Persentase Tutupan dan Bentuk Pertumbuhan Karang Hidup di Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah

Gratis

8
94
64
3 years ago
Preview
Full text

PERSENTASE TUTUPAN DAN BENTUK PERTUMBUHAN KARANG HIDUP DI PERAIRAN PULAU UNGGE KABUPATEN TAPANULI TENGAH SKRIPSI

  Harefa sebagai orangtua yang kuat dan tangguh yang pernah dimiliki, terimakasih atas kasih, jerih payah, air mata dan dukungan yang membuat penulisselalu kagum dan membutuhkan hal tersebut. Keywords: Tapanuli Tengah, Ungge Island, Coral reef Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada pusat segitiga terumbu karang (the coral triangle) yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

1.1 Latar Belakang

  Pada bagian barat, ditemukan ekosistem mangrove, kondisi pantai berpasir, dasarperairan yang landai dan tidak dalam serta kondisi terumbu karang yang masih baik (COREMAP II, 2008). Untuk mengetahui kondisi terbaru mengenai persen tutupan karang dan bentuk pertumbuhan karang sertahubungannya terhadap faktor fisik kimia perairan di kawasan ini, maka perlu dilakukan penelitian mengenai “Persentase Tutupan dan Bentuk Pertumbuhan Karang Hidup di Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah”.

1.2 Permasalahan

  Ekosistem terumbu karang di perairan Pulau Ungge pada beberapa tahunterakhir dikhawatirkan telah mengalami penurunan kualitas disebabkan oleh faktor alam dan aktivitas manusia. Adanya aktivitas manusia berupa lintas perahunelayan dan juga perubahan musim menyebabkan adanya perubahan pada faktor fisik kimia perairan yang secara langsung maupun tidak langsung akanmempengaruhi pertumbuhan dan persen tutupan terumbu karang hidup.

2. Untuk mengetahui hubungan faktor fisik kimia perairan terhadap persen tutupan terumbu karang di Pulau Ungge

1.4 Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihakPemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Tengah dan pihak terkait mengenai kondisi terbaru persen tutupan dan bentuk pertumbuhan terumbu karang diperairan Pulau Ungge serta kaitannya terhadap kondisi faktor fisik kimia perairan dalam rangka pengelolaan kawasan ekosistem terumbu karang.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

  2.1 Ekosistem Terumbu Karang Ekosistem terumbu karang adalah ekosistem daerah tropis yang memiliki keunikan dan keindahan yang khas yang pemanfaatannya harus lestari. Menurut Rembet (2008), ekosistem terumbu karang dibentuk dari berbagai komponen seperti karang batu, dan alga berkapur bersama dengan biota lainnyayang hidup di dasar perairan seperti molusca, crustacean, echinodermata, polychaeta, porifera, dan tunicate serta biota yang hidup bebas di perairan seperti plankton dan jenis-jenis ikan karang.

2.2.1 Biologi Karang

  Kelas Anthozoa dibagi menjadi dua sub kelas yaitu Alcyonaria yang merupakan kelompok karang lunak yang dicirikan dengan delapan buah tentakel, sedangkan sub kelas Zoantharia dicirikan dengan enam buah tentakel yang merupakankelompok karang keras (Veron, 1993). Ada dua tipe karang, yaitu karang yang dapat menghasilkan terumbu (reef) atau membentuk bangunan kapur yang disebut karang hermatifik (hermatypic corals atau reef building corals) dan karang ahermatifik (ahermatypic corals) yang tidak dapat membentuk terumbu atau bangunan karang (Kordi, 2010).

2.2.2 Struktur Anatomi dan Morfologi Karang

  Karang atau disebut polip memiliki bagian-bagian tubuh yang terdiri dari: Mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta sebagai alat pertahanan diri. Dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan.

2.2.3 Reproduksi Karang

  Menurut Timotius(2003) karang yang bereproduksi secara seksual memiliki cara yang beragam yang didasari pada penghasil gamet dan fertilisasi. Hermafrodit yang berurutan, yaitu individu karang yang menjadi jantan dulu dan menghasilkan sel sperma, kemudian menjadi betina danmenghasilkan sel telur (protandri), atau menjadi karang betina terlebih dahulu dan menghasilkan sel telur kemudian menjadi jantan danmenghasilkan sel sperma (protogini).

2.3 Bentuk Pertumbuhan Karang Karang pembentuk terumbu adalah hewan yang pada umumnya seperti bebatuan

  Karang pembentuk terumbu atau karang batu terdiri dari beragam bentuk yang memiliki ciri-ciri yang berbeda di antara jenis satu dengan yang lainnya. Sedangkan untuk karang jenis acropora adalah karang yang memiliki axial coralit dan radial coralite.

2.4 Bentuk Formasi Terumbu Karang

2.5 Faktor-Faktor Pembatas Terumbu Karang

  Meskipun batas toleransi karang terhadap suhu bervariasiantarspesies dan antardaerah pada spesies yang sama, tetapi dapat dinyatakan bahwa karang dan organisme terumbu hidup pada suhu dekat dengan batastoleransinya. Arus dan gelombangmemberikan oksigen dalam air laut, mengurangi dan menghilangkan proses sedimentasi pada terumbu karang, serta mensuplai plankton dan sumber makananlain yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang(Nybakken, 1992).

2.6 Ancaman Pada Ekosistem Terumbu Karang

  sedangkan yang melakukan bioerosi adalah kelompok tumbuhan rendah seperti bakteri, filamentous alga yang masuk ke jaringan karang, juga kelompok fungi, sponge, poluchaeta, krustasea, sipincula, dan moluska. Sedangkan dari aspek kimia adalah adanya polutan dariaktivitas manusia di daratan yang menyebabkan eutrofikasi, sedimentasi, polusi, serta masuknya air tawar yang berlebihan dari darat karena terjadi erosi melaluiproses run-off (Purnomo & Mahmudi, 2008).

2.7 Peranan Terumbu Karang

Secara umum, manfaat terumbu karang dalam Lampiran Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.38/MEN/2004 adalah sebagai berikut: (a) pelindungpantai dari angin, pasang surut, arus dan badai; (b) sumber plasma nutfah dan keanekaragaman hayati yang diperlukan bagi industri pangan, bioteknologi, dankesehatan; (c) tempat hidup ikan-ikan, baik ikan hias maupun ikan target, yaitu ikan-ikan yang tinggal di terumbu karang; (d) tempat perlindungan bagiorganisme laut; (e) penghasil bahan-bahan organik sehingga memiliki produktivitas organik yang sangat tinggi dan menjadi tempat mencari makan,tempat tinggal, dan penyamaran bagi komunitas ikan; (f) bahan konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku industri dan perhiasan, seperti karang batu; (g)merupakan daerah perikanan tangkap dan wisata karang yang secara sosial ekonomi memiliki potensi yang tinggi; (h) perlindungan pantai terhadap erosigelombang.

BAB 3 METODA PENELITIAN

  3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah SCUBA diving, perahu motor, roll meter, kamera bawah air, bola pelampung, kertas sabuk, pensil,lamhnot, refraktometer, termometer, secchi disk, erlenmeyer, spit 3 ml dan 5 ml, pipet tetes, GPS, pH meter, botol alkohol. Penentuan stasiun pengamatan mewakili kondisi perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah yang didasarkan ada tidaknya aktivitas masyarakat dan posisi pulau.

3.4.1 Stasiun 1

  Metode ini digunakan untuk menentukan komunitas bentik sesil di terumbu karang berdasarkan bentuk pertumbuhan dalam satuan persen, dengan caramencatat semua biota bentik yang ada di sepanjang garis transek (COREMAP- LIPI, 2006). Termometer dimasukkan ke dalam air dan dibiarkanselama beberapa menit sampai menunjukkan skala yang konstan lalu dibaca skala yang tertera pada termometer tersebut 3.6.2 Derajat Keasaman (pH) Pengukuran pH (derajat keasaman) dilakukan dengan menggunakan pH meter.

3.7 Analisis Data

  Menurut Sugiyono (2005), interval korelasi dan tingkat hubungan antar faktor adalah sebagai berikut:a. Jika nilai = 0,00 – 0,199 : Tingkat hubungan sangat rendah b.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persentase Tutupan Karang

  Menurut Westmacott 69.28 Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 3 stasiun diperoleh bahwa 70.63 62.57 74.63 47.00 4.70 39.90 47.82 0.46 Sub Total 1.37 0.00 0.00 8 Coral HelioporaCHL 0.92 0.97 Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Pulau Ungge persentase tutupan karang pada masing-masing stasiun penelitian seperti terlihat pada Tabel 4.1. Adanya kegiatan transplantasi karang yangdilakukan oleh pemerintah dalam hal ini oleh Dinas Kelautan dan PerikananKabupaten Tapanuli Tengah dan juga sosialiasi pentingnya ekosistem terumbu karang yang dilakukan oleh COREMAP kepada masyarakat memberikan dampakpositif terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang di pulau ini.

4.2 Persentase Tutupan Kategori Dead Coral, Algae, Other Biota dan Abiotic

  Meskipun persentase tutupan karang hidup di perairan Pulau Ungge termasuk dalam kategori baik, tetapi ditemukannya dead coral atau karang matiyang disebabkan pemutihan dengan rata-rata persentase tutupan yang cukup tinggi sebesar 5,20% dan juga dead coral algae atau karang mati yang ditumbuhi algadengan rata-rata persentase tutupan sebesar 7,78 % (Lampiran 8) menunjukkan adanya kerusakan pada ekosistem terumbu karang di Pulau ini. (2001) menyatakan bahwa adanya perubahaniklim menyebabkan adanya perubahan suhu laut dan dengan kenaikan suhu tersebut maka kehidupan karang yang semula terbiasa pada suhu konstan akanterancam rusak.

4.3 Faktor Fisik-Kimia Perairan Pulau Ungge

Hasil pengukuran parameter fisik kimia perairan meliputi suhu, pH, intensitas cahaya, salinitas, DO, BOD5, Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS) dapat dilihat pada Tabel 4.2 Tabel 4.2 Nilai faktor fisik kimia perairan pada setiap stasiun penelitian No Parameter Satuan Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 1 Suhu C 28,5 29 28 2 Intensitas cahaya Candela 790 720 680 3 Salinitas ‰ 31 31 30 4 pH 7.9 7.80 7.80 - 5 DO mg/l 6.00 6.1 5.5 6 BOD5 mg/l 1,7 1,9 2,1 7 Total Suspended mg/l <5 9 7(TSS) Solid 8 Total Dissolved mg/l 31.7 32.3 32.2 Solid (TDS)

4.3.1 Suhu Suhu perairan merupakan salah satu faktor pembatas dari pertumbuhan karang

  Menurut Supriharyono (2000), pengaruh salinitas terhadap hewan karang sangat bervariasi tergantung pada kondisi perairan laut setempat dan pengaruhalam seperti run-off, badai dan hujan. Selanjutnya Buddeimer dan Kinzie (1976) dalam Muttaqien (2012), karang tidak dapat bertahan di perairan yang memiliki salinitas dibawah 25‰ atau di atas 40‰.

4.3.5 DO ( Demand of Oxygen)

  Sejalan dengan adanya pembangunan mengakibatkan jumlah aliran air tawar terus meningkat dan membawa sedimen dalam jumlahbesar, nutrient dalam kadar yang tinggi yang berasal dari pertanian atau sistem pembuangan, dan juga bahan pencemar lain seperti bahan bakar minyak daninsektisida. Akibatnya sedimentasi ini dapat menutup terumbu karang atau menyebabkan peningkatan kekeruhan pada lingkungan perairan karenapenyuburan (eutrofikasi) yang dapat menurunkan jumlah cahaya matahari yang mencapai karang serta dapat menyebabkan pemutihan dan kematian karang.

4.3.8 TDS ( Total Dissolved Solid)

  Hasil pengukuran sampel air laut di laboratorium BTKLPP ProvinsiSumatera Utara, menunjukkan bahwa total dissolved solid berada pada kisaran31,7 mg/L- 32,3 mg/L. Menurut Sastrawijaya (2000) jumlah padatan terlarut(TDS) mencerminkan jumlah kepekatan dalam suatu contoh air yang mempengaruhi ketransparanan dan warna air.

4.4 Analisis Korelasi Faktor Fisik Kimia Perairan terhadap Persentase Tutupan Karang Hidup di Pulau Ungge

  Korelasi yang sangat kuat antara persentase tutupan karang dengan TSS dan TDS disebabkan karena TSS dan TDS merupakan parameter fisika-kimiayang berkaitan terhadap kekeruhan dan kecerahan suatu perairan. Bentuk pertumbuhan karang hidup yang terdapat di Pulau Ungge dari kelompok karang Acropora adalah Acropora branching, Acropora Digitate, Acropora Encrusting, Acropora Submassive , dan Acropora Tabulate, sedangkan dari kelompok non Acropora adalah Coral branching, Coral Encrusting, Coral Foliose, Coral Massive, Coral Mushroom, Coral Submassive, Coral Millepora dan Coral Helioppora .

DAFTAR PUSTAKA

  Pengelolaan Terumbu Karang yang telah Memutih dan Rusak Kritis . Bagan Kerja Metode Winkler Untuk Mengukur DOSampel Air 1 ml MnSO 4 1 ml KOHKIDihomogenkanDidiamkan Sampel Endapan Puith/Cokelat 1 ml H 2 SO 4 Dihomogenkan Didiamkan Larutan Sampel Berwarna Cokelat Diambil 100 mlDititrasi Na 2 S 2 O 3 0,00125 NSampel Berwarna Kuning Pucat Ditambah 5 tetes Amilum Sampel Berwarna Biru Dititrasi dengan Na 2 S 2 O 3 0,00125 N Sampel Bening Dihitung volume Na S O 2 2 3 yang terpakaiHasil (Suin, 2002) Lampiran 3.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Keragaman Epibentik Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
67
59
Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
2
76
58
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
6
40
67
Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
0
10
Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
0
2
Keragaman Makroalga Di Rataan Terumbu Karang Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
0
3
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
0
11
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
0
2
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
0
3
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
1
15
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
0
4
Keragaman ikan karang family Chaetodontidae di perairan pulau ungge kabupaten tapanuli tengah
0
0
7
Persentase Tutupan dan Bentuk Pertumbuhan Karang Hidup di Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
0
14
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekosistem Terumbu Karang - Persentase Tutupan dan Bentuk Pertumbuhan Karang Hidup di Perairan Pulau Ungge Kabupaten Tapanuli Tengah
0
3
9
PERSENTASE TUTUPAN DAN BENTUK PERTUMBUHAN KARANG HIDUP DI PERAIRAN PULAU UNGGE KABUPATEN TAPANULI TENGAH
0
0
12
Show more