BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Nyeri 1. Pengertian - FEBRI RISQIONO BAB II

Gratis

0
0
43
5 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Nyeri 1. Pengertian Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang

  tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan (Potter & Perry, 2005).

  Nyeri akut adalah awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitasringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan (Wilkinson, 2007).

  Definisi lain nyeri akut adalah pengalaman subjektif, sangat pribadi dipengaruhi oleh pendidikan, budaya, makna situasi dan kognitif (Bonica & Melzack, 2000).

  Karakteristik nyeri akut yaitu lamanya dalam hitungan menit, ditandai peningkatan tekanan darah, nadi, dan respirasi, respon pasien : fokus pada nyeri, menyatakan nyeri dengan cara menangis dan mengerang, t ingkah laku menggosok bagian yang nyeri.

  Nyeri kronis adalah nyeri yang berlangsung lama, intensitasnya bervariasi dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan (Potter and Perry, 2005). Pada klien dengan nyeri kronis sering mengalami periode remisi (gejala hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Sifat nyeri kronik ini tidak dapat diprediksi yang membuat klien frustrasi dan sering mengarah pada depresi psikologis.

  Nyeri kronis adalah suatu situasi atau keadaan pengalaman nyeri yang menetap / kontinyu selama beberapa bulan / tahun setelah fase penyembuhan dari suatu penyakit akut / injuri. Karakteristik nyeri kronis adalah area nyeri tidak mudah diidentifikasi, intensitas nyeri sukar diturunkan, rasa nyerinya biasanya meningkat, sifatnya kurang jelas dan kemungkinan kecil untuk sembuh / hilang (Masjoer, 2000).

  Karakteristik nyeri kronis yaitu lamanya sampai hitungan bulan, >6 bulan, fungsi fisiologi bersifat normal, tidak ada keluhan nyeri, tidak ada aktifitas fisik sebagai respon terhadap nyeri 2. Tipe nyeri

  Menurut Hidayat (2008) tipe nyeri dibedakan menjadi 3 yaitu : a. berdasarkan intensitas.

  Intensitas nyeri seseorang dapat diketahui dari alat-alat pengkajian yang digunakan.Pada deskripsi verbal tentang nyeri, individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatannya.Intensitas nyeri didapat diukur dengan menggunakan skala diantaranya; skala intensitas nyeri deskriptif sederhana, skala intensitas nyeri numerik 0-10 dan skala analog visual (VAS).Skala dipergunakan untuk mendeskripsikan intensitas / beratnya rasa nyeri.

  1) Skala intensitas nyeri deskriptif sederhana

  Skala intensitas nyeri nyeri deskriptif sederhana ini menggunakan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda , menampilkan wajah bahagia hingga wajah sedih, yang dipergunakan untuk mengekspresikan rasa nyeri. Skala ini dapat dipergunakan mulai anak usia 3 (tiga) tahun. Tidak ada nyeri 0 - 2 Nyeri ringan

  4 Nyeri sedang

  6 Nyeri hebat

  8 Nyeri sangat hebat

  10 2)

  Skala intensitas nyeri numerik 0-10 Berat ringannya rasa sakit atau nyeri dibuat menjadi terukur dengan mengobyektifkan pendapat subyektif nyeri. Skala numerik, digunakan dari 0 hingga 10, nol ( 0 ) merupakan keadaan tanpa atau bebas nyeri, sedangkan sepuluh (10) , suatu nyeri yang sangat hebat.

  0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tanpa nyeri nyeri hebat

  Keterangan : 0 : tidak nyeri 1 – 3 : nyeri ringan 4 – 6 : nyeri sedang 7 – 9 : nyeri berat 10 : nyeri hebat

  3) Skala analog visual (VAS) Skala sejenis yang merupakan garis lurus, tanpa angka.

  Bisa bebas mengekspresikan nyeri, ke arah kiri menuju tidak sakit, arah kanan sakit tidak tertahankan, dengan tengah kira- kira nyeri yang sedang. Klien diminta menunjukkan posisi nyeri pada garis antara kedua nilai ekstrem. Bila menunjuk tengah garis, menunjukkan nyeri sedang. I_________________________________________I Tidak ada nyeri Nyeri hebat b. berdasarkan transmisi.

  1) Reseptor nyeri (nosiseptor)

  Nosiseptor adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang berespon hanya pada stimulus yang kuat, secara potensial merusak. Stimulus tersebut sifatnya mekanik, termal, kimia. Reseptor nyeri merupakan jaras multi arah yang kompleks. Serabut saraf ini bercabang sangat dekat dengan asalnya pada kulit dan mengirimkan cabangnya ke pembuluh darah lokal, se- sel mast, folikel rambut dan kelenjar keringat. Stimulasi serabut ini menimbulkan pelepasan histamin dari sel-sel mast dan mengakibatkan vasodilatasi. Serabut kutaneus terletak lebih kearah sentral dari cabang yang lebih jauh dan berhubungan dengan rantai simpatis paravertebrata sistem saraf dan dengan organ internal yang lebih besar. Sebagai akibat hubungan antara serabut saraf ini, nyeri sering disertai dengan efek vasomotor, otonom dan viseral. Meski aktivasi yang kuat dari serabut reseptor nyeri pada kulit yang akan menyebabkan hubungan viseral dari serabut yang sama, hal sebaliknya juga terjadi. Stimulasi kuat pada cabang viseral dapat menyebabkan vasodilatasi dan nyeri pada area tubuh yang berkaitan dengan serabut tersebut hasilnya disebut nyeri alih.

2) Mediator kimia dari nyeri.

  Sejumlah substansi yang mempengaruhi sensitivitas ujung- ujung saraf atau reseptor nyeri dilepaskan kejaringan ekstraseluler sebagai akibat dari kerusakan jaringan. Zat kimia yang meningkatkan transmisi atau persepsi nyeri meliputi histamin, bradikinin, asetilkolin dan prostaglandin.

  Prostaglandin adalah zat kimia yang diduga dapat meningkatkan sensitivitas reseptor nyeri dengan meningkatkan efek yang menimbulkan nyeri dari bradikinin. Endorfin dan enkefalin adalah substansi lain dalam tubuh yang berfungsi sebagai inhibitor terhadap transmisi nyeri. Endorfin dan enkefalin adalah zat kimia endogen yang terstruktur serupa dengan opioid. Serabut interneural inhibitori yang mengandung enkefalin terutama diaktifkan melalui aktivitas dari serabut perifer nosiseptor, pada tempat yang sama dengan reseptor nyeri atau nosiseptor dan serabut desenden, berkumpul bersama dalam suatu sistem yang disebut descending control.

  Keberadaan endorfin dan enkefalin membantu menjelaskan bagaimana orang orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri yang berbeda dari stimuli neyeri yang sama. Kadar endorfin beragam diantara individu seperti tingkat ansietas seseorang yang mempengaruhi kadar endorfin. Individu dengan endorfin yang banyak lebih sedikit merasakan nyeri dan mereka dengan sedikit endorfin merasakan nyeri lebih besar.

  Beberapa tehnik mungkin efektif dalam meredakan nyeri, paling tidak sebagian karena tehnik tersebut menyebabkan pelepasan endorfin. Transcutaneus electric nerve stimulation (TENS) dapat menstimulasi pelepasan endorfin, seperti penggunaan plasebo, dimana pasien berfikir pengobatannya bekerja meskipun hal tersebut tidak ada hasilnya. Metode pereda nyeri lainnya seperti imaginasi terbimbing, dapat membantu pasien melepaskan endorfin. c.

  Berdasarkan sumber Rasa nyeri dapat timbul dalam berbagai modalitas bergantung pada letak reseptor 1)

  Nyeri somatik superfisial (nyeri kulit) Rangsang yang dapat menimbulkan rasa nyeri kulit adalah rangsang nosiseptif yaitu rangsang yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Rangsang dapat berupa rangsang mekanis, listrik, termal atau kimia.

  Nyeri kulit biasanya dirasakan sebagai sensasi yang datang berurutan. Pertama terasa sebagai rasa yang tajam, lokasi rangsang dapat ditunjukkan dengan tepat, sensasi yang terasa dapat dijelaskan sesuai dengan rangsang yang diberikan dan segera hilang bila rangsang dihentikan. Rasa nyeri yang segera terasa pada saat rangsang diberikan ini disebut fast pain / initial pain/ nyeri primer. Kemudian disusul dengan nyeri yang tumpul, lokasi rangsang tidak dapat ditunjukkan dengan tepat, sensasi rasa kurang dapat diuraikan dengan jelas. Biasanya terasa sebagai rasa panas, menusuk yang sifatnya difus. Sensasi tetap terasa beberapa saat sesudah rangsang dihentikan. Nyeri susulan ini disebut slow pain / delayed pain / nyeri sekunder.

  Pada beberapa keadaan patologis tertentu kulit, kepekaan reseptor nyeri dapat berubah yang menimbulkan hiperalgesia yaitu; a) Hiperalgesia primer bersifat setempat, pada daerah luka atau radang, ambang reseptor menurun. Disebabkan oleh lepasnya histamin, dapat terasa sampai berhari- hari.

  b) Hiperalgesia sekunder, disebabkan oleh rangsangan nosiseptif yang kuat dan cukup lama yang menyebabkan impuls menyebar dari daerah rangsang baik secara horizontal maupun vertikal. Reseptor nyeri sekitar daerah luka akan terangsang.

  2) Nyeri somatik dalam

  Reseptor terdapat pada sendi, otot, tendon dan fascia. Agak sukar melokalisasi tempat asal nyeri somatik dalam karena dermatom kulit yang ada tepat diatas sklerotom tempat asal nyeri somatik dalam, tidak disarafi saraf spinal yang sama dengan sklerotom tersebut. Sensasi nyeri yang terasa umumnya adalah nyeri tumpul yang sering disertai rasa mual. Hal tersebut menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf otonom. Rasa nyeri somatik dalam cenderung menyebar, sehingga lebih sukar lagi untuk menentukan tempat asal nyeri. Rangsangan adekuat untuk membangkitkan nyeri somatik dalam adalah rangsangan mekanik tarikan atau kimia.

  Iskemia otot yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah menyebabkan tertumpuknya asam laktat yang merangsang reseptor rasa nyeri somatik dalam. Spasme otot menyebabkan tarikan cukup kuat dan dalam pada tendon.

  3) Nyeri visceral

  Lokasi tempat asal nyeri viseral sukar ditentukan karena jumlah reseptornya hanya sedikit. Sering disertai keterlibatan sistem saraf otonom dengan adanya rasa mual, berkeringat dan perubahan tekanan darah. Rangsang adekuatnya adalah regangan, spasme atau kerutan yang berlebihan pada otot polos, iskemia dan kimiawi. Biasanya nyeri viseral juga disertai kerutan otot rangka yang ada didekat viseral yang terkena. Hal tersebut bertujuan untuk melindungi viseral yang sedang menderita nyeri. 4)

  Nyeri alih Sensasi nyeri atau rasa nyeri somatik dalam atau rasa nyeri viseral yang terasa didaerah somatik superfisial. Nyeri viseral mempunyai letak nyeri alih yang khas untuk tiap viseral yang terkena. Beberapa teori tentang terjadinya nyeri alih adalah; a)

  Teori dermatom Nyeri alih terasa pada kulit yang berasal dari dermatom yang sama dengan alat viseral yang terkena.

  Misalnya nyeri jantung dialihkan ke lengan. b) Teori konvergensi

  Traktus spinotalamikus lateralis adalah tempat berkumpulnya serat-serat sensori nyeri, baik dari somatik maupun dari viseral, yang akan berakhir di thalamus dan kemudian di relay oleh thalamus ke kortek somatosensorik.

  Karena impuls nyeri somatik lebih sering terjadi daripada impuls nyeri viseral, maka korteks somatosensorik seolah lebih mengenal nyeri somatik dari pada nyeri viseral.

  Karena itu nyeri viseral sering diinterpretasikan sebagai nyeri oleh korteks.

  c) Teori fasilitasi

  Impuls nyeri viseral dikatakan merendahkan ambang rangsang neuro traktus spinothalamikus, yang menerima sinaps dari serat aferen somatik. Fasilitas tersebut dengan adanya cabang serat aferen visera yang bersinap di neuron traktus spinothalamikus tersebut dan menimbulkan excitatory post synaptic potential (EPSP).

  Dengan demikian neuron-neuron traktus spinothalamikus lateralis yang menerima sinaps ganda tersebut sangat mudah untuk terbangkit oleh impuls lemah dari aferen nyeri somatik, pada keadaan biasa tidak terbangkit oleh impuls lemah tersebut.

3. Fisiologis nyeri

  Menurut Masjoer (2000) untuk memudahkan dalam memahami nyeri, maka perlu mempelajari 3 komponen fisiologi nyeri, antara lain: Resepsi : Proses perjalanan nyeri. Persepsi : Kesadaran seseorang terhadap nyeri.

  Adanya stimuli yang mengenai tubuh ( mekanik, termal, kimia ) akan menyebabkan pelepasan substansi kimia ( histamine, bradikinin, kalium ). Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai ambang nyeri maka akan timbul impuls saraf yang akan dibawa menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran, suhu hangat dan tekanan halus. Reseptor terletak di struktur permukaan. Reaksi : Respon fisiologis dan perilaku setelah mempersepsikan nyeri.

  Neuroregulator

  a. Substansi yang memberikan efek pada transmisi stimulus saraf, berperan penting pada pengalaman nyeri.

  b. Substansi ini ditemukan pada nociceptor yaitu pada akhir saraf dalam kornu dorsalis medulla spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran spinotalamik. c. Neororegulator ada 2 macam yaitu neurotransmiter dan neuromodulator.

  d. Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah sinaptik antara 2 serabut saraf (Contoh: supstansi P, serotonin, prostaglandin).

  e. Neuromodulator memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentransfer secara langsung sinyal saraf yang melalui synaps (Contoh: endorphin, bradikinin).

  f. Neuromodulator diyakini aktivitasnya secara tidak langsung bisa meningkatkan atau menurunkan efek sebagai neurotransmitter.

4. Respon Nyeri a.

  Respon fisiologis terhadap nyeri

1) Stimulasi Simpatik: ( nyeri ringan, moderat, dan superficial ).

  • Dilatasi saluran bronchial dan peningkatan respirasi rate.
  • Peningkatan heart rate.
  • Vasokontriksi perifer, peningkatan blood pressure.
  • Peningkatan nilai gula darah.
  • Peningkatan kekuatan otot.
  • Dilatasi pupil.
  • Penurunan motilitas GI. 2) Stimulus Parasimpatik ( nyeri berat dan dalam ).
  • Muka pucat.

  • Otot mengeras.
  • Penurunan heart rate dan blood pressure.
  • Nafas cepat dan irregular.
  • Nausea dan vomitus (mual & muntah).
  • Kelelahan dan keletihan.

  b.

  Respon tingkah laku terhadap nyeri Respon tingkah laku terhadap nyeri dapat mencakup: 1)

  Pernyataan verbal (mengaduh, menangis, sesak napas, mendengkur).

  2) Ekspresi wajah (meringis, menggeletukkan gigi, menggigit bibir).

  3) Gerakan tubuh (gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan jari dan tangan).

  4) Kontak dengan orang lain/ interaksi sosial (menghindari percakapan, menghindari kontak sosial, penurunan rentang perhatian, fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.

  c.

  Respon individu terhadap nyeri Respon tubuh terhadap nyeri ada 3 tahap, yaitu: 1)

  Tahap aktivasi (activation) Dimulai saat pertama individu menerima rangsang nyeri sampai tubuh bereaksi terhadap nyeri yang meliputi : respon simpato adrenal, respon muskuler, dan respon emosional.

  2) Tahap Pemantulan (rebound).

  Pada tahap ini nyeri sangat hebat tetapi singkat. Pada tahap ini pula sistem saraf parasimpatis mengambil alih tugas, sehingga terjadi respon yang berlawanan terhadap tahap aktivasi.

  3) Tahap adaptasi (adaptation).

  Saat nyeri berlangsung lama tubuh mencoba untuk beradaptasi melalui peran endorthins. Reaksi adaptasi tubuh ini terhadap nyeri dapat berlangsung beberapa jam atau beberapa hari. Bila nyeri berkepanjangan maka akan menurunkan sekresi norepineprin sehingga individu merasa tidak berdaya, tidak berharga dan lesu.

5. Fase Nyeri

  Menurut Meinhart dan McCaffery mendiskripsikan 3 fase pengalaman nyeri: a.

  Fase antisipasi, terjadi sebelum nyeri diterima.

  Fase ini bukan merupakan fase yang paling penting, karena fase ini bisa mempengaruhi dua fase lain. Pada fase ini memungkinkan seseorang belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkan nyeri tersebut. Peran perawat dalam fase ini sangat penting , terutama dalam memberikan informasi pada klien. b.

  Fase sensasi, terjadi saat nyeri terasa.

  Fase ini terjadi ketika klien merasa nyeri, karena nyeri itu bersifat subjektif, maka tiap orang dalam menyikapi nyeri juga berbeda-beda. Toleransi terhadap nyeri juga akan berbeda antara satu orang dengan yang lain. Orang yang mempunyai tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri tidak akan mengeluh nyeri dengan stimulus kecil, sebaliknya orang yang toleransi terhadap nyerinya rendah akan mudah merasa nyeri dengan stimulus nyeri kecil. Klien dengan tingkat toleransi tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan, sebaliknya orang toleransi terhadap nyerinya rendah sudah mencari upaya pencegahan nyeri, sebelum nyeri datang. Keberadaan enkefalin dan endorphin membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri dari stimulus yang sama. Kadar endorphin tiap individu, individu dengan endorphin tinggi sedikit merasakan nyeri dan individu dengan sedikit endorphin merasakan nyeri lebih besar.

  c.

  Fase akibat (aftermath) Fase ini terjadi saat nyeri sudah berkurang atau hilang. Pada fase ini klien masih membutuhkan kontrol dari perawat, karena nyeri bersifat krisis, sehingga dimungkinkan klien mengalami gejala pasca nyeri. Apabila klien mengalami episode nyeri berulang, maka respon akibat (aftermath) dapat menjadi masalah kesehatan yang berat. Perawat berperan dalam membantu memperoleh kontrol diri untuk meminimalkan rasa takut akan kemungkinan nyeri berulang.

  6. Proses terjadinya nyeri.

  Nosiseptor yang diterima reseptor-reseptor di kulit, pembuluh darah, visera, muskuloskletal dan lain-lain, dapat digambarkan sebagai berikut: adanya stimulasi yang diterima reseptor kemudian diteruskan menuju korteks. Dari korteks ini kemudian diteruskan menuju thalamus di otak dan diteruskan menuju medulla spinalis, yang selanjutnya di teruskan ke saraf tepi sehingga ada reaksi emosi, psikis dan motorik tanpa ada modulasi, sedangkan dalam perjalanan hanya kesan sensorik yang dipersepsikan

  7. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon dan persepsi nyeri Menurut Potter and Perry (2005) tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama mengalami intensitas nyeri yang sama. Suatu stimulus dapat mengakibatkan nyeri pada suatu waktu, tetapi tidak pada waktu lain. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan sensitifitas komponen yang berbeda dari sistem nosiseptif. Adapun hal-hal yang dapat mempengruhi respon dan persepsi nyeri adalah :

  1) Usia

  Pada anak yang masih kecil mempunyai kesulitan memahami prosedur tindakan yang menyebabkan nyeri. Anak kecil yang belum dapat mengucapkan kata-kata juga mengalami kesulitan untuk mengungkapkan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau petugas kesehatan. Secara kognitif anak usia todler dan pra sekolah tidak mampu mengingat penjelasan tentang nyeri atau mengasosiasikan nyeri sebagai pengalaman yang dapat terjadi diberbagai situasi.

  Pada lansia memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan nyeri dan dapat mengalami komplikasi dengan keberadaan berbagai penyakit disertai gejala samar yang mungkin mengenai bagian tubuh yang sama. Tidak semua lansia mengalami gangguan kognitif.

  Namun, ketika seorang lansia mengalami bingung, maka ia akan mengalami kesulitan untuk mengingat pengalaman nyeri dan memberi penjelasan yang rinci. 2)

  Jenis kelamin Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam respon terhadap nyeri (Potter and Perry, 2005).

  3) Kebudayaan

  Beberapa kebudayaan yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah sesuatu yang alamiah. Kebudayaan yang lain cenderung untuk melatih perilaku yang tertutup. Clancy dan Mc Vicar (1992), menyatakan bahwa sosialisasi budaya menentukan perilaku psikologis seseorang.

  4) Makna nyeri

  Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri. Indicidu akan mempersepsikan nyeri dengan cara yang berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan tantangan. Derajat dan kualitas nyeri yang dipersepsikan klien berhubungan dengan makna nyeri.

  5) Perhatian

  Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya pengalihan dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun (Potter and Perry, 2005). 6)

  Ansietas Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Pola bangkitan otonom adalah sama dalam nyeri dan ansietas (Potter and Perry, 2005).

  7) Keletihan

  Keletihan meningkatkan persepsi nyeri. Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping. Hal ini dapat menjadi masalah umum pada setiap individu yang menderita penyakit dalam waktu lama.

  8) Pengalaman sebelumnya

  Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri. Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang. Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang berat, maka ansietas atau rasa takut dapat muncul. Apabila individu tidak pernah merasakan nyeri, maka persepsi pertama nyeri dapat mengganggu koping terhadap nyeri. 9)

  Gaya koping Individu yang memiliki lokus kendali internal mempersepsikan diri mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka dan hasil akhir dari suatu peristiwa, seperti nyeri (Potter and Perry, 2005). Sebaliknya, individu yang memiliki lokus kendali eksternal, mempersepsikan faktor-faktor lain didalam lingkungan mereka. 10)

  Dukungan keluarga dan social Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan. Walaupun nyeri tetap dirasakan, kehadiran orang yang dicintai akan meminimalkan kesepian dan ketakutan.

8. Teori-teori tentang nyeri

  1) Teori spesifikasi

  Teori yang mengemukakan bahwa reseptor dikhususkan untuk menerima suatu stimulus yang spesifik, yang selanjutnya dihantarkan melalui serabut A delta dan serabut C di perifer dan traktus spinothalamikus anterolateralis di medulla spinalis menuju ke pusat nyeri di thalamus. Teori ini tidak mengemukakan komponen psikologis.

  Serat nyeri memasuki medula spinalis melalui radiks dorsalis, naik turun satu sampai dua segmen, lalu berakhir pada neuron didalam kornu dorsalis substansia grisea medula spinalis, serat tipe A

  ᵟ didalam lamina I dan V serta serat tipe C didalam lamina II-III, suatu area yang juga dinamai substansia gelatinosa. Kemudian bagian terbesar dari isyarat ini melintasi satu atau lebih neuron tambahan berserat pendek, akhirnya memasuki serat panjang yang segera menyeberang ke sisi medula spinalis berlawanan dan naik ke otak melalu traktus spinothalamikus anterolateralis. Ketika lintasan nyeri masuk kedalam otak, mereka terpisah menjadi dua lintasan tersendiri; lintasan nyeri tusuk hampir seluruhnya terdiri atas serabut kecil jenis A delta dan lintasan nyeri terbakar hampir seluruhnya terdiri atas serabut C yang lambat. 2)

  Teori pola Teori ini menyatakan bahwa elemen utama pada nyeri adalah pola informasi sensoris. Pola aksi potensial yang timbul oleh adanya suatu stimulus timbul pada tingkat saraf perifer dan stimulus tertentu menimbulkan pola aksi potensial tertentu.Pola aksi potensial untuk nyeri berbeda dengan pola untuk rasa sentuhan.

  Impuls nyeri disalurkan ke susunan saraf pusat oleh dua sistem serat.Satu sistem nosiseptor terbentuk oleh serat-serat A ᵟ kecil bermielin, yang satunya terdiri atas serat C tak bermielin.Kedua kelompok serat ini berakhir ditanduk dorsal; serat A berakhir di neuro- neuron lamina I dan V sementara serat C akar dorsal berakhir di neuron di lamina I dan II. Sebagian akson neuron tanduk dorsal berakhir di medula spinalis dan batang otak, yang lain masuk ke sistem anterolateral, termasuk traktus spinothalamikus lateral.

  Rangsang nyeri mengaktifkan 3 daerah korteks: SI, SII dan girus singuli di sisi korteks yang berlawanan dengan rangsangan. Girus singuli berperan dalam emosi dan girektomi singuli dilaporkan mengurangi stres yang timbul karena nyeri kronik.

  Serat sensorik A β yang menyalurkan impuls dari reseptor sentuh ke susunan saraf pusat, dan sebagian impuls sentuh juga dihantarkan melalui serat C. Informasi rasa sentuh disalurkan baik melaui jalur lemniskus maupun jalur anterolateral, sehingga hanya lesi yang sangat luas saja yang dapat menghilangkan sama sekali sensasi sentuh.

  Namun terdapat perbedaan jenis informasi sentuh yang disalurkan di kedua sistem tersebut. Apabila kolumna dorsalis dirusak, sensasi getaran dan propriosepsi berkurang, ambang rasa sentuh meningkat dan jumlah daerah peka sentuh dikulit berkurang, selain itu lokalisasi sensasi sentuh terganggu.

  3) Teori kontrol pintu gerbang (gate control)

  Teori gate control menurut Melzack and Wall tahun 1965, mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan disepanjang sistem saraf pusat (ssp). Mekanisme pertahanan dapat ditemukan di sel-sel gelatinosa substansia didalam kornu dorsalis pada medula spinalis thalamus dan sistem limbik (Clancy dan Mc Vicar, 1992 dalam Potter and Perry, 2005).

  Konsep dasarnya menggabungkan teori spesifik dan teori pola ditambah dengan interaksi antara aferen perifer dan sistem modulasi yang berbeda di medulla spinalis (subtansia gelatinosa). Selain itu juga mengemukakan sistem modulasi desenden (dari pusat ke perifer).

  Menurut teori ini, aferen terdiri dari dua kelompok serabut, yaitu kelompok yang berdiameter besar (Aβ) dan serabut berdiameter kecil (A

  ᵟ dan C). Kedua kelompok aferen ini berinteraksi dengan substansia gelatinosa ini berfungsi sebagai modulator (gerbang kontrol) terhadap Aβ, Aᵟ dan C. Apabila substansia gelatinosa (SG) aktif, gerbang akan menutup. Sebaliknya apabila SG menurun aktivitasnya, gerbang membuka. Aktif dan tidaknya SG tergantung pada kelompok aferen mana yang terangsang. Apabila serabut berdiameter besar terangsang, SG menjadi aktif dan gerbang menutup.Ini berarti bahwa rangsang yang menuju pusat melalui transitting cell (T-cell) terhenti atau menurun. Serabut A

  ᵟ adalah penghantar rangsang non-nosiseptif

  (bukan nyeri) misalnya sentuhan, proprioseptif. Apabila kelompok berdiameter kecil (A ᵟ, C) terangsang, SG akan menurun aktivitasnya sehingga gerbang membuka. A

  ᵟ dan C adalah serabut pembawa rangsang nosiseptif, sehingga kalau serabut ini terangsang, gerbang akan membuka dan rangsang nyeri akan diteruskan ke pusat.

9. Management Nyeri a.

  Management Farmakologi, terdiri atas (Masjoer, 2000): 1)

  Analgesik non opioids Termasuk nonsteroidal anti inflamatory drugs ( NSAIDS ), seperti : Aspirin, acetaminophen, dan ibuprofen. Menurut

  American Pain Society, obat-obatan ini bekerja pada saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkat/ level inflamasi.

  2) Analgesik opioids

  Analgesik opioids termasuk opium derivate, seperti morfin dan kodein. Obat-obat ini bekerja dengan cara mengubah mood, perhatian, perasaan pasien menjadi lebih baik, dan lebih nyaman walaupun terdapat nyeri.

3) Analgesik adjuvant.

  Analgesik adjuvant adalah terapi pengobatan selain menggunakan analgesic, tetapi dapat mengurangi tipe-tipe nyeri kronik. Contohnya Diazepam (Valium) yang dapat menggunakan rasa nyeri pada saat terjadi spasme otot membantu bisa tidur nyenyak. b.

  Management non Farmakologi, terdiri atas: 1)

  Intervensi fisik Tujuan dari intervensi fisik adalah:

  a) Membuat nyaman.

  b) Mengurangi disfungsi fisik.

  c) Menormalkan respon fisiologis.

  d) Mengurangi ketakutan. 2)

  Cutaneous Stimulation Yang termasuk cutaneous stimulation:

  a) Pemijatan/massage

  b) Kompres panas/dingin

  c) Asupressure

  d) Contralateral Stimulation

  3) Immobilisasi

  Biasanya korban tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat kontraktur atau terjadi ketidakseimbangan otot. Splint ini harus diubah posisinya tiap 30 menit untuk mencegah terjadinya penyakit baru seperti dicubitus.

  4) TENS

  Transcutaneous electrice nerve stimulation (TENS) adalah noninvasive, teknik control nyeri nonalgesic untuk klien dengan nyeri akut ataupun kronik. 5)

  Akupuntur

  Akupuntur telah diterapkan di China dan mendapat perhatian tinggi dari Amerika Utara. Biasanya digunakan untuk nyeri akut. 6)

  Placebo Placebo adalah salah satu bentuk treatment seperti medikasi atau tindakan keperawatan yang menghasilkan efek pada klien, bahwa tindakan yang dilakukan atau yang diberikan perawat dapat menyembuhkan penyakit.

  7) Distraksi

  Contoh dari distraksi adalah pada saat klien dipindahkan dari ruang bedah mungkin tidak merasakan nyeri saat melihat pertandingan sepak bola di televisi, tapi nyeri akan dirasakan lagi pada saat pertandingan itu sudah selesai.

  8) Hypnosis

  Hypnosis digunakan untuk memfokuskan konsentrasi dan meminimalisir distraksi.

  9) Relaksasi

  Macam-macam teknik relaksasi : meditasi, yoga, dan latihan relaksasi progresif. Teknik ini tidak dilakukan pada pasien yang nyeri akut karena ketidakmampuan berkonsentrasi. Latihan relaksasi progresif mencakup latihan control nafas, kontraksi, dan relaksasi otot.

B. Hernia 1. Pengertian

  Kata Hernia berasal dari Bahasa Latin, herniae, yang berarti penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah (defek) pada dinding rongga itu, baik secara kongenital maupun didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut (Mansjoer, 2000).

  Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui annulus inguinalis internus/lateralis menelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga abdomen melalui annulus inguinalis externa/medialis (Mansjoer, 2000).

  Hernia inguinalis adalah prolaps sebagian usus kedalam annulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat congenital (Cecily L. Betz, 2004).

  Hernia Inguinalis adalah suatu penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaan normal tertutup (Ignatavicus, 2004).

  Kesimpulan dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah merupakan penonjolan (protrusi) isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga baik didapat atau kongenital.

2. Anatomi Fisiologi Hernia

Gambar 2.1 Gambar Hernia Inguinalis

  Otot-otot dinding perut dibagi empat yakni musculus rectus abdominis, musculus, obliqus abdominis internus, musculus transversus abdominis. Kanalis inguinalis timbul akibat descensus testiculorum, dimana testis tidak menembus dinding perut melainkan mendorong dinding ventral perut ke depan. Saluran ini berjalan dari kranio-lateral ke medio-kaudal, sejajar ligamentum inguinalis, panjangnya : + 4 cm.

  (Brunner & Suddarth, 2000) Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yag merupakan bagian terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis muskulus transversus abdominis di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum. Kanal ini dibatasi oleh anulus eksternus. Atap ialah aponeurosis muskulus ablikus eksternus dan didasarnya terdapat ligamentum inguinal. Kanal berisi tali sperma serta sensitibilitas kulit regio inguinalis, skrotum dan sebagian kecil kulit, tungkai atas bagian proksimedial (Martini, 2001).

  Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaiknya bila otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Pada orang yang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur muskulus oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi dan adanya fasia transversal yang kuat yang menutupi triganum hasselbaeh yang umumnya hampir tidak berotot sehingga adanya gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis (Martini, 2001)

3. Klasifikasi Hernia a. Hernia inguinalis, terdiri dari 2 macam yaitu :

  1) Hernia inguinalis indirect atau disebut juga hernia inguinalis lateralis yaitu hernia yang terjadi melalui cincin inguinal dan mengikuti saluran spermatik melalui kanalis inguinalis (Lewis, 2003).

  2) Hernia inguinalis direct yang disebut juga hernia inguinalis medialis yaitu hernia yang menonjol melalui dinding inguinal posterior di area yang mengalami kelemahan otot melalui trigonum hesselbach bukan melalui kanalis, biasanya terjadi pada lanjut usia (Ignatavicus, 2004).

  b) Klasisfikasi Menurut tempat lokasinya

  1) Hernia scrotalis

  2) Hernia femoralis

  3) Hernia umbilikalis

  4) Hernia inguinalis

  5) Hernia insisional

  6) Hernia fragmentika

  7) Hernia epigastrika

  c) Menurut gejala

  1) Hernia Reponsibilis

  Penonjolan yang terjadi dan benjolan tersebut dapat dimasukkan kembali secara normal.

  2) Hernia Irreponsibilis

  Penonjolan yang terjadi dan tonjolan tersebut tidak dapat dikembalikan secara manual disertai nyeri tekan.

  3) Hernia Inkarserata

  Hernia yang tak bisa kembali serta terjadi gangguan pasase usus dan nyeri hebat

  4) Henia Strangulata

  Nyeri hebat, pembuluh darah terjepit, gangguan vaskularisasi karena masih ada sisa makanan di usus yang terdapat penonjolan tersebut maka akan terjadi eksudat cairan. 5)

  Hernia Richter Hernia reponsibilis yang turun naik 4.

   Etiologi Hernia

  Penyebab yang memungkinkan terjadinya hernia (Samsuhidayat, 2004) : 1)

  Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital sisa dan prosesus vaginalis.

2) Kerja otot yang terlalu kuat.

  3) Mengangkat beban yang berat

  4) Batuk kronik

  5) Mengejan sewaktu miksi dan defekasi

  Peregangan otot abdomen karena meningkatnya tekanan intra abdomen seperti obesitas dan kehamilan.

  Menurut Black, J, dkk (2002), penyebab hernia inguinalis adalah : 1.

  Kelemahan otot dinding abdomen.

  a.

  Kelemahan jaringan b. Adanya daerah yang luas diligamen inguinal c. Trauma

2. Peningkatan tekanan intra abdominal.

  a.

  Obesitas b. Mengangkat benda berat

  

  c. Konstipasi Mengejan d.

  Kehamilan e. Batuk kronik 3. Faktor resiko : kelainan congenital 5.

   Patofisiologi

  Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ- organ selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan kerusakan yang sangat parah, sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).

  Hernia inguinalis dapat terjadi karena kongenital atau karena sebab yang didapat. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Bila otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.

  Pada orang dewasa kanalis tersebut sudah tertutup, tetapi karena kelemahan daerah tersebut maka akan sering menimbulkan hernia yang disebabkan keadaan peningkatan tekanan intra abdomen (Nettina, 2001).

  Hernia pada orang dewasa biasanya terjadi karena usia lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdominal menibgkat seperti batuk-batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang-barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu jaringan tubuhdan keluar melalui defek tersebut (Jitowiyono, 2012).

  Akhirnya menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi prostat, asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi perlengketan antara isi herniadengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi penekanan teerhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan isi usus. Timbulnya edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian menjadi nekrosis (Jitowiyono, 2012).

  Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, konstipasi. Bila inkaserta dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit melainkan ususnya terputar. Bila isi perut terjepit dapat terjadi shock, demam, asidosis metabolik, abses. Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain obstruksi sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel atau peritonitis (Jitowiyono, 2012).

6. Penatalaksanaan a.

  Medis dilakukan dengan cara pembedahan yaitu : 1)

  Hernioplasty : tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dengan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis (syamsuhidayat, 2004).

  a) Indikasi

  Hernioplasty dilakukan pada pasien yang mengalami hernia dimana tidak dapat kembali dengan terapi konservatif.

  b) Proses tindakan hernioplasty

  Memperkecil angulus internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fascia transversa dan memjahitkan pertemuan. Transverses internus abdominis dan m.oblikuus internus abdominis keligamentum inguinalis. Ini merupakan metode Basini. Sedangkan untuk metode Mc Vay yaitu menjahitkan fascia transversa, m.tranversus abdominis, m.oblikuus internus abdominis keligamentum Cooper. 2)

  Herniotomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.

  3) Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.

  b.

  Keperawatan 1)

  Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat penyokong. 2)

  Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit di evaluasi kembali.

  3) Celana penyangga

  4) Istirahat baring

  5) Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.

  6) Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.

7. Pathways

  Peningkatan tekanan intra abdomen Kelemahan otot dinding abdomen

  • Batuk
  • Trauma - Bersin – bersin
  • Obesitas - Mengejan
  • Kehamilan - Mengangkat benda berat
  • Kelainan kongenital → kelemahan pada dinding

  Isi rongga abdomen (usus) melewati abdomen sejak dinding inguinal perkembangan janin masuk ke kanal inguinal

  Isi rongga abdomen menonjol ke fascia transversalis melewati anulus inguinal keluar pada cincin kanal Masuk ke kanal inguinal

  • Teraba benjolan

  Terjadi penonjolan Kurang

  • Terdengar bising usus keluar pengetahuan
  • Nyeri pada benjolan

  Obstruksi saluran intestinal Bendungan vena

  Nyeri akut Edema

  Nyeri akut Suplai terhambat Ischemic Kondisi pasien kotor dan malas pembedahan cemas luka insisi pembedahan

  Defisit self care pintu masuknya bakteri patogen Resiko Infeksi

Gambar 2.2 pathways dan masalah keperawatan pada pre dan post hernioplasty

  (Oswari, 2000; Nettina, 2001; Jitowiyono, 2012)

  8. Tanda dan gejala hernia

  Menurut Oswari (2000), tanda dan gejala hernia pada umumnya pasien mengeluhkan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan, benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.

  9. Manifestasi Klinik a.

  Penonjolan di daerah inguinal b.

  Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.

  c.

  Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti kram dan distensi abdomen.

  d.

  Terdengar bising usus pada benjolan e. Kembung f. Perubahan pola eliminasi BAB g.

  Gelisah h. Dehidrasi i. Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat pasien berdiri atau mendorong.

  10. Pemeriksaan Penunjang a.

  Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus/obstruksi usus.

  b.

  Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit), peningkatan sel darah putih (Leukosit : >10.000– 18.000/mm3) dan ketidakseimbangan elektrolit.

  11. Komplikasi a.

  Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.

  b.

  Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis incarcerata.

  c.

  Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis strangulata.

  d.

  Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.

  e.

  Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah dan obstipasi.

12. Diagnosa Keperawatan a.

  Rencana Keperawatan Hernia

  Manajemen nyeri :

  Klien melaporkan nyeri berkurang,

  dengan KH: a.

  peningkatan kenyamanan

  1 Nyeri Akut b/d agen injuri fisik Setelah dilakukan askep 2x24jam jam terjadi

  No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil (NOC) Rencana dan Intervensi (NIC)

  Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelamahan 13.

  f.

  Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive, lika post pembedahan e.

  d.

  Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik b. Cemas berhubungan dengan krisis situasional, rencana operasi c. Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan dan pengobatannya berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi, terbatasnya kognitif pasien.

  Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik, abses.

  Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah, h. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi. i.

  Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki, g.

  • Kaji nyeri secara komprehensif ( Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi ).
  • Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.
  • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri

  skala nyeri 2-3 b. Ekspresi wajah tenang & dapat istirahat, tidur.

  • Berikan lingkungan yang tenang
  • Ajarkan teknik non farmakologis
  • Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri.
  • Evaluasi tindakan pengurang nyeri/kontrol nyeri.
  • Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri.
  • Monitor V/S
  • Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping.

  c.

  V/S dalam batas normal (TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt). klien sebelumnya.

  (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.

  2 Cemas berhubungan dengan krisis situasional,rencana operasi

  Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam,

  • Bina hubungan saling percaya dengan pasien.
  • Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan (tachicardia, tachypnea, ekspresi cemas non verbal)
  • Jelaskan seluruh prosedur tindakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat melakukan tindakan.
  • Berusaha memahami keadaan klien
  • Berikan informasi tentang diagnosa, prognosis dan tindakan.
  • Sediakan aktivitas untuk menurunkan ketegangan
  • Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang menciptakan cemas.
  • Tentukan kemampuan pasien untuk mengambil keputusan
  • Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.
  • Kolaborasi untuk pemberian obata penurun cemas , jika memungkinkan
d. Menunjukkan beberapa kemampuan untuk menenangkan diri

  cemas klien terkontrol dengan Kriteria Hasil :

  a.

  Ekspresi wajah tampak tenang, rileks dan kooperatif.

  b.

  Mengenali, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk mengontrol kecemasan.

  c.

  Menemukan sikap tubuh, ekspresi wajah, isyarat dan tingkat kegiatan yang menggambarkan berkurangnya penderitaan.

  Penurunan kecemasan

  Peningkatan Koping

  • Hargai pemahaman pasien tentang proses penyakit
  • Hargai dan diskusikan alternatif respon terhadap situasi.
  • Gunakan pendekatan yang tenang dan memberikan jaminan.
  • Sediakan informasi aktual tentang diagnosa, penanganan dan prognosis.
  • Sediakan pilihan yang realistis tentang aspek perawatan saat ini.
  • Libatkan keluarga atau orang terdekat dengan klien.
  • Bantu klien untuk mengidentifikasi penggunaan koping yang efektif.
  • Beri penyuluhan tentang prosedur pre operasi dan post operasi.
  • Berikan pujian untuk menggunakan sumber koping yang efektif.

  3 Kurang pengetahuan tentang penyakit, perawatan dan pengobatannya berhubungan dengan kurangnya informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi, terbatasnya kognitif pasien.

  Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 x 24 jam,

  • Kaji tingkat pengetahuan tentang proses penyakit.
  • Jelaskan proses penyakit
  • Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi khusus.
  • Berikan pengajaran sesuai dengan tingkat pemahaman pasien, ulangi informasi bila dipelrukan.
  • Ikutsertakan keluarga atau anggota keluarga lain.
  • Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobatan.
  • Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah komplikasi.
  • Diskusikan tentang terapi dan pilihannya.
  • Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/mendukung.
  • Instruksikan kapan harus kepelayanan.
  • Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur pengobatan.

  pengetahuan klien meningkat. Dengan Kriteria Hasil

  a. Pasien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit dan pengobatan.

  b. Berpartisipasi dalam pengobatan

  Peningkatan pengetahuan

  4 Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan Kontrol infeksi : adanya luka askep 2x24jam operasi, imunitas jam risiko infeksi • Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. tubuh menurun, Terkontrol, dengan prosedur invasive Kriteria Hasil : • Batasi pengunjung bila perlu dan anjurkan u/ istirahat yang cukup a. Bebas dari tanda

  • Anjurkan keluarga untuk cuci tangan & gejala infeksi sebelum dan setelah kontak dengan klien.

  b.

  Angka lekosit

  • Gunakan sabun anti microba untuk normal (4000 - mencuci tangan.

  11.000)

  • Lakukan cuci tangan sebelum dan c.

  Suhu normal ( 36 sesudah tindakan keperawatan.

  • – 37 c
    • Gunakan baju, masker dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
    • Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
    • Lakukan perawatan luka sesuai indikasi
    • Lakukan dresing infus,dan dresing kateter sesuai indikasi.
    • Tingkatkan intake nutrisi. & cairan yang adekuat
    • Kolaborasi untuk pemberian antibiotik sesuai program.

  Proteksi terhadap infeksi

  • Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
  • Monitor hitung granulosit dan WBC.
  • Monitor kerentanan terhadap infeksi.
  • Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
  • Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase.
  • Inspeksi keadaan luka dan sekitarnya • Monitor perubahan tingkat energi.
  • Dorong klien untuk meningkatkan mobilitas dan latihan.
  • Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program.
  • Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.dan melaporkan kecurigaan infeksi.

  5 Defisit self care b/d kelemahan, penyakitnya

  Setelah dilakukan askep 2x24jam jam klien dan keluarga dapat merawat diri

  • Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri yang mandiri
  • Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan, berhias
  • Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri
  • Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
  • Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
  • Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
  • dorong untuk melakukan secara mandiri tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
  • Berikan reinforcement positif atas usaha yang dilakukan.

  : activity daily living (adl) dengan

  kritria : a. kebutuhan klien sehari- hari terpenuhi (makan, berpakaian, toileting, berhias, hygiene, oral higiene) b. klien bersih dan tidak bau.

  Bantuan perawatan diri

Dokumen baru

Download (43 Halaman)
Gratis

Tags