TINJAUAN PSIKOLOGI MENURUT PANDANGAN AGAMA ISLAM

Gratis

0
0
8
10 months ago
Preview
Full text

  

TINJAUAN PSIKOLOGI MENURUT

PANDANGAN AGAMA ISLAM

MAKALAH

DIAJUKAN SEBAGAI SALAH SATU TUGAS KELOMPOK

DARI MATA KULIAH PSIKOLOGI UMUM

GUNA MENDAPATKAN KESEMPURNAAN NILAI

DI SUSUN OLEH :

  DENI RHAMDANI SYARIF NIMKO : 08.1.1463.AL.II RIZKI AKMLIAH NIMKO : 08.1.1465.AL.II LIA MARLANTI NIMKO : 08.1.1472.AL.II TRIYANTO NIMKO : 08.1.1471.AL.II

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM

  

“KHARISMA”

  A. pendahuluan

  Manusia atau individu di seluruh dunia ini, prilakunya dapat diformulasikan atau dirumuskan dalam suatu pola prilaku/konsep prilaku yang akan disikapi dalam bahasan psikologi, oleh karena itu sebaiknya kita mengenal lebih dahulu psikologi tersebut. Psikologi tertilis dalam bahasa Inggris psychology berasal dari bahasa Yunani psycho dan logos yang artinya jiwa/mental/psike dan ilmu.

  Pada saat itu belum terpikir tentang makna jiwa, semakin kearah perkembangan waktu dengan bertambahnya tahun Ilmu jiwa mengalami kesulitan untuk mencari dan mendeteksi kebenaran jiwa itu sendiri. Didalam tubuh atau dimana? Keberadaan jiwa pada tubuh untuk dideteksi, oleh karena itu berkembanglah menjadi lebih rasional, untuk disebut ilmu yang pembahasannya pada prilaku yang mengkoordinasikan antara fisik dan psikis (jasmani dan ruhani).

  Pada kesempatan kali ini akan kami bahas psikologi (ilmu jiwa) menurut pandangan agama. Apakah ada kesesuaian antara ilmu jiwa psikologi yang kita pelajari dengan tuntunan ajaran agama. Sedangkan mengabaikan pendidikan nilai- nilai spiritual ini berarti mengingkari kewajibannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Allah telah menjelaskan dalam Al-qur’an tentang ilmu yang membahas mengenai jiwa, jadi kita harus mampu membedakan psikologi menurut pandangan ilmu pengetahuan dan menurut pangdangan agama. Oleh karena itu ada perbedaan antara ruh, jiwa, nafs, kalbu, dan tingkah laku. Yang nanti akan kami perjelas dalam pembahasannya.

B. Tinjauan Teoritis

   Aspek Psikologi Psikologi adalah sebuah ilmu yang membahas tentang jiwa manusia, dalam kajian ilmu psikologi tidaklah mengkaji masalah “Ruh” akan tetapi mengkaji kegiatan psikis serta karajteristik pada tingkah laku manusia.

  Jiwa secara harfiah berasal dari bahasa sansekerta “Jiv” yang berarti “Lembaga hidup” (Levensbbeginsel) atau “daya hidup” (Levenskracht). Oleh karena jiwa itu merupakan pengertian yang absrak, tidak dapat dilahat dan belum bisa diungkapkan secara lengkap dan jelas maka orang lebih cenderung mempelajari “jiwa” yang memateri atau gejala jiwa yang meraga (menjasmani) yaitu, bentuk tingkkah laku manusia (segala aktivitas, perbuatan, penampilan diri) sepanjang hidup.

  Hakikat manusia diciptakan oleh Tuhan terdiri dari dua aspek kehidupan, jasmaniah dan ruhaniah, aspek pisik dan mental. Kedua aspek tersebut berkembang saling mempengaruhi. Karena Allah sendiri telah menyatakan bahwa ruh atau jiwa (walaupun istilah tersebut kurang tepat) merupakan sesuatu yang serba terselubung atau abstrak kata lainnya, dan manusia telah di nash bahwa mereka memilki pengetahuan tentang ruh itu serba sedikit, maka manusia yang memilki insting ingin tahu (sense of curiosity) nya itu maka ketetapan Allah itu sebagai acuan penelitian sebagai upaya penyikapan kegaiban yang ada didalammya. Hal ini terjadi sejak zaman purba hingga zaman modern dewasa ini. Hal itulah yang akhirnya melahirkan banyak disiplin ilmu.

  Perkataan tingkah laku mempunyai pengertian yang sangat luas, yaitu tidak hanya mencakup kegiatan motoris saja seperti berbicara, berjalan, berlari, berolah raga, dan lain-lain, akan tetapi juga membahas melihat, mendengar, mengingat, berpikir, fantasi, atau aktivitas lainnya. Pada intinya, Psikologi itu menyibukan diri dengan masalah kegiatan psikis, seperti : berpikir, belajar, menanggapi, mencintai, membenci, dan lain-lain, yang mana kesemua itu di golongkan dalam empat kategori, yaitu : Pengertian kategori diatas : 1) Kognisi adalah kemampuan jiwa (ruhani) untuk menciptakan sesuatu yang baru; 2) Emosi adalah kemampuan jiwa (ruhani) yang menyebabkan dapat merasakan sesuatu yang datang dari luar maupun dari dalam dirinya;dan 3) Konasi adalah kemampuan jiwa (ruhani) yang dapat mendorong manusia untuk berbuat atas dasar alas an atau tanpa alas an tertentu.

  Dengan memperhatikan faktor-faktor perkembangan psikologis beserta cirri- cirinya maka massage (pesan) yang disampaikan oleh juru bicar5a akan mersap dan diterima dalam pribadi sasarannya dan kemudian diamalkan dengan sukarela tanpa ada perasaan dipakssa, karena hal tersebut dapat enyantuh dan memuaskan kehidupan ruhaninya. 

  Psikologi menurut pandangan Islam “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh (jiwa) maka katakanalah bahwa jiwa(ruh) itu urusan Tuhan-ku dan kamu tidak diberi ilmu (tentang jiwa itu) kecuali sedikit saja”.

  Para mufasirin berbeda pendapat tentang arti kalimat “ruh” dalam beberapa pendapat (salah satunya) bahwa yang dimaklsud ruh adlah ruh-ruh bani Adam. Abdurrahim bin Auf meriwayatkan dari Ibnu abbas, bahwa ayat ini menyatakan bahwa orang-orang yahudi bertanya kepada Nabi saw. : beritahukanlah kepada kami tentang ruh dan bagaimanakah siksa bagi ruh itu didalam tubuh manusia? Pada hal ruh itu berasal dari Allah swt ,maka tidak mungkin ruh itu turun pada sesuatu dan tidak akan lari pada mereka. Maka datanglah Malaikat Jibril as kepada dan mengatakan pada Nabi saw : “Ruh itu urusan Tuhanmu” maka nabi memberitahukan pda mereka tentang hal itu, kemudian orang yahudi berkata tentang hal itu. Kemudian orang yahudi itu berkata : Siapa yang telah datang kepadamu ya Muhammad? Malaikat Jibril as telah datang kepadaku dan mengatakan bahwa ruh itu datang dari Allah dan

   Hakikat jiwa Apakah hakikat jiwa itu? Apakah jiwa merupakan bagian dari bagian-bagian badan? Apakah jiwa merupakan fisik yang dapat ditempati ataukah merupakan substansi yang kosong? Apakah jiwa itu juga ruh ataukah sesuatu yang berbeda?

  Jawaban atas berbagai pertanyaan telah disampaikan berbagai golongan, namun pendapat merka itu rancu dan banyak yang salah. Sementara Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti Rasul dan ahli sunnahnya tentang apa yang merak perselisihka, berupa kebenaran dengan seizinnya. Karena Allah akan memmberikan petunjuk kepada orang yang diberi izin oelhnya.

  Mengenai hakikat ruh dalam tafsir Annaur juz V karya Ash Shiddiqi (1969 : 6)terdapat beberapa pendapat , yaitu :

  1. Menurut Al Rozy dan Ibnu Qayyim dalam kitab ar-ruh (yang dimaksudkan adalah bab ruh dalam kitab tersebut) ruh itu adalah sati jisim nurani (berupa cahaya) yang hidup, yang bergerak dari alam tinggi yang tabiatnya menyalahi tabiat didalam tubuh yang dapat dilihat dan dipegang. Dia berjalan didalam tubuh, sebagai air mengalir didalam bunga mawar, dan minyak berjalan didalam zaitun, dan api berjalan di arang. Dia memberi hidup kepada tubuh yang kasar…

  2. Al ghazali dan Abu Qasim Al Raghib Al Alfahani berpendapat bahwa Ruh itu bukan tubuh dan tidak pula bersifat tubuh. Dia bergantung dengan badan hanyalah didalam mengurusi dan menyelesaikan segala kepentingan-kepentingan tubuh.

  Maka dalam Psikologi tidak mengkaji tentang ruh melainkan ruh yang memateri atau reflekasi dari ruh itu dalam bentuk tingkah laku, yang dapat dikaji denga pendekatan empiris. Sebab manusia pada hakikatnya terdiri dari dua aspek yakni : aspek ruhani dan jasmani. Psikologi hanya memfokuskan diri pada gejala-gejala kejiwaan, sehingga tujuan psikologi memberikan pandangan tentang mungkinnya dilakukan perubahan tingkah laku atau mental psikologis.

  Al-qur’an mendorong kepada manusia untuk memikirkan tentang dirinya sendiri, tentang keajaiban penciptanya dan kepelikan struktur kejadiannya. Hal inilah yang memotivasi manusia untuk mengadakan kajian tentang jiwa yang akan mengantarkan kepada pengetahuan tentang hakikat Tuhan. Di samping itu, Pengetahuan akan dirinya membantunya dalam mengendalikan hawa nafsunya, memelihara dari tindakan munkar dan mengarahkan kepada keimanan dan norma-norma yang benar. Banyak ayat-ayat Al-qur’an yang berbicara mengenai karakter ataupun temperamen manusia. Ayat-ayat tentang jiwa ini merupakan pedoman bagi manusia dalam memahami berbagi karakteristik jiwanya ataupun jiwa orang lain sebagai dasar dalam mengarahkan pada jalan yang islami.

C. Penutup

   Kesimpulan Dalam Islam tidak ada larangan untuk mempelajari jiwa dan tinglah laku manusia, karena manusia diberi kelebihan akal untuk membedakan antara jiwa, ruh, nafs., kalbu, dan juga raga.

  Kajian psikologi tidak menyalahi aturan, akan tetapi bagai mana kita akan menyekapi karakteristik, mental psikologis pada manusia Namun pengetahuan manusia tentang ruh (jiwa ) memang amat sedikit menurut pandanngan Allah swt. Akan tetapi kita bisa memahami ukuran sedikit menurut pandangan Allah tidaklah akan sama dengan sedikit menurut pandangan manusia. Oleh karena itu mempelajari psikologi amat penting untuk menambah pengetahuan dalam bidang kejiwaan atau tingkah laku agar lebih mengenal dirinya dan orang lain, yang intinya mengenal pencipta karakter yang ada pada manusia.

  B. Kritik dan Saran Alhamdulillah karya tulis ilmiyah ini telah dapat penulis selesaikan dengn baik.

  Namun pada penyusunan Karya Ilmiyah ini penulis sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari kekurangan dan kekhilapan yang merupakan hal yang wajar, manakala terdapat hal-hal yang sekiranya kurang sempurna, baik dari segi penulisan dan sistematika penyusunannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan akan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak terutama dosen pembimbing. Walaupun demkian penulis telah mencurahkan segalanya dalam penyusunan karya ilmiyah ini.

  Terima kasih,

  Penyusun,

Dokumen baru

Tags

Manusia Menurut Pandangan Islam Aborsi Menurut Pandangan Agama Hindu Contoh Makalah Agama Tentang Operasi Plastik Menurut Pandangan Islam Alam Semesta Menurut Pandangan Islam Transfusi Darah Menurut Pandangan Islam Natal Menurut Pandangan Syariah Islam Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam Hakikat Tuhan Menurut Pandangan Islam Terorisme Menurut Pandangan Islam Dan Konsep Kerja Menurut Pandangan Islam
Show more