REKONSEPTUALISASI SISTEM KEMARITIMAN MEL. pdf

Gratis

0
3
38
1 year ago
Preview
Full text

  nmutmainnah96@yahoo.com

REKONSEPTUALISASI SISTEM KEMARITIMAN MELALUI

PROGRAM PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL DAN TERLUAR

  WELFARE STATE DEMI MEWUJUDKAN

DAFTAR ISI

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  nmutmainnah96@yahoo.com

  

  

  

  nmutmainnah96@yahoo.com

ABSTRAK

  Indonesia adalah salah satu negara maritim terbesar di dunia. Dengan segala potensi sumber daya alam yang melimpah seharusnya menjadikan masyarakatnya sejahtera. Namun ternyata negara ini belum mampu memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Berbagai persoalan seperti konflik penguasaan pulau oleh swasta, pengambilalihan wilayah-wilayah yang merupakan akses hidup masyarakat merupakan masalah utama ketidaksejahteraan di samping kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang berdampak hilangnya sumber hidup masyarakat. Dengan luas laut terbesar di dunia seharusnya menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang ditakuti negara lain. Gagalnya sistem kemaritiman saat ini menjadi faktor utama tidak mampunya negara dalam memberi kesejahteraan kepada rakyatnya, terutama sistem kemaritiman yang menjangkau kesejahteraan dan keamanan bagi masyarakat pulau-pulau kecil dan terluar. Dari 92 pulau terluar Indonesia, dimana 12 pulau yang terluar yang berpenghuni ini banyak yang tidak memiliki fasilitas berupa sarana dan prasarana yang memadai bahkan ada yang tidak memiliki monumen sebagai tanda identitas pulau, selain masalah belum adanya listrik, pelabuhan untuk transportasi antarpulau dan lain sebagainya. Hal yang sama juga terjadi di wilayah pulau-pulau kecil sehingga kesejahteraan masyarakatnya jauh dari kata sejahtera. Masalah lain seperti kurangnya data dan informasi tentang pulau-pulau kecil, kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap pengelolaan pulau-pulau kecil, pertahanan dan keamanan, terbatasnya sarana dan prasarana dasar, konflik kepentingan misalnya antara masyarakat adat dan pemerintah serta swasta juga menjadi masalah yang rentan saat ini, serta akibat dari pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang mengakibatkan degradasi lingkungan hidup menjadi persoalan hidup masyarakat itu saat ini. Untuk itu rekonseptualisasi sistem kemaritiman melalui program

  walfere state

  pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar demi mewujudkan sangat di perlukan. Solusi yang di tawarkan dalam rekonseptualisasi sistem kemaritiman guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat ialah inventarisasi semua pulau-pulau kecil dan segala potensi sumber daya alamnya. Pengadaan peta tunggal mengenai pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia, Pemanfaatan pulau kecil terluar di Indonesia sebagai benteng pertahanan keamanan. Pemanfaatan

  inner sea, pulau-pulau kecil yang berada di dan aksesibilitas antarpulau. walfere state, Kata kunci: sistem kemaritiman, pulau-pulau kecil dan terlu nmutmainnah96@yahoo.com

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Indonesia adalah Negara kepulauan (archipelago state) yang terdiri dari 17.504 pulau kecil yang memiliki berbagai sumber daya alam baik hayati maupun non hayati yang sejatinya dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

  Hal ini diakui dalam deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957 yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah Negara Kesatuan

  1

  2 Republik Indonesia . Dengan luas 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan)

  yang berada di iklim tropis, tentu saja Indonesia mempunyai sumberdaya alam yang sangat berlimpah. Sumber daya alam ini menurut Pasal 33 ayat (3)Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945)

  yang berbunyi “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di

  dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya

  

kemakmuran rakyat”, artinya bahwa negara harus menjadi fasilitator bagi

  warganya dalam rangka mengelola sumberdaya alamnya bagi kesejahteraan rakyat. Konsep dikuasai oleh negara bukan berarti di miliki namun di kelola

  archipelago state,

  sebesar-besarnya untuk kemakmuran. Sebagai keberadaan 17.504 pulau di Indonesia seharusnya dapat menjadi poros sistem kemaritiman serta dapat menjadi penopang perekonomian bagi penduduknya/masyarakatnya.

  Dan dalam pengelolaan sumber daya alamnya harus disesuaikan dengan karakteristik setiap pulau yang berbeda-beda ragam kekayaan alamnya yang tentu juga berbeda pula pola hidup dan budayanya dalam pengelolaan sumberdaya alam (misalnya budayasasi di Maluku, Panglima Laot di Aceh, Awiq-awiq di Lombok, 1 Anonim, Deklarasi Djuanda, diakses pada 16 Maret 2016. 2 Anonim, Luas Wilayah Negara Indonesia, diakses pada 16 Maret 2016.

  nmutmainnah96@yahoo.com

Mane’e di Sulawesi dsb.) terutama bagi masyarakat di pulau-pulau kecil

Indonesia.

  Sebagai negara Kesatuan dimana Pancasila menjadi landasan hidup bangsa maka prinsip dari penyelenggaraan pemerintah termasuk kewenangan dalam membentuk peraturan perundang-undangan haruslah berdasarkan prinsip dari

  bhineka tunggal ika,

  Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Pancasila dan ber- sebagai landasan konseptual dan landasan filosofi bangsa serta sumber dari segala sumber hukum. Khusus terhadap berbagai peraturan perundang-undangan terhadap pengelolaan sumberdaya alam di wilayah laut pesisir dan pulau-pulau kecil dan terluar, pemerintah seharusnya menghormati perbedaan dari warga masyarakatnya yang beraneka ragam baik suku, bahasa, ruang hidup dan lainnya. Warga masyarakat ini adalah masyarakat hukum adat yang telah ada jauh sebelum negara ini ada sebagai negara yang bernama Indonesia. Sebagai konsekuensi dari negara Pancasila keberadaan masyarakat ini juga diakui dalam konstitusi kita yaitu Pasal 18 B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI 1945). Konsekuensi mana harus dianggap sebagai perwujudan penghormatan kepada landasan filosofi dan nilai sejarah yang ada dan berakar dari bangsa

3 Indonesia sendiri . Masyarakat inilah yang merupakan pemilik hak dari sebagian besar wilayah Indonesia termasuk di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar.

  Namun pengelolaan sumber daya laut khususnya pulau-pulau kecil dan terluar yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar ternyata juga tidak mendatangkan kesejahteraan.

  Apalagi dengan jumlah penduduk 249,9 juta orang, semakin menambah presentasi kemiskinan negara ini, karena ternyata jumlah angka kemiskinan masyarakatnya sebagian besarnya juga adalah masyarakat pesisir yang identik dengan kemiskinan. Ketidakseriusan pemerintah dalam pengelolaan pulau-pulau

  Revency Vania Rugebregt, Disertasi, 2016,Pengelolaan Sumber Daya Alam Laut Pesisir

Oleh Pemerintah dan Implikasinya Terhadap Lingkungan Hidup Masyarakat Adat, Universitas Hasanudin, hlm, 25 nmutmainnah96@yahoo.com

  kecil dan terluar ini dapat dilihat dari hal paling mendasar yaitu inventarisasi pulau yang sampai saat ini tidak maksimal yang menyebabkan banyaknya pulau-pulau kecil di Indonesia yang belum diberikan nama. Selain itu tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah itu sangat tidak sejahtera dibandingkan dengan negara tetangga yang berbatasan, sehingga penduduknya lebih cendrung memilih bekerja di wilayah negara tentangga karena upah kerja yang besar.

  Kurangnya perhatian pemerintah diperparah dengan adanya konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumberdaya alam baik antar pemerintah pusat dan daerah, pemerintah dan masyarakat adat, maupun masyarakat adat dengan pihak swasta yang ingin memanfaatkan sumberdaya alam demi keuntungan ekonomi semata. Baik terhadap sumberdaya alam hayati dan non hayati maupun

  Eco Tourism

  terhadap pulau itu sendiri demi kepentingan . Pihak swasta yang tidak seharusnya dapat memiliki pulau namun kenyataannya 60 pulau di kepulauan

  4

  seribu telah dimiliki oleh pihak swasta .Selain kepemilikan lainnya demi kepentingan pemerintah, penguasaan wilayah pesisir oleh warga asing kebangsaan Swiss di Paperu Maluku, menjadikan akses hidup masyarakat semakin sempit bahkan hilang. Selain pemilikan pulau oleh swasta, pengelolaan pulau-pulau kecil pun menjadi masalah. Reklamasi pantai di Makasar untuk kepentingan pembangunan menyebabkan beberapa pulau kecil menjadi berkurang wilayahnya seperti Pulau Samalona, Pulau Dutungan, Pulau Kahyangan, Pulau Cangke, Pulau Badik yang paling terluar dsb. Lepasnya kepemilikan pulau-pulau kecil oleh

  real estate

  pemerintah dan dijadikan tempat pemukiman dan tentu membawa dampak negatif bagi masyarakat. Selain akses terhadap laut menjadi hilang, kehidupan mereka pun ikut berubah dan dampak negatif bagi lingkungan hidup sekitar. Dampak negatif seperti rusaknya laut, berkurangnya ikan, naiknya

  bleaching

  permukaan air, terhadap terumbu karang semakin memperparah lingkungan hidup di mana masyarakat ini tinggal dan beraktivitas. Perebutan

  Poskota News, Ahok: 60 Pulau di Kepulauan Seribu Milik Swasta. Ini Gila,

diakses pada 16 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com

  pengelolaan sumberdaya alam seperti di Buru terhadap pertambagan emasnya, oleh pemerintah dan rakyat, 200 konsesi terhadap hutan di Kepulauan Aru atau Konflik Blok Masela di Maluku masih menjadi polemik bagi kesejahteraan masyarakat, karena pemerintah dan swasta saling memperebutkan sumberdaya alamnya dalam pengelolaan tanpa mempertimbangan keberadaan masyarakat adat sebagai pemilik hak.

  1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah pemanfaatan Sumber Daya Laut khususnya di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia selama ini?

  2. Bagaimana rekonseptualisasi sistem kemaritiman melalui program pemanfaatan pulau-pulau terluar kecil dan terluar dapat mewujudkan Indonesia sebagai negara

  welfare state

  yang sesungguhnya?

  1.3 Tujuan

  Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui kondisi pemanfaatan sumber daya laut di Indonesia selama ini.

  2. Untuk menemukan solusi pemanfaatan sumber daya laut yang adil melalui pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia.

  1.4 Manfaat Penulisan

  Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Mahasiswa Untuk menambah ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan bahan acuan bagi mahasiswa yang tertarik menulis lebih lanjut mengenai pemanfaatan sumber daya laut melalui pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia. nmutmainnah96@yahoo.com

  2. Bagi Masyarakat Untuk menambah ilmu pengetahuan sehingga masyarakat mengetahui fakta-fakta mengenai kondisi pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar serta menemukan solusi demi pemanfaatan sumber daya laut yang adil demi kesejahteraan Indonesia.

  3. Bagi Pemerintah Untuk dapat dijadikan sebagai suatu sumbangan pikiran bagi pemerintah mengenai kondisi pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia serta dapat menjadi solusi bagi pemerintah dalam menghadapi masalah tersebut. nmutmainnah96@yahoo.com

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Sistem Kemaritiman di Indonesia

  Konsep berasal dari bahasa Inggris: concept yang berarti rencana atau

  5

  rancangan . Terkait dengan konsep mengenai sistem, maka konsep hukum adalah suatu konsep kebijaksanaan hukum yang ditetapkan suatu masyarakat hukum yang berisi tentang budaya hukum yang dianutnya atau berisi formulasi nilai

  6 hukum yang dianutnya .

  Sistem merupakan suatu kebulatan atau kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian, dimana antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya saling terkait satu sama lain, tidak boleh terjadi konflik dan tidak boleh terjadi

  7 overlapping

  (tumpang tindih) .Sedangkan sistem dalam pandangan hukum secara umum merupakan suatu tatanan atau kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berkaitan erat satu sama lain yaitu kaidah atau pernyataan tentang apa yang seharusnya, sehingga sistem hukum

  8 merupakan sistem normatif .

  Istilah maritim berasal dari bahasa Inggris yaitu maritime , yang berarti navigasi, maritim atau bahari. Sedangkan kata maritim menurut KBBI online adalah ma-ri-tim berkenaan dengan laut; berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Dari istilah maritim tersebut lahir istilah negara maritim atau negara samudera. Disisi lain mengenai pengertian maritim yang berdasarkan

  9

  terminologi adalah mencakup ruang/wilayah permukaan laut, pelagik dan

  5 6 Seri Bahasa Indonesia, Semarang: Aneka Ilmu, hlm 569.

  M.Marwan & Jimmy P, 2009, Kamus HUKUM Dictionary Of Law Complette Edition, Surabaya: Reality Publisher, hlm 375. 7 Achmad Ali, 1997, Menang dalam Perkara Perdata, Ujungpandang: Ukhuwah Grafika, hlm 9. 8 9 Ibid, hlm 569.

  Pelagik berasal dari bahasa Yunani pelagos yang berarti laut lepas. nmutmainnah96@yahoo.com

  10

  mesopelagik yang merupakan daerah subur di mana pada daerah ini terdapat

  11 kegiatan seperti pariwisata, lalu lintas, pelayaran dan jasa-jasa kelautan .

  Sejarah maritim di Indonesia bermula pada abad VII yang secara ekonomi telah dipersatukan oleh Kerajaan Sriwijaya degan menguasai lalu lintas perdagangan dari Barat dan Timur, dari Utara dan Selatan di Selat Malaka, Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Kemudian pada abad XIII konsep penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik di bawah satu kekuasaan telah diletakkan oleh

  Cakrawala Mandala

  raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari melalui semboyan

  Dwipantara

  . Semboyan ini kemudian diwujudkan Maha Patih Gaja Mada dari Kerajaan Majapahit.

  Penyatuan Kepulauan Indonesia secara politik dan ekonomi tersebut dilajutkan selama masa penjajahan Belanda hingga Jepang. Oleh karena itu, ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, maka yang dimaksud dengan bangsa dan negara adalah rakyat dan wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penduduk dan pulau-pulau dari kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai kekayaan alam Indonesia. Oleh karena itu, latar belakang alamnya yang bersifat oseanik menjadikan bangsa dan negara

12 Indonesia bercorak maritim .

  Dalam membangun negara maritim, pemerintah harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur dan institusi kemaritiman, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun pertahanan dan keamanan. Hal tersebut bertujuan agar semua fungsinya dapat mendukung terwujudnya perikemanusiaan masyarakat maritim. Untuk mencapai tujuannya diperlukan adanya konsep sistem

  10 Mesopelagik adalah daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman laut 200-1000 m.

  Samsir, Makal ah Wawasa Ke ariti a “Kebijaka Politik Dala Negara Mariti , , diakses pada20 Maret 2016. 12 Wahyono S.K., 2009, Indonesia Negara Maritim, Jakarta;Teraju, hlm2. nmutmainnah96@yahoo.com

  yang mampu menjadi pilar demi terwujudnya kemaritiman di Indonesia. Berikut

  13

  pilar-pilar penyangga negara maritim :

  a. sistem politik yang mampu menjamin keutuhan seluruh kepulauan Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah negara, termasuk daerah perbatasan, daerah pedalaman, dan pulau-pulau terluar dan terpencil, dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945;

  b. sistem ekonomi yang mampu mengembangkan perdagangan lewat laut di dalam dan ke luar negeri, pengangkutan laut yang dapat menghubungkan seluruh Kepulauan Indonesia, serta mendorong tumbuhnya usaha-usaha industri dan jasa maritim dalam arti luas, eksplorasi dan eksploitasi kekayaan laut dan dasar laut, untuk kemakmuran dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat di seluruh kepulauan Indonesia; c. sistem sosial dan budaya yang menjunjung tinggi harkat manusia, kemajemukan etnik, budaya dan agama, serta mampu menumbuhkan semangat cinta laut dengan tradisi dan perikehidupan masyarakat maritim yang menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, penghubung dan pemersatu bangsa atas dasar Sumpah Pemuda 1928 dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika;

  d. sistem pertahanan dan keamanan yang mampu menjamin tegaknya kedaulatan dan hukum serta kehadiran kekuatan laut secara berlanjut di seluruh wilayah laut kedaulatan dan laut jurisdiksi nasional, yang menjamin penguasaan atas seluruh Kepulauan Indonesia meliputi wilayah darat, laut, serta udara di atasnya, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote.

  Pengembangan negara maritim di Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945 karena dalam prikehidupan kebangsaan Indonesia Pancasila pada hakekatnya disusun secara serasi dan seimbang untuk mewadahi seluruh aspirasi bangsa Indonesia. Landasan konsepsionalnya adalah wawasan nusantara dan ketahanan nasonal. Dengan wawasan nusantara bangsa Indonesia memandang wilayah nusantara sebagai satu kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. Pada hakekatnya negara maritim Indonesia merupakan pengembangan dari konsepsi ketahahan nasional, maka konsepsi negara maritim Indonesia perlu 13 Ibid, hlm 7. nmutmainnah96@yahoo.com

  dijadikan pedoman dan rangsangan serta dorongan bagi bangsa kita dan upaya

  14 pemanfaatan dan pendayagunaan secara terpadu, terintegrasi dan berkelanjutan .

2.2. Welfare State

  Welfare State berasal dari bahasa Inggris yaitu welfare yang berarti state Welfare State

  kesejahteraan dan yang berarti negara. Sedangkan dalam Kamus Hukum merupakan fungsi negara yang bertujuan untuk memelihara kehidupan atau menciptakan syarat-syarat kehidupan sejahtera bagi anggota

  15 masyarakat negara yang bersangkutan secara menyeluruh dan terus menerus .

  Secara umum, suatu negara dapat digolongkan sebagai Negara Kesejahteraan jika

  social citizenship full democracy modern

  memiliki empat pilar: (1) ; (2) ; (3)

  

industrial relation system ; (4) right to education and the expansion of modern

masseducation systems

  .

  welfare state

  Menurut Masad negara kesejahteraan ( ) pada dasarnya mengacu pada peran aktif dalam mengelola dan mengorganisasi perekonomian yang didalamnya mencakup tanggung jawab negara untuk menjamin ketersediaan

  16 welfare state

  pelayanan kesejateraan warganya . Negara kesejahteraan ( ) dapat diartikan sebagai negara yang pemerintahannya menjamin terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Perwujudan kesejahteraan rakyatnya harus didasarkan pada

  democracy

  lima pilar kenegaraan, yaitu: demokrasi ( ), penegakan hukum (rule of

  social juctice

  law), perlindungan Hak Asasi Manusia, keadilan sosial ( ) dan anti

  17 diskriminasi .

  14 Pusjianmar, Konsep Negara Maritim dan Ketahanan Nasional,

iakses pada 20 Maret 2016. 15 M.Marwan & Jimmy P, 2009, Kamus HUKUM Dictionary Of Law Complette Edition, Surabaya: Reality Publisher, hlm 646. 16 Masad Masrur, Kewajiban Negara Terhadap Kesejahteraan Rakyat,

  diakses pada 18 Maret 2015. 17 Raihan Mahdy dkk, 2015, Reformulasi Kebijakan Dana Bagi Hasil Guna Mewujudkan Desentralisasi Fiskal Dalam Bingkai Negara Kesejahteraan, Semarang, hlm 14. nmutmainnah96@yahoo.com

  Menurut Bessant, Watts, Dalton dan Smith (2006), ide dasar Negara

  welfare state

  Kesejahteraan ( ) beranjak ketika Jeremy Bentham bergagasan bahwa

  the greatest happiness

  pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjamin (atau

  welfare of the greatest number of their citizen

  ) . Bentham menggunakan istilah

  utility (kegunaan) untuk menjelaskan konsep kesejahteraan dan kebahagiaan.

  Bentham berpendapat bahwa sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan adalah sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk. Menurutnya, segala aksi yang dilakukan pemerintah adalah mewakili kebahagiaan banyak orang. Oleh karena itu, negara memiliki kewajiban untuk memperjuangkan kesejateraan seluruh warganya.

  welfare state

  Negara Indonesia sebagai negara kesejahteraan ( ) berarti terdapat tanggungjawab negara untuk mengembangkan kebijakan negara di berbagai bidang kesejahteraan serta meningkatkan kualitas pelayanan umum

  

(public services) yang baik melalui penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan

  18

  oleh masyarakat . Substansi Pasal 34 UUD NRI 1945 tentang Adanya ketentuan mengenai kesejahteraan sosial yang jauh lebih lengkap dibandingkan sebelum perubahan merupakan bagian upaya mewujudkan kesejahteraan sosial.

  Menurut Habermas suatu negara modern harus dapat menjamin kesejahteraan seluruh rakyat Kesejateraan sosial mencakup nilai-nilai yang telah menjadi pengetahuan umum sebagai syarat material minimum untuk hidup, jaminan penghidupan yang layak, perlindungan dan hak milik, jaminan untuk bertindak dengan bebas, dan segala kenikmatan yang diangan-angankan setiap

  19

  orang dan segala perlindungan mengenai kepentingan kerohanian

  18 Sekretariat Jenderal MPR-RI, 2012, Panduan Permasyarakatan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Jakarta, hlm 199. 19 Ibid, hlm 14. nmutmainnah96@yahoo.com

2.3. Pulau-pulau Kecil dan Terluar di Indonesia

  Nusantara merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah Secara konstitusional berkaitan dengan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana tertuang dalam Pasal 25 A Undang-Undang Dasar

  

NRI Tahun 1945, telah ditegaskan mengenai wilayah negara bahwa “Negara

  Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan Undang-

  Undang”. Mengenai wilayah negara telah ditetapkan Undang-Undang

  Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara yang merupakan pengejewantahan dari yang diamanatkan dalam pasal 25 A UUD NRI 1945.

  Pokok-pokok kebijakan pengaturan persoalan pengaturan wilayah negara yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 mengenai asas-asas pokok pelaksanaan pengaturan wilayah meliputi: Asas Kedaulatan, Asas

  

Kebangsaan, Asas Kenusantaraan, Asas Keadilan, Asas Keamanan, Asas

  20 Ketertiban, Asas Kerjasama, Asas Kemanfaatan, Asas Pengayoman .

  dan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 juga mengatur mengenai tujuan dari

  21

  pengaturan wilayah negara adalah :

  a. menjamin keutuhan wilayah negara, kedaulatan negara, dan ketertiban di kawasan perbatasan demi kepentingan kesejahteraan segenap bangsa; b. menegakkan kedaulatan dan hak-hak berdaulat; dan

  c. mengatur pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan, termasuk pengawasan batas-batasnya.

  

2.4 Kewenangan Pemerintah dalam Pengaturan dan Pengelolaan Wilayah

Negara

  Dalam rangka menjaga keutuhan wilayah negara, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan, perlu dilakukan pengelolaan pulau-pulau kecil terluar. Oleh karena itu, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar

  Lihat Pasal 2 Penjelasan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara. 21 Lihat Pasal 3 Undang-Undang Npmor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara. nmutmainnah96@yahoo.com

  dengan salah satu pertimbangan yaitu pulau-pulau kecil terluar Indonesia memiliki nilai strategis sebagai titik dasar dari garis pangkal Kepulauan Indonesia dalam penetapan wilayah perairan di Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif

  22 Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia . Pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dilakukan secara terpadu antara Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.

  23 Pengelolaan tersebut meliputi bidang-bidang :

  a. sumberdaya alam dan lingkungan hidup;

  b. infrastruktur dan perhubungan;

  c. pembinaan wilayah;

  d. pertahanan dan keamanan; e. ekonomi, sosial, dan budaya.

  Kewenangan pemerintah dan pemerintah daerah dalam melakukan

  24

  pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan negara serta kawasan perbatasan , dimana dalam pengelolaan dan pemanfaatan tersebut pemerintah berwenang: (1) menetapkan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah negara dan kawasan perbatasan; (2) mengadakan perundingan dengan negara lain mengenai penetapan batas wilayah negara sesuai dengan ketentuan tanda batas wilayah negara; (3) melakukan pendataan dan pemberian nama pulau dan kepulauan serta unsur geografis lainnya; (4) memberikan izin kepada penerbangan Internasional untuk melintasi wilayah udara teritorial pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan; (5) melaksanakan pengawasan di zona tambahan yang diperlakukan untuk mencegah pelanggaran dan menghukum pelanggar peraturan perundang-undagan di bidang bea cukai, fiskal, imigrasi, atau saniter di dalam wilayah negara atau laut teritorial; (6) menetapkan wilayah udara yang dilarang dilintasi oleh penerbangan Internasional untuk pertahanan dan keamanan; (7) membuat dan memperbarui peta wilayah negara dan menyampaikannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangya setiap 5 (lima) tahun sekali; dan (8) 22 Lihat Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil dan Terluar. 23 24 Lihat Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005.

  Lihat Pasal 9 Undang-Undang Npmor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara. nmutmainnah96@yahoo.com

  menjaga keutuhan, kedaulatan dan keamanan wilayah negara serta kawasan perbatasan.

  Adanya kewenangan yang diberikan kepada pemerintah dan pemerintah daerah tersebut memberikan juga kewajiban untuk menetapkan biaya pembangunan kawasan perbatasan, dan dalam rangka menjalankan kewenangannya, pemerintah dapat menugasi pemerintah daerah untuk menjalankan kewenanganya dalam rangka tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  Konve

  island ) sebagai "daratan yang ’82) pasal 121 mendefinisikan pulau (Inggris:

  terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas muka air pada

  25

  saanaik tertinggi" . Ada empat syarat suatu daerah dapat dikategorikan sebagai pulau yaitu : (1) memiliki lahan daratan; (2) terbentuk secara alami bukan lahan reklamasi; (3) dikelilingi oleh air baik air laut maupun air tawar; dan (4)

  26

  selalu berada diatas air pada saat pasang naik tertinggi . Sedangkan pulau-pulau kecil didefinisikan berdasarkan dua kriteria utama yaitu luasan pulau dan jumlah penduduk yang menghuninya. Definisi pulau-pulau kecil yang dianut secara nasional sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 41 Tahun 2000 Jo Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 67 Tahun

  2 ,

  2002 adalah pulau yang berukuran kurang atau sama dengan 10.000 km dengan jumlah penduduk kurang atau sama dengan 200.000 jiwa. Di samping kriteria utama tersebut, beberapa karakteristik pulau-pulau kecil adalah secara ekologis

  mainland island

  terpisah dari pulau induknya ( ), memiliki batas fisik yang jelas dan terpencil dari habitat pulau induk, sehingga bersifat insular; mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi; tidak mampu mempengaruhi hidroklimat; memiliki daerah tangkapan air 26 Lihat Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional Tahun 1982 (UNCLOS 82).

  Anonim, Empat Syarat Agar Sebuah Daerah disebut Pulau, iakses pada 22 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com catchment area

  ( ) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut serta dari segi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat

  27 pulau-pulau kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya .

  Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah pulau terbanyak yaitu 17.504 pulau. Terdiri dari pulau besar, pulau-pulau kecil dan pulau-pulau terluar atau perbatasan. Jumlah pulau besar ada 5 (lima), 92

  

28

  pulau-pulau terluar di Indonesia , sedangkan mengenai data resmi terkait daftar pulau-pulau terkecil di Indonesia masih belum dapat diakses. Mengingat sisi terluar dari wilayah negara Indonesia atau dikenal dengan kawasan perbatasan Indonesia merupakan kawasan strategis dalam menjaga integritas wilayah negara, maka diperlukan juga pengaturan secara khusus. Pengaturan batas-batas wilayah negara, dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum mengenai ruang lingkup wilayah negara, kewenangan pengelolaan sumberdaya di wilayah negara, dan hak-hak berdaulat. Negara berkepentingan untuk ikut mengatur pengelolaan dan pemanfaatan di laut bebas dan dasar laut Internasional sesuai dengan hukum Intenasional. Pemanfaatan di laut bebas dan di dasar laut meluputi pengelolaan kekayaan alam, perlindungan lingkungan laut dan keselamatan navigasi. Pengelolaan wilayah negara dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan secara bersama-sama. Pendekatan kesejahteraan dalam arti upaya-upaya pengelolaan wilayah negara hendaknya memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan perbatasan.

  27 Kementrian PPN/Bappenas, Kebijakan dan Strategi,

iakses pada 22 Maret 2016. 28 Sudirman Saad, 2014, Laut Masa Depan Kita, Jakarta, hlm 1. nmutmainnah96@yahoo.com

BAB 3 METODE PENELITIAN

  3.1 Tipe Penelitian

  Tipe penelitian yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah normatif yang dipaparkan secara deskriptif untuk menunjukkan suatu kajian yang dapat dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut.

  3.2 Objek Tulisan

  Objek Penulisan dalam karya tulis illmiah ini adalah Pulau-pulau Kecil dan Terluar di Indonesia.

  3.3 Teknik Pengumpulan Data

  Data yang diperoleh melalui studi literatur yaitu cara yang dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber sumber yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam suatu penelitan. Studi literatur didapatkan dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumntasi, internet dan pustaka.

  3.4 Analisis Data

  Setelah dilakukan pengambilan data dan informasi, semua hasil diseleksi untuk mengambil data dan informasi yang relevan dengan masalah yang dikaji. Kemudian dianalisis dan dievaluasi untuk menemukan hasil dan gambaran yang diharapkan. nmutmainnah96@yahoo.com

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Perairan Laut di Indonesia Saat ini Indonesia memiliki luas laut 7.900.000 km2, empat kali dari luas daratannya.

  29 Wilayah ini meliputi laut Teritorial, Laut Nusantara, dan Zone Ekonomi Ekslusif .

  Melalui Deklarasi Djuanda tanggal 13 Desember 1957 sebagaimana juga telah di singgung di atas, maka dilahirkan Wawasan Nusantara yaitu cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI Tahun 1945). Dalam deklarasi ini ditentukan bahwa batas perairan wilayah Indonesia adalah 12 mil laut dari garis dasar pantai sampai titik terluar. Garis dasar pantai adalah garis pantai rata-rata pada keadaan pasang surut.

  Berbanding terbalik kiranya, negara kita dengan beberapa negara maju seperti Inggris dan Amerika yang sedari awal telah memanfaatkan wilayah perairannya, padahal dalam wilayah laut pedalaman terkandung banyak sumber daya alam.

  Beberapa negara maju telah melakukan pengeboran minyak di wilayah lepas pantai, sementara kita masih bergantung pada pengelolaan asing, yang jelas lebih banyak kekayaan laut kita itu dikirim ke luar negeri saja.

  Terakhir, aspek yang penting juga diperhatikan dengan semakin maraknya industri di Indonesia jelas menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan laut kita yakni pencemaran laut. Laut biasanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Karena kadar karbondioksida atmosfer meningkat, lautan menjadi lebih asam.

4.1.1 Kondisi Pulau-Pulau Terluar

   mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005. Di Peraturan Presiden

  Helena Rihm, 2013, Luas Laut di Indonesia, Jurnal sosial-ekonomi, At Available diakses pada 16 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com

  tersebut ditegaskan bahwa ada sebanyak 92 pulau terluar di wilayah Indonesia berbatasan langsung dengan negara tetangga di antaranya (2) (4) da(20), (5), (1)(3). Masih hangat diingatan kita, kasus Sipadan dan Ligitan berhasil diklaim dan menjadi milik Malaysia. Karena Malaysia lebih dominan melakukan eksplorasi, dan pemanfaatat terhadap pulau tersebut. Padahal dalam demografi, atau peta yang dimiliki di zaman Hindia Belanda, pulau Sipadan dan Ligitan adalah bagaian dari area milik Hindia Belanda. Artinya wilayah Sipadan dan Ligitan dari bukti otentik sudah merupakan wilayah Indonesia. Belum adanya kesepakatan tentang batas maritim antara Indonesia dengan Filipina di Perairan Utara dan Selatan Pulau Miangas, juga menjadi salah satu isu yang harus dicermati. Forum RI-Filipina yakni Joint Border Committee

  Joint Commission for Bilateral Cooperation

  (JBC) dan (JCBC) yang memiliki agenda sidang secara berkala, dapat dioptimalkan menjembatani permasalahan perbatasan kedua negara secara bilateral. Hasil pendataan Departemen Dalam Negeri, dari 17.504 pulau di seluruh wilayah NKRI baru 7.870 pulau yang telah

  30

  memiliki nama. Sebanyak 9.634 atau 55 % belum bernama . Mencermati kondisi nyata yang ada di lapangan, dalam rangka inventarisasi pulau-pulau dan menyatakan eksistensi kedaulatan Republik Indonesia di pulau-pulau tersebut perlu

  Standardization of

  ditempuh upaya pemberian nama pulau mengacu pada

  Geographical Name ” wilayah pulau-pulau tersebut dibangun pos pengamanan,

  infrastruktur, tanda batas, komunikasi dan fasilitas umum lainnya yang dibutuhkan

  Damang, 2013, Jurnal Hukum, At Jumlah Pulau Di Indonesia,

  

Availabl diakses pada 17 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com

  31

  masyarakat/penduduk setempat . Pada tahun 2005 keluarlah Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Adapun tujuan dari pengelolaan pulau-pulau kecil terluar tertuang dalam

  Pasal 2 yaitu (1) menjaga keutuhan wilayah Negera Kesatuan Republik Indonesia, keamanan nasional, pertahanan negara dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan. (2) memanfaatkan sumber daya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan dan, (3) memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan.

PERBATASAN LAUT

  

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft

and/or supplier. Allright Reserved

  Gambar diatas adalah gambar batas wilayah laut Indonesia yang berbatasan dengan beberapa negara tetangga. Dimana pada wilayah perbatasan tersebut banyak sekali potensi sumber daya alam, namun secara geografis juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi, kependudukan, ideologi, politik, sosial, keamanan negara. Yang akibat dari rentan kendali ataupun ketidakpedulian pemerintah terhadap wilayah perbatasan tersebut muncul berbagai permasalahan krusial yang sering terjadi. Seperti misalnya saja Indonesia baru saja kehilangan 2 pulau yaitu Sipadan dan Ligitan hanya karena masalah administrasi belaka. Kemudian yang pernah heboh di berbagai media yaitu Karang Unarang. Belum lagi kasus Pulau Nipah, 31 Pulau Marore, Pulau Miangas, dan Pulau Marampit serta Pulau Fanildo, Brass, dan Ibid. nmutmainnah96@yahoo.com

  Fanni yang juga masih bergejolak. Semua ini terjadi karena tidak ada perhatian dari pemerintah terhadap pulau-pulau tersebut.

P. NIPAH

  KONDISI :

  • MEMILIKI MENARA SUAR
  • BERBATASAN DENGAN SINGAPURA
  • • TIDAK BERPENDUDUK & NYARIS TENGGELAM

  

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft

and/or supplier. Allright Reserved

  Gambar diatas adalah Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura, dimana keadaaannya tidak berpenduduk dan nyaris tenggelam. Pulau ini dulu memiliki daratan yang luas namun akibat proyek reklamasi yang di lakukan oleh Negara Singapura yang menyebabkan luas daratan Singapura bertambah sebanyak 12 km sehingga pulau ini terancam akan hilang.

  P. MARORE, MIANGAS & MARAMPIT KONDISI :

  • BERPENDUDUK (BERINTERAKSI DENGAN

    PENDUDUK PHILIPINA)
  • ADA MENARA SUAR (KECUALI P. MARAMPIT)

  • BERBATASAN DENGAN PHILIPINA

  

Sumber : Dinas Pembangunan Hukum Angkatan Laut 1988 -1999 Microsoft

and/or supplier. Allright Reserved

  Kemudian Pulau Marore, Miangas dan Marampit, dimana masyarakat lebih berinteraksi dengan penduduk Philipina. Karena tidak adanya perhatian negara. nmutmainnah96@yahoo.com

4.1.2 Kondisi Pulau Pulau Kecil

  Kondisi saat ini pihak swasta yang tidak seharusnya dapat memiliki pulau

  32 kenyataannya 60 pulau di Kepulauan Seribu telah dimiliki oleh pihak swasta .

  Selain data dari judicial review Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Selain pemilikan pulau oleh swasta, pengelolaan sumber daya alam di pulau-pulau kecil pun menjadi masalah, antara lain:

  (1). Belum Jelasnya Definisi Operasional Pulau-pulau Kecil

  Definisi pulau-pulau kecil di Indonesia saat ini masih mengacu pada definisi internasional yang pendekatannya pada negara benua, sehingga apabila diterapkan di Indonesia yang notabene merupakan negara kepulauan menjadi tidak efisien karena pulau-pulau di Indonesia luasannya sangat kecil bila dibandingkan dengan pulau-pulau yang berada di negara benua. Hal ini menjadi permasalahan tersendiri bagi pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia. Apabila mengikuti definisi yang ada, maka pilihan kegiatan-kegiatan yang boleh dilakukan di kawasan pulau-pulau kecil sangat terbatas, yang tentu saja akan mengakibatkan pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia menjadi lambat.

  (2). Kurangnya Data dan Informasi tentang Pulau-pulau Kecil

  Data dan Informasi tentang pulau-pulau kecil di Indonesia masih sangat terbatas, yang bisa diakses hanya data pulau terluar sedangkan data pulau-pulau kecil tidak ada transparansi mengenai datanya. Sebagai contoh, pulau-pulau kecil di Indonesia masih banyak yang belum bernama dari 17.504 baru 7.870 yang

  33

  bernama , hal ini menjadi masalah tersendiri dalam kegiatan identifikasi dan inventarisasi pulau-pulau kecil. Lebih jauh lagi akan menghambat pada proses perencanaan dan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia. Permasalahan lain dalam pembangunan kelautan dan perikanan di Indonesia adalah belum jelasnya jumlah pulau dan panjang garis pantai, yang sangat berpengaruh dalam 32 Poskota News, Ahok: 60 Pulau di Kepulauan Seribu Milik Swasta. Ini Gila,

  

diakses pada 17 Maret 2016. 33 Ibid.

  nmutmainnah96@yahoo.com

  perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

  

(3). Kurangnya Keberpihakan Pemerintah terhadap Pengelolaan

Pulau-pulau Kecil

  Orientasi pembangunan pada masa lalu lebih difokuskan pada wilayah

  mainland

  daratan ( ) dan belum diarahkan ke wilayah laut dan pulau-pulau kecil meski telah terdapat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, namun masih rendahnya kesadaran,

  political will

  komitmen dan dari pemerintah dalam mengelola pulau-pulau kecil inilah yang menjadi hambatan utama dalam pengelolaan potensi pulau-pulau kecil. Sementara potensi kekayaan pulau-pulau kecil mencapai US$ 60.578.651.400/tahun yang bersumber dari sektor perikanan, wisata bahari, minyak bumi dan transportasi laut. Semestinya seluruh warga kepulauan saat ini

  34 sudah memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi .

  (4). Pertahanan dan Keamanan

  Pulau kecil di perbatasan masih menyisakan permasalahan di bidang pertahanan dan keamanan. Hal ini disebabkan antara lain oleh belum terselesaikannya permasalahan penetapan sebagian perbatasan maritim dengan negara tetangga, banyaknya pulau-pulau perbatasan yang tidak berpenghuni dari

  35

  92 pulau terluar hanya 12 yang berpenghuni , sangat terbatasnya sarana dan prasarana fisik serta rendahnya kesejahteraan masyarakat lokal. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran adanya okupasi negara lain dan memicu berkembangnya permasalahan yang sangat kompleks, tidak saja berkaitan dengan bagaimana upaya memeratakan hasil pembangunan, tetapi juga aspek pertahanan keamanan dan ancaman terhadap keutuhan NKRI. 34 Andi Chairil Ichsan , 2015, terbengkalainya pulau pulau kecil di Indonesia, Artikel, At

  

Availablediakses pada 17 Maret 2016. 35 Alamendah, 2010, Jumlah Pulau terluar di Indonesia dan berapa yang sudah makalah, At bernama,

Availabldiakses pada 17 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com (5). Disparitas Perkembangan Sosial Ekonomi

  Letak dan posisi geografis pulau-pulau kecil yang sedemikian rupa menyebabkan timbulnya disparitas perkembangan sosial ekonomi dan persebaran penduduk antara pulau-pulau besar yang menjadi pusat pertumbuhan wilayah dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

  (6). Terbatasnya Sarana dan Prasarana Dasar

  Pulau-pulau kecil sulit dijangkau oleh akses perhubungan karena letaknya yang terisolir dan jauh dari pulau induk. Terbatasnya sarana dan prasarana seperti jalan, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, pasar, listrik, media informasi dan komunikasi menyebabkan tingkat pendidikan (kualitas sumber daya manusia), tingkat kesehatan, tingkat kesejahteraan dan pendapatan masyarakat pulau-pulau kecil rendah. Aksebilitas keterjangkauan antar pulau pun masih terhambat, hal ini diakibatkan kurangnya transportasi yang menghubugkan antar pulau. Padahal terdapat 270 kapal penyeberangan yang dimiliki, terlebih hal ini sebagai

  36 implementasi dari tol laut program pemerintah .

  (7). Konflik Kepentingan

  Pengelolaan pulau-pulau kecil akan berdampak pada lingkungan, baik positif maupun negatif sehingga harus diupayakan agar dampak negatif dapat diminimalkan dengan mengikuti pedoman-pedoman dan peraturan-peraturan yang dibuat. Di samping itu, pengelolaan pulau-pulau kecil dapat menimbulkan konflik budaya melalui industri wisata yang cenderung bertentangan dengan kebudayaan lokal; dan menyebabkan terbatasnya atau tidak adanya akses masyarakat terutama pulau-pulau kecil yang telah dikelola oleh investor. Selain itu juga terjadi pertentangan antara masyarakat adat dengan pemerintah terkait pengelolaan pulau- pulau kecil.

  (8). Degradasi Lingkungan Hidup

  Pemanfaatan sumber daya yang berlebih dan tidak ramah lingkungan yang disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, belum adanya kebijakan yang 36 Bambang Priharto, 2015, Pengembangan Tol Laut Dalam RPJMN 2015-2019 Dan Implementasi 2015, Badan Perencana Pembangunan Nasional, Hlm 76. nmutmainnah96@yahoo.com

  terintegrasi lintas sektor di pusat dan daerah serta rendahnya kesejahteraan masyarakat telah berdampak pada meningkatnya kerusakan lingkungan hidup. Diperkirakan diantara tahun 1990-2100 akan terjadi kenaikan rata-rata suhu global sekitar 1,4 sampai 5,8 derajat celsius. Akibatnya akan terjadi kenaikan rata-rata

  37

  permukaan air laut disebabkan mencairnya gunung-gunung es di kutub . Banyak kawasan di dunia akan terendam air laut. Akan terjadi perubahan iklim global. Hujan dan banjir akan meningkat. Wabah beberapa penyakit akan meningkat pula. Produksi tumbuhan pangan pun terganggu. Pendek kata akan terjadi pengaruh besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Para peneliti dan ilmuwan yang bergerak di bidang lingkungan sudah sangat ngeri membayangkan bencana besar yang akan melanda umat manusia. Yang jadi masalah, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini belum merata di tengah umat manusia. Ini akan lebih jelas lagi kalau melihat tingkat kesadaran masyakat di negara berkembang. Jangankan masyarakat umum, di kalangan pemimpin pun kesadaran masalah lingkungan ini masih belum merata.

  Muthiah humairah, Artikel, At

  Kerusakan Lingkungan hidup di laut,

Availabldiakses pada 8 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com

  

4.2 Rekonseptualisasi Sistem Kemaritiman Melalui Program Pemanfaatan

Pulau-Pulau Kecil Dan Terluar

  Konsep pengelolaan sumber daya alam di bidang kemaritiman dalam hal ini pengelolaan pulau-pulau terluar dan terkecil dibutuhkan demi memaksimalkan pemanfaatan sumber daya laut. Solusi dari berbagai aspek dibutuhkan demi tewujudnya tujuan untuk mensejahterakan masyarakat dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini.

  

1. Pengadaan peta tunggal mengenai pulau-pulau kecil dan terluar di

Indonesia

  Data mengenai pulau-pulau di Indonesia belum lengkap bahkan sebagian besar pulau-pulau kecil belum mempunyai nama. Hal ini akan menjadi penghambat kelancaran perencanaan pembangunan dan berbagai permasalahan lainnya. Pemerintah perlu mengadakan inventarisasi pulau-pulau yang berada di wilayah perairan Indonesia. Pelaksanaan inventarisasi pulau memang tidak mudah, tentu saja membutuhkan waktu yang lama dan dana besar yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. Hal ini menjadi investasi demi kesejahteraan bangsa Indonesia melalui sumber daya laut kedepannya. Proses inventarisasi pulau harus dilaksanakan dengan transparan serta melibatkan elemen masyarakat. Hasil dari proses inventarisasi nantinya akan menjadi peta tunggal yang dapat menjadi acuan untuk sumber data. Peta tunggal ini kemudian akan digunakan untuk perencanaan pembangunan di Indonesia. Peta tunggal juga akan

  good governance

  dipublikasikan demi asas yang dapat diakses oleh masyarakat agar menaruh kepercayaan kepada pemerintah. Mengenai peta tunggal juga akan dilengkapi dengan informasi lainnya, seperti potensi sumber daya alam dan karakteristik setiap pulau. Peta tunggal juga menjadi pusat informasi pemetaan sumber daya alam terkhususnya sumber daya laut di Indonesia. Hal ini akan membuat Indonesia benar-benar merdeka dalam bidang sumber daya alam. Jumlah hasil sumber daya laut yang telah dioptimalkan dan berasal dari 17.504 pulau tentu saja nmutmainnah96@yahoo.com dapat menyeimbangkan kebutuhan akan sumber daya alam rakyat Indonesia.

  Dikembangkannya informasi ini akan membantu pemerintah dalam pengoptimalan sumber daya yang adil dan seimbang untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

  

2. Pemanfaatan pulau kecil terluar di Indonesia sebagai benteng pertahanan

keamanan

  Di Indonesia sudah ada Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), tetapi Satgas Pamntas hanya menduduki 12 pulau terluar dari 92

  38

  pulau terluar yang ada di Indonesia . Hal ini berarti masih ada 80 pulau terluar di Indonesia yang tidak diduduki oleh TNI. Semua pulau terluar di Indonesia harus diduduki oleh TNI dan didirkan

  39 active occupation

  monument hal ini sebagai salah satu bentuk yang dapat meminimalisir diklaimnya Pulau Indonesia oleh negara lain. Hal ini juga disarankan oleh Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko yang mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan eksistensi dan kedaulatan negara terhadap puluhan pulau terluar Indonesia

  40 yang saat ini berbatasan dengan negara lain .

3. Pemanfaatan pulau-pulau kecil yang berada di inner sea

  Mengenai pemanfaatan pulau-pulau kecil yang beradi di Indonesia yan berarti berada di wilayah pesisir diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kemudian dirubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014. Didalam undang-undang tersebut diatur tentang hak pengelolaan perairan pesisir dapat diberikan kepada : a. Orang perorangan warga Negara Indonesia; 38 Tegar Arief Fadly, Natuna Dicaplok China, Bukti Pulau Terluar Indonesia Rawan,

  

diakses pada 18 Maret 2016. 39 Pengertian active occupation Harry Siswoyo, Panglima TNI Usulkan Semua Pulau Terluar Ada Monumen,

diakses pada 19 Maret 2016. nmutmainnah96@yahoo.com

  b. Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia, atau; Masyarakat adat.

  Sumber daya laut pesisir di pulau-pulau kecil belum maksimal bahkan masih jauh dari apa yang diharapkan. Banyaknya pulau yang tidak berpenghuni sudah pasti menandakan tidak ada yang mengelola. Seperti yang telah dipaparkan oleh undang-undang, masyarakat adat juga berhak mengelola sumber daya laut pesisir. Nantinya data pengelolaan, masyarakat adat harus diutamakan terlebih dahulu karena semua tanah di Indonesia adalah tanah hak ulayat.

  Masyarakat adat sudah berada di berbagai pulau kecil di Indonesia jauh sebelum Indonesia terbentuk, jadi hak mereka harus diutamakan. Setelah itu barulah orang perorangan hingga badan hukum diperbolehkan untuk mengelola sumber daya laut. Pengelolaan juga akan diatur dalam regulasi lebih lanjut mngenai pengelolaan sumber daya laut pulau –pulau kecil di Indonesia. Pengelolaan sumber daya laut berdasarkan karakteristik wilayah pulau-pulau. Hal ini nantinya akan sangat menguntungkan dan akan mensejahterakan masyarakat terkhususnya di berbagai pulau-pulau kecil di Indonesia. Untuk pulau kecil yang berada dekat dengan lokasi

4. Aksesibilitas

  Sumber daya laut yang melimpah dan dikelola dengan baik tentu saja tidak akan maksimal proses pemanfaatannya jika aksesibilitas antar pulau belum mendukung. Potensi sumber daya laut setiap pulau-pulau kecil yang berbeda mengharuskan adanya penyaluran dan penerimaan sumber daya laut dari pulau-pulau kecil lainnya. Pemerintah diharapkan dapat menyediakan alat transortasi laut untuk mempermudah aksesibilitas demi pendistribusian hasil pengelolaan sumber daya alam. Peningkatan aksesibiltas antar pulau juga akan berdampak positif pada keamanan wilayah perbatasan karena TNI dengan mudah dapat mengadakan patroli di wilayah perairan terluar di Indonesia karena tidak hanya alat transportasi yang ditingkatkan, fasilitas berupa dermaga juga perlu diadakan oleh pemerintah. nmutmainnah96@yahoo.com

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  1. Pemanfaatan Sumber Daya Laut khususnya di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia selama ini, dengan luas laut 7.900.000 km2, empat kali dari luas daratannya masih jauh dalam rangka memenuhi kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Besarnya potensi kelautan yang dimiliki ternyata tidak sebanding dengan kondisi pengelolaan utamanya persoalan kondisi pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia yang begitu kompleks, saling tumpang tindihnya kewenangan hingga persoalan sarana dan prasarana yang tidak memadai menjadi potret kondisi pulau-pulau kecil dan terluar di Indonesia. Dengan begitu besarnya potensi yang ada sementara konsep kemaritiman saat ini, belum mampu memberi solusi terhadap pemanfaatan pulau-pulau kecil dan terluar guna memberi kesejahteraan pada rakyat, maka diperlukan langkah solutif guna menyelesaikan persoalan yang ada.

  2. Rekonseptualisasi sistem kemaritiman diperlukan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil dan terluar. Jika pemerintah ingin memanfaatkan 17.504 pulau di Indonesia tentunya membutuhkan data terlebih dahulu, melakukan inventarisasi pulau-pulau kecil dan terluar yang akan menghasilkan peta tunggal yang mencakup semua informasi mengenai pulau di Indonesia adalah langkah awal yang tepat dan investasi jangka panjang yang dapat dilakukan pemerintah. Setelah melengkapi informasi maka pemanfaatan pulau dapat dilakukan, pulau-pulau terluar Indonesia sebanyak 92 pulau wajib diduduki oleh TNI demi pembangunan benteng keamanan. Mengenai pulau yang berada

  inner sea

  di daerah akan dimanfaatkan sepenuhnya oleh pemerintah dengan pemberdayaan masyarakat penduduk pulau sebagai eksekutornya. Pemafaatan pulau akan sesuai dengan karakteristik pulau dan budaya yang telah ada di masyarakat pulau. Sumber daya alam yang dikelola tentunya akan lebih berguna jika dapat terdistribusikan dengan baik, meningkatkan aksesibilitas nmutmainnah96@yahoo.com

  antar pulau di Indonesia merupakan kewajiban pemerintah, untuk itu akan diadakan peningkatan saran dan prasarana aksesibilitas pulau. Semua aspek ini jika dilaksanakan dengan baik dan benar akan mewujudkan kesejahteraan masyarakat khususnya dalam bidang ekonomi.

5.2 Saran

  1. Diharapkan pemerintah selalu melakukan pemutakhiran tentang data-data pulau terbaru dengan setiap saat melakukan inventarisasi pulau.

  2. Diharapkan pemerintah peduli kepada masyarakat di wilayah pulau-pulau kecil dan terluar dengan memberi rasa aman dan identitas warga masyarakat di wilayah tersebut dengan menempatkan pos-pos TNI, pembangunan monumen dan selalu melakukan renovasi.

  3. Diharapkan pemerintah memperpendek rentan kendali di pulau-pulau kecil dan terluar dengan membangun pelabuhan-pelabuhan dan pengadaan kapal-kapal sebagai alat transportasi atau penghubung.

  4. Diharapkan pemerintah mengakui dan menghargai keberadaan masyarakat adat yang ada di pulau-pulau tersebut dengan seluruh eksistensinya baik hukum adatnya maupun budaya pengelolaan sumber daya alamnya.

  5. Diharapkan kepada masyarakat agar lebih aktif untuk bekerjasama dengan pemerintah dalam pengelolaan pulau-pulau terluar dan terkecil dengan tidak menyampingkan budaya yang sudah ada. nmutmainnah96@yahoo.com

DAFTAR PUSTAKA

REGULASI

  Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-pulau Kecil dan Terluar. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara.

  PERJANJIAN INTERNASIONAL Konvensi PBB tentang Hukum Laut Internasional Tahun 1982 (UNCLOS 82). SKRIPSI/TESIS/DISERTASI Disertasi, 2016.Pengelolaan Sumber Daya Alam Laut

  Revency Vania Rugebregt,

  Pesisir Oleh Pemerintah dan Implikasinya Terhadap Lingkungan Hidup Masyarakat Adat. Universitas Hasanudin .

  BUKU

  Achmad Ali. 1997. Menang dalam Perkara Perdata. Ujungpandang: Ukhuwah Grafika.

  Pengembangan Tol Laut Dalam RPJMN 2015-2019 Dan Bambang Priharto. 2015. Implementasi 2015. Badan Perencana Pembangunan Nasional.

  Reformulasi Kebijakan Dana Bagi Hasil Guna Raihan Mahdy dkk. 2015. Mewujudkan Desentralisasi Fiskal Dalam Bingkai Negara Kesejahteraan.

  Semarang. Sekretariat Jenderal MPR-RI. 2012. Panduan Permasyarakatan Undang-Undang

  Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

  Jakarta. Seri Bahasa Indonesia. Semarang: Aneka Ilmu.M.Marwan & Jimmy P.

  

Kamus HUKUM Dictionary Of Law Complette Edition.

  2009.

  Surabaya: Reality Publisher. Wahyono S.K.2009. Indonesia Negara Maritim. Jakarta;Teraju.

  Jurnal Hukum, At Availa

  Kerusakan Lingkungan hidup di laut.

   Muthiah Humairah.

  Kewajiban Negara Terhadap Kesejahteraan Rakyat

   Masad Masrur.

  Kebijakan dan Strategi

  Helena Rihm. 2013. Luas Laut di Indonesia. Jurnal sosial-ekonomi. At Availa

  

  Harry Siswoyo. Panglima TNI Usulkan Semua Pulau Terluar Ada Monumen

  

  Jumlah Pulau Di Indonesia.

  Damang. 2013.

  Empat Syarat Agar Sebuah Daerah disebut Pulau

  Anonim.

   Alamendah. 2010. Jumlah Pulau terluar di Indonesia dan berapa yang sudah bernama. makalah.AtAvaila

  Luas Wilayah Negara Indonesia.

  Anonim. Deklarasi Djuanda Anonim.

  INTERNET

  Jakarta.

  Laut Masa Depan Kita.

  nmutmainnah96@yahoo.com Sudirman Saad. 2014.

  • Kementrian PPN/Bappenas.

  Artikel. At Availa nmutmainnah96@yahoo.com Poskota News.

  Ahok: 60 Pulau di Kepulauan Seribu Milik Swasta. Ini Gila

   Pusjianmar.

  Konsep Negara Maritim dan Ketahanan Nasional

   Samsir. Makalah Wawasan

  Kemaritiman “Kebijakan Politik Dalam Negara Mariti

   Tegar Arief Fadly.

  Natuna Dicaplok China, Bukti Pulau Terluar Indonesia Rawan

   nmutmainnah96@yahoo.com

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama Lengkap : Nurul Mutmainnah Tempat dan tanggal lahir. : Makassar, 12 Oktober 1996 Perguruan Tinggi : Universitas Hasanuddin Jurusan/Fakultas : Ilmu Hukum/Hukum Nomor telepon/ HP : 082349953344 E-mail : Akun Media Sosial :

  Facebook : Nurul Mutmainnah Twitter : @mutmainna96

  Karya ilmiah yang pernah dibuat :

  1. Penerapan Sistem

  E-Voting

  Sebagai Upaya Mewujudkan Penyelenggaraan Pemilu Yang Jujur dan Adil

  2. Reaktualisasi Nilai Strategis Barang Berharga Asal Muatan Kapal Yang Tenggelam dalam Konstelasi Benua Maritim Indonesia

  3. KKN Kemaritiman: Aktualisasi Peran Mahasiswa Universitas Hasanuddin Guna Membangun Benua Maritim Indonesia 4.

  Legal Aid Democracy

  : Pengembalian Entitas Bantuan Hukum Dalam Mewujudkan Aksesibilitas Hukum Bagi Masyarakat Indonesia Dan Pembangunan Hukum Nasional

  Penghargaan-penghargaan yang pernah diraih :

  1. Finalis Scientific Writing Competition of Politic and Law 2015, Universitas Muhammadiyah Malang 2. Finalis Airlangga Law Competition 2016, Universitas Airlangga.

  3. Finalis Lomba Karya Tulis Kemaritiman Se-Indonesia Timur 2015, Universitas Hasanuddin

  4. Peringkat 3 sub tema kelautan SELF ICON XIII Universitas Udayana 2016 nmutmainnah96@yahoo.com LAMPIRAN 2 Nama Pulau-Pulau Terluar Indonesia No Nama Pulau Wilayah Administrasi

  1. Alor Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur

  24.

  

  

  20.

  21.

  22.

  23.

  25.

  17.

  26. 27.

  

  

  28.

  29.

  30.

  18. 19.

  16.

  2.

  

  3.

  4. 5.

  

  6.

  7. 8.

  

  9.

  

  10.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  31. nmutmainnah96@yahoo.com

  32.

  

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56. 57.

  58.

  49.

  59.

  60.

  61.

  62. 63.

  

  64.

  50.

  48.

  33. 34.

  39. 40.

  

  

  35.

  36.

  37.

  38.

  

  47.

   41.

  

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  65. nmutmainnah96@yahoo.com

  

  81.

  91.

  90.

  

  

   89.

  

   88.

  

  86. 87.

  85.

  84.

  83.

  82.

  80.

  66.

  79.

  78.

  77.

  76.

  75.

  74.

  73.

  72.

  71.

  70.

  69.

  68.

  67.

  92.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (38 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

SISTEM OTOMATISASI SONAR (LV MAX SONAR EZ1) DAN DIODA LASER PADA KAPAL SELAM
15
210
17
PERANCANGAN SISTEM PENGEREMAN HIDROLIS PADA MOBIL URBAN DIESEL TUGAS AKHIR BIDANG KONTRUKSI
7
119
19
PENGEMBANGAN SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI AIR BERSIH DI KECAMATAN TUREN
0
57
2
ANALISIS SISTEM PENGUKURAN DEBIT LIMBAH KERTAS PADA INDUSTRI DI PT. EKA MAS FORTUNA MENGGUNAKAN READWIN® 2000
0
50
1
PENGARUH PENGGUNAAN MODIFIER OLI BEKAS PADA CAMPURAN PERKERASAN LASBUTAG DENGAN SISTEM HOTMIX
0
32
2
PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH PADA KECAMATAN PESANTREN KOTA KEDIRI
0
45
2
ANALISIS SISTEM TEBANG ANGKUT DAN RENDEMEN PADA PEMANENAN TEBU DI PT PERKEBUNAN NUSANTARA X (Persero) PABRIK GULA DJOMBANG BARU
36
305
27
ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN DALAM PROSES PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) (StudiKasusPada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Oro-Oro Dowo Malang)
157
668
25
SIMULASI SISTEM KENDALI KECEPATAN MOBIL SECARA OTOMATIS
1
81
1
SISTEM INFORMASI PEMBELIAN DAN PENJUALAN PADA PUJASEGA FAMILY RESTO GARUT
2
21
52
SISTEM INFORMASI PENGGAJIAN DI MTs MUHAMMMDIYAH 6 AL-FURQON TASIKMALAYA
3
38
28
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TERNAK ITIK PETELUR DENGAN SISTEM INTENSIF DAN TRADISIONAL DI KABUPATEN PRINGSEWU
8
112
159
PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T
44
257
59
TINJAUAN DESKRIPTIF TENTANG SISTEM PEWARISAN PADA MASYARAKAT BATAK TOBA DI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
3
35
57
SISTEM INVENTORY JURUSAN ILMU KOMPUTER di UNIVERSITAS LAMPUNG
1
24
45
Show more