Chapter II Pengaruh Yoga Terhadap Konsep Diri (Studi Korelasional Pengaruh Yoga Terhadap Konsep Diri Praktisi Yoga Di Kamalini Yoga Studio Medan)

 0  9  30  2018-07-11 09:26:52 Report infringing document
Informasi dokumen

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1 KERANGKA TEORITIS

  Ketika suatu masalah penelitian telah ditemukan, maka peneliti mencoba membahas masalah tersebut dengan teori-teori yang dipilihnya dan diangap mampu menjawab masalah yang dihadapi peneliti (Bungin, 2011:31). Setiap penelitian bersifat ilmiah dan memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan atau menyoroti permasalahannya. Oleh karena itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang mengambarkan dari sudut pandang mana masalah akan disoroti.

  Sebagai landasan berfikir peneliti dalam melakukan pemecahan masalah secara jelas dan tepat, maka penelitian ini menggunakan teori-teori yang relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang variabel yang akan diteliti, serta sebagai dasar untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yanga diajukan. Adapun teori-teori yang digunakan oleh peneliti adalah:

2.1.1 Komunikasi

2.1.1.1 Defenisi Komunikasi

  Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh seorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau merubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media. Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris

  Communication berasal dari bahasa latin, communicatio dan bersumber

  dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah kesamaan makna (Effendy, 2003: 9) Ada begitu banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli dari berbagai sudut pandang mereka masing-masing. Menurut Carl I. Hovland, komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah prilaku orang lain (komunikan) (dalam Mulyana, 2008: 68).

  Menurut Laswell (dalam Mulyana, 2008: 69) komunikasi adalah :

  “who says what in which chanell to whom with what effect”. Jadi jika

  dijabarkan akan terdapat lima unsur atau komponen di dalam komunikasi, yaitu:

  1. Siapa yang mengatakan Komunikator (communicator)

  2. Apa yang dikatakan Pesan (message)

  3. Media apa yang digunakan Media (channel)

  4. Kepada siapa pesan disampaikan Komunikan (Communicant)

  5. Akibat apa yang terjadi Efek (effect) Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam. Menurut Barnuld Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan dan memperkuat ego. Menurut Weaver komunikasi adalah seluruh prosedur melalui pikiran seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lainnya (Fajar, 2009: 30-31).

  Dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, tentu belum mewakili semua definisi para ahli. Namun gambaran dari definisi yang dikemukakan diatas bahwa komunikasi dilakukan mempunyai tujuan yakni untuk mengubah dan membentuk prilaku orang-orang lainnya yang menjadi sasasran komunikasi.

2.1.1.2 Karakteristik Komunikasi

  Adapun karakteristik komunikasi itu sendiri adalah (Fajar, 2009: 33-34):

  1. Komunikasi suatu proses Komunikasi sebagai suatu proses artinya bahwa komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau peristiwa yang terjadi secara berurutan serta berkaitan satu dengan lainnya dalam kurun waktu tertentu.

  2. Komunikasi adalah upaya yang disengaja dan mempunyai tujuan. Komunikasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, disengaja, serta sesuai dengan tujuan atau keinginan pelakunya. Pengertian sadar disini menunjukkan bahwa kegiatan komunikasi yang dilakukan seseorang sepenuhnya berada dalam mental psikologis yang terkendali bukan dalam keadaan mimpi. Disengaja maksudnya bahwa komunikasi yang dilakukan memang sesuai dengan kemauan dari pelakunya sementara tujuan menunjuk pada hasil atau akibat yang ingin dicapai.

  3. Komunikasi menurut adanya partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat. Kegiatan komunikasi berlangsung baik apabila pihak-pihak yang berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut terlibat dan mempunyai perhatian yang sama terhadap topik pesan yang dikomunikasikan.

  4. Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambing-lambang (simbol), misalnya bahasa.

  5. Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut tindakan memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau proporsional oleh masing-masing pelaku yang terlibat dalam komunikasi.

  6. Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peseta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi ruang dan waktu bukan lagi menjadi hambatan dalam berkomunikasi.

2.1.1.3 Unsur-Unsur Komunikasi

  Proses komunikasi terdiri dari berbagai macam unsur, cara pandang atau elemen yang mendukung proses tersebut dapat terjadi. Ada yang menilai bahwa terciptanya proses komunikasi cukup didukung oleh tiga unsur, sementara ada juga yang menambahkan umpan balik dan lingkungan selain kelima unsur yang telah disebutkan. Perkembanga terakhir adalah munculnya pandangan dari Joseph De Vito, K Sereno dan Erika Vora yang menilai faktor lingkungan merupakan unsur yang tidak kalah pentingnya dalam mendukung terjadinya proses komunikasi. Adapun unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut (Cangara, 2006: 22- 26).

  a. Sumber Semua peristiwa komunikasi akan melibatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim informasi. Dalam komunikasi antar manusia sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebur source, sender atau Encoder.

  b. Pesan Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi yang isinya berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa Inggrisnya biasa diterjemahkan dengan kata message, content atau information.

  c. Media Media adalah alat yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Dalam komunikasi massa, media adalah alat yang menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka, dimana setiap orang dapat melihat, membaca atau mendengarnya. Media dalam komunikasi masa dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni media cetak dan elektronik. Media cetak seperti halnya surat kabar, majalah, buku, leaflet, brosur, stiker, hand out dan sebagainya. Sedangkan media elektronik antara lain : radio, televisi dan sebagainya. d. Penerima Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri dari satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelompok, partai atau negara. Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima akan menimbulkan berbagai macam masalah yang seringkali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan atau saluran.

  e. Pengaruh Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini bisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang.

  f. Tanggapan balik Ada yang beranggapan bahwa umpan balik sebenarnya adalah salah satu bentuk daripada pengaruh yang berasal dari penerima. Akan tetapi sebenarnya umpan balik bisa juga berasal dari unsur lain seperti pesan dan media, meski pesan belum sampai pada penerima.

  g. Lingkungan Lingkungan atau situasi adalah faktor-faktor tertentu yang dapat mempengaruhi jalannya komunikasi. Faktor ini dapat digolongkan atas empat macam yakni lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya, lingkungan psikologis, dan dimensi waktu.

2.1.1.4 Gangguan Dan Rintangan Komunikasi

  Jika melihat hakikat komunikasi sebagai suatu sistem, maka gangguan komunikasi bias terjadi pada semua elemen atau unsur-unsur yang mendukungnya, termasuk faktor lingkungan dimana komunikasi itu terjadi. Menurut Shanon dan Weaver (dalam Cangara, 2006: 131). gangguan komunikasi terjadi jika terdapat intervensi yang menganggu salah satu elemen komunikasi, sehingga proses tidak dapat berlangsung secara efektif. Sedangkan rintangan komunikasi dimaksudkan adalah adanya hambatan yang membuat proses komunikasi tidak dapat berlangsung sebagaimana harapan komunikator dan penerima (Cangara, 2006: 131).

  Gangguan atau rintangan komunikasi pada dasarnya dapat dibedakan atas tujuh macam, yakni (Cangara, 2006: 131-134): a. Gangguan Teknis

  Gangguan teknis terjadi jika salah satu alat komunikasi yang digunakan dalam berkomunikasi mengalami gangguan, sehingga informasi yang ditransmisi melalui saluran mengalami kerusakan (chanel noise), misalnya gangguan pada stasiun radio atau televisi sehingga suara menjadi berisik dan semacamnya.

  b. Gangguan Semantik Gangguan semantik adalah gangguan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa yang digunakan. Gangguan semantik sering terjadi karena: i.

  Kata-kata yang digunakan terlalu banyak memakai jargon bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu. ii.

  Bahasa yang digunakan pembicara berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh penerima. iii.

  Struktur bahasa yang digunakan tidak sebagaimana mestinya, sehingga membingungkan penerima. iv.

  Latar belakang budaya yang berbeda sehingga menyebabkan salah persepsi terhadap simbol-simbol yang digunakan.

  c. Gangguan Psikologis Gangguan psikologis terjadi karena adanya gangguan yang disebabkan oleh persoalan-persoalan dalam diri individu. Misalnya rasa curiga penerima kepada sumber, situasi berduka atau karena gangguan kejiwaan sehingga dalam penerimaan dan pemberian informasi tidak sempurna. d. Rintangan Fisik Rintangan fisik adalah rintangan yang disebabkan kondisi geografis misalnya jarak yang sangat jauh sehingga sulit dicapai, tidak hanya sarana kantor pos, kantor telepon, jalur trasportasi dan sebagainya.

  e. Rintangan Status Rintangan status adalah rintangan yang disebabkan karena jarak sosial diantara peserta komunikasi, misalnya perbedaan status antara senior dan junior atau antara atasan dan bawahan.

  f. Rintangan Kerangka Berfikir Merupakan rintangan yang disebabkan adanya perbedaan persepsi antara komunikator dan khalayak terhadap pesan yang digunakan dalam komunikasi. Ini disebabkan karena adanya latar belakang dan pengalaman yang berbeda.

  g. Rintangan Budaya Rintangan budaya adalah rintangan yang terjadi disebabkan karena adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak- pihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi.

2.1.1.5 Tujuan dan Fungsi Komunikasi

  Pentingnya komunikasi dalam kehidupan memiliki tujuan, sehingga dapat diketahui untuk apa komunikasi dilakukan. Secara umum, tujuan komunikasi (Effendy, 2002:8) ialah: 1) Mengubah sikap (to change the attitude) 2) Mengubah opini/ pendapat/ pandangan (to change the opinion) 3) Mengubah perilaku (to change the behaviour) 4) Mengubah masyarakat (to change the society)

  Komunikasi dapat membentuk sikap seseorang serta bagaimana sikap itu dapat berubah, sebab melalui proses komunikasi dapat memengaruhi tindakan seseorang, misalnya seorang anak yang memiliki sikap tidak patuh dan suka melawan kepada kedua orang tuanya, namun bisa saja anak tersebut menjadi patuh dan taat terhadap orang tuanya, karena hasil belajar dari pengalaman dalam faktor lingkungan yang menyebabkan si anak memiliki perubahan dalam sikapnya (Effendy, 2002:25).

  Sama halnya dengan mengubah opini, perilaku dan mengubah masyarakat. Manusia dapat saling mengemukakan opininya dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing individu/kelompok, sehingga melalui komunikasi mereka dapat mengambil keputusan yang tepat serta mengubah perilaku mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Namun tidak mudah untuk mengubah masyarakat, sebab perlu komunikasi yang lebih dekat dan menyeluruh seperti komunikasi penyuluhan mengenai Keluarga Berencana (KB) dalam sebuah desa, agar informasi-informasi mengenai hal tersebut dapat diterima seluruhnya oleh masyarakat bahwa pentingnya untuk ber-KB dalam sebuah keluarga. Begitu juga dengan kegiatan bergotong-royong di sebuah desa, dilakukan demi tercapainya hubungan yang harmonis antar penduduk desa dan menciptakan desa yang bersih nan indah. Adanya ilmu pengetahuan memungkinkan orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat menyebabkan mereka sadar akan fungsi sosialnya sehingga menjadi aktif dalam masyarakat.

  Sedangkan fungsi komunikasi menurut Harold D. Laswell (Effendy, 2002:27) yaitu: 1) Manusia mengamati lingkungannya, baik lingkungan internal maupun eksternal untuk terhindar dari ancaman dan nilai masyarakat yang berpengaruh. 2) Terdapat korelasi unsur-unsur masyarakat dalam menanggapi lingkungannya 3) Penyebaran warisan sosial, dalam hal ini berperan sebagai pendidik dalam kehidupan rumah tangga maupun sekolah untuk meneruskan warisan sosial pada keturunan selanjutnya.

  Lebih singkatnya, fungsi komunikasi itu ialah: 1) Menginformasikan (to inform) 2) Mendidik (to educate) 3) Menghibur (to entertain) 4) Mempengaruhi (to influence)

  Penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut ialah komunikasi tentunya memberikan informasi mengenai sesuatu hal yang kita inginkan, sehingga kita bisa mengetahuinya dan sebaliknya kita memiliki kebutuhan untuk memberikan informasi. Misalnya, dalam lingkungan sekolah, seorang guru menjelaskan mengenai pelajaran kepada siswa-siswanya, sehingga dalam proses belajar mengajar tersebut para siswa menjadi tahu tentang apa yang diterangkan oleh gurunya. Secara langsung, guru telah mendidik sehingga memengaruhi para siswanya untuk rajin belajar, baik di rumah maupun di sekolah. Acara komedi di televisi, buku cerita lucu, perform seorang badut dan pesulap dalam sebuah pesta ulang tahun dan sebagainya, itu semua dilakukan untuk penyegaran semata dan sebagai kesenangan individu maupun kelompok. Secara jelas fungsi komunikasi tersebut kita rasakan dalam kehidupan kita baik kita sebagai komunikator maupun penerima pesannya (komunikan).

2.1.2 Komunikasi Intrapribadi

  Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang tersebut berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Dia berbicara, berdialog, bertanya dan menjawab kepada dirinya sendiri.

  Di saat kita sedang berbicara kepada diri kita sendiri, sedang melakukan perenungan, perencanaan, dan penilaian pada diri kita terjadi proses neuro-fisiologis yang membentuk landasan bagi tanggapan, motivasi, dan komunikasi kita dengan orang-orang atau faktor-faktor lingkungan kita.

  Mampu berdialog dengan diri sendiri berarti mampu mengenal diri sendiri. Adalah hal penting bagi kita untuk bisa mengenal diri sendiri sehingga kita dapat berfungsi secara bebas di masyarakat. Belajar mengenal diri sendiri berarti belajar bagaimana kita berpikir dan berasa dan bagaimana kita mengamati, menginterpretasikan dan mereaksi lingkungan.

  Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini. Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu. Elemen dari kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).

  Proses pengolahan informasi yang disebut komunikasi intrapersonal ini meliputi sensasi, persepsi,memori, dan berpikir.

  a) Sensasi Merupakan tahap paling awal dalam penerimaan pesan atau informasi.

  Sensasi berasal dari kata “sense”, artinya pengindraan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya (Rakhmat, 2007 : 49).

  b) Persepsi

  Persepsi adalah pengalaman-pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi (Rakhmat, 2007 : 51).

  c) Memori

  Memori adalah sistem yang sangat terstruktur yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. (Schlessinger dan Groves dalam Rakhmat, 2007 : 62). Memori melibatkan 3 proses yaitu:

  1) Perekaman (Encoding)

  Perekaman adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal. 2)

  Penyimpanan (Storage) Penyimpanan adalah menentukan berapa lama infomasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana.Penyimpanan bisa aktif atau pasif. Kita menyimpan secara aktif bila kita menambahkan informasi tambahan.

  3) Pemanggilan (Retrieval)

  Pemanggilan yang dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan (Mussen dan Rosenzweig dalam Rakhmat, 2007 : 63).

  d) Berpikir

  Proses keempat yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap stimuli adalah berpikir. Pada proses ini melibatkan sensasi, persepsi, dan memori (Rakhmat, 2007 : 67). Berpikir menunjukkan berbagai kegiatan yang melibatkan pengunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Seorang individu berpikir dengan tujuan untuk mengambil keputusan (Decision making), memecahkan masalah (Problem Solving), dan Menghasilkan yang baru (Creativity). Secara singkat Anita Taylor et al mendefinisikan berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan (Rakhmat, 2007 : 68). Berpikir adalah mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respons. Secara garis besar ada dua macam berfikir, autuistic dan realistic. Dengan berfikir autistic orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantasi. Terbalik dengan berfikir secara realistic yang bertujuan untuk menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Berfikir realistic di bagi menjadi tiga macam, yaitu deduktif, induktif dan evaluative.

  Jadi komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.

  Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari- hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri denganmeninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif. Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini.

2.1.3 Impression Management Theory

  Impression management atau pengelolaan kesan merupakan suatu

  usaha yang dilakukan oleh seorang individu dalam menciptakan kesan atau persepsi tertentu atas dirinya dihadapan khalayaknya. Pengelolaan kesan tersebut baik terhadap simbol verbal maupun simbol nonverbal yang melekat di dirinya (Rakhmat, 2007:96).

  Teori impression management menyatakan bahwa setiap individu atau organisasi harus mendapatkan dan memelihara kesan yang konguren dengan persepsi yang ingin mereka sampaikan pada publik. Gagasan penegelolaan kesan juga mengacu pada praktek komunikasi profesional, dimana istilah ini digunkan untuk menggambarkan proses pembentukan citra seseorang atau organisasi. Hal ini biasanya digunakan bersamaan dengan ketika seseorang mempresentasikan dirinya, hal ini dikarenakan individu tersebut mencoba mempengaruhi persepsi mengenai citra dirinya. Pengelolaan kesan juga mengacu pada praktiknya ketika seseorang berada pada kegiatan profesinya. Misalnya, seorang pengajar akan selalu menampilkan dirinya layak sebagai seseorang yang memiliki wawasan luas, sehingga menimbulkan persepsi baik dikhalayak umum maupun anak didiknya.

  Berbagai faktor yang mengatur impression management dapat diidentifikasi. Hal ini dapat dinyatakan bahwa impression management diperlukan bilamana terdapat semacam situasi sosial, baik nyata atau imajiner. Logikanya, kesadaran merupakan subjek potensial dalam pemantauan. Selain itu, karakteristik dari situasi sosial tertentu juga penting. Secara khusus, norma-norma budaya sekitarnya menentukan kelayakan perilaku nonverbal tertentu.

  Tindakan harus sesuai dengan target dan budaya yang ada, sehingga jenis publik serta segala yang berkaitan dengan cara mempengaruhi impression management publik direalisasikan. Tujuan seseorang merupakan faktor dalam mengatur cara dan strategi impression

  management. Hal ini mengacu pada isi suatu pernyataan, yang juga

  mengarah pada cara penyajian aspek diri yang berbeda. Tingkat self-

  efficacy menggambarkan apakah seseorang yakin untuk menyampaikan kesan yang dituju.

  Sebuah studi baru menemukan bahwa, semua hal lain dianggap sama, orang lebih cenderung memperhatikan wajah yang telah dihubungkan dengan gosip negatif daripada dengan hubungan netral atau positif. Penelitian ini memberikan kontribusi bahwa persepsi kita dibentuk oleh proses otak bawah sadar yang menentukan apa yang kita "pilih" untuk melihat atau mengabaikan - bahkan sebelum kita menjadi sadar akan hal itu. Temuan ini juga menambah gagasan bahwa otak berkembang menjadi sangat sensitif terhadap "orang jahat" atau "cheater" - sesama manusia yang merusak kehidupan sosial dengan penipuan, pencurian atau non- kooperatif perilaku.

  Konsep diri penting bagi teori impression management sebagai gambaran diri dalam membentuk dan dibentuk oleh interaksi sosial. Konsep diri berkembang sesuai dengan pengalaman sosial hidup. Schlenker lebih lanjut menunjukkan bahwa anak-anak mengantisipasi perilaku yang mereka memiliki terhadap orang lain dan bagaimana orang lain mengevaluasi mereka, mereka mengontrol kesan yang dibentuk orang lain dan mengontrol hasil yang mereka peroleh dari interaksi sosial.

  Identitas sosial mengacu pada bagaimana seseorang didefinisikan dan dianggap dalam interaksi sosial.

  Individu menggunakan strategi pengelolaan kesan untuk mempengaruhi identitas sosial mereka terhadap orang lain. Identitas mempengaruhi perilaku mereka di depan orang lain. Oleh karena itu, dalam upaya untuk mempengaruhi orang lain seseorang harus membentuk kesan dirinya sendiri, kemudian memainkan peran tersebut untuk mempengaruhi sosialnya.

  Signifikansi dalam penelitian empiris dan ekonomi Impression Manajement dapat didistorsi dengan penelitian empiris yang mengandalkan wawancara dan survei, fenomena yang sering disebut sebagai "bias keinginan sosial". Kesan teori manajemen tetap merupakan bidang penelitian tersendiri. Ketika datang ke pertanyaan praktis tentang hubungan masyarakat dan cara organisasi harus menangani citra publik mereka, asumsi yang diberikan oleh teori kesan manajemen juga dapat menyediakan kerangka kerja.

  Pemeriksaan strategi impression management yang berbeda diperankan oleh individu yang menghadapi pengadilan kriminal di mana hasil uji coba bisa berkisar dari hukuman mati, penjara seumur hidup atau pembebasan telah dilaporkan dalam literatur forensik.

  Artikel Perri dan Lichtenwald diperiksa perempuan psikopat pembunuh, yang sebagai sebuah kelompok sangat termotivasi untuk mengelola kesan bahwa pengacara, hakim, profesi kesehatan mental dan akhirnya, juri memiliki para pembunuh dan pembunuhan yang mereka lakukan. Ini memberikan ilustrasi kasus hukum para pembunuh menggabungkan dan atau berpindah dari satu strategi impression management seperti menjilat atau permohonan yang lain karena mereka bekerja menuju tujuan mereka mengurangi atau menghilangkan pertanggungjawaban atas pembunuhan yang mereka lakukan.

  Sejak 1990-an, para peneliti di bidang olahraga dan psikologi latihan telah mempelajari diri presentasi. Kekhawatiran tentang bagaimana seseorang dianggap telah ditemukan untuk menjadi relevan dengan studi kinerja atletik. Misalnya, kecemasan dapat dihasilkan ketika seorang atlet di hadapan penonton. Self-presentasional kekhawatiran juga telah ditemukan untuk menjadi relevan untuk berolahraga. Misalnya, kekhawatiran dapat menimbulkan motivasi untuk berolahraga.

  Penelitian yang lebih baru menyelidiki efek dari impression

  management pada perilaku sosial menunjukkan bahwa perilaku sosial

  (misalnya makan) dapat berfungsi untuk menyampaikan kesan yang diinginkan untuk orang lain dan meningkatkan seseorang citra diri. Penelitian tentang makan telah menunjukkan bahwa orang cenderung makan lebih sedikit ketika mereka percaya bahwa mereka sedang diamati oleh orang lain.

2.1.4 Konsep Diri ( Self Concept)

  Konsep diri (self concept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari mahkluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konesp diri, sehingga terdapat beberapa pengertian. Konsep diri dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu bersangkutan.

  Semakin berkembang seseorang, semakin lebih mampu dia mengatasi lingkungannnya. Namun, sementara dia mengetahui lingkungannya, dia pun akan semakin mengatahui siapa dirinya, dan dia pun mengembangkan sikap terhadap dirinya sendiri dan perilakunya. Pengetahuan dan sikap inilah dikenal sebagi konsep diri (self concept).

  Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan dan orang lain pikirkan mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2001 : 27). Sedangkan menurut William D. Brooks, konsep diri didefinisikan sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2007:105).

  Konsep diri berarti segala yang seseorang ketahui tentang dirinya sendiri, semua apa yang dipercayai, dan apa yang telah terjadi dalam hidup anda terekam dalam metal hard drive kepribadian seseorang, yaitu dalam

  self concept seseorang. Self concept seseorang mendahului dan

  memprediksi tingkat performa dan efektivitas setiap tindakannya. Tingkah laku nyata seseorang akan selalu konsisten dengan self concept yang terdapat didalam dirinya.

  

The self for Herbert Mead is at once individuality and

generality, agent and recipient, sameness and difference. Bluntly put, what this means is that the self is the agency through which individuals experience themselves in relation to others, but also an object or fact dealt with by its individual owner he or she sees fit.

  

To possess a ‘self’ then necessarily implies an ability to

take one’s actions, emotions and beliefs as a unfied structure, viewed from the perspective of significant others, as others would view and interpret actions of the self. Seen from this angle, the self is a social product through and through, an creation, thinking, feeling, the building of attitude structures, the taking on of roles, all in a quest for coherence and orientated to the social world (Elliott, 2007:32).

  Fitts mengatakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang, karena konsep diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam ia berinteraksi dengan lingkungannya. Fitts juga mengemukakan bahwa konsep diri adalah sebagai suatu keseluruhan kesadaran atau persepsi mengenai diri yang diobservasi, dialami, dan dinilai oleh seorang individu. Dengan demikian, sudah tentu setiap individu akan memiliki perincian yang sangat banyak dan bervariasi mengenai dirinya. Fitts membagi konsep diri ke dalam 2 (dua) dimensi pokok, yaitu :

  1. Dimensi Internal Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal

  (internal frame of reference) adalah bila seorang individu melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia batinnya sendiri atau dunia dalam dirinya sendiri terhadap identitas dirinya, perilaku dirinya, dan penerimaan dirinya. Dimensi internal terdiri dari : a. Diri sebagai obyek/identitas (identity self)

  Identitas diri ini merupakan aspek konsep diri yang paling mendasar. Konsep ini mengacu pada pertanyaan "siapakah saya ?", dimana di dalamnya tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri oleh individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya. Identitas diri akan mempengaruhi cara individu mempersepsikan dunia fenomenalnya, mengobservasinya, dan menilai dirinya sendiri sebagaimana ia berfungsi. Identitas diri sangat mempengaruhi tingkah laku seorang individu, dan sebaliknya identitas diri juga dipengaruhi oleh diri sebagai pelaku.

  b. Diri sebagai pelaku (behavior self) Diri pelaku merupakan persepsi seorang individu tentang tingkah lakunya. Diri pelaku berisikan segala kesadaran mengenai

  "apa yang dilakukan oleh diri". Selain itu, bagian ini sangat erat kaitannya dengan diri sebagai identitas. Diri yang kuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan menerima baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku. Kaitan keduanya dapat dilihat pada diri sebagai penilai.

  c. Diri sebagai pengamat dan penilai (judging self) Diri penilai ini berfungsi sebagai pengamat, penentu standart serta pengevaluasi. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri, identitas dengan diri pelaku. Diri penilai menentukan kepuasan seseorang individu akan dirinya atau seberapa jauh ia dapat menerima dirinya sendiri. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri (self esteem) yang miskin dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar kepada dirinya, sehingga menjadi senantiasa penuh kewaspadaan. Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi, kesadaran dirinya akan lebih realistis, sehingga lebih memungkinkan individu yang bersangkutan untuk melupakan keadaan dirinya dan lebih memfokukan energi serta perhatiannya ke luar diri, yang pada akhirnya dapat berfungsi secara lebih konstruktif. Diri sebagai penilai erat kaitannya dengan harga diri (self esteem), karena sesungguhnya kecenderungan evaluasi diri ini tidak saja hanya merupakan komponen utama dari persepsi diri, melainkan juga merupakan komponen utama pembentukan harga diri. Penjelasan mengenai ketiga bagian dari dimensi internal, memperlihatkan bahwa masing-masing bagian mempunyai fungsi yang berbeda namun ketiganya saling melengkapi, berinteraksi, dan membentuk suatu diri (self) serta konsep diri (self concept) secara utuh dan menyeluruh.

  2. Dimensi Eksternal, yang terdiri dari : Pada dimensi eksternal individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktifitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain yang berasal dari dunia di luar diri individu. Sebenarnya, dimensi eksternal merupakan suatu bagian yang sangat luas, namun yang dikemukakan oleh Fitts adalah bagian dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang. Bagian-bagian dimensi eksternal ini, dibedakan Fitts atas 5 (lima) bentuk, yaitu :

  a. Diri fisik (physical self) Diri fisik, menyangkut persepsi seorang individu terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini, terlihat persepsi seorang individu mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, dan kurus).

  b. Diri moral-etik (moral-ethical self) Diri moral, merupakan persepsi seseorang individu terhadap dirinya sendiri, yang dilihat dari standart pertimbangan nilai-moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seorang individu mengenai hubungannya dengan Tuhan, kepuasan seorang individu akan kehidupan agamanya, dan nilai-nilai moral yang dipegang seorang individu yang meliputi batasan baik dan buruk.

  c. Diri pribadi (personal self) Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seorang individu terhadap keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungannya dengan individu lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauhmana seorang individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauhmana seorang individu merasakan dirinya sebagai pribadi yang tepat.

  d. Diri keluarga (family self) Diri keluarga menunjukkan pada perasaan dan harga diri seorang individu dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian diri ini menunjukkan seberapa jauh seorang individu merasa kuat terhadap dirinya sendiri sebagai anggota keluarga dan terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya selaku anggota dari suatu keluarga.

  e. Diri sosial (social self) Diri sosial merupakan penilaian seorang individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya.

  Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini, sangat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seorang individu tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki diri fisik yang baik, tanpa adanya reaksi dari individu lain yang menunjukkan bahwa secara fisik ia memang baik dan menarik. Demikian pula halnya, seorang individu tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik, tanpa adanya tanggapan atau reaksi dari individu lain di sekitarnya yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik.

  Pemikiran bahwa keyakinan, nilai, perasaan, penilaian-penilaian mengenai diri memengaruhi prilaku adalah sebuah prinsip penting, Herbert Mead berpendapat bahwa karena manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Mekanisme ini digunakan untuk menuntun perilaku dan sikap. Penting juga diingat bahwa Mead melihat diri sebagai sebuah proses, bukan struktur. Memiliki diri memaksa seseorang untuk mengkonstruksi tindakan dan responya, daripada sekedar mengekspresikannya (Richard & Lynn 2007 : 102).

  Menurut Tracy (2005:48), self concept memiliki 3 bagian utama yaitu:

  • Self-ideal (Ideal Diri)
  • Self-Image (Citra Diri)
  • Self-Esteem (Harga Diri)

  Ketiga elemen tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian seseorang, menentukan apa yang biasa seorang pikir, rasakan, dan lakukan, serta apa yang diinginkan mengenai dirinya. Hal tersebut juga akan menentukan segala sesuatu yang terjadi kepada diri seseorang.

  • Ideal Diri Ideal diri adalah komponen pertama dari konsep diri individu. Ideal diri terdiri dari : harapan, impian, visi, dan idaman. Ideal diri terbentuk dari kebaikan, nilai-nilai, dan sifat-sifat yang paling individu kagumi dari diri sendiri maupun orang lain yang dihormati. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau penilaian personal tertentu. Standar tersebut dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri juga berarti sosok seperti apa yang paling seseorang inginkan untuk bisa menjadi diri
sendiri, di segala bidang kehidupan individu. Bentuk ideal ini akan menuntun seseorang dalam membentuk perilaku.

  • Citra Diri Citra Diri adalah sikap atau cara pandang seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan,tentang ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart And Sundeen, 1998). Citra diri sering dikaitkan dengan karakteristik-karakteristik fisik termasuk di dalamnya penampilan seseorang secara umum, ukuran tubuh, cara berpakaian, model rambut dan pemakaian kosmetik.
  • Harga Diri Harga diri adalah seberapa besar individu menyukai diri sendiri. Menurut Baron dan Byrne (2005 : 173), Harga Diri (Self

  Esteem) adalah evaluasi diri yang dibuat oleh individu; sikap

  seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif- negatif. Harga diri juga berarti penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri. Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi (Stuart and Sundeen,1998).

2.1.5 Yoga

  Sachindra Kumar Majumdar dalam (Claire, 2006:1) mengungkapkan yoga pada awalnya berkembang di kalangan komunitas yang sehat, kuat, dan mandiri yang telah mencapai tingkat budaya yang tinggi. Para pendiri tradisi itu berasal dari keluarga bangsawan dan terpelajar, dari para sarjana dan ksatria. Nabi-nabi besar India adalah para raja dan pangeran, para pemikir agung dan penguasa. Mereka memiliki kualitas terbaik dizaman mereka yang dapat disumbangkan dalam bidang pendidikan dan budaya, dalam kekuasaan dan kesenangan.

  Kata ’yoga’ dan ‘yogi’ begitu popular di masyarakat. Apa sesungguhnya makna kata tersebut? Indikasi yang paling jelas yang berhubungan dengan arti yoga adalah yang terdapat dalam asal usul katanya. Kata ‘yoga’ berasal dari akar kata Sansekerta yuj, yang secara harfiah berarti ‘to yoke’, kata Sansekerta ini merupakan dasar dari kata

  yoke dan union dalam bahasa Inggris modern. Dalam bahasa Indonesia ‘to yoke’ sama dengan mengikat atau menyatukan. Yoga sering digambarkan

  sebagai “penyatuan”, yaitu penyatuan antara pikiran dan tubuh, dan lebih dari itu juga penyatuan antara pikiran, dan ruh; penyatuan antara individu dan seluruh ciptaan; penyatuan antara individu dan daya kehidupan itu sendiri; dan penyatuan dengan Tuhan dan segala ciptaan-Nya.

  Untuk memperoleh pemahaman tentang bagaimana yoga bisa berkembang seperti yang ada saat ini, maka kita perlu melihat sejenak latar belakang sejarah yang mendasarinya. Yoga merupakan suatu teknik yang telah berkembang sejak ribuan tahun, yang awalnya dikenal dengan praktek “Tantra”. Tantra pertama kali diperkenalkan di India, sekurang- kurangnya 5000 tahun yang lalu oleh seorang yogi besar Sadashiva. Yoga didesain sebagai suatu pengetahuan menyeluruh tentang kehidupan, melingkupi setiap aspek pengembangan pribadi dan sosial. Istilah Tantra mengandung makna “sesuatu yang membebaskan dari kekasaran (ketidakpedulian)”, dan oleh karenanya, latihan-latihannya didasarkan pada suatu cara yang sistematis dan ilmiah, untuk membawa setiap individu dari tingkat ketidakpedulian (ignorance) menuju tingkat pencerahan spiritual (spiritual illumination). Latihan Tantra tidak terbatas pada meditasi dan Yoga saja, namun meluas hingga mencakup bidang kesenian, musik, sastra, obat-obatan, tari-tarian, kesadaran lingkungan- singkatnya pendekatan hidup yang bersifat holistik.

  Yoga menyelaraskan tubuh fisik, pikiran dan jiwa. Pada tubuh fisik, yoga memberi efek kesehatan, keseimbangan, kekuatan dan vitalitas. Pada pikiran, yoga meningkatkan daya ingat, konsentrasi, menajamkan tingkat intelektual, menyeimbangkan emosi sehingga membuat hidup lebih kaya dan bahagia. Pada jiwa, yoga membawa kesadaran, kebebasan dan pencerahan.

  Yoga dalam arti luas adalah suatu disiplin khusus yang diciptakan untuk membantu manusia mengharmonisasi vibrasi diri nya dengan vibrasi yang Tunggal. Jadi sebenarnya pengertian Yoga tidak terbatas pada suatu metode yang berasal dari tradisi India kuno yang kebanyakan orang mengartikannya seperti itu. Yoga itu dikenal oleh berbagai suku bangsa. Hanya saja metodenya sedikit berbeda.

  Di masa kini yoga dipandang sebagai suatu teknik yang bermanfaat untuk mencapai kebugaran dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah serta menyembuhkan berbagai macam penyakit atau gangguan tertentu.

  Tujuan dari semua variasi yoga di atas sama. Sasaran ini adalah pembebasan dari siklus kelahiran kembali yang disebut mukti atau kaivalnya. Namun, metode dan isi dari masing-masing variasi berbeda.

  Meskipun yoga merupakan sistem latihan yang beraneka ragam yang terdiri dari banyak pendekatan menuju kesadaran diri, banyak ahli yoga setuju bahwa ada empat cabang utama yoga yang dari waktu kewaktu telah dijadikan titik awal pengembangan latihan yoga. Seperti yang paling lazim dikemukakan, keempat cabang utama yoga itu adalah yoga bhakti, yoga jnana, yoga karma dan yoga raja yang sering juga disebut sebagai hatha yoga (Claire, 2006:17). . 1)

  Yoga Bhakti: Yoga Pengabdian Bhakti secara harfiah dalam bahasa Sansekerta berarti “pengabdian”. Yoga bhakti dikenal sebagai yoga pengabdian. Mengikuti jalan yoga bhakti mensyaratkan seseorang untuk menyerahkan diri seutuhnya pada suatu kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Kekuatan ini mungkin Tuhan, orang suci, guru yang dihormati, atau suatu kualitas, misalnya cinta. Pelaku bhakti yoga mengabdikan dirinya untuk menumbuhkan kemampuan menerima, mencintai dan bertoleransi pada segala sesuatu.Bhakta adalah istilah untuk menggambarkan seorang praktisi yoga bhakti.

  2) Yoga Jnana: Yoga Ilmu Pengetahuan

  Jnana secara harfiah dalam bahasa Sansekerta berarti “kearifan” atau

  “ilmu pengetahuan”. Dari semua cabang yoga, yoga jnana dikenal sebagai jalan yan mensyaratkan konsentrasi terbesar dari aktivitas mental. Jnanin (“yang mencari ilmu pengetahuan”) atau praktisi yoga jnana mencari pencerahan melalui kekuatan dari diskriminasi mental dan penyelidikan – belajar untuk membedakan antara yang nyata dari yang tidak nyata, dan diri pribadi yang terbatas dari diri yang mahaluas dan tidak terbatas, yang merupakan sumber kehidupan. Meditasi merupakan sarana yang paling kuat yang digunakan dalam latihan yoga jnana. 3)

  Yoga Karma: Yoga Tindakan

  Karma secara harfiah dalam bahasa Sansekerta berarti “tindakan” atau

  “sebab”. Yoga karma dikenal sebagai yoga tindakan, yang melibatkan pencarian kebebasan melalui tindakan seseorang didunia ini. Setia melayani orang lain tanpa mementingkan diri sendiri dan menjalankan tugas-tugas dalam kehidupan dengan kesadaran dan kewaspadaan yang sempurna tanpa memandang keberhasilan atau kegagalan. 4)

  Yoga Raja: Yoga Kerajaan

  Raja dalam bahasa Sansekerta berarti “bangsawan”. Yoga raja dikenal

  sebagai jalan para bangsawan menuju yoga atau pencerahan. Dari semua cabang yoga, yoga raja merupakan pendekatan yoga yang paling dikenal didunia barat. Para praktisi yoga raja mengikuti jalan yang sudah ditentukan, yang terdiri dari delapan latihan atau cabang yang dikenal sebagai ashtanga (“delapan cabang”) untuk mencapai kesadaran diri. Cabang-cabang ini mencakup banyak latihan yoga yang paling dikenal dan paling sering digunakan, termasuk posisi tubuh fisik, kontrol pernapasan, dan konsentrasi. Yoga raja kadang disebut juga sebagai yoga klasik karena latihan-latihannya dijelaskan dengan panjang-lebar di dalam kitab Yoga

  Sutras karya Patanjali, salah satu teks paling awal yang masih ada mengenai latihan yoga.

  Keempat cabang utama yoga itu membentuk payung secara keseluruhan dimana dibawahnya semua latihan yoga lainnya terbagi-bagi lagi. Akan tetapi, setiap cabang tidak harus dianggap eksklusif. Beberapa latihan, seperti meditasi, lazim terdapat pada lebih dari satu cabang yoga. Sementara kebanyakan ahli yoga setuju bahwa bhakti, jnana, karma, dan raja merupakan empat cabang utama yoga, ada beberapa latihan yoga atau pendekatan tradisional yoga yang telah menonjol, dan bisa dianggap sebagai bagian dari cabang-cabang utama yoga. Diantaranya ialah Kundalini, Laya, Mantra, Tantra, dan yoga Hatha. Nama terkahir mungkin menjadi pendekatan yoga yang paling banyak digunakan oleh praktisi yoga di Indonesia, walaupun seperti yang katakan oleh Swami Rama dalam (Claire, 2006:21) “dalam yoga, banyak jalan untuk dipilih, dan semua jalan sama-sama benar”.

  Mendapatkan manfaat kesehatan dari kegiatan yoga merupakan alasan utama banyak orang menekuni kegiatan ini. Berikut ini manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dengan melakukank kegiatan yoga secara teratur:

  1) Fleksibilitas

  Gerakan-gerakan yoga dapat membantu meregangkan dan meningkatkan fleksibilitas tubuh. Seiring waktu, Anda dapat meningkatkan kelenturan paha belakang, punggung, bahu, dan pinggul dengan melakukan yoga secara teratur. 2)

  Kekuatan Banyak pose yoga yang mengharuskan Anda untuk mendukung berat tubuh sendiri, termasuk menyeimbangkan tubuh pada satu kaki (seperti dalam Tree Pose) atau mendukung tubuh dengan tangan (seperti dalam pose Downward Facing Dog). Beberapa latihan mengharuskan Anda untuk berpindah dari satu pose ke pose yang lain yang juga akan meningkatkan kekuatan.

  3) Mengembangkan otot

  Selain melatih kekuatan tubuh, yoga juga dapat meningkatkan massa otot. Dengan yoga, otot-otot tubuh akan semakin kencang.

  4) Mencegah nyeri

  Meningkatnya fleksibilitas dan kekuatan tubuh dapat membantu mencegah sakit punggung. Banyak orang yang menderita sakit punggung karena menghabiskan banyak waktu duduk di depan komputer atau mengemudi mobil. Yoga dapat melemaskan kembali tulang dan otot yang kaku sehingga mencegah nyeri punggung. 5)

  Memperlancar pernapasan Kita umumnya bernapas dengan tarikan dan hembusan napas yang pendek-pendek. Latihan pernapasan Yoga, yang disebut

  Pranayama, memberi perhatian pada nafas dan mengajarkan bagaimana kita dapat menggunakan paru-paru untuk meningkatkan taraf kesehatan. Latihan napas juga dapat membantu membersihkan saluran hidung dan bahkan menenangkan sistem saraf pusat.

  Latihan yoga menekankan pada konsentrasi yang dapat memberi pengaruh positif membawa ketenangan pikiran. 1)

  Ketenangan mental Yoga juga memiliki teknik meditasi yang bermanfaat untuk membantu menenangkan pikiran.

  2) Mengurangi stres

  Yoga memiliki manfaat mengurangi stres. Saat berkonsentrasi, masalah sehari-hari, baik besar maupun kecil, akan mencair sehingga Anda akan terbebas dari tekanan stres. Konsentrasi bisa menjadi sarana relaksasi pikiran yang sangat dibutuhkan oleh pikiran yang sedang stres. 3)

  Kesiagaan tubuh Melakukan yoga akan memberikan peningkatan kesadaran dan kesiagaan tubuh. Banyak gerakan halus yoga yang dapat meningkatkan keselarasan. Seiring waktu, Anda akan lebih nyaman dengan diri sendiri dan membuat Anda lebih percaya diri.

  Diantara banyak manfaat kesehatan yoga, yang paling utama adalah kemampuannya yang telah terbukti dalam membantu mengurangi stres. Para ahli berpendapat bahwa hingga 80 persen dari semua penyakit disebabkan oleh stres. Yoga membantu menimbulkan efek yang oleh Herbert Benson, M.D. sebagai “respons relaksasi”, yang dapat membantu menurunkan tekanan darah, detak jantung, dan meningkatkan peredaran darah untuk membantu membuang sisa-sisa makanan yang mengandung racun dari dalam tubuh. Pada gilirannya, hal ini akan membantu meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh (Claire, 2006:6). Selain bermanfaat bagi kesehatan secara menyeluruh, yoga memiliki kegunaan lain bagi praktisinya, yaitu membantu mereka berhubungan dengan sumber-sumber batin mereka sendiri.

2.2 KERANGKA KONSEP

  Berdasarkan operasional penelitian adapun variabel penenelitian yang digunakan ada dua variabel yaitu sebagai berikut:

  1. Variabel bebas atau independent variabel(X) Variabel bebas merupakan variabel yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variabel lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kegiatan yoga.

  2. Variabel terikat atau dependent variabel(Y) Variabel terikat adalah variabel yang diduga sebagi akibat atau yang dipengaruhi oleh variabel yang mendahuluinya. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah konsep diri praktisi yoga.

  2.3 VARIABEL PENELITIAN Gambar 2.1 Variabel Penelitian Variabel Bebas (X) Varible Terikat (Y) Kegiatan Yoga Konsep Diri

  2.4 OPERASIONAL VARIABEL

  Defenisi konsep operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya untuk mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, defenisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang amat sangat membantu peneliti yang ingin menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 1995:46).

  Tabel 1 Operasional Variabel

  Variabel Teoritis Variabel Operasional Variabel Bebas (X)

  Kegiatan Yoga 1.

  Frekuensi melakukan kegiatan yoga

  2. Tingkatan kemampuan praktik yoga

  3. Kenyamanan praktisi yoga melakukan kegiatan yoga di Kamalini Yoga Studio 4. Ketenangan mental 5. Pengurangan stress 6. Kesiagaan tubuh

  Variabel Terikat (Y) Konsep Diri 1.

  Self-ideal (ideal diri) 2. Self-image (citra diri) 3. Self-esteem (harga diri)

  Karekterisitik Responden Praktisi yoga di Kamalini Yoga Studio,

  Komplek Multatuli Medan 1.

  Jenis kelamin 2. Usia 3. Pekerjaan

  2.4 DEFENISI OPERASIONAL

  Defenisi operasional merupakan penjabaran lebih lanjut tentang konsep yang telah dikelompokan dalam kerangka konsep. Definisi operasional adalah suatu petunjuk pelaksanaan mengenai cara-cara untuk mengukur variabel. Definisi operasional juga merupakan suatu informasi ilmiah yang sangat membantu penelitian lain yang akan menggunakan variabel yang sama (Singarimbun, 1995 : 46).

  1. Variabel Bebas (X) / Independent Variabel Variabel bebas yakni kegiatan yoga, meliputi : a.

  2. Variabel Terikat (Y) / Dependent Variabel Variabel terikat yakni konsep diri, meliputi : a.

  b.

  Jenis kelamin; secara umum jenis kelamin dibagi dua yaitu laki- laki dan perempuan.

  3. Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini ialah praktisi yoga yang melakukan kegiatan yoga di Kamalini Yoga Studio dan terbagi atas: a.

  Harga diri; Seberapa besar praktisi Yoga di Kamalini Yoga Studio menyukai diri mereka sendiri.

  c.

  Citra diri; Sejauh mana pandangan atau persepsi praktisi yoga di Kamalini Yoga Studio terhadap fisik atau tubuh mereka mulai dari ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh yang dimiliki.

  b.

  Ideal diri; Persepsi praktisi yoga di Kamalini Yoga Studio mengenai sosok sepertiapa yang paling diinginkan untuk bisa menjadi diri sendiri.

  Kesiagaan tubuh; peningkatan kesiagaan tubuh setelah melakukan kegiatan yoga.

  Frekuensi kegiatan yoga; yang dimaksud ialah frekuensi atau intensitas responden melakukan kegiatan yoga dalam jangka waktu tertentu.

  f.

  Pengurangan stress yang didapat praktisi yoga.

  e.

  Ketenangan mental; ketenangan mental yang didapat pada kegiatan yoga.

  d.

  Kenyamanan praktisi yoga melakukan kegiatan yoga di Kamalini Yoga Studio.

  c.

  Tingkatan kemampuan praktik yoga; adalah tingkatan yang sudah dikuasai oleh responden dalam praktik yoga.

  b.

  Usia; yakni usia responden yang akan mengisi kuesioner. c.

  Pekerjaan; pekerjaan atau profesi responden saat mengisi kuesioner.

2.5 HIPOTESIS Secara etimologis, hipotesis terdiri dari dua kata, yakni hypo dan thesis.

  Hypo memiliki arti kurang dan thesis artinya pendapat. Jadi, hipotesis merupakan kesimpulan yang belum sempurna sehingga disempurnakan dengan membuktikan kebenaran hipotesis, yaitu dengan menguji hipotesis dengan data dilapangan (Bungin, 2011:90). Hipotesis sendiri disebut juga sebagai jawaban teoritis, karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan teori-teori yang relevan, belum pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H : Tidak terdapat hubungan antara kegiatan yoga dan konsep diri praktisi yoga di Kamalini Yoga Studio, Komplek Multatuli Medan. H a : Terdapat hubungan antara kegiatan yoga dan konsep diri praktisi yoga di Kamalini Yoga Studio, Komplek Multatuli Medan.

Chapter II Pengaruh Yoga Terhadap Konsep Diri (Studi Korelasional Pengaruh Yoga Terhadap Konsep Diri Praktisi Yoga Di Kamalini Yoga Studio Medan)
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait

Chapter II Pengaruh Yoga Terhadap Konsep Diri..

Gratis

Feedback