Hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository

Gratis

0
0
132
3 months ago
Preview
Full text

  HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MANAJEMEN WAKTU DENGAN PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BEKERJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) Program Studi Psikologi Oleh: Benedictus Isworohadi

  NIM : 049114098

  Waktu berjalan cepat tanpa disadari dan kamu ada di persimpangan untuk memilih mana yang akan dituju Bukan sebagai bentuk paksaan tetapi dalam bentuk kesederhanaan untuk memilih Bukan sebagai bentuk paksaan tetapi sebagai bentuk kekuatan untuk dijalani Aku kan menopang dalam keraguanmu dan aku akan berjalan di sisimu sampai akhir Dan hari ini..kamu akan menyadari bahwa aku nafasmu yang meyegarkanmu setelah penatmu kembali datang….

  Skripsi ini dipersembahkan untuk : Bapa, Yesus dan penghuninya di sorga

  Bapak, Ibu dan Adekku Bhekti Gex Ice dan semua teman-temanku yang luar biasa dan inspiratif

  Thanks for being the best in me...

  God Bless You.....

  

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN MANAJEMEN WAKTU DENGAN

PRESTASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BEKERJA

Benedictus Isworohadi

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan manajemen waktu

dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja. Aspek dari kemampuan manajemen

waktu ini adalah menetapkan tujuan dan prioritas (setting goals and priorities), perencanaan dan

penjadwalan (planning and scheduling), kemampuan mengendalikan waktu (perceived control of

time ), dan preferensi untuk terorganisasi (preference for organization). Kemampuan manajemen

waktu pada penelitian ini merupakan variabel bebas, sedangkan untuk prestasi akademik

merupakan variabel tergantung. Prestasi akademik pada penelitian ini berupa nilai IPK (Indeks

Prestasi Kumulatif) dari mahasiswa yang bekerja. Subyek pada penelitian ini adalah mahasiswa

yang bekerja dan berjumlah 61 orang, yang diperoleh dengan menggunakan purposive random

sampling . Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan skala kemampuan manajemen

waktu dengan jumlah aitem sebanyak 36 aitem. Sedangkan prestasi akademik diukur dengan data

identittas yang diisi subyek. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan

tidak adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi

akademik. Hal ini ditunjukkan dengan nilai korelasi sebesar 0,148 dan probabilitas sebesar 0,255

(p > 0,05).

  Kata kunci : manajemen waktu, prestasi akademik, mahasiswa bekerja

  

CORRELATION BETWEEN TIME MANAGEMENT SKILLS WITH

ACADEMIC AHIEVEMENT IN STUDENTS WORKING

Benedictus Isworohadi

  

ABSTRACT

Current research is aimed to find out the correlation between time management’s skill with

academic achievement in students working. Aspects of time management in this research are

setting goals and priorities, planning and scheduling, perceived control of time, dan preference for

organization. Time management’s skills in this research has functioned as the independent

variable and academic achievement has functioned as dependent variable. Academic achievement

in this research has showed with GPA of students working. The subjects of current research were

61 subjects who has students working, drawn by means of purposive random sampling method.

Data collecting were scales composed 36 time management’s item. Whereas, academic

achievement data collecting was used identitiy data of subjects. Statistical method which used to

analyze the data was Pearson Product Moment. Results of this research was showed that has not

significant correlation between time management’s skill with academic achievement in students

working. The correlation was showed by yield the correlation coefficient of 0,148 with p value of

0,255 (p > 0,255).

  Key Words : time management, academic achievement, students working

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Bapa di Surga dan Yesus Kristus atas kasih dan karunia-Nya yang berlimpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul Hubungan Antara Kemampuan

  

Manajemen Waktu Dengan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Yang

Bekerja. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat untuk mendapatkan gelar

  Sarjana Psikologi (S.Psi) di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Semua yang tertuang dalam skripsi ini diperoleh dengan kerja keras dan tidak lain karena peran, bantuan, bimbingan, motivasi, dukungan, dan doa dari beberapa pihak, dan karenanya penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan jalan dan penerangan yang tak terhingga untuk mendapatkan insights yang sangat membantu...

  2. Bapak Eddy Suhartanto, S. Psi., M. Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma dan dosen pembimbing skripsi yang telah membantu dan membimbing penulis hingga terselesaikan skripsi ini.

  3. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si., selaku dosen penguji 1.

  4. Ibu Agnes Indar Etikawati, S. Psi., Psi., M. Si., selaku dosen penguji 2.

  5. Ibu P. Henrietta P. D. A. D. S, S. Psi., selaku dosen pembimbing akademik yang telah membimbing penulis secara akdemik selama penulis menempuh

  6. Ibu Sylvia Carolina C. M. Y. M., S. Psi., M. Si., selaku dosen mata kuliah seminar yang telah membantu penulis dalam membimbing pengerjaan seminar sehingga bisa diajukan sebagai skripsi.

  7. Bapak-ibu dosen yang telah membimbing penulis dalam mengajarkan ilmu- ilmu psikologi, benar-benar tidak ternilai jasa bapak-ibu. Terima kasih ya pak, terima kasih ya bu.

  8. Mas Gandung, Pak Gie, dan Mbak nanik yang ada di sekretariat. Terima kasih ya sudah banyak memberi info tentang segala hal yang ada di fakultas psikologi

  9. Mas Muji yang ada di laboratorium, ma kasih lho mas buat becandaan dan konsultasi yang bermanfaat banget waktu aku jadi asisten Tes Inventori. Salut buat Mas Muji.

  10. Bapak dan Ibu yang ada di Tangerang. Ma kasih banget buat doa, dukungan semangat yang tidak pernah ada habis-habisnya. Serta selalu mengingatkan akan semuanya.

  11. Adek yang ada di Tangerang dan bolak-balik Depok. Ma kasih banget ya dukungannya yang keren banget...mantaffhh.....ayo kuliah yang bener biar ada satu orang lagi di keluarga kita yang pake gelar, hahahaha...

  12. Gex Ice, W.O.W deh buat dukungan, support dan keajaiban-keajaiban yang luar biasa. Udah mo ingetin segala hal sampai bantuin buat menyempurnakan

  13. Rani Meita Pratiwi, S. Psi...hahahha namamu ta pakein gelar lho, biar kamu senang. Hahahaha...Ma kasih ya Ran buat persahabatan sampai 5 tahun lebih, kamu bener2 pendukung yang setia deh...sukses buat karir kamu.

  14. Esti Wahyuningrum A. K. A ndol. Ma kasih banget-banget ya ndol, yang udah memberikan inspirasi dan menemaniku di rumah sakit. Aq terharu inget kamu.

  15. Felix Felicity Rorong. Thanks banget dude, buat masukan-masukan dan diskusi-diskusi kita yang ga jelas. Hahahaha...yang penting dugem..hahaha..ayo dugem, aku pasti kangen joget-joget ma kamu. PS nyok..

  16. Xna, good friend of mine. Ma kasih buat persahabatan yang udah terjalin selama ini serta kata-kata prince charming yang emang buat jadi charm..haha..

  17. Unang-Untuk Dikenang..kamu memang layak dikenang Nang. Jayusin aku terus ya nang. Ntar malem PS yuk. Hehehehe

  18. Adip. Si juru tarot yang terkenal se jogja, hahahahaa..ma kasih ya Dip akan nasihatmu yang bener-bener berharga banget buat aku. Aku sangat bangga pernah kenal kamu.

  19. JustPlay yang emang yahud dengan porsi yang pas. Aku bangga pernah main sama kalian. Serta HOMOZONE (Patje, Baka, Wawan, Ajay, Mas Yudhy) yang zona nya membuat nyaman. Hahahaha

  20. TILc (This Is Life community), Damas, Tito, Steph, David dan Gede. Hebat banget, aku bener-bener belajar kehidupan nyata bersama kalian, dan kalian

  21. Teman-teman 2004, baik yang sudah lulus maupun masih yang berjuang untuk sampai di titik penghujung S1 nya. Wah kalo di sebutin satu-satu susah nih, banyak banget. Semangat buat kehidupan kalian ya teman-teman.

  22. Teman-teman di ruang konseling...ada Yandu, Raniy, Ndol, Karen yang Key ren, Poepoed, Weera, dan Ika. Serta tidak lupa bu Agnes yang sudah memberikan saya kesempatan untuk belajar di Unit Konseling.

  23. Teman-teman CS Victory dulu. Ada Mae, Ronal, Verty, Raniy (lagi), Lucky, Abhe, Mba Didi, Chadiq, Mas Leo, Putu, Waunk, Sisil, Dwi, Mas Andi, serta Mas Bona. Ma kasih ya buat dinamika nya yang tak tergantikan.

  24. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini dalam bentuk diskusi-diskusi kecil yang sangat bermanfaat, ada Inug, Dita, Pakde Dul, dan Nines.

  25. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini dalam bentuk pinjaman-pinjaman bukunya, ma kasih banget ya, Andri buat SPSS 16 nya, Dora buat SPSS 13 nya, Dita buat buku-buku psikologi pendidikan nya, serta Yandu buat 7 habbits nya.

  26. Teman-teman di PBB (Psychology Beyond Borders), FRIENDS community, serta teman-teman kepanitiaan dari AKSI 2005-2007, UKF Psikologi, BEMF 2005-2006, serta kepanitiaan yang lain. Terima kasih dinamika bersama kalian membuatku jauh lebih dewasa.

  28. Teman-teman KKN ku yang di Siluk I, ada Cylas, Hana, Pipin, Widya, Janti, Ita, Aster, Dika, dan Ipung. Terima kasih teman-teman untuk hidup bersama selama 1 bulan di desa orang.

  29. Teman-teman kos PATRIA, baik yang udah pindah atau pun masih betah di sana. Hayo cepet lulus semua, udah mahal tu sekarang bayar kos an.

  30. Buat motor Supra X dan PC ku yang kusayang, bersama kalian aku melewati segala hal yang menjadi pembelajaran. Wah, motorku udah bobrok ni..huhuhu..

  31. Sangat-sangat berterima kasih buat para subyekku, karena kalianlah skripsi ini selesai dan kalian sangat berperan sangat besar di skripsi ini, terima kasih ya mbak-mbak dan mas-mas....

  32. Yang terakhir buat semua yang belum disebutkan di skripsi ini, maaf belum kesebut, karena banyak banget yang berperan, semoga Tuhan memberkati teman-teman semua dan membalas semua yang baik pada teman-teman.

  Thanks for being the best in me.....

  Yogyakarta, Mei 2008 Penulis.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.......................................................... v ABSTRAK ...................................................................................................... vi

  

ABSTRACT ...................................................................................................... vii

  LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI....................................................... viii KATA PENGANTAR .................................................................................... ix DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv DAFTAR TABEL ........................................................................................... xviii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xx DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xxi

  BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian …..…………………………………………………….. 7 D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis …………………………………………………….. 8

  1. Pengertian Manajemen Waktu ............................................................ 9

  2. Kuadran Manajemen Waktu ............................................................... 10

  3. Prinsip-prinsip Manajemen Waktu ..................................................... 14

  4. Aspek-aspek Manajemen Waktu .......................................................... 15

  5. Manfaat Manajemen Waktu............................……………………….. 19

  B. Prestasi Akademik ...................................................................................... 22

  1. Pengertian Prestasi Akademik ……................……………………..... 22

  2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademik ..................... 24

  C. Mahasiswa Bekerja ....……………………………………………………. 29

  1. Pengertian Mahasiswa .......................................................................... 29

  2. Pengertian Bekerja ................................................................................ 30

  3. Pengertian Mahasiswa Bekerja ............................................................. 31

  D. Dinamika Hubungan Kemampuan Manajemen Waktu Dengan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Bekerja .......................................................... 32

  E. Hipotesis ..................................................................................................... .37

  BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................. .39 A. Jenis Penelitian ........................................................................................... 39 B. Identifikasi Variabel Penelitian .................................................................. 39 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ................................................... 40

  1. Manajemen Waktu .............................................................................. 40

  E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ......................................................... 42

  1. Uji Validitas Isi ..................................................................................... 48

  a. Uji Normalitas ................................................................................. 53

  1. Uji Asumsi Penelitian ……………………………………………….. 53

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... .52 A. Pelaksanaan Penelitian ...... ......................................................................... .52 B. Analisis Hasil Penelitian ............................................................................. .53

  I. Analisis Data ................................................................................................ 51

  3. Uji Reliabilitas ...................................................................................... 50

  2. Uji Seleksi Aitem .................................................................................. 48

  H. Hasil Uji Coba .............................................................................................. 48

  1. Metode.....................………………… ………………………………. 42

  G. Pelaksanaan Uji Coba ...…………………………………………………... 47

  3. Uji Reliabilitas ....................................................................................... 46

  2. Seleksi Aitem ......................................................................................... 46

  1. Uji Valididtas Isi .................................................................................... 45

  F. Validitas dan Reliabilitas...... ……………………………………………… 44

  2. Alat Pengumpulan Data ............……………………………………... 42

  b. Uji Linearitas ................................................................................... 54

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 67 A. Kesimpulan ................................................................................................ 67 C. Saran ........................................................................................................... 67 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 69 LAMPIRAN .................................................................................................... 72

  DAFTAR TABEL

  Tabel 2.1 Kuadran Waktu dari Manajemen Waktu .................................................... 11 Tabel 3.1

  

Blueprint Kemampuan Manajemen Waktu Sebelum Uji Coba ................. 44

  Tabel 3.2 Tabel Aitem-aitem Hasil Uji Coba ............................................................ 49 Tabel 3.3 Tabel Aitem-aitem Penelitian .................................................................... 50 Tabel 4.1 Hasil Uji Normalitas ................................................................................. 53 Tabel 4.2 Hasil Uji Linearitas ................................................................................... 54 Tabel 4.3 Deskripsi Subyek Berdasarkan Usia ......................................................... 55 Tabel 4.4 Deskripsi Subyek Berdasarkan Prestasi Aklademik (IPK) ....................... 56 Tabel 4.5 Deskripsi Subyek Berdasarkan Tingkat Semester .................................... 57

  Tabel 4.7 Deskripsi Subyek Berdasarkan Jumlah Jam Kerja / perminggu ............... 59 Tabel 4.8 Deskripsi Statistik Data Penelitian ........................................................... 60 Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi ..................................................................................... 62

  DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1 : Skema Hubungan Antara Kemampuan Manajemen Waktu Dengan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Bekerja ............................... 38

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran Skala Try Out Manajemen Waktu Lampiran Subyek Try Out Lampiran Koefisien Reliabilitas Skala Try Out Manajemen Waktu Lampiran Skala Penelitian Manajemen Waktu Lampiran Subyek Penelitian Lampiran Hasil Uji Normalitas Data Hasil Penelitian Lampiran Hasil Uji Linearitas Data Hasil Penelitian Lampiran Hasil Uji Korelasi Data Hasil Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Mahasiswa memiliki tanggung jawab yang utama dalam pendidikan

  yaitu menyelesaikan jenjang perkuliahannya. Penyelesaian jenjang kuliah mahasiswa terangkum dalam suatu hasil prestasi akademik yang dapat terlihat setiap akhir semester dalam bentuk nilai Indeks Prestasi (IP). IP menjadi tolak ukur, apakah mahasiswa tersebut layak untuk lulus.

  Banyak cara yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam meningkatkan nilai IP mereka. Cara tersebut banyak dilakukan dalam bentuk kegiatan yang bersifat akademis, seperti misalnya mengikuti seminar-seminar yang sesuai dengan jurusan kuliahnya, atau mengikuti perkumpulan belajar yang sesuai dengan fokusnya. Kegiatan yang bersifat akademis ini menjadi penting karena menurut Lawrence Steinberg (dalam Kartikawati, 2007) berprestasi di sekolah dan perguruan tinggi merupakan permasalahan utama dan penting pada masa persiapan peran bekerja di masa dewasa.

  Prestasi akademik memiliki peran penting dalam pendidikan mahasiswa. Prestasi akademik, dalam hal ini adalah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) menjadi hal yang penting karena sebagai kemampuan mengukur akademik sebagai kunci administrasi ketika akan melamar kerja (Aditya, 2005). Kunci administrasi ini dalam bentuk sebagai seleksi awal ketika akan melamar kerja.

  Kegiatan mahasiswa selain kegiatan akademis, ada pula kegiatan yang bersifat non-akademis. Salah satu kegiatan itu adalah kegiatan yang berupa pekerjaan. Menurut UU RI Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan pada Bab I mengenai Ketentuan Umum pasal 1 ayat 2 (dalam Astuti, 2005), tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Pada ayat 3 (dalam Astuti, 2005) juga dijelaskan, pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Dan pada ayat 26 (dalam Astuti, 2005) dijelaskan bahwa anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun.

  Berdasarkan ketentuan tersebut bila dikaitkan dengan mahasiswa di Indonesia yang memiliki umur diatas 18 tahun, maka mahasiswa memiliki pilihan untuk bekerja.

  Mahasiswa di Indonesia sesuai dengan umurnya yang berada di atas 18 tahun, menurut Hurlock (1996) memasuki tahap dewasa awal. Hurlock (1996) menjelaskan bahwa masa dewasa dini dimulai pada usia 18 – 40 tahun dan memiliki salah satu tugas perkembangan adalah mendapatkan suatu pekerjaan.

  Pengertian dari Hurlock, sesuai dengan pendapat dari Papalia & Olds dalam tahap mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia orang dewasa yang penuh dengan cara kerja yang mandiri.

  Ada begitu banyak lahan pekerjaan yang melibatkan mahasiswa sebagai tenaga kerja, misalnya radio, event organizer, kafe dan sebagainya (Kedaulatan Rakyat dalam Astuti, 2005). Lahan pekerjaan tersebut membutuhkan mahasiswa sebagai pekerjanya karena selain dinilai lebih kreatif dan inovatif, mahasiswa juga dianggap mempunyai semangat kerja yang tinggi sehingga menguntungkan bagi kinerja perusahaan. Pemahaman ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1996) bahwa bentuk kreatifitas pada suatu pekerjaan akan terlihat pada masa dewasa yang tergantung pada minat, kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan yang memberikan rasa puas sebesar-besarnya. Hurlock juga menambahkan (1996), penyaluran kreatifitas ini dapat melalui hobi, namun ada pula yang menyalurkan melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreatifitas.

  Mahasiswa yang bekerja memiliki suatu situasi tersendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Greenberger & Steinberg (dalam Santrock, 2003), bahwa mahasiswa yang bekerja memiliki dua pengaruh dalam kegiatan kuliah dan bekerjanya. Pengaruh tersebut meliputi pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh positifnya adalah ketika seseorang mengaplikasikan ilmu atau tugas-tugas kuliah yang dipelajari dalam kuliahnya. Selain pengaruh positif, terdapat pula pengaruh negatif, yaitu mahasiswa yang kuliah sambil bekerja tersebut, memiliki absen yang lebih banyak, penurunan aktivitas dalam berolah raga, penurunan sosialisasi dengan teman dan penurunan jumlah waktu untuk tidur. Penurunan ini dikarenakan mahasiswa yang bekerja tersebut, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja.

  Kelly (1998) mengutip dari perkataan Steinberg (1979), bahwa murid yang memiliki waktu kerja yang lama, mengakibatkan berkurangnya waktu dalam urusan sekolah mereka, penurunan hasil belajar di sekolah, meningkatkan stres secara psikologis, meningkatkan penggunaan obat dan alkohol, meningkatkan jumlah kejahatan, dan memiliki otonomi yang baik namun tidak terkontrol oleh orang tua. Penelitian ini didukung penelitian lain pada tahun 1997 yang dilakukan oleh David Stern (Director of The National

  

Research Center for Vocational Eduacational at UC Berkeley ). Stern

  membagi penelitiannya mengenai siswa yang berumur sekitar 20 tahun yang bekerja menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, kelompok yang bekerja kurang dari 15 jam seminggu, dan kelompok kedua yang bekerja lebih dari 15 jam seminggu. Hasilnya dikatakan bahwa hasil penelitian mengindikasikan siswa yang bekerja lebih dari 15 sampai 20 jam seminggu memiliki hasil bekerja, tidak boleh melebihi dari 20 jam seminggu, karena dapat mengganggu waktu perkuliahan mereka.

  Penelitian lain menunjukkan bahwa para mahasiswa yang bekerja lebih dari 15 jam per-minggu atau bekerja di pagi sekali atau di waktu yang tidak menetap, cenderung tidak menunjukkan prestasi yang bagus dalam pelajaran. Karena, untuk setiap unit pelajaran, mahasiswa mengalokasikan waktu dua jam. Sehingga apabila mahasiswa mengambil 18 unit maka mahasiswa tersebut menyediakan waktu 36 jam per-minggu. Karena akan lebih efektif apabila mahasiswa belajar satu jam atau lebih kemudian beristirahat, sehingga akan meningkatkan daya konsentrasi dan ingatan dalam belajar.

  Dari beberapa sumber di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah pada mahasiswa yang bekerja lebih banyak terkait dengan masalah pengelolaan waktu. Wahyuni (2007) berpendapat bahwa mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi dan termasuk sebagai mahasiswa yang bekerja, diharapkan memiliki pembagian waktu yang baik. Pembagian waktu ini diharapkan karena tenaga setelah bekerja dapat terkuras, sehingga dapat menyebabkan menurunnya ketahanan fisik, dan tidak dapat mempertahankan konsentrasi. Selain itu, adanya hasil nyata dalam bentuk gaji, menyebabkan mahasiswa jadi lebih cenderung menyukai pergi bekerja dari pada ke kampus untuk menyusun skripsinya. apabila terjadi penambahan waktu kerja.. Hal ini dilakukan agar ada pembagian waktu yang adil antara kegiatan akademisnya dan pekerjaannya.

  Manajemen waktu (Sanusi, 2002) bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menentukan dan melaksanakan seluruh pekerjaan dengan tujuan yang jelas, juga dengan batasan waktu yang jelas, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi. Manajemen waktu adalah kemampuan menggunakan waktu sebaik-baiknya dalam kehidupan profesional dan pribadi.

  Dengan adanya manajemen waktu yang baik maka dapat menghindari terjadinya benturan dari pekerjaan dan mengatasi apabila terjadi stress pada belajar (The Learning Center, 2007). Fenomena tersebut berkaitan dengan fokus utama dari manajemen waktu yang adalah konsentrasi pada hasil dan bukan sekedar menyibukkan diri (Harmoni, 2008).

  Mahasiswa yang kuliah dan bekerja diharapkan dapat bersikap mandiri untuk mengatur diri dan waktunya. Mahasiswa bersikap mandiri untuk menentukan kapan ia harus belajar, kapan harus mengerjakan tugas, kapan harus bekerja, kapan harus berorganisasi, dan lain sebagainya. (Papalia & Olds, 1992 dalam Maysalina Fryandari, 2007).

  Dengan adanya penggunaan kemampuan manajemen waktu yang efektif, maka diharapkan mahasiswa yang bekerja tetap memiliki prestasi akademik yang yang baik. Hal ini diharapkan agar nilai IP mahasiswa tetap naik, dan yang bekerja yang memiliki usia sekitar 20 tahun. Pada penelitian ini, peneliti lebih meng-karakteristikan usia pada mahasiswa yang bekerja pada rentang usia 18-22 tahun dan berada pada semester 1-8. Selain itu, subyek pada penelitian ini merupakan mahasiswa aktif dari suatu perguruan tinggi, sehingga peran ganda dari mahasiswa yang bekerja benar-benar terlihat. Rangkaian pengamatan dan uraian di atas mendorong peneliti untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kemampuan manajemen waktu dan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja? Terutama fenomena mahasiswa yang bekerja di sekitar Yogyakarta. Fenomena ini menjadi menarik untuk diteliti karena maraknya mahasiswa yang mulai menambah kegiatan mereka, terutama dalam dunia kerja.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan masalah pokok penelitian ini adalah : Adakah hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja ?

  C. TUJUAN MASALAH

  Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara kemampuan

D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi ilmu psikologi, khususnya bagi psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan. Bagi psikologi perkembangan, hasil ini menjadi salah satu referensi tugas perkembangan dewasa dini yaitu suatu proses dari tahap mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia dewasa yang penuh dengan cara kerja yang mandiri..

  Bagi psikologi pendidikan, hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi mengenai prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja.

  2. Manfaat Praktis

  Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi mahasiswa yang kuliah tetapi juga bekerja, untuk mempertimbangkan pembagian waktu dalam membagi waktu antara bekerja dan kuliah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kemampuan Manajemen Waktu.

1. Pengertian Manajemen Waktu

  Manajemen waktu adalah pengaturan diri dalam menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin dengan melakukan perencanaan, penjadwalan, mempunyai kontrol atas waktu, selalu membuat skala prioritas menurut kepentingannya, serta keinginan untuk terorganisasi yang dapat dilihat dari perilaku seperti mengatur tempat kerja dan tidak menunda-nunda pekerjaan yang harus diselesaikan (Macan dalam Fauziah, dkk, 1990).

  Manajemen waktu (Sanusi, 2002) bisa diartikan sebagai kemampuan kita dalam menentukan dan melaksanakan seluruh pekerjaan dengan tujuan yang jelas, juga dengan batasan waktu yang jelas, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi.

  Manajemen waktu yang dikemukakan oleh Mmibii (2008) berkaitan dengan manajemen diri seseorang. Mmbii menjelaskan bahwa manajemen waktu merupakan kemampuan seseorang untuk kita membagi waktu supaya kita tidak membuang-buang waktu dan bisa berprestasi semaksimal mungkin.

2. Kuadran Manajemen Waktu

  Covey (2001) dan Modul Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM, (2007)) menjelaskan bahwa manajemen waktu memiliki dua faktor. Faktor tersebut yaitu faktor penting dan faktor mendesak. Penting yang dimaksud meliputi hal-hal yang harus diutamakan, kegiatan-kegiatan yang mendukung misi dan tujuan-tujuan kita. Sedangkan mendesak meliputi hal-hal yang harus segera dilakukan, hal-hal yang ada di depan mata, serta kegiatan-kegiatan yang menuntut perhatian ekstra. Kedua faktor ini yang akhirnya membentuk suatu kuadran yang disebut kuadran waktu. Pada umumnya kuadran waktu dibagi menjadi empat seperti tabel 2.1.

Tabel 2.1. Kuadran Waktu dari Manajemen Waktu (Covey, 2001;

  Modul PPKM, 2007)

  Tidak Mendesak Mendesak Kuadran I

  Kuadran II Aktivitas Akibat

  Penting Aktivitas Akibat  Pekerjaan  Stres  MerencanakanVisi, yang segera tugas perspektif

   Keletihan harus selesai  MengembangkanKeseimbangan  Krisis  Masalah yang tugasDisiplin mendesak

   Menjalin relasiKontrol  Tugas yang baru beberapa terbatas

   Olahraga krisis waktunya  Penyegaran

  Kuadran III Kuadran IV

Aktivitas Akibat Aktivitas Akibat

  Tidak Penting

 Melayani  Fokus jangka  Mengerjakan hal-  Tidak

interupsi yang pendek hal yang sepele bertanggung tidak penting  Manajemen  Pemborosan jawab  Melaksanakan krisis waktu  Bergantung seseuatu pada orang lain

   Aktivitas  Aktivitas yang berdasar untuk hal-hal yang populer menyenangkan tekanan orang yang mendasar

   Menganggap lain  Penyesalan tujuan dan rencana tidak penting

   Merasa menjadi korban

  Penjelasan terhadap matriks tersebut adalah sebagai berikut :

  a. Kuadran 1 Aktivitas yang masuk dalam kuadran ini adalah aktivitas yang mendesak dan penting. Selalu ada kegiatan-kegiatan yang dapat menggunakan waktu pada kuadran 1 ini akan selalu merasa tertekan (stres) dan tidak akan berprestasi sesuai kemampuan yang dimilikinya.

  b. Kuadran 2 Kuadran 2 meliputi kegiatan-kegiatan yang penting, tetapi tidak mendesak. Kuadran ini merupakan kuadran yang terbaik dan ideal.

  Seseorang yang menggunakan kuadran waktu ini akan merasa lebih dapat mengatur waktunya, karena dengan menggunakan kuadran 2, maka pengaturan waktu di kuadran 1, 3, dan 4 lebih berkurang. Penggunaan waktu pada kuadran 2 ini seperti mengurangi penundaan pekerjaan, atau mengurangi membuang-buang waktu yang ada.

  Seseorang yang berada pada kuadran ini merupakan orang yang memiliki perencanaan pada setiap kegiatannya. Sebagai contoh, apabila memiliki tugas yang harus dikumpulkan pada minggu depan, maka orang ini akan mengerjakan tugasnya lebih awal dan tidak mengerjakan mendekati waktu pengumpulan tugas.

  Covey (2001) menjelaskan bahwa seseorang pada kuadran ini termasuk orang yang suka menentukan prioritas. Seseorang yang berada pada kuadran 2 ini selalu memeriksa segala yang perlu dikerjakannya lalu menyususn prioritas tugasnya, memastikan segala hal yang utama baginya terlaksana terlebih dahulu dan hal-hal yang kurang penting c. Kuadran 3 Kegiatan pada kuadran 3 ini adalah semua kegiatan yang mendesak, tetapi tidak penting. Kegiatan kuadran 3 ditandai dengan usaha untuk selalu menyenangi orang lain dan menanggapi keinginan atau ajakan orang lain sesuai dengan kesenangan orang lain tersebut.

  Kuadran 3 lebih menekankan pada kegiatan ini penting bagi orang lain tetapi tidak penting bagi kita. Covey (2001) menjelaskan bahwa sesorang yang berada pada kuadran 3 ini merupakan tipe orang Yes-

  man . Tipe orang ini begitu berusaha menyenangi orang lain sehingga

  biasanya ia akhirnya malah tidak menyenangkan siapa pun, termasuk dirinya. Akibat seseorang berada pada kuadran ini adalah memiliki reputasi sebagai “tukang menyenangkan orang”, kurang disiplin, dan merasa seperti keset kaki bagi orang lain yang menginjak-injaknya.

  d. Kuadran 4 Kegiatan pada kuadran 4 ini adalah kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak. Kegiatan pada kuadran ini lebih pada pemborosan waktu atau menyia-nyiakan waktu yang ada. Covey (2001) menyebutkan seseorang yang berada pada kuadran 4 ini adalah orang yang berlebihan dan suka membuang-buang waktu. Selain itu, orang

  Dari pembahasan-pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen waktu adalah pengaturan diri kita dalam bentuk menggunakan waktu yang seefektif dan seefisien mungkin dalam mengerjakan seluruh pekerjaan agar dapat terselesaikan dengan baik serta semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang jelas.

3. Prinsip-prinsip Manajemen Waktu

  Prinsip-prinsip manajemen waktu menurut Utama (2002) dalam kutipan dari karangan Gerrard M. Blair dalam “Personal Time

  Management for Busy Manager ” juga menjelaskan mengenai cara kerja

  yang berhubungan dengan manajemen waktu dilihat berdasarkan tiga prinsip yang disebut sebagai “Eff words”, yaitu : a. Efektif (Effective) Cara kerja yang mencapai hasil positif yang diinginkan.

  b. Efisien (Efficient) Cara kerja yang tepat, berprestasi tinggi, dan produktif tanpa menghamburkan waktu.

  c. Tidak ada kesukaran (Effortless) Cara kerja yang kelihatannya mudah dilaksanakan, dan bersifat santai.

  Dalam Personal Time Management tujuannya adalah untuk mencapai tingkat “Eff” ini yang berdampak positif untuk diri sendiri dan cara kerja pendek (short term) dan jangka menengah (middle term), dalam kaitannya dengan strategi untuk mencapai suatu kemajuan.

  a. Perspektif Jangka Panjang (Long Term) Individu yang berpikiran jauh ke depan dan mempunyai strategis untuk mencapainya dengan menggunakan waktu-waktu yang ada sekarang adalah seseorang yang tidak akan pernah melewatkan kesempatan dan orang itu selalu berhasil untuk membuat kemajuan di dalam hidupnya.

  b. Perspektif Jangka Pendek (Short Term) Individu-individu yang hanya melakukan fokus short term akan mengalami kesengsaraan atau stres berat karena baginya hidup adalah batas akhir yang harus diselesaikan dari waktu ke waktu tanpa adanya suatu jeda yang jelas untuk menarik nafas.

  c. Perspektif Jangka Menengah (Middle Term) Orang-orang ini adalah orang-orang yang moderat dan lebih pandai bermain untuk meraih kesempatan karena para individu ini tidak terlalu kolot dalam berencana seperti individu-individu yang sudah terbiasa dengan perencanaan yang matang (pada perspektif long term), tetapi mereka juga bukan individu yang penuh tekanan dalam mengerjakan tugas (pada perspektif short term).

4. Apek-aspek dari Manajemen Waktu

  menetapkan tujuan dan prioritas (setting goals and priorities), (b) perencanaan dan penjadwalan (planning and scheduling), (c) kemampuan mengendalikan waktu (perceived control of time), (d) preferensi untuk terorganisasi (preference for organization).

  a. Menetapkan tujuan dan prioritas (Setting goals and priorities) Tujuan dan sasaran merupakan pernyataan mengenai apa yang penting dan ingin dilakukan oleh individu serta berfungsi untuk memberikan arah bagi aktivitas-aktivitas selanjutnya (Macan dalam Fauziah (1990)). Pada aspek ini, tujuan dan sasaran perlu ditetapkan terlebih dahulu sebelum individu membuat suatu prioritas atau perencanaan dan penjadwalan. Tujuan dan sasaran tersebut dibagi menjadi dua, yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.

  Tujuan jangka pendek bisa saja menjadi tujuan harian karena memang mensyaratkan penentuan aktifitas yang lebih spesifik sehingga tujuan jangka panjang akan lebih mudah tercapai.

  Sedangkan dalam menyusun suatu prioritas yang umum digunakan adalah sistem prioritas ABC (system priority ABC) yang dikemukakan oleh Lakein (1992). Tujuan yang diberi tanda A adalah tujuan yang harus diberi perhatian utama dan mempunyai nilai kepentingan yang tinggi. Tujuan yang diberikan tanda B merupakan

  Ditambahkan oleh Macan dalam Fauziah (1990), aspek pertama ini berisi aktivitas-aktivitas menetapkan dan meninjau kembali tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, menentukan prioritas kegiatan dan melaksanakannya, menentukan batas waktu, menangani dengan segera surat maupun memo yang masuk, memanfaatkan waktu menunggu dan membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dikerjakan.

  b. Perencanaan dan penjadwalan (Planning and scheduling) Fauziah (1990) menjelaskan bahwa perencanaan dan penjadwalan dilakukan setelah menyusun prioritas, dan sebelum melakukan penjadwalan terlebih dahulu disusun perencanaan. Perencanaan dikenal dengan pembuatan daftar harian yang disebut dengan to do list.

  Daftar ini berisi mengenai berbagai macam aktivitas yang harus dilaksanakan pada hari itu dan prioritas serta perkiraan waktu untuk tiap aktivitas.

  Aspek kedua ini berisi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pengaturan waktu, membuat daftar-daftar yang harus dikerjakan, membuat jadwal mingguan, menggunakan buku agenda, dan mengatur kertas kerja.

  c. Kemampuan mengendalikan waktu (Perceived control of time)

  Menurut Britton & Tesser (dalam Fauziah, 1990), aspek ketiga ini disebut dengan time attitude yang berkaitan dengan efikasi diri. Efikasi diri merupakan penilaian individu akan kemampuan dirinya dalam menghadapi suatu situasi secara efektif. Efikasi diri ini akan berpengaruh pada performansi dari individu, yang artinya menentukan bagaimana individu tersebut bertindak, berapa besar usaha yang dilakukan, dan berapa lama individu tersebut bertahan. Semakin tinggi efikasi diri dari individu, maka individu tersebut dapat tahu kapan suatu situasi dapat dihadapai dan kapan harus dihindar.

  d. Preferensi untuk terorganisasi (Preference for organization) Pada aspek ini dijelaskan bahwa untuk mengetahui kebiasaan penggunaan waktunya, individu sebaiknya menggunakan catatan penggunaan waktunya selama satu minggu dan diperiksa kembali pada akhir pekan. Pencatatan dan pemeriksaan ini penting untuk mengevaluasi berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas yang berorientasi pada tujuan dan menjadi prioritas, serta berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas rutin maupun aktivitas tanpa tujuan dan prioritas. Aspek keempat menekankan pada keinginan untuk terorganisasi serta pendekatan yang dilakukan individu dalam menyelesaikan tugas. kesanggupan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek (Robbins dalam Todar, 2008).

  Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kecakapan atau daya kekuatan yang merupakan bawaan sejak lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek untuk melakukan suatu perbuatan yang diwujudkan melalui tindakannya.

  Kemampuan manajemen waktu dapat diartikan sebagai kecakapan seseorang dalam menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin dengan menentukan tujuan dan prioritas, membuat perencanaan dan penjadwalan, pengontrolan terhadap waktu, serta kesanggupan untuk terorganisasi baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi untuk mencapai tujuan yang jelas.

5. Manfaat Manajemen Waktu

  Discover Time Management (2009) menjelaskan mengenai manfaat dari

  manajemen waktu adalah sebagai berikut :

  a. Kontrol Manajemen waktu yang tepat memungkinkan sesorang untuk mengontrol kehidupannya. Dengan merencanakan kembali aktivitas- aktivitas, dapat membantu seseorang mengalami hari-harinya. Tugas- tugas yang mendadak dikerjakan, dapat mengubah rencana seseorang, b. Produktivitas Manajemen waktu dapat membantu seseorang lebih produktif. Ketika seseorang tidak bisa mengelola waktu, maka akan merasa bahwa aktivitas yang dilakukan terlalu banyak, dan merasa bahwa waktu yang dimiliki tidak cukup. Dengan menuliskan proritas waktu pengerjaan, maka seseorang dapat mengerjakannya lebih teratur dan dapat mengimbangi waktu yang dirasakan “mengejarnya” dalam mengerjakan tugas-tugas yang diperlukan.

  c. Keyakinan Manajemen waktu yang tepat dapat memberikan rasa percaya diri. Hal ini dikarenakan seseorang telah mengontrol kembali kegiatan- kegiatannya. Memeriksa daftar to do list dan menyadari telah mengejakan semua itu dapat membuat jadi percaya diri karena telah menyelesaikannya. Prestasi yang meningkat dari penyelesaian tugas- tugas tersebut yang membuat seseorang menjadi lebih percaya diri.

  d. Kesenangan (Fun) Manajemen waktu yang tepat dapat membuat seseorang memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. Dengan memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang lebih penting dan menekankan yang harus e. Kemampuan untuk memenuhi tujuan Sesorang yang gagal dalam me-manajemen waktunya, akan merasa sulit untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini dikarenakan bahwa seseorang tersebut tidak mendapatkan apa yang diperlukan dalam rangka memenuhi tujuan tersebut. Terlalu santai dalam mengerjakan tugas dan bersikap semaunya dalam mengerjakan tugas serta aktivitas yang memungkinkan seseorang tidak akan sampai pada tujuannya.

  Ahli ketrampilan belajar menambahkan akan manfaat dalam mengelola waktu dan menggunakan waktu yang efisien, merupakan hal terpenting dalam masa belajar dari seorang mahasiswa (Gie, 1998). Mahasiswa yang memiliki dua peran yaitu peran bekerja dan kuliah perlu membagi waktunya secara efisien. Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa memiliki tugas untuk mendengarkan ceramah dari dosen ketika kuliah, serta mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Akan tetapi, ketika pada mahasiswa bekerja maka harus tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Hal iniliah yang membuat mahasiswa menjadi lelah, sehingga tidak jarang pula mahasiswa menjadi tidak bisa berkonsentrasi pada pada tugas kuliahnya. Situasi ini yang mempengaruhi prestasi akademik mahasiswa dapat menurun. Oleh

  Orr (1990) juga menambahkan akan manfaat manajemen waktu bahwa manajemen waktu akan membantu mahasiswa yang kuliah dan bekerja untuk memperoleh manfaat yang maksimal dan memainkan peran serta status. Manajemen waktu akan membantu mahasiswa mengerjakan tugas-tugas yang ada. Tidak hanya tugas kuliah tetapi juga tugas sehari-hari. Selain itu, kewajiban yang ada dapat dilaksanakan dengan baik dan mahasiswa tidak kebingungan untuk menjalankan perannya.

B. Prestasi Akademik

1. Pengertian Prestasi Akademik Winkel (2004) mengatakan bahwa prestasi adalah hasil belajar.

  Pernyataan ini sesuai dengan Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan (dalam Narulita, 2005) yang menyatakan bahwa prestasi akademik adalah hasil belajar yang diperoleh dari kegiatan yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penyelesaian. Istilah prestasi akademik terkadang digunakan berganti-ganti dengan istilah prestasi belajar, akan tetapi sebenarnya kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama (Moedjianto dalam Narulita, 2005). Narulita (2005) juga menambahkan bahwa pada umunya istilah prestasi belajar

  Menurut Sukarti (dalam Kurniawan, 2008) prestasi akademik merupakan tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan siswa atau mahasiswa terhadap tugas belajar di Perguruan Tinggi pada periode tertentu yang meliputi aspek pengetahuan, sikap, dan ketrampilan. Chaplin (2004) juga mengatakan bahwa prestasi akademik merupakan suatu tingkat khusus perolehan atau keahlian dari karya akademis yang dinilai oleh guru-guru dan alat-alat tes yang dibakukan atau latihan dari kombinasi kedua hal tersebut.

  Untuk mengetahui seberapa jauh prestasi akademik tersebut, maka diperlukan pengukuran dan penilaian hasil belajar (Narulita, 2005).

  Suryabrata (2004) menjelaskan bahwa pengukuran mencangkup segala cara untuk memperoleh informasi mengenai hasil belajar yang nantinya dikuantifikasikan.

  Suryabrata (2004) menjelaskan bahwa pengukuran hasil belajar tersebut dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya bermacam- macam. Ada yang menggolongkan mempergunakan lambang-lambang A,

  B, C, D, dan E. Ada pula yang menggolongkan dalam 11 tingkat, mulai dari 0 sampai 10, dan ada pula yang memakai penilaian 0 sampai 100. Di tanah air kita, umumnya orang mempergunakan angka dari 1 sampai 10, walaupun akhir-akhir ini telah banyak mempergunakan lambang A, B, C,

  Dalam Buku Pedoman Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi (2006) dijelaskan bahwa penilaian keberhasilan mahasiswa dinyatakan dalam bentuk huruf, dengan perincian sebagai-berikut :

  Huruf Arti Nilai Mutu A Amat Baik

  4 B Baik

  3 C Cukup

  2 D Kurang

  1 E Jelek F - Kosong

  Penilaian tersebut yang nantinya akan digunakan dalam pengukuran IP. Adapun rumus penghitungan IP adalah :

  IP = ( ∑KN) / (∑K)

  K = besar kredit N = nilai

  (Buku Pedoman Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi, 2006)

  Narulita (2005) menambahkan bahwa prestasi akademik pada mahasiswa lebih jauh dapat diukur tinggi dan rendahnya berdsarkan nilai- nilai ujian berupa IPK. a. Faktor internal, adalah faktor yang berasal dari dalam diri. Syah (2008) menjelaskan bahwa faktor internal merupakan keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor internal ini dibagi menjadi dua aspek, yakni : 1) Aspek fisiologis

  Syah (2008) menjelaskan bahwa kondisi umum dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi intensitas dan semangat individu dalam mengikuti pelajaran. Selain itu, Purwanto (2007) juga menjelaskan bahwa aspek fisiolgis ini berasal dari kondisi fisik dan panca indera dari seseorang. Fungsi panca indera yang baik akan mempengaruhi daya tangkap dari individu dalam menjalani proses belajar-mengajar.

  2) Aspek psikologis Kusumawati (2007) menjelaskan lebih lanjut mengenai aspek psikologis ini yang dibagi menjadi lima, yakni : a) Intelegensi siswa

  Intelegensi diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber (dalam Syah, tinggi tingkat intelegensi siwa, maka akan semakin besar peluangnya untuk mencapai sukses. Sebaliknya, semakin rendah tingkat intelegensi siswa, maka semakin kecil peluangnya untuk meraih kesuksesan.

  Dalam intelegensi peran otak menjadi lebih menonjol dibanding peran organ tubuh yang lain. Hal ini dikarenakan otak sebagai “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.

  b) Bakat siswa Bakat merupakan kemampuan potensial atau kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, setiap orang memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai pada titik tertentu sesuai dengan kapasitas masing- masing (Syah, 2008).

  c) Minat siswa Minat merupakan kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Chaplin

  (2004) menjelaskan bahwa minat merupakan perasaan yang menyatakan bahwa satu aktivitas, pekerjaan, atau obyek itu disukai oleh seorang siswa akan lebih lancar dipelajari dari pada yang kurang disukai (Martaniah & Musrun (dalam Kusumawati, 2007)).

  d) Motivasi siswa Motivasi adalah keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu (Syah, 2008). Chaplin

  (2007) menjelaskan motivasi sebagai faktor-faktor dalam diri organisme yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran.

  Syah (2008) membagi motivasi dalam perkembangannya menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa yang dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Yang menjadi motivasi intrinsik siswa adalah perasaan untuk menyenangi, materi dan kebutuhan terhadap materi tersebut, yang menjadi bekal untuk kehidupan di masa depan. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah keadaan yang dating dari luar diri siswa yang juga dapat mendorongnya untuk melakukan tindakan belajar. Pujian terhadap suatu keberhasilan dalam bidang akademik yang diberikan oleh guru terhadap e) Emosi siswa Seseorang terkadang memiliki emosi yang mantap. Akan tetapi, tidak jarang pula seseorang mengalami gangguan pada emosinya. Ketidakstabilan emosi pada seorang siswa dapat disebabkan adanya konflik kejiwaan, stress, kekecewaan, kesedihan, dan sebagainya (Kusumawati, 2007). Macan (1990) menjelaskan melalui penelitiannya, bahwa terdapat hubungan antara tingkat stress dan manajemen waktu. Mahasiswa memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, tugas kuliah, atau baca buku sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Dalam melakukan semua itu, mahasiswa sering diliputi perasaan waktu yang dimiliki tidak cukup untuk menyelesaikan semua tugasnya. Perasaan tersebut yang akhirnya menekan mahasiswa sehingga menimbulkan tingkat stress yang meningkat.

  Adanya keterkaitan tingkat stress dan manajemen waktu tersebut yang membuat mahasiswa menyadari pentingnya manajemen waktu dalam membagi waktu dengan efektif. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dipaparkan oleh Bond & Feather (dalam Kusumawati, 2007), bahwa mahasiswa yang menuliskan (melaporkan) waktu dan tujuan kegiatan memiliki b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri. Faktor eksternal ini dibagi menjadi dua macam, yaitu : 1) Lingkungan sosial

  Lingkungan sosial seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas menjadi faktor sosial yang penting dalam mempengaruhi semangat belajar seseorang (Syah, 2008). Dengan kata lain, faktor ini merupakan kehadiran manusia yang lain ketika seseorang belajar (Suryabrata, 2004). 2) Lingkungan non-sosial

  Faktor-faktor yang termasuk dalam lingkungan non-sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan siswa (Syah, 2008).

  c. Faktor pendekatan belajar, yaitu jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

C. Mahasiswa Bekerja

1. Pengertian Mahasiswa

  Menurut Direktorat Kemahasiswaan Ditjen Perguruan tinggi dan aktif dalam perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang bersangkutan. Aktif dalam perguruan tinggi atau lembaga pendidikan di sini adalah aktif dalam proses akademis seperti misalnya kuliah atau mengerjakan tugas- tugas kuliah.

  Dilihat dari batasan umurnya, yaitu antara 18-30 tahun, maka periode ini tergolong dalam periode masa dewasa dini (Hurlock, 1996).

  Melihat batasan umurnya, maka mahasiswa termasuk dalam masa perkembangan dewasa dini. Adapun tugas perkembangan dari masa dewasa dini dipusatkan pada harapan-harapan masyarakat dan mencangkup mendapatkan suatu pekerjaan, memilih seorang teman hidup, belajar hidup bersama dengan suami atau istri, membesarkan anak, mengelola suatu rumah tangga, menerima tanggung jawab sebagai warga negara dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok (Hurlock, 1996).

2. Pengertian Bekerja

  Anoraga (1992) mendefinisikan kerja itu sesungguhnya adalah sebuah kegiatan sosial. Selain itu, Hegel (dalam Anoraga, 1992) mengatakan inti pekerjaan adalah batasan manusia. Pekerjaan memungkinkan orang dapat menyatakan diri secara obyektif ke dalam dunia ini, sehingga dia dan orang lain dapat memandang dan memahami bahwa bekerja merupakan kontribusi manusia memberikan tenaga, pikiran, waktu, kreativitasnya bagi lingkungan sekitarnya terutama yang berkaitan secara langsung dalam pekerjaan yang digelutinya. Selain itu, UU RI Nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenaga Kerjaan pada Bab I ayat 3 (dalam Astuti, 2005) juga dijelaskan, pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

3. Pengertian Mahasiswa Bekerja

  Berdasarkan pengertian dan pemahaman yang telah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang bekerja adalah segolongan pemuda (umur 18-30 tahun) yang terdaftar sebagai mahasiswa di perguruan tinggi atau setingkatnya yang melakukan suatu kegiatan sosial dengan memberikan tenaga, pikiran, waktu dan kreativitasnya pada lingkungan sekitar yang berhubungan dengan pekerjaan yang digelutinya.

  Tetapi dalam bekerja, mahasiswa juga mendapatkan gaji atau pendapatan dari tempat bekerjanya. Dari segi besarnya gaji yang diberikan, biasanya tempat bekerja dari mahasiswa sudah mempunyai standar khusus bagi pekerjanya yang masih kuliah. Dan memang gaji yang diberikan lebih rendah daripada pekerja yang telah menyandang gelar sarjana. Ini wajar adanya, karena asumsinya, pekerja yang telah mempunyai gelar pasti mempunyai ilmu yang lebih tinggi daripada mereka

D. Dinamika Hubungan Kemampuan Manajemen Waktu Dengan

  

Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Bekerja

  Prestasi akademik merupakan hasil belajar yang bersifat kognitif yang diukur oleh alat-alat tes yang sudah dibakukan dan dinilai oleh guru yang digunakan sebagai pengukuran sejauh mana pemahaman dari seorang siswa. Pada mahasiswa nilai dari hasil belajar terlihat dari huruf A, B, C, D, atau E yang menunjukkan pemahaman mahasiswa tersebut pada salah satu mata kuliah, sedangkan untuk prestasi akademik mahasiswa dilihat berdasarkan IPK yang muncul pada setiap semester.

  Prestasi akademik secara umum menurut Purwanto (2007), Suryabrata (2004), dan Syah (2008) ada dua faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Kemudian, Syah (2008) menambahkan satu faktor lagi yaitu faktor pendekatan belajar. Pada faktor internal terdapat dua aspek yaitu aspek fisiologis dan aspek psikologis.

  Pada aspek psikologis terdapat unsur emosi yang berkaitan pada bagaimana seorang mahasiswa mengatur waktunya agar prestasi akademik tidak mengalami penurunan. Macan (1990) menjelaskan bahwa kondisi emosi seseorang dapat mempengaruhi prestasi akademik secara optimal, dan manajemen waktu merupakan salah satu faktor internal yang memiliki peran secara optimal. semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan yang jelas. Manajemen waktu mahasiswa yang dijelaskan dalam The Learning Centre (2007) adalah salah satu bagian yang esensial dalam meraih kesuksesan di dunia perguruan tinggi. Perencanaan waktu yang matang membuat mahasiswa dapat menghindari “tabrakan” waktu antar pekerjaan, atau menanggulangi tingkat stress belajar yang tinggi.

  Forum Komunitas Magister Manajemen Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (2008) menjelaskan bahwa manajemen waktu merupakan kemampuan seseorang untuk mengalokasikan waktu dan sumber daya (yang terbatas) demi mencapai tujuan yang hendak dicapai. Dalam manajemen waktu, demi mencapai tujuan yang hendak dicapai terdapat empat aspek yang merupakan indikator dari penggunaan manajemen waktu yang efektif dan efisien. Aspek pertama adalah menentukan tujuan dan prioritas (setting goals and priorities), yaitu individu membuat perencanaan dan prioritas yang matang. Aspek kedua adalah perencanaa dan penjadwalan (planning and scheduling), yaitu membuat perencanaan dan penjadwalan. Aspek ketiga adalah kemampuan untuk mengendalikan waktu (perceived control of time), yaitu aktivitas yang berkaitan dengan membuat pengaturan waktu. Aspek yang terakhir adalah preferensi unruk terorganisasi (preference for organization), yaitu

  Pada mahasiswa, manajemen waktu yang kurang, seperti tidak mengatur waktu belajar ketika mendekati ujian telah sering banyak dibicarakan sebagai sumber tekanan dan pencapaian prestasi yang kurang (Macan, 1990).

  Mahasiswa yang bekerja menurut Prof. Hermawan S (2007) secara psikologis memiliki peran ganda. Peran ganda mahasiswa tersebut menurut Kartikawati (2007) adalah peran sebagai seorang pekerja yang mampu beradaptasi di lingkungan kerja yang umumnya lebih dewasa dalam berpikir dan sangat menuntut tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas kantor. Selain itu, peran yang lain adalah peran sebagai seorang mahasiswa yang harus bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang mahasiswa yang memiliki tugas utamanya adalah belajar. Peran (role) adalah aspek fungsional yang berasosiasi dengan posisi spesifik dalam konteks sosial (Shaw & Costanzo, 1982). Ada kalanya peran-peran yang dijalani memiliki ketidaksesuaian antara kebutuhan atau tuntutan peran yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, mahasiswa yang bekerja ini diharapkan memiliki manajemen waktu yang efektif, yang berguna untuk membagi waktu secara optimal antara pekerjaan dan kuliah, sehingga pencapaian prestasi akademik di perguruan tinggi juga lebih optimal. sekitar 15 sampai 20 jam perminggu. Hal ini terkait dengan pengaturan waktu yang tepat untuk dapat mengurangi tingkat stress karena kurangnya waktu untuk menjalani kegiatan yang lain.

  Berdasarkan penelitian Kelly (1998) yang mengutip perkataan dari Steinberg (1979), bahwa murid yang memiliki waktu kerja yang lama mengakibatkan berkurangnya waktu dalam urusan sekolah mereka, penurunan hasil belajar di sekolah, meningkatkan stress secara psikologis, meningkatkan penggunaan obat-obatan dan alkohol, meningkatkan jumlah kejahatan, dan memiliki otonomi yang baik namun tidak terkontrol oleh orang tua. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Greenberger dan Steinberg (dalam Santrock, 2003) terdapat pengaruh negatif dari mahasiswa yang bekerja, yaitu mahasiswa jadi lebih banyak absen, menurunkan aktivitas olah raga, menurunkan aktivitas sosialisasi dengan teman dan mengurangi jumlah waktu untuk tidur.

  Penelitian Zierold, dkk (dalam Kusumawati, 2007) mengatakan bahwa siswa yang bekerja lebih banyak meninggalkan jam sekolah daripada yang tidak bekerja. Penelitian ini didukung oleh pernyataan Sulhanudin (2003), yaitu mahasiswa yang sudah bekerja akan lebih menyepelekan kuliah, karena sudah mendapat pendapatan sendiri.

  Di sisi lain, Greenberg & Laurence (Santrock, 2003) menemukan waktu. Kerugian dari penelitian tersebut ketika seorang mahasiswa kuliah sekaligus bekerja adalah mahasiswa yang bersangkutan menurunkan aktifitas sosialnya dengan teman, dan terkadang mengurangi jumlah waktu untuk tidur, serta mahasiswa tersebut dituntut untuk menyeimbangkan antara tuntutan kerja, kuliah, keluarga dan teman.

  Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat menunjukkan faktor pengelolaan waktu mempengaruhi prestasi akademik. Gadzella, Stuck dan Stephen (dalam Irma, 2007) menjelaskan bahwa mahasiswa ketika mendaftarkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi memiliki harapan / keinginan untuk sukses di perguruan tinggi. Macan (1990) menegaskan bahwa aspek-aspek dari manajemen waktu dapat digunakan untuk mengurangi stress terhadap akademik dari mahasiswa. Adanya keterkaitan tingkat stress dan manajemen waktu tersebut yang membuat mahasiswa menyadari pentingnya manajemen waktu dalam membagi waktu dengan efektif.

  Hal tersebut di atas sesuai dengan hasil penelitian yang dipaparkan oleh Bond & Feather (dalam Kusumawati, 2007), bahwa mahasiswa yang menuliskan (melaporkan) waktu dan tujuan kegiatan memiliki kesehatan/keadaan patologis yang lebih baik, dapat memandang masa depan yang lebih optimis, dan memiliki kebiasaan belajar yang efektif

E. Hipotesis

  Setelah mengkaji landasan teori dari hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja maka hipotesis dari penelitian ini yaitu adanya hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja.

  

Skema Hubungan Antara Kemampuan Manajemen Waktu Dengan

Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Yang Bekerja

Mahasiswa Bekerja

Tuntutan

  1. memiliki waktu yang seimbang antara bekerja dan kuliah. 2. menyelesaikan tugas- tugas pekerjaan dengan baik. 3. memenuhi kewajiban sebagai mahasiswa untuk kuliah agar prestasi akademik mencapai hasil

yang optimal.

  

Mempunyai tanggung

jawab ganda

MANAJEMEN WAKTU (membagi waktu antara bekerja dan kuliah)

  Manajemen Manajemen

  Waktu Rendah Waktu Tinggi

  Kuliah : bolos kuliah karena Kuliah : tidak bolos tidak ada waktu, tidak kuliah, mengerjakan mngerjakan tugas kuliah, tugas kuliah, mengikuti tidak mengikuti ujian akhir ujian akhir semester

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian korelasional. Penelitian

  korelasional adalah penelitian yang bertujuan menemukan hubungan, dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti tidaknya hubungan tersebut itu (Arikunto, 1989). Jadi penelitian ini bermaksud untuk mencari ada tidaknya hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik.

B. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian adalah obyek penelitian, atau apa yang menjadi suatu titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 1989). Variabel sebagai obyek penelitian dibagi menjadi dua, yaitu variabel bebas dan variabel tergantung.

1. Variabel Bebas

  Variabel yang mempengaruhi disebut sebagai variabel penyebab, variabel bebas atau independent variable (X). Dalam penelitian ini

2. Variabel Tergantung

  Variabel akibat disebut sebagai variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau dependent variable (Y). Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah prestasi akademik mahasiswa.

C. Definisi Operasional

  1. Manajemen Waktu

  Manajemen waktu adalah kemampuan seseorang mengatur waktu secara efisien dan efektif pada kehidupan pribadi maupun kehidupan profesionalnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Macan (dalam Fauziah, 1990) mengemukakan bahwa ada empat aspek yang merupakan indikator dari manajemen waktu, yaitu menentukan tujuan dan prioritas (setting goals and priorities ), perencanaan dan penjadwalan (planning and scheduling), kemampuan mengontrol waktu (perceived control of time), dan preferensi untuk terorganisasi (preference for organization ), yang diungkap dengan Skala Kemampuan Manajemen Waktu. Semakin tinggi skor yang diperoleh, maka akan semakin tinggi pula kemampuan manajemen waktu.

  2. Prestasi Akademik

  Kumulatif) yang telah diraihnya. Prestasi akademik ini akan dilihat dari identitas yang diisi oleh subyek.

D. Subyek Penelitian

  Pengambilan subyek dalam penelitian ini diperoleh menggunakan teknik purposive sampling yaitu suatu teknik yang dikenakan pada sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan dan diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya (Winarsunu, 2004). Subyek pada penelitian ini memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Subyek berada pada semester 1 sampai semester 8, dengan alasan mahasiswa di semester ini masih aktif kuliah.

  2. Subyek merupakan mahasiswa yang bekerja. Pemilihan subyek ini berlandaskan pada mahasiswa yang bekerja memiliki dua peran, yaitu peran sebagai pekerja dan peran sebagai mahasiswa. Peran ganda dari mahasiswa yang bekerja (Kartikawati, 2007) adalah peran sebagai pekerja yang mampu beradaptasi di lingkungan kerja yang umumnya lebih dewasa dalam berpikir dan sangat menuntut tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas kantor. Selain itu, peran yang lain adalah peran sebagai seorang mahasiswa yang harus bisa memenuhi

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  1. Metode

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penskalaan Summated Rating jenis Likert, yaitu metode penskalaan pernyataan yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skala (Gable dalam Azwar, 1999). Kategori yang digunakan untuk menyatakan pernyataan subjek terdiri dari empat jangkar yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS).

  Sebelum melakukan penelitian yang sesungguhnya, alat pengumpulan data akan diuji coba terlebih dahulu. Data hasil uji coba akan dianalisis secara statistik untuk menentukan validitas dan reliabilitasnya. Aitem yang memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas akan digunakan untuk penelitian yang sesungguhnya, dengan asumsi bahwa aitem tersebut dapat mengukur apa yang ingin diukur, serta ajeg dalam penelitian.

  2. Alat Pengumpulan Data

  Penelitian ini menggunakan dua alat pengumpulan data, yaitu :

  a. Skala Kemampuan Manajemen Waktu indikator-indikator kemampuan manajemen waktu yang dikemukakan oleh Macan (dalam Fauziah, dkk, 1990). Indikator- indikator dari kemampuan manajemen waktu tersebut adalah menentukan tujuan dan prioritas (setting goals and priorities), perencanaan dan penjadwalan (planning and scheduling ), kemampuan mengontrol waktu (perceived control of time), dan preferensi untuk terorganisasi (preference for organization).

  Penilaian dalam skala ini bergerak dari nilai 4 sampai 1. Pada pernyataan favorable, nilai 4 akan diberikan pada kategori jawaban SS (Sangat Setuju), nilai 3 pada S (Setuju), nilai 2 pada TS (Tidak Setuju), dan nilai 1 pada STS (Sangat Tidak Setuju). Sedangkan pada pernyataan unfavorable, nilai 4 akan diberikan pada kategori STS (Sangat Tidak Setuju), nilai 3 pada TS (Tidak Setuju), nilai 2 pada S (Setuju), dan nilai 1 pada SS (Sangat Setuju).

  Pernyataan-pernyataan yang telah disusun kemudian diseleksi dan dipilih. Setelah itu, dilakukan analisis item dimana item yang tidak valid digugurkan dan tidak dipakai sedangkan item yang valid dijadikan data penelitian. Distribusi item yang belum diuji coba ini dapat dilihat pada blueprint dalam tabel 3.1

  Tabel 3.1

  55 8 10, 15, 27, 30, 42, 47, 59, 62

  Instrumen yang akan diujikan pada penelitian ini, sebelumnya harus diujicobakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Hal ini

  64 Jumlah total aitem pada setiap indikator sama dikarenakan tidak ada kontribusi indikator yang dominan dari indikator- indikator terhadap variabel pada skala kemampuan manajemen waktu yang hendak diukur.

  32

  32

  16 Total

  8

  61

  56 8 9, 16, 28, 29, 41, 48, 60,

  4, 5, 17, 24, 36, 37, 45,

  organization

  16 Preference for

  8

  3, 6, 18, 23, 35, 38, 50,

  

Blueprint Kemampuan Manajemen Waktu

  time

  16 Perceived control of

  8

  54 8 11, 14, 26, 31, 43, 46, 58, 63

  2, 7, 19, 22, 34, 39, 51,

  scheduling

  16 Planning and

  8

  53 8 12, 13, 25, 32, 44, 45, 57, 64

  1, 8, 20, 21, 33, 40, 52,

  Setting goals and priorities

  Indikator Dari Kemampuan Manajemen Waktu Favorable Jumlah Unfavorable Jumlah Total

  Sebelum Uji Coba

F. Validitas dan Reliabilitas

  dikenai prosedur pengukuran validitas dan reliabilitas sebelum skala ini diujicobakan pada penelitian yang sesungguhnya.

1. Uji Validitas Isi

  Validitas merupakan ukuran mengenai ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2003). Suatu tes/instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Validitas yang digunakan dalam skala ini adalah validitas isi. Tujuan uji validitas isi ini adalah apakah item dalam skala layak untuk dipakai dan mampu menghasilkan data yang akurat dan sesuai dengan tujuan ukur. Validitas ini menunjukkan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2003). Hal ini memiliki tujuan agar tes tersebut isinya komprehensif dan hanya memuat isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur. Untuk pengujian validitas isi dilakukan dengan professional judgement, yaitu proses penilaian oleh orang yang dianggap ahli yakni dosen pembimbing skripsi, apakah aitem-aitem tersebut benar-benar mewakili untuk mengukur seluruh aspek yang hendak diukur (Azwar, 2003).

  2. Seleksi Aitem

  Setelah melakukan validitas isi, penulis melakukan seleksi aitem. Seleksi aitem ini pertama diambil dari hasil uji coba pada subyek yang memiliki karekteristik setara dengan subyek yang sesungguhnya. Kemudian, aitem-aitem ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter daya beda aitem. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem-aitem tersebut membedakan antar individu yang mempunyai dan yang tidak mempunyai atribut yang hendak diukur (Azwar, 2003).

  3. Uji Reliabilitas

  Reliabilitas merupakan tingkat kepercayaan hasil dari suatu pengukuran (Azwar, 2003). Hal ini ditunjukkan apabila dalam pelaksanaan beberapa kali pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subyek belum berubah, maka alat ukur tersebut dapat dipercaya. Dalam penelitian ini, uji reliabilitas bertujuan untuk melihat taraf kepercayaan/keajegan hasil pengukuran kemampuan manajemen waktu yang dihitung dengan koefisien Alpha Cronbach (Azwar, 2003). Nilai koefisien korelasi alpha bergerak dari angka 0 sampai

G. PELAKSANAAN UJI COBA

  Prosedur pengambilan data uji coba ini adalah sebagai berikut :

  a. Penelitian diawali dengan peneliti membuat aitem-aitem yang sesuai dengan aspek dari kemampuan manajemen waktu. Kemudian, aitem- aitem tersebut dibagi secara merata pada setiap aspek sesuai dengan yang diukur.

  b. Setelah itu, aitem-aitem tersebut diujicobakan pada subyek yang memiliki kriteria yang kurang lebih sama dengan kriteria yang sesungguhnya. Jumlah subyek yang diberikan angket penelitian ini berjumlah 45 orang. Dan yang mengembalikan angket berjumlah 38 orang, serta jumlah angket yang gugur terdapat 1 angket.

  c. Setelah selesai uji, maka aitem-aitem tersebut dianalisis. Analisis ini meliputi uji validitas isi, uji diskriminasi aitem dan uji reliabilitas.

  Pengujian diskriminasi aitem dan reliabilitas menggunakan SPSS 12.

  d. Setelah dianalisis maka akan terlihat aitem mana yang sesuai untuk dilakukan penelitian sesungguhnya, dan aitem mana yang gugur karena tidak sesuai dengan apa yang ingin diukur. Pada aspek yang gugur akan dibuang, sedangkan pada aitem yang sesuai akan dilanjutkan dengan penelitian yang sesungguhnya.

H. HASIL UJI COBA

  1. Uji Validitas Isi

  Validitas dalam penelitian ini adalah validitas isi. Validitas isi ini menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam penelitian ini mencangkup keseluruhan kawasan obyek yang ingin diukur. Adapun validitas isi ini diperoleh melalui analisa rasional dan professional

  judgement yang dilakukan oleh peneliti dengan dosen pembimbing peneliti selama proses bimbingan skripsi.

  2. Uji Seleksi Aitem

  Seleksi aitem ini pertama diambil dari hasil uji coba pada subyek yang memiliki karekteristik setara dengan subyek yang sesungguhnya.

  Kemudian, aitem-aitem ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter daya beda aitem. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem-aitem tersebut membedakan antar individu/kelompok yang mempunyai dan yang tidak mempunyai atribut yang hendak diukur (Azwar, 2003) Menurut Azwar (1999), aitem yang dianggap sahih adalah yang memiliki kesahihan (rix) diatas 0,3.

  Dari hasil uji coba yang sudah dilakukan, maka dari 64 aitem yang dibuat dan di uji cobakan terdapat 19 aitem yang dibawah 0,3 dan

  Tabel 3. 2 Tabel Aitem-aitem Hasil Uji Coba

  55

  64 Keterangan : Nomor aitem yang dicetak tebal warna hitam adalah nomor-nomor aitem yang gugur. Nomor aitem yang dicetak miring dan bergaris bawah adalah nomor-nomor aitem yang digugurkan

  32

  32

  16 Total

  41, 48, 60, 61

  9, 16, 28, 29,

  56

  36 , 37, 45,

  4, 5, 17, 24,

  organization

  16 Preference for

  59, 62

  10, 15, 27, 30, 42, 47,

  3, 6, 18, 23, 35, 38, 50,

  Indikator Dari Kemampuan Manajemen Waktu

  time

  16 Perceived control of

  58, 63

  31, 43, 46,

  11 , 14, 26,

  54

  2, 7, 19, 22 , 34, 39, 51,

  scheduling

  16 Planning and

  53 12, 13, 25 , 32 , 44, 45, 57, 64

  33 , 40, 52,

  1, 8, 20, 21,

  Favorable Unfavorable Total Setting goals and priorities

  Dari hasil uji coba tersebut, peneliti juga menggugurkan aitem- aitem yang memiliki nilai rix diatas 0,3. Aitem-aitem tersebut antara lain aitem nomor 8, 11, 22, 25, 26, 32, 33, 36, 48, 53. Peneliti menggugurkan aitem-aitem tersebut dengan pertimbangan bahwa aspek yang ingin diungkapkan oleh kesepuluh aitem tersebut, dapat diungkap oleh aitem-aitem yang lain, yaitu aitem 8 dengan aitem 13,

  33 dengan aitem 44, aitem 36 dengan aitem 41, aitem 48 dengan aitem 37, dan aitem 53 dengan aitem 64.

  3, 6, 13, 20,

  Reliabilitas merupakan tingkat kepercayaan hasil dari suatu

  36

  14

  22

  9 Total

  15, 16, 24

  4, 5, 14, 21, 30, 34

  organization

  9 Preference for

  22 8, 17, 29, 35

  time

  Setelah melakukan seleksi aitem pada skala kemampuan manajemen waktu, maka peneliti melakukan penyusunan ulang.

  9 Perceived control of

  18, 25, 28

  2, 7, 10, 19, 31, 33

  scheduling

  9 Planning and

  32 9, 26, 27, 36

  1, 11, 12, 23,

  Favorable Unfavorable Total Setting goals and priorities

  Indikator Dari Kemampuan Manajemen Waktu

  Tabel 3. 3 Tabel Aitem-aitem Penelitian

  Persebaran aitem yang telah diseleksi dan yang telah disusun ulang serta siap untuk digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :

3. Uji Reliabilitas

  koefisien Alpha Cronbach (Azwar, 2003). Besarnya nilai reliabilitas pada uji coba skala manajemen waktu ini sebesar 0,940. Hal ini menunjukkan bahwa skala kemampuan manajemen waktu ini memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi.

I. ANALISIS DATA

  Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa bekerja. Penghitungan korelasi ini menggunakan program

  SPSS 12 for Windows.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian dilakukan mulai tanggal 18 Agustus 2009 sampai 12 September 2009. Penelitian ini disebar pada 100 orang subyek. Seperti halnya dengan uji coba alat penelitian sebelumnya, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampel purposif yaitu teknik yang dikenakan pada sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan terlebih dahulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya (Winarsunu, 2004).

  Subyek penelitian adalah mahasiswa aktif yang bekerja. Mahasiswa aktif yang dimaksud yaitu masih tercantum sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Jumlah subyek penelitian sebanyak 61 orang dan memiliki rentang usia 18 – 22 tahun.

  Dari 100 skala yang disebar pada subyek, terdapat 39 skala yang tidak dapat diolah dan hanya 61 skala yang dapat diolah. 39 skala yang tidak dapat diolah tersebut dikarenakan identitas subyek pada skala tidak terisi terutama pada bagian IPK subyek.

2. Analisis Hasil Penelitian

a. Uji Asumsi Penelitian

  Sebelum melakukan analisis data untuk menguji hipotesis, peneliti melakukan uji normalitas dan linearitas terlebih dahulu.

  1) Uji Normalitas Peneliti melakukan uji normalitas dengan tujuan untuk menyelidiki apakah ada distribusi frekuensi dari gejala yang diteliti/diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari frekuensi harapan distribusi normal teoritiknya. Uji normalitas ini menggunakan rumusan one-sample Kolmogorov-Smirnov Test, dengan bantuan SPSS for Windows versi 12.0.

  Tabel 4. 1 Hasil Uji Normalitas

  Manajemen Waktu

  IPK Kolmogorov-Smirnov Z

  0,644 1,049 Asymp. Sig. (2-tailed)

  0,801 0,222 Asumsi uji normalitas adalah jika nilai p > 0,05, maka sebaran skor yang diperoleh adalah normal. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai K-SZ adalah variabel manajemen waktu sebesar 0,644 dengan probabilitas sebesar 0,801 (p > 0,005).

  2) Uji Linearitas Pengujian linearitas digunakan untuk melihat apakah skor variabel manajemen waktu dan skor IPK merupakan garis lurus

  (linear) atau tidak. Uji linearitas ini menggunakan SPSS for Windows versi 12.0.

  Tabel 4. 2 Hasil Uji Linearitas

  MW * IPK F Sig. Between Groups (Combined) .696 .841

  Linearity 1.080 .309 Deviation from .684 .850

  Linearity

  Hasil perhitungan uji linearitas dua variabel menunjukkan F sebesar 1,080 dengan probabilitas 0,309 (p > 0,05), artinya tidak signifikan. Berdasarkan pengujian tersebut diketahui bahwa hubungan antara skor frekuensi kemampuan manajemen waktu dengan skor prestasi akademik (IPK) adalah tidak linear.

b. Deskripsi Subyek dan Data Penelitian Subyek penelitian adalah mahasiswa aktif yang bekerja.

  bawah ini merupakan data usia subyek penelitian serta data prestasi akademik (IPK).

  Tabel 4.3 Deskripsi subyek berdasarkan usia

  Usia Jumlah Persentase

  18 tahun 0% 19 tahun 5 8,19% 20 tahun

  11 18,03% 21 tahun 20 32,78% 22 tahun 25 40,98%

  Total 61 100%

  Data tabel di atas menunjukkan secara deskriptif bahwa subyek berjumlah 61 orang, dengan usia 18 tahun tidak ada sama sekali, usia 19 tahun berjumlah 5 orang, usia 20 tahun berjumlah 11 orang, usia 21 tahun berjumlah 20 orang dan usia 22 tahun berjumlah 25 orang.

  Tabel 4.4 Deskripsi subyek berdasarkan prestasi akademik (IPK)

  IPK Jumlah Persentase

  2.51 – 3.00 24 39.34% 3.01 – 3.50 27 44.26% 3.51 – 4.00 10 16.39%

  Total 61 100%

  Dari hasil tabel di atas menunjukkan prestasi akademik (IPK) dari subyek. Subyek yang memiliki rentang IPK 2.51 – 3.00 berjumlah 24 orang, subyek dengan rentang IPK 3.01 – 3.50 berjumlah 27 orang, dan subyek dengan rentang IPK 3.51 – 4.00 berjumlah 10 orang.

  Selain itu, deskripsi subyek juga dapat dilihat dalam tabel di bawah ini yang mendeskripsikan mengenai tingkat semester, jenis pekerjaan, dan jumlah jam kerja.

  Tabel 4.5 Deskripsi subyek berdasarkan tingkat semester

  Semester Jumlah Persentase

  3 6 9.83%

  5 4 6.55%

  7 25 40.98%

  9 20 32.78%

  11 6 9.83%

  Total 61 100%

  Dari data tabel tersebut dapat terlihat dari 61 subyek bahwa pada tingkat semester 3 terdapat 6 orang, pada tingkat semester 5 terdapat 4 orang, pada tingkat semester 7 terdapat 25 orang, pada tingkat semester 9 terdapat 20 orang, dan pada tingkat semester 11 terdapat 6 orang.

  Tabel 4.6 Deskripsi subyek berdasarkan jenis pekerjaan

  1 1,64% Retail 1 1,64%

  1 1,64% Kasir 1 1,64%

  Event Organizer (EO)

  1 1,64% Manajemen IT & Network 1 1,64% SPG 1 1,64% Pramuniaga 1 1,64%

  Volunteer

  1 1,64% Mitra Perpustakaan 1 1,64%

  Freelance

  Marketing Force

  Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase

  2 3,28% Administrasi Toko Buku 2 3,28%

  Multi Level Marketing (MLM)

  2 3,28% Operator Warnet 2 3,28%

  Part-time -Departemen Pendidikan

  8 13,11% Guru Privat 7 11,47% Guru Musik 3 4,92% Admin Klinik 3 4,92% Wiraswasta 2 3,28%

  Shopkeeper

  Humas Penerimaan Mahasiswa Baru 11 18,03% Barista 9 14,75%

  Total 61 100% Pada data pada tabel deskripsi subyek berdasarkan jenis pekerjaan terdapat 61 subyek dengan pekerjaan Humas Penerimaan Mahasiswa Baru sebanyak 11 orang, barista sebanyak 9 orang, shopkeeper sebanyak 8 orang, guru privat sebanyak 7 orang, guru musik sebanyak 3 orang, admin klinik sebanyak 3 orang, wiraswasta sebanyak 2 orang,

  

part-time Departemen Pendidikan sebanyak 2 orang, operator warnet

  sebanyak 2 orang, MLM sebanyak 2 orang, administrasi toko buku sebanyak 2 orang, marketing force sebanyak 1 orang, retail sebanyak 1 orang, freelance sebanyak 1 orang, mitra perpustakaan sebanyak 1 orang, volunteer sebanyak 1 orang, manajemen IT & network sebanyak 1 orang, SPG sebanyak 1 orang, pramuniaga sebanyak 1 orang, EO sebanyak 1 orang, dan kasir sebanyak 1 orang.

  Tabel 4.7 Deskripsi subyek berdasarkan jumlah jam kerja / perminggu

  Jam Kerja Jumlah Persentase

  < 10 jam 8 13,11% 11 jam – 20 jam 14 22,95% 21 jam – 30 jam 26 42,62%

  >30 jam 13 21,31

  Total 61 100% yang bekerja antara 10 – 20 jam per minggu, 26 orang yang bekerja antara 21 – 30 jam per minggu, dan terdapat 13 orang yang bekerja lebih dari 30 jam per minggu.

  Keseluruhan data hasil penelitian dapat dideskripsikan sebagai berikut : Tabel 4.8

  Deskripsi Statistik Data penelitian

VAR DATA TEORITIK DATA EMPIRIK MIN MAX MEAN SD MIN MAX MEAN SD

  Manajemen Waktu 36 144

  90

  18 68 135 105,84 12,286 Prestasi

  0.00

  4.00

  2.00 - Akademik

  2.70

  3.94 3.17 0.322 Mean teoritik merupakan rata-rata skor alat penelitian. Mean teoritik diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat pengukuran penelitian. Sedangkan mean empiris, merupakan rata-rata skor data penelitian yang diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata data penelitian.

  Pada tabel deskipsi data hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sedangkan SD ( σ) = 108 : 6 = 18, dan mean teoritis (µ) = (36 + 144) : 2 = 90.

  Pada tabel di atas, skala kemampuan manajemen waktu memiliki skor mean empiris sebesar 105,84 dan skor mean teoritis sebesar 90.

  Hasil tersebut bila dibandingkan menunjukkan bahwa skor mean empiris lebih besar dari pada skor mean teoritik, yaitu 105,84 > 90.

  Selisih antara itu adalah 15,84 yang lebih besar dari SD empiris yaitu 12,286. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek memiliki kemampuan manajemen waktu yang tinggi.

  Sedangkan pada prestasi akademik menunjukkan bahwa skor mean empiris sebesar 3,17 dan skor mean teoritik sebesar 2,00. Hasil tersebut bila dibandingkan menunjukkan bahwa skor mean empiris lebih besar dari pada skor mean teoritik, yaitu 3,17 > 2,00. Selisih antara itu adalah 1,17 yang lebih besar dari SD empiris yaitu 0,322. Hasil ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek memiliki prestasi akademik yang tinggi.

c. Uji Hipotesis Penelitian kuantitatif menguji hipotesis yang dikembangkan.

  Hipotesis merupakan pernyataan yang kebenarannya masih harus dibuktikan lewat bukti empiris dan penelitian. Hipotesis penelitian ini

  Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik (IPK), sehingga hipotesis ini bersifat 2-tailed. Uji hipotesis ini menggunakan teknik korelasi pearson’s product moment dengan program SPSS versi

  12.0. Tabel 4.10 Hasil Uji Korelasi

  MW

  IPK MW Pearson 1 .148 Correlation

  Sig. (2-tailed) . .255 N

  61

  61 IPK Pearson .148

  1 Correlation Sig. (2-tailed) .255 . N

  61

  61 Dari hasil analisis uji hipotesis ditunjukkan bahwa nilai

  probabilitas lebih besar dari 0,05, yaitu 0,255 > 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik.

3. Pembahasan

  Pembahasan ini bertitik tolak pada perhitungan di mana hasil koefisien korelasi sebesar 0,148 dan probabilitas 0,255 (p > 0,05). Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik (IPK).

  Dari data deskripsi subyek mengenai jumlah jam kerja per-minggu menunjukkan bahwa subyek pada penelitian ini memiliki rata-rata jumlah jam kerja antara 21 sampai 30 jam per-minggu. Rata-rata jumlah jam kerja ini tidak sesuai dengan harapan bahwa jumlah jam kerja pada mahasiswa yang bekerja maksimal antara 15 sampai 20 jam seminggu (Stern, 2007; Olenka, 2006). Hasil ini yang menunjukkan bahwa jumlah jam kerja dapat menyebabkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik.

  Berdasarkan deskripsi data yang didapat, jenis pekerjaan dari mahasiswa yang bekerja pada penelitian ini berjumlah 21 jenis pekerjaan, dan beban kerja pada setiap jenis pekerjaan berbeda. Beban kerja yang dimaksudkan adalah job description dan tuntutan yang berbeda pada tiap pekerjaan. Perbedaan job description dan tuntutan pada setiap pekerjaan dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tidak adanya hubungan Pembagian waktu ini diharapkan karena tenaga setelah bekerja dapat terkuras karena adanya tuntutan pada penyelesaian tugas dari pekerjaan, sehingga dapat menyebabkan menurunnya ketahanan fisik, dan tidak dapat mempertahankan konsentrasi.

  Greenberg & Laurence (Santrock, 2003) menemukan mitos yang tidak benar seperti anggapan remaja bahwa dengan bekerja akan mendapatkan pelatihan untuk mengatur waktu yang terus menerus, kenyataanya hampir tidak pernah mendapatkan pelatihan untuk mengatur waktu. Kerugian dari penelitian tersebut ketika seorang mahasiswa kuliah sekaligus bekerja adalah mahasiswa yang bersangkutan menurunkan aktifitas sosialnya dengan teman, dan terkadang mengurangi jumlah waktu untuk tidur, serta mahasiswa tersebut dituntut untuk menyeimbangkan antara tuntutan kerja, kuliah, keluarga dan teman.

  Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat menunjukkan tingkat stres sebagai salah satu faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik.

  Ketidakstabilan emosi pada seorang siswa dapat disebabkan adanya konflik kejiwaan, stres, kekecewaan, kesedihan, dan sebagainya (Kusumawati, 2007). Macan (1990) menjelaskan melalui penelitiannya, bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dan manajemen waktu.

  Mahasiswa memiliki banyak kegiatan ekstrakurikuler, tugas kuliah, atau

  Pemikiran tersebut yang akhirnya menekan mahasiswa sehingga membuat mahasiswa mengalami stres yang meningkat.

  Selain itu, hasil penelitian dari Kusumawati (2007) mengatakan bahwa ada kemungkinan faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi akademik selain kemampuan manajemen waktu. Faktor-faktor lain tersebut berasal dari faktor dalam diri individu (internal), seperti fisik dan psikologis. Sedangkan faktor yang berasal dari luar individu (eksternal), seperti lingkungan sosial (keluarga, sekolah, dan masyarakat secara luas), dan lingkungan non-sosial (tempat belajar, udara, suhu, atau cuaca).

  Berdasarkan hasil penelitan ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kemampuan manajemen waktu dan prestasi akademik.

  Hal ini berarti kemampuan manajemen waktu belum menjadi faktor utama untuk mengukur prestasi akademik dari mahasiswa yang bekerja. Selain itu, tidak adanya hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik karena peneliti tidak mengkontrol faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi akademik .

  Walaupun hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan dari variabel kemampuan manajemen waktu dan variabel prestasi akademik, tetapi didapatkan bahwa kemampuan manajemen waktu dari subyek penelitian tinggi. Hal ini dapat dilihat dari skor mean menunjukkan bahwa subyek penelitian ini memiliki prestasi akademik yang tinggi.. Hasil tersebut ditunjukkan dari skor mean empiris IPK lebih besar dari pada skor mean teoritik IPK, yaitu 3,17 > 2,00. Selisih antara itu adalah 1,17 yang lebih besar dari SD empiris yaitu 0,322.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitan pada mahasiswa yang bekerja, maka

  dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang bekerja. Hasil ini ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,148 dan probabilitas sebesar 0,255 (p > 0,05).

B. Saran

  1. Bagi mahasiswa yang bekerja Hendaknya para mahasiswa yang bekerja mempertimbangkan faktor lain yang mungkin menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan prestasi akademik mereka. Faktor tersebut dapat berupa proporsi lamanya waktu bekerja yang perlu dipertimbangkan atau jenis pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan prestasi akademik.

  2. Bagi penelitian selanjutnya Penelitian ini dapat dikembangkan dengan penelitian selanjutnya, yaitu dengan mencari hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan variabel lainnya, seperti tingkat stress, jumlah jam kerja, atau jenis pekerjaan dari mahasiswa yang bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

  

Ada Tanggung Jawab Sosial Untuk Meraih Kesuksesan . (2005). Diunduh 15

  Desember 2009, dari http://www.its.com Anoraga, P. (1992). Psikologi Kerja. Jakarta: Rineke Cipta Arikunto, S. (1989). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Bina Aksara.

  Astuti, W. (2005). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gaya Hidup Hedonis

  Pada Mahasiswa Yang Bekerja di Bagian Promosi Penjualan Rokok di Yogyakarta. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas

  Psikologi Universitas Sanata Dharma. Azwar, S. (1999). Sikap Manusia dan Teori Perkembangannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Azwar, S. (2003). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Azwar, S. (2003). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Biecu. (2002). Kuliah Sambil Bekerja, Why Not?. Diunduh 12 November 2008, dari http://biecu.ac.id/Download/files/KULIAH+SAMBIL+BEKERJA+ WHY+NOT.doc/

  Buku Pedoman Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi. (2006). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Chaplin, J. P. (2004). Kamus Lengkap Psikologi (Penerjemah : Dr. Kartini Kartono) . Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Covey, S. (2001). 7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif (Penerjemah : Drs.

  Arvin Saputra) . Jakarta : Binarupa Aksara.

Discover Time Management . (2009). Diunduh 10 November 2009, dari

  http://www.discover-time-management.com/benefits-of-time- management.html Fryandari, M. (2007). Kemandirian Pada Mahasiswa Bekerja. Diunduh 20 Harmoni, A. (tanpa tahun). Manajemen waktu Untuk Mahasiswa. Diunduh 12 November 2008, dari http://ati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/5332/MANAJEME N+WAKTU+UNTUK+MAHASISWA.doc/ http://nofieiman.com//11/lulusan-jaman-sekarang/2006 http://www.ama-dki.org/manajemen waktu/2007 Hurlock. (1996). Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

  Kelly, K. (1998). Working Teenagers: Do After-School Jobs Hurt?. New York: Past Issues. Kuliah Sambil Sekolah Nggak Susah Kok, Asal. (2006, Januari). Harian , hal. 3-4.

  Republika

  Kurniawan, N. (2008). Efektivitas Pelatihan Manajemen Diri Untuk

  Meningkatkan Prestasi Akademik Mahasiswa Baru. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Macan, T. H; Shahoni, C; Diboye, R. L & Philips, P. A. (1990). College Student’s

  Time Management : Correlations with Academic Performances and Stress. Journal of Educational Psychology, 82, (4), 760 – 768

  Macan, T. H. (1994). Time Management : Test of a Process Model. Journal of Applied Psychology, 79, (3), 381 – 391

  Mmibii. (2008). Self-Management . Pesan dimuat dalam http://www.mmibii.forums-free.com/selfmanagement/message/31 Modul Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa. (2007). Go To Where

Your Heart Brings! (Modul). Universitas Sanata Dharma.

Narulita, M. F. (2005). Hubungan Antara “Self Regulated Learning” Dan Persepsi Dukungan Sosial Dengan Prestasi Akademik Mahasiswa.

  Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Kusumawati, H. (2007). Hubungan Antara Manajemen Waktu Dan Prestasi

  Belajar Pada mahasiswa Yang Bekerja Paruh Waktu. Skripsi (tidak

  diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Santoso, S. (2008). Panduan Lengkap Menguasai SPSS 16. Jakarta: PT.

  Gramedia. Santrock, J. W. (2003). Adolesence (Edisi keenam). Jakarta: Erlangga. Sanusi, B. (2005). Manajemen Waktu Yang Efektif Dan Kreatif . Dalam MDI

  News (No. 89, Vol. XI, Januari 2005). Jakarta : MDI News Siti, F, Prihanto, S. FX, Sukamto, M. E. (1999). Hubungan Antara Kemampuan

  Manajemen Waktu dan Dukungan Sosial Suami Dengan Tingkat Stres Pada Ibu Berperan Ganda. Anima, Indonesian Psychological

  Journal, Vol. 15, No. 1. Soelaiman, J. (2002). Prioritaskan Waktu Untuk Kemajuan. Dalam MDI News

  (no. 89, Vol. XI, Januari 2005). Jakarta: MDI News

  Soft-skills Lebih Berperan . (2005). Diunduh

  15 Desember 2009, dari http://www.its.com Supratiknya, A. (2007). Kiat Merujuk Sumber Acuan Dalam Penulisan Karya Ilmiah . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suryabrata, Drs. A. (2006). Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Syah, M. (2008). Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tanlain, M. B. R. D. (2001). Hubungan Antara Kohesivitas Dengan Prestasi

  Akademik Pada Kelompok Formal Remaja di SMU Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas

  Psikologi Universitas Sanata Dharma

  Time Management . (tanpa tahun). Diunduh

  12 November 2008, dari http://www.lc.unsw.edu.au Todar, H (2008). Analisis Pengaruh Kemampuan dan Kompensasi Terhadap

  Kinerja Karyawan Operasional PT Hanurda di Surabaya . Skripsi

  (tidak diterbitkan). Surabaya : Universitas Kristen Petra Triton, P. B. (2005). SPSS 13.0 Terapan Riset Statistik Parametrik. Yogyakarta: Winarsunu, T. (2004). Statistik Dalam Penelitian Psikologis dan Pendidikan.

  Malang: UMM Press. Winkel, W. S. (2004). Psikologi Pengajaran (Ed. Rev.). Yogyakarta: Media Abadi.

Dokumen baru

Download (132 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

hubungan motivasi belajar antara mahasiswa yang bekerja dan tidak bekerja terhadap prestasi akademik (IPK) (Studi kasus mahasiswa pendidikan ips FITK semester 6)
5
20
89
Hubungan antara Manajemen waktu dengan performansi kerja pada mahasiswa yang bekerja part-time di PT. X Yogyakarta.
0
3
114
Hubungan antara motivasi berprestasi dengan manajemen waktu pada mahasiswa yang bekerja part time sebagai garda depan PT Aseli Dagadu Djokdja.
10
41
135
Hubungan antara kontrol diri dengan prestasi akademik pada mahasiswa.
0
0
102
Pengaruh pelatihan manajemen waktu terhadap kemampuan manajemen waktu mahasiswa awal.
0
3
187
Studi deskriptif kemampuan manajemen waktu pada mahasiswa yang bekerja.
0
0
82
Hubungan antara kontrol diri dengan prestasi akademik pada mahasiswa
0
1
100
Pengaruh pelatihan manajemen waktu terhadap kemampuan manajemen waktu mahasiswa awal
12
58
185
Sistem informasi evaluasi prestasi akademik mahasiswa - USD Repository
0
0
130
Hubungan antara efikasi diri dan prestasi akademik - USD Repository
0
1
115
Hubungan kondisi sosial ekonomi orang tua dan prestasi akademik dengan motivasi mahasiswa dalam mengerjakan skripsi - USD Repository
0
0
107
Hubungan antara Self Regulated Learning dengan prestasi akademis mahasiswa - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara penyesuaian diri dalam perkawinan dengan kepuasan dalam perkawinan pada wanita yang bekerja - USD Repository
0
0
158
Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
135
Hubungan antara adversity quotient dan stres pada mahasiswa yang bekerja - USD Repository
0
0
119
Show more