. Perilaku nyamuk dalam memilih sumber darah dapat dibedakan menjadi zoofilik dan antropofilik, zoofilik merupakan sifat nyamuk Anopheles yang lebih menyukai darah hewan dan antropofilik adalah sifat nyamuk Anopheles yang menyukai darah manusia. Terkait dengan sifat antropofilik, nyamuk Anopheles dapat menggigit manusia di dalam rumah (endofagik) atau di luar rumah (eksofagik). Nyamuk Anopheles vagus bersifat zoofilik di desa Hargotirto, Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta (Aprianto 2002). Nyamuk An. maculatus dan An. balabasensis di lokasi yang sama bersifat antropofilik. Berkaitan dengan lokasi mengigit, Aprianto (2002) tidak dapat memastikan sifat eksofagik atau endofagik dari An. maculatus dan An. vagus. Boesri (1991) melaporkan bahwa An. sundaicus di desa Tarahan Lampung Selatan banyak ditemukan di sekitar kandang dan lebih menyukai mengigit di luar rumah. Suwito (2010) melaporkan juga bahwa An. sundaicus di Kecamatan Padang Cermin Pesawaran bersifat antropofilik lebih menyukai darah orang dibandingkan darah hewan. Jastal (2005) melaporkan dari delapan spesies nyamuk Anopheles yang didapatkan di desa Tongua, Donggala Sulawesi Tengah, yaitu An. barbirostris, An. nigerimus, An. barbumbrosus, An. tesselatus, An. vagus, An. punctulatus, An. kochi dan An. maculatus semuanya bersifat eksofagik. Spesies Anopheles yang bersifat antropofilik yaitu An. barbirostris, An. nigerrimus. Tiga spesies lainnya bersifat zoofilik yaitu An. tesselatus, An. vagus dan An. kochi. 8 Penyebaran nyamuk Anopheles mencari sumber darah dipengaruhi oleh keadaan lingkungan abiotik dan biotik. Lingkungan abiotik yang dimaksud dapat berupa suhu, kelembaban dan curah hujan, sedangkan lingkungan biotik dapat berupa fauna dan flora di suatu daerah. 2.4 Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang Setiap spesies nyamuk mempunyai perilaku berbeda dalam mencari inangnya. Hal ini disebabkan oleh daya tarik masing-masing inang tersebut terhadap nyamuk tidak sama. Beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi nyamuk dalam mencari inang adalah suhu, kelembaban, karbondioksida, aroma tubuh dan macam-macam faktor visual (Olanga et al. 2010). 2.4.1 Suhu Suhu merupakan faktor penting sebagai perangsang dalam penemuan inang dan merupakan daya tarik utama bagi nyamuk untuk bereaksi menggigit, peningkatan suhu akibat viremia akan lebih menarik nyamuk untuk mendekati inang (Carver et al. 2009). Wang et al. (2009) melaporkan bahwa panas tubuh 250C sampai dengan 370C mampu meningkatkan sistem sensor pada nyamuk Anopheles gambiae untuk menuntun mendekati inang . Sistem sensor nyamuk mulai berkurang pada suhu di bawah 180C dan di atas 400C. 2.4.2 Kelembaban Udara Kelembaban udara dapat mempengaruhi aktivitas terbang serangga di alam. Takken et al. (1997) melaporkan bahwa kelembaban relatif di bawah 40% menurunkan aktifitas nyamuk untuk mendekati inang. Sebaliknya kelembaban udara antara 45% sampai dengan 90% meningkatkan aktifitas nyamuk untuk mendekati inang. Olayemi et al. (2011) melaporkan bahwa kelembaban yang tinggi meningkatkan aktifitas nyamuk untuk mencari darah serta mampu memperpanjang hidup Anopheles gambiae di Negeria. Kepadatan nyamuk Anopheles gambiae mengisap darah orang pada kelembaban 79% sebesar 123 per orang, sedangkan kepadatan gigitan Anopheles gambiae pada kelembaban 40% menurun hanya 40 per orang. Umur Anopheles gambiae juga bertambah panjang 9 sampai dengan 21 hari pada kelembaban 79%, sedangkan pada kelembaban 40% umur nyamuk Anopheles gambiae hanya sampai 4 hari. 2.4.3 Karbondioksida Karbondioksida yang dikeluarkan ketika hewan maupun manusia bernapas memainkan peran yang sangat penting bagi nyamuk untuk mendapatkan inang. Smallegange et al. (2010) melakukan uji coba pada perangkap nyamuk yang diberikan aliran CO2, menemukan bahwa pada aliran CO2 25 ml/menit berhasil menangkap 86 nyamuk, CO2 60 ml/menit 100 nyamuk dan ketika aliran CO2 dinaikan menjadi 100 ml/menit jumlah nyamuk yang tertangkap bertambah menjadi 177. Roiz et al. (2012) menemukan bahwa perangkap nyamuk yang ditambahkan CO2 dapat meningkatkan jumlah nyamuk yang tertangkap dibandingkan dengan perangkap nyamuk yang tidak ditambahkan CO2. Perangkap nyamuk yang ditambahkan CO2 mampu menangkap nyamuk lebih dari 1000 nyamuk/perangkap/malam, sedangkan perangkap yang tidak diberikan CO2 jumlah nyamuk yang tertangkap dibawah 100 nyamuk/ perangkap/malam. 2.4.4 Aroma Jawara et al. (2011) menemukan bahwa campuran asam laktat, amonia, lebih menarik bagi nyamuk An. gambiae dan asam tetradecanoic untuk mendekat. Nyamuk melakukan respon terhadap aroma keju dan susu tradisional Afrika, aroma tersebut memiliki potensi sebagai umpan bau yang efektif untuk perangkap nyamuk maupun sebagai atraktan oviposisi untuk vektor malaria Anopheles funestus (Owino 2010). Cooperband et al. (2008) juga menyimpulkan bahwa aroma kotoran ayam mampu menarik Culex quinquefasciatus untuk datang mendekat. Aroma darah sapi dilaporkan mempunyai daya tarik terhadap nyamuk Ae. aegypti empat kali lebih besar dari pada air dan plasma darah lima kali lebih besar dari pada air (Burgess dan Brown 1957). 2.4.5 Visual Respon visual mempengaruhi nyamuk dalam memilih inang. Bentuk dan pemantulan cahaya serta gerakan inang ternyata merupakan faktor penting, sebab mampu menuntun nyamuk yang aktif mencari darah pada siang hari. 10 Brown dan Bennet (1981) melaporkan bahwa Ae. aegypti lebih banyak menggigit tangan yang memakai kaos warna gelap dibandingkan dengan tangan yang memakai warna terang. Visual rangsangan seperti gerakan, panjang gelombang cahaya dan intensitas, warna, bentuk, pola, memainkan peran penting dalam pencarian inang oleh nyamuk dewasa betina (Bidlingmayer 1994). Dalam beberapa spesies Aedes, deteksi gerakan penting bagi penentuan lokasi inang (Brown dan Bennet 1981). Spesies lain mungkin mengandalkan intensitas cahaya atau warna seperti biru, hitam dan merah sebagai rangsangan yang menuntun kearah inang. Ali et al. (1989) mampu menunjukkan bahwa Culex lebih menyukai warna cahaya dari pada intensitas. Demikian pula Burkett dan Butler (1998) menyatakan bahwa tidak hanya cahaya, tetapi panjang gelombang cahaya tertentu memainkan peranan penting dalam daya tarik inang. Walaupun faktor visual telah dibuktikan mempengaruhi nyamuk tetapi tidak semua nyamuk tergantung kepada faktor tersebut. Faktor visual berperan penting terutama pada nyamuk yang menggigit di siang hari. Nyamuk Anopheles mulai menggigit pada sore hingga malam hari, berbeda dengan nyamuk Aedes yang menggigit di siang hari (Mattingly 1969). 2.5 Pemanfaatan Ternak Dalam Pengendalian Nyamuk Anopheles Pemanfaatan ternak merupakan salah satu cara hayati yang bertujuan untuk mencegah dan menghindarkan kejadian kontak antara nyamuk dengan manusia. Upaya pengendalian nyamuk vektor penyakit, dengan menyediakan hewan sebagai tameng dikenal istilah zooprofilaksis. Tindakan tersebut merupakan perubahan orientasi nyamuk dari menggigit manusia kepada menggigit hewan. Zooprofilaksis didefinisikan sebagai penggunaan hewan domestik ataupun liar yang bukan inang reservoir dari suatu penyakit tertentu untuk mengalihkan gigitan nyamuk vektor dari manusia sebagai inang penyakit tersebut (Saul 2003). Tindakan zooprofilaksis lebih khusus dilakukan terhadap nyamuk dengan cara menempatkan kelompok ternak di dekat sumber tempat perindukan nyamuk. Tindakan yang direncanakan dan dilakukan seperti itu disebut zooprofilaksis aktif. Sebaliknya zooprofilaksis pasif, yaitu zooprofilaksis yang tidak 11 direncanakan, mempunyai daya merubah nyamuk vektor yang antrofilik menjadi zoofilik dalam batas tertentu. Pengendalian vektor melalui zooprofilaksis juga sangat tergantung pada peran serta masyarakat. Karena diharapkan mereka yang akan memelihara ternak di sekeliling rumah sebagai perlindungan terhadap gigitan nyamuk. Pada tahap awal peran serta masyarakat sangat diperlukan dalam ujicoba ternak yang mempunyai daya profilaksis yang paling tinggi. Soedir (1985) melaporkan bahwa sapi mampu menarik 20 spesies nyamuk, domba 19 spesies, dan manusia 9 spesies. Adapun tiga hewan lainnya yaitu monyet, kelinci, serta ayam mempunyai daya tarik yang relatif kecil. Masingmasing hanya menyumbang 1.2% (delapan spesies), 2.1% (sepuluh spesies) dan 3.7% (enam spesies) dari seluruh nyamuk yang tertangkap. Hasil uji presipitin yang dilakukan Boewono (1986) di desa Kali Gading, Jawa Tengah menunjukkan 56.04% dari populasi An. aconitus mengisap darah sapi, 13.19% darah domba dan 4.40% darah kambing serta 3.30% darah manusia. Faktor yang membedakan daya tarik ternak bagi nyamuk An. aconitus adalah jarak penempatan kandang ternak terhadap rumah penduduk, semakin dekat penempatan sapi atau kerbau dari rumah penduduk, semakin banyak infestasi nyamuk An. aconitus. Bruce-Chwatt (1985) menemukan An. gambiae lebih menyukai darah ternak dan kuda. Di negara pecahan Unisoviet, ternak digunakan sebagai salah satu metode pengendaliaan malaria. Di bagian Utara Eropa dan sejumlah negara di Amerika Utara, metode zooprofilaksis juga dapat menurunkan kasus malaria di masing-masing daerah tersebut. Melihat kenyataan tersebut, pemberdayaan ternak sebagai tameng terhadap penyakit malaria mempunyai potensi dan prospek yang baik dimasa depan. Penelitian tentang zooprofilaksis dilaporkan Hewitt et al. (1994) pada tempat pengungsi Afganistan di Pakistan dengan mengunakan seekor sapi dan dua ekor kerbau sebagai zooprofilaksis, diperoleh hasil adanya peningkatan angka gigitan nyamuk oleh An. staphensi masing-masing 38% dan 50% untuk penggunaaan sapi dan kerbau sebagai zoobarier. Mathys (2010) menyatakan ada dua syarat untuk keberhasilan program zooprofilaksis yaitu pertama, jenis spesies Anopheles harus bersifat zoofilik. 12 Kedua, ternak tersebut harus disebar dalam bentuk tameng antara nyamuk vektor dan manusia. Lokasi penempatan ternak harus sejauh mungkin dari permukiman manusia. Berdasarkan hasil tersebut Hewitt et al. (1999) mengusulkan agar pengertian zooprofilaksis didefinisikan sebagai penyebaran ternak yang bukan inang reservoar dari suatu penyakit untuk mengalihkan gigitan nyamuk vektor dari manusia yang menjadi inang dari penyakit tersebut. 2.6 Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles Pengendalian nyamuk vektor dengan memanfaatkan ternak bertujuan mengalihkan preferensi nyamuk vektor dari manusia ke hewan. Penggunaan hewan diharapkan dapat mengurangi transmisi penyakit malaria. Selain itu mengkombinasikan dengan aplikasi insektisida pada hewan tersebut akan dapat menambah efektifitas pengendalian. Kombinasi ternak dan insektisida menurut Rowland et al. (2001) dapat menurunkan insiden penyakit malaria yang disebabkan Plasmodium falciparum sebesar 31%, dengan biaya sebesar 56% dan Plasmodium vivax yang lebih rendah sekitar 80% dibandingkan dengan metode penyemprotan dalam ruang (indoor spraying). Kombinasi aplikasi insektisida pada ternak tidak hanya menguntungkan bidang kesehatan masyarakat saja, tapi juga memberi keuntungan bagi kedokteran hewan. Pegram et al. (1989) meneliti di Zambia dari tahun 1982 sampai dengan 1986 menyatakan bahwa, penggunaan insektisida untuk pengendalian ekstoparasit pada sapi berdampak pada peningkatan berat badan sapi. Penggunaan deltametrin untuk pengendalian ekstoparasit pada ternak juga telah digunakan untuk pengendalian lalat tsetse di Uganda oleh Okello et al. (1994), yang hasilnya berdampak pada penurunan populasi lalat tsetse sampai dengan 100%. Penggunaan deltametrin sebagai insektisida pengendali ektoparasit tidak berbahaya bagi konsumen dan produk hewan (NPIC 2010). Kombinasi ternak dan insektisida tersebut dapat mengurangi transmisi malaria sama baiknya dengan penyemprotan dalam rumah. Secara teknis dan dapat diarahkan untuk mengurangi resiko resistensi yang berkelanjutan. Sehingga dengan keuntungan yang diperoleh tersebut. Metode ini dapat menjadi salah satu strategi pengandalian malaria disamping penyemprotan dalam rumah (Hewitt dan Rowland 1999). 13 2.7 Deltametrin dan Cara Kerjanya Deltametrin telah digunakan secara luas pada sektor pertanian dan kesehatan masyarakat. Penggunaan deltametrin dalam pengendalian penyakit malaria terutama ditujukan untuk membunuh nyamuk Anopheles dewasa. Deltametrin digunakan secara intensif di Afrika sebagai bahan aktif untuk kelambu celup berinsektisida (impregenated badnet), untuk mencegah gigitan nyamuk Anopheles (Robert et al. 1991). Deltametrin merupakan insektisida sintesis yang termasuk ke dalam golongan piretroid generasi ke empat dengan nama kimia (S)-α-cyano-3phenoxybenzyl (1R,3R)-3-(2,2-dibromovinyl)-2,2 dimethyl cyclopro pane carboxylate. Sifat fisika deltametrin antara lain (1) berbentuk kristal, tidak korosif dan berwarna putih, (2) mempunyai tekanan uap 1.5 x 10-8 mmHg pada suhu 25°C, (3) berat molekul 505.2 g/mol, (4) larut dalam air, antara 0.002 sampai dengan 0.0002 mg/L, (5) terserap dalam tanah, antara 7.05 x 105 sampai dengan 3.14 x 106 (NPIC 2010). Menurut cara kerja piretroid berdasarkan pola resistensi silang dan sifat knockdown, deltametrin termasuk piretroid tipe II. Piretroid tipe II mempunyai koefisien suhu positif, menyebabkan penghambatan fungsi sistem saraf pusat, efek klinis yang terlihat pada serangga adalah konvulsi, hiperaktif dan kontraksi pada tungkai metatoraks (Irawan 2006). 2.8 Resistensi dan Mekanismenya Resistensi merupakan kemampuan kelompok serangga untuk bertahan hidup terhadap suatu dosis insektisida yang dalam keadaan normal dapat membunuh spesies serangga tersebut (WHO 1998). Kasus resistensi pertama kali dilaporkan pada lalat rumah Musca domestica terhadap DDT di Swedia pada tahun 1947. Perkembangan resistensi semakin cepat setelah ditemukannya bahan sintetik organik sebagai insektisida dan acarisida. Pada era tahun 1940-an hanya tujuh spesies serangga yang dilaporkan resistensi terhadap DDT, tetapi pada era 1980 jumlahnya meningkat mencapai 447 spesies. Dari jumlah tersebut 59% terdiri dari serangga hama, 38% serangga penggangu kesehatan hewan dan manusia, 3% 14 sisanya adalah serangga yang berguna seperti predator dan parasitoid (Georghiou 1986). Menurut WHO (1998) sampai saat ini lebih dari 100 spesies nyamuk mengalami resisten terhadap satu atau lebih insektisida. Dari jumlah tersebut, di antaranya adalah 56 spesies nyamuk Anopheles dan 39 spesies Culex. Anopheles yang mengalami proses resistensi tersebut antara lain, An. sacharovi di Lebanon, Iran dan Turki, An. sundaicus di Indonesia dan Myanmar, An. quadrimaculatus di Mexiko resisten terhadap dieldrin. An. aconitus di Indonesia juga mulai resisten terhadap organofosfat (Widiarti et al. 2009). Nyamuk An. minimus di Thailand sejak tahun 2000 dinyatakan resisten terhadap permetrin (Chareoviriyaphap et al. 2002) dan An. gambiae di Kamerun sejak tahun 2006 telah mengalami resistensi terhadap DDT dan piretroid (Etang et al. 2006). Mekanisme resistensi dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu (1) biokimia dan (2) faali (Sigit 2004). 2.8.1 Mekanisme Biokimia Mekanisme ini menyangkut daya kerja enzim tertentu didalam tubuh hama yang merombak molekul pestisida menjadi molekul-molekul lain yang tidak toksik (detoksifikasi) molekul pestisida harus berinteraksi dengan target dalam proses toksikologinya terhadap sistem kehidupan di dalam tubuh hama, untuk dapat menimbulkan dampak letal (mematikan). Dengan dirombaknya molekul pestisida itu, maka di dalam individu hama pada populasi resisten, interaksi tersebut tidak terjadi. Tipe resistensi dengan mekanisme biokimia ini sering disebut sebagai resistensi enzimatik 2.8.2 Mekanisme Faali Ada tiga macam mekanisme faali, yaitu (1) berkenaan dengan target di dalam tubuh hama, (2) berkenaan dengan eksoskolet (kerangka luar) hama, (3) berkenaan dengan kepekaan mendeteksi adanya pestisida. Mengenai target pestisida ada individu-individu hama yang mempunyai situs lain yang merupakan target pestisida tadi, tetapi yang interaksinya dengan molekul pestisida tidak menimbulkan dampak letal. Populasi resisten disini bukannya terdiri dari individu yang memiliki enzim perombak. 15 Mengenai eksoskelet (kerangka luar), ada individu-individu hama yang memiliki struktur eksoskelet sedemikian rupa sehingga pestisida sulit menembusnya, dengan demikian pestisida tidak sampai kepada targetnya. Mengenai kepekaan mendeteksi pestisida, diantara individu-individu hama terdapat keragaman. Ada yang sangat peka, sehingga sebelum berkontak (cukup lama) dengan mereka sudah menghindarinya, dengan lain perkataan, pada tipe resistensi semacam ini sebenarnya pestisida tidak atau tidak cukup mengenai hama, tipe resistensi ini sering disebut behavioural resistance. 17 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Hanura Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Desa Hanura merupakan daerah endemis malaria dengan angka Annual Parasite Incidence (API) sebesar 14.060/00 (Dinkes Kab. Pesawaran 2011). 3.2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan dari bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012. Pengukuran kepadatan gigitan nyamuk Anopheles pada manusia dan pada sapi dilakukan pada malam hari, frekwensi pengukuran setiap tujuh hari sekali. 3.3 Hewan Ternak yang digunakan Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan ternak sapi (Gambar 1). Jumlah sapi yang digunakan tiga ekor, dengan luas permukaan badan sapi antara 1.5 sampai dengan 3 m². Jenis sapi yang digunakan adalah peranakan onggole (PO) milik penduduk yang disewa selama penelitian. Umur sapi berkisar 1 sampai dengan 2 tahun, tidak terlalu besar, supaya dapat dimasukkan ke dalam perangkap magoon yang akan dipasang selama penelitian. Gambar 1 Sapi yang digunakan dalam penelitian. 18 3.4 Insektisida yang dipakai Insektisida yang dipakai adalah deltametrin 5% (K-Othrine® 5WP) dalam bentuk tepung yang dikemas dalam kantong plastik @ 85 gram (Gambar 2) yang bersifat residual dengan toksisitas rendah pada mamalia. Dosis yang digunakan adalah 25 mg/m2 sesuai dengan dosis aplikasi yang dianjurkan. Gambar 2 Insektisida deltametrin. 3.5 Pembaluran Insektisida pada Sapi Pembaluran dilakukan dengan melumuri insektisida pada badan sapi sampai bulu-bulunya basah, dengan bantuan spon dan sarung tangan (Gambar 3). Rowland et al. (2001) melaporkan bahwa 99% nyamuk Anopheles mengisap darah di daerah bawah garis tengah (midline) badan hewan, maka pemaparan terutama dilakukan di bagian tersebut sampai dengan bagian kaki. Gambar 3 Pembaluran insektisida pada sapi. 19 3.6 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi Penentuan lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi menggunakan metode cone test (WHO 1998). Cone test dilakukan untuk mengetahui daya tahan residu insektisida yang diaplikasikan pada tubuh sapi yang menyebabkan tingkat kematian untuk nyamuk Anopheles hingga 95% . Pelaksanaan cone test dilakukan dengan cara menempelkan 5 buah cone (kerucut) yang masing-masing berisi 25 nyamuk Anopheles betina yang diperoleh dari hasil penangkapan di sekitar kandang. Waktu penempelan nyamuk Anopheles pada badan sapi yang telah dibaluri dengan insektisida deltametrin berlangsung selama satu jam (Gambar 4 A). Pelaksanaan cone test ini dilakukan setiap hari dengan cara yang sama sampai hasil pengamatan mencapai 95%. Pengamatan dihentikan ketika angka kematian menunjukkan di bawah 95%. Kriteria ini digunakan berdasarkan penelitian Hasan (2006). Pada sapi kontrol (tidak dibalurkan insektisida) digunakan dua buah kerucut yang masing-masing juga berisi dua puluh lima nyamuk Anopheles betina dikontakkan kepada tubuh sapi dengan cara yang sama seperti pada sapi perlakuan. Setelah itu nyamuk dipindahkan ke gelas kertas yang diberi makan larutan gula 10%, gelas-gelas tersebut ditempatkan pada kotak yang dilapisi dengan pelepah pisang untuk menjaga agar kelembaban berkisar 85% (Gambar 4 B). Kematian nyamuk diamati 24 jam pasca kontak dengan insektisida. A B Gambar 4 Pelaksanaan cone test. A. Penempelan nyamuk B. Penyimpanan. 20 3.7 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Gambar 5 Penangkapan nyamuk metode BLC. Pengukuran kepadatan nyamuk dilakukan 2 kali sebelum (pra) dan sesudah (pasca perlakuan). Kepadatan nyamuk yang menggigit orang mengunakan metode BLC- bare leg collection (Gambar 5), yang dilakukan pada malam hari selama 12 jam (pukul 18.00 sampai dengan 06.00). Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali pra perlakuan yaitu H-21(21 hari sebelum perlakuan), H-14 (14 hari sebelum perlakuan) dan H-7(7 hari sebelum perlakuan), sedangkan pada pasca perlakuan pengukuran dilakukan sebanyak empat kali yaitu H0 (hari pertama perlakuan), H+7(7 hari setelah perlakuan pertama), H+14 (14 hari setelah perlakuan pertama) dan H+21(21 hari setelah perlakuan pertama). Pelaksanaan BLC dilakukan pada 3 rumah, pada setiap rumah bertugas dua orang penangkap, satu orang bertugas di luar rumah dan satu orang di dalam rumah. Penangkapan dilakukan selama 45 menit dan istirahat 15 menit dalam setiap jamnya. Nyamuk yang tertangkap dibunuh dengan menggunakan klorofom selanjutnya dipining kemudian diidentifikasi. 3.8 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pengukuran kepadatan nyamuk dilakukan 2 kali sebelum (pra) dan sesudah (pasca perlakuan). Penangkapan Anopheles pada magoon trap berumpan sapi, berukuran panjang 6 m, lebar 6 m dan tinggi 2 m, yang dilengkapi dengan pintu 21 masuk (Gambar 6 A), selanjutnya sapi ditempatkan pada tiga rumah yang berada di sekitar tempat perindukan nyamuk Anopheles. A B Gambar 6 Penangkapan nyamuk pada sapi A. Magoon trap B. Penangkapan nyamuk. Pemasangan ditempatkan kurang lebih 5 sampai dengan 10 meter dari rumah, dengan posisi tempat pemasangan antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk Anopheles yang bertujuan sebagai penghalang nyamuk sebelum sampai ke rumah. Penangkapan nyamuk dilakukan pada jam 06.00 pagi setelah sapi dipasang selama 12 jam dari jam 18.00 sampai dengan 06.00. Nyamuk Anopheles ditangkap menggunakan aspirastor (Gambar 6 B) di masukkan dalam gelas kertas dan dibunuh menggunakan kloroform selanjutnya dipining untuk diidentifikasi. Pengukuran kepadatan nyamuk Anopheles pada sapi dilakukan sebanyak tiga kali pra perlakuan yaitu H-20 (20 hari sebelum perlakuan), H-13 (13 hari sebelum perlakuan), H- 6 (6 hari sebelum perlakuan), sedangkan pada pasca perlakuan dilakukan sebanyak empat kali yaitu H0 (hari pertama perlakuan), H+7(7 hari setelah perlakuan pertama), H+14 (14 hari setelah perlakuan pertama) dan H+21 (21 hari setelah perlakuan pertama). 3.9 Identifikasi nyamuk Nyamuk Anopheles yang diperoleh kemudian diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop stereo untuk memeriksa serangga (Gambar 7). Identifikasi menggunakan kunci buku identifikasi O’Connor dan Soepanto 22 (1979). Nyamuk Anopheles yang tertangkap diidentifikasi dan dihitung jumlah masing-masing spesiesnya. Gambar 7 Identifikasi nyamuk. 3.10 Analisis Data 3.10.1 Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi Pengukuran efek residu insektisida ditentukan berdasarkan persentase kematian nyamuk uji dalam pengamatan 24 jam. Nyamuk yang lumpuh dan tidak bisa terbang dihitung atau dianggap mati. Bila kematian nyamuk kontrol 5–20% maka dikoreksi dengan menggunakan rumus Abbot’s. Bila kematian nyamuk kontrol lebih dari 20% maka uji dianggap gagal dan harus diulang kembali. x 100% Kriteria lama residu ditentukan oleh kematian nyamuk uji minimal 95%, pengamatan dihentikan ketika angka kematian menunjukkan di bawah 95%. 3.10.2 Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles Kelimpahan nisbi digunakan untuk mengetahui spesies dominan (WHO 2003). Kelimpahan nisbi dihitung berdasarkan jumlah spesies Anopheles tertentu yang tertangkap dibagi dengan total spesies Anopheles yang tertangkap dikalikan dengan seratus persen. N = x 100% 23 Keterangan : N = Kelimpahan Nisbi. a = Jumlah spesies tertentu b = Total spesies 3.10.3 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Nyamuk Anopheles yang mengisap perorang per jam dihitung berdasarkan nilai man hour density (MHD). Nilai MHD dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di badan per jam dibagi dengan jumlah penangkap dikali waktu penangkapan. Keterangan : MHD = Man hour density (Jumlah nyamuk Anopheles hinggap di badan per orang per jam). 3.10.4 Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Nyamuk Anopheles yang hinggap pada sapi per malam dihitung berdasarkan jumlah nyamuk yang hinggap di kelambu sapi per malam dibagi dengan jumlah sapi. 25 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Lama Residu Insektisida di Badan Sapi 102 100 Kematian (%) 98 96 94 92 90 88 86 1 Gambar 8 2 3 4 5 6 Hari ke 7 8 9 10 Rata-rata angka kematian (%) nyamuk Anopheles setelah dikontakan dengan sapi yang dibalurkan insektisida. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada ternak sapi, menimbulkan tingkat kematian rata-rata mampu bertahan delapan hari 95% (Gambar 8). Hasil pengamatan ini memberikan gambaran bahwa sampai batas waktu delapan hari setelah aplikasi residu insektisida deltametrin masih mampu efektif untuk membunuh Anopheles, untuk dapat menimbulkan tingkat kematian yang tinggi pengulangan aplikasi insektisida deltametrin sebaiknya dilakukan setiap delapan hari sekali. Efektifitas residu insektisida deltametrin hanya mampu bertahan selama delapan hari pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan uji coba serupa yang dilakukan oleh Hasan (2006) di Bogor dengan mengolesi kerbau dengan deltametrin hasilnya hanya mampu mempertahankan untuk tingkat kematian nyamuk 95% selama tiga hari, dan lebih rendah dibandingkan Hewitt et al. (1999) yang meneliti di Pakistan mendapatkan residu deltametrin mampu bertahan selama tiga puluh satu hari. Hasil ini berhubungan dengan metode peternakan di Hanura yang pada siang hari menambatkan ternaknya di luar kandang untuk mencari rumput sehingga ternak ini sering terpapar sinar matahari dan hujan. Suhu udara dipantai 26 relatif lebih tinggi dari rata-rata suhu di tempat lain yang berdampak ternak mudah berkeringat sehingga menghilangkan residu yang melekat. Penyebab lain adalah jenis formulasi yang digunakan pada penelitian ini adalah bentuk wettable powders (WP) yang kurang kuat melekat pada badan sapi dibandingkan bentuk emulsifiable concentrates (EC). Winarno et al. (2010) meneliti status resistensi insektisida di wilayah Lampung menemukan deltametrin 5 WP masih dinyatakan susceptible karena mampu menimbulkan kematian 100% pada nyamuk uji, hal ini sejalan dengan hasil penelitian ini yang mendapatkan hasil pada pengujian pertama mampu menimbulkan kematian sebesar 100%. Mahande et al. (2007) menyatakan keberhasilan deltametrin sebagai insektisida residual terutama tergantung pada lokasi daerah pengujian, konsentrasi insektisida yang digunakan, formulasi insektisida, permukaan benda yang di semprot, kelembaban dan suhu. Vatandoost et al. (2009) meneliti residu deltametrin dengan dosis 25 mg/m2 pada berbagai permukaan benda menemukan bahwa permukaan dinding semen mampu mempertahankan kematian 95% selama enam puluh hari, pada kayu kurang dari tiga puluh hari. Mahande et al. (2007) meneliti di Tanzania menemukan, kemampuan deltametrin yang dibalurkan pada badan ternak sapi yang digembalakan di padang rumput mampu mempertahankan effek knock down 50% pada An. arabiensis selama dua puluh satu hari, pada ternak yang di kandangkan mampu bertahan selama dua puluh sembilan hari. 4.2 Keragaman dan Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles yang Tertangkap Pra Perlakuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tujuh spesies Anopheles yang ditemukan berdasarkan metode umpan orang dan umpan sapi. Enam spesies ditemukan pada umpan orang yaitu An. sundaicus, An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus, An. aconitus, An. kochi. Tujuh spesies ditemukan pada umpan sapi yaitu An. subpictus, An. vagus, An. barbirostris, An. sundaicus, An. aconitus, An. kochi, An. hyrcanus group (Tabel 1). 27 Tabel 1 No 1 2 3 4 5 6 7 Keragaman dan kelimpahan nisbi Anopheles yang tertangkap pra perlakuan Spesies nyamuk Umpan orang Umpan sapi Jumlah Kelimpahan nisbi (%) Jumlah Kelimpahan nisbi (%) An. sundaicus 533 57,81 123 5,36 An. vagus 193 20,93 769 33,54 An. barbirostris 81 8,79 300 13,08 An. subpictus 85 9,22 1014 44,22 An. aconitus 21 2,28 53 2,31 An. kochi 9 0,98 26 1,13 0 0 8 0,35 An. hyrcanus group 922 100 2293 100 Total Anopheles sundaicus ditemukan sebagai spesies terbanyak pada umpan orang, dengan kelimpahan nisbi sebesar 57.81%. Anopheles subpictus ditemukan sebagai spesies terbanyak pada umpan sapi, dengan kelimpahan nisbi sebesar 44.22%. Hasil pengamatan dua metode penangkapan nyamuk Anopheles pada pra perlakuan yaitu umpan orang dan umpan sapi, jenis nyamuk yang paling banyak tertangkap menggunakan umpan sapi. Dari tiga kali penangkapan jumlah nyamuk Anopheles yang tertangkap sebanyak 2293 individu, sedangkan menggunakan umpan orang dari tiga kali penangkapan jumlah nyamuk Anopheles yang tertangkap sebesar 922 individu. Jenis kondisi Anopheles yang ditemukan dalam penelitian ini sesuai dengan daerah penelitian yaitu mempunyai daerah pantai dengan tambak-tambak ikan yang terbengkalai, rawa-rawa dan persawahan yang sangat sesuai untuk habitat jenis spesies Anopheles tersebut. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan oleh Safitri (2009) dan Suwito (2010), yang menemukan jenis spesies Anopheles di wilayah pantai Lampung ada sebelas spesies Anopheles yaitu An. sundaicus, An. subpictus, An. vagus, An. kochi, An. annularis, An. aconitus, An. barbirostris , An. tessellatus, An. minimus, An. indefinitus, An. maculatus. Sukowati (2009) menyatakan bahwa penyebaran nyamuk Anopheles tidak hanya berdasarkan zoogeografi, namun juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat, pemanfaatan lahan dan ekosistem. 28 Perbedaan kelimpahan nisbi spesies Anopheles tertentu yang ditemukan pada umpan orang dan umpan sapi menunjukkan kesukaan inang tertentu dari nyamuk. Kesukaan suatu spesies nyamuk terhadap jenis inang tertentu dapat dihubungkan dengan tanggapan spesies nyamuk terhadap tingkatan faktor fisik dan kimia, yang dikeluarkan oleh inang tersebut. Temperatur, kelembaban tubuh, karbon dioksida, bau serta faktor visual telah diketahui secara nyata merupakan stimuli yang mampu mempengaruhi nyamuk mendekati inang. Suatu spesies nyamuk akan berbeda dengan spesies lainnya dalam memberi respon terhadap pengaruh faktor fisik dan kimia yang dikeluarkan oleh inang (Olanga et al. 2010). Hasil ini sesuai dengan penelitian Soedir (1985) di pantai Glagah, Yogyakarta terhadap sejumlah hewan dan manusia menunjukkan ternak mempunyai daya tarik yang besar bagi nyamuk. Dari 3081 nyamuk yang tertangkap 54.3% menyukai darah sapi, darah domba 33.4%, darah manusia hanya 5.3%. Naswir (2012) menemukan di Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan dari beberapa metode penangkapan nyamuk, metode menggunakan umpan hewan lebih banyak nyamuk Anopheles yang tertangkap (50.23%). Sigit & Kesumawati (1988) menyatakan bahwa beberapa nyamuk Anopheles seperti An. aconitus, An. sundaicus dan An. barbirostris yang merupakan vektor utama malaria di Indonesia juga bersifat zoofilik, suka mengisap darah hewan. Vektor dominan kontak dengan manusia di lokasi penelitian adalah Anopheles sundaicus yang bersifat antropofilik, untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam metode zooprofilaksis juga diperlukan peran serta masyarakat dalam perlindungan diri. Orientasi kesukaan Anopheles mengisap darah inang bukan hanya ditentukan oleh sifat biologi dari vektor yang bersifat zoofilik ataupun antropofilik namun juga didorong oleh tindakan perlindungan dari masyarakat sehingga nyamuk akan mencari sumber darah selain manusia. Penggunaan baju yang tertutup dan repelen anti nyamuk ketika keluar rumah serta tidur di dalam kelambu akan merubah orientasi gigitan nyamuk lebih banyak ke hewan yang tersedia. 29 Perlindungan pribadi dan ditunjukkan oleh Mathys zooprofilaksis memiliki efek interaktif (2010) di Afrika yang menunjukkan bahwa penggunaan kelambu dan zooprofilaksis bersama-sama mengurangi risiko manusia untuk terkena gigitan nyamuk. 4.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra Perlakuan Perilaku mengisap darah yang selama ini dikenal dengan perilaku menggigit merupakan aspek penting dalam bioekologi Anopheles. Aktivitas mengisap darah dihitung berdasarkan nilai Man Hour Density (jumlah gigitan nyamuk/orang/jam). mengisap darah per orang per jam Aktivitas dihitung selama 12 jam penangkapan. Angka MHD menunjukkan besaran jumlah vektor yang mengisap darah manusia yang mempengaruhi jumlah kasus malaria, sehingga rekaman data dapat dijadikan rujukan untuk peringatan dini dan penyusunan strategi pengendalian vektor. 4.3.1 Anopheles sundaicus Anopheles sundaicus merupakan jenis Anopheles yang nilai MHD paling tinggi dibandingkan jenis Anopheles yang lain. Nilai MHD Anopheles sundaicus lebih tinggi di luar rumah di bandingkan di dalam rumah (Gambar 9) . MHD (nyamuk/orang/jam) 6 5 4 3 2 1 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 9 Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap darah per orang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. 30 Tiga kali penangkapan pra perlakuan ditemukan MHD nyamuk Anopheles sundaicus adalah 3.04, 3.63 dan 3.2 nyamuk/orang/jam. Besarnya kontak nyamuk Anopheles sundaicus yang ditemukan pada penelitian ini memberikan gambaran peranan Pengetahuan fluktuasi kepadatan nyamuk ini sebagai vektor malaria. An. sundaicus sangat penting untuk memahami penularan malaria di wilayah pesisir. An. sundaicus merupakan vektor malaria di sebagian besar wilayah di sepanjang pantai di Indonesia. Spesies ini juga merupakan vektor malaria di desa Hanura (Suwito 2010). Spesies lainnya yang berperan juga sebagai vektor malaria adalah An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus merupakan vektor sekunder malaria di daerah pantai, biasanya terdapat bersama-sama dengan An. sundaicus (Soedir 1985). Nyamuk Anopheles sundaicus karena banyak lagun, rawa-rawa dan banyak ditemukan di wilayah pantai tambak terbengkalai yang merupakan habitat potensial bagi larva An. sundaicus. Semakin luas habitat perkembang biakan larva, maka semakin tinggi kepadatan nyamuk hinggap di badan (Suwito 2010). Distribusi An. sundaicus meliputi daerah pesisir dari India timur laut ke Vietnam dinyatakan selatan, Nicobar, Andaman dan Indonesia. Anopheles sundaicus, sebagai vektor malaria di sepanjang pantai pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan kepulauan Nusa Tenggara Timur. Spesies tersebut juga dilaporkan sebagai vektor malaria di daerah pantai pulau Sulawesi (Winarno dan Hutajulu 2009). Perbedaan perilaku nyamuk dewasa dan habitat larva An. sundaicus adalah indikasi dari peningkatan risiko kontak dengan manusia. Anopheles sundaicus dianggap sebagai vektor utama atau vektor sekunder malaria tergantung pada wilayah dan Negara (Meek 1995). An. sundaicus sebelumnya dianggap sebagai vektor sekunder di Thailand, namun karena kejadiannya dekat dengan lokasi wisata sekarang dianggap sebagai vektor utama yang potensial (Chowanadisai et al. 1989). 31 4.3.2 Anopheles vagus Hasil penelitian menemukan An. vagus termasuk spesies yang tertangkap mengunakan umpan orang nomor dua setelah An. sundaicus. Kepadatan Nyamuk An. vagus mengisap orang dari tiga kali pengamatan adalah 1.06, 1.30 dan 1.19 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk yang tertangkap di luar MHD (nyamuk/orang/jam) rumah lebih tinggi dari pada di dalam rumah (Gambar 10). 2 1,8 1,6 1,4 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 10 Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Nyamuk Anopheles vagus umumnya bersifat eksofilik suka mencari darah di luar rumah. Lestari et al. (2007) melaporkan di Purworejo semua An. vagus ditemukan di luar rumah, sedangkan di daerah pantai Banyuwangi An. vagus lebih suka mengisap darah ternak di kandang dibandingkan mengisap darah umpan orang di luar maupun di dalam rumah (Shinta et al. 2003). Garjito et al. (2005) menemukan di Kabupaten Parigi Muotong, nyamuk Anopheles lebih banyak ditemukan di luar rumah jika dibandingkan dengan dalam rumah, tempat istirahat yang paling di sukai adalah dinding kandang hewan. Nyamuk An. vagus di Indonesia dikonfirmasi sebagai vektor di Sukabumi Jawa Barat dengan indeks sporozoit 0.0012 (Munif 2008) dan di NTT (Adnyana 2011). Nyamuk ini juga merupakan vektor sekunder pada permukiman yang tidak memiliki ternak atau primata (Prakash et al. 2004). 32 4.3.3 Anopheles barbirostris Anopheles barbirostris adalah spesies terbanyak ketiga yang tertangkap melalui umpan orang. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles barbirostris adalah 0.87, 0.72 dan 0.61 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 11). 1,6 1,4 MHD (nyamuk/orang/jam) 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 11 Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Spesies An.barbirostris ini memiliki kemampuan berkembang biak pada habitat yang sangat beragam, di air jernih atau keruh, menggenang atau mengalir, ditempat teduh atau kena sinar matahari. Larvanya dapat ditemukan di persawahan, kolam dan rawa. Cooper et al. (2010) melakukan penelitian di kawasan pantai Dili Timor Leste, menemukan spesies An.barbirostris tersebar luas di seluruh pesisir pantai dan dataran rendah. Sedangkan penelitian Naswir (2012) menemukan An. barbirostris mengisap darah orang baik di dalam rumah maupun di luar rumah. 4.3.4 Anopheles subpictus Nyamuk An. subpictus yang tertangkap pra perlakuan nomor empat terbanyak dari enam spesies Anopheles yang tertangkap.Tiga kali penangkapan pra perlakuan ditemukan MHD nyamuk Anopheles subpictus adalah 0.52, 0.50 33 dan 0.60 nyamuk/orang/jam. MHD nyamuk yang mengisap di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 12) Nyamuk An. subpictus diketahui positif mengandung sporozoit di Sulawesi Selatan, Cirebon, Atambua, Banyuwangi dan Flores, nyamuk ini MHD (nyamuk/orang/jam) bersifat zoofilik (Boesri 2007). 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 12 Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Nyamuk An. subpictus di pulau Jawa banyak ditemukan di sawah, di Nusa Tenggara Timur merupakan spesies yang dominan di daerah pantai dan paling melimpah (65.5%) di daerah pantai di Nusa Tenggara Barat (Ndoen et al. 2010). An. subpictus dilaporkan menyebar luas sebagai vektor di Asia. Nyamuk jenis ini di Sri Lanka merupakan nyamuk yang dominan baik dalam fase larva maupun dewasa. Sibling An. subpictus C tahan terhadap kadar garam hingga 4 ppt dan An. subpictus D hingga 8 ppt (Surendran et al. 2011). Meskipun kepadatan gigitan An. subpictus lebih rendah jika dibandingkan dengan An. sundaicus, An. vagus dan An. barbirostris di Hanura, penelitian Amerasinghe et al. (1992) di Sri Lanka menemukan spesies ini perlu diperhatikan karena merupakan inang bagi Plasmodium vivax dan P. falciparum. Di Indonesia An. subpictus termasuk spesies Anopheles yang dikonfirmasi sebagai vektor di Maluku Utara (Winarno dan Hutajulu 2009), dan oleh Boesri (2007) dinyatakan juga sebagai vektor malaria di Sumatera Barat, Jawa Timur, NTB, NTT dan Sulawesi Tenggara. 34 4.3.5 Anopheles aconitus Nyamuk An. aconitus tertangkap pra perlakuan umpan orang kepadatannya nomor lima dari enam jenis Anopheles yang ditemukan. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles aconitus adalah 0.15, 0.09 dan 0.17 nyamuk/orang/jam. Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah (Gambar 13). Nyamuk ini telah ditemukan positif sporozoit di Cianjur (1919), Purworejo (1954), Banjarnegara (1978), Jepara (1980), dan Wonosobo (1982). Nyamuk betina bersifat zoofilik dan eksofilik (Boesri 2007). Tempat perindukan adalah daerah persawahan dengan saluran-saluran irigasi, sungai pada musim kemarau MHD (nyamuk/orang/jam ) serta kolam ikan dengan tanaman (Sugiarto 2010). 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 13 Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. 4.3.6 Anopheles kochi Nyamuk An. kochi tertangkap pra perlakuan umpan orang kepadatannya nomor enam paling rendah dibandingkan jenis Anopheles yang ditemukan. Tiga kali pengamatan pra perlakuan menemukan kepadatan Anopheles kochi adalah 0.09, 0.02 dan 0.06 nyamuk/orang/jam. 35 0,20 MHD (nyamuk/orang/jam) 0,15 0,10 0,05 0,00 H-21 H-14 H-7 Pengamatan Gambar 14 Kepadatan nyamuk Anopheles kochi mengisap darah perorang perjam (MHD) di luar rumah () dan di dalam rumah (■) pra perlakuan. Kepadatan nyamuk Anopheles kochi di luar rumah lebih tinggi dibandingkan di dalam rumah Nyamuk (Gambar 14). Anopheles kochi di Halmahera banyak tertangkap di sekitar perkebunan (Amirullah 2012), di Indonesia, nyamuk ini tidak termasuk sebagai vektor malaria (Sukowati 2009) tetapi dinyatakan sebagai vektor untuk parasit Japanese encephalitis di Semarang, Jawa Tengah dan vektor filariasis di Papua (Winarno dan Hutajulu 2009). 4.4 Aktivitas Nyamuk Anopheles di Malam Hari Penangkapan nyamuk Anopheles dengan umpan orang setiap jam selama 12 jam menunjukan fluktuasi aktivitas menggigit nyamuk Anopheles sepanjang malam dengan puncak aktivitas pada pukul 02.00 sampai dengan 03.00 (Gambar 15). Perilaku vektor lebih banyak menggigit di luar rumah yang ditemukan dalam penelitian ini, menjadikan penerapan metode zooprofilaksis mempunyai prospek yang bagus untuk diterapkan dalam program pengendalian malaria. Enam spesies Anopheles semuanya mengisap darah di luar rumah bersifat eksofagik. Penelitian Suwito (2010) di daerah yang sama juga menemukan sebagian besar nyamuk Anopheles beristirahat di luar rumah. Beberapa penelitian bionomik nyamuk Anopheles yang pernah dilakukan di Lampung, Safitri (2009) dan Suwito (2010) melaporkan juga bahwa nyamuk 36 Anopheles di daerah pesisir pantai Lampung lebih banyak bersifat eksofagik yaitu lebih senang mengisap darah manusia di luar rumah tidak jauh berbeda dengan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini. Perilaku menggigit nyamuk Anopheles yang cenderung bersifat eksofagik tersebut hampir serupa dengan hasil yang di dapatkan oleh Situmeang (1991) di pantai Pangandaran Jawa Barat menemukan nyamuk Anopheles lebih dominan mencari mangsanya di luar rumah dibandingkan di dalam rumah. Gambar 15 FluktuasiMHD setiap jam penangkapan dari pukul18.00 – 06.00. Nyamuk Anopheles di Desa Hanura adalah eksofilik atau eksofagik, sehingga upaya pengendalian difokuskan pada perubahan lingkungan dari sarang nyamuk. Mengalirkan lagoon air payau dengan drainase efektif dalam mengurangi kepadatan vektor, prinsip kerja metode dari drainase tersebut adalah meningkatkan sirkulasi air laut untuk mengurangi genangan dari air pasang sehingga dapat mencegah pergembangbiakan Anopheles . Upaya lain untuk menekan perkembangan larva Anopheles sundaicus dilakukan oleh Takagi et al. (1995) di Jawa Barat, menanami kolam dengan tanaman palem dan ditambahkan ikan pemakan larva nyamuk. Strategi ini lebih murah, mudah untuk dikembangkan dan efisien. Penebaran ikan pemakan larva nyamuk juga dapat di kombinasi dengan Bacillus thuringiensis israelensis dan larvasida kimia seperti yang (Ikemoto et al. 1986). pernah diuji coba di Sumatera bagian utara 37 4.5 Pengamatan Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pasca Perlakuan Pengamatan yang dilakukan terhadap kepadatan nyamuk Anopheles yang hinggap di badan pasca perlakuan ditemukan enam spesies Anopheles yaitu An. sundaicus, An. vagus, An. barbirostris, An. aconitus, An. kochi, An. subpictus. Anopheles sundaicus ditemukan sebagai spesies yang tertinggi hinggap di badan per jam (MHD) dibandingkan spesies yang lain (Tabel 2). Tabel 2 No Kepadatan nyamuk Anopheles tertangkap umpan orang per orang per jam (MHD) pasca perlakuan Spesies Anopheles MHD H0 H+7 H+14 H+21 UOD UOL UOD UOL UOD UOL UOD UOL 1 An.sundaicus 0,74 2,11 0,48 2,074 0,41 1,70 0,2963 1,48 2 An.vagus 0,15 0,78 0,07 0,44 0 0,37 0 0,26 3 An.barbirostris 0 0,37 0 0,22 0 0,19 0 0,11 4 An.subpictus 0,04 0,26 0 0,15 0 0,11 0 0,04 5 An.aconitus 0 0,11 0 0 0 0 0 0 6 An.kochi 0 0,07 0 0 0 0 0 0 Keterangan : MHD = Man Hour Density UOD = Umpan Orang Dalam UOL= Umpan Orang Luar H0-H+21= Pengamatan kepadatan Anopheles pasca perlakuan. Beberapa spesies Anopheles seperti An. vagus, An. barbirostris, An. subpictus, An. aconitus dan An. kochi angka MHD dapat diturunkan sampai dengan di bawah 1 nyamuk/orang/jam, sedangkan angka MHD nyamuk An. sundaicus walaupun menurun namun masih di atas 1 nyamuk/orang/jam. Keberhasilan metode zooprofilaksis untuk mengalihkan gigitan nyamuk pada manusia menurut Mathys (2010) tergantung pada nyamuk Anopheles lebih bersifat zoofilik. Semakin besar kesukaan nyamuk terhadap darah hewan peluang untuk keberhasilan mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan semakin besar. 4.5.1 Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus yang tertangkap menggunakan umpan orang pra perlakuan rata-rata sebesar 3.29 nyamuk/orang/jam. Angka MHD pasca perlakuan menurun menjadi 1.2 nyamuk/orang/jam, ada penurunan 38 sebesar 63.52%. Dari perhitungan uji statistik mempunyai hubungan yang MHD (Nyamuk/orang/Jam) bermakna (p value < 0,05) (Gambar 16). 4 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 H+14 H+21 Pengamatan Gambar 16 Kepadatan nyamuk Anopheles sundaicus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Penurunan angka MHD Anopheles sundaicus mulai melandai pada H+14 sampai dengan H+21. Sampai dengan perlakuan ke empat angka gigitan Anopheles sundaicus nyamuk/orang/jam, belum hal ini mampu diturunkan di bawah satu kemungkinan karena kecenderungan kesukaan nyamuk tersebut bersifat antropofilik. Sinka et al. (2011) mengamati perilaku Anopheles sundaicus dalam mencari darah di beberapa daerah seperi Nicobar, Sarawak Malaysia, Sumatera dan Jawa menemukan jenis nyamuk ini cenderung bersifat antropofilik. 4.5.2 Kepadatan Nyamuk Anopheles vagus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk An. vagus pra perlakuan rata-rata sebesar nyamuk/orang/jam. Pasca perlakuan kepadatan nyamuk An. vagus nyamuk/orang/jam, 1.3 0.26 atau ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 80% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 17). Ada hubungan yang bermakna antara pra perlakuan dan pasca perlakuan (p value < 0,05). MHD (Nyamuk/orang/jam) 39 1,4 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 17 Kepadatan nyamuk Anopheles vagus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anopheles pra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh pemasangan sapi dan paparan insektisida terhadap penurunan gigitan Anopheles vagus An. vagus. Penurunan angka gigitan berkaitan dengan sifatnya yang hewan. Naswir (2012) menemukan bahwa zoofilik menyukai darah Anopheles vagus di Bulukumba Sulawesi Selatan paling banyak tertangkap disekitar kandang, hasil yang sama juga dilaporkan oleh Hasan (2006) di Bogor yang menemukan pemasangan ternak sapi yang dibalurkan insektisida dapat menurunkan gigitan nyamuk Anopheles vagus pada manusia dari sebelum pemasangan sebesar 1.137 nyamuk/ orang/malam setelah pemasangan menurun menjadi 0.28 nyamuk/ orang/ malam. 4.5.3 Kepadatan Nyamuk Anopheles barbirostris Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris berbeda nyata antara pra dan pasca perlakuan (Gambar 18). Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris pra perlakuan rata-rata 0.7 nyamuk/orang/jam. Kepadatan pasca perlakuan 0.1 nyamuk/orang/jam, ada penurunan sebesar 85.71% dibandingkan pra perlakuan. Ada hubungan yang bermakna antara pra dan pasca perlakuan ( p value < 0,05). 40 1 MHD (Nyamuk/ornag/jam) 0,8 0,6 0,4 0,2 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 18 Kepadatan nyamuk Anopheles barbirostris mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Pada penelitian ini dapat dilihat ada hubungan yang bermakna pemasangan sapi dengan penurunan gigitan nyamuk pada manusia. Anopheles barbirostris di Hanura cenderung bersifat zoofilik. Menurut Boesri (2007) nyamuk Anopheles barbirostris di Sulawesi dan NTT banyak menggigit manusia tetapi di Jawa dan Sumatera lebih banyak menggigit ternak. Penelitian yang sama juga ditemukan oleh Sukowati et al. (2004) menemukan An. barbirostris di daerah Jawa bersifat zoofilik menyukai darah ternak sedangkan di daerah Flores (NTT) bersifat antrophofilik lebih menyukai darah manusia. 4.5.4 Kepadatan Nyamuk Anopheles subpictus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus berbeda nyata pra dan pasca perlakuan (Gambar 19). Kepadatan nyamuk An. subpictus pra perlakuan rata-rata 0.54 nyamuk/orang/jam. Kepadatan pasca perlakuan menjadi 0.07 nyamuk/orang/jam, atau menurun sebesar 82.45% dibandingkan pra perlakuan. MHD (Nyamuk/orang/jam) 41 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 19 Kepadatan nyamuk Anopheles subpictus mengisap orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Pengaruh pemasangan hewan ternak sapi yang dibalurkan insektisida mempunyai hubungan yang bermakna (p value < 0,05) terhadap penurunan kepadatan nyamuk Anopheles subpictus pada manusia, hal ini juga berkaitan dengan kesukaan dari nyamuk Anopheles subpictus yang bersifat zoofilik lebih menyukai hewan. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan Kiszewski (2004) yang melaporkan Human Blood Index (HBI) pada nyamuk Anopheles subpictus yang tertangkap hanya sebesar 9.3% lebih cenderung kesukaan darah inang dari nyamuk ini adalah darah hewan. Hasil yang sama juga dilaporkan oleh Bruce-Chatt et al. (1960) yang melaporkan An. subpictus yang tertangkap 98.5% menggigit hewan. 4.5.5 Kepadatan Nyamuk Anopheles aconitus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus pra perlakuan rata-rata 0.13 nyamuk/orang/jam. Pra perlakuan kepadatan nyamuk An. aconitus menjadi 0.01 nyamuk/orang/jam, ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 92.30% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 20). Ada hubungan yang bermakna antara pra dan pasca perlakuan ( p value < 0,05). Keberhasilan pemasangan dan pembaluran insektisida untuk mengurangi angka gigitan nyamuk Anopheles aconitus karena sifatnya yang zoofilik. Uji presiptin terhadap darah yang dihisap oleh An. aconitus dari beberapa lokasi di 42 Jawa Tengah menunjukan angka 93.5% berasal dari hewan, dan hanya 6.5 % berasal dari manusia. Dari darah hewan, ternyata darah bovidae (kerbau, sapi) MHD (Nyamuk/orang/jam) menunjukan sumber utama, lebih dari 90%. 0,18 0,16 0,14 0,12 0,1 0,08 0,06 0,04 0,02 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 20 Kepadatan nyamuk Anopheles aconitus menggigit orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. Kesukaan nyamuk Anopheles aconitus di beberapa lokasi yang jumlah ternak sangat sedikit atau tidak ada ternak sama sekali angka untuk darah berasal dari manusia (human blood index) naik menjadi 54,3% (Kirnowardoyo1984, dalam Sigit dan Kesumawati 1988 ). 4.5.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles kochi Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan nyamuk Anopheles kochi pra perlakuan rata-rata 0.05 nyamuk/orang/jam. Pasca perlakuan kepadatan nyamuk An. kochi menjadi 0.01 nyamuk/orang/jam, ada penurunan kepadatan nyamuk sebesar 80% dibandingkan pra perlakuan (Gambar 21). Do Manh et al. (2010) yang mengamati perilaku mencari darah Anopheles kochi di Vietnam menemukan An. kochi 96,7% menyukai darah hewan dan menyimpulkan nyamuk ini bersifat zoofilik. MHD (Nyamuk/orang/jam) 43 0,1 0,09 0,08 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,01 0 H-21 H-14 H-7 H0 H+7 Pengamatan H+14 H+21 Gambar 21 Kepadatan nyamuk Anopheles kochi menggigit orang pra dan pasca perlakuan. Keterangan: H-21 – H-7 = Kepadatan nyamuk Anophelespra perlakuan. H0 – H+21 = Kepadatan nyamuk Anopheles pasca perlakuan. 4.6 Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pra dan Pasca Pembaluran Insektisida Kepadatan nyamuk Anopheles yang hinggap di magoon sapi pembaluran insektisida pasca menunjukkan adanya penurunan (Gambar 22). Pemaparan insektisida yang dilakukan sebanyak empat kali, mampu menurunkan kepadatan nyamuk Anopheles subpictus 85.5%, Anopheles vagus 90.64%, Anopheles barbirostris 80%, Anopheles sundaicus 95.12%, Anopheles aconitus 94.34%, Anopheles kochi 100% dan Anopheles hyrcanus group 100% . Berkurangnya nyamuk Anopheles yang tertangkap dikelambu sapi disebabkan efek dari insektisida deltametrin yang menyebabkan nyamuk yang berkontak dengan badan sapi mati dan jatuh. Penangkapan dan perhitungan nyamuk hanya yang hinggap di kelambu sedangkan yang jatuh sangat sulit untuk dilakukan perhitungan karena terinjak-injak sapi dan bercampur dengan kotoran. 44 Kepadatan (nyamuk/sapi/malam) 120,0 100,0 80,0 60,0 40,0 20,0 0,0 H-20 H-13 H-6 H0 H+7 H+14 H+21 An.subpictus Pengamatan An.vagus An.barbirostris An. sundaicus An. aconitus An.kochi An. hyrcanus group Gambar 22 Rata-rata kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap pada magoon sapi pra dan pasca perlakuan. Deltametrin adalah piretroid yang membunuh serangga secara kontak atau dengan cara terkonsumsi. Secara umum modus aksi dari deltametrin adalah mempengaruhi aktifitas saraf dengan menunda penutupan saluran natrium. Pada keadaan normal protein ini membuka untuk memberikan rangsangan pada saraf dan menutup untuk menghentikan sinyal saraf. Piretroid terikat pada gerbang ini dan mencegah penutupan secara normal yang rangsangan gerakan saraf berkelanjutan. inkordinasi Hal ini yang mengakibatkan pada serangga. menghasilkan tremor dan Deltametrin memiliki spektrum pengendalian yang luas (broad spectrum) dan efektif terhadap banyak spesies serangga hama dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, Diptera, Orthoptera dan Thysanoptera. Namun kebanyakan piretroid tidak aktif terhadap tungau (mite,acarinae), kecuali beberapa senyawa seperti fenpropatrin, bifentrin. (Schleier dan Peterson 2011). Tingkat penurunan kepadatan Anopheles yang tertangkap dalam magoon sapi yang telah dibalur insektisida sangat besar hal ini dimaklumi karena dari hasil cone test pada awal penelitian menemukan kematian nyamuk uji setelah 45 kontak satu jam mendapatkan daya bunuh yang tinggi sampai dengan hari ke delapan. Studi neurofisiologis menunjukkan bahwa efek knockdown disebabkan oleh keracunan dari saraf perifer dan efek mematikan ini disebabkan oleh kerusakan yang ireversibel pada kedua neuron perifer dan sentral yang terjadi ketika insektisida kontak dengan nyamuk. Nilai KDT 50 (knock-down time) untuk deltametrin berada pada kisaran 22 sampai dengan 27 menit (Simsek 2007). Monitoring status resistensi insektisida oleh Winarno et. al (2010) di wilayah Lampung menemukan deltametrin 5 WP masih dinyatakan susceptible dimana dalam pengujian tersebut mampu menimbulkan kematian 100 % pada nyamuk uji. Naswir (2012) melaporkan hasil pengujian kerentanan spesies An. subpictus terhadap insektisida menggunakan deltametrin 0.05% menghasilkan persentase kematian nyamuk uji sebesar 100%. Hasil yang sama dengan dilaporkan Widiarti et al. (2009) pada pengujian kerentanan spesies vektor An.subpictus dengan menggunakan deltametrin 0,05% di desa Sanggalangit Kabupaten Buleleng Bali juga menunjukkan hasil dengan persentase yang sama yakni kematian 100%. Betson et al. ( 2009) juga melaporkan mortalitas 100% pada beberapa daerah di Gambia pada Anopheles gambiae terhadap deltametrin 0.05%. Zooprofilaksis saat ini mengalami perkembangan lebih lanjut dengan pemanfaatan insektisida untuk lebih meningkatkan efektifitasnya. Sejauh ini ada dua riset yang dilaporkan menggunakan kombinasi insektisida dan zooprofilaksis. Pertama penyemprotan kandang ternak menghemat penggunaan yang menurut Barodji (2010) dapat insektisida sebesar 83% bila dibandingkan penyemprotan dalam rumah (indoor spraying). Metode kedua adalah paparan insektisida langsung ke tubuh ternak. Penggunaan kombinasi zooprofilaksis dan insektisida banyak dikritik oleh beberapa pengamat lingkungan yang mempertanyakan tentang efek repellen dari insektisida yang dibalurkan pada ternak akan menyebabkan vektor kembali mudah mengigit manusia. Habtewold et al. (2004) melakukan penelitian di 46 Ethiopia menemukan sapi yang dibalur dengan insektisida tidak mempengaruhi nyamuk untuk mengigit sapi dan tidak dialihkan mencari darah inang manusia. Berkurangnya kepadatan nyamuk Anopheles yang tertangkap dalam kelambu dalam penelitian ini belum bisa menjadi indikator penurunan populasi nyamuk Anopheles di alam. Evaluasi pengaruh penggunaan insektisida dalam menurunkan populasi nyamuk Anopheles di alam, dapat menggunakan indikator penurunan kepadatan larva di alam. Namun sayangnya hal ini sulit untuk dilakukan mengingat luasnya tempat perindukan nyamuk yang ada di lokasi penelitian. Keberhasilan kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektsida dalam menurunkan untuk kepadatan gigitan nyamuk mengurangi transmisi penularan Anopheles diharapkan juga mampu malaria di masyarakat. Untuk mendapatkan hasil yang bermakna secara epidemiologi dalam penurunan kasus malaria di masyarakat perlu implementasi dalam skala yang cukup besar. Kelayakan implementasinya di lapangan di samping kajian teknis perilaku nyamuk juga perlu kajian efektifitas biaya. Penerapan dalam skala besar mencakup satu wilayah desa atau wilayah daerah perlu dipertimbangkan faktor biaya dan sumber daya yang tersedia dalam masyarakat. Implementasi metode zooprofilaksis tidak semudah yang kita bayangkan, mengingat daerah malaria adalah sebagian besar daerah tertinggal. Kemandirian masyarakat untuk menyediakan ternak sapi merupakan kendala non teknis terbesar yang harus dihadapi jika ingin metode ini dapat di implementasikan. Peran serta Pemerintah Daerah sangat diharapkan bantuan terutama Dinas Peternakan dapat menyediakan sapi yang diprioritaskan untuk daerah endemis malaria. Dengan demikian disamping untuk mengentaskan kemiskinan penduduk yang memelihara sapi juga dapat terhindar dari malaria dan dapat produktif untuk bekerja. 47 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada sapi dapat bertahan 8 hari dengan tingkat kematian nyamuk sebesar 95%. Pembaluran deltametrin pada sapi berpengaruh terhadap kepadatan Anopheles yang menggigit manusia. Hal ini tercermin pada penurunan angka gigitan pasca perlakuan, yaitu An. sundaicus sebesar 63.52%, An. vagus 80%, An. barbirostris 85.71%, An. subpictus 82.45%, An. aconitus 92.30%, An. kochi 80% . Selain itu, dampak pembaluran deltametrin juga menurunkan kepadatan nyamuk pada sapi, yaitu, An. sundaicus sebesar 95.12%, An. vagus 90.64%, An. barbirostris 80%, An. subpictus 85.5%, An. aconitus 94.34%, An. kochi 100% dan An. hyrcanus group 100% . 5.2 Saran Kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida deltametrin pada ternak sapi dapat menjadi alternatif pengendalian vektor Anopheles di daerah endemis malaria. 1 KOMBINASI ZOOPROFILAKSIS DAN PEMBALURAN INSEKTISIDA DELTAMETRIN PADA TERNAK SAPI SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR MALARIA BUDI SANTOSO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 49 DAFTAR PUSTAKA Adnyana NWD. 2011. Beberapa aspek bionomic Anopheles di Kabupaten Sumba Tengah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Med Lit Bang Kes 21(2): 62-70. Amerasinghe FP, Peiris JS, Wirtz RA. 1992. Anopheline ecology and malaria infection during the irrigation developmentof an area of the Mahaweli Project, Sri lanka. Am J Trop Med Hyg 45 (2): 26-35. Ahmad H, Mardihusodo SJ, Sutanto, Hartono, Kusnanto H. 2003. Estimasi tingkat penularan malaria dengan dukungan penginderaan jauh (studi kasus di daerah endemis malaria pegunungan Menoreh perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. J Ekol Kes 2 (1): 157-164. Ali A, Nayar JK, Knight JW, Stanley BH. 1989. Attraction of Florida mosquitoes (Diptera: Culicidae) to artificial light in the field. Proc Calif Mosq Contr Assoc 57: 82–88. Amirullah. 2012. Studi bioekologi Anopheles spp. sebagai dasar penyusunan strategi pengendalian vektor malaria di Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Andiyatu. 2005. Fauna nyamuk di wilayah kampus IPB Darmaga serta potensinya sebagai penular penyakit [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Aprianto A. 2002. Studi perilaku menggigit nyamuk Anopheles di Desa Hargotirto Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Arianti J, Sukowati S, Andris H. 2007. Habitat nyamuk Anopheles subpictus di enam pulau Kabupaten Kepulauan Seribu. J Ekol Kes 6 (1): 511-517. Barodji. 2010. Keberadaan sapi dan kerbau di daerah pedesaan dan kemungkinan pemanfaatannya sebagai zooprophylaksis malaria. J Medika 36 (3): 166 – 173. Baroji, Dammar, Boesri H, Sudini, Sumardi. 2003. Bionomik vector dan situasi malaria di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta. J Ekol Kes 2 (1): 209 -216. Bates M. 1970. The Natural History of Mosquitoes. The Mc Millian Company, Baltimore. 378 hal. 50 Becker N, Petric D, Zgomba M, Boase C, Dahl C, Lane J, Kaiser A. 2003. Mosquito And Their Control. Kluwer Academic/Plenum Publishers. New York. 497 hal. Bidlingmayer. 1994. How mosquitoes see traps: role of visual response. J Am Mosq Contr Assoc 10: 272-279. Betson M, Jawara M, Awoloa TS. 2009. Status of insecticide susceptibility in Anopheles gambiae from malaria surveilnce sites in the Gambia. Malar J 8: 187- 191. Boesri H. 2007. Standar penangkapan vector dalam rangka penelitian penularan malaria di Indonesia. J Kemas 3 (1): 41 – 47. Boesri H. 1991. Perilaku Anopheles sundaicus dalam hubungannya dengan penularan penyakit malaria dan cara pemberantasannya di Desa Tarahan Tanjungan Lampung Selatan [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Boewono TD. 1986. Pengaruh penempatan ternak kerbau dan sapi terhadap investasi nyamuk di dalam rumah [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bragdon GW, McAllister JC. 1989. Insecticide resistance and vector control. Emer Infect Dis 4 (4): 605 – 613. Brown AWA, Sarkaria DS,Thomson RP. 1951. Studies on the responses of the female Aedes mosquito, Part I. the search for attractants vapours. Bull Entomol Res 42: 105 – 114. Brown AWA, Pal R. 1971. Insecticides Resistence In Arthropods. Ed ke-2. WHO. Geneva. Brown AWA, Bennet GF. 1981. Response of mosquito (Diptera: Culicidae to visual stimuli). J Med Entomol 6: 505 – 521. Bruce-Chwatt LJ.1985. Essential malariology. Edisi ke 2. Aldren Press oxford. London. 452 hal. Bruce-Chwatt LJ, Gockel CW, Weitz B. 1960. A study of the blood feeding patterns of Anopheles mosquitos through precipitin tests . Bull Wld Hlth Org 22: 685 – 720. Burgess L, Brown AWA. 1957. Studies on the responses of the female Aedes mosquito.The attactiveness of beef blood to Aedes aegypty. Bull Entomol Res 48: 783 – 793. 51 Burkett DA , Butler, Kline DL. 1998. Field evaluation of colored light-emitting diodes as attractants for woodland mosquitoes and other Diptera in north central Florida. Am J Mosq. Contr Assoc 14:186-195. Carver S, Bestall A, Jardine A, Ostfeld RS. 2009. Influence of Hosts on the ecology of arboviral transmission: potential mechanisms influencing Dengue, Murray Valley Encephalitis,and Ross River Virus in Australia. Vect Brn Zoo Dis 9 (1): 51-64. Chareonviriyaphap T, Rongnoparut P, Juntarumporn P. 2002. Selection for pyrethroid resistence in a colony of Anopheles minimus species, a malaria vector in Thailand. J Vec Ecol 27 (2): 222 – 231. Chowanadisai L, Krairiksh S, Thanasripukdikul S. 1989. Microbial control of Anopheles sundaicus, a malaria vector in Thailand, by Bacillus sphaericus 2362. Mosq Brn Dis Bull 6: 39–44. Clements AN. 1963. The Physiology Of Mosquito. Mc Millan Company, New York. 393 hal. Cooper RD, Edstein MD, Frances SP, Beebe NW. 2010. Malaria vectors of Timor Leste. Malar J 9: 40-43. Cooperband MF, Mcelfresh JS, Millar JG, Carde RT. 2008. Attraction of female Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) to odors from chiken feces. J Insect Physiol 54: 1184 -1192. Daykin PN, Kellogg FE, Wrigth RH. 1965. Host finding and repulsion of Aedes aegypti. Can Entomol 97: 239 – 263. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Vektor Malaria di Indonesia. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Draf Profil Subdit BPP Tahun 2005. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Modul Entomologi Malaria. Dit.Jen. PP & PL, Jakarta. [Dinkes Kab.Pesawaran] Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran.2011. Laporan Evaluasi Program Malaria Kabupaten Pesawaran. Gedong Tataan, Lampung. Do Manh C, Beebe NW, Thi Van VN, Quang TL, Lein CT, Nguyen DV, Nguyen T, Ngoc AL, Cooper RD. 2010. Vectors and malaria transmission in deforested, rural communities in north-central Vietnam. Malar J 9:259-264. 52 Dusfour I, Harbach RE, Manguin S. 2004. Bionomic and systematic of the oriental Anopheles sundaicus complex in relation to malaria transmission and vector control. Am J Trop Med Hyg 7 (4): 518-524. Eldrigde FB, Edman DJ. 2000. Medical Entomology. Kluwer Publisher. Dordrecht. 659 hal. Academic Etang J, Manga L, Toto JC, Guillet P, Fondjo E, Chandre F.2 006.Spectrum of metabolic-based resistance to DDT and pyrethroids in Anopheles gambiae populations from Cameroon. J Vect Ecol 3 (1) : 123-133. Garjito A, Jastal, Wijaya Y, Lili, Chadijah S, Erlan A, Rosmini, Samarang, Udin Y, Labatjo Y. 2004. Studi bioekologi nyamuk Anopheles di wilayah pesisir pantai timur Kabupaten Parigi Muotong, Sulawesi Tengah. Bul Penel Kes 32 (2): 49-61. Georghiou PG. 1986. The Magnitude of the Resistence Problem. Dalam Pesticide Resistence, Strategic and Tactics for Management. National Research Council Washington DC. hal 14-43. Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya. IPB Press. Bogor. 227 hal. Hadi UK, Koesharto FX. 2006. Nyamuk. Dalam: Sigit SH & Upik K. Hadi 2006. Hama Permukiman Indonesia; Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. UKPHP FKH IPB. Bogor. Hal 23 – 51. Hans O, Ekbom B, Suwonkerd W, Takagi T. 2002. Effect of landscape structure on Anopheline mosquito density and diversity in northern Thailand : Implicatios for malaria transmission and control. Lansc Ecol 18: 605-619. Hasan M. 2006. Efek paparan insektisida deltametrin pada kerbau terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles vagus pada manusia [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Habtewold, Prior A, Torr SJ, Gibson G. 2004. Could insecticide-treated cattle reduce Afrotropical malaria transmission? Effects of deltamethrin-treated Zebu on Anophelesarabiensis behavior and survival in Ethiopia. Med Vet Entomol 18: 408 - 417. Hewitt S, Rowland M. 1999. Control of zoophilic malaria vectors by applying pyrethroid insecticides to cattle. Trop Med Int Hlth 4 : 481 – 486. Hewitt S, Kamal M, Muhammad N, Rowland M. 1994. An entomological investigation of the likely impact of cattle ownership on malaria in Afghan Refugee Camp in The Nort West Frontier Province of Pakistan. Med Vet Entomol 8: 160 - 164. 53 Idram NS , Sudomo M, Sujitno. 1993. Fauna Anopheles di daerah pantai hutan mangrove Kecamatan Padang Cermin Lampung Selatan. Bul Penel Kes 26 (1) : 3 – 14. Ikemoto T, Sumitro , Panjaitan W, Shibuya T. 1986. Laboratory and small scale field tests of larvicides and larvivorous fishes against Anopheles sundaicus larvae at Perupuk Village, NorthSumatra, Indonesia. Jpn J Sanit Zool 37: 105–112. Jastal. 2005. Perilaku nyamuk Anopheles mengisap darah di Desa Tongoa, Donggala Sulawesi Tengah [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Jawara M, Awolola TS, Pinder M, Jeffries D, Smallegange RC, Takken W, Conway DJ. 2011. Field testing of different chemical combinations as odour baits for trapping wild mosquitoes in the Gambia. PLoS One [Internet]. [diunduh 2012 Okt 7]; 6: 128.Tersedia pada: http:// www. plosone.org. html. Kiamos IS, Louis C. 2004. Interactions between malariaparasites and their mosquito hosts in the midgut. Insec Bioch Mol biol 37: 679 – 685. Kirnowardoya S, Yoga GP. 1987. Entomological investigations of an outbreak of malaria in Chilacap on south coast of central Java, Indonesia during 1985. J Commun Dis 19: 121–127. Kiszewski A, Mellinger A, Spielman A, Malaney P, Sachs SE, Sachs J. 2004. A global index representing the stability of malaria transmission. Am J Trop Med Hyg 70 (5): 486 – 495. Lestari EW,Sukowati S, Soekojo,Wigati RA. 2007.Vektor malaria di Bukit Menoreh, Purworejo, Jawa Tengah. Med Lit Bang Kes 12 (1): 30-35. Mahande AM, Mosha FW, Mahande JM, Kweka EJ. 2007. Role of cattle treated with deltamethrine in areas with a high population of Anopheles arabiensis in Moshi, Northern Tanzania. Malar J 6: 109-117. Matsumura F. 1975. Toxicology of Insecticides. Plenum Press.New York. 503 hal. Mathys T. 2010. Effectiveness of zooprophylaxis for malaria prevention and control in settings of complex and protracted emergency. Int Perspect Sci Human 1: 1-26. Mattingly FP. 1969. The Biology Of Mosquito- Borne Disease. George Allen and Unwin Ltd. London. 184 hal. McGregor BD. 2000. Pesticides Residues In Food 2000: Deltamethrin. International Agency For Research On Cancer, Lyon, France. 54 Meek SR. 1995. Vector control in some countries of Southeast Asia: comparing the vectors and the strategies. Ann Trop Med Parasitol 89: 135–147. Munif A, Rusmiarto S, Aryati Y, Andris H, Stoops CA. 2008. Konfirmasi status Anopheles vagus sebagai vektor pendamping saat kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Sukabumi Indonesia. J Ekol Kes 7 (1):689-696. Naswir. 2012. Fauna dan status kerentanan nyamuk Anopheles spp terhadap insektisida golongan sintetik piretroid di Kecamatan Ujung Bulu Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan. [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Ndoen E, Wild C, Dale P, Sipe N, Dale M. 2010. Relationship between Anopheline mosquitoes and topography in West Timor and Java, Indonesia. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Apr 2]; 9:242. Tersedia pada: http://www. malariajournal.com/ content/9/1/242.html. [NPIC] National Pesticide Information Centre. 2010. Deltamethrin Technical Fact Sheet, Oregon. 11 hal. O’Connor CT, Supanto A. 1979. Kunci Bergambar Nyamuk Anopheles Betina di Indonesia. Depkes RI. Dit. Jen P2M & PLP. Jakarta. 40 hal. Okello OJ, Heinonen R, Ssekitto CM, Mwayi WT, Kakaire D, Kabarema M. 1994. Control of tsetse flies in Uganda by dipping cattle in deltamethrin. Trop Anim Health Prod 26 (1): 21-27. Olanga EA, Okal MN, Mbadi PA, Kokwaro ED, Mukabana WR. 2010. Attraction of Anopheles gambiaeto odour baits augmented with heat and moisture. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Feb 15]; 9:6. Tersedia pada: http://www. Malaria journal.com/content/9/1/6. Owino EA. 2010. Trapping mosquitoes using milk products as odour baits in Western Kenya. J Par Vect 3 :55 – 78. Pegram RG, Lemche J, Chizyuka, Sutherest RW, Floyd RB, Kerr JD, Cosker PJ.1989. Effect of tick control on liveweight gain of cattle in central Zambia. Met Vet Entomol 3 (3): 313 – 320. Prakash A, Bhattacharryya DR, Mohapatra PK, Mahanta J. 2004. Role of the prevalent Anopheles species in the transmission of Plasmodium falciparum and P. vivax in Assam State, North-Eastern India. Ann Trop Med Parasitol 98 (6): 559-568. Robert V, Carnevale P. 1991. Influence of deltamethrin treatment of bed nets onmalaria transmission in the Kou valley, Burkina Faso. Bull Wld Hlth Org 69 (6): 735-740. 55 Roiz D, Roussel M, Munoz J, Ruiz S, Soriguer R, Figuerola J. 2012. Efficacy of mosquito traps for collecting potensil West Nile mosquito vectors in natural Mediterranean Wetland. Am J Trop Med Hyg 86 (4): 642 – 648. Rowland M, Durani N, Kenward M, Mohammed, Urahman H, Hewitt S. 2001. Control of malaria by applying delthamethrin insecticides to cattle : a community randomized trial. Lancet 357: 1837-1841. Rowley WA, Graham CL. 1968. The effect of temperature and relative humidity on the flight performance of female Aedes aegypti. J Insect Physiol 14 : 1251 -1257. Rudolf W. 1925.Relation between temperature humidity and activity of house mosquitoes. J New York Entomol Soc 33: 163-169. Safitri A. 2009. Habitat perkembangbiakan dan beberapa aspek perilaku Anopheles sundaicus di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten lampung Selatan. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Saul A. 2003. Zooprophylaxis or zoopotentiation: the outcome of introducing animals on vector transmission is highly dependent on the mosquito mortality while searching. Malar J 2: 32 [Terhubung berkala]. http://www.malariajournal.com/content/2/1/32.html [12 Nov 2011]. Schleier J, Peterson RK. 2011. Pyrethrine and pyrethroid insecticides. J Grn chem 11:95-131. Service MW. 1976. Mosquito Ecology. Field Sampling Methods. Applied Science Publisher Ltd. London. 583 hal. Shinta, Sukowati S, Mardiana. 2003. Komposisi spesies dan dominasi nyamuk Anopheles di daerah pantai Banyuwangi, Jawa Timur. Med Lit Bang Kes 13 (3):1-8. Sigit SH, Kesumawati U. 1988.Telaah infestasi nyamuk pada kerbau di Bogor. J Anim Sci 73 (1): 20 – 33. Sigit SH. 2004. Masalah resistensi dalam penggunaan pestisida (terhadap hama) permukiman. Kursus Reguler Pengenalan dan Pengendalian Hama Permukiman Instar II. Bagian Entomologi FKH - IPB. Bogor. Sigit SH, Hadi UK. 2006. Hama Pemukiman Indonesia.Pengenalan,Biologi dan Pengendalian. Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman FKH – IPB. Bogor. Simsek FM, Caglar SS, Kaynab S, Alten B. 2007. Evaluation of the performance of K-Otab (Deltamethrin) tablet formulation impregnated bednets agains 56 the malaria vector Anopheles (Cellia) superpictus Grasssi 1899 (Diptera: Culicidae) under laboratory conditions. Turk J Zoo 31:75-82. Sinka ME, Bangs MJ, Manguin S, Chareonviriyaphap T, Patil PA, Temperley WH, Gething PW, Elyazar IR, Kabaria CW, Harbach RE, Hay RI. 2011. The dominant Anopheles vectors of human malaria in the Asia-Pacific region: occurrence data, distribution maps and bionomic précis. Par Vect J [Internet]. [diunduh 2012 Mar 9]; 4: 89. Tersedia pada : http://www. parasitesandvectors. com/ content/ 4/1/89.html. Situmeang RK. 1991. Studi perilaku Anopheles sundaicus rodenwaldt di Desa Sukaresik Pangandaran Jawa Barat dan dampak pembersihan tempat perindukannya. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Smallegange R,Schmied WH, Roey KJV, Verhulst NO, Spitzen J, Mukabana WR, Takken W. 2010. Sugar fermenting yeast as an organic source of carbon dioxide to attract the malaria mosquito Anopheles gambiae. Malar J [Internet]. [diunduh 2012 Feb 17]; 9:292. Tersedia pada: http://www.malaria journal. com/ content/9/1/292.html. Soedir S.1985. Efektivitas berbagai jenis umpan untuk koleksi nyamuk. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Sugiarto. 2010. Pengaruh suhu terhadap perkembangan pradewasa dan siklus gonotropik nyamuk Anopheles aconitus serta aplikasinya dalam penghitungan kapasitas vektor malaria.[Tesis]. Bogor : Program Pasca sarjana, Institut Pertanian Bogor. Sukowati S, Andris H, Sondakh J, Shinta. 2004. Penelitian spesies sibling Anopheles barbirostris Van Der Wulp di Indonesia. J Ekol Kes 4 (1) : 172 – 180. Sukowati S. 2009. Masalah Keragaman Spesies Vektor Malaria dan Cara Pengendaliannya di Indonesia. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Entomologi. Balitbangkes Depkes RI. Sukowati S, Shinta, Suwito. 2010. Keragaman vektor malaria di Kabupaten Pesawaran Lampung. Laporan kegiatan MTC Lampung. Suprapto G. 2010. Perilaku nyamuk Anopheles punctulatus Donitz dan kaitannya dengan epidemiologi malaria di Desa Dulan pokpok Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. [Tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Surendran SN, Jude PJ, Weerarathne TC, Karunaratne SP, Ramasamy R. 2011.Variations in susceptibility to common insecticides and resistance mechanisms among morphologically identified sibling species of the malaria 57 vector Anopheles subpictus in Sri Lanka. Parasit Vector [Internet]. [diunduh 2012 Feb 27]; 5:34. Tersedia pada: http:// www. parasitesandvectors. com/content/5/1/34. Suwito. 2010. Bioekologi spesies Anopheles di Kabupaten Lampung Selatan dan Pesawaran : keragaman, karakteristik habitat, kepadatan, perilaku dan distribusi spasial [Disertasi] Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Takagi M, Pohan W, Hasibuan H, Panjaitan W, Suzuki T. 1995. Evaluation of shading of fish farming ponds as a larval control measure against Anopheles sundaicus Rodenwaldt (Diptera:Culicidae). J Trop Med Pblc Hlth 26: 748–753. Vatandoost H, Abai MR,Abbasi M, Shaeghi M, Abtahi M, Rafie F. 2009. Designing of laboratory model for evaluation of the residual effects of deltamethrine ( K-othrine WP 5 %) on different surfaces against malaria vector Anopheles stephensi (Diptera : Culicidae). J Vect Brn Dis 46: 261-267. Wang G, Qiu YT, Lu T, Kwon HW, Pitts RJ, Loon JJA, Takken W, Zwiebel LJ. 2009. Anopheles gambiae TRPA1 is a heat-activated channel expressed in thermo sensitive sensilla of female antennae. Europ J Neurosci 30: 967–974. [WHO] World Health Organzation. 1998.Test Prosedures for Insecticide Resistance Monitoring in Malaria Vectors, Bio-Efficacy and Persistence of Insecticides on Treated Surfaces. Geneva. 43 hal. [WHO] World Health Organzation. 2003. Malaria entomology and vector control;.Tutor’sGuide. [Internet]. [diunduh 2012 Apr 9]. Tersedia pada: http://whqlibdoc.who.int/hq/2003 / WHO_ CDSCPE_ SMT_ 2002.18_ Rev.1_Part I.pdf [WHO] World Health Organization. 2011. World Malaria Report 2010. [Inetrnet]. [diunduh 2012 Feb 27]. Tersedia pada: http://www. who.int/ malaria/ publications/country profiles /profile_ idn_en .pdf. Widiarti, Boewono DT, Widyastuti U, Mujiono. 2003. Uji biokimia kerentanan vector malaria terhadap insektisida organofosfat dan karbamat di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Med Litbang Kes 12 (1): 84-96. Widiarti, Sukamdani, Mujiono. 2009. Resistensi vektor malaria terhadap insektisida di Dusun Karyaari dan Tukatpule Pulau Bali dan Desa Rendang Reed labuhan Haji Pulau Lombok. Med Litbang Kes 19 (3):154-157. 58 Winarno, Zubaidah, Santoso B, Sukmono, Sarjono. 2010. Monitoring status resistensi vektor malaria di Indonesia. Laporan kegiatan MTC Jakarta. Winarno, Hutajulu B. 2009. Review of National Vector Control Policy in Indonesia. Directorat of VBDC DG DC & EH,MOH Indonesia. Makalah laporan. Jakarta. Winarno, Rogayah H. 2009. Profile Monitoring of Insecticide Resistance in Indonesia. Directorat of VBDC DG DC & EH,MOH Indonesia. Makalah laporan. Jakarta. Wirawan IA. 2006. Insektisida Permukiman, Dalam : Sigit SH & Hadi UK. Hama Pemukiman Indonesia; Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. UKPHP. FKH IPB. Bogor. Hal. 315-433. Yamtana, Soengkowo, Renold. 2008. Bionomic vektor malaria di Kota Jayapura. J Bin San 1 (1): 8 – 17. 59 LAMPIRAN 60 61 Lampiran 1 Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhadap Kepadatan Gigitan Anopheles pada Manusia. An. sundaicus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 14,8056 5,6667 N 36 36 Std. Deviation 8,11989 3,61742 Std. Error Mean 1,35331 ,60290 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 9,13889 Std. Deviation Std. Error Mean 5,91440 ,98573 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 7,13774 9,271 11,14003 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. vagus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 5,3056 1,3611 N 36 36 Std. Deviation 3,16065 1,39699 Std. Error Mean ,52677 ,23283 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 3,94444 Std. Deviation Std. Error Mean 2,74585 ,45764 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 3,01538 8,619 4,87351 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 62 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An.barbirostris Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 3,3056 ,5833 N 36 36 Std. Deviation 2,43568 ,73193 Std. Error Mean ,40595 ,12199 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 2,72222 Std. Deviation Std. Error Mean 2,19885 ,36647 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,97824 7,428 3,46620 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. subpictus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 2,3611 ,4167 N 36 36 Std. Deviation 2,00218 ,64918 Std. Error Mean ,33370 ,10820 63 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 1,94444 Std. Deviation Std. Error Mean 1,86616 ,31103 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,31303 6,252 2,57586 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. aconitus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,5833 ,0833 N 36 36 Std. Deviation ,60356 ,28031 Std. Error Mean ,10059 ,04672 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,50000 Std. Deviation Std. Error Mean ,56061 ,09344 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,31032 ,68968 t 5,351 df Sig. (2-tailed) 35 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. kochi Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,2500 ,0556 N 36 36 Std. Deviation ,43916 ,23231 Std. Error Mean ,07319 ,03872 64 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,19444 Std. Deviation Std. Error Mean ,40139 ,06690 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,05863 ,33025 t 2,907 df Sig. (2-tailed) 35 ,006 karena p-value(0.006) < alpha(0.05) maka tolak H0, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara Lampiran 2 Output SPSS Pengaruh Perlakuan Terhadap Kepadatan Gigitan Anopheles pada Sapi. An. subpictus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 112,6667 5,3333 N 9 9 Std. Deviation 13,50000 4,33013 Std. Error Mean 4,50000 1,44338 65 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan 107,33333 Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 13,99107 4,66369 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 96,57885 118,08782 t df 23,015 Sig. (2-tailed) 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. vagus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 85,4444 2,6667 N 9 9 Std. Deviation 7,17829 2,59808 Std. Error Mean 2,39276 ,86603 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 82,77778 Std. Deviation Std. Error Mean 8,19722 2,73241 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 76,47684 89,07872 t 30,295 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. barbirostris Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 33,3333 2,1111 N 9 9 Std. Deviation 9,75961 1,61589 Std. Error Mean 3,25320 ,53863 ,000 66 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 31,22222 Std. Deviation Std. Error Mean 9,65373 3,21791 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper 23,80171 38,64273 t df Sig. (2-tailed) 9,703 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. sundaicus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 13,6667 ,2222 N 9 9 Std. Deviation 5,70088 ,44096 Std. Error Mean 1,90029 ,14699 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan 13,44444 Std. Deviation Std. Error Mean 5,65931 1,88644 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 9,09431 7,127 17,79457 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. aconitus Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean 5,8889 ,1111 N 9 9 Std. Deviation 2,80377 ,33333 Std. Error Mean ,93459 ,11111 ,000 67 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 2,72845 ,90948 5,77778 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 3,68050 6,353 7,87505 df Sig. (2-tailed) 8 ,000 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. kochi Paired Samples Statistics Pair 1 Mean 2,8889 ,0000 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan N 9 9 Std. Deviation 1,53659 ,00000 Std. Error Mean ,51220 ,00000 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Std. Deviation Std. Error Mean 1,53659 ,51220 2,88889 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper t 1,70776 5,640 4,07002 df Sig. (2-tailed) 8 karena p-value(0.000) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. An. hyrcanus group Paired Samples Statistics Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan Mean ,8889 ,0000 N 9 9 Std. Deviation 1,05409 ,00000 Std. Error Mean ,35136 ,00000 ,000 68 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pra Perlakuan Pasca Perlakuan ,88889 Std. Deviation Std. Error Mean 1,05409 ,35136 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,07864 1,69914 t 2,530 df Sig. (2-tailed) 8 ,035 karena p-value(0.035) < alpha(0.05) m aka tolakH0, ar tinya terdapat perbedaan yang signi fikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lampung, 5 Desember 1969, dari ayah Bakir Hadisumarto dan Ibu Sumaryamdari dan merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Penulis menikah dengan Tiarny dan dikarunia satu orang anak bernama Bernadeta Zefani Valenria. Penulis menyelesaikan sekolah menengah di SMAN 1 Pringsewu Lampung tahun 1989 dan lulus Akademi Penilik Kesehatan Tanjung Karang tahun 1992. Penulis meneruskan pendidikan S1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan lulus tahun 2003. Kemudian, penulis melanjutkan studi ke Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Parasitologi dan Entomologi Kesehatan tahun 2010. Penulis pernah bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan tahun 1993-1998, kemudian dipindahkan ke Kanwil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 1998-2000. Sejak tahun 2000 hingga sekarang penulis bekerja di Subdin Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 5 RINGKASAN BUDI SANTOSO. Kombinasi Zooprofilaksis dan Pembaluran Insektisida Deltametrin pada Ternak Sapi Sebagai Upaya Pengendalian Vektor Malaria. Dibimbing oleh SUSI SOVIANA dan UPIK KESUMAWATI HADI. Pemanfaatan hewan ternak untuk mengalihkan gigitan nyamuk Anopheles dari manusia ke hewan dikenal dengan istilah zooprofilaksis. Tetapi zooprofilaksis mempunyai dampak ganda. Keberadaan hewan ternak di satu sisi mampu untuk mengalihkan gigitan nyamuk dari manusia ke hewan, dan di sisi lain menyediakan sumber darah untuk menjaga kelangsungan hidup nyamuk. Darah mamalia dibutuhkan nyamuk sebagai sumber protein bagi perkembangan reproduksinya Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh aplikasi zooprofilaksis yang dikombinasikan dengan pembaluran insektisida residual deltametrin pada sapi terhadap angka gigitan nyamuk Anopheles. Lokasi penelitian ini Desa Hanura Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung yang merupakan daerah endemis malaria tinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan April 2012 menggunakan umpan hewan sapi yang telah dibalurkan dengan insektisida deltametrin. Selanjutnya hewan sapi di pasang antara rumah dengan tempat perindukan nyamuk (lagoon), dengan maksud sebagai penghalang supaya nyamuk Anopheles tidak mendatangi pemukiman. Pengukuran lama residu insektisida yang dibalurkan ke badan sapi dilakukan dengan metode cone test. Pengukuran kepadatan nyamuk Anopheles pada manusia diperoleh dari hasil landing collection malam hari selama 12 jam (pukul 18.00 – 06.00), sedangkan pengukuran kepadatan pada sapi dilakukan dengan menangkap nyamuk yang hinggap di dalam kelambu perangkap (magoon). Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida deltametrin yang dibalurkan pada sapi dapat bertahan 8 hari dengan tingkat kematian nyamuk sebesar 95%. Pembaluran deltametrin pada sapi berpengaruh terhadap kepadatan Anopheles yang menggigit manusia. Hal ini tercermin pada penurunan angka gigitan pasca perlakuan, yaitu An. sundaicus sebesar 63.52%, An. vagus 80%, An. barbirostris 85.71%, An. subpictus 82.45%, An. aconitus 92.30%, An. kochi 80% . Selain itu, dampak pembaluran deltametrin juga menurunkan kepadatan nyamuk pada sapi, yaitu, An. sundaicus sebesar 95.12%, An. vagus 90.64%, An. barbirostris 80%, An. subpictus 85.5%, An. aconitus 94.34%, An. kochi 100% dan An. hyrcanus group 100% . Keberhasilan kombinasi zooprofilaksis dan pembaluran insektisida terbukti menurunkan angka gigitan baik pada manusia maupun pada sapi. Hal ini menjadi gagasan yang dapat diterapkan dalam pengendalian malaria. Kata kunci : Anopheles, deltametrin, malaria, sapi, zooprofilaksis. 7 SUMMARY BUDI SANTOSO. Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control. Under Supervision of SUSI SOVIANA and UPIK KESUMAWATI HADI. Utilization of cattle to divert Anopheles mosquito bites from humans to animals is known as zooprophylactic. However, using animals as a protection from mosquito bites has double impacts. The presence of cattle on the one hand can be used to divert mosquitoes from humans to animals, but on the other hand can sustain the survival of the mosquitoes, because it can serve as mosquitoes blood meal source to maintain the viability of mosquitoes. The mosquitoes take blood mammals as a protein source for the reproductive development. This study aimed to measure the effect combination of zooprophylactic application with the smearing of residual deltamethrin insecticide on cattle against the rate of Anopheles mosquito biting. Location of this study was in Hanura Village of Padang Cermin Subdistrict, Pesawaran Regency, Lampung Province, which belong to a high malaria endemic area. The study was conducted on February to April 2012 using three cattle which were smeared by deltamethrin insecticide. Then, the cattle were placed between the resident houses and mosquito breeding places (lagoon). The observation of the insecticide residue on the cattle were measured by cone test method. The measurement of the density of Anopheles mosquitoes in human was obtained by bare leg collection method during whole night, where as the measurement of Anopheles mosquito density on cattle were done by magoon trap method. The result showed that the residue of deltamethrin insecticide on the cattle caused 95% mortality of mosquitoes were found till eight days. Placement of cattle smeared with insecticide caused the decreasing in density of Anopheles mosquito bites in human and in cattle. The decreasing of Anopheles mosquito biting rate in human were 63.52% in An. sundaicus, 80% in An. vagus, 85.71% in An. barbirostris, 82.45% in An. subpictus, 92.30% in An. aconitus and 80% in An. kochi. In addition, the decreasing of biting rate in cattle were 95.12% in An. sundaicus, 90.64% in An. vagus, 80% in An. barbirostris, 85.5% in An. subpictus, 94.34% in An. aconitus, 100% in An. kochi and 100% in An. hyrcanus group. The successful result on combination of zooprophylactic with deltrametrin on reducing the mosquitoes biting rate both in human and in cattle were being a good idea for malaria vector control. Key words: Anopheles, deltamethrin, malaria, cattle, zooprophylactic.
Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Aktivitas Nyamuk Anopheles di Malam Hari Anopheles aconitus Anopheles kochi Anopheles barbirostris Anopheles subpictus Anopheles sundaicus Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra Anopheles vagus Kepadatan Nyamuk Anopheles Mengisap Darah Orang Pra Deltametrin dan Cara Kerjanya Tempat Penelitian Habitat Perkembangbiakan Anopheles Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Habitat Perkembangbiakan Anopheles Perilaku Nyamuk Anopheles Hewan Ternak yang digunakan Identifikasi nyamuk Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Insektisida yang dipakai Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Insektisida yang dipakai Pembaluran Insektisida pada Sapi Karbondioksida Visual Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles Kepadatan Nyamuk Anopheles aconitus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan Nyamuk Anopheles barbirostris Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan Nyamuk Anopheles kochi Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pra dan Pasca Kepadatan Nyamuk Anopheles subpictus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan Nyamuk Anopheles sundaicus Pra dan Pasca Perlakuan Kepadatan Nyamuk Anopheles vagus Pra dan Pasca Perlakuan Keragaman dan Kelimpahan Nisbi Nyamuk Anopheles yang Lama Residu Insektisida di Badan Sapi Latar Belakang Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Manfaat Penelitian Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Mekanisme Biokimia Mekanisme Faali Mekanisme Biokimia Resistensi dan Mekanismenya Mekanisme Faali Resistensi dan Mekanismenya Pemanfaatan Ternak dan Insektisida Pengendalian Anopheles Pembaluran Insektisida pada Sapi Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Manusia Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pengukuran Kepadatan Nyamuk Anopheles pada Sapi Pengukuran Residu Insektisida pada Tubuh Sapi Peranan Anopheles Sebagai Vektor Malaria Perilaku Nyamuk Anopheles Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Simpulan Saran Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Suhu Kelembaban Udara Faktor-Faktor Penyebab Nyamuk Tertarik Kepada Inang Tujuan Penelitian Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Waktu Penelitian Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control Waktu Penelitian Hewan Ternak yang digunakan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Combination of Zooprophylactic and Smearing of Residual Deltamethrin Insecticide on Cattle as Efforts of Malaria Vector Control

Gratis