Evaluasi DRPs pengobatan hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di instalasi rawat inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2016.

46 

Full text

(1)

JANUARI 2013-AGUSTUS 2016 Abstrak

Hipertensi merupakan “silent killer” yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Hipertensi dengan penyakit penyerta stroke menyebabkan 51% kematian. Pengobatan hipertensi hanya 30% tekanan darahnya dapat dikontrol dengan monoterapi selebihnya diperlukan terapi kombinasi. Terapi kombinasi ini meningkatkan Drug Related Problems (DRPs). DRPs merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien, pola peresepan dan DRPs pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2013. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian non eksperimental yang menggunakan data retrospektif dengan teknik purposive sampling yang kemudian dianalisis dengan metode deskriptif evaluatif. Evaluasi DRPs dilakukan dengan metode Subjective Objective Asessment Plan (SOAP). Data rekam medis dibandingkan dengan acuan literatur yang digunakan dan dilihat jumlah kejadian DRPs. Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian DRPs untuk dosis terlalu rendah 55,6%, dosis terlalu tinggi 22,2%, obat salah 11,1%, memerlukan obat tambahan 0%, tidak butuh obat 0%, efek samping obat 11,1%. Terapi yang paling banyak diberikan adalah terapi menggunakan golongan Calcium Chanel Blocker (CCB) dalam terapi tunggal maupun kombinasi.

(2)

Hypertension with the comorbid stroke disease causes 51% of death. Hyertension treatment only 30% of their blood pressure can be controlled with monotherapy rest needs combination therapy. This combination therapy will increase Drug Related Problems (DRPs). DRPs is a condition where the medical therapy will potentially or obviously affected the result of the desired therapy. The objective of this research is to identify characteristic of the patients, the absorption system, and DRPs also patient hypertension with stroke comorbid in the inpatient of RSUD Tugurejo Semarang period of January 2013-August 2016. This research belongs to the type of non-experimental research that uses retrospective data with purposive sampling technique that is analyzed with the evaluative descriptive method. The DPRs evaluation is done by the Subjective Objective Asessment Plan (SOAP) method. The medical records data is compared by the literature reference that is used and seen the total of DRPs case. The result of the research of DPRs case showed that the lowest dosage is 55,6%, too much dosage 22.2%, consuming wrong medicine 11,1%, need additional medicine 0%, does not need medicine 0%, and medicine side effect 11,1%. The therapy that mostly used is the therapy that uses part of Calcium Chanel Blocker (CCB) in either single or combination therapy.

(3)

EVALUASI DRPs PENGOBATAN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT PENYERTA STROKE

DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD TUGUREJO SEMARANG PERIODE JANUARI 2013-AGUSTUS 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

(4)

ii

EVALUASI DRPs PENGOBATAN HIPERTENSI DENGAN PENYAKIT PENYERTA STROKE

DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD TUGUREJO SEMARANG PERIODE JANUARI 2013-AGUSTUS 2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

Diajukan oleh : Theresia Aprilia Susanti

NIM : 138114026

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat penyertaan dan cinta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Evaluasi DRPs Pengobatan Hipertensi Dengan Penyakit Penyerta Stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2016” sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana Farmasi (S. Farm) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Pada penyusunan naskah skripsi ini tentunya tak lepas dari berbagai rintangan yang dihadapi. Penulis dapat menyelesaikan naskah skripsi ini karena dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada: 1. Direktur RSUD Tugurejo Semarang yang telah memberikan ijin untuk

melakukan penelitian.

2. Ibu Aris Widayati, M. Si, Ph. D., Apt. selaku selaku Dosen Pembimbing Akademik dan Dekan Fakultas Farmasi Univseritas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Ibu Wahyuning Setyani, M. Sc., Apt. selaku Dosen Pembimbing Skripsi atas perhatian, kesabaran, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi.

4. Ibu Caecilia Mutiarawati, M. Si., Apt. selaku Dosen Pembimbing Skripsi atas perhatian, kesabaran, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi.

(10)

viii

8. Mama Anastasia dan Bapak Yohanes Pembabtis Talen Sutrisno yang selalu memberikan dukungan berupa materi, semangat, doa dan dorongan untuk terus maju dan berani menghadapi rintangan.

9. Mbak iparku, sepupuku Mega, Fanny, Endah, MR, temen-temen KSR dan orang-orang yang kucintai di Lampung yang telah memberikan semangat dan dukungan bagi penulis untuk menyelesakan skripsi ini.

10.Teman seperjuangan Olin dan Gita terimakasih untuk kerjasamanya selama pengerjaan skripsi dari awal sampai akhir.

11. Keluarga Kos “abnormal” Pak Kuat Windi, Tirza, Olive, Pela terimakasih untuk canda, tawa dan kebersamaan yang sudah terlewati.

12.Teman-teman FSM A 2013 dan FKK A 2013, terimakasih atas kebersamaanya dan pengalaman yang tak terlupakan selama berproses di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

13.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah mendukung dalam proses penelitian sampai peneyelesaian naskah skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa naskah skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan memiliki banyak kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca sehingga naskah penelitian skripsi ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Penulis memohon maaf kepada berbagai pihak terkait jika terdapat kesalahan yang tidak disengaja dalam penulisan naskah skripsi ini.

Yogyakarta, 16 Januari 2017

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN COVER ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DARTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

PENDAHULUAN ... 1

METODE PENELITIAN ... 2

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 4

KESIMPULAN ... 11

SARAN ... 11

DAFTAR PUSTAKA ... 12

LAMPIRAN ... 14

(12)

x

DAFTAR TABEL

Tabel I. Karakteristik Subyek Penelitian ... 5

Tabel II. Profil penggunaan antihipertensi ... 6

Tabel III. Jenis Terapi Antihipertensi ... 7

Tabel IV. Jenis DRPs Penggunaan Antihipertensi ... 10

(13)

DAFTAR GAMBAR

(14)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penenlitian... 14

Lampiran 2. Analisis DRPs ... 15

Lampiran 3. Form pengambilan data ... 18

Lampiran 4. Form SOAP 1 ... 21

Lampiran 5. Form SOAP 2 ... 24

(15)

ABSTRAK

Hipertensi merupakan “silent killer” yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Hipertensi dengan penyakit penyerta stroke menyebabkan 51% kematian. Pengobatan hipertensi hanya 30% tekanan darahnya dapat dikontrol dengan monoterapi selebihnya diperlukan terapi kombinasi. Terapi kombinasi ini meningkatkan Drug Related Problems (DRPs). DRPs merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik pasien, pola peresepan dan DRPs pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2013. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian non eksperimental yang menggunakan data retrospektif dengan teknik purposive sampling yang kemudian dianalisis dengan metode deskriptif evaluatif. Evaluasi DRPs dilakukan dengan metode Subjective Objective Asessment Plan (SOAP). Data rekam medis dibandingkan dengan acuan literatur yang digunakan dan dilihat jumlah kejadian DRPs. Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian DRPs untuk dosis terlalu rendah 55,6%, dosis terlalu tinggi 22,2%, obat salah 11,1%, memerlukan obat tambahan 0%, tidak butuh obat 0%, efek samping obat 11,1%. Terapi yang paling banyak diberikan adalah terapi menggunakan golongan Calcium Chanel Blocker (CCB) dalam terapi tunggal maupun kombinasi.

(16)

xiv ABSTRACT

Hypertension is a silent killer, widely known as cardiovascular disease that is very general. Hypertension with the comorbid stroke disease causes 51% of death. Hyertension treatment only 30% of their blood pressure can be controlled with monotherapy rest needs combination therapy. This combination therapy will increase Drug Related Problems (DRPs). DRPs is a condition where the medical therapy will potentially or obviously affected the result of the desired therapy. The objective of this research is to identify characteristic of the patients, the absorption system, and DRPs also patient hypertension with stroke comorbid in the inpatient of RSUD Tugurejo Semarang period of January 2013-August 2016. This research belongs to the type of non-experimental research that uses retrospective data with purposive sampling technique that is analyzed with the evaluative descriptive method. The DPRs evaluation is done by the Subjective Objective Asessment Plan (SOAP) method. The medical records data is compared by the literature reference that is used and seen the total of DRPs case. The result of the research of DPRs case showed that the lowest dosage is 55,6%, too much dosage 22.2%, consuming wrong medicine 11,1%, need additional medicine 0%, does not need medicine 0%, and medicine side effect 11,1%. The therapy that mostly used is the therapy that uses part of Calcium Chanel Blocker (CCB) in either single or combination therapy.

(17)

Hipertensi merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. Riskesdas (2013) menyatakan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%. Pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan yang efektif banyak tersedia. Hipertensi merupakan faktor utama terjadinya stroke sehingga hipertensi dijumpai pada 50-70% pasien stroke. Hipertensi dengan penyakit penyerta stroke menyebabkan 51% kematian (Rahmadhini, Angliadi, dan Angliadi, 2013).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Infodatin, 2015). Penyakit ini disebut sebagai the silent killer karena penyakit mematikan ini sering sekali tidak menunjukkan gejala atau tersembunyi (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006).

Stroke adalah penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf lokal dan/atau global, munculnya mendadak, progresif, dan cepat. Gangguan fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatic (Kementrian Kesehatan RI, 2013). Sebagian besar (70-94%) pasien stroke akut mengalami peningkatan tekanan darah sistolik >140 mmHg. Penelitian di Indonesia didapatkan kejadian hipertensi pada pasien stroke akut sekitar 73,9% (Seftriana, Dharma, dan Suhartri, 2014).

(18)

2

penggunaan antihipertensi pada pasien stroke untuk tidak tepat obat sebesar 24,24%, tidak tepat dosis 3,03%, dan tidak tepat rute pemberian 15,15%.

Di dalam Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang penyakit hipertensi masuk kedalam 10 penyakit terbanyak yang diderita di Kota Semarang. Menurut Dinas Kesehatan Semarang (2011) hipertensi masuk kedalam 10 besar penyakit tidak menular dan menduduki posisi pertama dalam kategori yang sama dengan persentase 42,4 %.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi karakteristik pasien, pola peresepan dan DRPs pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2013. Penelitian terkait DRPs pengobatan hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dikarenakan masih kurangnya data terkait DRPs pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke.

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian non eksperimental yang menggunakan data retrospektif. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling yang

kemudian dianalisis dengan metode deskriptif evaluatif. Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar rekam medis pasien, dan blangko pengambilan data. Persiapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan seteleh memperoleh ijin dari Direktur RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian diawali dengan mengambil data rekam medis pasien rawat inap di RSUD Tugurejo Semarang pada periode Januari 2013-Agustus 2016. Kemudian data rekam medis dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

Lokasi dan Sampel Penelitian

(19)

lengkap atau tidak terbaca dan hilang atau tidak ada.

Data yang dikumpulkan dari rekam medis pasien yaitu nomor rekam medis, jenis kelamin, tanggal masuk dan keluar rumah sakit, diagnosa, hasil pemeriksaan laboratorium, nilai tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, kecepatan respirasi, obat antihipertensi yang digunakan.

Gambar 1. Bagan Perolehan Data Rekam Medis Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Inap periode Januari 2013-Agustus 2016 di RSUD Tugurejo Semarang

Analisis Data

Data dianalisis secara deksriptif dan evaluasi. Analisis deksriptif dengan memberikan gambaran karakteristik pasien, lama perawatan, keadaan pasien saat keluar

2069 rekam medis pasien hipertensi periode Januari

2013-Agustus 2016

Inklusi = 27 rekam medis pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke

Eksklusi = 13 rekam medis

Sampel = 14 rekam medis pasien hipertensi dengan penyakit penyetrta stroke

1.12 rekam medis tidak lengkap

(20)

4

Selama periode penelitian Januari 2013-Agustus 2016 didapatkan 14 data rekam medis yang digunakan sebagai subyek penelitian. Dari 14 kasus pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke, stroke yang terjadi adalah stroke iskemik.

Karakteristik pasien a. Umur

Umur merupakan salah satu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Umur sebagai salah satu sifat karakteristik tentang orang, dalam studi epidemiologi merupakan variabel yang cukup penting karena cukup banyak penyakit yang ditemukan yang disebabkan oleh umur (Sofyan, Sihombing, dan Hamra, 2014). Pada tabel I dapat dilihat dari total 14 pasien yang terdiagnosa hipertensi dengan penyakit penyerta stroke dan menggunakan obat antihipertensi paling banyak berumur 30-59 tahun yaitu 9 pasien (64,3%). Pada umur 18-29 tidak ada yang menderita pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke seperti yang dituliskan Astuning dan Mutmainah (2016) pada penelitiannya untuk pasien hipertensi kebanyakan diagnosis hipertensi terjadi pada umur antara 30-50 tahun sedangkan untuk umur ≥ 60 terdapat 5 pasien (35,7%). Menurut Seftriana, Dharma, dan Suhartri (2014) stroke sering kali diasumsikan sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia, tetapi pada kenyataannya kira-kira sepertiga kasus stroke terjadi pada penderita berumur di bawah 65 tahun.

(21)

Karakteristik Parameter Sampel (n=14)

Jumlah Persentase (%)

Umur

18-29 0 0

30-59 9 64,3

≥ 60 5 35,7

Jenis kelamin Laki-laki 6 42,8

Perempuan 8 57,2

Lama perawatan 1-7 12 85,7

8-14 2 14,3

Keadaan pasien saat keluar RS

Membaik 14 100

Meninggal 0 0

b. Jenis Kelamin

Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat di tabel I. Dari tabel I dapat dilihat pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke yang terdapat di

Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo periode Januari 2013-Agustus 2016 terdapat 8 pasien perempuan (57,2%) dan 6 pasien laki-laki (42,8%). Berdasarkan pengelompokan tersebut maka pasien perempuan lebih banyak mengalami hipertensi

dengan penyakit penyerta stroke. Hal ini sesuai dengan penelitian Dinata, Safrita, Sastri (2013) yang dilakukan di RSUD Kabupaten Solok Selatan dimana prevalensi perempuan 52 orang (54,17%) lebih tinggi daripada laki-laki 44 orang (45,83%).

(22)

6

dari penyakit itu sendiri. Lama perawatan berdasarkan aspek medis menurut Nofitasari dan Mahawati (2013) menunjukkan kinerja kualitas medis yang kurang baik karena pasien harus dirawat lebih lama (lama kesembuhan).

d. Keadaan Saat Keluar Rumah Sakit

Dari tabel I dapat dilihat bahwa semua pasien hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang keluar dari rumah sakit dengan keadaan membaik. Hal ini berarti terapi yang diberikan sudah cukup baik.

Profil Penggunaan Obat Antihipertensi

Selama periode Januari 2013- Agustus 2016 didapatkan 14 kasus penggunaan obat antihipertensi. Terapi yang diberikan kepada pasien berupa terapi tunggal maupun kombinasi (Tabel III).

Tabel II. Profil penggunaan antihipertensi

No Golongan Antihipertensi Kelompok

Terapi

Jumlah Kasus (n=14)

1. Calcium Chanel Blocker (CCB)

Diltiazem 3 (21,42%)

Amlodipin 9 (64,28%)

Nifedipin 2 (14,28%)

2. Angiotensin Converting Enyme

Inhibitor (ACEI) Captopril 5 (35,71%)

3. Angiotensin Receptor Blocker (ARB) Candesartan 6 (42,85%) Telmisartan 2 (14,28)

4. Diuretik Hidroclorothiazid 1 (7,14%)

Furosemid 1 (7,14%) 5. Central α-2 agonist Clonidin 5 (35,71%)

6. β-blocker Bisoprolol 1 (7,14%)

(23)

merupakan faktor risiko independen dari stroke. CCB dapat mengurangi ketebalan IMT tersebut lebih besar daripada ACEI (Ravenni, Jabre, Casiglia, dan Mazza, 2011). CCB terbukti memberikan proteksi yang lebih baik dibandingkan beta blocker, diuretik, dan ACEI (Yulianto, 2015). Penelitian Fares, DiNicolantonio, O’Keefe dan Lavie (2016) menyatakan bahwa amlodipin signifikan mengurangi stroke sebesar 26%. Pada penelitian penggunaan ACEI sebanyak 5 kasus (35,71%) dan kelima kasus tersebut menggunakan captopril. Untuk penggunaan ARB sebanyak 8 kasus (57,13%) meliputi 6 kasus (42,85%) menggunakan candesartan dan 2 kasus (14,28%) menggunakan telmisartan. Golongan diuretik terdapat 2 kasus yaitu hidroclorothiazide 1 kasus (7,14%) dan furosemide 1 kasus (7,14%). Penggunaan clonidin (central α-2 agonist) terdapat 5 kasus (35,71%). Penggunaan bisoprolol (β-blocker) hanya terdapat 1 kasus (7,14%).

Tabel III. Jenis terapi antihipertensi Macam

Terapi

Pengobatan Jumlah kasus

N = 14 Total ACEI + β-blocker Captopril + Bisoprolol

(24)

8

21,4%, terapi kombinasi 2 antihipertensi 35,7% dan terapi kombinasi 3 antihipertensi 42,9%. Apabila tekanan darah pasien ≥140/90 mmHg maka terapi farmakologi lini pertama harus diberikan dan obat antihipertensi diberikan dalam bentuk tunggal (Thankappan, et al, 2010). Terapi kombinasi dengan dua golongan obat antihipertensi yang berbeda dapat digunakan sebagai terapi awal apabila tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik > 100 mmHg atau tekanan darah sistolik > 20 mmHg diatas target tekanan darah dan/atau tekanan darah diastolik >10 mmHg diatas target tekanan darah yang harus dicapai (Bell, Twings, dan Olin, 2015). Penambahan obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis lazim gagal mencapai target tekanan darah. Penggunaan golongan Central α-2 agonist (Clonidin) untuk terapi hipertensi emergensi pada stroke akut. Hipertensi emergensi merupakan meningkatnya tekanan darah yang parah yang dapat mengarah kepada kerusakan organ, termasuk stroke (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006). Therapeutic Research Center (2014) merekomendasikan golongan obat antihipertensi untuk hipertensi

dengan penyakit penyerta stoke adalah ACEI atau ARB + CCB atau diuretik. Banyak pasien hipertensi memerlukan dua atau lebih antihipertensi untuk mencapai tekanan darah, selain itu terapi kombinasi juga dianjurkan untuk mencegah perkembangan atau kemajuan kerusakan organ pada pasien hipertensi (Miura dan Saku 2012).

Evaluasi Drug Related Problems (DRPs)

Tabel III menunjukan hasil evaluasi DRPs pada 14 subyek penelitian dan ditemukan sebanyak 9 kasus DRPs yang terjadi yang terdiri dari beberapa kategori DRPs yaitu 1 kasus obat salah, 5 kasus dosis terlalu rendah, 2 kasus dosis terlalu tinggi, 1 kasus obat salah dan 1 kasus efek samping obat. DRPs dibagi menjadi dua yaitu DRPs aktual dan DRPs potensial. DRPs aktual adalah suatu masalah yang sedang terjadi berkaitan dengan terapi yang sedang diberikan pada pasien DRPs potensial adalah suatu masalah yang diperkirakan akan terjadi berkaitan dengan terapi yang sedang diberikan pada pasien (Cipolle, Strand, dan Morley, 2007).

(25)

bersaman. Penggunaan ini menyebabkan interaksi yang menyebabkan efek dari captopril berkurang. Aspirin merupakan obat antiplatelet atau obat yang mencegah penggumpalan darah dan captopril adalah obat yang disebut Angiotensin-Converting Enzyme (ACE inhibitor), yang bekerja dengan cara mengurangi zat kimia yang menyempitkan pembuluh darah. Interaksi ini terjadi karena adanya penghambatan pada sintesis prostaglandin yang menyebabkan efek hipotensi dari captopril berkurang (Fajriansyah, Tahir, dan Kombong, 2016). Jenis DRPs yang terjadi pada kasus ini termasuk dalam DRPs potensial sebab hanya berisiko terjadi dan bergantung kembali kepada keluhan pasien yang tercantum dalam rekam medis, dan tidak ditemukan keluhan yang berkaitan dengan DRPs dikarenakan tekanan darah pasien turun dan keluar dari rumah sakit dalam keadaan membaik.

Dosis terlalu tinggi dapat disebabkan karena penggunaan dosis obat yang terlalu tinggi, jarak pemakaian yang terlalu dekat, durasi obat yang terlalu panjang dan interaksi obat yang menimbulkan toksisitas dan mengakibatkan hipotensi (Cipolle, Strand, dan Morley, 2007). Dosis terlalu tinggi terdapat 2 kasus yaitu pada penggunaan clonidin (Central α-2 agonist). Clonidin dalam kasus diberikan 0,15 mg 2 kali sehari sedangkan pada acuan Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Hipertensi rentang dosis clonidin 0,1-0,8 mg/hari dan digunakan 2 kali sehari. Jenis DRPs yang terjadi dalam kasus ini adalah aktual sebab dilihat dari tekanan darah pasien yang hanya 102/71 mmHg dari tekanan darah awal

170/93 mmHg. Namun pasien keluar rumah sakit dengan status membaik.

(26)

10

menyebabkan gejala hipotensi, dan peningkatan penurunan fungsi ginjal. Pemilihan antihipertensi dari golongan yang sama dalam kombinasi antihipertensi dapat meningkatkan resiko terjadinya efek samping dari golongan ini. Pengkombinasian antihipertensi dari golongan yang sama juga tidak sesuai dengan pedoman penatalaksanaan antihipertensi, baik yang dikeluarkan oleh JNC 7 maupun yang dikeluarkan oleh ESH/ESC. Pada kasus kombinasi ini digunakan pada pasien yang kadar kreatinin dalam darah diatas normal yaitu 1,11 mg/dL (normalnya 0,6-0,9 mg/dL). Dengan adanya kombinasi telmisartan dan captopril dapat menyebabkan peningkatan kadar kreatinin dalam darah dari pasien tersebut jadi kemungkinan akan timbul efek samping dari kombinasi tersebut. Jenis DRPs yang terjadi pada kasus ini adalah DRPs potensial dikarenakan tidak ditemukan kenaikan kadar kreatinin pada kasus ini dan pasien keluar dalam keadaan membaik.

Tabel IV. Jenis DRPs Penggunaan Antihipertensi

No Jenis DRPs Jumlah kasus

(27)

No Rekomendasi Jumlah Kasus (n=15)

1. Perlu peninjauan kembali 8 (53,33%)

2. Direkomendasikan 7 (46,67%)

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hasil untuk karakteristik pasien berdasarkan umur tertinggi pada rentang umur 30-59 tahun sebanyak 9 orang (64,3%), sedangkan untuk jenis kelamin perempuan 8 orang (57,2%) lebih tinggi daripada laki-laki 6 orang (42,8%), untuk lama perawatan paling banyak dirawat selama 1-7 hari (85,7%), dan semua pasien keluar dari rumah sakit dalam keadaan membaik (100%). Pola peresepan paling banyak menggunakan obat antihipertensi golongan CCB (100%). Evaluasi DRPs pengobatan hipertensi dengan penyakit penyerta stroke di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2016, dapat disimpulkan bahwa DRPs yang terjadi adalah 5 (55,6%) kasus dosis terlalu rendah, 2 (22,2%) kasus dosis terlalu tinggi, 1 (11,1%) kasus efek samping obat, 1 (11,1%) kasus

untuk obat salah, tidak butuh obat dan memerlukan obat tambahan tidak ditemukan.

Saran

1. Pihak rumah sakit

1.1 Sebaiknya memperbaiki dan melengkapi penulisan data rekam medik agar mempermudah pengumpulan maupun penggunaan data.

(28)

12

Astuning, A. P., dan Mutmainah, N., 2016. Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Dengan Hipertensi Komplikasi Di Rumah Sakit X Surakarta Tahun 2014. The 3rd Universty Research Colloquium 2016., 640-654

Bell, K., Twiggs, J. & Olin, B.R., 2015. Hypertension : The Silent Killer : Updated JNC-8 Guideline Recommendations. Alabama Pharmacy Association, pp.3-4

Chen, G. J., dan Yang, M. S., 2013. The Effects of Calcium Channel Blockers in the Prevention of Stroke in Adults with Hypertension: A Meta-Analysis of Data from 273,543 Participants in 31 Randomized Controlled Trials. Calcium Channel Blocker and Stroke Prevention., 8 (3), 1-9

Chobanian, et al., 2003. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. NIH Publication, U.S. Department of Health and Human Services, p. 28-29

Cipolle, R. J., Strand, L. M., and Morley P. C., 2007, Pharmaceutical Care Practice The Clinician’s Guide, The McGraw-Hill, New York, pp. 113-114, 117-118, 120-121. Dinas Kesehatan Semarang, 2011. Profil Kesehatan 2011. Dinas Kesehatan Semarang,

Semarang, hal. 59

Dinata, C. A., Safrita, Y., dan Sastri., 2013. Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012. Jurnal Kesehatan Andalas, 2 (2), 57-61 Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006. Pharmaceutical Care Untuk

Penyakit Hipertensi. Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 19, 29-32.

Fajriahsyah, Tahir, H., dan Kombong, A., 2016. Kajian Drug Relation Problem (Drps) Kategori Interaksi Obat, Over Dosis Dan Dosis Subterapi Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Di Rsup Universitas Hasanuddin. Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT, 5 (1), 91-102

Fares, H., DiNicolantonio, J. J., O’Keefe, J. H., dan Lavie, C. J., 2016. Amlodipine in hypertension: a first-line agent with efficacy for improving blood pressure and patient outcomes. Cardiac Risk Factors and Prevention, 1-7

Infodatin, 2014, Situasi Kesehatan Jantung, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, hal. 2.

Iskandar, R., Rasmaliah, dan Hiswani., 2014, Karakteristik Penderita Hipertensi Di Puskesmas Titi Papan Kecamatan Medan Deli Tahun 2012, Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi, 1 (1), 1-10

James, P. A., Oparil, S., Carter, B. L., Cushman, W. C., Himmelfarb, C. H., Handler, J., etal., 2013, 2014 Evidence-Based Guideline for the Managementof High Blood Pressure in AdultsReport From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National Committee (JNC 8), Clinical Review & Education, 1-14.

Jauch, E. C., Saver, J. L., Adams, H. P., Bruno A., Connor, J. J., Demaerschalk, B. M., et al., 2013. Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke, AHA/ASA Guideline, 44, 870-947

Miura, S. dan Saku, K., 2012, Efficacy and safety of angiotensin II type 1 receptor blocker/calcium channel blocker combination therapy for hypertension: focus on a single-pill fixed-dose combination of valsartan and amlodipine. The Journal of international medical research, 40(1), 1,6

Nofitasari, S. T., dan Mahawati, E., 2013. Analisis Lama Perawatan (Los) Partus Seksio Caesarea pada Pasien Jamkesmas Rawat Inap Berdasarkan Ina– Cbg’s di Rumah

(29)

Rahmadhini, A. Z., Angliadi, L., S., dan Angliadi, E., 2013. Gambaran Angka Kejadian Stroke Akibat Hipertensi Di Instalasi Rehabilitasi Medik Blu Rsup Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado Periode Januari – Desember 2011.

http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/3281/2825n, diaskes

tanggal 15 Juli 2016

Ravenni, R., Jabre, J. F., Casiglia, E., dan Mazza, A., 2011. Primary Stroke Prevention and Hypertension treatment: which is the first-line strategy?. Neurology International, 3 (2), 45-49

Kementrian Kesehatan RI, 2013. Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan RI, Jakarta, 91

Ritter, J. M., 2011. Dual Blockade Of The Renin-Angiotensin System With Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitors And Angiotensin Receptor Blockers (ARBs). Clin Pharmacol, 71 (3), 313-315

Setriana, L., Dharma, S., dan Suhatri, 2014. Kajian Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Stroke Hemoragik Di Bangsal Saraf Rsup Dr. M. Djamil Padang. Prosiding Seminar Nasional dan Workshop “Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV” tahun 2014, 7-16

Sofyan, A. M., Sihombing, I. K., dan Hamra, Y., 2015. Hubungan Umur, Jenis Kelamin,

dan Hipertensi dengan Kejadian Stroke.

http://ojs.uho.ac.id/index.php/medula/article/download/182/125, diaskes tanggal 14 Januari 2017

Supraptia, B., Nilamsari, W. P., dan Hapsari, P.P., Muzayana, H.A., Firdausi, H., 2014. Permasalahan Terkait Obat Antihipertensi pada Pasien Usia Lanjut di Poli Geriatri RSUD Dr.Soetomo, Surabaya. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 1 (2), 36-41. 96-102

Thankappan, K.R. et al., 2010. Risk factor profile for chronic non-communicable diseases: Results of a community-based study in Kerala, India. Indian Journal of Medical Research, 131(1), 53–63

Therapeutic Research Center, 2014, Treatment of Hypertension: JNC 8 and More,

http://pharma-smart.com/wp-content/uploads/2015/03/JNC-8-Guidelines.pdf,

diaskes tanggal 4 Mei 2016

(30)
(31)

Lampiran 2. Analisis DRPs

Kasus Jenis DRPs Nilai Total

1. No RM 143947 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

2. No RM 101889 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

3. No RM 421615 Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 1

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

4. No RM 286906 Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

5. No RM 469615 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

(32)

16

7. No RM 468353 Obat salah 0

2

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 1

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

8. No RM096330 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

9. No RM253376 Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

10.No RM 411626 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

11.No RM 415388 Obat salah 1

2

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 1

12.No RM 435541 Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

(33)

13.No RM 142869 Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

14.No RM 414069 Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

(34)

18 Lampiran 3. Form pengambilan data

No RM 143947

Jenis Kelamin Perempuan

Umur/ Tanggal Lahir 44 tahun/ 23 November 1970

BB 45 kg

Ruang Rawat Dahlia 2 Tanggal Masuk 20 Maret 2015 Tanggal Keluar 25 Maret 2015

Keluhan kaki kiri kesemutan, pingang nyeri, sulit dalam berbicara, dan sudah lama tidak kontrol ke rumah sakit.

Kondisi Klinis Awal

(35)
(36)

20

GDS <125 78

Lemak (mg/dl)

Kolesterol <200

HDL > 60 60,0

LDL <159 132,0

Trigliserid <150 Fungsi Ginjal (mg/dl)

Ureum 10-50 26,0

Kreatinin 0,6-0,9 0,80 Fungsi Hati (U/L)

SGOT 0-35

(37)

Lampiran 4. Form SOAP 1 Subjektif

No. RM : 253376

Seorang ibu berusia 55 tahun datang kerumah sakit tanggal 1 Januari 2013dengan keluhan tangan dan kaki berat sejak bangun tidur tadi pagi. Pasien dirawat selama 5 hari dan keluar rumah sakit pada tanggal 5 Januari 2013. Diagnosa masuk hipertensi emergensi dan stroke non hemoragik. Nama Bangsal : Mawar 3. Status Pulang : diijinkan pulang dan membaik.

Objektif

Parameter Nilai Normal

Tanggal Pemeriksaan

1 2 3 4 5

Suhu (oC) 36-37 (oC) 36,2 36,6 36,2 36,2

Nadi 70-110

(x/menit) 82 76 80 88

(38)
(39)

(4x1) 20.00 12.00 16.00

12.00 16.00

12.00 16.00 22.00 Citicolin 25mg

(2x1) Injeksi 16.00

04.00 16.00

04.00 16.00

04.00 stop Assesment

Aspirin dapat menurunkan efek antihipertensi dari captopril. (Medscape, 4-12-2016)

Jenis DRPs Ya = 1 / No = 0 Total

Obat salah 0

1

Dosis terlalu rendah 1

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

Plan

(40)

24 Lampiran 5. Form SOAP 2

Subjektif

No. RM : 143947

(41)
(42)

26 Citicolin 500 mg

(2x1)

Injeksi

20.00 08.00

Piracetam 3g (4x1)

Injeksi

18.00

Assesment

Jenis DRPs Ya = 1 / No = 0 Total

Obat salah 0

0

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 0

(43)

Lampiran 6. Form SOAP 3 Subjektif

No. RM : 415388

Seorang bapak berusia 62 tahun datang kerumah sakit tanggal 8 Mei 2013 dengan keluhan anggota gerak kanan terasa berat, sering pusing. Pasien dirawat selama 7 hari dan keluar rumah sakit pada tanggal 14 Mei 2013. Diagnosa masuk hipertensi dan stroke non hemoragik. Nama Bangsal : Amarylis III. Status Pulang : diijinkan pulang dan membaik.

Objektif

Parameter Nilai Normal

Tanggal Pemeriksaan

8 9 10 11 12 13 14

Suhu (oC) 36-37 (oC) 37 37,4 37,4 37 37 37 37

Nadi 70-110

(x/menit) 108 110 110 110 109 109 109

Afas 20-25

(44)

28

(1x1) Oral 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00

Amlodipin

5mg (1x1) Oral 22.00 22.00 22.00 22.00 22.00

Sohobion®

(1x1) Oral 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00

Truvaz®

(1x1) Oral 22.00 22.00 22.00 22.00 22.00 22.00

Aspar K®

(1x1) Oral 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00 06.00

(45)

Telmisartan (micardis) + captopril mungkin meningkatkan toksisitas dengan sinergisme farmakodinamik. Dan meningkatkan risiko hipotensi, hyperkalemia dan gangguan ginjal (Medscape, 4-12-2016)

Jenis DRPs Ya = 1 / No = 0 Total

Obat salah 1

2

Dosis terlalu rendah 0

Dosis terlalu tinggi 0

Memerlukan obat tambahan 0

Tidak butuh obat 0

Efek samping obat 1

Plan

(46)

30

Penulis skripsi dengan judul “Evaluasi DRPs Pengobatan Hipertensi Dengan Penyakit Penyerta Stroke Di Instalasi Rawat Inap RSUD Tugurejo Semarang periode Januari 2013-Agustus 2016” bernama Theresia Aprilia Susanti. Anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Anastasia dan Yohanes Pembabtis Talen Sutrisno. Penulis lahir di Ambarawa, 10 April 1996. Penulis menempuh pendidikan formal dari SD N 3 Margodadi (2001-2007), SMP Xaverius Pringsewu (2007-2010), SMA Xaverius Pringsewu (2010-2013). Penulis melanjutkan pendidikan formal strata satu di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam masa perkuliahan penulis menjabat sebagai Kasi Adpers (2013-2014), Komandan (2014-2015), Kasi Anlog (2016-2017) di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSR PMI Unit VI Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis juga terlibat dalam berbagai kepanitian di dalam maupun luar kampus, antara lain menjadi anggota divisi medis Inisiasi Sanata Dharma (Insadha) (2014), bendahara dalam seminar kesehatan remaja (2014), dan Steering

Gambar

Tabel I. Karakteristik Subyek Penelitian .................................................
Tabel I Karakteristik Subyek Penelitian . View in document p.12
Gambar 1. Bagan Perolehan Data Rekam Medis Pasien Hipertensi di
Gambar 1 Bagan Perolehan Data Rekam Medis Pasien Hipertensi di . View in document p.13
Gambar 1. Bagan Perolehan Data Rekam Medis Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Inap
Gambar 1 Bagan Perolehan Data Rekam Medis Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Inap . View in document p.19
Tabel I. Karakteristik Subyek Penelitian
Tabel I Karakteristik Subyek Penelitian . View in document p.21
Tabel II. Profil penggunaan antihipertensi
Tabel II Profil penggunaan antihipertensi . View in document p.22
Tabel III. Jenis terapi antihipertensi
Tabel III Jenis terapi antihipertensi . View in document p.23
Tabel IV. Jenis DRPs Penggunaan Antihipertensi
Tabel IV Jenis DRPs Penggunaan Antihipertensi . View in document p.26
Tabel V. Persentase Rekomendasi Antihipertensi
Tabel V Persentase Rekomendasi Antihipertensi . View in document p.27

Referensi

Memperbarui...

Download now (46 pages)