BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori - PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DENGAN PERMAINAN TEKA-TEKI SILANG DI KELAS IVB SD NEGERI 2 PLIKEN - repository perpustakaan

0
0
36
1 week ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar a. Pengertian Belajar Menurut Abdillah (Aunurrahman, 2010: 35) belajar adalah

  usaha sadar yang dilakukan seseorang dalam perubahan tingkah laku melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek- aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Menurut Slameto (2010: 2) pengertian belajar adalah:

  “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

  Menurut Morgan (Suprijono, 2013: 3) “learning is any

  relatively permanent change in behavior that is a result of past experience” yaitu belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat

  permanen sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Susanto (2014: 4) belajar adalah:

  “aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relatif tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak”.

  Berdasarkan pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu yang ditandai dengan adanya perubahan dalam aspek kognitif, afektif dan

  9 psikomotor sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Setiap individu akan berinteraksi dan bersosialiasi dengan lingkungan sehingga mampu menggabungkan dan membandingkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan pengetahuan baru yang ada di lingkungannya sebagai proses menuju perubahan tingkah laku.

  b.

  Faktor yang Mempengaruhi Belajar Menurut Slameto (2010: 54) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. 1)

  Faktor-faktor intern, meliputi:

  a) Faktor Jasmaniah

  Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagaian-bagiannya/bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya.

  b) Faktor Psikologis

  Faktor yang tergolong ke dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, antara lain: (1) intelegensi, (2) perhatian, (3) minat, (4) bakat, (5) motif, (6) kematangan, (7) kesiapan.

  c) Faktor Kelelahan

  2) Faktor-faktor ekstern, meliputi:

  a) Faktor Keluarga

  Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: (1) cara orang tua mendidik, (2) relasi antara anggota keluarga, (3) suasana rumah tangga, (4) keadaan ekonomi, (5) pengertian orang tua, (6) latar belakang kebudayaan, (4) bentuk kehidupan masyarakat.

  b) Faktor Sekolah

  Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup: (1) metode mengajar, (2) kurikulum, (3) relasi guru dengan siswa, (4) relasi siswa dengan siswa, (5) disiplin sekolah, (6) pelajaran dan waktu sekolah, (7) standar pelajaran, (8) keadaan gedung, (9) metode belajar, dan (10) tugas rumah.

  c) Faktor Masyarakat

  Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh ini terjadi karena keberadaannya siswa dalam masyarakat. Faktor masyarakat yang mempengaruhi ini mencakup: (1) kegiatan siswa dalam masyarakat, (2) media massa, (3) teman bergaul, dan (4) bentuk kehidupan masyarakat.

  Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada dua faktor yang dapat mempengaruhi belajar. Faktor yang berada dalam diri individu (intern) dan dalam luar individu yang belajar (ekstern).

  c.

  Pengertian Hasil Belajar Menurut Suprijono (2013: 5) “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan”. Menurut Susanto (2014: 5) “hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar”. Menurut Nana Sudjana (Kunandar, 2011: 276) hasil belajar adalah:

  “suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan”.

  Menurut Nasution (Kunandar, 2011: 276) hasil belajar adalah perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar.

  Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu setelah melakukan kegiatan belajar, sehingga nampak perubahan dalam tiga aspek, yakni aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Kemampuan tersebut akan terus meningkat apabila siswa melakukan kegiatan belajar dengan baik.

  d.

  Tipe Hasil Belajar Menurut Sudjana (2013: 49) tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat dikategorikan menjadi tiga bidang yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual), bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotor (kemampuan/keterampilan bertindak/berperilaku). Ketiganya tidak berdiri sendiri, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan membentuk hirarki. Sebagai tujuan yang hendak dicapai, ketiganya harus nampak sebagai hasil belajar siswa di sekolah. Oleh sebab itu ketiga aspek tersebut, harus dipandang sebagai hasil belajar siswa, dari proses pengajaran.

  Berikut ini dikemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga aspek hasil belajar tersebut diantaranya: 1)

  Aspek kognitif Menurut Sudjana (2013: 50) aspek kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu (1) tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (knowledge), merupakan tipe hasil belajar yang terendah. Namun tipe hasil belajar ini penting sebagai prasyarat untuk menguasai dan mempelajari tipe hasil belajar yang lebih tinggi. (2) tipe hasil belajar pemahaman (comprehention), terdiri dari tiga kategori yaitu pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tingkat dua adalah pemahaman penafsiran, yakni memahami grafik, menghubungkan dua konsep yang berbeda, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok. Tingkat tiga adalah pemahaman ekstrapolasi, yakni kesanggupan melihat dibalik yang tertulis, tersirat dan tersurat, meramalkan sesuatu atau memperluas wawasan. (3) penerapan (aplikasi) adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksi suatu konsep, ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru. (4) tipe hasil belajar analisis (analysis), adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas (suatu yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagian- bagian yang mempunyai arti atau mempunyai tingkatan/hirarki. Analisis merupakan tipe yang kompleks karena memanfaatkan kecakapan dari tipe pengetahuan, pemahaman dan aplikasi. (5) tipe hasil belajar sintesis, yaitu kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas. (6) tipe hasil belajar evaluasi, adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya dan kriteria yang dipakai. 2)

  Aspek afektif Aspek afektif berkenaan dengan sikap dan nilai

  (Sudjana, 2013: 53). Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan lain-lain. Ada beberapa tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar yaitu (1) Receiving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala. Tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar. (2)

  

responding atau jawaban , yakni reaksi yang diberikan oleh

  seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Dalam hal ini termasuk ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya. (3)

  

valuing (penilaian), berkenaan dengan nilai dan kepercayaan

  terhadap gejala atau stimulus tadi. Evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut. (4) organisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Konsep tentang nilai termasuk dalam organisani. (5) karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Keseluruhan nilai dan karakteristiknya termasuk karakteristik nilai. 3)

  Aspek psikomotor Menurut Sudjana (2013: 54) aspek psikomotor berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak.

  Aspek psikomotor adalah aspek yang berkaitan dengan bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak individu (seseorang).

  Ada enam tingkatan keterampilan, yakni (1) gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar). (2) keterampilan pada gerakan-gerakan dasar. (3) kemampuan perseptual termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain. (4) kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, ketepatan. (5) gerakan- gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks. (6) kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresif, interpretatif.

  e.

  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Susanto (2014: 12) hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua hal, yaitu siswa itu sendiri dan lingkungannya. Pertama, siswa; dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan siswa, baik jasmani maupun rohani. Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, keluarga, dan lingkungan.

  Pendapat yang senada dikemukakan oleh Wasliman (Susanto, 2014: 12) hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang memengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal. Secara perinci, uraian mengenai faktor internal dan eksternal sebagai berikut:

  1) Faktor Internal

  Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang memengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal ini meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan. 2)

  Faktor Eksternal Faktor eksternal berasal dari luar diri peserta didik yang memengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keluarga yang morat-marit keadaan ekonominya, pertengkaran suami istri, perhatian orang tua yang kurang terhadap anaknya, serta kebiasaan sehari-hari berperilaku yang kurang baik dari orang tua dalam kehidupan sehari-hari berpengaruh dalam hasil belajar peserta didik.

  Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa.

2. Matematika Sekolah Dasar a.

  Pengertian Matematika Pengertian matematika antara lain menurut James and

  James (Suwangsih dan Tiurlina, 2006: 4) bahwa matematika adalah ilmu tentang logika, mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya. Matematika terbagi dalam tiga bagian yaitu aljabar, analisis dan geometris.

  Suwangsih dan Tiurlina (2006: 3) menyebutkan bahwa matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya, kemudian pengalaman diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga terbentuk konsep-konsep matematika. Konsep-konsep matematika agar dapat dipahami orang lain maka dimanipulasi menggunakan bahasa atau notasi matematika secara universal. Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika. Matematika menurut Ruseffendi (Heruman, 2010: 1) adalah:

  “bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau posulat, dan akhirnya ke dalil”.

  Berdasarkan beberapa pendapat dari para ahli tentang pengertian matematika dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir (bernalar) dan logika yang menekankan pada kegiatan dalam dunia rasio serta memiliki objek tujuan yang abstrak. Matematika adalah ilmu yang menuntut keterampilan penalaran atau logika yang tinggi untuk memahami setiap konsep materi matematika.

  b.

  Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Siswa sekolah dasar (SD) umumnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Piaget (Heruman, 2010:

  1) mereka berada pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang bersifat konkret. Menurut Suwangsih dan Tiurlina (2006: 16) matematika yang dipelajari oleh siswa SD dapat digunakan oleh siswa SD untuk kepentingan hidupnya sehari-hari dalam kepentingan lingkungannya, untuk membentuk pola pikir yang logis, sistematis, kritis dan cermat dan akhirnya dapat digunkan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain.

  Berdasarkan pengertian para ahli maka dapat disimpulkan, matematika di sekolah dasar dilaksanakan sekitar anak berusia 6 atau 7 tahun. Sampai 12 atau 13 tahun. Pembelajaran matematika anak dikenalkan mengenai bilangan atau benda-benda yang konkret dalam melakukan operasi perhitungannya.

  c.

  Langkah Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Menurut Depdiknas (2009: 1) secara umum terdapat empat tahapan aktivitas dalam rangka penguasaan materi pelajaran matematika di dalam pembelajaran, yaitu: 1.

  Penanaman Konsep Tahap penanaman konsep merupakan tahap pengenalan awal tentang konsep yang akan dipelajari siswa. Pada tahap ini pengajaran memerlukan penggunaan benda konkrit sebagai alat peraga.

2. Tahap Pemahaman Konsep

  Tahap pemahaman konsep merupakan tahap lanjutan setelah konsep ditanamkan. Pada tahap ini penggunaan alat peraga mulai dikurangi dan bentuknya semi konkrit sampai pada akhirnya tidak diperlukan lagi.

  3. Tahap Pembinaan Keterampilan Tahap pembinaan keterampilan merupakan tahap yang tidak boleh dilupakan dalam rangka membina pengetahuan siap bagi siswa. Tahap ini diwarnai dengan latihan-latihan seperti mencongak dan berlomba. Pada tahap pengajaran ini alat peraga sudah tidak boleh digunakan lagi.

  4. Tahap Penerapan Konsep Tahap penerapan konsep yaitu penerapan konsep yang sudah dipelajari ke dalam bentuk soal-soal terapan (cerita) yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tahap ini disebut juga sebagai pembinaan kemampuan memecahkan masalah.

  d.

  Pecahan Menurut Mustaqim dan Ary (2008: 163) pecahan merupakan bagian dari keseluruhan. Materi tersebut adalah salah satu materi pembelajaran yang diajarkan pada kelas IV Sekolah Dasar. Adapun materi yang dipelajari dalam pecahan meliputi:

  1) Menjelaskan arti pecahan dan urutannya, yang meliputi:

a) Mengidentifikasi pecahan sebagai bagian dari keseluruhan.

  Contoh: 1 bagian lingkaran dibagi menjadi 4 bagian. Jadi masing- masing bagian tersebut bernilai seperempat atau dapat

  1

  ditulis

  4 b) Membandingkan pecahan

  1

  1

  1 x 4 = 4 dan 2 x 1 = 2

  2

  4

  1

  1

  4 > 2 >

  2

  4

  c) Mengurutkan pecahan

  Jika terdapat beberapa pecahan yang berpenyebut sama, maka untuk mengurutkan pecahan-pecahan itu cukup dengan mengurutkan pembilangnya saja. Tetapi apabila pecahan berpenyebut tidak sama, maka untuk mengurutkan pecahan dengan cara menyamakan penyebutnya terlebih dahulu.

  2) Menyederhanakan berbagai bentuk pecahan

  a) Mengidentifikasi pecahan yang senilai

  Pecahan senilai dapat dicari dengan mengalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama.

  Contoh:

  4 4 x 2

  8

  senilai dengan =

  2 x 2

  2

  4

  b) Menyederhanakan pecahan

  Pecahan paling sederhana diperoleh dengan membagi pembilang dan penyebutnya dengan FPB kedua bilangan tersebut.

  Contoh:

  12 12∶4

  3

  = =

  16 16∶4

  4

  3) Menjumlahkan pecahan a.

  Melakukan penjumlahan pecahan berpenyebut sama Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama, dilakukan dengan menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Kemudian tuliskan hasilnya dalam bentuk paling sederhana.

  Contoh: .

  2 3 2+3

  5

  =

  =

  • 4

  4

  4

  4 b.

  Melakukan penjumlahan pecahan berpenyebut tidak sama Penjumlahan pecahan yang berpenyebut berbeda dilakukan dengan cara menyamakan penyebutnya dengan KPK kedua bilangan tersebut. Contoh:

  2

  3

  8 9 8+9

  17

  • = = =

  3

  4

  12

  12

  

12

  12 3.

  Alat Peraga a.

  Pengertian Alat Peraga Menurut Anitah (2009: 4) istilah alat peraga ini demikian melekat pada banyak pendidik sampai kurun waktu yang cukup lama. Bahkan sampai saat ini masih banyak orang menggunakan istilah alat peraga secara silih berganti dengan istilah lain seperti; alat bantu, media, alat pelajaran, dan lain-lain. Dengan alat peraga dimaksudkan untuk memperjelas pelajaran yang disajikan. Istilah ini dikemukakan bukan berarti penggunaan “alat peraga” itu dianggap salah atau konvensional. Alat peraga dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukan sesuatu yang riil sehingga memperjelas pengertian pebelajar.

  b.

  Alat Peraga Kertas Lipat Pecahan Konsep pecahan merupakan konsep yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa sebagai bekal untuk mempelajari materi selanjutnya. Apabila siswa telah paham terhadap konsep pecahan, maka siswa dalam mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan materi pecahanpun akan lebih mudah dalam pengerjaannya walaupun soal tersebut diberikan pada bentuk yang bervariasi.

  Untuk menanamkan konsep pecahan menggunakan kertas lipat sebagai alat peraga dalam materi pecahan. Kertas lipat pecahan merupakan alat peraga yang tergolong sederhana. Alat peraga ini diharapkan siswa dapat memahami konsep dasar pecahan.

  1) Alat dan bahan dalam membuat kertas lipat pecahan Bahan utama dalam alat peraga ini adalah kertas lipat.

  Selain itu juga membutuhkan pensil, penggaris, penghapus, dan gunting untuk mendukung dalam pengaplikasian penggunaan alat peraga kertas lipat dalam proses pembelajaran.

  2) Contoh penggunaan kertas lipat pecahan dalam materi pecahan menurut Heruman (2010: 43) adalah : a) Menyatakan beberapa bagian dari keseluruhan ke bentuk pecahan.

  Ambil kertas lipat Kertas lipat kemudian dilipat menjadi dua bagian yang sama. Masing-masing bagian bernilai setengah. Setengah ditulis

  2

  1 Salah satu bagian diarsir

  b) Menentukan pecahan yang senilai

  Ambil kertas lipat Dilipat menjadi dua bagian Dilipat menjadi empat bagian

  1

  2

  diarsir bagian diarsir bagian

  4

  2

  c) Membandingkan pecahan Ambil dua kertas lipat Kertas yang pertama lipat Kertas yang kedua lipat menjadi dua bagian menjadi empat bagian dipotong salah satu bagian dipotong salah satu bagian

  1

  1

  2

  4

  1

  1

  pecahan lebih besar dari pecahan

  2

  4 d) Menjumlahkan pecahan 1) Menjumlahkan pecahan berpenyebut sama

  Misalnya:

  • 4

  4

  1

  1 = . . . . Ambil dua kertas lipat

  Kertas pertama lipat Kertas kedua lipat menjadi menjadi empat bagian empat bagian Arsir salah satu lipatan sesuai dengan perintah soal

  Dalam peragaan berikut, tentukan hasil penjumlahan diatas dengan cara: Dipotong dan ditempelkan pada kertas yang satunya

  • 4

  4

  1

  4

  1

  1 =

  2

  4 Dalam penulisan penyebut, karena dua penyebut sama, maka ditulis menjadi satu penyebut. Bilangan penyebut harus sama dan tidak boleh dijumlahkan. 2) Menjumlahkan pecahan berpenyebut tidak sama

  1

  1 + Misalnya: = . . . .

  2

  4 Ambil dua kertas lipat

  Kertas lipat pertama kertas lipat kedua dilipat menjadi 2 bagian dilipat menjadi 4 bagian satu bagian dipotong lalu digabungkan

  1

  1

  3

  2

  4

  4

  1

  1

  2

  1

  3

  • Jadi hasil dari, + = =

  2

  4

  4

  4

  4 4. Model Pembelajaran Langsung a.

  Pengertian Model Pembelajaran Langsung Menurut Uno dan Mohammad (Arends, 2011: 117) menyatakan bahwa pembelajaran langsung adalah pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap. Menurut Trianto (2012: 41) model pembelajaran langsung berguna untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Menurut Majid (2013: 73) menyatakan bahwa:

  “pembelajaran langsung tersebut berpusat pada guru, dan harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa”. Dalam hal ini, guru menyampaikan isi/materi akademik dalam format yang terstruktur, mengarahkan kegiatan para siswa, dan menguji keterampilan siswa melalui latihan-latihan di bawah bimbingan dan arahan guru. Jadi lingkungannya harus diciptakan yang berorientasi pada tugas-tugas yang diberikan pada siswa.

  Berdasarkan pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran dimana guru mentransformasikan informasi dan keterampilan secara langsung kepada siswa. Materi yang diajarkan dalam pembelajaran langsung dilakukan secara bertahap selangkah demi selangkah.

  b.

  Ciri-Ciri Model Pembelajaran Langsung Menurut Majid (2013: 73) model pembelajaran langsung mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1) Adanya tujuan pembelajaran

  Pembelajaran langsung ini menekankan tujuan pembelajaran yang harus berorientasi kepada siswa dan spesifik, mengandung uraian yang jelas tentang situasi penilaian (kondisi evaluasi), dan mengandung tingkat ketercapaian kinerja yang diharapkan (kriteria keberhasilan).

  2) Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran

  Pada model pembelajaran langsung terdapat 5 fase yang sangat penting. Pembelajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktek, dan kerja kelompok. Pembelajaran langsung untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada siswa.

Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Langsung

  Fase Peran Guru Fase 1 Guru menjelaskan TPK, informasi latar

  Menyampaikan tujuan belakang pelajaran, pentingnya dan mempersiapkan pelajaran, mempersiapkan siswa untuk siswa. belajar. Fase 2 Guru mendemonstrasikan keterampilan

  Mendemostrasikan dengan benar, atau menyajikan pengetahuan dan informasi tahap demi tahap. keterampilan.

  Fase 3 Guru merencanakan dan memberi Membimbing pelatihan bimbingan pelatihan awal. Fase 4 Mengecek apakah siswa telah berhasil

  Mengecek pemahaman melakukan tugas dengan baik, memberi dan memberikan umpan umpan balik. balik. Fase 5 Guru mempersiapkan kesempatan

  Memberikan melakukan pelatihan lanjutan, dengan kesempatan untuk perhatian khusus pada penerapan pelatihan lanjutan dan kepada situasi lebih kompleks dan penerapan. kehidupan sehari-hari.

  3) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendukung berlangsung dan berhasilnya pembelajaran

  Keberhasilan metode pembelajaran langsung memerlukan lingkungan yang baik untuk presentasi dan demonstrasi, yakni ruangan yang tenang dengan penerangan cukup, termasuk alat atau media yang sesuai. Metode pembelajaran langsung juga bergantung pada motivasi siswa yang memadai untuk mengamati kegiatan yang dilakukan guru, dan mendengarkan segala sesuatu yang dikatakannya.

  c.

  Tahapan Model Pembelajaran Langsung Menurut Majid (2013: 76) tahapan model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut:

  1) Guru menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa

  Tujuan langkah awal ini untuk menarik dan memusatkan perhatian siswa, serta memotivasi mereka untuk berperan serta dalam pembelajaran. Penyampaian tujuan kepada siswa dapat dilakukan guru melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara menuliskannya di papan tulis, atau menempelkan informasi tertulis pada papan bulletin, yang berisi tahapan- tahapan dan isinya, serta alokasi waktu yang disediakan untuk setiap tahap. Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajari.

  2) Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan

  Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar atau menyampaikan informasi tahap demi tahap. Kunci keberhasilan dalam tahap ini adalah mempresentasikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif. Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran, baik berupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa:

  • Penyajian materi dalam langkah-langkah kecil, sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek.
  • Pemberian contoh-contoh konsep.
  • Pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas.
  • Menjelaskan ulang hal-hal yang sulit. 3)

  Membimbing pelatihan Bimbingan dilakukan dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep. Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk menilai kemampuan siswa dalam melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan. Agar dapat mendemonstrasikan sesuatu dengan benar, diperlukan latihan yang intensif dan memerhatikan aspek-aspek penting dari keterampilan atau konsep yang didemonstrasikan.

  4) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

  Guru memeriksa atau mengecek kemampuan siswa seperti memberi kuis terkini, dan memberi umpan balik seperti membuka diskusi untuk siswa. Guru memberikan review terhadap hal-hal yang telah dilakukan siswa, memberikan umpan balik terhadap respons siswa yang benar, dan mengulang keterampilan jika diperlukan.

  5) Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan dan penerpaan konsep

  Guru dapat memberikan tugas-tugas mandiri kepada siswa untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah mereka pelajari. Guru juga mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus terhadap penerapan pada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari- hari.

  d.

  Kelebihan Pembelajaran Langsung Menurut Majid (2013: 74) kelebihan pembelajaran langsung yaitu sebagai berikut:

  1) Guru dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa, sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.

  2) Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil.

  3) Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah.

  4) Menekankan kegiatan mendengarkan (melalui ceramah) sehingga membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini. Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi, serta untuk menyampaikan pengetahuan yang tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.

  5) Model pembelajaran langsung (terutama kegiatan demonstrasi) dapat memberikan tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan antara teori (hal yang seharusnya) dan observasi (kenyataan yang terjadi).

  6) Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara efektif. e.

  Kekurangan Pembelajaran Langsung Menurut Majid (2013: 75) kekurangan pembelajaran langsung diantaranya sebagai berikut:

  1) Sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.

  2) Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka.

  3) Karena guru memainkan peran pusat, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak tampak siap, tidak berpengetahuan, tidak percaya diri, antusias, dan tidak terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran mereka akan terhambat.

  4) Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan pembelajaran yang buruk pula, dan model pembelajaran langsung membatasi kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku komunikasi positif.

  5) Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit, dan hanya akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.

5. Permainan Edukatif a.

  Pengertian Permainan Edukatif Permainan edukatif yaitu suatu kegiatan yang sangat menyenangkan dan dapat merupakan cara atau alat pendidikan yang bersifat mendidik. Permainan edukatif bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, berpikir, serta bergaul dengan lingkungan (Ismail, 2007: 119).

  b.

  Fungsi Permainan Edukatif Menurut Ismail (2007: 150) permainan edukatif itu dapat berfungsi sebagai berikut:

  1) Memberikan Ilmu Pengetahuan kepada anak melalui proses pembelajaran bermain sambil belajar.

  2) Merangsang pengembangan daya pikir, daya cipta, dan bahasa, agar dapat menumbuhkan sikap, mental, serta akhlak yang baik.

  3) Menciptakan lingkungan bermain yang menarik, memberikan rasa aman, dan menyenangkan.

4) Meningkatkan kualitas pembelajaran anak-anak.

  c.

  Pentingnya Permainan Edukatif Menurut Ismail (2007: 152) permainan edukatif itu penting bagi anak, disebabkan:

  1) Permainan edukatif dapat meningkatkan pemahaman terhadap totalitas kediriannya. Artinya, dengan bermain sesungguhnya anak sedang mengembangkan kepribadiannya.

  2) Permainan edukatif dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

  3) Permainan edukatif dapat meningkatkan kemampuan menciptakan hal-hal baru.

  4) Permainan edukatif dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak.

  5) Permainan edukatif dapat mempertajam perasaan anak. 6) Permainan edukatif dapat memperkuat rasa percaya diri anak. 7) Permainan edukatif dapat merangsang imajinasi anak. 8) Permainan edukatif dapat melatih kemampuan berbahasa anak. 9)

  Permainan edukatif dapat melatih motorik halus dan motorik kasar anak.

  10) Permainan edukatif dapat membentuk moralitas anak. 11) Permainan edukatif dapat melatih keterampilan anak. 12) Permainan edukatif dapat mengembangkan sosialisasi anak. 13) Permainan edukatif dapat membentuk spiritualitas anak.

  6. Permainan Teka-Teki Silang a.

  Pengertian Teka-Teki Silang Menurut Zaini, Munthe dan Aryani (2008: 71) teka-teki silang diartikan sebagai suatu pembelajaran yang baik dan menyenangkan tanpa kehilangan esensi belajar yang sedang berlangsung serta dapat melibatkan partisipasi peserta didik secara aktif sejak awal. Haryanto (2013: 128) menyatakan bahwa pembelajaran teka-teki silang bertujuan untuk mengasah otak dalam berpikir peserta didik dalam mempelajari kosakata pada suatu mata pelajaran. Pembelajaran teka-teki silang sangat menarik karena dapat mengembangkan instuisi peserta didik berupaya untuk memahami lebih banyak kosakata karena adanya unsur tantangan yang menimbulkan rasa penasaran.

  b.

  Langkah-Langkah Permainan Teka-Teki Silang Langkah-langkah dalam permainan teka-teki silang yaitu sebagai berikut:

1) Siswa dibagi kedalam kelompok yang terdiri dari 4 anak.

  2) Guru mempersiapkan lembar kegiatan teka-teki silang yang harus dikerjakan oleh siswa.

  3) Guru membagi lembar kegiatan teka-teki silang tersebut kepada setiap kelompok.

  4) Guru menjelaskan aturan permainannya yaitu siswa diminta untuk mengarsir kotak yang memuat pernyataan bernilai benar.

  5) Jika siswa berhasil mengarsir semua kotak yang memuat pernyataan benar, arsiran tersebut membentuk huruf tertentu yang kalau dibaca lengkap akan menjadi suatu kata dalam bahasa inggris.

  6) Siswa bersama teman kelompok menulis kata bahasa inggris yang sudah terbentuk kemudian mencari artinya.

  7) Perwakilan dari kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan mereka di depan kelas.

  8) Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang berhasil memecahkan teka-teki silang tersebut dan membentuk suatu kata dalam bahasa inggris dan dapat mengartikan kata tersebut.

  c.

  Langkah-Langkah Pembelajaran Langsung dengan Permainan Teka-Teki Silang

  Berdasarkan pendapat di atas maka pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang yang akan dilaksanakan yaitu guru mempersiapkan siswa untuk belajar. Guru menjelaskan materi yang akan diajarkan, yaitu materi pecahan dengan alat peraga kertas lipat. Pada materi pecahan guru akan membina keterampilan siswa dengan permainan teka-teki silang. Guru menjelaskan langkah-langkah permainan teka-teki silang kepada peserta didik. Permainan teka-teki silang dilaksanakan pada setiap siklus yang terdiri dari dua pertemuan. Guru mengecek kemampuan siswa dalam permainan teka-teki silang, kemudian guru memberikan umpan balik terhadap siswa yang berhasil memecahkan soal teka- teki silang. Kegiatan terakhir yaitu memberikan soal latihan mandiri kepada peserta didik untuk meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang telah diajarkan berupa soal evaluasi yang dilaksanakan di setiap akhir siklus.

B. Penelitian Relevan

  Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bonnie Keenan tahun 2012 dalam Savap Academic Research International Journal dengan penelitian yang berjudul “The Effects of Using Direct Instruction

  Mathematics Formats to Teach Basic Math Skills to A Third Grade Student with A Learning Disability” menyatakan bahwa:

  “The result indicated that the use of direct instruction substantially increased student performance on basic math skills.

  The result of this study clearly show that direct instruction wa

effective in teaching a third grade student math skills”.

  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bonnie Keenan tahun 2012 dapat disimpulkan bahwa hasil dari penelitian tersebut mengindikasikan bahwa penggunaan model pembelajaran langsung meningkatkan kemampuan siswa pada keahlian matematika dasar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan secara jelas bahwa model pembelajaran langsung efektif untuk mengajarkan kemampuan matematika pada siswa kelas tiga.

  Penelitian yang lain juga dilakukan oleh Hendrik Wenno tahun 2014 dalam International Journal of Evaluation and Research in

  

Education dengan penelitian yang berjudul “Direct Instruction Model to

Increase Physical Science Competence of Students as One Form of Classroom Assesment” menyatakan bahwa:

  “The result showed that the level of students mastery of the

  material is at very good and well with the percentage of the final result of formative student test are 48..0% and 44.0% respectively. It can be concluded that the direct instructional model successfully improve student learning outcomes, especially to the concept of measurement”.

  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendrik Wenno tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa penguasaan siswa terhadap materi adalah sangat baik dengan prosentase hasil akhir dari tes formatif siswa masing- masing adalah 48% dan 44%. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran langsung berhasil meningkatkan hasil belajar siswa terutama ada konsep pengukuran.

  Penelitian tentang teka-teki silang dilakukan oleh Neneng Ratnawati, Wiwiek Eko Bindarti, dan Annur Rofiq tahun 2013 dalam artikel yang berjudul “The effect of Using Crossword Puzzle on

  

Vocabulary Achievement of The Eight Year Students at SMP Negeri 5

Jember” menyatakan bahwa:

  “The research was intended to know the significant effect of using

  crossword puzzle on vocabulary achievement of the eight year students of SMP Negeri 5 Jember. In conclusion, the null hypothesis (H0) was rejected while the alternate hypothesis (H1) was accepted. In conclusion, there was a significant effect of using crossword puzzle on vocabulary achievement of the students at SMP Negeri 5 Jember”.

  Berdasarkan penelitian tentang teka-teki silang yang dilakukan oleh Neneng Ratnawati, Wiwiek Eko Bindarti, dan Annur Rofiq tahun 2013, dapat disimpulkan yaitu penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efek penting dari menggunakan teka-teki silang pada pencapaian penguasaan kosa kata pada kelas VIII. H0 ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan penelitian tersebut, maka ada pengaruh yang signifikan dari penggunaan teka-teki silang pada pencapaian penguasaan kosa-kata pada siswa.

C. Kerangka Berpikir

  Faktor yang terpenting untuk mendukung tercapainya tujuan belajar dan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, model, dan metode pembelajaran. Banyak model pembelajaran yang diterapkan oleh guru akan tetapi masih banyak dijumpai beberapa guru yang masih bingung dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa SD, khususnya pada siswa kelas IVB SD Negeri 2 Pliken.

  Untuk memberikan ketertarikan dan suasana menyenangkan kepada siswa, maka cara yang dapat ditempuh misalnya dengan mengaktifkan mereka dalam kegiatan pembelajaran matematika secara kelompok, adanya alat peraga dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika, guru yang baik harus menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan. Siswa akan lebih termotivasi dalam pembelajaran matematika apabila penyajiannya baik dan menarik. Menggunakan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang sangat membantu siswa dalam memahami materi yang diajarkan oleh guru.

  Dengan hal seperti itu, diharapkan hasil belajar matematika siswa dapat terus meningkat.

  Kerangka berpikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

  KONDISI AWAL Hasil belajar matematika siswa aspek kognitif, afektif dan psikomotor rendah

  Tindakan Dalam pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang

  Siswa melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang

  Hasil belajar matematika siswa meningkat Hasil belajar matematika aspek kognitif siswa meningkat

  Hasil belajar matematika aspek afektif siswa meningkat

  Hasil belajar matematika aspek psikomotor siswa meningkat

D. Hipotesis Tindakan

  Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir penelitian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan penelitian sebagai berikut:

  1. Penerapan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada aspek kognitif siswa kelas IVB SD Negeri 2 Pliken.

  2. Penerapan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada aspek afektif siswa kelas IVB SD Negeri 2 Pliken.

  3. Penerapan model pembelajaran langsung dengan permainan teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar matematika materi pecahan pada aspek psikomotor siswa kelas IVB SD Negeri 2 Pliken.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (36 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAVI PADA MATERI PECAHAN KELAS IV SD NEGERI BANYUBANG LAMONGAN
0
6
21
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW DI KELAS IVB SD NEGERI 2 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2009/2010.
0
8
50
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI DI KELAS IV SD NEGERI 2 KANGKUNG KECAMATAN TELUK BETUNG SELATAN KOTA BANDAR LAMPUNG
0
10
52
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI NILAI MATA UANG RUPIAH MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DI KELAS IV C SD NEGERI 1 SURABAYA KECAMATAN KEDATON BANDAR LAMPUNG
1
7
40
PENERAPAN MODEL PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN BERBANTUAN BLOK PECAHAN SISWA KELAS IV SD 2 PIJI
0
0
24
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION MATERI PECAHAN SISWA KELAS IV SD 2 TUMPANGKRASAK KUDUS
0
0
22
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD 2 BACIN SKRIPSI
0
0
19
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN TEROPONG PECAHAN DI KELAS IV SDN 08 PONTIANAK UTARA
0
0
12
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Pengertian Media Pembelajaran - BAB II KAJIAN PUSTAKA
0
1
23
PENERAPAN MODEL THINK PAIR SHARE UNTUK PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN SISWA KELAS IV SD 4 HADIPOLO TAHUN 20132014 SKRIPSI
0
0
24
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS IV SD 2 JURANG
0
0
24
PENGGUNAAN ALAT PERAGA LANGSUNG PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MATERI PECAHAN SEDERHANA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA RUSMAWATI Guru SD Negeri 031 Tarai Bangun rusmawati6360yahoo.co.id ABSTRAK - PENGGUNAAN ALAT PERAGA LANGSUNG PADA PEMBELAJA
0
0
8
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION BERBANTUAN PERMAINAN JAMURAN MATERI PECAHAN SISWA KELAS V SDN MINTOMULYO
0
0
26
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI FUNGSI MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG DI KELAS VIII SMP NEGERI 3 MEPANGA
0
0
11
PENERAPAN PEMBELAJARAN TGT BERBANTUAN MEDIA MONOPOLI TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PECAHAN KELAS 3 SD - Repository Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
0
0
6
Show more