Analisis pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen : studi kasus pada kemasan mie instan merk Indomie terhadap mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository

Gratis

0
3
139
11 months ago
Preview
Full text

  

ANALISIS PENGARUH KEMASAN TERHADAP MINAT

BELI KONSUMEN

Studi Kasus Pada Kemasan Mie Instan merek Indomie terhadap Mahasiswa

Universitas Sanata Dharma

  

SKRIPSI

  Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

  Program Studi Manajemen Disusun Oleh :

  Nama : Ferdinand NIM : 032214072

  

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

Halaman Persembahan

Kupersembahkan karya kecilku ini untuk :

  á Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat-Nya dan curahan . kasih-Nya

  Papa dan Mama yang telah membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Semoga karya sederhana ini dapat menjadi salah satu bagian dari wujud tanggung jawabku dalam menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

  Adiku tersayang, Anastasia Selvina Lodi Cintaku, Bintang Apriliana Sahabat-sahabatku Almamaterku tercinta.

  Halaman Motto

  • Jika Tuhan memberikan sesuatu kepada kita untuk dilakukan,

  maka Ia akan memberikan kekuatan untuk menyelesaikannya juga.

  • Setia pada perkara-perkara kecil, maka kamu akan diberikan

  perkara-perkara yang lebih besar dari Tuhan

  • Hanya ada satu hal yang lebih menyakitkan dari kesalahan,

    dan itu adalah tidak belajar dari kesalahan.
  • Yang terbesar dari semua kekurangan adalah membayangkan dirimu tidak mempunyai apa pun.

  

Life isn’t about finding yourself. But, life is about creating

yourself ”

  

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH KEMASAN TERHADAP MINAT BELI

KONSUMEN

Studi Kasus Pada Kemasan Mie Instan merek Indomie

  Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk menjelaskan pengaruh merek, gambar, bentuk, warna dan label pada kemasan secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen; 2) untuk mengetahui atribut kemasan yang paling mempengaruhi minat beli konsumen.

  Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan kuisioner. Analisis data terdiri dari dua bagian yaitu 1) analisis deskriptif untuk mendeskripsikan identitas responden dan variabel-variabel penelitian; 2) analisis regresi linear berganda untuk mengetahui pengaruh atribut-atribut kemasan secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen.

  Hasi penelitian menunjukan 1) karakteristik responden yang memiliki minat beli Indomie paling tinggi adalah responden dengan karakteristik sebagai berikut: responden dengan jenis kelamin laki-laki, responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun, dan responden yang memiliki uang saku per bulan Rp.

  ≤ 500.000,-; 2) variabel merek, gambar, bentuk, warna, dan label pada kemasan secara bersama-sama mempengaruhi minat beli; 3) atribut kemasan yang paling mempengaruhi minat beli konsumen adalah warna kemasan, 4) minat beli secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variabel merek pada kemasan, gambar pada kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan, dan label kemasana sebesar 51,3 %, sedangkan sisanya 48,7 % dapat dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian..

  

ABSTRACT

AN ANALYSIS OF PACKAGING INFLUENCE ON CONSUMERS

INTENTION TO BUY

  A Case Study on Indomie instant noodle product

  of this research are 1) Explain the impact of brand, picture,

  The purposes

  share, color and label at packaging simultaneously on consumers intention to buy; 2) to identify packaging attribute that influence most on consumers intention to buy.

  The data collecting techniques applied are observation and questioner. Data analysis involved are 1) descriptive analysis to describe respondents identity and some research variables; 2) multiple linear regression analysis to identify the packaging attributes that influence most on simultaneously to intention to buy consumers.

  Results of this research show 1) respondents who have the highest intention to buy are male, age between 21 - 25 years, and have allowance less than Rp. 500000,-; 2) brand, picture, share, colors, and label at packaging simultaneously influence the consumers intention; 3) the attribute of packaging that influences most on respondents intention to buy is packaging color, 4). brand, picture, share, colors, and label packaging explain the respondents intention to buy 51,3 %, while the rest of 48,7 % explained by other variables.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmat yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH KEMASAN TERHADAP MINAT

  

BELI KONSUMEN ”, studi kasus pada kemasan mie instant merek Indomie

  terhadap mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Sanata Dharma pada program studi Manajemen.

  Selama penulisan skripsi ini penulis telah memperoleh bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S.; selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  2. Bapak Drs. G. Hendra Poerwanto, M.Si.; selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma.

  3. Bapak A. Yudi Yuniarto, S.E., M.B.A. ; selaku Dosen Pembimbing I yang telah berkenan membimbing dan memberikan saran dengan penuh kesabaran hingga selesainya skripsi ini.

  4. Bapak V. Mardi Widyadmono, S.E., M.B.A. ; selaku Dosen Pembimbing II yang telah berkenan membimbing dan memberikan saran dengan penuh kesabaran hingga selesainya skripsi ini.

  6. Bapak Drs. A Triwanggono., M.S ; selaku dosen penguji

  7. Seluruh Dosen Program studi Manajemen dan karyawan Universitas Sanata Dharma yang telah membantu penulis selama menuntut ilmu di Universitas Sanata Dharma.

  8. Rekan-rekan mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membantu penulis mengisi kuisioner.

  9. Kedua orang tuaku, Yohannes Ridwan Lodi dan Tiniaty Mursalim yang telah memberikan doa, semangat, materiil dan semuanya untuk anakmu yang bandel ini. Serta adikku Anastasia Selvina Lodi, tanpa kalian aku bukan apa- apa.

  10. Seluruh keluarga besar papa dan mamaku. Terima kasih atas semuanya.

  11. My Lovely star, Bintang Apriliana yang selalu menemani, menyayangi dan memberikanku semangat. Terima kasih atas kebersamaan dan dukungannya selama ini. Love you, mprit.

  12. Teman-teman Manajemen angkatan 2003 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Terima kasih atas semuanya..

  13. Teman-teman Fakultas Ekonomi yang lain : Dominikus Heru, Fransiskus SM, Primus, Fika Nurliana, Yanie, Sarah, Tias, Mba Agit, dll. Thanks For All.

  14. Cansas Grandes Community : Wisnu “Jongos”, Indra “Indrug”, Aris, Gogon, Edi Waskito, Lukas Pamungkas “Pak wiwied”, Toni “ Pak Ponco”, Sukro “Pak Rendi”, Rendol “Pak Lukas”, Boy “Hero Str”, Amin, Agustinus Heru Kristianto, Pram, Wawan “Supermen”, Agung “Sang Hero”, Ari “Grandong”

  15. Teman-teman kos Intan : Bu wiwied, Yeyen, Dita, Fifi, dll. Thanks for all.

  16. Teman-teman AC. Anilop : Marcel, Pram “Grandes”, Heru “Benalu”, Dedi “Bekam”, Bowo, Andre, LiLik, dll. Tengkyu.

  17. Semua teman-temanku dari Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma. (Aku bingung, koq temen-temen ku malah lebih banyak anak teknik daripada anak ekonominya yah?) Tapi, makasih yah buat semuanya.

  18. Teman-teman dari Jakarta : Pandi “Pak polisi”, Ida, Catur, Viky PIS, Eldot, Cupri, Yan, Riko, Ivan “domplax”, Ipin, Risman, Dhani, Simplisius Dioni, Ruri, Beruk, Eko, Ella, Wawan, Mantri. Terima kasih yah semuanya.

  19. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan serta bantuannya guna penyusunan karya tulis ini Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan lebih lanjut. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembaca.

  Yogyakarta, 31 Mei 2008 Penulis

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………..….. i HALAMAN PERSETUJUAN ……………………………………………………… ii HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………..iii HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………………..……iv HALAMAN MOTTO ………………... ………………………………………..…….v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………………..……vi ABSTRAK.……..………………………………………………………...………....vii ABSTRACT ..…………………………………………………………………...…viii KATA PENGANTAR ……………………………………………………..…..........ix DAFTAR ISI ………………………………………………………………...……. xii

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………………………………………………………………..1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………………........ 5 C. Batasan Masalah ……………………………………………………………...5 D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………. 6 E. Manfaat Penelitian ………………………………………….. …………….. 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Pemasaran ………. ……………………………………………………. …... 8

  B. Produk ………………………………………... ……………………………. 9

  C. Kemasan …….. ……………………………………………………………..11

  D. Strategi Kemasan..…………………………………………………………...13

  E. Atribut Kemasan …………………………………………………………….14

  F. Fungsi Kemasan ...… ……………………………………..…………………19

  G. Kelebihan dan Kekurangan Kemasan.. ................…………………………..21

  H. Pengertian Perilaku Konsumen………………………………………………23

  I. Model Perilaku Konsumen …………………………………………...…..…23 J. Persepsi Konsumen…………………………………………………………..25 K. Minat…………………………………………………………………………28 L. Minat beli Konsumen………………………………………………………..29 M. Pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen…………………………..31 N. Kerangka pikir……………………………………………………………….32 O. Hipotesa…………………………………………………………………...…32

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ……………………………………………………………...33 B. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………………………….33 C. Subjek dan Objek Penelitian …………………………………………….…..33 D. Variabel Penelitian ……………………………………………………….….33 E. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel …………………..……34 F. Data yang dibutuhkan …………………………………………………….....35

  G. Metode Pengumpulan Data ………………………………………………… 36

  H. Teknik Pengujian Instrumen………………………………………………... 37

  1. Uji Validitas ……………………………………………………………..37

  2. Uji Reliabilitas …………………………………………………………..37

  I. Metode Analisis Data ………………………………………………..…….. 30

  1. Analisis data secara kualitatif …………………………………….……..38

  2. Analisis data secara kuantitatif ………………………………………….39

  3. Atribut yang paling berpengaruh…………………………………..…….41

  4. Koefisien Determinasi ………………………………………….……… 42

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Universitas Sanata Dharma ( USD )

  1. Sejarah USD…………………………… …………………….……..…..43

  2. Visi dan Misi USD……………………………………………..….…..…46

  3. Tujuan Pendidikan USD………………………... ……………………... 47

  4. Lokasi ……………………………… ...………………………………...48

  5. Fasilitas…………………………………………………………………..48

  6. Jumlah mahasiswa USD …………...…………………………...…..….. 49

  B. PT.Indofood Sukses Makmur

  1. Sejarah Perusahaan ……………..………………………………...……. 50

  2. Visi Perusahaan dan Kegiatan Pemasaran …….……………………..… 51

  3. Profil perusahaan……………….. …………………………..…………..52

  C. Indomie………………………………………………………………………56

  1. Jenis-jenis Indomie…………………………………………...………….56

  BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Identitas Responden ……………………………………………………….. 59

  1. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ……………………...60

  2. Distribusi Responden Berdasarkan Usia………………………………...60

  3. Distribusi Responden Berdasarkan Uang saku per bulan………..………61

  4. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Pembelian……………….62

  5. Distribusi Responden Berdasarkan Frekuensi Mengkonsumsi …………63

  B. Pengujian Validitas dan Reliabilitas …………….…………………………..64

  1. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel merek pada kemasan………65

  2. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel gambar pada kemasan…..…66

  3. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel bentuk kemasan……………67

  4. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel warna kemasan………….…68

  5. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel label pada kemasan……...…69

  6. Analisis Validitas dan Reliabilitas variabel minat beli………………..…70

  C. Analisis Skor Variabel Penelitian……………………………………………72

  1. Merek pada kemasan…………………………………………………….73

  2. Gambar pada kemasan…………………………………………………...74

  3. Bentuk Kemasan…………………………………………………………75

  4. Warna Kemasan………………………………………………………….76

  5. Label pada Kemasan……………………………………………………..77

  6. Minat beli ………………………………………………………………..78

  a. Berdasarkan Jenis Kelamin………………………………..79

  b. Berdasarkan Usia ………………………………………….81

  c. Berdasarkan uang saku per bulan………………………….84

  d. Seluruh Responden………………………………………...88

  D. Pengujian Hipotesis Penelitian ……………………………..……...………. 89

  E. Pembahasan ……………………………………………………………....... 94

  BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan …………………………………………...…………………99 B. Saran ……….…………………………………………………………..100 C. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………..102 Daftar Pustaka Lampiran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemasan adalah pelindung dari suatu barang, baik barang biasa mau pun barang-

  barang hasil produksi industri. Dalam dunia industri kemasan merupakan pemenuhan suatu kebutuhan akibat adanya hubungan antara penghasil barang dengan masyarakat pembeli. Untuk keperluan ini kemasan harus dapat menyandang beberapa fungsi yang harus dimilikinya seperti:

  1. Tempat atau wadah dalam bentuk tertentu dan dapat melindungi barang dari kemungkinan rusak, sejak keluar dari pabrik sampai ke tangan pembeli, bahkan masih dapat digunakan sebagai wadah setelah isi barang habis terpakai, (dalam hal ini wadah tersebut masih menyandang fungsi iklannya).

  2. Kemasan bukan hanya sebuah bungkus, tapi juga pelengkap rumah tangga; sebush botol kecap bagus dengan etiketnya yang menarik dapat menyemarakkan suasana tertentu di meja makan atau lemari di dapur; sebuah tempat kertas lap “Klenex” yang didesain menarik dapat memperindah kamar mandi dan botol parfum yang cantik memberikan kekhasan meja berhias seorang gadis.

  3. Mutu kemasan dapat menumbuhkan kepercayaan dan pelengkap citradiri dan mempengaruhi calon pembeli untuk menjatuhkan pilihan terhadap barang yang dikemasnya.

  4. Kemasan mempunyai kemudahan dalam pemakaiannya (buka, tutup, pegang, bawa) tanpa mengurangi mutu ketahanannya dalam melindungi barang.

  5. Rupa luar kemasan harus sesegera mungkin menimbulkan kesan yang benar tentang jenis isi barang yang dikemas.

  6. Perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk, sehingga efisien dan tidak sulit dalam hal pengepakan, pengiriman serta penempatan, demikian pula penyusunan dalam lemari pajang.

  7. Melalui bentuk dan tata rupa yang dimilikinya kemasan berfungsi sebagai alat pemasar untuk mempertinggi daya jual barang. Dalam fungsi ini desain bentuk-kemasan harus mendapat dukungan penuh dari unsur desain- grafisnya, sehingga bentuk kemasan selain menarik harus dapat menyampaikan keterangan dan pesan-pesannya sendiri. Mengingat konsumen Indonesia yang sebagian besar masih terbatas kemampuan melek hurufnya, maka sampai dengan pertengahan abad ini kita masih melihat bahasa gambar sangat banyak dipergunakan di samping bahasa warna dan huruf. Hal ini, dibuktikan dalam desain-desain merek-dagang, etiket kemasan, serta penggunaan warna untuk memperkuat identitas produk tersebut.

  Keberhasilan pemasaran suatu barang, tidak hanya ditentukan oleh mutu barang serta usaha promosi yang dilakukan, tetapi juga dalam upaya yang sama oleh mutu dan penampilan kemasan itu sendiri. Untuk kenyataan ini kita kenal filsafat pemasaran yang sudah lazim sejak abad ke 19 di Inggris “the product is the kemasan adalah bahagian yang tak terpisah dari barang produk, sehingga tidak mengherankan bila sebuah biro perencanaan grafis bersikap “Kami tak dapat menaikkan mutu barang produk, karena itu kami tingkatan kemasannya”.

  Karena itu mutu lain dari sebuah kemasan dinilai dari kemampuannya dalam memenuhi fungsi, di mana kemasan dituntut untuk memiliki daya tarik yang lebih besar daripada barang yang dibungkus di dalamnya. Keberhasilan daya tarik kemasan ditentukan oleh estetik yang menjadi bahan pertimbangan sejak awal perencanaan bentuk kemasan, karena pada dasarnya nilai estetik harus terkandung dalam keserasian antara bentuk dan penataan desain grafis tanpa melupakan kesan jenis, ciri dan sifat barang yang diproduksi.

  Bahasa desain grafis adalah bahasa visual, bahasa simbol yang diungkapkan melalui gambar, bentuk, warna dan aksara. Grafis harus dapat mengantarkan pesan yang ingin disampaikan oleh produsen barang lewat kemasan yang diciptakan; baik informasi mengenai isi maupun penjelasan mengenai cara pemakaian produk tersebut. Pemilihan tipe huruf yang berkarakter sesuai dengan jenis barang, dipadu saling menunjang dengan gambar ilustrasi yang tepat dan dicetak dengan teknik percetakan yang baik, akan membawakan pesan yang langsung ataupun yang tidak langsung dari barang tersebut terhadap kualitas dan nilainya. Gambar dan tulisan (teks), tidak saja penting sebagai daya tarik tetapi terutama cergas untuk berkomunikasi dengan konsumen tentang keterangan-keterangan yang diinginkan.

  Dapat kita bayangkan persaingan ketat yang akan dihadapi oleh sebuah berpuluh-puluh jumlahnya. Bagi kemasan yang mempergunakan unsur grafis dan warna dengan lebih seksama tentu akan tampil sebagai pemikat utama bagi calon pembeli. Apalagi bila disadari bahwa daya ingat manusia terhadap bentuk lebih lamban dibanding terhadap warna dan orang dapat lupa terhadap nama sebuah produk tapi sukar lupa terhadap warna kemasnya. Sebagai contoh hal ini jelas terlihat pada kemasan film, Kodak (kuning), Fuji Color (hijau), Corned beef Cip/Pronas dan sardencis (merah), Sari Ayu (coklat tua), Mustika Ratu (merah tua).

  Kemudian seiring dengan derap kemajuan ekonomi kita, telah pula dimulai menggiatkan ekspor maupun impor barang-barang produksi dalam negeri ke berbagai negara. Upaya ini tentunya harus didukung oleh mutu barang dan sekaligus mutu kemasannya yang berwibawa dan berdaya jual. Mengenai perencanaan kemasan ini beberapa hal yang kiranya bisa diperhatikan untuk menjadi bahan pertimbangan bagi para produsen dan perencana grafis Indonesia.

  • Beberapa bentuk kemasan berikut grafisnya dari sebuah barang yang diproduksi untuk pasar luar negeri sebaiknya tidak dibuat sama seperti yang dipasarkan untuk dalam negeri.
  • Peka dan faham terhadap berbagai ragam kebudayaan dunia sangat penting dalam memperhitungkan desain kemas untuk ekspor. Hal ini didasari oleh adanya faktor lingkungan setempat yang harus dipertimbangkan.
  • Lazimnya kemasan yang akan dipasarkan telah melalui hasil riset di atas dan uji
grafisnya, mengingat tingginya fakta perbedaan iklim, bahasa, kemampuan membaca, syarat perdagangan, pajak, lalu lintas pengiriman dan lain-lain.

  • Setiap barang produk yang akan diekspor, haruslah juga melengkapi desain kemasannya dengan persyaratan kode komputerisasi yang telah dipakai di mana- mana, untuk memudahkan penghitungan harga.
  • Harus pula mempertimbangkan penggunaan unsur simbolisme yang diucapkan melalui bentuk dan warna. Hal ini disebabkan karena kebudayaan, kultur, dan ciri khas daerah setempat yang berbeda-beda.

  Perancangan desain kemasan yang sesuai akan mendorong konsumen membeli suatu produk, sedangkan perancangan yang salah, malah akan mematikan penjualan produk tersebut.

  Dengan permasalahan diatas, penyusun tertarik untuk meneliti bagaimana pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Analisis pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen”.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang maka penulis tertarik untuk merumuskan masalah-masalah yang ada sebagai berikut:

  1. Apakah merek pada kemasan, gambar pada kemasan, bentuk kemasan,

  warna kemasan dan label

  pada kemasan secara bersama-sama mempengaruhi minat beli konsumen?

  2. Atribut kemasan manakah yang paling mempengaruhi minat beli konsumen?

  C. Batasan Masalah

  Kemasan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kemasan primer pada produk Mie instan Indomie Faktor-faktor yang akan diteliti adalah :

  1. Merek pada kemasan

  2. Gambar pada kemasan

  3. Bentuk kemasan

  4. Warna Kemasan

  5. Label kemasan Dan konsumen yang dimaksud adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma

  D. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui apakah merek pada kemasan, gambar pada kemasan, bentuk

  kemasan, warna kemasan dan label pada kemasan secara bersama-sama

  mempengaruhi minat beli konsumen?

  2. Untuk mengetahui atribut kemasan apakah yang paling mempengaruhi minat beli

E. Manfaat Penelitian

  1. Bagi pihak perusahaan, penulisan ini dapat dijadikan pertimbangan untuk menjalankan kebijakan atau strategi perusahaan yang diterapkan saat ini. Penelitian ini diharapkan membantu perusahaan agar dapat menggunakan kemasan secara efektif, sehingga tujuan komunikasi dan promosi pemasaran perusahaan dapat tercapai dan diterima dengan baik oleh konsumen. Penelitian ini juga diharapkan membantu perusahaan untuk melihat respon atau persepsi konsumen terhadap atribut suatu produk, yang dalam hal ini adalah kemasan, sehingga perusahaan dapat menentukan kemasan yang sesuai dengan produknya secara efektif dan efisien.

  2. Bagi penulis, penulisan ini merupakan penerapan disiplin ilmu yang telah didapat selama ini.

  3. Sebagai acuan pihak lain yang ingin melakukan penelitian sejenis.

BAB II LANDASAN TEORI A. Pemasaran Pengertian Pemasaran menurut Stanton adalah suatu sistem keseluruhan dari

  kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Stanton, 1997).

  Pengertian tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang/jasa kepada pembeli secara individual maupun kelompok pembeli. Kegiatan- kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang dibatasi sumber-sumber dari perusahaan itu sendiri, peraturan-peraturan, maupun konsekuensi sosial perusahaan.

  Pengertian pemasaran menurut Kotler (2000: 8), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain. Dalam hal ini pemasaran merupakan proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing-masing pihak ingin mendapatkan apa yang mereka butuhkan/inginkan melalui tahap menciptakan, menawarkan, dan pertukaran.

  Definisi pemasaran tersebut berdasarkan pada prinsip inti yang meliputi: kebutuhan (needs), produk (goods, services and idea), permintaan (demands), nilai, biaya, kepuasan, pertukaran, transaksi, hubungan, dan jaringan, pasar, pemasar, serta prospek.

  Terdapat dua faktor yang mempengaruhi cara dan keberhasilan perusahaan terhadap pemasarannya, yaitu: (1) Lingkungan Eksternal Sistem Pemasaran.

  Lingkungan ini tidak dapat dikendalikan perusahaan, misalnya kebebasan masyarakat dalam menerima atau menolak produk perusahaan, politik dan peraturan pemerintah, keadaan perekonomian, kependudukan serta munculnya pesaing; (2) Variabel Internal Sistem Pemasaran. Variabel ini dapat dikendalikan oleh perusahaan, terdiri atas dua kelompok, yaitu sumber bukan pemasaran (kemampuan produksi, keuangan, dan personal) dan komponen-komponen bauran pemasaran yang meliputi: produk, harga, promosi, dan distribusi (Swastha, 2002).

B. Produk

  Produk dapat di definisikan sebagai apa saja yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan dalam hal penggunaaan, konsumsi, atau akuisisi. Jadi, produk termasuk objek (TV, radio, mobil), jasa (kesehatan, pendidikan), tempat (New York, Bali), orang (Bill Clinton, Ronald Reagan), kegiatan (mengikuti konte, mengunjungi klinik penurunan berat badan), dan ide (sudahkah anda memeluk anak anda hari ini?). Produk harus dipandang sebagai pemecah masalah jika mereka dibeli karena manfaat yang dihasilkannya, bukan karena produk itu semata ( Kotler & Amstrong, 2001: 264)

  Atribut produk

  Pengembangan suatu produk mengharuskan perusahaan memperhatikan atribut-atribut produk apa saja yang hendak dikembangkan dan mana yang sebaiknya dipertahankan. Sebab apabila suatu produk memiliki atribut atau sifat-sifat yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pembelinya, maka produk tersebut dianggap cocok oleh konsumen.Produk yang demikian akan menjadi produk yang berhasil.

  Pengertian atribut produk menuru Indriyo Gitosudarmo (1995:188) adalah :

  “ suatu komponen yang merupakan sifat-sifat produk yang menjamin agar produk-produk tersebut dapat memenuhikebutuhan dan keinginan yang diharapkan oleh pembeli.”

  Sedangkan pengertian atribut produk menurut Tjiptoyono (1995 : 188) adalah:

  “unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Atribut produk meliputi merek, harga, rasa, kemasan, warna, dan lain-lain.”

  Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan menimbulkan manfaat bagi produk tersebut sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

C. Kemasan

  Kemasan meliputi juga berbagai variasi seprti pembungkus langsung yang mungkin betul-betul diperlukan, dan karton atau bagian luar yang mempunyai fungsi pajang serta fungsi distribusi

  Setiap kemasan apapun sifatnya, membantu pengemasan memenuhi peranannya dalam proses pemasaran. Kemasan ideal harus efektif melindungi isinya, harus memberikan sumbangan yang realitas pada distribusi yang efektif, dan harus dengan biaya yang efektif dalam pengertian tidak melebihi proporsi manfaatnya.

  Bagaimanapun, fungsi yang paling penting adalah bagian yang berperan dalam penjualan. Kemasan yang ideal secara bersama-sama dari segi fungsional, ekonomi, dan penjualan Misalnya, kemasan tersebut harus mudah dipegang, mudah dibuka, dan kelihatan bagus.

  Kemasan seharusnya merupakan kesan singkat dari citra produk yang ingin disampaikan oleh pabrik, dan kemasan haruslah terpadu dengan fungsi produk.

  Memasukan identitas produk ke pikiran pelanggan merupakan bagian penting dari pemasaran dan penjualan yang baik.

  Kemasan memainkan peranan penting dalam identitas produk karena kemasan merupakan penghubung yang penting antara pabrik, pengecer, dan pelanggan.

  Kemasan merupakan bagian terpadu dari rencana pemasaran dan harus

  • Membuat daya tarik pada kemasan dan produk isinya.
  • Bertindak sebagai pengingat iklan produk • Menciptakan dorongan untuk membeli produk, karena telah diiklankan.
  • Mempromosikan citra merek jika memungkinkan Sedangkan pengertian dari kemasan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

  Peter Salim & Yenny Salaim mengartikan kemasan sebagai berikut:

  “ Bungkus yang seharusnya digunakan untuk melindungi barang dagangan, hasil produksi, dan sebagainya.”

  Pendapat Eric Schulz ( 2003:114) mengenai kemasan adalah:

  “ Kemasan adalah cara terbaik untuk menyampaikan kepada konsumen alas an yang paling menarik dan tak terbantahkan agar membeli produk anda”

  Kemasan yang umum digunakan oleh perusahaan di bagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Kemasan primer Yang dimaksud sebagai kemasan primer adalah kemasan dari sebuah produk, dengan kata lain kemasan primer adalah kemasan dari produk eceran atau produk yang dijual satuan. Contoh dari kemasan primer adalah bolpoint, pensil, kaset, minuman kaleng, dan produk lainnya yang dijual satuan.

  2. Kemasan sekunder

  Kemasan sekunder adalah kemasan dari kemasan primer. Kemasan sekunder ini berisi lebih dari satu atau beberapa produk yang sudah memiliki kemasan.

  Contohnya satu pak bolpoint, satu pack minuman kaleng, dan sebagainya.

  3. Kemasan delivery Kemasn delivery adalah kemasan yang digunakan untuk mengirim produk- produk, jadi kemasan delivery ini berisi beberapa produk yang sudah dikemas baik secara primer maupun sekunder. Contohnya satu krat bir, satu dus Indomie, dan sebagainya.

D. Strategi Kemasan

  Banyak bukti menunjukan bahwa iklan takkan mampu menjangkau semua konsumen potensial dari sebuah produk, Bahkan kampanye atau iklan terbaik dan termahal sekalipun hanya mampu menjangkau 70 persen dari target pemirsa. Satu- satunya tempat dimana perusahaan dijamin dapat berbicara dengan konsumen mengenai produknya adalah pada saat pembelian. Hanya pada saat konsumen berdiri di dekat rak took dan siap untuk memilih, sementara produk dari perusahaan itu tepajang pada bagian kompetitif, saat itulah perusahaan tersebut mendapat kesempatan 100 persen untuk menyampaikan mengapa orang tersebut harus membeli merknya dan bukan merk perusahaan orang lain. Disinilah mengapa strategi kemasan perlu dikembangkan oleh sebuah perusahaan karena pengemasan adalah jalan terbaik untuk mengkomunikasikan alasan-alasan paling kuat dan meyakinkan yang membuat konsumen membeli sebuah produk. Pengemasan menyampaikan pesan-pesan kepada konsumen sampai pada saat mereka mengambil produk itu di rak toko ( Eric Sculz,2003:100 )

  Strategi kemasan itu sendiri adalah strategi pemasaran yang diciptakan, dikembangkan, dan dikendalikan oleh bagian pemasaran dari sebuah perusahaan untuk lebih memusatkan perhatiannya pada penciptaan, pengembangan kemasan dari sebuah produk, supaya kosumen dapat menemukan alasan-alasan paling kuat dan meyakinkan yang membuat mereka lebih memilih produk tersebut.

E. Atribut Kemasan

  Kemasan merupakan pembungkus dari sebuah produk yang dimana pada dewasa ini telah mengalami perluasan fungsi. Perluasan fungsi tersebut kemudian menuntut kemasan untuk memilik atribut yang dapat membuat sebuah produk dapat memenuhi harapan konsumennya dan dapat memudahkan konsumennya dalam menggunakan maupun mengingat produk tersebut.

  Atribut dari kemasan sebuah produk yang menurut penulis sering dijumpai dan umum digunakan dalam kemasan, diantaranya adalah:

  1. Merek pada kemasan Merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, yang dimaskudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari seorang atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing (Kotler, 2000:460). Merek atau yang paling sering disebut sebagai nama sebuah produk, merupakan unsur yang paling penting dari sebuah konsumennya, konsumen juga akan meragukan produk tersebut dikemudian hari. Banyak orang bilang bahwa merek secara dominan diwakili oleh desain visual yang mudah ditangkap artinya dan unik. Padahal kalau dipelajari lebih dalam lagi, pengertian merek bukanlah demikian. Ada makna khusus dari produk yang baru diluncurkan seperti yang dikemukakan oleh Marty Neumeier ( 2003). Intinya adalah diferensiasi. Yakni sampai dimana produk itu mampu membangun citra khusus, unik atau berbeda pada masyarakat kosumen. Bila terdapat suatu citra merek produk, warna mereknya harus diseleksi karena cocok untuk makanan, tetapi citra atau variasi yang berbeda dapat dibedakan dengan panel berwarna yang sesuai agar mudah dibaca ( Danger, 1992: 198).

  2. Gambar pada kemasan Faktor yang paling penting dalam mencapai daya tarik pelanggan adalah daya tarik visual, dan ini sama sekali terlepas dari sifat produk atau atribut lainnya seperti penambahan rasa (Danger, 1992: 21). Gambar merupakan unsur yang juga sering dijumpai pada kemasan sebuah produk. Gambar pada kemasan dapat dijadikan daya tarik visual bagi sebuah kemasan, denga adanya gambar yang menarik akan membuat konsumen tertarik dan akhirnya membeli sebuah produk. Gambar ini juga digunakan sebagai ciri khas dari sebuah produk yang dapat memudahkan konsumen untuk mengingatnya. Seperti yang telah dikemukakan oelh Marty Neumier (2003) bahwa desain grafis dengan konsep jelas, taktis dan strategis sangat membantu para tenaga dengan konsep visualisasi ini. Intinya adalah diferensiasi. Yakni produk itu mampu membangun citra khusu, unik atau berbeda pada masyarakat konsumen dengan gambar atau logo.

  3. Bentuk kemasan Bentuk sebuah kemasan merupakan pendorong utama yang membantu menciptakan seluruh daya tarik visual. Bentuk sebuah kemasan tentu saja berpengaruh terhadap penjualan, dan pengalaman ini menunjukan bahwa perubahan bentuk dari sebuah kemasan menimbulkan suatu perbedaan (Danger, 1992:23). Sebagian besar konsumen secara tidak langsung dalam membeli sebuah produk memiliki beberapa kriteria diantaranya adalah bahwa produk tersebut praktis atau mudah digunakan dan mudah pula untuk dibawa, dibandingkan dengan bentuk yang tidak praktis dan sulit untuk dibawa ditambah dengan ukuran yang besar. Selain itu, bentuk yang unik dan identik dengan peusahaan, akan memudahkan mereka untuk menemukan produk tersebut diantara ribuan produk di toko dan memudahkan untuk mengingatnya (Eric Schulz, 2003:101-102). Untuk produk yang di pasarkan di pasar swalayan atau toko, bentuk dan ukuran harus diperhitungkan karena perusahaan hanya akan memiliki jatah beberapa persen saja dari keseluruhan barang yang dijual di tempat tersebut. Dengan bentuk ukuran yang efisien atau tidak banyak makan tempat, perusahaan tersebut akan dapat meletakan produknya lebih banyak daripada produk lain yang sejenis di toko tersebut. Yang menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk kemasan bagi konsumen diantaranya adalah kemudahan pemakaian, kemudahan membawa dan kemudahan penggunaannya.

  4. Warna Kemasan Unsur lain dari kemasan adalah warna, sebagian besar produk mengandalkan permainan warna dalam kemasan untuk menarik konsumennya, memudahkan menemukan produk tersebut diantara ribuan produk disebuah toko dan memudahkan konsumen untuk mengingatnya. Pemilihan warna adalah salah satu hal yang sangat penting dalam menentukan respon dari pengunjung, karena warna adalah hal yang pertama dilihat oleh pengunjung (Idarmadi, 2003:2). Orang pertama-tama melihat warna kemasan. Bentuk, penampilan, produk dalam kemasan diperhatikan kemudian. Warna sangat vital pada penjualan secara spontan karena warna menarik perhatian pelanggan dan dapat menciptakan penjualan; ini juga sangat penting pada pembelanjaan di supermarket diman hany sedikit orang yang mempunyai waktu pertimbangan yang matang dan disutulah kemasan yang berdaya tarik pada pelanggan menjadi kemasan yang menjual (danger, 1992: 24). Warna memiliki konotasi indrawi yang sangat penting. Satu penelitian menguji satu merek deodorant rool-on yang dikemas dalam tiga tabung yang berbeda-beda. Kebanyakan responden menyimpulkan produk berwarna tertentu cepat mongering dan efektif, produk kedua memilik aroma yang kuat, dan produk ketiga tidak efektif dan bikin gatal. Reaksi konsumen bisa berbeda-beda padahal produknya identik. Ini terjadi hanya karena factor perbedaan warna kemasan

  5. Label kemasan Pada konteks sekarang, pemberian label berhubungan dengan data yang harus mencakup pada kemasan, dan bukan pada signifikansi dari label yang dipasang pada kemasan karena sebagai lawan dari cetak langsung. Label pada kemasan terdiri atas informasi mengenai manfaat prodik, mengenai cara penyajian, mengenai komposisi produk, berat, tanda yang jelas mengenai bahaya, instruksi penyimpanan, harga, kode barang, dan isi kemasan (Danger, 1992 :137-138). Konsumen melakukan pembelian karena mereka mencari manfaat yang disediakan produk tersebut. Sehingga, tempat terbaik unttk menyampaikan manfaat-manfaat dari sebuah produk adalah pada bagian depan kemasan. Disinilah perusahaan dapat mengatakan pada konsumen bahwa mereknya memberikan manfaat yang diinginkan secara lebih baik dibandingkan produk-produk pesaing (Eric Schulz, 2003: 100). Termasuk didalamnya adalah komposisi dari produk, pada kemasan biasanya tercantum manfaat dari komposisi produknya. Tingginya kesadaran akan pentingnya sumber makanan sehat mendorong konsumen untuk mengetahui lebih banyak, bagaimana produk-produk tersebut dihasilkan dan cara menguji kadar nutrisinya. Tuntutan ini pula yang akhirnya membuat produsen membuka pintu lebar-lebar bagi kosumen, dan membeberkan rahasia atau teknik penanaman sumber pangan tersebut (Radio Singapore International, 2004). Informasi mengenai cara penyajian merupakan salah satu unsur yang cara penyajian karena dengan tercantumnya kemudahan penyajiannya akan membantu konsumen dalam membuat produk tersebut dan mereka tidak akan mengalami kesulitan, jika tidak konsumen akan meninggalkan produk tersebut ( Eric Schulz, 2003: 101).

F. Fungsi Kemasan

  Kemasan merupakan “pemicu” karena fungsinya langsung berhadapan dengan konsumen. Dengan demikian, kemasan harus dapat memberikan impresi spontan yang mempengaruhi tindakan positif konsumen ditempat penjualan (Christine Suharto Cenadi, 2000: 2).

  Dulu, boleh jadi kemasan dari sebuah produk seperti kemasan produk makanan atau kemasan produk lainnya menitikberatkan fungsinya sekedar sebagai pembungkus. Tetapi, seiring dengan perkembangan jaman dan perilaku konsumen, kemudian fungsi kemasan pun menjadi berkembang lebih jauh dari hanya sekedar pembungkus (Wacan Mitra, 2003: 50). Perluasan fungsi tersbut menurut Wacana Mitra (2003:50) antara lain meliputi :

  1. Daya Tarik Sebagus apapun kualitas suatu produk, jika dijual di pasar bebeas, niscaya tidaka akan memiliki daya tarik bagi kosumen jika dikemasa secara seadanya.

  Karena itu, pasar swalayan, menjadikan daya tarik kemasan sebagai salah satu penilaian terpenting diterima atau tidaknya produk supplier.

  2. Meningkatkan Citra produk

  Kemasan yang didesain secara menarik mengesankan citra dan kualitas yang baik dari produk makanan yang di dalamnya.

  3. Sarana Promosi Untuk makanan yang lazim menerima pesanan seperti cake, cookies, dsb, kemasan dapat berfungsi sebagai sarana promosi yang cukup efektif. Karena itu, dalam kemasn perlu dicantumkan alamat lengkap produsen. Selain produk makanan seperti nama toko atau tempat penjualan dai sebuah produk juga dapat menjadikan kemasan sebagai saran promosi.

  4. Meningkatkan Daya Beli Dengan adanya kemasan produk makanan maupun minuman, akan memiliki waktu kadaluarsa yang lebih lama sehingga memungkinkan untuk dipasarkan ke wilayah yang jauh. Sebagai contoh, di kepualauan Riau banyak beredar

  layer cake merek Apollo produksi perusahaan Malaysia. Cake tersebut dikemas dalam plastik kualitas bagus dengan desain menarik ukuran kecil.

  5. Gengsi Konsumen Untuk produk tertentu yang ukurannya besar, kemasan cukup penting untuk menjaga gengsi konsumen yang menentengnya, Misal, menenteng donat dengan kemasan Dunkin Donuts tentu akan berbeda dengan menenteng donat dalam kemasan plastic kresek.

  6. Praktis Dengan kemasan, konsumen dapat dengan mudah dan praktis membawa produk seperti makanan atau minuman yang dibelinya kemana-mana. Karena itu,bentuk makanan harus di desain dengan mempertimbangkan unsur kepraktisan.

G. Kelebihan dan Kekurangan Kemasan

  Produk yang dikemas memiliki kelebihan dan kekurangan yang diantaranya adalah:

  1. Kelebihan Kemasan Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kemasan memiliki perluasan fungsi, dimana perluasan fungsi ini antara lain: Wacana Mitra (2003:50)

  a. Menjadikan daya tarik bagi produk,

  b. Meningkatkan citra produk di benak kosumen,

  c. Sebagai saran promosi,

  d. Meningkatkan daya tahan produk,

  e. Menjaga gensi konsumen, f. Praktis.

  2. Kekurangan Kemasan Salah satu kekurangan dari produk yang dikemas khusunya produk makanan dan minuman adalah (Dr. Ir. Ali Khomsan, 2001) karena penggunaan bahan tambahan makanan (BTM). Walaupun keberadaan BTM ini dapat memberikan keuntungan dan kelebihan pada produk makanan dan minuman, tetapi beberapa BTM ini ada yang berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia waktu yang panjang. Keberadaan BTM adalah untuk membuat makanan tampak lebih berkualitas, lebih menarik, serta rasa dan teksturnya lebih sempurna. Zat-zat itu ditambahkan dalam jumlah sedikit, namun hasilnya sungguh menakjubkan, penggunaan bahan pengawet yang paling banyak digunakan di Indonesia yang seperti dikatakan di atas akan nerbahaya jika dikonsumsi maupun merugikan tubuh jika digunakan dalam jangka waktu yang panjang, yaitu:

  a. Sulfit Bahan pengawet sulfit dapat menyebabkan reaksi cukup fatal bagi mereka yang peka. Bagi penderita asma, sulfite dapat menyebabkan sesak nafas, gatal-gatal, dan bengkak. Sulfit digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Jenis produk seperti jus buah, sossi, dan acar kering sering menggunakan bahan pengawet ini.

  b. Nitrit Pada tahun 1989 terdapat kasu biscuit beracun yang menelan korban 38 jiwa manusia. Ini akibat mengkosumsi nitrit yang secara tidak sengaja ditambahkan pada makanan karena kekeliruan, Nitri adalah pengawet pada daging. Pada daging kalengan (corned) nitrit bisa digunakan dengan dosis 50 mg/kg

  c. BHA atau BHT Jika makanan diawetkan, umumnya akan kehilangan vitamin A dan E. mencegah terjadinya oksidasi yang menyebabkan kerusakan. Penggunaan BHA/BHT juga sebagai antioksidan, namun sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa BHA/BHT sebenarnya kurang baik karena menyebabkan kelainan kromosom sel bagi orang yang alergi terhadap aspirin.

  Kelemahan lain dari kemasan khususnya untuk kemasan pemanen atau tidak dapat di buka sebelum dibeli seperti kemasan makanan pada umumnya yang tidak transparan, konsumen tidak dapat melihat secara langsung produknya. Mereka hanya dapat melihat gambarnya pada kemasan saja, dalam keadaan demikian konsumen dapat saja dirugikan karena produk pada gambar bisa saja berbeda dengan pruduk yang sebenarnya yang terdapat dalam kemasan tersebut.

H. Pengertian Perilaku Konsumen

  Perilaku Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Swastha dkk., 1997).

  Perilaku konsumen mempelajari di mana, dalam kondisi macam apa, dan bagaimana kebiasaan seseorang membeli produk tertentu dengan merk tertentu.

  Kesemuanya ini sangat membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran perusahaan. Proses pengambilan keputusan pembelian masing. Peran yang dilakukan tersebut adalah: (1) Initiator, adalah individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu; (2) Influencer, adalah individu yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Informasi mengenai kriteria yang diberikan akan dipertimbangkan baik secara sengaja atau tidak; (3) Decider, adalah yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya; (4) Buyer, adalah individu yang melakukan transaksi pembelian sesungguhnya; (5) User, yaitu individu yang mempergunakan produk atau jasa yang dibeli.

  Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan pembelian terhadap suatu produk. Manajemen perlu mempelajari faktor-faktor tersebut agar program pemasarannya dapat lebih berhasil. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi, psikologis, sosiologis dan antropologis.

  Alasan mengapa seseorang membeli produk tertentu atau alasan mengapa membeli pada penjual tertentu akan merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan desain produk, harga, saluran distribusi, dan program promosi yang efektif, serta beberapa aspek lain dari program pemasaran perusahaan.

  Adapun beberapa teori perilaku konsumen adalah sebagai berikut: (1) Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang

  utility individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung; (3) Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya

I. Model Prilaku Konsumen

  Pemahaman terhadap prilaku konsumen sangat penting untuk keberhasilan system pemasaran perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus meneliti hubungan antara rangsangan pemasaran dengan tanggapan konsumen yang secara sederhana ditunjukan pada gambar berikut ( Philip Kotler,1985: 203).

  

Rangsangan dari luar Kotak hitam pembeli Keputusan pembeli

pemasaran Lain-lain Pilihan produk Proses Pilihan merek

  Harga Ekonomi Crri-ciri Produk Tehnologi keputusan Pilihan penjualan pembeli pembeli Waktu pembelian Distribusi Politik

  Promosi Kebutuhan Jumlah pembelian

  Gambar diatas menunjukan hubungan antara rangsangan pemasaran dengan tanggapan konsumen.

  J. Persepsi Konsumen

  Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap pendengaran penghayatan, perasaan, dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suat penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.

  Menurut Leon G. Schiffman dan Leslie Lazar Kaanuk (1994 : 162), persepsi didefinisikan sebagai berikut: “the process by which an individual selects, organized,

  and interprest stimuli into a meaningful and coherent picture of the world.”

  Dimana stimuli merupakan setiap bentuk fisik, visual atau komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi tanggapan individu sehinnga menghasilkan persepsi konsumen akan hal tersebut. Sedangkan persepsi konsumen merupakan suatu proses bagaimana stimuli-stimuli itu diseleksi, diorganisasi, dan diinterpretasikan.

  Sedangkan menurut Micahel R. Solomon (1996), persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas objek yang sama.

  

Stimuli

Penglihatan, Suara, Bau, Rasa, dan

Texture

  Sensasi Indera penerima Perhatian

  Pemberian arti Interpretasi Tanggapan

  Persepsi Beberapa faktor perbedaan pandangan antar individu: ‰

  Pengaruh tampilan fisik (physical apprearances). Dimana individu cenderung mengasosiasikan suatu bentuk fisik dari objek yang diamati termasuk satu pernyataan dan pandangan yang berlaku umum. Misalnya: warna putih menunjukkan sesuatu yang bersih, maka banyak pemasar memakai warna itu untuk produk pembersih pakaian

  ‰

  Gaya meniru (stereotypes). Individu cenderung untuk mengartikan sebuah gambar atau tampilan dalam pikiran mereka dari yang sesuai dengan stimuli yang mendorongnya. Misalnya: penampilan seorang figur atau idola yang menggunakan produk tertentu cenderung akan ditiru oleh konsumen

  ‰

  Isyarat yang menyimpang (irrelevant cues). Jika pertimbangan yang dibutuhkan untuk membentuk keputusan dirasakan sulit, konsumen biasanya terpaksa mengambil keputusan dengan mempertimbangkan hal-hal diluar spesifikasi dasar produk tersebut. Misal: konsumen membeli mobil tidak didasarkan pada spesifikasi mobil tetapi hanya melihat model, warna, atau penampilan mobil itu.

  ‰ Kesan pertama (first impression). Kesan pertama cenderung

  diabadikan dalam benak konsumen. Mereka akan menangkap positif atau negatif dari suatu produk tergantung bagaimana produk itu memposisikannya dalam benak konsumen. Misal: memposisikan produk dengan harga yang paling murah

  ‰

  Pengaruh penilaian (hallo effect). Persepsi seseorang cenderung dipengaruhi orang lain. Jika orang lain menganggap baik suatu produk, maka konsumen biasanya percaya atas penilaian itu.

  K. Minat

  Minat merupakan salah satu factor psikologis manusia yang sangat penting untuk kemajuan manusia dan keberhasilan diri seseorang. Minat juga merupakan pendorong bagi seseorang untuk terlibat secara aktif dan mengarahkan perhatian pada objek yang ia sukai.

  Banyak factor yang mempengaruhi minat seseorang, diantaranya status social, tingkat ekonomi, umur, bakat, pengetahuan, pekerjaan, kepribadian, dan lain-lain.

  Selain itu juga, seseorang akan memiliki minat terhadap objek tertentu apabila sebelumnya telah memiliki persepsi positif terhadap objek itu. Persepsi merupakan penafsiran, pemberian makna, atau pengertian terhadap objek tertentu sebagai hasil suatu pengamatan (Agus Puji Susanto, 2007).

  Definisi dari minat adalah kecenderungan yang agak menetap dalam subjek

  

untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang pada bidang

tersebut (Winkel,1987: 30).

  Pendapat lain mengatakan bahwa minat merupakan suatu keadaan dimana

  

seseorang menaruh perhatian terhadap objek tertentu disertai dengan adanya

  (Bimo Walgito,

  kecenderungan untuk berhubungan lebih aktif dengan objek tersebut 1997: 38).

  L. Minat beli konsumen

  Konsumen membentuk intensi untuk membeli produk atau jasa yang di sukai, dipengaruhi oleh :

  1. Sikap atau pendirian orang lain.

  Kekuatan pendirian orang lain dapat mengurangi alternative yang disukai seseorang tergantung pada intensitas pendirian negatif orang lain terhadap alternative yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Semakin kuat sikap negatif orang lain, dan semakin dekat orang lain tersebut, konsumen akan semakin menyesuaikan intensi pembeliannya.

  2. Faktor situasi yang tidak diantisipasi Konsumen membentuk suatu intensi pembelian atas dasar faktor-faktor seperti pendapatan keluarga yang diharapkan, harga yang diharapkan, dan manfaat produk yang diharapkan. Bila konsumen bertindak, tetapi factor situasi yang tidak terantisipasi terjadi, kemungkinan akan mengubah minat pembelian tersebut. 3. konsep diri atau kepribadian

  Menurut Kotler ( 1996: 161), setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda yang akan mempengaruhi perilaku membeli. Yang dimaksud kepribadian adalah ciri-ciri psikologis yang membedakan seseorang, yang menyebabkan terjadinya jawaban yang secara relatif tetap dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Kepribadian orang biasanya digambarkan sendiri, menghargai orang lain, bersifat social, sifat membela diri dan dapat beradaptasi. Kepribadian dapat menjadi variabel yang bermanfaat untuk menganalisis perilaku penbeli dan berdasarkan hal itu kepribadian dapat diklasifikasi, dianalisis kuat-lemahnya korelasi antara tipe kepribadian tertentu dengan pilihan produk atau merek tertentu. Mislnya, sebuah perusahaan komputer pribadi mungkin menemukan bahwa banyak calon pembeli mempunyai kepribadian yang kuat dalam percaya diri, gampang mempengaruhi, dan mandiri. Hal ini berarti bahwa dapat dipakai suatu pendekatan periklanan yang memproyeksi kualitas-kualitas tersebut kepada orang-orang yang membeli atau memiliki komputer.

  4. Motivasi Aspek motivasi dapat mempengaruhi benak calon pembeli ketika akan melakukan keputusan pembelian. Seseorang menaruh minat untuk membeli suatu produk. Mengapa demikian? Apakah yang sebenarnya dia cari? Kebutuhan apakah yang coba ia puaskan? Seseorang mempunyai beberapa kebutuhan yang berbeda pada suatu waktu. Kebutuhan dapat muncul dari fisiologis seperti lapar, dahaga, dan tidak nyaman. Dan sebagian muncul dari ketegangan psikologis seperti kebutuhan untuk diakui, harga diri atau merasa diterima oleh lingkungannya. Apakah seseorang membutuhkan suatu produk karena ia memang membutuhan hal itu sebagai kebutuhan fisiologis, atau hanya karena

  Dua macam bentuk kebutuhan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemasar atau perusahaan untuk menarik calon konsumen untuk melakukan pembelian ( Kotler, 1990:169)

  M. Pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen

  Kemasan kini disadari oleh produsen bukan lagi hanya memiliki fungsi melindungi dan membungkus produk. Persaingan produk yang semakin ketat di pasar mengharuskan produsen untuk berfikir keras meningkatkan fungsi kemasan untuk dapat memberikan daya tarik kepada konsumen melalui aspek artistik, warna, grafis, bentuk maupun desainnya. Banyak konsumen yang membeli secara sadar akan suatu produk karena tertarik pada suatu produk karena alasan warna, bentuk dari kemasan. Belum lagi konsumen yang membeli karena impulse buying, gara-gara menariknya desain, atau bentuk kemasan suatu produk. Sehingga kemasan menjadi sangat efektif untuk mendorong konsumen membeli suatu produk. (Danger,1992) Sedangkan menurut Eric Sculz (2003), strategi kemasan itu sendiri adalah strategi pemasaran yang diciptakan, dikembangkan, dan dikendalikan oleh bagian pemasaran dari sebuah perusahaan untuk lebih memusatkan perhatiannya pada penciptaan, pengembangan kemasan dari sebuah produk, supaya kosumen dapat menemukan alasan-alasan paling kuat dan meyakinkan yang membuat mereka lebih memilih produk tersebut.

  N. Kerangka pikir Merek pada kemasan

  Gambar pada kemasan Bentuk pada

  Evaluasi Minat

  kemasan

  (Persepsi) beli

  Warna pada kemasan Label pada kemasan

  O. Hipotesa

  1. ada pengaruh faktor merek pada kemasan, gambar pada kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan dan label pada kemasan secara bersama-sama terhadap minat beli konsumen.

  33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian merupakan studi kasus yaitu penelitian terhadap beberapa objek

  yang populasinya terbatas sehingga kesimpulan yang akan ditarik terbatas pada objek yang diteliti saja, jadi tidak berlaku secara umum.

  B. Tempat dan waktu penelitian

  Tempat penelitian : Universitas Sanata Dharma Waktu penelitian : Bulan Maret 2008

  C . Subjek dan Objek Penelitian

  1. Subjek Penelitian Subjek penelitian yang diteliti adalah konsumen yang mengkonsumsi mie instant Indomie

  2. Objek penelitian Objek penelitian yang diteliti adalah faktor-faktor pada kemasan yang mempengaruhi minat beli konsumen

  D. Variabel Penelitian

  Dalam penelitian ini ada beberapa variable penelitian yang dikemukakan, yaitu

  34

  1. Variabel Independen kemasan, mengukur kemasan, berupa pernyataan dan persepsi konsumen terhadap atribut kemasan (Merek pada kemasan, Gambar pada kemasan,

  Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label pada kemasan )

  2. Variabel dependen Minat beli, Mengukur minat beli konsumen terhadap produk secara keseluruhan

  .

E. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

  1. Populasi Populasi merupakan jumlah keseluruhan objek yang diteliti, dalam hal ini yang dianggap populasi adalah seluruh mahasiswa Sanata Dharma yang menjadi konsumen mie instant Indomie

  .2. Sampel Untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini penulis mengunakan rumus Sloven 1960 yang dikutip Sevila 1994 (Umar Husein,1998:78) perhitungannya sebagai berikut : Diketahui populasi Mahasiswa Universitas Sanata Dharma periode 2006/2007 sebanyak 10.481 (sepuluh ribu empat ratus delapan puluh satu) Mahasiswa

  N n = 2

  • 1 Ne

  35 e = Persen kelonggaran,ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diiginkan 10% N = Jumlah populasi sebanyak 10.481 mahasiwa

  ) . 481 1 , 10 (

  1 481 .

  10 2 × + = n 054 ,

  99 = n

  Ukuran sampel yang didapat berdasarkan rumus diatas sebesar 99,054 orang Mahasiswa. Untuk mempermudah penelitian sehingga nantinya didapat data yang valid dan reliabel maka jumlah tersebut dibulatkan menjadi 100 orang Mahasiswa. Dengan berpijak dan berlandaskan hal diatas maka diputuskan dalam penelitian ini jumlah Mahasiswa yang akan dijadikan Responden sebanyak 100 orang Mahasiswa. .3. Teknik pengambilan sampel

  Teknik yang digunakan adalah metode purposive sampling dimana pengambilan elemen-elemen yang dimaksud dalam sampel dilakukan dengan sengaja, dengan catatan representatif atau dapat mewakili populasi. Selain itu untuk mempermudah dalam menyebarkan kuesioner maka digunakan metode insidental, yaitu responden yang diambil adalah orang- orang yang dapat dijumpai penulis saat penelitian dilakukan.

F. Data yang dibutuhkan

  1. Data primer

  36

  2. Data sekunder Di dapat dari laporan perpustakaan Universitas Sanata Dharma, buku-buku teori, dll.

  G . Metode pengumpulan Data

  1. Observasi Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti, dalam hal ini konsumen yang mengkonsumsi mie Instan Indomie

  2. Kuesioner Yaitu membuat sejumlah pertanyaan tertulis yang dibagikan kepada responden untuk memperoleh sejumlah data tentang identitas dan penilaian responden terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen. Untuk metode kuesioner daftar pertanyaan memiliki item sebagai variasi jawaban tiap variable untuk pertanyaan yang berhubungan dengan variable penelitian atau pertanyaan diberi alternatif jawaban 5 kategori dengan skor 1- 5 yang sesuai dengan Skala Likert yaitu: a. Sangat Setuju (SS)

  b. Setuju ( S )

  c. Netral ( N )

  d. Tidak Setuju ( TS)

  e. Sangat Tidak Setuju (STS)

  37

  H . Teknik Pengujian Instrumen

  1. Uji Validitas

  Yaitu suatu alat pengukuran yang menunjukkan seberapa jauh suatu alat ukur memiliki ketepatan dan kecermatan dalam melakukan fungsi ukurnya dengan menggunakan teknik Korelasi Product moment:

  N xy x y ∑ − ( ∑ )( ∑ ) rxy =

  2

  2

  2

  2 N

  X − ∑ x Ny − ∑ y ( ( ) ( ( ) )

   X : Nilai masing-masing butir per item Y : Nilai seluruh butir item RXY: Korelasi product Moment Jika r hitung > r table dengan taraf keyakinan 95 % maka instrument dikatakan valid Jika r hitung < r table dengan taraf keyakinan 95 % maka instumen dikatakan invalid

  2. Uji Reliabilitas Analisis reliabiliatas digunakan untuk menunjukan adanya penyesuaian antara sesuatu yang diukur dengan jenis alat yang digunakan. Untuk mengujinya dapat digunakan rumus Cronbach’s Alpha ( 2 α) sebagai berikut:

  ⎛ Σ ⎞

  k σ

  ⎛ ⎞ b

  r =

  1 − 11 ⎜ ⎟ 2 ⎜⎜ ⎟⎟

  k

  1 σ

  38 Keterangan : r11 = reliabilitas instrumen k = banyak butir pertanyaan 2

  σ = varians total t 2

  Σ

  σ = jumlah varians butir b (

  α) = 0.05 Bila koefisien reliabilitas telah dihitung, maka untuk menentukan keeratan hubungan bisa digunakan kriteria Guilfrod (Azwar,2004:98), yaitu

  1. kurang dari 0,20 : Hubungan yang sangat kecil dan bisa diabaikan. 2. : Hubungan yang kecil tidak erat

  0,20 - <0,40 3. 0,40 - <0,70 : Hubungan yang cukup erat 4. : Hubungan yang erat (reliabel)

  0,70 - <0,90 5. 0,90 - <1,00 : Hubungan yang sangat erat (sangat reliabel) 6. 1,00 : Hubungan yang sangat sempurna

I. Metode Analisis Data

1. Analisis data secara kualitatif

  Analisis ini digunakan untuk mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli. Untuk mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen digunakan alat kuesioner. Karena kuesioner masih merupakan data kualitatif, maka data tersebut harus dikuantifikasikan dengan langkah pembobotan untuk masing-masing sub variable dengan menggunakan skala Likert (Iqbal

  39 tertinggi (sangat positif) sampai pasa terendah (sangat negatif). Adapun kriteriapenilaian/pembobotannya sebagai berikut: Sangat Setuju (SS) = skor 5 Setuju ( S ) = skor 4 Netral ( N ) = skor 3 Tidak Setuju ( TS) =skor 2 Sangat Tidak Setuju (STS) = skor 1

2. Analisis data secara kuantitatif

  

a) Untuk menguji hipotesa yaitu faktor Merek, Gambar pada kemasan, Bentuk

kemasan, Warna Kemasan, dan Label kemasan secara bersama-sama

  berpengaruh terhadap minat beli konsumen, maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mencari persamaan regresi linear berganda dengan menggunakan rumus:

   Y= b0 + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4+b5x5

  Keterangan: Y = minat beli X1= merek X2= gambar pada kemasan X3= bentuk kemasan X4= warna kemasan

  40 a = konstanta b1 = koefisien regresi X1 b2 = koefisien regresi X2 b3 = koefisien regresi X3 b4 = koefisien regresi X4 b5 = koefisien regresi X5

  2) Untuk mencari pengaruh variabel bebas X1, X2, X3, X4,dan X5 terhadap variabel tergantung yaitu jumlah tabungan (Y) digunakan rumus:

  1 x 1 y b 2 x 2 y b 3 x 3 y b + + + + b 4 x 4 y b 5 x 5 y ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ry ( 1 , 2 , 3 , 4 , 5 ) =

  2 y

  ∑

  keterangan: Ry (1,2,3,4,5) = koefisien korelasi b1,b2,b3,b4,b5 = koefisien regresi x1,x2,x3,x4,x5 X1 = merek X2 = gambar pada kemasan X3 = bentuk kemasan X4 = warna kemasan X5 = label pada kemasan Y = minat beli

  41 3) Untuk membuktikan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak, maka diadakan uji F: 2 R N m

  1

  ( − − ) Freg = 2

  1

  mR ( )

  keterangan: F regresi = harga F regresi yang dicari N = banyaknya subjek yang telibat m = banyaknya prediktor R² = koefisien korelasi antara kriterium dengan prediktor- prediktor Langkah-langkah:

  • Perumusan hipotesis

  HO : secara bersama-sama variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen HA : secara bersama-sama variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen

  • Menentukan nilai kriris dalam distribusi F dengan tingkat signifikasi(

  α) adalah 5 % dan derajat bebasnya ( k; n-k-1)

  • Menghitung nilai F hitung dengan program SPSS
  • Kriteria penerimaan dan penolakan hipotesa:

  Hipotesa HO diterima bila : F hitung < F tabel, bila F hitung < 2,3113 Hipotesa HO ditolak bila : F hitung > F tabel, bila F hitung > 2,3113

  42

b) Untuk menjawab masalah kedua yaitu atribut kemasan manakah yang paling

  mempengaruhi minat beli konsumen, dapat dilihat dari besarnya koefisien regresi persamaan regresi beganda. Koefisien persamaan regresi berganda yang signifikan (level of significant 5%) dan terbesarlah yang paling mempengaruhi minat beli konsumen.

3. Koefisien Determinasi

  Derajat ketetapan atau koefisien determinasi yaitu untuk mengetahui seberapa besar variasi dalam varaiabel dependent (minat beli) yang dapat dijelaskan oleh variasi dalam variabel independent ( merek pada kemasan, gambar pada kemasan, bentuk kemasan, warna kemasan, dan label kemasan) secara bersama-sama. Adapun rumus yang digunakan ( Algiafri, 1997: 36) adalah:

  2 ∑ ∑ ∑ ∑ ∑

  1 x 1 y b 2 x 2 y b 3 x 3 y b 4 x 4 y b + + + + b 5 x 5 y

  R =

  2 y

  ∑

  

BAB IV

GAMBARAN UMUM A. UNIVERSITAS SANATA DHARMA SEJARAH USD Sejarah berdirinya Universitas Sanata Dharma, diawali dengan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanana Dharma (PTPG-SD). Selanjutnya PTPG tersebut

  mengalami perkembangan yang disesuaikan dengan perubahan dan kebutuhan didunia pendidikan.

  PTPG Sanata Dharma (1955 – 1958) Ide untuk mendirikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) oleh Prof.

  Moh. Yamin, S.H. (Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI) pada tahun 1950-an disambut baik oleh para imam Katolik, terutama Ordo Societas Jesus (Serikat Yesus yang lazim disingkat S.J.). Waktu itu Ordo ini telah membuka kursus- kursus B1, antara lain B1 Mendidik (Yayasan De Britto) di Yogyakarta yang dikelola oleh Pater H. Loeff, S.J. dan B1 Bahasa Inggris (Yayasan Loyola) di Semarang yang dikelola oleh pater W.J. Van der Meulen, S.J. dan Pater H. Bastiaanse, S.J.

  Dengan dukungan dari Conggregatio de Propaganda Fide, selanjutnya Pater Kester yang waktu itu menjabat sebagai Superior Misionaris Serikat Yesus menggabungkan kursus-kursus ini menjadi sebuah perguruan tinggi dan lahirlah PTPG Sanata Dharma pada tanggal 20 Oktober 1955 dan diresmikan oleh pemerintah pada tanggal 17 Desember 1955.

  Pada awalnya PTPG Sanata Dharma mempunyai 4 Jurusan, yaitu Bahasa Inggris, Sejarah, IPA, dan Ilmu Mendidik. Para pembesar misi Serikat Yesus menunjuk Pater Prof. Nicolaus Driyarkara, S.J. menjadi Dekan PTPG Sanata Dharma dan Pater H. Loeff sebagai Wakil Dekan

  Nama “Sanata Dharma” diciptakan oleh Pater K. Looymans, S.J. yang waktu itu menjadi pejabat Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Kantor Wali Gereja Indonesia. “Sanata Dharma” sebenarnya dibaca “Sanyata Dharma”, yang berarti “kebaktian yang sebenarnya” atau “pelayanan yang nyata”. Kebaktian dan pelayanan itu ditujukan kepada tanah air dan gereja (Pro Patria et Eclessia).

  FKIP Sanata Dharma (1958 – 1965)

  Untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan tentang perubahan PTPG menjadi FKIP, maka PTPG Sanata Dharma pada bulan November 1958 berubah menjadi FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) Sanata Dharma dan merupakan bagian dari Universitas Katolik Indonesia cabang Yogyakarta. Pada masa FKIP ini Sanata Dharma berhasil memperoleh status “disamakan” dengan negeri berdasarkan SK Menteri PTIP No.1 / 1961 pada tanggal 6 Mei 1961 jo No. 77 / 1962 tanggal 11 Juli 1962. Walaupun bagian dari Universitas Katolik Indonesia, secara de facto FKIP Sanata Dharma berdiri sendiri.

  IKIP Sanata Dharma (1965 - 1993)

  Untuk mengatasi kerancuan antara menjadi bagian dari Universitas Katolik Indonesia cabang Yogyakarta dengan kemandirian FKIP Sanata Dharma sebagai sebuah institusi pendidikan, FKIP Santa Dharma berubah menjadi IKIP Sanata Dharma berdasarkan SK Menteri PTIP No. 237 / B – Swt / U / 1965. Surat Keputusan ini berlaku mulai tanggal 1 September 1965.

  Selain melaksanakan Program S1 (sebelumnya Sarjana Muda dan Sarjana),

  IKIP Sanata Dharma juga dipercaya pemerintah untuk mengelola Program Diploma I,

  II, dan III untuk jurusan Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPS, dan PMP. Berbagai program Diploma ini ditutup pada tahun 1990 dan selanjutnya dibika program Diploma II PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar).

  Universitas Sanata Dharma (1993 sampai sekarang)

  Akhirnya untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta kemajuan zaman, tanggal 20 April 1993 sesuai dengan SK Mendikbud No. 46 / D / O / 1993, IKIP Sanata Dharma dikembangkan menjadi Universitas Sanata Dharma atau lebih dikenal dengan nama USD. Dengan perkembangan ini USD diharapkan tetap dapat memajukan sistem pendidikan guru sekaligus berpartisipasi dalam memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi.

  Setelah berkembang menjadi universitas, Sanata Dharma terdorong untuk memperluas muatan program pendidikannya. Di samping tetap mempertahankan pendidikan guru dengan tetap membuka FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), Sanata Dharma membuka beberapa fakultas baru. Universitas Sanata Dharma sekarang memiliki 8 Fakultas dengan 25 Program Studi, 3 Program Pasca Sarjana, 1 Program Profesi, dan 3 Program Kursus Bersertifikat.

  Sekarang ini banyak hal berkembang di Universitas Sanata Dharma. Perkembangannya meliputi berbagai aspek, baik sarana fisik (gedung, lab, perpustakaan, dan fasilitas fisik lainnya), administrasi (sistem informasi, manajemen, biro / lembaga / pusat / serta unit pendukung), peningkatan mutu akademik, penelitian, pengajaran, serta pengabdian pada masyarakat.

VISI DAN MISI

  VISI : USD didirikan oleh Ordo Serikat Yesus (S.J.) provinsi Indonesia

  bersama para imam dan awam Katolik untuk berpartisipasi dalam usaha melindungi dan meningkatkan martabat manusia melalui perpaduan keunggulan akademik dan nilai-nilai kemanusiaan yang diwujudkan dalam penggalian kebenaran secara objektif dan akademis dan pengembangan kaum muda yang didasarkan pada nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan spiritualitas Ignatian, yaitu menjadi manusia bagi sesama (human for and with others), perhatian pribadi (cura personalis), semangat keunggulan (magis), dan semangat dialogis.

  MISI : USD didirikan sebagai lembaga akademis yang menekankan perpaduan IPTEK dan nilai-nilai kemanusiaan, lembaga kritis masyarakat, lembaga yang menjunjung tinggi kebebasan akademis, lembaga pendidikan humanis dan dialogis yang mengembangkan segi intelektual, moral, emosional, dan sprititual mahasiswa secara terpadu, lembaga yang mendidik mahasiswa menjadi manusia yang utuh, kritis, dewasa, dan memiliki kepekaan sosial, lembaga yang memberikan pelayanan masyarakat, dan lembaga yang mempersiapkan tenaga kependidikan secara profesional.

TUJUAN PENDIDIKAN

  Pendidikan di USD bertujuan membantu mencerdaskan putra-putri bangsa dengan memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai humanistik yang berlandaskan nilai-nilai – nlai Kristiani yang universal dan cita-cita kemanusiaan sebagaimana terkandung dalam Pancasila, sehingga memiliki kemampuan akademik sesuai dengan bidang studinya dan integritas kepribadian yang tinggi.

  Lokasi kampus

  Fasilitas

  a) KOLEKSI BUKU DI PERPUSTAKAAN

  b) RUANG BACA DI PERPUSTAKAAN

  c) APOTEK

  d) POLIKLINIK

  e) KAPEL

  f) LABORATURIUM KOMPUTER DASAR

  g) HOT SPOT

  h) LABORATURIUM MULTIMEDIA i) WORKSTATION j) LABORATURIUM MICRO TEACHING k) Lapangan Basket l) KORP SUKARELA m) MAPASADHA( Mahasiswa Pecinta Alam Sanata Dharma) n) Menwa (Resimen Mahasiswa) o) Kelompok Paduan suara p) Lapangan Sepak Bola q) Kelompok Taekwondo r) Gedung teater

  Jumlah keseluruhan mahasiswa dalam empat tahun terakhir

  No Fakultas 2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007

  35

  12 English Extension Course 596 525 456 419

  Jumlah 114 66 151 220

  24 85 149

  37

  11 S2 Kajian Bahasa Inggris

  36

  37

  13

  44

  10 S2 Ilmu Religi dan Budaya

  29

  1 FKIP 3.590 3.609 4.032 4.241

  29

  33

  9 S2 Teologi

  Jumlah 11.680 11.257 11.973 10.525

  8 Teologi 304 300 300 312

  7 Psikologi 910 828 887 744

  6 Farmasi 798 735 739 668

  5 Teknik 1.930 1.870 1.773 1.422

  4 Sastra 1.148 1.125 1.262 951

  3 MIPA 617 647 591 391

  2 Ekonomi 2.383 2.143 2.389 1.796

  Jumlah Total 12.390 11.848 12.580 10.481

B. PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR

  Perusahaan didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma berdasarkan Akta Pendirian No.228 tanggal 14 Agustus 1990 yang diubah dengan Akta No.249 tanggal

  15 November 1990 dan yang diubah kembali dengan Akta No.171 tanggal 20 Juni 1991, semuanya dibuat dihadapan Benny Kristanto, SH., Notaris di Jakarta dan telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No.C2-2915.HT.01.01 Th.91 tanggal 12 Juli 1991, serta telah didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah No.579, 580 dan 581 tanggal 5 Agustus 1991, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.12 tanggal 11 Februari 1992, Tambahan No.611.

  Perseroan mengubah namanya yang semula PT Panganjaya Intikusuma menjadi PT Indofood Sukses Makmur, berdasarkan keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang dituangkan dakam Akta Risalah Rapat No.51 tanggal 5 Februari 1994 yang dibuat oleh Benny Kristianto, SH., Notaris di Jakarta.

  Perseroan adalah produsen mi instan yang meliputi pembuatan mi dan pembuatan bumbu mi instan serta pengolahan gandum menjadi tepung terigu. Fasilitas produksi untuk produk mi instan terdiri dari 14 pabrik yang tersebar di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan untuk bumbu mi instan terdiri dari 3 pabrik di pulau Jawa dan untuk pengolahan gandum terdiri dari 2 pabrik di Jakarta dan Surabaya yang didukung oleh 1 pabrik kemasan karung tepung di Citereup.

  Visi Perusahaan dan Kegiatan Pemasaran

  Visi Indofood Sukses Makmur, Tbk. Adalah menciptakan pilihan menjadi penyedia utama makanan dan consumer products bermerek terkemuka bagi jutaan consumen di Indonesia dan juga diberbagai penjuru dunia. PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Mempunyai 63 perusahaan termasuk anak cabangnya dengan jaringan distribusinya meliputi lebih dari 350 depot dengan jumlah karyawan tetap sampai dengan 31 Desember 2006 sebanyak 49.367 karyawan tetap dan 1200 kendaraan operasional yang menjangkau lebih dari 150.000 pengecer tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Kegiatan pemasaran memegang peranan sangat penting dalam menjual produknya kepada masyarakat dengan cara (1) penjualan langsung, yaitu dilakukan dengan menggunakan armada penjualan sendiri yang beroprsi di DKI Jakarta, Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, (2) penjualan tidak langsung, meliputi wilayah pemasaran di seluruh Indonesia. Dilakukan lewat distributor lalu pngecer dan grosir baru ke konsumen akhir, dan (3) lewat promosi, melalui media cetak maupun elektronik.

  Profil Perusahaan

  Alamat : Gedung Ariobomo Sentral Lantai 12 Jl. H.R. Rasuna SAid X-2 Kav. 5 Jakarta 12950 Telepon : (021) 522 8822

  Manajemen

  Faksimili : (021) 522 6014

  Komisaris Utama : Manuel V. P Komisaris : • Benny Setiawan S.

  • Edward A. Tortorici •

  Ibrahim Risjad • Robert Charles N.

  • Albert de Rosario

  Komisaris Independen :

  • Utomo Josodirjo •

  Torstein Stephansen

  • Wahjudi Prakarsa • Juan Bernal Santos

  Direktur Utama : Anthoni Salim Wakil Direktur :

  • Fransiscus Welirang •

  Darmawan Sarsito Direktur :

  • Aswan Tuk
  • Tjhie Tje Fie • Taufik Wiraarmadja • Philip Suwardi P.
  • C.M. Djoko Wibowo • M.P. Sibarani

  Pemegang Saham :

  1. CAB Holdings Limited : 51,53%

  2. Commissioners : 0,04%

  3. Directors : 0,02%

  4. Others (Below 5 %) : 48,41%

  Produk dan Layanan

  • Indomie • Sarimi • Supermi • Kecap Indofood • Promina • SUN
  • Bumbu Kaldu Indofood

C. INDOMIE Indomie adalah merek mi Instan terpopuler di Indonesia, diproduksi oleh PT.

  Indofood Sukses Makmur Selain di Indonesia, Indomie juga dijual di luar negeri, antara lain Australia, Asia, Afrika dan negara-negara Eropa. Di Indonesia, sebutan "Indomie" juga umum dijadikan istilah generik yang merujuk kepada mi instan. Mie ini murah meriah dan cocok dengan selera Indonesia, sampai tidak jarang orang membawa Indomie ke luar negeri bila makanan di luar tidak cocok. Saat terjadi bencana alam, orang Indonesia sering sekali menyumbang mi instan seperti Indomie, tentu saja beserta barang-barang kebutuhan lainnya.

  Konsumsi Indomie secara terus menerus tidak dianjurkan. Indomie mengandung pewarna tartazine yang tidak baik dikonsumsi untuk jangka panjang.

  Indomie selain dapat dibeli perbungkus, dapat juga dibeli dengan paket 5 bungkus atau paket 1 kardus berisi 30 atau 40 indomie. Harga indomie juga sangat murah, di Indonesia, perbungkus indomie dihargai hanya Rp. 900,00 atau sekitar 10 sen dolar Amerika. Di Australia, indomie dijual dengan harga 25 sen per bungkusnya atau Aud$10 untuk 1 kardus berisi 40 bungkus indomie.

  Satu bungkus indomie standard memiliki massa 85 gram, dan terdapat 2 sachet berisi 5 bumbu-bumbuan yang disertakan, yaitu kecap manis, saus sambal, minyak palm, bubuk perasa dan bawang goreng. Indomie juga tersedia dalam versi jumbo dengan massa 120 gram.

  Jenis - Jenis Indomie Indomie JUMBO Mi Goreng

   I ndomie JUMBO Mi Goreng Rasa Ayam Panggang

   Indomie JUMBO Mi Goreng Rasa Baso Sapi Indomie Mie Keriting Goreng Spesial Indomie Mi Goreng Indomie Mi Goreng Pedas Indomie Mi Goreng Rendang Indomie Mi Goreng Sate

   Indomie Rasa Ayam Bawang Indomie Rasa Ayam Spesial Indomie Rasa Kaldu Ayam Indomie Rasa Kaldu Udang Indomie Rasa Kari Ayam Indomie Rasa Sapi

   Indomie Rasa Sayuran Indomie Rasa Soto Mie

  59

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang analisis data yang telah diperoleh selama pelaksanaan

  penelitian serta pembahasannya. Analisis data dibagi dalam dua bagian yaitu analisis deskriptif, yang meliputi deskripsi identitas responden dan deskripsi terhadap variabel-variabel penelitian serta analisis statistik digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.

A. Identitas Responden

  . Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel sebanyak 100 mahasiswa dan penelitian dilakukan di Universitas Sanata Dharma. Dalam membagikan kuesioner penulis menggunakan metode insidental sampling yaitu penulis memberikan kuesioner kepada mahasiswa yang pada saat itu penulis jumpai di Universitas Sanata Dharma.

  Untuk memperoleh gambaran tentang responden berkaitan dengan jenis kelamin, usia, dan uang saku perbulan para mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Mrican maka penulis akan menyajikan data dalam bentuk distribusi skor/frekuensi. Adapun hasil dari penelitian tersebut akan disajikan dalam pembahasan berikut ini:

  60

  a. Distribusi frekuensi jenis kelamin tabel V.1 Frekuensi Prosentase Jenis kelamin

  Laki-laki 72 72% Perempuan 28 28%

  Total 100 100% (Sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel diatas, dari sampel 100 orang mahasiswa dapat diketahui bahwa responden yang berjenis kelamin Laki-laki ada sebanyak 72% atau ada 72 orang mahasiswa. Dan responden yang berjenis kelamin Perempuan ada sebanyak 28% atau ada 28 orang Mahasiswa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian ini adalah Laki-laki.

  b. Distribusi frekuensi usia

Tabel V. 2

Usia frekuensi prosentase

  ≤ 20 tahun 44 44% 21 tahun – 25 tahun 53 53%

  > 25 tahun 3 3%

  Total 100 100% (Sumber : data yang diolah)

  61 Berdasarkan tabel diatas, dari sampel 100 orang mahasiswa dapat diketahui bahwa bahwa responden yang berusia

  ≤ 20 tahun ada sebanyak 44% atau ada 44 orang mahasiswa. Responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun ada sebanyak 53% atau ada 53 orang ahasiswa. Dan responden yang berusia > 25 tahun ada sebanyak 3% atau ada 3 orang mahasiswa Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian, berusia ≤ 20 tahun.

c. Distribusi frekuensi uang saku perbulan

  

Tabel V.3

Uang saku frekuensi prosentase

  ≤ Rp. 500.000,- 37 37% Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- 51 51%

  ≥ Rp. 1.000.000,- 12 12% 100 100%

  Total (Sumber : data yang diolah)

  Berdasarkan tabel diatas, dari sampel 100 orang mahasiswa dapat diketahui bahwa bahwa responden yang memiliki uang saku per bulan ≤ Rp. 500.000,- ada sebanyak 37% atau ada 37 orang mahasiswa. Responden yang memiliki uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- ada sebanyak 51% atau ada 51 orang mahasiswa. Dan responden yang memiliki uang saku per bulan

  ≥ Rp. 1.000.000,- ada sebanyak 12% atau ada 12 orang Mahasiswa Dari data

  62 tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian, memiliki uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,-.

d. Distribusi frekuensi pembelian mie instant (merek apa saja) / bulan

  

Tabel V.4

Frekuensi pembelian frekuensi prosentase

  12 12% ≤ 5 kali 6 – 10 kali

  27 27% > 10 kali 61 61%

  Total 100 100% (Sumber : data yang diolah)

  Berdasarkan tabel diatas, dari sampel 100 orang mahasiswa dapat diketahui bahwa responden yang melakukan pembelian mie instant (merek apa saja) ≤ 5 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 12% atau ada 12 orang mahasiswa. Responden yang melakukan pembelian mie instant (merek apa saja) 6 – 10 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 27% atau ada 27 orang mahasiswa. Dan responden yang melakukan pembelian mie instant (merek apa saja) > 10 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 61% atau ada 61 orang mahasiswa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian, melakukan pembelian mie instant (merek apa saja) > 10 kali dalam satu bulan.

  63

e. Distribusi frekuensi mengkonsumsi mie instant (merek apa saja) / bulan

  

Tabel V.5

Frekuensi konsumsi frekuensi prosentase

  ≤ 15 kali 45 45% 15 – 29 kali 48 48% 30 kali ≥

  7 7%

  Total 100 100% (Sumber : data yang diolah)

  Berdasarkan tabel diatas, dari sampel 100 orang mahasiswa dapat diketahui bahwa responden yang mengkonsumsi mie instant (merek apa saja) ≤ 15 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 45% atau ada 45 orang mahasiswa. Responden yang mengkonsumsi mie instant (merek apa saja) 15 – 29 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 48% atau ada 48 orang mahasiswa. Dan responden yang mengkonsumsi mie instant (merek apa saja)

  ≥ 30 kali dalam satu bulan, ada sebanyak 7% atau ada 7 orang mahasiswa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian, mengkonsumsi mie instant (merek apa saja) 15 – 29 kali dalam satu bulan

  64

B. Pengujian Validitas dan Reliabilitas

  Pengujian dilakukan untuk mengetahui apakah kuesioner yang dipakai sebagai bahan penelitian tersebut layak dipakai atau tidak. Analisis validitas digunakan untuk menunjukan tingkat validitas atau kesahihan butir pernyataan, dicari dengan menggunakan rumus koefisien product moment dari pearson.

  Sedangkan analisis reliabilitas digunakan untuk menunjukan adanya persesuaian antara sesuatu yang diukur dengan jenis alat yang digunakan, untuk mengukur atau mengujinya digunakan rumus Cronbach’s Alpha ( α). Bila koefisien reliabilitas telah dihitung, maka untuk menentukan keeratan hubungan bisa digunakan kriteria Guilfrod (Azwar,2004:98), yaitu:

  1. kurang dari 0,20 : Hubungan yang sangat kecil dan bisa diabaikan. 2. 0,20 - <0,40 : Hubungan yang kecil tidak erat 3.

  0,40 - <0,70 : Hubungan yang cukup erat (cukup reliabel)

  4. 0,70 - <0,90 : Hubungan yang erat (reliabel) 5.

  0,90 - <1,00 : Hubungan yang sangat erat (sangat reliabel)

  6. 1,00 : Hubungan yang sangat sempurna Adapun hasil pengujian validitas dan reliabilitas akan diuraikan sebagai berikut:

  65

a. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variable merek pada kemasan 1. analisis validitas tabel V.6 validitas butir pernyataan Persepsi terhadap merek pada kemasan Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.820 0,195

  VALID/SAHIH 2 0,696 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,893 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,908 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel V.6, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel merek pada kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel merek pada kemasan dinyatakan valid/ sahih.

2. Analisis reliabilitas. tabel V.7 Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on

Cronbach's Standardized

  Alpha Items N of Items .849 .849

  4

(sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha ( α) 0,849. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel merek

  66 pada kemasan mempunyai hubungan yang reliabel karena berada pada kriteria 0,70-<0,90.

b. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variabel gambar pada kemasan 1. analisis validitas tabel V.8 validitas butir pernyataan persepsi terhadap gambar pada kemasan Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.875 0,195

  VALID/SAHIH 2 0,889 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,834 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,908 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel V.8, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel gambar pada kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel gambar pada kemasan dinyatakan valid/ sahih.

2. Analisis reliabilitas. tabel V.9 Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on

Cronbach's Standardized

  Alpha Items N of Items .897 .900

  4

(sumber: data yang diolah)

  67 Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha (

  α) 0,900. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel gambar pada kemasan mempunyai hubungan yang sangat reliabel karena berada pada kriteria 0,90 - <1,00

c. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variabel bentuk kemasan 1. analisis validitas tabel V.10 validitas butir pernyataan persepsi terhadap bentuk kemasan Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.799 0,195

  VALID/SAHIH 2 0,888 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,936 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,894 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel V.10, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel bentuk kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel bentuk kemasan dinyatakan valid/ sahih.

  68

2. Analisis reliabilitas. tabel V.11 Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on

Cronbach's Standardized

  Alpha Items N of Items .903 .902

  4

(sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha ( α) 0,902. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel bentuk kemasan mempunyai hubungan yang sangat reliabel karena berada pada kriteria 0,90 - <1,00

d. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variabel warna pada kemasan 1. analisis validitas tabel V.12 validitas butir pernyataan Persepsi terhadap warna pada kemasan Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.752 0,195

  VALID/SAHIH 2 0,799 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,786 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,754 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel V.12, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel warna pada kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat

  69 disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel warna pada kemasan dinyatakan valid/ sahih.

2. Analisis reliabilitas. tabel V.13 Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on

Cronbach's Standardized

  Alpha Items N of Items .769 .777

  4

(sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha ( α) 0,777. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel warna pada kemasan mempunyai hubungan yang reliabel karena berada pada kriteria 0,70-<0,90.

e. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variabel label pada kemasan 1. analisis validitas tabel V.14 validitas butir pernyataan Persepsi terhadap label pada kemasan Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.755 0,195

  VALID/SAHIH 2 0,889 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,869 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,614 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  70 Berdasarkan tabel V.14, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel label pada kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel label pada kemasan dinyatakan valid/ sahih.

2. Analisis reliabilitas. tabel V.15 Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on

Cronbach's Standardized

  

Alpha Items N of Items

.791 .797

  4

(sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha ( α) 0,797. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel label pada kemasan mempunyai hubungan yang reliabel karena berada pada kriteria 0,70-<0,90.

f. Analisis validitas dan reliabilitas untuk variabel minat beli 1. analisis validitas tabel V.16 validitas butir pernyataan minat beli Item r-hitung r-tabel Status

  1 0.831 0,195

  VALID/SAHIH

  71 2 0,874 0,195

  VALID/SAHIH 3 0,891 0,195

  VALID/SAHIH 4 0,872 0,195

  VALID/SAHIH

  (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan tabel V.16, bisa dilihat bahwa dari semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel label pada kemasan memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (r hitung > r tabel ) . Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pertanyaan untuk variabel minat beli dinyatakan valid/ sahih.

2. Analisis reliabilitas.

  

tabel V.17

Reliability Statistics

  

Cronbach's

Alpha Based

on Cronbach's Standardized

  

Alpha Items N of Items

.887 .890

  4 (sumber: data yang diolah)

  Berdasarkan dengan perhitungan reliabilitas dengan menggunakan program spss 13, didapatkan nilai Cronbach’s Alpha ( α) 0,890. dengan menggunakan kriteria guilford dapat dikatakan bahwa butir pernyataan dalam variabel minat beli mempunyai hubungan yang reliabel karena berada pada kriteria 0,70- <0,90.

  72

C. Analisis Variabel Penelitian

  Untuk mengetahui bagaimana persepsi responden terhadap atribut kemasan Indomie dan bagaimana minat beli responden terhadap produk Indomie, maka penuslis menggunakan perhitungan rata-rata, dengan cara sebagai berikut:

  a) Dihitung skor keseluruhan dari jawaban responden untuk masing-masing atribut-atribut kemasan dan minat beli.

  b) Mencari rata-rata skor masing atribut dan minat beli oleh semua responden, dengan rumus : (Total skor X bobot) / total jumlah jawaban c) Setelah ditemukan rata-rata skor tiap atribut, dapat dilihat rata-rata tersebut masuk dalam kategori yang mana.

  Untuk menetukan apakah suatu atribut kemasan masuk dalam kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, sangat kurang baik, digunakan dasar untuk tiap kategori atau item jawaban, yaitu sebagai berikut

  Sangat kurang baik / sangat rendah = 1 - 1,79 Kurang baik / rendah = 1,80 - 2,59 Cukup baik / cukup tinggi = 2,60 - 3,39 Baik / tinggi = 3,40 - 4,19 Sangat baik / sangat tinggi = 4,20 - 4,99

  Berdasarkan dari data-data diatas dapat diketahui bagaimana persepsi responden terhadap atribut-atribut kemasan Indomie, dan minat beli responden.

  73

1. Merek pada kemasan

  Tabel V.18 Analisis skor persepsi terhadap merek pada kemasan

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) 1.

  1 6 23 55 15 100 377 2. 0 14 27 44 15 100 360 3. 8 18 30 38 6 100 316 4. 10 16 35 36 3 100 306

  Jumlah 19 54 115 173 39 400 1359 % 4.75 13.5 28.75 43.25 9.75 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor merek pada kemasan dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.18 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 19 jawaban (4.75%) sangat tidak setuju (STS), 54 jawaban (13.5%) Tidak setuju (TS), 115 jawaban (28.75%) Netral (N), 173 jawaban (43.25%) Setuju (S), 39 jawaban (9.75%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai persepsi terhadap Merek pada kemaasan, adalah :

  (Total skor x bobot) / 400 = 1359 / 400 = 3,39

  74 Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap merek pada kemasan Indomie cukup baik.

  2. Gambar pada kemasan

  Tabel V.19 Analisis skor persepsi terhadap gambar pada kemasan

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 13 33 46 8 100 349 2. 0 23 24 49 4 100 334 3. 0 22 16 49 13 100 353 4. 6 33 22 38 1 100 295

  Jumlah 6 91 95 182 26 400 1331 % 1.5

  22.75

  23.75 45.5 6.5 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor gambar pada kemasan dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.19 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 6 jawaban (1.5%) sangat tidak setuju (STS), 91 jawaban (22.75%) Tidak setuju (TS), 95 jawaban (23.75%) Netral (N), 182 jawaban (45.5%) Setuju (S), 26 jawaban (6.5%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai persepsi terhadap gambar pada kemasan, adalah :

  75

  (Total skor x bobot) / 400 = 1331 / 400 = 3,32

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap gambar pada kemasan Indomie cukup baik.

3. Bentuk kemasan

  Tabel V.20 Analisis skor persepsi terhadap bentuk kemasan

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 2 10 29 46 13 100 358 2. 2 9 14 57 18 100 380 3. 2 13 10 59 16 100 374 4. 0 20 19 49 12 100 353

  Jumlah 6 52 72 211 59 400 1465 % 1.5 13

  18

  52.75 14.75 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor bentuk kemasan dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.20 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 6 jawaban (1.5%) sangat tidak setuju (STS), 52 jawaban (13%) Tidak setuju (TS), 72 jawaban (18%) Netral (N), 211 jawaban (52.75%) Setuju (S), 59 jawaban (14.75%) Sangat Setuju (SS)

  76 Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai persepsi terhadap bentuk pada kemasan, adalah :

  (Total skor x bobot) / 400 = 1465 / 400 = 3,66

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap bentuk kemasan Indomie baik.

4. Warna kemasan

  Tabel V.21 Analisis skor persepsi terhadap warna kemasan

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 12 40 40 8 100 344 2. 7 32 45 16 100 370 3. 0 7 34 52 7 100 359 4. 2 8 18 49 23 100 383

  Jumlah 2 34 124 186 54 400 1456 % 0.5

  8.5

  31

  46.5 13.5 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor warna kemasan dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.21 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 2 jawaban (0.5%) sangat tidak setuju (STS), 34 jawaban (8.5%) Tidak setuju

  77 (TS), 124 jawaban (31%) Netral (N), 186 jawaban (46.5%) Setuju (S), 54 jawaban (13.5%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai persepsi terhadap warna pada kemasan, adalah :

  (Total skor x bobot) / 400 = 1456 / 400 = 3,64

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap warna kemasan Indomie baik.

5. Label pada kemasan

  Tabel V.22 Analisis skor persepsi terhadap label pada kemasan

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 14 33 53 0 100 339 2. 4 12 23 37 24 100 365 3. 1 10 17 47 25 100 385 4. 0 4 60 36 0 100 332

  Jumlah 5 40 133 173 49 400 1421 % 1.25 10 33.25 43.25 12.25 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor label kemasan dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.22 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan

  78 yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 5 jawaban (1.25%) sangat tidak setuju (STS), 40 jawaban (10%) Tidak setuju (TS), 133 jawaban (33.25%) Netral (N), 173 jawaban (43.25%) Setuju (S), 49 jawaban (12.25%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai persepsi terhadap label pada kemaasan, adalah :

  (Total skor x bobot) / 400 = 1421 / 400 = 3,55

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap label kemasan Indomie baik.

6. Minat beli

  Untuk analisis skor minat beli, distribusi skor di lihat berdasarkan jenis kelamin, usia, dan jumlah uang saku perbulan. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan minat beli responden berdasarkan jenis kelamin, usia, dan uang saku perbulan.

  79

a) Analisis skor minat beli responden berdasarkan jenis kelamin

  • Jenis kelamin laki-laki Tabel V.23 Analisis skor minat beli responden jenis kelamin laki-laki

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 7 21 35 9 72 262 2. 0 3 19 41 9 72 272 3. 0 10 23 28 11 72 266 4. 2 26 26 18 0 72 204

  Jumlah 2 46 89 122 29 288 1004 % 0.7 15.9 30.9 42.4 10.1 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.23 tampak bahwa dari 72 responden berjenis kelamin laki-laki yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 288 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 2 jawaban (0.7%) sangat tidak setuju (STS), 46 jawaban (15.9%) Tidak setuju (TS), 89 jawaban (30.9%) Netral (N), 122 jawaban (42.4%) Setuju (S), 29 jawaban (10.1%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden laki-laki mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 288 = 1004 / 288 = 3,48

  80 Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden berjenis kelamin laki-laki terhadap Indomie baik / tinggi.

  • Jenis kelamin perempuan

  

Tabel V.24 Analisis skor minat beli responden jenis kelamin perempuan

No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 6 10 11 1 28

  91 2. 0 2 7 16 3 28 104 3. 0 4 7 12 5 28 102 4. 1 8 14 5 0 28

  79 Jumlah 1 20 38 44 9 112 376 % 0.9 17.9 33.9 39.3 8 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.24 tampak bahwa dari 28 responden berjenis kelamin perempuan yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 112 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 1 jawaban (0.9%) sangat tidak setuju (STS), 20 jawaban (17.9%) Tidak setuju (TS), 38 jawaban (33.9%) Netral (N), 44 jawaban (39.3%) Setuju (S), 9 jawaban (8%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden perempuan mengenai minat beli, adalah :

  81

  (Total skor x bobot) / 112 = 376 / 112 = 3,35

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden berjenis kelamin perempuan terhadap Indomie cukup baik / cukup tinggi.

b) Analisis skor minat beli responden berdasarkan usia

  • Usia 20 tahun

  Tabel V.25 Analisis skor minat beli responden usia 20 tahun No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 5 15 22 2 44 153 2. 0 4 11 24 5 44 162 3. 0 6 15 17 6 44 155 4. 0 17 17 10 0 44 125

  Jumlah 0 32 58 73 13 176 595 % 0 18.2 33 41.4 7.4 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.25 tampak bahwa dari 44 responden berusia ≤ 20 tahun yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 176 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: tidak ada jawaban sangat tidak setuju (STS), 32 jawaban (18.2%) Tidak setuju (TS), 58 jawaban (33%) Netral (N), 73 jawaban (41.4%) Setuju (S), 13 jawaban (7.4%) Sangat Setuju (SS)

  82 Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden perempuan mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 176 = 595 / 176 = 3,38

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden berusia 20 tahun ≤ responden terhadap Indomie cukup baik / cukup tinggi.

  • Usia 21 tahun – 25 tahun

  Tabel V.26 Analisis skor minat beli responden usia 21 tahun – 25 tahun No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 7 16 22 8 53 190 2. 0 1 13 33 6 53 203 3. 0 6 15 23 9 53 194 4. 2 16 23 12 0 53 151

  Jumlah 2 30 67 90 23 212 738 % 0.9 14.1 31.6 42.6 10.8 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.26 tampak bahwa dari 53 responden berusia 21 tahun – 25 tahun yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 212 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 2 jawaban (0.9%) sangat tidak setuju (STS), 30 jawaban (14.1%)

  83 Tidak setuju (TS), 67 jawaban (31.6%) Netral (N), 90 jawaban (42.6%) Setuju (S), 23jawaban (10.8%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 212 = 738 / 212 = 3,48

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun terhadap Indomie baik / tinggi.

  • Usia > 25 tahun

  Tabel V.27 Analisis skor minat beli responden usia > 25 tahun No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 1 1 1 0 3

  9 2. 0 0 2 0 1 3

  11 3. 0 2 0 0 1 3

  9 4. 1 1 0 1 0 3

  7 Jumlah 1 4 3 2 2 12

  36 % 8.3 33.3 25 16.7 16.7 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.27 tampak bahwa dari 3 responden berusia > 25 tahun yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 12 jawaban yang terdistribusi sebagai

  84 berikut: 1 jawaban (8.3%) sangat tidak setuju (STS), 4 jawaban (33.3%) Tidak setuju (TS), 3 jawaban (25%) Netral (N), 2 jawaban (16.7%) Setuju (S), 2jawaban (16.7%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 12 = 36 / 12 = 3,00

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden yang berusia > 25 tahun terhadap Indomie cukup baik / cukup tinggi.

c) Analisis skor minat beli responden berdasarkan uang saku

  • Uang saku Rp. 500.000,-

  Tabel V.28 Analisis skor minat beli responden dengan uang saku Rp. 500.000,- No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 3 13 15 6 37 135 2. 0 2 8 20 7 37 143 3. 0 2 12 15 8 37 140 4. 0 12

  16 9 0 37 108 Jumlah 0 19 49 59 21 148 526

  % 12.8 33.1 39.9 14.2

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.28

  85 tampak bahwa dari 37 responden dengan uang saku per bulan ≤ Rp. 500.000,- yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 148 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: tidak ada jawaban sangat tidak setuju (STS),19 jawaban (12.8%) Tidak setuju (TS), 49 jawaban (33.1%) Netral (N), 59 jawaban (39.9%) Setuju (S), 21 jawaban (14.2%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden responden dengan uang saku per bulan Rp. 500.000,- mengenai minat beli, adalah :

  ≤

  (Total skor x bobot) / 148 = 526 / 148 = 3,55

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden dengan uang saku per bulan Rp. 500.000,- terhadap Indomie baik / tinggi.

  • Uang saku Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- Tabel V.29 Analisis skor minat beli responden dengan uang saku Rp.

  501.000,- s/d Rp. 999.000,- No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 6 15 26 4 51 181 2. 0 2 16 28 5 51 189 3. 0 9 17 18 7 51 176 4. 3 18

  21 9 0 51 138 Jumlah 3 35 69 81 16 204 684

  % 1.5 17.2 33.8 39.7 7.8 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  86 Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.29 tampak bahwa dari 51 responden dengan uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 204 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 3 jawaban (1.5%) sangat tidak setuju (STS), 35 jawaban (17.2%) Tidak setuju (TS), 69 jawaban (33.8%) Netral (N), 81 jawaban (39.7%) Setuju (S), 16 jawaban (7.8%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden dengan uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 204 = 684/ 204 = 3,35

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden dengan uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- terhadap Indomie cukup baik / cukup tinggi.

  • Uang saku Rp. 1.000.000,-

  Tabel V.30 Analisis skor minat beli responden dengan uang saku

  ≥ Rp. 1.000.000,-

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) bobot

  1. 0 4 2 6 0 12

  38 2. 0 1 4 7 0 12

  42 3. 0 4 3 4 1 12

  38

  87 4. 2 4 3 3 0 12

  31 Jumlah 2 13 12 20 1 48 149 % 4.2 27.1 25 41.6 2.1 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.30 tampak bahwa dari 12 responden yang memiliki uang saku per bulan ≥ Rp. 1.000.000,- yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 48 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 2 jawaban (4.2%) sangat tidak setuju (STS), 13 jawaban (27.1%) Tidak setuju (TS), 12 jawaban (25%) Netral (N), 20 jawaban (41.6%) Setuju (S), 1 jawaban (2.1%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden dengan uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp. 999.000,- mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 48 = 149/ 48 = 3,10

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli responden dengan uang saku per bulan Rp. 1.000.000,- terhadap Indomie cukup baik / cukup tinggi.

  88

d) Analisis skor minat beli seluruh responden

  Tabel V.31 Analisis skor minat beli

  No Pert. Skor Jawaban Pertanyaan Jumlah Skor

  X bobot STS(1) TS (2) N (3) S (4) SS (5)

  1. 0 13 32 45 10 100 352 2. 5 26 57 12 100 376 3. 0 14 30 40 16 100 358 4. 3 34 40 23 0 100 283

  Jumlah 3 66 128 165 38 400 1369 % 0.75

  16.5

  32 41.25 9.5 100

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Faktor minat beli dalam penelitian ini diukur melalui 4 pertanyaan dengan skor 1 sampai 5. Berdasarkan data yang disajikan dalam tabel V.31 tampak bahwa dari 100 responden yang menjawab 5 pertanyaan yang diajukan, diperoleh 400 jawaban yang terdistribusi sebagai berikut: 3 jawaban (0.75%) sangat tidak setuju (STS), 66 jawaban (16.5%) Tidak setuju (TS), 128 jawaban (32%) Netral (N), 165 jawaban (41.25%) Setuju (S), 38 jawaban (9.5%) Sangat Setuju (SS) Untuk mengetahui rata-rata skor jawaban responden mengenai minat beli, adalah :

  (Total skor x bobot) / 400 = 1369 / 400 = 3,42

  Hasil tersebut menunjukkan bahwa minat beli seluruh responden terhadap Indomie baik / tinggi.

  89

D. Pengujian Hipotesis Penelitian

  1. Pengujian Hipotesis Data dari hipotesis pertama yaitu faktor Merek, Gambar pada

  kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label kemasan secara

  bersama-sama berpengaruh terhadap minat beli konsumen yang telah diolah menggunakan bantuan SPSS 13.0 diperoleh hasil sebagai berikut a. Persamaan regresi berganda

  Y= a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4+b5x5

  Keterangan: Y = minat beli X1= merek X2= gambar pada kemasan X3= bentuk kemasan X4= warna kemasan X5= label pada kemasan a = konstanta b1 = koefisien regresi X1 b2 = koefisien regresi X2 b3 = koefisien regresi X3 b4 = koefisien regresi X4 b5 = koefisien regresi X5

  90 Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 13.0 diperoleh hasil sebagai berikut:

  Tabel V.32 Tabel Analisis Regresi bergandaUntuk Hipotesis pertama

  F Koefisien Standar t Variabel Regresi Error hitung Sig.

  19.792 X1 0.247 0.089 2.765 0.007 X2 0.145 0.083 1.738 0.086 X3 0.122 .0 0 89 1 78 .3 .171 X4 0.284 .1 0 11 2 70 .5 .012 X5 0.089 0.923 .358

  .082

  Konstanta 1.314

  Sumber: Data primer yang diolah, 2008

  Dari analisis regresi linier berganda tersebut diperoleh persamaan sebagai berikut:

  

Y= 1,314+ 0,247 X1 + 0,145 X2 + 0,122 X3 + 0,284 X4 + 0,082 X5

  b. Uji F Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara variabel bebas, yaitu: Merek, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna

  Kemasan, dan Label kemasan secara bersama-sama terhadap variabel terikat,

  yaitu Minat beli. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam uji F adalah sebagai berikut:

  91 a) Menentukan Ho dan Ha

  Ho : b 0, artinya faktor Merek pada kemasan, Gambar pada kemasan,

  Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label kemasan secara bersama-

  sama tidak berpengaruh signifikan terhadap Minat beli

  Ha : b > 0, artinya faktor Merek, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan,

  Warna Kemasan, dan Label kemasan secara bersama-sama berpengaruh

  signifikan terhadap Minat beli

  Level of significance = 0,05

  F 0,05 ; (5); (n – k – 1) F 0,05 ; 5; 100 – 5 – 1 F 0,05 ; 4; 94 = 2,3113 (lihat lampiran )

  b) Kriteria pengujian Ho diterima bila: F hitung < F table , bila: F hitung < 2,3113

  Ho ditolak bila: F hitung > F table , bila: F hitung > 2,3113

  c) Nilai F hitung untuk hipotesis kelima: F

  hitung = 19.792 (lihat lampiran).

  d) Menentukan kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh, nilai F hitung > F tabel (19.792 > 2,3113); sehingga Ho ditolak. Dengan demikian, Ha diterima artinya Merek

  pada kemasan, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan,

  92

  dan Label kemasan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Minat beli

  2. Pengaruh atribut kemasan yang paling besar Untuk mengetahui atribut kemasan manakah yang paling mempengaruhi minat beli konsumen, dapat dilihat dari besarnya koefisien persamaan regresi berganda. Koefisien persamaan regresi berganda yang signifikan (level of significant 5%) dan terbesarlah yang paling mempengaruhi minat beli konsumen.

  Hal tersebut dapat dilihat pada table berikut :

  Tabel V.33 tabel koefisien regresi berganda no Variabel Koefisien regresi berganda

  Signifikansi 1.

  Merek pada kemasan 0,247 0.007 2. Gambar pada kemasan 0,145 0.086 3.

  Bentuk kemasan 0,122 0.171 4.

  Warna kemasan 0.284 0.012 5. Label pada kemasan 0.082 0.358

  93

  Sumber : data primer yang diolah, 2008

  Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa hanya terdapat 2 (dua) atribut kemasan yang signifikan; yaitu merek pada kemasan dan warna kemasan. Maka atribut kemasan yang paling besar pengaruhnya terhadap minat beli konsumen adalah atribut warna kemasan.

  3. Koefisien Determinasi Nilai R ² atau koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel Y yang dapat dijelaskan oleh variabel X. untuk mempermudah dalam menganalisis data, maka dalam hal ini penulis mempergunakan bantuan program spss 13.00 (lihat lampiran). Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut:

  Hasil analisis menunjukkan koefisien determinasi (R ² ) sebesar 0,513 = 51,3%. Hal ini dapat diartikan bahwa minat beli secara bersama-sama dapat dijelaskan variabel

  

Merek pada kemasan, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan,

dan Label kemasan sebesar 51,3 %, sedangkan sisanya 48,7 % dijelaskan variabel

  lainnya diluar penelitian.

  94

E. Pembahasan

  Setelah melakukan analisis data maka selanjutnya dilakukan pembahasan sebagai berikut:

  • Berdasarkan hasil analisis rata-rata skor persepsi responden terhadap atribut-atribut kemasan Indomie, dapat diketahui bahwa responden memiliki persepsi yang baik terhadap atribut-atribut kemasan Indomie.

  Tabel V.34 tabel rata-rata skor persepsi responden terhadap atribut kemasan Atribut kemasan rata-rata skor jawaban responden

  Bentuk kemasan 3,66 Warna kemasan 3,64

  Label pada kemasan 3,55 Merek pada kemasan 3,39

  Gambar pada kemasan 3,32 Dari hasil analisis tersebut juga diketahui bahwa bentuk kemasan memiliki skor tertinggi, ini menunjukan bahwa bentuk kemasan Indomie dipandang paling baik oleh responden. Hal ini bisa disebabkan karena tujuan-tujuan dari bentuk kemasan sebagai pendorong yang membantu menciptakan daya tarik visual, kemudahan pemakaian, kemudahan membawa dan kemudahan penggunaan bagi konsumen sudah tercapai.

  95 .Sedangkan atribut gambar pada kemasan memiliki skor terendah, ini menunjukan bahwa responden memandang masih ada kekurangan dalam atribut gambar pada kemasan. Tetapi, nilai rata-rata skor jawaban responden masih menunjukan bahwa atribut gambar pada kemasan berada dalam kriteria cukup baik.

  • Berdasarkan hasil analisis rata-rata skor minat beli responden terhadap produk Indomie, dapat diketahui :

  a.. Rata-rata skor minat beli seluruh responden terhadap Indomie adalah 3,42. Ini berarti minat responden untuk membeli Indomie dikatakan baik / tinggi.

  b. Tabel V.35 tabel rata-rata skor minat beli responden berdasarkan

  

jenis kelamin

Minat beli responden rata-rata skor jawaban

berdasarkan jenis kelamin responden

  Laki-laki 3,48 Perempuan 3,35

  Rata-rata skor minat beli responden laki-laki lebih besar daripada rata- rata skor minat beli responden wanita. Ini berarti minat beli responden laki-laki lebih tinggi daripada responden perempuan.

  96 c. Tabel V.36 tabel rata-rata skor minat beli responden berdasarkan

  

usia

Minat beli responden rata-rata skor jawaban

berdasarkan usia responden

  3.48 usia 21 tahun – 25 tahun. 3,38 usia ≤ 20 tahun 3,00 usia > 25 tahun

  Dari hasil rata-rata skor minat beli berdasarkan usia responden, diketahui bahwa responden dengan usia 21 tahun – 25 tahun memiliki rata-rata skor paling besar. Ini berarti bahwa responden dengan usia 21 tahun – 25 tahun memiliki minat beli paling tinggi, dengan urutan :

1. Responden dengan usia 21 tahun – 25 tahun.

  2. Responden dengan usia ≤ 20 tahun 3.

  Responden dengan usia > 25 tahun

  d. Tabel V.37 tabel rata-rata skor minat beli responden berdasarkan

  uang saku

Minat beli responden berdasarkan rata-rata skor jawaban

uang saku responden

  Uang saku per bulan ≤ Rp. 500.000,- 3,55 Uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d 3,35 Rp. 999.000 Uang saku per bulan Rp. 1.000.000 ≥ 3,10

  Dari hasil rata-rata skor minat beli berdasarkan uang saku responden per bulan, diketahui bahwa responden dengan uang saku memiliki

  97 rata-rata skor paling besar. Ini berarti bahwa responden dengan uang saku per bulan

  ≤ Rp. 500.000,- memiliki minat beli paling tinggi, dengan urutan :

  1. Responden dengan uang saku per bulan ≤ Rp. 500.000,-.

2. Responden dengan uang saku per bulan Rp. 501.000,- s/d Rp.

  999.000,- 3. Responden dengan uang saku per bulan Rp. 1.000.000,- ≥

  • Hipotesa, yaitu tentang ada pengaruh Merek pada kemasan, Gambar

  

pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label kemasan

  secara bersama-sama terhadap minat beli mie instant Indomie. kemasan berpengaruh nyata terhadap minat beli Mie Instan Indomie. Untuk memutuskan dalam memilih sesuatu konsumen mempunyai berbagai pertimbangan dan yang dijadikan pertimbangan bisa lebih dari satu faktor saja. Dan kemasan juga menjadi pertimbangan konsumen untuk memilih mie Instan Indomie. Jika hal tersebut memenuhi kriteria dan harapan konsumen, maka hal itu dapat mempengaruhi minat beli terhadap Indomie. Dapat dilihat bahwa kelima variable tersebut berpengaruh positif terhadap minat beli. Maka dapat disimpulkan jika evaluasi ( persepsi) konsumen terhadap kemasan baik, maka minat beli konsumen terhadap Indomie juga akan baik.

  98

  • Masalah kedua kedua, yaitu atribut atribut kemasan yang paling besar pengaruhnya terhadap Minat beli konsumen Indomie.Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa hanya terdapat 2 (dua) atribut saja yang berpengaruh secar siginifikan terhadap minat konsumen untuk membeli produk mie instant merek Indomie, yaitu Merek pada kemasan dan warna kemasan. Dan atribut atribut kemasan yang paling besar pengaruhnya terhadap Minat beli konsumen Indomie yaitu atribut warna kemasan.. hal ini dikarenakan bahwa warna merupakan perangsang yang paling penting untuk menciptakan daya tarik visual dan daya tarik pada pelanggan, dan ini merupakan bagian yang sangat penting dari desain sebuah kemasan. Penggunaan warna merupakan pusat dari seluruh proses desain kemasan. (Danger, 1992: 24) Warna penting karena menggugah perasaan dan tidak perlu diperdebatkan. Orang pertama melihat warna kemasan lebih dahulu. Bentuk, penampilan, produk dalam kemasan, semua diperhatikan kemudian. Warna sangat vital pada penjualan secara spontan karena warna menarik perhatian pelanggan dan bisa menciptakan penjualan apalagi ketika orang hanya memiliki sedikit waktu untuk pertimbangan yang matang, disitulah warna dan kemasan yang berdaya tarik pada pelanggan menjadi kemasan yang menjual. (Danger, 1992: 24)

BAB VI KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan Dari hasil analisis data mengenai pengaruh pengaruh variable Merek pada

  

kemasan, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label pada

kemasan secara bersama-sama terhadap Minat beli, maka dapat disimpulkan sebagai

  berikut:

  1) Karakteristik responden yang memiliki minat beli Indomie paling tinggi

  adalah responden dengan karakteristik sebabgai berikut : responden dengan jenis kelamin laki-laki, responden yang berusia 21 tahun – 25 tahun, dan responden yang memiliki uang saku per bulan ≤ Rp. 500.000,-.

  2) Variable Merek pada kemasan, Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan,

  secara bersama-sama

  Warna Kemasan, dan Label pada kemasan

  mempengaruhi Minat beli secara signifikan. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa persamaan regresi linear berganda yang diperoleh adalah Y = 1,314 + 0,247 X1 + 0,145 X2 + 0,122 X3 + 0,284 X4 + 0,082 X5. Nilai yang diperoleh dari koefisien determinasi (R²) sebesar 0,513 = 51,3%. Hal ini dapat diartikan bahwa minat beli secara bersama-sama dapat dijelaskan variabel Merek pada kemasan, Gambar pada kemasan, Bentuk sebesar 51,3 %, sedangkan

  kemasan, Warna Kemasan, dan Label kemasan sisanya 48,7 % dijelaskan variabel lainnya.

  3) Berdasarkan besarnya nilai koefisien regresi berganda y dari kelima variabel tersebut maka atribut kemasan yang signifikan dan paling besar pengaruhnya terhadap minat beli konsumen adalah atribut warna kemasan..

B. Saran

  Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan, saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa Merek pada kemasan,

  Gambar pada kemasan, Bentuk kemasan, Warna Kemasan, dan Label pada kemasan secara bersama-sama mempengaruhi Minat beli secara signifikan

  Hal ini menunjukan bahwa kemasan suatu produk dapat mempengaruhi minat beli konsumen. Oleh karena itu, perusahaan harus lebih berhati-hati dalam memutuskan penggunaan kemasan untuk produknya. Penggunaan desain kemasan yang baik dan sesuai dengan persepsi konsumen, maka kemasan akan membantu perusahaan meningkatkan minat beli. Dan sebaliknya, bila penggunaan desain kemasan tidak baik dan tidak sesuai dengan persepsi konsumen maka akan menurunkan minat beli. .

  2. Dari hasil analisis juga diketahui bahwa atribut kemasan yang paling mempengaruhi konsumen adalah atribut warna kemasan. Alasan utama menggunakan warna dalam aplikasi promosi ialah untuk menarik perhatian. Selain itu, warna dapat berbuat lebih dari sekedar menarik perhatian, dan inilah respon psikologis dan emosional. Untuk itu perusahaan sebaiknya lebih memperhatikan pemilihan warna untuk kemasan produknya karena warna merupakan perangsang yang paling penting untuk menciptakan daya tarik visual dan daya tarik pada pelanggan, dan ini merupakan bagian yang sangat penting dari desain grafis sebuah kemasan. Penggunaan warna merupakan pusat dari seluruh proses desain kemasan. (Danger, 1992: 24). Selain itu dalam penelitian ini juga diketahui bahwa atribut kemasan lainnya yang berpengaruh signifikan terhadap minat konsumen untuk membeli mie instant indomie adalah merek pada kemasan, oleh karena itu penggunaan nama merek pada kemasan juga tidak boleh anggap remeh oleh perusahaan dalam pembuatan desain kemasannya. Penulisan nama merek harus dapat terlihat dengan jelas karena nama merek pada kemasan membawa pesan image perusahaan serta produk tersebut pada benak konsumen dan dapat membedakan produk tersebut dengan merek produk lainnya.

  3. Secara keseluruhan persepsi kosumen terhadap atribut-atrbut kemasan Indomie sudah baik, dan ini menjadi sesuatu hal yang positif bagi perusahaan.

  Hal ini dapat terus dipertahankan atau jika mungkin lebih ditingkatkan lagi dengan pemberian warna yang lebih sesuai untuk produknya, memperbaiki posisi dan desain nama merek agar dapat lebih terlihat jelas dan menarik, dan lain-lain.

C. Keterbatasan Penelitian

  Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian dan penulisan skripsi ini masih terdapat beberapa kelemahan dan kekurangan, hal ini terjadi karena beberapa faktor sebagai berikut:

  1. Faktor Internal

  • Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis yang menyebabkan penulis tidak dapat melakukan penelitian secara maksimal sehingga variabel yang digunakan adalah atribut yang umumya digunakan pada kemasan dan data yang diperoleh hanya terbatas pada kelima variabel.
  • Keterbatasan waktu yang dimiliki penulis karena penelitian hanya dilakukan dalam waktu satu bulan, hal ini menyebabkan data yang diperoleh tidak maksimal.

  2. Faktor Eksternal Keterbatasan responden dalam menjawab kuesioner, sehingga penulis tidak dapat mengetahui apakah jawaban tersebut murni dan jujur dari responden.

  3. Faktor Studi Kasus Karena penelitian ini bersifat studi kasus yaitu mempelajari kasus pada unit tertentu, maka hasil penelitian ini hanya berlaku pada produk mie instant merek Indomie dan terhadap Mahasiswa Sanata Dharma Yogyakarta Jadi penelitian ini tidak berlaku secara umum.

DAFTAR PUSTAKA

  Azwar, Saifudin, Metode Penelitian, Pustaka Pelaja, Yogyakarta, 2004 Cenadi, Christine Suharto, Nirmana Jurnal Deskomvis, www.puslit.petra.ac.id/journals/design, Universitas Kristen Petra Vol.2/

  No.2, Juli 2000 Danger, E.P, Memilih Warna Kemasan, PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta,

  1992 Husein, Umar, Metode Riset Bisnis, PT Gramedia Pustaka Utama., Jakarta, 2002 Husein, Umar, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, PT Gramedia Pustaka

  Utama, Jakarta, 2002 Indarmadim Dasar-dasar Desain grafis , www.toekangweb.or.id/07-tips- bentukwarna1.html Kotler, Philip, Seew Meng Leong and Cheng Tiong Tan, Marketing Management

  Prentice Hall, 1996 Kotler, Philip, Manajemen Pemasaran: Analaisis, Perencanaan, Implementasi

  dan Kontrol (Edisi revisi), Erlangga, Jakarta, 1997

  Kotler, Philip,.Manajemen Pemasaran (Marketing Management), Prentice Hall, 2000

  Kotler, Philip,.Manajemen Pemasaran (Marketing Management), Prentice Hall, 2001

  Neumier, Marty,The Brand Gap, How to Bridge the Distance between Business

  Radio Singapore International. Pangan Sehat : Amilosa pada Bebijian dan

  

Omega-3 di sayuran , www.rsi.mediacorpradio.com/indonesian, 2004

  Sciffman, Leon G. dan Leslie Lazar Kanuk, Consumen Behaviour USA: Prentice Hall,1994

  Sugiyono Metode Penelitian Bisnis, Bandung, alfabeta, 2001 Sulaksana, Uyung, Integrated Marketing Comunications, Pustaka Pelajar,

  Yogyakarta, 2003 Swasta Basu dan Irawan DH, Manajemen Pemasaran Modern. Edisi ke 2, Liberti,

  Yogyakarta, 1985 www.Indofood.com www.usd.ac.id. www.wacanaMitra.com

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh citra merek terhadap minat beli produk mie instan "Pop Mie" studi kasus: konsumen produk mie instan "Pop Mie" di Kampus II Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta.
3
10
94
Analisis pengaruh kepuasan terhadap loyalitas konsumen handphone merk Nokia : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen.
0
0
109
Analisis pengaruh kepuasan terhadap loyalitas konsumen handphone merk Nokia : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen.
0
0
109
Pengaruh karakteristik konsumen terhadap pembelian produk imitasi : studi kasus terhadap mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
123
Persepsi konsumen terhadap atribut produk Teh Sosro : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Kampus I Mrican - USD Repository
0
0
127
Pengaruh iklan, kualitas, dan harga produk Oli Top One terhadap minat beli konsumen : studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
126
Analisis sikap konsumen terhadap produk sepeda motor Yamaha Jupiter Z : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
117
Analisis sikap konsumen terhadap produk sepeda motor Yamaha Jupiter Z : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
117
Pengaruh iklan TV terhadap minat beli konsumen Pocari Sweat : studi kasus pada mahasiswa Sanata Dharma fakultas ekonomi - USD Repository
0
0
129
Analisis pengaruh kecerdasan emosional terhadap sikap etis mahasiswa akuntansi : studi kasus pada mahasiswa program studi akuntansi jurusan akuntansi fakultas ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
136
Pengaruh daya tarik iklan televisi terhadap minat beli konsumen pada produk minuman Frestea : studi kasus pada Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
131
Analisis atribut pada produk sebagai pencipta citra merek di benak konsumen : studi kasus konsumen Aqua kemasan botol pada mahasiswa Sanata Dharma kampus III Paingan - USD Repository
0
0
90
Pengaruh persepsi mahasiswa FKIP tentang kesejahteraan guru terhadap minat mahasiswa FKIP menjadi guru : studi kasus pada Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
144
Analisis pengaruh kepuasan terhadap loyalitas konsumen handphone merk Nokia : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen - USD Repository
0
0
107
Analisis pengaruh kepuasan terhadap loyalitas konsumen handphone merk Nokia : studi kasus pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen - USD Repository
0
0
107
Show more