Angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
81
6 months ago
Preview
Full text

  

ANGKA SALMONELLA DALAM JAMU KUNYIT ASAM YANG DIJUAL DI

PASAR TRADISIONAL KECAMATAN GONDOMANAN

KOTAMADYA YOGYAKARTA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

  Program Studi Farmasi Oleh :

  Christina Putranti Rose Widani NIM : 088114011

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2012

  

ANGKA SALMONELLA DALAM JAMU KUNYIT ASAM YANG DIJUAL DI

PASAR TRADISIONAL KECAMATAN GONDOMANAN

KOTAMADYA YOGYAKARTA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm)

  Program Studi Farmasi Oleh :

  Christina Putranti Rose Widani NIM : 088114011

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2012

  

PERSEMBAHAN

H idup akan terus berjalan… . .

   seberat apapun hidupmu jangan pernah bosan dan menyerah untuk menjalani hidupmu.

  K arena T uhan tidak akan pernah memberikan

cobaan di luar kemampuan kita . Namun j ika

kamu memutuskan untuk menyerah sekarang maka kamu akan menyesal karna kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari”

  K arya kecil ini kupersembahkan untuk : Tuhan Yesus Kristus yang selalu melimpahkan berkat untukku.

   Orang Tuaku, Blasius Puji Saputro dan Antonia Pinuji Kusuma Rahayu yang tidak pernah bosan mendoakan, membimbing dan mengingatkanku.  Adik-adikku Justinus Putranto Agung Nugroho, Yohanes Putranto Suryo Kusumo, Yulius Putranto Murseto yang sangat kusayangi.  Leonardus Endra Prasetya yang selalu mendukung dan menyemangati dengan penuh kasih.

  

PRAKATA

  Puji syukur dan terimakasih penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan anugrah-Nya dalam penyelesaian skripsi. Skripsi dengan judul “Angka Salmonella dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual di Pasar Tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta” merupakan karya ilmiah penulis untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Banyak kesulitan yang penulis hadapi dalam proses penyelesaian skripsi ini. Akan tetapi, di tengah kesulitan tersebut penulis mendapat dukungan, bimbingan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

  1. Ipang Djunarko, M.Sc.,Apt selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  2. Yohanes Dwiatmaka, M.Si selaku Dosen Pembimbing atas kebijaksanaan, perhatian, dan kesabarannya dalam membimbing penyusunan skripsi ini.

  3. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran yang menjadikan penulisan skripsi menjadi lebih baik.

  4. Agustina Setiawati, M.Sc, Apt selaku Dosen Penguji atas masukan yang menjadikan penulisan skripsi menjadi lebih baik.

  5. CM. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi sekaligus Ketua Tim Panitia Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

  6. Ibu Maria Dwi Budi Jumpowati, S.Si yang selalu memberi bimbingan, dukungan dan masukan dengan penuh kesabaran selama penyusunan skripsi sehingga penulisan skripsi menjadi lebih baik.

  7. Ibu Septi Widyastuti, S.Si., M.Kes, Ibu Retno, Ibu Evina, Ibu Darwani, Ibu Siti, Bapak Jumakir, Bapak Andi, Bapak Sigit dan segenap anggota Balai Laborarorium Kesehatan Yogyakarta. yang telah membimbing penulis dalam penelitian laboratorium .

  8. Teman-teman seperjuangan penelitian yang selalu men-support dan mengingatkan : Adityawarman, Eureka Gracia Letitia, Primaboti Nurwidaningrum, Wiria Sende Paiman.

  9. Teman-teman angkatan 2008 khususnya FKK A ’08 dan Bojon lovers yang mendukung dan memberi dukungan moril dalam penulisan skripsi ini.

  10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam kelancaran penyelesaian skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberi informasi bagi pembaca.

  Penulis

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ……………………………….…………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………… ii HALAMAN PENGESAHAN …………………………………... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………… iv HALAMAN PERYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI …… v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……………………….. vi PRAKATA ……………………………………………………… vii DAFTAR ISI ……………………………………………………. xi DAFTAR TABEL ………………………………………………. xii DAFTAR GAMBAR ……………………………………………. xiii DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………. xv

  INTISARI ……………………………………………………….. xvi

  ABSTRACT

  …………………………………………………….... xvii BAB I PENGANTAR ……………………………..………….

  1 A. Latar Belakang ………………………………………………..

  1 1. Rumusan permasalahan ………………..………………….

  5 2. Manfaat penelitian………..………………………………...

  5

  3. Keaslian penelitian ………………...………………………

  6 B. Tujuan Penelitian ……………………………………………...

  6

  1. Tujuan umum……………………………..………………...

  6 2. Tujuan khusus …………........……………………………...

  7 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ………………………….

  8 A. Jamu Tradisional dan Cairan Obat Dalam ………………...….

  8 B. Jamu Kunyit Asam ………………………………………...…

  10 C. Rimpang Kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma)…………..

  11 D. Daging Buah Asam Jawa (Tamarindi Pulpa)………….……...

  12 E. Media Pertumbuhan Salmonella…….………………………..

  12 F. Salmonella ………………………………….………………...

  14 G. Landasan Teori ……………………………………………….

  16 H. Hipotesis ……………………………………………..............

  18 BAB III METODE PENELITIAN ……………………………

  19 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ………………………………

  19 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ………...............

  19 C. Bahan Penelitian ……………………………………...............

  21 D. Alat Penelitian ………………………………………..............

  21 E. Tata Cara Penelitian ………………………….……………….

  21 1. Penentuan dan pemilihan pasar ……………………………..

  21

  2. Pemilihan dan pengumpulan sampel jamu kunyit asam ……

  22

  3. Uji Salmonella (S5p4/IKM/M/21) pada cairan jamu kunyit asam…………………………………………………………

  22

  F. Analisis Hasil ............................................................................

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ….……………………

  28 A. Penentuan dan Pemilihan Pasar ……………………………….

  29 B. Pemilihan dan Pengumpulan Sampel Jamu Kunyit Asam….….

  30 C.Uji Salmonella (S5p4/IKM/M/21) pada Cairan Jamu Kunyit Asam……………………………………….………………….

  31 1. Uji Pengkayaan pada media Selenith Broth.……………….

  31

  2. Isolasi Salmonella dari jamu kunyit asam pada media selektif Salmonella Shigella Agar ….………………….....

  33 3. Identifikasi Salmonella dengan uji biokimiawi……….........

  34 4. Uji Angka Salmonella...........................................................

  45 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………..

  48 A. Kesimpulan ………………...………………………………...

  48 B. Saran ………….………………………………………………

  48 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………..…

  49 LAMPIRAN …………………………………………………….

  52 BIOGRAFI PENULIS ………………………………………….

  62

  DAFTAR TABEL

  Halaman Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath, Staley, dan Williams, 2000).........................................

  26 Tabel II. Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta …………………………………………..

  30 Tabel III. Hasil dentifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase Salmonella dalam sampel jamu kunyit asam……...……………………..

  44 Tabel IV. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di Pasar Tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta……………….

  45

  

DAFTAR GAMBAR

  Halaman Gambar 1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth……………..………….………

  32 Gambar 2. Hasil identifikasi uji glukosa pada media glukosa…..

  35 Gambar 3. Hasil identifikasi uji laktosa pada media laktosa……

  36 Gambar 4. Hasil identifikasi uji manitol pada media manitol…..

  37 Gambar 5. Hasil identifikasi uji maltosa pada media maltosa.…

  38 Gambar 6. Hasil identifikasi uji sakarosa pada media sakarosa..

  39 Gambar 7. Hasil identifikasi uji sulfur pada media Sulphur

  40 Indol Motility (SIM) Agar ………………………….. Gambar 8. Hasil identifikasi uji indol pada media Sulphur Indol

  Motility (SIM) Agar..………………………………..

  41 Gambar 9. Hasil identifikasi uji motilitas pada media Sulphur

  Indol Motility (SIM) Agar.………………………….

  42 Gambar 10. Hasil identifikasi uji sitrat pada media Simmons Sitrat…………………………………………………

  43 Gambar 11. Hasil identifikasi uji katalase………………………..

  44

  

LAMPIRAN

  Halaman Lampiran 1. Surat ijin penelitian di Balai Laboratorium Kesehatan

  Yogyakarta………………………………………………

  53 Lampiran 2. Sampel jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta dalam botol steril dengan pengujian

  54 duplo……………………………………………………. Lampiran 3. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth.........................................................

  55 Lampiran 4. Hasil uji identifikasi Salmonella dalam media selektif

  56 Salmonella Shigella Agar ………………………….…... Lampiran 5. Hasil identifikasi uji fermentasi gula – gula, uji sulfur, indol, motilitas, dan sitrat Salmonella pada jamu kunyit

  57 asam…………………………………………….………. Lampiran 6. Hasil identifikasi uji katalase pada jamu kunyit

  59 asam………………………………………....…….......... Lampiran 7. Tabel identifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase Salmonella dalam

  60 jamu kunyit asam ………...…………………..................

  Lampiran 8. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan

  61 Gondomanan Kotamadya Yogyakarta…………….....

  

INTISARI

  Jamu kunyit asam merupakan campuran rimpang kunyit (Curcumae

  domesticae

  Rhizoma) dan daging buah asam jawa (Tamarindi Pulpa). Jika ke dua bahan tersebut dicampur menjadi jamu kunyit asam banyak memiliki manfaat seperti menyegarkan tubuh dan memperlancar haid sehingga banyak dikonsumsi oleh wanita.

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya Salmonella dan angka

  Salmonella

  dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta, kemudian membandingkannya dengan persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif.

  Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Data yang diperoleh berupa angka Salmonella yang dibandingkan dengan batas yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yaitu angka Salmonella sama dengan 0 (nol). Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi penentuan dan pemilihan pasar, penentuan dan pengumpulan sampel, uji pengkayaan pada media Selenite Broth, isolasi Salmonella dari jamu kunyit asam pada media Salmonella Shigella Agar, identifikasi dan uji konfirmasi, pernyataan hasil, serta uji angka Salmonella. Dari hasil perhitungan akan diketahui angka Salmonella yang kemudian dianalisis dengan membandingkan data yang diperoleh dari penelitian dengan persyaratan batasan yang berlaku.

  Hasil penelitian menunjukan angka Salmonella pada lima sampel yang berasal dari Pasar Beringharjo (kode A, B), Pasar Pathuk (kode C, D) dan Pasar Sawo (kode E) adalah negatif sehingga sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa angka bakteri patogen dalam cairan obat dalam negatif.

  Kata kunci: pasar tradisional, Kecamatan Gondomanan Yogyakarta, angka

  Salmonella

  , jamu kunyit asam, Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994

  

ABSTRACT

Jamu kunyit asam

  is a mixture composition Curcumae domesticae Rhizoma and Tamarindi Pulpa. Both ingredients are mixed to become jamu kunyit asam it has lot of advantages which useful for the human body to feel fresh, especially for women in menstruation period that their periods would pass fast and smooth. The purpose of this research were to identify the Salmonella and Salmonella numbers contained in the jamu kunyit asam sold at the traditional markets in Gondomanan subdistric Yogyakarta, those result were compared to limitation as stated in Keputusan Menteri

  Kesehatan

  RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be negative. This reasearch was pure experimental research using descriptive and comparative research design. The result of the data was Salmonella numbers by which the result was compared to the limitation stated in Keputusan Menteri

  Kesehatan

  RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be zero. Steps of research were included the gathering, choosing of market and samples, selecting enrichment test on the Selenith Broth, isolating on the Salmonella Shigella Agar, identificating and confirmating test, and result statement. Further, the result would be analyzed by way of comparing than data achieved from the research to the requierements which was in effect.

  The results showed that the numbers of Salmonella in five samples from Beringharjo market (code A, B), Pathuk market (code C, D) and Sawo market used were zero so those result were in accordance with Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 which states that the prescence of pathogen bacteria in medicinal fluid should be negative.

  Key words: traditional market, Gondomanan subdistric, Salmonella number, jamu

  kunyit asam Keputusan Menteri Kesehatan

  , RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kunyit asam sering dikenal dengan sebutan kunir asem. Jamu ini terdiri dari

  campuran rimpang kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma) dan daging buah asam jawa (Tamarindi Pulpa). Rimpang kunyit mempunyai kandungan curcuminoid, glukosa, pati, tanin dan damar serta mineral (Sudarsono, 1996), yang berkhasiat memberikan efek antiradang, antibakteri, antioksidan, peluruh kentut dan haid, serta dapat melancarkan ke luarnya empedu ke usus (Winarto, 2004). Daging buah asam jawa mengandung zat-zat gula invert, asam sitrat, asam tartrat, serina, beta alanina, geraniol, limonena, peptin, prolina, leusina, dan fenil alanina. Manfaat daging buah asam jawa bagi kesehatan adalah sebagai pereda asma, batuk kering, demam, rematik, nyeri haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan (Kurniawati, 2010). Racikan rimpang kunyit dan daging buah asam jawa apabila diracik menjadi jamu kunyit asam, maka manfaatnya pun akan menjadi lebih banyak, yaitu menyegarkan tubuh, terutama pada saat haid dan memperlancar haid, mengatasi gangguan perut, mengatasi gangguan hati dan lambung, melangsingkan badan serta menurunkan kolesterol (Prasetiyo, 2003).

  Jamu kunyit asam merupakan cairan obat dalam. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 cairan obat dalam adalah sediaan obat serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam (Departemen Kesehatan RI, 1994). Saat ini jamu kunyit asam masih banyak dijumpai di pedagang jamu tradisional di pasar-pasar tradisional karena kunyit asam merupakan jamu yang paling laku di antara semua jamu yang dijual, namun higienitas dan sanitasi pengolahan jamu kunyit asam oleh pedagang atau produsen jamu tradisional kurang diketahui dan mendapat perhatian dari konsumen. Jamu tradisional sendiri merupakan jamu yang pembuatannya sangat sederhana dan merupakan sediaan obat yang tidak dapat disimpan lama dan biasanya diminum dalam keadaan segar (Rukmana, 2003).

  Pengolahan jamu kunyit asam kurang mendapat perhatian dari konsumen. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti pada bulan Mei 2011, ketika mencuci rimpang kunyit produsen hanya melakukan satu kali pencucian, yaitu hanya dengan mencelupkan saja pada air dalam ember. Selain itu, dari hasil observasi di lapangan maupun di pasar-pasar tradisional Kotamadya Yogyakarta, pembuat jamu juga tidak menggunakan sabun dan air mengalir pada saat mencuci tangan sebelum membuat jamu. Jamu yang sudah jadi langsung dijual dalam bentuk cairan siap minum yang ditempatkan pada botol-botol plastik yang cara pencuciannya juga kurang higienis, yaitu hanya dicelup ke dalam air. Ketidakhigienisan dan kurangnya sanitasi dapat membuat bakteri patogen maupun non patogen dapat berkembangbiak.

  Salmonella

  merupakan salah satu bakteri patogen yang dimungkinkan dapat hidup di cairan jamu kunyit asam, meskipun jamu tersebut sudah mengalami pemanasan, karena Salmonella dapat mengkontaminasi jamu melalui wadah untuk antara lain adalah pencucian wadah yang kurang bersih atau bisa juga air yang digunakan untuk mencuci wadah sudah terkontaminasi Salmonella. Salmonella dapat tumbuh di dalam jamu karena adanya kesesuaian pH dan suhu antara jamu dengan habitat Salmonella, yaitu range pH tumbuh dari Salmonella adalah 4,1-9,0 dengan pH optimum 6,5-7,5 (Poeloengan, Komala dan Noor, 2012).

  Pembuatan jamu racikan dapat dilakukan tanpa pengujian dan proses pendaftaran bahan jamu. Oleh karena itu, kualitas jamu yang dihasilkan belum dapat dipastikan karena tidak diketahui ada atau tidaknya cemaran bakteri, khususnya Salmonella.

  Jumlah Salmonella yang terdapat dalam jamu disebut dengan angka

  Salmonella

  . Angka kematian atau timbulnya penyakit akibat adanya infeksi dari

  Salmonella

  sangat tinggi. Penyakit ini tidak hanya menjadi masalah yang cukup serius di daerah berkembang dengan tingkat sanitasi yang kurang memadai seperti di Indonesia, tetapi juga di negara maju. Angka kejadian infeksi Salmonella di dunia mencapai lebih dari 12,5 juta per tahun dan di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 2 juta penderita Salmonelosis (Radji, 2011). Gejala klinik yang sering dialami oleh penderitanya, yaitu gangguan pencernaan mulai dari rasa mual, diare, nyeri lambung dan muntah, sering kali juga disertai nyeri kepala, keringat dingin dan pada keadaan yang lebih parah terjadi kekakuan otot serta kehilangan kesadaran sesaat. Terkadang

  o

  ditemukan kenaikan suhu tubuh menjadi 37,1- 38,5

  C, tapi ada pula yang tidak disertai dengan demam, jarang ditemukan darah atau lendir pada tinja. Gejala paling serius adalah dehidrasi. Pada anak, dehidrasi dapat menimbulkan kematian jika tidak segera diobati (Soeharsono, 2002). Hal inilah yang membuat penelitian tentang angka

  Salmonella dalam jamu kunyit asam penting untuk dilakukan.

  Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang aspek mikrobiologis jamu kunyit asam yang paling digemari oleh konsumen. Sesuai yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif, termasuk Salmonella.

  Apabila terdapat bakteri patogen di dalam cairan obat, maka cairan obat tersebut tidak layak untuk dikonsumsi karena tidak terjamin keamanan dan kualitasnya (Departemen Kesehatan RI, 1994).

  Dalam penelitian ini, peneliti memilih beberapa pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta. Kecamatan Gondomanan dipilih karena terletak di pusat kota yang letaknya sangat strategis untuk dikunjungi oleh masyarakat luas. Di Kecamatan Gondomanan juga terdapat pasar tradisional besar seperti pasar Beringharjo dan pasar Pathuk yang banyak dikunjungi masyarakat asli Yogyakarta maupun dari luar Yogyakarta untuk berbelanja. Selain itu, masih cukup banyak pedagang jamu tradisional yang menjual jamu kunyit asam di Kecamatan Gondomanan dan animo masyarakat dalam mengkonsumsi jamu kunyit asam yang masih cukup tinggi pula, terutama para wanita untuk mengurangi rasa sakit ketika menstruasi dan menambah kesegaran tubuh. Dengan penelitian ini, masyarakat diharapkan mengetahui kualitas dan keamanan jamu kunyit asam yang dijual di beberapa pasar tradisional di Kotamadya Yogyakarta, khususnya di Kecamatan Gondomanan berdasarkan angka Salmonella, sehingga status kesehatan masyarakat dapat meningkat.

  1. Rumusan masalah

  a. Apakah jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta mengandung cemaran Salmonella?

  b. Berapa angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta? c. Apakah jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan

  Gondomanan Kotamadya Yogyakarta memenuhi persyaratan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan Salmonella dalan cairan obat harus negatif?

  2. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritis

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dan informasi bagi ilmu pengetahuan mengenai kualitas dan keamanan jamu kunyit asam berdasarkan angka

  Salmonella

  yang dijual di tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

b. Manfaat praktis

  Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam peningkatan kualitas dan keamanan jamu kunyit asam yang beredar di pasaran berdasarkan angka Salmonella, sehingga diharapkan pula dapat meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Yogyakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

3. Keaslian penelitian

  Sejauh penelusuran pustaka dan jurnal oleh peneliti, penelitian mengenai cemaran mikroba pada jamu gendong yang pernah diteliti Zulaikhah (2005) dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pencemaran Mikroba pada Jamu Gendong di Kota Semarang. Hasil penelitian yang didapatkan adalah sebesar 62,5% jamu gendong mengalami pencemaran mikroba. Jenis mikroba yang ditemukan adalah kapang, Escherichia coli, Salmonella, Staphylococcus aureus dan

  Pseudomonas aeruginosa.

  Jinarwanto (2008) juga pernah meneliti mikroba pada jamu dengan judul penelitian “Uji Eschericia coli dalam Jamu Gendong Beras kencur yang beredar di Tiga Pasar di Kotamadya Yogyakarta” dengan hasil dari 15 sampel yang positif terkontaminasi Eschericia coli ada 6 sampel, sedangkan penelitian mengenai “Angka Salmonella dalam Jamu Kunyit Asam yang Dijual Pedagang Jamu di Pasar Tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta” belum pernah dilakukan.

B. Tujuan Tujuan umum 1.

  Untuk mengetahui kualitas dan keamanan sediaan jamu kunyit asam dari jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta serta membantu masyarakat dalam menjaga dan memperbaiki status kesehatannya.

2. Tujuan khusus

  a. Untuk mengetahui ada tidaknya cemaran Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

  b. Untuk mengetahui angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

  c. Untuk mengetahui apakah angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta memenuhi persyaratan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan Salmonella dalam cairan obat harus negatif.

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Jamu Tradisional dan Cairan Obat Dalam Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 246/Menkes/Per/V/1990, obat

  tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Departemen Kesehatan RI, 1990). Harmanto dan Subroto (2006) mengatakan bahwa jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang dibuat dari tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

  Bahan-bahan yang digunakan tidak menggunakan bahan kimia obat. Salah satu jenis jamu yang banyak dikonsumsi masyarakat Yogyakarta adalah jamu kunyit asam yang merupakan sediaan cairan obat dalam. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 661/MenKes/SK/VII/1994, cairan obat dalam adalah sediaan obat tradisional berupa larutan emulsi atau suspensi dalam air, bahan bakunya berasal dari serbuk simplisia atau sediaan galenik dan digunakan sebagai obat dalam.

  Syarat cairan obat dalam adalah perbedaan volume antara wadah takaran tunggal satu dengan yang lain tidak boleh lebih dari 5% dari volume rata-rata.

  Penetapan perbedaan volume dilakukan dengan mengukur volume 10 wadah satu volume, dilakukan pula penetapan Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang dan Khamir (AKK), bakteri patogen, aflatoksin, bahan tambahan, wadah dan penyimpanan serta penandaan (Departemen Kesehatan RI, 1994). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 661/MenKes/SK/VII/1994, nilai Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Kapang Khamir (AKK) pada cairan obat dalam tidak lebih dari 10 koloni, sedangkan keberadaan bakteri patogen harus negatif. Nilai aflatoksin tidak lebih dari 30 bpj (bagian per juta). Bahan tambahan seperti pengawet kadar dan jenisnya harus sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Cairan obat dalam ditempatkan dan disimpan dalam wadah tertutup baik, disimpan pada suhu kamar, di tempat kering dan terlindung dari sinar matahari dan ditandai sesuai yang dipersyaratkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.246/MenKes/Per/VI/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional untuk sediaan berbentuk suspensi atau emulsi harus juga tertera peringatan `Kocok Dahulu`.

  Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan Obat Tradisional, jamu harus memenuhi salah satu persyaratan, yaitu tidak boleh mengandung mikroba patogen, meliputi bakteri dan fungi patogen. Mikroba patogen yang dimaksud adalah semua mikroba yang dapat menyebabkan orang menjadi sakit bila kemasukan mikroba tersebut. Obat tradisional untuk penggunaan obat dalam perlu diwaspadai adanya

  aeruginosa,

  sedangkan jamur yang bersifat patogen yang tidak boleh ada dalam obat tradisional adalah jamur Aspergilus flavus yang dapat menghasilkan aflatoksin.

B. Jamu Kunyit Asam

  Jamu kunyit asam disebut juga jamu adem-ademan atau seger-segeran, artinya sebagai jamu untuk menyegarkan atau mendinginkan tubuh. Jamu kunyit asam juga bermanfaat untuk menghindarkan diri dari panas dalam, sariawan dan membuat perut menjadi dingin (Suharmiati, 2003). Berdasarkan survey yang dilakukan pada bulan Mei tahun 2011 terhadap beberapa penjual jamu di beberapa pasar tradisional di Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta, pembuatan jamu kunyit asam cukup mudah, yaitu rimpang kunyit yang sudah dikupas dan dicuci, ditumbuk menggunakan alat penumbuk. Kunyit yang sudah ditumbuk, kemudian tumbukan kunyit tersebut direbus. Apabila sudah mendidih, sari dari rebusan tersebut diambil dan dicampurkan dengan air asam jawa. Untuk memberikan rasa manis dapat ditambahkan dengan larutan air gula jawa. Setelah selesai dibuat, jamu tersebut ditempatkan dalam botol-botol yang sudah disediakan.

  Dilihat dari cara pembuatan jamu kunyit asam yang dilakukan oleh hampir semua penjual yang mewakili seluruh sampel penjual jamu kunyit asam di pasar tradisional, penjual jamu kunyit asam tersebut pada tahap pencucian rimpang kunyit hanya melakukan satu kali pencucian, yaitu hanya dengan mencelupkan saja pada air dalam ember. Pada saat pengemasan, pedagang jamu tidak menggunakan sarung tangan, penutup kepala dan masker. Wadah yang digunakan untuk menempatkan jamu kunyit asampun juga hanya direndam menggunakan air dalam bak tanpa menggunakan sabun.

  Pencemaran bakteri pada jamu kunyit asam dapat bersumber dari bahan baku, pekerja dan lingkungan pengolahan termasuk peralatan produksi yang digunakan oleh pekerja, tahap pengemasan, dan penyajian. Kesehatan dan kebersihan pembuat jamu serta hygienitas dan sanitasi yang terjaga akan menjamin jamu yang dihasilkan terbebas dari mikroba yang dapat mencemari jamu (Zulaikhah, 2005).

C. Rimpang Kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma)

  Rimpang kunyit terdapat di bagian pangkal batang, berkulit coklat, bersisik dan jika diiris bagian dalamnya berwarna kuning (Gunawan, 1999). Rimpang kunyit memiliki berbagai kandungan, yaitu minyak atsiri, pati, pahit, resin, selulosa, dan beberapa mineral. Kandungan minyak atsiri kunyit sekitar 3-5%. Komponen utama rimpang kunyit adalah pati berkisar 40-50% dari berat kering rimpang (Winarto, 2005). Komponen zat warna atau pigmen pada kunyit yang utama adalah kurkumin, yakni sebanyak 2,5-6%. Di samping itu, kunyit juga mengandung zat warna lain, seperti monodesmethoksikurkumin dan bidemesthoksikurkumin. Setiap rimpang segar kunyit mengandung ketiga senyawa ini sebesar 0,8%. Pigmen inilah yang memberikan warna kuning oranye pada rimpang (Winarto, 2005). Manfaat rimpang kunyit bagi kesehatan adalah sebagai pemberi efek antiradang, antibakteri, antioksidan, peluruh kentut dan haid, dapat melancarkan sekresi empedu ke usus

  

Daging Buah Asam Jawa (Tamarindi Pulpa)

D.

  Asam jawa (Tamarindus indica L.) merupakan tanaman asam di daerah tropis dan termasuk tumbuhan berbuah polong. Di dalam buah polong, selain terdapat kulit yang membungkus daging buah, juga terdapat biji berjumlah 2 - 5 yang berbentuk pipih dengan warna coklat agak kehitaman (Kurniawati, 2010). Daging buah (mesokarp) putih kehijauan ketika muda, menjadi merah kecoklatan sampai kehitaman ketika sangat masak, asam manis dan lengket. Biji coklat kehitaman, mengkilap dan keras, agak persegi (El-Siddig, Gunasena, Prasad, Pushpakumara, Ramana, Vijayanand dan Williams, 2006).

  Di dalam daging buah asam jawa terkandung zat-zat gula invert, asam sitrat, asam tartrat, serina, beta alanina, geraniol, limonena, peptin, prolina, leusina, dan fenil alanina. Daging buah asam jawa yang masak di pohon, di antaranya mengandung nilai kalori sebesar 287 kal/120 g; natrium 34 mg/120 g; karbohidrat 75 g/120 g; vitamin A 36 IU/120 g; vitamin C 4,2 mg/120 g; tiamin 0,5 mg/120 g; niasin 2,3 mg/120 g; folat 16,8 µg/120 g; dan kolin 10,3 mg/120 mg (Kurniawati, 2010) Manfaat daging buah asam jawa bagi kesehatan adalah sebagai pereda asma, batuk kering, demam, rematik, nyeri haid, alergi, sariawan, dan menurunkan berat badan (Kurniawati, 2010).

   Media Pertumbuhan Salmonella E.

  Salmonella

  dapat tumbuh pada suasana anaerob fakultatif. Salmonella tidak maltosa, manitol. Sebagian besar isolat Salmonella dari spesimen klinik membentuk H S (Radji, 2011). Salmonella dimungkinkan dapat pula hidup di jamu kunyit asam,

  2

  hal ini disebabkan karena adanya kesesuaian suhu maupun pH antara habitat hidup

  Salmonella

  dan jamu kunyit asam, yaitu kisaran pH tumbuh dari Salmonella adalah 4,1-9,0 dengan pH optimum 6,5-7,5 (Poeloengan, Komala dan Noor, 2012).

  Media selektif yang dipergunakan untuk mengisolasi bakteri Salmonella adalah sebagai berikut.

  1. Triple Sugar Iron Agar

  Triple Sugar Iron

  Agar biasanya digunakan untuk konfirmasi pengujian E.coli dan dapat digunakan untuk identifikasi bakteri Gram negatif yang memfermentasi dekstrosa atau laktosa atau sukrosa, dan produksi H

  2 S. Berdasarkan fungsi tersebut

  media ini dapat digunakan untuk konfirmasi Salmonella dan memilahkan Salmonella dari Pseudomonas yang tumbuh pada media BSA (Bismuth Sulfite Agar) dan BGA (Bismuth Green Agar). Terjadinya fermentasi dekstrosa oleh Salmonella akan menurunkan pH menjadi asam. Kondisi ini akan menyebabkan perubahan phenol red menjadi kuning. Pseudomonas tidak mampu memfermentasi dekstrosa, maka media TSIA akan tetap berwarna merah. Dengan demikian, media ini dapat dengan mudah memilah Salmonella dari Pseudomonas (Suwandi, 1999).

  2. Selenite Broth

  Selenite Broth

  merupakan media pengkaya yang digunakan untuk mengisolasi

  Salmonella

  yang berasal dari feses dan produk makanan. Media ini mengandung pertumbuhan Salmonella. Salmonella dapat tumbuh baik dalam media ini ditandai dengan adanya kekeruhan pada media Selenite Broth (Bridson,2006).

  3. Salmonella Shigella Agar

  Salmonella

  Shigella Agar (SSA) adalah media selektif yang digunakan untuk mengisolasi Salmonella dan beberapa spesies Shigella yang berasal dari spesimen klinik seperti urin, darah, feses maupun yang berasal dari makanan. SSA ini mengandung pepton, laktosa, natrium sitrat, natrium tiosulfat, besi (III) sitrat,

  brilliant green, neutral red dan bile salt

  . Salmonella yang tumbuh dalam media SSA berupa koloni transparan, biasanya terdapat bintik hitam di tengah koloni tersebut (Bridson, 2006).

  F. Salmonella Salmonella

  merupakan salah mikroba berbentuk batang, bersifat Gram negatif , anaerob fakultatif, motil dengan flagel, dapat tumbuh optimal pada suhu

  O

  37 C. Salmonella dapat memfermentasikan berbagai macam gula seperti glukosa, maltosa dan manitol tetapi tidak dapat memfermentasikan laktosa dan sakarosa.

  Selain itu, Salmonella memiliki enzim katalase, dapat memfermentasikan sitrat dan H

2 S, namun tidak dapat memproduksi indol. Manusia dan hewan merupakan

  sumber kontaminasi Salmonella secara langsung maupun tidak langsung. Bakteri ini dapat berasal dari manusia atau hewan yang terserang Salmonellosis, atau dari pembawa (carrier) bakteri tersebut (Radji, 2011). Pada media cawan agar, koloni

  Salmonella

  (Breed, Murray, dan Smith, 1957), sedangkan pada media selektifnya, yaitu

  Salmonella Shigella

  Agar koloninya berwarna transparan terkadang terdapat titik hitam di tengah koloni (Bridson, 2010).

  Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen dalan cairan obat harus negatif, karena patogenitas Salmonella tinggi dan jika keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat positif, maka akan timbul gejala, seperti gastroenteritis. Selain gastroenteritis, beberapa spesies Salmonella juga dapat menimbulkan gejala penyakit lainnya, misalnya demam enterik, septisemia dan karier tanpa gejala (Radji,2011).

  Mekanisme patogenitas Salmonella sampai dapat menimbulkan gejala penyakit, yaitu setelah bersarang pada usus halus menyebabkan hiperplasia.

  Terjadinya pembesaran yang progresif dan ulserasi dapat menyebabkan perforasi usus halus atau perdarahan gastrointestinal. Bentuk klasik demam tiphoid selama empat minggu. Masa inkubasi 7-14 hari. Minggu pertama terjadi demam tinggi, sakit kepala, nyeri abdomen, dan perbedaan peningkatan temperatur dengan denyut nadi, 50 % pasien dengan defekasi normal. Pada minggu kedua terjadi splenomegali dan timbul ruam. Pada minggu ke tiga timbul penurunan kesadaran dan peningkatan toksemia, keterlibatan usus halus terjadi pada minggu ini dengan diare kebiru-biruan dan berpotensi untuk terjadinya perforasi. Pada minggu ke empat terjadi perbaikan klinis. Perforasi dan perdarahan gastrointestinal dapat kronis kandung empedu dapat menjadi karier dari pasien yang telah sembuh dari penyakit akut (Zein, 2004).

G. Landasan Teori

  Kunyit asam adalah salah satu minuman populer di Indonesia berupa cairan obat dalam yang terdiri dari campuran rimpang kunyit dan buah asam jawa. Selain sebagai minuman yang menyegarkan, kunyit asam telah lama diyakini memiliki khasiat untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit pada wanita yang sedang mengalami menstruasi. Kemampuan untuk menghilangkan rasa sakit ini disebabkan adanya kandungan curcuminoid pada rimpang kunyit yang dipergunakan sebagai salah satu bahan utama pembuatan kunyit asam yang memiliki efek analgetika, sedangkan kandungan vitamin C yang ada pada daging buah asam jawa dapat menambah kesegaran tubuh, sehingga wanita yang sedang mengalami menstruasi tidak akan mengalami nyeri haid dan badan menjadi lebih segar apabila mengkonsumsi jamu kunyit asam.

  Adanya kontaminasi bakteri patogen pada cairan jamu kunyit asam membuat jamu tersebut tidak aman untuk dikonsumsi. Mikroba patogen yang dimungkinkan dapat mengkontaminasi jamu kunyit asam adalah Salmonella. Adanya cemaran

  Salmonella

  dalam jamu kunyit asam dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala demam, diare, kram perut, sakit kepala, pusing dan rasa mual setelah 12 sampai 72 jam terinfeksi. Gejala ini dapat berlangsung dokter, tapi sebagian penderita dapat mengalami diare yang sangat parah, sehingga harus dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian angka

  Salmonella

  yang merupakan salah satu bakteri patogen untuk mengetahui jamu kunyit asam tersebut sudah memenuhi parameter standar umum cairan obat dalam ataukah belum, sehingga tidak terjadi patogenitas pada manusia apabila mengkonsumsi jamu tersebut.

  Uji Salmonella dalam obat tradisional adalah suatu metode untuk menetapkan adanya tidaknya Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam. Nilai angka Salmonella tidak boleh melebihi batas yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan RI No: 661/MenKes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif, apabila angka Salmonella menunjukkan nilai nol, maka cairan jamu kunyit asam tersebut dapat untuk dikonsumsi karena bebas dari cemaran bakteri patogen, yaitu Salmonella. Apabila jamu kunyit asam terkena cemaran Salmonella, maka jamu kunyit asam tersebut tidak aman dan sangat membahayakan kesehatan masyarakat, karena Salmonella dapat menyebabkan gastroenteritis.

  Apabila ditemukan Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta maka perlu dilakukan edukasi mengenai cara pengolahan jamu tradisional yang baik supaya jamu tradisional yang diproduksi dapat membantu masyarakat dalam menjaga dan memperbaiki status kesehatannya serta tidak membahayakan konsumen. Apabila tetap menjaga kualitas jamu yang dihasilkan supaya dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan aman.

H. Hipotesis

  Angka Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan dan angka Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam harus negatif dan nol.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan

  penelitian deskriptif komparatif, yaitu mendeskripsikan identitas dan angka

  Salmonella

  serta membandingkan angka Salmonella yang diperoleh dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif. Penelitian dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

   Variabel dan Definisi Operasional B.

1. Variabel penelitian

  a. Variabel bebas

  Cairan jamu kunyit asam dari pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

  b. Variabel tergantung

  Identitas cemaran Salmonella dan angka Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta.

c. Variabel pengacau terkendali

  Asal jamu kunyit asam (pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta), media pengkayaan (Selenite Broth), media isolasi (Salmonella Shigella Agar), media identifikasi (media glukosa, media laktosa, media manitol, media maltosa, media sakarosa, media Sulphur Indol Motility, media

  O Simmons

  Sitrat Agar, Nutrien Agar), suhu inkubasi (37

  C) dan waktu inkubasi (24 jam).

2. Definisi operasional

  a. Jamu kunyit asam adalah jamu yang terdiri dari campuran rimpang kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma) dan daging buah asam jawa (Tamarindi

  Pulpa

  ) . Sampel jamu dari pedagang jamu dikemas ke dalam botol steril untuk meminimalkan kontaminasi dari luar.

  Salmonella

  b. adalah bakteri penyebab infeksi yang dimungkinkan mencemari jamu kunyit asam. Jika tertelan dan masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan gejala yang disebut Salmonellosis.

  c. Angka Salmonella merupakan besarnya jumlah bakteri Salmonella yang ada pada jamu kunyit asam yang dapat digunakan untuk menilai keamanan dari jamu kunyit asam tersebut. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 angka Salmonella dalam cairan jamu harus nol.

  d. Uji Salmonella dalam obat tradisional adalah suatu uji untuk menetapkan adanya Salmonella dalam cairan jamu kunyit asam dengan melihat ada

   Bahan Penelitian C.

  a. Cairan jamu kunyit asam dari pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta pada bulan Januari 2012.

  b. Media pengkayaan (Selenite Broth), media isolasi (Salmonella Shigella Agar), media identifikasi (media glukosa, media laktosa, media manitol, media maltosa, media sakarosa, media Sulphur Indol Motility, media Simmons Sitrat Agar, Nutrien Agar).

  c. Pereaksi yang digunakan untuk identifikasi Salmonella adalah H O dan Kovacs.

  2

  2 d. Bakteri baku sebagai standar pembanding adalah Salmonella typhi ATCC 14028.

D. Alat Penelitian

  Alat timbang (Sartorius), vortex (Sybran), bunsen, pipet volume, cawan petri, tabung reaksi, piring petri, labu Erlenmeyer, gelas ukur, mikropipet (Iwaki 1mL), oven, inkubator (WTC binder), autoclave (model: KT-40 No.108049 Midorigaoka Japan), Microbiological Safety Cabinet (MSC).

E. Tata Cara Penelitian

1. Penentuan dan pemilihan pasar

  Pemilihan pasar ditentukan dengan cara sebagai berikut. Di Yogyakarta terdapat empat belas kecamatan kemudian dipilih satu kecamatan, yaitu kecamatan Gondomanan. Kecamatan Gondomanan dipilih karena di kecamatan tersebut mana pasar ini menjadi pusat perekonomian masyarakat, baik masyarakat dari dalam maupun luar Yogyakarta. Dua pasar tersebut adalah Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk. Selain Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk, terdapat juga Pasar Sawo dan Pasar Ledok Gondomanan yang menjadi pusat perkonomian warga sekitarnya. Oleh karena itu, kecamatan ini dipilih sebagai tempat pengambilan sampel karena banyak orang berbelanja di pasar tersebut, sehingga banyak juga warga yang membeli jamu kunyit asam.

   Pemilihan dan pengumpulan sampel jamu kunyit asam 2.

  Berdasarkan survey peneliti pada bulan Mei 2011, terdapat dua pedagang jamu di Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk, di Pasar Sawo terdapat satu pedagang, sedangkan di Pasar Ledok Gondomanan tidak terdapat pedagang jamu. Sampel diambil dari tiap pedagang jamu sebanyak satu buah, sehingga total sampel terdapat lima sampel jamu kunyit asam, yaitu dua dari pedagang jamu di Pasar Beringharjo, dua dari pedagang jamu di Pasar Pathuk dan satu dari pedagang jamu di Pasar Sawo. Setiap pedagang hanya dilakukan satu kali pengambilan sampel. Jamu kunyit asam yang dijual oleh pedagang kemudian dipindahkan secara aseptis ke dalam botol steril.

3. Uji Salmonella (S5p4/IKM/M/21) pada cairan jamu kunyit asam

  a. Uji Pengkayaan pada Media Selenite Broth Disiapkan 10 labu ukur yang masing-masing telah diisi dengan 9 mL Selenite

  Broth

  . Dengan cara aseptik dipipet 1 mL suspensi dari jamu kunyit asam, kemudian

  o Media Selenite Broth akan menjadi keruh jika terdapat Salmonella (Bridson, 2006). Uji yang sama dilakukan terhadap kontrol positif berupa kultur murni Salmonella

  typhi

  ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan hasil pertumbuhannya berdasarkan kekeruhan.

  b. Isolasi Salmonella pada media selektif Salmonella Shigella Agar Dari biakan pengkayaan diisolasikan 1 sengkelit pada permukaan Salmonella

  o Shigella

  Agar (SSA) dengan cara streak (4 kuadran), diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Prosedur yang sama dilakukan terhadap kontrol positif, yaitu kultur murni Salmonella typhi ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan hasil pertumbuhannya berdasarkan morfologi koloni yang tumbuh. Keberadaan

  Salmonella

  ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, sisi tepinya berombak (Breed dkk., 1957).

  c. Identifikasi Salmonella dalam jamu kunyit asam Dipilih 1 koloni spesifik pada Salmonella Shigella Agar (SSA) kemudian dilakukan uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase.

  Prosedur yang sama dilakukan terhadap kontrol positif, yaitu kultur murni Salmonella

  typhi

  ATCC 14028. Hasil dari pengujian dibandingkan dengan hasil pertumbuhannya berdasarkan perubahan warna yang terjadi.

  1) Uji fermentasi gula-gula

  a). Uji fermentasi glukosa Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o ditandai dengan adanya perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning.

  b). Uji fermentasi laktosa Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media laktosa dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Jika terjadi perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil uji positif.

  c). Uji fermentasi manitol Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media manitol dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Jika terjadi perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil uji positif.

  d). Uji fermentasi maltosa Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 37 C selam 24 jam. Jika terjadi perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil uji positif.

  e). Uji fermentasi sakarosa Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media sakarosa dan diinkubasi pada suhu 37 C selam 24 jam. Jika terjadi perubahan warna media dari orange kemerahan menjadi kuning menunjukkan hasil

  2) Uji sulfur Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

  o

  suhu 37 C selama 24 jam. Adanya warna hitam di sepanjang bekas inokulasi menunjukkan hasil yang positif.

  3) Uji indol Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

  o

  suhu 37 C selama 24 jam. Ke dalam biakan ditambahkan 1 mL pereaksi Indol (Kovac), dikocok dan didiamkan beberapa menit. Warna merah cherry yang berbentuk cincin pada permukaan biakan menunjukkan reaksi indol positif.

  4) Uji motilitas Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada media SIM (Sulphur Indol Motility) dengan cara ditusuk dan diinkubasi pada

  o

  suhu 37 C selama 24 jam. Apabila pertumbuhan mikroba tidak hanya di bekas tusukan menunjukkan hasil yang positif.

  5) Uji sitrat Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada Simmons Sitrat Agar dan diinkubasi pada suhu 35 – 37 C selama 24 jam. Jika terjadi perubahan warna media dari hijau menjadi biru menunjukkan hasil uji positif.

  6) Uji katalase Satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada gelas objek kemudian ditetesi dengan H

  2 O 2 . Timbulnya buih menunjukkan hasil uji positif.

  7) Interpretasi hasil

  Salmonella

  dinyatakan terdapat pada sampel jamu kunyit asam apabila

  Tabel I. Hasil identifikasi Salmonella (Holt, Krieg, Sneath, Staley, dan Williams, 2000)

  Uji Hasil

  • Glukosa - Lakosa Manitol + Maltosa + Sakarosa - Sulfur +
    • Indol + Motilitas + Sitrat + Katalase

  d. Uji Angka Salmonella (Aureli, Consntini, Felicia, Gianfraceschi, dan Rainakli, 1992)

  Angka Salmonella dinyatakan dengan persentase koloni spesifik yang telah dikonfirmasi sebagai Salmonella dikalikan jumlah koloni dari dua cawan (duplo) dan faktor pengenceran. Rumus Keterangan A = koloni spesifik Salmonella B = jumlah koloni terduga Salmonella dari dua cawan (duplo) C = faktor pengenceran

  Angka Salmonella yang diperoleh dari perhitungan dibandingkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994.

   Analisis Hasil F.

  Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif, yaitu mendeskripsikan identitas dan angka Salmonella di dalam jamu serta membandingkan data yang diperoleh berupa angka Salmonella dengan satuan CFU/mL (Colony Forming Unit) dengan persyaratan atau batas yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 bahwa keberadaan bakteri patogen dalam cairan obat harus negatif.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Jamu kunyit asam merupakan salah satu jenis jamu yang paling diminati

  oleh masyarakat, terutama kaum wanita. Selain banyak manfaatnya, jamu kunyit asam juga dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau. Biasanya jamu kunyit asam yang dijual oleh pedagang jamu berupa cairan jamu siap minum. Jamu kunyit asam ini berbahan dasar rimpang kunyit dan daging buah asam jawa. Kunyit merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai banyak khasiat, seperti dapat mengurangi rasa sakit antibakteri, antioksidan, peluruh kentut dan haid, serta dapat melancarkan ke luarnya empedu ke usus (Winarto, 2004), sedangkan daging buah asam jawa juga memiliki banyak khasiat seperti pereda asma, batuk kering, demam, rematik, nyeri haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan (Kurniawati, 2010).

  Jamu kunyit asam merupakan salah satu contoh dari cairan obat yang tidak memerlukan ijin usaha industri sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 246/MenKes/Per/V/1990 pasal 2 (Depkes RI, 1990). Oleh karena tidak memerlukan ijin dalam pemasarannya, maka dari segi keamanan belum dapat dijamin. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian terhadap cemaran mikroba terutama mikroba patogen, seperti Salmonella sebagai salah satu bentuk evaluasi terhadap keamanan dari jamu kunyit asam. Peneliti melakukan penelitian angka Salmonella karena Salmonella dimungkinkan untuk tumbuh dan ditemukan di dalam cairan jamu kunyit asam. Uji dilakukan dengan cara melihat ada tidaknya Salmonella di dalam sampel jamu kunyit asam yang dijual di pasar-pasar tradisional termasuk di Yogyakarta pada media selektif dan menghitung angka Salmonella yang ada pada media selektif. Apabila ditemukan adanya cemaran Salmonella pada jamu kunyit asam tersebut, maka tidak sesuai dengan persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994, yaitu nol atau negatif, yang berarti jamu kunyit asam tersebut tidak aman untuk dikonsumsi.

A. Penentuan dan Pemilihan Pasar

  Penelitian aspek mikrobiologis jamu kunyit asam diawali dengan tahapan penentuan lokasi pengambilan sampel jamu kunyit asam yang akan diteliti. Dari 14 kecamatan yang ada di Kotamadya Yogyakarta, peneliti memilih Kecamatan Gondomanan sebagai tempat pengambilan sampel. Kecamatan Gondomanan dipilih karena letaknya berada di pusat kota yang sangat strategis untuk dikunjungi oleh masyarakat luas. Di Kecamatan Gondomanan juga terdapat pasar tradisional besar, seperti Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk yang banyak dikunjungi masyarakat asli Yogyakarta, maupun dari luar Yogyakarta. Di pasar-pasar tersebut masih banyak pedagang jamu tradisional yang menjual jamu kunyit asam dan animo masyarakat dalam mengkonsumsi jamu kunyit asam masih cukup tinggi. Selain Pasar Beringharjo dan Pasar Pathuk, juga terdapat Pasar Sawo dan Pasar Ledok Gondomanan. Di Pasar Ledok Gondomanan tidak terdapat penjual jamu kunyit asam, sehingga tidak digunakan sebagai tempat pengambilan sampel. Tempat pengambilan sampel hanya dilakukan di Pasar Beringharjo, Pasar Pathuk, dan Pasar Sawo.

  

Tabel II. Hasil sampling jamu kunyit asam dari berbagai pasar tradisional di Kecamatan

Gondomanan Kotamadya Yogyakarta Nomor Asal sampel Jumlah sampel Kode

  1 Pasar Beringharjo 1

  1 A

  2 Pasar Beringharjo 1

  1 A1

  3 Pasar Beringharjo 2

  1 B

  4 Pasar Beringharjo 2

  1 B1

  5 Pasar Pathuk 1

  1 C

  6 Pasar Pathuk 1

  1 C1

  7 Pasar Pathuk 2

  1 D

  8 Pasar Pathuk 2

  1 D1

  9 Pasar Sawo

  1 E

  10 Pasar Sawo

  1 E1

   Pemilihan dan Pengumpulan Sampel Jamu Kunyit Asam B.

  Pemilihan Kecamatan Gondomanan sebagai tempat pengambilan sampel cukup untuk mewakili populasi sampel dan pedagang jamu yang terdapat di Kotamadya Yogyakarta. Sampel pedagang jamu adalah semua pedagang jamu di Pasar Beringharjo, Pasar Pathuk, dan Pasar Sawo. Jumlah pedagang jamu di Pasar Beringharjo ada dua pedagang jamu, Pasar Pathuk dua pedagang jamu dan Pasar Sawo satu pedagang jamu. Dipilih satu sampel cairan jamu kunyit asam yang berwarna kuning tua, berbau khas jamu dan dibuat pada hari pengambilan sampel dari masing-masing pedagang di tiap pasar yang sudah dipilih. Pengambilan sampel hanya dilakukan dalam sekali pengambilan dan setiap sampel jamu kunyit asam akan diuji secara duplo. Sampel jamu kunyit asam yang diperoleh dari pedagang jamu dipindahkan ke dalam botol steril untuk meminimalkan kontaminasi dari lingkungan.

   Uji Salmonella (S C.

5 P 4 /IKM/M/21) pada Cairan Jamu Kunyit Asam

  Sampel yang sudah berada di botol steril langsung diuji. Masing-masing sampel diuji sebanyak dua kali (duplo) dengan metode yang sama untuk menegaskan hasil yang diperoleh. Uji Salmonella dari sampel jamu kunyit asam terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap pengkayaan, isolasi, identifikasi dan uji angka

  Salmonella .

1. Uji pengkayaan pada media Selenite Broth

  Tahap pengkayaan berguna untuk mengkondisikan supaya bakteri dapat tumbuh pada media pengkaya. Media pengkayaan yang digunakan dalam penelitian adalah Selenite Broth. Pada tahap pengkayaan jumlah sampel yang dipergunakan sebanyak sepuluh buah yang berasal dari Pasar Beringharjo empat buah, Pasar Pathuk empat buah dan Pasar Sawo dua buah yang merupakan hasil duplo (Tabel II, Lampiran 1). Pada tahap pengkayaan digunakan teknik duplo, yaitu dari satu sampel diuji 2 kali dengan perlakuan yang sama. Hal ini dilakukan untuk menegaskan hasil yang dilakukan. Sampel jamu kunyit asam diambil 1 mL sampel jamu kunyit asam dengan cara dipipet kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi tambahkan sampai

  O

  10 mL dengan Selenite Broth secara aseptis dan diinkubasi pada suhu 37 C selama

  O 24 jam. Suhu 37 C yang merupakan suhu optimum untuk pertumbuhan Salmonella.

  Selenite Broth

  yang digunakan sebagai media pengkayaan mengandung pepton, laktosa dan natrium fosfat yang merupakan nutrisi yang baik dan sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Selain perlakuan terhadap sampel, peneliti juga membuat kontrol sebagai pembanding untuk memastikan apakah terdapat Salmonella atau tidak di dalam sampel jamu kunyit asam. Kontrol yang dibuat adalah kontrol positif dan kontrol media. Kontrol positif terdiri dari media Selenite Broth yang diinokulasi

  Salmonella typhi

  ATCC 14028, sedangkan kontrol media hanya terdiri dari Selenite Broth. Hasil yang diperoleh setelah inkubasi 24 jam, yaitu pada sampel A, B, C, D dan E yang dilakukan secara duplo mengalami perubahan warna dari kuning bening menjadi orange tua tapi tidak tidak tampak lebih keruh. Warna orange tua berasal dari warna jamu kunyit asam, sedangkan pada kontrol positif tidak terjadi perubahan warna, tetapi tampak lebih keruh apabila dibandingkan dengan kontrol media (Gambar 1, Lampiran 2). Hal ini sesuai dengan Bridson (2006) yang menyatakan bahwa media yang diinokulasi Salmonella setelah diinkubasi selama 24 jam akan menunjukkan kekeruhan.

  

Gambar 1. Hasil uji pengkayaan sampel jamu kunyit asam pada media Selenite Broth

Keterangan : K (-) = kontrol media (Selenite Broth) K (+) = kontrol positif (Salmonella typhi ATCC 14028) A = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Beringharjo 1 B = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Beringharjo 2 C = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Pathuk 1 D = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Pathuk 2 E = sampel jamu kunyit asam dari Pasar Sawo Hasil positif apabila media menjadi keruh yang menunjukkan adanya pertumbuhan mikrobia

   Isolasi Salmonella dari jamu kunyit asam pada media selektif Salmonella 2.

  Shigella Agar

  Tahap isolasi dilakukan untuk menanam sampel pada media selektif dan melihat pertumbuhannya. Media selektif yang digunakan adalah Salmonella

  Shigella

  Agar (SSA). Media ini merupakan media selektif untuk mengisolasi

  

Salmonella dan beberapa spesies Shigella dari produk makanan maupun spesimen

  klinik seperti darah, urine maupun feses. SSA mengandung pepton, laktosa, sodium sitrat, natrium tiosulfat, besi (III) sitrat, brilliant green, neutral red, bile

  salt yang berfungsi sebagi nutrisi untuk pertumbuhan Salmonella (Bridson, 2006).

  Keberadaan Salmonella pada SSA ditunjukkan dengan adanya koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, sisi tepinya berombak (Breed dkk., 1957).

  Pada tahap ini dilakukan teknik duplo, kemudian masing-masing media diisolasikan satu sengkelit dari biakan pengkayaan kemudian ditanam pada permukaan Salmonella Shigella Agar (SSA) dengan cara streak (4 kuadran) dan

  ○

  diinkubasikan pada suhu 37 C selama 24 jam. Hal ini juga dilakukan terhadap kontrol positif (media SSA yang diinokulasi kultur murni Salmonella typhi ATCC 14028 sebagai pembanding) untuk membandingkan hasil koloni yang terbentuk setelah inkubasi. Metode streak plate digunakan untuk mendapatkan koloni tunggal yang berasal dari biakan murni. Pada saat diinkubasikan posisi cawan petri dibalik supaya uap air yang terbentuk tidak membasahi media . Media yang terbasahi oleh uap air tidak akan mengkontaminasi media tetapi dapat dan mengganggu pengamatan yang akan dilakukan.

  Hasil yang diperoleh dari tahap isolasi adalah semua media sampel ditumbuhi dengan koloni mikroba (Lampiran 3). Akan tetapi, koloni yang tumbuh pada media sampel tidak menunjukan pertumbuhan seperti koloni Salmonella dan pada kontrol positif dengan ciri koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, dan sisi tepinya berombak (Breed dkk., 1957). Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat

  Salmonella

  dalam sampel (Lampiran 3). Untuk menegaskan hasil tersebut maka dilakukan uji identifikasi terhadap koloni yang tumbuh pada media SSA.

   Identifikasi Salmonella dalam jamu kunyit asam 3.

  Tahap ini bertujuan untuk lebih memastikan bahwa koloni mikroba yang tumbuh dalam sampel jamu kunyit asam pada tahap isolasi pada media Salmonella

  Shigella

  Agar adalah Salmonella atau bukan (Lampiran 3). Koloni yang tumbuh di

  Salmonella

  Shigella Agar diambil satu sengkelit lalu diinokulasikan pada media glukosa, laktosa, manitol, sakarosa, maltosa untuk uji fermentasi gula-gula, pada media SIM (Sulphur Indol Motility) Agar untuk uji motilitas, sulfur dan indol serta

  o

  pada media Simmons sitrat untuk uji sitrat, kemudian dinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam.

  a. Uji fermentasi gula-gula 1). Uji fermentasi glukosa

  Uji glukosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat memfermentasikan glukosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA),

  o jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami perubahan warna, pada media glukosa yang semula berwarna orange kemerahan berubah warna menjadi kuning bening (Gambar 2), yang berarti Salmonella typhi ATCC 14028 dan mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan glukosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella dapat memfermentasikan glukosa.

  

Gambar 2. Hasil identifikasi uji glukosa pada media glukosa

  2). Uji fermentasi laktosa Uji laktosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat memfermentasikan laktosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada media laktosa dan diinkubasi pada suhu 37

  o

  C selama 24 jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel tidak mengalami perubahan warna (Gambar 3), yang berarti Salmonella typhi ATCC 14028 dan mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan laktosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella tidak dapat memfermentasikan laktosa.

  Gambar 3. Hasil identifikasi uji laktosa pada media laktosa

  3). Uji fermentasi manitol Uji manitol bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat memfermentasikan manitol (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media manitol dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami perubahan warna, pada media manitol yang semula berwarna orange kemerahan berubah warna menjadi kuning bening (Gambar 4), yang berarti Salmonella typhi ATCC 14028 dan mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan manitol. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella dapat memfermentasikan manitol.

  Gambar 4. Hasil identifikasi uji manitol pada media manitol

  4). Uji fermentasi maltosa Uji maltosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat memfermentasikan maltosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media maltosa dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, kontrol positif dan sampel mengalami perubahan warna, pada media maltosa yang semula berwarna orange kemerahan berubah warna menjadi kuning bening (Gambar 5), yang berarti Salmonella typhi ATCC 14028 dan mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan maltosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella dapat memfermentasikan maltosa.

  Gambar 5. Hasil identifikasi uji maltosa pada media maltosa

  5). Uji fermentasi sakarosa Uji sakarosa bertujuan untuk mengetahui apakah Salmonella dapat memfermentasikan sakarosa (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan

  o

  pada media sakarosa dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 24 jam. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam, pada kontrol positif tidak mengalami perubahan warna. Hal ini menunjukkan hasil yang negatif, yaitu kontrol positif Salmonella typhi ATCC 14028 tidak dapat memfermentasikan sakarosa. Hal ini sesuai dengan Holt dkk.

  (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella tidak dapat memfermentasikan sakarosa, namun pada sampel, media sakarosa yang semula berwarna orange kemerahan mengalami perubahan warna dari orange kemerahan menjadi kuning bening (Gambar 6), yang berarti mikroba yang terdapat dalam sampel jamu kunyit asam dapat memfermentasikan sakarosa.

  Gambar 6. Hasil identifikasi uji sakarosa pada media sakarosa

  b. Uji sulfur Uji sulfur dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba menggunakan sulfur sebagai satu-satunya sumber energi (Cappuccinno, 2011). Uji sulfur dilakukan dengan cara menginokulasikan satu sengkelit biakan Salmonella ke dalam media SIM (Sulphur Indol Motility) Agar. Hasil yang diperoleh setelah

  o

  inkubasi selam 24 jam pada suhu 37

  C, media SIM Agar menunjukkan adanya warna hitam di sepanjang bekas inokulasi pada kontrol positif, yang berarti kontrol positif Salmonella typhi ATCC 14028 dapat menggunakan sulfur sebagai satu-satunya sumber energi, sedangkan media yang diinokulasi sampel tidak menunjukkan warna hitam di sepanjang bekas inokulasi, yang berarti mikroba dalam jamu kunyit asam tersebut tidak dapat menggunakan sulfur sebagai satu- satunya sumber energi (Gambar 7). Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella dapat menggunakan sulfur sebagai satu-satunya sumber energi. Gambar 7. Hasil identifikasi uji sulfur pada media Sulphur Indol Motility Agar

  c. Uji indol Uji indol bertujuan untuk menentukan kemampuan mikroba dalam memecah asam amino triptofan menjadi indol (Cappuccinno, 2011). Uji indol dilakukan dengan cara menginokulasikan satu sengkelit biakan murni Salmonella pada media Sulphur Indol Motility Agar, kemudian diinkubasikan selama 24 jam

  o

  pada suhu 37

  C. Hasil setelah inkubasi selama 24 jam dan setelah ditetesi larutan Kovacs di permukaan media SIM Agar tidak terbentuk lapisan cincin berwarna merah muda baik pada kontrol positif maupun sampel (Gambar 8), yang berarti

  Salmonella typhi

  ATCC 14028 dan mikroba di dalam sampel jamu kunyit asam tidak membentuk indol dari triptofan sebagai sumber energi. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella dapat memecah asam amino triptofan menjadi indol. Gambar 8. Hasil identifikasi uji indol pada media Sulphur Indol Motility Agar

  d. Uji motilitas Uji motilitas dilakukan untuk mengetahui apakah Salmonella merupakan mikroba yang motil atau tidak (Cappuccinno, 2011). Pengujian dilakukan dengan mengambil satu sengkelit biakan dari Salmonella Shigella Agar (SSA) diinokulasikan pada media SIM (Sulphur Indol Motility) Agar dengan cara

  o

  ditusuk dan diinkubasi pada suhu 35 – 37 C selama 24 jam. Media yang digunakan berupa media semisolid, sehingga mikroba dapat dengan bebas bergerak. Hasil yang diperoleh setelah inkubasi selama 24 jam, Salmonella dan mikroba dalam sampel jamu kunyit asam dapat bergerak di dalam media dilihat dari pertumbuhannya tidak hanya disepanjang bekas inokulasi (Gambar 9). Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa Salmonella merupakan mikroba yang dapat bergerak.

  Gambar 9. Hasil identifikasi uji motilitas pada media Sulphur Indol Motility Agar

  e. Uji sitrat Uji sitrat dilakukan untuk melihat kemampuan mikroba menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber energi (Cappuccinno, 2011). Uji sitrat dilakukan dengan cara menginokulasikan satu sengkelit biakan Salmonella ke dalam media Simmons Sitrat. Hasil yang diperoleh setelah inkubasi selam 24

  o

  jam pada suhu 37

  C, media Simmons Sitrat pada kontrol positif maupun media

  Simmons

  Sitrat yang ditanami mikroba dari sampel jamu kunyit asam mengalami perubahan warna dari hijau ke biru (Gambar 10), berarti mikroba dalam jamu kunyit asam dapat menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber energi. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa

  Salmonella dapat menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber energi.

  Gambar 10. Hasil identifikasi uji sitrat pada media Simmons Sitrat

  f. Uji katalase Uji katalase dilakukan untuk mengetahui apakah Salmonella mempunyai enzim katalase yang merupakan salah satu enzim yang digunakan mikroorganisme untuk menguraikan hidrogen peroksida yang yang bersifat toksik dalam sel karena menginaktifkan enzim dalam sel (Brooks, Butel, and Morse, 2007). Uji katalase dilakukan dengan menginokulasikan satu sengkelit biakan murni Salmonella di atas gelas objek yang kemudian ditetesi dengan H

  2 O 2 . Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya buih (Gambar 11) pada kontrol

  positif, berarti Salmonella typhi ATCC 14028 mempunyai enzim katalase, sedangkan tidak timbul buih pada mikroba dalam sampel jamu kunyit asam yang berarti mikroba dalam jamu kunyit asam tersebut tidak mempunyai enzim katalase. Hal ini sesuai dengan Holt dkk. (2000) yang menyatakan bahwa

  Salmonella memiliki enzim katalase.

  Gambar 11. Hasil identifikasi uji katalase

  Berdasarkan uji identifikasi terhadap mikrobia dalam sampel jamu kunyit asam dan kontrol positif (Salmonella typhi ATCC 14028) yang terdiri dari uji glukosa, laktosa, manitol, maltosa, sakarosa, sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase menunjukkan hasil yang berbeda antara kontrol positif

  Salmonella typhi

  ATCC 14028 dan koloni mikroba yang tumbuh dalam sampel jamu kunyit asam (Tabel III). Hal ini menegaskan bahwa mikroba yang mencemari sampel jamu kunyit asam bukan merupakan Salmonella, sehingga dapat dikatakan bahwa angka Salmonella dalam sampel jamu kunyit asam adalah nol (Lampiran 5).

  Tabel III. Hasil dentifikasi uji fermentasi gula-gula, uji sulfur, indol, motilitas, sitrat, dan katalase Salmonella dalam sampel jamu kunyit asam Uji Salmonella Kontrol positif Sampel Identifikasi (Holt dkk., (Salmonella typhi ATCC

  

2000) 14028)

  • Uji glukosa
    • Uji laktosa

  • Uji manitol +
  • Uji maltose
  • Uji sakarosa
    • Uji sulfur
    • Uji indol

  • Uji motilitas +
  • Uji sitrat
    • Uji Katalase
    • 1

  4. Uji Angka Salmonella Hasil pada uji isolasi dan identifikasi menunjukkan bahwa tidak terdapat koloni Salmonella atau dapat dikatakan bahwa koloni Salmonella berjumlah nol.

  3 Pasar Beringharjo 2 B Nol

  9 Pasar Sawo E Nol

  8 Pasar Pathuk 2 D1 Nol

  7 Pasar Pathuk 2 D Nol

  6 Pasar Pathuk 1 C1 Nol

  5 Pasar Pathuk 1 C Nol

  4 Pasar Beringharjo 2 B1 Nol

  2 Pasar Beringharjo 1 A1 Nol

  Apabila dihitung menggunakan rumus angka Salmonella, yaitu Angka Salmonella = x B x C. A merupakan koloni spesifik Salmonella, B adalah jumlah koloni terduga

  1 Pasar Beringharjo 1 A Nol

  Salmonella

  

Tabel IV. Hasil uji angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional

Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta secara duplo No Asal Sampel Kode Angka

  B, dan C dimasukkan ke dalam rumus angka Salmonella, hasil yang diperoleh adalah nol (Tabel IV).

  , sehingga apabila nilai A,

  dari dua cawan (duplo), C merupakan faktor pengenceran. Nilai A dan B dalam penelitian adalah nol karena tidak ditemukan koloni spesifik Salmonella yang mempunyai ciri koloni berwarna keabu-abuan, kecil-kecil, bulat, sisi tepinya berombak (Holt dkk., 2000) (Lampiran 3). C bernilai 10

  Salmonella

  10 Pasar Sawo E1 Nol Pada penelitian ini angka Salmonella pada sampel jamu kunyit asam adalah nol. Akan tetapi, dilihat dari hasil isolasi dan identifikasi masih ditemukan cemaran mikroba selain Salmonella yang berarti bahwa pembuatan jamu yang dilakukan oleh pedagang jamu kunyit asam lebih besar kemungkinannya untuk terkontaminasi mikroba, sehingga perlu dilakukan uji identifikasi dan angka mikrobia lain selain

  Salmonella .

  Pembuatan jamu kunyit asam yang baik menurut CPOTB (Badan POM RI, 2005) perlu memperhatikan beberapa langkah seperti pengolahan bahan baku dan pengemasan. Pengolahan bahan baku yang baik dan benar akan mempengaruhi hasil jamu yang diproduksi. Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan jamu kunyit asam adah rimpang kunyit dan daging buah asam jawa. Proses pengolahan bahan baku dimulai dengan mencuci rimpang kunyit. Cara mencuci yang baik menurut CPOTB adalah memasukannya ke dalam ember atau bak yang diisi air sampai penuh kemudian diaduk dengan tangan supaya bersih dari kotoran. Air yang sudah kotor dibuang kemudian diisi lagi dengan air bersih. Hal ini dilakukan 2-3 kali sampai rimpang kunyit bersih. Selanjutnya adalah proses pengolahan dari bahan baku menjadi cairan jamu. Pada saat proses pemasakan tentu dibutuhkan beberapa peralatan seperti wajan, panci, pengaduk dan lainnya. Peralatan yang digunakan dibersihkan menggunakan desinfektan. Ketika memasak hendaknya sampai suhu yang 80 C sambil diaduk terus menerus. Air yang digunakan sebaiknya dididihkan terlebih dahulu. Setelah proses pemasakan jamu selesai ada satu tahap lagi yang cukup penting, yaitu tahap pengemasan. Wadah atau pengemas yang biasa digunakan oleh pedagang jamu adalah botol-botol plastik bekas minuman yang dicuci kembali. yang dicuci tidak bersih dengan air bersih yang mengalir akan bisa menyumbangkan kontaminan di dalam jamu.

  Hasil identifikasi dan angka Salmonella yang didapatkan pada sampel jamu kunyit asam dalam penelitian ini adalah negatif dan nol, namun penelitian ini hanya meneliti jamu kunyit asam berdasarkan aspek mikrobiologi dari cemaran Salmonella. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji cemaran bakteri patogen lain, seperti Escherichia

  coli dan Staphylococcus aureus,

  juga perlu dilakukan penelitian angka lempeng total (ALT), angka kapang khamir (AKK), dan aflatoksin terhadap jamu kunyit asam untuk menjamin keamanan jamu kunyit asam.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  1. Jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta tidak tercemar oleh Salmonella berdasarkan hasil uji isolasi dan identifikasi Salmonella.

  2. Angka Salmonella dalam jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta adalah nol.

  3. Angka cemaran Salmonella dalam jamu kunyit asam yang jamu kunyit asam yang dijual di pasar tradisional Kecamatan Gondomanan Kotamadya Yogyakarta memenuhi persyaratan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 661/Menkes/SK/VII/1994 yang menyatakan bahwa keberadaan Salmonella dalam cairan obat harus nol .

B. Saran

  Dilakukan pemberian edukasi kepada pedagang jamu bagaimana pengolahan jamu yang benar, sehingga jamu yang dihasilkan terjamin keamanannya.

DAFTAR PUSTAKA

  Aureli, P., Consntini, A., Felicia, L., Gianfraceschi, M., Rainakli, L., 1992, Occurrenceof Pathogenie E. coli in available Italian Soft Cheeses, Arch.

  Fur Lebebensmittel Hyg

  . 43:1-2 Badan POM RI, 2005, Petunjuk Operasional Cara Pembuatan Obat Tradisional

  yang Baik

  , 48-50, 73, 78-79, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Jakarta

  Breed, R. S., Murray, E. D. G., Smith, N. R., 1957, Bergey's Manual Determinative

  th Bacteriology 7

  Edition, 371 , The Williams & Wilkins Company, Amerika

  Brooks, G. F., Butel, J. S., dan Morse, S,. A., 2007, Mikrobiologi Kedokteran Jawetz,

  Melnick, & Adelberg

  , Edisi 23, diterjemahkan oleh Hartanto, Huriawati,

  dkk

  ., 225, PenerbitBukukedokteran EGC, Jakarta Holt, J. G., Krieg, N. R., Sneath, P. H. A., Staley, J. T., Williams, S. T., 2000,

  th Bergey's Manual Determinative Bacteriology 9

  Edition, 186, 187 , Lippincott Williams & Wilkins Company, Amerika

  th

  Bridson, E., Y., 2006, Bridson Manual, 9 Edition, Bridson Limited, 17,188, England Cappuccinno, 2011, Microbology a Laboratory Manual, 166-199, Pearson

  Education, USA Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1988, Peraturan Menteri Kesehatan RI

  No. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1990, Peraturan Menteri Kesehatan

  Republik Indonesia No: 246/Menkes/Per/V/1990 tentang Pedoman Cara

  Pembuatan Obat Tradisional yang Baik,

  Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1991, Keputusan Menteri Kesehatan

  Republik Indonesia No: 659/Menkes/SK/X/1991 tentang Pedoman Cara

  Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

  , Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1994, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No: 661/MenKes/SK/VII/1994 tentang Persyaratan

  Obat Tradisional , Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

  El-Siddig K., Gunasena H.P.M., Prasad B.A., Pushpakumara D.K.N.G., Ramana K.V.R., Vijayanand P. and Williams J.T. 2006, Tamarind – Tamarindus indica L., Fruits for the Future 1 Volume 1:18

  Harmanto, N. dan Subroto, M.A. , 2006, Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek Samping , 13, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta. Kurniawati, N., 2010, Sehat & Cantik Alami Berkat: Khasiat Bumbu Dapur, 48-49, PT Mizan Publika, Bandung. Poeloengan, M., Komala, I., dan Noor, S. M., 2012, Bahaya Salmonella terhadap Kesehatan, Laporan Penelitian, Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Prasetiyo, Y.T., 2003, Instant : Jahe, Kunyit, Kencur, Temulawak, 27, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Radji, M., 2011, Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan

  Kedokteran , 27, 28, 31, 130, 131, 133, 135, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

  Rukmana, H.R., 2003, Cabai Jawa, Potensi dan Khasiatnya Bagi Kesehatan, 10, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Soeharsono, 2002, Zoonosis: Penyakit Menular Dari Hewan ke Manusia, Volume 1, 65, 68, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Sudarsono, 1996, Tumbuhan Obat, 56, Pusat Penelitian Obat Tradisional, UGM, Yogyakarta. Suharmiati, 2003, Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong, 51, Agromedia Group, Jakarta. Suwandi, U., 1999, Peran Media untuk Identifikasi Peran Bakteri Patogen, Cermin

  Dunia Kedokteran, 124, 22-25.

  Winarto, W.P., 2004, Memanfaatkan Bumbu Dapur Untuk Aneka Penyakit, 43, Agromedia Pustaka, Jakarta.

  Winarto, W. P., 2005, SehatdenganRamuanTradisional: KhasiatdanManfaatKunyit, 2,4-10, 29, AgromediaPustaka

  Zein, U., Sagala, K. H., Ginting, J., 2004, Diare Akut Disebabkan Bakteri, 8, Universitas Sumatra Utara, Medan. Zulaikhah, 2005, Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pencemaran

  Bakteri pada Jamu Gendong di Kota Semarang, Tesis, Universitas Diponegoro, Semarang .

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Identifikasi cemaran escherichia coli pada daging ayam yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern daerah Bogor Barat
1
7
27
Uji angka lempeng total dan identifikasi Bakteri Salmonella spp dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di Desa Ngawen Klaten.
4
19
84
Uji angka kapang/khamir dan identifikasi escherichia coli dalam jamu kunyit asam dari penjual jamu di Wilayah Ngawen Klaten.
7
59
105
Perbandingan daya antioksidan jamu kunyit asam instan dan jamu kunyit asam ramuan segar dengan metode 2,2-Difenil-1-Pikrilhidrazil (DPPH).
0
5
86
Uji angka lempeng total [ALT] dalam jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta.
10
68
100
Perbandingan daya antioksidan jamu kunyit asam instan dan jamu kunyit asam ramuan segar dengan metode 2,2 Difenil 1 Pikrilhidrazil (DPPH)
0
0
84
Uji angka kapang/khamir dalam jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
94
Uji Escherichia coli pada jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
100
Uji angka lempeng total [ALT] dalam jamu gendong beras kencur yang beredar di 3 pasar di Kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
98
Uji daya analgesik jamu kunyit asam ramuan instan dan jamu kunyit asam ramuan segar pada mencit putih betina - USD Repository
0
0
127
Uji cemaran aflatoksin pada rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.) basah yang dikeringkan dan rimpang kunyit kering yang diperdagangkan di pasar \"x\" - USD Repository
0
0
73
Efek dan daya analgesik jamu kunyit asam ramuan segar komposisi 20,7%:9,3% pada mencit betina - USD Repository
0
0
107
Efek teratogenik ramuan segar jamu kunyit asam pada tikus - USD Repository
0
0
104
Efek antiinfllamasi jamu kunyit asam ramuan segar (2:1) pada mencit putih betina galur Swiss - USD Repository
0
0
99
Perbandingan Angka Lempeng Total (ALT) simplisia rimpang temulawak (Curcuma Rhizoma) dalam jamu godhog dari empat pasar di Kotamadya Yogyakarta dengan yang diolah sesuai Cara Pembuatan Simplisia yang Baik (CPSB) - USD Repository
0
0
137
Show more