Angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta - USD Repository

81 

Full text

(1)

ANGKA SALMONELLA DALAM JAMU KUNYIT ASAM YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL KECAMATAN GONDOMANAN

KOTAMADYA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Christina Putranti Rose Widani

NIM : 088114011

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

ANGKA SALMONELLA DALAM JAMU KUNYIT ASAM YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL KECAMATAN GONDOMANAN

KOTAMADYA YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Christina Putranti Rose Widani

NIM : 088114011

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

H idup akan terus berjalan… . .

seberat apapun hidupmu jangan pernah bosan

dan menyerah untuk menjalani hidupmu.

K arena T uhan tidak akan pernah memberikan

cobaan di luar kemampuan kita . Namun j ika

kamu memutuskan untuk menyerah sekarang

maka kamu akan menyesal karna kamu tidak

akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok

hari”

K arya kecil ini kupersembahkan untuk :

Tuhan Yesus Kristus yang selalu melimpahkan berkat untukku.

Orang Tuaku, Blasius Puji Saputro dan Antonia Pinuji Kusuma Rahayu

yang tidak pernah bosan mendoakan, membimbing dan mengingatkanku.  Adik-adikku Justinus Putranto Agung Nugroho, Yohanes Putranto Suryo

Kusumo, Yulius Putranto Murseto yang sangat kusayangi.

(6)
(7)
(8)

vii PRAKATA

Puji syukur dan terimakasih penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,

atas segala berkat dan anugrah-Nya dalam penyelesaian skripsi. Skripsi dengan judul

“Angka Salmonella dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual di Pasar Tradisional

Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta” merupakan karya ilmiah penulis

untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) di Fakultas

Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Banyak kesulitan yang penulis hadapi dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Akan tetapi, di tengah kesulitan tersebut penulis mendapat dukungan, bimbingan,

kritik dan saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Ipang Djunarko, M.Sc.,Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma.

2. Yohanes Dwiatmaka, M.Si selaku Dosen Pembimbing atas kebijaksanaan,

perhatian, dan kesabarannya dalam membimbing penyusunan skripsi ini.

3. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt selaku Dosen Penguji yang telah memberikan

saran yang menjadikan penulisan skripsi menjadi lebih baik.

4. Agustina Setiawati, M.Sc, Apt selaku Dosen Penguji atas masukan yang

(9)

viii

5. CM. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi

sekaligus Ketua Tim Panitia Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma.

6. Ibu Maria Dwi Budi Jumpowati, S.Si yang selalu memberi bimbingan,

dukungan dan masukan dengan penuh kesabaran selama penyusunan skripsi

sehingga penulisan skripsi menjadi lebih baik.

7. Ibu Septi Widyastuti, S.Si., M.Kes, Ibu Retno, Ibu Evina, Ibu Darwani, Ibu Siti,

Bapak Jumakir, Bapak Andi, Bapak Sigit dan segenap anggota Balai

Laborarorium Kesehatan Yogyakarta. yang telah membimbing penulis dalam

penelitian laboratorium .

8. Teman-teman seperjuangan penelitian yang selalu men-support dan

mengingatkan : Adityawarman, Eureka Gracia Letitia, Primaboti

Nurwidaningrum, Wiria Sende Paiman.

9. Teman-teman angkatan 2008 khususnya FKK A ’08 dan Bojon lovers yang

mendukung dan memberi dukungan moril dalam penulisan skripsi ini.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah

membantu dalam kelancaran penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala

kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya skripsi

ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi informasi bagi pembaca.

(10)
(11)

x

1. Tujuan umum………..………...

2. Tujuan khusus …………...………...

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ……….

A. Jamu Tradisional dan Cairan Obat Dalam ………...….

B. Jamu Kunyit Asam ………...…

C. Rimpang Kunyit (Curcumae domesticaeRhizoma)…………..

D. Daging Buah Asam Jawa (Tamarindi Pulpa)………….……...

E. Media Pertumbuhan Salmonella…….………..

F. Salmonella ……….………...

G. Landasan Teori ……….

H. Hipotesis ………...

BAB III METODE PENELITIAN ………

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ………

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ………...

C. Bahan Penelitian ………...

D. Alat Penelitian ………...

E. Tata Cara Penelitian ……….……….

1. Penentuan dan pemilihan pasar ………..

2. Pemilihan dan pengumpulan sampel jamu kunyit asam ……

(12)

xi

F. Analisis Hasil ...

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ….……… A. Penentuan dan Pemilihan Pasar ……….

B. Pemilihan dan Pengumpulan Sampel Jamu Kunyit Asam….….

C.Uji Salmonella (S5p4/IKM/M/21) pada Cairan Jamu Kunyit

Asam……….……….

1. Uji Pengkayaan pada media Selenith Broth.……….

2.Isolasi Salmonella dari jamu kunyit asam pada media

selektif Salmonella Shigella Agar ….………...

3. Identifikasi Salmonella dengan uji biokimiawi………...

(13)

xii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath,

Staley, dan Williams, 2000)... 26

Tabel II. Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar

tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya

Yogyakarta ……….. 30

Tabel III. Hasil dentifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur,

indol, motilitas, sitrat, dan katalase Salmonella dalam

sampel jamu kunyit asam……...……….. 44

Tabel IV. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam

yang dijual di Pasar Tradisional Kecamatan

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada

media Selenite Broth………..………….……… 32

Gambar 2. Hasil identifikasi uji glukosa pada media glukosa….. 35

Gambar 3. Hasil identifikasi uji laktosa pada media laktosa…… 36

Gambar 4. Hasil identifikasi uji manitol pada media manitol….. 37

Gambar 5. Hasil identifikasi uji maltosa pada media maltosa.… 38

Gambar 6. Hasil identifikasi uji sakarosa pada media sakarosa.. 39

Gambar 7. Hasil identifikasi uji sulfur pada media Sulphur

Indol Motility (SIM) Agar ………..

40

Gambar 8. Hasil identifikasi uji indol pada media Sulphur Indol

Motility (SIM) Agar..……….. 41

Gambar 9. Hasil identifikasi uji motilitas pada media Sulphur

(15)

xiv

Gambar 10. Hasil identifikasi uji sitrat pada media Simmons

Sitrat……… 43

(16)

xv LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat ijin penelitian di Balai Laboratorium Kesehatan

Yogyakarta……… 53

Lampiran 2. Sampel jamu kunyit asam dari berbagai pasar

tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya

Yogyakarta dalam botol steril dengan pengujian

duplo………. 54

Lampiran 3. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada

media Selenite Broth... 55

Lampiran 4. Hasil uji identifikasi Salmonella dalam media selektif

Salmonella Shigella Agar ……….…... 56

Lampiran 5. Hasil identifikasi uji fermentasi gula – gula, uji sulfur,

indol, motilitas, dan sitrat Salmonella pada jamu kunyit

asam……….………. 57

Lampiran 6. Hasil identifikasi uji katalase pada jamu kunyit

asam………....……... 59

Lampiran 7. Tabel identifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur,

(17)

xvi

jamu kunyit asam ………...………... 60

Lampiran 8. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam

yang dijual di pasar tradisional Kecamatan

(18)

xvii INTISARI

Jamu kunyit asam merupakan campuran rimpang kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma) dan daging buah asam jawa (Tamarindi Pulpa). Jika ke dua bahan tersebut dicampur menjadi jamu kunyit asam banyak memiliki manfaat seperti menyegarkan tubuh dan memperlancar haid sehingga banyak dikonsumsi oleh wanita.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Salmonella dan angka

Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta, kemudian membandingkannya dengan persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif.

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Data yang diperoleh berupa angka Salmonella yang dibandingkan dengan batas yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yaitu angka Salmonella sama dengan 0 (nol). Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi penentuan dan pemilihan pasar, penentuan dan pengumpulan sampel, uji pengkayaan pada media Selenite Broth, isolasi Salmonella

dari jamu kunyit asam pada media Salmonella Shigella Agar, identifikasi dan uji konfirmasi, pernyataan hasil, serta uji angka Salmonella. Dari hasil perhitungan akan diketahui angka Salmonella yang kemudian dianalisis dengan membandingkan data yang diperoleh dari penelitian dengan persyaratan batasan yang berlaku.

Hasil penelitian menunjukan angka Salmonella pada lima sampel yang berasal dari Pasar Beringharjo (kode A, B), Pasar Pathuk (kode C, D) dan Pasar Sawo (kode E) adalah negatif sehingga sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa angka bakteri patogen dalam cairan obat dalam negatif.

Kata kunci: pasar tradisional, Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, angka

(19)

xviii ABSTRACT

Jamu kunyit asam is a mixture composition Curcumae domesticae Rhizoma

and Tamarindi Pulpa. Both ingredients are mixed to become jamu kunyit asam it has lot of advantages which useful for the human body to feel fresh, especially for women in menstruation period that their periods would pass fast and smooth. The purpose of this research were to identify the Salmonella and Salmonella numbers contained in the jamu kunyit asam sold at the traditional markets in Gondomanan subdistric Yogyakarta, those result were compared to limitation as stated in Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be negative.

This reasearch was pure experimental research using descriptive and comparative research design. The result of the data was Salmonella numbers by which the result was compared to the limitation stated in Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be zero. Steps of research were included the gathering, choosing of market and samples, selecting enrichment test on the Selenith Broth, isolating on the Salmonella Shigella Agar, identificating and confirmating test, and result statement. Further, the result would be analyzed by way of comparing than data achieved from the research to the requierements which was in effect.

The results showed that the numbers of Salmonella in five samples from Beringharjo market (code A, B), Pathuk market (code C, D) and Sawo market used were zero so those result were in accordance with Keputusan Menteri Kesehatan

RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 which states that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be negative.

Key words: traditional market, Gondomanan subdistric, Salmonella number, jamu

kunyit asam, Keputusan Menteri Kesehatan RI No:

(20)

1 BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang

Kunyit asam sering dikenal dengan sebutan kunir asem. Jamu ini terdiri dari

campuran rimpang kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma) dan daging buah asam

jawa (Tamarindi Pulpa). Rimpang kunyit mempunyai kandungan curcuminoid,

glukosa, pati, tanin dan damar serta mineral (Sudarsono, 1996), yang berkhasiat

memberikan efek antiradang, antibakteri, antioksidan, peluruh kentut dan haid, serta

dapat melancarkan ke luarnya empedu ke usus (Winarto, 2004). Daging buah asam

jawa mengandung zat-zat gula invert, asam sitrat, asam tartrat, serina, beta alanina,

geraniol, limonena, peptin, prolina, leusina, dan fenil alanina. Manfaat daging buah

asam jawa bagi kesehatan adalah sebagai pereda asma, batuk kering, demam, rematik,

nyeri haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan (Kurniawati, 2010).Racikan

rimpang kunyit dan daging buah asam jawa apabila diracik menjadi jamu kunyit

asam, maka manfaatnya pun akan menjadi lebih banyak, yaitu menyegarkan tubuh,

terutama pada saat haid dan memperlancar haid, mengatasi gangguan perut,

mengatasi gangguan hati dan lambung, melangsingkan badan serta menurunkan

kolesterol (Prasetiyo, 2003).

Jamu kunyit asam merupakan cairan obat dalam. Menurut Keputusan Menteri

Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 cairan obat dalam adalah sediaan obat

(21)

serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam (Departemen

Kesehatan RI, 1994). Saat ini jamu kunyit asam masih banyak dijumpai di pedagang

jamu tradisional di pasar-pasar tradisional karena kunyit asam merupakan jamu yang

paling laku di antara semua jamu yang dijual, namun higienitas dan sanitasi

pengolahan jamu kunyit asam oleh pedagang atau produsen jamu tradisional kurang

diketahui dan mendapat perhatian dari konsumen. Jamu tradisional sendiri merupakan

jamu yang pembuatannya sangat sederhana dan merupakan sediaan obat yang tidak

dapat disimpan lama dan biasanya diminum dalam keadaan segar (Rukmana, 2003).

Pengolahan jamu kunyit asam kurang mendapat perhatian dari konsumen.

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada bulan Mei 2011, ketika mencuci

rimpang kunyit produsen hanya melakukan satu kali pencucian, yaitu hanya dengan

mencelupkan saja pada air dalam ember. Selain itu, dari hasil observasi di lapangan

maupun di pasar-pasar tradisional Kotamadya Yogyakarta, pembuat jamu juga tidak

menggunakan sabun dan air mengalir pada saat mencuci tangan sebelum membuat

jamu. Jamu yang sudah jadi langsung dijual dalam bentuk cairan siap minum yang

ditempatkan pada botol-botol plastik yang cara pencuciannya juga kurang higienis,

yaitu hanya dicelup ke dalam air. Ketidakhigienisan dan kurangnya sanitasi dapat

membuat bakteri patogen maupun non patogen dapat berkembangbiak.

Salmonella merupakan salah satu bakteri patogen yang dimungkinkan dapat

hidup di cairan jamu kunyit asam, meskipun jamu tersebut sudah mengalami

pemanasan, karena Salmonella dapat mengkontaminasi jamu melalui wadah untuk

(22)

antara lain adalah pencucian wadah yang kurang bersih atau bisa juga air yang

digunakan untuk mencuci wadah sudah terkontaminasi Salmonella. Salmonella dapat

tumbuh di dalam jamu karena adanya kesesuaian pH dan suhu antara jamu dengan

habitat Salmonella, yaitu range pH tumbuh dari Salmonella adalah 4,1-9,0 dengan pH

optimum 6,5-7,5 (Poeloengan, Komala dan Noor, 2012).

Pembuatan jamu racikan dapat dilakukan tanpa pengujian dan proses

pendaftaran bahan jamu. Oleh karena itu, kualitas jamu yang dihasilkan belum dapat

dipastikan karena tidak diketahui ada atau tidaknya cemaran bakteri, khususnya

Salmonella. Jumlah Salmonella yang terdapat dalam jamu disebut dengan angka

Salmonella. Angka kematian atau timbulnya penyakit akibat adanya infeksi dari

Salmonella sangat tinggi. Penyakit ini tidak hanya menjadi masalah yang cukup

serius di daerah berkembang dengan tingkat sanitasi yang kurang memadai seperti di

Indonesia, tetapi juga di negara maju. Angka kejadian infeksi Salmonella di dunia

mencapai lebih dari 12,5 juta per tahun dan di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 2

juta penderita Salmonelosis (Radji, 2011). Gejala klinik yang sering dialami oleh

penderitanya, yaitu gangguan pencernaan mulai dari rasa mual, diare, nyeri lambung

dan muntah, sering kali juga disertai nyeri kepala, keringat dingin dan pada keadaan

yang lebih parah terjadi kekakuan otot serta kehilangan kesadaran sesaat. Terkadang

ditemukan kenaikan suhu tubuh menjadi 37,1- 38,5oC, tapi ada pula yang tidak

disertai dengan demam, jarang ditemukan darah atau lendir pada tinja. Gejala paling

(23)

segera diobati (Soeharsono, 2002). Hal inilah yang membuat penelitian tentang angka

Salmonella dalam jamu kunyit asam penting untuk dilakukan.

Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang aspek

mikrobiologis jamu kunyit asam yang paling digemari oleh konsumen. Sesuai yang

diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 bahwa

keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif, termasuk Salmonella.

Apabila terdapat bakteri patogen di dalam cairan obat, maka cairan obat tersebut tidak

layak untuk dikonsumsi karena tidak terjamin keamanan dan kualitasnya

(Departemen Kesehatan RI, 1994).

Dalam penelitian ini, peneliti memilih beberapa pasar tradisional di

Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta. Kecamatan Gondomanan dipilih

karena terletak di pusat kota yang letaknya sangat strategis untuk dikunjungi oleh

masyarakat luas. Di Kecamatan Gondomanan juga terdapat pasar tradisional besar

seperti pasar Beringharjo dan pasar Pathuk yang banyak dikunjungi masyarakat asli

Yogyakarta maupun dari luar Yogyakarta untuk berbelanja. Selain itu, masih cukup

banyak pedagang jamu tradisional yang menjual jamu kunyit asam di Kecamatan

Gondomanan dan animo masyarakat dalam mengkonsumsi jamu kunyit asam yang

masih cukup tinggi pula, terutama para wanita untuk mengurangi rasa sakit ketika

menstruasi dan menambah kesegaran tubuh. Dengan penelitian ini, masyarakat

diharapkan mengetahui kualitas dan keamanan jamu kunyit asam yang dijual di

(24)

Gondomanan berdasarkan angka Salmonella, sehingga status kesehatan masyarakat

dapat meningkat.

1. Rumusan masalah

a. Apakah jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan

Gondomanan Kotamadya Yogyakarta mengandung cemaran Salmonella?

b. Berapa angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar

tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta?

c. Apakah jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan

Gondomanan Kotamadya Yogyakarta memenuhi persyaratan berdasarkan

Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang

menyatakan bahwa keberadaan Salmonella dalan cairan obat harus negatif?

2. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi bagi ilmu

pengetahuan mengenai kualitas dan keamanan jamu kunyit asam berdasarkan angka

Salmonella yang dijual di tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya

Yogyakarta.

b. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam peningkatan kualitas dan

(25)

sehingga diharapkan pula dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat

Yogyakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

3. Keaslian penelitian

Sejauh penelusuran pustaka dan jurnal oleh peneliti, penelitian mengenai

cemaran mikroba pada jamu gendong yang pernah diteliti Zulaikhah (2005) dengan

judul “Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pencemaran Mikroba pada

Jamu Gendong di Kota Semarang. Hasil penelitian yang didapatkan adalah sebesar

62,5% jamu gendong mengalami pencemaran mikroba. Jenis mikroba yang

ditemukan adalah kapang, Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus dan

Pseudomonas aeruginosa. Jinarwanto (2008) juga pernah meneliti mikroba pada

jamu dengan judul penelitian “Uji Eschericia coli dalam Jamu Gendong Beras kencur

yang beredar di Tiga Pasar di Kotamadya Yogyakarta” dengan hasil dari 15 sampel

yang positif terkontaminasi Eschericia coli ada 6 sampel, sedangkan penelitian

mengenai “Angka Salmonella dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual Pedagang Jamu

di Pasar Tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta” belum pernah

dilakukan.

B. Tujuan 1. Tujuan umum

Untuk mengetahui kualitas dan keamanan sediaan jamu kunyit asam

(26)

Kotamadya Yogyakarta serta membantu masyarakat dalam menjaga dan

memperbaiki status kesehatannya.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui ada tidaknya cemaran Salmonella dalam jamu kunyit asam

yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya

Yogyakarta.

b. Untuk mengetahui angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di

pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

c. Untuk mengetahui apakah angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang

jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan

Kotamadya Yogyakarta memenuhi persyaratan berdasarkan Keputusan

Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa

(27)

8 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Jamu Tradisional dan Cairan Obat Dalam

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 246/Menkes/Per/V/1990, obat

tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan

hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang

secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman

(Departemen Kesehatan RI, 1990). Harmanto dan Subroto (2006) mengatakan bahwa

jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang dibuat dari tumbuhan, bahan hewan,

bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang

secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

Bahan-bahan yang digunakan tidak menggunakan bahan kimia obat. Salah satu jenis

jamu yang banyak dikonsumsi masyarakat Yogyakarta adalah jamu kunyit asam yang

merupakan sediaan cairan obat dalam. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor. 661/MenKes/SK/VII/1994, cairan obat dalam adalah

sediaan obat tradisional berupa larutan emulsi atau suspensi dalam air, bahan bakunya

berasal dari serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam.

Syarat cairan obat dalam adalah perbedaan volume antara wadah takaran

tunggal satu dengan yang lain tidak boleh lebih dari 5% dari volume rata-rata.

Penetapan perbedaan volume dilakukan dengan mengukur volume 10 wadah satu

(28)

volume, dilakukan pula penetapan Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang dan

Khamir (AKK), bakteri patogen, aflatoksin, bahan tambahan, wadah dan

penyimpanan serta penandaan (Departemen Kesehatan RI, 1994). Menurut

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor.

661/MenKes/SK/VII/1994, nilai Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang

Khamir (AKK) pada cairan obat dalam tidak lebih dari 10 koloni, sedangkan

keberadaan bakteri patogen harus negatif. Nilai aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj

(bagian per juta). Bahan tambahan seperti pengawet kadar dan jenisnya harus sesuai

dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan

Tambahan Makanan. Cairan obat dalam ditempatkan dan disimpan dalam wadah

tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, di tempat kering dan terlindung dari sinar

matahari dan ditandai sesuai yang dipersyaratkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan

RI No.246/MenKes/Per/VI/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan

Pendaftaran Obat Tradisional untuk sediaan berbentuk suspensi atau emulsi harus

juga tertera peringatan `Kocok Dahulu`.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :

661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional, jamu harus

memenuhi salah satu persyaratan, yaitu tidak boleh mengandung mikroba patogen,

meliputi bakteri dan fungi patogen. Mikroba patogen yang dimaksud adalah semua

mikroba yang dapat menyebabkan orang menjadi sakit bila kemasukan mikroba

tersebut. Obat tradisional untuk penggunaan obat dalam perlu diwaspadai adanya

(29)

aeruginosa, sedangkan jamur yang bersifat patogen yang tidak boleh ada dalam obat

tradisional adalah jamur Aspergilus flavus yang dapat menghasilkan aflatoksin.

B. Jamu Kunyit Asam

Jamu kunyit asam disebut juga jamu adem-ademan atau seger-segeran,

artinya sebagai jamu untuk menyegarkan atau mendinginkan tubuh. Jamu kunyit

asam juga bermanfaat untuk menghindarkan diri dari panas dalam, sariawan dan

membuat perut menjadi dingin (Suharmiati, 2003). Berdasarkan survey yang

dilakukan pada bulan Mei tahun 2011 terhadap beberapa penjual jamu di beberapa

pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta, pembuatan

jamu kunyit asam cukup mudah, yaitu rimpang kunyit yang sudah dikupas dan dicuci,

ditumbuk menggunakan alat penumbuk. Kunyit yang sudah ditumbuk, kemudian

tumbukan kunyit tersebut direbus. Apabila sudah mendidih, sari dari rebusan tersebut

diambil dan dicampurkan dengan air asam jawa. Untuk memberikan rasa manis dapat

ditambahkan dengan larutan air gula jawa. Setelah selesai dibuat, jamu tersebut

ditempatkan dalam botol-botol yang sudah disediakan.

Dilihat dari cara pembuatan jamu kunyit asam yang dilakukan oleh hampir

semua penjual yang mewakili seluruh sampel penjual jamu kunyit asam di pasar

tradisional, penjual jamu kunyit asam tersebut pada tahap pencucian rimpang kunyit

hanya melakukan satu kali pencucian, yaitu hanya dengan mencelupkan saja pada air

dalam ember. Pada saat pengemasan, pedagang jamu tidak menggunakan sarung

(30)

jamu kunyit asampun juga hanya direndam menggunakan air dalam bak tanpa

menggunakan sabun.

Pencemaran bakteri pada jamu kunyit asam dapat bersumber dari bahan baku,

pekerja dan lingkungan pengolahan termasuk peralatan produksi yang digunakan oleh

pekerja, tahap pengemasan, dan penyajian. Kesehatan dan kebersihan pembuat jamu

serta hygienitas dan sanitasi yang terjaga akan menjamin jamu yang dihasilkan

terbebas dari mikroba yang dapat mencemari jamu (Zulaikhah, 2005).

C. Rimpang Kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma)

Rimpang kunyit terdapat di bagian pangkal batang, berkulit coklat, bersisik

dan jika diiris bagian dalamnya berwarna kuning (Gunawan, 1999). Rimpang kunyit

memiliki berbagai kandungan, yaitu minyak atsiri, pati, pahit, resin, selulosa, dan

beberapa mineral. Kandungan minyak atsiri kunyit sekitar 3-5%. Komponen utama

rimpang kunyit adalah pati berkisar 40-50% dari berat kering rimpang (Winarto,

2005). Komponen zat warna atau pigmen pada kunyit yang utama adalah kurkumin,

yakni sebanyak 2,5-6%. Di samping itu, kunyit juga mengandung zat warna lain,

seperti monodesmethoksikurkumin dan bidemesthoksikurkumin. Setiap rimpang segar

kunyit mengandung ketiga senyawa ini sebesar 0,8%. Pigmen inilah yang

memberikan warna kuning oranye pada rimpang (Winarto, 2005). Manfaat rimpang

kunyit bagi kesehatan adalah sebagai pemberi efek antiradang, antibakteri,

antioksidan, peluruh kentut dan haid, dapat melancarkan sekresi empedu ke usus

(31)

D. Daging Buah Asam Jawa (Tamarindi Pulpa)

Asam jawa (Tamarindus indica L.) merupakan tanaman asam di daerah tropis

dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Di dalam buah polong, selain terdapat kulit

yang membungkus daging buah, juga terdapat biji berjumlah 2 - 5 yang berbentuk

pipih dengan warna coklat agak kehitaman (Kurniawati, 2010). Daging buah

(mesokarp) putih kehijauan ketika muda, menjadi merah kecoklatan sampai

kehitaman ketika sangat masak, asam manis dan lengket. Biji coklat kehitaman,

mengkilap dan keras, agak persegi (El-Siddig, Gunasena, Prasad, Pushpakumara,

Ramana, Vijayanand dan Williams, 2006).

Di dalam daging buah asam jawa terkandung zat-zat gula invert, asam sitrat,

asam tartrat, serina, beta alanina, geraniol, limonena, peptin, prolina, leusina, dan

fenil alanina. Daging buah asam jawa yang masak di pohon, di antaranya

mengandung nilai kalori sebesar 287 kal/120 g; natrium 34 mg/120 g; karbohidrat 75

g/120 g; vitamin A 36 IU/120 g; vitamin C 4,2 mg/120 g; tiamin 0,5 mg/120 g; niasin

2,3 mg/120 g; folat 16,8 µg/120 g; dan kolin 10,3 mg/120 mg (Kurniawati, 2010)

Manfaat daging buah asam jawa bagi kesehatan adalah sebagai pereda asma, batuk

kering, demam, rematik, nyeri haid, alergi, sariawan, dan menurunkan berat badan

(Kurniawati, 2010).

E. Media Pertumbuhan Salmonella

Salmonella dapat tumbuh pada suasana anaerob fakultatif. Salmonella tidak

(32)

maltosa, manitol. Sebagian besar isolat Salmonella dari spesimen klinik membentuk

H2S (Radji, 2011). Salmonella dimungkinkan dapat pula hidup di jamu kunyit asam,

hal ini disebabkan karena adanya kesesuaian suhu maupun pH antara habitat hidup

Salmonella dan jamu kunyit asam, yaitu kisaran pH tumbuh dari Salmonella adalah

4,1-9,0 dengan pH optimum 6,5-7,5 (Poeloengan, Komala dan Noor, 2012).

Media selektif yang dipergunakan untuk mengisolasi bakteri Salmonella

adalah sebagai berikut.

1. Triple Sugar Iron Agar

Triple Sugar Iron Agar biasanya digunakan untuk konfirmasi pengujian E.coli

dan dapat digunakan untuk identifikasi bakteri Gram negatif yang memfermentasi

dekstrosa atau laktosa atau sukrosa, dan produksi H2S. Berdasarkan fungsi tersebut

media ini dapat digunakan untuk konfirmasi Salmonella dan memilahkan Salmonella

dari Pseudomonas yang tumbuh pada media BSA (Bismuth Sulfite Agar) dan BGA

(Bismuth Green Agar). Terjadinya fermentasi dekstrosa oleh Salmonella akan

menurunkan pH menjadi asam. Kondisi ini akan menyebabkan perubahan phenol red

menjadi kuning. Pseudomonas tidak mampu memfermentasi dekstrosa, maka media

TSIA akan tetap berwarna merah. Dengan demikian, media ini dapat dengan mudah

memilah Salmonella dari Pseudomonas (Suwandi, 1999).

2. Selenite Broth

Selenite Broth merupakan media pengkaya yang digunakan untuk mengisolasi

Salmonella yang berasal dari feses dan produk makanan. Media ini mengandung

(33)

pertumbuhan Salmonella. Salmonella dapat tumbuh baik dalam media ini ditandai

dengan adanya kekeruhan pada media Selenite Broth (Bridson,2006).

3. SalmonellaShigella Agar

SalmonellaShigella Agar (SSA) adalah media selektif yang digunakan untuk

mengisolasi Salmonella dan beberapa spesies Shigella yang berasal dari spesimen

klinik seperti urin, darah, feses maupun yang berasal dari makanan. SSA ini

mengandung pepton, laktosa, natrium sitrat, natrium tiosulfat, besi (III) sitrat,

brilliant green, neutral red dan bile salt. Salmonella yang tumbuh dalam media

SSA berupa koloni transparan, biasanya terdapat bintik hitam di tengah koloni

tersebut (Bridson, 2006).

F. Salmonella

Salmonella merupakan salah mikroba berbentuk batang, bersifat Gram

negatif , anaerob fakultatif, motil dengan flagel, dapat tumbuh optimal pada suhu

37OC. Salmonella dapat memfermentasikan berbagai macam gula seperti glukosa,

maltosa dan manitol tetapi tidak dapat memfermentasikan laktosa dan sakarosa.

Selain itu, Salmonella memiliki enzim katalase, dapat memfermentasikan sitrat

dan H2S, namun tidak dapat memproduksi indol. Manusia dan hewan merupakan

sumber kontaminasi Salmonella secara langsung maupun tidak langsung. Bakteri

ini dapat berasal dari manusia atau hewan yang terserang Salmonellosis, atau dari

pembawa (carrier) bakteri tersebut (Radji, 2011). Pada media cawan agar, koloni

(34)

(Breed, Murray, dan Smith, 1957), sedangkan pada media selektifnya, yaitu

Salmonella Shigella Agar koloninya berwarna transparan terkadang terdapat titik

hitam di tengah koloni (Bridson, 2010).

Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994

menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen dalan cairan obat harus negatif,

karena patogenitas Salmonella tinggi dan jika keberadaan bakteri patogen dalam

cairan obat positif, maka akan timbul gejala, seperti gastroenteritis. Selain

gastroenteritis, beberapa spesies Salmonella juga dapat menimbulkan gejala

penyakit lainnya, misalnya demam enterik, septisemia dan karier tanpa gejala

(Radji,2011).

Mekanisme patogenitas Salmonella sampai dapat menimbulkan gejala

penyakit, yaitu setelah bersarang pada usus halus menyebabkan hiperplasia.

Terjadinya pembesaran yang progresif dan ulserasi dapat menyebabkan perforasi

usus halus atau perdarahan gastrointestinal. Bentuk klasik demam tiphoid selama

empat minggu. Masa inkubasi 7-14 hari. Minggu pertama terjadi demam tinggi,

sakit kepala, nyeri abdomen, dan perbedaan peningkatan temperatur dengan

denyut nadi, 50 % pasien dengan defekasi normal. Pada minggu kedua terjadi

splenomegali dan timbul ruam. Pada minggu ke tiga timbul penurunan kesadaran

dan peningkatan toksemia, keterlibatan usus halus terjadi pada minggu ini dengan

diare kebiru-biruan dan berpotensi untuk terjadinya perforasi. Pada minggu ke

empat terjadi perbaikan klinis. Perforasi dan perdarahan gastrointestinal dapat

(35)

kronis kandung empedu dapat menjadi karier dari pasien yang telah sembuh dari

penyakit akut (Zein, 2004).

G. Landasan Teori

Kunyit asam adalah salah satu minuman populer di Indonesia berupa cairan

obat dalam yang terdiri dari campuran rimpang kunyit dan buah asam jawa. Selain

sebagai minuman yang menyegarkan, kunyit asam telah lama diyakini memiliki

khasiat untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit pada wanita yang sedang

mengalami menstruasi. Kemampuan untuk menghilangkan rasa sakit ini disebabkan

adanya kandungan curcuminoid pada rimpang kunyit yang dipergunakan sebagai

salah satu bahan utama pembuatan kunyit asam yang memiliki efek analgetika,

sedangkan kandungan vitamin C yang ada pada daging buah asam jawa dapat

menambah kesegaran tubuh, sehingga wanita yang sedang mengalami menstruasi

tidak akan mengalami nyeri haid dan badan menjadi lebih segar apabila

mengkonsumsi jamu kunyit asam.

Adanya kontaminasi bakteri patogen pada cairan jamu kunyit asam membuat

jamu tersebut tidak aman untuk dikonsumsi. Mikroba patogen yang dimungkinkan

dapat mengkontaminasi jamu kunyit asam adalah Salmonella. Adanya cemaran

Salmonella dalam jamu kunyit asam dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Orang

yang terinfeksi akan mengalami gejala demam, diare, kram perut, sakit kepala, pusing

dan rasa mual setelah 12 sampai 72 jam terinfeksi. Gejala ini dapat berlangsung

(36)

dokter, tapi sebagian penderita dapat mengalami diare yang sangat parah, sehingga

harus dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian angka

Salmonella yang merupakan salah satu bakteri patogen untuk mengetahui jamu

kunyit asam tersebut sudah memenuhi parameter standar umum cairan obat dalam

ataukah belum, sehingga tidak terjadi patogenitas pada manusia apabila

mengkonsumsi jamu tersebut.

Uji Salmonella dalam obat tradisional adalah suatu metode untuk menetapkan

adanya tidaknya Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam. Nilai angka Salmonella

tidak boleh melebihi batas yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan RI No:

661/MenKes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen

dalam cairan obat harus negatif, apabila angka Salmonella menunjukkan nilai nol,

maka cairan jamu kunyit asam tersebut dapat untuk dikonsumsi karena bebas dari

cemaran bakteri patogen, yaitu Salmonella. Apabila jamu kunyit asam terkena

cemaran Salmonella, maka jamu kunyit asam tersebut tidak aman dan sangat

membahayakan kesehatan masyarakat, karena Salmonella dapat menyebabkan

gastroenteritis.

Apabila ditemukan Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam yang dijual di

pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta maka perlu

dilakukan edukasi mengenai cara pengolahan jamu tradisional yang baik supaya jamu

tradisional yang diproduksi dapat membantu masyarakat dalam menjaga dan

memperbaiki status kesehatannya serta tidak membahayakan konsumen. Apabila

(37)

tetap menjaga kualitas jamu yang dihasilkan supaya dapat dikonsumsi oleh

masyarakat dengan aman.

H. Hipotesis

Angka Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam yang dijual di pasar

tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta tidak memenuhi

persyaratan yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI No:

661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan dan angka Salmonella

(38)

19 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan

penelitian deskriptif komparatif, yaitu mendeskripsikan identitas dan angka

Salmonella serta membandingkan angka Salmonella yang diperoleh dengan

persyaratan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No:

661/Menkes/SK/VII/1994 bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus

negatif. Penelitian dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Propinsi Daerah

Istimewa Yogyakarta.

B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian

a. Variabel bebas

Cairan jamu kunyit asam dari pasar tradisional Kecamatan Gondomanan

Kotamadya Yogyakarta.

b. Variabel tergantung

Identitas cemaran Salmonella dan angka Salmonella dalam cairan jamu kunyit

asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya

(39)

c. Variabel pengacau terkendali

Asal jamu kunyit asam (pasar tradisional Kecamatan Gondomanan

Kotamadya Yogyakarta), media pengkayaan (Selenite Broth), media isolasi

(SalmonellaShigella Agar), media identifikasi (media glukosa, media laktosa, media

manitol, media maltosa, media sakarosa, media Sulphur Indol Motility, media

Simmons Sitrat Agar, Nutrien Agar), suhu inkubasi (37O C) dan waktu inkubasi (24

jam).

2. Definisi operasional

a. Jamu kunyit asam adalah jamu yang terdiri dari campuran rimpang kunyit

(Curcumae domesticae Rhizoma) dan daging buah asam jawa (Tamarindi

Pulpa) . Sampel jamu dari pedagang jamu dikemas ke dalam botol steril untuk

meminimalkan kontaminasi dari luar.

b. Salmonella adalah bakteri penyebab infeksi yang dimungkinkan mencemari

jamu kunyit asam. Jika tertelan dan masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan

gejala yang disebut Salmonellosis.

c. Angka Salmonella merupakan besarnya jumlah bakteri Salmonella yang ada

pada jamu kunyit asam yang dapat digunakan untuk menilai keamanan dari

jamu kunyit asam tersebut. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No:

661/Menkes/SK/VII/1994 angka Salmonella dalam cairan jamu harus nol.

d. Uji Salmonella dalam obat tradisional adalah suatu uji untuk menetapkan

adanya Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam dengan melihat ada

(40)

C. Bahan Penelitian

a. Cairan jamu kunyit asam dari pasar tradisional Kecamatan Gondomanan

Kotamadya Yogyakarta pada bulan Januari 2012.

b. Media pengkayaan (Selenite Broth), media isolasi (Salmonella Shigella Agar),

media identifikasi (media glukosa, media laktosa, media manitol, media maltosa,

media sakarosa, media Sulphur Indol Motility, media Simmons Sitrat Agar, Nutrien

Agar).

c. Pereaksi yang digunakan untuk identifikasi Salmonella adalah H2O2 dan Kovacs.

d. Bakteri baku sebagai standar pembanding adalah Salmonella typhi ATCC 14028.

D. Alat Penelitian

Alat timbang (Sartorius), vortex (Sybran), bunsen, pipet volume, cawan

petri, tabung reaksi, piring petri, labu Erlenmeyer, gelas ukur, mikropipet (Iwaki

1mL), oven, inkubator (WTC binder), autoclave (model: KT-40 No.108049

Midorigaoka Japan), Microbiological Safety Cabinet (MSC).

E. Tata Cara Penelitian 1. Penentuan dan pemilihan pasar

Pemilihan pasar ditentukan dengan cara sebagai berikut. Di Yogyakarta

terdapat empat belas kecamatan kemudian dipilih satu kecamatan, yaitu kecamatan

Gondomanan. Kecamatan Gondomanan dipilih karena di kecamatan tersebut

(41)

mana pasar ini menjadi pusat perekonomian masyarakat, baik masyarakat dari

dalam maupun luar Yogyakarta. Dua pasar tersebut adalah Pasar Beringharjo dan

Pasar Pathuk. Selain Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk, terdapat juga Pasar

Sawo dan Pasar Ledok Gondomanan yang menjadi pusat perkonomian warga

sekitarnya. Oleh karena itu, kecamatan ini dipilih sebagai tempat pengambilan

sampel karena banyak orang berbelanja di pasar tersebut, sehingga banyak juga

warga yang membeli jamu kunyit asam.

2. Pemilihan dan pengumpulan sampel jamu kunyit asam

Berdasarkan survey peneliti pada bulan Mei 2011, terdapat dua pedagang

jamu di Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk, di Pasar Sawo terdapat satu

pedagang, sedangkan di Pasar Ledok Gondomanan tidak terdapat pedagang jamu.

Sampel diambil dari tiap pedagang jamu sebanyak satu buah, sehingga total

sampel terdapat lima sampel jamu kunyit asam, yaitu dua dari pedagang jamu di

Pasar Beringharjo, dua dari pedagang jamu di Pasar Pathuk dan satu dari pedagang

jamu di Pasar Sawo. Setiap pedagang hanya dilakukan satu kali pengambilan

sampel. Jamu kunyit asam yang dijual oleh pedagang kemudian dipindahkan

secara aseptis ke dalam botol steril.

3. Uji Salmonella (S5p4/IKM/M/21) pada cairan jamu kunyit asam

a. Uji Pengkayaan pada Media Selenite Broth

Disiapkan 10 labu ukur yang masing-masing telah diisi dengan 9 mL Selenite

Broth. Dengan cara aseptik dipipet 1 mL suspensi dari jamu kunyit asam, kemudian

(42)

Media Selenite Broth akan menjadi keruh jika terdapat Salmonella (Bridson, 2006).

Uji yang sama dilakukan terhadap kontrol positif berupa kultur murni Salmonella

typhi ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan hasil pertumbuhannya

berdasarkan kekeruhan.

b. Isolasi Salmonella pada media selektif Salmonella Shigella Agar

Dari biakan pengkayaan diisolasikan 1 sengkelit pada permukaan Salmonella

Shigella Agar (SSA) dengan cara streak (4 kuadran), diinkubasi pada suhu 37oC

selama 24 jam. Prosedur yang sama dilakukan terhadap kontrol positif, yaitu kultur

murni Salmonella typhi ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan

hasil pertumbuhannya berdasarkan morfologi koloni yang tumbuh. Keberadaan

Salmonella ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil,

bulat, sisi tepinya berombak (Breed dkk., 1957).

c. Identifikasi Salmonella dalam jamu kunyit asam

Dipilih 1 koloni spesifik pada Salmonella Shigella Agar (SSA) kemudian

dilakukan uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase.

Prosedur yang sama dilakukan terhadap kontrol positif, yaitu kultur murni Salmonella

typhi ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan hasil pertumbuhannya

berdasarkan perubahan warna yang terjadi.

1) Uji fermentasi gula-gula

a). Uji fermentasi glukosa

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

(43)

ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi

kuning.

b). Uji fermentasi laktosa

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media laktosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Jika terjadi

perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil

uji positif.

c). Uji fermentasi manitol

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media manitol dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Jika terjadi

perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil

uji positif.

d). Uji fermentasi maltosa

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selam 24 jam. Jika terjadi

perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil

uji positif.

e). Uji fermentasi sakarosa

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media sakarosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selam 24 jam. Jika terjadi

perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil

(44)

2) Uji sulfur

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

suhu 37oC selama 24 jam. Adanya warna hitam di sepanjang bekas inokulasi

menunjukkan hasil yang positif.

3) Uji indol

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

suhu 37oC selama 24 jam. Ke dalam biakan ditambahkan 1 mL pereaksi Indol

(Kovac), dikocok dan didiamkan beberapa menit. Warna merah cherry yang

berbentuk cincin pada permukaan biakan menunjukkan reaksi indol positif.

4) Uji motilitas

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

suhu 37oC selama 24 jam. Apabila pertumbuhan mikroba tidak hanya di bekas

tusukan menunjukkan hasil yang positif.

5) Uji sitrat

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada Simmons Sitrat Agar dan diinkubasi pada suhu 35 – 37oC selama 24 jam. Jika

(45)

6) Uji katalase

Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

pada gelas objek kemudian ditetesi dengan H2O2. Timbulnya buih menunjukkan hasil

uji positif.

7) Interpretasi hasil

Salmonella dinyatakan terdapat pada sampel jamu kunyit asam apabila

Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath, Staley, dan Williams,

d. Uji Angka Salmonella (Aureli, Consntini, Felicia, Gianfraceschi, dan Rainakli,

1992)

Angka Salmonella dinyatakan dengan persentase koloni spesifik yang telah

dikonfirmasi sebagai Salmonella dikalikan jumlah koloni dari dua cawan (duplo) dan

(46)

Rumus

Keterangan

A = koloni spesifik Salmonella

B = jumlah koloni terduga Salmonella dari dua cawan (duplo)

C = faktor pengenceran

Angka Salmonella yang diperoleh dari perhitungan dibandingkan

dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994.

F. Analisis Hasil

Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif, yaitu mendeskripsikan

identitas dan angka Salmonella di dalam jamu serta membandingkan data yang

diperoleh berupa angka Salmonella dengan satuan CFU/mL (Colony Forming Unit)

dengan persyaratan atau batas yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan

RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan

(47)

28 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jamu kunyit asam merupakan salah satu jenis jamu yang paling diminati

oleh masyarakat, terutama kaum wanita. Selain banyak manfaatnya, jamu kunyit

asam juga dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau. Biasanya jamu kunyit asam

yang dijual oleh pedagang jamu berupa cairan jamu siap minum. Jamu kunyit asam

ini berbahan dasar rimpang kunyit dan daging buah asam jawa. Kunyit merupakan

salah satu tumbuhan yang mempunyai banyak khasiat, seperti dapat mengurangi rasa

sakit antibakteri, antioksidan, peluruh kentut dan haid, serta dapat melancarkan ke

luarnya empedu ke usus (Winarto, 2004), sedangkan daging buah asam jawa juga

memiliki banyak khasiat seperti pereda asma, batuk kering, demam, rematik, nyeri

haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan (Kurniawati, 2010).

Jamu kunyit asam merupakan salah satu contoh dari cairan obat yang tidak

memerlukan ijin usaha industri sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

246/MenKes/Per/V/1990 pasal 2 (Depkes RI, 1990). Oleh karena tidak memerlukan

ijin dalam pemasarannya, maka dari segi keamanan belum dapat dijamin. Oleh karena

itu, perlu dilakukan pengujian terhadap cemaran mikroba terutama mikroba patogen,

seperti Salmonella sebagai salah satu bentuk evaluasi terhadap keamanan dari jamu

kunyit asam. Peneliti melakukan penelitian angka Salmonella karena Salmonella

(48)

dilakukan dengan cara melihat ada tidaknya Salmonella di dalam sampel jamu kunyit

asam yang dijual di pasar-pasar tradisional termasuk di Yogyakarta pada media

selektif dan menghitung angka Salmonella yang ada pada media selektif. Apabila

ditemukan adanya cemaran Salmonella pada jamu kunyit asam tersebut, maka tidak

sesuai dengan persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan RI No:

661/Menkes/SK/VII/1994, yaitu nol atau negatif, yang berarti jamu kunyit asam

tersebut tidak aman untuk dikonsumsi.

A. Penentuan dan Pemilihan Pasar

Penelitian aspek mikrobiologis jamu kunyit asam diawali dengan tahapan

penentuan lokasi pengambilan sampel jamu kunyit asam yang akan diteliti. Dari 14

kecamatan yang ada di Kotamadya Yogyakarta, peneliti memilih Kecamatan

Gondomanan sebagai tempat pengambilan sampel. Kecamatan Gondomanan dipilih

karena letaknya berada di pusat kota yang sangat strategis untuk dikunjungi oleh

masyarakat luas. Di Kecamatan Gondomanan juga terdapat pasar tradisional besar,

seperti Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk yang banyak dikunjungi masyarakat asli

Yogyakarta, maupun dari luar Yogyakarta. Di pasar-pasar tersebut masih banyak

pedagang jamu tradisional yang menjual jamu kunyit asam dan animo masyarakat

dalam mengkonsumsi jamu kunyit asam masih cukup tinggi. Selain Pasar

Beringharjo dan Pasar Pathuk, juga terdapat Pasar Sawo dan Pasar Ledok

(49)

sehingga tidak digunakan sebagai tempat pengambilan sampel. Tempat pengambilan

sampel hanya dilakukan di Pasar Beringharjo, Pasar Pathuk, dan Pasar Sawo.

Tabel II. Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta

Nomor Asal sampel Jumlah sampel Kode

1 Pasar Beringharjo 1 1 A

B. Pemilihan dan Pengumpulan Sampel Jamu Kunyit Asam

Pemilihan Kecamatan Gondomanan sebagai tempat pengambilan sampel

cukup untuk mewakili populasi sampel dan pedagang jamu yang terdapat di

Kotamadya Yogyakarta. Sampel pedagang jamu adalah semua pedagang jamu di

Pasar Beringharjo, Pasar Pathuk, dan Pasar Sawo. Jumlah pedagang jamu di Pasar

Beringharjo ada dua pedagang jamu, Pasar Pathuk dua pedagang jamu dan Pasar

Sawo satu pedagang jamu. Dipilih satu sampel cairan jamu kunyit asam yang

berwarna kuning tua, berbau khas jamu dan dibuat pada hari pengambilan sampel dari

masing-masing pedagang di tiap pasar yang sudah dipilih. Pengambilan sampel hanya

dilakukan dalam sekali pengambilan dan setiap sampel jamu kunyit asam akan diuji

secara duplo. Sampel jamu kunyit asam yang diperoleh dari pedagang jamu

(50)

C. Uji Salmonella (S5P4/IKM/M/21) pada Cairan Jamu Kunyit Asam

Sampel yang sudah berada di botol steril langsung diuji. Masing-masing

sampel diuji sebanyak dua kali (duplo) dengan metode yang sama untuk menegaskan

hasil yang diperoleh. Uji Salmonella dari sampel jamu kunyit asam terdiri dari

beberapa tahap, yaitu tahap pengkayaan, isolasi, identifikasi dan uji angka

Salmonella.

1. Uji pengkayaan pada media Selenite Broth

Tahap pengkayaan berguna untuk mengkondisikan supaya bakteri dapat

tumbuh pada media pengkaya. Media pengkayaan yang digunakan dalam penelitian

adalah Selenite Broth. Pada tahap pengkayaan jumlah sampel yang dipergunakan

sebanyak sepuluh buah yang berasal dari Pasar Beringharjo empat buah, Pasar Pathuk

empat buah dan Pasar Sawo dua buah yang merupakan hasil duplo (Tabel II,

Lampiran 1). Pada tahap pengkayaan digunakan teknik duplo, yaitu dari satu sampel

diuji 2 kali dengan perlakuan yang sama. Hal ini dilakukan untuk menegaskan hasil

yang dilakukan. Sampel jamu kunyit asam diambil 1 mL sampel jamu kunyit asam

dengan cara dipipet kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi tambahkan sampai

10 mL dengan Selenite Broth secara aseptis dan diinkubasi pada suhu 37 O

C selama

24 jam. Suhu 37 O

C yang merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan Salmonella.

Selenite Broth yang digunakan sebagai media pengkayaan mengandung pepton,

(51)

pertumbuhan mikroba. Selain perlakuan terhadap sampel, peneliti juga membuat

kontrol sebagai pembanding untuk memastikan apakah terdapat Salmonella atau tidak

di dalam sampel jamu kunyit asam. Kontrol yang dibuat adalah kontrol positif dan

kontrol media. Kontrol positif terdiri dari media Selenite Broth yang diinokulasi

Salmonella typhi ATCC 14028, sedangkan kontrol media hanya terdiri dari Selenite

Broth. Hasil yang diperoleh setelah inkubasi 24 jam, yaitu pada sampel A, B, C, D

dan E yang dilakukan secara duplo mengalami perubahan warna dari kuning bening

menjadi orange tua tapi tidak tidak tampak lebih keruh. Warna orange tua berasal

dari warna jamu kunyit asam, sedangkan pada kontrol positif tidak terjadi perubahan

warna, tetapi tampak lebih keruh apabila dibandingkan dengan kontrol media

(Gambar 1, Lampiran 2). Hal ini sesuai dengan Bridson (2006) yang menyatakan

bahwa media yang diinokulasi Salmonella setelah diinkubasi selama 24 jam akan

menunjukkan kekeruhan.

Gambar 1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth

Keterangan :

K (-) = kontrol media (Selenite Broth)

K (+) = kontrol positif (Salmonella typhi ATCC 14028)

A = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Beringharjo 1 B = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Beringharjo 2 C = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Pathuk 1 D = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Pathuk 2 E = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Sawo

(52)

2. Isolasi Salmonella dari jamu kunyit asam pada media selektif Salmonella Shigella Agar

Tahap isolasi dilakukan untuk menanam sampel pada media selektif dan

melihat pertumbuhannya. Media selektif yang digunakan adalah Salmonella

Shigella Agar (SSA). Media ini merupakan media selektif untuk mengisolasi

Salmonella dan beberapa spesies Shigella dari produk makanan maupun spesimen

klinik seperti darah, urine maupun feses. SSA mengandung pepton, laktosa,

sodium sitrat, natrium tiosulfat, besi (III) sitrat, brilliant green, neutral red, bile

salt yang berfungsi sebagi nutrisi untuk pertumbuhan Salmonella (Bridson, 2006).

Keberadaan Salmonella pada SSA ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna

keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, sisi tepinya berombak (Breed dkk., 1957).

Pada tahap ini dilakukan teknik duplo, kemudian masing-masing media

diisolasikan satu sengkelit dari biakan pengkayaan kemudian ditanam pada

permukaan Salmonella Shigella Agar (SSA) dengan cara streak (4 kuadran) dan

diinkubasikan pada suhu 37○C selama 24 jam. Hal ini juga dilakukan terhadap

kontrol positif (media SSA yang diinokulasi kultur murni Salmonella typhi ATCC

14028 sebagai pembanding) untuk membandingkan hasil koloni yang terbentuk

setelah inkubasi. Metode streak plate digunakan untuk mendapatkan koloni

tunggal yang berasal dari biakan murni. Pada saat diinkubasikan posisi cawan petri

dibalik supaya uap air yang terbentuk tidak membasahi media. Media yang

terbasahi oleh uap air tidak akan mengkontaminasi media tetapi dapat dan

(53)

Hasil yang diperoleh dari tahap isolasi adalah semua media sampel ditumbuhi

dengan koloni mikroba (Lampiran 3). Akan tetapi, koloni yang tumbuh pada

media sampel tidak menunjukan pertumbuhan seperti koloni Salmonella dan pada

kontrol positif dengan ciri koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, dan sisi

tepinya berombak (Breed dkk., 1957). Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat

Salmonella dalam sampel (Lampiran 3). Untuk menegaskan hasil tersebut maka

dilakukan uji identifikasi terhadap koloni yang tumbuh pada media SSA.

3. Identifikasi Salmonella dalam jamu kunyit asam

Tahap ini bertujuan untuk lebih memastikan bahwa koloni mikroba yang

tumbuh dalam sampel jamu kunyit asam pada tahap isolasi pada media Salmonella

Shigella Agar adalah Salmonella atau bukan (Lampiran 3). Koloni yang tumbuh di

Salmonella Shigella Agar diambil satu sengkelit lalu diinokulasikan pada media

glukosa, laktosa, manitol, sakarosa, maltosa untuk uji fermentasi gula-gula, pada

media SIM (Sulphur Indol Motility) Agar untuk uji motilitas, sulfur dan indol serta

pada media Simmons sitrat untuk uji sitrat, kemudian dinkubasi pada suhu 37oC

selama 24 jam.

a. Uji fermentasi gula-gula

1). Uji fermentasi glukosa

Uji glukosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat

memfermentasikan glukosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan

mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA),

(54)

jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami

perubahan warna, pada media glukosa yang semula berwarna orange kemerahan

berubah warna menjadi kuning bening (Gambar 2), yang berarti Salmonellatyphi

ATCC 14028 dan mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat

memfermentasikan glukosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang

menyatakan bahwa Salmonella dapat memfermentasikan glukosa.

Gambar 2. Hasil identifikasi uji glukosa pada media glukosa

2). Uji fermentasi laktosa

Uji laktosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat

memfermentasikan laktosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan

mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA)

diinokulasikan pada media laktosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24

jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel tidak

mengalami perubahan warna (Gambar 3), yang berarti Salmonella typhi

(55)

dapat memfermentasikan laktosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang

menyatakan bahwa Salmonella tidak dapat memfermentasikan laktosa.

Gambar 3. Hasil identifikasi uji laktosa pada media laktosa

3). Uji fermentasi manitol

Uji manitol bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat

memfermentasikan manitol (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan

mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar(SSA) diinokulasikan

pada media manitol dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Hasil setelah

inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami perubahan warna,

pada media manitol yang semula berwarna orange kemerahan berubah warna

menjadi kuning bening (Gambar 4), yang berarti Salmonellatyphi ATCC 14028 dan

mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan

manitol. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella

(56)

Gambar 4. Hasil identifikasi uji manitol pada media manitol

4). Uji fermentasi maltosa

Uji maltosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat

memfermentasikan maltosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan

mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar(SSA) diinokulasikan

pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Hasil setelah

inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami perubahan warna,

pada media maltosa yang semula berwarna orange kemerahan berubah warna

menjadi kuning bening (Gambar 5), yang berarti Salmonellatyphi ATCC 14028 dan

mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan

maltosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella

(57)

Gambar 5. Hasil identifikasi uji maltosa pada media maltosa

5). Uji fermentasi sakarosa

Uji sakarosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat

memfermentasikan sakarosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan

mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar(SSA) diinokulasikan

pada media sakarosa dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Hasil setelah

inkubasi selama 24 jam, pada kontrol positif tidak mengalami perubahan warna. Hal

ini menunjukkan hasil yang negatif, yaitu kontrol positif Salmonella typhi ATCC

14028 tidak dapat memfermentasikan sakarosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk.

(2000) yang menyatakan bahwa Salmonella tidak dapat memfermentasikan sakarosa,

namun pada sampel, media sakarosa yang semula berwarna orange kemerahan

mengalami perubahan warna dari orange kemerahan menjadi kuning bening (Gambar

6), yang berarti mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat

(58)

Gambar 6. Hasil identifikasi uji sakarosa pada media sakarosa

b. Uji sulfur

Uji sulfur dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba menggunakan

sulfur sebagai satu-satunya sumber energi (Cappuccinno, 2011). Uji sulfur

dilakukan dengan cara menginokulasikan satu sengkelit biakan Salmonella ke

dalam media SIM (Sulphur Indol Motility) Agar. Hasil yang diperoleh setelah

inkubasi selam 24 jam pada suhu 37oC, media SIM Agar menunjukkan adanya

warna hitam di sepanjang bekas inokulasi pada kontrol positif, yang berarti

kontrol positif Salmonella typhi ATCC 14028 dapat menggunakan sulfur sebagai

satu-satunya sumber energi, sedangkan media yang diinokulasi sampel tidak

menunjukkan warna hitam di sepanjang bekas inokulasi, yang berarti mikroba

dalam jamu kunyit asam tersebut tidak dapat menggunakan sulfur sebagai

satu-satunya sumber energi (Gambar 7). Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang

menyatakan bahwa Salmonella dapat menggunakan sulfur sebagai satu-satunya

Gambar

Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath,
Tabel I Hasil identifikasi Salmonella Holt Krieg Sneath . View in document p.13
Gambar 1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada
Gambar 1 Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada . View in document p.14
Gambar 11. Hasil identifikasi uji katalase………………………..
Gambar 11 Hasil identifikasi uji katalase . View in document p.15
Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath, Staley, dan Williams,
Tabel I Hasil identifikasi Salmonella Holt Krieg Sneath Staley dan Williams . View in document p.45
Tabel II. Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta
Tabel II Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta . View in document p.49
Gambar  1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth
Gambar 1 Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth . View in document p.51
Gambar 5. Hasil identifikasi uji  maltosa  pada media maltosa
Gambar 5 Hasil identifikasi uji maltosa pada media maltosa . View in document p.57
Gambar 7. Hasil identifikasi uji sulfur pada media Sulphur Indol Motility Agar
Gambar 7 Hasil identifikasi uji sulfur pada media Sulphur Indol Motility Agar . View in document p.59
Gambar 9. Hasil identifikasi uji motilitas pada media Sulphur Indol Motility
Gambar 9 Hasil identifikasi uji motilitas pada media Sulphur Indol Motility . View in document p.61
Gambar 10. Hasil identifikasi uji sitrat  pada media  Simmons  Sitrat
Gambar 10 Hasil identifikasi uji sitrat pada media Simmons Sitrat . View in document p.62
Tabel III. Hasil dentifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat,
Tabel III Hasil dentifikasi uji fermentasi gula gula uji sulfur indol motilitas sitrat . View in document p.63
Tabel IV. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional
Tabel IV Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional . View in document p.64

Referensi

Memperbarui...

Download now (81 pages)