T1__Full text Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Penggunaan Metode Tutor Sebaya Dalam Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran TIK (Internet) di Kelas IX SMPN 08 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran

24 

Full text

(1)

Penggunaan Metode Tutor Sebaya Dalam Upaya

Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Dalam

Pembelajaran TIK (Internet) di Kelas IX SMPN 08

Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015

Artikel Ilmiah

Peneliti:

Libertho Oscar Telenzy (702010108) M. A. Ineke Pakereng, M.Kom. Mila Chrismawati Paseleng, S.Si., M.Pd.

Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer

Fakultas Teknologi Informasi

Universitas Kristen SatyaWacana

Salatiga

(2)

Penggunaan Metode Tutor Sebaya Dalam Upaya

Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Dalam

Pembelajaran TIK (Internet) di Kelas IX SMPN 08

Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015

Artikel Ilmiah

Diajukan kepada

Fakultas Teknologi Informasi

Untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Komputer

Peneliti :

Libertho Oscar Telenzy (702010108) M. A. Ineke Pakereng, M.Kom. Mila Chrismawati Paseleng, S.Si., M.Pd.

Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer

Fakultas Teknologi Informasi

Universitas Kristen SatyaWacana

Salatiga

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Penggunaan Metode Tutor Sebaya Dalam Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran TIK (Internet) di Kelas IX

SMPN 08 Salatiga Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015

1)

Libertho Oscar Telenzy, 2) Mila Chrismawati Paseleng, 3)

M. A. Ineke Pakereng

Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen SatyaWacana

Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, Indonesia

Email: 1)702010108@student.uksw.edu, 2)Mila.Paseleng@staff.uksw.edu,

3)

ineke.pakereng@staff.uksw.edu

Abstract

The purpose of this study is improve the student learning activity and student learning outcomes using peer tutoring method in ICT subject. This study used classroom action research, which in every cycle have four stages: plan, act, observe and reflect. The research instruments used are test, observation, dan documentary studies. The population in this study are students of grade IX at SMP Negeri 8 in Salatiga, and the sample used in this study are grade IX B with a total sample 30 students. The results showed the used of peer tutoring methods can improve the student learning activity and students learning outcomes in ICT subject. This is evidenced by an increase of student learning activity in each meeting and increase the students learning outcomes in each cycle.

Keywords: peer tutoring method, student activity, students learning outcomes

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa menggunakan metode tutor sebaya dalam pelajaran TIK. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dimana di setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan berupa tes, observasi dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP N 8 salatiga, dan sampel yang digunakan adalah kelas IX B dengan total sampel 30 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada pembelajaran TIK. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan persentase keaktifan siswa pada setiap pertemuan dan hasil belajar siswa pada setiap siklus.

Kata Kunci: Metode Tutor Sebaya, Keaktifan Siswa, Hasil Belajar, Penelitian Tindakan Kelas

1)

Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Program Studi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

(10)

1. Pendahuluan

SMP Negeri 8 Salatiga mendapatkan fasilitas komputer yang jumlahnya cukup banyak dan fasilitas internet yang memadai dari sekolah, tapi pada kenyataannya komputer-komputer tersebut tidak semuanya dapat difungsikan untuk proses belajar mengajar di dalam lab. Untuk mengatasi hal tersebut, guru memilih strategi dengan membagi murid menjadi dua kelompok, dimana selama satu jam pelajaran satu kelompok siswa masuk di lab dan dibimbing oleh guru untuk praktek, sedangkan kelompok siswa lainnya mengerjakan tugas tanpa diawasi oleh guru, proses ini bergantian setelah satu jam pelajaran selesai. Situasi seperti ini membuat pembelajaran menjadi tidak efektif karena keterbatasan waktu dan kelas tidak dikelola dengan baik. Selanjutnya pada saat praktek, didapati permasalahan lain, yaitu adanya perbedaan kemampuan siswa dalam hal mengoperasikan komputer. Terdapat beberapa siswa yang sangat menguasai cara mengoperasikan komputer, tapi ada beberapa siswa yang sama sekali belum dapat untuk mengoperasikan komputer, hal ini membuat siswa mempunyai kemampuan rendah, merasa minder dan cenderung tidak aktif. Keadaan-keadaan seperti ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap ketuntasan atau hasil belajar siswa yang diharapkan, tidak tercapai dengan maksimal. Hal ini menunjukkan pemilihan strategi pembelajaran berpengaruh terhadap keaktifan dan hasil belajar siswa.

Melihat permasalahan tersebut, maka diperlukan strategi pembelajaran yang tepat untuk diterapkan oleh guru, agar siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa adalah dengan menggunakan metode tutor sebaya. Metode tutor sebaya adalah sebuah metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa yang dapat membimbing, siswa yang dapat membantu dari kelompok siswa itu sendiri untuk menjadi tutor bagi teman-temannya [1]. Dalam metode tutor sebaya, siswa tidak hanya berperan sebagai pendengar, tapi juga sebagai sumber ilmu bagi temannya.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka akan dilakukan uji coba pembelajaran dengan melakukan penelitian tindakan kelas tentang penggunaan metode tutor sebaya dalam upaya meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK, khususnya dalam materi ajar internet di kelas IX SMP Negeri 08 Salatiga.

2. Tinjauan Pustaka

(11)

setelah menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan persentase siswa yang lulus KKM dari siklus I, II, dan III [2].

Penelitian yang dilakukan oleh Syahbandi (2013), membahas tentang Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Melakukan Pekerjaan Mekanik Dasar Di Kelas X SMK Negeri 1 Stabat Tahun Ajaran 2012/2013, disimpulkan bahwa dengan penggunaan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran MPMD pada pembahasan mendeskripsikan cara penggunaan peralatan tangan [3].

Penelitian lain yang juga menggunakaan metode tutor sebaya dilakukan oleh Nafisah (2010), membahas tentang Upaya Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Pokok Bahasan Membaca Al

-Qur’an Surat Pendek Pilihan Dengan Metode Tutor Sebaya (Peer Teaching) Pada

Siswa Kelas VIII-H MTSN 1 Semarang Tahun Pelajaran 2009-2010. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pelajaran Al-Qur’an Hadits. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan keaktifan siswa dari pra siklus sampai siklus II [4].

Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya yang membahas terkait penggunaan metode tutor sebaya dalam berbagai kasus, maka dilakukan penelitian yang membahas tentang penggunaan metode tutor sebaya dalam upaya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK, khususnya dalam materi ajar internet di kelas IX SMP Negeri 08 Salatiga. Dalam penelitian ini, uji coba pembelajaran dilakukan dengan penelitian tindakan kelas.

Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan [5]. Tutor adalah orang yang memberi pelajaran (membimbing) kepada seseorang atau sejumlah kecil siswa [6]. Sebaya adalah anak-anak atau remaja yang memiliki usia atau tingkat kematangan yang kurang lebih sama [7]. Metode tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi dari kelompok siswa itu sendiri untuk menjadi tutor bagi teman-temannya, dimana siswa yang menjadi tutor bertugas untuk memberikan materi belajar dan latihan kepada teman-temannya yang belum paham terhadap materi/latihan yang diberikan guru, dengan dilandasi aturan yang telah disepakati bersama dalam kelompok tersebut, sehingga akan terbangun suasana belajar kelompok yang bersifat kooperatif bukan kompetitif [1]. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa tutor sebaya adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara memberdayakan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa yang dapat membimbing, dan siswa yang dapat membantu teman-temannya untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(12)

Pembagian Materi, masing-masing kelompok diberikan tugas untuk mempelajari satu sub materi dan setiap kelompok akan dipandu oleh siswa yang lebih pandai (tutor). Instruksi guru pada bagian ini sangat penting, sebab jika instruksi tidak jelas, maka penggunaan metode tidak akan berjalan dengan maksimal; 4) Waktu, berikan peserta didik waktu yang cukup untuk persiapan, baik dalam kelas maupun di luar kelas; 5) Diskusi Kelompok, ketika semua kelompok sedang bekerja, sebaiknya guru mengawasi jalannya proses diskusi. Guru dapat membantu apabila terjadi pemahaman yang salah. Tetapi tidak mengambil alih kepemimpinan kelompok; 6) Laporan Tim, setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai dengan tugas yang diberikan dan yang telah dipelajari. Guru bertindak sebagai narasumber utama; 7) Kesimpulan, setelah semua kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai dengan urutan sub materi, guru memberikan kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman peserta didik yang perlu diluruskan; dan 8) Tes, membagi soal tes dan memberikan cukup waktu bagi semua peserta didik untuk menyelesaikannya, dimana hasil tes ini berfungsi untuk mengukur keberhasilan metode tutor sebaya (peer teaching) dalam pembelajaran. Test dilakukan pada pertemuan terakhir setiap siklus.

Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya [9]. Hasil belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan [10]. Jadi dapat disimpulkan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Aktif dalam proses pembelajaran dimaksudkan bahwa, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa, sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan [5]. Keaktifan meliputi interaksi guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa lainnya [11]. Belajar secara aktif berarti keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran sangat dominan. Keaktifan siswa selama proses belajar tergantung pada interaksi siswa dengan lingkungannya [12]. Jadi dapat disimpulkan keaktifan belajar adalah keterlibatan siswa dalam suatu pembelajaran seperti bertanya, dan mengemukakan gagasan.

Ciri dari keaktifan belajar adalah sebagai berikut: 1) Pengetahuan dialami (pengalaman), dipelajari, dan ditemukan oleh siswa; 2) Siswa melakukan sesuatu untuk memahami materi pelajaran (membangun pemahaman); 3) Siswa mengkomunikasikan sendiri hasil pemikirannya; dan 4) Siswa berpikir reflektif [5].

3. Metode Penelitian

(13)

dijadikan sarana penelitian adalah TIK. Tahapan penelitian dalam PTK, dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan McTaggart [13]

Tahapan PTK model Kemmis dan McTaggart pada Gambar 1, terdiri dari tiga tahap, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan dan observasi, dan tahap refleksi [13], dijelaskan sebagai berikut.

Tahap perencanaan, pada tahap ini dilakukan pemilihan materi yang akan diajarkan dan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), berkolaborasi dengan guru mata pelajaran yang dalam penelitian ini akan bertindak sebagai observer. Selain memilih materi dan menyusun RPP, juga dilakukan pemilihan siswa yang akan menjadi tutor. Tutor dipilih berdasarkan nilai hasil belajar dan diskusi antara guru mata pelajaran dan peneliti untuk mengetahui siswa yang mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik dan daya serap tinggi. Peneliti dalam penelitian ini akan bertindak sebagai guru.

Tahap pelaksanaan tindakan dan observasi, pada tahap pelaksanaan tindakan akan dilaksanakan apa yang telah direncanakan pada tahap perencanaan, yaitu menerapkan pembelajaran sesuai skenario yang telah disusun, sedangkan tahap observasi dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan. Observasi dilakukan untuk melihat keaktifan siswa dalam pembelajaran TIK dan melihat keberhasilan penerapan metode belajar dalam pembelajaran TIK. Tahap refleksi, merupakan tahap dimana dilakukan pembahasan atau pengkajian ulang apa yang telah dilakukan pada tahap pelaksanaan tindakan dan observasi, kemudian dijadikan acuan untuk perbaikan pada siklus selanjutnya. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai guru.

(14)

memperoleh data keaktifan siswa dan data keterlaksanaan sintaks metode tutor sebaya.

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar observasi dan lembar tes hasil belajar. Lembar observasi dan lembar tes hasil belajar disusun berdasarkan indikator keaktifan siswa, langkah metode pembelajaran, dan prosedur penyusunan instrumen.

Lembar observasi keaktifan disusun berdasarkan indikator keaktifan menurut Asmani (2011), yaitu: pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi [5]. Dalam penelitian ini aspek interaksi dan komunikasi dijadikan satu, dikarenakan interaksi dan komunikasi merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Indikator-indikator tersebut kemudian dijabarkan ke dalam beberapa item pernyataan, terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Indikator Keaktifan Siswa Yang Digunakan Dalam Instrumen Observasi Penerapan Metode Tutor Sebaya Di Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga [5]

No Indikator Pernyataan

1 Pengalaman 1. Siswa menggunakan media/alat yang tersedia selama proses pembelajaran berlangsung

2. Siswa membaca atau mencari literatur lain sebagai sumber belajar yang menunjang jawaban dari pertanyaan di LKS

2 Interaksi dan Komunikasi

1. Siswa mengajukan pertanyaan

2. Siswa mengemukakan pikiran atau pendapat 3. Siswa memberikan tanggapan dari pendapat

ataupun pertanyaan

3 Refleksi 1. Siswa mencatat apa yang telah dipelajari

Data observasi keaktifan siswa kemudian dinilai dengan kategori penskoran sebagai berikut ini:

Skor 1 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori kurang. Skor 2 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori cukup. Skor 3 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori baik. Skor 4 = Jika pernyataan tersebut dilakukan oleh siswa dalam kategori sangat baik

Untuk mengetahui keaktifan setiap siswa, dilakukan proses perhitungan dengan menggunakan Persamaan 1 [14].

Nilai keaktifan siswa = (1)

Kategori keaktifan siswa dibuat berdasarkan langkah Mundir (2012), sehingga diperoleh [15].

(15)

Observasi dilakukan untuk melihat keterlaksanaan penerapan langkah-langkah metode tutor sebaya dalam pemebelajaran. Dalam observasi ini pengamatan dilakukan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa selama proses pembelajaran.

Tes dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu untuk mengukur ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Tes yang digunakan untuk mengukur ranah kognitif diukur menggunakan tes tertulis berupa pilihan ganda, sedangkan tes yang digunakan untuk mengukur ranah psikomotorik adalah tes tertulis dan tes unjuk kerja. Instrumen tes disusun berdasarkan prosedur pembuatan butir soal. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, dengan menilai hasil tes menggunakan rumus pada Persamaan 2 [14].

Nilai hasil belajar = X 100 (2)

Dalam penelitian yang dilakukan, data dianalisis dengan menghitung rata-rata nilai kelas dan persentase ketuntasan belajar.

Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis uji ketuntasan dan teknik analisis deskriptif komparatif. Analisis uji ketuntasan adalah analisis membandingkan skor yang diperoleh dengan KKM. Analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes pra siklus (sebelum perbaikan) dengan nilai tes antar siklus. Data berupa angka-angka disebut data kuantitatif dan data berbentuk kata-kata atau penjelasan disebut data kualitatif [16].

Indikator kinerja merupakan tolak ukur keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam penelitian ini yang menjadi indikator keberhasilan setelah pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut: 1) Peningkatan hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Ideal, yaitu minimal 75% siswa yang memperoleh nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (70); 2) Masing-masing indikator keaktifan siswa mencapai 75%; dan 3) Peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 75% siswa memperoleh kategori keaktifan tinggi [17].

4. Hasil dan Pembahasan

(16)

keaktifan lebih tinggi berperan sebagai tutor, sedangkan siswa lainnya berperan sebagai teman kelompok. Dalam proses penunjukan siswa yang menjadi tutor, guru tidak menjelaskan kepada siswa lainnya dasar pemilihan tutor. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecemburuan siswa yang tidak menjadi tutor terhadap siswa yang menjadi tutor. Setelah kelompok tutoring terbentuk dan masing-masing kelompok sudah mendapatkan satu buah komputer, guru menginstruksikan dan memberikan kewenangan kepada setiap tutor untuk membimbing kelompoknya masing-masing, untuk mempelajari cara menjelajah internet menggunakan browser dan mengisi lembar kerja yang telah diberikan oleh guru sebelumnya. Setelah kegiatan diskusi selesai (sesuai waktu yang ditentukan), secara acak guru menunjuk salah satu perwakilan dari setiap kelompok untuk mempresentasikan jawaban dari kelompoknya masing-masing. Dalam kegiatan presentasi ini, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya kepada kelompok yang presentasi, dan dalam kegiatan ini guru juga bertindak sebagai fasilitator untuk membantu dan meluruskan jika ada sesuatu yang keliru dari jawaban atau pertanyaan siswa. Sebagai kegiatan penutup, guru menyimpulkan apa yang telah dipelajari, dan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2014 jam pelajaran keenam dan ketujuh yaitu jam 11.00-12.20 WIB, dengan alokasi waktu 2x40 menit. Pembelajaran dimulai dengan guru bertanya kepada murid tentang apa yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, di sini terlihat beberapa murid sudah mulai memiliki inisiatif untuk menjawab pertanyaan guru. Setelah itu guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran, dan memberikan siswa motivasi dengan cara bercerita tentang kisah bagaimana situs Facebook berdiri. Masuk pada kegiatan inti pembelajaran, guru bertanya kepada siswa tentang pengalaman siswa dalam menjelajahi dunia internet dan website apa saja yang pernah dikunjungi, dan terlihat beberapa siswa punya inisiatif sendiri untuk menjawab, tapi semuanya adalah siswa yang menjadi tutor. Kemudian guru menjelaskan dan mendemonstrasikan bagaimana caranya membuka sebuah website, kegiatan ini dilakukan sebagai pengantar atau gambaran awal untuk siswa sebelum masuk pada kegiatan tutoring. Setelah menjelaskan materi secara singkat, guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari satu orang tutor dan dua atau tiga orang sebagai teman. Kelompok tutor masih seperti pada pertemuan pertama. Selanjutnya guru memberikan instruksi dan kewenangan kepada setiap tutor untuk membimbing teman-teman pada kelompok tutoring masing-masing untuk membuka sebuah

(17)

Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 3 November 2014 dengan jam dan alokasi waktu yang sama seperti pada pertemuan pertama dan kedua. Pada pertemuan ketiga tidak dilaksanakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya, tapi digunakan untuk tes evaluasi siklus I.

Setelah dilaksanakannya pembelajaran dengan menerapkan metode tutor sebaya pada siklus I, dilakukan refleksi bersama observer (guru mata pelajaran dan teman sejawat) dan perwakilan siswa untuk membahas hasil kegiatan pada siklus I. Berdasarkan hasil observasi terdapat siswa yang masih malu bertanya dan terlihat pasif, dan ada beberapa tutor yang belum dapat menjelaskan materi dengan baik kepada temannya. Hal ini dikarenakan siswa masih belum terbiasa dengan metode tutor sebaya. Kemudian dari evaluasi hasil belajar, persentase siswa yang tuntas belum mencapai indikator keberhasilan. Oleh karena itu diperlukan tindakan pada siklus II dengan beberapa perbaikan. Beberapa perbaikan tersebut adalah: 1) Guru harus memberikan instruksi yang jelas dalam penerapan metode; 2) Guru harus meningkatkan bimbingan kepada murid untuk membantu tutor ketika diskusi; 3) Guru diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan waktu dalam kegiatan pembelajaran; dan 4) Perlu dilakukan usaha-usaha untuk mengaktifkan peserta didik di siklus II, karena keaktifan peserta didik belum mencapai indikator yang ditentukan.

Kegiatan PTK yang dilaksanakan selama siklus I, ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2(a) Observer Yang Sedang Gambar 2(b) Proses Tutoring Melakukan Observasi

Gambar 2(c) Tes Evaluasi

(18)

situs yahoo.com, kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi siswa. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan metode yang akan digunakan dalam pembelajaran, dalam hal ini guru menjelaskan cara kerja metode tutor sebaya dengan lebih sabar agar siswa betul-betul mengerti dan penerapan metode lebih efektif. Selanjutnya, masuk ke dalam kegiatan inti, guru bertanya kepada siswa tentang pengalaman menggunakan email, dalam kegiatan ini terlihat siswa begitu antusias untuk menjawab. Kegiatan ini bertujuan utuk menggali kemampuan siswa dan mengetahui sejauh mana siswa mengenal hal yang akan dipelajari yaitu email. Kemudian untuk memperkuat gambaran siswa tentang materi yang akan dipelajari, guru menjelaskan materi dan mendemonstrasikan bagaimana cara membuat email secara singkat.. Setelah penjelasan singkat, siswa bergabung dengan kelompok tutornya, kelompok tutoring masih sama seperti pada siklus I. Setelah kelompok tutoring terbentuk dan masing-masing kelompok sudah mendapatkan satu buah komputer, maka guru sekali lagi menjelaskan bagaimana cara kerja pembelajaran dengan menggunakan metode tutor sebaya dan apa saja yang dikerjakan dalam kelompok serta peran masing-masing siswa. Setelah itu, barulah guru menginstruksikan dan memberikan kewenangan kepada tutor untuk membimbing teman-teman kelompok tutoring-nya, untuk membuat sebuah email bagi setiap siswa, sambil mengerjakan lembar kerja yang telah diberikan oleh guru. Dalam proses tutoring terlihat siswa mulai aktif untuk bekerja sama dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dengan bimbingan tutornya masing-masing, siswa telah punya inisiatif sendiri menggunakan media lain sebagai sumber penunjang pembelajaran. Setelah proses

tutoring selesai dilaksanakan, secara acak guru menunjuk salah satu perwakilan dari setiap kelompok untuk mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok. Dalam kegiatan presentasi ini, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, dan guru meluruskan jika ada jawaban yang keliru atau ada yang masih kurang dimengerti dengan jawaban temannya. Dalam kegiatan ini terlihat peningkatan frekuensi siswa yang bertanya, dan siswa yang menjawab tidak hanya siswa-siswa tertentu, tapi semua siswa yang ada juga ikut berpendapat. Setelah tahap presentasi selesai, guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagai penutup, guru memberikan tugas kepada peserta didik yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan kedua diadakan pada hari Senin tanggal 24 November 2014 jam pelajaran keenam dan ketujuh yaitu jam 11.00-12.20 WIB, dengan alokasi waktu 2x40 menit. Pembelajaran dimulai dengan guru bertanya kepada siswa tentang apa yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya, kemudian guru menjelaskan tujuan pembelajaran, dan metode yang akan diterapkan dalam pembelajaran. Setelah itu guru bercerita tentang perkembangan email dari zaman ke zaman. Ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar menggunakan email dengan benar sesuai fungsi dan tujuan yang benar juga. Setelah pemberian motivasi kepada siswa, guru kemudian masuk dalam inti pembelajaran yaitu dengan menjelaskan dan mendemonstrasikan bagaimana caranya melampirkan sebuah file

(19)

mencoba sendiri dengan dibimbing oleh tutornya masing-masing nantinya. Setelah penjelasan singkat, siswa bergabung pada kelompok tutornya masing-masing. Kelompok tutor masih sama seperti pada pertemuan sebelumnya. Sebelum memulai tutoring, sekali lagi guru menjelaskan bagaimana cara kerja metode tutor sebaya dan apa peran setiap siswa di dalam kelompok tutoring. Setelah dipastikan semuanya merasa jelas, guru memberikan instruksi dan kewenangan kepada setiap tutor untuk membimbing teman-teman pada kelompok

tutoring masing-masing, untuk melampirkan file di email dan mengirimnya, sambil mengerjakan lembar kerja yang telah diberikan oleh guru. Dalam proses

tutoring ini terlihat interaksi dan komunikasi siswa sudah meningkat, siswa sudah tidak sungkan bertanya kepada temannya. Setelah proses tutoring selesai, secara acak guru menunjuk salah satu perwakilan dari setiap kelompok untuk mempresentasikan jawaban dari kelompoknya. Dalam kegiatan presentasi ini, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya kepada yang presentasi, dan guru meluruskan jika ada jawaban yang keliru atau ada yang masih kurang dimengerti dengan jawaban temannya. Dalam kegiatan presentasi singkat ini siswa terlihat jauh lebih aktif daripada pertemuan-pertemuan sebelumnya, dimana siswa mau mencatat, tidak merasa sungkan untuk bertanya, serta tidak malu untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Setelah proses presentasi selesai, guru menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, dan menutup pembelajaran. Tes evaluasi untuk siklus II dilakukan di luar jam sekolah, yaitu setelah pertemuan kedua selesai.

Setelah melakukan tindakan kelas selama dua pertemuan pada siklus II, maka dilakukan tahap refleksi dari apa yang telah dilakukan selama tindakan diberikan. Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II, dapat disimpulkan bahwa guru telah menerapkan metode tutor sebaya dengan baik, di mana sebagian besar siswa sudah aktif, hal ini dibuktikan dengan data hasil observasi keaktifan yang telah mencapai 80% siswa yang mempunyai kategori keaktifan tinggi, kemudian dari hasil belajar juga menunjukkan peningkatan pada setiap siklus. Untuk itu penelitian tidak perlu dilanjutkan ke siklus selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa metode tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar siswa.

Gambar yang diambil selama proses pelaksanaan tindakan kelas pada Siklus II, ditunjukkan pada Gambar 3.

(20)

Pembahasan terkait hasil PTK yang dilakukan pada Siklus I dan II, dijelaskan sebagai berikut. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data hasil observasi keaktifan siswa (berdasarkan indikator dan berdasarkan kategori), dan data hasil belajar (kognitif dan psikomotorik).

Data hasil observasi keaktifan siswa dibagi menjadi dua, yaitu data hasil observasi keaktifan berdasarkan kategori dan berdasarkan indikator. Data hasil observasi keaktifan siswa kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga berdasarkan indikator, ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2 Data Hasil Observasi Keaktifan Siswa Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga

Berdasarkan Indikator

No Indikator Pra Siklus Siklus I Siklus II 1 Pengalaman 71,33% 73% 77,1%

2 Interaksi dan Komunikasi 57,2% 64,56% 75,68%

3 Refleksi 69,75% 72% 80,2%

Berdasarkan Data pada Tabel 2, dapat dilihat adanya peningkatan persentase keaktifan pada masing-masing indikator selama tiga siklus, yaitu pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada pra siklus, indikator interaksi dan komunikasi merupakan indikator dengan persentase keaktifan paling rendah daripada dua indikator lainnya. Jadi dapat diketahui bahwa selama ini siswa kurang aktif dalam bentuk interaksi dan komunikasi, seperti tidak rajin bertanya, tidak mengemukakan pendapat dan tidak merespon pertanyaan guru dengan baik. Sedangkan dua indikator lain pada dasarnya memang sudah baik. Setelah dilakukan tindakan menggunakan metode tutor sebaya pada siklus I, diketahui terjadi peningkatan pada masing-masing indikator. Peningkatan tertinggi terdapat pada indikator interaksi dan komunikasi yaitu sebesar 7,36%, sedangkan indikator pengalaman dan refleksi masing-masing sebesar 1,67% dan 2,25%. Walaupun keaktifan siswa dari masing-masing indikator keaktifan telah meningkat, tapi mengingat dalam pelaksanaan metode tutor sebaya masih ada kekurangan, jadi penelitian dilanjutkan pada siklus II dengan beberapa perbaikan sesuai hasil refleksi yang dilakukan. Setelah dilakukan tindakan pada siklus II, dilihat dari data hasil observasi keaktifan siswa, masing-masing indikator mengalami peningkatan persentase yang lebih besar dibandingkan pada siklus I. Peningkatan terbesar terdapat pada indikator interaksi dan komunikasi, dengan besar peningkatan sebesar 11,12%, sedangkan indikator pengalaman dan refleksi terjadi peningkatan masing-masing sebesar 4,17% dan 8,20%. Berdasarkan data hasil obervasi keaktifan siswa dari pra siklus sampai dengan siklus II, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan metode tutor tutor sebaya dapat meningkatkan keaktifan siswa, terutama dalam interaksi dan komunikasi siswa di kelas, baik itu antar siswa maupun dengan guru.

(21)

Tabel 3 Data Hasil Obervasi Keaktifan Siswa Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga

Berdasarkan Kategori persentase siswa yang memperoleh keaktifan ≥ 3 (kategori tinggi) dari pra siklus sampai dengan siklus II, dan adanya penurunan persentase siswa yang memperoleh keaktifan < 3 (kategori sedang dan kategori rendah) dari pra siklus sampai dengan siklus II. Data pada Tabel 3 juga menunjukkan bahwa peningkatan persentase siswa yang memperoleh keaktifan kategori tinggi dari pra siklus ke siklus I persentasenya tidak terlalu besar, hal ini dikarenakan penerapan metode tutor sebaya pada siklus I belum maksimal, dimana siswa belum terbiasa menggunakan metode tutor sebaya, sehingga siswa menjadi sungkan untuk bergerak dan terlihat masih malu-malu dalam pembelajaran. Setelah melakukan perbaikan pada siklus II, siswa terlihat lebih aktif dan tidak kaku lagi. Hal ini dikarenakan siswa sudah mulai terbiasa dengan metode yang baru. Hal ini dibuktikan dengan data hasil observasi keaktifan siswa, dimana terdapat 80% siswa yang memperoleh keaktifan kategori tinggi. Ini artinya sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu sebesar 75% siswa yang memperoleh keaktifan kategori tinggi.

Data hasil belajar siswa dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu hasil belajar ranah kognitif dan hasil belajar ranah psikomotorik. Data hasil belajar ranah kognitif dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4 Data Hasil Belajar Ranah Kognitif Siswa Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga

No Skor Ketuntasan

(22)

orang siswa. Kemudian meningkat pada siklus I sebesar 13% menjadi 73%. Meskipun meningkat, tapi belum mencapai target sesuai dengan indikator keberhasilan penelitian yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dilakukanlah tindakan pada siklus II dengan beberapa perbaikan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Setelah dilakukan tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan yang cukup besar, dan sudah mencapai target penelitian. Persentase siswa yang tuntas pada siklus II adalah 93%, melebihi indikator ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu 75%. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan metode tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Meskipun penelitian sudah dikatakan berhasil karena telah terjadi peningkatan hasil belajar dan telah mencapai indikator keberhasilan, namun masih terdapat dua orang siswa atau 7% dari jumlah keseluruan siswa yang belum tuntas, sehingga butuh remedial sesuai dengan ketentuan dari sekolah untuk mengatasi jika ada siswa yang belum tuntas. Setelah berkonsultasi dengan guru mata pelajaran perihal ada siswa yang belum tuntas, diketahui bahwa dua orang siswa yang belum tuntas memang mempunyai kemampuan yang rendah dalam menyerap pelajaran. Remedial dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari materi yang menjadi bahan untuk tes, kemudian membuat ringkasannya. Setelah itu, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan tes ulang dengan soal yang sama, nilai maksimal yang akan diperoleh oleh siswa yang remedial adalah 75. Data hasil belajar psikomotorik dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Data Hasil Belajar Ranah Psikomotorik Siswa Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga

NO Skor Ketuntasan Pra Siklus

Siklus I Siklus II

(23)

yang belum tuntas pada ranah psikomotorik, nilai maksimal yang akan diperoleh oleh siswa yang remedial adalah 75.

Berdasarkan data hasil belajar siswa ranah kognitif maupun ranah psikomotorik dapat dilihat adanya pengaruh yang positif dari penerapan metode tutor sebaya dalam pembelajaran TIK. Selain merangsang siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran di kelas, penggunaan metode ini juga secara tidak langsung membuat nilai hasil belajar siswa meningkat secara berkala seiring penerapan metode tutor sebaya pada setiap pertemuan.

5. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa: 1) Penggunaan metode tutor sebaya dalam pembelajaran TIK dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil observasi keaktifan siswa. Jika dilihat berdasarkan aspek, diketahui terjadi peningkatan persentase siswa pada indikator interaksi dan komunikasi, yang artinya selama penerapan metode dari siklus I sampai dengan siklus II siswa menjadi aktif bertanya, berpendapat, menjawab, dan menanggapi. Sedangkan jika dilihat berdasarkan kategori, terjadi peningkatan persentase siswa yang memperoleh keaktifan kategori tinggi; 2) Penggunaan metode tutor sebaya dalam pembelajaran TIK dapat meningkatkan Hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil belajar siswa baik itu ranah kognitif maupun ranah psikomotorik, terjadi peningkatan persentase siswa yang tuntas pada setiap siklus ataupun setiap pertemuan. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah: 1) Diperlukan pembekalan yang lebih intensif untuk siswa yang menjadi tutor agar tutor lebih siap ketika diterapkan; 2) Memberikan instruksi yang jelas ketika akan menerapkan metode tutor sebaya dalam pembelajaran agar cara kerja metode yang diterapkan dapat betul-betul dimengerti oleh siswa; dan 3) Penelitian harus dipersiapkan dengan matang walaupun memakan waktu yang lebih panjang agar pelaksanaan metode ini berjalan dengan baik.

6. Daftar Pustaka

[1] Arjanggi, R., 2010. Metode Pembelajaran Tutor Teman Sebaya Meningkatkan Hasil Belajar Berdasar Regulasi-Diri.

[2] Satriyanti, A. R., 2013. Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar IPA Pokok Bahasan Alat Indra Bagi Siswa Kelas IV MI Tarbiyatul Ulum Desa Jembrak Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang Tahun Ajaran 2013/2014 (PTK Kolaboratif).

[3] Syahbandi, F, 2013. Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Melakukan Pekerjaan Mekanik Dasar di Kelas X SMK Negeri 1 Stabat Tahun Ajaran 2012/2013.

(24)

Pendek Pilihan Dengan Metode Tutor Sebaya (Peer Teaching) Pada Siswa Kelas VIII-H MTSN 1 Semarang Tahun Pelajaran 2009-2010.

[5] Asmani, J. M., 2011. 7 Tip Aplikasi PAKEM : Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Jakarta: Diva Press.

[6] Kamus Bahasa Indonesia Online,

http://kamusbahasaindonesia.org/tutor/mirip. Diakses Tanggal 5 Agustus 2014.

[7] Santrock, J. W., 2007. Remaja, Edisi 11, Jilid 2. Jakarta : Erlangga. [8] Zaini, H., 2004. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD.

[9] Sardiman, A M, 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafaindo Persada.

[10] Hamalik, O., 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara [11] Usman, M. U., 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya.

[12] Riry, M., 2012. Peningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Akuntansi Materi Jurnal Penyesuaian Pada Siswa Kelas XI IPS 3 SMA Negeri 3 Bukittinggi Dengan Metode Bermain Peran (Role Playing).

[13] Yuliawati, F., dkk., 2012. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Tenaga Pendidik Profesional, Yogyakarta:Pedagogia.

[14] Verosika, Y., 2013. Penerapan Numbered Heads Together Untuk Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas 5 SD Negeri 3 Nambuhan Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan Semester 2 Tahun Pelajaran 2012/2013.

[15] Mundir, 2012. Statistik Pendidikan (Pengantar Analisa Data Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis). Jember: Pustaka Pelajar.

[16] Penelitian Deskriptif, http://sekolah.8k.com/. Diakses Tanggal 20 November 2014.

Gambar

Gambar 1  Tahapan Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan McTaggart [13]
Gambar 1 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan McTaggart 13 . View in document p.13
Tabel 1  Indikator  Keaktifan Siswa Yang Digunakan Dalam Instrumen Observasi  Penerapan Metode Tutor Sebaya Di Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga [5]
Tabel 1 Indikator Keaktifan Siswa Yang Digunakan Dalam Instrumen Observasi Penerapan Metode Tutor Sebaya Di Kelas IX B SMP Negeri 8 Salatiga 5 . View in document p.14
Gambar 2. Kegiatan PTK yang dilaksanakan selama siklus I, ditunjukkan pada
Gambar 2 Kegiatan PTK yang dilaksanakan selama siklus I ditunjukkan pada . View in document p.17
Gambar 3(a) Proses Tutoring
Gambar 3 a Proses Tutoring . View in document p.19
Tabel 3 Data Hasil Obervasi Keaktifan
Tabel 3 Data Hasil Obervasi Keaktifan . View in document p.21

Referensi

Memperbarui...

Download now (24 pages)