Uji efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan

Gratis

7
53
98
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb memberikan efekpenurunan kadar gula darah dengan potensi yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb. Pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb memberikan efekpenurunan kadar gula darah dengan potensi yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik melakukan uji efek penurunan kadar gula darah pada ekstrak bunga rosela Taiwan ini , karena belum adapengujian farmakologi yang dilakukan terhadap tumbuhan ini. Penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia dan ekstrak , skrining fitokimia, ekstraksi secara perkolasi terhadap serbuk simplisia dengan pelarut etanol dan ujiefek ekstrak bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan dengan metode uji toleransi glukosa.

1.2 Perumusan Masalah

  Ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai efek menurunkan kadar gula darah tikus putih jantan. Efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) berbeda dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar gula darah darah tikus putih jantan.

a. Untuk memperoleh data ilmiah karakterisasi tanaman bunga rosela (Hibiscus

  Untuk membuktikan efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan. Untuk mengetahui perbedaan efek penurunan kadar gula darah ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dan glibenklamid dalam menurunkankadar gula darah tikus putih jantan.

1.5 Kerangka Konsep Penelitian Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Serbuk simplisia dalam airKarakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol - Kadar abu totalBunga Rosela Variabel bebas Variabel Terikat TikusKenaikan Kadar GulaDarah mg/dl Larutan GlukosaDosis EkstrakEtanol Bunga Penurunan Kadar GulaRosela Darah mg/dlDosisGlibenklamid Gambar 1.1 Diagram kerangka konsep penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan

Uraian tumbuhan meliputi deskripsi tumbuhan, nama daerah, kandungan kimia dan sistematika tumbuhan.

2.1.1 Morfologi tumbuhan

  2.1.3 Nama daerah Nama daerah dari rosela adalah merambos hijau (Jawa Tengah), garnet malonda (Sunda), gamet (Betawi), asam kesur ,meranjat, kesew jawet (Sumatera 2.1.4 Kandungan kimia Bunga rosela mengandung vitamin (A, D, B1, C), flavonoid, gossypetin, hibisetin, sabdaretin, kalsium, magnesiaun, beta-karoten, tanin, asam amino essensial(lisin dan arginin), polisakarida dan omega-3 (Herti. 2.1.5 Khasiat dan penggunaan Bunga rosela berkhasiat sebagai penurun kadar gula darah, anti bakteri dan anti virus, menghambat pertumbuhan kanker, asam urat, kolesterol, hipertensi, sertamembantu menurunkan berat badan (Mardiah dan Rahayu, 2009).

2.2 Simplisia dan Ekstraksi

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan, dan kecuali dikatakan lain berupa bahan yang telahdikeringkan (Ditjen POM, 2000) Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atauhampir semua pelarut diuapkan (Ditjen POM, 2000).

2.2.1 Metode Ekstraksi

Ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara: (Ditjen POM, 2000)Pembagian metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000) yaitu :

2.2.1.1 Cara dingin

  Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalamrongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan kosentrasi larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel maka larutan terpekatdidesak keluar. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana yang mudah diusahakan.

2.2.1.2 Cara panas

  Refluks Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur tititk didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. SokletasiSokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang pada umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dandan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

2.3 Diabetes Mellitus (DM)

  Diabetes merupakan sekelompok sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia, perubahan metabolisme lipid, karbohidrat dan protein dan peningkatanresiko komplikasi penyakit pembuluh darah (Gilman dan Goodman, 2007). Diabetes tipe I inimerupakan bentuk diabetes parah yang berhubungan dengan terjadinya ketoacidosis apabila tidak diobati, lazim terjadi pada anak remaja tetapi kadang-kadang juga terjadi pada orang dewasa.

c. Diabetes Gestational

  DM tipe II atau DM tipe I mungkin terjadi pada wanita yang tidak menjalani penanganan pada saat diabetes gestational initerjadi. Data statistik menunjukkan bahwa pengontrolan gula darah saat kehamilan bagi penderitadiabetes gestational akan menghindarkan ibu dan bayi yang dilahirkan dari cacat atau kematian.

2.3.3 Tanda dan gejala diabetes mellitus

  Penyakit diabetes mellitus ditandai oleh polidipsia (banyak minum) dan polifagia (banyak makan), poliurea (banyak berkemih), walaupun banyak makan tetapi berat tubuh menurun karena tidak terbentuknya lemak, hiperglikemia, glikosuria, ketosis dan asidosis (Ganong, 1998). Komplikasi yang mungkin timbuldiantaranya adalah adanya gangguan pembuluh darah besar (makroagiopati) dan gangguan pembuluh darah kecil (mikroagiopati).

2.3.4 Penyebab Diabetes Mellitus

Penyebab diabetes mellitus adalah kurangnya produksi dan ketersediaan insulin dan terjadinya kerusakan gangguan sel - sel β pulau lagerhans dalam kelenjar pankreas yang menghasilkan insulin (Utami, 2003). Ada beberapa faktor yang menyebabkan diabetes mellitus, yaitu :

a. Faktor turunan

  Pada perbandingan keluarga diabetes mellitus dengan keluargasehat, ternyata angka kejangkitan keluarga diabetes mencapai 8,33 % dan 5,33 % bila diandingkan dengan keluaraga sehat yang memperlihatkan angka hanya1,96% dan 0,61 % (Ranakusuma, 1992). Kemungkinan gen - gen khusus yang diduga meningkatkan kerentanan terhadap virus diabetogenik atau dikaitkan dengan gen - gen yang merangsang sistem imun tertentu yangmenyebabkan terjadinya predisposisi pada pasien sehingga terjadi respon autoimun terhadap sel - sel pulau legerhans sendiri (Katzung, 2002).

d. Bahan toksik atau beracun

Beberapa bahan toksik yang dapat merusak sel β secara langsung yaitu aloksan, pirinuron (rodentisida) dan streptozosin (Utami, 2003).

2.4 Hormon yang berperan untuk mengatur kadar dalam darah

2.4.1 Insulin

2.4.2 Glukagon

  Penurunan kadar glukosa darah akan meningkatkan sekresi glukagon, bila kadar glukosa dalam darahturun sampai 70 mg/100 ml darah maka pankreas akan mensekresikan glukagon dalam jumlah yang banyak yang cepat memobilisasi glukosa dari hati (Guyton,1990). 2.6 Pengaturan kadar glukosa dalam darah Pengaturan kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh hati dan pankreas.

2.6.1 Hati

  Setelah karbohidrat dari makanan dirombak dalam usus menjadi glukosa makaabsorbsi glukosa ke dalam darah terjadi, kemudian glukosa ini dialirkan ke hati. Pada keadaan normal bila kadar glukosa darah tinggi maka insulin akan disekresikan oleh sel-sel beta untuk membantu penyerapan glukosa kedalam sel-seltubuh dan glukosa ini dengan bantuan insulin akan disimpan sebagai sumber energi cadangan berupa glikogen dalam hati.

2.6.2 Pankreas

  Sisanya terdiri dari kelompok sel (PulauLangehans) dengan sekresi intern yakni hormon-hormon insulin dan glukagon yang langsung disalurkan ke aliran darah (Tjay dan Rahardja, 2007). Sel-sel yang berlokasi di pulau Langerhans pada pankreas adalah sel beta yang mensekresi insulin, sel alfa yang mensekresi glukagon, sel delta yang mensekresisomatostatin dan sel PP yang mensekresi polipeptida pankreas (Sodeman dan Sodeman, 1995).

2.7 Obat antidiabetes oral

Berdasarkan cara kerjanya obat antidiabetes oral dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu:

a. Sulfonilurea

  Sulfonilurea juga selanjutnya dapat meningkatkan kadar insulindengan cara mengurangi bersihannya dihati (Gilman dan Goodman, 2007). Obat ini hanya efektif padapenderita DM tipe 2 yang tidak begitu berat yang sel-sel betanya masih bekerja cukup baik.

b. Binguanida Metformin merupakan merupakan golongan obat dari binguanida

  Binguanida berbeda dengan sulfonilurea, obat ini tidak menstimulasi penglepasan insulin dan tidak menurunkan kadar gula darah pada orang sehat. Zat ini menekannafsu makan hingga berat tidak meningkat, maka layak diberikan pada penderita yang kegemukan (Tjay dan Rahardja, 2007).

BAB II I METODE PENELITIAN Metode penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dengan

  desain rancangan acak lengkap (RAL) dan tahap penelitian meliputi identifikasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pemeriksaan karakterisasi simplisia, pembuatanekstrak, penyiapan hewan percobaan dan uji efek ekstrak bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan. Data hasil penelitian dianalisissecara ANAVA (analisis variansi) dan dilanjutkan dengan uji rata Duncan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1Alat- alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah blender (Tecstar), penguap vakum putar (Buchi 461), neraca kasar (Ohaus), neraca listrik (Chyo JP2-600), neraca hewan (Presica Geniweigher, GW-1500), seperangkat alat destilasi, seperangkat alat penetapan kadar air, mikroskop (Olympus), Glucometer(Glucotrend®) dan Glucotest strip, freeze dryer, syringe 1 ml (Terumo), syringe 3 ml(Terumo), oral sonde, aluminium foil, kertas saring, mortir dan stamfer, alat penangas air (Yenaco), dan alat alat gelas laboratorium. 3.1.2 Bahan-bahan Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia rosela segar(Hibiscus sabdariffa L.), glibenklamid (Indofarma), etanol 96%, glukosa, Karboksi kalium bromat, α-naftol, kalium iodida.

3.2 Pembuatan Larutan Pereaksi

  3.2.3 Pereaksi Bouchardat Kalium iodida 4 g dilarutkan dalam air suling, ditambahkan dengan iodium sebanyak 2 g dan dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml (Ditjen POM, 1989). Pada wadah yang lain 8 g kalium iodida dilarutkan dalam 20 ml air suling, masing-masing larutan diambil 5 ml danditambahkan 20 ml asam asetat kemudian dicukupkan dengan air suling hingga 100 ml (Ditjen POM, 1989).

3.3 Penyiapan Sampel

3.3.1 Pengambilan sampel

  Sampel yang digunakan adalah bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Taiwan yang berwarna merah. 3.2.3 Pengolahan sampel Bunga rosela dibersihkan dari kotoran dengan cara dicuci menggunakan air bersih, kemudian ditiriskan lalu ditimbang berat seluruhnya sebagai berat basah yaitu17 kg.

3.3 Karakterisasi sampel

Karakterisasi sampel meliputi pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol,penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam (Ditjen POM, 1989).

3.3.1 Pemeriksaan makroskopik

  Pemeriksaan terhadap serbuk simplisia dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia diataskaca objek yang telah ditetesi dengan kloralhidrat dan ditutupi dengan cover glass(kaca penutup) kemudian dilihat di bawah mikroskop. 3.3.4 Pemeriksaan kadar sari yang larut air Sebanyak 5 g serbuk dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml air-kloroform(2,5 ml kloroform dalam air sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil sesekali dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam.

3.4 Penapisan fitokimia serbuk simplisia

  3.4.5 Pemeriksaan glikosida Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 ml campuran etanol 95% dengan air suling (7 : 3) dan 10 ml asam sulfat 2 N , di refluks selama 10 menit, didinginkandan disaring, diambil 20 ml filtrat ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M, dikocok, diamkan 5 menit dan disaring. 3.4.7 Pemeriksaan steroida/ triterpenoida Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml eter selama 2 jam disaring, filtrat diuapkan dalam cawan penguap, dan pada sisanya ditambahkan 20tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Lieberman-Borchard).

3.5 Pembuatan Ekstrak

  Kemudian dimasukkan kedalam perkolator, lalu dituang cairan penyari etanol 96% secukupnya sampai semuasimplisia terendam dan terdapat selapis cairan penyari diatasnya, mulut tabung perkolator ditutup dengan aluminium foil dan dibiarkan selama 24 jam, kemudian 3.6 Penyiapan Hewan Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus putih jantan dengan berat badan 150 - 210 g. Sebanyak 20 mg glibenkamid digerus dan ditambahkan larutan CMC sedikit demi sedikit sambil digerus dan diencerkan dengan 3.7.3 Pembuatan suspensi ekstrak bunga rosela 2% b/v Sebanyak 500 mg CMC ditaburkan dalam lumpang yang berisi air suling panas sebanyak 10 ml.

3.8 Prosedur uji efek penurunan kadar gula garah dari ekstrak etanol bunga rosela dengan toleransi glukosa pada tikus putih jantan

  Hewan yang digunakan dalam pengujian adalah tikus yang dibagi atas 4 kelompok yaitu kontrol, bahan uji yang terdiri dari 2 dosis dan bahan pembanding,masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor tikus. Lalu diukur kadar gula darah tikus pada menit ke-60, 90, 120, 150, 180 ..dengan menggunakan alat glukometer Glucotrend Prosedur kerja penurunan kadar gula darah terhadap tikus dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 67.

3.9 Prosedur Penggunaan Glukometer

  Glucotrend Meter akan hidup secara otomatis, dicocokkan kode nomor yang muncul pada layar Glucotrend Meter dengan yang ada pada vial Glucotrend Test Strip, strip dimasukkan ke Glucotrend Meter maka pada bagian layar akan tertera angka sesuai dengan kodecheck strip. Kemudian pada layar monitor glukotes muncul tanda akan siap di teteskan darah, pada saat menyentuhkan setetes darah ke strip, reaksi dari wadah stripakan otomatis menyerap darah ke dalam strip melalui aksi kapiler.

3.10 Analisis data

  Data hasil penelitian dianalisis secara analisis variansi (ANAVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji rata- rata Duncan untuk melihatperbedaan nyata antar kelompok perlakuan. Hasil pengukuran dapat dilihat pada lampiran 12-16 halaman 71-78.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil identifikasi bahan uji di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Penelitian Biologi Bogor, menunjukkan identitas tumbuhan adalah Hibiscus sabdariffa L. suku Malvaceae. Hasil pemeriksaan makroskopik bunga rosela segar menunjukkan bahwa

  bunga rosela terdiri dari lima helai daun kelopak dengan ujung kelopak runcing menguncup, berwarna merah, terdapat bulu-bulu rambut halus menempel pada bagianatas permukaan kelopak, mempunyai rasa yang sangat asam, memiliki bau yang khas. Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia bunga rosela diperoleh kadar air serbuk simplisia 6,62%, kadar air pada ekstrak 8,50 %, kadar sari larut air 19,48%, kadar sarilarut etanol 17,53%, kadar abu total serbuk simplisia 7,51 %, kadar abu total pada ekstrak 3,32%, kadar abu tidak larut asam 0,34 % dan kadar abu tidak larut asampada ekstrak 0,12 %.

4.1 Hasil pengukuran kadar gula darah tikus setelah puasa 18 jam

  Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD setelah pemberian larutan glukosa 50 % dosis 5 g/ kg bbMenit ke- 30 Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 1744.333 3581.444 1.164 .348 Within Groups 9987.000 20499.350 Total 11731.333 23 Terlihat bahwa pemberian larutan glukosa dosis 5 g/kg bb untuk semua hewan menghasilkan kadar gula darah yang telah diuji secara analisis statistik diperolehsignifikansi 0,348 > 0,05 yang berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan.

4.2 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-60

  Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela 50 mg/kg bb, suspensi ekstraketanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit ke-60 dapat dilihat pada Gambar 4.5. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD pada menit Ke-60 menit ke-60a DuncanPerlakuan Subset for alpha = 0.05N 1 2 Suspensi Glibenklamid dosis 1 % bb 6 172.50Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 6 184.50 184.50 mg/kg bbSuspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 6 189.17 189.17 mg/kg bbSuspensi CMC 0,5 % dosis 1 mg/kg bb 6 197.67 Sig.

4.4 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-90

  Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb, suspensi bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensi ekstrak etanol bungarosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit ke-90 dapat dilihat pada Gambar 4. Hasil perhitungan uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD tikus pada menit Ke-90 menit ke-90 DuncanPerlakuan Subset for alpha = 0.05 N 1 2 3 Suspensi Glibenklamid dosis 1 % bb 6 146.67Suspensi ekstrak etanol bunga rosela 100 mg/kg bb 6 164.67Suspensi ekstrak etanol bunga rosela 50 mg/kg bb 6 177.50 177.50Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 mg/kg bb 6 188.17 Sig.

4.5 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-120

  Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensiekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit ke-120 dapat dilihat pada Gambar 4.7. Hasil perhitungan ANAVA terhadap KGD pada menit ke- 120 Duncan .890 .249Hasil analisis uji beda nyata rata-rata Duncan menunjukkan bahwa penurunan 2 Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb 6 124.00Suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb 6 125.50Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb 6 165.00Suspensi CMC 0,5% dosis 1 % bb 6 177.67 Sig.

4.6 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-150

  Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC 0,5 % dosis 1% bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensiekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit ke-150 dapat dilihat pada Gambar 4.8. Artinya, pada menit ke-150 glibenklamid 1 mg/kgbb, ekstrak etanol bunga rosela dengan dosis 50 mg/kg bb, dan ektrak etanol bunga rosela dengan dosis 100 mg/kg bb memiliki potensi yang tidak berbeda dalammenurunkan kadar gula darah pada tikus putih jantan.

4.7 Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-180

  C: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb B: Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb Penurunan kadar gula darah tikus dengan pemberian suspensi CMC dosis 1 % bb, suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb, suspensi ekstrak etanolbunga rosela dosis 100 mg/kg bb dan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb pada menit ke-180 dapat dilihat pada Gambar 4.9. Penurunan kadar gula darah tikus pada menit ke-180 No Perlakuan KGD tikus 204,6 117,0200,17 92,67205,66 90,00197,67 91,50 4 Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 % bbSuspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kgSuspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kgSuspensi Glibenklamid dosis 1 mg/ kg bb 3 2 1 30’ 180’ ( mg/dl) ΔAKGD (mg/dl) 87,60107,50115,66106,17 Tabel 4.18.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah hasil pemeriksaan karakteristik simplisia diperoleh kadar air simplisia 7,93%, kadar air pada ekstrak8,50 %, kadar sari larut dalam air 19,48 %, kadar sari yang larut dalam etanol 17,53%, Kadar abu total simplisia 7,51%, kadar abu total pada ekstrak 3,32%, kadar abu tidak larut dalam asam pada simplisia 0,34%, dan kadar abu tidak larut dalam asampada ekstrak 0,12%. Ekstrak etanol bunga rosela pada dosis 50 mg/ kg bb sudah memberikan efek dan dosis 100 mg/kg bb tidak berbeda dengan glibenklamid dosis 1 mg/kg bb dalammenurunkan kadar gula darah.

DAFTAR PUSTAKA

  Hasil uji penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut dalam asam pada ekstrak Lampiran 5 (Sambungan) Keterangan: + = memberikan hasil 8 Kadar abu tidak larut dalam asam pada ekstrak 0,12 7 Steroida/Triterpenoida + 4 Tanin _ 2 Flavonoida 1 Alkaloida_ No. 6 Kadar abu tidak larut asam pada simplisia 0,34 5 Kadar abu total pada simplisia 7,51 4 Kadar sari larut dalam etanol 17,53 3 Kadar sari larut dalam air 19,48 2 Kadar air pada ekstrak 8,50 1 Kadar air7,93 No.

2. Glucotrend Test Strip

  Prosedur kerja penurunan kadar gula darah pada tikus Lampiran 10. Konsentrasi rosela 2 %, maka = 2 % = 2 g/ 100 ml = 2x 20 mg/ml = Dosis untuk tikus dengan berat badan 200 g = x 50 mg/ kg bb = 10 mgMaka jumlah larutan rosela yang di berikan = 2 ml = Lampiran 11.

50 I mg/kg BB

  1.000 .141 .217 Menit ke-120 setelah pemberian larutan glukosaa DuncanPerlakuan Subset for alpha = 0.05 N 1 2 Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg bb 6 124.00Suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bb 6 125.50Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb 6 165.00Suspensi CMC 0,5% dosis 1 mg/kg bb 6 177.67 Sig. .245 1.000 Menit ke-180 setelah pemberian larutan glukosaa DuncanPerlakuan Subset for alpha = 0.05 N 1 2 Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 100 mg/kg 6 90.00 Suspensi Glibenklamid dosis 1 mg/kg 6 91.50 Suspensi ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb 6 92.67 Suspensi CMC 0,5 % dosis 1 mg/kg bb 6 117.00 Sig.

Dokumen baru

Download (98 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Uji efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan
7
53
98
Uji efek hioglikemia fraksi etil asetat biji jinten hitam pada tikus putih jantan dengan metode induksi aloksan dan toleransi glukosa
0
4
98
Uji efek hipoglikkemik ekstrak etanol gambir (uncaria gambir, roxb) pada tikus putih jantan dengan metode induksi aloksan dan toleransi glukosa
1
11
136
Efek pemberian ekstrak nigella sativa terhadap kadar glukosa darah dan kolesterol pada tikus diabetes mellitus yang diinduksi dengan streptozotocin
3
7
62
Uji Efek ekstra etanol daun sirih (piper betle L) terhadap penurunan kadar asam urat darah pada tikus putih jantan yang diinduksi kafeina
5
82
84
Uji efek Antiinflamasi ekstrak n-heksan lumut hati Mastigophora diclados terhadap tikus putih jantan Strain Sprague Dawley
7
33
85
Uji toksisitas akut campuran ekstrak etanol daun sirih (piper batle L). dan ekstrak kering gambir (uncaria gambir R.) terhadap mencit putih jantan
1
6
145
Uji Antifertilitas ekstrak N-Heksana biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada tikus putih jantan (Rattus novergicus) galur Sprague Dawley secara IN VIVO
2
15
116
Uji efek penurunan glukosa darah ekstrak etanol ganggang (Gracilaria verrucosa) dan (Kappaphycus alvarezii) dengan metode toleransi glukosa oral dan metode induksi aloksan
0
11
135
Uji aktivitas ekstrak Etanol 70% daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) terhadap penurunan kadar asam urat dalam darah tikus putih jantan yang diinduksi dengan Kafeina
1
40
73
Aktivitas antifertilitas ekstrak etanol 70% daun pacing (costus spiralis) pada tikus sprague-dawley jantan secara in vivo
1
32
0
Uji efek antihiperlipidemia ekstrak etanol buah parijoto : medinilla speciosa blume terhadap kolesterol total, trigliserida, dan vldl pada tikus putih jantan
8
48
124
Pengaruh pemberian ekstrak etanol 96% herba kumis kucing (orthosiphon stamineus benth) terhadap penurunan kadar kolesterol total pada tikus jantan yang diinduksi pakan hiperkolesterol
2
18
92
Pengaruh jus buah delima (Punica granatum) terhadap kadar kolesterol ldl darah tikus putih (Rattus norvegicus
0
1
55
Pengaruh pemberian seduhan rosela (hibiscus sabdariffa) terhadap kadar kolesterol total darah tikus putih (rattus norvegicus) SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
1
5
72
Show more