ASPEK HUKUM MAGERSARI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KERATON SURAKARTA DAN ORANG YANG MAGERSARI

Gratis

1
1
98
1 year ago
Preview
Full text

ASPEK HUKUM MAGERSARI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KERATON SURAKARTA DAN ORANG YANG MAGERSARI Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta Oleh ARDANI NIRWESTHI NIM. E 0008287 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

  Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum(skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersediamenerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

1. Lego Karjoko, S.H.,M.H. : ……………………………………… Ketua 2. Purwono Sungkowo Raharjo, S.H. : ……………………………………… Sekretaris 3. Pius Triwahyudi, S.H.,M.Si. : ……………………………………… Anggota

  Hal-hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum(skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersediamenerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.

MAGERSARI DANIMPLIKASINYA TERHADAP KERATON

  Penulisan hukum ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional dan mengetahui implikasi sistem hukumnasional terhadap Keraton Surakarta selaku pemilik tanah dan orang yang berkedudukan sebagai magersari. Pengaturan tanah magersari belum jelas menjadikan orang yang magersari menjadi kesewenang-wenangan melakukan kecurangan menempati tanah magersari bukan abdi dalem Keraton Surakarta, dandiketemukan warga yang tidak punya Palilah Griya Pasiten maka tidak membayar yang ditarik oleh Negara.

MAGERSARI AND THE IMPLICATION TO SURAKARTA PALACE AND

  Firstly, the legal position of magersari about the SurakartaPal ace’s land in the national legal system had been governed in colonial age inRijkblad Surakarta Number 14 of 1938 stating that the full authority of managing the Palace’s land on magersari land is held by the Surakarta Palace itself. Secondly, theimplication of national legal system to the Surakarta Palace as the landowner and those in position of magersari in Act No.5 of 1960 (UUPA) still inadequatelygoverned the existence of magersari land in Surakarta City so that the law certainty became vague.

KATA PENGANTAR

  Penulisan hukum ini, penulis beri judul “Aspek Hukum Magersari dan Implikasinya Terhadap Keraton Surakarta dan Orang yang Magersari ”. Keluarga Besar KSP Principium FH UNS, terima kasih atas pengalaman dan suasana kekeluargaannya ada Mas Aji, Mas Haris, Mas Yovi, Mas Tejo, MasGatot, Mb Citra, Mb Ariyani, Miqdad, Prita, Citra Widi, Mia, Naning, Indri,Maulida, Faradina, Kiki, Danang, Dias, Indra, Rifzki, Isti, Mira, Fika, Nares, dan teman-teman lainnya yang tidak bisa penulis sebut satu persatu.

BAB I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Problematika pertanahan terus mencuat dalam dinamika kehidupan

  Beberapa kondisi dalam masyarakat yang menggambarkan masalah utama bidang pertanahan dewasa ini, diantaranya semakin maraknyakonflik dan sengketa tanah, semakin terkonsentrasinya pemilikan dan penguasaan tanah pada sekelompok kecil masyarakat, dan lemahnya jaminan kepastian hukumatas pemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah serta masih banyaknya tanah- tanah di Indonesia ini yang belum jelas status hukumnya. 17.)Berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 telah menghadirkan peraturan-peraturan mengenai tanah yang selama ini mempunyaisifat dualisme antara tanah-tanah yang tunduk pada hukum barat dan hukum adat serta menjadi pedoman bagi pemerintah dan masyarakat (Adrian Sutedi, 2010:1),khususnya bagi Pejabat Pembuat Akta Tanah, Notaris dan pejabat lain yang berwenang dalam melaksanakan tugasnya berkaitan dengan tanah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis merumuskan masalah untuk mengetahui dan menegaskan masalah-masalahapa yang akan diteliti sehingga dapat memudahkan penulis dalam commit to user

1. Bagaimana kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional?

  Adapun permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 2. Bagaimana implikasi sistem hukum nasional terhadap Keraton Surakarta selaku pemilik tanah dan orang yang berkedudukan sebagai magersari ?

C. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian adalah hal-hal tertentu yang hendak dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian akan memberikan arah dalam pelaksanaanpenelitian.

1. Tujuan Obyektif

  Mengetahui kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional. b.

2. Mengetahui Tujuan Subjektif

  Untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan kemampuan penulis bidang hukum administrasi Negara khususnya aspek hukum magersaridan implikasinya antara Keraton Surakarta dan orang yang magersari. Untuk memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar akademik sarjana dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas HukumUniversitas Sebelas Maret.

D. Manfaat Penelitian

  Memperkaya referensi dan literatur kepustakaan hukum Hukum Agraria tentang aspek hukum magersari dan implikasinya terhadap Karaton Surakarta dan orang yang magersari. Hasil dari penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan terhadap penelitian-penelitian sejenis pada tahap selanjutnya dan berguna bagipara pihak yang pada kesempatan lain mempunyai minat untuk mengkaji permasalahan yang sejenis.

E. Metode Penelitian

  Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul dan hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsimengenai apa yang seyogyanya atas isu hukum yang diajukan (Peter MahmudMarzuki, 2005:41). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan di dalam keilmuan yang bersifat deskriptif yang menguji kebenaran ada tidaknya sesuatu faktadisebabkan oleh suatu faktor tertentu, penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalammenyelesaikan masalah yang dihadapi.

4. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

  Sumber-sumber penelitian hukum dapat dibedakan menjadi sumber- sumber penelitian yang berupa bahan hukum primer dan bahan hukumsekunder. Di dalam penelitian hukum ini, penulis menggunakan jenis dan sumber bahan hukum primer dan sekunder yang berkaitan dengan aspekhukum magersari dan implikasinya terhadap Keraton Surakarta dan orang yang magersari yang akan menunjang diperolehnya jawaban ataspermasalahan penelitian yang diketengahkan penulis.

a. Bahan hukum primer

  Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritif yang artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dariperundang-undangan, dan catatan-catatan resmi atau risalah-risalah dalam pembuatan peraturan perundang-undangan atau risalah di dalam pembuatan commit to user Pokok-Pokok Agraria;3) Penetapan Pemerintah No.

b. Bahan hukum sekunder

  Teknik Pengumpulan Bahan HukumProsedur pengumpulan bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yaitu pengumpulan bahan dengan jalan membacaperaturan perundang-undangan, dokumen-dokumen resmi maupun literatur- literatur yang erat kaitannya dengan permasalahan yang dibahas berdasarkanbahan hukum sekunder. Teknis Analisis Bahan HukumAdapun bahan hukum yang diperoleh dari bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder dimaksud penulis uraikan dan hubungkan sedemikianrupa, sehingga disajikan dalam penulisan yang lebih sistematis guna commit to user Adapun metode interpretasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah :a.

F. Sistematika Penulisan Hukum

  Adapun sistematika penulisan hukum ini terdiri dari 4 (empat) bab, yang tiap- tiap bab terbagi dalam sub-sub bagian yang dimaksud untuk memudahkanpemahaman terhadap keseluruhan hasil penelitian ini. Di dalam latar belakang masalah dipaparkan adanya fakta hukumyang menjadi latar belakang masalah, yaitu aspek hukum magersari dan implikasinya terhadap Keraton Surakarta dan orang yang magersari.

1. Kerangka teori, yang berisikan tinjauan mengenai :

  Tinjauan Tentang Prinsip-Prinsip Hukum Tanah b. Tinjauan Tentang Hak Atas Tanah commit to user e.

2. Kerangka pemikiran, yang berisikan gambaran alur berpikir dari penulis berupa konsep yang akan dijabarkan dalam penelitian ini

  Berdasarkan rumusan masalah yang diteliti, terdapat duapokok permasalahan yang dibahas dalam bab ini yaitu kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional dan implikasi sistem hukumnasional tersebut terhadap Keraton Surakarta selaku pemilik tanah dan orang yang berkedudukan sebagai magersari. Bab keempat diuraikan mengenai kesimpulan yang dapat diperoleh dari keseluruhan hasil pembahasan dan proses meneliti, serta saran yangrelevan yang dapat penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait dengan bahasan penulisan hukum ini.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori

1. Tinjauan Tentang Prinsip-Prinsip Hukum Tanah Nasional

  Demikian pula, tanah di daerah-daerah dan pulau-pulau tidaklah semata-mata menjadi hak rakyat asli dari daerahatau pulau yang bersangkutan saja. Dalam pasal 3 ayat 3 ini berarti bahwa selama rakyat Indonesia yang bersatu sebagai Bangsa Indonesiamasih ada dan selama bumi, air dan ruang angkasa Indonesia itu masih ada pula, maka dalam keadaan yang bagaimanapun tidak ada sesuatukekuasaan yang akan dapat memutuskan atau meniadakan hubungan tersebut.

b. Asas Hak Menguasai Negara

  Pasal 2 UUPA (1) Atas dasara ketentuan dalam pasal 33 ayat 3 UUD dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, bumi, air dan ruang angkasatermasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu padacommit to user tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasikekuasaan seluruh rakyat. Menentukan dan mengatur hhubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.

c. Asas Pengakuan Hak Ulayat

  ” Pasal 5 UUPA “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingannasioanal dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantumdalam undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar padahukum agama. ”Hak ulayat merupakan seperangkat wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletakdalam lingkungan wilayahnya.[2]Hak ulayat atas tanah masyarakat hukum adat sangat luas yang meliputi semua tanah yang ada di wilayahmasyarakat hukum adat.1).

2. Tinjauan Tentang Hak Atas Tanah

  Macam hak atas tanah ini adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, haksewa untuk bangunan, hak membuka tanah, dan hak memungut hasil hutan.2) Hak atas tanah yang akan ditetapkan dengan undang-undang Yaitu hak atas tanah yang akan lahir kemudian yang akan ditetapkan dengan undang-undang. Macam-macam hak atas tanah ini adalah hak guna bangunan atas tanah hak pengelolaan, hak guna bangunan atas tanah hakmilik, hak pakai atas tanah hak milik, hak sewa untuk bangunan, hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang,dan hak sewa tanah Pertanian.

1) Hak milik

  Hak milik merupakan hak yang paling kuat atas tanah, yang memberikan kewenangan kepadapemiliknya untuk memberikan kembali suatu hak lain di atas bidang tanah hak milik yang dimilikinya tersebut (dapat berupahak guna bangunan atau hak pakai, dengan pengecualian hak guna usaha), yang hampir sama kewenangan negara (sebagaipenguasa) untuk memberi hak atas tanah kepada warganya (Kartini Muljadi,dkk.,2004:30). Artinya seseorang pemilik tanah bisa memberikan tanah kepada pihak lain dengan hak-hak yang kurang daripadahak milik: menyewakan, membagi hasilkan, menggadaikan, menyerahkan tanah itu kepada orang lain dengan hak gunabangunan atau hak pakai.(c) Hak milik tidak berinduk kepada hak atas tanah lain.(d) Dilihat dari peruntukannya, hak milik juga tak terbatas.

1) Hak Guna Usaha (HGU)

  HGU diberikan atas tanah yang paling sedikit 5 hektar, dengan ketentuan bahwa jika luasnya 25 hektar atau lebih harusmemakai investasi modal yang layak dan tehnik perusahaan yang baik, sesuai dengan perkembangan zaman. 40 Tahun1996, dinyatakan bahwa yang dapat mempunyai HGU adalah:(a) Warga Negara Indonesia; commit to user (b) Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

1) Hak Guna Usaha (HGB)

  Hak Guna Bangunan (HGB) adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanahyang bukan miliknya sendiri (Pasal 35 UUPA), dengan jangka waktu paling lama 30 tahun yang dapat diperpanjang denganwaktu paling lama 20 tahun atas permintaan pemegang haknya dengan mengingat keadaan keperluan dan keadaanbangunannya. Hak pakai atas tanah hak milik tidak dapat diperpanjang jangka waktunya, akan tetapi atas kesepakatandengan pemilik tanah dapat diperbabaharui haknya.(2) Hak Sewa Hak sewa adalah hak yang memberi wewenang untuk mempergunakan tanah milik orang lain dengan membayarkepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewanya.

3. Tinjauan Tentang Hak Milik Atas Tanah Menurut Hukum Adat

a. Hak milik atas tanah menurut hukum adat, hak atas tanah itu dapat

  Sesudah beberapa hari tidak ada Bentuk usaha tanah di dalam masyarakat yang primitif mempunyai sifat yang sementara saja : Setelah satu tahun atau dua panen kemudiantanah itu ditinggalkan dan penggarap membuka tanah ditempat lain yang belum pernah dibuka. Hubungan antara orang dan tanah yang digarapnya menjadi lebih erat, kekal, penggarap seseorang itu mempunyai hak yang kekal dan kuatatau bidang tanah yang diusahakannya ialah hak milik, lebih-lebih bila menurut kenyataannya pemakaian tanah itu sudah kukuh-teguh,merupakan kebun, sawah, pekarangan, empang.

4. Tinjauan tentang Hak Tanah atas Keraton Surakarta Hadiningrat

  Pasal 33 ayat (3) Undang-UndangDasar 1945 menetapkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuksebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (Glen Wright, 2011 : 125)” terjemahan : Berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara hukum nasional dan hukum adat dengan menyediakan pendaftaran hak atastanah secara individu sehingga mengetahui mengenai konsep-konsep hukum adat tanah dan lembaga.

1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar

  Pokok-Pokok Agraria (UUPA) yang dalam diktum keempat menetapkan:a) Hak-hak dan wewenang-wewenang atas tanah dan air dari swapraja atau bekas-bekas swapraja yang masih ada pada waktuberlakunya undang-undang ini hapus dan beralih kepada negara. Berkaitan dengan penghapusan hak dan wewenang atas tanah itu, berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas, KaratonSurakarta Hadinin grat masih mempunyai dua macam hak, yakni hak pembayaran ganti kerugian atas penghapusan hak tersebut dan hak atasperuntukkan sebagian tanah yang dibagikan dalam rangka pelaksanaan land reform.

5. Tinjauan tentang Tanah Magersari di Kraton Surakarta Hadiningrat

  Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, magersari adalah orang yang berumah menumpang di pekarangan orang lain; orang yg tinggal di tanah milik negara dan sekaligus mengerjakan tanah itu; atau pembantu orang yang bertransmigrasi (W. Poerwadarminta, 1984 : 619).

5) Tanah Rech Van Eigendom (RVE), yaitu tanah milik Keraton

  Koes Isbandiyah, Kebijakan Keraton Surakarta Hadiningrat Dalam Pengelolaan tanah dan bangunan setelah Keputusan Presiden Nomor 23 tahun 1988 tentang status danpengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta di kelurahan Baluwerti. Kewajiban pemegang hak : a) Mengindahkan dengan itukad baik segala peraturan atau perintah dari parentah keraton Surakarta baik yang telah ada maupun yang akan diperintahkan.

B. Kerangka Pemikiran

  commit to user Khusus yang mengabdi kepada kraton dan menjadi abdi dalem yang oleh Kraton Surakarta Hadiningrat diperbolehkan menempati tanah kratontersebut dengan aturan-aturan tertentu, sedang yang mengabdi kepada pejabat kraton maupun keluarga karaton diperbolehkan tinggal dengansistem magersari. Dalam hal ini perluadanya aspek hukum agar adanya kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional dan implikasi sistem hukum nasional tersebut terhadapKeraton Surakarta selaku pemilik tanah dan orang yang berkedudukan sebagai magersari.

BAB II I. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kedudukan Hukum Magersari Dalam Sistem Hukum Nasional

1. Sebelum Berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria

  Dalam perspektif sejarah pertanahan di Indonesia, pada masa swapraja, Kerajaan tradisional Keraton Surakarta Hadiningrat merupakansalah satu kerajaan jawa yang memiliki pengaturan hak atas tanah dengan pola pengklasifikasian yang unik dalam konsep kerajaan jawa pada jamanswapraja. Berdasarkan peraturan yang dibuat oleh pemerintah HindiaBelanda yang disebut Rijkblad Surakarta Nomor 13 Tahun 1938 yang menyebutkan bahwa tanah-tanah milik Keraton Surakarta diukur, dipetatanda (tenger) dan dicatat dalam buku Kadaster Jawa.

2. Setelah Berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria

  Urgent ini disebabkan karena pada jaman penjajahan, hukum agraria Indonesia commit to user Secara konstitusional UUD Negara Republik Indonesia 1945 memberikan landasan yang tercantum dalam pasal 33 ayat (3) UUDNegara Republik Indonesia 1945 yang berbunyi : “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakanuntuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat”. Peraturan yang tertulis ini dimaksudkan agar setiap orang dengan lebih mudahmengetahui hukum yang berlaku dan wewenang apa serta kewajiban apa yang harus dipenuhi oleh setiap warga masyarakat yang bersangkutandengan tanah miliknya.

1. Atas dasar, ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) UUD Negara Republik

  Indonesia Tahun 1945 dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi di kuasai olehNegara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Hak menguasai dari Negara yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini memberi wewenang untuk :a.

b. Hak menguasai dari negara yaitu bahwa atas dasar ketentuan dalam

  5 Tahun 1960 atau UUPA memberikan kepastian hukum tanah yang dualisme dan pluralisme hukum agraria di Negara Indonesia dan yang ada hanya hukum agraria yang bersifat nasional, yang didasarkan atas satu sistem hukum saja, yaitu sistem hukum seperti yangtercantum dalam UUPA yang pada hakekatnya UUPA tersebut bersumber atas hukum asli Indonesia, yaitu hukum Adat. 5 Tahun 1960 atau UUPA memberikan kepastian hukum tanah yang dualisme dan pluralisme hukum agraria di NegaraIndonesia dan yang ada hanya hukum agraria yang bersifat nasional, yang didasarkan atas satu sistem hukum saja, yaitu sistem hukum seperti yangtercantum dalam UUPA.

3 Hak Pengelolaan Tanah dan Bangunan Keraton Surakarta

  Namun, menimbulkan polemik tersendiri bagi masyarakat yang menempati kawasan Baluwarti, yakni apakah tanah dan bangunan Keratonyang dimaksud pasal 1 ayat (1) Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1988 tersebut hanya tanah dan bangunan yang terdapat didalam lingkungankeraton atau meliputi seluruh bangunan yang terdapat dalam kawasanBaluwarti. Sehingga banyak tanah dan bangunan yangsebenarnya milik Karaton Surakarta tanah magersari dan karena adanya pengelolaan sebelumnya yang meletakkan tanah dan bangunan yangsebenarnya milik keraton dijadikan aset negara yang memungkinkan adanya pengurusan pendaftaran hak milik secara pribadi terhadap tanahdan bangunan yang ditempati oleh warga, telah berubah dimiliki oleh pribadi atau badan hukum.

B. Implikasi Sistem Hukum Nasional Terhadap Keraton Surakarta Selaku Pemilik Tanah dan Orang Yang Berkedudukan Sebagai Magersari

1. Status Magersari Dengan Berlakunya UU No. 5 Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok-Pokok Agraria

  Hak pakai merupakan hak untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik oranglain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannyaatau perjanjian sewa-menyewa atau perjanjian pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang. Pihak pemakai tanah magersari harus menjaga kondisi tanah itu tetap baik dan terawat sampai berakhirnya perjanjian sewa menyewaantara Karaton Surakarta Hadiningrat dan pihak yang menggunakan tanah commit to user Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi mengacu pada UUPA yang berideologi budaya hukum kekeluargaan dalam memaknai tanah magersariyang termasuk kawasan Baluwarti sebagai tanah negara.

2. Wewenang dan Kewajiban Pemegang Tanah Hak Magersari

  Sampai sekarang ini Keraton Surakarta Hadiningrat mengeluarkan Palilah Griya Pasiten dengan bermacam-macam titel, yaitu Palilah Griya Pasiten dengan titel hak anggadhuh, Palilah Griya Pasiten dengan titel hak magersari, dan Palilah Griya Pasiten dengan titel hak tenggan, serta perjanjian kontrak. Di era sekarang semakin banyak orang yang bertempat tinggal di wilayahBaluwarti, karena dulunya diajak teman atau saudara untuk bekerja di keraton sebagai abdi dalem keraton dan ini sudah berlangsung sangat lamadan banyak abdi dalem yang merasa mempunyai hubungan istimewa dengan keraton.

a. Tahap Persiapan

Sosialisasi kebijakan dalam pelaksana teknis, antara lain: 1) Pemberitahuan kepada RT/RW bahwa akan ada pendataan.

2) Pertemuan langsung dengan warga Baluwarti

  Karena terbatasnya dana dan personel, maka ditempuh cara pemberitahuan kepada abdi dalem yang juga magersari dengan sistem getok tular. Getok tular adalah sistem pemberitahuan di mana orang yang diberitahu pertama kemudian menyebarluaskan informasi ke warga yang lain.

b. Tahap Sosialisasi

Kebijakan Keraton Surakarta Hadiningrat yang berupa Palilah Griya Pasiten adalah merupakan peraturan yang dibuat oleh Keraton Surakarta Hadiningrat terhadap tanah dan bangunan milik KeratonSurakarta Hadiningrat di Baluwarti. Kepada warga Baluwarti yang commit to user

c. Tahap Pelaksanaan

  Pembagian tugas penarikan uang palilah, karena sumber daya yang terbatas dari abdi dalem, maka Keraton Surakarta Hadiningratmenggunakan abdi dalem garap (pegawai Pasiten) dibantu oleh abdi dalem anon-anon (bukan pegawai Pasiten) yang diberi surat tugas olehKeraton Surakarta Hadiningrat. Kesadaran yang dimiliki ada dua macam:1) Kesadaran tinggi, biasanya kesadaran ini dimiliki oleh abdi dalem keraton yang bertempat tinggal di Baluwarti, sehingga tanpa diberisosialisasi tentang Palilah Griya Pasiten pun mereka aktif sendiri.

b. Palilah Griya Pasiten untuk hak tenggan

Kewajiban/janji pihak yang memiliki Palilah Griya Pasiten untuk hak tenggan adalah: 1) Mengindahkan dengan tulus ikhlas, dengan iktikad baik, segala peraturan/perintah-perintah dari Parentah Karaton Surakarta, baikyang telah ada maupun yang akan diperintahkan, bagi yang memiliki palilah dengan hak tenggan.2) Sungguh-sungguh hanya untuk berumah tangga.3) Tidak boleh menyewakan/apalagi menjual kepada orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya.4) Tidak boleh mengajak orang lain, kecuali anak dan istri.5) Bersedia memperbaiki/tambal sulam kalau ada kerusakan dengan biaya sendiri serta tidak minta ganti kerugian, apabila di kemudianhari akan meminta ganti rugi segala biaya kerusakan, maka semua yang ada akan menjadi milik Keraton Surakarta Hadiningrat.6) Tidak boleh menerima magersari.7) Tidak boleh merubah bangunan, apabila tidak mendapat ijin dari Parentah Keraton Surakarta.8) Apabila Parentah Keraton Surakarta akan mengambil kembali, maka pengguna harus mengembalikan rumah dalam kondisikosong dalam keadaan baik seperti sedia kala, semua yang bertempat tinggal harus pergi dari tempat itu, dan tidak memintapesangon atau hal-hal lain yang sejenisnya.9) Apabila Parentah Karaton Surakarta akan mengambil kembali, maka pengguna harus mengembalikan rumah dalam kondisikosong dalam keadaan baik seperti sedia kala, dan diberi pesangon commit to user

c. Palilah Griya Pasiten untuk hak magersari

  commit to user 10) Apabila ada pekarangannya, maka masih diperbolehkan untuk menanam pepohonan yang kecil-kecil. Dalam Palilah Griya Pasiten magersari, yang menjadi milik KeratonSurakarta Hadiningrat adalah tanah, sedangkan bangunan rumah milik pemegang palilah.

9) Palilah ini berlaku selama tiga tahun, apabila akan memperpanjang maka ada kewajiban untuk memperbaharui palilah ini

d. Perjanjian kontrak

  Kewajiban atau janji pihak yang memegang Palilah Griya Pasiten dengan titel hak kontrak:1) Tanah dan bangunan hanya melulu akan digunakan untuk berumah tangga.2) Tidak boleh merubah keadaan ruang/bangunan yang dikontrak tanpa izin Parentah Keraton Surakarta. Apabila ada perubahan dan sudahdisetujui oleh Parentah Keraton Surakarta, maka segala biaya dan resiko yang timbul merupakan tanggung jawab pihak pengontrak danpengontrak wajib memelihara dan merawat rumah seperti miliknya sendiri.3) Pihak pengontrak diwajibkan membayar PBB untuk bangunan/ruang yang dikontrak.

9) Apabila pengontrak melanggar ketentuan perjanjian, maka palilah ini batal dengan sendirinya

  Para pihak dalam perjanjian yang berbentuk palilah ini tentunya secara umur sudah dewasa, jadi bukan termasuk orang yang tidak cakap membuatperjanjian, seperti orang yang belum dewasa, mereka yang di taruh dalam pengampuan, dan orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan. Hal ini commit to user Untuk memperoleh izin dalam hal menyewa atau memakai tanah keraton (magersari), terlebih dahulu harus meinta izin kepada PengagengPasinten merupakan lembaga adat yang mengurusi pertanahan KeratonSurakarta yang meliputi pengaturan dan perizinan.

a. Dalam Palilah Griya Pasiten tertulis tidak boleh melaksanakan jual beli atau sewa menyewa baik sebagian atau seluruhnya atas bangunan

  Kesimpangsiuran ini terjadi ketika kantor Badan Pertanahan Nasional Surakarta mengumumkan bahwa commit to user Adanya pengumuman tanah Baluwarti adalah tanah Negara, ada kegembiraan bagi warga Baluwarti, karena tanah dan bangunan yang telahmereka tempati berpuluh-puluh tahun dapat mereka sertifikatkan atau diperolehSHM. Tolak ukur yang memberikan keadilan berdasarkan kebutuhan dan bukan berdasarkan kemampuan dalam penguasaan dan pemanfaatan tanah diIndonesia perhatian harus lebih banyak diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan yang diwakili oleh sebagian terbesar lapisan masyarakat.

BAB IV. PENUTUP A.Simpulan Sesuai dengan rumusan masalah dan berdasarkan hasil penelitian serta

  Kedudukan hukum magersari dalam sistem hukum nasional zaman penjajahan Belanda hukum magersari tanah Keraton Surakarta diatur didalamRijkblad Surakarta Nomor 14 Tahun 1938 kekuasaan penuh mengelola tanah Keraton termasuk tanah magersari dikelola sendiri oleh Keraton Surakarta. Diharapkan adanya peraturan yang jelas mengatur mengenai tanah magersari di Keraton Surakarta supaya tidak ada kesimpangsiuran dankesewenang-wenangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, hal yang menjadi pusat perhatian dari adanya kebijakan pertanahan adalahkemampuan untuk memenuhi keadilan bagi seluruh masyarakat di dalam upaya perolehan dan pemanfaatan tanah sebagai kebutuhan yang esensial.

2. Mengingat selama ini antara kerabat Keraton Surakarta dan Pemerintah

  Kota Surakarta kurang harmonis dalam mengatur tanah magersari dan orang yang magersari, diharapkan adanya harmonisasi yang bijak, jujurdan adil supaya tidak ada pihak yang dirugikan agar masyarakat sekitar Baluwarti juga bisa hidup sejahtera, aman dan tentram. Tapi di lain tempat di wilayah Baluwarti banyak diketemukan warga yang tidak punya Palilah Griya Pasiten dan tidak membayar yang ditarik oleh Negara.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PEMBUATAN APLIKASI MOBILE OBYEK WISATA EKS KARESIDENAN SURAKARTA BERBASIS ANDROID TUGAS AKHIR - Pembuatan Aplikasi Mobile Obyek Wisata Eks Karesidenan Surakarta Berbasis Android
1
1
77
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN KEYAKINAN DIRI DENGAN KEMATANGAN KARIR PADA SISWA SMK MUHAMMADIYAH 2 ANDONG BOYOLALI SKRIPSI
1
1
173
TINJAUAN NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY (ANALISIS STRUKTURAL DAN ASPEK RELIGIUS)
0
0
103
SKRIPSI KAJIAN PENGGUNAAN MACAM DAN DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN STEK TANAMAN MANGSI Phyllanthus
0
0
36
EFEK ANESTESI INHALASI SEVOFLURAN DAN ISOFLURAN TERHADAP PERUBAHAN TEKANAN DARAH ARTERI RERATA
0
0
59
ASPEK KEJIWAAN TOKOH DALAM NOVEL SEBELAS PATRIOT KARYA ANDREA HIRATA TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA
1
2
116
PENGARUH VARIASI WATERGLASS TERHADAP KADAR AIR DAN KADAR LEMPUNG PADA PASIR CETAK
0
0
59
SKRIPSI KAJIAN MORFOLOGI DAN AGROEKOLOGI TUMBUHAN OBAT PURWOCENG GUNUNG (Artemisia lactiflora Wall.) DI WILAYAH LERENG GUNUNG LAWU Rahadhian Tegar Taufani H0708037
0
2
42
PENGARUH KEBERADAAN AIR PADA PROSES PEMADATAN ASPAL BETON TERHADAP PENGUJIAN KUAT TEKAN BEBAS
0
1
70
TINJAUAN YURIDIS ANAK BAYI TABUNG DALAM HUKUM WARIS BERDASARKAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA
0
0
99
BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN KURAU (Polynemus dubius) DI ESTUARI SUNGAI INDRAGIRI, RIAU SOME BIOLOGICAL ASPECT OF EASTERN PARADISE FISH (Polynemus dubius) IN IDRAGIRI RIVER ESTUARY, RIAU
0
0
6
SUSUNAN PENGURUS BULETIN EKONOMI MONETER DAN PERBANKAN
0
0
114
ANALISIS STUDI KOMPARASI TINDAK PIDANA EUTANASIA DI INDONESIA DAN DI NEGERI BELANDA
0
0
66
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUANG PUBLIK KREATIF DI JAKARTA
1
2
112
DESAIN INTERIOR SURAKARTA CHOIR CENTER DI SURAKARTA DENGAN PENDEKATAN HISTORY OF CHOIR
0
0
114
Show more