SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
2
181
1 year ago
Preview
Full text

STUDI KASUS: PERSEPSI KORBAN BULLYING TERHADAP FENOMENA BULLYING YANG TERJADI DI SEKOLAH SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh : Nama : Fransisca Ratih Ariani

  

NIM : 039114073

  Ap a ra ha sia te rb e sa r d a la m hid up ini ? Me le wa ti ha ri d e ng a n p e nuh ma kna .

  Ma kna te nta ng c inta , ilmu, d a n ima n. De ng a n c inta , hid up me nja d i ind a h...

  De ng a n ilmu, hid up me nja d i mud a h...

  Da n d e ng a n ima n, hid up me nja d i te ra ra h…..

  (Mo tiva si ne t).

  Kupersembahkan karya ini bagi : Yesus Kristus dan Bunda Maria, kedua orang tuaku,

dan para korban bullying dimanapun mereka berada

“trust me, you are not alone…..”

  

ABSTRAK

Fransisca Ratih Ariani (2008). Studi Kasus: Persepsi Korban Bullying

terhadap Fenomena Bullying yang Terjadi di Sekolah. Yogyakarta: Fakultas

Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai persepsi korban Bullying terhadap Bullying yang terjadi di sekolah. Gambaran mengenai persepsi korban bullying terhadap bullying di sekolah meliputi cara pandang korban terhadap kekerasan dan bullying, bentuk-bentuk bullying yang dialami, penyebab terjadinya bullying, durasi waktu terjadinya bullying, dan reaksi orang tua, teman, dan guru.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus, dengan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Dari hasil penelitian ini didapatkan hasil bahwa korban bullying mempersepsikan bullying sebagai suatu hal yang menyakitkan menimbulkan perasaan tertekan dan kesepian, dan mengganggu dalam proses belajar di sekolah. Para korban dalam penelitian ini mengambil langkah yang berbeda untuk menghentikan bullying yang terjadi. Subjek 1 dengan cara menarik diri dari siswa- siswa lain, subjek 2 dengan cara menuruti kemauan pelaku, dan subjek 3 dengan cara keluar dari sekolah. Selain itu diketahui bahwa para korban mengharapkan dukungan dari guru-guru agar membantu menyelesaikan masalah bullying yang dialami oleh siswa

  Kata kunci: Persepsi, Bullying, Korban Bullying

  

ABSTRACT

Fransisca Ratih Ariani (2008). Case Study: The Victim’s Perception of

Bullying Phenomenon in School. Yogyakarta: Faculty of Psychology, Sanata

Dharma University.

  This research aimed at describing the victims’ perception of Bullying phenomenon in School. The description of the victims’ perception of bullying phenomenon refers to the victims’ point of view toward violence and bullying, the manifestation of the bullying they experienced, the cause of the bullying, the duration of the bullying, and the respond from their parents, friends, and teachers.

  This research was a qualitative case study. Data for the study were obtained through in depth interviews with the respondents. There were three respondents in this study.

  The result showed that the victims of the bullying perceived that bullying was a painful experience which resulted in depressed and loneliness and disturbed their learning process at school. The victims of the bullying in this study took different ways to cope with this problem. Subject 1 tried to withdraw from other students, subject 2 just accepted the bullying happened to her and just follow what she was told to do, and subject 3 moved from the school where he got this bullying experiences. In the meantime, it was revealed that the victims hoped to get the teachers supports to solve their bullying problem.

  Keywords: Perception, Bullying, Bullying Victim

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan bimbingan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyususnan skripsi dengan judul “Persepsi Korban Bullying terhadap Bullying yang Terjadi di Sekolah”. Adapun Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mencapai derajat Sarjana Psikologi pada Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari bahwa dalam proses belajar di Program Studi Psikologi, seja awal studi sampai berakhirnya studi melibatkan banyak hal. Atas segala saran, bimbingan, dukungan dan bantuan, pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Tuhan Yesus Kristus, Bunda Maria, dan para malaikat pelindungku yang selalu membimbing dan menolongku.

  2. P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  3. Sylvia CMYM, S.Psi., M.Si, selaku Ketua Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

  4. Agnes Indar E, S.Psi., M.Si, selaku dosen pembimbing akademik, “Makasih

  buat, dukungan dan, nasehat saat saya merasa jatuh. Keep survive is the key! 5.

  Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi dan juga Nimas Eki, S.Psi, M.Si, “Trimakasih banyak atas waktu, perhatian,

  saran, dukungan, dan kesabaran yang telah diberikan sampai selesainya skripsi ini.”

  6. Pak Tatang, Mas Cahyo, dan budhe tersayang (alm) di Humas USD.

  “Daddy!!! Seneng ya ternyata kalo udah beres... Makasih banget buat ilmu,

  perhatian & dukungannya, dad...” 7.

  Pak Bambang, Mbak Atik, Mbak Wira, Mbak Ruth, Mas Devi, Mas Heru, Pak Pri, n Mas Kris di BAA. Intan, Kadek, Bunga, Yosep, Hartono, Dicky, Yosia,

  “Makasih buat kerja team-nya. Sukses!!” 8.

  Mas Gandung, Mbak Nanik, Mas Muji, Pak Giek, Mas Donny, di Psikologi, n Peye dkk di Mrican, 9. Pak Supratiknya, (“Trims jurnal-jurnalnya, Pak”), seluruh dosen di Fak.

  Psikologi USD, juga Ibu Nunung dan semua guruku dari TK hingga saat ini.

  10. Drs. Deny Supriatna & My Great Mother, My Hero, and My Angel, Ibu Dra.

  Efrasina Tri Wanito Murni. “I hope I can make you proud, mum.. I love you

  so much..” 11.

  Yuliana Padmowiryono, om Bambang, mbak Anggra, budhe Dwi, te Tutik n all of my family. Willbi, Lissie, dkk, Cindy 1 & Cindy 2, “Ndy!!! Makasih ya

  udah ditemenin pagi siang malem.” 12.

  Andreas Janis Harulito (Pipul, om Haryadi & tante Yuli), “Makasih buat

  kesabaran, doa, dukungan, kasih sayang, dan semuanya… I’ve learnt so many things from you…”.

  13. Rm Sunu, Rm. Insyaf, Rm Heru (di LA), dan Rm Halim. “Makasih buat dukungan dan doanya… upahmu besar di surga ^^”.

  14. Dzaki, Denni, Aam, Nana, Arista, Isa, n smua sobatQ di EEC… “Kalian salah satu supporter setiaku!!”.

  15. Ignatius Setiawan, S.Pd, M.Si yang udah mau baca kerjaanQ di tengah2 sibuknya kerjaan di kantor, “Makasih ya mas…”.

  16. DF. Vembrietto H (om Hayono+tante Sri and family), P. Narendra Utama (om Budi + tante Endang, mbak Ruli, mbak Kris dll di MSD.

  17. YEIMOSRAXTI, Yoko, Meidi, Mira, Yosi, Krisna, n Tanti. Juga Patria Club, Safat, Angga, Pur, Iyong, Mula, dll, “Tahun-tahun pas kita bareng kerasa

  cepeeeeeett banget ya.. seru, rame, sejuta rasa, warna-warni!” 18.

Semua subjek dalam penelitian ini (+family) dan semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberi masukan

  selama penyelesaian Tugas Akhir ini.

  Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, serta jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi banyak pihak dan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut.

  Yogyakarta, Mei 2008 Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL………………………………………………………………i LEMBAR PERSETUJUAN………………………………………………………ii LEMBAR PENGESAHAN……………………………………………………....iv HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………………..v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………………………………….vi ABSTRAK……………………………………………………………………….vii

  

ABSTRACT ………………………………………………………………………viii

  LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI………………….....ix KATA PENGANTAR…………………………………………………………….x DAFTAR ISI……………………………………………………………………...xi DAFTAR TABEL……………………………………………………………….xiii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………….....xiv

  BAB I PENDAHULUAN…………………………………………….......1 A. Latar Belakang………………………………………………...1 B. Rumusan Masalah ……………………………………………8 C. Tujuan Penelitian ……………………………………………..8 D. Manfaat Penelitian…………………………………………….9 BAB II DASAR TEORI …………………………………………………10 A. Persepsi……………………………………………………....10 1. Pengertian Persepsi………………………………………10 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi …………….13 3. Jenis Persepsi…………………………………………… 14 Aspek-aspek Persepsi…………………………………….15 B. Bullying …………………………………………………………….16 1. Pengertian Bullying ……………………………………...16 2. Aspek-aspek dalam Bullying……………………………. 19 3. Bentuk - bentuk Bullying ………………………………..20 4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Bullying.. 23 C. Korban Bullying……………………………………………….. 26

  D.

  Persepsi Korban terhadap Fenomena Bullying di Sekolah…..27

  BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………….29 A. Jenis Penelitian ………………………………………………29 B. Definisi Operasional …………………………………………29 C. Subjek Penelitian …………………………………………….30 D. Metode dan Alat Pengumpulan Data ………………………..31 E. Analisis Data ………………………………………………...33 F. Pemerikasaan Keabsahan Data ……………………………...36 1. Kredibilitas …………………………………………..36 2. Dependabilitas ……………………………………….38 BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN ………………..40 A. Pelaksanaan Penelitian ………………………………………40 B. Hasil Penelitian ……………………………………………...41 C. Pembahasan ………………………………………………….81 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………..93 A. Kesimpulan ……………………………………………...…..93 B. Saran ……………………………………………………...….93 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………... 95 LAMPIRAN……………………………………………………………………..99

  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kode Organisasi Data……………………………………………35Tabel 3.2 Kode Analisis Data Wawancara…………………………………35Tabel 3.3 Rangkuman Hasil Penelitian…………………………………….79

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. WWCR1, S1, 210108........................................................................99 Lampiran 2. WWCR2, S1, 150308......................................................................112 Lampiran 3. WWCR1, S2, 240208......................................................................119 Lampiran 4. WWCR2, S2, 120308......................................................................131 Lampiran 5 WWCR1, S3, 240208.......................................................................139 Lampiran 6 WWCR2, S3, 100308.......................................................................152

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sekolah harus menjadi tempat dan lingkungan yang aman karena

  menjadi tempat belajar dan berkembang bagi anak (Neser, Ovens, Merwe, Morodi dan Ladikos, 2002), namun berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa sekolah telah menjadi tempat yang tidak aman karena terkontaminasi oleh berbagai bentuk kekerasan yang dapat membahayakan proses belajar. Hironimus Sugi (Indarini, 2007) menyatakan hasil kesimpulan dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 pada 18 propinsi di Indonesia. Kesimpulan tersebut menunjukkan bahwa sekolah bisa menjadi tempat yang berbahaya untuk anak-anak karena banyaknya bentuk kekerasan di sekolah.

  Kekerasan yang terjadi tidak hanya secara psikologis, namun juga bisa terjadi secara fisik. Contoh kekerasan psikologis adalah yang menimpa Fifi Kusrini, seorang gadis remaja berusia 13 tahun siswi SMP

  10 Bantar Gebang Bekasi. Ia ditemukan tergantung di kamar mandi tukang bubur sehingga ia mengalami depresi dan akhirnya bunuh diri (Bangu dalam www.batampos.co.id). Linda Utami, 15 tahun, siswi kelas 2 di SLTPN 12 Jakarta menggantung dirinya di kamar tidur hingga tewas karena depresi. Seperti pada kasus Fifi, teman-teman Linda sering mengejeknya karena ia tidak naik kelas.

  Contoh kekerasan fisik adalah yang terjadi pada Cliff Muntu, praja

  IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) pada tahun 2007. Cliff tewas karena budaya senioritas di IPDN yang menyertakan kekerasan fisik (Bangu, dalam). Korban lainnya adalah Muhamad Fadhil Harkaputra Sirath, 15 tahun, siswa kelas X SMA Pondok Labu Jakarta Selatan yang disiksa seniornya hingga mengalami patah-patah tulang. Fadhil dianiaya anggota geng Gazper yang beranggota ratusan siswa SMA 34 Jakarta Selatan. Selain Fadhil, puluhan murid laki-laki juga sering disiksa di dalam kamar mandi sekolah (Kompas, 2007).

  Kasus-kasus diatas hanya sebagian kecil contoh dari kekerasan yang terjadi di sekolah baik secara fisik maupun psikologis. Contoh lain misalnya, ada Franky Edward Damar di SMK Pelayaran Maritim Surabaya yang tewas saat mengikuti masa orientasi siswa (MOS) di sekolahnya. Di Tegal, tiga siswa SMP Negeri 8 dianiaya kepala sekolahnya. Korban tewas di tingkat sekolah dasar misalnya adalah yang terjadi pada Edo Rinaldo, siswa SD Santa Maria Immaculata, Pondok Bambu, Duren Sawit Jakarta 2007)..

  Fenomena kekerasan yang terjadi secara disengaja dalam periode waktu tertentu disebut bullying. Bullying adalah conduct problems yang termasuk gangguan perilaku pada anak. Conduct problems dan perilaku antisosial menunjuk pada tingkah laku dan sifat yang melanggar dari harapan orang tua, norma sosial, hak personal dan properti yang dimiliki oleh orang lain (McMahon & Estes dalam Mash dan Wolf, 1999). Smith dan Thompson (1991) dalam ed.gov menjelaskan bahwa bullying bertujuan menyebabkan korban terluka. Luka ini bisa berbentuk fisik ataupun psikologis. Korban jiwa karena penganiayaan fisik disebabkan karena perilaku kekerasan fisik yang dilakukan oleh pelaku, selain itu beberapa kasus, dimana korban melakukan bunuh diri, menunjukkan bahwa bullying dapat membuat korban putus asa sehingga melakukan bunuh diri.

  Menurut bentuknya, bullying dapat dikelompokkan dalam 5 jenis yaitu bullying fisik, bullying emosional, bullying seksual, bullying verbal, dan bullying relasional (Nesser, Ovens, Merwe, dan Morodi, dan Ladikos, 2002). Sedangkan Riauskina, Djuwita, dan Soesetio

  (popsy.wordpress.com) membedakan bentuk bullying sebagai berikut;

  kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku non verbal langsung, perilaku non verbal tidak langsung, dan pelecehan seksual.

  Bullying termasuk kedalam agresi. Agresi adalah perilaku yang

  verbal, ataupun dengan cara menghancurkan harta benda korban (Atkinson, Smith, & Bem, 2002). Dengan demikian, perilaku melukai yang dilakukan tanpa sengaja tidak bisa disebut agresi melainkan kekerasan. Helmi dan Soedarjo (1998) mengemukakan berbagai faktor penyebab agresi. Faktor internal misalnya kelainan kromosom, insting agresi, dan potensi bawah sadar dimana seseorang memiliki dorongan merusak diri sendiri namun operasionalisasinya ditujukan pada orang lain. Faktor belajar sosial yaitu proses meniru perilaku yang terjadi dalam masyarakat. Selain itu juga terdapat faktor situasional dimana korban dan pelaku sering bertemu. Teori dominansi (Dunbar, Bjorklund & Pellegrini, 2000) dan bukti empiris (Pellegrini dan Stayer dalam Pellegrini dan Bartini, 2000) menunjukkan bahwa agresi lebih sering terjadi saat individu memasuki kelompok sosial baru dan pelaku berusaha mendapatkan dominansi status diantara teman sebayanya.

  Pelaku bullying menggunakan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya (Sindo, 2007). Respon dari korban bullying pun bermacam- macam, ada yang melawan, melaporkan pada pihak yang berwenang, ataupun memendamnya dan memilih untuk tidak datang ke sekolah. Antara tahun 2002-2005 ada sekitar 30 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Dalam kasus-kasus tersebut anak-anak terdorong berbuat nekat karena diejek, dicemooh, dan dimana korban melakukan bunuh diri, hal ini merupakan respon yang ekstrim dari korban dalam menunjukkan ketidakberdayaannya untuk menghindari ejekan dan cemoohan yang melukai mereka secara psikologis.

  Respon korban yang beraneka ragam ditentukan oleh pemahaman dan pemaknaan korban terhadap situasi bullying yang dialaminya. Persepsi adalah proses pemahaman seseorang ketika mengenali stimulus tertentu yang ditangkap oleh panca indranya (Walgito dan Mahmud dalam Ernita, 2004), lalu diproses di otak untuk dihubungkan dengan pengalaman masa lalu, diorganisasikan (Ruch dalam Budi, 2007) dan kemudian diberi makna untuk selanjutnya digunakan dalam pengambilan keputusan mengenai respon yang akan dilakukan (www.sabda.org).

  Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sosial secara umum (Sutaat, 2007). Sarwono (dalam Sutaat, 2007) menyebutkan bahwa persepsi bersifat subjektif karena dipengaruhi pengalaman-pengalaman, cara berpikir, perasaan, dan minat masing- masing individu. Respon korban dalam menghadapi bullying akan ditentukan oleh persepsinya yang bersifat subjektif. Dengan demikian respon setiap orang pun bersifat subjektif. Persepsi korban terhadap fenomena bullying adalah proses

  bullying

  penangkapan, pemahaman, dan pemberian makna terhadap stimulus yang berasal dari pelaku, guru, orang tua, sesama korban, teman, dan menentukan respon terhadap bullying. Persepsi korban terkait dengan faktor-faktor personal didalam dirinya, persepsinya terhadap lingkungan disekitarnya, dan juga respon yang akan diambil. Pengalaman masa lalu dan lingkungan sekitar mempengaruhi cara pandang korban terhadap kekerasan sehingga turut mempengaruhi persepsi korban terhadap bullying .

  Bullying dapat membentuk respon berupa konsep diri yang negatif

  pada korban dan menghilangkan kepercayaan diri. Hal ini karena korban beranggapan ada sesuatu yang salah pada dirinya (www.nobully.org.nz/advicek.htm). Hilangnya kepercayaan diri mengakibatkan kerusakan konsep diri, sehingga dapat menimbulkan respon yang ekstrim seperti bunuh diri. Bullying dapat menimbulkan dampak negatif pada korban seperti menurunkan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa, sehingga menimbulkan penurunan prestasi akademik. Korban bullying juga dapat mengalami gangguan psikologis secara umum dan memiliki kemampuan penyesuaian sosial yang rendah (Kochenderfer-Ladd dan Skinner; Nansel dalam Raskauskas dan Stoltz, 2007). Secara spesifik, indikator yang nampak pada korban bullying yaitu meningkatnya kecemasan, munculnya simptom-simptom depresi, dan penilaian harga diri yang rendah (Grills dan Ollendick; O’Moore dan Kirikham, dalam Raskauskas dan Stoltz, 2007). Terdapat pula hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara bullying dengan

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riauskina et al.

  , korban mempunyai persepsi bahwa pelaku

  (popsy.wordpress.com)

  melakukan bullying karena tradisi, karena balas dendam sebab terhadap perlakuan yang dulu diterimanya (menurut korban laki-laki), karena ingin menunjukkan kekuasaan, karena marah pada korban yang tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, karena ingin mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan), dan karena iri hati (menurut korban perempuan). Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena berpenampilan menyolok, karena tidak berperilaku dengan sesuai, karena berperilaku dengan tidak sopan, dan karena adanya tradisi. Namun dari kesimpulan hasil penelitian Juwita (Kompas, 2007) diketahui bahwa alasan pelaku untuk menyakiti biasanya dicari-cari untuk membenarkan perilaku mereka. Karena itu kesalahan sebetulnya tidak terdapat pada diri korban.

  Jika lingkungan berpendapat bahwa bullying adalah hal yang wajar, kecil kemungkinan korban akan mendapatkan dukungan untuk menyelesaikan masalahnya. Namun jika korban merasakan bahwa bullying sangat menyakitkan secara fisik dan psikis, dan ia menemukan perbedaan pandangan itu dengan lingkungannya, korban akan merasa tidak berdaya karena merasa tidak mendapatkan bantuan. Berdasarkan survei terhadap guru-guru di tiga SMA di kota besar dipulau Jawa, ada pandangan bahwa penggencetan dan olok-olok merupakan hal biasa dan tidak perlu sekali-kali tidak akan berdampak buruk bagi kondisi psikologi siswa (Sindo, 2007). Terdapat pula pandangan orang tua bahwa bullying hanya merupakan ujian kehidupan bagi anak agar menjadi pribadi yang tangguh ().

  Data yang diperoleh dari survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap 250 guru dan orang tua di berbagai daerah di Indonesia, diketahui bahwa 94,9% peserta yang hadir menyatakan bahwa bullying memang terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia (Yayasan Sejiwa, 2008). Faktanya, penelitian terhadap bullying di Indonesia masih relatif baru dan jarang dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah ini.

  Berdasarkan uraian sebelumnya diketahui bahwa persepsi menentukan respon korban yang membawa dampak tertentu bagi diri korban. Karena itu, dalam penelitian ini peneliti ingin memahami fenomena bullying dari sudut pandang korban dan bagaimana ia mempersepsikan bullying yang terjadi padanya B.

Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang permasalahan dan pengamatan peneliti, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah persepsi korban bullying terhadap fenomena bullying yang terjadi di sekolah ?

Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi korban bullying di sekolah terhadap fenomena bullying yang terjadi di sekolah. Persepsi korban penting untuk diketahui untuk melihat bagaimana korban menerima, memaknai, dan memahami bullying yang dialaminya. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk melihat bagaimana korban menentukan respon terhadap bullying.

  Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi peneliti lain di bidang Psikologi, terutama mengenai perilaku bullying di sekolah dengan melihat fenomena bullying dari sudut pandang korban.

  Bagi orang tua dan guru : Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai perilaku bullying yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi siswa. Dengan demikian orang tua dan guru dapat turut mengawasi dan menolong bila seseorang menjadi korban bullying.

  b.

Bagi masyarakat :

  Informasi berdasarkan hasil penelitian ini bullying dapat menimbulkan dampak negatif pada korban.

  Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat ikut memperhatikan masalah-masalah yang terjadi dikalangan pelajar termasuk memberi contoh berperilaku saling menghormati dalam masyarakat.

  c.

Bagi peneliti lain :

  Penelitian ini dapat menyumbangkan pengetahuan bagi penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan remaja dan kasus bullying.

BAB II DASAR TEORI A. Persepsi 1. Pengertian Persepsi Persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002)

  adalah tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu, atau bisa disebut serapan. Arti lainnya adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indranya.

  Persepsi dapat juga diartikan sebagai penelitian yang dilakukan oleh seseorang dengan mengintegrasikan sensasi kedalam percepts objek, dan bagaimana kita selanjutnya menggunakan percepts objek itu untuk mengenali dunia (Atkinson, Smith & Bem, 1999).

  Walgito dan Mahmud (dalam Ernita, 2004) mengartikan persepsi sebagai proses diterimanya stimulus oleh reseptor, yang diteruskan ke otak sehingga individu menyadari apa yang diperolehnya melalui pengindraan tersebut. makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan- hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak (id.wikipedia.org).

  Persepsi diartikan oleh Ruch (dalam Budi, 2007) sebagai proses tentang petunjuk sensori yang diorganisasikan dengan pengalaman masa lalu untuk memberikan suatu gambaran utuh yang berstruktur dan memiliki makna tentang suatu situasi.

  Atkinson dan Hilgrad (dalam Budi, 2007) mengemukakan bahwa persepsi merupakan proses menerjemahkan dan mengorganisasikan pola stimulus pada lingkungan. Sementara itu, persepsi diartikan oleh Gibson dan Donely (dalam Budi, 2007) sebagai proses pemaknaan yang dilakukan individu terhadap lingkungan.

  Persepsi diartikan sebagai proses bagaimana seseorang menangkap informasi secara individual, sehingga membentuk apa yang dipikirkan, mendefinisikan dan menentukan mana yang penting, dan selanjutnya menentukan pengambilan keputusan (). Sarwono (dalam Sutaat, 2007) mengungkapkan bahwa persepsi bukan hanya pengenalan tetapi juga evaluasi dan bersifat inferensional (menarik kesimpulan).

  Dengan demikian persepsi dapat dipahami sebagai proses ditangkap oleh pancaindranya, lalu diproses di otak untuk dihubungkan dengan pengalaman masa lalu, diorganisasikan, dan diberi makna untuk mendapatkan suatu gambaran utuh, sehingga dapat digunakan dalam mengambil keputusan dan menarik kesimpulan.

  Faktor-faktor yang menentukan persepsi seseorang menurut Rakhmat (dalam Budi, 2007) adalah kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan kondisi personal. Persepsi ditentukan oleh karakteristik orang yang menangkap dan merespon stimuli.

  Gibson (dalam Budi, 2007) berpendapat bahwa persepsi menyangkut kognisi (pengetahuan) individu yang mencakup penafsiran objek, tanda, dan pengalaman sebelumnya. Sementara itu, Krech dkk (dalam Budi, 2007) berpendapat bahwa dua faktor utama yang menentukan persepsi adalah pengalaman masa lalu dan faktor pribadi.

  Sutaat (2007) menyebutkan bahwa persepsi yang merupakan proses psikologis dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sosial secara umum. Sarwono (dalam Sutaat, 2007) menyebutkan bahwa persepsi bersifat subjektif karena dipengaruhi pengalaman-pengalaman, cara berpikir,

  Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah kondisi personal individu, kebutuhan, pengalaman masa lalu, karakteristik individu, lingkungan sosial, dan kognisi yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, cara berpikir, perasaan, dan minat.

  Dikemukaka terdapat dua macam persepsi yang dimiliki setiap individu, yaitu : a.

Persepsi Kongkret

  Persepsi kongkret adalah proses penerimaan, pemahaman, dan pemaknaan terhadap stimulus yang dapat diterima secara langsung oleh panca indra.

  Persepsi ini membuat seseorang lebih cepat dalam menangkap informasi yang nyata dan jelas melalui kelima indra yang terdiri dari penglihatan, penciuman, peraba, perasa, dan pendengaran. Seseorang menerima informasi murni seperti apa yang ditangkapnya dan tanpa mencari arti tersembunyi maupun menghubungkan gagasan atau konsep.

  b.

Persepsi Abstrak

  Persepsi abstrak adalah proses penerimaan, proses yang lebih kompleks karena pemahaman dan pemaknaan yang dilakukan lebih melibatkan unsur-unsur non fisik.

  Persepsi abstrak memungkinkan anak menangkap sesuatu yang abstrak, mengerti dan percaya pada apa yang tidak bisa dilihat sesungguhnya. Seseorang menggunakan persepsi abstrak saat menggunakan intuisi, intelektual, dan imajinasi. Dengan demikian diketahui bahwa terdapat dua jenis persepsi yaitu persepsi kongkret dan persepsi abstrak. Persepsi kongkret adalah proses penerimaan, pemahaman, dan pemaknaan terhadap stimulus yang diterima langsung oleh panca indra, sementara persepsi abstrak adalah proses penerimaan, pemahaman, dan pemaknaan terhadap stimulus yang melibatkan unsur-unsur non fisik.

  Seperti dikemukakan oleh Irawanto (1996), aspek-aspek persepsi terdiri atas : a.

  Perhatian (attention), yaitu bagaimana kepekaan individu terhadap stimulus yang datang.

  b.

  Stimulus ambigu, yaitu ketidakjelasan ataupun ketiadaan c.

  Penyimpangan pengamatan (perceptual bias), yaitu distorsi atau kesalahan dalam menerima informasi yang datang. d.

  Penelusuran nyata (overt research), yaitu penelusuran informasi secara aktif yang terkait dengan kecepatan dan keluasan dalam mengemukakan masalah yang dikaitkan dengan memori dan pengalaman sebelumnya.

  Dengan demikian diketahui bahwa persepsi memiliki beberapa aspek yaitu perhatian, stimulus ambigu, penyimpangan pengamatan, dan penelurusan nyata.

  B.

   Bullying 1.

Pengertian Bullying

  Dikemukakan oleh Limber and Nation (1997), bullying pada anak-anak dipahami sebagai pengulangan, dari perlakuan negative yang dilakukan oleh seorang atau beberapa orang anak untuk menyerang atau menekan anak lain. Bullies adalah para pelaku bullying, sedangkan bullied adalah korban dari perilaku bullying.

  Menurut Dorothea Ross (dalam ed.gov), bullying mengarah pada usaha yang tidak bertujuan dan biasanya tidak terprovokasi psikologis pada satu atau lebih korban.

  Ratna Juwita (Kompas, Mei 2007) mendefinisikan bullying sebagai tindakan menyakiti fisik dan psikis yang terencana dari pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap pihak yang dianggap lebih lemah. Alasan untuk menyakiti biasanya dicari-cari untuk membenarkan perilaku mereka.

  Besag (1989) dalam ed.gov mendefinisikan bullying sebagai serangan berulang secara fisik, psikologis, sosial, atau verbal oleh mereka yang memiliki kekuatan pada mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk bertahan, dengan tujuan menyebabkan tekanan untuk keuntungan atau kepuasan mereka sendiri.

  Lane (1989) dalam ed.gov menyimpulkan bahwa bullying termasuk setiap aksi atau aksi yang berimplikasi, seperti mengancam, bertujuan untuk menimbulkan ketakutan dan tekanan psikologis pada orang lain. Perilaku ini sudah diulangi lebih pada satu kesempatan. Definisi harus disertai bukti dari mereka yang terlibat atau merasa takut.

  Johnstone, Munn, dan Edwards (1991) dalam ed.gov mendefinisikan bullying sebagai kesengajaan, keinginan yang disadari untuk melukai, mengancam atau menakuti seseorang.

  Farrington (1993) dalam ed.gov mendefinisikan bullying atau sekelompok orang yang memiliki kekuatan lebih tinggi pada seseorang yang memiliki kekuatan lebih rendah.

  Smith dan Thompson (1991) dalam ed.gov menjelaskan bahwa bullying bertujuan menyebabkan korban terluka. Luka ini bisa berupa secara fisik atau psikologis. Sebagai tambahan, tiga kriteria yang membedakan bullying dari agresi: tidak dipancing, timbul secara berulang, dan bullies (pelaku) lebih kuat dari korban atau merasa lebih kuat.

  Tattum (1989) dalam ed.gov mendefinisikan bullying sebagai kesengajaan, dorongan yang disadari untuk melukai orang lain. Dapat terjadi pada suatu keadaan dan secara singkat, atau secara terus menerus dan dalam waktu yang lama. Sebagian korban jarang membalas atau mempertahankan diri, sebagian lagi cenderung melakukan agresi reaktif (D. Schwartz dalam Mc Devitt dan Ormrod, 2004).

  Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (popsy.wordpress.com) mendefinisikan school bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa atau siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

  Yayasan Sejiwa (2008) mendefinisikan bullying sebagai penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan yang dilakukan seseorang yang dilakukan berulang kali dan dengan sengaja dengan tujuan untuk membuat korban merasa depresi dan tidak berdaya.

  Dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan suatu keadaan dimana terdapat tindakan yang menekan secara fisik maupun psikologis oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah untuk membuat korban tertekan dan merasa tidak berdaya. Selain itu terdapat tiga hal pokok yang membedakan

  bullying dari perilaku agresi, yaitu bukan membalas perilaku

  korban, timbul secara berulang, dan terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku bullying dan korban.

  Situasi bullying memiliki enam faktor yang penting (Neser, et all, 2002): a.

  Intensi untuk menyakiti.

  Pelaku bullying menemukan kesenangan dalam mengganggu atau berusaha mendominasi korbannya, walaupun korban sudah tampak tertekan.

  b.

  Intensitas dan durasi.

  Bullying berlanjut dalam suatu periode dan

  tingkat keparahan bullying mempengaruhi tingkat kerusakan harga diri korban.

  c.

Karakteristik sifat-sifat tertentu dari korban

  bahwa siswa yang menjadi korban kurang memiliki kemampuan sosial, jarang melindungi diri sendiri atau membalas perlakuan para pelaku bullying. Karakteristik pokok dari korban bullying adalah harga diri yang rendah dan kecemasan sosial yang tinggi (Lane & Slee dalam Ma, 2001).

  d.

  Kurangnya dukungan.

  Korban merasa terisolasi dan selalu diawasi. Seringkali, korban takut untuk melapor karena khawatir akan adanya pembalasan.

  e.

Konsekuensi

  Kerusakan harga diri korban berlangsung lama, dan korban cenderung menarik diri dari aktivitas sekolah, atau mungkin juga menjadi agresif. Aspek-aspek dalam bullying adalah adanya intensi untuk menyakiti korban, berlangsung dalam sebuah periode waktu, adanya karakteristik tertentu dari korban, kurangnya dukungan terhadap korban, dan menyebabkan kerusakan harga diri pada korban.

  Bentuk-bentuk bullying adalah sebagai berikut (Nesser et all, 2002): Bullying fisik

  Bentuk bulying fisik termasuk meninju, menusik, mencekik, menjambak rambut, memukul, menggigit, dan menggelitiki dengan keterlaluan.

  b.

  Bullying emosional

  Bentuk bulying emosional termasuk menolak, memeras, memfitnah, menghina, mendaftarhitamkan, memanipulasi teman, mengisolasi, dan menyingkirkan teman sebaya c.

  Bullying seksual Bentuk bulying seksual termasuk mempertontonkan kemaluan (ekshibisionisme), mengintip (voyerisme), pelecehan seksual, kekerasan seksual, dan penyiksaan yang ditimbulkan oleh kontak secara fisik dan mengeroyok.

  d.

  Bullying verbal Bentuk bulying verbal termasuk perbuatan seperti memanggil dengan nama panggilan yang menyakitkan, mengusik, dan membuat gosip.

  e.

  Bullying relasional Bentuk bullying relasional termasuk mengeluarkan seorang anak dari suatu aktivitas, biasanya terjadi saat waktu istirahat pelajaran. Sedangkan Riauskina, et al (popsy.wordpress.com) a.

Kontak fisik langsung

  Bentuk bullying kontak fisik langsung adalah perilaku yang menyakiti korban langsung secara fisik.

  Diantaranya adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.

  b.

  Kontak verbal langsung Bentuk bullying kontak verbal langsung adalah perilaku intimidasi secara verbal seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.

  c.

  Perilaku non-verbal langsung Bentuk bullying non-verbal langsung adalah ekspresi wajah ataupun gesture yang bertujuan untuk menyakiti korban secara psikologis. Contohnya yaitu melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.

Perilaku non-verbal tidak langsung

  Bentuk bullying non-verbal tidak langsung adalah perilaku yang bertujuan melukai korban secara psikologis dengan cara yang tidak langsung. Contohnya yaitu mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

  e.

Pelecehan seksual

  Bentuk bullying seksual adalah perilaku yang bertujuan melukai korban secara seksual. Bentuk ini kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal. Contohnya yaitu menyentuh korban dengan tidak sopan, ataupun mengucapkan kata-kata yang merupakan pelecehan seksual. Dengan demikian diketahui bahwa bullying dapat dikelompokkan kedalam lima bentuk yaitu kontak fisik langsung, kontak verbal langsung, perilaku non-verbal langsung, perilaku non-verbal tidak langsung, dan pelecehan seksual. Pelecehan seksual kadang dikategorikan kedalam perilaku agresi fisik atau verbal.

  Bullying termasuk perilaku agresi sebagai bagian dari conduct behavior pada anak. Tiga perspektif besar dinamika

  Sigmund Freud (dalam Helmi dan Soedarjo, 1998) menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi bawah sadar, yaitu dorongan merusak diri (thanatos). Pada awalnya dorongan ini ditujukan untuk merusak diri sendiri, tapi berkembang dengan ditujukan pada orang lain.

  Operasinalisasi dorongan merusak ini dialihkan pada objek yang dijadikan kambing hitam, atau mungkin disublimasi agar dapat diterima oleh masyarakat (Baron & Byrne, 1994 dalam Helmi et al, 1998).

  Menurut perspektif ethiologist agresi disebabkan faktor insting dalam diri manusia dan perilaku agresi dilakukan dalam rangka adaptasi secara evolusioner. Terdapat perilaku agonistic aggresion, yaitu suatu perilaku agresi yang dilakukan dalam rangka teritori dan hirarki dominansi (Brigham, 1991; dan Dunkin,1995 dalam et al 1998). Pendapat ini menjelaskan tentang perilaku bullying yang dilakukan untuk menguasai atau mendominasi korbannya.

  Perspektif biologis mengemukakan penyebab perilaku agresi adalah peningkatan hormon testosteron (Tieger dalam Dunkin, 1995). Selain itu juga dapat terjadi karena adanya

  supermale XYY (Pearlman dan Cozby dalam et al 1998).

  Perspektif ini dipelopori oleh Albert Bandura (dalam

  

et al 1998). Menurutnya, perilaku agresi merupakan perilaku yang dipelajari dari pengalaman masa lalu melalui pengamatan langsung (imitasi), penguatan positif, ataupun karena stimulus diskriminatif.

  Orang tua dan budaya juga mempengaruhi cara berpikir anak. Anak yang dibesarkan dalam pola asuh dan budaya yang menekankan prasangka terhadap kelompok masyarakat atau kebudayaan lain dapat memiliki prasangka negatif terhadap karakteristik tertentu sehingga kemudian menyalurkannya melalui agresi (Penner dan Eron dalam Wisjnu, 1992).

  Dalam perspektif situasional, penyebab perilaku agresi bisa dikarenakan situasi dimana korban terlihat lemah.

  Pelaku dan korban sering berada dalam tempat yang sama sehingga memungkinkan terjadinya bullying. Teori dominansi (Dunbar et al, 2000) dan bukti empiris (Pellegrini dan Stayer dalam Pellegrini dan Bartini, 2000) menunjukkan bahwa agresi lebih sering terjadi saat individu memasuki diantara teman sebayanya; setelah dominansi ditetapkan, agresi akan menurun.

  Bullying semakin meningkat dengan adanya anggapan

  guru bahwa bullying akan berlalu seiring berjalannya waktu

  (), sehingga guru yang mengetahui situasi bullying tidak mengambil tindakan tegas.

  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab perilaku bullying secara internal adalah dorongan bawah sadar termasuk insting, adanya peningkatan hormon testosteron ataupun abnormalitas gen dan kerusakan otak, dan adanya rasa frustrasi. Menurut teori belajar sosial faktor penyebab perilaku agresi adalah pengamatan langsung dan pengalaman langsung dari orang lain. Sedangkan menurut perspektif situasional, perilaku agresi dapat disebabkan karena memasuki kelompok atau lingkungan sosial yang baru, tidak ada pencegahan dari pihak lain, dan adanya karakteristik tertentu dari target.

C. Korban Bullying

  Korban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) adalah orang, binatang, dan sebagainya yang menjadi menderita akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Dikemukakan oleh Helmi et al (1998) bahwa penilaian suatu perbuatan negatif atau tidak mengandung unsur subjektif sehingga jika seseorang mengalami perbuatan jahat, namun disebut sebagai korban. merupakan suatu keadaan dimana terdapat serangan

  Bullying

  ataupun tekanan secara fisik maupun psikologis yang dilakukan dengan sengaja tanpa terprovokasi, berulang-ulang, dan dilakukan oleh pihak yang lebih kuat pada pihak yang lebih lemah. Seseorang yang mengalami perlakuan bullying tidak selalu merupakan korban bullying. Hal ini terkait dengan persepsi seseorang bahwa ia lebih lemah dari pelaku, tidak bisa mempertahankan diri, dan merasakan dampak negatif dari bullying yang dialaminya.

  Korban bullying dapat diartikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang menderita tekanan secara fisik, verbal, maupun psikologis oleh orang lain atau sekelompok orang yang lebih kuat tanpa terprovokasi dan dilakukan berulang-ulang.

D. Persepsi Korban Terhadap Fenomena Bullying di Sekolah

  Persepsi korban terhadap fenomena bullying adalah pemahaman korban terhadap stimulus-stimulus yang diterima oleh panca indranya saat mengalami bullying, dan kemudian diproses untuk disimpulkan dan diberi makna. Proses ini melibatkan pancaindra korban, susunan syaraf dan otak dalam mengolah seluruh stimulus yang ditangkap.

  Persepsi yang dimaksud adalah saat korban melihat para pelaku melakukan bullying, merasakan perlakuan yang tidak mengenakkan atau melukai perasaan, dan lain-lain. Korban lalu mengolah stimulus-stimulus yang didapatkannya sehingga menghasilkan suatu pemahaman dan kesimpulan mengenai stimulus tersebut, penyebabnya, dan faktor-faktor lain yang menyertai stimulus tersebut seperti reaksi dari orang lain.

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riauskina et all

  

(popsy.wordpress.com) , korban mempunyai persepsi bahwa pelaku

  melakukan bullying karena tradisi, balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki), ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan), dan iri hati (menurut korban perempuan). Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban bullying karena berpenampilan menyolok, tidak berperilaku dengan sesuai, berperilaku dengan tidak sopan, dan karena adanya tradisi. penelitian dilakukan untuk memahami suatu fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatasi (Poerwandari, 2005). Pendekatan studi kasus dilakukan agar memperoleh pemahaman utuh dan terintegrasi mengenai hubungan berbagai fakta dan dimensi dari sebuah kasus.

  Dalam penelitian ini peneliti ingin mengungkap persepsi korban terhadap fenomena bullying yang terjadi di sekolah. Dengan

  bullying

  demikian, peneliti tidak berusaha menerima ataupun menolak dugaan, namun bermaksud untuk mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai kasus yang diteliti.

B. Definisi Operasional

  Untuk menghindari kesalahan penafsiran, berikut ini diberikan definisi operasional variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini.

  Fenomena Bullying yang terjadi di Sekolah. adalah suatu keadaan dimana terdapat tindakan yang

  Bullying

  menekan secara fisik maupun psikologis oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah untuk membuat korban tertekan dan merasa tidak berdaya Korban bullying adalah seseorang yang mempersepsi dirinya menjadi korban perlakuan bullying yang dilakukan oleh pelaku. Korban menerima bullying, merasakan dampak negatifnya, dan tidak bisa mempetahankan diri dari pelaku.

  Persepsi korban bullying adalah proses penerimaan, pemberian makna, dan pemahaman korban terhadap stimulus yang berupa perilaku

  bullying, terkait dengan bentuk, penyebab, dan situasi yang menyertai

  terjadinya bullying. Proses persepsi melibatkan panca indra korban, susunan syaraf dan otak dalam meneriman dan mengolah seluruh stimulus yang ditangkap untuk kemudian digunakan dalam menentukan respon.

C. Subjek Penelitian

  Pemilihan subjek dalam penelitian ini didasarkan pada kostruk operasional atau disebut operational construct sampling (Poewandari, 2005). Subjek dipilih berdasarkan tujuan penelitian sehingga dapat memberikan gambaran langsung mengenai fenomena yang diteliti. perempuan, pernah mengalami situasi bullying di sekolah, dan merasa diri sebagai korban bullying yang dilakukan oleh siswa lain, maupun oleh guru di sekolah.

D. Metode dan Alat Pengumpulan Data

  Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan, maka penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dimana peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang telah direncanakan sebelumnya walaupun urutan pertanyaan masih bisa berubah. Selain itu terdapat kemungkinan tambahan maupun pengurangan pertanyaan yang menyesuaikan dengan situasi pada saat wawancara. Seperti diungkapkan oleh Poerwandari (2005) bahwa dalam proses wawancara perlu disertai pedoman umum mengenai masalah-masalah yang akan ditanyakan.

  Dalam wawancara yang akan dilakukan dalam penelitian ini, masalah pokok yang akan digali adalah mengenai persepsi subjek sebagai korban terhadap fenomena bullying yang pernah dialaminya. Adapun secara pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan adalah seputar :

  1. Latar belakang dan cara pandang korban terhadap kekerasan yang akan mempengaruhi persepsinya terhadap bullying.

  2. Bentuk-bentuk bullying.

  a.

  Bullying Fisik Misalnya, memukul, mendorong, menggigit, ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain.

  b.

  Bullying Verbal Langsung

  Misalnya, mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.

  d.

  Bullying Non Verbal Langsung Misalnya, melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam e. Bullying Non Verbal Tidak Langsung

  Misalnya, mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

  f.

  Bullying Seksual Misalnya, menyentuh korban dengan tidak sopan, ataupun mengucapkan kata-kata yang merupakan pelecehan seksual. Penyebab terjadinya bullying di sekolah.

  4. Durasi waktu terjadinya bullying.

  5. Reaksi dari orang lain disekitar korban terhadap fenomena bullying .

  a.

  Reaksi orangtua b.

  Reaksi teman c. Reaksi guru 6. Saran dari subjek untuk menghentikan terjadinya bullying di sekolah.

E. Analisis Data

  Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data hasil observasi dan wawancara. Data diurutkan ke dalam pola, kategori, dan kesatuan hubungan sehingga dapat diinterpretasi dan ditarik kesimpulan. Proses analisa data yang diperoleh melalui wawancara dilakukan dengan mereduksi data. Data diseleksi, dikelompokkan dan diberi kode sesuai dengan pokok-pokok permasalahan lalu disajikan dalam bentuk display data sehingga mudah dipahami. Langkah terakhir yaitu membuat kesimpulan dari data yang telah terkumpul.

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis tematik. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang akan menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang terkait dengan tema itu, atau hal-hal diantara atau mendeskripsikan fenomena, dan secara maksimal dapat memunculkan interpretasi fenomena (Poerwandari, 2005).

  Dalam penelitian ini rangkaian proses analisis data adalah sebagai berikut:

  Data yang sudah didapatkan diorganisasikan dengan rapi, sistematis, dan selengkap mungkin. Highlen dan Finley dalam Poerwandari (2005) mengatakan bahwa dengan organisasi data yang baik akan memungkinkan peneliti untuk memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisis yang berkaitan dengan penyelesaian penelitian 2.

Koding

  Koding adalah pemberian kode-kode pada materi yang diperoleh yang bertujuan untuk mengorganisasi dan mensistematisasi data sehingga dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2005). Peneliti menyususn transkrip dalam tabel dan melakukan penomoran pada setiap paragraf transkrip. Setelah itu peneliti memberikan nama pada setiap berkas dengan kode tertentu. Kode ini merupakan simbol identitas subjek, urutan wawancara, dan tanggal dilakukannya wawancara sehingga mewakili berkas

  Tabel 3.1 Kode Organisasi Data

  Data Kode WWCR1, S1, 210108

  • Wawancara 1, Subjek 1, tanggal 21 Januari 2008

  WWCR2, S1, 150308

  • Wawancara 2, Subjek 1, tanggal 15 Maret 2008

  WWCR1, S2, 240208

  • Wawancara 1, Subjek 2, tanggal 24 Februari 2008

  WWCR2, S2, 120308

  • Wawancara 2, Subjek 2, tanggal 12 Maret 2008

  WWCR1, S3, 240208

  • Wawancara 1, Subjek 3, tanggal 24 Februari 2008

  WWCR2, S3, 100308

  • Wawancara 2, Subjek 3, tanggal 10 Maret 2008

  Tabel 3.2 Kode Analisis Data Wawancara

  Aspek -aspek Koding 1.

  Lbkel Latar belakang dan cara pandang korban terhadap kekerasan.

  2. Bentuk-bentuk bullying.

  a.

  BF Bullying Fisik b.

  BVL Bullying Verbal Langsung c.

  BNVL Bullying Non Verbal Langsung d.

  BNTL Bullying Non Verbal Tidak Langsung e.

  BS Bullying Seksual 3.

  Pyb Penyebab terjadinya bullying di sekolah.

  4. Drs Durasi waktu terjadinya bullying.

  5. Reaksi orang lain (orang tua, teman, guru).

  a. Reaksi orang tua RolO b.

  RolT Reaksi teman c.

  RolG Reaksi guru 6. Saran dari subjek.

  Srn 3.

  Analisa awal Peneliti melakukan analisa awal dengan membaca transkrip berulang-ulang untuk mendapatkan pemahaman tentang kasus yang diteliti, lalu menulis pemadatan fakta-fakta, tema-tema, maupun kata kunci yang didapatkan.

  4. Pengujian dugaan Data-data yang didapatkan akan memunculkan dugaan- dugaan. Dugaan yang berkembang merupakan kesimpulan sementara sehingga harus dipertajam dan diuji ketepatannya.

  5. Interpretasi Interpretasi merupakan usaha untuk lebih memahami data secara ekstensif dan mendalam. Interpretasi ini didasarkan pada pernyataan-pernyataan responden, sehingga didapatkan pemahaman atas struktur dan hubungan-hubungan yang terdapat didalamnya secara tidak langsung.

  Kredibilitas Kredibilitas dalam penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai tujuan dalam mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif adalah deskripsi mendalam yang menjelaskan kompleksitas apek-aspek yang terkait, dan interaksi dari berbagai aspek tersebut (Poerwandari, 2005).

  Kredibilitas merupakan istilah untuk mengganti konsep validitas yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut penelitian kualitatif. Meskipun demikian validitas juga digunakan beberapa peneliti kualitatif meskipun dalam pengertian berbeda dengan yang diyakini oleh peneliti kuantitatif- positivistik (Poerwandari, 2005). Stangl dan Sarankos dalam Poerwandari (2005), mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif validitas dicapai melalui orientasinya, dan upayanya dalam mendalami dunia empiris, dengan menggunakan metode paling cocok untuk pengambilan dan analisis data.

  Sarantakos dalam Poerwandari (2005) menyebutkan konsep-konsep validitas yang digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu :

  Validitas kumulatif Validitas kumulatif dicapai bila hasil temuan dari studi- studi lain mengenai topik yang sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.

  b.

  Validitas komunikatif

  Validitas komunikatif didapatkan dengan mengkonfirmasi data dan analisisnya pada responden penelitian.

  c.

  Validitas argumentatif Validitas argumentatif dicapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik resionalnya serta dapat dibuktikan kembali dengan melihat ke data mentah.

  d.

  Validitas ekologis Validitas ekologis menunjuk pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi alamiah dari partisipan yang diteliti.

  Lincoln dan Guba dalam Poerwandari (2005) mengemukakan konsep dependability untuk menggantikan konsep reabilitas dalam penelitian kualitatif. Dependabilitas adalah sejauh mana temuan penelitian kualitatif dapat dipastikan menunjukkan konsistensinya bila dilakukan oleh peneliti lain, di saat berbeda, dengan pendekatan dan instrumen yang sama.

  Untuk mengetahui reabilitas, dilakukan dengan cara-cara a.

  Koherensi Pemilihan metode yang sesuai untuk mencapai tujuan.

  b.

  Keterbukaan

  Sejauh mana peneliti membuka diri dengan memanfaatkan metode-metode yang berbeda untuk mencapai tujuan.

  c.

Diskursus

  Sejauh mana dan seintensif apa peneliti mendiskusikan temuan dan analisisnya dengan orang lain.

  Peneliti mencatat secara terperinci fenomena yang akan diteliti beserta aspek-aspek yang berkaitan, desain penelitian yang dilakukan, serta alasan pengambilan keputusan sehingga memungkinkan orang lain mempelajari prosedur, protokol, dan keputusan yang akan diambil. Data mentah dikumpulkan lengkap dan terorganisasi dengan baik sehingga memungkinkan orang lain untuk mempelajari data, mengajukan pertanyaan, atau melakukan analisis kembali.

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN A. Pelaksanaan Penelitian 1. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah orang yang pernah menjadi korban bullying dan masuk dalam kategori remaja akhir (14-18 tahun). Subjek sebanyak 3 orang yaitu : Subjek Nama Jenis Kelamin Usia Pendidikan Subjek 1 Cy Perempuan 17 tahun SMU Subjek 2 It Perempuan 18 tahun Kuliah (S1) Subjek 3 Bw Laki-laki 17 tahun SMU 2. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu dan tempat penelitian adalah sebagai berikut : Subjek Tanggal Tempat Pengumpulan Data

  1

  21 Januari 2008 Rumah subjek 1 Wawancara 1

  15 Maret 2008 Rumah subjek 1 Wawancara 2 2 24 Februari 2008 Kost subjek 2 Wawancara 1

  12 Maret 2008 Kost subjek 2 Wawancara 2 3 24 Februari 2008 Rumah subjek 3 Wawancara 1

  10 Maret 2008 Rumah subjek 3 Wawancara 2 Subjek 1 a.

Latar belakang dan cara pandang korban terhadap kekerasan

  Subjek adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Kedua adik subjek berjenis kelamin laki-laki. Didalam keluarga, subjek memiliki relasi yang baik dengan ibu dan adik keduanya (adik bungsunya). Ibu subjek adalah orang yang terdekat dengan subjek karena subjek sering menceritakan permasalahan yang dihadapinya. Selain itu, ibu subjek juga cenderung menuruti kemauan subjek dan memberikan kebebasan pada subjek untuk melakukan berbagai hal. Adik bungsu subjek bersikap lembut walaupun subjek bersikap keras sehingga subjek merasa cocok dengannya.

  “Baik, sama mama baik, sama Cy juga baik....”. (CT, no.2). “Baik.. lebih dekat.. ya sering cerita.. gitu, kalau ada masalah apa.. cerita.. gitu. Maksudnya.. sebagai tempat sampahnya gitu lho. (CT, no. 11-12). “...mama itu, bebas, ya terserah kamu berekspresi, terserah, tapi ya…kamu tau batasan dan bisa bertanggung jawab gitu.” (CT, no. 22-23). lembut, jadi aku cocok sama dia.” (CT, no. 15-16).

  Hubungan subjek dengan ayah dan adik pertamanya cenderung tidak baik. Subjek merasa tidak cocok dengan ayahnya yang sering berperilaku kasar, sering memukul dan memarahi jika subjek melakukan kesalahan. Subjek merasa ayahnya bersifat otoriter, memaksakan kehendak pada anak-anaknya. Subjek merasa asing dalam berhubungan dengan ayahnya. Sejak ayah subjek terkena penyakit stroke, subjek berusaha menjauh dari ayahnya. Dengan adik pertamanya, subjek merasa tidak cocok karena adik subjek bersifat keras. Jika subjek bersikap keras, adik subjek akan melawan lebih keras.

  “...Papa kan kasar.. gitu kan.. kasar banget.. terus Ch apa ya.. Aku bener-bener ngerasa nggak cocok dengan sikap-sikapnya itu. Ya apa ya.. aku ngerasa nggak cocok sama Ch aja.” (CT, no. 6-8).

  “Ya itulah, mukul, ya itu lah… mukul, terus, bentuk fisik.. kalau mental juga kadang ketekan kan. Misalnya kayak nggak dapat kasih sayang gitu. Aku jadi merasa sendiri.. merasa asing lah kalau dekat dia, apalagi kalau misalnya aku salah dikit dipukul, dan segala macam.” (CT, no. 349-352).

  “Apa ya, kalo papa itu.. Jadi dia itu keras dan anak-anaknya itu harus seperti yang diinginkan gitu lho. Intinya sepertinya kok aku ngerasanya seperti jadi bonekanya ciptaannya papa. Gitu, jadi kan..anak-anak nggak diberi kebebasan.” (CT, no. 19-21).

  Subjek tidak setuju terhadap hukuman secara fisik yang diberikan oleh orang tua pada anaknya. Menurut subjek, hukuman fisik akan membuat anak menjadi lebih keras lagi terhadap orang lain. Selain itu, bekas dari hukuman fisik dapat terlihat oleh orang sebaiknya secara verbal dalam bentuk nasehat, atau dalam bentuk yang lain selain secara fisik.

  “Nggak senang. Soalnya itu bukan mendidik, tapi malah apa ya.. ngajarin anak untuk lebih keras lagi, jadi lebih kasar lagi. Jadi kan aku berpikir, “Aduh gua ni dirumah udah dikasarin, gini..gini..gini jadi wajar dong diluar bisa dikasarin, gua bisa ngasarin orang.” Seperti itu, jadi ya.. nggak suka aja. Nggak baik banget. Itu kan udah kekerasan kan.. Nggak suka.” (CT, no. 28-32). “Ya setuju sih, tapi bentuknya itu bukan bentuk fisik gitu lho..” (CT, no. 362).

  “Ya kayak misalnya lebih ke mental lah, lebih ditekankan. Misalnya ya, kalau misalnya dengan omongan nggak cukup, diapain lah, pokoknya jangan sampai ke fisik, soalnya itu kan sudah menyeramkan, dan itu jadi beban mental juga. Apalagi kalau dilihat teman-temannya, hasil pukulannya itu kan memalukan banget.” (CT, no. 364-367).

  Subjek tidak setuju terhadap kekerasan dalam masyarakat walaupun dilakukan pada seorang penjahat karena hal itu berarti aksi main hakin sendiri, yang seharusnya bisa diselesaikan di pengadilan.

  “Nggak setuju.. kan. Main hakim sendiri kan. Pengadilan sudah ada gitu lho, kenapa mereka ngehakimin orang itu, apa mereka juga nggak pernah buat salah, kayak gitu.” (CT, no. 35-36).

  Subjek tidak setuju terhadap perploncoan di sekolah- sekolah karena merupakan ajang balas dendam yang menimbulkan sakit hati, sehingga berlanjut pada angkatan-angkatan selanjutnya. Perploncoan melanggar hak siswa untuk mendapatkan perlindungan dalam sekolah. Seharusnya siswa datang ke sekolah untuk menuntut ilmu, tapi di sekolah mereka justru mendapat kekerasan dari para seniornya.

  “Itu tu kaya ajang balas dendam gitu lho, soalnya, disekolahku juga gitu. Pas aku kelas satu juga, kelas dua kan sudah dihapus. Sampe kelas satu kita. Kaya IPDN gitu, jadi ajang perploncoan. Jadi angkatan atas ngebales dendam kebawahnya, itu kan sama aja.. kan harus.. kan mereka mendidik gitu.. Ya mereka jadi bukan mendidik, jadinya menimbulkan sakit hati....” (CT, no. 39-45).

  “Ya kan secara fisik kan, mereka mempunyai hak untuk perlindungan di dalam sekolah, dengan segala macem. Kenapa mereka jadi ya digebukkin.. ya dipukulin secara macam. Itu kan istilahnya sudah melanggar hak mereka. Melanggar apa yang seharusnya mereka terima.” (CT, no. 376-379). “Kayaknya aku ga bisa menerima segala bentuk intimidasi, istilahnya menyakitkan kan jadinya. Intimidasi bagaimana pun menyakitkan, aku nggak bisa menerima. Ngeliatin sedikit aja misalnya digebuk secara nggak jelas saja aku sudah kesal.. nggak bisa bullying seperti apapun.” (CT, no. 193-196 ).

  Subjek memiliki hubungan yang baik dengan ibu dan adik keduanya. Ibu subjek menjadi tempat bercerita bagi subjek dan memberikan kebebasan bagi subjek dalam berekspresi, sementara adik kedua subjek bersikap lembut pada subjek yang terkadang bersikap keras. Hubungan subjek dengan ayah dan adik pertamanya kurang baik. Hal ini dikarenakan ayah subjek yang keras dan otoriter sehingga subjek merasa terkekang kebebasannya. Adik pertama subjek bersifat melawan dengan lebih keras jika subjek bersikap keras terhadapnya, dengan demikian subjek merasa tidak cocok dengan adiknya.

  Subjek tidak setuju terhadap berbagai bentuk kekerasan. Kekerasan yang tejadi di masyarakat seharusnya tidak perlu walaupun dilakukan terhadap penjahat, karena sudah ada lembaga peradilan. Selain itu, subjek mempersepsi bullying sebagai suatu hal yang menyakitkan dan tidak dapat diterima karena melanggar hak siswa dalam mendapatkan lingkungan yang aman untuk belajar di sekolah. b.

Bentuk-bentuk bullying

  1). Bullying Fisik Dalam asrama di sekolah subjek, kekerasan fisik sering terjadi dalam bentuk pemukulan-pemukulan terutama saat subjek di kelas 1 dan di kelas 2. Sedikit kesalahan yang dilakukan korban dapat dijadikan alasan bagi pelaku untuk memukuli korban di kamar mandi. Subjek tidak menyaksikan langsung pemukulan tersebut, namun korban-korban pemukulan yang merupakan teman subjek sering menceritakan apa yang dialaminya disertai bukti-bukti luka pada tubuhnya.

  “Kalau sekolahku, waktu jaman masih kelas satu, asramanya yang aku tahu itu tu sampai ngegebukin.. terus kalau misalnya rapat, rapat bareng, gebukin gitu… terus kalau misalnya ada salah dikit, ditarik ke WC, itu di gebukkin. Gebuk-gebukkan seperti itu, pemukulan- pemukulan seperti itu yang terjadi.” (CT, no. 62-65).

  “Ngelihat langsung nggak pernah kejadiannya, cuma hasilnya lihat, lebam-lebam dimata, bengkak dibibir, sampai aku lihat bibirnya temanku pecah. Badannya biru- biru, mantanku juga aku lihat biru-biru semua badannya....” (CT, no. 292-294. ). “Tanya: Bagaimana anda mengetahui bahwa biru dan lebam-lebam itu sebagai ulah dari teman-temannya?” “Bukan teman, tapi angkatan atasnya. Ya mereka cerita.”

  Subjek tidak pernah mengalami langsung bullying secara fisik, namun subjek mengetahui bahwa teman-temannya yang berada di asrama sering menjadi koban. Menurut subjek,

  pelaku tidak bisa menyakitinya secara fisik, namun lebih menekan secara psikologis.

  “Enggak sih, dia nggak bisa nyakitin cewek, cuma lebih ke mentalnya itu.” (CT, no. 440). 2). Bullying Verbal Langsung

  Pelaku melakukan bullying verbal dengan mencela dan merendahkan subjek di depan teman-teman subjek yang lain dengan menyebut subjek perempuan yang genit seperti perempuan murahan.

  “...cuma nyindir, kadang-kadang.. ya ngatain “ih ganjen sih, gatel....” (CT, no. 131). “...yaitu yang dikatain, eh, ya sama dua-duanya itu menyakitkan banget.selama dua tahun berturut-turut. Ya sama sih sakitnya, yang kelas satu aku dijauhin itu selama setahun sampai gimana ya benar-benar mereka itu.. oh iya... waktu kelas satu mereka juga pernah ngatain aku apa ya, istilahnya kaya cewek murahan, kayak gitu...” (CT, no. 204-207).

  Selain subjek, pelaku juga melakukan bullying verbal langsung pada korban yang lain sehingga beberapa korban ada yang memilih untuk keluar dari sekolah.

  “Mm.. dihina-hina. Sampai gimana ya.. bener-bener, sampai ada yang keluar sekolah gara-gara nggak tahan gitu, “Mungkin itu di ceng-ceng, kaya apa itu dihina-hina, jadi sering di pacok-pacokan, dijodoh-jodohkan sampai dia nangis.. gitu pernah “(CT, no. 288-289).

  Pelaku membuat gosip yang buruk tentang subjek sehingga teman-teman subjek yang lain turut menjauhi subjek.

  “Mungkin karena mereka kesal, kesal dari situ numpuk, akhinya ngebuat satu kelas akhirnya marah sama aku. Pokoknya memprovokatori, memfitnah aku apa gitu aku lupa. Pokoknya mereka memfitnah aku.” (CT, no. 423- 425).

  Pelaku juga mempengaruhi guru olahraga subjek sehingga guru olahraga ini ikut memojokkan subjek saat subjek membicarakan masalahnya dengan guru BP.

  “...ternyata mereka itu ngebawa guru olahragaku. Dibawa, guru olahragaku ke BP. Terus guru olahragaku istilahnya juga gimana ya.. Ya istilahnya memang ini, memojokkan aku..” (CT, no. 276-277). “Pernah waktu itu di BP, guru olahragaku, cewek, mendukung temen-temenku yang menjauhi aku, seperti itu.” (CT, no. 265-266).

  Pelaku melakukan bullying verbal baik yang dikemukakan langsung pada subjek maupun dengan kata-kata yang dikemukakan langsung pada siswa-siswa yang lain untuk mempengaruhi mereka agar ikut mengucilkan subjek.

  3). Bullying Non Verbal Langsung Pelaku mempengaruhi teman-teman subjek sehingga teman-teman sekelas subjek ikut menampilkan ekspresi muka yang memusuhi subjek (ekspresi sinis). deket sama aku jadi mereka bertampang musuh ke aku....” (CT, no. 168-169).

  4). Bullying Non Verbal Tidak Langsung Pelaku dengan sengaja mempermalukan subjek dengan cara menulis nomor telepon subjek di papan data sekolah disertai kata-kata yang mengisyaratkan subjek adalah wanita pekerja seks komersial.

  “Waktu itu kan pagi-pagi, aku masuk sekolah. Terus disekolah kan ada papan data. Papan data itu ditulisin, ini cewek umur 17 tahun, masih virgin, nomer HP sekian,, terus apa sih… bayar berapa aja silahkan. Siap pakai gitu.. terus aku tadinya mikirnya, ah mungkin siapa gitu, bukan aku. Tapi aku lihat lagi nomernya, kok aku ingat, kok kayaknya kenal ya..baru aku sadar itu tu nomerku. Tadinya aku.. anak-anak satu kelas semuanya ketawa, terus nggak tahu siapa (yang menulis) terus aku langsung lapor ke BP. Akhirnya ada satu orang temenku, dia ngaku kalau sebenarnya itu dia yang nulis.” (CT, no. 105-111).

  Pelaku mengucilkan subjek dan juga mempengaruhi siswa-siswa yang lain agar menjauhi subjek saat subjek berada di kelas satu dan di kelas dua. Pelaku dan teman-teman sekelas subjek mendiamkan subjek sehingga subjek tidak dapat berinteraksi dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan di kelas.

  “Waktu jaman kelas satu, tempatku sampai benar-benar dijauhin, sama anak-anak. Aku nggak tahu salahku apa pokoknya benar-benar dijauhin banget, disana ada yang memprovokatori semua, satu kelas gitu, dijauhin banget. Terus.. ya sudah, aku terima terima aja. Terus, waktu masuk kelas dua awal, aku juga merasa dijauhin, tapi mereka nggak ekstrim ngejauhinnya kayak waktu kelas satu dulu, dijauhin.Aku sampe duduk sendirian, satu kelas kemana sendiri aku sampai nggak tahu. Jadi misalnya aku duduk di pojokan sendiri, mereka kumpul sendiri. Aku 122). 5). Bullying Seksual

  Subjek merasa dilecehkan oleh pelaku saat pelaku memegang dan menarik-narik Bra korban dari belakang. Selain pada subjek, pelaku juga melakukan hal itu pada siswa perempuan yang lain. Pelaku juga kadang-kadang meraba-raba payudara siswa perempuan yang lain.

  “Tangan dia ngerangkul atau gimana, tiba-tiba gimana, meluk-meluk nggak jelas. Ternyata setelah aku tahu sekarang, bukan cuma sama aku, sama teman-teman yang laen juga yang cewek-cewek terutama, sering banget megangin BH (Bra) orang.. diginiin (memeragakan menarik BH dari belakang), terus sering banget grepe-grepein (meraba-raba) temen-temenku. Aku juga nggak tahu kenapa, susu (payudara)nya itu dipegang.” (CT, no. 148- 152).

  Subjek pernah mendengar bahwa teman laki-lakinya mendapat pelecehan seksual oleh teman-temannya yang lain.

  Para pelaku membekap korban, memegang alat kelamin korban dan menstimulasinya.

  “...cowok gitu, diiniin lho.. ininya tu gimana ya.. dimasturbasi sama temen-temennya. Dia sendiri dimasturbasi sampai keluar spermanya sama teman- temannya. Dan itu dengan cara kekerasan, jadi dia dibekap terus diitu....” (CT, no. 74-76).

  c.

Penyebab terjadinya bullying di sekolah

  Penyebab perilaku bullying hanya dibuat-buat oleh pelaku sehingga pelaku mempunyai alasan untuk mem-“bully” korbannya.

  “Sengaja dicari kayaknya, dicari-cari kayak gimana caranya supaya orang itu bisa dijadiin korban.” (CT, no. 89-90).

  Subjek tidak tahu pasti mengenai penyebab pelaku mengganggu dirinya. Subjek merasa tidak pernah melakukan kesalahan pada pelaku (laki-lak). Subjek pernah marah pada pelaku karena mengganggu hubungan sujek dengan pacar subjek. Namun pelaku terus menerus mengganggu subjek, bahkan dengan mempermalukannya di depan siswa-siswa yang lain.

  “Apa ya.. bukan kesalahan sih, gimana ya, sama dia itu, jadi dia tu pernah berusaha, jadi aku sama cowokku yang dulu itu waktu kelas satu, yaitu dia berusaha ngehancurin hubunganku sama cowokku yang dulu. Nggak tahu kenapa, aku juga nggak tahu kenapa, mungkin temenku juga bilang dia emang sirik, atau segala macem aku juga nggak tahu... Berusaha ngehancurin hubungan itu, aku juga marah-marah ke dia, nggak tau itu apa itu kesalahanku atau gimana. Kebawa-bawa sampai kelas dua, sampai dia yang nulisin itu. Kalau bisa mempermalukan aku didepan umum lah.” (CT, no. 134-140).

  Subjek juga tidak mengetahui penyebab yang pasti mengapa pelaku (teman-teman perempuan) yang dulu merupakan teman dekatnya menjauhi dan mempengaruhi teman-teman sekelasnya agar mengucilkan subjek. Menurut subjek perasaan perempuan lebih peka, sehingga jika merasa tidak cocok pada seseorang, akan langsung menjauhinya.

  “Nggak tahu sih, mungkin mereka merasa gimana gitu kan “cewek” kan soalnya, aku ngerasa sih nggak pernah membuat mereka apa ya. Cuma aku nggak tahu kenapa mereka membuang aku. Kadang kalau cewek itu merasa “aduh, ga sreg, musuhin aja” ya kayak gitu, sampai sekarang sih.” (CT, no. 174-177).

  Selain itu, subjek menduga adanya kecemburuan dari para pelaku (perempuan) karena sejak awal masuk sekolah, subjek didekati oleh banyak siswa laki-laki. Hal ini menyebabkan para pelaku iri dan mengucilkan subjek.

  “...dulu gengku, itu empat orang itu kan, dulu yang pertama kali masuk SMA M kan, aku yang dideketin cowok yang banyak itu. Mungkin karena mereka kesal, kesal dari situ numpuk, akhinya ngebuat satu kelas akhirnya marah sama aku.” (CT, no. 421-424).

  d.

Durasi waktu terjadinya bullying

  Subjek mengalami perlakuan bullying dari siswa-siswa lain di sekolahnya selama 1 tahun lebih, sejak awal kelas 1 sampai awal kelas 2.

  “Setahun lebih. Kurang lebih sampai kelas dua awal-awal. Udah mulai masuk bulan September-an.” (CT, no. 184-185).

  e.

Reaksi orang lain

  1). Reaksi orang tua Ayah subjek tidak mengetahui pemasalahan subjek.

  Namun subjek menberitahukan masalah di sekolah pada ibunya. Ibu subjek mendukung dan menguatkan subjek.

  Selain itu, ibu subjek datang ke sekolah untuk membicarakan masalah subjek dengan guru Bimbingan Konseling di sekolah.

  “Sebenarnya hampir satu sekolah tahu semua masalah itu, cuma yang tahu rinciannya mama sama guru BP ku itu” (CT, no. 224-225). “Mama juga sampai rela datang ke sekolah. Pas waktu kelas dua juga seperti itu....” (CT, no. 229-230).

  2). Reaksi teman Teman-teman subjek terpengaruh oleh pelaku sehingga mereka menertawakan korban saat subjek diolok-olok oleh pelaku, dan juga mengucilkan subjek sehingga dikelas subjek duduk sendirian dan tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di kelas.

  “Ya mereka dukung.. dukung (pelaku) istilahnya kan. Maksudnya kan ikut ketawa, ikut gimana.” (CT, no. 142- 143).

  “Aku sampe duduk sendirian, satu kelas kemana sendiri aku sampai nggak tahu. Jadi misalnya aku duduk di pojokan sendiri, mereka kumpul sendiri. Aku sampai nggak tahu ada acara apa di kelas.” (CT, no. 120-122).

  Meskipun subjek dikucilkan oleh teman-temannya, masih ada teman subjek dari kelas lain dan juga pacar subjek pada saat itu yang mendukung subjek dalam menceritakan masalahnya pada guru BP.

  “Jadi pas cerita ke BP, aku sama temenku dari kelas sebelah, dari kelas A, yang dukung aku dia sama mantanku yang waktu itu.” (CT, no. 268-269). 2)

Reaksi guru

  Guru Bimbingan Konseling yang juga merupakan wali kelas subjek, tahu mengenai masalah subjek sejak awal dan terus memberikan dukungan pada subjek. Guru BK subjek memberikan pengarahan di kelas pada semua siswa agar memperbaiki situasi yang terjadi terhadap subjek. Meskipun pengarahan yang di berikan guru BK berpengaruh pada perilaku siswa-siswa yang lain, namun subjek merasa terdukung dan menjadi lebih kuat secara psikologis.

  “Ngebelanya itu, waktu kelas satu juga masalah itu aku bawa ke BP. Jadinya guru BPnya itu membela aku. Dia nenangin aku, membuat aku ngerasa safety kalau dekat dia. Mama juga sampai rela datang ke sekolah. Pas waktu kelas dua juga seperti itu, sampai guru BPku rela mau nyariin sekolah baru buat aku.” (CT, no. 227-230). “Ya dia berusaha juga buat ngingetin ke kelas, soalnya dia posisi sebagai wali kelas juga, ngasih tahu ke kelas juga seperti itu. Tapi ya gimana ya, nggak bisa berubah juga kelasnya. Ya sudah, jadinya dia back up aku terus, dukung aku terus, jadinya aku lebih deket ke dia.” (CT, no. 236-238).

  “...nggak berefek kalau ke anak-anak. Cuma ke pribadi aku sendiri efeknya.. ketika mereka terus melecehkan aku, istilahnya, ngebuat aku tambah kuat, tambah kuat, tambah kuat. Jadi aku, ngerasa.. ya sudah kalau mereka mau ngelecehin, ya terserah. Jadi aku ngerasa tambah kuat aja. Ke pribadi, soalnya aku ngerasa dia nge back up, ngedukung aku” (CT, no.242-246).

  Guru-guru yang lain mengetahui masalah subjek, namun mereka tidak peduli karena mereka merasa itu bukan tanggung jawab mereka. Tanggung jawab guru adalah memeberikan pelajaran bukan mengatasi masalah pergaulan siswa.

  “Masa bodoh.. biarin aja, maksudnya itu kan urusan.. nggak tahu sih, dari aku pribadi aku ngerasa kayak mereka ngomong “itu kan urusan kamu, bukan urusan kami, kami cuma didik kamu, belajar, selesai. Kalau kamu punya masalah pergaulan, itu kamu sendiri.. gitu lho. Seperti itu rata-rata gurunya.” (CT, no. 252-255). lain dalam menghadapi dan menyelesaikan masalahnya dengan teman-temannya, namun guru-guru di sekolah tidak mau tahu dalam masalah subjek dan bahkan ada yang membela pelaku.

  “Iya.. mengharapkan, cuma kadang-kadang mereka juga lebih mendukung temen-temenku sih.” (CT, no. 262).

  f.

Saran dari korban

  Agar tidak menjadi korban bullying, subjek menyarankan agar siswa-siswa di sekolah menghindari orang-orang yang senang mengintimidasi. Jika terlanjur menjadi korban, subjek menyarankan agar segera menyelesaikan masalah itu dengan pihak yang mempunyai otoritas seperti guru atau polisi.

  “.. kalau bisa ya dijauhin saja orang-orang seperti itu. Orang- orang yang mengintimidasi seperti itu dijauhin saja.” (CT, no. 321-322). “Diselesaikan, lebih baik sama pihak yang berwajib lah.” (CT, no. 327).

  “Kayak misalnya kalau disekolah kan guru, kalau diluar itu polisi juga ada.” (CT, no. 329).

  Subjek menyarankan agar guru-guru di sekolah tidak memihak pada kelompok siswa yang lebih besar, tapi bisa menjadi penengah bagi masalah-masalah yang terjadi di antara siswa.

  “Kalau dari sekolahnya sendiri tu, misalnya kayak guru-guru gitu jangan memihak lah. Ya kan biasanya gitu, guru memihak yang lebih besar, yang lebih berkelompok dan berkuasa. Ya kalau bisa guru tu ngambil sebagi penengah lah. Supaya anak- anaknya nggak merasa kok kayaknya tambah berat situasinya.“ g.

  Persepsi subjek terhadap bullying.

  Subjek 1 mempersepsi bullying sebagai suatu hal yang menyakitkan, dan membuatnya kesepian di sekolah. Penyebab

  

bullying yang terjadi pada subjek 1 tidak diketahui secara pasti namun diperkirakan karena pelaku (perempuan) iri atas subjek yang mendapatkan perhatian lebih dari siswa-siswa laki-laki sejak awal subjek 1 masuk sekolah, sedangkan pelaku lain ikut-ikutan mengintimidasi korban karena memanfaatkan situasi subjek 1 yang telah menjadi korban bullying oleh siswa lain.

Latar belakang dan cara pandang korban terhadap kekerasan

  Subjek adalah anak tunggal. Ayah subjek telah meninggal dunia sehingga subjek hidup berdua dengan ibunya. Sejak kuliah sampai saat ini subjek kost di Kota Yogyakarta, terpisah dengan ibunya yang tinggal di Kota Tegal. Hubungan subjek dengan ibunya baik dan sangat dekat.

  “...orang tua saya tinggal satu, tinggal mama. Saya deket banget sama dia soalnya dia sudah kayak teman, bukan kayak mama saya, tapi.. terus saya juga anak tunggal, jadi deket banget sama mama.” (IT, no. 11-13).

  Ibu subjek menerapkan pola asuh yang demokratis yang memberikan kebebasan walaupun tetap memberikan teguran jika subjek melakukan kesalahan. Subjek diberi kebebasan melakukan apapun yang diinginkannya dan mengungkapkan hal-hal yang tidak disukainya.

  “Kayaknya, mix, ini.. bebas sama demokratis. Kalau kamu nggak suka ya kamu ngomong gitu apa.. Terus kalau bebasnya, misalnya kalau aku pas pulang kerumah gitu, nginep gitu di temen, ya sudah, pokoknya asal kamu bener tujuan kesana, misalnya, main, ngobrol gitu ya nggak apa-apa.. tapi kalau misalnya dugem gitu, sampai malam ya nggak boleh, paling dugem sampai jam 12. Pokoknya ya dia orangnya.. ya kalau aku sih, lebih kebebasan daripada demokratis....” (IT, no. 20- 25).

  Tanya: Terus kalau dia menetapkan aturan itu gimana? Misalnya dia punya aturan-aturan, kayak tadi ya, dugem sampai jam 12 terus kamu melanggar itu? (IT, no. 20-25).

  “Ya nggak apa-apa, dia cuma bilang “Ya jangan diulangi lagi”. Dia orangnya nggak saklek....” (IT, no. 28-29).

  Saat subjek masih kanak-kanak, ibu subjek memarahi dan kadang mencubit jika subjek melakukan kenakalan. Subjek meniru perilaku ini pada teman-temannya yang membuat subjek marah. Karena itu subjek tidak setuju orang tua yang menghukum anaknya secara fisik, karena sangat mungkin ditiru oleh anaknya.

  “Kalau dulu sebelum aku SMP, dia marah-marah sampai nyubit tangan sampai biru gitu, cuma karena aku bandel banget dari kecil, cuma setelah SMP santai lah, nggak terlalu.” (IT, no. 31-33). “Kalau menurut aku sih kurang tepat, soalnya anaknya niru. Dulu aku sempet nakal gitu kadang-kadang ya nyubit temenku gitu. Jadi, apa yang orang tua tanamin, mesti anaknya niru.” (IT, no. 36-38).

  Subjek tidak setuju pada tayangan kekerasan pada film atau sinetron di televisi, karena terlalu melebih-lebihkan kenyataan memicu masyarakat untuk menirunya, terlebih jika ditonton oleh anak kecil.

  “Nggak banget, jijik banget sumpah. Sudah lama aku paling benci, langsung aku ganti. Ini sinetron semua. Yang dari Indonesia sekarang nggak pernah aku tonton sama sekali, soalnya nggak bermutu sama sekali. Yang satu kekerasan, yang lain isinya ngomel.. apa-apa dimarahin terus. Apa-apa terus perebutan kekuasaan padahal di masyarakat sendiri kayaknya nggak gitu banget gitu lho.” (IT, no. 43-47). “...sebagian besar dari tubuh kita tu, 70% dari tubuh kita tu alam bawah sadar, jadi kalau liat apa, kita dengerin apa kita serap, mesti 70%nya tau-tau itu ngelakuin sendiri. Tanpa kita sadari mungkin, tau-tau ngelakuin. Apalagi anak kecil.” (IT, no. 51-54).

  Subjek tidak setuju pada kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat walaupun dilakukan terhadap penjahat.

  “Tanya: Jadi anda nggak setuju ? ” “Enggak” (IT, no. 66-67).

  b.

Bentuk-bentuk bullying

  1). Bullying Fisik Subjek tidak pernah mengalami bullying fisik karena subjek memiliki tubuh yang cukup besar sehingga pelaku tidak akan berani melakukan konfrontasi fisik dengan subjek. Pelaku lebih menekan subjek secara psikologis dengan sindiran- sindiran, mendiamkan ataupun pengucilan.

  “Takut sih sebenarnya nggak ada gitu ya, kan badanku lebih gede gitu.. (tertawa) jadi kalau mereka macem-macem mereka nggak mungkin berani, cuma paling pedes tu 244).

  2). Bullying Verbal Langsung Pelaku memaki dan menggunakan sindiran-sindiran untuk menekan subjek. Walaupun mengucilkan subjek, di kelas kursi subjek dan para pelaku tetap berdekatan sehingga subjek terpaksa mendengarkan para pelaku yang membicarakan dirinya. Pelaku juga menyindir-nyindir subjek saat berpapasan di kantin, di tempat les, ataupun di tempat lain. Pelaku pun dengan sengaja memberitahukan bahwa ia tidak mau berangkat les karena tidak mau bertemu dengan subjek.

  “Dia ngomong pokoknya kalau aku lagi ada disitu, dia ngomong “Wah kamu dasar..” ngomong “Kamu tu orangnya plin-plan” gitu, kadang-kadang nyindir ”Wah enak ya, punya gengnya dua, pokoknya dia selau nyindir aku kemanapun aku berada, sampai.. yaitu tadi, aku les, kita bareng, dia nggak mau boncengin aku, nggak mau bareng. Terus pernah suatu hari tu dua kali gitu dia bilang “Aku nggak mau les ah” temennya tanya gitu terus dijawab “Ada si B (subjek) soalnya, males”...” (IT, no. 79-84). “Ada satu yang paling parah si X namanya, satunya cuma nyinggung-nyinggung gitu, kalau ketemu cuma “Ih kamu.. sombong banget”...” (IT, no. 91-92). “...mereka ngobrol sendiri di belakang, ngegunjingin aku gitu, dibelakang aku gitu.. “Enak ya punya temen baru yang lama ditinggalin” (IT, no. 259-261). 3). Bullying Non Verbal Langsung

  Pelaku berusaha menunjukkan sikap memusuhi subjek dengan menolehkan kepala ke arah lain jika berpapasan dengan subjek. Pelaku bersikap sinis, galak, dan memaksakan disukainya.

  “...kadang-kadang kalau ketemuan dijalan terus dia malingin muka gitu sengaja, tadinya mukanya kedepan tau- tau gitu (menoleh).” (IT, no. 88-89).

  “Itu anaknya memang jutek, galak, terus apa namanya… anaknya itu apa… Jadi misalnya kalau dibilang orangnya ini, upama pinginnya ya harus gitu” (IT, no. 345-346). 4). Bullying Non Verbal Tidak Langsung

  Pelaku mendiamkan sujek, memanipulasi persahabatan antara subjek dengan angggota kelompok yang lain. Pelaku berusaha mengintimidasi subjek sehingga subjek merasa tidak nyaman dan menjauhi kelompok pertemanan yang sebelumnya dikelas 2. Selain itu, subjek juga dengan sengaja mengucilkan atau mengabaikan subjek. Anggota kelompok yang lain ikut mengabaikan subjek karena pelaku merupakan orang yang dominan dalam kelompok mereka. Pelaku mempengaruhi anggota kelompok yang lain bukan hanya dikelas, tapi juga dikantin, di tempat les, maupun diluar sekolah jika tidak sengaja bertemu.

  Tanya : Biasanya kata-katanya X itu yang diikutin? “Iya, soalnya biasanya dia mesti action, ngomong action. Kalau yang lain kadang-kadang males.” (IT, no. 340-342). “Ada satu yang paling parah si X namanya, satunya cuma nyinggung-nyinggung gitu” (IT, no. 91-92).

  “Terus si Tika, satunya tu, semeja sama aku duduknya. nggak, biasanya mau nyontekin jadi nggak mau nyontekin (tertawa).” (IT, no. 96-98).

  “...kalau pas dikantin sendirian gitu, biasanya apa-apa berempat makan, ini dikantin sendirian, makan.” (IT, no. 133-134). “Les aja mereka biasanya duduk bareng sama aku, tau-tau kan kita les tu berenam. Cowok 3 cewek 3, eh, cowok 3 ceweknya 4. Jadi cowoknya tu dideketin ke kursiku semua yang tiganya...” (IT, no. 267-270). 5). Bullying Seksual Subjek tidak pernah mengalami bullying seksual.

  Namun teman sekelasnya saat SMP menjadi korban. Korban ditelanjangi dan dijadikan bahan olok-olok oleh teman- temannya di sekolah. Hal ini terjadi hampir setiap hari, sementara itu guru-guru yang mengetahui hanya memberikan hukuman pada pelaku.

  “...ada satu anak aku masih ingat namanya si H. Jadi dia itu, kalau dibilang ya sorry, anaknya itu jelek banget, anaknya pendek banget, nurutan banget. Jadi kalau pas-pas jam sekolah jam 9 itu waktu istirahat, dia dimasukin ke kelas, cowok-cowok masuk, terus dia ditelanjangin (tertawa).” (IT, no. 180-184). . “....padahal setiap istirahat itu mesti digituin, kalau enggak dipelorotin, didepan anak-anak cewek.” (IT, no.187-188).

  “Kalau ketahuan mereka ya dihukum, anak-anak yang masukkin itu dihukum.” (IT, no. 287).

  c.

  Penyebab terjadinya bullying di sekolah.

  Bullying yang dialami subjek disebabkan subjek pernah

  mendekati kelompok pertemanan sebelumnya di kelas 2. Oleh dikelas 3. Subjek merasa dirinya adalah orang yang gampang bosan, karena itu ia ingin dekat kembali dengan kelompok pertemanan sebelumnya di kelas 2.

  “...aku pindah ke gengku yang waktu itu kelas dua SMA. Sejak itu, gengku yang baru sejak kelas tiga SMA itu jauhin aku terus kayak ngucilin aku....” (IT, no. 78-79).

  d.

Durasi waktu terjadinya bullying

  Subjek mengalami bullying selama 3 bulan, lalu mulai berdamai dengan pelaku.

  “Tiga bulan waktu itu, terus kita didamaiin...“ (IT, no. 98). “...aku juga mikir tu sampai 3 bulanan. Aku sadar sampai sekitar 1,5 bulanan, waktu mereka jauhin itu aku sampai mikir terus....” (IT, no. 238).

  e.

Reaksi orang lain

  1). Reaksi orang tua Subjek tidak pernah membicarakan hal ini pada ibunya karena menganggap ini bukan masalah yang terlalu penting. Saat di SMP, subjek pernah bertengkar dengan ibunya sampai merusak dinding kamar kostnya dan subjek berjanji pada ibunya tidak akan bertengkar lagi.

  Tanya : Orang tua, mama tau? “Enggak. Menurutku itu nggak parah, jadi aku nggak pernah ngomong ke dia.” (IT, no. 225-226).

  2)

Reaksi teman masalah subjek. Menurut subjek, mungkin mereka tahu, tapi

  di kelasnya antar siswa memiliki kelompok masing-masing dan tidak ikut campur dalam masalah antar kelompok walaupun paham akan adanya masalah. Kadang-kadang

  temannya bertanya mengapa subjek sendirian di kantin, namun subjek memilih menceritakan masalahnya hanya pada teman-teman terdekatnya.

  “...cuma mungkin, taunya, orang-orang yang biasa kenal sama aku juga. Jadi yang tadi misalnya aku ngapain, dikantin gitu “Kok kamu sendirian, kok sekarang nggak sama ini gitu. Mungkin mereka sudah pada paham, dan anak-anak, terlebih lagi anak-anak yang mantan SMPku.” (IT, no. 220-223).

  “Menurutku mereka tu cuek gitu lho. Tapi satu kelas kalau lagi bersatu ya sudah ngerumpi bareng, bercanda bareng. Tapi begitu kita sudah istirahat, ya sudah kita masing-masing. Jadi mereka ya itu, kalau ada yang tahu, terus tanya aku yang sebenarnya. Yang nggak tahu ya benar-benar nggak tahu.” (IT, no. 427-431).

  Teman-teman terdekat subjek memberi saran bagi subjek agar meredakan masalahnya. Ketua kelompok di kelas 2 pun menasehati subjek agar kembali lagi mendekati pelaku dan angota kelompok di kelas 3 yang lain..

  “...paling aku cerita sama si Yosep itu. Teman geng ku yang baru si Karina itu, ketua gengnya ceritanya di gengku yang di kelas dua itu. Aku cerita “Aku dijauhin lho sama mereka, gini, gini, gini”. Terus, “Kamu ya harus gini aja, ya bisa ngimbangin lah, biar nggak terlalu ribut masalah itu.” (IT, no. 390-393).

  Sebenarnya kelompok pertemanan subjek di kelas 2 tidak suka pada kelompok subjek di kelas 3 yang dianggap tidak baik, namun mereka bersimpati pada subjek yang dikucilkan di kelas dan di tepat les.

  “Kalau geng yang baruku memang nggak suka sama gengku yang lama. Alasannya gengku yang lama itu sudah tau gitu, dan sebenarnya yang bujukin aku ke gengku yang lama (kelas 3) itu ya, geng lamaku (kelas 2) itu sendiri, jadi “Kamu ngapain sih mainan sama anak- anak kayak gitu, nggak bener itu” sukanya ngomongin orang lah apa-apa....” (IT, no. 238-231).

  “Soalnya pada kasian sama aku, dulu kan waktu geng yang aku kelas 2, aku satu les sama mereka.” (IT, no. 441-442). 3)

Reaksi guru

  Guru Bimbingan Konseling di sekolah subjek adalah orang yang sering marah pada siswa, karena itu subjek dan siswa-siswa lain jarang berkomunikasi dengan guru BKnya.

  “...di SMA itu guru BKnya itu malah ganas. Apa-apa kita dimarahin. Salah sedikit kita dimarahin. Jadi akhirnya buka kita yang ngadu ke guru BK tapi kejadiannya guru BK yang marahin kita, kita laporin ke guru lain gitu.” (IT, no. 315-317).

  Wali kelas subjek yang juga merupakan guru les subjek, tidak tahu tentang masalah subjek. Seandainya tahu, guru subjek tidak akan mau ikut campur terhadap masalah siswa-siswanya.

  “Wali kelasnya sejauh ini karena wali kelasnya agak genit gitu (tertawa) jadi dia nggak masalah. Dia nggak tahu, dan kebeneran dia guru les ku, jadi nggak berani “Ya maksudnya ngurusin anak-anaknya pada ribut gitu dia nggak mau.” (IT, no. 519).

  f.

  Saran dari subjek.

  Agar terhindar dari bullying, subjek menyarankan agar melakukan apa yang diminta oeh pelaku yang masih dalam batas wajar, yang tidak merugikan siapapun. Misalnya selalu beraktivitas bersama dengan pelaku. Jika sudah terlanjur menjadi korban, subjek menyarankan agar membicarakan masalah tersebut dengan pelaku untuk mengetahui dan melakukan keinginan mereka.

  “Ya lakukan apa yang mereka mau, kita duduk bareng atau lakukan apa yang mereka minta.” (IT, no. 469-470). “Nggak ngerugiin aku, nggak ngerugiin mereka, dan bukan tindakan asusila.” (IT, no. 477). “Kalau di grup, aku pikir supaya mereka itu selalu bareng.” (IT, no. 82).

  g.

Persepsi subjek terhadap bullying

  “ya ada perasaan tertekan karena biasanya duduk bareng apa- apa bareng, tahu-tahu didiemin, kesepian.” (IT, no. 501-502). “Nggak konsen juga, selain gelisah, cemah, aduh.. Ni orang pengen tak apain.. gitu rasanya kok, kalau gak diem-diem, ngomong terus.” (IT, no. 255-256).

  Subjek 2 mempersepsikan bullying sebagai sesuatu yang menyakitkan, membuat tidak nyaman, menyebabkan kesepian, dan juga mengganggu konsentrasi belajarnya di sekolah. Penyebab

  bullying yang terjadi pada subjek 2 disebabkan kesalahan subjek 2

  yang mendekati sahabatnya saat di kelas 2 sehingga sahabat di juga disebabkan oleh sahabatnya yang terlalu membatasi relasi subjek dengan teman yang lain. a.

Latar belakang dan cara pandang korban terhadap kekerasan

  Subjek adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara dengan 2 orang kakak laki-laki dan 1 orang adik perempuan. Subjek memiliki hubungan yang baik dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

  “Kalau dengan orang tua sih, sudah seperti saudara sendiri, kalau dengan saudara sih, saling akrab satu sama lain” (BW, no. 2-3).

  Orang tua subjek menerapkan pola asuh yang cenderung permisif sehingga memberi kebebasan selama subjek tidak melakukan kesalahan. Subjek diperbolehkan untuk memilih dan melakukan hal-hal yang disukainya, tapi orang tua subjek akan marah jika subjek melakukan sesuatu yang menyimpang.

  “Kalau untuk orang tua sih mereka ngebebasin ya, ibaratnya aku mau gini aku mau gini, aku bisa memilih ya, asalkan terbaik buat aku tapi kalau menyimpang sedikit aja, orang tua baru marah, ibaratnya, “kenapa kok kamu begini?” jadi ibaratnya orang tua itu kaya guru, kita salah kita di diginiin, kita semau kita asal bener gak papa. Gitu..” (BW, no. 7-10).

  Subjek pernah mendapat hukuman fisik saat masih kanak- kanak karena subjek melakukan kenakalan. Tapi saat subjek semakin dewasa, orang tua sudah tidak memberikan hukuman fisik lagi.

  “… kalau dihukum secara fisik, dulu waktu kecil pernah tapi karena nakal, tapi biasalah anak kecil nakal, tapi untuk saat ini nggak.” (BW, no. 14-15).

  Subjek tidak setuju pada hukuman fisik yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya karena dapat menurunkan kepercayaan diri anak sehingga anak menjadi takut dalam menghadapi berbagai hal. Misalnya, anak takut saat bertemu orang asing atau anak akan takut untuk mencoba melakukan hal baru.

  “Kalau menurut saya, tidak setuju karena disatu sisi membuat mental anak menjadi down, yang kedua nanti anak itu menghadapi apapun itu pasti takut ada rasa kaya gimana gitu, ketemu orang ini-ini, wah! Aku takut ntar gini..gini..gini.. Jadi ibaratnya kaya dia belum maju perang tapi udah kalah, menyerah sebelum berperang.” (BW, no. 18-21).

  Subjek tidak setuju dengan adanya adegan kekerasan dalam tayangan di televisi karena tidak mendidik dan mengajarkan hal yang buruk kepada masyarakat.

  “Wah itu sih… tidak mendidik sama sekali.” (BW, no. 25). “Ya.. ibaratnya bukan mereka mengajarkan yang baik, tapi malah mengajarkan yang buruk bagi masyarakat.” (BW, no. 27-28).

  Subjek tidak setuju pada adanya kekerasan dalam masyarakat meskipun korban kekerasan itu adalah maling atau penjahat. Menurut subjek untuk mengatasi masalah-masalah dan kejahatan, dapat diselesaikan dengan hukum dan Undang-Undang karena negara Indonesia adalah negara Hukum. Masyarakat boleh mengamankan namun tidak boleh menghakimi. Masyarakat yang melakukan kekerasan terhadap siapapun adalah salah secara hukum.

  “........nah disitu mereka suka main hakim sendiri dan mereka salah secara hukum.” (BW, no. 33-34). “Ya tidak setuju. Kan dinegara ini sudah ada hukum, Undang- Undang, dan juga orang yang untuk mengatasi hal-hal tersebut. Masyarakat tugasnya hanya mengamankan saja tidak sampai menghakimi ataupun menghilangkan nyawa seseorang.” (BW, no. 38-40).

  Subjek pernah menjadi korban perploncoan disekolahnya. Menurut subjek, perploncoan terjadi karena balas dendam senior pada adik kelas. Perploncoan boleh dilakukan asal dalam batas wajar karena dapat membentuk mental dan fisik siswa. Perploncoan yang wajar misalnya dibentak-bentak atau diperintah, sedangkan perploncoan yang tidak wajar adalah yang menggunakan kekerasan fisik seperti pemukulan.

  “Itu sih menurut saya secara wajar sudah biasa, tapi untuk secara tidak wajar kaya ibaratnya di IPDN itu, atau dipukulin gini-gini. Kalau menurut saya itu ibaratnya senior balas dendam, kalau dulu saya diginiin saya harus bales ke Junior saya.” (BW, no. 52-54). “Ya.. seperti biasalah kita dibentak-bentak, biasa itu untuk melatih mental seorang anak. Kita dibentak-bentak disuruh ini- ini asalkan mereka tidak main pukul. Itu sudah wajar.” (BW, no. 56-58).

  b.

Bentuk-bentuk bullying

  1). Bullying Fisik Di sekolah, subjek dan teman-temannya pernah mengalami bullying fisik dalam bentuk pemukulan-pemukulan sekolahnya selama 3 hari. Diksar seperti ini diadakan setiap tahun di sekolah subjek.Selain pemukulan, pelaku juga pernah menginjak kepala subjek. Pelaku adalah senior atau kakak kelasnya di sekolah.

  “Wah.. kalau itu kita dinamakan Diksar, Pendidikan Latihan Dasar. Itu untuk membentuk mental sama fisik seseorang disitu. Jadi pendidikannya kalau dibilang militer, itu melebihi militer. Disitu kita nginep 3 hari 3 malam, siang kita mo ngapa-nagapain aja bebas, malamnya kita mo tidur dibangunin trus mata ditutup kita suruh jalan kemana suruh merayap itu dengan dipukul.” (BW, no. 62-66).

  “....kondisi tanah becek, ada genangan air, disitu ibaratnya ada juga kotoran hewan. Kepala diinjak sama senior, atau kalau nggak senior baru marah atau apa. Belum tidur pake kayu kita dipukul.” (BW, no. 72-74).

  Selain pada saat Diksar, subjek juga mengalami

bullying kontak fisik langsung saat hari-hari sekolah biasa.

  Subjek dan teman-temannya diperintah untuk push-up sambil dipukuli karena tidak mengucapkan salam saat lewat didepan senior. Subjek pun pernah dibawa ke kamar mandi untuk ditutup matanya dan dipukuli beramai-ramai. Hal ini terjadi karena subjek tidak melihat seniornya lewat, sehingga subjek tidak mengucapkan salam.

  “Diluar itu juga sering, seperti kita kalau ketemu senior nggak hormat sambil nggak ngucapin selamat siang kak, permisi kak, kita dipanggil trus disuruh push up sambil dipukul. Terus-terusan” (BW, no. 78-80).

  “Kalau saya sih bentuknya seperti kita. Kita secara ngga sadar disitu ada senior kita lewat, kita khan ngga tau,tau-tau disitu ngga ada orang, kita dipukuli ramai-ramai.” (BW, no. 82-84).

  Kadang-kadang, subjek dan teman-temannya diperas oleh pelaku. Pelaku meminta uang untuk membeli rokok atau makanan. Subjek dan teman-temannya terpaksa menuruti untuk menghindari dampak yang lebih menyakitkan.

  “......kadang-kadang kalau ketemu senior dikantin, itu kadang-kadang mereka bilang gini,”Hey sini kamu aku pengin beli rokok tapi nggak punya uang, pakai uangmu dulu”. Kita sering beliin mereka rokok, beliin makan ini itu, jadi kalau kita bilang gak punya uang,” gini-gini-gini. Pasti kita kena imbas...” (BW, no. 91-94).

  Selain sesama siswa, ada pula guru yang melakukan pemerasan terhadap subjek dan teman-temannya. Guru ini adalah guru gambar yang juga menekan subjek secara verbal disekolah. Saat subjek dan teman-temannya mendapatkan pekerjaan mendemonstrasikan klub aeromodelling mereka diluar sekolah, guru gambar ini tidak mau memberi izin, namun setelah subjek dan teman-temannya nekat melakukan dan mendapatkan bayaran, guru ini meminta bayaran mereka.

  “Ya disitu, tapi setelah kita demo, kita dapat bayaran itu bayarannya bukan sepenuhnya untuk kita, tapi diminta untuk dia.” (BW, no. 562-563).

  Saat subjek dan teman-temannya memenangi sebuah lomba, guru tersebut meminta subjek dan teman-temannya membuat duplikat trofi bagi sekolah dan bagi dirinya, menggunakan uang subjek dan teman-temannya. Selain itu, dana yang didapatkan sebagai hadiah dipotong 60% atas nama sekolah.

  “Nah, kita menang, pialanya tu suruh kita duplikat 3. Satu buat sekolah, satu buat dia, satu buat kita.” (BW, no. 567- 569).

  “Kita nggak mau, soalnya ngeduplikatnya pake uang kita sendiri. Dan uang kemenangan itu pun yang seharusnya kita terima penuh, dipotong 60%.” (BW, no. 571-574). 2). Bullying Verbal Langsung

  Subjek diintimidasi dengan dipaksa menerima segala perlakuan seniornya. Jika subjek dan teman-temannya berani membantah, mereka akan mendapat hukuman yang lebih berat.

  “Ya.. kita ngga bisa berbuat apa-apa, kita hanya diam, khan ibaratnya kita hanya dikasih amanat sama yang diatas. “Kamu masih baru disini menerima, menerima, dan menerima, kita pokoknya harus menerima terus nggak boleh kita kayak gini.”Wah kak gini..gini.. kamu gini..gini..”malah kita ditambah (hukumannya).” (BW, no. 122-125).

  Subjek menganut agama yang berbeda dengan mayoritas siswa di sekolahnya. Siswa-siswa yang lain kadang- kadang merendahkan subjek didepan teman-teman subjek dengan menghina subjek dan agamanya.

  “Yang terjadi sama saya sih “Eh kamu orang Katolik tho, kamu matinya akan gini, gini, gini.. kamu makan babi kan, babi tu haram, gini, gini, gini”....” (BW, no. 326-327).

  Subjek juga pernah difitnah oleh salah satu temannya yang melaporkan pada senior bahwa subjek telah mengadukan perbuatan sekelompok siswa lain yang membolos pada guru Bimbingan&Penyuluhan (atau guru Bimbingan Konseling).

  Subjek diadili, dimusuhi, bahkan ditantang berkelahi oleh senior dan siswa-siswa yang lain.

  “...ada sekelompok orang satu kelas, mereka bolos nah yang tahu bolos itu khan hanya saya, nah tapi disitu kan ada anak lain yang tahu tapi bukan satu kelas saya. Itu bilang ke BP, bilang ke senior, “Kak ini ada yang bolos ini, ini, ini namanya.” Jadi yang kena saya disitu....” (BW, no. 171- 174). “Reaksinya ya.. ada yang ngajak berantemlah, ini..itu..ini..itu pokoknya segala macam.” (BW, no. 178).

  Subjek diganggu oleh teman-teman sekelasnya. Mereka jmemberi panggilan-nama (name-calling) yang merendahkan subjek.

  “...masuk kelas kan.. ada satu orang “Tuh, tuh, tuh, apa, prajurit khayangannya datang” Kan kayaknya ngehina, ada lagi yang “Wo.. itu ada anjing datang, gini, gini, gini”. Itu dia ada budak dari pemimpin-pemimpin datang.” (BW, no. 453-457).

  Selain oleh siswa lain, subjek pernah direndahkan oleh salah satu gurunya saat meminta penjelasan terhadap pemberian nilai yang terlalu rendah terhadap hasil karyanya.

  “Pernah, ya dia jawabnya simple aja “Karena kamu goblok”. Digituin tok.” (BW, no. 228).

  Saat subjek dan teman-temannya mendapatkan tawaran untuk mendemonstrasikan lub aero-modelling mereka di sekolah lain, hanya guru gambar yang tidak memberi izin dan tidak mau memberikan tanda tangan.

  “Ya dilarang-larang. “Nanti kalau gini, gini, gini, kalian yang nanggung ya. Saya nggak mau tahu, saya nggak mau tanda tangan.”...” (BW, no. 554-557). 3). Bullying Non Verbal Langsung

  Pelaku yang merupakan siswa-siswa lain menampilkan muka yang merendahkan dan mengancam menyertai bullying fisik atau verbal yang dilakukan pada subjek.

  Subjek juga menerima bullying non verbal langsung dari guru menggambarnya di sekolah. Guru tersebut memberikan nilai yang terlalu rendah atas tugas yang dibuat subjek setelah sebelumnya merobek gambar-gambar subjek sebelumnya. Dan saat subjek meminta penjelasan, guru tersebut memaki subjek.

  “...guru gambar tekhnik. Kita kan gambar mesin, gambar ini itu.. Sudah kita gambar bagus-bagus rapi-rapi, belum dilihat, disobek dibuang, belum dilihat disobek dibuang. Buat lagi, buat lagi, kita kan capek. Nah disitu, cuma dikasih nilai 3. Maksimal 4. Padahal teman-teman yang gambarnya lebih jelek aja nilainya 7.” (BW, no. 218-222). 4). Bullying Non Verbal Tidak Langsung Subjek mengalami pengucilan oleh teman-temannya.

  Subjek dijauhi dan tidak dilibatkan dalam interaksi didalam kelas walaupun subjek sudah berusaha mendekati.

  “Biasanya nggak mau ngajak ngobrol, diajak ngobrol nggak mau, menjauhi, duduk satu mejapun mereka nggak mau.” (BW, no. 149-150).

  Selain oleh sesama siswa, subjek beberapa anak lain mengalami diskriminasi dalam mengadakan acara rohani maupun merayakan hari besar keagamaan oleh gurunya. Bentuk diskriminasi ini seperti tidak memberi dana bagi kegiatan retret ataupun ijin untuk merayakan hari besar keagamaan.

  “Seperti kita mau ada kegiatan retret, kita mau minta dana sekianlah, biaya retret gini, gini, gini... nggak dikasih! “Pak ini, kita besok ada Natalan, Natal”. (BW, no. 305-306). “Jadi kita ada acara umpamanya, Paskah, Malam Paskah. Itu kan Paskah itu kita masuk. Kita ijin, “Pak kita ijin sehari, Pak. Ke gereja Paskahan”. “Emang penting apa?” Gitu gurunya bilang.” (BW, no. 309-311). 5). Bullying Seksual Subjek tidak pernah mengalami bullying secara seksual.

  Bullying yang diterimanya di sekolah lebih secara fisik, verbal, dan non verbal yang tidak terkait dengan pelecehan seksual.

  Tanya : “Tapi yang pernah menimpa anda.. pernah nggak?” “Nggak pernah saya.” (BW, no. 166-167).

  c.

Penyebab terjadinya bullying di sekolah

  Subjek menjadi korban bullying oleh senior dan siswa- siswa lainnya karena memegang jabatan OSIS (Organisasi Siswa) dan menjadi pengawas tata tertib atau penegak disiplin di antara siswa. Subjek menjadi dekat dengan guru Pembina dan harus melaporkan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh

  “Ya, saya sadar, karena saya menjabat OSIS dan siswa Tatib juga disitu. Karena disitu, ibaratnya yang pegang jabatan disitu dekat sama Pembina ibaratnya kesiswaan disitu jadi, kita malah dibenci.” (BW, no. 242-244).

  “Karena ya setiap hari, kita nge-razia mereka. Ibaratnya mereka datang, kita geledah tasnya. Bawa rokok, kita kenain push up, ada yang bajunya kurang rapi, kita push up-in. Gini,gini, terus.

  Jadi mereka kan malah benci sama kita.. itu kan karena tugas, bukan karena kemauan kita.” (BW, no.463-469).

  Saat di kelas 1, subjek dan teman-temannya mengalami perploncoan oleh senior kelas 2. Hukuman yang diberikan oleh para senior itu menyimpang dari seharusnya dan alasan pemberian hukuman itu seringkali hanya karena kesalahan kecil, seperti baju yang kurang rapi.

  “Setelah senior kelas tiga ngelepas kami untuk dibina oleh senior kelas dua, baru senior kelas dua mulai, itu pertama masih biasa sih belum begitu berat, tapi lama-lama kok ini menyimpang dari yang seharusnya.. ini misalnya mereka menghukum kita karena kita salah atau bagaimana, seragam kita kurang rapi atau gimana.” (BW, no. 371-377).

  Subjek pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap guru gambar yang sering memberinya nilai rendah walaupun subjek merasa pantas untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Subjek merasa mendapat perlakuan yang berbeda dengan siswa- siswa yang lain. Perlakuan yang berbeda itu disebabkan subjek mengetahui banyak hal negatif yang dilakukan gurunya. Subjek pernah mengancam guru gambar tersebut, namun hal ini makin memperburuk sikap guru gambar terhadap subjek. pernah ngancem, kalaau sampai kamu bocorin itu, kamu nggak bakal saya kasih nilai, dan kamu nggak akan naik.” (BW, no. 597-598). “Ya itu karena saya saking jengkelnya juga sih? “Pak kalau gini terus, bapak gini terus, saya bongkar rahasia bapak. “Emang apa aja?”, “Bapak kan gini, kan gini, gini”. “Kamu tahu darimana”, “Ya tahu, Pak, informan banyak” Aku bilang gitu.” (BW, no. 601-603).

  Subjek juga mengalami bullying yang diakibatkan oleh agama yang dianutnya. Sekolah subjek mementingkan agama yang mayoritas dianut oleh para siswa dan mengabaikan agama-agama lain. Selain itu, subjek dan siswa lain yang beragama minoritas mengalami bullying verbal oleh para pelaku yang merendahkan agama mereka.

  “Kalau untuk seperti itu, karena agama yang Nasrani itu dikucilkan dan dijauhi, disana yang dipentingkan hanya yang muslim.” (BW, no. 302-302). “Yang terjadi sama saya sih “Eh kamu orang Katolik tho, kamu matinya akan gini, gini, gini.. kamu makan babi kan, babi tu haram, gini, gini, gini.” (BW, no. 326-327).

  d.

Durasi waktu terjadinya bullying

  Subjek mengalami bullying dalam bentuk perploncoan di sekolah selama 2 tahun, sejak mendekati pertengahan semester di kelas 1 sampai di kelas 2 saat subjek akhirnya memutuskan untuk keluar sekolah.

  Tanya: Itu terjadinya berapa lama jangka waktunya, sejak masuk? Sejak mau masuk. Sampai terakhir kemarin, tahun kemarin ini.” (BW, no. 109). Tanya: Kamu disekolah berapa lama? Terus-menerus tanpa henti, jadi ibaratnya siswa datang ke sekolah untuk cari ilmu, itu siswa datang kesekolah ada perasaan takut. (BW, no. 113-114). “Pertama kali itu memang disekolah itu nggak ada apa-apa, satu bulan dua bulan karena yang megang masih senior yang kelas tiga. Setelah senior kelas tiga ngelepas kami untuk dibina oleh senior kelas dua, baru senior kelas dua mulai, itu pertama masih biasa sih belum begitu berat, tapi lama-lama kok ini menyimpang dari yang seharusnya.” (BW, no. 369-372).

  Subjek dikucilkan oleh teman-temannya selama 1 tahun. Setelah itu subjek memutuskan untuk keluar sekolah karena masih adanya tekanan fisik dari senior, dan juga tekanan dari guru gambar.

  “Pertama-tama sih mereka ngejauhin saya, selama 1 tahun saya dijauhin sama mereka.” (BW, no. 510-511). “...Yang paling memberatkan sih faktor guru....” (BW, no. 225).

  e.

Reaksi orang lain

  1). Reaksi orang tua Pada awalnya subjek tidak menceritakan masalah ini pada orang tuanya. Setelah subjek menceritakan masalahnya, orang tua subjek menyarankan subjek agar tetap bertahan di sekolah, namun orang tua subjek juga mendukung subjek yang pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari sekolah

  “Kalau orang tua selama saya disitu saya belum ada omongan sama sekali, saya digini-giniin. Tapi setelah benar-benar kesabaran sudah habis, baru saya mulai ngomong. Ya orang tua pun ibaratnya, “Sudah, terserah kamu, kamu mau gimana.” Nyoba disitu dulu beberapa saja.” (BW, no. 253-256).

  2)

Reaksi teman

  Siswa-siswa yang lain ikut memusuhi subjek karena terhasut oleh para pelaku yang memfitnah subjek, tetapi saat membutuhkan bantuan mereka mulai mendekati subjek.

  “...temen-temen nggak mau dekat sama aku, koq nggak mau ngobrol sama aku. Kok ini kenapa, kenapa, kenapa. Pernah dulu tak tanyain, mereka nggak mau malah pergi, pergi, pergi. Ya sudah, tak diemin dulu, lambat laun mereka butuh ke saya baru mereka ngedeket satu-satu....” (BW, no. 200-203).

  3)

Reaksi guru

  Guru pembina kesiswaan subjek mendukung subjek yang sering menjadi bahan ejekan. Selain itu, guru tersebut menjadikan subjek salah satu siswa penegak disiplin antar siswa agar siswa-siswa lain lebih menghormati subjek.

  “...kebanyakan yang dipilih hanya yang Nasrani saja, yang jadi siswa tatib, komandan ini siapa, komandan itu siapa. Jadi guru kesiswaannya ini pinter, “Kamu kan sering diejekkin kan? Sudah, kamu tak angkat jadi komandan siswa Tatib”. “Lho, kok bisa, Pak?” “ Ya sudah, tuh ambil perlengkapannya.”.... (BW, no. 639- 643).

  Terdapat pula guru-guru lain yang tidak mendukung murid-murid lain yang dikucilkan. Subjek dan teman- temannya pernah berusaha melaporkan diskriminasi agama yang mereka alami di sekolah, namun disangkal oleh pihak sekolah.

  “Pernah mencoba melapor, tapi dari pihak sekolah mereka hanya memutarbalikan fakta yang ada.” (BW, no. 318-319).

  f.

  Saran dari korban.

  Bagi siswa-siswa lain, subjek menyarankan agar menyesuaikan diri dengan karakter siswa-siswa lain agar tidak menjadi korban bullying.

  “...kalau menurut saya sih tergantung pergaulan dia. Cara dia bicara sama teman, bawa dia, ibaratnya dia harus tahu karakter teman.... Ibaratnya kita adaptasi dengan mereka lah.” (BW, no. 261-265).

  Subjek menyarankan agar siswa lain yang mengalami

  

bullying bersikap sabar. Namun jika situasi yang terjadi tidak

pernah membaik, maka sebaiknya korban keluar dari sekolah.

  “Ya pesan saja, untuk siswa ataupun anak yang pernah mengalami kejadian seperti itu, cobalah untuk sabar.” (BW, no. 340-341). “Ya menurut saya sih kalau mereka benar-benar sudah mutusin begitu, masalahnya kalau satu sekolah ini memang tidak bisa mengubah. Kalau sekali benci ya tetap benci terus. Ya sudah, mending keluar saja.” (BW, no. 279-282).

  g.

Persepsi subjek terhadap bullying

  Subjek 3 mempersepsi bullying sebagai suatu hal yang menyakitkan secara fisik dan psikologis sehingga membuatnya tidak betah di sekolah untuk belajar. Subjek tidak setuju terhadap perploncoan yang merupakan bentuk bullying karena merupakan dan dilakukan tanpa alasan yang jelas. Penyebab bullying yang dilakukan oleh siswa sekelasnya adalah iri hati karena subjek dipilih sebagai siswa tata tertib, dan penyebab bullying yang dilakukan oleh gurunya adalah subjek mengetahui beberapa perilaku buruk guru tersebut di sekolah.

  Tabel 4.1 Rangkuman Hasil Penelitian

  Subjek Aspek Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 1.

Latar belakang

  dan cara pandang korban terhadap kekerasan.

  Subjek perempuan. Anak pertama dari 3 bersaudara. Memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibu yang permisif, sementara hubungan dengan ayah tidak baik karena ayah kasar.

  Tidak setuju dalam kekerasan yang ada dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

  Subjek perempuan. Anak tunggal dan ayah sudah meninggal. Memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ibu yang menerapkan pola asuh demokratis.

  Tidak setuju dalam kekerasan yang ada dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

  Subjek laki-laki. Anak ke 3 dari 4 bersaudara. Memiliki hubungan yang baik dengan orang tua dan saudara- saudara. Pola asuh yang diterapkan orang tua cenderung permisif.

  Tidak setuju dalam kekerasan yang ada dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

  2. Bentuk- bentuk bullying .

  Mengalami bullying secara verbal langsung dalam bentuk dipermalukan didepan siswa-siswa yang lain, pemberian panggilan yang merendahkan seperti “ganjen”, “genit”, dan gosip negatif bahwa subjek adalah wanita pekerja seks komersil. Secara non-verbal langsung, pelaku menunjukkan ekspresi muka sinis, mengejek, dan memusuhi. Selain itu, secara non-verbal tidak langsung pelaku sengaja mendiamkan dan mempengaruhi siswa lain agar menjadi turut mengabaikan subjek.

  Mengalami bullying secara verbal langsung dalam bentuk sindiran- sindiran, makian, dan gangguan baik didalam kelas, diluar kelas, maupun di tempat les. Secara non-verbal langsung, pelaku memberikan pandangan sinis dan memalingkan wajah saat bertemu. Secara non-verbal idak langsung, pelaku mendiamkan dan mengucilkan subjek. Pelaku juga

memanipulasi

persahabatan antara subjek dengan anggota kelompok yang lain sehingga menjadi retak.

  Mengalami bullying secara fisik yaitu dipukuli, diperas, dipaksa melakukan hukuman-hukuman fisik yang berlebihan oleh senior. Subjek juga mengalami bullying verbal langsung baik oleh senior maupun teman sekelas dengan diancam, gosip, dan panggilan nama yang merendahkan seperti “prajurit khayangan”, “budak pemimpin”, ataupun “anjing”. Perilaku non-verbal langsung seperti ekspresi muka yang memusuhi menyertai agresi fisik atau verbal yang diterima. Secara Selain sesama siswa, pelaku berhasil mempengaruhi guru olahraga sehingga ikut menyudutkan subjek. Pelaku juga melakukan pelecehan seksual dengan cara menarik- narik bagian belakang Bra subjek di sekolah. non-verbal tidak langsung, pelaku dan siswa-siswa lain yang terpengaruh tidak melibatkan subjek dalam komunikasi dan interaksi di kelas.

  3. Penyebab terjadinya bullying di sekolah.

  Subjek tidak mengetahui penyebab pasti mengapa ia menjadi korban. Sejak awal masuk sekolah, subjek didekati banyak siswa laki-laki sehingga ada kemungkinan teman-teman perempuannya iri dan mengucilkan subjek. Pelaku laki-laki kemungkinan melakukan bullying karena dendam pada subjek yang pernah memarahinya.

  Subjek kembali dekat dengan kelompok pertemanan di kelas 2 sehingga pelaku menjadikan itu alasan bahwa subjek mengkhianati kelompok pertemanan mereka di kelas 3.

  Saat di kelas 1, subjek dan teman-temannya mengalami perploncoan yang berlebihan secara fisik maupun psikologis. Saat di kelas 2, subjek menjadi korban karena ia bertugas sebagai penegak disiplin antar siswa sehingga harus melaporkan pelanggaran- pelanggaran yang terjadi. Guru gambar subjek mengintimidasi subjek karena subjek mengetahui perilaku negatif guru tersebut.

  4. Durasi waktu terjadinya bullying.

  Satu tahun lebih. Saat subjek di kelas 1 sampai semester awal di kelas 2 SMA.

  Tiga bulan, saat subjek kelas 3 SMA.

  Dua tahun, saat subjek di kelas 1 dan kelas 2 SMA.

  5. Reaksi orang lain (orang tua, teman, guru).

  Subjek didukung oleh ibu dan guru BPnya selaku wali kelas. Guru BP memberikan pengarahan pada siswa dikelas agar memperbaiki hubungan dengan subjek, namn tidak berhasil. Ada pula teman dan pacar subjek yang mendukung subjek dalam menghadapi masalahnya. Subjek mengharapkan dukungan dari guru- guru lain yang Subjek didukung oleh teman-teman dekatnya di kelas 2 yang menyuruhnya untuk kembali pada kelompok pertemanan di kelas 3. Teman-teman subjek merasa kasihan karena subjek dikucilkan. Ibu subjek tidak mengetahui masalah subjek disekolah. Guru-guru di sekolah tidak mengetahui masalah subjek meskipun sebenarnya subjek berharap wali kelasnya membantu.

  Subjek didukung oleh guru pembina kesiswaan. Namun karena tidak mampu bertahan dari tekanan- tekanan dan perlakuan guru gambar, subjek keluar dari sekolah. Keputusan ini didukung oleh orangtua subjek. Teman-teman subjek yang sudah dekat dengan subjek berusaha mencegah subjek untuk keluar, namun subjek tetap mengundurkan diri dari sekolah. Guru- menurutnya tidak peduli terhadap masalah pergaulan siswa. guru disekolah subjek ada yang peduli meskipun lebih banyak yang tidak mau ikut campur.

  Subjek menyarankan agar para guru memberikan perhatian pada interaksi anatar siswa dan tidak memihak pada suatu kelompok siswa yang lebih besar. Bagi siswa yang belum dan sudah menjadi korban bullying , subjek menyarankan agar menjauhkan diri dari pelaku. Subjek juga menyarankan agar segera menyelesaikan masalah melalui guru maupun pihak yang berwajib jika terpaksa.

  Bagi siswa yang belum dan sudah menjadi korban bullying, subjek menyarankan agar mengikuti apa yang diinginkan oleh pelaku selama tidak merugikan diri sendiri maupun teman lain.

  Bagi siswa yang belum menjadi korban, subjek menyarankan agar beradaptasi dengan karakter dari siswa- siswa yang lain agar tidak menjadi korban bullying . Bagi siswa yang sudah menjadi korban, subjek menyarankan agar sabar selama terdapat perbakan situasi. Namun, jika tidak ada perubahan, subjek menyarankan agar keluar dari sekolah.

C. Pembahasan

  Pada masa remaja kebutuhan menjalin relasi dengan teman sebaya meningkat. Relasi dengan teman sebaya berperan penting dalam perkembangan sosial dan emosional remaja (Espelage dkk dalam Raskauskas et al, 2007). Remaja sangat membutuhkan penerimaan teman- teman sebaya, sehingga ia melakukan banyak penyesuaian baru untuk bersosialisasi. Remaja perlu menyesuaikan diri ditengah berbagai faktor seperti meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan perilaku sosial, pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai yang berlaku dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan penolakan social, dan nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin (Hurlock, 2002). Ketiga subjek berada dalam kategori masa remaja saat mengalami bullying dan pada saat dilakukan penelitian. Bullying yang dialami subjek merupakan tekanan yang berat karena menyebabkan kegagalan dalam mencapai penerimaan dari teman sebaya. Bullying mengganggu perkembangan sosial dan emosional remaja (Raskauskas & Stoltz, 2007) dan hal ini terjadi pada ketiga subjek dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini terlihat perkembangan sosial ketiga subjek yang terganggu. Indikasinya adalah para subjek menarik diri dari pergaulan di sekolahnya. Keadaan dimana subjek merasa tersingkir membuat subjek memutuskan untuk menarik diri. Keterasingan subjek adalah gangguan proses sosialisasi subjek dengan teman sebayanya, dan keadaan ini merupakan tekanan emosional bagi subjek.

  Perlakuan yang diterima oleh ketiga subjek dalam penelitian ini masuk dalam kriteria bullying, yaitu dimaksudkan untuk menyakiti korban, terjadi berulang-ulang, dan terdapat ketidakseimbangan kekuatan sehingga korban berpikir ia tidak akan bisa menghentikan pelaku. Bullying hanya terjadi jika seseorang atau sekelompok orang yang terkena bullying merasa menjadi korban. Korban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Karena itu korban adalah orang yang menderita akibat perbuatan bullying yang

  bullying

  dilakukan oleh pelaku. Bullying menimbulkan berbagai respon sehingga jika pihak yang terkena bullying tidak merasa menjadi korban, maka perlakuan itu hanya berupa kekerasan dan bukan termasuk agresi atau

  

bullying. Agresi diartikan sebagai perilaku disengaja yang bertujuan untuk

  menyakiti secara fisik maupun psikis (Helmi et al, 1998), dan bullying merupakan bagian dari agresi. Penilaian bahwa kekerasan itu jahat atau disengaja ditentukan nilai subjektif. Ketiga subjek merasakan dampak negatif dan berpendapat bahwa pelaku melakukan bullying dengan sengaja. Dengan demikian ketiga subjek merupakan korban bullying.

  Ketiga subjek tidak memulai melakukan hal buruk pada pelaku sehingga bullying yang terjadi bukan merupakan aksi balas dendam dari pelaku. Subjek 1 mengalami bullying selama lebih dari 1 tahun, subjek 2 mengalami bullying selama 3 bulan, sementara subjek 3 mengalami

  

bullying selama 2 tahun. Ketiga subjek tidak melakukan perlawanan

  langsung karena kekuatan fisik atau kekuatan mental yang dimiliki lebih lemah daripada pelaku. Dalam menguatkan dominansinya atas korban, pelaku mempengaruhi siswa lain, dan bahkan mempengaruhi guru seperti yang terjadi pada subjek 1. Subjek 1 mengatakan,

  “...ternyata mereka itu ngebawa guru olahragaku. Dibawa, guru olahragaku ke BP. Terus guru olahragaku istilahnya juga gimana ya.. Ya istilahnya memang ini, memojokkan aku (CT, no. 276-277). eksternal, yaitu pelaku yang iri terhadap kepopuleran subjek 1 di tengah siswa-siswa laki-laki. Subjek 3 juga memaknai penyebab bullying yang dialaminya adalah faktor eksternal, yaitu; perploncoan yang sudah menjadi tradisi, siswa lain yang iri, diskriminasi agama, dan juga guru yang sering memeras siswa.

  Subjek 2 selain melihat bahwa pelaku yang suka mendominasi, juga melihat secara internal dari dalam dirinya. Subjek 2 melihat bahwa dirinya cepat bosan pada suatu hal termasuk dalam pertemanan, dan hal ini merupakan kesalahan sehingga pelaku merasa ditinggalkan dan mem”bully” subjek. Meskipun demikian, subjek 2 mengatakan dirinya tidak yakin alasan pelaku dalam melakukan perilaku bullying terhadap dirinya, sebab subjek 2 merasa berhak untuk berteman dengan siapa saja.

  Subjek 1 dan 3 berpendapat bahwa pelaku mencari-cari kesalahan subjek untuk dijadikan alasan dalam melakukan bullying. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Juwita bahwa pelaku mencari- cari alasan untuk membenarkan perilakunya. (Kompas, 2007). Pelaku menggunakan alasan itu bukan hanya untuk menekan subjek, tetapi juga untuk mempengaruhi siswa-siswa lain dan juga guru.

  Subjek 1 dan subjek 3 mengatakan bahwa mereka dikucilkan oleh siswa-siswa lain, dan tidak dilibatkan dalam berbagai aktivitas di kelas.

  Situasi ini menimbulkan perasaan kesepian dan tertekan. Subjek 2 juga teman dekatnya. Meskipun demikian, subjek 2 juga mengalami perasaan kesepian dan tertekan karena di sekolahnya siswa-siswa membuat kelompok pertemanan sejak awal sehingga subjek 2 segan untuk bergabung dengan kelompok lainnya.

  Selain pengucilan, bullying yang terjadi pada ketiga subjek muncul dalam berbagai macam bentuk baik secara fisik maupun non fisik.

  .Bullying yang terjadi pada subjek 1 adalah bullying verbal langsung,

  

bullying non verbal langsung, bullying non verbal tidak langsung, dan

bullying seksual. Bullying yang terjadi pada subjek 2 adalah bullying

  verbal langsung, bullying non verbal langsung, dan bullying non verbal tidak langsung. Sementara itu bullying yang terjadi pada subjek 3 adalah

  

bullying fisik, bullying verbal langsung, bullying non verbal langsung,

dan bullying non verbal tidak langsung.

  Ketiga subjek mengalami bullying secara verbal langsung, secara non verbal langsung, dan secara non verbal tidak langsung. Dari ketiga subjek, hanya subjek 1 yang pernah mengalami bullying seksual di sekolah dan hanya subjek 3 yang berjenis kelamin laki-laki mengalami penganiayaan secara fisik. Sementara subjek 1 dan 2 yang berjenis kelamin perempuan, lebih mendapatkan tekanan secara verbal dan non verbal seperti pengucilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad & Smith (dalam Xin Ma, 204) bahwa perempuan, seperti laki-laki, dapat terlibat dalam bullying namun dalam bentuk seperti menyebarkan gosip, dan menemukan bahwa tipe bullying yang paling sering terjadi pada siswa laki-laki adalah ancaman, serangan fisik, penolakan, dan pemberian nama panggilan yang negatif. Sementara itu pada siswa perempuan, tipe yang paling terjadi adalah panggilan nama yang negatif, mengusik, gosip, penolakan, dan pengucilan sosial.

  Bullying non fisik seperti bullying verbal dapat menjadi serangan

  yang menyakitkan subjek secara psikologis. Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa remaja adalah masa badai dan stres saat seseorang memasuki fase yang membutuhkan dukungan dari teman sebaya. Hurlock (2002) mengemukakan bahwa remaja peka dan merasa malu jika dinilai buruk oleh teman-teman sebayanya, atau bila teman-temannya memberi nama julukan yang bernada cemoohan. Hal seperti ini dialami oleh ketiga subjek dalam penelitian ini. Subjek 1 dijuluki “cewek genit”, subjek 2 dijuluki “pengkhianat”, sementara subjek 3 dijuluki “prajurit khayangan” atau “budak pemimpin”. Ejekan dan cemoohan yang terlihat sepele dan wajar jika terjadi secara terus menerus dapat menimbukan kerusakan harga diri pada korban (Yayasan Sejiwa, 2008). Ketiga subjek pun berpendapat bahwa ejekan dan cemoohan ini sangat menyakitkan sehingga memunculkan ketidaknyamanan dalam beraktivitas di sekolah.

  Tingkat kerusakan harga diri yang cukup parah dapat membuat seseorang menarik dan menutup diri dari lingkungan pergaulannya. Hal ini “Jadi suka nyendiri lho kadang. Kadang-kadang di kelas biarpun ramai, anak-anak juga banyak yang nemenin, cuma aku nyingkir gitu lho, kadang-kadang aku ngerasa kok kayaknya mereka jauhin, padahal enggak. Kayak parno gitu lho.” (CT, no. 500-502). Subjek 2 mengatakan “...sekarang ini rasa trauma itu ada. Begitu aku dekat sama seseorang, aku dekat sama dia aja. Nggak pakai geng lagi, ....” (BW, no. 405-406).

  Sementara itu subjek 3 memutuskan untuk keluar dari sekolah untuk menghindari tekanan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh senior dan gurunya Perasaan sakit hati, merasa sendirian, dan ketidakberdayaan dalam membela diri juga dapat mendorong korban berbuat nekat seperti bunuh diri.

  Bullying merupakan suatu situasi ketika terdapat tiga karakter yang

  bertemu di suatu tempat. Karakter-karakter tersebut adalah pelaku, korban, dan saksi (Yayasan Sejiwa, 2008). Pelaku memiliki kekuatan lebih dari korban baik secara fisik maupun secara mental atau psikologis. Pelaku mendapatkan kepuasan dengan berkuasa atas korban yang tidak berdaya untuk melawan. Saksi biasanya adalah teman-teman atau siswa lain yang merupakan penonton, berperan secara aktif menyoraki dan mendukung pelaku, ataupun diam dan bersikap tidak peduli. Kedua bentuk perilaku saksi berdasarkan naluri penyelamatan diri agar tidak menjadi korban berikutnya, namun perilaku saksi sangat berpengaruh pada korban yang merasa tidak berdaya. Korban merasa dikucilkan dan sendirian dalam menghadapi tekanan. Dalam konteks penelitian ini, pelaku adalah siswa lain di sekolah subjek, sedangkan korban adalah subjek. Pada subjek 3,

  Lane (dalam Xin Ma, 204) mengungkapkan bahwa bullying bagi laki-laki cenderung merupakan unjuk kekuatan yang menjadi dasar dalam relasi sosial, sementara bagi perempuan aktivitas-aktivitas afiliasi seperti grup pertemanan cenderung merupakan tempat munculnya perilaku

  

bullying . Pendapat tersebut sesuai dengan hasil dalam penelitian ini.

  Subjek 3 berjenis kelamin laki-laki. Pelaku bullying merupakan senior dan gurunya, sementara siswa lainnya bisa dikatakan sebagai saksi aktif.

  Budaya senioritas di sekolah menyebabkan siswa yang berada di tingkat atas mencari korban untuk unjuk kekuatan, disamping itu faktor kepuasaan bahwa seseorang dapat melakukan agresi pada orang lain turut mendukung. Sigmund Freud (dalam Helmi et al, 1998) menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi bawah sadar, yaitu dorongan merusak diri (thanatos) yang kemudian berkembang dengan ditujukan pada orang lain. Operasinalisasi dorongan merusak ini dialihkan pada objek yang dijadikan kambing hitam, atau mungkin disublimasi agar dapat diterima oleh masyarakat (Baron & Byrne, 1994 dalam Helmi et al, 1998). Objek pelampiasan dorongan agresi inilah yang menjadi korban bullying. Pada subjek 1 dan 2 yang berjenis kelamin perempuan, pelaku adalah teman sekelasnya yang tadinya merupakan teman dekat mereka dalam kelompok persahabatan.

  Dari hasil penelitian diketahui ketiga subjek mempersepsikan bahwa bullying melukai secara psikologis. Subjek 3 bahkan juga Sementara itu, bullying juga menimbulkan perasaan kesepian dan menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk belajar di sekolah.

  Ketiga subjek mengambil langkah yang berbeda dalam merespon

  

bullying yang menimpa mereka. Subjek 1 menghindari bullying dengan cara menarik diri dari siswa lain dan lebih suka sendirian. Subjek 2 menghindari bullying dengan cara menuruti keinginan pelaku untuk terus bersama pelaku dalam semua kegiatan di sekolah ataupun di luar sekolah. Sementara itu subjek 3 menghindari bullying dengan cara keluar dari sekolah.

  Langkah lain yang dilakukan subjek dapat dijelaskan sebagai berikut. Subjek 1 mencoba melibatkan pihak ketiga, yaitu guru. Subjek 1 meminta bantuan pada guru Bimbingan & Konseling, namun hal tersebut tidak menghentikan usaha para pelaku dalam menekan subjek. Subjek 2 dan subjek 3 tidak meminta bantuan guru BK karena menilai guru BK tidak mau ikut campur dalam masalah mereka. Ketiga subjek berpendapat bahwa guru-guru di sekolah kurang memperhatikan masalah yang terjadi antar siswa. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Sejiwa (Sindo, 2007) bahwa guru-guru di 3 SMA di Pulau Jawa berpendapat penggencetan dan olok-olok adalah hal biasa.

  Beberapa orang tua pun berpendapat bullying hanya merupakan ujian kehidupan bagi anak agar menjadi pribadi yang tangguh ( tampak dan mendorong korban untuk melakukan bunuh diri, namun dapat membuat korban menarik diri dan cenderung tidak berani untuk mengatakan pendapatnya pada orang lain. Hal ini seperti yang dialami oleh ketiga subjek dalam penelitian ini. Ketiga subjek lebih berhati-hati dalam berteman dan cenderung menarik diri dari orang lain. Subjek merasa sendirian dalam menghadapi bullying dan dalam menjalani aktivitasnya di sekolah, sementara itu guru-guru sebagai pihak yang memiliki kekuasaan lebih kuat di sekolah, tidak menghiraukan masalah subjek.

  Ketiga subjek merasa bullying mengganggu proses belajar di sekolah karena merasa tidak aman dan nyaman. Subjek 1 dan 3 tidak pernah dilibatkan dalam proses di kelas. Subjek 2 mengakui bahwa ia sulit memusatkan diri untuk belajar di kelas dan tempat les karena pelaku yang duduk dibelakang subjek terus menerus menyindir dan membicarakan hal buruk tentang diri subjek pada siswa lain.

  Subjek 2 mengatakan, “Nggak konsen juga, selain gelisah, cemah, aduh.. ini orang pengen tak apain.. gitu rasanya kok, kalau gak diem-diem, ngomong terus.” (IT, no. 255-256). Subjek 2 juga sangat merasa terganggu karena tidak bisa mendapat kelompok dalam pengerjaan tugas kelompok dari guru. Subjek 2 mengatakan,

  “Ngganggu banget, ya itu, dia nggak mau nyontekin gitu (tertawa), terus tugas nggak nggarap bareng-bareng terus, ngganggu konsen juga, aku sudah takut, kelas tiga gitu, waktu itu 4.01 kalau nggak salah, sudah gitu aku ngliat EBTANAS tahun-tahun lalu tuh serem banget. kejadian 3 bulan itu, ngerasanya konsentrasi aja bener-bener nggak bisa. Les aja mereka biasanya duduk bareng sama aku, tau-tau kan kita les tu berenam. Cowok 3 cewek 3, eh, cowok 3 ceweknya 4. Jadi cowoknya tu dideketin ke kursiku semua yang 3nya, paling si Tika itu yang masih bantuin aku. Yang tiganya cuek” (IT, no. 263-270). Subjek 2 akan menghadapi EBTANAS membuat subjek tidak nyaman baik di sekolah maupun di tempat les karena terus menerus merasa tertekan oleh perlakuan teman-temannya.

  Perasaan ketidakamanan dan ketidaknyamanan siswa di sekolah seharusnya tidak boleh terjadi karena sekolah seharusnya menjadi tempat dan lingkungan yang aman karena menjadi tempat belajar dan berkembang bagi anak (Neser, et al). Peran guru sangat besar dalam menciptakan kondisi tersebut. Peneliti menemukan bahwa ketiga subjek mengharapkan adanya dukungan dan bantuan guru dalam mengatasi bullying. Menurut pendapat peneliti, sekolah pun perlu membuat kebijakan antibullying karena dari survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap 250 guru dan orang tua dari berbagai daerah di Indonesia, diketahui bahwa 94,9% peserta yang hadir menyatakan bahwa bullying memang terjadi di sekolah- sekolah di Indonesia (Yayasan Sejiwa, 2008).

  Dari prosentase di atas, peneliti merasa bahwa fenomena bullying adalah sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri terjadi di sekitar kita. Fakta menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menanggulanginya masih rendah. Oleh karena itu peneliti melihat bahwa penelitian semacam fenomena bullying, termasuk dampaknya pada perkembangan diri korban.

  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa korban mempersepsi

  

bullying sebagai sesuatu yang menyakitkan, menimbulkan perasaan

  tertekan dan kesepian, dan mengganggu proses belajar di sekolah. Hal ini semakin memperkuat pernyataan dari Yayasan Sejiwa (2008) bahwa

  

bulying melukai hati korban dan menimbulkan tekanan sehingga dapat

  merusak harga diri korban. Kochnderfer dkk memaparkan bahwa bullying berkaitan dengan perkembangan distress psikologis secara umum, dan kurangnya kemampuan penyesuaian psikososial (Kochenderfer dkk dalam Raskauskas & et al, 2007). Berbagai indikator korban bullying adalah tingkat kecemasan yang tinggi, simtom-simtom depresi, dan rendahnya penilaian diri (Grills dkk dalam Raskauskas et al, 2007). Dengan demikian diketahui bahwa bullying bisa menjadi sesuatu yang sangat mengganggu dan menimbulkan dampak negatif pada diri korban seperti perilaku menarik diri dari lingkungan sosial di sekolah. Peneliti berpendapat bahwa pengembangan kepribadian siswa di sekolah dapat dilakukan dengan banyak cara tanpa menimbulkan resiko kerusakan fisik dan psikologis.

  Peneliti juga memandang pentingnya peran aktif guru, orang tua, dan masyarakat untuk mengawasi jika seorang atau sekelompok siswa menjadi korban bullying dan membutuhkan pertolongan. terhadap fenomena bullying di sekolah, dapat disimpulkan bahwa : 1.

  Para korban mempersepsikan bullying sebagai suatu hal yang menyakitkan, menimbulkan perasaan tertekan dan kesepian, dan mengganggu dalam proses belajar di sekolah.

  2. Para korban mengambil langkah yang berbeda untuk menghentikan bullying yang terjadi. Subjek 1 dengan cara menarik diri dari siswa-siswa lain, subjek 2 dengan cara menuruti kemauan pelaku, dan subjek 3 dengan cara keluar dari sekolah.

  3. Para korban mengharapkan dukungan dari guru-guru agar membantu menyelesaikan masalah bullying yang dialami oleh siswa.

B. Saran

Saran bagi korban bullying

  Korban bullying sebaiknya menceritakan masalahnya pada orang tua dan guru agar mereka memahami masalah korban dan dapat memberi saran atau mengambil tindakan yang diperlukan. Korban juga dapat melakukan konsultasi pada guru bimbingan dan konseling di sekolah, maupun dalam situs-situs yang membantu korban bullying di internet.

  2. Saran bagi orang tua dan guru di sekolah Orang tua dan guru dapat bekerja sama dalam memperhatikan pergaulan siswa sehingga dapat mengidentifikasi korban bullying yang membutuhkan pertolongan. Orang tua dan guru dapat bekerja sama dengan psikolog dalam memecahkan masalah dan menolong korban

  bullying. Sekolah disarankan membuat program yang meningkatkan

  kebersamaan dan sikap saling menghargai antar siswa. Guru juga perlu memberikan hukuman yang tegas terhadap pelaku bullying, dan melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya bullying di sekolah.

  3. Saran bagi penelitian selanjutnya a.

  Penelitian tentang bullying masih jarang dilakukan di Indonesia, karena itu peneliti menyarankan peneliti lain agar melakukan penelitian lebih lanjut tentang bullying baik yang terjadi di sekolah, di rumah, maupun di tempat kerja.

  b.

  Peneliti menyarankan agar penelitian-penelitian selanjutnya terkait masalah bullying dilakukan bukan hanya dengan metode kualitatif, data yang saling melengkapi.

  

Daftar Pustaka

  Achmadi, A. & Narbuko, C. (1991). Metode Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara. Agnes, I. E. (2007). Kekerasan (Bullying) di Sekolah, materi seminar. Andriani, F. (2001). Perbedaan Tingkat Persepsi antara Mahasiswa yang

  

Belajar Psikologi dan yang Tidak Belajar Psikologi . Dalam Insan Media

Psikologi, Vol. 3,.

  Atkinson, R. L., Atkinson, R. C., Smith, E. E., & Bem, D. J. (2002).

  Pengantar Psikologi (edisi sebelas). Batam : Interaksara.

  Berk, L. E. (2006). Child Development, 7ed. Boston: Pearson Education Inc. Chaplin, J. P. (2002). Kamus Lengkap Psikologi. Edisi. 1, Cet. 8. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

  Elmest, D, G, Kantowitz, B. H & Roediger III, H. L. (2003). Research

  th ed methods in psychology (7 ). Belmont: Thomson Woodsworth.

  Ernita, E. W. (2004). Hubungan Persepsi terhadap Kepemimpinan Fak.

  Demokratis Atasan dengan Motivasi Berprestasi Karyawan (Skripsi).

  Psikologi Universitas. Sanata Dharma. Greene, M. B. (2006). Bullying in School: A plea for Measure of Human Rights. Journal of Social Issues . Vol. 62, No. 1, pp. 63-79.

  Gultom, J. Kompas. 12 November 2007. Kekerasan di Sekolah, Wajarkah? Helmi, A. F. & Soedarjo. (1998). Beberapa Perspektif Perilaku Agresi. Buletin Psikologi, Tahun I, No. 2 Desember 1998. Rentang Kehidupan (Edisi Kelima). Jakarta: Erlangga. http:// . Suryanto, Swastioko Budhi. Friday, 25 May (2007). Bullying bikin anak depresi dan bunuh diri. http://. Budi, S. (2007). http:/ Indarini, Nurvita. (2007). Banyak Guru Anggap .

  Bullying bukan Masalah Serius

  . Tarmudji, T. (2001). Hubungan Pola Asuh Orangtua dan Agresivitas Remaja . Jurnal. . Modzeleski, Bill. (2007). Exploring the Nature an Prevention of Bullying .

  

. Riauskina (2007). Bullying dalam Dunia

Pendidikan (bagian 1) .

   . Sri, Triati & Dariyo, Agus. Perbandingan

  

Tingkat Kreativitas Verbal pada Mahasiswa Paikologi yang Mengalami Pola

Asuh Demokratis, Otoriter, dan Permisif.

   Akhmadianor. (2007). Memaknai Pesan Antibullying . Tirani, Edwin. (2007). Kekerasan Terhadap Anak Meningkat.

   U.S. Departement of Education (2007). Exploring the Nature and Prevention of Bullying .

  . Clara. (2004). Menghadapi remaja sekarang, beda (artikel). Indarini, (2007). Artikel tentang Bullying. Sindo, Mei 2007.

  Irwanto, dkk. (1996). Psikologi Umum Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: APTIK. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Istianah, A. Rahman. (2005). Hubungan antara Persepsi terhadap Pola Asuh Gajah Mada.

  Kartono, Kartini. (1982). Psikologi Anak (Cetakan ke dua). Bandung: Alumni. Kompas. Artikel tentang Bullying. Juli (2007). Kompas. 11 November (2007). Geng di SMA 34 Siksa Yunior.

  Mash, Eric J., Wolfe, David A. Abnormal Child Psychology. USA: Wadsworth Publishing Company. Ma, Xin. (2001). Bullying and Being Bullied: To What Extent Are Bullies Also

Victims. American Education Research Journal. Summer 2001, Vol. 38, No. 2.

pp. 351-370. Mc Devitt, T. M. & Ormrod, J. E. (2004). Child Development. New Jersey: Pearson Education, Inc.

  Milsom, Amy & Gallo, L. L. (2006). Bullying in Middle Schools: Prevention

  

and Intervention . Journal from National Middle School Association. January

2006. Volume 37. No. 3, pp. 12-19.

  Moleong, L. J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Neser, Ovens, Merwe, Morodi dan Ladikos. (2002) . Peer Victimisation in

  

Schools: The Victims. University of South America (Departement of

Criminology).

  Nurdahlena. (2004). Hubungan antara Persepsi Remaja Awal terhadap Pola

Asuh Orang Tua Otoriter dengan Motivasi Berprestasi (Naskah Publikasi).

Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Pellegrini, A. D. & Bartini, M. (2000). A Longitudinal Study of Bullying,

  

Victimization, and Peer Affiliation During the Transition From Primary

School to Middle School . American Educational Reseach Journal. Vol. 37, No.

  3, pp. 699-725. Poerwandari, K. (2005). Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia . Jakarta : LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  Raskauskas, J. & Soltz, A. D. (2007). Involvement in Traditional and Developmental Psychology, May Electronic Bullying Among Adolescent. 2007 Vol 43, No. 3, pp.564-575.

  Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development, Perkembangan Masa Hidup (Jilid I). Jakarta: Erlangga. Sarwono, S. W. Kompas. 12 November (2007). Hukum Rimba dalam Pendidikan. Siagian (1989). Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.

  Suseno, N. E. S. Urutan Kelahiran dan Agresivitas. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

  Wisjnu, M & Adiyanti, M.G. 1992. Pengaruh Film Televisi terhadap Tingkah

  

Laku Anak Agresif. Jurnal Psikologi No. 1 1-4. Yogyakarta: Universitas Gajah

Mada.

  Yayasan Sejiwa. (2008). Bullying, Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan di Lingkungan Anak. Jakarta: Grasindo. Yuranoa, Feni. (2005). Hubungan antara Pola Asuh Orangtua, Lingkungan

  Sekolah, dan Inteligensi dengan Kreativitas Verbal Siswa SMS di Surabaya (Tesis). Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. Subjek 1, CY

  NB Wawancara 1, 21 Januari 2008 Kode Analisis

  1 T: Bagaimana hubungan anda dengan orang tua anda dan saudara-saudara? J: Baik, sama mama baik, sama Cy juga baik, sama Ch tu nggak terlalu, sama papa juga LBkel Memiliki relasi yang baik nggak terlalu. Kaya misalnya… apa ya.. ya sama mereka tu jauh gitu.. ngerasa nggak dengan ibu dan adik bungsu. cocok aja sama mereka.

  Merasa tidak cocok dengan ayah dan adiknya yang pertama.

  5 T: Jauh? Bisa dijelaskan lebih lanjut? J: Apa ya.. Papa kan kasar.. gitu kan.. kasar banget.. terus Christian apa ya.. Aku bener- LBkel Ayah berperilaku kasar. bener ngerasa nggak cocok dengan sikap-sikapnya itu. Ya apa ya.. aku ngerasa nggak cocok sama Ch. T: Tadi hubungan dengan ayah anda… ayah kasar.. terus hubungan dengan mama anda 10 gimana? J: Baik.. lebih dekat.. ya sering cerita.. gitu, kalau ada masalah apa.. cerita.. gitu. Lbkel Subjek dekat dengan ibunya. Maksudnya.. sebagai tempat sampahnya gitu lho.

  Sering menceritakan masalah pada ibu. T: Terus dengan adik-adik anda? J: Ya tadi kan.. ngerasa jauh, nggak enak, aku ngerasa aja nggak cocok sama Ch soalnya Lbkel

  15 Ch itu keras. Kalau aku kerasin, tambah keras.. kalo Cy itu, sama Cy.. dia itu kan, aku keras, dia bisa lembut, jadi aku cocok sama dia.

  T: Ch itu adik nomor dua, Cy itu nomor tiga. Terus menurut anda, pola asuh seperti apa yang diterapkan oleh orang tua? J: Apa ya, kalo papa itu.. Jadi dia itu keras dan anak-anaknya itu harus seperti yang LBkel Ayah keras, otoriter. Ayah 20 diinginkan gitu lho. Intinya sepertinya kok aku ngerasanya seperti jadi bonekanya mengekang kebebasan anak- ciptaannya papa. Gitu, jadi kan..anak-anak ga diberi kebebasan. Ya seperti itu.. kalo anaknya. Ibu cenderung mama itu, bebas, ya terserah kamu berekspresi, terserah, tapi ya…kamu tau batasan dan permisif, memberi kebebasan. bisa bertanggung jawab gitu. Kamu mempertangungjawabkan apa yang sudah kamu buat. Dia ngajarin gitu, ngadepin hidup. Ngadepin hidup kan.. apa hidup itu..kita juga 25 harus bertanggung jawab kan sama hidup kita.. seperti itu, ya papa ngajarin seperti itu

  T: Lalu.. bagaimana tanggapan anda terhadap orang tua yang memberikan hukuman secara fisik? J: Nggak senang. Soalnya itu bukan mendidik, tapi malah apa ya.. ngajarin anak untuk Cpkrs Tidak setuju dengan hukuman lebih keras lagi, jadi lebih kasar lagi. Jadi kan aku berpikir, “Aduh gua ni dirumah udah fisik yang dilakukan oleh orang

  30 dikasarin, gini..gini..gini jadi wajar dong diluar bisa dikasarin, gua bisa ngasarin orang.” tua karena dapat ditiru oleh anak.

  Seperti itu, jadi ya.. nggak suka aja. Nggak baik banget. Itu kan udah kekerasan kan.. Nggak suka. T: Terus, bagaimana tanggapan anda terhadap kekerasan yang terjadi dalam masyarakat? Misalnya kita tahu ada maling dipukulin.

  35 J: Ga setuju.. kan. Main hakim sendiri kan. Pengadilan sudah ada gitu lho, kenapa mereka Cpkrs ngehakimin orang itu, apa mereka juga nggak pernah buat salah, kayak gitu..

  T: Terus, terhadap kasus IPDN itu.. bagaimana tanggapan anda mengenai perploncoan di sekolah-sekolah? J: Mm.. gimana ya.. Itu tu kaya ajang balas dendam gitu lho, soalnya, disekolahku juga Cpkrs Perploncoan merupakan ajang 40 gitu. Pas aku kelas satu juga, kelas dua kan sudah dihapus. Sampe kelas satu kita. Kaya balas dendam karena

  IPDN gitu, jadi ajang perploncoan. Jadi angkatan atas ngebales dendam kebawahnya, itu menimbulkan sakit hati. kan sama aja.. kan harus.. kan mereka mendidik gitu.. Ya mereka jadi bukan mendidik, jadinya menimbulkan sakit hati dan akhirnya mikirnya “gua bales dendam ni sama dibawahnya..” seperti itu.. ya tetep nggak suka aja, ini kan sekolah, kita masuk untuk 45 menuntut ilmu, tapi kenapa jadi ajang balas dendam, kekerasan. Ya kadang bisa menerima (mengambil) pelajaran lah (dari kasus yang terjadi). Kaya gitu.. T: Terus kalau.. itu kan perploncoan seperti apa.. tadi kan perploncoan secara.. mungkin nggak terlalu ekstrim ya..

  J: Ekstrim.. kalau disekolahku dulu ekstrim banget, sampe apa ya.. pukul.. digebukkin, Di sekolah pernah ada kasus- 50 kaya IPDN gitu. Tapi nggak, maksudnya nggak sampai gimana banget. Tapi pernah kasus pemukulan. sampai berdarah-darah juga pernah.. gitu lho.. ya serem.

  T: Kalau menurut anda sendiri yang kasus IPDN, sampai mengakibatkan kematian.. J: Ya itu bener-bener sudah kelewatan batas kan. Harusnya mereka mendidik.. ok mungkin Cpkrs Kasus penganiayaan tidak cara mereka mendidik militer gitu.. Tapi kalau itu kan sudah diluar batas banget apalagi mendidik dan sudah melewati

  55 sampai menghilangkan nyawa orang. Mereka mau nggak kalau mereka yang digitukan. batas (kemanusiaan).

  T: Ok jadi kalau yang di IPDN itu melanggar batas, bagaimana dengan yang terjadi disekolah anda, menurut anda itu melanggar batas atau sesuatu yang wajar? J: Sebenarnya sih sudah benar-benar melanggar batas. Cuma jadinya kan kaya adat.. Cpkrs budaya.. tradisi yang dilaksanakan bertahun-tahun dan mendarah daging di “X” (SMA

  60 subjek), dan sampai sekarang sedikit-sedikitnya masih ada.

  T: Bagaimana sih bentuk intimidasi yang terjadi di sekolah anda? J: Kalau sekolahku, waktu jaman masih kelas satu, asramanya yang aku tahu itu tu sampai BF Bentuk bullying di sekolah ngegebukin.. terus kalau misalnya rapat, rapat bareng, gebukin gitu… terus kalau misalnya diantaranya penganiayaan ada salah dikit, ditarik ke WC, itu di gebukkin. Gebuk-gebukkan seperti itu, pemukulan- Bentuk bullying di sekolah 65 pemukulan seperti itu yang terjadi. diantaranya penganiayaan secara fisik, dipukuli pada saat rapat, atau di WC sekolah. T: Itu yang terjadi secara fisik, bagaimana yang terjadi secara psikis, secara psikologis, bentuk lain selain secara fisik? J: Mm.. dihina-hina. Sampai gimana ya.. bener-bener, sampai ada yang keluar sekolah BVL Bentuk bullying secara verbal gara-gara nggak tahan gitu, ya banyak.. Tapi sekarang untung sudah nggak seperti dulu yang terjadi yaitu dihina sampai

  70 lagi, kalau dulu kan bener-bener serem banget, hinaannya itu bener-bener nggak kuat menimbulkan tekanan yang sampai banyak yang keluar sekolah gara-gara hinaan itu. dalam sehingga beberapa korban memilih untuk keluar dari sekolah. T: Tadi kan nada bentuk secara fisik, terus dihina gitu ya.. ada yang lain? Secara kekerasan atau pelecehan seksual, atau yang lain? J: Setauku sih kalau nggak salah, kan cowok gitu, diiniin lho.. ininya tu gimana ya.. BS Subjek mendengar isu bahwa 75 dimasturbasi sama temen-temennya. Dia sendiri dimasturbasi sampai keluar spermanya ada temannya yang menjadi sama teman-temannya. Dan itu dengan cara kekerasan, jadi dia dibekap terus diitu… korban pelecehan seksual oleh teman-temannya. T: Itu sudah biasa atau.. J: Dulu itu sudah biasa, tapi sekarang sudah nggak lagi.. setahuku sih seperti itu Dulu di sekolah subjek kekerasan sudah biasa terjadi, tapi sekarang tidak lagi. T: Kalau tadi secara fisik terus dihina, terus tadi yang apa tadi yang.. secara seksual tadi, 80 itu dilakukan oleh kelompok terhadap satu orang atau bagaimana? J: Sekelompok terhadap satu orang.

  Pelaku berkelompok. T: Dan itu terjadi dalam waktu secara singkat atau dalam waktu yang.. J: E.. singkat, tapi apa ya, misalnya kurun waktunya tu hari ini gitu.. terus muncul laginya Frekuensi kemunculan kejadian beberapa bulan, setelah lupa, bisa muncul lagi. tidak tetap.

  85 T: Terhadap orang yang sama? T: Kalau misalnya kamu bilang tadi, terjadi terus nanti beberapa waktu kemudian nanti Ada beberapa korban mengalami terjadi lagi. Itu pada saat terjadi itu gimana? Apa dia dicari gitu..gimana? Atau tidak bullying fisik secara bergantian. sengaja ketemu korban.. J: Sengaja dicari kayaknya, dicari-cari kayak gimana caranya supaya orang itu bisa dijadiin Pyb Alasan bullying dicari-cari oleh 90 korban. pelaku. T: Terus.. tadi kan ada yang bentuk fisik, terus ada yang dihina secara verbal gitu, terus yang secara seksual tadi. Bagaimana tanggapan anda terhadap masing-masing bentuk indimidasi tersebut? J: Ya itu, tetap nggak suka dan nggak setuju. Karena itu sudah keterlaluan, melecehkan Crkrs Subjek tidak setuju adanya 95 manusia itu..

  bullying karena tidak manusiawi.

  T: Intimidasi yang paling parah menurut anda seperti apa? J: Apa ya… digebukkin itu. Digebuk-gebukkin itu lah sama temenku, aku ngeliat, BF Pengalaman teman subjek yang misalnya mereka malam ini digebukkin, walaupun mereka nggak ngomong, tapi besoknya mengalami bullying fisik. aku ngeliat muka-muka mereka. Biru-biru legam mengerikan gitu. 100 T: Terus, sekarang saya ingin mengetahui intimidasi yang anda alami. Bagaimana pandangan anda terhadap intimidasi yang menimpa anda?

  J: Kesel, sebel, kesel, benci banget.. pokoknya campur aduk rasanya. Benar-benar kecewa Subjek merasa kesal, jengkel, lah rasanya jadi satu. kecewa, dan benci saat menjadi korban bullying.

  T: Sebelumnya, bisa diceritakan nggak gimana itu, bagaimana kejadiannya, prosesnya? 105 J: Waktu itu kan pagi-pagi, aku masuk sekolah. Terus disekolah kan ada papan data. Papan BNTL Pengalaman subjek saat menjadi data itu ditulisin, ini cewek umur 17 tahun, masih virgin, nomer HP sekian,, terus apa korban bullying. Pelaku menulis sih… bayar berapa aja silahkan. Siap pakai gitu.. terus aku tadinya mikirnya, ah mungkin di papan pengumuman seolah- siapa gitu, bukan aku. Tapi aku lihat lagi nomernya, kok aku ingat, kok kayaknya kenal olah subjek adalah wanita ya..baru aku sadar itu tu nomerku. Tadinya aku.. anak-anak satu kelas semuanya ketawa, panggilan (PSK). 110 terus nggak tahu siapa (yang menulis) terus aku langsung lapor ke BP. Akhirnya ada satu orang temenku, dia ngaku kalau sebenarnya itu dia yang nulis. Dia ngomongnya ke aku karena dia kesal sama aku, dan segala macem pokoknya intinya dia kesal sama aku. Aku sampai bilang, sudah, kalau gini caranya ku pindah sekolah aja. Aku nggak kuat gitu, dia bilang.. akhirnya dia minta maaf gitu dan sampai sekarang ya Puji Tuhan nggak pernah 115 terulang lagi lah, dia nggak pernah ngulang lagi. T: Pernah nggak anda merasa tertekan oleh perilaku teman-teman anda? J: Waktu jaman kelas satu, tempatku sampai benar-benar dijauhin, sama anak-anak. Aku BNTL Waktu kelas 1 subjek mengalami nggak tahu salahku apa pokoknya benar-benar dijauhin banget, disana ada yang bullying relasional. Pelaku memprovokatori semua, satu kelas gitu, dijauhin banget. Terus.. ya sudah, aku terima memprovokatori supaya subjek terima aja. Terus, waktu masuk kelas dua awal, aku juga merasa dijauhin, tapi mereka dikucilkan oleh teman-teman

  120 nggak ekstrim ngejauhinnya kayak waktu kelas satu dulu, dijauhin.Aku sampe duduk sekelasnya. sendirian, satu kelas kemana sendiri aku sampai nggak tahu. Jadi misalnya aku duduk di pojokan sendiri, mereka kumpul sendiri. Aku sampai nggak tahu ada acara apa di kelas.

  Kalo kelas dua pernah ngerasain juga, cuma nggak sampai ekstrim banget, itu cuma awal- awal kelas dua saja terus akhir-akhirnya nggak pernah lagi, sampai sekarang nggak pernah 125 lagi.

  T: Jadi dulu tu anda ngerasain bentuknya tu kaya disingkirkan gitu, atau dihindari gitu J: Iya

  T: Selain itu, ada nggak bentuk yang lain? Secara ucapan, atau tindakan yang lain? J: Enggak sih, cuma nyindir, kadang-kadang.. ya ngatain “ih ganjen sih, gatel”. Tapi ya BVL Pelaku melakukan bullying

  130 sudah si, nggak pernah kupikirkan banget, sampai tulisan yang perek itu. Ya itu benar- benar aku bawa masalah itu jadi besar, tak bawa ke BP. verbal dengan menyindir-nyindir subjek.

  T: Sebelumnya terhadap teman anda yang menurut anda memprovokatori, itu anda merasa pernah melakukan kesalahan kepadanya nggak? 135 140

  J: Apa ya.. bukan kesalahan sih, gimana ya, sama dia itu, jadi dia tu pernah berusaha, jadi aku sama cowokku yang dulu itu waktu kelas satu, yaitu dia berusaha ngehancurin hubunganku sama cowokku yang dulu. Nggak tahu kenapa, aku juga nggak tahu kenapa, mungkin temenku juga bilang dia emang sirik, atau segala macem aku juga nggak tahu... Berusaha ngehancurin hubungan itu, aku juga marah-marah ke dia, nggak tau itu apa itu kesalahanku atau gimana. Kebawa-bawa sampai kelas dua, sampai dia yang nulisin itu. Kalau bisa mempermalukan aku didepan umum lah.

  Pyb Subjek tidak tahu pasti penyebab pelaku melakukan bullying padanya. Subjek mengira penyebabnya adalah subjek pernah memarahi pelaku. Karena itu pelaku ingin membalas dengan mempermalukan subjek. T: Tanggapan teman-teman yang lain? J: Ya mereka dukung.. dukung (pelaku) istilahnya kan. Maksudnya kan ikut ketawa, ikut gimana.

  RolT Teman-teman yang lain mendukung pelaku dengan ikut menertawakan dan mengucilkan subjek. T: Terus pernah nggak anda mencoba melawan? 145 J: Mm.. pernah, dulu waktu aku kelas dua kan dia tu, memperlakukan aku tu kayak gimana ya. Tiba-tiba megang-megang nggak jelas, pokoknya aku sudah ngerasa dia ngelecehin. T: Megang-megang misalnya? 150 J: Tangan dia ngerangkul atau gimana, tiba-tiba gimana, meluk-meluk nggak jelas.

  Ternyata setelah aku tahu sekarang, bukan cuma sama aku, sama teman-teman yang laen juga yang cewek-cewek terutama, sering banget megangin BH orang.. diginiin (memeragakan menarik BH dari belakang), terus sering banget grepe-grepein (meraba- raba) temen-temenku. Aku juga nggak tahu kenapa, susu (payudara)nya itu dipegang.

  BS Subjek pernah berusaha melawan saat pelaku mencoba melakukan bullying secara seksual.

  T: Si pelaku ini laki-laki? Pelaku berjenis kelamin laki- laki.

  155 J: He eh.Temenku juga ada, mungkin temenku rasanya biasa ya, tapi kalau aku risih banget, terus pernah dia megang-megang tali Braku, ditarik-tarik gitu, aku bilang “tolong

  BS Subjek melawan pelaku dengan mengutarakan keberatannya kamu sama cewek lain boleh seperti itu tapi sama aku nggak” akhirnya dia diam, dan dia pada pelaku. pergi. Aku nggak bisa secara kasar, aku nggak bisa mukul dia, dia kan cowok dan bodinya lebih gede dari aku banget. Jadi aku ya cuma bisa ngomong aja gitu, sampai sekarang ga pernah lagi. 160 T: Si pelaku ini sama dengan yang menghina, menyindir itu? J: Iya.

  T: Sama ya, ok itu berarti masuk secara seksual juga ya, pelecehan. Terus secara menghina juga, terus ada lagi? Bentuk yang lain mungkin? J: Apa ya.. itu aja, mukul sih nggak bisa, nggak pernah mukul.

  Pelaku tidak pernah melakukan fisik.

  bullying

  165 T: Relasi juga? Dia mempengaruhi teman-teman yang lain gitu? J: Enggak itu sudah beda orang. Dia juga ada mempengaruhi sih, tapi nggak seekstrim BVL Pelaku laki-laki dan pelaku yang waktu kelas satu. Tempatku itu ada geng, tiba-tiba menjauhi aku, pokoknya intinya aku melakukan bullying relasional dicampakkan sama mereka, mereka mempengaruhi sekelasku supaya nggak deket-deket sewaktu subjek kelas 1 SMA sama aku jadi mereka bertampang musuh ke aku. Benar-benar sampai apa ya, aku tu adalah orang yang berbeda, yaitu

  170 sampai dijauhin banget, nggak dihiraukan banget sebagai warga kelas.. salah satu teman salah satu teman dalam gengku. geng/grup pertemanan. T: Terhadap teman-teman yang se geng ini, apakah anda pernah melakukan kesalahan terhadap mereka? J: Nggak tahu sih, mungkin mereka merasa gimana gitu kan “cewek” kan soalnya, aku Pyb Subjek tidak tahu pasti penyebab 175 ngerasa sih nggak pernah membuat mereka apa ya. Cuma aku nggak tahu kenapa mereka pelaku yang mengucilkannya. membuang aku. Kadang kalau cewek itu merasa “aduh, ga sreg, musuhin aja” ya kayak Subjek mengira penyebabnya gitu, sampai sekarang sih. Kalau sekarang sih karena aku sudah pisah kelas sama mereka, adalah persaingan antar jadinya ya sudah.. temen biasa, mereka juga mulai berusaha buat mendekati aku, tapi perempuan. karena aku juga gimana ya masih terbawa traumatis masa lalu, kesel juga, ga bisa gitu lho. 180 Jadinya ya benar-benar nggak bisa menerima mereka kembali. Nerima sebagai teman biasa bisa, cuma kalau lebih dekat lagi nggak bisa.

  T: Waktu pas mereka menjauhi terus dan mempengaruhi teman-teman sekelas itu, jangka waktunya berapa lama?

  J: Setahun lebih. Kurang lebih sampai kelas dua awal-awal. Udah mulai masuk bulan Subjek mengalami bullying 185 September-an selama 1 tahun lebih. Selama kelas 1 sampai kelas 2 awal.

  T: Jadi tadi menurut anda kan kira-kira mereka mulai ngerasa nggak sreg, sama teman- teman yang cewek tadi. Terus kalau sama yang laki-laki penyebabnya karena anda pernah marah sama dia karena dia menghacurkan hubungan anda dengan mantan pacar anda. Menurut anda kira-kira ada nggak penyebab yang lain? 190 J: Kalau dari aku rasanya itu saja. Kerasa banget. T: Terus menurut anda, bentuk bullying seperti apa, atau intimidasi, seperti apa yang masih bisa diterima, bentuknya? Yang masih bisa dianggap ya, nggak apa-apa.. J: Kayaknya aku ga bisa menerima segala bentuk intimidasi, istilahnya menyakitkan kan Cpkrs Subjek menolak segala bentuk jadinya. Intimidasi bagaimana pun menyakitkan, aku nggak bisa menerima. Ngeliatin intimidasi/bullying karena semua

  195 sedikit aja misalnya digebuk secara nggak jelas saja aku sudah kesal.. nggak bisa bullying bentuknya menyakitkan korban. seperti apapun T: Kalau yang dari anda sendiri, yang telah menenimpa anda, menurut anda yang masih bisa diterima itu seperti apa? J: Sebetulnya sih aku nggak bisa menerima semuanya, cuma karena mikirnya sudah tahun Subjek bertahan di sekolah 200 ketiga sekolah, ya sudah lah buat biasa-biasa saja walaupun traumatis yang dulu masih walaupun pengalamannya sakit banget, tapi aku buatnya biasa saja. Aku nggak ingin memperpanjang saja. Tapi menjadi korban bullying masih untuk menerima, sepertinya tidak bisa menyakitkan sampai sekarang. T: Kalau yang terparah, yang paling menyakitkan itu seperti apa? J: Yaitu yang dikatain, eh, ya sama dua-duanya itu menyakitkan banget.selama dua tahun BVL Selama duduk di kelas 1 dan 205 berturut-turut. Ya sama sih sakitnya, yang kelas satu aku dijauhin itu selama setahun awal kelas 2 subjek dikucilkan sampai gimana ya benar-benar mereka itu.. oh iya... waktu kelas satu mereka juga pernah dan dipanggil dengan sebutan ngatain aku apa ya, istilahnya kaya cewek murahan, kayak gitu. Banyak teman-temanku tidak menyenangkan. sendiri kayak gitu, mereka bilang ke aku. Waktu itu sakit banget.. benar-benar nyakitin banget.

  210 T: Menurut Anda lebih parah yang mana, mereka menyebut anda cewek murahan, atau pelecehan misalnya kayak tadi narik-narik tali BH (Bra) dan lain-lain ngerangkul- ngerangkul secara nggak jelas, atau yang ini... yang dijauhi oleh teman-teman yang lain? J: Nggak tahu ya, aku ngerasa dua-duanya tu sama parah. Sama-sama menyakitkan, Cpkrs Pengalaman menjadi koban sakitnya sama. Setahun yang dijauhin itu bukan waktu yang singkat. Terus yang ini juga, bullying sangat menyakitkan

  215 benar-benar sakit lah sampai aku ngerasa aku nggak pernah buat salah sama dia, dia bagi subjek. malah.. harusnya dia itu sadar dia buat salah sama aku banyak, tapi dia tambah lagi,nambah-nambah lagi, nambah-nambah terus, nambah-nambah sakit lah.

  T: Hubungan anda dengan pelaku berarti teman ya.. Kalau dari guru sendiri gimana? Pernah nggak anda mengalami suatu perlakuan yang mungkin terasa mengintimidasi dari 220 guru atau mungkin karyawan sekolah, atau mungkin bahkan kepala sekolah? J: Nggak ada sih... T: Masalah yang menimpa anda tadi ya, dari sekian masalah-masalah itu siapa yang mengetahui tentang masalah ini? Siapa saja? J: Mama sama guru BP. Sebenarnya hampir satu sekolah tahu semua masalah itu, cuma RolO & Hampir seluruh warga sekolah 225 yang tahu rinciannya mama sama guru BP ku itu

  RolG mengetahui bullying yang menimpa subjek. Tapi yang mengetahui secara detil adalah mama dan guru BP/BK. T: Lalu bagaimana tanggapan mereka? J: Ngebelanya itu, waktu kelas satu juga masalah itu aku bawa ke BP. Jadinya guru BPnya RolO & itu membela aku. Dia nenangin aku, membuat aku ngerasa safety kalau dekat dia. Mama RolG juga sampai rela datang ke sekolah. Pas waktu kelas dua juga seperti itu, sampai guru 230 BPku rela mau nyariin sekolah baru buat aku. T: Yang waktu, masalah sama geng, sampai satu kelas ngejauhin itu... itu kan setahun.. guru BPnya itu tahu pas kapan? J: Dari awal-awal itu sudah tahu, tapi kan dia terus nge back up terus, support aku terus, ya RolG Guru BP mengetahui masalah pokoknya sejak awal permasalahan itu dia tahu terus. subjek dan terus mendukung subjek. 235 T: Lalu langkah yang diambil sama dia?

  J: Ya dia berusaha juga buat ngingetin ke kelas, soalnya dia posisi sebagai wali kelas juga, RolG Guru BP pernah memberi ngasih tahu ke kelas juga seperti itu. Tapi ya gimana ya, nggak bisa berubah juga kelasnya. pengarahan dikelas tapi tidak Ya sudah, jadinya dia back up aku terus, dukung aku terus, jadinya aku lebih deket ke dia. berpengaruh banyak dalam mengatasi bullying yang terjadi pada subjek. T: Tapi itu efeknya kerasa langsung nggak? Terhadap teman kamu, tadi kan teman sekelas 240 pada ngejauhin, kegiatan kelas apa sampai nggak tahu. Setelah sang guru BP itu mengambil tindakan, efeknya terasa nggak? Apa mungkin temen-temen tu jadi care lagi.. J: Kalau care sih enggak ya, nggak berefek kalau ke anak-anak. Cuma ke pribadi aku Subjek mendapat dukungan dari sendiri efeknya.. ketika mereka terus melecehkan aku, istilahnya, ngebuat aku tambah kuat, guru BP sehingga lebih kuat tambah kuat, tambah kuat. Jadi aku, ngerasa.. ya sudah kalau mereka mau ngelecehin, ya dalam menghadapi bullying di 245 terserah. Jadi aku ngerasa tambah kuat aja. Ke pribadi, soalnya aku ngerasa dia nge back sekolah. up, ngedukung aku T: Guru-guru yang lain selain beliau? J: Enggak sih aku nggak pernah dekat dengan guru lain selain dia Hubungan subjek hanya dekat dekat guru BP, tapi dengan guu- guru yang lain tidak. T: Tapi mereka tahu? Soal kejadian itu 250 J: Tahu

  RolG T: Dan tanggapan mereka? J: Masa bodoh.. biarin aja, maksudnya itu kan urusan.. nggak tahu sih, dari aku pribadi aku RolG Guru-guru yang lain tahu tentang ngerasa kayak mereka ngomong “itu kan urusan kamu, bukan urusan kami, kami cuma masalah subjek, tapi tidak mau didik kamu, belajar, selesai. Kalau kamu punya masalah pergaulan, itu kamu sendiri.. gitu ikut campur atau menolong 255 lho. Seperti itu rata-rata gurunya. subjek. T: Terus menurut anda tanggapan mereka seperti itu menurut anda gimana? J; E.. kesel, tapi ya sudah lah.. tapi aku juga mikirnya emang bukan urusan guru gitu lho, Rol Membantu subjek bukan kerja mereka akan cuma didik, ngajar aja. Urusan mereka bukan urusanku, mereka nggak kewajiban guru karena tugas ada hak, maksudnya, mereka juga nggak ada guna ngurusin aku. Kan nggak nambah gaji mereka adalah memberikan 260 mereka. pelajaran di kelas. T: Tapi sebenarnya anda mengharapkan nggak, dukungan atau apa.. J: Iya.. mengharapkan, cuma kadang-kadang mereka juga lebh mendukung temen-temenku Subjek mengharapkan dukungan sih. dari guru-guru yang lain. T: Misalnya? 265 J: Pernah waktu itu di BP, guru olahragaku, cewek, mendukung temen-temenku yang RolG menjauhi aku, seperti itu. T: Bentuknya?

  J: Jadi pas cerita ke BP, aku sama temenku dari kelas sebelah, dari kelas A, yang dukung RolG Guru olahraga mendukung aku dia sama mantanku yang waktu itu. Terus, aku juga nggak tahu guruku itu lebih pelaku bullying. 270 mendukung temen-temenku, gengku, jadi kan perwakilannya waktu itu gengku. Jadi dia mendukung perilaku itu, istilahnya terus jadi ikut menyalahkan aku.

  T: Coba, bisa ceritakan kejadiannya gimana? J: Pokoknya mereka itu kan menjauhi aku banget, jadi aku duduk di pojok. Waktu itu aku RolG Kejadian waktu guru olahraga sendirian, mantanku juga nemenin aku. Terus yang lain ngejauhin aku semua. Terus aku mendukung pelaku bullying.

  275 bawa ke BP, terus dipanggilin semua satu persatu. Akhirnya aku ngomong sama mereka, Guru ini ikut memojokkan ternyata mereka itu ngebawa guru olahragaku. Dibawa, guru olahragaku ke BP. Terus guru subjek didepan guru BP. olahragaku istilahnya juga gimana ya.. Ya istilahnya memang ini, memojokkan aku gitu lho. Akhirnya ada yang ngebela aku, temenku, sama guru BPku, sama mantanku. T: Jadi guru olahraga itu malah ngedukung teman-teman yang ngejauhin. 280 J: Iya.

  T: Selain anda, ada nggak korban lain? J: Ada, ada temenku itu juga, diajuhin kayak aku, tapi kan nggak seekstrim aku. Kalau dia BNTL Ada korban lain selain subjek tu cuma dijauhin, jadi dia tu nggak ada temen, cuma sendiri. Sendirian terus dikelas. yang menjadi korban bullying Teman-teman tu ada disekeliling dia cuma nggak pernah ngajak ngobrol dia. Kecuali kalau relasional. 285 minta jawaban, nggak tahu.. apa.. (jawaban soal) minta jawaban ke dia. Itu waktu kelas satu.

  T: Bentuk lain? Itu kan secara relasi ya, bentuk lain ada nggak? J: Mungkin itu di ceng-ceng, kaya apa itu dihina-hina, jadi sering di pacok-pacokan, BVL Korban lain itu juga mengalami dijodoh-jodohkan sampai dia nangis.. gitu pernah.

  bullying secara verbal.

  290 T: Terus kalau yang anda bilang tadi digebukin, dibawa ke itu.. anda pernah melihat langsung nggak? J: Ngelihat langsung nggak pernah kejadiannya, cuma hasilnya lihat, lebam-lebam dimata, Btbl Ada korban lain yang mengalami bengkak dibibir, sampai aku lihat bibirnya temanku pecah. Badannya biru-biru, mantanku bullying fisik. Subjek tidak juga aku lihat biru-biru semua badannya. pernah melihat kejadiannya secara langsung, namun korban itu bercerita dengan bukti lebam- lebam di tubuhnya.

  295 T: Berarti mantan anda pernah mengalami juga seperti itu? Jadi korban juga? J: Iya.

  T: Bagaimana anda mengetahui bahwa biru dan lebam-lebam itu sebagai ulah dari teman- Mantan pacar subjek mengalami temannya?

  bullying fisik.

  J: Bukan teman, tapi angkatan atasnya. Ya mereka cerita. 300 T: Cerita langsung gitu? J: Iya,

  T: Itu memang sudah terjadi sejak dulu? J: Iya, sudah menjadi tradisi T: Dan yang tadi anda dan teman anda alami, pada waktu berikutnya terjadi lagi atau 305 tidak? J: Itu tu, kalau yang itu tu.. (pemukulan) sejak aku naik kelas dua sudah nggak lagi. Tapi BF Bullying fisik berlangsung saat yang aku rasain waktu kelas satu, setahun itu terus seperti itu kejadiannya. Sebenarnya itu subjek dan temannya yang kayak masalah asrama. Istilahnya didikan militer sih, didikan IPDN gitu. menjadi korban, di kelas 1. T: Tapi apa emang ada yang dijadikan bulan-bulanan seperti itu? 310 J: Istilahnya iya..

  T: Atau semua dapat gitu? J: Yang dijadikan bulan-bulanan tu kelas satu. Ya semuanya juga dapet, kelas satu jadi bulan-bulanan kelas dua, kelas dua jadi bulan-bulanan kelas tiga. Kelas tiga bulan-bulanan alumni. 315 T: Kalau misalnya perorangan, ada nggak yang jadi target khusus?

  J: Enggak , kalau misalnya digebukin, digebukin bareng, soalnya angkatan. Jadi sakit satu BF Kelas yang lebih muda menjadi sakit semua sasaran bullying kakak kelas. T: Kalau yang menimpa anda tadi, anda sama teman-teman atau anda sendiri? J: Sendiri.

  320 T: Terus.. bagaimana saran anda agar seseorang itu terhindar dari sasaran bullying? J: Nggak tahu deh, nggak bisa ngasih saran. Aku juga nggak tahu sih.. kalau bisa ya Srn Saran subjek agar seseorang dijauhin saja orang-orang seperti itu. Orang-orang yang mengintidasi seperti itu dijauhin tidak menjadi sasaran bullying saja. Kalau misalnya itu adat, susah juga dijauhin. Istilahnya gimana ya, urut aja lah kalau adalah dengan menjauhi pelaku. diini (dibullying). 325 T: Kalau misalnya sudah terlanjur jadi korban, gimana caranya supaya tidak terus menjadi korban?

  J: Diselesaikan, lebih baik sama pihak yang berwajib lah Srn T: Sama pihak yang berwajib? J: Kayak misalnya kalau disekolah kan guru, kalau diluar itu polisi juga ada Bagi seseorang yang sudah terlanjur menjadi sasaran bullying, subjek menyarankan agar menyelesaikan masalah itu dengan pihak yang berwajib ataupun guru.

  330 T: Kalau kasusnya seperti anda, anda melaporkan ke polisi? J: Hampir, tapi nggak jadi.

  T: Tapi anda melaporkan ke guru BP tadi itu J: Iya. T: Sekarang bagaimana saran anda terhadap sekolahnya? Supaya disekolah itu tidak ada 335 lagi kekerasan dan intimidasi baik secara verbal, atau secara fisik, atau misalnya pelecehan J: Ya itu sih, dari muridnya sendiri sih, secara pribadi, tapi juga susah kan. Ya kesadaran Srn Supaya di sekolah tidak terjadi pribadi masing-masing. Percuma kalau orang mau ngeubah tapi dirinya sendiri nggak lagi kasus bullying, harus berubah. muncul dari kesadaran para murid. T: Usaha dari sekolahnya sendiri sebaiknya gimana?

  340 J: Apa ya? Kalau dari sekolahnya sendiri tu, misalnya kayak guru-guru gitu jangan Srn Dari pihak sekolah, sebaiknya memihak lah. Ya kan biasanya gitu, guru memihak yang lebih besar, yang lebih guru tidak memihak kelompok berkelompok dan berkuasa. Ya kalau bisa guru tu ngambil sebagi penengah lah. Supaya siswa yang lebih besar, tapi anak-anaknya nggak merasa kok kayaknya tambah berat situasinya. berperan sebagai penengah. T: Ok, untuk kali ini terima kasih, cukup sekian dulu, kapan-kapan kita cerita-cerita lagi. 345 Jika ada yang kurang saya akan melakukan wawancara lagi.Ok. Terima kasih.

  J: Terima kasih.

  Wawancara 2, 15 Maret 2008

  T : Kita lanjut yang kemarin ya… Aku mau tanya, kamu pernah cerita kalau hubungan dengan ayah kasar. Kasarnya itu gimana sih? J : Ya itulah, mukul, ya itu lah… mukul, terus, bentuk fisik.. kalau mental juga kadang Lbkel Ayah subjek sering memukul 350 ketekan kan. Misalnya kayak nggak dapat kasih sayang gitu. Aku jadi merasa sendiri.. subjek, sehingga subjek merasa merasa asing lah kalau dekat dia, apalagi kalau misalnya aku salah dikit dipukul, dan tidak mendapat kasih sayangnya segala macam.. dan merasaasing dengan ayahnya. T : Frekuensi dia mukul kamu itu hanya pada saat kamu melakukan kesalahan, atau nggak mesti, setahun sekali atau gimana? Atau sering?

  355 J : Dulu sering, tapi setelah sakit ini jadi jarang soalnya kau juga makin jauh.

  T : Ayah sakit stroke? J : He eh.. sejak itu aku makin jauh. Kalau setelah sakit stroke ini, sering.. Lbkel T : Kalau sekarang masih sering? J : Enggak, soalnya aku juga jarang kontak.

  Sejak ayah subjek sakit, subjek jarang dipukuli karena jarang melakukan kontak dengan ayahnya

  360 T : Sebenarnya kamu setuju nggak sih seandainya ada orang tua menghukum anaknya, jika anaknya melakukan kesalahan?

  J : Ya setuju sih, tapi bentuknya itu bukan bentuk fisik gitu lho.. Cpkrs T : Terus? J : Ya kayak misalnya lebih ke mental lah, lebih ditekankan. Misalnya ya, kalau misalnya Cpkrs Orang tua sebaiknya tidak 365 dengan omongan nggak cukup, diapain lah, pokoknya jangan sampai ke fisik, soalnya itu menghukum anak-anaknya kan sudah menyeramkan, dan itu jadi beban mental juga. Apalagi kalau dilihat teman- secara fisik, tapi secara verbal temannya, hasil pukulannya itu kan memalukan banget. Ya misalnya kayak digebukkin untk mempengaruhi psikologis pakai apa gitu. Terus nanti kan yang ditangan bekas merah, bekas biru, ditanyain “Itu anak. Korban kekerasa fisik akan kenapa?” kalau dibilang jatuh juga kan nggak nalar. merasa malu 370 T : Terus.. kamu kan pernah bilang disekolah kamu ada penganiayaan fisik gitu kan.. melanggar batas. Maksudnya batas gimana?

  J: Gimana? T : Yang di IPDN itu lho kamu bilang kan melanggar batas. Terus pas aku tanya, “Terus yang disekolah kamu gimana?” kamu bilang itu juga melanggar batas. Maksudnya

  375 melanggar batas gimana? J : Ya kan secara fisik kan, mereka mempunyai hak untuk perlindungan di dalam sekolah, Cpkrs Siswa berhak untuk dengan segala macem. Kenapa mereka jadi ya digebukkin.. ya dipukulin secara macam. Itu mendapatkan perlindungan di kan istilahnya sudah melanggar hak mereka. Melanggar apa yang seharusnya mereka sekolah. Penganiayaan fisik terima. melanggar hak tersebut. 380 T : Yang wajar itu gimana?

  J : Ya yang baik-baik aja, dengan omongan kan sudah bisa. Lagian kan sudah pada gede- Cpkrs gede ini gitu lho. Bukan masih anak kecil. T : Terus kamu bilang,dulu di sekolah waktu zaman kelas satu, di asrama, salah dikit, digebukkin.. terus kalau pas rapat, rapat di asrama apa di sekolah?

  385 J : Di asrama T : Oh diasrama juga, itu salah dikit digebukkin. Salah dikit itu maksudnya gimana? J : Ya misalnya mereka salah ngomong dikit, terus dimatiin, ya misalnya ngomong A Pyb terus… T : Di bantah gitu? 390 J : He eh.. jadinya nggak ternalar gitu, oleh B dibantah, jadinya B bingung sendiri, jadinya Pyb nggak nalar. Terus saking nggak nalarnya itu dia ngebantah lagi dan merasa bahwa benar, akhirnya digebukkin.. ya gitu. T : Sama senior itu ya? J : He eh. 395 T : Ada nggak yang sama seangkatan gitu? J : Nggak. Kalau seangkatan mah saling ini.. membantu.

  T : Ini.. kan kejadian waktu kamu ditulis.. nomor HPmu itu lho, yang kesannya kamu kayak wanita panggilan itu lho.. J : Oh he eh. 400 T : Kan waktu kamu lapor di BP, si pelaku itu bilang, dia ngelakuin itu soalnya dia kesal sama kamu, gitu kan, dan segala macam. Itu “segala macam”nya itu apa?

  J : Kesal.. mungkin kesal ya, aku pernah nyakitin dia, mungkin misalnya kayak apa ya.. Pyb dulu kan pernah, aku kan pernah mau nampar dia, tapi itu kan atas kesalahan dia sendiri. T : Kejadiannya dia ngadu kamu sama mantanmu itu ya? 405 J : Iya. Ya itu pas, ngadu aku sama mantanku, mungkin kesal itu, terus, waktu ceweknya Pyb kan pernah mau kabur dari asrama. Terus aku nahan ceweknya, terus saking bingungnya, kugampar kan.. T : Siapa? J : Ceweknya temanku itu yang ngatain aku wanita panggilan segala macam. Akhirnya Pyb 410 aku gampar, akhirnya ya bisa kutarik pulang. Mungkin dianya jadi kesal gitu ke aku, tapi aku kan mau gimana lagi, sudah ngeyelnya setengah mati ke aku. Aduh, kayak orang gila. T : Tapi itu kan pelakunya yang nulis itu cowok kan berarti? J : He eh.

  BNTL T : Terus berarti kan dia pernah nulis itu juga, pernah memprovokatori teman-teman yang 415 lain juga.

  J : He eh.

  BNTL T : Terus secara seksual dia pernah megang-megang itu juga kan J : He eh

  BS T : Ok. Terus yang waktu kelas satu itu kamu dijauhin sama anak-anak, itu ada kaitannya

  420 sama dia nggak? J : Nggak, itu emang provokator dari yang lain sendiri gitu lho. Ya kan soalnya kan, dulu Pyb & Pelaku bullying yang terjadi gengku, itu empat orang itu kan, dulu yang pertama kali masuk Mikael kan, aku yang BVL pada subjek yaitu salah satu dideketin cowok yang banyak itu. Mungkin karena mereka kesal, kesal dari situ numpuk, teman laki-lakinya, dan teman- akhinya ngebuat satu kelas akhirnya marah sama aku. Pokoknya memprovokatori, teman yang sebelumnya menjadi

  425 memfitnah aku apa gitu aku lupa. Pokoknya mereka memfitnah aku. satu kelompok pesahabatan dengan subjek.

  T : Jadi bertiga itu? J : Berempat. Kan berlima waktu itu. T : Berlima sama kamu itu? J : He eh. 430 T : Terus, kamu disukain sama cowok-cowok itu, mereka jadi sirik gitu? J : He eh.

  Pyb T : Mereka jadi memfitnah, segala macam? J : He eh.

  T : Benar-benar gara-gara si povokator ini ya makanya teman-teman sampai ngejauhin? 435 J : Iya, he eh.

  Pyb T : Terus.. si pelaku tadi kan udah memprovokatori segala macam, tapi dia nggak pernah mukul kan? J : Yang mana, si pelaku itu? T: Yang tadi yang cowok itu lho.

  440 J : Enggak sih, dia nggak bisa nyakitin cewek, cuma lebih ke mentalnya itu. BNTL T: Dia lebih menekan secara psikologis? J : He eh.

  Btbl T : Sama teman-teman yang se-geng, yang kamu cerita tadi, kamu pernah nggak melakukan kesalahan sama mereka?

  445 J : Apa ya.. apa sih, aku lupa, kayaknya pernah cuma aku benar-benar lupa gitu lho, sama.. Pyb yang aku lakuin ke mereka.

  T : Tapi kamu ngerasa?

  J : He eh, kayaknya pernah. T : Kamu kan jawabnya, pas aku tanya “Apakah anda pernah melakukan kesalahan 450 terhadap mereka, kamu jawabnya “Nggak tahu sih, mungkin mereka ngerasa gimana gitu kan “cewek”. Maksudnya “cewek” itu gimana? J : Ya kan perasaannya lebih halus. Jadi gimana ya, kalau ada yang nggak sreg sedikit Pyb sama mereka, langsung, mereka langsung ‘Ih.. kok kamu begitu sih, kok kamu begini sih..” ya gitu lah, biasa.. 455 T : O, terus sekarang meskipun kamu sudah pisah kelas sama mereka, kamu tetap jengkel?

  J : Jengkel sih iya, ya mereka yang berusaha ngedeketin gitu tapi aku sudah.. ugh.. sudah Subjek masih merasa sakit hati males lah, ilfil. walaupun pelaku ingin mendekatinya

  T : Terus yang soal penyebab tadi itu lho, kan gara-gara... kamu kira-kira ada nggak penyebab yang lain, si cowok itu, yang memprovokatori, yang melakukan pelecehan segala 460 macam, terus nulis di papan... penyebab lain yang bikin dia benci sama kamu selain yang tadi itu.

  J : Nggak tahu. Soalnya dia juga orangnya, yang aku dengar dari semua teman-temanku, ya teman-temanku banyak juga yang jengkel sama dia dengan sifat dia, setahuku. T : Emang anaknya gimana? 465 J : Ya gimana ya? Tertutup, sensitif, sensi-an, cowok tapi sensi-an. Terus egois, pelit banget. Apa ya.. terus kemauan dia tu harus dituruti. Egois. Egoisnya tinggi bangetlah, pokoknya gitu. T : Ada korban lain nggak selain kamu? J : Ada sih, cuma nggak terlalu kayak aku banget. Kalau sama dia sih cuma dipegang- BS 470 pegang.. terus, diapain lah, sama dia. Sempat ngeluh juga sama aku, tapi ya sudah. T : Terus yang kamu bilang, pas di BP itu, harusnya dia nyesel, tapi dia malah nambah lagi, nambah lagi, nyakitin kamu. Itu bentuknya gimana? J : Misalnya, kayak kemarin ini aku sempat deket lagi sama dia, terus dia, kalau yang BVL barusan ini, ceweknya cerita sama aku, kalau dia itu kan pacarannya menjurus ke free-sex. 475 Selama dia pacaran memang kayak gitu. Ceweknya itu ngerasa nggak suka kalau digituin, dan dia mencari solusinya ke aku, ya sudah. Aku dengerin, dan ternyata buka ke aku tok, ke beberapa teman yang lain, dan dia itu marah, pertamanya cuma sama aku kemudian ikutan ke teman yang lain, marahnya. Tapi lebih marahnya ke aku, soalnya dikira aku yang lebih mencampuri masalah, urusan dia. Tapi ya sudahlah, aku jadi keingat kelakuannya dia

  480 yang dulu. Saking keselnya aku sampai bilang, ya sudah, nggak punya teman kayak dia juga aku nggak bakal mati. Ya sampai sekarang masih tetap diem. Cuma kalau aku yang punya duit, dia ikutan nimbrung, ngabis-ngabisin duitku. T : Terus yang guru olahraganya itu lho, pas dirapati di BP, dia kan ikut nyalahin kamu. Dia ngomong gimana? 485 J : Ya pokoknya, bilangnya nggak suka kalau aku yang pacaran di kelas, waktu dulu. Ya BVL bilang, apalah mengancam lah kalau... ya pokoknya mengecam lah. “Kalau masih diteruskan, kamu akan mendapat hal yang sama lah” seperti itu T : Dia ini ya... nyalahin kamu, mojokkin kamu. J : He eh. 490 T : Terus waktu kamu dijauhin itu, kamu kan jadi sendirian, duduk di pojok, itu karena kamu memang nggak mau bergaul sama yang lain, atau kamu memang sudah berusaha mendekati teman-teman yang lain, tapi mereka tetap menjauhi kamu? J : Apa ya.. aku jadi yang ngerasa sensi gitu lho, mungkin kayaknya lebih ke aku yang RolT Subjek menjadi sensitif dan sudahlah.. menutup diri gitu lho, ke mereka. Aku memang ngerasa dijauhin, tapi beberapa menutup diri terhadap teman-

  495 orang memang mengatakan seperti itu ke akunya. temannya. Beberapa teman subjek juga bekata seperti itu pada subjek.

  T : Teman-teman ada nggak satu-dua yang berusaha mendekati kamu? J : Ada T : Terus, efek dari kasus yang menimpa kamu? Di bullying sama teman kamu, yang terasa sampai sekarang apa?

  500 J : Apa ya? Jadi suka nyendiri lho kadang. Kadang-kadang di kelas biarpun ramai, anak- Akibat menjadi korban bullying, anak juga banyak yang nemenin, cuma aku nyingkir gitu lho, kadang-kadang aku ngerasa subjek sering merasa dijauhi kok kayaknya mereka jauhin, padahal enggak. Kayak parno gitu lho. teman-temannya dan lebih suka menyendiri. T : Sampai sekarang? J : Ya kadang-kadang suka keluar sedihnya, gitu lho. Subjek kadang-kadang merasa sedih.

  505 T : Ok... aku pikir cukup dulu. Makasih ya.

  J : Iya. Subjek 2

  NB Wawancara 1,

  24 Januari 2008

  Kode Analisis

  1 T: Hubungan anda dengan orang tua dan saudara-saudara anda gimana... Anda berapa bersaudara? J: Satu.

  T: Terus, hubungan sama orang tua itu gimana? J: Orang tua sih baik-baik saja ya.. orang tua saya tinggal satu, tinggal mama. Saya Lbkel Ayah subjek sudah meninggal. 5 deket banget sama dia soalnya dia sudah kayak teman, bukan kayak mama saya, tapi.. Subjek anak tunggal dan sangat terus saya juga anak tunggal, jadi deket banget sama mama. Kalau sama saudara, ya dekat dengan ibunya. saudara sepupu paling.. saudara ya ada yang deket, tapi sampai sejauh ini kita nggak pernah rebut gitu.. nggak pernah, paling kalau beda-beda prinsip, kecil, gitu mungkin pernah, tapi selama ini baik-baik saja..

  10 T: Terus, hubungan sama orang tua itu gimana? J: Orang tua sih baik-baik saja ya.. orang tua saya tinggal satu, tinggal mama. Saya Lbkel deket banget sama dia soalnya dia sudah kayak teman, bukan kayak mama saya, tapi.. terus saya juga anak tunggal, jadi deket banget sama mama. Kalau sama saudara, ya saudara sepupu paling.. saudara ya ada yang deket, tapi sampai sejauh ini kita nggak

  15 pernah rebut gitu.. nggak pernah, paling kalau beda-beda prinsip, kecil, gitu mungkin pernah, tapi selama ini baik-baik saja.

  T: Pola asuh seperti apa yang diterapkan oleh orang tua anda? Apa mama itu mengasuh dengan keras, otoriter, atau dia membebaskan ya. Terserah kamu deh, semau-mau.. atau demokratis

  20 J: Kayaknya, mix, ini.. bebas sama demokratis. Kalau kamu nggak suka ya kamu Lbkel Pola asuh yang diterapkan pada ngomong gitu apa.. Terus kalau bebasnya, misalnya kalau aku pas pulang kerumah subjek bebas dan demokratis, gitu, nginep gitu di temen, ya sudah, pokoknya asal kamu bener tujuan kesana, namun lebih cenderung permisif. misalnya, main,ngobrol gitu ya nggak apa-apa.. tapi kalau misalnya dugem gitu, sampai malam ya nggak boleh, paling dugem sampai jam 12. Pokoknya ya dia

  25 orangnya.. ya kalau aku sih, lebih kebebasan daripada demokratis..

  T: Terus kalau dia menetapkan aturan itu gimana? Misalnya dia punya aturan-aturan, kayak tadi ya, dugem sampai jam 12 terus kamu melanggar itu? J: Ya nggak apa-apa, dia cuma bilang “Ya jangan diulangi lagi”. Dia orangnya nggak Lbkel saklek..

  30 T: Ada hukuman gitu? J: Nggak, paling dia ngomel gitu. Kalau dulu sebelum aku SMP, dia marah-marah Lbkel Ibu subjek tidak kaku pada sampai nyubit tangan sampai biru gitu, cuma karena aku bandel banget dari kecil, cuma peraturan dengan memberikan setelah SMP santai lah, nggak terlalu hukuman Subjek hanya diperingatkan jika salah.

  T: Bagaimana tanggapan anda terhadap orang tua yang memberikan hukuman secara 35 fisik? J: Kalau menurut aku sih kurang tepat, soalnya anaknya niru. Dulu aku sempet nakal Cpkrs Subjek tidak setuju pada gitu kadang-kadang ya nyubit temenku gitu. Jadi, apa yang orang tua tanamin, mesti hukuman fisik pada anak karena anaknya niru akan ditiru. T: Dulu waktu kecil mama kalau marah nyubit, terus jadinya kamu nyubit temanmu

  40 J: Ya nyubit, ya apa.. usil tangannya, jadi usil banget, sampainya kesitu T: Bagaimana tanggapan anda terhadap tayangan televisi yang memuat adegan Subjek tidak suka tayangan yang kekerasan? memuat adegan kekerasan

  J: Nggak banget, jijik banget sumpah. Sudah lama aku paling benci, langsung aku Cpkrs ganti. Ini sinetron semua. Yang dari Indonesia sekarang nggak pernah aku tonton sama 45 sekali, soalnya nggak bermutu sama sekali. Yang satu kekerasan, yang lain isinya ngomel.. apa-apa dimarahin terus. Apa-apa terus perebutan kekuasaan padahal di masyarakat sendiri kayaknya nggak gitu banget gitu lho. Hiperbol, terus apa-apanya tu kalau misalnya.. apa-apa perselingkuhan, pokoknya tu apa-apanya tu ditonjol-tonjolin banget.

  50 T: Kalau kekerasannya sendiri menurut anda kenapa hal itu tidak pantas ditayangkan? J: Soalnya.. aku bilang sih apalagi kalau orang tua sih mungkin.. apa ya.. aku bilang sih Cpkrs Tayangan kekerasan akan ditiru sebagian besar dari tubuh kita tu, 70% dari tubuh kita tu alam bawah sadar, jadi kalau oleh masyarakat terutama anak liat apa, kita dengerin apa kita serap, mesti 70%nya tau-tau itu ngelakuin sendiri. Tanpa kecil. kita sadari mungkin, tau-tau ngelakuin. Apalagi anak kecil.

  55 T: Kalau menurut anda.. bagaimana tanggapan anda terhadap kekerasan yang terjadi dalam masyarakat. Seperti kita tahu, ada maling dibakar.. yang parah ekstrim itu J: Ini sih, kalau aku ngeliat sih, pernah ada orang digebukin, abis nyolong motor itu.. Cpkrs mau nyolong motor itu.. sebenernya kalau aku bilang, apa ya.. . Aku sih netral, soalnya kalau kalau aku bilang fisik gitu, itu kan otomatis. Orang kan kayak gemes itu lho.

  60 Orang kok gila-gilanya nyolong, terus waktu itu yang aku liat dipasar, lagi rame. Di pasar kan ramai, sampai sempet-sempetnya dia maling. Kekerasan sendiri kalau aku liat sih ditangkap aja, dijotos ya dijotos aja, paling cuma sekedar yah.. jangan sampai babak belur, cuma diem aja T: Jadi nggak apa-apa dipukul, tapi..

  65 J: Tapi diem aja, pokoknya diem gitu jangan gerak, kalau gerak maunya dipukul T: Jadi anda nggak setuju J: Enggak

  Cpkrs Subjek tidak setuju dengan adanya kekerasan ditengah masyarakat, walaupun dilakukan pada pelaku criminal. T: Bagaimana tanggapan anda mengenai perploncoan di sekolah-sekolah? Pernah gak? J: Nggak ada, SMAku.. Yang aku tau tu di Unika Semarang, itu satu gelas diputer Di sekolah subjek tidak ada 70 sampai sekitar 100 orang kayaknya. Jadi minum itu di gelas itu dan nggak boleh ambil perploncoan, namun subjek gelas lain, air liurnya kan bisa masuk.. enek aku liatnya mengetahui adanya perploncoan di sebuah Universitas. T: Terus.. bisa nggak anda certain intimidasi atau bullying yang pernah menimpa anda? J: Apa ya.. aku lupa, saking banyaknya kali (tertawa). Kalau boleh yang tadi, kalau BNTL Subjek pernah mengalami yang tadi itu pokoknya, aku tu punya geng teman kelasku kelas tiga SMA, itu kita & bullying di sekolah. Ia

  75 kemana-kemana bareng, nakal-nakalan bareng, bolos bareng, segala macem. Terus Pyb dikucilkan oleh teman-teman karena aku orangnya mm.. apa, bosenan gitu, terus aku rasa ada orang yang lebih dekatnya saat kelas 3 SMA. membutuhkan aku. Akhirnya aku pindah ke gengku yang waktu itu kelas dua SMA. Selain itu, subjek mengalami Sejak itu, gengku yang baru sejak kelas tiga SMA itu jauhin aku terus kayak ngucilin bullying secara verbal dengan aku. Dia ngomong pokoknya kalau aku lagi ada disitu, dia ngomong “Wah kamu disindir-sindir. Menurut subjek

  80 dasar..” ngomong “Kamu tu orangnya plin-plan” gitu, kadang-kadang nyindir ”Wah hal ini terjadi karena subjek enak ya, punya gengnya dua, pokoknya dia selau nyindir aku kemanapun aku berada, dekat dengan grup teman sampai.. yaitu tadi, aku les, kita bareng, dia nggak mau boncengin aku, nggak mau dekatnya saat kelas 2 bareng. Terus pernah suatu hari tu dua kali gitu dia bilang “Aku nggak mau les ah” SMA.Subjek pernah mengalami temennya tanya gitu terus dijawab “Ada si B (subjek) soalnya, males”. Sampai dikucilkan saat SMP tapi yang 85 akhirnya aku ngerasa kenapa ya aku tu selalu kalau berteman kok sampai kayak gini. terjadi di SMA lebih parah Itu aku ngerasa dari kelas SMP. Kalau SMP itu juga ada peristiwa tapi nggak separah sehingga membuatnya merasa ini, kalau ini sudah parah banget. Sampai apa-apa, kemana-mana kalau aku ada dia ada, tidak nyaman di sekolah.. nggak enak hawanya gitu. Apa kadang-kadang kalau ketemuan dijalan terus dia malingin muka gitu sengaja, tadinya mukanya kedepan tau-tau gitu (menoleh).

  90 T: Itu semua teman-teman se geng itu kayak gitu? J: Ada satu yang paling parah si X namanya, satunya cuma nyinggung-nyinggung gitu, BVL Satu pelaku yang paling kalau ketemu cuma “Ih kamu.. sombong banget” membuat korban sakit hati. T: Itu gengnya berapa orang? J: Empat. Aku, Tika, X, sama Dian

  95 T: Itu tiga orang itu semuanya kayak gitu semua? J: Terus si Tika, satunya tu, semeja sama aku duduknya. Paling dia cuma kalau duduk BNTL Subjek dikucilkan selama tiga agak nyingkir gitu. Kalau nggak, biasanya mau nyontekin jadi ngak mau nyontekin bulan, setelah itu subjek dan (tertawa). Tiga bulan waktu itu, terus kita didamaiin gara-gara apa ya.. Oh si X tu tau- teman-temannya berdamai. tau sms, “Ta, sini aku mau ngomong” Aku juga bingung tahu-tahu dia ngomong kayak 100 gitu. Terus akhirnya kita ngomong satu geng bareng-bareng gitu lho “Aku nggak mau gini terus, aku juga kasian sama kamu” akhirnya, sejak itu aku balik lagi sama gengku yang lama, yang kelas tiga itu.

  T: Yang baru? J: Yang baru, aku mulai dikit-dikit nggak deketin mereka soalnya aku ngerasa jadinya Subjek menjauhi teman-teman 105 teman-teman yang satu kelasku ini malah bikin aku nggak enak dikelas. Nggak enak dekatnya di kelas 2 untuk banget, tapi kalau yang temanku yang.. e.. waktu aku dikelas 2 SMA itu, mereka santai menjaga relasinya dengan gitu grupnya di kelas 3. T: Terus, mereka kan nyindir-nyindir gitu, e.. ngejauhin gitu.. mereka mempengaruhi temen-temen yang lain juga nggak?

  110 J: E.. enggak ya, maennya ya satu geng terus. Mereka nggak sampai ngomong- BNTL Pelaku tidak mempengaruhi ngomong ke orang lain. Cuma kalau si Cing-cing tu kan punya pacar, si Joe namanya. teman-teman lain diluar grupnya, Ya sempat ngomong gitu sih sama si Joe. Kalau yang lainnya, Tika sama Dian tapi pelaku mengadu pada kayaknya biasa aja, si Cing-cing tu paling dekat sama aku soalnya kita berdua tuh pacarnya. sama-sama Chinese. Yang lainnya bukan Chinese gitu, orang pribumi. Jadi kayaknya 115 ngerasanya aku paling deket tu sama si Cing-cing. Kemana-mana bareng gitu. T: Waktu mereka menyindir-nyindir gitu terus menjauhi.. yang anda lakukan apa? J: Aku introspeksi diri.. ya itu sejak dari SMP aku kayak gitu, punya geng juga, terus Pyb Subjek melakukan introspeksi suasananya sama, kok persis ni, tapi memang nggak separah ini, terus aku mikir, apa diri karena beberapa kali aku selalu gitu ya anaknya, artinya kadang-kadang.. aku tuh dari kecil kalau sama mengalami dikucilkan teman- 120 mainan aja aku bosenan. Kalau ada mainan baru, yang lama aku buang, terus mainan temannya. Subjek berpendapat terus, kalau nggak baru aku ambil lagi. Nanti yang lain lagi dibuang. Apa ini memang bahwa kesalahan terletak pada sifat dasarku atau gimana, aku mikirnya kesitu terus dari situ aku paham gitu, dirinya yang cepat bosan pokoknya kalau aku punya satu geng. Atau biasanya aku punya satu teman yang dekat. sehingga mengecewakan teman- Ketika dia pergi ya aku harusnya netral, nggak terlalu dekat sama orang-orang yang temannya. 125 lain jadi aku nggak keseret-seret sama mereka.

  T: Jadi menurut anda penyebab terjadinya bullying yang menimpa anda itu, dari kesalahan anda nggak? J: Sebagian besar iya, tapi sebagian karena kesalahan temanku. Ya kita kan Subjek berpendapat sebagian bermasyarakat, ya teman kan harusnya jalan-jalan bareng gitu, jalan, jadi nggak ada besar kesalahan terletak pada

  130 keharusan, istilahnya kalau kasaran cemburu gitu, atau nggak suka. dirinya.

  T: Saat menjadi korban itu waktu disindir-sindir gitu yang anda rasakan apa? J: Sakiiit… (tertawa) rasanya nggak enak. Apa-apa nggak enak gitu lho. Apalagi kalau BNTL Subjek merasa sakit hati, tidak pas dikantin sendirian gitu, biasanya apa-apa berempat makan, ini dikantin sendirian, nyaman selama dikucilkan. makan. Terus ditanyain sama teman-teman “Kok sendirian, si Cing-cing sama si Tika

  135 mana? Itu sih sudah ditengah-tengah sekitar satu setengah bulan.

  T: Itu selama 3 bulan? J: He eh, selama tiga bulanan lah, hampir tiga bulanan. Ya rasanya gitu, kalau di kelas BNTL Di kelas, subjek merasa para itu nggak enak banget. Misalnya, kayaknya ada yang ngomongin terus di belakang. pelaku bullying terus Terus apa namanya, kan aku selalu didepan terus duduknya sama si Tika, yang berdua membicarakan dirinya. 140 di belakang. Rasanya nggak enak gitu, apa-apa jadi serba nggak enak, tugas juga, kadang-kadang kita ngerjain bareng, aku harus cari orang lain.

  T: Pernah nggak, misalnya saat mereka menyindir-nyindir gitu, anda mencoba melawan? J: Pengen sih pengen, tapi aku pikir-pikir, buat apa gitu.. Soalnya aku rasa juga disini Subjek pernah memiliki 145 aku punya banyak salah gitu. Dari semester satu aku ngamatin mereka berdua gitu, si keinginan untuk melawan saat Cing-cing sama si Tika mereka tu memang kalau nge geng yaudah, nge geng gambok.. disindir-sindir, tapi ia merasa gitu, sudah kayak kunci sama gembok, nggak bisa ilang. Makanya ketika aku mikir percuma. Subjek berusaha gitu. Cuma aku nanya sama anak yang netral, si Tika itu agak netral orangnya. Terus memperbaiki keadaan dengan aku nanya sama Tika “Tik, kenapa sih selalu kayak gini” maksudnya.. ternyata si Tika mengajak salah satu pelaku

  150 itu punya rasa yang sama. Si Tika jawabnya “Ya kita juga mikir kayak gitu, Ta. berbicara.

  Mungkin orang lain mikirnya kalau kita tu datang kalau kita butuh mereka. Tapi padahal kan sifat asli kita kayak gini”. Bukan karena apa ya.. mungkin kalau dari psikologi sih katanya koleris itu ya.. ya pokoknya dia katanya pengennya sih itu. Kadang-kadang kalau kita lebih focus ke situ ya kesitu. Terus ya nggak tahu deh 155 kurang jelas. Ceritanya ya seperti itu. Jadi aku selalu deket sama si Tika itu buat ngobrol “Tolong sampaiin ke mereka”. Mungkin gara-gara si Cing-Cing sms itu juga gara-gara si Tika. T: Jadi kamu berusaha memperbaiki keadaan itu. J: He eh 160 T: Terus, ada nggak dampak dari kejadian itu terhadap anda? J: Dampaknya ya tadi itu. Pokoknya aku tu ngerasa, sempat minder gitu. Terus kalau Bullying membuat subjek merasa punya teman, punya geng mesti kayak gini. Otomatis apa ya, kalau kita punya teman minder. kalau nggak berdua, berempat itu kita kan mesti nge geng. Terus sejak aku ngerasa Subjek juga membentuk grup kayak gitu tu, sejak aku kuliah, aku jadi cepat-cepat punya geng, waktu semester satu. pertemanan saat di tahun 165 Semester satu semester dua punya geng tu, cewek cowok. Lebih gede gengnya, sekitar pertama kuliah. Tapi sejak 8 orang. Terus karena kita sibuk praktikum gitu, anak farmasi, jadinya ya itu, jadi subjek ikut MLM (Multi Level pecah. Terus gara-gara itu juga, aku waktu itu ikut MLM terus mereka ngejauhin, Marketing), teman-temannya dikiranya aku, kayak mau ngenalin produk doang kalau sama mereka. Terus juga yang menjauhi karena menganggap 90%nya sih karena kita sibuk masing-masing. Jadi dari situ aku ambil kesimpulan, subjek hanya ingin menawarkan 170 kayaknya kalau nge geng lagi aku kayaknya males deh. Nanti sakit lagi.. mending aku produknya. dekat sama satu orang aja atau misalnya sama pacar, pacar. Terus punya teman deket. Lebih enak. Sama teman-teman ya standar biasa. T: Kamu males bikin geng lagi, gitu. J: Iya sebenarnya aku juga, aku sibuk, aku juga kerja, jadinya kalau misalnya nge geng Subjek berniat tidak akan 175 kan harus kemana-mana bareng, kalau nggak bareng di cing. Jadi mendingan sekarang bergabung dalam grup paling sama teman deket terus kalau nggak sama teman deket, paling netral. pertemanan lagi. T: Netral, biasa saja gitu ya.. J: Iya

  T: Bagaimana bentuk-bentuk bullying yang anda ketahui di sekolah? 180 J: Bullying.. dijauhin, digunjingin, mau dipukulin pernah, ada satu anak aku masih BS Bentuk bullying yang diketahui ingat namanya si H. Jadi dia itu, kalau dibilang ya sorry, anaknya itu jelek banget, subjek misalnya dikucilkan, anaknya pendek banget, nurutan banget. Jadi kalau pas-pas jam sekolah jam 9 itu menjadi bahan gosip, dipukuli. waktu istirahat, dia dimasukin ke kelas, cowok-cowok masuk, terus dia ditelanjangin (tertawa). 185 T: SMP apa SMA itu?

  J: SMP, nakal-nakal banget, kelas dua waktu itu. Terus pas ditelanjangin itu anaknya BS juga diem aja, cuma ketawa-ketawa aja, cuma mungkin ya itu anaknya Sanguin, jadi mungkin kayaknya nggak ngerasa digituin, padahal setiap istirahat itu mesti digituin, kalau enggak dipelorotin, didepan anak-anak cewek. Tapi dia ketawa, mungkin nggak

  190 ngerasa jadi korban, tapi anak-anak itu kalau habis ujian, habis sekolah itu kan capek gitu kan, ya itu yang jadi korbannya mesti dia.

  T: Tanggapan anda mengenai bentuk-bentuk intimidasi tersebut? Bentuk seperti apa yang masih wajar lah. Atau yang paling menyakitkan itu yang bagaimana.. atau yang paling merugikan atau memberi dampak selanjutnya, jangka panjang itu seperti apa.. 195 J: Kalau aku liat sih dari global, dari globalnya semua, kalau intimidasinya itu cuma Cpkrs Bentuk bullying yang paling hanya dia dengan si korban, itu kalau menurut aku masih wajar. Kalau sampai parah adalah jika pelaku korbannya ini di.. apa itu, dirusak sama si pengintimidasi ini sampai dia cari orang lain, mempengaruhi orang lain untuk terus sampai ngomong-ngomong ke orang, supaya ikut musuhin dia, itu yang bikin mengintimidasi korban. parah. 200 T: Jadi memanipulasi relasi.

  J: He eh itu kalau menurutku itu paling parah. Kalau verbal mungkin kayak aku cuma Cpkrs Bullying secara verbal masih disindir-sindir tu nggak apa-apa. Nggak masalah. Cuma kalau mempengaruhi orang bisa diterima oleh subjek. Yang lain, itu yang.. sudah mulai fisik, itu yang paling parah. parah adalah jika mempengaruhi orang lain, terlebih jika secara fisik. T: Yang paling parah yang mana? Anatra fisik digebukkin atau itu memanipulasi 205 pertemanan itu. J: Memanipulasi itu menurut aku bisa menyebabin fisik juga. Soalnya apa, mungkin Cpkrs kalau dia itu manipulasi terus ngasih tahu teman-temannya, neror si korban itu, si korban itu sudah mulai males, kan akhirnya si pengintimidasi jadi greget itu kan, “Lho kok dia malah ini.. nggak ada reaksi gitu kan” Jadi mungkin kan bisa mukulin dia.. 210 istilahnya apa ya, itu bikin mancing juga, dua-duanya sama parah kalau menurut aku.

  T: Jadi kalau yang verbal itu masih nggak apa-apa gitu. J: Masih nggak apa-apa. T: Waktu.. bullying yang anda alami di sekolah itu hubungannya berarti anda kan sama teman ya. Terus penyebabnya anda pikir di diri anda sendiri sebagian besar, sebagian

  215 kecil sama mereka.

  J: He eh.

  Pyb Penyebab bullying yang menimpa subjek sebagian besar karena kesalahan subjek. T: Yang tahu mengenai masalah ini siapa saja? J: Anak-anak geng doang, sama anak-anak gengku yang baru. RolT Yang tahu masalah subjek adalah pelaku dari grup subjek (kelas 3) dan grup subjek di kelas 2. T: Teman-teman sekelas yang lain? 220 J: Nggak ada. Cuma mungkin, taunya, orang-orang yang biasa kenal sama aku juga. RolT Teman sekelas subjek tidak tahu Jadi yang tadi misalnya aku ngapain, dikantin gitu “Kok kamu sendirian, kok sekarang masalah subjek. nggak sama ini gitu. Mungkin mereka sudah pada paham, dan anak-anak, terlebih lagi anak-anak yang mantan SMPku. Jadi aku dulu pernah digituin juga, tapi nggak parah dan itu mereka mesti tau “Oh itu Ita paling lagi bosen nih”. Gitu paling. 225 T: Orang tua, mama tau?

  J: Enggak. Menurutku itu nggak parah, jadi aku nggak pernah ngomong ke dia. Ibu subjek tidak tahu bullying yang dialami subjek. T: Terus tanggapan dari teman-teman yang baru? J: Kalau geng yang baruku memang nggak suka sama gengku yang lama. Alasannya RolT gengku yang lama itu sudah tau gitu, dan sebenarnya yang bujukin aku ke gengku yang

  230 lama (kelas 3) itu ya, geng lamaku (kelas 2) itu sendiri, jadi “Kamu ngapain sih mainan sama anak-anak kayak gitu, nggak bener itu” sukanya ngomongin orang lah apa-apa mungkin ada sisi baiknya sih ngomongin aku. Terus waktu itu kayaknya kita ada rencana apa gitu, kayaknya mau reunian SMP, mereka juga teman-teman SMPku jadi ya itu juga kita mulai deket lagi. Biasanya yang lebih kearah ngebujukin ke geng yang 235 lama sih gara-gara itu. T: Menurut anda bagaimana agar seseorang terhindar dari sasaran bullying? J: Ya lakukan apa yang mereka mau, tapi dalam batas wajar, ya misalnya kayak itu, Srn Saran subjek agar seseorang aku juga mikir tu sampai 3 bulanan. Aku sadar sampai sekitar 1,5 bulanan, waktu terhidar dari bullying adalah mereka juhin itu aku sampai mikir terus. Mereka tu maunya gimana, apa aku harus dengan melakukan yang mereka 240 balik lagi. Soalnya kalau aku balik lagi, situasinya sudah kayak gini. mau asal masih dalam batas kewajaran. T: Ada nggak perasaan takut gitu?

  J: Takut sih sebenarnya nggak ada gitu ya, kan badanku lebih gede gitu.. (tertawa) jadi Subjek tidak merasa takut karena kalau mereka macem-macem mereka nggak mungkin berani, cuma paling pedes tu merasa lebih kuat secara fisik, omongan, jadi bener mulutnya cewek ya. Jadi apa ya, kalau ketemu, aku tuh paling namun pelaku menekan subjek 245 nggak seneng kalau ada orang ribut, orang ngomongin orang aku tuh nggak suka, jadi secara verbal dan emosional kalau ada orang yang kayak gitu apalagi itu didepanku. Kayaknya sih pengen sekali- sehingga subjek memilih untuk kali ngelabrak gitu lho. “Kamu tuh ngomong apa sih kok kayak gini gini..”. Tapi diam. karena aku tu apa ya, kalau aku punya teman tu pengen tak jagain, relasi tu pengennya ya sudah, sampai tua. Ya punya teman tu, ya gini gini, ya itu aku nggak mau ribut. 250 Akhirnya ya aku dienin aja, mau mereka mau ngomongin apa yang penting keluarnya mereka nggak ada, sampai 3 bulan tu mereka jaga, nggak ngomongin ke orang lain.

  Cuma berempat, mungkin karena akunya juga nggak macem-macem. T: Kalau dikelas, kan nggak nyaman banget, apa anda merasa gelisah, cemas atau gimana gitu?

  255 J: Nggak konsen juga, selain gelisah, cemah, aduh.. Ni orang pengen tak apain.. gitu BVL Di kelas subjek merasa tidak rasanya kok, kalau gak diem-diem, ngomong terus. Ya mungkin karena saling, nyaman, gelisah, dan cemas biasanya kita, meskipun guru nerangin kita ngobrol sendiri gitu lho. Mau dimarahin karena tidak ada terman mau apa pokoknya kita cuek gitu. Nah terus mungkin karena mereka juga nggak bisa berbicara dan para pelaku ngomong ke depan gitu, jadi akhirnya mereka ngobrol sendiri di belakang, mempergunjingkan dirinya tepat 260 ngegunjingin aku gitu, dibelakang aku gitu.. “Enak ya punya temen baru yang lama dibelakang kursi subjek dikelas. ditinggalin”, terus paling rasanya cuma itu, takut sih nggak ada ya”. Subjek sulit berkonsentrasi pada pelajaran. T: Ngganggu pelajaran nggak J: Ngganggu banget, ya itu, dia nggak mau nyontekin gitu (tertawa), terus tugas nggak BNTL Bullying membuat subjek sulit nggarap bareng-bareng terus, ngganggu konsen juga, aku sudah takut, kelas tiga gitu, menangkap pelajaran karena

  265 waktu itu 4.01 kalau nggak salah, sudah gitu aku ngliat EBTANAS tahun-tahun lalu sulit berkonsentrasi. Saat les pun tuh serem banget. Akhirnya aku pengen banget dengerin guru ngomong, pas waktu subjek dikucilkan oleh para kejadian 3 bulan itu, ngerasanya konsentrasi aja bener-bener nggak bisa. Les aja pelaku. mereka biasanya duduk bareng sama aku, tau-tau kan kita les tu berenam. Cowok 3 cewek 3, eh, cowok 3 ceweknya 4. Jadi cowoknya tu dideketin ke kursiku semua yang

  270 3nya, paling si Tika itu yang masih bantuin aku. Yang tiganya cuek.

  T: Bagi seseorang yang sudah terlanjur menjadi korban, bagaimana cara agar dia tidak lagi menjadi korban? J: Sama kayak saran yang tadi, jadi kita benar-benar harus tahu dulu mereka Srn Bagi orang yang sudah terlanjur sebenrarnya maunya apa. Kita ngobrol dulu mungkin sebelumnya kita duduk bareng menjadi korban, saran subjek

  275 gitu, ya kita kalau sudah kerasa kan pasti ngomong, salahku itu apa sih sampai kalian adalah dengan membicarakan tu jauhin aku, atau nguclikan aku, atau ngomongin aku. masalah tersebut dengan pelaku sehingga dapat memahami keinginan pelaku dan mengetahui letak kesalahan yang dilakukan oleh korban. T: Jadi dari sisi kitanya, gitu? J: He he, apa gitu, paling maunya gimana gitu.. kalian mau gebukin aku ya aku siapin guling 100 gitu (tertawa). Apa gitu namanya biar kita sama-sama enak.

  280 T: Terus menurut anda sekolah harusnya berperan nggak? J: Sekolah itu dalam artian? T: Dari sekolah, misalnya sebaiknya diadakan program yang bisa menjalin Srn kebersamaan antar siswa gitu. Sebenarnya sih apa yang terjadi pada Herman tadi, sampai kayak gitu, guru-guru tahu nggak itu? 285 J: Ada yang tahu, tapi cuma bilang jorok, bajor gitu.

  T: Ditolongin nggak itu, si Hermannya itu? J: Kalau ketahuan mereka ya dihukum, anak-anak yang masukkin itu dihukum. Habis anaknya itu (Herman) juga cekakak-cekikik nggak beres itu anak. Agak.. (tertawa) ya itu kayak yang di Unika. 290 T: Menurut anda harusnya lembaga kayak sekolah, kampus itu memberi e.. mengambil tindakan nggak untuk mencegah hal-hal kayak gitu.

  J: Kalau menurut aku sih kalau mencegah, mungkin mereka kayak ngasih edukasi gitu. Srn Saran subjek bagi sekolah yaitu Sebenarnya kita disini tu, di sekolah mau cari temaan atau cari musuh gitu. Apa yang dengan mengadakan pengarahan benar-benar bahasanya bahasa anak SMA, bahasa SMP atau apa gitu pokoknya bisa untuk menyadarkan para siswa

  295 ngasih edukasi ke mereka bahwa kita itu hidup itu perlu relasi. Kalau misalnya secara tentang pentingnya relasi. Jika khusus aku pikir diikutin aja, kalau misalnya ada kasus diomongin bareng sekolah ikut terlanjur ada masalah, sekolah mikirin jalan keluarnya. Mungkin sampai ditelusuri keluarganya, kayak tadi kekerasan ikut turun tangan dan menelusuri ya dicari kenapa ini anak kayak gini. penyebabnya. T: Kalau misalnya anda secara relasional ya dan itu.. verbal, relasional tadi, akhirnya 300 kan sampai mengganggu ke proses anda belajar di sekolah. Itu harusnya menurut anda, dari guru itu mantau juga nggak, kayak gitu-gitu..? J: Kalau sebenarnya ditempatku itu ada guru BK waktu aku pas SMA itu. Jadi kalau Guru BK seharusnya berperan guru BK di SMP ku tu kepakai banget sampai, ada orang berantem kita curhat ke guru dalam menangani kasus siswa. BK. 305 T: Kamu pernah curhat ke guru BKnya itu? J: Pernah waktu itu nakal sih temanku itu, apa namanya.. pas lagi aku nakal gitu usil..

  Pas dia ngegambar, aku senggol sampai airnya yang buat ngegambar itu tumpah. T: Sengaja gitu? J: Enggak, gak sengaja, cuma aku.. “ih, kamu gambarnya bagus banget”, padahal aku RolG Guru Bk subjek di SMA sering 310 ngejek. Nggak sengaja tanganku itu nempel gitu. Ya itu kan aku duduk dibelakang, dia marah-marah sehingga bagi didepan gitu, dia turun ke belakang, terus dia mau nyoret juga.. nyoret buku gambarku, subjek dan siswa lain, beliau eh tau-tau aku nangkis gini, “tok!” gitu ya akhirnya bolong kayak gini (menunjukkan bukan orang yang tempat untuk bekas luka di tangannya, tertawa). Terus aku.. istilahnya hiperbol gitu, sebenarnya menceritakan permasalahan. nggak masalah sih. Diributin ke guru BP, eh apa, lapor ke guru BK sama dia, jadi dia 315 ada jalan keluarnya. Tapi pas di SMA itu guru BKnya itu malah ganas. Apa-apa kita dimarahin. Salah sedikit kita dimarahin. Jadi akhirnya buka kita yang ngadu ke guru BK tapi kejadiannya guru BK yang marahin kita, kita laporin ke guru lain gitu.

  Sebenarnya, kalau di SMPku sih guru BK tu benar-benar kepakai, dan yang sangat berperan itu guru BK. 320 T: Jadi harusnya guru BK itu lebih perhatian.. gitu ya.

  J: Harusnya.. mungkin kalau ambil penyuluh dari luar mungkin lebih bagus, misalnya Srn Selain guru BK yang perhatian, kayak kak Seto..(tertawa). Tapi kalau intern sih, guru BK juga cukup, nggak perlu menurut subjek akan lebih baik harus sama itu.. jika didatangkan penyuluh dari luar sekolah. T: OK.. sekarang jam 5 lebih 10 (sore, 17.10). Wawancara dilakukan di kost subjek, 325 daerah Paingan.

  NB Wawancara 2,

  12 Maret 2008

  Koding Analisis

  T : Bisa nggak kamu jelasin alasan kamu pindah dari geng kamu yang kelas 3 itu terus pindah balik ke gengmu yang kelas 2 itu?Apa kamu merasa kecewa? J : Oo.. nggak, cuma aku bosanan. Jadi kalau misalnya udah pengin pindah ya pindah. Pyb Nggak mikir apa sih, aku sih mikirnya semua teman, jadinya ya pindah gitu juga. 330 T: Ada nggak kasus pemicunya kenapa kamu pindah?

  J : Kalau kasus pemicunya… paling bosen aja sih, aku bosenan orangnya Pyb T : Kamu pernah nggak? Ngerasa nggak nyaman di geng kamu yang kelas 3 itu? J : Pernah waktu itu sekali thok, waktu pas pelajaran bahasa Inggris. Waktu itu kan aku Pernah mengalami sedikit pas nggak siap, terus kalau sandiwara bahasa Inggris itu aku rada belibet, akhirnya pas konflik dengan teman

  335 itu teman-temanku ya itu sempat kayak nggak seneng gitu. Ya rasanya cuma nggak sekelompoknya, namun bukan enak aja gitu. termasuk bullying. T : Di geng kamu yang kelas 3 itu ada yang dominant? J : X itu, tapi khan dominannya nggak terlalu sih soalnya yang lainnya punya pendirian Dalam grup pertemanan, salah kayak misalnya Dian, Tika. Tapi kalau misalnya X bilang A, ya kita ikut bilang A. satu teman subjek mendominasi.

  340 T : Biasanya kata-katanya X itu yang diikutin? J : Iya, soalnya biasanya dia mesti action, ngomong action. Kalau yang lain kadang- Jika pelaku mengajak melakukan kadang males. sesuatu, anggota kelompok yang lain selalu menuruti.

  T : Terus waktu kamu bilang, kamu khan dijauhin ma temenmu itu terus, yang paling parah itu si X itu, emang gimana dia parahnya? 345 J : Itu anaknya memang jutek, galak, terus apa namanya… anaknya itu apa… Jadi BVL Pelaku bersifat sinis, galak, misalnya kalau dibilang orangnya ini, upama pinginnya ya harus gitu, tapi sebenarnya dominan dan berkemauan keras. orangnya baik sama teman. T : Kamu bilang yang paling parah ngejauhin itu X itu, jutek. Emang bentuk perlakuan dia yang nyata ke kamu, yang kamu bilang paling parah itu si X itu kayak apa?

  350 J : Pas lagi aku dimusuhin itu. Yang paling parah itu, yang benar-benar waktu pas aku Btbl Pelaku dengan sengaja tidak dijauhin. Pas kita bareng les dia nggak mau, 2 minggu kalau nggak salah dia nggak datang les selama 2 minggu dan mau datang soalnya ada aku. Yang paling parah disitu. mengatakan bahwa ketidakdatangannya disebabkan adanya subjek di tempat les. Pelaku malakukan bullying relasional. T : Kalau konfrontasi langsung pernah nggak? J : Ya paling yang nyindir-nyindir itu, kalau pas dia jalan aku pas sendiri. Sama si D itu Btbl Pelaku melakukan bullying 355 dia sandiwara gitu, “Eh enak gak sih kalau kita punya teman terus tahu-tahu ngejauhin verbal dengan menyindir-nyindit kita”.. gitu-gitu.. Jadi seolah-olah aku nggak ada padahal aku ada didepannya dia, gitu.. subjek. T : Selalu si X yang mulai atau yang lainnya juga kadang-kadang gitu? J : Dia.. selalu si X dulu cuma karena si X dekatnya sama D, jadinya Dikut-ikutan Pelaku mempengaruhi teman- nimbrung “Iya ya.. kok ada anak nyebelin…” (tertawa). teman yang lain sehingga ikut menyindir subjek. 360 T : Tapi selalu yang mulainya si X? J : Selalu si X yang pertama.. the first.

  Pelaku selalu mengawali perlakuan buruknya pada subjek dan diikuti teman-temannya yang lain. T : Terus kamu akhirnya kan kembali lagi dari geng yang kelas dua itu. Jadi pertama kamu digeng yang kelas tiga, terus pindah ke kelas dua karena bosen, terus kamu dijauhin, terus akhirnya kamu kembali lagi ke geng yang kelas tiga itu. 365 J : He eh.

  T : Kenapa, alasan kamu balik lagi itu kenapa? Untuk menyenangkan si Cing-cing dan yang lain, atau gimana?

  J : Pertama emang mau nyenengin, yang kedua aku nggak mau ribut, dan aku sendiri Subjek kembali pada grup gelisah gitu lho, maksudnya, ya kita tu sekelas, yang permasalahannya itu kan aku pertemanannya di kelas 3 untuk 370 nggak didekatin atau dijauhin.. rasanya setiap hari itu nggak nyaman. Apalagi yang menyenangkan pelaku dan tukang nyindir-nyindir gitu kan, si Xnya, jadi aku ngerasa nggak nyaman. berusaha memperbaiki hubungan dengan pelaku. T : Ngganggu pelajaran juga? J : Nganggu sih nggak, aku orangnya emang males sih dengerin, tapi yang jelas itu karena nggak nyaman (tertawa). 375 T : Ok, kamu kemarin bilang konsentrasi kamu, jadi susah juga buat nangkep pelajaran, karena waktu itu mau ujianan, mau Ebtanas gitu ya? Mau Ebtanas itu terus mereka nyindir-nyindir, kan berarti mengganggu ke pelajaran juga kan? J : Ya mungkin ada juga ya, tapi efeknya nggak terlalu besar, cuma memang di aku Subjek meresa tidak nyaman lebih ke pergaulan. Jadi di pergaulan itu rasanya itu benar-benar nggak enak. Soalnya memiliki musuh. 380 aku itu paling nggak senang yang namanya punya musuh. Jadi waktu itu benar-benar rasanya aneh

  T : Kenapa kamu nggak mencoba mencari teman lain yang baru? Di kelas tiga itu? J : Ya itu, nambah masalah. Nambah masalah baru, jadi sudah lagi masalah itu belum Subjek tidak mencari teman baru “Kenapa kamu kok ngekhianatin kita,” malah nambah orang. Jadi ada dua kubu yang yang lain karena takut 385 nanti malah ribut lagi. hubunganya dengan pelaku dan teman barunya bertambah buruk.

  T : Teman-teman yang lain gimana, yang sekelas? J : Yang sekelas, paling cuma yang dekat sama si X aja. Pacarnya Cing-cing, si Johan RolT Beberapa teman subjek itu, terus teman-teman yang dekat sama kita, ya paling.. “Ta, kok kamu nggak bareng mengetahui kasus yang menimpa lagi sama mereka?” ya gitu.. Tapi sama mereka nggak benar-benar sampai cerita, subjek, dan beberapa memberi 390 paling aku cerita sama si Yosep itu. Teman geng ku yang baru si Karina itu, ketua nasehat. gengnya ceritanya di gengku yang di kelas dua itu. Aku cerita “Aku dijauhin lho sama mereka, gini, gini, gini”. Terus, “Kamu ya harus gini aja, ya bisa ngimbangin lah, biar nggak terlalu ribut masalah itu. T : Dari teman-teman sekelas itu kan mungkin mereka juga menyadari kalau kamu

  395 dijauhin, makanya mereka pada tanya “Kamu kok sendirian, gini, gini” J : He eh.

  T :Ada nggak dari mereka yang berusaha ngedeketin kamu atau bilang “Sudah, kamu bareng kita aja. J : Nggak, soalnya aku benar-benar apa ya. Itu kan kita memang kaum minoritas. RolT 400 Chinese disitu kan jarang jadi mereka kan sudah tahu gitu aku temenan sama siapa. T : Jadi kamu nggak pernah coba cari teman atau kelompok baru gitu? J : Nggak. T : Terus gimana dampaknya setelah kejadian itu? J : Ya dampaknya kalau aku bikin geng lagi, aku harus pilih-pilih, sama yang kedua itu Subjek merasa tidak nyaman 405 sekarang ini rasa trauma itu ada. Begitu aku dekat sama seseorang, aku dekat sama dia membuat grup pertemanan lagi, aja. Nggak pakai geng lagi, kalau geng kan kayak aku sekarang ini kan misalnya, lagi dan ia jadi lebih berhati-hati ramai-ramai ada event apa baru pergi bareng sama teman-teman. Kalu nggak ya paling dalam memilih teman. kita berdua atau sama teman yang benar-benar deket. T : Jadi kamu nggak ada niat untuk bikin grup atau geng baru lagi gitu? 410 J : Kalau organisasi iya, kalau geng enggak. T : Geng pertemanan gitu.. J : He eh, kalau geng organisasi aku iya, kalau geng kumpul-kumpul itu aku nggak. Lagian sekarang kan aku ikut bisnis juga, jadi nggak terlalu banget juga, mungkin ya geng bisnis (tertawa). 415 T : Dampak lain misalnya? Yang kamu rasain sampai sekarang.. Kalau misalnya berhubungan sama orang lain, kamu ada ini nggak? Ada jaga jarak gitu

  J : Kalau jaga jarak, dari dulu aku jaga jarak karena aku pernah punya teman dekat Subjek menjaga jarak dalam banget, habisnya malah jadi salah paham disangkanya gimana gitu. berhubungan dengan orang lain. T : Gimana? 420 J : Ya dikiranya aku sama dia ada “slang” gitu. Padahal kita cewek kan. T : Oh dia cewek, disangkanya? J : Lesbian.. Aku kan kalau sama temanku kan baik banget gitu kan, bukan sombong, Subjek pernah disangka lesbian aku sama temanku minta apa saja pasti aku kasih. Dia minta bantuan apa,… tapi orang karena sangat dekat dengan matanya kan ngelihatnya nggak selalu kesitu kan.. Makanya aku jarang-jarang. sahabatnya. 425 T : Lucu ya.. ada ya kayak gitu.

  J : Iya SMP itu. T : Menurutmu teman-teman di kelas itu tahu tapi pura-pura tidak tahu atau gimana? J : Menurutku mereka tu cuek gitu lho. Tapi satu kelas kalau lagi bersatu ya sudah RolT Teman-teman dikelas subjek ngerumpi bareng, bercanda bareng. Tapi begitu kita sudah istirahat, ya sudah kita tidak terlalu memberikan

  430 masing-masing. Jadi mereka ya itu, kalau ada yang tahu, terus tanya aku yang perhatian pada masalah subjek. sebenarnya. Yang nggak tahu ya benar-benar nggak tahu. T : Waktu kamu bilang “Sebenarnya yang bujukin aku balik ke gengku yang kelas 3 itu, ya gengku yang kelas 2 itu kan? J : Ya jadi istilahnya mereka ikut membantu aku supaya clear masalahnya sama X RolT 435 sama temannya itu T : Terus yang ngomong, “kamu ngapain sih mainan sama anak-anak kayak gitu, nggak benar gitu? J : Itu K, ketua gengnya kelas 2. Jadi dia istilahnya benar-benar.. “Kok kamu mau sih RolT dekat-dekat kayak gitu sama mereka?”

  440 T : Itu kelas 2? Tapi mereka ngedorong kamu untuk balik lagi ke geng yang kelas… J : Soalnya pada kasian sama aku, dulu kan waktu geng yang aku kelas 2, aku satu les RolT Grup pertemanan subjek dikelas sama mereka. Habis itu aku kan selalu di lesin sama guru yang ngajar aku kelas 1. 2 sebenarnya tidak suka pada Akhirnya waktu kelas 3 gurunya ganti, aku ikut yang kelas 3 gitu lho. Tapi dari sini grup pertemanan subjek di kelas kan aku bisa dekat sama gengku yang kelas 3 ini

  2, namun mereka tetap mendorong subjek kembali pada grup pertamanan subjek di kelas 3 karena kasihan melihat subjek selalu dimusuhi. 445 T : Jadi geng yang kelas dua ini tadinya ngomong “Kamu ngapain mainan sama anak- anak kayak gitu?”

  J : Terutama K ya, dia Kristennya maniak banget. T : Nggak benarnya itu gimana?

  J : Ya X itu apa ya, dari latar belakang keluarganya, terutama, ada sesuatu yang aku Pelaku memiliki latar belakang 450 nggak bisa cerita. Dari pergaulannya.. yang bermasalah. T : Terlalu bebas atau gimana? J : Ya yang jelas mereka selalu nganggep X sama D itu nggak beres. Karena mungkin Pola pergaulan pelaku terlalu genit kali ya? bebas. T : Kalau yang satu lagi? 455 J : T nggak masalah. Aku dari kelas 1 memang sudah temenan sama dia.

  T : Jadi geng kamu yang kelas 2 ini sebenarnya nggak suka sama teman-temanmu yang kelas 3? J : Iya. Terutama D sama X itu, karena genit dan ganjen. Suka cari-cari perhatian. T : Ke? 460 J : Ya ke orang lain, dan sukanya itu, ngelabrak-ngelabrak gitu Pelaku genit, suka mencari-cari perhatian dan suka melabrak (menyerang secara verbal, mengintimidasi) anak lain. T :. Kamu berarti pernah juga? J : Kan pernah aku cerita soal si A. Yang ngelabrak itu si X sama si D. T : Tapi karena kasihan ngelihat kamu sendirian dimusuhin sama mereka, akhirnya geng yang kelas dua ini malah ngedorong kamu balik lagi. 465 J : He eh, aku balik lagi.

  T : Jadi faktornya gara-gara aku kasihan gitu ya? Terus waktu kemarin aku tanya, “bagaimana agar seseorang terhindar dari sasaran bullying” gitu kan? “Ya lakukan apa yang mereka mau, tapi dalam batas wajar. Maksudnya gimana? J : Ya lakukan apa yang mereka mau, kita duduk bareng atau lakukan apa yang mereka Srn Saran subjek agar seseorang 470 minta istilahnya si perantara itu ngehubungin aku sama dia, cerita apa sih sebenarnya tidak menjadi korban bullying maunya mereka. Mereka sih maunya, yang kemarin aku dapat sih, ayo balikkan lagi.. yaitu dengan melakukan apa kita bareng-bareng kayak dulu lagi kan asik. Kan pergi bareng, bolos bareng, kalau yang diinginkan oleh pelaku asal dimarahin bareng gitu kan. Terus aku mikir, oh kalo gitu kan berarti wajar. Tidak tidak merugikan diri sendiri dan merugikan aku, tidak merugikan mereka gitu kan? Dan tidak istilahnya asusila gitu teman-teman yang lain.

  475 kan, aku akhirnya ngikutin mereka.

  T : Dalam batas wajarnya itu berarti, kalau nggak ngerugiin kamu gitu? J : Nggak ngerugiin aku, nggak ngerugiin mereka, dan bukan tindakan asusila. T : Kalau gini, jadi dalam satu kelompok. Gimana agar salah satu dari anggota kelompok itu terus nggak dimusuhin? Atau nggak diintimidasi sama teman-teman yang

  480 lain? J : Kalau di grup, aku pikir supaya mereka itu selalu bareng. Cuma ya kalau setiap Srn Dalam grup pertemanan, tempat selalu bareng, akhirnya lama-lama kan bosen gitu. Dan mereka harusnya sebaiknya selalu bersama-sama. paham, kalau bosen, tunggu gitu sebentar baru nanti balik lagi bukannya malah Jika bosan, berpisah sementara dimusuhin gitu. lalu kembali lagi. 485 T : Kemaren waktu aku tanya “Ada nggak perasaan takut, terus kamu bilang “Takut sih sebenarnya nggak ada kan badanku lebih gede” terus kenapa kamu nggak ngelawan?

  Kenapa kamu nggak ngomong langsung? J : Ya itu, aku nggak mau ribut, aku sudah janji sama mamaku. Waktu kelas 1 SMA Subjek menghindari bertengkar aku ribut besar sama temanku di kos, 3 orang. karena sudah berjanji dengan mamanya

  490 T :Sampai fisik gitu? J : Aku ngegebuk itu sih, ngegebuk apa, ini..(menunjuk tembok) ngegebuk triplek Cpkrs Subjek pernah bertengkar sampai bolong. Kalau nggak aku ngegebuk mereka, masalahnya mereka kurang ajar dengan temannya sampai banget sama aku. Itu sebenarnya salah paham, aku minta maaf sama mereka, mereka merusak bangunan kamar kost juga harusnya minta maaf sama aku. Dalam hal ini aku benar-benar bersalah sama yang terbuat dari triplek. Subjek

  495 mamaku soalnya dari SD sampai SMA aku mesti ribut sama temanku, dan itu mesti merasa bersalah pada mamanya ribut gede. Jadi akhirnya kenangan buat almamaterku gitu... (tertawa). Pokoknya aku karena sejak SD sampai SMA bilang “Ini yang terakhir kali, ma” aku nggak mau ngulangin lagi. Jadi sampai pernah beberapa kali bertengkar. sekarang pun mau aku mangkelnya kayak apa, aku cuma dateng sama dia, ngobrol sama dia. 500 T : Itu kan secara fisik ya, ada nggak perasaan tertekan waktu dimusuhin sama mereka?

  J : He eh, ya ada perasaan tertekan karena biasanya duduk bareng apa-apa bareng, tahu- Subjek merasa tertekan dan tahu didiemin, kesepian... kesepian saat dijauhi oleh teman- temannya. T : Ada perasaan malu mungkin? J : Malu sih enggak ya.

  505 T : Terus menurut kamu apakah hanya guru BK saja yang seharusnya perhatian terhadap masalah ini? J : Kalau guru BK, ya pasti guru BK, tapi yang lain juga, mungkin teman-temannya. Srn Guru BK dan wali kelas Kalau guru ya wali kelas mungkin, dari dua kelas misalnya si guru A sama guru Bnya seharusnya membantu ikut bantu. menyelesaikan masalah bullying. 510 T : Terus kalau kasus kamu kan, kamu dimusuhin gitu ya, menurutmu seharusnya guru

  BK tahu nggak? J : Ya harus tahu, dan sebenarnya di SMAku itu ada buku tahunan yang dari aku SMA kelas 1 sampai kelas 3 itu diisi. Jadi ada recordnya, point-pointnya.

  T : Terus peran wali kelasnya sendiri gimana? 515 J : Wali kelasnya sejauh ini karena wali kelasnya agak genit gitu (tertawa) jadi dia RolG Wali kelas subjek tidak tahu nggak masalah. Dia nggak tahu, dan kebeneran dia guru les ku, jadi nggak berani tentang masalah subjek. macem-macem. T : Nggak berani macem-macem gimana? J : Ya maksudnya ngurusin anak-anaknya pada ribut gitu dia nggak mau. Wali kelas subjek tidak mau ikut campur pada masalah subjek

  520 T : OK, ya sudah cukup segitu. Jam 6 didaerah Paingan. Subjek 3

  NB Wawancara 1,

  24 Februari 2008

  Kode Analisis

  1 T: Bagaimana hubungan anda dengan orang tua dan saudara-saudara? J: Kalau dengan orang tua sih, sudah seperti saudara sendiri, kalau dengan saudara sih, Lbkel Subjek memiliki hubungan yang saling akrab satu sama lain. baik dengan orang tua dan saudara-saudaranya.

  T: Pola asuh seperti apa yang diterapkan oleh orang tua anda? Apa orang tua anda 5 otoriter, misalnya, kamu harus gini, kau harus gitu, harus nurut.. atau ya terserah semau- mau kamu, atau mereka gimana.. J: Kalau untuk orang tua sih mereka ngebebasin ya, ibaratnya aku mau gini aku mau Lbkel Orang tua subjek memberi gini, aku bisa memilih ya, asalkan terbaik buat aku tapi kalau menyimpang sedikit aja, kebebasan selama subjek tidak orang tua baru marah, ibaratnya, “kenapa kok kamu begini?” jadi ibaratnya orang tua itu melakukan kesalahan. 10 kaya guru, kita salah kita di diginiin, kita semau kita asal bener gak papa. Gitu.

  T: Jadi mereka ngasih kebebasan, tapi bila ada sesuatu yang salah mereka baru bertindak, gitu. Bagaimana tanggapan anda tentang orang tua yang memberikan hukuman secara fisik? Pernah nggak dihukum secara fisik? J: Mm… kalau dihukum secara fisik, dulu waktu kecil pernah tapi karena nakal, tapi Lbkel Waktu kecil subjek pernah 15 biasalah anak kecil nakal, tapi untuk saat ini nggak. mendapat hukuman secara fisik karena nakal. T: Kalau menurut anda gimana orang tua yang memberi hukuman fisik tu gimana, anda setuju tidak? J: Kalau menurut saya, tidak setuju karena disatu sisi membuat mental anak menjadi Cpkrs Subjek tidak setuju pada down, yang kedua nanti anak itu menghadapi apapun itu pasti takut ada rasa kaya hukuman fisik karena membuat

  20 gimana gitu, ketemu orang ini-ini, wah! Aku takut ntar gini..gini..gini.. Jadi ibaratnya anak takut menghadapi berbagai kaya dia belum maju perang tapi udah kalah, menyerah sebelum berperang. hal.

  T: Jadi nggak setuju ya.. J: Iya

  T: Kalau tayangan televisi yang memuat adegan kekerasan, menurut anda gimana?

  25 J: Wah itu sih… tidak mendidik sama sekali Cpkrs

  T: Tidak mendidik, soalnya? J: Ya.. ibaratnya bukan mereka mengajarkan yang baik, tapi malah mengajarkan yang Cpkrs Tayangan kekerasan tidak buruk bagi masyarakat. mendidik karena mengajarkan yang buruk pada masyarakat.

  T: Gitu ya?

  30 J: Iya T: Kalau terjadi kekerasan dimasyarakat gimana? Misalnya ada maling dibakar atau digebukin, dihajar massa gitu.

  J: Kalau itu menurut saya sih mereka suka main hakim sendiri, mungkin karena mereka Cpkrs tersulut emosi atau udah benci duluan, nah disitu mereka suka main hakim sendiri dan mereka salah secara hukum.

  35 T: Anda setuju atau tidak? J: Kalau menurut saya sih, tidak setuju.

  Cpkrs T: Tidak setuju. Walaupun itu adalah seorang penjahat atau maling? J: Ya tidak setuju. Kan dinegara ini sudah ada hukum, Undang-Undang, dan juga orang Kekerasan yang dilakukan oleh yang untuk mengatasi hal-hal tersebut. Masyarakat tugasnya hanya mengamankan saja masyarakat walaupun terhadap

  40 tidak sampai menghakimi ataupun menghilangkan nyawa seseorang. penjahat adalah salah, karena menyalahi hukum.

  T: Terus bagaimana tanggapan anda mengenai perpeloncoan disekolah-sekolah? Pernah diplonco? J: Pernah T: Gimana?

  45 J: Ya mungkin kalau diplonco secara normal itu sih biasa, membuat mental sama fisik mereka.

  T: Pengalaman sendiri di SMP atau SMA? J: Di SMK T: Di SMK sekarang ini?

  50 J: Iya

  T: Terus J: Itu sih menurut saya secara wajar sudah biasa, tapi untuk secara tidak wajar kaya Cpkrs ibaratnya di IPDN itu, atau dipukulin gini-gini. Kalau menurut saya itu ibaratnya senior balas dendam, kalau dulu saya diginiin saya harus bales ke Junior saya.

  55 T: Kalau perpeloncoan yang bentuknya secara wajar itu seperti apa? J: Ya.. seperti biasalah kita dibentak-bentak, biasa itu untuk melatih mental seorang Cpkrs anak. Kita dibentak-bentak disuruh ini-ini asalkan mereka tidak main pukul. Itu sudah wajar. T: Jadi yang tidak bisa diterima itu yang main pukul.

  60 J: Ya main pukul, main fisik.

  Perploncoan di sekolah wajar selama tidak menggunakan kekerasan fisik. T: Pengalaman anda sendiri waktu di SMK itu gimana? J: Wah.. kalau itu kita dinamakan Diksar, Pendidikan Latihan Dasar. Itu untuk BF Pengalaman subjek waktu membentuk mental sama fisik seseorang disitu. Jadi pendidikannya kalau dibilang mengalami perploncoan di militer, itu melebihi militer. Disitu kita nginep 3 hari 3 malam, siang kita mo nagapa- sekolah.. 65 nagapain aja bebas, malamnya kita mo tidur dibangunin trus mata ditutup kita suruh jalan kemana suruh merayap itu dengan dipukul.

  T: Di SMK mana itu? J: SMK “Z”

  T: Dipukul?

  70 J: Iya T: Terus

  J: Dipukul, kalau kita lagi merayap padahal itu kondisi tanah becek, ada genangan air, BF Pengalaman subjek waktu disitu ibaratnya ada juga kotoran hewan. Kepala diinjak sama senior, atau kalau ngga mengalami perploncoan di senior baru marah atau apa! Belum tidur pake kayu kita dipukul. sekolah..

  75 T: Terus, tiap tahun ada seperti itu? J: Tiap tahun selalu ada.

  T: Itu hanya ada pada masa Diksar, atau diluar itu juga ada?

  J: Diluar itu juga sering, seperti kita kalau ketemu senior nggak hormat sambil nggak BF Pengalaman subjek waktu ngucapin selamat siang kak, permisi kak, kita dipanggil trus disuruh push up sambil mengalami perploncoan di 80 dipukul. Terus-terusan. sekolah.. T: Yang anda pernah alami sendiri gimana bentuknya? J: Kalau saya sih bentuknya seperti kita. Kita secara ngga sadar disitu ada senior kita BF Pengalaman subjek waktu lewat, kita khan ngga tau,tau-tau senior manggil kita dibawa ke belakang ketempat yang menjadi korban bullying. sepi disitu ngga ada orang, kita dipukuli ramai-ramai.

  85 T: Waktu itu yang mukuli kamu berapa orang? J: Sekitar 10 sampai 15 orang.

  T: Jadi mereka bergantian gitu? J: Bergantian, sistemnya kita mata ditutup. T: Trus e… itu khan secara fisik, selain yang secara fisik itu. Bullying yang anda alami 90 seperti apa? J: Ya.. seperti kita kadang-kadang kalau ketemu senior dikantin, itu kadang-kadang BF Pengalaman subjek waktu mereka bilang gini,”Hey sini kamu aku pengin beli rokok tapi ngga punya uang, pakai menjadi korban bullying. uangmu dulu”. Kita sering beliin mereka rokok, beliin makan ini itu, jadi kalau kita bilang gak punya uang,” gini-gini-gini. Pasti kita kena imbas.

  95 T: Jadi ngompas gitu ya? J: Iya

  T: Itu yang dari e.. dari angkatan atas berarti ya, kakak kelas? J: Iya, itu ibaratnya hanya orang-orang tertentu yang disitu dibilang kriminalnya. Para pelaku adalah kakak kelas. T: Jadi ngga semua angkatan atas seperti itu? 100 J: Disitu bisa dibilang sebagian besar, hanya sebagian kecil yang enggak. T: Terus selain kamu sendiri apa ada korban lain juga? J: Kalau untuk korban lain sih banyak. Hanya mereka tidak mau mengungkapkan Korban lain banyak, namun semua. Karena kalau mereka mengungkapkan ini semua, ketahuan dipanggil. tidak berani melaporkan karena takut hukuman dari para pelaku. T: Kamu ini sudah kelas berapa? 105 J: Sudah berhenti dari sana.

  T: Itu terjadinya berapa lama jangka waktunya, sejak mau masuk? J: Sejak mau masuk

  T: Sampai? J: Sampai terakhir kemarin, tahun kemarin ini 110 T: Kamu disekolah berapa lama? J: 2 tahun T: Itu terjadi terus-menerus? J: Terus-menerus tanpa henti, jadi ibaratnya siswa datang ke sekolah untuk cari ilmu, itu Btbl siswa datang kesekolah ada perasaan takut.

  115 T: Terus kamu mutusin keluar? J: Keluar T: Alasannya? J: Alasanya kita ngga kuat mental sama fisiknya.

  Subjek mengalami bullying selama 2 tahun sejak awal masuk sekolah, lalu memutuskan untuk keluar karena tidak tahan dengan tekanan fisik dan psikologis yang diterimanya. T: Berarti karena alas an itu tadi ya? 120 J: Iya T: Terus pada saat anda digebukin, terus dikompas tadi itu apa yang anda lakukan? J: Ya.. kita ngga bisa berbuat apa-apa, kita hanya diam, khan ibaratnya kita hanya BVL Saat menerima bullying, subjek dikasih amanat sama yang diatas. “Kamu masih baru disini menerima, menerima, dan tidak bisa melawan karena jika menerima, kita pokoknya harus menerima terus nggak boleh kita kayak gini.”Wah kak melawan, bullying yang diterima 125 gini..gini.. kamu gini..gini..malah kita ditambah. akan semakin parah. T: Pernah mencoba melawan?

  J: Pernah T: Bentuknya bagaimana? J: Bentuknya ibaratnya kita melapor ke BP, kalau nggak ibaratnya ke Provostnya atau RolG Subjek pernah melapor ke guru

  130 kemana. Tapi bukan mereka malah menolong, “Tapi itu kan hak mereka kami nggak BP (BK), namun guru tersebut tahu apa-apa. menolak untuk terlibat. T: Guru, BP dan lain-lainnya sebenarnya tahu? J: Tahu tapi mereka ibaratnya ngga mau tahu.

  RolG Guru lain tidak mau terlibat. T: Jadi angkat tangan gitu ya? 135 J: Iya T: Selain digebukin dan dikompas dari kakak kelas, ada yang dari teman sekelas ngga? J: Kalau dari teman sekelas sih enggak, kita soalnya yang satu kena semua kena, jadi Pelaku yang mengompas dan kebersamaan. memukuli adalah kakak kelas, tidak ada yng merupakan teman sekelas karena merasakan kebersamaan.

  T: Memanipulasi.. tadi yang sebelumnya anda cerita tadi,memanipulasi pertemanan itu, 140 pernah? J: Mm..kalau memanipulasi pertemanan sih ada, ibaratnya umpama saya kena masalah. BNTL T: Yang anda alami seperti apa? J: Kalau menurut saya sih, kita waktu Tonti atau PBB namanya, kita ada gerakan sedikit BNTL Subjek pernah dimusuhi teman saja, umpama saya gerak satu kelas kena. Dan disitu, itupun temen-temen lambat laun sekelasnya karena mereka

  145 mereka akan, apa.. ibaratnya ee.. memusuhi saya, disitu. menyalahkan subjek yang melakukan kesalahan saat di Peleton Inti. Karena kesalahan itu seluruh teman sekelas subjek mendapat hukuman.

  T: Pernah seperti itu? J: Pernah

  T: Terus yang dilakukan teman-teman dalam memusuhi itu seperti apa bentuknya? J: Biasanya nggak mau ngajak ngobrol, diajak ngobrol nggak mau, menjauhi, duduk satu BNTL 150 mejapun mereka nggak mau.

  T: Itu anda alami sering atau hanya sekali?

  J: Itu sih seringkali sih. T: Sering? J: Iya Subjek sering dikucilkan. 155 T: Selain itu jadi ee.. Jadi khan, khan secara fisik.Terus kalau pelecehan seksual gitu pernah nggak?

  J: Kalau pelecehan seksual sih ada disekolah, pernah. Jadi temen sekelas saya khan ada yang cewek. Itu sama senior saya itu entah ngapain di kost-kostannya dia ketangkep satu kelas kena semua. Jadi kita satu kelas dibuat ya kaya gimana ya.. Ya lebih kejam dari

  160 IPDN lah.

  T: Gimana? J: Wuh.. kita disuruh ngayang, dihajar ini, ini, ini, dipukuli pakai rotan ini, ini, ini habis- BF Atas kesalahan salah satu teman habisan. perempuan, seluruh teman sekelas dihukum secara fisik, dipukuli pakai rotan, diam dalam posisi kayang oleh kakak kelas.

  T: Yang hajar kakak kelas itu? 165 J: Kakak kelas semua T: Tapi yang pernah menimpa anda.. pernah nggak? J: Nggak pernah saya

  Subjek tidak pernah mengalami pelecehan seksual. T: Terus.. kalau misalnya dari tadi ada yang fisik, terus memanipulasi teman sampai teman pada musuhin semua gitu khan. Pernah difitnah segala macem gitu, pernah? Bisa

  170 dicritain nggak? J: Pernah, Ibaratnya ini ada sekelompok orang satu kelas, mereka bolos nah yang tahu BNTL bolos itu khan hanya saya, nah tapi disitu kan ada anak lain yang tahu tapi bukan satu kelas saya. Itu bilang ke BP, bilang ke senior, “Kak ini ada yang bolos ini, ini, ini namanya. Jadi yang kena saya disitu.

  175 T: Pernah seperti itu ya? J: Pernah

  T: Terus jadi setelah itu teman-teman reaksinya? J: Reaksinya ya.. ada yang ngajak berantemlah, ini..itu..ini..itu pokoknya segala macam. Subjek pernah difitnah oleh teman sekelasnya sehingga seluruh kelas memusuhi subjek. T: Terus yang anda lakukan? 185 J: Ya.. sekarang aku bilang,”buktinya apa? Gini, gini udah kemarin yang disitu siapa Subjek berusaha untuk aja? Cuma kamu thok. Salah ada itu, Tanya sama itu dia nggak mau ngaku kita tanya ke meluruskan masalah. senior, senior bilang ini yang lapor. T: Kamu ini ya berarti tetep ada, ee.. usaha untuk melawan gitu ya!

  J: Iya 190 T: Yang paling parah menurut kamu apa? J: Kalau yang paling parah menurut saya waktu kita mau lomba tonti. Lomba tonti kita BF Pengalaman subjek saat latihan kan dipilih berdasarkan segi fisik tubuh, sama dia ibaratnya fleksibel. Itu tiap hari setiap fisik yang berat dari senior. jam 12, sebulan sebelumkita lomba kita suruh lari keliling lanud Adi Sucipto selama 2 kali, 3 kali itu dengan telanjang dada jadi ngga pakai baju sama sekali. Terus kita suruh

  195 push up diaspal jam 12 pas, tangannya sampai nglopek-nglopek. Itu sering.

  T: Itu yang nyuruh dari guru atau dari senior? J: Senior semua

  T: Hubungan anda dengan pelaku berarti kakak kelas ya? Terus sama yang tadi itu teman sekelas. Pernah nggak kamu merasa tersingkir gitu? 200 J: Pernah, ibaratnya ya.. kayaknya dikelas itu gimana itu disekolah itu, koq temen-temen Btbl nggak mau dekat sama aku, koq nggak mau ngobrol sama aku. Kok ini kenapa, kenapa, kenapa. Pernah dulu tak tanyain, mereka nggak mau malah pergi, pergi, pergi. Ya sudah, tak diemin dulu, lambat laun mereka butuh ke saya baru mereka ngedeket satu-satu. T: Butuhnya? 205 J: Ya ibaratnya kita…… Kalau dulu, memang sih kalau kita mau ujian, maintenance, Subjek pernah dikucilkan oleh motor, pesawat terbang. Itu kan pelajaran yang dibilang susah. Nah, saya kan ibaratnya, teman-temannya, tapi mereka karena gurunya killer.. jadi ya benar-benar belajar lah malamnya. Nah kan sering minta mendekati subjek saat mereka contekan.. lambat laun mereka jadi teman akrab. butuh contekan sehingga lama- lama menjadi akrab kembali.. T: Sampai pada akhirnya kamu memutuskan untuk meninggalkan sekolah itu perilaku 210 teman-teman gimana, sikap teman-teman gimana? J: Sikap teman-teman itu memberatkan, untuk saya agar tidak keluar. Setelah saya Teman-teman subjek berharap keluar, satu per satu teman-teman ikut keluar. subjek tidak keluar sekolah. T: Jadi teman-teman kamu ngebacking gitu ya? J: Iya.

  215 T: Cuma karena kamu nggak tahan sama perlakuannya secara fisik J: Dan juga perlakuan dari guru.

  T: Gurunya gimana? J: Ibaratnya gurunya gini, yang simple aja lah, guru gambar tekhnik. Kita kan gambar BNVL Subjek juga menerima bullying mesin, gambar ini itu.. Sudah kita gambar bagus-bagus rapi-rapi, belum dilihat, disobek secara emosional dari guru

  220 dibuang, belum dilihat disobek dibuang. Buat lagi, buat lagi, kita kan capek. Nah disitu, menggambar. cuma dikasih nilai 3. Maksimal 4. Padahal teman-teman yang gambarnya lebih jelek aja nilainya 7.

  T: Jadi sebetulnya yang bikin kamu keluar sekolah itu factor apa? Yang paling memberatkan? 225 J: Yang paling memberatkan sih factor guru. Guru kalau sudah satu kali benci sama Perlakuan dari guru yang paling anak, selamanya benci. Ibaratnya kita nggak sengaja lah, “Pak ini gini, gini, gini” kita mendorong subjek untuk keluar

  Tanya waktu dia lagi marah sama siapa, kita pun kena imbasnya. dari sekolah. Subjek merasa dibenci oleh gurunya. T: Kamu pernah tanya “Kenapa kok saya nilainya gini?” J: Pernah, ya dia jawabnya simple aja “Karena kamu goblok”. Digituin tok. BVL Subjek juga mengalami bullying verbal dari gurunya. 230 T: Ada guru BP?

  J: Guru BP pun nggak mau ikut campur, masalahnya dia bukan orang militer Guru BP tidak mau terlibat dalam masalah subjek dan gurunya. T: Jadi yang lebih memberatkan untuk keluar sekolah itu bukan karena intimidasi secara fisik dan lain-lain, tapi lebih karena guru, gitu ya? J: Iya. 235 T: Terus, menurut anda sebenarnya kenapa sih masalah ini terjadi kayak kakak kelas tadi ngegebukkin anda, ngehajar anda, terus teman-teman anda ngemusuhin anda.

  Sebenarnya apa sih penyebab masalah itu? J: Kalau sebetulnya sih penyebab masalah itu karena balas dendam. Karena dia merasa Pyb Penyebab bullying di sekolah sudah senior sama yunior, “Dulu saya digituin, kamu harus ngerasain” adalah balas dendam dari senior ke yunior karena dulu mereka juga mengalami.

  240 T: Pernah nggak kepikiran, kok saya yang jadi korban gitu lho. Menurut anda yang salah dibagian mana? J: Ya, saya sadar, karena saya menjabat OSIS dan siswa Tatib juga disitu. Karena disitu, Pyb Subjek menjadi korban bullying ibaratnya yang pegang jabatan disitu dekat sama Pembina ibaratnya kesiswaan disitu terutama karena ia menjadi jadi, kita malah dibenci. “Wah ini orangnya yang paling penting, sudah, kita siksa saja”. pengurus OSIS. 245 T: Oh gitu.. karena anda menjabati suatu posisi di OSIS itu.

  J: Iya.

  T: Jadi pada sirik gitu ya? Kesannya… J: Iya. T: Terus yang tahu berarti kan, teman-teman tahu, guru tahu.. staf karyawan, pengajar 250 yang lain gitu, tapi tanggapannya? J: Tanggapannya “Itu bukan urusan saya, itu urusan mereka.” RolG Teman-teman, guru, dan karyawan di sekolah tahu bullying yang menimpa subjek, namun menolak untuk terlibat. T: Kalau dari orang tua sendiri bagaimana? J: Kalau orang tua selama saya disitu saya belum ada omongan sama sekali, saya digini- RolO Orang tua memberikan giniin. Tapi setelah benar-benar kesabaran sudah habis, baru saya mulai ngomong. Ya kebebasan pada subjek untuk

  255 orang tua pun ibaratnya, “Sudah, terserah kamu, kamu mau gimana.” Nyoba disitu dulu memilih bertahan atau keluar beberapa bulan, tapi benar-benar nggak kuat, ya sudah, berhenti saja. dari sekolah.

  T: Tapi mereka, tanggapannya? J:Ya nggak apa-apa, malah bagus “Dari pada kamu hancur disitu”. RolO Orang tua mendukung subjek untuk keluar dari sekolah.

  T: Terus bagaimana saran anda agar seseorang terhindar dari saran intimidasi. Menurut 260 kamu gimana? J: Mm... kalau menurut saya sih tergantung pergaulan dia. Cara dia bicara sama teman, Srn Saran subjek agar seseorang bawa dia, ibaratnya dia harus tahu karakter teman. Teman ini pemarah atau nggak, suka tidak menjadi koban bullying diajak bercanda atau enggak. Kalau dia suka diajak bercanda, kita ajak bercanda tapi adalah dengan berusaha menjaga bercandanya jangan keterlaluan. Kalau dia orangnya serius, kita ajak bicara serius, tapi cara bicara dan mengetahui

  265 jangan terlalu serius. Ibaratnya kita adaptasi dengan mereka lah. Gitu.. karakter teman untuk menyesuaikan diri.

  T: Bagi orang yang terlanjur menjadi korban, misalnya ada orang lain yang menjadi korban, terus gimana agar orang itu tidak lagi menjadi sasaran.... korban? Tidak lagi menjadi sasaran intimidasi. J: Ya.. kita ambil simpelnya saja ya mbak, ini begini.. saya dulu pernah digituin. Jadi Srn Subjek tidak berniat membalas 270 saya ya jangan ngeginiin orang juga. Ibaratnya, biarlah saya yang terima, tapi orang lain bullying yang diterimanya jangan saya gituin. supaya tidak ada lagi siswa yang menjadi korban. T: Menurut kamu, korban itu harusnya melawan, atau gimana? J: Ibaratnya, kalau untuk melawan itu sih salah ya.Tapi ibaratnya kita sih sabar saja ya. Srn Korban bullying sebaiknya sabar Sabar, sabar dan sabar. Pasti ada jalannya. dan menerima. 275 T: Harus nerima gitu ya? J: Iya.

  Srn T: Terus, apa harus keluar? Kalau anda kan milih jalan keluar ya, keluar dari sekolah gitu.. Bagi korban yang lain menurut anda solusi yang paling baik itu gimana? J: Ya menurut saya sih kalau mereka benar-benar sudah mutusin begitu, masalahnya Srn Korban dapat memutuskan 280 kalau satu sekolah ini memang tidak bisa merubah. Kalau sekali benci ya tetap benci keluar dari sekolah jika situasi di terus. Meskipun dia baik sama guru gini,gini,gini gurunya dibeliin motor, tetap benci. sekolah tidak berubah. Ya sudah, mending keluar saja. Daripada kita ibaratnya kekuras habis. T: Jadi menghindari sumber-sumber masalah itu tadi. Sekarang, gimana saran anda supaya disekolah itu tidak ada lagi tindakan kekerasan dan intimidasi, korban-korban 285 bullying ? biar nggak ada fenomena seperti itu lagi.

  J: Itu sih, kalau untuk senior yang dulu ngegituin, nggak apa-apa, nggak ada masalah. Srn Untuk menghentikan bullying Itu mereka sudah kelas tiga, kan sebentar lagi mau lulus. Kalau untuk yang yunior, yang sebaiknya siswa yunior tidak baru masuk, mereka digituin, janganlah berbuat seperti itu dengan yunior mereka. membalas apa yang pernah dialami pada siswa-siswa yunior berikutnya.

  T: Dari pihak sekolah sendiri seharusnya gimana? 290 J: Dari pihak sekolah sendiri sih harusnya memberikan sanksi yang seberat-beratnya Srn Sekolah seharusnya memberi kalau dia sampai mengulangi masa-masa suram di waktu dulu. sanksi yang berat pada pelaku. T: Sanksi seberat-beratnya kepada pelaku gitu ya? J: Iya. T: Jadi pemecahannya gitu aja? Jadi kalau ada fenomena seperti itu, pelaku dikasih 295 sanksi seberat-beratnya, sudah gitu?

  J: Iya.

  T: Kalau pencegahan lain supaya tidak muncul pelaku-pelaku lain, gimana? J: Ibaratnya kita kayak ada Bimbingan Konseling, BK. Kita diberi penyuluhan ini, ini, Srn Di sekolah sebaiknya ada kalau enggak biasanya kita ada retret, diberikan ini, ini, itu lambat laun akan menggugah Bimbingan Konseling yang

  300 hati mereka. memberi penyuluhan, atau melalui retret.

  T: Kalau disekolah sendiri, selama ini ada nggak kayak gitu-gitu..? J: Kalau untuk seperti itu, karena agama yang Nasrani itu dikucilkan dan dijauhi, disana BNTL Selama ini tidak pernah ada yang dipentingkan hanya yang muslim. retret di sekolah karena yang beragama Nasrani dikucilkan.

  T: Bentuk pengucilannya seperti apa? 305 J: Seperti kita mau ada kegiatan retret, kita mau minta dana sekianlah, biaya retret gini, Btbl gini, gini... nggak dikasih! “Pak ini, kita besok ada Natalan, Pak, ini, kan malam Natal” T: Siswanya banyak yang Nasrani?

  J: Ya, nggak banyak sih, cuma sedikit sih, ibaratnya yang paling banyak tuh cuma Bentuk pengucilannya seperti sekitar 23 orang per angkatan. Jadi kita ada acara umpamanya, Paskah, Malam Paskah. tidak memberi dana bagi 310 Itu kan Paskah itu kita masuk. Kita ijin, “Pak kita ijin sehari, Pak. Ke gereja Paskahan”. kegiatan retret ataupun ijin untuk “Emang penting apa?” Gitu gurunya bilang. merayakan hari besar keagamaan. T: Itu berarti secara agama juga ya. J: Secara agama juga.

  Btbl T: Gurunya nggak ada yang beragama Kristen atau yang lain? 315 J: Kalau guru pembimbingnya Kristen Katolik sih cuma datang setiap hari Rabu, dan RolG Guru yang beragama Kristen mereka cuma, mereka pun nggak tahu menahu kalau siswanya digituin. tidak tahu masalah diskriminasi. T: Oh gitu? Pernah mencoba melapor atau bertanya? J: Pernah mencoba melapor, tapi dari pihak sekolah “Enggak tuh, saya kasih kebebasan RolG Siswa pernah melaporkan, ke mereka”. Jadi mereka hanya memutarbalikan fakta yang ada. namun pihak sekolah menyangkal. 320 T: Kalau dari teman-teman sendiri atau dari kakak-kakak kelas gitu, pernah nggak ada masalah misalnya bentrok secara.. ya itu membawa-bawa agama, mengucilkan karena alasan agama? J: Pernah, kebanyakan gini “Eh kamu jangan temenan sama anak itu, matinya tu disalib, BVL Teman-teman pernah mengejek gini, gini, gini.. sering itu.. masalah agama (bullying verbal) 325 T: Yang terjadi sama kamu gimana?

  J: Yang terjadi sama saya sih “Eh kamu orang Katolik tho, kamu matinya akan gini, BVL gini, gini.. kamu makan babi kan, babi tu haram, gini, gini, gini T: Terus tanggapan dari kamu? J: Tanggapan dari aku, ah itu kan agama, agama saya. Saya kan memang kayak gitu, tapi Subjek tidak marah atas ejekan 330 kenapa saya harus marah karena itu kan.. apa sih.. dari kitab suci, sayangilah musuhmu teman-temannya. seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. T: Tapi sebetulnya kamu jengkel nggak sih? J: Ya jengkel sih jengkel, tapi saya selalu ingat yang dipesan itu T: Apa yang kamu rasakan waktu kamu menjadi korban? Ya dipukulin, ya disingkirin

  335 sama teman-teman, ya dikucilkan? J: Ya yang dirasakan sebenarnya sih, ya kita ada rasa marah, mangkel, males, pengen Subjek merasa marah, jengkel, marah, tapi ya disitu ada status jabatan juga, mereka lebih tinggi statusnya dari kita, jadi namun tidak bisa melawan. kita ya nerima aja lah. T: Oke.. ada lagi yang mau ditambahkan mungkin? 340 J: Ya pesan saja, untuk siswa ataupun anak yang pernah mengalami kejadian seperti itu, Srn Subjek menyarankan agar cobalah untuk sabar. Nggak ada salahnya untuk sabar, karena sabar itu.. pasti kita dapat korban yang lain sabar dalam jalan yang paling baik. Disitu saja. menghadapi masalah bullying. T: Oke.. ya sudah, wawancara cukup sampai disini, mungkin lain kali kalau ada yang kurang, kita akan melakukan wawancara lagi, nggak apa-apa ya?

  345 J: Iya, bisa.

  T: Oke. Makasih.

  NB Wawancara 2,

  10 Maret 2008

  Kode Analisis

  T: Kamu kenal nggak, ada salah satu atau segerombolan pelaku yang memang menyakiti kamu gitu.. J: Mm.. kenal. Kebanyakan kenal saya, karena ya selama kita disitu, sering ketemu juga.. Subjek sering bertemu dengan 350 dan karena disana kita kenalnya bukan Karena kita kenalan, karena ada pengenalnya, dan.. pelaku bullying. Subjek tahu ada perlengkapan yang harus.. yang diharuskan dari.. kewajiban dari sekolah. Ga boleh nama pelaku dari bet nama kurang, kalau kurang kan otomatis ya kayak.. menerima pembinaan lah, gimana.. Jadi pada seragam pelaku. istilahnya saya kenal mereka itu dari papan namanya. T: Taunya bukan karena ngobrol atau berteman, tapi karena itu ya.. papan namanya 355 J: Iya.. T: Itu kakak kelas atau teman seangkatan? J: Senior semua itu.. kakak kelas.

  Pelaku adalah kakak kelas. T: Bisa dijelasin nggak perilakunya..? dia hanya sendiri atau sama teman-teman pada saat melakukan itu?

  360 J:Dia bergerombol, banyak ya kebanyakan sekitar 20 sampai 30, ibaratnya tu kan kalau Pelaku melakukan bullying dibilang satu peleton lah kalau disana, dan mereka itu perilakunya benar-benar kurang dengan bergerombol. mengenakkan.

  T: Tapi yang kuncinya itu dia gitu? J: Iya 365 T: Dia memprovokatori teman-teman yang lain gitu?

  Ada pelaku inti yang memprovokatori pelaku lain. J: He eh. T: Terus itu pertama kalinya gimana sih kasus yang memunculkannya itu, yang pertama kali memunculkannya itu gimana, kamu masuk ke sekolah itu, terus belajar biasa, terus? J: Pertama kali itu memang disekolah itu nggak ada apa-apa, satu bulan dua bulan karena Pyb Senior kelas 2 melakukan 370 yang megang masih senior yang kelas tiga. Setelah senior kelas tiga ngelepas kami untuk karena sebelumnya

  bullying

  dibina oleh senior kelas dua, baru senior kelas dua mulai, itu pertama masih biasa sih mereka juga pernah belum begitu berat, tapi lama-lama kok ini menyimpang dari yang seharusnya.. ini mengalami. misalnya mereka menghukum kita karena kita salah atau bagaimana, seragam kita kurang rapi atau gimana, tapi kadang-kadang karena mereka dulu pernah jadi kelas satu, otomatis

  375 adik kelas mereka jadi harus ngerasain kaya mereka.

  T: Kalau yang menimpa kamu langsung? J: Kalau yang menimpa saya langsung, yang khusus… itu intinya saya di OSIS ya Pelaku mencari-cari kesalahan menjabat sebagai seksi kerohanian dan juga siswa tata tertib. Nah disitu, karena saya harus pada laporan yang dibuat setiap hari itu membuat laporan.. ya sebenarnya laporan saya itu sebenarnya sudah benar, korban. 380 tapi sama mereka mencari-cari kesalahannya, selalu mencari-cari kesalahan

  T: Kalau secara fisik yang dulu kamu ceritain, pas kamu dipukulin digebukin itu, dia juga? J: Kebanyakan dia juga. T: Itu gimana, bisa kamu certain nggak? J: E.. kebanyakan itu pas kita dikantin, berpapasan sama senior, mereka manggil kita 385 T: Kita itu kamu sama teman-teman? J: Ya saya sama teman saya, kebanyakan.. T: Berdua?

  J: Kita biasanya berdua-bertiga kan biasa kita kalau ke kantin itu ninjau apa… yang ngelanggar-ngelanggar. Karena dapat tanggung jawab itu kita kena terus.

  390 T: Jadi mereka manggil, terus kamu sama teman kamu dibawa ke kamar mandi, J: Iya, dibawa di kamar mandi, kita diancam nggak boleh gini gini gini BVL Pelaku membawa subjek ke kamar mandi dan mengancam T: Ngomong gimana? J: Mereka.. perbuatan mereka, seragam mereka dikeluarin, seragam dilepas, terus atribut nggak pernah dipakai, itu kan sudah melanggar aturan disekolah.

  395 T: Okay, jadi mereka ngancam sampai… terus kejadian mereka sampai mukul itu? J: Kejadian mereka mukul, ya karena sekali dua kali mereka meringatin, tapi ketiga kali.. BF Pelaku mengancam korban kita kesitu, memang kita kan tugasnya disitu itu mereka jengkel apa gimana, kita dibawa beberapa kali, lalu memukuli langsung kita dipukuli korban. T: Kamu ngelawan nggak waktu itu? 400 J: Ya kita gimana ya.. kalau kita ada rasa mau ngelawan sih ngelawan, tapi karena itu masih ada di lingkup militer, kita nggak bisa ngelawan. T: Ada nggak pada waktu diintimidasi gitu kamu… rasa takut, atau gimana gitu.. J: Kalau rasa takut itu pasti ada, karena apa, setiap berangkat sekolah bukan rasa senang Subjek takut pergi ke sekolah karena terima pelajaran, tapi karena kita takut ketemu dengan senior-senior. karena harus bertemu senior.

  405 T: Terus kan kemarin saya pernah tanyain, gimana tanggapan anda mengenai perploncoan di sekolah-sekolah. Yang kamu rasain apa sih, saat diplonco itu..? J: Kalau diplonco itu yang saya rasain, yang jelas sakit ya.. tapi, apakah perlu seperti itu Cpkrs Subjek memandang untuk membentuk mental dan fisik anak? Sebenarnya itu tidak perlu sih, tapi kalau di pendidikan militer yang terlalu militer saya yakin, kalau di militer memang seperti itu karena mereka, ibaratnya karena keras tidak perlu. Pelaku 410 mereka ngelindungin negara, iya kan.. tapi kan berbeda sama sekolah. Ya memang sekolah membawa korban ke Rumah ini kan mengambil paham militer, tapi ini sudah lebih dari militer. Ibaratnya . kayak di Sakit setelah dipukuli.

  IPDN. IPDN sama SMK Penerbangan, itu lebih kejam didikan di SMK Penerbangan. Tapi mereka pintar, tiap kita dipukulin, kita sakit, itu kita langsung dibawa ke rumah sakit. T: Yang pernah kamu alamin itu separah apa? 415 J: Sampai saya nggak bisa bangun selama 3 hari. T: Itu kamu dibawa ke rumah sakit juga? J: Sebelum itu saya dibawa ke rumah sakit, cuma karena mereka bilang saya cuma kena Setelah dipukuli, subjek gejala typus.. ya saya ada gejala typus, karena saya makanya telat, kadang-kadang di dibawa ke rumah sakit. sekolah saya nggak makan sama sekali Karena kegiatannya full. Ditambah lagi sering 420 dipukulnya perut.. selama 3 hari, ternyata benar selama 3 hari saya tidak bisa bangun sama sekali. T: Orang tua itu tahu? J: Orang tua cuma tahunya saya kena typus.

  RolO Orang tua hanya tahu bahwa subjek terkena typus sesuai keterangan dokter. T: Pernah nggak ngomong-ngomong gitu? 425 J: Kalau selama di SMK Penerbangan saya belum pernah ngomong. T: Baru pas akhir-akhir ini saja pas kamu mau keluar itu ya?

  Saat akan keluar sekolah, subjek memberitahukan pada orangtuanya. J: Iya..

  T: Orang tua ada niat untuk menuntut atau konfirmasi gitu? J: Orang tua sudah ke sekolah, menuntut, ini gimana anak ini, kenapa jadi seperti ini, tapi RolG Orang tua subjek ke sekolah 430 pihak sekolah bilangnya cuma “Lho, saya tidak tahu menahu, Pak”. Mereka itu tidak mau meminta keterangan, tapi disalahkan dan tidak mau untuk membela siswa. Nah, sebenarnya mereka itu tidak pihak sekolah mengaku tidak menginginkan saya untuk keluar, karena yaitu semua rahasia-rahasia keburukan-keburukan tahu mereka, saya tahu semua. T: Imej juga jadinya ya? 435 J: Iya.

  T: Terus yang kamu cerita, waktu apa.. e.. temen sekelas juga jadinya musuhin kamu. Itu penyebabnya waktu di tonti gara-gara kamu salah, melakukan kesalahan jadi semua dihukum itu kan? J: Iya. 440 T: Kamu yakin nggak, gara-gara kesalahan, kamu gerakannya salah jadi semua nyalahin kamu?

  J: E.. sebenarnya nggak yakin juga sih?

  T: Kira-kira, kalau menurut kamu itu apa penyebabnya? J: Kalau saya, lebih yakinnya karena saya di jabatan OSIS sebagai komandan siswa tatib. Pyb Teman sekelas memusuhi 445 Komandan siswa Tatibnya untuk mereka yang baru tingkat 1. Jadi setiap mereka subjek karena subjek adalah melakukan kegiatan apa yang mencurigakan, kita lapor, lapor, lapor, dan lapor. Kalau kita komandan siswa tatib di OSIS bisa ambil tindakan disitu juga, kita ambil tindakan. sehingga selalu melaporkan pelanggaran yang mereka lakukan. T: Menurutmu kalau di kelas itu ada yang memprovokatori nggak? Memprovokatori atau mendalangi gitu?

  450 J: Kalau memprovokatori sering, dan banyak sekali provokatornya. BVL T: Contohnya, yang terjadi itu gimana? J: Contohnya yang terjadi ya, kita lagi masuk kelas, masuk kelas kan.. ada satu orang BVL Teman-teman sekelas subjek “Tuh, tuh, tuh, apa, prajurit khayangannya datang” Kan kayaknya ngehina, ada lagi yang memperoloknya.

  “Wo.. itu ada anjing datang, gini, gini, gini”. Itu dia ada budak dari pemimpin-pemimpin 455 datang. T: Karena kerjaan kamu memang melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, gitu ya? J: Iya, dan juga sering me-razia, jadi datang pagi, mau apel itu kita datang pagi. Jam 6 harus sampai sana. 460 T: Itu di tiap kelas itu pasti ada yang tatibnya? J: Ada.

  T: Dan semua dapat perlakuan gitu juga dari teman-teman sekelasnya? J: Ya, semua juga dapat perlakuan kayak gitu. Karena ya setiap hari, kita nge-razia mereka. Pyb Petugas tata tertib yang lain Ibaratnya mereka datang, kita geledah tasnya. Bawa rokok, kita kenain push up, ada yang juga diperlakukan seperti 465 bajunya kurang rapi, kita push up-in. Gini,gini, terus. Jadi mereka kan malah benci sama subjek teman-temannya. kita.. itu kan karena tugas, bukan karena kemauan kita. T: Tapi pernah nggak kamu konsultasi sama guru, gitu. “Pak saya ini ngehukum anak-anak tapi teman-teman malah ngemusuhin saya, gitu? J: Pernah malah bilang gini “Sudah biarin aja, soalnya kamu kan yang lebih berkuasa dari

  470 mereka, sudah nggak usah”.. ya sudah..

  T: Resiko ya (tertawa) J: Iya resiko (tertawa). T: Tapi gimana itu rasanya dimusuhin teman-teman kayak gitu? J: Ada enaknya ada nggaknya. 475 T: Enaknya?

  J: Enaknya kita jadi nggak terpengaruh pergaulan mereka yang buruk-buruk, nggak BNTL enaknya cuma diem.. aja dikelas, pada ngobrol. T: Jadi kayak dikucilkan gitu ya?

  J: Iya 480 T: Yang kamu alami selama dijauhin itu berapa lama J:Dari.. selama saya menjabat.. T: Dari kelas berapa? J: Dari kelas satu, sampai kelas 2. Sebetulnya jabatan ini kan sampai kelas 3, tapi ya karena Subjek dikucilkan teman- saya sudah nggak kuat lagi, ya sudah. temannya dari kelas 1 sampai kelas 2. 485 T: Terus kan kemarin kamu bilang, faktor utama yang bikin kamu keluar sekolah itu justru perlakuan guru ya?

  J: Iya T: Misalnya kamu bikin tugas gambar sama guru cuma dikasih nilai 3 atau 4, gitu kan.

  Terus ditanya kenapa nilainya cuma segini, cuma dibilang goblok gitu kan. Tapi apa betul 490 factor utamanya itu guru, bagaimana dengan factor-faktor yang lain? J: Kalau factor-faktor yang lain ya, satu sisi teman ya, itu.. teman sih ya ngejauhin kita. RolT Tapi kalau teman sih nggak begitu memberatkan. Malah saya waktu itu mau keluar, tapi teman-teman satu sekolahan waktu itu ngeberatin saya… nggak boleh, saya dibela mati- matian sama teman saya. 495 T: Tadinya kan mereka musuhin kamu terus jadi ngebela itu prosesnya gimana?

  J: Prosesnya itu gini, dengan saya tegas, itu hukuman yang diberikan senior itu jadi Selama menjadi komandan semakin ringan. Jadi semakin, ibaratnya kalau mereka seorang komandan siswa tatib, kalau siswa tatib, subjek berusaha ibaratnya mereka loyo, nggak memberikan arahan yang pasti sama mereka, itu malah agar teman-temannya tidak mereka dibina sama senior yang lebih kejam, lebih keras, jadi “daripada kalian yang kena, mendapat hukuman dari 500 lebih baik kita, sudah, kalian gini, gini, gini, jangan gini, gini, gini.. Nanti kalau kalian senior. Setelah beberapa waktu gini, dapat hukumannya gini”. Jadi mereka sebelum dihukum sama senior, kita kasih tahu teman-teman subjek mendekati dulu. Itu baju dirapihin, ikat pinggang di brasso, sepatu disemir, potong rambut dulu sana. subjek. Sudah gitu.. T: Jadi kamu berusaha perhatian sama teman-teman gitu? 505 J: Iya. T: Jadi mereka terus balik lagi sama kamu. J: He eh. T: Padahal tadi kan kalau kamu tegas sama teman-teman kamu, mereka malah ngejauhin kamu, gitu kan?

  510 J: Iya. Pertama-tama sih mereka ngejauhin saya, selama 1 tahun saya dijauhin sama BF mereka. Tapi setelah mereka mencerna, “Oh iya sih, ada baiknya dia tegas sama kita.

  Soalnya apa, kita nggak pernah dihukum, biasanya kita dihukum disuruh push-up, lompat kodok, kadang-kadang kita disuruh hormat sampai mataharinya balas hormat”. T: (tertawa) Maksudnya gimana itu disuruh hormat sampai mataharinya balas hormat? 515 J: Jadi kita disuruh hormat ke matahari, mataharinya kalau sudah balas hormat, baru bisa BF Subjek dan teman-teman turun. Kalau enggak hormat di tiang bendera dulu gini, kalau tiangnya sudah balas hormat, dihukum menghormat ke baru bisa turun. matahari atau tiang bendera sampai senior/pelaku bullying puas. T: Hormatnya gimana itu? J: Ya nggak tahu.. (tertawa) 520 T: Oh jadi semaunya mereka? J: Semaunya seniornya aja ngehukumnya gimana. T: Yang tadi kamu dipukulin tadi, dibawa kekamar mandi sama senior apa.. itu terjadi sering? Seminggu itu berapa kali? J: Setiap hari.

  525 T: Setiap hari? Setiap ketemu berarti ya? J: Iya.

  T: Terus yang soal tadi, penyebab utama kamu keluar sekolah, kan gurunya. Kira-kira, kenapa sih guru sampai membenci kamu? J: Itu tu.. nggak semua guru juga sih, yang membenci saya. Ada yang suka sama saya, tapi Menurut subjek, guru tidak 530 kebanyakan guru-guru yang ada disana itu malah benci sama siswa yang berbakat disitu. suka siswa berbakat karena Bukan guru senang sama siswa yang berbakat, malah guru benci sama siswa yang tidak bisa dibohongi. berbakat. Karena kenapa, karena semakin siswa itu berbakat, berarti mereka semakin nggak bisa dibohongin dong. T: Dibohongin gimana? 535 J: Kita diini.., ee.. ya.. dikitlah, setiap oknum guru itu disana pasti narikkin pungutan buat BF Guru menarik pungutan- siswa. Kita tu ditarikin ini... tapi, uang itu masuk ke kantung mereka pungutan pada siswa untuk masuk ke kantungnya sendiri. T: Alasannya pungutan apa itu? J: Buat uang modul lah, pembangunan sekolah lah, ya buat macem-macem. T: Kalau buat perbaikan sekolah itu, sama uang gedung harusnya cuma di awal saja ya? 540 J: Iya, dan juga itu dibantu sama komandan Lanud. Ya ibaratnya kalau mereka ngelihat BNTL Siswa terus menerus siswa yang berprestasi itu nggak bisa dibohongin, soalnya kenapa, setiap hari kan ada Tim dibohongi. Peninjau. Jadi siswanya itu dikasih kebohongan, kebohongan, dan kebohongan. T: Kalau yang terjadi di kamu sendiri, apa yang menjadi pemicunya sehingga guru, ini kan guru gambar ya? Itu yang jadi faktor utama kamu keluar itu guru gambarnya itu?

  545 J: Guru gambarnya itu Pemicu subjek keluar sekolah adalah guru gambar.

  T: Hanya guru gambarnya itu? J: He eh. T: Terus itu gimana kejadiannya, kok sampai dia benci sama kamu? J: Kejadiannya pertama kali, klub aero-modelling saya kan dapet job, iya kan. Kita BNTL 550 dipanggil untuk ikut demo.. ya, ok lah kita dapat bayaran, tapi kita minta persetujuan sekolah. Dari 5 guru, yang nggak setuju cuma dia. Guru yang bergerak di aero-modelling, yang nggak setuju cuma dia. T: Beratinnya gimana? J: Ya dilarang-larang. Nanti kalau gini, gini, gini, kalian yang nanggung ya. Saya nggak 555 mau tahu, saya nggak mau tanda tangan. Ok, dia nggak mau tanda tangan nggak apa-apa.

  T: Acara apa? J: Demo aero-modelling itu untuk open house di sebuah SMP yang sekarang saya latih. SMP Pangudi Luhur 1. T: Aero-modelling itu kan pesawat kecil-kecil itu ya? 560 J: E.. pesawatnya ada yang kecil ada yang besar T: Helikopter.. yang pakai remote itu ya.. J: Iya pakai remote. Ya disitu, tapi setelah kita demo, kita dapat bayaran itu bayarannya BF Guru gambar tidak setuju bukan sepenuhnya untuk kita, tapi diminta untuk dia. subjek dan teman-temannya menerima tawaran pertujukkan aero-modelling di sekolah lain, namun setelah tetap dilaksanakan, guru itu meminta bayaran yang diterima subjek dan teman- temannya. T: Jadi dia ikut minta, padahal tadinya dia nggak ikut tanda-tangan? 565 J: Iya. T: Terus?

  J: Itu pertama kali, ok kita nggak apa-apa. Yang kedua kali, kita lomba. Lomba kan, dari 3 BF orang yang dikirim, itu tiga-tiganya kan masuk juara 1, 2, 3, ya kan.. Nah, kita menang, pialanya tu suruh kita duplikat 3. Satu buat sekolah, satu buat dia, satu buat kita. 570 T: Buat dia tu buat apa?

  J: Ya, namanya diganti lah, bukan nama kita. Kita nggak mau, soalnya ngeduplikatnya BF Saat memenangi sebuah pake uang kita sendiri. Dan uang kemenangan itu pun yang seharusnya kita terima penuh, lomba, guru gambar menyuruh dipotong 60%. subjek dan teman-temannya membuat duplikat trofi bagi sekolah dan dirinya dengan uang mereka sendiri, sedangkan uang hadiah pun dipotong 60% atas nama sekolah. T: Lari ke dia jadinya? 575 J: Lari ke dia. T: Guru yang lain? J: Guru yang lain ngebantu kita, kayak ngasih bahan kayu. T: Dananya itu nggak dapat guru yang lain? J: Nggak dapat sama sekali. Mereka malah senang ngebantu agar muridnya berkembang. 580 T: Si guru itu alasannya apa?

  J: Alasannya macam-macam sih, katanya buat masukkin duit kas, “Ini buat adik-adikmu yang lain, kita beliin mesin buat adik-adik kelas.” Kan mau nggak mau kita harus nurut. T: Berarti kita tu kan kamu sama tim kamu kan.. J: Sama tim. 585 T: Itu berapa orang? J: Sama tim itu semuanya itu ada 27 orang.

  T: Terus perilaku dia, sikap dia yang buruk itu ke 26 yang lain juga gitu juga? J: E.. nggak juga sih, siapa yang bisa dia bodohi, itu dia senang.

  Sikap guru gambar pada teman-teman subjek tidak seburuk sikapnya pada subjek. T: Terus kalau kamu, maksudnya kenapa kamu yang jadi sasarannya gitu lho? 590 J: Saya tahu semua kebusukkannya. T: Apa kamu pernah melawan? J: Kalau untuk melawan sih nggak, karena saya sudah tahu apa yang dia sembunyikan selama ini, sama semua orang. T: Itu terus teman-teman yang lain nggak dapat perlakuan yang buruk itu kan, dari guru itu

  595 kan.. kenapa? Dan dua puluh enam yang lain mungkin juga tahu kan. Kok yang dimusuhin sama dia kok cuma kamu? J: Ya karena saya tahu semua perilaku buruknya dia, dan dia pernah ngancem, kalaau sampai kamu bocorin itu, kamu nggak bakal saya kasih nilai, dan kamu nggak akan naik. T: Kamu tahu keburukannya itu terus kamu bilang sama dia? Pak, saya tahu gini, gini, gini 600 gitu? J: Ya itu karena saya saking jengkelnya juga sih? “Pak kalau gini terus, bapak gini terus, Pyb Subjek pernah saya bongkar rahasia bapak. “Emang apa aja?”, “Bapak kan gini, kan gini, gini”. “Kamu mengungkapkan tahu darimana”, “Ya tahu, Pak, informan banyak” Aku bilang gitu”. kekecewaannya terhadap guru gambar, dan mengancam akan membongkar perilaku buruk guru tersebut. T: O.. Berarti kamu pernah ngomong kayak gitu ya? 605 J: Pernah. T: Sejak itu dia jadi sinis gitu? Iya. J: Sejak itu dia jadi jengkel, ya gimana sih, ibaratnya kita selalu dianggap robotnya dia.. Btbl yang digerakkin kita harus ikut kesana, kesana, kesana T: Terus tekanan fisik dan mental dari senior itu bukan faktor memberatkan kamu,.. untuk 610 keluar sekolah? J: Itu juga salah satu faktor. Karena apa, ya benar fisik saya itu lemah, karena apa.. saya ada jantung lemah juga, kalau setiap kali kecapekkan, kumat saya, jantung saya sakit.. Habis itu, saya udah, pasrah lah, sudah, keluar saja, daripada disitu saya juga.. ancur.. T: Jadi faktor-faktor yang bikin kamu keluar itu, kekerasan juga.. 615 J: Kekerasan.

  T: Terus secara psikologis juga, mereke mencemooh apa.. teman-teman juga.. tapi masalah teman-teman berarti sudah nggak ada ya? J: Kalau masalah teman-teman sudah clear semua. T: Terus yang terakhir, guru itu ya.. 620 J: Iya.

  T: Terus... yang agama Nasrani.. dikucilkan gitu kan? Bagaimana dengan yang agama Hindu, Budha ? J: Kalau yang Budha ada satu, teman saya orang Bali.

  T: Dia dikucilkan juga? 625 J: Sama, dikucilkan. Jadi disitu yang diutamakan hanyalah muslim, muslim, dan muslim. BNTL T:Teman-teman kamu katanya mencemooh juga

  J: Iya T: Katanya kamu makan apa.. mati disalib gitu kan? BVL J: Iya.

  630 T: Itu ke yang temanmu yang satu, yang beda agama ini kayak gitu juga? J: Sama.

  T:Ngeledek-ngeledek gitu? J: He eh, diledek-ledek.

  Teman subjek yang beragama Hindu juga dikucilkan dan dicemooh oleh teman- temannya. T: Itu teman satu kelas, senior, atau.. 635 J: Semuanya. Dari yang satu kelas, sampai yang senior kelas 3.

  T: Terus waktu itu kamu cuma nerima aja gitu? J: Nerima. Itu ya nggak berlangsung lama sih, cuma beberapa bulan saja. Soalnya selama 2 Guru kesiswaan subjek bulan, 3 bulan itu saya belum menjabat jadi komandan siswa tatib juga sih. Dan setelah mengangkat subjek menjadi ngejabat itu, kurang mereka nginjek-nginjek kayak gitu. Tapi kebanyakan yang dipilih komandan siswa tatib karena 640 hanya yang Nasrani saja, yang jadi siswa tatib, komandan ini siapa, komandan itu siapa. sering dilecehkan oleh teman- Jadi guru kesiswaannya ini pinter “Kamu kan sering diejekkin kan? Sudah, kamu tak temannya. Siswa tatib yang angkat jadi komandan siswa Tatib”. “Lho, kok bisa, Pak?” “ Ya sudah, tuh ambil dipilih kebanyakan beragama perlengkapannya.” Lama-lama langsung tak taruh disini tuh pangkat komandannya Kristen. (menunjuk ke bahu). 645 T: Berarti dari pihak guru juga sebetulnya mendukung ini dong, mendukung yang dikucilkan itu.

  J: Ya ada yang mendukung ada juga yang nggak.

  RolG Ada guru-guru yang membela siswa yang dikucilkan. T:Lebih banyak porsinya yang mana, guru yang peduli atau guru yang nggak mau tahu? J: Guru yang nggak mau tahu, sama sekali nggak mau tahu apa yang terjadi sama RolG 650 siswanya, apa yang dilakuin sama siswanya, dan apa yang dialami siswanya. T: Kalau guru yang peduli sama itu.. guru apa itu? J: Guru itu ya kenal lah sama bapak. Itu dia di TNI angkatan udara pangkatnya letnan pangkat 2. Dia di bagian kesiswaan, yang satu gurunya Nasrani, Namanya Pak Markus, dia di bagian Aeromodelling, sama elektro, ya itu sudah akrab lah sama saya. Yang satu lagi 655 kepala sekolahnya, Kapten Margono namanya, itu juga sudah akrab sama Bapak, sama kita juga. Yang satu lagi namanya Kapten Bambang Suji, dia guru, mekanikal pesawat terbang. T: Jadi mereka itu yang nolongin itu? J: He eh. T: Itu, murid yang lain, kalau itu mungkin kan karena mereka kenal sama bapak 660 J: He eh. T: Terus sama murid yang lain itu gimana? Yang agama Nasrani.. J: Murid yang lain kalau sama mereka itu sama saja, nggak ada yang dibedain. Semua murid intinya sama. T: Tapi temen-temen itu, mereka jadi korban teman-teman yang lain juga kan berarti? 665 J: He eh, dicemooh yang lain. T: Terus kalau kamu kan diposisikan pada jabatan yang lebih tinggi, jadi lebih disegani sama teman-teman?

  J: Iya.

  Subjek diberi jabatan agar lebih disegani oleh teman- temannya. T: Terus sementara mereka yang lain ini gimana? 670 J:Untuk mereka yang lain ya cuma bisa diem saja. T: Mereka nggak dikasih jabatan yang lebih tinggi juga? J:Untuk itu, cuma mereka kayak berlindung dibalik jabatan saya. Korban bullying yang lain berlindung dibalik posisi subjek yang menjadi komandan tata tertib siswa, agar terhindar dari perlakuan pelaku bullying. T: Oh gitu, jadi kamu yang istilahnya ngelindungin? J: He eh. 675 T: Waktu kamu bilang jadi korban disingkirin, dipukulin, kamu merasa marah, mangkel, males, tapi disitu ada status jabatan juga. Mereka lebih tinggi statusnya dari kamu gitu?

  J: Iya, jadinya ada rasa mangkel, marah. Bahkan dulu pernah saya ajak satu lawan satu, Subjek merasa mangkel, marah tanpa seragam, kita lepas. Kita lepas, sudah, satu lawan satu disitu. Sampai puas kita, tapi saat menjadi korban bullying. sudah kayak gitu, kita pakai seragam lagi, malah teman akrab. 680 T: Itu terus mereka lebih tinggi statusnya itu kenapa? Dimana? Lebih tinggi status dimana maksudnya?

  J: Kalau status mereka itu kan, status mereka itu kan senior kita. Tapi sebetulnya untuk jabatan itu tinggi jabatan yang dipegang oleh komandan siswa tatib, karena komandan siswa tatib itu statusnya lebih tinggi dari ketua OSIS. Jadi ibaratnya disitu komandan 685 PMnya disitu lah. T: Jadi waktu itu kamu nggak ngelawan karena mereka senior itu...? J: He eh.. tapi karena sudah jengkel ya, akhirnya saya berani ngelawan. Satu lawan satu. T:Ok, wawancara cukup sekian, mungkin nanti kapan-kapan kalau misalnya ada yang kurang lagi kita ketemu lagi ya. 690 T: Iya.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
126
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
165
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
144
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
125
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
160
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.) Program Studi Psikologi
0
0
234
Show more