Penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair obat herbal terstandar merk Kiranti secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository

Gratis

0
0
117
1 year ago
Preview
Full text

PENETAPAN KADAR KURKUMIN DALAM SEDIAAN CAIR OBAT

  ®

HERBAL TERSTANDAR MERK KIRANTI SECARA

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Martinus Supriyadi Krisantoro NIM : 078114065

FAKULTAS FARMASI

PENETAPAN KADAR KURKUMIN DALAM SEDIAAN CAIR OBAT

  ®

HERBAL TERSTANDAR MERK KIRANTI SECARA

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Martinus Supriyadi Krisantoro NIM : 078114065

FAKULTAS FARMASI

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Lebih baik hidup daripada tidak hidup Lebih baik berjuang dan gagal daripada tidak berjuang samasekali

  (Henri J.M. Nouwen)

  Semua usaha dan jerih lelahku ini Kupersembahkan untuk

  Seluruh keluarga, Sahabat,

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang telah saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang- undangan yang berlaku.

  Yogyakarta, 1 Juni 2011 Penulis

  Martinus Supriyadi Krisantoro

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Martinus Supriyadi Krisantoro Nomor Mahasiswa : 07 8114 065

  Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PENETAPAN KADAR KURKUMIN DALAM SEDIAAN CAIR OBAT

  ®

  HERBAL TERSTANDAR MERK KIRANTI SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK. beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya ataupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 11 Juli 2011 Yang menyatakan (Martinus Supriyadi Krisantoro)

  

PRAKATA

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan yang Maha Pengasih karena atas berkat, kasih karunia, dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan

  ®

  Cair Obat Herbal Terstandar Merk Kiranti secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Dalam proses penyusunan skripsi ini banyak bantuan dan dukungan yang penulis terima dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

  1. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Christine Patramurti, M.Si., Apt. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar membimbing dan mendampingi serta memberikan masukan, kritik, solusi dan semangat kepada penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi.

  3. Jefrry Julianus, M.Si. dan Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt selaku Dosen Penguji atas saran dan kritik yang diberikan.

  4. Yohanes Dwiatmaka, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak memberikan semangat dan selalu memberikan motivasi.

  5. Rini Dwi Astuti, M.Sc., Apt. selaku Kepala Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di laboratorium.

  6. Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. yang telah memberikan senyawa kurkumin baku untuk keperluan penelitian yang dilakukan oleh penulis.

  7. Petugas Laboratorium Kimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang selalu membantu penulis selama melakukan penelitian di laboratorium Kimia Analisis Instrumental.

  8. Petugas sekretariat Fakultas Farmasi Farmasi Universitas Sanata Dharma atas bantuanya untuk mengurus segala keperluan administrasi skripsi.

  9. Segenap dosen, karyawan dan laboran Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah banyak memberikan bantuan selama proses penyusunan skripsi.

  10. Katiti Dwi Krisnayanti dan Marsella Widjaja, sebagai teman satu tim penulis dalam melakukan penelitian, atas kebersamaan, kerja sama, dan bantuan yang diberikan. Terima kasih atas smua dukungan dan semangat yang selalu diberikan.

  11. Tim penelitian kurkumin dalam sediaan OHT, atas dukungan, semangat dan kebersamaan selama penelitian di laboratorium serta sharing ilmu yang berguna dalam penelitian ini.

  12. Teman-teman FST 2007 atas segala candaan dan kekonyolannya selama ini yang memberikan motivasi dan hiburan dalam setiap kepenatan.

  13. Patrisia Dian Anggraini yang selalu memberikan dukungan, dorongan dan motivasi kepada penulis.

  14. Yohanes Suryanto, Petrus Sonny Santoso Putro dan semua teman-teman Mudika St. Ignatius de Loyola yang telah memberikan warna dalam hidup penulis.

  15. Semua orang yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dan tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan.

  Penulis menyadari tentunya masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang berguna penulis dalam perkembangan selanjutnya. Akhir kata, semoga Tuhan selalu memberikan berkat bagi kita semua yang menyembahnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Amrih Mulya Dalem Gusti .

  Yogyakarta, 1 Juni 2011 Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ...………………………………………………….. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………... ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………….... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………… v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH …………….. vi PRAKATA ……………………………………………………………..... vii DAFTAR ISI …………………………………………………………….. x DAFTAR TABEL ……………………………………………………….. xiv DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………. xv DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………….. xvii

  INTISARI ……………………………………………………………….. xviii

  

ABSTRACT ……………………………………………………………… xix

BAB I. PENDAHULUAN ……………………………………………...

  1 A. Latar Belakang ………………………………………………

  1 1. Permasalahan …………………………………………….

  4 2. Keaslian penelitian ……………………………………….

  5 3. Manfaat penelitian ……………………………………….

  6 B. Tujuan Penelitian …………………………………………….

  6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA …………………………………...

  7

  B. Sediaan Cair Obat Dalam …………………………………...

  10 C. Obat Herbal Terstandar …………………………………......

  10 D. Cara Pembuatan Obat Taradisional yang Baik (CPOTB)…...

  11 1. Personalia ………………………………………………..

  12 2. Bangunan ………………………………………………...

  12

  3. Peralatan …………………………………………………

  13 4. Sanitasi dan higiene ……………………………………..

  13 5. Penyiapan bahan baku …………………………………...

  13 6. Pengolahan dan pengemasan …………………………….

  13 7. Pengawasan mutu ………………………………………..

  14 8. Inspeksi diri ……………………………………………...

  14 9. Dokumentasi ……………………………………………..

  15 10. Keluhan, laporan dan penarikan kembali produk ……..

  15

  ® E. Kiranti ……………………………………………………...

  16 F. Spektrofotometri …………………………………………….

  17 G. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ……………………….....

  19 1. Definisi dan instrumentasi ……………………………….

  19 2. Kromatografi partisi ……………………………………..

  22

  3. Waktu retensi dan pemisahan puncak dalam kromatografi

  23 4. Analisis kualitatif dan kuantitatif ………………………..

  25 H. Landasan Teori ……………………………………………..

  26 I. Hipotesis ……………………………………………………

  37

  A. Jenis dan Rancangan Penelitian ……………………………

  28 B. Variabel Penelitian …………………………………………

  28 1. Variabel bebas …………………………………………..

  28 2. Variabel tergantung …………………………………….

  28

  3. Variabel pengacau terkendali ……………………………

  28 C. Definisi Operasional ……………………………………….

  28 D. Bahan-bahan Penelitian ……………………………………

  29 E. Alat-alat Penelitian …………………………………………

  29 F. Tata Cara Penelitian ………………………………………..

  30

  1. Pembuatan fase gerak KCKT ……………………………

  30 2. Pembuatan pelarut metanol pH 4 ………………………..

  30

  3. Pembuatan larutan baku kurkumin ………………………

  30

  4. Penentuan panjang gelombang maksimum

  31 (λ) kurkumin..

  5. Pembuatan kurva baku kurkumin ……………………….

  31 6. Pemilihan sampel ………………………………..............

  32 7. Optimasi waktu ekstraksi kurkumin dari sediaan ……….

  32

  8. Preparasi sampel …………………………………………

  32 9. Penetapan kadar kurkumin dalam sampel ……………….

  33 G. Analisis Hasil ……………………………………………….

  33 1. Uji parametrik Shapiro-Wilk …………………………….

  33

  2. Independent sample One Way Anova dengan taraf

  34 kepercayaan 95%

  A. Pemilihan sampel …………………………………………...

  35 B. Pembuatan Fase Gerak ……………………………………...

  37 C. Pembuatan Pelarut …………………………………………..

  38 D. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ………………..

  38 E. Analisis Kulitatif Berdasarkan Waktu Retensi (t ) Kurkumin

  40 R F. Pembuatan Kurva Baku ……………………………………..

  44

  ®

  G. Optimasi Waktu Ekstraksi Kurkumin dalam Sedian Kiranti

  46

  ®

  H. Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan Kiranti ………

  49 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………...

  55 A. Kesimpulan ………………………………………………….

  55 B. Saran ………………………………………………………...

  55 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………

  56 LAMPIRAN ……………………………………………………………...

  61 BIOGRAFI PENULIS …………………………………………………...

  97

  

DAFTAR TABEL

  Tabel I. Keseragaman Volume Kiranti

  ®

  ……………………………

  36 Tabel II. Penentuan Kurva Baku Kurkumin …………………………

  44 Tabel III. Penentuan Kurva Baku Kurkumin Modifikasi …………….

  45 Tabel IV. Respon AUC pada masing-masing waktu ekstraksi ……….

  48 Tabel V. Kadar Kurkumin dalam sampel Kiranti

  ®

  pada setiap nomor batch ……………………………………………………….

  50 Tabel VI. Nilai normalitas data dari batch 1, 2 dan 3 ………………..

  52 Tabel VII. Uji Homogenitas Data ……………………………………..

  52 Tabel VIII. Uji Anova ………………………………………………….

  53 Tabel IX. Uji Post Hoc ……………………………………………….

  53

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Struktur kurkuminoid ……………………………………..

  39 Gambar 12. Spektra panjang gelombang maksimum kurkumin ………..

  43 Gambar 17. Kurva baku kurkumin ……………………………………...

  …………………

  18

  43 Gambar 16. Interaksi kurkumin dengan fase diam C

  42 Gambar 15. Interaksi kurkumin dengan fase gerak metanol : asam asetat glasial 2% (90 : 10) ………………………………...

  41 Gambar 14. Gugus polar dan gugus nonpolar pada struktur kurkumin…

  …………………………

  ®

  40 Gambar 13. Kromatogram kurkumin baku (A) dan Kromatogram kuekumin dalam sampel Kiranti

  ≤ 2) ………….. 38 Gambar 11. Gugus kromofor dan auksokrom pada struktur kurkumin ...

  7 Gambar 2. Keto-enol tautomeri ……………………………………….

  18 oleh HCL (pH

  24 Gambar 10. Reaksi degradasi kolom C

  23 Gambar 9. Kromatogram hasil pemisahan dua senyawa secara KCKT..

  20 Gambar 8. Reaksi silanisasi ……………………………………………

  18 Gambar 7. Skema instrumentasi KCKT ……………………………….

  16 Gambar 6. Diagram tingkat energy elektronik ………………………...

  10 Gambar 5. Kiranti Sehat Datang Bulan ………………………………..

  8 Gambar 4. Logo Obat Herbal Terstandar (OHT) ……………………...

  8 Gambar 3. Reaksi degradasi kurkumin dalam suasana basa ………….

  46 Gambar 18. Kromatogram waktu ekstraksi 5 menit (A), 10 menit (B),

  Gambar 19. Kurva optimasi waktu ekstraksi kurkumin dalam sampel

  ®

  Kiranti ……………………………………………………

  49 Gambar 20. Kromatogram baku kurkumi, sampel, dan sampel adisi …..

  52

DAFTAR LAMPIRAN

  ® ……………………………………...

  95 Lampiran 14. Contoh Perhitungan %CV Kadar Kurkumin dalam tiga

  ® …………………………………………….

  94 Lampiran 13. Contoh perhitungan kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT Kiranti

  …

  ®

  86 Lampiran 12. Data kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT Kiranti

  84 Lampiran 11. Kromatogram hasil penetapan kadar …………………….

  Lampiran 1. Pernyataan jaminan keaslian bahan kurkumin standar hasil sintesis ……………………………………………...

  62 Lampiran 2. Spektra panjang gelombang maksimum kurkumin ………

  82 Lampiran 9. Contoh perhitungan resolusi pemisahan kurkumin dalam sampel ……………………………………………………

  80 Lampiran 8. Nilai AUC hasil Optimasi waktu ekstraksi dan kurva baku hubungan antara waktu ekstraksi dengan nilai AUC.

  79 Lampiran 7. Kromatogram optimasi waktu ekstraksi ………………….

  78 Lampiran 6. Persamaan dan gambar kurva baku kurkumin …………...

  67 Lampiran 5. Perolehan AUC seri baku kurkumin ……………………..

  65 Lampiran 4. Kromatogram baku kurkumin ……………………………

  63 Lampiran 3. Hasil uji stabilitas kurkumin pada pH 3-5 ………………… 64 Lampiran 3. Kromatogram pelarut metanol pH 4 (blanko) ...............

  83 Lampiran 10. Perhitungan kadar kurkumin teoritis dalam setiap botol OHT merk Kiranti

PENETAPAN KADAR KURKUMIN DALAM SEDIAAN CAIR OBAT

  ®

HERBAL TERSTANDAR MERK KIRANTI SECARA

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI FASE TERBALIK

  

INTISARI

®

  Kiranti merupakan salah satu jenis sediaan cair obat herbal terstandar (OHT) yang diproduksi oleh PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group). Kunyit

  ®

  merupakan komponen utama yang terdapat dalam Kiranti . Senyawa aktif yang menyusun sebagian besar kunyit adalah kurkumin. Kurkumin dapat ditetapkan kadarnya menggunakan metode Kromatografi Kinerja Tinggi (KCKT) fase terbalik.

  Penelitian ini bersifat noneksperimental deskriptif karena tidak terdapat manipulasi dan perlakuan terhadap subjek uji. Kurkumin dianalisis secara kuantitatif dengan sistem KCKT fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C18) dan detektor Ultraviolet-Visible (UV-VIS) pada panjang gelombang 432 nm serta menggunakan fase gerak campuran metanol dan asam asetat glasial 2% (90:10 v/v). Metode yang digunakan dalam penelitian ini telah dioptimasi dan divalidasi.

  Penetapan kadar kurkumin yang ada di dalam sediaan cair OHT merk

  ®

  Kiranti dilakukan untuk melihat kesesuaian kadar kurkumin terukur dengan kadar kurkumin yang tertulis pada label dan kesamaan kadar kurkumin dalam tiga

  ® ® batch sediaan Kiranti . Kadar rata-rata kurkumin dalam tiga batch Kiranti

  berturut-turut sebagai berikut batch 1 sebesar 14,0364±0.2033 mg/ml; batch 2 sebesar 36,1886±0,6878 mg/ml; dan batch 3 sebesar 17,0578±0,2546 mg/ml. Kadar tersebut lebih tinggi daripada kadar teoritis kurkumin dalam sampel

  ® ® Kiranti . Kadar kurkumin dalam ketiga batch Kiranti tersebut tidak sama.

  ® Kata Kunci: Kiranti , kurkumin, KCKT, kadar kurkumin.

  

QUANTIFICATION OF CURCUMIN IN LIQUID DOSAGE FORM OF

SCIENTIFIC BASED HERBAL MEDICINE KIRANTI® USING HIGH

PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRPHY REVERSE PHASE

ABSTRACT

  ®

  Kiranti is the one of scientific based herbal medicine liquid dosage form which produced by PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group). Turmeric is the

  ® main component in Kiranti . The main active compound in turmeric is curcumin.

  Curcumin can be quantified by reverse phase of High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) method.

  This experiment was descriptive non-experimental because there were no manipulation and treatment to the test subject. Curcumin was determined quantitatively by reverse phase of High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) method. The experiment was using octadecylsilane (C18) column and ultraviolet- visible (UV-Vis) Detector. The maximum wavelength was 432 nm. Methanol and Glacial acetic acid (2%) mixture (90:10 v/v) were used as mobile phase in HPLC. The method that used in this experiment, was optimized and validated.

  The determination of curcumin in Kiranti was done for inspecting the compatibility of determined curcumin concentration with curcumin concentration which written in the label. Besides that, the similarity of curcumin concentration in three batches Kiranti was inspected too. The average of curcumin concentration in first batch was 14,0364±0.2033 mg/ml; in second batch was 36,1886±0,6878 mg/ml; and the third batch was 17,0578±0,2546 mg/ml. The concentration was higher than curcumin concentration theoretically in Kiranti. The curcumin concentration in three batches Kiranti was not similar.

  ® Keywords: Kiranti , curcumin, HPLC, curcumin concentration.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tren pengobatan yang berkembang di masyarakat saat ini adalah

  pengobatan dengan obat-obat tradisional memanfaatkan sumber daya alam yang ada (back to nature). Masyarakat umum beranggapan bahwa pengobatan menggunakan Obat Tradisional (OT) lebih aman daripada pengobatan dengan menggunakan obat-obat modern karena OT efek sampingnya relatif lebih kecil.

  Dari segi efek samping dapat dikatakan bahwa OT memiliki efek samping relatif kecil dibandingkan obat modern, tetapi perlu dipertimbangkan bahwa belum ada penjaminan mutu yang dilakukan bila ditinjau dari kepastian bahan aktif dan konsistensinya (Katno dan Pramono, 2004).

  Obat Tradisional terdiri atas tiga macam jenis, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka. OHT adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik dan

  b bahan bakunya telah di standarisasi (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  Dari pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa yang menjadi syarat utama OHT hanya terbatas pada keamanan, klaim khasiat yang dibuktikan secara ilmiah melalui uji praklinik dan standarisasi bahan baku. Dari beberapa penelitian untuk bentuk sediaan dengan obat herbal sebagai bahan baku yang berkembang saat ini juga hanya difokuskan pada isolasi, identifikasi, dan studi farmakologi zat aktif, stabil setelah distribusi sangat jarang ditemukan (Musfiroh, Indriyanti, Susilawati, dan Percekawati, 2009). Penjaminan reprodusibilitas kadar ini perlu dilakukan terutama jika penggunaan obat tradisional ini akan diarahkan pada pelayanan kesehatan formal.

  Simplisia yang banyak digunakan dalam OT yang beredar di Indonesia adalah kunyit (Curcumae domesticae). Kunyit memiliki senyawa yang bertanggung jawab terhadap respons biologis berupa zat warna, yaitu kurkuminoid. Kurkuminoid di antaranya merupakan campuran kurkumin, demetoksikurkumin, dan bis-demetoksikurkumin (Batubara, Rafi, dan Darusman, 2005). Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen terbesar sehingga sering kadar total kurkuminoid dihitung sebagai % kurkumin (Sumiati, 2003). Kurkumin memiliki sifat fotosensitif, terutama jika berada dalam bentuk larutan, sehingga stabilitasnya sangat dipengaruhi oleh adanya cahaya. Selain itu, stabilitas kurkumin juga sangat dipengaruhi oleh pH lingkungan. Kurkumin stabil pada pH asam dan mudah terurai pada pH di atas netral.

  Salah satu produk OT yang menggunakan kunyit sebagai komponen

  ® ®

  utama untuk menimbulkan efek yang diinginkan adalah Kiranti . Kiranti merupakan salah satu jenis sediaan cair obat herbal terstandar (OHT) yang diproduksi oleh PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group). Dalam satu botol

  ®

  Kiranti kemasan 150 ml mengandung Curcumae domesticae Rhizoma (30g),

  

Tamarindi Pulpa (6g), Kaempferiae Rhizoma (3g), Arengae pinnata Fructose

  ®

  (0,1g), Air (sampai dengan 150ml). Kiranti memiliki klaim khasiat untuk memperlancar haid serta mengatasi keluhan haid seperti nyeri, letih, lesu, keputihan serta bau badan, membuat tubuh terasa bersih, sehat dan segar (Anonim, 2011).

  ®

  Kiranti merupakan produk yang sangat diminati masyarakat terutama kaum wanita untuk mengatasi keluhan-keluhan yang timbul ketika haid. Sebagai produk yang sangat diminati masyarakat maka menuntut produksi dalam skala

  ®

  yang besar dari Kiranti . Hal ini menuntut pula dilakukannya pengendalian mutu sediaan yang mana akan memberikan jaminan bahwa sediaan akan memberikan efek yang sama pada setiap kemasan.

  ®

  Penjaminan mutu terhadap produk Kiranti juga perlu dilakukan terkait dengan stabilitas bahan aktif kurkumin yang menjadi komponen utama dalam

  ®

  sediaan Kiranti . Penjaminan mutu ini dapat dilakukan dengan menetapkan kadar

  ®

  kurkumin yang terkandung dalam sediaan Kiranti . Penetapan kadar kurkumin dapat digunakan untuk mengetahui stabilitas kurkumin selama proses produksi,

  ®

  dan penyimpanan Kiranti . Kadar yang sama dalam setiap kemasan menggambarkan bahwa stabilitas kurkumin tetap terjaga sehingga setiap kemasan sediaan tersebut akan memberikan efek yang sama pula.

  Analisis kuantitatif kurkumin membutuhkan suatu metode analisis yang cepat dan tepat. Metode analisis kuantitatif yang saat ini banyak digunakan adalah analisis dengan metode spektroskopi, metode Kromatografi Lapis Tipis- Desitometri (KLT-Densitometri) dan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi memungkinkan untuk melakukan analisis kuantitatif menggunakan sistem fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C18), fase gerak asetonitril:asam asetat 2% (45:55) dan detektor Ultraviolet-Visible (UV-VIS) (Musfiroh dkk., 2009). Pada penelitian ini, sistem KCKT yang digunakan adalah sistem KCKT fase terbalik, dengan kolom oktadesilsilan (C18) dan fase gerak campuran metanol p.a dan asam asetat glasial p.a 2%.

  Penelitian ini merupakan tahap akhir dari rangkaian penelitian “Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan Cair Obat Herbal Terstandar (OHT)

  ®

  Merk Kiranti secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Fase Terbalik” yang meliputi tahap optimasi, validasi dan aplikasi. Dari hasil optimasi didapatkan sistem KCKT yang optimum menggunakan fase gerak campuran metanol p.a. dan asam asetat glasial p.a. 2% (90:10 v/v, pH 4), fase diam oktadesilsilan (C18) dengan kecepatan alir 0,5 ml/menit (Krisnayanti, 2011). Sistem ini juga memenuhi syarat parameter validitas yang baik, meliputi selektivitas (Rs = 1,4383, linearitas (r = 0,9992), akurasi dan presisi (pada konsentrasi 3,030 ppm) (Widjaja, 2011).

1. Permasalahan

  Permasalahan yang dapat dirumuskan berdasarkan latar belakang tersebut antara lain:

  ®

  a. apakah kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT merk Kiranti yang ditetapkan dengan metode KCKT fase terbalik sesuai dengan kadar yang b. apakah ada perbedaan kadar kurkumin dalam tiga nomor batch sediaan cair

  ®

  OHT merk Kiranti yang diteliti?

2. Keaslian penelitian

  Sejauh pengetahuan penulis dari penulusuran pustaka dan jurnal, belum pernah dilakukan penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair sirup OHT Merk

  ®

  Kiranti menggunakan metode KCKT fase terbalik dengan fase diam kolom C

  18

  dan fase gerak campuran asam asetat glasial p.a 2% dan metanol p.a untuk melihat reprodusibilitas kadar sediaan. Beberapa penelitian analisis kurkumin yang telah dilakukan menggunakan metode kromatografi antara lain: KLT dengan detektor visibel (Dwivedi, Raman, Seth, dan Sarin, 1992; Tonnesen dan Karlsen, 1986; Martono, 1996), kromatografi elektrokinetik mikroemulsi (Nhujak, Saisuwan, Srisaart, dan Petsom, 2006), KCKT dengan kolom Nucleosil NH

  2

  detektor UV-Vis dan fluorometri (Tonnesen dan Karlsen, 1983), KCKT dengan

  a

  kolom RP dan Nucleosil NH detektor UV-Vis (Tonnesen dan Karlsen, 1985 ),

  18

  2 KCKT dengan kolom RP 18 dan Nucleosil NH 2 detektor UV-Vis dan fluoresensi

  (Tonnesen, 1986), KCKT dengan kolom C

  18 detektor fluoresensi (Tonnesen dan

  Karlsen, 1986), KCKT dengan kolom Nucleosil NH

  2 detektor UV (Khurana dan

  Ho, 1988), KCKT dengan kolom C

  18 detektor visibel (Jayaprakasha, Rao, dan

  Sakariah, 2002), KCKT dengan kolom ODS menggunakan detektor UV (Smith dan Witowska, 1984), KCKT menggunakan kolom HiQ-Sil C

  18

  (Rungphanichkul, 2004), KCKT menggunakan kolom C

  18 detektor UV (Heath, detektor visibel (Jadhav dkk., 2007), KCKT dengan kolom amino-bonded detektor visibel (Sumule, 2007), kromatografi high-speed countercurrent (Inoue, Nomura, Ito, Nagatsu, Hino, dan Oka, 2008), Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi (KLTKT) dengan detektor visibel (Paramasivam, Aktar, Poi, Banerjee, dan Bandyopadhyay, 2008).

3. Manfaat penelitian

  a. Manfaat metodologis . Memberikan informasi tentang penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) fase terbalik

  b. Manfaat praktis. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang

  ® keberadaan dan kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT Merk Kiranti .

B. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah: 1. mengetahui kesesuaian kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT merk

  ®

  Kiranti yang ditetapkan dengan metode KCKT fase terbalik dengan kadar yang tertera pada label kemasan.

  2. mengetahui reprodusibilitas kadar kurkumin dalam tiga nomr batch sediaan

  ® cair OHT merk Kiranti .

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kurkumin Kurkumin adalah serbuk kristal oranye-kuning yang praktis tidak larut dalam air dan eter namun larut dalam etanol, dimetilsulfoksida, dan aseton. Rumus molekul kurkumin adalah C

21 H

  

20 O

6 dengan titik didih 183

  C, dan bobot molekul 368,37 g/mol. Kurkumin komersial mengandung sekitar 77% kurkumin, 17% demetoksikurkumin, dan 3% bis-demetoksikurkumin sebagai komponen utama (Shishodia, Chaturvedi, dan Aggarwal, 2007).

  A B C

Gambar 2. Struktur kurkuminoid (Aggarwal, Kumar, Aggarwal dan Shishodia, 2005)

  

Keterangan: A = kurkumin (77%), B = demetoksikurkumin (17%), C = bis-demetoksikurkumin

(3%) serapan maksimum (λmax) 430 nm. Dalam bentuk cairan komponen utama kurkumin akan mengalami keto-enol tautomeri dan lebih dari 95% berada dalam bentuk enol, tergantung dari solven yang digunakan (Stankovic, 2004).

  keto enol

Gambar 2. Keto-enol tautomeri (Stankovic, 2004)

  Komponen warna utama kurkumin relatif stabil pada pH asam, tetapi akan cepat terurai di atas pH netral. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tonnesen dan Karlsen, dalam suasana basa (pH 7 – 10) kurkumin akan terdegradasi menghasilkan produk asam ferulat dan feruloil metan. Feruloil metan ini secara cepat akan membentuk produk kondensasi yang berwarna kuning muda sampai kuning kecoklatan. Selanjutnya feruloil metan akan mengalami hidrolisis menghasilkan produk degradasi berupa vanilin dan aseton (Stankovic, 2004).

  Menurut Sasaki dkk. (cit Stankovic, 2004), kurkumin juga tidak stabil terhadap cahaya, terutama jika kurkumin berada dalam bentuk cairan. Setelah terjadi paparan cahaya, maka akan terbentuk produk siklisasi serta produk dekomposisi seperti asam vanilat, vanilin, dan asam ferulat.

  Kurkumin dalam kunyit banyak digunakan sebagai pewarna makanan. Selain itu, dalam bidang kesehatan secara tradisional sering digunakan sebagai anti inflamasi, untuk mengobati perut kembung, penyakit kuning, melancarkan haid, hematuria, perdarahan, dan kolik. Saat ini penelitian tentang kurkumin banyak difokuskan untuk mengetahui daya antioksidan, hepatoprotektif, anti inflamasi, anti kanker, dan antimikroba dari kurkumin serta daya untuk mengobati penyakit kardiovaskular dan gangguan gastrointestinal (Thorne Research, 2002)

  Kurkumin dapat diisolasi dari tanaman famili Zingiberaceae terutama pada tanaman Curcuma longa, Curcuma mangga, Curcuma zedoaria, Costus

  

speciosus, Curcuma xanthorrhiza, Curcuma aromatica, Cucruma phaeocaulis,

Etlingera elatior dan Zingiber cassumunar. Kurkumin merupakan senyawa

  fitokimia yang memberikan warna kuning untuk kunyit dan saat ini dipercaya sebagai senyawa yang bertanggung jawab untuk sebagian besar efek terapi dari kunyit. Diperkirakan bahwa 2-5% dari kunyit merupakan kurkumin. Kurkumin diisolasi pertama kali dari kunyit pada tahun 1815, dan struktur kurkumin digambarkan pertama kali pada tahun 1910 sebagai diferuloilmetan (Aggarwal dkk., 2006)

  B.

  

Sediaan Cair Obat Dalam

  Cairan obat dalam obat tradisional adalah sediaan obat tradisional berupa larutan emulsi atau suspensi dalam air, bahan bakunya berasal dari serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk cairan obat dalam obat tradisional antara lain dalam hal keseragaman volum, angka lempeng total tidak lebih dari 10, angka kapang khamir tidak lebih dari 10, mikroba patogen negatif, aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj, bahan tambahan, wadah dan penyimpanan, penandaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 1994) C.

  

Obat Herbal Terstandar

  Menurut keputusan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia, berdasarkan cara pembuatan serta jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat, Obat Bahan Alam Indonesia dikelompokkan menjadi Jamu, Obat Herbal Terstandar, Fitofarmaka (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2004).

  

Gambar 4. Logo obat herbal terstandar (OHT) (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2004).

  Obat herbal terstandar (OHT) adalah sediaan obat bahan alam yang telah b bahan bakunya telah distandarisasi (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, No: HK. 00.05.4.2411, OHT harus memenuhi beberapa criteria, yakni aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim kasiat dibuktikan secara ilmiah/uji pra klinik, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Jenis klaim penggunaan sesuai dengan tingkat pembuktian yaitu tingkat pembuktian umum dan medium (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2004).

  Untuk dapat memiliki izin edar obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka harus memenuhi kriteria sebagai berikut: menggunakan bahan berkhasiat dan bahan tambahan yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan/khasiat; dibuat sesuai dengan ketentuan tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik atau Cara Pembuatan Obat yang Baik yang berlaku; penandaan berisi informasi yang lengkap dan obyektif yang dapat menjamin penggunaan obat tradisional, obat herbal terstandar dan fitofarmaka secara tepat, rasional dan aman sesuai dengan hasil evaluasi dalam rangka

  b pendaftaran (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

D. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB)

  Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut proses pembuatan obat tradisional. CPOTB bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan tergantung dari bahan awal, proses produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang menangani (Badan Pengawas Obat dan Makanan,

  a

  2005 ).

  1. Personalia

  Personalia hendaklah mempunyai pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya, dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Mereka hendaklah dalam keadaan sehat dan mampu menangani tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam struktur organisasi perusahaan, bagian produksi dan pengawasan mutu hendaklah dipimpin oleh orang yang berbeda dan tidak ada keterkaitan tanggungjawab satu sama lain.

  Hendaklah dijabarkan kewenangan dan tanggungjawab personil-personil lain yang ditunjuk untuk menjalankan Pedoman CPOTB dengan baik. Semua personil yang langsung terlibat dalam kegiatan pembuatan hendaklah dilatih dalam pelaksanaan pembuatan sesuai dengan prinsip-prinsip Cara Pembuatan yang Baik.

  Pelatihan CPOTB hendaklah dilakukan secara berkelanjutan dan dievaluasi secara

  a

  periodik (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  2. Bangunan

  Bangunan industri obat tradisional hendaklah menjamin aktifitas industri dapat berlangsung dengan aman, berada di lokasi yang bebas dari pencemaran dan tidak mencemari lingkungan serta memenuhi persyaratan higienis dan sanitasi

  a (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  3. Peralatan

  Peralatan yang digunakan dalam pembuatan produk hendaknya memiliki rancang bangun konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat, sehingga mutu yang dirancang bagi tiap produk terjamin secara seragam dari batch ke batch, serta untuk memudahkan pembersihan dan

  a

  perawatannya (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  4. Sanitasi dan higiene

  Dalam pembuatan produk hendaknya diterapkan tindakan sanitasi dan higiene pada setiap bangunan, peralatan dan perlengkapan, personalia, bahan dan wadah serta faktor lain sebagai sumber pencemaran produk (Badan Pengawas

  a

  Obat dan Makanan, 2005 ).

  5. Penyiapan bahan baku

  Setiap bahan baku yang digunakan untuk pembuatan hendaklah memenuhi persyaratan yang berlaku mulai dari data penerimaan bahan baku simplisia, pelabelan, sortasi, pencucian, pengeringan, penyimpanan sampai pada

  a

  bahan baku siap untuk diolah (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  6. Pengolahan dan pengemasan

  Pengolahan dan pengemasan hendaknya dilaksanakan dengan mengikuti cara yang telah ditetapkan oleh industri sehingga dapat menjamin mutu produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku (Badan Pengawas

  a Obat dan Makanan, 2005 ).

  7. Pengawasan mutu

  Pengawasan mutu merupakan bagian yang essensial dari cara pembuatan obat tradisional yang baik. Keterikatan dan tanggung jawab semua unsur dalam semua rangkaian pembuatan adalah mutlak untuk menghasilkan produk yang bermutu mulai dari bahan awal sampai pada produk jadi. Untuk keperluan tersebut bagian pengawasan mutu hendaknya merupakan bagian yang tersendiri. Sistem pengawasan mutu hendaknya dirancang dengan tepat untuk menjamin bahwa tiap produk mengandung bahan dengan mutu yang benar dan dibuat pada kondisi yang tepat serta mengikuti prosedur standar sehingga produk tersebut senantiasa memenuhi persyaratan produk jadi yang berlaku (Badan Pengawas

  a

  Obat dan Makanan, 2005 ).

  8. Inspeksi diri

  Tujuan inspeksi diri adalah untuk melakukan penilaian apakah seluruh aspek pengolahan, pengemasan dan pengendalian mutu selalu memenuhi CPOTB.

  Program inspeksi diri hendaknya dirancang secara teratur untuk mengevaluasi pelaksanaan CPOTB dan untuk menetapkan tindak lanjut. Tindakan perbaikan yang disarankan hendaknya dilaksanakan (Badan Pengawas Obat dan Makanan,

  a 2005 ).

  Untuk pelaksanaan inspeksi diri hendaknya ditunjuk tim inspeksi yang mampu menilai secara obyektif pelaksanaan CPOTB. Tim inspeksi diri ini ditunjuk oleh pimpinan perusahaan terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yang ahli di bidang yang berlainan dan paham mengenai CPOTB. Hendaknya dibuat prosedur dan catatan mengenai inspeksi diri (Badan Pengawas Obat dan

  a

  Makanan, 2005 ).

  9. Dokumentasi

  Dokumentasi pembuatan produk merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang meliputi spesifikasi, label/etiket, prosedur, metoda dan instruksi, catatan dan laporan serta jenis dokumentasi lain yang diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan produk. Dokumentasi sangat penting untuk memastikan bahwa setiap petugas mendapat instruksi secara rinci dan jelas mengenai bidang tugas yang harus dilaksanakannya, sehingga memperkecil risiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan

  a

  (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  10. Keluhan, laporan dan penarikan kembali produk

  Keluhan dan laporan menyangkut kualitas, efek yang merugikan atau masalah medis lainnya hendaknya diselidiki dan dievaluasi serta diambil tindak lanjut yang sesuai. Penarikan kembali produk adalah penarikan kembali satu atau beberapa batch atau seluruh produk tertentu dari semua mata rantai distribusi.

  Penarikan kembali dilakukan apabila ditemukan adanya produk yang tidak memenuhi persyaratan atau atas dasar pertimbangan adanya efek yang tidak diperhitungkan yang merugikan kesehatan. Penarikan kembali seluruh produk tertentu dapat merupakan tindak lanjut penghentian pembuatan satu jenis produk

  a yang bersangkutan (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 ).

  ® E.

  

Kiranti

  Kiranti Sehat Datang Bulan adalah minuman tradisional Indonesia dengan ramuan warisan nenek moyang, yang memiliki khasiat untuk melancarkan haid, mengatasi keluhan-keluhan nyeri haid, mencegah mual dan muntah, mencegah keputihan dan bau badan, serta meningkatkan ketahanan tubuh agar tetap sehat dan aktif di masa haid (Research and Innovation Center, 2005).

  

Gambar 5. Kiranti Sehat Datang Bulan

  Standarisasi produksi Kiranti dilakukan mulai dari bahan baku sampai produk akhir dan diformulasikan secara rasional; bahan-bahan yang digunakan sudah teruji khasiatnya secara ilmiah; menggunakan bahan-bahan tumbuhan obat yang sudah diketahui tingkat keamanannya dan tidak menimbulkan efek samping negatif; khasiat dan keamanannya sudah terbukti berdasarkan pengalaman nenek moyang (Research and Innovation Center, 2005).

  Kiranti merupakan salah satu Obat Herbal Terstandar yang berdedar di Indonesia dan diproduksi oleh PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group). Setiap

  ®

  kemasan Kiranti mengandung Curcumae domesticae Rhizoma (30g), Tamarindi Pulpa (6g), Kaempferiae Rhizoma (3g), Arengae pinnata Fructose (3g), Zingiberis

  Rhizoma (0,8g), Paullinia cupana (0,23g), Cinnamomi Cortex (0,1g), Air (sampai dengan 150ml) (Anonim, 2011).

  Berdasarkan hasil uji praklinik yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Kiranti Sehat Datang Bulan adalah minuman tradisional dengan ramuan warisan nenek moyang Indonesia yang menggunakan bahan tumbuhan obat yang benar, sesuai khasiatnya, terstandarisasi, aman untuk dikonsumsi jangka panjang dan terbukti bermanfaat untuk mengatasi gangguan nyeri haid dan gangguan keputihan (Research and Innovation Center, 2005).

F. Spektrofotometri

  Spektrofotometri visibel merupakan suatu teknik analisis spektroskopik menggunakan sumber radiasi elektromagnetik sinar tampak (380-780 nm) dengan menggunakan spektrofotometer (Khopkar, 1990).

  Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan atas interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan atom atau molekul yang menyebabkan terjadinya absorpsi, yaitu perpindahan energi dari sinar radiasi ke molekul (Mulja dan Suharman, 1995).

  Absorbsi ini menyebabkan peralihan elektronik atau transisi elektronik, yaitu peningkatan energi elektron dari tingkat dasar (ground state) ke tingkat energi yang lebih tinggi (excited state). Transisi ini terjadi bila energi yang dihasilkan oleh radiasi sama dengan energi yang diperlukan untuk melakukan transisi. Hasil interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan atom atau molekul elektromagnetik yang diserap dengan panjang gelombang, yang disebut dengan spektrum absorpsi (Rohman dan Gandjar, 2007).

  Ada empat tipe tran sisi elektronik yang mungkin terjadi yaitu σ →σ*, n

  →σ*, n→π*, dan π→π*. Eksitasi elektron (σ→σ*) memberikan energi yang terbesar dan terjadi pada daerah ultraviolet jauh yang diberikan oleh ikatan tunggal, misalnya alkana. Untuk mengeksitasikan elektron yang berada pada suatu ikatan kovalen tunggal terikat kuat (orbital σ) diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek. Oleh karena itu, serapan maksimum yang disebabkan oleh transisi ini tidak pernah teramati pada daerah ultraviolet (Mulja dan Suharman, 1995).

  Eksitasi elektron (n →σ*) terjadi juga pada gugus karbonil (dimetil keton dan asetaldehid) yang terjadi pada daerah ultraviolet jauh (Mulja dan Suharman,

  1995). Energi yang diperlukan untuk transisi jenis ini lebih kecil dibanding trans isi σ→σ* sehingga sinar yang diabsorbsi pun memiliki panjang gelombang yang lebih panjang, yaitu sekitar 150-250 nm (Rohman dan Gandjar, 2007).

  Transisi elektron n →π* dan π→π* merupakan transisi yang paling cocok untuk analisis karena memberikan spektra pada panjang gelombang antara 200-

  700 nm (Rohman dan Gandjar, 2007). Kedua transisi ini membutuhkan adanya kromofor dan auksokrom dalam struktur molekulnya. Kromofor adalah suatu gug us fungsional tidak jenuh yang menyediakan orbital π yang dapat menyerap pada daerah ultraviolet. Molekul yang mengandung kromofor disebut kromogen. Sedangkan auksokrom merupakan gugus jenuh yang bila terikat pada kromofor mengubah panjang gelombang dan intensitas serapan maksimum, cirinya adalah heteroatom yang langsung terikat pada kromofor (Sastrohamidjojo, 2002).

  G.

  

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

1. Definisi dan Instrumentasi

  Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) adalah teknik pemisahan campuran senyawa berdasarkan interaksi dengan fase diam di bawah aliran fase gerak, dimana fase gerak dialirkan dengan bantuan tekanan menuju kolom secara cepat dan dideteksi dengan detektor yang sesuai (Hendayana, 2006).

  Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) memanfaatkan kemajuan dalam teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sensitif sehingga kromatografi kolom cair dapat menjadi sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

  Metode KCKT merupakan metode yang banyak digunakan dalam kecepatan analisis dan kepekaan tinggi, dapat menghindari terjadinya dekomposisi atau kerusakan bahan yang dianalisis, resolusi yang baik, dapat digunakan untuk bermacam-macam detektor, kolom dapat digunakan kembali, mudah melakukan “sample recovery” (Snyder dan Kirkland, 1979). Selain itu, pemisahan pada sistem KCKT dapat terjadi dalam waktu cepat sehingga dapat memisahkan zat-zat yang tidak menguap atau tidak tahan panas tanpa perlu membuat derivat yang mudah menguap (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995).

  

Gambar 7. Skema Instrumentasi KCKT

  Menurut Gritter, Bobbit, dan Schwarting (1991) sistem KCKT terdiri dari tiga variabel utama, yaitu fase diam, fase gerak dan detektor.

  1. Fase diam. Fase diam berupa kolom yang merupakan bagian yang Suharman, 1995). Kolom pada KCKT dapat berupa gelas atau baja tidak berkarat. Kolom gelas dapat menahan tekanan sampai 50 atm. Panjang kolom bervariasi antara 15-150 cm dan diameter antara 3-5mm. Pengisi kolom biasanya adalah silika gel, alumina dan elit (Khopkar, 1990). Fase diam yang biasa digunakan pada kromatografi partisi fase balik adalah oktadesilsilan (ODS). Selain ODS, dikenal pula silika dengan substitusi oktil (C8) (Munson, 1991).

  2. Fase gerak. Banyaknya senyawa yang dapat dipisahkan oleh KCKT terutama tergantung pada keanekaragaman fase gerak. Fase gerak pada KCKT sangat berpengaruh pada tambatan dan pemisahan senyawa (Munson, 1984). Fase gerak dapat berupa pelarut tunggal atau pelarut campuran (Gritter dkk., 1991).

  Pemisahan dengan pelarut tunggal disebut elusi isokratik, sedangkan elusi gradien dua pelarut dengan berbagai perubahan komposisi dialirkan. Pelarut dialirkan ke botol penyampur pada berbagai laju aliran. Sebagian besar pompa KCKT mempunyai keluaran tekanan 1000-6000 psi dan mampu menghasilkan aliran hingga 20 mL/menit (Khopkar, 1990).

  Fase gerak yang digunakan untuk analisis secara KCKT harus murni, tanpa cemaran, tidak bereaksi dengan kemasan, dapat melarutkan analit (solute), viskositas rendah, memungkinkan memperoleh kembali analit dengan mudah, serta harganya wajar (Johnson dan Stevenson, 1978). Fase gerak KCKT juga harus bebas dari gas terlarut karena dapat mempengaruhi respon detektor sehingga memunculkan sinyal palsu dan akan mempengaruhi kolom (Gritter dkk., 1985).

  Selain itu, kolom juga haruslah tidak mudah terbakar dan memiliki toksisitas

  Pemilihan fase gerak yang digunakan adalah terutama berdasarkan kepolaran campuran pelarut yang semakin linier dengan pelarut murni. Tingkat kepolaran pelarut menggambarkan kekuatan pelarut dalam mengelusi suatu senyawa (Gritter dkk., 1991).

  3. Detektor. Menurut Johnson dan Stevenson (1978), detektor diperlukan untuk mendeteksi adanya komponen analit yang terdapat dalam kolom serta untuk mengukur jumlah komponen yang ada dalam analit (Mulja dan Suharman, 1995).

  Secara umum detektor dibagi menjadi dua kategori, yakni Bulk property

  

detectors dan Solut property detectors. Bulk property detectors adalah detektor

  sebagai pengukur perubahan sifat fisik fase gerak dan solut. Detektor tipe ini cenderung relatif tidak sensitif dan menghendaki temperatur yang terkendali, contohnya adalah detektor bias, sedangkan Solut property detectors adalah detektor yang hanya mengukur sifat fisik solut. Solut property detectors 1000 kali lebih sensitif dan mampu mengukur analit sampai satuan nanogram atau lebih kecil lagi. Contoh detektor jenis ini, yaitu detektor fluorensensi, detektor penyerapan (UV-Vis) dan detektor elektrokimia (Munson, 1991).

2. Kromatografi partisi

  Pada kromatografi partisi, fase diam dapat polar atau nonpolar. Bila fase diam polar dan fase gerak nonpolar disebut kromatografi partisi fase normal, sedangkan bila fase diam nonpolar dan fase gerak polar dinamakan kromatografi fase terbalik (Munson, 1984).

  Prinsip kromatografi partisi didasarkan pada partisi solut di antara dua masing-masing senyawa. Jika solut ditambahkan ke dalam sistem yang terdiri dari dua pelarut tidak saling campur dan keseluruhan sistem dibiarkan setimbang, maka solut akan tersebar di antara kedua fase berdasarkan persamaan:

  (1) Dimana K adalah koefisien distribusi, Cs adalah konsentrasi solut dalam fase diam, dan Cm adalah konsentrasi solut dalam fase gerak (Jhonson dan Stevenson, 1978).

  KCKT partisi fase terbalik biasanya mengandung bagian organik yang terikat secara kimia dengan gugus silanol pada permukaan silika. Bagian organik tersebut umumnya merupakan hidrokarbon rantai panjang sehingga fase gerak yang digunakan umumnya bersifat polar. Gugus silanol permukaan dapat direakasikan dengan berbagai cara untuk menempelkan berbagai jenis gugus organik. Kemasan fase terikat dengan tipe ikatan siloksan dibuat dengan mereaksikan organoklorosiloksan dengan gugus silanol pada permukaan silika gel yang terhidrolisis seperti tampak pada reaksi berikut:

  • Si OH Cl Si(CH ) R Si O Si(CH ) R + HCl

  3

  2

  3

  2 Gambar 8. Reaksi silanisasi (Harris, 1999)

3. Waktu retensi dan pemisahan puncak dalam kromatografi

  Waktu retensi (t ) atau waktu tambat (retention time) adalah selang

  R

  waktu yang diperlukan oleh analit mulai saat injeksi sampai keluar dari kolom dan berdasarkan waktu di mana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu. Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut), kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel), komposisi yang tepat dari pelarut, dan temperatur pada kolom. Hal ini berarti bahwa kondisi harus dikontrol secara hati-hati jika menggunakan waktu retensi sebagai saran untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa (Ahuja dan Dong, 2005).

  Faktor resolusi adalah ukuran pemisahan dari 2 puncak. Daya pisah (R) dapat diukur dengan persamaan: (2)

  Dimana Rs adalah Resolusi, t R1 dan t R2 adalah waktu retensi senyawa diukur pada titik maksimum puncak, dan W

  1 dan W 2 adalah lebar alas puncak (Ahuja dan Dong, 2005). Nilai Rs sebesar 1,5 menunjukkan bahwa baseline resolution tercapai dengan pemisahan dari dua puncak dengan ukuran yang sama sehingga diperoleh perhitungan yang dapat dipercaya. Dalam penelitian, nilai Rs sebesar 1 menunjukkan pemisahan yang sudah memadai (Ahuja dan Dong, 2005).

4. Analisis kualitatif dan kuantitatif

  Analisis kualitatif dilakukan dengan cara membandingkan waktu retensi senyawa murni dengan waktu retensi senyawa yang dimaksud dalam sampel (Gritter dkk., 1985). Setiap senyawa memiliki waktu retensi yang spesifik pada kondisi tertentu seperti kolom, suhu, laju dan sebagainya sehingga dapat digunakan sebagai salah satu dasar uji kualitatif (Noegrohati, 1994).

  Analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan dua cara yakni dengan perbandingan tinggi senyawa sampel terhadap senyawa standar dan perbandingan luas puncak kromatogram senyawa sampel terhadap senyawa standar. Tinggi puncak diperoleh dengan membuat garis antara kedua dasar sisi puncak dan mengukur jarak tegak lurus dari garis ini sampai puncak kromatogram. Bila variasi keadaan kolom tidak menyebabkan pelebaran puncak, maka analisis berdasarkan tinggi puncak dapat memberikan ketelitian tinggi. Sedangkan analisis berdasarkan luas puncak tidak dipengaruhi oleh pelebaran puncak. Oleh karena itu cara ini lebih disukai dalam perhitungan kuantitatif daripada dengan menghitung tinggi puncak (Noegrohati, 1994).

  H.

  

Landasan Teori

  Simplisia yang banyak digunakan dalam OT yang beredar di Indonesia adalah Kunyit (Curcumae domesticae). Kunyit memiliki senyawa yang bertanggung jawab terhadap respons biologis berupa zat warna yaitu kurkuminoid. Kurkuminoid di antaranya merupakan campuran kurkumin, demetoksikurkumin, dan bis-demetoksikurkumin. Dari ketiga senyawa kurkuminoid tersebut, kurkumin merupakan komponen terbesar sehingga sering kadar total kurkuminoid dihitung sebagai % kurkumin. Kurkumin memiliki sifat fotosensitif sehingga stabilitasnya sangat dipengaruhi oleh adanya cahaya. Selain itu, stabilitas kurkumin juga sangat dipengaruhi oleh pH lingkungan. Kurkumin stabil pada pH asam sehingga pH diatur pada pH 4.

  ®

  Kiranti merupakan salah satu produk OHT yang diproduksi oleh PT Ultra Prima Abadi (Orang Tua Group). Klaim khasiat dari Kiranti adalah untuk mengatasi gangguan nyeri haid dan gangguan keputihan. Dalam satu botol Kiranti kemasan 150 ml mengandung Curcumae domesticae Rhizoma (30g), Tamarindi Pulpa (6g), Kaempferiae Rhizoma (3g), Arengae pinnata Fructose (3g), Zingiberis Rhizoma (0,8g), Paullinia cupana (0,23g), Cinnamomi Cortex (0,1g), Air (sampai dengan 150ml).

  ®

  Sebagai salah satu produk OHT, Kiranti harus memenuhi syarat keamanan dan khasiat yang dibuktikan secara ilmiah serta bahan bakunya telah distandarisasi. Untuk menjamin keseragaman khasiat yang dihasilkan oleh setiap

  ®

  produk Kiranti , maka kesamaan kadar dan kesesuaian kadar kurkumin harus

  Adanya gugus kromofor dan auksokrom serta gugus polar dan non-polar pada kurkumin memungkinkan untuk melakukan analisis kuantitatif dengan menggunakan metode KCKT sistem fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C18) menggunakan detektor Ultraviolet-Visible (UV-VIS). Pada penelitian ini, sistem KCKT yang digunakan adalah sistem KCKT fase terbalik, dengan kolom oktadesilsilan dan fase gerak campuran metanol p.a dan asam asetat glasial p.a 2%. Metode yang digunakan sebelumnya telah dilakukan optimasi metode dan validasi metode.

I. Hipotesis

  ®

  1. Kadar kurkumin dalam sampel sediaan cair OHT Merk Kiranti yang ditetapkan dengan metode KCKT fase terbalik sesuai dengan kadar yang tertera pada label kemasan.

  2. Kadar kurkumin dalam tiga nomor batch sampel sediaan cair OHT merk

  ® Kiranti yang ditetapkan dengan metode KCKT fase terbalik sama.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian yang dilakukan bersifat non eksperimental deskriptif karena tidak terdapat manipulasi dan perlakuan terhadap subjek uji. B. Variabel Penelitian

  1. Variabel bebas

  Variabel bebas pada penelitian ini adalah nomor batch sampel sediaan

  ® cair OHT merk Kiranti .

  2. Variabel tergantung

  Variabel tergantung pada penelitian ini adalah kadar kurkumin dalam

  

®

  sampel sediaan cair OHT merk Kiranti dan reprodusibilitas kadar kurkumin

  ® dalam tiga nomor batch sampel sediaan cair OHT merk Kiranti .

  3. Variabel pengacau terkendali

  Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah tempat

  ® pengambilan sampel sediaan cair OHT merk Kiranti .

C. Definisi Operasional

  1. Sistem KCKT fase terbalik yang digunakan terdiri atas fase diam berupa kolom oktadesilsilan (C

  18 ) dan fase gerak berupa campuran metanol p.a dan asam asetat glasial p.a 2 % dengan perbandingan komposisi optimum hasil optimasi.

  ®

  2. Sediaan cair OHT yang digunakan adalah sediaan cair OHT merk Kiranti yang mengandung ekstrak Curcumae domesticae Rhizoma sebesar 30 mg.

  3. Kadar kurkumin dinyatakan dalam satuan miligram per mililiter (mg/ml)

D. Bahan-bahan Penelitian

  Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kurkumin baku hasil sintesis pemberian Prof. Sudibyo Martono yang telah dikonfirmasi strukturnya dengan metode spektroskopi 1H-NMR dan Mass Spectra dengan titik lebur 181,2- 182,4

  C, metanol p.a (E. Merck), asam asetat glasial p.a (E. Merck), aquabidestilata for HPLC dan sediaan cair obat herbal terstandar (OHT) merk

  ® Kiranti yang mengandung kurkumin.

E. Alat-alat Penelitian

  Alat yang digunakan adalah organic solvent membrane filter (Whatman) ukuran pori 0,45μm; diameter 47mm, indikator pH, penyaring millipore, mikropipet, neraca kasar, neraca analitik (Ohaus PAJ 1003), ultrasonicator (Retsch tipe T460 no V935922013 Ey), Mixer (merk Philips HR 1568), seperangkat alat KCKT fase terbalik merk Shimadzu dengan sistem gradien (Shimadzu LC-2010C HT Serial No. C21254706757LP, CAT No. 228-46703-38), kolom C-18 merek KNAVER C-18 (No. 25EE181KSJ (B115Y620), dimensi 250 D850 A03-0382 JP France S.A.S, printer HP Deskjet D2566 HP-024-000 625 730), seperangkat alat spektrofotometri UV-VIS merk Milton Ray Spectronic

  

3000 Array yang dihubungkan dengan printer merk Epson LQ-1170, dan alat-alat

gelas yang umum digunakan dalam analisis.

  F.

  

Tata Cara Penelitian

  1. Pembuatan fase gerak KCKT

  Campuran fase gerak yang digunakan dalam penelitian ini adalah metanol p.a dan asam asetat glasial p.a. 2%. Keduanya masing-masing disaring menggunakan kertas saring Whatman dengan bantuan alat vacuum dan diawaudarakan dengan menggunakan ultrasonikator selama 15 menit.

  2. Pembuatan pelarut metanol pH 4 Pelarut yang digunakan berupa metanol yang diatur pada pH 4.

  Pengaturan pH dilakukan dengan menambahkan asam asetat glasial 2% sebanyak 1 bagian ke dalam 9 bagian metanol.

  3. Pembuatan larutan baku kurkumin

  a. Pembuatan Larutan stok. Timbang seksama lebih kurang 10 mg serbuk kurkumin kemudian dilarutkan dengan metanol p.a pH 4 dalam labu takar 10,0 ml hingga tanda.

  b. Larutan intermediet. Ambil 1 ml larutan induk baku kurkumin, c. Larutan seri baku. Buat konsentrasi seri larutan baku kurkumin 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5; 4,0; dan 4,5 ppm dengan mengambil 150; 200; 250; 300; 350; 400; dan 450 µl larutan intermediet, masukkan dalam labu takar 10,0 ml tambahkan metanol p.a pH 4 hingga tanda. Larutan disaring dengan millipore dan diawaudarakan dengan menggunakan ultrasonikator selama 15 menit.

  4. Penentuan panjang gelombang (λ) maksimum kurkumin

  Sebanyak 40; 100 dan 160 µl larutan intermediet kurkumin diencerkan dengan metanol p.a pH 4 dalam labu takar 10,0 ml sampai tanda sehingga diperoleh konsentrasi 0,4; 1,0 dan 1,6 ppm. Dari kadar baku kurkumin tersebut dilakukan pengukuran absorbansi pada rentang panjang gelombang 300-500 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Kemudian dari spektrum yang dihasilkan tersebut ditentukan panjang gelombang maksimumnya. Nilai panjang gelombang maksimum yang diperoleh selanjutnya digunakan sebagai panjang gelombang deteksi pada sistem KCKT.

  5. Pembuatan kurva baku kurkumin

  Sebanyak 20 µl larutan kurkumin konsentrasi 1,5; 2,0; 2,5; 3,0; 3,5; 4,0; dan 4,5 ppm (larutan baku) yang telah disaring dengan millipore dan diawaudarakan dengan menggunakan ultrasonikator selama 15 menit diinjeksikan pada sistem KCKT fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C

  18 ) dan fase gerak metanol : asam asetat glasial 2% (90:10 v/v), kecepatan alir 0,5 ml/menit.

  6. Pemilihan sampel

  Sampel yang dipilih adalah sediaan cair obat herbal terstandar (OHT)

  ®

  merk Kiranti yang berasal dari suatu distributor di Yogyakarta dan mencantumkan komposisi kurkumin di dalamnya. Sampel yang diambil terdiri dari 3 batch yang berbeda dan tiap batch diambil sampel sebanyak 10 botol serta dilakukan replikasi pengukuran 5 kali.

  7. Optimasi waktu ekstraksi kurkumin dari sediaan ®

  Ambil 1,0 ml sampel Kiranti dan dimasukkan ke dalam 4 buah labu takar 10,0 ml ditambahkan metanol p.a pH 4 hingga tanda dan diekstraksi dengan menggunakan ultrasonikator selama 5, 10, 15 dan 20 menit. Sampel kemudian disaring dengan kertas saring, filtrat dimasukkan dalam labu takar 10,0 ml dan ditambahkan metanol p.a hingga tanda. Ambil 1,0 ml filtrat, encerkan dengan metanol p.a hingga tanda dalam labu takar 10,0 ml. Injeksikan masing-masing 20,0

  ) dan

  18

  μl pada sistem KCKT fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C fase gerak metanol : asam asetat glasial 2% (90:10 v/v), kecepatan alir 0,5 ml/menit.

  8. Preparasi sampel ®

  Campur homogen 10 botol Kiranti menggunakan mixer dengan skala kecepatan 1. Ambil 1,0 ml sampel homogen dan dimasukkan ke dalam labu takar 10,0 ml ditambahkan metanol p.a pH 4 hingga tanda dan diekstraksi dengan kertas saring, filtrat dimasukkan dalam labu takar 10,0 ml dan ditambahkan metanol p.a hingga tanda. Ambil 3,0 ml (batch 1), 1,5 ml (batch 2), 3,0 ml (batch 3) filtrat, encerkan dengan metanol p.a hingga tanda dalam labu takar 10,0 ml (Larutan A).

9. Penetapan kadar kurkumin dalam sampel

  Sebanyak masing-masing 2 0,0 μl larutan A hasil preparasi sampel diinjeksikan pada sistem KCKT fase terbalik dengan kolom oktadesilsilan (C

  18 )

  dan fase gerak metanol : asam asetat glasial 2% (90:10 v/v), kecepatan alir 0,5 ml/menit. Penetapan kadar dilakukan dengan 5 kali replikasi dari tiga batch berbeda.

G. Analisis Hasil

  Kadar kurkumin dalam sampel dihitung dengan menggunakan persamaan kurva kaliberasi yang telah dibuat dan dikalikan dengan faktor pengenceran. Hasil penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT dikatakan memenuhi persyaratan ketelitian yang baik jika KV < 4% untuk kadar analit dalam sampel 1% (AOAC, 2002). Selanjutnya dilakukan analisis statistik untuk hasil kadar antar batch yang meliputi:

1. Uji parametrik Shapiro – Wilk

  Uji ini digunakan untuk melihat apakah distribusi data yang didapat normal atau tidak.

2. Independent sample One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95%

  Dilakukan analisis statistik Independent sample One Way Anova dengan taraf kepercayaan 95% untuk melihat apakah ada perbedaan kadar kurumin yang bermakna antar tiga nomor batch yang berbeda.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pemilihan Sampel Penelitian ini menggunakan sampel sediaan cair obat herbal terstandar

  ®

  merk Kiranti yang berasal dari salah satu distributor yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel yang dipilih berasal dari tiga nomor batch yang berbeda dan mengandung Curcuma domestica Rhizoma (Rimpang Kunyit) sebagai komposisi utamanya (30g). Rimpang kunyit mengandung senyawa aktif kurkumin yang memiliki khasiat sebagai anti inflamasi, untuk mengobati perut kembung, penyakit kuning, melancarkan haid, hematuria, perdarahan, dan kolik (Thorne Research, 2002).

  Sampel diambil dari satu distributor yang sama dengan tujuan untuk mengkontrol kondisi penyimpanan sampel mulai dari setelah sampel selesai diproduksi sampai pada sampel siap untuk dianalisis. Hal ini dilakukan karena stabilitas kurkumin sangat dipengaruhi oleh suhu, kondisi pH dan paparan cahaya.

  Ketiga batch sampel diasumsikan akan mengalami perlakuan yang sama dengan diambilnya sampel dari satu distributor yang sama sehingga akan meminimalisir bias yang terjadi.

  Pengambilan sampel dilakukan pada tiga nomor batch yang berbeda

  ®

  untuk melihat reprodusibilitas kadar antar batch sediaan Kiranti . Jika kadar antar

  

batch yang diperoleh reprodusibel maka dapat dipastikan bahwa dari keseluruhan sediaan. Keseragaman kadar ini perlu dijamin terkait dengan efek yang didapatkan dari sediaan yang dibuat. Jika keseragaman kadar terjamin maka keseragaman efek juga akan terjamin atau dengan kata lain dari keseluruhan sediaan yang ada akan memberikan efek yang sama sehingga keamanan dan mutu sediaan pun akan lebih terjamin.

  Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik probability/random

  2 148 147 146

  145

150

148

Volume rata-rata = 146,8 ml

  145 147 150 147

  3 146 146 144

  SD = 1,1972 CV = 0,8150% Penyimpangan 5% = 146,9 ± 7,345

  149

146

147

Volume rata-rata = 146,9 ml

  148 146 147 145

  SD = 1,0801 CV = 0,7423% Penyimpangan 5% = 145,5 ± 7,275

  

sampling dan secara khusus dengan teknik simple random sampling. Teknik ini

  143

147

146

Volume rata-rata = 145,5 ml

  146 146 146 145

  1 145 146 145

  Tabel I. Keseragaman Volume Kiranti ® Batch Volume masing-masing botol (ml) Keterangan

  Menurut Sugiono (2008) ukuran sampel yang layak untuk penelitian adalah antara 30 sampai dengan 500. Dari ketiga batch yang digunakan diambil masing-masing 10 botol sampel, sehingga total sampel yang digunakan berjumlah 30 botol sampel. Pada kesepuluh botol sampel dari masing-masing batch dihitung volume rata-ratanya dan dihomogenkan. Replikasi pengukuran sebanyak lima kali dilakukan pada kesepuluh sampel homogen.

  akan memberikan kesempatan yang sama setiap pada unit populasi untuk dijadikan sampel kerena sampel diambil secara random sehingga kemungkinan terjadinya bias dapat diminimalisir (Nasution, 2003).

  SD = 2,0440 Berdasarkan hasil uji keseragaman volume didapatkan volume rata-rata

  ®

  Kiranti pada masing-masing batch berturut-turut adalah 145,5 ml, 146,9 ml dan 146,8 ml (Tabel I). Ketiga batch memenuhi syarat keseragaman volume sediaan cair. Hal ini ditunjukkan dengan tidak ada satupun volume masing-masing botol yang menyimpang 5% dari volume rata-rata. Sediaan cair obat dalam dikatakan memenuhi syarat keseragaman volume apabila perbedaan volume cairan setiap wadah takaran tunggal terhadap volume rata-rata tidak lebih dari 5% (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 1994). Selain itu, jika dilihat dari nilai CV pada ketiga batch seluruhnya memiliki nilai CV kurang dari 2%. Hal ini

  

®

  menunjukkan bahwa sediaan cair Kiranti memiliki keseragaman volume yang baik.

  B.

  

Pembuatan Fase Gerak

  Sistem KCKT yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem KCKT fase terbalik dimana fase gerak yang digunakan lebih polar daripada fase diamnya. Fase gerak yang digunakan dalam penelitian ini adalah campuran metanol p.a. dan asam asetat glasial p.a. 2% dengan perbandingan 90:10 (v/v) (Krisnayanti, 2011). Kedua komposisi fase gerak ini dipilih karena keduanya dapat melarutkan kurkumin dengan baik sehingga diharapkan kurkumin dapat terelusi dengan baik.

  Campuran metanol p.a. dan asam asetat glasial p.a. 2% (90:10 v/v) ini memiliki nilai pH 4 sehingga tidak akan merusak kolom oktadesilsilan (C

  18 ) pada menjadi bentuk silanol pada pH 18 dengan asam.

  ≤ 2 karena adanya reaksi antara C Berikut ini adalah contoh reaksi degradasi kolom oktadesilsilan (C

  18 ) karena

  adanya asam kuat HCl:

  H O/HCl 2 Si O Si (CH ) CH 2 17 3 + Si OH Cl Si (CH ) CH 2 17 3 Gambar 10. Reaksi degradasi kolom C oleh HCl (pH ≤ 2) (Skoog dkk., 1985).

18

C.

  

Pembuatan Pelarut

  Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah metanol p.a. yang telah diatur pHnya menjadi pH 4. Pengaturan dilakukan dengan penambahan asam asetat glasial p.a. 2% pada metanol p.a. dengan perbandingan metanol : asam asetat glasial 2% (9:1 v/v). Pengaturan ini dilakukan untuk menjaga stabilitas kurkumin. Berdasarkan hasil orientasi pengujian stabilitas kurkumin, kurkumin stabil pada pH 4 (lampiran 3). Stabilitas kurkumin sangat dipengaruhi oleh pH dan cahaya. Kurkumin akan terdegradasi pada pH di atas 7 menjadi asam ferulat dan feruloil metan (Stankovic, 2004).

  D.

  

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

  Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan untuk mengetahui pada panjang gelombang berapa kurkumin akan memberikan serapan maksimum.

  Penentuan panjang gelombang dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer visibel karena kurkumin akan memberikan serapan warna pada daerah panjang

  Syarat suatu senyawa dapat diukur serapannya pada panjang gelombang visibel adalah senyawa tersebut harus memiliki gugus kromofor dan auksokrom yang bertanggung jawab atas terjadinya serapan radiasi sinar. Kurkumin memiliki gugus kromofor dan auksokrom pada struktur senyawanya sehingga kurkumin dapat memberikan serapan warna pada daerah panjang gelombang visibel. Gugus kromofor dan auksokrom pada kurkumin dapat dilihat pada gambar berikut:

  O O H CO OCH

  3

  3 HO OH

  

Gambar 11. Gugus kromofor dan auksokrom pada struktur kurkumin

Keterangan : kromofor auksokrom

  Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan pada tiga konsentrasi larutan kurkumin yang berbeda, yakni yakni 0,4; 1,0; dan 1,6 ppm.

  Pembacaan dilakukan pada rentang panjang gelombang 300-500 nm. Rentang panjang gelombang ini ditentukan berdasarkan panjang gelombang teoritis kurkumin dalam pelarut metanol, yaitu 430 nm (Aggarwal dkk., 2006).

  Spektra hasil penentuan panjang gelombang maksimum dengan menggunakan tiga konsentrasi yang berbeda adalah sebagai berikut:

  C B A Gambar 12. Spektra panjang gelombang maksimum kurkumin pada pelarut metanol Keterangan: A : konsentrasi rendah (0,4 ppm) B : konsentrasi sedang (1,0 ppm)

  C : konsentrasi tinggi (1,6 ppm)

  Dari hasil penentuan panjang gelombang maksimum kurkumin dalam pelarut metanol didapatkan hasil bahwa panjang gelombang maksimum kurkumin pada konsentrasi 0,4; 1,0; dan 1,6 ppm berturut-turut adalah 432; 433; dan 432 nm. Oleh karena itu, dapat ditetapkan panjang gelombang maksimum kurkumin yang digunakan dalam penelitian ini adalah 432 nm. Menurut Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (1979), panjang gelombang maksimum hasil pengukuran dapat digunakan apabila penyimpangannya ± 2 nm dari panjang gelombang teoritis.

  E.

  R ) Kurkumin Analisis Kualitatif Berdasarkan Waktu Retensi (t kurkumin. Analisis kualitatif ini dilakukan untuk membuktikan bahwa di dalam

  ®

  sampel Kiranti yang diuji terdapat kurkumin. Hal ini ditujukkan oleh adanya kemiripan waktu retensi (t R ) peak yang didapatkan pada pemisahan sampel dengan peak hasil elusi baku kurkumin.

  A B

Gambar 13. Kromatogram kurkumin baku (A) dan Kromatogram Kurkumin dalam sampel

®

Kiranti (B)

  Jika dilihat dari kromatogram yang dihasilkan, antara kurkumin sampel dengan kurkumin baku memiliki waktu retensi yang tidak jauh berbeda. Waktu

  ®

  kurkumin dalam sediaan Kiranti adalah 6,051 menit. Hal ini menunjukan bahwa

  ® senyawa yang terukur dalam sampel Kiranti merupakan kurkumin.

  Waktu retensi dari kurkumin sangat dipengaruhi oleh interaksi kurkumin dengan fase diam dan fase gerak yang digunakan. Sistem KCKT yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem KCKT fase terbalik dimana fase gerak yang digunakan (metanol p.a : asam asetat glasial p.a. 2% (90:10 v/v)) bersifat lebih polar daripada fase diamnya (C

  18 ). Hal ini berarti bahwa senyawa-senyawa yang

  bersifat kurang polar akan tertambat lebih lama di dalam kolom KCKT sehingga waktu retensinya akan lebih lama daripada senyawa-senyawa yang lebih polar.

  

O O

H CO OCH

  3

  3 HO OH

  

Keterangan: gugus polar gugus non polar

Gambar 14. Gugus polar dan gugus non polar pada struktur kurkumin

  Jika dilihat dari strukturnya, kurkumin memiliki gugus polar dan gugus non polar. Gugus polar pada kurkumin akan berinteraksi dengan fase gerak melalui interaksi Hidrogen, sedangkan gugus non polar pada kurkumin akan berinteraksi dengan fase diam melalui interaksi Van der Waals.

  O H 3 CO OCH 3 O O O H H H O CH 3 O CH H 3 H H H H H O H O H O O O CH 3 CH 3 H 3 C H H H O H O H O CH 3 H H H H H O C O C O C O C O C O CH 3 CH 3 O O H 3 C O CH 3 H 3 C O

  H O H 3 C H O H H O C CH 3 O

Gambar 15. Interaksi kurkumin dengan fase gerak metanol p.a.:asam asetat glasial p.a. 2%

(90:10)

  HO H 3 CO OCH 3 OH O O

  Si CH 3 CH 3 O Si Interaksi Van Der Waals

  CH 3 CH 3 H 3 C Gambar 16. Interaksi Kurkumin dengan fase diam C 18 Interaksi antara kurkumin dengan fase gerak lebih besar daripada Hidrogen yang terjadi antara kurkumin dengan fase gerak lebih kuat daripada interaksi Van der Waals yang terjadi antara kurkumin dengan fase diam.

F. Pembuatan Kurva Baku

  Kurva baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurva baku hasil validasi yang telah dilakukan sebelumnya oleh Widjaja (2011). Kurva baku dibuat dalam tujuh seri konsentrasi yakni 1,515; 2,020; 2,525; 3,030; 3,535; 4,040 dan 4,545 ppm. Dari ketujuh seri larutan baku tersebut masing-masing dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Dari ketiga replikasi seri kurva baku tersebut dibuat kurva hubungan linear antara konsentrasi seri larutan baku dengan respon AUC sehingga akan didapatkan persamaan kurva baku yang dapat digunakan untuk

  ® menetapkan kadar kurkumin dalam sampel Kiranti .

  

Tabel II. Penentuan kurva baku kurkumin

Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 C (ppm) AUC C (ppm) AUC C (ppm) AUC

  1,515 436453 1,500 490279 1,515 504645 576159 2,000 604061 2,020 650146

  2,020 2,525 734421 2,500 814609 2,525 800553 3,030 903940 3,000 921890 3,030 952204

3,535 1035906 3,500 1074232 3,535 1174700

4,040 1172320 4,000 1368847 4,040 1326970

4,545 1361779 4,500 1484459 4,545 1461741

  A = -57032,2143 A = -3952,2143 A = -26242,7857 B = 301964,9929 B = 340838,2143 B = 325253,3946 r = 0,9992 r = 0,9928 r = 0,9982 α = 89,99 α = 89,99 α = 89,99

  Dari ketiga persamaan kurva baku yang diperoleh, ketiganya memiliki yakni sebesar 89,99 sehingga jika dibuat kurva baku nilai α lebih dari 45 dilakukan modifikasi persamaan kurva baku agar diperoleh nilai α yang mendekati 45 . Modifikasi dilakukan dengan konsentrasi baku kurkumin (ppm) dikali 300.000. Hasil modifikasi tersaji pada tabel III berikut ini:

  

Tabel III. Penentuan kurva baku kurkumin modifikasi

Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3

5

5

5 C (ppm) x 3.10 AUC C (ppm) x 3.10 AUC C (ppm) x 3.10 AUC 454500 436453 450000 490279 454500 504645 606000 576159 600000 604061 606000 650146 757500 734421 750000 814609 757500 800553 909000 903940 900000 921890 909000 952204 1060500 1035906 1050000 1074232 1060500 1174700

  1212000 1172320 1200000 1368847 1212000 1326970 1363500 1361779 1350000 1484459 1363500 1461741 A = -26242,7857 A = -57032,2143 A = -3952,2143 B = 1,0065 B = 1,1361 B = 1,0842 r = 0,9992 r = 0,9928 r = 0,9982

  α = 48,65 α = 47,31 α = 45,18

  Dari ketiga kurva baku, data kurva baku yang digunakan adalah data kurva baku dari replikasi satu. Pemilihan ini didasarkan pada nilai r dari masing- masing kurva baku. Menurut Yuwono dan Indrayanto (2005), nilai r yang masih dapat diterima untuk sebagian besar pengujian adalah lebih besar dari 0,999. Dari ketiga kurva baku, kurva baku yang memiliki nilai r lebih besar dari 0,999 hanya kurva baku replikasi satu. Oleh karena itu, persamaan kurva baku yang dipakai dalam penelitian ini adalah y = 1,0065 x – 26242,7857.

  Gambar 17. Kurva baku kurkumin

  yang menunjukkan Kurva baku kurkumin dengan nilai α = 45,18 hubungan linear antara konsentrasi seri larutan baku kurkumin dengan respon

  AUC dapat dilihat pada gambar 13. Kurva tersebut menggambarkan terjadinya peningkatan respon AUC seiring dengan meningkatnya konsentrasi seri larutan baku.

  ®

G. Optimasi Waktu Ekstraksi Kurkumin dalam Sediaan Kiranti

  ® Sediaan Kiranti merupakan sediaan cair yang berbentuk suspensi.

  Kurkumin terkandung baik dalam fase padatan maupun cairan dalam sediaan. Oleh karena itu, diperlukan proses ekstraksi untuk menarik atau menyari kurkumin terutama yang berada di dalam fase padat. Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan ultrasonikator. Getaran yang ditimbulkan oleh ultrasonikator akan membantu penetrasi pelarut metanol ke dalam fase padatan

  Untuk memperoleh hasil ekstraksi yang optimum perlu dilakukan optimasi waktu ekstraksi. Pada penelitian ini optimasi dilakukan pada rentang waktu 5, 10, 15 dan 20 menit. Waktu ekstraksi yang memberikan respon AUC tertinggi adalah waktu optimum.

  A B

  

Gambar 18. Kromatogram waktu ekstraksi 5 menit (A), 10 menit (B), 15 menit (C) dan 20

menit (D )

  Berdasarkan hasil kromatogram di atas dapat diperoleh data respon AUC kurkumin sebagai berikut:

  

Tabel IV. Respon AUC pada masing-masing waktu ekstraksi

Waktu Ekstraksi Waktu Retensi (t R ) AUC

  5 menit 6,168 284345 10 menit 6,164 326604 15 menit 6,162 324188 20 menit 6,161 323564

  C D menit. Hal ini menunjukkan bahwa waktu ekstraksi yang dibutuhkan untuk mendapatkan ekstrak yang optimum adalah 10 menit. Pada waktu ekstraksi selama 5 menit diperoleh respon AUC kurkumin yang paling rendah yakni

  284345

  . Hal ini menunjukkan bahwa waktu ekstraksi selama 5 menit belum mampu menyari semua kurkumin yang ada dalam sediaan. Pada waktu ekstraksi selama 15 menit dan 20 menit didapatkan respon AUC kurkumin yang cenderung sama dengan pada waktu ekstraksi 10 menit.

  ® Gambar 19. Kurva optimasi waktu ekstraksi kurkumin dalam sampel Kiranti ®

H. Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan Kiranti

  Analisis kuantitatif dilakukan dengan menetapkan kadar kurkumin dalam

  ®

  sampel Kiranti yang berasal dari tiga nomor batch yang berbeda. Pada masing- masing batch diambil 10 botol sampel. Satu mililiter larutan sampel homogen diambil untuk diekstraksi. Dari ekstrak yang didapat dilakukan pengenceran agar respon AUC yang dihasilkan berada pada respon kurva baku yang memenuhi lima kali. Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari penetapan kadar yang dilakukan:

  Tabel V. Kadar kurkumin dalam sampel Kiranti ® pada setiap nomor batch Batch Replikasi AUC Kadar (mg/ml) Keterangan

  ≤ 2% sehingga dapat dikatakan bahwa data yang diperoleh memiliki presisi yang bagus.

  ®

  mengandung 30g Curcumae domesticae Rhizoma. Hal ini berarti bahwa secara teoritis dalam setiap botol Kiranti

  ®

  dituliskan bahwa setiap botol Kiranti

  ®

  Menurut Aggarwal dkk. (2005), kandungan kurkuminoid dalam rimpang kunyit adalah sebesar 2-5 % dan 77% dari kurkuminoid tersebut merupakan kurkumin. Di dalam etiket yang tertera pada kemasan Kiranti

  pada batch 1 sebesar 14,0364±0,2033 mg/ml; batch 2 sebesar 36,1886±0,6878 mg/ml; dan batch 3 sebesar 17,0578±0,2546 mg/ml. Dari ketiga nomor batch, seluruhnya memiliki nilai CV

  Batch 1 Replikasi 1 830072 13,7544 SD = 0,2033 CV = 1,4485 % X rata-rata = 14,0364 mg/ml Replikasi 2 848953 14,0576

  ®

  Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat kadar rata-rata kurkumin dalam sampel Kiranti

  Replikasi 3 1002467 16,6710 Replikasi 4 1021992 16,9875 Replikasi 5 1031336 17,1389

  Batch 3 Replikasi 1 1030710 17,1287 SD = 0,2546 CV = 1,4923 % X rata-rata = 17,0578 mg/ml Replikasi 2 1045155 17,3628

  X rata-rata = 36,1886 mg/ml Replikasi 2 1091941 36,2668 Replikasi 3 1122282 37,2508 Replikasi 4 1074857 35,7127 Replikasi 5 1091429 36,2501

  Batch 2

Replikasi 1 1067140 35,4624 SD = 0,6878

CV = 1,9005 %

  Replikasi 3 862974 14,2828 Replikasi 4 854969 14,1543 Replikasi 5 841182 13,9328

  pada batch 1 mengandung kurkumin sebesar 3,1753 mg/ml sampai 7,9381 mg/ml, pada batch 2 sampai 7,8678 mg/ml. Bila dibandingkan dengan kadar kurkumin teoritis maka nilai kadar kurkumin terukur menyimpang sangat besar dari kadar kurkumin secara teoritis. Besarnya kadar kurkumin terukur lebih tinggi daripada kadar kurkumin secara teoritis.

  Untuk melihat reprodusibilitas kadar antar batch, maka perlu

  ®

  membandingkan kadar kurkumin dalam tiga batch sampel Kiranti . Kadar

  ®

  kurkumin dalam tiga batch sampel Kiranti dikatakan reprodusibel apabila tidak ada perbedaan yang bermakna antara batch satu dengan batch yang lain.

  ®

  Reprodusibilitas kadar kurkumin dalam tiga batch sampel Kiranti ini dapat dilihat dengan menghitung besarnya nilai CV dari keseluruhan data kadar kurkumin dalam tiga batch sampel. Dari perhitungan nilai CV didapatkan hasil nilai CV sebesar 11,6976%. Suatu data dikatakan reprodusibel apabila memiliki nilai CV

  ≤ 2%. Oleh karena itu, berdasarkan perhitungan nilai CV dapat dikatakan

  ® bahwa kadar antar batch sampel Kiranti tidak reprodusibel.

  ®

  Untuk memastikan apakah kadar antar batch sampel Kiranti reprodusibel atau tidak maka perlu dilakukan pengujian secara statistik. Uji statistik diawali dengan melihat normalitas data yang ada. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah data yang ada terdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data ini akan menentukan pengujian statistik pada tahap selanjutnya. Metode yang digunakan untuk menguji normalitas data ini adalah metode Shapiro-Wilk dengan tingkat kemaknaan (p) > 0,05. Digunakan metode Shapiro- Wilk karena jumlah data yang ada ≤ 50 (sampel kecil).

  Dari analisis yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut:

  

Tabel VI. Nilai normalitas data dari batch 1, 2 dan 3

Tests of Normality

a

Kolmogorov-Smirnov Shapiro-Wilk *

batch Statistic df Sig. Statistic df Sig.

batch 1 .142 5 .200 .990 5 .981 * kadar
  • * batch 2 .255

  5 .200 .924 5 .558 batch 3 .210 5 .200 .950 5 .741

a. Lilliefors Significance Correction *. This is a lower bound of the true significance.

  Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dari ketiga

  

batch yang ada, semuanya memiliki data yang terdistribusi normal. Hal ini

  ditunjukkan oleh nilai kemaknaan (p) dari ketiga batch semuanya lebih besar dari 0,05 (nilai p batch 1 = 0,981, nilai p batch 2 = 0,558, nilai p batch 3 = 0,741).

  Karena data terdistribusi normal dan merupakan data yang lebih dari dua kelompok, maka uji komparatif dilakukan menggunakan metode One Way Anova yang kemudian dilanjutkan dengan analisis Post Hoc jika didapatkan hasil data yang ada berbeda bermakna untuk melihat dimana letak perbedaan yang terjadi.

  Syarat suatu data dapat diuji dengan metode Anova adalah data tersebut harus terdistribusi normal dan varians data harus sama.

  Untuk melihat variansi data maka dilakukan uji homogenitas data. Dari

  ®

  hasil uji homogenitas untuk data kadar kurkumin dalam tiga batch Kiranti didapatkan hasil sebagai berikut:

  

Tabel VII. Uji homogenitas data

Test of Homogeneity of Variances kadar Levene Statistic df1 df2 Sig. Berdasarkan hasil uji Homogeneity of Variances didapatkan hasil nilai p = 0,149 (p > 0,05). Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa data yang ada memiliki variansi data yang tidak berbeda bermakna atau dengan kata lain varians data sama. Oleh karena itu, data memenuhi syarat untuk dilakukan uji Anova. Dari uji Anova yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:

  

Tabel VIII. Uji Anova

ANOVA

kadar Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  Between Groups 1443.058 2 721.457 3.738E3 .000 Within Groups 2.317 12 .193 Total

  1445.374

  14 Pada uji Anova yang dilakukan diperoleh hasil nilai p = 0,000 (p < 0,05).

  Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar kurkumin yang bermakna

  ®

  di dalam ketiga batch Kiranti . Untuk melihat pada batch mana perbedaan yang bermakna terjadi maka dilakukan uji Post Hoc. Dari uji Post Hoc didapatkan hasil sebagai berikut:

  

Tabel IX. Uji Post Hoc

Multiple Comparisons

kadar LSD

  95% Confidence Interval Mean Difference

  • *

    (I) batch (J) batch (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound

    batch 1 batch 2 -22.1521800 .2778800 .000 -22.757628 -21.546732 * * batch 3 -3.0214000 .2778800 .000 -3.626848 -2.415952 *

    batch 2 batch 1 22.1521800 .2778800 .000 21.546732 22.757628 * batch 3 19.1307800 .2778800 .000 18.525332 19.736228 *

    batch 3 batch 1 3.0214000 .2778800 .000 2.415952 3.626848 batch 2 -19.1307800 .2778800 .000 -19.736228 -18.525332 *. The mean difference is significant at the 0.05 level.

  • batch 1 dengan batch 2 adalah p = 0,000; nilai p untuk perbandingan antara batch 2 dengan batch 3 adalah p = 0,000; nilai p untuk perbandingan antara batch 1 dengan batch 3 adalah p = 0,000.

      Semua data memiliki nilai p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi

      ®

      perbedaan kadar kurkumin yang bermakna pada ketiga batch Kiranti . Oleh karena itu, dari hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa kadar kurkumin dalam

      ® tiga batch Kiranti tidak sama.

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

      1. Kadar rata-rata kurkumin dalam tiga batch Kiranti

      ®

      berturut-turut sebagai berikut batch 1 sebesar 14,0364±0,2033 mg/ml; batch 2 sebesar 36,1886±0,6878 mg/ml; dan batch 3 sebesar 17,0578±0,2546 mg/ml. Kadar tersebut lebih tinggi daripada kadar teoritis kurkumin dalam sampel Kiranti

      ® .

      2. Kadar kurkumin dalam ketiga batch Kiranti

      ® tidak sama.

      B.

      

    Saran

      Perlu dilakukan penetapan kadar kurkumin dalam sediaan Obat Herbal Terstandar yang lain menggunakan metode KCKT dengan sistem yang sama.

    DAFTAR PUSTAKA

      Aggarwal, B. B., Kumar, A., Aggarwal, M. S., and Shishodia, C., 2005, Curcumin

      Derived from Turmeric ( Curcuma longa): a Spice for All Seasons,

      http://www.curcumin.co.nz/pdf/Curcumin_A_Spice_For_All_Seasons.pd f, diakses tanggal 4 November 2010. Aggarwal, B. B., Bhatt, I. D., Ichikawa, H., Ahn, K.S., Sethi, G., Sandur,S. K.,

      Natarajan, C., Navindra Seeram, S., and Shishodia, S., 2006, Curcumin-

      Biological and Medical Properties ,

      http://www.indsaff.com/10%20Curcumin%20biological.pdf, diakses tanggal 4 November 2010. Ahuja, S., and Dong, Michael W., 2005, Handbook of Pharmaceutical Analysis

      By HPLC , 1st ed., volume 6, Elsevier Academic Press, United Kingdom, pp.194-207.

      Anonim, 2011, Kiranti Fun Fact: Bebas Nyeri Haid dengan Kiranti Sehat Datang

      Bulan ,

      http://www.klikdokter.com/kesehatankewanitaan/read/2011/01/19/307/be bas-nyeri-haid-dengan-kiranti-sehat-datang-bulan, diakses tanggal 9 Mei 2011. Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2004, Keputusan Kepala Badan Pengawas

      Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.4.2411 , Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

    a

      Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 , Peraturan Kepala Badan Pengawas

      Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.4.1380 , Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

    b

      Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2005 , Peraturan Kepala Badan Pengawas

      Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor : HK.00.05.41.1384 , Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta.

      Batubara, I., Rafi, M., dan Darusman, L. K., 2005, Estimasi Kandungan Kurkumin pada Sediaan Herbal Komersial Secara Spektrofotometri Derivatif, Jurnal Sains Kimia, 9 (1), 28-34.

      Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979, Farmakope Indonesia , Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 773.

      Dwivedi, A. K., Raman, M., Seth, R. K. and Sarin, J. P. S., 1992, Combined Thin Layer Chromatography-Densitometry for The Quantitation of Curcumin in Pharmaceutical Dosage Forms and in Serum, Indian J. Pharm. Sci., 54 (5), 174-177.

      Gritter, R. J., Bobbit, J. M., and Schwarting, A. E., 1991, Introduction to

      Chromatography , diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, edisi II, 205-219, ITB, Bandung.

      Harris, D. C., 1999, Quantitative Chemical Analysis, 2nd ed., W. H. Freeman Company, New York, 643, 648, 716-717. Heath, D. D., Pruitt, M. A., Brenner, D. E., Begun, A. N., Frautschy, S. A. and

      Roch, C. L., 2005, Tetrahydrocurcumin in Plasma and Urine: Quantitation by High Performance Liquid Chromatography, J. Chrom. B. Hendayana, S., 2006, Kimia Pemisahan Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern , PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 21-25. Inoue, K., Nomura, C., Ito, S., Nagatsu, A., Hino, T. and Oka, H., 2008,

      Purification of Curcumin, Demethoxycurcumin, and Bisdemethoxycurcumin by High-Speed Countercurrent Chromatography, J. Agric. Food. Chem. , 56 (20), 9328-9336.

      Jadhav, B.K., Mahadik, K.R. and Paradkar, A.R., 2007, Development and Validation of Improved Reversed-Phase HPLC Method for Simultaneous Determination of Curcumin, Demethoxycurcumin, and Bis- Demethoxycurcumin, Chrom., 65 (7/8), 483-488.

      Jayaprakasha, G. K., Rao, J. M. and Sakariah, K. K., 2002, Improved HPLC Method for Determination of Curcumin, Demethoxycurcumin, and Bisdemethoxycurcumin, J. Agric. Food Chem., 50, 3668-3672.

      Johnson, E. L. dan Stevenson, R., 1978, Basic Liquid Chromatography, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung. Katno dan Pramono, S., 2004, Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, http://cintaialam.tripod.com/keamanan_obat%20tradisional.pdf, diakses tanggal 3 November 2010. Kementerian Kesehatan RI, 1994, Keputusan Menteri Kesehatan Republik

      Indonesia Nomor:661/MENKES/SK/VII/1994 , Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Khurana, A. L and Ho, C. T., 1988, High Performance Liquid Chromatographic Analysis of Curcuminoid and Their Photo-Oxidative Decomposition Compounds in Curcuma longa L., J. Liq. Chrom., 11 (11), 2295-2304.

      Khopkar, S. M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, diterjemahkan oleh A.

      Saptohardjo, Pendamping Agus Nurhadi, UI Press, Jakarta, 189. Krisnayanti, K. D., 2011, Optimasi Metode Penetapan Kadar Kurkumin dalam

      ®

      Sediaan Cair Obat Herbal Terstandar (OHT) Kiranti dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Fase Terbalik, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

      Martono, S., 1996, Penetapan Kadar Kurkumin secara Kromatografi Lapis Tipis- Densitometri, Buletin ISFI, 2 (4), 11-21, Yogyakarta. Mulja, M. dan Suharman, 1995, Analisis Instrumental, 6-11, 26, 31, 34, Universitas Airlangga, Surabaya. Munson, J. W., 1984, Pharmaceutical Analysis Modern Methods, diterjemahkan oleh Harjana dan Parwa B., Universiutas Airlangga Press, Surabaya, 15,

      33-34. Musfiroh, I., Indriyanti, W., Susilawati, Y., dan Percekawati, A., 2009, Curcumin

      Quantification In Dosage Forms Using High Performance Liquid Chromatography , http://pustaka.unpad.ac.id/wp-

      content/uploads/2009/12/curcumin_quantification.pdf, diakses tanggal 23 September 2010. Nasution, R., Teknik Sampling, USU Digital Library, Sumatera Utara. Nhujak, T., Saisuwan, W., Srisaart, W. and Petsom, A., 2006, Microemulsion

      Electrokinetic Chromatography for Separation and Analysis of Curcuminoids in Tumeric Samples, J. Sep. Sci., 29 (5), 666-667. Noegrohati, S., 1994, Pengantar Kromatografi, UGM, Yogyakartal 6-17. Paramasivam, M., Aktar, Md.W., Poi, R., Banerjee, H. and Bandyopadhyay, A.,

      2008, Occurrence of Curcuminoids in Curcuma longa: A Quality Standardization by HPTLC, Bangladesh J. Pharmacol., 3, 55-58. Research And Innovation Center, 2005, Uji Klinik KIRANTI Sehat Datang Bulan,

      Teruji Aman Atasi Nyeri Haid Dan Keputihan, Orang Tua, Surabaya Rungphanichkul, N., 2004, Preparation and Characterization of Curcuminoids Niosomes , Faculty of Pharmaceutical Science, Chulalongkorn University. Sastrohamidjojo, H., 2002, Spektroskopi, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 9, 11, 15, 22-26. Shishodia, S., Chaturvedi, M. M., and Aggarwal, B. B., 2007, Role of Curcumin in Cancer Therapy, Curr Probl Cancer, 31(4), 243-305. Smith, R. and Witowska, B., 1984, Comparison of Detectors for The

      Determination of Curcumin in Tumeric by High Performance Liquid Chromatography, Analyst, 109, 259-261. Snyder, L.R., Kirkland, J.J. and Glajch, J.L., 1997, Practical HPLC Method

      nd Development , 2 edition, 687-688, 690, 691, 695, John Wiley and Sons, Inc., New York.

      Skoog, D. A., Holler, F. J. and Nieman, T. A., 1998, Principles of Instrumental

      th Analysis , 5 edition, Harcourt Brace College Publishers, Philadelphia, 325-351.

      Stankovic, I., 2004, Curcumin, Chemical and Technical Assessment (CTA), ftp://ftp.fao.org/es/esn/jecfa/cta/CTA_61_Curcumin.pdf, diakses tanggal

      3 November 2010. Sugiyono, 2008, Statistika Untuk Penelitian, cetakan ketigabelas, 117-190, Alfabeta, Bandung.

      Sumiati, T., 2003, Keunggulan dan Manfaat Kunyit, http://id.shvoong.com/lifestyle/2005091-keunggulan-dan-manfaat- kunyit/, diakses tanggal 23 September 2010. Sumule, A.W., 2007, Validasi Metode Penetapan Kadar Kurkumin Secara

      Kromatografi Cair Kinerja Tinggi dan Aplikasinya dalam Sediaan Sirup,

    Tesis , Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

    Tonnesen, H.H. and Karlsen, J., 1983, High Performance Liquid Chromatography of Curcumin and Related Compounds, J. Chrom., 1259, 367-371.

      a

      Tonnesen, H.H. and Karlsen, J., 1985 , Studies on Curcuminand Curcuminoids,

      V. Alkaline Degradation of Curcumin, Z. Lebensm. Unters. Forsch., 180, 132-134.

      b

      Tonnesen, H.H. and Karlsen, J., 1985 , Studies on Curcuminand Curcuminoids,

      Tonnesen, H.H., 1986, Chemistry, Stability and Analyst of Curcumin-A Naturally Occuring Drug Molecule, Ph. D, Thesis, Institute of Pharmacy, University of Oslo, Oslo.

      Tonnesen, H.H. and Karlsen, J., 1986, Studies on Curcuminand Curcuminoids,

      VII. Chromatographic Separation and Quantitation Analysis of Curcumin and Related Compounds, Z. Lebensm. Unters. Forsch., 182, 215-218. Thorne Research, 2002, Curcuma Longa , http://www.thorne.com/media/alternative_medicine_review/monographs/

      CurcumaMono.pdf, diakses tanggal 4 November 2010. Widjaja, M., 2011, Validasi Metode Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan

      Cair Obat Herbal Terstandar Merk Kiranti Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

      Yuwono, M., dan Indrayanto, G., 2005, Validation of Chromatographic Methods of Analysis, Profile of Drug Substances, Excipients, and Related Methodology, Elseiver Inc., 32, 243-259

      LAMPIRAN

      

    Lampiran 1. Pernyataan jaminan keaslian bahan kurkumin standar hasil

    sintesis

      Lampiran 2. Spektra panjang gelombang maksimum kurkumin

      Lampiran 3. Hasil uji stabilitas kurkumin pada pH 3-5

      Lampiran 4 . Kromatogram pelarut metanol pH 4 (blanko)

      1. Batch 1

      2. Batch 2

      3. Batch 3

      Lampiran 5. Kromatogram baku kurkumin

    1. Konsentrasi 1,5 ppm

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

    c. Replikasi 3

    2. Konsentrasi 2,0 ppm

    a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

      c. Replikasi 3

    3. Konsentrasi 2,5 ppm

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

    c. Replikasi 3

    4. Konsentrasi 3,0 ppm

    a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

      c. Replikasi 3

    5. Konsentrasi 3,5 ppm

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

    c. Replikasi 3

    6. Konsentrasi 4,0 ppm

    a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

      c. Replikasi 3

    7. Konsentrasi 4,5 ppm

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2

    c. Replikasi 3

      Lampiran 6. Perolehan AUC seri baku kurkumin

    Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3

    C (ppm) AUC C (ppm) AUC C (ppm) AUC

      

    1,515 436453 1,500 490279 1,515 504645

    2,020 576159 2,000 604061 2,020 650146

    2,525 734421 2,500 814609 2,525 800553

    3,030 903940 3,000 921890 3,030 952204

    3,535 1035906 3,500 1074232 3,535 1174700

    4,040 1172320 4,000 1368847 4,040 1326970

    4,545 1361779 4,500 1484459 4,545 1461741

    A = -26242,7857 A = -57032,2143 A = -3952,2143

      B = 301964,9929 B = 340838,2143 B = 325253,3946 r = 0,9992 r = 0,9928 r = 0,9982 α = 89,99 α = 89,99 α = 89,99 .

      Perlu dilakukan modifikasi seri baku kurkumin karena memiliki nilai α > 45 Modifikasi dilakukan dengan konsentrasi baku kurkumin (ppm) dikali 300.000

      . Berikut ini adalah hasil modifikasi yang sehingga diperoleh nilai α mendekati 45 dilakukan:

      

    Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3

    5

    5

    5 C (ppm) x 3.10 AUC C (ppm) x 3.10 AUC C (ppm) x 3.10 AUC 454500 436453 450000 490279 454500 504645 606000 576159 600000 604061 606000 650146 757500 734421 750000 814609 757500 800553 909000 903940 900000 921890 909000 952204 1060500 1035906 1050000 1074232 1060500 1174700

      1212000 1172320 1200000 1368847 1212000 1326970 1363500 1361779 1350000 1484459 1363500 1461741 A = -26242,7857 A = -57032,2143 A = -3952,2143 B = 1,0065 B = 1,1361 B = 1,0842 r = 0,9992 r = 0,9928 r = 0,9982 α = 45,18 α = 48,65 α = 47,31

      Lampiran 7. Persamaan dan gambar kurva baku kurkumin

      1. Persamaan kurva baku kurkumin yang digunakan berasal dari replikasi 1 hasil modifikasi dengan persamaan sebagai berikut:

      

    y = 1,0065 x – 26242,7857

      2. Gambar kurva baku kurkumin

      Lampiran 8. kromatogram optimasi waktu ekstraksi

      1. Waktu ekstraksi 5 menit

      2. Waktu ekstraksi 10 menit

      3. Waktu ekstraksi 15 menit

      4. Waktu ekstraksi 20 menit

      

    Lampiran 9. Nilai AUC hasil optimasi waktu ekstraksi dan kurva hubungan

    antara waktu ekstraksi dengan nilai AUC Waktu Ekstraksi Waktu Retensi (t R ) AUC

      6,168 284345 5 menit

      10 menit 6,164 326604 15 menit 6,162 324188 20 menit 6,161 323564

      Waktu Ekstraksi yang digunakan adalah waktu di mana ekstraksi yang dilakukan menghasilkan nilai AUC yang paling tinggi yakni pada waktu ekstraksi yang dilakukan selama 10 menit. Kurva hubungan antara waktu ekstraksi dengan nilai AUC

      

    Lampiran 10. Contoh perhitungan resolusi pemisahan kurkumin dalam

    sampel

      Diketahui: t R1 = 5,525 W

      1 = 0,3158

      t R2 = 6,000 W

      2 = 0,3947

      = 1,3371 b. Batch 2  volume rata-rata = 146,9 ml

      Kurkuminoid dalam serbuk kunyit (2-5%)

      

    Lampiran 11. Perhitungan kadar kurkumin teoritis dalam setiap botol OHT

    merk Kiranti ®

    • Kadar rendah x 30 g = = 0,6 g
    • Kadar tinggi x 30 g = = 1,5 g

      Kurkumin 77% dari kurkuminoid

    • Kadar rendah x 0,6 g = 0,462 g
    • Kadar tinggi x 1,5 g = 1,155 g

      Kandungan kurkumin pada setiap kemasan 150 ml (1 botol kiranti)

      a. Batch 1  volume rata-rata = 145,5 ml

    • Kadar rendah
      • 3

      = 3,1753 x 10

      g/ml = 3,1753 mg/ml

    • Kadar tinggi
      • 3

      = 7,9381 x 10

      g/ml = 7,9381 mg/ml

    • Kadar rendah
    • Kadar tinggi

    • 3

      = 7,8625 x 10

      g/ml = 7,8625 mg/ml

      c. Batch 3  volume rata-rata = 146,8 ml

    • Kadar rendah
      • 3

      = 3,1471 x 10

      g/ml = 3,1471 mg/ml

    • Kadar tinggi
      • 3

      = 7,8678 x 10

      g/ml = 7,8678 mg/ml

      Lampiran 12 . Kromatogram hasil penetapan kadar

      1. Batch 1

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2 c. Replikasi 3

      d. Replikasi 4 e. Replikasi 5

      2. Batch 2

      a. Replikasi 1 b. Replikasi 2

      c. Replikasi 3 d. Replikasi 4

      e. Replikasi 5

      3. Batch 3

      a. Replikasi 1

      b. Replikasi 2 c. Replikasi 3

      d. Replikasi 4 e. Replikasi 5

      Lampiran 13 . Data kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT Kiranti ® Batch Replikasi AUC Kadar (mg/ml) Keterangan Batch 1 Replikasi 1 830072 13,7544 SD = 0,2033

      CV = 1,4485 % X rata-rata = 14,0364 mg/ml Replikasi 2 848953 14,0576

      Replikasi 3 862974 14,2828 Replikasi 4 854969 14,1543 Replikasi 5 841182 13,9328

      Batch 2 Replikasi 1 1067140 35,4624 SD = 0,6878 CV = 1,9005 % X rata-rata = 36,1886 mg/ml Replikasi 2 1091941 36,2668

      Replikasi 3 1122282 37,2508 Replikasi 4 1074857 35,7127 Replikasi 5 1091429 36,2501

      Batch 3 Replikasi 1 1030710 17,1287 SD = 0,2546 CV = 1,4923 %

      X rata-rata = 17,0578 mg/ml Replikasi 2 1045155 17,3628 Replikasi 3 1002467 16,6710 Replikasi 4 1021992 16,9875 Replikasi 5 1031336 17,1389

      

    Lampiran 14 . Contoh perhitungan kadar kurkumin dalam sediaan cair OHT

    ® Kiranti

      Persamaan kurva baku hasil modifikasi (konsentrasi (ppm) x 300.000): y = 1,0065 x – 26242,7857 AUC sampel = 830.072 Volume rata-rata dalam satu botol = 145,5 ml y = 1,0065 x – 26242,7857

      830.072 = 1,0065 x – 26242,7857 x = 850.784,6852 ppm x = x = 2,8359 ppm Kadar sebelum pengenceran = 2,8359 x 10 x = 94,5316 ppm

       0,0945 mg/ml Kadar dalam 1 botol sampel = 0,0945 x 145,5 = 13,7544 mg/ml

      

    Lampiran 15 . Contoh perhitungan %CV kadar kurkumin dalam tiga batch

    ® sediaan cair OHT Kiranti

      SD kadar kurkumin dalam 3 batch = 10,1608 Jumlah total sampel (N) = 15 Kadar rata-rata ( ) = 22,4276 mg/ml SE = = = 2,6235 %CV = = = 11,6976 %

    BIOGRAFI PENULIS

      Penulis skripsi yang berjudul “Penetapan Kadar Kurkumin dalam Sediaan Cair Obat Herbal Terstandar Merk Kiranti

      ®

      Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Fase Terbalik” ini bernama lengkap Martinus Supriyadi Krisantoro. Penulis dilahirkan di Bantul, Yogyakarta pada tanggal 29 November 1987. Penulis adalah anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Ignatius Supiyo dan Suzana Wagirah. Penulis pernah menempuh pendidikan formal di TK Kanisius Pusporini Pijenan (1992-1994), SD Kanisius Pijenan (1994- 2000), SLTP Negeri 2 Bantul (2000-2003), SMA Seminari Mertoyudan (2003-2006), SMA St. Mikael Sleman (2006-

      2007) dan pada tahun 2007 melanjutkan pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Sanata Dharma, penulis aktif dalam berbagai kegiatan, antara lain Panitia Hari AIDS se-Dunia (2007), Panitia Tiga Hari Temu Akrab Farmasi (Titrasi) (2009), Panitia Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (2010). Selain itu, penulis juga pernah menjadi asisten dosen Praktikum Analisis Kosmetik, praktikum Farmakognosi Fitokimia, praktikum Botani Dasar, praktikum Biofarmasetika, praktikum Biokimia dan praktikum FTS Steril (2011).

      Penulis juga aktif dalam berbagai kegiatan gereja, diantaranya adalah sebagai ketua II Mudika Paroki St. Yakobus Bantul (2006-sekarang), Sekretaris Jenderal Mudika St. Ignatius de Loyola (2006-sekarang), Panitia Penggalangan Dana Pembangunan Gereja St. Yakobus Bantul (2009), Panitia HUT Paroki St. Yakobus Bantul (2009), dan anggota tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia (2010).

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan larutan injeksi pemutih kulit merek ``X`` secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik.
2
21
125
Optimasi komposisi dan kecepatan alir fase gerak metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik untuk penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan larutan injeksi obat pemutih kulit merk ``X``.
0
10
99
Validasi metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik untuk penetapan kadar asam askorbat dalam sediaan larutan injeksi obat pemutih kulit merek "X".
1
1
114
Penetapan kadar Bensorsak dalam okky jelly drink secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
0
0
12
Penetapan kadar Bensorsak dalam okky jelly drink secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
0
1
2
Penetapan kadar Bensorsak dalam okky jelly drink secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
0
1
3
Penetapan kadar Bensorsak dalam okky jelly drink secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
1
7
17
Penetapan kadar Bensorsak dalam okky jelly drink secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT)
0
0
14
Penetapan kadar asam ursolat dalam ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
1
78
Penetapan kadar aspartam dalam minuman serbuk beraoma merek ``X`` secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
83
Validasi metode penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair obat herbal terstandar merk Kiranti secara kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
0
118
Optimasi metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik pada pemisahan kloramfenikol dan lidokain hidroklorida dalam sediaan tetes telinga Colme - USD Repository
0
0
159
Penetapan kadar kurkumin dalam sediaan cair Obat Herbal Terstandar (OHT) merk Kiranti dengan metode kromatografi lapis tipis-densitometri - USD Repository
0
0
132
Penetapan kadar kloramfenikol dan lidokain hidroklorida dalam sediaan tetes telinga Colme dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi fase terbalik - USD Repository
0
1
94
Penetapan kadar kurkumin dalam sediaan kapsul lunak obat herbal terstandar merk Rheumakur yang beredar di pasaran dengan metode kromatografi lapis tipis-densitometri - USD Repository
0
2
107
Show more